P. 1
tugas teori akuntansi

tugas teori akuntansi

|Views: 1,035|Likes:
Published by ramlandikha

More info:

Published by: ramlandikha on Jun 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2014

pdf

text

original

11

TUGAS TEORI AKUNTANSI NO. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Laporan Keuangan

2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Kegiatan akuntansi pada dasarnya adalah meningkatkan dan menafsirkan data keuangan dari lembaga perusahaan, dimana aktivitasnya berkaitan dengan produktivitas pertumbuhan barang- barang dan jasa-jasa. Akuntansi dapat memberikan informasi tentang kondisi keuangan dan hasil operasi serta kinerja perusahaan seperti yang tercermin dalam laporan keuangan. Pengertian akuntansi menurut Belkooi yang diterjemahkan oleh Ahmad Rihaldi dalam bukunya “Teori Akuntansi “ ( 2003 : 38 ) adalah : “Aktivitas jasa, fungsinya menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang entitas ekonomik yang diperkirakan bermanfaat dalam membuat keputusan- keputusan ekonomik, dalam membuat pilihan diantara alternative tindakan yang ada “. Kesimpulan dari pengertian akuntansi diatas yaitu bahwa akuntansi adalah suatu seni dari pengidentifikasian, pencatatan, penggolongan dan ringkasan kejadian- kejadian ekonomi suatu organisasi kepada para pemakai informasi yang berkepentingan dengan cara yang setepat-tepatnya dan dengan penunjuk yang dinyatakan dalam bentuk moneter. Laporan keuangan merupakan pertanggungjawaban keuangan pimpinan atas perusahaan yang telah dipercayakan kepadanya. Kondisi keuangan dan hasil- hasil

12

operasi perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan perusahaan, pada hakekatnya merupakan hasil akhir dari kegiatan perusahaan yang mana dapat menggambarkan kinerja keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai laporan keuangan berikut dikemukakan pengertian laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan ( 2002 : 2 ) yaitu : ” Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan keuangan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan, termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan keuangan. Jenis laporan keuangan utama yang umumnya dibuat oleh setiap perusahaan adalah neraca dan laporan laba rugi (dan biasanya dilengkapi dengan laporan perubahan modal).” Kesimpulan dari laporan keuangan diatas adalah suatu daftar yang menggambarkan posisi keuangan pada suatu saat tertentu dan suatu daftar yang menggambarkan hasil operasi suatu perusahaan pada suatu periode tertentu ditambah dengan laporan keuangan lainnya, biasanya digunakan bermacam- macam lampiran untuk menambah data yang sudah ada dalam laporan keuangan itu. Daftar- daftar itu biasanya dianggap sebagai bagian dari laporan keuangan untuk dianalisis. Untuk lebih jelas mengenai laporan keuangan ini, maka penulis akan mengutip beberapa pendapat dari beberapa ahli yang dianggap paling lengkap adalah : Slamet Sugiri, ( 2001 : 15 ) : ” Laporan keuangan adalah hasil akhir dari proses akuntansi, sebagai akhir dari proses akuntansi laporan keuangan menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan oleh pelbagai pihak (misalnya pemilik

13

dan kreditor). Laporan keuangan yang utama terdiri atas : neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas.” Dwi Prastowo, ( 2002 : 8 ) : ” Menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonomi yang merupakan unsur laporan keuangan. Untuk ini dapat dikaitkan dengan unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan dan unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja. Yang berkaitan secara langsung dengan posisi keuangan adalah aktiva, kewajiban dan ekuitas.” Kesimpulan dari pengertian di atas adalah bahwa laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi pada suatu periode waktu tertentu yang merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data keuangan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan atau ikhtisar lainnya yang dapat digunakan untuk membantu para pemakainya dalam mengambil keputusan. Selain itu, laporan keuangan yang digunakan perusahaan umumnya adalah neraca, perhitungan rugi laba, laporan perubahan modal dan laporan arus kas.

2.1.2

Tujuan Laporan Keuangan Pada dasarnya laporan keuangan dimaksudkan untuk menyediakan

informasi keuangan mengenai suatu badan usaha yang akan dipergunakan oleh pihak yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan didalam pengambilan keputusan ekonomi. Menurut SAK No.1 ( 2002 : 1.2 ) tujuan dari laporan keuangan adalah sebagai berikut : ” Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukan pertanggung

14

jawaban ( Stewardship ) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang meliputi : a) Aktiva b) Kewajiban c) Ekuitas d) Pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, dan e) Arus kas.” Sedangkan tujuan laporan keuangan menurut Harnanto dalam bukunya ” Akuntansi Keuangan Lanjutan I ” ( 2002 : 14 ) adalah : ” 1. Menyediakan informasi menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dan pengambil keputusan ekonomi. 2. Tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan oleh pemakai dalam pengambilan keputusan dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan. 3. Menyediakan informasi tentang apa yang telah dilakukan oleh manajemen ( Stewardship ). 4. Catatan dan skedul tambahan.”

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan laporan keuangan adalah untuk mengurangi ketergantungan para pengambil keputusan pada dugaan murni, terkaan dan intuisi serta mengurangi dan mempersempit lingkup ketidakpastian yang tidak bisa dielakkan pada setiap proses pengambilan keputusan.

2.1.3

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Selain tujuan tersebut di atas akan lebih bermanfaat apabila laporan

keuangan memiliki karakteristik kualitatif yang membuat laporan keuangan berguna bagi pemakai.

15

Menurut SAK ( 2002 : 7 ) terdapat empat karakteristik kualitatif pokok yaitu : ” 1. 2. 3. 4. Dapat dipahami Relevan Keandalan Dapat diperbandingkan.”

Keempat karakteristik kualitatif tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Dapat dipahami Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh para pemakai. Dalam hal ini, para pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. 2. Relevan Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan para pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan apabila informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan (Predictive), menegaskan atau mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu (Confirmatory). 3. Keandalan Agar bermanfaat informasi juga harus andal (reliable). Informasi mempunyai kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur

16

(faithful refresentation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

4. Dapat dibandingkan Para pemakai laporan keuangan harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Selain itu, pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif.

2.1.4

Fungsi Laporan Keuangan Laporan keuangan yang disusun dan disajikan kepada semua pihak yang

berkepentingan dengan eksistensi suatu perusahaan pada hakekatnya merupakan alat komunikasi, artinya laporan keuangan itu adalah suatu alat yang digunakan untuk mengkonsumsikan informasi keuangan dari suatu perusahaan dan kegiatankegiatannya kepada mereka yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut. Menurut Harnanto dalam bukunya ” Analisis Laporan keuangan ” (2002 : 11) bahwa dari laporan keuangan maka manajemen dapat memperoleh informasi yang berfungsi untuk : ” 1. Merumuskan, melaksanakan dan mengadakan penilaian terhadap kebijakan-kebijakan yang dianggap perlu. 2.Mengorganisasi dan mengendalikan kegiatan atau aktivitas dalam perusahaan. 3.Merencanakan dan mengendalikan kegiatan atau aktivitas sehari-hari dalam perusahaan. 4.Mempelajari aspek, tahap- tahap kegiatan tertentu dalam perusahaan.

17

5. Menilai keadaan atau posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan.” Disamping fungsi tersebut di atas laporan keuangan berfungsi juga sebagai pertanggung jawaban bagi manajemen kepada semua pihak yang menanamkan dan mempercayakan pengelolaan dananya dalam perusahaan tersebut terutama kepada para pemilik. Melalui laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan maka ada dua pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut yaitu : 1. Pihak Intern 2. Pihak Ekstern, meliputi : • • • • • • • Investor Karyawan Instansi pemerintah Pemberi pinjaman Pemasok dan kreditor usaha lainnya Pelanggan Masyarakat

2.1.5

Unsur Laporan Keuangan Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan

peristiwa lain yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonomi, yang merupakan unsur laporan keuangan. Unsur ini dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu : 1. Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan.

18

2. Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja. Laporan perubahan posisi keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan berbagai perubahan dalam neraca. Didalam neraca dan laporan laba rugi, penyajian berbagai unsur tersebut memerlukan proses subkalisifikasi.

Unsur Posisi keuangan Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aktiva, kewajiban dan ekuitas (yang disajikan pada laporan keuangan yang disebut neraca). Dalam menilai apakah suatu pos memenuhi definisi aktiva, kewajiban atau ekuitas tersebut, perhatian perlu ditujukan pada substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Neraca juga dapat meliputi pos yang tidak memenuhi definisi aktiva atau kewajiban dan tidak disajikan sebagai bagian dari ekuitas. Masing- masing unsur yang berkaitan dengan posisi keuangan tersebut didefinisikan sebagai berikut : a) Aktiva (Assets) Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan diharapkan akan memberi manfaat ekonomi bagi perusahaan di masa depan. Dengan kata lain aktiva adalah harta atau kekayaan suatu perusahaan. Kekayaan suatu perusahaan tidak hanya terbatas pada bentuk yang berwujud tetapi termasuk biaya-biaya yang masih harus dialokasikan pada penghasilan yang

19

akan datang dan juga kekayaan yang tidak berwujud lainnya, misalnya : Hak Paten, Goodwill, Licenses dan sebagainya. Aktiva terdiri dari : 1. Aktiva Lancar (Current Assets) Carl S. Warren, James M. Reeve dan Philip E. Fess dalam bukunya “Pengantar Akuntansi” ( 2005 : 180 ), penerjemah Aria Farahmita, SE. Ak.; Amanugrahani, SE. Ak.; Taufik Hendrawan SE. Ak. mengatakan : “Aktiva Lancar yaitu Kas dan aktiva lainnya yang diharapkan akan dikonversi menjadi kas atau dijual atau dipakai habis dalam satu tahun atau kurang, dalam operasi bisnis yang normal. Kelompok-Kelompok aktiva lancer ini diantaranya adalah : 1. Uang Kas (Cash On Hand) 2. Uang yang disimpan di Bank (Cash in Bank) 3. Piutang Jangka Pendek (Account Receivable) 4. Wesel-wesel tagih (Notes Receivable) 5. Efek-efek yang setiap saat dapat dijual (Marketable Securities) 6. Persediaan Bahan Baku (Raw Material) 7. Barang Dalam Proses (Goods In Process) 8. Barang Jadi (Finished Goods).” 2. Investasi/Penyertaan (Investment) Pengertian Investasi menurut Joel G. Siegel dan Jae K. Shim alih bahasa Drs. Moh. Kurdi dalam buku “Kamus Istilah Akuntansi” (2000:252), yaitu: “Investasi adalah pengeluaran untuk memperoleh kekayaan, peralatan, dan aktiva modal lainnya yang dapat menghasilkan pendapatan. Investasi merupakan surat berharga dari perusahaan lain yang dipegang untuk jangka panjang, disebut investasi jangka panjang dan diperlihatkan dalam bagian aktiva yang tidak lancar pada neraca. Investasi juga merupakan surat berharga perusahaan lain yang dipegang untuk waktu yang sangat singkat (investasi jangka pendek). Tampak sebagai surat berharga yang mudah diperjualbelikan pada bagian aktiva lancar dalam neraca.”

20

Investasi terbagi 2 (dua), yaitu : 1. Investasi Jangka Pendek (Short Term Investment) Investasi jangka pendek yang berupa surat-surat berharga atau dalam bentuk yang lain dinilai dalam Neraca (Balance Sheet) berdasarkan cost atau harga pasar mana yang lebih rendah. 2. Investasi Jangka Panjang (Long Term Investment) Investasi jangka panjang yang berupa modal saham dinyatakan sesuai dengan original cost atau berdasarkan nilai pasar (Market Value). Sistem apapun yang dipilih didalam penilaian investasi baik jangka pendek maupun jangka panjang kalau perlu didalam Balance Sheet diberi catatan tersendiri. Apabila investasi itu berupa obligasi maka pada saat investasi harga obligaasi nilai nominalnya (premium atau discount) akan diakumulasikan sesuai dengan umur ekonominya atau pada saat jatuh tempo. 3. Aktiva Tetap (Fixed Assets) Carl S. Warren, James M. Reeve dan Philip E. Fess dalam bukunya “Pengantar Akuntansi” (2005:140) penerjemah Aria Farahmita, SE. Ak.; Amanugrahani, SE. Ak.; Taufik Hendrawan SE. Ak. mengatakan bahwa : “Sumber daya fisik yang dimiliki serta digunakan oleh bisnis dan bersifat permanen atau tahan lama disebut aktiva tetap (fixed assets atau plant assets). Dalam pengertian tertentu, aktiva tetap adalah jenis beban yang ditangguhkan jangka panjang. Akan tetapi, karena sifat dan masa manfaatnya yang berjangka panjang, maka hal ini akan dibahas secara terpisah dari beban ditangguhkan lainnya, seperti perlengkapan dan asuransi dibayar dimuka.”

21

Kelompok aktiva tetap ini diantaranya adalah : 1. Tanah 2. Gedung 3. Mesin-mesin, perkakas dan alat-alat tehnik lainnya serta instalasi-instalasi 4. Barang-barang inventaris 5. Kendaraan-kendaraan bermotor 4. Aktiva Lain-lain (Other Assets) Pengertian aktiva lain-lain (Other Assets) menurut Joel G. Siegel dan Jae K. Shim alih bahasa Drs. Moh. Kurdi dalam buku “Kamus Istilah Akuntansi” ( 2000 : 328 ), yaitu: “Aktiva Lain-lain (Other Assets) adalah kategori neraca untuk aktivaaktiva kecil yang tidak diklasifikasikan dibawah judul khusus (seperti, aktiva lancar, aktiva tidak berwujud, dan investasi jangka panjang). Jenis aktiva ini mungkin tidak material dalam jumlahnya dibandingkan dengan seluruh aktiva.“ Jadi aktiva lain-lain (other assets) merupakan aktiva-aktiva yang tidak dapat dimasukan kedalam golongan aktiva lancar dan aktiva tetap. Kelompok aktiva lain-lain ini diantaranya adalah : 1. Persekot-persekot atau uang muka yang diberikan kepada pemimpin perusahaan dan para karyawan. 2. Biaya-biaya yang dibayar dimuka 3. Deposito-deposito jangka panjang 4. Investasi-investasi dan pinjaman-pinjaman yang diberikan kepada cabangcabang perusahaan.

22

5. Aktiva Tetap Tidak Berwujud (Intangiable Fixed Assets) Yaitu hak jangka panjang yang sifatnya tidak berwujud yang dimiliki perusahaan dalam rangka menjalankan usaha perusahaan, hal ini dijelaskan oleh Prof. Dr. Zaki Baridwan M.Sc, Akt. dalam bukunya “Intermediate

Accounting” (2004:354-356), adalah bahwa yang termasuk aktiva tetap tidak berwujud antara lain : 1. Hak Patent, yaitu suatu hak yang diberikan kepada pihak yang menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru agar pihak yang menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru tersebut dapat memanfaatkan dan mengelolanya selama jangka waktu yang telah ditetapkan. Jangka waktu yang telah ditetapkan tersebut biasanya selama 17 tahun. 2. Hak Cipta, yaitu suatu hak yang diberikan kepada pihak yang menciptakan sesuatu untuk dapat dimanfaatkan selama jangka waktu 28 tahun. 3. Franchises, yaitu suatu hak yang diberikan oleh pemerintah / badan usaha untuk menggunakan fasilitas umum, yang bertujuan untuk memberikan pelayanan dan manfaat pada masyarakat. 4. Goodwill, yaitu suatu nilai lebih yang dimiliki oleh perusahaan sehingga dapat memberikan keuntungan lebih bila dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Goodwill ini hanya dapat dipandang sebagai aktiva apabila munculnya akibat dari pembelian atau akibat adanya perubahan-perubahan bentuk perusahaan. b) Kewajiban (Liabilities) Kewajiban merupakan hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi. Menurut Drs. Sofyan Syafri Harahap, MS Ac dalam bukunya “Teori Akuntansi Laporan Keuangan” (2002:71), beliau mengatakan bahwa : “Kewajiban adalah saldo kredit atau jumlah yang harus dipindahkan dari satu tutup buku ke periode tahun berikutnya berdasarkan pencatatan

23

yang sesuai dengan prinsip akuntansi (saldo kredit bukan akibat saldo negative aktiva).” Kewajiban perusahaan ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Hutang Lancar Hutang Lancar (current liabilities), menurut Joel G. Siegel dan Jae K. Shim alih bahasa Drs. Moh. Kurdi dalam bukunya “Kamus Istilah Akuntansi” (2000:122), yaitu: “Hutang Lancar (current liabilities) adalah kewajiban pembayaran dalam satu tahun atau siklus operasi yang normal dalam sebuah usaha. Hutang lancar memerlukan pembayaran dengan aktiva lancar, atau adanya kewajiban jangka pendek lainnya.“ Jadi hutang lancar merupakan hutang-hutang yang harus dibayar dalam waktu satu tahun. Kelompok hutang lancar ini adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Hutang Dagang Pinjaman uang jangka pendek Biaya-biaya yang masih harus dibayar Uang muka yang diterima Kredit rekening Koran

2. Hutang Jangka Panjang Hutang Jangka Panjang (long-term liabilities), menurut Joel G. Siegel dan Jae K. Shim alih bahasa Drs. Moh. Kurdi dalam buku “Kamus Istilah Akuntansi” (2000:275), yaitu: “Hutang jangka panjang (long-term liabilities) adalah kewajiban pembayaran dalam bentuk uang, barang, atau pelayanan untuk periode lebih dari satu tahun. Kewajiban ini terdapat dalam kewajiban yang tidak lancar dalam neraca.”

24

Jadi hutang jangka panjang merupakan hutang-hutang yang harus dibayar lebih dari satu tahun. Kelompok hutang jangka panjang ini diantaranya adalah: 1. 2. 3. Pinjaman Obligasi. Pinjaman Hipotik. Kredit Investasi dari Bank.

Karakteristik esensial kewajiban adalah bahwa perusahaan mampunyai kewajiban masa kini, yaitu suatu tugas atau tanggung jawab untuk bertindak atau melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu. Kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum, sebagai konsekuensi dari kontrak mengikat atau peraturan perundangan atau timbul praktek bisnis yang lazim, yaitu kebiasaan dan keinginan untuk memelihara hubungan bisnis yang baik atau bertindak dengan cara yang adil. Kewajiban suatu perusahaan dapat diselesaikan dengan cara melakukan pembayaran kas, enyerahkan aktiva lain, memberikan jasa, mengganti kewajiban dengan kewajiban lain, menkonversi kewajiban menjadi ekuitas atau dengan cara dihapuskan. Seperti halnya aktiva, kewajiban juga timbul dari transaksi atau peristiwa masa lalu. Perlu juga dibedakan antara kewajiban sekarang dan komitmen di masa depan. Keputusan manajemen untuk membeli aktiva di masa depan (komitmen) tidak dengan sendirinya menimbulkan kewajiban sekarang. Perusahaan dapat mengakui jumlah rabat yang akan diberikan dimasa depan sebagai kewajiban (yang timbul sebagai akibat penjualan masa lalu). Beberpa jenis kewajiban hanya dapat diukur dengan menggunakan estimasi dalam derajat substansial.

25

c)

Ekuitas Ekuitas adalah hak residual (residual interest) atas aktiva perusahaan setelah

dikurangi semua kewajiban ( aktiva bersih ). Meskipun demikian, di dalam neraca ekuitas dapat disubklasifikasikan. Pengertian modal (equity) menurut Joel G. Siegel dan Jae K. Shim alih bahasa Drs. Moh. Kurdi dalam bukunya “Kamus Istilah Akuntansi” (2000:166), yaitu: “Modal (equity) adalah aktiva dikurangi kewajiban, juga disebut net worth (kekayaan bersih). Dalam perusahaan perseorangan, ini merupakan kekayaan pemilik, sedangkan dalam Perseroan Terbatas merupakan kekayaan pemegang saham. Modal (equity) juga merupakan hak terhadap aktiva, hak kepemilikan, sebuah kewajiban. Pemilik kekayaan mungkin seorang kreditor, pemegang saham atau pemilik perusahaan.” Jadi modal (equity) merupakan bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukan dalam pos modal (saham), surplus dan laba yang ditahan atau kelebihan nilai aktiva terhadap seluruh hutang-hutangnya. Jika kita tinjau dari segi pembukuannya, modal ini merupakan hutang perusahaan kepada pemiliknya. Dalam perseroan terbatas, setoran modal oleh para pemegang saham, saldo laba ditahan, penyisihan saldo laba dan penyisihan penyesuaian pemeliharaan modal dapat disajikan secara terpisah. Penyajian seperti ini berguna untuk mengidentifikasi pembatasan hukum dan pembatasan lainnya terhadap kemampuan perusahaan untuk membagikan atau menggunakan ekuitas serta mereflesikan fakta bahwa berbagai pihak mempunyai hak yang berbeda. Jumlah ekuitas yang disajikan pada neraca bergantung pada pengukuran aktiva dan kewajiban.

26

Pembentukan suatu cadangan kadang-kadang diharuskan oleh suatu peraturan perundangan yang berlaku untuk memberikan perlindungan tambahan baik kepada perusahaan maupun kreditor. Eksistensi dan besarnya cadangan ini merupakan informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan.

2.1.5.2 Unsur Kinerja Perusahaan Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja perusahaan disajikan pada laporan keuangan yang disebut laporan laba rugi. Penghasilan bersih (laba) seringkali digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar bagi ukuran lainnya, misalnya rasio profitabilitas, rasio solvabilitas dan rasio likuiditas. Unsur yang berkaitan langsung dengan pengukuran penghasilan bersih ini adalah penghasilan (Income) dan beban (Expense). Pengakuan dan pengukuran penghasilan dan beban ini bergantung pada konsep modal dan pemeliharaan modal yang digunakan. Masing- masing unsur yang berkaitan dengan kinerja perusahaan tersebut didefinisikan sebagai berikut : a). Penghasilan (Income) Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi (setoran) penanam modal.

27

b). Beban (Expense) Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal. Beban mencakup baik kerugian (Loss) maupun beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Beban yang timbul dari pelaksanaan aktivitas biasa ini meliputi antara lain beban pokok penjualan, gaji dan depresiasi, yang biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas (setara kas), persediaan dan aktiva tetap.

Jenis dan Bentuk Laporan Keuangan 2.1.6.1 Jenis Laporan Keuangan Seperti telah disebutkan di bab sebelumnya, bahwa laporan keuangan yang lengkap biasanya akan meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan, termasuk juga skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan keuangan. Dua jenis laporan keuangan (utama) yang umumnya dibuat oleh setiap perusahaan adalah neraca dan laporan laba rugi (dan biasanya dilengkapi dengan laporan perubahan modal), yang masing- masing berikut : dapat dijelaskan sebagai

28

a). Neraca (Balance Sheet) Neraca adalah laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai posisi keuangan (aktiva, kewajiban dan ekuitas) perusahaan pada saat tertentu. Menurut Earl K. Stice, James D. Stice dan K. Fred Skousen dalam bukunya “Akuntansi Intermediate” (2004:136), penerjemah Aria Farahmita, SE. Ak.; Amanugrahani, SE. Ak.; Taufik Hendrawan SE. Ak. Mengungkapkan bahwa : “Neraca adalah sebuah daftar aktiva dan kewajiban organisasi pada saat tertentu. Selisih antara aktiva dan kewajiban disebut ekuitas. Modal dapat dikatakan sebagai aktiva yang dimiliki oleh pemilik organisasi yaitu jumlah yang akan tersisa jika seluruh kewajiban dibayar. Neraca adalah pernyataan dari persamaan akuntansi dasar : Aktiva = Kewajiban + Ekuitas Pemilik.” Neraca bila dibandingkan dengan periode-periode lalu dan dengan data tambahan, memberi banyak informasi yang berguna bagi banyak pihak yang berkepentingan dalam menganalisis kekuatan keuangan suatu perusahaan. Hubungan-hubungan spesifik seperti ratio lancar, ratio hutang terhadap ekuitas dan tingkat pengambilan informasi perusahaan dapat disoroti. Semuanya itu dapat membantu dalam mengevaluasi posisi keuangan perusahaan. b). Laporan Laba Rugi (Income Statement) Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai kemampuan (potensi) perusahaan dalam menghasilkan laba (kinerja) selama periode tertentu. Menurut Earl K. Stice, James D. Stice dan K. Fred Skousen dalam bukunya “Akuntansi Intermediate” (2004:226), penerjemah Aria Farahmita, SE. Ak.; Amanugrahani, SE. Ak.; Taufik Hendrawan SE. Ak. yaitu :

29

“Laba adalah hasil dari investasi. Salah satu definisi laba yang diterima lebih luas adalah jumlah yang dapat diberikan kepada investor (sebagai hasil investasi) dan kondisi perusahaan di akhir periode masih sama baiknya atau kayanya (well-off) dengan di awal periode.“ Meskipun neraca dan laporan laba rugi merupakan dua dokumen yang terpisah, akan tetapi keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling terkait, serta merupakan suatu siklus. Antara neraca dan laporan laba rugi sering dihubungkan dengan satu laporan yang disebut laporan perubahan modal (laba ditahan), yang memberikan informasi mengenai perubahan modal (laba ditahan) selama periode tertentu. c). Laporan Perubahan Modal (Statement of Owner’s Equity) Definisi laporan perubahan modal menurut Carl S. Warren, James M. Reeve dan Philip E. Fess dalam bukunya “Pengantar Akuntansi” (2005:24), penerjemah Aria Farahmita, SE. Ak.; Amanugrahani, SE. Ak.; Taufik Hendrawan SE. Ak. yaitu: “Laporan perubahan modal merupakan suatu ikhtisar perubahan modal pemilik yang terjadi selama periode tertentu, misalnya sebulan atau setahun.” Laporan tersebut dipersiapkan setelah laporan laba rugi, karena laba bersih atau rugi bersih periode berjalan harus dilaporkan dalam laporan ini. Demikian juga, laporan perubahan modal dibuat sebelum mempersiapkan neraca, karena jumlah modal pemilik pada akhir periode harus dilaporkan di neraca. Oleh karena itu, laporan perubahan modal seringkali dipandang sebagai penghubung antara laporan rugi laba dengan neraca.

30

Bertambahnya modal suatu perusahaan dapat disebabkan oleh : 1. Penambahan Investasi oleh pemilik 2. Laba bersih yang diperoleh oleh perusahaan Sedangkan berkurangnya modal dapat disebabkan oleh : 1. Pengambilan Prive oleh pemilik 2. Perusahaan menderita kerugian d). Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow) Definisi laporan arus kas berdasarkan pernyataan yang dikemukakan oleh Earl K. Stice, James D. Stice dan K. Fred Skousen dalam bukunya “Akuntansi Intermediate” (2004:319), penerjemah Aria Farahmita, SE. Ak.;

Amanugrahani, SE. Ak.; Taufik Hendrawan SE. Ak. adalah: “Laporan arus kas (statement of cash flow) menjelaskan perubahan pada kas (cash equivalent) dalam periode tertentu. Setara kas adalah investasi jangka pendek yang amat likuid yang bisa segera ditukar dengan kas. Untuk dapat dikatakan setara kas, suatu unsur haruslah dapat segera ditukar dengan kas ketika diperlukan dan sangat dekat dengan masa jatuh temponya sehingga kecil risiko terjadinya perubahan nilai akibat perubahan tingkat suku bunga“

2.1.6.2 Bentuk Laporan Keuangan 1. Bentuk (Format) Neraca Untuk dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu, neraca mempunyai tiga unsur laporan keuangan, yaitu aktiva, kewajiban dan ekuitas. Masing- masing unsur ini dapat disubklasifikasikan sebagai berikut : 1). Aktiva, yang merupakan sumber daya yang dikuasai perusahaan dapat disubklasifikasikan lebih jauh menjadi lima sub-klasifikasi aktiva yaitu :

31

a.

Aktiva lancar, yaitu aktiva yang manfaat ekonominya diharapkan akan diperoleh dalam waktu satu tahun atau kurang (atau siklus operasi normal), misalnya kas, surat berharga, persediaan, piutang dan persekot biaya.

b. Investasi jangka panjang, yaitu penanaman modal yang biasanya dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan tetap atau untuk menguasai perusahaan lain dan jangka waktunya lebih dari satu tahun, misalnya investasi saham, investasi obligasi. c. Aktiva tetap, yaitu aktiva yang memiliki substansi (wujud) fisik, digunakan dalam operasi normal perusahaan (tidak dimaksudkan untuk dijual) dan memberikan manfaat ekonomi lebih dari satu tahun. Termasuk dalam subklasifikasi aktiva ini antara lain tanah, gedung, kendaraan dan mesin serta peralatan. d. Aktiva yang tidak berwujud, yaitu aktiva yang tidak memiliki substansi fisik dan biasanya berupa hak atau hak istimewa yang memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dal;am sub-klasifikasi aktiva ini misalnya patent, goodwill, royalty, copyright (hak cipta), trade name/ trade mark (merek/ nama dagang), franchise dan license (lisensi). e. Aktiva lain- lain, yaitu aktiva yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari empat sub-klasifikasi tersebut, misalnya beban ditangguhkan, piutang kepada direksi. 2). Kewajiban, yang merupakan utang perusahaan masa kini dapat di subklasifikasikan lebih jauh menjadi tiga sub-klasifikasi, yaitu :

32

a. Kewajiban lancar, yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka waktu satu tahun atau kurang (atau siklus operasi normal). Termasuk dalam kategori kewajiban ini misalnya utang dagang, utang wesel, utang gaji dan upah, utang pajak, dan utang biaya. b. Kewajiban jangka panjang, yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam kategori kewajiban ini misalnya utang obligasi, utang hipotek dan utang bank. c. Kewajiban lain-lain, yaitu kewajiban yang tidak dapat dikategorikan ke dalam salah satu sub-klasifikasi kewajiban tersebut, misalnya utang pada direksi. 3). Ekuitas, yaitu merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yang merupakan selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada. Unsur ekuitas ini dapat disubklasifikasikan lebih jauh menjadi sub-klasifikasi, yaitu : a. Ekuitas yang berasal dari setoran para pemilik, misalnya modal saham (termasuk agio saham bila ada) dan b. Ekuitas yang berasal dari hasil operasi, yaitu laba yang tidak dibagikan kepada para pemilik, misalnya dalam bentuk dividen (ditahan). Didalam neraca, masing-masing unsur tersebut disajikan dengan menganut ketentuan-ketentuan tertentu. Aktiva disajikan menurut urutan likuiditas, kewajiban menurut urutan jatu tempo, sedangkan ekuitas disajikan menurut urutan kekekalan.

33

Neraca dapat disajikan dengan menggunakan dua bentuk (format), yaitu bentuk rekening (skontro) dan bentuk laporan (stafel), yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Rekening (Skontro)

Pada bentuk ini, unsur aktiva disajikan pada sisi kiri (debit), sedangkan unsur kewajiban pada ekuitas disajikan pada sisi kanan (kredit). b. Laporan (Stafel) pada bentuk ini baik aktiva, kewajiban maupun ekuitas disajikan secara urut dari atas ke bawah, yang dimulai dari aktiva, kewajiban dan terakhir ekuitas. Contoh neraca yang disusun baik dalam bentuk rekening (skontro) maupun laporan (Stafel) adalah sebagai berikut: 1. Bentuk Perkiraan Rekening atau Bentuk Skontro Tabel 2.1
PT. BAGAS PERKASA JAYA Neraca Per 31 Desember 2001
AKTIVA Aktiva Lancar Investasi Aktiva Tetap Aktiva tak berwujud Aktiva lain-lain Rp 100.000,00 250.000,00 1.000.000,00 100.000,00 50.000,00 KEWAJIBAN DAN EKUITAS Kewajiban lancar Kewajiban jk. panjang Kewajiban lain-lain Total kewajiban Modal Saham Laba ditahan Rp 250.000,00 200.000,00 50.000,00 500.000,00 800.000,00 200.000,00

Total aktiva

Rp 1.500.000,00

Total kewajiban dan ekuitas Rp 1.500.000,00

2. Bentuk Perkiraan Laporan atau Bentuk Stafel Tabel 2.2
PT. BAGAS PERKASA JAYA

34

Neraca Per 31 Desember 2001
AKTIVA Aktiva Lancar: Kas Surat Berharga Piutang Dagang Persediaan Supplies Persekot Biaya Total Aktiva Lancar Investasi Aktiva Tetap: Tanah Bangunan Mesin Meubel dan Peralatan Akumulasi Depresiasi Total Aktiva Tetap Aktiva Tak Berwujud: Patent Trade Mark Total Aktiva Tak Berwujud Aktiva Lain-lain Total Aktiva Rp 25.400,00 15.200,00 42.000,00 4.700,00 4.900,00 Rp Rp Rp 60.500,00 882.400,00 18.300,00 227.900,00 (422.000,00) Rp Rp 10.000,00 5.000,00 Rp Rp Rp 15.000,00 10.000,00 900.300,00 767.000,00 92.200,00 16.000,00

KEWAJIBAN DAN EKUITAS Kewajiban Lancar: Utang Dagang Rp 16.500,00 Utang Wesel 4.200,00 Utang PPh 20.900,00 Utang Biaya 800,00 Utang jatuh tempo 26.000,00 Total Kewajiban Lancar Kewajiban Jangka Panjang-Obligasi Kewajiban Lain-lain Total Kewajiban EKUITAS Modal Saham Laba Ditahan Total Kewajiban dan Ekuitas Rp 200.000,00 120.100,00

Rp

68.400,00 486.809,00 25.000,00 580.200,00

Rp

Rp Rp

320.100,00 900.300,00

2. Bentuk Laporan Laba Rugi

35

Untuk dapat menggambarkan informasi mengenai potensi (kemampuan) perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu (kinerja), laporan laba rugi mempunyai dua unsur, yaitu penghasilan dan beban, yang dijelaskan sebagai berikut : 1). Penghasilan (Income) yang diartikan sebagai kenaikan manfaat ekonomi dalam bentuk pemasukan atau peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban (yang menyebabkan kenaikan ekuitas selain yang berasal dari kontribusi pemilik) perusahaan selama periode tertentu dapat disubklasifikasikan menjadi: a. Pendapatan (revenues), yaitu penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas yang biasa dan yang dikenal dengan sebutan yang berbeda, seperti misalnya penjualan barang dagang, penghasilan jasa (fees), pendapatan bunga, pendapatan dividen, royalitas dan sewa. b. Keuntungan (gains), yaitu pos lain yang memenuhi definisi penghasilan dan mungkin timbul atau tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa, yang meliputi misalnya pos yang timbul dalam pengalihan aktiva lancar, revaluasi sekuritas, kenaikan jumlah aktiva jangka panjang. 2). Beban (Expense) yang diartikan sebagai penurunan manfaat ekonomi dalam bentuk arus keluar atau penurunan aktiva atau kewajiban (yang menyebabkan penurunan ekonomis yang tidak menyangkut pembagian kepada pemilik) perusahaan selama periode tertentu dapat disubklasifikasikan menjadi : a. Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa (yang biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas

36

persediaan, aktiva tetap), yang meliputi misalnya harga pokok penjualan, gaji dan upah, penyusutan. b. Kerugian, yang mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang timbul atau tidak timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa, seperti misalnya rugi karena bencana kebakaran, banjir atau pelepasan aktiva tidak lancar. Selisih antara total penghasilan (revenue) dan beban (expense) disebut penghasilan bersih ( laba ). Didalam laporan laba rugi, keuntungan (gains) dan kerugian biasanya disajikan secara terpisah, sehingga akan memberikan informasi yang lebih baik dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan laba rugi dapat disajikan dengan menggunakan dua bentuk, yaitu bentuk single-step dan bentuk multiple-step, yaitu dapat dijelaskan sebagai berikut a. Single-step

Pada bentuk ini semua penghasilan yang diperoleh dari berbagai kegiatan/ aktivitas dikelompokkan menjadi satu kelompok yang disebut kelompok penghasilan, sedangkan untuk semua beban dikelompokkan ke dalam satu kelompok yang disebut biaya. Penghasilan bersih (laba) merupakan selisih antara kelompok penghasilan dan total kelompok beban. b. Multiple-step Pada bentuk ini penghasilan bersih (laba) dihitung secara bertahap sesuai dengan aktivitas perusahaan. Dengan demikian, semua penghasilan dan beban disajikan sesuai dengan kegiatan/ aktivitas, yaitu kegiatan usaha, di luar usaha dan luar biasa. Bentuk-bentuk laporan rugi-laba adalah sebagai berikut :

37

1.

Perhitungan Rugi-Laba Bentuk Langsung (Single Step Form)
Tabel 2.3 Cox Co

Perhitungan Rugi-Laba Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2004
Pendapatan : Penjualan bersih Pendapatan bunga Pendapatan sewa Total pendapatan Beban : Harga pokok penjualan Beban penjualan Beban administrasi Beban bunga Total beban Laba bersih $ 525.305 74.620 34.890 2.440 637.255 75.400 $708.255 3.800 600 712.655

2. Perhitungan Rugi-Laba Bentuk Bertahap (Multiple Step Form) Tabel 2.4 Cox Co Perhitungan Rugi-Laba Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2004
Pendapatan dari penjualan: Penjualan Dikurangi: Retur dan pengurangan penjualan Potongan penjualan Penjualan bersih Harga pokok penjualan: Persediaan barang 1 Januari 1990 Pembelian Dikurangi: Retur dan pengurangan pembelian Potongan pembelian Pembelian bersih Ditambah: Transportasi masuk Harga pokok pembelian Barang tersedia untuk dijual Dikurangi Persediaan barang 31 Des 1990 Harga pokok penjualan $720.185 $6.140 5.790 11.930 $708.255

$59.700 $521.980 $9.100 2.525 11.625 $510.355 17.400 527.755 $587.455 62.150 525.305 $182.950

38

Laba kotor
Beban operasi: Beban penjualan : Gaji bagian penjualan Beban iklan Beban penyusutan peralatan took Beban penjualan rupa-rupa

$60.030 10.860 3.100 630 $74.620 $21.020 8.100 2.490 1.910 610 760 34.890 109.510 $73.440 3.800 600 $4.400 2.440 1.960 $75.400

Total beban penjualan
Beban administrasi : Gaji bagian kantor Beban sewa Beban penyusutan peralatan took Beban asuransi Beban perlengkapan kantor Beban administrasi rupa-rupa Total beban administrasi Total beban operasi Laba dari operasi Pendapatan lain-lain : Pendapatan bunga Pendapatan sewa Total pendapatan lain-lain Beban lain-lain : Beban bunga Laba bersih

Keterangan: a) Pendapatan dari penjualan (Revenue from sales), yaitu seluruh total tagihan kepada pelanggan atas barang yang dijual, baik secara tunai maupun secara kredit. Retur dan pengurangan penjualan serta potongan penjualan dikurangkan dari penjualan kotor untuk mendapatkan jumlah pendapatan bersih. b) Harga pokok barang yang terjual (Cost of merchandise sold), yaitu bagaimana cara menetapkan angka yang penting, istilah lain yang kerap dipakai adalah harga pokok barang yang dijual (Cost of good sold) atau harga pokok penjualan (Cost of sales).

39

c) Laba kotor (Gross profit), yaitu perbedaan antara pendapatan bersih dari penjualan dan harga pokok penjualan, disebut kotor karena beban operasi masih harus dikurangkan dari jumlah ini. d) Beban operasi dibagi dalam dua bagian yaitu Beban penjualan (Selling Expenses), yaitu beban yang timbul secara langsung dan seluruhnya berhubungan langsung dengan penjualan barang dagangan. e) Beban administrasi (Administratif expenses), yaitu beban yang timbul dalam operasi administrasi atau umum perusahaan. f) Laba dari operasi (Income from operation), yaitu selisih antara laba kotor dengan total beban operasi. Jumlah laba dari operasi dan hubungannya dengan investasi modal serta penjualan bersih merupakan factor penting untuk menilai efisiensi manajemen dan tingkat profitabilitas perusahaan. g) Pendapatan lain-lain (Other income), yaitu pendapatan dari sumber lain diluar kegiatan perusahaan. h) Beban lain-lain (Other Expenses), yaitu beban yang tidak dapat dikaitkan dengan operasi. i) Laba bersih (Net income), yaitu angka terakhir dalam perhitungan rugi-laba. Laba (rugi) bersih merupakan penambahan (pengurangan) bersih pada modal pemilik yang berasal dari kegiatan mencari laba. 3. Laporan Perubahan Modal Contoh bentuk Laporan Perubahan Modal adalah sebagai berikut: Tabel 2.5 Kantor Pengacara Cecil Jameson Laporan Perubahan Modal Untuk Bulan yang Berakhir 31 Juli 2005

40

Modal Cecil Jameson, 1 Juli 2005 Tambahan investasi oleh pemilik Laba bersih bulan ini Dikurangi penarikan Kenaikan dalam ekuitas pemilik Modal Cecil Jameson, 31 Juli 2005

$ $ $ 3.700,00 1.503,00 5.203,00 1.000,00 $ $

13.520,00

4.203,00 20.078,00

4. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow) Arus masuk dan arus keluar kas digolongkan dan dilaporkan menurut tiga kategori : (1) aktivitas operasi, (2) aktivitas investasi, dan (3) aktivitas pembiayaan/pendanaan 1. Aktivitas Operasi (Operating Activities) Termasuk ke dalam aktivitas operasi adalah transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian yang akan menentukan laba bersih. Penerimaan kas dari penjualan barang atau pemberian jasa adalah arus kas masuk utama bagi kebanyakan bisnis. Penerimaan kas lainnya berasal dari bunga, dividen, dan pos-pos lainnya yang serupa. Pengeluaran kas terbesar adalah pembayaran untuk pembelian persediaan, gaji, pajak, bunga, utilitas, sewa dan beban-beban sejenis. Jumlah kas bersih yang diterima dari atau dikeluarkan untuk aktivitas operasi merupakan angka utama dalam laporan arus kas. Sama halnya dengan laba bersih yang digunakan untuk mengikhtisarkan segala sesuatu pada laporan laba rugi, kas bersih dari aktivitas operasi merupakan hal yang paling penting atau bagian bawah (bottom line) dari laporan arus kas. Walaupun arus kas dari bunga atau dividen secara logis dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas investasi atau pendanaan, namun FASB

41

memutuskan untuk mengklasifikasikan keduanya sebagai aktivitas operasi. Prinsip dasarnya adalah karena Aktivitas Operasi berisikan pengaruh arus kas dari

pendapatan dan beban yang ada di laporan laba rugi. 2. Aktivitas Investasi (Investing Activities) Aktivitas investasi yang utama adalah pembelian dan penjualan tanah, bangunan peralatan dan aktiva lainnya yang tidak dibeli untuk dijual kembali. Aktivitas investasi jg termasuk pembelian dan penjualan instrumen keuangan yang tidak ditujukan untuk diperdagangkan, seperti halnya memberi dan menagih pinjaman. Aktivitas-aktivitas tersebut terjadi secara rutin dan menyebabkan adanya penerimaan dan pengeluaran kas, tetapi tidak dikelompokkan sebagai aktivitas operasi karena hanya berhubungan secara tidak langsung dengan aktivitas operasi bisnis yang berjalan. 3. Aktivitas Pendanaan (Financing Activities) Termasuk dalam aktivitas pendanaan adalah transaksi dan kejadian di mana kas diperoleh dari dan dibayarkan kembali kepada para pemilik (pendanaan dengan ekuitas atau modal) dan para kreditor (pendanaan dengan utang). Contohnya kas yang dihasilkan dari penerbitan saham dan obligasi akan diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan. Contoh lainnya adalah pembayaran untuk saham yang diperoleh kembali (saham treasuri) atau untuk melunasi obligasi dan pembayaran dividen juga diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan. Sifat aktivitas pendanaan adalah sama, apa pun jenis industrinya, tetapi aktivitas operasi dan aktivitas investasi berbeda untuk masing-masing jenis industri. Sebagai contoh, aktivitas operasi dan investasi dari sebuah jaringan supermaket

42

sangat berbeda dibandingkan dengan perusahaan penjual pasir dan batu kerikil. Tetapi proses peminjaman uang, penjualan saham, pembayaran dividen kas dan pembayaran pinjaman adalah hampir sama bagi kedua jenis perusahaan tersebut. Berikut ini adalah bentuk laporan arus kas: Tabel 2.6 Staples Corporation Laporan Arus Kas Untuk tahun yang berakhir per 31 Desember 2004
Arus kas dari aktivitas operasi: Laba bersih Penyesuaian: Penyusutan Amortisasi paten dan goodwill Kenaikan wesel tagih dan piutang Penurunan persediaan Penurunan wesel bayar dan hutang Arus kas bersih yang dihasilkan (digunakan) oleh operasi Arus kas dari aktivitas investasi: Hasil penjualan tanah Pembelian gedung dan peralatan Investasi dalam saham perusahaan anak Pembelian tanah dengan saham biasa Arus kas bersih yang dihasilkan oleh aktivitas investasi Arus kas dan aktivitas pembiayaan : Kenaikan wesel bayar jangka panjang Penerbitan saham biasa untuk membeli tanah Pembayaran deviden Arus kas bersih yang dihasilkan (digunakan) oleh aktivitas pembiayaan Kenaikan (penurunan) bersih dalam kas $25.000 10.000 10.600 (5.400) 4.600 (2.500) $42.300 $30.000 (42.000) (25.000) (20.000) (57.000) $30.000 20.000 (15.000) 35.000 $20.000

Hubungan antara laporan keuangan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
PERHITUNGAN RUGI LABA Per,……………………………. Pendapatan Rp. xx Beban Usaha Rp. xx Laba Bersih Rp. xx LAPORAN PERUBAHAN MODAL Per,………………………………. Modal Awal Rp. xx Laba Bersih Rp. xx

43

Prive Penambahan Modal Modal Akhir

Rp. xx-/Rp. xx Rp. xx Rp. xx

NERACA Per,……. AKTIVA Kas Perlengkapan Tanah Rp. xx Rp. xx Rp. xx Rp. xx KEWAJIBAN Jangka Pendek Jangka Panjang MODAL PEMILIK Modal Rp. xx Rp. xx Rp. xx Rp. xx

LAPORAN ARUS KAS Per,……………. Arus kas dari aktivitas operasi: Kas diterima dari pelanggan Kas dikeluarkan untuk beban dan kreditor Arus Kas dari aktivitas operasi Arus kas dari aktivitas investasi: Pembayaran kas untuk akuisisi tanah Arus kas dari aktivitas pendanaan: Kas yang diterima sebagai investasi pemilik Dikurangi penarikan kas oleh pemilik Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan Arus kas bersih dan saldo kas per,…………

Rp. xx Rp. xx Rp. xx (Rp. xx) Rp. xx Rp. xx Rp. xx Rp. xx

Sumber : Carl S. Warren, James M. Reeve dan Philip E. Fess penerjemah Aria Farahmita, SE. Ak.; Amanugrahani, SE. Ak.; Taufik Hendrawan SE. Ak. (dari buku “Pengantar Akuntansi”, 2005)

Analisis Laporan Keuangan 2.2.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan pengertian analisis laporan keuangan menurut Dwi Prastowo Darminto dalam bukunya ” Analisis Laporan Keuangan ” (2005:30) adalah : ” Suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan

44

prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang .” Sedangkan pengertian analisis laporan keuangan menurut Sofyan Syafri Harahap dalam bukunya “ Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan “ (2001:190) adalah : “ Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai makna antara yang satu dengan yang lainnya baik antara data kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan “. Dari kedua pengertian diatas maka kesimpulan dari analisis laporan keuangan adalah suatu proses membedah- bedah laporan keuangan ke dalam komponen-komponennya, komponen dan penelaahan diantara mendalam terhadap masing-masing tersebut akan

hubungan

komponen-komponen

menghasilkan pemahaman menyeluruh atas laporan keuangan itu sendiri. 2.2.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan Analisis laporan keuangan dilakukan dengan tujuan untuk memberikan tambahan informasi kepada para pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan ekonomi, sehingga kualitas keputusan yang diambil akan menjadi lebih baik. Selain itu, dengan mengolah lebih lanjut laporan keuangan melalui proses pembandingan, evaluasi dan analisis trend akan diperoleh prediksi tentang apa yang akan mungkin terjadi di masa depan. Menurut Standar Akuntansi Keuangan tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut :

45

” 1.

Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. 2. Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu. 3. Laporan keuangan juga menunjukan apa yang dilakukan menajemen atau pertanggung jawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.” Sedangkan menurut Dwi Prastowo D dalam bukunya ” Analisis Laporan

Keuangan ” mengungkapkan tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut : ” Analisis laporan keuangan mempunyai beberapa tujuan, yaitu misalnya dapat digunakan sebagai alat screening awal dalam memilih alternatif investasi atau merger, sebagai alat forecasting mengenai kondisi dan kinerja keuangan di masa datang, sebagai proses diagnosis terhadap masalahmasalah manajemen, operasi atau masalah lainnya atau sebagai alat evaluasi terhadap manajemen.” Dari semua tujuan diatas, yang terpenting dari analisis laporan keuangan adalah tujuannya untuk mengurangi ketergantungan para pengambil keputusan pada dugaan murni, terkaan, dan intuisi; mengurangi dan mempersempit lingkup ketidakpastian yang tidak bisa dielakkan pada setiap proses pengambilan keputusan.

2.2.3

Kelemahan Analisis Laporan Keuangan Analisis laporan keuangan mempunyai beberapa kelemahan yaitu :

1. Analisa laporan keuangan didasarkan pada laporan keuangan, oleh karenanya kelemahan laporan keuangan harus selalu diingat agar kesimpulan dari analisa itu tidak salah.

46

2. Obyek analisa laporan keuangan hanya laporan keuangan. Untuk menilai suatu laporan keuangan tidak cukup hanya dari angka- angka laporan keuangan. Tetapi juga, harus melihat aspek lainnya seperti tujuan perusahaan, situasi ekonomi, situasi industri, gaya manajemen, budaya perusahaan, dan budaya masyarakat. 3. Obyek analisa adalah data historis yang menggambarkan masa lalu dan kondisi ini bisa berbeda dengan kondisi masa depan. 4. Jika kita melakukan perbandingan dengan perusahaan lain maka perlu dilihat beberapa perbedaan prinsip yang bisa menjadi penyebab perbedaan angka misalnya : a. b. c. d. e. f. Prinsip akuntansi Size perusahaan Jenis industri Periode laporan Laporan individual atau laporan konsolidasi Jenis perusahaan aspek profit motive atau non profit motive

5. Laporan keuangan hasil konsolidasi atau hasil konversi mata uang asing perlu mendapat perhatian tersendiri karena perbedaan bisa saja timbul karena masalah kurs konversi atau metode konsolidasi. 6. Kelemahan analisa ratio Teknik Analisa Ratio merupakan sebagian dari konsep Analisa Laporan Keuangan. Teknik analisa ratio memiliki kelemahan sebagai berikut :

47

1). Rasio itu diambil dari data akuntansi yang juga memiliki sifat-sifat tersendiri yang harus diketahui, dan memerlukan tafsiran tersendiri. Dan bukan tidak mungkin data akuntansi itu sendiri mengandung data manipulasi atau kesalahan-kesalahan lainnya. Perbedaan-perbedaan yang sama- sama boleh dalam akuntansi misalnya perbedaan metode penyusutan akan memberikan data keuangan yang berbeda, penilaian persediaan, periode akuntansi, dan lain-lain. 2). Dalam menilai suatu rasio baik atau buruk analis harus hati-hati. Turn over yang tinggi belum tentu baik. Mungkin perusahaan melakukan obral besarbesaran dan cenderung akan bangkrut atau mungkin jenis perusahaannya berbeda. Ratio turn over untuk super market berbeda sekali dengan perusahaan dealer mobil mewah misalnya. 3). Membandingkan dengan ” industrial ratio ” (yang belum ada di indonesia) harus hati-hati, karena banyak trik-trik yang dilakukan manajemen yang diperbaiki ratio. 4). Harus juga disadari bahwa laporan keuangan yang dianalisa tidak menggambarkan perubahan nilai uang dan tenaga belinya. 5). Hati-hati terhadap kemungkinan adanya window dressing, income smoothing, atau laporan konsolidasi.

2.2.4

Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Keterbatasan analisis laporan keuangan harus memperhatikan beberapa

keterbatasan laporan seperti :

48

1). Laporan keuangan dapat bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat. Oleh karena itu, laporan keuangan tidak dianggap sebagai laporan mengenai keadaan saat ini, karenanya akuntansi tidak hanya satusatunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. 2). Laporan keuangan menggambarkan nilai harga pokok atau nilai pertukaran pada saat terjadinya transaksi, bukan harga saat ini. 3). Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu. Informasi disajikan untuk dapat digunakan semua pihak, sehingga terpaksa selalu memperhatikan semua pihak pemakai yang sebenarnya mempunyai perbedaan kepentingan. 4). Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksirn dan berbagai pertimbangan dalam memilih alternatif dari berbagai pilihan yang ada yang sama-sama dibenarkan tetapi menimbulkan perbedaan angka laba maupun asset. 5). Akuntansi tidak mencakup informasi yang tidak material. Demikian pula, penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh yang material terhadap kelayakan laporan keuangan 6). Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian, bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil. Dalam keadaan lain disebutkan jika

49

ada indikasi rugi maka harus dicatat tetapi jika ada indikasi laba tidak boleh dicatat. 7). Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis dan pemakai laporan keuangan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan. 8). Akuntansi didominasi informasi kuantitatif. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantifikasikan umumnya diabaikan, namun bisa saja informasi kuantitatif dapat gambaran atau indikasi informasi kualitatif. 9). Perubahan dalam tenaga beli uang jelas ada, tetapi hal ini tidak tergambar dalam laporan keuangan.

2.2.5

Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan Secara umum, metode analisis laporan keuangan dapat diklasifikasikan

menjadi dua klasifikasi, yaitu metode analisis dinamis (horizontal) dan metode analisis statis (vertikal). 1) Metode analisis dinamis (horizontal), adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa tahun (periode), sehingga dapat diketahui perkembangan dan

kecenderungannya. Disebut metode analisis horizontal karena analisis ini membandingkan pos yang sama untuk periode yang berbeda (bergerak dari tahun ke tahun).

50

Teknik- teknik analisis yang termasuk pada klasifikasi metode ini antara lain teknik analisis perbandingan, analisis trend (index), analisis sumber dan penggunaan dana, analisis perubahan laba kotor. 2) Metode analisis statis (vertikal), adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan keuangan pada tahun (periode) tertentu, yaitu dengan membandingkan antara pos yang satu dengan pos yang lainnya pada laporan keuangan yang sama untuk tahun (periode) yang sama. Disebut metode statis karena metode ini hanya membandingkan pos-pos laporan keuangan pada tahun (periode) yang sama. Teknik-teknik analisis yang termasuk pada klasifikasi metode ini antara lain teknik analisis prosentase per-komponen (Common-Size), analisis ratio dan analisis impas. Analisis terhadap laporan keuangan dengan menggunakan berbagai metode dan teknik analisis tersebut, dan yang telah difokuskan pada area analisis yang jelas akan menghasilkan dua informasi yang penting, yaitu informasi mengenai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Informasi yang diperoleh dari hasil analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan (masukan) bagi para pemakai laporan keuangan (baik intern maupun ekstern) dalam pengambilan keputusan ekonomi yang menyangkut perusahaan yang dianalisis. Kata analisa adalah memecahkan atau menguraikan sesuatu unit menjadi berbagai unit kecil, sedangkan laporan keuangan adalah neraca, laba rugi, arus kas (dana). Jika analisa laporan keuangan merupakan upaya untuk mencari hubungan

51

antara berbagai pos yang ada di laporan keuangan perusahaan, maka dalam kegiatan ini penulis perlu mengetahui teknik analisis laporan keuangan lainnya. Dari berbagai sumber bacaan dan sumber teori, maka penulis mencoba untuk menjelaskan teknik analisis laporan keuangan. Penulis mengutip pendapat Sofyan Syafri Harahap yang mengatakan teknik analisa laporan keuangan ini diberi nama Critical Technique. Dalam menganalisa laporan keuangan menurutnya dengan menerapkan teknik ini, maka cara yang paling tepat adalah menerapkan metode terintegrasi. Yang dimaksud dengan metode ini adalah dengan memanfaatkan keseluruhan teknik secara total, sehingga sampai pada tujuan analisis laporan keuangan, yaitu membongkar habis semua data yang terdapat dalam laporan keuangan serta yang mungkin tidak terdapat didalamnya. Secara eksplisit dan proyeksi kemungkinan kejadian yang akan timbul dimasa yang akan datang. Adapun pedoman dan beberapa teknik dalam menganalisis laporan keuangan yaitu : A. Teknik analisis laporan keuangan komprehensif (Terintegrasi) 1. Menilai keandalan laporan dan periode laporannya

Yaitu sejauh mana laporan keuangan yang akan dianalisis dapat dipercaya. 2. Lakukan analisis perubahan modal kerja atau arus kas

Analisis laporan perubahan modal kerja atau arus kas ini sebagian dilakukan dengan melalui penelusuran kembali transaksi perusahaan, dengan demikian dalam menyusun laporan modal kerja perusahaan sekaligus dapat

52

melakukan analisis laporan keuangan dua periode. Analisis ini banyak membantu mengetahui kesalahan pembukuan. 3. Membuat laporan konsolidasi

Dalam menyusun laporan konsolidasi maka akan dapat ditelusuri transaksi antara perusahaan sehingga akan kelihatan atau kemungkinan kesalahankesalahan. 4. Mereview inter related account.

Maksudnya adalah perkiraan yang saling berkaitan antara pos satu dengan pos lain. Misalnya pos utang dengan pos penjualan kredit. Hal ini sangat bermanfaat dalam menilai kondisi keuangan perusahaan dan ketelitiannya. 5. Penggunaan segmen bisnis perusahaan yang dianalisis

Yaitu seseorang yang dapat mengenal bidang usaha tertentu secara mendalam dapat menilai kewajaran suatu laporan keuangan dibandingkan dengan yang belum mengetahui jenis bisnis. 6. Meneliti lebih mendalam beberapa transaksi yang bersifat :

Related parties transaction (hubungan istimewa), transaksi ini adalah transaksi yang terjadi antara perusahaan atau individu. Misalnya transaksi antara perusahaan dengan direksi komisaris cabang. 7. Menghitung dan menafsirkan rasio keuangan lazim, kemudian rasio

ini dibandingkan dengan situasi : a. b. c. Ekonomi Internasional Ekonomi nasional Rasio rata-rata industri atau bisnis

53

d. e. 8.

Rasio periode demi periode Rasio standar atau budget Memahami metode dan cara penyusunan analisis laporan keuangan.

Dengan memahami dan menguasai cara dan metode penyusunan suatu laporan keuangan maka secara otomatis dapat menganalisis laporan keuangan dan mengerti kesalahan yang dikandungnya. 9. Menilai laporan akuntan

Dengan melihat hasil laporan akuntan maka dapat menilai laporan keuangan dari hasil audit akuntan, memahami opini akuntan, prosedur akuntansinya dan teknik pemeriksaan yang dilakukannya. 10. Menguasai konsep dan teknik analisis laporan keuangan, filosofi

rasio, tujuan dan kegunaannya. Sebagaimana diketahui konsep analisis ini adalah memaksimalkan informasi yang terdapat di dalam laporan keuangan, untuk itu maka perlu menggunakan beberapa teknik analisis laporan keuangan. 11. Memahami prinsip dan kebijakan akuntansi.

Prinsip dan kebijakan akuntansi menentukan isi laporn keuangan yang menjadi objek analisis. Perbedaan standar yang dianut akan menimbulkan perbedaan laporan keuangan. Oleh karena itu, harus menguasai prinsip dan kebijakan akuntansi yang dianut. 12. Memahami situasi yang dihadapi perusahaan.

54

Yang harus dipahami adalah bidang usaha, jenis industri, sejarah perusahaan, resiko yang mungkin dihadapi, gaya manajemen, pemilik dan prospek industri yang bersangkutan. 13. Tujuan disusunnya laporan keuangan.

Di indonesia sering terjadi laporn keuangan yang disusun untuk tujua yang berbeda, ada laporan keuangan yang disusun untuk kepentingan pajak, bank, persero dan lain-lain. Laporan keuangan yang disusun untuk bank biasanya bersifat optimis cenderung over stated, sedangkan laporan keuangan yang disusun untuk kepentingan pajak sering pesimis atau understated. 14. Bentuk perusahaan.

Laporan keuangan yang disusun oleh perusahaan yang go public akan lebih diyakini dibandingkan dengan yang bukan go public. 15. Sistem pengawasan di perusahaan yang menghasilkan laporan

keuangan. Laporan keuangan yang dibuat dalam suatu perusahaan yang sistem akuntansinya tertata dengan baik dengan sistem pengawasan internal yang baik akan lebih diyakini dan lebih lengkap dibandingkan dengan laporan yang dibuat dari situasi internal kontrol yang lemah.

16.

Ketaatan kepada peraturan maupun agama.

55

Laporan keuangan yang dibuat dari suatu perusahaan yang dikomandoi oleh manajemen yang relatif taat pada peraturan dan atau agama relatif lebih diyakini daripada manajemen yang kurang taat pada norma agamanya. 17. Menilai kualitas comparability.

Yaitu perbandingan jika laporan keuangan dibandingkan maka manfaat perbandingan itu hanya diperoleh jika dasar penyusunan masing-masing periode yang diperbandingkan sama. B. Teknik laporan keuangan biasa 1. Metode Komparatif.

Metode ini digunakan dengan memanfaatkan angka-angka laporan keuangan dan membandingkan dengan angka-angka laporan keuangan lainnya. Misalnya perbandingan dalam beberapa tahun contohnya, laporan keuangan tahun 2001 dibandingkan dengan laporan keuangan tahun 2002, atau perbandingan dengan budget (anggaran perusahaan). 2. Metode Analisis

Analisis ini harus menggunakan teknik perbandingan laporan keuangan beberapa tahun dan dari sini digambarkan trendnya. Trend analysis ini biasanya dibuat melalui grafik. Dan untuk itu perlu dibantu oleh pengetahuan statistik misalnya menggunakan linear programming, rumus chi square, rumus y= a + bx.

3.

Common Size Financial Statement (Laporan bentuk awam).

56

Metode ini merupakan metode analisis yang menjadikan laporan keuangan dalam bentuk presentasi. Presentasi itu biasanya dikaitkan dengan suatu jumlah yang dinilai penting, misalnya asset untuk neraca, penjualan untuk laba rugi. 4. Metode Index Time Series.

Metode ini dihitung dengan indeks dan digunakan untuk mengkonversikan angka-angka laporan keuangan. Biasanya ditetapkan tahun dasar yang diberi indeks 100. untuk menghitung indeks maka digunakan rumus sebagai berikut : Indeks 2001 = 5. Angka laporan keuangan 2001 Angka dasar X 100 %

Rasio Laporan Keuangan

Rasio laporan keuangan adalah perbandingan antara pos-pos tertentu dengan pos lain yang memiliki hubungan signifikan (berarti). Rasio keuangan ini hanya menyederhanakan hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya. Adapun rasio keuangan yang popular adalah : Rasio Likuiditas Rasio likuiditas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan semua kebutuhan jangka pendek. Adapun yang termasuk dalam rasio likuiditas adalah :

a. Rasio Lancar

57

Adalah kemampuan untuk membayar kewajiban yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar. Apabila rasio lancar ini 1 : 1 atau 100 %, berarti aktiva lancar dapat menutupi semua hutang lancar. Rasio Lancar = Aktiva Lancar X 100 % Kewajiban Lancar

b. Rasio Cepat (Quick ratio) Rasio ini menunjukan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini maka semakin baik, rasio ini disebut juga dengan acid test ratio. Angka rasio ini tidak harus 100 % atau 1 : 1. Rasio Cepat = Aktiva Lancar – Persediaan X 100 % Utang Lancar

c. Rasio Kas atas Aktiva Lancar Rasio ini menunjukan porsi jumlah kas dibandingkan dengan total aktiva lancar. Rasio kas atas aktiva lancar = Kas X 100 % Aktiva Lancar

d. Rasio Kas atas Hutang Lancar Rasio ini menunjukan porsi jumlah kas yang dapat menutupi hutang lancar. Rasio kas atas hutang lancar = Kas X 100 % Hutang Lancar

e. Rasio Aktiva Lancar dan Total Aktiva Rasio ini menunjukan porsi aktiva lancar atas total aktiva.

58

Rasio aktiva lancar dan total aktiva =

Aktiva Lancar X 100 % Total Aktiva

f. Aktiva Lancar dan Total Hutang Rasio ini menunjukan porsi aktiva lancar atas total kewajiban perusahaan. Aktiva lancar dan total hutang = Aktiva Lancar X 100 % Total Kewajiban

Rasio Solvabilitas Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam

membayar kewajiban jangka panjang atau kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Rasio solvabilitas antara lain : a. Rasio Hutang atas Modal Rasio ini menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar. Semakin kecil rasio ini semakin baik. Rasio hutang atas aktiva = b. Debt Service Ratio Rasio ini menggambarkan sejauh mana laba setelah dikurangi bunga dan penyusutan serta biaya nonkas dapat menutupi kewajiban bunga dan pinjaman. Semakin besar rasio ini semakin besar perusahaan dapat menutupi semua hutang-hutangnya. Debt service ratio = Laba bersih + Bunga + Penyusutan + Non Kas Pembayaran bunga dan Pinjaman Total Hutang Equity X 100 %

59

c. Rasio Hutang atas Aktiva Rasio ini menunjukan sejauh mana hutang dapat ditutupi oleh aktiva, lebih besar rasionya maka lebih aman, supaya aman porsi hutang terhadap aktiva harus lebih kecil. Rasio hutang atas aktiva = Total Hutang Total Aktiva X 100 %

Rasio Profitabilitas Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada, seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan dan sebagainya. Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut juga operating ratio. Rasio profitabilitas antara lain : a. Profit Margin Angka ini menunjukan berapa besar presentase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi. Profit margin = Pendapatan Bersih X 100 % Penjualan

b. Return On Total Assets Rasio ini menunjukan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva.

60

Return on total assets =

Laba Bersih Total Aktiva

X 100 %

c. Return On Investment Rasio ini menunjukan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. Semakin besar maka akan semakin baik. Return on Investment = Laba Bersih Total Modal X 100 %

d. Operating Ratio Menunjukan biaya operasi per rupiah penjualan, semakin besar rasio ini berarti semakin buruk. Operating ratio = Harga pokok penjualan + Total biaya Penjualan Bersih X 100 %

Rasio Aktivitas Rasio ini menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. Rasio ini menunjukan bagaimana sumber daya telah dimanfaatkan secara optimal, kemudian dengan cara membandingkan rasio aktivitas dengan standar industri, maka dapat diketahui tingkat efisiensi perusahaan dalam industri. Yang termasuk dalam rasio ini adalah :

a. Receivable Turn Over Rasio ini menunjukan berapa cepat penagihan piutang. Semakin besar semakin baik karena penagihan piutang dilakukan dengan cepat.

61

Receivable turn over =

Netto Sales Average Receivable

X 100 %

C. Model dan Teknik Analisis Lainnya 1. Analisis Break Even

Analisis ini sering digunakan dalam perencanaan perusahaan. Dalam analisis laporan keuangan rumus ini digunakan untuk mengetahui : a. b. c. Hubungan antara penjualan, biaya dan laba. Untuk mengetahui struktur biaya tetap dan variabel. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan memberikan

margin untuk menutupi biaya tetap. d. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam

menentukan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba/ rugi. 2. Analisis Laba Kotor

Analisis ini lazim digunakan dalam perencanaan keuangan dan budgeting namun teknik ini bisa digunakan di analisis laporan keuangan dengan menggunakan data penjualan, biaya variabel (biaya pokok produksi) dan laba kotor.

3.

Analisis Hubungan (Analitycal Review)

62

Analisis ini dikenal dalam ilmu auditing/ pemeriksaan. Teknik ini dapat digunakan dalam menganalisis laporan keuangan dengan cara melihat hubungan antara satu pos dengan pos lainnya. 4. Metode Analisis/Prediksi atas Rating

Beberapa metode prediksi yang dikenal adalah : a. Bound Rating

Digunakan untuk menghitung peringkat obligasi yang dipasarkan dipasar modal. b. Backruptcy Model

Model ini memberikan rumus untuk menilai kapan perusahaan akan bangkrut. c. Net Cash Flow Prediction Model

Untuk mengetahui berapa besar arus kas bersih masuk perusahaan tahun depan. d. Take Over Prediction Model

Untuk mengetahui kapan kemungkinan perusahaan ini akan diambil alih oleh perusahaan lainnya.

2.2.6

Persyaratan Pelaksanaan Analisis Laporan Keuangan yang Baik Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan analisis

laporan keuangan agar analisis tersebut berguna dalam pengambilan keputusan diantaranya terdiri dari : 1). Kualifikasi analisis laporan keuangan

63

Kualifikasi yang baik dan adanya kejelasan mengenai siapa yang harus melakukan analisis tersebut, serta seorang analisis harus memenuhi persyaratan diantaranya : a. Harus memahami cara menganalisis laporan keuangan b. Harus memahami teknik menganalisis laporan keuangan c. Harus memahami konsep akuntansi d. Harus memahami segmen bisnis e. Harus diketahui latar belakang pendidikan analisis tersebut 2). Ketepatan waktu analisis Laporan keuangan harus relevan dan andal artinya disajikan tepat waktu serta keseimbangan antara biaya dan manfaat. 3). Menilai reliability terhadap laporan keuangan a. Laporan keuangan disajikan menurut SAK yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia b. Metode dan kebijakan akuntansi harus ditetapkan secara konsisten c. Laporan keuangan yang disajikan harus diungkapkan sebagaimana mestinya d. Semua karakteristik kualitatif harus melekat pada laporan keuangan e. Apakah laporan keuangan itu diaudit oleh auditor ekstern atau tidak 4). Adanya hasil analisis secara tertulis Agar informasi yang dihasilkan lebih efektif, maka hal yang harus diperhatikan adalah penyajian laporan keuangan. Analisis atas laporan

64

keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan. Maka dapat diartikan bahwa analisis laporan keuangan harus disajikan secara tertulis. 5). Digunakannya teknik analisa umum Teknik analisa yang sering digunakan adalah dengan analisis ratio utama yaitu : a. Analisis profitabilitas atau rentabilitas b. Analisis likuiditas c. Analisis solvabilitas d. Analisis aktivitas 6). Membandingkannya dengan kinerja masa lalu Analisis laporan keuangan yang dilakukan akan lebih tajam apabila angkaangka keuangan dibandingkan dengan standar tertentu. Standar tersebut dapat berupa standar internal yang diterapkan oleh manajemen,

perbandingan historis atau membandingkan angka- angka keuangan tahun lalu dengan angka-angka keuangan tahun sekarang.

2.3 2.3.1

Kinerja Pengertian Kinerja Istilah kinerja berasal dari kata Job Performance (Prestasi Kerja yang

dicapai seseorang). Untuk meningkatkan kinerja karyawan yang baik, maka perusahaan dan karyawan haruslah menguntungkan. Dimana perusahaan harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan karyawan baik itu berupa materi maupun

65

moril, sedangkan karyawan haruslah bekerja dengan baik agar tercapainya tujuan perusahaan yang diharapkan. Pengertian kinerja menurut Payaman J. Simanjuntak dalam bukunya ” Manajemen dan Evaluasi Kinerja ” (2005:1), mengemukakan bahwa : ” Kinerja merupakan tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu.” Sedangkan pengertian kinerja menurut Moh. Pabundu Tika dalam bukunya ” Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan ” (2005:121), mengemukakan bahwa : ” Kinerja adalah merupakan hasil fungsi pekerjaan/kegiatan seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu. ” Dari pengertian kinerja diatas dapat diartikan bahwa kinerja merupakan kemampuan kerja suatu perusahaan dalam periode waktu tertentu dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan.

2.3.2

Evaluasi Kinerja Evaluasi kinerja disebut juga ”performance evaluation“ atau “performance

appraisal“. Appraisal berasal dari kata latin “appratiare“ yang berarti memberikan nilai atau harga. Dengan demikian, evaluasi kinerja berarti memberi nilai atas pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dan untuk itu diberikan imbalan, kompensasi atau penghargaan. Evaluasi kinerja merupakan cara yang paling adil dalam memberikan imbalan atau penghargaan kepada pekerja.

66

Evaluasi kinerja menurut Payaman J. Simanjuntak dalam bukunya ” Manajemen dan Evaluasi Kinerja ” mendefinisikan bahwa : ” Evaluasi kinerja adalah suatu metode dan proses penilaian pelaksanaan tugas (Performance) seseorang atau sekelompok orang atau unitunit kerja dalam satu perusahaan atau organisasi sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu.” Evaluasi kinerja atau yang dapat pula disebut penilaian prestasi kerja merupakan bagian dari fungsi manajemen yang penting yaitu evaluasi dan pengawasan (evaluating and controlling). Evaluasi kinerja sekarang ini merupakan keharusan, dan sudah terus-menerus dilakukan, terutama dengan melibatkan para pelanggan. Para pelanggan sering diminta memberikan evaluasi misalnya terhadap kualitas barang uang dijual, kualitas pelayanan yang diberikan, sikap karyawan yang melayani, dan lain-lain. Oleh sebab itu, tidak perlu ditakutkan bahkan harus disambut baik. Sebagai bagian dari fungsi manajemen, proses evaluasi kinerja mengikuti tahapan perencanaan, pembinaan, dan pelaksanaan evaluasi.

2.3.3

Tujuan Evaluasi Kinerja Tujuan evaluasi kinerja adalah untuk menjamin pencapaian sasaran dan

tujuan perusahaan. Evaluasi kinerja perusahaan dilakukan untuk mengetahui posisi perusahaan, terutama bila terjadi keterlambatan atau penyimpangan. Bila terjadi kelambatan, harus dicari penyebabnya, diupayakan mengatasinya, dan dilakukan percepatan. Demikian juga bila terjadi penyimpangan, harus segera dicari penyebabnya untuk diatasi dan diluruskan atau diperbaiki sehingga dapat mencapai sasaran dan tujuan sebagaimana direncanakan semula.

67

Kinerja perusahaan merupakan akumulasi kinerja unit-unit organisasi dan kinerja semua individu mulai dari pekerja operasional hingga manajemen. Oleh sebab itu, evaluasi kinerja unit- unit organisasi dan evaluasi kinerja perorangan perlu dilakukan supaya dapat mengetahui simpul-simpul keterlambatan dan atau penyimpangan untuk kemudian diatasi dan diperbaiki. Evaluasi kinerja perusahaan dimaksudkan untuk mengetahui posisi dan tingkat pencapaian sasaran perusahaan, terutama untuk mengetahui bila terjadi kelambatan atau penyimpangan supaya segera diperbaiki, sehingga sasaran atau tujuan dapat tercapai. Hasil evaluasi kinerja perusahaan juga digunakan untuk menyusun rencana kerja perusahaan selanjutnya.

2.3.4

Tolok Ukur Penilaian Kinerja Tingkat pencapaian pelaksanaan tugas seseorang atau evaluasi kinerja

kelompok atau evaluasi kinerja perusahaan membutuhkan tolok ukur sebagai alat pembanding atau alat ukur. Tolok ukur dapat berbeda sesuai dengan sifat pekerjaan atau jabatan masing-masing. Beberapa jenis tolok ukur diuraikan dibawah ini. 1. Sasaran atau target sebagaimana telah dirumuskan atau dinyatakan dalam rencana kerja. 2. Standar umum, baik yang ditetapkan sebagai ketentuan atau pedoman oleh instansi resmi, maupun yang diterima secara konsensus di tingkat nasional atau internasional. 3. Standar yang ditetapkan secara khusus misalnya dalam menerima kerja kontrak.

68

4. Uraian tuga atau uraian jabatan menggambarkan pekerjaan atau tugas yang harus dilaksanakan oleh pejabat yang bersangkutan. 5. Misi dan atau tugas pokok organisasi atau unit organisasi menggambarkan pekerjaan apa yang harus dicapai oleh organisasi tersebut dalam kurun waktu tertentu.

2.3.5

Hubungan Kinerja Perusahaan dengan Analisis Laporan Keuangan Tingkat kesehatan merupakan alat ukur yang digunakan oleh para pemakai

laporan keuangan dalam mengukur kinerja suatu perusahaan. Performansi suatu perusahaan dapat dilihat melalui laporan keuangan, dari laporan keuangan tersebut dapat diketahui keadaan finansial dari hasil- hasil yang telah dicapai perusahaan selama periode tertentu. Menurut Harington (2003:1), menyebutkan bahwa : ”The primary resources of information these analyst use to evaluate a firm performance are it’s financial statement, the historical record of it’s past performance.” Kesimpulan dari pernyataan diatas adalah bahwa tingkat kesehatan perusahaan dapat diketahui melalui analisis atau interpretasi terhadap laporan keuangan. Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui prestasi dan kelemahan yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat menggunakannya sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Interpretasi atau analisis laporan keuangan suatu perusahaan adalah sangat penting bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan

69

perusahaan yang bersangkutan meskipun kepentingan mereka masing-masing berbeda. Selanjutnya dikatakan pula oleh Harington ( 2003:1), bahwa : ” The financial performance of corporation is a vital intens to many groups and individual.” Dari pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan yang tergambar dalam laporan keuangan menjadi perhatian utama bagi para pemakai laporan keuangan tersebut. Hubungan antara kesehatan perusahaan dengan analisis laporan keuangan adalah seperti dikemukakan oleh Martin ( 2002:421), yaitu : ”Financial analysis involves the assesment of a firm past, present, anticipated future financial condition the objective is to identity any weakness in the firm’s financial health that could lead to future problems and to determine any strength the firm’s might capitalize upon.” Dari pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa : a. kinerja perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan dan selanjutnya dari kinerja tersebut dapat ditentukan tingkat kesehatan perusahaan tersebut, yaitu dengan cara melakukan analisis atau interpretasi terhadap laporan keuangan. b. Kinerja perusahaan merupakan informasi yang dibutuhkan oleh pihakpihak yang berkepentingan dengan perusahaan, untuk membantu mereka dalam proses pengambilan keputusan. c. Dari hasil analisis terhadap kinerja perusahaan maka dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan untuk mengatasi kondisi keuangan di masa yang akan datang.

70

Sebagaimana diuraikan dimuka bahwa analisis terhadap laporan keuangan adalah membandingkan elemen- elemen yang terdapat dalam neraca dan laporan laba rugi pada suatu saat tertentu, maka dapat diperoleh gambaran mengenai kinerja perusahaan. Sehubungan dengan itu maka pimpinan perusahaan dapat mengadakan perbaikan-perbaikan, penyusunan rencana dan kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang dan juga untuk dapat mempertahankan bahkan meningkatkan atas hasil-hasil yang telah dicapai pada periode sebelumnya. Salah satu faktor yang sangat penting sehubungan dengan diadakannya analisis dan interpretasi terhadap laporan keuangan yaitu dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangan yang berperan dalam berbagai hal seperti : a. Menentukan laba periode yang akan datang b. Mengambil keputusan untuk investasi c. Dapat meningkatkan efisiensi d. Dapat menentukan kebijakanantisipasi hutang. Disamping itu dengan menganalisis laporan keuangan dapat diketahui kinerja perusahaan dan efisiensi dari manajemen pada suatu periode tertentu.

Mengenal Akuntansi Syariah
Pengertian Akuntansi Syariah Jika kita cermati surat Al-Baqarah ayat 282, Allah memerintahkan untuk melakukan penulisan secara benar atas segala transaksi yang pernah terjadi selama melakukan

71

muamalah. Dari hasil penulisan tersebut dapat digunakan sebagai informasi untuk menentukan apa yang akan diperbuat oleh seseorang. Sehubungan dengan ini, beberapa definisi akuntansi dapat disajikan, diantaranya : Littleton mendefinisikan, tujuan utama dari akuntansi adalah untuk melaksanakan perhitungan periodik antara biaya (usaha) dari hasil (prestasi). Konsep ini merupakan inti dari teori akuntansi dan merupakan ukuran yang dijadikan sebagai rujukan dalam mempelajari akuntansi. APB (Accounting Principle Board) Statement No. 4 mendefinisikan debagai berikut “akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang mengenai suatu badan ekonomi yang dimagsud untuk digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi, yang digunakan dalam memilih di antara beberapa alternatif” AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) mendefinisikan sebagai berikut: “ Akuntansi adalah seri pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasilnya. Dalam keterangan ini penulis menyimpulkan bahwa pengertian Akuntansi Syari’ah jika ditinjau dari secara etimologi , kata akuntansi berasal dari bahasa inggris, accounting, dalam bahasa Arabnya disebut “ Muhasabah” yang berasal dari kata hasaba, hasiba, muhasabah atau wazan yang lain adalah hasaba, hasban, hisabah, artinya menimbang, memperhitungkan mengkalkulasikan, mendata, atau menghisab, yakni menghitung

72

dengan seksama atau teliti yang harus dicatat dalam pembukuan tertentu Menurut Prof. Dr. Omar Abdullah Zaid dalam buku Akuntansi Syariah halaman 57 mendefinisikan akuntansi sebagai berikut : ”Muhasabah, yaitu suatu aktifitas yang teratur berkaitan dengan pencatatan transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, keputusan-keputusan yang sesuai dengan syari’at dan jumlahjumlahnya, di dalam catatan-catatan yang representatif, serta berkaitan dengan pengukuran dengan hasil-hasil keuangan yang berimplikasi pada transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, dan keputusan-keputusan tersebut untuk membentu pengambilan keputusan yang tepat. Melalui definisi ini kita dapat membatasi karakteristik muhasabah dalam poin-poin berikut ini : 1. 2. a. Aktifitas yang teratur. Pencatatan : Transaksi-transaksi, tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang sesuai dengan hukum . b. c. 3. 4. Jumlah-jumlahnya. Didalam catatan-catatan yang representatif. Pengukuran hasil-hasil keuangan. Membantu pengambilan keputusan yang tepat.

Menurut Sofyan S. Harahap dalam ( Akuntansi Social ekonomi dan Akuntansi Islam hal 56 ) mendefinisikan :” Akuntansi Islam atau Akuntansi syariah pada hakekatnya adalah penggunaan akuntansi dalam menjalankan syariah Islam. Akuntansi syariah

73

ada dua versi, Akuntansi syariah yang yang secara nyata telah diterapkan pada era dimana masyarakat menggunakan sistem nilai Islami khususnya pada era Nabi SAW, Khulaurrasyidiin, dan pemerintah Islam lainnya. Kedua Akuntansi syariah yang saat ini muncul dalam era dimana kegiatan ekonomi dan sosial dikuasai ( dihegemony) oleh sistem nilai kapitalis yang berbeda dari sistem nilai Islam. Kedua jenis akuntansi itu bisa berbeda dalam merespon situasi masyarakat yang ada pada masanya. Tentu akuntansi adalah produk masanya yang harus mengikuti kebutuhan masyarakat akan informasi yang disuplinya”

Prinsip dalam Akuntansi Syariah Nilai pertanggungjawaban, keadilan dan kebenaran selalu melekat dalam sistem akuntansi syari’ah. Ketiga nilai tersebut tentu saja telah menjadi prinsip dasar yang universal dalam operasional akuntansi syari’ah. Apa makna yang terkandung dalam tiga prinsip umum tersebut? Berikut uraian ketiga prinsip yang terdapat dalam surat Al-Baqarah: 282.

Prinsip Pertanggungjawaban Prinsip pertanggungjawaban (accountability) merupakan konsep yang tidak asing lagi dikalangan masyarakat muslim.Pertanggungjawaban selalu berkaitan dengan konsepamanah. Bagi kaum muslim, persoalan amanah merupakan hasil transaksi manusia dengan sag Khaliq mulai dari alam kandungan. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah dimuka bumi. Manusia dibebani amanah oleh Allah

74

untuk menjalankan fungsi-fungsi kekhalifahannya. Inti kekhalifahan adalah menjalankan atau menunaikan amanah. Banyak ayat Al-quran yang menjelaskan tentang proses pertanggungjawaban manusia sebagai pelaku amanah Allah di muka bumi. Implikasi dalam bisnis dan akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dalam praktik bisnis harus selalu melakukan pertanggungjawaban apa yang telah diamanatkan dan diperbuat kepada pihak-pihak yang terkait. Wujud pertanggungjawabannya biasanya dalam bentuk laporan akuntansi. Prinsip Keadilan Jika ditafsirkan lebih lanjut, ayat 282 surat Al-Baqarah mengandung prinsip keadilan dalam melakukan transaksi. Prinsip keadilan ini tidak saja merupakan nilai yang sangat penting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis, tetapi juga merupakan nilai yang secara inheren melekat dalam fitrah manusia. Hal ini berarti bahwa manusia itu pada dasarnya memiliki kapasitas dan energi untuk berbuat adil dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam konteks akuntansi, menegaskan, kata adil dalam ayat 282 surat Al-Baqarah, secara sederhana dapat berarti bahwa setiap transaksi yang dilakukan oleh perusahaan dicatat dengan benar. Misalnya, bila nilai transaksi adalah sebesar Rp. 100 juta maka akuntansi (perusahaan akan mencatatnya dengan jumlah yang sama; Dengan kata lain, tidak ada window dressing dalam praktik akuntansi perusahaan. Dengan demikian, kata keadilan dalam konteks aplikasi akuntansi mengandung dua pengertian, yaitu: Pertama adalah berkaitan dengan praktik moral, yaitu kejujuran, yang

75

merupakan faktor yang sangat dominan. Tanpa kejujuran ini, informasi akuntansi yang disajikan akan menyesatkan dan sangat merugikan masyarakat. Kedua, kata adil bersifat lebih fundamental (dan tetap berpijak pada nilai-nilai etika/syari’ah dan moral). Pengertian kedua inilah yang lebih merupakan sebagai pendorong untuk melakukan upaya-upaya dekonstruksi terhadap bangun akuntansi modern menuju pada bangun akuntansi (alternatif) yang lebih baik. Prinsip Kebenaran Prinsip kebenaran ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip keadilan. Sebagai contoh misalnya, dalam akuntansi kita akan selalu dihadapkan pada masalah pengakuan, pengukuran dan pelaporan. Aktivitas ini akan dapat dilakukan dengan baik apabila dilandaskan pada nilai kebenaran. Kebenaran ini akan dapat menciptakan keadilan dalam mengakui, mengukur, dan melaporkan transaksitransaksi ekonomi. Kebenaran dalam Al-Quran tidak diperbolehkan untuk dicampur adukkan dengan kelebathilan. Namun, barangkali ada pertanyaan dalam diri kita, siapakah yang berhak menentukan kebenaran? Untuk hal ini tampaknya kita masih terkendala, namun sebagian muslim, selayaknya kita tidak risau atas hal tersebut. Sebab Al-Qur’antelah menggariskan, bahwa ukuran, alat atau instrumen untuk menetapkan kebenaran tidaklah berdasarkan nafsu

Pendekatan dalam Akuntansi Syariah Pendekatan yang ada dalam akuntansi syari’ah ini ditinjau dari pendekatan tradisional yang telah dapat diterima lebih tinggi

76

disbanding pendekatan baru. Beberapa pendekatan tradisional adalah : 1. Pendekatan Nonteoritis,praktis, atau pragmatis 2. Pendekatan teoritis 3. Deduktif 4. Induktif 5. Etis 6. Sosiologis 7. Ekonomis Pendekatan Nonteoritis, praktis, atau pragmatis Pendekatan nonteoritis adalah suatu pendekatan pragmatis (atau praktis) dan suatu pendekatan otoriter. Pendekatan pragmatis adalah pembentukan suatu teori yang berciri khas sesuai dengan praktik senyatanya, dan pembentukan teori tersebut mempunyai kegunaan ditinjau dari segi cara penyelesaian yang pragtis sebagaimana yang diusulkan. Menurut pendekatan ini, teknik dan prinsip akuntansi harus dipilih karena kegunaannya bagi pemakai informasi akuntansi dan relevansinya tergadap proses pengambilan keputusan. Kegunaan atau faedah mengandung arti bahwa” sesuatu sifat yang menjadi sesuatu bermanfaat untuk membantu atau mempermudah mencapai tujuan yang dimagsudkannya. Pendekatan otoriter adalah adalah perumusan suatu teori akuntansi, yang umumnya digunakan oleh organisasi professional, dengan menerbitkan pernyataan sebagai peraturan praktik akuntansi. Oleh karena pendekatan otoriter juga berusaha memberikan cara penyelesaian yang praktis. Kedua pendekatan ini beranggapan bahwa teori akuntansi dengan teknik akuntansi

77

yang dihasilkan harus didasarkan pada kegunaan akhir laporan keuangan jika akuntansi menghendaki mempunyai satu fungsi yang bermanfaat. Dengan kata lain suatu teori yang tanpa konsekwensi praktis merupakan teori yang buruk. Pendekatan Deduktif Pendekatan deduktif adalah pendekatan yang digunakan dalam membentuk teori yang dimulai dari dalil-dalil dasar tindakan-tindakan dasar untuk mendapatkan kesimpulamn logis tentang pokok yang sedang dipertimbangkan. Jika diterapkan dalan akuntansi, maka pendekatan deduktif dimulai dengan dalil dasar akuntansi atau alaan dasar akuntansi dan tindakan dasar akuntansi untuk mendapatkan prinsip akuntansi dengan cara yang logis yang bertindak sebagai penentun dan dasar pengembangan teknik akuntansi. Pendekatan ini berjalan dari umum (dalil dasar tentang lingkungan akuntansi) ke khusus (pertama ke prinsip akuntansi, dan kedua pada teknik akuntansi). Apabila pada saat ini kita beranggapan, bahwa dalil dasar tentang lingkungan akuntansi terdiri dari tujuan dan pernyataan, maka langkah yang digunakan bagi pendekatan deduktif akan meliputi sebagai berikut: 1. Menetapkan “tujuan” laporan keuangan 2. Memilih “aksioma” akuntansi 3. Memperoleh “prinsip” akuntansi 4. Mengembangkan “teknik” akuntansi. Oleh karena itu, menurut teori akuntansi yang diperoleh secara deduktif, teknik ini berkaitan dengan prinsip dan aksioma serta menurut suatu cara yang sedemikian rupa sehingga apabila prinsip dan oksioma serta tujuan benar, maka teknik pun harus

78

menjadi benar. Struktur teoritis akuntansi ditetapkan menurut rangkaian tujuan, aksioma, prinsip, teknik yang bertumpu pada suatu perumusan tujuan akuntansi yang tepat. Dalam hal ini diperlukan juga suatu perumusan tujuan akuntansi yang tepat. Dalam hal ini diperlukan juga suatu pengujian yang tepat terhadap suatu teori yang dihasilkan. 1. Pendekatan Induktif Pendekatan induktif terhadap pembentukan suatu teori dimulai dari pengamatan dan pengukuran serta menuju kea rah kesimpulan yang digeneralisasi. Apabila diterapkan pada akuntansi, maka pendekatan induktif dimulai dari pengamatan informasi keuangan perusahaan, dan hasilnya untuk disimpulkan, atas dasar hubungan kejadian, kesimpulan dan prinsip akuntansi. Penjelasan-penjelasan deduktif dikatakan berjalan dari khusus menuju kea rah umum. Pendekatan induktif pada suatu teori melibatkan empat tahap: a. Pengamatan dan pencatatan seluruh pengamatan; b. Analisis dan pengklasifikasian pengamatan tersebut untuk mencari hubungan yang berulang kali yaknihubungan yang sama dan serupa; c. Pengambilan generalisasi dan prinsip akuntansi induktif dari pengamatan tersebut yang menggambarkan hubungan yang berulang terjadi; d. Pengujian generalisasi Tidaklah seperti halnya dengan masalah pengambilan keputusan secara deduksi, kebenaran atau kepalsuan dalil tidak tergantung pada dalil lain tetapi harus dibuktikan secara empiris.sedangkan dalam hal induksi, kebenaran dalil tergantung

79

pada pengamatan kejadian yang cukup memadai dari hubungan yang berulang kali terjadi. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau beberapa penulis induktif terkadang mengemukakan pemikiran deduktif, dan penulis deduktif terkadang mengemukakan pemikiran induktif. Juga menarik perhatian untuk diperhatikan bahwa ketika Littleton, seorang teoritis induktif, dan Paton seorang teoritikus deduktif bekerja sama, hasilnya bersifat campuran, yang membuktikan suatu perpaduan antara dua pendekatan. 2. Pendekatan Etis Inti dasar pendekatan etis adalah terdiri atas konsep-konsep keadilan, kejujuran, kebenaran, serta kewajaran. Konsep tersebut digunakan oleh D. R Scott sebagai criteria utama untuk perumusan suatu teori akuntansi. Ia menyatakan perlakuan yang “justice” dengan perlakuan yang setara atau sama (equitable), terhadap seluruh pihak yang berkepentingan, menyamakan laporan akuntansi yang “truth” dengan laporan akuntansi yang true dan accurate tanpa kesalahan penyajian; dan menyamakan “fairness” dengan penyajian yang fair, unbiased, dan impartical. Spacek satu langkah lebih maju dalam rangka menegaskan keunggulan konsep kewajaran: Suatu pembahasan tentang aktiva kewajiban, penghasilan, dan biaya belumlah saatnya dan tidak ada gunanya sebelum menentukan prinsip dasar yang akan menghasilkan suatu penyajian data yang wajar dan dalam bentuk akuntansi Kewajaran keuangan laporan keuangan.

akuntansi dan laporan ini harus ada dan untuk

80

masyarakat tersebut mewakili berbagai golongan masyarakat kita Kewajaran diperlukan akuntansi sekali apabila merupakan dalam apapun suatu tujuan suatu yang teori pada

pembentukan yang

dipaksakan

dasarnya dapat dibuktikan secara logis atau secara empiris dan apabila dioperasikan melaliu suatu definisi yang memadai dan melalui pengenalan sifat-sifatnya. 3. Pendekatan Sosiologis Pendekatan sosiologis perumusan suatu teori akuntansi menekankan pengaruh social terhadap teknik akuntansi. Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan etis yang memusatkan pada suatu konsep kewajaran yang lebih luas, yakni kesejahteraan social. Menurut pendekatan sosiologis, suatu prinsip atau teknik akuntansi akan bermanfaat bagi pertimbangan kesejahteraan social. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatan sosiologis menganggap eksistensi “nilai-nilai social yang terbentuk” yang dapat dipergunakan sebagai criteria penentuan teori akuntansi. Pendekatan sosiologis dalam perumusan teori akuntansi telah membantu evolusi suatu cabang ilmu akuntansi baru, yang disebut Akuntansi Sosio-ekonomi. Tujuan utama sosio-ekonomi adalah mendorong badan usaha berfungsi dalam suatu system pasar bebas untuk mempertanggungjawabkan aktivitas produksi sendiri terhadap lingkungan social melaliu pengukuran, internalisasi, dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Bertahun-tahun perhatian terhadap cabang ilmu tersebut semakin meningkat akibat meningkatnya dukungan terhadap tanggung jawab social, yang menitikberatkan pada “ukuran social”

81

tergantung pada “nilai-nilai social,” dan memenuhi suatu criteria kesejahteraan social, kemungkinan akan memainkan suatu peran penting dalam perumusan suatu teori akuntansi di masa yang akan datang. 4. Pendekatan Ekonomis Pendekatan ekonomi terhadap suatu perumusan suatu teori akuntansi menitikberatkan pengendalian perilaku indicator makroekonomi yang diakibatkan oleh pemakaian berbagai teknik akuntansi. Sementara pendekatan etis memfokuskan pada konsep “kesejahteraan social,” pendekatan ekonomi memfokuskan pada konsep “kesejahteraan ekonomi umum”. Menurut pendekatan ini, pemilihan teknik akuntansi yang berbeda tergantung pada pengaruhnya terhadap kebaikan perekonomian nasional. Swedia merupakan contoh yang lazim sebagai Negara yang menyesuaikan kebijakan akuntansinya dengan kebijakan makroekonomi laainnya. Lebih tegasnya, pemilihan teknik akuntansi akan tergantung kepada situasi ekonomi tertentu. Missal metode masuk terakhir keluar pertama (last In First OutLIFO) akan menjadi teknik akuntansi yang lebih menarik dalam suatu periode inflasi yang terus berlangsung. Selama periode inflasi, metode MTKP atau LIFO dianggap menciptakan pendapatan bersih tahunan yang lebih rendah karena menanggung lebih tinggi biaya yang semakin membumbung bagi barang-barang yang terjual disbanding menurut metode masuk pertama keluar pertama (First In First Out-FIFO) ataupun metode rata-rata biaya (average cost) Oleh karena itu, dalam rangka penentuan norma akuntansi, petimbangan-pertimbangan yang dinyatakan oleh pendekatan ekonomi lebih bersifat ekonomis daripada operasional. Walaupun di masa lalu telah ada kepercayaan pada akuntansi teknis, namun

82

perkembangan akuntansi teknis, namun perkembangan waktu memaksa agar penentuan norma mencakup kepentingan ekonomi dan social. A. Aliran dalam Akuntansi Syariah Perkembangan akuntansi syari’ah saat ini menurut Mulawarman (2006; 2007a; 2007b; 2007c) masih menjadi diskursus serius di kalangan akademisi akuntansi. Diskursus terutama berhubungan dengan pendekatan dan aplikasi laporan keuangan sebagai bentukan dari konsep dan teori akuntansinya. Perbedaan-perbedan yang terjadi mengarah pada posisi diametral pendekatan teoritis antara aliran akuntansi syari’ah pragmatis dan idealis.

1. Akuntansi Syariah Aliran Pragmatis Aliran akuntansi pragmatis lanjut Mulawarman (2007a) menganggap beberapa konsep dan teori akuntansi konvensional dapat digunakan dengan beberapa modifikasi (lihat juga misalnya Syahatah 2001; Harahap 2001; Kusumawati 2005 dan banyak lagi lainnya). Modifikasi dilakukan untuk kepentingan pragmatis seperti penggunaan akuntansi dalam perusahaan Islami yang memerlukan legitimasi pelaporan berdasarkan nilai-nilai Islam dan tujuan syari’ah. Akomodasi akuntansi konvensional tersebut memang terpola dalam kebijakan akuntansi seperti Accounting and Auditing Standards for Islamic Financial Institutions yang dikeluarkan AAOIFI secara internasional dan PSAK No. 59 atau yang terbaru PSAK 101-106 di Indonesia. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam tujuan akuntansi syari’ah aliran pragmatis yang masih berpedoman pada tujuan akuntansi konvensional dengan perubahan modifikasi dan penyesuaian berdasarkan prinsip-

83

prinsip syari’ah. Tujuan akuntansi di sini lebih pada pendekatan kewajiban, berbasis entity theory dengan akuntabilitas terbatas. Bila kita lihat lebih jauh, regulasi mengenai bentuk laporan keuangan yang dikeluarkan AAOIFI misalnya, disamping mengeluarkan bentuk laporan keuangan yang tidak berbeda dengan akuntansi konvensional (neraca, laporan laba rugi dan laporan aliran kas) juga menetapkan beberapa laporan lain seperti analisis laporan keuangan mengenai sumber dana untuk zakat dan penggunaannya; analisis laporan keuangan mengenai earnings atau expenditures yang dilarang berdasarkan syari’ah; laporan responsibilitas sosial bank syari’ah; serta laporan pengembangan sumber daya manusia untuk bank syari’ah. Ketentuan AAOIFI lebih diutamakan untuk kepentingan ekonomi, sedangkan ketentuan syari’ah, sosial dan lingkungan merupakan ketentuan tambahan. Dampak dari ketentuan AAOIFI yang longgar tersebut, membuka peluang perbankan syari’ah mementingkan aspek ekonomi daripada aspek syari’ah, sosial maupun lingkungan. Sinyal ini terbukti dari beberapa penelitian empiris seperti dilakukan Sulaiman dan Latiff (2003), Hameed dan Yaya (2003b), Syafei, et al. (2004). Penelitian lain dilakukan Hameed dan Yaya (2003b) yang menguji secara empiris praktik pelaporan keuangan perbankan syari’ah di Malaysia dan Indonesia. Berdasarkan standar AAOIFI, perusahaan di samping membuat laporan keuangan, juga diminta melakukan disclose analisis laporan keuangan berkaitan sumber dana zakat dan penggunaannya, laporan responsibilitas sosial dan lingkungan, serta laporan pengembangan sumber daya manusia. Tetapi hasil temuan Hameed dan Yaya (2003b) menunjukkan bank-bank syari’ah di kedua negara belum melaksanakan praktik akuntansi serta pelaporan yang sesuai standar AAOIFI.

84

Syafei, et al. (2004) juga melakukan penelitian praktik pelaporan tahunan perbankan syari’ah di Indonesia dan Malaysia. Hasilnya, berkaitan produk dan operasi perbankan yang dilakukan, telah sesuai tujuan syari’ah (maqasid syari’ah). Tetapi ketika berkaitan dengan laporan keuangan tahunan yang diungkapkan, baik bank-bank di Malaysia maupun Indonesia tidak murni melaksanakan sistem akuntansi yang sesuai syari’ah. Menurut Syafei, et al. (2004) terdapat lima kemungkinan mengapa laporan keuangan tidak murni dijalankan sesuai ketentuan syari’ah. Pertama, hampir seluruh negara muslim adalah bekas jajahan Barat. Akibatnya masyarakat muslim menempuh pendidikan Barat dan mengadopsi budaya Barat. Kedua, banyak praktisi perbankan syari’ah berpikiran pragmatis dan berbeda dengan cita-cita Islam yang mengarah pada kesejahteraan umat. Ketiga, bank syari’ah telah establish dalam sistem ekonomi sekularis-materialiskapitalis. Pola yang establish ini mempengaruhi pelaksanaan bank yang kurang Islami. Keempat, orientasi Dewan Pengawas Syari’ah lebih menekankan formalitas fiqh daripada substansinya. Kelima, kesenjangan kualifikasi antara praktisi dan ahli syari’ah. Praktisi lebih mengerti sistem barat tapi lemah di syariah. Sebaliknya ahli syariah memiliki sedikit pengetahuan mengenai mekanisme dan prosedur di lapangan. 2. Akuntansi Syari’ah Aliran Idealis Aliran Akuntansi Syari’ah Idealis di sisi lain melihat akomodasi yang terlalu “terbuka dan longgar” jelas-jelas tidak dapat diterima. Beberapa alasan yang diajukan misalnya, landasan filosofis akuntansi konvensional merupakan representasi pandangan dunia Barat yang kapitalistik, sekuler dan liberal serta didominasi kepentingan laba (lihat misalnya Gambling dan Karim 1997; Baydoun dan Willett 1994 dan 2000; Triyuwono 2000a dan

85

2006; Sulaiman 2001; Mulawarman 2006a). Landasan filosofis seperti itu jelas berpengaruh terhadap konsep dasar teoritis sampai bentuk teknologinya, yaitu laporan keuangan. Keberatan aliran idealis terlihat dari pandangannya mengenai Regulasi baik AAOIFI maupun PSAK No. 59, serta PSAK 101-106, yang dianggap masih menggunakan konsep akuntansi modern berbasis entity theory (seperti penyajian laporan laba rugi dan penggunaan going concern dalam PSAK No. 59) dan merupakan perwujudan pandangan dunia Barat. Ratmono (2004) bahkan melihat tujuan laporan keuangan akuntansi syari’ah dalam PSAK 59 masih mengarah pada penyediaan informasi. Yang membedakan PSAK 59 dengan akuntansi konvensional, adanya informasi tambahan berkaitan pengambilan keputusan ekonomi dan kepatuhan terhadap prinsip syari’ah. Berbeda dengan tujuan akuntansi syari’ah filosofis-teoritis, mengarah akuntabilitas yang lebih luas (Triyuwono 2000b; 2001; 2002b; Hameed 2000a; 2000b; Hameed dan Yaya 2003a; Baydoun dan Willett 1994). Konsep dasar teoritis akuntansi yang dekat dengan nilai dan tujuan syari’ah menurut aliran idealis adalah Enterprise Theory (Harahap 1997; Triyuwono 2002b), karena menekankan akuntabilitas yang lebih luas. Meskipun, dari sudut pandang syari’ah, seperti dijelaskan Triyuwono (2002b) konsep ini belum mengakui adanya partisipasi lain yang secara tidak langsung memberikan kontribusi ekonomi. Artinya, lanjut Triyuwono (2002b) konsep ini belum bisa dijadikan justifikasi bahwa enterprise theory menjadi konsep dasar teoritis, sebelum teori tersebut mengakui eksistensi dari indirect participants. Berdasarkan kekurangan-kekurangan yang ada dalam VAS, Triyuwono (2001) dan Slamet (2001) mengusulkan apa yang dinamakan dengan Shari’ate ET. Menurut konsep ini stakeholders

86

pihak yang berhak menerima pendistribusian nilai tambah diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu direct participants dan indirect participants. Menurut Triyuwono (2001) direct stakeholders adalah pihak yang terkait langsung dengan bisnis perusahaan, yang terdiri dari: pemegang saham, manajemen, karyawan, kreditur, pemasok, pemerintah, dan lain-lainnya. Indirect stakeholders adalah pihak yang tidak terkait langsung dengan bisnis perusahaan, terdiri dari: masyarakat mustahiq (penerima zakat, infaq dan shadaqah), dan lingkungan alam (misalnya untuk pelestarian alam). 3. Komparasi Antara Aliran Idealis dan Pragmatis Kesimpulan yang dapat ditarik dari perbincangan mengenai perbedaan antara aliran akuntansi syari’ah pragmatis dan idealis di atas adalah, pertama, akuntansi syari’ah pragmatis memilih melakukan adopsi konsep dasar teoritis akuntansi berbasis entity theory. Konsekuensi teknologisnya adalah digunakannya bentuk laporan keuangan seperti neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas dengan modifikasi pragmatis. Kedua, akuntansi syari’ah idealis memilih melakukan perubahan-perubahan konsep dasar teoritis berbasis shari’ate ET. Konsekuensi teknologisnya adalah penolakan terhadap bentuk laporan keuangan yang ada; sehingga diperlukan perumusan laporan keuangan yang sesuai dengan konsep dasar teoritisnya. Untuk memudahkan penjelasan perbedaan akuntansi syari’ah aliran pragmatis dan idealis, silakan lihat gambar berikut: A. Persamaan dan Perbedaan Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al Quran, Sunah Nabwiyyah, Ijma (kespakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu, dan ‘Uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam.

87

Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah, memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi Konvensional. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat islami, dan termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada tempat penerapan Akuntansi tersebut. Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional terdapat pada hal-hal sebagai berikut: 1. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi; 2. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan keuangan; 3. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal; 4. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang; 5. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan cost (biaya); 6. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan; 7. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan. Sedangkan perbedaannya, menurut Husein Syahatah, dalam buku PokokPokok Pikiran Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut: 1. Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok (kapital) belum ditentukan. Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas; 2. Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar), sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang pokok dibagi

88

menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang; 3. Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau sebagi sumber harga atau nilai; 4. Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin, sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko; 5. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram, sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram jika ada, dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal; 6. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli, sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh.

89

Dengan demikian, dapat diketahui, bahwa perbedaan antara sistem Akuntansi Syariah Islam dengan Akuntansi Konvensional adalah menyentuh soalsoal inti dan pokok, sedangkan segi persamaannya hanya bersifat aksiomatis.

B.

Isu-Isu Kontemporer Akuntansi Syariah Pada awal tahun 90-an Indonesia pada khususnya telah menunjukkan

keadaan perubahan yang lebih membaik. Perkembangan sistem ekonomi dan bisnis berlandaskan Islam telah menujukkan trend yang cukup menggembirakan. Hadirnya lembaga keuangan syari’ah di belahan bumi menunjukkan langkah kemajuan keberadaan sistem ekonomi dan bisnis Islam di tanah air ini. Lembaga-lembaga seperti itu adalah organisasi yang bercirikan “amanah”. Dalam organisasi semacam ini, keberadaan etika sangat penting. Bagi umat Islam, kegiatan bisnis (temasuk bisnis perbankan) tidak akan pernah terlepas dari ikatan etika Islam. Bukan hal yang berlebihan bila bank Islam berdasarkan pada nilai etika Islam. Bahkan secara formal bank Islam membentuk badan khusus dalam organisasinya. Badan ini bertugas memberikan pandangan-pandangan dasar-dasar etika (atau pengawasan) Islam bagi manajemen dalam menjalankan operasi bank (termasuk pencatatan dan pelaporan akuntansinya). Badan tersebut dinamakan Dewan Pengawas Syari’ah yang berdiri secara independen di dalam organisasi bank. Dalam perkembangan perbankan sebagai intemediry antara unit supply dengan unit demand. Disinilah diperlukan proses pencatatan dan pelaporan semua transaksi dan kegiatan muamalah yang dilakukan di perbankan, sehingga perlu sistem akuntansi yang sesuai (relevan). Dengan demikian perlu proses transformasi. Transfrormasi ini tidak saja akan mempengaruhi perilaku manajemen, pemegang saham, karyawan dan masyarakat sekeliling, tetapi juga organisasi yang bersangkutan. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa bentuk organisasi adalah faktor-faktor satu-satunya yang dapat mempengaruhi bentuk akuntansi. Faktor lain seperti sistem ekonomi, sosial, politik, peraturan perundang-undangan, kultur, persepsi dan nilai yang berlaku dalam masyarakat mempunyai tanggung jawab yang

90

besar terhadap bentuk akuntansi. Ini juga menunjukkan bahwa akuntansi adalah sebuah entitas informasi yang tidak bebas nilai. Ada pendapat yang mengatakan bahwa nilai-nilai, sistem dan filsafat sebuah ilmu akan turut menentukan model ilmu yang berkembang di suatu negara. Apabila suatu negara menganut sistem ekonomi kapitalisme, maka sistem akuntansi yang berkembang adalah sistem akuntansi kapitalis. Demikian pula, apabila suatu negara mengikuti sistem ekonomi Islam maka upaya yang harus dikembangkan adalah sistem Akuntansi Syari’ah. Mempelajari dan menerapkan Akuntansi Syari’ah, pada hakekatnya adalah belajar dan menerapkan prinsip keseimbangan (balance) atas transaksi atau perkiraan atau rekening yang telah dicatat untuk dilaporkan kepada yang berhak mendapatkan isi laporan. Islam adalah cara hidup yang berimbang dan koheren, dirancang untuk kebahagiaan (falah) manusia dengan cara menciptakan keharmonisan antara kebutuhan moral dan material manusia dan aktualisasi sosioekonomi, serta persaudaraan dalam masyarakat manusia. Triyumono menyatakan bahwa Akuntansi Syari’ah merupakan salah satu upaya mendekonstruksi akuntansi modern ke dalam bentuk humanis dan syarat nilai. Sesuai dengan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka seluruh upaya dilakukan oleh manusia harus mampu merespon kebutuhan masyarakat atau harus memiliki orientasi sosial. Demikian pula upaya kita untuk mengembangkan Akuntansi Syari’ah. Akuntansi harus berkembang dengan merespon kebutuhan masyarakat. Lebih lanjut Gilling (1996) menjelaskan situasi akuntansi yang intinya sebagai berikut: Akuntansi adalah alat mekanis yang secara pribadi diterapkan pada kegiatan bisnis, akuntansi berkembang menjadi media yang sangant penting untuk mengungkapkan pada fakta umum yang penting tentang masyarakat modern dan komplek di mana kita hidup. Akuntansi bertindak sebagai fungsi pencatatan dengan melaporkan informasi yang berguna bagi pemilik dan pemegang saham, investor yang disebabkan pemisahan pemilikian dengan pengawasan tidak lagi memiliki pengetahuan langsung tentang kondisi dan kegiatan usaha.

91

Tujuan akuntansi tidak lagi membuat pertanggungjawaban yang jelas bagi pemilik tetapi membiarkan perusahaan survive. Di pihak lain akuntansi telah menjadi alat ukur menghitung keuntungan perusahaan yang berbeda dari keuntungan sosial. Sementara, masyarakat mengharapkan agar perusahaan bertindak sebagai koordinator dalam menggunakan SDM, bahan dan dana untuk menghasilkan barang dan jasa dan dalam mendistribusikan hasilnya kepada penyumbang. Tetapi sayangnya belum dikembangkan kepada metode untuk melaporkan kemajuan masyarakat dan juga tidak membuat laporan hasil atas hasilnya. Islam melalui Al Qur’an telah menggariskan bahwa konsep akuntansi yang harus diikuti oleh para pelaku transaksi atau pembuat laporan akuntansi adalah menekankan pada konsep pertanggungjawaban atau accountability, sebagai ditegaskan dalam surat Al Baqaroh ayat 282. Disamping itu, Akuntansi Syari’ah harus berorietasi sosial. Akuntansi Syari’ah tidak hanya sebagai alat ukur untuk menterjemahkan fenomena ekonomi dalam bentuk ukuran moneter tetapi sebagai suatu metode untuk menjelaskan fenomena ekonomi itu berjalan dalam masyarakat Islam. Penelitian yang dilakukan oleh Hayashi (1995) dalam bukunya yang berjudul On Islamic Accounting yang dijelaskan bahwa akuntansi kapitalis, konsep Akuntansi Syari’ah, perhitungan zakat dan kasus Feisal Islamic Bank di Kairo dan praktek bisnis di Arab Saudi. Hayashi mengemukakan perbedaan yang mendasar antara akuntansi kapitalis dan Islam. Akuntansi Syari’ah memiliki metarule yaitu hukum Islam yang digambarkan oleh Al Qur’an dan Hadits sedangkan akuntansi kapitalis tidak memiliki itu. Akuntansi kapitalis hanya bergantung pada keinginan user sehingga bersifat lokal dan situasional. Harahap (1992) dalam bukunya berjudul Akuntansi, Pengawasan dan Manajeme dalam Perspektif Islam, melihat dari sudut nilai-nilai Islam yang ada di dalam konsep akuntansi kapitalis. Dari analisis terhadap prinsip dan sifat-sifat akuntansi dikemukakan, bahwa banyak prinsip akuntansi yang sesuai dengan konsep Islam, seperti prinsip substance over from, reliability, objectivity, timeline

92

dan lain sebagainya (1992 : 8-9). Selanjutnya sesuai dengan perkembangan akuntansi kapitalis banyak mengalami pemangkasan aspek-aspek yang tidak sesuai dengan kondisi lokal, sehingga dia yakin konsep akuntansi kapitalis saat ini akan menuju irama Akuntansi Syari’ah. Penelitian yang dilakukan oleh Adnan (1996) yang berjudul An Invetigation of Accounting Concepts an Practice in Islamic Banks, The Case of Bank Islam Malaysia Berhad dan Bank Muamalat Indonesia yang dalam kesimpulannya sebagai berikut: 1. Secara koseptual, kedua bank masih memakai konsep dan praktik yang lazim dilakukan dalam akuntansi konvensional. 2. Tinjauan kritis bahwa sebenarnya tidak semua konsep dasar akuntansi dapat diterima secara syari’ah 3. Berdasarkan butir kedua di atas khususnya menyiratkan perlunya dibangun model akuntansi yang memang sesuai dengan syari’ah, bila diharapkan terjadi konsistensi antara gerak ekonomi Islam dan istrumen pendukungnya. Dalam pandangan Iwan Triyuwono bahwa Akuntansi Syari’ah yang berorientasi sosial merupakan salah upaya mendekonstruksi akuntansi modern ke dalam bentuk yang humanis dan sarat nilai. Tujuanya adalah tercipta peradaban bisnis dengan wawasan humanis, emansipatoris, transendental dan teleologikal. Konsekuensi ontologis dari hal ini adalah bahwa akuntan secara kritis harus mampu membebaskan manusia dari ikatan realitas (peradaban) semu beserta jaringanjaringan kuasanya, untuk kemudian memberikan atau menciptakan realitas alternatif dengan seperangkat jaringan-jaringan kuasa ilahi yang mengikat manusia dalam hidup sehari-hari. Akuntansi Syari’ah adalah akuntansi yang berorientasi sosial. Artinya akuntansi ini tidak hanya sebagai alat untuk menterjemahkan fenomena ekonomi dalam bentuk ukuran moneter tetapi juga sebagai suatu metode menjelaskan bagaimana fenomena ekonomi itu berjalan dalam masyarakat Islam. Akuntansi Syari’ah termasuk didalamnya isu yang tidak biasa dipikirkan oleh akuntansi

93

konvensional. Perilaku manusia diadili di hari kiamat. Akuntansi harus dianggap sebagai salah satu derivasi/hisab yaitu menganjurkan yang baik dan melarang apa yang jelek. Realitas Akuntansi Syari’ah adalah tercermin dalam akuntansi zakat. Akuntansi zakat menunjukkan proses di mana kekayaan diperoleh secara halal oleh perusahaan. Ini merupakan salah satu contoh dari turunan hisab yang merupakan bidang akuntansi. Disamping itu ternyata melalui Al Qur’an telah menggariskan bahwa konsep akuntansinya adalah penekanan pertanggungjawaban atau accountability yang tujuanya menjaga keadilan dan kebenaran. Akuntansi Konvensional Vs Islam Wacana di sekitar akuntansi syariah ini mucul, kurang lebih sama dengan atau tidak lama setelah kemunculan kembali bank Islam itu sendiri. Sejak itu banyak tulisan atau publikasi tentang akuntansi syariah oleh para pakar misalnya Abdel Magid (1981), Ba-Yunus (1988), Badawi (1988), Hayashi (1989), Adnan (1996), Triyuwono (1996), Harahap (1996), Muhammad (2005) untuk menyebut beberapa contoh diantaranya. Kendati ada kesan bahwa pada mulanya pakar berbeda pendapat dalam menilai urgensi perbedaan Akuntansi Syari’ah dan konvensional, atau cukup merubah sedikit saja apa yang sudah ada dalam akuntansi konvensional, namun dalam perkembangan berikunya, gumpalan semangat untuk berbeda, ternyata lebih menguat. Ini memuncak setelah dilakukan berbagai studi yang kemudian dijadikan landasan untuk dibentuknya The Financial Accounting Organization for Islamic Bank and Financial Institutions (FAO-IBFI) pada tahun 1990. Dalam perkembangannya lembaga ini kemudian berganti nama menjadi The Accounting and Auditing Organization for Islmic Financial Institutions (AAO-IFI). Ada sejumlah argumentasi yang diajukan, mengapa Akuntansi Syari’ah harus berbeda dengan akuntansi konvensional. Diantaranya adalah karena faktorfaktor tujuan. Siapapun yang bertransaksi dengan cara Islam, harus diasumsikan bahwa tujuannya adalah dalam rangka mematuhi perintah Allah dan sekaligus ridha-Nya. Ini tentu sangat berbeda dengan tujuan yang biasa ingin dicapai

94

akuntansi konvensional, yang biasanya hanya sarat dengan nilai-nilai keduniawian, tetapi kering dari nilai-nilai ukhrawi. Secara lebih spesifik, dengan merujuk pada Statement of Financial Accounting (SFA) No. 1, alasan yang dipakai menyusun tujuan yang berbeda untuk Akuntansi Syari’ah adalah karena: 1. Islamic banks must comply with the principles and rules of Shari’a in all their financial and other dealings 2. The functions of Islamic banks are significantly different from those of traditional banks who have adopted the Western model of banking 3. The relatioship between Islamic banks and the parties that deal with them differs from the relatioship of those who deal with the traditional banks. Unlike traditional banks, Islamic banks do not use interest in their investment and financing transactions, whereas traditional banks borrow and lend money on the basis of interest. Pendapat di atas rasanya cukup jelas dan masuk akal, bila kemudian disimpulkan bahwa wajar – bahkan haruslah – Akuntansi Syari’ah tidak sama dengan akuntansi konvensional. Disamping itu kalau seseorang mencoba memahami hakekat keberadaan akuntansi sebagai alat yang tidak bebas nilai, dan bahkan penuh kompromi untuk berbagai kepentingan pihak tertentu. Ada dua aliran yang terjadi, pertama adalah mereka yang menghendaki tujuan dan berbagai kaidah Akuntansi Syari’ah dibangun atas dasar prinsip dan ajaran Islam, lalu membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran akuntansi kontemporer yang sudah mapan. Kedua, adalah berangkat dari tujuan dan kaidah akuntansi konvensional yang sudah ada, kemudian mengujinya dari padang Islam. Bagian yang dipandang sejalan diterima dan dipakai, sedangkan bagian yang dipandang tidak sesuai ditolak. Evalusai Kritis Akuntansi Konvensional Akuntansi konvensional dikembangkan oleh ide orang Barat yang digunakan di seluruh dunia. Sistem tersebut dikenal sebagai sistem yang paling baik di masyarakat. Hal ini disebabkan karena mungkin ditandai dengan eksportasi

