Paket 3 SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PEMBUKUAN HADITS NABI SAW

A. Pendahuluan Hadits Nabi (Rasulullah) saw yang sampai kepada kita dalam bentuk penuturan maupun tulisan adalah melalui perjalanan sejarah yang panjang. Jika al-Qur’an sejak zaman Nabi sampai terwujudnya pembukuan (mushaf) sebagaimana kita saksikan hari ini memerlukan waktu yang relatif pendek, yaitu sekitar 15 tahun, maka untuk hadits Nabi memerlukan waktu yang relatif panjang dan penuh variasi. Oleh karena itu mengetahui sejarah perkembangan yang dilalui, sejak masa Rasulullah saw masih hidup di tengah-tengah kaum muslimin sampai masa pembukuan dan penyempurnaan sistematikanya menjadi sangat penting. Jika periwayatan dan penuturan al-Qur’an harus disampaikan dengan menjaga kepersisan dan ketepatan redaksinya (riwayat bi al-lafdzi), maka penuturan hadits Nabi boleh diriwayatkan bi al-ma’na (ditekankan pada

kebenaran maknanya, bukan redaksinya). Oleh karena itu keragaman redaksi hadits tidak dapat dielakkan. Dalam konteks ini, pengetahuan tentang sejarah perkembangan dan pembukuan hadits Nabi akan membantu memahami usaha yang dilakukan Nabi saw bersama para sahabat dan para ulama dalam menjaga otentisitas hadits Nabi saw.

A. Standar Kompetensi Mahasiswa menguasai konsep dan dasar–dasar Ilmu Hadits serta mampu melakukan penelitian sanad hadits Nabi saw.

B. Kompetensi Dasar Mahasiswa Memiliki kemampuan memahami eksistensi, perkembangan dan
pembukuan hadits Nabi

C. Indikator
1. Mahasiswa mampu menjelaskan eksistensi dan perkembangan hadits pada masa Nabi saw. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan eksistensi dan perkembangan hadits pada masa sahabat Nabi 3. Mahasiswa mampu menjelaskan eksistensi dan perkembangan hadits pada abad II, III, IV dan masa sesudahnya

D. Waktu
Alokasi waktu yang diperlukan untuk mencapai beberapa indicator tersebut adalah satu kali tatap muka (120 menit).

E. Kegiatan Pembelajaran Waktu 25 menit
Langkah Pembelajaran Bahan

Kegiatan Awal

1. Mengajak

mahasiswa

memperhatikan

materi Paparan

pembelajaran dengan menghubungkan pada materi power sebelumnya 2. Menjelaskan pokok pembahasan 3. Membagikan lembar kerja Kegiatan Inti 60 menit 1. Menjelaskan secara umum tentang usaha Nabi Power saw , para sahabat dan para ulama dalam menjaga poin kemurnian dan kelestarian hadits Nabi 2. Kelas dibagi 3-4 kelompok. Kelompok 1 berdiskusi tentang Usaha Nabi dan sahabat dalam poin

meyosialisasikan hadits dan sunnahnya. Kelompok 2 berdiskusi tentang uapaya penulisan dan

pembukuan hadits. Kelompok 3 mendiskusikan Naskah usaha pemurnian hadits Nabi. Kelompok 4 hadits mendiskusikan usaha penyempurnaan penyusunan Nabi kitab-kitab hadits 3. Perwakilan mempresentasikan masing-masing hasil kelompok diskusi dan

pendalamannya di depan kelas

Kegiatan Penutup 25 menit 1. Kesimpulan hasil diskusi

Mahasiswa membuat rangkuman hasil diskusi 3. Mendiskusikan usaha Nabi dan sahabatnya dalam menyosialisasikan dan melestarikan hadits dan sunnah Nabi . Tujuan Agar mahasiswa memahami dan dapat menjelaskan berbagai usaha yang telah dilakukan oleh Nabi saw. tabi’in dan para ulama dalam menjaga kemurnian dan kelestarian hadist Nabi 1. Bahan dan alat a. Modul Uraian Materi 2.2. Meminta mahasiswa meresume ulama tentang Usaha para pendapat para ulama dalam menghadapi pemalsuan hadits F. Merefleksi proses pembelajaran dan mendorong mahasiswa mengkaji lebih dalam tentang sejarah pembukuan hadits Nabi Kegiatan Tindak lanjut 10 menit 1. Lembar Kegiatan Mahasiswa 1. Kegiatan a. para sahabat. b.

M. Hadits Nabi dan Sejarah Kodifikasinya I. Subhi Salih : Ulum Al Hadis Wa Mustolahuhu 3.Sejarah hadits pada abad II .b. Pengantar Ilmu Hadits 4. Mendiskusikan usaha para ulama dalam menyempurnakan sistematika kitab hadits e.Sejarah hadits pada abad IV dan sesudahnya H. Dr.Sejarah hadits pada abad III .Sejarah hadits pada masa abad I . Uraian Materi 1. Materi Pokok . al-Sunnah Qabla al-Tadwin 2. Hadits Nabi Pada Periode Abad I H . Mendiskusikan upaya pembukuan Hadits c. Muhammad Ajjaj al-Khatib. Mendiskusikan usaha para ulama dalam menjaga kemurnian dan kelestarian hadits nabi d. Mempresentasika hasil diskusi G. Syuhudi Ismail. Mustafa A’dzami. Sumber Pembelajaran 1.

maka dalam rangka menyosialisasikan. yaitu ahir abad I H. Masa ini merupakan masa turunnya wahyu . beliau menyebarkan sunnahnya dengan mendirikan semacam majlis ta’lim (kelompok dakwah) sebagaimana yang terjadi di rumah al-Arqam (bait al-Arqam) dan sahabat yang lain. Oleh karena hadits merupakan bagian penting dari wahyu yang diterima Nabi. Wahyu yang diterima oleh Nabi saw dijelaskan melalui perkataan. Rasulullah membina umatnya selama 23 tahun. disaksikan dan dirasa (melalui internalisasi nilai) oleh para sahabat. persetujuan dan sikap yang melekat dalam sifat-sifat beliau. Mendirikan sekolah. Berbagai majlis ilmu ini bukan hanya . Dalam hal ini Nabi saw merupakan contoh satu-satunya bagi para sahabat. Ketika Rasulullah masih berada di Makkah. karena beliau memiliki sifat-sifat sempurna selaku Rasulullah. Langkah-Langkah Nabi saw dalam menyebarkan Hadits/Sunnah 1. Sahabat Nabi dan zaman Tabi’in besar (senior) di masa pemerintahan Bani Umayah. termasuk masa wurudnya hadits Nabi saw.Periode abad I H ini meliputi zaman Nabi saw. ditempuh upaya sebagai berikut: a. dilihat. Kemudian setelah hijrah ke kota Madinah beliau mendirikan sekolah/madrsah. perbuatan. Oleh karena itu apa yang didengar. yang berbeda dengan manusia lainnya. dijadikan sebagai pedoman bagi amal ibadah mereka.

Ke Bi’ru Ma’unah tahun ke 4 H. termasuk pertemuan husus untuk kaum wanita. Memberikan Perintah/Instruksi.5 3. kemudian para sahabat mempelajari dan mengulanginya serta menghafal. Nabi bersabda. Yaman dan Hadramaut tahun ke 9 H.diadakan di masjid tetapi juga di rumah-rumah. ke Najran. Tugas ini tetap diemban hingga jauh sesudah Rasul wafat.Memberi Motivasi Bagi Pengajar dan Penuntut Ilmu. Contoh seperti Malik bin Huwairits ditugasi oleh Nabi mengajar pada kaumnya. Tugas yang sama juga diberikan kepada yang lain. “Sampaikanlah pengetahuan dariku meskipun hanya satu ayat. . Delegasi yang dating ke Kota Madinah diperintahkan untuk mengajarkan kepada kaumnya.2 2.” merupakan praktik umum di kalangan sahabat 4 Karena itu untuk Nabi memberitahukan ucapan dan perbuatan Nabi kepada sahabat yang lain yang tidak hadir. Contohnya sejumlah utusan dikirim ke Adzal dan Qara pada tahun ke 3 H. Pada majlis-majlis inilah para sahabat menerima hadits Nabi.”3 Tekanan yang sama dapat dilihat pada pidato Nabi saw pada saat Hajji wada’: “Yang hadir di sini hendaklah menyampaikan amanat ini kepada yang tidak hadir.1 Di samping itu kegiatan sekolah ini pada umumnya juga mengirimkan guru dan katib ke berbagai wilayah di luar kota Madinah.

Metode Pengajaran Nabi Metode yang digunakan Nabi saw untuk mengajarkan hadits/sunnahnya dapat dibagi ke dalam tiga kategori: yaitu metode lisan. Bahkan Rasul memberikan peringatan kepada orang yang berilmu . Nabi saw bersabda :” Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”6. 1. b. metode tulisan dan metode peragaan praktis. Metode Lisan . “Barang siapa menempuh jalan menuju pengetahuan. maka ia akan memperoleh pahala yang besarnya sama dengan orang yang melakukan perbuatan baik tersebt”.8 Sungguhpun demikian Nabi tetap menyerukan supaya penyampaian hadits itu dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan jujur.” Barang siapa menunjukkan jalan kebaikan. maka bersiaplah menempati kedukannya/tempat duduknya di Neraka”. Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. tetapi tidak mau mengajarkan kepada yang lain :”Barang siapa menyimpan/menahan ilmu.”7 Bagi mereka yang mengajar. Untuk itu nabi memberikan peringatan:”Barang siapa berdusta atas nama-ku. Rasulullah menyampaikan sabdanya.Nabi saw tidak hanya memeritah dalam mendidik masyarakat. tetapi juga menjanjikan penghargaan (pahala) yang besar bagi subyek pendidikan. maka ia akan dicambuk dengan api neraka”.

Contohnya seperti ketika Rasulullah menyampaikan petunjuk yang berhubungan dengan hal-hal yang sensitive. artinya jika sewaktu-waktu ia tak dapat hadir. untuk kemudian mengajarkannya kepada anggota suku mereka. Nabi menyampaikan pesannya di hadapan jam’ah. Untuk memudahkan hafalan dan pengertian. Oleh karena itu farum ini dihadiri secara bergantian. maka . Dalam hal ini disampaikan Nabi kepada istri-istrinya. Demikian pula jika Umar yang hadir.10 Bahkan kepala suku yang jauh mengirimkan utusannya ke majlis ini. seperti mengenai hubungan suami istri. maka Umar berkewajiban menginformasikan hasilnya.9 Ada beberapa cara yang ditempuh oleh Nabi saw dalam menyampaikan pesan dengan lisan ini. yaitu : Pertama. biasanya beliau mendengarkan lagi apa yang sudah mereka pelajari. Dalam kesempatan semacaam ini para sahabat banyak yang memanfalkannya secara antusias. ketika Rasul dalam suatu perjalanan bersama beberapa orang sahabatnya. dalam banyak kesempatan Rasulullah juga menyampaikan pesan haditsnya kepada sahabat tertentu. Sesudah mengajari shahabat.Nabi saw adalah guru bagi sunnah dan ummatnya. Contoh lainnya. kemudian oleh sahabat tersebut disampaikan kepada yang lain. Hal ini terjadi karena secara tehnis memang mengharuskan demikian. sementara kawannya absen. seperti yang dilakukan oleh sahabat Umar bin Khattab. maka ia berpesan kepada temannya yang hadir supaya menginformasikan hasilnya kepada Umar. Kedua. beliau biasa mengulangi hal-hal penting sampai tiga kali.

kepada sahabat lain yang tidak ikut 2. Jumlah hadits Nabi yang ditulis dalam bentuk surat Nabi ini cukup banyak. . Beberapa surat terdapat yang isinya sangat panjang dan mengandung berbagai masalah hukum ibadah. Abu Bakar dan sebagainya. apalagi jika digabung dengan tulisan Abdullah bin Amr bin Ash. Akan tetapi menurut penelitian Musthafa A’dhami . Para penulis sejarah Rasul. pelepah kurma. penguasa daerah. kemudian berita itu diteruskan oleh sahabat yang mendampingi Nabi. Ali bin Abi Thalib. di batu-batu. zakat dan perpajakan. seperti keping-keping tulang. Rasul mengharapkan para sahabatnya untuk menghapalkan AI-Quran dan menuliskannya di tempat-tempat tertentu. dan umat Islam semuanya sependapat menetapkan bahwa AI-Quranul Karim memperoleh perhatian yang penuh dari Rasul dan para sahabatnya. dan sebagainya. Memang metode tulis dalam penyampaian hadits ini pernah menjadi perdebatan. ulama hadis. data sejarah memperkuat metode tulisan juga digunakan oleh Rasulullah.dalam hal ini yang menerima langsung hanya sedikit. Metode Tulisan Seluruh surat Rasulullah kepada raja-raja. serta lainnya. khususnya pada masa Nabi dan sahabat. kepala suku dan gubernur Muslim dapat dikategorikan ke dalam metode tulisan.

Sebagian sahabat menyatakan keberatannya terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh Abdullah itu. Diantara sahabat-sahabat Rasulullah yang mempunyai catatancatatan hadis Rasulullah adalah Abdullah bin Amr bin AS yang menulis. Mereka mencatat sebagian hadis-hadis yang pernah mereka dengar dari Rasulullah SA W. Adapun hadis atau sunnah dalam penulisannya ketika itu belum memperoleh perhatian seperti halnya Al-Quran. wafat. Selain itu. Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat memiliki catatan hadis-hadis Rasulullah SAW. Artinya: "Janganlah kamu tulis apa-apa yang kamu dengar dari aku selain Al- ‫القرأن فليمحه. Penulisan hadis dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi. ayat-ayat suci AI-Quran seluruhnya telah lengkap ditulis.رواه مسلم‬ . hanya saja belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf.Ketika Rasulullah SAW. Al-Quran telah dihapalkan dengan sempurna oleh para sahabat. sahifah-sahifah yang dinamai As-Sadiqah. Mereka beralasan bahwa Rasulullah telah bersabda ‫ل تكتبييو ا عنييي غييير القييرأن وميين كتييب عنييي غييير‬ . karena tidak diperintahkan oleh Rasul (secara husus) sebagaimana ia memerintahkan mereka untuk menulis AI-Quran.

Abu Hurairah menyatakan: "Tidak ada dari seorang sahabat Nabi yang lebih banyak (lebih mengetahui) hadis Rasulullah dari padaku. Dan barang siapa yang lelah menulis sesuatu dariku selain AlQuran. Muslim) Mereka berkata kepada Abdullah bin Amr bin Ash. . Sebagian besar ulama berpendapat bahwa larangan menulis hadis dinasakh (dimansukh) dengan hadis yang memberi izin.مسلم‬ Artinya: "Tulislah apa yang kamu dengar dariku. Rasulullah kemudian bersabda: 11 ‫أكتب فوالذي نفسي بيده ما خرج من فمي إل حق . hendaklah dihapuskan. sedangkan aku tidak menulisnya". padahal beliau kadangkadang dalam keadaan marah. mengenai hal tersebut. diterangkan bahwa Ali bin Abi Thalib mempunyai sebuah sahifah dan Anas bin Malik mempunyai sebuah buku catatan. " (HR. tidak keluar dari mulutku. yang datang kemudian.Quran. demi Tuhan yang jiwaku di tangannya." Mendengar ucapan mereka itu. Abdullah bertanya kepada Rasulullah SAW. selain Abdullah bin Amr bin Ash. lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak dijadikan syariat umum. "Kamu selalu menulis apa yang kamu dengar dari Nabi. selain kebenaran ". Menurut suatu riwayat. Dia menuliskan apa yang dia dengar.

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Rasulullah tidak menghalangi usaha para sahabat menulis hadis secara tidak resmi. dan mereka yang tidak kuat ingatan/hapalannya. Sedangkan izin menulis hadis Nabi diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunah untuk diri sendiri. Tegasnya antara dua hadis Rasulullah di atas tidak ada pertentangan manakala kita memahami bahwa larangan itu hanya berlaku untuk orang-orang tertentu yang dikhawatirkan mencampurkan AI-Quran dengan hadis. Mereka memahami hadis Rasulullah SAW. di atas bahwa larangan Nabi menulis hadis adalah ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan akan mencampuradukan hadis Nabi dengan AI-Quran Sedangkan izin penulisan hanya diberikan kepada mereka yang tidak dikhawatirkan mencampuradukan hadis Nabi dengan Al-Quran. maka tidak ada larangan untuk menulis hadis.12 Di antara sahabat Nabi yang mencatat hadits Nabi dalam shahifah-shahifahnya adalah: 1. . dan mereka yang mempunyai ingatan/kuat hapalannya. Hadits-hadits Abdullah bin Amr ini sekarang terhimpun bersama sama hadits yang disusun oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab Musnadnya. Shahifahnya diberi nama ‫الصحيفة الصادقة‬ Menurut Ibnu al-Atsir di dalam shahifah tersebut termuat sekitar 1000 hadits. setelah Al-Quran ditulis dengan sempurna dan telah lengkap pula turunannya. Abdullah bin Amr bin Ash. Oleh karena itu.

Kemudian Rasulullah memberikan petunjuk praktis supaya kaum muslimin dapat memahaminya dengan mudah. Abdullah bin Abi Awfa. Jabir bin Abdullah al-Anshari.2. Banyak ketentuan al-Qur’an yang bersifat mujmal. 5. Samurah bin Jundub. 4. Shahifahnya dikenal dengan nama Shahifah Abdullah bin Abi Awfa. Shahifahnya disebut Shahifah Jabir.”15 Demikian juga jika Nabi saw menjawab pertanyaan yang banyak. Shahifahnya berisi hadits-hadits Nabi yang berhubungan dengan diyat. “shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat. . hajji dan sebagainya.” Belajarlah kalia dariku upacara manasik ibadah hajjiku. Imam Muslim dalam kitab shahihnya telah menghimpun haditshadits Jabir bin Abdullah ini dalam masalah hajji. tayammum. 3. seperti sabda Nabi saw .13 Metode Peragaan Praktis Metode ini biasanya wujud dalam hadits fi’liyah. shalat.”14 Dan hadits Nabi . Shahifahnya diwarisi oleh anaknya yang bernama Sulaiman bin Samurah. seperti tata cara wudlu. dan belajar melalui pengamatan terhadap praktik beliau. beliau biasanya meminta si penanya tinggal beberapa saat bersama nya. Menyangkut masalah peragaan praktis ini biasanya Rasulullah juga memberikan instruksi yang jelas. Ali bin Abi Thalib.

Dengan lafadz asli (bi al-lafdzi). Adapun cara-cara yang digunakan para shahabat di dalam menyampaikan hadits kepada orang lain (baik kepada sesama sahabat atau kepada tabi’in) ialah melalui dua cara : 1. yakni hadits yang telah diterima oleh para sahabat tersebut disampaikan dengan mengemukakan maknanya saja. Sedangkan cara tidak langsung adalah mereka tidak secara langsung mendengar atau melihat perkataan dan perbuatan Nabi saw.. Dengan makna (secara maknawi) . tetapi mereka dapat mengikuti dan menerima hadits –hadits beliau dengan jalan bertanya kepada sahabat lain yang hadir di majlis Nabi. 2. yaitu menyampaikan hadits yang diterimanya sesuai dengan redaksi yang didengar. Yang dimaksud secara lansung yaitu mereka langsung mendengar atau melihat sendiri apa yang disampaikan dan dilakukan oleh Nabi saw. Cara Shahabat Nabi Dalam Menerima dan Menyampaikan Hadits Dari penjelasan tersebut di atas. tidak persis dengan redaksi yang didengar dan .c. Sedangkan untuk hadits fi’liyah tentu tidak mungkin diriwayatkan dengan lafdzi. Periwayatan dengan lafadz ini tentu hanya berkaitan dengan hadits qawliyah. dapat disimpulkan bahwa cara yang dialami para sahabat dalam menerima hadits dari Nabi saw ialah penerimaan langsung dan penerimaan tidak langsung..

Artinya mereka sangat memperhatikan rawi dan matan hadits dalam hal penerimaan dan periwayatan. sadang isinya dari Nabi saw. Tidak memperbanyak periwayatan dan penerimaan hadits. asal tidak menyalahi isinya. terutama para khalifah pengganti Nabi saw. tetapi dimaksudkan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam periwayatan hadits. Pada masa sahabat penyiaran sunnah Nabi berjalan seiring dengan kebutuhan pembinaan hokum(ketentuan ajaran Islam) yang diperlukan. dan supaya perhatian masyarakat muslim (hususnya yang sedang dalam proses pembelajaran) tidak terganggu dalam mempelajari al-Qur'an. Jadi bahasa dan redaksinya disusun oleh sahabat sendiri. 2.diucapkan Nabi saw. Hal ini jangan diartikan bahwa mereka kurang serius dalam melestarikan hadits. Sangat hati-hati dalam periwayatan.16 Sepeninggal Nabi saw wafat. Hadits-hadits . Dr. Prof.. amanat melestarikan dan membina hadits/sunnah Nabi menjadi tanggung jawab para sahabat. Secara umum pembinaan hadits yang dilakukan para sahabat adalah sebagai berikut: 1. Hasbi alSiddiqi menyatakan bahwa yang penting dari hadits ialah isinya (contens). Sedang bahasa dan redaksinya boleh dengan susunan yang berbeda. namun sesungguhnya hal ini tidak tertuju pada periwayatan itu sendiri. dengan pengawalan yang cukup ketat.

Hal ini terjadi karena beberapa faktor : a.. Para sahabat yunior .yang tidak ada kaitannya dengan pembinaan Syariat. b. sebab para sahabat senior sebagian berada di sana. secara umum masih didominasi oleh penyampaian lisan (melalui hafalan dan ingatan). Sedangkan cara yang ditempuh para sahabat dalam periwayatan (kegiatan menerima dan menyampaikan) hadits. atau bi al-makna. Tradisi saat itu mengharuskan orang melakukan periwayatan dengan lisan. atau tidak memcerminkan sunnah Nabi dilarang untuk disebarkan. bahan untuk keperluan tulis menulis sangat langka. Periwayatan dengan cara yang tidak lazim (misalnya dengan tulisan ) akan dinilai kurang sempurna. baik billafdzi. Untuk itu menulis hadits yang jumlahnya sangat banyak tentu mengalami banyak hambatan. Hadits Pada Periode Abad II H .17 3. Orang yang memiliki kemampuan baca-tulis amat sedikit sehingga dihawatirkan terjadi percampuran dengan al-qur’an c. Pendokumentasian al-qur’an dipandang lebih mendesak di banding hadits18 2. Mushaf yang ditulis pada masa Utsman saja hanya terdiri dari empat (menurut sebagian ulama ada lima) copy. d. telah mulai banyak yang mengadakan perlawatan ke luar kota/ daerah-daerah.

