P. 1
agroborneo edisi 06

agroborneo edisi 06

|Views: 483|Likes:
Published by agroborneo
Majalah Pertanian Kalimantan Edisi 06 tahun 2012
Majalah Pertanian Kalimantan Edisi 06 tahun 2012

More info:

Published by: agroborneo on Jun 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2013

pdf

text

original

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

1

2

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Dari Redaksi

Laksamana Cheng Ho

D

alam tahun 1405 sampai 1433 Laksamana Cheng Ho memimpin pelayaran hingga tujuh kali bolak-balik, dengan rute utama Nanjing, Changla -- dekat kota perdagangan yang banyak penduduk Muslim-nya, Quanzhou, kemudian singgah di Qui Nhon yang termasuk wilayah Champa. Setelah itu lurus ke selatan melewati sebelah barat Kalimantan (Sambas) terus ke Majapahit (Ujung Galuh, Gresik, Tuban, Semarang, Sunda Kelapa), kemudian Palembang, Malaka, Samudra Pasai, Bangladesh, Srilangka (Ceylon), Maladewa, Pantai Malabar, Hormuz wilayah Iran, Dhofar, semenanjung Arab, kota perdagangan Aden dan Jeddah, kemudian naik haji ke Tanah Suci. Pada perjalanan yang ke lima, enam, dan yang ke tujuh bahkan sampai ke Pantai Swahili Afrika. dengan belasan perusahaan yang didirikannya boleh dilukiskan sebagai ‘armada’ yang sedang mengarungi samudera biru, Masing-masing kapal ada satu nahkoda-nya, namun semuanya menjunjung tinggi tujuan bersama di bawah satu komando sang pemimpin tertinggi. Nahkoda tiap-tiap kapal menyelesaikan persoalan internal dalan satu kapal tersebut. Bagaimana awak kapal tergalang dengan kompak, semangat menjalankan tugas dan peran masingmasing. Yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga suasana agar seluruh awak kapal merasa senang dalam melakukan pelayaran karena lama perjalanan

Menurut para pakar pelayaran, jumlah baochuan atau kapal harta raksasa yang dibawa sebanyak 62 buah, masing-masing memiliki 9 tiang dan geladak sepanjang 120 meter dan lebar 50 meter, dengan bobot sekurang-kurangnya 2.700 ton atau sepuluh kali lipat dari berat kapal Vasco da Gama. Dalam setiap pelayaran kapal baochuan ditemani oleh ‘kapal-kapal kuda yang berderap’ atau machuan – berukuran panjang 110 meter dengan delapan tiang yang merupakan kapal tercepat dalam armada, ditambah kapal-kapal perbekalan berukuran 85 meter, juga kapal pengangkut pasukan berukuran 70 meter, dan kapal layar perang khas Cina (jung)

yang tangkas berukuran 55 meter. Total kapal dalam sekali pelayaran berjumlah lebih dari 300 kapal dengan satu komando Laksamana Cheng Ho. Tidak berlebihan kiranya, apabila pelukisan armada raksasa ini dapat menjadi inspirasi untuk menggambarkan perjalanan group perusahaan yang memiliki sejumlah anak perusahaan. Sujaya Group yang dipimpin oleh Tetiono

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

3

tidak hanya dalam hitungan bulan, melainkan hingga tahunan. Kiranya gambaran seperti inilah yang menjadi harapan Tetiono dalam acara perayaan ulang tahun Sujaya Group yang ke-22 pada 11 Desember 2011 lalu di Sun Moon Singkawang. Presiden Direktur Sujaya Group ini menyampaikan ucapan terima kasih kepada lebih 2000 orang karyawannya atas kebersamaan selama ini. Selanjutnya Tetiono mengajak agar setiap individu mempersiapkan diri dalam mengantisipasi setiap perubahan. “Senantiasa dibutuhkan kesiapan diri, baik mental dan spiritual dalam menghadapi perubahan. Sebab, perubahan senantiasa terjadi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, perusahaan-perusahaan di bawah Sujaya Group akan bertambah, jumlah karyawan yang terlibat tentu akan bertambah. Inilah salah satu contoh perubahan yang bakal terjadi.” Ada ungkapan bijak mengatakan; ‘mereka yang tidak menyadari kalau sedang berjalan di kegelapan, tidak akan berusaha

mencari cahaya’. Artinya; mereka yang tidak menyadari adanya ‘bahaya’ atau ‘ancaman’ yang menghadang, tidak akan berusaha mencari jalan untuk bersiap diri mendapatkan ‘cahaya kehidupan’. Sehingga di saat ‘kegelapan’ datang ia akan didera kepanikan dan keputusasaan. “Maka, sebelum ‘kegelapan’ datang, mari kita siapkan ‘cahaya-cahaya kehidupan’ guna menerangi jalan menuju arah dan tujuan kita bersama.” ajak Tetiono. Tentu tidak hanya (kemegahan) sukses bisnis dan ekonomi saja yang diraih oleh ‘armada’ perusahaan besar yang kompak dan harmonis dalam perjalanannya, tapi juga memancarkan keindahan hubungan antar sesama manusia. Lagi-lagi simaklah perjalanan

armada Laksamana Cheng Ho yang kapal-kapalnya diawaki sekitar 30.000 pelaut dan marinir, 7 orang kasim berpangkat tinggi dan ratusan pejabat Ming. 180 tabib, 5 ahli nujum, sejumlah pakar feng shui, pembuat layar kapal, pakar tumbuhan obat (herbalis), pandai besi dan tukang kayu, penjahit, koki, akuntan, serta saudagar dan tentu saja penerjemah. Dalam sebuah catatan kuno yang dikutip National Geographic dilukiskan sebagai berikut : “Mula-mula hanya tampak bayangan besar di cakrawala Samudra Hindia. Lalu muncul layar-layar putih dari bambu yang terkembang kaku dan memantulkan warna kemerahan terbakar matahari. Semua terpaku menyaksikan pemandangan dari bebatuan karang Dondra Head di pesisir paling selatan Sri Lanka itu. Kapal-kapal asing itu berjajar beberapa kilometer, begitu agung dan luar biasa besarnya, bak kota terapung yang belum pernah disaksikan dunia. Itulah armada kekaisaran Ming yang dipimpin Laksamana Cheng Ho.” Salam !

Susunan Tim Agroborneo
Pendiri: S. SudjonoAnggie, Ir. Bambang Mulyantono PemimpinUmum/PemimpinRedaksi: Ir. Bambang Mulyantono StafAhli: Drh. Apriyadi Suwarno, Drh. Nengah Suardana, Ir. M. Sinambela Periklanan: Tri Wahyuni Sirkulasi: Suryaman Artistik/Produksi: Ridwan Fillardhy, Yoga Anggoro Alamat Redaksi & Bisnis: Jl. Jenderal Ahmad Yani, KomplekRuko A. Yani Sentral Bisnis Blok B No 37-38 Pontianak - Kalbar Tel: 0561-761 168 Fax: 0561765 900 email: majalah@agroborneo.com website: www.agroborneo.com

4

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Daftar Isi

DARI REDAKSI
Laksamana Cheng Ho

03

RUMINAN

CAKRAWALA

UNGGAS

Swasembada Daging Sapi, Ingat Pemilu! Kinerja Bisnis Ayam Ras dan Prospeknya

29
Wawancara Dengan Tri Hardianto,

07

RUMINAN

Jangan Biarkan Rakyat Kita Yang Lapar Jadi ‘Tentara’ Negara Tetangga

UNGGAS
Untung Jelas Bisnis Telur Tetas

43

11
Anak Sekolah Ke Luar Negeri 33 Dibantu Sapi

CAKRAWALA

TALENTA
Elita, Juara Membuat Asap Cair

17

CAKRAWALA

PANGAN

Sejahterakan Petani

21

Perayaan Ulang Tahun Ke22 Sujaya Group, Merajut Kebersamaan Meraih Kemakmuran

37

Satu Perahu Satu Tujuan, Saling Mendukung Demi Kemajuan

47

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

5

6

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Unggas

Kinerja Bisnis
Ayam Ras dan Prospeknya
i antara bisnis peternakan yang ada di Indonesia, bisnis ternak unggas adalah yang paling maju dan berkembang pesat, dengan dukungan infrastruktur industri yang lengkap mulai dari industri perbibitan, pakan ternak, budidaya, kesehatan ternak, hingga pemotongan/pengolahan hasil.

D

Drs. Unggung Cahyono (Kapolda Kalbar) dan S. Sudjono Anggie (Ketua AAP Kalbar)

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

7

Dewan Pertimbangan Organisasi Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia Don P Utoyo dalam Catatan Akhir Tahun ISPI 2011 menjelaskan, industri dan bisnis perunggasan dalam negeri telah mampu mewujudkan kesejahteraan umum, yang indikatornya mampu menyediakan pangan bergizi dan sehat (telur dan daging ayam yang murah), pengentasan kemiskinan, penyediakan lapangan kerja di kota dan di desa, mampu menyerap 3 juta tenaga kerja di industri perunggasan. Industri perunggasan juga mampu menghidupi 12 juta penduduk Indonesia, dengan asumsi, satu pekerja di industri perunggasan dapat menghidupi 4 (empat) orang anggota keluarganya. “Industri perunggasan memiliki peran strategis dalam pergerakan perekonomian nasional, dan mampu untuk saling menghidupi kegiatan usaha lain. Investasi di bisnis perunggasan pada 2011 lalu adalah sekitar Rp 80 trilyun, dengan omzet bisnis perunggasan pada 2011 sekitar Rp 110 trilyun. Banyak industri

baik besar maupun kecil yang selalu terkait dengan industri perunggasan, yakni : (a) Hasil bumi: peternakan, perikanan, perkebunan, tanaman pangan, dan lain-lain. (b) Home industri: ayam goreng , kripik, abon, pupuk, dan lain-lain. (c) Industri jasa: perdagangan, keuangan, perbankan, saham, transportasi, dan jasa-jasa lain.” ungkap Don. Selanjutnya, imbuh Don, untuk kemajuan industri dan bisnis perunggasan Indonesia, ISPI memberikan rekomendasi untuk menciptakan berbagai gerakan nasional, baik dalam waktu tiap tahun, bulan atau minggu. Gerakan tersebut harus serempak, dalam waktu yang bersamaan, terfokus pada topik tertentu, yang dilakukan secara profesional dan cerdas. Gerakan-gerakan yang direkomendasikan ISPI yakni ‘Kampanye Gizi’ (makan telur & daging ayam, serta minum susu segar

secara rutin), juga gerakan ‘Biosecurity, Desinfeksi & Vaksinasi’. “Gerakan-gerakan tersebut dilakukan secara bersama antara pemerintah, politisi, peneliti, pelaku bisnis, pers, dan masyarakat dengan koordinasi yang jelas, tidak berjalan sendirisendiri. ISPI mencontohkan gerakan yang massif dan terfokus yakni Festival Ayam dan Telur pada Oktober 2011 lalu, yang merupakan Kampanye Makan Ayam dan Telur. Kegiatan yang seharusnya dilakukan secara rutin

8

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

melalui lalulintas perdagangan unggas dan produk unggas antar daerah dan antar negara, membuka peluang perdagangan baik dalam negeri maupun luar negeri. ”Compartmentalization atau kompartementalisasi adalah serangkaian kegiatan untuk mengondisikan suatu usaha peternakan unggas agar memiliki status kesehatan hewan yang jelas, melalui penerapan Good Breeding Practice/Good Farming Practice, bio-security, surveilans, vaksinasi, dan lainlain. Sedangkan Zoning atau zonasi adalah serangkaian kegiatan untuk mengondisikan suatu zona agar memiliki status kesehatan hewan yang jelas, melalui penerapan Good Farming Practice, bio-security, surveilans, vaksinasi, dan lainlain.” ungkap Mastur dihadapan pelaku agribisnis perunggasan Kalbar, yang terdiri dari perusahaan-perusahaan breeding farm, pelaku budidaya, dan industry hilir (pemotongan dan restoran fastfood). “Sejak 2003 sampai dengan Oktober 2010 wilayah RI yang tertular penyakit flu burung ada 32 propinsi dari 33 propinsi, 295 kabupaten dari 498 kabupaten/ kota yang ada. Wilayah yang masih sporadis terjadi kasus flu

tiap tahun tersebut bertujuan meningkatkan konsumsi daging dan telur untuk meningkatkan daya tahan tubuh, membiasakan hidup bersih dan sehat, dan melindungi industri perunggasan dalam negeri dari serbuan impor.” pungkas Don yang juga sebagai Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia.

dan Kesehatan Hewan Propinsi, seluruh pemangku kepentingan agribisnis perunggasan Kalbar terus melakukan berbagai upaya pemulihan. Pada 27 Oktober 2011 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Kalbar mengundang Drh.H. Mastur Aeny Rachman Noorr MSi., dari Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, untuk menyampaikan perihal Kompartementalisasi dan Zonasi, yang bertujuan mengendalikan dan memberantas penyakit flu burung; menjamin agar unggas dan produk unggas yang dihasilkan aman dan terbebas dari virus penyakit flu burung; mencegah masuk dan menyebarnya penyakit flu burung

MENGEMBALIKAN KALBAR BEBAS FLU BURUNG
Semangat pelaku agribisnis perunggasan di Kalimantan Barat untuk mengembalikan status Kalbar bebas flu burung tetap menyala. Dibawah payung hukum Keputusan Gubernur Kalbar Nomor 259/2005, yang pelaksanaan teknisnya dipimpin oleh Kepala Dinas Peternakan

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

9

burung dalam 6 bulan terakhir ini adalah: seluruh provinsi di Jawa , Sumatra, Sulawesi (kecuali Sulut), Kalimantan (termasuk Kalbar yang pernah dibebaskan namun tertular lagi 4 bulan kemudian). Wilayah yang tidak ada kasus dalam 6 bulan hingga 1 tahun terakhir ini adalah DKI Jakarta, 2 – 3 tahun terakhir NTT, lebih dari 3 tahun terakhir adalah Maluku, Sulut, Papua, Papua Barat. Wilayah yang bebas/belum pernah ada kasus flu burung adalah Maluku Utara.” lanjut Mastur. “Pengendalian AI memerlukan pendekatan komprehensif yang digunakan untuk pencegahan dan pengendalian penyakit pada unggas sektor 1,2,3, dan 4. Upaya Kalbar mengembalikan status bebas flu burung, harus didukung semua pihak. Langkah awal dimulai dari hulu, yakni industri breeding farm yang berada di

Kalbar. Setelah breeding farm yang ada di sini mendapatkan sertifikat kompartementalisasi dan zoning, maka Pemda Kalbar bisa mensyaratkan, pemasok bibit unggas untuk Kalbar, juga harus mendapatkan sertifikat kompartementalisasi dan zoning dari pemerintah.” ungkap Drh. Abdul Manaf Mustafa, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Kalbar. Kalbar dinyatakan bebas flu burung pada Januari 2011, namun tertular kembali Mei

2010. Ini merupakan akibat/ resiko dari masuknya ayam aduan illegal ke Kalmantan Barat. Oleh sebab itu, kita tidak bosanbosannya berkoordinasi dengan pihak penegak hukum dan aparat keamanan. Pada 14 November 2011 lalu dilakukan koordinasi dengan Kapolda Kalbar Drs. Unggung Cahyono dalam hal pengawasan lalu lintas ternak, karena lalu lintas ternak illegal merupakan salah satu penyebab jebolnya Kalbar dari bebas flu burung.

10

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Unggas
angat berbeda membaca buku yang ditulis oleh seorang praktisi, dibandingkan dengan buku yang ditulis oleh akademisi. Buku yang ditulis oleh akademisi sarat dengan teori dan nilai-nilai filosofis keilmuan. Sedangkan buku yang ditulis praktisi umumnya padat dengan penjelasan teknis dan solusi praktis di lapangan. Buku yang ditulis oleh Ir. Satriyo Saptorohadi berjudul “Manajemen Penetasan Ayam untuk Broiler dan Layer’ ini merupakan gabungan keduanya. Bahkan seperti membaca catatan harian seorang ilmuwan yang tekun mengerjakan pekerjaan teknis penelitian pada sebuah laboratorium.
Ya, Satriyo Saptorohadi adalah alumni Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berpengalaman dua puluh tahun lebih sebagai penanggung jawab mesin penetasan telur (hatchery) pada pembibitan ayam ras (breeding farm) di Tangerang,

S

Untung Jelas Bisnis Telur Tetas
AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

11

selama 21 hari Rp 1500/butir, setelah menetas harga anak ayam pedaging di Kalimantan Rp 7000/ekor. Nah, sudah jelas berapa keuntungan yang didapat, bukan? Kembali ke buku karya pria kelahiran Sukoharjo – Jawa Tengah ini, apabila anda berminat membuka usaha penetasan (hatchery), maka buku ini bisa menjadi panduannya. Bahkan ada bonus penjelasan tentang bagaimana membuka breeding farm. Secara lebih rinci, isi buku ini meliputi : (i) Selayang Pandang Perunggasan di Indonesia, (ii) Sekilas Perencanaan Breeding Farm, (iii) Pemilihan Lokasi Hatchery, (iv) Fasilitas dan Alokasi Hatchery, (v) Penempatan Ruang, (vi) Embriologi, (vii) Hatchery untuk Broiler, (viii) Analisa Data Hatchery Broiler, (ix) Simulasi Populasi Parent Stock Broiler, (x) Analisa Data Hatchery Layer, (xi) Break out of Analisa de Briss, (xii) Analisa Laboratorium, (xiii) Dis-infektan, (xiv) Analisa Biaya Hatchery, (xv) Masalah pada Hatchery dan Pemecahannya, (xvi) Tips sebelum dan saat terima DOC broiler dan layer.

empat tahun berikutnya pindah ke Bogor juga mengurus hatchery – sembari menulis buku ini, dan setahun terakhir hijrah ke Kalimantan Barat, masih berurusan dengan hatchery pada sebuah breeding farm Perlu diketahui, hatchery adalah mesin pengganti induk untuk fungsi mengerami telur hingga menetas. Keberadaan hatchery satu paket dengan breeding farm, tapi lokasinya tidak mesti berdekatan. Breeding farm adalah tempat memelihara induk yang menghasilkan telur tetas (hatching eggs), hatchery adalah alat penetasannya. Sebagai penjajakan investasi, biasanya yang dibangun terlebih dahulu adalah hatchery-nya. Suatu misal, ada perusahaan pembibitan di Jawa yang akan mengembangkan usahanya di Kalimantan, lebih aman kalau membangun

hatchery terlebih dahulu, telur tetas didatangkan dari Jawa, setelah menetas anak ayam umur sehari (day old chick)-nya dipasarkan sebagai bibit ayam pedaging atau petelur kepada peternak. Setelah mempunyai pelanggan dan dipandang menjanjikan, baru mereka membangun breeding farm. Bahkan, karena alasan tertentu, breeding farm yang sudah ada di Kalimantan kerap mendatangkan telur tetas dari Jawa untuk ditetaskan di tempatnya dan anak ayam hasil tetasannya dipasarkan di Kalimantan. Ini bisa terjadi karena ada problem pada breeding farmnya, atau memang secara bisnis lebih menguntungkan. Katakanlah, harga telur tetas benih ayam pedaging di Jawa harganya Rp 3000/butir, biaya penetasan

12

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

KALBAR TAMBAH PEMAIN
Karena buku ini selesai ditulis pertengahan 2011, maka perusahaan breeding farm (termasuk hatchery) yang berada di Kalimantan Barat disebutnya tiga perusahaan. Padahal di akhir 2011 secara resmi bertamhah pemain dua perusahaan. Jadi, memasuki 2012 ini, perusahaan yang menghasilkan anak ayam

bibit pedaging di Kalbar kini bertambah jumlahnya menjadi lima. Pemain lama adalah PT. Cipta Khatulistiwa Mandiri (CKM) yang merupakan anggota dari Charoen Pokphand Group. Breeding farm dan penetasannya berlokasi di Ambawang dan Mandor Kabupaten Pontianak. Pemain lama berikutnya adalah PT. Satwa Borneo Jaya (SBJ), salah satu perusahaan yang berada di dalam Sujaya Group,

breeding dan penetasannya ada di Kota Singkawang. Melihat dua breeding farm ini masih kewalahan memenuhi permintaan bibit ayam ras pedaging, dua tahun silam Charoen Pokphand Group membangun breeding farm baru dengan nama PT. Charoen Phokphand Jaya Farm (CPJF) yang berlokasi di Mandor Kabupaten Pontianak. Pemain lama yang kembali aktif memelihara ayam ras parent stock di penghujung 2011 adalah PT. Sumber Satwa Pertiwi (SSP), yang dikenal populer oleh masyarakat perunggasan Kalbar sebagai Sumber Raya. Sudah menjadi rahasia umum, perusahaan breeding farm yang berlokasi di Ambawang ini, didukung oleh perusahaan breeding farm swasta nasional PT. Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI). Dipenghujung 2011 pembibit anak ayam pedaging di Kalbar bertambah dengan berdirinya breeding farm di bawah nama PT. Malindo Feedmill, Tbk. Agak aneh kedengarannya, perusahaan pembibitan ayam dengan nama pabrik pakan ternak. Tapi sah-sah saja, Ada spekulasi bahwa kelak apabila usahanya berkembang akan berinvestasi pabrik pakan ternak di Kalbar,

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

13

Pemasukan & Pengeluaran Telur Tetas (HE) Broiler Breeding Farm Kalbar 2011
Bulan Januari Pemasukan (butir) 181.800 38.880 Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 247.280 229.280 256.200 806.400 100.800 -PT. CKM PT. CKM PT. CKM 189.800 172.800 151.200 51.120 388.800 Pengeluaran (butir) PT. SBJ PT. CKM PT. SBJ PT. SBJ PT. CKM PT. SBJ PT. CKM PT. SBJ PT. SBJ Breeding Farm

Pemasukan DOC PS Broiler untuk Breeding Farm di Kalbar 2011 (1)
Bulan Januari Pebruari Perusahaan PT. SBJ PT. SBJ PT. SBJ PT. SBJ PT. SBJ PT. SBJ PT. CKM PT. SBJ PT. CKM DOC PS (Betina) 16.640 8.320 8.320 8.320 8.320 8.320 18.800 8.320 18.800 Asal PT. Bibit Ind. PT. Bibit Ind. PT. Bibit Ind. PT. Bibit Ind. PT. Cibadak PT. Bibit Ind. PT. Central Avian PT. Bibit Ind. PT. CPI Subang

April

Mei

14

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Juni Juli Juli Agustus

September Oktober

PT. SBJ PT. CPJF PT. CKM PT. CKM PT. SBJ PT. CKM PT. CKM PT. CKM PT. SBJ PT. CKM PT. SBJ PT. CKM PT. CKM PT. SBJ

8.320 18.800 9.400 18.800 8.320 17.020 9.400 9.400 8.320 18.800 8.320 16.322 28.200 8.320 12.000 8.956 21.000

PT. Bibit Ind. PT. Central Avian PT. CPI Jakarta PT. Central Avian PT. Bibit Ind. PT. Central Avian PT. CPJF Tangerang PT. Central Avian PT. Hybro Ind. PT. Central Avian PT. Cibadak PT. Central Avian PT. Central Avian PT. Cibadak PT. Sierad PT. Cibadak PT. Bibit Ind.

PT. SSP* November PT. SBJ PT. Malindo** Sumber data : AAP Kalbar (2011)

mengingat kebutuhan pakan ternak Kalbar sampai sekarang masih dipenuhi dari pabrikpabrik pakan di Jawa, bahkan sampai 90% dari keperluan. Melihat data anak ayam induk (parent stock) yang masuk 2011 maka anak ayam final stock yang dihasilkan akan meningkat tajam. Peternak Kalbar semakin mudah mendapatkan bibit ayam, dengan harga yang lebih bersaing. Lebih banyak anak ayam yang dihasilkan, seharusnya bertambah pula jumlah kandang-kandang yang dimiliki peternak untuk memelihara dan membesarkan ayam. Maka

semakin melimpah pula ayamayam besar yang dipanen dan siap dipotong. Tidak ada bisnis yang tidak berisiko. Di awal buku ini penulis mengingatkan pernah terjadi kerugian besar yang dialami oleh perusahaan pembibitan di Indonesia pada umumnya, yakni peristiwa penghancuran telur tetas pada tahun 1995 – 1996. Peristiwa itu diawali dengan tumbuhnya breeding farm di awal tahun 90-an yang terus meningkat hingga 1994, setahun berikutnya terjadilah banjir produksi anak ayam. Harga anak ayam anjlok karena produksi melebihi permintaan pasar,

jumlah anak ayam yang terlanjur menetas melebihi kapasitas kandang yang dimiliki peternak, sementara induk ayam tidak bisa diminta untuk berhenti bertelur, Maka solusi bagi anak ayam yang terlanjur menetas adalah masuk tungku pembakaran, sedangkan bagi telur-telur yang terlanjur keluar dari ‘rahim’ induk ayam terpaksa dihancurkan. Peristiwa berikutnya krisis ekonomi dan moneter 19971998 yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah, sehingga barang-barang impor harganya melejit, pakan ternak yang sebagian besar komponennya berasal dari

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

15

impor, harganya melangit, tidak hanya pembibitan yang rontok, peternak ayam komersial juga banyak yang tumbang, tidak kuat membeli pakan untuk ayamayamnya. Terjadilah seleksi alam bagi para pemain ayam, baik pembibitan maupun peternak jumlahnya jauh berkurang. Beberapa lama kemudian harga hasil peternakan seperti daging ayam dan telur melejit, karena pasokan di pasar sangat kurang, rezeki besar bagi peternak yang masih bertahan, hal ini berlangsung hingga akhir 1999. Maka, pada awal 2000 menjadi tonggak kebangkitan agribisnis perunggasan di Indonesia. Kemarau setahun dihapus oleh hujan sehari. Banyak pembibitan dan kandang komersial mulai bermunculan. Tantangan

berikutnya, terjadi pada akhir 2003 sampai 2005, yakni era wabah flu burung, yang timbul tenggelam hingga sekarang. Setiap jenis perdagangan kuncinya terletak pada penyerapan pasar terhadap hasil unggas, daging ayam dan telur. Bila peningkatan penyerapan daging ayam dan telur lebih besar dari pertambahan produksi

anak ayam, hal ini tidak menjadi masalah. Tapi yang umumnya terjadi sebaliknya, penyerapan daging ayam dan telur lebih lamban dari produksi bibit dan jumlah ayam maupun telur yang dipanen, maka yang terjadi adalah banjir ayam potong dan telur. Untuk ayam potong, investasi berikutnya yang harus disegerakan dengan bertambahnya breeding farm adalah pemotongan ayam dan coldstoragenya. Sedangkan telur, masih belum ada pabrik pengolahan telur menjadi telur cair dalam kaleng atau tepung telur. Jadi, segala sesuatu selalu ada antisipasinya, sebagaimana halnya kalkulasi bisnis pasti ada untung dan ruginya.

16

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Talenta

Elita Juara Membuat Asap Cair
amanya pendek saja, Elita. Gadis mungil kelahiran Sungai Kunyit – Kabupaten Pontianak, 20 Desember 1986 ini, ternyata mempunyai aktivitas seabreg layaknya seorang pebisnis. Disela-sela kegiatan utamanya berkuliah di Fakultas MIPA Jurusan Kimia Universitas Tanjungpura Pontianak, ia juga mengajar private matematika, mempunyai pekerjaan sebagai produsen asap cair dan pendistribusian karet. Luar biasa!

N

Sejak 2006 Elita rajin mengikuti lomba kreatifitas dan inovasi bisnis yang diselenggarakan oleh kampus maupun HIPMI Kalimantan Barat dan dia langganan menggondol juara. Pada Lomba Inovasi Bisnis Pemuda 2011 yang dieselenggarakan Asdep Peningkatan Kreatifitas Pemuda Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, anak kedua dari tiga bersaudara ini meraih juara 1 dan penerima anugerah “Youth National Science and Technology Award.” Baru-baru ini sebagai pemenang lomba Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2011 di Banjarmasin dan mewakili Kalimantan sebagai finalis WMM Nasional

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

17

Skema Proses Produksi
Tempurung kelapa Pirolisis Destilasi Asap cair

Arang aktif

Tar

di Jakarta, namun tidak berhasil menggondol juara. “Saya melihat dunia wirausaha sebagai pilihan utama dalam mewujudkan kemandirian bagi diri sendiri maupun orang lain. Kemandirian yang saya maksud tidak hanya kemandirian financial, tetapi juga kemandirian dalam kreatifitas dan inovasi, yang akan berdampak pada terciptanya lapangan kerja. Sejak dini saya tertarik ke dunia wirausaha, saya bercita-cita menjadi seorang pengusaha sukses.” tutur Elita. Minatnya terhadap dunia wirausaha dicurahkan dengan mengikuti lomba-lomba kreatifitas dan inovasi bisnis, karena dengan itu dia tertantang untuk melakukan inovasi bisnis terkait dengan strategi, proses, produksi, sarana dan prasarana atau peralatan, bahan baku,

tenaga kerja, kemasan, dan jaringan pemasaran. Pada Lomba Inovasi Bisnis Pemuda 2010 Elita mengangkat “Pembuatan Asap Cair Tempurung Kelapa”. Bahan baku yang digunakan yaitu tempurung kelapa yang tidak dipakai oleh masyarakat, sehingga dapat dimanfaatkan dan bernilai tambah yaitu untuk menghasilkan asap cair. Asap ciar adalah asap hasil pembakaran tempurung kelapa secara pirolisis yang dikondensasikan menjadi cairan. Pirolisis tempurung kelapa menghasilkan asap cair dengan kandungan senyawa fenol sebagai antioksidan, karbonil berperan pada pewarnaan dan cita rasa pada produk asapan dan senyawa asam sebagai anti bakteri, dan masih banyak senyawa-senyawa yang terkandung dalam asap cair.

Asap cair memiliki banyak manfaat dan telah digunakan pada berbagai industri : 1. Industri Pangan, asap cair ini mempunyai kegunaan yang sangat besar sebagai pemberi rasa dan aroma yang spesifik juga sebagai pengawet karena sifat antimikroba dan antioksidannya. Asap cair dapat dipergunakan menggantikan pada proses pengasapan ikan secara tradisional sebelumnya yang langsung diberi asap, sehingga dapat mengganggu lingkungan. Asap cair dapat digunakan pula pada food processing seperti tahu, mie basah dan bakso. 2. Industri perkebunan, asap cair dapat digunakan sebagai koagulan lateks dengan sifat fungsional asap cair seperti anti jamur, anti bakteri

18

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Prestasi-prestasi yang pernah diraih sebagai berikut :
Nama Acara Diesnatalis UNTAN Seleksi LKTI Indonesia Timur Diesnatalis UNTAN LKTI MTQ Bisnis Plan Pemuda LKTI ISLAMI Bisnis Plan Pemuda Wirausaha Muda Mandiri Penyelenggara UNTAN UNTAN UNTAN UNTAN HIPMI KALBAR BKMI UNTAN MENPORA BANK MANDIRI Tahun 2006 2007 2009 2009 2009 2010 2010 2011 Keterangan Juara 1 Juara 2 Juara 1 Juara 1 Juara 1 Juara 3 Juara 2 Mewakili Kalimantan

dan anti oksidan dapat memperbaiki kualitas produk karet yang dihasilkan. 3. Industri kayu, kayu yang diolesi dengan asap cair mempunyai ketahanan terhadap serangan rayap daripada kayu yang tanpa diolesi asap cair. 4. Pertanian, asap cair digunakan sebagai pestisida organik. 5. Peternakan, asap cair digunakan untuk meredam bau kotoran ternak dan menekan kadar amoniak sehingga dapat menekan angka kematian ternak (ayam). Asap cair yang diproduksi Elita diberi merek Bioliq (Bio

liquid), banyak digunakan oleh petani karet untuk penggumpalan lateks karet. Selain dari pengembangan produk, inovasi yang dilakukan yaitu pada alat pirolisisnya. Dimana alat pembuatan asap cair ini lebih efisien, lebih murah, lebih berkualitas dan kuantitasnya juga lebih banyak. Apa langkah berikutnya yang akan dikerjakan? Akan dilakukan kerjasama kepada pihak pemerintah khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kualitas karet maupun pertanian, untuk mendukung program-program pemerintah salah satunya di Kabupaten Kapuas Hulu yang salah satu program unggulannya yaitu peningkatan kualitas karet dan kabupaten Kuburaya yaitu pertanian organik. Selanjutnya

akan dilakukan pengembangan produk seperti handsanitaizer yang telah masuk tahap riset. Dan akan diadakan pelatihanpelatihan pembuatan asap cair yang akan segera dilaksanakan di Kabupaten Sambas. Terkait dengan minatnya dalam inovasi bisnis dan kreatifitas, Elita ingin terus mengembangkan hasil inovasinya sehingga mampu menciptakan proses dan produk pertanian yang lebih produktif dan ramah lingkungan. “Selain itu dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak, itu yang terpenting.” ujar Elita. Untuk kontak bisnis dengan Elita dapat menghubungi alamat emailnya : Elitazag@ yahoo.co.id

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

19

20

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Pangan

Sejahterakan Petani
Oleh Ir. M. Sinambela

rovinsi Kalimantan Barat memiliki luas wilayah 146.807 km pesegi – setara dengan 1,13 kali luas P. Jawa. Lahan sawah berdasarkan data BPS sekitar 546.594 ha, terdiri dari lahan irigasi dan non irigasi serta lahan kering yang ditanami padi gogo seluas 100.000 ha. Maka potensi lahan sawah yang cukup besar ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerahnya, sekaligus memberikan sumbangan terhadap ketahanan pangan nasional.
AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

P

21

Jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan pada setiap kabupaten/kota di Kalimantan Barat dapat dilihat pada table berikut :
KOTA/KABUPATEN Sambas Bengkayang Landak Pontianak Sanggau Ketapang Sintang Kapuas Hulu Sekadau Melawi Kayong Utara Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang KALBAR GARIS KEMISKINAN (Rp/kapita/bulan) 203.325 185843 188.022 180.322 167.522 225.545 253.855 221.889 173.411 252.821 158.862 196.633 242.772 237.245 189.407 50.000 16.800 46.500 15.000 20.500 58.500 35.500 25.300 12.300 24.700 11.200 35.900 36.600 11.400 428.760 JUMLAH (Orang) 10.08 7,82 14,06 6,41 5,02 13,67 9,76 11,39 6,77 13,77 11,89 7,14 6,62 6,12 9,02
Sumber : BPS Propinsi Kalbar (2011)

PRESENTASE (%)

Jika ditanami padi dua kali setahun akan diperoleh luas tanam/panen sekitar 1.000.000 ha. Mengacu pada tingkat produktivitas rata-rata nasional 5 ton/ha gabah kering giling (GKG), maka akan diperoleh produksi sekitar 5 juta ton/tahun. Jika dikonversi menjadi beras dengan rendemen 62%, maka akan diperoleh produksi beras sebanyak 3.100.000 ton setiap tahunnya.

Dengan jumlah penduduk diperkirakan sebanyak 4.403.957 jiwa (2010) sampai 4.658.000 jiwa (2014) dan berdasarkan tingkat konsumsi beras rata-rata nasional 139 kg/kapita/tahun, maka kebutuhan beras untuk konsumsi rakyat Kalimantan Barat sekitar 612.150,02 ton per tahun, yang berarti akan terdapat surplus sebesar 2.487.850 ton beras

Namun fakta yang terjadi hingga saat ini adalah, lahan yang ditanami padi belum optimal. Baru seluas 91.584 ha yang ditanami padi dua kali setahun, dan 209.322 ha ditanami padi satu kali setahun. Sehingga luas tanam padi di Kalimantan Barat hanya sekitar 430.499 ha per tahunnya. Sementara itu produktivitas padi masih sangat rendah, yaitu padi sawah + 3,5

22

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

pihak swasta sebagai mata dagangan. Dengan 4,4 juta jiwa penduduk Kalbar, terdapat warga di bawah garis kemiskinan sebanyak 428.760 orang (9,7%), hampir seluruhnya bermatapencaharian sebagai petani, nelayan, buruh, dengan batas garis kemiskinan Rp 189.407/kapita/bulan. Benarkah pertanian padi di Kalbar belum mampu memberi makan kepada warganya sendiri, sekalipun kepada warganya yang miskin? Sebuah pertanyaan yang perlu kejujuran dan kearifan kepada penentu kebijakan untuk menjawabnya. Dari data BPS tersebut terlihat bahwa jumlah orang yang hidup dibawah garis kemiskinan terbanyak justru pada daerah sentra pertanian yakni kabupaten Sambas, Landak dan Ketapang, sungguh ironis. Masih belum optimalnya produksi gabah di Kalbar karena belum dimanfaatkannya secara maksimal lahan sawah, sebagian besar petani belum meggunakan benih unggul, belum ditanami dua kali setahun maupun masih banyak lahan tidur yang belum diusahakan. Membangun adalah mengubah cara pandang (paradigm) serta mindset manusianya. Keberhasilan

Beras untuk rakyat miskin (Raskin) yang didatangkan perum Bulog dan sebagai mata dagangan oleh pihak swasta, rutin masuk Kalimantan Barat.

ton/ha dan padi lahan kering + 1,9 ton/ha GKG atau ratarata 3,1 ton/ha GKG. Padahal produktivitas rata-rata nasional 5 ton/ha. Dengan luas panen yang 430.499 ha dan produktivitas 3,1 ton/ha hanya dapat menghasilkan padi sebanyak 1.358.291 ton/tahun GKG atau setara dengan 842.140,4 ton beras. Dengan kebutuhan beras

penduduk (4.658.000 jiwa) sebesar 612.150,02 ton beras per tahun, maka hanya terdapat surplus sekitar 229.990,4 ton beras pertahun. Inipun hanya perhitungan (surplus) di atas kertas, karena faktanya Perum Bulog Kalbar setiap tahun mendatangkan beras dari luar Kalbar rata-rata 65.000 ton. Itupun jatah beras untuk rakyat miskin (Raskin), belum termasuk beras yang didatangkan oleh

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

23

program pertanian tidak lepas dari peran pembinaan, penyuluhan dan pendampingan dari berbagai pihak. Program penyuluhan pertanian dirasakan belum bisa mendongkrak tingkat produktifitas hasil tanaman. Disatu sisi harus diakui bahwa kendala yang dihadapi ditingkat petani dan kelompoknya adalah terbatasnya jumlah penyuluh pertanian disetiap wilayah yang mengakibatkan keterbatasan berbagai sumber informasi pertanian. Kedepan diharapkan selain penyuluh fungsional, perlu diupayakan mengoptimalkan peran penyuluh pertanian swasta/swadaya yang selalu berkoordinasi satu sama lain misalnya dari perusahaan yang bergerak dalam industri pupuk, benih, pestisida dan sarana pertanian lainnya baik swasta maupun BUMN.

Kenyataan ditingkat petani bahwa mereka sebenarnya ingin dan dapat mengadopsi berbagai teknologi budidaya, penanganan panen dan pasca panen serta pemasaran hasil pertanian. Petani menyadari dengan hanya mendengar berbagai informasi tetapi tanpa dibarengi diseminasi, tindakan dan perlakuan membuat

keyakinan mereka dengan paket teknologi yang akan diterapkan sangat rendah. Pendampingan bagi program penyuluhan pertanian sangat mutlak dilakukan untuk mendongkrak peningkatan produktivitas hasil yang diinginkan. Dengan mendampingi petani, tentunya dengan berbagai perangkat organisasi mulai tingkat kelompok tani sampai gabungan kelompok tani secara berkesinambungan membuat tingkat keyakinan dan kepercayaan petani semakin baik. Dengan pendampingan, pengambilan keputusan dalam berusaha tani menjadi lebih cepat dan akurat, biasanya petani ragu-ragu mengambil keputusan dalam usaha taninya. Konsistensi dan komitmen yang kuat menjadi tolak ukur keberhasilan berbagai program

Pembukaan lahan

24

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

untuk cetak sawa h baru terus dilakuk an

pembangunan pertanian dari penyuluh. Suara hati dan panggilan sebagai penyuluh pertanian adalah tanggung jawab moril bagi seorang penyuluh, bukan sebatas melakukan rutinitas pekerjaan semata. Fakta yang biasa ditemukan di tingkat petani bahwa sebagian besar dari mereka belum sepenuhnya memahami teknologi budidaya mulai dari persemaian (tabur atau tugal), persemaian basah atau kering, berapa waktu persemaian (umur bibit siap dipindah), jarak tanam yang tepat sesuai musim dan keadaaan tanah, manajemen pemupukan yang tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu dan tepat cara, pengendalian hama dan penyakit dan pasca panen yang tepat.

PERJALANAN BERIBU-RIBU MIL DIMULAI DARI SATU LANGKAH KECIL
Penyuluh pertanian, sarjana penggerak masyarakat pedesaan, bahkan mahasiswa adalah agenagen perubahan yang diharapkan dapat menularkan cara ‘melihat’ dunia bukan dengan penglihatan visual (sebagaimana apa adanya), tetapi terkait dengan persepsi atau penafsiran yang dilatarbelakangi pengalaman, hasil belajar, dan lingkungan sekitarnya. Inilah yang dimaksud mengubah paradigma. Sedangkan mindset akan berubah apabila paradigmanya berubah, karena mindset adalah kecenderungan untuk melakukan perbuatan tertentu

(baik atau buruk) sebagai akibat dari paradigma. Mindset mirip dengan motivasi atau niat yaitu keinginan dalam hati untuk melakukan sesuatu. Masih ada lagi yang bisa menjadi agen perubahan di Kalbar ini, yakni lembagalembaga pendanaan yang kian popular di masyarakat, yakni credit union (CU). Sebutlah misalnya CU Pancur Kasih, yang sejak bulan Januari 2011 memberi bimbingan teknis menanam padi dan jagung hibrida pada masyarakat Desa Bilayuk Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak. Dimulai dengan bantuan membuka jalan usaha tani sepanjang 2.000 meter, pemberian paralon 3.000 meter untuk menyalurkan air dari

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

25

bukit, dan menyiapkan lahan milik gereja setempat sebagai percontohan. Sedangkan bimbingan teknis budidaya padi, dilakukan kerjasama dengan PT. Sang Hyang Seri (Persero) Kalimantan Barat. Pada 7 November 2011 merupakan pertemuan pertama bimbingan teknis cara menanam padi unggul varietas Ciherang. Ada 14 warga anggota Kelompok Tani “Ulu Baban” Dusun Julak Desa Bilayuk Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak terjun ke sawah, mereka kompak bergotong royong menyiapkan persemaian padi. Lahan bedengan yang sudah dicangkul rata digenangi air yang dialirkan dari pipa paralon. Agar air yang mengalir dari lereng gunung itu segera menggenangi bedengan secara merata, ada beberapa orang yang membuat
Menyiapkan persemaian, me nabur benih, pemindahan padi dan pemupukan senantiasa dicont ohkan oleh penulis.

parit kecil sebagai saluran tambahan. Yang lain mengawasi aliran air pada bedengan. Setelah bedengan tergenang merata, Pedeta Paulinus memimpin doa sebelum dilakukan penaburan benih.

Setelah berdoa, penulis memberi contoh bagaimana cara menaburkan benih yang merata,

diikuti Bapak Pendeta, Ibu Kepala Dusun Martina T., dan warga yang lain semuanya ikut mencoba. Setelah benih tertabur merata, ditutup tipis dengan lumpur agar benih padi tidak disantap burung. Inilah belajar sekaligus praktek bagaimana membuat persemaian padi secara SRI (System Rice Of Intensification) yang dikenalkan oleh seorang pastor dari Negara Madagaskar. Kegiatan berikutnya adalah pertemuan di dalam ruangan gereja untuk menjelaskan apa yang telah dikerjakan tadi, mulai dari penyaiapan lahan, memilih benih, hingga penyemaian yang baru saja dilakukan. Pertemuan berikutnya dilakukan pada tanggal 22

26

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

November 2011 yakni proses memindahkan semai padi ke lahan sawah yang telah dicangkul dan diratakan sehingga terbentuk struktur lumpur, (sebelumnya kelompok tani ini belum pernah mengolah lahannya dengan mencangkul). Umur bibit yang siap ditanam disepakati 15 hari setelah tabur benih (biasanya petani memindahkan bibit bila usia bibit lebih dari 30 hari). Bibit ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm dengan pola segi empat dengan maksimum dua anakan per lubang tanam (kebiasaan petani sebelumnya menanam dengan jarak tanam 15 cm x 15 cm dengan lebih dari lima anakan per lubang tanam). Pengaturan barisan tanam dibuat dengan system legowo lima (sebelumnya petani belum pernah melakukannya). Saat penanaman ini sedikit terjadi perbedaan pendapat khususnya dari kaum ibu yang biasa melakukan penenaman. Disinilah

peran penyuluh mendampingi dan menjelaskan dengan bahasa yang singkat, jelas dan mudah dipahami dengan bahasa setempat yang dapat diterima akal mereka. Peran komunikasi verbal, lelucon dan ketulusan hati menjadikan perdebatan tadi menjadi tawa dan kehangatan dan setelah melalui proses berfikir mereka, cara tersebut bisa diterima. Pertemuan selanjutnya adalah pada saat pemupukan pertama, kedua dan ketiga yang semuanya dihadiri oleh penulis. Disana dijelaskan apa jenis pupuk (tepat jenis) yang dibutuhkan, berapa jumlahnya (tepat jumlah), kapan waktu pemupukannya (tepat waktu) dan bagaimana cara memupuknya (tepat cara).

Pengendalian hama dan penyakit tanaman disesuaikan dengan prinsip pengendalian hama terpadu. Setiap pertemuan selalu dilakukan diskusi di lapang mengenai apa tanda dan gejala yang muncul serta bagaimana cara pengendaliannya. Kelompok tani memeriksa dengan seksama padi yang mereka tanam dan membandingkan dengan tanaman yang mereka kelola secara tradisional. Dengan menemukan perbedaan yang ada mereka semakin yakin dengan teknologi yang baru mereka terapkan. Sampai dengan tulisan ini dibuat, pertanaman masih pada tahap primordia dan diperkirakan akan panen pada awal Febuari 2012. Semoga sukses!

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

27

28

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Ruminan

SWASEMBADA DAGING SAPI
ada 2014 swasembada daging sapi harus diwujudkan dengan berbagai strategi yang telah disusun. Sudah menjadi komitmen pemerintah untuk merealisasikan hal itu, terlebih Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian RI yang merupakan perangkat teknis yang mengurusi hal ini.

P

Demikian yang dikemukakan Direktur Jenderal Peternakan Syukur Iwantoro dalam silaturahmi dengan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Seluruh Indonesia (PB-ISPI) di Jakarta pada pertengahan Desember lalu. Tampak hadir dalam acara itu para pengurus teras PB ISPI antara lain Yudhi Guntara Noor, Johny Liano, Bambang Setiadi dan Robby Agustiar. Syukur Iwantoro yang memiliki latarbelakang sarjana peternakan, saat ini duduk di Dewan Pertimbangan

Ingat Pemilu!

Organisasi (DPO) ISPI, di bawah kepemimpinan Ketua Umum ISPI Yudhi Guntara Noor. Tekad yang ditetapkan Dirjen Peternakan yakni bisa mempertahankan swasembada daging dan telur ayam, dan mewujudkan swasembada daging sapi dan kerbau pada 2014. Juga untuk ketersediaan susu domestik yang saat ini sekitar 70% masih impor, “Ketergantungan impor susu akan ditekan hingga 50% pada 2014 nanti,” ujar Iwantoro. Ia menambahkan, pada 2019, impor susu bisa ditekan hingga hanya 20% saja.

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

29

swasembada daging, terlebih dahulu harus pula diwujudkan ketersediaan dan keamanan pakan. Ketiga pilar tersebut, yakni bibit, pakan dan kesehatan ternak, harus didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni agar berbagai strategi yang telah disusun untuk mewujudkan swasembada daging 2014 dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. “Untuk meningkatkan standar kualitas SDM, perlu adanya standar kompetensi profesi di bidang peternakan, seperti standar kompetensi untuk inseminator, jagal dan selektor,” jelasnya. Pihaknya telah bekerjasama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk merealisasikan hal ini, dan Iwantoro mengajak para asosiasi profesi yang terkait dengan bidang peternakan untuk bisa

Iwantoro menegaskan perihal keseriusannya dalam menggapai target swasembada daging 2014, dengan melakukan penguatan pada tiga pilar, yakni ketersediaan bibit, kesehatan hewan, dan ketersediaan pakan. Dalam hal bibit, Iwantoro bertekad untuk menjamin ketersediaan bibit unggul ternak, utamanya sapi potong dan kerbau. Sedang untuk aspek kesehatan hewan, pihaknya bermaksud menegakkan suatu sistem kesehatan hewan nasional yang bisa mewujudkan kesehatan ternak, terutama dalam hubungannya dengan penyakit zoonosis (penyakit hewan yang bisa menular ke manusia). Sistem kesehatan hewan nasional juga dirancang agar dapat meminimalkan kasus-kasus yang

menjadi penyebab gangguan reproduksi ternak, serta penanggulangan, pemantauan dan pengawasan kesehatan ternak – sehingga produktifitas peternakan dapat dioptimalkan. Untuk pakan, pilar tersebut sangat vital, karena pakan menempati porsi terbesar dalam proses produksi peternakan. Oleh karenanya, untuk mewujudkan

30

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

meningkatkan standar SDM nya, melalui standar kompetensi profesi di bidangnya masingmasing. ISPI menyoroti tentang populasi sapi potong lokal yang saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan daging sapi domestik,sehingga masih diperlukan impor. Daya saing produksi daging sapi lokal pun masih rendah, sehingga diperlukan efisiensi dan fasilitasi. Dalam hal industri pengolahan daging sapi, ISPI melihat masih akan terus berkembang, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, sehingga sangat diperlukan dukungan regulasi yang jelas dan memihak kepada perkembangan industri pengolahan daging sapi dalam negeri, bukannya impor daging yang sangat merugikan bisnis peternakan domestik. Dalam catatan ISPI, kebutuhan daging sapi untuk industri besar dan menengah

mencapai lebih dari 234 ribu ton/tahun, industri kecil lebih dari +32 ribu ton/ tahun, dan kebutuhan jeroan/ variety meat lebih dari 13,6 ribu ton/tahun. Kebutuhankebutuhan tersebut akan terus meningkat, yang akhirnya akan menuntut impor karena tidak akan bisa dipenuhi produk lokal. Masalahnya adalah, tingkat pertumbuhan populasi sapi potong akan tetap stabil rendah, sehingga perlu perbaikan komposisi struktur populasi dan kualitasnya, agar bisa

mengimbangi pertumbuhan permintaan daging sapi dari tahun ke tahun. Kalimantan Barat, satu propinsi yang luasnya setara 1,13 kali P. Jawa dalam hal peningkatan populasi sapi terbilang lamban. Drh. Abdul Manaf Mustafa, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Kalimantan Barat menerangkan, populasi sapi di Kalbar pada tahun 2010 tercatat 167.000 ekor, pada tahun yang sama pemotongan

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

31

sapi sebagai daging konsumsi sebanyak 46.348 ekor -- sekitar 27% dari populasi. Sebuah angka pemotongan yang cukup besar dibandingkan peningkatan populasinya. Maka sangat masuk akal apabila setiap tahun Kalbar mendatangkan sapi dari Jawa dan Madura untuk dipotong. Pada tahun 2009 sapi potong yang didatangkan ke Kalbar 15.753 ekor, sedangkan sapi yang didatangkan untuk bibit sebanyak 1.063 ekor. Pada tahun 2010 sapi potong yang masuk 9.875 ekor, sapi bibitnya 1.067 ekor. Dalam 2011 lalu sapi potong yang masuk diperkirakan 14.000 ekor, dan sapi bibit yang didatangkan sekitar 1.000 ekor.

Upaya peningkatan populasi lewat inseminasi buatan (IB) terus dipopulerkan meskipun banyak tantangan yang harus diatasi. Antara lain, keterbatasan tenaga inseminator dan jarak tempuh yang jauh dari satu desa ke desa yang lain. Kegagalan IB kerap terjadi akibat waktu ‘kawin’ yang tidak tepat antara saat puncak birahi sapi betina yang hanya 12-18 jam –setelah tanda-tanda awal birahi ---dengan kedatangan petugas yang membawa sperma pejantan dan seharusnya langsung menyuntikkannya. “Akhirnya, pengembangbiakan yang ditempuh lebih banyak melalui perkawinan alam. Dengan program; setiap pemberian

bantuan 10 bibit sapi betina ditambah 1 ekor pejantan unggul,” tutur Manaf. Pada kegiatan Panen Anak Sapi Hasil Inseminasi Buatan (IB) dan Embrio Transfer (ET) yang dihadiri Gubernur Kalbar, yang berlangsung di Desa Sinar Tebudak Kecamatan Tujuh Belas Kabupaten Bengkayang tanggal 27 September 2011 lalu, dipamerkan 150 ekor sapi hasil IB dan 9 ekor hasil ET. Dalam acara tersebut diserahkan bantuan 3 (tiga) ekor sapi jantan dan 33 (tiga puluh tiga) sapi PO untuk kelompok tani Desa Sinar Tebudak Kecamatan Tujuh Belas Kabupaten Bengkayang.

32

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Ruminan

Anak Sekolah
Dibantu Sapi

Ke Luar Negeri

M

endengar penuturan Japar (67) tentang ternak sapi seperti menyimak separuh dari perjalanan hidupnya sendiri. Saat aktif dinas di ketentaraan, ia sudah hobi memelihara sapi, rumput yang tumbuh subur di lapangan asrama maupun di halaman kantornya tidak pernah tumbuh panjang liar karena ia rajin mencukur teratur dan hasil potongannya ia suguhkan kepada sapinya di kandang.

Setelah pensiun ayah dari empat orang anak ini diminta oleh teman-teman petani untuk memimpin Kelompok Tani ‘Marga Mulya’ Desa Roban Kecamatan Singkawang Tengah Kota Singkawang, yang saat ini setiap orang anggotanya punya peliharaan sapi dengan jumlah bervariasi. Kelompok Tani ‘Marga Mulya’ awalnya beranggota 30 orang sekarang berkembang menjadi 80 orang. Kelompok tani yang dipimpinnya pertama kali mendapat bantuan bibit sapi dari Pemerintah pada 2003 sebanyak 30 ekor, satu orang anggota mendapatkan satu ekor sapi betina produktif. Setelah sapi betina tadi beranak dan anaknya

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

33

beranak umur sebulan sekarang ini. Itu merupakan anaknya yang keenam.” tutur Japar. Pada tahun 2008, kelompok dapat bantuan tambahan sapi sebanyak 10 ekor dengan strain simental dan limosin. Tahun 2010 dapat dana dari Direktorat Jenderal Peternakan Kementrian Pertanian RI sebanyak Rp 440 juta untuk penyelamatan betina produkstif. “Hingga saat ini betina produktif yang berhasil diselematkan dari pemotongan berjumlah 33 ekor, semua dibeli di rumah potong beberapa menit sebelum sapi-sapi betina tersebut disembelih. Ada salah satu dari ketigapuluh satu tadi berupa sapi perah yang baru beranak satu kali, karena si pemiliknya membutuhkan uang dan pedagangnya sudah membayar, maka setelah kami berunding, sapi betina produktif yang nyaris mati tadi kami ganti dengan sapi jantan yang sepadan,” ujar Japar. Manfaat yang dirasakan oleh petani setelah dipinjami induk sapi, kemudian si induk beranak, dan anaknya menjadi hak miliknya, sudah jelas petani mempunyai tabungan hidup yang nilainya terus naik sesuai pertumbuhan sapi dan perkembangan harga pasar. “Dengan menjual sapi si petani bisa membeli motor, memperbaiki rumah, biaya
AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

telah berumur enam bulan, maka induknya dipinjamkan kepada peternak lain yang belum kebagian. “Sapi 30 ekor pertama, yang masih hidup 24 ekor, enam ekor mati saat beranak. Anak sapi yang dilahirkan oleh 30 ekor induk (asal) sudah berjumlah 134 ekor, sementara anak-anaknya itu juga sudah beranak pinak, entah berapa ratus ekor total keseluruhan dari 30 ekor sapi betina pertama. Contohnya adalah, yang dialami oleh sekretrais kelompok, Pak Parno, dari dua ekor anak sapi yang dilahirkan oleh satu ekor betina pertama, kini sudah berkembang menjadi tujuh belas ekor,” terang Japar Japar sendiri, dari satu ekor sapi bantuan yang diterimanya diperoleh anak betina satu ekor, setelah anak tersebut berumur enam bulan, induknya digulirkan

ke peternak lain, dari anak yang dihasilkan berkembang biak sampai tujuh ekor, kemudian dijual untuk biaya sekolah anak-anak, dibelikan pedet lagi, sekarang berkembang menjadi tujuh belas ekor. “Bahkan sapi betina pertama bantuan tahun 2003 itu kini kembali ke tempat saya, dan beranak lagi umurnya baru satu bulan. Sapi ini punya cerita sendiri, ketika mau kembali ke tempat saya, terjadi kecelakaan dan kakinya patah, tidak bisa berdiri, hampir saja di bawa ke rumah potong hewan. Tapi saya tidak tega, saya panggilkan sin sang ahli tulang, posisi tulang dibetulkan, dikasih ramuan Cina yang biasa diberikan untuk orang-orang patah tulang, setelah itu dibalut dan dipres dengan kayu selama tiga bulan, satu bulan berikutnya balutan dibuka dan bisa latihan berdiri, setelah sembuh total dikawinkan dan

34

sekolah anak, bahkan mampu membeli kebun,” ucap Japar. Untuk makanan sapi Kelompok Tani ‘Marga Mulya’ mempunyai lahan seluas 12 hektar untuk menanam rumput alam, dibagi dalam petak-petak sesuai jumlah sapi peliharaannya. Masingmasing petani mengambil dan merawat rumput pada areal yang ditetapkan, pada areal itu pun petani membuat ubinan sehingga pengambilan dan pemupukan bisa dilaksakanan secara bergiliran. “Makanan tambahan ditambahkan oleh masing-masing petani, biasanya ditambahkan dedak, bungkil kelapa, ampas tahu, parutan sagu, diberikan siang hari. Di Kota Singkawang harga ampas tahu

Rp 145.000/karung, Dedak Rp 200.000/kwintal, Parutan sagu Rp 20.000/karung, Bungkil kelapa 150,000/karung,” tutur Japar. Puncak harga sapi adalah saat Idul Adha dan Idul Fitri, harga sapi dewasa jenis lokal Madura berkisar antara Rp 7 – 8 juta/ekor, bibitnya antara Rp 4,5 – 5,5 juta. Sedangkan untuk sapi Simental dewasa bisa sampai Rp 16 – 17 juta, karena bibitnya saja (jantan umur 6 bulan) harganya Rp 8 - 9 juta/ ekor. Untuk penggemukan menimal pelihara selama 6 bulan. Keuntungan lain yang diperoleh petani pemelihara sapi adalah kotoran sapi kering sebagai pupuk yang dijual dengan harga Rp 10.000/karung. Kotoran sapi

di peternakan Japar ditampung dalam bak penampungan, telah dimanfaatkan sebagai biogas untuk kegiatan masak pagi dan sore dan penerangan petromak selama 6 jam. Kenangan manis yang tak terlupan selama memelihara sapi adalah ketika anak nomer duanya mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah (S-2) ke Jerman. “Biaya hidup selama sekolah di sana memang gratis, tetapi untuk berangkatnya memerlukan biaya tidak sedikit. Yang membuat tegang seluruh keluarga waktu itu karena pemberitahuan keberangkatannya mendadak. Maka, solusi yang paling cepat dan mudah adalah menjual sapi,” tutur kakek enam orang cucu ini

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

35

36

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Cakrawala

SUJAYA GROUP
Merajut Kebersamaan Meraih Kemakmuran
AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

perayaan ulang tahun ke-22

37

S
38

ujaya Group adalah kelompok perusahaan agribisnis berbasis perunggasan yang berpusat di Kota Singkawang – Kalimantan Barat. Dirintis oleh Tetiono, pria kelahiran Singkawang 4 Agustus 1962, perusahaan-perusahaan yang berada di bawah bendera Sujaya Group terus tumbuh dan berkembang hingga sekarang, menuju agribsisnis perunggasan terpadu (poultry integrated). Pada 11 Desember 2011 lalu Sujaya Group merayakan ulang tahunnya yang ke duapuluh dua.

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Sujaya merupakan akronim dari CV Sinar Usaha Jaya Mandiri Farm yang didirikan oleh Tetiono pada 1987, diawali dengan usaha poultry shop yang menyalurkan sarana produksi peternakan berskala kecil. Seiring dengan perkembangan usaha ayam ras yang maju pesat, maka pada 1990 Sujaya terjun dalam budidaya ayam petelur

(layer farm). Awalnya hanya mempunyai 5.000 ekor, kini berkembang hingga mencapai 1.500.000 ekor lebih dengan produksi telur 40 ton per hari. Selanjutnya, pada 1999 mengembangkan dua perusahaan sekaligus, yakni PT. Satwa Borneo Jaya (SBJ) dan PT. Fajar Semesta Indah (FSI). PT. SBJ menghasilkan anak-anak ayam

umur sehari (day old chick) yang siap dipelihara dan dibesarkan oleh peternak sebagai ayam pedaging. Sedangkan FSI, menghasilkan bibit babi unggul yang dihasilkan dengan teknologi inseminasi buatan (IB) dengan benih-benih unggul seperti Pietrain, Yorkshire. Landrace dan Duroc.

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

39

milik orang lain. Saat ini sedang ditingkatkan kapasitas produksinya dengan menambah unit baru dengan mesin-mesin otomatis. Merebaknya penyakit flu burung di akhir 2003, yang salah satu penyebarannya melalui kotoran ayam, maka timbul inspirasi untuk memroduksi pupuk organik dengan bahan baku utama kotoran ayam yang diproses secara fermentasi dan pemanasan, maka lahirnya PT. Sinka Sinye Agrotama (SSA) pada 2004. Perkembangannya sangat menggembirakan, pada 2006 dibangun unit mesin pabrik pupuk yang lebih besar, dengan kapasitas produksi 300.000 ton setahun hingga sekarang. “Sujaya Group didirikan dengan tujuan mendukung kemakmuran pangan bangsa dan membuka lapangan pekerjaan. Saat ini total tenaga kerja yang

Pada 2001 untuk mendukung arus transportasi barang-barang khususnya sarana produksi peternakan dan bahan baku pakan ternak, dilakukan pembelian sebuah kapal sebagai awal dari PT. Samudera Usaha Jaya Line. Saat ini kapal yang dimiliki berjumlah 11 unit, dan akan dikembangkan sesuai kebutuhan angkutan barang/ cargo. Anak perusahaan yang menopang kesehatan hewan adalah MJPF (Mulia Jaya Prima Farma) berdiri pada 2002, namun pada 2004 berganti nama menjadi PT. MJPF Farma Indonesia. Pabrik obat dan produksi produk-produk veteriner dilakukan di Propinsi Banten sedangkan wilayah pemasarannya tersebar luas ke seluruh Indonesia.

Atas dasar pelestarian lingkungan berupa pemanfaatkan limbah karton dan kardus di Kota Singkawang, maka pada 2005 Tetiono mendirikan Packaging Industries (PI), pabrik pengolahan limbah khusus karton dan kardus ini menjadi egg tray (piring telur). Produksinya diserap oleh peternakan sendiri (satu group) maupun oleh peternakan

40

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

terserap dalam Sujaya Group berjumlah 2.000 orang lebih. Kedepan, dengan bertambahnya anak perusahaan di bidang pakan ternak, breeding farm grand parent stock, dan pemotongan ayam, maka semakin mengokohkan Sujaya Group dalam kiprahnya mendukung kemakmuran pangan bangsa, dan dipastikan akan menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi.” ungkap Presiden Direktur Sujaya Group Tetiono dalam sambutannya. Tetiono mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Baik atas segala karunia yang diberikan selama ini, seraya mengajak seluruh karyawan dan karyawati dalam keluarga besar Sujaya Group untuk mempersiapkan diri, merapatkan barisan, kompak dan bekerja lebih keras lagi, demi
AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

menjaga kelangsungan sekaligus mengembangkan usaha ini. Tri Hardianto, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) yang hadir ke Singkawang untuk mengikuti perayaan ulang tahun ke-22 Sujaya Group, ikut merasa bangga. Dalam sambutan singkatnya peternak Bogor ini mengatakan; “Ini adalah perjalanan sukses peternak, bermula dari poultry shop kecil di Kota Singkawang, kemudian beternak ayam petelur, terus bertambah hingga beberapa perusahaan sarana produksi

peternakan, ke depan bahkan akan ditambah lagi lini-lini integrated usaha peternakan. Sungguh, merupakan prestasi yang membanggakan. Ini adalah kerja keras peternak lokal yang perlu mendapat dukungan kita semua sehingga mencapai prestasi nasional. Saya sebagai sesama peternak turut bangga dan terinpsirasi oleh perjalanan Pak Tetiono bersama Sujaya-nya ini. Selamat ulang tahun Sujaya semoga tambah jaya!” ucap Tri Hardianto.

41

42

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Cakrawala WAWANCARA DENGAN TRI HARDIANTO

JANGAN BIARKAN RAKYAT KITA YANG LAPAR
JADI ‘TENTARA’ NEGARA TETANGGA

H

anya semalam saja Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) ini berkunjung ke Singkawang, dalam rangka menghadiri perayaan ulang tahun ke-22 Sujaya Group. Bersyukur AgroBorneo masih mendapat kesempatan berbincang-bincang keesokan harinya dengan peternak Bogor ini sebelum beliau bertolak meninggalkan hotel. Perlu diketahui Tri Hardianto adalah peternak ayam ras pedaging yang sukses membangun peternakan secara mandiri maupun dengan pola kerjasama kemitraan dengan peternak-peternak di Jawa Barat dan Banten.

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

43

Namun, bila dikalkulasi, investasi agribisnis perunggasan di Kalbar masih menjanjikan hingga sekarang. Terbukti di tahun 2012 ini ada tambahan dua breeding farm (parents stock) di Kalbar sehingga menjadi lima, Betul ‘kan?

Bagaimana pendapat Pak Tri terhadap agribinis perunggasan di Kalimantan Barat ini?
Tumbuh dengan mengesankan. Beberapa tahun terakhir ini daerahdaerah yang menjadi pusat perkebunan sawit dan karet, baik di Sumatera maupun di Kalimantan, menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat yang kuat. Kondisi ini berpengaruh pada pola makan, seiring dengan peningkatan pendapatan, terjadi perubahan pola makan dari basis karbohidrat bergeser kearah protein (hewani).

Ini sesuai hasil penelitian seorang sosialog di bidang pangan dan gizi, dan sudah menjadi gejala universal daging ayam dan telur merupakan sumber pangan protein hewani yang populer. Maka peternakan ayam di daerah-daerah tersebut menunjukkan perkembangan yang signifikan. Meskipun harga hasil unggas di Kalimantan Barat ini lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain, namun komoditi tersebut masih terbeli. Penyebab tingginya biaya produksi peternakan di Kalbar adalah, pakan ternak masih didatangkan dari Jawa, sedangkan biaya pakan menempati 70% dari komponen biaya produksi.

Betul. Di bidang budidaya broiler apakah Pak Tri tidak berminat berinvestasi di sini?
Siapapun yang berinvestasi di suatu daerah harus kuat ilmu sosial pedesaannya, bukan kuat modal kerjanya. Terbukti di Kalbar ini pola inti rakyat (PIR) broiler yang didukung oleh perusahaan modal kuat tidak pernah berjalan langgeng. Saya melihat ada kearifan lokal yang dilanggar oleh pemodal. Kalau saya berinvestasi, saya harus pelajari dulu kultur dan kearifan lokal di sini, atau bekerjasama dengan pengusaha setempat. Membuat kandang komersil sendiri dengan kapasitas besar, bahkan dengan closed

44

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

house system – misalnya, saya kira belum tentu berhasil.

Tentang produkproduk peternakan seperti daging sapi dan daging ayam (beku), telur dan ikan-ikan illegal dari negara tetangga yang kerap masuk, apa solusinya?
Perlu komitmen kuat pemerintah; petugas karantina, bea cukai dan kepolisian adalah penjaga pintu batas, dan pemerintah daerah dalam hal ini dinas peternakan harus punya program peningkatan produksi yang jelas. Upaya menutup rapat barang illegal harus diimbangi kecukupan barang di perbatasan dengan selisih harga yang tidak jauh berbeda dengan tetangga. Makanya, perlu program khusus untuk ‘merawat’ masyarakat perbatasan. Pendek kata, jangan biarkan rakyat yang lapar jadi ‘tentara’ negara tetangga. Keputusan Gubernur

Kalbar terkait Pengaturan Pemasukan Bibit Unggas dan Produknya dari Luar Kalbar pada prinsipnya melindungi peternakan unggas di Kalbar, tapi ruang lingkup pelaksanaannya baru mengatur lalu lintas ternak dan produk ternak dari Jawa ke Pontianak, ibukota propinsi Kalbar. Saya melihat masih belum ada program peningkatan produksi (peternakan) yang menyentuh masyarakat Kalbar yang berada di hulu apalagi di perbatasan.

Ada ide untuk percepatan pertumbuhan agribisnis perunggasan di Kalbar ini?
Semalam, saat menghadiri ulang tahun Sujaya dan berbincangbincang dengan Pak Tetiono, terlintas di benak saya untuk mendirikan Sekolah Menangah Kejuruan (SMK) Perunggasan di Kalbar ini. Situasi pelaku agribisnis perunggasan di

Kalbar sekarang ini, dalam pikiran saya masih seperti di Jawa era 80-an, masih banyak peternak skala kecil yang minim kemampuan teknis (budidaya). Berskala kecil sih tidak masalah, mungkin sesuai dengan daya serap pasar, tetapi teknik budidayanya harus ditingkatkan terus. Di satu sisi poultry shop di kota kabupaten dan kecamatan masih hidup. Di sinilah diperlukan tenaga ‘menengah’ di bidang perunggasan, lulusannya bekerja di poultry shop, di peternakanpeternakan skala menengah. Saya yakin perusahaan Pak Tetiono sendiri memerlukan tenaga kerja dengan klasifikasi seperti ini banyak sekali.

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

45

46

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Cakrawala

SATU PERAHU SATU TUJUAN
saling mendukung demi kemajuan

M

JPF Farma Indonesia adalah salah satu perusahaan yang berada di dalam Sujaya Group, yang memroduksi sarana kesehatan unggas (poultry health) berupa biologik, farmasetik, dan premix. Berdiri pada 2002, awalnya bernama PT. Mulia Jaya Prima Farma (MJPF), namun pada 2004 berganti nama menjadi PT. MJPF Farma Indonesia. Produksi dilakukan di Tangerang - Propinsi Banten, sedangkan wilayah pemasarannya tersebar luas ke seluruh Indonesia.

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

47

Sebagai produsen obat hewan yang usianya masih relatif baru, MJPF tergolong cepat mengalami perkembangan. Selain telah mendapatkan sertifikat CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik) dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, juga terlihat dari perkembangan jaringan pemasaran, jumlah SDM serta jenis produknya. MJPF memiliki beragam produk mulai dari antibiotik, vitamin, desinfektan serta produk injeksi. Pemasaran MJPF telah menjangkau semua wilayah peternakan di Indonesia yang terbagi menjadi 5 area, yaitu Area I (Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Babel, Bengkulu, Lampung, Banten). Area II ( Jabodetabek, Batam, Priangan Timur), Area III ( Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, NTT). Area IV (Kalbar, Serawak). Area V (Kalsel, Kalteng, Kaltim, Sulsel, Sulut, Gorontalo).

48

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Pada 5 – 8 Januari 2012 MJPF Farma Indonesia kembali menyelenggarakan annual meeting bertempat di Citarik – Sukabumi. Konsep pertemuan kali ini adalah mendorong seluruh awak perusahaan agar laju pertumbuhan semakin melesat. “Kinerja di tahun 2011 sudah baik, harus lebih baik lagi di tahun 2012. Dan yang paling penting adalah dapat saling menginspirasi antara personal dalam satu perusahaan, juga perusahaan yang satu kepada perusahaan yang lain di dalam satu group Sujaya.” ucap Budi Setiawan salah satu pimpinan MJPF Farma Indonesia. Oleh karenanya, dalam pertemuan ini dihadirkan Dede Slamet Ruchyadi, Ir. MSi dari PT. Bintang Jaya
AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

Proteina Feedmill (BJPF), salah satu perusahaan dalam Sujaya Group yang memroduksi pakan ternak. Dede Slamet Ruchyadi menyampaikan materi Feed Nutrition System for Layer & Broiler Performance untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi Tim MJPF tentang aspek-aspek dasar nutrisi dan formulasi pakan ternak broiler maupun layer. Sehingga menjadi lebih lengkap bekal yang diperlukan dalam ‘pelayaran’ Tim MJPF, dalam mencapai tujuannya, yakni turut memajukan peternakan unggas Indonesia demi menopang kemakmuran pangan bangsa. Tugas besar bukanlah meraih sesuatu yang berkilau di kejauhan , tetapi melakukan sesuatu terhadap apa yang ada di tangan.

49

50

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

51

Jl. Jenderal Ahmad Yani, KomplekRuko A. Yani Sentral Bisnis Blok B No 37-38 Pontianak - Kalbar Tel: 0561-761 168 Fax: 0561765 900 email: majalah@agroborneo.com website: www.agroborneo.com

52

AGROBORNEO | Edisi 06 | Februari 2012

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->