P. 1
Tinjauan Umum Kode Etik Profesi

Tinjauan Umum Kode Etik Profesi

|Views: 63|Likes:

More info:

Published by: Krishna Adhi Nugraha on Jun 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2012

pdf

text

original

TINJAUAN UMUM ETIKA PROFESI DI BIDANG HUKUM

Mar-21-2010 By Supanto A. Etika Profesi dalam Kode Etik Sebagaimana telah dijelaskan, yang akan dikaji disini adalah etika profesi dibidang hukum, yang terbatas pada etika profesi polisi, etika profesi jaksa, etika profesi hakim, etika profesi advokat, dan etika profesi notaris. Sehubungan dengan etika profesi tercermin dalam Kode Etik masing-masing profesi, demikian pula etika profesi dilingkungan profesi bidang hukum dapat dilihat pada Kode Etiknya. Oleh karena itu focus perhatian kita tujukan pada Kode Etik Polisi., Kode Etik Jaksa, Kode Etik Hakim, Kode Etik Advokat, dan Kode etik notaris. Ini semua merupakan Kode Etik Profesi Hukum yang disebut juga Professional Legal Ethic. Perlu dipahami pengertian kode etik itu sendiri sebelum membicarakan setiap kode etik masing-masing profesi. Kode berarti tulisan, tanda-tanda, kata-kata yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu. Sedangkan arti kata Etik sebagaimana sudah dijelaskan dimuka. Arti Kode Etik adalah norma-norma dan asas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu. sebagai landasan ukuran tingkah laku (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Disini dapat dipahami kode etik itu berlaku untuk kelompok tertentu, seperti kelompok profesi Polisi, Jaksa Hakim, dan sebagainya, Dan fungsinya untuk mengukur tingkah laku ber kaitan dengan profesinya, bagaimana pelaksanaan profesinya itu baik atau jelek, benar atau salah, sudah yang seharusnya atau tidak. Apa pengertian kode etik menurut istilah, diajukan penjelasan dari Ig. wursanto, Soebjakto sebagaimana dikutip oleh Ign. Ridwan Widyadharma (1991). Kode Etik merupakan aturan-aturan susila, atau sikap akhlak yang ditetapkan bersama dan ditaati bersama oleh para anggota yang tergabung dalam suatu organisasi (organisasi profesi). Oleh karena itu kode etik profesi merupakan suatu bentuk persetujuan bersama, yang timbul secara murni dari diri pribadi para anggotanya. Jadi Kode etik merupakan serangkaian ketentuan dan peraturan yang dise-pakati bersama guna mengatur tingkah laku para anggota organisasi. Sedangkarn Soebjakto mengemukakan, bahwa etika setiap profesi tercermin dari Kode etiknya. Kode etik tersebut berupa suatu ikatan, suatu aturan (tata), atau norma yang harus diindahkan (kaidah) yang berisi petunjuk-petunjuk kepada para anggota organisasinya, tentang larangan-larangan yaitu apa yang tidak boleh diperbuat atau dilak.ukan oleh mereka, tidak saja dalam menjalankan profesinya, tetapi kadang-kadang juga menyangkut tingkah laku mereka pada umumnya dalam masyarakat. Adapun yang menjadi tujuan diadakannya kode etik profesi adalah : 1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi 2. Untuk menjaga atau memelihara kesejahteraan para anggotanya dengan mengadakan larangan-larangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang akan merugikan kesejahteraan materiil para anggotanya.

1

Lebih lanjut apabila dibandingkan. Berdasarkan ini : ilmu pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. atau etika pada umumnya yang menyangkut profesi mengkristalisasikan diri ke dalam etika profesi (kode etik). Apabila terjadi pelanggaran dalam etika profesi ditangani oleh perangkat dalam organisasi profesi yang bersangkutan.B. penyidikan dilakuakn polisi. Sedangkan etika mengejar agar sikap batin manuisa berada dalam kehendak batiniah yang baik. Sanksi hukum berlaku untuk semua orang dalam suatu wilayah tertentu. semua warga negara / masyarakat. dan bagai siapa yang melanggar akan dikenai sanksi. Persamaannya dua-duanya memiliki sifat normatif dan mengandung normanorma. Adapun perbedaannya. Etika Profesi. Di sarnping itu ke¬budayaan mernpunyai unsur-unsur. sudah tentu ini tidak etis bila manusia dijadikan kelinci percotaaan. norma-norrna etik. Perwujudannya ini termasuk yang berupa etika pada umumnya. mengenai sanksi da¬lam etika progesi hanya herlaku bagi angota golongan fungsional tertentu / anggota suatu profesi. Ilmu Pengetahuan. Disamping itu mempunyai tujuan sosial yang sama. yaitu agar manusia berbuat baik sesuai dengan norma masyarakat. Pelanggaran dalam bidang hukum diselesaikan oleh lembaga 2 . agar profesi yang bersangkutan mendatangkan kemasyakatan masyarakatnya. maka digunakan cara pemaksanan bahkan penyiksaan. maka penerapan ilmu Itupun terikat dengan nilai-nilai budaya masyarakat. Hal tersebut di atas dikaitkan dengan pelaksanaan suatu profesi yang dikehendaki oleh etika profesi mensyaratkan adanya penerapan ilrnu tertentu untuk menyelesaikan / rnemecahkan persoalan-persoalan masyarakat. Dapat dipertegas lagi antara hukum dan etika profesi mempunyai persamaan dan perbedaan. Etika profesi pada dasarnya mengandung nilai-nilai yang memberikan tuntunan tingka laku. Pelaksanaan suatu profesi yang merupakan karya pelayanan masyarakat. dikenal berbagai teknik dalam pemeriksaan untuk memperoleh keterangan faktanya. diantaranya ilmu pengetahuan. hal ini tidak harus dilaksanakan apabila etika membatasinya. Kebudayaaan tersebut dalam wujud idiil merupakan keseluruhan ideide. maka penerapan dan perkembangan ilmu penegtahuan terikat dalam kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. misalnya. Etika profesi dan hukum sebenarnya sama-sama bisa dilihat sebagai bagian dari kebudayaan. demikian juga hukum. Dibidang hukum misal. Walaupaun dalam ilmu dalam profesi tertentu memungkinkan. Tentu hal ini secara etis tidak dapat diterima. dan Hukum Manifestasi konkrit dari suatu kode etik adalah terlaksananya pedoman atau tuntunan tingkah laku yang sudah digariskan suatu kode etik pada profesi. oleh karena itu etika profesi tidak boleh bertentangan dengan etika pada umumnya. dalam ilmu kepolisian dituntut keberhasilan mengungkap setiap kejahatan. nilai-nilai yang memberikan arah mengendalikan dan mengatur tata kelakuan manusia dalam masyarakat. karena itu diharapkan terciptanya manuisa berbudi luhur. dengan begitu menjadi satu dengan pergaulan hidup masyarakat. untuk keperluan i1mu da1am pengobatan baru harus diujicobakan yang paling tepat dilakuakan terhadap manusia. Ini rnembawa akibat pelaksanaan etika profesi dalam kode etik tersebut terikat dengan kebudayaan yang berkembang didalam masyarakat. srta bersifat mengikat. misalnya oleh Majelis Kehormatan. hukum mempunyai tujuan agar didalam suatu masyarakat terdapat ketertiban karena hukum menghendaki agar tingkah laku menusia sesuai dengan aturan hukum yang diterapkan. disini yang dituju bukan terpenuhinya sikap perbuatan lahiriah akan tetapi sifat batin manuisa yang bersumber pada hati nurani. Jadi pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam pelaksanaan profesi harus tidak bertentangan dengan nilai-nilai (etika) dalam kerangka kebudayaan masyarakat.

kewajiban. Adanya hubungan antara hukum dan etik. 3 . Kewajiban pada masyarakat umum. hukum pidana. antara lain dinyatakan : “selama seseorang menyandang sebutan sebagai penasihat hukum. apabila terjadi pelanggaran etika profesi yang dapat dikategorikan sebagai tindakan malpraktik yang dilakukan para pemegang profesi. sepertis 1) pada kasus Adnan Buyung yang diadili atas dasar kode etik advokat mengenai contempt of court. 2. 02/K/Rup/1987. pertimbangan Keputusan MA Reg. hal ini dapat dilihat dengan adanya peraturan-peraturan mengenai profesi pada umumnya mengandung hakhak yang fundamental dan mempunyai aturan-aturan mengenai tingkah laku dalam melaksanakan profesinya. Dengan demikian ketentuan dalam kode etik dapat dikualifikasikan sebagai normatieve etiek yang mempunyai kaitannya dengan hukum.. maupun hukum administrasi.peradilan / pengadilan. juga norma-norma hukum khusus yang tidak tertulis termasuk dengan profesinya” 4) dalam proses peradilan. yaitu praktik yang buruk bahkan praktik jahat dari profesinya yang bertentangan dengan tuntutan tanggung-jawab profesinya. Kewajiban menyimpan rahasia ini ada ketentuannya dalam hukum (Pasal 170 KUHAP) yang disebut dengan istilah verschonings recht.Etika mempunyai hubungan dengan hukum. Kewajiban pada diri sendiri. S. Yang disebut malpraktik dapat difinisikan sebagai professional misconduct or unreaso¬nable lacal of skill. seperti mengenai ketentuan etik profesi yang mengharuskan profesi tertentu menyimpan rahasia. Dengan adanya tindakan pemegang profesi sebagai malpraktik membawa konsekuensi penanganan / penindakan berdasarkan disiplin organisasi profesinya maupun hukum. 3) dalam kasus Ad¬vokat Pamuji.. dengan mendasarkan pada beberapa kenyataan. dan membocorkan rahasia tersebut merupakan tindak pidana (Pasal 322 KUHP). dan mengandung ketentuan-ketentuan mengenai : 1. or damage to the recipient of these services or to those entitled to rely upon them (Black-Muladi 1992). maka terhadapnya diberlakukan hukum umum. Kewajiban pada orang ataupun profesi yang dilayani. Dan ini terwujud dalam Kode Etik Profesi sebagai keharusan. No. 4.. Ada yang menyebutkan pula bahwa malpraktik pada hakikatnya merupakan perbuatan seseorang yang memiliki suatu profesi akan tetapi menjalankan profesinya itu secara salah. 3. Etika profesi dapat dikatakan sebagai perangkat hukum khusus. Kewajiban kerekanan.H. failure of one rendering professi¬onal services to excercise that degree of skill and learning commonly applied under all circumtancres in the community by the average prudent reputable member of the profession with the result of injury. Dalam hal penindakan menurut hukum meliputi baik dari segi hukum perdata. loss. Hubungan etika profesi dengan hukum juga nampak. 2) dalam kasus pelanggaran kode etik kedokteran ikut berperannya Majelis Kode Etik Kedokteran. surat keterangan dokter diakui oleh hakim dalam pemeriksaan karena mengingat kode etik kedokteran.

dan merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. bahwa membicarakan etika. diperlukan masukan-masukan yang bersifat agamis. yang mendasar menyangkut cita Ketuhanan Yang Maha Esa. yang bagi orang beragama bukan merupakan keanehan. 14 Tahun 1970. Selanjutnya dijelaskan hal tersebut dapat dihubungkan dengan pengamalan Pancasila. 1991 : 38).C. kalau terdapat rasa keganjilan dan keanehan. Kemudian hasil putusannya pun disyaratkan mencantumkan tulisan yang berbunyi Demi Keadilan Berdasar Ketuhan Yang Maha Esa (Pasal 197 KUHAP). maka diperlukan integritas moral dari para pemegang profesi. Pendek kata unsur agamis menjadi masukan pelaksanaan etika profesi terutama. sebagai landasannya yakni Pasal 29 UUD 1945 yang menyatakan bahwa Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Mana Esa. yang konsekuensi dari adanya sila pertama perwujudannya adalah iman. Sistem peradilan pidana dikaitkan dengan agama. Etika Profesi dan Cita Ketuhanan Yang Maha Esa Pelaksanaan etika profesi menyangkut masalah hati nurani. karena itulah awal imannya. Hal ini mempunyai hubungan. budaya. Dengan demikian berbicara tentang Pancasila tidak mungkin berbicara hanya berdasarkan Pan¬casila. atau norma yang harus diindahkan (kaidah) yang berisi petunjuk-petunjuk bagi para anggota organisasinya. budaya. melainkan harus dikaitkan dengan tauhid. agar tujuan untuk mencapai kejujuran. suatu aturan (tata). 1990 : 10). sehagaimana dikemukakan Bismar Siregar. disamping diatur oleh aturan-aturan hukum khususnya Hukum Acara Pidana. bersemangat persatuan. keadilan. tantang larangan-larangan yaitu apa yang tidak boleh diperbuat atau dilakukan oleh mereka. Demikian juga masalah etika berkaitan dengan pandangan hidup dan persoalanpersoalan kesusilaan. utamanya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. O1eh sebab itu. Etika profesi sangat berkaitan dengan integritas moral. mungkin bagi mereka yang be1urn menempatkan agarna sebagaimana mestinya. dan hukum kita adalah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Siregar. Sila-sila dari Pancasila yang keempat lainnya pun. Ini diartikan apa pun yang dilakukannya tidak terlepas sebagai umat yang beragama. para aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. berkerakyatan dan berkeadilan. Untuk itu diperlukan penghayatan dan pengamalan agama. Disini rnemperlihatkan bahwa dalam penegakan hukum. Dalam mekanisme penegakan hukum. tetapi kadang-kadang juga menyangkut tingkah laku mereka pada umumnya dalam masyarakat (Widyadharma. perlu kita telaah ketentuan dalam UU No. penghargaan martabat manusia dapat terwujud. yang tidak lain sebagai tauhid. juga harus menaati etika profesi. dan Negara menjamin Kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. berperikemanusiaan. pengamalannya berdasarkan sila pertama dalam rangka hubungan antar sesama manusia. tidak saja dalam menjalankan profesinya. Pandangan hidup ini dalam kerangka Bangsa Indonesia tidak dapat terlepas dengan Falsafah Pancasila. yang menghendaki peradilan dilakukan Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 4). Oleh sebab itu pelaksanaan etika profesi merupakan realisasi tingkah laku fungsional profesi yang berketuhanan. karena kesadaran moral merupakan faktor 4 . Kode etik ini berupa suatu ikatan. sehingga sila-¬sila Pancasila harus menaungi tuntunan yang ditentukan dalam etika profesi. Dalam hal Ini diketenqahkan oleh Soebjakto. dan hukum selalu dikaitkan dengan Pancasila. sehingga dapat dikatakan etika. bahwa pada hakikatnya etika setiap profesi tercermin dalam kode etiknya.

baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa. insan Negara Yanotama. berperilaku susila. Dalam Penjelasan Keputusan tersebut dinyatakan. Kode Etik Hakim terdapat dalam Keputusan Rapat Kerja Para Ketua Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri No. Etika profesi tersebut dikaitkan dengan apa yang te lah disampaikan Bismar Siregar. dinyatakan. Ini akan membawa akibat timbulnya kesadaran untuk menaati norma-norma yang diharapkan sesuai dengan tuntutan profesi. kedudukan POLRI dapat dilihat sebagai insan Rastra Sewa Kotama. maupun kepolisian. Adhy. Satya. Dan ditetapkan pula mengenai sifat-sifat hakim yakni hakim harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Pasal 2a). Nomer : Kep-052/JA/8/1979). Dalam keputusan tersebut dalam pertimbangannya dinyatakan bahwa hakim mempunyai tugas yang luhur menegakkan hukum dan keadilan atas dasar Kebenaran dan kejujuran dengan bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan sesama manusia. Sedangkan wicaksana mengandung arti bijaksaha dalam tutur kata dan tingkah laku. jaksa. yang bertujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan lahir dan batin bagi Bangsa dan Negara Indonesia. dan Wicaksana itulah yang disebut sebagai Tri Krama Adhyaksa (BAB III). Hal ini dapat diperoleh dengan mengkaji beberapa Kode etik profesi dari aparat penegak hukum masing-masing.1). Makna dari Satya adalah kesetiaan yang bersumber pada rasa jujur. Wicaksana. keluarga. Adhy berarti kesempurnaan dalam bertugas yang berunsur utama pemilikan rasa tanggung-jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Maha Esa. Akhirnya pembicaraan mengenai Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia. yang dinyatakan bahwa Advokat Indonesia adalah warga negara yang bertagwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan dalam melakukan tugasnya menjunjung tinggi hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta sumpah jabatannya (Pasal 1 ayat 1. Pembukaan Kode Etik Kepolisian diawali kalimat : Dengan Bimbingan Tuhan Yang. Adhy. 2 Tahun 1966 Tentang Kode Kehormatan Hakim Dan Majelis Kehormatan Hakim. dan insan Yana Anucacanadnarma. maka etika profesi pun tidak dapat dilepaskan dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. sebagai manifestasi iman yang merupakan esensi sikap keagamaan. Selanjutnya dalam Pedoman Pengamalan Kode Etik Kepolisian Negara R. terhadap diri pribadi dan keluarga maupun kepada sesama manusia.1 ). khususnya dalam penerapan kekuasaan dan kewenangan. Dalam Kode Etik Advokat Indonesia dapat ditemukan ketentuan mengenai Kepribadian Advokat. dan alinea terakhir ditutup dengan kalimat yang berbunyi : Setiap saat saya siap sedia dan sanggup melaksanakan Bhakti Dharma Waspada sesuai dengan tuntunan hati nurani berdasarkan petunjuk Tuhan Yang Maha Esa.I.penentu agar tindakan manusia selalu bermoral. Berkaitan dengan Kode Etik bagi para aparat kejaksaan dikenal adanya Doktrin Adhyaksa Tri Krama Adhyaksa Jaksa Agung Repub1ik Indonesia (Surat Keputusan Jaksa Agung R. dan taat kepada UUD 1945 serta Satya. 5 . hakim. baik penasihat hukum atau advokat. bahwa yang semuanya itu tugas dan wewenang Jaksa dilandasi oleh peraturan perundang-undangan dan dalam pelaksanaannya dijiwai dengan sikap mental bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia berjiwa Pancasila. bahwa Setiap anggota POLRI Insan Rastra Sewakotama mengabdi kepada Nusa dan Bangsa dengan penuh ketaqwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa (1.I.

sebagaimana dikemukakan Koentjaraningrat. Ide-ide tersebut merupakan nilai-nilai yang tercermin dalam norma-norma hukum. yang termasuk dalam budaya hukum yang telah diuraikan dimuka. dan penting dalam hidup. dan ini perlu dipertimbangkan dalam kaidah hukum (aspek subtansial) dan penegakannya (aspek struktural). organisasi sosial. dan itu perlu penegakannya. maka dapat kita temukan pandangan hidup suatu masyarakat yang pengaruh agamamya nampak lebih dominan. 1983 : 2). Apabila tidak. karena dalam kenyataan kadang kala masyarakat mengidentikkan aparat dengan hukum. 1985 : 190). agama. dan mempertahankan perdamaian pergaulan hidup (Soekanto. Satjipto Rahardjo menekankan bahwa penegakan hukum tidak lain merupakan penegakan ide-ide serta konsep-konsep yang bersifat abstrak. dan nilai-nilai. yang sifatnya lebih konkret. karena be1urn diterapkan pada kasus-kasus konkrit tertentu. Para aparat penegak hukum berperan penting dalam menegakkan kaidah-kaidah hukum pidana. maka perlu dicari alternatif pendekatan yang tidak hanya formal. sadar dan taat kepada hukum. walaupun sudah dinyatakan berlaku secara formal. yang ini merupakan konkritisasi dari sistem nilai budaya yang bersifat lebih umum / abstrak. Ini tergantung pada gerak saling mempengaruhi antara unsur-unsur budaya. pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat (Koentjaraningrat. dan sudah barang tentu tidak akan mempunyai kekuatan berlaku dalam kenyataannya. seyogyanya Indonesia sebagai negara berdasarkan hukum 6 . Pandangan hidup yang dipengaruhi agama ini akan menciptakan pula sistem nilai budaya yang unsur agamanya Rental. Kalau hal ini terjadi hukum tidak akan diterima dalam kerangka budaya masyarakat atau tidak mengakar. kode etik notaris. Sistem nilai budaya dikatakan bersifat lebih abstrak. Sebenarnya dibalik kaidah-kaidah hukum pida¬na itu terkandung konsep-konsep. ide-ide yang masih bersifat abstrak (tetapi yang lebih abstrak lagi adalah sistem nilai budaya). masyarakat di Bali : banyak dipengaruhi Agama Hindu. Disini relevan diajukan pernyataan Satjipto Rahardjo (1991 : 16). sehingga dapat dikatakan penegakan hukum adalah suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide yang abstrak tersebut ke dalam wujud yang nyata. seperti. sehingga dapat berfungsi sebagai suatu. adapun masyarakat Aceh dipengaruhi Agama Islam. Seperti telah diuraikan bahwa hukum merupakan konsep-konsep. tanpa tahun : 15). ekonomi. maka secara konsepsional sebagai pengertian penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam norma-norma hukum yang mantab mengejawantah dalam sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan. seperti : kesenian.Sedangkan pada Kode Etik Notaris dapat dilihat mengenai kepribadian notaris. dinyatakan bahwa Notaris sebagai pejabat umum dalam melaksanakan tugasnya dijiwai Pancasila. Sehubungan dengan agama.kan manifestasi dari budaya. peraturan jabatan notaris. maka akan menimbulkan kegoncangan-kegoncangan bu¬daya karena hukum pun merupa. ide-ide. Masyarakat diwilayah Indonesia Timur (Menado) yang dominan adalah pengaruh Agama Kristen. berharga. manakah yang lebih kuat. dan berbahasa Indonesia yang baik (Pasal 1 ayat 1). disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat tentanq apa yang dianggap bernilai. sumpah jabatan. memelihara. Sistem nilai budaya tersebut akan menampakkan dalam bentuk yang beraneka-ragam sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Selanjutnya sistem nilai budaya tersebut melalui proses seleksi dengan mempertimbangkan unsur-unsurnya tersebut menjadi nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sesuatu masyarakat menjadi pandangan hidup. Pentingnya budaya hukum dikaitkan dengan penegakan hukum pidana. Proses perwujudan ide-ide itulah yang merupa¬kan hakikat penegakan hukum Rahardjo.

itu tidak hanya berbicara melalui bahasa perundang-undangan. Dengan demikian kebudayaan yang dimaksudkan tidak lain kebudayaan yang tidak meninggal-kan dan justru mencerminkan nilai-nilai agama. utamanya Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Posted in: KULIAH ETPROF 7 . yang berarti kebudayaan atas dasar Sila-sila Pancasila. Kebudayaan disini yang berlandaskan Pancasila. melainkan juga bahasa kebudayaan. Isyarat yang dapat ditangkap disini adalah memanfaatkan suatu pendekatan dalam penegakan hukum yaitu pendekatan kebudayaan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->