ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

GRS

KATA PENGANTAR
Melihat dari tipe dasar bangunan, terdapat dua tantangan terbesar dalam industri desain arsitektur yang pertama adalah bandara dan yang kedua adalah rumah sakit. Dua tipe bangunan tersebut menjadi tantangan besar bagi seorang arsitek dan timnya untuk menyelesaikan sebuah rancangan yang dapat bekerja dengan baik dan benar karena bukan hanya unsur estetika, komposisi, pertimbangan keuntungan dan kerugian materi dari sebuah fungsi namun keberhasilan organisasi ruang dan keselamatan banyak manusia menjadi faktor utama penentu sebuah rancangan rumah sakit yang baik. Fisik Rumah Sakit merupakan satu hal yang sangat penting bagi sebuah rumah sakit. Bidang fisik termasuk bangunan dan performansi ruang, tata lansekap, dan infrastruktur pendukung mulai didekati dengan indikator kenyamanan, keindahan, serta keberhasilan pada lingkungan yang kesemuanya membangun citra layanan kesehatan dikelasnya. Bangunan yang indah, fungsional, efisien dan bersih memberikan kesan yang positif bagi seluruh pengguna rumah sakit. Pada dasarnya, fisik rumah sakit juga berhubungan langsung dengan kualitas layanan medik. Indikator keberhasilan bangunan rumah sakit dapat dilihat dari kenyamanan dalam pemanfaatanya sehingga memberikan sumbangan pada proses penyembuhan pasien dan produktivitas pelaku, prosedurprosedur layanan medik dapat terlaksana dengan efektif dan efisien, terjaga dengan mudah kebersihanya. Tuntutan terhadap kinerja dan layanan kesehatan rumah sakit pada saat ini semakin tinggi. Kita tahu bahwa kehidupan dapat bermula dirumah sakit dan begitupun dengan akhir, yang umumnya dilewatkan dirumah sakit pula. Dalam perkembangan layanannya, rumah sakit berhubungan dengan konsumen yang memelukan layanan kesehatan dan tidak hanya diperuntukan bagi pasien yang sakit. Fenomena yang telah dijabarkan diatas menjadi dasar pertimbangan penyusunan buku Arsitektur Rumah Sakit. Buku ini diharapkan mampu menjadi referensi tentang perencanaan, perancangan dan pengelolaan fasilitas fisik rumah sakit yang dapat berguna bagi akademis, mahasiswa, penyedia jasa dan praktisi industri bangunan, penyedia jasa dan pengguna pelayanan kesehatan, pengelola fisik dan manajemen fasilitas kesehatan dan masyarakat pada umumnya. Penyusunan buku ini merupakan respon atas kurangnya referensi buku Arsitektur Rumah Sakit khususnya referensi dalam negeri. Pokok bahasan yang akan ditemukan dalam buku ini adalah berbagai hal yang terkait dengan pedoman dan guidelines perencanaan rumah sakit, perancangan fasilitas, infastruktur bangunan rumah sakit serta strategi pengelolaan dan manajemen fisik perencanaan rumah sakit serta isu-isu kontemporer perencanaan dan perancangan fasilitas fisik rumah sakit. Akhir kata buku ini berhasil disusun tidak lepas dari bantuan bernbagai pihak yang menyumbangkan masukannya baik berupa saran maupun kritikan, dalam forum formal maupun informal. Semoga apa yang ada di dalam buku ini bermanfaat dan memberikan stimulasi yang positif bagi pembaca dimasa yang akan datang. Selamat Membaca! Yogyakarta, Maret 2010 PT. Global Rancang Selaras.

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

I

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN 1 PENGANTAR DAN TINJAUAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT
BAB 1 PRINSIP DASAR PERENCANAAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT
Rencana Strategis Organis, Berkembang, Bertahap Kompak Memberikan Harapan Sehat Pengelompokan yang Tepat Sirkulasi yang tepat dan Aksesibel Hemat Energi dan Nyaman Thermal Aman dan Tanggap Keadaan Darurat `Hijau` Mudah dan Murah Perawatan Sesuai Target Konsumen dan Fasilitas yang Tepat Mengakomodasi Kebutuhan dan perilaku Manusia Kenyamanan Visual dan Tanggap Lingkungan Mampu menjadi Aset Properti

i ii

1
1 2 3 3 3 4 5 5 6 6 7 7 8 8 9 9 10 11 12 12 12 14

BAB 2

APA ITU ARSITEKTUR RUMAH SAKIT
Pengertian Komponen

BAB 3

TIPE FASILITAS KESEHATAN
ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

Klasifikasi/ Tipe Fasilitas Kesehatan Tipologi Rumah Sakit Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah

BAB 4

FUNGSI DAN RUANG RUMAH SAKIT
Prinsip dan Implementasi Tuntutan Sterilitas, Fungsional, Teknikal dan Behavioral Organisasi Ruang dan Program Kegiatan Instalasi Bedah/ Instalasi Radiologi/ Instalasi Rehabilitasi Medik Kamar Mayat/ Instalasi Laboratorium/ Instalasi Gawat Darurat/ Intensive Care Unit/ Poliklinik/ Instalasi Rawat Inap (IRNA) Instalasi Farmasi/ Instalasi Sterilitas (CSSD)/ Instalasi Gigi

ii

BAB 5

SIRKULASI DAN ZONING RUMAH SAKIT
Prinsip dan Implementasi Sirkulasi Kendaraan/ Barang/ Pengunjung/ Pemberi Layanan Kesehatan/ Kegawatdaruratan 21 22

BAB 6

BENTUK DAN KARAKTERISTIK RUMAH SAKIT
Prinsip dan Implementasi Karakteristik 23 24 25 25

BAB 7

KONSEP RUMAH SAKIT & EVALUASI PASCA HUNI
Fasilitas kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain Fasilitas Kesehatan

Kontur danaliran air. Parkir. Ruang Terbuka. 30 31 BAB 9 PERENCANAAN SIRKULASI DAN ZONING KOMPONENBANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi 32 BAGIAN 2 PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT BAB 10 PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Fleksibilitas dan Pentahapan Pertimbangan Estetika dan Kenyamanan PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Perencanaan Infrastruktur Kriteria Desain Umum Penyediaan Air Bersih/ Kriteria Desain Umum Penyediaan Air Panas/ Kriteria Desain Umum Pengolahan Limbah Cair/ Sistem Drainase dan Pengolahan Air Hujan/ Kriteria Desain Pengolahan Mekanikal Elektrikal/ Kriteria Sistem Pemadam Kebakaran/ Kriteria Sistem Pengandalian Udara/ Kriteria Sistem Telekomunikasi/ Kriteria Sistem Gas Medik/ Kriteria Sistem Tata Surya/ Sistem CCTV (close Circuit Television)/ Pekerjaan Nurse Call/ Kriteria Sistem Elektrikal 34 35 36 37 38 BAB 11 BAB 12 BAB 13 PERENCANAAN FISIK DAN STRATEGIS RUMAH SAKIT Arti Penting Manajemen Rumah Sakit Tujuan dan Sasaran Perencanaan Fisik Kerangka dan Konsep Kerja Kriteria Umum Produk KONSEP PERENCANAAN FASILITAS RUMAH SAKIT Pelayanan Pasien Dalam Rumah Sakit/ Inpatient Instalasi Gawat Darurat/ Instalasi Rawat Inap/ Instalasi Rawat Intensif/ ICU Instalasi Rawat Intensif Koroner/ ICCU Unit Penyakit Jiwa/ Unit Kamar Bersalin (VK)/ Unit Perinatologi Unit Haemodialisis 47 47 48 50 53 54 iii ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Tapak. Sirkulasi.Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Fasilitas Kesehatan Langkah-langkah Peringkatan Performansi Fasilitas Kesehatan 28 28 BAB 8 PERENCANAAN LAHAN DAN SITEPLANNING RUMAH SAKIT Kebutuhan vs Ketersediaan Perencanaan Lokasi.

Pelayanan Pasien Luar Rumah Sakit/ Outpatient Instalasi Rawat Jalan 65 65 Pelayanan Penunjang Medik/ Klinik Bantuan Instalasi BedahInstalasi Laboratorium Radiologi Patologi Mortuary/ Otopsi Dental Gigi Endoscopy Pelayanan Kesehatan Terapi Instalasi Rehabilitasi Medik 73 74 75 76 77 78 78 81 82 83 84 Administrasi / Rekam Medik Rekam Medik Penyimpanan Obat/ Farmasi Laundry/ Pengelolaan Linen Instalasi Gizi (Dietary Service) Bengkel dan Peralatan (IPSRS) Pengelolaan dan Pembuangan Sampah Pelayanan Penunjang Fasilitas Pembelajaran/ Studi Diagram Pergerakan Pasien Hal yang harus Diperhatikan dalam Desain Tata Fungsi/ Tata Sirkulasi/ Aspek fisika Bangunan/ Aspek Struktur Bangunan/ Aspek Tata Interior Aspek Keamanan dan Evaluasi Kesesuaian Besaran Fasilitas terhadap Okupansi Pelayanan Arsitektur Rumah Sakit yang Memiliki Kelas Layanan Performa Fisik Bangunan dan Lingkungan Terhadap Kemudahan Pemeliharaan dan Biaya Arsitektur Rumah Sakit yang merespon Konservasi Cagar Budaya dan Beradaptasi dengan Fungsi Baru Konversi Lahan dan Konversi Energi Arsitektur Rumah Sakit yang Merespon Bencana 93 94 96 96 97 98 iv DAFTAR PUSTAKA ARSITEKTUR RUMAH SAKIT BAGIAN 3 ISU KONTEMPORER .

proses perencanaan strategis akan sangat mempengaruhi perencanaan masterplan keseluruhan aset (serta masterplan masing-masing unit dan perencanaan fasilitas dalam masingmasing unit). Meski demikian. Akibat yang ditimbulkan dari kurang matangnya tahap perencanaan antara lain adalah lahan tidak sesuai. Proses pengelolaan aset pada dasarnya akan sangat dipengaruhi oleh proses perencanaan kegiatan. 01 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . bangunan dan infrastruktur.BAGIAN 1 I BAB 1 PENGANTAR DAN TINJAUAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT: 14 PRINSIP DASAR PERENCANAAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Dalam merencanakan komponen-komponen fisik rumah sakit yang meliputi perencanaan lahan. Global Rancang Selaras Sering terjadi beberapa kasus kegagalan disebabkan karena pengembangan lahan dan bangunan yang tidak didasarkan atas studi kelayakan serta perencanaan bisnis yang matang pada tahap awal perencanaan. bangunan. Melihat kecenderungan diatas pada akhirnya setiap organisasi baik profit maupun non profit mulai mempertimbangkan pengelolaan dengan prinsip bisnis yang baik dan benar sehingga tercipta sebuah bangunan yang mandiri dalam operasional. serta ketidaksesuaian antara aktivitas dengan wadahnya. 1. akan membawa implikasi pada lahan. perlengkapan fasilitas. Dengan kata lain. Copyright : PT. bangunan dan infrastruktur. dapat dikatakan bahwa proses perencanaan aset akan mengikuti proses sebagaimana berikut: · Identifikasi aset eksisting (lahan. proses tumbuh dan berkembang. bangunan terbengkalai. Oleh karena itu sebuah rumah sakit perlu dikembangkan berdasarkan rencana bisnis. perawatan. dan infrastruktur) · Penentuan visi bagi keseluruhan dan masing-masing asset · Perumusan strategi yang harus dilakukan pada keseluruhan dan masing-masing aset. Suatu perencanaan yang dimulai dari perencanaan aktivitas. terdapat 14 prinsip dasar yang perlu diperhatikan dan dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi arahan dasar dalam merencanakan rumah sakit sebagai suatu aset properti. Rencanakan Rumah Sakit Sesuai Rencana Strategis Komponen-komponen yang terkait dalam penyusunan Masterplan Rumah Sakit. sumberdaya manusia.

Sebagai contoh pada suatu waktu tertentu yang diperlukan dalam proses perkembangan rumah sakit adalah proses pengembangan lahan. Global Rancang Selaras . Pati.2. perkembangan lanjut. Dimulai dari tahap embrional. Copyright : PT. dibutuhkan sebuah masterplan yang baik. rumah sakit perlu direncanakan sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dalam proses memanfaatkan sumberdaya lahan pun. kita perlu mempertimbangkan pentahapan perkembangan rumah sakit. Dalam hal ini. dan dapat berlanjut ke penurunan performansi fisik dan fungsi jika tidak segera ditindak-lanjuti dengan tepat. Rencanakan Rumah Sakit secara Organis. Global Rancang Selaras 02 Masterplan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mataram. kematangan. Masterplan RSUD RAA Soewondo. ataupun vertikal. perkembangan awal. Jawa Tengah. kemudian di waktu yang lain diperlukan adalah pembangunan atau peningkatan fisik bangunan. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Copyright : PT. Berkembang dan Bertahap Setiap rumah sakit pasti akan berkembang dalam proses daur fungsi bangunannya. Ada beberapa kemungkinan perkembangan rumah sakit yang dapat kita pilih sesuai dengan kondisi yang ada seperti perkembangan secara horisontal. Oleh karena itu. yang memberi kesempatan pada bagian-bagian tertentu untuk berkembang secara bertahap. interstisial. yang dibutuhkan adalah konsolidasi aset-aset. Pada waktu tertentu lainnya.

Rencanakan Rumah Sakit dengan Pengelompokan yang Tepat Rumah sakit semestinya direncanakan dengan pengelompokan ruang (kerap juga disebut pemintakatan atau zoning) yang tepat. karena bukan menyiratkan harapan (isi gelas masih setengah) melainkan justru menyiratkan masalah (isi gelas tinggal setengah). Dibutuhkan harmonisasi dalam mengkomposisikan kebutuhan akan kelengkapan fasilitas fisik. Global Rancang Selaras 4. maupun isu krusial lainnya. Rencanakan Rumah Sakit yang MEMBERI HARAPAN SEHAT Istilah 'rumah sakit' mungkin memang kurang tepat. ketersediaan lahan. dan selayaknya mulai diolah menjadi fungsi dan fiksi (atrau bahkan fungsi dan puisi). sementara pemberi layanan kesehatan bukanlah sipir melainkan “customer partner” menuju sehat. Memulai dari sebuah rumah sakit yang kecil namun memiliki efisiensi. efektivitas serta kompak yang tinggi sehingga dapat beroperasi dengan baik akan jauh lebih baik dalam proses perkembangan usaha. mengingat berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa sugesti diri dan optimisme akan meningkatkan angka kesembuhan secara mencolok. Arsitektur rumah sakit diharapkan mampu mengubah image masyarakat tentang rumah sakit. Pengelompokan ruang yang tepat akan mendukung efektivitas dan efisiensi kegiatan yang berlangsung di dalamnya dan antar ruang. Lebih lanjut dapat ditingkatkan pada citra keseluruhan rumah sakit yang harus berubah dari “penjara” ke “resort” : pasien bukanlah pesakitan melainkan customer yang terhormat. Dengan adanya arahan dasar ini. Hal ini tentu saja harus dirubah dengan mengarahkan pada sifat penuh harapan sehat dan optimisme serta kecerahan. 03 5. juga isu sosial yang berkembang. Rencanakan Rumah Sakit yang KOMPAK Efisiensi dan efektivitas adalah dua parameter mutakhir yang selayaknya menjadi isu utama perencanaan Rumah Sakit. sebagai contoh 70 bed x 50m2. Meningkat pada penataan eksterior dan interior yang semata-mata menekankan pada fungsi. Rule of thumb untuk pengembangan rumah sakit adalah sekitar 50m2 untuk tiap bed. Dimulai dari penggunaan warna dan cahaya yang suram yang semestinya digantikan dengan pemanfaatan warna dan cahaya yang lebih cerah (meski tetap bersifat kalem/tenang). keterbatasan anggaran. Pemanfaatan Lahan secara Optimal pada MasterPlan Fisik RSAB Muslimat Jombang dan RSAB Muslimat NU Ponorogo ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Copyright : PT. . kebutuhan dan kompleksitas yang berbeda-beda antar rumah sakit. dapat diperkirakan luasan.3.

Perlu ada pembedaan antara akses utama rumah sakit bagi pengunjung. Sirkulasi eksternal akan didominasi oleh sirkulasi kendaraan bermotor dalam mengakses rumah sakit. meliputi laboratorium. yang memberikan layanan pada kegiatan rumah sakit. serta layanan administratif untuk umum. melahirkan. Sirkulasi internal akan terbagi antara sirkulasi umum dan pengunjung serta sirkulasi pasien dan layanan medik. Perbedaan Zona Academic Axis dan medic Axis pada Rumah Sakit Pendidikan Copyright : PT. seperti misalnya layanan bedah. Ada beberapa area yang sirkulasi pasien dan layanan medik perlu dipisahkan secara sempurna dengan sirkulasi umum. Contoh Jalur sirkulasi berupa ”bridge” antar fungsi bangunan. Terakhir adalah Zona Layanan. seperti misalnya dapur. 6. layanan rawat jalan. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . adanya pemisahan elevator yang digunakan oleh pasien berbeda dengan yang digunakan pengunjung umum.Pengelompokan yang tepat juga akan memberi kedekatan ruang-ruang yang saling membutuhkan kedekatan. Pada umumnya diperlukan 1 parkir mobil bagi tiap 4 bed rawat inap dalam sebuah rumah sakit . Zona Terdalam adalah zona yang membutuhkan tingkat kesterilan tertentu dalam memberikan layanan. serta rawat intensif. akses gawat darurat yang harus dapat dicapai dengan mudah dan tidak terganggu akses yang lain. serta akses layanan dan karyawan. Zona Luar adalah zona yang harus dengan mudah diakses oleh masyarakat luas. Copyright : PT. laundry. Global Rancang Selaras 04 Sistem sirkulasi pada dasarnya terbagi dalam sirkulasi eksternal dan sirkulasi internal. pool kendaraan. Demikian juga pada bangunan bertingkat. Global Rancang Selaras 1 2. seperti: layanan gawat darurat. farmasi. Zona Dalam adalah zona yang menyediakan layanan rawat inap dan layanan lain bagi pasien. dan radiologi. Rencanakan Rumah Sakit dengan Sirkulasi yang Tepat dan Aksesibel 2 1. dan kamar jenazah.Pemisahan sirkulasi pun terjadi pada sirkulasi pasien dan clean utilities (utilitas bersih) dibedakan dengan alur dirty utilities (utilitas kotor). Zona Kedua adalah zona yang menerima beban kerja dari zona terluar tadi. Demikian juga parkir perlu direncanakan sedemikian rupa sehingga secara kualitatif dan kuantitatif memenuhi persyaratan yang ada. IPSRS. dan memisahkan ruang-ruang yang membutuhkan pemisahan.

Contoh yang paling mudah adalah melihat rumah sakit dari sisi keamanan terhadap bahaya kebakaran. masalah keamanan dari keadaan-keadaan darurat yang tidak diharapkan menjadi hal yang patut diperhatikan. yaitu keamanan dari bahaya kebakaran. Dari hal pertama. kemudahan memadamkan api. Rencanakan Rumah Sakit yang Aman dan Tanggap Keadaan Darurat Selain keamanan dari pengguna yang selalu diperhatikan oleh pengelola fasilitas kesehatan. serta kemiringan yang memadai. kesejajaran (alignment). Bagian rumah sakit yang direncanakan dengan menggunakan AC akan lebih efisien jika memiliki volume ruang yang lebih kecil dengan jarak lantai dan langit-langit yang tidak terlalu tinggi. Bukaan ke luar dari tangga-tangga darurat maupun dari akses-akses ke ground floor perlu dilengkapi dengan pintu-pintu yang membuka ke luar (bukan ke dalam) dengan lebar total bukaan disesuaikan dengan jumlah jiwa yang ada dalam bangunan. Ramp sebaiknya dirancang dengan memperhatikan lebar.7. Hal ini mencakup tiga hal. perlu direncanakan perletakan sumber api yang dijauhkan dari bahan-bahan yang mudah terbakar (combustible). Pada kondisi tertentu i kadang tidak dimungkinkan untuk meletakan massa bangunan pada kondisi ideal diatas namun hal-hal ini dapat diatasi dengan penggunaan sunshading serta penggunaan material yang tepat (transparan atau bukaan seperti kaca dan jendela pada bagian yang tidak terpanaskan dan pasangan masif pada bagian yang terpanaskan). bagian transparan atau bukaan diarahkan menghadap selatan dan utara sehingga lebih menghemat energi pendinginan. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dengan persayaratan dan kemudahan aksesnya. Rencanakan Rumah Sakit yang Hemat Energi dan Nyaman Thermal Penghematan energi yang paling sederhana namun dapat berdampak sangat besar dapat dilakukan dengan perencanaan sistem penghawaan. Global Rancang Selaras 05 8. Sementara kenyamanan termal yang lebih baik akan dimiliki bangunan berventilasi alami yang memungkinkan ventilasi silang dan dengan volume ruang yang lebih besar dengan jarak lantai dan langit-langit yang lebih tinggi. Penggunaan Sunshading Pada Perencanaan Surabaya International Hospital Copyright : PT. Perletakan dan orientasi dari massa bangunan pun sangat mempengaruhi penghematan energi dan kenyamanan thermal. mengingat pada waktu kebakaran listrik akan mati. Penghematan ini dilakukan dengan cara beberapa ruangan penentuan dari awal tentang beberapa bagian dari rumah sakit direncanakan dengan sistem pengkondisian udara dengan menggunakan AC dan bagian-bagian lain dari rumah sakit direncanakan dengan menggunakan ventilasi alami dan tidak menggunakan AC. Untuk mengurangi panas matahari di Indonesia. Ramp juga merupakan sarana wajib. bangunan diorientasikan membujur timur barat. serta kemudahan menyelamatkan diri dari bahaya kebakaran. Penyelamatan diri dari bahaya kebakaran meliputi tangga darurat pada jarak-jarak tertentu.

Penggunaan bahan bangunan juga sangat perlu dipertimbangkan.Selanjutnya perlu didukung dengan hal yang kedua. serta furnitur lansekap (lampu. terutama di bagian perifer lahan rumah sakit. serta sistem infrastruktur yang mudah dipantau dan dirawat. 9. Hal ini juga berlaku bagi sistem perletakan ruangan. karena hidrant kerap tidak selalu dapat diharapkan dalam beberapa kasus darurat. pohon pengarah. Adanya pohon-pohon peneduh dan pengarah bisa membantu privasi pasien. Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai kenyamanan thermal dan konservasi energi. dan juga memberikan suasana hijau yang nyaman dan membuat suasana penyembuhan lebih baik. Ruang terbuka hijau selayaknya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam perletakan massamassa bangunan rumah sakit. Global Rancang Selaras 06 10. penutup tanah. agar privasi pasien tetap terjamin. ataupun signage). Rencanakan Rumah Sakit yang `Hijau` Tata lansekap dalam suatu rumah sakit merupakan satu komponen vital yang perlu direncanakan dengan seksama. serta signage (penanda) yang direncanakan dapat tertata teratur dan memudahkan wayfinding. serta 20 m untuk jendela dengan jendela. Lampung Copyright : PT. Untuk bangunan berlantai banyak. sementara bahan-bahan yang lain dapat memiliki kualitas yang senantiasa terjaga. Furnitur lansekap juga harus direncanakan. Padahal aspek ini merupakan hal yang nantinya akan ditemui terus sepanjang daur hidup fasilitas fisik rumah sakit. Komponen tata lansekap antara lain meliputi ruang terbuka hijau. Akses mobil pemadam kebakaran meruapakan suatu hal yang perlu dipertimbangkan. Rencanakan Rumah Sakit yang Mudah dan Murah Perawatannya Aspek pemeliharaan kerap kali kurang diperhatikan dalam perencanaan awal rumah sakit. mengingat bahan-bahan tertentu akan mudah kotor ataupun rusak. pohon peneduh. Metro. mulai dari hidrant hingga pemadam portable yang dapat menjangkau seluruh bagian rumah sakit. bangku. sehingga ruangan yang memungkinkan dapat memanfaatkan ventilasi dan cahaya alami secara maksimal. adalah beberapa prinsip dalam pemeliharaan. Masterplan RS Mardi Waluyo. sehingga lampu yang ada tidak menyilaukan. 15 m untuk jendela dengan dinding. yaitu tersedianya pemadam kebakaran dengan berbagai sistem. ruang terbuka setidaknya memiliki jarak 10 m antar bangunan untuk dinding dengan dinding. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Tata lansekap yang tidak menyulitkan perawatan. kulit bangunan yang tidak menyulitkan pembersihan.

suara dan kebisingan. Pertama. hubungan kongruen antara keduanya. Lebih lanjut. “Siapa pasar produk anda?”. perlu mengakomodasi berbagai keterbatasan mobilitas yang dimilki para lansia tersebut. 1970). misalnya) juga perlu diberi citra yang lebih membuat pasien merasa “at home” dan bukannya menjadi “preparat”. kuantitatif dan kualitatif. dan batasan (Thieberg. Antropometri adalah studi terhadap aspek fisik manusia yang meliputi dimensi. 1970. Diharapkan rumah sakit memiliki konsep dan tema yang kuat. serta “Bagaimana menggubah citra tersebut?”. Survey pasar memungkinkan dapat mengidentifikasi keinginan konsumen saat ini. Sementara rumah sakit (atau bagian rumah sakit) dengan target konsumen anak akan perlu memberi suasana ceria dan memberikan ruang-ruang bermain yang membuat anak merasa lebih nyaman. 1968). fisik dan non-fisik. Propst. seperti misalnya “Apa business-line anda?”. termasuk rumah sakit. digambarkan sebagai kombinasi yang stabil dari aktivitas dan ruang yang terdiri dari aktivitas rutin. kapabilitas. rencana strategis juga akan mengarahkan target konsumen di masa Dalam kaitan dengan pemasaran. serta periode waktu tertentu (Barker. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . sehingga fasilitasfasilitas yang dimiliki akan disesuai dengan target pasar yang hendak dilayani tersebut. Dimana terdapat beberapa pertanyaan yang perlu diajukan. serta bebas hambatan. 1965.11. sesuai dengan tujuan dan aspirasi sang perancang dan klien. “Apa citra yang diharapkan?”. Global Rancang Selaras 07 12. maupun secara positif memberi tanggapan terhadap lingkungan. salah satu contoh pengembangan fasilitas kesehatan tingkat sederhana menuju tingkat yang lebih tinggi Copyright : PT. penataan lingkungan yang spesifik. Sementara Ergonomi cenderung terfokus pada 'komunikasi' antara manusia dan mesin/peralatan (Murrell. Croney. hingga mikro dalam sebuah rumah sakit. Setting Perilaku. Rencanakan Rumah Sakit yang Mengakomodasi Kebutuhan dan Perilaku Manusia Beberapa kutipan berikut adalah aspek-aspek kebutuhan dan perilaku yang perlu diperhatikan dalam merencanakan setting makro. Kedua. meso. warna. Masterplan Puskesmas Karangkobar. Antropometrik dan Ergonomik. “Di mana posisi produk anda?”. akan memiliki target pasar tersendiri. dimana implikasi nyatanya dalam setting fisik RUmah Sakit berupa iluminasi. yang mewadahi secara optimal kebutuhan manusia dan aktivitas. 1971). hal ini terkait dengan korelasi antara tema dengan positioning. Sebuah rumah sakit dengan target konsumen geriatrik. Bagian rumah sakit untuk mereka yang harus menjalani pengobatan terus-menerus (kemoterapi atau hemodialisis. misalnya. Rencanakan Rumah Sakit yang Sesuai Target Konsumen dan Memberi Fasilitas Setiap fasilitas publik.

Teori Proksemik: Privasi. bangunan. 1977). transportasi. (Pastalan. kini. Prinsip yang digunakan dalam pengelolaan aset adalah prinsip Highest and Best Use. hingga perencanaan tindakan pembelian. serta penekanan. dan akan berperan dalam menjaga market value. meningkatkan keuntungan. 1969). dan perkembangan lingkungan kini dan yang akan datang. Dimana prinsip tersebut akan mengupayakan pemanfaatan potensi yang ada dengan mengupayakan nilai tambah paling tinggi. sehingga komponen-komponen yang memiliki nilai produksi ekonomi tinggi tidak akan menjadi tidak produktif. Prinsip Highest and Best Use ini juga mengharuskan rencana-rencana tersebut dapat dilaksanakan secara fisik. Pertimbangan lingkungan juga merupakan sesuatu yang penting. dipaparkan melalui sikap kepemilikan dan pengaturan terhadap objek yang terlibat dalam area tersebut. Teritorialitas. selain rumah sakit itu perlu menyiapkan perkembangan. keselarasan. Teritori adalah ruang berbatas yang dipertahankan dan dimanfaatkan keberlangsungannya secara eksklusif oleh seorang maupun sekelompok orang yang terkumpul berdasarkan isu yang sama. Dalam arsitektur. fasilitas dam komitmen hukum dan finansial pemilik dan pengguna. untuk selalu memiliki pilihan. Rencanakan Rumah Sakit yang Nyaman Visual dan Tanggap Lingkungan Desain yang dilandasi tema yang kuat sangat dibutuhkan dalam perancangan rumah sakit dewasa ini. Hal ini pasti dipengaruhi oleh guna lahan (dulu. Dalam hal ini meliputi lahan. serta utilitas. 08 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . telaah dan kontrol resiko. merancang tindakan strategis. terdapat beberapa prinsip-prinsip perancangan yang perlu diperhatikan. dengan penekanan pada kumpulan properti dalam portfolio. Upaya pengembangan pertambahan modal (capital gain) akan dilakukan dengan menjadikan aset-aset tersebut benar-benar memiliki nilai kompetitif. dan berbagai tindakan lain yang menyangkut properti. yang pada akhirnya menjadi jembatan dalam mencapai interaksi yang diharapkan (Rappoport. networking informasi mengenai aset tetap.Ketiga. adanya peluang sebagai komponen dominan kawasan akan menuntut desain yang cukup berkarakter. yang meliputi lahan. seperti misalnya proporsi. yang akan datang dan sekitar). Rencanakan Rumah Sakit sebagai Suatu Aset Properti Manajemen aset adalah tata laksana. dan manajemen dari properti yang dimiliki atau disewakan baik secara untuk keuntungan maupun non-profit. serta layak secara ekonomis. Dimana Privasi adalah kemampuan mengontrol keberadaan interaksi. Pertimbangan ini akan merupakan dialog antara keselarasan dan kontras. Ruang Personal adalah wilayah dengan batasan visual semu sekeliling lingkungan fisik seseorang dimana penyusup/pengganggu tidak dapat masuk (Sommer. 14. Sementara pada kawasan yang sedang berkembang. Rumah sakit di lingkungan urban yang padat akan mempunyai nilai tambah jika bisa berperan sebagi suatu oase bagi lingkungan di sekitarnya. melibatkan identifikasi psikologis terhadap ruang. kesatuan dan perbedaan. penyewaan. diijinkan oleh hukum yang berlaku. 1970). & Ruang Personal. keseimbangan. Manajemen Properti akan melihat berbagai properti sebagai aset tetap perusahaan. operasi. ritme. didukung oleh pasar yang ada. skala. dan infrastruktur. 13.

merupakan fasilitas untuk melakukan tindakan bedah. termasuk donator secara langsung. merupakan fasilitas untuk pelayanan dan penanganan seputar kehamilan atau kandungan. merupakan unit rumah sakit dengan spesialis khusus yang menangani masalah jantung atau kondisi cardinal berkelanjutan yang membutuhkan pengawasan dan perawatan secara intensif. · Trauma Center. pelayanan dan penanganan yang tidak bisa terjadwalkan. · Orthopedic Services · Behavioral Health Services · Psychiatric Hospital. misalnya : · Unit Gawat Darurat (UGD). badan asuransi maupun badan amal.BAGIAN 1 I BAB 2 APA ITU ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Pengertian dan Komponen 1. perawatan bagi pasien dalam masa pemulihan/stabilisasi krisis yang menyangkut masalah kejiwaan · Labor and Delivery · Maternity. Komponen Rumah sakit memiliki beberapa komponen yang terdiri dari pasien. Sedangkan pengertian rumah sakit menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri berarti rumah atau tempat merawat orang sakit. serta terdiri dari beberapa departemen atau unit. tempat yang menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah kesehatan. memberikan pelayanan medis gawat darurat kepada pasien yang menderita luka trauma. 09 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . yakni sebuah institusi pelayanan kesehatan yang menyediakan tempat untuk pasien rawat inap dalam jangka waktu tertentu. staf. 2. biasanya disebut juga ICCU. Rumah sakit biasanya didirikan berdasarkan wilayah. bahkan organisasi keagamaan individu atau yayasan. unit rumahsakit yang menangani pasien yang mengalami sakit atau luka cukup serius. · Physical Therapy. Pasien akan dirawat disini apabila tidak mendapat rujukan atas luka yang dideritanya. oleh suatu organisasi/lembaga kesehatan (baik profit maupun nonprofit). Pengertian Kata rumah sakit berasal dari kata hospital. unit rumah sakit dengan spesialis khusus yang menawarkan pengobatan dan perawatan secara intensif. · Intensive Care Unit (ICU). lebih mengarah kepada manajemen dan pencegahan perubahan kondisi penyakit yang menyangkut kejiwaan melalui terapi-terapi khusus. · Urgent Care. · Surgery. · Burn Unit · Cancer Center (Pusat Kanker) · Coronary Care Unit. Termasuk didalamnya terdapat bagian perawatan seperti ruang bedah dan kamar operasi.

klinik. 10 RS Muhammadiyah Gresik Copyright : PT. adalah unit bagi paramedik agar dapat melayani pasien yang biasanya telah dikelompokkan dengan klasifikasi tertentu untuk kemudahan pengawasan dan perawatan bagi pasien tersebut. Rumah Sakit Umum Merupakan unit pelayanan kesehatan yang melayani berbagai jenis penyakit dan luka. Sebuah kota besar umumnya memiliki banyak rumah sakit yang berbeda ukuran dan fasilitasnya.· · · · · · · · · Radiology Respiratory Therapy Rehabilitation Services Nursing Unit/Nursing Station. Global Rancang Selaras ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 1. melayani sertifikat rekam medis serta memberikan informasi yang perlu diketahui oleh pasien. BAGIAN 1 I BAB 3 TIPE FASILITAS KESEHATAN Klasifikasi/ Tipe Fasilitas Kesehatan Tipologi Rumah Sakit Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah Fasilitas kesehatan mempunyai klasifikasi atau jenis-jenis tertentu meliputi rumah sakit umum. Klasifikasi/ Tipe Fasilitas Kesehatan . dan sebagainya. rumah sakit spesialis khusus. adalah bagian yang paling penting dari rumah sakit yang meliputi ruang operasi. Outpatient Department Laboratory Services Post Anesthesia Care Unit. Medical Records Department (Non-medical Departments) Release of Information (Non-medical Departments). termasuk tempat perawatan pasien dari proses pembiusan pasien. dengan kapasitas dan fasilitas pelayanan yang lebih lengkap. a.

Rujukan Upaya Kesehatan adalah penyelenggarakan pelayanan tempat pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik mengenai masalah kesehatan baik secara vertikal maupun horisontal. Tipologi Rumah Sakit Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor: 159b/Men. Global Rancang Selaras 2. sarana infra struktur. Akreditasi Rumah Sakit adalah pengakuan bahwa rumah sakit memenuhi standar minimal yang ditentukan 11 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . S3. 2. 2. National Brain Centre Hospital Jakarta Copyright : PT. dan faktor-faktor sosial. Pelayanan Rawat Inap dan Pelayanan Gawat Darurat yang mencakup pelayanan medik dan penunjang medik. komunikasi. Klinik dan Puskesmas Merupakan fasilitas dengan lingkup yang lebih kecil dari sebuah rumah sakit . Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua jenis penyakit dari yang bersifat dasar sampai dengan sub spesialistik. rumah sakit gigi dan mulut.Kes/Per/II/1988 tentang rumah sakit. rumah sakit anak. Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit adalah kegiatan pelayanan berupa Pelayanan Rawat Jalan. 7. 6. Ada pula rumah sakit akademik yang merupakan sinergi dari lembaga pelayanan kesehatan dengan universitas untuk mengkombinasikan antara pelayanan pasien dan mengajar murid/mahasiswa yang mengambil profesi kedokteran atau farmasi. 3. 5. dan sebagainya. Rumah Sakit Khusus Didefinisikan sebagai Unit Pelayanan keseatan yang terfokus pada pelayanan masalah spesifik seperti trauma center.b. Rumah Sakit Pendidikan adalah rumah sakit umum yang dpergunakan untuk tempat pendidikan tenaga medik tingkat S1. rumah sakit mata. budaya dan pendidikan. Puskesmas Karangkobar Copyright : PT. Global Rancang Selaras b. Wilayah Rujukan Kesehatan adalah wilayah pelayanan upaya rujukan kesehatan yang didasarkan atas faktor-faktor geografis. Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. yang seringkali dikelola oleh pemerintah. 4. Rumah Sakit Khusus adalah rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan berdasarkan jenis penyakit tertentu atau disiplin ilmu. Kalsifikasi Rumah Sakit adalah pengelompokkan rumah sakit berdasarkan pembedaan bertingkat menurut kemampuan pelayanan kesehatan yang dapat disediakan 9. 1 2 1. 8. S2. disebutkan bahwa: 1.

Kelas C mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurangkurangnya spesialistik 4 dasar lengkap. 12 2. 3. Kemungkinan paling besar dari jumlah tempat tidur yang seharusnya dapat di observasi dengan mudah oleh pengawas atau staf saat mereka melakukan pemeriksaan rutin ruangan yang sesuai prosedur. Prinsip dan Implementasi Prinsip-prinsip umum dalam desain ruangan rumah sakit mencakup: 1. Teknikal. sirkulasi. Pada umumnya terdiri dari 22-28 tempat tidur. 4. 5. 2. Rumah Sakit Kelas A dan B II dapat berfungsi sebagai Rumah Sakit Pendidikan. Teknikal. Fungsional. Kelas B II mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistik terbatas. Kelas B I mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurangkurangnya 11 jenis spesialistik. . dikelompokkan agar dapat memberikan keuntungan yang memungkinkan individu atau pengguna untuk mengaturnya menjadi lebih besar atau lebih kecil berdasarkan fungsi ruangan. Fungsional. Kelas D mempunyai fasilitas dan kemampuan sekurang-kurangnya pelayanan medik dasar. 2. Dan harus dihubungkan pada kelompok-kelompok ruang pasien. Jumlah dari sal (jumlah tempat tidur yang mendapatkan pengawasan langsung dari perawatperawat yang bertugas didalam ruangan). Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah 1. Harus tersedia cukup ruangan isolasi yang dikhususkan untuk satu orang untuk alasan klinis dan privasi. 3. BAGIAN 1 I BAB 4 FUNGSI DAN RUANG RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Tuntutan Sterilitas. Tuntutan Sterilitas.3. dan penataan jalur utilitas menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan atau keterbelangsungan sinergi aktivitas di dalam sebuah Rumah Sakit. Area kerja perawat harus dikelompokkan bersama dan memiliki hubungan langsung dengan area ruang perawatan agar petugas tidak perlu berjalan jauh. Area tempat tidur dibuat berdekatan. 4. Kelas A mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistik luas. aksesibilitas. Fasilitas kebersihan pasien harus dipusatkan pada suatu area dari ruang perawatan. Behavioral Efisiensi fungsi. Behavioral Organisasi Ruang dan Program Ruang ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 1. Hal yang tidak berhubungan secara langsung dangan tempat tidur.

4. Ruangan perawatan (treatment room) secara normal belum terlalu dibutuhkan. misalnya: 1. Ruangan harus menyediakan kurang lebih setengah dari anggaran untuk membuat kamar anak berupa tempat-temat tidur dalam ruangan. Pembatasan waktu kunjungan dikurangi demi kenyamanan keluarga yang datang membesuk (apabila jumlahnya lebih dari dua). 2. Adanya kebutuhan aksesibilitas visual maupun fisik petugas ruang rawat terhadap situasi dan kondisi ruang rawat. 2. Bangsal ibu dan anak seharusnya saling terhhubung dengan jarak yang dekat dan disarankan untuk membuat secara horisontal. 13 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dimana klinik pra kelahiran pada umumnya ditempatkan didalam atau berdekatan bagian rawat jalan. dimaksudkan agar orang tua dapat menemani dan mengawasi kondisi putra putri secara langsung sepanjang har i . Alternatif solusi adalah membuat tombol pengaturan ganda. tapi kamar anak-anak atau bayi tetap dibutuhkan untuk menghindari terjadinya gangguan pada pasien yang sedang tidur. Adanya jalur dari sistem komunikasi yang digunakan untuk perawat berkomunikasi dengan devisi lain dalam satu ataupun antar wilayah. Bangsal geriatrik ( Lansia) Sal ini biasanya berukuran di atas rata-rata karena alat-alat perawatan yang besar ditempatkan didalam ruangan perawatan ini. Ruangan perlu dikumpulkan dan didekatkan dengan tempat kunjungan psikiater harian dirumah sakit karena sangat sedikit pasien yang akan menggunakan tempat tidur dan mayoritas akan menghabiskan waktunya diperawatan harian rumah sakit. Unsur penting lain dari instalasi ini adalah klinik pra kelahiran. Keberadaan pintu darurat untuk kebakaran pada setiap bagian akhir sal (sal normal menggunakan terminal sub kompartemen untuk kebakaran). Bangsal psychiatric Bangsal ini menekankan pada kenyamanan mental/ psikologis sehingga seringkali muncul penataan berupa kamar-kamar kecil untuk memberikan ruang pribadi bagi setiap pasien. 3. Ruang rawat pada katagorisasi pelayanan yang berbeda (konsumenya). fasilitas wc dan bak mandi serta membutuhkan satu ruangan tambahan untuk fisiotheraphy. S e b a g a i tambahan disediakan ruang duduk dan pantry yang dibutuhkan oleh orang tua. namun hal ini selalu terbentur dengan masalah biaya. Bangsal untuk anak-anak Bagian ini biasanya memiliki ukuran dengan ruang tersendiri yang lebih luas. Bangsal bersalin Meskipun pada umumnya bayi yang baru lahir selalu ditidurkan disisi ibunya sepanjang hari. antara lain: 1.Pada tahap implementasi terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi pengaturan pengaturan suatu fungsi ruangan di dalam rumah sakit. Extra day space. akan menuntut perlakuan (treatment) yang berbeda pula.

serta karakteristik ruang. Organisasi Ruang dan Program Ruang Organisasi ruang dan program kegiatan meliputi karakteristik perilaku. layanan medis dan penunjang medis. 14 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .3. penempatan dan pengelompokan ruang. kisaran jumlah dan besaran ruangan.

Hal ini memberikan peluang untuk pengorganisasian yang lebih baik. Selain itu terdapat tiga pola atur pergerakan yaitu pasien. misal Thermografi yang menggunakan gelombang panas dan ultrasonik yang menggunakan gelombang suara. 15 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . X-ray memiliki kekuatan radiasi yang sangat besar dan dapat membahayakan manusia jika penggunaannya dalam jumlah yang besar. Teknik tersebut digunakan juga pada instalasi yang memiliki potensi yang berbeda. pemanfaatan yang lebih ekonomis oleh petugas dan penempatan hal-hal teknis yang terpusat. jika memungkinkan. Dalam hal ini. perlu adanya jalur-jalur yang tepat untuk suplai.Ruang bedah darurat pada bagian penanganan kecelakaan/ IGD. Ada dua aliran alur sirkulasi utama dalam instalasi radiologi yaitu: -Pasien -Petugas pemrosesan film X-ray Meskipun instalasi dapat melayani seluruh unit rumah sakit. bangsal untuk melahirkan dan ICU. Salah satu contoh dari perlindungan adalah dengan menggunakan pelapis diding barium. diperlukan akses yang cepat dari ruangan yang menangani kecelakaan seperti unit gawat darurat. petugas/ dokter dan alur peralatan ruang bedah. ruang radio-diagnosis diwajibkan memiliki perlindungan khusus untuk mencegah penyebaran radiasi. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan menempatkan ruang bedah pada bagian paling atas bangunan. serta dibutuhkan untuk unit pasokan bahan-bahan steril untuk memberikan akses bagi pengiriman peralatan-peralatan untuk pemrosesan/ pensterilan alat diantara waktu-waktu proses pengoperasian. Oleh karena itu. tetapi harus ada hubungan fungsi yang sangat dekat dengan klinik patah tulang dari bagian rawat jalan dan instalasi rawat darurat menangani kecelakan. -Pembatasan ruang bedah yang terpisah dapat dilakukan juga dengan penempatan instalasi dimana memiliki akses yang cepat dan langsung ke ruang bedah utama. 2. Instalasi Rehabilitasi Medik Pada instalasi ini terdapat berbagai macam teknik perawatan secara fisik seperti pelatihan-pelatihan yang aktif maupun yang pasif untuk proses rehabilitasi dan pengembalian fungsi fisik pada kondisi normal. Adanya pemisahan antara sirkulasi yang bersih dan yang kotor di instalasi bedah sentral untuk alasan pengendalian infeksi pada bentuk rancangan instalasi dimana biasanya perlu dibagi menjadi dua sistem koridor terpisah. Instalasi bedah Saat ini jarang sekali ditemukan penggunaan ruang operasi yang terpisah dari instalasi bedah sentral. Yang sering menjadi pengecualian dalam instlasai bedah adalah: . Sebagai tambahan.Ruang bedah yang terpisah pada bangsal ibu dan anak yang digunakan untuk keperluan bedah caesar pada situasi darurat. ada hubungan horisontal dengan ruang yang berkkaitan dengan pembedahan. Pendingin ruangan keseluruhan dengan menggunakan filter udara yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan fungsi ruangan dan berbeda dari bagian-bagian lain dirumah sakit. Akses langsung dari instalasi rawat darurat ke ruang sinar X ditujukan untuk mengani kecelakaan dan penganan darurat lainnya.1. Fungsi utama dari instalasi adalah melayani ruang-ruang perawatan dan perlu adanya kedekatan dengan ruangan tersebut. 3. . Instalasi Radiologi Instalasi ini menggunakan bermacam-macam teknik X-ray untuk memproduksi foto dari berbagai macam bagian tubuh dengan tujuan untuk proses diagnosis. Panduan yang terperinci diberikan dalam peraturan-peraturan praktek yang telah diobservasi secara ketat oleh perancang.

patology kimia. dll) cenderung dilaksanakan pada bagian yang terdiri atas perpaduan area laboratorium yang terbuka dan ruangan yang tidak terlalu besar untuk dapat dijadikan sebagai kantor kepala devisi dan kepala bagian teknis. yang terdiri dari perpaduan area latihan besar dan terbuka serta kamar-kamar kecil untuk perawatan secara individual.-Area konsultasi dengan sebuah ruangan konsultasi dan ruangan latihan serta kantor. Air yang terdapat pada meja-meja berasal dari tubuh mayat tersebut. Meja-meja tempat penyimpanan mayat. Meskipun kebutuhan untuk mengadakan perluasan secara fisik harus mereduksi beberapa perluasan dengan menambah sistem otomatik. bacteriology. pengguna kursi roda. -Kolam Hidrotherapi yang dipadukan dengan area-area untuk bersantai. selain itu untuk mengadakan pengujian (forensik) agar mengetahui sebabsebab kematiannya. membutuhkan air dan drainase serta ventilasi udara diluar ruangan secara langsung untuk mencegah terjadinya kontaminasi saat mayat yang terkena infeksi pada saat proses autopsi. Devisi klinis terbesar dari instalasi ini (kecacatan anatomi. jaringan. tempat penyimpanan mayat adalah sebuah refrigerator yang berbentuk komartemen yang biasanya tediri dari tiga tingkat. Gymnasium memerlukan ruangan yang besar dan memiliki jarak lantai ke langit-langit ruangan yang cukup tinggi. 16 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Dalam hal ini dibutuhkan area lantai dasar dengan akses langsung dari luar untuk kendaraan. Ada beberapa keuntungan jika kamar mayat tersebut sejalan dengan instalasi yang menangani cacat anatomi pada instalasi laboratorium. komputerisasi. dll) yang akan diperiksa dengan menggunakan berbagai teknik laboratorium untuk mengkonfirmasikan dan memberikan diagnosa. proporsi terbesar terdapat pada fungsi yang melayani pasien rawat jalan dan ditempatkan pada lokasi lantai dasar dengan akses yang terpisah dengan lalu lintas ambulans. instalasi tetap merupakan sesuatu yang mudah untuk terjadi perkembangan secara fisik. Kamar Mayat Fungsi dari instalasi ini adalah untuk menerima mayat dari ruangan perawatan dan menyimpanya didalam sebuah lemari pendingin hingga persiapan untuk diambil oleh sanak saudara atau oleh pihak yang membutuhkanya. dll. membutuhkan treatment dan saluran khusus. Instalasi Laboratorium Instalasi ini menggunakan spesimen yang diambil dari pasien (seperti darah. haematology. kelembaban. Pertimbangan utama dalam desain sebuah instalasi adalah kemudahan untuk perkembangan dan perubahan instalasi dimasa mendatang. Ruang perawatan khusus perlu ditempatkan dan dirancang secara khusus. terdiri dari dua atau llebih area workshop meliputi pekerjaan-pekerjaan ringat maupun berat. 5. histology. Pemisahan tersebut diperlukan pada mayat yang terinfeksi. dan alat bantu berjalan lainnya.Ada 4 area fungsional utama unit rehabilitasi medik yaitu: -Fisioterapi dan senam pemulihan. microbiology. -Terapi dengan cara memberikan pekerjaan tertentu. Bagian hidrotherapi membutuhkan kontrol teknis khusus yang pengaturan temperatur. dimana strecher yang siap setiap saat dengan akses yang memiliki aksesibilitas tinggi karena fungsi ini digunakan oleh pasien yang mengalami kelumpuhan dengan tongkat atau penyagga. Walaupun instalasi rehabilitasi medik melayani keseluruhan unit rumah sakit. walaupun hal ini bukan suatu yang esensial. urine. pemasangan saringan dan lain-lain. Sal ini tidak disediakan bagi setiap program rehabilitasi instalasi. dan sebuah ruangan untuk melatih berbagai akktifitas hidup sehari-hari. seringkali digunakan sebagai ruang bangunan yang terpisah dengan bagian belakang yaang dihubungkan dengan instalasi utama oleh sebuah koridor yang tertutup. 4.

perawat. Walaupun beberapa rumah sakit jarang menyediakan ruang operasi kecil.Fasilitas ini menyediakan keahlian pengobatan klinis lebih intensif. penanganan bantuan pernafasan. harus memiliki akses yang cepat menuju ke ruang operasi utama dan ruang ICU. Kunci kedekatan dalam hal ini telah didiskusikan pada perencanaan bentuk bangunan dan seringkali bentuk instansi ini merupakan sebuah kelompok-kelompok yang memiliki akses langsung ke instalasi radiologi dan klinik patah tulang. Intensive Care Unit adalah ruang perawatan dan pengobatan pasien dengan tingkat kekritisan tertentu.Pelayanan dilakukan oleh staf yang profesional dan berpengalaman 17 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . . termasuk penanganan lanjut terhadap pasien yang mengalami kecelakaan dan serangan jantung yang membutuhkan penanganan rumah sakit segera mungkin.Peralatan berteknologi tinggi . Fungsi utama ruang ICU: . staf yang klinis dapat memberikan perhatian dan intervensi pengbatan secara kompleks termasuk dukungan secara fisiologi dan psikososial terhadap pasien. dan staf yang berpengalaman dalam pengelolaan keadaan-keadaan tersebut. 7. seluruh pasien yang membutuhkan perawatan. dengan staf khusus dan perlengkapan yang khusus. dengan sumber daya teknologi dan pengobatan yang lebih terkordinasi terhadap pasien. -Mendukung organ vital pada pasien-pasien yang akan menjalani operasi yang kompleks atau prosedur intervensi dan resiko tinggi. yang ditujukan untuk observasi perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit. ICU menyediakan kemampuan sarana dan prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi-fungsi vital dengan menggunakan keterampilan staf medik. -Profil Infrastruktur. peralatan. Komponen spesifik ICU: .Desain ruangan dan sarana yang khusus . dimana ada kemungkinan instalasi yang berada di tingkat berbeda akan diprioritaskan untuk menggunakan lift. 6. akan dialihkan ke ruangan untuk perawatan umum atau pada ICU. Intensive Care Unit Instalasi ini adalah suatu bagian dari rumah sakit yang terpisah. Akses eksternal untuk ambulans merupakan prioritas utama.Hubungan fungsi yang sangat erat antara laboratorium dengan unit rawat jalan dan sejak pasien tersebut datang ke laboratorium untuk memberikan spesimen. Instalasi Gawat Darurat Instalasi ini membutuhkan ruang penerimaan. sebagai tambahan berkaitan dengan hal diatas.Melakukan perawatan pada pasien-pasien gawat darurat dengan potensi reversible life thretening organ dysfunction. Tempat ini tidak diperuntukan untuk pasien rawat inap. Didalam rumah sakit. cedera. Penggunaan instalasi juga sangat membutuhkan kuantitas suplai spesimen. oleh karena itu harus ada hubungan yang efisien dengan jalur suplai yang terdapat dirumah sakit. dengan jalan masuk yang dibuat terpisah dengan jalan yang digunakan oleh pejalan kaki dan brankar pasien.Pasien yang dirawat dalam keadaan kritis . namun pada umumnya fungsi tersebut digantikan oleh ruang penanganan utama yang dilengkapi pipa gas untuk keperluan medis dan penyaring suplai udara untuk beberapa pembedahan yang bersifat emergency.

9. Bedah 4. Umum termasuk: THT. Tipe A memberikan kesempatan untuk melakukan alokasi yang lebih fleksibel untuk ruangan klinik karena spesialisasi yang berbeda dan membutuhkan penggunaan sejumlah ruangan yang terdiri dari berbagai macam tipe pada klinik. kantor. ruang untuk menempatkan alat-alat kebersihan. Oleh karena itu diperlukan penataan pintu masuk dan akses yang berasal dari luar dimana tidak menyebabkan kekacauan pada sirkulasi. Rawat Inap Kelompokkan sesuai dengan golongan penyakit. Syaraf 6. Sebagai contoh: bedah gigi dan laboratorium. toko-toko. klinik pemeriksaan anak. opthalmic dan ruangan opthoptic. Ibu: obstetri dan ginekologi 2. untuk tujuan pedeskripsian. Penempatanya tergantung pada perencanaan keseluruhan instalasi. mata 7. gimul. non infeksi dan bedah anak 3. tetapi beberapa akomodasi untuk beberapa spesialis tetap dibutuhkan. ruangan kotor dan ruangan bersih. Staf paramedis dari hampir seluruh spesialisasi dan disiplin bekerja dalam instalasi ini. Ruangan konsultasi dan latihan mayoritas merupakan spesialisasi klinis. Tipe B berupa satu ruangan untuk konsultasi yang diapit oleh dua ruangan tindakan. ruang resepsionis dan area ruang tunggu. Kelompok-kelompok kamar klinik dilengkapi dengan perawatan. Ada dua tipe dasar dari ruangan untuk berkonsultasi. tempat kursi roda. toko kecil. Penyakit Dalam: infeksi dan non infeksi 5. Anak: infeksi. dan area-area yang nyaman bagi pasien dan pada umumnya dilengkapi oleh toko makanan kecil. Poliklinik Area untuk pasien rawat jalan dan merupakan satu instalasi yang areanya paling luas dalam rumah sakit. area perawatan dermatology.hal-hal yang berkaitan dengan instalasi -tujuan umum klinik -tujuan khusus area-area klinik Hal yang berkaitan dengan instalasi. Instalasi yang mengurusi pasien rawat jalan dan jumlahnya tergantung pada penaksiran daya tampung pasien untuk kapasitas tertentu. Oleh karena itu dipilih untuk menempatkan instalasi tersebut pada lantai dasar tetapi bagian yang lain ditempatkan pada lantai atas dengan penyediaan lift yang cukup. Oleh karena itu. memperlihatkan jumlah lalu lintas dari luar menuju ke rumah sakit yang besar baik dengan berjalan kaki ataupun dengan menggunakan kendaraan. pengakomodasian dapat diklasifikasikan ke dalam: . Tujuan khusus akomodasi. di Indonesia secara umum diterapkan sebagai berikut: 1. Kejiwaan ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 18 . ruangan adiometri. Pasien memilih klinik sebagai tempat untuk melakukan konsultasi. latihan-latihan dan pemulihan. Tipe A terdiri dari dua ruangan yang mengkombinasikan antara ruangan untuk konsultasi dan ruang tindakan. fasilitas sanitary. ruang tunggu. Area ini meliputi ruang penerimaan. tempat bermain anak. Kecenderungan yang terjadi pada pegolahan kamar tipe A adalah kamar dikelompokan dalam satu garis lurus tanpa sekat dan dipisahkan menjadi kelompok-kelompok. tujuannya adalah untuk mengurangi dan meminimalkan proporsi dari ruangan untuk setiap spesialisasi. Tujuan umum kamar-kamar klinik.8. Instalasi yang menangani pasien rawat jalan.

Implementasi fisik antara lain: ketenangan. Terdapat jalur dan pintu khusus untuk barang kotor. plafon bahkan lantai yang mudah dibersihkan. i. Kelengkapan jaringan infrastruktur medik. Obat khusus direncanakan lemari build in dengan tingkat kelembaban yang terkontrol dan terkunci c. rawat inap medical check up dan sebagainya. suplai daya listrik. kondisi udara yang baik. Tersedia scrub up dan atau alkohol cuci tangan. Sebagian RS menerapkan manajemen stok obat yang memisahkan antara Gudang Obat IRJA dan non. 10.IRJA. Implementasi fisik antara lain: rencanakan dinding. h. Jalur evakuasi dengan signage yang jelas. Rawat Inap. non dan khusus. Hal ini tercermin pada nama yang berbeda di instalasi ini yaitu CSSD. cakupan. Secara keseluruhan ini dari instalsi ini adalah sterilisasi dan penanggulangan infeksi pada peralatan yang dipergunakan di rumah sakit. unggulan pelayanan seperti: rawat inap infertilitas. Perencanaan K3. Ruang kepala Instalasi dan ruang tamu f. Namun secara prinsip semua harus bertujuan bagi kemudahan pasien. HSSU atau HSDU). Ruang staf (locker) lengkap dengan lavatory d. 11. Sebagian RS dengan beban kerja tinggi. Apotik dan area distribusi g. suplai daya listrik medik dan non terjamin kontinu. Keamanan dan keselamatan. sirkulasi udara. 19 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Ruang simpan obat dipisahkan antara cairan. Kassa. juga prosesnya. inti pelayanan terletak pada ruang-ruang sebagai berikut: a. Pada Farmasi Pusat. Sedang pada Instalasi lain bisa menerapkan sistem satelit ataupun pos obat. Sering perencanaan ruang rawat inap harus menyesuaikan dengan strategi manajemen seperti misalnya: perlunya satelit farmasi. Implementasi fisik antara lain: tersedia gas medik. Implementasi fisik antara lain: grib bar untuk pasien di koridor dankamar mandi. administrasi dan kassa. Kesemua sistem tersebut secara prinsip mempermudah pasien dalam menjangkau sekaligus mempermudah operasionalisasi petugas keperawatan. Sarana prasarana pengelolaan kebakaran dan sistem deteksi. kenyamanan menyangkut: pemandangan. Tersedia scrub. IGD dan Instalasi medik lainnya. Ruang racik: meja kerja. thermal. Pantry (ruang makan) e. Bumper dinding sepanjang koridor pasien. Implementasi fisik antara lain: orientasi pencapaian ruang slob zink yang dekat namun tidak langsung dari nurse station. Pada umumnya Farmasi pusat berdekatan dengan Rawat Jalan. telah berangsur-angsur mengalami banyak perkembangan selama 10-15 tahun. skala dan isi dari instalasi ini. Mendorong kesembuhan pasien. bentukan dan material tidak memerangkap debu. Mencegah infeksi nosokomial. perlu memisahkan kassa Askes dan nonAskes.Pengelompokan diatas makin berkembang sesuai dengan jenis pelayanan.Instalasi farmasi Secara umum perencanaan Farmasi terkait dengan akses sebagai penunjang Rawat Jalan. Termasuk dalam penataan aliran ruang.up medis atau alkohol cuci tangan. Instalasi Sterilisasi/ CSSD Kebijakan mengenai peraturan. TSSU. vacuum. Ruang konsultasi. suplai air steril/bersih b.

Oleh karena itu seringkali lokasi ditempatkan pada zona industri dimana ada kemudahan dari pengorerasian pipa saluran untuk keperluan proses penguapan alat. Simpan alat j. Untuk makanan yang disajikan lebih dari 6 jam disimpan suhu – 5° C sampai . atau langit. instalasi yang bersangkutan dan membutuhkan sarana penguapan untuk autoclaves dan hubungan yang baik dengan rute-rute suplai internal.Coli harus 0/100 ml sampel minuman b.5° atau dalam suhu dingin kurang dari 4° C. Pemrosesan peralatan-peralatan akan menimbulkan kuantitas hawa panas yang sulit dikontrol. Ruang kepala Instalasi dilengkapi ruang tamu p. administrasi. Gudang air l.langit dengan ketentuan sebagai berikut : • Jarak bahan makanan dengan lantai 15 cm • Jarak bahan makanan dengan dinding 5 cm • Jarak bahan makanan dengan langit. Ruang penerima b.banyaknya 100/cm2 permukaan dan tidak ada kuman E. Ruang kerja. Dapur pastry e. arsip 20 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Dapur Besar d. Gudang bahan k. 12. Makanan yang mudah membusuk disimpan dalam suhu panas lebih dari 65. Makanan kemasan tertutup sebaiknya disimpan dalam suhu ± 10° C e.Dalam unit pemrosesan dan pemberian pelayanan.90 % 23 f. Lavatory o. Persiapan c. Cara penyimpanan bahan makanan tidak menempel pada lantai.1° C d. khususnya untuk bagian kamar operasi. Angka kuman E.Coli pada makanan harus 0/gr sampel makanan dan pada minuman angka kuman E. Jalur trolley kotor m. Ruang cuci i. Jalur trolley bersih dan distribusi n. Ruang ganti. Instalasi Gizi Persyaratan Umum: a. Kebersihan peralatan ditentukan dengan angka total kuman sebanyak. dinding. Pantry f. Cold storage g. Cold room h. Kelembaban penyimpanan dalam ruangan 80 .Coli c.langit 60 cm Kelengkapan ruang Instalasi Gizi: a.

4. Prinsip dan Implementasi Terdapat tujuh pertimbangan mendasar yang mempengaruhi desain pada distribusi sistem pergerakan/sirkulasi yaitu : 1. Kebutuhan ruang penerimaan. 3. 2. Pilihan di antara sistem mekanik dan manual. Kebutuhan ruang penyimpanan dan penanganan. 7. Tempat pembuangan dan pemrosesan kembali. 5.BAGIAN 1 I BAB 5 TINJAUAN SIRKULASI DAN ZONING RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Sirkulasi 1. 21 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 6. Distribusi pengguna masing-masing instalasi. Tipe-tipe dari barang yang akan dipindahkan (termasuk yang perlu penanganan khusus). Kuantitas dan frekuensi material yang dipindahkan untuk distribusi.

Hubungan eksternal 7. Kegawatdaruratan Ada tujuh prinsip dasar yang sifatnya fundamental untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi bentukbentuk bangunan yang memberi perhatian penuh mengenai keamanan kebakaran.2. pengunjung. Jalur-jalur penyelamatan 5. Akses untuk menanggulangi kebakaran 22 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Keterkaitan antara instalasi 3. Jarak tempuh 6. Cara pembagian ruangan 2. Pemberi Layanan Kesehatan. Meskipun faktorfaktor ini penting. Alternatif penyelamatan dan pada kondisi saat menemui jalan buntu 4. Sirkulasi Kendaraan. Barang. tetapi tidak berpengaruh besar terhadap keseluruhan bentuk bangunan : 1.

Prinsip dan Implementasi Rumah sakit adalah bangunan yang memiliki keterpaduan yang mampu mengakomodasi fungsi-fungsi secara luas. Respons yang timbul dari hubungan secara fisik antara hal tersebut dengan masyarakat. Ekonomis dalam hal modal dan pembiayaan. perencanaan dan teknik desain harus membuka kesempatan untuk diadakannya perubahan internal dan penataan kembali ruanganruangan. Kemampuan untuk berkembang dan berubah agar mampu merespon kebutuhan-kebutuhan dimasa mendatang. 3. kemudahan dan kecepatan konstruksi. dapat diciptakan dengan memenuhi syarat estetika. Faktor-faktor penting yang dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan bentuk bangunan yang sesuai adalah : 1. Tujuan yang ingin dicapai dalam perencanaan harus bisa mereduksi hambatan-hambatan fisik untuk masa mendatang dan untuk perkembangan-perkembangan yang tidak diduga. Global Rancang Selaras ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .BAGIAN 1 I BAB 6 TINJAUAN BENTUK DAN KARAKTERISTIK RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Karakteristik 1. Suasana yang tercipta dalam lingkungan fisik dapat dihasilkan dari adanya saling keterkaitan antara bentuk bangunan dengan desain teknis. 2. Kemampuan untuk membangun secara aktif dalam setiap tahap-tahap pembangunan. beberapa dapat dilihat pada saat perencanaan tetapi ada beberapa yang tidak dapat diprediksi. 6. 7. 5. Hubungan antara instalasi yang memiliki keterkaitan dalam hal fungsi dan juga mengenai jalur-jalur yang efisien bagi pergerakan orang dan suplai barang. pada detail. Oleh karena itu bentuk bangunan harus open-ended dan dapat diperluas. 4. 23 Rumah Sakit Pendidikan Universitas Udayana Copyright : PT. Persyaratan menyangkut masalah keamanan terhadap kebakaran serta metode evakuasi pasien.

Kendaraan pengunjung.Main entrance yang jelas dan pintu masuk khusus yang mudah dilihat .Tampak bangunan menarik dengan skala manusia .Ruang. kendaraan servis. Karakteristik Disisi yang lain. Memenuhi Standar Bangunan Kesehatan .Menjadi tetangga yang baik terhadap lingkungan .2.Akses terpisah untuk suplai barang dan pembuangan sampah e.Sistem jaringan yang terorganisasi dan mudah digunakan serta mudah disesuaikan dengan kebutuhan yang akan datang 24 .Berdasar standar ruang yang ada . Memenuhi Standar Bangunan Kesehatan . Sesuai dengan lingkungan . Memenuhi Standar Konstruksi .Memperlihatkan komposisi yang baik .Lansekap yang menarik ARSITEKTUR RUMAH SAKIT d. dan karya seni untuk membantu penyembuhan . warna.Pencahayaan dan ventilasi alami yang mencakup semua bagian ruang .Akses mudah untuk penyandang cacat .Akses untuk pejalan khaki .Memberikan nilai positif pada komunitas dan konteks sosial . jelas dan mudah . perencanaan dan perancangan fisik rumah sakit juga didasarkan pada kriteria bangunan rumah sakit yang baik.Bahan bangunan dan finishing yang sesuai standar . Mudah bagi pengguna.Kenyamanan dan privasi .Hubungan antar fungsi .Memenuhi Panduan Bangunan Rumah Sakit Memenuhi Persyaratan Standar Teknis Bangunan Rumah Sakit f.Finishing yang mudah dan ekonomis dalam pemeliharaan . pemandangan.Jejalur yang sederhana. transportasi umum.Sesuai dengan tapak dan persyaratan perencanaan kota c. serta parkir kendaraan yang mencukupi . Akses yang Mudah -akses bagi Ambulans.Ruang dalam yang menentramkandengan pemandangan ke arah luar . Dimana kriteria yang harus dijawab pada bagian ini antara lain: a.Penggunaan ruang g. mobil pemadam kebakaran . pencahayaan. da karyawan.Memberi nilai estetis baik eksternal maupun internal b. ramah lingkungan .Pergerakan orang dan distribusi barang . Berarsitektur bagus .

rumahsakit dan fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya termasuk dalam kategori fasilitas publik yang perlu dikelola secara optimal.disamping agar lebih memiliki dayatarik bagi masyarakat pada umumnya. Masing-masing tahap dalam proses tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja fasilitas kesehatan. kesehatan lingkungan. Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain Fasilitas Kesehatan Kebanyakan Fasilitas kesehatan sekarang berada dalam tahap penghunian dan pemanfaatan. Penyelenggaraan kesehatan tersebut diharapkan dapat menjangkau lingkup spatial yang cukup ekstensif. Evaluasi pasca huni adalah suatu proses evaluasi fasilitas dengan cara yang sistematik setelah fasilitas tersebut dibangun dan dihuni dalam suatu kurun waktu tertentu. konstruksi dan penyediaan fasilitas. pencegahan penyakit (preventif). kesehatan sekolah. Fasilitas Kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. POE). yang lazim disebut dengan evaluasi pasca huni atau EPH (post occupancy evaluation. kesehatan jiwa. penghunian dan pemanfaatan. perancangan. pemberantasan penyakit. Penyelenggaraan upaya kesehatan di atas dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. dan untuk itu diperlukanlah berbagai macam fasilitas kesehatan dan unit-unit penyelenggara layanan kesehatan pada tingkat komunitas. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dan berkesinambungan. terpadu. pengamanan makanan dan minuman. pengamanan zat adiktif. Dan karenanya. penyuluhan kesehatan masyarakat.BAGIAN 1 I BAB 7 KONSEP RUMAH SAKIT DAN EVALUSAI PASCA HUNI Fasilitas kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Langkah-langkah Peringkatan Performansi 1. penyembuhan penyakit (kuratif). kesehatan kerja. serta evaluasi pasca huni. sehingga akses masyarakat luas terhadap berbagai layanan kesehatan menjadi lebih baik. yang meliputi kesehatan keluarga. diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (promotif). Sebagai fasilitas kesehatan dan fasilitas sosial. penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. 25 2. perbaikan gizi. pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. kesehatan olahraga. pengobatan tradisional. Tahap evaluasi pasca huni adalah tahap yang sangat perlu untuk melihat kesesuaian antara apa yang ada sekarang dengan pola-pola pemanfaatan oleh manusia dan perilakunya. Proses pengelolaan fasilitas tersebut meliputi perencanaan dan pemrograman. dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh. sesungguhnya sangat diperlukan evaluasi terhadap fasilitas yang ada sekarang. serta kesehatan mata.

Kegunaan jangka pendek. Evaluasi Pasca Huni Investigatif 3. Teknikal b. Dalam komponen setting perlu ditinjau komponen-komponen setting Fasilitas kesehatan yang terdiri atas berbagai unit. standar. Ruang b. Behavioral 2. akuntabilitas kinerja bangunan oleh semua pengguna. perbaikan basis data. yang meliputi: 1. Individu b. Organisasi 3. peningkatan sikap pengguna melalui keterlibatan dalam proses evaluasi. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: identifikasi masalah dan solusi dalam manajemen fasilitas. Pengguna a. 3.Kegunaan evaluasi pasca huni terbagi dalam 3 jangka waktu: 1. manajemen fasilitas yang proaktif terhadap aspirasi pengguna. Setting a. serta proses pengambilan keputusan yang lebih rasional dan objektif 2. Fungsional c. Bangunan c. 26 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dan kriteria untuk perancangan fasilitas. khususnya Fasilitas kesehatan. evaluasi pasca huni juga memiliki tingkatan kecermatan sesuai kebutuhan penggunanya. Kegunaan jangka panjang. Evaluasi Pasca Huni Diagnostik Bagi fasilitas Fasilitas kesehatan. penghematan biaya dalam proses pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan serta peningkatan usia bangunan. Dalam kriteria kinerja terdapat beberapa kriteria yang perlu diikuti. Kelompok c. dan manajemen) maupun pengguna jasa Fasilitas kesehatan (individu maupun kelompok masyarakat). evaluasi pasca huni perlu dikaitkan dengan “state of the art” fasilitas Fasilitas kesehatan. maupun hasil-hasil penelitian mengenai fasilitas kesehatan komunitas seperti Fasilitas kesehatan 2. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: kemampuan pengembangan fasilitas sesuai dengan pertumbuhan organisasi. Fasilitas Selain itu. serta perbaikan sistem penilaian fasilitas melalui kuantifikasi Jenis kegiatan dalam evaluasi pasca huni akan tergantung pada interaksi antar komponen dalam proses evalusi pasca huni: 1. 3. Evaluasi Pasca Huni Indikatif 2. Standar Arsitektural untuk Fasilitas Kesehatan. yang meliputi beberapa aspek: 1. Dalam komponen pengguna meliputi penyedia jasa dalam Fasilitas kesehatan (pengelola. ataupun kelompok fasilitas tertentu. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: kinerja fasilitas dalam jangka panjang. antara lain Standar Fasilitas kesehatan. dokter. Kegunaan jangka menengah. Kriteria kinerja a. peningkatan pemanfaatan ruang dan umpanbalik terhadap kinerja bangunan. pemahaman implikasi kinerja dalam kaitannya dengan ketersediaan anggaran. bagian. paramedis.

rerata. .Perencanaan metoda dan alat c.Perencanaan SDM .Pendahuluan.Penerapan Evaluasi Pasca Huni a. Kesimpulan. Awal Proses Pengumpulan Data Lapangan . persentase. memproses data. dan SDM. .Memilih indikator yang dapat merepresentasikan aspek .Penalaan antar pengamat.Rencana jangka menengah . Perencanaan Sumberdaya . interpretasi serta melengkapi analisis data.Memilih tingkatan usaha yang sesuai.Uji awal instrumen pengumpulan data.Mobilisasi data.Penguasaan Lapangan dan Pelaksanaan Survey b.Rencana jangka panjang 27 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Pemahaman terhadap karakter aktivitas. 3. chi-square.Tindakan terkait prosedur . peringkat. c. Pengenalan Masalah dan Kelayakan .Macam-macam analisis: berhasil/gagal.Tindakan terkait kebijakan . Pelaporan temuan . bandingan 2 kelompok. variabilitas.Memahami besaran dan kondisi signifikan aset eksisting. Pelaksanaan Evaluasi Pasca Huni a. Review Hasil dan Kesimpulan . Perencanaan Evaluasi Pasca Huni a. memasukkan dan transfer data. Apendiks. Pustaka b. Perencanaan Riset . . alat.Tahapan analisis: menyusun data mentah. Metodologi. . Rekomendasi tindakan .Antisipasi hasil dan kesimpulan 2.Antisipasi reaksi .Evaluasi pasca huni memiliki beberapa tahapan sebagaimana berikut: 1. b.Tujuan analisis data: pemerian. dan penjelasan . interpretasi. Pemantauan dan Manajemen Prosedur Pengumpulan Data . Temuan. Analisis Data .Menyusun kriteria untuk evaluasi ukuran . mengemas dan komunikasi temuan.Menentukan aspek kritis yang perlu diteliti . analisis korelasi .Tindakan terkait teknik c. Analisis data. analisis sederhana.Mengembangkan ukuran bagi tiap indikator .Rencana jangka pendek .Perencanaan waktu . .Memilih biaya evaluasi yang sesuai.

fasilitas dan perabot (semi-fixed elements) ataupun setting-setting meso dan mikro bagi berbagai aktivitas penggunanya (non-fixed elements). bentuk dan kelengkapan. diharapkan fasilitas kesehatan dapat memberi wadah bukan hanya kegiatan layanan kesehatan secara sempit. ataupun penambahan fungsi baru yang sinergis dengan fungsi yang ada. optimalisasi fasilitas kesehatan akan dipandang dari berbagai faset perencanaan fasilitas dan perancangan arsitektur. Sebagai contoh misalnya diperlukan adanya integrasi antara fungsi-fungsi kesehatan fasilitas kesehatan dengan fungsi-fungsi pendidikan. Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Fasilitas kesehatan Dalam bagian kedua. dan waktu. Optimalisasi konteks akan membuat fasilitas tersebut akan lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat penggunanya.3. layak untuk ditanggapi sebagai sesuatu yang penting. yang diperlukan adalah adanya pemenuhan kebutuhan masa kini dan masa depan yang terujud dalam bentuk fisik dan fasilitas serta teknik komunikasi yang digunakan. Interaksi antara ruang pakai baik yang aktif maupun yang pasif dengan ruang layanan. bahkan komersial yang akan menghidupkan fasilitas tersebut. Demikian juga dengan konteks sosial. Akses menjadi hal yang penting. nilai kegunaan. Dalam hal ini. Atau dapat juga dilihat sebagai sistem pewadahan fungsi (ruang dan tata perabot yang ada) serta sistem penunjang fungsi (pencahayaan. Dalam hal ini. Optimalisasi bentuk dan kelengkapan meliputi peningkatan secara fisik fasilitas kesehatan. serta konteks. Langkah-langkah Peringkatan Performansi Fasilitas Kesehatan Pendekatan kontemporer menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan membutuhkan fungsi dan fisik. lokasi dan ruang. Optimalisasi akses dan sirkulasi meliputi kemudahan pencapaian hingga pada perangkaian pergerakan dalam fasilitas kesehatan sehingga menjadi efektif dan efisien. akses dan sirkulasi. Optimalisasi konteks meliputi integrasi fasilitas kesehatan dengan konteks keruangan. rekreatif dan estetika dalam perannya melayani kesehatan. yang dapat menunjukkan karakteristik masyarakat di sekitar fasilitas kesehatan tersebut. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . penghawaan. dan dapat dilayani fasilitas kesehatan tersebut. baik ruang keseluruhan fasilitas kesehatan sebagai fasilitas. maupun ruang-ruang mikro dalam fasilitas kesehatan sebagai setting kegiatan. Berbagai fase ini dapat menjadi hasil keluaran dan rekomendasi dari evaluasi pasca huni yang dilakukan terhadap sebuah fasilitas kesehatan. rekreatif. Optimalisasi lokasi dan ruang meliputi peningkatan dan pengkayaan nilai lokasi serta kualitas ruangruang dalam dan di luar fasilitas kesehatan. Konteks keruangan. mengingat salah satu keunggulan fasilitas kesehatan adalah potensi jangkauan layanan kesehatan ke masyarakat luas di tengah komunitas mereka sendiri. Dalam aspek bentuk ini. interaksi antara ruang dalam dengan ruang luar. yang akan secara spesifik memberi keunikan pada fasilitas kesehatan dan menambah dayatariknya. Fasilitas kesehatan sebaiknya dikembangkan tidak hanya melayani kesehatan tetapi juga dapat memberi aspek kemasyarakatan. serta interaksi antara setting budidaya dengan setting alam sangat diperlukan. kemasyarakatan dan estetika. dalam arti lingkungan di sekitar fasilitas kesehatan. yaitu fungsi. Optimalisasi fungsi meliputi peningkatan fungsi yang ada sekarang dengan penyempurnaannya berdasar persepsi dan spirasi pengguna. serta akustik). 28 4. melainkan juga layanan kesehatan secara luas dan bahkan juga sebagai fasilitas sosial-edukasi-budaya secara proporsional. sosial. baik yang berupa bangunan (fixed elements). peningkatan performansi fasilitas kesehatan dapat meliputi peningkatan 5 aspeknya.

Threats (ancaman). yaitu faktor negatif eksternal Visi Visi dapat dirinci dalam waktu dimana visi tersebut diharapkan terjadi.Jangka pendek.Jangka menengah. yaitu faktor positif eksternal .Opportunities (peluang). dengan durasi sekitar 1 tahun Visi ini dapat juga terkait dengan tujuan atau sasaran. Salah satu alatnya adalah Analisis SWOT (SWOT analysis). pada dasarnya terdapat 5 komponen utama yang perlu didefinisikan secara jelas. yang meliputi: 1. Profil : kondisi eksisting yang ada 2. atau developmental goals dan developmental objectives 29 .Strengths (kekuatan). dapat terlihat bahwa proses ini sangat erat kaitannya dengan manajemen fasilitas secara luas. Strategi : cara untuk mencapai visi 5. rencana. Kondisi tersebut perlu dinilai. yaitu faktor positif internal . Visi : kondisi ideal yang diinginkan 3. Evaluasi Pasca Huni dapat membantu meningkatkan performansi Fasilitas kesehatan. dengan durasi sekitar 10-20 tahun . Langkah-langkah tersebut dapat berupa kebijaksanaan.Di sisi lain. dengan mengetahui potensi dan permasalahan yang ada. untuk kemudian dapat dilakukan langkahlangkah perbaikan. program. hingga projek yang diperlukan. yaitu faktor negatif internal . Masalah : jarak antara kondisi ideal dan kondisi eksisting 4. dengan durasi sekitar 5 tahun . strategi.Jangka panjang. dapat berupa: . Dalam proses perencanaan dan perancangan. Jika dilihat dalam sistem perencanaan dalam manajemen. Aksi : tindak nyata yang merupakan jabaran dari strategi Kondisi Ideal VISI jarak antara kondisi eksisting dan kondisi ideal MASALAH cara mencapai visi STRATEGI ARSITEKTUR RUMAH SAKIT kondisi eksisting PROFIL tindak nyata AKSI Profil Kondisi eksisting perlu ditinjau dari setidaknya 5 aspek yang disebutkan di atas.Weaknesses (kelemahan). yang meliputi: .

Aksi Produk rancangan yang ada pada dasarnya dapat dibagi dalam: .Rencana (plan) . Ruang Terbuka. Sirkulasi. Tapak.Mempelajari secara mendalam masalah yang dihadapi .Mengenali kisaran variabel-variabel yang perlu diperhitungkan .Membatasi daerah masalah secara lokasional. temporal.Arahan (guidelines) .Masalah Masalah adalah jarak (discrepancy) antara kondisi ideal yang diharapkan dengan kondisi eksisting sekarang ini. pemenuhan kebutuhan. Kontur dan Aliran Air 30 1. atau pemanfaatan peluang. Jika tujuan (goals) lebih bersifat ultimate serta tidak langsung. Kebutuhan vs Ketersediaan .Menyiapkan data-data/informasi pendukung masalah .Program (program) ARSITEKTUR RUMAH SAKIT BAGIAN 1 I BAB 8 PERENCANAAN LAHAN / SITE PLANNING RUMAH SAKIT Kebutuhan vs Ketersediaan Perencanaan Lokasi. Parkir. maka sasaran (objectives) lebih bersifat langsung serta konkret.Kebijakan (policy) .Menyiapkan daftar tujuan dan sasaran . serta melihat kaitan dan pengaruhnya terhadap masalah yang lain .Mengkaji ulang problem statement Strategi Strategi adalah cara untuk mencapai visi. Perumusan strategi terkait erat dengan perumusan tujuan dan sasaran bagi strategi tersebut. yang dijabarkan dalam rencana atau rancangan. Perumusan problem statement membutuhkan langkah-langkah sebagaimana berikut: . Tujuan pada dasarnya dapat berupa pemecahan masalah.

Perkembangan teknologi dan kesadaran akan pentingnya keberadaan sebuah fasilitas kesehatan yang memiliki brand image terpercaya. Adakah jaringan air limbah dan sistem pematusan yang terhubung dengan sistem perkotaan f. langkah-langkah taktis dan cermat sejak proses persiapan. Sirkulasi. membutuhkan areal seluas 12 hektar. dan kalaupun ada. tapi lokasi dengan luas seperti ini. 2. kenyamanan visual dan pengkondisian kualitas udara. perencanaan hingga perancangan lahan menjadi sebuah keharusan. Adakah layanan pengelolaan sampah di kawasan sekitar rumah sakit Rata-rata luasan lahan untuk rumah sakit dengan tipe B ke atas. Dekat kearah pusat jaringan transportasi untuk melayani masyarakat lokal serta luasan lahan yang cukup memadai akan memberi lebih banyak peluang dan fleksibilitas perluasan. Adakah jaringan telekomunikasi non-mobile c.Analisis Aspek Lokasi . Perencanaan Lokasi. Selain itu penting memperhatikan potensi ketersediaan sistem infrastruktur di luar site (off-site). susah untuk diperoleh. Adakah jaringan listrik dan keterdekatan dengan gardu induk b. Ruang Terbuka. Oleh karena itu. berhadapan dengan realita keterbatasan lahan/site. Tapak.Analisis Aspek Guna Lahan dan Zoning Rumah sakit harus menempati lokasi terbaik dan yang terdekat dengan populasi yang dilayaninya. biasanya berada jauh diluar kota dimana timbul banyak masalah tenaga kerja yang akan dipekerjakan di rumah sakit. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 31 .Analisis Aspek Transportasi dan Sirkulasi . dan terlengkap sesuai kualifikasi kelasnya. Adakah jaringan drainase di sekeliling lahan e. Luasan lahan yang dibutuhkan akan dipengaruhi oleh : -Batas Koefisien Dasar Bangunan di lokasi tersebut -Luasan bangunan yang diperlukan dalam perkembangan rumah sakit itu dalam kaitan pertumbuhan kapasitas pelayanan -Kebutuhan parkir dan akses -Kebutuhan penjarakan bangunan-bangunan dalam pertimbangan teknik fisika bangunan maupun kenyamanan okupansi. Kontur dan Aliran Air Tahapan awal dari Perencanaan Lahan/Site Planning untuk mengenali dan mendapatkan kondisi akurat eksisting terdiri dari: . pada cakupan lingkungan mikro. -Ketersediaan ruang terbuka hijau untuk utilisasi dan kenservasi air tanah. Atau pada situasi daerah kota yang sangat hiruk pikuk termasuk lokasi dimana pembangunan dilakukan dengan merubah bentuk bangunan-bangunan yang telah ada sebelumnya yang tentunya akan menjadi sangat mahal untuk kebutuhan KDB yang tinggi. Adakah jaringan jaringan perpipaan air bersih yang dikelola PDAM atau perusahaan penyedia air bersih lain d. Parkir. Aspek yang harus diperhatikan terkait dengan hal tersebut antara lain adalah: a. terbaik.

Arsip .Ruang Operasi .Physiotherapi . serta service dibedakan.Ruang Kepala . Global Rancang Selaras 32 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . pemberi layanan kesehatan. Prinsip dan Implementasi Rumah sakit didesain dengan mempertimbangkan efisiensi kegiatan dan kapasitas sirkulasi akibat peningkatan kebutuhan sehingga terdapat beberapa zonasi yang nantinya akan mempengaruhi layout ruangan.Poliklinik .BAGIAN 1 I BAB 9 SIRKULASI DAN ZONING KOMPONEN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi 1.Laboratorium Klinis .Ruang Administrasi Umum .Security B. sekunder.Radiology/ultrasound .Informasi dan Pendaftaran . Begitu pula dengan sirkulasi barang.Rehabilitasi . Komponen Bangunan Rumah Sakit A. Unit Administrasi .Ruang Personalia . pengunjung.Gudang Medis .Pathology . serta meminimalisasi akses medik sentral untuk kepentingan penjagaan sterilitas.UGD .Ruang Staff .Ruang Sekretaris .Kantor Pembayaran .Ruang Rapat . kegawatdaruratan.Ruang Dokter / Perawat Jaga .Ruang Tunggu .Pediatry Ekspladometri Rumah Sakit Pendidikan Universitas BrawijayaCopyright : PT. Zona primer.Keuangan . tersier. Unit Medis .

Gudang Ambulance . Musik .Parkir . Global Rancang Selaras 33 Ekspladometri Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mataram Copyright : PT.Dapur F.Pantry . Konsultasi D.Cleaning Service/Janitor .Bengkel / Workshop . Pelatihan.R.Elektrikal .Perawat Poliklinik E.Ruang ibadah .Ruang Tidur .Ruang Perawat . Seminar .Rawat Medis .R.Kios/kafeteria .R. Peruntukkan Umum .Lounge G. Global Rancang Selaras ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Perpustakaan . Serbaguna .Kapel . Rekreasi.Spoel Hoek/Slob Zink .R. Pembina .Nurse station (loker.Mekanikal .Rekam Medis . House Keeping dan Teknis . Unit Keperawatan .R.R. Ganti.Gudang Umum .Sterilisasi / Clean Utility . dan Keterampilan .Engineering .Rg. Fitness .Ruang pertemuan . Unit Rawat Inap .Workshop .C.Kolam Renang .Masjid / Mushola . Makan Bersama .Ruang Obat .R. Konseling .Auditorium Ekspladometri Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mataram Copyright : PT. Komputer . lavatory) . r.R.Hall/ Lobby .Farmasi / Gudang Obat .Ruang Kelas .Laundry .

Bangunan juga harus didirikan untuk mengakomodasi unit-unit yang ada.penyimpanan dan penataan .faktor manusia . Pertimbangkan pula waktu paruh perjalanan staf seefisien dan seminimal mungkin dengan pasien. yaitu : . Masalah dalam menentukan standar ini akan berbeda antara satu lokasi dengan lokasi yang lain.kognisi dan orientasi lingkungan Bangunan rumah sakit harus didesain dengan meminimalkan jangkauan personal paramedis dan kemungkinan kontaminasi serta memaksimalkan efisiensi seluruh sistem. Merupakan hal yang sangat penting bahwa pembiayaan bangunan dipertahankan serendah mungkin secara konsisten dengan menyesuaikan dengan standar yang dapat diterima serta memberikan keseimbangan yang optimal antara kedua hal tersebut.sistem kontrol lingkungan Aspek Behavioral.proksemik dan teritorialitas .privasi dan interaksi . meliputi : .sanitasi dan ventilasi .keselamatan kebakaran .atap akustik .dinding eksterior .pencahayaan .struktur .finishing interior .komunikasi dan alur kerja . 34 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .spesialisasi dalam tipe/unit bangunan Aspek Teknikal.persepsi lingkungan . meliputi : . Karakter yang cerah yang berpengaruh pada tanggapan pengguna terhadap kegiatan didalamnya. Orientasi bangunan juga harus menanggapi iklim baik secara internal maupun eksternal.BAGIAN 2 I BAB 10 PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT: PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Fleksibilitas dan Pentahapan Pertimbangan Estetika dan Kenyamanan 1. Prinsip dan Implementasi Sebuah bangunan rumah sakit harus memenuhi aspek-aspek sebagai berikut : Aspek Fungsional.citra dan makna .fleksibilitas dan perubahan . Karakter bangunan harus menampakkan harapan.elektrikal .

2. kebutuhan untuk membagi pembangunan kedalam unit-unit kerja bangunan yang dapat ditangani oleh manajemen dengan memuaskan 3. ruang bangunan serta infrastruktur eksisting yang bisa dimanfaatkan kembali baik dengan penyesuaian maupun tidak. Dibutuhkan keahlian teknis dan penyelesaian detil khusus. Langkah mengawali proses desain adalah inventarisasi terhadap fungsi. Ada dua tujuan yang tidak dapat terelakkan yang berpotensi menciptakan konflik kebutuhan-kebutuhan dan sebuah keseimbangan yang hanya dapat dicapai oleh perdebatan berbagai disiplin ilmu dan kerelaan pihak-pihak untuk berkompromi secara operasional maupun secara teknis. Pembatasan modal untuk proyek pembangunan. konsisten dengan mengesampingkan tujuan yang menyangkut penetapan biaya serendah mungkin. Tahap pembangunan rumah sakit pada lokasi baru memiliki keuntungan dari segi kebebasan membuat desain. terdapat peran sosial yang harus diemban oleh rumah sakit sebagai misi utama dari sekedar perhitungan untung rugi 2. 2.Hal-hal yang mempengaruhi biaya pada prinsipnya muncul dari : 1. Pertimbangan bisnis strategis layanan sehubungan dengan kalkulasi biaya investasi terhadap estimasi pemasukan. Pertimbangan kontraktual. Pada lokasi baru. meliputi area dan volume termasuk geometri dan bentuk bangunan 2. Ada tiga alasan pentingnya pentahapan untuk hal ini yaitu : 1. Terdapat faktor resiko penyerapan layanan terhadap aspek pembiayaan yang harus mencapai titik imbang secara wajar Kebutuhan akan pentahapan memiliki dampak yang dominan pada bentuk-bentuk bangunan yang wajar. yang bisa dijabarkan dari kapasitas dan berusaha menemukan cara bagaimana dapat menyediakan servis yang dapat dikembangkan dalam tahap berikutnya serta tetap memelihara efisiensi operasional dan mengoptimalkan hubungan antar instalasi. Penyelesaian kenyamanan bangunan dan syarat fasilitas medik. Ada dua pola dasar pentahapan yaitu : 1. Desainer juga dihadapkan pada masalah mendesain dasar-dasar yang akan mendukung instalasi. Dalam hal ini akan berimplikasi terhadap fungsi yang terdapat didalamnya (baik yang lengkap atau bagian instalasi) dan hal-hal teknis (ketentuan pembatasan bagi kebutuhankebutuhan awal atau membuat antisipasi untuk kebutuhan-kebutuhan dikemudian hari). Kebutuhan untuk membangun sebagai jawaban dari rencana strategik. diantara tahap-tahap pembentukan bangunan dan strategi teknis dibutuhkan untuk tujuan perkembangan maksimal dan potensi perubahan. Jika hal ini sudah bisa dipertimbangkan dalam waktu tertentu. Fleksibilitas dan Pentahapan Sebagian besar bangunan rumah sakit harus melakukan pembangunan secara bertahap. hal ini seringkali berasal dari kebijakan penyediaan untuk implementasi secara bertahap yang lebih dari satu kali proses pembangunan. Untuk gedung aset Negara atau Pemerintah masing-masing aksi penyesuaian memiliki tata laksana tertentu. Pengaruh yang paling besar adalah jangka waktu yang panjang yang dilalui diantara tahap-tahap tersebut. Jumlah bangunan yang akan dibangun. kapasitas dan jumlah unit infrastruktur penunjang. Hal ini membutuhkan biaya banyak dan cenderung menggunakan modal yang tidak proporsional. Namun hal tersebut tidak semata berdiri sendiri. Pada bangunan yang telah ada. Proses desain harus menerapkan keterpaduan secara mutlak terhadap bangunan maupun tata fungsi yang telah ada. 35 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Jenis. 3. Dalam aksi penyesuaian itulah memungkinkan dilakukan pemusnahan (demolition) atau penggantian (rehabilitation). tetapi beberapa kerugiannya adalah harus menyediakan layanan-layanan yang sifatnya mendasar pada tahap pertama.

3. 3.Posisi tempat kegiatan yang menimbulkan hawa panas dan suara bising. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 36 .Pertimbangkan dengan cermat mengenai geometri dan penempatan halaman sebagai titik orientasi dari massa bangunan.Menyesuaikan bangunan terhadap kontur lokasi. menghadirkan sebuah ruang yang memiliki pemandangan yang tidak membosankan. 4. Diusahakan agar massa bangunan tidak mendapat sinar matahari secara langsung kecuali aktivitas terwadahi menuntutnya. 6.Hindari areal halaman parkir yang sangat luas. 5. yang seringkali memberikan keuntungan operasional misalnya akses pada berbagai tingkatan. Pertimbangan Estetika dan Kenyamanan Kelompok bangunan yang terdiri dari beberapa massa bangunan lebih mudah diintegrasikan ke dalam batas visual komunitas. Belajar dari pengalaman telah menunjukkan bahwa ukuran rumah sakit yang optimal dapat memberikan kenyamanan. secara internal maupun secara eksternal. 2. Beberapa faktor kunci : 1. Tetapi beberapa rumah sakit dengan pertimbangan tertentu dibuat dengan volume besar dan berskala monumental bila diperbandingkan dengan tipologi umum bangunan.Menghindari koridor-koridor panjang yang membosankan. Keduanya dapat berintegrasi sepenuhnya pada hal-hal yang berada disekeliling lingkungan gedung rumah sakit dimana ukuran yang harus dipertimbangkan adalah skala manusia. harus jauh dari area pasien.Menghindari penempatan pasien dan staf-staf pada tempat yang tidak nyaman karena adanya perluasan atau pembangunan sisi lain bangunan. Menghindari adanya permukaan bangunan yang panjang dan memberi kesan membosankan. paling tidak posisinya ditempatkan pada areal yang masih dapat diawasi dari jauh. 7.

Prinsip dan Implementasi Rumah sakit harus memiliki fasilitas tetap yang menyediakan pelayanan medis baik infrastruktur off-site maupun infrastruktur on-site. 37 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .BAGIAN 2 I BAB 11 PERENCANAAN INFRASTRUKTUR RUMAH SAKIT prinsip dan implementasi Perencanaan infrastruktur 1.

38 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Sehingga jika kapasitas maksimal layanan yang akan dikembangkan di Rumah sakit adalah 300 TT. sumur dalam. maka kapasitas teknis air bersih perhari yang harus disiapkan adalah 300 TT x 700 liter = 210. untuk memelihara kualitas lingkungan atau mengendalikan faktor lingkungan yang dapat merugikan kesehatan harus ditunjang dengan peralatan serta sistem pengelolaan yang memadai sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang bersifat teknis kesehatan. Perencanaan Infrastruktur Penyediaan sarana prasarana pada fasilitas kesehatan utamanya ditujukan untuk melindungi. Kuantitas yang tepat berarti debit air bersih yang disuplai dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit pada skala kapasitas maksimal. Target utama perencanaan sistem penyediaan air bersih ini adalah pemenuhan kebutuhan air bersih di Rumah sakit dalam kuantitas dan kualitas yang tepat.Pendekatan penghitungan kebutuhan air bersih untuk bangunan Rumah sakit adalah 700 liter per tempat tidur per hari. c. memelihara dan atau mempertinggi derajat kesehatan. Sistem jaringan terlindungi oleh shaft untuk pertimbangan pemeliharaan dan sistem kontrol. b. Sistem yang efisien dan efektif juga diperlukan agar ekonomis dalam pembangunan dan pengoperasian. ataupun PAM. Kriteria Desain Umum Penyediaan Air Perencanaan sistem penyediaan air bersih di Rumah sakit berpedoman pada sistem yang optimal dan ketepatan pada pemenuhan kebutuhan pelayanan. perencanaan infrastruktur berada dalam lingkup sistemik belum mengarah pada detil alat atau jaringan ataupun detil kapasitas. Bagan Langkah Perencanaan Infrastruktur A.2.Sistem jaringan direncanakan sesederhana mungkin. Kata kunci sumber air adalah: Kontinuitas debit dan volume sehingga kombinasi keduanya akan menjaga kontinuitas pasokan disegala musim. Dalam materi Masterplan. Selanjutnya perencanaan infrastruktur dilaksanakan seiring dengan perencanaan arsitektural terkait dengan bangunan serta keberadaan lahan. Oleh karena itu.Direkomendasikan memanfaatkan kombinasi sumber air bersih yaitu sumur dangkal.000 liter per hari atau 210 m³ per hari. Peraturan dan standar diatas merupakan acuan yang harus dipatuhi dalam meraih kinerja infrastruktur yang baik. sedang kualitas yang tepat berarti air bersih yang disuplai telah memenuhi standar higienitas air siap minum. Beberapa asumsi dan dasar perencanaan sistem pengelolaan limbah cair di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : a.

Desain Umum Penyediaan Air Panas Perencanaan sistem suplai air panas berpedoman pada sistem yang ekonomis dengan konsentrasi suplai pada unit-unit yang paling membutuhkan. f. g. maka direncanakan zona distribusi air bersih. 39 Skema Sistem DistribusiAir Bersih Pada Bangunan B.Pengawasan kualitas air secara rutin sehingga suplai air bersih tetap aman dan tidak menimbulkan gangguan/bahaya terhadap kesehatan. Distribusi saluran tidak boleh melalui ruang fungsional kecuali dibawah ruang sirkulasi. Sistem yang paling efektif dipilih agar kemudahan dalam operasional dan pembangunan dapat tercapai. Ini berarti tidak ada distribusi saluran diagonal/ miring terhadap bangunan.Untuk kepentingan kemudahan operasi dan pemeliharaan. Zona distribusi didasarkan pada kedekatan atau pengelompokan bangunan. optimalisasi distribusi serta sistem kontrol.Seluruh kebutuhan air bersih di suplai dengan sistem perpipaan didukung roof dan ground tank set yang berfungsi pula sebagai reservoir dan water treatment set.d. e.Semua jaringan air bersih merupakan jaringan bawah tanah diluar bangunan.Arah dan distribusi pipa mengikuti bangunan atau tegak lurusnya. Beberapa dasar perencanaan sistem penyediaan air panas di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . h.

Sistem penyediaan air panas diperoleh dengan memanaskan air dari energi diesel untuk perebusan. Sistem pengelolaan limbah cair yang ada saat ini masih berupa sistem yang sederhana. Sehingga kapasitas pengelolaan limbah cair di Rumah sakit adalah 700 liter/hari/TT x 300 TT x 80% = 168.000 liter perhari. c. Target utama adalah menurunkan zat pencemar organik dan angka kuman sehingga sifat air limbah cair memenuhi syarat baku mutu air limbah. b. Penempatan jaringan pipa distribusi air panas diletakkan diatas dengan mempertimbangkan tingkat keamanan dan tidak mengganggu aktivitas utama.a. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 40 Skema Sistem Distribusi Pengolahan Air Limbah Beberapa asumsi dan dasar perencanaan sistem pengelolaan limbah cair di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : a. d. b. Saat ini Rumah sakit belum memiliki sistem pengelolaan limbah cair yang sempurna dan paripurna. Penyediaan air panas diarahkan pasokan ke unit sterilisasi serta sebagian kecil untuk kepentingan laundry dan pengelolaan laundry Rumah sakit. c. Pendekatan penghitungan volume limbah cair pada bangunan rumah sakit adalah asumsi 80% konsumsi air bersih akan terbuang sebagai limbah cair. Pendekatan penghitungan kebutuhan air panas untuk bangunan Rumah sakit adalah sekitar 130 liter per tempat tidur per hari. C. Sistem yang diterapkan menggunakan sistem boiler terpusat.000 liter/hari atau 168 m3. ekonomis dalam pembangunan dan pengoperasian. Hal penting lainnya adalah rekayasa tepat yang harus dilakukan pada bangunan dan lingkungan terhadap sistem pengelolaan limbah cair. Kapasitas maksimal pelayanan adalah 300 TT. Kriteria Desain Umum Pengelolaan Limbah Cair Perencanaan pengelolaan limbah cair berpedoman pada sistem yang optimal. maka debit air panas yang harus disiapkan adalah 39. Jika kapasitas maksimal yang akan dilayani oleh sistem air panas di Rumah sakit maksimal adalah 300 TT.

gigi. infeksius. bau yang keluar dan getaran yang dihasilkan saat pengolahan. Sampah Medis Bisa disebut pula sampah klinis yang berasal dari pelayanan medis. b. Saluran distribusi yang direncanakan berada pada sekeliling bangunan sehingga tidak ada saluran yang crossing terhadap bangunan. Tidak ada toleransi genangan yang diijinkan. Selain itu bisa digunakan kombinasi material penutup yang ideal terhadap penyerapan air permukaan adalah grass block. untuk memudahkan perawatan. f. Komponen pendukung saluran drainase antara lain: gorong-gorong pada saluran menyilang terhadap jalan/selasar/sirkulasi dan sumur resapan air hujan (retaining well) dengan persyaratan struktur tanah tertentu. Zona instalasi pengolahan limbah cair direncanakan terpisah dan berjarak dari ruang fungsional lain mengingat suhu yang dikeluarkan. e. g. perawatan. Limpasan yang dibuang keluar kawasan rumah sakit dialirkan ke assainering disekeliling site. Kriteria Desain Umum Pengelolaan Sampah Untuk kepentingan pengelolaan sampah secara garis besar dapat digolongkan dalam 2 (dua) jenis yaitu sampah medis dan non-medis. 41 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . sebaran dan keberadaan saluran drainase kota atau sungai (penerima run-off utama). Ini berarti bahwa diluar bangunan beratap sebisa mungkin berupa taman atau kebun. D. d. Pada prinsipnya semua saluran drainase direncanakan terbuka atau semi terbuka untuk memudahkan perawatan dan pemeliharaan. Kriteria Desain Umum Sistem Drainase dan Pengelolaan Air Hujan Target utama dalam perencanaan sistem drainase dan pengelolaan air hujan adalah mengalirkan air hujan yang ada secepat mungkin di lahan Rumah sakit sehingga tidak ada genangan yang terjadi. farmasi atau yang sejenisnya. Permukaan jalan dan parkir menggunakan aspal dengan kemiringan memadai. e. h. berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika dilakukan pengamanan tertentu. E. 2) Saluran penerima dengan dimensi 30x30 yang berfungsi menerima air hujan yang disalurkan talang dari atap tiap bangunan atau kelompok bangunan. Dimungkinkan ada saluran tertutup pada beberapa penggal yang ada dibawah bangunan. Hal yang perlu diperhatikan adalah menghindari perletakan sistem jaringan dibawah bangunan atau ruang fungsional kecuali pada ruang sirkulasi. Jaringan saluran air hujan terpisah dengan saluran air limbah. Sumur resapan dibangun di bagian bawah jalan sehingga terhindar dari bongkar pasang akibat pengembangan bangunan. Beberapa dasar perencanaan sistem drainase dan pengelolaan air hujan di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : a.d. Ini berarti bahwa air hujan yang jatuh baik dari atap maupun yang langsung ke permukaan bumi langsung dimasukkan ke saluran air hujan. dan perawatan yang menggunakan bahan beracun. Model distribusi saluran tersebut adalah tegak lurus dan searah saluran kota ataupun sungai. Memaksimalkan area tangkapan air hujan (capturing areas) dengan koefisien pengaliran (run-off coefficient) sekecil mungkin. c. Penerapan hirarki pada sistem jaringan dengan perkiraan dimensi yaitu : 1) Saluran pengumpul dengan dimensi 30x40 merupakan saluran tegak lurus saluran assainering kota penerima run-off yang berfungsi sebagai pengumpul dari saluran-saluran penerima. pengobatan. f. j. Untuk mengurangi akibat dari hal diatas serta gangguan visual maka disarankan menggunakan elemen lansekap berupa tanaman rapat setidaknya setinggi 120 cm mengelilingi zona instalasi pengolahan limbah cair. pemeliharaan dan pemantauan. 1. Sistem distribusi saluran direncanakan sesederhana dan sejelas mungkin. I. Dalam hal ini hanya ada 2 (dua) model distribusi yang berorientasi terhadap konfigurasi bangunan.

laboratorium. pengelolaan mekanikal dan elektrikal disasarkan untuk: a. sistem penanggulangan kebakaran dapat diselesaikan dengan cara mekanis.Aktivitas dapur dan bagian gizi berupa sampah mudah busuk yang berasal dari penyiapan pengolahan dari penyajian makanan. IGD. fire estinguisher. Umumnya sampah non-medis berasal dari: . Sistem Pemadam Kebakaran b. Kriteria Desain Pengelolaan Mekanikal Elektrikal Secara umum pengelolaan mekanikal dan elektrikal di rumah sakit ditujukan untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit. misalnya: dapur. dapat digunakan tabung pemadam kebakaran yang diletakkan stasioner pada tempat tempat yang penting (kamar operasi.2. Mendukung efisiensi waktu dan biaya Aspek tinjauan dalam pengelolaan mekanikal elektrikal adalah: a. debu . sisa makanan/bahan makanan.Aktivitas halaman/kebun berupa sisa pembungkus.Aktivitas laundry berupa pembungkus dan kemasan . karena pemikiran segi ekonomis. Sampah Non-Medis Merupakan buangan padat (solid waste) diluar sampah medis atau klinis diatas. Mengamankan aktivitas dan pelayanan termasuk aset usaha c. sisa pembungkus. Dalam format yang ideal. Namun. Penanganan terhadap bahaya kebakaran secara dasar disajikan pada Gambar berikut ini: 42 . Mempermudah aktivitas dan pelayanan b. Sistem Elektrikal e. Kriteria Sistem Pemadam Kebakaran Pada hakekatnya.Aktivitas umum berasal dari pengunjung berupa kemasan makanan-minuman. sayur dan lain-lain . sisa makanan Secara sistematik. hydrant dan Iain Iain. Sistem Komunikasi G. yaitu menggunakan smoke/ heat detector. Sistem Tata Udara c. Kamar Intensif) dan tempat yang sekiranya mengundang resiko kebakaran. Sistem Gas Medik d. sistem pengelolaan yang direncanakan untuk Rumah sakit adalah sesuai dengan Gambar berikut ini: Non Medis Dapur Seleksi basah atau kering Bin Pengumpul Kontainer TPA Kota Malang Umum Seleksi basah atau kering Bak Sampah Medis Seleksi menurut potensi bahaya Alat pengumpul Incenerator Sanitary Landfill offsite Bagan Sistem Pengelolaan Sampah ARSITEKTUR RUMAH SAKIT F. daun ranting. rawat inap.Aktivitas kantor administrasi berupa kertas dan alat tulis . ruang diesel.

Bila suatu ketika terjadi kebakaran. bila terjadi kebakaran.Bagan Rencana Sistem Pemadam Kebakaran Yang dimaksud di sini adalah cara penanganan dan tindakan yang dilakukan dalam usaha-usaha perlindungan bangunan terhadap bahaya kebakaran. selain karena lebih cepat. yaitu mulai dari pengenalan adanya api sampai pemadamannya. Automatic Pada sistem ini. cara kerjanya juga lebih efisien. 2. 1. Adapun usaha pemadaman itu sendiri juga dilakukan dengan peralatan yang serba manual. maka secara otomatis tanda bahaya kebakaran akan berfungsi. sedangkan tindakan selanjutnya adalah usaha mengatasi/memadamkan kebakaran tersebut yang masih dikerjakan dengan sistem manual. Semi Automatic Sistem ini merupakan gabungan dari cara kerja Fire Protection sistem manual dengan Fire Protection sistem otomatis. Bangunan multi storey kebanyakan menggunakan sistem otomatis. maka dengan sendirinya pencegahan dan pengatasan bahaya kebakaran dapat berlangsung dengan cepat dan kemungkinan adanya perluasan area kebakaran dan akibat-akibatnya dapat dikurangi semaksimal mungkin. 43 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . maupun dalam mengatasi/memadamkan kebakaran. Manual Dalam sistem ini. 3. Satu tarikan manual tertentu dalam box akan menyalakan seluruh tanda bahaya atau alarm yang dapat terdengar dari seluruh penjuru bangunan. seseorang yang melihat atau mengetahuinya harus menuju ke signal box atau tempat-tempat umum lainnya. peralatannya bekerja secara otomatis. yang memberitahukan selain tanda adanya bahaya kebakaran. Karena peralatan bekerja secara otomatis. baik dalam mendeteksi bahaya kebakaran yang kemudian langsung memberikan tanda bahaya. juga menjadi peringatan bagi orangorang yang berada dalam bangunan untuk melakukan usaha pemadaman.

Sistem Tata Suara Lingkup Pekerjaan . Pengatur kelembaban 2 c.Sistem Paging dan Announcement (seleksi paging. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 44 . fungsi pengkondisian udara bertujuan untuk mencapai kenyamanan pada suhu udara dan kelembaban yang terkontrol. J. Prinsip AC yaitu memindahkan kalor dari satu tempat ke tempat yang lain. khususnya ruang berkelas.Sistem Keadaan Darurat dan Evakuasi. Memperlancar distribusi O . yaitu beberapa TBT yang dapat dipergunakan menjadi beberapa pesawat extension. emergency. I. IGD. fungsi utama AC adalah: a. Line audio untuk pengumuman dan radio. memindahkan kalor dari dalam ke luar ruangan. .Sistem Back Ground Music. K. Pada instalasi rawat inap. Ruang kontrol direncanakan perletakannya di antara bangunan medik sentral. (c) kemudahan perhitungan pemakaian oksigen. public adress). yaitu dengan mengupayakan beberapa sistem telekomunikasi operasional : a. dan ruang Iain yang membutuhkan sterilitas. Pendistribusian oksigen dikendalikan pada ruang sentraI atau ruang kontrol gas medik. yaitu: ruang operasi. Pesawat telepon sentraI dengan sistem PABX. Dalam sebuah bangunan. b. melalui pipa bertekanan disalurkan ke ruang-ruang yang membutuhkannya (misalnya Ruang Operasi. misalnya sebagai pendingin.Kriteria Sistem Gas Medik Penggunaan sistem gas medik sentral ini memiliki beberapa keuntungan yaitu antara Iain: (a) efisiensi tenaga pengangkut tabung oksigen. agar mempunyai komposisi ideal bagi pernafasan Untuk efisiensi.Fungsi Ruang Ruang Rawat Inap VIP Ruang Rawat Inap Kelas I dan II Kantor Lobby / Ruang Tunggu Coridor/Hall/Staircase Central Room/Ruang Kontrol Kitchen/Canten Ruang Genset Detector Smoke Detector Rate of Rise Detector Rate of Rise Heat Detectoe Rate of Rise Heat Detector Rate of Rise heat Detector Smoke Detector Fixed Temperature Detector Fixed temperature Detector Jenis Detector H. Kriteria Sistem Telekomunikasi Di dalam menunjang kegiatan pelayanan di Rumah sakit. sedangkan sebagai pemanas. (b) kemudahan distribusi untuk bangunan berjangkauan jauh. Line interkom sebagai penghubung antar instalasi dan antar nurse station c. Kriteria Sistem Pengkondisian Udara Pengkondisian udara lebih ditekankan kepada fungsi pelayanan dengan tingkat sterilitas tinggi serta ruang dengan instrumen pendukung yang membutuhkan persyaratan suhu dan kelembapan tertentu. dan Instalasi Rawat Inap Kelas) melalui outlet. memindahkan kalor dari sistem pemanas ke dalam ruangan. Sebagai pengatur suhu (pendingin atau pemanas) b. Ruang Bersalin (VK). maka pada skala pelayanan yang dituju Rumah sakit akan lebih optimal bila menggunakan AC split atau AC window. . perlu adanya hubungan telekomunikasi yang baik.

Bed Side Call ditarik parallel ke Ceiling Speaker Sub . M. dimana hasil gambar dapat diamati melalui TV Monitor Kriteria Perancangan dan Uraian Singkat Sistem a. Pekerjaan Nurse Call Lingkup Pekerjaan Nurse Call digunakan untuk komunikasi antara pasien dengan perawat.Ruang Ruang Pasien Kamar Rawat Hall & Coridor Ruang Operasi Umum Ruang Recovery Ruang X-Ray Toilet Gudang Utility Kantor Parkir Noise Level (dB) 40 – 60 40 – 60 35 – 45 40 – 60 40 – 60 40 – 60 40 – 60 40 . N.Ceiling Speaker Sub juga bisa difungsikan sebagai microphone.Kapasitas dari Nurse Station sesuai dengan jumlah Ceiling Speaker. distribusi dayanya sangat terbatas pada pemakaian maksimal yang diijinkan/ dilanggan.Setiap lantai mempunyai sistem tersendiri yang terpisah dengan sistem yang berada di lantai lain. PLN (Perusahaan Listrik Negara). Sistem CCTV (Closed Circuit Television) Lingkup Pekerjaan adalah CCTV (Closed Circuit Television System) digunakan untuk membantu pengawasan kegiatan operasi . . .Nurse reset dipasang di pintu kamar dan dikoneksikan ke Ceiling Speaker. Pasien dapat berkomunikasi 2 arah dengan perawat tanpa pasien harus menekan tombol (hands free).Nurse Station ditempatkan pada tiap lantai dimana masing-masing lantai menggunakan 1 nurse station . Peralatan Utama ditempatkan pada Ruang Security c. suster juga bisa langsung menjawab permintaan pasien dengan langsung bebicara melalui handset nurse station. suara pasien ditangkap oleh speaker dan bisa didengar di pesawat nurse station. Oleh karenanya. 45 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . pengunjung maupun karyawan ataupun ruangan serta lokasi lain melalui video kamera. Dengan demikian bahaya gangguan dapat terdeteksi lebih dini sehingga dapat diambil tindakan – tindakan yang cepat dan tepat untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. CCTV Camera ditempatkan pada posisi sesuai dengan perencanaan (lampiran) b. Kriteria Perancangan dan Uraian Singkat Sistem . Misalnya jika jumlah speaker ada 20 buah (untuk 20 kamar) berarti kapasitas Nurse Station adalah 20 kamar. Aliran ini berasal dari jaringan yang dikelola oleh pemerintah.60 60 60 70 – 80 Asumsi Tingkat Kebisingan (Noice Level) pada ruangan L. Sistem ini akan memonitor segala kegiatan yang terjangkau dengan kamera dan selanjutnya di tampilkan pada TV Monitor baik secara slide (kamera bergantian) maupun manual. yaitu : 1. .Dari masing-masing Ceiling Speaker Sub ditarik ke Nurse Station dengan 1 Ceiling Speaker Sub adalah satu tarikan menuju Nurse Station. Kriteria Sistem Elektrikal Tenaga listrik yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di Rumah sakit dapat diperoleh dari tiga macam sumber tenaga.Emergency pull cord dipasang di tiap toilet dan dikoneksikan ke Ceiling Speaker . . masing-masing kamar 1 lampu yang juga dikoneksikan dengan Ceiling Speaker. Hal ini untuk memudahkan panggilan kepada Perawat apabila Pasien memerlukan tindakan medis.Corridor Lamp dipasang di depan kamar. .

Kesulitan penyimpanan bahan bakar.Mahal.Mesinnya sendiri dengan perlengkapannya.Memerlukan pemeliharaan yang konstan dan testing yang teratur. . Baterai Baterai sering digunakan untuk mensuplai kebutuhan tenaga listrik dalam keadaan emergency yang terbatas.52000 300 75 – 100 100 100 100 200 50 400 300 50 – 100 Standar Intensitas Penerangan 46 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Ruang Ruang Pasien Kamar Rawat Ruang Pemerikasaan Ruang Operasi Umum Meja Operasi Ruang Recovery Ruang X Ray Hall & Coridor Kamar Mandi dan WC Gudang Utility Tangga Ruang Kontrol Kantor Parkir Iluminasi (Lux) 100 100 300 300 30000 . Keuntungan dari pemakaian sumber tenaga generator set adalah : . instalasi mesin generator terdiri dari tiga kelompok. .Sistem bahan bakar dan tempatnya. Pada dasarnya.Timbul akibat sampingan berupa kebisingan getaran. . Keuntungan pemakaian sumber tenaga baterai adalah : .Dalam operasional tidak membutuhkan biaya perawatan yang berarti.Tidak membutuhkan ruangan khusus untuk pengontrolan. Kekurangan sumber tenaga generator set adalah : . 3.Adapun keuntungan dari pemakaian sumber tenaga PLN adalah : . 2.Lamanya terbatas . dan suara dari saluran pembuangan gas. . yaitu: . Beberapa unit ditempatkan pada individual cabinet atau pada rak untuk instalasi yang lebih besar dan selalu dilengkapi dengan peralatan automatic charging.Ruangan sebagai wadahnya. kebisingan dan lain-lain.Tidak memerlukan ruangan sendiri yang terpisah . Kekurangan sumber tenaga baterai adalah : .Lamanya tenaga bekerja hanya dibatasi oleh ukuran tangki bahan bakar.Tidak menimbulkan dampak yang merugikan seperti pencemaran.Pengadaan awal lebih murah dibandingkan dengan sumber tenaga lainnya. terutama untuk penerangan dan server komputer. .Generator Set Sumber tenaga ini dikelola oleh pemilik bangunan dan merupakan fasilitas bangunan. . getaran.Dapat dipasang pada sistem sentral dan didistribusikan melalui saluran dari baterai langsung melalui fasilitas yang ada.Biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah bila diperhitungkan dalam jangka waktu yang lama. . .

Memperoleh keterpaduan antara rencana pengembangan program pelayanan kesehatan dengan rencana pengembangan fisik. dimana diperlukan suatu rencana dari awal: masterplan. dan justru terasa stagnan. Optimalisasi fungsi. integrasi antara manajemen fisik rumah sakit degan manajemen strategis rumah sakit menjadi sangat penting. 2. maupun jangka pendek. maupun yang direncanakan mendatang 2. hingga rancangan detail. maupun infrastruktur. karena tidak adanya arahan pengembangan program-program serta fisik secara jelas. disadari bahwa masterplan yang komprehensif akan membutuhkan waktu yang lama dan sumberdaya yang banyak. sekaligus menjadi acuan bagi pengembangan unit-unit di dalam rumah sakit dalam mengemban program pengembangan pelayanan kesehatan jangka panjang. baik yang ada sekarang. sekaligus sebagai kerangka dasar bagi pengembangan-pengembangan bangunan serta infrastruktur di lingkungan umahsakit 3. Secara umum dapat dikatakan bahwa ada 3 pendekatan dalam manajemen fisik. yang dapat dijadikan arah pengembangan secara garis besar. bangunan. Di sisi lain. adalah pendekatan bagi rumah sakit yang telah beroperasi dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut. dengan kondisi fisik (dan bisa jadi mempengaruhi layanan) yang memburuk. Arti Penting Manajemen Rumah Sakit Ketiadaan masterplan juga mengakibatkan banyak sumberdaya yang tidak teralokasikan secara efektif dan efisien. Oleh karenanya. rencana fisik. selain masterplan. Tujuan dan Sasaran Perencanaan Fisik Tujuan perencanaan aset fisik rumah sakit secara umum adalah untuk: 1. Optimalisasi ruang untuk mengakomodasi fungsi yang ada sekarang maupun fungsi yang direncanakan mendatang ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 47 . Karenanya. yang kerap diperlukan adalah adanya suatu rencana pengembangan fisik jangka panjang. 2. serta jangka pendek. Pertama adalah pendekatan bagi rumah sakit yang belum ada atau belum beroperasi.BAGIAN 2 I BAB 12 PERENCANAAN FISIK DAN STRATEGI RUMAH SAKIT 1. jangka menengah. dikaitkan dengan pengembangan program pelayanan kesehatan maupun dengan manajemen rumah sakit secara keseluruhan. Memperoleh arah pengembangan fisik. Serta terakhir bagi rumah sakit yang telah menemui berbagai masalah dalam pengembangannya. baik dalam kaitannya dengan lahan. serta program stratejik. melainkan juga akan melihat rumah sakit sebagai sebuah asset properti. Memperoleh dasar bagi pentahapan pengembangan fisik. Sasaran penyusunan rencana pengembangan fisik rumah sakit secara umum adalah untuk: 1. menengah. Manajemen fisik tidak hanya berkaitan dengan arsitektur semata-mata. Kedua. yang dapat diandalkan baik dalam jangka panjang. Hal ini akan terkait secara erat dengan aktivitas. layanan.

Masterplan Fisik Rumah Sakit Mata Dr. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Terjemahan Program dalam bentukan fisik . Global Rancang Selaras 3. serta performansi fungsional yang disandang oleh massa dan bentuk bangunan 5. Optimalisasi sirkulasi dengan mempertimbangkan jejalur sirkulasi yang telah ada. Rencana Strategis yang saat ini sudah dimiliki biasanya akan dianalisis untuk penerjemahan menjadi program fisik. maupun secara estetika-perancangan kawasan. kekuatan konstruksional. 1999.3. Menanggapi konteks dan lingkungan secara positif. baik dari sisi fungsional-higiene. Meningkatkan kualitas estetika. 48 Komitmen Perencanaan Strategis Tata Aktivitas Tata Ruang Tata Massa Tata Sirkulasi Tata Konteks Kinerja Meningkat Pengembangan Fisik Bagan diatas menggambarkan strategi rumah sakit kedepan sangat mempengaruhi konsep fisik yang akan dikembangkan.Yap. Yogyakarta Copyright : PT. Kerangka dan Konsep Kerja Dalam rangka pengembangan fisik rumah sakit untuk mencapai visi yang telah ditetapkan diperlukan suatu pendekatan komprehensif untuk menghubungkan berbagai strategi seperti terlihat dalam pendekatan berikut ini menurut kerangka yang dikembangkan dari diagram awal oleh Horak. namun dengan upaya menghubungkan secara lebih efektif dan efisien fungsi-fungsi yang terkait dalam lingkungan Rumah sakit 4.

alur kerja yang lazim diterapkan adalah sebagai berikut : Strategis Fisik Kajian Performa RS saat ini Analisis Situasi Evaluasi Pasca Huni Gap antara performa dengan visi Benchmarking dengan Visi Analisis Optimalisasi fasilitas saat ini untuk mencapai visi Estimasi kapasitas dari rencana strategis yang ada Arahan rancangan fasilitas fisik Pemrograman Strategis untuk fisik Konsep pengembangan fasilitas fisik ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Prioritas pemrograman. bangunan. penganggaran Tipe. intensitas. infrastruktur 49 Dalam pelaksanaannya. Penjabaran tersebut akan meliputi kegiatan-kegiatan sebagaimana berikut : . kerangka ini akan dikembangkan bersama antara konsultan dengan para stakeholders yang terkait dalam pertemuan konsultatif di rumah sakit.Secara lebih rinci. dan distribusi sumberdaya lahan.

Kriteria perancangan dibutuhkan agar bangunan beserta lingkungannya secara guna (fungsional) dan citra (konsep estetika.50 4. ekspresi) mampu mencapai target yang telah disepakati bersama. Untuk mengakomodasi berbagai tuntutan aktivitas yang ada. Kriteria Umum Perancangan Kriteria perancangan merupakan pertimbangan umum termasuk normatif standar yang mendasari proses perencanaan dan perancangan rumah sakit. kriteria-kriteria yang digunakan antara lain: ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dalam hal ini kriteria perancangan menjadi alat ukur (benchmark).

Kenyamanan . Arsitektur yang baik Kriteria yang digunakan: .Taraf hidup .Sosial .Memenuhi persyaratan Panduan Bangunan Rumah sakit .Lingkungan pengobatan 8. Global Rancang Selaras .Biaya pemeliharaan .Standar dan hubungan ruang .Estetika 7.Sosial .Mudah merespon perubahan penggunaan .Privasi Pertimbangan umum pada: . Aspek Ekonomi dan Berkesinambungan Kriteria yang digunakan: . Global Rancang Selaras . tahap konstruksi atau pembangunan masa datang 5. Parakan Pertimbangan umum pada: Copyright : PT. Memenuhi standar bangunan kesehatan Kriteria yang digunakan: .Fleksibilitas untuk berubah 3.Memenuhi persyaratan standar teknis bangunan Rumah sakit 2.Pemisahan .Taraf hidup . . Fungsional Kriteria yang digunakan: .Bangunan terorganisasi dengan baik 4.Penggunaan energi .Pemisahan .Privasi Pertimbangan umum pada: .Estetika 51 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Arsitektur yang baik Kriteria yang digunakan: .Hubungan antar fungsi .Kenyamanan .Bangunan ekonomis .Berdasar standar ruang yang ada. Klaten Copyright : PT. Fungsional Kriteria yang digunakan: Masterplan Fisik dan perancangan Rumah Sakit 'Asyiyah.Standar dan hubungan ruang .Dapat berkembang sesuai kebutuhan .Pentahapan dalam perencanan. Aspek Efisiensi Kriteria yang digunakan: .Pergerakan orang dan distribusi barang .Penggunaan ruang Masterplan Fisik Rumah Sakit Ngesti Waluyo.Desain yang menekan biaya operasional . . Fleksibel .1.Pemeliharaan murah Pertimbangan umum pada: .Lingkungan pengobatan 6.

Bali. Tabanan. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . RSB Pusat Kesehatan Masyarakat Perawatan Sosial Perawatan Utama Perawatan Luar Jangkauan Informasi dan bimbingan Pusat pelayanan umum 100km dari pusat komunitas Rumah Sakit Rujukan Rumah Sakit Umum Daerah Pelayanan diagnosis awal Perawatan segera Kecelakaan kecil Perawatan pasien inap oleh perawat Rehabilitasi intensif Manajemen pelayanan kronis Pusat pelayanan khusus 250 km dari pusat kota Rumah Sakit Umum Pusat Perawatan Sekunder Perawatan Tersier Perawatan terencana Perawatan darurat Diagnosis kompleks Perawatan dan pengobatan pasien inap 52 Masterplan RSUD Tabanan.Selain itu perencanaan dan perancangan fisik fasilitas kesehatan juga perlu didasarkan pada kualifikasi fasilitas pelayanan kesehatan yang secara diagramatis disajikan pada diagram berikut ini : Rumah Posyandu Perawatan di rumah Farmasi Toko Obat Perawatan sendiri Pengawasan Perawatan Otomatis Informasi dan bimbingan Pengarahan Pelayanan Kesehatan Negara Pusat pelayanan kesehatan dan sosial 10 km dari rumah Balai Pengobatan RSIA.

Global Rancang Selaras c.Analisis Aspek Transportasi dan Sirkulasi .Analisis Infrastruktur On-Site 2. Rencana Anggaran Biaya (Cost Estimation).Performansi Kuantitatif dan Kualitatif Bangunan B.Fasilitas Fisik dalam Perspektif Strategis dan Perspektif Bisnis .5.Pembiayaan dan Pentahapan .Desain Pelaksanaan dan Gambar Kerja (Detailed Engineering Design dan Working Drawing).Analisis Aspek Behavioral c.Program Pengelolaan .Rencana Pukal dan Pentahapan (Block Plan and Phasing Plan) a.Analisis Aspek Teknikal . Analisis Lahan . Program Ruang .Analisis Aspek Fungsional . Tata Ruang .Sistem Ruang Terbuka Hijau d.Jumlah dan Besaran Ruang . Global Rancang Selaras .Analisis Aspek Guna Lahan dan Zoning b. Rancangan Rumah Sakit.Hubungan Antar Aktivitas b.Sirkulasi Internal c. Global Rancang Selaras . Rencana Induk Pengembangan Fisik (Physical Masterplan) Terdiri dari : 1.Program Fasilitas Fisik (Facility Program) a.Pengembangan Rancangan (Design Development) 3. Produk Dalam pelaksanaannya. Tata Sirkulasi . Analisis Infrastruktur Masterplan Fisik Rumah Sakit Pendidikan Brawijaya Copyright : PT.Konsep Rancangan dan Prarancangan (Design Concept & Predesign) 2. terdiri dari : 1.Kegiatan Non Medis b.Karakteristik Pelaku . produk masterplan fisik hingga pada rancangan yang dapat dilaksanakan/konstruksi akan meliputi hal-hal berikut: A.Layanan Medis dan Penunjang Medis .Analisis Aspek Lokasi . Analisis Bangunan .Penempatan dan Pengelompokan Ruang .Analisis Infrastruktur Off-Site . Tata Massa Masterplan Fisik Rumah Sakit Pendidikan Mataram Copyright : PT.Sistem Ruang Fungsional . Hasil Analisis Purna Huni (Post Occupancy Evaluation) a.Pengelolaan dan Kelembagaan 3. Tata Aktivitas . Rencana Kerja dan Syarat-syarat (Performance Spesification) 53 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Karakteristik Ruang Masterplan Fisik Rumah Sakit Pendidikan Lampung Copyright : PT.Sistem Aktivitas . Program Kegiatan .Sistem Intensitas Bangunan .Sirkulasi Eksternal dan Parkir .

. Paling tidak. Untuk alasan kesehatan. IGD mempunyai akses langsung dengan IKB . dan Kamar Bedah. dengan tiap-tiap persyaratan fasilitas yang memadai. anak dan syaraf). jarak minimal adalah 1.Mudah dicapai dan terlihat jelas dari area eksternal Rumah sakit . .Pembentukan ruang-ruang yang dimungkinkan untuk digunakan sebagai ruang observasi dan ruang resusitasi. Pelayanan Pasien Dalam Rumah Sakit / Inpatient A. Fleksibilitas ruang diarahkan pula terhadap terjadinya bencana masal sehingga memungkinkan ditampung di IGD .BAGIAN 2 I BAB 13 PERENCANAAN FASILITAS RUMAH SAKIT 1. meskipun maksimal yang dianjurkan adalah 30 bed. Tata letak dan persyaratan ruang: .Pada kasus ibu melahirkan. 25% dari jumlah keseluruhan bed merupakan single bed.Adanya pemisahan antara tindakan untuk pasien bedah dan non bedah. Diagnostik. Berbeda dengan bagian Ibu dan rawat Anak dengan jumlah maksimal 20-25 bed.Keseluruhan ruang dan alat ditetapkan untuk digunakan selama 24 jam. serta kemudahan akses dengan Unit Rawat Inap. Dimensi tempat tidur menjadi pertimbangan yang penting dalam merancang ukuran ruang. Ukuran Umum Jumlah bed pada unit ini tidak boleh melebihi 35 bed.4 meter. Instalasi Gawat Darurat Fungsi Memberikan pelayanan kesehatan karena kondisi gawat darurat dan memerlukan penanganan cepat dan tepat.Secara fungsional mempunyai hubungan langsung dengan unit ICU. meliputi kasus bedah (traumatologi dan terkait dengan organ tubuh bagian dalam) dan non bedah (penyakit dalam. Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Gawat Darurat Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.ruangan dengan banyak bed jarak antar bed 2. 2 meter. 2008 54 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Adanya pemisahan akses antara pasien dengan perawat/ dokter. . .

Persyaratan Luas Ruang untuk Instalasi Rawat Inap -Standar luas ruangan sesuai ketentuan adalah : .B. .Kamar mandi untuk perawatan jangka panjang seharusnya dirancang untuk menggunakan peralatan yang dapat mengangkat pasien.Harus memenuhi ketentuan untuk akses orang cacat seperti pada bagian untuk komplemen dari batang pegangan dan rel pada area toilet dll. Tata letak dan persyaratan ruang: 1. . .4 cm untuk mengakomodasi pemakai kursi roda. .Luas ruang klas II : 12 m² / tt .Khusus rawat inap ibu-anak akan berada pada kelompok ruang yang terpadu dengan VK dan terpisah dengan rawat inap infeksius maupun penyakit dalam atau degeneratif.9 cm adalah jarak standar untuk dapat mengakomodasi tempat tidur pasien standar (121 cm x 99 cm).Tersedia tempat cuci tangan bagi perawat atau dokter didalam ruangan rawat inap infeksius (isolasi) dan fasilitas km/wc sendiri di dalam ruangan .Ruang perawat terhadap ruang pasien harus sedekat mungkin sehingga memudahkan jangkauan .9 cm x 121.Pasien atau penyakit dan pengobatan yang menimbulkan bau. 2.Luas ruang klas III : 12 m² / tt . di lain kondisi penambahan peralatan unit servis perawatan akut. sehingga kedua sisi di samping tempat tidur pasien memiliki lebar masing-masing 76. . dan terletak pada daerah yang mudah terjangkau dengan arah orientasi kepada kamar-kamar pasien.Pemisahan penderita infeksius.Sinar matahari pagi diupayakan dapat masuk ke dalam ruangan.. yaitu prosedur perawatan khusus untuk mengurangi penyebaran infeksi melalui kontak langsung/perawatan .2 cm. dirawat pada "single room" atau isolator plastik untuk mengurangi penyebaran melalui udara atau dari penderita . Lift hidrolik tempat mandi (bath up) merupakan pertimbangan investasi kesehatan yang baik. .Luas area depan pintu 152.Setiap nurse station maksimum melayani 25 tempat tidur. handrails harus diberikan pada koridor.Lebar minimum area tempat tidur pasien 251.Pasien yang menderita penyakit menular. . dengan tujuan agar lebih dapat memastikan tingkat penyampaian mutu pelayanan. . Instalasi Rawat Inap Fungsi Disediakan untuk memfasilitasi pasien yang harus menginap di Rumah sakit dalam tahap kuratif dan rehabilitatif dengan perawatan intensif 24 jam.Ventilasi mekanik di ruang rawat inap isolasi. .Pasien yang mengeluarkan suara gaduh . Penempatannya berada pada area dengan tingkat privasi dan ketenangan yang tinggi dan memiliki akses pencapaian yang mudah dengan zona bedah dan zona penunjang medis.5 cm.4 cm x 152. Kualifikasi Ruang untuk Instalasi Rawat Inap .9 cm .Memaksimalkan terhidarnya kontaminasi didalam ruang rawat inap infeksius dengan menjaga aliran udara dari anteroom menuju ke ruang pasien.Luas ruang khusus bayi : 6 m² / tt . dan dari koridor ke ruang rawat setiap saat .Adanya pengelompokan ruang sesuai kelasnya.8 – 121.Lebar pintu antara 116. Sebuah kursi roda juga dapat digunakan dalam area 121.Khusus untuk pasien tertentu harus dipisahkan seperti : . untuk mengurangi penyebaran melalui udara dengan cara mengeluarkan bakteri dari kamar penderita dan pada isolasi protektif yang membebaskan kamar penderita dari bakteri yang ada diluar kamar.Barrier nursing.Luas ruang klas I : 24 m² / tt . 55 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .

.Daerah non steril / ruangan umum yang tidak berkaitan langsung dengan perawatan intensif.Tingkat kebersihan lantai untuk ruang perawatan isolasi 0-5 kuman/cm2.Perawatan serangan jantung (ccu = coronary care) .Luka bakar dan spesialis atau penyakit khusus Pengembangan fasilitas perawatan intensif dapat berbeda dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. rumahan untuk panggilan perawat. . Tingkat Kebersihan dan Mutu Udara untuk Instalasi Rawat Inap . .T. jam digital.U. Instalasi Rawat Intensif (ICU) Umum / fungsi ICU juga dikenal sebagai Intensive Therapy Unit ( I.. Panel-panel tersebut meliputi katub gas atau oksigen. dan bergantung pada apa yang disebut Statement of Function 56 Zonasi fungsi pada Instalasi rawat Intensif: Zonasi dibagi menjadi : a. papan monitor dengan perlengkapan outlet. terdiri dari fungsi-fungsi penunjang baik medik maupun non medik.Angka kuman ruang perawatan isolasi kurang dari 700 koloni/m3 udara dan bebas kuman pathogen alpha streptococus haemolitius.Terakomodasi panel kontrol untuk ruang rawat pasien.Penyakit anak-anak dan neonatal . ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Mutu udara memenuhi persyaratan untuk tidak berbau (terutama H2S dan Amoniak). lampu atas tempat tidur dan lampu tarik-ulur. 2008 C. 3.operasi .Kadar debu tidak melampaui 150 ug/m3 udara dalam pengukuran rata-rata 24 jam. Jenis utama yang ditangani sebagai berikut: .Daerah steril yang terdiri dari ruang perawatan ICU / ICCU. b. dalam menangani beragam tipe penyakit.) . stop kontak bawah. tombol tanda alarm. nurse station terutama bagian yang langsung berkaitan dengan keperawatan. Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Gawat Darurat Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.

Aliran listrik tidak boleh terputus.Patologi (pelayanan analisis darah).Radiologi ( pelayanan sinar x). . Suhu 22º–25º kelembaban 50–70%.Harus bebas dari gelombang elektromagnetik dan kedap getaran.Tata letak dan persyaratan ruang: . Exhausts fan e. AC d. .Pencahayaan yang cukup dan adekuat untuk observasi klinis dengan lampu TL day light 10 watt/m2.Ruang Operasi. Jika memakai partisi. Direkomendasikan maksimumnya hingga 15. . . Pipa air f. jendela pengamatan. . Komunikasi g.Fasilitas panggilan pelayanan staf ini harus tersedia pada setiap tempat tidur untuk penanganan cepat Persyaratan Pencahayaan. .Gedung harus terletak pada daerah yang tenang. .Terisolasi dan mempunyai standar tertentu terhadap: a. Desain dari unit juga memperhatikan privasi pasien. ditempatkan untuk dapat memastikan kondisi pasien tanpa halangan dari pos perawat. Bahaya api b.Masing-masing area tempat tidur pasien akan mempunyai ketetapan untuk privasi visual dari pengamatan pasien dan pengunjung lain . Ventilasi c. Suhu dan Kelembaban pada Ruang perawatan intensif: . pasien diharuskan melihat ruang luar tidak lebih dari dua panel kaca yang terpisah.Temperatur ruangan harus terjaga. .Harus ditunjang dengan jaringan gas medic . seharusnya dapat disediakan. . Semaksimal mungkin adalah 10.Akses.Penghawaan udara menggunakan penghawaan buatan berupa air conditioner (AC). terhadap lingkungan/ ruang luar yang tidak kurang dari satu jendela setiap ruangnya. 57 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Untuk membantu staf pengamatan atas pasien di dalam ruang tidur atau pasien tunggal menginap.Penempatan ICU/UGD akan memudahkan pengaksesan ke dan dari Penanganaan Kecelakaan. . laboratorium. selain sinar matahari alami. Bakteriologis h.Setiap tempat tidur harus mempunyai akses secara visual.Mempunyai pendingin ruangan/AC yang dapat mengontrol suhu dan kelembaban sesuai dengan luas ruangan.Direkomendasikan ketetapan minimum tempat tidur untuk ICU adalah 5. Kabel monitor . Jarak dari tempat tidur pasien terhadap jendela tidak kurang dari 15 meter.Letaknya berdekatan dengan area unit bedah atau berada dalam satu zona Medik Sentral serta mempunyai hubungan langsung dengan radiologi. . IGD dan rawat Inap .Harus tersedia pengatur kelembaban udara. Jendela dan akses tempat tidur menjamin kenyamanan pasien dan personil.

. dari neonates sampai adolescent. Pasien pediatrik yang kritis.sebagai tambahan pada standar ICU diatas. berikut ini yang diperlukan dalam Coronary Care Unit (CCU). ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 58 . Open plan pada layout tempat tidur tidak dapat diterapkan. jarak tempuh tidak boleh lebih besar dari 15m dari tempat tidur sampai ke fasilitasnya. paling tidak 2 harus didalam kamar-kamar. Unit Penyakit jiwa Umum / Fungsi . . Instalasi Rawat Intensif Koroner/ ICCU Fungsi Pasien Cardiac punya kebutuhan khusus.beberapa dari ruangan pasien yang dijadikan ruangan tambahan untuk unit perawatan penyakit akut. Tidak pada tiap Rumah Sakit dapat atau harus menerima Pediatric Intensive Care Unit yang terpisah.unit perawatan yang berintegrasi di dalam sebuah rumah sakit umum.Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi rawat intensif Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras. bentuk perawatan segera dan kritis. Minimum 50% dari pasien ICCU harus diakomodasikan dalam pasien ruang singlebed. Dimana 5 tempat tidur dikombinasikan ICU/ICCU yang tersedia.Toilet Tiap pasien Cardiac harus dapat mengakses bagian dari WC. E.Ketentuan tempat tidur Jumlah tempat tidur pada ICCU akan sama dengan ICU pada umumnya.unit perawatan yang berdiri sendiri atau unit perawatan yang berupa kelompok. walaupun 2 tempat tidur dalam 1 kamar diperbolehkan. kamar atau kamar berukuran kecil.Multiple equipment display Peralatan untuk memonitor pasien Cardiac harus mempunyai ketentuan untuk penglihatan visual pada tempat tidur dan pusat pelayanan. Ini adalah pilihan bahwa tiap pasien Cardiac punya kamar terpisah atau kamar berukuran kecil untuk privasi dari penglihatan dan pendengaran. . Rasio antara pasien dan rasio tidak lebih dari 4:1. . Tata letak dan persyaratan ruang: . 2008 D. mempunyai kebutuhan fisik dan psikologi yang unik.

59 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Acoustic Privacy Akustik ruang harus dipertimbangkan dan diakomodasi dengan baik. plafond dan penetrations – pintu dan jendela) untuk memastikan penahanan yang disebutkan di atas. khususnya pada situasi darurat. built in robes. Unit perawatan atau bagian unit perawatan yang aman. Perlindungan earth leakage (kebocoran) terhadap sirkuit listrik dan temper proof outlets harus disediakan di dalam fasilitas penyakit jiwa.keselamatan pasien dan staf . masing-masing dengan akses menuju fasilitas kamar pasien yang lain.Kamar Pasien Kamar pasien harus mengikuti standard berikut: a. Ukuran minimum kamar. akses menuju ruang luar di atas ground level. Two bed room – 17. Ketika fasilitas penyakit jiwa terletak di dalam bangunan bertingkat tinggi. harus disediakan untuk situasi darurat. Untuk tambahan. seperti tombol tekan digital di lokasi darurat sebagai pengganti sistem pengaktifan dengan kunci. Four bed room – 30 m2 . walaupun hanya terdapat satu Ruang Pengasingan per unit perawatan. Fasilitas harus merupakan tempat isolasi aman yang bisa dikunci.Jumlah Tempat Tidur Jumlah maksimum tempat tidur di dalam unit perawatan penyakit jiwa sebaiknya 30. tapi tidak diharuskan. bergantung pada level perlengkapan/syarat. alcoves (ruang kecil di dalam suatu kamar). Pengaktifan bisa dari call points yang tersembunyi yang cocok atau transmitter personal yang bisa dipindah. atap. kamar-kamar eksklusif. Akses langsung bisa dipilih. . . seperti bahaya pada staf dan pasien lain (penyerangan) dan terhadap pasien sendiri (bunuh diri).5 m2 c. dan lain-lain) harus dicegah. di dalam area demi area dan sebagai sebuah unit perawatan yang lengkap. harus mempunyai suatu kesatuan barrier yang tahan (lantai. Sekurangkurangnya 50% tempat tidur sebaiknya diletakkan di dalam single bed rooms. seperti polycarbonate dan lain-lain.Security and Glazing Semua jendela dan panel-panel observasi harus dipasangi dengan kaca yang aman atau material alternatif lainnya yang sesuai. . dan lain-lain. Single bed room – 10. peralatan mekanikal yang dipasang di lantai dan lain-lain adalah: b. pencahayaan yang tahan terhadap vandalisme. konstruksi dan perabot harus menyediakan perlindungan dari self injury dan kerusakan properti seperti pergeseran door handles. Pertimbangan harus diberikan pada proses pengaktifan system alarm oleh staf. Pemilihan door hardware harus menyediakan jaminan keamanan pasien dengan penggunaan yang mudah oleh staf. dinding. (seperti balkon. lemari.Tata letak dan persyaratan ruang: Keamanan. Keselamatan dan Hak-hak Pasien Mempertimbangkan hal-hal di bawah ini ketika menentukan level perlengkapan/syarat keamanan di dalam fasilitas penyakit jiwa: .status rumah sakit Unit perawatan penyakit jiwa harus mempunyai perlengkapan/syarat keamanan umum pada Unit Perawatan Penyakit Akut. Ini untuk memastikan penahanan situasi bahaya yang potensial dengan beberapa pasien.hak-hak legal pasien .5 m2 d. meja.

atau toilet terpisah dan kamar mandi. memiliki fitur keamanan/elemen-elemen pengamanan yang efektif seperti jendela-jendela sempit yang tidak memungkinkan pasien untuk lari. Area tersebut ukurannya 3. tetapi tidak diharuskan. Ukuran dan kebutuhan pantry akan bergantung pada fasilitas yang direncanakan .5 m2 per pasien untuk kebutuhan area makan. Ruang ini dapat digabungkan dengan 'quite space' seperti disebutkan di atas. . tiap pasien sebaiknya mempunyai akses menuju kamar pasien. . work tops c.Koridor Variasi dari lebar minimum koridor bergantung pada : a.Pemeriksaan dan Perawatan Minimal 1 ruang pemeriksaan dan perawatan harus tersedia untuk setiap 30 bed unit rawat psikiatri..Ruang sosial ( Ruang-ruang Harian ) Setidaknya terdapat 2 ruang sosial yang terpisah harus disediakan.5 m ruangan terpisah bagi tiap pasien untuk kegiatan terapi 2 dengan minimum total area 20 m .Occupational Theraphy 2 Tiap unit psikiatri harus memiliki 1. 'charting area' harus disediakan dengan persyaratan privasi akustik dan visual yang memadai. · Pada Unit Perawatan Penyakit Akut. kursi roda dan lain sebagainya. Fungsi yang diakomodir.Cermin. Ruang tersebut harus menyediakan area untuk : a.7 m2 untuk tiap pasien dan ukuran ruang minimal seluas 21 m2 . handwashing b. serta tertutup untuk kebutuhan privasi.Gudang Perlengkapan Ruang gudang untuk troli. Kelengkapan peralatan untuk menggunakan fasilitas tersebut. displays 60 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . . . Ruangan ini dapat menggunakan fasilitas bersama dengan unit perawatan lainnya. Lokasi dalam unit psikiatri tidaklah esessial.Nurse Station Harus ada 'nurses station' sehingga staf yang bertugas dalam aktifitas rutin dapat mengawasi pasien secara berkala. Bisa dilakukan. sebuah pantry berdampingan dengan area makan juga harus disediakan. tapi harus dapat di akses dengan mudah ke unit tersebut. dapat berada di luar unit psikiatri dengan catatan bahwa dibuat akses yang baik untuk perlengkapan tersebut sebagaimana dibutuhkan.75 m2 untuk tiap pasien dengan ukuran ruang minimal 12 m2 tiap ruang. dan satu ruang lainnya digunakan untuk 'noisy activities'. Jendela observasi diluar area pasien dapat digunakan jika pengaturannya tetap mengkondisikan file-file pasien tidak dapat dibaca dari luar 'charting space'. gudang d. Ruangan bagi kegiatan terapi membutuhkan penambahan ruang seluas 0. satu ruang digunakan untuk 'quiet activities' . harus disediakan. Kaca-kaca harus dari kaca yang aman atau bahan lain yang cocok yang tahan dan konstruksi yang tahan pecah atau tidak mudah hancur.Group Therapy Ruang bagi kelompok terapi harus tersedia. Elemenelemen estetis sebisa mungkin dikurangi pada bagian ini. . Ruang tersebut digunakan untuk ruang makan. bahwa kamar pasien bisa diakses langsung dari kamar-kamar pasien yang lain dan tidak melalui area koridor umum. Tambahkan 1. . b. Kelengkapan tersebut akan dapat menunjang perlindungan dari perlukaan pada diri sendiri dan kerusakan properti. Dalam hal ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari pasien merasa bahwa mereka 'selalu diawasi'.Jendela Pada bagian jendela yang dapat dibuka. . Dilengkapi pula dengan kunci-kunci yang dikontrol oleh staf rumah sakit.

terluka maupun bunuh diri. Memerlukan tingkat ketenangan yang tinggi. Meliputi ruang bersalin (VK). Seclusion rooms dimaksudkan untuk ditempati dalam jangka waktu pendek oleh pasien yang menjadi korban bunuh diri. Fasilitas lengkap yang harus disediakan untuk Birth/Preparation Room (Ruang persiapan kelahiran) adalah sebagai berikut: 1. menghindari adanya tirai yang panjang di jendela. ruang resusitasi bayi (neonatal) dan ruang penunjang lainnya.Area terapi dapat mengakomodasi lebih dari 1 unit perawatan. yaitu normal dan persalinan khusus. ICU. dan konstruksi harus mengikuti kaedah ketentuan unit perawatan : Keamanan. F. sebaiknya dilakukan penambahan luas lantai. Ruangan yang ada dapat difungsikan sebagai ruang harian ataupun ruangan bagi satu pasien saja. penggunaan ruang semaksimal mungkin. . serta mempunyai hubungan langsung dengan Instalasi Rawat Inap khususnya IRNA Kebidanan. . termasuk tempat tidur dan kursi kelahiran sangat tergantung pada berapa dimensi ruang tersebut.Kamar bersalin harus dekat dengan Instalasi Gawat Darurat. Peletakan pembalut dan trolley pengobatan 4. dan Hak Pasien. Persiapan dan relaksasi pasien selama proses kelahiran labour 2. Pintu harus terbuka dan memungkinkan untuk perawat melakukan observasi terhadap pasien dengan tetap memperhatikan privasi dari pasien tersebut. dan Kamar Bedah. Dengan kata lain. dengan dimensi minimal 3900x4800mm. Grafik dari rekam medik 3. dan peletakan pintu dimana pintu tersebut paling kecil pengaruhnya terhadap ruang. Laboratorium. Ketika unit perawatan psikiatri memiliki kurang dari 16 kamar. Ruangan tersebut harus berlokasi di tempat yang memungkinkan adanya pemantauan secara langsung dari staf perawat. Penentuan peralatan. dengan tetap menekankan optimalisasi. baik elektrikal maupun mekanikal 5. penyesuaian. Ukuran ini adalah ruangan tanpa jendela. Misalnya. dibutuhkan 1 m2 tiap pasien tambahan pada total luas area. Servis yang berada di ujung atas tempat tidur. . melarikan diri. Tata letak dan persyaratan ruang: . Keselamatan.Birth Preparation Room Setiap Birth/Preparation Room (Ruang persiapan kelahiran) didesain untuk single occupancy (satu kepemilikan). Konstruksi dan perencanaan harus dilaksanakan dengan matang untuk mencegah adanya pasien yang sembunyi. dan lain sebagainya.Ruang Terpisah (Seclusion Rooms) Di dalam unit perawatan kejiwaan harus ada ruangan terpisah untuk pasien yang membutuhkan keamanan atau perlindungan. Jarak 3900 mm disini adalah jarak dari ujung atas tempat tidur sampai ke dinding seberangnya. Radiologi.Ruang bersalin harus mengelompokkan pasien sesuai dengan jenis persalinannya. peletakkan jendela dan perawatan jendela harus lebih diperhatikan dalam hubungannya dengan lokasi peralatan dan servis. Jika ruangan tersebut memiliki jendela. Oleh karena itu. Ruang dengan ukuran 4000 x 5000 mm sangat direkomendasikan. Penyelesaian. Akses untuk membantu berupa ensuite adjacent (ruang dalam ruangan tersebut yang berbatasan langsung dan merupakan fasilitas untuk pengguna ruangan tersebut) 61 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . fungsi area terapi dapat diwujudkan dalam area bagi aktivitas yang menyebabkan kebisingan. Unit Kamar Bersalin (VK) Fungsi Memiliki akses langsung yang mudah dijangkau dan akses langsung ke zona penunjang medik serta rawat inap kebidanan.

Prosedur waktu (jam) 16. Hak pasien atas privasi dan penghargaan harus dihormati. tempat sampah (salah satu alat untuk persiapan membuat teh). Penggunaan telepon 9. yaitu ruang yang digunakan untuk pengumpulan maupun pembuangan dari material-material yang kotor. Akustik untuk privasi level tinggi 19. televisi. Unit Kesehatan dari WA dapat membantu memberikan informasi tentang warna dinding dan lantai yang cocok. dll. untuk menciptakan dekorasi yang 'home-like' atau senyaman rumah tinggal). Penggunaan intercom 10. atau di perlengkapan kebersihan (clean utility). Ruang untuk suami/istri Perhatian pada level desain interior juga sangat penting. mobile infant overhead heater. telepon. demi kenyamanan ruang tunggu tersebut. Penggunaan Staff Assistant Call 8. terutama jika dapat menghadirkan suasana yang 'home-like' –seperti rumah sendiri. Fasilitas yang lebih besar sebaiknya memiliki akses langsung menuju unit ataupun ruang penyimpanan suplai steril(steril supply). Sebuah ruang supplai bersih disediakan untuk keperluan penyimpanan dan distribusi dari supplai yang steril dan bersih. fasilitas untuk membuat teh. Area untuk pengantaran tempat tidur 11. dan distribusi obat-obatan yang dapat dikontrol. Clinical Hand washing (hands off scrub up basin) 18. Finishing harus dipilih agar dapat memberikan kemudahan dalam membersihkan. persiapan.) 17. Sebuah ruang penyimpanan yang kecil sekalipun masih perlu yang dilengkapi dengan perlengkapan kebersihan. harus disediakan.· - - - - - 6. Perlengkapan Kotor (Dirty Utility) Ruang kerja kotor dibutuhkan pada ruang kelahiran. sang ayah. 62 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . power) yaitu saat dokter berusaha membuat bayi sadar atau agar bayi bisa bernafas lagi. Baby Resuscitation (Gases. Pembuangan linen kotor dan air kotor 15. Setelah semua hal di atas tersebut. seperti di ruang perawat. Ruang untuk penambahan peralatan jika dibutuhkan (termasuk infant incubator. Warna-warna yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga tidak timbul perubahan persepsi warna oleh pengamat. dapat di dibuat menyatu dengan fasilitas maupun perlengkapan yang lebih besar. Tirai pada pintu masuk bisa dipertimbangkan. dibutuhkan gas yang digunakan untuk operasi medis dan listrik 14. Control/Nursing Station (Pusat Kontrol dan Kerja Perawat) Berlokasi di tempat dimana observasi lalu lintas rumah sakit terutama jalan masuk dan keluar Birth Suite (Ruang Kelahiran). Patient's and Father's Lounge (Ruang tunggu pasien dan ayah) Terletak dengan nyaman menuju Control/Nursing Station (Pusat Kontrol dan Kerja Perawat) untuk komunikasi antara pasien. Sebuah jendela menghadap keluar juga sangat diharapkan. Pemberian Analgesics (Obat penahan sakit) 12. Sterile Supply Akses menuju suplai dari peralatan yang telah steril dan dapat langsung digunakan. selain itu juga harus tahan terhadap detergen yang kuat. Toilet. Perlengkapan Bersih (Clean Utility) Sebuah ruang kerja yang bersih dibutuhkan pada ruang kelahiran. tempat penjualan minuman. Task Lighting ( Examination/Minor Lighting) yaitu lampu untuk bekerja 13. Penggunaan Nurse Call 7. Sebuah ruang kerja kotor. dan kursi yang nyaman.. dan staf. Ruang Pendistribusian Obat (Drug Distribution Station) Sebaiknya dibuat untuk penyimpanan.

digunakan untuk membersihkan. trolleys(tempat tidur yang disorong). dan juga diperlukan apabila ruang kelahiran jauh dari ruang ibu (maternity ward). Ruang-ruang berikut ini merupakan standar minimum yang perlu dipenuhi : 63 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dengan akses menuju koridor luar untuk memudahkan pengangkutan tanpa melewati ruang kelahiran(birth room). Alternative Birthing Unit Unit ini merupakan unit yang berbasis bidan (mid wife based) yang memungkinkan untuk memilih alternative dalam melahirkan tanpa ber suasana (clinical environment). Conference/Handover Room Bergantung pada besar kecilnya ukuran dari ruang melahirkan. dan penyimpanan peraltan anestesi. melakukan beberapa tes. Ruang Ganti Staf Sebaiknya dipisah antara ruang ganti pria dan wanita yang bekerja di ruang melahirkan. Lounge dapat dijadikan satu dengan ruang ini apabila memungkinkan. Ruang untuk Pembersih (Cleaner's Room) Ruang untuk pembersih yang secara eksklusif digunakan oleh ruang melahirkan sebaiknya disediakan. Ukuran unit hendaknya dapat memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan untuk pasien dan staf. Minimal disediakan sebuah toilet di didalam maupun di dekat ruang melahirkan. dan training untuk staf sebaiknya disediakan pada fasilitas yang lebih besar untuk digunakan oleh para personil dari Ruang kelahiran(teknisi. dan perlengkapan untuk pergerakan/perpindahan lainnya. Formula Preparation Room Digunakan untuk melayani ruang bayi. Ruang untuk konferensi. Tempat/Ruang penyimpanan Peralatan Sebuah ruang untuk peralatan dan persediaan (supplies) dibutuhkan pada ruang melahirkan. Pada fasilitas yang lebih kecil. sink. dan area untuk memisahkan barang-barang yang bersih dan kotor. Apabila perlatan anestesi yang digunakan mudah memiliki sifat terbakar. Stretcher/Trolley/Equipment Park Perlu disediakan suatu ruang untuk penyimpanan stretchers(tandu). pergantian staf (staf handover). Ruang Kerja Anestesi Hanya pada ruang melahirkan yang berukuran besar. maka ruang bayi yang terpisah untuk observasi pasca kelahiran perlu ditambahkan pada ruang kelahiran. Dan sebaiknya dilengkapi dengan meja kerja(work counter). Namun dapat juga berbagi fasilitas sentral. sebuah ruang terpisah sebaiknya disediakan untuk peralatan tersebut dan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. tidak memerlukan ruang khusus. Nursery (Ruang Bayi) Apabila lokasinya jauh dari ruang ibu (maternity ward). dan sebaiknya dilokasikan sedekat mungkin dengan ruang melahirkan. Unit ini perlu diletakkan berdekatan dengan ruang melahirkan dan ruang operasi. Intensive Care (Obstetric) Fasilitas ini sangat dibutuhkan untuk penggunaan obstetric (obstetric use). suster. Gudang Anestesi Ruang penyimpanan untuk tabung gas untuk keperluan medis sebaiknya disediakan. tapi dilengkapi dengan peralatan medis yang memadai. Ruang ini dapat berbagi atau dapat dikases juga dari ruang operasi. Staff Lounge Fasiltas lounge untuk staf obstetris sebaiknya disediakan pada fasilitas ruang kelahiran yang besar. dokter).- - - - - - - - - - - - Ruang ini sebaiknya ditambahkan atau berada di dekat ruang perlengkapan kotor(dirty utility room). interview. cukup menyediakan suatu area saja(spat dipisahkan dengan partisi).

-

-

-

-

-

-

-

Birthing/Lounge Room Ruangan ini harus mempu mengakomodasi kegiatan-kegiatan berikut: 1. relaksasi di kursi lounge 2. keperluan untuk makan/ dinning facilities (meja, dan kursi makan) 3. keperluan pantry/dapur(termasuk kitchen sink dari bahan stainless steel) 4. keperluan melahirkan, tempat tidur untuk melahirkan, bangku untuk melahirkan, tikar, bean bag, dll 5. tempat penyimpanan peralatan 6. tempat penyimpanan stok-stok yang steril 7. gas untuk keperluan medis 8. privasi 9. clinical handwashing 10. dan akses langsung menuju halaman privat juga sebaiknya ada. Entry (Tempat Masuk) Tempat masuk/entry perlu tertutup/screened untuk privasi. Gudang Sebaiknya mudah diakses dari birthing/lounge room atau lobby tempat masuk. Ensuite/Bathroom Ruangan ini hendaknya dilengkapi dengan toilet, shower, tempat cuci tangan, dan merapikan diri (grooming). Fitout/Finishes (Perlengkapan) Perlengkapan yang ada sebaiknya menyesuaikan budaya taupun gaya setempat. Item-item medis perlu diletakkkan sedemikian rupa sehingga mudah dijangkau. Untuk penutup lantai, sebaiknya diberi finishing dengan non-slip vinyl di bawah area tempat tidue dan penggunaan karpet sebagai keseluruahn penutup lantai lebih direkomendasikan. Penutup lantai kamar mandi sebaiknya dipilih yang non-slip material. Untuk fininshing dinding dan langit-langit disesuaikan dengan kondisi setempat. Penggunaan tirai dapat diterima dan direkomendasikan. Pencahayaan Pencahayaan sebaiknya lokal, walaupun pengecualian bisa dilakukan untuk lampu pemeriksaan yang bergerak. Pintu Keluar Darurat Lokasi dan ukuran pintu yang cocok sebaiknya disiapkan untuk pemindahan bed darurat ke tempat melahirkan/operasi. Penghawaan Udara Ruang-ruang sebaiknya dikondisikan udaranya dengan kontrol temperatur pada lounge. Hal ini perlu dipertimbangkan karena suhu badan ibu yang baru melahirkan cenderung bervariasi. Akustik Unit sebaiknya memiliki isolasi akustik yang baik dari area sekitarnya.

64

Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Kamar Bersalin
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

G. Unit Peranotologi Fungsi Unit Perinatologi adalah instalasi untuk perawatan bagi bayi yang baru lahir, dan membutuhkan perawatan lebih lanjut. Tata letak dan persyaratan ruang: Unit ini biasanya terletak satu lantai/ dekat/ ada akses langsung dengan unit VK dan IRNA. Unit ini minimal terdiri dari : 1. Adanya ruang intensive care (NICU) 2. Adanya ruang bayi medium care 3. Adanya ruang bayi high care 4. Adanya ruang laktasi 5. Adanya ruang intensif care (NICU, PICU) 6. Adanya ruang dokter 7. Adanya ruang pertemuan 8. Adanya nurse station 9. Adanya ruang pantry untuk staff 10. Adanya lounge untuk ibu

Hubungan Fungsional antar ruang pada Unit Perinatologi
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

64

H. Unit Haemodealisis Fungsi Adalah Unit Instalasi Cuci darah, yaitu tindakan mengeluarkan sisa metabolisme ( koreksi elektrolit darah ), dan cairan tubuh melalui proses pertukaran antara bahan yang ada dalam darah dan dialisat melewati membrane semipermiabel di dalam ginjal buatan. Tata letak dan persyaratan ruang Unit ini biasanya terletak berdekatan dengan Unit laboratorium. Unit ini minimal terdiri dari : 1. Ruang Cuci darah (dilengkapi lavatory) 7. Ruang konsultasi 2. Ruang Cuci darah Hepatitis (dilengkapi lavatory) 8. Ruang kepala HD 3. Ruang cuci darah HIV (dilengkapi lavatory) 9. Ruang CAPD 4. Ruang tungggu 5. Nurse station 6. Ruang dokter

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

2. Pelayanan Pasien Luar Rumah Sakit
A. Instalasi Unit Jalan Fungsi Merupakan fasilitas yang disediakan bagi pasien yang tidak tinggal di rumah sakit, hanya melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan non rawat inap. Fasilitas yang terakomodasi meliputi klinik umum dan spesialisas, dengan dilengkapi fasilitas penunjang medis seperti satelit farmasi dan penunjang non medis seperti fungsi administrasi dan komersial. Tata letak dan persyaratan ruang 1. Adanya pemisahan antara unit rawat jalan infeksius dan non-infeksius 2. Ruang tunggu dapat dipergunakan untuk semua poli, namun diupayakan adanya pemisahan ruang tunggu antara penyakit infeksius dan non infeksius. 3. Poliklinik direncanakan mewadahi ruang konsultasi dan ruang periksa pada tiap unit pelayanan klinik. 4. Pemisahan antara koridor paramedik dan koridor pasien. 5. Sistim sirkulasi dengan menggunakan satu zona yang sama untuk keluar dan masuk. 6. Poli yang ramai letaknya tidak saling berdekatan. 7. Merancang proses way-finding yang baik. Setiap pasien, pengunjung, dan semua staf perlu tahu posisi mereka berada, kemana mereka menuju, bagaimana mereka menuju dan kembali

Hubungan Fungsional antar ruang pada Unit Rawat Jalan
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

65

2. Pelayanan Penunjang Medik / Klinik Bantuan
A. Instalasi Bedah Fungsi Mudah dicapai dari setiap zona terutama dari ICU/ICCU dan CSSD. Memerlukan ketenangan dan privasi tinggi. Berada pada area sentral. Selain ruang bedah, ruang penunjang yang diperlukan adalah ruang anestesi, ruang sterilisasi, ruang penyimpanan alat dan ruang persiapan. Tata letak dan persyaratan ruang: 1. Kualifikasi Ruang Instalasi Kamar Operasi o Dinding terbuat dari porselen atau vinyl setinggi plafond, dengan corak warna bernuansa dingin. o Plafond terbuat dari bahan yang anti bocor dan aman dengan tinggi minimal 2,7 meter dari lantai.

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah. 2008 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . o Ventilasi atau penghawaan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri. Lebar pintu minimal 1.10 meter ( 18 ft x 20 ft ) sudah termasuk ruang untuk peralatan operasi.44 persegi (360 sq. o Sedangkan untuk kamar operasi spesialis membutuhkan luasan minimum sebesar 7.10 x 7.48 x 6. o Dilengkapi dengan sebuah sarana komunikasi darurat dengan bagian kontrol dan laboratorium Unit Bedah Sentral. o Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis. o Pemasangan gas medis secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau diatas langit langit. Kualifikasi Luasan Ruang Instalasi Kamar Operasi o Kamar operasi harusnya mempunyai luasan minimal 33. hubungan ke ruang steril dari bagian cleaning cukup dengan sebuah loket yang dapat dibuka-tutup.o Lantai terbuat dari bahan yang kuat. mudah dibersihkan dan tidak licin. 4. ft ).31 x 7. 5. o Beberapa ahli bedah merekomendasikan untuk luasan kamar operasi adalah o 6. o Harus disediakan gantungan untuk lampu bedah dengan profil baja yang dipasang sebelum pemasangan plafond.ft) = 5.31 meter ( 20 x 24 ft )= 44. o Hubungan dengan ruang scrub-up untuk melihat kedalam ruang operasi perlu dipasang jendela kaca mati. 2. 66 Hubungan Fungsional antar ruang pada Unit Bedah Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras. kedap air. untuk itu harus dibuat ruang antara. Penentuan jumlah kamar operasi dalam sebuah rumah sakit ditentukan dengan perbandingan 1 : 50 yang artinya 1 kamar operasi digunakan untuk melayani 50 TT. ft ).60 meter persegi ( 480 sq. o Tersedia rak dan lemari untuk menyimpan reagensia siap pakai.2 meter dan tinggi minimal 2.62 meter ( 24 x 25 ft ) = 55. o Tidak dibenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar.1 meter dan semua pintu harus selalu dalam keadaan tertutup.70 meter persegi ( 600 sq.

Persyaratan Udara, Pencahayaan, Suhu, Kelembaban dan Indeks Kebisingan untuk Ruang Operasi: Standar Parameter Ruang Operasi

67

Hubungan Fungsional antar ruang pada Laboratorium
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

B. Laboratorium Fungsi Memberikan pelayanan diagnostik untuk mendukung IGD, instalasi rawat jalan, radiologi, dan rawat inap. Tata letak dan persyaratan ruang: 1. Berdekatan dengan IGD dan radiologi. 2. Mudah dijangkau dari poliklinik dan IRNA. 3. Udara dalam laboratorium tidak boleh beredar pada satu tempat yang sama karena rentan akan kontaminasi zat-zat aditif, sehingga harus ada akses untuk dapat segera membuang udara. 4. Jika udara akan diedarkan kembali, dianjurkan sistem filtrasi yang sangat baik. 5. Sangat dianjurkan adanya exhaust, tetapi harus memilliki jalur tersendiri agar tidak mengkontaminasi ruang lain. 6. ingkup kerja laboratorium harus dapat menampung perlengkapan penting seperti vacum, gas medik, dan electrical services. 7. Ruang pengambilan/penerimaan spesimen harus terpisah dari ruangan pemeriksaan untuk menghindari kontaminasi. 8. Harus ada almari pendingin untuk menyimpan reagensia tertentu. 9. Ruang pengambilan hasil dapat disatukan dengan administrasi.

C. Radiologi Umum / Fungsi Peralatan & Ruang harus bisa mengakomodasi fungsi, prosedur khusus seperti terapi balok elektron, perawatan radiasi, penggambaran resonansi magnetik, tomografi komputer, unit scan, angiocardiografi, dll.bukanlah fasilitas yang biasanya ada, & tidak ada keterangan tentangnya di dokumen ini. Ketika peralatan di atas merupakan bagiang dari fasilitas maka fungsi & desainnya harus diberikan untuk kebutuhan spesifik untuk keefektifan operasi, aksesibilitas, keamanan & martabat pasien. Sonografi & Ultrasound adalah fasilitas yang biasanya dipakai, karena itu peralatan inilaha yang akan dijelaskan pada panduan ini. Tata letak dan persyaratan ruang: - Peraturan dan Undang-undang Regulasi ini berisi tentang panduan tentang bagaimana fasilitas & peralatan seharusnya digunakan, perlindungan radiasi yang diperlukan, siapa yang mengunakannya, dll. Seharusnya dikonsultasikan untuk memastikan bahwa tiap tahap telah diambil untuk menyediakan fasilitas perlindungan radiasi. Konsutasi ini harus dimulai pada tahap awal perencanaan. Dimensi dan Akses Kamar Ruang sebaiknya memiliki dimensi yang menunjang peralatan yang digunakan, untuk menunjang keamanan & gerak yang effektif dari para staf & pasien. Ketinggian langit–langit sebaiknya didasarkan juga pada peralatan, tetapi pada umumnya ketinggian minimum adalah 3000mm untuk pipa instalasi. Pertimbangan khusus juga harus diberikan pada lebar & tinggi pintu untuk memastikan bahwa pengantaran & pemindahan peralatan tidak terhalang & juga pergerakan trolley pasien tidak terhalang. Sonografi dan Ultrasound Fasilitas sebaiknya tersedia untuk : Peralatan Sonografi & Uasound (mobile) Pemeriksaan Pasien Privasi Pasien Pekerjaan Administrasi (meja & kursi) Tempat cuci tangan staf Tempat pembuangan Tempat penyimpanan (Lemari) - Lokasi Lokasi dari Fasilitas Radiologi dapat bervariasi. Harus diperhatikan kedekatannya dengan kasus kecelakaaan & darurat(jika tersedia), dan juga kamar Operasi , jika pada tidak tersedia theatre X-ray pada kamar Operasi. Fasilitas Staf Tergantung dari ukuran Ruang Fasilitas Radiologi, baik untuk sendiri ataupun berbagi dengan penghuni lain antara lain: · Ruang Makan · Ruang Ganti · Toilet - Fasilitas Umum/ Penunjang Fasilitas-fasilitas publik (dapat secara bersama-sama atau dikhususkan) yang sebaiknya disediakan antara lain : · Ruang tunggu · Kamar ganti (1 untuk penyandang cacat) · Telepon umum · Toilet umum (dapat dipakai untuk penyandang cacat) · Air minum bersih dalam suatu wadah

68

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

-

Persyaratan Penting lainnya Sebagai tambahan, perhatian khusus harus diberikan pada hal sebagai berikut : · Kemampuan daya dukung struktur untuk peralatan rumah sakit; · Perletakan peralatan pada tingkat lantai dan pergerakan yang aman bagi pasien · Ukuran diameter kabel elektrikal yang ber efek pada ruangan kamar (di lantai maupun plafond) · Ventilasi udara untuk peralatan · Perlindungan dengan timah (lead shielding) (grenjeng untuk anti radiasi) · Prosedur waktu (jadwal) · Pencahayaan untuk bekerja/dimmer (pengurangan cahaya); dan · Ruangan isolasi (untuk orang tak sadar, dsb)

D. Patologi Umum / Fungsi Sebagai dasar kebutuhan, sebuah rumah sakit menyediakan layanan bedah (surgical ) dan/ atau Kelahiran (obstetric) yang sebaiknya dapat di akses dan di layani selama 24 jam via telepon dengan layanan bedah termasuk : - Haematology (pengecekan darah) - Klinik kimia (apotik) - Analisis urin - Mikrobiologi (virus, bakteri, dll) - Anatomi patologi (urai bedah) - Cytology (bedah sel) - Bank darah
ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

Prosedur prinsip yang harus di keluarkan dalam kontrak layanan termasuk : - Kadar darah (blood counts) - Glukosa darah - Elektrolit tubuh - Urea dan nitrogen dalam darah - Kekentalan darah (koagulasi) - Transfusi darah (jenis dan kecocokan pertukaran) Ruang Simpan Darah / Bank Darah Semua Rumah sakit yang menyediakan layanan bedah dan kebidanan sebaiknya menyediakan fasilitas ruangan simpan darah berpendingin untuk transfusi. Ruang tersebut sebainya dilengkapi dengan monitor pengatur suhu dan sinyal alarm. Hal ini demi kemudahan staf pengontrol dalam menjalankan tugasnya. Pertimbangan perletakan unit ini sebaiknya diberikan dalam hal hubungannya dengan akses setelah jam kerja dan keamanan. Layanan dasar Kapasitas layanan bedah dan kebidanan sebaiknya perlu menyediakan fasilitas pathology khusus di tempat (rumah sakit tersebut). Jika layanan pathology berbasis di rumah sakit, fasilitas berikut sebaiknya disediakan, sebagai kebutuhan minimum: - Laboratorium Pathology, Ruang-ruang terpisah, mampu mengisolasi secara aman, secara spesifik disediakan unutk layanan pathology. Tidak untuk dipakai secar bersamaan dengan layanan lain. Ukuran runag sebaiknya sesuai / cukup dengan fungsi didalamnya, dan menyediakan lingkungan kerja yang aman.

69

Fasilitas dan perlengkapan untuk terminal sterilisasi (clave otomatis atau oven elektrik) spesimen terkontaminasi sebelum di kirim/diangkut. tempat simpan yang tepat untuk cairan yang mudah terbakar dan lain sebagainya. dan kaca-kaca spesimen mikroskop. dan wastafel. Fasilitas pengumpulan Urin dan feses sebaiknya dilengkapi dengan WC dan bak cuci tangan. 2. dan lain-lain. dan lain-lain. Pernyataan dari fungsi sebaikya di deskripsikan dalam kontrak dan/atau layanan pathology. Jika material radio-aktif dipakai. paling baik diletakkan berdekatan dengan area layanan yang sering dipakai. analizer bahan kimia yang sesuai. alat pembilas mata. Area kerja sebaiknya termasuk akses untuk menuju layanan elektrikal. Rak bak air juga dapat dipakai sebagai tempat pembuangan cairan non-racun. antara lain ruang operasi dan ruang kelahiran. dan ruang hampa. . Area kerja dari tempat pengumpulan darah sebainya memiliki bangku untuk kerja. dan feses). Area administrasi meliputi kantor sebagus mungkin ruangan untuk penulisan administrasi. Fasilitas pengumpulan Spesimen/sampel (darah. dapat diletakkan diluar area laboratorium dan dipakai bersama dengan unit lain. dan Bak dengan air Ruang simpan darah berpendingin Rak baskom/wadah air untuk para staf mencuci tangan. Ketentuan standar keamanan untuk bahan-bahan kimia termasuk penyiram ketika keadaan darurat. 70 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Bangku laboratorium yang menyediakan tempat untuk mikroskop. incubator centrifugal. ruang bagi pasien untuk duduk. Hospital autopsi Dilakukan berdasar permohonan dan oleh praktisi medik jika otopsi forensik tidak mendapatkan hasil. Loker dan fasilitas toilet sebaiknya diletakkan untuk memudahkan bagi staf laboratorium pria dan wanita . jika tergabung. (terminal sterilisasi tidak diperlukan bagi spesimen yang dibakar ditempat). Klasifikasi 1. E. pengisian dan rekam perawatan Lounge.- - - - - - - - Lokasi Fasilitas pathology. gas. Fasilitas penyimpanan untuk reagen (bahan reaksi). Otopsi forensik (koroner) Bila kematian dari seseorang disebabkan oleh hal-hal yang tidak wajar. Mortuary/ Otopsi Umum / Fungsi Unit mortuari atau otopsi adalah fasilitas untuk menempatkan jasad. termsuk pendingin jika dibutuhkan. seperti: ¾ Bunuh diri ¾ Kecelakaan lalu lintas ¾ Juga termasuk kedalamnya kematian dengan cara yang wajar namun belum diketahui penyebab kematiannya. standard (penyangga). fasilitas rumah sakit membutuhkan pertimbangan untuk kemungkinan keamanan terhadap bahaya Radio aktif (Radiation Safety Act). guna dilakukan peninjauan lebih lanjut terhadap jasad tersebut oleh pihak-pihak yang berwenang. Pencahayaan alami menguntungkan bagi laboratorium jika di lakukan dengan baik. persediaan. urin.

Unit cryotherapy G. troli. dsb. pompa tekanan udara .Unit operasi-electro .Ada fasilitas untuk dental X-ray Ruang tambahan yang dibutuhkan: .jasad hanya diterima tanpa dilakukan otopsi. Endoscopy Umum Berikut adalah area yang harus dipertimbangkan ketika pembangunan pelayanan endoscopic: . dokter) untuk prosedur x-ray .Fasilitas pengembangan dental x-ray . Level 4 . mesin anestesi.Pembersih ultrasonik .Minimal ada 6 titik tambahan power supply untuk darurat (total menjadi 10) .R. Level 3 . F. Selain itu. Hal-hal yang direkomendasikan: . handpiece berkecepatan tinggi .R. maupun peralatan elektrikal. Prosedur umumnya adalah sebagai berikut : .Proses Otopsi Proses otopsi dibagi dalam 4 level.Perlengkapan dental yang telah disebutkan di atas dengan tambahan: a) Penggerak udara berkecepatan rendah b) Alat semprot seperti disebut di atas c) Dua jalur untuk turbin udara berkecepatan tinggi dengan optik fiber . Level 2 .Table dental dengan kotak untuk penyaringan air dan tambahan: a) Mesin elektrik berkecepatan rendah b) Tiga alat semprot (udara.R. Tunggu 71 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Unit portable dental x-ray . Ruangan ini bisa berupa bangunan tunggal yang berdiri sendiri atau tergabung pada fasilitas umum bedah.Peristirahatan penyembuhan . Penyembuhan .jasad diterima dan dilakukan otopsi. disinfektan dan sterilisasi. udara/air) c) Turbin udara.Terdapat mesin panel untuk gelas-gelas.Pembersih bur ultrasonik Semua langkah dilakukan untuk perlindungan radiasi.jasad diterima dan dilakuka otopsi namun lebih ke arah mengajari melakukan otopsi kepada calon praktisi. dll) . Kerja (kebersihan. Endoscope .jasad idterima dan diamati tanpa dilakukan otopsi. Ruang Operasi unit GIGI dan MULUT Peralatan pendukung/penunjang akan menentukan ukuran akhir dari ruangan tersebut.R. peralatan sudah termasuk meja operasi.Lemari untuk obat dan serba-serbi .Penyimpanan pakaian operasi (pasien.Cahaya untuk tambal sintetis . DENTAL (GIGI) Umum / Fungsi Fasillitas ruang bedah gigi dan mulut pusat seperti ruang operasi pada umumnya. Level 1 .Holding .Alat pencampur (amalgamator) untuk campuran dental . air. operator.

pengecekan dan pemeliharaan endoscope dan persiapan specimen. Konsultasi R.Penggunaan peralatan video . . Luasan yang lebih fleksibel sangat dianjurkan untuk mengadaptasi perkembangan di masa yang akan datang.7 meter atau lebih.fasilitas cuci tangan klinis . Istirahat karyawan R. ukuran luasan ruang endoscopy 4 x 5 m2. Tinggi langit-langit harus 2.Penelitian .Penggunaan sinar-X Aturan bakunya. Dokter R.pencahayaan yang tepat memperlihatkan warna .Fluoroscopy . .bangku/tempat duduk untuk aktivitas benchtop (dilakukan dalam posisi duduk) seperti pengeringan.pembuangan limbah cair dan feses (slophopper). Lebar pintu masuk harus dipertimbangkan untuk akses troli. . dan pengering untuk endoscope prewashing.Pengobatan bedah laser . Ganti (pasien&karyawan) Toilet/kamar mandi (pasien&karyawan) Rekam medik Kantor manajer R.suplai air panas dan air dingin. Jika peralatan video digunakan. penghawaan serta ventilasi yang memadai. Kerja karyawan Cleaning service Pembuangan Penyimpanan Workshop Ruang Endoscope Jumlah dan pengoperasian ruang endoscope harus ditetapkan dan ukuran ruang bervariasi tergantung dari: . Serba guna R. sistem pembangkit tenaga.Gudang obat 72 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Workroom Workroom wajib memiliki fasilitas . lantai.disinfektor otomatis endoscope . dan perawatan langit-langit sangat penting untuk kemudahan pembersihan. maka ukuran minimal luasan ruang berkembang menjadi 5 x 6 m2.area penyucihamaan untuk scope manual antara udara yang tersimpan dan terventilasi (pada level tinggi dan rendah) .- Resepsionis R.lemari dengan ventilasi untuk penyimpanan endoscope . pencahayaan.Aktivitas berbagai bidang . Dinding kedap air. Ruang harus dilengkapi bedah minor yang lazimnya digunakan untuk tindakan anestesi umum dengan instalasi gas medis.basin yang memiliki tingkat kecekungan yang dalam. . Akses langsung ke workroom sangat disarankan.tempat pembuangan limbah umum dan infectious waste .

area aktivitas bersama Lain-lain Beberapa layanan yang juga mungkin tersedia mencakup Pediatry. Ruang konsultasi. Harus disediakan juga ruang konsultasi. Luas lantai yang cukup untuk dibiarkan bersih. dan akses untuk outpatient. dll. Sumber listrik sesuai yang diperlukan di kebocoran bumi. dan suction untuk pembersihan ruangan. shower dan fasilitas toilet. Ice-making facilities tersedia di atau dekat fasilitas kesehatan ini. Kebutuhan ini digunakan juga bagi outpatient dan dapat diakses oleh penyandang cacat. Speech Pathology. Occupational Therapy Beberapa fasilitas yang harus diikutsertakan: handwashing facilities.. ruang tunggu. Terdapat toilet khusus untuk penyandang cacat.· - Refrigerator/freezer Peralatan kebersihan ultrasonic (optional. Storage untuk linen berminyak dan limbah Fasilitas untuk berpakaian bagi pasien. tapi disarankan) Ventilasi Udara yang dipadatkan (compressed air). nyaman. Satu fasilitas handwashing dapat melayani beberapa ruang treatment Sebuah exercise area dengan fasilitas yang tepat untuk level layanan tertentu. Dimungkinkan terdapat media terapi lain. bebas. Tempat menyimpan linen yang bersih. Dietetics. Instalasi Rehabilitasi Medik Fungsi Memberikan layanan terapi penyembuhan seperti fisiotherapy. Terdapat ruang latihan terapi yang luas dan cenderung tanpa sekat. Psychology and Social Work. Tempat menyimpan peralatan dan persediaan. Tata letak dan persyaratan ruang instalasi rehab medik: Letaknya di zona yang mudah dijangkau dari instalasi rawat jalan dan rawat inap. terbuka. 73 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 4. misalnya kolam renang untuk water theraphy. speech pathology. tempat menyimpan pakaian yang aman. gudang untuk peralatan dan persediaan. dan Psychological Counselling harus memiliki acoustic untuk privasi dan kenyamanan. Pergerakan staf dengan alat (untuk menghindari kerusakan). akses toilet bagi diffabel. Physiotherapy Layanan physiotherapy harus menyediakan fungsi atau fasilitas: Individual treatment area atau area untuk privasi pasien Staff handwashing facilities di ruang treatment. Terdapat ruang yang dapat menampung alat-alat rehabilitasi medik. Dapat berupa lemari atau mobile storage trolley. Gudang umum untuk peralatan dan aksesoris ruangan lain. Pelayanan Kesehatan Terapi A.

. yang berisi data tingkat ketahanan konstruksi pelingkup bangunan. jika diperlukan .Penyimpanan peralatan kantor. Termasuk gudang sekunder dan gudang tersier yang dibuat dengan konstruksi tahan api.Ruang penyimpanan kursi roda. dan ruang konferensi serba guna 74 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . alat tulis dan persediaan .Ruang interview khusus yang mencakup prosedur perizinan . suster. administrasi. sementara gudang penyimpanan tertutupnya terletak di level semi basement ataupun basement. Tata letak dan persyaratan ruang: Unit ini biasanya terletak dekat dengan zona administrasi dan poliklinik.Gudang untuk perlengkapan kantor. tetapi dekat dengan entry point .Unit ini terdiri dari : . diluar jalur untuk sirkulasi normal tetapi dekat dengan pintu masuk .Gudang untuk Ledgers.Ruang rapat .Gudang penyimpanan yang tertutup (aman) untuk data seluruh pasien. . .Akomodasi ruang kantor untuk menunjang kepentingan administrasi.Recepsionis dan informasi pengunjung/pasien .Hubungan Fungsional antar ruang Unit Rehab Medik Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.Ruang yang cukup untuk kursi roda. jika diperlukan .toilet umum . di luar jalur sirkulasi utama. peralatan kerja dan cadangan.Ruang penyimpanan yang aman untuk semua data pasien. akses ke main entrance dan berhubungan dengan fungsi di bawah : .Aktivitas administrasi dan clerical yang berhubungan dengan managemen medical record . dengan akses yang tertentu (tertutup).ruang tunggu . voucher.Pengecekan ulang terhadap medical record dan laporan persiapan. account forms. pengobatan. Fasilitas Administrasi Layanan ini harus ada. 2008 5. . medis dan perawat baik secara umum dan/atau individu.Adanya ruang untuk mereview catatan medis pasien. dan . fasilitas disediakan untuk mengakomodasikan aktivitas administrasi sebagai berikut: .telepon umum Sebagai tambahan.Kantor individu/umum untuk mewadahi kegiatan kasir.Adanya ruang untuk kegiatan administrasi catatan medis. termasuk gudang penyimpanan tersier dan sekunder. dan lain-lain. Rekam Medik / Administrasi Fungsi Sebagai tempat dimana data – data mengenai catatan medis pasien disimpan dan didata sebagai arsip.Ijin masuk pasien . .

Ketetapan dari pembungkusan dan pemberikan label . Administrasi . A. penyimpanan. Fasilitas (mencakup satellit.Gudang/Penyimpanan yang aktif . . Penyimanan Obat/ Farmasi Umum Ukuran dan jenis service untuk disajikan di apotik akan tergantung pada jenis sistem distribusi obat yang digunakan. . dan tambahan dari service bersama atau dibeli.Gudang/Penyimpanan untuk peralatan dan persediaan umum yang tidak digunakan.Ruang untuk pendidikan dan pelatihan (mungkin di ruang multi tujuan bersama dengan unit yang lain). jumlah pasien untuk dilayani. Fabrikasi .Area pencampuran yang dilakukan tanpa persiapan. jika bisa diterapkan) dan peralatan.Gudang/Penyimpanan dengan pendingin. dan referensi. . . komunikasi. . E. 75 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Penyimpanan limbah . Lemari atau rak penyimpanan untuk sistem pengembalian informasi obat.Konter dan lemari bekerja untuk aktivitas berkenaan dengan farmasi.Ketentuan untuk konseling dan instruksi pasien (mungkin adalah di ruang terpisah dari apotik). lain-lain .Ketetapan untuk cek silang dari pengobatan dan profil obat dari pasien individu. . B.Area pencampuran obat . .Gudang/penyimpanan yang aman untuk narkotika dan obat/drugs yang dikontrol.Disku si Hubungan Fungsional antar ruang Unit Rekam Medik Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.R. staf kontrol. D.Gudang/penyimpanan alkohol dan cairan yang mudah menguap dengan konstruksi seperti diperlukan oleh peraturan relevan untuk unsur dilibatkan.Fasilitas handwashing harus tersedia di dalam tiap ruang terpisah di mana pengobatan terbuka ditangani.Ruang atau area terpisah untuk fungsi kantor yang mencakup meja tulis. Dispensing (pembagian) . dan keamanan.Area pengendalian mutu C. 2008 6. Gudang/ Penyimpanan .Area untuk tinjauan ulang dan perekaman dari order/pesanan. . Ruang atau deretan apotik ditempatkan untuk akses nyaman. .Poin(kounter) pengambilan dan penerimaan terkendali.

shower. Ruang Laundry. laundry/ Pengolahan Linen Fungsi Fungsi laundry adalah Menerima. Pengaturan dan konstruksi harus mematuhi persyaratan menurut undang-undang dan Standard yang relevan. Kemudian linen yang telah bersih dikirimkan untuk ditampung pada gudang linen bersih yang pada umumnya terletak di setiap lantai instalasi rawat inap. Gudang Textile. 76 Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Laundry ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .lantai pelayanan medis. 7. Akses yang terpisah untuk linen kotor dan bersih Distribusi linen kotor ke instalasi laundry mungkin dilakukan dengan linen chute . Jalur sirkulasi dan distribusi yang terpisah dengan jalur sirkulasi pasien. getaran serta kemudahan pengelolaan penyaluran air limbah. jika dilaksanakan. Loket Masuk Linen Kotor.Clean Linen Storage.linen yang kotor dibawa dan diproses pada instalasi laundry yang terletak pada area servis. mensortir. kisaran 0. Linen . Terdapat R Ka-Unit. Loket Keluar Linen Bersih Pengaturan sirkulasi agar tidak bersinggungan antara linen bersih dan linen kotor Pada pembuangan ke IPAL diberi penangkap detergen Biasanya berdekatan dengan boiler house Disarankan pula berdekatan dengan ruang housekeeping Tidak ada bakuan luas minimal ruang laundry.5 sampai 1 meter persegi per tempat tidur Bila berada dalam bangunan banyak lantai maka sebaiknya laundry ada di lantai paling bawah untuk mencegah gangguan suara.- - Menyediakan akses yang nyaman ke lemari karyawan. dll. tersedia suatu area pekerjaan yang steril dengan bangku aliran berlapis dan kerudung. Pertimbangan untuk diberikan ke persyaratan phisik dari aktivitas spesialis seperti persiapan yang cytotoxic. dan memproses linen dan lakan kotor rumah sakit. . Jika solusi yang intravenous (kedalam pembuluh darah) disiapkan di apotik. Area ini harus memiliki kapasitas yang sesuai demi efisiensi operasi Rumah Sakit. Kamar Jahit. Kriteria Minimal perencanaan dan Tata letak dan persyaratan ruang : Sebuah ruang untuk menampung linen kotor yang akan diproses dilengkapi dengan fasilitas pencuci tangan. maka sebaiknya tersedia jalur yang terlindung dari hujan dan panas. R Cucian Bersih. tempat dimana linen – linen kotor diproses. Jika fasilitas ini terpisah dari bangunan pelayanan utama. R Cucian Kotor. untuk menjaga kelayakan dan kebersihan pelayanan pasien. R Setrika. ruang bersantai/sofa. tempat linen – linen bersih ditampung dan didistribusikan ke lantai . R Kerja Cuci. Pada umumnya merupakan fasilitas bersama dengan staf rumah sakit yang lain.

Lokasinya harus jauh dari penglihatan dan jangkauan pengunjung. .Penyimpanan bahan makanan tidak boleh menempel pada lantai. . .8.minimalisasi cross-traffic ataupun aliran maju mundur (back-tracking) .Tidak diperbolehkan ada jaringan drainase disekitar gudang makanan.6 meter persegi per tempat tidur 77 Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Gizi ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Jarak bahan makanan dengan dinding 5 cm c. kisaran luas dapur utama minimal 0.Bahan makanan tidak diletakkan di bawah saluran air bersih maupun air limbah untuk menghindari terkena bocoran. .Semua gudang bahan makanan hendaknya berada di bagian yang tinggi.layout dapur utama etidaknya adalah panjang ruang sama dengan dua kali lebar ruang . IGD.Semua bahan makanan disimpan pada rak-rak dengan ketinggian rak terbawah 15 cm – 25 cm.tidak ada bakuan luas. Tata letak dan persyaratan ruang: . Instalasi Gizi (Dietary Service) Fungsi: Memberikan pelayanan konsumsi gizi bagi unit perawatan. Jarak bahan makanan dengan langit-langit 60 cm d. rata. minyak tanah) .Memiliki pintu masuk dan keluar tersendiri. dan unit kandungan. . dinding.pengamanan terhadap bahaya kebakaran menjadi poin penting dalam perencanaan unit gizi utamanya dapur . .gudang penyimpanan terpisah antara basah dan kering. ICU. atau langit-langit dengan ketentuan sebagai berikut : a. Kelembaban penyimpanan dalam ruangan 80 -90 %. . .Jarak bahan makanan dengan lantai 15 cm b. berwarna terang dan menggunakan cat yang tidak luntur serta tidak menggunakan cat yang mengandung logam berat. ataupun bahan aman dan riskan flameable (misal tabung gas.terapkan organisasi ruang dalam aliran yang menerus mulai dari ruang penerimaan hingga penyajian .Permukaan dinding harus kuat.

Tingkat efektivitas pengaturan sampah tergantung dari kewaspadaan staf kebersihan dalam meminimalisasi sampah dan tingkat ketelitian dalam pemisahan sampah dari sumbernya menurut jenisnya.workshop/bengkel kerja peralatan medik .administrasi/supervisor . Tata letak dan persyaratan ruang: 1. Lokasinya di zona servis yang relatif jauh dari zona perawatan maupun zona penunjang medik. 78 Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi IPSRS 10. Pengelolaan dan Pembuangan Sampah Perlu adanya fasilitas yang memadai untuk penyimpanan dan pembuangan sampah yang aman. Dalam kasus ini.loker staf Fungsi: Merupakan instalasi yang melakukan pemeliharaan maupun perbaikan terhadap sarana dan prasarana rumah sakit.workshop/bengkel kerja pertukangan kayu .workshop/bengkel kerja kendaraan . Standar dan ketentuan terkait dapat dilihat pada Ketentuan Fungsi.penyimpanan alat dan gudang . dilengkapi dengan ruang-ruang kerja berupa bengkel dan workshop. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Pemisah bisa menggunakan ruang fungsional garasi atau deret gudang. Bengkel dan Peralatan (IPSRS) Mengingat karakter aktivitasnya maka bengkel dan peralatan diletakkan terpisah dari kelompok unit lain. tata letak lantai dan peletakan titik-titik pengumpul sampah menjadi sangat penting. Aktivitas utama yang diwadahi dalam unit adalah : . terutama di ruang perbaikan alat. Ruang dibuat relatif luas dan terbuka tanpa sekat untuk memudahkan aktivitas. 2.9.

diharapkan ditangani oleh sub-konsultan yang relevan pada bidang tersebut. Hal ini akan terasa agak sulit pada awalnya terutama pada rumah sakit dengan skala kecil. Dengan alasan pemisahan sampah inilah maka sebaiknya pembuangan sampah pada area klinis ditempatkan dalam treatment area. Titik-titik pengumpulan pos kerja harus mudah diakses oleh staf yang bertanggungjawab atas pembuangan dan pemindahan. Tata Cara Pengaturan Sampah Standar dan ketentuan yang berlaku tergantung dari spesifikasi bangunan dan peraturan setempat mengenai tatacara pengolahan sampah. serta penggantian kereta dorong. dan area itu sendiri. Sebagian besar lokasi kereta dorong pada area klinis harus diletakkan dalam ruang perawatan. Troli-troli ini sebisa mungkin tidak dapat diakses oleh publik. Ukuran kereta pengangkut dan keranjang sampahnya ditentukan dari kuantitas sampah rumah sakit dan berapa titik pengumpul sampah yang mungkin diadakan. troli pengangkut. Area Klinis Luasan ruang yang efisien dan didesain berdasar kebutuhan sangat dibutuhkan untuk penyimpanan kereta dorong 240L di titik-titik yang stategis pada setiap sektor. Pada unit ini mungkin dapat diterapkan sistem penguapan dan pengeringan dengan udara. tetapi akan sangat bermanfaat pada sebuah institusi rumah sakit yang cukup besar. Pemisahan material-material yang dapat didaur ulang pada tingkat pengguna akan membutuhkan area penyimpanan yang lebih besar dibandingkan bila dicampur dengan metode pengumpulan daur ulang. Uap yang terbentuk pada proses disinfeksi sampah cair masih harus distabilisasi sebelum dialirkan menuju pembuangan. Dinding dan lantai pada daerah tersebut harus diberi penutup lantai untuk memudahkan dalam pembersihan. Fasilitas untuk membersihkan tangan harus diletakkan berdekatan dengan area pengumpulan sampah untuk material medis di mana material klinis ditangani. Titik Pengumpulan Pada Ruang Kerja/ pos Kerja A. mengurangi dekomposisis organik. kode dan peraturan ini.Pada area lain mungkin membutuhkan ruang/ceruk untuk menyimpan kereta dorong. Peraturan standar lainnya akan diaplikasikan pada spesifikasi bangunan untuk area pembuangan sampah dan rute pembuangan limbah cair yang berhubungan dengan proses manajemen sampah. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 79 . Peraturan manajemen rumah sakit memungkinkan sebagian besar proses daur ulang dilaksanakan pada tingkatan pengguna. dan bahkan dihindarkan sevara visual dengan menyediakan koridor servis khusus yang aman. Pada rumah sakit yang cukup mampu dapat dipasang sistem pembersih mekanikal. Aspek yang penting dalam manajemen sampah yang baik. Mungkin diperlukan pula ruangan kecil yang diperuntukkan bagi penyimpanan troli pengangkut. Pengukuran minimalisasi sampah dapat dilakukan dengan sistem bar code atau penimbangan sampah. Pemeriksaan pada persetujuan yang penting mengenai standar. Dapat pula dipakai sistem terpadu di mana diterapkan biaya kebersihan sesuai kuantitas sampah yang dihasilkan. mencegah bau keluar.Untuk membedakan jenis-jenis sampah. adalah kemudahan bagi produsen sampah pada proses pemisahan sampah. yang dinding dan lantainya dikeramik sehingga mudah dibersihkan. Area pembuangan sampah harus didesain sedemikian rupa sehingga dapat mengamankan material. di mana pengaturan sampah sudah cukup membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan pembedaan warna tersebut akan lebih memudahkan staf terutama saat pergantian shift kerja staf kebersihan. Kereta dorong tidak boleh terakses oleh publik dan sebaiknya tidak terlihat pada area yang diamankan. baik digunakan keranjang sampah dan kereta pengangkut sampah yang dibedakan menurut warnanya. tetapi tetap memungkinkan staf untuk membersihkan tempat sampah.

Perkiraan jumlah kereta 240L yang dibutuhkan untuk tiap bagian rumah sakit harus didasarkan pada campuran pilihan pengumpulan material daur ulang. Area Kantor Ruang dengan luasan yang memadai dan direncanakan sesuai kebutuhan harus dialokasikan untuk penyimpanan kereta dorong 240L pada tempat-tempat strategis di setiap area kantor.Pemisahan material yang dapat didaur ulang pada titik pengguna akan membutuhkan jumlah gudang yang lebih besar dibandingkan apabila material tersebut dicampur. Sampah berupa jaringan tubuh manusia. Buangan wadah benda tajam yang didaur ulang umumnya disebabkan oleh suplai dari kontraktor. Penampungan sampah sebaiknya dipisahkan melalui jalur sampah medis yang disediakan dan disetujui kontraktor pembuangan. kecuali rumah sakit tersebut memiliki fasilitas khusus yang menyebabkan produksi sampah jenis tadi di atas normal. Jaringan ini harus dipindahkan ke bagian manajemen penanganan sampah. Dibandingkan sampah jenis lain. cytotoxic. Kebutuhan ruang kereta dorong untuk material daur ulang tidak diperlukan untuk area bangsal. racun sitotoksik. Hanya dibutuhkan wadah khusus untuk penampungan sementara jaringan tubuh manusia untuk secepatnya dibekukan segera setelah dibuang. Aspek yang penting dalam manajemen sampah yang baik tergantung pada produksi sampah dalam memenuhi proses pemisahan sampah. Sedangkan racun sitotoksik dan bahan radioaktif membutuhkan penanganan khusus oleh tim yang ahli di bidang tersebut (biasanya ahli farmasi atau BATAN di Indonesia). B. dan material radioaktif umumnya dihasilkan secara tak teratur dan dalam jumlah relatif kecil. agar jarum dapat dikontrol dan terlihat saat sudah tiba waktunya untuk dibuang. cytotoxic (racun pada jaringan tubuh) dan zat radioaktif sangat jarang terjadi dan jumlahnya kecil. 80 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . meterial-material ini umumnya tidak terlalu banyak mengambil tempat pada area pengolahan. Titik-titik pembuangan yang memadai dibutuhkan pada area perawatan. dan zat radioaktif. segera setelah diambil (dibekukan jika perlu). Dalam kondisi ini. Pembuangan zat-zat ini umumnya tidak terlalu sering. kecuali rumah sakit memiliki fasilitas khusus bagi sampah tersebut. mengingat cara terpisah akan tidak praktis diterapkan pada area seperti rawat inap. Umumnya rumah sakit menyediakan pembakaran sampah (incinerator) untuk keperluan ini. Kontainer pembuangan benda tajam dapat dibuang melalui saluran pembuangan klinis apabila jalur tersebut memang dirancang untuk itu. Prosedur penanganan sampah berbeda harus disediakan untuk benda tajam (jarum). Buangan cytotoxic dan zat radioaktif harus diawasi oleh staf yang berpengalaman. Untuk keperluan ini dinding tempat penyimpanan benda tajam biasanya diberi perlakuan khusus. Benda tajam harus ditampung dengan aman baik pada pembuangan ataupun wadah daur ulang. disediakan kontainer khusus yang terpisah. Tempat penyimpanan kecil harus disediakan di bagian yang membuang jaringan manusia. dan ke incinerator. Ruang penyimpanan bagi zat-zat tersebut tidak terlalu diperlukan di area perawatan. untuk selanjutnya mungikn dimasukkan dalam incinerator. Muatan kereta yang 240 liter tadi diasumsikan untuk metode campur ini. Beberapa tim manajemen rumah sakit membutuhkan incinerator meskipun tidak ada peraturan untuk menyediakan pengemasan secara benar. dan tidak memerlukan proses pemindahan kecuali oleh kontraktor. jaringan (tubuh manusia). umumnya apoteker. biasanya dibutuhkan bantalan/lapisan tambahan pada dinding kontainer. Penanganan sampah seperti ini rutinitasnya dapat lebih longgar. Sedangkan bagi material tajam yang masih dapat digunakan. Jaringan pada manusia.

snack bar/coffee shop . cart juga harus dapat diakses dari berbagai level.konstruksi dan instalasi (fasilitas yang tahan api etc) . PENGOLAHAN SAMPAH/LIMBAH .potensi untuk pemulihan panas yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah (konservasi energi) 11. memberikan pengamanan ekstra dalam pelaporannya.loker . Area pembuangan sentral untuk benda-benda yang membutuhkan kerahasiaan.ruang ganti (change room) .Kereta sampah biasa harus selalu diletakkan dekat dengan kereta kertas daur ulang untuk mengatasi pemisahan sampah biasa dengan material daur ulang yang tidak sistematis. Lokasi fasilitas penghancur dokumen sebaiknya diletakkan berdekatan dengan area penyimpanan kereta (yang digunakan untuk menyimpan dokumen rahasia yang akan dibuang tersebut). Kereta dorong tidak boleh terakses publik dan sebaiknya tidak terlihat pada area yang diamankan. Limbah klinis diubah menjadi limbah dan diolah di lantai dasar. Area ini hanya digunakan untuk kebutuhan manajemen sampah. B. Penyediaan ruang-ruang berikut dibutuhkan dalam area penanganan manajemen sampah: A.toilet .Incineration Ketika incinerator dibutuhkan. Titik-titik pengumpulan pos kerja harus mudah diakses oleh staff yang bertanggungjawab atas pembuangan dan pemindahan serta penggantian kereta dorong. Area Manajemen Penanganan Sampah Ruang dengan luasan yang cukup dan tertutup sebaiknya disediakan untuk pengumpulan.ruang shower (showering) .florist .farmasi bank . Selain itu.Land Fill Penggunaan Land fill dalam pengolahan limbah medis membutuhkan negosiasi dengan pemerintah lokal. dll kebutuhan Staff Fasilitas yang mungkin dapat disediakan untuk melengkapi kebutuhan staf: . Pelayanan Penunjang Fasilitas Fasilitas yang mungkin disediakan adalah: . Kebijakan Manajemen Rumah Sakit memungkinkan untuk menghancurkan laporan-laporan penting dan rahasia sebelum dibawa ke area daur ulang (penanganan sampah). Pengawalan yang ketat dibutuhkan dalam membawa dan membuang limbah medis. C.penata rambut.kapasitas (penyesuaian terhadap kapasitas muat incineratior) .grooming/handwashing . pertimbangan diberikan untuk : . .gift shop . penyimpanan dan pemilahan sampah.ruang istirahat (lounge) 81 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Kebanyakan dari medical waste dapat diatur dengan menggunakan land fill. BULK WASTE MOVEMENT Pergerakan cart disekitar lokasi dan selama proses pembuangan sangat diperlukan.

AKSES AMBULANS Akses utama keluar dan masuk mobil ambulans tidak boleh bergabung dengan akses lalu lintas yang padat. selain itu harus ada hubungan dengan akses pengangkutan dan penurunan pasien. dan nyaman. sehingga ambulans dapat beroperasi dengan cepat. RAMPS Ramp harus disesuaikan dengan standar yang ada. atau workshop mengenai rumah sakit. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Perawatan Anak Perawat-perawat terbaik sangat direkomendasikan untuk fasilitas perawatan anak ini. Ukuran dan tempat menyesuaikan kebutuhan yang ada. selain itu.pantry .konsultasi bagi keluarga penderita .tempat meyimpan mainan . Area perawatan anak meliputi: .tempat tidur anak . Selain itu. dan sebagainya.view ke luar (bukan jalan raya) yang baik dan tenang beberapa area service yang mendukung dapat diletakkkan berdekatan dengan area ini. Selain itu.loker tempat simpan jaket atau sepatu . pintu masuk dan keluar mobil ambulans harus memiliki jarak yang cukup jauh dengan pintu masuk utama dan jauh dari jarak pandang orang-orang di sekitarnya. dari mobil ambulans ke ruang UGD atau ruang penting lainnya harus dibuat seefisien mungkin.kantor staf . Demonsrasi suatu metode baru dalam perawatan pasien juga akan menggunakan fasilitas ini. 82 Perpustakaan Di sini nantinya akan dapat diletakkan berbagai literatur medis yang dapat digunakan untuk mencari data bagi para staf pegawai. B.Ruang Doa/ Ibadah Memisahkan ruang sebagai fungsi tunggal seperti : . Selain itu. Ruang Kuliah Ruang kuliah ini nantnya akan digunakan sebagai fasilitas belajar bagi para calon-calon perawat atau pegawai lainnya. Fasilitas Pembelajaran/ Studi Ruang seminar Luas minimum = 28 m2.tempat bermain anak . Gudang Sebagai fasilitas penyimpan alat-alat pembelajaran.percakapan Internal . ruang ini perlu dilengkapi dengan fasilitas audio-visual. Ruangan ini natinya akan digunakan untuk mengadakan seminar. ruang ini juga akan berfungsi sebagai ruang rapat atau pertemuan antar staf di rumah sakit.ruang ibadah dan Ruangan harus mudah diakses oleh penyandang cacat. 12.toilet anak dan staf . ANTAR JEMPUT AMBULANS Titik antar jemput mobil ambulans harus terlindungi dari hujan dan panas. C. aman. janitor. akses ini tidak boleh melewati area publik. Fasilitas A. Fasilitas Pendukung Lainnya Fasilitas ini antara lain cleaning service.tempat bermain outdoor yang aman . Akses jalan.

pengecekan) BATAL (jika ditemukan ketidakpuasan) REVIEW HASIL PEMERIKSAAN RUANG ENDOSCOPY/TINDAKAN (anestetik/tindakan ) ARSITEKTUR RUMAH SAKIT PERHENTIAN AMBULAN TAHAP 1. buklet info pasien) DPC registrasi pasien (review formulir. GANTI (gudang pakaian) FORMULIR (pembebasan. PEMULIHAN (penyegaran. Diagram Pergerakan Pasien PENJADWALAN ULANG DOKTER BEDAH (tindakan/pemilihan pasien) FORMULIR (perjanjian medis. PEMULIHAN (observasi lanjutan. recliners.13. record) IZIN MASUK/ PENERIMAAN (record akhir. petunjuk) RUMAH SAKIT (gawat darurat/rawat inap) RUMAH (follow up pasca operasi) . akses pengunjung) 83 KEMUNGKINAN TAHAP 3. PEMULIHAN (Perawatan pasca operasi/penyadaran) TAHAP 2. profil medis. keuntungan. penjelasan) GANTI (gudang pakaian) RUANG PRA OPERASI (identifikasi. tagihan. instruksi pasca operasi.

tembok pembatas antara ruang Sinar X dengan kamar gelap dilengkapi dengan transfer cassette. Dinding ruang penginderaan medis berwarna gelap. ruang perpustakaan. Dinding ruang laboratorium dibuat dari porselin atau keramik setinggi 1. ruang resepsionis. kedap air. mudah dibersihkan. ruang penginderaan medis (medical imaging). farmasi dan diagnostik. Penataan ruang bangunan dan penggunaannya harus sesuai dengan zonasi fungsi yang telah ditentukan sehingga dapat berkaitan dengan zonasi yang memenuhi persyaratan kesehatan yaitu dengan mengelompokkan fungsi ruangan berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit sebagai berikut : Zona dengan Risiko Rendah Zona risiko rendah meliputi : ruang administrasi. Persyaratan bangunan pada zona dengan risiko sedang sama dengan persyaratan pada zona risiko rendah.00 meter dari lantai. Lebar pintu minimal 1. Langit-langit harus terbuat dari bahan yang kuat. dan ambang bawah jendela minimal 1.70 meter dari lantai. Publik dapat mengakses area ini namun terbatas. Zona 3 – wilayah yang menyediakan dukungan bagi aktivitas rumahsakit: kantor pengelola rumah sakit dan ruang serbaguna. berwarna terang. dan ruang jenazah dengan ketentuan persyaratan sebagai berikut : Dinding permukaan rata dan berwarna terang. Wilayah ini menerima limpahan kerja dari zona luar dan membutuhkan akses khusus untuk mendukung pelayanan khusus: program ruang yang direncanakan pada zona ini adalah fasilitas rawat inap. diantaranya instalasi gawat darurat. Yang Perlu Diperhatikan dalam Desain A. ruang bedah mayat (autopsy). warna terang. ruang komputer. Ventilasi dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik. ruang ganti pakaian. dan tinggi minimal 2.20 meter dan tinggi minimal 2. Ruang publik direncanakan berada di area yang sangat publik dengan tingkat pencapaian yang tinggi.50 meter dari lantai dan sisanya dicat warna terang. 84 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . kerangka harus kuat. ruang pertemuan. bila ventilasi alamiah tidak menjamin adanya pergantian udara dengan baik. rawat jalan. mudah dibersihkan. dan ruang pendidikan/pelatihan. laboratorium. Tata Fungsi Zona Fungsi Dalam Rumah Sakit Zona 1 – wilayah ini berkarakter publik. ruang perawatan intensif. Zona dengan Risiko Sedang Zona risiko sedang meliputi : ruang rawat inap bukan penyakit menular. kebidanan.10 meter. dapat dilengkapi dengan penghawaan mekanis (exhauster) . Persyaratan ruang sebagai berikut : Permukaan dinding rata dan berwarna terang Lantai terbuat dari bahan yang kuat. dengan ketentuan dinding disesuaikan dengan pancaran sinar yang dihasilkan dari peralatan yang dipasang di ruangan tersebut. dan ruang tunggu pasien. Di dalam ruang publik berlangsung aktivitas-aktivitas pelayanan rumahsakit kepada publik. dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus.14.40 meter dari lantai. Zona 2 – wilayah ini berkarakter privat. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1. Zona dengan Risiko Tinggi Zona risiko tinggi meliputi: ruang isolasi. instalasi rawat jalan.

Hubungan dengan ruang scrub–up untuk melihat ke dalam ruang operasi perlu dipasang jendela kaca mati.10 m. ruang gawat darurat. atau dicat dengan cat tembok yang tidak luntur dan aman. mudah dibersihkan.10 meter.70 meter dari lantai. Langit-langit terbuat dari bahan yang kuat. Lebar pintu minimal 1.00 meter dari lantai.20 meter dan tinggi minimal 2. seperti trauma center. OK. Khusus ruang operasi. Fasilitas selasar/koridor penghubung antar ruang tindakan.- Lantai terbuat dari bahan yang kuat. yaitu : a. Khusus untuk ruang bedah ortopedi atau transplantasi organ harus menggunakan pengaturan udara UCA (Ultra Clean Air) System Tidak dibenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar. ruang bersalin.40 meter dari lantai. kedap air. harus disediakan gelagar (gantungan) lampu bedah dengan profil baja double INP 20 yang dipasang sebelum pemasangan langit-langit Tersedia rak dan lemari untuk menyimpan reagensia siap pakai Ventilasi atau pengawasan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1. berwarna terang. ruang perawatan gigi. yang terdiri dari beberapa fasilitas sirkulasi. dan tinggi minimal 2. dan semua pintu kamar harus selalu dalam keadaan tertutup. Pemasangan gas media secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau di atas langit-langit. Zona dengan Risiko Sangat Tinggi Zona risiko tinggi meliputi : ruang operasi. untuk setiap ruang operasi yang terpisah dengan ruang lainnya. c. Lebar pintu minimal 1. dan ambang bawah jendela minimal 1. Lantai terbuat dari bahan yang kuat. 85 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .5 meter. kedap air. dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus. mudah dibersihkan dan berwarna terang. B. untuk itu harus dibuat ruang antara.20 meter dan tinggi minimal 2. dengan lebar minimal 2. Penggunaan tangga atau elevator dan lift dilengkapi dengan sarana pencegahan kecelakaan seperti alarm suara dan petunjuk penggunaan yang mudah dipahami oleh pemakainya atau untuk lift 4 (empat) lantai harus dilengkapi ARD (Automatic Rexserve Divide) yaitu alat yang dapat mencari lantai terdekat bila listrik mati. dan ruang patologi dengan ketentuan sebagai berikut : Dinding terbuat dari bahan porslin atau vinyl setinggi langit-langit. berwarna terang. Fasilitas tangga sebagai penghubung antar lantai maupun penggunaan alat bantu sirkulasi vertikal berupa ramp pada pengembangan bangunan berlantai banyak pada fungsi-fungsi yang bersifat emergency. Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah.70 meter dari lantai. hubungan ke ruang steril dari bagian cleaning cukup dengan sebuah loket yang dapat dibuka dan ditutup. Tata Sirkulasi Sirkulasi Internal Sistem sirkulasi di dalam bangunan adalah pengaturan hubungan antar fungsi ruang yang saling terkait. mudah dibersihkan. dan tinggi minimal 2. Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis. dan rawat inap intensif. kerangka harus kuat. Langit-langit terbuat dari bahan yang kuat dan aman. warna terang. ruang bedah mulut. b. emergency.

c. yaitu sirkulasi oleh pengunjung umum dari luar menuju ke poliklinik. e. c. yaitu sirkulasi yang digunakan untuk distribusi mobilisasi barang atau logistik. yaitu akses karyawan medik maupun non-medik menuju zona aktivitas. sirkulasi kendaraan pemadam kebakaran. b. Persyaratan ketat sirkulasi adalah: a. Sirkulasi medik. dengan penerangan cukup di malam hari dan dilengkapi signage yang jelas. Sirkulasi barang dan servis. pusat diagnostik atau besuk ke rawat inap. rawat jalan dan rawat inap. Sirkulasi barang dan servis. b.d. 86 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Sirkulasi eksternal rumah sakit dibedakan dalam pengelompokan yaitu: Sirkulasi gawat darurat. yaitu sirkulasi yang digunakan oleh pengunjung umum dengan berbagai keperluan di dalam rumah sakit. Fasilitas selasar/koridor penghubung antar massa bangunan g. Dropping zone paling penting adalah naik turunnya pasien dari kendaraan pengangkut. Fasilitas selasar/koridor services dan utilitas Kualitas sirkulasi dibedakan di dalam pengelompokan. d. Karakter sirkulasi ini cepat dan bebas hambatan. Sirkulasi Eksternal Merupakan perencanaan sirkulasi diluar bangunan. Pemisahan akses ini dibuat untuk memudahkan akses menuju ke Unit Gawat Darurat dan VK tanpa diganggu oleh sistem sirkulasi publik menuju ruang-ruang fungsional lain dalam rumah sakit Sirkulasi eksternal ditunjang oleh area parkir serta dropping zone. Sirkulasi umum. terdiri dari drop-off bahan di instalasi gizi. administrasi. Sirkulasi eksternal memiliki prinsip mengoptimalkan akses dari jalan utama. c. yaitu akses langsung menuju IGD. yaitu: a. dan fungsi-fungsi pemeliharaan. yaitu sirkulasi yang digunakan oleh staf medik rumah sakit dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan kesehatan. b. Sirkulasi staf. operasi pemeliharaan IPAL dan incenerator. Meminimalkan terjadinya himpitan tumpang tindih antara sirkulasi medik dengan kelompok sirkulasi lain. sehingga memudahkan hubungan dan komunikasi antar ruangan serta menghindari risiko terjadinya kecelakaan dan kontaminasi f. yaitu: a. Dilengkapi dengan pintu darurat yang dapat dijangkau dengan mudah bila terjadi kebakaran atau kejadian darurat lainnya. Direncanakan area tersebut terlindung dari hujan panas. Sirkulasi dari dan ke gawat darurat mempunyai skala prioritas tertinggi dibanding sirkulasi lain. Dalam kondisi luar biasa yaitu bila terjadi gawat darurat massal maka keempat area dropping tersebut bisa digunakan secara bersama-sama untuk menghindari terjadinya antrian panjang. Pembagian ruangan dan lalu lintas antar ruangan didisain sedemikian rupa dan dilengkapi dengan petunjuk letak ruangan. Meminimalkan himpitan dan tumpang tindih (overlaid) antara sirkulasi medik dengan services. Sistem sirkulasi eksternal dipisahkan antara sirkulasi menuju Unit Gawat Darurat dan VK dengan sirkulasi menuju diagnostik. Sirkulasi umum. Ada 4 zona dropping terpisah.

Sehingga dasar yang dijadikan konsep perencanaan pencahayaan adalah : 1. yaitu: pencahayaan buatan dan pencahayaan alami. Untuk mendukung fungsi keamanan. pencahayaan dikelompokkan menjadi 2 (dua) jenis. o Sumber-sumber cahaya hendaknya dilindungi untuk meminimalisasi cahaya menyilaukan dan temperatur yang tinggi. Seperti pada ruang pemeriksaan dan pengolahan sampel di laboratorium. e. o Ruang pasien/bangsal harus disediakan penerangan umum dan penerangan untuk malam hari dan disediakan saklar dekat pintu masuk. Pencahayaan yang memadai pada area publik dapat meningkatkan rasa aman. lantai dan funiture. b. Pada hakikatnya. dinding. Untuk menciptakan Iingkungan yang sesuai dan menyenangkan. jendela. Penggunaan beberapa lampu dengan intensitas rendah lebih baik daripada satu lampu dengan intensitas tinggi. Pada area-area publik yang penting seperti ruang receptionist. pendaftaran. Beberapa prinsip mengenai pencahayaan buatan pada rumahsakit adalah sebagai berikut : o Intensitas cahaya pada tiap ruangan hendaknya dapat diatur dengan mudah o Perbedaan intensitas cahaya yang gradual akan sangat membantu pasien untuk beradaptasi terhadap ruang yang akan dituju. atau penyinaran alam (daylight) dan penyinaran buatan (artificial illumination). sekitar individu ditempatkan pada titik yang mudah dijangkau dan tidak menimbulkan berisik ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 87 . sehingga kenyamanan dapat tercapai. d. dan ruang-ruang yang memiliki fungsi sebagai ruang tindakan dan operasi. Dropping untuk fasilitas Kantor dan Pendidikan Dropping untuk fasilitas Gawat Darurat Dropping untuk fasilitas Poliklinik Dropping untuk fasilitas Rawat Inap Dropping untuk fasilitas Servis C. Untuk mendukung visual task dan kegiatan pengguna bangunan. baik dalam maupun luar ruangan harus mendapat cahaya dengan intensitas yang cukup berdasarkan fungsinya. o Menghindari bahan-bahan yang dapat mengakibatkan silau (glare) pada pintu.a. yaitu di atas 100 fc (footcandles). ruang racik instalasi farmasi. Oleh karena itu diperlukan ruang-ruang transisi untuk menuju ruangan dengan intensitas cahaya yang berbeda. Selain itu unsur luar yang turut mempengaruhi kenyamanan pandangan yang harus diselesaikan secara teknis adalah wujud obyek yang di pandang. dan lobby direncanakan kuantitas pencahayaan yang lebih. Intensitas cahaya yang tinggi diberikan pada area-area yang aktivitasnya membutuhkan konsentrasi dan memiliki resiko bahaya yang lebih dibanding ruangan lainnya. o Semua ruang yang digunakan baik untuk bekerja ataupun untuk menyimpan barang/peralatan perlu diberikan penerangan. o Lingkungan rumah sakit. latar belakang obyek dan kondisi fisiologis mata. 3. Dua faktor utama di dalam konsep perencanaan pencahayaan adalah (1) tingkat kekuatan penyinaran (quantity) dan (2) pengontrolan silau (quality). 2. konsep perencanaan pencahayaan adalah pengaturan efek sinar yang sesuai terangnya dan tidak menyilaukan. Aspek Fisika Bangunan Pencahayaan Secara teknis. c.

Tinggi intake minimal 0.nan (exterior noise/airborne noise). aliran udara. tata hijau lingkungan mempengaruhi seberapa besar atau seberapa kecil panas/kalor yang diserap atau dikeluarkan untuk menciptakan suhu nyaman bagi pengguna yaitu berkisar 25º-26º C. Pergantian udara dalam ruang dikatakan baik apabila untuk ruangan dengan dimensi 5 m3 /orang. diambil dekat langitlangit dan exhaust dekat lantai. dan kelembaban nyaman bagi pasien dan karyawan.50 meter dari exhauster atau perlengkapan pembakaran. Suplai udara dan exhaust hendaknya digerakkan secara mekanis. Suplai udara di atas lantai. dan karena berbeda tekanan udaranya. ruang operasi. Bila menggunakan sistem pendingin. Pengendalian pertukaran udara. dan perlu diupayakan sedemikian rupa sehingga mudah dalam perawatannya. frekuensi pergantian udara semakin tinggi. udara dalam ruang harus diganti 5 kali per jam. 88 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Penghawaan Konsep pengolahan dan pengendalian udara (penghawaan) pada ruang pada hakekatnya terdiri dari tiga hal yaitu: pengendalian kalor/panas dan suhu serta penggunaan bahan material bangunan (jenis.1-0. dan frekuensi pergantian udara per jam adalah 2 (dua) sampai dengan 12 kali.Penggunaan sunshading dapat digunakan untuk mereduksi pencahayaan alami di sisi Barat dan Timur. zat pelapis/cat (warna). Ruangan dengan volume 100 m3 sekurang-kurangnya 1 (satu) fan dengan diameter 50 cm dengan debit udara 0. laboratorium. Salah satu strategi untuk mengendalikan kelembaban udara dalam ruang yaitu dengan mempercepat proses penguapan. minimal 7. Hal ini dicapai dengan mengoptimalkan aliran sirkulasi udara (ventilasi).5%. Pengambilan supply udara dari luar. Kesegaran udara dalam ruang serta kesehatannya diukur dengan besarnya kadar zat asam (CO2) tidak melebihi 0. hendaknya dipelihara dan dioperasikan sesuai buku petunjuk sehingga dapat menghasilkan suhu. Ventilasi ruang operasi harus dijaga pada tekanan lebih positif sedikit (minimum 0. hendaknya disediakan 2 (dua) buah exhaust fan dan diletakkan minimal 7. perawatan bayi. perlu mendapat perhatian yang khusus karena sifat pekerjaan yang terjadi di ruang-ruang tersebut. Ventilasi diperoleh dengan memanfaatkan perbedaan bagian-bagian ruangan yang berbeda suhunya. Menggunakan pengatur udara (AC) sentral harus diperhatikan cooling tower-nya agar tidak menjadi perindukan bakteri legionella dan untuk AHU (Air Handling Unit) filter udara harus dibersihkan dari debu dan bakteri atau jamur. tekstur). Sistem suhu dan kelembaban hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga dapat menyediakan suhu dan kelembaban Penghawaan atau ventilasi di rumah sakit mendapat perhatian yang khusus. Suplai udara untuk daerah sensitif. dan exhaust fan hendaknya diletakkan pada ujung sistem ventilasi. Semakin kecil rasio ruang perorang.9 meter dari atap. Kelembaban udara yang nyaman bagi tubuh adalah sekitar 40-70%. kecuali unit ruang individual. hendaknya diletakkan sejauh mungkin. Sistem hendaknya dibuat keseimbangan tekanan. pengendalian kelembaban udara.5 m3/detik.50 cm dari lantai. Persyaratan penghawaan untuk masing-masing ruang atau unit seperti berikut : Ruang-ruang tertentu seperti ruang operasi. orientasi bangunan terhadap arah sinar matahari dan angin.10 mbar) dibandingkan ruang-ruang lain di rumah sakit. perawatan bayi.

20 meter dari langitlangit. pemulihan Endoscopy. Ventilasi ruang-ruang sensitif hendaknya dilengkapi dengan saringan 2 beds. Untuk mengurangi kadar kuman dalam udara ruang (indoor) 1 (satu) kali sebulan harus disinfeksi dengan menggunakan aerosol (resorcinol. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Pengendalian Kebisingan Konsep pengendalian kebisingan ditujukan untuk mengatasi kebisingan dari dalam bangunan (interior noise/impact noise) dan dari luar bangu Indeks Kebisingan Menurut Jenis Ruangan atau Unit No Ruangan atau Unit Kebisingan Max (Waktu pemaparan 8 jam dalam satuan dBA) 1 Ruang Pasien: -saat tidak tidur -saat tidur 45 40 89 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Ruang Operasi umum Anestesi. trietylin glikol). Untuk mempelajari sistem ventilasi sentral dalam gedung hendaknya mempelajari khusus central air conditioning system. Lab Sinar X Koridor Tangga/Ramp Kantor / Lobby Ruang alat/Gudang Farmasi Dapur Ruang cuci Ruang Isolasi Ruang Poli gigi 45 45 65 40 40 45 45 45 45 78 78 40 80 .- - - - Suplai udara koridor atau buangan exhaust fan dari tiap ruang hendaknya tidak digunakan sebagai suplai udara kecuali untuk suplai udara ke WC. Penghawaan alamiah. Saringan I dipasang di bagian penerimaan udara dari luar dengan efisiensi 30 % dan saringan II (filter bakteri) dipasang 90 %. debu. Pemantauan kualitas udara ruang minimum 2 (dua) kali setahun dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan parameter kualitas udara (kuman. Kualitas Udara Ruang sebaiknya : Tidak berbau (terutana bebas dari H2S dan Amoniak) Kadar debu (particulate matter) berdiameter kurang dari 10 micron dengan rata-rata pengukuran 8 jam atau 24 jam tidak melebihi 150 ug/m3. lubang ventilasi diupayakan sistem silang (cross ventilation) dan dijaga agar aliran udara tidak terhalang. atau disaring dengan elektron presipitator atau menggunakan penyinaran ultra violet. gudang. dan tidak mengandung debu asbes. dan gas). Penghawaan ruang operasi harus dijaga agar tekanannya lebih tinggi dibandingkan ruang-ruang lain dan menggunakan cara mekanis (air conditioner) Penghawaan mekanis dengan menggunakan exhaust fan atau air conditioner dipasang pada ketinggian minimum 2.00 meter di atas lantai atau minimum 0. toilet.

sehingga penyelesaian pengendalian kebisingan diupayakan melalui elemen interior seperti dinding atau partisi di mana untuk rumah sakit paling tidak harus dapat meredam bunyi dengan frekuensi 40 dB . Kebisingan juga dapat dihindari dengan tidak menggunakan bahan-bahan logam pada furniture D. perencanaan tata massa bangunan juga berperan dalam pengendalian kebisingan. pemilihan material bangunan serta finishing dinding sedemikian rupa yang dapat mendukung pengendalian kebisingan tersebut. seperti keramik hendaknya dikombinasi dengan tekstur agar tidak terlalu licin. Struktur Bangunan Modul dan Ukuran Bangunan Ukuran bangunan menggunakan standar bangunan rumah sakit yang tergantung pada aktivitas (utama) kegiatannya. Bahan Bangunan Pemanfaatan material tetap mengutamakan segi ekonomis melalui penggunaan bahan bangunan yang umum dan mudah didapat. Keramik dengan tekstur atau berukuran kecil dengan banyak joint lebih baik dari pada keramik polos. Penggunaan ceiling yang tepat juga dapat mereduksi kebisingan terutama dari lantai ke lantai. Massa bangunan menerapkan sistem modulor dengan fleksibilitas yang cukup untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan aktivitas yang diwadahi. kayu. Lantai dengan lapisan karet adalah bahan yang paling ideal untuk menghindari selip. yaitu menggunakan bahan finishing dinding dan sistem konstruksi yang mudah dibersihkan. Bahan lantai dengan kandungan vinyl lebih tahan terhadap abrasi. tidak menyimpan debu atau kotoran dan warna yang dipilih adalah warna hangat untuk menunjang suasana penyembuhan. terutama di toilet. karet. namun diperoleh mutu konstruksi yang baik serta penyelesaian fasad arsitektural yang memadai untuk mewujudkan citra kelas pelayanan prima. 1985). karena mempunyai daya tarik lebih besar sehingga menghindarkan selip 90 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Konsep yang digunakan untuk mengatasi masalah kebisingan adalah mengolah tata letak dan perencanaan interior. Di sisi lain. Pada ruang tertentu yang telah diatur sesuai dengan standar persyaratan maka kualitas dinding menuruti aturan dalam standar tersebut. vinyl dapat digunakan sebagai bahan lantai yang sesuai untuk kursi roda dan stretcher. sehingga modul mengikutinya.Ketentuan pemerintah melalui Permenkes telah menetapkan tingkat kebisingan yang diijinkan untuk sebuah pelayanan kesehatan seperti rumah sakit yaitu antara 35 dB sampai 45 dB. Bahan Lantai Untuk menentukan bahan lantai perlu dihindari bahan-bahan yang licin untuk menghindari selip. Penggunaan material yang licin. Bahan-bahan seperti keramik. Penggunaan material seperti karpet.45 dB (Sinha. baik pada lantai maupun dinding dapat mereduksi kebisingan sampai 70%. Sistem Pondasi Sistem pondasi yang digunakan tergantung dari karakter dan kemampuan daya dukung tanah di lahan Rumah sakit yang direncanakan Dinding Interior Dinding ruang daIam diupayakan tetap mengutamakan segi kesehatan.

memberi Iapisan plastik atau aluminium foiI pada bagian daIam atap . Kombinasi material penutup atap dipakai laminated glass ataupun fiberglass untuk kepentingan memasukkan cahaya dalam ruang. sangat sulit untuk membuka dua daun pintu. Untuk keamanan.6 (0. dalam hal ini jendela geser lebih efisien. Prinsip yang digunakan dalam merencanakan interior ruang adalah dengan membedakan karakter ruang yang hangat dan dingin. Bahan karet dapat menghindarkan selip. . Bahan yang memenuhi kriteria ini adalah karet. maka satu daun pintu minimal mempunyai lebar 80-90 cm. serta ruang-ruang yang digunakan sebagai area terapi dan penyembuhan.memeriksa kualitas genteng. Untuk menciptakan karakter hangat dalam ruangan. Karakter ruang yang diciptakan juga harus mendukung usaha penyembuhan sang pasien.8 untuk ramp) dalam keadaan basah maupun kering. dapat menggunakan warnawarna seperti krem. Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan. Aspek Tata Interior Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam tata interior adalah pencahayaan. disamping itu. Penutup plafon sebagai komponen atap menggunakan bahan kedap suara dan mampu menjadi sekat api (fire proofing). dan orang di kursi roda. Bahan Atap Hal Iain yang perlu diperhitungkan adalah penanggulangan masalah kebocoran pada waktu hujan. Gagang pintu sebaiknya berada pada ketinggian 90 cm dari lantai sehingga mudah dicapai orang dari kursi roda maupun anak-anak. Beberapa ruang dalam rumah sakit perlu mendapat perhatian mengingat penggunanya adalah pasien yang mengalami gangguan kesehatan. yaitu dengan cara: . Bagi pasien berkursi roda. Ceiling yang lebih rendah dapat membuat ruangan lebih cozy dan tidak formal. Lebar pintu ini untuk mengantisipasi masuk keluarnya stretcher. lobby. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan kenyamanan privacy serta keselamatan bangunan.Bahan-bahan yang dapat dikatakan anti selip adalah bahan-bahan yang mempunyai koefisien pergeseran minimal 0.memperhitungkan kemiringan atap . 91 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Pintu dan Jendela Lebar pintu dengan satu daun berkisar antara 80-90 cm agar kursi roda dapat masuk ke dalam ruangan. Karakter hangat dapat diterapkan pada ruang-ruang yang bersifat publik. pasien dengan kursi roda lebih nyaman berada di ruangan yang memiliki ceiling rendah. Untuk memudahkan pengguna kursi roda. Pada ruangan-ruangan yang penting. Jendela harus dapat dibuka dan ditutup oleh anak-anak. E. pintu yang digunakan adalah pintu dua daun dengan lebar bersih minimal 120 cm. dimensi. dan material.memeriksa akurasi bentuk satuan genteng . orange pada unsur-unsur interior seperti dinding dan lantai. Ketiga hal tersebut saling terkait dalam membentuk karakter ruang yang diinginkan. akan tetapi bahan karet tidak direkomendasikan pada dapur dan ruang operasi. seperti ruang tunggu. sehingga dapat dengan mudah dibuka tutup dari dua sisi ruangan. tahan terhadap abrasi. jenis jendela yang dianjurkan adalah jendela yang tidak mudah digerakkan oleh angin. Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah. sebaiknya pintu dapat berayun dari dua arah. Lebar daun pintu harus dapat mengakomodasi perpindahan stretcher dan furnitur di dalam ruangan. minyak dan alkali. Ujung frame yang berbahaya hendaknya diberi pengaman semacam karet.

Aspek Keamanan dan Evakuasi Sistem pengamanan pada rumah sakit direncanakan menggunakan dua sistem. warna material serta furnitur yang ada di dalamnya. Pintu hendaknya berwarna kontras untuk memudahkan way finding pada saat kebakaran. F. waktu seakan berjalan cukup cepat. di dalam ruangan yang berkarakter dingin.Tekstur dan warna sangat mempengaruhi kesan pengguna ruangan terhadap ruangan. karakter dingin sangat sesuai digunakan pada ruang-ruang operasi. Oleh karena itu. Ruangan berkarakter hangat dapat membuat pengguna didalamnya merasa waktu berjalan lebih lambat. 92 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Karakter dingin dapat dibentuk dari warna lighting. Sistem keamanan pasif didapat penataan lansekap dan pencahayaan luar ruangan yang memadai pada areaarea yang kritis. Minimalkan penggunaan cermin. Perbedaan yang kontras antara dinding dan lantai dapat membantu mengidentifikasi batas. Sedangkan. yaitu aktif dan pasif. Pembatasan tekstur dan warna perlu dilakukan untuk membantu pasien gangguan jiwa yang sensitif. karena dapat memecah konsentrasi dan orientasi. Sistem ini memungkinkan petugas untuk memonitor segala sesuatu yang terjadi dalam waktu 24 jam. Sistem keamanan pada perencanaan fisik juga mencakup sistem pengamanan bahaya kebakaran yang terkait dengan usaha evakuasi. terutama pada malam hari. Sistem keamanan aktif dapat menggunakan sistem monitor video (CCTV) yang diletakkan pada area-area yang kritis.

Terkait dengan fasilitas. akibat pergeseran karakter pelayanan merespon dinamika teknologi medik.Pentahapan struktur bangunan harus didasarkan pada perencanaan beban maksimal serta ketinggian struktur gedung tertentu. konservasi lahan dan konservasi energi untuk kepentingan pelestarian dan keberlangsungan adalah sebagian isu-isu mutakhir yang mengemuka dasawarsa ini. Kapan harus memperluas bangunan sebagai tuntutan penambahan jenis atau kapasitas pelayanan dan sebaliknya kapan harus menunggu. Untuk itu sangat diperlukan penanda arah dan waktu. Dalam rumusan tersebut telah mewadahi kebijakan manajerial terkait dengan pentahapan serta investasi.Semua komponen struktur bangunan adalah tetap (fix) .Usia teknis bangunan dan infrastruktur diperhitungkan 25 tahun sesuai syarat dalam Keciptakaryaan. Pada bab ini akan dibahas tentang pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan dalam menanggapi beberapa isu kontemporer. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 93 .Ruang pelayanan didasarkan pada persyaratan tertentu sehingga tidak semua ruang bisa mengalami alih fungsi. Kesesuaian Besaran Fasilitas terhadap Okupansi Pelayanan Strategi penting adalah rumusan besaran dan jenis layanan dalam perspektif Renstra Rumah Sakit. Isu kontemporer misalnya besaran fasilitas sesuai tingkat okupansi yang memungkinkan pertumbuhan. maka beberapa hal ini harus menjadi pertimbangan yaitu: a. Bangunan gedung bisa diasumsikan sebagai alat produksi. Kapasitas alat produksi yang lebih besar dari pada penjualan akan mengakibatkan inefisiensi. Isu tersebut muncul dalam relasi desakan strategis pertimbangan pengelolaan. ataupun perkembangan dalam rekayasa teknik termasuk perkembangan bahan bangunan.BAGIAN 3 ISU KONTEMPORER ARSITEKTUR RUMAH SAKIT pendekatan-pendekatan yang merespon isu kontemporer Perkembangan jasa layanan medis tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan jaman dimana berbagai isu kontemporer muncul dari waktu ke waktu. c. adanya tuntutan performa gedung sesuai dengan kelas layanan.Pentahapan pelaksanaan sistem infrastruktur harus didasarkan pada rancangan sistem keseluruhan yang matang. b. Inefisiensi secara langsung akan menghasilkan biaya produksi tinggi yang lambat atau cepat akan menggulung lapangan bisnis kita. tuntutan konservasi bangunan dalam status benda cagar budaya dengan adaptasi fungsi baru. 1. Secara prinsip gedung beserta infrastruktur penunjangnya sebagai aspek fisik akan mengikuti strategi non fisik. Namun secara langsung investasi pembangunan gedung menjadi salah satu komponen utama perhitungan biaya yang harus dikalkulasi dengan cermat tingkat pengembaliannya. e. performa fisik bangunan beserta lingkungan terhadap kemudahan pemeliharaan dan biaya. d.

Jika prinsip prasyarat diatas belum ada.Laksanakan pembangunan gedung jika okupansi telah tinggi (>70%). e. Sistem dan jenis pondasi sesuai dengan daya dukung tanah serta besar beban yang disalurkan.Secara keuangan agenda pembangunan konstruksi baru bisa diagendakan setelah 6-7 bulan kecuali pertimbangan khusus.Oleh karena itu hal apa yang bisa menjadi pertimbangan pengelola dan pembuat kebijakan untuk fasilitas kesehatan diantaranya adalah: a. c. kolom.Laksanakan pembangunan gedung jika instalasi baru tersebut merupakan instalasi vital yang mempengaruhi kinerja unit pelayanan lain. maka yang bisa dilaksanakan adalah: a. Pondasi merupakan komponen bangunan terbawah yang meratakan dan atau menyalurkan beban. Semakin banyak aspek positif ditemukan oleh pembeli dari produk layanan akan semakin baik bagi penyedia. Selain itu didukung adanya produk khusus adukan. Selain itu adanya produk lapisan ringan dengan kemudahan aplikasi serta kekuatan untuk menjadi partisi ruangan sangat bermanfaat. Bahan yang tepat bahkan tidak saja menjadi penyekat ruang namun sekaligus sebagai peredam suara dengan fleksibilitas yang baik untuk dipasang vertikal sebagai komponen dinding atau horisontal sebagai komponen plafon. 94 2.Rencanakan dan laksanakan pemeliharaan rutin. d. Dalam perkembangan bahan bangunan memungkinkan dipilih material dinding ringan permanen (hebel) sehingga bisa mengurangi beban yang harus didukung oleh struktur bangunan atas.Laksanakan perbaikan dalam kerangka pemeliharaan c. Besaran beban yang melampaui daya dukung tanah dan pondasi akan menyebabkan rusaknya pondasi. Maka sedikit banyak perlu memahami komponen utama struktur bangunan yaitu pondasi. acian. balok beton. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Arsitektur Rumah Sakit yang Memiliki Kelas Layanan Isu ini lebih mengarah pada kepentingan bertemunya aspek perencanaan fasilitas terhadap strategi meraih segmen pasar bisnis.Konsolidasi keruangan dalam konsep renovasi atau rehabilitasi Rehabilitasi. Kenyataan yang terjadi adalah kondisi fasilitas sangat mempengaruhi calon pembeli dan keputusanya. Sehingga hindarkan penambahan beban struktur baru disemua sistem struktur lama kecuali ekstensi yang telah diperhitungkan dari awal. b. dan spesi yang memiliki daya rekat baik dengan berat lebih ringan dengan nama dagang antara lain mortar utama. renovasi dan perbaikan secara mutlak harus dengan anggaran belanja yang lebih rendah sekitar maksimal 2/5 biaya pembangunan konstruksi baru.Rehabilitasi gedung termasuk sarana prasarananya b. Dalam ilustrasi tersebut diatas dituntut pemahaman teknis sebaik pertimbangan manajemen strategik. Masih banyak lagi dukungan kemajuan teknologi bahan yang mendukung kebutuhan di lapangan. Secara prinsip seluruh beban diatas tanah akan disalurkan kebawah oleh sistem struktur serta dilandaskan ke tanah keras. Oleh karena itu pahami dan putuskan secara strategis. Misalnya Rawat Jalan akan membutuhkan mutlak sarana prasarana diagnostik seperti pula rawat inap memerlukan instalasi rawat darurat dalam kapasitas yang tepat. plat beton. Implikasi jika okupansi terlalu tinggi maka kualitas pelayanan akan turun seiring dengan penurunan sanitasi dan daya dukung gedung.Laksanakan pembangunan jika sarana prasarana penting telah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Kesesuaian besaran investasi fasilitas terhadap skenario aliran kas sehingga bisa diperoleh stabilitas kondisi keuangan secara umum.

Sedang dari sisi pengelolaan ketidaksesuaian bisa berakibat unit biaya lebih besar dibanding pemasukan. kemampuan dukung.Bahan dan sistem kulit baru tidak boleh merusak atau membebani struktur yang telah ada. Lapisan permukaan anti gores dan anti bakteri menghindari cacat permukaan yang sering tidak dapat dicegah dalam penggunaan alat bergerak. tuntutan tersebut tidak sulit untuk diwujudkan. Dalam dinamika perkembangan rekayasa bangunan dan material. Untuk menyesuaikan pencitraan bangunan terhadap layanan digunakan konsep mengangkat kulit wajah (face-lift). Di pasaran salah satunya dengan nama dagang tajima. Dengan teknologi pembuatan yang baik dihasilkan keramik yang homogen. 95 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dan tidak menangkap debu. aman.Garis rancangan dan pembentuk kulit baru harus sesuai dengan pencitraan layanan (brand image). Sekaligus kepingan bahan tersebut menghindari munculnya kotor pada permukaan bawah dinding akibat pengepelan lantai. Dukung kondisi bersih melalui rancangan warna dan cahaya. Salah satu produk di pasaran menggunakan nama Indogress. Pencitraan terhadap layanan yang tercipta dari fasilitas harus sesuai dengan kelas sasaran. Bahan yang ada di pasaran penunjang kepentingan tersebut antara lain lembaran aluminium cladding dalam modul tertentu dengan keragaman warna serta teknik dan bahan penggantung rangka hollow. menghindari sudut yang sulit dalam pemeliharaan sampai dengan dukungan kelengkapan infrastruktur yang baku. Dari dua tuntutan dasar tersebut maka implikasi terhadap fasilitas antara lain: a. Keragaman produk di lapangan memberi peluang banyak pilihan. bahan permukaan serapat mungkin tanpa celah meminimalkan sambungan. dan meski tidak terlalu vital yaitu keawetan warna dan kemenerusan produksi tiap tipe. Kondisi tersebut mengakibatkan calon pembeli tidak berani observasi atau spekulasi membeli layanan sehingga berpindah pada alternatif yang sesuai dengan kemampuan dan harapan. keseragaman dimensi.Hubungan antar unit layanan sesuai dengan kebutuhan kenyamanan pasien sepenting standar medik c. Kemudahan pemeliharaan dan efisiensi bujet akan menjadi penyeimbang keputusan dalam perancangan bangunan Namun disisi lain secara bersamaan tim perancang fasilitas harus menyesuaikan dengan tuntutan meraih segmen pasar yang sesuai.Tata ruang yang sesuai dengan kebutuhan layanan dengan antisipasi terhadap kapasitas maksimal b.Rancang bahan yang awet. Bahan yang mendukung kebutuhan fasilitas yang bersih dan sehat antara lain plint lantai. Kebutuhan medik tertentu lebih bersifat mutlak dibanding pertimbangan lainnya. Aplikasi menggunakan bahan perata dan perekat berlapis menghasilkan permukaan datar. c. Homogenitas tersebut membuat lebih kuat dan hasil tanpa pori-pori. Sebagai contoh fasilitas gedung di unit Bedah telah memiliki standard clean room tertentu dengan syarat aliran ruang menyangkut sterilitas. b. Pencitraan yang berlebihan justru berakibat tidak menguntungkan.Kulit baru harus sesuai dengan tuntutan aktivitas ruang dalam dibaliknya. Lembar material fleksibel memungkinkan dilengkungkan dalam sudut tertentu. Salah satu komponen bangunan yang membentuk citra layanan adalah penutup lantai.Tuntutan dasar terhadap layanan kesehatan adalah profesional dan bersih. Secara teknis yang menjadi pertimbangan adalah ketebalan bahan. Penyiasatan beberapa kali berhasil dipraktekkan terutama pada fasilitas Rumah Sakit yang telah terbangun dan layanan telah berjalan. Pertimbangan utama adalah: a. ketebalan lapisan permukaan untuk keramik. Selain itu pertimbangan keamanan pengguna adalah karakter anti selip. Plint lantai merupakan penutup permukaan lengkung antara lantai dan dinding. Perkembangan bahan yang mendukung diantaranya lapisan permukaan lantai tanpa celah berbahan vynil dengan ketebalan tertentu.

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 96 4. Hal kecil yang perlu dipertimbangkan juga adalah efisiensi penggunaan bahan terhadap rancangan. Bangunan yang merupakan benda cagar budaya secara status diikat oleh Undang-undang Cagar Budaya. Untuk itu secara fungsional perlu dipilih bahan yang tahan lama. perubahan warna cat dinding dalam komposisi yang baik akan menghasilkan perubahan citra bangunan. serta mempunyai daya dukung tinggi. Namun teknik pengecatan tersebut masih memungkinkan diaplikasikan pada permukaan dinding luar bangunan untuk menghasilkan citra alami. bangunan dan lingkungan. Material didukung oleh kehandalan pantauan pabrik yang ketat dalam syarat kondisi bidang aplikasi membuat hasil pengecatan yang baik. Salah satu yang mempengaruhi usia teknis bahan adalah ketepatan dalam pengkondisian seperti yang dipersyaratkan. Terkait dengan biaya. Perbedaan tuntutan salah satunya disebabkan oleh skala. Performa Fisik Bangunan dan Lingkungan Terhadap Kemudahan Pemeliharaan dan Biaya Kemudahan pemeliharaan merupakan faktor penting dalam pertimbangan desain. Kesalahan dalam desain akan menjadi beban biaya seumur bangunan beroperasi. dan pemanfaatan. . segmen tidak mudah lepas. lapisan anti bakteri.Atau bahan kaca dengan warna beragam yang terus mengalami peningkatan karakter antara lain tidak meneruskan sinar UV. anti jamur atau noda. Arsitektur Rumah Sakit yang merespon Konservasi Cagar Budaya dan Beradaptasi dengan Fungsi Baru Beberapa bangunan memiliki status sebagai benda cagar budaya. lapisan dan teknik tertentu menghindari pecah serpih. Perlu secara pasti memahami ruang lingkup pelestarian. Apakah bangunan. anti noda. Setelah itu perlu dirumuskan ketepatan tindakannya. Kualitas cat yang baik dengan kandungan anti lumut dan bakteri bisa mencegah turunnya kualitas permukaan dinding. maka penggunaan ukuran dengan perhitungan kelipatan akan tidak menyisakan bahan bangunan. Pada sebagian kota bahkan telah diterbitkan list gedung-gedung yang masuk dalam kategori Cagar Budaya.. penutupan pori-pori yang sempurna. Disisi lain pertimbangan kelengkapan alat pendukungnya. Ataupun penggunaan batu alam dengan treatment tertentu untuk lapisan permukaan anti lumut. dengan demikian perlu pengkondisian udara buatan yang harus diperhitungkan dalam bujet konsumsi listrik. Sangat penting untuk dipahami pembedaan tuntutan bagi ruang luar dan ruang dalam. Pemeliharaan menyangkut rincian kualitas permukaan yang berhubungan dengan kondisi ruang. Sebagai contoh komponen atap bangunan pada gedung bertingkat sedang hingga tinggi. pilihan material bangunan dipertimbangkan dalam aspek ketahanannya. 3. Sebagai contoh dalam produk di pasaran dengan nama Jotun. Oleh karena semua bahan bangunan memiliki dimensi modul yang sama atau hampir sama disetiap jenisnya. Kemudahan pemeliharaan antara lain dengan pertimbangan ada tidaknya sistem yang bisa menjangkau komponen bangunan secara mudah. Bahkan dalam rancangan yang ekonomis. Perubahan suhu serta perbedaan kelembaban akan berpengaruh terhadap fisik bahan. Perkembangan teknologi dan bahan pembentuk cat memudahkan dalam memperoleh perlindungan dinding. lapisan tertentu yang menghambat kemenerusan pandangan. anti jamur. Sebagai contoh aplikasi pengecatan bertekstur pada ruang dalam sebaiknya dihindari karena permukaan tersebut menuntut bebas debu sehingga tidak tepat mengaplikasikan jendela hidup disisi lain. lingkungan saja atau bahkan distrik hingga kawasan sekitar rumah sakit. jangkauan pengamatan.

Bahan (materials).Implementasi rencana Secara prinsip teknis yang harus dipahami adalah: a. Komponen bangunan rata-rata unik sulit bahkan tidak lagi diproduksi kecuali dalam pemesanan khusus. Salah satu produk di pasaran yang melaksanakan hal tersebut adalah Fentura Windows. Syarat keamanan lingkungan terpenuhi akan berakibat positif pada stok air tanah serta penjagaan kualitas lingkungan dari polusi.Rata-rata memiliki level plafon yang tinggi sehingga memungkinkan dilaksanakan penataan ruang dalam sesuai dengan adaptasi fungsi baru sekaligus memperoleh efisiensi volume ruang. Kegunaan (function). Kriya (workmanship). Namun dengan perkembangan bahan bangunan. e. dimensi bisa dilaksanakan dengan bahan baru dan teknologi baru. Untuk itu diperlukan kecerdasan dalam merancang hubungan antar fungsi serta distribusi fungsi yang efisien serta nyaman. Misalnya tuntutan adaptasi detil pada pintu jendela termasuk teknik penggantungan berpeluang untuk diaplikasikan pada bahan baru. Jika kita kaji tindakan konservasi lahan secara prinsip erat berhubungan dengan upaya pelestarian energi karena secara langsung atau tidak akan mempengaruhi kondisi lingkungan.Kajian delineasi dan status bangunan beserta lingkungannya c. Konversi Lahan dan Konversi Energi Pembangunan berkelanjutan merupakan semangat yang melekat di era ini. 5. c. membangun dan mencukupi kebutuhannya. dan Kesinambungan (continuity). Rencanakan pemanfaatan lahan yang tepat dengan ruang terbuka yang memadai tertanami oleh pohon yang sekaligus memiliki peran neka guna. d. . warna. Sebagian besar atau semua sistem struktur gedung cagar budaya tidak menggunakan beton rangka namun dinding penyangga beban. Untuk itulah salah satunya kepatuhan dalam angka maksimal lahan boleh tertutup (building coverage) serta kepadatan terkait dengan total luas lantai menjadi harga mutlak. Tindakan dan metode dalam penanganan pelestarian bangunan dan lingkungan adalah: a.Secara prinsip tindakan pelestarian lebih tepat untuk ditekankan pada keberlangsungan bangunan terkait dengan kehidupan.Usia menyebabkan kemungkinan jaringan infrastruktur tidak layak digunakan lagi. b. sehingga semua komponen bangunan adalah bagian dari sistem struktur .Akibat belum aplikasi teknik beton kedap air membuat sebagian dinding lembab akibat kapilerisasi air tanah. Termasuk pula semaksimal mungkin mempertahankan profil muka tanah alami. Bisa dilaksanakan injeksi waterproofing secara merata pada dinding diatas lantai. Berkelanjutan artinya tidak saja memikirkan keperluan saat ini namun mempertimbangkan lingkungan tempat hidup bagi generasi mendatang. 97 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . adaptasi garis desain.Konsultasikan rencana tindakan pelestarian ke Balai Pelestarian Bangunan Cagar Budaya yang ada di provinsi d. Salah satunya mengandung arti bagaimana pembangunan dapat berjalan tanpa melampaui ambang batas daya dukung lingkungan saat ini tanpa mengurangi hak generasi mendatang untuk hidup. Selain itu sistem jaringan lama tidak lagi efisien terhadap beragam kepentingan baru.Susun rencana teknis dan detil perancangan e. Dengan demikian tidak menutup kemungkinkan dilaksanakan pembangunan gedung baru diantara aset cagar budaya dengan menjawab tolok ukur kesesuaian sebagai berikut: Gaya (style). lahan dan infrastruktur b. Artinya aset cagar budaya yang lestari tidak saja secara fisik namun juga pemanfaatan gedung tersebut dalam fungsi baru yang tanggap terhadap perkembangan dan sesuai dengan guna ruang dominan sekitarnya.Inventarisasikan secara lengkap seluruh aset bangunan.

sistem penangkal petir yang aman. Dengan kata lain. lahan yang memiliki jenis tanah sensitif (tanah mengembang). Tidak ada satupun bahan dan sistem yang mengatakan dirinya aman terhadap bencana. bahan bakar untuk operasionalisasi alat catu daya cadangan listrik. bangunan gedung rumah sakit harus tetap berdiri dan melaksanakan pelayanan apapun kondisi disekitarnya. memenuhi standar dimensi. Struktur serta bahan gedung harus mempunyai kelenturan atau daktilitas yang baik serta mempunyai daya tahan terhadap kerusakan.Kondisi mutlak terhadap hasil aktivitas rumah sakit adalah pentingnya pengolahan sampah medik secara khusus. Pilih lahan yang tidak dekat dengan bahaya seperti misalnya perbukitan rawan longsor. rumah sakit merupakan salah satu fungsi yang membutuhkan dukungan energi tinggi. kualitas tahan tekan beton minimum 175 kg/cm2 dan kekuatan tarik baja 2400 kg/cm2. udara bersih. Jika tidak dimungkinkan pemilihan lokasi yang lebih baik maka diperlukan sistem pengamanan dengan rekayasa teknis yang tepat. Arsitektur Rumah Sakit yang Tanggap Bencana Melihat adanya potensi gempa di tanah air maka dalam bangunan rumah sakit harus tanggap terhadap potensi yang ada dan kemungkinan terjadi. Dalam segala kondisi pelestarian sumberdaya merupakan hal yang tidak disangkal. tanah sehat. hidran atau lain sebagai bagian dari sistem pengendalian kebakaran. Rancangan struktur merupakan aspek penting terhadap keamanan bangunan. pengelolaan limbah cair sehingga faktor infeksi tidak mencemari lingkungan serta eksplorasi air tanah secara bijaksana. maka pertimbangan lokasi menjadi faktor penting. Keamanan lain yang harus diperhitungkan adalah keselamatan pengguna. Sumberdaya tersebut antara lain: listrik. air bersih. Perhitungan pembebanan dalam perencanaan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) didukung kesempurnaan dalam pelaksanaan menjadi aspek metodologi yang dipersyaratkan. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 98 . Dalam pedoman tersebut telah mengatur metode dan cara antara lain: penempatan dan pengaturan tulangan. Terkait dengan hal tersebut. Namun dengan perencanaan yang tepat dan cermat maka waktu kritis bisa terlampaui sebelum memasuki waktu luruh/rusak teknis bahan. Untuk itu rancangan bangunan beserta sistem penunjangnya diarahkan untuk pemanfaatan yang lestari. Rumah sakit adalah bangunan publik yang secara fungsional mempunyai peran sebagai muara evakuasi korban bencana. teknik sambungan antar komponen balok-plat-kolompondasi. api serta suhu panas. Berhubungan dengan konsumsi energi. Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa telah dikeluarkan dan disosialisasikan oleh Departemen Pekerjaam Umum. ataupun tepi pantai terbuka. Hal tersebut menyangkut jalur evakuasi yang jelas. Hal sederhana yang digunakan sebagai template pada penataan lay-out instalasi rawat jalan/poliklinik pada masterplan Rumah sakit adalah menempatkannya dalam sebuah jejalur paralel yang memungkinkan diletakkannya ruang tunggu di sisi luarnya sehingga ruang tunggu tersebut dapat memanfaatkan bantuan pencahayaan dan penghawaan alami (tidak secara total). jumlah dan sebaran serta bahan bangunan yan tepat. Hal tersebut antara lain: kinerja alat deteksi asap. Semua material bangunan selalu mempunyai spesifikasi teknis yang tidak boleh dilanggar untuk mendapatkan keamanan struktur sehingga perencanaan dan pelaksanaan merupakan kunci utama yang tidak boleh ditinggalkan salah satu. sehingga dapat memotong biaya operasional yang harus dikeluarkan. 6. Selanjutnya dukungan terhadap keamanan dan keselamatan pengguna adalah bagian dari peran utilitas mekanikal dan elektrikal.