P. 1
makalah belajar

makalah belajar

|Views: 259|Likes:
Published by Benny Fitra

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Benny Fitra on Jun 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2014

pdf

text

original

MAKALAH PSIKOLOGI MANAJEMEN TENTANG BELAJAR

Oleh: Benny Fitra, B.Ed

A. Pendahuluan Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya pada guru. Kekeliruan/ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang Berkaitan dengannya akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik. B. Definisi dan Contoh Belajar 1. Definisi belajar Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghapalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajar. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru. Di samping itu, ada pula yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis. Persepsi ini biasanya akan merasa puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu, walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat dan tujuan keterampilan tersebut. Untuk menghindari ketidaklengkapan tersebut penulis akan melengkapinya dengan beberapa definisi para pakar, diantaranya:

1

- Skinner, yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology The Teaching-Learning Process, belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Berdasarkan eksperimennya B.F Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforce). - Chaplin dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam Rumusan. Rumusan pertama berbunyi belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus. - Hintzman dalam bukunya menyatakan belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. - With dalam bukunya menyatakan belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. - Reber dalam kamus susunannya yang tergolong modern, Dictionary of psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah proses memperoleh pengetahuan, biasanya sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif. Kedua belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperbuat. Dalam definisi ini terdapat empat macam Istilah untuk memahami proses belajar. 1. Relatively permanent, yang secara umum menetap 2. Response potentiality, kemampuan bereaksi 3. Reinforce, yang diperkuat 4. Practice, Praktek atau latihan - Biggs dalam Pendahuluan Teaching for Learning mendefinisikan belajar dalam 3 macam Rumusan, yaitu Rumusan kuantitatif, Rumusan institusional, Rumusan kualitatif. - Hilgar dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975) mengemukakan. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon

2

pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagianya). - Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahwa: Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga pernbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. - Morgan dalam buku Introduction to Psychology (1978) mengemukakan: Belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. - Witherington, dalam buku Educational Psychology, mengemukakan: Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian. Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa: a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi. c. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Ini berarti kita harus mengenyampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya berlangsung sementara.

3

d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap. - Good dan Brophy dalam bukunya Educational Psychology: A Realislic Approach mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yaitu Learning is the development of new associations as a result of experience. Beranjak dari definisi yang dikemukakannya itu selanjutnya ia menjelaskan bahwa belajar itu suatu proses yang benar-benar yang bersifat internal (a purely internal event). Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata; proses itu terjadi di dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud belajar menurut Good dan Brophy bukan tingkah laku yang nampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan-hubungan baru (new associations). Hubungan-hubungan baru itu dapat berupa antara perangsang-perangsang, antara reaksi-reaksi, atau antara perangsang dan reaksi. 2. Contoh Belajar Seorang anak balita memperoleh mobil-mobilan dari ayahnya. Lalu ia mencoba memainkan ini dengan cara memutar kuncinya dan meletakannya pada suatu permukaan atau dataran. Perilaku “memutar” dan “meletakan” tersebut merupakan respon atau reaksi atas rangsangan yang timbul pada mainan itu. Pada tahap permulaan, respon anak terhadap stimulus yang ada pada mainan tadi biasanya tidak tepat atau setidak-tidaknya tidak teratur. Namun, berkat latihan dan pengalaman berulang-ulang lambat laun ia menguasai dan akhirnya dapat memainkan mobilmobilan dengan baik dan sempurna. Sehubungan dengan contoh itu belajar dapat dipahami sebagai proses yang dengan proses itu sebuah tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki serentetan reaksi atas situasi atau rangsangan yang ada.

4

C. Arti Penting Belajar Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap unsur pendidikan, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan, misalnya psikologi pendidikan. Karena demikian pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi pendidikanpun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam menguasai prose perubahan manusia itu. Belajar memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persiapan yang semakin ketat di antara bangsabangsa lainnya yang lebih maju karena belajar. Dalam perspektif keagamaanpun belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat kehidupannya meningkat. Hal ini dinyatakan dalam surat Al-Mujadalah ayat 11.

                                
"Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Seorang siswa yang menempuh proses belajar yang ideal yaitu ditandai munculnya pengalaman-pengalaman psikologi baru yang positif yang diharapkan dapat mengembangkan aneka ragam sikap, sifat dan kecakapan yang konstruktif, bukan kecakapan destruktif (merusak).

5

6

D. Bagaimana Proses Belajar itu Berlangsung? Bahwa manusia dan makhluk hidup yang lain membutuhkan dunia untuk mengembangkan dan melangsungkan hidupnya. Ia selalu mengadakan interaksi dengan dunia luar. Ia selalu berusaha untuk menggunakan dan mengubah dunia luar untuk kebutuhan dirinya. Ia selalu belajar, menyesuaikan diri dengan dunia luar. Dengan kegiatan belajar/menyesuaikan diri itu berbagai macam cara mereka pergunakan. Berikut ini beberapa macam cara penyesuaian diri yang dilakukan manusia dengan sengaja maupun tidak sengaja, dan bagaimana hubungannya dengan belajar. a. Belajar dan Kematangan Kematangan (maturation) adalah suatu proses pertumbuhan organ-organ. Kematangan itudatang/tiba waktunya dengan sendirinya. Sedangkan belajar lebih membutuhkan kegiatan yang disadari, suatu aktifitas, latihan-latihan dan konsentrasi dari orang yang bersangkutan. Proses belajar terjadi karena perangsang-perangsang dari luar. Sedangkan proses kematangan terjadi dari dalam. b. Belajar dan Penyesuaian Diri Penyesuaian diri ada dua macam; Pertama, penyesuaian diri atuoplastis, seseorang mengubah dirinya disesuaikan dengan keadaan lingkungan/dunia luar. Kedua, penyesuaian diri alloplastis, yang berarti bengubah lingkungan/dunia luar disesuaikan dengan kebutuhan dirinya. Kedua macam penyesuaian diri ini termasuk ke dalam proses belajar, karena daripadanya terjadi perubahan-perubahan yang kadang sangat mendalam dalam kehidupan manusia. c. Belajar dan Pengalaman Belajar dan pengalaman, keduanya merupakan suatu proses yang dapat merubah sikap, tingkah laku dan pengetahuan kita. Akan tetapi belajar dan memperoleh pengalaman adalah berbeda. Mengalami sesuatu belum tentu merupakan belajar dalam arti pedagogis; tetapi sebaliknya, tiap-tiap belajar berarti juga mengalami. d. Belajar dan Bermain Dalam bermain juga terjadi proses belajar. Persamaannya ialah bahwa dalam belajar dan bermain keduanya terjadi perubahan, yang dapat mengubah tingkah laku, sikap dan

7

pengalaman. Perbedannya ialah menurut arti katanya, bermain merupakan kegiatan yang khusus bagi anak-anak, sedangkan belajar merupakan kegiatan yang umum, sejak lahir sampai manusia mati. e. Belajar dan Pengertian Belajar mempunyai arti yang lebih luas daripada hanya mencapai pengertian. Ada proses belajar yang berlangsung dengan otomatis tanpa pengertian. Seperti proses yang terjadi pada hewan. Sebaliknya ada juga pengertian yang tidak menimbulkan proses belajar. f. Belajar dan Menghafal/Mengingat Menghafal/mengingat tidak sama dengan belajar. Hafal atu ingat akan sesuatu belum menjamin bahwa demikian orang sudah belajar dalam arti sebenarnya. Sebab untuk mengetahui sesuatu tidak cukup hanya dengan menghafal saja, tetapi harus dengan pengertian. g. Belajar dan Latihan Persamaannya ialah bahwa belajar dan latihan keduanya dapat menyebabkan perubahan/proses dalam tingkah laku, sikap dan pengetahuan. Perbedaannya ialah di dalam praktek terdapat pula proses belajar yang terjadi tanpa latihan. E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar Telah dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkan laku atau kecakapan. Sampai dimakah perubahan itu dapat dicapai atau dengan kata lain, berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung kepada bermacam-macam faktor. Adapun faktor-faktor itu dapat kita bedakan menjadi dua golongan: a. Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut faktor individual. Yang termasuk faktor individual antara lain: faktor kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi. b. Faktor yang ada di luar individu yang kita sebut faktor sosial. Yang termasuk faktor sosial antara lain faktor keluarga/keadaan rumah tangga,, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, motivasi sosial.

8

F. Beberapa Teori Belajar Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Di antara teori tersebut adalah: a. Teori Conditioning 1. Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson) Teori pembiasaan klasik (classical conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Povlo (1849-1936) seorang ilmuwan besar Rusia yang berhasil menggondol hadiah Nobel pada tahun 1909. Pada dasarnya classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut (Terrace, 1973). Dalam eksperimennya Pavlor menggunakan anjing untuk mengetahui hubunganhubungan antara conditioning stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR), dan Unconditioned response (UCR). CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan respon yang dipelajari CR adalah respon yang dipelajari itu sendiri UCS adalah rangsangan yang menimbulkan respon yang tidak dipelajari UCR adalah respon yang tidak dipelajari. Watson mengadakan eksperimen-eksperimen tentang perasaan takut pada anak dengan menggunakan tikus dan kelinci. Dari hasil percobaannya dapat ditarik kesimpulan bahwa perasaan takut pada anak dapat diubah atau dilatih. Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning. Yakni hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaankebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat/perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidupannya. Kelemahan dari teori conditioning ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya. Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak semata-mata tergantung kepada pengaruh dari luar.

9

2. Teori Conditioning dari Guthrie Guthrie mengemukakan bagaimana cara/metode untuk mengubah kebiasaankebiasaan yang kurang baik, berdasarkan teori conditioning. Ia mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Unit-unit tingkah laku ini merupakan reaksi/respon dari perangsang/stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan respon bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Metode-metode yang dipergunakan Guthrie dalam mengubah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan pada hewan dan manusia ialah: a) Metode Reaksi berlawanan (Incompatible Response Method). Manusia itu adalah suatu organisme yang selalu mereaksi kepada perangsang-perangsang tertentu. Jika suatu reaksi terhadap perangsang-perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara untuk mengubahnya ialah dengan jalan menghubungkan perangsang (stimulus) dengan reaksi (respon) yang berlawanan dengan reaksi buruk yang hendak dihilangkannya. b) Metode Membosankan (Exchaustion Method). Hubungan antara asosiasi antara perangsang dan reaksi (S-R) pada tingkah laku yang buruk itu dibiarkan saja sampai lama mengalami keburukan itu, sehingga menjadi bosan. c) Metode Mengubah Lingkungan (Change of Environment Method). Suatu metode yang dilakukan dengan jalan memutuskan atau memisahkan hubungan antara S dan R yang buruk yang akan dihilangkannya. 3. Teori Operant Conditioning (Skinner) Teori pembiasaan perilaku respon (operant conditioning) penciptanya bernama Burhus Fredic Skinner (lahir tahun 1904) seorang penganut behaviorism yang dianggap kontroversial. Tema yang mewarnai karyanya adalah bahwa tingkah laku itu terbentuk oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri (Bruno, 1987). Operant adalah sejumlah perilaku atau respon yang membawa efek yang sama terhadap tingkah lingkungan yang dekat (Reber, 1988). 4. Teori Systematic Behavior (Hull)

10

Clark C. Hull mengemukakan teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu. b. Teori Connectionism (Thorndike) Teori koneksionisme (connectionism) adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874, 1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an, eksperimen Thondike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar. Dalam eksperimen kucing itu atau puzzle box kemudian dikenal dengan nama instrumental (penolong) untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki (Hintzman, 1978). Berdasarkan eksperimen itu, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon, itulah sebabnya, teori koneksionisme juga disebut “SR Bond theory” dan S-R psychology of learning”. Thorndike mengemukakan tiga macam hukum yaitu: a) Law of effect yaitu jika sebuah respon menghasilkan efek yang memuaskan hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat, sebaliknya semakin tidak memuaskan (mengganggu) efek yang dicapai respon semakin lemah pada hubungan stimulus dan respon tersebut. Hukum inilah yang mengilhami munculnya konsep reinforcer dalam teori operant conditioning hasil penemuan B.F. Skinner. b) Law of readiness (hukum kesiapsiagaan) pada prinsipnya hanya merupakan asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan conduction units (satuan perantaraan). c) Law of exercise (hukum latihan) ialah generalisasi atau law of use dan law of disuse. Menurut Hilqaret dan Bower (1975), jika perilaku (perubahan hasil belajar) sering dilatih atau digunakan maka eksistensi perilaku tersebut. Akan semakin kuat (law of use) dan sebaliknya jika perilaku tadi tidak akan sering dilatih maka akan terlupakan atau menurun (law of discuses).

11

c. Teori menurut Psikologi Gestalt Teori ini disebut juga field theory atau insight full learning. Menurut Gestalt manusia itu bukanlah hanya sekedar makhluk reaksi yang hanya berbuat atau bereaksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya. Manusia itu adalah individu yang merupakan kebulatan jasmani-rohani. Sebagai individu manusia bereaksi -atau lebih tapat berinteraksi- dengan dunia luar dengan kepribadiannya dan dengan caranya yang unik pula. Dengan demikian belajar menurut psikologi Gestalt: 1. Pertama dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian (insight) merupakan faktor yang penting. Dengan belajar dapat memahami/mengerti hubungan antara pengetahuan dan pengalaman. 2. Dalam belajar, pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral. Belajar tidak hanya dilakukan secara reaktif-mekanistis belaka, tetapi dilakukan dengan sadar, bermotif dan bertujuan. d. Teori Pendekatan Kognitif Teori psikologi kognitif adalah bagian terpenting bagi sains kognitif yang telah memberi konstribusi yang sangat berarti dalam perkembangan psikologi. Pendidikan sains kognitif merupakan himpunan disiplin yang terdiri atas psikologi kognitif, ilmu-ilmu komputer, linguistik, intelegensi buatan matematika, epistemology dan neuropsychological/ psikologi syaraf. Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal mental manusia. Dalam pandangan ahli kognitif tingkah laku manusia tampak tidak dapat diukur dan diterbangkan tanpa melibatkan proses mental seperti; motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya. G. Proses dan Fase Belajar 1. Definisi proses Belajar Proses dari bahasa latin “processus" yang berarti “berjalan ke depan” menurut Chaplin (1972) proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan.

12

Dalam psikologi belajar proses berarti cara-cara/langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hail-hasil tertentu (Reber, 1988). Jadi proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa 2. Fase-Fase dalam proses Belajar. Menurut Jerome S. Bruner, salah seorang penentang teori S.R Bond dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode atau fase. a. Fase informasi (tahap penerimaan materi) b. Fase transformasi (tahap pengubahan materi) c. Fase evaluasi (tahap penilaian materi) Menurut Wittig (1981) dalam bukunya psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam 3 tahapan. a. Actuation (tahap perolehan/penerimaan informasi) b. Storage (tahap penyimpanan informasi) c. Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi) H. Cara-cara Belajar yang Baik Dr. Rudolf Pintner mengemukakan sepuluh macam metode di dalam belajar, yaitu: a) Metode keseluruhan kepada bagian (whole to part method), di dalam mempelajari sesuatu kita harus memulai dahulu dari keseluruhan, kemudian baru mendetail kepada bagianbagiannya. Metode ini berasal dari pendapat psikologi Gestalt. b) Metode keseluruhan lawan bagian (whole versus part method), untuk bahan-bahan pelajaran yang skopnya tidak terlalu luas, seperti menghafal syair, membaca cerpen dsb. c) Metode campuran antara keseluruhan dan bagian (mediating method), untuk bahan-bahan pelajaran yang skopnya sangat luas, atau yang sukar-sukar, seperti tata buku, akunting, dan bahan kuliah lain pada umumnya. d) Metode resitasi (recitation method), mengulangi atau mengucapkan kembali yang sudah dipelajari. Metode ini dapat digunakan untuk semua bahan pelajaran yang bersifat verbal maupun nonverbal.

13

e) Jangka waktu belajar (length of practice periods), dari hasil eksperimen ternyata bahwa jangka waktu (periode) belajar yang produktif seperti menghafal, mengetik, mengerjakan soal hitungan, dsb. Adalah antara 20-30 menit. Jangka waktu yang dari 30 menit untuk belajar yang benar-benar memerlukan konsentrasi perhatian relatif kurang atau tidak produktif. f) Pembagian waktu belajar (distribution of practice periods), belajar yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa istirahat tidak efisien dan tidak efektif. Menurut “hukum Jost” tentang belajar, 30 menit 2 x sehari selama 6 hari lebih baik dan produktif daripada sekali belajar selama 6 jam (360 menit) tanpa berhenti. g) Membatasi keluapaan (counteract forgetting), dengan adanya “ulangan atau review” pada waktu-waktu tertentu atau setelah/pada akhir suatu tahap pelajaran selesai. h) Menghafal(cramming), digunakan jika tujuannya untuk dapt menguasai dengan cepat bahan-bahan pelajaran yang luas atau banyak dalam waktu yang relatif singkat, seperti mau ujian. Metode ini kurang baik karena hasilnya lekas dilupakan lagi setelah ujian selesai. i) Kecepatan belajar dalam hubungannya dengan ingatan j) Retroactive inhibition, berbagai pengetahuan yang telah kita miliki itu, di dalam diri kita seolah-olah merupakan unit-unit yang selalu berkaitan satu sama lain, bahkan sering pula yang satu mendesak atau menghambat yang lain. Crow and Crow secara lebih praktis mengemukakan saran-saran yang diperlukan untuk persiapan belajar yang baik sebagai berikut: a) Adanya tugas-tugas yang jelas dan tegas b) Belajarlah membaca dengan baik c) Gunakan metode keseluruhan dan metode bagian di mana diperlukan d) Pelajari dan kuasailah bagian-bagian yang sukar dari bahan yang dipelajari e) Buatlah outline dan catatan-catatan pada waktu belajar f) Kerjakan atau jawablah pertanyaan-pertanyaan g) Hubungkan bahan-bahan baru dengan bahan yang lama h) Gunakan bermacam-macam sumber dalam belajar

14

i) Pelajari baik-baik tabel, peta,grafik, gambar, dsb j) Buatlah rangkuman (summary) dan review I. Saran-saran untuk Membiasakan Belajar yang Efisien Berikut ini adalah saran-saran yang dikemukakan Crow and Crow dengan singkat dan terinci untuk mencapai hasil belajar yang lebih efisien: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Miliki dahulu tujuan belajar yang pasti. Usahakan adanya tempat belajar yang memadai. Jaga kondisi fisik jangan sampai mengganggu konsentrasi dan keaktifan mental. Rencanakan dan ikutilah jadwal waktu untuk belajar. Selingilah belajar itu dengan waktu-waktu istirahat yang teratur. Carilaah kalimat-kalimat topik atau inti pengertian dari tiap paragraf. Selama belajar gunakan metode pengulangan dalam hati (silent recitation). Lakukan metode keseluruhan (whole method) bilamana mungkin. Usahakan agar dapat membaca cepat tapi cermat.

10) Buatlah catatan-catatan atau rangkuman yang tersusun rapi. 11) Adakan penilaian terhadap kesulitan bahan untuk dipelajari lebih lanjut. 12) Susunlah dan buatlah pertanyaan-pertanyaan yang tepat, dan usahakan/cobalah untuk menemukan jawabannya. 13) Pusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh pada waktu belajar. 14) Pelajari dengan teliti tabel-tabel, grafik-grafik, dan bahan ilustrasi lainnya. 15) Biasakanlah membuat rangkuman dan kesimpulan. 16) Buatlah kepastian untuk melengkapi tugas-tugas belajar itu. 17) Pelajari baik-baik pernyataan (statement) yang dikemukakan oleh pengarang, dan tentanglah jika diragukan kebenarannya. 18) Telitilah pendapat beberapa pengarang. 19) Belajarlah menggunakan kamus dengan sebaik-baiknya. 20) Analisislah kebiasaan belajar yang dilakukan, dan cobalah untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya.

15

J. Penutup/Kesimpulan Islam memandang umat manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dalam keadaan kosong, tidak berilmu pengetahuan akan tetapi Tuhan memberi potensi yang bersifat jasmaniah dan rohaniah untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia itu sendiri. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar, dengan kemampuan berubah itu manusia secara bebas dapat mengeksplorasikan, kehidupannya. Belajar juga memainkan peranan penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsabangsa lain yang lebih maju. Akibat persaingan tersebut kenyataan tragis juga bisa terjadi karena belajar. Meskipun ada dampak negatifnya dari hasil belajar sekelompok manusia tertentu, kegiatan belajar memiliki arti penting alasannya belajar berfungsi untuk mempertahankan kehidupan manusia artinya dengan ilmu dan teknologi, hasil belajar kelompok manusia tertindas itu dapat digunakan untuk membangun benteng petahanan. Selanjutnya dalam persfektif keagamaan belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajatnya meningkat seperti dijelaskan dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya “……niscaya Allah akan meningkatkan beberapa derajat kepada orang-orang yang beriman dan berilmu”. Ilmu dalam hal ini harus berupa pengetahuan yang relevan dengan tuntutan jaman dan bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk

16

DAFTAR PUSTAKA Crow, Lester D., Ph. D. and Alice Crow, Ph. D., Educational Psychology, American Book Company, New York, 1958. Duncan, W, Jack, Organizational Behavior, 2-nd Edition, Prentice Hall – New Delhi, 1981. Gagne, Robert, M., The Conditions of Learning, Second Edition, Holt, Rinehart and Winston, Inc., 1977. Good, Thomas L and Boophy, Jere E., Educational Psychology: A Realistic Approach, Holt, Rinehart and Winston, 1977. Maman Achdiat, et al., Teori Belajar Mengajar dan Aplikasinya dalam Program Belajar Mengajar, Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G), Dep. P dan K, Jakarta, 1980. M. Ngalim Purwanto, MP., Drs., Psikologi Pendidikan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, cet. Ke-22, 2007. Pintner, Rudolf, et al., Educational Psychology, Barnes & Noble Books, London, 1970. Sumadi Suryabrata, “Psikologi Belajar”, Kumpulan Naskah Penataran Bimbingan dan Konseling Untuk Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi se-Indonesia, Buku ke 2C, Dirjen P.T. Dep. P dan K, 1981.

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->