RESUME

KEPERAWATAN ANAK ASUHAN KEPERAWATAN ANAK HOSPITALISASI

DISUSUN OLEH: AGTRI DARFIANI

TINGKAT: IIB1

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG JURUSAN KEPERAWATAN 2011/ 2012

sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya. Selama proses tersebut bukan saja anak tetapi orang tua juga mengalami kebiasaan kebiasaan yang asing.HOSPITALISASI PADA ANAK A. kehilangan. Pendekatan Melalui Metode Permainan Yaitu pendekatan dilakukan melalui permainan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Rasa cemas pada orangtua akan membuat stress anak meningkat. pengalaman sebelumnya terhadap sakit.orang tua yang kurang yang mendapat dukungan emosi akan menunjukkan rasa cemas.  Melalui penyuluhan atau sosialisasi yang diharapkan kesadaran diri mereka sendiri dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan demikan asuhan keperawatan tidak hanya terfokus pada anak terapi tapi juga pada orang tuanya. yaitu :  Melalui dunia pendidikan yang ditanamkan secara dini kepada peserta didik. Raksi hospitalisasi bersifat individual dan sangat tergantung pada usia perkembangan anak. perlukaan tubuh. Pendekatan Empirik Dalam menanamkan kesadaran diri terhadap para personil yang terlibat dalam hospitalisasi. Pendekatan Yang di Gunakan Dalam Hospitalisasi 1. Hospitalisasi Pada Anak . Pengertian Hospitalisasi Suatu proses karena suatu alasan darurat atau berencana mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah. 2. Pada umumnya reaksi anak trhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan. Lingkungannya yang asing. dan rasa nyeri. C. B. Metode pendekatan empirik menggunakan strategi.

. 3. Keterbatasan mekanisme koping. b. lingkungan dan kebiasaan sehari-hari. Pengalaman yang mengancam 2. Stressor Keduanya dapat menimbulkan krisis bagi anak dan keluarga. pakaian isolasi. Stress Hospitalisasi Stress yang umumnya terjadi berhubungan dengan hospitalisasi : 1. Pengalaman sebelumnya. e. Isolasi Isolasi merupakan hal yang menyusahkan bagi semua anak terutama berpengaruh pada anak dibawah usia 12 tahun. Anak tidak memahami mengapa dirawat/terluka. Tingkat perkembangan usia. Support sistem dalam keluarga. Reaksi anak terhadap sakit dan hospitalisasi dipengaruhi : a. D.Hospitalisasi bagi keluarga dan anak dapat dianggap sebagai : 1. 2. Bagi anak hal ini mungkin terjadi karena : 1. Berat ringannya penyakit. Stress dengan adanya perubahan akan status kesehatan. sarung tangan. Pengunjung. d. perawat dan dokter yang memakai pakaian khusus (masker. Keterampilan koping. Takut  Unfamiliarity  Lingkungan rumah sakit yang menakutkan  Rutinitas rumah sakit  Prosedur yang menyakitkan  Takut akan kematian 2. c. penutup kepala) dan keluarga yang tidak dapat bebas berkunjung.

monster. tidak bebas berpakaian. Privasi yang telambat Terjadi pada anak remaja : rasa malu. apatis. o Tidak tertarik dengan aktivitas di sekitarnya o Menghisap jari o Menghindari kontak mata o Berusaha menghindar dari orang yang mendekati . Fantasi-fantasi dan unrealistic anxienties tentang kegelapan. sedih. Nyeri dan komplikasi akibat pembedahan atau penyakit. Prosedur yang menyakitkan 6. diam. F. E. 5. pembunuhan dan diawali oleh situasi yang asing.3. STRESSOR PADA INFANT Separation anxiety (cemas karena perpisahan) • Pengertian trhadap ralita trbatas hubungan dngan ibu sangat dekat • Kemampuan bahasa terbatas Respon infant akibat prpisahan dibagi tiga tahap 1. Tahap putus asa (phase of despair) o Tangis anak mulai berkurang o Murung. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hospitalisasi Pada Anak 1. Tahap protes (fase of protes) o Menangis kuat o Menjerit o Menendang o Berduka o Marah 2. Berpisah dengan orang tua dan sibling. Takut akan cacat atau mati. 3. binatang buas. 2. Gangguan kontak sosial jika pengunjung tidak diizinkan 4.

Menangis keras . sedih. menjerit.Pergerakan tubuh yang banyak .kurang menunjukkan minat bermain. 3. apatis  Pengingkaran/ denial c.o Kadang anak tidak mau makan.  Tahap protes menangis. Masa todler (2-3 th) Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan . REAKSI ANAK PADA HOSPITALISASI Reaksi anak pada hospitalisasi dapat dibagi pada beberapa tahap yaitu : a. menolak perhatian orang lain  Putus asa menangis berkurang.Ekspresi wajah yang tak menyenangkan b. G. Tahap menolak (phase dethacement/denial) o Secara samar anak seakan menerima perpisahan (pura-pura) o Anak mulai tertarik dengan sesuatu di sekitarnya o Bermain dengan orang lain o Mulai mmbina hubungan yang dangkal dengan orang lain o Anak mulai terlihat gembira . Masa bayi(0-1 th) Dampak perpisahan Pembentukan rasa P.anak tak aktif. Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun )  Menolak makan  Sering bertanya  Menangis perlahan  Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan Perawatan di rumah sakit : .D dan kasih sayang Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas .Disini respon perilaku anak dengan tahapnya.

a. Reaksi yang muncul :  Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan  Tidak kooperatif dengan petugas Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan respon : . Masa sekolah (6 sampai 12 tahun) Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai . Sehingga ada perasaan malu. H. REAKSI ORANG TUA TERHADAP HOSPITALISASI  Perasaan yang muncul dalam hospitalisasi:  Takut dan cemas  Perasaan sedih dan frustasi:  Kehilangan anak yang dicintainya  Prosedur yang menyakitkan  Informasi buruk tentang diagnosa medis  Perawatan yang tidak direncanakan  Pengalaman perawatan sebelumnya .tidak mau bekerja sama dengan perawat. Pembatasan aktivitas: Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Kehilangan control b. kehilangan kelompok sosial. keluarga. Masa remaja (12 sampai 18 tahun ) Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya Saat MRS cemas karena perpisahan tersebut Pembatasan aktifitas kehilangan control. berontak.menarik diri . kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan.bertanya-tanya . d. kelemahan fisik Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal e. marah.menolak kehadiran orang lain. takut sehingga menimbulkan reaksi agresif. perasaan takut mati. Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dalam keluarga.

rasa bersalah . menginginkan pulang  Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak di RS : Marah. putus asa. Perasaan sedih : Kondisi terminal perilaku isolasi /tidak mau didekati orang lain  Perasaan frustasi : Kondisi yang tidak mengalami perubahan Perilaku tidak kooperatif. menolak tindakan. benci. cemburu.

Pertahankan kontak maksimal dengan beberapa perawata. Berikan cara-cara anak dapat membantu pengobatan dan ouji atas kerjasama anak Permasalannya : 1. Batasi aturan dan dorongan pada perilaku 2. bosan. Dekatkan mainan faforit anak 8. pegang. menangis karena malu yang berlebihan karena pengobatan. dapat mengalihkan rasa nyeri dengan alihkan perhatian. Menyayi dan berbicara dengan bayi 3. kenalkan perawata disamping orang tua. dan lihat ekspresi verbal dan non verbal 2. Ijinkan anak memilih dalam batasan yang yang dapat diterima 4. Tidak berdaya : anak marah dan frustasi. takut terhadap pembedahan di area genital. Anjurkan orang tua berada disamping anak saat prosedur invasive yang menyakitkan 7. Rasa takut : pahami penyebab penyakit. gendong bayi dan terus berinteraksi selama prosedur 4. Anjurkan interaksi dengan orang tua : rooming in. Peduli terhadap kehilangan control emosi. Ansietas : pahan alasan dipisahkan tetapi masih butuk keberadaan orang tua dan lebih peduli terhadap rutinitas sekolah dan teman-teman 3. 4.ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN HOSPITALISASI Menejemen asuhan keperawatan untuk balita 1. perasaan antipasti. ijinkan anak bertemu perawata sebelum prosedur dilakukan 9. Anjurkan orang tua merencanakan kunjungan dengan anak 3. orang tua bicara dengan anak dan ijin apabila mau pergi 5. . Gangguan citra diri: peduli terhadap perubahan tubuh. lamanya imobilisasi dihubungkan dengan menarik diri. Bantu kunjungan saudara kandung Manajemen asuhan keperawatan untuk anak sekolah 1. Berikan asuhan keperawatan yang konsisten 2. Sentuh. Biarkan mainan yang membuat rasa nyaman dan aman 6.

cemas terhadap PR sekolah dan perubahan peran dalam kelompok. Anjurkan kunjungan teman sebaya 4. anak dapat berfikir hipotesis tentang penyakitnya. peduli dengan cara mengekspresikan perasaan dan malu terhadap perilaku yang berlebihan. Rasa takut . Ansietas : pada orang tua penting tetapi tidak harus. Jelaskan prosedur rinci (jika anak meminta) 3. Berikan permainan dan aktifitas lain yang membantu untuk dapat diskusi 5. merasa tidak pasti tentang masa depan karena penyakit atau hospitalisasi. menunjukkan sedikit rasa takut tetapi bisa ketakutan kalau pengalaman lalu menyakitkan. Biarkan anak memilih. peduli atas perpisahan dengan guru dan teman. Menjelaskan kepada orang tua tentang kebutuhan mandiri 3. 3. Monitor perilaku untuk menentukan kebutuhan emosi terutama pada anak yang menarik diri dan tidak berespon 2. Diskusikan respon thd pertanyaan ttg penyakit dan perubahan tubuh 5. 7. terapi yang menyangkut area genital 6. mencoba berani selama prosedur medis. Fasilitasi perencanaan aktifasi (peer) 2. Berikan waktu diskusi 6. privasi. banyak bertanya dan mengekspresikan rasa takut secara verbal tentang konsekuensi penyakit . kasar pada orang tua saat berusaha mandiri membuat stress. Tidak berdaya : anak berusaha mandiri. Berikan privasi setiap prosedur tindakan Permasalahan: 1. Ikuti kenginan anak ttg keberadaan ortu Permasalahan : 1. Monitor perilaku anak apabila ingin bicara 4.Menejemen pada anak usia sekolah 1. partisipasi. Manajemen pada anak usia remaja 1. Berika npenyuluhan rinci tentang prosedur pengobatan. 2. Rasa takut : paham bahwa penyakit beragam.

sangat peduliterhadap perubahan citra diri. 4. menarik diri atau frustasi. Gangguan citra diri : peduli dengan ancaman terhadap perubahan terhadap perkembangan identitas seksualitas dan peran sesuai gender. Tidak berdaya : peduli terhadap kehilangan fungsi mandiri. menarik diri dikarenakan perubahan penampilan 3. Ansietas : perpisahan dengan sekolah dan teman lebih bermakna dari pada orang tua. kuatir tentang tanggapan orang lain/dikasihi. sulit bekerja sama jika pengobatan yang berhubungan dengan perubahan citra diri . sulit mengijinkan bantuan secara fisik dan emosi saat marah.2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful