1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3.

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku." Surat ini adalah surat makkiyah, surat yang diturunkan pada periode Makkah, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa, surat ini turun pada periode Madinah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa, surat ini adalah surat penolakan (baraa‟) terhadap seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan yang memerintahkan agar kita ikhlas dalam setiap amal ibadah kita kepada Allah, tanpa ada sedikitpun campuran, baik dalam niat, tujuan maupun bentuk dan tata caranya. Karena setiap bentuk percampuran disini adalah sebuah kesyirikan, yang tertolak secara tegas dalam konsep aqidah dan tauhid Islam yang murni. Meskipun kita diperbolehkan untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam berbagai bidang kehidupan umum (lihat QS Luqman [31]: 15, QS Al-Mumtahanah [60]: 8 dan yang lainnya), namun khusus dalam masalah agama yang meliputi aqidah, ritual ibadah, hukum, dan semacamnya, sebagaimana dinyatakan dalam surat ini, kita harus bersikap tegas kepada mereka, dengan arti kita harus bisa memurnikan dan tidak sedikitpun mencampuradukkan antara agama kita dan agama mereka. Disebutkan bahwa sebab turunnya (sababun nuzul) surat ini adalah bahwa, setelah melakukan berbagai upaya untuk menghalang-halangi dakwah Islam, orang-orang kafir Quraisy akhirnya mengajak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkompromi dengan mengajukan tawaran bahwa mereka bersedia menyembah Tuhan-nya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama satu tahun jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersedia ikut menyembah tuhan-tuhan mereka selama satu tahun. Maka Allah sendiri yang langsung menjawab tawaran mereka itu dengan menurunkan surat ini (lihat atsar riwayat Ath-Thabrani, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas ra). Keutamaan Surat Ini Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa, nilai surat ini setara dengan seperempat Al-Qur‟an. Diantaranya riwayat dari Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam bersabda, ”Qul huwaLlahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur‟an, dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun setara dengan seperempat Al-Qur‟an” (HR Ath-Thabrani). Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam biasa membaca Surat AlKafirun dan Surat Al-Ikhlas dalam berbagai macam shalat, diantaranya dalam dua rakaat shalat sunnah fajar (HR Muslim dari Abu Hurairah ra), shalat sunnah ba‟diyah maghrib (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa-i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Ibnu Umar ra), shalat sunnah thawaf (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah ra), dan shalat witir (HR Al-Hakim dari Ubay bin Ka‟ab ra). Beberapa riwayat juga menyebutkan disunnahkannya membaca Surat Al-Kafirun sebelum tidur, diantaranya hadits riwayat Naufal bin Mu‟awiyah Al-Asyja‟i, dimana beliau meminta diajari sebuah bacaan yang sebaiknya dibaca sebelum tidur. Maka Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam bersabda, ”Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafirun sampai akhir surat, lalu langsung tidurlah sesudah itu, karena sesungguhnya surat tersebut adalah penolakan terhadap kesyirikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan lain-lain) Kandungan Umum Secara umum, surat ini memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah (tauhid ibadah). Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Dan karena kedua kandungan makna ini begitu urgen dan

berhubungan. sebenarnya juga mengandung makna sikap toleransi Islam dan kaum muslimin terhadap agama lain dan pemeluknya. Al-Baqarah [2]: 256). serta yang lainnya. Dan hal itu lebih dikuatkan lagi dengan dibenarkannya kaum mukminin bergaul. Keempat. Al-Qashash [28]: 55. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur‟an adalah khitab semacam 'Yaa ayyuhan naas' (Wahai sekalian manusia) dan sebagainya. yang mencakup seluruh waktu (yang lalu. jika kita renungkan. sehingga ditegaskan dengan berbagai bentuk penegasan yang tergambar secara jelas di bawah ini. dan mungkin juga QS. dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang sejarah. secara umum semakna dengan firman Allah yang lain dalam QS. Meskipun yang dimaksud tentulah sekadar pengakuan terhadap realita. ritual ibadah dan hukum.mendasar sekali. kini. sedang ayat ke-3 diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis. Ketiga. dimana kandungan makna ayat ke-2 diulang dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksi nash. Dimana semuanya berintikan pernyataan dan ikrar ketegasan sikap setiap orang beriman terhadap setiap orang kafir. berinteraksi dan bekerjasama dengan kaum kafirin dalam berbagai bidang kehidupan umum. jelas dan terbuka kepada mereka. Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal diatas dengan penegasan terakhir dalam firmanNya: ‟Lakum diinukum wa liya diin‟ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga diatas dengan melakukan pengulangan ayat. Kedua. tidak boleh ada pemaksaan untuk masuk agama Islam. pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa. yakni dalam firman Allah: ”Laa ikraaha fiddiin” (QS. apalagi agama yang lain. jika terkait secara khusus tentang masalah dan urusan agama masing-masing. seperti bidang sosial . dan sama sekali bukan pengakuan pembenaran. pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam. Pertama. ”Lakum Diinukum Waliya Diin” Ayat pamungkas yang merupakan ringkasan dan kesimpulan seluruh kandungan surat Al-Kaafiruun ini. tanpa adanya sedikitpun toleransi. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka. dan mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan. Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan khitab (panggilan) ‟Yaa ayyuhal kafirun‟ (Wahai orang-orang kafir). Namun demikian dari sisi yang lain. Dimana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Dan hal itu didukung oleh pernyataan yang menegaskan bahwa. orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benarbenar menyembah-Nya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya dan demikian pula sebaliknya. Kelima. yang akan datang dan selamanya). Adanya pengulangan ini menunjukkan adanya penafian atas realitas sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh. kompromi dan pencampuran. Yakni berupa sikap pengakuan terhadap eksistensi agama selain Islam dan keberadaan penganut-penganutnya. Yunus [10]: 41. yakni yang meliputi aspek aqidah. bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir. surat inipun dari awal sampai akhir. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek-praktek peribadatan kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. padahal Al-Qur‟an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang vulgar semacam ini.

berikut ini poin-poin kesimpulan umum dari kandungan makna surat Al-Kaafiruun. Rasulullah menjawab: "Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik. bahkan meringankan penawaran dengan hanya meminta beliau mengakui keberadaan tuhan mereka: "Terimalah sebagian tuhantuhan kami. Yakni bahwa. Sebagai penutup. ritual ibadah ataupun hukum. agar tidak terjadi kerancuan-kerancuan. Peristiwa ini disebut dalam banyak kitab tafsir. mempermainkan atau merusak agama yang ada. dan lain-lain. seraya berkata: "Wahai Muhammad! Ikutlah agama kami. seperti Tafsir imam Tabari (w. bisnis dan perdagangan. niscaya kami akan beriman kepadamu dan menyembah Tuhanmu". sebagaimana yang sering terjadi selama ini. niscaya kami pun akan mengikuti agamamu. Ibnu Katsir (w. dan bukan kebebasan mengganggu. ritual ibadah dan hukum. atau bahkan pembalikan-pembalikan sikap. Di sana para pemuka Quraisy sedang berkumpul. Lalu turunlah surat "alKafirun". haruslah dipahami secara benar dan proporsional. lalu membacakan wahyu yang baru diterimanya. ekonomi. . mereka tidak menyerah. Nah bahwa ada dua sikap terkait pola hubungan antara ummat Islam dan ummat lain tersebut. dibenarkan seorang mukmin bersikap toleransi dengan berinteraksi dan bahkan bekerjasama dengan anggota masyarakat non mukmin. beliau pergi ke Masjidil Haram. Akhirnya kaum Quraisy pun berputus asa. Sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun dan kami akan menyembah Tuhanmu dalam setahun". (6) Kaum muslimin dilarang keras ikut-ikutan penganut agama lain dalam keyakinan aqidah. ritual ibadah dan ketentuan hukum agama mereka. Yang jelas semua bidang selain bidang khusus agama yang mencakup masalah aqidah. (3) Namun di saat yang sama Islam memberikan ketegasan sikap ideologis berupa baraa‟ atau penolakan total terhadap setiap bentuk kesyirikan aqidah. Alkisah. sekelompok pemuka kaum kafir Quraisy mendatangi Rasulullah saw. Islam membenarkan kaum muslimin untuk berinteraksi dengan ummat-ummat non muslim itu dalam bidang-bidang kehidupan umum. pemerintahan dan kenegaraan. atau pencampuran-pencampuran. yang berarti Islam mengakui adanya kebebasan beragama bagi setiap orang. politik. dalam bidang-bidang kehidupan umum. 774H). sikap tegaslah yang harus ditunjukkan. Dan tidak ada satu pun perbedaan yang kontradiktif di kalangan ulama tafsir dalam menguraikan makna surat al-Kafirun. yang terdapat di dalam agama-agama lain. Namun khusus di bidang urusan agama yang terkait masalah aqidah. makna tersebut juga diambil firman Allah yang lain seperti "Laa ikraaha fid-diin". Keesokan harinya. Mendengar jawaban ini. 516H). dsb. ritual ibadah dan hukum. (5) Begitu pula antar ummat muslim dan ummat kafir tidak dibenarkan saling mencampuri urusan-urusan khusus agama lain. Lalu Rasulullah menghampiri dan berdiri di tengah-tengah mereka. al-Alusi (w. 1270H). al-Baghwi (w.kemasyarakatan. (2) Dan karenanya. ritual ibadah dan hukum agama mereka. ritual ibadah dan hukum. Disamping dari kalimat "Lakum diinukum waliya diin". 310H). (4) Maka tidak boleh ada pencampuran antara Islam dan agama-agama lain dalam bidang-bidang aqidah. baik oleh kaum muslimin maupun juga oleh kaum non muslimin. khususnya kalimat pamungkasnya: ”Lakum diinukum waliya diin”: (1) Secara umum Islam memberikan pengakuan terhadap realita keberadaan agama-agama lain dan penganutpenganutnya. seperti yang telah dijelaskan diatas. (7) Ummat Islam tidak dibenarkan melibatkan diri dan bekerja sama dengan penganut agama lain dalam bidang-bidang yang khusus terkait dengan keyakinan aqidah.

Meskipun penulis buku tersebut melarang berfatwa tentang agama. aplikasi kejahilan secara akademis justru digalakkan melalui artikel. maka pada hakekatnya setiap agama bisa dikatakan al-Islam".allaboutreligion. Ibn al-Qayyim dalam kitabnya. saling menguntungkan dan menyenangkan semua pihak.” Lihat: Islam dan Pluralisme.com) Pluralisme agama sebenarnya adalah konsep yang dihasilkan dari kebijakan politik dalam menengahi konflik agama maupun konflik yang mengatasnamakan agama di Barat. Selanjutnya ditegaskan: "Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama. Seperti marah pada sesuatu yang seharusnya direlakan dan merelakan padahal semestinya harus marah. para pemuka agama dipaksa membuktikan dirinya bersih dari label-label "tidak toleran" dan "berpikiran sempit". Akhirnya banyak akademisi yang latah menyatakan: "Karena itu. Tradisi syirik seperti ini anehnya justru dijadikan tolak ukur bertoleransi dan tren beragama masyarakat modern. buku.apologeticsindex. dia menjawab: "Saya jadi tak peduli apakah dia Katolik. pluralis dan humanis" tentunya bukanlah hal mudah dan ringan. Agama Islam yang berlandaskan tauhid mempunyai karakteristik dan pandangan hidup sendiri yang tidak bisa disamakan dengan agama-agama lain. Dengan konsep ini. saya akan berikan segala kemuliaan kepadanya". kembalinya kpd Allah". (Wawancara 10/10/06. ia menunjukkan suatu keteguhan hati dalam mengemban Risalah Tuhan. menjelaskan bahwa kejahilan itu adalah memandang baik sesuatu yang mestinya buruk atau menganggap sempurna sesuatu yang mestinya kurang. termasuk dengan fatwa.org/religious-pluralism. (www. 39:64) Al-Qur'an mengkategorikan pola pikir "arisan keyakinan" atau dalam istilah akademisnya dikenal dengan kesatuan transenden agama-agama sebagai tindakan orang jahil yang tidak berpengetahuan. "Katakanlah: "Maka apakah kepada selain Allah kamu menyuruhku menyembah. Padahal jika saja Nabi Muhammad menerima tawaran mereka. Di antara sebagai berikut: (a) "Kita tidak dapat mengatakan bahwa (agama) yang satu lebih baik dari yang lain. Yahudi. Di buku lain juga disebutkan: .htm) Di Indonesia.” Lihat: Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan kaum Beriman. Hindu. (lihat tafsir Tabari dan Ma'alim Tanzil/al-Baghwi). Nasrani. hukum dan moral yang sudah kedaluwarsa harus dihindari. beramal saleh. adanya keyakinan bahwa semua agama itu diibaratkan sebagai jalan yang sama-sama validnya menuju Tuhan yang sama. adanya kebenaran yang sama mutlaknya dengan kebenaran agama Allah. Bahkan ketika dia ditanya tentang siapa saja yang layak masuk surga. (b) “Semua agama itu kembali kepada Allah. seminar dan perkuliahan. Sehingga mereka bisa diterima di dunia posmodern. Sebaliknya. wahai orang-orang yang jahil?" (QS. bakhil dalam kondisi lapang. (Tafsir Inklusif Makna Islam). Islam. mereka juga berjanji akan tunduk setia kepada aturan Rasulullah asalkan beliau mau mengakui tuhan mereka dan tidak mengusiknya. di mana setiap keyakinan harus didasarkan pada relativisme. paradigma lintas keyakinan dikembangkan kedalam Islam. Kristen. bersabar dalam kebodohan.html). Sedangkan kezaliman terbesar adalah perbuatan syirik. maka ia akan menghasilkan kezaliman. "Tahzib Madarij al-Salikin". (www. islamlib. Mereka menyakinkan bahwa tawaran ini terdapat kebaikan (maslahat). Yakni sebuah sikap yang menyakini adanya tuhan selain Allah.org/p14. Budha. Di samping itu. Kalau berakhlak mulia. dst. Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kezaliman itu berarti meletakkan sesuatu secara tidak proporsional. Maka Allah pun menguatkan hati beliau. setiap klaim kebenaran berdasar kitab suci. mereka akan memberikan seluruh harta yang dimiliki dan menjadikan beliau orang terkaya di Makkah. netral. Kita tidak boleh mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apa pun. Sebuah koran nasional 3/11/2007 pun menurunkan sebuah ulasan bedah buku yang bertema: "Sikap Tak Dukung Pluralisme Justru Ciptakan Teroris Baru" Sayangnya. serta mempersilahkan beliau mengawini perempuan mana saja yang beliau maui. namun dia sendiri sebenarnya juga sedang berfatwa dalam menyamakan semua agama. Bahkan kajian kritis terhadap suatu agama atau menyakini bahwa agama yang dianutnya itu benar akan dipandang kaum pluralis sebagai tindakan yang tidak toleran dan menyebarkan kebencian. berdasarkan hasil kajian dalam buku ini dari berbagai ayat al-Qur'an.Sikap penolakan Rasulullah yang tidak "umum" terhadap tawaran kaum Quraisy yang sekilas nampak "adil. tapi juga mereka yang menyakini sesuatu yang keliru. Jika kejahilan ini dibiarkan terpelihara. atau Hindu. Oleh karena itu. Orang jahil bukan hanya mereka yang kosong dari ilmu pengetahuan.

Nama Al Kaafiruun (orang-orang kafir) diambil dari kata yang muncul pada ayat pertama surat ini. Oleh karena itu. [sunting]Latar Belakang Pada masa penyebaran Islam di Mekkah. 1. SURAH AL-KAFIRUN “PENYANGKAL KEBENARAN” Dengan Nama Allah. mengikuti ajaran Nabi. menurut jalan pikiran kaum kafir. maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala. Ini adalah ungkapan penegasan dari orang beriman. Lebih lanjut. mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun. Pada salah satu upaya tersebut mereka berusaha mengajukan proposal kompromi kepada Rasulullah SAW dimana mereka menawarkan: jika Rasulullah mau memuja Tuhan mereka. 'Aku tidak menyembah apa . maka merekapun akan memuja Tuhan sebagaimana konsep Islam. bermain sepak bola bersama dan berbuat baik kepada pemeluk agama lain. Ataukah kita masih mau mencari lagi caracara bertoleransi untuk menandingi surat al-Kafirun? Surah Al-Kafirun (bahasa Arab:‫ )نورفاكلا‬adalah surah ke-109 dalam al-Qur'an." (Islam Mazhab HMI) Islam secara jelas membedakan antara mukmin dan kafir. tetapi kami mempunyai agama dan pandangan hidup sendiri."Sampai di sini. Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. serta melarang mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil. Oleh karena itu ia memberitahu orang kafir. 6:108). jika praktik kaum kafir benar. jika ajaran Nabi benar. Dalam hal ini. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. surat al-Kafirun merupakan perisai umat dari segala bentuk syirik dan ibaratkan setara dengan seperempat al-Qur'an. menyembah berhala-berhala tradisional mereka. kaum Quraisy yang menentang Rasulullah SAW tak henti-hentinya mencari cara untuk menghentikan ancaman Islam terhadap kepercayaan nenek moyang mereka. Katakanlah: Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir)! 2. yang percaya bahwa ia akan menerima dan merasakan rahmat dari Pencipta Yang Mahaesa. Pokok isi surat ini adalah tidak diijinkannya kompromi dalam bentuk mencampuradukkan ajaran agama. Bahkan Islam secara tegas melarang umatnya mencaci maki keyakinan orang kafir (QS. maka itu adalah urusan kalian. Maka. termasuk Nabi dan kaum muslim. kalau itu kalian anggap sebagai “agama”. di samping bacaan yang lain. tidaklah terlalu tepat jika Islam dibatasi hanya untuk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. yaitu sikap pasrah dan tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan tahun berikutnya mereka semua. Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. Maha Pengasih. tauhid dan syirik. Surat ini terdiri atas 6 ayat dan termasuk surat Makkiyah. Pembedaan identitas ini tidak menghalangi umat Islam untuk menjalin muamalah. petunjuk dan kesesatan. sejatinya pengertian Islam harus dipahami dalam makna generiknya. Surah ini mempakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman. Kemudian surat ini diturunkan untuk mejawab hal itu. Maha Penyayang. Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa membacanya sebelum beranjak tidur. Prinsip tertinggi bertoleransi sudah ditawarkan Islam di penghujung surat al-Kafirun: lakum dinukum waliya din”. tapi.

Sumber tersebut menambah keimanannya melalui ' ubudiyah (ibadah)nya dan melindunginya dari segala bahaya. kita akan mempelajari tafsir surat Al Kafirun dan menarik faedah berharga di dalamnya. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 'Engkau mempunyai jalan sendiri. lancar. sebagaimana berulang kali dikatakan dalam Alquran. karena engkau tidak menyembah energi halus yang memancarkan semua Sifat. Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah. Ibadah menjadikan perjalanannya mu'abbad (mudah. malahan. Al Kaafirun: 1-6) . Mereka berjalan sepanjang pantai lautan cahaya. dan aku punya jalan sendiri!' Kemudian orang-orang yang beriman dan berkeyakinan teguh bergandengan tangan mengikuti metoda yang telah disempumakan dari model Muhammad. Mereka akan tetap begitu meskipun kita meminta agar mereka tidak melakukan itu. 4. Rabb yang berhak disembah. Dengan kata lain: Engkau tidak punya jalan menuju sumber yang aku sembah. jalan yang kau pilih untuk melengkapi lagi dirimu dan berinteraksi dengan orang lain. setelah tercerahkan. menyembah langsung sumber makanan batinnya. setelah dibukakan. Dengan kerendahan hatinya ia diangkat semakin lama semakin dekat kepada sumber mata air. Di masa akan datang. Semoga manfaat.' Orang yang beriman.yang kamu sembah. keluarga dan sahabatnya. Allah Ta‟ala berfirman. setelah mengetahui Allah. Inilah jalan orang mukmin. Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah. yang menjaga agar selamat dari kegelapan yang melingkupi orang lain dan yang memberinya cahaya dan pencerahan. Pada kesempatan kali ini. engkau pun tidak akan pernah menyembah kebenaran yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku! Orang yang beriman berada dalam ketenangan hati yang sempuma dan orang yang tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah menyimpulkan. 6) “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. dan untukkulah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad. dan pantai ini ada batas-batasnya. Ada orang yang telah diciptakan sebagai bahan bakar neraka.” (QS. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 5. j'alan keyakinan yang sempurna egala puji bagi Allah. Ini merupakan ramalan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang dalam kekufuran akan tetap dalam kekufuran. dan tidak pernah bisa. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Untukmu agamamu. meskipun segala upaya dilakukan untuk menarik mereka ke dalam cahaya din. 6. Tidak pernah akan. dan fakta ini tidak dapat diubah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. agamaku. 3. dengan wujud apa pun yang kau anggap mutlak. Mereka tidak diterangi dari luar. tidak ada perlawanan). menghormati atau memuja apa yang engkau sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. penerangan mereka ber-asal dari dalam.

ia berkata. . Mengenai surat ini. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk berlepas diri dari agama orang-orang musyrik tersebut secara total. “Saya melihat Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam shalat sebanyak dua puluh empat atau dua puluh lima kali. 1218) Dari Abu Hurairah.” (HR. Akan tetapi. Yang beliau baca pada dua rakaat sebelum shalat subuh dan dua rakaat setelah maghrib adalah surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas). konteks ayat ini membicarakan tentang kafir Quraisy. Kebiasaan Nabi shallallahu „alaihi wa sallam Membaca Surat Al Kaafirun Dari Jabir bin „Abdillah. Syaikh Syu. }.Surat ini adalah surat Makkiyah (yang turun sebelum hijroh). ia mengatakan.” (HR. “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir”.” (HR.aib Al Arnauth mengatakan. Ahmad 2/95. ) “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam biasa membaca di dua raka‟at sunnah Fajr (Qobliyah Shubuh) yaitu surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas). mereka mengajak Rasul shallallahu „alaihi wa sallam untuk beribadah kepada berhala mereka selama satu tahun. Tafsir Surat Al Kaafirun Firman Allah Ta‟ala. Muslim no. Ayat ini sebenarnya ditujukan pada orang-orang kafir di muka bumi ini. lalu mereka akan bergantian beribadah kepada sesembahan Rasul shallallahu „alaihi wa sallam (yaitu Allah Ta‟ala) selama setahun pula. Akhirnya Allah Ta‟ala pun menurunkan surat ini. ada ulama yang menyatakan bahwa karena kejahilan orang kafir Quraisy. Surat ini berisi perintah untuk ikhlas dalam melakukan amalan (yaitu murni ditujukan pada Allah semata). ) “Nabi shallallahu „alaihi wa sallam biasa membaca di shalat dua raka‟at thowaf yaitu surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas) dan surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun). Muslim no. 726) Dari Ibnu „Umar. ia mengatakan. sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Isi Surat Al Kaafirun Surat ini berisi ajaran berlepas diri dari amalan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.

maksudnya adalah aku tidak akan beribadah dengan mengikuti ibadah yang kalian lakukan. yaitu yang aku sembah adalah Allah semata. Rasul shallallahu „alaihi wa sallam dan para pengikutnya menyembah Allah sesuai dengan apa yang Allah syariatkan. “Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah”. Oleh karena itu selanjutnya Allah Ta‟ala mengatakan kembali. “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan.Yang dimaksud dengan ayat. Oleh karena itu Rasul shallallahu „alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka. dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. tidak ada sekutu bagi-Nya. “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah”. Orang-orang musyrik melakukan ibadah kepada selain Allah. “Untukmu agamamu. An Najm: 23) Ayat-ayat ini secara jelas menunjukkan berlepas diri dari orang-orang musyrik dari seluruh bentuk sesembahan yang mereka lakukan.” Maksud ayat ini sebagaimana firman Allah. Seorang hamba seharusnya memiliki sesembahan yang ia sembah. Maksud firman Allah selanjutnya. yaitu berhala dan tandingan-tandingan selain Allah. aku hanya ingin beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah cintai dan ridhoi. bahkan yang kalian lakukan adalah membuat-buat ibadah sendiri yang sesuai selera hati kalian. Maksud kalimat yang agung ini adalah “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah. Hal ini sebagaimana Allah firmankan. . “Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”. Allah Ta‟ala firmankan selanjutnya. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. Muhammadur Rasulullah”.” (QS. Ibadah yang ia lakukan tentu saja harus mengikuti apa yang diajarkan oleh sesembahannya. dan untukkulah. Inilah konsekuensi dari kalimat Ikhlas “Laa ilaha illallah. agamaku. dan jalan cara untuk melakukan ibadah tersebut adalah dengan mengikuti ajaran Rasul shallallahu „alaihi wa sallam”. maksudnya adalah kalian tidak akan mengikuti perintah dan syari‟at Allah dalam melakukan ibadah. padahal tidak Allah izinkan.

Yunus: 41) “Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.” Ada tiga pendapat dalam penafsiran ayat ini: Tafsiran pertama: Menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah untuk penguatan makna (ta‟kid). Al Maidah: 64). Dalam ayat ini tidak ). Demikian yang disebutkan oleh Imam Al Bukhari.” (QS. Mengenai Ayat Yang Berulang dalam Surat Ini Mengenai firman Allah yang berulang dalam surat ini yaitu pada ayat. 5) “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. “Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Jarir dari sebagian pakar bahasa. Yang semisal dengan ini adalah firman Allah Ta‟ala.” (QS. ) “Lakum diinukum”.“Jika mereka mendustakan kamu. “Wa liya diin”.” (QS. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. maksudnya adalah ak ). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan. Alam Nasyroh: 5-6) Begitu pula firman Allah Ta‟ala. maksudnya bagi kalian kekafiran yang kalian lakukan. Mereka mengatakan. maksudnya bagi kami agama kami. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Asy Syura: 15) Imam Al Bukhari mengatakan.” (QS. 7) . 6) “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Adanya tingkatan yang berbeda antara orang yang beriman dan orang kafir atau musyrik.” Ini untuk masa lampau. Tafsiran yang terakhir ini pula adalah tafsiran yang bagus. saya sengaja memberikan sebuah postingan.” Ini untuk masa akan datang.” (QS. ??????? ??????? ??????????? ???????? Dengan Nama Allah. yang berisi tentang “PENYANGKAL KEBENARAN” yang berada dalam surah Al-Kafirun. Sehingga seakan-akan yang dinafikan dalam ayat tersebut adalah perbuatan (menyembah selain Allah) dan ditambahkan tidak menerima ajaran menyembah selain Allah secara total. Wallahu a‟lam. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. . Yang dimaksud ayat ini pula adalah menafikan jika Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tidak mungkin sama sekali menyembah selain Allah. tidak dinamakan ibadah. At Takatsur: 6-7) Tafsiran kedua: Sebagaimana yang dipilih oleh Imam Bukhari dan para pakar tafsir lainnya. “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. yaitu orang kafir ada yang terus menerus dalam kekafirannya. Di sini bisa dimaksudkan secara total karena kalimat tersebut menggunakan jumlah ismiyah (kalimat yang diawali kata benda) dan ini menunjukkan ta‟kid (penguatan makna). Ibadah yang bercampur kesyirikan (tidak ikhlas). Maha Penyayang.” Yang dinafikan (ditiadakan di sini) adalah perbuatan (menyembah selain Allah) karena kalimat ini adalah jumlah fi‟liyah (kalimat yang diawali kata kerja). 5) “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. begitu pula dengan orang beriman. Maha Pengasih. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Sedangkan ayat. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. bahwa yang dimaksud ayat. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Kewajiban berlepas diri (baro‟) secara lahir dan batin dari orang kafir dan sesembahan mereka.“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim.” Yang dimaksudkan di sini adalah penafian (peniadaan) menerima sesembahan selain Allah secara total. Faedah Berharga dari Surat Al Kafirun Dalam ayat ini dijelaskan adanya penetapan aqidah meyakini takdir Allah. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dalam menyambut bulan suci Romadhon. Tafsiran ketiga: Yang dimaksud dengan ayat. Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat.

jika praktik kaum kafir benar. „Engkau mempunyai jalan sendiri. mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi. ?????? ????????? ?????? ????? 6. dan aku punya jalan sendiri!‟ Kemudian orang-orang yang beriman dan berkeyakinan teguh bergandengan tangan . ????? ??????? ?????????? ??? ???????? 5. Tidak pernah akan. dan tidak pernah bisa. lancar. Ibadah menjadikan perjalanannya mu‟abbad (mudah.‟ Orang yang beriman. yang menjaga agar selamat dari kegelapan yang melingkupi orang lain dan yang memberinya cahaya dan pencerahan. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun. Ada orang yang telah diciptakan sebagai bahan bakar neraka. sebagaimana berulang kali dikatakan dalam Alquran. Ini adalah ungkapan penegasan dari orang beriman. Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah. dan fakta ini tidak dapat diubah. engkau pun tidak akan pernah menyembah kebenaran yang aku sembah. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. dengan wujud apa pun yang kau anggap mutlak. meskipun segala upaya dilakukan untuk menarik mereka ke dalam cahaya din. menurut jalan pikiran kaum kafir. Surah ini mempakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman. malahan. Ini merupakan ramalan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang dalam kekufuran akan tetap dalam kekufuran. tidak ada perlawanan). Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. Katakanlah: Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir)! ??? ???????? ??? ??????????? 2. setelah tercerahkan. karena engkau tidak menyembah energi halus yang memancarkan semua Sifat. Dengan kerendahan hatinya ia diangkat semakin lama semakin dekat kepada sumber mata air. tapi. Maka. ???? ??? ???????? ????????????? 1. Oleh karena itu ia memberitahu orang kafir. setelah dibukakan. setelah mengetahui Allah. ????? ????? ??????? ???? ?????????? 4. Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah. menghormati atau memuja apa yang engkau sembah. menyembah langsung sumber makanan batinnya. jika ajaran Nabi benar. jalan yang kau pilih untuk melengkapi lagi dirimu dan berinteraksi dengan orang lain. Sumber tersebut menambah keimanannya melalui „ ubudiyah (ibadah)nya dan melindunginya dari segala bahaya. dan tahun berikutnya mereka semua. mengikuti ajaran Nabi. Untukmu agamamu dan untukku agamaku! Orang yang beriman berada dalam ketenangan hati yang sempuma dan orang yang tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah menyimpulkan. maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala. menyembah berhala-berhala tradisional mereka. Dengan kata lain: Engkau tidak punya jalan menuju sumber yang aku sembah. termasuk Nabi dan kaum muslim. yang percaya bahwa ia akan menerima dan merasakan rahmat dari Pencipta Yang Mahaesa. „Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. Mereka akan tetap begitu meskipun kita meminta agar mereka tidak melakukan itu. Di masa akan datang. ????? ??????? ?????????? ??? ???????? 3.

"Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah. "damai". Tafsir Surat 109 AL-KAFIRUN Tafsir Al-Azhar Prof Dr. Inilah jalan orang mukmin.2." (ayat 2). j‟alan keyakinan yang sempurna. Mereka kemukakan suatu usul damai: "Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Menurut Ibnu Jarir panggilan seperti ini disuruh sampaikan Tuhan oleh NabiNya kepada orang-orang kafir itu. "Dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) Yang Aku sembah. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah. dan di dalam segala urusan di negeri kita ini. yang bersih daripada segala macam persekutuan dan perkongsian dan mustahil menyatakan diriNya pada diri seseorang atau sesuatu benda. sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik." ialah rnenafikan perbuatan (nafyul fi'li) Artinya bahwa perbuatan begitu tidaklah pemah aku kerjakan. Karena yang aku sembah hanya Allah kan kalian menyembah kepada benda. dan untuk akulah agamaku. "Dan Aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat. Oleh sebab itu tidaklah dapat pegangan kita masingmasing ini didamaikan. Maka selain dari yang kita sembah itu berlain. mencela berhala mereka. artinya ialah kemenangan syirik. engkau turut serta bersama kami. Dan jika pegangan kami ini yang lebih benar daripada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah bersama merasakannya dengan kami. Tidak berapa lama setelah mereka mengemukakan usul ini. "Dan kamu pula tidak mahu beribadat secara Aku beribadat. Sedang kamu menyembah berhala itu sangatlah berbeda dengan cara aku menyembah Allah. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya daripada apa yang ada pada kami." (ayat 6). 5. Hai orang-orang yang tidak mau percaya. Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan perbedaan ini di dalam tafsimya. Katakanlah (Wahai Muhammad): "Hai orang-orang kafir! "Katakanlah. "Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah. Tidak satu dan tidak sama. di antara Tauhid Mengesakan Allah. 3. Kalau aku menyembah Allah maka aku melakukan shalat di dalam syarat rukun yang telah ditentukan." (ayat 5). "Katakanlah. 6. "Dua jumlah kata yang pertama (ayat 2 dan 3) adalah menjelaskan perbedaan yang disembah. Soal akidah. turunlah ayat ini. dan pantai ini ada batas-batasnya. Yang mendatangi Nabi itu menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Said bin Mina – ialah al-Walid bin al-Mughirah. al-Aswad bin alMuthalib dan Umaiyah bin Khalaf. maka cara kita menyembah pun lain pula. Mereka bermaksud hendak mencari. kamu menyembah berhala aku menyembah Allah Yang Maha Esa." – Inilah usul yang mereka kemukakan. yaitu kayu atau batu yang kamu perbuat sendiri dan kamu besarkan sendiri. tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah. supaya turutlah kami merasakannya dengan engkau. Mereka berjalan sepanjang pantai lautan cahaya. Surat ini diturunkan di Makkah dan yang dituju ialah kaum musyrikin. Dan isi dua ayat berikutnya (ayat 4 dan 5) ialah menjelaskan perbedaan cara beribadat. yang sejak semula berkeras menantang Rasul dan sudah diketahui dalam ilmu Allah Ta'ala bahwa sampai saat terakhir pun mereka tidaklah akan mau menerima kebenaran. "Untuk kamulah agama kamu.HAMKA Surat 109: 6 ayat -di MAKKAH ‫ نورفاكلا :ةروس‬Tidak Ada Kompromi (Tolak Ansur) dalam Aqidah dan Ibadah Sudah jelas. "Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah. yang meratakan kurniaNya kepada siapa jua pun yang tulus ikhlas beribadat kepadaNya. Sedang yang kamu sembah bukan . 4. menyalahkan kepercayaan mereka. al-Ash bin Wail. yang kafir. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik. Tegasnya yang disembah lain dan Cara menyembah pun lain. dan bagiku ugamaku".1. artinya tidak mau menerima seruan dan petunjuk kebenaran yang dibawakan Nabi kepada mereka. Maka bermuafakatlah pemuka-pemuka Quraisy musyrikin itu hendak menemui Nabi.mengikuti metoda yang telah disempumakan dari model Muhammad. Maka pada satu waktu terasalah oleh mereka sakitnya pukulan-pukulan itu. Artinya persembahan kita ini sekali-kali tidak dapat diperdamaikan atau digabungkan. "Aku tidak akan menyembah apa Yang kamu sembah.a. "Bagi kamu ugama kamu. sehingga timbullah suatu pertandingan siapakah yang lebih kuat semangatnya mempertahankan pendirian masing-masing. penerangan mereka ber-asal dari dalam. Yang aku sembah ialah Tuhan Yang Maha Esa. dan Nabi s. Allah. pun tegas pula dalam sikapnya menantang penyembahan mereka kepada berhala." (ayat 3). Mereka menantang. sama mengambil bahagian padanya. Mereka tidak diterangi dari luar. hai orang-orang yang kafir! "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah." (ayat 4).w." – olehmu hai utusanKu – kepada orang-orang yang tidak mau percaya itu: "Hai orang-orang kafir!" (ayat 1). Dan Maha Kuasa menarik ubun-ubun orang yang menolak kebenaranNya dan menghukum orang yang menyembah kepada yang lain. Menurut tafsiran Ibnu Katsir yang disalinkannya dari Ibnu Taimiyah arti ayat yang kedua: "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah.

bahwasanya aku tidaklah mau diajak menyembah berhala-berhala yang kamu sembah dan puja itu.a. Dan untuk akulah agamaku. jangan pula aku diajak menyembah yang bukan Tuhan itu.w. Sebuah Hadis dirawikan oleh al-Imam Ahmad dari Farwah bin Naufal alAsyja'iy." Al-Qurthubi meringkaskan tafsir seluruh ayat ini begini: "Katakanlah olehmu wahai UtusanKu. bahwa dia ini meminta pertunjuk kepada Nabi s. Maka Nabi menasihatkan supaya setelah dia mulai berbaring bacalah Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun. Kalau yang hak hendak dipersatukan dengan yang batil. pakailah agama itu sendiri. Surat ini mengandung larangan menyembah yang selain Allah. penyembahan berhala dengan sembahyang. membaca Surat al-Kafirun ini bersama Surat Qul Huwallaahu Ahad di dalam sembahyang sunnat dua rakaat sesudah tawaf.a." Tinggilah dinding yang membatas. melainkan benda. membaca Surat ini dan Qul Huwallaahu Ahad pada sembahyang dua rakaat sunnat Fajar (sebelum sembahyang Subuh). jangan sampai hendak kamu campur-adukkan dengan apa yang kamu sebut agama itu. sama dengan seperempat dari al-Quran. . Sebab itu maka menurut aku. lebih dari dua puluh kali. Insya Allah. bagiku adalah agamaku pula. Aku tidak menyembah kepada Tuhanku sebagaimana kamu menyembah berhala.w. karena kamu adalah musyrik. Sedang Allah itu tidak dapat dipersyarikatkan dengan yang lain. Oleh sebab itu agama kita tidaklah dapat diperdamaikan atau dipersatukan. maka yang batil jualah yang menang. kamu pun rupanya tidaklah mau menyembah kepada Allah saja sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. Dan ibadat kita pun berlain." Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. sebab dia adalah satu pernyataan diri sendiri bersih dari syirik.itu. Demikian juga menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh al-Imam Ahmad dari Ibnu Umar. menyembelih binatang guna pemuja hantu atau jin dengan membaca Bismillah. bahwa Nabi membaca kedua Surat ini dua rakaat Fajar dan dua rakaat sesudah Maghrib. Dan telah kita jelaskan bahwa Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun. yang berarti menyesuai-nyesuaikan. Misalnya di antara animisme dengan Tauhid. bukan Allah. Dia setali dengan Qul Huwallaahu (Surat al-Ikhlas) yang akan kita tafsirkan kelak. dalamlah jurang di antara kita. kamu menyembah sesuatu selain Allah dan kamu persekutukan yang lain itu dengan Allah. Maka kalau kamu katakan bahwa kamu pun menyembah Allah jua. dari Hadis Abu Hurairah. mengandung pokok akidah. ibadatmu itu bukan ibadat dan tuhanmu itu pun bukan Tuhan. Oleh sebab itu maka Akidah Tauhid itu tidaklah mengenal apa yang dinamai Cynscritisme. diterima dari Jabir bin Abdillah.w. Aku menyembah Allah sahaja.a. dan segala perbuatan hati. bahwa Rasulullah s. * * * Pelengkap Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya: Tersebut dalam Shahih Muslim. bahwa Rasulullah s. Malahan kamu persekutukan berhala kamu itu dengan Allah. Untuk kamulah agama kamu. perkataanmu itu bohong. kepada orang-orang kafir itu. Dan lain-lain sebagainya. apa yang baik dibaca sebelum tidur. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Dalam Shahih Muslim juga. "Bagi kamu agama kamu.