BAB I PENDAHULUAN

1.1 Maksud 1.1.1 Mengetahui dan memahami berbagai jenis bentang alam fluvial yang ada di bumi 1.1.2 Mengetahui dan memahami berbagai jenis kenampakan bentang alam fluvial di muka bumi 1.1.3 Memahami dan mengetahui pola pengaliran sungai 1.1.4 Memahami dan mengetahui bagaimana material-material di sekitar sungai dapat terbentuk 1.1.5 Mengetahui dan memahami jenis-jenis material pembentuk sungai 1.1.6 Memahami dan mengetahui potensi-potensi dari sungai yang diamati 1.1.7 Memahami dan mengetahui jenis sungai tersebut berdasarkan kenampakan/morfologinya di alam 1.1.8 Mengetahui litologi apa saja yang terdapat di sungai tersebut

1.2 Tujuan 1.2.1 Dapat memahami dan mengetahui pola pengaliran sungai 1.2.2 Dapat memahami dan mengetahui bagaimana material-material di sekitar sungai dapat terbentuk 1.2.3 Dapat mengetahui dan memahami jenis-jenis material pembentuk sungai 1.2.4 Dapat memahami dan mengetahui potensi-potensi dari sungai yang diamati 1.2.5 Dapat memahami dan mengetahui jenis sungai tersebut berdasarkan kenampakan/morfologinya di alam 1.2.6 Dapat mengetahui litologi apa saja yang terdapat di sungai tersebut

1

1.2.7 Dapat mengetahui dan memahami berbagai jenis bentang alam fluvial yang ada di bumi 1.2.8 Dapat mengetahui dan memahami berbagai jenis kenampakan bentang alam fluvial di muka bumi

1.3 Waktu Pelaksanaan 1.3.1 Praktikum Laboratorium: a. Tempat b. Hari, tanggal c. Waktu : Ruang 202 – Teknik Geologi Undip : Rabu, Maret 2011 : 15.30-17.30 WITA

2

Adanya air permukaan sangat dikontrol oleh adanya air hujan. Dalam bentan ala mini agen utama yang menjadi penyebab 3 . Proses fluviatil ini bervariasi intensitasnya. Proses fluviatil : semua proses yang terjadi di alam baik fisika. sedangkan besar kecilnya jumlah air permukaan dipengaruhi oleh beberapa faktor.Proses erosi Proses erosi menurut Holy. maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk permukaan bumi. yaitu erosi oleh air. proses fluviatil akan menghasilkan suatu bentang alam yang khas sebagai akibat tingkah laku air yang mengalir di permukaan.Jenis Litologi e.Kelerengan d. 1980.Jumlah vegetasi c. baik yang merupakan air yang mengalir secara terpadu (sungai).BAB II DASAR TEORI 2. yang disebabkan oleh aksi air permukaan. berdasarkan agennya erosi terbagi menjadi empat macam. maupun air yang tidak terkonsentrasi ( sheet water).1 Proses Fluviatil Bentang alam fluvial merupakan satuan geomorfologi yang pembentukannya erat hubungannya dengan proses fluviatil. erosi oleh gletser dan erosi oleh salju.Nilai curah hujan b. Perlu diketahui bahwa air permukaan merupakan salah satu mata rantai dari siklus hidrologi. Bentang alam yang dibentuk dapat terjadi karena proses erosi maupun karena proses sedimentasi yang dilakukan oleh air permukaan. yaitu : a. erosi oleh angin.Iklim Macam-macam Proses Fluviatil 1.

Erosi yang berlangsung terus hingga suatu saat akan mencapai batas dimana air sungai sudah tidak mampu mengerosi lagi dikarenakan sudah mencapai erosion base level. Abrasi. yaitu penggerusan terhadap batuan yang dilewatinya. Sungai dapat mengerosi batuan sedimen yang dilaluinya. Quarrying yaitu pendongkelan batuan yang dilaluinya. memperdalam dan memperlebar sungai dengan cara. Erosion base level ini dapat dibagi menjadi ultimate base level yang base levelnya berupa permukaan air laut temporary base level yang base levelnya lokal seperti permukaan air danau. Scouring yaitu penggerusan dasar sungai akibat adanya ulakan sungai. d. erosi dapat dibedakan menjadi : a. yaitu erosi yang arahnya mendatar dan dominan terjadi pada bagian hilir sungai. b.erosi paling dominan adalah air. Erosi lateral. rawa. erosi yang arahnya tegak dan cenderung terjadi pada daerah bagian hulu dari sungai menyebabkan terjadinya pendalaman lembah sungai. b. Hydraulic Action yaitu kemempuan air untuk mengangkat dan memindahkan batuan atau material-material sedimen dengan gerakan memutar sehingga batuan pecah dan kehilangan fragmen e. Erosi vertikal. tetapi sangat efektif dalam pelapukan dan erosi Berdasarkan arahnya. Solution solution dalam proses erosi berjalan lambat. c. dan sejenisnya. yaitu: a. misalnya pada daerah cut off slope pada Meander. menyebabkan sungai bertambah lebar . 4 . Korosi yaitu terjadinya reaksi terhadap batuan yang dilaluinya. memotong lembah.

yaitu mekanisme bed load dan suspended load . dibedakan menjadi beberapa cara. : material terangkut. dibedakan menjadi : Suspension : material diangkut secara melayang dan bercampur dengan air sehingga Solution menyebabkan sungai menjadi keruh. Apabila tenaga angkut semakin berkurang. Sungai mengangkut material hasil erosinya secara umum melalui 2 mekanisme. Proses Transportasi adalah proses perpindahan / pengangkutan material oleh suatu tubuh air yang dinamis yang diakibatkan oleh tenaga kinetis yang ada pada sungai sebagai efek dari gaya gravitasi Dalam membahas transportasi sungai dikenal istilah : a. Erosi akan lebih efektif bila media yang bersangkutan mengangkut bermacam-macam material.Intensitas erosi pada suatu sungai berbanding lurus dengan kecepatan aliran sungai tersebut. Mekanisme suspended load : material-material terangkut dengan cara melayang dalam tubuh sungai. 3. Saltation : material terangkut dengan cara menggelinding pada dasar sungai. stream capacity : jumlah beban maksimum yang mampu diangkat oleh aliran sungai b. stream competance : ukuran maksimum beban yang mampu diangkut oleh aliran sungai. Erosi memiliki tujuan akhir meratakan sehingga mendekati ultimate base level. 2. antara lain : Traction : material Rolling yang diangkut terseret di dasar sungai. a. Mekanisme bed load : pada proses material-material tersebut terangkut sepanjang dasar sungai. maka 5 . b. Proses sedimentasi Proses sedimentasi terjadi ketika sungai tidak mampu lagi mengangkut material yang dibawanya. larut dalam air dan membentuk larutan kimia. : material terangkut dengan cara menggelinding di dasar sungai.

rawa dan sejenisnya. sungai. Pola pengaliran dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Ukuran material yang diendapkan berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut.material yang berukuran kasar akan diendapkan terlebih dahulu baru kemudian diendapkan material yang lebih halus. danau.1 pola pengaliran Bentuk-bentuk tubuh air disebut pengaliran / penyaluran (drainage). meliputi laut. Tiap-tiap macam pola pengaliran dapat bervariasi. sehingga semakin ke arah hillir ukuran butir material yang diendapkan semakin halus. Satu sungai atau lebih beserta anak sungai dan cabangnya dapat membentuk suatu pola atau sistem tertentu yang dikenal sebagai pola pengaliran / pola penyaluran (drainage pattern).2 Pola Pengairan Gambar 2. 2. dan variasi tersebut antara lain disebabkan oleh 6 .

Pola ini merupakan perkembangan dari pola radier. dengan anak-anak sungai dan cabang-cabangnya mempunyai arah yang tidak beraturan. b. daerah metamorf yang kompleks. Sering dijumpai pada daerah kubah berstadia dewasa. Multi basinal atau sink hole adalah pola pengaliran yang tidak sempurna. adalah pola pengaliran dimana sungai atau anak sungainya mempunyai penyebaran yang melingkar.adanya struktur dan variasi batuan dimana pola pengaliran itu terdapat. Annular. daerah batuan beku masif. Pola pengaliran ini berkembang pada daerah karst atau daerah batugamping. umumnya pada daerah patahan yang bersistem (teratur). Sungai utamanya biasanya memanjang searah dengan jurus perlapisan batuan. pembentukan sungai utama lebih disebabkan oleh control struktrur dan pembentukan anak sungai lebih disebabkan oleh kontrol litologi. Pola penyaluran ini melingkar mengikuti jurus perlapisan batuannya. namun biasanya pola aliran ini akan terdapat pada daerah punggungan suatu antiklin. daerah lipatan. adalah pola pengaliran dimana arah 7 . kadang nampak di permukaan bumi. d. Umumnya berkembang pada batuan yang resistensinya seragam. batuan sedimen datar. Anak-anak sungai akan dominan terbentuk dari erosi pada batuan sedimen yang mempunyai resistensi rendah. Dendritik pola pengaliran dengan bentuk seperti pohon. adalah pola pengaliran yang mempunyai pola memusat atau menyebar dengan 1 titik pusat yang dikontrol oleh kemiringan lerengnya. yang dikenal sebagai sungai bawah tanah. Jadi secara umum . Radial. f. Trellis. e. Kontrol struktur tidak dominan di pola ini. atau hampir datar. Rectanguler : pola pengaliran dimana anak-anak sungainya membentuk sudut tegak lurus dengan sungai utamanya. Contorted. Umumnya terbentuk pada batuan sedimen berselang-seling antara yang mempunyai resistensi rendah dan tinggi. adalah bentuk seperti daun dengan anak-anak sungai sejajar. c. Macam-macam pola pengaliran : a. kadang tidak nampak.

2. maka alirannya memberikan kesan teranyam. b.3 Macam-macam Bentang Alam Fluviatil a. Bar deposit Gambar 2. terbentuk karena adanya erosi yang berlebihan pada bagian hulu sungai sehingga terjadi pengendapan pada bagian alurnya dan membentuk endapan gosong tengah. Kontrol struktur yang bekerja berupa pola lipatan yang tidak beraturan yang memungkinkan terbentuknya suatu tikungan atau belokan pada lapisan sedimen yang ada. Karena adanya endapan gosong tengah yang banyak. alurnya luas dan dangkal.alirannya berbalik / berbalik arah. Sungai Teranyam (Braided Stream) terbentuk pada bagian hilir sungai yang memiliki slope hampir datar – datar.2 Bar Deposit 8 . Keadaan ini disebut juga anastomosis(Fairbridge.1968).

Kipas Aluvial (alluvial fan) Gambar 2. sehingga terjadi pengendapan material yang cepat. pasir. berupa suatu onggokan material lepas. Endapan pada tengah alur sungai disebut gosong tengah (channel bar) dan endapan pada tepi disebut gosong tepi (point bar). berbentuk seperti kipas. Dataran banjir (Floodplain) dan Tanggul alam (Natural levee) Sungai stadia dewasa mengendapkan sebagian material yang terangkut saat banjir pada sisi kanan maupun kiri sungai. yang dikenal sebagai kipas aluvial. biasanya terdapat pada suatu dataran di 9 . d. dan masuk ke dataran rendah.adalah endapan sungai yang terdapat pada tepi atau tengah dari alur sungai. c. berangkal.Bar deposit ini bisa berupa kerakal.3 alluvial fan Bila suatu sungai dengan muatan sedimen yang besar mengalir dari bukit atau pegunungan. dll. seiring dengan proses yang berlangsung kontinyu akan terbentuk akumulasi sedimen yang tebal sehingga akhirnya membentuk tanggul alam. maka akan terjadi perubahan gradien kecepatan yang drastis.

daerah alirannya disebut sebagai Meander Belt. 10 .4 meander Bentukan pada dataran banjir sungai yang berbentuk kelokan karena pengikisan tebing sungai. Hal ini dikarenakan umumnya kipas aluvial terdiri dari perselingan pasir dan lempung sehingga merupakan lapisan pembawa air yang baik. aliran sungai melintasinya dengan tidak teratur sebab adanya pembelokan aliran Pembelokan ini terjadi karena ada batuan yang menghalangi sehingga alirannya membelok dan terus melakukan penggerusan ke batuan yang lebih lemah. e. Meander Gambar 2. Biasanya pada daerah kipas aluvial terdapat air tanah yang melimpah. Meander ini terbentuk apabila pada suatu sungai yang berstadia dewasa/tua mempunyai dataran banjir yang cukup luas.depan suatu gawir.

2. Selanjutnya akan dibahas dalam bentang Alam Pantai dan Delta. sebagian dari bentang alam fluvial tidak terekspresikan. Delta adalah bentang alam hasil sedimentasi sungai pada bagian hilir setelah masuk pada daerah base level.f. misalnya gosong sungai.5 danau tapal kuda terbentuk jika lengkung meander terpotong oleh pelurusan air. terutama yang berukuran kecil. Danau tapal kuda Gambar 2. ditandai oleh kontur yang meruncing ke arah hulu sungai. misalnya kipas aluvial. g. Sebagian bentang alam yang berukuran besar dapat terekspresikan dalam peta topografi. tanggul alam.4 Bentang Alam Fluvial dalam Peta Topografi Dalam peta topografi standar. 2.5 Aplikasi 11 . Dalam peta topografi alur sungai tampak jelas dengan pola kontur yang khas.

12 . dan material pasir batu ( BG. khususnya di sekitar aliran sungai. yang akan memberikan kontribusi pemikiran dalam rencana pengembangan wilayah. Analisa tersebut juga akan memberikan informasi tentang stadia daerah maupun stadia erosi daerah yang terkait. dan tanah longsor. Analisa terhadap bentang alam ini dapat memberikan informasi tentang kondisi geologi suatu daerah. air minum. dataran banjir. dan sejenisnya. gol C) yang dapat dijadikan sebagai bahan bangunan. daerah aliran sungai juga bisa menjadi sesumber bencana seperti banjir. Daerah sekitar aliran sungai merupakan daerah yang potensial sebagai penyedia air irigasi. yang akan terekspresikan dalam pola penyaluran dan bentukan bentang alam lokal. seperti kipas alluvial.Daerah-daerah yang termasuk bentang alam fluvial merupakan daerah yang sangat potensial untuk dimanfaatkan bagi kehidupan manusia.

Gunting 3.Peta Topografi .3 Diagram Alir a.Pensil dan Karet Penghapus .Pulpen/spidol/rapido/pilot DR .1. Membuat delineasi pertama Mulai Penentuan jenis struktur fluvial dan denudasional yang terdapat pada peta topografi Warnai setiap struktur yang berbeda dengan pensil warna diatas kalkir Berikan warna biru tua pada sungai besar 13 .BAB III METODOLOGI 3. Alat .Kertas millimeter blok .2 Bahan .Kertas kalkir minimal ukuran A4 dua kertas 3.Isolasi bening .Penggaris .Pensil warna minimal 24 warna .

Membuat sayatn dan delineasi kedua Mulai Penentuan jenis struktur geologi yang terdapat pada peta topografi Warnai setiap struktur yang berbeda dengan pensil warna diatas kalkir Berikan warna hijau tua pada sungai Berikan warna Coklat pada struktur denudasional Berikan warna ungu tua pada struktur renggang Berikan warna ungu tua pada struktural rapat Berikan 5 sayatan pada setiap struktural dengan syarat 5 kontur 14 .1 diagram alir membuat delineasi pertama b.Berikan warna merah pada struktur denudasional Berikan warna biru muda pada struktur sungai kecil Gambar 3.

Hitung masing masing sayatan berdasarkan morfometri Gambar 3.2 diagram alir pembuatan delineasi kedua c. profil normal dan eksagrasi Mulai Penentuan Sayatan yang melewati ketiga struktural dengan syarat sayatan 15cm atau lebih Garis sayatan tersebut di kertas kalkir mengunakan penggaris dan pensil Tentukan berapa banyak kontur naik dan turunnya Gambarkan Profil Normal di milimeter blok dengan skala 1 : 25000 Gambarkan Profil eksagrasi di milimeter blok dengan skala 1 :12500 Berikan keterangan wilayah yang dilewati oleh sayatan kedalam milimeter blok 15 . membuat sayatan.

Penyusunan Laporan Pembuatan Poster Selesai Gambar 3.3 diagram alir membuat profil sayatan normal dan eksagrasi 16 .

5 x 25000 = 12500 cm = 125 m = = 50% D5 = 0.33% % kemiringan lereng rata – rata = pegunungan sanga terjal) = 61. 1983).67% ( Daerah initermasuk dalam daerah pegunungan sangat terjal.5 Ik = 1 2000 x 25000 = 12.4 x 25000 = 10000 cm = 100 m = = 62. 17 .4 x 25000 = 10000 cm = 100 m =  = 62.( van zuidam.5 x 25000 = 12500 cm = 125 m = = 50%  D3 = 0.3 x 25000 = 7500 cm = 75 m = = 83.5% D2 = 0.5 = 62.5  D1 = 0. Satan daerah struktural sangat rapat ∆h = 5 x 12.5 %     D4 = 0.BAB IV MORFOMETRI 1.

Satuan daerah fluvial ∆h = 1 x 12. 3.5  D1 = 0.5 = 12. 1983).5 = 62.2. Satuan daerah rapat ∆h = 5 x 12.5 x 25000 = 62500 cm = 625 m = = 10 % D3 = 1.5 Ik = 1 2000 x 25000 = 12.5 18 .6 x 25000 = 15000 cm = 150 m = = 41.51 % Daerah ini merupakan daerah berbukit terjal(van zuidam.3 x 25000 = 57500 cm = 575 m = = 10.67%      D2 = 2.0 x 25000 = 25000 cm =250 m = = 25 % D4 = 2.87 % D5 = 1 x 25000 = 25000 cm = 250 m = = 25 % % kelerengan rata – rata = = 22.

5 x 25000 = 12500 cm = 125 m = = 10% % kelerengan rata – rata = terjal) 37.Ik = 1 2000 x 25000 = 12.5%  D1 = 0.3 x 25000 = 7500 cm = 75 m = = 83.9 x 25000 = 27500 cm = 275 m = = 4.7 x 25000 = 175 cm = 175 m = = 12.67% (berbukit Jadi daerah ini termasuk daerah berbukit tejal ( van zuidam.55%  D1 = 0.5  D1 = 0. 1983) 19 .33%  D1 = 0.3 x 25000 = 7500 cm = 75 m = = 83.33%  D1 = 0.

Karena daerah ini ada beberapa darah yang datar tiba tiba langsung berdekatan dengan daerah dengan kontur rapat. 1983). Deliniasi struktural sangat rapam Deliniasi struktural sangat rapat dicirikan dengan kenampakan pada peta dengan kontur yang sngat rapat.BAB V PEMBAHASAN 1. daerah ini merupakan tebing – tebing yang terjal kemungkinan dari tebing – tebing ini lah terjadi pengangkatan berupa struktur geologi entah itu sesar ataupun yang lain sebagainya. Pada deliniaasi struktural sangat rapat diperoleh presentase kelerengan sebesar 61. karena daerah ini memiliki struktur yang memungkinkan adanya 20 . entah itu sesar ataupun lipatan yang membuat daerah ini akan menjadi daerah yang berbeda denga daerah disekitarnya. seperti pada daerah disekitar peta adalah daerah gunung djengut. Darah ini memiliki pola pengaliran pengairan yang pinatte karena pengairann dipola ini anak sungainya membentuk sudut lancip dari aliran sungai utammanya.5%. aliran sungai ini memang wajar di jumpai pada daerah yang memeiliki bukit dengan lerng terjal. ( van zuidam. Dalam daerah ini terjadi prosees pengangkatan oleh gaya endogen. Perkiraan litologi di daerah ini adalah tersusun oleh batuan sedimen. deliniasi ini diberi warna ungu tua. karena daeerah ini merupakan daerah yang kemungkinan dikontrol oleh struktur geologi. kemudian deliniasi ini mencirikan pada daerah tersebut memiliki kelerengan yang curam. Daerah initermasuk dalam daerah pegunungan sangat terjal.

Deliniasi struktural rapat Ciri daerah ini adalah memiliki kontur yang tidak terlalu rapat.lipatan. Pola pengaliran pada daerah berdeliniasi rapat adalah pinete. 2. 51%. Sehingga pada proses ini menghasilkan presentasse kelerengan yanng bernilai 10% sampai 41. pada stadia ini daerah pinggiran sungai adaah berbentuk lereng. daerah ini pada kenampakan aslinya memiliki lereng yang tidak terlalu curam. lipatan atau sesar. Potensi negative longsor dan gempa bumi. karena daerah memiliki sungai dengan stadia muda. Tata guna lahan untuk perkebunan. hal ini bisa berupa rekahan. dan untuk daerah resapan air. proses endogen ini berupa gaya yang dikontrol oleh tenaga dari dalam bumi. batuan ini 21 . 1983). dan juga memungkinkan adanya patahan sehingga membentuk bukit dengan slope curam.6% dengan rata – rata presentase kelerengan ini bernilai 22. sesar. kemudian daerah ini dalam peta diwarnai dengan warna ungu muda. kelerengan dengan nilai seperti ini dapat di golongkan dalam daerah berbukit terjal(van zuidam. Dan juga daerah ini mempunyai Pada daerah deliniasi rapat ini proses yang terjadi adalah proses endogen dan eksogen. dan juga pada daerah ini terdapat anak anak sungai yanng membentuk sudut lancip terhadap daerah sungai utamanya. fegetasi yang ada bias dimanfaatkan sebagai pakaan hewan dan kayu bakar. Daerah ini merupakan daerah dengan litologi batuan berupa batuan yang cukup bisa membentuk patahan ataupun kemungkinan adalah batuan sedimen. Potensi positif daerah ini adalah untuk hutan lindung.

tetapi lebih dominan erosi lateral. Sungai mengalir pada zona – zona lemah. dan sudah ada point bar dan chanel bar. 22 . daerah ini merupakan daerah yang terjadi akibat proses eksogen dan endogen. Daerah ini tidak dominan di kontrol oleh struktur geologi. daerah ini menggambarkan daerah – daerah dengan aliran sungai pada tampakan sesungguhnya. rekahan atau pun batuan dengan resistensi lemah sehingga daearah daerah ini teraliri oleh air. kemudian material – material ini di endapkan di daerah pinggir sungai membentuk pint bar ataupun daerah daerah tengah sungai membentuk chanel bar. dan daerah ini sudah ada meander. dan untuk daerah resapan air.67%. Pada deliniasi ini diperoleh presentase kelerengan 37. Daerah sungai ini juga sudah muai terbentuk meander sungai. sehingga daerah daerah ini merupakan daerah zona lemah yang terdapat pada peta atau tampakan sesungguhnya. erosi yang terjadi masih vertikal. Potensi positif hutan lindung. Deliniasi fluvial Ciri – ciri daerah ini adalah memimiliki tampakan seperti kontur pada peta akan tetapi memotong kotur.Tata guna lahan untuk perkebunan. proses endogen dari derah ini tidak jauh dari proses tektoik. sedangkan proses eksogen dari daerah ini dipengaruhi oleh air. fegetasi yang ada bias dimanfaatkan sebagai pakaan hewan dan kayu bakar. air mengikis lereng – lereng yang ada di samping sungai ini. 3. dapat berupa sesar. Pola pengairan sunngai ini adalah pola pengairan dendritis karena sungai berbentuk mnjari dengan satu sungai utama dengam banyak anak sungai. Daerah ini tergolong dalam berbukt trjal. Dari jenis pola pengairan yang dendritis kemungkinan daerah ini merupakan daerah yang memiliki resistensi yang sama atau malah batuan dari daerah ini adalah homogen. Potensi negative longsor dan gempa bumi. warna dari daerah fluvial pada peta adalah berwarna hijau.

potensi negative banjir. Tata guna lahan dapat digunakan sebagai irigasi.Perkiraan litologi daerah ini adalah batuan sedimen dengan resistensi di setiap daerah sama atau malah mungkin homogen. potensi positif dapat digunakan sebagai bahan tambang galian c. 23 .

tataguna lahan daeah ini adalah untuk permukiman. Pada daerah denudesional dicirikan berwarna coklat. Litologi batuan adalah batuan sedimen. pola pengaliran pengairan termasuk dalam pinatte. fegetasi yang ada bias dimanfaatkan sebagai pakaan hewan dan kayu bakar. pertanian dan jalan.1 Kesimpulan Pada daaeerah struktural berkontur rapat dicirikan berwarna ungu tua pada peta. Dengan stadia sungai rata – rata dewasa menuju tua. fegetasi yang ada bias dimanfaatkan sebagai pakaan hewan dan kayu bakar. 1983). ( van zuidam. dan untuk daerah resapan air. pola pengaliran pengairan termasuk dalam pinatte. litologi daerah ini kemungkinan batuan beku dan atau batuan sedimen. dengan litologi batuan batuan sedimen atau batuan beku yang terlapukan.BAB VII PENUTUP 7. daerah ini memiliki presentase kelerengan 22. litologi batuan daerah ini berupa batuan beku dan atau batuan sedimen. Pola pengairan sunngai ini adalah pola pengairan dendritis. kelerengan dengan nilai seperti ini dapat di golongkan dalam daerah berbukit terjal(van zuidam. Daerah ini termasuk dalam daerah pegunungan sangat terjal. Pada daerah fluvial dilambangkan dengan daerh berwarna hijau. 24 . 51%. Tata guna lahan untuk perkebunan. Pada daerah struktural agak rapat dicirikan dengan warna ungu muda pada peta. daerah ini memiliki presentase kelerengan bernilai 61. Potensi negative longsor dan gempa bumi. dan untuk daerah resapan air. Tata guna lahan untuk perkebunan. 1983). Potensi negative longsor dan gempa bumi. daerah ini memiliki presentase kelereengan 37.67% dan Daerah ini tergolong dalam berbukt trjal. Potensi positif daerah ini adalah untuk hutan lindung. Potensi positif daerah ini adalah untuk hutan lindung.5%.

3 penggunaan alat sebaiknya harus efektif dan efisien 7. 7.2 Saran 7.1 Praktikan harus menguasai materi sebelum praktik 7.2.dan serpihan batuan beku. potensi positif dapat digunakan sebagai bahan tambang galian c. potensi negative banjir.2 Keselamatan harus diutamakan pada saat praktikum lapangan 7. Tata guna lahan dapat digunakan sebagai irigasi.4 Patuhi tata tertib pada saat praktikum laboratorium ataupun di lapangan 25 .2.2.2.

DAFTAR PUSTAKA http://www.com/2009/05/bentang-alam-fluvial.00 http://www.blogspot.com/2008/12/bentang-alam-fluvial.html diakses pada 30 april 2012 pada jam 23.wordpress.com/2010/11/21/bentang-alam-fluvial/ diakses pada 30 april 2012 jam 21.aryadhani.03 26 .alfaruka.00 http://geologikita.blogspot.html diakses pada 30 april 2012 diakses pada 23.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful