LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN IBU DENGAN POST PARTUM NORMAL LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN IBU DENGAN

POST PARTUM NORMAL

A. Pengertian Masa nifas ( puerperium ) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6 – 8 minggu. (Rustam Mochtar,1998 ) Masa nifas adalah periode sekitar 6 minggu sesudah melahirkan anak, ketika alat – alat reproduksi tengah kembali kepada kondisi normal. ( Barbara F. weller 2005 ) Post partum adalah proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat – alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. (Abdul Bari Saifuddin,2002 )

Masa post partum terbagi 3 tahap, yaitu : 1. Immediet post partum periode ( 24 jam pertama setelah melahirkan ) 2. Early post partum periode ( hari kedua sampai ketujuh setelah melahirkan ) 3. Late post partum ( minggu kedua/ketiga sampai keenam setelah melahirkan ) B. Adaptasi Fisiologi Adaptasi atau perubahan yang terjadi pada ibu post partum normal, yaitu : 1. System reproduksi a. Involusi uterus Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm diatas umbilicus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada dipertengahan antara umbilicus dan simpisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum. b. Kontraksi Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat besar. Hemostasis pascapartum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormone oksigen yang dilepas kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah, dan membantu hemostasis. Selama 1 sampai 2 jam

biasanya suntikan oksitosin ( pitosin ) secara intravena atau intramuscular diberikan segera setelah plasenta lahir. Setelah plasenta dilahirkan. kadar hormone estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. c. e. Lokia ini terdiri dari lokia rubra (1-4 hari) jumlahnya sedang berwarna merah dan terutama darah. tonus uterus meningkat sehingga fundus pada umumnya tetap kencang. lokia serosa (4. Pembengkakan buah dada pada hari ke 2 atau 3 setelah melahirkan dapat menyebabkan kenaikan suhu atau tidak. Setelah persalinan . Vulva dan vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi. Lokia Pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus selama masa nifas disebut lokia. berwarna putih atau hampir tidak berwarna. lokia alba (8-14 hari) jumlahnya sedikit. perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh karena tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Tanda – tanda vital suhu pada hari pertama ( 24 jam pertama ) setelah melahirkan meningkat menjadi 380C sebagai akibat pemakaian tenaga saat melahirkan dehidrasi maupun karena terjadinya perubahan hormonal.pertama pascapartum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Pada postnatal hari ke 5. endometriosis dan sebagainya. ostium eksterna dapat dimasuki oleh dua hingga tiga jari tangan. Serviks Servik mengalami involusi bersama-sama uterus. Kemungkinan terdapat spasme ( kontraksi otot yang mendadak diluar kemaluan ) sfingter dan edema leher buli – buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan. h. perineum Segera setelah melahirkan. dan dalam beberapa hari pertama setelah proses tersebut. perineum sudah mendapat kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan. Keadaan ini menyebabkan diuresis. traktus urinarius Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Afterpains Pada primipara. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang masa awal puerperium. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan.8 hari) jumlahnya berkurang dan berwarna merah muda ( hemoserosa ). d. g. lebih kencang dan mula – mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi. setelah 6 minggu postnatal. . vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol. bila diatas 380C dan selama dua hari dalam sepuluh dari pertama post partum perlu dipikirkan adanya infeksi saluran kemih. i. 2. payudara akan menjadi lebih besar. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu. Setelah 3 minggu. f. serviks menutup. payudara Payudara mencapai maturasi yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi disupresi. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini.

Pada wanita menyusui. sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal selama masa pascapartum. Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada penyakit jantung. Kelebihan analgesia dan anestesi bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas keadaan normal. Diperlukan kira – kira 2 sampai 8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali kekeadaan sebelum hamil. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibanding suhu.1991 ) Kadar prolaktin meningkat secara progresif sepanjang masa hamil. Kadar estrogen dan progesterone menurun secara mencolok setelah plasenta keluar. Pada wanita yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari pada wanita yang menyusui pada pascapartum hari ke 17 ( bowes . Tekanan darah Tekanan darah sedikit berubah atau tetap. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum. System kardiovaskuler a. penurunan tonus dan mortilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. dapat timbul dalam 48 jam pertama. denyut nadi kembali ke frekuensi sebelum hamil. laserasi atau hemoroid. Komponen darah Hemoglobin. System endokrin Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormone – hormone yang diproduksi oleh organ tersebut. 4. sehingga ia boleh mengkonsumsi makan – makanan ringan. hematokrit dan eritrosit akan kembali kekeadaan semula sebelum melahirkan. . System perkemihan Perubahan hormonal pada masa hamil ( kadar steroid yang tinggi ) turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal. System muskuloskletal Adaptasi ini mencakup hal – hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah melahirkan ( Bowes. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu keenam sampai ke 8 setelah wanita melahirkan. c. 1991 ). 6. Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya diperineum akibat episiotomy. 5. 1993 ) pada sebagian kecil wanita. System gastrointestinal Ibu biasanya lapar setelah melahirkan. b. Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui. 7. dan banyak makanan tambahan yang diberikan. kadar terendahnya tercapai kira – kira satu minggu pascapartum. Denyut nadi Nadi umumnya 60 – 80 denyut permenit dan segera setelah partus dapat terjadi takikardi. Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. dkk. yang diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan segera berdiri. dilatasi traktus urinarius bisa menetap selama tiga bulan. Pada minggu ke 8 sampai ke 10 setelah melahirkan. diare sebelum persalinan. enema sebelum melahirkan. Hipotensi ortostatik. kurang makan atau dehidrasi. lama setiap kali menyusui.3. ( Cunningham.

abdomen. C. fokus pada diri sendiri. hemoglobin/hematokrit ( Hb/Ht ) b. Fase letting go yaitu fase dimana sudah mengambil tanggung jawab peran yang baru. g. 3. ibu sudah melaksanakan fungsinya. kadar urin. D. Doengous. Fase taking hold yaitu fase transisi dari ketergantungan kemandiri. sulit membuat keputusan. fokus sudah ke bayi. Kulit yang meregang pada payudara. hari kesepuluh sampai dengan enam minggu post partum. mulai memperhatikan fungsi tubuh sendiri dan bayi. hari pertama sampai dengan hari ketiga post partum. Asuhan keperawatan Menurut Marylnn E. mulai terbuka dalam menerima pendidikan kesehatan. Nyeri/ketidaknyamanan nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari 3 sampai ke-5 pascapartum. Makanan/cairan kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira hari ketiga f. Tes diagnostic a. Jumlah darah lengkap. mandiri dalam perawatan diri. dari ketiga sampai dengan kesepuluh post partum. Adaptasi psikologis Rubin ( 1961 ) membagi menjadi 3 fase : 1. Hiperpigmentasi diareola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya. 2. Aktivitas/istirahat Insomnia mungkin teramati. Penatalaksanaan medis 1.8. d. Integritas ego Peka rangsang. berperilaku pasif dan ketergantungan. Urinalisis. System integument Kloasma yang muncul pada masa kehamilan biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Memberikan tablet zat besi untuk mengatasi anemia b. Therapy a. darah. 2. menyatakan ingin makan dan tidur. Eliminasi Diuresis diantara hari kedua dan kelima e. Seksualitas . 2001 : 1. ayah berperan sebagai ayah dan berinteraksi dengan bayi. Sirkulasi Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari. b. c. takut/menangis ( “postpartum blues” sering terlihat kira-kira 3 hari setelah melahirkan. Memberikan antibiotik bila ada indikasi E. Fase taking in yaitu fase ketergantungan. paha dan panggul mungkin memudar tapi tidak hilang seluruhnya. Pengkajian a.

Payudara : produksi kolostrum 48 jam pertama. 2001 yaitu : a. penggunaan kompres witch hazel. profil darah abnormal ( anemia.2o C ) selam 20 menit. 3. setelah 24 jam 1. Intervensi : Mandiri : 1) Tentukan adanya lokasi. eksudat purulen. atau kehilangan perlekatan jaringan. edema/pembesaran jaringan atau distensi. mengungkapkan berkurangnya ketidaknyamanan. 3-4 kali sehari. pengalaman sebelumnya. 2) Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomy. Tinjau ulang persalinan dan catatan kelahiran. menyusui ). 4) Berikan kompres panas lembab ( misal rendam duduk/bak mandi ) diantara 100o dan 105o F ( 38o sampai 43. a. terjadinya HKK atau eklamsia ). d. ekimosis. 6) Infeksi hemoroid pada perineum. Nyeri (akut)/ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis. mungkin lebih didini. 2000 ) Diagnose keperawatan yang muncul pada klien postpartum menurut Marilyn doengoes. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit. b. khusus nya selama 24 jam pertama setelah kelahiran. efek anestesia. nyeri tekan local. berlanjut pada susu matur. berlanjut menjadi lokhea serosa dengan aliran tergantung pada posisi (mis. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perencanaan merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan yang meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah. efek-efek hormonal. Anjurkan penggunaan kompres es selama 20 menit setiap 4 jam. rekumben versus ambulasi berdiri) dan aktivitas ( mis. 2. Lokhea rubra berlanjut sampai hari ke2 – 3 . tingkat dukungan. tergantung kapan menyusui dimulai. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan rasa nyeri teratasi kriteria hasil : mengidentifikasi dan mengunakan intervensi untuk mengatasi ketidaknyamanan dengan tepat. Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan. tromboembolisme. rupture ketuban lama. membatasi. mencegah dan merubah ( carpenito. . Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia. 5) Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi diatas perbaikan episiotomy. usia gestasi bayi. mal nutrisi. inkompabilitas Rh ). sensivitas rubella. struktur karakteristik fisik payudara ibu. biasanya pada hari ke 3. dan sifat ketidaknyamanan. Nyeri (akut)/ ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis. c. 3) Berikan kompres es pada perineum. fungsi regulator ( misal hipotensi ortostatik.Uterus 1 cm diatas umbilicus pada 12 jam setelah kelahiran menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya. efek-efek hormonal. mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnose keperawatan. edema/pembesaran jaringan atau distensi. dan menaikan pelvis pada bantal. Perhatikan edema. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia ( status kesehatan atau resiko perubahan pola ) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan. penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan.

Kaji hipotensi pada klien. tetap dengan klien selama ambulasi pertama. menunjukan kepuasan regimen menyusui satu sama lain. dan factor – factor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan menyusui. bila hanya satu putting yang sakit atau luka. khususnya setelah anesthesia subaraknoid. struktur karakteristik fisik payudara ibu. 10) Ajurkan untuk mengunakan bra penyokong 11) Berikan informasi mengenai peningkatan frekuensi temuan. Kolaborasi : . perawatan putting dan payudara. pengalaman sebelumnya. Hindari member obat klien sebelum sifat dan penyebab dari sakit kepala ditentukan. Perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama menyusui. 7) Instruksikan klien untuk menghindari pengunaan putting kecuali secara khusus diindikasi. 5) Kaji putting klien. 6) Anjurkan klien untuk mengeringkan putting dengan udara selama 20 – 30 menit setelah menyusui. Untuk klien yang tidak menyusui. 2) Tentukan system pendukung yang tersedia pada klien. 8) Berikan pelindung putting payudara khusus untuk klien menyusui dengan putting masuk atau datar. b. 9) Inspeksi payudara dan jaringan putting. jika adanya pembesaran dan/atau pitung pecah – pecah. 17) Berikan sprei anestetik. 4) Demostrasikan dan tinjauan ulang tehnik – tehnik menyusui. Rencana tindakan : Mandiri : 1) Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya. dan sikap pasangan/keluarga. usia gestasi bayi. Pertahankan klien pada posisi horizontal setelah prosedur.7) Kaji nyeri tekan uterus. berikan analgesic setiap 3 – 4 jam selama pembesaran payudara dan afterpain. dan mengeluarkan susu secara berurutan . kenutuhan diet khusus. dan melakukan tehnik visualisasi atau aktivitas pengalihan. memberikan kompres panas sebelum member makan. mengubah posisi bayi dengan tepat. verbal dan tertulis. dan kompres witc hazel untuk perineum bila dibutuhkan. Tujuan : setelah dilakukan demostrasi tentang perawatan payudara diharapkan tingkat pengetahuan ibu bertambah. Kriteria hasil : mengungkapkan pemahaman tentang proses menyusui. mendemonstrasikan tehnik efektif dari menyusui. Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan. anjurkan klien melihat putting setiap habis menyusui. mengenai fisiologis dan keuntungan menyusui. 8) Anjurkan klien berbaring tengkurap dengan bantal dibawah abdomen. tingkat dukungan. 16) Berikan analgesic 30 – 60 menit sebelum menyusui. 13) Kaji klien terhadap kepenuhan kandung kemih. Kolaborasi : 15) Berikan bromokriptin mesilat ( parlodel ) dua kali sehari dengan makan selama 2 – 3 minggu. tentukan adanya dan frekuensi/intensitas afterpain. 14) Evaluasi terhadap sakit kepala. 3) Berikan informasi. 18) Bantu sesuai dengan injeksi salin atau pemberian “ blood patch “ pada sisi pungsi dural. 12) Berikan kompres es pada area aksila payudara bila klien tidak merencanakan menyusui. dengan bayi dipuaskan setelah menyusui. salep topical.

yang mungkin yetap berbaring selama 6 – 8 jam. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit. bila diberikan. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko cidera teratasi. profil darah abnormal ( anemia. evaluasi factor – factor koagulasi. fungsi regulator ( misal hipotensi ortostatik. 4) Catat efek – efek magnesium sulfat ( MgSO4 ). Berikan bel pemanggil dalam jangkauan klien. sakit kepala. 11) Berikan Rh0 ( D ) imun globulin ( RhlgG ) LM. terjadinya HKK atau eklamsia ). 5) Inspeksi ekstremitas bawah terhadap tanda – tanda tromboflebitis. tromboembolisme. sesuai indikasi.dalam 72 jam pascapartum. 2) Anjurkan ambulasi dan latihan dini kecuali pada klien yang mendapatkan anesthesia subaraknoid. atau gangguan penglihatan. 10) Berikan antikoagulasi. inkompabilitas Rh ). d. sesuai indikasi. tingkatkan tirah baring dengan meninggikan tungkai yang sakit. 3) Berikan klien terhadap hiperrefleksia. tanpa penggunaan bantal atau meninggikan kepala. Catat tanda – tanda anemia. 6) Berikan kompres panas local. . dan perhatikan tanda – tanda kegagalan pembekuan. efek anestesia. Rencana tindakan : Mandiri : 1) Tinjau ulang kadar hemoglobin ( Hb ) darah dan kehilangan darah pada waktu melahirkan. Kriteria hasil : mendemonstrasikan perilaku untuk menurunkan factor – factor risiko/melindungi diri dan bebas dari komplikasi. 9) Berikan kaus kaki penyokong atau balutan elastic untuk kaki bila risiko – risiko atau gejala – gejala flebitis terjadi. Berikan supervise yang adekuat pada mandi shower atau rendam duduk. misal posyandu 10) Identifikasi sumber – sumber yang tersedia dimasyarakat sesuai indikasi c. Kolaborasi : 8) Berikan MgSO4 melalui pompa infuse. Bantu klien dengan ambulasi awal. 7) Evaluasi status rubella pada grafik prenatal. sensivitas rubella. kaji klien tehadap alergi pada telur atau bulu. perhatikan ada atau tidaknya tanda human. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia. kaji respon patella dan pantau status pernapasan. nyeri kuadran kanan atas ( KKaA ).9) Rujuk klien pada kelompok pendukung.

dan tertahannya plasenta. Tingkatkan tidur dan istitahat. kemerahan. tidak febris.penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan. Perhatikan frekuensi/jumlah berkemih. Inspeksi sisi perbaikan episiotomy setiap 8 jam. eksudat purulen. rupture ketuban lama. menunjukan luka yang bebas dari drainase purulen dan bebas dari infeksi. kulit. dengan menggunakan botol atau rendam duduk 3 sampai 4 kali sehari atau setelah berkemih/defekasi. anoreksia atau malaise. 7. hematuria yang terlihat. perhatikan adanya pecah-pecah. 6. Anjurkan dan gunakan tehnik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut yang kotor. sekatan pada garis sutura (kehilangan perlekatan). memberikan askep untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien. dan zat besi. kemerahan atau nyeri tekan. dan sebagainya. Anjurkan klien untuk meningkatkan masukan cairan sampai 2000 ml/hari. Catat berat badan kehamilan dan penambahan berat badan prenatal. pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat. Anjurkan perawatan perineal. 10. mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang . edema. atau adanya laserasi. Kolaborasi : 13. doronganatau disuria). Berikan informasi tentang makanan pilihan tinggi protein. 11. Kaji lokasi dan kontraktilitis uterus . 8. Pantau suhu dan nadi dengan rutin dan sesuai indikasi . Rencana tindakan : Mandiri : 1. Catat jumlah dan bau rabas lokhial atau perubahan pada kemajuan normal dari rubra menjadi serosa. Perhatikan nyeri tekan berlebihan. 3. Tinjau perawatan yang tepat dan tehnik pemberian makan bayi. mal nutrisi. Kaji terhadap tanda-tanda infeksi saluran kemih (ISK) atau sisitis (mis : peningkatan frekiensi. membantu. dan mempunyai aliran lokhial dan karakter normal. 9. 4. perhatikan perubahan involusional atau adanya nyeri tekan uterus ekstrem. Anjurkan pemeriksaan rutin payudara. Catat warna dan tampilan urin. kuku. 4. catat tanda-tanda menggigil. vitamin C. Evaluasi kondisi putting. (rujuk pada DK : Nyeri (akut)/ketidaknyamanan). 12. Perhatikan tampilan rambut. hemoragi. Pelaksanaan keperawatan mencakup melakukan. Kaji jumlah sel darah putih ( SPD ). Pelaksanaan/ Implementasi Pelaksanaan keperawatan merupakan proses keperawatan yang mengikuti rumusan dari rencana keperawatan. Anjurkan klien mandi setiap hari ganti pembalut perineal sedikitnya setiap 4 jam dari depan ke belakang. 2. dan adanya nyeri suprapubis. Kaji status nutrisi klien. laserasi. persalinan lama. Kaji catatan prenatal dan intrapartal. 5. Kriteria hasil : mendemonstrasikan tehnik – tehnik untuk menurunkan risiko/meningkatkan penyembuhan. perhatikan frekuensi pemeriksaan vagina dan komplikasi seperti ketuban pecah dini (KPD). Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.

diagnose keperawatan direvisi. metoda implementasi spesifik direvisi untuk menghubungan dengan diagnose keperawatan yang baru dan tujuan klien yang baru. Evaluasi Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan criteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya. dan diagnose keperawatan yang terbaru ditambah dan diberi tanggal. A : adalah merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subjektif dan objektif klien yang dibandingkan dengan criteria dan standar yang telah ditentukan mengacu pada tujuan rencana keperawatan klien. Mengidentifikasi bidang bantuan Situasi yang membutuhkan tambahan tenaga beragam. Pertama. Sebagai contoh. 2005 ) 5. perawat yang ditugaskan unutk merawat klien imobilisasi mungkin membutuhkan tambahan tenaga untuk membantu membalik.relevan dengan perawatan kesehatan berkelanjutan dari klien. Pada tahap ini ada 2 evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh perawat yaitu : 1. Evaluasi disusun dengan mengunakan SOAP yang operasional dengan pengertian : S : adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh klien dan keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan. O : adalah keadaan objektif yang didefinisikan oleh perawat menggunakan pengamatan yang objektif setelah implementasi keperawatan. Mengkaji ulang klien Fase pengkajian ulang terhadap komponen implementasi memberikan mekanisme bagi perawat untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang diusulkan masih sesuai. Proses pelaksanaan keperawatan mempunyai lima tahap. memindahkan. P : adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis. c. dan mengubah posisi klien karena kerja fisik yang terlibat. Evaluasi formatif yang bertujuan untuk menilai hasil implementasi secara bertahap sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sesuai pelaksanaan. . Diagnose keperawatan yang tidak relevan dihapuskan. yaitu : a. b. Menelaah dan modifikasi rencana asuhan keperawatan yang ada Modifikasi rencana asuhanyang telah ada mencakup beberapa langkah. ( Potter. data dalam kolom pengkajian direvisi sehingga mencerminkan status kesehatan terbaru klien. Kedua. d. Ketiga. Mengimplementasikan intervensi keperawatan Berikut metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan : 1) Membantu dalam melakukan aktivitas sehari – hari 2) Mengonsulkan dan menyuluhkan pasien dan keluarga 3) Mengawasi dan mengevaluasi kerja anggota staf lainnya.

1999. Evaluasi sumatif yang bertujuan menilai secara keseluruhan terhadap pencapaian diagnose keperawatan apakah rencana diteruskan. Puspa Swara Mansjoer. Perawatan Maternitas. Kapita Selekta Kedokteran. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. ( Suprajitno. diteruskan sebagian.2001.2002. Edisi III Jilid I. diteruskan dengan perubahan intervensi/dihentikan. Arief. Persalinan Sehat. Jakarta : Media Sudi Amus (08095) . 2004 ) DAFTAR PUSTAKA Doengoes. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan : Jakarta EGC Judi Januadi Endjun. Jakarta : EGC Helen Farrer. Jkarta : EGC Ida Bagus Gde Manuaba. Marlinn E. 1996.2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful