IMUNISASI PADA ANAK

A. Pengertian Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan bayi dan anak dengan memasukan vaksin ke dalam tubuh agar membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT, Campak, dan melalui mulut seperti vaksin polio. Tujuan diberikan imunisasi adalah di harapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu. Di Negara Indonesia terdapat jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah dan ada juga yang hanya di anjurkan, imunisasi wajib di Indonesia sebagaimana telah diwajibkan oleh WHO ditambah dengan hepatitis B. imunisasi yang hanya dianjurkan oleh pemerintah dapat digunakan untuk mencegah suatu kejadian yang luar biasa atau penyakit endemik, atau untuk kepentingan tertentu (bepergian) seperti jamaah haji seperti imunisasi meningitis. Pemberian imunisasi pada anak yang mempunyai tujuan agar tubuh kebal terhadap penyakit tertentu, kekebalan tubuh juga dapat dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya terdapat tingginya kadar antibody pada saat dilakukan imunisasi, potensi antigen yang disuntikan, waktu antara pemberian imunisasi, mengingat efektif dan tidaknya imusasi tersebut akan tergantung dari factor yang mempengaruhinya sehingga kekebalan tubuh dapat diharapkan pada diri anak. Imunisasi sebagai salah satu cara untuk menjadikan kebal pada bayi dan anak dari berbagai penyakit, diharakan anak atau bayi tetap tumbuh dalam keadaan sehat. Pada dasarnya dalam sudah memiliki pertahanan secara sendiri agar berbagai kuman yang masuk dapat dicegah, perthanan tubuh tersebut meeliputi pertahanan nonpesifik dan pertahana spesifik, proses mkanisme pertahanan dalam tubuh pertama kali adalah pertahanan nonspesifik seperti coplemen dan makrofag di mana koplemen dan makrofag ini yang pertama kali akan memberikan peran ketika ada kuman yng masuk kedalam tubuh. Setelah itu maka kuman harus melawan pertahanan yang ke dua yaitu pertahanan tubuh spesifik terdiri dari system humoral dan selular. System pertahanan tersebut hanya bereaksi terhadap kuman yang mirip dengan bentuknya. Sistem

pertahanan humoral akan menghasilkan zat yang disebut immunoglobulin (Ig A, IgM, Ig G, Ig E, Ig D) dan system pertahanan seluler terdiri dari Limfosit B dan Limfosit T, dalam pertahanan spesifik selanjutnya akan menghasilkan satu cell yang disebut sel memori, sel ini akan berguna atau sangat cepat dalam bereaksi apabila sudah pernah masuk kedalam tubuh, kondisi ini yang digunakan dalam prinsip imunisasi.

B.

Jenis-Jenis Immunisasi Yang Wajib

1. Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG, pencegahan imunisasi BCG untuk TBC yang berat seperti TBC selaput otak , TBC Milier (pada seluruh lapangan paru) atau TBC tulang. Imunisasi BCG ini merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah satu kali dan pemberian imunisasi BCG pada umur 0-11 bulan, akan tetapi pada umumnya diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan, kemudian cara pemberian imunisasi BCG melalui intrdermal, efek samping pada BCG dapat terjadi ulkus pada daerah suntikan dan dapat terjadi limfadenitis regional, dan reaksi panas. Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan kuman Micobacterium Tuberculosis yang mempunyai sifat tahan terhadap asam pada pewarnaan sehingga disebut Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di temapat gelap dan lembab (RSPI, 2003). Tuberkulosis (TB) di Indonesia menduduki urutan ketiga sebagai penyebab kematian setelah jantung dan saluran pernafasan (Bambang Supriatno, dkk, 2002). Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang terberat) (Theophilus, 2000). Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini “berhasil,” maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan

Biasanya setelah suntikan BCG diberikan. Jumlah Pemberian: Cukup 1 kali saja. Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka parut. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan. Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati. Lokasi Penyuntikan: Lengan kanan atas. Tanda Keberhasilan: Muncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-6 minggu. sesuai anjuran WHO. maka pada bayi perempuan. mengingat cara menyuntikkannya perlu keahlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. segera setelah lahir si kecil diimunisasi BCG c. . suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Sebab. hingga memerlukan pengulangan. Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkn dengan 4 cc NaCl 0. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau di selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha). Tidak menimbulkan nyeri dan tak diiringi panas.bekas. Usia Pemberian: Di bawah 2 bulan. tak usah cemas. Meski ada juga petugas medis yang melakukan penyuntikan di paha. Bisa saja dikarenakan cara penyuntikan yang salah. Apalagi bila dilakukan di paha. vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. tak perlu diulang (booster). a. b. Jikapun bisul tak muncul. proses menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal. e. Efek Samping: Umumnya tidak ada. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah. 2000). disarankan tes Mantoux (tuberkulin) dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan kuman Mycobacterium tuberculosis atau belum. bayi tidak menderita demam (Theophilus. Penyimpana pada suhu < 5ºC terhidar dari sinar matahari. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya negatif. sisanya dibuang. Biasanya akan sembuh sendiri. Setelah dilarutkan harus segera diapakai dalam waktu 3 jam. d.9%.

antibodi tetap terbentuk. f. meski bisul tak muncul. dan tetanus.Jadi. Dengan kata lain. dan shock. seperti peneumonia.05 ml intra kutan a) merasakan tahan b) benjolan kulit yang pucat dengan poripori yang khas diameter 4-6 mm 2. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Imunisasi pun tak perlu diulang. Cara penyuntikan BCG    Bersihkan lengan dengan kapas air Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang berluban menghadap keatas. Imunisasi DPT (Dipteri.6. g. anak akan mendapat vaksinasi alamiah. kesadaran menurun. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Indikasi Kontra: Tak dapat diberikan pada anak yang berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux positif. dan Tetanus) Imunisasi DPT adalah suatu vaksin yang melindungi terhadap difteri. Vaksin ini diberikan 5 kali pada usia 2. Sedangkan efek berat dapat menangis hebat kesakitan kurang lebih 4 jam. efek ringan seperti pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan. Difteri disebabkan bakteri yang menyerang temggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Toxoid difteri raccun yang dilemahkan Bordittela pertusis bakteri yang dilemahkan 2. Suntikan 0. infeksi alamiah akan selalu ada.4. hanya saja dalam kadar rendah. Efek samping pada DPT mempunyai efek ringan dan efek berat. demam. Terdiri dari : 1. ensefalopati. terjadi kejang. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius. Penyakit ini mudah menular melalui batuk atau bersin. Pertusis.18. bulan dan 5 tahun. karena di daerah endemis TB. pertusis. Cara pemberian imunisasi DPT melalui intramuscular. kejang dan kerusakan otak. Toxoid tetanus racun yang lemahkan (+) aluminium fosfat dan mertiolat .

Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu – dua bulan. Penyakit difteri terdapat di seluruh dunia dan masih menjadi endemik di sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia. Dalam masa inkubasi (2 – 4 hari). Gejala penyakit ini sangat khas. Selain itu racun yang dihasilkan kuman difteri dapat menyerang otot jantung. tonsil. Vaksin mengandung Alumunium fosfat. maka bakteri akan diisolasi di selaput lendir saluran nafas atas. perlu diberikan pengobatan suportif dengan istirahat total 2-3 minggu.Merupaka vaksin cair. kendati jumlahnya makin berkurang. Bakteri disebarkan melalui batuk. bakteri akan mengeluarkan toksin yang menyebabkan nekrosis (kematian sel) pada jaringan sekitar (Gloria Cyber Ministries. pertusis dan tetanus secara bersamaan. Gejalanya adalah demam tinggi dan tampak adanya selaput putih kotor pada tonsil (amandel) yang dengan cepat meluas dan menutupi jalan napas. 2002. Jika sudah masuk ke hidung atau mulut. 2001). bersin. dan genital. jika didiamkan sdikit berkabut. Dilihat secara klinis. Gejala klinisnya tergantung dari tempat terjadinya infeksi. . Dosis 0. Infeksi difteri bisa menimbulkan kematian jika sudah komplikasi pada laring dan trakea. ginjal. Masa inkubasi penyakit ini tergolong cepat yaitu antara 1-6 hari. dan terdapat endapan putih di dasarnya. laringotrakea. status imun dan penyebaran toksin. kulit. pasien harus segera mendapatkan obat antitoksin difteri dan antibiotika penisilin dan eritromisin. jika diberika subkutan menimbulkan peradangan dan nekrosis setempat. Kuman difteri sangat ganas dan mudah menular. faring. Sebelum hal itu terjadi. dan beberapa serabut saraf (Theophilus. Komplikasi biasanya juga merusak jantung. RSPI. dan bicara. b) Pertusis Pertusis adalah radang pernafasan (paru) disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari karena lamanya sakit bisa mencapai 3 bulan lebih atau 100 hari. sistem syaraf dan ginjal. difteri bisa terjadi di hidung.  Penyakit DTP yang BERBAHAYA a) Difteri Penyakit Difteri disebabkan oleh Corynebacterium Diphtheriae yaitu bakteri gram-positif yang mengeluarkan toksin (racun) yang bisa menimbulkan gejala lokal maupun umum. 2003). konjungtiva.5 ml secara intramuscular di bagian luar paha. Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap difteri. Selain itu. laring.

Walaupun . bahkan dikatakan penularannya mencapai 100%. seperti: epistaksis. karena mata dapat bengkak dan berdarah atau bahkan dapat menyebabkan kematian karena kesulitan bernafas(RSUD. Vaksin ini dikembangkan sejak 60 tahun lalu dan mulai dipakai efektif di dunia tahun 1960-an bersama dengan vaksin tetanus dan difteri. Untuk mencegah timbulnya penyakit. Masa inkubasi penyakit ini antara 3-14 hari dengan gejala yang timbul di ahri ke tujuh. sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat saraf. Selain pneumonia. anak perlu mendapat vaksinasi pertusis. Tetanospasmin menempel pada urat saraf disekitar area luka dan dibawa ke system saraf otak serta saraf tulng belakang. Saiful Anwar. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertussis. Masa inkubasi penyakit ini antara 6-20 hari. Jika sudah parah. komplikasi juga menimbulkan kejang dan turunnya kesadaran akibat berkurangnya oksigen yang masuk ke otak. 2001). Penyakit ini cukup berbahaya bila menyerang anak balita. c) Tetanus Penyakit ini disebabkan oleh baksil Clostridium Tetani yaitu bakteri gram-positif dan bersifat anaerob (bisa berbiak di dalam lingkungan tanpa oksigen). 2002). Risiko tertinggi menyerang pada bayi usia enam bulan ke bawah. ulserasi frenulum. enfisema dan bronkiektas. (2) fase serangan (batuk berat disertai nafas berbunyi) serta (3) fase penyembuhan (batuk berkurang dan nafas membaik). DR. panjang dan lama. Penyakit ini sangat menular (melalui kontak langsung) pada populasi yang tidak diimunisasi. Dalam neonatal tetanus gejla mulai pada 2 minggu pertama kehidupan seorang bayi. Dapat juga timbul komplikasi akibat batuk yang hebat. disertai bunyi dan diakhiri dengan muntah. Muntah-muntah yang hebat menimbulkan emasiasi (kurus) dan gangguan keseimbangan elektrolit. Ketiga vaksin itu akhirnya disatukan menjadi vaksin DPT.. Clostridium Tetani yang memproduksi toksin yang yang disebut dengan tetanospamin. Mungkin terjadi prolapsus recti dan hernia karena meningginya tekanan intraabdominal.batuk yang bertahap. Gejala umumnya dibagi dalam tiga fase yaitu (1) fase kataral (gejala infeksi saluran nafas). pendarahan sub konjungtiva. penyakit ini menimbulkan komplikasi radang paru (pneumonia) yang menjadi penyebab sekitar 90% kematian anak usia di bawah tiga tahun. tetapi di beberapa daerah kadangkadang juga oleh Bordetella Parapertusis (Gloria Cyber Ministries.

tetanus merupakan penyakit yang berbahaya. 2000). Penyembuhan umum terjadi selama 4-6 minggu. Selanjutnya di usia 12 tahun. Usia & Jumlah Pemberian: Sebanyak 5 kali. Untuk wanita hamil sebaiknya diimmunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya. di anjurkan setiap interval 5 tahun: 25. misal. memberikan antibiotika penisilin atau tetrasiklin dan memperkuat nutrisi. dan kombinasi DPT. sebabnya suntikan ini harus diberikan sebanyak 3 kali. si kecil dapat . Suntikan pertama tidak memberikan perlindungan apa-apa. jika dapat didiagnosa dan mendapatkan perawatan yang benar maka penderita dapat disembuhkan. Jikapun orangtua tetap khawatir. dan DPT3). Pertusis. bukan berarti imunisasinya gagal. DPT2. Di Indonesia vaksin terhadap Difteri. 4. Sebagai pencegahan. yaitu: kemasan tunggal khusus untuk tetanus. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebgai bagian dari imunisasi DPT. Kejang demam tak membahayakan. Efek Samping: Umumnya muncul demam yang dapat diatasi dengan obat penurun panas. segera bawa si kecil ke dokter. 6 bulan). Imunisasi ulang pertama dilakukan pada usia 1 – 2 tahun atau kurang lebih 1 tahun setelah suntikan imunisasi dasar ke-3. cairan serta kalori. Untuk anak yang memiliki riwayat kejang demam. bisa saja karena kualitas vaksinnya jelek. karena si kecil mengalami kejang hanya ketika demam dan tak akan mengalami kejang lagi setelah demamnya hilang. 35 dst. 30. Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali. Imunisasi ulang berikutnya dilakukan pada usia 6 tahun atau kelas 1 SD. Imunisasi aktif merupakan vaksinasi dasar dalam bentuk toksoid yang diberikan bersama vaksin pertusis dan difteri. anak perlu mendapat imunisasi aktif dan pasif. Pada saat kelas 6 SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan vaksin DT (tanpa P) (Theophilus. Jika demamnya tinggi dan tak kunjung reda setelah 2 hari. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewsa. diberikan imunisasi TT 2. Namun jika demam tak muncul. bentuk kombinasi DT. Pengobatan tetanus dilakukan dengan jalan menetralisasi toksin. dan 1 kali di usia 5 tahun. 3 kali di usia bayi (2. sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang waktu penyuntikan minimal selama 4 minggu sampai 5 minggu (DPT1. 1 kali di usia 18 bulan. Sedangkan imunisasi pasif diberikan dalam bentuk serum antitetanus (ATS profilaksis) pada penderita luka yang berisiko terinfeksi tetanus. imunisasi DTP tetap aman. 1. dan Tetanus terdapat dalam 3 jenis kemasan. membersihkan luka.

 Oral Polio Vaccine (OPV) Jenis vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV) ini paling sering dipakai di Indonesia. POLIO Imunisasi polio memberikan kekebalan terhadap penyakit polio. OPV di Indonesia dibuat oleh PT Biofarma Bandung. Penykit ini disebabkan virus. 3.3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid. Kalaupun terjadi demam.2. meskipun sudah tersedia tetapi Vaksin Polio Inactivated atau Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) belum banyak digunakan.diberikan vaksin DTP asesular yang tak menimbulkan demam. Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut. Selain itu dalam jumlah sedikit terdapat neomisin. hanya sekadar sumeng. Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan . Pemberian vaksin tersebut dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0. menderita kelainan saraf yang betul-betul berat atau habis dirawat karena infeksi otak. streptomisin dan polimiksin B. Vaksin polio ada dua jenis. menyebar melalui tinja/kotoran orang yang terinfeksi. Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV. umumnya sangat ringan. Indikasi Kontra: Tak dapat diberikan kepada mereka yang kejangnya disebabkan suatu penyakit seperti epilepsi. 3. IPV dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan. kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia. dan yang alergi terhadap DTP. Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan. Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan OPV maka dapat menggunakan IPV. Karena IPV tidak hidup dan tidak dapat replikasi maka vaksin ini tidak dapat menyebabkan penyakit polio walaupun diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh yang lemah. IPV harus disimpan pada suhu 2 – 8 C dan tidak boleh dibekukan. Mereka hanya boleh menerima vaksin DT tanpa P karena antigen P inilah yang menyebabkan panas.5 ml diberikan dalam 4 kali berturut-turut dalam jarak 2 bulan. Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi tipe 1. Anak yang terkena polio dapat menjadi lumpuh layu. yakni :  Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) Di Indonesia. Komposisi vaksin tersebut terdiri dari virus Polio tipe 1. 2 dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated).

Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0. Imunisasi dasar diberika sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari atau selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. Imunisasi ini jangan diberika pada anak yang sedang diare berat. Cara pemberiannya melalui mulut. Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari. Vaksin ini diberikan pada bayi baru lahir.18. vaksin hepatitis B.1 ml) Vaksin polio diberikan 4 kali. yaitu strain 1 (brunhilde). pmberian imunisasi polio dapat menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis. Cara memberikan imunisasi polio adalah dengan meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung ke dalam mulut anak. yaitu kombinasi DPT dan polio. Pemberian Air susu ibu tidak berpengaruh pada respon antibodi terhadap OPV dan imunisasi tidak bioleh ditunda karena hal ini. dan fenol merah.yang dilemahkan. Terdapat 2 jenis vaksin yang yang beredar. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG. sedangkan pada dosis berikutnya akan memberikan perlindungan jangka panjang. Tiap dosis sebanyak 2 tetes mengandung virus tipe 1. Dibeberapa Negara dikenal pula Tetravaccine. dan DPT. pipet. antibiotic. Imunisasi ulang diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT. dan 5 tahun.ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. bulan.4. dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak lebih dari 2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg. 2. interval 4 minggu Ada dua jenis vaksin : .6. Setelah diberikan dosis pertama dapat terlindungi secara cepat.     Vaksin yang berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon. dibuat dalam biakkan sel-vero : asam amino. tipe 2.  Vaksin dari virus polio (tipe 1.2. Imunisasi polio Imunnisasi ulang dapt diberikan sebelum anak masuk sekolah (5-6 tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12 thun). dan strain 3 (leon). calf serum dalam magnesium clorida. dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin sabin (kuman yang dilemahkan). strain 2 (lanzig). efek samping yng terjai sangat minimal dapat berupa kejang. Virus dalam vaksin ini setelah diberikan 2 tetes akan menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar lapisan usus yang m engakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang akan masuk.dan 3) Virus polio terdiri atas tiga strain.

Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. 4. Cara Pemberian: Bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV). atau lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). dan sakit otot. tak ada istilah overdosis dalam imunisasi! 2. Kasusnya pun sangat jarang. Kecuali saat lahir. 5. pemberian vaksin polio selalu dibarengi dengan vaksin DTP. Efek Samping: Hampir tak ada. . 3. Indikasi Kontra: Tak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi (di atas 38 0C). muntah atau diare. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. HIV/AIDS. penyakit kanker atau keganasan. Waktu pemberian imunisasi campak pada umur 9 – 11 bulan. Di tanah air. diare ringan. 6 bulan. Namun jumlah yang berlebihan ini tak akan berdampak buruk. Imunisasi Campak Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular. Cara pemberian imunisasi campak melalui subkutan kemudian efek sampingnya adalah dapat terjadi ruam pada tempat suntikan dan panas. 6. mengingat adanya imunisasi polio massal. Penyimpana pada suhu 2-8ºC Jumlah Pemberian: Bisa lebih dari jadwal yang telah ditentukan. dan berikutnya di usia 2. Usia Pemberian: Saat lahir (0 bulan). 4. Ingat. IPV  OPV sabin IgA local  1. Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah satu kali. sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum. serta anak dengan mekanisme kekebalan terganggu. 4. yang digunakan adalah OPV. Tingkat Kekebalan: Dapat mencekal hingga 90%. Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing.

namun kasusnya sangat kecil. maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mumps Rubella). . dalam satu dosis 0. menderita TBC tanpa pengobatan. panas lebih dari 38ºC (Markum. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan.4ºC) yang terjadi delapan sampai sepuluh hari setelah vaksinasi dan berlangsung selama sekitar 24 48 jam (insidens sekitar dua persen). Usia & Jumlah Pemberian: Sebanyak 2 kali. 1 kali di usia 9 bulan. a. Dianjurkan. 2000). 2002). Bila virus vaksin mati sebelum disuntikkan. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak. defisiensi gizi. bisa menyebabkan demam dan diare. 2001) Vaksin campak harus didinginkan. dan ruam selama sekitar satu sampai dua hari (insidens sekitar dua persen) (Wahab dan Julia. Efek Samping: Umumnya tidak ada. Mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan. mungkin terjadi demam ringan dan tampak sedikit bercak merah pada pipi dibawah telinga pada hari ke tujuh sampai hari ke delapan setelah penyuntikan. Pada beberapa anak. Kontra indikasi pemberian imunisasi campak adalah anak yang sakit parah. 2002). penyakit gangguan kekebalan.   Vaksin dari virus hidup (CAM-70 chicchorioallantonik membrane) yang dilemahkan – kanamisin sulfat dan eritromisin berbentuk bekuan kering. pemberian campak ke1 sesuai jadwal. Biasanya demam berlangsung seminggu. Kadang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari. dilarutkan dalam 5cc pelarut aquades. dimana tubuh anak dirangsang untuk membuat antibody yang menimbulkan kekebalan (Dirjen PPM dan PL. b. Vaksin campak diberikan pada umur sembilan bulan.Imunisasi campak diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. 1 kali di usia 6 tahun. penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Imunisasi campak hanya diberikan satu kali suntikan. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. Efek samping imunisasi campak diantaranya adalah demam tinggi (suhu lebih dari 39. Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibody yang diperolah dari ibu. 2002).5 ml subkutan dalam (IDAI. riwayat kejang demam. vaksin tersebut tidak akan mampu menginduksi respon imun (Wahab dan Julia. Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. pada suhu yang sesuai (dua sampai delapan derajat celcius) karena sinar matahari atau panas dapat membunuh virus vaksin campak.

Karena itu. Imunisasi Hepatitis B Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinyha penyakit hepatitis yang kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk cair. Dilanjutkan pada usia 1 bulan. Efek samping pemberian imunisasi Hepatitis B diantaranya rasa sakit pada area suntikan yang berlangsung satu atau dua hari. di ulang 6 bulan kemudian. dengan jarak antar suntikan empat minggu. a.5 ml (Dirjen PPM dan PL. yang dapat menimbulkan kekebalan tetapi tidak menimbulkan penyakit (Markum. 5. vaksin terbuat dari bagian virus bepatitis B yang dinamakan HbsAg.   Disamping pada suhu 2-8ºC. kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga. 2000). dan usia antara 3-6 bulan. tak ada gangguan pada paru-paru dan jantung. Lokasi Penyuntikan: . Dengan syarat. dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua. waktu pemberian hepatitis B pada umur 0-11 bulan. Jumlah Pemberian: Sebanyak 3 kali. bisa sampai 20ºC Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8 ºC Jika ada wabah. Usia Pemberian: Sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir. 2003). juga diberikan imunisasi tambahan dengan imunoglobulin antihepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam. Imunisasi hepatitis B diberikan sebanyak tiga kali. protein ini dapat digunakan sebagai penanda atau marker terjadinya infeksi hepatitis B Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis 3 kali. Cara pemberian imunisasi hepatitis ini adalah intra muskular. selain imunisasi yang dilakukan kurang dari 12 jam setelah lahir. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap VHB. 2002) Vaksin hepatitis akan rusak karena pembekuan. kondisi bayi stabil. immunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan. b. c. diberikan dengan suntikan intramusculer pada paha bagian luar dengan dosis 0. juga karena pemanasan. Vaksin hepatitis paling baik di simpan pada temperatur dua sampai delapan derajat celcius. demam ringan dan reaksi alergi yang serius termasuk ruam (Cave & Mitchell. Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit Hepatitis B. HBsAg (hepatitis B surface antigen) adalah protein yang dilepaskan oleh virus hepatitis B yang sedang menginfeksi tubuh.

di atas 200. Namun dapat dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak berusia setahun. yang disusul demam ringan dan pembengkakan. Tingkat Kekebalan: Cukup tinggi. antara 94-96%.5 ml. maka dalam setahun akan hilang. d.      Vaksin berisi HBsAg murni Diberikn sedini mungkin setelah lahir Suntikan secara intramuscular di daerah deltoid. di atas 500. Tetapi kalau angkanya cuma 100. Penyuntikan di bokong tak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas vaksin. Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8ºC Bayi lahir dari ibu HBsAg (+) diberikan immunoglobulin hepatitis B 12 jam setelah lahir + hepatitis B  Jadwal Imunisasi . Sementara bila angkanya nol berarti si bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi. Umumnya. lebih dari 95% bayi mengalami respons imun yang cukup. Namun reaksi ini akan menghilang dalam waktu dua hari. berarti daya tahannya 8 tahun. dosis 0. Sedangkan pada bayi di paha lewat anterolateral (antero = otot-otot di bagian depan. e.Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. tahan 5 tahun. lateral = otot bagian luar). g. Efek Samping: berupa keluhan nyeri pada bekas suntikan. Bila kadarnya di atas 1000. f. Tanda Keberhasilan: Tak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. setelah 3 kali suntikan. tahan 3 tahun. Indikasi Kontra: Tak dapat diberikan pada anak yang menderita sakit berat.

Hib Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh haemophilus influenza tipe b yang disebabkan oleh bakteri.     Dosis 0. IMUNISASI YANG DIANJURKAN Vaksin-vaksin tersebut adalah Hib. campak DPT. pneumonia (radang paru) dan infeksi tenggorokan. Anak yang mempunyai status imunisasi yang tidak diketahui atau meragukan. Kemudian dilanjutkan setiap tiga sampai empat jam sesuai kebutuhan.6 dan 15-18 bulan. dipertimbangkan untuk pemberian parasetamol 15 mg/kgbb pada bayi setelah imunisasi. Pneumokokus (PCV). Organisme ini bisa menyebabkan meningitis(radang selaput otak). Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasca imunisasi. terutama paska imunisasi DPT. menyebabkan ketidakpastian tentang imunisasi mana yang sudah atau belum diberikan. misalnya dokumentasi imunisasi yang buruk atau hilang. Influenza. 2001).Sebelum bayi mendapat infeksi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berilah imunisasi sedini mungkin segera setelah bayi lahir dan usahakan melengkapi imunisasi sebelum bayi berumur satu tahun (Dirjen PPM dan PL. akan merugikan penerima yang sudah imun (IDAI. Pada.5 ml diberikan Intra Muskular Vaksin dlam bentuk beku kering dan 0. dan Varisela. Polio. rentan dan harus diberikan imunisasi yang diperkirakan belum dapat. MMR. . Hepatitis A. 2000). anak harus dianggap. C. Vaksin ini diberikan 4 kali pada usia 2. 2001). 1. maksimal empat kali dalam 24 jam (IDAI.4. Tifoid. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemberian vaksin hepatitis.5 ml pelarut dalam semprit Disimpan pada suhu 2-8ºC Imunisasi Hib diberikan secara suntikan dibahagian otot paha. keadaan ini.

Sedangkan pemberian ke-4 bisa dilakukan saat anak usia 12-15 bulan atau ketika sudah 2 tahun. Hanya 50% kemungkinan . kemudian berikutnya di usia 4 dan 6 bulan. muntah. nafsu makan berkurang. Reaksi ini terbilang umum dan wajar karena bisa hilang dengan sendirinya. hingga tak sadarkan diri. kurang kesadaran. Imunisasi Pneumokokus (PCV) Jenis imunisasi ini tergolong baru di Indonesia. diare. dan muncul kemerahan pada kulit. Dosis ke-3 dapat diberikan pada usia 2 tahun. 17% penderita akan meninggal dalam waktu 48 jam setelah serangan terjadi. Selain kuman Pneumokokus. kurang dari 380c. Juga boleh diberikan bersama imunisasi lain seperti imunisasi Hepatitis B. Efek Samping: Biasanya muncul demam ringan. Pertussis dan Tetanus (DPT). yakni meningitis (radang selaput otak). vaksin bisa di berikan di usia 12-23 bulan sebanyak dua dosis dengan interval sedikitnya 2 bulan. Penyakit IPD sangat berbahaya karena kumannya bisa menyebar lewat darah (invasif) sehingga dapat memperluas organ yang terinfeksi. tetapi yang paling sering adalah bakteri Pneumokokus. Gejala yang timbul umumnya demam tinggi. rewel. a. Imunisasi ini diberikan dalam satu suntikan bersama imunisasi Difteria. 2. dan pneumonia (radang paru). bisa diberikan di usia 7-11 bulan sebanyak dua dosis dengan interval pemberian sedikitnya 1 bulan. menggigil. IPD Sepintas KILAS  Meningitis Terjadi peradangan di meninges/membran di sekitar otak dan urat saraf tulang belakang. b. mengantuk.Bila hingga 6 bulan belum divaksin. Ketiga penyakit ini disebabkan kuman Streptococcus Pneumoniae atau Pneumokokus yang penularannya lewat udara. bakteremia (infeksi darah). bisa juga disebabkan kuman Haemophilus influenzae type B. PCV atau Pneumococcal Vaccine alias imunisasi pneumokokus memberikan kekebalan terhadap serangan penyakit IPD (Invasive Peumococcal Diseases). Diperlukan imunisasi Pneumokukus untuk mencekal penyakit ini. Usia & Jumlah Pemberian: Dapat diberikan sejak usia 2 bulan. Bila sudah menyerang otak. Atau hingga 12 bulan belum diberikan. tekanan darah rendah.

 Pneumonia Di hari ke-3 serangan akan muncul demam tinggi. kemerahan pada kulit dan bintik merah. bakteremia akan diikuti dengan sepsis. seperti pneumokokus. Usia & Jumlah Pemberian: Dapat diberikan sejak usia 6 bulan yang kemudian diulang setiap tahun. 3. bakteri akan masuk ke aliran darah dan mencapai meningen (selaput otak) sehingga terjadilah infeksi. Awalnya. Efek Samping: Muncul demam ringan antara 6-24 jam setelah suntikan. Sekitar 10-20% penderita pneumonia sudah mengalami bakteremia sehingga sulit sekali diobati. lantaran vaksinnya hanya efektif selama 1 tahun. muncul reaksi lokal seperti kemerahan di lokasi bekas suntikan. Vaksin ini dapat terus diberikan hingga dewasa. suhu badan tinggi. Saat daya tahan tubuh anak menurun. yakni lapisan di rongga di sekitar hidung dan tenggorokan. maka anak sangat rentan terserang infeksi di organ lain. Atau. menggigil. Vaksin Influenza Dapat diberikan setahun sekali sejak umur 6 bulan. virus influenza menyebabkan kerusakan sel-sel selaput lendir saluran pernapasan sehingga penderita sangat mudah terserang kuman lain. rewel. Bila tak ditangani dengan baik. sedangkan pada anak di atas 1 tahun melebihi 50 tarikan napas. kemudian diikuti batuk dan sesak napas. . sakit perut. a. Influenza adalah penyakit infeksi yang mudah menular dan disebabkan oleh virus influenza. Namun tidak usah khawatir karena reaksi tersebut akan hilang dengan sendirinya. yang menyerang saluran pernafasan. Diperkirakan 4 bayi meninggal setiap menit karena penyakit ini. yang menyebabkan radang paru(pneumoni) yang berbahaya. Gejala yang muncul umumnya menggigil. bakteri ini berkolonisasi di mukosa nasofaring. Gejala lain yang bisa muncul adalah tarikan napas yang melebihi angka normal. yakni infeksi di berbagai organ tubuh yang bisa berujung pada kegagalan fungsi organ (multiorgan failure). b. Pada bayi melebihi 60 tarikan. sakit di dada.penderita bisa diselamatkan.  Bakteremia Bila sudah terjadi infeksi Pneumokokus di dalam aliran darah.

Patut diperhatikan. Terlebih pada penyakit influenza. ada kemungkinan virus yang beredar di masyarakat sudah mengalami mutasi (perubahan sifat). 4. Penting kecacatan MMR merupakan diketahui. Sementara pada anak lelaki. Tunggulah hingga 15 menit. Terutama buat anak perempuan. Reaksi dari vaksin ini biasanya baru muncul tiga minggu setelah diberikan. nantinya vaksin MMR mencegah agar tak terserang rubela dan menulari sang istri yang mungkin sedang hamil.c. (campak). tingkat proteksi tak sampai 100%. ditambah dengan Gondongan dan Rubela (Campak Jerman). Diberikan saat anak usia 15 bulan dan diulang saat anak berusia 6 tahun. MMR Memberikan penyakit Mumps kekebalan terhadap serangan Measles (gondongan/parotitis). vaksinasi MMR sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya rubela pada saat hamil. . campak. jangan langsung membawa pulang anak setelah ia diimunisasi MMR. d. atau jenis virus yang sedang menginfeksi anak tak dapat dicegah oleh vaksin influenza yang diberikan. sehingga jika timbul suatu reaksi bisa langsung ditangani. dan Rubella (campak Jerman). berupa bengkak di kelenjar belakang telinga. Tingkat Kekebalan: Sebagaimana imunisasi lainnya. rubela pada pengulangan vaksin dapat menyebabkan janin. Tanda Keberhasilan: Sulit dilihat karena tidak kasat mata. Untuk mengatasinya. berikan anak obat penghilang nyeri.

sekitar usia 5-14 tahun. usia & Jumlah Pemberian: Diberikan 2 kali. mual. Catatan: Bila orangtua khawatir atau anak menunjukkan keterlambatan bicara dan perkembangan lainnya. Sebenarnya. gondongan tak akan berulang. Bila semua proses tumbuh kembangnya tak ada masalah alias normal. Awalnya muncul demam (bisa sampai 39. pemberian imunisasi MMR dapat ditunda hingga anak berusia 3 tahun. vaksin MMR dapat diberikan kepada anak. campak Jerman jarang terjadi dan dampaknya tak sampai fatal. Ada beberapa lokasi yang diserang seperti kelenjar ludah di bawah lidah. Jika belum mendapat imunisasi campak di usia 9 bulan. anak tak akan tertular. terutama usia 2 tahun ke atas sampai kurang lebih 15 tahun. pilek dan . Efek Samping: Beberapa hari setelah diimunisasi. Masa inkubasi sekitar 14-24 hari setelah penularan yang terjadi lewat droplet.50C). yaitu pada usia 15 bulan dan 6 tahun. Hanya gejalanya yang hampir sama seperti flu. nyeri otot atau pegal terutama di daerah leher. lesu dan lemah. Demamnya pun dapat diatasi dengan obat penurun panas yang dosis pemakaiannya sesuai anjuran dokter. Campak. timbul ruam atau bercak merah. Namun tak perlu khawatir karena gejala tersebut berlangsung sementara saja. & Campak Jerman a) Gondongan Penyakit infeksi akut akibat virus mumps ini sering menyerang anak-anak. MMR = Gondongan. serta terjadi pembengkakan di lokasi penyuntikan. dan diulangi pada umur 6 tahun. Sehari kemudian tampak bengkak di bawah telinga sebelah kanan dan kemudian menjalar ke sebelahnya Karena gondongan bersifat self-limiting disease (sembuh sendiri tanpa diobati). b) Campak Jerman Campak Jerman atau rubella berbeda dari campak biasa. Dan jika sudah sekali terkena. Pada anak. batuk. pengobatan dilakukan sesuai gejala simptomatik. disertai pusing.1. 2. Disamping meningkatkan daya tahan tubuh dengan asupan makanan bergizi dan cukup istirahat. di bawah rahang. Biasanya dokter juga akan memberi antibiotik untuk mencegah terjadi infeksi kuman lain. dan di bawah telinga (parotitis). biasanya anak mengalami demam. jika daya tahan tubuh bagus. maka MMR dapat diberikan di usia 12 bulan. Kalaupun ada biasanya terjadi pada anak yang lebih besar.

imuno compromise. Gejala khas terinfeksi bakteri tifus adalah suhu tubuh yang berangsur-angsur meningkat setiap hari. bercak merah yang timbul tak sampai parah dan cepat menghilang dalam waktu 3 hari. kurang 2-3 bulan sebeelumnya mendapat transfuse darah atau tx immunoglobulin. Tapi kalau berat. Namun. Merupakan vaksin hidup yang dilemahkan terdiri dari :    Measles strain moraten (campak) Mumps strain jeryl lynn (parotitis) Rubella strain RA (campak jerman)  Diberikan pada umur 15 bulan . Keduanya efektif mencekal demam tifoid alias penyakit tifus. yaitu infeksi akut yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Pemberian imunisasi .demam tinggi. dan sakit perut. reaksi anafilaksis terhadap telur. dan tidur pasif (tak banyak gerak). Penyakit ini. Tifoid Ada 2 jenis vaksin tifoid yang bisa diberikan ke anak. ulangan umur 12 tahun  Dosis 0. harus diobati hingga tuntas untuk mencegah kekambuhan. lidah kotor. cukup dirawat di rumah. Bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh. banyak minum. lalu menyerang tubuh. mual berat. dan minum antibiotik yang diresepkan dokter. bisa sampai 400c. Biasanya di pagi hari demam akan menurun tapi lalu meningkat di waktu sore/malam. Nafsu makan penderita juga biasanya menurun karena terjadi pembengkakan limpa. pusing. muntah. 5. terkesan acuh tak acuh bahkan bengong. Pada tingkat ringan atau disebut paratifus (gejala tifus). Anak harus banyak istirahat. harus dirawat di rumah sakit. Dia masuk melalui mulut. mengonsumsi makanan bergizi. a. terlebih Indonesia merupakan negara endemik penyakit tifus. dan makanan-minuman yang tidak higienis. terutama saluran cerna. lemas. Selain juga untuk menghindari terjadi komplikasi karena dapat berakibat fatal.5 ml secara subcutan . baik ringan maupun berat. Namun pencegahan tetaplah yang terbaik. yakni vaksin oral (Vivotif) dan vaksin suntikan (TyphimVi). Gejala lainnya adalah mencret. Kontra indikasi : wanita hamil. diberikan minimal 1 bulan setelah suntikan immunisasi lain.

nyeri otot. ruam kulit. anak tetap perlu dibawa ke dokter. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan. Efek tersebut akan hilang dengan sendirinya. Vaksin ini diberikan pada anak usia 1-13 tahun 1 kali dan lebih dari 13 tahun 2 kali. Efek samping Kemerahan di tempat suntikan. Imunisasi varisela Berfungsi memberikan perlindungan terhadap cacar air. nausea (mual). nyeri sendi. Vaksin suntikan diberikan satu kali kepada anak umur 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun. Minta anak untuk tidak menggaruk agar tak menimbulkan bekas luka. Vaksin varicella (vaRiLirix) berisi virus hidup strain OKA yang dilemahkan. yaitu ketika mulai muncul bintik dengan cairan yang jernih. nyeri kepala/pusing. 6. maka tidak menular lagi. ditambah banyaknya lingkungan yang tidak higienis dan kurang terjaminnya makanan yang dikonsumsi anak  Sementara vaksin oral diberikan kepada anak umur 6 tahun atau lebih. dan nyeri perut Umumnya berupa bengkak. Vaksin diberikan secara subcutan penyimpanan suhu 2-8ºC Memberikan kekebalan terhadap cacar air atau chicken pox. Sebaiknya penderita dipisahkan dari anggota keluarga lainnya untuk mencegah penularan. atau batuk. Penularannya sangat mudah karena virusnya bisa menyebar lewat udara yang keluar saat penderita meludah. Awalnya. Atasi rasa gatalnya dengan bedak yang mengandung kalamin. penyakit yang disebabkan virus varicella zooster. Namun yang paling potensial menularkan adalah kontak langsung dengan vesikel. Meski dapat sembuh sendiri. Setelah bintik-bintik itu berubah jadi hitam. Selain untuk mencegah bintik-bintik tidak meluas ke seluruh tubuh. Tingkatkan daya tahan tubuhnya dengan asupan makanan bergizi. Termasuk penyakit akut dan menular. nyeri. bersin. komplikasinya infeksi kulit dan bisa infeksi di otak. . anak mengalami demam sekitar 3-7 hari tapi tidak tinggi. dan (jarang dijumpai). juga agar tak terjadi komplikasi yang bisa berakibat fatal. b. Bisa diberikan pada umur 1 tahuh . Barulah kemudian muncul bintik-bintik. yang ditandai dengan vesikel (lesi/bintik berisi air) pada kulit maupun selaput lendir. ulangan umur 12 tahun. Juga bisa muncul demam. Pengulangan ini perlu mengingat serangan penyakit tifus bisa berulang.

mual dan hilang nafsu makan.5 ml secara IM di daerah deltoid. Jika anak dalam kondisi sakit maka kekebalan yang terbentuk tidak bagus. Vaksin suntikan diberikan sekali pada anak umur 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun. sakit kepala. bakteri. Reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari D. SYARAT PEMBERIAN IMUNISASI Paling utama adalah anak yang akan mendapat imunisasi harus dalam kondisi sehat. Usia & Jumlah Pemberian: Diberikan sebanyak 1 kali yakni pada usia antara 10-12 tahun. lesu. dan kemudian menimbulkan antibodi (kekebalan). Efek Samping: Umumnya tak terjadi reaksi. meski sangat jarang. Efek samping Umumnya. dan kadang-kadang disertai sembelit atau mencret. lelah. 1. Dari penelitian terhadap 100 anak yang diimunisasi varisela. itu pun tergolong ringan. Gejala penyakit yang khas adalah demam tinggi yang dapat berlangsung lebih dari 1 minggu disertai dengan lidah yang tampak kotor. dan merah. . pada anak umur > 2 tahun. dan 6 bulan kemudian. Namun. dapat muncul rasa sakit pada bekas suntikan. Vaksin oral diberikan pada anak umur 6 tahun atau lebih. Immunisasi diberikan pada daerah kurang terpajan. hanya 3 di antaranya yang tetap terkena cacar air. atau bagian dari bakteri ke dalam tubuh. 7. Kemasan vaksin oral terdiri dari 3 kapsul yang diminum sekali sehari dengan selang waktu 1 hari. Reaksi yang terjadi kadang demam. tak menimbulkan reaksi. rasa mual. Vaksin ini tidak diwajibkan dengan pertimbangan bahwa penyakit tifus tidak berbahaya pada anak dan jarang menimbulkan komplikasi. yaitu vaksin oral (Vivotif) dan vaksin suntikan (TyphimVi). Tingkat Kekebalan: Efektivitasnya bisa mencapai 97%. disertai demam ringan. Ada 2 jenis vaksin demam tifoid. Immunisasi dasar 3x pada bulan ke 0. Sebab pada prinsipnya imunisasi itu merupakan pemberian virus dengan memasukkan virus. mulut kering. c.a. Hanya sekitar 1% yang mengalami demam. Hepatitis A Imunisasi inidapat diberikan pada anak usia di atas 2 tahun. untuk membentuk kekebalan yang tinggi. gatal. lesu. anak harus dalam kondisi fit. dosis vaksin (Harvix-inactivated virus strain HM 175) 0. Nah. b.

Imunisasi tidak boleh diberikan hanya pada kondisi tertentu misalkan anak mengalami kelainan atau penurunan daya tahan tubuh misalkan gizi buruk atau penyakit HIV/AIDS atau dalam penggunaan obat obatan steroid. . anak diketahui mengalami reaksi alergi berat terhadap imunisasi tertentu atau komponen imunisasi tertentu.

Apabila status HbsAg-B ibu positif. interval HB-1 dan 2 BCG HB-2 adalah 1 bulan. . Untuk bayi yang lahir di RB/RS polio oral diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain) 1 bulan 0-2 bulan Hepatitis B. dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-1.5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1.Umur Saat lahir vaksin Keterangan Hepatitis B.HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah 1 lahir. 2 bulan DTP-1 DTP-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu. Apabila BCG akan diberikan pada umur > 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu dan BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif. Polio-1 4 bulan DTP-2 Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1 DTP-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T). DTP-1 diberikan secara kombinasi dengan Hib-1 (PRP-T) Hib-1 Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0. dapat dipergunakan DTwp atau DTap. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0.5 ml sebelum bayi berumur 7 hari. Polio-0 Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama.Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan. BCG dapat diberikan sejak lahir.

campak-2 tidak perlu diberikan. 5 tahun DTP-5 Polio-5 DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap) Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5. Hib-4 Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRPOMP).Hib-2 Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-2 Polio-2 6 bulan Hib-3 DTP-3 Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2 DTP-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-T). interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan. umur 6 tahun. 15-18 bulan MMR Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun. . Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk umur > 2 tahun. Vaksin HepA direkomendasikan pada umur > 2 tahun. Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan Polio-3 Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3 Hepatitis B. 18 bulan Polio-4 2 tahun 2-3 tahun Tifoid Hepatitis A DTP-4 DTP-4 (DTwp atau DTap) diberikan 1 tahun setelah DTP-3. campak-2 merupakan program BIAS pada SD kelas 1. diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan. MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan. Apabila telah mendapatkan MMR pada umur 15 bulan. terbaik 5 bulan. Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4. Untuk mendapatkan 3 respons imun optimal. 9 bulan Campak-1 Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan. Apabila mempergunakan Hib-OMP.HB-3 diberikan umur 6 bulan.

Varisela Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun. Daftar Puataka Marimbi. 10 tahun MMR Diberikan untuk catch-up immunization pada anak yang belum mendapatkan MMR-1. vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk mendapatkan imunitas selama 25 tahun. Tumbuh Kembang. dT/TT Menjelang pubertas. 2010.6 tahun. Status Gizi. dan Imunisasi Dasar Pada Balita. Nuha Medika : Yogyakarta . Hanung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful