ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

GRS

KATA PENGANTAR
Melihat dari tipe dasar bangunan, terdapat dua tantangan terbesar dalam industri desain arsitektur yang pertama adalah bandara dan yang kedua adalah rumah sakit. Dua tipe bangunan tersebut menjadi tantangan besar bagi seorang arsitek dan timnya untuk menyelesaikan sebuah rancangan yang dapat bekerja dengan baik dan benar karena bukan hanya unsur estetika, komposisi, pertimbangan keuntungan dan kerugian materi dari sebuah fungsi namun keberhasilan organisasi ruang dan keselamatan banyak manusia menjadi faktor utama penentu sebuah rancangan rumah sakit yang baik. Fisik Rumah Sakit merupakan satu hal yang sangat penting bagi sebuah rumah sakit. Bidang fisik termasuk bangunan dan performansi ruang, tata lansekap, dan infrastruktur pendukung mulai didekati dengan indikator kenyamanan, keindahan, serta keberhasilan pada lingkungan yang kesemuanya membangun citra layanan kesehatan dikelasnya. Bangunan yang indah, fungsional, efisien dan bersih memberikan kesan yang positif bagi seluruh pengguna rumah sakit. Pada dasarnya, fisik rumah sakit juga berhubungan langsung dengan kualitas layanan medik. Indikator keberhasilan bangunan rumah sakit dapat dilihat dari kenyamanan dalam pemanfaatanya sehingga memberikan sumbangan pada proses penyembuhan pasien dan produktivitas pelaku, prosedurprosedur layanan medik dapat terlaksana dengan efektif dan efisien, terjaga dengan mudah kebersihanya. Tuntutan terhadap kinerja dan layanan kesehatan rumah sakit pada saat ini semakin tinggi. Kita tahu bahwa kehidupan dapat bermula dirumah sakit dan begitupun dengan akhir, yang umumnya dilewatkan dirumah sakit pula. Dalam perkembangan layanannya, rumah sakit berhubungan dengan konsumen yang memelukan layanan kesehatan dan tidak hanya diperuntukan bagi pasien yang sakit. Fenomena yang telah dijabarkan diatas menjadi dasar pertimbangan penyusunan buku Arsitektur Rumah Sakit. Buku ini diharapkan mampu menjadi referensi tentang perencanaan, perancangan dan pengelolaan fasilitas fisik rumah sakit yang dapat berguna bagi akademis, mahasiswa, penyedia jasa dan praktisi industri bangunan, penyedia jasa dan pengguna pelayanan kesehatan, pengelola fisik dan manajemen fasilitas kesehatan dan masyarakat pada umumnya. Penyusunan buku ini merupakan respon atas kurangnya referensi buku Arsitektur Rumah Sakit khususnya referensi dalam negeri. Pokok bahasan yang akan ditemukan dalam buku ini adalah berbagai hal yang terkait dengan pedoman dan guidelines perencanaan rumah sakit, perancangan fasilitas, infastruktur bangunan rumah sakit serta strategi pengelolaan dan manajemen fisik perencanaan rumah sakit serta isu-isu kontemporer perencanaan dan perancangan fasilitas fisik rumah sakit. Akhir kata buku ini berhasil disusun tidak lepas dari bantuan bernbagai pihak yang menyumbangkan masukannya baik berupa saran maupun kritikan, dalam forum formal maupun informal. Semoga apa yang ada di dalam buku ini bermanfaat dan memberikan stimulasi yang positif bagi pembaca dimasa yang akan datang. Selamat Membaca! Yogyakarta, Maret 2010 PT. Global Rancang Selaras.

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

I

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN 1 PENGANTAR DAN TINJAUAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT
BAB 1 PRINSIP DASAR PERENCANAAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT
Rencana Strategis Organis, Berkembang, Bertahap Kompak Memberikan Harapan Sehat Pengelompokan yang Tepat Sirkulasi yang tepat dan Aksesibel Hemat Energi dan Nyaman Thermal Aman dan Tanggap Keadaan Darurat `Hijau` Mudah dan Murah Perawatan Sesuai Target Konsumen dan Fasilitas yang Tepat Mengakomodasi Kebutuhan dan perilaku Manusia Kenyamanan Visual dan Tanggap Lingkungan Mampu menjadi Aset Properti

i ii

1
1 2 3 3 3 4 5 5 6 6 7 7 8 8 9 9 10 11 12 12 12 14

BAB 2

APA ITU ARSITEKTUR RUMAH SAKIT
Pengertian Komponen

BAB 3

TIPE FASILITAS KESEHATAN
ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

Klasifikasi/ Tipe Fasilitas Kesehatan Tipologi Rumah Sakit Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah

BAB 4

FUNGSI DAN RUANG RUMAH SAKIT
Prinsip dan Implementasi Tuntutan Sterilitas, Fungsional, Teknikal dan Behavioral Organisasi Ruang dan Program Kegiatan Instalasi Bedah/ Instalasi Radiologi/ Instalasi Rehabilitasi Medik Kamar Mayat/ Instalasi Laboratorium/ Instalasi Gawat Darurat/ Intensive Care Unit/ Poliklinik/ Instalasi Rawat Inap (IRNA) Instalasi Farmasi/ Instalasi Sterilitas (CSSD)/ Instalasi Gigi

ii

BAB 5

SIRKULASI DAN ZONING RUMAH SAKIT
Prinsip dan Implementasi Sirkulasi Kendaraan/ Barang/ Pengunjung/ Pemberi Layanan Kesehatan/ Kegawatdaruratan 21 22

BAB 6

BENTUK DAN KARAKTERISTIK RUMAH SAKIT
Prinsip dan Implementasi Karakteristik 23 24 25 25

BAB 7

KONSEP RUMAH SAKIT & EVALUASI PASCA HUNI
Fasilitas kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain Fasilitas Kesehatan

Tapak. Ruang Terbuka. Sirkulasi. 30 31 BAB 9 PERENCANAAN SIRKULASI DAN ZONING KOMPONENBANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi 32 BAGIAN 2 PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT BAB 10 PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Fleksibilitas dan Pentahapan Pertimbangan Estetika dan Kenyamanan PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Perencanaan Infrastruktur Kriteria Desain Umum Penyediaan Air Bersih/ Kriteria Desain Umum Penyediaan Air Panas/ Kriteria Desain Umum Pengolahan Limbah Cair/ Sistem Drainase dan Pengolahan Air Hujan/ Kriteria Desain Pengolahan Mekanikal Elektrikal/ Kriteria Sistem Pemadam Kebakaran/ Kriteria Sistem Pengandalian Udara/ Kriteria Sistem Telekomunikasi/ Kriteria Sistem Gas Medik/ Kriteria Sistem Tata Surya/ Sistem CCTV (close Circuit Television)/ Pekerjaan Nurse Call/ Kriteria Sistem Elektrikal 34 35 36 37 38 BAB 11 BAB 12 BAB 13 PERENCANAAN FISIK DAN STRATEGIS RUMAH SAKIT Arti Penting Manajemen Rumah Sakit Tujuan dan Sasaran Perencanaan Fisik Kerangka dan Konsep Kerja Kriteria Umum Produk KONSEP PERENCANAAN FASILITAS RUMAH SAKIT Pelayanan Pasien Dalam Rumah Sakit/ Inpatient Instalasi Gawat Darurat/ Instalasi Rawat Inap/ Instalasi Rawat Intensif/ ICU Instalasi Rawat Intensif Koroner/ ICCU Unit Penyakit Jiwa/ Unit Kamar Bersalin (VK)/ Unit Perinatologi Unit Haemodialisis 47 47 48 50 53 54 iii ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Fasilitas Kesehatan Langkah-langkah Peringkatan Performansi Fasilitas Kesehatan 28 28 BAB 8 PERENCANAAN LAHAN DAN SITEPLANNING RUMAH SAKIT Kebutuhan vs Ketersediaan Perencanaan Lokasi. Kontur danaliran air. Parkir.

Pelayanan Pasien Luar Rumah Sakit/ Outpatient Instalasi Rawat Jalan 65 65 Pelayanan Penunjang Medik/ Klinik Bantuan Instalasi BedahInstalasi Laboratorium Radiologi Patologi Mortuary/ Otopsi Dental Gigi Endoscopy Pelayanan Kesehatan Terapi Instalasi Rehabilitasi Medik 73 74 75 76 77 78 78 81 82 83 84 Administrasi / Rekam Medik Rekam Medik Penyimpanan Obat/ Farmasi Laundry/ Pengelolaan Linen Instalasi Gizi (Dietary Service) Bengkel dan Peralatan (IPSRS) Pengelolaan dan Pembuangan Sampah Pelayanan Penunjang Fasilitas Pembelajaran/ Studi Diagram Pergerakan Pasien Hal yang harus Diperhatikan dalam Desain Tata Fungsi/ Tata Sirkulasi/ Aspek fisika Bangunan/ Aspek Struktur Bangunan/ Aspek Tata Interior Aspek Keamanan dan Evaluasi Kesesuaian Besaran Fasilitas terhadap Okupansi Pelayanan Arsitektur Rumah Sakit yang Memiliki Kelas Layanan Performa Fisik Bangunan dan Lingkungan Terhadap Kemudahan Pemeliharaan dan Biaya Arsitektur Rumah Sakit yang merespon Konservasi Cagar Budaya dan Beradaptasi dengan Fungsi Baru Konversi Lahan dan Konversi Energi Arsitektur Rumah Sakit yang Merespon Bencana 93 94 96 96 97 98 iv DAFTAR PUSTAKA ARSITEKTUR RUMAH SAKIT BAGIAN 3 ISU KONTEMPORER .

terdapat 14 prinsip dasar yang perlu diperhatikan dan dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi arahan dasar dalam merencanakan rumah sakit sebagai suatu aset properti.BAGIAN 1 I BAB 1 PENGANTAR DAN TINJAUAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT: 14 PRINSIP DASAR PERENCANAAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Dalam merencanakan komponen-komponen fisik rumah sakit yang meliputi perencanaan lahan. bangunan dan infrastruktur. Rencanakan Rumah Sakit Sesuai Rencana Strategis Komponen-komponen yang terkait dalam penyusunan Masterplan Rumah Sakit. akan membawa implikasi pada lahan. Akibat yang ditimbulkan dari kurang matangnya tahap perencanaan antara lain adalah lahan tidak sesuai. Global Rancang Selaras Sering terjadi beberapa kasus kegagalan disebabkan karena pengembangan lahan dan bangunan yang tidak didasarkan atas studi kelayakan serta perencanaan bisnis yang matang pada tahap awal perencanaan. bangunan terbengkalai. Melihat kecenderungan diatas pada akhirnya setiap organisasi baik profit maupun non profit mulai mempertimbangkan pengelolaan dengan prinsip bisnis yang baik dan benar sehingga tercipta sebuah bangunan yang mandiri dalam operasional. proses perencanaan strategis akan sangat mempengaruhi perencanaan masterplan keseluruhan aset (serta masterplan masing-masing unit dan perencanaan fasilitas dalam masingmasing unit). Meski demikian. serta ketidaksesuaian antara aktivitas dengan wadahnya. Suatu perencanaan yang dimulai dari perencanaan aktivitas. 01 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Proses pengelolaan aset pada dasarnya akan sangat dipengaruhi oleh proses perencanaan kegiatan. sumberdaya manusia. dan infrastruktur) · Penentuan visi bagi keseluruhan dan masing-masing asset · Perumusan strategi yang harus dilakukan pada keseluruhan dan masing-masing aset. bangunan dan infrastruktur. bangunan. perawatan. 1. proses tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu sebuah rumah sakit perlu dikembangkan berdasarkan rencana bisnis. dapat dikatakan bahwa proses perencanaan aset akan mengikuti proses sebagaimana berikut: · Identifikasi aset eksisting (lahan. Copyright : PT. Dengan kata lain. perlengkapan fasilitas.

Copyright : PT. kemudian di waktu yang lain diperlukan adalah pembangunan atau peningkatan fisik bangunan. Pada waktu tertentu lainnya. Sebagai contoh pada suatu waktu tertentu yang diperlukan dalam proses perkembangan rumah sakit adalah proses pengembangan lahan. Global Rancang Selaras 02 Masterplan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mataram. Dalam proses memanfaatkan sumberdaya lahan pun. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Copyright : PT. perkembangan awal. yang dibutuhkan adalah konsolidasi aset-aset. Rencanakan Rumah Sakit secara Organis. interstisial.2. rumah sakit perlu direncanakan sesuai dengan tingkat perkembangannya. Ada beberapa kemungkinan perkembangan rumah sakit yang dapat kita pilih sesuai dengan kondisi yang ada seperti perkembangan secara horisontal. kematangan. Oleh karena itu. Masterplan RSUD RAA Soewondo. Dalam hal ini. dan dapat berlanjut ke penurunan performansi fisik dan fungsi jika tidak segera ditindak-lanjuti dengan tepat. Jawa Tengah. ataupun vertikal. perkembangan lanjut. Pati. Dimulai dari tahap embrional. yang memberi kesempatan pada bagian-bagian tertentu untuk berkembang secara bertahap. Global Rancang Selaras . Berkembang dan Bertahap Setiap rumah sakit pasti akan berkembang dalam proses daur fungsi bangunannya. kita perlu mempertimbangkan pentahapan perkembangan rumah sakit. dibutuhkan sebuah masterplan yang baik.

Arsitektur rumah sakit diharapkan mampu mengubah image masyarakat tentang rumah sakit. Hal ini tentu saja harus dirubah dengan mengarahkan pada sifat penuh harapan sehat dan optimisme serta kecerahan. Dengan adanya arahan dasar ini. Pengelompokan ruang yang tepat akan mendukung efektivitas dan efisiensi kegiatan yang berlangsung di dalamnya dan antar ruang. Rencanakan Rumah Sakit yang MEMBERI HARAPAN SEHAT Istilah 'rumah sakit' mungkin memang kurang tepat. sebagai contoh 70 bed x 50m2. ketersediaan lahan. Dimulai dari penggunaan warna dan cahaya yang suram yang semestinya digantikan dengan pemanfaatan warna dan cahaya yang lebih cerah (meski tetap bersifat kalem/tenang). efektivitas serta kompak yang tinggi sehingga dapat beroperasi dengan baik akan jauh lebih baik dalam proses perkembangan usaha. Rencanakan Rumah Sakit yang KOMPAK Efisiensi dan efektivitas adalah dua parameter mutakhir yang selayaknya menjadi isu utama perencanaan Rumah Sakit. Rule of thumb untuk pengembangan rumah sakit adalah sekitar 50m2 untuk tiap bed. 03 5. . Dibutuhkan harmonisasi dalam mengkomposisikan kebutuhan akan kelengkapan fasilitas fisik. maupun isu krusial lainnya. dan selayaknya mulai diolah menjadi fungsi dan fiksi (atrau bahkan fungsi dan puisi). Pemanfaatan Lahan secara Optimal pada MasterPlan Fisik RSAB Muslimat Jombang dan RSAB Muslimat NU Ponorogo ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Copyright : PT.3. kebutuhan dan kompleksitas yang berbeda-beda antar rumah sakit. Global Rancang Selaras 4. dapat diperkirakan luasan. juga isu sosial yang berkembang. Memulai dari sebuah rumah sakit yang kecil namun memiliki efisiensi. sementara pemberi layanan kesehatan bukanlah sipir melainkan “customer partner” menuju sehat. mengingat berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa sugesti diri dan optimisme akan meningkatkan angka kesembuhan secara mencolok. keterbatasan anggaran. Meningkat pada penataan eksterior dan interior yang semata-mata menekankan pada fungsi. karena bukan menyiratkan harapan (isi gelas masih setengah) melainkan justru menyiratkan masalah (isi gelas tinggal setengah). Lebih lanjut dapat ditingkatkan pada citra keseluruhan rumah sakit yang harus berubah dari “penjara” ke “resort” : pasien bukanlah pesakitan melainkan customer yang terhormat. Rencanakan Rumah Sakit dengan Pengelompokan yang Tepat Rumah sakit semestinya direncanakan dengan pengelompokan ruang (kerap juga disebut pemintakatan atau zoning) yang tepat.

seperti misalnya layanan bedah. meliputi laboratorium. serta layanan administratif untuk umum. Global Rancang Selaras 04 Sistem sirkulasi pada dasarnya terbagi dalam sirkulasi eksternal dan sirkulasi internal. Ada beberapa area yang sirkulasi pasien dan layanan medik perlu dipisahkan secara sempurna dengan sirkulasi umum. adanya pemisahan elevator yang digunakan oleh pasien berbeda dengan yang digunakan pengunjung umum. melahirkan. Pada umumnya diperlukan 1 parkir mobil bagi tiap 4 bed rawat inap dalam sebuah rumah sakit . laundry.Pemisahan sirkulasi pun terjadi pada sirkulasi pasien dan clean utilities (utilitas bersih) dibedakan dengan alur dirty utilities (utilitas kotor). serta rawat intensif. Zona Luar adalah zona yang harus dengan mudah diakses oleh masyarakat luas. Perlu ada pembedaan antara akses utama rumah sakit bagi pengunjung. Demikian juga pada bangunan bertingkat. Contoh Jalur sirkulasi berupa ”bridge” antar fungsi bangunan. yang memberikan layanan pada kegiatan rumah sakit. Sirkulasi internal akan terbagi antara sirkulasi umum dan pengunjung serta sirkulasi pasien dan layanan medik. serta akses layanan dan karyawan. Demikian juga parkir perlu direncanakan sedemikian rupa sehingga secara kualitatif dan kuantitatif memenuhi persyaratan yang ada. Rencanakan Rumah Sakit dengan Sirkulasi yang Tepat dan Aksesibel 2 1. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Terakhir adalah Zona Layanan. layanan rawat jalan. farmasi. IPSRS. Zona Terdalam adalah zona yang membutuhkan tingkat kesterilan tertentu dalam memberikan layanan. Sirkulasi eksternal akan didominasi oleh sirkulasi kendaraan bermotor dalam mengakses rumah sakit. dan memisahkan ruang-ruang yang membutuhkan pemisahan. Copyright : PT. seperti: layanan gawat darurat. 6. akses gawat darurat yang harus dapat dicapai dengan mudah dan tidak terganggu akses yang lain. pool kendaraan. Global Rancang Selaras 1 2. Zona Kedua adalah zona yang menerima beban kerja dari zona terluar tadi. dan kamar jenazah.Pengelompokan yang tepat juga akan memberi kedekatan ruang-ruang yang saling membutuhkan kedekatan. Zona Dalam adalah zona yang menyediakan layanan rawat inap dan layanan lain bagi pasien. Perbedaan Zona Academic Axis dan medic Axis pada Rumah Sakit Pendidikan Copyright : PT. dan radiologi. seperti misalnya dapur.

masalah keamanan dari keadaan-keadaan darurat yang tidak diharapkan menjadi hal yang patut diperhatikan. perlu direncanakan perletakan sumber api yang dijauhkan dari bahan-bahan yang mudah terbakar (combustible). bangunan diorientasikan membujur timur barat. Bagian rumah sakit yang direncanakan dengan menggunakan AC akan lebih efisien jika memiliki volume ruang yang lebih kecil dengan jarak lantai dan langit-langit yang tidak terlalu tinggi. Hal ini mencakup tiga hal. mengingat pada waktu kebakaran listrik akan mati. Perletakan dan orientasi dari massa bangunan pun sangat mempengaruhi penghematan energi dan kenyamanan thermal. Ramp juga merupakan sarana wajib. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Rencanakan Rumah Sakit yang Aman dan Tanggap Keadaan Darurat Selain keamanan dari pengguna yang selalu diperhatikan oleh pengelola fasilitas kesehatan. kesejajaran (alignment). dengan persayaratan dan kemudahan aksesnya. yaitu keamanan dari bahaya kebakaran. Rencanakan Rumah Sakit yang Hemat Energi dan Nyaman Thermal Penghematan energi yang paling sederhana namun dapat berdampak sangat besar dapat dilakukan dengan perencanaan sistem penghawaan. kemudahan memadamkan api. Penggunaan Sunshading Pada Perencanaan Surabaya International Hospital Copyright : PT. Sementara kenyamanan termal yang lebih baik akan dimiliki bangunan berventilasi alami yang memungkinkan ventilasi silang dan dengan volume ruang yang lebih besar dengan jarak lantai dan langit-langit yang lebih tinggi. Global Rancang Selaras 05 8. Penghematan ini dilakukan dengan cara beberapa ruangan penentuan dari awal tentang beberapa bagian dari rumah sakit direncanakan dengan sistem pengkondisian udara dengan menggunakan AC dan bagian-bagian lain dari rumah sakit direncanakan dengan menggunakan ventilasi alami dan tidak menggunakan AC. Untuk mengurangi panas matahari di Indonesia. Ramp sebaiknya dirancang dengan memperhatikan lebar. serta kemiringan yang memadai. Bukaan ke luar dari tangga-tangga darurat maupun dari akses-akses ke ground floor perlu dilengkapi dengan pintu-pintu yang membuka ke luar (bukan ke dalam) dengan lebar total bukaan disesuaikan dengan jumlah jiwa yang ada dalam bangunan. bagian transparan atau bukaan diarahkan menghadap selatan dan utara sehingga lebih menghemat energi pendinginan. serta kemudahan menyelamatkan diri dari bahaya kebakaran. Penyelamatan diri dari bahaya kebakaran meliputi tangga darurat pada jarak-jarak tertentu. Pada kondisi tertentu i kadang tidak dimungkinkan untuk meletakan massa bangunan pada kondisi ideal diatas namun hal-hal ini dapat diatasi dengan penggunaan sunshading serta penggunaan material yang tepat (transparan atau bukaan seperti kaca dan jendela pada bagian yang tidak terpanaskan dan pasangan masif pada bagian yang terpanaskan).7. Contoh yang paling mudah adalah melihat rumah sakit dari sisi keamanan terhadap bahaya kebakaran. Dari hal pertama.

serta 20 m untuk jendela dengan jendela. sehingga lampu yang ada tidak menyilaukan. Padahal aspek ini merupakan hal yang nantinya akan ditemui terus sepanjang daur hidup fasilitas fisik rumah sakit. bangku. mulai dari hidrant hingga pemadam portable yang dapat menjangkau seluruh bagian rumah sakit. Akses mobil pemadam kebakaran meruapakan suatu hal yang perlu dipertimbangkan. serta sistem infrastruktur yang mudah dipantau dan dirawat. dan juga memberikan suasana hijau yang nyaman dan membuat suasana penyembuhan lebih baik. adalah beberapa prinsip dalam pemeliharaan. Lampung Copyright : PT. Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai kenyamanan thermal dan konservasi energi. Tata lansekap yang tidak menyulitkan perawatan. ruang terbuka setidaknya memiliki jarak 10 m antar bangunan untuk dinding dengan dinding. 9. Adanya pohon-pohon peneduh dan pengarah bisa membantu privasi pasien. agar privasi pasien tetap terjamin. 15 m untuk jendela dengan dinding. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . mengingat bahan-bahan tertentu akan mudah kotor ataupun rusak. serta furnitur lansekap (lampu. Furnitur lansekap juga harus direncanakan. penutup tanah. sehingga ruangan yang memungkinkan dapat memanfaatkan ventilasi dan cahaya alami secara maksimal. pohon pengarah. Komponen tata lansekap antara lain meliputi ruang terbuka hijau. Rencanakan Rumah Sakit yang Mudah dan Murah Perawatannya Aspek pemeliharaan kerap kali kurang diperhatikan dalam perencanaan awal rumah sakit. Rencanakan Rumah Sakit yang `Hijau` Tata lansekap dalam suatu rumah sakit merupakan satu komponen vital yang perlu direncanakan dengan seksama. Masterplan RS Mardi Waluyo. Ruang terbuka hijau selayaknya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam perletakan massamassa bangunan rumah sakit. serta signage (penanda) yang direncanakan dapat tertata teratur dan memudahkan wayfinding. pohon peneduh. Metro.Selanjutnya perlu didukung dengan hal yang kedua. yaitu tersedianya pemadam kebakaran dengan berbagai sistem. Untuk bangunan berlantai banyak. Penggunaan bahan bangunan juga sangat perlu dipertimbangkan. kulit bangunan yang tidak menyulitkan pembersihan. karena hidrant kerap tidak selalu dapat diharapkan dalam beberapa kasus darurat. sementara bahan-bahan yang lain dapat memiliki kualitas yang senantiasa terjaga. terutama di bagian perifer lahan rumah sakit. Global Rancang Selaras 06 10. ataupun signage). Hal ini juga berlaku bagi sistem perletakan ruangan.

Lebih lanjut. “Apa citra yang diharapkan?”. Dimana terdapat beberapa pertanyaan yang perlu diajukan. termasuk rumah sakit. Pertama. Rencanakan Rumah Sakit yang Mengakomodasi Kebutuhan dan Perilaku Manusia Beberapa kutipan berikut adalah aspek-aspek kebutuhan dan perilaku yang perlu diperhatikan dalam merencanakan setting makro. sehingga fasilitasfasilitas yang dimiliki akan disesuai dengan target pasar yang hendak dilayani tersebut. hal ini terkait dengan korelasi antara tema dengan positioning. kapabilitas. akan memiliki target pasar tersendiri. Diharapkan rumah sakit memiliki konsep dan tema yang kuat. suara dan kebisingan. dan batasan (Thieberg. misalnya. Survey pasar memungkinkan dapat mengidentifikasi keinginan konsumen saat ini. fisik dan non-fisik. hubungan kongruen antara keduanya. hingga mikro dalam sebuah rumah sakit.11. rencana strategis juga akan mengarahkan target konsumen di masa Dalam kaitan dengan pemasaran. seperti misalnya “Apa business-line anda?”. Rencanakan Rumah Sakit yang Sesuai Target Konsumen dan Memberi Fasilitas Setiap fasilitas publik. dimana implikasi nyatanya dalam setting fisik RUmah Sakit berupa iluminasi. yang mewadahi secara optimal kebutuhan manusia dan aktivitas. 1971). Antropometri adalah studi terhadap aspek fisik manusia yang meliputi dimensi. Propst. salah satu contoh pengembangan fasilitas kesehatan tingkat sederhana menuju tingkat yang lebih tinggi Copyright : PT. Sementara rumah sakit (atau bagian rumah sakit) dengan target konsumen anak akan perlu memberi suasana ceria dan memberikan ruang-ruang bermain yang membuat anak merasa lebih nyaman. serta bebas hambatan. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Setting Perilaku. penataan lingkungan yang spesifik. serta “Bagaimana menggubah citra tersebut?”. 1965. serta periode waktu tertentu (Barker. Masterplan Puskesmas Karangkobar. misalnya) juga perlu diberi citra yang lebih membuat pasien merasa “at home” dan bukannya menjadi “preparat”. sesuai dengan tujuan dan aspirasi sang perancang dan klien. Antropometrik dan Ergonomik. meso. Croney. maupun secara positif memberi tanggapan terhadap lingkungan. 1968). warna. Sebuah rumah sakit dengan target konsumen geriatrik. 1970. Sementara Ergonomi cenderung terfokus pada 'komunikasi' antara manusia dan mesin/peralatan (Murrell. Kedua. perlu mengakomodasi berbagai keterbatasan mobilitas yang dimilki para lansia tersebut. “Siapa pasar produk anda?”. digambarkan sebagai kombinasi yang stabil dari aktivitas dan ruang yang terdiri dari aktivitas rutin. kuantitatif dan kualitatif. 1970). Global Rancang Selaras 07 12. Bagian rumah sakit untuk mereka yang harus menjalani pengobatan terus-menerus (kemoterapi atau hemodialisis. “Di mana posisi produk anda?”.

yang akan datang dan sekitar). kesatuan dan perbedaan. keseimbangan. 14. diijinkan oleh hukum yang berlaku. yang pada akhirnya menjadi jembatan dalam mencapai interaksi yang diharapkan (Rappoport. 13. Prinsip yang digunakan dalam pengelolaan aset adalah prinsip Highest and Best Use. hingga perencanaan tindakan pembelian. dipaparkan melalui sikap kepemilikan dan pengaturan terhadap objek yang terlibat dalam area tersebut. Pertimbangan lingkungan juga merupakan sesuatu yang penting. Teritorialitas. Rencanakan Rumah Sakit yang Nyaman Visual dan Tanggap Lingkungan Desain yang dilandasi tema yang kuat sangat dibutuhkan dalam perancangan rumah sakit dewasa ini. dan perkembangan lingkungan kini dan yang akan datang. didukung oleh pasar yang ada. adanya peluang sebagai komponen dominan kawasan akan menuntut desain yang cukup berkarakter. selain rumah sakit itu perlu menyiapkan perkembangan. Dalam hal ini meliputi lahan. dan berbagai tindakan lain yang menyangkut properti. 1969). Prinsip Highest and Best Use ini juga mengharuskan rencana-rencana tersebut dapat dilaksanakan secara fisik. merancang tindakan strategis. sehingga komponen-komponen yang memiliki nilai produksi ekonomi tinggi tidak akan menjadi tidak produktif. Rencanakan Rumah Sakit sebagai Suatu Aset Properti Manajemen aset adalah tata laksana. & Ruang Personal. bangunan. Manajemen Properti akan melihat berbagai properti sebagai aset tetap perusahaan. dan akan berperan dalam menjaga market value. penyewaan. (Pastalan. skala. kini. dan infrastruktur. dan manajemen dari properti yang dimiliki atau disewakan baik secara untuk keuntungan maupun non-profit. 1977). operasi. seperti misalnya proporsi. Rumah sakit di lingkungan urban yang padat akan mempunyai nilai tambah jika bisa berperan sebagi suatu oase bagi lingkungan di sekitarnya. Pertimbangan ini akan merupakan dialog antara keselarasan dan kontras. Dimana Privasi adalah kemampuan mengontrol keberadaan interaksi. keselarasan. Dalam arsitektur. Dimana prinsip tersebut akan mengupayakan pemanfaatan potensi yang ada dengan mengupayakan nilai tambah paling tinggi. fasilitas dam komitmen hukum dan finansial pemilik dan pengguna. transportasi. serta utilitas. Ruang Personal adalah wilayah dengan batasan visual semu sekeliling lingkungan fisik seseorang dimana penyusup/pengganggu tidak dapat masuk (Sommer. dengan penekanan pada kumpulan properti dalam portfolio. terdapat beberapa prinsip-prinsip perancangan yang perlu diperhatikan. Hal ini pasti dipengaruhi oleh guna lahan (dulu. ritme. meningkatkan keuntungan. Upaya pengembangan pertambahan modal (capital gain) akan dilakukan dengan menjadikan aset-aset tersebut benar-benar memiliki nilai kompetitif. networking informasi mengenai aset tetap. yang meliputi lahan. 08 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Teritori adalah ruang berbatas yang dipertahankan dan dimanfaatkan keberlangsungannya secara eksklusif oleh seorang maupun sekelompok orang yang terkumpul berdasarkan isu yang sama. telaah dan kontrol resiko. Teori Proksemik: Privasi. Sementara pada kawasan yang sedang berkembang. serta penekanan. 1970). untuk selalu memiliki pilihan.Ketiga. melibatkan identifikasi psikologis terhadap ruang. serta layak secara ekonomis.

biasanya disebut juga ICCU. badan asuransi maupun badan amal. Pengertian Kata rumah sakit berasal dari kata hospital. pelayanan dan penanganan yang tidak bisa terjadwalkan. · Intensive Care Unit (ICU). lebih mengarah kepada manajemen dan pencegahan perubahan kondisi penyakit yang menyangkut kejiwaan melalui terapi-terapi khusus. memberikan pelayanan medis gawat darurat kepada pasien yang menderita luka trauma. termasuk donator secara langsung. · Burn Unit · Cancer Center (Pusat Kanker) · Coronary Care Unit. oleh suatu organisasi/lembaga kesehatan (baik profit maupun nonprofit). unit rumah sakit dengan spesialis khusus yang menawarkan pengobatan dan perawatan secara intensif. 09 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . · Physical Therapy. tempat yang menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah kesehatan. yakni sebuah institusi pelayanan kesehatan yang menyediakan tempat untuk pasien rawat inap dalam jangka waktu tertentu.BAGIAN 1 I BAB 2 APA ITU ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Pengertian dan Komponen 1. · Orthopedic Services · Behavioral Health Services · Psychiatric Hospital. bahkan organisasi keagamaan individu atau yayasan. Termasuk didalamnya terdapat bagian perawatan seperti ruang bedah dan kamar operasi. · Surgery. merupakan fasilitas untuk melakukan tindakan bedah. merupakan fasilitas untuk pelayanan dan penanganan seputar kehamilan atau kandungan. Sedangkan pengertian rumah sakit menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri berarti rumah atau tempat merawat orang sakit. · Trauma Center. perawatan bagi pasien dalam masa pemulihan/stabilisasi krisis yang menyangkut masalah kejiwaan · Labor and Delivery · Maternity. Komponen Rumah sakit memiliki beberapa komponen yang terdiri dari pasien. staf. Pasien akan dirawat disini apabila tidak mendapat rujukan atas luka yang dideritanya. merupakan unit rumah sakit dengan spesialis khusus yang menangani masalah jantung atau kondisi cardinal berkelanjutan yang membutuhkan pengawasan dan perawatan secara intensif. misalnya : · Unit Gawat Darurat (UGD). 2. · Urgent Care. unit rumahsakit yang menangani pasien yang mengalami sakit atau luka cukup serius. serta terdiri dari beberapa departemen atau unit. Rumah sakit biasanya didirikan berdasarkan wilayah.

adalah bagian yang paling penting dari rumah sakit yang meliputi ruang operasi. klinik. Sebuah kota besar umumnya memiliki banyak rumah sakit yang berbeda ukuran dan fasilitasnya. dan sebagainya. a. Outpatient Department Laboratory Services Post Anesthesia Care Unit. termasuk tempat perawatan pasien dari proses pembiusan pasien.· · · · · · · · · Radiology Respiratory Therapy Rehabilitation Services Nursing Unit/Nursing Station. Klasifikasi/ Tipe Fasilitas Kesehatan . Rumah Sakit Umum Merupakan unit pelayanan kesehatan yang melayani berbagai jenis penyakit dan luka. adalah unit bagi paramedik agar dapat melayani pasien yang biasanya telah dikelompokkan dengan klasifikasi tertentu untuk kemudahan pengawasan dan perawatan bagi pasien tersebut. BAGIAN 1 I BAB 3 TIPE FASILITAS KESEHATAN Klasifikasi/ Tipe Fasilitas Kesehatan Tipologi Rumah Sakit Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah Fasilitas kesehatan mempunyai klasifikasi atau jenis-jenis tertentu meliputi rumah sakit umum. Medical Records Department (Non-medical Departments) Release of Information (Non-medical Departments). 10 RS Muhammadiyah Gresik Copyright : PT. rumah sakit spesialis khusus. dengan kapasitas dan fasilitas pelayanan yang lebih lengkap. Global Rancang Selaras ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 1. melayani sertifikat rekam medis serta memberikan informasi yang perlu diketahui oleh pasien.

dan faktor-faktor sosial. 2. Kalsifikasi Rumah Sakit adalah pengelompokkan rumah sakit berdasarkan pembedaan bertingkat menurut kemampuan pelayanan kesehatan yang dapat disediakan 9. Tipologi Rumah Sakit Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor: 159b/Men. 3. 2.b.Kes/Per/II/1988 tentang rumah sakit. Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. yang seringkali dikelola oleh pemerintah. Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua jenis penyakit dari yang bersifat dasar sampai dengan sub spesialistik. disebutkan bahwa: 1. Rumah Sakit Pendidikan adalah rumah sakit umum yang dpergunakan untuk tempat pendidikan tenaga medik tingkat S1. rumah sakit anak. budaya dan pendidikan. Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit adalah kegiatan pelayanan berupa Pelayanan Rawat Jalan. 7. komunikasi. Puskesmas Karangkobar Copyright : PT. Akreditasi Rumah Sakit adalah pengakuan bahwa rumah sakit memenuhi standar minimal yang ditentukan 11 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Global Rancang Selaras b. Klinik dan Puskesmas Merupakan fasilitas dengan lingkup yang lebih kecil dari sebuah rumah sakit . sarana infra struktur. National Brain Centre Hospital Jakarta Copyright : PT. Wilayah Rujukan Kesehatan adalah wilayah pelayanan upaya rujukan kesehatan yang didasarkan atas faktor-faktor geografis. Rumah Sakit Khusus adalah rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan berdasarkan jenis penyakit tertentu atau disiplin ilmu. 6. S3. 1 2 1. Ada pula rumah sakit akademik yang merupakan sinergi dari lembaga pelayanan kesehatan dengan universitas untuk mengkombinasikan antara pelayanan pasien dan mengajar murid/mahasiswa yang mengambil profesi kedokteran atau farmasi. S2. rumah sakit mata. Pelayanan Rawat Inap dan Pelayanan Gawat Darurat yang mencakup pelayanan medik dan penunjang medik. 5. 4. Rujukan Upaya Kesehatan adalah penyelenggarakan pelayanan tempat pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik mengenai masalah kesehatan baik secara vertikal maupun horisontal. Global Rancang Selaras 2. 8. dan sebagainya. rumah sakit gigi dan mulut. Rumah Sakit Khusus Didefinisikan sebagai Unit Pelayanan keseatan yang terfokus pada pelayanan masalah spesifik seperti trauma center.

Kelas B II mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistik terbatas. Rumah Sakit Kelas A dan B II dapat berfungsi sebagai Rumah Sakit Pendidikan. Kelas A mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistik luas. Fungsional. . Jumlah dari sal (jumlah tempat tidur yang mendapatkan pengawasan langsung dari perawatperawat yang bertugas didalam ruangan). Behavioral Organisasi Ruang dan Program Ruang ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 1. Prinsip dan Implementasi Prinsip-prinsip umum dalam desain ruangan rumah sakit mencakup: 1. Behavioral Efisiensi fungsi. Kelas B I mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurangkurangnya 11 jenis spesialistik. 5. 12 2. dikelompokkan agar dapat memberikan keuntungan yang memungkinkan individu atau pengguna untuk mengaturnya menjadi lebih besar atau lebih kecil berdasarkan fungsi ruangan. Kelas C mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurangkurangnya spesialistik 4 dasar lengkap. sirkulasi. Hal yang tidak berhubungan secara langsung dangan tempat tidur.3. aksesibilitas. Fasilitas kebersihan pasien harus dipusatkan pada suatu area dari ruang perawatan. Harus tersedia cukup ruangan isolasi yang dikhususkan untuk satu orang untuk alasan klinis dan privasi. dan penataan jalur utilitas menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan atau keterbelangsungan sinergi aktivitas di dalam sebuah Rumah Sakit. 3. 2. 4. 2. Kemungkinan paling besar dari jumlah tempat tidur yang seharusnya dapat di observasi dengan mudah oleh pengawas atau staf saat mereka melakukan pemeriksaan rutin ruangan yang sesuai prosedur. Fungsional. Pada umumnya terdiri dari 22-28 tempat tidur. Tuntutan Sterilitas. 3. Teknikal. Dan harus dihubungkan pada kelompok-kelompok ruang pasien. 4. Kelas D mempunyai fasilitas dan kemampuan sekurang-kurangnya pelayanan medik dasar. Area kerja perawat harus dikelompokkan bersama dan memiliki hubungan langsung dengan area ruang perawatan agar petugas tidak perlu berjalan jauh. Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah 1. Teknikal. BAGIAN 1 I BAB 4 FUNGSI DAN RUANG RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Tuntutan Sterilitas. Area tempat tidur dibuat berdekatan.

namun hal ini selalu terbentur dengan masalah biaya. Ruang rawat pada katagorisasi pelayanan yang berbeda (konsumenya). 3. antara lain: 1. Bangsal ibu dan anak seharusnya saling terhhubung dengan jarak yang dekat dan disarankan untuk membuat secara horisontal. Unsur penting lain dari instalasi ini adalah klinik pra kelahiran. 2. Extra day space. tapi kamar anak-anak atau bayi tetap dibutuhkan untuk menghindari terjadinya gangguan pada pasien yang sedang tidur. 13 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . S e b a g a i tambahan disediakan ruang duduk dan pantry yang dibutuhkan oleh orang tua. Ruangan perawatan (treatment room) secara normal belum terlalu dibutuhkan. Keberadaan pintu darurat untuk kebakaran pada setiap bagian akhir sal (sal normal menggunakan terminal sub kompartemen untuk kebakaran). fasilitas wc dan bak mandi serta membutuhkan satu ruangan tambahan untuk fisiotheraphy. dimaksudkan agar orang tua dapat menemani dan mengawasi kondisi putra putri secara langsung sepanjang har i . 2. Bangsal untuk anak-anak Bagian ini biasanya memiliki ukuran dengan ruang tersendiri yang lebih luas. dimana klinik pra kelahiran pada umumnya ditempatkan didalam atau berdekatan bagian rawat jalan. akan menuntut perlakuan (treatment) yang berbeda pula. Pembatasan waktu kunjungan dikurangi demi kenyamanan keluarga yang datang membesuk (apabila jumlahnya lebih dari dua). Alternatif solusi adalah membuat tombol pengaturan ganda. misalnya: 1.Pada tahap implementasi terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi pengaturan pengaturan suatu fungsi ruangan di dalam rumah sakit. Bangsal bersalin Meskipun pada umumnya bayi yang baru lahir selalu ditidurkan disisi ibunya sepanjang hari. Ruangan harus menyediakan kurang lebih setengah dari anggaran untuk membuat kamar anak berupa tempat-temat tidur dalam ruangan. Bangsal psychiatric Bangsal ini menekankan pada kenyamanan mental/ psikologis sehingga seringkali muncul penataan berupa kamar-kamar kecil untuk memberikan ruang pribadi bagi setiap pasien. Bangsal geriatrik ( Lansia) Sal ini biasanya berukuran di atas rata-rata karena alat-alat perawatan yang besar ditempatkan didalam ruangan perawatan ini. Adanya jalur dari sistem komunikasi yang digunakan untuk perawat berkomunikasi dengan devisi lain dalam satu ataupun antar wilayah. Ruangan perlu dikumpulkan dan didekatkan dengan tempat kunjungan psikiater harian dirumah sakit karena sangat sedikit pasien yang akan menggunakan tempat tidur dan mayoritas akan menghabiskan waktunya diperawatan harian rumah sakit. Adanya kebutuhan aksesibilitas visual maupun fisik petugas ruang rawat terhadap situasi dan kondisi ruang rawat. 4.

layanan medis dan penunjang medis.3. Organisasi Ruang dan Program Ruang Organisasi ruang dan program kegiatan meliputi karakteristik perilaku. 14 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . serta karakteristik ruang. penempatan dan pengelompokan ruang. kisaran jumlah dan besaran ruangan.

perlu adanya jalur-jalur yang tepat untuk suplai. -Pembatasan ruang bedah yang terpisah dapat dilakukan juga dengan penempatan instalasi dimana memiliki akses yang cepat dan langsung ke ruang bedah utama. Instalasi Radiologi Instalasi ini menggunakan bermacam-macam teknik X-ray untuk memproduksi foto dari berbagai macam bagian tubuh dengan tujuan untuk proses diagnosis. Fungsi utama dari instalasi adalah melayani ruang-ruang perawatan dan perlu adanya kedekatan dengan ruangan tersebut. Teknik tersebut digunakan juga pada instalasi yang memiliki potensi yang berbeda. bangsal untuk melahirkan dan ICU. Adanya pemisahan antara sirkulasi yang bersih dan yang kotor di instalasi bedah sentral untuk alasan pengendalian infeksi pada bentuk rancangan instalasi dimana biasanya perlu dibagi menjadi dua sistem koridor terpisah.Ruang bedah darurat pada bagian penanganan kecelakaan/ IGD. Panduan yang terperinci diberikan dalam peraturan-peraturan praktek yang telah diobservasi secara ketat oleh perancang. diperlukan akses yang cepat dari ruangan yang menangani kecelakaan seperti unit gawat darurat. Pendingin ruangan keseluruhan dengan menggunakan filter udara yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan fungsi ruangan dan berbeda dari bagian-bagian lain dirumah sakit. . Oleh karena itu. Instalasi Rehabilitasi Medik Pada instalasi ini terdapat berbagai macam teknik perawatan secara fisik seperti pelatihan-pelatihan yang aktif maupun yang pasif untuk proses rehabilitasi dan pengembalian fungsi fisik pada kondisi normal. jika memungkinkan. ada hubungan horisontal dengan ruang yang berkkaitan dengan pembedahan. pemanfaatan yang lebih ekonomis oleh petugas dan penempatan hal-hal teknis yang terpusat. misal Thermografi yang menggunakan gelombang panas dan ultrasonik yang menggunakan gelombang suara. Yang sering menjadi pengecualian dalam instlasai bedah adalah: . petugas/ dokter dan alur peralatan ruang bedah. Hal ini memberikan peluang untuk pengorganisasian yang lebih baik. tetapi harus ada hubungan fungsi yang sangat dekat dengan klinik patah tulang dari bagian rawat jalan dan instalasi rawat darurat menangani kecelakan. Salah satu contoh dari perlindungan adalah dengan menggunakan pelapis diding barium. 2. serta dibutuhkan untuk unit pasokan bahan-bahan steril untuk memberikan akses bagi pengiriman peralatan-peralatan untuk pemrosesan/ pensterilan alat diantara waktu-waktu proses pengoperasian. 3.Ruang bedah yang terpisah pada bangsal ibu dan anak yang digunakan untuk keperluan bedah caesar pada situasi darurat. Instalasi bedah Saat ini jarang sekali ditemukan penggunaan ruang operasi yang terpisah dari instalasi bedah sentral. X-ray memiliki kekuatan radiasi yang sangat besar dan dapat membahayakan manusia jika penggunaannya dalam jumlah yang besar. Sebagai tambahan. Selain itu terdapat tiga pola atur pergerakan yaitu pasien. 15 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan menempatkan ruang bedah pada bagian paling atas bangunan. ruang radio-diagnosis diwajibkan memiliki perlindungan khusus untuk mencegah penyebaran radiasi. Akses langsung dari instalasi rawat darurat ke ruang sinar X ditujukan untuk mengani kecelakaan dan penganan darurat lainnya. Dalam hal ini.1. Ada dua aliran alur sirkulasi utama dalam instalasi radiologi yaitu: -Pasien -Petugas pemrosesan film X-ray Meskipun instalasi dapat melayani seluruh unit rumah sakit.

Ada 4 area fungsional utama unit rehabilitasi medik yaitu: -Fisioterapi dan senam pemulihan. dll. membutuhkan air dan drainase serta ventilasi udara diluar ruangan secara langsung untuk mencegah terjadinya kontaminasi saat mayat yang terkena infeksi pada saat proses autopsi. -Kolam Hidrotherapi yang dipadukan dengan area-area untuk bersantai. urine. yang terdiri dari perpaduan area latihan besar dan terbuka serta kamar-kamar kecil untuk perawatan secara individual.-Area konsultasi dengan sebuah ruangan konsultasi dan ruangan latihan serta kantor. Meja-meja tempat penyimpanan mayat. dan sebuah ruangan untuk melatih berbagai akktifitas hidup sehari-hari. Gymnasium memerlukan ruangan yang besar dan memiliki jarak lantai ke langit-langit ruangan yang cukup tinggi. proporsi terbesar terdapat pada fungsi yang melayani pasien rawat jalan dan ditempatkan pada lokasi lantai dasar dengan akses yang terpisah dengan lalu lintas ambulans. Pertimbangan utama dalam desain sebuah instalasi adalah kemudahan untuk perkembangan dan perubahan instalasi dimasa mendatang. -Terapi dengan cara memberikan pekerjaan tertentu. haematology. walaupun hal ini bukan suatu yang esensial. Ada beberapa keuntungan jika kamar mayat tersebut sejalan dengan instalasi yang menangani cacat anatomi pada instalasi laboratorium. komputerisasi. Walaupun instalasi rehabilitasi medik melayani keseluruhan unit rumah sakit. seringkali digunakan sebagai ruang bangunan yang terpisah dengan bagian belakang yaang dihubungkan dengan instalasi utama oleh sebuah koridor yang tertutup. Sal ini tidak disediakan bagi setiap program rehabilitasi instalasi. Instalasi Laboratorium Instalasi ini menggunakan spesimen yang diambil dari pasien (seperti darah. Kamar Mayat Fungsi dari instalasi ini adalah untuk menerima mayat dari ruangan perawatan dan menyimpanya didalam sebuah lemari pendingin hingga persiapan untuk diambil oleh sanak saudara atau oleh pihak yang membutuhkanya. patology kimia. terdiri dari dua atau llebih area workshop meliputi pekerjaan-pekerjaan ringat maupun berat. 16 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . kelembaban. dimana strecher yang siap setiap saat dengan akses yang memiliki aksesibilitas tinggi karena fungsi ini digunakan oleh pasien yang mengalami kelumpuhan dengan tongkat atau penyagga. tempat penyimpanan mayat adalah sebuah refrigerator yang berbentuk komartemen yang biasanya tediri dari tiga tingkat. Meskipun kebutuhan untuk mengadakan perluasan secara fisik harus mereduksi beberapa perluasan dengan menambah sistem otomatik. membutuhkan treatment dan saluran khusus. pengguna kursi roda. bacteriology. Bagian hidrotherapi membutuhkan kontrol teknis khusus yang pengaturan temperatur. dll) cenderung dilaksanakan pada bagian yang terdiri atas perpaduan area laboratorium yang terbuka dan ruangan yang tidak terlalu besar untuk dapat dijadikan sebagai kantor kepala devisi dan kepala bagian teknis. Air yang terdapat pada meja-meja berasal dari tubuh mayat tersebut. microbiology. Devisi klinis terbesar dari instalasi ini (kecacatan anatomi. Pemisahan tersebut diperlukan pada mayat yang terinfeksi. pemasangan saringan dan lain-lain. Dalam hal ini dibutuhkan area lantai dasar dengan akses langsung dari luar untuk kendaraan. dll) yang akan diperiksa dengan menggunakan berbagai teknik laboratorium untuk mengkonfirmasikan dan memberikan diagnosa. histology. jaringan. selain itu untuk mengadakan pengujian (forensik) agar mengetahui sebabsebab kematiannya. 5. instalasi tetap merupakan sesuatu yang mudah untuk terjadi perkembangan secara fisik. 4. dan alat bantu berjalan lainnya. Ruang perawatan khusus perlu ditempatkan dan dirancang secara khusus.

akan dialihkan ke ruangan untuk perawatan umum atau pada ICU. penanganan bantuan pernafasan. -Profil Infrastruktur. staf yang klinis dapat memberikan perhatian dan intervensi pengbatan secara kompleks termasuk dukungan secara fisiologi dan psikososial terhadap pasien. dan staf yang berpengalaman dalam pengelolaan keadaan-keadaan tersebut. Penggunaan instalasi juga sangat membutuhkan kuantitas suplai spesimen. Intensive Care Unit adalah ruang perawatan dan pengobatan pasien dengan tingkat kekritisan tertentu. sebagai tambahan berkaitan dengan hal diatas. peralatan.Peralatan berteknologi tinggi . Fungsi utama ruang ICU: . Instalasi Gawat Darurat Instalasi ini membutuhkan ruang penerimaan.Hubungan fungsi yang sangat erat antara laboratorium dengan unit rawat jalan dan sejak pasien tersebut datang ke laboratorium untuk memberikan spesimen. oleh karena itu harus ada hubungan yang efisien dengan jalur suplai yang terdapat dirumah sakit. -Mendukung organ vital pada pasien-pasien yang akan menjalani operasi yang kompleks atau prosedur intervensi dan resiko tinggi.Desain ruangan dan sarana yang khusus .Pasien yang dirawat dalam keadaan kritis . Komponen spesifik ICU: . Kunci kedekatan dalam hal ini telah didiskusikan pada perencanaan bentuk bangunan dan seringkali bentuk instansi ini merupakan sebuah kelompok-kelompok yang memiliki akses langsung ke instalasi radiologi dan klinik patah tulang. seluruh pasien yang membutuhkan perawatan. namun pada umumnya fungsi tersebut digantikan oleh ruang penanganan utama yang dilengkapi pipa gas untuk keperluan medis dan penyaring suplai udara untuk beberapa pembedahan yang bersifat emergency. perawat. Intensive Care Unit Instalasi ini adalah suatu bagian dari rumah sakit yang terpisah. dengan jalan masuk yang dibuat terpisah dengan jalan yang digunakan oleh pejalan kaki dan brankar pasien.Melakukan perawatan pada pasien-pasien gawat darurat dengan potensi reversible life thretening organ dysfunction. dengan sumber daya teknologi dan pengobatan yang lebih terkordinasi terhadap pasien.Pelayanan dilakukan oleh staf yang profesional dan berpengalaman 17 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dimana ada kemungkinan instalasi yang berada di tingkat berbeda akan diprioritaskan untuk menggunakan lift. termasuk penanganan lanjut terhadap pasien yang mengalami kecelakaan dan serangan jantung yang membutuhkan penanganan rumah sakit segera mungkin. Akses eksternal untuk ambulans merupakan prioritas utama. 6. Didalam rumah sakit. ICU menyediakan kemampuan sarana dan prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi-fungsi vital dengan menggunakan keterampilan staf medik. dengan staf khusus dan perlengkapan yang khusus. . yang ditujukan untuk observasi perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit. Walaupun beberapa rumah sakit jarang menyediakan ruang operasi kecil. Tempat ini tidak diperuntukan untuk pasien rawat inap. 7.Fasilitas ini menyediakan keahlian pengobatan klinis lebih intensif. cedera. harus memiliki akses yang cepat menuju ke ruang operasi utama dan ruang ICU.

toko kecil. ruang tunggu. non infeksi dan bedah anak 3. ruangan adiometri. Tujuan khusus akomodasi. Oleh karena itu. Staf paramedis dari hampir seluruh spesialisasi dan disiplin bekerja dalam instalasi ini. Ibu: obstetri dan ginekologi 2. Kejiwaan ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 18 . tempat bermain anak. Kecenderungan yang terjadi pada pegolahan kamar tipe A adalah kamar dikelompokan dalam satu garis lurus tanpa sekat dan dipisahkan menjadi kelompok-kelompok. Umum termasuk: THT. Tujuan umum kamar-kamar klinik. area perawatan dermatology. Penyakit Dalam: infeksi dan non infeksi 5. pengakomodasian dapat diklasifikasikan ke dalam: . toko-toko. Area ini meliputi ruang penerimaan. klinik pemeriksaan anak. Oleh karena itu dipilih untuk menempatkan instalasi tersebut pada lantai dasar tetapi bagian yang lain ditempatkan pada lantai atas dengan penyediaan lift yang cukup. tujuannya adalah untuk mengurangi dan meminimalkan proporsi dari ruangan untuk setiap spesialisasi. untuk tujuan pedeskripsian. memperlihatkan jumlah lalu lintas dari luar menuju ke rumah sakit yang besar baik dengan berjalan kaki ataupun dengan menggunakan kendaraan. latihan-latihan dan pemulihan. di Indonesia secara umum diterapkan sebagai berikut: 1. Syaraf 6. Anak: infeksi. tetapi beberapa akomodasi untuk beberapa spesialis tetap dibutuhkan. fasilitas sanitary. Penempatanya tergantung pada perencanaan keseluruhan instalasi. Kelompok-kelompok kamar klinik dilengkapi dengan perawatan. ruang untuk menempatkan alat-alat kebersihan. Instalasi yang mengurusi pasien rawat jalan dan jumlahnya tergantung pada penaksiran daya tampung pasien untuk kapasitas tertentu. Tipe A memberikan kesempatan untuk melakukan alokasi yang lebih fleksibel untuk ruangan klinik karena spesialisasi yang berbeda dan membutuhkan penggunaan sejumlah ruangan yang terdiri dari berbagai macam tipe pada klinik.8. ruangan kotor dan ruangan bersih. Rawat Inap Kelompokkan sesuai dengan golongan penyakit. tempat kursi roda. Sebagai contoh: bedah gigi dan laboratorium. Pasien memilih klinik sebagai tempat untuk melakukan konsultasi. 9. dan area-area yang nyaman bagi pasien dan pada umumnya dilengkapi oleh toko makanan kecil. Poliklinik Area untuk pasien rawat jalan dan merupakan satu instalasi yang areanya paling luas dalam rumah sakit. mata 7. Tipe A terdiri dari dua ruangan yang mengkombinasikan antara ruangan untuk konsultasi dan ruang tindakan. kantor. opthalmic dan ruangan opthoptic. Oleh karena itu diperlukan penataan pintu masuk dan akses yang berasal dari luar dimana tidak menyebabkan kekacauan pada sirkulasi. Bedah 4.hal-hal yang berkaitan dengan instalasi -tujuan umum klinik -tujuan khusus area-area klinik Hal yang berkaitan dengan instalasi. gimul. Tipe B berupa satu ruangan untuk konsultasi yang diapit oleh dua ruangan tindakan. Ruangan konsultasi dan latihan mayoritas merupakan spesialisasi klinis. ruang resepsionis dan area ruang tunggu. Ada dua tipe dasar dari ruangan untuk berkonsultasi. Instalasi yang menangani pasien rawat jalan.

Ruang staf (locker) lengkap dengan lavatory d. Mendorong kesembuhan pasien. inti pelayanan terletak pada ruang-ruang sebagai berikut: a. cakupan. Sedang pada Instalasi lain bisa menerapkan sistem satelit ataupun pos obat. kenyamanan menyangkut: pemandangan. Termasuk dalam penataan aliran ruang. Implementasi fisik antara lain: tersedia gas medik. Sarana prasarana pengelolaan kebakaran dan sistem deteksi. Apotik dan area distribusi g. Instalasi Sterilisasi/ CSSD Kebijakan mengenai peraturan. Ruang kepala Instalasi dan ruang tamu f. suplai daya listrik. TSSU. Jalur evakuasi dengan signage yang jelas. Perencanaan K3. Rawat Inap. bentukan dan material tidak memerangkap debu. Sebagian RS menerapkan manajemen stok obat yang memisahkan antara Gudang Obat IRJA dan non. administrasi dan kassa. telah berangsur-angsur mengalami banyak perkembangan selama 10-15 tahun. Keamanan dan keselamatan. plafon bahkan lantai yang mudah dibersihkan. 11.up medis atau alkohol cuci tangan. Obat khusus direncanakan lemari build in dengan tingkat kelembaban yang terkontrol dan terkunci c. Tersedia scrub. non dan khusus. HSSU atau HSDU).IRJA. rawat inap medical check up dan sebagainya. unggulan pelayanan seperti: rawat inap infertilitas. Tersedia scrub up dan atau alkohol cuci tangan. Implementasi fisik antara lain: ketenangan. Implementasi fisik antara lain: grib bar untuk pasien di koridor dankamar mandi. Pada Farmasi Pusat. Implementasi fisik antara lain: rencanakan dinding. 19 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Namun secara prinsip semua harus bertujuan bagi kemudahan pasien. Mencegah infeksi nosokomial. Secara keseluruhan ini dari instalsi ini adalah sterilisasi dan penanggulangan infeksi pada peralatan yang dipergunakan di rumah sakit. vacuum. perlu memisahkan kassa Askes dan nonAskes. kondisi udara yang baik. Sebagian RS dengan beban kerja tinggi. Pada umumnya Farmasi pusat berdekatan dengan Rawat Jalan. Implementasi fisik antara lain: orientasi pencapaian ruang slob zink yang dekat namun tidak langsung dari nurse station. suplai daya listrik medik dan non terjamin kontinu. Terdapat jalur dan pintu khusus untuk barang kotor. Kesemua sistem tersebut secara prinsip mempermudah pasien dalam menjangkau sekaligus mempermudah operasionalisasi petugas keperawatan. Ruang konsultasi.Pengelompokan diatas makin berkembang sesuai dengan jenis pelayanan. suplai air steril/bersih b. juga prosesnya. h. sirkulasi udara. Pantry (ruang makan) e. thermal. i. 10. Ruang simpan obat dipisahkan antara cairan. Hal ini tercermin pada nama yang berbeda di instalasi ini yaitu CSSD. skala dan isi dari instalasi ini. IGD dan Instalasi medik lainnya.Instalasi farmasi Secara umum perencanaan Farmasi terkait dengan akses sebagai penunjang Rawat Jalan. Kelengkapan jaringan infrastruktur medik. Kassa. Sering perencanaan ruang rawat inap harus menyesuaikan dengan strategi manajemen seperti misalnya: perlunya satelit farmasi. Ruang racik: meja kerja. Bumper dinding sepanjang koridor pasien.

Coli harus 0/100 ml sampel minuman b. instalasi yang bersangkutan dan membutuhkan sarana penguapan untuk autoclaves dan hubungan yang baik dengan rute-rute suplai internal. Ruang penerima b. dinding. atau langit. Cold room h.langit dengan ketentuan sebagai berikut : • Jarak bahan makanan dengan lantai 15 cm • Jarak bahan makanan dengan dinding 5 cm • Jarak bahan makanan dengan langit. Persiapan c.langit 60 cm Kelengkapan ruang Instalasi Gizi: a. Lavatory o.banyaknya 100/cm2 permukaan dan tidak ada kuman E. Instalasi Gizi Persyaratan Umum: a. Simpan alat j. Pantry f. Angka kuman E.5° atau dalam suhu dingin kurang dari 4° C. Cara penyimpanan bahan makanan tidak menempel pada lantai. Gudang bahan k. Kebersihan peralatan ditentukan dengan angka total kuman sebanyak. Makanan kemasan tertutup sebaiknya disimpan dalam suhu ± 10° C e.Dalam unit pemrosesan dan pemberian pelayanan. Makanan yang mudah membusuk disimpan dalam suhu panas lebih dari 65. Kelembaban penyimpanan dalam ruangan 80 . Ruang kerja. Cold storage g.90 % 23 f.Coli pada makanan harus 0/gr sampel makanan dan pada minuman angka kuman E. Jalur trolley kotor m. Pemrosesan peralatan-peralatan akan menimbulkan kuantitas hawa panas yang sulit dikontrol.1° C d. Gudang air l. administrasi. arsip 20 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Jalur trolley bersih dan distribusi n. Oleh karena itu seringkali lokasi ditempatkan pada zona industri dimana ada kemudahan dari pengorerasian pipa saluran untuk keperluan proses penguapan alat. Dapur pastry e. Dapur Besar d. khususnya untuk bagian kamar operasi. Ruang kepala Instalasi dilengkapi ruang tamu p. Ruang cuci i. 12. Untuk makanan yang disajikan lebih dari 6 jam disimpan suhu – 5° C sampai . Ruang ganti.Coli c.

Kebutuhan ruang penyimpanan dan penanganan.BAGIAN 1 I BAB 5 TINJAUAN SIRKULASI DAN ZONING RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Sirkulasi 1. Kuantitas dan frekuensi material yang dipindahkan untuk distribusi. 5. Distribusi pengguna masing-masing instalasi. 21 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 3. Kebutuhan ruang penerimaan. Tempat pembuangan dan pemrosesan kembali. Prinsip dan Implementasi Terdapat tujuh pertimbangan mendasar yang mempengaruhi desain pada distribusi sistem pergerakan/sirkulasi yaitu : 1. Pilihan di antara sistem mekanik dan manual. 6. 2. 4. Tipe-tipe dari barang yang akan dipindahkan (termasuk yang perlu penanganan khusus). 7.

Cara pembagian ruangan 2. tetapi tidak berpengaruh besar terhadap keseluruhan bentuk bangunan : 1. pengunjung.2. Alternatif penyelamatan dan pada kondisi saat menemui jalan buntu 4. Akses untuk menanggulangi kebakaran 22 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Meskipun faktorfaktor ini penting. Kegawatdaruratan Ada tujuh prinsip dasar yang sifatnya fundamental untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi bentukbentuk bangunan yang memberi perhatian penuh mengenai keamanan kebakaran. Jalur-jalur penyelamatan 5. Jarak tempuh 6. Sirkulasi Kendaraan. Barang. Pemberi Layanan Kesehatan. Keterkaitan antara instalasi 3. Hubungan eksternal 7.

23 Rumah Sakit Pendidikan Universitas Udayana Copyright : PT. perencanaan dan teknik desain harus membuka kesempatan untuk diadakannya perubahan internal dan penataan kembali ruanganruangan. 7. 3. Hubungan antara instalasi yang memiliki keterkaitan dalam hal fungsi dan juga mengenai jalur-jalur yang efisien bagi pergerakan orang dan suplai barang. Respons yang timbul dari hubungan secara fisik antara hal tersebut dengan masyarakat. beberapa dapat dilihat pada saat perencanaan tetapi ada beberapa yang tidak dapat diprediksi. 5. Kemampuan untuk berkembang dan berubah agar mampu merespon kebutuhan-kebutuhan dimasa mendatang. Persyaratan menyangkut masalah keamanan terhadap kebakaran serta metode evakuasi pasien. 4. pada detail. kemudahan dan kecepatan konstruksi. Suasana yang tercipta dalam lingkungan fisik dapat dihasilkan dari adanya saling keterkaitan antara bentuk bangunan dengan desain teknis. dapat diciptakan dengan memenuhi syarat estetika. Tujuan yang ingin dicapai dalam perencanaan harus bisa mereduksi hambatan-hambatan fisik untuk masa mendatang dan untuk perkembangan-perkembangan yang tidak diduga. Faktor-faktor penting yang dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan bentuk bangunan yang sesuai adalah : 1. 6. Kemampuan untuk membangun secara aktif dalam setiap tahap-tahap pembangunan. Ekonomis dalam hal modal dan pembiayaan. 2.BAGIAN 1 I BAB 6 TINJAUAN BENTUK DAN KARAKTERISTIK RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Karakteristik 1. Oleh karena itu bentuk bangunan harus open-ended dan dapat diperluas. Prinsip dan Implementasi Rumah sakit adalah bangunan yang memiliki keterpaduan yang mampu mengakomodasi fungsi-fungsi secara luas. Global Rancang Selaras ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .

Pergerakan orang dan distribusi barang .Berdasar standar ruang yang ada . Memenuhi Standar Bangunan Kesehatan . da karyawan. Berarsitektur bagus .Main entrance yang jelas dan pintu masuk khusus yang mudah dilihat . kendaraan servis. Karakteristik Disisi yang lain.2.Jejalur yang sederhana. pencahayaan. Dimana kriteria yang harus dijawab pada bagian ini antara lain: a. Memenuhi Standar Bangunan Kesehatan .Memperlihatkan komposisi yang baik . Sesuai dengan lingkungan .Memberikan nilai positif pada komunitas dan konteks sosial . Memenuhi Standar Konstruksi .Tampak bangunan menarik dengan skala manusia .Finishing yang mudah dan ekonomis dalam pemeliharaan .Akses untuk pejalan khaki . jelas dan mudah .Sesuai dengan tapak dan persyaratan perencanaan kota c.Ruang.Sistem jaringan yang terorganisasi dan mudah digunakan serta mudah disesuaikan dengan kebutuhan yang akan datang 24 . Akses yang Mudah -akses bagi Ambulans. serta parkir kendaraan yang mencukupi .Akses terpisah untuk suplai barang dan pembuangan sampah e.Penggunaan ruang g. Mudah bagi pengguna. warna.Hubungan antar fungsi .Kenyamanan dan privasi .Akses mudah untuk penyandang cacat .Pencahayaan dan ventilasi alami yang mencakup semua bagian ruang .Ruang dalam yang menentramkandengan pemandangan ke arah luar . perencanaan dan perancangan fisik rumah sakit juga didasarkan pada kriteria bangunan rumah sakit yang baik.Lansekap yang menarik ARSITEKTUR RUMAH SAKIT d. transportasi umum.Memenuhi Panduan Bangunan Rumah Sakit Memenuhi Persyaratan Standar Teknis Bangunan Rumah Sakit f. pemandangan. ramah lingkungan .Kendaraan pengunjung.Menjadi tetangga yang baik terhadap lingkungan .Memberi nilai estetis baik eksternal maupun internal b.Bahan bangunan dan finishing yang sesuai standar . dan karya seni untuk membantu penyembuhan . mobil pemadam kebakaran .

penyuluhan kesehatan masyarakat. kesehatan jiwa.disamping agar lebih memiliki dayatarik bagi masyarakat pada umumnya. dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh. terpadu. 25 2. pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. perbaikan gizi. Proses pengelolaan fasilitas tersebut meliputi perencanaan dan pemrograman. pengamanan makanan dan minuman. sehingga akses masyarakat luas terhadap berbagai layanan kesehatan menjadi lebih baik. penghunian dan pemanfaatan. perancangan. yang meliputi kesehatan keluarga. konstruksi dan penyediaan fasilitas. kesehatan lingkungan. kesehatan sekolah. Evaluasi pasca huni adalah suatu proses evaluasi fasilitas dengan cara yang sistematik setelah fasilitas tersebut dibangun dan dihuni dalam suatu kurun waktu tertentu. POE). yang lazim disebut dengan evaluasi pasca huni atau EPH (post occupancy evaluation. kesehatan kerja. Fasilitas Kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. dan untuk itu diperlukanlah berbagai macam fasilitas kesehatan dan unit-unit penyelenggara layanan kesehatan pada tingkat komunitas. diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (promotif). serta evaluasi pasca huni. Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain Fasilitas Kesehatan Kebanyakan Fasilitas kesehatan sekarang berada dalam tahap penghunian dan pemanfaatan. pengamanan zat adiktif. serta kesehatan mata. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Masing-masing tahap dalam proses tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja fasilitas kesehatan. pemberantasan penyakit.BAGIAN 1 I BAB 7 KONSEP RUMAH SAKIT DAN EVALUSAI PASCA HUNI Fasilitas kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Langkah-langkah Peringkatan Performansi 1. rumahsakit dan fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya termasuk dalam kategori fasilitas publik yang perlu dikelola secara optimal. Tahap evaluasi pasca huni adalah tahap yang sangat perlu untuk melihat kesesuaian antara apa yang ada sekarang dengan pola-pola pemanfaatan oleh manusia dan perilakunya. pengobatan tradisional. penyembuhan penyakit (kuratif). Dan karenanya. kesehatan olahraga. sesungguhnya sangat diperlukan evaluasi terhadap fasilitas yang ada sekarang. Sebagai fasilitas kesehatan dan fasilitas sosial. pencegahan penyakit (preventif). dan berkesinambungan. Penyelenggaraan kesehatan tersebut diharapkan dapat menjangkau lingkup spatial yang cukup ekstensif. Penyelenggaraan upaya kesehatan di atas dilaksanakan melalui berbagai kegiatan.

peningkatan sikap pengguna melalui keterlibatan dalam proses evaluasi. Setting a. Dalam komponen pengguna meliputi penyedia jasa dalam Fasilitas kesehatan (pengelola. paramedis. serta proses pengambilan keputusan yang lebih rasional dan objektif 2. bagian. Ruang b. Evaluasi Pasca Huni Investigatif 3. 26 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Dalam kriteria kinerja terdapat beberapa kriteria yang perlu diikuti. Evaluasi Pasca Huni Indikatif 2. evaluasi pasca huni juga memiliki tingkatan kecermatan sesuai kebutuhan penggunanya. Kegunaan jangka menengah. Bangunan c. ataupun kelompok fasilitas tertentu. khususnya Fasilitas kesehatan. Pengguna a. yang meliputi: 1. Kriteria kinerja a. Organisasi 3. Dalam komponen setting perlu ditinjau komponen-komponen setting Fasilitas kesehatan yang terdiri atas berbagai unit. Evaluasi Pasca Huni Diagnostik Bagi fasilitas Fasilitas kesehatan. Teknikal b. standar. Kegunaan jangka panjang. evaluasi pasca huni perlu dikaitkan dengan “state of the art” fasilitas Fasilitas kesehatan. manajemen fasilitas yang proaktif terhadap aspirasi pengguna. pemahaman implikasi kinerja dalam kaitannya dengan ketersediaan anggaran. 3. 3. antara lain Standar Fasilitas kesehatan. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: identifikasi masalah dan solusi dalam manajemen fasilitas. Fasilitas Selain itu. penghematan biaya dalam proses pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan serta peningkatan usia bangunan. peningkatan pemanfaatan ruang dan umpanbalik terhadap kinerja bangunan. maupun hasil-hasil penelitian mengenai fasilitas kesehatan komunitas seperti Fasilitas kesehatan 2.Kegunaan evaluasi pasca huni terbagi dalam 3 jangka waktu: 1. Kelompok c. akuntabilitas kinerja bangunan oleh semua pengguna. Behavioral 2. yang meliputi beberapa aspek: 1. Individu b. Kegunaan jangka pendek. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: kinerja fasilitas dalam jangka panjang. Standar Arsitektural untuk Fasilitas Kesehatan. dan kriteria untuk perancangan fasilitas. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: kemampuan pengembangan fasilitas sesuai dengan pertumbuhan organisasi. dokter. perbaikan basis data. dan manajemen) maupun pengguna jasa Fasilitas kesehatan (individu maupun kelompok masyarakat). Fungsional c. serta perbaikan sistem penilaian fasilitas melalui kuantifikasi Jenis kegiatan dalam evaluasi pasca huni akan tergantung pada interaksi antar komponen dalam proses evalusi pasca huni: 1.

Macam-macam analisis: berhasil/gagal.Rencana jangka panjang 27 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . analisis korelasi . Pelaksanaan Evaluasi Pasca Huni a. memproses data.Penalaan antar pengamat. dan SDM. Kesimpulan.Memilih indikator yang dapat merepresentasikan aspek . Perencanaan Riset . Apendiks.Tahapan analisis: menyusun data mentah. Perencanaan Sumberdaya .Evaluasi pasca huni memiliki beberapa tahapan sebagaimana berikut: 1.Memahami besaran dan kondisi signifikan aset eksisting. Review Hasil dan Kesimpulan . analisis sederhana. peringkat. Pemantauan dan Manajemen Prosedur Pengumpulan Data . variabilitas. persentase.Uji awal instrumen pengumpulan data. alat. chi-square. Metodologi. Temuan.Pendahuluan. rerata. mengemas dan komunikasi temuan.Perencanaan metoda dan alat c.Tujuan analisis data: pemerian.Memilih tingkatan usaha yang sesuai. memasukkan dan transfer data. Perencanaan Evaluasi Pasca Huni a. . b. interpretasi serta melengkapi analisis data.Penguasaan Lapangan dan Pelaksanaan Survey b.Memilih biaya evaluasi yang sesuai.Penerapan Evaluasi Pasca Huni a. bandingan 2 kelompok.Antisipasi hasil dan kesimpulan 2. .Menentukan aspek kritis yang perlu diteliti . dan penjelasan . c. .Mobilisasi data.Rencana jangka pendek .Perencanaan SDM . Rekomendasi tindakan .Tindakan terkait kebijakan .Pemahaman terhadap karakter aktivitas. Pengenalan Masalah dan Kelayakan .Tindakan terkait teknik c. interpretasi. .Antisipasi reaksi .Menyusun kriteria untuk evaluasi ukuran . Analisis data. Pustaka b. .Rencana jangka menengah .Tindakan terkait prosedur .Perencanaan waktu . Pelaporan temuan . 3.Mengembangkan ukuran bagi tiap indikator . Analisis Data . Awal Proses Pengumpulan Data Lapangan .

dalam arti lingkungan di sekitar fasilitas kesehatan. layak untuk ditanggapi sebagai sesuatu yang penting. Sebagai contoh misalnya diperlukan adanya integrasi antara fungsi-fungsi kesehatan fasilitas kesehatan dengan fungsi-fungsi pendidikan. Interaksi antara ruang pakai baik yang aktif maupun yang pasif dengan ruang layanan. dan waktu. Demikian juga dengan konteks sosial. maupun ruang-ruang mikro dalam fasilitas kesehatan sebagai setting kegiatan. akses dan sirkulasi. yaitu fungsi. nilai kegunaan.3. dan dapat dilayani fasilitas kesehatan tersebut. ataupun penambahan fungsi baru yang sinergis dengan fungsi yang ada. penghawaan. yang akan secara spesifik memberi keunikan pada fasilitas kesehatan dan menambah dayatariknya. baik yang berupa bangunan (fixed elements). optimalisasi fasilitas kesehatan akan dipandang dari berbagai faset perencanaan fasilitas dan perancangan arsitektur. baik ruang keseluruhan fasilitas kesehatan sebagai fasilitas. peningkatan performansi fasilitas kesehatan dapat meliputi peningkatan 5 aspeknya. serta konteks. mengingat salah satu keunggulan fasilitas kesehatan adalah potensi jangkauan layanan kesehatan ke masyarakat luas di tengah komunitas mereka sendiri. Optimalisasi akses dan sirkulasi meliputi kemudahan pencapaian hingga pada perangkaian pergerakan dalam fasilitas kesehatan sehingga menjadi efektif dan efisien. kemasyarakatan dan estetika. Dalam hal ini. interaksi antara ruang dalam dengan ruang luar. rekreatif dan estetika dalam perannya melayani kesehatan. serta akustik). Dalam aspek bentuk ini. Optimalisasi lokasi dan ruang meliputi peningkatan dan pengkayaan nilai lokasi serta kualitas ruangruang dalam dan di luar fasilitas kesehatan. rekreatif. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . bentuk dan kelengkapan. Fasilitas kesehatan sebaiknya dikembangkan tidak hanya melayani kesehatan tetapi juga dapat memberi aspek kemasyarakatan. Akses menjadi hal yang penting. Langkah-langkah Peringkatan Performansi Fasilitas Kesehatan Pendekatan kontemporer menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan membutuhkan fungsi dan fisik. sosial. Optimalisasi fungsi meliputi peningkatan fungsi yang ada sekarang dengan penyempurnaannya berdasar persepsi dan spirasi pengguna. yang dapat menunjukkan karakteristik masyarakat di sekitar fasilitas kesehatan tersebut. fasilitas dan perabot (semi-fixed elements) ataupun setting-setting meso dan mikro bagi berbagai aktivitas penggunanya (non-fixed elements). serta interaksi antara setting budidaya dengan setting alam sangat diperlukan. melainkan juga layanan kesehatan secara luas dan bahkan juga sebagai fasilitas sosial-edukasi-budaya secara proporsional. Dalam hal ini. yang diperlukan adalah adanya pemenuhan kebutuhan masa kini dan masa depan yang terujud dalam bentuk fisik dan fasilitas serta teknik komunikasi yang digunakan. Optimalisasi konteks akan membuat fasilitas tersebut akan lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat penggunanya. Berbagai fase ini dapat menjadi hasil keluaran dan rekomendasi dari evaluasi pasca huni yang dilakukan terhadap sebuah fasilitas kesehatan. lokasi dan ruang. bahkan komersial yang akan menghidupkan fasilitas tersebut. diharapkan fasilitas kesehatan dapat memberi wadah bukan hanya kegiatan layanan kesehatan secara sempit. Konteks keruangan. Atau dapat juga dilihat sebagai sistem pewadahan fungsi (ruang dan tata perabot yang ada) serta sistem penunjang fungsi (pencahayaan. Optimalisasi bentuk dan kelengkapan meliputi peningkatan secara fisik fasilitas kesehatan. 28 4. Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Fasilitas kesehatan Dalam bagian kedua. Optimalisasi konteks meliputi integrasi fasilitas kesehatan dengan konteks keruangan.

Langkah-langkah tersebut dapat berupa kebijaksanaan.Di sisi lain. Jika dilihat dalam sistem perencanaan dalam manajemen.Threats (ancaman).Weaknesses (kelemahan). yaitu faktor positif internal .Jangka menengah. rencana. dapat berupa: . yaitu faktor negatif internal . Dalam proses perencanaan dan perancangan.Strengths (kekuatan). dapat terlihat bahwa proses ini sangat erat kaitannya dengan manajemen fasilitas secara luas.Jangka panjang. dengan durasi sekitar 10-20 tahun . yang meliputi: 1. yang meliputi: . dengan durasi sekitar 1 tahun Visi ini dapat juga terkait dengan tujuan atau sasaran. dengan mengetahui potensi dan permasalahan yang ada.Jangka pendek. program. Strategi : cara untuk mencapai visi 5. yaitu faktor negatif eksternal Visi Visi dapat dirinci dalam waktu dimana visi tersebut diharapkan terjadi. yaitu faktor positif eksternal . Visi : kondisi ideal yang diinginkan 3. Masalah : jarak antara kondisi ideal dan kondisi eksisting 4. Profil : kondisi eksisting yang ada 2. Kondisi tersebut perlu dinilai. hingga projek yang diperlukan. untuk kemudian dapat dilakukan langkahlangkah perbaikan. dengan durasi sekitar 5 tahun . atau developmental goals dan developmental objectives 29 .Opportunities (peluang). strategi. Salah satu alatnya adalah Analisis SWOT (SWOT analysis). pada dasarnya terdapat 5 komponen utama yang perlu didefinisikan secara jelas. Evaluasi Pasca Huni dapat membantu meningkatkan performansi Fasilitas kesehatan. Aksi : tindak nyata yang merupakan jabaran dari strategi Kondisi Ideal VISI jarak antara kondisi eksisting dan kondisi ideal MASALAH cara mencapai visi STRATEGI ARSITEKTUR RUMAH SAKIT kondisi eksisting PROFIL tindak nyata AKSI Profil Kondisi eksisting perlu ditinjau dari setidaknya 5 aspek yang disebutkan di atas.

Sirkulasi. yang dijabarkan dalam rencana atau rancangan. Ruang Terbuka.Mengkaji ulang problem statement Strategi Strategi adalah cara untuk mencapai visi.Rencana (plan) .Program (program) ARSITEKTUR RUMAH SAKIT BAGIAN 1 I BAB 8 PERENCANAAN LAHAN / SITE PLANNING RUMAH SAKIT Kebutuhan vs Ketersediaan Perencanaan Lokasi. Aksi Produk rancangan yang ada pada dasarnya dapat dibagi dalam: . Perumusan problem statement membutuhkan langkah-langkah sebagaimana berikut: . serta melihat kaitan dan pengaruhnya terhadap masalah yang lain . pemenuhan kebutuhan. atau pemanfaatan peluang. Parkir.Kebijakan (policy) . maka sasaran (objectives) lebih bersifat langsung serta konkret.Menyiapkan daftar tujuan dan sasaran . Kontur dan Aliran Air 30 1.Arahan (guidelines) . Jika tujuan (goals) lebih bersifat ultimate serta tidak langsung. Kebutuhan vs Ketersediaan . temporal.Mengenali kisaran variabel-variabel yang perlu diperhitungkan .Menyiapkan data-data/informasi pendukung masalah . Tujuan pada dasarnya dapat berupa pemecahan masalah. Perumusan strategi terkait erat dengan perumusan tujuan dan sasaran bagi strategi tersebut.Masalah Masalah adalah jarak (discrepancy) antara kondisi ideal yang diharapkan dengan kondisi eksisting sekarang ini. Tapak.Mempelajari secara mendalam masalah yang dihadapi .Membatasi daerah masalah secara lokasional.

2. Parkir. Adakah layanan pengelolaan sampah di kawasan sekitar rumah sakit Rata-rata luasan lahan untuk rumah sakit dengan tipe B ke atas.Analisis Aspek Lokasi .Analisis Aspek Transportasi dan Sirkulasi . kenyamanan visual dan pengkondisian kualitas udara. Kontur dan Aliran Air Tahapan awal dari Perencanaan Lahan/Site Planning untuk mengenali dan mendapatkan kondisi akurat eksisting terdiri dari: .Analisis Aspek Guna Lahan dan Zoning Rumah sakit harus menempati lokasi terbaik dan yang terdekat dengan populasi yang dilayaninya. pada cakupan lingkungan mikro. biasanya berada jauh diluar kota dimana timbul banyak masalah tenaga kerja yang akan dipekerjakan di rumah sakit. Selain itu penting memperhatikan potensi ketersediaan sistem infrastruktur di luar site (off-site). membutuhkan areal seluas 12 hektar. Adakah jaringan jaringan perpipaan air bersih yang dikelola PDAM atau perusahaan penyedia air bersih lain d. Adakah jaringan telekomunikasi non-mobile c. Luasan lahan yang dibutuhkan akan dipengaruhi oleh : -Batas Koefisien Dasar Bangunan di lokasi tersebut -Luasan bangunan yang diperlukan dalam perkembangan rumah sakit itu dalam kaitan pertumbuhan kapasitas pelayanan -Kebutuhan parkir dan akses -Kebutuhan penjarakan bangunan-bangunan dalam pertimbangan teknik fisika bangunan maupun kenyamanan okupansi. Sirkulasi. perencanaan hingga perancangan lahan menjadi sebuah keharusan. Oleh karena itu. dan terlengkap sesuai kualifikasi kelasnya. terbaik. Dekat kearah pusat jaringan transportasi untuk melayani masyarakat lokal serta luasan lahan yang cukup memadai akan memberi lebih banyak peluang dan fleksibilitas perluasan. dan kalaupun ada. Tapak. tapi lokasi dengan luas seperti ini. Adakah jaringan air limbah dan sistem pematusan yang terhubung dengan sistem perkotaan f. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 31 . Adakah jaringan listrik dan keterdekatan dengan gardu induk b. berhadapan dengan realita keterbatasan lahan/site. Perencanaan Lokasi.Perkembangan teknologi dan kesadaran akan pentingnya keberadaan sebuah fasilitas kesehatan yang memiliki brand image terpercaya. Atau pada situasi daerah kota yang sangat hiruk pikuk termasuk lokasi dimana pembangunan dilakukan dengan merubah bentuk bangunan-bangunan yang telah ada sebelumnya yang tentunya akan menjadi sangat mahal untuk kebutuhan KDB yang tinggi. langkah-langkah taktis dan cermat sejak proses persiapan. Ruang Terbuka. -Ketersediaan ruang terbuka hijau untuk utilisasi dan kenservasi air tanah. Adakah jaringan drainase di sekeliling lahan e. susah untuk diperoleh. Aspek yang harus diperhatikan terkait dengan hal tersebut antara lain adalah: a.

Radiology/ultrasound .Ruang Administrasi Umum . pemberi layanan kesehatan.Ruang Rapat .Rehabilitasi .Ruang Kepala . sekunder.Laboratorium Klinis .Security B.Arsip . pengunjung. Unit Medis .Kantor Pembayaran .Ruang Sekretaris . tersier.Pathology . Komponen Bangunan Rumah Sakit A. serta service dibedakan.Ruang Operasi . kegawatdaruratan.Ruang Dokter / Perawat Jaga .Gudang Medis .Physiotherapi . Begitu pula dengan sirkulasi barang.Informasi dan Pendaftaran .Keuangan .Pediatry Ekspladometri Rumah Sakit Pendidikan Universitas BrawijayaCopyright : PT. Global Rancang Selaras 32 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Zona primer.Ruang Tunggu .Ruang Staff . Prinsip dan Implementasi Rumah sakit didesain dengan mempertimbangkan efisiensi kegiatan dan kapasitas sirkulasi akibat peningkatan kebutuhan sehingga terdapat beberapa zonasi yang nantinya akan mempengaruhi layout ruangan. serta meminimalisasi akses medik sentral untuk kepentingan penjagaan sterilitas.Ruang Personalia . Unit Administrasi .BAGIAN 1 I BAB 9 SIRKULASI DAN ZONING KOMPONEN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi 1.UGD .Poliklinik .

Ruang Perawat .Perpustakaan . Global Rancang Selaras ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .R.Ruang Kelas .Cleaning Service/Janitor .Ruang ibadah .Ruang Tidur . Musik . Konsultasi D.Hall/ Lobby . Fitness .R.Farmasi / Gudang Obat .Pantry .R.Engineering . House Keeping dan Teknis . Seminar . Ganti.Kolam Renang .R. Peruntukkan Umum .Bengkel / Workshop . Pembina .Kapel .Gudang Ambulance .Rg.Parkir .Laundry .Ruang Obat . Komputer . Serbaguna .Masjid / Mushola . Makan Bersama .Kios/kafeteria .Lounge G.Dapur F. Global Rancang Selaras 33 Ekspladometri Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mataram Copyright : PT.Mekanikal .Auditorium Ekspladometri Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mataram Copyright : PT. dan Keterampilan .Rekam Medis . Pelatihan.Workshop .Spoel Hoek/Slob Zink .R. Konseling .Nurse station (loker.Rawat Medis . Rekreasi.R.C.Gudang Umum .R. Unit Rawat Inap . r.R. lavatory) . Unit Keperawatan .Perawat Poliklinik E.Ruang pertemuan .Sterilisasi / Clean Utility .Elektrikal .

proksemik dan teritorialitas .kognisi dan orientasi lingkungan Bangunan rumah sakit harus didesain dengan meminimalkan jangkauan personal paramedis dan kemungkinan kontaminasi serta memaksimalkan efisiensi seluruh sistem.keselamatan kebakaran .komunikasi dan alur kerja .fleksibilitas dan perubahan .spesialisasi dalam tipe/unit bangunan Aspek Teknikal. yaitu : . Karakter yang cerah yang berpengaruh pada tanggapan pengguna terhadap kegiatan didalamnya.BAGIAN 2 I BAB 10 PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT: PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Fleksibilitas dan Pentahapan Pertimbangan Estetika dan Kenyamanan 1. Prinsip dan Implementasi Sebuah bangunan rumah sakit harus memenuhi aspek-aspek sebagai berikut : Aspek Fungsional.elektrikal .privasi dan interaksi .atap akustik .sistem kontrol lingkungan Aspek Behavioral.dinding eksterior . Orientasi bangunan juga harus menanggapi iklim baik secara internal maupun eksternal.pencahayaan . Pertimbangkan pula waktu paruh perjalanan staf seefisien dan seminimal mungkin dengan pasien.finishing interior .penyimpanan dan penataan . meliputi : . meliputi : .persepsi lingkungan .faktor manusia . Bangunan juga harus didirikan untuk mengakomodasi unit-unit yang ada. Merupakan hal yang sangat penting bahwa pembiayaan bangunan dipertahankan serendah mungkin secara konsisten dengan menyesuaikan dengan standar yang dapat diterima serta memberikan keseimbangan yang optimal antara kedua hal tersebut. Masalah dalam menentukan standar ini akan berbeda antara satu lokasi dengan lokasi yang lain.citra dan makna .struktur . 34 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Karakter bangunan harus menampakkan harapan.sanitasi dan ventilasi .

Hal-hal yang mempengaruhi biaya pada prinsipnya muncul dari : 1. ruang bangunan serta infrastruktur eksisting yang bisa dimanfaatkan kembali baik dengan penyesuaian maupun tidak. terdapat peran sosial yang harus diemban oleh rumah sakit sebagai misi utama dari sekedar perhitungan untung rugi 2. diantara tahap-tahap pembentukan bangunan dan strategi teknis dibutuhkan untuk tujuan perkembangan maksimal dan potensi perubahan. konsisten dengan mengesampingkan tujuan yang menyangkut penetapan biaya serendah mungkin. 2. Dalam hal ini akan berimplikasi terhadap fungsi yang terdapat didalamnya (baik yang lengkap atau bagian instalasi) dan hal-hal teknis (ketentuan pembatasan bagi kebutuhankebutuhan awal atau membuat antisipasi untuk kebutuhan-kebutuhan dikemudian hari). Jika hal ini sudah bisa dipertimbangkan dalam waktu tertentu. Ada dua pola dasar pentahapan yaitu : 1. yang bisa dijabarkan dari kapasitas dan berusaha menemukan cara bagaimana dapat menyediakan servis yang dapat dikembangkan dalam tahap berikutnya serta tetap memelihara efisiensi operasional dan mengoptimalkan hubungan antar instalasi. Ada tiga alasan pentingnya pentahapan untuk hal ini yaitu : 1. Jenis. tetapi beberapa kerugiannya adalah harus menyediakan layanan-layanan yang sifatnya mendasar pada tahap pertama. Ada dua tujuan yang tidak dapat terelakkan yang berpotensi menciptakan konflik kebutuhan-kebutuhan dan sebuah keseimbangan yang hanya dapat dicapai oleh perdebatan berbagai disiplin ilmu dan kerelaan pihak-pihak untuk berkompromi secara operasional maupun secara teknis. Pertimbangan bisnis strategis layanan sehubungan dengan kalkulasi biaya investasi terhadap estimasi pemasukan. Tahap pembangunan rumah sakit pada lokasi baru memiliki keuntungan dari segi kebebasan membuat desain. Jumlah bangunan yang akan dibangun. Terdapat faktor resiko penyerapan layanan terhadap aspek pembiayaan yang harus mencapai titik imbang secara wajar Kebutuhan akan pentahapan memiliki dampak yang dominan pada bentuk-bentuk bangunan yang wajar. Penyelesaian kenyamanan bangunan dan syarat fasilitas medik. Kebutuhan untuk membangun sebagai jawaban dari rencana strategik. 3. Namun hal tersebut tidak semata berdiri sendiri. Pada lokasi baru. Pengaruh yang paling besar adalah jangka waktu yang panjang yang dilalui diantara tahap-tahap tersebut. Hal ini membutuhkan biaya banyak dan cenderung menggunakan modal yang tidak proporsional. meliputi area dan volume termasuk geometri dan bentuk bangunan 2. Fleksibilitas dan Pentahapan Sebagian besar bangunan rumah sakit harus melakukan pembangunan secara bertahap. Proses desain harus menerapkan keterpaduan secara mutlak terhadap bangunan maupun tata fungsi yang telah ada. Dalam aksi penyesuaian itulah memungkinkan dilakukan pemusnahan (demolition) atau penggantian (rehabilitation). kebutuhan untuk membagi pembangunan kedalam unit-unit kerja bangunan yang dapat ditangani oleh manajemen dengan memuaskan 3. 2. Untuk gedung aset Negara atau Pemerintah masing-masing aksi penyesuaian memiliki tata laksana tertentu. Desainer juga dihadapkan pada masalah mendesain dasar-dasar yang akan mendukung instalasi. hal ini seringkali berasal dari kebijakan penyediaan untuk implementasi secara bertahap yang lebih dari satu kali proses pembangunan. Pada bangunan yang telah ada. Pembatasan modal untuk proyek pembangunan. Dibutuhkan keahlian teknis dan penyelesaian detil khusus. 35 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . kapasitas dan jumlah unit infrastruktur penunjang. Langkah mengawali proses desain adalah inventarisasi terhadap fungsi. Pertimbangan kontraktual.

Menghindari koridor-koridor panjang yang membosankan. yang seringkali memberikan keuntungan operasional misalnya akses pada berbagai tingkatan. Belajar dari pengalaman telah menunjukkan bahwa ukuran rumah sakit yang optimal dapat memberikan kenyamanan. paling tidak posisinya ditempatkan pada areal yang masih dapat diawasi dari jauh.Menghindari penempatan pasien dan staf-staf pada tempat yang tidak nyaman karena adanya perluasan atau pembangunan sisi lain bangunan. secara internal maupun secara eksternal. Pertimbangan Estetika dan Kenyamanan Kelompok bangunan yang terdiri dari beberapa massa bangunan lebih mudah diintegrasikan ke dalam batas visual komunitas. Menghindari adanya permukaan bangunan yang panjang dan memberi kesan membosankan. 7. menghadirkan sebuah ruang yang memiliki pemandangan yang tidak membosankan.Posisi tempat kegiatan yang menimbulkan hawa panas dan suara bising.Pertimbangkan dengan cermat mengenai geometri dan penempatan halaman sebagai titik orientasi dari massa bangunan. Keduanya dapat berintegrasi sepenuhnya pada hal-hal yang berada disekeliling lingkungan gedung rumah sakit dimana ukuran yang harus dipertimbangkan adalah skala manusia. 2.Hindari areal halaman parkir yang sangat luas.3. 5. 3. 6. Beberapa faktor kunci : 1. Diusahakan agar massa bangunan tidak mendapat sinar matahari secara langsung kecuali aktivitas terwadahi menuntutnya. harus jauh dari area pasien.Menyesuaikan bangunan terhadap kontur lokasi. 4. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 36 . Tetapi beberapa rumah sakit dengan pertimbangan tertentu dibuat dengan volume besar dan berskala monumental bila diperbandingkan dengan tipologi umum bangunan.

Prinsip dan Implementasi Rumah sakit harus memiliki fasilitas tetap yang menyediakan pelayanan medis baik infrastruktur off-site maupun infrastruktur on-site.BAGIAN 2 I BAB 11 PERENCANAAN INFRASTRUKTUR RUMAH SAKIT prinsip dan implementasi Perencanaan infrastruktur 1. 37 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .

Sehingga jika kapasitas maksimal layanan yang akan dikembangkan di Rumah sakit adalah 300 TT. b.2. Peraturan dan standar diatas merupakan acuan yang harus dipatuhi dalam meraih kinerja infrastruktur yang baik. memelihara dan atau mempertinggi derajat kesehatan. Sistem yang efisien dan efektif juga diperlukan agar ekonomis dalam pembangunan dan pengoperasian. 38 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Perencanaan Infrastruktur Penyediaan sarana prasarana pada fasilitas kesehatan utamanya ditujukan untuk melindungi.000 liter per hari atau 210 m³ per hari. Kriteria Desain Umum Penyediaan Air Perencanaan sistem penyediaan air bersih di Rumah sakit berpedoman pada sistem yang optimal dan ketepatan pada pemenuhan kebutuhan pelayanan. Kata kunci sumber air adalah: Kontinuitas debit dan volume sehingga kombinasi keduanya akan menjaga kontinuitas pasokan disegala musim. Bagan Langkah Perencanaan Infrastruktur A.Pendekatan penghitungan kebutuhan air bersih untuk bangunan Rumah sakit adalah 700 liter per tempat tidur per hari. Oleh karena itu.Direkomendasikan memanfaatkan kombinasi sumber air bersih yaitu sumur dangkal. sedang kualitas yang tepat berarti air bersih yang disuplai telah memenuhi standar higienitas air siap minum. Sistem jaringan terlindungi oleh shaft untuk pertimbangan pemeliharaan dan sistem kontrol. Kuantitas yang tepat berarti debit air bersih yang disuplai dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit pada skala kapasitas maksimal. untuk memelihara kualitas lingkungan atau mengendalikan faktor lingkungan yang dapat merugikan kesehatan harus ditunjang dengan peralatan serta sistem pengelolaan yang memadai sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang bersifat teknis kesehatan. sumur dalam. Beberapa asumsi dan dasar perencanaan sistem pengelolaan limbah cair di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : a. Target utama perencanaan sistem penyediaan air bersih ini adalah pemenuhan kebutuhan air bersih di Rumah sakit dalam kuantitas dan kualitas yang tepat.Sistem jaringan direncanakan sesederhana mungkin. c. perencanaan infrastruktur berada dalam lingkup sistemik belum mengarah pada detil alat atau jaringan ataupun detil kapasitas. Dalam materi Masterplan. ataupun PAM. maka kapasitas teknis air bersih perhari yang harus disiapkan adalah 300 TT x 700 liter = 210. Selanjutnya perencanaan infrastruktur dilaksanakan seiring dengan perencanaan arsitektural terkait dengan bangunan serta keberadaan lahan.

d.Seluruh kebutuhan air bersih di suplai dengan sistem perpipaan didukung roof dan ground tank set yang berfungsi pula sebagai reservoir dan water treatment set.Arah dan distribusi pipa mengikuti bangunan atau tegak lurusnya. Ini berarti tidak ada distribusi saluran diagonal/ miring terhadap bangunan.Untuk kepentingan kemudahan operasi dan pemeliharaan. e. g.Pengawasan kualitas air secara rutin sehingga suplai air bersih tetap aman dan tidak menimbulkan gangguan/bahaya terhadap kesehatan. Sistem yang paling efektif dipilih agar kemudahan dalam operasional dan pembangunan dapat tercapai. maka direncanakan zona distribusi air bersih. 39 Skema Sistem DistribusiAir Bersih Pada Bangunan B. Desain Umum Penyediaan Air Panas Perencanaan sistem suplai air panas berpedoman pada sistem yang ekonomis dengan konsentrasi suplai pada unit-unit yang paling membutuhkan.Semua jaringan air bersih merupakan jaringan bawah tanah diluar bangunan. Distribusi saluran tidak boleh melalui ruang fungsional kecuali dibawah ruang sirkulasi. optimalisasi distribusi serta sistem kontrol. Beberapa dasar perencanaan sistem penyediaan air panas di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . h. f. Zona distribusi didasarkan pada kedekatan atau pengelompokan bangunan.

Sistem pengelolaan limbah cair yang ada saat ini masih berupa sistem yang sederhana. Jika kapasitas maksimal yang akan dilayani oleh sistem air panas di Rumah sakit maksimal adalah 300 TT. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . ekonomis dalam pembangunan dan pengoperasian. Sehingga kapasitas pengelolaan limbah cair di Rumah sakit adalah 700 liter/hari/TT x 300 TT x 80% = 168.a. Target utama adalah menurunkan zat pencemar organik dan angka kuman sehingga sifat air limbah cair memenuhi syarat baku mutu air limbah. Penempatan jaringan pipa distribusi air panas diletakkan diatas dengan mempertimbangkan tingkat keamanan dan tidak mengganggu aktivitas utama. maka debit air panas yang harus disiapkan adalah 39. Pendekatan penghitungan kebutuhan air panas untuk bangunan Rumah sakit adalah sekitar 130 liter per tempat tidur per hari. Sistem penyediaan air panas diperoleh dengan memanaskan air dari energi diesel untuk perebusan. Saat ini Rumah sakit belum memiliki sistem pengelolaan limbah cair yang sempurna dan paripurna. d. Hal penting lainnya adalah rekayasa tepat yang harus dilakukan pada bangunan dan lingkungan terhadap sistem pengelolaan limbah cair.000 liter perhari. b. 40 Skema Sistem Distribusi Pengolahan Air Limbah Beberapa asumsi dan dasar perencanaan sistem pengelolaan limbah cair di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : a. Kriteria Desain Umum Pengelolaan Limbah Cair Perencanaan pengelolaan limbah cair berpedoman pada sistem yang optimal. Penyediaan air panas diarahkan pasokan ke unit sterilisasi serta sebagian kecil untuk kepentingan laundry dan pengelolaan laundry Rumah sakit. b. C. Sistem yang diterapkan menggunakan sistem boiler terpusat. c. c.000 liter/hari atau 168 m3. Kapasitas maksimal pelayanan adalah 300 TT. Pendekatan penghitungan volume limbah cair pada bangunan rumah sakit adalah asumsi 80% konsumsi air bersih akan terbuang sebagai limbah cair.

Permukaan jalan dan parkir menggunakan aspal dengan kemiringan memadai. Zona instalasi pengolahan limbah cair direncanakan terpisah dan berjarak dari ruang fungsional lain mengingat suhu yang dikeluarkan. pengobatan. dan perawatan yang menggunakan bahan beracun. Model distribusi saluran tersebut adalah tegak lurus dan searah saluran kota ataupun sungai. j. gigi. f. Sampah Medis Bisa disebut pula sampah klinis yang berasal dari pelayanan medis. 2) Saluran penerima dengan dimensi 30x30 yang berfungsi menerima air hujan yang disalurkan talang dari atap tiap bangunan atau kelompok bangunan. infeksius. sebaran dan keberadaan saluran drainase kota atau sungai (penerima run-off utama). Sumur resapan dibangun di bagian bawah jalan sehingga terhindar dari bongkar pasang akibat pengembangan bangunan. Penerapan hirarki pada sistem jaringan dengan perkiraan dimensi yaitu : 1) Saluran pengumpul dengan dimensi 30x40 merupakan saluran tegak lurus saluran assainering kota penerima run-off yang berfungsi sebagai pengumpul dari saluran-saluran penerima. Pada prinsipnya semua saluran drainase direncanakan terbuka atau semi terbuka untuk memudahkan perawatan dan pemeliharaan. Sistem distribusi saluran direncanakan sesederhana dan sejelas mungkin. Ini berarti bahwa air hujan yang jatuh baik dari atap maupun yang langsung ke permukaan bumi langsung dimasukkan ke saluran air hujan. Beberapa dasar perencanaan sistem drainase dan pengelolaan air hujan di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : a. Memaksimalkan area tangkapan air hujan (capturing areas) dengan koefisien pengaliran (run-off coefficient) sekecil mungkin.d. Untuk mengurangi akibat dari hal diatas serta gangguan visual maka disarankan menggunakan elemen lansekap berupa tanaman rapat setidaknya setinggi 120 cm mengelilingi zona instalasi pengolahan limbah cair. untuk memudahkan perawatan. Kriteria Desain Umum Pengelolaan Sampah Untuk kepentingan pengelolaan sampah secara garis besar dapat digolongkan dalam 2 (dua) jenis yaitu sampah medis dan non-medis. E. c. Tidak ada toleransi genangan yang diijinkan. d. 41 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . bau yang keluar dan getaran yang dihasilkan saat pengolahan. Komponen pendukung saluran drainase antara lain: gorong-gorong pada saluran menyilang terhadap jalan/selasar/sirkulasi dan sumur resapan air hujan (retaining well) dengan persyaratan struktur tanah tertentu. perawatan. Dimungkinkan ada saluran tertutup pada beberapa penggal yang ada dibawah bangunan. Hal yang perlu diperhatikan adalah menghindari perletakan sistem jaringan dibawah bangunan atau ruang fungsional kecuali pada ruang sirkulasi. Limpasan yang dibuang keluar kawasan rumah sakit dialirkan ke assainering disekeliling site. Ini berarti bahwa diluar bangunan beratap sebisa mungkin berupa taman atau kebun. f. h. pemeliharaan dan pemantauan. b. Selain itu bisa digunakan kombinasi material penutup yang ideal terhadap penyerapan air permukaan adalah grass block. farmasi atau yang sejenisnya. Dalam hal ini hanya ada 2 (dua) model distribusi yang berorientasi terhadap konfigurasi bangunan. Kriteria Desain Umum Sistem Drainase dan Pengelolaan Air Hujan Target utama dalam perencanaan sistem drainase dan pengelolaan air hujan adalah mengalirkan air hujan yang ada secepat mungkin di lahan Rumah sakit sehingga tidak ada genangan yang terjadi. e. Saluran distribusi yang direncanakan berada pada sekeliling bangunan sehingga tidak ada saluran yang crossing terhadap bangunan. Jaringan saluran air hujan terpisah dengan saluran air limbah. D. e. I. g. berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika dilakukan pengamanan tertentu. 1.

Kriteria Desain Pengelolaan Mekanikal Elektrikal Secara umum pengelolaan mekanikal dan elektrikal di rumah sakit ditujukan untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit.2. Dalam format yang ideal. Umumnya sampah non-medis berasal dari: . Penanganan terhadap bahaya kebakaran secara dasar disajikan pada Gambar berikut ini: 42 . sayur dan lain-lain . fire estinguisher. pengelolaan mekanikal dan elektrikal disasarkan untuk: a.Aktivitas umum berasal dari pengunjung berupa kemasan makanan-minuman. karena pemikiran segi ekonomis. misalnya: dapur. Sistem Elektrikal e. sistem penanggulangan kebakaran dapat diselesaikan dengan cara mekanis. sisa pembungkus. sistem pengelolaan yang direncanakan untuk Rumah sakit adalah sesuai dengan Gambar berikut ini: Non Medis Dapur Seleksi basah atau kering Bin Pengumpul Kontainer TPA Kota Malang Umum Seleksi basah atau kering Bak Sampah Medis Seleksi menurut potensi bahaya Alat pengumpul Incenerator Sanitary Landfill offsite Bagan Sistem Pengelolaan Sampah ARSITEKTUR RUMAH SAKIT F. debu . ruang diesel.Aktivitas dapur dan bagian gizi berupa sampah mudah busuk yang berasal dari penyiapan pengolahan dari penyajian makanan. Sampah Non-Medis Merupakan buangan padat (solid waste) diluar sampah medis atau klinis diatas.Aktivitas halaman/kebun berupa sisa pembungkus.Aktivitas kantor administrasi berupa kertas dan alat tulis . laboratorium. sisa makanan Secara sistematik. hydrant dan Iain Iain. yaitu menggunakan smoke/ heat detector. dapat digunakan tabung pemadam kebakaran yang diletakkan stasioner pada tempat tempat yang penting (kamar operasi. Mendukung efisiensi waktu dan biaya Aspek tinjauan dalam pengelolaan mekanikal elektrikal adalah: a. Mengamankan aktivitas dan pelayanan termasuk aset usaha c.Aktivitas laundry berupa pembungkus dan kemasan . Sistem Tata Udara c. Kriteria Sistem Pemadam Kebakaran Pada hakekatnya. IGD. Sistem Komunikasi G. Mempermudah aktivitas dan pelayanan b. Sistem Pemadam Kebakaran b. daun ranting. Sistem Gas Medik d. Kamar Intensif) dan tempat yang sekiranya mengundang resiko kebakaran. rawat inap. Namun. sisa makanan/bahan makanan.

Automatic Pada sistem ini. seseorang yang melihat atau mengetahuinya harus menuju ke signal box atau tempat-tempat umum lainnya. juga menjadi peringatan bagi orangorang yang berada dalam bangunan untuk melakukan usaha pemadaman. Bangunan multi storey kebanyakan menggunakan sistem otomatis. bila terjadi kebakaran. Satu tarikan manual tertentu dalam box akan menyalakan seluruh tanda bahaya atau alarm yang dapat terdengar dari seluruh penjuru bangunan. Bila suatu ketika terjadi kebakaran. Karena peralatan bekerja secara otomatis.Bagan Rencana Sistem Pemadam Kebakaran Yang dimaksud di sini adalah cara penanganan dan tindakan yang dilakukan dalam usaha-usaha perlindungan bangunan terhadap bahaya kebakaran. sedangkan tindakan selanjutnya adalah usaha mengatasi/memadamkan kebakaran tersebut yang masih dikerjakan dengan sistem manual. Semi Automatic Sistem ini merupakan gabungan dari cara kerja Fire Protection sistem manual dengan Fire Protection sistem otomatis. maka dengan sendirinya pencegahan dan pengatasan bahaya kebakaran dapat berlangsung dengan cepat dan kemungkinan adanya perluasan area kebakaran dan akibat-akibatnya dapat dikurangi semaksimal mungkin. 1. cara kerjanya juga lebih efisien. maupun dalam mengatasi/memadamkan kebakaran. maka secara otomatis tanda bahaya kebakaran akan berfungsi. selain karena lebih cepat. 3. Adapun usaha pemadaman itu sendiri juga dilakukan dengan peralatan yang serba manual. yaitu mulai dari pengenalan adanya api sampai pemadamannya. baik dalam mendeteksi bahaya kebakaran yang kemudian langsung memberikan tanda bahaya. yang memberitahukan selain tanda adanya bahaya kebakaran. Manual Dalam sistem ini. 43 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 2. peralatannya bekerja secara otomatis.

. (c) kemudahan perhitungan pemakaian oksigen. dan Instalasi Rawat Inap Kelas) melalui outlet.Sistem Paging dan Announcement (seleksi paging. Kriteria Sistem Telekomunikasi Di dalam menunjang kegiatan pelayanan di Rumah sakit. maka pada skala pelayanan yang dituju Rumah sakit akan lebih optimal bila menggunakan AC split atau AC window.Sistem Keadaan Darurat dan Evakuasi. agar mempunyai komposisi ideal bagi pernafasan Untuk efisiensi. misalnya sebagai pendingin. fungsi pengkondisian udara bertujuan untuk mencapai kenyamanan pada suhu udara dan kelembaban yang terkontrol. J. Ruang Bersalin (VK). (b) kemudahan distribusi untuk bangunan berjangkauan jauh. Pengatur kelembaban 2 c. Pada instalasi rawat inap. memindahkan kalor dari dalam ke luar ruangan. Pendistribusian oksigen dikendalikan pada ruang sentraI atau ruang kontrol gas medik. K. Line interkom sebagai penghubung antar instalasi dan antar nurse station c.Sistem Back Ground Music. perlu adanya hubungan telekomunikasi yang baik. IGD. Dalam sebuah bangunan. I. Line audio untuk pengumuman dan radio. Kriteria Sistem Pengkondisian Udara Pengkondisian udara lebih ditekankan kepada fungsi pelayanan dengan tingkat sterilitas tinggi serta ruang dengan instrumen pendukung yang membutuhkan persyaratan suhu dan kelembapan tertentu. yaitu: ruang operasi. Sebagai pengatur suhu (pendingin atau pemanas) b. . b. Sistem Tata Suara Lingkup Pekerjaan . melalui pipa bertekanan disalurkan ke ruang-ruang yang membutuhkannya (misalnya Ruang Operasi. emergency. Memperlancar distribusi O . Ruang kontrol direncanakan perletakannya di antara bangunan medik sentral. fungsi utama AC adalah: a. yaitu dengan mengupayakan beberapa sistem telekomunikasi operasional : a. public adress). khususnya ruang berkelas.Kriteria Sistem Gas Medik Penggunaan sistem gas medik sentral ini memiliki beberapa keuntungan yaitu antara Iain: (a) efisiensi tenaga pengangkut tabung oksigen. Pesawat telepon sentraI dengan sistem PABX. memindahkan kalor dari sistem pemanas ke dalam ruangan.Fungsi Ruang Ruang Rawat Inap VIP Ruang Rawat Inap Kelas I dan II Kantor Lobby / Ruang Tunggu Coridor/Hall/Staircase Central Room/Ruang Kontrol Kitchen/Canten Ruang Genset Detector Smoke Detector Rate of Rise Detector Rate of Rise Heat Detectoe Rate of Rise Heat Detector Rate of Rise heat Detector Smoke Detector Fixed Temperature Detector Fixed temperature Detector Jenis Detector H. Prinsip AC yaitu memindahkan kalor dari satu tempat ke tempat yang lain. dan ruang Iain yang membutuhkan sterilitas. sedangkan sebagai pemanas. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 44 . yaitu beberapa TBT yang dapat dipergunakan menjadi beberapa pesawat extension.

Setiap lantai mempunyai sistem tersendiri yang terpisah dengan sistem yang berada di lantai lain. Peralatan Utama ditempatkan pada Ruang Security c. yaitu : 1.Kapasitas dari Nurse Station sesuai dengan jumlah Ceiling Speaker. M. .Nurse Station ditempatkan pada tiap lantai dimana masing-masing lantai menggunakan 1 nurse station . Pekerjaan Nurse Call Lingkup Pekerjaan Nurse Call digunakan untuk komunikasi antara pasien dengan perawat. suster juga bisa langsung menjawab permintaan pasien dengan langsung bebicara melalui handset nurse station. masing-masing kamar 1 lampu yang juga dikoneksikan dengan Ceiling Speaker.Bed Side Call ditarik parallel ke Ceiling Speaker Sub . . . 45 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Aliran ini berasal dari jaringan yang dikelola oleh pemerintah.60 60 60 70 – 80 Asumsi Tingkat Kebisingan (Noice Level) pada ruangan L. suara pasien ditangkap oleh speaker dan bisa didengar di pesawat nurse station.Ceiling Speaker Sub juga bisa difungsikan sebagai microphone. PLN (Perusahaan Listrik Negara). Oleh karenanya.Ruang Ruang Pasien Kamar Rawat Hall & Coridor Ruang Operasi Umum Ruang Recovery Ruang X-Ray Toilet Gudang Utility Kantor Parkir Noise Level (dB) 40 – 60 40 – 60 35 – 45 40 – 60 40 – 60 40 – 60 40 – 60 40 . Dengan demikian bahaya gangguan dapat terdeteksi lebih dini sehingga dapat diambil tindakan – tindakan yang cepat dan tepat untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Pasien dapat berkomunikasi 2 arah dengan perawat tanpa pasien harus menekan tombol (hands free). Misalnya jika jumlah speaker ada 20 buah (untuk 20 kamar) berarti kapasitas Nurse Station adalah 20 kamar. Kriteria Perancangan dan Uraian Singkat Sistem . Kriteria Sistem Elektrikal Tenaga listrik yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di Rumah sakit dapat diperoleh dari tiga macam sumber tenaga. Sistem CCTV (Closed Circuit Television) Lingkup Pekerjaan adalah CCTV (Closed Circuit Television System) digunakan untuk membantu pengawasan kegiatan operasi . Hal ini untuk memudahkan panggilan kepada Perawat apabila Pasien memerlukan tindakan medis.Corridor Lamp dipasang di depan kamar.Dari masing-masing Ceiling Speaker Sub ditarik ke Nurse Station dengan 1 Ceiling Speaker Sub adalah satu tarikan menuju Nurse Station. . N. CCTV Camera ditempatkan pada posisi sesuai dengan perencanaan (lampiran) b. Sistem ini akan memonitor segala kegiatan yang terjangkau dengan kamera dan selanjutnya di tampilkan pada TV Monitor baik secara slide (kamera bergantian) maupun manual.Nurse reset dipasang di pintu kamar dan dikoneksikan ke Ceiling Speaker. distribusi dayanya sangat terbatas pada pemakaian maksimal yang diijinkan/ dilanggan.Emergency pull cord dipasang di tiap toilet dan dikoneksikan ke Ceiling Speaker . . dimana hasil gambar dapat diamati melalui TV Monitor Kriteria Perancangan dan Uraian Singkat Sistem a. pengunjung maupun karyawan ataupun ruangan serta lokasi lain melalui video kamera.

Keuntungan pemakaian sumber tenaga baterai adalah : . getaran.Lamanya terbatas . No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Ruang Ruang Pasien Kamar Rawat Ruang Pemerikasaan Ruang Operasi Umum Meja Operasi Ruang Recovery Ruang X Ray Hall & Coridor Kamar Mandi dan WC Gudang Utility Tangga Ruang Kontrol Kantor Parkir Iluminasi (Lux) 100 100 300 300 30000 .Pengadaan awal lebih murah dibandingkan dengan sumber tenaga lainnya.Tidak memerlukan ruangan sendiri yang terpisah . . .Tidak menimbulkan dampak yang merugikan seperti pencemaran. Kekurangan sumber tenaga baterai adalah : . Kekurangan sumber tenaga generator set adalah : .Tidak membutuhkan ruangan khusus untuk pengontrolan. yaitu: . . Baterai Baterai sering digunakan untuk mensuplai kebutuhan tenaga listrik dalam keadaan emergency yang terbatas.Mesinnya sendiri dengan perlengkapannya.Generator Set Sumber tenaga ini dikelola oleh pemilik bangunan dan merupakan fasilitas bangunan. Beberapa unit ditempatkan pada individual cabinet atau pada rak untuk instalasi yang lebih besar dan selalu dilengkapi dengan peralatan automatic charging. instalasi mesin generator terdiri dari tiga kelompok.Timbul akibat sampingan berupa kebisingan getaran. dan suara dari saluran pembuangan gas.Ruangan sebagai wadahnya. Keuntungan dari pemakaian sumber tenaga generator set adalah : .Lamanya tenaga bekerja hanya dibatasi oleh ukuran tangki bahan bakar.52000 300 75 – 100 100 100 100 200 50 400 300 50 – 100 Standar Intensitas Penerangan 46 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . .Mahal. kebisingan dan lain-lain. 2.Adapun keuntungan dari pemakaian sumber tenaga PLN adalah : . 3. .Kesulitan penyimpanan bahan bakar.Dalam operasional tidak membutuhkan biaya perawatan yang berarti. Pada dasarnya.Biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah bila diperhitungkan dalam jangka waktu yang lama. . terutama untuk penerangan dan server komputer.Dapat dipasang pada sistem sentral dan didistribusikan melalui saluran dari baterai langsung melalui fasilitas yang ada. .Memerlukan pemeliharaan yang konstan dan testing yang teratur. .Sistem bahan bakar dan tempatnya.

maupun yang direncanakan mendatang 2. baik dalam kaitannya dengan lahan. sekaligus sebagai kerangka dasar bagi pengembangan-pengembangan bangunan serta infrastruktur di lingkungan umahsakit 3. integrasi antara manajemen fisik rumah sakit degan manajemen strategis rumah sakit menjadi sangat penting. Memperoleh arah pengembangan fisik. 2. bangunan. Hal ini akan terkait secara erat dengan aktivitas. sekaligus menjadi acuan bagi pengembangan unit-unit di dalam rumah sakit dalam mengemban program pengembangan pelayanan kesehatan jangka panjang. rencana fisik. Secara umum dapat dikatakan bahwa ada 3 pendekatan dalam manajemen fisik. yang kerap diperlukan adalah adanya suatu rencana pengembangan fisik jangka panjang. menengah. dikaitkan dengan pengembangan program pelayanan kesehatan maupun dengan manajemen rumah sakit secara keseluruhan. Manajemen fisik tidak hanya berkaitan dengan arsitektur semata-mata. yang dapat diandalkan baik dalam jangka panjang. Serta terakhir bagi rumah sakit yang telah menemui berbagai masalah dalam pengembangannya. maupun jangka pendek. Arti Penting Manajemen Rumah Sakit Ketiadaan masterplan juga mengakibatkan banyak sumberdaya yang tidak teralokasikan secara efektif dan efisien. dimana diperlukan suatu rencana dari awal: masterplan. Oleh karenanya. Sasaran penyusunan rencana pengembangan fisik rumah sakit secara umum adalah untuk: 1. adalah pendekatan bagi rumah sakit yang telah beroperasi dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Di sisi lain. Tujuan dan Sasaran Perencanaan Fisik Tujuan perencanaan aset fisik rumah sakit secara umum adalah untuk: 1. Kedua. hingga rancangan detail. 2.BAGIAN 2 I BAB 12 PERENCANAAN FISIK DAN STRATEGI RUMAH SAKIT 1. selain masterplan. maupun infrastruktur. Optimalisasi fungsi. baik yang ada sekarang. Pertama adalah pendekatan bagi rumah sakit yang belum ada atau belum beroperasi. Memperoleh keterpaduan antara rencana pengembangan program pelayanan kesehatan dengan rencana pengembangan fisik. melainkan juga akan melihat rumah sakit sebagai sebuah asset properti. dan justru terasa stagnan. Optimalisasi ruang untuk mengakomodasi fungsi yang ada sekarang maupun fungsi yang direncanakan mendatang ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 47 . yang dapat dijadikan arah pengembangan secara garis besar. disadari bahwa masterplan yang komprehensif akan membutuhkan waktu yang lama dan sumberdaya yang banyak. dengan kondisi fisik (dan bisa jadi mempengaruhi layanan) yang memburuk. serta program stratejik. jangka menengah. layanan. Karenanya. serta jangka pendek. Memperoleh dasar bagi pentahapan pengembangan fisik. karena tidak adanya arahan pengembangan program-program serta fisik secara jelas.

Menanggapi konteks dan lingkungan secara positif.Yap. Global Rancang Selaras 3. namun dengan upaya menghubungkan secara lebih efektif dan efisien fungsi-fungsi yang terkait dalam lingkungan Rumah sakit 4. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Terjemahan Program dalam bentukan fisik . 48 Komitmen Perencanaan Strategis Tata Aktivitas Tata Ruang Tata Massa Tata Sirkulasi Tata Konteks Kinerja Meningkat Pengembangan Fisik Bagan diatas menggambarkan strategi rumah sakit kedepan sangat mempengaruhi konsep fisik yang akan dikembangkan. Optimalisasi sirkulasi dengan mempertimbangkan jejalur sirkulasi yang telah ada. Kerangka dan Konsep Kerja Dalam rangka pengembangan fisik rumah sakit untuk mencapai visi yang telah ditetapkan diperlukan suatu pendekatan komprehensif untuk menghubungkan berbagai strategi seperti terlihat dalam pendekatan berikut ini menurut kerangka yang dikembangkan dari diagram awal oleh Horak. kekuatan konstruksional. Yogyakarta Copyright : PT. maupun secara estetika-perancangan kawasan. Rencana Strategis yang saat ini sudah dimiliki biasanya akan dianalisis untuk penerjemahan menjadi program fisik.3. Meningkatkan kualitas estetika. Masterplan Fisik Rumah Sakit Mata Dr. baik dari sisi fungsional-higiene. serta performansi fungsional yang disandang oleh massa dan bentuk bangunan 5. 1999.

infrastruktur 49 Dalam pelaksanaannya. alur kerja yang lazim diterapkan adalah sebagai berikut : Strategis Fisik Kajian Performa RS saat ini Analisis Situasi Evaluasi Pasca Huni Gap antara performa dengan visi Benchmarking dengan Visi Analisis Optimalisasi fasilitas saat ini untuk mencapai visi Estimasi kapasitas dari rencana strategis yang ada Arahan rancangan fasilitas fisik Pemrograman Strategis untuk fisik Konsep pengembangan fasilitas fisik ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Prioritas pemrograman. penganggaran Tipe.Secara lebih rinci. bangunan. intensitas. Penjabaran tersebut akan meliputi kegiatan-kegiatan sebagaimana berikut : . dan distribusi sumberdaya lahan. kerangka ini akan dikembangkan bersama antara konsultan dengan para stakeholders yang terkait dalam pertemuan konsultatif di rumah sakit.

Kriteria perancangan dibutuhkan agar bangunan beserta lingkungannya secara guna (fungsional) dan citra (konsep estetika. Kriteria Umum Perancangan Kriteria perancangan merupakan pertimbangan umum termasuk normatif standar yang mendasari proses perencanaan dan perancangan rumah sakit. kriteria-kriteria yang digunakan antara lain: ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dalam hal ini kriteria perancangan menjadi alat ukur (benchmark). Untuk mengakomodasi berbagai tuntutan aktivitas yang ada. ekspresi) mampu mencapai target yang telah disepakati bersama.50 4.

Dapat berkembang sesuai kebutuhan .Memenuhi persyaratan Panduan Bangunan Rumah sakit .Penggunaan energi .Pemisahan . Aspek Ekonomi dan Berkesinambungan Kriteria yang digunakan: .Sosial .Biaya pemeliharaan . tahap konstruksi atau pembangunan masa datang 5.Penggunaan ruang Masterplan Fisik Rumah Sakit Ngesti Waluyo.Memenuhi persyaratan standar teknis bangunan Rumah sakit 2.Privasi Pertimbangan umum pada: .Mudah merespon perubahan penggunaan .Kenyamanan .Fleksibilitas untuk berubah 3.Taraf hidup .Estetika 51 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Lingkungan pengobatan 6.Bangunan ekonomis . Fleksibel .Pemeliharaan murah Pertimbangan umum pada: .Standar dan hubungan ruang . Fungsional Kriteria yang digunakan: . Klaten Copyright : PT.Sosial .Pemisahan .Privasi Pertimbangan umum pada: . Global Rancang Selaras .Taraf hidup . Arsitektur yang baik Kriteria yang digunakan: . .Hubungan antar fungsi . .Standar dan hubungan ruang . Fungsional Kriteria yang digunakan: Masterplan Fisik dan perancangan Rumah Sakit 'Asyiyah. Arsitektur yang baik Kriteria yang digunakan: .Desain yang menekan biaya operasional .Berdasar standar ruang yang ada.Estetika 7. Global Rancang Selaras . Aspek Efisiensi Kriteria yang digunakan: .Kenyamanan .1. Memenuhi standar bangunan kesehatan Kriteria yang digunakan: .Pergerakan orang dan distribusi barang .Pentahapan dalam perencanan.Bangunan terorganisasi dengan baik 4.Lingkungan pengobatan 8. Parakan Pertimbangan umum pada: Copyright : PT.

RSB Pusat Kesehatan Masyarakat Perawatan Sosial Perawatan Utama Perawatan Luar Jangkauan Informasi dan bimbingan Pusat pelayanan umum 100km dari pusat komunitas Rumah Sakit Rujukan Rumah Sakit Umum Daerah Pelayanan diagnosis awal Perawatan segera Kecelakaan kecil Perawatan pasien inap oleh perawat Rehabilitasi intensif Manajemen pelayanan kronis Pusat pelayanan khusus 250 km dari pusat kota Rumah Sakit Umum Pusat Perawatan Sekunder Perawatan Tersier Perawatan terencana Perawatan darurat Diagnosis kompleks Perawatan dan pengobatan pasien inap 52 Masterplan RSUD Tabanan.Selain itu perencanaan dan perancangan fisik fasilitas kesehatan juga perlu didasarkan pada kualifikasi fasilitas pelayanan kesehatan yang secara diagramatis disajikan pada diagram berikut ini : Rumah Posyandu Perawatan di rumah Farmasi Toko Obat Perawatan sendiri Pengawasan Perawatan Otomatis Informasi dan bimbingan Pengarahan Pelayanan Kesehatan Negara Pusat pelayanan kesehatan dan sosial 10 km dari rumah Balai Pengobatan RSIA. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Bali. Tabanan.

Konsep Rancangan dan Prarancangan (Design Concept & Predesign) 2.Program Pengelolaan . Program Kegiatan . Analisis Lahan . Tata Sirkulasi . Analisis Infrastruktur Masterplan Fisik Rumah Sakit Pendidikan Brawijaya Copyright : PT.Analisis Infrastruktur Off-Site .Pembiayaan dan Pentahapan . Tata Aktivitas .Pengelolaan dan Kelembagaan 3.Analisis Aspek Guna Lahan dan Zoning b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (Performance Spesification) 53 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Layanan Medis dan Penunjang Medis . Program Ruang . Global Rancang Selaras . Rencana Anggaran Biaya (Cost Estimation).Analisis Aspek Transportasi dan Sirkulasi .Rencana Pukal dan Pentahapan (Block Plan and Phasing Plan) a. Hasil Analisis Purna Huni (Post Occupancy Evaluation) a.Program Fasilitas Fisik (Facility Program) a.Desain Pelaksanaan dan Gambar Kerja (Detailed Engineering Design dan Working Drawing).Performansi Kuantitatif dan Kualitatif Bangunan B.Sistem Aktivitas .Karakteristik Pelaku . Tata Ruang . Rancangan Rumah Sakit.Sistem Ruang Terbuka Hijau d.Pengembangan Rancangan (Design Development) 3. Rencana Induk Pengembangan Fisik (Physical Masterplan) Terdiri dari : 1. produk masterplan fisik hingga pada rancangan yang dapat dilaksanakan/konstruksi akan meliputi hal-hal berikut: A.Karakteristik Ruang Masterplan Fisik Rumah Sakit Pendidikan Lampung Copyright : PT.Sirkulasi Eksternal dan Parkir .Kegiatan Non Medis b.Sistem Ruang Fungsional .5. Tata Massa Masterplan Fisik Rumah Sakit Pendidikan Mataram Copyright : PT. Global Rancang Selaras .Fasilitas Fisik dalam Perspektif Strategis dan Perspektif Bisnis .Analisis Aspek Teknikal .Analisis Aspek Behavioral c.Analisis Aspek Lokasi .Penempatan dan Pengelompokan Ruang . terdiri dari : 1. Global Rancang Selaras c.Hubungan Antar Aktivitas b.Sistem Intensitas Bangunan .Analisis Infrastruktur On-Site 2.Sirkulasi Internal c.Analisis Aspek Fungsional . Analisis Bangunan . Produk Dalam pelaksanaannya.Jumlah dan Besaran Ruang .

IGD mempunyai akses langsung dengan IKB .Keseluruhan ruang dan alat ditetapkan untuk digunakan selama 24 jam. Fleksibilitas ruang diarahkan pula terhadap terjadinya bencana masal sehingga memungkinkan ditampung di IGD . anak dan syaraf). Untuk alasan kesehatan.ruangan dengan banyak bed jarak antar bed 2.BAGIAN 2 I BAB 13 PERENCANAAN FASILITAS RUMAH SAKIT 1. Tata letak dan persyaratan ruang: . meliputi kasus bedah (traumatologi dan terkait dengan organ tubuh bagian dalam) dan non bedah (penyakit dalam. . dengan tiap-tiap persyaratan fasilitas yang memadai.Pada kasus ibu melahirkan. Instalasi Gawat Darurat Fungsi Memberikan pelayanan kesehatan karena kondisi gawat darurat dan memerlukan penanganan cepat dan tepat.4 meter.Adanya pemisahan akses antara pasien dengan perawat/ dokter. Dimensi tempat tidur menjadi pertimbangan yang penting dalam merancang ukuran ruang. . Pelayanan Pasien Dalam Rumah Sakit / Inpatient A. Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Gawat Darurat Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras. jarak minimal adalah 1.Adanya pemisahan antara tindakan untuk pasien bedah dan non bedah. meskipun maksimal yang dianjurkan adalah 30 bed. Diagnostik. Ukuran Umum Jumlah bed pada unit ini tidak boleh melebihi 35 bed.Mudah dicapai dan terlihat jelas dari area eksternal Rumah sakit . 2 meter. 2008 54 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . . . 25% dari jumlah keseluruhan bed merupakan single bed. dan Kamar Bedah.Pembentukan ruang-ruang yang dimungkinkan untuk digunakan sebagai ruang observasi dan ruang resusitasi. serta kemudahan akses dengan Unit Rawat Inap. Paling tidak.Secara fungsional mempunyai hubungan langsung dengan unit ICU. Berbeda dengan bagian Ibu dan rawat Anak dengan jumlah maksimal 20-25 bed.

Lebar minimum area tempat tidur pasien 251.Lebar pintu antara 116. 55 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . handrails harus diberikan pada koridor.Khusus rawat inap ibu-anak akan berada pada kelompok ruang yang terpadu dengan VK dan terpisah dengan rawat inap infeksius maupun penyakit dalam atau degeneratif.Luas ruang klas II : 12 m² / tt .Adanya pengelompokan ruang sesuai kelasnya.Pasien yang mengeluarkan suara gaduh . dan dari koridor ke ruang rawat setiap saat . Instalasi Rawat Inap Fungsi Disediakan untuk memfasilitasi pasien yang harus menginap di Rumah sakit dalam tahap kuratif dan rehabilitatif dengan perawatan intensif 24 jam.Ventilasi mekanik di ruang rawat inap isolasi. Sebuah kursi roda juga dapat digunakan dalam area 121. .9 cm adalah jarak standar untuk dapat mengakomodasi tempat tidur pasien standar (121 cm x 99 cm). Kualifikasi Ruang untuk Instalasi Rawat Inap .Tersedia tempat cuci tangan bagi perawat atau dokter didalam ruangan rawat inap infeksius (isolasi) dan fasilitas km/wc sendiri di dalam ruangan .Pemisahan penderita infeksius..B. yaitu prosedur perawatan khusus untuk mengurangi penyebaran infeksi melalui kontak langsung/perawatan . .Luas area depan pintu 152. . 2. dirawat pada "single room" atau isolator plastik untuk mengurangi penyebaran melalui udara atau dari penderita .Luas ruang khusus bayi : 6 m² / tt .Luas ruang klas III : 12 m² / tt . .Setiap nurse station maksimum melayani 25 tempat tidur.8 – 121.Khusus untuk pasien tertentu harus dipisahkan seperti : . Tata letak dan persyaratan ruang: 1. untuk mengurangi penyebaran melalui udara dengan cara mengeluarkan bakteri dari kamar penderita dan pada isolasi protektif yang membebaskan kamar penderita dari bakteri yang ada diluar kamar.Pasien yang menderita penyakit menular.Luas ruang klas I : 24 m² / tt .4 cm x 152. dengan tujuan agar lebih dapat memastikan tingkat penyampaian mutu pelayanan. . Lift hidrolik tempat mandi (bath up) merupakan pertimbangan investasi kesehatan yang baik.2 cm.Memaksimalkan terhidarnya kontaminasi didalam ruang rawat inap infeksius dengan menjaga aliran udara dari anteroom menuju ke ruang pasien. . sehingga kedua sisi di samping tempat tidur pasien memiliki lebar masing-masing 76.9 cm .5 cm. . .Barrier nursing.9 cm x 121.Ruang perawat terhadap ruang pasien harus sedekat mungkin sehingga memudahkan jangkauan . .Pasien atau penyakit dan pengobatan yang menimbulkan bau.4 cm untuk mengakomodasi pemakai kursi roda.Sinar matahari pagi diupayakan dapat masuk ke dalam ruangan.Kamar mandi untuk perawatan jangka panjang seharusnya dirancang untuk menggunakan peralatan yang dapat mengangkat pasien.Harus memenuhi ketentuan untuk akses orang cacat seperti pada bagian untuk komplemen dari batang pegangan dan rel pada area toilet dll. dan terletak pada daerah yang mudah terjangkau dengan arah orientasi kepada kamar-kamar pasien. Persyaratan Luas Ruang untuk Instalasi Rawat Inap -Standar luas ruangan sesuai ketentuan adalah : . di lain kondisi penambahan peralatan unit servis perawatan akut. Penempatannya berada pada area dengan tingkat privasi dan ketenangan yang tinggi dan memiliki akses pencapaian yang mudah dengan zona bedah dan zona penunjang medis.

T.Angka kuman ruang perawatan isolasi kurang dari 700 koloni/m3 udara dan bebas kuman pathogen alpha streptococus haemolitius. rumahan untuk panggilan perawat. . terdiri dari fungsi-fungsi penunjang baik medik maupun non medik. Jenis utama yang ditangani sebagai berikut: .Daerah non steril / ruangan umum yang tidak berkaitan langsung dengan perawatan intensif. b. 2008 C.Luka bakar dan spesialis atau penyakit khusus Pengembangan fasilitas perawatan intensif dapat berbeda dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.Kadar debu tidak melampaui 150 ug/m3 udara dalam pengukuran rata-rata 24 jam.Tingkat kebersihan lantai untuk ruang perawatan isolasi 0-5 kuman/cm2.Daerah steril yang terdiri dari ruang perawatan ICU / ICCU. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Mutu udara memenuhi persyaratan untuk tidak berbau (terutama H2S dan Amoniak). 3.Perawatan serangan jantung (ccu = coronary care) .) .. Instalasi Rawat Intensif (ICU) Umum / fungsi ICU juga dikenal sebagai Intensive Therapy Unit ( I. jam digital. dalam menangani beragam tipe penyakit. nurse station terutama bagian yang langsung berkaitan dengan keperawatan. stop kontak bawah.Terakomodasi panel kontrol untuk ruang rawat pasien. . tombol tanda alarm. Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Gawat Darurat Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras. Panel-panel tersebut meliputi katub gas atau oksigen.operasi . . Tingkat Kebersihan dan Mutu Udara untuk Instalasi Rawat Inap . dan bergantung pada apa yang disebut Statement of Function 56 Zonasi fungsi pada Instalasi rawat Intensif: Zonasi dibagi menjadi : a.Penyakit anak-anak dan neonatal .U. lampu atas tempat tidur dan lampu tarik-ulur. papan monitor dengan perlengkapan outlet.

Harus tersedia pengatur kelembaban udara. . selain sinar matahari alami. .Aliran listrik tidak boleh terputus. Semaksimal mungkin adalah 10. . AC d.Letaknya berdekatan dengan area unit bedah atau berada dalam satu zona Medik Sentral serta mempunyai hubungan langsung dengan radiologi.Masing-masing area tempat tidur pasien akan mempunyai ketetapan untuk privasi visual dari pengamatan pasien dan pengunjung lain . Direkomendasikan maksimumnya hingga 15.Radiologi ( pelayanan sinar x).Fasilitas panggilan pelayanan staf ini harus tersedia pada setiap tempat tidur untuk penanganan cepat Persyaratan Pencahayaan.Gedung harus terletak pada daerah yang tenang. 57 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Bahaya api b.Pencahayaan yang cukup dan adekuat untuk observasi klinis dengan lampu TL day light 10 watt/m2. .Untuk membantu staf pengamatan atas pasien di dalam ruang tidur atau pasien tunggal menginap.Terisolasi dan mempunyai standar tertentu terhadap: a. Ventilasi c. Exhausts fan e. . . Kabel monitor . pasien diharuskan melihat ruang luar tidak lebih dari dua panel kaca yang terpisah.Temperatur ruangan harus terjaga. . jendela pengamatan. ditempatkan untuk dapat memastikan kondisi pasien tanpa halangan dari pos perawat. Suhu 22º–25º kelembaban 50–70%.Patologi (pelayanan analisis darah). Jarak dari tempat tidur pasien terhadap jendela tidak kurang dari 15 meter.Harus bebas dari gelombang elektromagnetik dan kedap getaran.Ruang Operasi. Jendela dan akses tempat tidur menjamin kenyamanan pasien dan personil. terhadap lingkungan/ ruang luar yang tidak kurang dari satu jendela setiap ruangnya. Suhu dan Kelembaban pada Ruang perawatan intensif: .Setiap tempat tidur harus mempunyai akses secara visual. .Penempatan ICU/UGD akan memudahkan pengaksesan ke dan dari Penanganaan Kecelakaan. laboratorium.Penghawaan udara menggunakan penghawaan buatan berupa air conditioner (AC). seharusnya dapat disediakan. Jika memakai partisi.Harus ditunjang dengan jaringan gas medic . Desain dari unit juga memperhatikan privasi pasien.Mempunyai pendingin ruangan/AC yang dapat mengontrol suhu dan kelembaban sesuai dengan luas ruangan. Bakteriologis h. . .Direkomendasikan ketetapan minimum tempat tidur untuk ICU adalah 5. IGD dan rawat Inap . Pipa air f.Tata letak dan persyaratan ruang: . .Akses. Komunikasi g.

kamar atau kamar berukuran kecil.beberapa dari ruangan pasien yang dijadikan ruangan tambahan untuk unit perawatan penyakit akut. walaupun 2 tempat tidur dalam 1 kamar diperbolehkan. . . berikut ini yang diperlukan dalam Coronary Care Unit (CCU).Toilet Tiap pasien Cardiac harus dapat mengakses bagian dari WC.Ketentuan tempat tidur Jumlah tempat tidur pada ICCU akan sama dengan ICU pada umumnya. Instalasi Rawat Intensif Koroner/ ICCU Fungsi Pasien Cardiac punya kebutuhan khusus. Minimum 50% dari pasien ICCU harus diakomodasikan dalam pasien ruang singlebed. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 58 . . Open plan pada layout tempat tidur tidak dapat diterapkan. Tidak pada tiap Rumah Sakit dapat atau harus menerima Pediatric Intensive Care Unit yang terpisah. bentuk perawatan segera dan kritis. dari neonates sampai adolescent. Pasien pediatrik yang kritis.Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi rawat intensif Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras. Ini adalah pilihan bahwa tiap pasien Cardiac punya kamar terpisah atau kamar berukuran kecil untuk privasi dari penglihatan dan pendengaran. Tata letak dan persyaratan ruang: .unit perawatan yang berdiri sendiri atau unit perawatan yang berupa kelompok. jarak tempuh tidak boleh lebih besar dari 15m dari tempat tidur sampai ke fasilitasnya. . Rasio antara pasien dan rasio tidak lebih dari 4:1. Unit Penyakit jiwa Umum / Fungsi . 2008 D. mempunyai kebutuhan fisik dan psikologi yang unik. Dimana 5 tempat tidur dikombinasikan ICU/ICCU yang tersedia. paling tidak 2 harus didalam kamar-kamar.unit perawatan yang berintegrasi di dalam sebuah rumah sakit umum.sebagai tambahan pada standar ICU diatas.Multiple equipment display Peralatan untuk memonitor pasien Cardiac harus mempunyai ketentuan untuk penglihatan visual pada tempat tidur dan pusat pelayanan. E.

walaupun hanya terdapat satu Ruang Pengasingan per unit perawatan. seperti bahaya pada staf dan pasien lain (penyerangan) dan terhadap pasien sendiri (bunuh diri).Jumlah Tempat Tidur Jumlah maksimum tempat tidur di dalam unit perawatan penyakit jiwa sebaiknya 30. Ukuran minimum kamar. Four bed room – 30 m2 . Ketika fasilitas penyakit jiwa terletak di dalam bangunan bertingkat tinggi.Security and Glazing Semua jendela dan panel-panel observasi harus dipasangi dengan kaca yang aman atau material alternatif lainnya yang sesuai. lemari. built in robes.status rumah sakit Unit perawatan penyakit jiwa harus mempunyai perlengkapan/syarat keamanan umum pada Unit Perawatan Penyakit Akut. pencahayaan yang tahan terhadap vandalisme. atap. konstruksi dan perabot harus menyediakan perlindungan dari self injury dan kerusakan properti seperti pergeseran door handles. Pemilihan door hardware harus menyediakan jaminan keamanan pasien dengan penggunaan yang mudah oleh staf.5 m2 c.5 m2 d. akses menuju ruang luar di atas ground level. alcoves (ruang kecil di dalam suatu kamar). dan lain-lain) harus dicegah. (seperti balkon.hak-hak legal pasien . Pengaktifan bisa dari call points yang tersembunyi yang cocok atau transmitter personal yang bisa dipindah. plafond dan penetrations – pintu dan jendela) untuk memastikan penahanan yang disebutkan di atas. Akses langsung bisa dipilih. tapi tidak diharuskan.Acoustic Privacy Akustik ruang harus dipertimbangkan dan diakomodasi dengan baik. bergantung pada level perlengkapan/syarat. Perlindungan earth leakage (kebocoran) terhadap sirkuit listrik dan temper proof outlets harus disediakan di dalam fasilitas penyakit jiwa. seperti polycarbonate dan lain-lain. kamar-kamar eksklusif.keselamatan pasien dan staf . seperti tombol tekan digital di lokasi darurat sebagai pengganti sistem pengaktifan dengan kunci. Pertimbangan harus diberikan pada proses pengaktifan system alarm oleh staf. Fasilitas harus merupakan tempat isolasi aman yang bisa dikunci. dinding. Two bed room – 17. . di dalam area demi area dan sebagai sebuah unit perawatan yang lengkap. Untuk tambahan. Single bed room – 10. Unit perawatan atau bagian unit perawatan yang aman. . harus disediakan untuk situasi darurat. Ini untuk memastikan penahanan situasi bahaya yang potensial dengan beberapa pasien. masing-masing dengan akses menuju fasilitas kamar pasien yang lain. peralatan mekanikal yang dipasang di lantai dan lain-lain adalah: b. meja.Tata letak dan persyaratan ruang: Keamanan. Sekurangkurangnya 50% tempat tidur sebaiknya diletakkan di dalam single bed rooms. dan lain-lain. khususnya pada situasi darurat. harus mempunyai suatu kesatuan barrier yang tahan (lantai. 59 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Keselamatan dan Hak-hak Pasien Mempertimbangkan hal-hal di bawah ini ketika menentukan level perlengkapan/syarat keamanan di dalam fasilitas penyakit jiwa: .Kamar Pasien Kamar pasien harus mengikuti standard berikut: a. .

satu ruang digunakan untuk 'quiet activities' . bahwa kamar pasien bisa diakses langsung dari kamar-kamar pasien yang lain dan tidak melalui area koridor umum. dapat berada di luar unit psikiatri dengan catatan bahwa dibuat akses yang baik untuk perlengkapan tersebut sebagaimana dibutuhkan. tiap pasien sebaiknya mempunyai akses menuju kamar pasien. gudang d. handwashing b. Bisa dilakukan.Jendela Pada bagian jendela yang dapat dibuka. Ukuran dan kebutuhan pantry akan bergantung pada fasilitas yang direncanakan . · Pada Unit Perawatan Penyakit Akut. tapi harus dapat di akses dengan mudah ke unit tersebut. Kaca-kaca harus dari kaca yang aman atau bahan lain yang cocok yang tahan dan konstruksi yang tahan pecah atau tidak mudah hancur.Nurse Station Harus ada 'nurses station' sehingga staf yang bertugas dalam aktifitas rutin dapat mengawasi pasien secara berkala. Kelengkapan tersebut akan dapat menunjang perlindungan dari perlukaan pada diri sendiri dan kerusakan properti.5 m ruangan terpisah bagi tiap pasien untuk kegiatan terapi 2 dengan minimum total area 20 m . . displays 60 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . harus disediakan. Fungsi yang diakomodir. Tambahkan 1. Area tersebut ukurannya 3. Dalam hal ini. Ruang tersebut harus menyediakan area untuk : a.Koridor Variasi dari lebar minimum koridor bergantung pada : a. serta tertutup untuk kebutuhan privasi. . Ruang tersebut digunakan untuk ruang makan. memiliki fitur keamanan/elemen-elemen pengamanan yang efektif seperti jendela-jendela sempit yang tidak memungkinkan pasien untuk lari. .. .Group Therapy Ruang bagi kelompok terapi harus tersedia. .Occupational Theraphy 2 Tiap unit psikiatri harus memiliki 1.75 m2 untuk tiap pasien dengan ukuran ruang minimal 12 m2 tiap ruang.Pemeriksaan dan Perawatan Minimal 1 ruang pemeriksaan dan perawatan harus tersedia untuk setiap 30 bed unit rawat psikiatri. atau toilet terpisah dan kamar mandi. tetapi tidak diharuskan. . b. Dilengkapi pula dengan kunci-kunci yang dikontrol oleh staf rumah sakit. Elemenelemen estetis sebisa mungkin dikurangi pada bagian ini.Gudang Perlengkapan Ruang gudang untuk troli. Ruangan bagi kegiatan terapi membutuhkan penambahan ruang seluas 0. Ruang ini dapat digabungkan dengan 'quite space' seperti disebutkan di atas. 'charting area' harus disediakan dengan persyaratan privasi akustik dan visual yang memadai.5 m2 per pasien untuk kebutuhan area makan. sebuah pantry berdampingan dengan area makan juga harus disediakan. work tops c. Kelengkapan peralatan untuk menggunakan fasilitas tersebut.7 m2 untuk tiap pasien dan ukuran ruang minimal seluas 21 m2 . kursi roda dan lain sebagainya. dan satu ruang lainnya digunakan untuk 'noisy activities'.Cermin. Jendela observasi diluar area pasien dapat digunakan jika pengaturannya tetap mengkondisikan file-file pasien tidak dapat dibaca dari luar 'charting space'. Hal ini dilakukan untuk menghindari pasien merasa bahwa mereka 'selalu diawasi'. Lokasi dalam unit psikiatri tidaklah esessial. . Ruangan ini dapat menggunakan fasilitas bersama dengan unit perawatan lainnya.Ruang sosial ( Ruang-ruang Harian ) Setidaknya terdapat 2 ruang sosial yang terpisah harus disediakan.

ICU. Memerlukan tingkat ketenangan yang tinggi. . Ruangan yang ada dapat difungsikan sebagai ruang harian ataupun ruangan bagi satu pasien saja.Ruang Terpisah (Seclusion Rooms) Di dalam unit perawatan kejiwaan harus ada ruangan terpisah untuk pasien yang membutuhkan keamanan atau perlindungan. dan konstruksi harus mengikuti kaedah ketentuan unit perawatan : Keamanan. Laboratorium.Kamar bersalin harus dekat dengan Instalasi Gawat Darurat. serta mempunyai hubungan langsung dengan Instalasi Rawat Inap khususnya IRNA Kebidanan. Penyelesaian. Ruangan tersebut harus berlokasi di tempat yang memungkinkan adanya pemantauan secara langsung dari staf perawat. Penentuan peralatan. ruang resusitasi bayi (neonatal) dan ruang penunjang lainnya. penggunaan ruang semaksimal mungkin. dan lain sebagainya. Pintu harus terbuka dan memungkinkan untuk perawat melakukan observasi terhadap pasien dengan tetap memperhatikan privasi dari pasien tersebut. Oleh karena itu. terluka maupun bunuh diri. dibutuhkan 1 m2 tiap pasien tambahan pada total luas area. melarikan diri. dengan tetap menekankan optimalisasi. peletakkan jendela dan perawatan jendela harus lebih diperhatikan dalam hubungannya dengan lokasi peralatan dan servis. Grafik dari rekam medik 3. Ketika unit perawatan psikiatri memiliki kurang dari 16 kamar. Seclusion rooms dimaksudkan untuk ditempati dalam jangka waktu pendek oleh pasien yang menjadi korban bunuh diri. Ukuran ini adalah ruangan tanpa jendela. dengan dimensi minimal 3900x4800mm. Jika ruangan tersebut memiliki jendela.Area terapi dapat mengakomodasi lebih dari 1 unit perawatan. Peletakan pembalut dan trolley pengobatan 4. sebaiknya dilakukan penambahan luas lantai. Persiapan dan relaksasi pasien selama proses kelahiran labour 2.Ruang bersalin harus mengelompokkan pasien sesuai dengan jenis persalinannya. Radiologi. Unit Kamar Bersalin (VK) Fungsi Memiliki akses langsung yang mudah dijangkau dan akses langsung ke zona penunjang medik serta rawat inap kebidanan. fungsi area terapi dapat diwujudkan dalam area bagi aktivitas yang menyebabkan kebisingan. dan Hak Pasien. Ruang dengan ukuran 4000 x 5000 mm sangat direkomendasikan. termasuk tempat tidur dan kursi kelahiran sangat tergantung pada berapa dimensi ruang tersebut. dan peletakan pintu dimana pintu tersebut paling kecil pengaruhnya terhadap ruang. . Konstruksi dan perencanaan harus dilaksanakan dengan matang untuk mencegah adanya pasien yang sembunyi.Birth Preparation Room Setiap Birth/Preparation Room (Ruang persiapan kelahiran) didesain untuk single occupancy (satu kepemilikan). Akses untuk membantu berupa ensuite adjacent (ruang dalam ruangan tersebut yang berbatasan langsung dan merupakan fasilitas untuk pengguna ruangan tersebut) 61 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Meliputi ruang bersalin (VK). Tata letak dan persyaratan ruang: . Servis yang berada di ujung atas tempat tidur. Keselamatan. Misalnya. penyesuaian. . Jarak 3900 mm disini adalah jarak dari ujung atas tempat tidur sampai ke dinding seberangnya. Fasilitas lengkap yang harus disediakan untuk Birth/Preparation Room (Ruang persiapan kelahiran) adalah sebagai berikut: 1. Dengan kata lain. F. menghindari adanya tirai yang panjang di jendela. dan Kamar Bedah. yaitu normal dan persalinan khusus. baik elektrikal maupun mekanikal 5.

Setelah semua hal di atas tersebut. Ruang Pendistribusian Obat (Drug Distribution Station) Sebaiknya dibuat untuk penyimpanan. untuk menciptakan dekorasi yang 'home-like' atau senyaman rumah tinggal). yaitu ruang yang digunakan untuk pengumpulan maupun pembuangan dari material-material yang kotor. Ruang untuk suami/istri Perhatian pada level desain interior juga sangat penting. Baby Resuscitation (Gases. Area untuk pengantaran tempat tidur 11. dibutuhkan gas yang digunakan untuk operasi medis dan listrik 14. Unit Kesehatan dari WA dapat membantu memberikan informasi tentang warna dinding dan lantai yang cocok. Warna-warna yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga tidak timbul perubahan persepsi warna oleh pengamat. Penggunaan Nurse Call 7. Sebuah ruang penyimpanan yang kecil sekalipun masih perlu yang dilengkapi dengan perlengkapan kebersihan. 62 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Finishing harus dipilih agar dapat memberikan kemudahan dalam membersihkan. seperti di ruang perawat. Fasilitas yang lebih besar sebaiknya memiliki akses langsung menuju unit ataupun ruang penyimpanan suplai steril(steril supply). selain itu juga harus tahan terhadap detergen yang kuat. power) yaitu saat dokter berusaha membuat bayi sadar atau agar bayi bisa bernafas lagi. dan distribusi obat-obatan yang dapat dikontrol. Penggunaan Staff Assistant Call 8.) 17. dan kursi yang nyaman. Tirai pada pintu masuk bisa dipertimbangkan. dll. Prosedur waktu (jam) 16. Perlengkapan Kotor (Dirty Utility) Ruang kerja kotor dibutuhkan pada ruang kelahiran. Pemberian Analgesics (Obat penahan sakit) 12. terutama jika dapat menghadirkan suasana yang 'home-like' –seperti rumah sendiri. Penggunaan intercom 10. Ruang untuk penambahan peralatan jika dibutuhkan (termasuk infant incubator. Akustik untuk privasi level tinggi 19.. Patient's and Father's Lounge (Ruang tunggu pasien dan ayah) Terletak dengan nyaman menuju Control/Nursing Station (Pusat Kontrol dan Kerja Perawat) untuk komunikasi antara pasien. Sebuah ruang supplai bersih disediakan untuk keperluan penyimpanan dan distribusi dari supplai yang steril dan bersih. Task Lighting ( Examination/Minor Lighting) yaitu lampu untuk bekerja 13. Perlengkapan Bersih (Clean Utility) Sebuah ruang kerja yang bersih dibutuhkan pada ruang kelahiran. Sebuah jendela menghadap keluar juga sangat diharapkan.· - - - - - 6. televisi. Toilet. persiapan. dan staf. atau di perlengkapan kebersihan (clean utility). Clinical Hand washing (hands off scrub up basin) 18. Sebuah ruang kerja kotor. mobile infant overhead heater. Pembuangan linen kotor dan air kotor 15. tempat penjualan minuman. fasilitas untuk membuat teh. demi kenyamanan ruang tunggu tersebut. Penggunaan telepon 9. harus disediakan. Sterile Supply Akses menuju suplai dari peralatan yang telah steril dan dapat langsung digunakan. sang ayah. dapat di dibuat menyatu dengan fasilitas maupun perlengkapan yang lebih besar. telepon. Control/Nursing Station (Pusat Kontrol dan Kerja Perawat) Berlokasi di tempat dimana observasi lalu lintas rumah sakit terutama jalan masuk dan keluar Birth Suite (Ruang Kelahiran). tempat sampah (salah satu alat untuk persiapan membuat teh). Hak pasien atas privasi dan penghargaan harus dihormati.

tidak memerlukan ruang khusus. Apabila perlatan anestesi yang digunakan mudah memiliki sifat terbakar. Ruang untuk Pembersih (Cleaner's Room) Ruang untuk pembersih yang secara eksklusif digunakan oleh ruang melahirkan sebaiknya disediakan. sink. Unit ini perlu diletakkan berdekatan dengan ruang melahirkan dan ruang operasi. dan sebaiknya dilokasikan sedekat mungkin dengan ruang melahirkan. suster. dan juga diperlukan apabila ruang kelahiran jauh dari ruang ibu (maternity ward). Ruang Ganti Staf Sebaiknya dipisah antara ruang ganti pria dan wanita yang bekerja di ruang melahirkan. Pada fasilitas yang lebih kecil. dan training untuk staf sebaiknya disediakan pada fasilitas yang lebih besar untuk digunakan oleh para personil dari Ruang kelahiran(teknisi. Staff Lounge Fasiltas lounge untuk staf obstetris sebaiknya disediakan pada fasilitas ruang kelahiran yang besar. pergantian staf (staf handover). Ruang ini dapat berbagi atau dapat dikases juga dari ruang operasi. dan penyimpanan peraltan anestesi. Gudang Anestesi Ruang penyimpanan untuk tabung gas untuk keperluan medis sebaiknya disediakan. interview. sebuah ruang terpisah sebaiknya disediakan untuk peralatan tersebut dan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. trolleys(tempat tidur yang disorong). Dan sebaiknya dilengkapi dengan meja kerja(work counter). maka ruang bayi yang terpisah untuk observasi pasca kelahiran perlu ditambahkan pada ruang kelahiran.- - - - - - - - - - - - Ruang ini sebaiknya ditambahkan atau berada di dekat ruang perlengkapan kotor(dirty utility room). Nursery (Ruang Bayi) Apabila lokasinya jauh dari ruang ibu (maternity ward). Tempat/Ruang penyimpanan Peralatan Sebuah ruang untuk peralatan dan persediaan (supplies) dibutuhkan pada ruang melahirkan. Ukuran unit hendaknya dapat memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan untuk pasien dan staf. Alternative Birthing Unit Unit ini merupakan unit yang berbasis bidan (mid wife based) yang memungkinkan untuk memilih alternative dalam melahirkan tanpa ber suasana (clinical environment). melakukan beberapa tes. Lounge dapat dijadikan satu dengan ruang ini apabila memungkinkan. dengan akses menuju koridor luar untuk memudahkan pengangkutan tanpa melewati ruang kelahiran(birth room). Minimal disediakan sebuah toilet di didalam maupun di dekat ruang melahirkan. cukup menyediakan suatu area saja(spat dipisahkan dengan partisi). Stretcher/Trolley/Equipment Park Perlu disediakan suatu ruang untuk penyimpanan stretchers(tandu). Intensive Care (Obstetric) Fasilitas ini sangat dibutuhkan untuk penggunaan obstetric (obstetric use). dan area untuk memisahkan barang-barang yang bersih dan kotor. Ruang untuk konferensi. Conference/Handover Room Bergantung pada besar kecilnya ukuran dari ruang melahirkan. tapi dilengkapi dengan peralatan medis yang memadai. digunakan untuk membersihkan. Namun dapat juga berbagi fasilitas sentral. dokter). dan perlengkapan untuk pergerakan/perpindahan lainnya. Ruang Kerja Anestesi Hanya pada ruang melahirkan yang berukuran besar. Formula Preparation Room Digunakan untuk melayani ruang bayi. Ruang-ruang berikut ini merupakan standar minimum yang perlu dipenuhi : 63 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .

-

-

-

-

-

-

-

Birthing/Lounge Room Ruangan ini harus mempu mengakomodasi kegiatan-kegiatan berikut: 1. relaksasi di kursi lounge 2. keperluan untuk makan/ dinning facilities (meja, dan kursi makan) 3. keperluan pantry/dapur(termasuk kitchen sink dari bahan stainless steel) 4. keperluan melahirkan, tempat tidur untuk melahirkan, bangku untuk melahirkan, tikar, bean bag, dll 5. tempat penyimpanan peralatan 6. tempat penyimpanan stok-stok yang steril 7. gas untuk keperluan medis 8. privasi 9. clinical handwashing 10. dan akses langsung menuju halaman privat juga sebaiknya ada. Entry (Tempat Masuk) Tempat masuk/entry perlu tertutup/screened untuk privasi. Gudang Sebaiknya mudah diakses dari birthing/lounge room atau lobby tempat masuk. Ensuite/Bathroom Ruangan ini hendaknya dilengkapi dengan toilet, shower, tempat cuci tangan, dan merapikan diri (grooming). Fitout/Finishes (Perlengkapan) Perlengkapan yang ada sebaiknya menyesuaikan budaya taupun gaya setempat. Item-item medis perlu diletakkkan sedemikian rupa sehingga mudah dijangkau. Untuk penutup lantai, sebaiknya diberi finishing dengan non-slip vinyl di bawah area tempat tidue dan penggunaan karpet sebagai keseluruahn penutup lantai lebih direkomendasikan. Penutup lantai kamar mandi sebaiknya dipilih yang non-slip material. Untuk fininshing dinding dan langit-langit disesuaikan dengan kondisi setempat. Penggunaan tirai dapat diterima dan direkomendasikan. Pencahayaan Pencahayaan sebaiknya lokal, walaupun pengecualian bisa dilakukan untuk lampu pemeriksaan yang bergerak. Pintu Keluar Darurat Lokasi dan ukuran pintu yang cocok sebaiknya disiapkan untuk pemindahan bed darurat ke tempat melahirkan/operasi. Penghawaan Udara Ruang-ruang sebaiknya dikondisikan udaranya dengan kontrol temperatur pada lounge. Hal ini perlu dipertimbangkan karena suhu badan ibu yang baru melahirkan cenderung bervariasi. Akustik Unit sebaiknya memiliki isolasi akustik yang baik dari area sekitarnya.

64

Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Kamar Bersalin
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

G. Unit Peranotologi Fungsi Unit Perinatologi adalah instalasi untuk perawatan bagi bayi yang baru lahir, dan membutuhkan perawatan lebih lanjut. Tata letak dan persyaratan ruang: Unit ini biasanya terletak satu lantai/ dekat/ ada akses langsung dengan unit VK dan IRNA. Unit ini minimal terdiri dari : 1. Adanya ruang intensive care (NICU) 2. Adanya ruang bayi medium care 3. Adanya ruang bayi high care 4. Adanya ruang laktasi 5. Adanya ruang intensif care (NICU, PICU) 6. Adanya ruang dokter 7. Adanya ruang pertemuan 8. Adanya nurse station 9. Adanya ruang pantry untuk staff 10. Adanya lounge untuk ibu

Hubungan Fungsional antar ruang pada Unit Perinatologi
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

64

H. Unit Haemodealisis Fungsi Adalah Unit Instalasi Cuci darah, yaitu tindakan mengeluarkan sisa metabolisme ( koreksi elektrolit darah ), dan cairan tubuh melalui proses pertukaran antara bahan yang ada dalam darah dan dialisat melewati membrane semipermiabel di dalam ginjal buatan. Tata letak dan persyaratan ruang Unit ini biasanya terletak berdekatan dengan Unit laboratorium. Unit ini minimal terdiri dari : 1. Ruang Cuci darah (dilengkapi lavatory) 7. Ruang konsultasi 2. Ruang Cuci darah Hepatitis (dilengkapi lavatory) 8. Ruang kepala HD 3. Ruang cuci darah HIV (dilengkapi lavatory) 9. Ruang CAPD 4. Ruang tungggu 5. Nurse station 6. Ruang dokter

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

2. Pelayanan Pasien Luar Rumah Sakit
A. Instalasi Unit Jalan Fungsi Merupakan fasilitas yang disediakan bagi pasien yang tidak tinggal di rumah sakit, hanya melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan non rawat inap. Fasilitas yang terakomodasi meliputi klinik umum dan spesialisas, dengan dilengkapi fasilitas penunjang medis seperti satelit farmasi dan penunjang non medis seperti fungsi administrasi dan komersial. Tata letak dan persyaratan ruang 1. Adanya pemisahan antara unit rawat jalan infeksius dan non-infeksius 2. Ruang tunggu dapat dipergunakan untuk semua poli, namun diupayakan adanya pemisahan ruang tunggu antara penyakit infeksius dan non infeksius. 3. Poliklinik direncanakan mewadahi ruang konsultasi dan ruang periksa pada tiap unit pelayanan klinik. 4. Pemisahan antara koridor paramedik dan koridor pasien. 5. Sistim sirkulasi dengan menggunakan satu zona yang sama untuk keluar dan masuk. 6. Poli yang ramai letaknya tidak saling berdekatan. 7. Merancang proses way-finding yang baik. Setiap pasien, pengunjung, dan semua staf perlu tahu posisi mereka berada, kemana mereka menuju, bagaimana mereka menuju dan kembali

Hubungan Fungsional antar ruang pada Unit Rawat Jalan
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

65

2. Pelayanan Penunjang Medik / Klinik Bantuan
A. Instalasi Bedah Fungsi Mudah dicapai dari setiap zona terutama dari ICU/ICCU dan CSSD. Memerlukan ketenangan dan privasi tinggi. Berada pada area sentral. Selain ruang bedah, ruang penunjang yang diperlukan adalah ruang anestesi, ruang sterilisasi, ruang penyimpanan alat dan ruang persiapan. Tata letak dan persyaratan ruang: 1. Kualifikasi Ruang Instalasi Kamar Operasi o Dinding terbuat dari porselen atau vinyl setinggi plafond, dengan corak warna bernuansa dingin. o Plafond terbuat dari bahan yang anti bocor dan aman dengan tinggi minimal 2,7 meter dari lantai.

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

Kualifikasi Luasan Ruang Instalasi Kamar Operasi o Kamar operasi harusnya mempunyai luasan minimal 33. ft ).o Lantai terbuat dari bahan yang kuat.62 meter ( 24 x 25 ft ) = 55. o Ventilasi atau penghawaan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri. o Sedangkan untuk kamar operasi spesialis membutuhkan luasan minimum sebesar 7.2 meter dan tinggi minimal 2.48 x 6. untuk itu harus dibuat ruang antara. o Hubungan dengan ruang scrub-up untuk melihat kedalam ruang operasi perlu dipasang jendela kaca mati.31 meter ( 20 x 24 ft )= 44.44 persegi (360 sq.10 meter ( 18 ft x 20 ft ) sudah termasuk ruang untuk peralatan operasi. ft ). o Harus disediakan gantungan untuk lampu bedah dengan profil baja yang dipasang sebelum pemasangan plafond.70 meter persegi ( 600 sq. Lebar pintu minimal 1. 2008 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 2. o Beberapa ahli bedah merekomendasikan untuk luasan kamar operasi adalah o 6. Penentuan jumlah kamar operasi dalam sebuah rumah sakit ditentukan dengan perbandingan 1 : 50 yang artinya 1 kamar operasi digunakan untuk melayani 50 TT. 66 Hubungan Fungsional antar ruang pada Unit Bedah Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras. o Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis. o Tersedia rak dan lemari untuk menyimpan reagensia siap pakai. o Pemasangan gas medis secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau diatas langit langit.60 meter persegi ( 480 sq. hubungan ke ruang steril dari bagian cleaning cukup dengan sebuah loket yang dapat dibuka-tutup. 5. Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah. kedap air. o Dilengkapi dengan sebuah sarana komunikasi darurat dengan bagian kontrol dan laboratorium Unit Bedah Sentral. o Tidak dibenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar. mudah dibersihkan dan tidak licin.10 x 7.1 meter dan semua pintu harus selalu dalam keadaan tertutup. 4.31 x 7.ft) = 5.

Persyaratan Udara, Pencahayaan, Suhu, Kelembaban dan Indeks Kebisingan untuk Ruang Operasi: Standar Parameter Ruang Operasi

67

Hubungan Fungsional antar ruang pada Laboratorium
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

B. Laboratorium Fungsi Memberikan pelayanan diagnostik untuk mendukung IGD, instalasi rawat jalan, radiologi, dan rawat inap. Tata letak dan persyaratan ruang: 1. Berdekatan dengan IGD dan radiologi. 2. Mudah dijangkau dari poliklinik dan IRNA. 3. Udara dalam laboratorium tidak boleh beredar pada satu tempat yang sama karena rentan akan kontaminasi zat-zat aditif, sehingga harus ada akses untuk dapat segera membuang udara. 4. Jika udara akan diedarkan kembali, dianjurkan sistem filtrasi yang sangat baik. 5. Sangat dianjurkan adanya exhaust, tetapi harus memilliki jalur tersendiri agar tidak mengkontaminasi ruang lain. 6. ingkup kerja laboratorium harus dapat menampung perlengkapan penting seperti vacum, gas medik, dan electrical services. 7. Ruang pengambilan/penerimaan spesimen harus terpisah dari ruangan pemeriksaan untuk menghindari kontaminasi. 8. Harus ada almari pendingin untuk menyimpan reagensia tertentu. 9. Ruang pengambilan hasil dapat disatukan dengan administrasi.

C. Radiologi Umum / Fungsi Peralatan & Ruang harus bisa mengakomodasi fungsi, prosedur khusus seperti terapi balok elektron, perawatan radiasi, penggambaran resonansi magnetik, tomografi komputer, unit scan, angiocardiografi, dll.bukanlah fasilitas yang biasanya ada, & tidak ada keterangan tentangnya di dokumen ini. Ketika peralatan di atas merupakan bagiang dari fasilitas maka fungsi & desainnya harus diberikan untuk kebutuhan spesifik untuk keefektifan operasi, aksesibilitas, keamanan & martabat pasien. Sonografi & Ultrasound adalah fasilitas yang biasanya dipakai, karena itu peralatan inilaha yang akan dijelaskan pada panduan ini. Tata letak dan persyaratan ruang: - Peraturan dan Undang-undang Regulasi ini berisi tentang panduan tentang bagaimana fasilitas & peralatan seharusnya digunakan, perlindungan radiasi yang diperlukan, siapa yang mengunakannya, dll. Seharusnya dikonsultasikan untuk memastikan bahwa tiap tahap telah diambil untuk menyediakan fasilitas perlindungan radiasi. Konsutasi ini harus dimulai pada tahap awal perencanaan. Dimensi dan Akses Kamar Ruang sebaiknya memiliki dimensi yang menunjang peralatan yang digunakan, untuk menunjang keamanan & gerak yang effektif dari para staf & pasien. Ketinggian langit–langit sebaiknya didasarkan juga pada peralatan, tetapi pada umumnya ketinggian minimum adalah 3000mm untuk pipa instalasi. Pertimbangan khusus juga harus diberikan pada lebar & tinggi pintu untuk memastikan bahwa pengantaran & pemindahan peralatan tidak terhalang & juga pergerakan trolley pasien tidak terhalang. Sonografi dan Ultrasound Fasilitas sebaiknya tersedia untuk : Peralatan Sonografi & Uasound (mobile) Pemeriksaan Pasien Privasi Pasien Pekerjaan Administrasi (meja & kursi) Tempat cuci tangan staf Tempat pembuangan Tempat penyimpanan (Lemari) - Lokasi Lokasi dari Fasilitas Radiologi dapat bervariasi. Harus diperhatikan kedekatannya dengan kasus kecelakaaan & darurat(jika tersedia), dan juga kamar Operasi , jika pada tidak tersedia theatre X-ray pada kamar Operasi. Fasilitas Staf Tergantung dari ukuran Ruang Fasilitas Radiologi, baik untuk sendiri ataupun berbagi dengan penghuni lain antara lain: · Ruang Makan · Ruang Ganti · Toilet - Fasilitas Umum/ Penunjang Fasilitas-fasilitas publik (dapat secara bersama-sama atau dikhususkan) yang sebaiknya disediakan antara lain : · Ruang tunggu · Kamar ganti (1 untuk penyandang cacat) · Telepon umum · Toilet umum (dapat dipakai untuk penyandang cacat) · Air minum bersih dalam suatu wadah

68

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

-

Persyaratan Penting lainnya Sebagai tambahan, perhatian khusus harus diberikan pada hal sebagai berikut : · Kemampuan daya dukung struktur untuk peralatan rumah sakit; · Perletakan peralatan pada tingkat lantai dan pergerakan yang aman bagi pasien · Ukuran diameter kabel elektrikal yang ber efek pada ruangan kamar (di lantai maupun plafond) · Ventilasi udara untuk peralatan · Perlindungan dengan timah (lead shielding) (grenjeng untuk anti radiasi) · Prosedur waktu (jadwal) · Pencahayaan untuk bekerja/dimmer (pengurangan cahaya); dan · Ruangan isolasi (untuk orang tak sadar, dsb)

D. Patologi Umum / Fungsi Sebagai dasar kebutuhan, sebuah rumah sakit menyediakan layanan bedah (surgical ) dan/ atau Kelahiran (obstetric) yang sebaiknya dapat di akses dan di layani selama 24 jam via telepon dengan layanan bedah termasuk : - Haematology (pengecekan darah) - Klinik kimia (apotik) - Analisis urin - Mikrobiologi (virus, bakteri, dll) - Anatomi patologi (urai bedah) - Cytology (bedah sel) - Bank darah
ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

Prosedur prinsip yang harus di keluarkan dalam kontrak layanan termasuk : - Kadar darah (blood counts) - Glukosa darah - Elektrolit tubuh - Urea dan nitrogen dalam darah - Kekentalan darah (koagulasi) - Transfusi darah (jenis dan kecocokan pertukaran) Ruang Simpan Darah / Bank Darah Semua Rumah sakit yang menyediakan layanan bedah dan kebidanan sebaiknya menyediakan fasilitas ruangan simpan darah berpendingin untuk transfusi. Ruang tersebut sebainya dilengkapi dengan monitor pengatur suhu dan sinyal alarm. Hal ini demi kemudahan staf pengontrol dalam menjalankan tugasnya. Pertimbangan perletakan unit ini sebaiknya diberikan dalam hal hubungannya dengan akses setelah jam kerja dan keamanan. Layanan dasar Kapasitas layanan bedah dan kebidanan sebaiknya perlu menyediakan fasilitas pathology khusus di tempat (rumah sakit tersebut). Jika layanan pathology berbasis di rumah sakit, fasilitas berikut sebaiknya disediakan, sebagai kebutuhan minimum: - Laboratorium Pathology, Ruang-ruang terpisah, mampu mengisolasi secara aman, secara spesifik disediakan unutk layanan pathology. Tidak untuk dipakai secar bersamaan dengan layanan lain. Ukuran runag sebaiknya sesuai / cukup dengan fungsi didalamnya, dan menyediakan lingkungan kerja yang aman.

69

Fasilitas pengumpulan Spesimen/sampel (darah. incubator centrifugal. (terminal sterilisasi tidak diperlukan bagi spesimen yang dibakar ditempat). Rak bak air juga dapat dipakai sebagai tempat pembuangan cairan non-racun. pengisian dan rekam perawatan Lounge. Fasilitas dan perlengkapan untuk terminal sterilisasi (clave otomatis atau oven elektrik) spesimen terkontaminasi sebelum di kirim/diangkut. dan wastafel. dan kaca-kaca spesimen mikroskop. persediaan. alat pembilas mata. seperti: ¾ Bunuh diri ¾ Kecelakaan lalu lintas ¾ Juga termasuk kedalamnya kematian dengan cara yang wajar namun belum diketahui penyebab kematiannya. Otopsi forensik (koroner) Bila kematian dari seseorang disebabkan oleh hal-hal yang tidak wajar. Pernyataan dari fungsi sebaikya di deskripsikan dalam kontrak dan/atau layanan pathology. E. Mortuary/ Otopsi Umum / Fungsi Unit mortuari atau otopsi adalah fasilitas untuk menempatkan jasad. dan lain-lain. gas. Area kerja dari tempat pengumpulan darah sebainya memiliki bangku untuk kerja. dan feses). dan ruang hampa. 2. dapat diletakkan diluar area laboratorium dan dipakai bersama dengan unit lain. termsuk pendingin jika dibutuhkan.- - - - - - - - Lokasi Fasilitas pathology. urin. . ruang bagi pasien untuk duduk. paling baik diletakkan berdekatan dengan area layanan yang sering dipakai. fasilitas rumah sakit membutuhkan pertimbangan untuk kemungkinan keamanan terhadap bahaya Radio aktif (Radiation Safety Act). Area kerja sebaiknya termasuk akses untuk menuju layanan elektrikal. dan lain-lain. Area administrasi meliputi kantor sebagus mungkin ruangan untuk penulisan administrasi. Hospital autopsi Dilakukan berdasar permohonan dan oleh praktisi medik jika otopsi forensik tidak mendapatkan hasil. standard (penyangga). Jika material radio-aktif dipakai. Loker dan fasilitas toilet sebaiknya diletakkan untuk memudahkan bagi staf laboratorium pria dan wanita . 70 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Bangku laboratorium yang menyediakan tempat untuk mikroskop. Fasilitas penyimpanan untuk reagen (bahan reaksi). Klasifikasi 1. Pencahayaan alami menguntungkan bagi laboratorium jika di lakukan dengan baik. dan Bak dengan air Ruang simpan darah berpendingin Rak baskom/wadah air untuk para staf mencuci tangan. tempat simpan yang tepat untuk cairan yang mudah terbakar dan lain sebagainya. Ketentuan standar keamanan untuk bahan-bahan kimia termasuk penyiram ketika keadaan darurat. Fasilitas pengumpulan Urin dan feses sebaiknya dilengkapi dengan WC dan bak cuci tangan. antara lain ruang operasi dan ruang kelahiran. analizer bahan kimia yang sesuai. guna dilakukan peninjauan lebih lanjut terhadap jasad tersebut oleh pihak-pihak yang berwenang. jika tergabung.

disinfektan dan sterilisasi.Peristirahatan penyembuhan . udara/air) c) Turbin udara.Fasilitas pengembangan dental x-ray . DENTAL (GIGI) Umum / Fungsi Fasillitas ruang bedah gigi dan mulut pusat seperti ruang operasi pada umumnya. operator.Table dental dengan kotak untuk penyaringan air dan tambahan: a) Mesin elektrik berkecepatan rendah b) Tiga alat semprot (udara.Minimal ada 6 titik tambahan power supply untuk darurat (total menjadi 10) . troli. Level 4 . maupun peralatan elektrikal. dokter) untuk prosedur x-ray . dsb.Pembersih bur ultrasonik Semua langkah dilakukan untuk perlindungan radiasi.jasad diterima dan dilakukan otopsi.jasad hanya diterima tanpa dilakukan otopsi.Unit operasi-electro . Level 1 . air. Level 2 .Unit cryotherapy G.Proses Otopsi Proses otopsi dibagi dalam 4 level. Kerja (kebersihan.Ada fasilitas untuk dental X-ray Ruang tambahan yang dibutuhkan: . Prosedur umumnya adalah sebagai berikut : . Endoscopy Umum Berikut adalah area yang harus dipertimbangkan ketika pembangunan pelayanan endoscopic: .Terdapat mesin panel untuk gelas-gelas. Tunggu 71 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Perlengkapan dental yang telah disebutkan di atas dengan tambahan: a) Penggerak udara berkecepatan rendah b) Alat semprot seperti disebut di atas c) Dua jalur untuk turbin udara berkecepatan tinggi dengan optik fiber .jasad idterima dan diamati tanpa dilakukan otopsi. Selain itu. peralatan sudah termasuk meja operasi. F.R.Cahaya untuk tambal sintetis .Pembersih ultrasonik .Alat pencampur (amalgamator) untuk campuran dental . Endoscope . Penyembuhan .R. pompa tekanan udara . Ruang Operasi unit GIGI dan MULUT Peralatan pendukung/penunjang akan menentukan ukuran akhir dari ruangan tersebut. dll) . Level 3 .Lemari untuk obat dan serba-serbi .R. handpiece berkecepatan tinggi . Hal-hal yang direkomendasikan: .R.jasad diterima dan dilakuka otopsi namun lebih ke arah mengajari melakukan otopsi kepada calon praktisi.Holding . Ruangan ini bisa berupa bangunan tunggal yang berdiri sendiri atau tergabung pada fasilitas umum bedah.Penyimpanan pakaian operasi (pasien.Unit portable dental x-ray . mesin anestesi.

.Penggunaan sinar-X Aturan bakunya. ukuran luasan ruang endoscopy 4 x 5 m2. Serba guna R.basin yang memiliki tingkat kecekungan yang dalam.disinfektor otomatis endoscope . dan pengering untuk endoscope prewashing. Ruang harus dilengkapi bedah minor yang lazimnya digunakan untuk tindakan anestesi umum dengan instalasi gas medis.suplai air panas dan air dingin. maka ukuran minimal luasan ruang berkembang menjadi 5 x 6 m2. penghawaan serta ventilasi yang memadai.Pengobatan bedah laser . Jika peralatan video digunakan. pengecekan dan pemeliharaan endoscope dan persiapan specimen. Kerja karyawan Cleaning service Pembuangan Penyimpanan Workshop Ruang Endoscope Jumlah dan pengoperasian ruang endoscope harus ditetapkan dan ukuran ruang bervariasi tergantung dari: .Aktivitas berbagai bidang .tempat pembuangan limbah umum dan infectious waste .area penyucihamaan untuk scope manual antara udara yang tersimpan dan terventilasi (pada level tinggi dan rendah) . Konsultasi R. pencahayaan.Fluoroscopy . sistem pembangkit tenaga. Dokter R.pembuangan limbah cair dan feses (slophopper). Ganti (pasien&karyawan) Toilet/kamar mandi (pasien&karyawan) Rekam medik Kantor manajer R. lantai. Dinding kedap air.pencahayaan yang tepat memperlihatkan warna .Penggunaan peralatan video . Tinggi langit-langit harus 2. . Istirahat karyawan R. . Akses langsung ke workroom sangat disarankan.bangku/tempat duduk untuk aktivitas benchtop (dilakukan dalam posisi duduk) seperti pengeringan. dan perawatan langit-langit sangat penting untuk kemudahan pembersihan.fasilitas cuci tangan klinis . . Luasan yang lebih fleksibel sangat dianjurkan untuk mengadaptasi perkembangan di masa yang akan datang.- Resepsionis R.lemari dengan ventilasi untuk penyimpanan endoscope . Lebar pintu masuk harus dipertimbangkan untuk akses troli.Gudang obat 72 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Penelitian .7 meter atau lebih. Workroom Workroom wajib memiliki fasilitas .

Kebutuhan ini digunakan juga bagi outpatient dan dapat diakses oleh penyandang cacat. tempat menyimpan pakaian yang aman. 4. speech pathology. dan Psychological Counselling harus memiliki acoustic untuk privasi dan kenyamanan. Luas lantai yang cukup untuk dibiarkan bersih. Psychology and Social Work. area aktivitas bersama Lain-lain Beberapa layanan yang juga mungkin tersedia mencakup Pediatry. Terdapat toilet khusus untuk penyandang cacat. Pelayanan Kesehatan Terapi A. Tempat menyimpan peralatan dan persediaan. tapi disarankan) Ventilasi Udara yang dipadatkan (compressed air). Dimungkinkan terdapat media terapi lain. bebas. Terdapat ruang yang dapat menampung alat-alat rehabilitasi medik. Ruang konsultasi. Speech Pathology. dan akses untuk outpatient. Occupational Therapy Beberapa fasilitas yang harus diikutsertakan: handwashing facilities. Ice-making facilities tersedia di atau dekat fasilitas kesehatan ini. Dapat berupa lemari atau mobile storage trolley. Dietetics. Harus disediakan juga ruang konsultasi. misalnya kolam renang untuk water theraphy. Tempat menyimpan linen yang bersih. nyaman. Storage untuk linen berminyak dan limbah Fasilitas untuk berpakaian bagi pasien. Tata letak dan persyaratan ruang instalasi rehab medik: Letaknya di zona yang mudah dijangkau dari instalasi rawat jalan dan rawat inap. Instalasi Rehabilitasi Medik Fungsi Memberikan layanan terapi penyembuhan seperti fisiotherapy. terbuka. Gudang umum untuk peralatan dan aksesoris ruangan lain. shower dan fasilitas toilet. Pergerakan staf dengan alat (untuk menghindari kerusakan). 73 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . gudang untuk peralatan dan persediaan. Sumber listrik sesuai yang diperlukan di kebocoran bumi. dll. Satu fasilitas handwashing dapat melayani beberapa ruang treatment Sebuah exercise area dengan fasilitas yang tepat untuk level layanan tertentu. dan suction untuk pembersihan ruangan. Terdapat ruang latihan terapi yang luas dan cenderung tanpa sekat.· - Refrigerator/freezer Peralatan kebersihan ultrasonic (optional.. Physiotherapy Layanan physiotherapy harus menyediakan fungsi atau fasilitas: Individual treatment area atau area untuk privasi pasien Staff handwashing facilities di ruang treatment. akses toilet bagi diffabel. ruang tunggu.

diluar jalur untuk sirkulasi normal tetapi dekat dengan pintu masuk .Aktivitas administrasi dan clerical yang berhubungan dengan managemen medical record . fasilitas disediakan untuk mengakomodasikan aktivitas administrasi sebagai berikut: .Gudang untuk Ledgers.Ruang rapat . .Hubungan Fungsional antar ruang Unit Rehab Medik Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.Ruang interview khusus yang mencakup prosedur perizinan . Termasuk gudang sekunder dan gudang tersier yang dibuat dengan konstruksi tahan api. pengobatan. suster. voucher.Adanya ruang untuk mereview catatan medis pasien. 2008 5. account forms. termasuk gudang penyimpanan tersier dan sekunder. administrasi. Fasilitas Administrasi Layanan ini harus ada. akses ke main entrance dan berhubungan dengan fungsi di bawah : .Pengecekan ulang terhadap medical record dan laporan persiapan.Penyimpanan peralatan kantor.toilet umum . Tata letak dan persyaratan ruang: Unit ini biasanya terletak dekat dengan zona administrasi dan poliklinik.Adanya ruang untuk kegiatan administrasi catatan medis. Rekam Medik / Administrasi Fungsi Sebagai tempat dimana data – data mengenai catatan medis pasien disimpan dan didata sebagai arsip.telepon umum Sebagai tambahan. .Ijin masuk pasien .Gudang penyimpanan yang tertutup (aman) untuk data seluruh pasien. alat tulis dan persediaan . .Akomodasi ruang kantor untuk menunjang kepentingan administrasi. sementara gudang penyimpanan tertutupnya terletak di level semi basement ataupun basement. tetapi dekat dengan entry point . jika diperlukan . peralatan kerja dan cadangan.Gudang untuk perlengkapan kantor. jika diperlukan .Ruang penyimpanan yang aman untuk semua data pasien. dan ruang konferensi serba guna 74 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Recepsionis dan informasi pengunjung/pasien . yang berisi data tingkat ketahanan konstruksi pelingkup bangunan.Kantor individu/umum untuk mewadahi kegiatan kasir. di luar jalur sirkulasi utama.Unit ini terdiri dari : . . .ruang tunggu . dan .Ruang penyimpanan kursi roda. dengan akses yang tertentu (tertutup). medis dan perawat baik secara umum dan/atau individu.Ruang yang cukup untuk kursi roda. dan lain-lain.

. .Konter dan lemari bekerja untuk aktivitas berkenaan dengan farmasi. komunikasi. Gudang/ Penyimpanan . 2008 6. . Lemari atau rak penyimpanan untuk sistem pengembalian informasi obat. .Area pengendalian mutu C.Ketetapan untuk cek silang dari pengobatan dan profil obat dari pasien individu. .Area pencampuran obat .Ketentuan untuk konseling dan instruksi pasien (mungkin adalah di ruang terpisah dari apotik). Fabrikasi .Ketetapan dari pembungkusan dan pemberikan label .Gudang/penyimpanan alkohol dan cairan yang mudah menguap dengan konstruksi seperti diperlukan oleh peraturan relevan untuk unsur dilibatkan.Gudang/Penyimpanan untuk peralatan dan persediaan umum yang tidak digunakan. staf kontrol.Gudang/Penyimpanan yang aktif . E.R.Area pencampuran yang dilakukan tanpa persiapan.Fasilitas handwashing harus tersedia di dalam tiap ruang terpisah di mana pengobatan terbuka ditangani. Dispensing (pembagian) .Ruang untuk pendidikan dan pelatihan (mungkin di ruang multi tujuan bersama dengan unit yang lain). B. dan tambahan dari service bersama atau dibeli. 75 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . .Disku si Hubungan Fungsional antar ruang Unit Rekam Medik Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras. . Ruang atau deretan apotik ditempatkan untuk akses nyaman. dan referensi.Gudang/Penyimpanan dengan pendingin. Fasilitas (mencakup satellit. Penyimanan Obat/ Farmasi Umum Ukuran dan jenis service untuk disajikan di apotik akan tergantung pada jenis sistem distribusi obat yang digunakan. penyimpanan. dan keamanan.Area untuk tinjauan ulang dan perekaman dari order/pesanan.Ruang atau area terpisah untuk fungsi kantor yang mencakup meja tulis.Poin(kounter) pengambilan dan penerimaan terkendali. . D. .Penyimpanan limbah . Administrasi . lain-lain .Gudang/penyimpanan yang aman untuk narkotika dan obat/drugs yang dikontrol. A. jika bisa diterapkan) dan peralatan. jumlah pasien untuk dilayani.

76 Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Laundry ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Akses yang terpisah untuk linen kotor dan bersih Distribusi linen kotor ke instalasi laundry mungkin dilakukan dengan linen chute . Linen . R Setrika. mensortir. R Kerja Cuci. Kamar Jahit. Ruang Laundry.Clean Linen Storage. untuk menjaga kelayakan dan kebersihan pelayanan pasien. Gudang Textile. Jalur sirkulasi dan distribusi yang terpisah dengan jalur sirkulasi pasien. Jika fasilitas ini terpisah dari bangunan pelayanan utama. Pertimbangan untuk diberikan ke persyaratan phisik dari aktivitas spesialis seperti persiapan yang cytotoxic. Pengaturan dan konstruksi harus mematuhi persyaratan menurut undang-undang dan Standard yang relevan. jika dilaksanakan. laundry/ Pengolahan Linen Fungsi Fungsi laundry adalah Menerima.linen yang kotor dibawa dan diproses pada instalasi laundry yang terletak pada area servis. shower. tempat linen – linen bersih ditampung dan didistribusikan ke lantai . Jika solusi yang intravenous (kedalam pembuluh darah) disiapkan di apotik. Loket Masuk Linen Kotor. Terdapat R Ka-Unit. Area ini harus memiliki kapasitas yang sesuai demi efisiensi operasi Rumah Sakit. dan memproses linen dan lakan kotor rumah sakit. dll. maka sebaiknya tersedia jalur yang terlindung dari hujan dan panas.lantai pelayanan medis. Loket Keluar Linen Bersih Pengaturan sirkulasi agar tidak bersinggungan antara linen bersih dan linen kotor Pada pembuangan ke IPAL diberi penangkap detergen Biasanya berdekatan dengan boiler house Disarankan pula berdekatan dengan ruang housekeeping Tidak ada bakuan luas minimal ruang laundry. Kriteria Minimal perencanaan dan Tata letak dan persyaratan ruang : Sebuah ruang untuk menampung linen kotor yang akan diproses dilengkapi dengan fasilitas pencuci tangan. R Cucian Bersih. 7. . ruang bersantai/sofa. Kemudian linen yang telah bersih dikirimkan untuk ditampung pada gudang linen bersih yang pada umumnya terletak di setiap lantai instalasi rawat inap. Pada umumnya merupakan fasilitas bersama dengan staf rumah sakit yang lain. kisaran 0.5 sampai 1 meter persegi per tempat tidur Bila berada dalam bangunan banyak lantai maka sebaiknya laundry ada di lantai paling bawah untuk mencegah gangguan suara. tempat dimana linen – linen kotor diproses. tersedia suatu area pekerjaan yang steril dengan bangku aliran berlapis dan kerudung. R Cucian Kotor. getaran serta kemudahan pengelolaan penyaluran air limbah.- - Menyediakan akses yang nyaman ke lemari karyawan.

berwarna terang dan menggunakan cat yang tidak luntur serta tidak menggunakan cat yang mengandung logam berat. kisaran luas dapur utama minimal 0.Bahan makanan tidak diletakkan di bawah saluran air bersih maupun air limbah untuk menghindari terkena bocoran.minimalisasi cross-traffic ataupun aliran maju mundur (back-tracking) .gudang penyimpanan terpisah antara basah dan kering.tidak ada bakuan luas. . . rata. dinding. . Kelembaban penyimpanan dalam ruangan 80 -90 %. atau langit-langit dengan ketentuan sebagai berikut : a. .Tidak diperbolehkan ada jaringan drainase disekitar gudang makanan.layout dapur utama etidaknya adalah panjang ruang sama dengan dua kali lebar ruang .Permukaan dinding harus kuat.Jarak bahan makanan dengan dinding 5 cm c. IGD.8.Semua gudang bahan makanan hendaknya berada di bagian yang tinggi.pengamanan terhadap bahaya kebakaran menjadi poin penting dalam perencanaan unit gizi utamanya dapur . Tata letak dan persyaratan ruang: . minyak tanah) . . Instalasi Gizi (Dietary Service) Fungsi: Memberikan pelayanan konsumsi gizi bagi unit perawatan. . dan unit kandungan.Penyimpanan bahan makanan tidak boleh menempel pada lantai. .Jarak bahan makanan dengan lantai 15 cm b. ataupun bahan aman dan riskan flameable (misal tabung gas.Semua bahan makanan disimpan pada rak-rak dengan ketinggian rak terbawah 15 cm – 25 cm.Lokasinya harus jauh dari penglihatan dan jangkauan pengunjung.Memiliki pintu masuk dan keluar tersendiri. . Jarak bahan makanan dengan langit-langit 60 cm d.6 meter persegi per tempat tidur 77 Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Gizi ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .terapkan organisasi ruang dalam aliran yang menerus mulai dari ruang penerimaan hingga penyajian . ICU.

dilengkapi dengan ruang-ruang kerja berupa bengkel dan workshop. 2. Bengkel dan Peralatan (IPSRS) Mengingat karakter aktivitasnya maka bengkel dan peralatan diletakkan terpisah dari kelompok unit lain. Ruang dibuat relatif luas dan terbuka tanpa sekat untuk memudahkan aktivitas. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Tingkat efektivitas pengaturan sampah tergantung dari kewaspadaan staf kebersihan dalam meminimalisasi sampah dan tingkat ketelitian dalam pemisahan sampah dari sumbernya menurut jenisnya. Pemisah bisa menggunakan ruang fungsional garasi atau deret gudang.workshop/bengkel kerja pertukangan kayu . Tata letak dan persyaratan ruang: 1.administrasi/supervisor .loker staf Fungsi: Merupakan instalasi yang melakukan pemeliharaan maupun perbaikan terhadap sarana dan prasarana rumah sakit. 78 Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi IPSRS 10. Aktivitas utama yang diwadahi dalam unit adalah : .penyimpanan alat dan gudang . Lokasinya di zona servis yang relatif jauh dari zona perawatan maupun zona penunjang medik. Standar dan ketentuan terkait dapat dilihat pada Ketentuan Fungsi. terutama di ruang perbaikan alat. tata letak lantai dan peletakan titik-titik pengumpul sampah menjadi sangat penting. Dalam kasus ini. Pengelolaan dan Pembuangan Sampah Perlu adanya fasilitas yang memadai untuk penyimpanan dan pembuangan sampah yang aman.workshop/bengkel kerja kendaraan .9.workshop/bengkel kerja peralatan medik .

Dinding dan lantai pada daerah tersebut harus diberi penutup lantai untuk memudahkan dalam pembersihan. yang dinding dan lantainya dikeramik sehingga mudah dibersihkan. mencegah bau keluar. Area pembuangan sampah harus didesain sedemikian rupa sehingga dapat mengamankan material. Area Klinis Luasan ruang yang efisien dan didesain berdasar kebutuhan sangat dibutuhkan untuk penyimpanan kereta dorong 240L di titik-titik yang stategis pada setiap sektor. Hal ini akan terasa agak sulit pada awalnya terutama pada rumah sakit dengan skala kecil. Ukuran kereta pengangkut dan keranjang sampahnya ditentukan dari kuantitas sampah rumah sakit dan berapa titik pengumpul sampah yang mungkin diadakan. diharapkan ditangani oleh sub-konsultan yang relevan pada bidang tersebut. Pada unit ini mungkin dapat diterapkan sistem penguapan dan pengeringan dengan udara. Dengan alasan pemisahan sampah inilah maka sebaiknya pembuangan sampah pada area klinis ditempatkan dalam treatment area. Pemeriksaan pada persetujuan yang penting mengenai standar. tetapi akan sangat bermanfaat pada sebuah institusi rumah sakit yang cukup besar. mengurangi dekomposisis organik. Peraturan manajemen rumah sakit memungkinkan sebagian besar proses daur ulang dilaksanakan pada tingkatan pengguna. Pemisahan material-material yang dapat didaur ulang pada tingkat pengguna akan membutuhkan area penyimpanan yang lebih besar dibandingkan bila dicampur dengan metode pengumpulan daur ulang. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 79 . dan area itu sendiri. Fasilitas untuk membersihkan tangan harus diletakkan berdekatan dengan area pengumpulan sampah untuk material medis di mana material klinis ditangani. Sedangkan pembedaan warna tersebut akan lebih memudahkan staf terutama saat pergantian shift kerja staf kebersihan. Kereta dorong tidak boleh terakses oleh publik dan sebaiknya tidak terlihat pada area yang diamankan. kode dan peraturan ini.Untuk membedakan jenis-jenis sampah. Titik-titik pengumpulan pos kerja harus mudah diakses oleh staf yang bertanggungjawab atas pembuangan dan pemindahan. Tata Cara Pengaturan Sampah Standar dan ketentuan yang berlaku tergantung dari spesifikasi bangunan dan peraturan setempat mengenai tatacara pengolahan sampah. di mana pengaturan sampah sudah cukup membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dapat pula dipakai sistem terpadu di mana diterapkan biaya kebersihan sesuai kuantitas sampah yang dihasilkan. Aspek yang penting dalam manajemen sampah yang baik.Pada area lain mungkin membutuhkan ruang/ceruk untuk menyimpan kereta dorong. Pengukuran minimalisasi sampah dapat dilakukan dengan sistem bar code atau penimbangan sampah. Peraturan standar lainnya akan diaplikasikan pada spesifikasi bangunan untuk area pembuangan sampah dan rute pembuangan limbah cair yang berhubungan dengan proses manajemen sampah. Titik Pengumpulan Pada Ruang Kerja/ pos Kerja A. troli pengangkut. baik digunakan keranjang sampah dan kereta pengangkut sampah yang dibedakan menurut warnanya. Mungkin diperlukan pula ruangan kecil yang diperuntukkan bagi penyimpanan troli pengangkut. tetapi tetap memungkinkan staf untuk membersihkan tempat sampah. Troli-troli ini sebisa mungkin tidak dapat diakses oleh publik. Pada rumah sakit yang cukup mampu dapat dipasang sistem pembersih mekanikal. Uap yang terbentuk pada proses disinfeksi sampah cair masih harus distabilisasi sebelum dialirkan menuju pembuangan. adalah kemudahan bagi produsen sampah pada proses pemisahan sampah. Sebagian besar lokasi kereta dorong pada area klinis harus diletakkan dalam ruang perawatan. serta penggantian kereta dorong. dan bahkan dihindarkan sevara visual dengan menyediakan koridor servis khusus yang aman.

cytotoxic (racun pada jaringan tubuh) dan zat radioaktif sangat jarang terjadi dan jumlahnya kecil. Titik-titik pembuangan yang memadai dibutuhkan pada area perawatan. Benda tajam harus ditampung dengan aman baik pada pembuangan ataupun wadah daur ulang. Buangan cytotoxic dan zat radioaktif harus diawasi oleh staf yang berpengalaman. Buangan wadah benda tajam yang didaur ulang umumnya disebabkan oleh suplai dari kontraktor. kecuali rumah sakit tersebut memiliki fasilitas khusus yang menyebabkan produksi sampah jenis tadi di atas normal. Area Kantor Ruang dengan luasan yang memadai dan direncanakan sesuai kebutuhan harus dialokasikan untuk penyimpanan kereta dorong 240L pada tempat-tempat strategis di setiap area kantor. Sampah berupa jaringan tubuh manusia. Untuk keperluan ini dinding tempat penyimpanan benda tajam biasanya diberi perlakuan khusus. mengingat cara terpisah akan tidak praktis diterapkan pada area seperti rawat inap. dan tidak memerlukan proses pemindahan kecuali oleh kontraktor. agar jarum dapat dikontrol dan terlihat saat sudah tiba waktunya untuk dibuang. Pembuangan zat-zat ini umumnya tidak terlalu sering. jaringan (tubuh manusia). cytotoxic. Sedangkan racun sitotoksik dan bahan radioaktif membutuhkan penanganan khusus oleh tim yang ahli di bidang tersebut (biasanya ahli farmasi atau BATAN di Indonesia). dan ke incinerator. kecuali rumah sakit memiliki fasilitas khusus bagi sampah tersebut. Penampungan sampah sebaiknya dipisahkan melalui jalur sampah medis yang disediakan dan disetujui kontraktor pembuangan. disediakan kontainer khusus yang terpisah. Kontainer pembuangan benda tajam dapat dibuang melalui saluran pembuangan klinis apabila jalur tersebut memang dirancang untuk itu. segera setelah diambil (dibekukan jika perlu). dan zat radioaktif. Dalam kondisi ini. dan material radioaktif umumnya dihasilkan secara tak teratur dan dalam jumlah relatif kecil. Ruang penyimpanan bagi zat-zat tersebut tidak terlalu diperlukan di area perawatan. Perkiraan jumlah kereta 240L yang dibutuhkan untuk tiap bagian rumah sakit harus didasarkan pada campuran pilihan pengumpulan material daur ulang. Aspek yang penting dalam manajemen sampah yang baik tergantung pada produksi sampah dalam memenuhi proses pemisahan sampah. Hanya dibutuhkan wadah khusus untuk penampungan sementara jaringan tubuh manusia untuk secepatnya dibekukan segera setelah dibuang. Kebutuhan ruang kereta dorong untuk material daur ulang tidak diperlukan untuk area bangsal.Pemisahan material yang dapat didaur ulang pada titik pengguna akan membutuhkan jumlah gudang yang lebih besar dibandingkan apabila material tersebut dicampur. B. Tempat penyimpanan kecil harus disediakan di bagian yang membuang jaringan manusia. racun sitotoksik. Dibandingkan sampah jenis lain. Prosedur penanganan sampah berbeda harus disediakan untuk benda tajam (jarum). Sedangkan bagi material tajam yang masih dapat digunakan. Jaringan pada manusia. meterial-material ini umumnya tidak terlalu banyak mengambil tempat pada area pengolahan. Umumnya rumah sakit menyediakan pembakaran sampah (incinerator) untuk keperluan ini. Penanganan sampah seperti ini rutinitasnya dapat lebih longgar. Beberapa tim manajemen rumah sakit membutuhkan incinerator meskipun tidak ada peraturan untuk menyediakan pengemasan secara benar. untuk selanjutnya mungikn dimasukkan dalam incinerator. umumnya apoteker. biasanya dibutuhkan bantalan/lapisan tambahan pada dinding kontainer. 80 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Muatan kereta yang 240 liter tadi diasumsikan untuk metode campur ini. Jaringan ini harus dipindahkan ke bagian manajemen penanganan sampah.

Kebijakan Manajemen Rumah Sakit memungkinkan untuk menghancurkan laporan-laporan penting dan rahasia sebelum dibawa ke area daur ulang (penanganan sampah). Area pembuangan sentral untuk benda-benda yang membutuhkan kerahasiaan.ruang ganti (change room) . dll kebutuhan Staff Fasilitas yang mungkin dapat disediakan untuk melengkapi kebutuhan staf: .konstruksi dan instalasi (fasilitas yang tahan api etc) . Area ini hanya digunakan untuk kebutuhan manajemen sampah. Pengawalan yang ketat dibutuhkan dalam membawa dan membuang limbah medis. cart juga harus dapat diakses dari berbagai level.Kereta sampah biasa harus selalu diletakkan dekat dengan kereta kertas daur ulang untuk mengatasi pemisahan sampah biasa dengan material daur ulang yang tidak sistematis.Incineration Ketika incinerator dibutuhkan. Selain itu. . C. PENGOLAHAN SAMPAH/LIMBAH . pertimbangan diberikan untuk : .loker . Lokasi fasilitas penghancur dokumen sebaiknya diletakkan berdekatan dengan area penyimpanan kereta (yang digunakan untuk menyimpan dokumen rahasia yang akan dibuang tersebut).florist .ruang istirahat (lounge) 81 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . memberikan pengamanan ekstra dalam pelaporannya. BULK WASTE MOVEMENT Pergerakan cart disekitar lokasi dan selama proses pembuangan sangat diperlukan. Pelayanan Penunjang Fasilitas Fasilitas yang mungkin disediakan adalah: .snack bar/coffee shop . Kebanyakan dari medical waste dapat diatur dengan menggunakan land fill.potensi untuk pemulihan panas yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah (konservasi energi) 11.grooming/handwashing .Land Fill Penggunaan Land fill dalam pengolahan limbah medis membutuhkan negosiasi dengan pemerintah lokal.penata rambut.gift shop . Kereta dorong tidak boleh terakses publik dan sebaiknya tidak terlihat pada area yang diamankan. B. penyimpanan dan pemilahan sampah. Area Manajemen Penanganan Sampah Ruang dengan luasan yang cukup dan tertutup sebaiknya disediakan untuk pengumpulan.toilet .farmasi bank .kapasitas (penyesuaian terhadap kapasitas muat incineratior) . Limbah klinis diubah menjadi limbah dan diolah di lantai dasar.ruang shower (showering) . Titik-titik pengumpulan pos kerja harus mudah diakses oleh staff yang bertanggungjawab atas pembuangan dan pemindahan serta penggantian kereta dorong. Penyediaan ruang-ruang berikut dibutuhkan dalam area penanganan manajemen sampah: A.

janitor.tempat bermain anak . Fasilitas Pembelajaran/ Studi Ruang seminar Luas minimum = 28 m2.tempat tidur anak . akses ini tidak boleh melewati area publik. Akses jalan. RAMPS Ramp harus disesuaikan dengan standar yang ada. Demonsrasi suatu metode baru dalam perawatan pasien juga akan menggunakan fasilitas ini. Fasilitas Pendukung Lainnya Fasilitas ini antara lain cleaning service. Selain itu. C. Fasilitas A. AKSES AMBULANS Akses utama keluar dan masuk mobil ambulans tidak boleh bergabung dengan akses lalu lintas yang padat. selain itu harus ada hubungan dengan akses pengangkutan dan penurunan pasien. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .toilet anak dan staf . sehingga ambulans dapat beroperasi dengan cepat. dari mobil ambulans ke ruang UGD atau ruang penting lainnya harus dibuat seefisien mungkin. Perawatan Anak Perawat-perawat terbaik sangat direkomendasikan untuk fasilitas perawatan anak ini. Ruang Kuliah Ruang kuliah ini nantnya akan digunakan sebagai fasilitas belajar bagi para calon-calon perawat atau pegawai lainnya. selain itu. aman. ruang ini juga akan berfungsi sebagai ruang rapat atau pertemuan antar staf di rumah sakit.percakapan Internal .pantry . Ruangan ini natinya akan digunakan untuk mengadakan seminar. Ukuran dan tempat menyesuaikan kebutuhan yang ada. atau workshop mengenai rumah sakit.view ke luar (bukan jalan raya) yang baik dan tenang beberapa area service yang mendukung dapat diletakkkan berdekatan dengan area ini.Ruang Doa/ Ibadah Memisahkan ruang sebagai fungsi tunggal seperti : .konsultasi bagi keluarga penderita . Selain itu. dan nyaman. dan sebagainya. B. Selain itu. pintu masuk dan keluar mobil ambulans harus memiliki jarak yang cukup jauh dengan pintu masuk utama dan jauh dari jarak pandang orang-orang di sekitarnya.tempat bermain outdoor yang aman . 82 Perpustakaan Di sini nantinya akan dapat diletakkan berbagai literatur medis yang dapat digunakan untuk mencari data bagi para staf pegawai. Area perawatan anak meliputi: .tempat meyimpan mainan .kantor staf . Gudang Sebagai fasilitas penyimpan alat-alat pembelajaran. ANTAR JEMPUT AMBULANS Titik antar jemput mobil ambulans harus terlindungi dari hujan dan panas.loker tempat simpan jaket atau sepatu .ruang ibadah dan Ruangan harus mudah diakses oleh penyandang cacat. ruang ini perlu dilengkapi dengan fasilitas audio-visual. 12.

petunjuk) RUMAH SAKIT (gawat darurat/rawat inap) RUMAH (follow up pasca operasi) . GANTI (gudang pakaian) FORMULIR (pembebasan. PEMULIHAN (observasi lanjutan. recliners. PEMULIHAN (Perawatan pasca operasi/penyadaran) TAHAP 2. penjelasan) GANTI (gudang pakaian) RUANG PRA OPERASI (identifikasi. record) IZIN MASUK/ PENERIMAAN (record akhir. akses pengunjung) 83 KEMUNGKINAN TAHAP 3.13. pengecekan) BATAL (jika ditemukan ketidakpuasan) REVIEW HASIL PEMERIKSAAN RUANG ENDOSCOPY/TINDAKAN (anestetik/tindakan ) ARSITEKTUR RUMAH SAKIT PERHENTIAN AMBULAN TAHAP 1. instruksi pasca operasi. profil medis. Diagram Pergerakan Pasien PENJADWALAN ULANG DOKTER BEDAH (tindakan/pemilihan pasien) FORMULIR (perjanjian medis. keuntungan. tagihan. PEMULIHAN (penyegaran. buklet info pasien) DPC registrasi pasien (review formulir.

Penataan ruang bangunan dan penggunaannya harus sesuai dengan zonasi fungsi yang telah ditentukan sehingga dapat berkaitan dengan zonasi yang memenuhi persyaratan kesehatan yaitu dengan mengelompokkan fungsi ruangan berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit sebagai berikut : Zona dengan Risiko Rendah Zona risiko rendah meliputi : ruang administrasi. Ventilasi dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik. Tata Fungsi Zona Fungsi Dalam Rumah Sakit Zona 1 – wilayah ini berkarakter publik. dan ambang bawah jendela minimal 1. berwarna terang. Lebar pintu minimal 1. ruang penginderaan medis (medical imaging). dan ruang pendidikan/pelatihan. Persyaratan ruang sebagai berikut : Permukaan dinding rata dan berwarna terang Lantai terbuat dari bahan yang kuat.10 meter.70 meter dari lantai. Ruang publik direncanakan berada di area yang sangat publik dengan tingkat pencapaian yang tinggi. kebidanan. ruang perpustakaan. ruang pertemuan.14. dan ruang tunggu pasien. kerangka harus kuat. Zona dengan Risiko Sedang Zona risiko sedang meliputi : ruang rawat inap bukan penyakit menular. bila ventilasi alamiah tidak menjamin adanya pergantian udara dengan baik. mudah dibersihkan. laboratorium. Zona 3 – wilayah yang menyediakan dukungan bagi aktivitas rumahsakit: kantor pengelola rumah sakit dan ruang serbaguna. instalasi rawat jalan. Publik dapat mengakses area ini namun terbatas. Zona 2 – wilayah ini berkarakter privat. Dinding ruang laboratorium dibuat dari porselin atau keramik setinggi 1. Di dalam ruang publik berlangsung aktivitas-aktivitas pelayanan rumahsakit kepada publik.20 meter dan tinggi minimal 2. kedap air. ruang ganti pakaian. Yang Perlu Diperhatikan dalam Desain A. Dinding ruang penginderaan medis berwarna gelap.40 meter dari lantai. 84 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . ruang bedah mayat (autopsy). dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus. dan tinggi minimal 2. warna terang. rawat jalan. ruang resepsionis.00 meter dari lantai. dapat dilengkapi dengan penghawaan mekanis (exhauster) . ruang perawatan intensif. ruang komputer. Zona dengan Risiko Tinggi Zona risiko tinggi meliputi: ruang isolasi. dengan ketentuan dinding disesuaikan dengan pancaran sinar yang dihasilkan dari peralatan yang dipasang di ruangan tersebut. tembok pembatas antara ruang Sinar X dengan kamar gelap dilengkapi dengan transfer cassette. dan ruang jenazah dengan ketentuan persyaratan sebagai berikut : Dinding permukaan rata dan berwarna terang. Persyaratan bangunan pada zona dengan risiko sedang sama dengan persyaratan pada zona risiko rendah. Wilayah ini menerima limpahan kerja dari zona luar dan membutuhkan akses khusus untuk mendukung pelayanan khusus: program ruang yang direncanakan pada zona ini adalah fasilitas rawat inap.50 meter dari lantai dan sisanya dicat warna terang. diantaranya instalasi gawat darurat. Langit-langit harus terbuat dari bahan yang kuat. farmasi dan diagnostik. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1. mudah dibersihkan.

40 meter dari lantai. kerangka harus kuat. berwarna terang. ruang bersalin. yaitu : a. Langit-langit terbuat dari bahan yang kuat dan aman. Lebar pintu minimal 1. atau dicat dengan cat tembok yang tidak luntur dan aman. warna terang. kedap air. ruang perawatan gigi. Fasilitas tangga sebagai penghubung antar lantai maupun penggunaan alat bantu sirkulasi vertikal berupa ramp pada pengembangan bangunan berlantai banyak pada fungsi-fungsi yang bersifat emergency. Langit-langit terbuat dari bahan yang kuat.- Lantai terbuat dari bahan yang kuat. hubungan ke ruang steril dari bagian cleaning cukup dengan sebuah loket yang dapat dibuka dan ditutup. ruang bedah mulut. dan semua pintu kamar harus selalu dalam keadaan tertutup.10 m. seperti trauma center. Zona dengan Risiko Sangat Tinggi Zona risiko tinggi meliputi : ruang operasi. b. mudah dibersihkan. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1. OK. mudah dibersihkan dan berwarna terang. dan rawat inap intensif.20 meter dan tinggi minimal 2.00 meter dari lantai. Pemasangan gas media secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau di atas langit-langit. untuk itu harus dibuat ruang antara. yang terdiri dari beberapa fasilitas sirkulasi. harus disediakan gelagar (gantungan) lampu bedah dengan profil baja double INP 20 yang dipasang sebelum pemasangan langit-langit Tersedia rak dan lemari untuk menyimpan reagensia siap pakai Ventilasi atau pengawasan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri. c. Khusus ruang operasi. Hubungan dengan ruang scrub–up untuk melihat ke dalam ruang operasi perlu dipasang jendela kaca mati.5 meter. dengan lebar minimal 2. emergency.20 meter dan tinggi minimal 2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat. Penggunaan tangga atau elevator dan lift dilengkapi dengan sarana pencegahan kecelakaan seperti alarm suara dan petunjuk penggunaan yang mudah dipahami oleh pemakainya atau untuk lift 4 (empat) lantai harus dilengkapi ARD (Automatic Rexserve Divide) yaitu alat yang dapat mencari lantai terdekat bila listrik mati.70 meter dari lantai.70 meter dari lantai. B. berwarna terang. ruang gawat darurat. Khusus untuk ruang bedah ortopedi atau transplantasi organ harus menggunakan pengaturan udara UCA (Ultra Clean Air) System Tidak dibenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar. dan tinggi minimal 2. mudah dibersihkan. untuk setiap ruang operasi yang terpisah dengan ruang lainnya. kedap air. Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah. Lebar pintu minimal 1.10 meter. dan tinggi minimal 2. 85 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dan ambang bawah jendela minimal 1. Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis. dan ruang patologi dengan ketentuan sebagai berikut : Dinding terbuat dari bahan porslin atau vinyl setinggi langit-langit. dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus. Tata Sirkulasi Sirkulasi Internal Sistem sirkulasi di dalam bangunan adalah pengaturan hubungan antar fungsi ruang yang saling terkait. Fasilitas selasar/koridor penghubung antar ruang tindakan.

Dilengkapi dengan pintu darurat yang dapat dijangkau dengan mudah bila terjadi kebakaran atau kejadian darurat lainnya. Fasilitas selasar/koridor services dan utilitas Kualitas sirkulasi dibedakan di dalam pengelompokan. sirkulasi kendaraan pemadam kebakaran. administrasi. b. Sirkulasi barang dan servis. c. e. b. sehingga memudahkan hubungan dan komunikasi antar ruangan serta menghindari risiko terjadinya kecelakaan dan kontaminasi f. operasi pemeliharaan IPAL dan incenerator. dengan penerangan cukup di malam hari dan dilengkapi signage yang jelas. yaitu: a. Sirkulasi staf. Fasilitas selasar/koridor penghubung antar massa bangunan g. Pemisahan akses ini dibuat untuk memudahkan akses menuju ke Unit Gawat Darurat dan VK tanpa diganggu oleh sistem sirkulasi publik menuju ruang-ruang fungsional lain dalam rumah sakit Sirkulasi eksternal ditunjang oleh area parkir serta dropping zone. yaitu sirkulasi yang digunakan untuk distribusi mobilisasi barang atau logistik. yaitu: a. c. Meminimalkan himpitan dan tumpang tindih (overlaid) antara sirkulasi medik dengan services. d. yaitu akses karyawan medik maupun non-medik menuju zona aktivitas.d. Dalam kondisi luar biasa yaitu bila terjadi gawat darurat massal maka keempat area dropping tersebut bisa digunakan secara bersama-sama untuk menghindari terjadinya antrian panjang. Sirkulasi umum. Sirkulasi eksternal memiliki prinsip mengoptimalkan akses dari jalan utama. Direncanakan area tersebut terlindung dari hujan panas. b. Sirkulasi medik. yaitu sirkulasi oleh pengunjung umum dari luar menuju ke poliklinik. terdiri dari drop-off bahan di instalasi gizi. Karakter sirkulasi ini cepat dan bebas hambatan. Sirkulasi umum. yaitu sirkulasi yang digunakan oleh pengunjung umum dengan berbagai keperluan di dalam rumah sakit. Persyaratan ketat sirkulasi adalah: a. pusat diagnostik atau besuk ke rawat inap. dan fungsi-fungsi pemeliharaan. c. rawat jalan dan rawat inap. Dropping zone paling penting adalah naik turunnya pasien dari kendaraan pengangkut. Sirkulasi dari dan ke gawat darurat mempunyai skala prioritas tertinggi dibanding sirkulasi lain. Pembagian ruangan dan lalu lintas antar ruangan didisain sedemikian rupa dan dilengkapi dengan petunjuk letak ruangan. Sirkulasi barang dan servis. 86 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . yaitu akses langsung menuju IGD. Sistem sirkulasi eksternal dipisahkan antara sirkulasi menuju Unit Gawat Darurat dan VK dengan sirkulasi menuju diagnostik. Sirkulasi Eksternal Merupakan perencanaan sirkulasi diluar bangunan. Meminimalkan terjadinya himpitan tumpang tindih antara sirkulasi medik dengan kelompok sirkulasi lain. Ada 4 zona dropping terpisah. yaitu sirkulasi yang digunakan oleh staf medik rumah sakit dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan kesehatan. Sirkulasi eksternal rumah sakit dibedakan dalam pengelompokan yaitu: Sirkulasi gawat darurat.

Selain itu unsur luar yang turut mempengaruhi kenyamanan pandangan yang harus diselesaikan secara teknis adalah wujud obyek yang di pandang. o Ruang pasien/bangsal harus disediakan penerangan umum dan penerangan untuk malam hari dan disediakan saklar dekat pintu masuk. Intensitas cahaya yang tinggi diberikan pada area-area yang aktivitasnya membutuhkan konsentrasi dan memiliki resiko bahaya yang lebih dibanding ruangan lainnya. o Semua ruang yang digunakan baik untuk bekerja ataupun untuk menyimpan barang/peralatan perlu diberikan penerangan. lantai dan funiture. d. pencahayaan dikelompokkan menjadi 2 (dua) jenis. b. o Menghindari bahan-bahan yang dapat mengakibatkan silau (glare) pada pintu. e. Seperti pada ruang pemeriksaan dan pengolahan sampel di laboratorium. dan ruang-ruang yang memiliki fungsi sebagai ruang tindakan dan operasi. yaitu di atas 100 fc (footcandles). sekitar individu ditempatkan pada titik yang mudah dijangkau dan tidak menimbulkan berisik ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 87 . atau penyinaran alam (daylight) dan penyinaran buatan (artificial illumination). Beberapa prinsip mengenai pencahayaan buatan pada rumahsakit adalah sebagai berikut : o Intensitas cahaya pada tiap ruangan hendaknya dapat diatur dengan mudah o Perbedaan intensitas cahaya yang gradual akan sangat membantu pasien untuk beradaptasi terhadap ruang yang akan dituju. dinding. Oleh karena itu diperlukan ruang-ruang transisi untuk menuju ruangan dengan intensitas cahaya yang berbeda. Sehingga dasar yang dijadikan konsep perencanaan pencahayaan adalah : 1. Pencahayaan yang memadai pada area publik dapat meningkatkan rasa aman. 3. sehingga kenyamanan dapat tercapai. Pada area-area publik yang penting seperti ruang receptionist. Untuk menciptakan Iingkungan yang sesuai dan menyenangkan. c. pendaftaran. Pada hakikatnya. o Lingkungan rumah sakit. Dua faktor utama di dalam konsep perencanaan pencahayaan adalah (1) tingkat kekuatan penyinaran (quantity) dan (2) pengontrolan silau (quality). Untuk mendukung fungsi keamanan. jendela. ruang racik instalasi farmasi. dan lobby direncanakan kuantitas pencahayaan yang lebih. yaitu: pencahayaan buatan dan pencahayaan alami. Aspek Fisika Bangunan Pencahayaan Secara teknis. latar belakang obyek dan kondisi fisiologis mata. Penggunaan beberapa lampu dengan intensitas rendah lebih baik daripada satu lampu dengan intensitas tinggi. 2. konsep perencanaan pencahayaan adalah pengaturan efek sinar yang sesuai terangnya dan tidak menyilaukan.a. Untuk mendukung visual task dan kegiatan pengguna bangunan. Dropping untuk fasilitas Kantor dan Pendidikan Dropping untuk fasilitas Gawat Darurat Dropping untuk fasilitas Poliklinik Dropping untuk fasilitas Rawat Inap Dropping untuk fasilitas Servis C. o Sumber-sumber cahaya hendaknya dilindungi untuk meminimalisasi cahaya menyilaukan dan temperatur yang tinggi. baik dalam maupun luar ruangan harus mendapat cahaya dengan intensitas yang cukup berdasarkan fungsinya.

orientasi bangunan terhadap arah sinar matahari dan angin. Pergantian udara dalam ruang dikatakan baik apabila untuk ruangan dengan dimensi 5 m3 /orang. tata hijau lingkungan mempengaruhi seberapa besar atau seberapa kecil panas/kalor yang diserap atau dikeluarkan untuk menciptakan suhu nyaman bagi pengguna yaitu berkisar 25º-26º C. Tinggi intake minimal 0. dan frekuensi pergantian udara per jam adalah 2 (dua) sampai dengan 12 kali. Ruangan dengan volume 100 m3 sekurang-kurangnya 1 (satu) fan dengan diameter 50 cm dengan debit udara 0. hendaknya diletakkan sejauh mungkin. Salah satu strategi untuk mengendalikan kelembaban udara dalam ruang yaitu dengan mempercepat proses penguapan. perawatan bayi. aliran udara. dan kelembaban nyaman bagi pasien dan karyawan.50 meter dari exhauster atau perlengkapan pembakaran. laboratorium.nan (exterior noise/airborne noise). Hal ini dicapai dengan mengoptimalkan aliran sirkulasi udara (ventilasi). perlu mendapat perhatian yang khusus karena sifat pekerjaan yang terjadi di ruang-ruang tersebut.5%. Semakin kecil rasio ruang perorang. hendaknya dipelihara dan dioperasikan sesuai buku petunjuk sehingga dapat menghasilkan suhu. diambil dekat langitlangit dan exhaust dekat lantai. Ventilasi diperoleh dengan memanfaatkan perbedaan bagian-bagian ruangan yang berbeda suhunya. dan exhaust fan hendaknya diletakkan pada ujung sistem ventilasi. Pengendalian pertukaran udara. dan karena berbeda tekanan udaranya. Kelembaban udara yang nyaman bagi tubuh adalah sekitar 40-70%. Suplai udara dan exhaust hendaknya digerakkan secara mekanis. minimal 7.9 meter dari atap.10 mbar) dibandingkan ruang-ruang lain di rumah sakit.1-0. Penghawaan Konsep pengolahan dan pengendalian udara (penghawaan) pada ruang pada hakekatnya terdiri dari tiga hal yaitu: pengendalian kalor/panas dan suhu serta penggunaan bahan material bangunan (jenis. udara dalam ruang harus diganti 5 kali per jam.Penggunaan sunshading dapat digunakan untuk mereduksi pencahayaan alami di sisi Barat dan Timur. frekuensi pergantian udara semakin tinggi. ruang operasi. Suplai udara di atas lantai. pengendalian kelembaban udara. Menggunakan pengatur udara (AC) sentral harus diperhatikan cooling tower-nya agar tidak menjadi perindukan bakteri legionella dan untuk AHU (Air Handling Unit) filter udara harus dibersihkan dari debu dan bakteri atau jamur. tekstur). perawatan bayi. Suplai udara untuk daerah sensitif.50 cm dari lantai. Persyaratan penghawaan untuk masing-masing ruang atau unit seperti berikut : Ruang-ruang tertentu seperti ruang operasi. Sistem suhu dan kelembaban hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga dapat menyediakan suhu dan kelembaban Penghawaan atau ventilasi di rumah sakit mendapat perhatian yang khusus. Pengambilan supply udara dari luar. 88 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Kesegaran udara dalam ruang serta kesehatannya diukur dengan besarnya kadar zat asam (CO2) tidak melebihi 0. Ventilasi ruang operasi harus dijaga pada tekanan lebih positif sedikit (minimum 0. hendaknya disediakan 2 (dua) buah exhaust fan dan diletakkan minimal 7. dan perlu diupayakan sedemikian rupa sehingga mudah dalam perawatannya. Bila menggunakan sistem pendingin. Sistem hendaknya dibuat keseimbangan tekanan.5 m3/detik. kecuali unit ruang individual. zat pelapis/cat (warna).

lubang ventilasi diupayakan sistem silang (cross ventilation) dan dijaga agar aliran udara tidak terhalang. Kualitas Udara Ruang sebaiknya : Tidak berbau (terutana bebas dari H2S dan Amoniak) Kadar debu (particulate matter) berdiameter kurang dari 10 micron dengan rata-rata pengukuran 8 jam atau 24 jam tidak melebihi 150 ug/m3. trietylin glikol). atau disaring dengan elektron presipitator atau menggunakan penyinaran ultra violet. Untuk mempelajari sistem ventilasi sentral dalam gedung hendaknya mempelajari khusus central air conditioning system. pemulihan Endoscopy. Ventilasi ruang-ruang sensitif hendaknya dilengkapi dengan saringan 2 beds. debu. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Pengendalian Kebisingan Konsep pengendalian kebisingan ditujukan untuk mengatasi kebisingan dari dalam bangunan (interior noise/impact noise) dan dari luar bangu Indeks Kebisingan Menurut Jenis Ruangan atau Unit No Ruangan atau Unit Kebisingan Max (Waktu pemaparan 8 jam dalam satuan dBA) 1 Ruang Pasien: -saat tidak tidur -saat tidur 45 40 89 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Ruang Operasi umum Anestesi.00 meter di atas lantai atau minimum 0.20 meter dari langitlangit. Penghawaan ruang operasi harus dijaga agar tekanannya lebih tinggi dibandingkan ruang-ruang lain dan menggunakan cara mekanis (air conditioner) Penghawaan mekanis dengan menggunakan exhaust fan atau air conditioner dipasang pada ketinggian minimum 2. Saringan I dipasang di bagian penerimaan udara dari luar dengan efisiensi 30 % dan saringan II (filter bakteri) dipasang 90 %. toilet. Penghawaan alamiah. Lab Sinar X Koridor Tangga/Ramp Kantor / Lobby Ruang alat/Gudang Farmasi Dapur Ruang cuci Ruang Isolasi Ruang Poli gigi 45 45 65 40 40 45 45 45 45 78 78 40 80 . Untuk mengurangi kadar kuman dalam udara ruang (indoor) 1 (satu) kali sebulan harus disinfeksi dengan menggunakan aerosol (resorcinol. Pemantauan kualitas udara ruang minimum 2 (dua) kali setahun dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan parameter kualitas udara (kuman. gudang.- - - - Suplai udara koridor atau buangan exhaust fan dari tiap ruang hendaknya tidak digunakan sebagai suplai udara kecuali untuk suplai udara ke WC. dan tidak mengandung debu asbes. dan gas).

Massa bangunan menerapkan sistem modulor dengan fleksibilitas yang cukup untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan aktivitas yang diwadahi. yaitu menggunakan bahan finishing dinding dan sistem konstruksi yang mudah dibersihkan. namun diperoleh mutu konstruksi yang baik serta penyelesaian fasad arsitektural yang memadai untuk mewujudkan citra kelas pelayanan prima. sehingga penyelesaian pengendalian kebisingan diupayakan melalui elemen interior seperti dinding atau partisi di mana untuk rumah sakit paling tidak harus dapat meredam bunyi dengan frekuensi 40 dB . karet. vinyl dapat digunakan sebagai bahan lantai yang sesuai untuk kursi roda dan stretcher. terutama di toilet. kayu. Konsep yang digunakan untuk mengatasi masalah kebisingan adalah mengolah tata letak dan perencanaan interior. Di sisi lain. Bahan Bangunan Pemanfaatan material tetap mengutamakan segi ekonomis melalui penggunaan bahan bangunan yang umum dan mudah didapat. tidak menyimpan debu atau kotoran dan warna yang dipilih adalah warna hangat untuk menunjang suasana penyembuhan. Lantai dengan lapisan karet adalah bahan yang paling ideal untuk menghindari selip. Keramik dengan tekstur atau berukuran kecil dengan banyak joint lebih baik dari pada keramik polos. sehingga modul mengikutinya. seperti keramik hendaknya dikombinasi dengan tekstur agar tidak terlalu licin. Kebisingan juga dapat dihindari dengan tidak menggunakan bahan-bahan logam pada furniture D. Bahan Lantai Untuk menentukan bahan lantai perlu dihindari bahan-bahan yang licin untuk menghindari selip. Bahan lantai dengan kandungan vinyl lebih tahan terhadap abrasi. baik pada lantai maupun dinding dapat mereduksi kebisingan sampai 70%. Penggunaan material yang licin.Ketentuan pemerintah melalui Permenkes telah menetapkan tingkat kebisingan yang diijinkan untuk sebuah pelayanan kesehatan seperti rumah sakit yaitu antara 35 dB sampai 45 dB. 1985). Penggunaan ceiling yang tepat juga dapat mereduksi kebisingan terutama dari lantai ke lantai. Sistem Pondasi Sistem pondasi yang digunakan tergantung dari karakter dan kemampuan daya dukung tanah di lahan Rumah sakit yang direncanakan Dinding Interior Dinding ruang daIam diupayakan tetap mengutamakan segi kesehatan. Bahan-bahan seperti keramik. Struktur Bangunan Modul dan Ukuran Bangunan Ukuran bangunan menggunakan standar bangunan rumah sakit yang tergantung pada aktivitas (utama) kegiatannya. karena mempunyai daya tarik lebih besar sehingga menghindarkan selip 90 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .45 dB (Sinha. Penggunaan material seperti karpet. perencanaan tata massa bangunan juga berperan dalam pengendalian kebisingan. pemilihan material bangunan serta finishing dinding sedemikian rupa yang dapat mendukung pengendalian kebisingan tersebut. Pada ruang tertentu yang telah diatur sesuai dengan standar persyaratan maka kualitas dinding menuruti aturan dalam standar tersebut.

Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan. sebaiknya pintu dapat berayun dari dua arah. Gagang pintu sebaiknya berada pada ketinggian 90 cm dari lantai sehingga mudah dicapai orang dari kursi roda maupun anak-anak. Kombinasi material penutup atap dipakai laminated glass ataupun fiberglass untuk kepentingan memasukkan cahaya dalam ruang. Pada ruangan-ruangan yang penting.memeriksa akurasi bentuk satuan genteng . Untuk keamanan. Aspek Tata Interior Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam tata interior adalah pencahayaan. Bahan Atap Hal Iain yang perlu diperhitungkan adalah penanggulangan masalah kebocoran pada waktu hujan. 91 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Pintu dan Jendela Lebar pintu dengan satu daun berkisar antara 80-90 cm agar kursi roda dapat masuk ke dalam ruangan. Untuk memudahkan pengguna kursi roda. Untuk menciptakan karakter hangat dalam ruangan. sehingga dapat dengan mudah dibuka tutup dari dua sisi ruangan. pasien dengan kursi roda lebih nyaman berada di ruangan yang memiliki ceiling rendah.memeriksa kualitas genteng.memperhitungkan kemiringan atap . Lebar pintu ini untuk mengantisipasi masuk keluarnya stretcher. dan orang di kursi roda. Beberapa ruang dalam rumah sakit perlu mendapat perhatian mengingat penggunanya adalah pasien yang mengalami gangguan kesehatan. Prinsip yang digunakan dalam merencanakan interior ruang adalah dengan membedakan karakter ruang yang hangat dan dingin. Karakter ruang yang diciptakan juga harus mendukung usaha penyembuhan sang pasien. sangat sulit untuk membuka dua daun pintu. lobby. E. Jendela harus dapat dibuka dan ditutup oleh anak-anak. disamping itu. dan material. Bahan karet dapat menghindarkan selip. minyak dan alkali. Karakter hangat dapat diterapkan pada ruang-ruang yang bersifat publik. pintu yang digunakan adalah pintu dua daun dengan lebar bersih minimal 120 cm. Ujung frame yang berbahaya hendaknya diberi pengaman semacam karet. orange pada unsur-unsur interior seperti dinding dan lantai. .6 (0. Lebar daun pintu harus dapat mengakomodasi perpindahan stretcher dan furnitur di dalam ruangan. Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah. Ketiga hal tersebut saling terkait dalam membentuk karakter ruang yang diinginkan. maka satu daun pintu minimal mempunyai lebar 80-90 cm. dimensi. Ceiling yang lebih rendah dapat membuat ruangan lebih cozy dan tidak formal. Penutup plafon sebagai komponen atap menggunakan bahan kedap suara dan mampu menjadi sekat api (fire proofing). tahan terhadap abrasi. serta ruang-ruang yang digunakan sebagai area terapi dan penyembuhan.8 untuk ramp) dalam keadaan basah maupun kering. dapat menggunakan warnawarna seperti krem. dalam hal ini jendela geser lebih efisien. akan tetapi bahan karet tidak direkomendasikan pada dapur dan ruang operasi. Bagi pasien berkursi roda. seperti ruang tunggu. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan kenyamanan privacy serta keselamatan bangunan.memberi Iapisan plastik atau aluminium foiI pada bagian daIam atap . jenis jendela yang dianjurkan adalah jendela yang tidak mudah digerakkan oleh angin.Bahan-bahan yang dapat dikatakan anti selip adalah bahan-bahan yang mempunyai koefisien pergeseran minimal 0. yaitu dengan cara: . Bahan yang memenuhi kriteria ini adalah karet.

F. Sistem ini memungkinkan petugas untuk memonitor segala sesuatu yang terjadi dalam waktu 24 jam.Tekstur dan warna sangat mempengaruhi kesan pengguna ruangan terhadap ruangan. yaitu aktif dan pasif. Perbedaan yang kontras antara dinding dan lantai dapat membantu mengidentifikasi batas. Oleh karena itu. karena dapat memecah konsentrasi dan orientasi. Pintu hendaknya berwarna kontras untuk memudahkan way finding pada saat kebakaran. Sedangkan. Pembatasan tekstur dan warna perlu dilakukan untuk membantu pasien gangguan jiwa yang sensitif. Ruangan berkarakter hangat dapat membuat pengguna didalamnya merasa waktu berjalan lebih lambat. Minimalkan penggunaan cermin. karakter dingin sangat sesuai digunakan pada ruang-ruang operasi. terutama pada malam hari. di dalam ruangan yang berkarakter dingin. Karakter dingin dapat dibentuk dari warna lighting. 92 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Sistem keamanan pasif didapat penataan lansekap dan pencahayaan luar ruangan yang memadai pada areaarea yang kritis. waktu seakan berjalan cukup cepat. Sistem keamanan pada perencanaan fisik juga mencakup sistem pengamanan bahaya kebakaran yang terkait dengan usaha evakuasi. Aspek Keamanan dan Evakuasi Sistem pengamanan pada rumah sakit direncanakan menggunakan dua sistem. warna material serta furnitur yang ada di dalamnya. Sistem keamanan aktif dapat menggunakan sistem monitor video (CCTV) yang diletakkan pada area-area yang kritis.

Ruang pelayanan didasarkan pada persyaratan tertentu sehingga tidak semua ruang bisa mengalami alih fungsi. d. Bangunan gedung bisa diasumsikan sebagai alat produksi. ataupun perkembangan dalam rekayasa teknik termasuk perkembangan bahan bangunan.Pentahapan struktur bangunan harus didasarkan pada perencanaan beban maksimal serta ketinggian struktur gedung tertentu. Kapasitas alat produksi yang lebih besar dari pada penjualan akan mengakibatkan inefisiensi.BAGIAN 3 ISU KONTEMPORER ARSITEKTUR RUMAH SAKIT pendekatan-pendekatan yang merespon isu kontemporer Perkembangan jasa layanan medis tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan jaman dimana berbagai isu kontemporer muncul dari waktu ke waktu. e. Pada bab ini akan dibahas tentang pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan dalam menanggapi beberapa isu kontemporer.Usia teknis bangunan dan infrastruktur diperhitungkan 25 tahun sesuai syarat dalam Keciptakaryaan. Terkait dengan fasilitas. Inefisiensi secara langsung akan menghasilkan biaya produksi tinggi yang lambat atau cepat akan menggulung lapangan bisnis kita. b. tuntutan konservasi bangunan dalam status benda cagar budaya dengan adaptasi fungsi baru. performa fisik bangunan beserta lingkungan terhadap kemudahan pemeliharaan dan biaya. Dalam rumusan tersebut telah mewadahi kebijakan manajerial terkait dengan pentahapan serta investasi. 1. Kesesuaian Besaran Fasilitas terhadap Okupansi Pelayanan Strategi penting adalah rumusan besaran dan jenis layanan dalam perspektif Renstra Rumah Sakit. c.Pentahapan pelaksanaan sistem infrastruktur harus didasarkan pada rancangan sistem keseluruhan yang matang. Isu kontemporer misalnya besaran fasilitas sesuai tingkat okupansi yang memungkinkan pertumbuhan. Kapan harus memperluas bangunan sebagai tuntutan penambahan jenis atau kapasitas pelayanan dan sebaliknya kapan harus menunggu. adanya tuntutan performa gedung sesuai dengan kelas layanan. akibat pergeseran karakter pelayanan merespon dinamika teknologi medik. maka beberapa hal ini harus menjadi pertimbangan yaitu: a.Semua komponen struktur bangunan adalah tetap (fix) . ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 93 . Untuk itu sangat diperlukan penanda arah dan waktu. Isu tersebut muncul dalam relasi desakan strategis pertimbangan pengelolaan. konservasi lahan dan konservasi energi untuk kepentingan pelestarian dan keberlangsungan adalah sebagian isu-isu mutakhir yang mengemuka dasawarsa ini. Secara prinsip gedung beserta infrastruktur penunjangnya sebagai aspek fisik akan mengikuti strategi non fisik. Namun secara langsung investasi pembangunan gedung menjadi salah satu komponen utama perhitungan biaya yang harus dikalkulasi dengan cermat tingkat pengembaliannya.

Oleh karena itu pahami dan putuskan secara strategis. 94 2. Bahan yang tepat bahkan tidak saja menjadi penyekat ruang namun sekaligus sebagai peredam suara dengan fleksibilitas yang baik untuk dipasang vertikal sebagai komponen dinding atau horisontal sebagai komponen plafon. Arsitektur Rumah Sakit yang Memiliki Kelas Layanan Isu ini lebih mengarah pada kepentingan bertemunya aspek perencanaan fasilitas terhadap strategi meraih segmen pasar bisnis. plat beton. Misalnya Rawat Jalan akan membutuhkan mutlak sarana prasarana diagnostik seperti pula rawat inap memerlukan instalasi rawat darurat dalam kapasitas yang tepat. Semakin banyak aspek positif ditemukan oleh pembeli dari produk layanan akan semakin baik bagi penyedia.Rencanakan dan laksanakan pemeliharaan rutin.Laksanakan pembangunan jika sarana prasarana penting telah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Sistem dan jenis pondasi sesuai dengan daya dukung tanah serta besar beban yang disalurkan. dan spesi yang memiliki daya rekat baik dengan berat lebih ringan dengan nama dagang antara lain mortar utama. Implikasi jika okupansi terlalu tinggi maka kualitas pelayanan akan turun seiring dengan penurunan sanitasi dan daya dukung gedung.Rehabilitasi gedung termasuk sarana prasarananya b.Laksanakan pembangunan gedung jika okupansi telah tinggi (>70%). Dalam perkembangan bahan bangunan memungkinkan dipilih material dinding ringan permanen (hebel) sehingga bisa mengurangi beban yang harus didukung oleh struktur bangunan atas. Dalam ilustrasi tersebut diatas dituntut pemahaman teknis sebaik pertimbangan manajemen strategik. renovasi dan perbaikan secara mutlak harus dengan anggaran belanja yang lebih rendah sekitar maksimal 2/5 biaya pembangunan konstruksi baru. Pondasi merupakan komponen bangunan terbawah yang meratakan dan atau menyalurkan beban.Oleh karena itu hal apa yang bisa menjadi pertimbangan pengelola dan pembuat kebijakan untuk fasilitas kesehatan diantaranya adalah: a. Secara prinsip seluruh beban diatas tanah akan disalurkan kebawah oleh sistem struktur serta dilandaskan ke tanah keras.Laksanakan pembangunan gedung jika instalasi baru tersebut merupakan instalasi vital yang mempengaruhi kinerja unit pelayanan lain. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . c. Sehingga hindarkan penambahan beban struktur baru disemua sistem struktur lama kecuali ekstensi yang telah diperhitungkan dari awal. Jika prinsip prasyarat diatas belum ada. balok beton. b. Selain itu adanya produk lapisan ringan dengan kemudahan aplikasi serta kekuatan untuk menjadi partisi ruangan sangat bermanfaat. d.Konsolidasi keruangan dalam konsep renovasi atau rehabilitasi Rehabilitasi.Secara keuangan agenda pembangunan konstruksi baru bisa diagendakan setelah 6-7 bulan kecuali pertimbangan khusus. Selain itu didukung adanya produk khusus adukan. Maka sedikit banyak perlu memahami komponen utama struktur bangunan yaitu pondasi. Besaran beban yang melampaui daya dukung tanah dan pondasi akan menyebabkan rusaknya pondasi. acian. Masih banyak lagi dukungan kemajuan teknologi bahan yang mendukung kebutuhan di lapangan.Laksanakan perbaikan dalam kerangka pemeliharaan c. kolom. e. maka yang bisa dilaksanakan adalah: a. Kenyataan yang terjadi adalah kondisi fasilitas sangat mempengaruhi calon pembeli dan keputusanya. Kesesuaian besaran investasi fasilitas terhadap skenario aliran kas sehingga bisa diperoleh stabilitas kondisi keuangan secara umum.

tuntutan tersebut tidak sulit untuk diwujudkan. Salah satu komponen bangunan yang membentuk citra layanan adalah penutup lantai. Sedang dari sisi pengelolaan ketidaksesuaian bisa berakibat unit biaya lebih besar dibanding pemasukan. Untuk menyesuaikan pencitraan bangunan terhadap layanan digunakan konsep mengangkat kulit wajah (face-lift). Homogenitas tersebut membuat lebih kuat dan hasil tanpa pori-pori. b. Bahan yang mendukung kebutuhan fasilitas yang bersih dan sehat antara lain plint lantai. Pencitraan yang berlebihan justru berakibat tidak menguntungkan.Hubungan antar unit layanan sesuai dengan kebutuhan kenyamanan pasien sepenting standar medik c. Dukung kondisi bersih melalui rancangan warna dan cahaya. 95 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Kulit baru harus sesuai dengan tuntutan aktivitas ruang dalam dibaliknya. Dalam dinamika perkembangan rekayasa bangunan dan material. Dengan teknologi pembuatan yang baik dihasilkan keramik yang homogen. Penyiasatan beberapa kali berhasil dipraktekkan terutama pada fasilitas Rumah Sakit yang telah terbangun dan layanan telah berjalan. Pencitraan terhadap layanan yang tercipta dari fasilitas harus sesuai dengan kelas sasaran. bahan permukaan serapat mungkin tanpa celah meminimalkan sambungan.Garis rancangan dan pembentuk kulit baru harus sesuai dengan pencitraan layanan (brand image). Lembar material fleksibel memungkinkan dilengkungkan dalam sudut tertentu. Plint lantai merupakan penutup permukaan lengkung antara lantai dan dinding. kemampuan dukung. dan meski tidak terlalu vital yaitu keawetan warna dan kemenerusan produksi tiap tipe. Kemudahan pemeliharaan dan efisiensi bujet akan menjadi penyeimbang keputusan dalam perancangan bangunan Namun disisi lain secara bersamaan tim perancang fasilitas harus menyesuaikan dengan tuntutan meraih segmen pasar yang sesuai. Perkembangan bahan yang mendukung diantaranya lapisan permukaan lantai tanpa celah berbahan vynil dengan ketebalan tertentu. aman. Kondisi tersebut mengakibatkan calon pembeli tidak berani observasi atau spekulasi membeli layanan sehingga berpindah pada alternatif yang sesuai dengan kemampuan dan harapan. Sekaligus kepingan bahan tersebut menghindari munculnya kotor pada permukaan bawah dinding akibat pengepelan lantai. Di pasaran salah satunya dengan nama dagang tajima. Dari dua tuntutan dasar tersebut maka implikasi terhadap fasilitas antara lain: a. dan tidak menangkap debu. Sebagai contoh fasilitas gedung di unit Bedah telah memiliki standard clean room tertentu dengan syarat aliran ruang menyangkut sterilitas. keseragaman dimensi. Bahan yang ada di pasaran penunjang kepentingan tersebut antara lain lembaran aluminium cladding dalam modul tertentu dengan keragaman warna serta teknik dan bahan penggantung rangka hollow.Tuntutan dasar terhadap layanan kesehatan adalah profesional dan bersih.Rancang bahan yang awet.Tata ruang yang sesuai dengan kebutuhan layanan dengan antisipasi terhadap kapasitas maksimal b. Lapisan permukaan anti gores dan anti bakteri menghindari cacat permukaan yang sering tidak dapat dicegah dalam penggunaan alat bergerak. Secara teknis yang menjadi pertimbangan adalah ketebalan bahan. Kebutuhan medik tertentu lebih bersifat mutlak dibanding pertimbangan lainnya. Pertimbangan utama adalah: a. Keragaman produk di lapangan memberi peluang banyak pilihan. Selain itu pertimbangan keamanan pengguna adalah karakter anti selip. ketebalan lapisan permukaan untuk keramik. Aplikasi menggunakan bahan perata dan perekat berlapis menghasilkan permukaan datar. menghindari sudut yang sulit dalam pemeliharaan sampai dengan dukungan kelengkapan infrastruktur yang baku. c.Bahan dan sistem kulit baru tidak boleh merusak atau membebani struktur yang telah ada. Salah satu produk di pasaran menggunakan nama Indogress.

Ataupun penggunaan batu alam dengan treatment tertentu untuk lapisan permukaan anti lumut. perubahan warna cat dinding dalam komposisi yang baik akan menghasilkan perubahan citra bangunan.. 3. Perbedaan tuntutan salah satunya disebabkan oleh skala. Material didukung oleh kehandalan pantauan pabrik yang ketat dalam syarat kondisi bidang aplikasi membuat hasil pengecatan yang baik. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 96 4. Oleh karena semua bahan bangunan memiliki dimensi modul yang sama atau hampir sama disetiap jenisnya. anti jamur atau noda. Disisi lain pertimbangan kelengkapan alat pendukungnya. Hal kecil yang perlu dipertimbangkan juga adalah efisiensi penggunaan bahan terhadap rancangan. pilihan material bangunan dipertimbangkan dalam aspek ketahanannya. Perkembangan teknologi dan bahan pembentuk cat memudahkan dalam memperoleh perlindungan dinding. anti jamur. Apakah bangunan. Arsitektur Rumah Sakit yang merespon Konservasi Cagar Budaya dan Beradaptasi dengan Fungsi Baru Beberapa bangunan memiliki status sebagai benda cagar budaya. Setelah itu perlu dirumuskan ketepatan tindakannya. dan pemanfaatan. lingkungan saja atau bahkan distrik hingga kawasan sekitar rumah sakit. Kesalahan dalam desain akan menjadi beban biaya seumur bangunan beroperasi. dengan demikian perlu pengkondisian udara buatan yang harus diperhitungkan dalam bujet konsumsi listrik. maka penggunaan ukuran dengan perhitungan kelipatan akan tidak menyisakan bahan bangunan. Sebagai contoh komponen atap bangunan pada gedung bertingkat sedang hingga tinggi. Namun teknik pengecatan tersebut masih memungkinkan diaplikasikan pada permukaan dinding luar bangunan untuk menghasilkan citra alami. Bangunan yang merupakan benda cagar budaya secara status diikat oleh Undang-undang Cagar Budaya. bangunan dan lingkungan. Perlu secara pasti memahami ruang lingkup pelestarian. jangkauan pengamatan. Pemeliharaan menyangkut rincian kualitas permukaan yang berhubungan dengan kondisi ruang. Untuk itu secara fungsional perlu dipilih bahan yang tahan lama. segmen tidak mudah lepas. Sebagai contoh aplikasi pengecatan bertekstur pada ruang dalam sebaiknya dihindari karena permukaan tersebut menuntut bebas debu sehingga tidak tepat mengaplikasikan jendela hidup disisi lain. lapisan tertentu yang menghambat kemenerusan pandangan. Sebagai contoh dalam produk di pasaran dengan nama Jotun. Kemudahan pemeliharaan antara lain dengan pertimbangan ada tidaknya sistem yang bisa menjangkau komponen bangunan secara mudah. anti noda. Kualitas cat yang baik dengan kandungan anti lumut dan bakteri bisa mencegah turunnya kualitas permukaan dinding. Salah satu yang mempengaruhi usia teknis bahan adalah ketepatan dalam pengkondisian seperti yang dipersyaratkan. Terkait dengan biaya. . Performa Fisik Bangunan dan Lingkungan Terhadap Kemudahan Pemeliharaan dan Biaya Kemudahan pemeliharaan merupakan faktor penting dalam pertimbangan desain. lapisan dan teknik tertentu menghindari pecah serpih. serta mempunyai daya dukung tinggi. Pada sebagian kota bahkan telah diterbitkan list gedung-gedung yang masuk dalam kategori Cagar Budaya. Bahkan dalam rancangan yang ekonomis. lapisan anti bakteri. Sangat penting untuk dipahami pembedaan tuntutan bagi ruang luar dan ruang dalam. Perubahan suhu serta perbedaan kelembaban akan berpengaruh terhadap fisik bahan. penutupan pori-pori yang sempurna.Atau bahan kaca dengan warna beragam yang terus mengalami peningkatan karakter antara lain tidak meneruskan sinar UV.

Bahan (materials). 5. Namun dengan perkembangan bahan bangunan. Bisa dilaksanakan injeksi waterproofing secara merata pada dinding diatas lantai. dan Kesinambungan (continuity). b. Berkelanjutan artinya tidak saja memikirkan keperluan saat ini namun mempertimbangkan lingkungan tempat hidup bagi generasi mendatang. c. Dengan demikian tidak menutup kemungkinkan dilaksanakan pembangunan gedung baru diantara aset cagar budaya dengan menjawab tolok ukur kesesuaian sebagai berikut: Gaya (style). Artinya aset cagar budaya yang lestari tidak saja secara fisik namun juga pemanfaatan gedung tersebut dalam fungsi baru yang tanggap terhadap perkembangan dan sesuai dengan guna ruang dominan sekitarnya. Kegunaan (function). e.Secara prinsip tindakan pelestarian lebih tepat untuk ditekankan pada keberlangsungan bangunan terkait dengan kehidupan. Sebagian besar atau semua sistem struktur gedung cagar budaya tidak menggunakan beton rangka namun dinding penyangga beban. sehingga semua komponen bangunan adalah bagian dari sistem struktur .Susun rencana teknis dan detil perancangan e. Jika kita kaji tindakan konservasi lahan secara prinsip erat berhubungan dengan upaya pelestarian energi karena secara langsung atau tidak akan mempengaruhi kondisi lingkungan. Termasuk pula semaksimal mungkin mempertahankan profil muka tanah alami. lahan dan infrastruktur b. d. warna. Selain itu sistem jaringan lama tidak lagi efisien terhadap beragam kepentingan baru. Untuk itulah salah satunya kepatuhan dalam angka maksimal lahan boleh tertutup (building coverage) serta kepadatan terkait dengan total luas lantai menjadi harga mutlak.Implementasi rencana Secara prinsip teknis yang harus dipahami adalah: a. Salah satu produk di pasaran yang melaksanakan hal tersebut adalah Fentura Windows. Tindakan dan metode dalam penanganan pelestarian bangunan dan lingkungan adalah: a.Usia menyebabkan kemungkinan jaringan infrastruktur tidak layak digunakan lagi.Konsultasikan rencana tindakan pelestarian ke Balai Pelestarian Bangunan Cagar Budaya yang ada di provinsi d.Akibat belum aplikasi teknik beton kedap air membuat sebagian dinding lembab akibat kapilerisasi air tanah.Rata-rata memiliki level plafon yang tinggi sehingga memungkinkan dilaksanakan penataan ruang dalam sesuai dengan adaptasi fungsi baru sekaligus memperoleh efisiensi volume ruang. dimensi bisa dilaksanakan dengan bahan baru dan teknologi baru. Komponen bangunan rata-rata unik sulit bahkan tidak lagi diproduksi kecuali dalam pemesanan khusus. Konversi Lahan dan Konversi Energi Pembangunan berkelanjutan merupakan semangat yang melekat di era ini. 97 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . membangun dan mencukupi kebutuhannya.Inventarisasikan secara lengkap seluruh aset bangunan. . adaptasi garis desain. Rencanakan pemanfaatan lahan yang tepat dengan ruang terbuka yang memadai tertanami oleh pohon yang sekaligus memiliki peran neka guna. Kriya (workmanship). Misalnya tuntutan adaptasi detil pada pintu jendela termasuk teknik penggantungan berpeluang untuk diaplikasikan pada bahan baru. Salah satunya mengandung arti bagaimana pembangunan dapat berjalan tanpa melampaui ambang batas daya dukung lingkungan saat ini tanpa mengurangi hak generasi mendatang untuk hidup. Untuk itu diperlukan kecerdasan dalam merancang hubungan antar fungsi serta distribusi fungsi yang efisien serta nyaman. Syarat keamanan lingkungan terpenuhi akan berakibat positif pada stok air tanah serta penjagaan kualitas lingkungan dari polusi.Kajian delineasi dan status bangunan beserta lingkungannya c.

udara bersih. pengelolaan limbah cair sehingga faktor infeksi tidak mencemari lingkungan serta eksplorasi air tanah secara bijaksana. rumah sakit merupakan salah satu fungsi yang membutuhkan dukungan energi tinggi. bangunan gedung rumah sakit harus tetap berdiri dan melaksanakan pelayanan apapun kondisi disekitarnya. api serta suhu panas. air bersih. Arsitektur Rumah Sakit yang Tanggap Bencana Melihat adanya potensi gempa di tanah air maka dalam bangunan rumah sakit harus tanggap terhadap potensi yang ada dan kemungkinan terjadi. tanah sehat. jumlah dan sebaran serta bahan bangunan yan tepat. 6. Hal tersebut antara lain: kinerja alat deteksi asap. Sumberdaya tersebut antara lain: listrik. hidran atau lain sebagai bagian dari sistem pengendalian kebakaran. Perhitungan pembebanan dalam perencanaan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) didukung kesempurnaan dalam pelaksanaan menjadi aspek metodologi yang dipersyaratkan. sehingga dapat memotong biaya operasional yang harus dikeluarkan.Kondisi mutlak terhadap hasil aktivitas rumah sakit adalah pentingnya pengolahan sampah medik secara khusus. Selanjutnya dukungan terhadap keamanan dan keselamatan pengguna adalah bagian dari peran utilitas mekanikal dan elektrikal. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 98 . Rancangan struktur merupakan aspek penting terhadap keamanan bangunan. maka pertimbangan lokasi menjadi faktor penting. Untuk itu rancangan bangunan beserta sistem penunjangnya diarahkan untuk pemanfaatan yang lestari. memenuhi standar dimensi. Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa telah dikeluarkan dan disosialisasikan oleh Departemen Pekerjaam Umum. lahan yang memiliki jenis tanah sensitif (tanah mengembang). Namun dengan perencanaan yang tepat dan cermat maka waktu kritis bisa terlampaui sebelum memasuki waktu luruh/rusak teknis bahan. Rumah sakit adalah bangunan publik yang secara fungsional mempunyai peran sebagai muara evakuasi korban bencana. Jika tidak dimungkinkan pemilihan lokasi yang lebih baik maka diperlukan sistem pengamanan dengan rekayasa teknis yang tepat. Terkait dengan hal tersebut. Hal tersebut menyangkut jalur evakuasi yang jelas. kualitas tahan tekan beton minimum 175 kg/cm2 dan kekuatan tarik baja 2400 kg/cm2. Hal sederhana yang digunakan sebagai template pada penataan lay-out instalasi rawat jalan/poliklinik pada masterplan Rumah sakit adalah menempatkannya dalam sebuah jejalur paralel yang memungkinkan diletakkannya ruang tunggu di sisi luarnya sehingga ruang tunggu tersebut dapat memanfaatkan bantuan pencahayaan dan penghawaan alami (tidak secara total). Dalam pedoman tersebut telah mengatur metode dan cara antara lain: penempatan dan pengaturan tulangan. ataupun tepi pantai terbuka. Struktur serta bahan gedung harus mempunyai kelenturan atau daktilitas yang baik serta mempunyai daya tahan terhadap kerusakan. Dengan kata lain. Berhubungan dengan konsumsi energi. Semua material bangunan selalu mempunyai spesifikasi teknis yang tidak boleh dilanggar untuk mendapatkan keamanan struktur sehingga perencanaan dan pelaksanaan merupakan kunci utama yang tidak boleh ditinggalkan salah satu. Keamanan lain yang harus diperhitungkan adalah keselamatan pengguna. Dalam segala kondisi pelestarian sumberdaya merupakan hal yang tidak disangkal. sistem penangkal petir yang aman. Pilih lahan yang tidak dekat dengan bahaya seperti misalnya perbukitan rawan longsor. Tidak ada satupun bahan dan sistem yang mengatakan dirinya aman terhadap bencana. bahan bakar untuk operasionalisasi alat catu daya cadangan listrik. teknik sambungan antar komponen balok-plat-kolompondasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful