1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3.

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku." Surat ini adalah surat makkiyah, surat yang diturunkan pada periode Makkah, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa, surat ini turun pada periode Madinah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa, surat ini adalah surat penolakan (baraa‟) terhadap seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan yang memerintahkan agar kita ikhlas dalam setiap amal ibadah kita kepada Allah, tanpa ada sedikitpun campuran, baik dalam niat, tujuan maupun bentuk dan tata caranya. Karena setiap bentuk percampuran disini adalah sebuah kesyirikan, yang tertolak secara tegas dalam konsep aqidah dan tauhid Islam yang murni. Meskipun kita diperbolehkan untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam berbagai bidang kehidupan umum (lihat QS Luqman [31]: 15, QS Al-Mumtahanah [60]: 8 dan yang lainnya), namun khusus dalam masalah agama yang meliputi aqidah, ritual ibadah, hukum, dan semacamnya, sebagaimana dinyatakan dalam surat ini, kita harus bersikap tegas kepada mereka, dengan arti kita harus bisa memurnikan dan tidak sedikitpun mencampuradukkan antara agama kita dan agama mereka. Disebutkan bahwa sebab turunnya (sababun nuzul) surat ini adalah bahwa, setelah melakukan berbagai upaya untuk menghalang-halangi dakwah Islam, orang-orang kafir Quraisy akhirnya mengajak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkompromi dengan mengajukan tawaran bahwa mereka bersedia menyembah Tuhan-nya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama satu tahun jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersedia ikut menyembah tuhan-tuhan mereka selama satu tahun. Maka Allah sendiri yang langsung menjawab tawaran mereka itu dengan menurunkan surat ini (lihat atsar riwayat Ath-Thabrani, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas ra). Keutamaan Surat Ini Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa, nilai surat ini setara dengan seperempat Al-Qur‟an. Diantaranya riwayat dari Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam bersabda, ”Qul huwaLlahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur‟an, dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun setara dengan seperempat Al-Qur‟an” (HR Ath-Thabrani). Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam biasa membaca Surat AlKafirun dan Surat Al-Ikhlas dalam berbagai macam shalat, diantaranya dalam dua rakaat shalat sunnah fajar (HR Muslim dari Abu Hurairah ra), shalat sunnah ba‟diyah maghrib (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa-i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Ibnu Umar ra), shalat sunnah thawaf (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah ra), dan shalat witir (HR Al-Hakim dari Ubay bin Ka‟ab ra). Beberapa riwayat juga menyebutkan disunnahkannya membaca Surat Al-Kafirun sebelum tidur, diantaranya hadits riwayat Naufal bin Mu‟awiyah Al-Asyja‟i, dimana beliau meminta diajari sebuah bacaan yang sebaiknya dibaca sebelum tidur. Maka Rasulullah shallallahu ‟alaihi wasallam bersabda, ”Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafirun sampai akhir surat, lalu langsung tidurlah sesudah itu, karena sesungguhnya surat tersebut adalah penolakan terhadap kesyirikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan lain-lain) Kandungan Umum Secara umum, surat ini memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah (tauhid ibadah). Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Dan karena kedua kandungan makna ini begitu urgen dan

jelas dan terbuka kepada mereka. pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas. berinteraksi dan bekerjasama dengan kaum kafirin dalam berbagai bidang kehidupan umum. surat inipun dari awal sampai akhir.mendasar sekali. dimana kandungan makna ayat ke-2 diulang dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksi nash. ritual ibadah dan hukum. dan mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan. serta yang lainnya. Yunus [10]: 41. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur‟an adalah khitab semacam 'Yaa ayyuhan naas' (Wahai sekalian manusia) dan sebagainya. Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga diatas dengan melakukan pengulangan ayat. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam. dan mungkin juga QS. tanpa adanya sedikitpun toleransi. Pertama. yakni yang meliputi aspek aqidah. Kelima. dan sama sekali bukan pengakuan pembenaran. Yakni berupa sikap pengakuan terhadap eksistensi agama selain Islam dan keberadaan penganut-penganutnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya dan demikian pula sebaliknya. tidak boleh ada pemaksaan untuk masuk agama Islam. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek-praktek peribadatan kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. ”Lakum Diinukum Waliya Diin” Ayat pamungkas yang merupakan ringkasan dan kesimpulan seluruh kandungan surat Al-Kaafiruun ini. yakni dalam firman Allah: ”Laa ikraaha fiddiin” (QS. kompromi dan pencampuran. Al-Baqarah [2]: 256). dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang sejarah. orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benarbenar menyembah-Nya. seperti bidang sosial . Ketiga. Dan hal itu didukung oleh pernyataan yang menegaskan bahwa. berhubungan. Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal diatas dengan penegasan terakhir dalam firmanNya: ‟Lakum diinukum wa liya diin‟ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). jika terkait secara khusus tentang masalah dan urusan agama masing-masing. sedang ayat ke-3 diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis. Keempat. Meskipun yang dimaksud tentulah sekadar pengakuan terhadap realita. Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan khitab (panggilan) ‟Yaa ayyuhal kafirun‟ (Wahai orang-orang kafir). Dan hal itu lebih dikuatkan lagi dengan dibenarkannya kaum mukminin bergaul. jika kita renungkan. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka. bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir. sehingga ditegaskan dengan berbagai bentuk penegasan yang tergambar secara jelas di bawah ini. Dimana semuanya berintikan pernyataan dan ikrar ketegasan sikap setiap orang beriman terhadap setiap orang kafir. padahal Al-Qur‟an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang vulgar semacam ini. sebenarnya juga mengandung makna sikap toleransi Islam dan kaum muslimin terhadap agama lain dan pemeluknya. Al-Qashash [28]: 55. Namun demikian dari sisi yang lain. pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa. kini. yang akan datang dan selamanya). apalagi agama yang lain. yang mencakup seluruh waktu (yang lalu. Dimana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. secara umum semakna dengan firman Allah yang lain dalam QS. Adanya pengulangan ini menunjukkan adanya penafian atas realitas sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh. Kedua.

seperti yang telah dijelaskan diatas. . seraya berkata: "Wahai Muhammad! Ikutlah agama kami. bisnis dan perdagangan. makna tersebut juga diambil firman Allah yang lain seperti "Laa ikraaha fid-diin". sikap tegaslah yang harus ditunjukkan. (7) Ummat Islam tidak dibenarkan melibatkan diri dan bekerja sama dengan penganut agama lain dalam bidang-bidang yang khusus terkait dengan keyakinan aqidah. agar tidak terjadi kerancuan-kerancuan. Keesokan harinya. Disamping dari kalimat "Lakum diinukum waliya diin". (3) Namun di saat yang sama Islam memberikan ketegasan sikap ideologis berupa baraa‟ atau penolakan total terhadap setiap bentuk kesyirikan aqidah. yang berarti Islam mengakui adanya kebebasan beragama bagi setiap orang. Islam membenarkan kaum muslimin untuk berinteraksi dengan ummat-ummat non muslim itu dalam bidang-bidang kehidupan umum. Sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun dan kami akan menyembah Tuhanmu dalam setahun". khususnya kalimat pamungkasnya: ”Lakum diinukum waliya diin”: (1) Secara umum Islam memberikan pengakuan terhadap realita keberadaan agama-agama lain dan penganutpenganutnya. haruslah dipahami secara benar dan proporsional. dan lain-lain. niscaya kami pun akan mengikuti agamamu. al-Baghwi (w. (5) Begitu pula antar ummat muslim dan ummat kafir tidak dibenarkan saling mencampuri urusan-urusan khusus agama lain. atau pencampuran-pencampuran. Sebagai penutup. ekonomi. berikut ini poin-poin kesimpulan umum dari kandungan makna surat Al-Kaafiruun. ritual ibadah dan hukum. ritual ibadah dan hukum agama mereka. (6) Kaum muslimin dilarang keras ikut-ikutan penganut agama lain dalam keyakinan aqidah. ritual ibadah ataupun hukum. politik. pemerintahan dan kenegaraan. Lalu turunlah surat "alKafirun". Yakni bahwa.kemasyarakatan. sebagaimana yang sering terjadi selama ini. yang terdapat di dalam agama-agama lain. mereka tidak menyerah. sekelompok pemuka kaum kafir Quraisy mendatangi Rasulullah saw. seperti Tafsir imam Tabari (w. dalam bidang-bidang kehidupan umum. al-Alusi (w. dibenarkan seorang mukmin bersikap toleransi dengan berinteraksi dan bahkan bekerjasama dengan anggota masyarakat non mukmin. 774H). ritual ibadah dan hukum. niscaya kami akan beriman kepadamu dan menyembah Tuhanmu". dsb. 310H). (4) Maka tidak boleh ada pencampuran antara Islam dan agama-agama lain dalam bidang-bidang aqidah. Di sana para pemuka Quraisy sedang berkumpul. 1270H). Akhirnya kaum Quraisy pun berputus asa. beliau pergi ke Masjidil Haram. Dan tidak ada satu pun perbedaan yang kontradiktif di kalangan ulama tafsir dalam menguraikan makna surat al-Kafirun. Nah bahwa ada dua sikap terkait pola hubungan antara ummat Islam dan ummat lain tersebut. (2) Dan karenanya. ritual ibadah dan hukum. atau bahkan pembalikan-pembalikan sikap. Mendengar jawaban ini. Peristiwa ini disebut dalam banyak kitab tafsir. lalu membacakan wahyu yang baru diterimanya. Namun khusus di bidang urusan agama yang terkait masalah aqidah. Yang jelas semua bidang selain bidang khusus agama yang mencakup masalah aqidah. ritual ibadah dan ketentuan hukum agama mereka. 516H). bahkan meringankan penawaran dengan hanya meminta beliau mengakui keberadaan tuhan mereka: "Terimalah sebagian tuhantuhan kami. Rasulullah menjawab: "Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik. baik oleh kaum muslimin maupun juga oleh kaum non muslimin. Lalu Rasulullah menghampiri dan berdiri di tengah-tengah mereka. dan bukan kebebasan mengganggu. mempermainkan atau merusak agama yang ada. Alkisah. Ibnu Katsir (w.

berdasarkan hasil kajian dalam buku ini dari berbagai ayat al-Qur'an.org/p14. Kristen. setiap klaim kebenaran berdasar kitab suci. mereka juga berjanji akan tunduk setia kepada aturan Rasulullah asalkan beliau mau mengakui tuhan mereka dan tidak mengusiknya. maka pada hakekatnya setiap agama bisa dikatakan al-Islam". Ibn al-Qayyim dalam kitabnya. adanya keyakinan bahwa semua agama itu diibaratkan sebagai jalan yang sama-sama validnya menuju Tuhan yang sama. (www.” Lihat: Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan kaum Beriman. Maka Allah pun menguatkan hati beliau. hukum dan moral yang sudah kedaluwarsa harus dihindari. Yakni sebuah sikap yang menyakini adanya tuhan selain Allah. islamlib. serta mempersilahkan beliau mengawini perempuan mana saja yang beliau maui. Oleh karena itu. seminar dan perkuliahan. "Tahzib Madarij al-Salikin".” Lihat: Islam dan Pluralisme. Padahal jika saja Nabi Muhammad menerima tawaran mereka. para pemuka agama dipaksa membuktikan dirinya bersih dari label-label "tidak toleran" dan "berpikiran sempit". Hindu. menjelaskan bahwa kejahilan itu adalah memandang baik sesuatu yang mestinya buruk atau menganggap sempurna sesuatu yang mestinya kurang. Akhirnya banyak akademisi yang latah menyatakan: "Karena itu. Kalau berakhlak mulia. Jika kejahilan ini dibiarkan terpelihara. Dengan konsep ini. ia menunjukkan suatu keteguhan hati dalam mengemban Risalah Tuhan. saling menguntungkan dan menyenangkan semua pihak.htm) Di Indonesia. 39:64) Al-Qur'an mengkategorikan pola pikir "arisan keyakinan" atau dalam istilah akademisnya dikenal dengan kesatuan transenden agama-agama sebagai tindakan orang jahil yang tidak berpengetahuan. Bahkan kajian kritis terhadap suatu agama atau menyakini bahwa agama yang dianutnya itu benar akan dipandang kaum pluralis sebagai tindakan yang tidak toleran dan menyebarkan kebencian. wahai orang-orang yang jahil?" (QS. di mana setiap keyakinan harus didasarkan pada relativisme. (Wawancara 10/10/06. (lihat tafsir Tabari dan Ma'alim Tanzil/al-Baghwi). Tradisi syirik seperti ini anehnya justru dijadikan tolak ukur bertoleransi dan tren beragama masyarakat modern. Sebuah koran nasional 3/11/2007 pun menurunkan sebuah ulasan bedah buku yang bertema: "Sikap Tak Dukung Pluralisme Justru Ciptakan Teroris Baru" Sayangnya. Di buku lain juga disebutkan: . adanya kebenaran yang sama mutlaknya dengan kebenaran agama Allah. Kita tidak boleh mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apa pun. saya akan berikan segala kemuliaan kepadanya". dst. Mereka menyakinkan bahwa tawaran ini terdapat kebaikan (maslahat). pluralis dan humanis" tentunya bukanlah hal mudah dan ringan. (b) “Semua agama itu kembali kepada Allah.org/religious-pluralism. Selanjutnya ditegaskan: "Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama. aplikasi kejahilan secara akademis justru digalakkan melalui artikel.com) Pluralisme agama sebenarnya adalah konsep yang dihasilkan dari kebijakan politik dalam menengahi konflik agama maupun konflik yang mengatasnamakan agama di Barat. Yahudi. Di samping itu. Budha. kembalinya kpd Allah". Sehingga mereka bisa diterima di dunia posmodern. beramal saleh.allaboutreligion. (www. Di antara sebagai berikut: (a) "Kita tidak dapat mengatakan bahwa (agama) yang satu lebih baik dari yang lain. Agama Islam yang berlandaskan tauhid mempunyai karakteristik dan pandangan hidup sendiri yang tidak bisa disamakan dengan agama-agama lain. namun dia sendiri sebenarnya juga sedang berfatwa dalam menyamakan semua agama. bakhil dalam kondisi lapang. mereka akan memberikan seluruh harta yang dimiliki dan menjadikan beliau orang terkaya di Makkah. termasuk dengan fatwa.html). Meskipun penulis buku tersebut melarang berfatwa tentang agama. Nasrani. Sedangkan kezaliman terbesar adalah perbuatan syirik. "Katakanlah: "Maka apakah kepada selain Allah kamu menyuruhku menyembah. tapi juga mereka yang menyakini sesuatu yang keliru.Sikap penolakan Rasulullah yang tidak "umum" terhadap tawaran kaum Quraisy yang sekilas nampak "adil. atau Hindu.apologeticsindex. paradigma lintas keyakinan dikembangkan kedalam Islam. Sebaliknya. maka ia akan menghasilkan kezaliman. Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kezaliman itu berarti meletakkan sesuatu secara tidak proporsional. bersabar dalam kebodohan. buku. (Tafsir Inklusif Makna Islam). Islam. Seperti marah pada sesuatu yang seharusnya direlakan dan merelakan padahal semestinya harus marah. netral. Orang jahil bukan hanya mereka yang kosong dari ilmu pengetahuan. dia menjawab: "Saya jadi tak peduli apakah dia Katolik. Bahkan ketika dia ditanya tentang siapa saja yang layak masuk surga.

mengikuti ajaran Nabi. 6:108). tetapi kami mempunyai agama dan pandangan hidup sendiri. jika ajaran Nabi benar. Oleh karena itu. yaitu sikap pasrah dan tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa. [sunting]Latar Belakang Pada masa penyebaran Islam di Mekkah. Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. Pada salah satu upaya tersebut mereka berusaha mengajukan proposal kompromi kepada Rasulullah SAW dimana mereka menawarkan: jika Rasulullah mau memuja Tuhan mereka."Sampai di sini. Maka. Prinsip tertinggi bertoleransi sudah ditawarkan Islam di penghujung surat al-Kafirun: lakum dinukum waliya din”. Maha Penyayang. maka merekapun akan memuja Tuhan sebagaimana konsep Islam. tauhid dan syirik. surat al-Kafirun merupakan perisai umat dari segala bentuk syirik dan ibaratkan setara dengan seperempat al-Qur'an. bermain sepak bola bersama dan berbuat baik kepada pemeluk agama lain. di samping bacaan yang lain. Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala." (Islam Mazhab HMI) Islam secara jelas membedakan antara mukmin dan kafir. jika praktik kaum kafir benar. Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa membacanya sebelum beranjak tidur. Nama Al Kaafiruun (orang-orang kafir) diambil dari kata yang muncul pada ayat pertama surat ini. SURAH AL-KAFIRUN “PENYANGKAL KEBENARAN” Dengan Nama Allah. Oleh karena itu ia memberitahu orang kafir. Katakanlah: Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir)! 2. Maha Pengasih. menyembah berhala-berhala tradisional mereka. Lebih lanjut. tapi. 'Aku tidak menyembah apa . Surat ini terdiri atas 6 ayat dan termasuk surat Makkiyah. Ataukah kita masih mau mencari lagi caracara bertoleransi untuk menandingi surat al-Kafirun? Surah Al-Kafirun (bahasa Arab:‫ )نورفاكلا‬adalah surah ke-109 dalam al-Qur'an. kaum Quraisy yang menentang Rasulullah SAW tak henti-hentinya mencari cara untuk menghentikan ancaman Islam terhadap kepercayaan nenek moyang mereka. Dalam hal ini. termasuk Nabi dan kaum muslim. sejatinya pengertian Islam harus dipahami dalam makna generiknya. tidaklah terlalu tepat jika Islam dibatasi hanya untuk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Surah ini mempakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman. yang percaya bahwa ia akan menerima dan merasakan rahmat dari Pencipta Yang Mahaesa. maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala. petunjuk dan kesesatan. maka itu adalah urusan kalian. kalau itu kalian anggap sebagai “agama”. Pokok isi surat ini adalah tidak diijinkannya kompromi dalam bentuk mencampuradukkan ajaran agama. 1. dan tahun berikutnya mereka semua. Pembedaan identitas ini tidak menghalangi umat Islam untuk menjalin muamalah. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Bahkan Islam secara tegas melarang umatnya mencaci maki keyakinan orang kafir (QS. mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi. Kemudian surat ini diturunkan untuk mejawab hal itu. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun. serta melarang mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil. menurut jalan pikiran kaum kafir. Ini adalah ungkapan penegasan dari orang beriman.

Rabb yang berhak disembah. dan pantai ini ada batas-batasnya. Tidak pernah akan. jalan yang kau pilih untuk melengkapi lagi dirimu dan berinteraksi dengan orang lain. malahan. 4. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Pada kesempatan kali ini. dan untukkulah. dan fakta ini tidak dapat diubah. menghormati atau memuja apa yang engkau sembah. meskipun segala upaya dilakukan untuk menarik mereka ke dalam cahaya din. 6. setelah mengetahui Allah. sebagaimana berulang kali dikatakan dalam Alquran. penerangan mereka ber-asal dari dalam. Ini merupakan ramalan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang dalam kekufuran akan tetap dalam kekufuran. setelah dibukakan. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. menyembah langsung sumber makanan batinnya. keluarga dan sahabatnya. j'alan keyakinan yang sempurna egala puji bagi Allah. engkau pun tidak akan pernah menyembah kebenaran yang aku sembah. 5. yang menjaga agar selamat dari kegelapan yang melingkupi orang lain dan yang memberinya cahaya dan pencerahan. Mereka berjalan sepanjang pantai lautan cahaya. lancar. Allah Ta‟ala berfirman. Al Kaafirun: 1-6) . Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah. Di masa akan datang. 3. Semoga manfaat. tidak ada perlawanan). 6) “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. kita akan mempelajari tafsir surat Al Kafirun dan menarik faedah berharga di dalamnya. Dengan kata lain: Engkau tidak punya jalan menuju sumber yang aku sembah. Mereka akan tetap begitu meskipun kita meminta agar mereka tidak melakukan itu. Ada orang yang telah diciptakan sebagai bahan bakar neraka. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.” (QS. Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah. setelah tercerahkan. Sumber tersebut menambah keimanannya melalui ' ubudiyah (ibadah)nya dan melindunginya dari segala bahaya. 'Engkau mempunyai jalan sendiri. Untukmu agamamu. Dengan kerendahan hatinya ia diangkat semakin lama semakin dekat kepada sumber mata air. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Ibadah menjadikan perjalanannya mu'abbad (mudah. dan aku punya jalan sendiri!' Kemudian orang-orang yang beriman dan berkeyakinan teguh bergandengan tangan mengikuti metoda yang telah disempumakan dari model Muhammad. Untukmu agamamu dan untukku agamaku! Orang yang beriman berada dalam ketenangan hati yang sempuma dan orang yang tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah menyimpulkan. dan tidak pernah bisa. Inilah jalan orang mukmin. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad. karena engkau tidak menyembah energi halus yang memancarkan semua Sifat.yang kamu sembah. agamaku. Mereka tidak diterangi dari luar. dengan wujud apa pun yang kau anggap mutlak.' Orang yang beriman.

Surat ini adalah surat Makkiyah (yang turun sebelum hijroh).” (HR. Surat ini berisi perintah untuk ikhlas dalam melakukan amalan (yaitu murni ditujukan pada Allah semata). Tafsir Surat Al Kaafirun Firman Allah Ta‟ala. ia berkata. ) “Nabi shallallahu „alaihi wa sallam biasa membaca di shalat dua raka‟at thowaf yaitu surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas) dan surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun).” (HR. Akhirnya Allah Ta‟ala pun menurunkan surat ini. 726) Dari Ibnu „Umar. “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir”. Muslim no. ia mengatakan.” (HR. Kebiasaan Nabi shallallahu „alaihi wa sallam Membaca Surat Al Kaafirun Dari Jabir bin „Abdillah. mereka mengajak Rasul shallallahu „alaihi wa sallam untuk beribadah kepada berhala mereka selama satu tahun. Muslim no. }. ada ulama yang menyatakan bahwa karena kejahilan orang kafir Quraisy. Ayat ini sebenarnya ditujukan pada orang-orang kafir di muka bumi ini.aib Al Arnauth mengatakan. Mengenai surat ini. konteks ayat ini membicarakan tentang kafir Quraisy. lalu mereka akan bergantian beribadah kepada sesembahan Rasul shallallahu „alaihi wa sallam (yaitu Allah Ta‟ala) selama setahun pula. Yang beliau baca pada dua rakaat sebelum shalat subuh dan dua rakaat setelah maghrib adalah surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas). Syaikh Syu. ) “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam biasa membaca di dua raka‟at sunnah Fajr (Qobliyah Shubuh) yaitu surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas). Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk berlepas diri dari agama orang-orang musyrik tersebut secara total. Akan tetapi. “Saya melihat Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam shalat sebanyak dua puluh empat atau dua puluh lima kali. Ahmad 2/95. . 1218) Dari Abu Hurairah. sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Isi Surat Al Kaafirun Surat ini berisi ajaran berlepas diri dari amalan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. ia mengatakan.

Rasul shallallahu „alaihi wa sallam dan para pengikutnya menyembah Allah sesuai dengan apa yang Allah syariatkan. agamaku. dan jalan cara untuk melakukan ibadah tersebut adalah dengan mengikuti ajaran Rasul shallallahu „alaihi wa sallam”. “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah”. bahkan yang kalian lakukan adalah membuat-buat ibadah sendiri yang sesuai selera hati kalian. dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. dan untukkulah. Inilah konsekuensi dari kalimat Ikhlas “Laa ilaha illallah. “Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”. yaitu yang aku sembah adalah Allah semata. “Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah”. tidak ada sekutu bagi-Nya. . aku hanya ingin beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah cintai dan ridhoi.Yang dimaksud dengan ayat. An Najm: 23) Ayat-ayat ini secara jelas menunjukkan berlepas diri dari orang-orang musyrik dari seluruh bentuk sesembahan yang mereka lakukan. Hal ini sebagaimana Allah firmankan. maksudnya adalah kalian tidak akan mengikuti perintah dan syari‟at Allah dalam melakukan ibadah. Ibadah yang ia lakukan tentu saja harus mengikuti apa yang diajarkan oleh sesembahannya. Orang-orang musyrik melakukan ibadah kepada selain Allah.” (QS. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. yaitu berhala dan tandingan-tandingan selain Allah.” Maksud ayat ini sebagaimana firman Allah. padahal tidak Allah izinkan. “Untukmu agamamu. Maksud firman Allah selanjutnya. Seorang hamba seharusnya memiliki sesembahan yang ia sembah. “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan. Muhammadur Rasulullah”. maksudnya adalah aku tidak akan beribadah dengan mengikuti ibadah yang kalian lakukan. Allah Ta‟ala firmankan selanjutnya. Maksud kalimat yang agung ini adalah “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah. Oleh karena itu selanjutnya Allah Ta‟ala mengatakan kembali. Oleh karena itu Rasul shallallahu „alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka.

maksudnya adalah ak ). Dalam ayat ini tidak ). Mereka mengatakan. Demikian yang disebutkan oleh Imam Al Bukhari. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.” (QS.” (QS. ) “Lakum diinukum”. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. maksudnya bagi kalian kekafiran yang kalian lakukan. 6) “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Yunus: 41) “Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. “Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. maksudnya bagi kami agama kami. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan. 7) . “Wa liya diin”. Al Maidah: 64).” (QS. Yang semisal dengan ini adalah firman Allah Ta‟ala. 5) “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Alam Nasyroh: 5-6) Begitu pula firman Allah Ta‟ala.“Jika mereka mendustakan kamu.” Ada tiga pendapat dalam penafsiran ayat ini: Tafsiran pertama: Menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah untuk penguatan makna (ta‟kid).” (QS. Mengenai Ayat Yang Berulang dalam Surat Ini Mengenai firman Allah yang berulang dalam surat ini yaitu pada ayat. Asy Syura: 15) Imam Al Bukhari mengatakan. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Jarir dari sebagian pakar bahasa.

bahwa yang dimaksud ayat. Yang dimaksud ayat ini pula adalah menafikan jika Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tidak mungkin sama sekali menyembah selain Allah. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Maha Penyayang.” (QS. “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. At Takatsur: 6-7) Tafsiran kedua: Sebagaimana yang dipilih oleh Imam Bukhari dan para pakar tafsir lainnya.“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. yaitu orang kafir ada yang terus menerus dalam kekafirannya. Di sini bisa dimaksudkan secara total karena kalimat tersebut menggunakan jumlah ismiyah (kalimat yang diawali kata benda) dan ini menunjukkan ta‟kid (penguatan makna). Faedah Berharga dari Surat Al Kafirun Dalam ayat ini dijelaskan adanya penetapan aqidah meyakini takdir Allah. Tafsiran ketiga: Yang dimaksud dengan ayat. Dalam menyambut bulan suci Romadhon. yang berisi tentang “PENYANGKAL KEBENARAN” yang berada dalam surah Al-Kafirun. Tafsiran yang terakhir ini pula adalah tafsiran yang bagus. Adanya tingkatan yang berbeda antara orang yang beriman dan orang kafir atau musyrik. Ibadah yang bercampur kesyirikan (tidak ikhlas). . Kewajiban berlepas diri (baro‟) secara lahir dan batin dari orang kafir dan sesembahan mereka. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. ??????? ??????? ??????????? ???????? Dengan Nama Allah.” Yang dimaksudkan di sini adalah penafian (peniadaan) menerima sesembahan selain Allah secara total. Sedangkan ayat.” Yang dinafikan (ditiadakan di sini) adalah perbuatan (menyembah selain Allah) karena kalimat ini adalah jumlah fi‟liyah (kalimat yang diawali kata kerja). tidak dinamakan ibadah.” Ini untuk masa akan datang. 5) “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.” Ini untuk masa lampau. Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat. Sehingga seakan-akan yang dinafikan dalam ayat tersebut adalah perbuatan (menyembah selain Allah) dan ditambahkan tidak menerima ajaran menyembah selain Allah secara total. Wallahu a‟lam. saya sengaja memberikan sebuah postingan. Maha Pengasih. begitu pula dengan orang beriman.

yang menjaga agar selamat dari kegelapan yang melingkupi orang lain dan yang memberinya cahaya dan pencerahan. Dengan kerendahan hatinya ia diangkat semakin lama semakin dekat kepada sumber mata air. jalan yang kau pilih untuk melengkapi lagi dirimu dan berinteraksi dengan orang lain.Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. Mereka akan tetap begitu meskipun kita meminta agar mereka tidak melakukan itu. menurut jalan pikiran kaum kafir. Maka. yang percaya bahwa ia akan menerima dan merasakan rahmat dari Pencipta Yang Mahaesa. dengan wujud apa pun yang kau anggap mutlak. setelah dibukakan. Sumber tersebut menambah keimanannya melalui „ ubudiyah (ibadah)nya dan melindunginya dari segala bahaya. ???? ??? ???????? ????????????? 1. meskipun segala upaya dilakukan untuk menarik mereka ke dalam cahaya din. „Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. menghormati atau memuja apa yang engkau sembah. malahan. termasuk Nabi dan kaum muslim. Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah. tidak ada perlawanan). Ibadah menjadikan perjalanannya mu‟abbad (mudah. Ada orang yang telah diciptakan sebagai bahan bakar neraka. Surah ini mempakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman. dan fakta ini tidak dapat diubah. dan aku punya jalan sendiri!‟ Kemudian orang-orang yang beriman dan berkeyakinan teguh bergandengan tangan . tapi. jika ajaran Nabi benar. dan tahun berikutnya mereka semua. Di masa akan datang. dan tidak pernah bisa. Ini adalah ungkapan penegasan dari orang beriman. Untukmu agamamu dan untukku agamaku! Orang yang beriman berada dalam ketenangan hati yang sempuma dan orang yang tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah menyimpulkan. engkau pun tidak akan pernah menyembah kebenaran yang aku sembah. maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala. mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi. lancar. menyembah langsung sumber makanan batinnya. Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah. ?????? ????????? ?????? ????? 6. Tidak pernah akan. setelah mengetahui Allah. „Engkau mempunyai jalan sendiri. jika praktik kaum kafir benar.‟ Orang yang beriman. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Ini merupakan ramalan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang dalam kekufuran akan tetap dalam kekufuran. Oleh karena itu ia memberitahu orang kafir. ????? ????? ??????? ???? ?????????? 4. sebagaimana berulang kali dikatakan dalam Alquran. Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. ????? ??????? ?????????? ??? ???????? 3. menyembah berhala-berhala tradisional mereka. mengikuti ajaran Nabi. Katakanlah: Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir)! ??? ???????? ??? ??????????? 2. Dengan kata lain: Engkau tidak punya jalan menuju sumber yang aku sembah. ????? ??????? ?????????? ??? ???????? 5. karena engkau tidak menyembah energi halus yang memancarkan semua Sifat. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun. setelah tercerahkan.

yang meratakan kurniaNya kepada siapa jua pun yang tulus ikhlas beribadat kepadaNya. Hai orang-orang yang tidak mau percaya. mencela berhala mereka. sehingga timbullah suatu pertandingan siapakah yang lebih kuat semangatnya mempertahankan pendirian masing-masing. Mereka menantang. al-Ash bin Wail. "Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah. Sedang kamu menyembah berhala itu sangatlah berbeda dengan cara aku menyembah Allah. 5. Menurut tafsiran Ibnu Katsir yang disalinkannya dari Ibnu Taimiyah arti ayat yang kedua: "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah." (ayat 2). "Katakanlah. dan pantai ini ada batas-batasnya. Inilah jalan orang mukmin. hai orang-orang yang kafir! "Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah. 6." – olehmu hai utusanKu – kepada orang-orang yang tidak mau percaya itu: "Hai orang-orang kafir!" (ayat 1). "Dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) Yang Aku sembah. Mereka tidak diterangi dari luar. Mereka berjalan sepanjang pantai lautan cahaya. Tidak satu dan tidak sama. Dan jika pegangan kami ini yang lebih benar daripada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah bersama merasakannya dengan kami. 4. pun tegas pula dalam sikapnya menantang penyembahan mereka kepada berhala. Maka pada satu waktu terasalah oleh mereka sakitnya pukulan-pukulan itu.HAMKA Surat 109: 6 ayat -di MAKKAH ‫ نورفاكلا :ةروس‬Tidak Ada Kompromi (Tolak Ansur) dalam Aqidah dan Ibadah Sudah jelas. sama mengambil bahagian padanya. artinya tidak mau menerima seruan dan petunjuk kebenaran yang dibawakan Nabi kepada mereka. Mereka bermaksud hendak mencari. supaya turutlah kami merasakannya dengan engkau. Mereka kemukakan suatu usul damai: "Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Sedang yang kamu sembah bukan . penerangan mereka ber-asal dari dalam. Allah. yaitu kayu atau batu yang kamu perbuat sendiri dan kamu besarkan sendiri.1. Kalau aku menyembah Allah maka aku melakukan shalat di dalam syarat rukun yang telah ditentukan. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya daripada apa yang ada pada kami. dan di dalam segala urusan di negeri kita ini. Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan perbedaan ini di dalam tafsimya. Dan Maha Kuasa menarik ubun-ubun orang yang menolak kebenaranNya dan menghukum orang yang menyembah kepada yang lain. "Aku tidak akan menyembah apa Yang kamu sembah. menyalahkan kepercayaan mereka. dan Nabi s." (ayat 4). Tafsir Surat 109 AL-KAFIRUN Tafsir Al-Azhar Prof Dr. Maka selain dari yang kita sembah itu berlain. "Untuk kamulah agama kamu. "Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah. Katakanlah (Wahai Muhammad): "Hai orang-orang kafir! "Katakanlah. di antara Tauhid Mengesakan Allah. Tidak berapa lama setelah mereka mengemukakan usul ini. "Dua jumlah kata yang pertama (ayat 2 dan 3) adalah menjelaskan perbedaan yang disembah. turunlah ayat ini. "Bagi kamu ugama kamu." (ayat 6)." ialah rnenafikan perbuatan (nafyul fi'li) Artinya bahwa perbuatan begitu tidaklah pemah aku kerjakan." (ayat 3)." – Inilah usul yang mereka kemukakan. dan bagiku ugamaku". maka cara kita menyembah pun lain pula. Oleh sebab itu tidaklah dapat pegangan kita masingmasing ini didamaikan. Menurut Ibnu Jarir panggilan seperti ini disuruh sampaikan Tuhan oleh NabiNya kepada orang-orang kafir itu. Yang aku sembah ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka bermuafakatlah pemuka-pemuka Quraisy musyrikin itu hendak menemui Nabi. artinya ialah kemenangan syirik. sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik. 3. yang bersih daripada segala macam persekutuan dan perkongsian dan mustahil menyatakan diriNya pada diri seseorang atau sesuatu benda.w. yang sejak semula berkeras menantang Rasul dan sudah diketahui dalam ilmu Allah Ta'ala bahwa sampai saat terakhir pun mereka tidaklah akan mau menerima kebenaran. engkau turut serta bersama kami. tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah. Artinya persembahan kita ini sekali-kali tidak dapat diperdamaikan atau digabungkan. Dan isi dua ayat berikutnya (ayat 4 dan 5) ialah menjelaskan perbedaan cara beribadat. kamu menyembah berhala aku menyembah Allah Yang Maha Esa. "Dan Aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat. j‟alan keyakinan yang sempurna. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah. "damai". Yang mendatangi Nabi itu menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Said bin Mina – ialah al-Walid bin al-Mughirah." (ayat 5). "Dan kamu pula tidak mahu beribadat secara Aku beribadat. dan untuk akulah agamaku. Tegasnya yang disembah lain dan Cara menyembah pun lain. al-Aswad bin alMuthalib dan Umaiyah bin Khalaf. yang kafir. Soal akidah. Surat ini diturunkan di Makkah dan yang dituju ialah kaum musyrikin.a. "Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah.mengikuti metoda yang telah disempumakan dari model Muhammad. Karena yang aku sembah hanya Allah kan kalian menyembah kepada benda.2.

Dan telah kita jelaskan bahwa Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun.a. perkataanmu itu bohong. kamu pun rupanya tidaklah mau menyembah kepada Allah saja sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. Oleh sebab itu maka Akidah Tauhid itu tidaklah mengenal apa yang dinamai Cynscritisme. Demikian juga menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh al-Imam Ahmad dari Ibnu Umar. Oleh sebab itu agama kita tidaklah dapat diperdamaikan atau dipersatukan. Maka kalau kamu katakan bahwa kamu pun menyembah Allah jua. maka yang batil jualah yang menang. penyembahan berhala dengan sembahyang. kepada orang-orang kafir itu. melainkan benda. dari Hadis Abu Hurairah. Surat ini mengandung larangan menyembah yang selain Allah. jangan pula aku diajak menyembah yang bukan Tuhan itu. "Bagi kamu agama kamu." Tinggilah dinding yang membatas. bukan Allah. Sebuah Hadis dirawikan oleh al-Imam Ahmad dari Farwah bin Naufal alAsyja'iy. * * * Pelengkap Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya: Tersebut dalam Shahih Muslim. membaca Surat al-Kafirun ini bersama Surat Qul Huwallaahu Ahad di dalam sembahyang sunnat dua rakaat sesudah tawaf. Aku menyembah Allah sahaja.a. bagiku adalah agamaku pula. Untuk kamulah agama kamu. lebih dari dua puluh kali. . apa yang baik dibaca sebelum tidur. mengandung pokok akidah. sebab dia adalah satu pernyataan diri sendiri bersih dari syirik. bahwa Nabi membaca kedua Surat ini dua rakaat Fajar dan dua rakaat sesudah Maghrib. jangan sampai hendak kamu campur-adukkan dengan apa yang kamu sebut agama itu.w. Aku tidak menyembah kepada Tuhanku sebagaimana kamu menyembah berhala. sama dengan seperempat dari al-Quran.w. karena kamu adalah musyrik. pakailah agama itu sendiri. Dan ibadat kita pun berlain. bahwasanya aku tidaklah mau diajak menyembah berhala-berhala yang kamu sembah dan puja itu. bahwa Rasulullah s. Kalau yang hak hendak dipersatukan dengan yang batil. yang berarti menyesuai-nyesuaikan. dan segala perbuatan hati. bahwa Rasulullah s. Sedang Allah itu tidak dapat dipersyarikatkan dengan yang lain.a. Dan untuk akulah agamaku. membaca Surat ini dan Qul Huwallaahu Ahad pada sembahyang dua rakaat sunnat Fajar (sebelum sembahyang Subuh). Malahan kamu persekutukan berhala kamu itu dengan Allah. menyembelih binatang guna pemuja hantu atau jin dengan membaca Bismillah. Dalam Shahih Muslim juga. diterima dari Jabir bin Abdillah. Maka Nabi menasihatkan supaya setelah dia mulai berbaring bacalah Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun.itu. Dan lain-lain sebagainya." Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. bahwa dia ini meminta pertunjuk kepada Nabi s.w. Insya Allah." Al-Qurthubi meringkaskan tafsir seluruh ayat ini begini: "Katakanlah olehmu wahai UtusanKu. Sebab itu maka menurut aku. ibadatmu itu bukan ibadat dan tuhanmu itu pun bukan Tuhan. dalamlah jurang di antara kita. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. kamu menyembah sesuatu selain Allah dan kamu persekutukan yang lain itu dengan Allah. Misalnya di antara animisme dengan Tauhid. Dia setali dengan Qul Huwallaahu (Surat al-Ikhlas) yang akan kita tafsirkan kelak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful