1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3.

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku." Surat ini adalah surat makkiyah, surat yang diturunkan pada periode Makkah, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa, surat ini turun pada periode Madinah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa, surat ini adalah surat penolakan (baraa‟) terhadap seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan yang memerintahkan agar kita ikhlas dalam setiap amal ibadah kita kepada Allah, tanpa ada sedikitpun campuran, baik dalam niat, tujuan maupun bentuk dan tata caranya. Karena setiap bentuk percampuran disini adalah sebuah kesyirikan, yang tertolak secara tegas dalam konsep aqidah dan tauhid Islam yang murni. Meskipun kita diperbolehkan untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam berbagai bidang kehidupan umum (lihat QS Luqman [31]: 15, QS Al-Mumtahanah [60]: 8 dan yang lainnya), namun khusus dalam masalah agama yang meliputi aqidah, ritual ibadah, hukum, dan semacamnya, sebagaimana dinyatakan dalam surat ini, kita harus bersikap tegas kepada mereka, dengan arti kita harus bisa memurnikan dan tidak sedikitpun mencampuradukkan antara agama kita dan agama mereka. Disebutkan bahwa sebab turunnya (sababun nuzul) surat ini adalah bahwa, setelah melakukan berbagai upaya untuk menghalang-halangi dakwah Islam, orang-orang kafir Quraisy akhirnya mengajak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkompromi dengan mengajukan tawaran bahwa mereka bersedia menyembah Tuhan-nya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama satu tahun jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersedia ikut menyembah tuhan-tuhan mereka selama satu tahun. Maka Allah sendiri yang langsung menjawab tawaran mereka itu dengan menurunkan surat ini (lihat atsar riwayat Ath-Thabrani, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas ra). Keutamaan Surat Ini Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa, nilai surat ini setara dengan seperempat Al-Qur‟an. Diantaranya riwayat dari Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam bersabda, ”Qul huwaLlahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur‟an, dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun setara dengan seperempat Al-Qur‟an” (HR Ath-Thabrani). Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam biasa membaca Surat AlKafirun dan Surat Al-Ikhlas dalam berbagai macam shalat, diantaranya dalam dua rakaat shalat sunnah fajar (HR Muslim dari Abu Hurairah ra), shalat sunnah ba‟diyah maghrib (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa-i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Ibnu Umar ra), shalat sunnah thawaf (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah ra), dan shalat witir (HR Al-Hakim dari Ubay bin Ka‟ab ra). Beberapa riwayat juga menyebutkan disunnahkannya membaca Surat Al-Kafirun sebelum tidur, diantaranya hadits riwayat Naufal bin Mu‟awiyah Al-Asyja‟i, dimana beliau meminta diajari sebuah bacaan yang sebaiknya dibaca sebelum tidur. Maka Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam bersabda, ”Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafirun sampai akhir surat, lalu langsung tidurlah sesudah itu, karena sesungguhnya surat tersebut adalah penolakan terhadap kesyirikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan lain-lain) Kandungan Umum Secara umum, surat ini memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah (tauhid ibadah). Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Dan karena kedua kandungan makna ini begitu urgen dan

dimana kandungan makna ayat ke-2 diulang dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksi nash. pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas. Dimana semuanya berintikan pernyataan dan ikrar ketegasan sikap setiap orang beriman terhadap setiap orang kafir. kompromi dan pencampuran. bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir. secara umum semakna dengan firman Allah yang lain dalam QS. Dan hal itu didukung oleh pernyataan yang menegaskan bahwa. kini. ritual ibadah dan hukum. dan mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan. pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa. Adanya pengulangan ini menunjukkan adanya penafian atas realitas sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh. Yunus [10]: 41. ”Lakum Diinukum Waliya Diin” Ayat pamungkas yang merupakan ringkasan dan kesimpulan seluruh kandungan surat Al-Kaafiruun ini. tanpa adanya sedikitpun toleransi. serta yang lainnya. Yakni berupa sikap pengakuan terhadap eksistensi agama selain Islam dan keberadaan penganut-penganutnya. jelas dan terbuka kepada mereka. Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan khitab (panggilan) ‟Yaa ayyuhal kafirun‟ (Wahai orang-orang kafir). Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur‟an adalah khitab semacam 'Yaa ayyuhan naas' (Wahai sekalian manusia) dan sebagainya. tidak boleh ada pemaksaan untuk masuk agama Islam.mendasar sekali. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek-praktek peribadatan kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Pertama. dan mungkin juga QS. padahal Al-Qur‟an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang vulgar semacam ini. Kelima. Al-Baqarah [2]: 256). Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal diatas dengan penegasan terakhir dalam firmanNya: ‟Lakum diinukum wa liya diin‟ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Dan hal itu lebih dikuatkan lagi dengan dibenarkannya kaum mukminin bergaul. berhubungan. orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benarbenar menyembah-Nya. seperti bidang sosial . Namun demikian dari sisi yang lain. yang mencakup seluruh waktu (yang lalu. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya dan demikian pula sebaliknya. Kedua. Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga diatas dengan melakukan pengulangan ayat. Meskipun yang dimaksud tentulah sekadar pengakuan terhadap realita. dan sama sekali bukan pengakuan pembenaran. yakni yang meliputi aspek aqidah. Dimana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. jika terkait secara khusus tentang masalah dan urusan agama masing-masing. sebenarnya juga mengandung makna sikap toleransi Islam dan kaum muslimin terhadap agama lain dan pemeluknya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam. sehingga ditegaskan dengan berbagai bentuk penegasan yang tergambar secara jelas di bawah ini. yang akan datang dan selamanya). apalagi agama yang lain. Ketiga. jika kita renungkan. sedang ayat ke-3 diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka. surat inipun dari awal sampai akhir. Al-Qashash [28]: 55. berinteraksi dan bekerjasama dengan kaum kafirin dalam berbagai bidang kehidupan umum. yakni dalam firman Allah: ”Laa ikraaha fiddiin” (QS. dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang sejarah. Keempat.

seperti Tafsir imam Tabari (w. lalu membacakan wahyu yang baru diterimanya. ekonomi. 1270H). berikut ini poin-poin kesimpulan umum dari kandungan makna surat Al-Kaafiruun. Yang jelas semua bidang selain bidang khusus agama yang mencakup masalah aqidah. ritual ibadah dan hukum agama mereka. Lalu Rasulullah menghampiri dan berdiri di tengah-tengah mereka. makna tersebut juga diambil firman Allah yang lain seperti "Laa ikraaha fid-diin". (2) Dan karenanya. Sebagai penutup. baik oleh kaum muslimin maupun juga oleh kaum non muslimin. (4) Maka tidak boleh ada pencampuran antara Islam dan agama-agama lain dalam bidang-bidang aqidah. Namun khusus di bidang urusan agama yang terkait masalah aqidah. Nah bahwa ada dua sikap terkait pola hubungan antara ummat Islam dan ummat lain tersebut. . beliau pergi ke Masjidil Haram. mempermainkan atau merusak agama yang ada. agar tidak terjadi kerancuan-kerancuan. dalam bidang-bidang kehidupan umum. yang terdapat di dalam agama-agama lain. Akhirnya kaum Quraisy pun berputus asa. 310H). ritual ibadah dan ketentuan hukum agama mereka. Alkisah. (7) Ummat Islam tidak dibenarkan melibatkan diri dan bekerja sama dengan penganut agama lain dalam bidang-bidang yang khusus terkait dengan keyakinan aqidah. khususnya kalimat pamungkasnya: ”Lakum diinukum waliya diin”: (1) Secara umum Islam memberikan pengakuan terhadap realita keberadaan agama-agama lain dan penganutpenganutnya. al-Alusi (w. yang berarti Islam mengakui adanya kebebasan beragama bagi setiap orang. bahkan meringankan penawaran dengan hanya meminta beliau mengakui keberadaan tuhan mereka: "Terimalah sebagian tuhantuhan kami. ritual ibadah dan hukum. politik. ritual ibadah dan hukum. (3) Namun di saat yang sama Islam memberikan ketegasan sikap ideologis berupa baraa‟ atau penolakan total terhadap setiap bentuk kesyirikan aqidah. mereka tidak menyerah. pemerintahan dan kenegaraan. seperti yang telah dijelaskan diatas. 774H). (5) Begitu pula antar ummat muslim dan ummat kafir tidak dibenarkan saling mencampuri urusan-urusan khusus agama lain. sikap tegaslah yang harus ditunjukkan. haruslah dipahami secara benar dan proporsional. Peristiwa ini disebut dalam banyak kitab tafsir. sekelompok pemuka kaum kafir Quraisy mendatangi Rasulullah saw. bisnis dan perdagangan. sebagaimana yang sering terjadi selama ini. Mendengar jawaban ini. atau bahkan pembalikan-pembalikan sikap. dan bukan kebebasan mengganggu. Yakni bahwa. Lalu turunlah surat "alKafirun".kemasyarakatan. dan lain-lain. Dan tidak ada satu pun perbedaan yang kontradiktif di kalangan ulama tafsir dalam menguraikan makna surat al-Kafirun. dibenarkan seorang mukmin bersikap toleransi dengan berinteraksi dan bahkan bekerjasama dengan anggota masyarakat non mukmin. 516H). Di sana para pemuka Quraisy sedang berkumpul. al-Baghwi (w. (6) Kaum muslimin dilarang keras ikut-ikutan penganut agama lain dalam keyakinan aqidah. atau pencampuran-pencampuran. Islam membenarkan kaum muslimin untuk berinteraksi dengan ummat-ummat non muslim itu dalam bidang-bidang kehidupan umum. ritual ibadah dan hukum. Keesokan harinya. niscaya kami pun akan mengikuti agamamu. dsb. seraya berkata: "Wahai Muhammad! Ikutlah agama kami. Ibnu Katsir (w. Disamping dari kalimat "Lakum diinukum waliya diin". Sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun dan kami akan menyembah Tuhanmu dalam setahun". ritual ibadah ataupun hukum. niscaya kami akan beriman kepadamu dan menyembah Tuhanmu". Rasulullah menjawab: "Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik.

Sedangkan kezaliman terbesar adalah perbuatan syirik. (lihat tafsir Tabari dan Ma'alim Tanzil/al-Baghwi).allaboutreligion. Kalau berakhlak mulia. adanya kebenaran yang sama mutlaknya dengan kebenaran agama Allah. (Tafsir Inklusif Makna Islam). Sebuah koran nasional 3/11/2007 pun menurunkan sebuah ulasan bedah buku yang bertema: "Sikap Tak Dukung Pluralisme Justru Ciptakan Teroris Baru" Sayangnya. Tradisi syirik seperti ini anehnya justru dijadikan tolak ukur bertoleransi dan tren beragama masyarakat modern. saling menguntungkan dan menyenangkan semua pihak. Di samping itu. Jika kejahilan ini dibiarkan terpelihara. Meskipun penulis buku tersebut melarang berfatwa tentang agama. paradigma lintas keyakinan dikembangkan kedalam Islam. beramal saleh. Bahkan ketika dia ditanya tentang siapa saja yang layak masuk surga. Nasrani. Maka Allah pun menguatkan hati beliau. Akhirnya banyak akademisi yang latah menyatakan: "Karena itu. hukum dan moral yang sudah kedaluwarsa harus dihindari. Islam. Di buku lain juga disebutkan: .org/p14. Ibn al-Qayyim dalam kitabnya. islamlib. mereka akan memberikan seluruh harta yang dimiliki dan menjadikan beliau orang terkaya di Makkah. 39:64) Al-Qur'an mengkategorikan pola pikir "arisan keyakinan" atau dalam istilah akademisnya dikenal dengan kesatuan transenden agama-agama sebagai tindakan orang jahil yang tidak berpengetahuan. maka ia akan menghasilkan kezaliman. ia menunjukkan suatu keteguhan hati dalam mengemban Risalah Tuhan.htm) Di Indonesia. Di antara sebagai berikut: (a) "Kita tidak dapat mengatakan bahwa (agama) yang satu lebih baik dari yang lain. Budha. wahai orang-orang yang jahil?" (QS. menjelaskan bahwa kejahilan itu adalah memandang baik sesuatu yang mestinya buruk atau menganggap sempurna sesuatu yang mestinya kurang.Sikap penolakan Rasulullah yang tidak "umum" terhadap tawaran kaum Quraisy yang sekilas nampak "adil. buku. Bahkan kajian kritis terhadap suatu agama atau menyakini bahwa agama yang dianutnya itu benar akan dipandang kaum pluralis sebagai tindakan yang tidak toleran dan menyebarkan kebencian.” Lihat: Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan kaum Beriman. dia menjawab: "Saya jadi tak peduli apakah dia Katolik.” Lihat: Islam dan Pluralisme. bersabar dalam kebodohan.html). aplikasi kejahilan secara akademis justru digalakkan melalui artikel. Kristen. "Katakanlah: "Maka apakah kepada selain Allah kamu menyuruhku menyembah. mereka juga berjanji akan tunduk setia kepada aturan Rasulullah asalkan beliau mau mengakui tuhan mereka dan tidak mengusiknya. adanya keyakinan bahwa semua agama itu diibaratkan sebagai jalan yang sama-sama validnya menuju Tuhan yang sama. seminar dan perkuliahan. setiap klaim kebenaran berdasar kitab suci.com) Pluralisme agama sebenarnya adalah konsep yang dihasilkan dari kebijakan politik dalam menengahi konflik agama maupun konflik yang mengatasnamakan agama di Barat. maka pada hakekatnya setiap agama bisa dikatakan al-Islam". di mana setiap keyakinan harus didasarkan pada relativisme. berdasarkan hasil kajian dalam buku ini dari berbagai ayat al-Qur'an. (www.org/religious-pluralism. Oleh karena itu. namun dia sendiri sebenarnya juga sedang berfatwa dalam menyamakan semua agama. dst. Agama Islam yang berlandaskan tauhid mempunyai karakteristik dan pandangan hidup sendiri yang tidak bisa disamakan dengan agama-agama lain. kembalinya kpd Allah". para pemuka agama dipaksa membuktikan dirinya bersih dari label-label "tidak toleran" dan "berpikiran sempit". saya akan berikan segala kemuliaan kepadanya". Dengan konsep ini. (www. Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kezaliman itu berarti meletakkan sesuatu secara tidak proporsional. serta mempersilahkan beliau mengawini perempuan mana saja yang beliau maui. Sebaliknya. (b) “Semua agama itu kembali kepada Allah. netral. Hindu. Seperti marah pada sesuatu yang seharusnya direlakan dan merelakan padahal semestinya harus marah. Orang jahil bukan hanya mereka yang kosong dari ilmu pengetahuan. (Wawancara 10/10/06. bakhil dalam kondisi lapang. Mereka menyakinkan bahwa tawaran ini terdapat kebaikan (maslahat). atau Hindu. Padahal jika saja Nabi Muhammad menerima tawaran mereka. "Tahzib Madarij al-Salikin". Yakni sebuah sikap yang menyakini adanya tuhan selain Allah. tapi juga mereka yang menyakini sesuatu yang keliru. Kita tidak boleh mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apa pun.apologeticsindex. pluralis dan humanis" tentunya bukanlah hal mudah dan ringan. termasuk dengan fatwa. Selanjutnya ditegaskan: "Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama. Sehingga mereka bisa diterima di dunia posmodern. Yahudi.

dan tahun berikutnya mereka semua. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun. maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala. petunjuk dan kesesatan. Ini adalah ungkapan penegasan dari orang beriman. jika ajaran Nabi benar. tauhid dan syirik. menyembah berhala-berhala tradisional mereka. Surah ini mempakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman. yang percaya bahwa ia akan menerima dan merasakan rahmat dari Pencipta Yang Mahaesa. tetapi kami mempunyai agama dan pandangan hidup sendiri. Dalam hal ini. Lebih lanjut. Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. bermain sepak bola bersama dan berbuat baik kepada pemeluk agama lain."Sampai di sini. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Oleh karena itu ia memberitahu orang kafir. 1. mengikuti ajaran Nabi. Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. Surat ini terdiri atas 6 ayat dan termasuk surat Makkiyah. maka merekapun akan memuja Tuhan sebagaimana konsep Islam. Maha Penyayang. di samping bacaan yang lain. yaitu sikap pasrah dan tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa. tidaklah terlalu tepat jika Islam dibatasi hanya untuk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Pokok isi surat ini adalah tidak diijinkannya kompromi dalam bentuk mencampuradukkan ajaran agama. surat al-Kafirun merupakan perisai umat dari segala bentuk syirik dan ibaratkan setara dengan seperempat al-Qur'an. mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi. [sunting]Latar Belakang Pada masa penyebaran Islam di Mekkah. Pada salah satu upaya tersebut mereka berusaha mengajukan proposal kompromi kepada Rasulullah SAW dimana mereka menawarkan: jika Rasulullah mau memuja Tuhan mereka. kaum Quraisy yang menentang Rasulullah SAW tak henti-hentinya mencari cara untuk menghentikan ancaman Islam terhadap kepercayaan nenek moyang mereka. Bahkan Islam secara tegas melarang umatnya mencaci maki keyakinan orang kafir (QS. sejatinya pengertian Islam harus dipahami dalam makna generiknya. maka itu adalah urusan kalian. Maha Pengasih. 'Aku tidak menyembah apa . menurut jalan pikiran kaum kafir. serta melarang mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil. Nama Al Kaafiruun (orang-orang kafir) diambil dari kata yang muncul pada ayat pertama surat ini. kalau itu kalian anggap sebagai “agama”." (Islam Mazhab HMI) Islam secara jelas membedakan antara mukmin dan kafir. Prinsip tertinggi bertoleransi sudah ditawarkan Islam di penghujung surat al-Kafirun: lakum dinukum waliya din”. SURAH AL-KAFIRUN “PENYANGKAL KEBENARAN” Dengan Nama Allah. Maka. Pembedaan identitas ini tidak menghalangi umat Islam untuk menjalin muamalah. Ataukah kita masih mau mencari lagi caracara bertoleransi untuk menandingi surat al-Kafirun? Surah Al-Kafirun (bahasa Arab:‫ )نورفاكلا‬adalah surah ke-109 dalam al-Qur'an. Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa membacanya sebelum beranjak tidur. Oleh karena itu. 6:108). termasuk Nabi dan kaum muslim. jika praktik kaum kafir benar. tapi. Kemudian surat ini diturunkan untuk mejawab hal itu. Katakanlah: Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir)! 2.

Ada orang yang telah diciptakan sebagai bahan bakar neraka. dan aku punya jalan sendiri!' Kemudian orang-orang yang beriman dan berkeyakinan teguh bergandengan tangan mengikuti metoda yang telah disempumakan dari model Muhammad. Dengan kerendahan hatinya ia diangkat semakin lama semakin dekat kepada sumber mata air. Tidak pernah akan. karena engkau tidak menyembah energi halus yang memancarkan semua Sifat. dan untukkulah. Al Kaafirun: 1-6) . Mereka tidak diterangi dari luar. Mereka berjalan sepanjang pantai lautan cahaya. sebagaimana berulang kali dikatakan dalam Alquran. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. jalan yang kau pilih untuk melengkapi lagi dirimu dan berinteraksi dengan orang lain. penerangan mereka ber-asal dari dalam. Semoga manfaat. 5. Rabb yang berhak disembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. keluarga dan sahabatnya. meskipun segala upaya dilakukan untuk menarik mereka ke dalam cahaya din. Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah. setelah tercerahkan.' Orang yang beriman. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. 6. Sumber tersebut menambah keimanannya melalui ' ubudiyah (ibadah)nya dan melindunginya dari segala bahaya. malahan. dan fakta ini tidak dapat diubah. agamaku. dan tidak pernah bisa. Untukmu agamamu. kita akan mempelajari tafsir surat Al Kafirun dan menarik faedah berharga di dalamnya. Ibadah menjadikan perjalanannya mu'abbad (mudah. menghormati atau memuja apa yang engkau sembah. menyembah langsung sumber makanan batinnya. yang menjaga agar selamat dari kegelapan yang melingkupi orang lain dan yang memberinya cahaya dan pencerahan. tidak ada perlawanan). Dengan kata lain: Engkau tidak punya jalan menuju sumber yang aku sembah. Ini merupakan ramalan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang dalam kekufuran akan tetap dalam kekufuran. 6) “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Mereka akan tetap begitu meskipun kita meminta agar mereka tidak melakukan itu. dengan wujud apa pun yang kau anggap mutlak. lancar. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad. setelah mengetahui Allah. Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku! Orang yang beriman berada dalam ketenangan hati yang sempuma dan orang yang tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah menyimpulkan. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Inilah jalan orang mukmin. dan pantai ini ada batas-batasnya. setelah dibukakan.” (QS. Pada kesempatan kali ini. j'alan keyakinan yang sempurna egala puji bagi Allah. Di masa akan datang. Allah Ta‟ala berfirman. 4. 'Engkau mempunyai jalan sendiri. engkau pun tidak akan pernah menyembah kebenaran yang aku sembah.yang kamu sembah.

Yang beliau baca pada dua rakaat sebelum shalat subuh dan dua rakaat setelah maghrib adalah surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas).” (HR. Tafsir Surat Al Kaafirun Firman Allah Ta‟ala. lalu mereka akan bergantian beribadah kepada sesembahan Rasul shallallahu „alaihi wa sallam (yaitu Allah Ta‟ala) selama setahun pula. ) “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam biasa membaca di dua raka‟at sunnah Fajr (Qobliyah Shubuh) yaitu surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas).Surat ini adalah surat Makkiyah (yang turun sebelum hijroh). konteks ayat ini membicarakan tentang kafir Quraisy. Muslim no. Syaikh Syu. ia berkata. sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Isi Surat Al Kaafirun Surat ini berisi ajaran berlepas diri dari amalan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Surat ini berisi perintah untuk ikhlas dalam melakukan amalan (yaitu murni ditujukan pada Allah semata). }. “Saya melihat Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam shalat sebanyak dua puluh empat atau dua puluh lima kali.aib Al Arnauth mengatakan. 726) Dari Ibnu „Umar. ia mengatakan. 1218) Dari Abu Hurairah. “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir”. Ahmad 2/95. Muslim no.” (HR.” (HR. Ayat ini sebenarnya ditujukan pada orang-orang kafir di muka bumi ini. ada ulama yang menyatakan bahwa karena kejahilan orang kafir Quraisy. . Akhirnya Allah Ta‟ala pun menurunkan surat ini. ia mengatakan. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk berlepas diri dari agama orang-orang musyrik tersebut secara total. mereka mengajak Rasul shallallahu „alaihi wa sallam untuk beribadah kepada berhala mereka selama satu tahun. Mengenai surat ini. Kebiasaan Nabi shallallahu „alaihi wa sallam Membaca Surat Al Kaafirun Dari Jabir bin „Abdillah. Akan tetapi. ) “Nabi shallallahu „alaihi wa sallam biasa membaca di shalat dua raka‟at thowaf yaitu surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas) dan surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun).

tidak ada sekutu bagi-Nya.” (QS. Orang-orang musyrik melakukan ibadah kepada selain Allah. “Untukmu agamamu. yaitu berhala dan tandingan-tandingan selain Allah. yaitu yang aku sembah adalah Allah semata. maksudnya adalah aku tidak akan beribadah dengan mengikuti ibadah yang kalian lakukan. bahkan yang kalian lakukan adalah membuat-buat ibadah sendiri yang sesuai selera hati kalian. Inilah konsekuensi dari kalimat Ikhlas “Laa ilaha illallah. dan untukkulah. An Najm: 23) Ayat-ayat ini secara jelas menunjukkan berlepas diri dari orang-orang musyrik dari seluruh bentuk sesembahan yang mereka lakukan. padahal tidak Allah izinkan.” Maksud ayat ini sebagaimana firman Allah. dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah”. agamaku. aku hanya ingin beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah cintai dan ridhoi. “Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah”. maksudnya adalah kalian tidak akan mengikuti perintah dan syari‟at Allah dalam melakukan ibadah. Allah Ta‟ala firmankan selanjutnya. Maksud kalimat yang agung ini adalah “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah. “Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”. Muhammadur Rasulullah”. Oleh karena itu selanjutnya Allah Ta‟ala mengatakan kembali. . Seorang hamba seharusnya memiliki sesembahan yang ia sembah. dan jalan cara untuk melakukan ibadah tersebut adalah dengan mengikuti ajaran Rasul shallallahu „alaihi wa sallam”. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. Oleh karena itu Rasul shallallahu „alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka. Maksud firman Allah selanjutnya. “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan. Ibadah yang ia lakukan tentu saja harus mengikuti apa yang diajarkan oleh sesembahannya.Yang dimaksud dengan ayat. Rasul shallallahu „alaihi wa sallam dan para pengikutnya menyembah Allah sesuai dengan apa yang Allah syariatkan. Hal ini sebagaimana Allah firmankan.

” (QS. Demikian yang disebutkan oleh Imam Al Bukhari. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 7) . Al Maidah: 64). 6) “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. 5) “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.“Jika mereka mendustakan kamu. Alam Nasyroh: 5-6) Begitu pula firman Allah Ta‟ala. Asy Syura: 15) Imam Al Bukhari mengatakan. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Jarir dari sebagian pakar bahasa. ) “Lakum diinukum”.” (QS. Yang semisal dengan ini adalah firman Allah Ta‟ala. Mereka mengatakan. “Wa liya diin”. maksudnya bagi kami agama kami. “Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dalam ayat ini tidak ).” Ada tiga pendapat dalam penafsiran ayat ini: Tafsiran pertama: Menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah untuk penguatan makna (ta‟kid). Mengenai Ayat Yang Berulang dalam Surat Ini Mengenai firman Allah yang berulang dalam surat ini yaitu pada ayat. maksudnya bagi kalian kekafiran yang kalian lakukan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Yunus: 41) “Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.” (QS. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. maksudnya adalah ak ).

Wallahu a‟lam. bahwa yang dimaksud ayat.” Yang dimaksudkan di sini adalah penafian (peniadaan) menerima sesembahan selain Allah secara total. 5) “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.” Ini untuk masa lampau. Maha Pengasih. yang berisi tentang “PENYANGKAL KEBENARAN” yang berada dalam surah Al-Kafirun. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Sedangkan ayat.” Ini untuk masa akan datang. Di sini bisa dimaksudkan secara total karena kalimat tersebut menggunakan jumlah ismiyah (kalimat yang diawali kata benda) dan ini menunjukkan ta‟kid (penguatan makna). Yang dimaksud ayat ini pula adalah menafikan jika Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tidak mungkin sama sekali menyembah selain Allah.” (QS. “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Ibadah yang bercampur kesyirikan (tidak ikhlas). Adanya tingkatan yang berbeda antara orang yang beriman dan orang kafir atau musyrik.“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Tafsiran yang terakhir ini pula adalah tafsiran yang bagus. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Maha Penyayang. saya sengaja memberikan sebuah postingan. Sehingga seakan-akan yang dinafikan dalam ayat tersebut adalah perbuatan (menyembah selain Allah) dan ditambahkan tidak menerima ajaran menyembah selain Allah secara total. Kewajiban berlepas diri (baro‟) secara lahir dan batin dari orang kafir dan sesembahan mereka. tidak dinamakan ibadah. At Takatsur: 6-7) Tafsiran kedua: Sebagaimana yang dipilih oleh Imam Bukhari dan para pakar tafsir lainnya.” Yang dinafikan (ditiadakan di sini) adalah perbuatan (menyembah selain Allah) karena kalimat ini adalah jumlah fi‟liyah (kalimat yang diawali kata kerja). Faedah Berharga dari Surat Al Kafirun Dalam ayat ini dijelaskan adanya penetapan aqidah meyakini takdir Allah. Tafsiran ketiga: Yang dimaksud dengan ayat. Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. yaitu orang kafir ada yang terus menerus dalam kekafirannya. . ??????? ??????? ??????????? ???????? Dengan Nama Allah. begitu pula dengan orang beriman. Dalam menyambut bulan suci Romadhon. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.

Di masa akan datang. Ini adalah ungkapan penegasan dari orang beriman. Untukmu agamamu dan untukku agamaku! Orang yang beriman berada dalam ketenangan hati yang sempuma dan orang yang tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah menyimpulkan. Katakanlah: Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir)! ??? ???????? ??? ??????????? 2. dan tahun berikutnya mereka semua. jika praktik kaum kafir benar. Sumber tersebut menambah keimanannya melalui „ ubudiyah (ibadah)nya dan melindunginya dari segala bahaya. ????? ????? ??????? ???? ?????????? 4. tidak ada perlawanan). engkau pun tidak akan pernah menyembah kebenaran yang aku sembah. Ada orang yang telah diciptakan sebagai bahan bakar neraka. menurut jalan pikiran kaum kafir. ?????? ????????? ?????? ????? 6. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. setelah dibukakan. Dengan kata lain: Engkau tidak punya jalan menuju sumber yang aku sembah. Mereka akan tetap begitu meskipun kita meminta agar mereka tidak melakukan itu. ???? ??? ???????? ????????????? 1. Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. mengikuti ajaran Nabi. termasuk Nabi dan kaum muslim. mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi. Maka. maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala. dan fakta ini tidak dapat diubah. tapi. sebagaimana berulang kali dikatakan dalam Alquran. dengan wujud apa pun yang kau anggap mutlak. karena engkau tidak menyembah energi halus yang memancarkan semua Sifat. Dengan kerendahan hatinya ia diangkat semakin lama semakin dekat kepada sumber mata air. „Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. yang percaya bahwa ia akan menerima dan merasakan rahmat dari Pencipta Yang Mahaesa. meskipun segala upaya dilakukan untuk menarik mereka ke dalam cahaya din. Surah ini mempakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman. ????? ??????? ?????????? ??? ???????? 5. jalan yang kau pilih untuk melengkapi lagi dirimu dan berinteraksi dengan orang lain. yang menjaga agar selamat dari kegelapan yang melingkupi orang lain dan yang memberinya cahaya dan pencerahan. malahan. „Engkau mempunyai jalan sendiri. Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah. dan tidak pernah bisa. menyembah langsung sumber makanan batinnya.Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. dan aku punya jalan sendiri!‟ Kemudian orang-orang yang beriman dan berkeyakinan teguh bergandengan tangan . ????? ??????? ?????????? ??? ???????? 3. Tidak pernah akan.‟ Orang yang beriman. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Ini merupakan ramalan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang dalam kekufuran akan tetap dalam kekufuran. jika ajaran Nabi benar. menghormati atau memuja apa yang engkau sembah. Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah. menyembah berhala-berhala tradisional mereka. setelah tercerahkan. setelah mengetahui Allah. lancar. Ibadah menjadikan perjalanannya mu‟abbad (mudah. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun. Oleh karena itu ia memberitahu orang kafir.

al-Ash bin Wail. Maka pada satu waktu terasalah oleh mereka sakitnya pukulan-pukulan itu. yang sejak semula berkeras menantang Rasul dan sudah diketahui dalam ilmu Allah Ta'ala bahwa sampai saat terakhir pun mereka tidaklah akan mau menerima kebenaran. maka cara kita menyembah pun lain pula. Menurut tafsiran Ibnu Katsir yang disalinkannya dari Ibnu Taimiyah arti ayat yang kedua: "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah. dan pantai ini ada batas-batasnya. Dan jika pegangan kami ini yang lebih benar daripada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah bersama merasakannya dengan kami.a. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya daripada apa yang ada pada kami. Tafsir Surat 109 AL-KAFIRUN Tafsir Al-Azhar Prof Dr." (ayat 6). "Untuk kamulah agama kamu. "damai". dan di dalam segala urusan di negeri kita ini. Mereka tidak diterangi dari luar. Katakanlah (Wahai Muhammad): "Hai orang-orang kafir! "Katakanlah. "Bagi kamu ugama kamu. Sedang yang kamu sembah bukan ." – Inilah usul yang mereka kemukakan. "Katakanlah. yang meratakan kurniaNya kepada siapa jua pun yang tulus ikhlas beribadat kepadaNya. "Aku tidak akan menyembah apa Yang kamu sembah. Tegasnya yang disembah lain dan Cara menyembah pun lain. di antara Tauhid Mengesakan Allah. Dan isi dua ayat berikutnya (ayat 4 dan 5) ialah menjelaskan perbedaan cara beribadat. "Dan kamu pula tidak mahu beribadat secara Aku beribadat. Oleh sebab itu tidaklah dapat pegangan kita masingmasing ini didamaikan. "Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah. Surat ini diturunkan di Makkah dan yang dituju ialah kaum musyrikin. penerangan mereka ber-asal dari dalam. yaitu kayu atau batu yang kamu perbuat sendiri dan kamu besarkan sendiri. Karena yang aku sembah hanya Allah kan kalian menyembah kepada benda. sehingga timbullah suatu pertandingan siapakah yang lebih kuat semangatnya mempertahankan pendirian masing-masing. menyalahkan kepercayaan mereka." (ayat 4). j‟alan keyakinan yang sempurna. "Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah. 3. Inilah jalan orang mukmin. kamu menyembah berhala aku menyembah Allah Yang Maha Esa. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah. Tidak satu dan tidak sama. dan bagiku ugamaku".2. sama mengambil bahagian padanya. 6. Kalau aku menyembah Allah maka aku melakukan shalat di dalam syarat rukun yang telah ditentukan.mengikuti metoda yang telah disempumakan dari model Muhammad. Tidak berapa lama setelah mereka mengemukakan usul ini. Mereka berjalan sepanjang pantai lautan cahaya. dan Nabi s." (ayat 2). Mereka bermaksud hendak mencari. Hai orang-orang yang tidak mau percaya. Maka selain dari yang kita sembah itu berlain. artinya tidak mau menerima seruan dan petunjuk kebenaran yang dibawakan Nabi kepada mereka. Yang aku sembah ialah Tuhan Yang Maha Esa. tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah. al-Aswad bin alMuthalib dan Umaiyah bin Khalaf." (ayat 5)." ialah rnenafikan perbuatan (nafyul fi'li) Artinya bahwa perbuatan begitu tidaklah pemah aku kerjakan. supaya turutlah kami merasakannya dengan engkau." (ayat 3). Yang mendatangi Nabi itu menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Said bin Mina – ialah al-Walid bin al-Mughirah. "Dua jumlah kata yang pertama (ayat 2 dan 3) adalah menjelaskan perbedaan yang disembah." – olehmu hai utusanKu – kepada orang-orang yang tidak mau percaya itu: "Hai orang-orang kafir!" (ayat 1). "Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah. engkau turut serta bersama kami. 4. dan untuk akulah agamaku. Allah. sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. hai orang-orang yang kafir! "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah.HAMKA Surat 109: 6 ayat -di MAKKAH ‫ نورفاكلا :ةروس‬Tidak Ada Kompromi (Tolak Ansur) dalam Aqidah dan Ibadah Sudah jelas. artinya ialah kemenangan syirik. mencela berhala mereka. turunlah ayat ini. yang kafir. yang bersih daripada segala macam persekutuan dan perkongsian dan mustahil menyatakan diriNya pada diri seseorang atau sesuatu benda. 5. Mereka menantang.1. "Dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) Yang Aku sembah. Maka bermuafakatlah pemuka-pemuka Quraisy musyrikin itu hendak menemui Nabi. Sedang kamu menyembah berhala itu sangatlah berbeda dengan cara aku menyembah Allah. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik. Artinya persembahan kita ini sekali-kali tidak dapat diperdamaikan atau digabungkan. pun tegas pula dalam sikapnya menantang penyembahan mereka kepada berhala. "Dan Aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat. Soal akidah. Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan perbedaan ini di dalam tafsimya. Menurut Ibnu Jarir panggilan seperti ini disuruh sampaikan Tuhan oleh NabiNya kepada orang-orang kafir itu.w. Mereka kemukakan suatu usul damai: "Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Dan Maha Kuasa menarik ubun-ubun orang yang menolak kebenaranNya dan menghukum orang yang menyembah kepada yang lain.

penyembahan berhala dengan sembahyang. Maka Nabi menasihatkan supaya setelah dia mulai berbaring bacalah Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun.w. membaca Surat ini dan Qul Huwallaahu Ahad pada sembahyang dua rakaat sunnat Fajar (sebelum sembahyang Subuh). bagiku adalah agamaku pula. kamu pun rupanya tidaklah mau menyembah kepada Allah saja sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. karena kamu adalah musyrik. melainkan benda. Dan lain-lain sebagainya. kepada orang-orang kafir itu. dari Hadis Abu Hurairah. bahwa Rasulullah s. Malahan kamu persekutukan berhala kamu itu dengan Allah. Sedang Allah itu tidak dapat dipersyarikatkan dengan yang lain. Dan ibadat kita pun berlain. Aku menyembah Allah sahaja. bukan Allah. pakailah agama itu sendiri. Dan untuk akulah agamaku. menyembelih binatang guna pemuja hantu atau jin dengan membaca Bismillah. jangan sampai hendak kamu campur-adukkan dengan apa yang kamu sebut agama itu. lebih dari dua puluh kali. "Bagi kamu agama kamu.itu. maka yang batil jualah yang menang. bahwa dia ini meminta pertunjuk kepada Nabi s." Al-Qurthubi meringkaskan tafsir seluruh ayat ini begini: "Katakanlah olehmu wahai UtusanKu." Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. kamu menyembah sesuatu selain Allah dan kamu persekutukan yang lain itu dengan Allah. Oleh sebab itu maka Akidah Tauhid itu tidaklah mengenal apa yang dinamai Cynscritisme. Dia setali dengan Qul Huwallaahu (Surat al-Ikhlas) yang akan kita tafsirkan kelak. Sebuah Hadis dirawikan oleh al-Imam Ahmad dari Farwah bin Naufal alAsyja'iy. Misalnya di antara animisme dengan Tauhid. dan segala perbuatan hati. apa yang baik dibaca sebelum tidur.w. diterima dari Jabir bin Abdillah. membaca Surat al-Kafirun ini bersama Surat Qul Huwallaahu Ahad di dalam sembahyang sunnat dua rakaat sesudah tawaf. sebab dia adalah satu pernyataan diri sendiri bersih dari syirik. ibadatmu itu bukan ibadat dan tuhanmu itu pun bukan Tuhan. Dan telah kita jelaskan bahwa Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun. Untuk kamulah agama kamu. Aku tidak menyembah kepada Tuhanku sebagaimana kamu menyembah berhala. Kalau yang hak hendak dipersatukan dengan yang batil.a. Dalam Shahih Muslim juga.a. yang berarti menyesuai-nyesuaikan. bahwa Nabi membaca kedua Surat ini dua rakaat Fajar dan dua rakaat sesudah Maghrib. jangan pula aku diajak menyembah yang bukan Tuhan itu.a. bahwasanya aku tidaklah mau diajak menyembah berhala-berhala yang kamu sembah dan puja itu. perkataanmu itu bohong. bahwa Rasulullah s. Demikian juga menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh al-Imam Ahmad dari Ibnu Umar. Maka kalau kamu katakan bahwa kamu pun menyembah Allah jua. Sebab itu maka menurut aku. Oleh sebab itu agama kita tidaklah dapat diperdamaikan atau dipersatukan. . Surat ini mengandung larangan menyembah yang selain Allah." Tinggilah dinding yang membatas.w. dalamlah jurang di antara kita. * * * Pelengkap Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya: Tersebut dalam Shahih Muslim. mengandung pokok akidah. Insya Allah. sama dengan seperempat dari al-Quran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful