P. 1
hasil

hasil

|Views: 460|Likes:
Published by Indra WaTiie

More info:

Published by: Indra WaTiie on Jun 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Rumusan Masalah
  • 1.3 Tujuan Penelitian
  • 1.4 Manfaat Penelitian
  • 1.5 Batasan Masalah
  • 1.6 Hipotesis
  • 2.1.1 Morfologi Dan Manfaat Tanaman Beluntas (Pluchea indica Less)
  • 2.1.2 Klasifikasi
  • 2.3 Biologi Mencit (Mus Musculus L)
  • 2.4 Sistem Reproduksi Mencit (Mus musculus L) Jantan
  • 2.5 Fisiologi Reproduksi Mencit (Mus musculus L) Jantan
  • 2.5.1 Hormon Reproduksi Jantan
  • 2.5.2 Spermatogenesis
  • 2.5.2.1 Spermiogenesis
  • 2.6 Sel Leydig
  • 3.1 Rancangan Penelitian
  • 3.2 Variabel Penelitian
  • 3.3 Waktu dan Tempat
  • 3.4 Populasi dan Sampel
  • 3.5 Alat dan Bahan
  • 3.5.1 Alat
  • 3.5.2 Bahan
  • 3.6 Pelaksanaan Penelitian
  • 3.6.1 Persiapan Hewan Coba
  • 3.6.2 Persiapan Perlakuan
  • 3.6.3 Kegiatan Penelitian
  • 3.6.4 Pembuatan Preparat Sayatan Testis Mencit
  • 3.7 Analisis Data
  • 4.1 Hasil Penelitian
  • 4.1.4 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Leydig
  • 5.1 Kesimpulan
  • 5.2 Saran
  • DAFTAR PUSTAKA
  • Lampiran 1. Data Hasil Pengamatan Testis Kanan dan Kiri
  • Lampiran 2. Perhitungan Manual ANOVA dan Uji BNT
  • Lampiran 3. Peta Konsep Penelitian
  • Lampiran 4. Dasar Penentuan Dosis Ekstrak Daun Beluntas
  • Lampiran 5. Prosedur Ekstraksi Daun Beluntas
  • Lampiran 6. Diagram Alir Penelitian
  • Lampiran 7. Gambar Alat dan Bahan Penelitian
  • Lampiran 8. Gambar kegiatan penelitian

PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less

)
TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS
PADA MENCIT (Mus musculus L)


SKRIPSI


Oleh:
RIZAL MAARIF RUKMANA
NIM. 06520024














JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2010
PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less)
TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS
PADA MENCIT (Mus musculus L)


SKRIPSI



Diajukan Kepada:
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN)
Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Sains


Oleh:
RIZAL MAARIF RUKMANA
NIM. 06520024






JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2010

PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less)
TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS
PADA MENCIT (Mus musculus L)




SKRIPSI



Oleh:
RIZAL MAARIF RUKMANA
NIM. 06520024




Telah disetujui oleh:
Dosen Pembimbing I



Dr. drh. Bayyinatul Muchtaromah., M. Si
NIP.19710919 200003 2 001
Dosen Pembimbing II



Dr. Ahmad Barizi., M. A
NIP. 1973 1212 1 99803 1 001
Tanggal, 14 Juli , 2010
Mengetahui
Ketua Jurusan Biologi



Dr. Eko Budi Minarno., M. Pd
NIP. 19630114 199903 1 001

PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less)
TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS
PADA MENCIT (Mus musculus L)

SKRIPSI

Oleh:
RIZAL MAARIF RUKMANA
NIM. 06520024

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Tugas Akhir dan
Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Sains

Tanggal 14 Juli 2010
Susunan Dewan Penguji
1. Penguji Utama : Dra. Retno Susilowati, M.Si
NIP. 19671113 199402 2 001

2. Ketua : Kiptiyah, M.Si
NIP. 19731005 200212 2 003

3. Sekretaris : Dr. drh. Bayyinatul M. M.Si
NIP.19710919 200003 2 001

4. Anggota : Dr. Ahmad Barizi, M.A
NIP. 1973 1212 1 99803 1 001

Tanda Tangan
( )

( )


( )


( )

Mengetahui dan Mengesahkan
Ketua Jurusan Biologi




Dr. Eko Budi Minarno., M. Pd
NIP. 19630114 199903 1 001


Lembar Persembahan
Untukmu ya Allah, terima kasih yang tak terhingga kepadaMu. Atas segala
rahmat, taufiq serta hidayahMu. Engkau selalu ada untukku, selalu membawa
kesejukan dan pencerahan bagi hatiku. Di saat aku dekat, engkau lebih mendekat.
namun di saat aku jauh, engkau tetap dekat, begitu agung, begitu maha kuasa
Engkau ya Allah.
Kupersembahkan karya ini untuk:
Ayahku H. Fahruddin., S.Sos dan ibuku Dra.Hj. Kurotin yang sangat ku
sayangi. Yang dengan sabar dan tulus ikhlas menghidupiku, menyayangiku,
mengasihiku dan mendoakanku setiap waktumu. Semoga pengorbananmu dan jeri
payahmu tidak sia-sia untukku. Aku selalu ingin membahagiakanmu wahai ayah
dan ibuku.
Untuk adik-adikku dek Wildan dan dek devi, engkau selalu menjadi pelecut
semangatku ketika aku malas dan memberikan kebanggaan buatku. Jadilah anak-
anak yang baik dan buat ayah dan ibu bangga atas dirimu.
Bapak dan ibu guruku, bapak dan ibu dosenku, ustad dan ustadzahku,
terima kasih telah membantuku untuk mencari ilmu dan engkaulah pahlawan-
pahlawanku.
Bu Bayyin, pak Barizi, bu Ulfah, pak Eko, bu Evika, bu Retno, bu Kip, pak
Roma, pak Dwi, pak Yono, bu Amel, bu Ruri, bu Lilik, bu Ifa, bu soraya, bu novi,
didikan dan nasehatmu takkan ku lupakan.


Mas Basyar, mas Ismail, mas Sholeh, mbak Lil dan mas Zulfan terima kasih
atas segala bentuk bantuannya yang diberikan untukku.
Dek Binti Karomah yang selalu menemaniku, memberikan semangat
untukku, membuatku bahagia, membuatku tertawa, mendoakanku, semoga
kebersamaan ini terus berlanjut.
Dek Aisi Biologi 2009 yang dengan sabar membantu menghidupi anak-
anakku sehingga semuanya bisa berjalan dengan lancar. Semoga engkau selalu
diberi kemudahan dalam segala hal.
Teman-teman Biologi angkatan 2006 semoga selalu kompak dan semangat.
Teman-teman kosku semoga tali silaturrahmi kita selalu terjalin dengan baik.
Seluruh sahabat-sahabati warga rayon “pencerahan” galileo, semoga
perjuangan kalian terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi kalian.
Seluruh teman-teman warga WAROK komisariat UIN MALIKI Malang,
tetap semangat dan jangan pernah menyerah dalam ber-organisasi. Berikan yang
terbaik untuk organisasi dan semoga itu menjadi amal bagi kalian semua serta
memberikan pengalaman dan manfaat bagi kalian semua.



MOTTO:





سا
ّ
نل مهعفنا سا
ّ
نلاريخ


Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain
i

KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas
segala limpahan rahmat taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana sains (S.Si). Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada
pembawa perubahan yakni Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan
sahabatnya yang telah mengawali upaya menegakkan cita-cita Islam di muka
bumi ini.
Penulis menyadari banyak pihak yang telah berpartisipasi dan membantu
dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Untuk itu, iringan doa dan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan, utama kepada:
1. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN)
Maulana Malik Ibrahim Malang.
2. Prof. Drs. Sutiman B. Sumitro, SU., Dsc selaku dekan fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
3. Dr. Eko Budi Minarno, M.Pd selaku kepala jurusan biologi Universitas Islam
Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
4. Dr. drh. Hj. Bayyinatul Muchtaromah., M.Si selaku dosen pembimbing I
yang sabar membimbing dan memberi arahan kepada kami skripsi ini dapat
terselesaikan.
ii

5. Dr. Ahmad Barizi. M.A selaku pembimbing II yang telah memberikan
bimbingannya kepada kami selama mengerjakan skripsi ini.
6. Ayahku (H.Fahrudin., S.Sos), Ibuku (Dra. Hj. Kurotin) tercinta, yang selalu
memberi dukungan moril, materiil dan doa kepada kami.
7. Adik-adikku (Wildan dan Devi) yang selalu merindukanku dan sangat saya
sayangi, engkau adalah harapan dan kebanggaanku, jangan pernah bosan
untuk belajar dan menuntut ilmu, buatlah Ayah dan Ibu bangga akan dirimu.
8. Dek Binti Karomah yang selalu memberikan dukungan dan support semasa
pengerjaan skripsi dan perkuliahan.
9. Mas Basyar, Mas Ismail, Mbak Lil, Mas Sholeh, Mas Zulfan yang telah
membantu kami dalam menyelesaikan segala permasalahan administrasi dan
labulatorium di jurusan Biologi.
10. Zaenal, Indah, Khanifah, Hartanto, Lisin, Didik, Rimah, Toni, Arif, Rita,
Fida, Fenty, Ike, Firda, Syela, Ayu, serta semua teman-teman Bio ’06 yang
tidak bisa saya sebut satu per satu terima kasih atas dukungan moril dan
materiilnya.
11. Dek Aisi Bio ’09 yang dengan sabar membantu kami dalam mengerjakan
penelitian ini.
12. Seluruh sahabat/i kader rayon “pencerahan” Galileo PMII komisariat Sunan
Ampel Malang, lanjutkan perjuangan kalian sebagai agen of Change dan
kontrol.
13. Kepada teman-teman anggota dan pengurus WAROK komisariat UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang terima kasih atas motivasinya.
iii

14. Kepada teman-teman pengurus BEM Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang terima kasih atas semangat yang telah ditularkan.
15. Seluruh pihak yang telah membantu dan memberikan dukungannya hingga
terselesaikannya skripsi ini.
Penulis mengharapkan semoga skripsi ini memberikan khasanah
pengetahuan untuk kemajuan pendidikan. Penulis juga berharap skripsi ini dapat
bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Malang, 23 Juni 2010
Penulis
iv

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ....................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. viii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... ix
ABSTRAK ...................................................................................................... x
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 5
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................. 6
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................ 6
1.5 Batasan Masalah ................................................................................... 6
1.6 Hipotesis ............................................................................................... 7
BAB II. KAJIAN PUSTAKA ....................................................................... 8
2.1 Beluntas (P. indica Less) ...................................................................... 8
2.1.1 Morfologi dan Manfaat Tanaman Beluntas (P. indica Less) ....... 8
2.1.2 Klasifikasi .................................................................................... 12
2.2 Peran Zat Aktif Beluntas Terhadap Reproduksi Jantan ...................... 12
2.3 Boiologi Mencit (M. musculus L) ....................................................... 16
2.4 Sistem Reproduksi Mencit Jantan (M. musculus L) ............................ 20
2.5 Fisiologi Reproduksi Mencit Jantan (M. Musculus L) ........................ 24
2.5.1 Hormon Reproduksi Jantan ......................................................... 25
2.5.2 Spermatogenesis .......................................................................... 27
2.5.2.1 Spermiogenesis ......................................................................... 30
2.6 Sel Leydig .............................................................................................33
BAB III. METODE PENELITIAN ............................................................ 34
3.1 Rancangan Penelitian .......................................................................... 34
v

3.2 Variabel Penelitian .............................................................................. 35
3.3 Waktu dan Tempat .............................................................................. 35
3.4 Populasi dan Sampel ........................................................................... 35
3.5 Alat dan Bahan .................................................................................... 36
3.5.1 Alat .............................................................................................. 36
3.5.2 Bahan ........................................................................................... 36
3.6 Pelaksanaan Penelitian ........................................................................ 36
3.6.1 Persiapan Hewan Coba ................................................................ 36
3.6.2 Persiapan Perlakuan ..................................................................... 36
3.6.3 Kegiatan Penelitian ...................................................................... 37
3.6.4 Pembuatan Sayatan Preparat Testis Mencit ................................. 37
3.7 Analisis Data ....................................................................................... 39
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................... 40
4.1 Hasil Penelitian .................................................................................... 40
4.1.1 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Sperma-
togonium ............................................................................................... 42
4.1.2 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Sperma-
tosit primer ............................................................................................ 48
4.1.3 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Sperma-
tid .......................................................................................................... 53
4.1.4 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Leydig . 58
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 65
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 65
5.2 Saran .................................................................................................... 65

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 66
LAMPIRAN .................................................................................................. 70
vi

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman
Tabel 4.1 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun
Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel
Spermatogonium Pada Tubulus Seminiferus Testis
Mencit Sebelah Kanan................................................



43
Tabel 4.2 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas
(P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatogonium
Pada Testis Sebelah Kanan.........................................


43
Tabel 4.3 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun
Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel
Spermatogonium Pada Tubulus Seminiferus Testis
Mencit Sebelah Kiri........................................................



44
Tabel 4.4 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas
(P.Indica Less) Terhadap Jumlah Sel
Spermatogonium Pada Testis Sebelah Kiri...................


44
Tabel 4.5 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun
Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel
Spermatosit Primer Pada Tubulus Seminiferus Testis
Mencit Sebelah Kanan...............................................



49
Tabel 4.6 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas
(P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatosit
Primer Pada Testis Sebelah Kanan................................


49
Tabel 4.7 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun
Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel
Spermatosit Primer Pada Tubulus Seminiferus Testis
Mencit Sebelah Kiri......................................................



50
Tabel 4.8 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas
(P. indica less) Terhadap Jumlah Sel Spermatosit


vii

Primer Pada Testis Sebelah Kiri.................................... 50
Tabel 4.9 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun
Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel
Spermatid Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit
Sebelah Kanan...........................................................




54
Tabel 4.10 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas
(P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatid Pada
Testis Sebelah Kanan.................................................


54
Tabel 4.11 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun
Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel
Spermatid Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit
Sebelah Kiri.............................................................



55
Tabel 4.12 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas
(P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatid Pada
Testis Sebelah Kiri....................................................


55
Tabel 4.13 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun
Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel Leydig
Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit Sebelah
Kanan.......................................................................



59
Tabel 4.14 Hasil Uji BNT 5% Tentang Pengaruh Ekstrak Daun
Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel Leydig
Pada Testis Sebelah Kanan............................................


59
Tabel 4.15 Ringkasan Anova Tunggal Tentang Pengaruh Ekstrak
Daun Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel
Leydig Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit
Sebelah Kiri..............................................................



60
Tabel 4.16 Hasil Uji BNT 5% Tentang Pengaruh Ekstrak Daun
Beluntas (P.indica Less) Terhadap Jumlah Sel Leydig
Pada Testis Sebelah Kiri.............................................


61

viii

DAFTAR GAMBAR


No Judul Halaman
Gambar 2.1 Morfologi Tanaman Beluntas (P.indica Less).................... 10
Gambar 2.2 Organ Reproduksi Mencit Jantan....................................... 22
Gambar 2.3 Testis Mencit (M. musculus L)........................................... 23
Gambar 2.4 Kontrol Hormonal Pada Testis........................................... 25
Gambar 2.5 Spermatogenesis Pada Mencit............................................ 29
Gambar 2.6 Transformasi Spermatid...................................................... 31
Gambar 4.1 Tubulus Seminiferus........................................................... 41
Gambar 4.2 Diagram Batang Tingkat Penurunan Jumlah Sel
Spermatogonium Pada Perlakuan Ekstrak Daun Beluntas
(P. indica Less)...................................................................


42
Gambar 4.3 Diagram Batang Tingkat Penurunan Jumlah Sel
Spermatosit Primer Pada Perlakuan Ekstrak Daun
Beluntas (P. indica Less)...................................................


48
Gambar 4.4 Diagram Batang Tingkat Penurunan Jumlah Sel
Spermatid Pada Perlakuan Ekstrak Daun Beluntas (P.
indica Less)........................................................................


53
Gambar 4.5 Diagram Batang Tingkat Penurunan Jumlah Sel Leydig
Pada Perlakuan Ekstrak Daun Beluntas (P. indica
Less)....................................................................................


58


ix

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman
Lampiran 1 Data Hasil Pengamatan Testis Kanan Dan Kiri........... 70
Lampiran 2 Perhitungan Manual Anava Dan Uji BNT................... 78
Lampiran 3 Peta Konsep Penelitian................................................ 86
Lampiran 4 Dasar Penentuan Dosis Ekstrak Daun Beluntas.......... 87
Lampiran 5 Prosedur Ekstraksi Daun Beluntas............................... 89
Lampiran 6 Diagram Alir Penelitian............................................... 90
Lampiran 7 Gambar Alat dan bahan Penelitian............................. 91
Lampiran 8 Gambar Kegiatan Penelitian........................................ 95
Lampiran 9 Bukti Konsultasi.......................................................... 96

x

ABSTRAK
Rukmana, Rizal Maarif. 2010. Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap Proses Spermatogenesis Pada Mencit (Mus
musculus L). Pembimbing: Dr. drh. Bayyinatul muchtarromah., M.Si
dan Dr. Ahmad Barizi., M.A.
Kata kunci: Daun beluntas, Spermatogenesis, Mus musculus L
Kepadatan penduduk menjadi masalah yang serius yang dihadapi oleh
negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia. Berdasarkan Data Pusat
Statistik pertumbuhan penduduk Indonesia pada tahun 2009 menunjukkan bahwa
peningkatan jumlah penduduk mencapai lebih kurang 2.000.000 jiwa setiap
tahunnya. Dengan alasan inilah, pemerintah mengambil langkah-langkah untuk
menekan jumlah penduduk Indonesia, salah satu progam yang dilakukan oleh
pemerintah adalah mengadakan progam Keluarga Berencana (KB). Pemanfaatan
tanaman obat sebagai alat kontrasepsi sangat diperlukan, karena selain mudah
didapatkan, murah juga aman untuk di konsumsi. Salah satu tanaman yang
berpotensi sebagai penghambat spermatogenesis adalah beluntas (P. indica Less)
karena daun beluntas mengandung senyawa aktif berupa alkaloid, tanin dan
flavonoid yang dapat menghambat spermatogenesis melalui kontrol hormonal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian
ekstrak daun beluntas (P. indica Less) terhadap proses spermatogenesis pada
mencit (M. musculus L). Penelitian ini dilaksanakan di labolatorium fisiologi
hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri
(UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang pada bulan Maret-Mei 2010. Rancangan
penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan di
kelompokkan menjadi 5 kelompok dengan 5 kali ulangan. Ekstrak daun beluntas
(P. indica Less) diberikan dengan dosis 12,5 mg/kg bb, 62,5 mg/kg bb, 125 mg/kg
bb, 187,5 mg/kg bb dan kontrol. Variabel yang diamati adalah jumlah sel
spermatogonia, spermatosit primer, spermatid dan sel leydig. Data yang
didapatkan di analisis dengan menggunakan ANOVA satu arah, bila dari hasil
analisis diperoleh nilai F
hitung
> F
tabel
1 % dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf
signifikan 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun beluntas mampu
menurunkan jumlah sel spermatogonia, spermatosit primer, spermatid dan sel
leydig. Dosis yang paling baik dalam penelitian ini adalah 187,5 mg/kg bb.

xi

ABSTRAK

Rukmana, Rizal Maarif. In 2010. Effect of Leaf Extract beluntas (Pluchea
indica Less) on the process of spermatogenesis of mice (Mus
musculus L). Advisor: Dr. drh. Bayyinatul muchtarromah., M. Si and
Dr. Ahmad Barizi., M.A

Key words: Leaf beluntas, Spermatogenesis, Mus musculus L

Population density becomes a serious problem faced by developing
countries, especially in Indonesia. Based on the Data Center of the Indonesian
population growth statistics in 2009 showed that the increase in the population
reached approximately 2 million people each year. For this reason, the
government took steps to suppress the population of Indonesia, one of the
programs carried out by the government family planning program is entered (KB).
Utilization of medicinal plants as a means of contraception is necessary, because
apart from easily available, cheap and safe for consumption. One of the plants
potential as inhibitors of spermatogenesis is beluntas (P. indica Less) because the
leaves contain active compounds beluntas form alkaloids, tannins and flavonoids
that can inhibit spermatogenesis by hormonal control.
This research aimed to determine whether there was an effect of extract
of leaves beluntas (P. indica Less) on the process of spermatogenesis of mice (M.
musculus L). This research was conducted in animal physiology laboratories,
Department of Biology, Faculty of Science and Technology, State Islamic
University (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang in March-May 2010. The
research design used was Completely Randomized Design (CRD). Treatments
were classified into five groups with five replicates. Beluntas leaf extract (P.
indica Less) provided a dose of 12.5 mg / kg bw, 62.5 mg / kg bw, 125 mg / kg
bw, 187.5 mg / kg bw and control. The observed variable is the number of cell
spermatogonia, primary spermatocytes, spermatids and Leydig cells. The data
obtained in the analysis using one-way ANOVA, if the analysis results obtained
value F value> Ftable 1% followed by LSD test with significance level 1%.
The results showed that leaf extracts can lower the number of cells
beluntas spermatogonia, primary spermatocytes, spermatids and Leydig cells. The
best dosage in this study was 187.5 mg / kg bw.

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kepadatan penduduk menjadi masalah yang serius yang dihadapi oleh
negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia. Laju pertumbuhan penduduk
yang tinggi akan mempengaruhi tingkat kehidupan dan kesejahteraan penduduk.
Pada periode 1990-2000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49
persen per tahun. Berdasarkan Data Pusat Statistik pertumbuhan penduduk
Indonesia (2009) menunjukkan bahwa peningkatan jumlah penduduk mencapai
lebih kurang 2.000.000 jiwa setiap tahunnya. Dengan alasan inilah, pemerintah
mengambil langkah-langkah untuk menekan jumlah penduduk Indonesia, salah
satu progam yang dilakukan oleh pemerintah adalah mengadakan progam
Keluarga Berencana (KB).
Islam adalah agama yang menginginkan umatnya sehat dan kuat, terpenuhi
kebutuhan sandang dan pangan. Pemenuhan kebutuhan tersebut bersifat mutlak
untuk melangsungkan kehidupannya, meninggalkan generasi yang berkualitas
juga menjadi salah satu syarat terciptanya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah
(Baldatun tayyibatun wa rabbun ghofur). Hal ini sesuai dengan apa yang
difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran Surat An-nisa’ / 4:9

2

_>´,l´¸ _¸¸¦ ¯¡l ¦¡´¸. _¸. `¸¸¸¸±l> «`,¸¯¸: !±.-¸. ¦¡·l> ¯¡¸¸,l. ¦¡1`.´,l· ´<¦
¦¡l¡1´,l´¸ ¸¯¡· ¦.,¸.. ¸_¸
Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
Perkataan yang benar (Q.S An-nisa’/ 4: 9).
Progam keluarga berencana (KB) dapat dilakukan oleh laki-laki maupun
perempuan, akan tetapi selama ini di Indonesia pada umumnya hampir semua cara
kontrasepsi ditujukan kepada perempuan saja, sedangkan pada laki-laki masih
terbatas, sehingga perkembangan kontrasepsi laki-laki jauh tertinggal
dibandingkan dengan kontrasepsi perempuan (Maryati et al, 2006).
Rendahnya partisipasi laki-laki dalam progam Keluarga Berencana
dikarenakan oleh terbatasnya pilihan kontrasepsi pria yang dapat digunakan.
Sampai saat ini metode kontrasepsi laki-laki hanya kondom, vasektomi dan
penyuntikan hormon. Masalah tersebutlah yang menjadi landasan mengapa
perkembangan teknologi kontrasepsi perlu lebih mengarah pada laki-laki (Wilopo,
2006). Beberapa alat kontrasepsi laki-laki belum bisa diterima oleh masyarakat,
karena memberikan efek samping yang tidak dapat diabaikan (penyuntikan
hormon), kelemahan alat kontrasepsi kondom memberikan ketidaknyamanan pada
pasangan, vasektomi (sterilisasi) menyebabkan terjadinya gangguan pada
imunoglobulin (Rusmiati, 2007).
Alat kontrasepsi yang murah, mudah, aman dan bersifat reversibel belum
tersedia bagi laki-laki, walaupun berbagai penelitian pendahuluan untuk
3

pengembangannya sudah dilakukan. Kontrasepsi laki-laki dengan cara pengaturan
hormon merupakan salah satu alternatif yang banyak diteliti dengan sasaran utama
adalah pengendalian proses spermatogenesis melalui poros hipotalamus-hipofisis-
testis. Tujuan kontrasepsi hormonal adalah mengubah lingkungan endokrin di
dalam tubuh manusia sehingga kontrol hormonal untuk spermatogenesis dapat
dihambat (Widotama, 2008).
Spermatogenesis membutuhkan kerja stimulasi kedua hormon
gonadotropin yaitu LH (Luteinizing Hormone) dan FSH (Follicle Stimulating
Hormone). LH berfungsi menstimulasi sel Leydig untuk memproduksi hormon
testosteron di dalam testis. Selanjutnya fungsi FSH untuk merangsang testis dan
memacu proses spermatogenesis, yaitu pembentukan spermatogonia menjadi
spermatid. Selain itu FSH juga berfungsi untuk merangsang sel sertoli dalam
pembentukan protein pengikat androgen (ABP) dimana protein ini berperan dalam
pengangkutan testosteron ke dalam tubulus seminiferus dan epididimis.
Mekanisme ini penting untuk mencapai kadar testosteron yang dibutuhkan untuk
terjadinya spermatogenesis. Oleh karena itu metode kontrasepsi hormonal pria
dapat berperan menurunkan jumlah sperma melalui penekanan sekresi
gonadotropin yang berakibat menurunkan testosteron testis dan menghambat
spermatogenesis (Ganong, 1983).
Hormon yang dapat menekan produksi spermatozoa, antara lain analog
gonadotropine releasing hormone (GnRH), hormon-hormon seperti androgen,
progestine dan estrogen. Beberapa jenis hormon steroid yang telah terbukti
4

mampu menekan spermatogenesis juga terdapat pada tumbuhan (steroid nabati)
(Wilopo, 2008).
Pemanfaatan tanaman obat sebagai alat kontrasepsi sangat diperlukan,
karena selain mudah didapatkan, murah juga aman untuk di konsumsi. Beluntas
(Pluchea indica Less) merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak
fungsi diantaranya adalah: meningkatkan nafsu makan, membantu pencernaan,
menghilangkan pegal linu, keputihan, nyeri haid, rematik, peluruh keringat,
pereda demam dan penyegar. Kandungan kimia, daun beluntas mengandung
alkaloid, flavonoid, tanin, minyak atsiri, asam chlorogenik, natrium, kalium,
aluminium, kalsium, magnesium dan fosfor. Daun beluntas (Pluchea indica Less)
merupakan tanaman obat sebagai antifertilitas pada perempuan (Setiawan, 1999).
Namun penelitian daun beluntas yang digunakan sebagai antifertilitas laki-laki
masih sedikit.
Beluntas (Pluchea indica Less) juga mengandung beberapa komponen
yang bermanfaat bagi kesehatan. Diantara senyawa yang bermanfaat tersebut
adalah alkaloid, flavonoid dan tanin. Alkaloid yang diperoleh dari tanaman dapat
mempengaruhi fisiologi dan metabolisme manusia dan hewan. Senyawa ini dapat
digunakan sebagai bahan untuk obat-obatan, diantaranya sebagai obat batuk,
rematik, anti-malaria, anti-kejang. Flavonoid bisa dimanfaatkan sebagai anti
radang, antibody, anti-tumor, anti-HIV, anti-diare, anti- oksidan, meningkatkan
imunoglobulin dan sebagainya. Sedangkan tanin dapat dimanfaatkan sebagai anti-
kanker dan anti aktivitas HIV (Padua et al, 1999). Beluntas (Pluchea indica Less)
merupakan salah satu tanaman yang mempunyai khasiat sebagai anti
5

spermatogenik. Senyawa aktif daun beluntas (Tanin, Alkaloid, dan Flavonoid)
dapat mempengaruhi kadar testosteron. Tanin dapat menyebabkan penggumpalan
sperma, alkaloid dapat menekan sekresi hormon reproduksi, yaitu testosteron
sehingga proses spermatogenesis terganggu. Flavonoid mampu menghambat
enzim aromatase yaitu enzim yang mengkatalis konversi androgen menjadi
estrogen yang akan meningkatkan hormon testosteron. Testosteron yang tidak
stabil akan berakibat feed back negatif pada hipothalamus, sehingga hipothalamus
sedikit mensekresikan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) tidak dapat
menggertak hipofisa anterior, sehingga hipofisa anterior sedikit untuk
mensekresikan FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing
Hormone) sehingga proses spermatogenesis terganggu. (Susetyarini, 2003).
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa beluntas (Pluchea indica Less)
memiliki beberapa komponen beraktivitas biologi yang bermanfaat untuk
manusia. Upaya pengembangan beluntas (Pluchea indica Less) menjadi salah satu
obat, terutama tentang obat antifertilitas pada laki-laki masih memerlukan
serangkaian penelitian. Atas dasar tersebut dilakukan penelitian tentang pengaruh
ekstrak beluntas (Pluchea indica Less) terhadap proses spermatogenesis pada
mencit (Mus musculus L).
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less)
terhadap jumlah sel spermatogonium testis mencit (Mus musculus L)?
6

2. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica
Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer testis mencit (Mus musculus L)?
3. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less)
terhadap jumlah sel spermatid testis mencit (Mus musculus L)?
4. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less)
terhadap jumlah sel leydig testis mencit (Mus musculus L)?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas
(Pluchea indica Less) terhadap proses spermatogenesis pada mencit (Mus
musculus L).
1.4 Manfaat Penelitian
Memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang manfaat beluntas
(Pluchea indica Less) sebagai obat antispermatogenik dan memberikan informasi
tentang khasanah keilmuan pada bidang biologi reproduksi serta menjadi landasan
bagi penelitian selanjutnya.
1.5 Batasan Masalah
1. Sel-sel spermatogenik yang diamati dalam penelitian ini meliputi sel
spermatogonia, spermatosit primer, spermatid dan sel Leydig.
2. Hewan coba yang dipakai adalah mencit (Mus musculus L) galur balb/c jenis
kelamin jantan, umur 2 bulan dengan berat rata-rata 20-30 gram.
3. Dosis ekstrak beluntas (Pluchea indica Less) yang dipakai dalam penelitian
ini adalah 12,5 mg/kg bb, 62,5 mg/kg bb, 125 mg/kg bb, 187,5 mg/kg bb.

7

1.6 Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemberian ekstrak
daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonia, sel
spermatosit primer, sel spermatid dan sel Leydig pada testis mencit (Mus
musculus L).


8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Beluntas (Pluchea indica Less)
2.1.1 Morfologi Dan Manfaat Tanaman Beluntas (Pluchea indica Less)
Pada dunia tumbuhan, terdapat berbagai macam tumbuhan yang berbeda-
beda, begitu juga dengan manfaatnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam
surat Thaha ayat 53 sebagai berikut:
_¸¦ _-> `¡>l ´_¯¸¸¦ ¦´.¸. ,l.´¸ ¯¡>l !¸,¸· ¸,. _¸.¦´¸ ´_¸. ¸,!.´.l¦ ´,!.
!.>¸>!· .¸«¸, l´>´¸¸¦ _¸. ¸,!,. _.: ¸__¸
Artinya: Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah
menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit
air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis
dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam (Q.S. Thaha/ 20: 53).
Dari ayat di atas yang berbunyi (wa‟ anzala minassamã‟i mãan faakhrojnã
bihi azwãjamminannabã tinsyattã) dapat kita ketahui bahwa berbagai jenis
tumbuhan dapat tumbuh di bumi ini karena adanya air hujan, termasuk juga
tumbuhan yang tergolong tumbuhan tingkat rendah yaitu tumbuhan yang tidak
jelas bagian akar, batang dan daunnya, maupun tumbuhan tingkat tinggi yaitu
tumbuhan yang sudah bisa dibedakan secara jelas bagian akar, batang dan
daunnya (Savitri, 2008).
Salah satu tumbuhan tingkat tinggi yang sudah dapat dibedakan antara
daun, batang dan akarnya adalah tumbuhan beluntas. Beluntas merupakan
9

tanaman semak, tumbuh tegak, tingginya dapat mencapai 2 meter atau lebih.
Percabangan banyak, rusuknya halus, dan berbulu lembut. Tanaman beluntas
berbunga sepanjang tahun (Pujowati, 2006).
Beluntas umumnya tumbuh liar di daerah kering pada tanah yang keras
dan berbatu atau ditanam sebagai tanaman pagar. Tumbuhan ini memerlukan
cukup cahaya matahari dan sedikit naungan, banyak ditemukan di daerah pantai
atau dekat laut sampai ketinggian 1000 m dpl. Perdu kecil, tumbuh tegak, tinggi
mencapai 2 m, kadang-kadang lebih. Percabangan banyak, berusuk halus,
berambut lembut. Daun bertangkai pendek, letak berseling, helaian daun bulat
telur sungsang, ujung bulat lancip, tepi bergerigi, berkelenjar, panjang 2,5 – 9 cm,
lebar 1 – 5,5 cm. Warna hijau terang, bila direbus dan di remas berbau harum.
Pertulangan menyirip. Berbulu halus (Sirait, 2008).
Menurut Pujowati (2008) bunga beluntas majemuk, dan berbentuk malai
rata. Bunga keluar dari ujung cabang ke ketiak daun. Cabang bunga sangat banyak
sehingga membentuk rempuyung cukup besar antara 2,5-12,5 cm. Bunga
berbentuk bonggol, bergagang atau duduk. Bentuknya seperti silinder sempit
dengan panjang 5-6 mm. Panjang daun pembalut sampai 4 mm. Daun pelindung
bunga tersusun dari 6-7 helai. Daun pelindung yang terletak di dalam berbentuk
sudut (lanset) dan di luar berbentuk bulat telur. Daun pelindung berbulu lembut,
berwarna ungu dan pangkalnya ungu muda. Kepala sari menjulur dan berwarna
ungu. Tangkai putik pada bunga betina lebih panjang. Buah beluntas longkah
berbentuk seperti gasing, warnanya coklat dengan sudut-sudut putih, dan lokos
10

(gundul atau licin) panjang buah 1 mm. Berikut adalah morfologi dari tanaman
beluntas (Pluchea indica Less):

Gambar 2.1 Morfologi dari Pluchea indica Less (Pujowati, 2006)
Pemanfaatan tumbuhan sebagai sarana pengobatan merupakan salah satu
cara kita dalam mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Beliau telah
menurunkan berbagai macam tumbuhan agar kita senantiasa mempelajarinya.
Seperti firman Allah dalam surat Al-Syuara: 7, yang berbunyi:
¯¡l´¸¦ ¦¸¸, _|¸| ¸_¯¸¸¦ ¯´ !..´,.¦ !¸,¸· _¸. ¸_´ ¸_¸¸ ¸¸,¸¸´ ¸_¸
Artinya:dan Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya
Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang
baik? (Q.S Al-Syuara /27: 7).
Tumbuhan yang baik dalam hal ini adalah tumbuhan yang bermanfaat bagi
mahluk hidup, termasuk tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pengobatan.
11

Tumbuhan yang bermacam-macam jenisnya dapat digunakan sebagai obat
berbagai jenis penyakit, dan ini merupakan anugrah Allah SWT yang harus
dipelajari dan dimanfaatkan seperti disebut dalam QS. Al-Qashash: 57
¦¡l!·´¸ ¿¸| ¸_¸,.. _.>¦ ,-. ¸L>.. _¸. !´.¸.¯¸¦ ¯¡l´¸¦ _¸>.. `¸¸l !´.¸> !´.¸.¦´,
´_,>´ ¸«,l¸| ,¸.. ¸_´ ¸,`_: !·¸¸¯¸ _¸. !. ´_¸>.l´¸ ¯¡>´¸.é¦ ¸ _¡.l-, ¸__¸
Artinya: Dan mereka berkata: "Jika Kami mengikuti petunjuk bersama kamu,
niscaya Kami akan diusir dari negeri kami". dan Apakah Kami tidak
meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang
aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam
(tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui (Q.S. Al-Qashah / 28:57).
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita mencari dan mempelajari berbagai
tumbuhan yang menjadi rezeki yaitu yang memberikan manfaat bagi kehidupan.
Tumbuhan menjadi rezeki bagi mahluk hidup karena merupakan bahan pangan,
bahan sandang, papan dan bahan obat-obatan. Begitu banyak manfaat tumbuh-
tumbuhan bagi mahluk hidup lain, sedangkan tumbuhan adalah mahluk hidup
yang tidak pernah mengharapkan balasan dari mahluk lain (Savitri, 2008).
Khasiat tumbuhan beluntas, daun berbau khas aromatis dan rasanya getir.
Berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan, membantu pencernaan, peluruh
keringat, pereda demam dan penyegar. Akar beluntas berkhasiat sebagai peluruh
keringat dan penyejuk. Kandungan kimia, daun beluntas mengandung alkaloid,
flavonoid, tanin, minyak atsiri, asam chlorogenik, natrium, kalium, aluminium,
kalsium, magnesium dan fosfor. Sedangkan akarnya mengandung flavonoid dan
tanin. (Susetyarini, 2007).
12

2.1.2 Klasifikasi
Menurut Van Steenis (1975), klasifikasi beluntas dalam sistematika
tumbuhan sebagai berikut:
Divisi Spermatophyta
Sub Divisi Magnoliophyta
Kelas Dicotyledonae
Bangsa Asterales
Suku Asteraceae
Marga Pluchea
Spesies Pluchea indica Less

2.2 Peran Zat Aktif Beluntas (Pluchea indica Less) Terhadap Reproduksi
Jantan
Senyawa bioaktif yang terdapat pada daun beluntas (Pluchea indica Less)
adalah alkaloid, flavonoid, tanin, minyak atsiri, asam chlorogenik, natrium,
kalium, aluminium, kalsium, magnesium dan fosfor. Sedangkan akarnya
mengandung flavonoid dan tannin (Susetyarini, 2007). Senyawa-senyawa ini
merupakan senyawa metabolit sekunder.
1. Alkaloid
Alkaloid merupakan senyawa organik yang terdapat banyak di alam.
Alkaloid didefinisikan sebagai senyawa bersifat basa, memiliki amino yang
komplek dan atom nitrogen yang berasal dari tumbuhan. Alkaloid adalah senyawa
metabolit sekunder yang bersifat basa, yang mengandung satu atau lebih atom
13

nitrogen. Biasanya dalam cincin heterosiklik dan banyak digunakan sebagai obat
atau untuk keperluan farmasi. Senyawa alkaloid dapat digunakan sebagai bahan
untuk obat-obatan, diantaranya sebagai obat batuk, rematik, anti-malaria, anti-
kejang. Alkaloid pada tanaman telah dipercaya sebagai sumber nitrogen, sebagai
perlindungan tanaman, perkecambahan dan menstimulasi pertumbuhan tanaman.
Alkaloid yang diperoleh dari tanaman dapat mempengaruhi fisiologi dan
metabolisme dari manusia dan hewan (Padua et al, 1999).
Dalam organ reproduksi jantan cara kerja alkaloid yaitu dengan menekan
hormon reproduksi, yaitu hormon testosteron sehingga proses spermatogenesis
terganggu (Susetyarini, 2003).
2. Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa fenol yang bertanggung jawab atas pigmen
warna pada bunga, buah dan kadang-kadang pada daun. Senyawa itu adalah
chalcones dan flavonols, senyawa ini memberi efek warna kuning. Flavonoid
memiliki peranan yang sangat besar pada pembentukan pigmen tanaman. Selain
itu, flavonoid juga dapat melindungi tanaman dari bahaya sinar UV serta berperan
dalam menarik hewan yang akan membantu penyerbukan tanaman (Padua et al,
1999).
Struktur dasar dari senyawa flavonoid adalah 2-phenyl kromat atau Ar-C
3
-
Ar skeleton. Senyawa ini merupakan derivad dari kombinasi asam shikimic dan
asam asetat (Padua et al, 1999). Menurut Syahnida (2003) dalam Hasanah (2009)
menyatakan semua flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa
induk flavon. Flavonoid banyak ditemukan dalam bentuk tepung putih pada
14

tumbuhan primula contohnya pada tanaman beluntas dan biasanya terdapat pada
vakuola sel. Pada bidang farmakologi flavonoid dapat digunakan sebagai anti-
radang, antibody, anti-tumor, anti-HIV, anti-diare, anti-oksidan, meningkatkan
imunoglobulin, mengurangi kerapuhan pembuluh kapiler. Biasanya dalam cincin
heterosiklik, dan bersifat aktif biologis.
Flavonoid dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang berfungsi
mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen yang akan meningkakan hormon
testosteron. Tingginya kosentrasi testosteron akan menyebabkan umpan balik
negatif ke hipofisis yaitu tidak melepaskan FSH dan LH, menghambat proses
mitosis dan proses spermatogenesis. Enzim aromatase juga mengkatalis
perubahan testosteron ke estradiol dapat mempengaruhi proses ovulasi (Winarno,
1997).
3. Tanin
Tanin memiliki struktur kimia yang komplek. Tanin banyak ditemukan
pada tumbuhan yang berpembuluh. Tanin merupakan senyawa fenolik larut air
dengan BM 500-3000, memberikan reaksi umum senyawa fenol, dan memiliki
sifat-sifat khusus seperti pretisipasi alkaloid, gelatin dan protein-protein lain. Di
dalam tumbuhan, tanin terletak terpisah dengan protein dan enzim sitoplasma.
Bila jaringan rusak, maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini dapat
menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. Sebagian
tumbuhan yang bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya
yang sepat (Harbone, 1984).
15

Tanin biasanya berupa senyawa amorf, higroskopis yang berwarna coklat
kuning yang dapat larut dalam air, terutama air panas, membentuk larutan koloid
bukan larutan sebenarnya. Makin murni tanin, maka kurang kelarutannya dalam
air dan makin mudah membentuk kristal. Tanin juga larut dalam pelarut organik
yang polar, seperti benzena dan kloroform. Larutan tanin dapat diendapkan
dengan penambahan asam mineral atau garam. Beberapa tanin terbukti
mempunyai aktivitas antioksidan, menghambat pertumbuhan tumor dan
menghambat enzim seperti „reserve‟ transkriptase dan DNA topoisomerase
(Robinson, 1991).
Dari hasil penelitian Lusiyawati (2008) menyatakan bahwa tanin mampu
mempengaruhi kualitas spermatozoa, karena tanin bersifat chelator yaitu substansi
yang mampu mengikat partikel ion, antara lain mampu mengikat enzim-enzim
kunci pada sintesis protein, menggumpalkan protein dan pembentukan senyawa
komplek dengan phospat energi tinggi, sehingga phospat di dalam tubuh menjadi
tidak aktif. Hal ini mengakibatkan energi metabolisme menurun dan kualitas
nutrisi yang diperlukan semen juga akan berkurang sehingga kualitas sperma yang
meliputi motilitas dan viabilitas akan menurun dan abnormalitas serta mortalitas
akan meningkat.
4. Minyak Atsiri
Minyak atsiri adalah segala sesuatu yang terkait dengan bau harum yang
berasal dari tumbuhan. Minyak atsiri dari satu tumbuhan dengan tumbuhan yang
lain berbeda. Kebanyakan minyak atsiri memiliki komponen kimia dan komposisi
yang berbeda. Komposisi atau kandungan komponen kimia tersebut sangat
16

penting dalam menentukan aroma dan kegunaannya. Sifat fisik terpenting minyak
atsiri adalah sangat mudah menguap pada suhu kamar. Sehingga sangat
berpengaruh dalam menentukan metode analisis yang akan digunakan dalam
penentuan komponen kimia dan komposisinya (Agusta, 2000).
Minyak atsiri pada tanaman beluntas terdapat pada bagian daun. Ditinjau
dari sumber alami minyak atsiri, substansinya yang mudah menguap dapat
dijadikan ciri khas dari suatu jenis tumbuhan. Setiap tumbuhan yang
menghasilkan minyak atsiri aromanya spesifik. Ada beberapa jenis minyak atsiri
yang memiliki aroma yang mirip, tetapi komponen kimia penyusunnya yang
berbeda.
Golongan terpen dan minyak atsiri bekerja tidak pada proses
spermatogenesis akan tetapi pada proses transportasi. Minyak atsiri dapat
menggumpalkan sperma sehingga menurunkan motilitas dan daya hidup sperma,
akibatnya sperma tidak dapat mencapai sel telur dan pembuahan dapat dicegah
(Winarno, 1997).
2.3 Biologi Mencit (Mus Musculus L)
Manusia dilengkapi oleh Allah dengan akal pikiran untuk menjalankan
tugasnya sebagai kholifah di muka bumi. Sehingga manusia harus menggunakan
indera, akal serta kemampuan berfikir dengan maksimal, untuk senantiasa belajar
dan memahami fenomena berbagai keanekaragaman dari hewan.
Keanekaragaman hewan yang diciptakan oleh Allah memiliki perilaku yang
berbeda-beda, sebagaimana dijelaskan dalam surat An-Nur 45:
17

´<¦´¸ _l> _´ ¸«`,¦: _¸. ¸,!. ¡·¸.¸.· _. _¸:., _ls .¸«¸.L, ¡·¸.¸.´¸ _. _¸:., _ls
¸_>¸¸ ¡·¸.¸.´¸ _. _¸:., ´_ls ¸_,¯¸¦ _l>´ ´<¦ !. ',!:¸ ¿¸| ´<¦ _ls ¸_é ¸,`_: "¸,¸.·
Artinya: Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka
sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan
sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan
dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya,
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S. An-Nur /
24:45).
Pada ayat tersebut Allah menjelaskan tabiat penciptaan mahluk-mahluk-
Nya, yaitu perilaku mahluk-mahluk Allah yang ada di muka bumi. Sebagian ada
yang berjalan dengan “perutnya”, sebagian lagi berjalan dengan “dua kaki”, dan
sebagian yang lainnya berjalan dengan “empat kaki”. Semua berjalan sesuai
dengan tabiat penciptaannya dan masing-masing memiliki keistimewaan yang
dibekali oleh Allah. Semuanya bertasbih kepada Allah “Tapi kalian takkan
memahai (cara) mereka bertasbih kepada-Nya” (Shihab, 2003).
Pada penelitian ini, hewan coba yang digunakan adalah Mencit (Mus
musculus L). Mencit (Mus musculus L) merupakan salah satu hewan percobaan
yang sering digunakan di laboratorium yang biasa disebut dengan tikus putih.
Mencit memiliki ciri-ciri: Mata berwarna merah, kulit berpigmen, berat badan
bervariasi, tetapi umumnya pada umur empat minggu berat badan mencapai 18-20
gram. Mencit dewasa dapat mencapai 30-40 gram pada umur enam bulan atau
lebih. Sekarang memiliki berbagai warna bulu yang timbul dan berbagai macam
galur (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).

18

Az-Zabidi (1997), menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda
ل اق ة سي سه ًب أ نع : ًنب نم تمأ ث دقف ملسو هيلع ا يلص ل ا لىسز ل اق
نابلأ اهل عضو اذإ اهن و سح لأ زافلاا لإ اهازأ ل و جلعف ام ي زديل ليٍاسسإ
دحلااره نثدحف ةسيسه ىبأ لاق هخبسش ءاخشلا نابلأاهل عضو اذاو هب سشح مل لبلا
ابعك ثي
Artinya: Dari Abu hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu „alaihi wa Salam
bersabda: “sekelompok umat dari bani isroil hilang lenyap, tanpa
diketahui sebab apa yang dikerjakan dan tidak terlihat kecuali (dalam
bentuk) tikus. Tidaklah kamu lihat jika (tikus itu) diberi susu unta ia
tidak meminumnya, tetapi jika diberi susu kambing ia meminumnya
(HR. Bukhari & Muslim).
Hadist tersebut menjelaskan bahwa (tikus) mencit perlu diperhatikan
kualitas makanannya. Jika ia tidak mau diberi minum susu unta maka jangan
diberi minum susu unta, dan jika ia mau diberi minum susu kambing maka berilah
susu kambing. Maka sebagai hewan coba mencit harus diberi makanan sesuai
dengan yang paling disukainya dan baik untuk kondisi tubuhnya.
Mencit membutuhkan makan setiap hari sekitar 3 samapi 5 g perhari.
Biasanya mencit labolatorium diberi makan berupa pelet tanpa batas (ad libitum).
Komposisi makanan yang baik bagi mencit adalah: protein, 20-25%; lemak, 10-
12%; pati, 45-55%; serat kasar, 4% atau kurang; dan abu, 5-6%. Selain itu
makanan mencit harus berisi vitamin A (15.000-20.000 IU/Kg); vitamin D (5000
IU/Kg); alfa-tokoferol (50 mg/Kg); asam linoleat (5-10 g/Kg); tiamin (15-20
mg/Kg); riboflavin (8 mg/Kg); pantotenat (20 mg/Kg); vitamin B12 (30 ug/Kg);
biotin (80-200 ug/Kg); pirridoksin (5 mg/Kg); inositol (10-1.000 mg/Kg); dan
kolin (20 g/Kg). Setiap hari mencit dewasa membutuhkan minum 4-8 ml air. Air
19

minum yang baik untuk mencit dapat ditambahkan obat supaya steril yaitu klor
dalam bentuk kloramin 5 mg/liter air, atau natrium hipoklorit, 5-10 ppm dalam air
(Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
Tabel 2.1 Data biologis mencit di laboratorium (Smith dan Mangkoewidjojo,
1988).
Lama hidup
Lama produksi ekonomis
Lama bunting
Kawin sesudah beranak
Umur disapih
Umur dewasa
Umur dikawinkan
Berat dewasa
Jumlah anak
Suhu (rektal)
Pernafasan

Denyut jantung

Tekanan darah


Konsumsi oksigen
Volume darah
1-2 tahun, bisa sampai 3 tahun
9 bulan
19-21 hari
1 sampai 24 jam
21 hari
35 hari
8 minggu (jantan dan betina)
20-40 g jantan; 18-35 g betina
Rata-rata 6, bisa 15
35-39
o
C (rata-rata 37,4
o
C)
140-180/menit, turun menjadi 80 dengan
anestasi, naik sampai 230 dalam stres
600-650/menit, turun menjadi 350 dengan
anestesi, naik sampai 750 dalam stres
130-160 sistol; 102-110 diastol, turun
menjadi 110 sistol, 80 diastol dengan
anestesi
2,38-4,48 ml/g/jam
75-80 ml/kg
20

Mencit berkembang biak sepanjang tahun. Pembiakan mencit akan lebih
efisien kalau kamarnya memperoleh cahaya selama 14 jam dan gelap selama 10
jam tiap hari. Kebanyakan mencit mampu kawin pada umur kurang lebih 5
minggu. Tetapi, lebih baik mencit tidak dikawinkan sebelum umur 8 minggu.
Estrus terjadi tiap 4-5 hari dan segera setelah beranak. Biasanya estrus mulai jam
empat sore dan jam 10 malam, dan biasanya betina kawin dalam tiga jam pertama
periode estrus (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
2.4 Sistem Reproduksi Mencit (Mus musculus L) Jantan
Sistem reproduksi mencit jantan terdiri atas sepasang kelenjar kelamin
(testis) yang merupakan bagian alat kelamin utama, saluran reproduksi, kelenjar
reproduksi dan alat kelamin bagian luar (Partodiharjo, 1992). Dalam testis
terdapat sel leydig yang menghasilkan hormon kejantanan: androgen atau
testosteron. Sel leydig ini sistem kerjanya dipengaruhi oleh hormon LH
(luteinizing hormone) dari hipofisa. Testosteron yang dihasilkan akan berdifusi
masuk ke tubulus seminiferus untuk mengontrol spermatogenesis dan tugas
pemeliharaan sel sertoli (Yatim, 1994). Menurut Fradson, et al (2003) sel sertoli
berfungsi untuk memberi nutrisi pada proses spermatogenesis dan sel ini sistem
kerjanya dipengaruhi oleh hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan
testosteron di dalam testis.
Di dalam testis mencit terdiri dari tubulus seminiferus dan jaringan stroma.
Lapisan dalam sel epitel tubulus seminiferus terdapat sel germinatif dan sel
sertoli, sedangkan pada jeringan stroma terdapat pembuluh darah, limfe, sel saraf,
sel makrofag dan sel leydig. Sel leydig berfungsi menghasilkan hormon
21

testosteron. Sekresi hormon oleh sel leydig di kontrol oleh hormon gonadotropin.
Bila sekresi hormon gonadotropin mengalami hambatan maka sekresi testosteron
akan mengalami penurunan (Soewolo, 2005 dalam Hasanah 2009). Penurunan
testosteron akan mengakibatkan terganggunya proses spermatogenesis dalam
testis, karena testosteron sangat penting dalam perkembangan pematangan
spermatozoa.
Menurut Yatim (1996) saluran reproduksi jantan terdiri dari: ductuli
efferens, epididimis, vas deverens, ductus ejakulatoris dan uretra. Terdapat dua
macam sel epitel yang melapisi ductuli efferens yaitu sel epitel yang bersilia dan
bermikrofili. Epididimis merupakan tempat pematangan dan penyimpan
spermatozoa, di dalam epididimis terdapat lapisan epitel yang membentuk cairan
lingkungan yang cocok bagi pematangan spermatozoa. Saluran vas deferens
berlumen lebih besar dan berdinding lebih tebal dari saluran sebelumnya, lapisan
terdalam disebut lapisan mukosa yang membentuk lipatan longitudinal. Menurut
Turner (1985) duktus ejakulatoris memiliki otot-otot yang kuat dan berperan
selama ejakulasi. Saluran ini bermuara pada uretra. Uretra tersusun atas
sekelompok sel epitel transisional, jaringan ikat longgar, banyak terdapat
pembuluh darah dan dibungkus lapisan otot lurik yang tebal. Gambar organ
reproduksi mencit akan disajikan pada gambar 2.2.
22


Gambar 2.2 Gambar organ reproduksi mencit jantan(Lusiyawati, 2008)

Menurut Ganong (1983) testis dibentuk dari lengkung-lengkung tubulus
seminiferus convolutus disepanjang dindingnya, yang merupakan tempat
pembentukan sperma dengan suatu proses yang biasa disebut dengan
spermatogenesis. Kedua ujung tiap-tiap lengkung bermuara ke dalam jala-jala
saluran epididimis. Dari sini spermatozoa masuk ke dalam saluran vas deverens.
Kemudian spermatozoa masuk melalui ductus ejakulatoris ke dalam uretra dalam
corpus prostat pada saat ejakulasi.
23


Gambar 2.3 Gambar Testis mencit (Mus musculus L) (Yatim, 1994)
Keterangan Gambar:
1. cae :cauda epididymis 8. rtv : rongga tunica vaginalis
2. ce :caput epididymis 9. st : septula testis
3. coe :corpus epididymis 10. t : testis
4. de :ductuli everens 11. ta : tunica albuginea
5. it :lobula testis 12. tr : tubuli recti
6. rt :rete testis 13. ts : tubuli seminiferi
7. tv : tunica vaginalis 14. d : vas deverens

Kelenjar seks asesoris secara umum memiliki fungsi memproduksi semen
sebagai media transport sperma. Semen menyediakan nutrisi untuk sperma, juga
mengaktifkan buffer dan kadar asam pada alat reproduksi jantan. Kelenjar seks
asesoris terdisi dari: ampula, vesikula seminalis, kelenjar prostate dan kelenjar
bulbouretra. Kelenjar ampula bermuara pada ductuli efferens serta memiliki
fungsi untuk menambah volume dari semen. Vesikula seminalis merupakan
sepasang kelenjar dengan lipatan-lipatan mukosa dan bercabang banyak. Kelenjar
ini berasal dari evaginasi vas deverens, karena itu strukturnya sama (Fradson et al.
24

2003). Kelenjar prostat terdiri dari tiga lobi yaitu: kelenjar koagulasi, lobi dorsal,
lobi lateral. Kelenjar prostat dibina atas lapisan mukosa, lapisan otot polos, dan
lapisan jaringan ikat. Kelenjar bulbourethalis terletak di belakang urethra,
sebelum penis. Lapisan mukosa mengandung kelenjar tubulo alveolar, diselaputi
jaringan otot polos, otot lurik dan jaringan ikat. Penis adalah genitalia luar jantan,
untuk menyalurkan semen ke dalam tubuh betina (Yatim, 1994).
2.5 Fisiologi Reproduksi Mencit (Mus musculus L) Jantan
Kelenjar hipofisa anterior mensekresikan dua gonadotropin yaitu: hormon
perangsang folikel (follicle stimulating hormon = FSH) dan luteinisasi hormon
(LH). Kedua hormon ini memegang peranan utama mengatur fungsi seksual
jantan. Pembentukan spermatogenesis diatur oleh hormon FSH dan testosteron.
Bila tidak ada FSH spermatogenesis tidak akan terjadi. Agar spermatogenesis
berlangsung sempurna, testosteron harus disekresi dalam jumlah sedikit oleh sel
interstisiai secara serentak. Jadi FSH berfungsi untuk mengawali proses proliferasi
spermatogenesis dan testosteron diperlukan untuk pematangan akhir spermatozoa.
Karena testosteron disekresikan oleh sel leydig yang diatur oleh LH, maka secara
tidak langsung LH juga merangsang spermatogenesis (Guyton, 1987).
LH dan FSH diatur bergantian oleh sebuah hormon dari hipotalamus, yaitu
hormon pembebas dari gonadotropin (GnRH). Kosentrasi LH, FSH dan GnRH
dalam darah diatur melalui umpan-balik negatif oleh androgen. GnRH juga
dikontrol melalui umpan balik-negatif dari LH dan FSH (Mattheij, 1999). FSH
yang berlebihan akan dihambat melalui mekanisme umpan balik inhibin, inhibin
25

adalah hormon nonsteroid. Berikut adalah bagan mekanisme hormonal pada
mencit jantan:











Gambar 2.4 Kontrol Hormonal Pada Testis(Campbell, 2004)
Aromatase adalah enzim yang mampu mengkatalis konversi androgen
menjadi estrogen. Bila kerja enzim dihambat maka testosteron akan meningkat.
Testosteron yang berlebih dalam testis akan menyebabkan feedback negatif pada
hipotalamus, sehingga hipothalamus sedikit mensekresikan GnRH (Gonadotropin
Releasing Hormone) tidak dapat menggertak hipofisa anterior, sehingga hipofisa
anterior sedikit untuk mensekresikan FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH
(Luteinizing Hormone) sehingga proses spermatogenesis terganggu (Ganong,
1983).
2.5.1 Hormon Reproduksi Jantan
Testis mensekresikan beberapa hormon seks yang bersama-sama dinamai
androgen. Tetapi salah satu diantaranya, testosteron, jauh lebih banyak dan lebih
kuat daripada lainnya serta dapat dianggap merupakan satu hormon yang
bermakna dan bertanggung jawab akan efek hormonal jantan. Testosteron
dibentuk oleh sel leydig yang terletak pada intersitial antara tubulus seminiferus
26

dan membentuk sekitar 20 persen massa testis dewasa. Androgen merupakan
senyawa steroid (Guyton, 1987).
Sel-sel leydig merupakan tempat utama sintesis steroid dalam testis yang
dipercepat dengan LH. Testosteron dan dehidrotestosteron merupakan hormon
androgen yang paling penting memacu pertumbuhan penis, vas deferens, vesikula
seminalis, kelenjar prostat, epididimis, dan sifat kelamin sekunder pada jantan
(Soewolo, 2000).
Menurut (Matheij et al., 1999) menyatakan bahwa fungsi dari androgen
dan testosteron adalah menstimulasi perkembangan dan pertumbuhan ductuli dari
organ kelamin jantan, bertanggung jawab terhadap perkembangan dan
pemeliharaan karakteristik seks sekunder jantan dan menghalangi GnRH sekresi
dari hypothalamus dan stimulasi dari langkah terakhir dari proses spermatogenase,
yaitu spermiogenese.
Sistem reproduksi jantan dikendalikan oleh poros hipotalamus-hipofisis-
testis. Hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus yang mempengaruhi reproduksi
jantan adalah GnRH (Gonadotropin Releasing Hormon). GnRH terdiri dari FSH-
RF dan LHRF. Hipofisis menghasilkan hormon FSH (Folicle Stimulating
Hormon) dan LH atau ICSH (Intersitial Cell Stimulating Hormon) (Susetyarini,
2003).
Sekresi testosteron dibawah pengawasan LH, dengan mekanisme hormon
LH merangsang sel leydig melalui peningkatan pembentukan siklik AMP. Siklik
AMP meningkatan pembentukan kolesterol dari ester kolesterol dan perubahan
27

kolesterol menjadi pregnenolon melalui pengaktifan protein kinase (Ganong,
1983).
Pembentukan spermatogenesis selain dipengaruhi oleh testosteron, LH,
juga dipengaruhi oleh hormon FSH. FSH berfungsi untuk menggertak testis dan
memacu proses spermatogenesis, yaitu pembentukan spermatogonia menjadi
spermatid. Selain itu FSH juga merangsang sel sertoli dalam pembentukan protein
pengikat androgen (ABP), berperan dalam pengangkutan testosteron ke dalam
tubulus seminiferus dan epididimis. Mekanisme ini penting untuk mencapai kadar
testosteron yang dibutuhkan untuk terjadinya spermatogenesis. Selain membentuk
protein pengikat androgen (ABP), sel sertoli juga membentuk inhibin. Inhibin
adalah suatu hormon nonsteroid yang mempunyai mekanisme umpan balik untuk
menghambat produksi FSH yang berlebihan (Susetyarini, 2003).
Hasil penelitian dari Satriyasa (2008) menyatakan bahwa; FSH sangat
dibutuhkan pada saat aktifitas proliferasi dari spermatogonium, sehingga jika FSH
terhambat maka suplai glukosa dan sintesis protein juga terhambat. Selain itu FSH
juga berperan penting dalam menunjang tahap pematangan maupun reduksi
meiosis dari spermatosit primer. Jika FSH turun maka akan menyebabkan
perubahan sitoskeletal sel sertoli sehingga menyebabkan suplai laktat dan piruvat
pada spermatosit primer dan spermatid juga akan menurun.
2.5.2 Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses perkembangan spermatogonia menjadi
spermatozoa dan berlangsung sekitar 64 hari. Spermatogenesis terjadi pada semua
tubulus seminiferus selama kehidupan seks aktif, sebagai akibat perangsangan
28

hormon-hormon gonadotropin adenohipofisis dan terus berlangsung selama hidup.
Tubulus seminiferus mengandung banyak sel epitel germinativum yang berukuran
kecil sampai sedang yang dinamakan spermatogonia, yang terletak di 2/3 lapisan
epitel tubulus. Sel-sel ini terus mengalami proliferasi untuk menyempurnakan diri,
dan sebagian berdiferensiasi melalui stadium-stadium definitif perkembangan
untuk membentuk sperma (Guyton, 1987).
Stadium pertama spermatogenesis adalah pertumbuhan beberapa
spermatogonia menjadi sel yang sangat besar yang disebut spermatosit primer,
kemudian spermatosit primer akan mengalami pembelahan secara meiosis
menjadi spermatosit sekunder, kemudian akan menjadi spermatid. Spermatid tidak
akan membelah lagi tetapi mengalami maturasi untuk menjadi spermatozoa
(Guyton, 1987).
Spermatogenesis pada mencit memerlukan waktu 35,5 hari atau
spermatogenesis akan selesai menempuh 4 kali daur epitel seminiferus. Lama satu
kali daur epitel seminiferus pada mencit adalah 207 jam ± 6,2 (Hasanah, 2009).
Secara umum spermatogenesis dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu tahap
proliferasi, tahap pertumbuhan, tahap pematangan dan tahap
transformasi/spermiogenesis. Pada spermatogenesis, folicle stimulating hormon
(FSH) memiliki peranan penting, yaitu berperan dalam menstimulasi kejadian
awal spermatogenesis diantaranya proliferasi spermatogonia (Satriyasa, 2008).



29












Gambar 2.5 Proses Spermatogenesis Pada Mencit(Campbell, 2004)
Pada tahap proliferasi atau perbanyakan, spermatogonium mengalami
pembelahan mitosis berkali-kali menjadi spermatogonium tipe A, kemudian
mengalami proliferasi dan hasilnya disebut spermatogonium tipe B.
Spermatogonium tipe B memiliki inti bundar dan nukleolus agak di tengah.
Spermatogonium tipe B bermitosis lagi menjadi spermatosit primer. Spermatosit
primer akan segera mengalami pembelahan meiosis. Pada meiosis I spermatosit
primer menempuh fase leptoten, zigoten, pakiten, diploten dan diakinesis dari
profase lalu metafase, anafase dan telofase. Pada meiosis II pun menempuh
profase, metafase, anafase dan telofase (Yatim, 1994). Hormon FSH berperan
penting dalam menunjang tahap pematangan maupun reduksi meiosis spermatosit
primer (Turek, 2005).
30

Menurut Suryo (2005) ciri dari masing-masing stadia sebagai berikut: (a)
Lepototene memperlihatkan kromosom sebagai benang panjang, sehingga
masing-masing kromosom belum dapat dikenal; (b) Zigotene memperlihatkan
bahwa kromosom-kromosom homolog berpasangan; (c) Pakiten memperlihatkan
kromosom homolog menggandeng rapat sepanjang lengannya dari pangkal
menuju ke ujung kromosom homolog serta membentuk tetrad; (d) Diploten
memperlihatkan benang-benang kromosom tampak semakin jelas karena adanya
kontraksi dari kromosom sehingga kromosom tampak semakin menebal. Pada
stadia ini berlangsung proses biologis yang sangat penting yaitu pindah silang
(“crosing over”); (e) Diakinesis yang merupakan stadia terakhir memperhatikan
kromosom-kromosom makin memendek dan kiasmata semakin jelas. Dari meiosis
I akan dihasilkan dua sel anak spermatosit sekunder, masing-masing berisi satu set
kromosom tunggal.
2.5.2.1 Spermiogenesis
Spermiogenesis disebut juga tahap transformasi yaitu tahap perubahan
bentuk dan komposisi spermatid yang bundar menjadi bentuk cebong yang
memiliki kepala, leher dan ekor serta berkemampuan untuk bergerak (motil)
(Yatim, 1996). Transformasi spermatid menjadi spermatozoa mengalami empat
fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan (Yatim, 1994).
Spermiogenesis diawali pada aparatus golgi membentuk granula
proakrosomal. Granula yang tersebar menyatu menjadi granula yang besar,
kemudian granula akrosomal terdapat dalam membran yang dinamakan vesikel
akrosomal. Secara serentak sentriola bermigrasi ke kutub posterior spermatid.
31

Dari salah satu sentriola timbul flagelum bergelombang pada permukaan sel untuk
membentuk ekor spermatozoa sentriola lain bermigrasi membentuk leher sekitar
bagian permukaan ekor. Sitoplasma akan bergeser ke arah flagelum dan meliputi
bagiannya. Sitoplasma yang tidak digunakan dalam proses pembentukan
spermatozoa dibuang dari sel sebagai bahan residu yang difagosit dan dicernakan
oleh sel-sel sertoli (Junquiera, 1980 dalam Hasanah, 2009).

Gambar 2.6 Tansformasi Spermatid(Yatim, 1994)
Keterangan gambar:
1. A-B: fase golgi 11. agr : butiran acrosom
2. C : fase tutup 12. anc : tutup depan
3. D : fase acrosom 13. fl : flagellum
4. E : fase pematangan 14. in : inti
5. ac : tutup acrosom 15. mct : machotte
6. ago : alat golgi 16. mt : mitokondria
7. pag : proakrosomal granules 17. sd : sentriol depan
8. pnc : tutup inti belakang 18. sf : seludang fibrosa
9. rcy : recidual cytoplasma 19. Smt : seludang mitokondria
10. sb : sentriol belakang
Yatim (1994) menjelaskan proses spermiogenesis adalah sebagai berikut:
1. Fase golgi, terjadi saat butiran proakrosom terbentuk dalam alat golgi
spermatid. Butiran atau granula ini nanti bersatu membentuk satu butiran
akrosom butiran ini dilapisi membran dalam gembungan akrosom (acrosomal
32

vesicle). Gembungan ini melekat ke salah satu sisi inti yang bakal jadi bagian
depan spermatozoon.
2. Fase tutup, saat gembungan akrosom makin besar, membentuk lipatan tipis
melingkupi bagian kutub yang bakal jadi bagian depan. Akhirnya terbentuk
semacam tutup atau topi spermatozoa.
3. Fase akrosom, terjadi redistribusi bahan akrosom. Nukleoplasma
berkondensasi, sementara itu spermatid memanjang. Bahan akrosom kemudian
menyebar membentuk lapisan tipis meliputi kepala tertutup, sampai akrosom
dan tutup kepala membentuk tutup akrosom (disingkat akrosom saja).
Sementara itu, inti spermatid memanjang dan menggepeng. Butiran
nukleoplasma mengalami transformasi menjadi filamen-filamen (benang halus)
yang pendek dan tebal serta kasar.
4. Fase pematangan, terjadi perubahan bentuk spermatid sesuai dengan ciri
spesies. Butiran inti akhirnya bersatu, dan inti jadi gepeng bentuk pyriform,
sebagai ciri spermatozoa Primata dan khususnya manusia. Ketika akrosom
terbentuk di bakal jadi bagian depan spermatozoa, sentriol pun bergerak ke
kutub berseberangan. Sentriol terdepan membentuk flagelum, sentriol satu lagi
membentuk kelepak sekeliling pangkal ekor. Mitokondria membentuk cincin-
cincin di bagian middle piece ekor, dan selubung fibrosa di luarnya.
Mikrotubul muncul dan berkumpul di bagian samping spermatid membentuk
satu batang besar, disebut manchette. Manchette ini menjepit inti sehingga jadi
lonjong, sementara spermatid sendiri memanjang, dan sitoplasma terdesak ke
belakang inti.
33

2.6 Sel Leydig
Tubula-tubula dalam spermatogen berbentuk tergulung dalam stroma
jaringan penyambung longgar. Dalam jaringan ini, dan terpisah dari tubula
terdapat kelompok sel yang berkumpul dalam gumpalan atau tersusun dalam
lapisan-lapisan tipis sepanjang pembuluh darah. Sel ini adalah sel-sel leydig. Sel
leydig merupakan sumber dari androgen testikuler (hormon laki-laki) dan sedikit
sekali hormon wanita seperti estron dan estradiol (Bevelander dan Ramelay,
1988).
Sel leydig memiliki susunan yang rapat, umumnya berbentuk polihedral
dengan inti di tengah. Inti berbentuk bundar dan besar, dengan heterokromatin
terletak di pinggir, dan nukleolus itu tampak jelas (kadang-kadang nukleolus itu
ada dua). Sel leydig yang ada di pinggiran sering berbentuk gelendong. Dalam
sitoplasma sering ditemukan kristal reinke yang berbentuk runcing atau bundar
lonjong dan dalam sedian tampak bening. Karena makin lanjut umur makin
banyak kristal ini ditemukan dalam sel leydignya, maka dikira ini adalah semacam
ampas metabolisme (Yatim, 1994).
Sekresi sel leydig sangat dipengaruhi oleh hormon pituitari LH (hormon
luteinisasi) yang juga disebut ICSH (interstitial cell-stimulating hormon) (hormon
yang merangsang pembentukan sel interstitial) pada laki-laki. Hormon ini sangat
diperlukan dalam perkembangan seks sekunder pada laki-laki. Jika terjadi kastrasi
pada saat kematangan seks berlangsung, maka efeknya pada sifat-sifat sekunder
yang telah tertanam tidak mampu berkembang dengan baik layaknya laki-laki
normal (Bevelander dan Ramelay, 1988).


34

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL). Perlakuan di kelompokkan menjadi 5 kelompok dengan 5 kali ulangan.
Perlakuan yang digunakan terdiri dari:
1. Kelompok P1 : Kelompok pembanding tanpa perlakuan sebanyak 5 ekor
mencit diberi 0,5 ml aquades serta makan dan minum.
2. Kelompok P2 : Kelompok perlakuan sebanyak 5 ekor mencit yang diberi
larutan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 12,5 mg/kg
bb, makan dan minum.
3. Kelompok P3 : Kelompok perlakuan sebanyak 5 ekor mencit yang diberi
larutan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 62,5 mg/kg
bb, makan dan minum.
4. Kelompok P4 : Kelompok perlakuan sebanyak 5 ekor mencit yang diberi
larutan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 125 mg/kg
bb, makan dan minum.
5. Kelompok P5 : Kelompok perlakuan sebanyak 5 ekor mencit yang diberi
larutan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 187,5 mg/kg
bb, makan dan minum.
35

3.2 Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas : Ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less)
dengan dosis 12,5 mg/kg bb, 62,5 mg/kg bb,
125 mg/kg bb, 187,5 mg/kg bb.
2. Variabel tergantung : Jumlah sel spermatogonia, spermatosit primer,
spermatid dan sel leydig.
3. Variabel kendali : Jenis hewan uji coba yaitu mencit galur balb/c
jenis kelamin jantan, kandang atau bak plastik
dengan alas sekam, pakan mencit dan air
minum.
3.3 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2010 di Laboratorium
Fisiologi hewan, jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam
Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
3.4 Populasi dan Sampel
Hewan uji yang dipakai adalah mencit (Mus musculus L) galur balb/c jenis
kelamin jantan, umur 2 bulan dengan berat badan rata-rata 20-30 gram sebanyak
25 ekor.




36

3.5 Alat dan Bahan
3.5.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang hewan coba (bak
plastik), tempat makan dan minum mencit, alat pencekok oral (gavage),
timbangan analitik, hot plate, labu ukur, gelas ukur, beaker glass, kaca glass,
obyek glass, corong bughner, ayakan tepung/ kertas saring, mikrotom, hand
counter, pipet tetes, seperangkat alat bedah, botol specimen, rotari evaporator,
mikroskop komputer dan alat optik mikrotom.
3.5.2 Bahan
Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah serbuk beluntas,
aquades steril, pakan mencit berupa pellet (protein 10%, lemak 3%, serat 8%, dan
kadar air 12%), formalin 10%, alkohol 70%, 80%, 90%, dan 95%, gelatin 0,5%,
xylol, parafin, air, hematoxilin, eosin, etanol mutlak, etilen dan CMC 0,5%.
3.6 Pelaksanaan Penelitian
3.6.1 Persiapan Hewan Coba
Sebelum penelitian dilakukan disiapkan tempat pemeliharaan hewan coba
yang meliputi kandang (bak plastik) berbentuk segi empat, sekam, tempat makan
dan minum mencit.
3.6.2 Persiapan Perlakuan
Serbuk beluntas (Pluchea indica Less) diperoleh dari balai Materia
Medica, Batu. Kemudian dimaserasi dengan menggunakan etanol 96% selama 3
hari sambil diaduk. Hasilnya disaring dengan corong Buchner untuk mendapatkan
filtratnya dan dipekatkan dengan menggunakan Rotari Evaporator sampai pelarut
37

menguap, sehingga pada akhirnya diperoleh ekstrak yang kental kemudian
hasilnya ditimbang.
3.6.3 Kegiatan Penelitian
Pemberian ekstrak beluntas (Pluchea indica Less) dilarutkan dengan CMC
0,5%. Ekstrak beluntas (Pluchea indica Less) diberikan secara oral menggunakan
gavage dengan volume tidak melebihi volume intragestik (1 ml) mencit. Beluntas
(Pluchea indica Less) diberikan pada mencit sekali setiap hari yaitu pada pagi hari
jam 08.00-11.00 WIB selama 36 hari dengan dosis 12,5 mg/kg bb, 62,5 mg/kg bb,
125 mg/kg bb, 187,5 mg/kg bb mencit. Pada hari ke 37 seluruh mencit dibius
dengan eter, dibedah dan diambil kedua testisnya untuk dibuat preparat
mikroanatomi. Sediaan mikroanatomi testis mencit diamati dibawah mikroskop
dengan perbesaran 100 kali (10 X 10) dan difoto.
Pengamatan dilakukan pada tubulus seminiferus yang terpotong bundar
atau lonjong dan diambil secara random. Perhitungan dilakukan pada tiga tubuli
dan selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah sel spermatogonium, spermatosit
primer, spermatid dengan cara menghitungnya satu-persatu sampai mengitari
tubulus seminiferus. Jumlah sel Leydig dihitung pada semua lapangan pandang,
kecuali pada sediaan yang tubulus seminiferusnya terpotong lebih dari setengah.
3.6.4 Pembuatan Preparat Sayatan Testis Mencit
1. Tahap pertama Coating, dimulai dengan menandai obyek glass yang akan
digunakan dengan kikir kaca pada area tepi lalu direndam dalam alkohol 70
% minimal semalam, kemudian obyek glass dikeringkan dengan tissue dan
dilakukan perendaman dalam larutan gelatin 0,5 % selama 30-40 detik per
38

slide lalu dikeringkan dengan posisi disandarkan sehingga gelatin yang
melapisi kaca dapat merata.
2. Tahap kedua, organ testis yang telah disimpan dalam larutan formalin 10%
dicuci dengan alkohol selama 2 jam dilanjutkan dengan pencucian secara
bertingkat dengan alkohol yaitu alkohol 90%, 95%, etanol absolut (3 kali)
xylol (3 kali) masing-masing selama 20 menit.
3. Tahap ketiga adalah proses infiltrasi yaitu dengan menambahkan parafin 3
kali selama 30 menit.
4. Tahap keempat adalah embedding bahan beserta parafin dituangkan dalam
kotak karton atau wadah yang sudah disiapkan dan diatur sehingga tidak ada
udara yang terperangkap disekat bahan. Blok parafin disimpan selama
semalam dalam suhu ruang kemudian diinkubasi dalam freezer sehingga
benar-benar keras.
5. Tahap pemotongan dengan mikrotom. Cutter dipanaskan dan ditempelkan
pada dasar balok sehingga parafin sedikit meleleh. Holder dijepitkan pada
mikrotom putar dan ditata sejajar dengan pisau mikrotom. Pengirisan atau
penyayatan dimulai dengan mengatur ketebalan, untuk testis dipotong dengan
ukuran 5 µm kemudian pita hasil irisan diambil dengan menggunakan kuas
dimasukkan ke dalam air dingin untuk membuka lipatan kemudian masukkan
dalam air hangat dan dilakukan pemilihan irisan yang terbaik. Irisan yang
terpilih diambil dengan obyek glass yang sudah dicoating lalu dikeringkan
diatas hot plate.
39

6. Tahap deparanisasi yakni preparat dimasukkan dengan larutan dalam xylol
sebanyak 2 kali 5 menit.
7. Tahap rehidrasi, preparat dimasukkan dalam larutan etanol bertingkat mulai
dari etanol absolut (2 kali) etanol 95%, 90%, 80% dan 70% masing-masing
selama 5 menit. Kemudian prepart direndam dalam aquades selama 10 menit.
8. Tahap pewarnaan, preparat ditetesi dengan hematoxilin selama 3 menit atau
sampai didapatkan hasil warna yang terbaik. Selanjutnya dicuci dengan air
mengalir selama 30 menit dan dibilas dengan aquades selama 5 menit.
9. Tahap dehidrasi, preparat direndam dengan etanol 80%, 90% dan 95% dan
etanol absolut (2 kali) masing-masing selama 5 menit.
10. Tahap clearing dalam larutan xylol 2 kali selama 5 menit kemudian
dikeringkan.
11. Mounting dengan etilen hasil akhir akan diamati dengan mikroskop dan
dipotret kemudian data dicatat.
12. Pemotretan preparat dalam pengamatan di mikroskop disajikan secara jelas.
3.7 Analisis Data
Analisis yang digunakan adalah ANOVA satu arah. Apabila dari hasil
analisis diperoleh nilai F
hitung
> F
tabel
(0,01) dilanjutkan dengan uji Beda Nyata
Terkecil (BNT) dengan taraf signifikan 1%.


40

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap sayatan testis mencit yang diberi
ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 12,5 mg/kg bb, 62,5
mg/kg bb, 125 mg/kg bb, 187,5 mg/kg bb dan kontrol. Sel-sel yang diamati yaitu
sel spermatogonium, sel spermatosit primer, sel spermatid dan sel leydig yang
terdapat pada tubulus seminiferus testis seperti yang disajikan pada gambar
berikut 1.1.
Dari gambar 1.1 sudah terdapat perbedaan kerapatan dari sel-sel
spermatogenik dan sel leydig antara kontrol (P1), berbeda dengan pemberian
ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dosis 12,5 mg/kg bb (P2), berbeda
pula dengan pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dosis 62,5
mg/kg bb (P3), juga berbeda dengan pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) dosis 125 mg/kg bb (P4), serta berbeda dengan ekstrak daun beluntas
dosis 187,5 mg/kg bb (P5). Semakin tinggi dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) yang diberikan maka kerapatan dari sel spermatogenik dan sel leydig
semakin berkurang, hal ini menunjukkan bahwa sel-sel tersebut mengalami
pengurangan jumlah atau sel-sel mengalami degenerasi.

41






(P1) (P2)







(P3) (P4)


(P5)
Gambar 4.1 Tubulus seminiferus: (P1) Kontrol, (P2) dosis 12,5 mg/kg bb, (P3)
62,5 mg/kg bb, (P4) 125 mg/kg bb, (P5) 187,5 mg/kg bb, (1) sel
leydig, (2) sel spermatogonium, (3) sel spermatosit primer, (4) sel
spermatid, (perbesaran 100X).

42

4.1.1 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel
Spermatogonium.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap jumlah rata-rata sel spermatogonium
tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan dan kiri menunjukkan penurunan
seiring dengan bertambahnya dosis yang diberikan, seperti disajikan pada gambar
4.2.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan anava tunggal tentang
pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel
spermatogonium pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maupun
sebelah kiri diperoleh data yang menunjukkan bahwa F
hitung
> F
tabel (0,01)
. Hal
tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak
daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium
sebagaimana tercantum dalam tabel 4.1 dan 4.3.

Gambar 4.2 Diagram batang tingkat penurunan jumlah sel spermatogonium pada
perlakuan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less). (P1) kontrol,
(P2) dosis 12,5 mg/kg bb, (P3) 62,5 mg/kg bb, (P4) 125 mg/kg bb,
(P5) 187,5 mg/kg bb, dengan perbesaran 100X.
0
50
100
150
200
250
P1 P2 P3 P4 P5
Kanan
kiri
43

Tabel 4.1 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium pada tubulus
seminiferus testis mencit sebelah kanan

Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut
BNT (Beda Nyata Terkecil) 1%. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT)
1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maka didapatkan
notasi BNT pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica
Less) terhadap jumlah sel spermatogonium pada testis sebelah kanan
Dari hasil tabel 4.2 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas
(Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium tubulus seminiferus
mencit pada perlakuan 187,5 mg/kg bb (P5) berbeda dengan perlakuan 125 mg/kg
bb (P4), juga berbeda dengan perlakuan 62,5 mg/kg bb (P3), begitu juga dengan
perlakuan 12,5 mg/kg bb dan kontrol (P1). Berdasarkan uji BNT 1% dapat
diketahui bahwa dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang mampu
menurunkan sel spermatogonium tubulus seminiferus paling baik adalah dosis
187,5 mg/kg bb (P5).
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 34614,0718 8653,51795 228,25 4,43
Galat 20 758,2454 37,91227
Total 24 35372,3172
Perlakuan Rata-rata Notasi
P5
P4
P3
P2
P1
108,264
121,798
143,528
177,596
210,062
a
b
c
d
e
44

Tabel 4.3 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium pada tubulus
seminiferus testis mencit sebelah kiri.
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut
BNT (Beda Nyata Terkecil) 1%. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT)
1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri maka didapatkan
notasi BNT pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica
Less) terhadap jumlah sel spermatogonium pada testis sebelah kiri.
Perlakuan Rata-rata Notasi
P5
P4
P3
P2
P1
108,53
127,064
144,386
171,73
221,396
a
ab
b
c
d
Berdasarkan hasil uji BNT 1% dapat diketahui bahwa pemberian ekstrak
daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium tubulus
seminiferus testis mencit pada perlakuan kontrol (P1) berbeda dengan perlakuan
lainnya, perlakuan 12,5 mg/kg bb (P2) berbeda dengan perlakuan yang lainnya,
perlakuan 6,25 mg/kg bb (P3) tidak berbeda dengan perlakuan 125 mg/kg bb
tetapi berbeda dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan 125 mg/kg bb tidak
berbeda dengan perlakuan 62,5 mg/kg bb (P3) dan 187,5 mg/kg bb (P5) tetapi
berbeda dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan 187,5 mg/kg bb tidak berbeda
dengan perlakuan 125 mg/kg bb (P4) tetapi berbeda dengan perlakuan yang
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 38700,7114 9675,17785 61,93 4,43
Galat 20 3136,5085 156,825425
Total 24 41837,2199
45

lainnya. Dosis yang paling baik dalam menurunkan jumlah sel spermatogonia
tubulus seminiferus dari mencit adalah 187,5 mg/kg bb (P5).
Dari tabel 4.1 dan tabel 4.3 diketahui hasil perhitungan ANAVA tunggal
menunjukkan penurunan jumlah sel spermatogoium tubulus seminiferus mencit
dengan menunjukkan bahwa F
hitung
> F
tabel
0,01. Dengan demikian terdapat
pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap
penurunan jumlah sel spermatogonium tubulus seminiferus mencit.
Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa dengan pemberian ekstrak
daun beluntas (Pluchea indica Less) dalam berbagai dosis, ternyata dosis 187,5
mg/kg bb mampu menurunkan jumlah sel spermatogonium dalam tubulus
seminiferus testis mencit. Setelah uji lanjut dengan BNT 1%, dosis 187,5 mg/kg
bb merupakan dosis yang paling baik untuk menurunkan jumlah sel
spermatogonium.
Disamping itu ada sebagian besar dosis yang berbeda nyata dengan dosis
yang lainnya. Dari jumlah rata-rata perdosis perlakuan menunjukkan bahwa
jumlah spermatogonium mengalami penurunan seiring dengan dosis yang
diberikan. Dengan demikian semakin tinggi dosis yang diberikan maka penurunan
jumlah sel spermatogonium juga makin besar.
Penurunan jumlah sel spermatogonium tubulus seminiferus testis
dimungkinkan akibat zat aktif flavonoid yang didukung oleh senyawa lainnya
yaitu alkaloid dan tanin yang terkandung dalam ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) yang pemberiannya disesuaikan dengan lamanya proses
spermatogenesis tubulus seminiferus testis mencit. Senyawa aktif yang
46

terkandung dalam ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) ini diduga
memiliki sifat sebagai antifertilitas. Senyawa antifertilitas pada prinsipnya bekerja
dengan dua cara yaitu melalui efek sitotoksik atau sitostatik dan melalui efek
hormonal yang menghambat laju metabolisme sel spermatogenik dengan cara
mengganggu keseimbangan sistem hormon (Susetyarini, 2003).
Hasil penelitian dari Latifa (2006) menyatakan bahwa, flavonoid
merupakan golongan senyawa yang berfungsi sebagai antiandrogenik dengan cara
menghalangi kerja enzim aromatase, dimana enzim ini berfungsi untuk
mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen sehingga akibatnya apabila
pembentukan androgen terganggu maka akan terjadi peningkatan pada hormon
testosteron, akibat dari adanya peningkatan testosteron inilah maka mekanisme
umpan balik negatif terhadap hipotalamus tidak akan bisa menstimulasi organ-
organ pelepas (realising faktor) melalui kelenjar hipofisa dan tidak akan melepas
hormon-hormon gonad seperti FSH dan LH.
Kedua hormon ini (FSH dan LH) memiliki peran penting dalam proses
spermatogenesis. LH berfungsi menstimulasi sel Leydig untuk memproduksi
hormon testosteron di dalam testis. Selanjutnya fungsi FSH untuk menggertak
testis dan memacu proses spermatogenesis, yaitu pembentukan spermatogonia
menjadi spermatid. Selain itu FSH juga berfungsi untuk merangsang sel sertoli
dalam pembentukan protein pengikat androgen (ABP) dimana protein ini berperan
dalam pengangkutan testosteron ke dalam tubulus seminiferus dan epididimis
(Ganong, 1983).
47

Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Satriyasa (2008) menyatakan
bahwa terhambatnya FSH ini akan menyebabkan terganggunya proses mitosis dan
proliferasi spermatogonium, karena FSH sangat diperlukan dalam aktifitas
proliferasi sel spermatogonium. Bila pengangkutan glukosa terhambat maka
sintesis protein akan terhambat juga, yang mengakibatkan jumlah sel
spermatogonium terganggu.
Menurut Guyton (1987) suatu hormon bekerja pada membran sel sasaran,
setelah hormon mencapai sel sasaran, hormon akan berikatan dengan reseptor.
Gabungan antara hormon dan reseptor mengaktifkan enzim adenil siklase dalam
membran, dan sebagian adenil siklase yang berhubungan dengan sitoplasma
segera mengubah ATP sitoplasma menjadi cAMP. Karena kosentrasi LH turun
akan menyebabkan gangguan pada saat pengaktifan adenil siklase dalam
membran. Gangguan ini mengakibatkan cAMP menurun dan diikuti menurunnya
fosforilasi protein, proses pembelahan (mitosis dan meiosis) pada
spermatogenesis terhambat.
Hasil penelitian dari Susetyorini (2005) yang menggunakan air perasan
dari daun beluntas menyatakan bahwa, daun beluntas mengandung unsur zat aktif
yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, minyak atsiri yang dapat merusak sel target, di
antaranya adalah sel sertoli, sel spermatogonium, sel spermatosit dan sel
spermatid. Sehingga daun beluntas dapat dijadikan sebagai obat antifertilitas pada
laki-laki.


48

0
50
100
150
200
250
P1 P2 P3 P4 P5
Kanan
kiri
4.1.2 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Spermatosit
Primer.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap jumlah rata-rata sel spermatosit
primer tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan dan kiri menunjukkan
penurunan seiring dengan bertambahnya dosis yang diberikan, seperti disajikan
pada gambar 4.3.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan anava tunggal tentang
pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel
spermatosit primer pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maupun
sebelah kiri diperoleh data yang menunjukkan bahwa F
hitung
> F
tabel (0,01)
. Hal
tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak
daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer
sebagaimana tercantum dalam tabel 4.5 dan 4.7.













Gambar 4.3 Diagram batang tingkat penurunan jumlah sel spermatosit primer
pada perlakuan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less). (P1)
kontrol, (P2) dosis 12,5 mg/kg bb, (P3) 62,5 mg/kg bb, (P4) 125
mg/kg bb, (P5) 187,5 mg/kg bb.
49

Tabel 4.5 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer pada tubulus
seminiferus testis mencit sebelah kanan.
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut
BNT (Beda Nyata Terkecil) 0,01. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT)
1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maka didapatkan
notasi BNT pada tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica
Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer pada testis sebelah
kanan.
Dari hasil tabel 4.6 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas
(Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer tubulus seminiferus
testis kanan mencit pada (P1) kontrol berbeda dengan yang lainnya, perlakuan
(P2) 12,5 mg/kg bb berbeda dengan perlakuan lainnya, perlakuan (P3) 62,5 mg/kg
bb berbeda dengan perlakuan lainnya, perlakuan (P4) 125 mg/kg bb tidak berbeda
dengan perlakuan (P5) 187,5 mg/kg bb tetapi berbeda dengan perlakuan yang
lainnya. Tetapi dari jumlah rata-rata sel spermatosit primer, (P4) dosis 125 mg/kg
bb lebih baik, karena jumlah sel spermatosit primer lebih sedikit.

SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 39451,155 9862,78875 229,52 4,43
Galat 20 859,4216 42,97105
Total 24 40310,5766
Perlakuan Rata-rata Notasi
P4
P5
P3
P2
P1
120,33
120,528
138,596
185,996
220,53
a
a
b
c
d
50

Tabel 4.7 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer pada tubulus
seminiferus testis mencit sebelah kiri.
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 48783,4765 12195,86913 63,829 4,43
Galat 20 3762,4671 188,123355
Total 24 52545,9436
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut
BNT (Beda Nyata Terkecil) 0,01. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT)
1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri maka didapatkan
notasi BNT pada tabel 4.8.
Tabel 4.8 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica
Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer pada testis sebelah kiri.
Perlakuan Rata-rata Notasi
P5
P4
P3
P2
P1
113,33
130,064
132,92
173,528
235,932
a
a
a
b
c
Dari hasil tabel 4.8 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas
(Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer tubulus seminiferus
testis kiri mencit pada (P1) kontrol berbeda dengan yang lainnya, perlakuan (P2)
12,5 mg/kg bb berbeda dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan (P3) 62,5
mg/kg bb tidak berbeda dengan perlakuan (P4) 125 mg/kg bb dan perlakuan (P5)
187,5 mg/kg bb dan berbeda dengan perlakuan yang lainnya. Dosis 187,5 mg/kg
bb memiliki penurunan sel spermatosit primer yang lebih tinggi dari yang lainnya,
sehingga dosis ini merupakan dosis yang paling baik dalam menurunkan jumlah
sel spermatosit primer.
51

Dari tabel 4.5 dan tabel 4.7 diketahui hasil perhitungan ANAVA tunggal
menunjukkan penurunan jumlah sel spermatosit primer tubulus seminiferus
mencit dengan menunjukkan bahwa F
hitung
> F
tabel
0,01. Dengan demikian terdapat
pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap
penurunan dari jumlah sel spermatosit primer tubulus seminiferus mencit.
Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa dengan pemberian ekstrak
daun beluntas (Pluchea indica Less) dalam berbagai dosis, ternyata dosis 187,5
mg/kg bb dan 125 mg/kg bb mampu menurunkan jumlah sel spermatosit primer
dalam tubulus seminiferus testis mencit. Setelah uji lanjut dengan BNT 0,01 dosis
187,5 mg/kg bb dan 125 mg/kg bb tidak berbeda nyata dan merupakan dosis yang
paling baik untuk menurunkan jumlah sel spermatosit primer.
Seperti halnya pada jumlah sel spermatogonium, penurunan jumlah sel
spermatosit primer tubulus seminiferus testis mencit juga dipengaruhi oleh zat
flavonoid yang didukung oleh zat alkaloid dan tanin. Senyawa alkaloid dan tanin
memiliki kaitan biogenesis dengan steroid (Robinson, 1991). Diduga alkaloid,
tanin ikut masuk dalam jalur biosintesa steroid terutama testosteron sehingga akan
dihasilkan bahan yang strukturnya mirip dengan testosteron. Menurut Turner dan
Bagnara (1976) bahan antiandrogenik bekerja secara kompetitif pada lokasi
reseptor jaringan sasaran untuk menghalangi aksi dari steroid androgen. Senyawa
antifertilitas pada prinsipnya bekerja dengan dua cara yaitu dengan efek sitotoksik
atau sitostatik dan melalui efek hormonal yang menghambat laju metabolisme sel
spermatogenik dengan cara mengganggu keseimbangan sistem hormon.
52

Hasil penelitian dari Susetyorini (2003) menyebutkan bahwa senyawa aktif
daun beluntas berpengaruh terhadap kadar testosteron dari tikus putih (Ratus
norvegicus). Senyawa aktif daun beluntas dapat mengganggu proses biosintesis
dari testosteron. Biosintesis testosteron terjadi pada sel leydig dan sel leydig
sangat dipengaruhi oleh hormon LH. Jadi secara tidak langsung akan
mempengaruhi proses spermatogenesis.
Hormon LH yang akan dilepaskan oleh hipofisis akan terikat pada
reseptornya di sel-sel interstetial testis. Setelah terjadi ikatan antara LH dan
reseptornya maka akan terbentuk mesenger kedua yang berupa cAMP.
Terbentuknya cAMP mengaktifkan protein kinase yang akan mempengaruhi inti
sel agar gen–gen yang mengatur biosintesis testosteron menjadi aktif dan mulailah
terjadi sintesis testosteron. Biosintesis testosteron melibatkan berbagai zat, enzim
dan hormon steroid lainnya termasuk hormon–hormon dalam golongan estrogen
dan androgen. Dengan hadirnya flavonoid pengaktivan protein kinase jadi
terhambat sehingga menyebabkan produksi hormon testosteron dan proses
spermatogenesis juga terhambat (Kapsul, 2007).
Partodiharjo (2002) menjelaskan bahwa hipotalamus mensekresi GnRH
(Gonadotrophin Releasing Hormon) hipofisa anterior untuk mensekresi FSH dan
LH. Kedua hormon ini memegang peran utama dalam mengatur fungsi seksual
jantan. FSH dibawa melalui darah menuju testis untuk mengawali proses
proliferasi spermatogenesis selanjutnya LH akan mensekresi testosteron untuk
menyelesaikan proses pematangan dan pembentukan spermatozoa. Gangguan
53

0
50
100
150
200
250
P1 P2 P3 P4 P5
Kanan
kiri
pada proses sekresi FSH dan LH menyebabkan proses pembelahan dan
pematangan sel spermatogenik menjadi terhambat.
Hasil penelitian dari Rusmiati (2007), mengungkapkan bahwa zat aktif
alkaloid, flavonoid dan steroid yang terdapat pada ekstrak kayu secang memiliki
kadar estrogen yang relatif tinggi sehingga menyebabkan terganggunya fungsi
reproduksi melalui hambatan terhadap sekresi FSH. Dengan hambatan tersebut
spermatogenesis terhenti dengan segera dan pemberian lebih lanjut dapat
menyebabkan terjadinya sterilisasi.
4.1.3 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Spermatid.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap jumlah rata-rata sel spermatid
tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan dan kiri menunjukkan penurunan
seiring dengan bertambahnya dosis yang diberikan, seperti disajikan pada gambar
4.4.








Gambar 4.4 Diagram batang tingkat penurunan jumlah sel spermatid pada
perlakuan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less). (P1) kontrol,
(P2) dosis 12,5 mg/kg bb, (P3) 62,5 mg/kg bb, (P4) 125 mg/kg bb,
(P5) 187,5 mg/kg bb.
54

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan anava tunggal tentang
pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel
spermatid pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maupun sebelah
kiri diperoleh data yang menunjukkan bahwa F
hitung
> F
tabel (0,01)
. Hal tersebut
menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak daun
beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid sebagaimana
tercantum dalam tabel 4.9 dan 4.11.
Tabel 4.9 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap jumlah sel spermatid pada tubulus seminiferus
testis mencit sebelah kanan.
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut
BNT (Beda Nyata Terkecil) 0,01. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT)
1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maka didapatkan
notasi BNT pada tabel 4.10.
Tabel 4.10 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica
Less) terhadap jumlah sel spermatid pada testis sebelah kanan.
Perlakuan Rata-rata Notasi
P5
P4
P3
P2
P1
106,396
128,532
164,332
182,198
223,532
a
b
c
d
e
Dari hasil tabel 4.10 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas
(Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid tubulus seminiferus mencit
pada perlakuan 187,5 mg/kg bb (P5) berbeda nyata dengan perlakuan 125 mg/kg
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 42032,38136 10508,09534 97,746 4,43
Galat 20 2150,08104 107,504052
Total 24 44182,4642
55

bb (P4), juga berbeda nyata dengan perlakuan 62,5 mg/kg bb (P3), begitu juga
dengan perlakuan 12,5 mg/kg bb dan kontrol (P1). Berdasarkan uji BNT 1%
dapat diketahui bahwa dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang
mampu menurunkan sel spermatid tubulus seminiferus paling baik adalah dosis
187,5 mg/kg bb (P5).
Tabel 4.11 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap jumlah sel spermatid pada tubulus seminiferus
testis mencit sebelah kiri.
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut
BNT (Beda Nyata Terkecil) 0,01. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT)
1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri maka didapatkan
notasi BNT pada tabel 4.12.
Tabel 4.12 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica
Less) terhadap jumlah sel spermatid pada testis sebelah kiri.
Perlakuan Rata-rata Notasi
P5
P4
P3
P2
P1
106,198
124,532
149,798
171,33
215,33
a
ab
b
c
d
Berdasarkan hasil uji BNT 1% dapat diketahui bahwa pemberian ekstrak
daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid tubulus
seminiferus testis mencit pada perlakuan 187,5 mg/kg bb (P5) tidak berbeda nyata
dengan perlakuan 125 mg/kg bb (P4) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang
lainnya, perlakuan 125 mg/kg bb (P4) tidak berbeda nyata dengan (P5) dan
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 36155,83686 9038,959215 76,202 4,43
Galat 20 2372,36504 118,618252
Total 24 38528,2019
56

perlakuan (P3) dan berbeda dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan 62,5 mg/kg
bb (P3) tidak berbeda nyata dengan perlakuan (P4) tetapi berbeda nyata denga
perlakuan yang lainnya, perlakuan 12,5 mg/kg bb berbeda dengan perlakuan yang
lainnya dan perlakuan kontrol (P1) berbeda dengan perlakuan yang lainnya. Dosis
yang paling baik dalam menurunkan jumlah sel spermatid tubulus seminiferus
dari mencit adalah 187,5 mg/kg bb (P5).
Dari tabel 4.9 dan tabel 4.11 diketahui hasil perhitungan ANOVA tunggal
menunjukkan penurunan jumlah sel spermatid tubulus seminiferus mencit dengan
menunjukkan bahwa F
hitung
> F
tabel
0,01. Dengan demikian terdapat pengaruh
pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap penurunan dari
jumlah sel spermatid tubulus seminiferus mencit.
Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa dengan pemberian ekstrak
daun beluntas (Pluchea indica Less) dalam berbagai dosis, ternyata dosis 187,5
mg/kg bb mampu menurunkan jumlah sel spermatid dalam tubulus seminiferus
testis mencit. Setelah uji lanjut dengan BNT 0,01 dosis 187,5 mg/kg bb
merupakan dosis yang paling baik untuk menurunkan jumlah sel spermatid.
Seperti halnya pada jumlah sel spermatogonium, dan sel spermatosit
primer, penurunan jumlah sel spermatid tubulus seminiferus testis mencit juga
dipengaruhi oleh zat flavonoid yang didukung oleh zat alkaloid dan tanin yang
terkandung dalam ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang
pemberiannya disesuaikan dengan lamanya proses spermatogenesis tubulus
seminiferus testis mencit. Senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak daun
beluntas (Pluchea indica Less) ini diduga memiliki sifat sebagai antifertilitas.
57

Zat aktif yang terdapat pada ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less)
khususnya flavonoid dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang
mampu mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen. Bila kerja enzim
dihambat maka testosteron akan meningkat. Testosteron yang berlebih dalam
testis akan menyebabkan feedback negatif pada hipotalamus, sehingga
hipothalamus sedikit mensekresikan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone)
tidak dapat menggertak hipofisa anterior, sehingga hipofisa anterior sedikit untuk
mensekresikan FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing
Hormone) sehingga proses spermatogenesis terganggu (Ganong, 1983).
Penurunan spermatid dalam tubulus seminiferus testis mencit
kemungkinan melalui beberapa mekanisme seperti terganggunya fungsi sel
sertoli, yang menyebabkan suplai laktat dan piruvat akan menurun. Laktat dan
piruvat merupakan sumber energi dari spermatid. Penurunan spermatid ini
mungkin juga karena gangguan dalam proses meiosis, kemungkinan yang lain
disebabkan karena pada proses spermiosis awal sudah mengalami gangguan.
Dengan terganggunya spermiogenesis awal maka, untuk proses selanjutnya juga
akan mengalami gangguan (Satryasa, 2008).
Penurunan FSH akan menyebabakan perubahan struktur sitoskletal sel
sertoli sehingga mengurangi kemampuan dalam mengikat spermatid, sedangkan
penurunan hormon testosteron akan menyebabkan penurunan daya adhesi antara
spermatid dengan sel sertoli yang menyebabkan sel spermatid terlepas ke dalam
lumen tubulus seminiferus. FSH juga turut membantu pematangan spermatid
menjadi spermatozoa selama proses spermatogenesis. Penurunan FSH dan
58

testosteron tersebut akan menyebabkan sintesis protein spermatid terganggu yang
akhirnya menyebabkan sel spermatid degenerasi (Satryasa, 2008).
Menurut Ganong (1983) menyatakan bahwa, sekresi testosteron
dipengaruhi oleh hormon LH, dengan mekanisme hormon LH merangsang sel
leydig melalui peningkatan pembentukan siklik AMP. Siklik AMP meningkatan
pembentukan kolesterol dari ester kolesterol dan perubahan kolesterol menjadi
pregnenolon melalui pengaktifan protein kinase. Protein kinase terhambat karena
hadirnya senyawa flavonoid sehingga menyebabkan hormon testosteron dan
proses spermatogenesis terganggu.
4.1.4 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Leydig.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap jumlah rata-rata sel leydig tubulus
seminiferus testis mencit sebelah kanan dan kiri menunjukkan penurunan seiring
dengan bertambahnya dosis yang diberikan, seperti disajikan pada gambar 4.5.

Gambar 4.5 Diagram batang tingkat penurunan jumlah sel leydig pada perlakuan
ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less). (P1) kontrol, (P2) dosis
12,5 mg/kg bb, (P3) 62,5 mg/kg bb, (P4) 125 mg/kg bb, (P5) 187,5
mg/kg bb.
0
20
40
60
80
100
120
140
P1 P2 P3 P4 P5
Kanan
kiri
59

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan anava tunggal tentang
pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig
pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maupun sebelah kiri
diperoleh data yang menunjukkan bahwa F
hitung
> F
tabel (0,01)
. Hal tersebut
menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak daun
beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig sebagaimana tercantum
dalam tabel 4.13 dan 4.15.
Tabel 4.13 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap jumlah sel leydig pada tubulus seminiferus testis
mencit sebelah kanan
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 11902,56 2975,64 15,00121 4,43
Galat 20 3967,2 198,36
Total 24 15869,76
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut
BNT (Beda Nyata Terkecil) 0,01. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT)
1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maka didapatkan
notasi BNT pada tabel 4.14.
Tabel 4.14 Hasil uji BNT 1% tentang pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap jumlah sel leydig pada testis sebelah kanan.
Dari hasil tabel 4.14 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas
(Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig tubulus seminiferus mencit pada
perlakuan 187,5 mg/kg bb (P5) tidak berbeda nyata dengan perlakuan 125 mg/kg
Perlakuan Rata-rata Notasi
P5
P4
P3
P2
P1
61,4
64,6
80
97
120,2
a
a
ab
bc
c
60

bb (P4) dan (P3) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan
(P4) tidak berbeda nyata dengan perlakuan (P5) dan (P3) tetapi berbeda dengan
perlakuan yang lainnya, perlakuan (P3) 62,5 mg/kg bb tidak berbeda nyata dengan
perlakuan (P2) 12,5 mg/kg bb tetapi berbeda dengan perlakuan yang lainnya,
perlakuan (P1) kontrol tidak berbeda nyata dengan (P2) tetapi berbeda nyata
dengan perlakuan yang lainnya. Berdasarkan uji BNT 1% dapat diketahui bahwa
dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang mampu menurunkan sel
leydig tubulus seminiferus paling baik adalah dosis 187,5 mg/kg bb (P5).
Berdasarkan uji BNT 1% dapat diketahui bahwa dosis ekstrak daun
beluntas (Pluchea indica Less) yang mampu menurunkan sel leydig tubulus
seminiferus paling baik adalah dosis 187,5 mg/kg bb (P5) dan 125 mg/kg bb yang
menurut hasil analisis BNT 0,01 tidak berbeda nyata, tetapi dari jumlah rata-rata
sel spermatosit primer dosis 187,5 mg/kg bb (P5) lebih baik, karena jumlah sel
spermatosit primer lebih sedikit.
Tabel 4.15 Ringkasan anava tunggal tentang pengaruh ekstrak daun beluntas
(Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig pada tubulus
seminiferus testis mencit sebelah kiri.
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 10033,04 2508,26 20,12081 4,43
Galat 20 2493,2 124,66
Total 24 12526,24
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut
BNT (Beda Nyata Terkecil) 0,01. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT)
1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri maka didapatkan
notasi BNT pada tabel 4.16.

61

Tabel 4.16 Hasil uji BNT 1% tentang pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap jumlah sel leydig pada testis sebelah kiri.
Perlakuan Rata-rata Notasi
P5
P4
P3
P2
P1
63,8
70,6
86,4
96,2
120,4
a
ab
bc
c
d
Dari hasil tabel 4.16 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas
(Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig tubulus seminiferus mencit pada
perlakuan (P1) kontrol berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan
(P2) 12,5 mg/kg bb tidak berbeda nyata dengan perlakuan (P3) 62,5 mg/kg bb
tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan (P3) tidak berbeda
nyata dengan perlakuan (P4) 125 mg/kg bb dan (P2) 12,5 mg/kg bb tetapi berbeda
nyata dengan perlakuan yang lainnya, (P4) 125 mg/kg bb tidak berbeda nyata
dengan perlakuan (P3) 62,5 mg/kg bb dan (P5) 187,5 mg/kg bb tetapi berbeda
nyata dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan (P5) 187,5 mg/kg bb tidak
berbeda nyata dengan perlakuan 125 mg/kg bb (P4) tetapi berbeda nyata dengan
perlakuan yang lainnya.
Berdasarkan uji BNT 1% dapat diketahui bahwa dosis ekstrak daun
beluntas (Pluchea indica Less) yang mampu menurunkan sel leydig tubulus
seminiferus paling baik adalah dosis 187,5 mg/kg bb (P5) dan 125 mg/kg bb yang
menurut hasil analisis BNT 0,01 tidak berbeda nyata, tetapi dari jumlah rata-rata
sel spermatosit primer dosis 187,5 mg/kg bb (P5) lebih baik, karena jumlah sel
spermatosit primer lebih sedikit.
62

Dari tabel 4.13 dan tabel 4.15 diketahui hasil perhitungan ANAVA tunggal
menunjukkan penurunan jumlah sel leydig tubulus seminiferus mencit dengan
menunjukkan bahwa F
hitung
> F
tabel
0,01. Dengan demikian terdapat pengaruh
pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap penurunan dari
jumlah sel leydig tubulus seminiferus mencit.
Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa dengan pemberian ekstrak
daun beluntas (Pluchea indica Less) dalam berbagai dosis, ternyata dosis 187,5
mg/kg bb mampu menurunkan jumlah sel leydig dalam tubulus seminiferus testis
mencit. Setelah uji lanjut dengan BNT 0,01 dosis 187,5 mg/kg bb merupakan
dosis yang paling baik untuk menurunkan jumlah sel leydig.
Seperti halnya pada jumlah sel spermatogonium, sel spermatosit primer,
dan spermatid penurunan jumlah sel leydig tubulus seminiferus testis mencit juga
dipengaruhi oleh zat flavonoid. Pengurangan jumlah sel leydig pada kelompok
yang diberi beluntas tinggi kemungkinan karena sel leydig mengalami degenerasi.
Menurut Jackson et al (1986) sel leydig yang mengalami degenerasi ditunjukkan
dengan adanya inti yang mengalami piknosis dan terjadi vakuolisasi pada
sitoplasma. Beberapa peneliti menyatakan bahwa pemberian estradiol/estrogen
yang relatif tinggi dalam darah menyebabkan penghambatan sekresi LH oleh
hipofisis anterior dan menurunkan kadar LH dalam darah.
Fitoestrogen mempunyai efek sama dengan estrogen (estrogen endogen).
Dengan terhambatnya sekresi LH dan kadarnya dalam darah menurun akan
menyebabkan terganggunya pemasakan dan pertumbuhan sel leydig. Menurut
Jhonson dan thomson (1986) jumlah sel leydig tiap testis berkorelasi signifikan
63

dengan volume total sel leydig tiap testis dengan kadar LH, jika LH turun maka
jumlah sel leydig juga berkurang.
Zat aktif pada beluntas ada yang bersifat estrogenik, sehingga dapat
menghambat sekresi LH dan menyebabkan berkurangnya jumlah sel leydig. Sel
leydig merupakan tempat terjadinya proses steroidogenesis. Jika sel leydig
mengalami degenerasi jumlahnya akan menurun, maka jumlah androgen
(testosteron) yang diproduksi akan berkurang/menurun (Susetyarini, 2004).
Daun beluntas (Pluchea indica Less) mengandung unsur zat aktif, yaitu
alkaloid, flavonoid, tanin, minyak atsiri yang dapat merusak beberapa organel
penyusun sel target, diantaranya adalah sel sertoli, sel spermatogonium, sel
spermatosit, sel spermatid dan sel leydig. Zat ini dapat menyebabkan vakuolisasi
pada mitokondria, salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya vakuolisasi ini
karena ketidakcukupan suplai hormon. Bila keadaan ini berlanjut akan
menurunkan jumlah mitokondria pada sel-sel tersebut. Mitokondria merupakan
organel sel tempat sintesis ATP melalui proses fosforilasi oksidatif pada saat
respirasi. ATP merupakan sumber energi dalam sel, sehingga mempunyai fungsi
yang dalam kegiatan sel. Apabila ada gangguan pada mitokondria akan
menurunkan produksinya dan mengganggu kegiatan sel-selnya. Beluntas melalui
perangsangannya terhadap susunan saraf pusat, menurunkan sekresi hormon
steroid yang pada akhirnya dapat menurunkan jumlah sel spermatogenik dan sel
leydig karena ada pembelahan pada proses pembelahan selnya (Susetyarini,
2004).
64

Apabila kadar hormon-hormon ini tidak mencukupi kebutuhan sel dan
jaringan pada organ reproduksi dapat menyebabkan timbulnya gagal testis. Gagal
testis yang ditimbulkan oleh pengaturan FSH dan LH yang tidak normal dapat
berupa gagal testis primer (kadar FSH dan LH tinggi tetapi tidak ada kenaikan
kadar testosteron) dan gagal testis sekunder (kadar FSH dan LH menurun, terjadi
kenaikan kadar testosteron tetapi masih dibawah kadar normal) (Jennings, 1994).
Terganggunya sintesis dan sekresi ke dua hormon tersebut akan berakibat
sebagai berikut: penurunan kadar LH yang signifikan akan menyebabkan
terjadinya penurunan fungsi sel leydig, sehingga produksi testosteron berkurang.
Penurunan produksi testosteron dapat mempengaruhi perkembangan sel
spermatogenesis. Penurunan sintesis dan sekresi FSH dan GnRH menyebabkan
terjadinya penurunan kadar FSH dalam tubuh. Selain testosteron, FSH juga
berperan mengontrol fungsi sel sertoli (Susetyarini, 2004).
Brikman et al (1980), melaporkan bahwa estrogen (estradiol) dapat secara
langsung berefek pada tingkat enzim mikrosomal dalam sel leydig, sehingga
menurunkan sintesis testosteron. Pemberian estradiol menurunkan sitokrom P 450
testiskuler yang merupakan enzim penting dalam sintesis testosteron. Zat aktif
yang ada pada beluntas bersifat estrogenik, sehingga diduga flavonoid mampu
menurunkan enzim sitokrom P 450 jadi kadar testeosteron juga turun.


65

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea
indica Less) terhadap proses spermatogenesis dari mencit jantan (Mus musculus),
dapat disimpulkan bahwa:
1. Ekstrak daun beluntas mampu untuk menurunkan jumlah sel
spermatogonium.
2. Ekstrak daun beluntas mampu untuk menurunkan jumlah sel spermatosit
primer.
3. Ekstrak daun beluntas mampu untuk menurunkan jumlah sel spermatid.
4. Ekstrak daun beluntas mampu untuk menurunkan jumlah sel leydig.
5. Dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang paling baik dalam
menurunkan jumlah sel spermatogonium, sel sprematosit primer, sel
spermatid dan sel leydig adalah 187,5 mg/kg bb.
5.2 Saran
1. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek ekstrak daun
beluntas (Pluchea indica Less) terhadap daya toksik hati, ginjal dan organ
yang lain.
2. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh ekstrak dari
daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap kualitas dari spematozoa dan
uji fertilitas terhadap mencit yang diberi ekstrak daun beluntas.
66

DAFTAR PUSTAKA
Agusta, Andria. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung: ITB
press.
Az-Zabidi, Imam. 1997. Ringkasan Shahih Al-Bukhari. Bandung: Mizan.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2009. Statistik Penduduk. BPS. Jakarta.
Bevelander, Gerrit dan Rameley, Judith A. 1998. Dasar-dasar Histologi.
Terjemahan Wisnu Gunarso. Jakarta: Penerbit erlangga.
Campbell, Reece, Mitchell. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Dalimartha, Setiawan.1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ungaran : Trubus
Agriwidya.
Fradson, BS, DVM, MS, dkk. 2003. Anatomy and Physiology of Farm Animal.
Australia: Blackwel publishing.
Ganong, MD, Wiliam F. 1983. Fisiologi Kedokteran. Terjemahan Adji Dharma.
Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedoteran.
Guyton, MD, Arthur. 1987. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit.
Terjemahan Petrus Andrianto. Jakarta: EGC penerbit Buku Kedokteran.
Hasanah, Ifnaini Wirdatul. 2009. Pengaruh Ekstrak Daun Pegagan (Centella
asiatica) Terhadap Spermatogenesis mencit (Mus musculus). Skripsi Tidak
Diterbitkan. Malang: Jurusan Biologi Fakultas SAINTEK UIN Maliki
Malang.
Junquiera, Luis C dan Carneiro, Jose. 1980. Histologi Dasar. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Kapsul. 2007. kadar testosteron tikus putih(rattus norvegicus l) setelah
mengkonsumsi buah terong tukak (solanum torvum sw). Jurnal
BIOSCIENTIAE. Vol 4. No 1. Hal 1-8.
Kusumaningrum, Endah. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Biji Pepaya (carica
papaya l.) Terhadap Spermatogenesis Mencit (Mus musculus). Skripsi
Tidak Diterbitkan.Surabaya: FKH UNAIR.
67

Kusumawati, D. 2004. Bersahabat Dengan Hewan Coba. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Latifa, Roimil. 2006. Pengaruh Dekok Daun Jambu Biji (Psidium guajava L)
Dengan Dosis Berulang Terhadap Kualitas Spermatozoa Tikus Putih
Jantan (Ratus nurwegicus). Laporan Penelitian. Lemlit UMM.
Luangpirom, Ampa and Junsanjuk, Tussaneeporn. 2008. Effect of Atrazine on
Spermatogenesis of Mice (Mus musculus linn). Departement of Biology,
Khon Kaen University. KKU sci. J. 36 (Supplement) 44-50.
Lusiyawaty, vivi. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Tanin Daun Beluntas
(Pluchea Indica Less) Terhadap Kualitas Spermatozoa Tikus Putih (Rattus
Norvegicus). Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: FKIP Universitas
Muhamadiyah Malang.
Mattheij, et al. 1999. Reproduksi dan Dasar-dasar dari Endokrinologi pada
Hewan-Hewan Ternak. Terjemahan A. Winantea. Malang: Universitas
Brawijaya Press.
Muryati, et al. 2006. Kadar Testosteron Serum Darah dan Kualitas Spermatozoa
Mencit (Mus musculus L) Setelah Diberi Ekstrak Biji Saga (Abrus
precatorius L). Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah
Mada.
Padua, et al. 1999. Plant Resources of South-East Asia. Bogor: Prosea Bogor
Indonesia.
Partodiharjo, Soebadi. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta: Mutiara Sumber
Widya.
Pujowati, Penny. 2006. Tanaman dan Sistem Terbuka Hijau Pengenalan Ragam
Tanaman Lanskap. Laporan Praktikum Tidak Diterbitkan. Bogor: Sekolah
Pasca Sarjana Departemen Arsitektur Lanskap FT IPB.
Robinson, Trevor. 1991. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Terjemahan
Kosasih Padmawinata. Bandung: Penerbit ITB.
Rusmiati, 2007. Pengaruh Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan L)
Terhadap Viabilitas Spermatozoa Mencit Jantan (Mus musculus L). Jurnal
BIOSCIENTIAE Vol: 4 No:2
68

Salisbury, G. W. 1987. Fisiologi Reproduksi Dan Inseminasi Buatan Pada Sapi.
Jogjakarta: Gadjah Mada University press.
Satriyasa, Bagus, Komang. 2008. Fraksi Heksan Ekstrak Biji Pepaya Muda Dapat
Menghambat Proses Spermatogenesis Mencit Jantan Lebih Besar Daripada
Fraksi Metanol Ekstrak Biji Pepaya Muda. Bali: Departement of
Farmacology, Udayana University.
Savitri, Evika, Sandi. 2008. Rahasia Tumbuhan Berkhasiat Obat Perspektif Islam.
Malang: UIN Malang Press.
Shihab, Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah: Pesan dan Kesan Keserasian Al-
Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.
Sirait, Nursalam. 2008. Penggunaan Berbagai Jenis Tanaman Obat Untuk
Menghilangkan Bau Badan. Jurnal Potensi Ekonomi Tanaman Obat
Sebagai Bahan Baku Jamu,Volume 14, No 3, ISSN: 0853 – 8204.
Siregar, Julahir, Hodmatua. 2009. Pengaruh Pemberian Vitamin C Terhadap
Jumlah Sel leydig Dan Jumlah Sperma Mencit jantan Dewasa (Mus
musculus L) Yang Dipapari Monosodium Glutamate (MSG). Tesis Tidak
Diterbitkan. Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Setiawan, 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Trubus Agriwidya. Bogor.
Smith, John dam Mangkoewidjojo, soesanto. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan
dan Penggunaan Hewan percobaan di Daerah Tropis. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia Press.
Soewolo, 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.
Suryo, 2005. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press.
Susetyarini, Eko. 2003. Kadar Testosteron Pada Tikus Putih Jantan (Ratus
norwegicus) Yang Diberi Dekok Daun Beluntas. Laporan Penelitian.
Lemlit UMM.
Susetyarini, Eko. 2004. Jumlah Sel Leydig Tikus Putih (Ratus nurwegicus) yang
Diberi Beluntas (Pluchea indica Less). Laporan Penelitian. Lemlit UMM.
69

Susetyarini, Eko. 2005. Antispermatogenik Daun Beluntas (Pluchea indica Less)
Pada Tikus Putih Jantan (Ratus nurwegicus). Laporan Penelitian. Lemlit
UMM.
Susetyarini, Eko. 2007. Pengaruh Dekok Daun Beluntas (Pluchea indica Less)
Terhadap LD 50 (Toksisitas Akut) tikus putih jantan (Ratus nurwegicus).
Laporan Penelitian. Lemlit UMM.
Turek, P.J. 2005. “Hypotalamic-Pituitary-Gonadal (HPG) Axis and Control of
Spermatogenesis”. In: Endocrine evaluation. Male Reproductive
Laboratory Departement of Uroligy Uneversitas of California at San
Frasisco. San Frasisco, California.
Turner, Donnel dan Bagnara, joseph. 1988. Endokrinologi Umum. Surabaya:
Airlangga University Press.
Van Steenis, C.G. 1975. Flora Voor de Scholen in Indonesia, Edisi VI.
Terjemahan Sorjowinoto, M. Jakarta: PT Pradnya Paramitha.
Widotama, Gupta, I. G. B. 2008. Pengaruh Isolat Herba Vernonia Cinerea
Terhadap Spermatogenesis Tikus putih. Instalasi Farmasi RSUp Sanglah
Denpasar. ISSN: 1907-9850.
Wilopo, S.A. 2006. ”Perkembangan Teknologi Kontrasepsi Pria Terkini”. Gema
Pria. Available from: http://pikas.bkkbn.go.id/gemapria/article-detail php.
Di akses tanggal 17 Januari, 2010.
Winarno, Wien dan Sundari, Dian. 1997. Informasi Tanaman Obat Untuk
Kontrasepsi Tradisional Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997. 25.
Jakarta: pusat penelitian dan pengembangan Farmasi, Badan penelitian dan
pengembangan kesehatan Departemen Kesehatan RI.
Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi & Embriologi. Bandung: Penerbit Tarsito.
Yatim, Wildan. 1996. Histologi. Bandung: Penerbit Tarsito.


70

Lampiran 1. Data Hasil Pengamatan Testis Kanan dan Kiri
Jumlah Sel Spermatogonia Tubulus Seminiferus Kanan
No Perlakuan Spermatogonia Kanan Rata-Rata
T.S 1 T.S 2 T.S 3
1 P1U1 221 164 247 210,6667
2 P1U2 196 216 238 216,6667
3 P1U3 198 223 211 210,6667
4 P1U4 211 194 234 213
5 P1U5 197 185 216 199,3333
6 P2U1 183 165 208 185,3333
7 P2U2 198 183 182 187,6667
8 P2U3 158 171 188 172,3333
9 P2U4 178 168 190 178,6667
10 P2U5 185 159 148 164
11 P3U1 138 142 172 150,6667
12 P3U2 127 129 183 146,3333
13 P3U3 122 140 162 141,3333
14 P3U4 141 132 152 141,6667
15 P3U5 131 150 132 137,6667
16 P4U1 132 113 138 127,6667
17 P4U2 104 142 120 122
18 P4U3 116 124 105 115
19 P4U4 100 116 141 119
20 P4U5 129 135 112 125,3333
21 P5U1 105 123 98 108,6667
22 P5U2 105 99 129 111
23 P5U3 109 106 110 108,3333
24 P5U4 126 94 99 106,3333
25
P5U5 90 128 103 107
71


Jumlah Sel Spermatosit Primer Tubulus Seminiferus Kanan

No Perlakuan Spermatosit primer kanan Rata-Rata
T.S 1 T.S 2 T.S 2
1
P1U1 232 194 251 225,6667
2
P1U2 216 224 214 218
3
P1U3 219 252 209 226,6667
4
P1U4 230 200 213 214,3333
5
P1U5 233 202 219 218
6
P2U1 213 201 172 195,3333
7
P2U2 175 195 188 186
8
P2U3 169 172 165 168,6667
9
P2U4 191 163 187 180,3333
10
P2U5 178 216 205 199,6667
11
P3U1 147 117 157 140,3333
12
P3U2 133 124 162 139,6667
13
P3U3 126 131 144 133,6667
14
P3U4 142 153 128 141
15
P3U5 137 144 134 138,3333
16
P4U1 135 110 106 117
17
P4U2 134 100 139 124,3333
18
P4U3 121 117 109 115,6667
19
P4U4 132 121 110 121
20
P4U5 117 123 131 123,6667
21
P5U1 136 101 125 120,6667
22
P5U2 140 139 98 125,6667
23
P5U3 107 118 128 117,6667
24
P5U4 125 119 109 117,6667
25
P5U5 132 124 107 121
72


Jumlah Sel Spermatid Tubulus Seminiferus Kanan
No Perlakuan Spermatid kanan Rata-Rata
T.S 1 T.S 2 T.S 2
1 P1U1 258 231 222 237
2 P1U2 213 189 231 211
3 P1U3 268 212 193 224,3333
4 P1U4 238 198 278 238
5 P1U5 199 222 201 207,3333
6 P2U1 169 204 170 181
7 P2U2 181 168 180 176,3333
8 P2U3 177 193 175 181,6667
9 P2U4 182 181 168 177
10 P2U5 201 211 173 195
11 P3U1 131 145 189 155
12 P3U2 193 171 179 181
13 P3U3 177 165 187 176,3333
14 P3U4 130 171 143 148
15 P3U5 127 175 182 161,3333
16 P4U1 115 120 140 125
17 P4U2 120 122 127 123
18 P4U3 123 121 116 120
19 P4U4 167 116 136 139,6667
20 P4U5 157 134 114 135
21 P5U1 99 120 95 104,6667
22 P5U2 124 98 92 104,6667
23 P5U3 104 130 96 110
24 P5U4 115 101 114 110
25 P5U5 103 106 99 102,6667
73


Jumlah Sel Spermatogonia Tubulus Seminiferus Kiri
No Perlakuan Spermatogonia kiri Rata-Rata
T.S 1 T.S 2 T.S 2
1 P1U1 198 225 232 218,3333
2 P1U2 237 233 304 258
3 P1U3 203 194 187 194,6667
4 P1U4 203 229 208 213,3333
5 P1U5 239 193 236 222,6667
6 P2U1 145 185 147 159
7 P2U2 124 191 196 170,3333
8 P2U3 166 136 187 163
9 P2U4 203 193 179 191,6667
10 P2U5 168 168 188 174,6667
11 P3U1 146 126 163 145
12 P3U2 120 170 132 140,6667
13 P3U3 167 130 132 143
14 P3U4 173 129 128 143,3333
15 P3U5 138 132 180 150
16 P4U1 136 134 105 125
17 P4U2 121 107 127 118,3333
18 P4U3 105 146 145 132
19 P4U4 135 124 112 123,6667
20 P4U5 137 158 114 136,3333
21 P5U1 120 96 125 113,6667
22 P5U2 105 110 109 108
23 P5U3 95 93 128 105,3333
24 P5U4 109 118 112 113
25 P5U5 93 111 104 102,6667
74


Jumlah Sel Spermatosit Primer Tubulus Seminiferus Kiri
No Perlakuan Spermatosit Primer kiri Rata-Rata
T.S 1 T.S 2 T.S 2
1 P1U1 206 254 230 230
2 P1U2 262 276 305 281
3 P1U3 219 276 222 239
4 P1U4 217 167 220 201,3333
5 P1U5 182 256 248 228,6667
6 P2U1 178 164 200 180,6667
7 P2U2 144 160 211 171,6667
8 P2U3 180 174 140 164,6667
9 P2U4 145 187 202 178
10 P2U5 153 171 194 172,6667
11 P3U1 149 136 133 139,3333
12 P3U2 105 140 129 124,6667
13 P3U3 153 121 119 131
14 P3U4 134 129 133 132
15 P3U5 135 144 134 137,6667
16 P4U1 147 141 129 139
17 P4U2 151 118 120 129,6667
18 P4U3 112 134 126 124
19 P4U4 160 115 124 133
20 P4U5 128 104 142 124,6667
21 P5U1 121 101 119 113,6667
22 P5U2 140 104 87 110,3333
23 P5U3 106 103 120 109,6667
24 P5U4 97 111 143 117
25 P5U5 114 96 138 116
75


Jumlah Sel Spermatid Tubulus Seminiferus Kiri















No Perlakuan Spermatid kiri Rata-Rata
T.S 1 T.S 2 T.S 2
1 P1U1 217 190 253 220
2 P1U2 215 281 235 243,6667
3 P1U3 197 198 183 192,6667
4 P1U4 230 212 171 204,3333
5 P1U5 202 259 187 216
6 P2U1 175 183 150 169,3333
7 P2U2 192 170 168 176,6667
8 P2U3 160 147 183 163,3333
9 P2U4 155 192 184 177
10 P2U5 144 186 181 170,3333
11 P3U1 131 152 167 150
12 P3U2 191 138 154 161
13 P3U3 140 184 131 151,6667
14 P3U4 120 186 135 147
15 P3U5 128 131 159 139,3333
16 P4U1 156 152 121 143
17 P4U2 110 114 148 124
18 P4U3 118 110 132 120
19 P4U4 115 121 131 122,3333
20 P4U5 113 110 117 113,3333
21 P5U1 96 110 106 104
22 P5U2 101 106 109 105,3333
23 P5U3 92 114 102 102,6667
24 P5U4 98 135 100 111
25 P5U5 116 113 95 108
76

Jumlah Sel Leydig Tubulus Seminiferus Kanan

No Perlakuan Jumlah Sel Leydig kanan
1 P1U1 124
2 P1U2 152
3 P1U3 97
4 P1U4 113
5 P1U5 115
6 P2U1 99
7 P2U2 122
8 P2U3 74
9 P2U4 89
10 P2U5 101
11 P3U1 94
12 P3U2 88
13 P3U3 70
14 P3U4 79
15 P3U5 69
16 P4U1 64
17 P4U2 66
18 P4U3 53
19 P4U4 72
20 P4U5 68
21 P5U1 58
22 P5U2 54
23 P5U3 73
24 P5U4 51
25 P5U5 71

















77

Jumlah Sel Leydig Tubulus Seminiferus Kiri

No Perlakuan Jumlah Sel Leydig kiri
1 P1U1 116
2 P1U2 112
3 P1U3 111
4 P1U4 135
5 P1U5 128
6 P2U1 121
7 P2U2 96
8 P2U3 98
9 P2U4 81
10 P2U5 85
11 P3U1 92
12 P3U2 80
13 P3U3 105
14 P3U4 78
15 P3U5 77
16 P4U1 76
17 P4U2 59
18 P4U3 82
19 P4U4 73
20 P4U5 63
21 P5U1 60
22 P5U2 59
23 P5U3 73
24 P5U4 66
25 P5U5 61


78

Lampiran 2. Perhitungan Manual ANOVA dan Uji BNT
Jumlah Sel Spermatogonium Tubulus Seminiferus Kanan

X= 3806,24 = 152,24
25

FK = 3806,24
2
= 579.498,51
25

JK total = 210,66
2
+ 216,66
2
+................................+107
2
– FK

= 614.870,8272 – 579.498,51

= 35.372,3172

JK perlakuan = 1050,31
2
+......................................+ 541,32
2
– FK
5
= 614.112,5818 – 579.498,51= 34.614,0718

JK galat = JK total percobaan – JK perlakuan
= 35.372,3172 - 34.614,0718 = 758,2454

ANOVA
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 34614,0718 8653,51795 228,25 4,43
Galat 20 758,2454 37,91227
Total 24 35372,3172

Uji BNT 1%

BNT 0,01 = t
0,01
(db galat) x
2 x KT gala
Ulangan


= 2,845 x
2 x 37,9122
Ulangan
= 11,079
Perlakuan Ulangan
1 2 3 4 5 Jumlah Rata-rata
P1 210,66 216,66 210,66 213 199,33 1050,31 210,062
P2 185,33 187,66 172,33 178,66 164 887,98 177,596
P3 150,66 146,33 141,33 141,66 137,66 717,64 143,528
P4 127,66 122 115 119 125,33 608,99 121,798
P5 108,66 111 108,33 106,33 107 541,32 108,264
3806,24
79

Jumlah Sel Spermatogonia Tubulus Seminiferus Kiri


X= 3865,53 = 154,6212
25

FK = 3865,53
2
= 597.692,8872
25

JK total = 218,33
2
+ 258
2
+................................ 102,66
2
– FK

= 639.530,1071 - 597.692,8872 = 41.837,2199

JK perlakuan = 1106,98
2
+.................................. 542,65
2
– FK
5
= 636.393,5986 - 597.692,8872 = 38.700,7114

JK galat = JK total percobaan – JK perlakuan

= 41.837,2199 - 38.700,7114 = 3.136,5085

ANOVA
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 38700,7114 9675,17785 61,93 4,43
Galat 20 3136,5085 156,825425
Total 24 41837,2199

Uji BNT 1%

BNT 0,01 = t
0,01
(db galat) x
2 x KT gala
Ulangan


= 2,845 x
2 x 156,825
Ulangan
= 22,533


Perlakuan Ulangan
1 2 3 4 5 Jumlah Rata-rata
P1 218,33 258 194,66 213,33 222,66 1106,98 221,396
P2 159 170,33 163 191,66 174,66 858,65 171,73
P3 145 140,6 143 143,33 150 721,93 144,386
P4 125 118,33 132 123,66 136,33 635,32 127,064
P5 113,66 108 105,33 113 102,66 542,65 108,53
3865,53
80

Jumlah Sel Spermatosit Primer Tubulus Seminiferus Kanan
X= 3929,9 = 157,1704
25

FK = 3929,9
2
= 617.764,604
25

JK total = 225,66
2
+ 218
2
+...................................... 121
2
– FK

= 658.075,1806 - 617.764,604 = 40.310,5766

JK perlakuan = 1102,65
2
+....................................... 602, 64
2
– FK
5

= 657.215,759 - 617.764,604 = 39.451,155

JK galat = JK total – JK perlakuan

= 40.310,5766 - 39.451,155 = 859,4216

ANOVA
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 39451,155 9862,78875 229,52 4,43
Galat 20 859,4216 42,97105
Total 24 40310,5766

Uji BNT 1%

BNT 0,01 = t
0,01
(db galat) x
2 x KT gala
Ulangan
= 2,845 x
2 x 42,971
Ulangan


= 11,795
Perlakuan Ulangan
1 2 3 4 5 Jumlah Rata-rata
P1 225,66 218 226,66 214,33 218 1102,65 220,53
P2 195,33 186 168,66 180,33 199,66 929,98 185,996
P3 140,33 139,66 133,66 141 138,33 692,98 138,596
P4 117 124,33 115,66 121 123,66 601,65 120,33
P5 120,66 125,66 117,66 117,66 121 602,64 120,528
3929,9


81

Jumlah Sel Spermatosit Primer Tubulus Seminiferus Kiri
X= 3928,92 = 157,1568
25

FK = 3928,26
2
= 617.456,4947
25

JK total = 230
2
+ 281
2
+.........................................116
2
– FK

= 670.002,4383 – 617.456,4947 = 52.545,9436


JK perlakuan = 1179,66
2
+............................................ 566, 65
2
– FK
5

= 666.032,9665 - 617.249,4947 = 48.783,4765


JK galat = JK total – JK perlakuan

= 52.545,9436 - 48.783,4765 = 3762,4671

ANOVA
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 48783,4765 12195,86913 63,829 4,43
Galat 20 3762,4671 188,123355
Total 24 52545,9436


Uji BNT 1%

BNT 0,01 = t
0,01
(db galat) x
2 x KT gala
Ulangan
= 2,845 x
2 x 188,123
Ulangan


= 24,679
Perlakuan Ulangan
1 2 3 4 5 Jumlah Rata-rata
P1 230 281 239 201 228,66 1179,66 235,932
P2 180,66 171,66 164,66 178 172,66 867,64 173,528
P3 139,33 124,66 131 132 137,66 664,65 132,93
P4 139 129,66 124 133 124,66 650,32 130,064
P5 113,66 110,33 109,66 117 116 566,65 113,33
3928,92
82

Jumlah Sel Spermatid Tubulus Seminiferus Kanan
X= 4024,95 = 160,998
25

FK = 4024,95
2
= 648.008,9001
25

JK total = 237
2
+ 211
2
+.........................................102,66
2
- FK

= 692.191,3625 - 648.008,9001 = 44.182,4624


JK perlakuan = 1117,66
2
+........................................531, 98
2
– FK
5

= 690.041,2815 - 648.008,9001 = 42.032,38136

JK galat = JK total – JK perlakuan

= 44.182,4624 – 42.032,38136 = 2150,08104

ANOVA
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 42032,38136 10508,09534 97,746 2,87
Galat 20 2150,08104 107,504052
Total 24 44182,4642

Uji BNT 1%

BNT 0,01 = t
0,01
(db galat) x
2 x KT gala
Ulangan
= 2,845 x
2 x 107,504
Ulangan


= 18,656


Perlakuan Ulangan
1 2 3 4 5 Jumlah Rata-rata
P1 237 211 224,33 238 207,33 1117,66 223,532
P2 181 176,33 181,66 177 195 910,99 182,198
P3 155 181 176,33 148 161,33 821,66 164,332
P4 125 123 120 139,66 135 642,66 128,532
P5 104,66 104,66 110 110 102,66 531,98 106,396
4024,95


83

Jumlah Sel Spermatid Tubulus Seminiferus Kiri

X= 3835,94 = 153,4376
25

FK = 3835,94
2
= 588.577,4273
25

JK total = 220
2
+ 243,66
2
+.........................................108
2
– FK

= 627.105,6292 - 588.577,4273= 38.528,2019

JK perlakuan = 1076,65
2
+........................................530, 99
2
– FK
5

= 624733,2642 - 588.577,4273 = 36.155,83686

JK galat = JK total – JK perlakuan

= 38.528,2019 - 36.155,83686 = 2372,36504

ANOVA
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 36155,83686 9038,959215 76,202 4,43
Galat 20 2372,36504 118,618252
Total 24 38528,2019

Uji BNT 1%

BNT 0,01 = t
0,01
(db galat) x
2 x KT gala
Ulangan
= 2,845 x
2 x 118,618
Ulangan


= 19,596


Perlakuan Ulangan
1 2 3 4 5 Jumlah Rata-rata
P1 220 243,66 192,66 204,33 216 1076,65 215,33
P2 169,33 176,66 163,33 177 170,33 856,65 171,33
P3 150 161 151,66 147 139,33 748,99 149,798
P4 143 124 120 122,33 113,33 622,66 124,532
P5 104 105,33 102,66 111 108 530,99 106,198
3835,94


84

Jumlah Sel leydig Testis Kanan
X= 2116 = 153,4376
25

FK = 2116
2
= 179098,24
25

JK total = 204
2
+ 152
2
+................................. 71
2
– FK

= 194968 - 179098,24 = 15869,76

JK perlakuan = 601
2
+....................................................307
2
– FK
5

= 191000,8 - 179098,24 = 11902,56

JK galat = JK total – JK perlakuan

= 15869,76 - 11902,56 = 3967,2

ANOVA
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 11902,56 2975,64 15,00121 4,43
Galat 20 3967,2 198,36
Total 24 15869,76

Uji BNT 1%

BNT 0,01 = t
0,01
(db galat) x
2 x KT gala
Ulangan
= 2,845 x
2 x 198,36
Ulangan


= 25,341



Perlakuan Ulangan
1 2 3 4 5 Jumlah Rata-
rata
P1 124 152 97 113 115 601 120,2
P2 99 122 74 89 101 485 97
P3 94 88 70 79 69 400 80
P4 64 66 53 72 68 323 64,6
P5 58 54 73 51 71 307 61,4
2116
85

Jumlah Sel Leydig Testis Kiri
X= 2187 = 87,48
25

FK = 2187
2
= 191318,76
25

JK total = 116
2
+ 112
2
+................................. 61
2
– FK

= 203845 - 191318,76 = 12526,24

JK perlakuan = 602
2
+ .................................... 319
2
– FK
5

= 201351,8 - 191318,76 = 10033,04

JK galat = JK total – JK perlakuan

= 12526,24 - 10033,04 = 2493,2

ANOVA
SK Db JK KT F hitung F tabel 1%
Perlakuan 4 10033,04 2508,26 20,12081 4,43
Galat 20 2493,2 124,66
Total 24 12526,24

Uji BNT 1%

BNT 0,01 = t
0,01
(db galat) x
2 x KT gala
Ulangan
= 2,845 x
2 x 124,66
Ulangan


= 20,0898



Perlakuan Ulangan
1 2 3 4 5 Jumlah Rata-rata
P1 116 112 111 135 128 602 120,4
P2 121 96 98 81 85 481 96,2
P3 92 80 105 78 77 432 86,4
P4 76 59 82 73 63 353 70,6
P5 60 59 73 66 61 319 63,8
2187
86

Lampiran 3. Peta Konsep Penelitian


Memiliki
Sifat
estrogenik
Menghambat Aromatase
Hipotalamus
GnRH
Hipofisa
FSH LH
Spermatogenesis
terhambat
Sel Sertoli
Estrogen
Sel leydig
Testosteron
Peredaran darah
Flavonoid
Alkoloid
Tanin
Ekstrak daun beluntas
Negative feed back
inhibin
Negative feed back
87

Lampiran 4. Dasar Penentuan Dosis Ekstrak Daun Beluntas
Pada penelitian ini dosis beluntas yang efektif yang biasa diminum oleh
manusia 10 gr. Rata-rata berat badan mencit 30 gr , sehingga dekok beluntas yang
dibutuhkan untuk tikus putih, adalah
Dosis untuk manusia Dosis untuk mencit
=
BB manusia BB mencit (Susetyarini, 2007)
Perhitungannya:
Dosis untuk manusia Dosis untuk mencit
=
BB manusia BB mencit

10gr X
=
50.000gr 30gr

30gr x 10gr
X =
50.000gr

X = 0,006gr = 6mg

Jadi dosis beluntas untuk mencit adalah: 6mg (dalam bentuk serbuk)

Hasil ekstrak yang sudah dilakukan adalah: 400gr serbuk menghasilkan ± 25gr
ekstrak kental dengan menggunakan pelarut etanol 96%.
Jika 400gr serbuk di ekstrak menjadi 25gr maka 1gr serbuk di ekstrak menjadi:
25gr X
=
400gr 1gr

25gr x 1gr
X =
400gr

X = 0,0625gr = 62,5mg
88

Konversi dosis serbuk beluntas ke dosis ekstrak:
62,5mg X
=
1.000mg 6mg

62,5mg x 6mg
X =
1000mg

X = 0,375mg

Jadi dosis ekstrak untuk mencit adalah: 0,375 mg/30gr BB

Jika dijadikan per Kg BB mencit:

0,375mg X
=
30.000mg 10
6
mg

0,375mg x 10
6
mg
X =
30.000mg

X = 12,5 mg

Jadi dosis ekstrak daun beluntas 1x untuk mencit adalah 12,5 mg/Kg BB.
Dosis yang dipakek untuk penelitian adalah:
1. Dosis ekstrak daun beluntas 1x : 12,5 mg/kg BB.
2. Dosis ekstrak daun beluntas 5x : 62,5 mg/kg BB.
3. Dosis ekstrak daun beluntas 10x : 125 mg/kg BB.
4. Dosis ekstrak daun beluntas 15x : 187,5 mg/kg BB.



89

Lampiran 5. Prosedur Ekstraksi Daun Beluntas
Serbuk beluntas
Ditimbang 100 g


Ditambahkan ethanol 96% 150 mL
Didiamkan selama 3X24 jam, Tiap
6 jam diaduk.
Setiap 3X24 jam sekali disaring
Filtrasi I Residu
Ditampung dalam
erlenmeyer
Dilarutkan lagi dengan
ethanol 96% 150 mL
Langkah sama seperti langka
di atas
Filtrasi II Residu
Dilarutkan lagi dengan
ethanol 96% 150 mL
(Idem)
Filtrasi III Residu
Digabung
Dibuang
Di evaporasi
90

Lampiran 6. Diagram Alir Penelitian

Mencit jantan sebanyak 25 ekor umur 2 bulan
Diaklimatisasi 2 minggu
Diberi ekstrak daun beluntas selama 36 hari
dengan dosis yang berbeda
Di bedah pada hari ke-37 setelah perlakuan
Di ambil testisnya sebelah kanan dan kiri
Dibuat preparat mikroanatomi
Dihitung jumlah sel spermatogonium,
sel spermatosit primer, sel spermatid
dan sel leydig
91

Lampiran 7. Gambar Alat dan Bahan Penelitian

Gambar 1. Pemanas (Hot plate)






Gambar 2. Timbangan digital

Gambar 3. Rotary vacum evaporator


92


Gambar 4. Corong bughner






Gambar 5. Etanol 96%






Gambar 6. Ekstrak daun beluntas

93


Gambar 7. Botol specimen




Gambar 8. Pencekok oral





Gambar 9. Beaker glas, labu ukur, gelas ukur dan hand counter

Gambar 10. Seperangkat alat bedah
94


Gambar 11. Mikroskop komputer olympus tipe cx31





Gambar 12. Serbuk daun beluntas





Gambar 12. Pipet tetes dan kertas saring




95

Lampiran 8. Gambar kegiatan penelitian

Gambar 1. Kandang, tempat makan dan minum mencit








Gambar 2. Anatomi organ mencit saat di bedah

Gambar 3. Pencekokan ekstrak daun beluntas


PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less) TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS PADA MENCIT (Mus musculus L)

SKRIPSI

Diajukan Kepada: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Sains

Oleh: RIZAL MAARIF RUKMANA NIM. 06520024

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2010

19630114 199903 1 001 . Pd NIP. 1973 1212 1 99803 1 001 Tanggal. 2010 Mengetahui Ketua Jurusan Biologi Dr. 14 Juli . Ahmad Barizi. Eko Budi Minarno. M. M. A NIP. M. drh... Bayyinatul Muchtaromah..PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less) TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS PADA MENCIT (Mus musculus L) SKRIPSI Oleh: RIZAL MAARIF RUKMANA NIM.19710919 200003 2 001 Dr. 06520024 Telah disetujui oleh: Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Dr. Si NIP.

M.PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less) TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS PADA MENCIT (Mus musculus L) SKRIPSI Oleh: RIZAL MAARIF RUKMANA NIM. Bayyinatul M. 19671113 199402 2 001 2. Eko Budi Minarno.Si NIP. M. M. 1973 1212 1 99803 1 001 Tanda Tangan ( ) ( ) 3. drh. Ketua : Kiptiyah. Pd NIP.Si NIP. M. 19731005 200212 2 003 : Dr.. M. 19630114 199903 1 001 .Si NIP. Retno Susilowati. Anggota ( ) Mengetahui dan Mengesahkan Ketua Jurusan Biologi Dr. Sekretaris ( ) 4. 06520024 Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Tugas Akhir dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Tanggal 14 Juli 2010 Susunan Dewan Penguji 1.A NIP. Ahmad Barizi. Penguji Utama : Dra.19710919 200003 2 001 : Dr.

pak Eko. Fahruddin. terima kasih yang tak terhingga kepadaMu. Semoga pengorbananmu dan jeri payahmu tidak sia-sia untukku. Jadilah anakanak yang baik dan buat ayah dan ibu bangga atas dirimu. Aku selalu ingin membahagiakanmu wahai ayah dan ibuku. begitu maha kuasa Engkau ya Allah. Kurotin yang sangat ku sayangi. pak Yono. bu Ifa. taufiq serta hidayahMu. engkau selalu menjadi pelecut semangatku ketika aku malas dan memberikan kebanggaan buatku. bu Retno. ustad dan ustadzahku. bu Ulfah. bu Kip. Untuk adik-adikku dek Wildan dan dek devi. Atas segala rahmat. pak Barizi. Di saat aku dekat. engkau tetap dekat.Lembar Persembahan Untukmu ya Allah. begitu agung. mengasihiku dan mendoakanku setiap waktumu. menyayangiku. bu Amel. bapak dan ibu dosenku. selalu membawa kesejukan dan pencerahan bagi hatiku.. Yang dengan sabar dan tulus ikhlas menghidupiku. bu Ruri. pak Roma. engkau lebih mendekat.Hj. Bapak dan ibu guruku. Bu Bayyin. didikan dan nasehatmu takkan ku lupakan. bu novi. terima kasih telah membantuku untuk mencari ilmu dan engkaulah pahlawanpahlawanku. pak Dwi. Engkau selalu ada untukku. bu Evika. bu soraya. . Kupersembahkan karya ini untuk: Ayahku H. namun di saat aku jauh. bu Lilik.Sos dan ibuku Dra. S.

mendoakanku. Dek Binti Karomah yang selalu menemaniku. Dek Aisi Biologi 2009 yang dengan sabar membantu menghidupi anakanakku sehingga semuanya bisa berjalan dengan lancar. semoga perjuangan kalian terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi kalian.Mas Basyar. Semoga engkau selalu diberi kemudahan dalam segala hal. . mas Sholeh. memberikan semangat untukku. semoga kebersamaan ini terus berlanjut. Berikan yang terbaik untuk organisasi dan semoga itu menjadi amal bagi kalian semua serta memberikan pengalaman dan manfaat bagi kalian semua. Seluruh teman-teman warga WAROK komisariat UIN MALIKI Malang. Teman-teman Biologi angkatan 2006 semoga selalu kompak dan semangat. membuatku bahagia. tetap semangat dan jangan pernah menyerah dalam ber-organisasi. membuatku tertawa. mas Ismail. Seluruh sahabat-sahabati warga rayon “pencerahan” galileo. Teman-teman kosku semoga tali silaturrahmi kita selalu terjalin dengan baik. mbak Lil dan mas Zulfan terima kasih atas segala bentuk bantuannya yang diberikan untukku.

MOTTO: ‫خيرالنّاس انفعهم لنّاس‬ Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain .

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Drs. Bayyinatul Muchtaromah. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada pembawa perubahan yakni Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang telah mengawali upaya menegakkan cita-cita Islam di muka bumi ini. iringan doa dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan. Hj. i . Prof. Dr. Wb Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Eko Budi Minarno. 2. Penulis menyadari banyak pihak yang telah berpartisipasi dan membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. H. Imam Suprayogo. Prof. 3. atas segala limpahan rahmat taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sains (S. SU. M. Dr. Sutiman B. Dsc selaku dekan fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. drh.Pd selaku kepala jurusan biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang... 4. utama kepada: 1. M.Si selaku dosen pembimbing I yang sabar membimbing dan memberi arahan kepada kami skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu. Sumitro. Dr.Si).

Ayahku (H. 11. engkau adalah harapan dan kebanggaanku. Fida.Fahrudin. S. Arif. lanjutkan perjuangan kalian sebagai agen of Change dan kontrol. Dek Binti Karomah yang selalu memberikan dukungan dan support semasa pengerjaan skripsi dan perkuliahan. Lisin. 9. Ahmad Barizi. Hj. Toni. Fenty. Khanifah. Adik-adikku (Wildan dan Devi) yang selalu merindukanku dan sangat saya sayangi.Sos). Dr. Mas Basyar. Syela. Seluruh sahabat/i kader rayon “pencerahan” Galileo PMII komisariat Sunan Ampel Malang.A selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingannya kepada kami selama mengerjakan skripsi ini. 8. Dek Aisi Bio ’09 yang dengan sabar membantu kami dalam mengerjakan penelitian ini. Firda. buatlah Ayah dan Ibu bangga akan dirimu. materiil dan doa kepada kami. 7. Kurotin) tercinta. Didik. Ayu. Indah.5. yang selalu memberi dukungan moril. Ibuku (Dra. Zaenal. Kepada teman-teman anggota dan pengurus WAROK komisariat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terima kasih atas motivasinya. Hartanto. ii . serta semua teman-teman Bio ’06 yang tidak bisa saya sebut satu per satu terima kasih atas dukungan moril dan materiilnya. Mas Sholeh. jangan pernah bosan untuk belajar dan menuntut ilmu. 10. 13. M. Rita. 12. Mas Ismail. Rimah. Mbak Lil. Mas Zulfan yang telah membantu kami dalam menyelesaikan segala permasalahan administrasi dan labulatorium di jurusan Biologi. Ike.. 6.

Penulis mengharapkan semoga skripsi ini memberikan khasanah pengetahuan untuk kemajuan pendidikan. 15. Kepada teman-teman pengurus BEM Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang terima kasih atas semangat yang telah ditularkan.14. Amin. Seluruh pihak yang telah membantu dan memberikan dukungannya hingga terselesaikannya skripsi ini. Penulis juga berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb Malang. 23 Juni 2010 Penulis iii .

... 6 1............. vi DAFTAR GAMBAR .............................................1............DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ............................. ix ABSTRAK .............. 8 2.............................. 34 3..... 12 2........................................................................................................ 8 2...... indica Less) .......................................................................1 Rancangan Penelitian .................................................... 25 2..................... 6 1.................1 Morfologi dan Manfaat Tanaman Beluntas (P..... 8 2................................................... 24 2................................................................................. musculus L) ........................................................... 1 1..............1 Latar Belakang .......................... 1 1..............................................5 Batasan Masalah ............................. Musculus L) .....................................................3 Tujuan Penelitian .........5................................................................................ 5 1.6 Hipotesis .................................... 12 2.........2 Spermatogenesis .............................. METODE PENELITIAN ............ KAJIAN PUSTAKA .............................................................................................................. 27 2....5 Fisiologi Reproduksi Mencit Jantan (M..............................................2 Rumusan Masalah ..................... 7 BAB II..4 Sistem Reproduksi Mencit Jantan (M.......4 Manfaat Penelitian .....................................................2....................................2 Klasifikasi .................1.................. 34 iv ...........................................................5.. viii DAFTAR LAMPIRAN ..... 30 2.................................................................................3 Boiologi Mencit (M........................................1 Hormon Reproduksi Jantan .................. x BAB I...................5..............................2 Peran Zat Aktif Beluntas Terhadap Reproduksi Jantan .........................................................33 BAB III........................................................................... i DAFTAR ISI ..................... PENDAHULUAN ..........6 Sel Leydig........................ 20 2........................................... indica Less)......1 Spermiogenesis ................................................. 16 2..........1 Beluntas (P.............................. iv DAFTAR TABEL ................................................... 6 1...... musculus L) .....................

....................................................................3 Kegiatan Penelitian .............. 36 3...........................................................................4 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Leydig ....6...............................7 Analisis Data ......................... 65 5..................... 36 3............................................................................................................................ 53 4........................6.......................................... 65 5..4 Populasi dan Sampel ........................... 70 v ......... 35 3.....................................................................................1 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Spermatogonium .............................1...................... 36 3... HASIL DAN PEMBAHASAN .............................2 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Spermatosit primer ........................ 36 3........... 35 3..............................6........... 37 3...5................................................................................... 36 3.................... 40 4..................3 Waktu dan Tempat .......................................................................... 37 3..2 Persiapan Perlakuan ..................... 58 BAB V........................................1.................................6 Pelaksanaan Penelitian ............................................................................ 36 3................................................................................. 66 LAMPIRAN ................................................ 48 4................................1 Hasil Penelitian......................................................2 Bahan ....................5....................................1 Kesimpulan ...................... 42 4.1 Persiapan Hewan Coba .............................................. 35 3...................................2 Variabel Penelitian ......................4 Pembuatan Sayatan Preparat Testis Mencit ..........6........................................................... KESIMPULAN DAN SARAN ....................................5 Alat dan Bahan ......................1.............3 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Spermatid ..3..................... 65 DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................1.1 Alat ..................... 40 4.....................2 Saran .. 39 BAB IV......

.. Tabel 4.....................................................Indica Less) Terhadap Jumlah Sel 44 Spermatogonium Pada Testis Sebelah Kiri....indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatogonium Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit Sebelah Kanan....5 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P...indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatosit Primer Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit Sebelah Kiri. Tabel 4........... 43 Tabel 4................... Tabel 4...................indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatosit Primer Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit Sebelah Kanan........DAFTAR TABEL No Tabel 4......................8 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P................... Tabel 4.. 44 Tabel 4...........7 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P........indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatogonium Pada Testis Sebelah Kanan...............indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatosit 49 Primer Pada Testis Sebelah Kanan...........1 Judul Halaman Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P...4 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P.....6 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P...........2 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P.............................. 43 Tabel 4...... indica less) Terhadap Jumlah Sel Spermatosit 49 50 vi .....3 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P........................indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatogonium Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit Sebelah Kiri..................

.....................indica Less) Terhadap Jumlah Sel Leydig Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit Sebelah Kiri..........indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatid Pada Testis Sebelah Kanan....... Tabel 4..16 Hasil Uji BNT 5% Tentang Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P......15 Ringkasan Anova Tunggal Tentang Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P................ Tabel 4.......indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatid Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit Sebelah Kiri................................................indica Less) Terhadap Jumlah Sel Leydig Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit Sebelah Kanan.indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatid Pada Testis Sebelah Kiri....................13 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P........indica Less) Terhadap Jumlah Sel Spermatid Pada Tubulus Seminiferus Testis Mencit Sebelah Kanan................................ Tabel 4.14 Hasil Uji BNT 5% Tentang Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P.................................................................10 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P...........11 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P.............. Tabel 4.9 Ringkasan Anova Tunggal Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P....................................Primer Pada Testis Sebelah Kiri................... Tabel 4......12 Hasil Uji BNT 5% Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (P..indica Less) Terhadap Jumlah Sel Leydig Pada Testis Sebelah Kanan............ 50 54 54 55 55 59 59 60 61 vii ........................................................................................... Tabel 4....indica Less) Terhadap Jumlah Sel Leydig Pada Testis Sebelah Kiri.................................... Tabel 4....... Tabel 4.............

............ indica Less)........................................... Gambar 4......3 Diagram Batang Tingkat Penurunan Jumlah Sel 42 Spermatosit Primer Pada Perlakuan Ekstrak Daun Beluntas (P.............. indica Less). Gambar 2..........6 Transformasi Spermatid.........1 Tubulus Seminiferus.................... indica Less)........................................................4 Diagram Batang Tingkat Penurunan Jumlah Sel 48 Spermatid Pada Perlakuan Ekstrak Daun Beluntas (P..................... Gambar 4................. Gambar 2...5 Diagram Batang Tingkat Penurunan Jumlah Sel Leydig Pada Perlakuan Ekstrak Daun Beluntas (P............ Gambar 4.........................................2 Organ Reproduksi Mencit Jantan..........................................1 Morfologi Tanaman Beluntas (P.........5 Spermatogenesis Pada Mencit.................................... Gambar 2..................................................DAFTAR GAMBAR No Judul Halaman 10 22 23 25 29 31 41 Gambar 2........indica Less)..... Gambar 4....... Gambar 4......2 Diagram Batang Tingkat Penurunan Jumlah Sel Spermatogonium Pada Perlakuan Ekstrak Daun Beluntas (P. Gambar 2...4 Kontrol Hormonal Pada Testis............ musculus L).......................... 58 53 viii ......... Gambar 2.............. indica Less)..........................................................................3 Testis Mencit (M...........................

................... Dasar Penentuan Dosis Ekstrak Daun Beluntas...... ix ........................................................... Gambar Kegiatan Penelitian...DAFTAR LAMPIRAN No Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Judul Halaman 70 78 86 87 89 90 91 95 96 Data Hasil Pengamatan Testis Kanan Dan Kiri......... Prosedur Ekstraksi Daun Beluntas..................................... Gambar Alat dan bahan Penelitian....................................................................... Diagram Alir Penelitian..... Perhitungan Manual Anava Dan Uji BNT........................................................................ Peta Konsep Penelitian......... Bukti Konsultasi....

2010. Rizal Maarif. Spermatogenesis. spermatid dan sel leydig. Pembimbing: Dr. M. Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang pada bulan Maret-Mei 2010.A. karena selain mudah didapatkan. bila dari hasil analisis diperoleh nilai Fhitung > Ftabel 1 % dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf signifikan 1%. Variabel yang diamati adalah jumlah sel spermatogonia. spermatid dan sel leydig.000 jiwa setiap tahunnya. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai penghambat spermatogenesis adalah beluntas (P. Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica Less) terhadap Proses Spermatogenesis Pada Mencit (Mus musculus L).ABSTRAK Rukmana.. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). spermatosit primer.5 mg/kg bb. Ahmad Barizi.5 mg/kg bb dan kontrol. Kata kunci: Daun beluntas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (P. indica Less) karena daun beluntas mengandung senyawa aktif berupa alkaloid.. 62. spermatosit primer. musculus L). Dosis yang paling baik dalam penelitian ini adalah 187. khususnya di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun beluntas mampu menurunkan jumlah sel spermatogonia.000. indica Less) diberikan dengan dosis 12.Si dan Dr. Fakultas Sains dan Teknologi. Data yang didapatkan di analisis dengan menggunakan ANOVA satu arah. indica Less) terhadap proses spermatogenesis pada mencit (M. Mus musculus L Kepadatan penduduk menjadi masalah yang serius yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. x . Pemanfaatan tanaman obat sebagai alat kontrasepsi sangat diperlukan. salah satu progam yang dilakukan oleh pemerintah adalah mengadakan progam Keluarga Berencana (KB).5 mg/kg bb. Ekstrak daun beluntas (P. Dengan alasan inilah. 125 mg/kg bb. drh. Bayyinatul muchtarromah. 187. tanin dan flavonoid yang dapat menghambat spermatogenesis melalui kontrol hormonal. Jurusan Biologi. Perlakuan di kelompokkan menjadi 5 kelompok dengan 5 kali ulangan. pemerintah mengambil langkah-langkah untuk menekan jumlah penduduk Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan di labolatorium fisiologi hewan. Berdasarkan Data Pusat Statistik pertumbuhan penduduk Indonesia pada tahun 2009 menunjukkan bahwa peningkatan jumlah penduduk mencapai lebih kurang 2. murah juga aman untuk di konsumsi.5 mg/kg bb. M.

5 mg / kg bw. In 2010.5 mg / kg bw. spermatids and Leydig cells.. primary spermatocytes. Bayyinatul muchtarromah. Beluntas leaf extract (P. The research design used was Completely Randomized Design (CRD). drh. cheap and safe for consumption. State Islamic University (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang in March-May 2010. Ahmad Barizi. The data obtained in the analysis using one-way ANOVA. primary spermatocytes. This research aimed to determine whether there was an effect of extract of leaves beluntas (P. Utilization of medicinal plants as a means of contraception is necessary.A Key words: Leaf beluntas. especially in Indonesia. Treatments were classified into five groups with five replicates. Based on the Data Center of the Indonesian population growth statistics in 2009 showed that the increase in the population reached approximately 2 million people each year. indica Less) on the process of spermatogenesis of mice (M. spermatids and Leydig cells. the government took steps to suppress the population of Indonesia.ABSTRAK Rukmana. tannins and flavonoids that can inhibit spermatogenesis by hormonal control. The results showed that leaf extracts can lower the number of cells beluntas spermatogonia.5 mg / kg bw. Si and Dr. Spermatogenesis. xi . 62. 125 mg / kg bw. Rizal Maarif. Effect of Leaf Extract beluntas (Pluchea indica Less) on the process of spermatogenesis of mice (Mus musculus L). M. Department of Biology.. The observed variable is the number of cell spermatogonia. indica Less) provided a dose of 12. For this reason. Mus musculus L Population density becomes a serious problem faced by developing countries. indica Less) because the leaves contain active compounds beluntas form alkaloids. because apart from easily available. The best dosage in this study was 187. One of the plants potential as inhibitors of spermatogenesis is beluntas (P. This research was conducted in animal physiology laboratories. Advisor: Dr. if the analysis results obtained value F value> Ftable 1% followed by LSD test with significance level 1%. 187.5 mg / kg bw and control. musculus L). M. one of the programs carried out by the government family planning program is entered (KB). Faculty of Science and Technology.

000.1 Latar Belakang Kepadatan penduduk menjadi masalah yang serius yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. salah satu progam yang dilakukan oleh pemerintah adalah mengadakan progam Keluarga Berencana (KB). Islam adalah agama yang menginginkan umatnya sehat dan kuat.000 jiwa setiap tahunnya. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran Surat An-nisa’ / 4:9 1 . penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1. Dengan alasan inilah. khususnya di Indonesia. meninggalkan generasi yang berkualitas juga menjadi salah satu syarat terciptanya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah (Baldatun tayyibatun wa rabbun ghofur). Pemenuhan kebutuhan tersebut bersifat mutlak untuk melangsungkan kehidupannya. Berdasarkan Data Pusat Statistik pertumbuhan penduduk Indonesia (2009) menunjukkan bahwa peningkatan jumlah penduduk mencapai lebih kurang 2. Pada periode 1990-2000.BAB I PENDAHULUAN 1. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi akan mempengaruhi tingkat kehidupan dan kesejahteraan penduduk. terpenuhi kebutuhan sandang dan pangan.49 persen per tahun. pemerintah mengambil langkah-langkah untuk menekan jumlah penduduk Indonesia.

Masalah tersebutlah yang menjadi landasan mengapa perkembangan teknologi kontrasepsi perlu lebih mengarah pada laki-laki (Wilopo. sedangkan pada laki-laki masih terbatas. akan tetapi selama ini di Indonesia pada umumnya hampir semua cara kontrasepsi ditujukan kepada perempuan saja. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar (Q.S An-nisa’/ 4: 9). yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. vasektomi dan penyuntikan hormon. 2006). vasektomi (sterilisasi) menyebabkan terjadinya gangguan pada imunoglobulin (Rusmiati. 2006). Sampai saat ini metode kontrasepsi laki-laki hanya kondom. aman dan bersifat reversibel belum tersedia bagi laki-laki. Alat kontrasepsi yang murah. kelemahan alat kontrasepsi kondom memberikan ketidaknyamanan pada pasangan. walaupun berbagai penelitian pendahuluan untuk . Progam keluarga berencana (KB) dapat dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. 2007). mudah. Rendahnya partisipasi laki-laki dalam progam Keluarga Berencana dikarenakan oleh terbatasnya pilihan kontrasepsi pria yang dapat digunakan.2                 Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah. karena memberikan efek samping yang tidak dapat diabaikan (penyuntikan hormon). sehingga perkembangan kontrasepsi laki-laki jauh tertinggal dibandingkan dengan kontrasepsi perempuan (Maryati et al. Beberapa alat kontrasepsi laki-laki belum bisa diterima oleh masyarakat.

Tujuan kontrasepsi hormonal adalah mengubah lingkungan endokrin di dalam tubuh manusia sehingga kontrol hormonal untuk spermatogenesis dapat dihambat (Widotama. yaitu pembentukan spermatogonia menjadi spermatid. Oleh karena itu metode kontrasepsi hormonal pria dapat berperan menurunkan jumlah sperma melalui penekanan sekresi gonadotropin yang berakibat menurunkan testosteron testis dan menghambat spermatogenesis (Ganong. Selain itu FSH juga berfungsi untuk merangsang sel sertoli dalam pembentukan protein pengikat androgen (ABP) dimana protein ini berperan dalam pengangkutan testosteron ke dalam tubulus seminiferus dan epididimis. Kontrasepsi laki-laki dengan cara pengaturan hormon merupakan salah satu alternatif yang banyak diteliti dengan sasaran utama adalah pengendalian proses spermatogenesis melalui poros hipotalamus-hipofisistestis. Mekanisme ini penting untuk mencapai kadar testosteron yang dibutuhkan untuk terjadinya spermatogenesis. Selanjutnya fungsi FSH untuk merangsang testis dan memacu proses spermatogenesis. hormon-hormon seperti androgen. Beberapa jenis hormon steroid yang telah terbukti .3 pengembangannya sudah dilakukan. Hormon yang dapat menekan produksi spermatozoa. progestine dan estrogen. 1983). antara lain analog gonadotropine releasing hormone (GnRH). Spermatogenesis membutuhkan kerja stimulasi kedua hormon gonadotropin yaitu LH (Luteinizing Hormone) dan FSH (Follicle Stimulating Hormone). LH berfungsi menstimulasi sel Leydig untuk memproduksi hormon testosteron di dalam testis. 2008).

tanin. meningkatkan imunoglobulin dan sebagainya. Senyawa ini dapat digunakan sebagai bahan untuk obat-obatan. Diantara senyawa yang bermanfaat tersebut adalah alkaloid. flavonoid dan tanin. Sedangkan tanin dapat dimanfaatkan sebagai antikanker dan anti aktivitas HIV (Padua et al. rematik. Namun penelitian daun beluntas yang digunakan sebagai antifertilitas laki-laki masih sedikit. kalium. membantu pencernaan. magnesium dan fosfor. Pemanfaatan tanaman obat sebagai alat kontrasepsi sangat diperlukan. Beluntas (Pluchea indica Less) juga mengandung beberapa komponen yang bermanfaat bagi kesehatan.oksidan. anti-diare. nyeri haid. Beluntas (Pluchea indica Less) merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak fungsi diantaranya adalah: meningkatkan nafsu makan. karena selain mudah didapatkan. Beluntas (Pluchea indica Less) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai khasiat sebagai anti . aluminium. anti-kejang. minyak atsiri. flavonoid. 2008). menghilangkan pegal linu. Kandungan kimia. kalsium. daun beluntas mengandung alkaloid.4 mampu menekan spermatogenesis juga terdapat pada tumbuhan (steroid nabati) (Wilopo. Daun beluntas (Pluchea indica Less) merupakan tanaman obat sebagai antifertilitas pada perempuan (Setiawan. anti. peluruh keringat. pereda demam dan penyegar. natrium. Flavonoid bisa dimanfaatkan sebagai anti radang. anti-malaria. 1999). antibody. Alkaloid yang diperoleh dari tanaman dapat mempengaruhi fisiologi dan metabolisme manusia dan hewan. murah juga aman untuk di konsumsi. asam chlorogenik. rematik. 1999). anti-HIV. keputihan. anti-tumor. diantaranya sebagai obat batuk.

sehingga hipofisa anterior sedikit untuk mensekresikan FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone) sehingga proses spermatogenesis terganggu. Alkaloid. Upaya pengembangan beluntas (Pluchea indica Less) menjadi salah satu obat. (Susetyarini. dan Flavonoid) dapat mempengaruhi kadar testosteron. yaitu testosteron sehingga proses spermatogenesis terganggu. Atas dasar tersebut dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak beluntas (Pluchea indica Less) terhadap proses spermatogenesis pada mencit (Mus musculus L). Tanin dapat menyebabkan penggumpalan sperma. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa beluntas (Pluchea indica Less) memiliki beberapa komponen beraktivitas biologi yang bermanfaat untuk manusia. 2003). Testosteron yang tidak stabil akan berakibat feed back negatif pada hipothalamus.5 spermatogenik.2 Rumusan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium testis mencit (Mus musculus L)? . sehingga hipothalamus sedikit mensekresikan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) tidak dapat menggertak hipofisa anterior. terutama tentang obat antifertilitas pada laki-laki masih memerlukan serangkaian penelitian. 1. Senyawa aktif daun beluntas (Tanin. Flavonoid mampu menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan hormon testosteron. alkaloid dapat menekan sekresi hormon reproduksi.

4 Manfaat Penelitian Memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang manfaat beluntas (Pluchea indica Less) sebagai obat antispermatogenik dan memberikan informasi tentang khasanah keilmuan pada bidang biologi reproduksi serta menjadi landasan bagi penelitian selanjutnya. 3.5 mg/kg bb. spermatid dan sel Leydig. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid testis mencit (Mus musculus L)? 4.6 2.3 Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap proses spermatogenesis pada mencit (Mus musculus L). Hewan coba yang dipakai adalah mencit (Mus musculus L) galur balb/c jenis kelamin jantan. 1. umur 2 bulan dengan berat rata-rata 20-30 gram. 62. 1.5 mg/kg bb. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig testis mencit (Mus musculus L)? 1. 2. 125 mg/kg bb. Sel-sel spermatogenik yang diamati dalam penelitian ini meliputi sel spermatogonia. 187.5 mg/kg bb.5 Batasan Masalah 1. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer testis mencit (Mus musculus L)? 3. Dosis ekstrak beluntas (Pluchea indica Less) yang dipakai dalam penelitian ini adalah 12. spermatosit primer. .

.6 Hipotesis Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonia. sel spermatid dan sel Leydig pada testis mencit (Mus musculus L).7 1. sel spermatosit primer.

Thaha/ 20: 53).1 Morfologi Dan Manfaat Tanaman Beluntas (Pluchea indica Less) Pada dunia tumbuhan. begitu juga dengan manfaatnya. Beluntas merupakan 8 . 2008).1. Salah satu tumbuhan tingkat tinggi yang sudah dapat dibedakan antara daun. terdapat berbagai macam tumbuhan yang berbedabeda. Dari ayat di atas yang berbunyi (wa‟ anzala minassamã‟i mãan faakhrojnã bihi azwãjamminannabã tinsyattã) dapat kita ketahui bahwa berbagai jenis tumbuhan dapat tumbuh di bumi ini karena adanya air hujan. batang dan daunnya (Savitri. maupun tumbuhan tingkat tinggi yaitu tumbuhan yang sudah bisa dibedakan secara jelas bagian akar. batang dan daunnya. termasuk juga tumbuhan yang tergolong tumbuhan tingkat rendah yaitu tumbuhan yang tidak jelas bagian akar. dan menurunkan dari langit air hujan. batang dan akarnya adalah tumbuhan beluntas.S. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Thaha ayat 53 sebagai berikut:                     Artinya: Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam (Q.1 Beluntas (Pluchea indica Less) 2.

kadang-kadang lebih. dan berbulu lembut.5 – 9 cm. berwarna ungu dan pangkalnya ungu muda.5-12. bila direbus dan di remas berbau harum. Pertulangan menyirip.5 cm. Buah beluntas longkah berbentuk seperti gasing. Daun pelindung bunga tersusun dari 6-7 helai. Berbulu halus (Sirait. tumbuh tegak. tinggi mencapai 2 m. Panjang daun pembalut sampai 4 mm. banyak ditemukan di daerah pantai atau dekat laut sampai ketinggian 1000 m dpl. Daun bertangkai pendek. Percabangan banyak. Cabang bunga sangat banyak sehingga membentuk rempuyung cukup besar antara 2. Kepala sari menjulur dan berwarna ungu. bergagang atau duduk. panjang 2. tepi bergerigi. Percabangan banyak. letak berseling. dan lokos . Tanaman beluntas berbunga sepanjang tahun (Pujowati. Bunga keluar dari ujung cabang ke ketiak daun. Daun pelindung yang terletak di dalam berbentuk sudut (lanset) dan di luar berbentuk bulat telur. warnanya coklat dengan sudut-sudut putih. Perdu kecil.9 tanaman semak. Bunga berbentuk bonggol.5 cm. dan berbentuk malai rata. helaian daun bulat telur sungsang. 2006). berusuk halus. Bentuknya seperti silinder sempit dengan panjang 5-6 mm. Warna hijau terang. Beluntas umumnya tumbuh liar di daerah kering pada tanah yang keras dan berbatu atau ditanam sebagai tanaman pagar. berambut lembut. Daun pelindung berbulu lembut. Tumbuhan ini memerlukan cukup cahaya matahari dan sedikit naungan. Menurut Pujowati (2008) bunga beluntas majemuk. 2008). Tangkai putik pada bunga betina lebih panjang. tumbuh tegak. lebar 1 – 5. tingginya dapat mencapai 2 meter atau lebih. ujung bulat lancip. rusuknya halus. berkelenjar.

Berikut adalah morfologi dari tanaman beluntas (Pluchea indica Less): Gambar 2. Seperti firman Allah dalam surat Al-Syuara: 7. yang berbunyi:             Artinya:dan Apakah mereka tidak memperhatikan bumi.S Al-Syuara /27: 7).10 (gundul atau licin) panjang buah 1 mm. Beliau telah menurunkan berbagai macam tumbuhan agar kita senantiasa mempelajarinya. . Tumbuhan yang baik dalam hal ini adalah tumbuhan yang bermanfaat bagi mahluk hidup. termasuk tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pengobatan. berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik? (Q.1 Morfologi dari Pluchea indica Less (Pujowati. 2006) Pemanfaatan tumbuhan sebagai sarana pengobatan merupakan salah satu cara kita dalam mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

sedangkan tumbuhan adalah mahluk hidup yang tidak pernah mengharapkan balasan dari mahluk lain (Savitri. flavonoid. pereda demam dan penyegar. Al-Qashash: 57                            Artinya: Dan mereka berkata: "Jika Kami mengikuti petunjuk bersama kamu. kalsium. Akar beluntas berkhasiat sebagai peluruh keringat dan penyejuk. bahan sandang. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (Q. asam chlorogenik. daun beluntas mengandung alkaloid. Tumbuhan menjadi rezeki bagi mahluk hidup karena merupakan bahan pangan. yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh. Berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan. aluminium. kalium. membantu pencernaan. dan ini merupakan anugrah Allah SWT yang harus dipelajari dan dimanfaatkan seperti disebut dalam QS. magnesium dan fosfor. 2007). Khasiat tumbuhan beluntas. (Susetyarini. Sedangkan akarnya mengandung flavonoid dan tanin. minyak atsiri.11 Tumbuhan yang bermacam-macam jenisnya dapat digunakan sebagai obat berbagai jenis penyakit. . dan Apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman.S. daun berbau khas aromatis dan rasanya getir. papan dan bahan obat-obatan. natrium.tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Al-Qashah / 28:57). peluruh keringat. niscaya Kami akan diusir dari negeri kami". tanin. Kandungan kimia. 2008). Begitu banyak manfaat tumbuhtumbuhan bagi mahluk hidup lain. Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita mencari dan mempelajari berbagai tumbuhan yang menjadi rezeki yaitu yang memberikan manfaat bagi kehidupan.

1. Sedangkan akarnya mengandung flavonoid dan tannin (Susetyarini. magnesium dan fosfor. Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang bersifat basa. klasifikasi beluntas dalam sistematika tumbuhan sebagai berikut: Divisi Spermatophyta Sub Divisi Magnoliophyta Kelas Dicotyledonae Bangsa Asterales Suku Asteraceae Marga Pluchea Spesies Pluchea indica Less 2. flavonoid. Alkaloid Alkaloid merupakan senyawa organik yang terdapat banyak di alam. Alkaloid didefinisikan sebagai senyawa bersifat basa. memiliki amino yang komplek dan atom nitrogen yang berasal dari tumbuhan. tanin. kalium.12 2. 1. yang mengandung satu atau lebih atom . aluminium.2 Klasifikasi Menurut Van Steenis (1975). natrium. Senyawa-senyawa ini merupakan senyawa metabolit sekunder. minyak atsiri. 2007).2 Peran Zat Aktif Beluntas (Pluchea indica Less) Terhadap Reproduksi Jantan Senyawa bioaktif yang terdapat pada daun beluntas (Pluchea indica Less) adalah alkaloid. asam chlorogenik. kalsium.

2. Flavonoid memiliki peranan yang sangat besar pada pembentukan pigmen tanaman. rematik. Flavonoid Flavonoid merupakan senyawa fenol yang bertanggung jawab atas pigmen warna pada bunga. diantaranya sebagai obat batuk. Senyawa ini merupakan derivad dari kombinasi asam shikimic dan asam asetat (Padua et al. sebagai perlindungan tanaman. Senyawa itu adalah chalcones dan flavonols. anti-malaria. Senyawa alkaloid dapat digunakan sebagai bahan untuk obat-obatan. buah dan kadang-kadang pada daun. antikejang. 1999). Struktur dasar dari senyawa flavonoid adalah 2-phenyl kromat atau Ar-C3Ar skeleton.13 nitrogen. Flavonoid banyak ditemukan dalam bentuk tepung putih pada . Dalam organ reproduksi jantan cara kerja alkaloid yaitu dengan menekan hormon reproduksi. flavonoid juga dapat melindungi tanaman dari bahaya sinar UV serta berperan dalam menarik hewan yang akan membantu penyerbukan tanaman (Padua et al. yaitu hormon testosteron sehingga proses spermatogenesis terganggu (Susetyarini. 1999). senyawa ini memberi efek warna kuning. perkecambahan dan menstimulasi pertumbuhan tanaman. Selain itu. Biasanya dalam cincin heterosiklik dan banyak digunakan sebagai obat atau untuk keperluan farmasi. 1999). Alkaloid yang diperoleh dari tanaman dapat mempengaruhi fisiologi dan metabolisme dari manusia dan hewan (Padua et al. Alkaloid pada tanaman telah dipercaya sebagai sumber nitrogen. Menurut Syahnida (2003) dalam Hasanah (2009) menyatakan semua flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk flavon. 2003).

Tanin merupakan senyawa fenolik larut air dengan BM 500-3000. anti-tumor. Sebagian tumbuhan yang bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat (Harbone. Di dalam tumbuhan. mengurangi kerapuhan pembuluh kapiler. Flavonoid dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang berfungsi mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen yang akan meningkakan hormon testosteron. anti-oksidan. Tanin Tanin memiliki struktur kimia yang komplek. maka reaksi penyamakan dapat terjadi. tanin terletak terpisah dengan protein dan enzim sitoplasma. Reaksi ini dapat menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. 1984). Pada bidang farmakologi flavonoid dapat digunakan sebagai antiradang. Enzim aromatase juga mengkatalis perubahan testosteron ke estradiol dapat mempengaruhi proses ovulasi (Winarno.14 tumbuhan primula contohnya pada tanaman beluntas dan biasanya terdapat pada vakuola sel. menghambat proses mitosis dan proses spermatogenesis. dan bersifat aktif biologis. meningkatkan imunoglobulin. dan memiliki sifat-sifat khusus seperti pretisipasi alkaloid. anti-diare. 1997). Bila jaringan rusak. memberikan reaksi umum senyawa fenol. . gelatin dan protein-protein lain. Tingginya kosentrasi testosteron akan menyebabkan umpan balik negatif ke hipofisis yaitu tidak melepaskan FSH dan LH. Biasanya dalam cincin heterosiklik. anti-HIV. 3. antibody. Tanin banyak ditemukan pada tumbuhan yang berpembuluh.

seperti benzena dan kloroform. sehingga phospat di dalam tubuh menjadi tidak aktif. membentuk larutan koloid bukan larutan sebenarnya. 1991). menggumpalkan protein dan pembentukan senyawa komplek dengan phospat energi tinggi.15 Tanin biasanya berupa senyawa amorf. menghambat pertumbuhan tumor dan menghambat enzim seperti „reserve‟ transkriptase dan DNA topoisomerase (Robinson. Larutan tanin dapat diendapkan dengan penambahan asam mineral atau garam. Komposisi atau kandungan komponen kimia tersebut sangat . Tanin juga larut dalam pelarut organik yang polar. Hal ini mengakibatkan energi metabolisme menurun dan kualitas nutrisi yang diperlukan semen juga akan berkurang sehingga kualitas sperma yang meliputi motilitas dan viabilitas akan menurun dan abnormalitas serta mortalitas akan meningkat. Dari hasil penelitian Lusiyawati (2008) menyatakan bahwa tanin mampu mempengaruhi kualitas spermatozoa. karena tanin bersifat chelator yaitu substansi yang mampu mengikat partikel ion. 4. Kebanyakan minyak atsiri memiliki komponen kimia dan komposisi yang berbeda. Makin murni tanin. maka kurang kelarutannya dalam air dan makin mudah membentuk kristal. higroskopis yang berwarna coklat kuning yang dapat larut dalam air. antara lain mampu mengikat enzim-enzim kunci pada sintesis protein. Minyak Atsiri Minyak atsiri adalah segala sesuatu yang terkait dengan bau harum yang berasal dari tumbuhan. Minyak atsiri dari satu tumbuhan dengan tumbuhan yang lain berbeda. Beberapa tanin terbukti mempunyai aktivitas antioksidan. terutama air panas.

Ada beberapa jenis minyak atsiri yang memiliki aroma yang mirip. Setiap tumbuhan yang menghasilkan minyak atsiri aromanya spesifik. untuk senantiasa belajar dan memahami fenomena berbagai keanekaragaman dari hewan. akal serta kemampuan berfikir dengan maksimal. 2. Ditinjau dari sumber alami minyak atsiri.3 Biologi Mencit (Mus Musculus L) Manusia dilengkapi oleh Allah dengan akal pikiran untuk menjalankan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi. Keanekaragaman hewan yang diciptakan oleh Allah memiliki perilaku yang berbeda-beda. Sehingga manusia harus menggunakan indera. 2000).16 penting dalam menentukan aroma dan kegunaannya. sebagaimana dijelaskan dalam surat An-Nur 45: . Sifat fisik terpenting minyak atsiri adalah sangat mudah menguap pada suhu kamar. Minyak atsiri pada tanaman beluntas terdapat pada bagian daun. Minyak atsiri dapat menggumpalkan sperma sehingga menurunkan motilitas dan daya hidup sperma. Sehingga sangat berpengaruh dalam menentukan metode analisis yang akan digunakan dalam penentuan komponen kimia dan komposisinya (Agusta. substansinya yang mudah menguap dapat dijadikan ciri khas dari suatu jenis tumbuhan. tetapi komponen kimia penyusunnya yang berbeda. 1997). akibatnya sperma tidak dapat mencapai sel telur dan pembuahan dapat dicegah (Winarno. Golongan terpen dan minyak atsiri bekerja tidak pada proses spermatogenesis akan tetapi pada proses transportasi.

kulit berpigmen. Semuanya bertasbih kepada Allah “Tapi kalian takkan memahai (cara) mereka bertasbih kepada-Nya” (Shihab. Pada penelitian ini. Mencit dewasa dapat mencapai 30-40 gram pada umur enam bulan atau lebih. hewan coba yang digunakan adalah Mencit (Mus musculus L).17                                   Artinya: Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air. Sekarang memiliki berbagai warna bulu yang timbul dan berbagai macam galur (Smith dan Mangkoewidjojo. Mencit memiliki ciri-ciri: Mata berwarna merah. . Mencit (Mus musculus L) merupakan salah satu hewan percobaan yang sering digunakan di laboratorium yang biasa disebut dengan tikus putih. yaitu perilaku mahluk-mahluk Allah yang ada di muka bumi. berat badan bervariasi. Pada ayat tersebut Allah menjelaskan tabiat penciptaan mahluk-mahlukNya. Semua berjalan sesuai dengan tabiat penciptaannya dan masing-masing memiliki keistimewaan yang dibekali oleh Allah. sebagian lagi berjalan dengan “dua kaki”. An-Nur / 24:45). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q. Sebagian ada yang berjalan dengan “perutnya”. Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. dan sebagian yang lainnya berjalan dengan “empat kaki”. 1988). tetapi umumnya pada umur empat minggu berat badan mencapai 18-20 gram. 2003).S. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.

Selain itu makanan mencit harus berisi vitamin A (15. vitamin B12 (30 ug/Kg). 5-6%. menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda ً‫عن أ بً هس يس ة قا ل : قا ل زسىل ا هلل صلي هللا عليه وسلم فقد ث أمت من بن‬ ‫إسسا ٍيل اليدز ي ما فعلج و ال أزاها إال االفاز أال حس و نها إذا وضع لها ألبان‬ ‫اإلبل لم حشس به واذا وضع لهاألبان الشخاء شسبخه قال أبى هسيسة فحدثن هراالحد‬ ‫يث كعبا‬ Artinya: Dari Abu hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu „alaihi wa Salam bersabda: “sekelompok umat dari bani isroil hilang lenyap. Mencit membutuhkan makan setiap hari sekitar 3 samapi 5 g perhari. dan kolin (20 g/Kg). Bukhari & Muslim).000 IU/Kg).000-20. Biasanya mencit labolatorium diberi makan berupa pelet tanpa batas (ad libitum). vitamin D (5000 IU/Kg). pirridoksin (5 mg/Kg). Maka sebagai hewan coba mencit harus diberi makanan sesuai dengan yang paling disukainya dan baik untuk kondisi tubuhnya. 4% atau kurang. dan abu. inositol (10-1.000 mg/Kg). Setiap hari mencit dewasa membutuhkan minum 4-8 ml air. Komposisi makanan yang baik bagi mencit adalah: protein. 1012%. alfa-tokoferol (50 mg/Kg). riboflavin (8 mg/Kg). Jika ia tidak mau diberi minum susu unta maka jangan diberi minum susu unta. tanpa diketahui sebab apa yang dikerjakan dan tidak terlihat kecuali (dalam bentuk) tikus. pantotenat (20 mg/Kg). lemak. Tidaklah kamu lihat jika (tikus itu) diberi susu unta ia tidak meminumnya. tiamin (15-20 mg/Kg). pati. asam linoleat (5-10 g/Kg). biotin (80-200 ug/Kg). 45-55%. dan jika ia mau diberi minum susu kambing maka berilah susu kambing. Air . Hadist tersebut menjelaskan bahwa (tikus) mencit perlu diperhatikan kualitas makanannya. 20-25%. serat kasar. tetapi jika diberi susu kambing ia meminumnya (HR.18 Az-Zabidi (1997).

turun menjadi 80 dengan anestasi. bisa sampai 3 tahun Lama produksi ekonomis Lama bunting Kawin sesudah beranak Umur disapih Umur dewasa Umur dikawinkan Berat dewasa Jumlah anak Suhu (rektal) Pernafasan 9 bulan 19-21 hari 1 sampai 24 jam 21 hari 35 hari 8 minggu (jantan dan betina) 20-40 g jantan. 80 diastol dengan anestesi Konsumsi oksigen Volume darah 2. Tabel 2. 102-110 diastol. 5-10 ppm dalam air (Smith dan Mangkoewidjojo. naik sampai 750 dalam stres Tekanan darah 130-160 sistol.19 minum yang baik untuk mencit dapat ditambahkan obat supaya steril yaitu klor dalam bentuk kloramin 5 mg/liter air.1 Data biologis mencit di laboratorium (Smith dan Mangkoewidjojo.4oC) 140-180/menit. 1988). Lama hidup 1-2 tahun.38-4. turun menjadi 350 dengan anestesi. atau natrium hipoklorit. turun menjadi 110 sistol.48 ml/g/jam 75-80 ml/kg . 1988). naik sampai 230 dalam stres Denyut jantung 600-650/menit. 18-35 g betina Rata-rata 6. bisa 15 35-39oC (rata-rata 37.

Kebanyakan mencit mampu kawin pada umur kurang lebih 5 minggu. 1994).4 Sistem Reproduksi Mencit (Mus musculus L) Jantan Sistem reproduksi mencit jantan terdiri atas sepasang kelenjar kelamin (testis) yang merupakan bagian alat kelamin utama. Estrus terjadi tiap 4-5 hari dan segera setelah beranak. lebih baik mencit tidak dikawinkan sebelum umur 8 minggu. Lapisan dalam sel epitel tubulus seminiferus terdapat sel germinatif dan sel sertoli. Tetapi. Testosteron yang dihasilkan akan berdifusi masuk ke tubulus seminiferus untuk mengontrol spermatogenesis dan tugas pemeliharaan sel sertoli (Yatim. Sel leydig berfungsi menghasilkan hormon . Dalam testis terdapat sel leydig yang menghasilkan hormon kejantanan: androgen atau testosteron. Pembiakan mencit akan lebih efisien kalau kamarnya memperoleh cahaya selama 14 jam dan gelap selama 10 jam tiap hari. dan biasanya betina kawin dalam tiga jam pertama periode estrus (Smith dan Mangkoewidjojo. et al (2003) sel sertoli berfungsi untuk memberi nutrisi pada proses spermatogenesis dan sel ini sistem kerjanya dipengaruhi oleh hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan testosteron di dalam testis. limfe. Menurut Fradson. Biasanya estrus mulai jam empat sore dan jam 10 malam. Di dalam testis mencit terdiri dari tubulus seminiferus dan jaringan stroma. 1988). Sel leydig ini sistem kerjanya dipengaruhi oleh hormon LH (luteinizing hormone) dari hipofisa. kelenjar reproduksi dan alat kelamin bagian luar (Partodiharjo. sedangkan pada jeringan stroma terdapat pembuluh darah. saluran reproduksi.20 Mencit berkembang biak sepanjang tahun. 2. sel makrofag dan sel leydig. 1992). sel saraf.

2005 dalam Hasanah 2009). karena testosteron sangat penting dalam perkembangan pematangan spermatozoa. vas deverens. banyak terdapat pembuluh darah dan dibungkus lapisan otot lurik yang tebal. Epididimis merupakan tempat pematangan dan penyimpan spermatozoa. Penurunan testosteron akan mengakibatkan terganggunya proses spermatogenesis dalam testis. Gambar organ reproduksi mencit akan disajikan pada gambar 2. . epididimis. Saluran vas deferens berlumen lebih besar dan berdinding lebih tebal dari saluran sebelumnya. ductus ejakulatoris dan uretra. Saluran ini bermuara pada uretra.21 testosteron. Menurut Yatim (1996) saluran reproduksi jantan terdiri dari: ductuli efferens. Bila sekresi hormon gonadotropin mengalami hambatan maka sekresi testosteron akan mengalami penurunan (Soewolo. lapisan terdalam disebut lapisan mukosa yang membentuk lipatan longitudinal. jaringan ikat longgar. Uretra tersusun atas sekelompok sel epitel transisional. di dalam epididimis terdapat lapisan epitel yang membentuk cairan lingkungan yang cocok bagi pematangan spermatozoa. Menurut Turner (1985) duktus ejakulatoris memiliki otot-otot yang kuat dan berperan selama ejakulasi. Sekresi hormon oleh sel leydig di kontrol oleh hormon gonadotropin. Terdapat dua macam sel epitel yang melapisi ductuli efferens yaitu sel epitel yang bersilia dan bermikrofili.2.

Dari sini spermatozoa masuk ke dalam saluran vas deverens. Kemudian spermatozoa masuk melalui ductus ejakulatoris ke dalam uretra dalam corpus prostat pada saat ejakulasi. . Kedua ujung tiap-tiap lengkung bermuara ke dalam jala-jala saluran epididimis.2 Gambar organ reproduksi mencit jantan(Lusiyawati. yang merupakan tempat pembentukan sperma dengan suatu proses yang biasa disebut dengan spermatogenesis. 2008) Menurut Ganong (1983) testis dibentuk dari lengkung-lengkung tubulus seminiferus convolutus disepanjang dindingnya.22 Gambar 2.

t : testis 4. juga mengaktifkan buffer dan kadar asam pada alat reproduksi jantan. rtv : rongga tunica vaginalis 2. ce :caput epididymis 9. ts : tubuli seminiferi 7. coe :corpus epididymis 10. ta : tunica albuginea 5. Kelenjar ampula bermuara pada ductuli efferens serta memiliki fungsi untuk menambah volume dari semen. cae :cauda epididymis 8. karena itu strukturnya sama (Fradson et al. kelenjar prostate dan kelenjar bulbouretra. de :ductuli everens 11. st : septula testis 3.3 Gambar Testis mencit (Mus musculus L) (Yatim. Semen menyediakan nutrisi untuk sperma. Kelenjar seks asesoris terdisi dari: ampula. rt :rete testis 13. vesikula seminalis. . Vesikula seminalis merupakan sepasang kelenjar dengan lipatan-lipatan mukosa dan bercabang banyak. d : vas deverens Kelenjar seks asesoris secara umum memiliki fungsi memproduksi semen sebagai media transport sperma. Kelenjar ini berasal dari evaginasi vas deverens. tr : tubuli recti 6. 1994) Keterangan Gambar: 1. it :lobula testis 12.23 Gambar 2. tv : tunica vaginalis 14.

lobi dorsal. Jadi FSH berfungsi untuk mengawali proses proliferasi spermatogenesis dan testosteron diperlukan untuk pematangan akhir spermatozoa. Kedua hormon ini memegang peranan utama mengatur fungsi seksual jantan. FSH yang berlebihan akan dihambat melalui mekanisme umpan balik inhibin. Karena testosteron disekresikan oleh sel leydig yang diatur oleh LH. Kelenjar prostat dibina atas lapisan mukosa. untuk menyalurkan semen ke dalam tubuh betina (Yatim. testosteron harus disekresi dalam jumlah sedikit oleh sel interstisiai secara serentak. maka secara tidak langsung LH juga merangsang spermatogenesis (Guyton. 1999). yaitu hormon pembebas dari gonadotropin (GnRH). inhibin . Agar spermatogenesis berlangsung sempurna. Kelenjar bulbourethalis terletak di belakang urethra. lapisan otot polos. GnRH juga dikontrol melalui umpan balik-negatif dari LH dan FSH (Mattheij. Kosentrasi LH. LH dan FSH diatur bergantian oleh sebuah hormon dari hipotalamus.5 Fisiologi Reproduksi Mencit (Mus musculus L) Jantan Kelenjar hipofisa anterior mensekresikan dua gonadotropin yaitu: hormon perangsang folikel (follicle stimulating hormon = FSH) dan luteinisasi hormon (LH). Pembentukan spermatogenesis diatur oleh hormon FSH dan testosteron. otot lurik dan jaringan ikat. FSH dan GnRH dalam darah diatur melalui umpan-balik negatif oleh androgen. sebelum penis. Lapisan mukosa mengandung kelenjar tubulo alveolar. Penis adalah genitalia luar jantan. dan lapisan jaringan ikat. Bila tidak ada FSH spermatogenesis tidak akan terjadi. diselaputi jaringan otot polos. Kelenjar prostat terdiri dari tiga lobi yaitu: kelenjar koagulasi.24 2003). 2. lobi lateral. 1994). 1987).

1 Hormon Reproduksi Jantan Testis mensekresikan beberapa hormon seks yang bersama-sama dinamai androgen. Testosteron yang berlebih dalam testis akan menyebabkan feedback negatif pada hipotalamus. Bila kerja enzim dihambat maka testosteron akan meningkat. sehingga hipofisa anterior sedikit untuk mensekresikan FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone) sehingga proses spermatogenesis terganggu (Ganong. Testosteron dibentuk oleh sel leydig yang terletak pada intersitial antara tubulus seminiferus . Berikut adalah bagan mekanisme hormonal pada mencit jantan: Gambar 2. Tetapi salah satu diantaranya. 1983).25 adalah hormon nonsteroid. sehingga hipothalamus sedikit mensekresikan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) tidak dapat menggertak hipofisa anterior. testosteron.5. jauh lebih banyak dan lebih kuat daripada lainnya serta dapat dianggap merupakan satu hormon yang bermakna dan bertanggung jawab akan efek hormonal jantan. 2.4 Kontrol Hormonal Pada Testis(Campbell. 2004) Aromatase adalah enzim yang mampu mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen.

2000). dan sifat kelamin sekunder pada jantan (Soewolo. Sel-sel leydig merupakan tempat utama sintesis steroid dalam testis yang dipercepat dengan LH. epididimis.26 dan membentuk sekitar 20 persen massa testis dewasa. Menurut (Matheij et al. Hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus yang mempengaruhi reproduksi jantan adalah GnRH (Gonadotropin Releasing Hormon). GnRH terdiri dari FSHRF dan LHRF. Sekresi testosteron dibawah pengawasan LH. vas deferens. Siklik AMP meningkatan pembentukan kolesterol dari ester kolesterol dan perubahan .. bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pemeliharaan karakteristik seks sekunder jantan dan menghalangi GnRH sekresi dari hypothalamus dan stimulasi dari langkah terakhir dari proses spermatogenase. yaitu spermiogenese. Sistem reproduksi jantan dikendalikan oleh poros hipotalamus-hipofisistestis. 1987). vesikula seminalis. 2003). Testosteron dan dehidrotestosteron merupakan hormon androgen yang paling penting memacu pertumbuhan penis. Hipofisis menghasilkan hormon FSH (Folicle Stimulating Hormon) dan LH atau ICSH (Intersitial Cell Stimulating Hormon) (Susetyarini. 1999) menyatakan bahwa fungsi dari androgen dan testosteron adalah menstimulasi perkembangan dan pertumbuhan ductuli dari organ kelamin jantan. dengan mekanisme hormon LH merangsang sel leydig melalui peningkatan pembentukan siklik AMP. kelenjar prostat. Androgen merupakan senyawa steroid (Guyton.

juga dipengaruhi oleh hormon FSH. Mekanisme ini penting untuk mencapai kadar testosteron yang dibutuhkan untuk terjadinya spermatogenesis. FSH berfungsi untuk menggertak testis dan memacu proses spermatogenesis. Selain itu FSH juga berperan penting dalam menunjang tahap pematangan maupun reduksi meiosis dari spermatosit primer. berperan dalam pengangkutan testosteron ke dalam tubulus seminiferus dan epididimis. Selain membentuk protein pengikat androgen (ABP). sebagai akibat perangsangan . sehingga jika FSH terhambat maka suplai glukosa dan sintesis protein juga terhambat. Hasil penelitian dari Satriyasa (2008) menyatakan bahwa. Selain itu FSH juga merangsang sel sertoli dalam pembentukan protein pengikat androgen (ABP). Pembentukan spermatogenesis selain dipengaruhi oleh testosteron. sel sertoli juga membentuk inhibin. 2.2 Spermatogenesis Spermatogenesis adalah proses perkembangan spermatogonia menjadi spermatozoa dan berlangsung sekitar 64 hari. 2003). Jika FSH turun maka akan menyebabkan perubahan sitoskeletal sel sertoli sehingga menyebabkan suplai laktat dan piruvat pada spermatosit primer dan spermatid juga akan menurun. LH. 1983). FSH sangat dibutuhkan pada saat aktifitas proliferasi dari spermatogonium.5.27 kolesterol menjadi pregnenolon melalui pengaktifan protein kinase (Ganong. Spermatogenesis terjadi pada semua tubulus seminiferus selama kehidupan seks aktif. yaitu pembentukan spermatogonia menjadi spermatid. Inhibin adalah suatu hormon nonsteroid yang mempunyai mekanisme umpan balik untuk menghambat produksi FSH yang berlebihan (Susetyarini.

kemudian spermatosit primer akan mengalami pembelahan secara meiosis menjadi spermatosit sekunder. yaitu tahap proliferasi. Spermatid tidak akan membelah lagi tetapi mengalami maturasi untuk menjadi spermatozoa (Guyton.28 hormon-hormon gonadotropin adenohipofisis dan terus berlangsung selama hidup. 1987). 2009). dan sebagian berdiferensiasi melalui stadium-stadium definitif perkembangan untuk membentuk sperma (Guyton.5 hari atau spermatogenesis akan selesai menempuh 4 kali daur epitel seminiferus. . tahap pertumbuhan. Stadium pertama spermatogenesis adalah pertumbuhan beberapa spermatogonia menjadi sel yang sangat besar yang disebut spermatosit primer. 2008). Sel-sel ini terus mengalami proliferasi untuk menyempurnakan diri. yaitu berperan dalam menstimulasi kejadian awal spermatogenesis diantaranya proliferasi spermatogonia (Satriyasa. Tubulus seminiferus mengandung banyak sel epitel germinativum yang berukuran kecil sampai sedang yang dinamakan spermatogonia. Lama satu kali daur epitel seminiferus pada mencit adalah 207 jam ± 6. yang terletak di 2/3 lapisan epitel tubulus. folicle stimulating hormon (FSH) memiliki peranan penting.2 (Hasanah. kemudian akan menjadi spermatid. Pada spermatogenesis. Secara umum spermatogenesis dibagi menjadi beberapa tahap. tahap pematangan dan tahap transformasi/spermiogenesis. 1987). Spermatogenesis pada mencit memerlukan waktu 35.

anafase dan telofase (Yatim. Hormon FSH berperan penting dalam menunjang tahap pematangan maupun reduksi meiosis spermatosit primer (Turek. metafase. kemudian mengalami proliferasi dan hasilnya disebut spermatogonium tipe B. Spermatosit primer akan segera mengalami pembelahan meiosis. . pakiten. diploten dan diakinesis dari profase lalu metafase. Pada meiosis II pun menempuh profase. 1994). Spermatogonium tipe B bermitosis lagi menjadi spermatosit primer. zigoten. spermatogonium mengalami pembelahan mitosis berkali-kali menjadi spermatogonium tipe A. 2005).29 Gambar 2. Pada meiosis I spermatosit primer menempuh fase leptoten. 2004) Pada tahap proliferasi atau perbanyakan.5 Proses Spermatogenesis Pada Mencit(Campbell. anafase dan telofase. Spermatogonium tipe B memiliki inti bundar dan nukleolus agak di tengah.

2. 1996).2. masing-masing berisi satu set kromosom tunggal. Spermiogenesis diawali pada aparatus golgi membentuk granula proakrosomal. (d) Diploten memperlihatkan benang-benang kromosom tampak semakin jelas karena adanya kontraksi dari kromosom sehingga kromosom tampak semakin menebal. Dari meiosis I akan dihasilkan dua sel anak spermatosit sekunder. (c) Pakiten memperlihatkan kromosom homolog menggandeng rapat sepanjang lengannya dari pangkal menuju ke ujung kromosom homolog serta membentuk tetrad. (e) Diakinesis yang merupakan stadia terakhir memperhatikan kromosom-kromosom makin memendek dan kiasmata semakin jelas. . fase akrosom dan fase pematangan (Yatim. kemudian granula akrosomal terdapat dalam membran yang dinamakan vesikel akrosomal. Secara serentak sentriola bermigrasi ke kutub posterior spermatid. sehingga masing-masing kromosom belum dapat dikenal. 1994). Transformasi spermatid menjadi spermatozoa mengalami empat fase yaitu fase golgi.5. Granula yang tersebar menyatu menjadi granula yang besar. fase tutup. Pada stadia ini berlangsung proses biologis yang sangat penting yaitu pindah silang (“crosing over”).1 Spermiogenesis Spermiogenesis disebut juga tahap transformasi yaitu tahap perubahan bentuk dan komposisi spermatid yang bundar menjadi bentuk cebong yang memiliki kepala. (b) Zigotene memperlihatkan bahwa kromosom-kromosom homolog berpasangan. leher dan ekor serta berkemampuan untuk bergerak (motil) (Yatim.30 Menurut Suryo (2005) ciri dari masing-masing stadia sebagai berikut: (a) Lepototene memperlihatkan kromosom sebagai benang panjang.

fl : flagellum 4. anc : tutup depan 3. A-B: fase golgi 11. mct : machotte 6. D : fase acrosom 13.6 Tansformasi Spermatid(Yatim. ac : tutup acrosom 15. rcy : recidual cytoplasma 19. 2009). Fase golgi. sb : sentriol belakang Yatim (1994) menjelaskan proses spermiogenesis adalah sebagai berikut: 1. C : fase tutup 12. Butiran atau granula ini nanti bersatu membentuk satu butiran akrosom butiran ini dilapisi membran dalam gembungan akrosom (acrosomal . 1980 dalam Hasanah. Sitoplasma yang tidak digunakan dalam proses pembentukan spermatozoa dibuang dari sel sebagai bahan residu yang difagosit dan dicernakan oleh sel-sel sertoli (Junquiera. in : inti 5. sd : sentriol depan 8. sf : seludang fibrosa 9. pag : proakrosomal granules 17. Gambar 2. 1994) Keterangan gambar: 1. E : fase pematangan 14. Smt : seludang mitokondria 10. agr : butiran acrosom 2. ago : alat golgi 16. Sitoplasma akan bergeser ke arah flagelum dan meliputi bagiannya. mt : mitokondria 7. pnc : tutup inti belakang 18. terjadi saat butiran proakrosom terbentuk dalam alat golgi spermatid.31 Dari salah satu sentriola timbul flagelum bergelombang pada permukaan sel untuk membentuk ekor spermatozoa sentriola lain bermigrasi membentuk leher sekitar bagian permukaan ekor.

sentriol pun bergerak ke kutub berseberangan. Mikrotubul muncul dan berkumpul di bagian samping spermatid membentuk satu batang besar. Bahan akrosom kemudian menyebar membentuk lapisan tipis meliputi kepala tertutup. dan sitoplasma terdesak ke belakang inti. membentuk lipatan tipis melingkupi bagian kutub yang bakal jadi bagian depan. Akhirnya terbentuk semacam tutup atau topi spermatozoa. 3. Mitokondria membentuk cincincincin di bagian middle piece ekor. inti spermatid memanjang dan menggepeng. Nukleoplasma berkondensasi. .32 vesicle). Sentriol terdepan membentuk flagelum. disebut manchette. Sementara itu. terjadi redistribusi bahan akrosom. Fase tutup. dan selubung fibrosa di luarnya. dan inti jadi gepeng bentuk pyriform. sebagai ciri spermatozoa Primata dan khususnya manusia. saat gembungan akrosom makin besar. terjadi perubahan bentuk spermatid sesuai dengan ciri spesies. Fase pematangan. Ketika akrosom terbentuk di bakal jadi bagian depan spermatozoa. 4. sampai akrosom dan tutup kepala membentuk tutup akrosom (disingkat akrosom saja). Butiran inti akhirnya bersatu. sentriol satu lagi membentuk kelepak sekeliling pangkal ekor. Butiran nukleoplasma mengalami transformasi menjadi filamen-filamen (benang halus) yang pendek dan tebal serta kasar. 2. Manchette ini menjepit inti sehingga jadi lonjong. Fase akrosom. sementara itu spermatid memanjang. sementara spermatid sendiri memanjang. Gembungan ini melekat ke salah satu sisi inti yang bakal jadi bagian depan spermatozoon.

Sel ini adalah sel-sel leydig. Dalam jaringan ini. maka efeknya pada sifat-sifat sekunder yang telah tertanam tidak mampu berkembang dengan baik layaknya laki-laki normal (Bevelander dan Ramelay. . Inti berbentuk bundar dan besar. Hormon ini sangat diperlukan dalam perkembangan seks sekunder pada laki-laki. dan nukleolus itu tampak jelas (kadang-kadang nukleolus itu ada dua). Jika terjadi kastrasi pada saat kematangan seks berlangsung. 1988). 1988). Sekresi sel leydig sangat dipengaruhi oleh hormon pituitari LH (hormon luteinisasi) yang juga disebut ICSH (interstitial cell-stimulating hormon) (hormon yang merangsang pembentukan sel interstitial) pada laki-laki. Karena makin lanjut umur makin banyak kristal ini ditemukan dalam sel leydignya. dengan heterokromatin terletak di pinggir. maka dikira ini adalah semacam ampas metabolisme (Yatim. dan terpisah dari tubula terdapat kelompok sel yang berkumpul dalam gumpalan atau tersusun dalam lapisan-lapisan tipis sepanjang pembuluh darah. Sel leydig memiliki susunan yang rapat. Sel leydig yang ada di pinggiran sering berbentuk gelendong.33 2. umumnya berbentuk polihedral dengan inti di tengah.6 Sel Leydig Tubula-tubula dalam spermatogen berbentuk tergulung dalam stroma jaringan penyambung longgar. Sel leydig merupakan sumber dari androgen testikuler (hormon laki-laki) dan sedikit sekali hormon wanita seperti estron dan estradiol (Bevelander dan Ramelay. 1994). Dalam sitoplasma sering ditemukan kristal reinke yang berbentuk runcing atau bundar lonjong dan dalam sedian tampak bening.

Perlakuan yang digunakan terdiri dari: 1. Kelompok P4 : Kelompok perlakuan sebanyak 5 ekor mencit yang diberi larutan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 125 mg/kg bb. makan dan minum. 34 .5 mg/kg bb. 4. Kelompok P2 : Kelompok perlakuan sebanyak 5 ekor mencit yang diberi larutan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 12.5 ml aquades serta makan dan minum. makan dan minum. Kelompok P5 : Kelompok perlakuan sebanyak 5 ekor mencit yang diberi larutan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 187. 5. Perlakuan di kelompokkan menjadi 5 kelompok dengan 5 kali ulangan.BAB III METODE PENELITIAN 3.5 mg/kg bb. makan dan minum.5 mg/kg bb. 2.1 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). 3. Kelompok P3 : Kelompok perlakuan sebanyak 5 ekor mencit yang diberi larutan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 62. Kelompok P1 : Kelompok pembanding tanpa perlakuan sebanyak 5 ekor mencit diberi 0. makan dan minum.

35 3. 3. 3. Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.3 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2010 di Laboratorium Fisiologi hewan. 125 mg/kg bb. kandang atau bak plastik dengan alas sekam. spermatid dan sel leydig. . Variabel tergantung : Jumlah sel spermatogonia. 187. jurusan Biologi. pakan mencit dan air minum. Variabel kendali : Jenis hewan uji coba yaitu mencit galur balb/c jenis kelamin jantan.5 mg/kg bb. Variabel bebas : Ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 12. 2.5 mg/kg bb.4 Populasi dan Sampel Hewan uji yang dipakai adalah mencit (Mus musculus L) galur balb/c jenis kelamin jantan. spermatosit primer. 3. Fakultas Sains dan Teknologi. umur 2 bulan dengan berat badan rata-rata 20-30 gram sebanyak 25 ekor.2 Variabel Penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.5 mg/kg bb. 62.

beaker glass. seperangkat alat bedah.1 Persiapan Hewan Coba Sebelum penelitian dilakukan disiapkan tempat pemeliharaan hewan coba yang meliputi kandang (bak plastik) berbentuk segi empat.1 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang hewan coba (bak plastik). labu ukur.5%. 3.6. air. Kemudian dimaserasi dengan menggunakan etanol 96% selama 3 hari sambil diaduk.2 Bahan Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah serbuk beluntas. serat 8%. pipet tetes. lemak 3%. kaca glass.5 Alat dan Bahan 3. sekam. Batu.5%. tempat makan dan minum mencit. botol specimen. ayakan tepung/ kertas saring. hot plate. pakan mencit berupa pellet (protein 10%. 90%.6 Pelaksanaan Penelitian 3. formalin 10%.2 Persiapan Perlakuan Serbuk beluntas (Pluchea indica Less) diperoleh dari balai Materia Medica. parafin. alat pencekok oral (gavage). aquades steril. etanol mutlak. etilen dan CMC 0. corong bughner. xylol. mikroskop komputer dan alat optik mikrotom. dan 95%.6. 3. hand counter. Hasilnya disaring dengan corong Buchner untuk mendapatkan filtratnya dan dipekatkan dengan menggunakan Rotari Evaporator sampai pelarut .36 3. rotari evaporator. 80%. obyek glass. eosin. alkohol 70%. gelatin 0. tempat makan dan minum mencit.5.5. timbangan analitik. dan kadar air 12%). hematoxilin. 3. gelas ukur. mikrotom.

kecuali pada sediaan yang tubulus seminiferusnya terpotong lebih dari setengah. 187. Jumlah sel Leydig dihitung pada semua lapangan pandang.00-11.5 mg/kg bb. Sediaan mikroanatomi testis mencit diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali (10 X 10) dan difoto. kemudian obyek glass dikeringkan dengan tissue dan dilakukan perendaman dalam larutan gelatin 0. 62.5%. 3. 125 mg/kg bb. dimulai dengan menandai obyek glass yang akan digunakan dengan kikir kaca pada area tepi lalu direndam dalam alkohol 70 % minimal semalam. Beluntas (Pluchea indica Less) diberikan pada mencit sekali setiap hari yaitu pada pagi hari jam 08.4 Pembuatan Preparat Sayatan Testis Mencit 1.3 Kegiatan Penelitian Pemberian ekstrak beluntas (Pluchea indica Less) dilarutkan dengan CMC 0. sehingga pada akhirnya diperoleh ekstrak yang kental kemudian hasilnya ditimbang.5 % selama 30-40 detik per . Pengamatan dilakukan pada tubulus seminiferus yang terpotong bundar atau lonjong dan diambil secara random. Ekstrak beluntas (Pluchea indica Less) diberikan secara oral menggunakan gavage dengan volume tidak melebihi volume intragestik (1 ml) mencit.5 mg/kg bb. 3.6. dibedah dan diambil kedua testisnya untuk dibuat preparat mikroanatomi. Pada hari ke 37 seluruh mencit dibius dengan eter. Perhitungan dilakukan pada tiga tubuli dan selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah sel spermatogonium.00 WIB selama 36 hari dengan dosis 12. spermatid dengan cara menghitungnya satu-persatu sampai mengitari tubulus seminiferus. Tahap pertama Coating.6.5 mg/kg bb mencit.37 menguap. spermatosit primer.

38

slide lalu dikeringkan dengan posisi disandarkan sehingga gelatin yang melapisi kaca dapat merata. 2. Tahap kedua, organ testis yang telah disimpan dalam larutan formalin 10% dicuci dengan alkohol selama 2 jam dilanjutkan dengan pencucian secara bertingkat dengan alkohol yaitu alkohol 90%, 95%, etanol absolut (3 kali) xylol (3 kali) masing-masing selama 20 menit. 3. Tahap ketiga adalah proses infiltrasi yaitu dengan menambahkan parafin 3 kali selama 30 menit. 4. Tahap keempat adalah embedding bahan beserta parafin dituangkan dalam kotak karton atau wadah yang sudah disiapkan dan diatur sehingga tidak ada udara yang terperangkap disekat bahan. Blok parafin disimpan selama semalam dalam suhu ruang kemudian diinkubasi dalam freezer sehingga benar-benar keras. 5. Tahap pemotongan dengan mikrotom. Cutter dipanaskan dan ditempelkan pada dasar balok sehingga parafin sedikit meleleh. Holder dijepitkan pada mikrotom putar dan ditata sejajar dengan pisau mikrotom. Pengirisan atau penyayatan dimulai dengan mengatur ketebalan, untuk testis dipotong dengan ukuran 5 µm kemudian pita hasil irisan diambil dengan menggunakan kuas dimasukkan ke dalam air dingin untuk membuka lipatan kemudian masukkan dalam air hangat dan dilakukan pemilihan irisan yang terbaik. Irisan yang terpilih diambil dengan obyek glass yang sudah dicoating lalu dikeringkan diatas hot plate.

39

6.

Tahap deparanisasi yakni preparat dimasukkan dengan larutan dalam xylol sebanyak 2 kali 5 menit.

7.

Tahap rehidrasi, preparat dimasukkan dalam larutan etanol bertingkat mulai dari etanol absolut (2 kali) etanol 95%, 90%, 80% dan 70% masing-masing selama 5 menit. Kemudian prepart direndam dalam aquades selama 10 menit.

8.

Tahap pewarnaan, preparat ditetesi dengan hematoxilin selama 3 menit atau sampai didapatkan hasil warna yang terbaik. Selanjutnya dicuci dengan air mengalir selama 30 menit dan dibilas dengan aquades selama 5 menit.

9.

Tahap dehidrasi, preparat direndam dengan etanol 80%, 90% dan 95% dan etanol absolut (2 kali) masing-masing selama 5 menit.

10. Tahap clearing dalam larutan xylol 2 kali selama 5 menit kemudian dikeringkan. 11. Mounting dengan etilen hasil akhir akan diamati dengan mikroskop dan dipotret kemudian data dicatat. 12. Pemotretan preparat dalam pengamatan di mikroskop disajikan secara jelas. 3.7 Analisis Data Analisis yang digunakan adalah ANOVA satu arah. Apabila dari hasil analisis diperoleh nilai Fhitung > Ftabel (0,01) dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf signifikan 1%.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan terhadap sayatan testis mencit yang diberi ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dengan dosis 12,5 mg/kg bb, 62,5 mg/kg bb, 125 mg/kg bb, 187,5 mg/kg bb dan kontrol. Sel-sel yang diamati yaitu sel spermatogonium, sel spermatosit primer, sel spermatid dan sel leydig yang terdapat pada tubulus seminiferus testis seperti yang disajikan pada gambar berikut 1.1. Dari gambar 1.1 sudah terdapat perbedaan kerapatan dari sel-sel spermatogenik dan sel leydig antara kontrol (P1), berbeda dengan pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dosis 12,5 mg/kg bb (P2), berbeda pula dengan pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dosis 62,5 mg/kg bb (P3), juga berbeda dengan pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dosis 125 mg/kg bb (P4), serta berbeda dengan ekstrak daun beluntas dosis 187,5 mg/kg bb (P5). Semakin tinggi dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang diberikan maka kerapatan dari sel spermatogenik dan sel leydig semakin berkurang, hal ini menunjukkan bahwa sel-sel tersebut mengalami pengurangan jumlah atau sel-sel mengalami degenerasi.

40

(P4) 125 mg/kg bb. (perbesaran 100X). (2) sel spermatogonium.1 Tubulus seminiferus: (P1) Kontrol. (P3) 62.5 mg/kg bb. . (1) sel leydig. (P5) 187. (3) sel spermatosit primer.41 (P1) (P2) (P3) (P4) (P5) Gambar 4. (4) sel spermatid. (P2) dosis 12.5 mg/kg bb.5 mg/kg bb.

(P2) dosis 12. . 250 200 150 Kanan 100 50 0 P1 P2 P3 P4 P5 kiri Gambar 4. seperti disajikan pada gambar 4.1 Pengaruh Ekstrak Spermatogonium. Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Berdasarkan hasil penelitian terhadap jumlah rata-rata sel spermatogonium tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan dan kiri menunjukkan penurunan seiring dengan bertambahnya dosis yang diberikan. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan anava tunggal tentang pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maupun sebelah kiri diperoleh data yang menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel (0.5 mg/kg bb.5 mg/kg bb. (P1) kontrol. (P3) 62.2. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium sebagaimana tercantum dalam tabel 4.42 4.5 mg/kg bb.3.2 Diagram batang tingkat penurunan jumlah sel spermatogonium pada perlakuan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less).1.01). (P4) 125 mg/kg bb.1 dan 4. (P5) 187. dengan perbesaran 100X.

596 d P1 210.798 b P3 143.43 Perlakuan 4 8653.51795 228. Berdasarkan uji BNT 1% dapat diketahui bahwa dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang mampu menurunkan sel spermatogonium tubulus seminiferus paling baik adalah dosis 187.43 Tabel 4.2.062 e Dari hasil tabel 4. begitu juga dengan perlakuan 12.5 mg/kg bb (P3).91227 F hitung F tabel 1% 4. juga berbeda dengan perlakuan 62.0718 758.1 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan SK Galat Total Db 20 24 JK 34614. Tabel 4. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT) 1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maka didapatkan notasi BNT pada tabel 4. .2 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium tubulus seminiferus mencit pada perlakuan 187.2454 35372.5 mg/kg bb (P5) berbeda dengan perlakuan 125 mg/kg bb (P4).528 c P2 177.5 mg/kg bb dan kontrol (P1).264 a P4 121.25 Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) 1%.3172 KT 37.5 mg/kg bb (P5).2 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium pada testis sebelah kanan Perlakuan Rata-rata Notasi P5 108.

44

Tabel 4.3 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri. SK Db JK KT F hitung F tabel 1% Perlakuan 4 Galat Total 20 24 38700,7114 3136,5085 41837,2199 9675,17785 61,93 156,825425 4,43

Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) 1%. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT) 1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri maka didapatkan notasi BNT pada tabel 4.4. Tabel 4.4 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium pada testis sebelah kiri. Perlakuan Rata-rata Notasi P5 108,53 a P4 127,064 ab P3 144,386 b P2 171,73 c P1 221,396 d Berdasarkan hasil uji BNT 1% dapat diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatogonium tubulus seminiferus testis mencit pada perlakuan kontrol (P1) berbeda dengan perlakuan lainnya, perlakuan 12,5 mg/kg bb (P2) berbeda dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan 6,25 mg/kg bb (P3) tidak berbeda dengan perlakuan 125 mg/kg bb tetapi berbeda dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan 125 mg/kg bb tidak berbeda dengan perlakuan 62,5 mg/kg bb (P3) dan 187,5 mg/kg bb (P5) tetapi berbeda dengan perlakuan yang lainnya, perlakuan 187,5 mg/kg bb tidak berbeda dengan perlakuan 125 mg/kg bb (P4) tetapi berbeda dengan perlakuan yang

45

lainnya. Dosis yang paling baik dalam menurunkan jumlah sel spermatogonia tubulus seminiferus dari mencit adalah 187,5 mg/kg bb (P5). Dari tabel 4.1 dan tabel 4.3 diketahui hasil perhitungan ANAVA tunggal menunjukkan penurunan jumlah sel spermatogoium tubulus seminiferus mencit dengan menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel 0,01. Dengan demikian terdapat

pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap penurunan jumlah sel spermatogonium tubulus seminiferus mencit. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa dengan pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dalam berbagai dosis, ternyata dosis 187,5 mg/kg bb mampu menurunkan jumlah sel spermatogonium dalam tubulus seminiferus testis mencit. Setelah uji lanjut dengan BNT 1%, dosis 187,5 mg/kg bb merupakan spermatogonium. Disamping itu ada sebagian besar dosis yang berbeda nyata dengan dosis yang lainnya. Dari jumlah rata-rata perdosis perlakuan menunjukkan bahwa jumlah spermatogonium mengalami penurunan seiring dengan dosis yang diberikan. Dengan demikian semakin tinggi dosis yang diberikan maka penurunan jumlah sel spermatogonium juga makin besar. Penurunan jumlah sel spermatogonium tubulus seminiferus testis dimungkinkan akibat zat aktif flavonoid yang didukung oleh senyawa lainnya yaitu alkaloid dan tanin yang terkandung dalam ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang pemberiannya disesuaikan dengan lamanya proses yang dosis yang paling baik untuk menurunkan jumlah sel

spermatogenesis tubulus seminiferus testis mencit. Senyawa aktif

46

terkandung dalam ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) ini diduga memiliki sifat sebagai antifertilitas. Senyawa antifertilitas pada prinsipnya bekerja dengan dua cara yaitu melalui efek sitotoksik atau sitostatik dan melalui efek hormonal yang menghambat laju metabolisme sel spermatogenik dengan cara mengganggu keseimbangan sistem hormon (Susetyarini, 2003). Hasil penelitian dari Latifa (2006) menyatakan bahwa, flavonoid merupakan golongan senyawa yang berfungsi sebagai antiandrogenik dengan cara menghalangi kerja enzim aromatase, dimana enzim ini berfungsi untuk mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen sehingga akibatnya apabila pembentukan androgen terganggu maka akan terjadi peningkatan pada hormon testosteron, akibat dari adanya peningkatan testosteron inilah maka mekanisme umpan balik negatif terhadap hipotalamus tidak akan bisa menstimulasi organorgan pelepas (realising faktor) melalui kelenjar hipofisa dan tidak akan melepas hormon-hormon gonad seperti FSH dan LH. Kedua hormon ini (FSH dan LH) memiliki peran penting dalam proses spermatogenesis. LH berfungsi menstimulasi sel Leydig untuk memproduksi hormon testosteron di dalam testis. Selanjutnya fungsi FSH untuk menggertak testis dan memacu proses spermatogenesis, yaitu pembentukan spermatogonia menjadi spermatid. Selain itu FSH juga berfungsi untuk merangsang sel sertoli dalam pembentukan protein pengikat androgen (ABP) dimana protein ini berperan dalam pengangkutan testosteron ke dalam tubulus seminiferus dan epididimis (Ganong, 1983).

Karena kosentrasi LH turun akan menyebabkan gangguan pada saat pengaktifan adenil siklase dalam membran. proses pembelahan (mitosis dan meiosis) pada spermatogenesis terhambat. tanin. hormon akan berikatan dengan reseptor. sel spermatosit dan sel spermatid. dan sebagian adenil siklase yang berhubungan dengan sitoplasma segera mengubah ATP sitoplasma menjadi cAMP. setelah hormon mencapai sel sasaran. . yang mengakibatkan jumlah sel spermatogonium terganggu. Bila pengangkutan glukosa terhambat maka sintesis protein akan terhambat juga. Gangguan ini mengakibatkan cAMP menurun dan diikuti menurunnya fosforilasi protein. karena FSH sangat diperlukan dalam aktifitas proliferasi sel spermatogonium. daun beluntas mengandung unsur zat aktif yaitu alkaloid. flavonoid. Menurut Guyton (1987) suatu hormon bekerja pada membran sel sasaran. Hasil penelitian dari Susetyorini (2005) yang menggunakan air perasan dari daun beluntas menyatakan bahwa. sel spermatogonium. Sehingga daun beluntas dapat dijadikan sebagai obat antifertilitas pada laki-laki. di antaranya adalah sel sertoli. Gabungan antara hormon dan reseptor mengaktifkan enzim adenil siklase dalam membran. minyak atsiri yang dapat merusak sel target.47 Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Satriyasa (2008) menyatakan bahwa terhambatnya FSH ini akan menyebabkan terganggunya proses mitosis dan proliferasi spermatogonium.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan anava tunggal tentang pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maupun sebelah kiri diperoleh data yang menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel (0.5 mg/kg bb.5 mg/kg bb.1. seperti disajikan pada gambar 4.7. . (P3) 62.48 4. (P2) dosis 12.5 mg/kg bb. Berdasarkan hasil penelitian terhadap jumlah rata-rata sel spermatosit primer tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan dan kiri menunjukkan penurunan seiring dengan bertambahnya dosis yang diberikan. (P5) 187. 250 200 150 Kanan 100 50 0 P1 P2 P3 P4 P5 kiri Gambar 4. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer sebagaimana tercantum dalam tabel 4.01). (P4) 125 mg/kg bb. (P1) kontrol.3.3 Diagram batang tingkat penurunan jumlah sel spermatosit primer pada perlakuan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less).5 dan 4.2 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Spermatosit Primer.

perlakuan (P3) 62.49 Tabel 4.6 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer tubulus seminiferus testis kanan mencit pada (P1) kontrol berbeda dengan yang lainnya.5 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan. Tabel 4. . Perlakuan Rata-rata Notasi P4 120.6 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer pada testis sebelah kanan. Tetapi dari jumlah rata-rata sel spermatosit primer.52 4.528 a P3 138.5 mg/kg bb tetapi berbeda dengan perlakuan yang lainnya.5 mg/kg bb berbeda dengan perlakuan lainnya.97105 Total 24 40310.78875 229. (P4) dosis 125 mg/kg bb lebih baik.5766 Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) 0. karena jumlah sel spermatosit primer lebih sedikit. perlakuan (P2) 12.4216 42. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT) 1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maka didapatkan notasi BNT pada tabel 4. perlakuan (P4) 125 mg/kg bb tidak berbeda dengan perlakuan (P5) 187.155 9862. SK Db JK KT F hitung F tabel 1% Perlakuan 4 39451.5 mg/kg bb berbeda dengan perlakuan lainnya.996 c P1 220.596 b P2 185.43 Galat 20 859.6.01.53 d Dari hasil tabel 4.33 a P5 120.

9436 Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) 0.4765 12195.8 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer pada testis sebelah kiri.92 a P2 173.8.5 mg/kg bb dan berbeda dengan perlakuan yang lainnya. Dosis 187. SK Db JK KT F hitung F tabel 1% Perlakuan 4 48783.829 4. .5 mg/kg bb berbeda dengan perlakuan yang lainnya.932 c Dari hasil tabel 4.8 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer tubulus seminiferus testis kiri mencit pada (P1) kontrol berbeda dengan yang lainnya.123355 Total 24 52545.5 mg/kg bb tidak berbeda dengan perlakuan (P4) 125 mg/kg bb dan perlakuan (P5) 187.43 Galat 20 3762. perlakuan (P3) 62. perlakuan (P2) 12.528 b P1 235.50 Tabel 4.86913 63.4671 188. sehingga dosis ini merupakan dosis yang paling baik dalam menurunkan jumlah sel spermatosit primer. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT) 1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri maka didapatkan notasi BNT pada tabel 4.33 a P4 130.01.5 mg/kg bb memiliki penurunan sel spermatosit primer yang lebih tinggi dari yang lainnya. Perlakuan Rata-rata Notasi P5 113.064 a P3 132.7 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatosit primer pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri. Tabel 4.

01 dosis 187. ternyata dosis 187. Diduga alkaloid. Menurut Turner dan Bagnara (1976) bahan antiandrogenik bekerja secara kompetitif pada lokasi reseptor jaringan sasaran untuk menghalangi aksi dari steroid androgen. . 1991).51 Dari tabel 4.5 mg/kg bb dan 125 mg/kg bb mampu menurunkan jumlah sel spermatosit primer dalam tubulus seminiferus testis mencit.5 mg/kg bb dan 125 mg/kg bb tidak berbeda nyata dan merupakan dosis yang paling baik untuk menurunkan jumlah sel spermatosit primer. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa dengan pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dalam berbagai dosis. Seperti halnya pada jumlah sel spermatogonium. Senyawa antifertilitas pada prinsipnya bekerja dengan dua cara yaitu dengan efek sitotoksik atau sitostatik dan melalui efek hormonal yang menghambat laju metabolisme sel spermatogenik dengan cara mengganggu keseimbangan sistem hormon. Senyawa alkaloid dan tanin memiliki kaitan biogenesis dengan steroid (Robinson.5 dan tabel 4. Setelah uji lanjut dengan BNT 0.7 diketahui hasil perhitungan ANAVA tunggal menunjukkan penurunan jumlah sel spermatosit primer tubulus seminiferus mencit dengan menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel 0. tanin ikut masuk dalam jalur biosintesa steroid terutama testosteron sehingga akan dihasilkan bahan yang strukturnya mirip dengan testosteron. penurunan jumlah sel spermatosit primer tubulus seminiferus testis mencit juga dipengaruhi oleh zat flavonoid yang didukung oleh zat alkaloid dan tanin. Dengan demikian terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap penurunan dari jumlah sel spermatosit primer tubulus seminiferus mencit.01.

Partodiharjo (2002) menjelaskan bahwa hipotalamus mensekresi GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormon) hipofisa anterior untuk mensekresi FSH dan LH. Kedua hormon ini memegang peran utama dalam mengatur fungsi seksual jantan. 2007). FSH dibawa melalui darah menuju testis untuk mengawali proses proliferasi spermatogenesis selanjutnya LH akan mensekresi testosteron untuk menyelesaikan proses pematangan dan pembentukan spermatozoa.52 Hasil penelitian dari Susetyorini (2003) menyebutkan bahwa senyawa aktif daun beluntas berpengaruh terhadap kadar testosteron dari tikus putih (Ratus norvegicus). Biosintesis testosteron terjadi pada sel leydig dan sel leydig sangat dipengaruhi oleh hormon LH. Terbentuknya cAMP mengaktifkan protein kinase yang akan mempengaruhi inti sel agar gen–gen yang mengatur biosintesis testosteron menjadi aktif dan mulailah terjadi sintesis testosteron. enzim dan hormon steroid lainnya termasuk hormon–hormon dalam golongan estrogen dan androgen. Dengan hadirnya flavonoid pengaktivan protein kinase jadi terhambat sehingga menyebabkan produksi hormon testosteron dan proses spermatogenesis juga terhambat (Kapsul. Gangguan . Jadi secara tidak langsung akan mempengaruhi proses spermatogenesis. Hormon LH yang akan dilepaskan oleh hipofisis akan terikat pada reseptornya di sel-sel interstetial testis. Biosintesis testosteron melibatkan berbagai zat. Senyawa aktif daun beluntas dapat mengganggu proses biosintesis dari testosteron. Setelah terjadi ikatan antara LH dan reseptornya maka akan terbentuk mesenger kedua yang berupa cAMP.

(P5) 187. (P4) 125 mg/kg bb.1. (P1) kontrol.5 mg/kg bb. (P2) dosis 12.4 Diagram batang tingkat penurunan jumlah sel spermatid pada perlakuan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less).5 mg/kg bb. flavonoid dan steroid yang terdapat pada ekstrak kayu secang memiliki kadar estrogen yang relatif tinggi sehingga menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi melalui hambatan terhadap sekresi FSH. seperti disajikan pada gambar 4. Dengan hambatan tersebut spermatogenesis terhenti dengan segera dan pemberian lebih lanjut dapat menyebabkan terjadinya sterilisasi. Hasil penelitian dari Rusmiati (2007). mengungkapkan bahwa zat aktif alkaloid.5 mg/kg bb. .4. Berdasarkan hasil penelitian terhadap jumlah rata-rata sel spermatid tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan dan kiri menunjukkan penurunan seiring dengan bertambahnya dosis yang diberikan.3 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Spermatid. 250 200 150 100 50 0 P1 P2 P3 P4 P5 Kanan kiri Gambar 4. 4.53 pada proses sekresi FSH dan LH menyebabkan proses pembelahan dan pematangan sel spermatogenik menjadi terhambat. (P3) 62.

08104 107.4642 Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) 0.532 e Dari hasil tabel 4. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid sebagaimana tercantum dalam tabel 4. SK Db JK KT F hitung F tabel 1% Perlakuan 4 42032.10 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid pada testis sebelah kanan. Tabel 4.01).9 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan.504052 Total 24 44182.09534 97.38136 10508.43 Galat 20 2150. Perlakuan Rata-rata Notasi P5 106.746 4.01.9 dan 4.5 mg/kg bb (P5) berbeda nyata dengan perlakuan 125 mg/kg .532 b P3 164.332 c P2 182.10. Tabel 4.198 d P1 223. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT) 1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maka didapatkan notasi BNT pada tabel 4.396 a P4 128.10 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid tubulus seminiferus mencit pada perlakuan 187.54 Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan anava tunggal tentang pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maupun sebelah kiri diperoleh data yang menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel (0.11.

SK Perlakuan Galat Total Db 4 20 24 JK 36155.618252 F tabel 1% 4.83686 2372. perlakuan 125 mg/kg bb (P4) tidak berbeda nyata dengan (P5) dan . Perlakuan Rata-rata Notasi P5 106. Berdasarkan uji BNT 1% dapat diketahui bahwa dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang mampu menurunkan sel spermatid tubulus seminiferus paling baik adalah dosis 187. Tabel 4.12 Hasil uji BNT 1% pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid pada testis sebelah kiri. juga berbeda nyata dengan perlakuan 62.5 mg/kg bb (P3).01.12.5 mg/kg bb dan kontrol (P1). Tabel 4.33 c P1 215. begitu juga dengan perlakuan 12.198 a P4 124.2019 KT F hitung 9038.33 d Berdasarkan hasil uji BNT 1% dapat diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid tubulus seminiferus testis mencit pada perlakuan 187.5 mg/kg bb (P5) tidak berbeda nyata dengan perlakuan 125 mg/kg bb (P4) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya.36504 38528.532 ab P3 149.11 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel spermatid pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri.798 b P2 171.55 bb (P4).202 118.5 mg/kg bb (P5).43 Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) 0.959215 76. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT) 1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri maka didapatkan notasi BNT pada tabel 4.

Dosis yang paling baik dalam menurunkan jumlah sel spermatid tubulus seminiferus dari mencit adalah 187. Dari tabel 4.9 dan tabel 4. Setelah uji lanjut dengan BNT 0. Dengan demikian terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap penurunan dari jumlah sel spermatid tubulus seminiferus mencit. perlakuan 12. penurunan jumlah sel spermatid tubulus seminiferus testis mencit juga dipengaruhi oleh zat flavonoid yang didukung oleh zat alkaloid dan tanin yang terkandung dalam ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang pemberiannya disesuaikan dengan lamanya proses spermatogenesis tubulus seminiferus testis mencit.11 diketahui hasil perhitungan ANOVA tunggal menunjukkan penurunan jumlah sel spermatid tubulus seminiferus mencit dengan menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel 0.5 mg/kg bb merupakan dosis yang paling baik untuk menurunkan jumlah sel spermatid. . Senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) ini diduga memiliki sifat sebagai antifertilitas.01. perlakuan 62. ternyata dosis 187.5 mg/kg bb berbeda dengan perlakuan yang lainnya dan perlakuan kontrol (P1) berbeda dengan perlakuan yang lainnya. dan sel spermatosit primer.01 dosis 187.5 mg/kg bb (P5).56 perlakuan (P3) dan berbeda dengan perlakuan yang lainnya. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa dengan pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dalam berbagai dosis.5 mg/kg bb mampu menurunkan jumlah sel spermatid dalam tubulus seminiferus testis mencit.5 mg/kg bb (P3) tidak berbeda nyata dengan perlakuan (P4) tetapi berbeda nyata denga perlakuan yang lainnya. Seperti halnya pada jumlah sel spermatogonium.

2008). Dengan terganggunya spermiogenesis awal maka. yang menyebabkan suplai laktat dan piruvat akan menurun. Penurunan FSH akan menyebabakan perubahan struktur sitoskletal sel sertoli sehingga mengurangi kemampuan dalam mengikat spermatid. Bila kerja enzim dihambat maka testosteron akan meningkat. sehingga hipofisa anterior sedikit untuk mensekresikan FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone) sehingga proses spermatogenesis terganggu (Ganong. Laktat dan piruvat merupakan sumber energi dari spermatid. sehingga hipothalamus sedikit mensekresikan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) tidak dapat menggertak hipofisa anterior. 1983). Penurunan spermatid ini mungkin juga karena gangguan dalam proses meiosis. FSH juga turut membantu pematangan spermatid menjadi spermatozoa selama proses spermatogenesis. Penurunan spermatid dalam tubulus seminiferus testis mencit kemungkinan melalui beberapa mekanisme seperti terganggunya fungsi sel sertoli. untuk proses selanjutnya juga akan mengalami gangguan (Satryasa. Testosteron yang berlebih dalam testis akan menyebabkan feedback negatif pada hipotalamus. kemungkinan yang lain disebabkan karena pada proses spermiosis awal sudah mengalami gangguan. Penurunan FSH dan .57 Zat aktif yang terdapat pada ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) khususnya flavonoid dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang mampu mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen. sedangkan penurunan hormon testosteron akan menyebabkan penurunan daya adhesi antara spermatid dengan sel sertoli yang menyebabkan sel spermatid terlepas ke dalam lumen tubulus seminiferus.

5.5 mg/kg bb. (P4) 125 mg/kg bb. 2008). Menurut Ganong (1983) menyatakan bahwa. dengan mekanisme hormon LH merangsang sel leydig melalui peningkatan pembentukan siklik AMP. (P3) 62. (P2) dosis 12. Berdasarkan hasil penelitian terhadap jumlah rata-rata sel leydig tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan dan kiri menunjukkan penurunan seiring dengan bertambahnya dosis yang diberikan. 4. (P1) kontrol.58 testosteron tersebut akan menyebabkan sintesis protein spermatid terganggu yang akhirnya menyebabkan sel spermatid degenerasi (Satryasa.5 mg/kg bb. seperti disajikan pada gambar 4. .5 Diagram batang tingkat penurunan jumlah sel leydig pada perlakuan ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less). 140 120 100 80 60 40 20 0 P1 P2 P3 P4 P5 Kanan kiri Gambar 4.4 Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas Terhadap Jumlah Sel Leydig.1.5 mg/kg bb. Protein kinase terhambat karena hadirnya senyawa flavonoid sehingga menyebabkan hormon testosteron dan proses spermatogenesis terganggu. Siklik AMP meningkatan pembentukan kolesterol dari ester kolesterol dan perubahan kolesterol menjadi pregnenolon melalui pengaktifan protein kinase. sekresi testosteron dipengaruhi oleh hormon LH. (P5) 187.

13 dan 4.14 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig tubulus seminiferus mencit pada perlakuan 187.2 198. Tabel 4.76 Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) 0.00121 4. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig sebagaimana tercantum dalam tabel 4.15.14.13 Ringkasan anava tunggal pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan SK Db JK KT F hitung F tabel 1% Perlakuan 4 11902.6 80 97 120.43 Galat 20 3967.01.64 15.36 Total 24 15869.14 Hasil uji BNT 1% tentang pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig pada testis sebelah kanan.5 mg/kg bb (P5) tidak berbeda nyata dengan perlakuan 125 mg/kg .2 Notasi a a ab bc c Dari hasil tabel 4. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT) 1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maka didapatkan notasi BNT pada tabel 4.56 2975.59 Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan anava tunggal tentang pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kanan maupun sebelah kiri diperoleh data yang menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel (0. Perlakuan P5 P4 P3 P2 P1 Rata-rata 61. Tabel 4.01).4 64.

26 20.60 bb (P4) dan (P3) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya. Tabel 4.01.5 mg/kg bb tidak berbeda nyata dengan perlakuan (P2) 12.12081 4.16.5 mg/kg bb (P5).5 mg/kg bb (P5) lebih baik. karena jumlah sel spermatosit primer lebih sedikit.5 mg/kg bb tetapi berbeda dengan perlakuan yang lainnya.2 124.04 2508.24 Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) 0.01 tidak berbeda nyata.43 Galat 20 2493. Berdasarkan uji BNT 1% dapat diketahui bahwa dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang mampu menurunkan sel leydig tubulus seminiferus paling baik adalah dosis 187.15 Ringkasan anava tunggal tentang pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig pada tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri. Berdasarkan uji BNT 1% dapat diketahui bahwa dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang mampu menurunkan sel leydig tubulus seminiferus paling baik adalah dosis 187. SK Db JK KT F hitung F tabel 1% Perlakuan 4 10033. perlakuan (P1) kontrol tidak berbeda nyata dengan (P2) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya.66 Total 24 12526. perlakuan (P3) 62. .5 mg/kg bb (P5) dan 125 mg/kg bb yang menurut hasil analisis BNT 0. Berdasarkan hasil uji beda nyata terkecil (BNT) 1% dari rata-rata tubulus seminiferus testis mencit sebelah kiri maka didapatkan notasi BNT pada tabel 4. perlakuan (P4) tidak berbeda nyata dengan perlakuan (P5) dan (P3) tetapi berbeda dengan perlakuan yang lainnya. tetapi dari jumlah rata-rata sel spermatosit primer dosis 187.

perlakuan (P5) 187.5 mg/kg bb tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya.5 mg/kg bb tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya. perlakuan (P2) 12.8 a P4 70.61 Tabel 4.5 mg/kg bb tidak berbeda nyata dengan perlakuan (P3) 62.5 mg/kg bb (P5) dan 125 mg/kg bb yang menurut hasil analisis BNT 0. (P4) 125 mg/kg bb tidak berbeda nyata dengan perlakuan (P3) 62.6 ab P3 86.5 mg/kg bb tidak berbeda nyata dengan perlakuan 125 mg/kg bb (P4) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya. . tetapi dari jumlah rata-rata sel spermatosit primer dosis 187.5 mg/kg bb dan (P5) 187.4 bc P2 96.5 mg/kg bb (P5) lebih baik.01 tidak berbeda nyata. karena jumlah sel spermatosit primer lebih sedikit.4 d Dari hasil tabel 4. Berdasarkan uji BNT 1% dapat diketahui bahwa dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang mampu menurunkan sel leydig tubulus seminiferus paling baik adalah dosis 187.2 c P1 120.5 mg/kg bb tetapi berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya. perlakuan (P3) tidak berbeda nyata dengan perlakuan (P4) 125 mg/kg bb dan (P2) 12.16 Hasil uji BNT 1% tentang pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig pada testis sebelah kiri.16 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap jumlah sel leydig tubulus seminiferus mencit pada perlakuan (P1) kontrol berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya. Perlakuan Rata-rata Notasi P5 63.

15 diketahui hasil perhitungan ANAVA tunggal menunjukkan penurunan jumlah sel leydig tubulus seminiferus mencit dengan menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel 0. Menurut Jackson et al (1986) sel leydig yang mengalami degenerasi ditunjukkan dengan adanya inti yang mengalami piknosis dan terjadi vakuolisasi pada sitoplasma. ternyata dosis 187.01 dosis 187.5 mg/kg bb merupakan dosis yang paling baik untuk menurunkan jumlah sel leydig. Setelah uji lanjut dengan BNT 0.13 dan tabel 4. Pengurangan jumlah sel leydig pada kelompok yang diberi beluntas tinggi kemungkinan karena sel leydig mengalami degenerasi.01. Seperti halnya pada jumlah sel spermatogonium.62 Dari tabel 4. Fitoestrogen mempunyai efek sama dengan estrogen (estrogen endogen). Menurut Jhonson dan thomson (1986) jumlah sel leydig tiap testis berkorelasi signifikan . dan spermatid penurunan jumlah sel leydig tubulus seminiferus testis mencit juga dipengaruhi oleh zat flavonoid. Beberapa peneliti menyatakan bahwa pemberian estradiol/estrogen yang relatif tinggi dalam darah menyebabkan penghambatan sekresi LH oleh hipofisis anterior dan menurunkan kadar LH dalam darah. Dengan terhambatnya sekresi LH dan kadarnya dalam darah menurun akan menyebabkan terganggunya pemasakan dan pertumbuhan sel leydig. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa dengan pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) dalam berbagai dosis. sel spermatosit primer. Dengan demikian terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap penurunan dari jumlah sel leydig tubulus seminiferus mencit.5 mg/kg bb mampu menurunkan jumlah sel leydig dalam tubulus seminiferus testis mencit.

salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya vakuolisasi ini karena ketidakcukupan suplai hormon. minyak atsiri yang dapat merusak beberapa organel penyusun sel target. Zat aktif pada beluntas ada yang bersifat estrogenik. Bila keadaan ini berlanjut akan menurunkan jumlah mitokondria pada sel-sel tersebut. sel spermatosit. maka jumlah androgen (testosteron) yang diproduksi akan berkurang/menurun (Susetyarini. flavonoid. Sel leydig merupakan tempat terjadinya proses steroidogenesis. sehingga dapat menghambat sekresi LH dan menyebabkan berkurangnya jumlah sel leydig. Mitokondria merupakan organel sel tempat sintesis ATP melalui proses fosforilasi oksidatif pada saat respirasi. Jika sel leydig mengalami degenerasi jumlahnya akan menurun. tanin. diantaranya adalah sel sertoli. Beluntas melalui perangsangannya terhadap susunan saraf pusat. . ATP merupakan sumber energi dalam sel. yaitu alkaloid. sel spermatid dan sel leydig. Daun beluntas (Pluchea indica Less) mengandung unsur zat aktif. Apabila ada gangguan pada mitokondria akan menurunkan produksinya dan mengganggu kegiatan sel-selnya. sehingga mempunyai fungsi yang dalam kegiatan sel. sel spermatogonium. jika LH turun maka jumlah sel leydig juga berkurang. Zat ini dapat menyebabkan vakuolisasi pada mitokondria.63 dengan volume total sel leydig tiap testis dengan kadar LH. 2004). 2004). menurunkan sekresi hormon steroid yang pada akhirnya dapat menurunkan jumlah sel spermatogenik dan sel leydig karena ada pembelahan pada proses pembelahan selnya (Susetyarini.

2004). Penurunan produksi testosteron dapat mempengaruhi perkembangan sel spermatogenesis. 1994).64 Apabila kadar hormon-hormon ini tidak mencukupi kebutuhan sel dan jaringan pada organ reproduksi dapat menyebabkan timbulnya gagal testis. Brikman et al (1980). Zat aktif yang ada pada beluntas bersifat estrogenik. sehingga diduga flavonoid mampu menurunkan enzim sitokrom P 450 jadi kadar testeosteron juga turun. Penurunan sintesis dan sekresi FSH dan GnRH menyebabkan terjadinya penurunan kadar FSH dalam tubuh. FSH juga berperan mengontrol fungsi sel sertoli (Susetyarini. Terganggunya sintesis dan sekresi ke dua hormon tersebut akan berakibat sebagai berikut: penurunan kadar LH yang signifikan akan menyebabkan terjadinya penurunan fungsi sel leydig. Selain testosteron. melaporkan bahwa estrogen (estradiol) dapat secara langsung berefek pada tingkat enzim mikrosomal dalam sel leydig. sehingga produksi testosteron berkurang. terjadi kenaikan kadar testosteron tetapi masih dibawah kadar normal) (Jennings. . Gagal testis yang ditimbulkan oleh pengaturan FSH dan LH yang tidak normal dapat berupa gagal testis primer (kadar FSH dan LH tinggi tetapi tidak ada kenaikan kadar testosteron) dan gagal testis sekunder (kadar FSH dan LH menurun. sehingga menurunkan sintesis testosteron. Pemberian estradiol menurunkan sitokrom P 450 testiskuler yang merupakan enzim penting dalam sintesis testosteron.

sel spermatid dan sel leydig adalah 187. dapat disimpulkan bahwa: 1. 5. Ekstrak daun beluntas mampu untuk menurunkan jumlah sel leydig. 2. 5.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.2 Saran 1.5 mg/kg bb. 65 . Ekstrak daun beluntas mampu untuk menurunkan jumlah sel spermatogonium. 4. sel sprematosit primer.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian pengaruh ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap proses spermatogenesis dari mencit jantan (Mus musculus). 3. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh ekstrak dari daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap kualitas dari spematozoa dan uji fertilitas terhadap mencit yang diberi ekstrak daun beluntas. 2. ginjal dan organ yang lain. Ekstrak daun beluntas mampu untuk menurunkan jumlah sel spermatid. Dosis ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) yang paling baik dalam menurunkan jumlah sel spermatogonium. Ekstrak daun beluntas mampu untuk menurunkan jumlah sel spermatosit primer. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap daya toksik hati.

Arthur. Jakarta. 1980. Dasar-dasar Histologi.) Terhadap Spermatogenesis Mencit (Mus musculus). 1987. BS. Az-Zabidi. Jakarta: EGC penerbit Buku Kedokteran. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. No 1. Vol 4. Bandung: Mizan.Surabaya: FKH UNAIR. Fradson. 66 . 1997. Skripsi Tidak Diterbitkan. 2004. Terjemahan Adji Dharma. 2009. Bandung: ITB press. Ringkasan Shahih Al-Bukhari. Imam. DVM. 2007. Endah. 2009. Kapsul. 1998. Pengaruh Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica) Terhadap Spermatogenesis mencit (Mus musculus). Jakarta: Erlangga. Biologi. 2000. 2008. Guyton. Badan Pusat Statistik (BPS). Hasanah. Hal 1-8. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ganong. Luis C dan Carneiro. Bevelander. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ifnaini Wirdatul. Anatomy and Physiology of Farm Animal. Andria. Ungaran : Trubus Agriwidya. BPS. 2003. Jose. Jurnal BIOSCIENTIAE. Campbell. Setiawan. MD. Judith A.1999. Kusumaningrum. MD. 1983. Terjemahan Petrus Andrianto. Australia: Blackwel publishing. Gerrit dan Rameley. Skripsi Tidak Diterbitkan. Wiliam F.DAFTAR PUSTAKA Agusta. Terjemahan Wisnu Gunarso. Fisiologi Kedokteran. Junquiera. Pengaruh Pemberian Ekstrak Biji Pepaya (carica papaya l. Dalimartha. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedoteran. Jakarta: Penerbit erlangga. Statistik Penduduk. dkk. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Mitchell. Histologi Dasar. Malang: Jurusan Biologi Fakultas SAINTEK UIN Maliki Malang. Reece. kadar testosteron tikus putih(rattus norvegicus l) setelah mengkonsumsi buah terong tukak (solanum torvum sw). MS.

Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. 2006. Robinson. Soebadi. Khon Kaen University. 1999. Trevor. Mattheij. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penny. Bersahabat Dengan Hewan Coba. Padua. Winantea. Pengaruh Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan L) Terhadap Viabilitas Spermatozoa Mencit Jantan (Mus musculus L). J. Luangpirom. Terjemahan A. Jurnal BIOSCIENTIAE Vol: 4 No:2 . Effect of Atrazine on Spermatogenesis of Mice (Mus musculus linn). 1991. Skripsi Tidak Diterbitkan. 36 (Supplement) 44-50. 2006. Terjemahan Kosasih Padmawinata. Lemlit UMM. Muryati. et al. Pengaruh Dekok Daun Jambu Biji (Psidium guajava L) Dengan Dosis Berulang Terhadap Kualitas Spermatozoa Tikus Putih Jantan (Ratus nurwegicus). 2004. Ampa and Junsanjuk. Malang: FKIP Universitas Muhamadiyah Malang. Latifa. Roimil. 2008. Kadar Testosteron Serum Darah dan Kualitas Spermatozoa Mencit (Mus musculus L) Setelah Diberi Ekstrak Biji Saga (Abrus precatorius L). Laporan Praktikum Tidak Diterbitkan. Departement of Biology. 1992. Pengaruh Pemberian Ekstrak Tanin Daun Beluntas (Pluchea Indica Less) Terhadap Kualitas Spermatozoa Tikus Putih (Rattus Norvegicus). 2007. 2008. Plant Resources of South-East Asia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Malang: Universitas Brawijaya Press. 2006. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Departemen Arsitektur Lanskap FT IPB. Bogor: Prosea Bogor Indonesia. Lusiyawaty. Rusmiati. Reproduksi dan Dasar-dasar dari Endokrinologi pada Hewan-Hewan Ternak. Laporan Penelitian.67 Kusumawati. KKU sci. D. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. et al. Partodiharjo. Pujowati. Tanaman dan Sistem Terbuka Hijau Pengenalan Ragam Tanaman Lanskap. vivi. Bandung: Penerbit ITB. Tussaneeporn. 1999. Ilmu Reproduksi Hewan. et al.

Malang: UIN Malang Press. Fraksi Heksan Ekstrak Biji Pepaya Muda Dapat Menghambat Proses Spermatogenesis Mencit Jantan Lebih Besar Daripada Fraksi Metanol Ekstrak Biji Pepaya Muda. Jogjakarta: Gadjah Mada University press. 1999. 1988. Jurnal Potensi Ekonomi Tanaman Obat Sebagai Bahan Baku Jamu. Eko. Eko. Lemlit UMM.Volume 14. Tesis Tidak Diterbitkan. Rahasia Tumbuhan Berkhasiat Obat Perspektif Islam. Soewolo. Smith. Suryo. 2008. G. Bagus. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Bogor. Setiawan. Siregar. 2002. Fisiologi Reproduksi Dan Inseminasi Buatan Pada Sapi. Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Savitri. Lemlit UMM. 2004. Sirait. Julahir. 1987. ISSN: 0853 – 8204. Evika. Pemeliharaan. 2009. Penggunaan Berbagai Jenis Tanaman Obat Untuk Menghilangkan Bau Badan. W. Genetika Manusia. 2008. Nursalam. Susetyarini. Quraish. John dam Mangkoewidjojo. No 3. Jakarta: Lentera Hati. Sandi. 2005. soesanto.68 Salisbury. Pengaruh Pemberian Vitamin C Terhadap Jumlah Sel leydig Dan Jumlah Sperma Mencit jantan Dewasa (Mus musculus L) Yang Dipapari Monosodium Glutamate (MSG). . Laporan Penelitian. Hodmatua. Udayana University. Pembiakan dan Penggunaan Hewan percobaan di Daerah Tropis. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Trubus Agriwidya. Laporan Penelitian. 2003. Tafsir Al-Misbah: Pesan dan Kesan Keserasian AlQur’an. Bali: Departement of Farmacology. Satriyasa. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Press. Jumlah Sel Leydig Tikus Putih (Ratus nurwegicus) yang Diberi Beluntas (Pluchea indica Less). Pengantar Fisiologi Hewan. 2008. Susetyarini. Kadar Testosteron Pada Tikus Putih Jantan (Ratus norwegicus) Yang Diberi Dekok Daun Beluntas. Komang. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Shihab.

J. Surabaya: Airlangga University Press. Wildan. 1988.G. Lemlit UMM. 1994. Jakarta: PT Pradnya Paramitha. Gupta. 1975. joseph. Laporan Penelitian. 2005. S. Flora Voor de Scholen in Indonesia. 1997. Histologi. Wildan. Dian. ISSN: 1907-9850. Yatim. Endokrinologi Umum. Turner. Antispermatogenik Daun Beluntas (Pluchea indica Less) Pada Tikus Putih Jantan (Ratus nurwegicus). Susetyarini. 2005.A. 2010. 1997. Donnel dan Bagnara. 1996. Gema Pria. Lemlit UMM.go. Available from: http://pikas. Laporan Penelitian. Widotama. I. Badan penelitian dan pengembangan kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta: pusat penelitian dan pengembangan Farmasi. ”Perkembangan Teknologi Kontrasepsi Pria Terkini”. 2007. Pengaruh Isolat Herba Vernonia Cinerea Terhadap Spermatogenesis Tikus putih.69 Susetyarini. California. P. Informasi Tanaman Obat Untuk Kontrasepsi Tradisional Cermin Dunia Kedokteran No. San Frasisco. Reproduksi & Embriologi. 25. Male Reproductive Laboratory Departement of Uroligy Uneversitas of California at San Frasisco. In: Endocrine evaluation. Eko. Wien dan Sundari. . 2006. Winarno. Edisi VI. M. 2008. C. B. Yatim. Bandung: Penerbit Tarsito. Instalasi Farmasi RSUp Sanglah Denpasar. Eko. Terjemahan Sorjowinoto. G.bkkbn.id/gemapria/article-detail php. “Hypotalamic-Pituitary-Gonadal (HPG) Axis and Control of Spermatogenesis”. Di akses tanggal 17 Januari. Turek. 120. Bandung: Penerbit Tarsito. Wilopo. Pengaruh Dekok Daun Beluntas (Pluchea indica Less) Terhadap LD 50 (Toksisitas Akut) tikus putih jantan (Ratus nurwegicus). Van Steenis.

6667 172.6667 213 199.6667 216.6667 164 150.S 3 247 238 211 234 216 208 182 188 190 148 172 183 162 152 132 138 120 105 141 112 98 129 110 99 103 Rata-Rata 210.S 1 221 196 198 211 197 183 198 158 178 185 138 127 122 141 131 132 104 116 100 129 105 105 109 126 90 Spermatogonia Kanan T.70 Lampiran 1.3333 106.6667 146.6667 111 108.3333 107 .S 2 164 216 223 194 185 165 183 171 168 159 142 129 140 132 150 113 142 124 116 135 123 99 106 94 128 T.3333 178.3333 185.6667 122 115 119 125.6667 127.3333 141.6667 210.3333 108. Data Hasil Pengamatan Testis Kanan dan Kiri Jumlah Sel Spermatogonia Tubulus Seminiferus Kanan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Perlakuan P1U1 P1U2 P1U3 P1U4 P1U5 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4 P2U5 P3U1 P3U2 P3U3 P3U4 P3U5 P4U1 P4U2 P4U3 P4U4 P4U5 P5U1 P5U2 P5U3 P5U4 P5U5 T.3333 141.3333 187.6667 137.

6667 180.6667 133.6667 117.S 2 194 224 252 200 202 201 195 172 163 216 117 124 131 153 144 110 100 117 121 123 101 139 118 119 124 T.6667 121 123.3333 117 124.6667 125.6667 117.71 Jumlah Sel Spermatosit Primer Tubulus Seminiferus Kanan No Perlakuan Spermatosit primer kanan T.6667 218 226.3333 139.6667 141 138.3333 199.S 2 251 214 209 213 219 172 188 165 187 205 157 162 144 128 134 106 139 109 110 131 125 98 128 109 107 Rata-Rata 225.6667 214.6667 120.3333 186 168.3333 115.S 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 P1U1 P1U2 P1U3 P1U4 P1U5 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4 P2U5 P3U1 P3U2 P3U3 P3U4 P3U5 P4U1 P4U2 P4U3 P4U4 P4U5 P5U1 P5U2 P5U3 P5U4 P5U5 232 216 219 230 233 213 175 169 191 178 147 133 126 142 137 135 134 121 132 117 136 140 107 125 132 T.6667 140.3333 218 195.6667 121 .

3333 148 161.3333 125 123 120 139.S 1 T.6667 .3333 181.72 Jumlah Sel Spermatid Tubulus Seminiferus Kanan No Perlakuan Spermatid kanan T.3333 238 207.3333 181 176.S 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 P1U1 P1U2 P1U3 P1U4 P1U5 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4 P2U5 P3U1 P3U2 P3U3 P3U4 P3U5 P4U1 P4U2 P4U3 P4U4 P4U5 P5U1 P5U2 P5U3 P5U4 P5U5 258 213 268 238 199 169 181 177 182 201 131 193 177 130 127 115 120 123 167 157 99 124 104 115 103 231 189 212 198 222 204 168 193 181 211 145 171 165 171 175 120 122 121 116 134 120 98 130 101 106 Rata-Rata T.S 2 222 231 193 278 201 170 180 175 168 173 189 179 187 143 182 140 127 116 136 114 95 92 96 114 99 237 211 224.6667 177 195 155 181 176.6667 135 104.6667 104.6667 110 110 102.

6667 174.3333 258 194.3333 113 102.3333 132 123.6667 145 140.6667 108 105.6667 159 170.3333 222.73 Jumlah Sel Spermatogonia Tubulus Seminiferus Kiri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Perlakuan P1U1 P1U2 P1U3 P1U4 P1U5 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4 P2U5 P3U1 P3U2 P3U3 P3U4 P3U5 P4U1 P4U2 P4U3 P4U4 P4U5 P5U1 P5U2 P5U3 P5U4 P5U5 Spermatogonia kiri T.6667 213.3333 163 191.6667 .6667 136.3333 113.S 2 198 225 237 233 203 194 203 229 239 193 145 185 124 191 166 136 203 193 168 168 146 126 120 170 167 130 173 129 138 132 136 134 121 107 105 146 135 124 137 158 120 96 105 110 95 93 109 118 93 111 Rata-Rata T.6667 143 143.S 1 T.3333 150 125 118.S 2 232 304 187 208 236 147 196 187 179 188 163 132 132 128 180 105 127 145 112 114 125 109 128 112 104 218.

S 1 206 262 219 217 182 178 144 180 145 153 149 105 153 134 135 147 151 112 160 128 121 140 106 97 114 Spermatosit Primer kiri T.6667 178 172.6667 117 116 .6667 180.6667 113.6667 139.6667 131 132 137.6667 171.3333 109.S 2 230 305 222 220 248 200 211 140 202 194 133 129 119 133 134 129 120 126 124 142 119 87 120 143 138 Rata-Rata 230 281 239 201.3333 124.74 Jumlah Sel Spermatosit Primer Tubulus Seminiferus Kiri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Perlakuan P1U1 P1U2 P1U3 P1U4 P1U5 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4 P2U5 P3U1 P3U2 P3U3 P3U4 P3U5 P4U1 P4U2 P4U3 P4U4 P4U5 P5U1 P5U2 P5U3 P5U4 P5U5 T.6667 164.6667 139 129.3333 228.S 2 254 276 276 167 256 164 160 174 187 171 136 140 121 129 144 141 118 134 115 104 101 104 103 111 96 T.6667 124 133 124.6667 110.

3333 143 124 120 122.3333 177 170.3333 113.6667 111 108 .6667 204.75 Jumlah Sel Spermatid Tubulus Seminiferus Kiri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Perlakuan P1U1 P1U2 P1U3 P1U4 P1U5 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4 P2U5 P3U1 P3U2 P3U3 P3U4 P3U5 P4U1 P4U2 P4U3 P4U4 P4U5 P5U1 P5U2 P5U3 P5U4 P5U5 T.6667 192.3333 150 161 151.S 2 190 281 198 212 259 183 170 147 192 186 152 138 184 186 131 152 114 110 121 110 110 106 114 135 113 T.S 1 217 215 197 230 202 175 192 160 155 144 131 191 140 120 128 156 110 118 115 113 96 101 92 98 116 Spermatid kiri T.6667 163.3333 102.3333 176.6667 147 139.3333 104 105.S 2 253 235 183 171 187 150 168 183 184 181 167 154 131 135 159 121 148 132 131 117 106 109 102 100 95 Rata-Rata 220 243.3333 216 169.

76 Jumlah Sel Leydig Tubulus Seminiferus Kanan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Perlakuan P1U1 P1U2 P1U3 P1U4 P1U5 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4 P2U5 P3U1 P3U2 P3U3 P3U4 P3U5 P4U1 P4U2 P4U3 P4U4 P4U5 P5U1 P5U2 P5U3 P5U4 P5U5 Jumlah Sel Leydig kanan 124 152 97 113 115 99 122 74 89 101 94 88 70 79 69 64 66 53 72 68 58 54 73 51 71 .

77 Jumlah Sel Leydig Tubulus Seminiferus Kiri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Perlakuan P1U1 P1U2 P1U3 P1U4 P1U5 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4 P2U5 P3U1 P3U2 P3U3 P3U4 P3U5 P4U1 P4U2 P4U3 P4U4 P4U5 P5U1 P5U2 P5U3 P5U4 P5U5 Jumlah Sel Leydig kiri 116 112 111 135 128 121 96 98 81 85 92 80 105 78 77 76 59 82 73 63 60 59 73 66 61 .

..33 115 108..0718 758..+ 541...798 108..372..662 +.66 119 106..32 Rata-rata 210...614....33 5 199.596 143.....614...31 887..66 127..66 185..2454 35372.2454 ANOVA SK Perlakuan Galat Total Uji BNT 1% BNT 0.....24 25 FK = 3806.264 3806......242 = 579.9122 Ulangan = 11.662 + 216.66 172.98 717.33 Ulangan 4 213 178.33 141..845 x 2 x 37..51 25 JK total = 210.0718 = 758..34.33 150.8272 – 579.3172 ...5818 – 579.01 (db galat) x 2 x KT gala 𝑡 Ulangan Db 4 20 24 JK 34614.33 122 111 3 210.51795 228.66 187.322 – FK 5 = 614...25 37.66 125.24 = 152.78 Lampiran 2....33 164 137..+1072 – FK = 614.0718 JK galat = JK total percobaan – JK perlakuan = 35..66 2 216.91227 F tabel 1% 4.079 .528 121.498.372..66 146...870.3172 KT F hitung 8653....51 = 35.99 541..66 108..062 177...64 608....33 107 Jumlah 1050......01 = t0.24 X= 3806..43 = 2.66 141..498. Perhitungan Manual ANOVA dan Uji BNT Jumlah Sel Spermatogonium Tubulus Seminiferus Kanan Perlakuan 1 P1 P2 P3 P4 P5 210.112.3172 JK perlakuan = 1050..312 +....51= 34.498.

66 143....79 Jumlah Sel Spermatogonia Tubulus Seminiferus Kiri Perlakuan 1 P1 P2 P3 P4 P5 218...66 2 258 170.32 542... 102.692...33 123..65 3865.692..064 108..01 (db galat) x 2 x KT gala 𝑡 Ulangan Db 4 20 24 JK 38700.396 171..33 108 3 194.93 635.33 102..65 721.73 144...66 Jumlah 1106...533 ...845 x 2 x 156.825 Ulangan = 22..8872 25 JK total = 218...98 858..532 = 597...825425 F tabel 1% 4.66 113 5 222....33 140.1071 .2199 KT F hitung 9675..662 – FK = 639.....700.17785 61.6212 25 FK = 3865...2199 JK perlakuan = 1106.33 191...33 Ulangan 4 213.66 150 136.692.386 127...53 X= 3865..66 163 143 132 105.7114 = 3..... 542.33 159 145 125 113.837..5986 .597..597.8872 = 38.982 +..43 = 2..38.66 174..530.7114 JK galat = JK total percobaan – JK perlakuan = 41..53 Rata-rata 221.5085 41837.393.01 = t0.53 = 154.7114 3136.8872 = 41..332 + 2582 +..700...136..837..2199 ...5085 ANOVA SK Perlakuan Galat Total Uji BNT 1% BNT 0.652 – FK 5 = 636.....6 118.93 156..

...33 121 123....845 x 2 x 42.764.310.66 121 Jumlah 1102..9 = 157.78875 229....215.5766 KT F hitung 9862...66 117.01 (db galat) x 2 x KT gala 𝑡 Ulangan Db 4 20 24 JK 39451.66 141 138..9 Rata-rata 220..66 117.596 120..1806 ..155 = 859...604 25 JK total = 225..66 168.764.65 929..80 Jumlah Sel Spermatosit Primer Tubulus Seminiferus Kanan Perlakuan P1 P2 P3 P4 P5 1 225... 642 – FK 5 = 657.1704 25 FK = 3929.....33 125.759 .451.4216 40310....33 120.155 859....604 = 40.....66 2 218 186 139...764.66 3 226.33 140.......996 138....528 X= 3929.662 + 2182 +.155 JK galat = JK total – JK perlakuan = 40..92 = 617.5766 JK perlakuan = 1102.5766 ..97105 F tabel 1% 4..66 124...617. 602... 1212 – FK = 658.652 +.66 133...604 = 39.33 199.43 = 2.53 185...98 601.33 218 180.66 Ulangan 4 5 214.971 Ulangan = 11..66 195.98 692.39..617..4216 ANOVA SK Perlakuan Galat Total Uji BNT 1% BNT 0.52 42.451....66 115....65 602.01 = t0.33 117 120...075....795 ..64 3929..310..

66 178 172.66 124..9436 JK perlakuan = 1179.829 188..92 = 157..456...4383 – 617..123355 F tabel 1% 4.32 566.33 3 239 164..66 133 124....9436 KT F hitung 12195......86913 63.01 = t0.4947 = 48.456.......1568 25 FK = 3928.262 = 617.33 X= 3928..66 867......4765 3762...66 131 124 109......66 110...4671 52545..4765 JK galat = JK total – JK perlakuan = 52..92 Rata-rata 235..932 173..528 132..43 Uji BNT 1% BNT 0.93 130....65 3928. 566.81 Jumlah Sel Spermatosit Primer Tubulus Seminiferus Kiri Perlakuan P1 P2 P3 P4 P5 1 230 180..545. 652 – FK 5 = 666...1162 – FK = 670....4765 = 3762.783....032.662 +..9436 .01 (db galat) x 2 x KT gala 𝑡 Ulangan = 2.64 664.33 139 113...4947 25 JK total = 2302 + 2812 +..249....679 ..545.783.....4671 ANOVA SK Perlakuan Galat Total Db 4 20 24 JK 48783.65 650.66 Ulangan 4 5 201 228.66 117 116 Jumlah 1179..617.66 2 281 171.....002.9665 ..123 Ulangan = 24.845 x 2 x 188.66 139.66 132 137.........66 129...4947 = 52..064 113.48..

..656 ...38136 2150.66 642.4642 KT F hitung 10508.....504 Ulangan = 18.9001 25 JK total = 2372 + 2112 +....33 177 195 148 161.66 Jumlah 1117..998 25 FK = 4024.. 982 – FK 5 = 690..66 910..66 3 224.38136 = 2150..98 4024.008..FK = 692.66 531.3625 ....87 = 2...33 181 123 104...08104 44182...008.532 182...191.33 181.95 Rata-rata 223...952 = 648...66 176..662 ....99 821..08104 ANOVA SK Perlakuan Galat Total Uji BNT 1% BNT 0..38136 JK galat = JK total – JK perlakuan = 44...008..82 Jumlah Sel Spermatid Tubulus Seminiferus Kanan Perlakuan P1 P2 P3 P4 P5 1 237 181 155 125 104...9001 = 44...01 (db galat) x 2 x KT gala 𝑡 Ulangan Db 4 20 24 JK 42032.4624 – 42.504052 F tabel 1% 2..33 120 110 Ulangan 4 5 238 207....102.........95 = 160..032..66 2 211 176...198 164...4624 JK perlakuan = 1117...531..66 135 110 102.......2815 .332 128..648.746 107.33 139...182..845 x 2 x 107.648..09534 97..662 +.041.032.01 = t0.396 X= 4024.182.9001 = 42..532 106.

105.577.......4273 = 36....596 .155..618252 F tabel 1% 4.. 992 – FK 5 = 624733.33 149..588.577..01 (db galat) x 2 x KT gala 𝑡 Ulangan Db 4 20 24 JK 36155.65 856.........530.652 +.01 = t0.94 Rata-rata 215...36504 38528.2019 KT F hitung 9038.33 113......33 122..798 124...4273 25 JK total = 2202 + 243..36.83 Jumlah Sel Spermatid Tubulus Seminiferus Kiri Perlakuan P1 P2 P3 P4 P5 1 220 169.528.2019 JK perlakuan = 1076.528......2019 .66 176...845 x 2 x 118.33 216 177 170.4273= 38..33 147 139.66 120 102.6292 ..65 748.83686 JK galat = JK total – JK perlakuan = 38...33 3 192.618 Ulangan = 19....83686 = 2372.43 = 2.94 = 153.66 Ulangan 4 5 204..4376 25 FK = 3835...66 161 124 105.662 +.66 163..532 106.83686 2372.588..66 530.............2642 .33 171.577....202 118..198 X= 3835.33 151.942 = 588.33 111 108 Jumlah 1076.36504 ANOVA SK Perlakuan Galat Total Uji BNT 1% BNT 0.....99 622.99 3835.155.959215 76....1082 – FK = 627.....33 150 143 104 2 243..

.2 15869.341 .2 97 80 64.01 (db galat) x 2 x KT gala 𝑡 Ulangan Db 4 20 24 JK 11902..24 25 JK total = 2042 + 1522 +.24 = 11902......64 198..00121 F tabel 1% 4..11902.76 KT 2975.....6 61.36 Ulangan = 25...179098........2 ANOVA SK Perlakuan Galat Total Uji BNT 1% BNT 0..56 = 3967......4 = 153....24 = 15869.76 ..179098.....3072 – FK 5 = 191000.01 = t0....4376 FK = 21162 = 179098.......36 F hitung 15.56 3967.....8 ...43 = 2...56 JK galat = JK total – JK perlakuan = 15869.........84 Jumlah Sel leydig Testis Kanan Perlakuan 1 P1 P2 P3 P4 P5 X= 2116 25 124 99 94 64 58 2 152 122 88 66 54 3 97 74 70 53 73 Ulangan 4 5 113 89 79 72 51 115 101 69 68 71 Jumlah 601 485 400 323 307 2116 Ratarata 120............ 712 – FK = 194968 .......76 JK perlakuan = 6012 +....845 x 2 x 198...

76 = 10033...10033...4 70.76 25 JK total = 1162 + 1122 +..43 = 2......4 96.....191318.845 x 2 x 124....12081 F tabel 1% 4..04 2493..0898 ........66 F hitung 20....2 12526..24 JK perlakuan = 6022 + .6 63..2 86.26 124........01 = t0.. 612 – FK = 203845 .191318.8 = 87.. 3192 – FK 5 = 201351.......24 .8 ..66 Ulangan = 20........85 Jumlah Sel Leydig Testis Kiri Perlakuan P1 P2 P3 P4 P5 X= 2187 25 1 116 121 92 76 60 2 112 96 80 59 59 3 111 98 105 82 73 Ulangan 4 5 135 128 81 85 78 77 73 63 66 61 Jumlah 602 481 432 353 319 2187 Rata-rata 120.04 JK galat = JK total – JK perlakuan = 12526..76 = 12526...........24 KT 2508.04 = 2493..48 FK = 21872 = 191318..2 ANOVA SK Perlakuan Galat Total Uji BNT 1% BNT 0.01 (db galat) x 2 x KT gala 𝑡 Ulangan Db 4 20 24 JK 10033.

Peta Konsep Penelitian Hipotalamus GnRH Negative feed back Hipofisa Negative feed back inhibin FSH LH Sel leydig Spermatogenesis terhambat Sel Sertoli Menghambat Aromatase Testosteron Estrogen Memiliki Sifat estrogenik Peredaran darah Flavonoid Alkoloid Tanin Ekstrak daun beluntas .86 Lampiran 3.

sehingga dekok beluntas yang dibutuhkan untuk tikus putih. Rata-rata berat badan mencit 30 gr . Dasar Penentuan Dosis Ekstrak Daun Beluntas Pada penelitian ini dosis beluntas yang efektif yang biasa diminum oleh manusia 10 gr. 2007) Dosis untuk mencit 30gr x 10gr X= 50.87 Lampiran 4. Jika 400gr serbuk di ekstrak menjadi 25gr maka 1gr serbuk di ekstrak menjadi: 25gr = 400gr 1gr X 25gr x 1gr X = 400gr X = 0.5mg .0625gr = 62.000gr X = 0.000gr X 30gr BB mencit Dosis untuk mencit BB mencit (Susetyarini. adalah Dosis untuk manusia = BB manusia Perhitungannya: Dosis untuk manusia = BB manusia 10gr = 50.006gr = 6mg Jadi dosis beluntas untuk mencit adalah: 6mg (dalam bentuk serbuk) Hasil ekstrak yang sudah dilakukan adalah: 400gr serbuk menghasilkan ± 25gr ekstrak kental dengan menggunakan pelarut etanol 96%.

Dosis ekstrak daun beluntas 15x : 187. 3.000mg X = 12.88 Konversi dosis serbuk beluntas ke dosis ekstrak: 62.5 mg/kg BB. 4.5mg = 1.5 mg Jadi dosis ekstrak daun beluntas 1x untuk mencit adalah 12.5 mg/Kg BB. 0.5 mg/kg BB.5 mg/kg BB.000mg 106 mg 0. 2.000mg 6mg X 62.375mg .375mg x 106 mg X = 30.5mg x 6mg X = 1000mg X = 0. Dosis yang dipakek untuk penelitian adalah: 1.375mg Jadi dosis ekstrak untuk mencit adalah: 0. Dosis ekstrak daun beluntas 10x : 125 mg/kg BB. Dosis ekstrak daun beluntas 5x : 62.375 mg/30gr BB Jika dijadikan per Kg BB mencit: X = 30. Dosis ekstrak daun beluntas 1x : 12.

Prosedur Ekstraksi Daun Beluntas Serbuk beluntas Ditimbang 100 g Ditambahkan ethanol 96% 150 mL Didiamkan selama 3X24 jam.89 Lampiran 5. Tiap 6 jam diaduk. Setiap 3X24 jam sekali disaring Filtrasi I Ditampung dalam erlenmeyer Residu Dilarutkan lagi dengan ethanol 96% 150 mL Langkah sama seperti langka di atas Digabung Filtrasi II Residu Dilarutkan lagi dengan ethanol 96% 150 mL (Idem) Filtrasi III Di evaporasi Residu Dibuang .

90 Lampiran 6. Diagram Alir Penelitian Mencit jantan sebanyak 25 ekor umur 2 bulan Diaklimatisasi 2 minggu Diberi ekstrak daun beluntas selama 36 hari dengan dosis yang berbeda Di bedah pada hari ke-37 setelah perlakuan Di ambil testisnya sebelah kanan dan kiri Dibuat preparat mikroanatomi Dihitung jumlah sel spermatogonium. sel spermatosit primer. sel spermatid dan sel leydig .

91 Lampiran 7. Rotary vacum evaporator . Gambar Alat dan Bahan Penelitian Gambar 1. Timbangan digital Gambar 3. Pemanas (Hot plate) Gambar 2.

Etanol 96% Gambar 6. Ekstrak daun beluntas .92 Gambar 4. Corong bughner Gambar 5.

Botol specimen Gambar 8.93 Gambar 7. Pencekok oral Gambar 9. Seperangkat alat bedah . Beaker glas. gelas ukur dan hand counter Gambar 10. labu ukur.

Mikroskop komputer olympus tipe cx31 Gambar 12.94 Gambar 11. Pipet tetes dan kertas saring . Serbuk daun beluntas Gambar 12.

tempat makan dan minum mencit Gambar 2.95 Lampiran 8. Pencekokan ekstrak daun beluntas . Gambar kegiatan penelitian Gambar 1. Anatomi organ mencit saat di bedah Gambar 3. Kandang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->