P. 1
akalsia esofagus 2

akalsia esofagus 2

|Views: 192|Likes:
Published by Fian Soemasdiar

More info:

Published by: Fian Soemasdiar on Jun 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2014

pdf

text

original

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. HS DENGAN DIAGNOSA MEDIS AKALASIA ESOFAGUS BANGSAL CENDANA 2 RSUP Dr. SARDJITO” berikut ini disahkan pada : Hari/tanggal Waktu Tempat : : : Bangsal Cendana 2 RSUP Dr Sardjito Mengetahui,

Pembimbing Lapangan

Mahasiswa Praktikan

Dwi Andoko P

Kelompok Tujuh

Pembimbing Akademik

Siti Fauziyah, APP, S.Pd, M.Kes.

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Akalasia esofagus merupakan kegagalan relaksasi serat serta otot polos saluran cerna pada persimpangan bagian yang satu dengan yang lain khususnya kegagalan sfingter esofagogaster untuk mengendur pada waktu menelan akibat degenerasi sel sel ganglion pada organ itu. (Dorland, 2007). Gagal melemas; menandakan relaksasi inkomplet sfinngter esofagus bawah sebagai respon terhadap menelan yang menimbulkan obstruksi funsional esofagus yang menyebabkan esofagus proksimal lebih mengalami delatasi (Robbins, 2007) Akalasia esofagus adalah suatu keadaan khas yang ditandai dengantidak adanya peristaltik korpus esofagus bagian bawah dan sfingteresofagus bagian bawah yang hipertonik sehingga tidak bisa mengadakan relaksasi secra sempurna pada waktu menelan makanan. Jika akalasia menjadi berat, maka esofagus tidak bisa mengosongkan makanan yang ditelan ke dalam lambung untuk beberapa jam, padahal waktu normal adalah hanya beberapa detik saja. Setelah berbulan bulan atau bertahuntahun esofagus bisa menjadi sangat besar bahkan bisa menampung satu liter makanan, yang kemudia menjadi bususk infeksius selama periode lama dari stasis esofagus.

B. Etiologi Secara histologic pada penyakit akalasia ditemukan penyebab berupa degenerasi sel ganglion plexus aurebach di sepanjang esofagus parsthoracal yang menyebabkan control neurologis dan sebagai akibatnya gelombang peristaltik primer tidak mencapai sfingter esofagus bawah. Berdasarkan teori, penyebab akalasia antara lain :

1. Teori genetik Akalasia dapat di turunkan berkisar antara 1% - 2% dari populasi penderita akalasia. 2. Teori infeksi Akalasia disebabkan oleh : a. Bakteri (diphteria pertusis, dostrdia, tuberculosis, sipilis) b. Virus (herpes, varicella zooster) c. Zat toxic (gas kombat) 3. Teori autoimun Akalasia disebabkan oleh respon inflamasi dalam pleksus mienterikus esophagus yang didominasi oleh limfosit T yang berperan dalam penyakit autoimun. 4. Teori degeneratif Akalasia berhubungan dengan proses penuaan dengan status neurologi atau penyakit psikis seperti parkinson atau depresi.

C. Patofisiologi Kontraksi dan relaksasi sfingter esofagus bagian bawah diatur oleh neurotransmitter perangsang seperti asetilkolin dan substansi P, serta

neurotransmiter penghambat seperti nirit oxyde dan vasoactive intestinal peptide. Menurut Castell ada dua efek penting pada pasien akalasia, diantaranya : a. Obstruksi pada sambungan esofagus dan lambung akibat peningkatan sfingter esofagus bawah (SEB) istirahat jauh diatas normal dan gagalnya SEB untuk relaksasi sempurna. Gagalnya relaksasi SEB ini disebabakan penurunan tekanan sebesar 3040% yang dalam keadaan normal turun sampai 100% yang akan mengakibatkan bolus makanantidak dapat masuk kelambung. Kegagalan ini berakibat tertahannya makanan dan minuman di esofagus. Ketidak mampuan relaksasi sempurna akan menyebabkan adanya tekanan

residual. Komplikasi a) Obstruksi saluran pernafasan Hal ini merupakan kegagalan sistem pernafasan dalam memenuhi kebutuhan metabolik tubuh akibat sumbatan saluran nafas bagian atas. Bila tekanan hidrostatik disertai dengan gravitasi melebihi tekanan residual. b) Pneumonia aspirasi Merupakan infeksi paru paru yang disebabkan oleh terhirupnya bahan – bahan ke dalam saluran pernafasan. secara obyektif dapat ditentukan motilitas esofagus secara manomeric pada keadaan normal dan akalasia. Manifestasi Klinis Gejala yang ada yaitu : a) Disfagia (sukar menelan) baik cair maupun padat. e) Nyeri dada dan ulu hati (pirosis) f) Muntah secra spontan atau sengaja untuk menghilangkan ketidaknyamanan 2. b. Peristaltik esofagus yang tidak normal disebabkan karena aperistaltik dan delatasi 2/3 bagian bawah korpus esofagus. 1. Dengan berkembangnya penelitian ke arah motilitas. Akibat lemah dan tidak terkoordinasinya peristaltik sehingga tidak efektif dalam mendorong bolus makanan melewati SEB. b) Regurgitasi atau aliran kembali c) Penurunan berat badan d) Gejala yang menyertai gejala utama. c) Abses paru Diartikan sebagai kematian jaringan paru-paru dan pembentukan rongga yang berisi sel sel mati atau cairan akibat infeksi bakteri. d) Perforasi esofagus . seperti nyeri dada. Obstruksi saluran nafas ini sering mnyebabkan gagal nafas. makanan dapat masuk kedalam lambung.

klien dan bila perlu CVP monitor. c. Pemeriksaan penunjang a. yng biasanya diakibatkan oleh instrumentasi medis seperti paraesophageal endoscopy atau pembedahan. Pemeriksaan Hb dan Ht perlu di lakukan untuk mengikuti keadaan perdarahan. Tirah baring. e) Esofagitis Karena efek iritasi dari makanan dan cairan yang menumpuk di esofagus untuk waktu periode yang berkepanjangan. d. Diet makanan lunak. Pengobatan penderita perdarahan saluran pencernaan bagian atas meliputi : 1. seperti nitroglyserin 5 mg SL atau 10 mg PO. Pemberian obat obatan smooth-muscle relaxant. Pengawasan dan pengobatan umum. kesadaran. Pemeriksaan radiologi . e. Dengan terapi bedah laparascopic heller myotomi dan partial fundoplication untuk pemisahan serat otot dari sfingter esofagus dan bagian proksimal lambung untuk mencegah refluks. Dan 10%nya disebabkan oleh muntah-muntah. 2. dan methacholine. Infus cairan langsung dipasang untuk mencegah terjadinya dehidrasi. D. Pengawasan terhadap tekanan darah. g. a. f. untuk merelaksasikan esofagus. nadi. 90% penyebab ruptur esofagus iatrogenik. Penatalaksanaan Medis Pengobatan penderita perdarahan saluran makanan bagian atas harus sedini mungkin dan sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan yang teliti dan pertolongan akurat dan lebih baik.Merupakan pecahnya dinding esofagus karena muntah muntah. b.