95

teknologi akuntansi (yaitu teknik, institusi dan konsep dari asosiasi akuntansi profesional yang sangat dominan) melalui kolonisasi, pendidikan, pengembangan perdagangan dan usaha harmonisasi internasional khususnya di negara Islam yang sedang berkembang di dunia ini. Walaupun beberapa negara (seperti Malaysia dan Pakistan) mencoba mengadaptasi bahkan mengadopsi seluruh ide, sebagai usaha minimal. Demikian pula, pengenalan beberapa konsep dan nilai mendasar akuntansi konvensional saat ini adalah bersifat kontradiksi bagi masyarakat Islam. Sebab secara mendasar hal tersebut berhubungan dengan bunga atau riba. Riba adalah sesuatu yang diharamkan. Di samping itu, ada beberapa unsur yang masuk dalam kategori gharar. Banyak isu lain, sebagaimana diharapkan oleh para akuntan muslim. Demikian pula Dewan Pengawas Syariah yang secara efektif mengontrol mekanisme akuntansi. Masalah penting yang perlu diselesaikan adalah adanya akuntansi Islam yang dapat menjamin terciptanya keadilan ekonomi melalui formalisasi prosedur, aktivitas, pengukuran tujuan, kontrol dan pelaporan yang sesuai dengan prinsip Islam, dengan memfokuskan pada dua ide dasar dalam akuntansi konvensional yang diterima sebagai problematik dan tidak sesuai dengan orang Islam. Masalah pertama berhubungan dengan fondasi filsafat dan kedua berhubungan dengan peran dan fungsi akuntansi dalam masyarakat. Munculnya paradigma agama sebagai sumber pengorganisasi dan pengawasan bisnis. Namun yang terjadi sebaliknya paradigma kapitalis mendorong tumbuhnya sifat serakah manusia, memelihara paham sekularisme, yang mengarahkan pada sifat materialisme dan pada akhirnya cenderung bersifat hedonisme, dengan mengedepankan ideologi rasionalisme. Dengan demikian, menjadikan problem yang lebih besar lagi dalam raperspektif rasionalisme adalah pemisahan agama dari aktivitas ekonomi. Problem seperti ini, juga sampai seluruh dimensi atau aspek ekonomi konvensional, sebagai contoh epistemologi akuntansi konvensional memandang gejala ekonomi merupakan suatu gejala yang bersifat

96

murni, ia tidak ada hubungannya dengan aspek sosial dan spiritual dalam kehidupan umat manusia. Problem lainya adalah berhubungan dengan masalah efesiensi alokasi sumber daya yang didasarkan pada mekanisme pasar. Rasionalisme beranggapan bahwa mekanisme pasar akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari penciptaan kekayaan. Tujuan-tujuan Akuntansi Keuangan dan Laporan Keuangan Ada dua hal yang menarik dalam hal ini, pertama adalah perbedaan antara tujuan akuntansi keuangan dan tujuan laporan keuangan. Dalam berbagai literatur, banyak penulis yang menyamakan antara keduanya. Mathews & Parera (1996) mengatakan: Strictly speaking, financial statement cannot have objectives; only those individuals who cause the statement to be produced and who use them can have objectives. Mathews & Parera (1996) lebih jauh mengatakan: What are often referred to as the objectives of financial statements are really the functions of financial statements .. Dengan demikian berangkat dari pemikiran di atas, sebetulnya apa yang menjadi tujuan laporan keuangan, merupakan tujuan dan fungsi akuntansi sendiri. Dalam konteks ini, bilamana kita harus berpijak pada prinsip idealime Islam, maka sesuai dengan hasil kajian tesis Adnan (1996), tujuan akuntansi dapat dibuat dua tingkatan. Pertama, tingkatan ideal, dan kedua tingkatan praktis. Pada tataran ideal, sesuai dengan peran manusia di muka bumi dan hakikat pemiliki segalanya (QS 2:30, 6:165, 3:109, 5:17), maka semestinya yang menjadi tujuan ideal laporan keuangan adalah pertanggungjawaban muamalah kepada Sang Pemilik yang kakiki, Allah SWT. Namun karena sifat Allah Yang Maha Tahu, tujuan ini bisa dipahami dan ditransformasikan dalam bentuk pengamalan apa yang menjadi sunnah dan syariah-Nya. Dengan kata lain, akuntansi harus terutama berfungsi sebagai media penghitungan zakat, karena zakat merupakan bentuk manifestasi kepatuhan seorang hamba atas perintah Sang Empunya.

97

Tujuan pada tataran pragmatis barulah diarahkan kepada upaya untuk menyediakan informasi kepada stakeholder dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi. Namun sayangnya, apa yang hendak dicapai lewat SFA No. 1 barulah pada tataran ini. Hal kedua yang menarik dari pembedaan antara objectives of financial accounting dan objectives of financial reports seperti yang dinyatakan dalam Chapter, SFA No. 1 adalah sesuatu yang kabur. Artinya, ketika SFA menjelaskan tujuan-tujuan financial reports, yang disajikan justru tipe informasi yang harus dimuat. Dengan kata lain, kurang lebih sama dengan semacam syarat kualitatif kandungan laporan keuangan. Misalnya, bahwa laporan mengandung informasi tentang kepatuhan bank terhadap syariah dan oleh karenanya harus ada informasi tentang pos-pos non-halal; informasi sumber daya dan kewajiban, termasuk akibat suatu transaksi atau kejadian ekonomi terhadap sumber daya entitas, maupun kewajibannya; informasi yang dapat membantu pihak-pihak tertentu dalam menghitung zakatnya; informasi yang dapat membantu pihak terkait dalam memprediksi aliran kas bank dan seterusnya. Kerangka Dasar Akuntansi Keuangan Kerangka dasar akuntansi keuangan versi AAO-IFI dituangkan dalam SFA No. 2. Ini meliputi 9 bab, termasuk pengantar dan pernyataan adopsi oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan AAO-IFI. Tidak seperti halnya akuntansi keuangan konvensional, akuntansi bank syariah menuntut lebih banyak bentuk laporan sebagai berikut: 1. Laporan posisi keuangan 2. Laporan laba rugi 3. Laporan arus kas 4. Laporan laba ditahan 5. Laporan perubahan dalam investasi terbatas 6. Laporan sumber dan penggunaan dana zakat serta dana sosial

98

7. Laporan sumber dan penggunaan dana dalam qardh Empat laporan pertama adalah unsure-unsur laporan keuangan yang sudah dikenal selama ini secara konvensional, sedangkan tiga terakhir bersifat khas. Ketiga laporan yang terakhir ini muncul akibat perbedaan peran dan fungsi bank Islam, dibandingkan bank konvensional. Asumsi Dasar Bila dibandingkan dengan asumsi dasar yang dipakai oleh Kerangka Dasar Penyusunan Laporan Keuangan yang dipakai di Indonesia dengan menganut kepada apa yang dipakai oleh International Accounting Standards Committee (IASC), maka sedikit terdapat perbedaan . Kalau kerangka dasar akuntansi konvensional secara eksplisit memakai dua asumsi dasar, yakni dasar akrual (accrual basic) dan kelangsungan usaha (going concern), maka asumsi dasar yang dipakai dalam kerangka dasar versi AAO-IFI terdiri dari empat hal, yakni: 1. The accounting unit concept 2. The going concern concept 3. The periodicity concept 4. The stability of purchasing power of the monetary unit Komparasi kedua konsep dasar di atas, secara tegas menunjukkan bahwa hanya ada satu konsep dasar yang sama-sama diakui oleh kedua model akuntansi yakni konsep going concern. Ironisnya adalah bahwa sebetulnya konsep ini sudah banyak diserang oleh berbagai pakar, misalnya Husband (1954), Sterling (1967), Fremgen (1968), Boris (1991) dan Abdel Magid (1981). Selain perbedaan dari sisi jumlah item, sebetulnya keempat konsep ini berasal dari pemikiran akuntansi konvensional juga. Tetapi yang lebih penting dicatat sebenarnya bahwa paling tidak dua diantara going concern yang sudah disinggung di atas, banyak kritik oleh pakar, termasuk pakar non-Muslim sendiri. Konsep The stability of purchasing power of the monetary unit juga memiliki

99

kelemahan pada saat perekonomian dalam kondisi krisis, sehingga inflasi menjadi tinggi atau tak terkendali. Pengakuan dan Pengukuran Aspek pengakuan memegang peranan penting sebagai kerangka dasar, karena pengakuan merujuk kepada prinsip yang mengatur kapan dicatatnya transaksi pendapatan (revenue), beban (expenses), laba (gain) dan rugi (loss). Pada gilirannya konsep pengakuan akan banyak berperan dalam menentukan aktiva dan passive, serta laba rugi operasi perusahaan. Dalam konteks ini, ada kesan bahwa pada dasarnya AAO-IFI memakai konsep akrual sebagai dasar pengakuan untuk semua transaksi. Ini sejalan dengan kerangka dasar versi IASC yang dianut oleh akuntansi konvensional Indonesia. Namun demikian, kalau kita mengacu kepada praktik beberapa bank syari’ah, ada sejumlah penyimpangan. Misalnya, dasar akrual hanya dipakai untuk pengakuan beban atau expenses, tetapi dasar kas (cash basis) dipakai untuk pengakuan revenue dan/atau income. Argumentasi yang dijadikan landasan atas sikap ini adalah unsur ketidakpastian dan tentu saja konservatisme. Walaupun ini bisa diperdebatkan panjang lebar, konon Dewan Syariah bank Islam di Indonesia sudah memfatwakan kebolehan pilihan ini, dan tampaknya akan dipakai sebagai acuan resmi nantinya. Aspek pengukuran memegang peranan penting dalam kaitannya dengan peran laporan akuntansi yang harus menyajikan data kuantitatif tentang posisi kekayaan perusahaan dalam suatu waktu tertentu. Yang perlu dipertimbangkan dalam aspek ini adalah atribut apa yang dipakai dalam pengukuran. Aspek pengukuran hampir tidak berbeda bila dibandingkan dengan akuntansi konvensional, karena semua atribut yang akan dijadikan acuan harus mempertimbangkan unsur relevan, reliability, understandability dan comparability. Karakteristik Kualitatif Bila dibandingkan antara karakteristik kualitatif yang ada pada SFA buatan AAO-IFI dan karakteristik kualitatif dalam berbagai kerangka dasar akuntansi beberapa negara (AS, Australia, IASC, dsb), tampak ada kesamaan yang sangat

100

menonjol. Kalaupun ada perbedaan, maka lebih kepada penekanan dan urutan priritas belaka. Oleh karena itu, dalam kerangka dasar versi SFA juga ditemukan : relevan (meliputi predictive value, feedback value dan timeliness) reliability (meliputi representational faithfulness, objectivity dan neutrality), comparability, consistency, understanbility. Yang penting dicatat di sini adalah sejauh yang dapat dilakukan analisis dan pengujian dari perspektif Islam, tidak ada yang keluar dari batas-batas yang dapat diterima, terutama kalau dilihat dari sudut pandang tujuan laporan keuangan, seperti yang dibahas di muka. Standar Akuntansi Keuangan Perbedaan mencolok akan tampak kalau dibandingkan antara standar akuntansi untuk perbankan konvensional dan standar akuntansi perbankan Islam. Namun demikian, kalau dilihat lebih jauh, perbedaan ini lebih disebabkan karena perbedaan paradigma dasar dari kedua jenis industri, yang pada gilirannya membawa perbedaan produk dan jasa yang ditawarkan. Konsekuensinya adalah terjadinya perbedaan standar akuntansinya. Contoh dalam industri perbankan Islam dikenal dengan produk musyarakah, mudharabah, murabahah, bai’ bi-tsaman ajil, qardul hasan, salam, istishna dan lain sebagainya. Kesemua jenis produk atau jasa ini tidak akan ditemukan operasi dalam bank konvensional. Karena keunikan produk atau jasa ini pulalah, maka mau tidak mau ada standar yang tidak hanya berbeda, tetapi tidak terdapat dalam standar akuntansi konvensional. Pada tataran tertentu, keunikan ini sekaligus memunculkan perlakuan akuntansi yang unik. Contohnya manakala terjadi transaksi deposito mudharabah oleh nasabah kepada bank Islam. Sekilas orang menyangka bahwa sifat dan bentuk deposito ini sama saja dengan deposito bank konvension

101

A.

Persamaan dan Perbedaan Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al

Quran, Sunah Nabwiyyah, Ijma (kespakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu, dan ‘Uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah, memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi Konvensional. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat islami, dan termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada tempat penerapan Akuntansi tersebut. Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional terdapat pada hal-hal sebagai berikut:

102

1. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi; 2. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan keuangan; 3. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal; 4. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang; 5. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan cost (biaya); 6. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan; 7. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan. Sedangkan perbedaannya, menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut: 1. Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok (kapital) belum ditentukan. Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas; 2. Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan

103

modal yang beredar (aktiva lancar), sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang; 3. Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau sebagi sumber harga atau nilai; 4. Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin, sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko; 5. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram, sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram jika ada, dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal;

104

6. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli, sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh. Dengan demikian, dapat diketahui, bahwa perbedaan antara sistem Akuntansi Syariah Islam dengan Akuntansi Konvensional adalah menyentuh soal-soal inti dan pokok, sedangkan segi persamaannya hanya bersifat aksiomatis.

B.

Isu-Isu Kontemporer Akuntansi Syariah Pada awal tahun 90-an Indonesia pada khususnya telah

menunjukkan keadaan perubahan yang lebih membaik. Perkembangan sistem ekonomi dan bisnis berlandaskan Islam telah menujukkan trend yang cukup menggembirakan. Hadirnya lembaga keuangan syari’ah di belahan bumi menunjukkan langkah kemajuan keberadaan sistem ekonomi dan bisnis Islam di tanah air ini. Lembaga-lembaga seperti itu adalah organisasi yang bercirikan “amanah”. Dalam organisasi semacam ini, keberadaan etika sangat penting. Bagi umat Islam, kegiatan bisnis (temasuk bisnis perbankan) tidak akan pernah terlepas dari ikatan etika Islam. Bukan hal yang berlebihan bila bank Islam berdasarkan pada nilai etika Islam. Bahkan secara formal bank Islam membentuk badan khusus dalam organisasinya. Badan ini bertugas memberikan pandangan-pandangan dasar-dasar etika (atau pengawasan) Islam bagi manajemen dalam menjalankan

105

operasi bank (termasuk pencatatan dan pelaporan akuntansinya). Badan tersebut dinamakan Dewan Pengawas Syari’ah yang berdiri secara independen di dalam organisasi bank. Dalam perkembangan perbankan sebagai intemediry antara unit supply dengan unit demand. Disinilah diperlukan proses pencatatan dan pelaporan semua transaksi dan kegiatan muamalah yang dilakukan di perbankan, sehingga perlu sistem akuntansi yang sesuai (relevan). Dengan demikian perlu proses transformasi. Transfrormasi ini tidak saja akan mempengaruhi perilaku manajemen, pemegang saham, karyawan dan masyarakat sekeliling, tetapi juga organisasi yang bersangkutan. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa bentuk organisasi adalah faktor-faktor satu-satunya yang dapat mempengaruhi bentuk akuntansi. Faktor lain seperti sistem ekonomi, sosial, politik, peraturan perundang-undangan, kultur, persepsi dan nilai yang berlaku dalam masyarakat mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap bentuk akuntansi. Ini juga menunjukkan bahwa akuntansi adalah sebuah entitas informasi yang tidak bebas nilai. Ada pendapat yang mengatakan bahwa nilai-nilai, sistem dan filsafat sebuah ilmu akan turut menentukan model ilmu yang berkembang di suatu negara. Apabila suatu negara menganut sistem ekonomi kapitalisme, maka sistem akuntansi yang berkembang adalah sistem akuntansi kapitalis. Demikian pula, apabila suatu negara mengikuti sistem ekonomi Islam maka upaya yang harus dikembangkan adalah sistem Akuntansi Syari’ah. Mempelajari dan menerapkan Akuntansi Syari’ah, pada hakekatnya adalah belajar dan menerapkan prinsip keseimbangan (balance) atas transaksi atau perkiraan atau rekening yang telah dicatat untuk dilaporkan kepada yang berhak mendapatkan isi laporan. Islam adalah cara hidup yang berimbang dan koheren,

106

dirancang untuk kebahagiaan (falah) manusia dengan cara menciptakan keharmonisan antara kebutuhan moral dan material manusia dan aktualisasi sosio-ekonomi, serta persaudaraan dalam masyarakat manusia. Triyumono menyatakan bahwa Akuntansi Syari’ah merupakan salah satu upaya mendekonstruksi akuntansi modern ke dalam bentuk humanis dan syarat nilai. Sesuai dengan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka seluruh upaya dilakukan oleh manusia harus mampu merespon kebutuhan masyarakat atau harus memiliki orientasi sosial. Demikian pula upaya kita untuk mengembangkan Akuntansi Syari’ah. Akuntansi harus berkembang dengan merespon kebutuhan masyarakat. Lebih lanjut Gilling (1996) menjelaskan situasi akuntansi yang intinya sebagai berikut: Akuntansi adalah alat mekanis yang secara pribadi diterapkan pada kegiatan bisnis, akuntansi berkembang menjadi media yang sangant penting untuk mengungkapkan pada fakta umum yang penting tentang masyarakat modern dan komplek di mana kita hidup. Akuntansi bertindak sebagai fungsi pencatatan dengan melaporkan informasi yang berguna bagi pemilik dan pemegang saham, investor yang disebabkan pemisahan pemilikian dengan pengawasan tidak lagi memiliki pengetahuan langsung tentang kondisi dan kegiatan usaha. Tujuan akuntansi tidak lagi membuat pertanggungjawaban yang jelas bagi pemilik tetapi membiarkan perusahaan survive. Di pihak lain akuntansi telah menjadi alat ukur menghitung keuntungan perusahaan yang berbeda dari keuntungan sosial. Sementara, masyarakat mengharapkan agar perusahaan bertindak sebagai koordinator dalam menggunakan SDM, bahan dan dana untuk menghasilkan barang dan jasa dan dalam mendistribusikan hasilnya kepada penyumbang. Tetapi sayangnya

107

belum dikembangkan kepada metode untuk melaporkan kemajuan masyarakat dan juga tidak membuat laporan hasil atas hasilnya. Islam melalui Al Qur’an telah menggariskan bahwa konsep akuntansi yang harus diikuti oleh para pelaku transaksi atau pembuat laporan akuntansi adalah menekankan pada konsep pertanggungjawaban atau accountability, sebagai ditegaskan dalam surat Al Baqaroh ayat 282. Disamping itu, Akuntansi Syari’ah harus berorietasi sosial. Akuntansi Syari’ah tidak hanya sebagai alat ukur untuk menterjemahkan fenomena ekonomi dalam bentuk ukuran moneter tetapi sebagai suatu metode untuk menjelaskan fenomena ekonomi itu berjalan dalam masyarakat Islam. Penelitian yang dilakukan oleh Hayashi (1995) dalam bukunya yang berjudul On Islamic Accounting yang dijelaskan bahwa akuntansi kapitalis, konsep Akuntansi Syari’ah, perhitungan zakat dan kasus Feisal Islamic Bank di Kairo dan praktek bisnis di Arab Saudi. Hayashi mengemukakan perbedaan yang mendasar antara akuntansi kapitalis dan Islam. Akuntansi Syari’ah memiliki metarule yaitu hukum Islam yang digambarkan oleh Al Qur’an dan Hadits sedangkan akuntansi kapitalis tidak memiliki itu. Akuntansi kapitalis hanya bergantung pada keinginan user sehingga bersifat lokal dan situasional. Harahap (1992) dalam bukunya berjudul Akuntansi, Pengawasan dan Manajeme dalam Perspektif Islam, melihat dari sudut nilai-nilai Islam yang ada di dalam konsep akuntansi kapitalis. Dari analisis terhadap prinsip dan sifat-sifat akuntansi dikemukakan, bahwa banyak prinsip akuntansi yang sesuai dengan konsep Islam, seperti prinsip substance over from, reliability, objectivity, timeline dan lain sebagainya (1992 : 8-9).

108

Selanjutnya sesuai dengan perkembangan akuntansi kapitalis banyak mengalami pemangkasan aspek-aspek yang tidak sesuai dengan kondisi lokal, sehingga dia yakin konsep akuntansi kapitalis saat ini akan menuju irama Akuntansi Syari’ah. Penelitian yang dilakukan oleh Adnan (1996) yang berjudul An Invetigation of Accounting Concepts an Practice in Islamic Banks, The Case of Bank Islam Malaysia Berhad dan Bank Muamalat Indonesia yang dalam kesimpulannya sebagai berikut: 1. Secara koseptual, kedua bank masih memakai konsep dan praktik yang lazim dilakukan dalam akuntansi konvensional. 2. Tinjauan kritis bahwa sebenarnya tidak semua konsep dasar akuntansi dapat diterima secara syari’ah 3. Berdasarkan butir kedua di atas khususnya menyiratkan perlunya dibangun model akuntansi yang memang sesuai dengan syari’ah, bila diharapkan terjadi konsistensi antara gerak ekonomi Islam dan istrumen pendukungnya. Dalam pandangan Iwan Triyuwono bahwa Akuntansi Syari’ah yang berorientasi sosial merupakan salah upaya mendekonstruksi akuntansi modern ke dalam bentuk yang humanis dan sarat nilai. Tujuanya adalah tercipta peradaban bisnis dengan wawasan humanis, emansipatoris, transendental dan teleologikal. Konsekuensi ontologis dari hal ini adalah bahwa akuntan secara kritis harus mampu membebaskan manusia dari ikatan realitas (peradaban) semu beserta jaringan-jaringan kuasanya, untuk kemudian memberikan atau menciptakan realitas alternatif dengan seperangkat jaringan-jaringan kuasa ilahi yang mengikat manusia dalam hidup sehari-hari. Akuntansi Syari’ah adalah akuntansi yang berorientasi sosial. Artinya akuntansi ini tidak hanya sebagai alat untuk

109

menterjemahkan fenomena ekonomi dalam bentuk ukuran moneter tetapi juga sebagai suatu metode menjelaskan bagaimana fenomena ekonomi itu berjalan dalam masyarakat Islam. Akuntansi Syari’ah termasuk didalamnya isu yang tidak biasa dipikirkan oleh akuntansi konvensional. Perilaku manusia diadili di hari kiamat. Akuntansi harus dianggap sebagai salah satu derivasi/hisab yaitu menganjurkan yang baik dan melarang apa yang jelek. Realitas Akuntansi Syari’ah adalah tercermin dalam akuntansi zakat. Akuntansi zakat menunjukkan proses di mana kekayaan diperoleh secara halal oleh perusahaan. Ini merupakan salah satu contoh dari turunan hisab yang merupakan bidang akuntansi. Disamping itu ternyata melalui Al Qur’an telah menggariskan bahwa konsep akuntansinya adalah penekanan pertanggungjawaban atau accountability yang tujuanya menjaga keadilan dan kebenaran. Akuntansi Konvensional Vs Islam Wacana di sekitar akuntansi syariah ini mucul, kurang lebih sama dengan atau tidak lama setelah kemunculan kembali bank Islam itu sendiri. Sejak itu banyak tulisan atau publikasi tentang akuntansi syariah oleh para pakar misalnya Abdel Magid (1981), Ba-Yunus (1988), Badawi (1988), Hayashi (1989), Adnan (1996), Triyuwono (1996), Harahap (1996), Muhammad (2005) untuk menyebut beberapa contoh diantaranya. Kendati ada kesan bahwa pada mulanya pakar berbeda pendapat dalam menilai urgensi perbedaan Akuntansi Syari’ah dan konvensional, atau cukup merubah sedikit saja apa yang sudah ada dalam akuntansi konvensional, namun dalam perkembangan berikunya, gumpalan semangat untuk berbeda,

110

ternyata lebih menguat. Ini memuncak setelah dilakukan berbagai studi yang kemudian dijadikan landasan untuk dibentuknya The Financial Accounting Organization for Islamic Bank and Financial Institutions (FAO-IBFI) pada tahun 1990. Dalam perkembangannya lembaga ini kemudian berganti nama menjadi The Accounting and Auditing Organization for Islmic Financial Institutions (AAO-IFI). Ada sejumlah argumentasi yang diajukan, mengapa Akuntansi Syari’ah harus berbeda dengan akuntansi konvensional. Diantaranya adalah karena faktor-faktor tujuan. Siapapun yang bertransaksi dengan cara Islam, harus diasumsikan bahwa tujuannya adalah dalam rangka mematuhi perintah Allah dan sekaligus ridha-Nya. Ini tentu sangat berbeda dengan tujuan yang biasa ingin dicapai akuntansi konvensional, yang biasanya hanya sarat dengan nilai-nilai keduniawian, tetapi kering dari nilai-nilai ukhrawi. Secara lebih spesifik, dengan merujuk pada Statement of Financial Accounting (SFA) No. 1, alasan yang dipakai menyusun tujuan yang berbeda untuk Akuntansi Syari’ah adalah karena: 1. Islamic banks must comply with the principles and rules of Shari’a in all their financial and other dealings 2. The functions of Islamic banks are significantly different from those of traditional banks who have adopted the Western model of banking 3. The relatioship between Islamic banks and the parties that deal with them differs from the relatioship of those who deal with the traditional banks. Unlike traditional banks, Islamic banks do not use interest in their investment and financing transactions, whereas traditional banks borrow and lend money on the basis of interest.

111

Pendapat di atas rasanya cukup jelas dan masuk akal, bila kemudian disimpulkan bahwa wajar – bahkan haruslah – Akuntansi Syari’ah tidak sama dengan akuntansi konvensional. Disamping itu kalau seseorang mencoba memahami hakekat keberadaan akuntansi sebagai alat yang tidak bebas nilai, dan bahkan penuh kompromi untuk berbagai kepentingan pihak tertentu. Ada dua aliran yang terjadi, pertama adalah mereka yang menghendaki tujuan dan berbagai kaidah Akuntansi Syari’ah dibangun atas dasar prinsip dan ajaran Islam, lalu membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran akuntansi kontemporer yang sudah mapan. Kedua, adalah berangkat dari tujuan dan kaidah akuntansi konvensional yang sudah ada, kemudian mengujinya dari padang Islam. Bagian yang dipandang sejalan diterima dan dipakai, sedangkan bagian yang dipandang tidak sesuai ditolak. Evalusai Kritis Akuntansi Konvensional Akuntansi konvensional dikembangkan oleh ide orang Barat yang digunakan di seluruh dunia. Sistem tersebut dikenal sebagai sistem yang paling baik di masyarakat. Hal ini disebabkan karena mungkin ditandai dengan eksportasi teknologi akuntansi (yaitu teknik, institusi dan konsep dari asosiasi akuntansi profesional yang sangat dominan) melalui kolonisasi, pendidikan, pengembangan perdagangan dan usaha harmonisasi internasional khususnya di negara Islam yang sedang berkembang di dunia ini. Walaupun beberapa negara (seperti Malaysia dan Pakistan) mencoba mengadaptasi bahkan mengadopsi seluruh ide, sebagai usaha minimal. Demikian pula, pengenalan beberapa konsep dan nilai mendasar akuntansi konvensional saat ini adalah bersifat kontradiksi bagi masyarakat Islam. Sebab secara mendasar hal tersebut berhubungan dengan bunga atau riba. Riba adalah

112

sesuatu yang diharamkan. Di samping itu, ada beberapa unsur yang masuk dalam kategori gharar. Banyak isu lain, sebagaimana diharapkan oleh para akuntan muslim. Demikian pula Dewan Pengawas Syariah yang secara efektif mengontrol mekanisme akuntansi. Masalah penting yang perlu diselesaikan adalah adanya akuntansi Islam yang dapat menjamin terciptanya keadilan ekonomi melalui formalisasi prosedur, aktivitas, pengukuran tujuan, kontrol dan pelaporan yang sesuai dengan prinsip Islam, dengan memfokuskan pada dua ide dasar dalam akuntansi konvensional yang diterima sebagai problematik dan tidak sesuai dengan orang Islam. Masalah pertama berhubungan dengan fondasi filsafat dan kedua berhubungan dengan peran dan fungsi akuntansi dalam masyarakat. Munculnya paradigma agama sebagai sumber pengorganisasi dan pengawasan bisnis. Namun yang terjadi sebaliknya paradigma kapitalis mendorong tumbuhnya sifat serakah manusia, memelihara paham sekularisme, yang mengarahkan pada sifat materialisme dan pada akhirnya cenderung bersifat hedonisme, dengan mengedepankan ideologi rasionalisme. Dengan demikian, menjadikan problem yang lebih besar lagi dalam raperspektif rasionalisme adalah pemisahan agama dari aktivitas ekonomi. Problem seperti ini, juga sampai seluruh dimensi atau aspek ekonomi konvensional, sebagai contoh epistemologi akuntansi konvensional memandang gejala ekonomi merupakan suatu gejala yang bersifat murni, ia tidak ada hubungannya dengan aspek sosial dan spiritual dalam kehidupan umat manusia. Problem lainya adalah berhubungan dengan masalah efesiensi alokasi sumber daya yang didasarkan pada mekanisme

113

pasar. Rasionalisme beranggapan bahwa mekanisme pasar akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari penciptaan kekayaan. Tujuan-tujuan Akuntansi Keuangan dan Laporan Keuangan Ada dua hal yang menarik dalam hal ini, pertama adalah perbedaan antara tujuan akuntansi keuangan dan tujuan laporan keuangan. Dalam berbagai literatur, banyak penulis yang menyamakan antara keduanya. Mathews & Parera (1996) mengatakan: Strictly speaking, financial statement cannot have objectives; only those individuals who cause the statement to be produced and who use them can have objectives. Mathews & Parera (1996) lebih jauh mengatakan: What are often referred to as the objectives of financial statements are really the functions of financial statements .. Dengan demikian berangkat dari pemikiran di atas, sebetulnya apa yang menjadi tujuan laporan keuangan, merupakan tujuan dan fungsi akuntansi sendiri. Dalam konteks ini, bilamana kita harus berpijak pada prinsip idealime Islam, maka sesuai dengan hasil kajian tesis Adnan (1996), tujuan akuntansi dapat dibuat dua tingkatan. Pertama, tingkatan ideal, dan kedua tingkatan praktis. Pada tataran ideal, sesuai dengan peran manusia di muka bumi dan hakikat pemiliki segalanya (QS 2:30, 6:165, 3:109, 5:17), maka semestinya yang menjadi tujuan ideal laporan keuangan adalah pertanggungjawaban muamalah kepada Sang Pemilik yang kakiki, Allah SWT. Namun karena sifat Allah Yang Maha Tahu, tujuan ini bisa dipahami dan ditransformasikan dalam bentuk pengamalan apa yang menjadi sunnah dan syariahNya. Dengan kata lain, akuntansi harus terutama berfungsi

114

sebagai media penghitungan zakat, karena zakat merupakan bentuk manifestasi kepatuhan seorang hamba atas perintah Sang Empunya. Tujuan pada tataran pragmatis barulah diarahkan kepada upaya untuk menyediakan informasi kepada stakeholder dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi. Namun sayangnya, apa yang hendak dicapai lewat SFA No. 1 barulah pada tataran ini. Hal kedua yang menarik dari pembedaan antara objectives of financial accounting dan objectives of financial reports seperti yang dinyatakan dalam Chapter, SFA No. 1 adalah sesuatu yang kabur. Artinya, ketika SFA menjelaskan tujuan-tujuan financial reports, yang disajikan justru tipe informasi yang harus dimuat. Dengan kata lain, kurang lebih sama dengan semacam syarat kualitatif kandungan laporan keuangan. Misalnya, bahwa laporan mengandung informasi tentang kepatuhan bank terhadap syariah dan oleh karenanya harus ada informasi tentang pos-pos nonhalal; informasi sumber daya dan kewajiban, termasuk akibat suatu transaksi atau kejadian ekonomi terhadap sumber daya entitas, maupun kewajibannya; informasi yang dapat membantu pihak-pihak tertentu dalam menghitung zakatnya; informasi yang dapat membantu pihak terkait dalam memprediksi aliran kas bank dan seterusnya. Kerangka Dasar Akuntansi Keuangan Kerangka dasar akuntansi keuangan versi AAO-IFI dituangkan dalam SFA No. 2. Ini meliputi 9 bab, termasuk pengantar dan pernyataan adopsi oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan AAO-IFI. Tidak seperti halnya akuntansi keuangan konvensional, akuntansi bank syariah menuntut lebih banyak bentuk laporan sebagai berikut:

115

1. Laporan posisi keuangan 2. Laporan laba rugi 3. Laporan arus kas 4. Laporan laba ditahan 5. Laporan perubahan dalam investasi terbatas 6. Laporan sumber dan penggunaan dana zakat serta dana sosial 7. Laporan sumber dan penggunaan dana dalam qardh Empat laporan pertama adalah unsure-unsur laporan keuangan yang sudah dikenal selama ini secara konvensional, sedangkan tiga terakhir bersifat khas. Ketiga laporan yang terakhir ini muncul akibat perbedaan peran dan fungsi bank Islam, dibandingkan bank konvensional. Asumsi Dasar Bila dibandingkan dengan asumsi dasar yang dipakai oleh Kerangka Dasar Penyusunan Laporan Keuangan yang dipakai di Indonesia dengan menganut kepada apa yang dipakai oleh International Accounting Standards Committee (IASC), maka sedikit terdapat perbedaan . Kalau kerangka dasar akuntansi konvensional secara eksplisit memakai dua asumsi dasar, yakni dasar akrual (accrual basic) dan kelangsungan usaha (going concern), maka asumsi dasar yang dipakai dalam kerangka dasar versi AAO-IFI terdiri dari empat hal, yakni: 1. The accounting unit concept 2. The going concern concept 3. The periodicity concept 4. The stability of purchasing power of the monetary unit

116

Komparasi kedua konsep dasar di atas, secara tegas menunjukkan bahwa hanya ada satu konsep dasar yang samasama diakui oleh kedua model akuntansi yakni konsep going concern. Ironisnya adalah bahwa sebetulnya konsep ini sudah banyak diserang oleh berbagai pakar, misalnya Husband (1954), Sterling (1967), Fremgen (1968), Boris (1991) dan Abdel Magid (1981). Selain perbedaan dari sisi jumlah item, sebetulnya keempat konsep ini berasal dari pemikiran akuntansi konvensional juga. Tetapi yang lebih penting dicatat sebenarnya bahwa paling tidak dua diantara going concern yang sudah disinggung di atas, banyak kritik oleh pakar, termasuk pakar non-Muslim sendiri. Konsep The stability of purchasing power of the monetary unit juga memiliki kelemahan pada saat perekonomian dalam kondisi krisis, sehingga inflasi menjadi tinggi atau tak terkendali. Pengakuan dan Pengukuran Aspek pengakuan memegang peranan penting sebagai kerangka dasar, karena pengakuan merujuk kepada prinsip yang mengatur kapan dicatatnya transaksi pendapatan (revenue), beban (expenses), laba (gain) dan rugi (loss). Pada gilirannya konsep pengakuan akan banyak berperan dalam menentukan aktiva dan passive, serta laba rugi operasi perusahaan. Dalam konteks ini, ada kesan bahwa pada dasarnya AAO-IFI memakai konsep akrual sebagai dasar pengakuan untuk semua transaksi. Ini sejalan dengan kerangka dasar versi IASC yang dianut oleh akuntansi konvensional Indonesia. Namun demikian, kalau kita mengacu kepada praktik beberapa bank syari’ah, ada sejumlah penyimpangan. Misalnya, dasar akrual hanya dipakai untuk pengakuan beban atau expenses, tetapi dasar kas (cash basis) dipakai untuk pengakuan revenue dan/atau income. Argumentasi

117

yang dijadikan landasan atas sikap ini adalah unsur ketidakpastian dan tentu saja konservatisme. Walaupun ini bisa diperdebatkan panjang lebar, konon Dewan Syariah bank Islam di Indonesia sudah memfatwakan kebolehan pilihan ini, dan tampaknya akan dipakai sebagai acuan resmi nantinya. Aspek pengukuran memegang peranan penting dalam kaitannya dengan peran laporan akuntansi yang harus menyajikan data kuantitatif tentang posisi kekayaan perusahaan dalam suatu waktu tertentu. Yang perlu dipertimbangkan dalam aspek ini adalah atribut apa yang dipakai dalam pengukuran. Aspek pengukuran hampir tidak berbeda bila dibandingkan dengan akuntansi konvensional, karena semua atribut yang akan dijadikan acuan harus mempertimbangkan unsur relevan, reliability, understandability dan comparability. Karakteristik Kualitatif Bila dibandingkan antara karakteristik kualitatif yang ada pada SFA buatan AAO-IFI dan karakteristik kualitatif dalam berbagai kerangka dasar akuntansi beberapa negara (AS, Australia, IASC, dsb), tampak ada kesamaan yang sangat menonjol. Kalaupun ada perbedaan, maka lebih kepada penekanan dan urutan priritas belaka. Oleh karena itu, dalam kerangka dasar versi SFA juga ditemukan : relevan (meliputi predictive value, feedback value dan timeliness) reliability (meliputi representational faithfulness, objectivity dan neutrality), comparability, consistency, understanbility. Yang penting dicatat di sini adalah sejauh yang dapat dilakukan analisis dan pengujian dari perspektif Islam, tidak ada yang keluar dari batas-batas yang dapat diterima, terutama kalau

118

dilihat dari sudut pandang tujuan laporan keuangan, seperti yang dibahas di muka. Standar Akuntansi Keuangan Perbedaan mencolok akan tampak kalau dibandingkan antara standar akuntansi untuk perbankan konvensional dan standar akuntansi perbankan Islam. Namun demikian, kalau dilihat lebih jauh, perbedaan ini lebih disebabkan karena perbedaan paradigma dasar dari kedua jenis industri, yang pada gilirannya membawa perbedaan produk dan jasa yang ditawarkan. Konsekuensinya adalah terjadinya perbedaan standar akuntansinya. Contoh dalam industri perbankan Islam dikenal dengan produk musyarakah, mudharabah, murabahah, bai’ bitsaman ajil, qardul hasan, salam, istishna dan lain sebagainya. Kesemua jenis produk atau jasa ini tidak akan ditemukan operasi dalam bank konvensional. Karena keunikan produk atau jasa ini pulalah, maka mau tidak mau ada standar yang tidak hanya berbeda, tetapi tidak terdapat dalam standar akuntansi konvensional. Pada tataran tertentu, keunikan ini sekaligus memunculkan perlakuan akuntansi yang unik. Contohnya manakala terjadi transaksi deposito mudharabah oleh nasabah kepada bank Islam. Sekilas orang menyangka bahwa sifat dan bentuk deposito ini sama saja dengan deposito bank konvension

Akutansi Islam atau Akutansi Syariah pada hakekatnya adalah penggunaan akutansi dalam menjalankan syariah Islam. Shahata (Harahap, 1997:272) misalnya mendefinisikan Akutansi Islam sebagai berikut:

119

“ Postulat, standar, penjelasan dan prinsip akutansi yang menggambarkan semua hal…sehingga akutansi Islam secara teoritis memiliki konsep, prinsip, dan tujuan Islam juga. Semua ini secara serentak berjalan bersama bidang ekonomi, social, politik, idiologi, etika, kehidupan, keadilan dan hukum Islam. Akutansi dan bidang lain itu adalah satu paket dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain,.”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->