Masing-masing perawi pada waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hapalannya. hingga akhir abad pertama hijrah. yakni masa Rasulullah SAW. Aziz) sampai akhir abad II H (menjelang akhir masa pemerintahan Bani Abbas angakatan pertama) Pada abad pertama hijrah.Masa ini dimulai pada zaman pemerintahan Banu Umaiyah angkatan ke dua (mulai khalifah Umar bin Abd. Ide penghimpunan hadis Nabi secara tertulis untuk pertama kalinya dikemukakan oleh khalifah Umar bin Khattab (w. datanglah angin segar yang mendukung pembukuan hadis (yaitu sebuah usaha pembukuan hadits yang secara resmi berdasar perintah kepala negara dengan melibatkan beberapa personil. Memang hafalan mereka terkenal kuat sehingga mampu menyampaikan kembali hadishadis yang pernah direkam dalam ingatannya. bersifat terbuka dan untuk .. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dinobatkan akhir abad pertama hijrah. yakni tahun 99 hijrah. hadis-hadis itu berpindah-pindah dan disampaikan dari mulut ke mulut. masa khulafaur Rasyidin dan sebagian besar masa Bani Umayyah. Namun ide tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar karena beliau khawatir bila umat Islam terganggu perhatiannya dalam mempelajari Al-Quran. 23/H/644 M).

karena aku takut akan lenyapnya ilmu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan diterima selain hadis Rasul SAW dan hendaklah disebarluaskan ilmu dan diadakan majelis-majelis ilmu supaya orang . Pada tahun 100 H.kepentingan publik)19. Umar bin Abdul Azis seorang khalifah dari Bani Umayyah terkenal adil dan wara'. sehingga beliau dipandang sebagai khalifah Rasyidin yang kelima. Abu Bakar bin Muhammad bin Amer bin Hazm supaya membukukan hadis-hadis Nabi yang terdapat pada para penghafal. mungkin hadis-hadis itu akan lenyap bersama lenyapnya para penghapalnya. Khalifah Umar bin Abdul Azis memerintahkah kepada gubernur Madinah. karena meninggal dunia. Beliau sangat waspada dan sadar. Beliau khawatir apabila tidak segera dikumpulkan dan dikodifikasi dalam buku-buku hadis dari para perawinya. Maka tergeraklah untuk mengumpulkan hadis-hadis Nabi dari para penghapal yang masih hidup. bahwa para perawi yang mengumpulkan hadis dalam ingatannya semakin sedikit jumlahnya. Umar bin Abdul Azis menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm yang berbunyi:20 ‫انظر ماكان من حديث رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ ‫فاكتبه فإني خفت دروس العلم وذهاب العلميياء ولتقبييل‬ ‫إلحدبث الرسول صلى ال عليييه وسييلم ولتفشييوا العلييم‬ ‫ولتجلسوا ختى يعلم من ليعلم فإن العلييم ليهلييك حييتى‬ ‫يكون سترا‬ Artinya: "Perhatikanlah apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasul lalu tulislah.

150 H). dan dapat sampai di tengah-tengah kita adalah : . 176) Sufyan al-Tsawri (97-161 H) Al-Awza’I (88-157 H) Ibnu al-Mubarak (118-181 H) Jarir bin Abd Hamid (110-188 H) Muhammad bin Ishaq (w. 160 H) Ibnu Abi Dzi’bin (80-158 H) Hammam bin Sulaiman (w. pembukuan hadis dilanjutkan oleh Malik bin Anas (93-179 H)Ibn Juraij (w.21 Di antara kitab hadits yang disusun pada abad II H. 151)dan masih banyak lagi ulama-ulama lainnya. Az-Zuhri inilah yang merupakan salah satu ulama. yang pertama kali membukukan hadis (sedang Abu Bakar bin Muhammad bin Amer bin Hazm.yang tidak mengetahuinya dapat mengetahuinya. " Selain kepada Gubernur Madinah. ArRabi' bin Shabih (w. khalifah juga menulis surat kepada Gubernur lain agar mengusahakan pembukuan hadis. Khalifah juga secara khusus menulis surat kepada Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri. Kemudian Ibnu Syihab Az-Zuhri mulai melaksanakan perintah khalifah tersebut. Gubernur Madinah adalah kaum birokrat pertama yang membukukan hadits nabi) . Dari Ibnu Syihab Az-Zuhri ini (15-124 H) kemudian dikembangkan oleh ulama-ulama berikutnya. maka sesungguhnya ilmu itu tidak sirna sampai dirahasiakan.

22 a. susunan Muhammad bin Idris al-Syafi'i . berisi antara lain tentang perjalanan Nabi saw dan peperangan yang terjadi zaman Nabi. dan cara mengompromikan hadits-hadits yang secara lahiriyah tampak berlawanan. mencakup hadits Nabi saw.1. disusun oleh Muhammad bin Idris al-Syafi'i Kumpulan hadits ini dimuat juga di dalam kitab beliau .Al-Umm 3. belum ada pemisahan antara hadits marfu’. Ciri-Ciri Pembukuan Pada Periode Abad II H Dengan kegiatan pembukuan hadits yang pertama kali secara resmi. disusun oleh Imam Malik bin Anas atas permintaan khalifah Abu Ja’far al-Manshur. Sirat al-Nabawiyah. Musnad al-Syafi'i . fatwa shahabat dan tabi’in. Dengan demikian kitab hadits dalam periode ini. Al-Muwatha’. Kitab hadits saat itu yang hanya husus . 2. Mukhtalif al-Hadits. Secara umum ciri-ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut: a. disusun oleh Ibnu Ishaq. Di dalamnya dibahas tentang cara menerima hadits sebagai hujjah. maka secara resmi pula kaum muslimin memiliki kitab-kitab hadits yang dapat dijadikan rujukan untuk belajar dan mendalami petunjuk-petunjuk Nabi saw. hadits mauquf dan hadits maqthu’. 4. Hadits yang dibukukan dalam kitab/dewan hadits. Akan tetapi buku atau kitab hadits tersebut masih dalam bentuknya yang sederhana.

Mulai saat itulah timbulnya riwayat-riwayat hadis . Gubernur kota Madinah yang mendapat Instruksi Khalifah Umar bin Abd. Masing-masing kelompok mengaku berada dalam pihak yang benar dan menuduh pihak lainnya salah. khawarij. Untuk membela pendirian masing-masing. maka umat Islam terpecah menjadi tiga golongan. b. dan jumhur. terkumpul dalam satu bab.menghimpun hadits Nabi saw adalah yang ditulis oleh Muhammad bin Hazm. c. masih bercampur antar berbagai tema. maka mereka membuat hadis-hadis palsu. hasan dan dha’if. Hadits-hadits yang disusun dalam kitab belum dipisah. yaitu syiah. Aziz : ‫لتقبل ال حديث الرسول صلى ال عليه وسلم‬ b. belum ada pengelompokan misalnya bab tentang hukum. Pemalsuan Dan upaya Penyelamatan Hadits Nabi Sejak terbunuhnya khalifah Usman bin Affan dan tampilnya Ali bin Abu Thalib serta Muawiyah yang masing-masing ingin memegang jabatan khalifah. Yang pertama melakukan pengelompokan berdasar tema adalah Imam alSyafi’i. umumnya belum dikelompokkan dalam judul-judul (maudhu’) tertentu. Dengan demikian hadits yang tertulis dalam kitab. antara yang shahih. hadits tentang tafsir dan sebagainya. Hadist yang ditulis dalam kitab hadits saat itu. yaitu masalah thalaq. sejarah Nabi.

2.palsu. Sebagai imbangan. Orang yang berdusta dalam pembicaraannya walaupun dia tidak berdusta kepada Rasul. Orang-orang yang mula-mula membuat hadis palsu adalah dari golongan Syiah kemudian golongan khawarij dan jumhur. Orang yang kurang akal.23 . Orang yang mengikuti hawa nafsunya yang mengajak masyarakat untuk mengikuti hawa nafsunya. Menurut Imam Malik ada empat jenis orang yang hadisnya tidak boleh diambil darinya: 1. 3. tukang kisah yang berupaya untuk menarik minat masyarakat agar mendengarkannya dengan membuat kisah-kisah palsu. pemalsuan hadis bertambah luas dengan munculnya propaganda-propaganda politik untuk menumbangkan rezim Bani Umayyah. Orang yang tampaknya saleh dan beribadah apabila orang itu tidak mengetahui nilai-nilai hadis yang diriwayatkannya. 4. Tempat mula berkembangnya hadis palsu adalah daerah Irak tempat kamu syiah berpusat pada waktu itu. muncul pula dari pihak Muawiyyah ahli-ahli pemalsu hadis untuk membendung arus propaganda yang dilakukan oleh golongan oposisi. Selain itu. muncul juga golongan Zindiq. Pada abad kedua.

Ciri-ciri yang menunjukkan bahwa hadis itu palsu antara lain: . Hal ini dilakukan untuk mengetahui mana yang benar-benar dapat diterima periwayatannya dan mana yang tidak dapat diterima. tahun 507 H) 1. Untuk itu. Kitab ‫تذكرت الموضوعات‬ oleh Muhammad bin Thahir Ak-Maqdisi(w. Kitab ‫الموضوعات الكبرى‬ oleh Ibnul Jauzi (w. para ulama menyusun kitabkitab yang secara khusus menerangkan hadis-hadis palsu tersebut. tahun 597 H) Di samping itu para ulama hadis membuat kaidah-kaidah atau patokan-patokan serta menetapkan ciri-ciri kongkret yang dapat menunjukkan bahwa suatu hadis itu palsu. Selain itu juga diusahakan pemberantasan terhadap hadis-hadis palsu oleh para ulama.Untuk itu. yaitu dengan cara menunjukan nama-nama dari oknum-oknum/ golongan-golongan yang memalsukan hais berikut hadis-hadis yang dibuatnya supaya umat islam tidak terpengaruh dan tersesat oleh perbuatan mereka. kemudian sebagian ulama mempelajari dan meneliti keadaan perawi-perawi hadis yang dalam masa itu banyak terdapat perawi-perawi hadis yang lemah Diantara perawi-perawi tersebut. yaitu antara lain : 1.

Isi/maksud itu bertentangan dengan nas Al-Quran dan atau hadis mutawatir. Hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah SWT. seperti hadis: ‫الباذنجان شفاء من كل داء‬ Artinya: "Buah terong itu menyembuhkan. seperti hadis: ‫لتسبوا الديك فإنه صديقي‬ Artinya: "Janganlah engkau memaki ayam jantan.1. " 2. " 3. : ‫ولتزروازرة وزرأخرى‬ . " 4. karena dia teman karibku.. seperti hadis: ‫ليدخل ولد الزنا الجنة‬ Artinya: "Anak zina itu tidak akan masuk surga. sehingga tidak pantas rasanya disabdakan oleh Nabi SAW. Susunan hadis itu baik lafaz maupun maknanya janggal. Isi maksud hadis tersebut bertentangan dengan akal. Segala macam penyakit.

tetapi belum begitu sempurna. berupa kegiatan sebagain berikut: 1. Kegiatan Para Ulama Hadits Sebagaimana telah disebutkan di atas. Kitab hadits yang ada berisi campuran antara hadits yang shahih dan dha’if. a. Maka pada awal abad III H.Artinya: "Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. karena pada masa inilah kegiatan pentashihan hadits Nabi mulai dilakukan dengan sitematis. Mengadakan perlawatan ke daerah-daerah yang jauh. mauquf dan maqthu’. Kegiatan ini dilakukan karena hadits-hadits Nabi yang sudah dibukukan pada . Periode abad ini disebut sebagai masa penyaringan dan seleksi hadits. " (QS. Hadits Pada Periode Abad III H Periode ini dimulai sejak masa akhir pemerintahan Bani Abbas angkatan pertama (Khalifah al-Makmun) sampai awal pemerintahan Bani Abbas angkatan ke dua (Khalifah al-Muqtadir). bahwa pembukuan hadis dimulai sejak akhir masa pemerintahan Bani Umayyah angakatan pertama (awal pemerintahan Bani Umayah angkatan ke dua) sampai ahir abad II H. Begitu pula belum dipisahkan antara hadits yang marfu’. dilakukan upaya penyempunaan. Fatir: 18) 3.

Akan tetapi setelah al- . Kemudian diikuti Imam Muslim. Mengadakan klasifikasi antara hadits yang marfu’(hadits yang disandarkan kepada Nabi). Oleh karena itu untuk melengkapi koleksi hadits Nabi. Abu Dawud . Selama 16 tahun beliau telah melakukan perlawatan ke kota Makkah.abad II H baru terbatas pada hadits hadits Nabi yang ada di kotakota tertentu saja. Baghdad. Ulama yang mempelopori kegiatan ini adalah Ishaq Ibnu Rahawaih. maka masih sangat banyak hadits Nabi yang belum dibukukan. al-Turmudzi. Demaskus. maka hadits Nabi telah terpelihara dari percampuran dengan fatwa sahabat dan fatwa tabi’in. 3. Para ulama mulai mengadakan seleksi kualitas hadits antara hadits yang shahih dan yang dha’if. Bashrah. padahal dengan telah tersebarnya para perawi hadits ke tempat-tempat yang jauh (karena kekuasaan Islam telah semakin luas). Mesir. Abu Dawud. Kemudian tilanjutkan oleh al-Bukhari. jalan satu-satunya adalah melakukan rihlah (perjalanan) ke tempattempat yang dimaksud. al-Turmudzi. mauquf (yang disandarkan kepada Sahabat Nabi) dan yang maqthu’(yang disandarkan kepada Tabi’in). Sebelum kemunculan al-Turmudzi. klasifikasi hadits hanya terdiri atas hadits shahih dan dha’if. 2. Madinah. Kufah. Usaha ini dipelopori oleh Imam al-Bukhori. Ibnu Majah dan lainlain. al-Nasa’I. Muslim. Naisabur dan sebagainya. al-Nasa’I dan lain-lain. Dengan usaha ini.

4. Metode ini dikenal dengan istilah metode Mushannaf. Menghimpun kritik yang dilontarkan para ahli ilmu kalam dan lainlain. Ulama yang merintis mertode ini adalah Imam al-Bukhari. baik kritik yang ditujukan kepada pribadi perawi maupun pada matan hadits. Salah seorang ulama yang melakukan kegiatan ini adalah Ibnu Qutaibah dengan menyusun kitab“Ta’wilu Mukhtalif al-Hadits fi Raddi ‘Ala ada’ alHadits.24 b. Yaitu kitab hadits yang disusun dengan cara menghimpun hadits-hadits yang berkualitas shahih. alTurmudzi dan lain-lain. Kitab Shahih.Turmudzi. 5. sehingga kitab tersebut memiliki bab-bab sesuai dengan masalah tertentu. Menyusun kitab hadits hadits berdasarkan tema dan masalah. Sesudah itu baru diikuti oleh Abu Dawud. Metode ini dilakukan untuk mempermudah mencari masalah yang dikandung oleh hadits. klasifikasi itu berkembang menjadi hadits shahih. sedang hadits- . hasan dan dha’if. Kemudian dilakukan upaya pembelaan dengan melakukan bantahan terhadap kritik tersebut. kemudian diikuti oleh muridnya sendiri yaitu Imam Muslim. Bentuk Penyusunan Kitab-Kitab Hadits Sistem pembukuan (kodifikasi) hadits pada periode ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk : 1.

kitab Musnad . Sunan Ibnu Majah dan Sunan al-Darimi. karya Utsman bin Abi Syaibah. Misalnya hadits-hadits yang diriwayatkan saiyidah A’isyah. Contohnya adalah Kitab Sunan Abu Dawud. karya al-Bukhari. yaitu kitab hadits yang dususun. Sunan alNasa’I. dan al-Jani’ al-Shahih karya Imam Muslim. Bentuk penyusunan kitab shahih termasuk bentuk mushannaf. Hadits-hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas. juga mengikut sertakan hadits yang berkualitas hasan dan dha’if. Untuk hadits yang berkualitas tidak shahih biasanya . 3. Kitab Sunan. tetapi tidak dijelaskan kualitasnya oleh sang penyusun. Sunan Al-Turmudzi. Kitab Musnad. dengan catatan tidak berkualitas hadits mungkar dan terlalu lemah. Kitab sunan termasuk disusun dengan metode mushannaf. Contohnya kitab al-Jami’ al-Shahih. selaim memuat hadits-hadits yang berkualitas shahih.dihimpun di bawah titel Ibnu Abbas dan seterusnya.hadits yang berkualitas tidak shahih tidak dimasukkan ke dalam kitab. karya Ahmad bin Hambal.25 . oleh penyusunnya. diterangkan kelemahannya. dihimpun di bawah titel A’isyah. Kitab musnad ini berisi hadits yang berkualitas shahih dan tidak shahih. karya Abu al-Qasim al-Baghawi. Contoh Kitab Musnad . 2. Kitab Musnad. yaitu kitab hadits yang disusun dengan menggunakan nama-nama perawi pertamanya (rawi dari kalangan shahabat Nabi) sebagai bab.

Sunan al-Turmudzi karya Imam al-Turmudzi 5. atau kitab-kitab yang isinya lebih banyak memuat hadits shahih. ahirnya mereka telah berhasil menyusun berbagai kitab hadits. Sunan al-Darimi karya Imam al-Darimi . Al-Jami’ al-Shahih karya Imam al-Bukhari 2. al-Muwattha’ karya Imam Malik bin Anas 8. ditambah dengan kitab-kitan hadits berikut: 7. Al-Jami’ al-Shahih karya Imam Muslim 3. Al-Kutub al-Sittah terdiri atas kitab-kitab shahih dan kitab-kitab sunan sebagai berikut : 1.c. Kitab-Kitab Hadits Induk Berkat keuletan para ulama hadits yang telah bersusah-payah mengadakan perjalanan melacak hadits ke berbagai daerah. Sunan Abu Dawud karya Imam Abu Dawud 4. Sunan Ibnu Majah karya Imam Ibnu Majah Sedangkan al-Kutub al-Tis’ah adalah terdiri atas kitab-kitab induk yang enam di atas. mereka telah berhasil membukukan hadits-hadits yang shahih. Demikian pula berkat kesungguhan mereka dalam melakukan kegiatan penyaringan hadits. Sunan al-Nasa’i karya Imam al-Nasa’I 6. Kitab-kitab ini pada perkembangan selanjutnya dikenal al-kutub alsittah (kitab induk enam) atau al-kitab al-tis’ah (kitab induk sembilan).

Musnad Ahmad karya Imam Ahmad bin Hambal Suatu catatan yang perlu diketahui bahwa walaupun kitab-kitab hadits di atas disebut sebagai kitab induk (hadits).26 4. Namun demikian. pensyarahan dan pentahrijan. penertiban. Masa ini disebut juga dengan istilah periode ulama muta’akhirin27. Hadits Pada Periode Abad IV H ( Periode Penyempurnaan Sistematika Pembukuan) Dan Sesudahnya Periode ini dimulai pada masa pemerintahan Bani Abbas angakatan ke dua (masa pemerintahan al-Muqtadir). penggabungan. berstatus shahih secara keseluruhan. Mulai pada periode ini dinamakan sebagai masa pemeliharaan. Masih ada beberapa hadits yang kualitasnya hasan atau bahkan lemah dalam sanad tertentu. Untuk itu melakukan konfirmasi dan membandingkan suatu matan hadits melalui berbagai sanad yang berbeda sangat bermakna. masih ada kemungkinan shahih pada sanadnya yang lain. Oleh karena itu tetap diperlukan sikap kritis di dalam mempergunakannya. perlu diketahui pula bahwa jika terdapat suatu hadits yang lemah dari sisi sanad tertentu. tetapi tidak semua hadits Nabi yang dikandung di dalamnya. .9. guna menghindari sikap gegabah dalam melemahkan suatu hadits. penambahan. Tindakan selektif dengan memperhatikan pendapat para ulama yang tetah melakukan pengkajian dan penelitian hadits patut diperhatikan.

Pada abad III H hampir seluruh hadits Nabi telah terbukukan. Kegiatan Para Ulama Pada periode ini kaadaan daulat islamiyah sudah mulai melemah. menertibkan dan menghimpun segala sanad dan matan yang saling berhubungan serta yang telah termuat secara terpisah dalam kitab-kitab yang sudah ada (5) memberikan syarah dan komentar haditshadits yang sudah dihimpun dalam kitab hadits yang ada. sekalipun caranya berbeda dengan ulama sebelumnya. meskipun masih ada yang melakukan usaha pembukuan (melakukan perlawatan ke daerah dengan tujuan mendapatkan hadits untuk dihimpunan dalam suatu kitab). dengan cara (1) mempelajari (2) menghafal (3) memeriksa dan menyelidiki sanad (4) menyusun kitab-kitab baru dengan tujuan untuk memelihara.28 Di antara kitab-kitab yang tersusun pada abad ini ialah sebagai berikut: 1. karya Ibnu Huzaimah . sebab kenyataannya masih sangat banyak para ulama yang menekuni dan mendalami serta bersungguh-sungguh dalam memelihara dan mengembangkan pembinaan hadits. Oleh karena itu kegiatan para ulama abad IV H ini.a. Kitab al-Shahih. namun kegiatan para ulama hadits dalam melestarikan hadits Nabi tetap tidak terpengaruh. tetapi kebanyakan kegiatan mereka ditujukan kepada pemeliharaan hadits dengan berpedoman pada kitab-kitab yang sudah ada.

susunan Ibnu Hibban 3. Athraf al-Shahihain. susunan Muhammad Ibnu Thahir alMaqdisi 2. Al-Muntaqa .. susunan Abu Muhammad Khallaf Ibnu Muhammad al-Wasithi c. karya Abu Awanah 4. Ciri-Ciri Sistem Pembukuan Hadits Ulama hadits pada periode ini di samping menyusun kitab hadits seperti metode yang ditempuh ulama sebelumnya. maupun dari kitab lain. dan lain-lain b. atau salah satunya. Al-Anwa’ wa al-Taqsim. yaitu kitab hadits yang isinya hanya menyebut sebagian-sebagian dari matan hadits tertentu. Athraf Kutub al-Sittah. Kitab Musnad. Kitab Mustakhraj.2. yaitu kitab hadits yang memuat matan-matan hadits yang diriwayatkan misalnya oleh al-Bukhari dan Muslim. Misalnya : a. karya Ibrahin al-Dimasyqy b. baik dari sanad yang berasal dari kitab hadits yang dikutip. juga menyususn kitab hadits dengan sistem baru sebagai berikut: 1. susunan Ibnu Jarud 5. Kitab Athraf. yaitu dalam bentuk mushannaf dan musnad. kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan yang bersangkutan. Athraf sl-Shahihain. kemudian penyusun kitab meriwayatkan .

karya al-Baghawi . yaitu kitab hadits yang menghimpun hadits hadits Nabi berdasar masalah tertentu dari kitab-kitab yang telah ada. Mashabih al-Sunan. karya Ibnu al-Furat b. karya al-Jurjani b.matan-matan hadits tersebut dengan menggunakan sanadnya sendiri yang berbeda. karya Imam alHakim 4. yaitu kitab hadits yang menghimpun hadits hadits yang memiliki syarat . Al-Jami’ Baina al-Shahihaini. Al-Jami’ Baina al-Shahihaini. Al-Sunan al-Kubra. Contohnya : a. karya Abu Awanah Mustakhraj Bukhari-Muslim. contohnya antara lain: a. c. Muntaqa al-Akhbar fi al-Ahkam. Mustakhraj Shahih Muslim. Kitab al-Mustadrak. karya al-Baghawi 5. atau memiliki syarat dengan salah satu kitab Bukhari-Muslim. misalnya Bukhari-Muslim. karya al-Baghawi c. Kitab Berdasar pokok Masalah. Kitab Jami’ . karya Majduddin Abd. yaitu kitab hadits yang menghimpun (mengumpulkan )hadits hadits Nabi yang terlah termuat dalam kitab yang telah ada dalam satu kitab tertentu. Salam b. Misalnya: a. karya Abu Bakar Ibnu Abdan al-Syirazi 3. Mustakhraj Shahih al-Bukhari . Contohnya : Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihaini.

Syarah Shahih al-Bukhari. Al-Jami’ al-Shaghir. Syarah Ta’liq. Syarah Muslim. Al-Dibajah. Aun al-Ma’bud. Ghoni al-Maqdisi 6. atau hadits nabi atau dengan keterangan rasional. Contoh : a. Kitab Syarah . Baqi . karya Abd. mukhtashar kitab Jam’ul Jawami’. dengan cara menyederhanakan / meringkas periwayatan hadits tertentu. syarah Sunan Ibnu Majah. karya Imam al-Nawawi c. yaitu kitab hadits yang memuat hadits hadits yang sudah dihimpun dalam kitab yang sudah ada. Umdat al-Ahkam. baik dengan menggunakan ayat al-qur’an. syarah sunan al-Nasa’i. Syarah al-Turmudzi. Qutul Mughtadzi. karya Imam al-Syuyuthi b.c. Contohnya antara lain: a. yaitu kitab hadits yang memuat hadits-hadits dari kitab tertentu yang sudah ada. karya Imam al-Syuyuthi e. karya Syamsul Haq alAdhim al-Abady d. karya Damiri. Kamaluddin al- 7. karya Ibnu Hajar alAtsqalani b. Muhtashar Shahih-Muslim. Fath al-Bari. Misalnya dengan membuang sanad. karya Muhammad Fu’ad Abd. Kitab Mukhtashar. kemudian dijelaskan dan dikomentari maksudnya. karya Imam al-Syuyuthi f. syarah Sunan Abi Dawud. Al-Minhaj.

8. Kitab ini memberikan petunjuk untuk mencari matan hadits yang terdapat dalam 14 macam kitab hadits (Kitab shahih al-Bukhari. Kitab Takhrij Ahadits al-Anbiya’. Sirat Ibnu Hisyam dan al-Maghazi al-Waqidi) 9. Shahih Muslim. yaitu kitab yang disusun dengan memuat penjelasan tentang tempat-tempat pengambilah hadits yang dimuat dalam kitab tertentu. Musnad Ahmad bin Hambal. selkaligus menjelaskan kualitanya. mulai dari nama kitab. bab dan sub babnya. karya Al-Iraqi. Baqy. karya al-Ghazali . Thabaqat Ibnu Sa’ad.Winsink. Sebagian kitab kamus hadits. Sunan al-Darimi. kemudian menjelaskan letak hadits yang dimaksud di dalam kitab-kitab hadits. Sunan al-Turmudzi. karya Prof. Sunan Abu Dawud. ada yang menyebut tempat hadits dengan menunjuk juz dan halaman kitab hadits yang dimaksud. Dr. Muwattha’ Malik. Sunan Ibnu Majah. Musnad Abu Dawud al-Thayalisi. Kitab Petunjuk /Kamus Hadits : yaitu kitab yang disusun dengan memuat sebagian kalimat dari sustu hadits Nabi. Contohnya antara lain ialah kitab Miftah Kunuz alSunnah. Sunan al-Nasa’i. Di antara contohnya : a.J. Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Fuad Abd. A. merupakan kitab tahrij terhadap hadits-hadits yang ada dalam kitab Ihya’ Ulum alDin. Musnad Zaid bin Ali. Kitab Tahrij .

Memuat hadits hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi. misalnya hadits yang dimuat dalam kitab Sunan alKubra karya Imam al-Baihaqi).Contohnya Seperti kitab Zawaid al-Sunan al-Kubra. Bentuk Penilaian Bentuk tes yang dipakai adalah essay. Jenis Penilaian Jenis penilaian yang dipergunakan dalam proses pembelajaran ini adalah tes tertulis (paper and pencil test) dan non tes 2. sedangkan bentuk non tes-nya mempergunakan performan selama proses perkuliahan dan bentuk proyek berupa penyelesaian tugas tertentu . 10 Kitab Zawa’id .b. karya al-Bushiri. tetapi tidak dimuat di dalam kitab hadits yang disusun oleh ulama tertentu pula. Tetapi tidak dimuat dalam al-Kutub al-Sittah. karya al-Mannawi. Lembar Penilaian 1.sebagai takhrij terhadap hadits-hadits yang dimuat dalam kitab Tafsir Baidhawi . K. Kitab Takhrij Ahadits al-Baidhawi. yaitu kitab hadits yang disusun dengan memuat haditshadits yang diriwayatakan oleh ulama hadits tertentu (dan dimuat dalam kitab ulama tersebut.

Kedisiplinan 2. Apa saja upaya para ulama dalam menjaga kemurnian dan kelestarian hadits Nabi 5. sejak kapan penulisan dimulai. dan sejak kapan pula usaha pembukuan dilakukan. Jelaskan dan siapa yang mengagasnya 3.3. Kemukakan bagaimana ciri pembukuan hadits pada abad II H 4. Apa saja bentuk kitab hadits yang diterbitkan pada abad III dan IV H b. Sebutkan Bagaimana metode Nabi saw dalam menyebarkan hadits-haditsnya 2. Tes 1. Insrumen Penilaian a. Rasionalitas . Pengamatan FORMAT PENILAIAN PERFORMAN NO 1 2 3 4 5 6 NAMA MAHASISWA VARIABEL YG DIAMATI 1 2 3 4 5 6 NILAI RERATA Keterangan Variabel 1. Antusiasme 3.

Item 1 jawaban benar bernilai 20 b. Pembobotan Test Tertulis 40 % Performan 20 % Proyek 40 % . Performan Skor penilaian performan bergerak dengan rentangan antara 60-100 4. item 2 jawaban benar bernilai 20 c. Proyek Skor penilaian proyek bergerak dengan rentangan antara 60-100 4. Item 4 jawaban benar bernilai 20 b. Item 3 jawaban benar bernilai 20 a. Cara berkomunikasi c.4.3. Kerjasama 5.2. d.1.4. Petunjuk Penyekoran 4. Proyek Buat resume tentang bentuk /jenis kitab hadits yang dihasilkan pada abad V – VII H. Tes a. Item 5 jawaban benar bernilai 20 Total Nilai = 100 4.

baik yang berhubungah dengan sanad atau matan hadits.Paket 4 ILMU HADITS DAN CABANG-CABANGNYA A. B. Kedua pengetahuan tersebut sama-sama penting. setiap muslim dan siapapun yang mempelajari dengan baik akan mendapatkan informasi yang akurat dan akuntabel tentang hadits Nabi/ Rasulullah saw. Kompetensi Dasar Mahasiswa cabang ilmu hadits memahami pengertian. Pendahuluan Secara garis besar ilmu hadits dibagi atas ilmu hadits riwayat dan ilmu hadits dirayat. sejarah yang dilalui. harus menguasai ilmu tersebut. Sementara itu dengan menguasai ilmu yang kedua. terurama ilmu hadits yang berkaitan dengan kegiataan takhrij dan penelitian sanad hadit Nabi saw. Sebab dengan ilmu yang pertama. setiap muslim yang ingin mengikuti jejak laku dan teladan Rasulullah . Jika ilmu hadits riwayat membahas materi hadis yang menjadi kandungan makna. Standar Kompetensi Mahasiswa menguasai konsep dan dasar–dasar Ilmu Hadits serta mampu melakukan penelitian sanad hadits Nabi saw. maka ilmu hadits dirayat mengambil pembahasan mengenai kaidah-kaidahnya. dan cabang-cabang ilmu hadits. C. Di bawah ini akan dibahas tentang pengertian ilmu hadits. sejarah perkembangan dan cabang- .

Menyajikan paparan tentang makna. Mahasiswa mampu menyebutkan. Mendiskusikan tentang pengertian. E. sejarah Power poin perkembangan dan cabang-cabang ilmu hadits secara garis besar 2. Indikator 1. Mahasiswa dapat menguraikan dan menjelaskan dengan baik perkembangan dan perjalanan ilmu hadits 3.D. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian dan makna ilmu hadits 2. sejarah dan . Apersepsi pentingnya penguasaan Ilmu Hadits bagi sarjana PAI dalam memahami hadits Nabi Kegiatan Inti 60 menit 1. Waktu Alokasi waktu yang diperlukan untuk mencapai beberapa indicator tersebut adalah satu kali tatap muka (120 menit). Kegiatan Pembelajaran Waktu Langkah Pembelajaran Bahan Kegiatan Awal 25 menit 1. menguraikan dan menjelaskan cabang dan macam-macam ilmu hadits E. Memusatkan perhatian mahasiswa pada materi Uraian pembahasan dengan menjelaskan materi pokok 2.

Kesimpulan hasil diskusi 2.Perwakilan masing-masing hasil kelompok diskusi dan mempresentasikan pendalamannya di depan kelas Kegiatan Penutup 25 menit 1. Dorongan pendalaman buku rujukan/referensi 2. Sedangkan kelompok 2 mendiskusikan dan uraian Sejarah perkembangan ilmu hadits.Lembar Kegiatan Mahasiswa 1. Dan kelompok 3 mendiskusikan cabang-cabang ilmu hadits 5. Kelompok 1 Modul/ mendiskusikan pengertian dan kegunaan ilmu buku teks hadits.cabang-cabang ilmu hadits 3. Tujuan . Merefleksi proses pembelajaran Kegiatan Tindak lanjut 10 menit 1. Melakukan tes lisan atas hasil pembelajaran 3. Mahasiswa ditugasi Meresume pendapat para ulama tentang sejarah dan macam-macam ilmu hadits G. Kelas dibagi menjadi 3 kelompok.

Materi Pokok d. Drs. Uraian Materi 3. Syuhudi Ismail.Mendiskusikan sejarah perkembangan ilmu dan cabang-cabang ilmu hadits c.Sumber Pembelajaran 1.Agar mahasiswa memahami dan dapat memahami dengan baik tentang pengertian. sejarah dan cabang-cabang ilmu hadits serta kegunaannya dalam studi hadits Nabi 2. Modul b. Pengertian Ilmu Hadits Sejarah Perkembangan Ilmu Hadits Cabang-cabang ilmu hadits. Mempresentasika hasil diskusi H. Shubhi Shalih Dr. Bahan dan alat a. Kegiatan a. Mendiskusikan makna dan kegunaan ilmu hadits b. e. I. Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu . Pengantar Ilmu Hadits 2. f.

Ikhtisar Musthalah Hadits J. sebagaimana dikutib Syuhudi Ismail dan Nur Sulaiman. maka cakupan (obyek) ilmu hadits itu sangat luas. Majid Khon. mengartikan ilmu Hadits sebagai segala pengetahuan yang berhubungan dengan hadits Nabi. Ia tidak saja menyangkut matan dan sanad hadits. pilitik dan social ekonomi yang melingkupi hadits Nabi. Dr.29 Dari definisi ini. Ilmu Mushthalah Hadits. Fathur Rahman. Ilmu Mushthalahi ahli al-Atsar. Hasbi al-Siddiqi. Di antaranya adalah Ilmu Ushul al-Hadits. Drs. maka ilmu hadits bisa mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan ilmu itu sendiri. Ilmu Pilitik Hadits dan sebagaimnya. Uraian Materi 1.3. tetapi juga menyangkut setting social-budaya. Definisi ini senada dengan pengertian yang dirumuskan oleh Ibnu Hajar al-Atsqalani 30: ‫معرفة القواعد التى يتوصل بها الى معرفة الراوي والمروي‬ . Prof. Dr. Misalnya ilmu sosiologi Hadits. Makna Istilah Ilmu Hadits Dan Kegunaannya Banyak macam istilah yang digunakan para ulama untuk menyebut ilmu hadits. Abd. Ilmu Mushthalahi Ahli al-Hadits. Berangkat dari pengertian ini. Ulum al-Hadits 4.

maqbul atau mardud. tetapi pembahasannya lebih pada apa saja penuturan yang berasal dari nabi saw. bagaimana cara memahami hadits . Ilmu hadis riwayah ialah ilmu yang membahas segala perkataan.“Pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kaadaan para perawi dan apa yang diriwayatkan(matan hadits)” Secara garis besar ilmu-ilmu hadits dapat dibagi menjadi dua. Sunan al-Darimi dan lain se bagainya. Dengan demikian maka obyek Ilmu hadits Riwayat adalah pribadi Nabi. penetapan dan sifat-sifat Nabi saw. Hal ini dilakukan kerena ditujukan agar supaya mengetahui apa saja sikap dan prilaku nabi yang dapat dicontoh dan diteladani. Muwatha’ Malik. dan juga tidak mempersoalkan apakan hadits tersebut shaih atau tidak. Sunan al-Nasa’i. Sedang Ilmu hadis Dirayat berkisar pada kaidah-kaidah untuk mengetahui kaadaan matan dan sanad hadits. perbuatan. Wilayah dan ruang lingkup pembahasan Ilmu ini tidak menyinggung apakah hadits itu mutawatir atau ahad. Dintara kitabkitab yang mebahas ilmu riwayat adalah kitab Shahih al-Bukhari. Sunan Ibnu Majah. Sunan Abu Dawud. perbuatan. Musnad Ahmad. yaitu ilmu hadits riwayat (riwayah) dan ilmu hadits diroyat (diroyah). baik dari segi perkataan. Jadi ilmu ini titik tekannya pada materi hadits itu sendiri. bagaimana cara-cara penukilan hadis yang dilakukan oleh para ahli hadis. shahih Muslim. tentang sifat-sifat rawi. bagaimana cara menyampaikan kepada orang lain. ketetapan dan sifat-sifat Nabi Saw.

seperti ilmu Rijal al-Hadits. Ilmu Asbab al-Nuzul. Dari dua pokok asasi ini. Menjaga dan memelihara hadits Nabi dari segala kesalahan dan penyimpangan 3. 2. Dapat mengetahui periwayatan yang maqbul (diterima) dan yang mardud (tertolak) 9. Ilmu Tarih al-Rawi. 5. Dapat melakukan penelitian hadits sesuai dengan kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang disepakati para ulama . Ilmu al-Jarhi wa al-Ta’dil. 8. terbitlah berbagai-bagai berbagai ilmu hadits. baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Mengetahu upaya dan jerih payah para ulama dalam menjaga dan melestarikan hadits Nabi 6. Dapat mengetahui istilah-istilah yang dipergunakan para ulama hadits 7. Melaksanakan Syari’at sesuai dengan sunnah Nabi saw. Mengetahui kriteria yang dipergunakan para ulama dalam mengklasifikasikan kaadaan hadist. Ilmu Musykilat al-Hadits dan sebagainya. baik dari sisi kuantitas / jumlah sanad maupun dari sisi kualitas sanad dan matannya. Dapat meneladani akhlak Nabi saw. Menjaga kemurnian syariat Islam dari berbagai penyimpangan 4. Adapun kegunaan mempelajari ilmu hadits antara lain : 1.dan sebagainya. secara benar.

yang merupakan emberio bagi pertumbuhan ilmu hadits dikemudian hari. Perkembangan ilmu hadits selalu beriringan dengan pertumbuhan pembinaan hadits itu sendiri. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” Demikian pula dalam surat al-Thalaq : 2 . mampu bersikap kritis dan proporsional terhadap periwayatan hadits Nabi saw. Pada saat Rasulullah saw masih hidup ditengah-tengah kaum muslimin. Firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 6 menyatakan: ‫ياأيهتتا التتذين ءامنتتوا إن جتتاءكم فاستتق بنبتتأ فتتتبينوا أن‬ ‫تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين‬ “Hai orang-orang yang beriman. atau pentingnya persaksian orang adil dan sebagainya.10. Hanya saja ia belum wujud sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri.31 2. Misalnya tentang pentingnya pemeriksaan dan tabayyun. Sejarah Perkembangan Ilmu Hadits Ilmu ini sebenarnya telah tumbuh sejak zaman Rasulullah saw masih hidup. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. ilmu ini masih wujud dalam bentuk prinsip-prinsip dasar. terhadap setiap berita yang didengar. maka periksalah dengan teliti.

jika mereka tidak jujur dan fasik. Jika pembawanya orang terpercaya dan adil .32 Sepeninggal Rasulullah saw . Tidak semua berita yang datang pasti diterima sebelum diperiksa siapa pembawanya dan apa materi isinya. karena konsentrasi mereka masih banyak tercurahkan kepada al-Qur’an. meneliti dan mengkaji berita yang dating. khususnya berita yang dibawa oleh orang-orang fasiq. yang memicu munculnya firqah di kalangan kaum muslimin . maka para ulama bangkit untuk . Murji’ah dan Jama’ah. Syi’ah. yang baru mulai dibukukan pada zaman khalifah Abu Bakar dan disempurnakan pada saat sahabat Utsman bin Affan menjadi Khalifah. dan pada gilirannya mendorong timbulnya periwayatan yang dimanipulasi. tidak obyektif. dipalsukan dan direkayasa.” Ayat di atas jelas memberikan perintah kepada kaum muslimin supaya memeriksa. maka berita akan ditolak. Selanjutnya ketika mulai terjadi konflik politik . Tetapi sabaliknya.‫وأشتتهدوا ذوي عتتدل منكتتم وأقيمتتوا الشتتهادة ل ت ذلكتتم‬ ‫يوعظ به من كان يؤمن بتتال واليتتوم الختتر ومتتن يتتتق‬ ‫ال يجعل له مخرجا‬ “persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. para sahabat Nabi sangat hati-hati dalam periwayatan hadits. maka pasti diterima. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.

sebab di dalam kitab tersebut telah dibahas kaidah-kaidah tentang periwayatan. terbentuklah teori-teori tentang periwayatan. 204 H) menulis kitab al-Risalah. bagaimana memahami hadits yang musykil dan sebagainya. tetapi masih belum terpisah dengan ilmu lain. belum menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Di sana telah ditulis pula kaidah yang berkaitan dengan cara menyelesaikan haadits-hadits yang bertentangan. Demikian pula dalam kitab al-Umm. Sesudah generasi al-Syafi’i. tetapi masih bercampur dengan fiqih. maka perkembangan ilmu hadits semakin meningkat. 276 H ) menyusun kitab Ta’wil Mukhtalif al-Hadits. misalnya Ali bin al-Madini menulis kitab Mukhtalif al-Hadits. membahas bagaimana system penerimaan dan penyampaian yang dipergunakan (tahammul wa ada’ al-hadits). . sebenarnya ilmu hadits telah mengalami perkembangan lebih maju. bagaimana cara menyelesaikan hadits yang tampak kotradiktif. Ibnu Qutaibah (w. Keharusan menyertakan sanad menjadi bagian penting yang dipersyaratakan dalam setiap periwayatan. Ketika Imam al-Syafi’i (w.33 Ketika para ulama hadits membahas tentang kemampuan hafalan / daya ingat para perawi (dhabit). Hal ini telah dilakukan antara lain oleh Ibnu Syihab al-Zuhri ketika menghimpin hadits dari para ulama. hanya saja masih bercampur dengan kaidah ushul fiqih. Artinya ilmu hadits pada saat itu sudah mulai tampak bentuknya. Dari usaha ini. banyak sekali para ulama yang menulis ilmu hadits.membendung pemalsuan dan menjaga kemurnian hadits Nabi.

C. Al-Turmudzi menulis al-Asma’ wa al-Kuna. IImu Rijalil Hadis ‫علم يبحث فيه عن رواة الحديث من الصحابة والتابعين‬ ‫ومن بعدهم‬ . Muhammad bin Sa’ad menulis al-Thabaqat alKubra.al-Khathib Abu Bakar al-Baghdadi menulis kitab Al-Jami’ li Adab al-Syaikh wa al-Sami’. Demikian pula al-Bukhari menulis tentang rawi-rawi yang lemah dalam kitab al-Dlu’afa’. 405 H) menulis Ma’rifatu Ulum al-Hadits. Kemudian disusul al-Hakim al-Naisaburi (w. Penulisan ilmu hadits secara lebih lengkap baru terjadi ketika AlQadli Abu Muhammad al-Hasan bin Abd. al-Kifayah fi Ilmi al-Riwayat dan al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’34. Rahman al-Ramahurmudzi (w. 360 H) menulis buku Al-Muhaddits al-Fashil Baina al-Rawi wa al-Wa’i. Dengan banyaknya ulama yang menulis tentang persoalan yang menyangkut ilmu hadits pada abad III H ini.Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab shahihnya. Cabang-Cabang Ilmu Hadits 1. maka dapat difahami mengapa abad ini disebut sebagai awal kelahiran Ilmu Hadits. walaupun tulisan yang ada belum membahas ilmu hadits secara lengkap dan sempurna.

atau para mudallis." Dengan ilmu ini dapatlah kita mengetahui keadaan para perawi menerima hadis dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadis dari sahabat dan seterusnya. Dan ada yang menerangkan nama-nama perawi yang sama namanya. Kitabkitab yang disusun dalam ilmu ini banyak ragamnya. . Ada yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan berlainan sebutan yang di dalam ilmu hadis disebut Mu'talif dan Mukhtalif. Ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja. Di dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi. maupun dari angkatan sesudahnya35 . mazhab yang dipegang oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu dalam menerima hadis. Sungguh penting sekali ilmu ini dipelajari dengan seksama. Maka mengetahui keadaan para perawi yang menjadi sanad merupakan separuh dari pengetahuan. baik dari sahabat. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari para sahabat saja. lain orangnya. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat umum para perawi-perawi. atau para pemuat hadis maudlu'. karena hadis itu terdiri dari sanad dan matan. tabi'in. Dan ada yang menerangkan sebab-sebab dianggap cacat dan sebab-sebab dipandang adil dengan menyebut kata-kata yang dipakai untuk itu serta martabat perkataan.Artinya: "Ilmu yang membahas tentang kaadaan para perawi hadis.

Nama ini banyak orangnya. tetapi berlainan keturunan dalam sebutan. Dalam semua itu para ulama telah berusaha menyusun kitab-kitab yang dibutuhkan. Kitab Izzuddin diperbaiki oleh Ai-Dzahabi (747 H) dalam kitab At-Tajrid. atau: beberapa kitab saja. Sesudah itu pada abad kesembilan Hijrah. Kitabnya bernama AI-Istiab. Izzuddin ibnul Atsir (630 H) mengumpulkan kitab-kitab yang telah disusun sebelum masanya dalam sebuah kitab besar yang dinamai Usdul Gabah. sesudah itu terdapat beberapa ahli lagi.Umpamanya Khalil ibnu Ahmad. Al-Hafidh Ibnu Hajar AlAsqali menyusun kitabnya yang terkenal dengan nama AI-Ishabah. ialah Al-Bukhari (256 H). Di samping itu ada pula yang hanya menerangkan nama-nama yang terdapat dalam satu-satu kitab saja. yang penting diterangkan ialah Ibnu Abdil Barr (463 H). di antaranya. lni dinamai Muttafiq dan Muftariq. Permulaan ulama yang menyusun kitab riwayat ringkas para sahabat.nama yang serupa tulisan dan sebutan. Pada permulaan abad ketujuh Hijrah. Kemudian usaha itu dilaksanakan oleh Muhammad Ibnu Saad. Dalam . Ibnu Atsir ini adalah saudara dari Majdudin Ibnu Atsir pengarang An-Nihayah fi GaribiI Hadis. sedang dalam tulisan serupa. Dan ada yang menerangkan nama. Dan ada juga yang hanya menyebut tanggal wafat. Seumpama Muhammad ibnu Aqil dan Muhammad ibnu Uqail. Ini dinamai Mutasyabah.

pernah melakukan perlawatan untuk mencari hadits ke mana saja. lebih menfokuskan kepada kritik perawi.kitab ini dikumpulkan Al-Istiab dengan Usdul Gabah dan ditambah dengan yang tidak terdapat dalam kedua kitab tersebut. memiliki berapa murid hadits. Ilmu Tarih al-Rawi memfokuskan pembahasannya pada sejarah perjalanan hidup perawi. kapasitas intelektualnya sehat apa tidak . Ilmul Jarhi Wat Takdil . Sedangkan ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil. siapa saja gurunya. dalam bab ini Yahya ibnu abdul Wahab ibnu Mandah Al-Asbahani (551 H) menulis sebuah kitab yang menerangkan nama-nama sahabat yang hidup 120 tahun. Ilmu Rijal al-Hadits ini dibagi menjadi beberapa bagian.36 2. Kitab ini telah diringkaskan oleh As-Sayuti dalam kitab Ainul Ishabah. menulis juga kitab yang menerangkan nama-nama sahabi yang hanya meriwayatkan suatu hadis saja yang dinamai Wuzdan. di mana. kepada siapa dia berlajar hadits. Antara lain adalah Ilmu Tarih al-Rawi dan Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil. misalnya kapan seorang rawi itu dilahirkan. dimana ia tinggal dan sebagainya. Kemudian. Al-Bukhari dan muslim telah. Jadi titik tekannya pada kualitas pribadi dan kapasitas intelektualnya. Titik tekan kedua ilmu ini berbeda. siapa saja mereka itu. apakan seorang perawi itu adil.

Ilmu Jarhi Wat Takdir, pada hakekatnya merupakan suatu bagian dari ilmu rijalil hadis. Akan tetapi, karena bagian ini dipandang sebagai yang terpenting maka ilmu ini dijadikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Yang dimaksud dengan ilmul jarhi wat takdil ialah:

‫علتتم يبحتتث فيتته عتتن جتترح التترواة وتعتتديلهم بألفتتاظ‬ ‫مخصوصة وعن مراتب تلك اللفاظ‬
Artinya: "Ilmu yang menerangkan tentang catatan-catatan yang dihadapkan pada para perawi dan tentang penakdilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu37. " Yang menjadi pembahasan ilmu ini pada prinsipnya adalah melakukan telaah terhadap keadilan dan kedhabitan para perawi hadits. Jadi intinya membicarakan kualitas pribadi perawi dan kapasitas intelektualnya Mencacat para perawi (yakni menerangkan keadaannya yang tidak baik, agar orang tidak terpedaya dengan riwayat-riwayatnya), telah tumbuh sejak zaman sahabat. Menurut keterangan Ibnu Adi (365 H) dalam Muqaddimah kitab AI-Kamil, para ahli telah menyebutkan keadaan-keadaan para perawi sejak zaman sahabat. Di antara para sahabat yang menyebutkan keadaan perawi-perawi hadis ialah Ibnu Abbas (68 H), Ubadah ibnu Shamit (34 H), dan Anas ibnu Malik (93 H).

Sedangkan dari kalangan tabi'in antara lain ialah Asy Sya’bi(103 H), Ibnu Sirin (110H), Said Ibnu AI-Musaiyab (94 H). Dalam masa mereka itu, masih sedikit orang yang dipandang cacat. Mulai abad kedua Hijrah baru ditemukan banyak orang-orang yang lemah. Kelemahan itu adakalanya karena meng-irsal-kan hadis, adakalanya karena me-rafa-kan hadits yang sebenarnya mauquf dan adakalanya karena beberapa kesalahan yang tidak disengaja, seperti Abu Harun AI-Abdari (143 H). Sesudah berakhir masa tabi'in, yaitu pada kira-kira tahun 150 Hijrah, para ahli mulai menyebutkan keadaan-keadaan perawi,

menta’dil(menilai adil) dan menajrihkan(menilai cacat) mereka. Di antara ulama besar yang memberikan perhatian pada urusan ini, ialah Yahya. ibnu Said Al-Qattan (189H), Abdur Rachman ibnu Mahdi (198 H)", sesudah itu, Yazid Ibnu Harun(189 H), Abu Daud At-Thayalisi (204 H), Abdur Razaq bin Human (211 H).Sesudah itu, barulah para ahli menyusun kitab-kitab jarah dan ta’dil. Di dalamnya diterangkan keadaan para perawi, yang boleh diterima riwayatnya dan yang ditolak. Di antara pemuka-pemuka al-jarah dan al-ta’dil ialah Yahya ibnu Main (233 H), Ahmad ibnu Hanbal (241 H), MUhammad ibnu Saad (230 H),Ali Ibnul Madini (234 H), Abu Bakar ibnu Syaibah (235 H), Ishaq ibnu Rahawaih (237 H). Sesudah itu, Ad-Darimi (255 H),Al-Bukhari (256 H), Al-Ajali(261 H), Muslim (251 H), Abu Zurah (264 H), Baqi ibnu Makhlad (276 H), Abu Zurah Ad-Dimasyqi (281 H).

Kemudian pada tiap-tiap masa terdapat ulama-ulama yang memperhatikan keadaan perawi, hingga sampai pada ibnu Hajar Asqalani (852 H). Kitab-kitab yang disusun mengenai al-Jarh wa al-Ta’dil, ada beberapa macam. Ada yang menerangkan orang-orang yang dipercayai saja, ada yang menerangkan orang-orang yang lemah saja, atau orang-orang yang menadlieskan hadis. dan ada pula yang melengkapi semuanya. Di samping itu, ada yang menerangkan perawi-perawi suatu kitab saja atau beberapa kitab dan ada yang melengkapi segala kitab. Di antara kitab yang melengkapi semua itu ialah: Kitab Tabaqat Muhammad ibnu Saad Az-Zuhri Al-Basari (23Q H). Kitab ini sangat besar. Di dalamnya terdapat nama-nama sahabat nama-nama tabi'in dan orangorang sesudahnya. Kemudian berusaha pula beberapa ulama besar lain, di antaranya Ali ibnul Madini(234 H), Al-Bukhari, Muslim; Al-Hariwi (301 H) dan ibnu Hatim (327 H). Dan yang sangat berguna bagi ahli hadis dan fiqih ialah At-Takmil susunan Al-Imam ibnu Katsir. Diantara kitab-kitab yang menerangkan orang-orang yang dapat dipercayai saja ialah Kitab As-Siqat, karangan Al-Ajaly (261 H) dan kitab As-Siqat karangan Abu Hatim ibnu Hibban Al-Busty. Masuk dalam bagian ini adalah kitab-kitab yang menerangkan tingkatan penghapal-penghapal

متروك الحتتديث.hadis. Diantara kitab-kitab yang menerangkan orang-orang yang lemahlemah saja ialah: Kitab Ad-Dhuafa. صالح الحديث . Banyak pula ulama yang menyusun kitab ini.‫لين. ‫ثقة ثقتتة . دجتتال.‫أوضع الناس . AzZahabi. متهتتم بالكتتذب‬ ‫فلن ساقط. ل بأس به‬ Adapun lafadz/ lambing yang diginakan mentajrih adalah sebagai berikut : . artinya ketika terjadi penilaian yang berbeda di kalangan para ulama terhadap seorang perawi. jika dalam penilaian para ulama terdapat perbedaan. مأمون‬ ‫شيخ . ثقتتة ثبتتت . ثبتتت ثبتتت . maka ada beberapa teori38 : . متتردود الحتتديث. ليس بقوي‬ Selanjutnya. كتتذاب. ضتتعيف. Ibnu Hajar Al-Asqalani dan As-Sayuti. متقن . karangan Al-Bukhari dan kitab AdDhu’afa karangan ibnul Jauzi (587 H) Kitab yang menggabungkan antara ilmu tarih al-Rawi dan Ilmu alJarh wa al-Ta’dil. فلن‬ . أكذب الناس . حسن الحديث . وسط . ‫صدوق . ثقتتة . dan kitab Tahdzib alTahdzib karya Ibnu Hajar al-Atsqalani Sedangkan lambing-lambang yang dipergunakan untuk menta’dil adalah : . antara lain ialah kitab Tahdzib al_kamal fi Asma al-Rijal karya Abu Al-Hajjaj Yusuf bin al-Zaki al-Mizzi. di antaranya. ثبتتت . حجتتة‬ .

bila diketahui. ل يقبل الجرح ال بعد التثبت خشية الشباه في المجروحين‬ 3. . merafa’kan yang mauqu memasukkan satu hadis ke dalam hadis yang lain dan yang serupa itu Semuanya ini.‫1. إذا تعتتارض الجتتارح والمعتتدل فتتالحكم للمعتتد ل ال اذا ثبتتت‬ ‫الجرح المقسر‬ ‫4. tidak nyata. yang dapat mencacatkan hadis. dapat merusakkan kesahihan hadis. IImu Illail Hadis39 ‫علم يبحث فيه من اسباب غامضة خفية قادحة فتتي صتتحة‬ ‫الحديث‬ Artinya: Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi. dan sehalus-halusnya. Yakni menyambung yang munqati’. Ilmu ini merupakan semulia-mulia ilmu yang berpautan dengan hadis. Cacat hadits yang demikian ini tidak dapat diketahui melainkan oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad dan matan-matan hadis. الجرح مقدم على التعديل‬ ‫3. التعديل مقدم على الجرح‬ ‫2.

Selain itu. tetapi dikumpulkan dengan mudah maka hadis itu dinamai Mukhatakiful Hadis. Ibnu Abi Hatim (327 H). Alunad ibnu Muhaminad An-Nah-has (338 H) Dan sesudah itu terdapat beberapa ulama lagi yang menyusunnya. kitab beliau sangat baik dan dinamai Kitab Illial Hadis. dinamai Nasih dan yang terdahulu dinamai Mansuh.Di antara para ulama yang menulis ilmu ini. tidak ada yang memberikan perlawanan maka hadis tersebut dinamai Muhkam. Ad-Daruqutni (357 H) dan Muhammad ibnu Abdillah AIHakim. 4. Banyak para ahli yang menyusun kitab-kitab nasih dan mam'uh ini. Muhammad ibnu Bahar AI-Asbahani (322 H). ulama yang menulis kitab ini adalah AI-lmam Muslim (261 H). Jika tak mungkin dikumpul dan diketahui mana yang terkemudian. yaitu . " Apabila didapati suatu hadis yang maqbul. maka yang terkemudian itu. ialah Ibnul Madini (23 H). Namun jika dilawan oleh hadis yang sederajatnya. Ilmun nasih wal mansuh40 ‫علم يبحث فيه عن الناسخ والمنسوخ من الحديث‬ Artinya: "ilmu yang menerangkan hadis-hadis yang sudah dimansuhkan dan yang menasihkannya. di antaranya Ahmad ibnu Ishaq Ad-Dillary (318 H).

karena ilmu itu menolong kita dalam memahami hadis. dalam kitabnya AI-Bayan Wat Tarif yang telah dicetak pada tahun 1329 H 6. dari murid Ahmad (309 H). 5. yang dinamai Al-lktibar. Ilmu Talfiqil Hadis ." Penting diketahui. sebagaimana ilmu Ashabin Nuzul menolong kita dalam memahami Al-Quran. Kitab AI-Iktibar itu telah diringkaskan oleh Ibnu Abdil Haq (744 H) . Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis. yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah Al Husaini (1120 H). Dan kemudian dituliskan pula oleh Ibrahim ibhu Muhammad.Muhammad ibnu Musa Al-Hazimi (584 H) menyusun kitabnya. UIama yang mula-mula menyusun kitab ini dan kitabnya ada dalam masyarakat iaIah Abu Hafas ibnu Umar Muhammad ibnu Raja Al-Ukbari. ialah41: ‫علم يعرف به السبب الذي ورد لجله الحديث والزمان‬ ‫الذي جاء فيه‬ Artinya: "Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi yang menurunkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menurunkan itu.

Penyelesaian berdasar pemahaman kontekstual. Ibnu Qurtaibah (276 H).‫عام يبحث فيه عن التوفيق بين الحاديث المتناقضة‬ ‫ظاهرا‬ Artinya: "Ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan(mempertemikan) hadis-hadis yang(secara lahiriyah) isinya tampak berlawanan. " Secara umum metode penyelesaian dengan cara ini mirip dengan metode al-Jam'u yang telah berkembang di kalangan ulama hadis. e. Penyelesaian berdasarkan pemahaman korelatif. Di antara para ulama besar yang telah berusaha menyusun. . Metode ini meliputi : a. c. d. Penyelesaian dengan menggunakan pendekatan ta'wil. atau dengan mentafsil yang mujmal b. At-Tahawi (321 H) dan ibnu Jauzi (597 H). Penyelesaian berdasar pemahaman dengan pendekatan kaedah ushul fiqh. kitab ini sudah disyarahkan oleh AlUstaz Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali nilainya. Penyelesaian berdasarkan pemahaman tanawu' al-ibadah42 Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadis. ilmu ini ialah Al-Imamusy Syafii (204 H). atau menaqyidkan yang mutlak. Kitabnya bernama At-Tahqiq. Cara mengumpulkannya adakalanya dengan menakhsiskan yang 'amm.

Jelaskan . Tes 1. Apa yang anda ketahui tentang ilmu Jarh wa al-Ta’dil. Jenis Penilaian Jenis penilaian yang dipergunakan dalam proses pembelajaran ini adalah tes tertulis (paper and pencil test) dan non tes 2. Bagaimana cara menyelesaikannya. Lembar Penilaian 1.K. Bentuk Penilaian Bentuk tes yang dipakai adalah essay. Kapan ilmu hadits dilahirkan sebagai sebuah disiplin ilmu. Insrumen Penilaian a. sedangkan bentuk non tes-nya mempergunakan performan selama proses perkuliahan dan bentuk proyek berupa penyelesaian tugas tertentu 3. Jelaskan pula lambing-lambang yang digunakan dalam menjarh dan menta’dil 5. Jika kita berhadapan dengan hadits-hadits yang tidak sejalan. Sebutkan apa yang dimaksud istilah ilmu hadits dirayat 2. dan siapa ulama yang pertama kali mempopulerkan 3. Sebutkan beberapa ilmu hadits yang berhubungan dengan sanad dan ilmu hadits yang berkaitan dengan matan hadits 4.

item 2 jawaban benar bernilai 20 c.4. Pengamatan FORMAT PENILAIAN PERFORMAN NO 1 2 3 4 5 6 NAMA MAHASISWA VARIABEL YG DIAMATI 1 2 3 4 5 6 NILAI RERATA Keterangan Variabel 1. Rasionalitas 4. Cara berkomunikasi 5. Item 3 jawaban benar bernilai 20 . Kedisiplinan 2.Petunjuk Penyekoran 6. Kerjasama 5. Proyek Buat laporan singkat tentang 15 nama-nama kitab sejarah para perawi hadits lengkap dengan pengarangnya 6.1. Antusiasme 3. Item 1 jawaban benar bernilai 20 b. Tes a.

Item 5 jawaban benar bernilai 20 Total Nilai = 100 6.4.2.c. Proyek Skor penilaian proyek bergerak dengan rentangan antara 60-100 6. Pembobotan Test Tertulis 40 % Performan 20 % Proyek 40 % .3. Performan Skor penilaian performan bergerak dengan rentangan antara 60-100 6.Item 4 jawaban benar bernilai 20 d.

.

.

Pencatatan hadits sudah dimulai sejah Nabi saw masih hidup.. hal.cit. M. (selanjutnya disingkat M. Lihat M. 8 Lihat misalnya pada Sunan Ibnu Majah. h. 18 Al-Yasa Abu Bakar. sedang pembukuan baru dilakukan pada abad II H.M. 64-65 27 Ulama yang hidup sebelum abad IV H dinamakan ulama mtaqaddimin (salaf/klasik). 76 . Pengantar Ilmu Hadits……ibid. 83 2 Muhammad Musthafa A’dhami. Hal. 1985) hal. cit. 109-110 24 Ibid. hal. Dr. Memahami …. 1993). hal 14. A’dhami. 113-115 25 Fathurrahman. 17 19 Pengumpulan catatan hadits pada masa ini bukan dilakukan oleh perseorangan dan untuk pentingan pribadi.op. 120-121 29 CATATAN AHIR PAKET 4 C Lihat Syuhudi Ismail. 1994) hal. hal. yang dimaksud ‘hadits (yang tidak boleh diriwayatkan dalam kapasitas jumlah yang banyak) adalah hadits-hadits tentang masa-masa yang dialami oleh Nabi.M. bukan hadits-hadits yang ada kaitannya dengan masalah fardlu dan sunnat. 1991). 2008 ) hal. op cit . terj. Lihat pula pada Muhammad Musthafa A’dzami. hal. 74-75 21 Ibid. 115-116 26 Selanjutnya baca Dr. Majid Khon. hal. Sejarah dan Analisis Kepemimpinannya. 1991) hal. Memahami Ilmu…. 1993) ha. karena riwayat demikian tidak mempunyai kaitan dengan hukum. cit. cit. 1991).1 CATATAN AHIR PAKET 3 C Syuhudi Ismail. 1993). hal. sebagaimana dikutip Syibli Nu'mani. Pengantar Ilmu Hadits (Bandung : Ankasa. bab al-ilmu ‘an Rasulullah . 76 22 Syuhudi Ismail. Antologi Ilmu Hadits (Jakarta : Gaung Persada Press. Ilmu Hadits (Jakarta: Grafindo Persada. Hadits Nabi dan Sejarah Kodifikasinya (Jakarta : Pustaka Firdaus.M. 2008 )hal. Ulumul Haadist ( Jakarta : AMZAH. Pengantar …….M. Dr. Sedangkan ulama yang hidup pada abad IV H dinamakan ulama muta’akhkhirin (modern) 28 Syuhudi Ismail.M. dan imam Muslim pada bab masik al-Haji 16 Syuhudi Ismail. Abd. 49 13 Pembahasan mengenai catatan san shahifah para sahabat Nabi dan Tabi’in. hal. 87-88 1717 Menurut Abu Muhammad. Oleh karena itu. A’dhami. l994) h. 61. hal . Demikian pula dalam Shahih al-Bukhari pada bab ahadits al-anbiya’ 4 Hadits ini secara lebih lengkap dapat dilihat pada Shahih al-Bukhari. 39. (Jakarta. Ikhtisar Mushthalah Hadits ( Bandung : al-Ma’arif. bab Ilmu. 123-440 14 Secara lengkap hadits ini diriwayatkan al-Bukhari dalam kitabnya Shahih al-Bikhari pada bab al-adzan 15 Hadits ini diriwayatkan al-Bukhari dalam bab al-Haji. Azami. 480-481. (Lentera. bahwa hadits hadits yang tidak boleh diriwayatkan secara berlebihan adalah riwayat-riwayat mengenai kebiasaan pribadi Nabi. Lihat Syibli Nu'mani. sebagaimana yang terjadi pada masa sebelumnya. Dr. l994). op. Umar bin Khatthab yang Agung. secara lebih luas bisa dibaca pada M. Maka perlu digaris bawahi bahwa istilah pencatatan dan pembukuan harus dibedakan. hal. maka istilah pengumpulah hadits pada abad II H ini lebih tepat disebut sebagai masa pembukuan / tadwin. Demikain pula Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim. Pustaka Firdaus. Bandinmgkan dengan Syuhudi Ismail. 186. Pengantar Ilmu Hadits (Bandung: Angkasa. 46-48 12 Ibid.op.(Bandungng. Drs. 20 Bandingkan dengan Utang Ranuwijaya dan Mundzir Suparta. hal 15 6 Hadits ini diriwayatkan Ibnu Majah dalam kitabnya pada bab Muqaddimah 7 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari bab al-Ilmi. Pengantar Ilmu Hadits ( Bandung : Angkasa. bab al-Muqaddimah 9 M. Pengantar Ilmu Hadits……op. 59 11 Nur Sulaiman Prof. 80-85 3 Kelengkapan hadits ini dmuat dalam kitab Sunan al-Turmudzi. Sedang menurut Syah Wali Allah al-Dahlawi.. A’dhami. Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. Nur Sulaiman (Jakarta: Gaung Persada Press. Hadits Nabi dan Sejarah……op. Pustaka. hal. Prof. H. hal. 13 10 Utang Ranuwijaya dan Mundzir Suparta. 104 23 Ibid. Pengantar Mata Kuliah Ushul Fiqih (Banda Aceh: IAIN Ar Raniri. Bandingkan pula dengan Prof. cit. 2008) hal. hal.A’dhami) Memahami Ilmu Hadits. bab al-ilmu dan bab al-Haji 5 Selanjutnya dapat dilihat pada M.

Metodologi Penelitian Hadits Nabi (Jakarta: Bulan Bintang.cit. Drs. Metode penyelesaian Hadis Mukhtalif (Disertasi: IAIN Jakarta. 77-80 39 Lihat lebih rinci dan bandingkan dengan Fathur Rahman. hal . hal . Abd. Drs. Drs. ibid. Majid Khon. 298-304 31 40 41 30 Lihat lebih rinci pada Fathur Rahman. Majid Khon. 80 34 Ibid. ibid. 82 35 Bandingkan dengan Fathur Rahman. 78-79 33 Ibid. 1992). Majid Khon. Abd. hal 71-72 dan 77. hal . Bandingkan dengan Utang Ranuwijaya. 68 Lihat ibid. Drs. 286-289 42 Lihat Edi Safri.cit. hal. Op. Ilmu Hadits (Jakarta : Raja Grafindo. Drs. Dr. . 245 36 Lihat lebih rinci pada Fathur Rahman. 258-273 37 Bandingkan dengan penjelasan Dr. 1990) h. 85 38 Syuhudi Ismail. Drs. 152-206. Drs. 1993) hal. Ibid . Al-Imam al-Syafi'i. hal. dan Mundzir Suparta.Dr. 24 32 Sbd. 2008) hal. hal. hal. Ulumul Hadits ( Jakarta : AMZAH. Dr. Ulumul Hadits (Jakarta : AMZAH. 1985) hal. hal . 2008) hal. 291-293 Lihat lebih rinci pada Fathur Rahman. Ikhtisar Musthalah hadits (Bandung : al-Ma’arif. Op.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful