P. 1
Laporan Akl Air (Refisi)

Laporan Akl Air (Refisi)

|Views: 78|Likes:
sebelum fix, analisis kesehatan lingkungan, sampel air di depok, dekat FKM UI, parameter air
sebelum fix, analisis kesehatan lingkungan, sampel air di depok, dekat FKM UI, parameter air

More info:

Published by: Ayu Anastasia Bustami on Jun 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

ANALISIS PARAMETER FISIK DAN KIMIAWI AIR KELAS REGULER & EKSTENSI DI 18 TITIK PONDOK CINA, DEPOK PADA BULAN

NOVEMBER-DESEMBER 2011

ABSTRAK

Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup makhluk di muka bumi ini. Dewasa ini, pencemaran air telah menjadi persoalan serius yang terjadi di banyak negara secara global. Laporan dari Badan Lingkungan Hidup Kota Depok menyatakan bahwa pencemaran air di Kota Depok dapat mengganggu kualitas air di daerah tersebut. Oleh karena itu, dilakukan penelitian fisik dan kimiawi air kelas 1 di 18 titik di pemukiman warga Pondok Cina, Depok dengan tujuan untuk mengetahui kualitas air di sekitar Kota Depok pada tahun 2011 yang dinyatakan dengan nilai hasi pengukuran beberapa parameter penting berdasarkan PP No. 82/ 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Metode Data yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data primer, yaitu sumber air yang digunakan oleh pemukiman warga yang tinggal di sekitar Kampus Universitas Indonesia, Depok tersebut. Kemudian, dilakukan analisis di Laboratorium Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia dengan menggunakan alat spektofotometri dengan reagen yang berbedabeda. Terakhir, data diinterpretasi dengan membandingkan hasil pengukuran dengan PP No. 82/ 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Hasil Pada pengukuran kandungan besi pada air di 18 titik di pemukiman warga Pondok Cina, Depok didapatkan 2 titik yang memiliki kadar besi sebesar 2,23 mg/L (sampel 2) dan 0,37 (sampel 15) yang melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh PP No. 82 Tahun 2001 yaitu sebesar 0,3 mg/L. Untuk nilai nitrit yang diperoleh 2 titik pengukuran melebihi nilai baku mutu tembaga (0,06 mg/L) berdasarkan PP No 82 Tahun 2001. Sedangkan, pada nilai kekeruhna (turbidity) di 18 titik di pemukiman warga di Pondok Cina, Depok, didapatkan hasil bahwa dari 1 titik yang dilakukan pengukuran sumber air yang digunakan masih dibawah baku mutu yang ditetapkan pada Keputusan Menteri Kesehatan RI No.907 tahun 2002sebesar 5 mg/L. Untuk kandungan fosfat pada 18 titik ini didapatkan hasil bahwa 8 titik melebihi baku mutu (0,2 mg/L) menurut PP No. 82 tahun 2001. Terakhir, pada pengukuran konsentrasi mangan di 12 titik, didapatkan hasil bahwa terdapat 10 titik sampling yang airnya mengandung mangan di atas standar baku mutu yang ditetapkan pada PP No. 82 Tahun 2001, yaitu 0,1 mg/L.

Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di 18 titik di Pondok Cina, Depok maka dapat disimpulkan bahwa kualitas fisik dan kimiawi air di Kota Depok telah memprihatinkan karena ada beberapa titik pengambilan sampel yang kandungan nitrit, besifosfat, dan mangan telah melebihi nilai baku mutu lingkungan yang tertulis dalam PP No. 82/ 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.907 tahun 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawas Kualitas Air Minum.

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup makhluk di muka bumi ini. Air juga bermanfaat untuk memajukan kesejahteraan umum dan menunjang pembangunan yang berkelanjutan.1 Hal ini berarti penggunaan air untuk berbagai manfaat dan kepentingan harus dilakukan secara bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi masa kini dan masa depan. Dewasa ini, pencemaran air telah menjadi persoalan serius yang terjadi di banyak negara secara global.2 Pencemaran air adalah turunnya kualitas air sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.3 Adapun maksud dari tingkat tertentu diatas adalah baku mutu air yang ditetapkan sebagai tolok ukur untuk menetapkan telah terjadinya pencemaran air. Pencemaran air dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pembuangan limbah industri, sisa insektisida, dan pembuangan sampah domestik.4 Selain itu, pembusukan sampah organic oleh bakteri dapat menyebabkan kandungan oksigen di air berkurang sehingga mengganggu aktivitas kehidupan organisme air. Pencemaran air juga dapat disebabkan oleh tumpahan minyak bumi yang dibawa oleh kapal tanker. Beberapa peristiwa pencemaran air yang terjadi di sebagian negara secara global yaitu peristiwa pencemaran air oleh logam berat merkuri tejadi di Teluk Minamata, Jepang pada tahun 1958 menyebabkan masyarakat Jepang terserang penyakit yang mengganggu sistem syarafnya. Peristiwa ini dikenal dengan nama

1

2

3 4

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Helmer, Richard. 1997. Water Pollution Control-A Guide to the Use of Water Quality Management Principles.Published by World Health Organization. Britain: St Edmundsbury Press, halaman 17. Loc cit., Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001. Pembuangan limbah industry seperti Pb, Hg, Zn, dan CO yang bersifat racun, sedangkan dari sampah domestik seperti pembuangan sisa detergen.

Minamata Disease.5 Selain itu, peristiwa pencemaran air lainnya adalah pencemaran air tanah oleh logam arsen yang terjadi di Kota Bengal Barat, India. Peristiwa ini menyebabkan penduduk di Kota Bengal Barat menderta penyakit kulit.6 Sedangkan, peristiwa pencemaran air yang terjadi di Negara Indonesia biasanya disebabkan oleh aktivitas manusia. Adapun peristiwa pencemaran air yang terjadi yaitu di Teluk Jakarta terjadi pencemaran yang sangat merugikan bagi petambak. Peristiwa ini menyebabkan biota air yang terdapat di teluk tersebut mengalami kematian. Kondisi ini terjadi karena kadar logam seperti seng, tembaga dan timbal telah mencapai ambang batas normal yang dapat membahayakan makhluk hidup sekitar. Selain itu, krisis air juga terjadi di hampir semua wilayah di Pulau Jawa dan sebagian Sumatera, terutama kota- kota besar. Krisis air ini disebabkan oleh pencemaran limbah cair industri, rumah tangga, dan pertanian.7 Laporan dari Badan Lingkungan Hidup Kota Depok menyatakan bahwa pencemaran air di Kota Depok dapat mengganggu kualitas air di daerah tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan di Situ Gadog di Kecamatan Cimanggis dan Situ Pladen di Kecamatan Beji menyatakan bahwa nilai BOD dan COD terhitung tinggi dan telah melampaui nilai ambang batasnya. Tingginya nilai BOD di daerah tersebut terjadi karena banyaknya limbah berupa feses atau kotoran manusia masuk ke situ. Sedangkan, nilai COD yang tinggi disebabkan oleh limbah kimia, seperti larutan sabun dan detergen mengalir ke situ. Selain itu, pencemaran air yang terjadi di Kota Depok juga disebabkan oleh bahan kimia seperti mangan, barium, seng, ammonia, klorida, dan besi. Sebelumnya, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok pernah menyebutkan situ–situ lainnya yang juga tercemar oleh bahan kimia maupun bakteri E–Coli, yakni Situ Rawa Besar, dan Situ Cilangkap yang diduga tercemar oleh pabrik plastik.8 Adapun dampak dari pencemaran air tidak hanya dari segi lingkunga saja, tetapi juga dari segi ekonomi, kesehatan, dan sosial budaya. Dari segi lingkungan,
5 6

Siregar, Raja P. 2006. Singkap Buyat. Jakarta: WALHI. Rahman, Mohammad M. 2005. Arsenic Contamination of Groundwater and Its Health Impact on Residents in a Village in West Bengal, India. 7 Warlina, Lina. 2004. Pencemaran Air: Sumber, Dampak, dan Penanggulangnnya. Pengantar Falsafah Sains, Institut Pertanian Bogor. 8 Virdhani, Marieska harya. 2010. Pencemaran Situ di Depok Ganggu Kualitas Air Tanah. NewsOkezone.

pencemaran air dapat menyebabkan terganggunya ekosistem laut. Untuk segi ekonomi, pencemaran air dapat menyebabkan kerugian financial bagi suatu negara. Upaya pemulihan kondisi air yang tercemar membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan nilai kemanfaatan financial dari kegiatan yang menyebabkan pencemaran tersebut. Dari segi kesehatan, pencemaran air dapat mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan manusia. Sedangkan dari segi sosial budaya, pencemaran air dapat mengancam ketersediaan air, daya guna, daya dukung, daya tampung, dan produktivitas manusia.9 Oleh karena itu, upaya pelestarian dan pengendalian sangat diperlukan untuk menjaga fungsi air agar kualitasnya tetap sesuai dengan tingkat mutu air yang diinginkan.

1.2 Tujuan Adapun tujuan diadakannya sampling air di beberapa tempat di sekitar Kota Depok adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui kualitas air di sekitar Kota Depok pada tahun 2011 yang

dinyatakan dengan nilai hasi pengukuran beberapa parameter penting berdasarkan karakteristik sistem akuatiknya.
b. Mengetahui cara melakukan sampling air yang baik dan benar.

c. Mengetahui cara menganalisis parameter-parameter kualitas fisik dan kimiawi dari media air.
d. Mengetahui

bahan analisis yang representatif untuk dapat komposisi suatu komponen lingkungan yang

menggambarkan sebenarnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
9

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Dalam proses penentuan kualitas sumber air yang digunakan sebagai air minum, mencuci, mandi, perikanan, dan lain-lain, maka sumber air tersebut perlu dilakukan pengukuran, baik di lapangan (in situ) maupun di laboratorium. Adapun pengukuran-pengukuran yang sebaiknya dilakukan, yaitu: a. Suhu Adalah ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda yang diukur dengan menggunakan termometer. Ketelitian paling rendah termometer sebesar 0,1 ºC. Ketika dilakukan sampling air, suhu udara dan suhu air diukur guna mengetahui besar perbedaan serta mengetahui kapan pengambilan sampel tersebut. b. pH Derajat keasaman atau kebasaan dari suatu sumber air dengan skala 0 – 14. pH air dapat diukur dengan menggunakan kertas pH atau pH-meter. Tinggi atau rendahnya pH pada sumber air tergantung pada senyawa yang terkandung pada sumber air tersebut. Adapun pH air minum yang sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907 Tahun 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawas Kualitas Air Minum adalah antara 6,5 – 8,5.
c. Daya Hantar Listrik (DHL) dan TDS (Total Dissolved Solid)

DHL atau Conductivity dapat diukur bersama dengan TDS yang menggunakan alat Conductivity – TDS meter10. Ketelitian alat tersebut tidak boleh lebih dari 1% atau 1 µmhos/cm. Satuan DHL adalah Siemens (S). Adapun 1 mS/m = 10 µmhos/cm sehingga 1µS/cm = 1 µmhos/cm. DHL dipengaruhi oleh suhu sehingga diketahui pada suhu tºC, maka nilai DHL, yaitu: § DHL yang terukur DHL = ------------------------(1 + 0,0191 . (t – 25)

10

Rahman, Abdur, dkk. 2004. Analisis Kualitas Lingkungan. Depok.

Bila suhu sampel lebih rendah dari 25ºC, maka nilai DHL harus ditambah 2% untuk setiap perbedaan 1ºC. Tetapi jika suhu sampel di bawah 25ºC, hasil DHL dikurangi 2% untuk setiap perbedaan 1ºC.
d. TDS atau Jumlah Zat Padat Terlarut (total dissolved solids)

TDS biasanya terdiri atas zat organik, garam anorganik dan gas terlarut. Bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik. Efek TDS ataupun kesadahan terhadap kesehatan tergantung pada spesies kimia penyebab masalah tersebut (Hartanto, 2007). Air yang baik dan layak untuk diminum tidak mengandung padatan terapung dalam jumlah yang melebihi batas maksimal yang diperbolehkan yaitu 1000 mg/l. Padatan yang terlarut di dalam air berupa bahan-bahan kimia anorganik dan gas-gas yang terlarut. Air yang mengandung jumlah padatan melebihi batas menyebabkan rasa yang tidak enak, menyebabkan mual, rasa tidak enak pada lidah, penyebab serangan jantung (cardiacdisease) dan tixaemia pada wanita hamil.
e. Kekeruhan (Turbidity)

Adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk mengukur keadaan air sungai, kekeruhan ini disebabkan oleh adanya benda tercampur atau benda koloid dalam air. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907 Tahun 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawas Kualitas Air Minum mengatur kadar maksimum yang diperbolehkan untuk air minum sebesar 5 NTU.
f. Kesadahan (Hardness)

Adalah gambaran kation logam divalen (valensi 2) yang terdapat dalam air. Kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun membentuk endapan (presipitasi) maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air membentuk endapan atau karat pada peralatan logam. g. Besi Total Kadar maksimum yang diperbolehkan pada besi dalam PP No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air adalah

0,3 mg/lt untuk kelas I, sedangkan kelas II - IV tidak diperbolehkan terdapat kandungan besi dalam air tersebut. h. Nitrit Kadar maksimum yang diperbolehkan pada Nitrit sebagai N dalam PP No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air adalah 0,06 mg/lt untuk kelas I – III, sedangkan kelas IV tidak diperbolehkan terdapat kandungan nitrit dalam air tersebut. Namun, pada Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907 Tahun 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawas Kualitas Air Minum, kadar maksimum nitrit yang diperbolehkan sebesar 3 mg/lt. i. Fosfat Total fosfat sebagai P maksimum yang diperbolehkan dalam air berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air adalah 0,2 mg/lt untuk air kelas I dan II, 1 mg/lt untuk kelas III, dan 5 mg/lt untuk kelas IV. j. Mangan Kelebihan logam ini dalam tubuh dapat menimbulkan efek-efek kesehatan seperti serangan jantung, gangguan pembuluh darah bahkan kanker hati. Nilai estetika juga dapat dirusak oleh keberadaan logam-logam ini karena dapat menimbulkan bercak-bercak hitam pada pakaian. Air yang tercemar oleh logamlogam ini biasanya nampak pada intensitas warna yang tinggi pada air, berwarna kuning bahkan berwarna merah kecoklatan dan terasa pahit atau masam. k. Sulfida H2S merupakan gas yang sangat beracun dan berbau busuk, selain itu dapat memperbesar keasaman air sehingga dapat menyebabkan korosi pada pipa-pipa logam, karena sifat dan pengaruh zat ini, maka dalam standar air minum ditetapkan air minum tidak boleh mengandung H2S.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Sampling Sampling air ini dilakukan di beberapa rumah penduduk yang tinggal di sekitar Kampus Universitas Indonesia, Depok. Setiap lokasi tersebut selanjutnya akan diambil sampel airnya untuk diteliti di laboratorium FKM UI. 3.2 Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data primer, yaitu sumber air yang digunakan oleh pemukiman warga yang tinggal di sekitar Kampus Universitas Indonesia, Depok tersebut. Selain itu, data juga didapatkan dari pengukuran in situ (berupa pengukuran pH air dan suhu air) yang kemudian dicatat sebagai bahan analisis selanjutnya. Pengumpulan data juga dilakukan dengan melakukan telaah pustaka berupa penggunaan buku-buku yang terdapat di Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia serta Undang-Undang yang terkait dengan air yang dikumpulkan dengan tujuan untuk membandingkan kadar maksimum yang diperbolehkan dalam air dengan hasil analisis nantinya. Sumber lain berupa internet yang meliputi jurnal internasional serta pendukung lainnya juga digunakan dalam proses ini. 3.3 Pengolahan dan Analisis Data Setelah dilakukan pengumpulan, sampel air yang diambil kemudian dianalisis di Laboratorium Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia dengan menggunakan alat spektofotometri dengan reagen yang berbedabeda tergantung jenis logam yang ingin diketahui kandungan logamnya dalam masing-masing sampel air yang diambil, seperti esi total, nitrit, turbidity, hardness (kesadahan), fosfor, mangan, sulfid, dan lain-lain. Hasil analisis tersebut kemudian

dicatat di dalam buku. Setelah itu, hasil analisis laboratorium dan hasil pengukuran in situ ditabulasi dengan menggunakan tabel. 3.4 Interpretasi Data Data diinterpretasi dengan membandingkan hasil pengukuran di laboratorium dan pengukuran in situ dengan parameter yang telah ditentukan dalam Undang-Undang, seperti PP No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907 Tahun 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawas Kualitas Air Minum. 3.5 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam proses penelitian ini adalah sebagai berikut: • • • • • • • Spektofotometri UV-Vis Botol Kosong Termometer Cuvet Berbagai Jenis Reagen Sampel air Aquades

3.6 Cara Sampling a. Menentukan 3 lokasi titik pengamatan atau pengambilan sampel. b. Mencatat lokasi spesifik pengambilan sampel air. c. Mengukur suhu udara di tiap lokasi pengambilan sampel air.
d. Mengambil sample air sebanyak 1 botol @ ± 1500 ml.

e. Mengukur suhu air yang dijadikan sampel. f. Mencatat hasil pengukuran suhu di masing-masing lokasi sampling. g. Melakukan pengukuran kadar logam dalam air dengan menggunakan spektofotometri.

3.7 Cara Pengukuran Kadar Logam a. Menyediakan sampel air yang akan diukur. b. Menyediakan alat-alat yang akan digunakan (cuvet cube, spektofometri, reagen dan lain-lain). c. Menyiapkan blanko yang akan digunakan di setiap pengukuran. Adapun blangko yang digunakan berupa sampel air namun tidak diberi reagen. d. Melakukan pengukuran terhadap sampel air dengan reagen yang berbedabeda. e. Mencatat hasil pengukuran dari tiap sampel yang diberi reagen yang berbedabeda.

BAB V

PEMBAHASAN
5.1 Besi Pada pengukuran kandungan besi total di 18 titik di pemukiman warga Pondok Cina, Depok, didapatkan hasil bahwa dari 2 titik yang dilakukan pengukuram sumber air yang digunakan masih dibawah baku mutu yang ditetapkan pada PP No. 82 Tahun 2001 sebesar 0,3 mg/L. Besi merupakan salah satu unsure logam golongan VIIIB. Logam ini jarang ditemukan dalam bentuk bebas. Keberadaan besi di bumi ada sekitar 6,22%. Di tanah kandungan besi berkisar antara 0,5-4,3%, sedangkan pada air tanah, kandungan besi sekitar 0,1-10 mg/L. menurut, PP Nomor 82 Tahun 2001, kandungan besi pada air minum dibatasi sebanyak 0,3 mg/L. Kadar besi yang terkadung dalam air minum dapat berpengruh terhadap kesehatan. Besi masuk ke dalam tubuh melalui jalur oral. Besi dalam air minum yang terminum dan masuk ke dalam tubuh dapat mempengaruhi reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh, seperti gangguan penyerapan vitamin dan mineral. Sebesar 75% kamponen haemoglobin adalah besi, namun jika kadar ini berlebihan maka dapat berdampak buruk. Kelebihan besi dalam tubuh dapat menyebabkan gejala keracunan, seperti muntah, sakit kepala, diare, pusing, kerusakan usus dan mual. Selain itu, besi juga dapat menyebabkan penuaan dini akibat radikal bebas. Sifat besi yang korosif, dapat menyebabkan sirosis ginjal, radang sendi. Besi juga dapat menyebabkan masalah mental, seperti mudah gelisah, mudah marah, mudah emosi, hiperaktif, sikoprenia dan insomnia. Besi juga dapat memberikan efek merusak organ-oraga tubuh, antara lain sakit liver, hepatitis, myasthenia gravis, cardiomyopathies, kanker dan diabetes. (Parulian, 2009 dan Paul C. Eck, Et.al., 1989). 5.2 Nitrit Pada pengukuran kandungan nitrit pada air di 18 titik di di pemukiman warga Pondok Cina, Depok didapatkan 2 titik yang berada di Daerah Pondok Cina memiliki nilai nitrit sebesar 7 mg/L (sampel 9) dan 0,078 (sampel 6) yang melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh PP No. 82 Tahun 2001 yaitu sebesar 0,06 mg/L.

Hal ini dimungkinkan karena adanya aliran sungai yang berada di sekitar tempat tersebut yang dapat mengkontaminasi sumber air yang digunakan pada rumah makan ini. Dalam keadaan normal nitrit tidak ditemukan dalam air minum kecuali dalam air yang berasal dari air tanah akibat dari adanya proses reduksi nitrat oleh garam besi. Di perairan nitrit biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dan lebih sedikit dari nitrat, karena tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat.proses nitrifikasi dapat ditunjukkan dalam persamaan reaksi : N organic + O2  NH3-N + O2  NO2-N + O2  NO3-N Pada denitrifikasi, gas N2 yang dapat terlepas dilepasakan dari dalam air ke udara, ion nitrit dapat berperan sebagai sumber nitrogen bagi tanaman. Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organic yang memiliki kadar oksigen terlalu rendah. Sumber dari nitrit dapat berupa lombah indutri dan limbah domestic. Kadar nitrit perairan relative kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat. Konsumsi nitrit yang berlebihan dapat mengakibatkan terganggunya proses pengikatan oksigen oleh hemoglobin darah, yang selanjutnya membentuk methemoglobin yang tidak mampu mengikat oksigen. Apabila jumlah methemoglobin lebih dari 15% dari total hemoglobin maka akan mengakibatkan sianosis yaitu suatu keadaan dimana seluruh jaringan tubuh kekurangan oksigen. Nitrit juga akan mengakibatkan penurunan tekanan darah karena efek vasodilatasinya. Gejala klinis yang timbul dapat berupa mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, penurunan tekanan darah, denyut nadi lebih cepat11. 5.3 Sulfida Pengukuran Sulfida dilakukan pada semua sampel air. Sulfida sering terdapat dalam air tanah, terutama pada sumber air panas dan umum terdapat pada air limbah, yang berasal dari bagian dekomposisi senyawa organik, terkadang dari limbah industri tetapi sebagian besar dari reduksi sulfat oleh bakteri. H2S menyebabkan bau tidak sedap. H2S sangat toksik dan secara langsung bereaksi dengan logam.
11

Harry Wahyudhy Utama, Keracunan Nitrat NItrit, www.klikharry.wordpress.com Jum’at, 6 Januari 2012

5.4 Fosfat Fosfor merupakan salah satu bahan kimia yang sangat penting bagi mahluk hidup. Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik dan senyawa fosfat anorganik. Senyawa fosfat organik terdapat pada tumbuhan dan hewan, sedangkan senyawa fosfat anorganik terdapat pada air dan tanah dimana fosfat ini dapat larut dalam air tanah maupun air laut12. Fosfor yang terdapat di air, dominan berada di dalam bentuk senyawa PO42- (phosphate ; fosfat). Oleh karena itu, penggunaan istilah ‘fosfat’ lebih umum digunakan untuk menyebut bahan kimia ini.13 Fosfat dalam air alam atau air limbah, umumnya terdapat dalam bentuk senyawa ortofosfat, polifosfat, dan fosfat organis. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme air. Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai atau danau melalui drainase dan aliran air hujan. Polifosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat, seperti industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan.14 Fosfat terdapat dalam jumlah yang signifikan pada efluen pengolahan air buangan domestik. Komposisi dari input fosfor, antara lain :15 • • • • Industri : 7,3% : 40% : 44% : 6,7%

Derivasi deterjen Buangan manusia Pembersih rumah

Keberadaan senyawa fosfat dalam air sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan. Jika kadar fosfat dalam air rendah (< 0,01 mg/lt), maka pertumbuhan ganggang akan terhalang, dan kedaan ini disebut oligotrop. Sebaliknya, jika kadar fosfat dalam air tinggi, maka pertumbuhan tanaman dan
12

13

14 15

Eko Cahyono. “Analisis Kandungan Fosfat pada Air Danau Limboto secara Spektrofotometri UV-VIS”. www.eckhochems.blogspot.com. Jum’at, 6 Januari 2012. Febry Yursa Putra. “Analisis Fosfat”. www.andalucygroup.blogspot.com. Jum’at, 6 Januari 2012 Cahyono. op.cit. Putra. op. cit.

ganggang tidak terbatas lagi (kedaaan eutrop), sehingga dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut dalam air. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kelestrian ekosistem perairan.16 Fosfor bermanfaat dalam pembuatan pupuk, dan secara luas digunakan dalam bahan peledak, korek api, pestisida, pasta gigi, dan deterjen. Selain itu, fosfor juga diperlukan untuk memperkuat tulang dan gigi.17 Pada pengukuran konsentrasi fosfat di 18 titik di pemukiman warga Pondok Cina, Depok, didapatkan hasil bahwa terdapat 8 titik sampling yang air tanahnya mengandung fosfat di atas standar baku mutu yang ditetapkan pada PP No. 82 Tahun 2001, yaitu 0,2 mg/lt.18 Pencemaran air tanah oleh fosfat ini kemungkinan disebabkan oleh deterjen atau pembersih rumah, karena ketiga titik sampling tersebut berada di wilayah pemukiman. 5.5 Turbidity (Kekeruhan) Kekeruhan (turbiditas) adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk mengukur keadaan air. Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan–bahan yang terdapat dalam air (Matahelumual, 2008). Kekeruhan terjadi disebabkan oleh adanya zat-zat koloid, yaitu zat yang terapung serta terurai secara halus sekali. Hal itu disebabkan oleh kehadiran zat organik, jasad renik, lumpur, tanah liat dan benda terapung yang tidak mengendap dengan segera. Semakin banyak kandungan koloid maka air semakin keruh. Sedang dari segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan dan warna air tergantung pada warna buangan yang memasuki badan air, menyulitkan dalam usaha penyaringan dan akan mengurangi efektivitas usaha desinfeksi. Tingkat kekeruhan air dapat diketahui melalui pemeriksaan laboratorium. (Wulan, 2005). Pada nilai kekeruhan (turbidity) di 18 titik di pemukiman warga di Pondok Cina, Depok, didapatkan hasil bahwa dari 1 titik yang dilakukan pengukuran
16 17 18

Cahyono. op.cit. Ibid. Abdur Rahman, dkk. 2004. Analisis Kualitas Lingkungan. Depok : Laboratorium Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

sumber air yang digunakan masih dibawah baku mutu yang ditetapkan pada Keputusan Menteri Kesehatan RI No.907 tahun 2002sebesar 5 mg/L. Pencemaran air tanah ini kemungkinan disebabkan oleh kehadiran zat organik, jasad renik, lumpur, tanah liat dan benda terapung yang tidak mengendap dengan segera. 5.6 Mangan Mangan (Mn) adalah logam berwarna abu – abu keperakan yang merupakan unsur pertama logam golongan VIIB, dengan berat atom 54.94 g.mol-1, nomor atom 25, berat jenis 7.43g.cm-3, dan mempunyai valensi 2, 4, dan 7 (selain 1, 3, 5, dan 6). Mangan digunakan dalam campuran baja, industri pigmen, las, pupuk, pestisida, keramik, elektronik, dan alloy (campuran beberapa logam dan bukan logam, terutama karbon), industri baterai, cat, dan zat tambahan pada makanan. Di alam jarang sekali berada dalam keadaan unsur. Umumnya berada dalam keadaan senyawa dengan berbagai macam valensi. Di dalam hubungannya dengan kualitas air yang sering dijumpai adalah senyawa mangan dengan valensi 2, valensi 4, valensi 6. Di dalam sistem air alami dan juga di dalam sistem pengolahan air, senyawa mangan dan besi berubah-ubah tergantung derajat keasaman (pH) air. (Eaton Et.al, 2005; Janelle, 2004 dan Said, 2003). Konsentrasi mangan di dalam sistem air alami umumnya kurang dari 0.1 mg/l, jika konsentrasi melebihi 1 mg/l maka dengan cara pengolahan biasa sangat sulit untuk menurunkan konsentrasi sampai derajat yang diijinkan sebagai air minum. Oleh karena itu perlu cara pengolahan yang khusus. Pada tahun 1961 WHO menetapkan konsentrasi mangan dalam air minum di Eropa maksimum sebesar 0.1 mg/l, tetapi selanjutnya diperbaharui menjadi 0.05 mg/L. Di Amerika Serikat (U.S. EPA) sejak awal menetapkan konsentrasi mangan di dalam air minum maksimum 0.05 mg/l. Jepang menetapkan total konsentrasi besi dan mangan di dalam air minum maksimum 0.3 mg/l. Indonesia berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 Mangan maksimum sebesar 0.1 mg/l. (Eaton Et.al, 2005 dan Said, 2003). Unsur Mn mempunyai sifat – sifat yang sangat mirip dengan besi sehingga pengaruhnya juga hampir sama sesuai uraian II.1.3. Mangan termasuk logam

esensial yang dibutuhkan oleh tubuh sebagaimana zat besi. Tubuh manusia mengandung Mn sekitar 10 mg dan banyak ditemukan di liver, tulang, dan ginjal. Mn dapat membantu kinerja liver dalam memproduksi urea, superoxide dismutase, karboksilase piruvat, dan enzim glikoneogenesis serta membantu kinerja otak bersama enzim glutamine sintetase. Kelebihan Mn dapat menimbulkan racun yang lebih kuat dibanding besi. Toksisitas Mn hampir sama dengan mucous, nikel dan tembaga. Mangan bervalensi 2 terutama dalam bentuk menyebabkan gangguan kerongkongan, timbulnya penyakit permanganat merupakan oksidator kuat yang dapat mengganggu membran “manganism” yaitu sejenis penyakit parkinson, gangguan tulang, osteoporosis, penyakit Perthe’s, gangguan kardiovaskuler, hati, reproduksi dan perkembangan mental, hipertensi, hepatitis, posthepatic cirrhosis, perubahan warna rambut, kegemukan, masalah kulit, kolesterol, neurological symptoms dan menyebabkan epilepsi. (Janelle, 2004; www.digitalnaturopath.com; www.lenntech.com ; http://lpi.oregonstate.edu dan http://en.wikipedia.org) Pada pengukuran konsentrasi mangan di 12 titik, didapatkan hasil bahwa terdapat 10 titik sampling yang airnya mengandung mangan di atas standar baku mutu yang ditetapkan pada PP No. 82 Tahun 2001, yaitu 0,1 mg/L. Hal ini berkaitan dengan derajat keasaman pada air.

REFERENSI

Abdur Rahman, dkk. 2004. Analisis Kualitas Lingkungan. Depok : Laboratorium Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Anonim, Pecinta Kimia, http://lovekimiabanget.blogspot.com/2010/04/kromiumcr.html Kamis, 6 Januari 2012 . Anoniom, Sifat Kimia Air Tanah, www.wiretes.wordpress.com 6 Januari 2012 Eaton, Andrew. Et.al. 2005. Standard Methods for Examination of Water and Wastewater. 21st Edition. Marryland – USA : American Public Health Association. Eko Cahyono. “Analisis Kandungan Fosfat pada Air Danau Limboto secara Spektrofotometri UV-VIS”. www.eckhochems.blogspot.com. Kamis, 6 Januari 2012. Febry Yursa Putra. “Analisis Fosfat”. www.andalucygroup.blogspot.com. Kamis, 6 Januari 2012. Harry Wahyudhy Utama, Keracunan Nitrat NItrit, www.klikharry.wordpress.com 6 Januari 2012. Helmer, Richard. 1997. Water Pollution Control-A Guide to the Use of Water Quality Management Principles.Published by World Health Organization. Britain: St Edmundsbury Press, halaman 17. Henni Ompusunggu, Skripsi Analisa Kandungan NItrat Air Sumur Gali Masyarakat Di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Di Desa Namo Bintang Kecamatan Pancar Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009, www.repository.usu.ac.id 6 Januari 2012 Janelle Crossgrove dan Wei Zheng. 2004. Review Article : Manganese Toxicity Upon Overexposure. Indiana – USA : John Wiley & Sons, Ltd. Matahelumual,Bethy. Januari 2012 Nurul Ulfah, Bahaya Air Minum Air Tanah Dangkal, www.detikhealth.com 6 6 Januari 2012 Pembuangan limbah industry seperti Pb, Hg, Zn, dan CO yang bersifat racun, sedangkan dari sampah domestik seperti pembuangan sisa detergen. 2008. Mengenal Air di Sekitar. Warta Geologi. 6 http://www.bgl.esdm.go.id/dmdocuments/warta200803.pdf, diakses

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Rahman, Mohammad M. 2005. Arsenic Contamination of Groundwater and Its Health Impact on Residents in a Village in West Bengal, India. Said, N.S dan Wahjono, H.D. 1999. Pembuatan Filter Untuk Menghilangkan Zat Besi dan Mangan Di Dalam Air. Jakarta : BPPT Siregar, Raja P. 2006. Singkap Buyat. Jakarta: WALHI. Virdhani, Marieska harya. 2010. Pencemaran Situ di Depok Ganggu Kualitas Air Tanah. News-Okezone. Warlina, Lina. 2004. Pencemaran Air: Sumber, Dampak, dan Penanggulangnnya. Pengantar Falsafah Sains, Institut Pertanian Bogor. Winda K. Prihatiningsih, Penentapan Kadar Tembaga (Cu) Pada Sampel Air Dengan Metode Spketofotometri Di Laboratorium PDAM Tirtana Di Medan 2007, http://repository.usu.ac.id 6 Januari 2012. Wulan,Anisa. 2005. Kualitas Air Bersih untuk Pemenuhan Kebutuhan Rumah tangga di Desa Pesarean kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal. Skripsi. Universitas Negeri Semarang, http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH011c/deae6e75. dir/doc.pdf. Diakses tanggal 6 Januari 2012

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan dan Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di 18 titik di pemukiman warga Pondok Cina, Depok maka dapat disimpulkan bahwa kualitas fisik dan kimiawi air di Kota Depok telah memprihatinkan karena ada beberapa titik pengambilan sampel yang kandungan nitrat dan nitrit, besi, tembaga, dan fosfat telah melebihi nilai baku mutu lingkungan yang tertulis dalam PP No. 82/ 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.907 tahun 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawas Kualitas Air Minum. Oleh karena itu, disarankan kepada Walikota Depok untuk segera melakukan tindakan lanjut perbaikan kualitas air di daerah Pondok Cina, Depok. Hal ini penting untuk dilakukan agar masyarakat yang tinggal di kota Depok ini dapat terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh buruknya kualitas air di daerah tersebut. Selain itu, peran serta masyarakat pun berarti untuk mulai memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar. Hal ini semua bertujuan untuk mewujudkan kota Depok yang bersih, aman, dan nyaman

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->