e. Pemeriksaan tersebut dilakukan pada berbagai posisi terutama pada daerah 2/3 distal. E. perencanaan. b. untuk melihat sebab dari obstruksi. pemeriksaan fisik pada sasaran yang dituju. Pemeriksaan motilitas Untuk memeriksa bagian motorik esofagus dengan menggunakan kateter peka tekanan atau balon mini yang diletakkan dalam lambung dan kemudian naikkan kembali. Pemeriksaan esofagoskopi Untuk menentukan adanya esofagitis retensi dan derajat keparahannya.Pemeriksaaan radiologi dilakukan dengan pemeriksaan esofagogram untuk daerah esophagus dan di teruskan dengan pemeriksaan double contrast pada lambung dan duodenum. dan evaluasi. Selain itu pengumpulan data dapat diperoleh dari . diagnosa keperawatan. kardia. observasi. Pemeriksaan manometrik Untuk memulai fungsi motorik esofagus dengan melakukan pemeriksaan di dalam lumen sfingter esofagus. implementasi. Tahap tahap melakukan asuhan keperawatan antara lain pengkajian. dan untuk memastikan ada tidaknya tanda keganasan. c. Menelan barium atau esofagogastroduodenoskopi (EGD) Mekanisme menelan dapat telihat secra langsung dengan pemeriksaan fluoroskopi atau perekaman gambaran radiografik. distal esophagus. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data melalui wawancara. d. dan fundus lambung untuk mencari ada tidaknya varises. Pengkajian Keperawatan Asuhan keperawatan adalah suatu metode yang sistematik dan terorganisir yang difokuskan pada reaksi atau respon manusia yang unik pada suatu kelompok atau perorangan terhadap gangguan kesehatan yang dialami baik aktual maupun potesial.

kelelahan. 5. Pernafasan Gejala : pernafasan pendek pada istirahat dan aktifitas. 3. adanya sesak atau nyeri dada. 6. turgor kulit jelek. dan literatur. Hal-hal yang dikaji pada klien antara lain : Adapun pengkajian pada pasien hematemesis melena antara lain : 1. Eliminasi Gejala : diare mencret. medical record. keluarga. Sirkulasi Gejala : riwayat kehilangan darah kronis. tenaga kesehatan. ekstremitas. . Neurosensori Gejala : disfagia. pengisian kapiler > 3 detik. Integumen Gejala : kulit dingin.klien. F. 7. muntah. diizinkan dan bertanggung gugat untuk mengatasinya. Makanan / cairan Gejala : anoreksia. kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak. Doenges terdapat 6 diagnosa keperawatan pada pasien hematemesis melena antara lain : 1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengansulit menelan. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah menguraikan kombinasi dari tanda dan gejala yang memperlihatkan masalah kesehatan actual maupun potensial dan perawat berdasarkan pendisikan dan pengalamannya mampu diakui. Menurut Marilyn E. 4. Nyeri Gejala : nyeri ulu hati. nyeri dada. catatan medis. misal GI kronis. 8. Aktifitas / istirahat Gejala : kelemahan. anemis pada membran mukosa. dan pengisian kapiler melambat. kering dan pucat. 2. mual.

dengan kriteria hasil : Nafsu makan meningkat Membran mukosa lembab Turgor kulit elastic Intake dan output balance Rencana tindakan : a. Rasional : makanan lunak dapat meringnkan kerja esofagus dalam melakukan peristaltik.2. G. Berikan makan lunak. 5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam. Rasional : memberikan informasi tentang pemasukan defisiensi. 3. Rasional : diet yang tepat untuk penyembuhan. . Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengansulit menelan. Resiko aspirasi berhubungan dengan makanan tidak tertelan dan masuk ke saluran nafas. Bantu pasien dan bantu pasien untuk makan. Awasi pemasukan diet. di harapkan kebutuhan nutrisi pasien seimbang/terpenuhi. 4. c. d. b. Rasional : memberikan informasi tentang kebutuhan diet / keefektifan terapy. Timbang BB setiap hari. Gangguan kebutuhan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan sulit menelan. Perencanaan Keperawatan Adapun perencanaan yang dibuat pada klien dengan hematemesis melana adalah sebagai berikut : 1. mungkin lebih baik jika keluarga terlibat ketika pasien makan. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

di harapkan kebutuhan cairan pasien dapat diatasi dengan kriteria : Pasien tidak bermasalah saat minum Pasien tidak menunjukkan tanda tanda dehidrasi.e. Dorong/ bantu latihan nafas abdomen atau bibir. anti emetik mengatasi mual. . Gangguan kebutuhan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan sulit menelan. b. Pantau jumlah keluaran urin pasien Rasional : Agar dapat mengetahui jumlah cairan yang harus diberikan dan jenis cairan. Rencana tindakan : a. 2. diharapkan pasien tidak lagi beresiko aspirasi saat pemberian asupan makanan dengan kriterian : Klien tidak lagi tersedak saat makan Pola nafas klien saat makan tidak terganggu Rencana tindakan : a. Berikan cairan yang adekuat Rasional : Agar pasien tidak kekurangan elektrolit dan kebutuhan cairan tetap stabil. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam. Kolaborasikan dengan ahli gizi dan dokter mengenai obat anti emetik Rasional : membantu mengkaji kebutuhan nutrisi klien dalam perubahan pncernaan dan fungsi usus. Resiko aspirasi berhubungan dengan makanan tidak tertelan dan masuk ke saluran nafas. 3.

Kolaborasikan untuk pemasangan NGT Rasional : Indikasi pemasangan NGT pada pasien akalasia untuk pemberian nutrisi dan obat yang adekuat bagi klien. mudah terangsang. Awasi respon fisiologis. 4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. kurang kontak mata. berikan umpan balik. b. diharapkan kecemasan dapat teratasi (pasien tenang). Rasional : indikator derajat takut yang dialami pasien. . Ajarkan klien posisi duduk saat makan Rasional : Posisi duduk saat makan dapat mengurangi resiko terjadinya aspirasi. Rasional : dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami pesien tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik/ status shock.Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara. Rasional : Membuat hubungan terapeutik. c. misal pasien akan merasa tak terkontrol terhadap situasi. b. dengan kriteria : Klien dapat menyatakan rentang perasaan yang tepat Menunjukkan rileks dan laporan ansietas menurun Rencana tindakan : a. Dorong pernyataan takut dan ansietas. perilaku melawan. membantu klien menrima perasaan dan memberikan kesempatan untuk memperjelas kesalahan konsep. Catat petunjuk perilaku tau gelisah. c. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.

Rasional : mempermudah klien menerima informasi penyakitnya. analis. Berikan informasi dalam bentuk tertulis maupun verbal. 5. mengkaji pola makan. Rasional : belajar cara rileks dapat mebantu mmenurunkan takut dan ansietas. Rencana tindakan : a. Rasional : untuk mengetahui sejauh mana klien mengerti tentang penyakitnya. defendent. c. Pelaksanaan keperawatan Implementasi adalah tindakan keperwatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Ajarkan teknik relaksasi misal nafas dalam dan bimbingan imajinasi. mengetahui penejlasan tentang penyakitnya. Sedangkan interdependent adalah tindkan keperawatan yang dilakukan dengan kolaborasi dengan tim kesehatanyang terlibat dalam perawatan klien seperti konsultasi . Kaji tingkat pengetahuan klien. H. b. dan interdependent. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 30 menit. Dependent adalah tindkan keperawatan yang dilakukan dengan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya seperti dokter. Dengan kriteria : Klien memahami dan mengerti penyakitnya. Independent adalah tindakan keperawatan yang dilakukan sendiri tanpa ada ketergantungan dengan tim kesehatan lain seperti mengukur tanda tanda vital. Jemis tindakan keperawatan tersebut antara lain independent. Rasional : menegtahui sejauh mana klien memahami. dan dokter gigi. Tinjau ulang penjelasan yang telah diberikan. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.d. diharapkan penegtahuan klien bertambah.

dll. dilakukan dengan mengidentifikasi. Dan kesimpulan dari evalusai menentukan apakah intervensi keperawatan dihentikan atau dimodifikasi. bedah. yaitu subbyektif. sejauh mana tujuan tercapai. obyektif. . planning. Evaluasi Keperawatan Pada tahap akhir yang dilakukan dalam proses keperawatan yaitu evaluasi.tentang kesehatan klien dengan dependent lain seperti penyakit dalam. analisa. I. Evaluasi menggunakan format SOAP.

studi dokument : Klien.BAB II TINJAUAN KASUS A.dan pemeriksaan fisik. status klien : Alfian Kurnia Sumasdiar Febriana Kurniawati Surya Mita Maharsanti B.RM : Ny HS : 65 tahun : Perempuan : Griya Pulisen RT 04 RW 12 Boyolali Jawa Tengah : Islam : Jawa / Indonesia : Pensiunan : Achalasia Esofagus : 01-54-23-68 . Pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Suku / bangsa Pekerjaan Diagnosa medis No. 9 Januari 2012 : 12.00 WIB : Bangsal Cendana 2 RSUP Dr Sardjito : Wawancara. observasi. Identitas a. Pengkajian Hari/tanggal Pukul Tempat Metode Sumber Oleh : Senin.

kadang merasa seperti ada yang menekan lehernya. Keluhan Utama Pasien menyatakan ketika ingin makan atau minum itu sulit menelan. dan sekarang tanggal 9 Januari 2011 pasien post laparatomi cardiomyotomi. dan masih merasa nyeri di bagian operasi. Penanggung jawab Nama Pekerjaan Alamat Tengah Hubugan dengan pasien : 02 Januari 2012 : M. Wag : Pensiunan : Griya Pulisen RT 04 RW 12 Boyolali Jawa : Suami B. dengan keluhan sulit menelan untuk makan dan minum. . Riwayat kesehatan a) Kesehatan Pasien 1. 3.Tanggal masuk rumah sakit b. 2. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien masuk ke rumah sakit pada tanggal 2 Januari 2012. sehingga sulit nafas dan bisa tiba tiba pingsan. sudah periksa ke rumah sakit mana saja namun baru di sarjito di lakukan pembedahan dan pemasangan ring. Riwayat Kesehatan Lalu Klien mempunyai riwayat akalasia esofagus sejak lima tahun yang lalu.

4. Upaya Pengobatan Klien pernah periksa berkali kali sejak 5 tahun yang lalu. b) Kesehatan Keluarga a) Genogram Keterangan : = Laki-laki = Perempuan = Klien = Laki laki terkena Stroke . dan ketika makan karena terjadi penyempitan pada kerongkongan sering di beri air putih supaya makanannya masuk kelambung dan tidak nyangkut di kerongkongan. dan juga ketika merasa nyeri di bagian lambung dan merasa kembung serta mual di obati dengan obat maag.

dan sayur. telur.= Garis perkawinan = Garis keturunan --------= tinggal serumah b) Riwayat Kesehatan Keluarga Klien mengatakan dalam anggota keluarga tidak ada yang mengalami hal serupa seperti klien. makan dan minum klien dibantu dengan selang NGT. Pola kebiasan klien 1. 2) Selama sakit Sejak terkena akalasia esofagus pasien sering sulit menelan saat makan dan minum. dan makannya pun harus yang lunak seperti bubur sungsum dan pola makannya tidak menentu begitu pula minumnya. Aspek fisik biologis a) Pola nutrisi 1) Sebelum sakit Klien makan 3-4 kali perhari menggunakan nasi lauk ikan laut. Selama post operasi. Dan minum kurang lebih 1000 cc dengan air putih dan teh. D. namun suami klien mengalami stroke. serta klien sudah berusaha sedikit demi sedikit minum dengan sendok teh. daging ayam . . namun pasien selama sakit minum air putih anget.

pasien juga mengemukakan mungkin karena makannya yang tdak bisa teratur sehingga fecesnya encer.00 – 05. c) Pola aktifitas. sebagian banyak waktunya digunakan di rumah. klien adalah seorang pensiunan.00 WIB. 2) Selama sakit Klien menyatakan BAB tidak tentu dan kadang BAB konsistensinya encer.b) Pola eliminasi 1) Sebelum sakit Klien BAB lancar 1 hari sekali dengan konsistensi lunak berbentuk bau khas feces tidak ada gangguan dan buang air kecil normal tidak ada gangguan sehari bisa 6-7 kali untuk BAK. Tabel activity daily living sebelum sakit Kemampuan perawatan diri Makan/minum Mandi 0 V V 1 2 3 4 . Untuk BAK pasien 3-5 kali sehari. Kebutuhan tidur Kebutuhan tidur klien terpenuhi 7-8 jam/hari antara jam 21. dengan dibantu oleh anggota keluarga. kadang lunak tergantung yang dikonsumsi. b. klien juga menyatakan kadang tidur siang dan klien tidak mengkonsumsi obat tidur ketika tidur. Kebutuhan aktifitas sehari-hari Klien mampu melakukan aktifitas sendiri.istirahat dan tidur 1) Sebelum sakit a.

2:dibantu orang lain.Toileting Berpakaian Mobilitas di tempat tidur Berpindah Ambulasi/ROM V V V V V 0:mandiri. ketika sakit klien merasa terganggu ketika tidur. 1:alat bantu. 4:tergantung total 2) Selama sakit a. Kebutuhan tidur Kebutuhan tidur klien tetap terpenuhi 7-8 jam/hari dan klien tidak mengkonsumsi obat tidur. 1:alat bantu. 3:dibantu orang lain dan alat. makan minum. Kebutuhan aktifitas sehari-hari Klien belum bisa melakukan aktifitas sendiri misal. Namun selama dirumah sakit toiletting dibantu keluarga karena kondisi klien lemah. b. dan ketika post operasi tidur terganggu karena adanya nyeri dari insisi pembedahan. 2:dibantu orang lain. Tabel activity daily living setelah sakit Kemampuan perawatan diri Makan/minum Mandi Toileting Berpakaian Mobilitas di tempat tidur Berpindah Ambulasi/ROM V V V V V V 0 1 2 3 V 4 0:mandiri. mandi. 3:dibantu orang lain dan alat. karena kadang tiba tiba muntah ketika istirahat. 4:tergantung total .

: bersih. 5) Mata 6) Mulut 7) Kuku 8) ekstremitas : tidak ada sekret. tidak ada kelainan. tampak bersih dan tidak tampak tanda tanda infeksi. klien opname di RS ditemani oleh keluarga terutama anaknya yang pertama. : tidak ada kelainan. d. klien mencuci rambut 1-2 hari sekali. Intelektual Klien mengetahui tentang penyakitnya.sosial. kadang di temani oleh menantunya. 2. tampak kerutan di wajah. Aspek mental. tidak berketombe.spiritual a. : tidak ada kelainan. bagaimana dietnya.intelektual. : tidak ada sekret. . 3) Telinga 4) Hidung hidung. klien hanya mengatakan ingin segera sembuh sehingga dapat beraktifitas seperti biasanya. dan masalahmasalah yang akan timbul jika tidak mematuhi anjuran petugas kesehatan. tampak luka bekas oprasi. c. terpasang selang NGT melalui e) Pola reproduksi/seksual Akhir akhir ini sudah jarang karena faktor usia. tidak ada kelainan. Mekanisme koping Klien menerima penyakit yang dideritanya dengan iklas. 2) Rambut : hitam ubanan. Hubungan interpersonal Hubungan klien dengan keluarganya baik. pendek.d) Pola kebersihan diri 1) Kebersihan kulit : kulit sawo matang. Konsep diri Klien mengatakan tidak ada permasalahan besar yang klien hadapi dengan kondisinya sekarang. tidak ada kelainan. rambut sedikit berantakan dan rontok di bantal. klien mengganggap semua itu adalah cobaan dari Tuhan YME. : mulut bersih. b.

69 gr/m2 c) Tanda vital TD Nadi : 110/70 mmHG : 66 kali / menit Respirasi :18 kali / menit Suhu : 36 0C . bahkan ketika sakit (mondok) banyak tetangganya yang jenguk. saudara. Aspek spiritual Klien mengatakan selama ini taat beribadah. Aspek mental/emosional Klien bukan orang yang gampang emosional. Klien juga orang yang ramah dam kooperatif saat diajak kerkomunikasi.e. Support system Klien mengatakan keluarga terutama tetangga. f. ketiga anaknya yang sangat mendukung proses pengobatan ini. karena merupakan kewajiban bagi umat muslim. h. Keadaan umum a) Kesadaran : compos mentis b) Status gizi : Normal TB : 157 cm BB : 46 kg IMT : 18. Aspek sosial Hubungan klien dengan tetangga baik. E. Pemeriksaan fisik 1. g.

Terpasang selang NGT. fungsi penglihatan baik. sklera putih. Bentuk kepala mesochepal.2. 5) Mulut Terlihat bersih dan tidak pucat. c) Leher Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid dan kelenjar limfe. Mukosa mulut lembab tidak ada sariawan. tidak ada luka. Pemeriksaan secara sistematik (cepalo-kaudal) a) Kepala 1) Kepala Rambut klien terlihat lepek. . jejas. hitam beruban. Ekspresi wajah terlihat menyeringai dan mengernyitkan dahi. klien mampu manangkap apa yang ditanyakan praktikan dengan tepat. 3) Telinga Terlihat bersih dan tidak ada pembengkakan ataupun serumen. 2) Mata Bola mata simetris tidak ada lesi dan konjungtiva merah muda. 4) Hidung Lubang hidung klien terlihat bersih dan tidak terdapat lendir pada hidungnya. Fungsi pendengaran baik. pendek. b) Wajah Wajah terlihat pucat . Tidak ada peningkatan JVP.

tidak tampak ascites ada luka : ada nyeri tekan dibagian dekat dengan luka operasi. Auskultasi x/menit Perkusi kuadran III. : terdapat suara timpani pada kuadran I. f) Perut Inspeksi operasi. turgor kulit klien baik. warna kulit sawo matang. Palpasi Perkusi Auskultasi e) Kulit Warna kulit sawo matang. : redup di area jantung dan resonan di area paru : suara nafas vesikuler. Tidak ada otot tambahan pernafasan.d) Dada Inspeksi : dada terlihat simetris tidak ada massa. II. Palpasi g) Punggung Tidak ada kelainan bentuk tulang . suara jantung S1 dan S2 . dan redup pada : terdengar bunyi peristaltik usus dengan frekuensi 15 : warna sawo matang. h) Extrimitas 1) Atas : ada nyeri tekan pada bagian operasi. ada luka operasi. Genetalia Tidak Terpasang kateter tidak ada kelainan.

6-1.0 7.5-5.4 95-108 .0-18.3 80-140 137-145 3.0-42.0-40.045-0. Pemeriksaan Laboratorium Result Neutrofil Lymfosit Monosit Eosinofil Basofil SGOT SGPT Albumin BUN Creatinin GD Sesaat Natrium Kalium Chlorida 13.7 105 Unit 10^3/UL % % % % IU/L IU/L gr/dl Mg/dL Mg/dL Mg/dL Mmol/L Mmol/L Mmol/L Normal Range 1.01 24 12 3. ekstremitas tidak ada kelainan terpasang infus D5% di tangan kanan.0 0.2 0.8-8 0. Hasil pemeriksaan penunjang a.46 11.044 0. jari lengkap. ekstremitas tidak ada kelainan.2 10.4-5.0-0.9-5.Tangan lengkap. 2) Bawah kaki lengkap.60 0. jari lengkap.0 3.0 0.72 69 140 3.16-1 0.0 0.0 10. J.58 0.8 0.

pancreas. Infus dextrose D5% 20 tetes permenit . liver.b. c. Terapi Medis a. Toramin 3 x 30 mg e. K. Pemeriksaan Rajal radiologi OMD Tanggal 9 Desember 2011. Ranitidin 2 x 150 mg c. Pylorus gaping dengan refluks cairan empedu dan suspek delayed gastric emptying. ren dextra dan sinistra. Tak tampak limfa denopathy paraaortici maupun mesenterica. Metronidazole 3 x 500 mg f. VR. tak tampak metastase pada organ tersebut. Tak tampak kelainan hepar. Terfacef / Ceftriaxone 2 x 1 gr d. Beberapa patch eritema di cardia fundus DD erosi. Pemeriksaan Endoscopy Esofagitis dengan LES kesan sulit membuka. Diet cair per NGT 6 x 200 cc / 20 jam b.

69 gr/m2 : 110/70 DATA MASALAH Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh PENYEBAB Sulit menelan  TD mmHG  Nadi menit : 66 kali /  Respirasi :18 kali / menit  Suhu : 36 C . DO :  Hasil endoscopy Esofagitis dengan LES kesan sulit membuka    TB : 157 cm BB : 46 kg IMT : 18.ANALISA DATA NO 1 DS : Pasien Menyatakan semenjak setelah dari operasi belum makan. hanya minum susu.

DO :  Terdapat luka operasi sepanjang kurang lebih 15 cm pada abdomen hingga ke dada.  Klien tampak mengernyitkan dahi  Nadi menit  Respirasi :18 kali / menit : 66 kali / Gangguan nyaman nyeri rasa diskontiunitas jaringan kulit sekunder luka operasi .2 DS : Pasien menyatakan sering merasakan nyeri di bagian bekas operasi.

 Klien tampak mengernyitkan dahi  Nadi menit  Respirasi :18 kali / menit : 66 kali / Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan perubahan status kesehatan .3 DS :  Pasien menyatakan sering merasa gelisah setelah operasi. dan merasa tidak nyaman. DO:  Terdapat luka operasi sepanjang kurang lebih 15 cm pada abdomen hingga ke dada.

DO : Hasil endoscopy Esofagitis dengan LES kesan sulit membuka. 2. DO : Terdapat luka operasi sepanjang kurang lebih 15 cm pada abdomen hingga ke dada. 3.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Klien tampak mengernyitkan dahi. Nadi menit. Nadi : 36 C : 66 kali / menit. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan DS : Pasien menyatakan sering merasa gelisah setelah operasi. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengansulit menelan DS : Pasien Menyatakan semenjak setelah dari operasi belum makan. : 66 kali / menit. Respirasi :18 kali / : 66 kali / menit.69 gr/m2 . Suhu : 110/70 mmHG. Nadi menit. Respirasi :18 kali / . BB : 46 kg. dan merasa tidak nyaman. Klien tampak mengernyitkan dahi. DO: Terdapat luka operasi sepanjang kurang lebih 15 cm pada abdomen hingga ke dad. Gangguan rasa nyaman nyeri diskontiunitas jaringan kulit sekunder luka operasi DS : Pasien menyatakan sering merasakan nyeri di bagian bekas operasi. IMT : 18.TD Respirasi :18 kali / menit. hanya minum susu. TB : 157 cm.

2. . Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan sulit menelan. Gangguan rasa nyaman nyeri diskontiunitas jaringan kulit sekunder luka operasi 3.BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa diagnose yang kami ambil adalah : 1. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

2000. S.com . M. EGC : Jakarta. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Rencana Asuhan Keperawatan.files.html http://apotik.com/fitness/diet-kalkulator-id. EGC: Jakarta.C. 2001. Smeltzer.G.com http://nersc08.com http://www.wordpress. Nursing Diagnosis Handbook with NIC Intervention and NOC Outcomes. http://ipasmp2bbs. Bare B. J. 2005..E.medicastore.blogspot.DAFTAR PUSTAKA Doengoes.M.scientificpsychic. Wilkinson. Pearson Prentice Hall: New Jersey.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->