P. 1
Latar belakang masalah

Latar belakang masalah

|Views: 20|Likes:
Published by Gusti Warman

More info:

Published by: Gusti Warman on Jun 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2013

pdf

text

original

Latar belakang masalah    Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah Kekayaan alam indonesia banyak dikuasai oleh

asing Tingkat kepedulian masyarakat dan pemerintah yang sangat sangat kurang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau membentang dari sabang yang berada di ujung barat indonesia sampai ke merauke di ujung timur indonesia. Di setiap sisi pulau-pulau tersebut menyimpan potensi kekayaan alam melimpah yang bervariasi, baik dari segi bahan galian tambang, perikanan, perkebunan, dan lain sebagainya. Sebagai contoh Indonesia memiliki pertambangan emas, timah, nikel, dan batubara terbesar di dunia, bahkan indonesia memiliki potensi pertambangan intan yang mana merupakan mineral termahal di dunia. Namun, kekayaan Indonesia tersebut berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan dari bangsa Indonesia. Menurut survey Badan Pusat Statistik tahun 2011 , masyarakat Indonesia memiliki pendapatan rata-rata Rp 15.000,00 per hari. Hal ini mengindikasikan tidak sebanding antara kekayaan indonesia dengan tingkat kesejahteraan penduduknya. Timbulnya permasalahan tersebut bukan tanpa sebab, salah satu penyebab utamanya yakni perusahaan-perusahaan besar seperti pertambangan yang berdiri di tanah air indonesia dikuasai oleh asing, yang mana mereka menguras habis kekayaan yang terkandung dalam bumi Indonesia tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat lokal dan aspek lingkungan. Seperti PT freeport di tanah Papua yang dikuasai oleh Amerika Serikat, PT Petro Cina di Jambi, PT Newmont di Nusa Tenggara. Dikarenakan perusahaan – perusahaan asing tadi kurang memperdulikan masyarakat lokal sehingga terjadi kesenjangan maka banyak terjadi konflik di lokasi tambang. Sebagai contoh, konflik berkepanjangan di Wamena antara masyarakat sekitar lokasi tambang dengan karyawan PT Freeport. Mereka merasa tidak adanya keadilan terhadap bahan galian yang terkandung di daerahnya dengan tingkat kesejahteraan yang mereka miliki. Disamping itu, tingkat kepedulian dari masyarakat dan pemerintah juga kurang. Permasalahan yang timbul di suatu daerah terkait dengan eksplorasi bahan galian tambang sering dilupakan oleh masyarakat di daerah lain, mereka cenderung hanya memikirkan nasib daerah sendiri. Walaupun kita menganut sistim otonomi daerah, sebaiknya ada sinergi kepedulian antar masyarakat. Terkait juga dengan kepedulian, masyarakat Indonesia seperti tidak memiliki keinginan untuk mengusai barang tambangnya. Sementara itu, tingkat kepedulian pemerintah juga sangat kurang. Pemerintah mudah terhasut dengan devisa yang sangat kecil dari perusahaan asing tersebut terhadap negara yang tidak seimbang dengan penghasilan perusahaan terkait penggalian bahan tambang. Bayangkan saja perusahaanperusahaan asing yang besar seperti PT Freeport hanya memberikan sekitar 2,5% dari penghasilannya. Hal itu diterima dengan senang hati oleh pemerintah, kita selaku bangsa demokratis patut mempertanyakan hal tersebut. Pemerintah juga terkesan lepas tangan terhadap kepentingan masyarakat lokal. Pemerintah seperti bersikap malas-malasan, mengambil jalan pintas ataupun tidak mau sedikit mengambil risiko dan tidak peduli dengan nasib masyarakat lokal.

... ...........Permasalahan ini memberikan cambuk bagi kita semua selaku bangsa demokratis yang memiliki inisiatif membangun Indonesia yang lebih baik untuk meningkatkan ketahanan nasional sehingga tercipta kesejahteraan bangsa Indonesia..... Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk menyusun makalah yang berjudul.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->