ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

GRS

KATA PENGANTAR
Melihat dari tipe dasar bangunan, terdapat dua tantangan terbesar dalam industri desain arsitektur yang pertama adalah bandara dan yang kedua adalah rumah sakit. Dua tipe bangunan tersebut menjadi tantangan besar bagi seorang arsitek dan timnya untuk menyelesaikan sebuah rancangan yang dapat bekerja dengan baik dan benar karena bukan hanya unsur estetika, komposisi, pertimbangan keuntungan dan kerugian materi dari sebuah fungsi namun keberhasilan organisasi ruang dan keselamatan banyak manusia menjadi faktor utama penentu sebuah rancangan rumah sakit yang baik. Fisik Rumah Sakit merupakan satu hal yang sangat penting bagi sebuah rumah sakit. Bidang fisik termasuk bangunan dan performansi ruang, tata lansekap, dan infrastruktur pendukung mulai didekati dengan indikator kenyamanan, keindahan, serta keberhasilan pada lingkungan yang kesemuanya membangun citra layanan kesehatan dikelasnya. Bangunan yang indah, fungsional, efisien dan bersih memberikan kesan yang positif bagi seluruh pengguna rumah sakit. Pada dasarnya, fisik rumah sakit juga berhubungan langsung dengan kualitas layanan medik. Indikator keberhasilan bangunan rumah sakit dapat dilihat dari kenyamanan dalam pemanfaatanya sehingga memberikan sumbangan pada proses penyembuhan pasien dan produktivitas pelaku, prosedurprosedur layanan medik dapat terlaksana dengan efektif dan efisien, terjaga dengan mudah kebersihanya. Tuntutan terhadap kinerja dan layanan kesehatan rumah sakit pada saat ini semakin tinggi. Kita tahu bahwa kehidupan dapat bermula dirumah sakit dan begitupun dengan akhir, yang umumnya dilewatkan dirumah sakit pula. Dalam perkembangan layanannya, rumah sakit berhubungan dengan konsumen yang memelukan layanan kesehatan dan tidak hanya diperuntukan bagi pasien yang sakit. Fenomena yang telah dijabarkan diatas menjadi dasar pertimbangan penyusunan buku Arsitektur Rumah Sakit. Buku ini diharapkan mampu menjadi referensi tentang perencanaan, perancangan dan pengelolaan fasilitas fisik rumah sakit yang dapat berguna bagi akademis, mahasiswa, penyedia jasa dan praktisi industri bangunan, penyedia jasa dan pengguna pelayanan kesehatan, pengelola fisik dan manajemen fasilitas kesehatan dan masyarakat pada umumnya. Penyusunan buku ini merupakan respon atas kurangnya referensi buku Arsitektur Rumah Sakit khususnya referensi dalam negeri. Pokok bahasan yang akan ditemukan dalam buku ini adalah berbagai hal yang terkait dengan pedoman dan guidelines perencanaan rumah sakit, perancangan fasilitas, infastruktur bangunan rumah sakit serta strategi pengelolaan dan manajemen fisik perencanaan rumah sakit serta isu-isu kontemporer perencanaan dan perancangan fasilitas fisik rumah sakit. Akhir kata buku ini berhasil disusun tidak lepas dari bantuan bernbagai pihak yang menyumbangkan masukannya baik berupa saran maupun kritikan, dalam forum formal maupun informal. Semoga apa yang ada di dalam buku ini bermanfaat dan memberikan stimulasi yang positif bagi pembaca dimasa yang akan datang. Selamat Membaca! Yogyakarta, Maret 2010 PT. Global Rancang Selaras.

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

I

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN 1 PENGANTAR DAN TINJAUAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT
BAB 1 PRINSIP DASAR PERENCANAAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT
Rencana Strategis Organis, Berkembang, Bertahap Kompak Memberikan Harapan Sehat Pengelompokan yang Tepat Sirkulasi yang tepat dan Aksesibel Hemat Energi dan Nyaman Thermal Aman dan Tanggap Keadaan Darurat `Hijau` Mudah dan Murah Perawatan Sesuai Target Konsumen dan Fasilitas yang Tepat Mengakomodasi Kebutuhan dan perilaku Manusia Kenyamanan Visual dan Tanggap Lingkungan Mampu menjadi Aset Properti

i ii

1
1 2 3 3 3 4 5 5 6 6 7 7 8 8 9 9 10 11 12 12 12 14

BAB 2

APA ITU ARSITEKTUR RUMAH SAKIT
Pengertian Komponen

BAB 3

TIPE FASILITAS KESEHATAN
ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

Klasifikasi/ Tipe Fasilitas Kesehatan Tipologi Rumah Sakit Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah

BAB 4

FUNGSI DAN RUANG RUMAH SAKIT
Prinsip dan Implementasi Tuntutan Sterilitas, Fungsional, Teknikal dan Behavioral Organisasi Ruang dan Program Kegiatan Instalasi Bedah/ Instalasi Radiologi/ Instalasi Rehabilitasi Medik Kamar Mayat/ Instalasi Laboratorium/ Instalasi Gawat Darurat/ Intensive Care Unit/ Poliklinik/ Instalasi Rawat Inap (IRNA) Instalasi Farmasi/ Instalasi Sterilitas (CSSD)/ Instalasi Gigi

ii

BAB 5

SIRKULASI DAN ZONING RUMAH SAKIT
Prinsip dan Implementasi Sirkulasi Kendaraan/ Barang/ Pengunjung/ Pemberi Layanan Kesehatan/ Kegawatdaruratan 21 22

BAB 6

BENTUK DAN KARAKTERISTIK RUMAH SAKIT
Prinsip dan Implementasi Karakteristik 23 24 25 25

BAB 7

KONSEP RUMAH SAKIT & EVALUASI PASCA HUNI
Fasilitas kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain Fasilitas Kesehatan

Kontur danaliran air. Parkir.Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Fasilitas Kesehatan Langkah-langkah Peringkatan Performansi Fasilitas Kesehatan 28 28 BAB 8 PERENCANAAN LAHAN DAN SITEPLANNING RUMAH SAKIT Kebutuhan vs Ketersediaan Perencanaan Lokasi. Sirkulasi. Ruang Terbuka. Tapak. 30 31 BAB 9 PERENCANAAN SIRKULASI DAN ZONING KOMPONENBANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi 32 BAGIAN 2 PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT BAB 10 PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Fleksibilitas dan Pentahapan Pertimbangan Estetika dan Kenyamanan PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Perencanaan Infrastruktur Kriteria Desain Umum Penyediaan Air Bersih/ Kriteria Desain Umum Penyediaan Air Panas/ Kriteria Desain Umum Pengolahan Limbah Cair/ Sistem Drainase dan Pengolahan Air Hujan/ Kriteria Desain Pengolahan Mekanikal Elektrikal/ Kriteria Sistem Pemadam Kebakaran/ Kriteria Sistem Pengandalian Udara/ Kriteria Sistem Telekomunikasi/ Kriteria Sistem Gas Medik/ Kriteria Sistem Tata Surya/ Sistem CCTV (close Circuit Television)/ Pekerjaan Nurse Call/ Kriteria Sistem Elektrikal 34 35 36 37 38 BAB 11 BAB 12 BAB 13 PERENCANAAN FISIK DAN STRATEGIS RUMAH SAKIT Arti Penting Manajemen Rumah Sakit Tujuan dan Sasaran Perencanaan Fisik Kerangka dan Konsep Kerja Kriteria Umum Produk KONSEP PERENCANAAN FASILITAS RUMAH SAKIT Pelayanan Pasien Dalam Rumah Sakit/ Inpatient Instalasi Gawat Darurat/ Instalasi Rawat Inap/ Instalasi Rawat Intensif/ ICU Instalasi Rawat Intensif Koroner/ ICCU Unit Penyakit Jiwa/ Unit Kamar Bersalin (VK)/ Unit Perinatologi Unit Haemodialisis 47 47 48 50 53 54 iii ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .

Pelayanan Pasien Luar Rumah Sakit/ Outpatient Instalasi Rawat Jalan 65 65 Pelayanan Penunjang Medik/ Klinik Bantuan Instalasi BedahInstalasi Laboratorium Radiologi Patologi Mortuary/ Otopsi Dental Gigi Endoscopy Pelayanan Kesehatan Terapi Instalasi Rehabilitasi Medik 73 74 75 76 77 78 78 81 82 83 84 Administrasi / Rekam Medik Rekam Medik Penyimpanan Obat/ Farmasi Laundry/ Pengelolaan Linen Instalasi Gizi (Dietary Service) Bengkel dan Peralatan (IPSRS) Pengelolaan dan Pembuangan Sampah Pelayanan Penunjang Fasilitas Pembelajaran/ Studi Diagram Pergerakan Pasien Hal yang harus Diperhatikan dalam Desain Tata Fungsi/ Tata Sirkulasi/ Aspek fisika Bangunan/ Aspek Struktur Bangunan/ Aspek Tata Interior Aspek Keamanan dan Evaluasi Kesesuaian Besaran Fasilitas terhadap Okupansi Pelayanan Arsitektur Rumah Sakit yang Memiliki Kelas Layanan Performa Fisik Bangunan dan Lingkungan Terhadap Kemudahan Pemeliharaan dan Biaya Arsitektur Rumah Sakit yang merespon Konservasi Cagar Budaya dan Beradaptasi dengan Fungsi Baru Konversi Lahan dan Konversi Energi Arsitektur Rumah Sakit yang Merespon Bencana 93 94 96 96 97 98 iv DAFTAR PUSTAKA ARSITEKTUR RUMAH SAKIT BAGIAN 3 ISU KONTEMPORER .

akan membawa implikasi pada lahan. Oleh karena itu sebuah rumah sakit perlu dikembangkan berdasarkan rencana bisnis. Proses pengelolaan aset pada dasarnya akan sangat dipengaruhi oleh proses perencanaan kegiatan. bangunan dan infrastruktur. Copyright : PT. dan infrastruktur) · Penentuan visi bagi keseluruhan dan masing-masing asset · Perumusan strategi yang harus dilakukan pada keseluruhan dan masing-masing aset. perawatan. 01 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . terdapat 14 prinsip dasar yang perlu diperhatikan dan dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi arahan dasar dalam merencanakan rumah sakit sebagai suatu aset properti.BAGIAN 1 I BAB 1 PENGANTAR DAN TINJAUAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT: 14 PRINSIP DASAR PERENCANAAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Dalam merencanakan komponen-komponen fisik rumah sakit yang meliputi perencanaan lahan. Rencanakan Rumah Sakit Sesuai Rencana Strategis Komponen-komponen yang terkait dalam penyusunan Masterplan Rumah Sakit. Global Rancang Selaras Sering terjadi beberapa kasus kegagalan disebabkan karena pengembangan lahan dan bangunan yang tidak didasarkan atas studi kelayakan serta perencanaan bisnis yang matang pada tahap awal perencanaan. Suatu perencanaan yang dimulai dari perencanaan aktivitas. Meski demikian. Melihat kecenderungan diatas pada akhirnya setiap organisasi baik profit maupun non profit mulai mempertimbangkan pengelolaan dengan prinsip bisnis yang baik dan benar sehingga tercipta sebuah bangunan yang mandiri dalam operasional. bangunan terbengkalai. Dengan kata lain. bangunan dan infrastruktur. proses tumbuh dan berkembang. serta ketidaksesuaian antara aktivitas dengan wadahnya. dapat dikatakan bahwa proses perencanaan aset akan mengikuti proses sebagaimana berikut: · Identifikasi aset eksisting (lahan. sumberdaya manusia. proses perencanaan strategis akan sangat mempengaruhi perencanaan masterplan keseluruhan aset (serta masterplan masing-masing unit dan perencanaan fasilitas dalam masingmasing unit). perlengkapan fasilitas. bangunan. 1. Akibat yang ditimbulkan dari kurang matangnya tahap perencanaan antara lain adalah lahan tidak sesuai.

yang memberi kesempatan pada bagian-bagian tertentu untuk berkembang secara bertahap. Rencanakan Rumah Sakit secara Organis. Ada beberapa kemungkinan perkembangan rumah sakit yang dapat kita pilih sesuai dengan kondisi yang ada seperti perkembangan secara horisontal. Dalam hal ini. Global Rancang Selaras 02 Masterplan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mataram. yang dibutuhkan adalah konsolidasi aset-aset. Jawa Tengah. rumah sakit perlu direncanakan sesuai dengan tingkat perkembangannya. Berkembang dan Bertahap Setiap rumah sakit pasti akan berkembang dalam proses daur fungsi bangunannya. Pati. Sebagai contoh pada suatu waktu tertentu yang diperlukan dalam proses perkembangan rumah sakit adalah proses pengembangan lahan. dibutuhkan sebuah masterplan yang baik. kematangan. Oleh karena itu. Pada waktu tertentu lainnya. kita perlu mempertimbangkan pentahapan perkembangan rumah sakit. kemudian di waktu yang lain diperlukan adalah pembangunan atau peningkatan fisik bangunan. Masterplan RSUD RAA Soewondo. perkembangan awal. Copyright : PT. perkembangan lanjut. dan dapat berlanjut ke penurunan performansi fisik dan fungsi jika tidak segera ditindak-lanjuti dengan tepat. Global Rancang Selaras . ataupun vertikal. interstisial. Dalam proses memanfaatkan sumberdaya lahan pun.2. Dimulai dari tahap embrional. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Copyright : PT.

Lebih lanjut dapat ditingkatkan pada citra keseluruhan rumah sakit yang harus berubah dari “penjara” ke “resort” : pasien bukanlah pesakitan melainkan customer yang terhormat. Dibutuhkan harmonisasi dalam mengkomposisikan kebutuhan akan kelengkapan fasilitas fisik. Meningkat pada penataan eksterior dan interior yang semata-mata menekankan pada fungsi. keterbatasan anggaran. juga isu sosial yang berkembang. kebutuhan dan kompleksitas yang berbeda-beda antar rumah sakit. maupun isu krusial lainnya. Rule of thumb untuk pengembangan rumah sakit adalah sekitar 50m2 untuk tiap bed. mengingat berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa sugesti diri dan optimisme akan meningkatkan angka kesembuhan secara mencolok. dapat diperkirakan luasan. sebagai contoh 70 bed x 50m2. Rencanakan Rumah Sakit yang KOMPAK Efisiensi dan efektivitas adalah dua parameter mutakhir yang selayaknya menjadi isu utama perencanaan Rumah Sakit. Pengelompokan ruang yang tepat akan mendukung efektivitas dan efisiensi kegiatan yang berlangsung di dalamnya dan antar ruang. . Rencanakan Rumah Sakit dengan Pengelompokan yang Tepat Rumah sakit semestinya direncanakan dengan pengelompokan ruang (kerap juga disebut pemintakatan atau zoning) yang tepat. Rencanakan Rumah Sakit yang MEMBERI HARAPAN SEHAT Istilah 'rumah sakit' mungkin memang kurang tepat. Memulai dari sebuah rumah sakit yang kecil namun memiliki efisiensi. Global Rancang Selaras 4. 03 5. ketersediaan lahan. Hal ini tentu saja harus dirubah dengan mengarahkan pada sifat penuh harapan sehat dan optimisme serta kecerahan. Pemanfaatan Lahan secara Optimal pada MasterPlan Fisik RSAB Muslimat Jombang dan RSAB Muslimat NU Ponorogo ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Copyright : PT. sementara pemberi layanan kesehatan bukanlah sipir melainkan “customer partner” menuju sehat. Arsitektur rumah sakit diharapkan mampu mengubah image masyarakat tentang rumah sakit. dan selayaknya mulai diolah menjadi fungsi dan fiksi (atrau bahkan fungsi dan puisi). karena bukan menyiratkan harapan (isi gelas masih setengah) melainkan justru menyiratkan masalah (isi gelas tinggal setengah).3. Dengan adanya arahan dasar ini. efektivitas serta kompak yang tinggi sehingga dapat beroperasi dengan baik akan jauh lebih baik dalam proses perkembangan usaha. Dimulai dari penggunaan warna dan cahaya yang suram yang semestinya digantikan dengan pemanfaatan warna dan cahaya yang lebih cerah (meski tetap bersifat kalem/tenang).

yang memberikan layanan pada kegiatan rumah sakit. serta rawat intensif. meliputi laboratorium. Demikian juga parkir perlu direncanakan sedemikian rupa sehingga secara kualitatif dan kuantitatif memenuhi persyaratan yang ada. melahirkan. akses gawat darurat yang harus dapat dicapai dengan mudah dan tidak terganggu akses yang lain. seperti: layanan gawat darurat. Demikian juga pada bangunan bertingkat. Copyright : PT. serta akses layanan dan karyawan. IPSRS. Zona Luar adalah zona yang harus dengan mudah diakses oleh masyarakat luas. 6. Rencanakan Rumah Sakit dengan Sirkulasi yang Tepat dan Aksesibel 2 1. Sirkulasi eksternal akan didominasi oleh sirkulasi kendaraan bermotor dalam mengakses rumah sakit. Contoh Jalur sirkulasi berupa ”bridge” antar fungsi bangunan. seperti misalnya layanan bedah. Zona Dalam adalah zona yang menyediakan layanan rawat inap dan layanan lain bagi pasien. Sirkulasi internal akan terbagi antara sirkulasi umum dan pengunjung serta sirkulasi pasien dan layanan medik. dan kamar jenazah. Terakhir adalah Zona Layanan. Perlu ada pembedaan antara akses utama rumah sakit bagi pengunjung.Pemisahan sirkulasi pun terjadi pada sirkulasi pasien dan clean utilities (utilitas bersih) dibedakan dengan alur dirty utilities (utilitas kotor). pool kendaraan. farmasi. Global Rancang Selaras 1 2. Global Rancang Selaras 04 Sistem sirkulasi pada dasarnya terbagi dalam sirkulasi eksternal dan sirkulasi internal. Zona Terdalam adalah zona yang membutuhkan tingkat kesterilan tertentu dalam memberikan layanan. seperti misalnya dapur. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Ada beberapa area yang sirkulasi pasien dan layanan medik perlu dipisahkan secara sempurna dengan sirkulasi umum. dan radiologi. laundry.Pengelompokan yang tepat juga akan memberi kedekatan ruang-ruang yang saling membutuhkan kedekatan. adanya pemisahan elevator yang digunakan oleh pasien berbeda dengan yang digunakan pengunjung umum. layanan rawat jalan. Perbedaan Zona Academic Axis dan medic Axis pada Rumah Sakit Pendidikan Copyright : PT. dan memisahkan ruang-ruang yang membutuhkan pemisahan. Zona Kedua adalah zona yang menerima beban kerja dari zona terluar tadi. serta layanan administratif untuk umum. Pada umumnya diperlukan 1 parkir mobil bagi tiap 4 bed rawat inap dalam sebuah rumah sakit .

kesejajaran (alignment). Ramp juga merupakan sarana wajib. serta kemudahan menyelamatkan diri dari bahaya kebakaran. mengingat pada waktu kebakaran listrik akan mati. perlu direncanakan perletakan sumber api yang dijauhkan dari bahan-bahan yang mudah terbakar (combustible). Untuk mengurangi panas matahari di Indonesia.7. Global Rancang Selaras 05 8. bangunan diorientasikan membujur timur barat. dengan persayaratan dan kemudahan aksesnya. Rencanakan Rumah Sakit yang Aman dan Tanggap Keadaan Darurat Selain keamanan dari pengguna yang selalu diperhatikan oleh pengelola fasilitas kesehatan. Dari hal pertama. Contoh yang paling mudah adalah melihat rumah sakit dari sisi keamanan terhadap bahaya kebakaran. Penghematan ini dilakukan dengan cara beberapa ruangan penentuan dari awal tentang beberapa bagian dari rumah sakit direncanakan dengan sistem pengkondisian udara dengan menggunakan AC dan bagian-bagian lain dari rumah sakit direncanakan dengan menggunakan ventilasi alami dan tidak menggunakan AC. Hal ini mencakup tiga hal. Ramp sebaiknya dirancang dengan memperhatikan lebar. bagian transparan atau bukaan diarahkan menghadap selatan dan utara sehingga lebih menghemat energi pendinginan. kemudahan memadamkan api. Pada kondisi tertentu i kadang tidak dimungkinkan untuk meletakan massa bangunan pada kondisi ideal diatas namun hal-hal ini dapat diatasi dengan penggunaan sunshading serta penggunaan material yang tepat (transparan atau bukaan seperti kaca dan jendela pada bagian yang tidak terpanaskan dan pasangan masif pada bagian yang terpanaskan). Perletakan dan orientasi dari massa bangunan pun sangat mempengaruhi penghematan energi dan kenyamanan thermal. Penyelamatan diri dari bahaya kebakaran meliputi tangga darurat pada jarak-jarak tertentu. Bagian rumah sakit yang direncanakan dengan menggunakan AC akan lebih efisien jika memiliki volume ruang yang lebih kecil dengan jarak lantai dan langit-langit yang tidak terlalu tinggi. serta kemiringan yang memadai. Sementara kenyamanan termal yang lebih baik akan dimiliki bangunan berventilasi alami yang memungkinkan ventilasi silang dan dengan volume ruang yang lebih besar dengan jarak lantai dan langit-langit yang lebih tinggi. Rencanakan Rumah Sakit yang Hemat Energi dan Nyaman Thermal Penghematan energi yang paling sederhana namun dapat berdampak sangat besar dapat dilakukan dengan perencanaan sistem penghawaan. Bukaan ke luar dari tangga-tangga darurat maupun dari akses-akses ke ground floor perlu dilengkapi dengan pintu-pintu yang membuka ke luar (bukan ke dalam) dengan lebar total bukaan disesuaikan dengan jumlah jiwa yang ada dalam bangunan. Penggunaan Sunshading Pada Perencanaan Surabaya International Hospital Copyright : PT. masalah keamanan dari keadaan-keadaan darurat yang tidak diharapkan menjadi hal yang patut diperhatikan. yaitu keamanan dari bahaya kebakaran. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .

ruang terbuka setidaknya memiliki jarak 10 m antar bangunan untuk dinding dengan dinding. Global Rancang Selaras 06 10. Penggunaan bahan bangunan juga sangat perlu dipertimbangkan. Masterplan RS Mardi Waluyo. Hal ini juga berlaku bagi sistem perletakan ruangan. terutama di bagian perifer lahan rumah sakit. mengingat bahan-bahan tertentu akan mudah kotor ataupun rusak. serta furnitur lansekap (lampu. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . bangku. ataupun signage). 9. serta 20 m untuk jendela dengan jendela. mulai dari hidrant hingga pemadam portable yang dapat menjangkau seluruh bagian rumah sakit. Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai kenyamanan thermal dan konservasi energi. Akses mobil pemadam kebakaran meruapakan suatu hal yang perlu dipertimbangkan. karena hidrant kerap tidak selalu dapat diharapkan dalam beberapa kasus darurat. Adanya pohon-pohon peneduh dan pengarah bisa membantu privasi pasien. Lampung Copyright : PT.Selanjutnya perlu didukung dengan hal yang kedua. pohon peneduh. Furnitur lansekap juga harus direncanakan. Rencanakan Rumah Sakit yang Mudah dan Murah Perawatannya Aspek pemeliharaan kerap kali kurang diperhatikan dalam perencanaan awal rumah sakit. Metro. serta signage (penanda) yang direncanakan dapat tertata teratur dan memudahkan wayfinding. penutup tanah. adalah beberapa prinsip dalam pemeliharaan. Komponen tata lansekap antara lain meliputi ruang terbuka hijau. pohon pengarah. 15 m untuk jendela dengan dinding. yaitu tersedianya pemadam kebakaran dengan berbagai sistem. Tata lansekap yang tidak menyulitkan perawatan. sementara bahan-bahan yang lain dapat memiliki kualitas yang senantiasa terjaga. kulit bangunan yang tidak menyulitkan pembersihan. sehingga ruangan yang memungkinkan dapat memanfaatkan ventilasi dan cahaya alami secara maksimal. Padahal aspek ini merupakan hal yang nantinya akan ditemui terus sepanjang daur hidup fasilitas fisik rumah sakit. sehingga lampu yang ada tidak menyilaukan. agar privasi pasien tetap terjamin. dan juga memberikan suasana hijau yang nyaman dan membuat suasana penyembuhan lebih baik. Untuk bangunan berlantai banyak. Rencanakan Rumah Sakit yang `Hijau` Tata lansekap dalam suatu rumah sakit merupakan satu komponen vital yang perlu direncanakan dengan seksama. serta sistem infrastruktur yang mudah dipantau dan dirawat. Ruang terbuka hijau selayaknya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam perletakan massamassa bangunan rumah sakit.

rencana strategis juga akan mengarahkan target konsumen di masa Dalam kaitan dengan pemasaran. suara dan kebisingan. Sementara rumah sakit (atau bagian rumah sakit) dengan target konsumen anak akan perlu memberi suasana ceria dan memberikan ruang-ruang bermain yang membuat anak merasa lebih nyaman. Sebuah rumah sakit dengan target konsumen geriatrik. 1971). akan memiliki target pasar tersendiri. 1970). “Siapa pasar produk anda?”. Propst. 1970. Global Rancang Selaras 07 12. maupun secara positif memberi tanggapan terhadap lingkungan. Antropometri adalah studi terhadap aspek fisik manusia yang meliputi dimensi. sesuai dengan tujuan dan aspirasi sang perancang dan klien. Dimana terdapat beberapa pertanyaan yang perlu diajukan. serta bebas hambatan. Setting Perilaku. Survey pasar memungkinkan dapat mengidentifikasi keinginan konsumen saat ini. yang mewadahi secara optimal kebutuhan manusia dan aktivitas. Rencanakan Rumah Sakit yang Mengakomodasi Kebutuhan dan Perilaku Manusia Beberapa kutipan berikut adalah aspek-aspek kebutuhan dan perilaku yang perlu diperhatikan dalam merencanakan setting makro. seperti misalnya “Apa business-line anda?”. dimana implikasi nyatanya dalam setting fisik RUmah Sakit berupa iluminasi. sehingga fasilitasfasilitas yang dimiliki akan disesuai dengan target pasar yang hendak dilayani tersebut. hubungan kongruen antara keduanya. warna. penataan lingkungan yang spesifik. termasuk rumah sakit. Antropometrik dan Ergonomik. 1965. misalnya. Diharapkan rumah sakit memiliki konsep dan tema yang kuat. Bagian rumah sakit untuk mereka yang harus menjalani pengobatan terus-menerus (kemoterapi atau hemodialisis. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . meso. hal ini terkait dengan korelasi antara tema dengan positioning. fisik dan non-fisik. kapabilitas. digambarkan sebagai kombinasi yang stabil dari aktivitas dan ruang yang terdiri dari aktivitas rutin. Sementara Ergonomi cenderung terfokus pada 'komunikasi' antara manusia dan mesin/peralatan (Murrell. serta “Bagaimana menggubah citra tersebut?”. 1968). Masterplan Puskesmas Karangkobar.11. misalnya) juga perlu diberi citra yang lebih membuat pasien merasa “at home” dan bukannya menjadi “preparat”. “Apa citra yang diharapkan?”. kuantitatif dan kualitatif. Kedua. Pertama. Croney. dan batasan (Thieberg. “Di mana posisi produk anda?”. perlu mengakomodasi berbagai keterbatasan mobilitas yang dimilki para lansia tersebut. salah satu contoh pengembangan fasilitas kesehatan tingkat sederhana menuju tingkat yang lebih tinggi Copyright : PT. Rencanakan Rumah Sakit yang Sesuai Target Konsumen dan Memberi Fasilitas Setiap fasilitas publik. hingga mikro dalam sebuah rumah sakit. serta periode waktu tertentu (Barker. Lebih lanjut.

& Ruang Personal. Teritori adalah ruang berbatas yang dipertahankan dan dimanfaatkan keberlangsungannya secara eksklusif oleh seorang maupun sekelompok orang yang terkumpul berdasarkan isu yang sama. dan akan berperan dalam menjaga market value. bangunan. yang pada akhirnya menjadi jembatan dalam mencapai interaksi yang diharapkan (Rappoport. adanya peluang sebagai komponen dominan kawasan akan menuntut desain yang cukup berkarakter. Manajemen Properti akan melihat berbagai properti sebagai aset tetap perusahaan. dan berbagai tindakan lain yang menyangkut properti. Dalam arsitektur. telaah dan kontrol resiko. dipaparkan melalui sikap kepemilikan dan pengaturan terhadap objek yang terlibat dalam area tersebut. yang meliputi lahan. yang akan datang dan sekitar). Dalam hal ini meliputi lahan. Prinsip Highest and Best Use ini juga mengharuskan rencana-rencana tersebut dapat dilaksanakan secara fisik. keseimbangan.Ketiga. Prinsip yang digunakan dalam pengelolaan aset adalah prinsip Highest and Best Use. serta utilitas. operasi. Teori Proksemik: Privasi. Ruang Personal adalah wilayah dengan batasan visual semu sekeliling lingkungan fisik seseorang dimana penyusup/pengganggu tidak dapat masuk (Sommer. Teritorialitas. merancang tindakan strategis. untuk selalu memiliki pilihan. networking informasi mengenai aset tetap. didukung oleh pasar yang ada. 1970). Pertimbangan ini akan merupakan dialog antara keselarasan dan kontras. Rencanakan Rumah Sakit yang Nyaman Visual dan Tanggap Lingkungan Desain yang dilandasi tema yang kuat sangat dibutuhkan dalam perancangan rumah sakit dewasa ini. 14. serta penekanan. Dimana prinsip tersebut akan mengupayakan pemanfaatan potensi yang ada dengan mengupayakan nilai tambah paling tinggi. dan manajemen dari properti yang dimiliki atau disewakan baik secara untuk keuntungan maupun non-profit. kesatuan dan perbedaan. 13. melibatkan identifikasi psikologis terhadap ruang. Upaya pengembangan pertambahan modal (capital gain) akan dilakukan dengan menjadikan aset-aset tersebut benar-benar memiliki nilai kompetitif. 1977). kini. dan infrastruktur. Sementara pada kawasan yang sedang berkembang. dengan penekanan pada kumpulan properti dalam portfolio. meningkatkan keuntungan. ritme. skala. Hal ini pasti dipengaruhi oleh guna lahan (dulu. selain rumah sakit itu perlu menyiapkan perkembangan. penyewaan. seperti misalnya proporsi. serta layak secara ekonomis. terdapat beberapa prinsip-prinsip perancangan yang perlu diperhatikan. transportasi. (Pastalan. Dimana Privasi adalah kemampuan mengontrol keberadaan interaksi. 08 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Rumah sakit di lingkungan urban yang padat akan mempunyai nilai tambah jika bisa berperan sebagi suatu oase bagi lingkungan di sekitarnya. diijinkan oleh hukum yang berlaku. fasilitas dam komitmen hukum dan finansial pemilik dan pengguna. hingga perencanaan tindakan pembelian. 1969). keselarasan. dan perkembangan lingkungan kini dan yang akan datang. sehingga komponen-komponen yang memiliki nilai produksi ekonomi tinggi tidak akan menjadi tidak produktif. Rencanakan Rumah Sakit sebagai Suatu Aset Properti Manajemen aset adalah tata laksana. Pertimbangan lingkungan juga merupakan sesuatu yang penting.

· Intensive Care Unit (ICU). · Burn Unit · Cancer Center (Pusat Kanker) · Coronary Care Unit. merupakan fasilitas untuk pelayanan dan penanganan seputar kehamilan atau kandungan. · Urgent Care. Pengertian Kata rumah sakit berasal dari kata hospital. · Surgery. 09 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . serta terdiri dari beberapa departemen atau unit. oleh suatu organisasi/lembaga kesehatan (baik profit maupun nonprofit). perawatan bagi pasien dalam masa pemulihan/stabilisasi krisis yang menyangkut masalah kejiwaan · Labor and Delivery · Maternity. memberikan pelayanan medis gawat darurat kepada pasien yang menderita luka trauma. · Trauma Center. Sedangkan pengertian rumah sakit menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri berarti rumah atau tempat merawat orang sakit. misalnya : · Unit Gawat Darurat (UGD). staf. merupakan unit rumah sakit dengan spesialis khusus yang menangani masalah jantung atau kondisi cardinal berkelanjutan yang membutuhkan pengawasan dan perawatan secara intensif. badan asuransi maupun badan amal. yakni sebuah institusi pelayanan kesehatan yang menyediakan tempat untuk pasien rawat inap dalam jangka waktu tertentu.BAGIAN 1 I BAB 2 APA ITU ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Pengertian dan Komponen 1. · Physical Therapy. unit rumahsakit yang menangani pasien yang mengalami sakit atau luka cukup serius. Komponen Rumah sakit memiliki beberapa komponen yang terdiri dari pasien. pelayanan dan penanganan yang tidak bisa terjadwalkan. Termasuk didalamnya terdapat bagian perawatan seperti ruang bedah dan kamar operasi. termasuk donator secara langsung. biasanya disebut juga ICCU. bahkan organisasi keagamaan individu atau yayasan. lebih mengarah kepada manajemen dan pencegahan perubahan kondisi penyakit yang menyangkut kejiwaan melalui terapi-terapi khusus. Pasien akan dirawat disini apabila tidak mendapat rujukan atas luka yang dideritanya. · Orthopedic Services · Behavioral Health Services · Psychiatric Hospital. merupakan fasilitas untuk melakukan tindakan bedah. unit rumah sakit dengan spesialis khusus yang menawarkan pengobatan dan perawatan secara intensif. Rumah sakit biasanya didirikan berdasarkan wilayah. 2. tempat yang menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah kesehatan.

Global Rancang Selaras ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 1. melayani sertifikat rekam medis serta memberikan informasi yang perlu diketahui oleh pasien. Sebuah kota besar umumnya memiliki banyak rumah sakit yang berbeda ukuran dan fasilitasnya. adalah bagian yang paling penting dari rumah sakit yang meliputi ruang operasi. a. adalah unit bagi paramedik agar dapat melayani pasien yang biasanya telah dikelompokkan dengan klasifikasi tertentu untuk kemudahan pengawasan dan perawatan bagi pasien tersebut. 10 RS Muhammadiyah Gresik Copyright : PT.· · · · · · · · · Radiology Respiratory Therapy Rehabilitation Services Nursing Unit/Nursing Station. dan sebagainya. Rumah Sakit Umum Merupakan unit pelayanan kesehatan yang melayani berbagai jenis penyakit dan luka. dengan kapasitas dan fasilitas pelayanan yang lebih lengkap. Outpatient Department Laboratory Services Post Anesthesia Care Unit. termasuk tempat perawatan pasien dari proses pembiusan pasien. Klasifikasi/ Tipe Fasilitas Kesehatan . Medical Records Department (Non-medical Departments) Release of Information (Non-medical Departments). klinik. rumah sakit spesialis khusus. BAGIAN 1 I BAB 3 TIPE FASILITAS KESEHATAN Klasifikasi/ Tipe Fasilitas Kesehatan Tipologi Rumah Sakit Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah Fasilitas kesehatan mempunyai klasifikasi atau jenis-jenis tertentu meliputi rumah sakit umum.

budaya dan pendidikan. Akreditasi Rumah Sakit adalah pengakuan bahwa rumah sakit memenuhi standar minimal yang ditentukan 11 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Pelayanan Rawat Inap dan Pelayanan Gawat Darurat yang mencakup pelayanan medik dan penunjang medik. dan sebagainya. Ada pula rumah sakit akademik yang merupakan sinergi dari lembaga pelayanan kesehatan dengan universitas untuk mengkombinasikan antara pelayanan pasien dan mengajar murid/mahasiswa yang mengambil profesi kedokteran atau farmasi. S2. S3. Kalsifikasi Rumah Sakit adalah pengelompokkan rumah sakit berdasarkan pembedaan bertingkat menurut kemampuan pelayanan kesehatan yang dapat disediakan 9. Wilayah Rujukan Kesehatan adalah wilayah pelayanan upaya rujukan kesehatan yang didasarkan atas faktor-faktor geografis. 1 2 1. 5. dan faktor-faktor sosial. Rumah Sakit Pendidikan adalah rumah sakit umum yang dpergunakan untuk tempat pendidikan tenaga medik tingkat S1. Global Rancang Selaras 2. sarana infra struktur. Rujukan Upaya Kesehatan adalah penyelenggarakan pelayanan tempat pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik mengenai masalah kesehatan baik secara vertikal maupun horisontal. 4. rumah sakit mata. 3. National Brain Centre Hospital Jakarta Copyright : PT. Puskesmas Karangkobar Copyright : PT.b. 2. Rumah Sakit Khusus Didefinisikan sebagai Unit Pelayanan keseatan yang terfokus pada pelayanan masalah spesifik seperti trauma center. 2. Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit adalah kegiatan pelayanan berupa Pelayanan Rawat Jalan. Global Rancang Selaras b. 6. yang seringkali dikelola oleh pemerintah. Rumah Sakit Khusus adalah rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan berdasarkan jenis penyakit tertentu atau disiplin ilmu. 7. disebutkan bahwa: 1. Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua jenis penyakit dari yang bersifat dasar sampai dengan sub spesialistik.Kes/Per/II/1988 tentang rumah sakit. 8. rumah sakit gigi dan mulut. Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. rumah sakit anak. Klinik dan Puskesmas Merupakan fasilitas dengan lingkup yang lebih kecil dari sebuah rumah sakit . komunikasi. Tipologi Rumah Sakit Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor: 159b/Men.

Pada umumnya terdiri dari 22-28 tempat tidur. Rumah Sakit Kelas A dan B II dapat berfungsi sebagai Rumah Sakit Pendidikan. Jumlah dari sal (jumlah tempat tidur yang mendapatkan pengawasan langsung dari perawatperawat yang bertugas didalam ruangan). Teknikal. 2. dan penataan jalur utilitas menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan atau keterbelangsungan sinergi aktivitas di dalam sebuah Rumah Sakit. Kelas A mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistik luas. sirkulasi. Kelas D mempunyai fasilitas dan kemampuan sekurang-kurangnya pelayanan medik dasar. Teknikal. Area kerja perawat harus dikelompokkan bersama dan memiliki hubungan langsung dengan area ruang perawatan agar petugas tidak perlu berjalan jauh.3. Fungsional. Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah 1. 2. Fasilitas kebersihan pasien harus dipusatkan pada suatu area dari ruang perawatan. 5. 3. Hal yang tidak berhubungan secara langsung dangan tempat tidur. Behavioral Organisasi Ruang dan Program Ruang ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 1. aksesibilitas. 12 2. Kelas B II mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistik terbatas. Fungsional. 3. Harus tersedia cukup ruangan isolasi yang dikhususkan untuk satu orang untuk alasan klinis dan privasi. Area tempat tidur dibuat berdekatan. BAGIAN 1 I BAB 4 FUNGSI DAN RUANG RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Tuntutan Sterilitas. Kemungkinan paling besar dari jumlah tempat tidur yang seharusnya dapat di observasi dengan mudah oleh pengawas atau staf saat mereka melakukan pemeriksaan rutin ruangan yang sesuai prosedur. Kelas B I mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurangkurangnya 11 jenis spesialistik. . Dan harus dihubungkan pada kelompok-kelompok ruang pasien. Behavioral Efisiensi fungsi. dikelompokkan agar dapat memberikan keuntungan yang memungkinkan individu atau pengguna untuk mengaturnya menjadi lebih besar atau lebih kecil berdasarkan fungsi ruangan. Tuntutan Sterilitas. 4. Kelas C mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurangkurangnya spesialistik 4 dasar lengkap. 4. Prinsip dan Implementasi Prinsip-prinsip umum dalam desain ruangan rumah sakit mencakup: 1.

akan menuntut perlakuan (treatment) yang berbeda pula. Bangsal ibu dan anak seharusnya saling terhhubung dengan jarak yang dekat dan disarankan untuk membuat secara horisontal. tapi kamar anak-anak atau bayi tetap dibutuhkan untuk menghindari terjadinya gangguan pada pasien yang sedang tidur. Adanya kebutuhan aksesibilitas visual maupun fisik petugas ruang rawat terhadap situasi dan kondisi ruang rawat. Ruangan perawatan (treatment room) secara normal belum terlalu dibutuhkan. 13 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Adanya jalur dari sistem komunikasi yang digunakan untuk perawat berkomunikasi dengan devisi lain dalam satu ataupun antar wilayah. Bangsal untuk anak-anak Bagian ini biasanya memiliki ukuran dengan ruang tersendiri yang lebih luas. namun hal ini selalu terbentur dengan masalah biaya. Alternatif solusi adalah membuat tombol pengaturan ganda. Pembatasan waktu kunjungan dikurangi demi kenyamanan keluarga yang datang membesuk (apabila jumlahnya lebih dari dua). Bangsal bersalin Meskipun pada umumnya bayi yang baru lahir selalu ditidurkan disisi ibunya sepanjang hari. dimana klinik pra kelahiran pada umumnya ditempatkan didalam atau berdekatan bagian rawat jalan. Ruang rawat pada katagorisasi pelayanan yang berbeda (konsumenya). Keberadaan pintu darurat untuk kebakaran pada setiap bagian akhir sal (sal normal menggunakan terminal sub kompartemen untuk kebakaran).Pada tahap implementasi terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi pengaturan pengaturan suatu fungsi ruangan di dalam rumah sakit. Ruangan harus menyediakan kurang lebih setengah dari anggaran untuk membuat kamar anak berupa tempat-temat tidur dalam ruangan. misalnya: 1. dimaksudkan agar orang tua dapat menemani dan mengawasi kondisi putra putri secara langsung sepanjang har i . 4. fasilitas wc dan bak mandi serta membutuhkan satu ruangan tambahan untuk fisiotheraphy. 2. 2. Bangsal geriatrik ( Lansia) Sal ini biasanya berukuran di atas rata-rata karena alat-alat perawatan yang besar ditempatkan didalam ruangan perawatan ini. 3. Extra day space. S e b a g a i tambahan disediakan ruang duduk dan pantry yang dibutuhkan oleh orang tua. Unsur penting lain dari instalasi ini adalah klinik pra kelahiran. antara lain: 1. Ruangan perlu dikumpulkan dan didekatkan dengan tempat kunjungan psikiater harian dirumah sakit karena sangat sedikit pasien yang akan menggunakan tempat tidur dan mayoritas akan menghabiskan waktunya diperawatan harian rumah sakit. Bangsal psychiatric Bangsal ini menekankan pada kenyamanan mental/ psikologis sehingga seringkali muncul penataan berupa kamar-kamar kecil untuk memberikan ruang pribadi bagi setiap pasien.

kisaran jumlah dan besaran ruangan. layanan medis dan penunjang medis. penempatan dan pengelompokan ruang. serta karakteristik ruang.3. 14 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Organisasi Ruang dan Program Ruang Organisasi ruang dan program kegiatan meliputi karakteristik perilaku.

X-ray memiliki kekuatan radiasi yang sangat besar dan dapat membahayakan manusia jika penggunaannya dalam jumlah yang besar.1.Ruang bedah yang terpisah pada bangsal ibu dan anak yang digunakan untuk keperluan bedah caesar pada situasi darurat. 2. ruang radio-diagnosis diwajibkan memiliki perlindungan khusus untuk mencegah penyebaran radiasi. perlu adanya jalur-jalur yang tepat untuk suplai. Instalasi bedah Saat ini jarang sekali ditemukan penggunaan ruang operasi yang terpisah dari instalasi bedah sentral.Ruang bedah darurat pada bagian penanganan kecelakaan/ IGD. serta dibutuhkan untuk unit pasokan bahan-bahan steril untuk memberikan akses bagi pengiriman peralatan-peralatan untuk pemrosesan/ pensterilan alat diantara waktu-waktu proses pengoperasian. tetapi harus ada hubungan fungsi yang sangat dekat dengan klinik patah tulang dari bagian rawat jalan dan instalasi rawat darurat menangani kecelakan. Ada dua aliran alur sirkulasi utama dalam instalasi radiologi yaitu: -Pasien -Petugas pemrosesan film X-ray Meskipun instalasi dapat melayani seluruh unit rumah sakit. Oleh karena itu. Panduan yang terperinci diberikan dalam peraturan-peraturan praktek yang telah diobservasi secara ketat oleh perancang. Instalasi Rehabilitasi Medik Pada instalasi ini terdapat berbagai macam teknik perawatan secara fisik seperti pelatihan-pelatihan yang aktif maupun yang pasif untuk proses rehabilitasi dan pengembalian fungsi fisik pada kondisi normal. misal Thermografi yang menggunakan gelombang panas dan ultrasonik yang menggunakan gelombang suara. petugas/ dokter dan alur peralatan ruang bedah. ada hubungan horisontal dengan ruang yang berkkaitan dengan pembedahan. Yang sering menjadi pengecualian dalam instlasai bedah adalah: . Selain itu terdapat tiga pola atur pergerakan yaitu pasien. diperlukan akses yang cepat dari ruangan yang menangani kecelakaan seperti unit gawat darurat. Pendingin ruangan keseluruhan dengan menggunakan filter udara yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan fungsi ruangan dan berbeda dari bagian-bagian lain dirumah sakit. Adanya pemisahan antara sirkulasi yang bersih dan yang kotor di instalasi bedah sentral untuk alasan pengendalian infeksi pada bentuk rancangan instalasi dimana biasanya perlu dibagi menjadi dua sistem koridor terpisah. Instalasi Radiologi Instalasi ini menggunakan bermacam-macam teknik X-ray untuk memproduksi foto dari berbagai macam bagian tubuh dengan tujuan untuk proses diagnosis. . Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan menempatkan ruang bedah pada bagian paling atas bangunan. Hal ini memberikan peluang untuk pengorganisasian yang lebih baik. Sebagai tambahan. Salah satu contoh dari perlindungan adalah dengan menggunakan pelapis diding barium. -Pembatasan ruang bedah yang terpisah dapat dilakukan juga dengan penempatan instalasi dimana memiliki akses yang cepat dan langsung ke ruang bedah utama. pemanfaatan yang lebih ekonomis oleh petugas dan penempatan hal-hal teknis yang terpusat. Dalam hal ini. jika memungkinkan. 15 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Teknik tersebut digunakan juga pada instalasi yang memiliki potensi yang berbeda. Akses langsung dari instalasi rawat darurat ke ruang sinar X ditujukan untuk mengani kecelakaan dan penganan darurat lainnya. bangsal untuk melahirkan dan ICU. Fungsi utama dari instalasi adalah melayani ruang-ruang perawatan dan perlu adanya kedekatan dengan ruangan tersebut. 3.

jaringan. 4. -Kolam Hidrotherapi yang dipadukan dengan area-area untuk bersantai. patology kimia. dan alat bantu berjalan lainnya. dan sebuah ruangan untuk melatih berbagai akktifitas hidup sehari-hari. microbiology. Pemisahan tersebut diperlukan pada mayat yang terinfeksi. pengguna kursi roda. tempat penyimpanan mayat adalah sebuah refrigerator yang berbentuk komartemen yang biasanya tediri dari tiga tingkat. dll) cenderung dilaksanakan pada bagian yang terdiri atas perpaduan area laboratorium yang terbuka dan ruangan yang tidak terlalu besar untuk dapat dijadikan sebagai kantor kepala devisi dan kepala bagian teknis. Pertimbangan utama dalam desain sebuah instalasi adalah kemudahan untuk perkembangan dan perubahan instalasi dimasa mendatang. komputerisasi.-Area konsultasi dengan sebuah ruangan konsultasi dan ruangan latihan serta kantor. seringkali digunakan sebagai ruang bangunan yang terpisah dengan bagian belakang yaang dihubungkan dengan instalasi utama oleh sebuah koridor yang tertutup. dll. histology. Dalam hal ini dibutuhkan area lantai dasar dengan akses langsung dari luar untuk kendaraan. proporsi terbesar terdapat pada fungsi yang melayani pasien rawat jalan dan ditempatkan pada lokasi lantai dasar dengan akses yang terpisah dengan lalu lintas ambulans. Sal ini tidak disediakan bagi setiap program rehabilitasi instalasi. haematology. Ruang perawatan khusus perlu ditempatkan dan dirancang secara khusus. kelembaban.Ada 4 area fungsional utama unit rehabilitasi medik yaitu: -Fisioterapi dan senam pemulihan. pemasangan saringan dan lain-lain. dll) yang akan diperiksa dengan menggunakan berbagai teknik laboratorium untuk mengkonfirmasikan dan memberikan diagnosa. urine. Bagian hidrotherapi membutuhkan kontrol teknis khusus yang pengaturan temperatur. Air yang terdapat pada meja-meja berasal dari tubuh mayat tersebut. Meskipun kebutuhan untuk mengadakan perluasan secara fisik harus mereduksi beberapa perluasan dengan menambah sistem otomatik. Devisi klinis terbesar dari instalasi ini (kecacatan anatomi. Ada beberapa keuntungan jika kamar mayat tersebut sejalan dengan instalasi yang menangani cacat anatomi pada instalasi laboratorium. -Terapi dengan cara memberikan pekerjaan tertentu. Instalasi Laboratorium Instalasi ini menggunakan spesimen yang diambil dari pasien (seperti darah. Kamar Mayat Fungsi dari instalasi ini adalah untuk menerima mayat dari ruangan perawatan dan menyimpanya didalam sebuah lemari pendingin hingga persiapan untuk diambil oleh sanak saudara atau oleh pihak yang membutuhkanya. walaupun hal ini bukan suatu yang esensial. Meja-meja tempat penyimpanan mayat. Walaupun instalasi rehabilitasi medik melayani keseluruhan unit rumah sakit. Gymnasium memerlukan ruangan yang besar dan memiliki jarak lantai ke langit-langit ruangan yang cukup tinggi. bacteriology. selain itu untuk mengadakan pengujian (forensik) agar mengetahui sebabsebab kematiannya. instalasi tetap merupakan sesuatu yang mudah untuk terjadi perkembangan secara fisik. terdiri dari dua atau llebih area workshop meliputi pekerjaan-pekerjaan ringat maupun berat. membutuhkan treatment dan saluran khusus. yang terdiri dari perpaduan area latihan besar dan terbuka serta kamar-kamar kecil untuk perawatan secara individual. dimana strecher yang siap setiap saat dengan akses yang memiliki aksesibilitas tinggi karena fungsi ini digunakan oleh pasien yang mengalami kelumpuhan dengan tongkat atau penyagga. membutuhkan air dan drainase serta ventilasi udara diluar ruangan secara langsung untuk mencegah terjadinya kontaminasi saat mayat yang terkena infeksi pada saat proses autopsi. 16 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 5.

peralatan.Melakukan perawatan pada pasien-pasien gawat darurat dengan potensi reversible life thretening organ dysfunction. yang ditujukan untuk observasi perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit. dimana ada kemungkinan instalasi yang berada di tingkat berbeda akan diprioritaskan untuk menggunakan lift.Pasien yang dirawat dalam keadaan kritis . Fungsi utama ruang ICU: . Komponen spesifik ICU: . akan dialihkan ke ruangan untuk perawatan umum atau pada ICU. Walaupun beberapa rumah sakit jarang menyediakan ruang operasi kecil. harus memiliki akses yang cepat menuju ke ruang operasi utama dan ruang ICU.Hubungan fungsi yang sangat erat antara laboratorium dengan unit rawat jalan dan sejak pasien tersebut datang ke laboratorium untuk memberikan spesimen. 6. penanganan bantuan pernafasan. -Profil Infrastruktur. dengan staf khusus dan perlengkapan yang khusus. dan staf yang berpengalaman dalam pengelolaan keadaan-keadaan tersebut. . oleh karena itu harus ada hubungan yang efisien dengan jalur suplai yang terdapat dirumah sakit. perawat. termasuk penanganan lanjut terhadap pasien yang mengalami kecelakaan dan serangan jantung yang membutuhkan penanganan rumah sakit segera mungkin. cedera. -Mendukung organ vital pada pasien-pasien yang akan menjalani operasi yang kompleks atau prosedur intervensi dan resiko tinggi. Intensive Care Unit Instalasi ini adalah suatu bagian dari rumah sakit yang terpisah. Tempat ini tidak diperuntukan untuk pasien rawat inap. seluruh pasien yang membutuhkan perawatan. dengan jalan masuk yang dibuat terpisah dengan jalan yang digunakan oleh pejalan kaki dan brankar pasien. Kunci kedekatan dalam hal ini telah didiskusikan pada perencanaan bentuk bangunan dan seringkali bentuk instansi ini merupakan sebuah kelompok-kelompok yang memiliki akses langsung ke instalasi radiologi dan klinik patah tulang.Fasilitas ini menyediakan keahlian pengobatan klinis lebih intensif. Intensive Care Unit adalah ruang perawatan dan pengobatan pasien dengan tingkat kekritisan tertentu. namun pada umumnya fungsi tersebut digantikan oleh ruang penanganan utama yang dilengkapi pipa gas untuk keperluan medis dan penyaring suplai udara untuk beberapa pembedahan yang bersifat emergency.Desain ruangan dan sarana yang khusus . dengan sumber daya teknologi dan pengobatan yang lebih terkordinasi terhadap pasien.Peralatan berteknologi tinggi . sebagai tambahan berkaitan dengan hal diatas. Penggunaan instalasi juga sangat membutuhkan kuantitas suplai spesimen. staf yang klinis dapat memberikan perhatian dan intervensi pengbatan secara kompleks termasuk dukungan secara fisiologi dan psikososial terhadap pasien. Didalam rumah sakit. Akses eksternal untuk ambulans merupakan prioritas utama. Instalasi Gawat Darurat Instalasi ini membutuhkan ruang penerimaan. ICU menyediakan kemampuan sarana dan prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi-fungsi vital dengan menggunakan keterampilan staf medik.Pelayanan dilakukan oleh staf yang profesional dan berpengalaman 17 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 7.

Kejiwaan ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 18 . tempat bermain anak. Area ini meliputi ruang penerimaan. Syaraf 6.8. Kecenderungan yang terjadi pada pegolahan kamar tipe A adalah kamar dikelompokan dalam satu garis lurus tanpa sekat dan dipisahkan menjadi kelompok-kelompok. Rawat Inap Kelompokkan sesuai dengan golongan penyakit. Tujuan umum kamar-kamar klinik. memperlihatkan jumlah lalu lintas dari luar menuju ke rumah sakit yang besar baik dengan berjalan kaki ataupun dengan menggunakan kendaraan. Penempatanya tergantung pada perencanaan keseluruhan instalasi. Kelompok-kelompok kamar klinik dilengkapi dengan perawatan. Penyakit Dalam: infeksi dan non infeksi 5. Ibu: obstetri dan ginekologi 2. toko-toko. dan area-area yang nyaman bagi pasien dan pada umumnya dilengkapi oleh toko makanan kecil. tempat kursi roda. di Indonesia secara umum diterapkan sebagai berikut: 1. ruang untuk menempatkan alat-alat kebersihan. latihan-latihan dan pemulihan. 9. Tujuan khusus akomodasi. mata 7. fasilitas sanitary. ruangan adiometri. Umum termasuk: THT. Oleh karena itu. kantor. tetapi beberapa akomodasi untuk beberapa spesialis tetap dibutuhkan. Anak: infeksi. toko kecil. pengakomodasian dapat diklasifikasikan ke dalam: . Tipe B berupa satu ruangan untuk konsultasi yang diapit oleh dua ruangan tindakan. Sebagai contoh: bedah gigi dan laboratorium. Oleh karena itu dipilih untuk menempatkan instalasi tersebut pada lantai dasar tetapi bagian yang lain ditempatkan pada lantai atas dengan penyediaan lift yang cukup. Instalasi yang menangani pasien rawat jalan. Tipe A terdiri dari dua ruangan yang mengkombinasikan antara ruangan untuk konsultasi dan ruang tindakan. opthalmic dan ruangan opthoptic. gimul. area perawatan dermatology. Tipe A memberikan kesempatan untuk melakukan alokasi yang lebih fleksibel untuk ruangan klinik karena spesialisasi yang berbeda dan membutuhkan penggunaan sejumlah ruangan yang terdiri dari berbagai macam tipe pada klinik. Instalasi yang mengurusi pasien rawat jalan dan jumlahnya tergantung pada penaksiran daya tampung pasien untuk kapasitas tertentu. Poliklinik Area untuk pasien rawat jalan dan merupakan satu instalasi yang areanya paling luas dalam rumah sakit. Staf paramedis dari hampir seluruh spesialisasi dan disiplin bekerja dalam instalasi ini. Bedah 4. ruang resepsionis dan area ruang tunggu. untuk tujuan pedeskripsian. klinik pemeriksaan anak. Ruangan konsultasi dan latihan mayoritas merupakan spesialisasi klinis. non infeksi dan bedah anak 3. Oleh karena itu diperlukan penataan pintu masuk dan akses yang berasal dari luar dimana tidak menyebabkan kekacauan pada sirkulasi. Pasien memilih klinik sebagai tempat untuk melakukan konsultasi. ruang tunggu. ruangan kotor dan ruangan bersih. Ada dua tipe dasar dari ruangan untuk berkonsultasi.hal-hal yang berkaitan dengan instalasi -tujuan umum klinik -tujuan khusus area-area klinik Hal yang berkaitan dengan instalasi. tujuannya adalah untuk mengurangi dan meminimalkan proporsi dari ruangan untuk setiap spesialisasi.

Sedang pada Instalasi lain bisa menerapkan sistem satelit ataupun pos obat. Keamanan dan keselamatan. suplai air steril/bersih b. 19 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Bumper dinding sepanjang koridor pasien. juga prosesnya. inti pelayanan terletak pada ruang-ruang sebagai berikut: a. Sebagian RS dengan beban kerja tinggi. Ruang racik: meja kerja. Mencegah infeksi nosokomial. Kesemua sistem tersebut secara prinsip mempermudah pasien dalam menjangkau sekaligus mempermudah operasionalisasi petugas keperawatan.Pengelompokan diatas makin berkembang sesuai dengan jenis pelayanan. Pantry (ruang makan) e. thermal. h. skala dan isi dari instalasi ini. Obat khusus direncanakan lemari build in dengan tingkat kelembaban yang terkontrol dan terkunci c. Perencanaan K3. sirkulasi udara. Apotik dan area distribusi g. Sarana prasarana pengelolaan kebakaran dan sistem deteksi. Sebagian RS menerapkan manajemen stok obat yang memisahkan antara Gudang Obat IRJA dan non. Ruang simpan obat dipisahkan antara cairan. vacuum. Kelengkapan jaringan infrastruktur medik. kondisi udara yang baik. suplai daya listrik. 11. Termasuk dalam penataan aliran ruang. Implementasi fisik antara lain: orientasi pencapaian ruang slob zink yang dekat namun tidak langsung dari nurse station. Implementasi fisik antara lain: grib bar untuk pasien di koridor dankamar mandi. Tersedia scrub. kenyamanan menyangkut: pemandangan. Implementasi fisik antara lain: tersedia gas medik. Sering perencanaan ruang rawat inap harus menyesuaikan dengan strategi manajemen seperti misalnya: perlunya satelit farmasi. Hal ini tercermin pada nama yang berbeda di instalasi ini yaitu CSSD. Rawat Inap. telah berangsur-angsur mengalami banyak perkembangan selama 10-15 tahun. Ruang konsultasi. unggulan pelayanan seperti: rawat inap infertilitas. TSSU. Pada umumnya Farmasi pusat berdekatan dengan Rawat Jalan. Implementasi fisik antara lain: rencanakan dinding. Tersedia scrub up dan atau alkohol cuci tangan. plafon bahkan lantai yang mudah dibersihkan. suplai daya listrik medik dan non terjamin kontinu. perlu memisahkan kassa Askes dan nonAskes. non dan khusus. bentukan dan material tidak memerangkap debu.IRJA. Kassa. Pada Farmasi Pusat. Implementasi fisik antara lain: ketenangan. Ruang kepala Instalasi dan ruang tamu f. administrasi dan kassa. Secara keseluruhan ini dari instalsi ini adalah sterilisasi dan penanggulangan infeksi pada peralatan yang dipergunakan di rumah sakit. cakupan. Namun secara prinsip semua harus bertujuan bagi kemudahan pasien.up medis atau alkohol cuci tangan. rawat inap medical check up dan sebagainya. IGD dan Instalasi medik lainnya. Jalur evakuasi dengan signage yang jelas. HSSU atau HSDU). i. 10. Ruang staf (locker) lengkap dengan lavatory d. Terdapat jalur dan pintu khusus untuk barang kotor. Mendorong kesembuhan pasien. Instalasi Sterilisasi/ CSSD Kebijakan mengenai peraturan.Instalasi farmasi Secara umum perencanaan Farmasi terkait dengan akses sebagai penunjang Rawat Jalan.

Ruang kepala Instalasi dilengkapi ruang tamu p.langit dengan ketentuan sebagai berikut : • Jarak bahan makanan dengan lantai 15 cm • Jarak bahan makanan dengan dinding 5 cm • Jarak bahan makanan dengan langit.Dalam unit pemrosesan dan pemberian pelayanan. Persiapan c. Cara penyimpanan bahan makanan tidak menempel pada lantai.langit 60 cm Kelengkapan ruang Instalasi Gizi: a. Dapur Besar d.90 % 23 f. Ruang penerima b. Ruang kerja.banyaknya 100/cm2 permukaan dan tidak ada kuman E. atau langit. Jalur trolley bersih dan distribusi n. Gudang air l.1° C d. Angka kuman E. Ruang ganti. Makanan kemasan tertutup sebaiknya disimpan dalam suhu ± 10° C e. Kebersihan peralatan ditentukan dengan angka total kuman sebanyak.Coli c. Ruang cuci i. administrasi. Pantry f. Cold storage g. Untuk makanan yang disajikan lebih dari 6 jam disimpan suhu – 5° C sampai . Lavatory o. Kelembaban penyimpanan dalam ruangan 80 . arsip 20 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Oleh karena itu seringkali lokasi ditempatkan pada zona industri dimana ada kemudahan dari pengorerasian pipa saluran untuk keperluan proses penguapan alat. Dapur pastry e.Coli pada makanan harus 0/gr sampel makanan dan pada minuman angka kuman E. Cold room h. Gudang bahan k. 12. khususnya untuk bagian kamar operasi. Makanan yang mudah membusuk disimpan dalam suhu panas lebih dari 65. instalasi yang bersangkutan dan membutuhkan sarana penguapan untuk autoclaves dan hubungan yang baik dengan rute-rute suplai internal. dinding.Coli harus 0/100 ml sampel minuman b. Simpan alat j. Pemrosesan peralatan-peralatan akan menimbulkan kuantitas hawa panas yang sulit dikontrol. Jalur trolley kotor m. Instalasi Gizi Persyaratan Umum: a.5° atau dalam suhu dingin kurang dari 4° C.

21 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 7. 5. Tipe-tipe dari barang yang akan dipindahkan (termasuk yang perlu penanganan khusus). 4. Kebutuhan ruang penyimpanan dan penanganan.BAGIAN 1 I BAB 5 TINJAUAN SIRKULASI DAN ZONING RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Sirkulasi 1. Kebutuhan ruang penerimaan. Kuantitas dan frekuensi material yang dipindahkan untuk distribusi. Prinsip dan Implementasi Terdapat tujuh pertimbangan mendasar yang mempengaruhi desain pada distribusi sistem pergerakan/sirkulasi yaitu : 1. 3. Tempat pembuangan dan pemrosesan kembali. Distribusi pengguna masing-masing instalasi. Pilihan di antara sistem mekanik dan manual. 2. 6.

Meskipun faktorfaktor ini penting. Pemberi Layanan Kesehatan.2. Jalur-jalur penyelamatan 5. Hubungan eksternal 7. Jarak tempuh 6. Sirkulasi Kendaraan. Barang. Keterkaitan antara instalasi 3. Cara pembagian ruangan 2. Alternatif penyelamatan dan pada kondisi saat menemui jalan buntu 4. pengunjung. tetapi tidak berpengaruh besar terhadap keseluruhan bentuk bangunan : 1. Kegawatdaruratan Ada tujuh prinsip dasar yang sifatnya fundamental untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi bentukbentuk bangunan yang memberi perhatian penuh mengenai keamanan kebakaran. Akses untuk menanggulangi kebakaran 22 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .

Kemampuan untuk berkembang dan berubah agar mampu merespon kebutuhan-kebutuhan dimasa mendatang. pada detail. Hubungan antara instalasi yang memiliki keterkaitan dalam hal fungsi dan juga mengenai jalur-jalur yang efisien bagi pergerakan orang dan suplai barang.BAGIAN 1 I BAB 6 TINJAUAN BENTUK DAN KARAKTERISTIK RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Karakteristik 1. Oleh karena itu bentuk bangunan harus open-ended dan dapat diperluas. 3. 23 Rumah Sakit Pendidikan Universitas Udayana Copyright : PT. 2. 6. 4. Ekonomis dalam hal modal dan pembiayaan. dapat diciptakan dengan memenuhi syarat estetika. Prinsip dan Implementasi Rumah sakit adalah bangunan yang memiliki keterpaduan yang mampu mengakomodasi fungsi-fungsi secara luas. 7. perencanaan dan teknik desain harus membuka kesempatan untuk diadakannya perubahan internal dan penataan kembali ruanganruangan. Kemampuan untuk membangun secara aktif dalam setiap tahap-tahap pembangunan. Suasana yang tercipta dalam lingkungan fisik dapat dihasilkan dari adanya saling keterkaitan antara bentuk bangunan dengan desain teknis. Persyaratan menyangkut masalah keamanan terhadap kebakaran serta metode evakuasi pasien. Global Rancang Selaras ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Respons yang timbul dari hubungan secara fisik antara hal tersebut dengan masyarakat. Faktor-faktor penting yang dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan bentuk bangunan yang sesuai adalah : 1. 5. kemudahan dan kecepatan konstruksi. Tujuan yang ingin dicapai dalam perencanaan harus bisa mereduksi hambatan-hambatan fisik untuk masa mendatang dan untuk perkembangan-perkembangan yang tidak diduga. beberapa dapat dilihat pada saat perencanaan tetapi ada beberapa yang tidak dapat diprediksi.

Akses mudah untuk penyandang cacat .Sistem jaringan yang terorganisasi dan mudah digunakan serta mudah disesuaikan dengan kebutuhan yang akan datang 24 . pemandangan.Finishing yang mudah dan ekonomis dalam pemeliharaan .Pencahayaan dan ventilasi alami yang mencakup semua bagian ruang . dan karya seni untuk membantu penyembuhan .Menjadi tetangga yang baik terhadap lingkungan .Main entrance yang jelas dan pintu masuk khusus yang mudah dilihat .Memenuhi Panduan Bangunan Rumah Sakit Memenuhi Persyaratan Standar Teknis Bangunan Rumah Sakit f. Dimana kriteria yang harus dijawab pada bagian ini antara lain: a.Kendaraan pengunjung. kendaraan servis.Memberikan nilai positif pada komunitas dan konteks sosial . serta parkir kendaraan yang mencukupi .Akses terpisah untuk suplai barang dan pembuangan sampah e. pencahayaan.Memperlihatkan komposisi yang baik . transportasi umum. Karakteristik Disisi yang lain.Pergerakan orang dan distribusi barang .Ruang dalam yang menentramkandengan pemandangan ke arah luar . da karyawan.Berdasar standar ruang yang ada . perencanaan dan perancangan fisik rumah sakit juga didasarkan pada kriteria bangunan rumah sakit yang baik. Memenuhi Standar Konstruksi . Akses yang Mudah -akses bagi Ambulans. ramah lingkungan .Kenyamanan dan privasi . warna. Sesuai dengan lingkungan . Berarsitektur bagus . jelas dan mudah .Akses untuk pejalan khaki .Sesuai dengan tapak dan persyaratan perencanaan kota c.Tampak bangunan menarik dengan skala manusia .Bahan bangunan dan finishing yang sesuai standar . Mudah bagi pengguna. Memenuhi Standar Bangunan Kesehatan . Memenuhi Standar Bangunan Kesehatan .Penggunaan ruang g. mobil pemadam kebakaran .Memberi nilai estetis baik eksternal maupun internal b.Hubungan antar fungsi .Lansekap yang menarik ARSITEKTUR RUMAH SAKIT d.Jejalur yang sederhana.Ruang.2.

kesehatan sekolah. POE). ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . rumahsakit dan fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya termasuk dalam kategori fasilitas publik yang perlu dikelola secara optimal. serta evaluasi pasca huni. serta kesehatan mata. yang lazim disebut dengan evaluasi pasca huni atau EPH (post occupancy evaluation. kesehatan kerja. penyembuhan penyakit (kuratif). sesungguhnya sangat diperlukan evaluasi terhadap fasilitas yang ada sekarang. pencegahan penyakit (preventif). Masing-masing tahap dalam proses tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja fasilitas kesehatan. Dan karenanya. penyuluhan kesehatan masyarakat. Penyelenggaraan kesehatan tersebut diharapkan dapat menjangkau lingkup spatial yang cukup ekstensif. kesehatan jiwa. dan berkesinambungan. pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Sebagai fasilitas kesehatan dan fasilitas sosial. kesehatan lingkungan. pengobatan tradisional. terpadu. penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. konstruksi dan penyediaan fasilitas. Tahap evaluasi pasca huni adalah tahap yang sangat perlu untuk melihat kesesuaian antara apa yang ada sekarang dengan pola-pola pemanfaatan oleh manusia dan perilakunya.BAGIAN 1 I BAB 7 KONSEP RUMAH SAKIT DAN EVALUSAI PASCA HUNI Fasilitas kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Langkah-langkah Peringkatan Performansi 1.disamping agar lebih memiliki dayatarik bagi masyarakat pada umumnya. Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain Fasilitas Kesehatan Kebanyakan Fasilitas kesehatan sekarang berada dalam tahap penghunian dan pemanfaatan. perbaikan gizi. pengamanan makanan dan minuman. 25 2. pengamanan zat adiktif. dan untuk itu diperlukanlah berbagai macam fasilitas kesehatan dan unit-unit penyelenggara layanan kesehatan pada tingkat komunitas. yang meliputi kesehatan keluarga. Penyelenggaraan upaya kesehatan di atas dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. Evaluasi pasca huni adalah suatu proses evaluasi fasilitas dengan cara yang sistematik setelah fasilitas tersebut dibangun dan dihuni dalam suatu kurun waktu tertentu. pemberantasan penyakit. Proses pengelolaan fasilitas tersebut meliputi perencanaan dan pemrograman. dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh. perancangan. kesehatan olahraga. sehingga akses masyarakat luas terhadap berbagai layanan kesehatan menjadi lebih baik. penghunian dan pemanfaatan. Fasilitas Kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (promotif).

Kegunaan jangka panjang. perbaikan basis data. evaluasi pasca huni juga memiliki tingkatan kecermatan sesuai kebutuhan penggunanya. Standar Arsitektural untuk Fasilitas Kesehatan. maupun hasil-hasil penelitian mengenai fasilitas kesehatan komunitas seperti Fasilitas kesehatan 2. ataupun kelompok fasilitas tertentu. akuntabilitas kinerja bangunan oleh semua pengguna. dan kriteria untuk perancangan fasilitas. dokter. Kelompok c. dan manajemen) maupun pengguna jasa Fasilitas kesehatan (individu maupun kelompok masyarakat). manajemen fasilitas yang proaktif terhadap aspirasi pengguna. Kegunaan jangka pendek. Setting a. peningkatan sikap pengguna melalui keterlibatan dalam proses evaluasi. Pengguna a. serta perbaikan sistem penilaian fasilitas melalui kuantifikasi Jenis kegiatan dalam evaluasi pasca huni akan tergantung pada interaksi antar komponen dalam proses evalusi pasca huni: 1. Ruang b. Evaluasi Pasca Huni Indikatif 2. pemahaman implikasi kinerja dalam kaitannya dengan ketersediaan anggaran. 3. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: kinerja fasilitas dalam jangka panjang. 26 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . khususnya Fasilitas kesehatan. Individu b. Fungsional c. Teknikal b. Kegunaan jangka menengah. Dalam komponen pengguna meliputi penyedia jasa dalam Fasilitas kesehatan (pengelola. Organisasi 3. yang meliputi: 1. antara lain Standar Fasilitas kesehatan. Behavioral 2. Kriteria kinerja a. Dalam komponen setting perlu ditinjau komponen-komponen setting Fasilitas kesehatan yang terdiri atas berbagai unit. Fasilitas Selain itu. 3. standar. evaluasi pasca huni perlu dikaitkan dengan “state of the art” fasilitas Fasilitas kesehatan. Dalam kriteria kinerja terdapat beberapa kriteria yang perlu diikuti. paramedis. yang meliputi beberapa aspek: 1.Kegunaan evaluasi pasca huni terbagi dalam 3 jangka waktu: 1. peningkatan pemanfaatan ruang dan umpanbalik terhadap kinerja bangunan. Evaluasi Pasca Huni Investigatif 3. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: identifikasi masalah dan solusi dalam manajemen fasilitas. serta proses pengambilan keputusan yang lebih rasional dan objektif 2. Evaluasi Pasca Huni Diagnostik Bagi fasilitas Fasilitas kesehatan. penghematan biaya dalam proses pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan serta peningkatan usia bangunan. Bangunan c. bagian. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: kemampuan pengembangan fasilitas sesuai dengan pertumbuhan organisasi.

Tujuan analisis data: pemerian. Awal Proses Pengumpulan Data Lapangan . rerata. Pemantauan dan Manajemen Prosedur Pengumpulan Data .Antisipasi hasil dan kesimpulan 2.Macam-macam analisis: berhasil/gagal.Tindakan terkait teknik c. analisis sederhana. b.Rencana jangka panjang 27 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Pengenalan Masalah dan Kelayakan .Rencana jangka pendek . c. Pelaporan temuan . .Memilih biaya evaluasi yang sesuai.Penerapan Evaluasi Pasca Huni a. Review Hasil dan Kesimpulan . Pelaksanaan Evaluasi Pasca Huni a.Pemahaman terhadap karakter aktivitas.Tahapan analisis: menyusun data mentah. memproses data. Perencanaan Sumberdaya . interpretasi serta melengkapi analisis data.Perencanaan waktu . analisis korelasi . 3.Pendahuluan.Rencana jangka menengah . dan SDM. bandingan 2 kelompok.Memilih tingkatan usaha yang sesuai. Metodologi. peringkat.Memahami besaran dan kondisi signifikan aset eksisting. mengemas dan komunikasi temuan. .Evaluasi pasca huni memiliki beberapa tahapan sebagaimana berikut: 1. Rekomendasi tindakan . variabilitas. Analisis Data . persentase. .Penguasaan Lapangan dan Pelaksanaan Survey b.Penalaan antar pengamat. chi-square. Perencanaan Evaluasi Pasca Huni a.Tindakan terkait prosedur . interpretasi.Memilih indikator yang dapat merepresentasikan aspek . Temuan. Perencanaan Riset . . Pustaka b. Kesimpulan.Mobilisasi data.Mengembangkan ukuran bagi tiap indikator .Menyusun kriteria untuk evaluasi ukuran .Menentukan aspek kritis yang perlu diteliti .Antisipasi reaksi . alat. dan penjelasan . Apendiks. Analisis data.Perencanaan SDM . .Perencanaan metoda dan alat c. memasukkan dan transfer data.Tindakan terkait kebijakan .Uji awal instrumen pengumpulan data.

dalam arti lingkungan di sekitar fasilitas kesehatan. Konteks keruangan. Optimalisasi bentuk dan kelengkapan meliputi peningkatan secara fisik fasilitas kesehatan. diharapkan fasilitas kesehatan dapat memberi wadah bukan hanya kegiatan layanan kesehatan secara sempit. Optimalisasi lokasi dan ruang meliputi peningkatan dan pengkayaan nilai lokasi serta kualitas ruangruang dalam dan di luar fasilitas kesehatan. ataupun penambahan fungsi baru yang sinergis dengan fungsi yang ada. Langkah-langkah Peringkatan Performansi Fasilitas Kesehatan Pendekatan kontemporer menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan membutuhkan fungsi dan fisik. rekreatif. penghawaan. yang dapat menunjukkan karakteristik masyarakat di sekitar fasilitas kesehatan tersebut. 28 4. dan dapat dilayani fasilitas kesehatan tersebut. Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Fasilitas kesehatan Dalam bagian kedua. baik yang berupa bangunan (fixed elements). nilai kegunaan. Dalam aspek bentuk ini. serta konteks. yang diperlukan adalah adanya pemenuhan kebutuhan masa kini dan masa depan yang terujud dalam bentuk fisik dan fasilitas serta teknik komunikasi yang digunakan. Fasilitas kesehatan sebaiknya dikembangkan tidak hanya melayani kesehatan tetapi juga dapat memberi aspek kemasyarakatan. serta akustik). akses dan sirkulasi. melainkan juga layanan kesehatan secara luas dan bahkan juga sebagai fasilitas sosial-edukasi-budaya secara proporsional. bahkan komersial yang akan menghidupkan fasilitas tersebut. Dalam hal ini. peningkatan performansi fasilitas kesehatan dapat meliputi peningkatan 5 aspeknya. Optimalisasi akses dan sirkulasi meliputi kemudahan pencapaian hingga pada perangkaian pergerakan dalam fasilitas kesehatan sehingga menjadi efektif dan efisien. Atau dapat juga dilihat sebagai sistem pewadahan fungsi (ruang dan tata perabot yang ada) serta sistem penunjang fungsi (pencahayaan. Demikian juga dengan konteks sosial.3. kemasyarakatan dan estetika. serta interaksi antara setting budidaya dengan setting alam sangat diperlukan. yang akan secara spesifik memberi keunikan pada fasilitas kesehatan dan menambah dayatariknya. bentuk dan kelengkapan. Akses menjadi hal yang penting. mengingat salah satu keunggulan fasilitas kesehatan adalah potensi jangkauan layanan kesehatan ke masyarakat luas di tengah komunitas mereka sendiri. Optimalisasi konteks meliputi integrasi fasilitas kesehatan dengan konteks keruangan. Sebagai contoh misalnya diperlukan adanya integrasi antara fungsi-fungsi kesehatan fasilitas kesehatan dengan fungsi-fungsi pendidikan. Optimalisasi fungsi meliputi peningkatan fungsi yang ada sekarang dengan penyempurnaannya berdasar persepsi dan spirasi pengguna. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . baik ruang keseluruhan fasilitas kesehatan sebagai fasilitas. dan waktu. optimalisasi fasilitas kesehatan akan dipandang dari berbagai faset perencanaan fasilitas dan perancangan arsitektur. maupun ruang-ruang mikro dalam fasilitas kesehatan sebagai setting kegiatan. fasilitas dan perabot (semi-fixed elements) ataupun setting-setting meso dan mikro bagi berbagai aktivitas penggunanya (non-fixed elements). Dalam hal ini. Interaksi antara ruang pakai baik yang aktif maupun yang pasif dengan ruang layanan. rekreatif dan estetika dalam perannya melayani kesehatan. sosial. yaitu fungsi. Optimalisasi konteks akan membuat fasilitas tersebut akan lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat penggunanya. Berbagai fase ini dapat menjadi hasil keluaran dan rekomendasi dari evaluasi pasca huni yang dilakukan terhadap sebuah fasilitas kesehatan. interaksi antara ruang dalam dengan ruang luar. lokasi dan ruang. layak untuk ditanggapi sebagai sesuatu yang penting.

Kondisi tersebut perlu dinilai. yang meliputi: . dapat berupa: . Evaluasi Pasca Huni dapat membantu meningkatkan performansi Fasilitas kesehatan. dengan durasi sekitar 10-20 tahun . dapat terlihat bahwa proses ini sangat erat kaitannya dengan manajemen fasilitas secara luas.Jangka menengah. Langkah-langkah tersebut dapat berupa kebijaksanaan.Opportunities (peluang).Jangka panjang.Jangka pendek.Weaknesses (kelemahan). atau developmental goals dan developmental objectives 29 .Di sisi lain. hingga projek yang diperlukan. Visi : kondisi ideal yang diinginkan 3. Salah satu alatnya adalah Analisis SWOT (SWOT analysis).Threats (ancaman). dengan durasi sekitar 1 tahun Visi ini dapat juga terkait dengan tujuan atau sasaran. yaitu faktor negatif eksternal Visi Visi dapat dirinci dalam waktu dimana visi tersebut diharapkan terjadi. yang meliputi: 1. rencana. yaitu faktor negatif internal . Jika dilihat dalam sistem perencanaan dalam manajemen.Strengths (kekuatan). dengan durasi sekitar 5 tahun . Profil : kondisi eksisting yang ada 2. Dalam proses perencanaan dan perancangan. Strategi : cara untuk mencapai visi 5. strategi. dengan mengetahui potensi dan permasalahan yang ada. Masalah : jarak antara kondisi ideal dan kondisi eksisting 4. pada dasarnya terdapat 5 komponen utama yang perlu didefinisikan secara jelas. untuk kemudian dapat dilakukan langkahlangkah perbaikan. Aksi : tindak nyata yang merupakan jabaran dari strategi Kondisi Ideal VISI jarak antara kondisi eksisting dan kondisi ideal MASALAH cara mencapai visi STRATEGI ARSITEKTUR RUMAH SAKIT kondisi eksisting PROFIL tindak nyata AKSI Profil Kondisi eksisting perlu ditinjau dari setidaknya 5 aspek yang disebutkan di atas. program. yaitu faktor positif internal . yaitu faktor positif eksternal .

Menyiapkan daftar tujuan dan sasaran . Aksi Produk rancangan yang ada pada dasarnya dapat dibagi dalam: . Kontur dan Aliran Air 30 1. Parkir.Membatasi daerah masalah secara lokasional.Kebijakan (policy) . yang dijabarkan dalam rencana atau rancangan. Sirkulasi. pemenuhan kebutuhan. serta melihat kaitan dan pengaruhnya terhadap masalah yang lain . atau pemanfaatan peluang. temporal.Mengenali kisaran variabel-variabel yang perlu diperhitungkan . Jika tujuan (goals) lebih bersifat ultimate serta tidak langsung. Ruang Terbuka.Mengkaji ulang problem statement Strategi Strategi adalah cara untuk mencapai visi. Kebutuhan vs Ketersediaan . Tapak. maka sasaran (objectives) lebih bersifat langsung serta konkret.Arahan (guidelines) . Perumusan problem statement membutuhkan langkah-langkah sebagaimana berikut: . Tujuan pada dasarnya dapat berupa pemecahan masalah.Menyiapkan data-data/informasi pendukung masalah .Program (program) ARSITEKTUR RUMAH SAKIT BAGIAN 1 I BAB 8 PERENCANAAN LAHAN / SITE PLANNING RUMAH SAKIT Kebutuhan vs Ketersediaan Perencanaan Lokasi.Rencana (plan) .Mempelajari secara mendalam masalah yang dihadapi .Masalah Masalah adalah jarak (discrepancy) antara kondisi ideal yang diharapkan dengan kondisi eksisting sekarang ini. Perumusan strategi terkait erat dengan perumusan tujuan dan sasaran bagi strategi tersebut.

Adakah jaringan listrik dan keterdekatan dengan gardu induk b. Sirkulasi. Adakah layanan pengelolaan sampah di kawasan sekitar rumah sakit Rata-rata luasan lahan untuk rumah sakit dengan tipe B ke atas. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 31 . kenyamanan visual dan pengkondisian kualitas udara.Analisis Aspek Lokasi . Tapak.Perkembangan teknologi dan kesadaran akan pentingnya keberadaan sebuah fasilitas kesehatan yang memiliki brand image terpercaya. dan kalaupun ada.Analisis Aspek Transportasi dan Sirkulasi . -Ketersediaan ruang terbuka hijau untuk utilisasi dan kenservasi air tanah. tapi lokasi dengan luas seperti ini. Aspek yang harus diperhatikan terkait dengan hal tersebut antara lain adalah: a. membutuhkan areal seluas 12 hektar. Kontur dan Aliran Air Tahapan awal dari Perencanaan Lahan/Site Planning untuk mengenali dan mendapatkan kondisi akurat eksisting terdiri dari: . Dekat kearah pusat jaringan transportasi untuk melayani masyarakat lokal serta luasan lahan yang cukup memadai akan memberi lebih banyak peluang dan fleksibilitas perluasan. biasanya berada jauh diluar kota dimana timbul banyak masalah tenaga kerja yang akan dipekerjakan di rumah sakit. susah untuk diperoleh. Perencanaan Lokasi. Adakah jaringan jaringan perpipaan air bersih yang dikelola PDAM atau perusahaan penyedia air bersih lain d. pada cakupan lingkungan mikro. Oleh karena itu. perencanaan hingga perancangan lahan menjadi sebuah keharusan. terbaik. Parkir. Atau pada situasi daerah kota yang sangat hiruk pikuk termasuk lokasi dimana pembangunan dilakukan dengan merubah bentuk bangunan-bangunan yang telah ada sebelumnya yang tentunya akan menjadi sangat mahal untuk kebutuhan KDB yang tinggi. dan terlengkap sesuai kualifikasi kelasnya. langkah-langkah taktis dan cermat sejak proses persiapan. Adakah jaringan drainase di sekeliling lahan e. Selain itu penting memperhatikan potensi ketersediaan sistem infrastruktur di luar site (off-site). Ruang Terbuka. 2. Luasan lahan yang dibutuhkan akan dipengaruhi oleh : -Batas Koefisien Dasar Bangunan di lokasi tersebut -Luasan bangunan yang diperlukan dalam perkembangan rumah sakit itu dalam kaitan pertumbuhan kapasitas pelayanan -Kebutuhan parkir dan akses -Kebutuhan penjarakan bangunan-bangunan dalam pertimbangan teknik fisika bangunan maupun kenyamanan okupansi. Adakah jaringan telekomunikasi non-mobile c.Analisis Aspek Guna Lahan dan Zoning Rumah sakit harus menempati lokasi terbaik dan yang terdekat dengan populasi yang dilayaninya. berhadapan dengan realita keterbatasan lahan/site. Adakah jaringan air limbah dan sistem pematusan yang terhubung dengan sistem perkotaan f.

Ruang Rapat . pemberi layanan kesehatan.Keuangan . sekunder. Unit Administrasi . Komponen Bangunan Rumah Sakit A.UGD .BAGIAN 1 I BAB 9 SIRKULASI DAN ZONING KOMPONEN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi 1.Ruang Dokter / Perawat Jaga .Security B.Ruang Sekretaris . serta meminimalisasi akses medik sentral untuk kepentingan penjagaan sterilitas.Pediatry Ekspladometri Rumah Sakit Pendidikan Universitas BrawijayaCopyright : PT. pengunjung. serta service dibedakan.Radiology/ultrasound .Ruang Administrasi Umum .Poliklinik .Gudang Medis . tersier. Zona primer. Unit Medis . kegawatdaruratan. Prinsip dan Implementasi Rumah sakit didesain dengan mempertimbangkan efisiensi kegiatan dan kapasitas sirkulasi akibat peningkatan kebutuhan sehingga terdapat beberapa zonasi yang nantinya akan mempengaruhi layout ruangan.Arsip .Pathology .Ruang Staff .Ruang Kepala .Ruang Tunggu .Informasi dan Pendaftaran . Begitu pula dengan sirkulasi barang. Global Rancang Selaras 32 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Ruang Operasi .Kantor Pembayaran .Rehabilitasi .Ruang Personalia .Laboratorium Klinis .Physiotherapi .

Konsultasi D. Seminar .Dapur F.R.Spoel Hoek/Slob Zink . Peruntukkan Umum .Gudang Ambulance . Makan Bersama .Auditorium Ekspladometri Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mataram Copyright : PT.Gudang Umum . Fitness .Pantry . lavatory) . Unit Keperawatan .Nurse station (loker.R.Kolam Renang .Ruang Obat .R.Rawat Medis . Pelatihan. r.Mekanikal .Ruang ibadah . House Keeping dan Teknis .R.Cleaning Service/Janitor .Masjid / Mushola . Rekreasi.Bengkel / Workshop . Global Rancang Selaras ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .R. Serbaguna .Hall/ Lobby .Sterilisasi / Clean Utility .Ruang Kelas .Farmasi / Gudang Obat .R. Musik .Lounge G.Parkir .R.Perawat Poliklinik E.Kapel . Global Rancang Selaras 33 Ekspladometri Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mataram Copyright : PT.Rekam Medis .Engineering .Elektrikal . Konseling . Komputer . dan Keterampilan .C.R. Unit Rawat Inap . Ganti.Workshop .Laundry .Rg.Ruang Perawat .Kios/kafeteria .Ruang Tidur .Ruang pertemuan .Perpustakaan . Pembina .

komunikasi dan alur kerja .pencahayaan . Bangunan juga harus didirikan untuk mengakomodasi unit-unit yang ada.dinding eksterior .spesialisasi dalam tipe/unit bangunan Aspek Teknikal.penyimpanan dan penataan .persepsi lingkungan .privasi dan interaksi . Masalah dalam menentukan standar ini akan berbeda antara satu lokasi dengan lokasi yang lain. Orientasi bangunan juga harus menanggapi iklim baik secara internal maupun eksternal. Karakter bangunan harus menampakkan harapan. Pertimbangkan pula waktu paruh perjalanan staf seefisien dan seminimal mungkin dengan pasien.finishing interior . 34 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .atap akustik . meliputi : .faktor manusia .sistem kontrol lingkungan Aspek Behavioral.fleksibilitas dan perubahan . meliputi : . Merupakan hal yang sangat penting bahwa pembiayaan bangunan dipertahankan serendah mungkin secara konsisten dengan menyesuaikan dengan standar yang dapat diterima serta memberikan keseimbangan yang optimal antara kedua hal tersebut.elektrikal .struktur .citra dan makna .keselamatan kebakaran . Prinsip dan Implementasi Sebuah bangunan rumah sakit harus memenuhi aspek-aspek sebagai berikut : Aspek Fungsional. Karakter yang cerah yang berpengaruh pada tanggapan pengguna terhadap kegiatan didalamnya.sanitasi dan ventilasi .kognisi dan orientasi lingkungan Bangunan rumah sakit harus didesain dengan meminimalkan jangkauan personal paramedis dan kemungkinan kontaminasi serta memaksimalkan efisiensi seluruh sistem. yaitu : .BAGIAN 2 I BAB 10 PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT: PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SAKIT Prinsip dan Implementasi Fleksibilitas dan Pentahapan Pertimbangan Estetika dan Kenyamanan 1.proksemik dan teritorialitas .

kebutuhan untuk membagi pembangunan kedalam unit-unit kerja bangunan yang dapat ditangani oleh manajemen dengan memuaskan 3. Pembatasan modal untuk proyek pembangunan. Hal ini membutuhkan biaya banyak dan cenderung menggunakan modal yang tidak proporsional. konsisten dengan mengesampingkan tujuan yang menyangkut penetapan biaya serendah mungkin. Pada bangunan yang telah ada. Terdapat faktor resiko penyerapan layanan terhadap aspek pembiayaan yang harus mencapai titik imbang secara wajar Kebutuhan akan pentahapan memiliki dampak yang dominan pada bentuk-bentuk bangunan yang wajar. terdapat peran sosial yang harus diemban oleh rumah sakit sebagai misi utama dari sekedar perhitungan untung rugi 2. Namun hal tersebut tidak semata berdiri sendiri. Dibutuhkan keahlian teknis dan penyelesaian detil khusus.Hal-hal yang mempengaruhi biaya pada prinsipnya muncul dari : 1. Ada dua pola dasar pentahapan yaitu : 1. Fleksibilitas dan Pentahapan Sebagian besar bangunan rumah sakit harus melakukan pembangunan secara bertahap. Jenis. Penyelesaian kenyamanan bangunan dan syarat fasilitas medik. Pertimbangan kontraktual. yang bisa dijabarkan dari kapasitas dan berusaha menemukan cara bagaimana dapat menyediakan servis yang dapat dikembangkan dalam tahap berikutnya serta tetap memelihara efisiensi operasional dan mengoptimalkan hubungan antar instalasi. 2. ruang bangunan serta infrastruktur eksisting yang bisa dimanfaatkan kembali baik dengan penyesuaian maupun tidak. Langkah mengawali proses desain adalah inventarisasi terhadap fungsi. Kebutuhan untuk membangun sebagai jawaban dari rencana strategik. Pertimbangan bisnis strategis layanan sehubungan dengan kalkulasi biaya investasi terhadap estimasi pemasukan. Untuk gedung aset Negara atau Pemerintah masing-masing aksi penyesuaian memiliki tata laksana tertentu. Ada tiga alasan pentingnya pentahapan untuk hal ini yaitu : 1. Pengaruh yang paling besar adalah jangka waktu yang panjang yang dilalui diantara tahap-tahap tersebut. Jika hal ini sudah bisa dipertimbangkan dalam waktu tertentu. Pada lokasi baru. tetapi beberapa kerugiannya adalah harus menyediakan layanan-layanan yang sifatnya mendasar pada tahap pertama. kapasitas dan jumlah unit infrastruktur penunjang. Desainer juga dihadapkan pada masalah mendesain dasar-dasar yang akan mendukung instalasi. meliputi area dan volume termasuk geometri dan bentuk bangunan 2. Proses desain harus menerapkan keterpaduan secara mutlak terhadap bangunan maupun tata fungsi yang telah ada. diantara tahap-tahap pembentukan bangunan dan strategi teknis dibutuhkan untuk tujuan perkembangan maksimal dan potensi perubahan. 3. 2. Dalam hal ini akan berimplikasi terhadap fungsi yang terdapat didalamnya (baik yang lengkap atau bagian instalasi) dan hal-hal teknis (ketentuan pembatasan bagi kebutuhankebutuhan awal atau membuat antisipasi untuk kebutuhan-kebutuhan dikemudian hari). Jumlah bangunan yang akan dibangun. 35 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . hal ini seringkali berasal dari kebijakan penyediaan untuk implementasi secara bertahap yang lebih dari satu kali proses pembangunan. Tahap pembangunan rumah sakit pada lokasi baru memiliki keuntungan dari segi kebebasan membuat desain. Ada dua tujuan yang tidak dapat terelakkan yang berpotensi menciptakan konflik kebutuhan-kebutuhan dan sebuah keseimbangan yang hanya dapat dicapai oleh perdebatan berbagai disiplin ilmu dan kerelaan pihak-pihak untuk berkompromi secara operasional maupun secara teknis. Dalam aksi penyesuaian itulah memungkinkan dilakukan pemusnahan (demolition) atau penggantian (rehabilitation).

3. Pertimbangan Estetika dan Kenyamanan Kelompok bangunan yang terdiri dari beberapa massa bangunan lebih mudah diintegrasikan ke dalam batas visual komunitas. 5. Belajar dari pengalaman telah menunjukkan bahwa ukuran rumah sakit yang optimal dapat memberikan kenyamanan.Menghindari koridor-koridor panjang yang membosankan.3. 6. Menghindari adanya permukaan bangunan yang panjang dan memberi kesan membosankan. yang seringkali memberikan keuntungan operasional misalnya akses pada berbagai tingkatan. Keduanya dapat berintegrasi sepenuhnya pada hal-hal yang berada disekeliling lingkungan gedung rumah sakit dimana ukuran yang harus dipertimbangkan adalah skala manusia. Beberapa faktor kunci : 1. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 36 . 4. menghadirkan sebuah ruang yang memiliki pemandangan yang tidak membosankan.Menghindari penempatan pasien dan staf-staf pada tempat yang tidak nyaman karena adanya perluasan atau pembangunan sisi lain bangunan.Posisi tempat kegiatan yang menimbulkan hawa panas dan suara bising. paling tidak posisinya ditempatkan pada areal yang masih dapat diawasi dari jauh. harus jauh dari area pasien. secara internal maupun secara eksternal. 2. 7. Tetapi beberapa rumah sakit dengan pertimbangan tertentu dibuat dengan volume besar dan berskala monumental bila diperbandingkan dengan tipologi umum bangunan.Pertimbangkan dengan cermat mengenai geometri dan penempatan halaman sebagai titik orientasi dari massa bangunan.Menyesuaikan bangunan terhadap kontur lokasi. Diusahakan agar massa bangunan tidak mendapat sinar matahari secara langsung kecuali aktivitas terwadahi menuntutnya.Hindari areal halaman parkir yang sangat luas.

Prinsip dan Implementasi Rumah sakit harus memiliki fasilitas tetap yang menyediakan pelayanan medis baik infrastruktur off-site maupun infrastruktur on-site. 37 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .BAGIAN 2 I BAB 11 PERENCANAAN INFRASTRUKTUR RUMAH SAKIT prinsip dan implementasi Perencanaan infrastruktur 1.

Selanjutnya perencanaan infrastruktur dilaksanakan seiring dengan perencanaan arsitektural terkait dengan bangunan serta keberadaan lahan. Oleh karena itu. perencanaan infrastruktur berada dalam lingkup sistemik belum mengarah pada detil alat atau jaringan ataupun detil kapasitas. 38 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . untuk memelihara kualitas lingkungan atau mengendalikan faktor lingkungan yang dapat merugikan kesehatan harus ditunjang dengan peralatan serta sistem pengelolaan yang memadai sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang bersifat teknis kesehatan. sumur dalam.Direkomendasikan memanfaatkan kombinasi sumber air bersih yaitu sumur dangkal. c. Target utama perencanaan sistem penyediaan air bersih ini adalah pemenuhan kebutuhan air bersih di Rumah sakit dalam kuantitas dan kualitas yang tepat. Peraturan dan standar diatas merupakan acuan yang harus dipatuhi dalam meraih kinerja infrastruktur yang baik. Bagan Langkah Perencanaan Infrastruktur A.Sistem jaringan direncanakan sesederhana mungkin. Kata kunci sumber air adalah: Kontinuitas debit dan volume sehingga kombinasi keduanya akan menjaga kontinuitas pasokan disegala musim. Sehingga jika kapasitas maksimal layanan yang akan dikembangkan di Rumah sakit adalah 300 TT. Dalam materi Masterplan. Perencanaan Infrastruktur Penyediaan sarana prasarana pada fasilitas kesehatan utamanya ditujukan untuk melindungi. Sistem jaringan terlindungi oleh shaft untuk pertimbangan pemeliharaan dan sistem kontrol. Beberapa asumsi dan dasar perencanaan sistem pengelolaan limbah cair di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : a. Sistem yang efisien dan efektif juga diperlukan agar ekonomis dalam pembangunan dan pengoperasian.Pendekatan penghitungan kebutuhan air bersih untuk bangunan Rumah sakit adalah 700 liter per tempat tidur per hari. ataupun PAM. memelihara dan atau mempertinggi derajat kesehatan. maka kapasitas teknis air bersih perhari yang harus disiapkan adalah 300 TT x 700 liter = 210. Kuantitas yang tepat berarti debit air bersih yang disuplai dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit pada skala kapasitas maksimal. sedang kualitas yang tepat berarti air bersih yang disuplai telah memenuhi standar higienitas air siap minum.000 liter per hari atau 210 m³ per hari. b.2. Kriteria Desain Umum Penyediaan Air Perencanaan sistem penyediaan air bersih di Rumah sakit berpedoman pada sistem yang optimal dan ketepatan pada pemenuhan kebutuhan pelayanan.

h. Ini berarti tidak ada distribusi saluran diagonal/ miring terhadap bangunan.Semua jaringan air bersih merupakan jaringan bawah tanah diluar bangunan. Zona distribusi didasarkan pada kedekatan atau pengelompokan bangunan. g. Sistem yang paling efektif dipilih agar kemudahan dalam operasional dan pembangunan dapat tercapai.Seluruh kebutuhan air bersih di suplai dengan sistem perpipaan didukung roof dan ground tank set yang berfungsi pula sebagai reservoir dan water treatment set. 39 Skema Sistem DistribusiAir Bersih Pada Bangunan B. f. optimalisasi distribusi serta sistem kontrol. maka direncanakan zona distribusi air bersih. Desain Umum Penyediaan Air Panas Perencanaan sistem suplai air panas berpedoman pada sistem yang ekonomis dengan konsentrasi suplai pada unit-unit yang paling membutuhkan. e.d. Beberapa dasar perencanaan sistem penyediaan air panas di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Untuk kepentingan kemudahan operasi dan pemeliharaan. Distribusi saluran tidak boleh melalui ruang fungsional kecuali dibawah ruang sirkulasi.Arah dan distribusi pipa mengikuti bangunan atau tegak lurusnya.Pengawasan kualitas air secara rutin sehingga suplai air bersih tetap aman dan tidak menimbulkan gangguan/bahaya terhadap kesehatan.

Sehingga kapasitas pengelolaan limbah cair di Rumah sakit adalah 700 liter/hari/TT x 300 TT x 80% = 168. c.000 liter/hari atau 168 m3. b. Target utama adalah menurunkan zat pencemar organik dan angka kuman sehingga sifat air limbah cair memenuhi syarat baku mutu air limbah. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Kapasitas maksimal pelayanan adalah 300 TT. Saat ini Rumah sakit belum memiliki sistem pengelolaan limbah cair yang sempurna dan paripurna. Pendekatan penghitungan kebutuhan air panas untuk bangunan Rumah sakit adalah sekitar 130 liter per tempat tidur per hari. Penyediaan air panas diarahkan pasokan ke unit sterilisasi serta sebagian kecil untuk kepentingan laundry dan pengelolaan laundry Rumah sakit. b. Sistem pengelolaan limbah cair yang ada saat ini masih berupa sistem yang sederhana. Pendekatan penghitungan volume limbah cair pada bangunan rumah sakit adalah asumsi 80% konsumsi air bersih akan terbuang sebagai limbah cair. Jika kapasitas maksimal yang akan dilayani oleh sistem air panas di Rumah sakit maksimal adalah 300 TT. 40 Skema Sistem Distribusi Pengolahan Air Limbah Beberapa asumsi dan dasar perencanaan sistem pengelolaan limbah cair di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : a.a.000 liter perhari. Hal penting lainnya adalah rekayasa tepat yang harus dilakukan pada bangunan dan lingkungan terhadap sistem pengelolaan limbah cair. Kriteria Desain Umum Pengelolaan Limbah Cair Perencanaan pengelolaan limbah cair berpedoman pada sistem yang optimal. C. ekonomis dalam pembangunan dan pengoperasian. Sistem penyediaan air panas diperoleh dengan memanaskan air dari energi diesel untuk perebusan. Penempatan jaringan pipa distribusi air panas diletakkan diatas dengan mempertimbangkan tingkat keamanan dan tidak mengganggu aktivitas utama. Sistem yang diterapkan menggunakan sistem boiler terpusat. c. d. maka debit air panas yang harus disiapkan adalah 39.

Pada prinsipnya semua saluran drainase direncanakan terbuka atau semi terbuka untuk memudahkan perawatan dan pemeliharaan. g. Tidak ada toleransi genangan yang diijinkan. sebaran dan keberadaan saluran drainase kota atau sungai (penerima run-off utama). 41 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . e. berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika dilakukan pengamanan tertentu. Sampah Medis Bisa disebut pula sampah klinis yang berasal dari pelayanan medis. Zona instalasi pengolahan limbah cair direncanakan terpisah dan berjarak dari ruang fungsional lain mengingat suhu yang dikeluarkan. Model distribusi saluran tersebut adalah tegak lurus dan searah saluran kota ataupun sungai. h. 1. f. E. I. pemeliharaan dan pemantauan. b. Limpasan yang dibuang keluar kawasan rumah sakit dialirkan ke assainering disekeliling site. perawatan. Kriteria Desain Umum Pengelolaan Sampah Untuk kepentingan pengelolaan sampah secara garis besar dapat digolongkan dalam 2 (dua) jenis yaitu sampah medis dan non-medis. Ini berarti bahwa air hujan yang jatuh baik dari atap maupun yang langsung ke permukaan bumi langsung dimasukkan ke saluran air hujan. f. untuk memudahkan perawatan. dan perawatan yang menggunakan bahan beracun. Beberapa dasar perencanaan sistem drainase dan pengelolaan air hujan di lingkungan Rumah sakit adalah sebagai berikut : a.d. farmasi atau yang sejenisnya. Penerapan hirarki pada sistem jaringan dengan perkiraan dimensi yaitu : 1) Saluran pengumpul dengan dimensi 30x40 merupakan saluran tegak lurus saluran assainering kota penerima run-off yang berfungsi sebagai pengumpul dari saluran-saluran penerima. c. infeksius. Ini berarti bahwa diluar bangunan beratap sebisa mungkin berupa taman atau kebun. Hal yang perlu diperhatikan adalah menghindari perletakan sistem jaringan dibawah bangunan atau ruang fungsional kecuali pada ruang sirkulasi. Jaringan saluran air hujan terpisah dengan saluran air limbah. Komponen pendukung saluran drainase antara lain: gorong-gorong pada saluran menyilang terhadap jalan/selasar/sirkulasi dan sumur resapan air hujan (retaining well) dengan persyaratan struktur tanah tertentu. Kriteria Desain Umum Sistem Drainase dan Pengelolaan Air Hujan Target utama dalam perencanaan sistem drainase dan pengelolaan air hujan adalah mengalirkan air hujan yang ada secepat mungkin di lahan Rumah sakit sehingga tidak ada genangan yang terjadi. D. d. pengobatan. Memaksimalkan area tangkapan air hujan (capturing areas) dengan koefisien pengaliran (run-off coefficient) sekecil mungkin. Dimungkinkan ada saluran tertutup pada beberapa penggal yang ada dibawah bangunan. j. 2) Saluran penerima dengan dimensi 30x30 yang berfungsi menerima air hujan yang disalurkan talang dari atap tiap bangunan atau kelompok bangunan. Saluran distribusi yang direncanakan berada pada sekeliling bangunan sehingga tidak ada saluran yang crossing terhadap bangunan. Sumur resapan dibangun di bagian bawah jalan sehingga terhindar dari bongkar pasang akibat pengembangan bangunan. bau yang keluar dan getaran yang dihasilkan saat pengolahan. e. gigi. Dalam hal ini hanya ada 2 (dua) model distribusi yang berorientasi terhadap konfigurasi bangunan. Permukaan jalan dan parkir menggunakan aspal dengan kemiringan memadai. Selain itu bisa digunakan kombinasi material penutup yang ideal terhadap penyerapan air permukaan adalah grass block. Sistem distribusi saluran direncanakan sesederhana dan sejelas mungkin. Untuk mengurangi akibat dari hal diatas serta gangguan visual maka disarankan menggunakan elemen lansekap berupa tanaman rapat setidaknya setinggi 120 cm mengelilingi zona instalasi pengolahan limbah cair.

yaitu menggunakan smoke/ heat detector. Kriteria Sistem Pemadam Kebakaran Pada hakekatnya. karena pemikiran segi ekonomis. Kamar Intensif) dan tempat yang sekiranya mengundang resiko kebakaran. rawat inap. sayur dan lain-lain . fire estinguisher. Kriteria Desain Pengelolaan Mekanikal Elektrikal Secara umum pengelolaan mekanikal dan elektrikal di rumah sakit ditujukan untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit. sisa pembungkus.Aktivitas umum berasal dari pengunjung berupa kemasan makanan-minuman. dapat digunakan tabung pemadam kebakaran yang diletakkan stasioner pada tempat tempat yang penting (kamar operasi. Umumnya sampah non-medis berasal dari: . Mengamankan aktivitas dan pelayanan termasuk aset usaha c. pengelolaan mekanikal dan elektrikal disasarkan untuk: a. misalnya: dapur.Aktivitas laundry berupa pembungkus dan kemasan . laboratorium. sisa makanan/bahan makanan. Mendukung efisiensi waktu dan biaya Aspek tinjauan dalam pengelolaan mekanikal elektrikal adalah: a. sistem pengelolaan yang direncanakan untuk Rumah sakit adalah sesuai dengan Gambar berikut ini: Non Medis Dapur Seleksi basah atau kering Bin Pengumpul Kontainer TPA Kota Malang Umum Seleksi basah atau kering Bak Sampah Medis Seleksi menurut potensi bahaya Alat pengumpul Incenerator Sanitary Landfill offsite Bagan Sistem Pengelolaan Sampah ARSITEKTUR RUMAH SAKIT F. ruang diesel. Mempermudah aktivitas dan pelayanan b. Sistem Elektrikal e.Aktivitas halaman/kebun berupa sisa pembungkus. Namun. Sistem Tata Udara c. Penanganan terhadap bahaya kebakaran secara dasar disajikan pada Gambar berikut ini: 42 . daun ranting.2. sisa makanan Secara sistematik. debu . IGD. Sampah Non-Medis Merupakan buangan padat (solid waste) diluar sampah medis atau klinis diatas. Dalam format yang ideal. sistem penanggulangan kebakaran dapat diselesaikan dengan cara mekanis. hydrant dan Iain Iain. Sistem Gas Medik d. Sistem Komunikasi G.Aktivitas kantor administrasi berupa kertas dan alat tulis .Aktivitas dapur dan bagian gizi berupa sampah mudah busuk yang berasal dari penyiapan pengolahan dari penyajian makanan. Sistem Pemadam Kebakaran b.

selain karena lebih cepat. cara kerjanya juga lebih efisien. yang memberitahukan selain tanda adanya bahaya kebakaran. 1. juga menjadi peringatan bagi orangorang yang berada dalam bangunan untuk melakukan usaha pemadaman. sedangkan tindakan selanjutnya adalah usaha mengatasi/memadamkan kebakaran tersebut yang masih dikerjakan dengan sistem manual. Automatic Pada sistem ini. seseorang yang melihat atau mengetahuinya harus menuju ke signal box atau tempat-tempat umum lainnya. Bila suatu ketika terjadi kebakaran. Manual Dalam sistem ini. maka secara otomatis tanda bahaya kebakaran akan berfungsi. 43 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Adapun usaha pemadaman itu sendiri juga dilakukan dengan peralatan yang serba manual. Satu tarikan manual tertentu dalam box akan menyalakan seluruh tanda bahaya atau alarm yang dapat terdengar dari seluruh penjuru bangunan. maka dengan sendirinya pencegahan dan pengatasan bahaya kebakaran dapat berlangsung dengan cepat dan kemungkinan adanya perluasan area kebakaran dan akibat-akibatnya dapat dikurangi semaksimal mungkin. baik dalam mendeteksi bahaya kebakaran yang kemudian langsung memberikan tanda bahaya. Semi Automatic Sistem ini merupakan gabungan dari cara kerja Fire Protection sistem manual dengan Fire Protection sistem otomatis. Bangunan multi storey kebanyakan menggunakan sistem otomatis. bila terjadi kebakaran. Karena peralatan bekerja secara otomatis. yaitu mulai dari pengenalan adanya api sampai pemadamannya. 2. peralatannya bekerja secara otomatis. maupun dalam mengatasi/memadamkan kebakaran.Bagan Rencana Sistem Pemadam Kebakaran Yang dimaksud di sini adalah cara penanganan dan tindakan yang dilakukan dalam usaha-usaha perlindungan bangunan terhadap bahaya kebakaran. 3.

yaitu dengan mengupayakan beberapa sistem telekomunikasi operasional : a. Pendistribusian oksigen dikendalikan pada ruang sentraI atau ruang kontrol gas medik. misalnya sebagai pendingin.Fungsi Ruang Ruang Rawat Inap VIP Ruang Rawat Inap Kelas I dan II Kantor Lobby / Ruang Tunggu Coridor/Hall/Staircase Central Room/Ruang Kontrol Kitchen/Canten Ruang Genset Detector Smoke Detector Rate of Rise Detector Rate of Rise Heat Detectoe Rate of Rise Heat Detector Rate of Rise heat Detector Smoke Detector Fixed Temperature Detector Fixed temperature Detector Jenis Detector H. J. (c) kemudahan perhitungan pemakaian oksigen. dan ruang Iain yang membutuhkan sterilitas. Memperlancar distribusi O . (b) kemudahan distribusi untuk bangunan berjangkauan jauh. IGD. fungsi utama AC adalah: a. yaitu beberapa TBT yang dapat dipergunakan menjadi beberapa pesawat extension. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 44 . Pesawat telepon sentraI dengan sistem PABX. sedangkan sebagai pemanas. Ruang kontrol direncanakan perletakannya di antara bangunan medik sentral. Pengatur kelembaban 2 c. dan Instalasi Rawat Inap Kelas) melalui outlet.Sistem Paging dan Announcement (seleksi paging. . Ruang Bersalin (VK). khususnya ruang berkelas. K. Kriteria Sistem Telekomunikasi Di dalam menunjang kegiatan pelayanan di Rumah sakit. Pada instalasi rawat inap. melalui pipa bertekanan disalurkan ke ruang-ruang yang membutuhkannya (misalnya Ruang Operasi. maka pada skala pelayanan yang dituju Rumah sakit akan lebih optimal bila menggunakan AC split atau AC window. Kriteria Sistem Pengkondisian Udara Pengkondisian udara lebih ditekankan kepada fungsi pelayanan dengan tingkat sterilitas tinggi serta ruang dengan instrumen pendukung yang membutuhkan persyaratan suhu dan kelembapan tertentu. . Prinsip AC yaitu memindahkan kalor dari satu tempat ke tempat yang lain. yaitu: ruang operasi. Line audio untuk pengumuman dan radio. memindahkan kalor dari dalam ke luar ruangan. I. fungsi pengkondisian udara bertujuan untuk mencapai kenyamanan pada suhu udara dan kelembaban yang terkontrol. Line interkom sebagai penghubung antar instalasi dan antar nurse station c. Sistem Tata Suara Lingkup Pekerjaan . agar mempunyai komposisi ideal bagi pernafasan Untuk efisiensi. emergency. perlu adanya hubungan telekomunikasi yang baik.Kriteria Sistem Gas Medik Penggunaan sistem gas medik sentral ini memiliki beberapa keuntungan yaitu antara Iain: (a) efisiensi tenaga pengangkut tabung oksigen. public adress).Sistem Keadaan Darurat dan Evakuasi. memindahkan kalor dari sistem pemanas ke dalam ruangan. Sebagai pengatur suhu (pendingin atau pemanas) b.Sistem Back Ground Music. b. Dalam sebuah bangunan.

Nurse Station ditempatkan pada tiap lantai dimana masing-masing lantai menggunakan 1 nurse station . pengunjung maupun karyawan ataupun ruangan serta lokasi lain melalui video kamera. suara pasien ditangkap oleh speaker dan bisa didengar di pesawat nurse station.Emergency pull cord dipasang di tiap toilet dan dikoneksikan ke Ceiling Speaker . . .Ceiling Speaker Sub juga bisa difungsikan sebagai microphone. Sistem ini akan memonitor segala kegiatan yang terjangkau dengan kamera dan selanjutnya di tampilkan pada TV Monitor baik secara slide (kamera bergantian) maupun manual. Kriteria Perancangan dan Uraian Singkat Sistem .Kapasitas dari Nurse Station sesuai dengan jumlah Ceiling Speaker. dimana hasil gambar dapat diamati melalui TV Monitor Kriteria Perancangan dan Uraian Singkat Sistem a. suster juga bisa langsung menjawab permintaan pasien dengan langsung bebicara melalui handset nurse station. Sistem CCTV (Closed Circuit Television) Lingkup Pekerjaan adalah CCTV (Closed Circuit Television System) digunakan untuk membantu pengawasan kegiatan operasi .Corridor Lamp dipasang di depan kamar. distribusi dayanya sangat terbatas pada pemakaian maksimal yang diijinkan/ dilanggan.Dari masing-masing Ceiling Speaker Sub ditarik ke Nurse Station dengan 1 Ceiling Speaker Sub adalah satu tarikan menuju Nurse Station. yaitu : 1. M. Hal ini untuk memudahkan panggilan kepada Perawat apabila Pasien memerlukan tindakan medis.Nurse reset dipasang di pintu kamar dan dikoneksikan ke Ceiling Speaker. PLN (Perusahaan Listrik Negara). . Pasien dapat berkomunikasi 2 arah dengan perawat tanpa pasien harus menekan tombol (hands free). Peralatan Utama ditempatkan pada Ruang Security c. Aliran ini berasal dari jaringan yang dikelola oleh pemerintah. Misalnya jika jumlah speaker ada 20 buah (untuk 20 kamar) berarti kapasitas Nurse Station adalah 20 kamar. Pekerjaan Nurse Call Lingkup Pekerjaan Nurse Call digunakan untuk komunikasi antara pasien dengan perawat.Setiap lantai mempunyai sistem tersendiri yang terpisah dengan sistem yang berada di lantai lain.60 60 60 70 – 80 Asumsi Tingkat Kebisingan (Noice Level) pada ruangan L. . CCTV Camera ditempatkan pada posisi sesuai dengan perencanaan (lampiran) b. N. Kriteria Sistem Elektrikal Tenaga listrik yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di Rumah sakit dapat diperoleh dari tiga macam sumber tenaga. masing-masing kamar 1 lampu yang juga dikoneksikan dengan Ceiling Speaker.Ruang Ruang Pasien Kamar Rawat Hall & Coridor Ruang Operasi Umum Ruang Recovery Ruang X-Ray Toilet Gudang Utility Kantor Parkir Noise Level (dB) 40 – 60 40 – 60 35 – 45 40 – 60 40 – 60 40 – 60 40 – 60 40 . Oleh karenanya.Bed Side Call ditarik parallel ke Ceiling Speaker Sub . Dengan demikian bahaya gangguan dapat terdeteksi lebih dini sehingga dapat diambil tindakan – tindakan yang cepat dan tepat untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. . 45 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .

Memerlukan pemeliharaan yang konstan dan testing yang teratur. dan suara dari saluran pembuangan gas. yaitu: . kebisingan dan lain-lain. Keuntungan dari pemakaian sumber tenaga generator set adalah : .Pengadaan awal lebih murah dibandingkan dengan sumber tenaga lainnya.Adapun keuntungan dari pemakaian sumber tenaga PLN adalah : .Generator Set Sumber tenaga ini dikelola oleh pemilik bangunan dan merupakan fasilitas bangunan.Timbul akibat sampingan berupa kebisingan getaran.Sistem bahan bakar dan tempatnya. terutama untuk penerangan dan server komputer. Pada dasarnya.Mahal.Lamanya tenaga bekerja hanya dibatasi oleh ukuran tangki bahan bakar. .Lamanya terbatas .Tidak membutuhkan ruangan khusus untuk pengontrolan.Dapat dipasang pada sistem sentral dan didistribusikan melalui saluran dari baterai langsung melalui fasilitas yang ada.Kesulitan penyimpanan bahan bakar. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Ruang Ruang Pasien Kamar Rawat Ruang Pemerikasaan Ruang Operasi Umum Meja Operasi Ruang Recovery Ruang X Ray Hall & Coridor Kamar Mandi dan WC Gudang Utility Tangga Ruang Kontrol Kantor Parkir Iluminasi (Lux) 100 100 300 300 30000 . Kekurangan sumber tenaga generator set adalah : .Mesinnya sendiri dengan perlengkapannya. .Dalam operasional tidak membutuhkan biaya perawatan yang berarti. 3. . Baterai Baterai sering digunakan untuk mensuplai kebutuhan tenaga listrik dalam keadaan emergency yang terbatas. Kekurangan sumber tenaga baterai adalah : .52000 300 75 – 100 100 100 100 200 50 400 300 50 – 100 Standar Intensitas Penerangan 46 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . 2. . . . .Biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah bila diperhitungkan dalam jangka waktu yang lama. getaran. Keuntungan pemakaian sumber tenaga baterai adalah : .Tidak menimbulkan dampak yang merugikan seperti pencemaran.Ruangan sebagai wadahnya. instalasi mesin generator terdiri dari tiga kelompok.Tidak memerlukan ruangan sendiri yang terpisah . Beberapa unit ditempatkan pada individual cabinet atau pada rak untuk instalasi yang lebih besar dan selalu dilengkapi dengan peralatan automatic charging. .

dan justru terasa stagnan.BAGIAN 2 I BAB 12 PERENCANAAN FISIK DAN STRATEGI RUMAH SAKIT 1. Tujuan dan Sasaran Perencanaan Fisik Tujuan perencanaan aset fisik rumah sakit secara umum adalah untuk: 1. serta jangka pendek. Karenanya. Optimalisasi ruang untuk mengakomodasi fungsi yang ada sekarang maupun fungsi yang direncanakan mendatang ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 47 . layanan. bangunan. serta program stratejik. Secara umum dapat dikatakan bahwa ada 3 pendekatan dalam manajemen fisik. dimana diperlukan suatu rencana dari awal: masterplan. Optimalisasi fungsi. dikaitkan dengan pengembangan program pelayanan kesehatan maupun dengan manajemen rumah sakit secara keseluruhan. Sasaran penyusunan rencana pengembangan fisik rumah sakit secara umum adalah untuk: 1. selain masterplan. integrasi antara manajemen fisik rumah sakit degan manajemen strategis rumah sakit menjadi sangat penting. Pertama adalah pendekatan bagi rumah sakit yang belum ada atau belum beroperasi. maupun yang direncanakan mendatang 2. sekaligus sebagai kerangka dasar bagi pengembangan-pengembangan bangunan serta infrastruktur di lingkungan umahsakit 3. melainkan juga akan melihat rumah sakit sebagai sebuah asset properti. jangka menengah. menengah. yang dapat diandalkan baik dalam jangka panjang. Hal ini akan terkait secara erat dengan aktivitas. karena tidak adanya arahan pengembangan program-program serta fisik secara jelas. maupun infrastruktur. Oleh karenanya. hingga rancangan detail. baik yang ada sekarang. Di sisi lain. Kedua. Memperoleh keterpaduan antara rencana pengembangan program pelayanan kesehatan dengan rencana pengembangan fisik. Serta terakhir bagi rumah sakit yang telah menemui berbagai masalah dalam pengembangannya. Arti Penting Manajemen Rumah Sakit Ketiadaan masterplan juga mengakibatkan banyak sumberdaya yang tidak teralokasikan secara efektif dan efisien. maupun jangka pendek. Memperoleh arah pengembangan fisik. disadari bahwa masterplan yang komprehensif akan membutuhkan waktu yang lama dan sumberdaya yang banyak. Manajemen fisik tidak hanya berkaitan dengan arsitektur semata-mata. baik dalam kaitannya dengan lahan. Memperoleh dasar bagi pentahapan pengembangan fisik. yang kerap diperlukan adalah adanya suatu rencana pengembangan fisik jangka panjang. rencana fisik. dengan kondisi fisik (dan bisa jadi mempengaruhi layanan) yang memburuk. sekaligus menjadi acuan bagi pengembangan unit-unit di dalam rumah sakit dalam mengemban program pengembangan pelayanan kesehatan jangka panjang. yang dapat dijadikan arah pengembangan secara garis besar. adalah pendekatan bagi rumah sakit yang telah beroperasi dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut. 2. 2.

1999. Yogyakarta Copyright : PT. namun dengan upaya menghubungkan secara lebih efektif dan efisien fungsi-fungsi yang terkait dalam lingkungan Rumah sakit 4. Kerangka dan Konsep Kerja Dalam rangka pengembangan fisik rumah sakit untuk mencapai visi yang telah ditetapkan diperlukan suatu pendekatan komprehensif untuk menghubungkan berbagai strategi seperti terlihat dalam pendekatan berikut ini menurut kerangka yang dikembangkan dari diagram awal oleh Horak. Optimalisasi sirkulasi dengan mempertimbangkan jejalur sirkulasi yang telah ada. Masterplan Fisik Rumah Sakit Mata Dr. Global Rancang Selaras 3. 48 Komitmen Perencanaan Strategis Tata Aktivitas Tata Ruang Tata Massa Tata Sirkulasi Tata Konteks Kinerja Meningkat Pengembangan Fisik Bagan diatas menggambarkan strategi rumah sakit kedepan sangat mempengaruhi konsep fisik yang akan dikembangkan.3. serta performansi fungsional yang disandang oleh massa dan bentuk bangunan 5. Rencana Strategis yang saat ini sudah dimiliki biasanya akan dianalisis untuk penerjemahan menjadi program fisik. baik dari sisi fungsional-higiene. kekuatan konstruksional. Meningkatkan kualitas estetika. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Terjemahan Program dalam bentukan fisik .Yap. Menanggapi konteks dan lingkungan secara positif. maupun secara estetika-perancangan kawasan.

intensitas. dan distribusi sumberdaya lahan. bangunan. Penjabaran tersebut akan meliputi kegiatan-kegiatan sebagaimana berikut : . alur kerja yang lazim diterapkan adalah sebagai berikut : Strategis Fisik Kajian Performa RS saat ini Analisis Situasi Evaluasi Pasca Huni Gap antara performa dengan visi Benchmarking dengan Visi Analisis Optimalisasi fasilitas saat ini untuk mencapai visi Estimasi kapasitas dari rencana strategis yang ada Arahan rancangan fasilitas fisik Pemrograman Strategis untuk fisik Konsep pengembangan fasilitas fisik ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Prioritas pemrograman. penganggaran Tipe. kerangka ini akan dikembangkan bersama antara konsultan dengan para stakeholders yang terkait dalam pertemuan konsultatif di rumah sakit.Secara lebih rinci. infrastruktur 49 Dalam pelaksanaannya.

Kriteria perancangan dibutuhkan agar bangunan beserta lingkungannya secara guna (fungsional) dan citra (konsep estetika. ekspresi) mampu mencapai target yang telah disepakati bersama. kriteria-kriteria yang digunakan antara lain: ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Kriteria Umum Perancangan Kriteria perancangan merupakan pertimbangan umum termasuk normatif standar yang mendasari proses perencanaan dan perancangan rumah sakit. Untuk mengakomodasi berbagai tuntutan aktivitas yang ada. dalam hal ini kriteria perancangan menjadi alat ukur (benchmark).50 4.

Arsitektur yang baik Kriteria yang digunakan: .1.Mudah merespon perubahan penggunaan .Penggunaan energi . Fungsional Kriteria yang digunakan: Masterplan Fisik dan perancangan Rumah Sakit 'Asyiyah.Standar dan hubungan ruang .Pentahapan dalam perencanan.Penggunaan ruang Masterplan Fisik Rumah Sakit Ngesti Waluyo. .Memenuhi persyaratan Panduan Bangunan Rumah sakit . Fleksibel . Global Rancang Selaras .Privasi Pertimbangan umum pada: . tahap konstruksi atau pembangunan masa datang 5. Parakan Pertimbangan umum pada: Copyright : PT.Sosial .Kenyamanan .Bangunan terorganisasi dengan baik 4.Fleksibilitas untuk berubah 3. Arsitektur yang baik Kriteria yang digunakan: . Fungsional Kriteria yang digunakan: .Taraf hidup . Klaten Copyright : PT.Privasi Pertimbangan umum pada: . Aspek Efisiensi Kriteria yang digunakan: .Lingkungan pengobatan 6.Pemisahan .Biaya pemeliharaan . Aspek Ekonomi dan Berkesinambungan Kriteria yang digunakan: .Berdasar standar ruang yang ada.Pergerakan orang dan distribusi barang .Standar dan hubungan ruang .Pemisahan .Taraf hidup . Memenuhi standar bangunan kesehatan Kriteria yang digunakan: .Kenyamanan .Estetika 7.Hubungan antar fungsi .Estetika 51 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Dapat berkembang sesuai kebutuhan .Memenuhi persyaratan standar teknis bangunan Rumah sakit 2.Desain yang menekan biaya operasional .Pemeliharaan murah Pertimbangan umum pada: .Sosial . . Global Rancang Selaras .Bangunan ekonomis .Lingkungan pengobatan 8.

Bali.Selain itu perencanaan dan perancangan fisik fasilitas kesehatan juga perlu didasarkan pada kualifikasi fasilitas pelayanan kesehatan yang secara diagramatis disajikan pada diagram berikut ini : Rumah Posyandu Perawatan di rumah Farmasi Toko Obat Perawatan sendiri Pengawasan Perawatan Otomatis Informasi dan bimbingan Pengarahan Pelayanan Kesehatan Negara Pusat pelayanan kesehatan dan sosial 10 km dari rumah Balai Pengobatan RSIA. Tabanan. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . RSB Pusat Kesehatan Masyarakat Perawatan Sosial Perawatan Utama Perawatan Luar Jangkauan Informasi dan bimbingan Pusat pelayanan umum 100km dari pusat komunitas Rumah Sakit Rujukan Rumah Sakit Umum Daerah Pelayanan diagnosis awal Perawatan segera Kecelakaan kecil Perawatan pasien inap oleh perawat Rehabilitasi intensif Manajemen pelayanan kronis Pusat pelayanan khusus 250 km dari pusat kota Rumah Sakit Umum Pusat Perawatan Sekunder Perawatan Tersier Perawatan terencana Perawatan darurat Diagnosis kompleks Perawatan dan pengobatan pasien inap 52 Masterplan RSUD Tabanan.

Fasilitas Fisik dalam Perspektif Strategis dan Perspektif Bisnis .Program Fasilitas Fisik (Facility Program) a. Tata Ruang .Analisis Aspek Teknikal .Analisis Aspek Fungsional .Hubungan Antar Aktivitas b. terdiri dari : 1.Sistem Intensitas Bangunan . Tata Aktivitas .Sistem Ruang Terbuka Hijau d.Analisis Aspek Transportasi dan Sirkulasi . Produk Dalam pelaksanaannya.Kegiatan Non Medis b.Pengembangan Rancangan (Design Development) 3.Analisis Aspek Guna Lahan dan Zoning b.Pembiayaan dan Pentahapan . Rencana Anggaran Biaya (Cost Estimation).Sistem Aktivitas .Performansi Kuantitatif dan Kualitatif Bangunan B. produk masterplan fisik hingga pada rancangan yang dapat dilaksanakan/konstruksi akan meliputi hal-hal berikut: A.Analisis Aspek Lokasi .Jumlah dan Besaran Ruang . Analisis Lahan .Pengelolaan dan Kelembagaan 3. Rencana Induk Pengembangan Fisik (Physical Masterplan) Terdiri dari : 1.Karakteristik Ruang Masterplan Fisik Rumah Sakit Pendidikan Lampung Copyright : PT. Tata Sirkulasi . Program Kegiatan .Penempatan dan Pengelompokan Ruang .Layanan Medis dan Penunjang Medis .Analisis Infrastruktur On-Site 2. Tata Massa Masterplan Fisik Rumah Sakit Pendidikan Mataram Copyright : PT. Rancangan Rumah Sakit.Rencana Pukal dan Pentahapan (Block Plan and Phasing Plan) a. Analisis Bangunan . Global Rancang Selaras .Analisis Aspek Behavioral c.Sistem Ruang Fungsional . Analisis Infrastruktur Masterplan Fisik Rumah Sakit Pendidikan Brawijaya Copyright : PT.Konsep Rancangan dan Prarancangan (Design Concept & Predesign) 2.Program Pengelolaan .Sirkulasi Internal c.5.Sirkulasi Eksternal dan Parkir . Global Rancang Selaras .Desain Pelaksanaan dan Gambar Kerja (Detailed Engineering Design dan Working Drawing). Program Ruang . Global Rancang Selaras c.Analisis Infrastruktur Off-Site . Rencana Kerja dan Syarat-syarat (Performance Spesification) 53 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Karakteristik Pelaku . Hasil Analisis Purna Huni (Post Occupancy Evaluation) a.

Adanya pemisahan akses antara pasien dengan perawat/ dokter.BAGIAN 2 I BAB 13 PERENCANAAN FASILITAS RUMAH SAKIT 1. 2008 54 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Dimensi tempat tidur menjadi pertimbangan yang penting dalam merancang ukuran ruang.ruangan dengan banyak bed jarak antar bed 2.Secara fungsional mempunyai hubungan langsung dengan unit ICU. Pelayanan Pasien Dalam Rumah Sakit / Inpatient A. dengan tiap-tiap persyaratan fasilitas yang memadai. . Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Gawat Darurat Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras. 25% dari jumlah keseluruhan bed merupakan single bed.Adanya pemisahan antara tindakan untuk pasien bedah dan non bedah. meliputi kasus bedah (traumatologi dan terkait dengan organ tubuh bagian dalam) dan non bedah (penyakit dalam. meskipun maksimal yang dianjurkan adalah 30 bed. Tata letak dan persyaratan ruang: . anak dan syaraf). Paling tidak. Berbeda dengan bagian Ibu dan rawat Anak dengan jumlah maksimal 20-25 bed. 2 meter.4 meter. .Pembentukan ruang-ruang yang dimungkinkan untuk digunakan sebagai ruang observasi dan ruang resusitasi. Diagnostik.Keseluruhan ruang dan alat ditetapkan untuk digunakan selama 24 jam. Fleksibilitas ruang diarahkan pula terhadap terjadinya bencana masal sehingga memungkinkan ditampung di IGD . IGD mempunyai akses langsung dengan IKB . Ukuran Umum Jumlah bed pada unit ini tidak boleh melebihi 35 bed.Pada kasus ibu melahirkan. . dan Kamar Bedah. . serta kemudahan akses dengan Unit Rawat Inap. jarak minimal adalah 1. Untuk alasan kesehatan.Mudah dicapai dan terlihat jelas dari area eksternal Rumah sakit . Instalasi Gawat Darurat Fungsi Memberikan pelayanan kesehatan karena kondisi gawat darurat dan memerlukan penanganan cepat dan tepat.

Pasien yang mengeluarkan suara gaduh .9 cm x 121. Persyaratan Luas Ruang untuk Instalasi Rawat Inap -Standar luas ruangan sesuai ketentuan adalah : .Barrier nursing.4 cm x 152. . 2.Ruang perawat terhadap ruang pasien harus sedekat mungkin sehingga memudahkan jangkauan .Setiap nurse station maksimum melayani 25 tempat tidur. sehingga kedua sisi di samping tempat tidur pasien memiliki lebar masing-masing 76. handrails harus diberikan pada koridor.Lebar pintu antara 116.Pasien atau penyakit dan pengobatan yang menimbulkan bau.Luas ruang klas II : 12 m² / tt . untuk mengurangi penyebaran melalui udara dengan cara mengeluarkan bakteri dari kamar penderita dan pada isolasi protektif yang membebaskan kamar penderita dari bakteri yang ada diluar kamar. . Penempatannya berada pada area dengan tingkat privasi dan ketenangan yang tinggi dan memiliki akses pencapaian yang mudah dengan zona bedah dan zona penunjang medis. Sebuah kursi roda juga dapat digunakan dalam area 121.8 – 121. .Khusus rawat inap ibu-anak akan berada pada kelompok ruang yang terpadu dengan VK dan terpisah dengan rawat inap infeksius maupun penyakit dalam atau degeneratif. . Kualifikasi Ruang untuk Instalasi Rawat Inap . Tata letak dan persyaratan ruang: 1.Pasien yang menderita penyakit menular.Adanya pengelompokan ruang sesuai kelasnya. di lain kondisi penambahan peralatan unit servis perawatan akut.9 cm .Luas ruang klas I : 24 m² / tt .9 cm adalah jarak standar untuk dapat mengakomodasi tempat tidur pasien standar (121 cm x 99 cm). dirawat pada "single room" atau isolator plastik untuk mengurangi penyebaran melalui udara atau dari penderita .Lebar minimum area tempat tidur pasien 251.Luas ruang khusus bayi : 6 m² / tt ..B. dan dari koridor ke ruang rawat setiap saat .Sinar matahari pagi diupayakan dapat masuk ke dalam ruangan.5 cm.Pemisahan penderita infeksius. . .Khusus untuk pasien tertentu harus dipisahkan seperti : .2 cm. .Memaksimalkan terhidarnya kontaminasi didalam ruang rawat inap infeksius dengan menjaga aliran udara dari anteroom menuju ke ruang pasien.Ventilasi mekanik di ruang rawat inap isolasi.Kamar mandi untuk perawatan jangka panjang seharusnya dirancang untuk menggunakan peralatan yang dapat mengangkat pasien. Lift hidrolik tempat mandi (bath up) merupakan pertimbangan investasi kesehatan yang baik. Instalasi Rawat Inap Fungsi Disediakan untuk memfasilitasi pasien yang harus menginap di Rumah sakit dalam tahap kuratif dan rehabilitatif dengan perawatan intensif 24 jam. yaitu prosedur perawatan khusus untuk mengurangi penyebaran infeksi melalui kontak langsung/perawatan . .Luas area depan pintu 152. 55 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . .4 cm untuk mengakomodasi pemakai kursi roda. dengan tujuan agar lebih dapat memastikan tingkat penyampaian mutu pelayanan.Tersedia tempat cuci tangan bagi perawat atau dokter didalam ruangan rawat inap infeksius (isolasi) dan fasilitas km/wc sendiri di dalam ruangan .Harus memenuhi ketentuan untuk akses orang cacat seperti pada bagian untuk komplemen dari batang pegangan dan rel pada area toilet dll.Luas ruang klas III : 12 m² / tt . dan terletak pada daerah yang mudah terjangkau dengan arah orientasi kepada kamar-kamar pasien.

. papan monitor dengan perlengkapan outlet. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Instalasi Rawat Intensif (ICU) Umum / fungsi ICU juga dikenal sebagai Intensive Therapy Unit ( I. dan bergantung pada apa yang disebut Statement of Function 56 Zonasi fungsi pada Instalasi rawat Intensif: Zonasi dibagi menjadi : a.Tingkat kebersihan lantai untuk ruang perawatan isolasi 0-5 kuman/cm2.operasi .Luka bakar dan spesialis atau penyakit khusus Pengembangan fasilitas perawatan intensif dapat berbeda dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.Terakomodasi panel kontrol untuk ruang rawat pasien. 2008 C.T. nurse station terutama bagian yang langsung berkaitan dengan keperawatan. . dalam menangani beragam tipe penyakit. tombol tanda alarm. stop kontak bawah.) . Jenis utama yang ditangani sebagai berikut: . . Tingkat Kebersihan dan Mutu Udara untuk Instalasi Rawat Inap . Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Gawat Darurat Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.U.Penyakit anak-anak dan neonatal .Perawatan serangan jantung (ccu = coronary care) . . lampu atas tempat tidur dan lampu tarik-ulur.Angka kuman ruang perawatan isolasi kurang dari 700 koloni/m3 udara dan bebas kuman pathogen alpha streptococus haemolitius.Daerah steril yang terdiri dari ruang perawatan ICU / ICCU.Mutu udara memenuhi persyaratan untuk tidak berbau (terutama H2S dan Amoniak). Panel-panel tersebut meliputi katub gas atau oksigen.Daerah non steril / ruangan umum yang tidak berkaitan langsung dengan perawatan intensif. terdiri dari fungsi-fungsi penunjang baik medik maupun non medik. jam digital. rumahan untuk panggilan perawat.Kadar debu tidak melampaui 150 ug/m3 udara dalam pengukuran rata-rata 24 jam. b. 3.

Pipa air f.Untuk membantu staf pengamatan atas pasien di dalam ruang tidur atau pasien tunggal menginap. 57 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . ditempatkan untuk dapat memastikan kondisi pasien tanpa halangan dari pos perawat.Gedung harus terletak pada daerah yang tenang. .Setiap tempat tidur harus mempunyai akses secara visual. . Jika memakai partisi. Bahaya api b.Masing-masing area tempat tidur pasien akan mempunyai ketetapan untuk privasi visual dari pengamatan pasien dan pengunjung lain . Suhu dan Kelembaban pada Ruang perawatan intensif: .Direkomendasikan ketetapan minimum tempat tidur untuk ICU adalah 5. selain sinar matahari alami. Kabel monitor . . . Ventilasi c.Letaknya berdekatan dengan area unit bedah atau berada dalam satu zona Medik Sentral serta mempunyai hubungan langsung dengan radiologi.Radiologi ( pelayanan sinar x). Exhausts fan e. Direkomendasikan maksimumnya hingga 15. .Pencahayaan yang cukup dan adekuat untuk observasi klinis dengan lampu TL day light 10 watt/m2. . Komunikasi g.Mempunyai pendingin ruangan/AC yang dapat mengontrol suhu dan kelembaban sesuai dengan luas ruangan. jendela pengamatan.Penempatan ICU/UGD akan memudahkan pengaksesan ke dan dari Penanganaan Kecelakaan. . pasien diharuskan melihat ruang luar tidak lebih dari dua panel kaca yang terpisah. Semaksimal mungkin adalah 10.Harus tersedia pengatur kelembaban udara. .Patologi (pelayanan analisis darah).Ruang Operasi. laboratorium.Tata letak dan persyaratan ruang: .Penghawaan udara menggunakan penghawaan buatan berupa air conditioner (AC). IGD dan rawat Inap .Aliran listrik tidak boleh terputus. AC d. . . Jarak dari tempat tidur pasien terhadap jendela tidak kurang dari 15 meter.Fasilitas panggilan pelayanan staf ini harus tersedia pada setiap tempat tidur untuk penanganan cepat Persyaratan Pencahayaan. Suhu 22º–25º kelembaban 50–70%.Temperatur ruangan harus terjaga.Akses. terhadap lingkungan/ ruang luar yang tidak kurang dari satu jendela setiap ruangnya.Terisolasi dan mempunyai standar tertentu terhadap: a. Bakteriologis h.Harus bebas dari gelombang elektromagnetik dan kedap getaran. seharusnya dapat disediakan. Desain dari unit juga memperhatikan privasi pasien. Jendela dan akses tempat tidur menjamin kenyamanan pasien dan personil. .Harus ditunjang dengan jaringan gas medic .

Ketentuan tempat tidur Jumlah tempat tidur pada ICCU akan sama dengan ICU pada umumnya. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 58 . Dimana 5 tempat tidur dikombinasikan ICU/ICCU yang tersedia. Tata letak dan persyaratan ruang: .unit perawatan yang berintegrasi di dalam sebuah rumah sakit umum. Ini adalah pilihan bahwa tiap pasien Cardiac punya kamar terpisah atau kamar berukuran kecil untuk privasi dari penglihatan dan pendengaran. walaupun 2 tempat tidur dalam 1 kamar diperbolehkan. . Open plan pada layout tempat tidur tidak dapat diterapkan. . Tidak pada tiap Rumah Sakit dapat atau harus menerima Pediatric Intensive Care Unit yang terpisah. E. Rasio antara pasien dan rasio tidak lebih dari 4:1. Pasien pediatrik yang kritis.Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi rawat intensif Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.Multiple equipment display Peralatan untuk memonitor pasien Cardiac harus mempunyai ketentuan untuk penglihatan visual pada tempat tidur dan pusat pelayanan. bentuk perawatan segera dan kritis. mempunyai kebutuhan fisik dan psikologi yang unik. . Unit Penyakit jiwa Umum / Fungsi .Toilet Tiap pasien Cardiac harus dapat mengakses bagian dari WC.unit perawatan yang berdiri sendiri atau unit perawatan yang berupa kelompok. paling tidak 2 harus didalam kamar-kamar. kamar atau kamar berukuran kecil. Minimum 50% dari pasien ICCU harus diakomodasikan dalam pasien ruang singlebed. . dari neonates sampai adolescent. Instalasi Rawat Intensif Koroner/ ICCU Fungsi Pasien Cardiac punya kebutuhan khusus.sebagai tambahan pada standar ICU diatas.beberapa dari ruangan pasien yang dijadikan ruangan tambahan untuk unit perawatan penyakit akut. 2008 D. berikut ini yang diperlukan dalam Coronary Care Unit (CCU). jarak tempuh tidak boleh lebih besar dari 15m dari tempat tidur sampai ke fasilitasnya.

Sekurangkurangnya 50% tempat tidur sebaiknya diletakkan di dalam single bed rooms. Perlindungan earth leakage (kebocoran) terhadap sirkuit listrik dan temper proof outlets harus disediakan di dalam fasilitas penyakit jiwa. Unit perawatan atau bagian unit perawatan yang aman. 59 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .hak-hak legal pasien . kamar-kamar eksklusif. harus disediakan untuk situasi darurat. dinding. Keselamatan dan Hak-hak Pasien Mempertimbangkan hal-hal di bawah ini ketika menentukan level perlengkapan/syarat keamanan di dalam fasilitas penyakit jiwa: . Ukuran minimum kamar. Untuk tambahan. Pertimbangan harus diberikan pada proses pengaktifan system alarm oleh staf. (seperti balkon. Single bed room – 10.keselamatan pasien dan staf .Tata letak dan persyaratan ruang: Keamanan. Four bed room – 30 m2 .5 m2 d. . Pemilihan door hardware harus menyediakan jaminan keamanan pasien dengan penggunaan yang mudah oleh staf. meja. pencahayaan yang tahan terhadap vandalisme. seperti polycarbonate dan lain-lain. . Ini untuk memastikan penahanan situasi bahaya yang potensial dengan beberapa pasien.status rumah sakit Unit perawatan penyakit jiwa harus mempunyai perlengkapan/syarat keamanan umum pada Unit Perawatan Penyakit Akut. . tapi tidak diharuskan. khususnya pada situasi darurat.Security and Glazing Semua jendela dan panel-panel observasi harus dipasangi dengan kaca yang aman atau material alternatif lainnya yang sesuai. alcoves (ruang kecil di dalam suatu kamar). dan lain-lain) harus dicegah. plafond dan penetrations – pintu dan jendela) untuk memastikan penahanan yang disebutkan di atas. Fasilitas harus merupakan tempat isolasi aman yang bisa dikunci. seperti tombol tekan digital di lokasi darurat sebagai pengganti sistem pengaktifan dengan kunci.Jumlah Tempat Tidur Jumlah maksimum tempat tidur di dalam unit perawatan penyakit jiwa sebaiknya 30.5 m2 c. dan lain-lain. peralatan mekanikal yang dipasang di lantai dan lain-lain adalah: b.Acoustic Privacy Akustik ruang harus dipertimbangkan dan diakomodasi dengan baik. walaupun hanya terdapat satu Ruang Pengasingan per unit perawatan. Two bed room – 17. Ketika fasilitas penyakit jiwa terletak di dalam bangunan bertingkat tinggi. lemari. harus mempunyai suatu kesatuan barrier yang tahan (lantai. seperti bahaya pada staf dan pasien lain (penyerangan) dan terhadap pasien sendiri (bunuh diri).Kamar Pasien Kamar pasien harus mengikuti standard berikut: a. di dalam area demi area dan sebagai sebuah unit perawatan yang lengkap. atap. konstruksi dan perabot harus menyediakan perlindungan dari self injury dan kerusakan properti seperti pergeseran door handles. bergantung pada level perlengkapan/syarat. Pengaktifan bisa dari call points yang tersembunyi yang cocok atau transmitter personal yang bisa dipindah. Akses langsung bisa dipilih. built in robes. masing-masing dengan akses menuju fasilitas kamar pasien yang lain. akses menuju ruang luar di atas ground level.

tetapi tidak diharuskan. .Koridor Variasi dari lebar minimum koridor bergantung pada : a. Dalam hal ini. tiap pasien sebaiknya mempunyai akses menuju kamar pasien.5 m ruangan terpisah bagi tiap pasien untuk kegiatan terapi 2 dengan minimum total area 20 m . . work tops c. dan satu ruang lainnya digunakan untuk 'noisy activities'. Fungsi yang diakomodir. displays 60 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Bisa dilakukan. bahwa kamar pasien bisa diakses langsung dari kamar-kamar pasien yang lain dan tidak melalui area koridor umum. Kelengkapan tersebut akan dapat menunjang perlindungan dari perlukaan pada diri sendiri dan kerusakan properti. Hal ini dilakukan untuk menghindari pasien merasa bahwa mereka 'selalu diawasi'. . handwashing b. sebuah pantry berdampingan dengan area makan juga harus disediakan. dapat berada di luar unit psikiatri dengan catatan bahwa dibuat akses yang baik untuk perlengkapan tersebut sebagaimana dibutuhkan. Ruang tersebut harus menyediakan area untuk : a. Ruang ini dapat digabungkan dengan 'quite space' seperti disebutkan di atas. . tapi harus dapat di akses dengan mudah ke unit tersebut. harus disediakan. b. Ruang tersebut digunakan untuk ruang makan. Ukuran dan kebutuhan pantry akan bergantung pada fasilitas yang direncanakan . atau toilet terpisah dan kamar mandi.Cermin.Pemeriksaan dan Perawatan Minimal 1 ruang pemeriksaan dan perawatan harus tersedia untuk setiap 30 bed unit rawat psikiatri. Kelengkapan peralatan untuk menggunakan fasilitas tersebut. Dilengkapi pula dengan kunci-kunci yang dikontrol oleh staf rumah sakit. . Ruangan ini dapat menggunakan fasilitas bersama dengan unit perawatan lainnya. Kaca-kaca harus dari kaca yang aman atau bahan lain yang cocok yang tahan dan konstruksi yang tahan pecah atau tidak mudah hancur. . Area tersebut ukurannya 3. · Pada Unit Perawatan Penyakit Akut. Jendela observasi diluar area pasien dapat digunakan jika pengaturannya tetap mengkondisikan file-file pasien tidak dapat dibaca dari luar 'charting space'.Group Therapy Ruang bagi kelompok terapi harus tersedia.Jendela Pada bagian jendela yang dapat dibuka.7 m2 untuk tiap pasien dan ukuran ruang minimal seluas 21 m2 .Occupational Theraphy 2 Tiap unit psikiatri harus memiliki 1. satu ruang digunakan untuk 'quiet activities' . Tambahkan 1. 'charting area' harus disediakan dengan persyaratan privasi akustik dan visual yang memadai. memiliki fitur keamanan/elemen-elemen pengamanan yang efektif seperti jendela-jendela sempit yang tidak memungkinkan pasien untuk lari.Nurse Station Harus ada 'nurses station' sehingga staf yang bertugas dalam aktifitas rutin dapat mengawasi pasien secara berkala.75 m2 untuk tiap pasien dengan ukuran ruang minimal 12 m2 tiap ruang..Ruang sosial ( Ruang-ruang Harian ) Setidaknya terdapat 2 ruang sosial yang terpisah harus disediakan. Lokasi dalam unit psikiatri tidaklah esessial.5 m2 per pasien untuk kebutuhan area makan. . kursi roda dan lain sebagainya. Elemenelemen estetis sebisa mungkin dikurangi pada bagian ini. gudang d. Ruangan bagi kegiatan terapi membutuhkan penambahan ruang seluas 0. serta tertutup untuk kebutuhan privasi.Gudang Perlengkapan Ruang gudang untuk troli.

dan lain sebagainya. Fasilitas lengkap yang harus disediakan untuk Birth/Preparation Room (Ruang persiapan kelahiran) adalah sebagai berikut: 1. penyesuaian. serta mempunyai hubungan langsung dengan Instalasi Rawat Inap khususnya IRNA Kebidanan. melarikan diri. . dan peletakan pintu dimana pintu tersebut paling kecil pengaruhnya terhadap ruang. Laboratorium. peletakkan jendela dan perawatan jendela harus lebih diperhatikan dalam hubungannya dengan lokasi peralatan dan servis. ruang resusitasi bayi (neonatal) dan ruang penunjang lainnya. Akses untuk membantu berupa ensuite adjacent (ruang dalam ruangan tersebut yang berbatasan langsung dan merupakan fasilitas untuk pengguna ruangan tersebut) 61 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . dibutuhkan 1 m2 tiap pasien tambahan pada total luas area. Oleh karena itu. yaitu normal dan persalinan khusus. Radiologi. termasuk tempat tidur dan kursi kelahiran sangat tergantung pada berapa dimensi ruang tersebut. . Ruangan yang ada dapat difungsikan sebagai ruang harian ataupun ruangan bagi satu pasien saja. Ruangan tersebut harus berlokasi di tempat yang memungkinkan adanya pemantauan secara langsung dari staf perawat. dan konstruksi harus mengikuti kaedah ketentuan unit perawatan : Keamanan. . sebaiknya dilakukan penambahan luas lantai. Jika ruangan tersebut memiliki jendela.Birth Preparation Room Setiap Birth/Preparation Room (Ruang persiapan kelahiran) didesain untuk single occupancy (satu kepemilikan).Area terapi dapat mengakomodasi lebih dari 1 unit perawatan. Dengan kata lain. Servis yang berada di ujung atas tempat tidur. Seclusion rooms dimaksudkan untuk ditempati dalam jangka waktu pendek oleh pasien yang menjadi korban bunuh diri.Ruang Terpisah (Seclusion Rooms) Di dalam unit perawatan kejiwaan harus ada ruangan terpisah untuk pasien yang membutuhkan keamanan atau perlindungan. Penyelesaian. Memerlukan tingkat ketenangan yang tinggi. menghindari adanya tirai yang panjang di jendela. terluka maupun bunuh diri. Konstruksi dan perencanaan harus dilaksanakan dengan matang untuk mencegah adanya pasien yang sembunyi. Ukuran ini adalah ruangan tanpa jendela. penggunaan ruang semaksimal mungkin. Jarak 3900 mm disini adalah jarak dari ujung atas tempat tidur sampai ke dinding seberangnya. Peletakan pembalut dan trolley pengobatan 4. Pintu harus terbuka dan memungkinkan untuk perawat melakukan observasi terhadap pasien dengan tetap memperhatikan privasi dari pasien tersebut. dengan tetap menekankan optimalisasi. Unit Kamar Bersalin (VK) Fungsi Memiliki akses langsung yang mudah dijangkau dan akses langsung ke zona penunjang medik serta rawat inap kebidanan. ICU. Tata letak dan persyaratan ruang: . Penentuan peralatan. dan Kamar Bedah.Ruang bersalin harus mengelompokkan pasien sesuai dengan jenis persalinannya. Ruang dengan ukuran 4000 x 5000 mm sangat direkomendasikan. baik elektrikal maupun mekanikal 5. Grafik dari rekam medik 3.Kamar bersalin harus dekat dengan Instalasi Gawat Darurat. dengan dimensi minimal 3900x4800mm. F. Keselamatan. dan Hak Pasien. Ketika unit perawatan psikiatri memiliki kurang dari 16 kamar. Persiapan dan relaksasi pasien selama proses kelahiran labour 2. Misalnya. Meliputi ruang bersalin (VK). fungsi area terapi dapat diwujudkan dalam area bagi aktivitas yang menyebabkan kebisingan.

yaitu ruang yang digunakan untuk pengumpulan maupun pembuangan dari material-material yang kotor. Sebuah ruang kerja kotor. tempat sampah (salah satu alat untuk persiapan membuat teh). Penggunaan intercom 10. Prosedur waktu (jam) 16. Sebuah ruang supplai bersih disediakan untuk keperluan penyimpanan dan distribusi dari supplai yang steril dan bersih. Sebuah ruang penyimpanan yang kecil sekalipun masih perlu yang dilengkapi dengan perlengkapan kebersihan. Control/Nursing Station (Pusat Kontrol dan Kerja Perawat) Berlokasi di tempat dimana observasi lalu lintas rumah sakit terutama jalan masuk dan keluar Birth Suite (Ruang Kelahiran). persiapan. Warna-warna yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga tidak timbul perubahan persepsi warna oleh pengamat. dan distribusi obat-obatan yang dapat dikontrol. sang ayah. tempat penjualan minuman.· - - - - - 6.. atau di perlengkapan kebersihan (clean utility). Ruang untuk penambahan peralatan jika dibutuhkan (termasuk infant incubator. untuk menciptakan dekorasi yang 'home-like' atau senyaman rumah tinggal). 62 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Clinical Hand washing (hands off scrub up basin) 18. Hak pasien atas privasi dan penghargaan harus dihormati. seperti di ruang perawat. dan kursi yang nyaman. dan staf. selain itu juga harus tahan terhadap detergen yang kuat. Pemberian Analgesics (Obat penahan sakit) 12. demi kenyamanan ruang tunggu tersebut. dapat di dibuat menyatu dengan fasilitas maupun perlengkapan yang lebih besar. Patient's and Father's Lounge (Ruang tunggu pasien dan ayah) Terletak dengan nyaman menuju Control/Nursing Station (Pusat Kontrol dan Kerja Perawat) untuk komunikasi antara pasien. dibutuhkan gas yang digunakan untuk operasi medis dan listrik 14. Task Lighting ( Examination/Minor Lighting) yaitu lampu untuk bekerja 13. Area untuk pengantaran tempat tidur 11. terutama jika dapat menghadirkan suasana yang 'home-like' –seperti rumah sendiri. Pembuangan linen kotor dan air kotor 15. Penggunaan Nurse Call 7. Fasilitas yang lebih besar sebaiknya memiliki akses langsung menuju unit ataupun ruang penyimpanan suplai steril(steril supply). Akustik untuk privasi level tinggi 19. Perlengkapan Kotor (Dirty Utility) Ruang kerja kotor dibutuhkan pada ruang kelahiran.) 17. Sebuah jendela menghadap keluar juga sangat diharapkan. Toilet. telepon. Penggunaan Staff Assistant Call 8. dll. Ruang untuk suami/istri Perhatian pada level desain interior juga sangat penting. harus disediakan. Finishing harus dipilih agar dapat memberikan kemudahan dalam membersihkan. Perlengkapan Bersih (Clean Utility) Sebuah ruang kerja yang bersih dibutuhkan pada ruang kelahiran. Baby Resuscitation (Gases. mobile infant overhead heater. Tirai pada pintu masuk bisa dipertimbangkan. Penggunaan telepon 9. Sterile Supply Akses menuju suplai dari peralatan yang telah steril dan dapat langsung digunakan. Unit Kesehatan dari WA dapat membantu memberikan informasi tentang warna dinding dan lantai yang cocok. Ruang Pendistribusian Obat (Drug Distribution Station) Sebaiknya dibuat untuk penyimpanan. fasilitas untuk membuat teh. power) yaitu saat dokter berusaha membuat bayi sadar atau agar bayi bisa bernafas lagi. televisi. Setelah semua hal di atas tersebut.

- - - - - - - - - - - - Ruang ini sebaiknya ditambahkan atau berada di dekat ruang perlengkapan kotor(dirty utility room). Conference/Handover Room Bergantung pada besar kecilnya ukuran dari ruang melahirkan. Tempat/Ruang penyimpanan Peralatan Sebuah ruang untuk peralatan dan persediaan (supplies) dibutuhkan pada ruang melahirkan. dan perlengkapan untuk pergerakan/perpindahan lainnya. Nursery (Ruang Bayi) Apabila lokasinya jauh dari ruang ibu (maternity ward). Formula Preparation Room Digunakan untuk melayani ruang bayi. Staff Lounge Fasiltas lounge untuk staf obstetris sebaiknya disediakan pada fasilitas ruang kelahiran yang besar. melakukan beberapa tes. Intensive Care (Obstetric) Fasilitas ini sangat dibutuhkan untuk penggunaan obstetric (obstetric use). Stretcher/Trolley/Equipment Park Perlu disediakan suatu ruang untuk penyimpanan stretchers(tandu). dan area untuk memisahkan barang-barang yang bersih dan kotor. dan juga diperlukan apabila ruang kelahiran jauh dari ruang ibu (maternity ward). Ruang untuk Pembersih (Cleaner's Room) Ruang untuk pembersih yang secara eksklusif digunakan oleh ruang melahirkan sebaiknya disediakan. Alternative Birthing Unit Unit ini merupakan unit yang berbasis bidan (mid wife based) yang memungkinkan untuk memilih alternative dalam melahirkan tanpa ber suasana (clinical environment). Ruang Ganti Staf Sebaiknya dipisah antara ruang ganti pria dan wanita yang bekerja di ruang melahirkan. Dan sebaiknya dilengkapi dengan meja kerja(work counter). cukup menyediakan suatu area saja(spat dipisahkan dengan partisi). Gudang Anestesi Ruang penyimpanan untuk tabung gas untuk keperluan medis sebaiknya disediakan. tidak memerlukan ruang khusus. Apabila perlatan anestesi yang digunakan mudah memiliki sifat terbakar. Minimal disediakan sebuah toilet di didalam maupun di dekat ruang melahirkan. Ukuran unit hendaknya dapat memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan untuk pasien dan staf. maka ruang bayi yang terpisah untuk observasi pasca kelahiran perlu ditambahkan pada ruang kelahiran. dengan akses menuju koridor luar untuk memudahkan pengangkutan tanpa melewati ruang kelahiran(birth room). Ruang untuk konferensi. Unit ini perlu diletakkan berdekatan dengan ruang melahirkan dan ruang operasi. dan penyimpanan peraltan anestesi. Ruang Kerja Anestesi Hanya pada ruang melahirkan yang berukuran besar. Namun dapat juga berbagi fasilitas sentral. pergantian staf (staf handover). Lounge dapat dijadikan satu dengan ruang ini apabila memungkinkan. trolleys(tempat tidur yang disorong). tapi dilengkapi dengan peralatan medis yang memadai. sebuah ruang terpisah sebaiknya disediakan untuk peralatan tersebut dan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. dokter). dan sebaiknya dilokasikan sedekat mungkin dengan ruang melahirkan. dan training untuk staf sebaiknya disediakan pada fasilitas yang lebih besar untuk digunakan oleh para personil dari Ruang kelahiran(teknisi. Pada fasilitas yang lebih kecil. sink. Ruang ini dapat berbagi atau dapat dikases juga dari ruang operasi. interview. Ruang-ruang berikut ini merupakan standar minimum yang perlu dipenuhi : 63 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . digunakan untuk membersihkan. suster.

-

-

-

-

-

-

-

Birthing/Lounge Room Ruangan ini harus mempu mengakomodasi kegiatan-kegiatan berikut: 1. relaksasi di kursi lounge 2. keperluan untuk makan/ dinning facilities (meja, dan kursi makan) 3. keperluan pantry/dapur(termasuk kitchen sink dari bahan stainless steel) 4. keperluan melahirkan, tempat tidur untuk melahirkan, bangku untuk melahirkan, tikar, bean bag, dll 5. tempat penyimpanan peralatan 6. tempat penyimpanan stok-stok yang steril 7. gas untuk keperluan medis 8. privasi 9. clinical handwashing 10. dan akses langsung menuju halaman privat juga sebaiknya ada. Entry (Tempat Masuk) Tempat masuk/entry perlu tertutup/screened untuk privasi. Gudang Sebaiknya mudah diakses dari birthing/lounge room atau lobby tempat masuk. Ensuite/Bathroom Ruangan ini hendaknya dilengkapi dengan toilet, shower, tempat cuci tangan, dan merapikan diri (grooming). Fitout/Finishes (Perlengkapan) Perlengkapan yang ada sebaiknya menyesuaikan budaya taupun gaya setempat. Item-item medis perlu diletakkkan sedemikian rupa sehingga mudah dijangkau. Untuk penutup lantai, sebaiknya diberi finishing dengan non-slip vinyl di bawah area tempat tidue dan penggunaan karpet sebagai keseluruahn penutup lantai lebih direkomendasikan. Penutup lantai kamar mandi sebaiknya dipilih yang non-slip material. Untuk fininshing dinding dan langit-langit disesuaikan dengan kondisi setempat. Penggunaan tirai dapat diterima dan direkomendasikan. Pencahayaan Pencahayaan sebaiknya lokal, walaupun pengecualian bisa dilakukan untuk lampu pemeriksaan yang bergerak. Pintu Keluar Darurat Lokasi dan ukuran pintu yang cocok sebaiknya disiapkan untuk pemindahan bed darurat ke tempat melahirkan/operasi. Penghawaan Udara Ruang-ruang sebaiknya dikondisikan udaranya dengan kontrol temperatur pada lounge. Hal ini perlu dipertimbangkan karena suhu badan ibu yang baru melahirkan cenderung bervariasi. Akustik Unit sebaiknya memiliki isolasi akustik yang baik dari area sekitarnya.

64

Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Kamar Bersalin
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

G. Unit Peranotologi Fungsi Unit Perinatologi adalah instalasi untuk perawatan bagi bayi yang baru lahir, dan membutuhkan perawatan lebih lanjut. Tata letak dan persyaratan ruang: Unit ini biasanya terletak satu lantai/ dekat/ ada akses langsung dengan unit VK dan IRNA. Unit ini minimal terdiri dari : 1. Adanya ruang intensive care (NICU) 2. Adanya ruang bayi medium care 3. Adanya ruang bayi high care 4. Adanya ruang laktasi 5. Adanya ruang intensif care (NICU, PICU) 6. Adanya ruang dokter 7. Adanya ruang pertemuan 8. Adanya nurse station 9. Adanya ruang pantry untuk staff 10. Adanya lounge untuk ibu

Hubungan Fungsional antar ruang pada Unit Perinatologi
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

64

H. Unit Haemodealisis Fungsi Adalah Unit Instalasi Cuci darah, yaitu tindakan mengeluarkan sisa metabolisme ( koreksi elektrolit darah ), dan cairan tubuh melalui proses pertukaran antara bahan yang ada dalam darah dan dialisat melewati membrane semipermiabel di dalam ginjal buatan. Tata letak dan persyaratan ruang Unit ini biasanya terletak berdekatan dengan Unit laboratorium. Unit ini minimal terdiri dari : 1. Ruang Cuci darah (dilengkapi lavatory) 7. Ruang konsultasi 2. Ruang Cuci darah Hepatitis (dilengkapi lavatory) 8. Ruang kepala HD 3. Ruang cuci darah HIV (dilengkapi lavatory) 9. Ruang CAPD 4. Ruang tungggu 5. Nurse station 6. Ruang dokter

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

2. Pelayanan Pasien Luar Rumah Sakit
A. Instalasi Unit Jalan Fungsi Merupakan fasilitas yang disediakan bagi pasien yang tidak tinggal di rumah sakit, hanya melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan non rawat inap. Fasilitas yang terakomodasi meliputi klinik umum dan spesialisas, dengan dilengkapi fasilitas penunjang medis seperti satelit farmasi dan penunjang non medis seperti fungsi administrasi dan komersial. Tata letak dan persyaratan ruang 1. Adanya pemisahan antara unit rawat jalan infeksius dan non-infeksius 2. Ruang tunggu dapat dipergunakan untuk semua poli, namun diupayakan adanya pemisahan ruang tunggu antara penyakit infeksius dan non infeksius. 3. Poliklinik direncanakan mewadahi ruang konsultasi dan ruang periksa pada tiap unit pelayanan klinik. 4. Pemisahan antara koridor paramedik dan koridor pasien. 5. Sistim sirkulasi dengan menggunakan satu zona yang sama untuk keluar dan masuk. 6. Poli yang ramai letaknya tidak saling berdekatan. 7. Merancang proses way-finding yang baik. Setiap pasien, pengunjung, dan semua staf perlu tahu posisi mereka berada, kemana mereka menuju, bagaimana mereka menuju dan kembali

Hubungan Fungsional antar ruang pada Unit Rawat Jalan
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

65

2. Pelayanan Penunjang Medik / Klinik Bantuan
A. Instalasi Bedah Fungsi Mudah dicapai dari setiap zona terutama dari ICU/ICCU dan CSSD. Memerlukan ketenangan dan privasi tinggi. Berada pada area sentral. Selain ruang bedah, ruang penunjang yang diperlukan adalah ruang anestesi, ruang sterilisasi, ruang penyimpanan alat dan ruang persiapan. Tata letak dan persyaratan ruang: 1. Kualifikasi Ruang Instalasi Kamar Operasi o Dinding terbuat dari porselen atau vinyl setinggi plafond, dengan corak warna bernuansa dingin. o Plafond terbuat dari bahan yang anti bocor dan aman dengan tinggi minimal 2,7 meter dari lantai.

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

o Sedangkan untuk kamar operasi spesialis membutuhkan luasan minimum sebesar 7.31 x 7.ft) = 5. o Pemasangan gas medis secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau diatas langit langit.44 persegi (360 sq. o Ventilasi atau penghawaan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri. o Tidak dibenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar. o Hubungan dengan ruang scrub-up untuk melihat kedalam ruang operasi perlu dipasang jendela kaca mati.62 meter ( 24 x 25 ft ) = 55.48 x 6. o Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis.2 meter dan tinggi minimal 2.o Lantai terbuat dari bahan yang kuat. kedap air.10 x 7.60 meter persegi ( 480 sq. mudah dibersihkan dan tidak licin. hubungan ke ruang steril dari bagian cleaning cukup dengan sebuah loket yang dapat dibuka-tutup. Kualifikasi Luasan Ruang Instalasi Kamar Operasi o Kamar operasi harusnya mempunyai luasan minimal 33. o Dilengkapi dengan sebuah sarana komunikasi darurat dengan bagian kontrol dan laboratorium Unit Bedah Sentral. 66 Hubungan Fungsional antar ruang pada Unit Bedah Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.1 meter dan semua pintu harus selalu dalam keadaan tertutup. o Beberapa ahli bedah merekomendasikan untuk luasan kamar operasi adalah o 6. 5. o Tersedia rak dan lemari untuk menyimpan reagensia siap pakai.10 meter ( 18 ft x 20 ft ) sudah termasuk ruang untuk peralatan operasi. Penentuan jumlah kamar operasi dalam sebuah rumah sakit ditentukan dengan perbandingan 1 : 50 yang artinya 1 kamar operasi digunakan untuk melayani 50 TT. 2008 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .70 meter persegi ( 600 sq. ft ). Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah. o Harus disediakan gantungan untuk lampu bedah dengan profil baja yang dipasang sebelum pemasangan plafond. Lebar pintu minimal 1. untuk itu harus dibuat ruang antara. ft ). 4. 2.31 meter ( 20 x 24 ft )= 44.

Persyaratan Udara, Pencahayaan, Suhu, Kelembaban dan Indeks Kebisingan untuk Ruang Operasi: Standar Parameter Ruang Operasi

67

Hubungan Fungsional antar ruang pada Laboratorium
Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras, 2008

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

B. Laboratorium Fungsi Memberikan pelayanan diagnostik untuk mendukung IGD, instalasi rawat jalan, radiologi, dan rawat inap. Tata letak dan persyaratan ruang: 1. Berdekatan dengan IGD dan radiologi. 2. Mudah dijangkau dari poliklinik dan IRNA. 3. Udara dalam laboratorium tidak boleh beredar pada satu tempat yang sama karena rentan akan kontaminasi zat-zat aditif, sehingga harus ada akses untuk dapat segera membuang udara. 4. Jika udara akan diedarkan kembali, dianjurkan sistem filtrasi yang sangat baik. 5. Sangat dianjurkan adanya exhaust, tetapi harus memilliki jalur tersendiri agar tidak mengkontaminasi ruang lain. 6. ingkup kerja laboratorium harus dapat menampung perlengkapan penting seperti vacum, gas medik, dan electrical services. 7. Ruang pengambilan/penerimaan spesimen harus terpisah dari ruangan pemeriksaan untuk menghindari kontaminasi. 8. Harus ada almari pendingin untuk menyimpan reagensia tertentu. 9. Ruang pengambilan hasil dapat disatukan dengan administrasi.

C. Radiologi Umum / Fungsi Peralatan & Ruang harus bisa mengakomodasi fungsi, prosedur khusus seperti terapi balok elektron, perawatan radiasi, penggambaran resonansi magnetik, tomografi komputer, unit scan, angiocardiografi, dll.bukanlah fasilitas yang biasanya ada, & tidak ada keterangan tentangnya di dokumen ini. Ketika peralatan di atas merupakan bagiang dari fasilitas maka fungsi & desainnya harus diberikan untuk kebutuhan spesifik untuk keefektifan operasi, aksesibilitas, keamanan & martabat pasien. Sonografi & Ultrasound adalah fasilitas yang biasanya dipakai, karena itu peralatan inilaha yang akan dijelaskan pada panduan ini. Tata letak dan persyaratan ruang: - Peraturan dan Undang-undang Regulasi ini berisi tentang panduan tentang bagaimana fasilitas & peralatan seharusnya digunakan, perlindungan radiasi yang diperlukan, siapa yang mengunakannya, dll. Seharusnya dikonsultasikan untuk memastikan bahwa tiap tahap telah diambil untuk menyediakan fasilitas perlindungan radiasi. Konsutasi ini harus dimulai pada tahap awal perencanaan. Dimensi dan Akses Kamar Ruang sebaiknya memiliki dimensi yang menunjang peralatan yang digunakan, untuk menunjang keamanan & gerak yang effektif dari para staf & pasien. Ketinggian langit–langit sebaiknya didasarkan juga pada peralatan, tetapi pada umumnya ketinggian minimum adalah 3000mm untuk pipa instalasi. Pertimbangan khusus juga harus diberikan pada lebar & tinggi pintu untuk memastikan bahwa pengantaran & pemindahan peralatan tidak terhalang & juga pergerakan trolley pasien tidak terhalang. Sonografi dan Ultrasound Fasilitas sebaiknya tersedia untuk : Peralatan Sonografi & Uasound (mobile) Pemeriksaan Pasien Privasi Pasien Pekerjaan Administrasi (meja & kursi) Tempat cuci tangan staf Tempat pembuangan Tempat penyimpanan (Lemari) - Lokasi Lokasi dari Fasilitas Radiologi dapat bervariasi. Harus diperhatikan kedekatannya dengan kasus kecelakaaan & darurat(jika tersedia), dan juga kamar Operasi , jika pada tidak tersedia theatre X-ray pada kamar Operasi. Fasilitas Staf Tergantung dari ukuran Ruang Fasilitas Radiologi, baik untuk sendiri ataupun berbagi dengan penghuni lain antara lain: · Ruang Makan · Ruang Ganti · Toilet - Fasilitas Umum/ Penunjang Fasilitas-fasilitas publik (dapat secara bersama-sama atau dikhususkan) yang sebaiknya disediakan antara lain : · Ruang tunggu · Kamar ganti (1 untuk penyandang cacat) · Telepon umum · Toilet umum (dapat dipakai untuk penyandang cacat) · Air minum bersih dalam suatu wadah

68

ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

-

Persyaratan Penting lainnya Sebagai tambahan, perhatian khusus harus diberikan pada hal sebagai berikut : · Kemampuan daya dukung struktur untuk peralatan rumah sakit; · Perletakan peralatan pada tingkat lantai dan pergerakan yang aman bagi pasien · Ukuran diameter kabel elektrikal yang ber efek pada ruangan kamar (di lantai maupun plafond) · Ventilasi udara untuk peralatan · Perlindungan dengan timah (lead shielding) (grenjeng untuk anti radiasi) · Prosedur waktu (jadwal) · Pencahayaan untuk bekerja/dimmer (pengurangan cahaya); dan · Ruangan isolasi (untuk orang tak sadar, dsb)

D. Patologi Umum / Fungsi Sebagai dasar kebutuhan, sebuah rumah sakit menyediakan layanan bedah (surgical ) dan/ atau Kelahiran (obstetric) yang sebaiknya dapat di akses dan di layani selama 24 jam via telepon dengan layanan bedah termasuk : - Haematology (pengecekan darah) - Klinik kimia (apotik) - Analisis urin - Mikrobiologi (virus, bakteri, dll) - Anatomi patologi (urai bedah) - Cytology (bedah sel) - Bank darah
ARSITEKTUR RUMAH SAKIT

Prosedur prinsip yang harus di keluarkan dalam kontrak layanan termasuk : - Kadar darah (blood counts) - Glukosa darah - Elektrolit tubuh - Urea dan nitrogen dalam darah - Kekentalan darah (koagulasi) - Transfusi darah (jenis dan kecocokan pertukaran) Ruang Simpan Darah / Bank Darah Semua Rumah sakit yang menyediakan layanan bedah dan kebidanan sebaiknya menyediakan fasilitas ruangan simpan darah berpendingin untuk transfusi. Ruang tersebut sebainya dilengkapi dengan monitor pengatur suhu dan sinyal alarm. Hal ini demi kemudahan staf pengontrol dalam menjalankan tugasnya. Pertimbangan perletakan unit ini sebaiknya diberikan dalam hal hubungannya dengan akses setelah jam kerja dan keamanan. Layanan dasar Kapasitas layanan bedah dan kebidanan sebaiknya perlu menyediakan fasilitas pathology khusus di tempat (rumah sakit tersebut). Jika layanan pathology berbasis di rumah sakit, fasilitas berikut sebaiknya disediakan, sebagai kebutuhan minimum: - Laboratorium Pathology, Ruang-ruang terpisah, mampu mengisolasi secara aman, secara spesifik disediakan unutk layanan pathology. Tidak untuk dipakai secar bersamaan dengan layanan lain. Ukuran runag sebaiknya sesuai / cukup dengan fungsi didalamnya, dan menyediakan lingkungan kerja yang aman.

69

Pernyataan dari fungsi sebaikya di deskripsikan dalam kontrak dan/atau layanan pathology. Fasilitas pengumpulan Spesimen/sampel (darah. pengisian dan rekam perawatan Lounge.- - - - - - - - Lokasi Fasilitas pathology. dan lain-lain. alat pembilas mata. gas. analizer bahan kimia yang sesuai. paling baik diletakkan berdekatan dengan area layanan yang sering dipakai. Pencahayaan alami menguntungkan bagi laboratorium jika di lakukan dengan baik. (terminal sterilisasi tidak diperlukan bagi spesimen yang dibakar ditempat). jika tergabung. Fasilitas penyimpanan untuk reagen (bahan reaksi). guna dilakukan peninjauan lebih lanjut terhadap jasad tersebut oleh pihak-pihak yang berwenang. Hospital autopsi Dilakukan berdasar permohonan dan oleh praktisi medik jika otopsi forensik tidak mendapatkan hasil. 70 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Bangku laboratorium yang menyediakan tempat untuk mikroskop. Otopsi forensik (koroner) Bila kematian dari seseorang disebabkan oleh hal-hal yang tidak wajar. Area administrasi meliputi kantor sebagus mungkin ruangan untuk penulisan administrasi. tempat simpan yang tepat untuk cairan yang mudah terbakar dan lain sebagainya. E. Fasilitas pengumpulan Urin dan feses sebaiknya dilengkapi dengan WC dan bak cuci tangan. Ketentuan standar keamanan untuk bahan-bahan kimia termasuk penyiram ketika keadaan darurat. . Klasifikasi 1. Loker dan fasilitas toilet sebaiknya diletakkan untuk memudahkan bagi staf laboratorium pria dan wanita . 2. Area kerja dari tempat pengumpulan darah sebainya memiliki bangku untuk kerja. dan ruang hampa. persediaan. Fasilitas dan perlengkapan untuk terminal sterilisasi (clave otomatis atau oven elektrik) spesimen terkontaminasi sebelum di kirim/diangkut. fasilitas rumah sakit membutuhkan pertimbangan untuk kemungkinan keamanan terhadap bahaya Radio aktif (Radiation Safety Act). dan lain-lain. Jika material radio-aktif dipakai. dan Bak dengan air Ruang simpan darah berpendingin Rak baskom/wadah air untuk para staf mencuci tangan. standard (penyangga). dapat diletakkan diluar area laboratorium dan dipakai bersama dengan unit lain. seperti: ¾ Bunuh diri ¾ Kecelakaan lalu lintas ¾ Juga termasuk kedalamnya kematian dengan cara yang wajar namun belum diketahui penyebab kematiannya. dan kaca-kaca spesimen mikroskop. antara lain ruang operasi dan ruang kelahiran. ruang bagi pasien untuk duduk. Mortuary/ Otopsi Umum / Fungsi Unit mortuari atau otopsi adalah fasilitas untuk menempatkan jasad. Area kerja sebaiknya termasuk akses untuk menuju layanan elektrikal. termsuk pendingin jika dibutuhkan. urin. dan feses). dan wastafel. incubator centrifugal. Rak bak air juga dapat dipakai sebagai tempat pembuangan cairan non-racun.

Alat pencampur (amalgamator) untuk campuran dental .Pembersih ultrasonik .Pembersih bur ultrasonik Semua langkah dilakukan untuk perlindungan radiasi.Minimal ada 6 titik tambahan power supply untuk darurat (total menjadi 10) .R.Perlengkapan dental yang telah disebutkan di atas dengan tambahan: a) Penggerak udara berkecepatan rendah b) Alat semprot seperti disebut di atas c) Dua jalur untuk turbin udara berkecepatan tinggi dengan optik fiber . Endoscope . Penyembuhan .Peristirahatan penyembuhan . operator. dokter) untuk prosedur x-ray .jasad hanya diterima tanpa dilakukan otopsi. F.Table dental dengan kotak untuk penyaringan air dan tambahan: a) Mesin elektrik berkecepatan rendah b) Tiga alat semprot (udara.R. Ruangan ini bisa berupa bangunan tunggal yang berdiri sendiri atau tergabung pada fasilitas umum bedah. mesin anestesi.Penyimpanan pakaian operasi (pasien.Holding . dll) . dsb.Unit portable dental x-ray .Lemari untuk obat dan serba-serbi . udara/air) c) Turbin udara. Level 2 . Ruang Operasi unit GIGI dan MULUT Peralatan pendukung/penunjang akan menentukan ukuran akhir dari ruangan tersebut.R.Cahaya untuk tambal sintetis . Hal-hal yang direkomendasikan: . troli. Selain itu. disinfektan dan sterilisasi.Unit cryotherapy G. Kerja (kebersihan.R.Fasilitas pengembangan dental x-ray .Ada fasilitas untuk dental X-ray Ruang tambahan yang dibutuhkan: . Endoscopy Umum Berikut adalah area yang harus dipertimbangkan ketika pembangunan pelayanan endoscopic: .Terdapat mesin panel untuk gelas-gelas. Level 4 . air.jasad diterima dan dilakukan otopsi. handpiece berkecepatan tinggi . Tunggu 71 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Proses Otopsi Proses otopsi dibagi dalam 4 level. pompa tekanan udara . Level 3 . maupun peralatan elektrikal. DENTAL (GIGI) Umum / Fungsi Fasillitas ruang bedah gigi dan mulut pusat seperti ruang operasi pada umumnya. peralatan sudah termasuk meja operasi.Unit operasi-electro .jasad idterima dan diamati tanpa dilakukan otopsi. Level 1 . Prosedur umumnya adalah sebagai berikut : .jasad diterima dan dilakuka otopsi namun lebih ke arah mengajari melakukan otopsi kepada calon praktisi.

pencahayaan yang tepat memperlihatkan warna . dan perawatan langit-langit sangat penting untuk kemudahan pembersihan. Luasan yang lebih fleksibel sangat dianjurkan untuk mengadaptasi perkembangan di masa yang akan datang. pencahayaan. Kerja karyawan Cleaning service Pembuangan Penyimpanan Workshop Ruang Endoscope Jumlah dan pengoperasian ruang endoscope harus ditetapkan dan ukuran ruang bervariasi tergantung dari: . Dokter R.Penggunaan peralatan video .area penyucihamaan untuk scope manual antara udara yang tersimpan dan terventilasi (pada level tinggi dan rendah) . . dan pengering untuk endoscope prewashing.- Resepsionis R.fasilitas cuci tangan klinis .basin yang memiliki tingkat kecekungan yang dalam. Workroom Workroom wajib memiliki fasilitas .tempat pembuangan limbah umum dan infectious waste . sistem pembangkit tenaga. .Pengobatan bedah laser .suplai air panas dan air dingin.Fluoroscopy .Penggunaan sinar-X Aturan bakunya. Serba guna R. Jika peralatan video digunakan. Tinggi langit-langit harus 2. Ganti (pasien&karyawan) Toilet/kamar mandi (pasien&karyawan) Rekam medik Kantor manajer R. . Ruang harus dilengkapi bedah minor yang lazimnya digunakan untuk tindakan anestesi umum dengan instalasi gas medis.disinfektor otomatis endoscope .Gudang obat 72 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Penelitian . pengecekan dan pemeliharaan endoscope dan persiapan specimen. lantai.Aktivitas berbagai bidang . Istirahat karyawan R.7 meter atau lebih. Konsultasi R. . Lebar pintu masuk harus dipertimbangkan untuk akses troli. Akses langsung ke workroom sangat disarankan. maka ukuran minimal luasan ruang berkembang menjadi 5 x 6 m2.lemari dengan ventilasi untuk penyimpanan endoscope . penghawaan serta ventilasi yang memadai.bangku/tempat duduk untuk aktivitas benchtop (dilakukan dalam posisi duduk) seperti pengeringan.pembuangan limbah cair dan feses (slophopper). ukuran luasan ruang endoscopy 4 x 5 m2. Dinding kedap air.

gudang untuk peralatan dan persediaan. Gudang umum untuk peralatan dan aksesoris ruangan lain. Pelayanan Kesehatan Terapi A. 73 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .. Storage untuk linen berminyak dan limbah Fasilitas untuk berpakaian bagi pasien. Terdapat toilet khusus untuk penyandang cacat. Speech Pathology. tempat menyimpan pakaian yang aman. speech pathology. Kebutuhan ini digunakan juga bagi outpatient dan dapat diakses oleh penyandang cacat. Tempat menyimpan linen yang bersih. ruang tunggu. shower dan fasilitas toilet. Instalasi Rehabilitasi Medik Fungsi Memberikan layanan terapi penyembuhan seperti fisiotherapy. dan akses untuk outpatient. dan Psychological Counselling harus memiliki acoustic untuk privasi dan kenyamanan. dan suction untuk pembersihan ruangan. misalnya kolam renang untuk water theraphy. Ruang konsultasi.· - Refrigerator/freezer Peralatan kebersihan ultrasonic (optional. Terdapat ruang yang dapat menampung alat-alat rehabilitasi medik. Luas lantai yang cukup untuk dibiarkan bersih. Psychology and Social Work. Tata letak dan persyaratan ruang instalasi rehab medik: Letaknya di zona yang mudah dijangkau dari instalasi rawat jalan dan rawat inap. dll. Occupational Therapy Beberapa fasilitas yang harus diikutsertakan: handwashing facilities. Sumber listrik sesuai yang diperlukan di kebocoran bumi. bebas. 4. Dimungkinkan terdapat media terapi lain. Dapat berupa lemari atau mobile storage trolley. Ice-making facilities tersedia di atau dekat fasilitas kesehatan ini. terbuka. nyaman. Physiotherapy Layanan physiotherapy harus menyediakan fungsi atau fasilitas: Individual treatment area atau area untuk privasi pasien Staff handwashing facilities di ruang treatment. Harus disediakan juga ruang konsultasi. Dietetics. tapi disarankan) Ventilasi Udara yang dipadatkan (compressed air). area aktivitas bersama Lain-lain Beberapa layanan yang juga mungkin tersedia mencakup Pediatry. Pergerakan staf dengan alat (untuk menghindari kerusakan). Satu fasilitas handwashing dapat melayani beberapa ruang treatment Sebuah exercise area dengan fasilitas yang tepat untuk level layanan tertentu. Tempat menyimpan peralatan dan persediaan. akses toilet bagi diffabel. Terdapat ruang latihan terapi yang luas dan cenderung tanpa sekat.

Termasuk gudang sekunder dan gudang tersier yang dibuat dengan konstruksi tahan api.Ruang yang cukup untuk kursi roda. Tata letak dan persyaratan ruang: Unit ini biasanya terletak dekat dengan zona administrasi dan poliklinik. 2008 5. jika diperlukan . tetapi dekat dengan entry point .Gudang penyimpanan yang tertutup (aman) untuk data seluruh pasien. suster. . dan lain-lain. diluar jalur untuk sirkulasi normal tetapi dekat dengan pintu masuk .Aktivitas administrasi dan clerical yang berhubungan dengan managemen medical record . voucher.Unit ini terdiri dari : .Ijin masuk pasien .Penyimpanan peralatan kantor. dan .toilet umum . akses ke main entrance dan berhubungan dengan fungsi di bawah : .Pengecekan ulang terhadap medical record dan laporan persiapan. .Gudang untuk Ledgers. termasuk gudang penyimpanan tersier dan sekunder.Ruang rapat . sementara gudang penyimpanan tertutupnya terletak di level semi basement ataupun basement.Hubungan Fungsional antar ruang Unit Rehab Medik Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.Recepsionis dan informasi pengunjung/pasien . dan ruang konferensi serba guna 74 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Akomodasi ruang kantor untuk menunjang kepentingan administrasi. .Ruang penyimpanan kursi roda.telepon umum Sebagai tambahan. medis dan perawat baik secara umum dan/atau individu.Adanya ruang untuk kegiatan administrasi catatan medis. Rekam Medik / Administrasi Fungsi Sebagai tempat dimana data – data mengenai catatan medis pasien disimpan dan didata sebagai arsip. yang berisi data tingkat ketahanan konstruksi pelingkup bangunan. jika diperlukan . fasilitas disediakan untuk mengakomodasikan aktivitas administrasi sebagai berikut: . account forms. administrasi. pengobatan.ruang tunggu .Kantor individu/umum untuk mewadahi kegiatan kasir. alat tulis dan persediaan .Ruang penyimpanan yang aman untuk semua data pasien. .Adanya ruang untuk mereview catatan medis pasien. di luar jalur sirkulasi utama. dengan akses yang tertentu (tertutup). peralatan kerja dan cadangan. Fasilitas Administrasi Layanan ini harus ada. .Ruang interview khusus yang mencakup prosedur perizinan .Gudang untuk perlengkapan kantor.

. D.Poin(kounter) pengambilan dan penerimaan terkendali.Konter dan lemari bekerja untuk aktivitas berkenaan dengan farmasi. .Area untuk tinjauan ulang dan perekaman dari order/pesanan.Ketetapan untuk cek silang dari pengobatan dan profil obat dari pasien individu. 2008 6.Area pencampuran yang dilakukan tanpa persiapan.Gudang/Penyimpanan dengan pendingin. dan keamanan. staf kontrol. . jumlah pasien untuk dilayani. . . . Fabrikasi .Disku si Hubungan Fungsional antar ruang Unit Rekam Medik Sumber: Project Studio Global Rancang Selaras.Gudang/Penyimpanan yang aktif . B.Gudang/penyimpanan yang aman untuk narkotika dan obat/drugs yang dikontrol. jika bisa diterapkan) dan peralatan. dan referensi. Penyimanan Obat/ Farmasi Umum Ukuran dan jenis service untuk disajikan di apotik akan tergantung pada jenis sistem distribusi obat yang digunakan.Fasilitas handwashing harus tersedia di dalam tiap ruang terpisah di mana pengobatan terbuka ditangani. .Ruang atau area terpisah untuk fungsi kantor yang mencakup meja tulis.Ketetapan dari pembungkusan dan pemberikan label .Area pengendalian mutu C. penyimpanan. komunikasi. Lemari atau rak penyimpanan untuk sistem pengembalian informasi obat.Gudang/Penyimpanan untuk peralatan dan persediaan umum yang tidak digunakan. Ruang atau deretan apotik ditempatkan untuk akses nyaman. Dispensing (pembagian) . 75 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Ketentuan untuk konseling dan instruksi pasien (mungkin adalah di ruang terpisah dari apotik). lain-lain . .Area pencampuran obat . E.Gudang/penyimpanan alkohol dan cairan yang mudah menguap dengan konstruksi seperti diperlukan oleh peraturan relevan untuk unsur dilibatkan.Ruang untuk pendidikan dan pelatihan (mungkin di ruang multi tujuan bersama dengan unit yang lain). dan tambahan dari service bersama atau dibeli. .Penyimpanan limbah . Fasilitas (mencakup satellit. Gudang/ Penyimpanan . Administrasi . A.R.

Clean Linen Storage. dan memproses linen dan lakan kotor rumah sakit. laundry/ Pengolahan Linen Fungsi Fungsi laundry adalah Menerima.lantai pelayanan medis. shower. Loket Keluar Linen Bersih Pengaturan sirkulasi agar tidak bersinggungan antara linen bersih dan linen kotor Pada pembuangan ke IPAL diberi penangkap detergen Biasanya berdekatan dengan boiler house Disarankan pula berdekatan dengan ruang housekeeping Tidak ada bakuan luas minimal ruang laundry.5 sampai 1 meter persegi per tempat tidur Bila berada dalam bangunan banyak lantai maka sebaiknya laundry ada di lantai paling bawah untuk mencegah gangguan suara. Kemudian linen yang telah bersih dikirimkan untuk ditampung pada gudang linen bersih yang pada umumnya terletak di setiap lantai instalasi rawat inap. R Setrika. Loket Masuk Linen Kotor. Linen . mensortir.linen yang kotor dibawa dan diproses pada instalasi laundry yang terletak pada area servis. Jika solusi yang intravenous (kedalam pembuluh darah) disiapkan di apotik. tempat linen – linen bersih ditampung dan didistribusikan ke lantai . Jalur sirkulasi dan distribusi yang terpisah dengan jalur sirkulasi pasien. tempat dimana linen – linen kotor diproses. Pengaturan dan konstruksi harus mematuhi persyaratan menurut undang-undang dan Standard yang relevan. jika dilaksanakan. Jika fasilitas ini terpisah dari bangunan pelayanan utama. Pertimbangan untuk diberikan ke persyaratan phisik dari aktivitas spesialis seperti persiapan yang cytotoxic. R Kerja Cuci. kisaran 0.- - Menyediakan akses yang nyaman ke lemari karyawan. R Cucian Bersih. Terdapat R Ka-Unit. getaran serta kemudahan pengelolaan penyaluran air limbah. Area ini harus memiliki kapasitas yang sesuai demi efisiensi operasi Rumah Sakit. R Cucian Kotor. Pada umumnya merupakan fasilitas bersama dengan staf rumah sakit yang lain. . Ruang Laundry. ruang bersantai/sofa. 76 Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Laundry ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Akses yang terpisah untuk linen kotor dan bersih Distribusi linen kotor ke instalasi laundry mungkin dilakukan dengan linen chute . tersedia suatu area pekerjaan yang steril dengan bangku aliran berlapis dan kerudung. 7. Kriteria Minimal perencanaan dan Tata letak dan persyaratan ruang : Sebuah ruang untuk menampung linen kotor yang akan diproses dilengkapi dengan fasilitas pencuci tangan. maka sebaiknya tersedia jalur yang terlindung dari hujan dan panas. Kamar Jahit. Gudang Textile. untuk menjaga kelayakan dan kebersihan pelayanan pasien. dll.

Memiliki pintu masuk dan keluar tersendiri.tidak ada bakuan luas. .pengamanan terhadap bahaya kebakaran menjadi poin penting dalam perencanaan unit gizi utamanya dapur . Instalasi Gizi (Dietary Service) Fungsi: Memberikan pelayanan konsumsi gizi bagi unit perawatan.Lokasinya harus jauh dari penglihatan dan jangkauan pengunjung. . kisaran luas dapur utama minimal 0. ICU.Semua gudang bahan makanan hendaknya berada di bagian yang tinggi. atau langit-langit dengan ketentuan sebagai berikut : a. Kelembaban penyimpanan dalam ruangan 80 -90 %. . berwarna terang dan menggunakan cat yang tidak luntur serta tidak menggunakan cat yang mengandung logam berat. .8.Bahan makanan tidak diletakkan di bawah saluran air bersih maupun air limbah untuk menghindari terkena bocoran.Penyimpanan bahan makanan tidak boleh menempel pada lantai. dinding.Jarak bahan makanan dengan lantai 15 cm b. minyak tanah) . . . .Semua bahan makanan disimpan pada rak-rak dengan ketinggian rak terbawah 15 cm – 25 cm.terapkan organisasi ruang dalam aliran yang menerus mulai dari ruang penerimaan hingga penyajian .6 meter persegi per tempat tidur 77 Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi Gizi ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .Jarak bahan makanan dengan dinding 5 cm c. dan unit kandungan. IGD.gudang penyimpanan terpisah antara basah dan kering. Jarak bahan makanan dengan langit-langit 60 cm d.minimalisasi cross-traffic ataupun aliran maju mundur (back-tracking) . ataupun bahan aman dan riskan flameable (misal tabung gas.Permukaan dinding harus kuat. .Tidak diperbolehkan ada jaringan drainase disekitar gudang makanan.layout dapur utama etidaknya adalah panjang ruang sama dengan dua kali lebar ruang . rata. Tata letak dan persyaratan ruang: .

Standar dan ketentuan terkait dapat dilihat pada Ketentuan Fungsi.loker staf Fungsi: Merupakan instalasi yang melakukan pemeliharaan maupun perbaikan terhadap sarana dan prasarana rumah sakit. dilengkapi dengan ruang-ruang kerja berupa bengkel dan workshop. Ruang dibuat relatif luas dan terbuka tanpa sekat untuk memudahkan aktivitas. 2.9. Pemisah bisa menggunakan ruang fungsional garasi atau deret gudang. tata letak lantai dan peletakan titik-titik pengumpul sampah menjadi sangat penting. Lokasinya di zona servis yang relatif jauh dari zona perawatan maupun zona penunjang medik. Bengkel dan Peralatan (IPSRS) Mengingat karakter aktivitasnya maka bengkel dan peralatan diletakkan terpisah dari kelompok unit lain.workshop/bengkel kerja peralatan medik .workshop/bengkel kerja kendaraan .administrasi/supervisor . ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Pengelolaan dan Pembuangan Sampah Perlu adanya fasilitas yang memadai untuk penyimpanan dan pembuangan sampah yang aman. Tingkat efektivitas pengaturan sampah tergantung dari kewaspadaan staf kebersihan dalam meminimalisasi sampah dan tingkat ketelitian dalam pemisahan sampah dari sumbernya menurut jenisnya. 78 Hubungan Fungsional antar ruang pada Instalasi IPSRS 10.workshop/bengkel kerja pertukangan kayu . terutama di ruang perbaikan alat.penyimpanan alat dan gudang . Tata letak dan persyaratan ruang: 1. Aktivitas utama yang diwadahi dalam unit adalah : . Dalam kasus ini.

Pada unit ini mungkin dapat diterapkan sistem penguapan dan pengeringan dengan udara. tetapi akan sangat bermanfaat pada sebuah institusi rumah sakit yang cukup besar. Aspek yang penting dalam manajemen sampah yang baik. baik digunakan keranjang sampah dan kereta pengangkut sampah yang dibedakan menurut warnanya. Area pembuangan sampah harus didesain sedemikian rupa sehingga dapat mengamankan material. Ukuran kereta pengangkut dan keranjang sampahnya ditentukan dari kuantitas sampah rumah sakit dan berapa titik pengumpul sampah yang mungkin diadakan. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 79 . Peraturan manajemen rumah sakit memungkinkan sebagian besar proses daur ulang dilaksanakan pada tingkatan pengguna. Peraturan standar lainnya akan diaplikasikan pada spesifikasi bangunan untuk area pembuangan sampah dan rute pembuangan limbah cair yang berhubungan dengan proses manajemen sampah.Untuk membedakan jenis-jenis sampah. mencegah bau keluar. Mungkin diperlukan pula ruangan kecil yang diperuntukkan bagi penyimpanan troli pengangkut. Tata Cara Pengaturan Sampah Standar dan ketentuan yang berlaku tergantung dari spesifikasi bangunan dan peraturan setempat mengenai tatacara pengolahan sampah. Hal ini akan terasa agak sulit pada awalnya terutama pada rumah sakit dengan skala kecil. dan area itu sendiri. Dapat pula dipakai sistem terpadu di mana diterapkan biaya kebersihan sesuai kuantitas sampah yang dihasilkan. Sebagian besar lokasi kereta dorong pada area klinis harus diletakkan dalam ruang perawatan. adalah kemudahan bagi produsen sampah pada proses pemisahan sampah. Fasilitas untuk membersihkan tangan harus diletakkan berdekatan dengan area pengumpulan sampah untuk material medis di mana material klinis ditangani. troli pengangkut. Dengan alasan pemisahan sampah inilah maka sebaiknya pembuangan sampah pada area klinis ditempatkan dalam treatment area. serta penggantian kereta dorong. diharapkan ditangani oleh sub-konsultan yang relevan pada bidang tersebut. Pengukuran minimalisasi sampah dapat dilakukan dengan sistem bar code atau penimbangan sampah. mengurangi dekomposisis organik. Troli-troli ini sebisa mungkin tidak dapat diakses oleh publik. tetapi tetap memungkinkan staf untuk membersihkan tempat sampah. Sedangkan pembedaan warna tersebut akan lebih memudahkan staf terutama saat pergantian shift kerja staf kebersihan. Uap yang terbentuk pada proses disinfeksi sampah cair masih harus distabilisasi sebelum dialirkan menuju pembuangan. Area Klinis Luasan ruang yang efisien dan didesain berdasar kebutuhan sangat dibutuhkan untuk penyimpanan kereta dorong 240L di titik-titik yang stategis pada setiap sektor. Dinding dan lantai pada daerah tersebut harus diberi penutup lantai untuk memudahkan dalam pembersihan. Titik Pengumpulan Pada Ruang Kerja/ pos Kerja A. Pemeriksaan pada persetujuan yang penting mengenai standar. Kereta dorong tidak boleh terakses oleh publik dan sebaiknya tidak terlihat pada area yang diamankan.Pada area lain mungkin membutuhkan ruang/ceruk untuk menyimpan kereta dorong. Pada rumah sakit yang cukup mampu dapat dipasang sistem pembersih mekanikal. Pemisahan material-material yang dapat didaur ulang pada tingkat pengguna akan membutuhkan area penyimpanan yang lebih besar dibandingkan bila dicampur dengan metode pengumpulan daur ulang. kode dan peraturan ini. yang dinding dan lantainya dikeramik sehingga mudah dibersihkan. dan bahkan dihindarkan sevara visual dengan menyediakan koridor servis khusus yang aman. di mana pengaturan sampah sudah cukup membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Titik-titik pengumpulan pos kerja harus mudah diakses oleh staf yang bertanggungjawab atas pembuangan dan pemindahan.

dan material radioaktif umumnya dihasilkan secara tak teratur dan dalam jumlah relatif kecil. Jaringan pada manusia. Untuk keperluan ini dinding tempat penyimpanan benda tajam biasanya diberi perlakuan khusus. Benda tajam harus ditampung dengan aman baik pada pembuangan ataupun wadah daur ulang. Buangan wadah benda tajam yang didaur ulang umumnya disebabkan oleh suplai dari kontraktor. Sampah berupa jaringan tubuh manusia. mengingat cara terpisah akan tidak praktis diterapkan pada area seperti rawat inap. Sedangkan bagi material tajam yang masih dapat digunakan. disediakan kontainer khusus yang terpisah. Penampungan sampah sebaiknya dipisahkan melalui jalur sampah medis yang disediakan dan disetujui kontraktor pembuangan. Dibandingkan sampah jenis lain. untuk selanjutnya mungikn dimasukkan dalam incinerator. cytotoxic (racun pada jaringan tubuh) dan zat radioaktif sangat jarang terjadi dan jumlahnya kecil. dan tidak memerlukan proses pemindahan kecuali oleh kontraktor. dan zat radioaktif. Jaringan ini harus dipindahkan ke bagian manajemen penanganan sampah. Umumnya rumah sakit menyediakan pembakaran sampah (incinerator) untuk keperluan ini. Prosedur penanganan sampah berbeda harus disediakan untuk benda tajam (jarum). biasanya dibutuhkan bantalan/lapisan tambahan pada dinding kontainer.Pemisahan material yang dapat didaur ulang pada titik pengguna akan membutuhkan jumlah gudang yang lebih besar dibandingkan apabila material tersebut dicampur. Area Kantor Ruang dengan luasan yang memadai dan direncanakan sesuai kebutuhan harus dialokasikan untuk penyimpanan kereta dorong 240L pada tempat-tempat strategis di setiap area kantor. Titik-titik pembuangan yang memadai dibutuhkan pada area perawatan. agar jarum dapat dikontrol dan terlihat saat sudah tiba waktunya untuk dibuang. Aspek yang penting dalam manajemen sampah yang baik tergantung pada produksi sampah dalam memenuhi proses pemisahan sampah. dan ke incinerator. Penanganan sampah seperti ini rutinitasnya dapat lebih longgar. Perkiraan jumlah kereta 240L yang dibutuhkan untuk tiap bagian rumah sakit harus didasarkan pada campuran pilihan pengumpulan material daur ulang. umumnya apoteker. Hanya dibutuhkan wadah khusus untuk penampungan sementara jaringan tubuh manusia untuk secepatnya dibekukan segera setelah dibuang. kecuali rumah sakit tersebut memiliki fasilitas khusus yang menyebabkan produksi sampah jenis tadi di atas normal. jaringan (tubuh manusia). segera setelah diambil (dibekukan jika perlu). racun sitotoksik. Sedangkan racun sitotoksik dan bahan radioaktif membutuhkan penanganan khusus oleh tim yang ahli di bidang tersebut (biasanya ahli farmasi atau BATAN di Indonesia). kecuali rumah sakit memiliki fasilitas khusus bagi sampah tersebut. Ruang penyimpanan bagi zat-zat tersebut tidak terlalu diperlukan di area perawatan. Kebutuhan ruang kereta dorong untuk material daur ulang tidak diperlukan untuk area bangsal. meterial-material ini umumnya tidak terlalu banyak mengambil tempat pada area pengolahan. Beberapa tim manajemen rumah sakit membutuhkan incinerator meskipun tidak ada peraturan untuk menyediakan pengemasan secara benar. Tempat penyimpanan kecil harus disediakan di bagian yang membuang jaringan manusia. Muatan kereta yang 240 liter tadi diasumsikan untuk metode campur ini. Pembuangan zat-zat ini umumnya tidak terlalu sering. Kontainer pembuangan benda tajam dapat dibuang melalui saluran pembuangan klinis apabila jalur tersebut memang dirancang untuk itu. Dalam kondisi ini. cytotoxic. 80 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Buangan cytotoxic dan zat radioaktif harus diawasi oleh staf yang berpengalaman. B.

farmasi bank . Penyediaan ruang-ruang berikut dibutuhkan dalam area penanganan manajemen sampah: A. Kebanyakan dari medical waste dapat diatur dengan menggunakan land fill.gift shop . PENGOLAHAN SAMPAH/LIMBAH . Pengawalan yang ketat dibutuhkan dalam membawa dan membuang limbah medis. Kebijakan Manajemen Rumah Sakit memungkinkan untuk menghancurkan laporan-laporan penting dan rahasia sebelum dibawa ke area daur ulang (penanganan sampah). dll kebutuhan Staff Fasilitas yang mungkin dapat disediakan untuk melengkapi kebutuhan staf: .potensi untuk pemulihan panas yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah (konservasi energi) 11. Area Manajemen Penanganan Sampah Ruang dengan luasan yang cukup dan tertutup sebaiknya disediakan untuk pengumpulan.Land Fill Penggunaan Land fill dalam pengolahan limbah medis membutuhkan negosiasi dengan pemerintah lokal.ruang shower (showering) . Pelayanan Penunjang Fasilitas Fasilitas yang mungkin disediakan adalah: .snack bar/coffee shop .kapasitas (penyesuaian terhadap kapasitas muat incineratior) .florist . penyimpanan dan pemilahan sampah.grooming/handwashing . .toilet .ruang ganti (change room) . B. Titik-titik pengumpulan pos kerja harus mudah diakses oleh staff yang bertanggungjawab atas pembuangan dan pemindahan serta penggantian kereta dorong. Selain itu.loker . Area ini hanya digunakan untuk kebutuhan manajemen sampah. Area pembuangan sentral untuk benda-benda yang membutuhkan kerahasiaan. memberikan pengamanan ekstra dalam pelaporannya. C. Limbah klinis diubah menjadi limbah dan diolah di lantai dasar.Incineration Ketika incinerator dibutuhkan. Lokasi fasilitas penghancur dokumen sebaiknya diletakkan berdekatan dengan area penyimpanan kereta (yang digunakan untuk menyimpan dokumen rahasia yang akan dibuang tersebut).penata rambut.konstruksi dan instalasi (fasilitas yang tahan api etc) . pertimbangan diberikan untuk : .ruang istirahat (lounge) 81 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Kereta dorong tidak boleh terakses publik dan sebaiknya tidak terlihat pada area yang diamankan.Kereta sampah biasa harus selalu diletakkan dekat dengan kereta kertas daur ulang untuk mengatasi pemisahan sampah biasa dengan material daur ulang yang tidak sistematis. BULK WASTE MOVEMENT Pergerakan cart disekitar lokasi dan selama proses pembuangan sangat diperlukan. cart juga harus dapat diakses dari berbagai level.

kantor staf . atau workshop mengenai rumah sakit. selain itu.pantry . selain itu harus ada hubungan dengan akses pengangkutan dan penurunan pasien. B.view ke luar (bukan jalan raya) yang baik dan tenang beberapa area service yang mendukung dapat diletakkkan berdekatan dengan area ini. pintu masuk dan keluar mobil ambulans harus memiliki jarak yang cukup jauh dengan pintu masuk utama dan jauh dari jarak pandang orang-orang di sekitarnya. Ukuran dan tempat menyesuaikan kebutuhan yang ada. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .tempat tidur anak . akses ini tidak boleh melewati area publik.percakapan Internal . ruang ini perlu dilengkapi dengan fasilitas audio-visual. Selain itu. Fasilitas A.Ruang Doa/ Ibadah Memisahkan ruang sebagai fungsi tunggal seperti : . Perawatan Anak Perawat-perawat terbaik sangat direkomendasikan untuk fasilitas perawatan anak ini. janitor.konsultasi bagi keluarga penderita . dan nyaman. Gudang Sebagai fasilitas penyimpan alat-alat pembelajaran. ruang ini juga akan berfungsi sebagai ruang rapat atau pertemuan antar staf di rumah sakit. dari mobil ambulans ke ruang UGD atau ruang penting lainnya harus dibuat seefisien mungkin. Selain itu.toilet anak dan staf . Ruang Kuliah Ruang kuliah ini nantnya akan digunakan sebagai fasilitas belajar bagi para calon-calon perawat atau pegawai lainnya. dan sebagainya. aman. C.loker tempat simpan jaket atau sepatu . AKSES AMBULANS Akses utama keluar dan masuk mobil ambulans tidak boleh bergabung dengan akses lalu lintas yang padat. Area perawatan anak meliputi: .ruang ibadah dan Ruangan harus mudah diakses oleh penyandang cacat. Akses jalan. Fasilitas Pembelajaran/ Studi Ruang seminar Luas minimum = 28 m2. Selain itu. 12. ANTAR JEMPUT AMBULANS Titik antar jemput mobil ambulans harus terlindungi dari hujan dan panas.tempat bermain anak . Fasilitas Pendukung Lainnya Fasilitas ini antara lain cleaning service.tempat meyimpan mainan .tempat bermain outdoor yang aman . Ruangan ini natinya akan digunakan untuk mengadakan seminar. RAMPS Ramp harus disesuaikan dengan standar yang ada. Demonsrasi suatu metode baru dalam perawatan pasien juga akan menggunakan fasilitas ini. 82 Perpustakaan Di sini nantinya akan dapat diletakkan berbagai literatur medis yang dapat digunakan untuk mencari data bagi para staf pegawai. sehingga ambulans dapat beroperasi dengan cepat.

instruksi pasca operasi. record) IZIN MASUK/ PENERIMAAN (record akhir. akses pengunjung) 83 KEMUNGKINAN TAHAP 3. penjelasan) GANTI (gudang pakaian) RUANG PRA OPERASI (identifikasi. PEMULIHAN (penyegaran. keuntungan. petunjuk) RUMAH SAKIT (gawat darurat/rawat inap) RUMAH (follow up pasca operasi) . Diagram Pergerakan Pasien PENJADWALAN ULANG DOKTER BEDAH (tindakan/pemilihan pasien) FORMULIR (perjanjian medis. PEMULIHAN (Perawatan pasca operasi/penyadaran) TAHAP 2. tagihan. profil medis.13. pengecekan) BATAL (jika ditemukan ketidakpuasan) REVIEW HASIL PEMERIKSAAN RUANG ENDOSCOPY/TINDAKAN (anestetik/tindakan ) ARSITEKTUR RUMAH SAKIT PERHENTIAN AMBULAN TAHAP 1. PEMULIHAN (observasi lanjutan. buklet info pasien) DPC registrasi pasien (review formulir. GANTI (gudang pakaian) FORMULIR (pembebasan. recliners.

Tata Fungsi Zona Fungsi Dalam Rumah Sakit Zona 1 – wilayah ini berkarakter publik. ruang ganti pakaian. kedap air. 84 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT .14. ruang komputer. Lebar pintu minimal 1.20 meter dan tinggi minimal 2. Penataan ruang bangunan dan penggunaannya harus sesuai dengan zonasi fungsi yang telah ditentukan sehingga dapat berkaitan dengan zonasi yang memenuhi persyaratan kesehatan yaitu dengan mengelompokkan fungsi ruangan berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit sebagai berikut : Zona dengan Risiko Rendah Zona risiko rendah meliputi : ruang administrasi. Langit-langit harus terbuat dari bahan yang kuat. Zona dengan Risiko Sedang Zona risiko sedang meliputi : ruang rawat inap bukan penyakit menular. ruang perpustakaan. Persyaratan ruang sebagai berikut : Permukaan dinding rata dan berwarna terang Lantai terbuat dari bahan yang kuat. dan ambang bawah jendela minimal 1. dan ruang tunggu pasien. farmasi dan diagnostik. ruang perawatan intensif. Wilayah ini menerima limpahan kerja dari zona luar dan membutuhkan akses khusus untuk mendukung pelayanan khusus: program ruang yang direncanakan pada zona ini adalah fasilitas rawat inap. Dinding ruang penginderaan medis berwarna gelap. ruang resepsionis. dengan ketentuan dinding disesuaikan dengan pancaran sinar yang dihasilkan dari peralatan yang dipasang di ruangan tersebut. laboratorium. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1. Persyaratan bangunan pada zona dengan risiko sedang sama dengan persyaratan pada zona risiko rendah. dan tinggi minimal 2. dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus. instalasi rawat jalan. kebidanan. dan ruang pendidikan/pelatihan. dan ruang jenazah dengan ketentuan persyaratan sebagai berikut : Dinding permukaan rata dan berwarna terang.40 meter dari lantai. bila ventilasi alamiah tidak menjamin adanya pergantian udara dengan baik. Ruang publik direncanakan berada di area yang sangat publik dengan tingkat pencapaian yang tinggi. kerangka harus kuat. Zona 3 – wilayah yang menyediakan dukungan bagi aktivitas rumahsakit: kantor pengelola rumah sakit dan ruang serbaguna. ruang pertemuan. rawat jalan. mudah dibersihkan. Zona dengan Risiko Tinggi Zona risiko tinggi meliputi: ruang isolasi.70 meter dari lantai. Dinding ruang laboratorium dibuat dari porselin atau keramik setinggi 1. warna terang. Zona 2 – wilayah ini berkarakter privat. ruang penginderaan medis (medical imaging). Di dalam ruang publik berlangsung aktivitas-aktivitas pelayanan rumahsakit kepada publik. Yang Perlu Diperhatikan dalam Desain A. Ventilasi dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik. dapat dilengkapi dengan penghawaan mekanis (exhauster) .50 meter dari lantai dan sisanya dicat warna terang. Publik dapat mengakses area ini namun terbatas. berwarna terang. ruang bedah mayat (autopsy). mudah dibersihkan. diantaranya instalasi gawat darurat.10 meter. tembok pembatas antara ruang Sinar X dengan kamar gelap dilengkapi dengan transfer cassette.00 meter dari lantai.

kedap air. Hubungan dengan ruang scrub–up untuk melihat ke dalam ruang operasi perlu dipasang jendela kaca mati.10 m. b. dan ruang patologi dengan ketentuan sebagai berikut : Dinding terbuat dari bahan porslin atau vinyl setinggi langit-langit. berwarna terang. emergency. Lebar pintu minimal 1. Fasilitas tangga sebagai penghubung antar lantai maupun penggunaan alat bantu sirkulasi vertikal berupa ramp pada pengembangan bangunan berlantai banyak pada fungsi-fungsi yang bersifat emergency. Fasilitas selasar/koridor penghubung antar ruang tindakan. dan rawat inap intensif.20 meter dan tinggi minimal 2. dengan lebar minimal 2. Lebar pintu minimal 1. mudah dibersihkan. mudah dibersihkan.70 meter dari lantai. Tata Sirkulasi Sirkulasi Internal Sistem sirkulasi di dalam bangunan adalah pengaturan hubungan antar fungsi ruang yang saling terkait. Khusus ruang operasi. ruang perawatan gigi.- Lantai terbuat dari bahan yang kuat. atau dicat dengan cat tembok yang tidak luntur dan aman. Khusus untuk ruang bedah ortopedi atau transplantasi organ harus menggunakan pengaturan udara UCA (Ultra Clean Air) System Tidak dibenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar. ruang gawat darurat. yaitu : a. c. berwarna terang. dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus. ruang bedah mulut. OK. dan tinggi minimal 2.00 meter dari lantai. dan tinggi minimal 2. 85 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . ruang bersalin. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1. B. Langit-langit terbuat dari bahan yang kuat. dan semua pintu kamar harus selalu dalam keadaan tertutup.20 meter dan tinggi minimal 2.70 meter dari lantai. Zona dengan Risiko Sangat Tinggi Zona risiko tinggi meliputi : ruang operasi. untuk setiap ruang operasi yang terpisah dengan ruang lainnya. kerangka harus kuat. Pemasangan gas media secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau di atas langit-langit. hubungan ke ruang steril dari bagian cleaning cukup dengan sebuah loket yang dapat dibuka dan ditutup. Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah. Penggunaan tangga atau elevator dan lift dilengkapi dengan sarana pencegahan kecelakaan seperti alarm suara dan petunjuk penggunaan yang mudah dipahami oleh pemakainya atau untuk lift 4 (empat) lantai harus dilengkapi ARD (Automatic Rexserve Divide) yaitu alat yang dapat mencari lantai terdekat bila listrik mati. warna terang. seperti trauma center. Lantai terbuat dari bahan yang kuat. kedap air. mudah dibersihkan dan berwarna terang. harus disediakan gelagar (gantungan) lampu bedah dengan profil baja double INP 20 yang dipasang sebelum pemasangan langit-langit Tersedia rak dan lemari untuk menyimpan reagensia siap pakai Ventilasi atau pengawasan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri.40 meter dari lantai.5 meter.10 meter. untuk itu harus dibuat ruang antara. Langit-langit terbuat dari bahan yang kuat dan aman. yang terdiri dari beberapa fasilitas sirkulasi. Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis. dan ambang bawah jendela minimal 1.

terdiri dari drop-off bahan di instalasi gizi. Sirkulasi umum. dengan penerangan cukup di malam hari dan dilengkapi signage yang jelas. c. Fasilitas selasar/koridor penghubung antar massa bangunan g. c. Sirkulasi dari dan ke gawat darurat mempunyai skala prioritas tertinggi dibanding sirkulasi lain. Sirkulasi eksternal rumah sakit dibedakan dalam pengelompokan yaitu: Sirkulasi gawat darurat. e. Dalam kondisi luar biasa yaitu bila terjadi gawat darurat massal maka keempat area dropping tersebut bisa digunakan secara bersama-sama untuk menghindari terjadinya antrian panjang. Ada 4 zona dropping terpisah. yaitu sirkulasi yang digunakan oleh staf medik rumah sakit dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan kesehatan. Sirkulasi medik. administrasi. Dropping zone paling penting adalah naik turunnya pasien dari kendaraan pengangkut. Fasilitas selasar/koridor services dan utilitas Kualitas sirkulasi dibedakan di dalam pengelompokan. Pemisahan akses ini dibuat untuk memudahkan akses menuju ke Unit Gawat Darurat dan VK tanpa diganggu oleh sistem sirkulasi publik menuju ruang-ruang fungsional lain dalam rumah sakit Sirkulasi eksternal ditunjang oleh area parkir serta dropping zone. Sirkulasi umum. b. d. Sirkulasi staf. c. Sirkulasi barang dan servis. yaitu sirkulasi yang digunakan untuk distribusi mobilisasi barang atau logistik. yaitu sirkulasi oleh pengunjung umum dari luar menuju ke poliklinik. Meminimalkan himpitan dan tumpang tindih (overlaid) antara sirkulasi medik dengan services. 86 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . pusat diagnostik atau besuk ke rawat inap. sehingga memudahkan hubungan dan komunikasi antar ruangan serta menghindari risiko terjadinya kecelakaan dan kontaminasi f. Persyaratan ketat sirkulasi adalah: a. yaitu akses langsung menuju IGD. b. Sirkulasi Eksternal Merupakan perencanaan sirkulasi diluar bangunan. Dilengkapi dengan pintu darurat yang dapat dijangkau dengan mudah bila terjadi kebakaran atau kejadian darurat lainnya.d. yaitu sirkulasi yang digunakan oleh pengunjung umum dengan berbagai keperluan di dalam rumah sakit. b. Direncanakan area tersebut terlindung dari hujan panas. dan fungsi-fungsi pemeliharaan. Meminimalkan terjadinya himpitan tumpang tindih antara sirkulasi medik dengan kelompok sirkulasi lain. Karakter sirkulasi ini cepat dan bebas hambatan. rawat jalan dan rawat inap. yaitu akses karyawan medik maupun non-medik menuju zona aktivitas. yaitu: a. yaitu: a. Pembagian ruangan dan lalu lintas antar ruangan didisain sedemikian rupa dan dilengkapi dengan petunjuk letak ruangan. Sistem sirkulasi eksternal dipisahkan antara sirkulasi menuju Unit Gawat Darurat dan VK dengan sirkulasi menuju diagnostik. operasi pemeliharaan IPAL dan incenerator. Sirkulasi eksternal memiliki prinsip mengoptimalkan akses dari jalan utama. sirkulasi kendaraan pemadam kebakaran. Sirkulasi barang dan servis.

Seperti pada ruang pemeriksaan dan pengolahan sampel di laboratorium. ruang racik instalasi farmasi. b. Oleh karena itu diperlukan ruang-ruang transisi untuk menuju ruangan dengan intensitas cahaya yang berbeda. latar belakang obyek dan kondisi fisiologis mata. jendela. Untuk mendukung fungsi keamanan. o Sumber-sumber cahaya hendaknya dilindungi untuk meminimalisasi cahaya menyilaukan dan temperatur yang tinggi. Pada area-area publik yang penting seperti ruang receptionist. Beberapa prinsip mengenai pencahayaan buatan pada rumahsakit adalah sebagai berikut : o Intensitas cahaya pada tiap ruangan hendaknya dapat diatur dengan mudah o Perbedaan intensitas cahaya yang gradual akan sangat membantu pasien untuk beradaptasi terhadap ruang yang akan dituju. c. 3. lantai dan funiture. dan ruang-ruang yang memiliki fungsi sebagai ruang tindakan dan operasi. e. Sehingga dasar yang dijadikan konsep perencanaan pencahayaan adalah : 1. Aspek Fisika Bangunan Pencahayaan Secara teknis. Dropping untuk fasilitas Kantor dan Pendidikan Dropping untuk fasilitas Gawat Darurat Dropping untuk fasilitas Poliklinik Dropping untuk fasilitas Rawat Inap Dropping untuk fasilitas Servis C. dan lobby direncanakan kuantitas pencahayaan yang lebih. Intensitas cahaya yang tinggi diberikan pada area-area yang aktivitasnya membutuhkan konsentrasi dan memiliki resiko bahaya yang lebih dibanding ruangan lainnya. Untuk mendukung visual task dan kegiatan pengguna bangunan. Selain itu unsur luar yang turut mempengaruhi kenyamanan pandangan yang harus diselesaikan secara teknis adalah wujud obyek yang di pandang. atau penyinaran alam (daylight) dan penyinaran buatan (artificial illumination). konsep perencanaan pencahayaan adalah pengaturan efek sinar yang sesuai terangnya dan tidak menyilaukan. o Menghindari bahan-bahan yang dapat mengakibatkan silau (glare) pada pintu.a. Untuk menciptakan Iingkungan yang sesuai dan menyenangkan. sehingga kenyamanan dapat tercapai. Pencahayaan yang memadai pada area publik dapat meningkatkan rasa aman. Penggunaan beberapa lampu dengan intensitas rendah lebih baik daripada satu lampu dengan intensitas tinggi. Pada hakikatnya. sekitar individu ditempatkan pada titik yang mudah dijangkau dan tidak menimbulkan berisik ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 87 . baik dalam maupun luar ruangan harus mendapat cahaya dengan intensitas yang cukup berdasarkan fungsinya. o Lingkungan rumah sakit. d. yaitu di atas 100 fc (footcandles). o Semua ruang yang digunakan baik untuk bekerja ataupun untuk menyimpan barang/peralatan perlu diberikan penerangan. o Ruang pasien/bangsal harus disediakan penerangan umum dan penerangan untuk malam hari dan disediakan saklar dekat pintu masuk. Dua faktor utama di dalam konsep perencanaan pencahayaan adalah (1) tingkat kekuatan penyinaran (quantity) dan (2) pengontrolan silau (quality). pendaftaran. yaitu: pencahayaan buatan dan pencahayaan alami. 2. dinding. pencahayaan dikelompokkan menjadi 2 (dua) jenis.

minimal 7. hendaknya diletakkan sejauh mungkin. ruang operasi. Kesegaran udara dalam ruang serta kesehatannya diukur dengan besarnya kadar zat asam (CO2) tidak melebihi 0. Pergantian udara dalam ruang dikatakan baik apabila untuk ruangan dengan dimensi 5 m3 /orang.10 mbar) dibandingkan ruang-ruang lain di rumah sakit. Suplai udara dan exhaust hendaknya digerakkan secara mekanis. tekstur). Ventilasi ruang operasi harus dijaga pada tekanan lebih positif sedikit (minimum 0. Sistem hendaknya dibuat keseimbangan tekanan. dan karena berbeda tekanan udaranya. Pengendalian pertukaran udara. laboratorium. Persyaratan penghawaan untuk masing-masing ruang atau unit seperti berikut : Ruang-ruang tertentu seperti ruang operasi. dan frekuensi pergantian udara per jam adalah 2 (dua) sampai dengan 12 kali. dan perlu diupayakan sedemikian rupa sehingga mudah dalam perawatannya.50 meter dari exhauster atau perlengkapan pembakaran. 88 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Tinggi intake minimal 0. Penghawaan Konsep pengolahan dan pengendalian udara (penghawaan) pada ruang pada hakekatnya terdiri dari tiga hal yaitu: pengendalian kalor/panas dan suhu serta penggunaan bahan material bangunan (jenis. Sistem suhu dan kelembaban hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga dapat menyediakan suhu dan kelembaban Penghawaan atau ventilasi di rumah sakit mendapat perhatian yang khusus. Menggunakan pengatur udara (AC) sentral harus diperhatikan cooling tower-nya agar tidak menjadi perindukan bakteri legionella dan untuk AHU (Air Handling Unit) filter udara harus dibersihkan dari debu dan bakteri atau jamur.Penggunaan sunshading dapat digunakan untuk mereduksi pencahayaan alami di sisi Barat dan Timur. udara dalam ruang harus diganti 5 kali per jam. kecuali unit ruang individual. Bila menggunakan sistem pendingin. aliran udara. perlu mendapat perhatian yang khusus karena sifat pekerjaan yang terjadi di ruang-ruang tersebut. perawatan bayi. dan kelembaban nyaman bagi pasien dan karyawan. Kelembaban udara yang nyaman bagi tubuh adalah sekitar 40-70%. tata hijau lingkungan mempengaruhi seberapa besar atau seberapa kecil panas/kalor yang diserap atau dikeluarkan untuk menciptakan suhu nyaman bagi pengguna yaitu berkisar 25º-26º C. zat pelapis/cat (warna). orientasi bangunan terhadap arah sinar matahari dan angin. pengendalian kelembaban udara. frekuensi pergantian udara semakin tinggi. Suplai udara di atas lantai. Ruangan dengan volume 100 m3 sekurang-kurangnya 1 (satu) fan dengan diameter 50 cm dengan debit udara 0.9 meter dari atap. Pengambilan supply udara dari luar.1-0. hendaknya disediakan 2 (dua) buah exhaust fan dan diletakkan minimal 7. diambil dekat langitlangit dan exhaust dekat lantai.5 m3/detik. Hal ini dicapai dengan mengoptimalkan aliran sirkulasi udara (ventilasi). Suplai udara untuk daerah sensitif. perawatan bayi.5%.nan (exterior noise/airborne noise). Salah satu strategi untuk mengendalikan kelembaban udara dalam ruang yaitu dengan mempercepat proses penguapan.50 cm dari lantai. Ventilasi diperoleh dengan memanfaatkan perbedaan bagian-bagian ruangan yang berbeda suhunya. hendaknya dipelihara dan dioperasikan sesuai buku petunjuk sehingga dapat menghasilkan suhu. dan exhaust fan hendaknya diletakkan pada ujung sistem ventilasi. Semakin kecil rasio ruang perorang.

Untuk mengurangi kadar kuman dalam udara ruang (indoor) 1 (satu) kali sebulan harus disinfeksi dengan menggunakan aerosol (resorcinol. dan tidak mengandung debu asbes. Penghawaan ruang operasi harus dijaga agar tekanannya lebih tinggi dibandingkan ruang-ruang lain dan menggunakan cara mekanis (air conditioner) Penghawaan mekanis dengan menggunakan exhaust fan atau air conditioner dipasang pada ketinggian minimum 2. Saringan I dipasang di bagian penerimaan udara dari luar dengan efisiensi 30 % dan saringan II (filter bakteri) dipasang 90 %. Untuk mempelajari sistem ventilasi sentral dalam gedung hendaknya mempelajari khusus central air conditioning system. debu. Kualitas Udara Ruang sebaiknya : Tidak berbau (terutana bebas dari H2S dan Amoniak) Kadar debu (particulate matter) berdiameter kurang dari 10 micron dengan rata-rata pengukuran 8 jam atau 24 jam tidak melebihi 150 ug/m3.20 meter dari langitlangit.- - - - Suplai udara koridor atau buangan exhaust fan dari tiap ruang hendaknya tidak digunakan sebagai suplai udara kecuali untuk suplai udara ke WC. Pemantauan kualitas udara ruang minimum 2 (dua) kali setahun dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan parameter kualitas udara (kuman.00 meter di atas lantai atau minimum 0. pemulihan Endoscopy. dan gas). ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Pengendalian Kebisingan Konsep pengendalian kebisingan ditujukan untuk mengatasi kebisingan dari dalam bangunan (interior noise/impact noise) dan dari luar bangu Indeks Kebisingan Menurut Jenis Ruangan atau Unit No Ruangan atau Unit Kebisingan Max (Waktu pemaparan 8 jam dalam satuan dBA) 1 Ruang Pasien: -saat tidak tidur -saat tidur 45 40 89 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Ruang Operasi umum Anestesi. Penghawaan alamiah. atau disaring dengan elektron presipitator atau menggunakan penyinaran ultra violet. Ventilasi ruang-ruang sensitif hendaknya dilengkapi dengan saringan 2 beds. Lab Sinar X Koridor Tangga/Ramp Kantor / Lobby Ruang alat/Gudang Farmasi Dapur Ruang cuci Ruang Isolasi Ruang Poli gigi 45 45 65 40 40 45 45 45 45 78 78 40 80 . gudang. trietylin glikol). toilet. lubang ventilasi diupayakan sistem silang (cross ventilation) dan dijaga agar aliran udara tidak terhalang.

seperti keramik hendaknya dikombinasi dengan tekstur agar tidak terlalu licin. pemilihan material bangunan serta finishing dinding sedemikian rupa yang dapat mendukung pengendalian kebisingan tersebut. Sistem Pondasi Sistem pondasi yang digunakan tergantung dari karakter dan kemampuan daya dukung tanah di lahan Rumah sakit yang direncanakan Dinding Interior Dinding ruang daIam diupayakan tetap mengutamakan segi kesehatan. karet. Pada ruang tertentu yang telah diatur sesuai dengan standar persyaratan maka kualitas dinding menuruti aturan dalam standar tersebut. Bahan Lantai Untuk menentukan bahan lantai perlu dihindari bahan-bahan yang licin untuk menghindari selip. Bahan lantai dengan kandungan vinyl lebih tahan terhadap abrasi. Penggunaan material yang licin. tidak menyimpan debu atau kotoran dan warna yang dipilih adalah warna hangat untuk menunjang suasana penyembuhan. baik pada lantai maupun dinding dapat mereduksi kebisingan sampai 70%.45 dB (Sinha. Struktur Bangunan Modul dan Ukuran Bangunan Ukuran bangunan menggunakan standar bangunan rumah sakit yang tergantung pada aktivitas (utama) kegiatannya. sehingga modul mengikutinya. Lantai dengan lapisan karet adalah bahan yang paling ideal untuk menghindari selip. namun diperoleh mutu konstruksi yang baik serta penyelesaian fasad arsitektural yang memadai untuk mewujudkan citra kelas pelayanan prima. Penggunaan ceiling yang tepat juga dapat mereduksi kebisingan terutama dari lantai ke lantai. sehingga penyelesaian pengendalian kebisingan diupayakan melalui elemen interior seperti dinding atau partisi di mana untuk rumah sakit paling tidak harus dapat meredam bunyi dengan frekuensi 40 dB . Massa bangunan menerapkan sistem modulor dengan fleksibilitas yang cukup untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan aktivitas yang diwadahi. 1985). Bahan Bangunan Pemanfaatan material tetap mengutamakan segi ekonomis melalui penggunaan bahan bangunan yang umum dan mudah didapat. vinyl dapat digunakan sebagai bahan lantai yang sesuai untuk kursi roda dan stretcher. Bahan-bahan seperti keramik. Konsep yang digunakan untuk mengatasi masalah kebisingan adalah mengolah tata letak dan perencanaan interior. yaitu menggunakan bahan finishing dinding dan sistem konstruksi yang mudah dibersihkan. Kebisingan juga dapat dihindari dengan tidak menggunakan bahan-bahan logam pada furniture D. Di sisi lain.Ketentuan pemerintah melalui Permenkes telah menetapkan tingkat kebisingan yang diijinkan untuk sebuah pelayanan kesehatan seperti rumah sakit yaitu antara 35 dB sampai 45 dB. Keramik dengan tekstur atau berukuran kecil dengan banyak joint lebih baik dari pada keramik polos. Penggunaan material seperti karpet. kayu. terutama di toilet. karena mempunyai daya tarik lebih besar sehingga menghindarkan selip 90 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . perencanaan tata massa bangunan juga berperan dalam pengendalian kebisingan.

Aspek Tata Interior Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam tata interior adalah pencahayaan. . dapat menggunakan warnawarna seperti krem. Gagang pintu sebaiknya berada pada ketinggian 90 cm dari lantai sehingga mudah dicapai orang dari kursi roda maupun anak-anak. maka satu daun pintu minimal mempunyai lebar 80-90 cm. minyak dan alkali. dimensi. Ujung frame yang berbahaya hendaknya diberi pengaman semacam karet. Lebar daun pintu harus dapat mengakomodasi perpindahan stretcher dan furnitur di dalam ruangan. Karakter hangat dapat diterapkan pada ruang-ruang yang bersifat publik. yaitu dengan cara: . serta ruang-ruang yang digunakan sebagai area terapi dan penyembuhan. sebaiknya pintu dapat berayun dari dua arah. Ketiga hal tersebut saling terkait dalam membentuk karakter ruang yang diinginkan. Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah. Kombinasi material penutup atap dipakai laminated glass ataupun fiberglass untuk kepentingan memasukkan cahaya dalam ruang. jenis jendela yang dianjurkan adalah jendela yang tidak mudah digerakkan oleh angin. tahan terhadap abrasi. Jendela harus dapat dibuka dan ditutup oleh anak-anak. lobby. Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan. seperti ruang tunggu. Prinsip yang digunakan dalam merencanakan interior ruang adalah dengan membedakan karakter ruang yang hangat dan dingin. Beberapa ruang dalam rumah sakit perlu mendapat perhatian mengingat penggunanya adalah pasien yang mengalami gangguan kesehatan. Karakter ruang yang diciptakan juga harus mendukung usaha penyembuhan sang pasien. sehingga dapat dengan mudah dibuka tutup dari dua sisi ruangan.8 untuk ramp) dalam keadaan basah maupun kering. akan tetapi bahan karet tidak direkomendasikan pada dapur dan ruang operasi. Pada ruangan-ruangan yang penting. E. Bagi pasien berkursi roda. Lebar pintu ini untuk mengantisipasi masuk keluarnya stretcher. Penutup plafon sebagai komponen atap menggunakan bahan kedap suara dan mampu menjadi sekat api (fire proofing).Bahan-bahan yang dapat dikatakan anti selip adalah bahan-bahan yang mempunyai koefisien pergeseran minimal 0. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan kenyamanan privacy serta keselamatan bangunan.memeriksa kualitas genteng. pintu yang digunakan adalah pintu dua daun dengan lebar bersih minimal 120 cm. pasien dengan kursi roda lebih nyaman berada di ruangan yang memiliki ceiling rendah. Bahan yang memenuhi kriteria ini adalah karet. Ceiling yang lebih rendah dapat membuat ruangan lebih cozy dan tidak formal. orange pada unsur-unsur interior seperti dinding dan lantai. Bahan karet dapat menghindarkan selip. Untuk keamanan. Untuk menciptakan karakter hangat dalam ruangan.memeriksa akurasi bentuk satuan genteng . Bahan Atap Hal Iain yang perlu diperhitungkan adalah penanggulangan masalah kebocoran pada waktu hujan. disamping itu. dalam hal ini jendela geser lebih efisien. sangat sulit untuk membuka dua daun pintu.memberi Iapisan plastik atau aluminium foiI pada bagian daIam atap . dan material.memperhitungkan kemiringan atap . Untuk memudahkan pengguna kursi roda. dan orang di kursi roda. 91 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT Pintu dan Jendela Lebar pintu dengan satu daun berkisar antara 80-90 cm agar kursi roda dapat masuk ke dalam ruangan.6 (0.

Pembatasan tekstur dan warna perlu dilakukan untuk membantu pasien gangguan jiwa yang sensitif. waktu seakan berjalan cukup cepat. Sistem keamanan pada perencanaan fisik juga mencakup sistem pengamanan bahaya kebakaran yang terkait dengan usaha evakuasi. karakter dingin sangat sesuai digunakan pada ruang-ruang operasi. Oleh karena itu. 92 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Karakter dingin dapat dibentuk dari warna lighting. terutama pada malam hari. di dalam ruangan yang berkarakter dingin. Pintu hendaknya berwarna kontras untuk memudahkan way finding pada saat kebakaran. warna material serta furnitur yang ada di dalamnya. Sedangkan. Sistem keamanan aktif dapat menggunakan sistem monitor video (CCTV) yang diletakkan pada area-area yang kritis. Minimalkan penggunaan cermin. Ruangan berkarakter hangat dapat membuat pengguna didalamnya merasa waktu berjalan lebih lambat. Perbedaan yang kontras antara dinding dan lantai dapat membantu mengidentifikasi batas. Sistem keamanan pasif didapat penataan lansekap dan pencahayaan luar ruangan yang memadai pada areaarea yang kritis. karena dapat memecah konsentrasi dan orientasi.Tekstur dan warna sangat mempengaruhi kesan pengguna ruangan terhadap ruangan. Sistem ini memungkinkan petugas untuk memonitor segala sesuatu yang terjadi dalam waktu 24 jam. F. yaitu aktif dan pasif. Aspek Keamanan dan Evakuasi Sistem pengamanan pada rumah sakit direncanakan menggunakan dua sistem.

ataupun perkembangan dalam rekayasa teknik termasuk perkembangan bahan bangunan. e. d. Isu tersebut muncul dalam relasi desakan strategis pertimbangan pengelolaan. Untuk itu sangat diperlukan penanda arah dan waktu.Usia teknis bangunan dan infrastruktur diperhitungkan 25 tahun sesuai syarat dalam Keciptakaryaan.Pentahapan struktur bangunan harus didasarkan pada perencanaan beban maksimal serta ketinggian struktur gedung tertentu.Pentahapan pelaksanaan sistem infrastruktur harus didasarkan pada rancangan sistem keseluruhan yang matang. adanya tuntutan performa gedung sesuai dengan kelas layanan. Terkait dengan fasilitas.BAGIAN 3 ISU KONTEMPORER ARSITEKTUR RUMAH SAKIT pendekatan-pendekatan yang merespon isu kontemporer Perkembangan jasa layanan medis tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan jaman dimana berbagai isu kontemporer muncul dari waktu ke waktu. maka beberapa hal ini harus menjadi pertimbangan yaitu: a. Namun secara langsung investasi pembangunan gedung menjadi salah satu komponen utama perhitungan biaya yang harus dikalkulasi dengan cermat tingkat pengembaliannya. Inefisiensi secara langsung akan menghasilkan biaya produksi tinggi yang lambat atau cepat akan menggulung lapangan bisnis kita. Kesesuaian Besaran Fasilitas terhadap Okupansi Pelayanan Strategi penting adalah rumusan besaran dan jenis layanan dalam perspektif Renstra Rumah Sakit. Kapan harus memperluas bangunan sebagai tuntutan penambahan jenis atau kapasitas pelayanan dan sebaliknya kapan harus menunggu. akibat pergeseran karakter pelayanan merespon dinamika teknologi medik. 1. performa fisik bangunan beserta lingkungan terhadap kemudahan pemeliharaan dan biaya. Bangunan gedung bisa diasumsikan sebagai alat produksi. Kapasitas alat produksi yang lebih besar dari pada penjualan akan mengakibatkan inefisiensi. Dalam rumusan tersebut telah mewadahi kebijakan manajerial terkait dengan pentahapan serta investasi. b. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 93 . Pada bab ini akan dibahas tentang pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan dalam menanggapi beberapa isu kontemporer. konservasi lahan dan konservasi energi untuk kepentingan pelestarian dan keberlangsungan adalah sebagian isu-isu mutakhir yang mengemuka dasawarsa ini. Isu kontemporer misalnya besaran fasilitas sesuai tingkat okupansi yang memungkinkan pertumbuhan. tuntutan konservasi bangunan dalam status benda cagar budaya dengan adaptasi fungsi baru. Secara prinsip gedung beserta infrastruktur penunjangnya sebagai aspek fisik akan mengikuti strategi non fisik.Semua komponen struktur bangunan adalah tetap (fix) .Ruang pelayanan didasarkan pada persyaratan tertentu sehingga tidak semua ruang bisa mengalami alih fungsi. c.

Laksanakan pembangunan gedung jika instalasi baru tersebut merupakan instalasi vital yang mempengaruhi kinerja unit pelayanan lain. 94 2.Rencanakan dan laksanakan pemeliharaan rutin. Dalam perkembangan bahan bangunan memungkinkan dipilih material dinding ringan permanen (hebel) sehingga bisa mengurangi beban yang harus didukung oleh struktur bangunan atas. Kenyataan yang terjadi adalah kondisi fasilitas sangat mempengaruhi calon pembeli dan keputusanya. Jika prinsip prasyarat diatas belum ada. dan spesi yang memiliki daya rekat baik dengan berat lebih ringan dengan nama dagang antara lain mortar utama. Oleh karena itu pahami dan putuskan secara strategis.Laksanakan pembangunan jika sarana prasarana penting telah rusak dan tidak bisa digunakan lagi.Secara keuangan agenda pembangunan konstruksi baru bisa diagendakan setelah 6-7 bulan kecuali pertimbangan khusus. plat beton.Rehabilitasi gedung termasuk sarana prasarananya b. Selain itu adanya produk lapisan ringan dengan kemudahan aplikasi serta kekuatan untuk menjadi partisi ruangan sangat bermanfaat.Oleh karena itu hal apa yang bisa menjadi pertimbangan pengelola dan pembuat kebijakan untuk fasilitas kesehatan diantaranya adalah: a. Arsitektur Rumah Sakit yang Memiliki Kelas Layanan Isu ini lebih mengarah pada kepentingan bertemunya aspek perencanaan fasilitas terhadap strategi meraih segmen pasar bisnis. Sistem dan jenis pondasi sesuai dengan daya dukung tanah serta besar beban yang disalurkan. Kesesuaian besaran investasi fasilitas terhadap skenario aliran kas sehingga bisa diperoleh stabilitas kondisi keuangan secara umum. Masih banyak lagi dukungan kemajuan teknologi bahan yang mendukung kebutuhan di lapangan. Bahan yang tepat bahkan tidak saja menjadi penyekat ruang namun sekaligus sebagai peredam suara dengan fleksibilitas yang baik untuk dipasang vertikal sebagai komponen dinding atau horisontal sebagai komponen plafon. Maka sedikit banyak perlu memahami komponen utama struktur bangunan yaitu pondasi. balok beton. Pondasi merupakan komponen bangunan terbawah yang meratakan dan atau menyalurkan beban. Besaran beban yang melampaui daya dukung tanah dan pondasi akan menyebabkan rusaknya pondasi. Secara prinsip seluruh beban diatas tanah akan disalurkan kebawah oleh sistem struktur serta dilandaskan ke tanah keras. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . e. d. Dalam ilustrasi tersebut diatas dituntut pemahaman teknis sebaik pertimbangan manajemen strategik.Laksanakan perbaikan dalam kerangka pemeliharaan c. Semakin banyak aspek positif ditemukan oleh pembeli dari produk layanan akan semakin baik bagi penyedia. b. Misalnya Rawat Jalan akan membutuhkan mutlak sarana prasarana diagnostik seperti pula rawat inap memerlukan instalasi rawat darurat dalam kapasitas yang tepat. renovasi dan perbaikan secara mutlak harus dengan anggaran belanja yang lebih rendah sekitar maksimal 2/5 biaya pembangunan konstruksi baru. Implikasi jika okupansi terlalu tinggi maka kualitas pelayanan akan turun seiring dengan penurunan sanitasi dan daya dukung gedung. kolom.Laksanakan pembangunan gedung jika okupansi telah tinggi (>70%). acian.Konsolidasi keruangan dalam konsep renovasi atau rehabilitasi Rehabilitasi. maka yang bisa dilaksanakan adalah: a. c. Selain itu didukung adanya produk khusus adukan. Sehingga hindarkan penambahan beban struktur baru disemua sistem struktur lama kecuali ekstensi yang telah diperhitungkan dari awal.

Selain itu pertimbangan keamanan pengguna adalah karakter anti selip.Garis rancangan dan pembentuk kulit baru harus sesuai dengan pencitraan layanan (brand image). bahan permukaan serapat mungkin tanpa celah meminimalkan sambungan.Tata ruang yang sesuai dengan kebutuhan layanan dengan antisipasi terhadap kapasitas maksimal b. Penyiasatan beberapa kali berhasil dipraktekkan terutama pada fasilitas Rumah Sakit yang telah terbangun dan layanan telah berjalan. Homogenitas tersebut membuat lebih kuat dan hasil tanpa pori-pori. Sekaligus kepingan bahan tersebut menghindari munculnya kotor pada permukaan bawah dinding akibat pengepelan lantai. Kondisi tersebut mengakibatkan calon pembeli tidak berani observasi atau spekulasi membeli layanan sehingga berpindah pada alternatif yang sesuai dengan kemampuan dan harapan.Tuntutan dasar terhadap layanan kesehatan adalah profesional dan bersih. tuntutan tersebut tidak sulit untuk diwujudkan. Pertimbangan utama adalah: a. Dukung kondisi bersih melalui rancangan warna dan cahaya. ketebalan lapisan permukaan untuk keramik. Aplikasi menggunakan bahan perata dan perekat berlapis menghasilkan permukaan datar. Lapisan permukaan anti gores dan anti bakteri menghindari cacat permukaan yang sering tidak dapat dicegah dalam penggunaan alat bergerak. Sebagai contoh fasilitas gedung di unit Bedah telah memiliki standard clean room tertentu dengan syarat aliran ruang menyangkut sterilitas. keseragaman dimensi. Secara teknis yang menjadi pertimbangan adalah ketebalan bahan. dan meski tidak terlalu vital yaitu keawetan warna dan kemenerusan produksi tiap tipe. Dengan teknologi pembuatan yang baik dihasilkan keramik yang homogen. kemampuan dukung. Salah satu produk di pasaran menggunakan nama Indogress. Plint lantai merupakan penutup permukaan lengkung antara lantai dan dinding.Kulit baru harus sesuai dengan tuntutan aktivitas ruang dalam dibaliknya. c. Dari dua tuntutan dasar tersebut maka implikasi terhadap fasilitas antara lain: a. Sedang dari sisi pengelolaan ketidaksesuaian bisa berakibat unit biaya lebih besar dibanding pemasukan. menghindari sudut yang sulit dalam pemeliharaan sampai dengan dukungan kelengkapan infrastruktur yang baku. Dalam dinamika perkembangan rekayasa bangunan dan material. Pencitraan yang berlebihan justru berakibat tidak menguntungkan. Kebutuhan medik tertentu lebih bersifat mutlak dibanding pertimbangan lainnya.Bahan dan sistem kulit baru tidak boleh merusak atau membebani struktur yang telah ada.Rancang bahan yang awet. Di pasaran salah satunya dengan nama dagang tajima. Bahan yang mendukung kebutuhan fasilitas yang bersih dan sehat antara lain plint lantai. aman. Keragaman produk di lapangan memberi peluang banyak pilihan.Hubungan antar unit layanan sesuai dengan kebutuhan kenyamanan pasien sepenting standar medik c. Pencitraan terhadap layanan yang tercipta dari fasilitas harus sesuai dengan kelas sasaran. Bahan yang ada di pasaran penunjang kepentingan tersebut antara lain lembaran aluminium cladding dalam modul tertentu dengan keragaman warna serta teknik dan bahan penggantung rangka hollow. 95 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . Untuk menyesuaikan pencitraan bangunan terhadap layanan digunakan konsep mengangkat kulit wajah (face-lift). b. Kemudahan pemeliharaan dan efisiensi bujet akan menjadi penyeimbang keputusan dalam perancangan bangunan Namun disisi lain secara bersamaan tim perancang fasilitas harus menyesuaikan dengan tuntutan meraih segmen pasar yang sesuai. Lembar material fleksibel memungkinkan dilengkungkan dalam sudut tertentu. Salah satu komponen bangunan yang membentuk citra layanan adalah penutup lantai. dan tidak menangkap debu. Perkembangan bahan yang mendukung diantaranya lapisan permukaan lantai tanpa celah berbahan vynil dengan ketebalan tertentu.

maka penggunaan ukuran dengan perhitungan kelipatan akan tidak menyisakan bahan bangunan. Ataupun penggunaan batu alam dengan treatment tertentu untuk lapisan permukaan anti lumut. Pada sebagian kota bahkan telah diterbitkan list gedung-gedung yang masuk dalam kategori Cagar Budaya. Performa Fisik Bangunan dan Lingkungan Terhadap Kemudahan Pemeliharaan dan Biaya Kemudahan pemeliharaan merupakan faktor penting dalam pertimbangan desain.. Perbedaan tuntutan salah satunya disebabkan oleh skala. jangkauan pengamatan. anti jamur atau noda. segmen tidak mudah lepas. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 96 4. Namun teknik pengecatan tersebut masih memungkinkan diaplikasikan pada permukaan dinding luar bangunan untuk menghasilkan citra alami. Material didukung oleh kehandalan pantauan pabrik yang ketat dalam syarat kondisi bidang aplikasi membuat hasil pengecatan yang baik. dengan demikian perlu pengkondisian udara buatan yang harus diperhitungkan dalam bujet konsumsi listrik. Untuk itu secara fungsional perlu dipilih bahan yang tahan lama. Bangunan yang merupakan benda cagar budaya secara status diikat oleh Undang-undang Cagar Budaya. Bahkan dalam rancangan yang ekonomis. Disisi lain pertimbangan kelengkapan alat pendukungnya. bangunan dan lingkungan. Pemeliharaan menyangkut rincian kualitas permukaan yang berhubungan dengan kondisi ruang. penutupan pori-pori yang sempurna.Atau bahan kaca dengan warna beragam yang terus mengalami peningkatan karakter antara lain tidak meneruskan sinar UV. Terkait dengan biaya. Perlu secara pasti memahami ruang lingkup pelestarian. Kemudahan pemeliharaan antara lain dengan pertimbangan ada tidaknya sistem yang bisa menjangkau komponen bangunan secara mudah. Arsitektur Rumah Sakit yang merespon Konservasi Cagar Budaya dan Beradaptasi dengan Fungsi Baru Beberapa bangunan memiliki status sebagai benda cagar budaya. Hal kecil yang perlu dipertimbangkan juga adalah efisiensi penggunaan bahan terhadap rancangan. Perkembangan teknologi dan bahan pembentuk cat memudahkan dalam memperoleh perlindungan dinding. lapisan dan teknik tertentu menghindari pecah serpih. lingkungan saja atau bahkan distrik hingga kawasan sekitar rumah sakit. Sebagai contoh komponen atap bangunan pada gedung bertingkat sedang hingga tinggi. lapisan anti bakteri. Oleh karena semua bahan bangunan memiliki dimensi modul yang sama atau hampir sama disetiap jenisnya. perubahan warna cat dinding dalam komposisi yang baik akan menghasilkan perubahan citra bangunan. anti noda. lapisan tertentu yang menghambat kemenerusan pandangan. 3. Kesalahan dalam desain akan menjadi beban biaya seumur bangunan beroperasi. Setelah itu perlu dirumuskan ketepatan tindakannya. Sebagai contoh dalam produk di pasaran dengan nama Jotun. dan pemanfaatan. Perubahan suhu serta perbedaan kelembaban akan berpengaruh terhadap fisik bahan. Kualitas cat yang baik dengan kandungan anti lumut dan bakteri bisa mencegah turunnya kualitas permukaan dinding. pilihan material bangunan dipertimbangkan dalam aspek ketahanannya. serta mempunyai daya dukung tinggi. Apakah bangunan. . Sangat penting untuk dipahami pembedaan tuntutan bagi ruang luar dan ruang dalam. Sebagai contoh aplikasi pengecatan bertekstur pada ruang dalam sebaiknya dihindari karena permukaan tersebut menuntut bebas debu sehingga tidak tepat mengaplikasikan jendela hidup disisi lain. anti jamur. Salah satu yang mempengaruhi usia teknis bahan adalah ketepatan dalam pengkondisian seperti yang dipersyaratkan.

Konsultasikan rencana tindakan pelestarian ke Balai Pelestarian Bangunan Cagar Budaya yang ada di provinsi d. Tindakan dan metode dalam penanganan pelestarian bangunan dan lingkungan adalah: a. Artinya aset cagar budaya yang lestari tidak saja secara fisik namun juga pemanfaatan gedung tersebut dalam fungsi baru yang tanggap terhadap perkembangan dan sesuai dengan guna ruang dominan sekitarnya. membangun dan mencukupi kebutuhannya. Selain itu sistem jaringan lama tidak lagi efisien terhadap beragam kepentingan baru. b. Berkelanjutan artinya tidak saja memikirkan keperluan saat ini namun mempertimbangkan lingkungan tempat hidup bagi generasi mendatang. dan Kesinambungan (continuity). 5.Akibat belum aplikasi teknik beton kedap air membuat sebagian dinding lembab akibat kapilerisasi air tanah. 97 ARSITEKTUR RUMAH SAKIT . d. Kegunaan (function). Untuk itulah salah satunya kepatuhan dalam angka maksimal lahan boleh tertutup (building coverage) serta kepadatan terkait dengan total luas lantai menjadi harga mutlak. Bisa dilaksanakan injeksi waterproofing secara merata pada dinding diatas lantai. Bahan (materials). Kriya (workmanship). c. Misalnya tuntutan adaptasi detil pada pintu jendela termasuk teknik penggantungan berpeluang untuk diaplikasikan pada bahan baru.Rata-rata memiliki level plafon yang tinggi sehingga memungkinkan dilaksanakan penataan ruang dalam sesuai dengan adaptasi fungsi baru sekaligus memperoleh efisiensi volume ruang. Rencanakan pemanfaatan lahan yang tepat dengan ruang terbuka yang memadai tertanami oleh pohon yang sekaligus memiliki peran neka guna. Syarat keamanan lingkungan terpenuhi akan berakibat positif pada stok air tanah serta penjagaan kualitas lingkungan dari polusi. Sebagian besar atau semua sistem struktur gedung cagar budaya tidak menggunakan beton rangka namun dinding penyangga beban. Dengan demikian tidak menutup kemungkinkan dilaksanakan pembangunan gedung baru diantara aset cagar budaya dengan menjawab tolok ukur kesesuaian sebagai berikut: Gaya (style). warna. Komponen bangunan rata-rata unik sulit bahkan tidak lagi diproduksi kecuali dalam pemesanan khusus.Susun rencana teknis dan detil perancangan e. Jika kita kaji tindakan konservasi lahan secara prinsip erat berhubungan dengan upaya pelestarian energi karena secara langsung atau tidak akan mempengaruhi kondisi lingkungan.Inventarisasikan secara lengkap seluruh aset bangunan. Salah satunya mengandung arti bagaimana pembangunan dapat berjalan tanpa melampaui ambang batas daya dukung lingkungan saat ini tanpa mengurangi hak generasi mendatang untuk hidup. adaptasi garis desain.Kajian delineasi dan status bangunan beserta lingkungannya c. e. Untuk itu diperlukan kecerdasan dalam merancang hubungan antar fungsi serta distribusi fungsi yang efisien serta nyaman. lahan dan infrastruktur b. . Namun dengan perkembangan bahan bangunan. dimensi bisa dilaksanakan dengan bahan baru dan teknologi baru. Termasuk pula semaksimal mungkin mempertahankan profil muka tanah alami. Konversi Lahan dan Konversi Energi Pembangunan berkelanjutan merupakan semangat yang melekat di era ini.Usia menyebabkan kemungkinan jaringan infrastruktur tidak layak digunakan lagi.Secara prinsip tindakan pelestarian lebih tepat untuk ditekankan pada keberlangsungan bangunan terkait dengan kehidupan.Implementasi rencana Secara prinsip teknis yang harus dipahami adalah: a. Salah satu produk di pasaran yang melaksanakan hal tersebut adalah Fentura Windows. sehingga semua komponen bangunan adalah bagian dari sistem struktur .

Rumah sakit adalah bangunan publik yang secara fungsional mempunyai peran sebagai muara evakuasi korban bencana. ARSITEKTUR RUMAH SAKIT 98 . memenuhi standar dimensi. rumah sakit merupakan salah satu fungsi yang membutuhkan dukungan energi tinggi. 6. air bersih. Semua material bangunan selalu mempunyai spesifikasi teknis yang tidak boleh dilanggar untuk mendapatkan keamanan struktur sehingga perencanaan dan pelaksanaan merupakan kunci utama yang tidak boleh ditinggalkan salah satu. Berhubungan dengan konsumsi energi. Terkait dengan hal tersebut. Jika tidak dimungkinkan pemilihan lokasi yang lebih baik maka diperlukan sistem pengamanan dengan rekayasa teknis yang tepat. Hal sederhana yang digunakan sebagai template pada penataan lay-out instalasi rawat jalan/poliklinik pada masterplan Rumah sakit adalah menempatkannya dalam sebuah jejalur paralel yang memungkinkan diletakkannya ruang tunggu di sisi luarnya sehingga ruang tunggu tersebut dapat memanfaatkan bantuan pencahayaan dan penghawaan alami (tidak secara total). kualitas tahan tekan beton minimum 175 kg/cm2 dan kekuatan tarik baja 2400 kg/cm2. Struktur serta bahan gedung harus mempunyai kelenturan atau daktilitas yang baik serta mempunyai daya tahan terhadap kerusakan. jumlah dan sebaran serta bahan bangunan yan tepat. Namun dengan perencanaan yang tepat dan cermat maka waktu kritis bisa terlampaui sebelum memasuki waktu luruh/rusak teknis bahan. tanah sehat. hidran atau lain sebagai bagian dari sistem pengendalian kebakaran. udara bersih. maka pertimbangan lokasi menjadi faktor penting. Hal tersebut menyangkut jalur evakuasi yang jelas. Untuk itu rancangan bangunan beserta sistem penunjangnya diarahkan untuk pemanfaatan yang lestari. pengelolaan limbah cair sehingga faktor infeksi tidak mencemari lingkungan serta eksplorasi air tanah secara bijaksana. Perhitungan pembebanan dalam perencanaan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) didukung kesempurnaan dalam pelaksanaan menjadi aspek metodologi yang dipersyaratkan. Keamanan lain yang harus diperhitungkan adalah keselamatan pengguna.Kondisi mutlak terhadap hasil aktivitas rumah sakit adalah pentingnya pengolahan sampah medik secara khusus. sehingga dapat memotong biaya operasional yang harus dikeluarkan. Dalam segala kondisi pelestarian sumberdaya merupakan hal yang tidak disangkal. Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa telah dikeluarkan dan disosialisasikan oleh Departemen Pekerjaam Umum. Hal tersebut antara lain: kinerja alat deteksi asap. Selanjutnya dukungan terhadap keamanan dan keselamatan pengguna adalah bagian dari peran utilitas mekanikal dan elektrikal. Pilih lahan yang tidak dekat dengan bahaya seperti misalnya perbukitan rawan longsor. sistem penangkal petir yang aman. bahan bakar untuk operasionalisasi alat catu daya cadangan listrik. lahan yang memiliki jenis tanah sensitif (tanah mengembang). bangunan gedung rumah sakit harus tetap berdiri dan melaksanakan pelayanan apapun kondisi disekitarnya. api serta suhu panas. Rancangan struktur merupakan aspek penting terhadap keamanan bangunan. Sumberdaya tersebut antara lain: listrik. ataupun tepi pantai terbuka. Tidak ada satupun bahan dan sistem yang mengatakan dirinya aman terhadap bencana. teknik sambungan antar komponen balok-plat-kolompondasi. Dalam pedoman tersebut telah mengatur metode dan cara antara lain: penempatan dan pengaturan tulangan. Dengan kata lain. Arsitektur Rumah Sakit yang Tanggap Bencana Melihat adanya potensi gempa di tanah air maka dalam bangunan rumah sakit harus tanggap terhadap potensi yang ada dan kemungkinan terjadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful