1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3.

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku." Surat ini adalah surat makkiyah, surat yang diturunkan pada periode Makkah, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa, surat ini turun pada periode Madinah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa, surat ini adalah surat penolakan (baraa‟) terhadap seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan yang memerintahkan agar kita ikhlas dalam setiap amal ibadah kita kepada Allah, tanpa ada sedikitpun campuran, baik dalam niat, tujuan maupun bentuk dan tata caranya. Karena setiap bentuk percampuran disini adalah sebuah kesyirikan, yang tertolak secara tegas dalam konsep aqidah dan tauhid Islam yang murni. Meskipun kita diperbolehkan untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam berbagai bidang kehidupan umum (lihat QS Luqman [31]: 15, QS Al-Mumtahanah [60]: 8 dan yang lainnya), namun khusus dalam masalah agama yang meliputi aqidah, ritual ibadah, hukum, dan semacamnya, sebagaimana dinyatakan dalam surat ini, kita harus bersikap tegas kepada mereka, dengan arti kita harus bisa memurnikan dan tidak sedikitpun mencampuradukkan antara agama kita dan agama mereka. Disebutkan bahwa sebab turunnya (sababun nuzul) surat ini adalah bahwa, setelah melakukan berbagai upaya untuk menghalang-halangi dakwah Islam, orang-orang kafir Quraisy akhirnya mengajak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkompromi dengan mengajukan tawaran bahwa mereka bersedia menyembah Tuhan-nya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama satu tahun jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersedia ikut menyembah tuhan-tuhan mereka selama satu tahun. Maka Allah sendiri yang langsung menjawab tawaran mereka itu dengan menurunkan surat ini (lihat atsar riwayat Ath-Thabrani, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas ra). Keutamaan Surat Ini Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa, nilai surat ini setara dengan seperempat Al-Qur‟an. Diantaranya riwayat dari Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam bersabda, ”Qul huwaLlahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur‟an, dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun setara dengan seperempat Al-Qur‟an” (HR Ath-Thabrani). Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam biasa membaca Surat AlKafirun dan Surat Al-Ikhlas dalam berbagai macam shalat, diantaranya dalam dua rakaat shalat sunnah fajar (HR Muslim dari Abu Hurairah ra), shalat sunnah ba‟diyah maghrib (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa-i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Ibnu Umar ra), shalat sunnah thawaf (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah ra), dan shalat witir (HR Al-Hakim dari Ubay bin Ka‟ab ra). Beberapa riwayat juga menyebutkan disunnahkannya membaca Surat Al-Kafirun sebelum tidur, diantaranya hadits riwayat Naufal bin Mu‟awiyah Al-Asyja‟i, dimana beliau meminta diajari sebuah bacaan yang sebaiknya dibaca sebelum tidur. Maka Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam bersabda, ”Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafirun sampai akhir surat, lalu langsung tidurlah sesudah itu, karena sesungguhnya surat tersebut adalah penolakan terhadap kesyirikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan lain-lain) Kandungan Umum Secara umum, surat ini memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah (tauhid ibadah). Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Dan karena kedua kandungan makna ini begitu urgen dan

dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang sejarah. Namun demikian dari sisi yang lain. surat inipun dari awal sampai akhir. jika kita renungkan.mendasar sekali. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur‟an adalah khitab semacam 'Yaa ayyuhan naas' (Wahai sekalian manusia) dan sebagainya. Keempat. tanpa adanya sedikitpun toleransi. pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas. Dan hal itu didukung oleh pernyataan yang menegaskan bahwa. sebenarnya juga mengandung makna sikap toleransi Islam dan kaum muslimin terhadap agama lain dan pemeluknya. bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir. pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa. serta yang lainnya. Meskipun yang dimaksud tentulah sekadar pengakuan terhadap realita. berinteraksi dan bekerjasama dengan kaum kafirin dalam berbagai bidang kehidupan umum. padahal Al-Qur‟an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang vulgar semacam ini. kini. dan mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan. ritual ibadah dan hukum. Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga diatas dengan melakukan pengulangan ayat. dan mungkin juga QS. apalagi agama yang lain. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek-praktek peribadatan kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Kelima. Kedua. secara umum semakna dengan firman Allah yang lain dalam QS. tidak boleh ada pemaksaan untuk masuk agama Islam. ”Lakum Diinukum Waliya Diin” Ayat pamungkas yang merupakan ringkasan dan kesimpulan seluruh kandungan surat Al-Kaafiruun ini. Yakni berupa sikap pengakuan terhadap eksistensi agama selain Islam dan keberadaan penganut-penganutnya. dimana kandungan makna ayat ke-2 diulang dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksi nash. sedang ayat ke-3 diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis. Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan khitab (panggilan) ‟Yaa ayyuhal kafirun‟ (Wahai orang-orang kafir). Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka. Al-Baqarah [2]: 256). dan sama sekali bukan pengakuan pembenaran. yakni yang meliputi aspek aqidah. kompromi dan pencampuran. Dimana semuanya berintikan pernyataan dan ikrar ketegasan sikap setiap orang beriman terhadap setiap orang kafir. sehingga ditegaskan dengan berbagai bentuk penegasan yang tergambar secara jelas di bawah ini. yakni dalam firman Allah: ”Laa ikraaha fiddiin” (QS. yang akan datang dan selamanya). Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya dan demikian pula sebaliknya. yang mencakup seluruh waktu (yang lalu. Al-Qashash [28]: 55. berhubungan. Dimana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benarbenar menyembah-Nya. Dan hal itu lebih dikuatkan lagi dengan dibenarkannya kaum mukminin bergaul. jelas dan terbuka kepada mereka. Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal diatas dengan penegasan terakhir dalam firmanNya: ‟Lakum diinukum wa liya diin‟ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). jika terkait secara khusus tentang masalah dan urusan agama masing-masing. seperti bidang sosial . Ketiga. Yunus [10]: 41. Adanya pengulangan ini menunjukkan adanya penafian atas realitas sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh. Pertama.

dibenarkan seorang mukmin bersikap toleransi dengan berinteraksi dan bahkan bekerjasama dengan anggota masyarakat non mukmin. politik. seperti yang telah dijelaskan diatas. baik oleh kaum muslimin maupun juga oleh kaum non muslimin. dalam bidang-bidang kehidupan umum. berikut ini poin-poin kesimpulan umum dari kandungan makna surat Al-Kaafiruun. ritual ibadah dan hukum. Alkisah. ekonomi. Lalu turunlah surat "alKafirun". Sebagai penutup. Islam membenarkan kaum muslimin untuk berinteraksi dengan ummat-ummat non muslim itu dalam bidang-bidang kehidupan umum. atau bahkan pembalikan-pembalikan sikap. 516H). dsb. dan bukan kebebasan mengganggu. ritual ibadah dan hukum agama mereka. Lalu Rasulullah menghampiri dan berdiri di tengah-tengah mereka. mereka tidak menyerah. sebagaimana yang sering terjadi selama ini. dan lain-lain. yang berarti Islam mengakui adanya kebebasan beragama bagi setiap orang. (2) Dan karenanya. Akhirnya kaum Quraisy pun berputus asa. mempermainkan atau merusak agama yang ada. 310H). haruslah dipahami secara benar dan proporsional. Rasulullah menjawab: "Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik. seperti Tafsir imam Tabari (w. bahkan meringankan penawaran dengan hanya meminta beliau mengakui keberadaan tuhan mereka: "Terimalah sebagian tuhantuhan kami. (5) Begitu pula antar ummat muslim dan ummat kafir tidak dibenarkan saling mencampuri urusan-urusan khusus agama lain. (3) Namun di saat yang sama Islam memberikan ketegasan sikap ideologis berupa baraa‟ atau penolakan total terhadap setiap bentuk kesyirikan aqidah. Yakni bahwa. niscaya kami pun akan mengikuti agamamu. al-Alusi (w. makna tersebut juga diambil firman Allah yang lain seperti "Laa ikraaha fid-diin". ritual ibadah dan ketentuan hukum agama mereka. sekelompok pemuka kaum kafir Quraisy mendatangi Rasulullah saw. Dan tidak ada satu pun perbedaan yang kontradiktif di kalangan ulama tafsir dalam menguraikan makna surat al-Kafirun. Nah bahwa ada dua sikap terkait pola hubungan antara ummat Islam dan ummat lain tersebut. Mendengar jawaban ini. Ibnu Katsir (w. Peristiwa ini disebut dalam banyak kitab tafsir. lalu membacakan wahyu yang baru diterimanya. khususnya kalimat pamungkasnya: ”Lakum diinukum waliya diin”: (1) Secara umum Islam memberikan pengakuan terhadap realita keberadaan agama-agama lain dan penganutpenganutnya. (4) Maka tidak boleh ada pencampuran antara Islam dan agama-agama lain dalam bidang-bidang aqidah.kemasyarakatan. (7) Ummat Islam tidak dibenarkan melibatkan diri dan bekerja sama dengan penganut agama lain dalam bidang-bidang yang khusus terkait dengan keyakinan aqidah. seraya berkata: "Wahai Muhammad! Ikutlah agama kami. niscaya kami akan beriman kepadamu dan menyembah Tuhanmu". 774H). atau pencampuran-pencampuran. bisnis dan perdagangan. ritual ibadah ataupun hukum. Di sana para pemuka Quraisy sedang berkumpul. Yang jelas semua bidang selain bidang khusus agama yang mencakup masalah aqidah. Sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun dan kami akan menyembah Tuhanmu dalam setahun". al-Baghwi (w. 1270H). ritual ibadah dan hukum. . Disamping dari kalimat "Lakum diinukum waliya diin". yang terdapat di dalam agama-agama lain. Keesokan harinya. agar tidak terjadi kerancuan-kerancuan. ritual ibadah dan hukum. sikap tegaslah yang harus ditunjukkan. pemerintahan dan kenegaraan. (6) Kaum muslimin dilarang keras ikut-ikutan penganut agama lain dalam keyakinan aqidah. Namun khusus di bidang urusan agama yang terkait masalah aqidah. beliau pergi ke Masjidil Haram.

termasuk dengan fatwa. "Katakanlah: "Maka apakah kepada selain Allah kamu menyuruhku menyembah. Akhirnya banyak akademisi yang latah menyatakan: "Karena itu. pluralis dan humanis" tentunya bukanlah hal mudah dan ringan.allaboutreligion. Tradisi syirik seperti ini anehnya justru dijadikan tolak ukur bertoleransi dan tren beragama masyarakat modern. (b) “Semua agama itu kembali kepada Allah. atau Hindu. Sebuah koran nasional 3/11/2007 pun menurunkan sebuah ulasan bedah buku yang bertema: "Sikap Tak Dukung Pluralisme Justru Ciptakan Teroris Baru" Sayangnya. setiap klaim kebenaran berdasar kitab suci. para pemuka agama dipaksa membuktikan dirinya bersih dari label-label "tidak toleran" dan "berpikiran sempit". adanya keyakinan bahwa semua agama itu diibaratkan sebagai jalan yang sama-sama validnya menuju Tuhan yang sama. Bahkan ketika dia ditanya tentang siapa saja yang layak masuk surga. Ibn al-Qayyim dalam kitabnya.com) Pluralisme agama sebenarnya adalah konsep yang dihasilkan dari kebijakan politik dalam menengahi konflik agama maupun konflik yang mengatasnamakan agama di Barat. maka pada hakekatnya setiap agama bisa dikatakan al-Islam". Maka Allah pun menguatkan hati beliau. Agama Islam yang berlandaskan tauhid mempunyai karakteristik dan pandangan hidup sendiri yang tidak bisa disamakan dengan agama-agama lain. aplikasi kejahilan secara akademis justru digalakkan melalui artikel. Orang jahil bukan hanya mereka yang kosong dari ilmu pengetahuan. Di samping itu.org/p14.” Lihat: Islam dan Pluralisme. Sedangkan kezaliman terbesar adalah perbuatan syirik. Kristen. saya akan berikan segala kemuliaan kepadanya". dst. Yakni sebuah sikap yang menyakini adanya tuhan selain Allah. Mereka menyakinkan bahwa tawaran ini terdapat kebaikan (maslahat). bersabar dalam kebodohan. (lihat tafsir Tabari dan Ma'alim Tanzil/al-Baghwi). Kita tidak boleh mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apa pun. Dengan konsep ini. (Wawancara 10/10/06. Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kezaliman itu berarti meletakkan sesuatu secara tidak proporsional.html). namun dia sendiri sebenarnya juga sedang berfatwa dalam menyamakan semua agama. tapi juga mereka yang menyakini sesuatu yang keliru. mereka akan memberikan seluruh harta yang dimiliki dan menjadikan beliau orang terkaya di Makkah. menjelaskan bahwa kejahilan itu adalah memandang baik sesuatu yang mestinya buruk atau menganggap sempurna sesuatu yang mestinya kurang. (www. Sehingga mereka bisa diterima di dunia posmodern. Meskipun penulis buku tersebut melarang berfatwa tentang agama. Padahal jika saja Nabi Muhammad menerima tawaran mereka. di mana setiap keyakinan harus didasarkan pada relativisme. adanya kebenaran yang sama mutlaknya dengan kebenaran agama Allah. "Tahzib Madarij al-Salikin". paradigma lintas keyakinan dikembangkan kedalam Islam. beramal saleh. Bahkan kajian kritis terhadap suatu agama atau menyakini bahwa agama yang dianutnya itu benar akan dipandang kaum pluralis sebagai tindakan yang tidak toleran dan menyebarkan kebencian. islamlib. buku. saling menguntungkan dan menyenangkan semua pihak. Sebaliknya. (www. Kalau berakhlak mulia. hukum dan moral yang sudah kedaluwarsa harus dihindari. dia menjawab: "Saya jadi tak peduli apakah dia Katolik.org/religious-pluralism. Nasrani. wahai orang-orang yang jahil?" (QS. mereka juga berjanji akan tunduk setia kepada aturan Rasulullah asalkan beliau mau mengakui tuhan mereka dan tidak mengusiknya. Jika kejahilan ini dibiarkan terpelihara. bakhil dalam kondisi lapang. Oleh karena itu.” Lihat: Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan kaum Beriman. Budha. Di buku lain juga disebutkan: . seminar dan perkuliahan. Islam. berdasarkan hasil kajian dalam buku ini dari berbagai ayat al-Qur'an.htm) Di Indonesia. maka ia akan menghasilkan kezaliman. (Tafsir Inklusif Makna Islam). kembalinya kpd Allah". 39:64) Al-Qur'an mengkategorikan pola pikir "arisan keyakinan" atau dalam istilah akademisnya dikenal dengan kesatuan transenden agama-agama sebagai tindakan orang jahil yang tidak berpengetahuan.apologeticsindex. ia menunjukkan suatu keteguhan hati dalam mengemban Risalah Tuhan. Di antara sebagai berikut: (a) "Kita tidak dapat mengatakan bahwa (agama) yang satu lebih baik dari yang lain. Selanjutnya ditegaskan: "Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama. netral.Sikap penolakan Rasulullah yang tidak "umum" terhadap tawaran kaum Quraisy yang sekilas nampak "adil. serta mempersilahkan beliau mengawini perempuan mana saja yang beliau maui. Hindu. Seperti marah pada sesuatu yang seharusnya direlakan dan merelakan padahal semestinya harus marah. Yahudi.

bermain sepak bola bersama dan berbuat baik kepada pemeluk agama lain. Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. dan tahun berikutnya mereka semua. Katakanlah: Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir)! 2. SURAH AL-KAFIRUN “PENYANGKAL KEBENARAN” Dengan Nama Allah. Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa membacanya sebelum beranjak tidur. mengikuti ajaran Nabi. Ataukah kita masih mau mencari lagi caracara bertoleransi untuk menandingi surat al-Kafirun? Surah Al-Kafirun (bahasa Arab:‫ )نورفاكلا‬adalah surah ke-109 dalam al-Qur'an. tidaklah terlalu tepat jika Islam dibatasi hanya untuk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Lebih lanjut. maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala. sejatinya pengertian Islam harus dipahami dalam makna generiknya. 'Aku tidak menyembah apa . [sunting]Latar Belakang Pada masa penyebaran Islam di Mekkah. jika ajaran Nabi benar. Dalam hal ini. Kemudian surat ini diturunkan untuk mejawab hal itu. Oleh karena itu ia memberitahu orang kafir. di samping bacaan yang lain. Maha Penyayang. Pokok isi surat ini adalah tidak diijinkannya kompromi dalam bentuk mencampuradukkan ajaran agama. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah."Sampai di sini. Oleh karena itu. Pembedaan identitas ini tidak menghalangi umat Islam untuk menjalin muamalah. tetapi kami mempunyai agama dan pandangan hidup sendiri. maka itu adalah urusan kalian. yang percaya bahwa ia akan menerima dan merasakan rahmat dari Pencipta Yang Mahaesa. Maha Pengasih. 1. serta melarang mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil. kaum Quraisy yang menentang Rasulullah SAW tak henti-hentinya mencari cara untuk menghentikan ancaman Islam terhadap kepercayaan nenek moyang mereka." (Islam Mazhab HMI) Islam secara jelas membedakan antara mukmin dan kafir. Ini adalah ungkapan penegasan dari orang beriman. termasuk Nabi dan kaum muslim. Nama Al Kaafiruun (orang-orang kafir) diambil dari kata yang muncul pada ayat pertama surat ini. kalau itu kalian anggap sebagai “agama”. Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi. surat al-Kafirun merupakan perisai umat dari segala bentuk syirik dan ibaratkan setara dengan seperempat al-Qur'an. maka merekapun akan memuja Tuhan sebagaimana konsep Islam. 6:108). Maka. menurut jalan pikiran kaum kafir. yaitu sikap pasrah dan tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa. tapi. Bahkan Islam secara tegas melarang umatnya mencaci maki keyakinan orang kafir (QS. Pada salah satu upaya tersebut mereka berusaha mengajukan proposal kompromi kepada Rasulullah SAW dimana mereka menawarkan: jika Rasulullah mau memuja Tuhan mereka. Surat ini terdiri atas 6 ayat dan termasuk surat Makkiyah. Prinsip tertinggi bertoleransi sudah ditawarkan Islam di penghujung surat al-Kafirun: lakum dinukum waliya din”. petunjuk dan kesesatan. jika praktik kaum kafir benar. menyembah berhala-berhala tradisional mereka. tauhid dan syirik. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun. Surah ini mempakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman.

menghormati atau memuja apa yang engkau sembah. Mereka tidak diterangi dari luar. Untukmu agamamu. Pada kesempatan kali ini. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dengan kerendahan hatinya ia diangkat semakin lama semakin dekat kepada sumber mata air. 6) “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. j'alan keyakinan yang sempurna egala puji bagi Allah. 3. Untukmu agamamu dan untukku agamaku! Orang yang beriman berada dalam ketenangan hati yang sempuma dan orang yang tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah menyimpulkan. penerangan mereka ber-asal dari dalam. engkau pun tidak akan pernah menyembah kebenaran yang aku sembah. meskipun segala upaya dilakukan untuk menarik mereka ke dalam cahaya din. tidak ada perlawanan). Tidak pernah akan. menyembah langsung sumber makanan batinnya. Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah. dan untukkulah. Dengan kata lain: Engkau tidak punya jalan menuju sumber yang aku sembah. setelah tercerahkan. Mereka berjalan sepanjang pantai lautan cahaya. lancar. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. dan fakta ini tidak dapat diubah. dan tidak pernah bisa. dan pantai ini ada batas-batasnya. 4. Ini merupakan ramalan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang dalam kekufuran akan tetap dalam kekufuran. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad. Sumber tersebut menambah keimanannya melalui ' ubudiyah (ibadah)nya dan melindunginya dari segala bahaya. Semoga manfaat. Mereka akan tetap begitu meskipun kita meminta agar mereka tidak melakukan itu. keluarga dan sahabatnya. sebagaimana berulang kali dikatakan dalam Alquran. Rabb yang berhak disembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. kita akan mempelajari tafsir surat Al Kafirun dan menarik faedah berharga di dalamnya.' Orang yang beriman. dan aku punya jalan sendiri!' Kemudian orang-orang yang beriman dan berkeyakinan teguh bergandengan tangan mengikuti metoda yang telah disempumakan dari model Muhammad. 5. karena engkau tidak menyembah energi halus yang memancarkan semua Sifat. setelah mengetahui Allah. Ibadah menjadikan perjalanannya mu'abbad (mudah. 'Engkau mempunyai jalan sendiri. agamaku. setelah dibukakan. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Ada orang yang telah diciptakan sebagai bahan bakar neraka. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (QS. Inilah jalan orang mukmin. malahan.yang kamu sembah. Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah. Allah Ta‟ala berfirman. yang menjaga agar selamat dari kegelapan yang melingkupi orang lain dan yang memberinya cahaya dan pencerahan. Di masa akan datang. jalan yang kau pilih untuk melengkapi lagi dirimu dan berinteraksi dengan orang lain. dengan wujud apa pun yang kau anggap mutlak. Al Kaafirun: 1-6) .

“Katakanlah: "Hai orang-orang kafir”.Surat ini adalah surat Makkiyah (yang turun sebelum hijroh). Yang beliau baca pada dua rakaat sebelum shalat subuh dan dua rakaat setelah maghrib adalah surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas). konteks ayat ini membicarakan tentang kafir Quraisy. ada ulama yang menyatakan bahwa karena kejahilan orang kafir Quraisy. Akan tetapi. ) “Nabi shallallahu „alaihi wa sallam biasa membaca di shalat dua raka‟at thowaf yaitu surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas) dan surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun).” (HR. 1218) Dari Abu Hurairah. Surat ini berisi perintah untuk ikhlas dalam melakukan amalan (yaitu murni ditujukan pada Allah semata). “Saya melihat Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam shalat sebanyak dua puluh empat atau dua puluh lima kali. lalu mereka akan bergantian beribadah kepada sesembahan Rasul shallallahu „alaihi wa sallam (yaitu Allah Ta‟ala) selama setahun pula. .aib Al Arnauth mengatakan. ia mengatakan.” (HR. Muslim no. 726) Dari Ibnu „Umar. }. Syaikh Syu. ia berkata. mereka mengajak Rasul shallallahu „alaihi wa sallam untuk beribadah kepada berhala mereka selama satu tahun. Ayat ini sebenarnya ditujukan pada orang-orang kafir di muka bumi ini. Mengenai surat ini. ia mengatakan. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk berlepas diri dari agama orang-orang musyrik tersebut secara total. Kebiasaan Nabi shallallahu „alaihi wa sallam Membaca Surat Al Kaafirun Dari Jabir bin „Abdillah. Tafsir Surat Al Kaafirun Firman Allah Ta‟ala. Ahmad 2/95. ) “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam biasa membaca di dua raka‟at sunnah Fajr (Qobliyah Shubuh) yaitu surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas). Akhirnya Allah Ta‟ala pun menurunkan surat ini. sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Isi Surat Al Kaafirun Surat ini berisi ajaran berlepas diri dari amalan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Muslim no.” (HR.

“Untukmu agamamu. maksudnya adalah kalian tidak akan mengikuti perintah dan syari‟at Allah dalam melakukan ibadah. aku hanya ingin beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah cintai dan ridhoi. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. Muhammadur Rasulullah”. Allah Ta‟ala firmankan selanjutnya. “Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah”. dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. Maksud kalimat yang agung ini adalah “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah. Rasul shallallahu „alaihi wa sallam dan para pengikutnya menyembah Allah sesuai dengan apa yang Allah syariatkan. Inilah konsekuensi dari kalimat Ikhlas “Laa ilaha illallah. “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah”. yaitu yang aku sembah adalah Allah semata.Yang dimaksud dengan ayat. An Najm: 23) Ayat-ayat ini secara jelas menunjukkan berlepas diri dari orang-orang musyrik dari seluruh bentuk sesembahan yang mereka lakukan. Oleh karena itu selanjutnya Allah Ta‟ala mengatakan kembali. agamaku. dan untukkulah.” Maksud ayat ini sebagaimana firman Allah. “Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”. Oleh karena itu Rasul shallallahu „alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka.” (QS. dan jalan cara untuk melakukan ibadah tersebut adalah dengan mengikuti ajaran Rasul shallallahu „alaihi wa sallam”. Maksud firman Allah selanjutnya. . Orang-orang musyrik melakukan ibadah kepada selain Allah. “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan. yaitu berhala dan tandingan-tandingan selain Allah. padahal tidak Allah izinkan. Hal ini sebagaimana Allah firmankan. Seorang hamba seharusnya memiliki sesembahan yang ia sembah. tidak ada sekutu bagi-Nya. bahkan yang kalian lakukan adalah membuat-buat ibadah sendiri yang sesuai selera hati kalian. Ibadah yang ia lakukan tentu saja harus mengikuti apa yang diajarkan oleh sesembahannya. maksudnya adalah aku tidak akan beribadah dengan mengikuti ibadah yang kalian lakukan.

Mengenai Ayat Yang Berulang dalam Surat Ini Mengenai firman Allah yang berulang dalam surat ini yaitu pada ayat. “Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu.“Jika mereka mendustakan kamu. 5) “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.” (QS.” (QS.” (QS. ) “Lakum diinukum”. maksudnya bagi kalian kekafiran yang kalian lakukan. 6) “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Yang semisal dengan ini adalah firman Allah Ta‟ala. 7) . Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Jarir dari sebagian pakar bahasa. Asy Syura: 15) Imam Al Bukhari mengatakan. Yunus: 41) “Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Dalam ayat ini tidak ).” Ada tiga pendapat dalam penafsiran ayat ini: Tafsiran pertama: Menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah untuk penguatan makna (ta‟kid). maksudnya bagi kami agama kami. maksudnya adalah ak ). Alam Nasyroh: 5-6) Begitu pula firman Allah Ta‟ala. Mereka mengatakan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. “Wa liya diin”. Al Maidah: 64). Demikian yang disebutkan oleh Imam Al Bukhari.

Maha Penyayang. Dalam menyambut bulan suci Romadhon. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Sehingga seakan-akan yang dinafikan dalam ayat tersebut adalah perbuatan (menyembah selain Allah) dan ditambahkan tidak menerima ajaran menyembah selain Allah secara total. tidak dinamakan ibadah. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. bahwa yang dimaksud ayat. Sedangkan ayat. Maha Pengasih. begitu pula dengan orang beriman. saya sengaja memberikan sebuah postingan. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.” (QS. Tafsiran yang terakhir ini pula adalah tafsiran yang bagus. ??????? ??????? ??????????? ???????? Dengan Nama Allah. Kewajiban berlepas diri (baro‟) secara lahir dan batin dari orang kafir dan sesembahan mereka. Tafsiran ketiga: Yang dimaksud dengan ayat. Di sini bisa dimaksudkan secara total karena kalimat tersebut menggunakan jumlah ismiyah (kalimat yang diawali kata benda) dan ini menunjukkan ta‟kid (penguatan makna). Ibadah yang bercampur kesyirikan (tidak ikhlas).” Yang dinafikan (ditiadakan di sini) adalah perbuatan (menyembah selain Allah) karena kalimat ini adalah jumlah fi‟liyah (kalimat yang diawali kata kerja). Yang dimaksud ayat ini pula adalah menafikan jika Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tidak mungkin sama sekali menyembah selain Allah. At Takatsur: 6-7) Tafsiran kedua: Sebagaimana yang dipilih oleh Imam Bukhari dan para pakar tafsir lainnya. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. yang berisi tentang “PENYANGKAL KEBENARAN” yang berada dalam surah Al-Kafirun. Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat. Faedah Berharga dari Surat Al Kafirun Dalam ayat ini dijelaskan adanya penetapan aqidah meyakini takdir Allah. Wallahu a‟lam.” Yang dimaksudkan di sini adalah penafian (peniadaan) menerima sesembahan selain Allah secara total. Adanya tingkatan yang berbeda antara orang yang beriman dan orang kafir atau musyrik.” Ini untuk masa akan datang.” Ini untuk masa lampau. “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. 5) “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. . yaitu orang kafir ada yang terus menerus dalam kekafirannya.

?????? ????????? ?????? ????? 6. Untukmu agamamu dan untukku agamaku! Orang yang beriman berada dalam ketenangan hati yang sempuma dan orang yang tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah menyimpulkan. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah. dan fakta ini tidak dapat diubah. Oleh karena itu ia memberitahu orang kafir. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun. Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah. „Engkau mempunyai jalan sendiri. „Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. setelah dibukakan. Sumber tersebut menambah keimanannya melalui „ ubudiyah (ibadah)nya dan melindunginya dari segala bahaya. dengan wujud apa pun yang kau anggap mutlak. jika ajaran Nabi benar. Katakanlah: Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir)! ??? ???????? ??? ??????????? 2. Maka. ????? ????? ??????? ???? ?????????? 4. Mereka akan tetap begitu meskipun kita meminta agar mereka tidak melakukan itu. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. yang menjaga agar selamat dari kegelapan yang melingkupi orang lain dan yang memberinya cahaya dan pencerahan. Dengan kata lain: Engkau tidak punya jalan menuju sumber yang aku sembah. Ibadah menjadikan perjalanannya mu‟abbad (mudah. Ini adalah ungkapan penegasan dari orang beriman. termasuk Nabi dan kaum muslim. ???? ??? ???????? ????????????? 1. Ada orang yang telah diciptakan sebagai bahan bakar neraka. dan tahun berikutnya mereka semua. setelah tercerahkan. jalan yang kau pilih untuk melengkapi lagi dirimu dan berinteraksi dengan orang lain. menyembah berhala-berhala tradisional mereka.‟ Orang yang beriman. engkau pun tidak akan pernah menyembah kebenaran yang aku sembah. sebagaimana berulang kali dikatakan dalam Alquran. Tidak pernah akan. maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala.Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. dan tidak pernah bisa. menurut jalan pikiran kaum kafir. menyembah langsung sumber makanan batinnya. karena engkau tidak menyembah energi halus yang memancarkan semua Sifat. mengikuti ajaran Nabi. yang percaya bahwa ia akan menerima dan merasakan rahmat dari Pencipta Yang Mahaesa. tapi. mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi. tidak ada perlawanan). Ini merupakan ramalan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang dalam kekufuran akan tetap dalam kekufuran. meskipun segala upaya dilakukan untuk menarik mereka ke dalam cahaya din. Di masa akan datang. Surah ini mempakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman. setelah mengetahui Allah. lancar. menghormati atau memuja apa yang engkau sembah. dan aku punya jalan sendiri!‟ Kemudian orang-orang yang beriman dan berkeyakinan teguh bergandengan tangan . Dengan kerendahan hatinya ia diangkat semakin lama semakin dekat kepada sumber mata air. ????? ??????? ?????????? ??? ???????? 5. jika praktik kaum kafir benar. malahan. ????? ??????? ?????????? ??? ???????? 3.

al-Ash bin Wail. 4." (ayat 2). Yang aku sembah ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka selain dari yang kita sembah itu berlain. "Aku tidak akan menyembah apa Yang kamu sembah. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik." – Inilah usul yang mereka kemukakan.mengikuti metoda yang telah disempumakan dari model Muhammad. 3. "Dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) Yang Aku sembah. Tegasnya yang disembah lain dan Cara menyembah pun lain. sehingga timbullah suatu pertandingan siapakah yang lebih kuat semangatnya mempertahankan pendirian masing-masing. "Dua jumlah kata yang pertama (ayat 2 dan 3) adalah menjelaskan perbedaan yang disembah. Oleh sebab itu tidaklah dapat pegangan kita masingmasing ini didamaikan." ialah rnenafikan perbuatan (nafyul fi'li) Artinya bahwa perbuatan begitu tidaklah pemah aku kerjakan.a. yang bersih daripada segala macam persekutuan dan perkongsian dan mustahil menyatakan diriNya pada diri seseorang atau sesuatu benda.w. "Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah. di antara Tauhid Mengesakan Allah. "damai". yaitu kayu atau batu yang kamu perbuat sendiri dan kamu besarkan sendiri. Menurut tafsiran Ibnu Katsir yang disalinkannya dari Ibnu Taimiyah arti ayat yang kedua: "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah. "Bagi kamu ugama kamu. yang meratakan kurniaNya kepada siapa jua pun yang tulus ikhlas beribadat kepadaNya. Hai orang-orang yang tidak mau percaya. Mereka menantang. pun tegas pula dalam sikapnya menantang penyembahan mereka kepada berhala. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah. artinya ialah kemenangan syirik. engkau turut serta bersama kami.HAMKA Surat 109: 6 ayat -di MAKKAH ‫ نورفاكلا :ةروس‬Tidak Ada Kompromi (Tolak Ansur) dalam Aqidah dan Ibadah Sudah jelas." (ayat 5). Soal akidah. "Dan Aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat. yang kafir. penerangan mereka ber-asal dari dalam. Yang mendatangi Nabi itu menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Said bin Mina – ialah al-Walid bin al-Mughirah. Karena yang aku sembah hanya Allah kan kalian menyembah kepada benda. "Untuk kamulah agama kamu. Kalau aku menyembah Allah maka aku melakukan shalat di dalam syarat rukun yang telah ditentukan. 6.1. Mereka bermaksud hendak mencari. menyalahkan kepercayaan mereka. "Dan kamu pula tidak mahu beribadat secara Aku beribadat. Maka bermuafakatlah pemuka-pemuka Quraisy musyrikin itu hendak menemui Nabi. Mereka kemukakan suatu usul damai: "Ya Muhammad! Mari kita berdamai. tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah. dan untuk akulah agamaku. maka cara kita menyembah pun lain pula. Tafsir Surat 109 AL-KAFIRUN Tafsir Al-Azhar Prof Dr. hai orang-orang yang kafir! "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah. artinya tidak mau menerima seruan dan petunjuk kebenaran yang dibawakan Nabi kepada mereka. sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya daripada apa yang ada pada kami. Surat ini diturunkan di Makkah dan yang dituju ialah kaum musyrikin. yang sejak semula berkeras menantang Rasul dan sudah diketahui dalam ilmu Allah Ta'ala bahwa sampai saat terakhir pun mereka tidaklah akan mau menerima kebenaran." (ayat 3). j‟alan keyakinan yang sempurna." – olehmu hai utusanKu – kepada orang-orang yang tidak mau percaya itu: "Hai orang-orang kafir!" (ayat 1). Mereka tidak diterangi dari luar. dan bagiku ugamaku"." (ayat 4). Dan isi dua ayat berikutnya (ayat 4 dan 5) ialah menjelaskan perbedaan cara beribadat. Tidak berapa lama setelah mereka mengemukakan usul ini. "Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah. Sedang kamu menyembah berhala itu sangatlah berbeda dengan cara aku menyembah Allah. Artinya persembahan kita ini sekali-kali tidak dapat diperdamaikan atau digabungkan. turunlah ayat ini. Inilah jalan orang mukmin. Katakanlah (Wahai Muhammad): "Hai orang-orang kafir! "Katakanlah. kamu menyembah berhala aku menyembah Allah Yang Maha Esa. Maka pada satu waktu terasalah oleh mereka sakitnya pukulan-pukulan itu. dan di dalam segala urusan di negeri kita ini. "Katakanlah." (ayat 6). Dan jika pegangan kami ini yang lebih benar daripada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah bersama merasakannya dengan kami. Menurut Ibnu Jarir panggilan seperti ini disuruh sampaikan Tuhan oleh NabiNya kepada orang-orang kafir itu. Allah. sama mengambil bahagian padanya. dan pantai ini ada batas-batasnya. mencela berhala mereka. Sedang yang kamu sembah bukan . al-Aswad bin alMuthalib dan Umaiyah bin Khalaf. Mereka berjalan sepanjang pantai lautan cahaya. supaya turutlah kami merasakannya dengan engkau. Dan Maha Kuasa menarik ubun-ubun orang yang menolak kebenaranNya dan menghukum orang yang menyembah kepada yang lain. "Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah. dan Nabi s. Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan perbedaan ini di dalam tafsimya. Tidak satu dan tidak sama. 5.2.

penyembahan berhala dengan sembahyang. bahwa dia ini meminta pertunjuk kepada Nabi s. bahwasanya aku tidaklah mau diajak menyembah berhala-berhala yang kamu sembah dan puja itu. melainkan benda.w. bahwa Nabi membaca kedua Surat ini dua rakaat Fajar dan dua rakaat sesudah Maghrib. perkataanmu itu bohong. yang berarti menyesuai-nyesuaikan. karena kamu adalah musyrik. * * * Pelengkap Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya: Tersebut dalam Shahih Muslim. kamu menyembah sesuatu selain Allah dan kamu persekutukan yang lain itu dengan Allah. menyembelih binatang guna pemuja hantu atau jin dengan membaca Bismillah.itu. Malahan kamu persekutukan berhala kamu itu dengan Allah. Sedang Allah itu tidak dapat dipersyarikatkan dengan yang lain." Al-Qurthubi meringkaskan tafsir seluruh ayat ini begini: "Katakanlah olehmu wahai UtusanKu. Dan lain-lain sebagainya. membaca Surat ini dan Qul Huwallaahu Ahad pada sembahyang dua rakaat sunnat Fajar (sebelum sembahyang Subuh). pakailah agama itu sendiri. . Aku tidak menyembah kepada Tuhanku sebagaimana kamu menyembah berhala. bukan Allah. dalamlah jurang di antara kita. kamu pun rupanya tidaklah mau menyembah kepada Allah saja sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. "Bagi kamu agama kamu. Dan telah kita jelaskan bahwa Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun. Maka Nabi menasihatkan supaya setelah dia mulai berbaring bacalah Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun.a. lebih dari dua puluh kali. Dalam Shahih Muslim juga. bahwa Rasulullah s. maka yang batil jualah yang menang. Aku menyembah Allah sahaja. Insya Allah. jangan pula aku diajak menyembah yang bukan Tuhan itu. Maka kalau kamu katakan bahwa kamu pun menyembah Allah jua. Misalnya di antara animisme dengan Tauhid. bahwa Rasulullah s. Oleh sebab itu maka Akidah Tauhid itu tidaklah mengenal apa yang dinamai Cynscritisme. diterima dari Jabir bin Abdillah. dari Hadis Abu Hurairah. dan segala perbuatan hati. Demikian juga menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh al-Imam Ahmad dari Ibnu Umar. kepada orang-orang kafir itu. jangan sampai hendak kamu campur-adukkan dengan apa yang kamu sebut agama itu. apa yang baik dibaca sebelum tidur. Surat ini mengandung larangan menyembah yang selain Allah. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Dia setali dengan Qul Huwallaahu (Surat al-Ikhlas) yang akan kita tafsirkan kelak. bagiku adalah agamaku pula. Dan ibadat kita pun berlain. mengandung pokok akidah.w.a. Oleh sebab itu agama kita tidaklah dapat diperdamaikan atau dipersatukan." Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. sama dengan seperempat dari al-Quran. sebab dia adalah satu pernyataan diri sendiri bersih dari syirik. Dan untuk akulah agamaku. ibadatmu itu bukan ibadat dan tuhanmu itu pun bukan Tuhan.a. membaca Surat al-Kafirun ini bersama Surat Qul Huwallaahu Ahad di dalam sembahyang sunnat dua rakaat sesudah tawaf. Sebuah Hadis dirawikan oleh al-Imam Ahmad dari Farwah bin Naufal alAsyja'iy." Tinggilah dinding yang membatas.w. Kalau yang hak hendak dipersatukan dengan yang batil. Sebab itu maka menurut aku. Untuk kamulah agama kamu.