TINJAUAN UMUM ETIKA PROFESI DI BIDANG HUKUM

Mar-21-2010 By Supanto A. Etika Profesi dalam Kode Etik Sebagaimana telah dijelaskan, yang akan dikaji disini adalah etika profesi dibidang hukum, yang terbatas pada etika profesi polisi, etika profesi jaksa, etika profesi hakim, etika profesi advokat, dan etika profesi notaris. Sehubungan dengan etika profesi tercermin dalam Kode Etik masing-masing profesi, demikian pula etika profesi dilingkungan profesi bidang hukum dapat dilihat pada Kode Etiknya. Oleh karena itu focus perhatian kita tujukan pada Kode Etik Polisi., Kode Etik Jaksa, Kode Etik Hakim, Kode Etik Advokat, dan Kode etik notaris. Ini semua merupakan Kode Etik Profesi Hukum yang disebut juga Professional Legal Ethic. Perlu dipahami pengertian kode etik itu sendiri sebelum membicarakan setiap kode etik masing-masing profesi. Kode berarti tulisan, tanda-tanda, kata-kata yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu. Sedangkan arti kata Etik sebagaimana sudah dijelaskan dimuka. Arti Kode Etik adalah norma-norma dan asas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu. sebagai landasan ukuran tingkah laku (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Disini dapat dipahami kode etik itu berlaku untuk kelompok tertentu, seperti kelompok profesi Polisi, Jaksa Hakim, dan sebagainya, Dan fungsinya untuk mengukur tingkah laku ber kaitan dengan profesinya, bagaimana pelaksanaan profesinya itu baik atau jelek, benar atau salah, sudah yang seharusnya atau tidak. Apa pengertian kode etik menurut istilah, diajukan penjelasan dari Ig. wursanto, Soebjakto sebagaimana dikutip oleh Ign. Ridwan Widyadharma (1991). Kode Etik merupakan aturan-aturan susila, atau sikap akhlak yang ditetapkan bersama dan ditaati bersama oleh para anggota yang tergabung dalam suatu organisasi (organisasi profesi). Oleh karena itu kode etik profesi merupakan suatu bentuk persetujuan bersama, yang timbul secara murni dari diri pribadi para anggotanya. Jadi Kode etik merupakan serangkaian ketentuan dan peraturan yang dise-pakati bersama guna mengatur tingkah laku para anggota organisasi. Sedangkarn Soebjakto mengemukakan, bahwa etika setiap profesi tercermin dari Kode etiknya. Kode etik tersebut berupa suatu ikatan, suatu aturan (tata), atau norma yang harus diindahkan (kaidah) yang berisi petunjuk-petunjuk kepada para anggota organisasinya, tentang larangan-larangan yaitu apa yang tidak boleh diperbuat atau dilak.ukan oleh mereka, tidak saja dalam menjalankan profesinya, tetapi kadang-kadang juga menyangkut tingkah laku mereka pada umumnya dalam masyarakat. Adapun yang menjadi tujuan diadakannya kode etik profesi adalah : 1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi 2. Untuk menjaga atau memelihara kesejahteraan para anggotanya dengan mengadakan larangan-larangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang akan merugikan kesejahteraan materiil para anggotanya.

1

agar profesi yang bersangkutan mendatangkan kemasyakatan masyarakatnya. dan bagai siapa yang melanggar akan dikenai sanksi. Ilmu Pengetahuan. Tentu hal ini secara etis tidak dapat diterima. Etika profesi dan hukum sebenarnya sama-sama bisa dilihat sebagai bagian dari kebudayaan. norma-norrna etik. demikian juga hukum.B. disini yang dituju bukan terpenuhinya sikap perbuatan lahiriah akan tetapi sifat batin manuisa yang bersumber pada hati nurani. Walaupaun dalam ilmu dalam profesi tertentu memungkinkan. untuk keperluan i1mu da1am pengobatan baru harus diujicobakan yang paling tepat dilakuakan terhadap manusia. mengenai sanksi da¬lam etika progesi hanya herlaku bagi angota golongan fungsional tertentu / anggota suatu profesi. Pelanggaran dalam bidang hukum diselesaikan oleh lembaga 2 . atau etika pada umumnya yang menyangkut profesi mengkristalisasikan diri ke dalam etika profesi (kode etik). Kebudayaaan tersebut dalam wujud idiil merupakan keseluruhan ideide. yaitu agar manusia berbuat baik sesuai dengan norma masyarakat. dalam ilmu kepolisian dituntut keberhasilan mengungkap setiap kejahatan. Apabila terjadi pelanggaran dalam etika profesi ditangani oleh perangkat dalam organisasi profesi yang bersangkutan. penyidikan dilakuakn polisi. Jadi pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam pelaksanaan profesi harus tidak bertentangan dengan nilai-nilai (etika) dalam kerangka kebudayaan masyarakat. Lebih lanjut apabila dibandingkan. Di sarnping itu ke¬budayaan mernpunyai unsur-unsur. Persamaannya dua-duanya memiliki sifat normatif dan mengandung normanorma. Etika profesi pada dasarnya mengandung nilai-nilai yang memberikan tuntunan tingka laku. dan Hukum Manifestasi konkrit dari suatu kode etik adalah terlaksananya pedoman atau tuntunan tingkah laku yang sudah digariskan suatu kode etik pada profesi. hal ini tidak harus dilaksanakan apabila etika membatasinya. Ini rnembawa akibat pelaksanaan etika profesi dalam kode etik tersebut terikat dengan kebudayaan yang berkembang didalam masyarakat. srta bersifat mengikat. dengan begitu menjadi satu dengan pergaulan hidup masyarakat. maka digunakan cara pemaksanan bahkan penyiksaan. misalnya. karena itu diharapkan terciptanya manuisa berbudi luhur. misalnya oleh Majelis Kehormatan. Sedangkan etika mengejar agar sikap batin manuisa berada dalam kehendak batiniah yang baik. Etika Profesi. maka penerapan ilmu Itupun terikat dengan nilai-nilai budaya masyarakat. semua warga negara / masyarakat. dikenal berbagai teknik dalam pemeriksaan untuk memperoleh keterangan faktanya. maka penerapan dan perkembangan ilmu penegtahuan terikat dalam kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Pelaksanaan suatu profesi yang merupakan karya pelayanan masyarakat. Sanksi hukum berlaku untuk semua orang dalam suatu wilayah tertentu. Disamping itu mempunyai tujuan sosial yang sama. Dapat dipertegas lagi antara hukum dan etika profesi mempunyai persamaan dan perbedaan. sudah tentu ini tidak etis bila manusia dijadikan kelinci percotaaan. Berdasarkan ini : ilmu pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Hal tersebut di atas dikaitkan dengan pelaksanaan suatu profesi yang dikehendaki oleh etika profesi mensyaratkan adanya penerapan ilrnu tertentu untuk menyelesaikan / rnemecahkan persoalan-persoalan masyarakat. Perwujudannya ini termasuk yang berupa etika pada umumnya. oleh karena itu etika profesi tidak boleh bertentangan dengan etika pada umumnya. nilai-nilai yang memberikan arah mengendalikan dan mengatur tata kelakuan manusia dalam masyarakat. Adapun perbedaannya. hukum mempunyai tujuan agar didalam suatu masyarakat terdapat ketertiban karena hukum menghendaki agar tingkah laku menusia sesuai dengan aturan hukum yang diterapkan. diantaranya ilmu pengetahuan. Dibidang hukum misal.

Kewajiban menyimpan rahasia ini ada ketentuannya dalam hukum (Pasal 170 KUHAP) yang disebut dengan istilah verschonings recht. maka terhadapnya diberlakukan hukum umum. 3 . Kewajiban kerekanan. Yang disebut malpraktik dapat difinisikan sebagai professional misconduct or unreaso¬nable lacal of skill. sepertis 1) pada kasus Adnan Buyung yang diadili atas dasar kode etik advokat mengenai contempt of court. 3. kewajiban. loss. hukum pidana. S. hal ini dapat dilihat dengan adanya peraturan-peraturan mengenai profesi pada umumnya mengandung hakhak yang fundamental dan mempunyai aturan-aturan mengenai tingkah laku dalam melaksanakan profesinya. antara lain dinyatakan : “selama seseorang menyandang sebutan sebagai penasihat hukum. Adanya hubungan antara hukum dan etik. dan membocorkan rahasia tersebut merupakan tindak pidana (Pasal 322 KUHP). dengan mendasarkan pada beberapa kenyataan. Etika profesi dapat dikatakan sebagai perangkat hukum khusus. apabila terjadi pelanggaran etika profesi yang dapat dikategorikan sebagai tindakan malpraktik yang dilakukan para pemegang profesi. 4. Kewajiban pada diri sendiri.Etika mempunyai hubungan dengan hukum. juga norma-norma hukum khusus yang tidak tertulis termasuk dengan profesinya” 4) dalam proses peradilan. 3) dalam kasus Ad¬vokat Pamuji. failure of one rendering professi¬onal services to excercise that degree of skill and learning commonly applied under all circumtancres in the community by the average prudent reputable member of the profession with the result of injury. 02/K/Rup/1987. Dengan adanya tindakan pemegang profesi sebagai malpraktik membawa konsekuensi penanganan / penindakan berdasarkan disiplin organisasi profesinya maupun hukum. Ada yang menyebutkan pula bahwa malpraktik pada hakikatnya merupakan perbuatan seseorang yang memiliki suatu profesi akan tetapi menjalankan profesinya itu secara salah. maupun hukum administrasi. yaitu praktik yang buruk bahkan praktik jahat dari profesinya yang bertentangan dengan tuntutan tanggung-jawab profesinya. pertimbangan Keputusan MA Reg. Kewajiban pada masyarakat umum. Hubungan etika profesi dengan hukum juga nampak. No. seperti mengenai ketentuan etik profesi yang mengharuskan profesi tertentu menyimpan rahasia. or damage to the recipient of these services or to those entitled to rely upon them (Black-Muladi 1992). Dengan demikian ketentuan dalam kode etik dapat dikualifikasikan sebagai normatieve etiek yang mempunyai kaitannya dengan hukum. Kewajiban pada orang ataupun profesi yang dilayani.H.peradilan / pengadilan. dan mengandung ketentuan-ketentuan mengenai : 1. 2) dalam kasus pelanggaran kode etik kedokteran ikut berperannya Majelis Kode Etik Kedokteran.. Dan ini terwujud dalam Kode Etik Profesi sebagai keharusan... 2. surat keterangan dokter diakui oleh hakim dalam pemeriksaan karena mengingat kode etik kedokteran. Dalam hal penindakan menurut hukum meliputi baik dari segi hukum perdata.

maka diperlukan integritas moral dari para pemegang profesi. sehingga dapat dikatakan etika. O1eh sebab itu. Hal ini mempunyai hubungan. penghargaan martabat manusia dapat terwujud. Ini diartikan apa pun yang dilakukannya tidak terlepas sebagai umat yang beragama. karena kesadaran moral merupakan faktor 4 . sehingga sila-¬sila Pancasila harus menaungi tuntunan yang ditentukan dalam etika profesi. tetapi kadang-kadang juga menyangkut tingkah laku mereka pada umumnya dalam masyarakat (Widyadharma. 1991 : 38). tidak saja dalam menjalankan profesinya. bahwa membicarakan etika. berkerakyatan dan berkeadilan. 1990 : 10). para aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.C. Sistem peradilan pidana dikaitkan dengan agama. yang konsekuensi dari adanya sila pertama perwujudannya adalah iman. Dalam hal Ini diketenqahkan oleh Soebjakto. Disini rnemperlihatkan bahwa dalam penegakan hukum. pengamalannya berdasarkan sila pertama dalam rangka hubungan antar sesama manusia. budaya. melainkan harus dikaitkan dengan tauhid. sehagaimana dikemukakan Bismar Siregar. Etika Profesi dan Cita Ketuhanan Yang Maha Esa Pelaksanaan etika profesi menyangkut masalah hati nurani. diperlukan masukan-masukan yang bersifat agamis. dan Negara menjamin Kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. yang menghendaki peradilan dilakukan Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 4). agar tujuan untuk mencapai kejujuran. keadilan. disamping diatur oleh aturan-aturan hukum khususnya Hukum Acara Pidana. Sila-sila dari Pancasila yang keempat lainnya pun. utamanya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam mekanisme penegakan hukum. atau norma yang harus diindahkan (kaidah) yang berisi petunjuk-petunjuk bagi para anggota organisasinya. Oleh sebab itu pelaksanaan etika profesi merupakan realisasi tingkah laku fungsional profesi yang berketuhanan. juga harus menaati etika profesi. Pandangan hidup ini dalam kerangka Bangsa Indonesia tidak dapat terlepas dengan Falsafah Pancasila. yang bagi orang beragama bukan merupakan keanehan. bersemangat persatuan. sebagai landasannya yakni Pasal 29 UUD 1945 yang menyatakan bahwa Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Mana Esa. Dengan demikian berbicara tentang Pancasila tidak mungkin berbicara hanya berdasarkan Pan¬casila. Untuk itu diperlukan penghayatan dan pengamalan agama. yang mendasar menyangkut cita Ketuhanan Yang Maha Esa. Etika profesi sangat berkaitan dengan integritas moral. kalau terdapat rasa keganjilan dan keanehan. budaya. yang tidak lain sebagai tauhid. dan hukum selalu dikaitkan dengan Pancasila. Kemudian hasil putusannya pun disyaratkan mencantumkan tulisan yang berbunyi Demi Keadilan Berdasar Ketuhan Yang Maha Esa (Pasal 197 KUHAP). bahwa pada hakikatnya etika setiap profesi tercermin dalam kode etiknya. 14 Tahun 1970. suatu aturan (tata). Demikian juga masalah etika berkaitan dengan pandangan hidup dan persoalanpersoalan kesusilaan. Pendek kata unsur agamis menjadi masukan pelaksanaan etika profesi terutama. Kode etik ini berupa suatu ikatan. perlu kita telaah ketentuan dalam UU No. Selanjutnya dijelaskan hal tersebut dapat dihubungkan dengan pengamalan Pancasila. mungkin bagi mereka yang be1urn menempatkan agarna sebagaimana mestinya. berperikemanusiaan. tantang larangan-larangan yaitu apa yang tidak boleh diperbuat atau dilakukan oleh mereka. dan hukum kita adalah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Siregar. dan merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. karena itulah awal imannya.

Dalam keputusan tersebut dalam pertimbangannya dinyatakan bahwa hakim mempunyai tugas yang luhur menegakkan hukum dan keadilan atas dasar Kebenaran dan kejujuran dengan bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.I. Pembukaan Kode Etik Kepolisian diawali kalimat : Dengan Bimbingan Tuhan Yang. Etika profesi tersebut dikaitkan dengan apa yang te lah disampaikan Bismar Siregar. keluarga. terhadap diri pribadi dan keluarga maupun kepada sesama manusia.1).I. Makna dari Satya adalah kesetiaan yang bersumber pada rasa jujur. Dan ditetapkan pula mengenai sifat-sifat hakim yakni hakim harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Pasal 2a). berperilaku susila. Adhy. baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa. dan insan Yana Anucacanadnarma. maupun kepolisian. Selanjutnya dalam Pedoman Pengamalan Kode Etik Kepolisian Negara R. sebagai manifestasi iman yang merupakan esensi sikap keagamaan. Wicaksana. bahwa yang semuanya itu tugas dan wewenang Jaksa dilandasi oleh peraturan perundang-undangan dan dalam pelaksanaannya dijiwai dengan sikap mental bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia berjiwa Pancasila. maka etika profesi pun tidak dapat dilepaskan dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam Kode Etik Advokat Indonesia dapat ditemukan ketentuan mengenai Kepribadian Advokat. dan Wicaksana itulah yang disebut sebagai Tri Krama Adhyaksa (BAB III). dan alinea terakhir ditutup dengan kalimat yang berbunyi : Setiap saat saya siap sedia dan sanggup melaksanakan Bhakti Dharma Waspada sesuai dengan tuntunan hati nurani berdasarkan petunjuk Tuhan Yang Maha Esa.1 ). yang bertujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan lahir dan batin bagi Bangsa dan Negara Indonesia. khususnya dalam penerapan kekuasaan dan kewenangan. Kode Etik Hakim terdapat dalam Keputusan Rapat Kerja Para Ketua Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri No. Dalam Penjelasan Keputusan tersebut dinyatakan. Maha Esa. dinyatakan. 5 . dan taat kepada UUD 1945 serta Satya. Ini akan membawa akibat timbulnya kesadaran untuk menaati norma-norma yang diharapkan sesuai dengan tuntutan profesi. yang dinyatakan bahwa Advokat Indonesia adalah warga negara yang bertagwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan dalam melakukan tugasnya menjunjung tinggi hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta sumpah jabatannya (Pasal 1 ayat 1. kedudukan POLRI dapat dilihat sebagai insan Rastra Sewa Kotama. jaksa.penentu agar tindakan manusia selalu bermoral. hakim. Akhirnya pembicaraan mengenai Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia. 2 Tahun 1966 Tentang Kode Kehormatan Hakim Dan Majelis Kehormatan Hakim. Hal ini dapat diperoleh dengan mengkaji beberapa Kode etik profesi dari aparat penegak hukum masing-masing. dan sesama manusia. Berkaitan dengan Kode Etik bagi para aparat kejaksaan dikenal adanya Doktrin Adhyaksa Tri Krama Adhyaksa Jaksa Agung Repub1ik Indonesia (Surat Keputusan Jaksa Agung R. Sedangkan wicaksana mengandung arti bijaksaha dalam tutur kata dan tingkah laku. insan Negara Yanotama. bahwa Setiap anggota POLRI Insan Rastra Sewakotama mengabdi kepada Nusa dan Bangsa dengan penuh ketaqwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa (1. baik penasihat hukum atau advokat. Satya. Adhy. Nomer : Kep-052/JA/8/1979). Adhy berarti kesempurnaan dalam bertugas yang berunsur utama pemilikan rasa tanggung-jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sistem nilai budaya tersebut akan menampakkan dalam bentuk yang beraneka-ragam sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Pentingnya budaya hukum dikaitkan dengan penegakan hukum pidana. sehingga dapat berfungsi sebagai suatu. sumpah jabatan. ide-ide yang masih bersifat abstrak (tetapi yang lebih abstrak lagi adalah sistem nilai budaya). manakah yang lebih kuat. Sistem nilai budaya dikatakan bersifat lebih abstrak. agama. dan berbahasa Indonesia yang baik (Pasal 1 ayat 1). sehingga dapat dikatakan penegakan hukum adalah suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide yang abstrak tersebut ke dalam wujud yang nyata. seperti. ekonomi. dan itu perlu penegakannya. walaupun sudah dinyatakan berlaku secara formal. Sehubungan dengan agama. Ide-ide tersebut merupakan nilai-nilai yang tercermin dalam norma-norma hukum.kan manifestasi dari budaya. Ini tergantung pada gerak saling mempengaruhi antara unsur-unsur budaya. 1983 : 2). kode etik notaris. dinyatakan bahwa Notaris sebagai pejabat umum dalam melaksanakan tugasnya dijiwai Pancasila. karena be1urn diterapkan pada kasus-kasus konkrit tertentu. Seperti telah diuraikan bahwa hukum merupakan konsep-konsep. dan mempertahankan perdamaian pergaulan hidup (Soekanto. 1985 : 190). seperti : kesenian. yang sifatnya lebih konkret. Proses perwujudan ide-ide itulah yang merupa¬kan hakikat penegakan hukum Rahardjo. maka perlu dicari alternatif pendekatan yang tidak hanya formal. dan nilai-nilai. dan penting dalam hidup. Pandangan hidup yang dipengaruhi agama ini akan menciptakan pula sistem nilai budaya yang unsur agamanya Rental. disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat tentanq apa yang dianggap bernilai. dan sudah barang tentu tidak akan mempunyai kekuatan berlaku dalam kenyataannya. pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat (Koentjaraningrat. tanpa tahun : 15). Disini relevan diajukan pernyataan Satjipto Rahardjo (1991 : 16). peraturan jabatan notaris. seyogyanya Indonesia sebagai negara berdasarkan hukum 6 . karena dalam kenyataan kadang kala masyarakat mengidentikkan aparat dengan hukum. maka akan menimbulkan kegoncangan-kegoncangan bu¬daya karena hukum pun merupa. dan ini perlu dipertimbangkan dalam kaidah hukum (aspek subtansial) dan penegakannya (aspek struktural). adapun masyarakat Aceh dipengaruhi Agama Islam. yang ini merupakan konkritisasi dari sistem nilai budaya yang bersifat lebih umum / abstrak. Sebenarnya dibalik kaidah-kaidah hukum pida¬na itu terkandung konsep-konsep. memelihara. Masyarakat diwilayah Indonesia Timur (Menado) yang dominan adalah pengaruh Agama Kristen. maka dapat kita temukan pandangan hidup suatu masyarakat yang pengaruh agamamya nampak lebih dominan. maka secara konsepsional sebagai pengertian penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam norma-norma hukum yang mantab mengejawantah dalam sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan. sadar dan taat kepada hukum. Para aparat penegak hukum berperan penting dalam menegakkan kaidah-kaidah hukum pidana. masyarakat di Bali : banyak dipengaruhi Agama Hindu. ide-ide. Selanjutnya sistem nilai budaya tersebut melalui proses seleksi dengan mempertimbangkan unsur-unsurnya tersebut menjadi nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sesuatu masyarakat menjadi pandangan hidup. Apabila tidak. Kalau hal ini terjadi hukum tidak akan diterima dalam kerangka budaya masyarakat atau tidak mengakar. berharga. sebagaimana dikemukakan Koentjaraningrat. organisasi sosial.Sedangkan pada Kode Etik Notaris dapat dilihat mengenai kepribadian notaris. yang termasuk dalam budaya hukum yang telah diuraikan dimuka. Satjipto Rahardjo menekankan bahwa penegakan hukum tidak lain merupakan penegakan ide-ide serta konsep-konsep yang bersifat abstrak.

yang berarti kebudayaan atas dasar Sila-sila Pancasila. melainkan juga bahasa kebudayaan. Dengan demikian kebudayaan yang dimaksudkan tidak lain kebudayaan yang tidak meninggal-kan dan justru mencerminkan nilai-nilai agama.itu tidak hanya berbicara melalui bahasa perundang-undangan. Posted in: KULIAH ETPROF 7 . Kebudayaan disini yang berlandaskan Pancasila. Isyarat yang dapat ditangkap disini adalah memanfaatkan suatu pendekatan dalam penegakan hukum yaitu pendekatan kebudayaan. utamanya Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful