P. 1
Rere Jurnal Inflamasi

Rere Jurnal Inflamasi

|Views: 337|Likes:
Published by Dwi Re Re

More info:

Published by: Dwi Re Re on Jun 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/17/2014

pdf

text

original

ANTIINFLAMASI

Anisa Nur Rahmani, Arya Tri Nanda, Dwi Nur Hidayah Akademi Farmasi Nasional Surakarta Jl. Yos Sudarso 338 Dawung, Surakarta

Inflamasi merupakan respon terhadap kerusakan jaringan akibat berbagai rangsangan yang merugikan, baik rangsangan kimia maupun mekanis, infeksi serta benda asing seperti bakteri dan virus. Tiga fase dalam inflamasi berupa inflamasi akut (respons awal terhadap cedera jaringan), respons imun (pengaktifan sejumlah sel yang mampu menimbulkan kekebalan untuk merespons organisme asing), dan inflamasi kronis.Daya antiinflamasi obat ini diukur dengan menggunakan alat plestimpgraf. Plestimograf merupakan alat yang digunakan untuk mengamati volume udema pada kaki hewan uji. DimanaCMC-Na 1% sebagai control, Renadinac 0,25%, Cortidex 12mg%, Curcumin 0,25% dan Karegenin 1%. Plestimograf merupakan alat yang digunakan untuk mengamati volume udema pada kaki hewan uji. Persen Daya Antiinflamasi pada obat cortidex diperoleh 43,15 %, obat renadinac diperoleh 31,67 % , dan pada obat curcumin diperoleh 39,02 %. Dari data analisis ANOVA, diperoleh nilai 0,747 yang berarti tidak signifikan, tidak memberikan perbedaan yang nyata dengan ketentuan signifikan 0,05. Kata kunci : Inflamasi, CMC Na, Renadinac, Cortidex, Curcumin, Karegeni Pendahuluan Inflamasi atau radang adalah respon dari suatu organisme terhadap patogen dan alterasi mekanis dalam jaringan berupa rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan yang mengalami cedera seperti karena terbakar atau terinfeksi. Radang atau inflamasi adalah satu dari respon utama sistem kekeba;an terhadap infeksi dan iritasi Secara garis besar proses inflamasi dibagi menjadi 2 tahap, yaitu: a. Inflamasi Akut Adalah inflamasi yang terjadi segera setelah adanya rangsang iritan. Pada tahap ini terjadi pelepasan plasma dan komponen seluler darah ke dalam ruang-ruang jaringan ekstraseluler. Termasuk didalamnya granulosit neutrofil yang melakukan pelahapan (fagositosis) untuk membersihkan debris jaringan dan mikroba . b. Inflamasi Kronis Terjadi jika respon inflamasi tidak berhasil memperbaiki seluruh jaringan yang rusak dan kembali kekeadaan aslinya atau jika perbaikan tidak dapat dilakukan sempurna (Taufik, 2008). Adapun ciri-ciri dari antara lain sebagai berikut : inflamasi

1. Rubor (kemerahan) ini merupakan hal pertama saat mengalami peradangan, karena banyak darah mengalir ke dalam mikrosomal lokal pada tempat peradangan.

2. Kalor (panas) dikarenakan lebih banyak darah yang disalurkan pada tempat peradangan dari pada yang disalurkan ke daerah normal. Fenomena panas lokal ini tidak terlihat pada tempat peradangan jauh di dalam tubuh karena jaringan sudah mempunyai suhu 370 C. 3. Dolor (rasa sakit) dikarenakan pembengkakan jaringan mengakibatkan peningkatan tekanan lokal dan juga karena ada pengeluaran zat histamin dan zat kimia bioaktif lainnya. 4. Tumor (pembengkakan) pengeluaran cirancairan ke jaringan interstisial. 5. Fungsio laesa (perubahan fungsi) adalah reaksi peradangan yang telah dikenal, tetapi tidak diketahui secara mendalam dengan cara apa fungsi jaringan yang meradang itu terganggu (Taufik, 2008). Inflamasi atau radang biasanya dibagi dalam 3 fase yaitu inflamasi akut, respon imun, dan inflamasi kronis. Inflamasi akut merupakan respon awal terhadap cidera jaringan, hal tersebut terjadi melalui media lepasnya autocoid antara lain histamin, serotonin, bradykinin, prostaglandin, leucotrien dan umumnya didahului oleh pembentukan respon imun. Respon imun terjadi bila sejumlah sel yang mampu menimbulkan kekebalan diaktifkan untuk merespon organisme asing atau substansi antigenik yang terlepas selama respon terhadap inflamasi akut serta kronis. Inflamasi kronis melibatkan keluarnya sejumlah mediator yang tidak menonjol dalam respon akut. (Katzung, 1998) Berdasarkan cara kerja obat anti inflamasi ada 2 jenis anti inflamasi yang digunakan dalam klinik, yaitu : A. Golongan Kortikosteroid

Golongan obat ini dapat mengurangi aktivitas fosfolipase dan mengikat enzim lipogenase, dan mengurangi terbentuknya leukotrin mengurangi radang atau inflamasi. Leukotrin adalah zat kemotaktik besifat menarik migrasi sel fagosit ketempat cidera yang jika digunakan berlebihan dapat menin yebabkan inflamasi. Efek karena penggunaan obat golongan steroid dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping seperti iritasi pada lambung, moon face ( wajah bulan), menekan imunitas, dan tulang menjadi keropos. B. Golongan AINS (Anti Inflamasi Non Steroid) Golongan AINS sering digunakan dalam pengobatan inflamasi. Semua golongan AINS bekerja mengikat enzim siklooksigenase. Siklooksigenase berfungsi mengkonversi asam arakidonat menjadi prostaglandin, tromboksan dan prostasiklin yang akan merangsang timbulnya tanda– tanda inflamasi. Obat AINS dibedakan menjadi 2 yaitu : 1. AINS non selektif AINS non selektif ini berarti menghambat COX1 dan COX2 sehingga dapat menimbulkan iritasi lambung. Oleh karena itu, jika menggunakan obat golongan ini harus diminum setelah makan dan tidak di gunakan pada orang penderita gastritis dan hati – hati pada lansia. 2. AINS selektif AINS selektif adalah obat yang hanya mengikat COX2 sehingga menimbulkan iritasi lambung karena COX2 tidak berfungsi melindungi mukosa lambung. dapat Karagenin merupakan senyawa yang menginduksi cedera sel dengan

melepaskan mediator yang mengawali proses inflamasi. Udema yang terjadi akibat terlepasnya mediator inflamasi seperti: histamin, serotin, bradikinin, dan prostagladin. Udem yang disebabkan oleh injeksi karagenin diperkuat oleh mediator inflamasi terutama PGE1 dan PGE2 dengan cara menurunkan permeabilitas vaskuler. Apabila permeabilitas vaskuler turun maka protein-protein plasma dapat menuju ke jaringan yang luka sehingga terjadi udema. ( Anonim, 2011). Berikut merupakan senyawa/ bahan aktif yang di gunakan saat praktikum: a. CMC-Na

anionik bioadhesif polimer bersama dengan PAA(Poly Acrilic Acid), polikarbopil, penggolongan polimer mukoadhesif, golongan polyacrylates (karbopol dan karbomer) dan turunan dari karbohidrat seperti karboksimetil selulosa dan chitosan mempunyai daya lekat yang tinggi sebagai polimer mukoadhesif. Hal ini sejalan dengan yang selulosa Natrium alginat dan asam hialuronik. Diungkapkan oleh Grabovac polisakarida seperti karagenan, CMC-Na, dan alginat diketahui sebagai polimer mukoadhesif yang bagus. (Tjay dan Rahardja, 2002). b. Renadinac

Gambar.Struktur (Anonim,2012).

Na-Diklofenak

Gambar. Struktur CMC Na. (Anonim,2012). Merupakan turunan dari selulosa dan sering dipakai dalam industri pangan, atau digunakan dalam bahan makanan untuk mencegah terjadinya retrogradasi. Na-CMC merupakan zat dengan warna putih atau sedikit kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa, berbentuk granula yang halus atau bubuk yang bersifat higroskopis CMC ini mudah larut dalam air panas maupun air dingin. Pada pemanasan dapat terjadi pengurangan viskositas yang bersifat dapat balik (reversible). Viskositas larutan CMC dipengaruhi oleh pH larutan, kisaran pH NaCMC adalah 5-11 sedangkan pH optimum adalah 5, dan jika pH terlalu rendah (<3), NaCMC akan mengendap.(Anonim, 2012) CMC-Na mukoadhesif yang adalah termasuk polimer golongan

Renadinac dengan zat aktif natrium diklofenak, Diklofenak adalah sebuah nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID) yang menunjukkan aksi anti-inflamasi, analgesik, dan antipiretik pada hewan model. Mekanisme aksi voltaren , seperti NSAID yang lain berkaitan dengan menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin merupakan sejenis hormon yang menyebabkan inflamasi dan nyeri di tubuh. (Anonim, 2012) c. Cortidex

Gambar. Struktur deksametason

Cortidex berisi deksametazon memiliki efek mineralokortikoid ringan (retensi garam dan air). Deksametason bekerja lama dan memiliki waktu paruh secara biologic 36-72 jam dengan dosis ekivalen 0.75 mg yang hanya berlaku untuk pemberian oral dan intravena. (Tyay, Tan Hoan dan kirana Rahardjo, 2002). Deksametason adalah glukokortikoid sintetik dengan aktivitas imunosupresan dan anti-inflamasi. Sebagai imunosupresan Deksametason bekerja dengan menurunkan respon imun tubuh terhadap stimulasi rangsang. Aktivitas anti-inflamasi Deksametason dengan jalan menekan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi dan menghambat akumulasi sel yang mengalami inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada tempat inflamasi. (Katzung, 2002). d. Curcumin

METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah spuit injeksi 1ml dan Plestimogra. Bahan yang digunakan adalah aquades, Larutan CMC Na 1% , Larutan Renadinac 0,25% dalam CMC-Na 1%, Larutan Cortidex 12mg% dalam CMCNa 1%, Larutan Curcumin 0,25% dalam CMC-Na 1%, Larutan Karegenin 1% , hewan uji Tikus (Laboratorium Akademi FarmasiNasional). Cara Kerja Masing- masing kelompok dapat 4 tikus, Tikus ditimbang, kaki belakang diberi tanda diatas lutut, Tikus I (kontrol) : suntik CMCNa 1% secara PO, Tikus II : disuntik Cortidex 12 mg% secara PO, Tikus III : disuntik Renadinac 0,25% secara PO, Tikus IV : suntik Curcumin 0,25% secara PO,Ukur volume udem kaki tikus (sebagai volume awal), Setelah 30 menit, suntik tikus dengan Karagenin 1 ml, Ukur volume udem (Vt) pada menit 0, 30, 60, 90, 120, 150, Tentukan % daya antiinflamasi, buat grafik, histogram dan analisis hasil dengan One Way ANOVA. Hasil Percobaan dan Pembahasan Tujuan diadakannya praktikum kali ini adalah untuk mengetahui atau mempelajari daya anti inflamasi suatu obat. Inflamasi adalah reaksi tubuh terhadap serangan bahan infeksi, antigen atau hanya cedera fisik. Inflamasi adalah suatu respon jaringan terhadap rangsangan fisik, kimiawi, maupun mekanik dimana rangsangan tersebut menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin dan leukotrin yang menimbulkan reaksi radang berupa merah (rubor), panas (kolor), bengkak (udema), nyeri (dolor), dan disertai gangguan fungsi (fungtion laesa).

Gambar . Struktur curcumin (Anonim,2012) Curcumin merupakan komponen aktif yang banyak terkandung di dalam temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb). Dengan mengkonsumsi curcumin, maka hati akan terjaga sehingga kerja hati sebagai detoksifikasi akan berjalan dengan baik. Secara otomatis akan dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita juga mampu mengurangi kegiatan siklooksigenase yaitu suatu enzim kunci yang mengakibatkan radang Curcumin mempunyai rumus molekul C21H20O6 (bobot molekul = 368). (Tjay dan Rahardja, 2002).

Gambar . mekanisme kerja antiinflamasi Adanya rangsangan dari luar baik fisika, kimia, maupun mekanik mengakibatkan trauma sehingga terjadi gangguan pada jaringan. Jaringan yang mengalami gangguan akan menghasilkan fosfolipid yang kemudian akan dihidrolisis oleh enzim fosfolipase menghasilkan asam arakidonat. Asam arakidonat yang terbentuk kemudian akan disintesis oleh enzim lipooksigenase dan siklooksigenase yang nantinya akan menghasilkan mediatormediator infalamsi. Enzim lipooksigenase akan mensintesis asam arakidonat menjadi asam-asam mono dan di-hidroksi (HETE) yang merupakan perkusor leukotrin (mediator inflamasi), LTA (senyawa yang dijumpai pada keadaan antifilaksis) kemudian memproduksi LBT 4 (penyebab peradangan) dan LTC4,LTD4 dan LTE4. Leukotrin yang terbentuk ini akan mengakibatkan asma radang/inflamasi pada bronkus. Siklooksigenase mensintesa siklik endoperoksida yang akan dibagi menjadi dua produk COX 1 dan COX 2. COX 1 berisi tromboksan ,protasiklin (yang dapat menghambat produksi asam lambung yang berfungsi untuk melindugi mukosa lambung). COX 2 (asam meloksikam) berisi prostaglandin (penyebab peradangan). Antiinflamasi merupakan atau senyawa yang bekerja dengan cara mengikat enzim lipooksigenase dan siklooksigenase sehingga dapat menghambat sintesis pembentukan leukotrien dan prostaglandin. Hambatan tersebut membuat stabilitas sel meningkat, permeabilitas membrane

menurun sehingga mengurangi pembengkakan. Pada praktikum ini pengamatan daya antiinflamasi obat dilakukan pada kaki hewan uji, dimana hewan uji yang digunakan adalah tikus. Pemilihan hewan uji ini dikarenakan, tikus memiliki kaki yang lebih besar dari mencit sehingga lebih mudah disuntik secara subkutan. Sebelum diberikan perlakuan terlebih dahulu tikus ditimbang dan diberikan tanda disalah satu lututnya, hal ini bertujuan untuk menyamakan persepsi pembacaan saat dicelupkan pada alat pletismograf. Tikus yang ditimbang bertujuan untuk mengetahui bobot tikus, dimana bobot tikus ini digunakan untuk mencari volume pemberian obat antiinflamasi pada tikus, makin besar bobot tikus maka volume pemberian obat yang diberikan juga semakin besar. Pemberian obat antiinflamasi ini diberikan secara peroral. Pada praktikum yang dilakukan kali ini pengujian daya inflamasi dilakukan dengan menggunakan pemicu kimiawi sehingga dibentuk udema sebagai salah satu gejala fisiologis terjadinya inflamasi. Zat yang digunakan sebagai pemicu terjadinya inflamasi adalah karegenin 1% dengan pemberian pada masing-masing tikus ± 0,2 ml yang diinjeksikan secara subkutan pada kaki mencit. Karegenin adalah ekstrak chondrus yang menyebabkan inflamasi jika diinjeksikan secara subkutan pada tikus. Keuntungan digunakannya karegenin ini adalah tidak meningalkan bekas, tidak menimbukan kerusakan jaringan dan memberikan respon yang lebih peka terhadap obat antiinflamasi. Pada percobaan ini yang digunakan untuk menentukan daya antiinflamasi obat adalah alat plestimograf, dimana dilakukan dengan mengamati volume udema pada kaki hewan uji pada selang waktu 0’, 30’, 60’, 90’, 120’, dan 150’. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat ini adalah pastikan sebelum kaki tikus

dimasukkan pada alat plestimograf cairan pada pengukur berada pada titik nol, agar nantinya menunjukan hasil volume udema yang sesungguhnya. Pada alat plestimograf digunakan air raksa dan air berwarna. Penggunaan air raksa ini dikarenakan air raksa memiliki daya kohesi yang tinggi sehingga tidak akan membasahi kaki tikus. Daya kohesi lebih besar daripada daya adhesi menyebabkan air raksa tidak dapat bercampur dengan air berwarna sehingga dapat mendorong cairan berwarna untuk lebih mudah dibaca skalanya. Penggunaan cairan ini bisa diganti dengan cairan lain namun harus memiliki prinsip cairan tidak bercampur satu sama lain. Pada percobaan ini obat yang dibandingkan daya antiinflamasinya adalah cortidex, ranidinac, curcumin, dan CMC-Na sebagai control. Hal yang perlu diperhatikan adalah, setelah pemberian perlakuan obat antiinflamasi maupun CMC-Na, kemudian kaki tikus dimasukan dalam plestimograf untuk mengetahui volume udema mula-mula (Vo), selanjutnya tikus diistirahatkan selama 30 menit, hal ini bertujuan agar larutan obat dapat terabsorbsi secara maksimal dalam tubuh. Obat yang digunakan adalah cortidex 12 mg %, renadinac 0,25 % dan curcumin 0,5% serta yang digunakan sebagai penginduksi radang adalah karagenin 1 %. Karagenin adalah sulfat polisakarida bermolekul besar sebagai induktor inflamasi. Penggunaan karagenin sebagai penginduksi radang memiliki beberapa keuntungan antara lain: tidak meninggalkan bekas, tidak menimbulkan kerusakan jaringan dan memberikan respon yang lebih peka terhadap obat antiinflamasi dibanding senyawa iritan lainnya. Renadinac memiliki zat aktif yaitu natrium diklofenak, natrium diklofenak adalah keluarga diklofenak, merupakan obat AINS golongan karboksilat/asam asetat turunan asam feniasetat. Obat ini diberikan

secara oral karena obat ini diabsorbsi melalui saluran cerna yang berlangsung secara cepat. Obat ini terikat pada protein plasma sebesar 99% dan mengalami efek metabolism lintas pertama(first-pass) sebesar 40-50%. Obat ini menghambat produksi prostaglandin (PG) yang berikatan dengan enzim cox. Siklooksigenase berfungsi mengkonversi asam arakidonat menjadi prostagelandin, tromboksan dan prostasiklin yang akan merangsang timbulnya tanda-tanda ainflamasi.

Gambar .Mekanisme NSAID Curcumin adalah komponen aktif yang terdapat di dalam temulawak yang dinanfaatkan sebagai anti radang (inflamasi). Merupakan inhibitor enzim dimana fosfolipid berikatan dengan enzim fosfolipase sehingga menghasilkan asam arakidonat karena adanya curcumin sehingga enzim sikloogsigenase dihambat sehingga asam arakidonat tidak berikatan dengan enzim sikloogsigenase sehingga prostaglandin tidak terbentuk sehingga tidak terjadi inflamasi. Cortidex dengan zat aktif deksametazon, deksametazon ini merupakan obat golongan kortikosteroid atau AIS (anti inflamasi steroid). Obat golongan kortikosteroid menghambat enzim fosfolipase. Adanya deksametazon maka fosfolipid tidak dapat diubah menjadi asam arakidonat karena enzim fosfolipase

terhambat sehingga mediator peradangan prostaglandin dan leukotrin dari asam arakidonat tidak terjadi maka tidak terjadi inflamasi.

dengan cara mengikat enzim fosfolipase sehingga fosfolipid tidak dapat diubah menjadi asam arakidonat, akibatnya tidak akan terbentuk leukotrien dan prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi. Tikus yang telah diberikan perlakuan, dan diberikan karegenin sebagai pemicu kimiwinya setelah diistirahatkan selama 30 menit, kemudian diukur volume udemnya selama 150 menit setiap 30 menit sekali dan dicatat sebagai volume udema setelah diberi perlakuan (Vt). Sehingga diperoleh rata-rata menit ke0=0.078; menit ke-30=0.092; menit ke60=0.037; menit ke-90=0.1; menit ke120=0.122 dan menit ke-150=0.134. Pada tikus yang ketiga, diberikan renadinac sebanyak 0,756 ml. Renadinac berisi natrium diklofenak yang merupakan obat golongan AINS, dimana mekanisme kerjanya dengan menghambat kerja dari enzim siklooksigenase sehingga prostaglandin, prostasilkin, dan trombokan, sebagai mediator inflamasi tidak akan terbentuk. Tikus yang telah diberikan perlakuan, dan diberikan karegenin sebagai pemicu kimiwinya setelah diistirahatkan selama 30 menit, kemudian diukur volume udemnya selama 150 menit setiap 30 menit sekali dan dicatat sebagai volume udema setelah diberi perlakuan (Vt). Sehingga diperoleh rata-rata menit ke-0=0.056; menit ke-30=0.086; menit ke-60=0.118; menit ke90=0.154; menit ke-120=0.176dan menit ke150=0.124. Pada tikus 4, diberikan curcumin sebanyak 1 ml. Curcumin yang berfungsi sebagai antioksidan merupakan inhibitor enzim, dimana mekanisme kerjanya adalah curcumin yang merupakan substrat akan berikatan dengan enzim siklooksigenase menggantikan substrat asam arakidonat sehingga prostaglandin tidak akan terbentuk. Tikus yang telah diberikan perlakuan, dan diberikan karegenin sebagai pemicu kimiwinya setelah diistirahatkan selama 30

Gambar. Mekanisme AIS Pada praktikum, hewan uji yang dipakai adalah tikus. Pada tikus pertama, setelah tikus ditimbang, kemudian diberikan CMC-Na secara per oral sebanyak 2.5 ml dan diukur volume kakinya. CMC-Na hanya berfungsi sebagai control atau pembanding bila tikus tidak diberikan obat antiinflamasi. Karena didalam tubuh tikus tidak terdapat obat yang dapat menghambat terbentuknya mediator inflamasi maka efek inflamasi yang ditimbulkan dapat bereaksi dengan cepat , karena larutan CMC-Na tidak dapat memberikan efek antiinflamasi pada tikus, akibatnya volume udemanya tampak lebih besar dari awal mulanya. Tikus yang telah diberikan perlakuan, dan diberikan karegenin sebagai pemicu kimiwinya setelah diistirahatkan selama 30 menit, kemudian diukur volume udemnya selama 150 menit setiap 30 menit sekali dan dicatat sebagai volume udema setelah diberi perlakuan (Vt), Sehingga diperoleh rata-rata menit ke0=0.096; menit ke-30=0.11 menit ke60=0.14; menit ke-90=0.25; menit ke120=0.242dan menit ke-150=0.208. Pada tikus yang kedua, diberikan cortidex sebanyak 0,9 ml. Cortidex berisi dexametason yang merupakan obat golongan kortikosteroid, dimana mekanisme kerjanya

menit, kemudian diukur volume udemnya selama 150 menit setiap 30 menit sekali dan dicatat sebagai volume udema setelah diberi perlakuan (Vt). ). Sehingga diperoleh ratarata menit ke-0=0.0725; menit ke-30=0.1; menit ke-60=0.1075; menit ke-90=0.1175; menit ke-120=0.12dan menit ke-150=0.125. Dari data yang diperoleh dilakukan perhitungan Area Under Curve (AUC) dan % daya antiinflamasi untuk semua kelompok kerja yang kemudian dibuat grafik perbandingan dan dilanjutkan dengan analisis Oneway Anova.

cortidex, renadinac, dan curcumin memiliki efek anti inflamasi

Gambar : Grafik obat vs %DAI Pada grafik diatas menunjukkan menunjukkan % daya antiinflamasi suatu obat dalam mengurangi inflamasi yang terjadi. Dalam grafik terlihat bahwa cortidex mempunyai % DAI yang paling besar bila dibandingkan dengan renadinac dan curcumin, dimana %DAI cortidex yaitu 43,15 %, curcumin mempunyai %DAI sebesar 39,02 % dan renadinac mempunyai %DAI paling kecil yaitu 31,67 %. Sehingga dapat diketahui bahwa cortidex memiliki kemampuan paling kuat dalam mengobati inflamasi, sedangkan renadinac memiliki kemampuan yang lebih lemah dalam mengobati inflamasi bila dibandingkan dengan curcumin. Cortidex mempunyai efek antiinflamasi yang paling besar karena langsung mengikat enzim fosfolipase sehingga menghambat fosfolipid berubah menjadi asam arakhidonat. Sedangkan renadinac dan curcumin bekerja mengikat enzim COX sehingga asam arakidonat tidak dapat menghasilkan prostaglandin. Dilihat dari aksi kerja ketiga obat tersebut, secara teoritis cortidex akan memberikan efek antiinflamasi yang paling kuat daripada renadinac dan curcumin karena cortidex lebih dulu menghambat pembentukan asam arakhidonat, sedangkan renadinac dan curcumin baru bekerja setelah asam arakhidonat terbentuk.

Gambar: Grafik waktu vs volume udem Dari grafik dapat diketahui bahwa pemberian CMC-Na yang berperan sebagai kontro l, volume udemnya paling tinggi, hal ini dikarenakan CMC-Na tidak mempunyai efek anti inflamasi. Pada pemberian renadinak volume udem tertinggi terjadi pada menit antara 90-120. Setelah itu volume udem pada tikus mulai turun. Hal ini berarti renadinax mampu memberikan efek antiinflamasi setelah menit ke-120. Pada pemberian Curcumin peningkatan volume udem terlihat tidak signifikan karena peningkatan volume udem cenderung konstan. Pada pemberian Cortidex sampai menit ke-150 menunjukkan grafik yang terus naik, hal itu berarti cortidex belum memberikan efek anti inflamasi sampai menit ke-150. Untuk curcumin dan cortidex bila dilihat dari kurva, volume udemnya masih naik namun besarnya masih di bawah kontrol dan renadinac. Bila dibandingkan dengan control, volume udem pada cortidex, renadinac, dan curcumin berada di bawah grafik CMC-Na. Hal ini menunjukkan

PEMBAHASAN STATISTIK Dari hasil pengamatan sudah nampak perbedaan apabila dilihat dari rata-rata % daya inflamasi, namun perbedaan ini masih harus dibuktikan apakah perbedaan tersebut berbeda signifikan (berbeda bermakna) atau tidak. Signifikansi ini di amati secara statistik dengan bantuan software SPSS dengan metode analisis One-way Anova(variansi tunggal). Metode analisis ini mempunyai taraf signifikan 5% atau tingkat kepercayaan 95%. Jika diperoleh nilai signifikansi kurang dari 0,05 berarti diketahui menunjukkan data yang di analisa berbeda signifikan, tetapi apabila signifikasi yang didapat lebih dari 0,05 menunjukkan bahwa data tersebut tidak berbeda signifikan atau dengan kata lain efeknya sama saja. Dari analisis statistik yang dilakukan diketahui rata-rata timbulnya efek inflamasi pada pemberian cortidex 43.1540, rendinac 31.6660 dan curcumin 39.0175 Dari hasil pengamatan tabel anova diketahui bahwa besarnya probabilitas atau signifikasinya adalah lebih dari 0,05, dimana pada kolom data signifikan dapat dilihat bahwa hasil yang diperoleh adalah 0,747 sehingga hasil tersebut tidak memberikan perbedaan yang nyata atau dengan kata lain efek anti inflamasi dari ketiga obat tersebut sama saja. Faktor-faktor yang menyebabkan ketidaksignifikannya data dapat disebabkan oleh: 1. Cara pemberian obat yang tidak tepat akan mempengaruhi dosis yang diberikan. Sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu contohnya

adalah kesalahan dalam penyuntikan, mengakibatkan obat yang seharusnya diberikan berkurang, hal tersebut berhubungan dengan dosis yang diberikan. 2. Pemberian dosis yang tidak tepat juga dapat mempengaruhi hasil yang diharapkan. Terkadang dosis yang diberikan bisa melebihi atau kurang dari yang diperhitungkan. 3. Kondisi hewan uji yang sulit diamati apakah sehat atau tidak maka dapat mempengaruhi dalam pemberian obat. Jika hewan uji dalam keadaan sakit maka ini sangat berpengaruh dalam proses pemberian obat. Akibatnya efek yang diharapkan tidak terpenuhi. KESIMPULAN

Obat yang memberikan daya anti inflamasi paling kuat ke yang lemah yaitu, cortidex, renadinac dan curcumin Persen Daya Antiinflamasi pada obat cortidex diperoleh 43,15 %, obat renadinac diperoleh 31,67 % , dan pada obat curcumin diperoleh 39,02 % Dari data analisis ANOVA, diperoleh nilai 0,747 yang berarti tidak signifikan, tidak memberikan perbedaan yang nyata dengan ketentuan signifikan 0,05.

Daftar Pustaka Anonim, 2011. Radang Pengertian Macam Peran Tanda-Tanda Faktor Pengaruh Aspek Cairan Seluler Peradangan.http://fetybyanstec.wordpress.co m/2011/06/22/radangpengertianmacamperant anda2faktor-pengaruhaspek-cairan-selulerperadangandlllll/. Diakses tanggal 2 Mei 2012.

Anonim. 2012. Analgetik Kuat dan Lemah. http://www.script.com/obat analgetik kuat dan lemah/. Diakses tanggal 2 Mei 2012. Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Terapi .Jakarta:Salemba Merdeka Mycek, M.J., Harvey, R.A., dan Champe C.C. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar. Lippincottt’s Illustrated Reviews: Farmacology. Penerjemah Azwar Agoes. Edisi II. Jakarta: Widya Medika Taufik. 2008. Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Herba Patikan Kebo (Euphorbia hirta L) pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar. Tjay, T.H. dan Rahardja, K. 2002. ObatobatPenting: Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi IV. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->