VI
PERIHAL ADZAB KUBUR
Masalah ini telah menempati posisi yang penting dalam
perdebatan dan perbincangan di tengah-tengah kaum muslim.
Sampai-sampai masing-masing dari mereka tidak merasa ada
keberatan atau kekhawatiran dalam mengkafirkan orang lain, ketika
ada kemungkinkan untuk melakukannya. Dikarenakan pendapatnya
berbeda berbeda dengan pendapat orang lain.
Kenyataannya masalah ini merupakan masalah khilafiyah
(perbedaan pendapat) di antara para ‘ulama salaf terlebih lagi
ditengah-tengah manusia sekarang. Hal ini karena semua dalil
atasnya bersifat zhanni, baik menurut mereka yang menetapkan
adanya adzab kubur, maupun oleh mereka yang mengatakan
sebaliknya. Masing-masing bersandar pada dalil-dalil tertentu, akan
tetapi dengan tanpa membedakan antara dalil qath’i dengan dalil
zhanni, yang akhirnya mereka tidak membedakan antara dalil yang
harus dipegang sebagai dalil dalam masalah ‘aqidah, dengan dalil
yang harus dipegang dalam masalah hukum syara’. Hal ini
disebabkan mereka tidak membedakan antara ‘aqidah dengan hukum
syara’.
Mengenai perbedaan antara dalil qath’i dengan dalil zhanni
adalah sebagai berikut:
Dalil qath’i ialah dalil yang digunakan untuk memastikan
perkara-perkara yang di dalamnya tidak menerima adanya tambahan
ataupun pengurangan, juga tidak menerima ijtihad ataupun tarjih
(terhadapnya). Dalil qath’i ini dilihat dari dua sisi:
Pertama, qath’i ats-tsubut (pasti sumbernya). Contoh adalah
bahwa al-Qur’ân, sungguh berasal dari sisi Allah, maka al-Qur’ân itu
qath’i tsubut-nya (pasti sumbernya berasal dari Allah). Demikian
pula hadits-hadits nabawi yang diriwayatkan secara tawatur (oleh
sejumlah perawi yang kondisi dan jumlah mereka memustahilkan
mereka bersepakat dalam kebohongan, dan ini terpenuhi pada tiga
generasi (sahabat, tabi’in dan tabi’i-tabi’in)). Contohnya sabda Rasul
saw:
را`نل ا نم ` ه دعق م ء`وبتيل ف ا د`معت` م ` يل ع بذ ك `نم
Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka
hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya kelak yang terbuat dari
api neraka.
Kedua, qath’i ad-dilâlah (pasti penunjukkan maknanya/
konotasinya). Yaitu dalil yang tidak mengandung konotasi/makna
kecuali satu konotasi dan tidak ada konotasi yang lain. Seperti firman
Allah SWT:
`دحأ `هلل ا و` ه لق
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. (TQS. al-Ikhlash
[112]: 1)
Juga firman-Nya:
`هلل ا ال إ هل إ ال `ه`ن أ ` مل`عاف
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq)
melainkan Allah ... (TQS. Muhammad [47]: 19)
Ayat-ayat di atas hanya memiliki satu konotasi saja dan tidak ada
konotasi lain. Yaitu bahwa wahdaniyah (ke-esa-an) hanya milik Allah
semata. Dan bahwa tidak ada dzat yang patut disembah kecuali
Allah semata. Ayat tersebut juga qath’i ats-tsubût karena merupakan
ayat al-Qur’ân.
Mengenai dalil zhanni ialah dalil yang dapat menerima
tambahan ataupun pengurangan, serta tunduk pada (boleh terjadi)
ijtihad dan tarjih serta memungkinkan terjadinya ikhtilaf (perbedaan
pendapat) di dalamnya. Dalil zhanni terbagi menjadi dua bagian,
yakni zhanni ats-tsubût dan zhanni ad-dilâlah.
Adapun zhanniy ats-tsubût, yaitu dalil yang turun dari derajat
qath’iy at-tsubut. Dan hal ini terdapat pada hadits syarif seperti hadits
ahad. Hadits ahad adalah shahih secara dzatnya, akan tetapi syarat-
syarat yang ditetapkan bagi hadits ahad, dan karenanya hadits ahad
itu bisa diambil, menurunkan hadits ahad dari derajat qath’i ats –
tsubût dan menjadi zhanni ats-tsubût. Oleh karenanya hadits ahad
memungkinkan tetap tsubut-nya dan ketiadaan tsubut-nya.
Demikian juga terkait dengan hadits masyhur. Semua ini berbeda
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
170
dengan al-Qur’ân. Al-Qur’ân adalah qath’i, dan apapun yang datang
melalui jalan tersebut (metode pentransformasian al-Qur’ân), adalah
qath’i. Dan ia tidak akan zhanni ats-tsubût, karena zhanni ats-tsubût
maknanya tidak pasti tsubût (sumber)-nya. Dan yang demikian
bermakna bahwa al-Qur’ân tsubut (sumber)-nya tidak qath’i, dan hal
ini bermakna adanya kemungkinan bahwa al-Qur’ân dzatnya
merupakan (wahyu) yang diturunkan kepada Muhammad saw, atau
bukan sesuatu yang diturunkan kepada Muhammad saw Hal ini
adalah mustahil. Pendapat demikian (zhanni ats-tsubûtnya al-Qur’ân)
merupakan kekufuran dan penentangan kepada Allah. Oleh karena
itu kondisi as-Sunnah berbeda dengan kondisi al-Qur’ân.
Bagian kedua, yakni zhanni ad-dilâlah, yakni (dalil) yang diambil
dan mengandung lebih dari satu makna. Dan hal ini bisa diterapkan
pada zhanni ad-dilâlah dari al-Qur’ân, juga pada hadits syarif.
Al-Qur’ân yang zhanni dalam dilalahnya, tetapi tidak pada
tsubut-nya, contohnya adalah firman Allah SWT:
¸ءو`ر ق ةث ال ث `ن هسف`ن أب ن`ص`برت ي ` تاقل ط`ملا و
Dan wanita-wanita yang dicerai hendaklah menahan diri
(menunggu) tiga kali quru ... (TQS. al-Baqarah [2]: 228)
Ayat al-Qurân ini zhanni dilalah-nya yaitu mengandung konotasi
lebih dari satu konotasi. Kata “ qurû’ ” dapat bermakna “haidh” atau
“suci”. Dan kedua konotasi ini adalah benar. Dan yang seperti ini
karakternya banyak terdapat dalam al-Qur’ân.
Hadits bisa saja zhanni tsubut-nya atau zhanni dilalah-nya,
atau keduanya bersamaan (zhanni ats-tsubût, zhanni ad-dilâlah). Yang
demikian berbeda dengan al-Qur’ân (karena al-Qur’ân tsubutnya
adalah qath’i sedang dilalahnya bisa qath’i dan bisa juga zhanni -ed-).
Contohnya adalah sabda Rasul saw:
ةظ`ير ق ` ين ب يف ل ا ر`صعل ا ` دحا `نيل ص` ي ل
Janganlah salah seorang dari kalian shalat ‘Ashar kecuali di Bani
Quraizah.
Hadits ini zhanni tsubut-nya, sebab ia termasuk kabar ahad. Dan juga
zhanni dilalah-nya, yakni memungkinkan adanya banyak makna
seperti yang terjadi dengan para sahabat ketika itu
1
.
1
Lihat pada pembahasan ikhtilaf dalam kaitannya dengan qath’i dan zhanni.
Perihal Adzab Kubur 171
Atas dasar ini, ‘aqidah berbeda dengan hukum syara’. ‘Aqidah
adalah tashdîq (pembenaran) atau i’tiqâd (keyakinan) atau iman
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-
Nya, Hari Akhir, dan kepada qadha dan qadar baik dan buruknya
berasal dari Allah SWT. Dan juga tashdîq, i’tiqâd dan iman bahwa
surga adalah haq, neraka adalah haq, kematian adalah haq, dan
kebangkitan adalah haq. Serta perkara-perkara i’tiqâdiy (keyakinan)
lainnya. Yang padanya wajib ada tashdîq jâzim muthabiq[u] li al-wâqi’
‘an dalîl (pembenaran yang pasti, yang sesuai dengan fakta, dan
berdasarkan dalil)
2
. Suatu dalil tidak mencapai demikian kecuali dalil
yang qath’i, seperti al-Qur’ân dan hadits mutawatir. Sehingga tashdîq
(pembenaran)-nya bersifat pasti dan tidak bersifat zhanni. Jika tidak
demikian, maka ia memungkinkan adanya tambahan dan
pengurangan, serta mungkin dilakukan tarjih, ijtihad dan ikhtilaf.
Hal ini mustahil atau tidak boleh terjadi dalam masalah ‘aqidah
(keyakinan) “Lâ Ilâha Illa-Llâh, Muhammad Rasûl[u]-Llâh (tidak ada
tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah
Rasûlullâh)”.
Dalil bahwa ‘aqidah ataupun perkara-perkara i’tiqadiy lainnya
wajib bersifat qath’i (pasti) dan ditetapkan dengan dalil yang qath’i
ialah kecaman dan celaan Allah SWT kepada orang-orang yang
menggunakan zhanni dalam masalah ‘aqidah, dan kecaman serta
celaan Allah kepada mereka yang mengambil ‘aqidah dengan tanpa
kepastian, dalil atau bukti yang qath’i’ (bersifat pasti).
Allah SWT berfrman:
حلف` ي ال `ه`نإ ه`بر د`نع `ه`ب اس ح ام`نإ ف هب `هل ناه`ر` ب ال رخاء اهلإ هللا عم `ع`د ي `نمو
نو`ر فا كلا
Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah,
padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka
sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya
orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (TQS. al-Mu’minûn
[23]: 117)
Juga firman-Nya:
` مكن اه`ر` ب او`ت اه لق ة هل ا ء هن و`د `نم او ذخ`ت ا مأ
2
Lihat ijâbah as-sâil syarh bighayah al-amal oleh as-Shan’ani, serta As-
Syakhshiyyah al-Islâmiyah juz I oleh Taqiyuddin an-Nabhani.
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
172
Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah:
"Unjukkanlah hujjahmu! … (TQS. al-Anbiyâ’ [21]: 24)
Juga firman-Nya:
¸ناطل ` س `ن م اه ب `هلل ا ل`ز ن ام `م ك`ؤاب اءو ` م`ت`ن أ ا هو` م`ت`ي `مس ¸ءا م` سأ يف ينن ولد اج`ت أ
... Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang
nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu
menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah
untuk itu? … (TQS. al-A’râf [7]: 71)
Juga firman-Nya:
م` ه`ن ع ل ض و هل ل `ق حلا ن أ او` ملع ف `م كن ا ه`ر` ب او`ت ا ه انلق ف ا دي هش ¸ة`م أ لك `نم ان` عزن و
نو`رتف ي او`ن اك ام
Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu Kami
berkata "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu", maka tahulah mereka
bahwa yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa
yang dahulunya mereka ada-adakan. (TQS. al-Qashash [28]: 75)
Serta ayat-ayat lainnya yang mencela orang-orang yang mengambil
‘aqidah dan perkara-perkara dalam masalah ‘aqidah tanpa kepastian,
tanpa dalil dan bukti yang qath’i. Ayat-ayat tadi datang dengan
makna yang memastikan. Oleh karenanya, dalil itu sendiri tidak
dinyatakan kecuali bersifat qath’i dan al-Qur’ân menggunakannya
dengan penunjukkan makna yang bersifat qath’i yakni sebagai dalil
yang memastikan. Atas dasar ini, dalil ‘aqidah dikarenakan ia
merupakan dalil atas masalah ‘aqidah, maka keberadaannya sebagai
dalil, burhan (bukti) atau sulthan (hujah) mengharuskan dalil
tersebut bersifat qath’i.
Adapun bagian kedua yaitu dalil-dalil yang mencela orang-
orang yang mengambil zhan dalam ‘aqidah adalah Firman Allah
SWT:
ىث`ن ألا ةي م`ست ة كئ الملا نو'مس`ي ل ةر خآلاب نو`نم `ؤ` ي ا ل نيذل ا نإ D نم هب `م` هل ام و
ائ`ي ش `ق حلا ن م ين`غ` ي ال `نظل ا نإ و `نظلا ال إ نو`عب`ت ي ن إ ¸ ملع
Perihal Adzab Kubur 173
Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan
akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama
perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun
tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan
sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun
terhadap kebenaran. (TQS. an-Najm [53]: 27-28)
Juga firman-Nya:
ائ`ي ش `ق حلا ن م ين`غ` ي ال `نظل ا ن إ ا'ن ظ ال إ `م` ه`رث كأ `عب`ت ي ام و
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja.
Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk
mencapai kebenaran… (TQS. Yunus [10]: 36)
Juga firman-Nya:
نإ و `نظل ا ال إ نو`عب`ت ي نإ هللا ليب س `ن ع كول ض` ي ض`رألا يف `نم رث ك أ `عط`ت نإ و
نو`ص`ر ` خي ال إ `م`ه
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka
bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan
mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (TQS. al-
An’âm [6]: 116)
Juga firman-Nya:
مل ع `نم `مك د`نع له لق ان سأب اوقاذ ى`ت ح `م هل`ب ق `نم ني ذل ا بذك كلذك
نو`ص`ر `خ ت ال إ `م`ت`ن أ نإ و `نظل ا ال إ نو`عب`ت ت نإ ان ل ` هو`جر`خ`ت ف
… Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah
mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami.
Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan
sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak
mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya
berdusta. (TQS. al-An’âm [6]: 148)
Maka semua ayat ini sharîh (jelas) mengecam orang-orang yang
mengikuti zhann, dan jelas dalam mencela orang-orang yang tidak
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
174
mengikuti hujjah, bukti dan dalil yang qath’i dalam masalah ‘aqidah.
Kecaman terhadap mereka, pengungkapan aib mereka, dan celaan
kepada mereka, merupakan dalil pelarangan yang bersifat pasti
(tegas) agar tidak mengikuti zhann. Serta merupakan larangan yang
pasti agar tidak mengikuti segala sesuatu yang tidak dibangun di atas
dalil yang qâthi’ (memastikan). Hal ini khusus dalam perkara
‘aqidah, dan tidak meliputi perkara hukum syara. Demikianlah
pendapat mayoritas ‘ulama kaum muslimin
3
.
Dan bagi siapa yang berminat untuk menambah lebih jauh,
maka hendaklah merujuk kitab-kitab ushul yang telah kami
tunjukkan dalam buku kami pada pembahasan Al-Ikhtilaf (Perbedaan
Pendapat).
Adapun mereka yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini turun
berkenaan dengan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, maka
ayat tersebut adalah khusus untuk mereka, dan tidak khusus untuk
kaum muslimin serta tidak mencakup mereka. Tidak bisa dikatakan
seperti itu, dikarenakan beberapa hal, di antaranya:
Pertama, dikarenakan kaidah syar’iyah menyatakan:
[ بب `سل ا ص`و`ص` خب ل ظفلل ا م`و` م`ع ب ةر`بعل ا |
Sesungguhnya ibrah (hikmah/makna ilmu) itu diambil dari
keumuman lafazh, bukan dari kekhususan sebab
Dan bahwa:
[ م` و` م`عل ا طق`س` ي ل بب `سل ا ` ص`و`ص`خ ن ا |
Sesungguhnya kekhususan sebab tidak mengugurkan keumuman
(lafazh).
Maka jika ayat-ayat tersebut disebutkan berkaitan dengan individu
atau sekelompok manusia tertentu, tidak berarti bahwa ayat tersebut
3
Al-Ghazâli mengatakannya dalam kitab Al-Mustashfa, juga al-Baghdadi dalam
kitab Al-Faqîh wa al-Mutafaqih, serta pada kitab lainnya. Juga al-Qâdhi al-Baydhâwi dalam
tafsirnya terhadap ayat surat an-Najm dan Yunus “Sesungguhnya persangkaan itu tidak
sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” Juga ar-Râzi dalam tafsirnya terhadap ayat
tadi. Juga an-Nawawi dalam kitab Tadrîb ar-Râwi li as-Suyûthi. Juga Sayyid Quthb dalam
tafsirnya fi zhilâl al-Qur’ân terhadap surat al-Falaq. Begitu juga mereka yang mengatakan
bahwa khabar ahad tidak memiliki faedah qath’i. Dan juga mayoritas ‘ulama seperti al-
Ghazali, al-Amidi, Abu Ishaq as-Syiyrâzi, serta para ‘ulama salaf selain mereka. Lihat
kitab-kitab mereka dalam bidang ushul. Lihat pula Al-Istidlâlu bi az-Zhanni fi al-‘Aqîdah
oleh Fathi Muhammad Salîm.
Perihal Adzab Kubur 175
khusus bagi mereka, akan tetapi ayat tersebut tetap bersifat umum
bagi siapapun yang sesuai dengan ayat tersebut.
Ayat-ayat di atas sungguh telah dinyatakan dengan bentuk
yang umum. Firman-Nya alladzîna (Orang-orang yang…), lafazh ini
mencakup kaum muslim dan orang-orang kafir. Maka kaum muslim
termasuk dalam cakupan dalam keumuman ayat tersebut sesuai
dengan kaidah syar’i yang telah disebutkan.
Kedua, jika kecaman dan celaan itu ditujukan kepada orang-
orang kafir agar tidak mengambil zhann dalam perkara ‘aqidah, dan
hal ini membawa mereka kepada kehancuran, kefasikan dan
kekafiran, maka lebih utama lagi bagi kaum muslim yang meng-esa-
kan Allah SWT, agar ‘aqidah mereka dibangun di atas zhann karena
zhann bisa benar dan bisa salah. Karena zhann itu tidak qath’i atau
yakin, sehingga memiliki dua kemungkinan dengan men-tarjih
(menguatkan) yang satu atas yang lain, dan karena adanya
kemungkinan terdapat konotasi yang saling bertentangan. Inilah
yang dilarang Allah dalam ayat-ayat di atas. Demikianlah yang
difahami oleh para ‘ulama, yakni pemahaman tidak adanya ijtihad
dalam masalah ‘aqidah.
Ketiga, sesungguhnya kita diperintahkan meniadakan ikhtilaf
dalam agama dilihat dari sisi keberadaannya sebagai agama
keimanan kepada Allah dan Hari Akhir, dengan kata lain, dalam
perkara ushuluddin (pokok agama), seperti ikhtilaf-nya kaum kafir
baik orang-orang musyrik maupun Ahl al-Kitab. Mengikuti zhann
dalam ‘aqidah, dan mengikuti hawa nafsu di dalamnya tanpa disertai
dalil yang qath’i (yang memastikan) atau tanpa bukti yang jelas dan
terang, akan menyebabkan terjadinbya ikhtilaf dan tafarruq
(keterpecah-belahan) dalam agama, dan ini dilarang. Allah berfirman:
يكر`ش`ملا نم او`ن وك ت ال و D ب`ز ح لك اعيش او`ن اكو `م`هني د اوق`ر ف ني ذل ا نم
نو`حر ف `م ه`ي دل ا مب
… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah
agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan... (TQS. ar-
Rûm [30]: 31-32)
Keempat, sesungguhnya ayat-ayat yang telah disebutkan
mengenai mengecam terhadap orang-orang yang mengambil zhann
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
176
dalam masalah ‘aqidah, sebagiannya datang menyeru Rasulullah saw
Allah SWT berfirman:
نإ و `نظل ا ال إ نو`عب`ت ي نإ هللا ليب س `ن ع كول ض` ي ض`رألا يف `نم رث ك أ `عط`ت نإ و
نو`ص`ر ` خي ال إ `م`ه
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka
bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan
mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (TQS. al-
An’âm [6]: 116)
Juga firman-Nya:
مل ع `نم `مك د`نع له لق ان سأب اوقاذ ى`ت ح `م هل`ب ق `نم ني ذل ا بذك كلذك
نو`ص`ر `خ ت ال إ `م`ت`ن أ نإ و `نظل ا ال إ نو`عب`ت ت نإ ان ل ` هو`جر`خ`ت ف
… Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah
mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami.
Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan
sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak
mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya
berdusta. (TQS. al-An’âm [6]: 148)
Kedua ayat ini datang untuk menyeru Rasulullah saw Pertama, dalam
memperingatkan dan melarang Beliau untuk tidak mengikuti orang-
orang yang mengambil zhann dalam masalah ‘aqidah, serta
mengecam mereka, mengungkapkan aib mereka dan mencela mereka.
Kedua, tuntutan Allah SWT kepada Muhammad saw untuk
mengingkari, mengecam, dan melarang orang-orang yang mengambil
zhann tanpa disertai ‘ilmu dalam perkara ‘aqidah.
Ayat-ayat ini merupakan seruan bagi Rasul saw Ayat ini
merupakan larangan yang jelas atas mengambil zhann dalam perkara
‘aqidah. Ayat di atas juga merupakan nash yang jelas bahwa kita juga
termasuk yang diseru oleh ayat tersebut. Sebab:
[ ه ب `صا خ `ه`ن ا ل`يل `دلا در` و ام لا هت`م ال `باطخ ل`و` س`رل ا `باط خ |
seruan bagi Rasul merupakan seruan bagi umatnya kecuali terdapat
dalil bahwa hal itu adalah khusus hanya bagi beliau
Perihal Adzab Kubur 177
Dan dalam hal ini tidak terdapat dalil bahwa hal itu hanya khusus
bagi Rasul saw Oleh karenanya ayat di atas tetap berlaku umum bagi
Rasul saw maupun bagi kita. Hal ini cukup untuk menetapkan bahwa
seruan ayat di atas adalah bersifat umum bagi kaum musyrik
maupun kaum muslim berupa larangan, kecaman, celaan serta
pengeksposan aib orang-orang yang mengambil zhann dalam perkara
‘aqidah tanpa disertai ‘ilmu maupun bukti yang jelas.
Adapun berkaitan dengan hukum syara’, hukum syara’ adalah
seruan asy-Syâri’ (sang pembuat hukum syara’) berkaitan dengan
perbuatan hamba yaitu apa-apa yang dilakukan oleh hamba baik
berupa perbuatan maupun perkataan, yang dalil syara’ menunjukkan
atasnya. Hukum syara’ bukan ‘aqidah. Sebab tempat i’tiqâd
(keyakinan/keimanan) adalah di dalam qalbu, dan yang dituntut
adalah i’tiqâd (keyakinan) dan tashdîq (pembenaran) yang pasti, tidak
yang lain. Ini berbeda dengan hukum syara’. Sebab hukum syara’
berkaitan amal jawârih (aktivitas fisikal), dan dalilnya tidak
disyaratkan harus bersifat qath’i.
Demikianlah, bagi Anda yang ingin menambah pengetahuan
dalam mengetahui mengenai pembahasan qath’i dan zhanni, maka
hendaklah merujuk pada kitab-kitab ushul fikih yang telah
ditunjukkan dalam buku ini pada pembahasan al-Ikhtilâf bayna al-
Muslimîn (Perbedaan pendapat antara kaum muslim), dan Anda akan
melihat dan meyakini apa yang telah diuraikan. Ada baiknya Anda
membaca buku Al-Istidlâl bi azh-Zhân fi al-‘Aqîdah yang
mengumpulkan, menyusun kemudian menjelaskan pembahasan ini.
Adapun pokok pembahasan yang kami pilih pada pembahasan
ini, yakni ‘azab kubur, manusia terbagi dalam dua kelompok -seperti
yang telah kami utarakan pada pembahasan sebelumnya.
Dalil-dalil yang dijadikan sandaran mengenai ‘azab kubur oleh
mereka yang mengatakan keberadaan ‘azab kubur adalah:
Pertama, ayat-ayat al-Qur’ân.
Firman Allah SWT:
او`جر`خأ `م هي د`يأ وطساب ةكئ ال ملاو ت`وملا تار مغ يف نو` مل اظلا ذإ ىر ت `ول و
`قحلا ر`ي غ هلل ا ىلع نول وق ت ` م`ت`ن ك ا مب نو`هلا باذ ع ن`وز` ج`ت م`ويل ا `مكسف`ن أ
… Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-
orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut,
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
178
sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):
"Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan
yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap
Allah (perkataan) yang tidak benar ... (TQS. al-An’âm [6]: 93)
Juga firman-Nya:
نو`عج`ر ي `م`هلع ل رب كألا با ذعل ا نو` د ىن`د ألا با ذعل ا ن م `م`ه`نقي ذ`نل و
Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab
yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat);
mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS. as-
Sajdah [32]: 21)
Juga firman-Nya:
ةر خآلا يفو اي`ن ' دلا ةاي حلا يف تب اثل ا ل`وقل ا ب او`نم اء ني ذل ا `هلل ا `ت`بث`ي
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan
yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat … (TQS.
Ibrahim [14]: 27)
Juga firman-Nya:
باذعل ا ءو`س ن` و ع`ر ف لآب قا ح و او`رك م ام تائ`ي س `هلل ا `ها ق وف D نو`ضر`ع` ي `را`نل ا
باذعل ا `د شأ ن`و ع`رف لاء اولخ`دأ ة عا` سلا `موق ت م`وي و ا'ي شعو ا'و` د غ ا ه`يل ع D
Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan
Fir`aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada
hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah
Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras". (TQS. al-
Ghâfir/al-Mu’min [40]: 45-46)
Ayat-ayat ini tidak menunjukkan, --baik secara dekat maupun
jauh-- dalam dilalah (penunjukkan makna)-nya atas adanya ‘azab
kubur secara pasti. Berikut ini akan kami paparkan ungkapan para
mufasir (ulama ahli tafsir) mengenai ayat-ayat di atas untuk
menunjukkan hal tersebut.
Adapun ayat pertama yakni firman Allah SWT:
Perihal Adzab Kubur 179
او`جر`خأ `م هي د`يأ وطساب ةكئ ال ملاو ت`وملا تار مغ يف نو` مل اظلا ذإ ىر ت `ول و
قحلا ر`ي غ هلل ا ىلع نول وق ت ` م`ت`ن ك ا مب نو`هلا باذ ع ن`وز` ج`ت م`ويل ا `مكسف`ن أ
… (Alangkah dahsyatnya) sekiranya kamu melihat di waktu orang-
orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut,
sedang para malaikat membentangkan tangannya (dengan memukul),
(sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas
dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu
mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar ... (TQS.
al-An’âm [6]: 93)
At-Thabari
4
--rahimahu-Llâh-- berkata, “’Keluarkanlah nyawa
kalian menuju kemurkaan Allah, serta menuju laknat-Nya. Maka
sungguh kalian pada hari ini akan mendapat balasan atas kekufuran
kalian terhadap Allah serta perkataan bathil yang kalian ucapkan
berkaitan dengan-Nya. Dan juga anggapan (kalim) kalian bahwa
Allah memberi wahyu kepada kalian, padahal Allah tidak
mewahyukan apapun kepada kalian. Dan Ia telah memperingatkan
kalian bahwa Allah telah menurunkan sesuatu kepada seorang
manusia, kemudian kalian menyombongkan diri dari ketundukan
kepada perintah Allah dan perintah Rasul-Nya, dan dari keterikatan
kepada-Nya.’ Ini adalah ‘adzab yang menghinakan, yakni ‘adzab
neraka jahannam yang menghinakan mereka dan merendahkan
mereka sehingga mereka mengetahui kekecilan/kekerdilan dan
kerendahan diri mereka.”
Al-Qurthubi
5
--rahimahu-Llâh-- berkata, “akhrijû anfusakum
(Keluarkanlah nyawamu) yakni bebaskan dirimu dari ‘adzab jika
kalian mampu. Dan hal ini merupakan celaan. Dan dikatakan
“keluarkan nyawa mereka secara paksa, sebab ruh/nyawa orang
mu’min bergembira untuk keluar menuju pertemuan dengan Rabb-
nya, sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan cabutan yang keras
lagi bengis, dan dikatakan kepadanya, ‘Wahai jiwa yang kotor,
keluarlah kamu dengan kemurkaan yang telah diberikan atasmu
untuk menuju ‘adzab Allah yang menghinakan’.”
Ar-Râzi
6
--rahimahu-Llâh-- mengatakan, “di sini ada
pertanyaan, yakni bahwa mereka tidak mampu mengeluarkan nyawa
4
Beliau adalah Syaikh al-Mufasiriin (guru besar/sesepuh para ‘ulama tafsir)
Muhammad Ibnu Jariir at-Thabari, dalam kitabnya Jâmi’ al-Bayân li at-Tafsîr.
5
Dalam tafsirnya Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân.
6
Dalam tafsirnya Mafâtih al-Ghaib.
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
180
mereka dari jasadnya, lalu apa faedah/manfa’at dari perkataan ini?
Saya katakan, bahwa di dalam ayat ini terdapat beberapa segi.
Pertama, ‘(Alangkah dahsyatnya) sekiranya kamu melihat
orang-orang yang zalim sedang menahan tekanan-tekanan sakaratul
maut, di akhirat maka mereka masuk ke dalam neraka jahannam’.
Ghamrât al-maut (Tekanan-tekanan sakaratul maut) merupakan
pendeskripsian terhadap apa yang menimpa mereka di akhirat
berupa bermacam-macam kebengisan dan azab. Dan para malaikat
mengayunkan tangan-tangan mereka menimpakan ‘azab berupa
pukulan kepada mereka. Dan para malaikat berkata pada mereka,
‘Keluarkanlah (bebaskanlah) nyawa kalian dari ‘azab yang pedih ini
jika kalian mampu.’
Kedua, yakni ketika kematian turun kepada mereka di dunia,
dan para malaikat mengulurkan tangan mereka untuk menarik
nyawa-nyawa mereka, dan berkata kepada mereka, ‘Keluarkan
nyawa kalian dari siksaan ini, dan selamatkan nyawa kalian dari
bencana dan hukuman ini.’
Ketiga, akhrijû anfusakum (Keluarkanlah nyawa kalian) yakni
‘Keluarkanlah nyawa kalian kepada kami dari tubuh kalian’. Dan ini
merupakan pendeskripsian akan kebengisan dan kepedihan dalam
pencabutan nyawa tanpa ada jeda atau tidak perlahan.
Keempat, lafazh ini sebenarnya merupakan kinayah (kiasan)
akan pedihnya keadaan mereka, dan bahwa mereka bener-benar
berada dalam siksa dan kepedihan hingga datang kepada dirinya
masa pencabutan ruh.
Kelima, sesungguhnya firman-Nya akhrijû anfusakum
(Keluarkanlah nyawa kalian) bukanlah merupakan perintah, akan
tetapi ia merupakan ancaman dan juga celaan.”
Ibnu Katsir
7
--rahimahu-Llâh-- berkata, firman-Nya:
ت` و ملا تار مغ ي ف نو` مل اظلا ذإ ىر ت `ول و
(Alangkah dahsyatnya) sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang
yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut
yakni pada waktu sekarat dan menjelang mautnya dan pada
kesusahannya, dan para malaikat mengulurkan tangannya -yakni
memukul-. Adh-Dhahâk dan Abu Shâlih mengatakan, “ bâsithû
aydîhim (Mengulurkan tangan mereka) yakni dengan menyiksa.
Seperti firman-Nya:
7
Dalam kitabnya Tafsir al-Qurân al-‘Azhîm.
Perihal Adzab Kubur 181
او قوذو `م` هراب`د أ و `م` ه هو` ج` و نو`بر `ض ي ةكئ الملا او`رف ك ني ذل ا ىفوت ي ذإ ىر ت `ول و
قيرحلا باذع
Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang
yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata):
"Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu
akan merasa ngeri). (TQS. al-Anfâl [8]: 50)
Oleh karenanya, maka firman-Nya:
`م هيد`يأ وط ساب ة كئ الملا و
sedang para malaikat membentangkan tangannya
yakni dengan memukul mereka hingga keluar nyawa mereka dari
jasadnya. Dan malaikat berkata kepada mereka:
`م كسف`ن ا ا` و` جر` خ ا
Keluarkanlah nyawa kalian.
Demikianlah bahwa orang-orang kafir ketika berada dalam kedaan ini
(sakaratul maut), para malaikat menimpakan ‘azab, siksa, belenggu,
rantai, nyala api dan air panas, dan kemurkaan Allah yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka ruh tersebut hendak
dipisahkan dari jasadnya, akan tetapi ruh itu melawan dan enggan
keluar. Maka para malaikat pun memukulnya hingga keluarlah
nyawa-nyawa mereka dari jasadnya, seraya berkata kepada mereka:
ر`يغ هللا ىل ع نول وق ت `م`ت`ن ك امب نو` هلا با ذع ن` وز`ج` ت م`ويل ا ` مكسف`ن أ او` جر` خأ
قحلا
Keluarkanlah nyawa kalian. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan
yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap
Allah (perkataan) yang tidak benar’. (TQS. al-An’âm [6]: 93)
Atas dasar penjelasan di atas, dari semua yang telah dikatakan
oleh para ‘ulama tafsir tentang ayat ini, maka dalam dilalah
(penunjukkan makna)-nya tidak menunjukkan akan adanya siksa
(‘adzab) kubur. Akan tetapi ayat-ayat di atas hanya menunjukkan
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
182
tentang penyiksaan terhadap orang kafir ketika ruhnya keluar dari
jasadnya karena ia menolak dan enggan keluar. Yakni ketika para
malaikat memukul muka (wajah) dan belakang (punggung) mereka
hingga keluarlah ruh mereka dari jasadnya. Inilah siksa (‘azab)
tersebut. Nyawa orang kafir tidak menolak untuk keluar dari
jasadnya kecuali setelah mengetahui bahwa ia termasuk orang kafir
yang kelak akan meminum al-hamîm, dan diikat dengan rantai dan
belenggu menuju ‘azab neraka jahannam, dan juga kelak pada hari
kiamat akan berhadapan dengan kemurkaan Allah SWT. Yakni ketika
hendak dipisahkan ruh dari jasadnya dan kemudian ia enggan untuk
keluar, maka dikenakanlah ‘azab pada ruh tersebut dan juga kepada
orang tersebut, hingga keluarlah ruh dari jasadnya.
Adapun ayat kedua, yakni firman Allah SWT:
نو`عج`ر ي `م`هلع ل رب كألا با ذعل ا نو` د ىن`د ألا با ذعل ا ن م `م`ه`نقي ذ`نل و
Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab
yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat);
mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS. as-
Sajdah [32]: 21)
At-Thabari
8
--rahimahu-Llâh-- berkata, “Para ahli ta’wil berbeda
pendapat mengenai konotasi al-’adzâb al-adnâ (‘azab yang dekat) yang
dijanjikan Allah akan ditimpakan kepada semua kefaikan ini.
Sebagian dari mereka berkata, ‘yang dimaksud adalah adalah
musibah-musibah di dunia yang menimpa diri maupun hata.’ Yang
lain berkata, ‘Yang dimaksud adalah hudud (sanksi-sanksi kejahatan).
Yang lain berkata, ‘Yang dimaksud adalah musibah bertahun-tahun
yang ditimpakan kepada mereka.’ Yang lain berkata, ‘Yang
dimaksud adalah ‘azab kubur’.”
Ar-Râzi
9
--rahimahu-Llâh-- berkata, “yang dimaksud adalah
bahwa sebelum ‘azab akhirat, ditimpakan kepada mereka ‘azab di
dunia. Sesungguhnya ‘azab di dunia tidak sepadan dengan ‘azab
akhirat, sebab ‘azab dunia itu tidak pedih, dan tidak pula panjang
(berlangsung lama). Sebab sesungguhnya ‘azab yang pedih di dunia
bersifat membinasakan, sehingga orang yang disiksa mati, dan akan
mendapatkan kelegaan padanya, maka ia tidak akan menetapinya
terus. Dan sebenarnya orang yang menyiksa menginginkan untuk
8
Dalam tafsirnya Jâmi’ al-Bayân.
9
Dalam tafsirnya Mafâtih al-Ghaib.
Perihal Adzab Kubur 183
terus menyiksa orang yang di’azab dengan ‘azab yang dimaksudkan
untuk menyengsarakannya.
Sedangkan ‘azab di akhirat bersifat menyengsarakan dan
panjang. Dan firman-Nya la’alahum yarji’ûn (mudah-mudahan
mereka kembali), kata la’ala ini bermakna harapan, dan Allah
mustahil melakukan hal tersebut, lalu apa hikmah yang terdapat di
dalamnya? Maka kami katakan bahwa dalam hal ini terdapat dua
segi. Pertama, maknanya adalah sungguh kami akan menimpakan
siksaan kepada mereka yaitu siksaan yang ditunda, seperti firman-
Nya:
` م كاني س ن ا`ن إ
… sesungguhnya Kami telah melupakan kalian… (TQS. as-Sajdah
[32]: 14)
Yakni meninggalkan kalian sebagaimana Ia meningalkan orang yang
lupa ketika memalingkan perhatian dari-Nya. Kedua, maknanya
adalah sungguh kami akan menimpakan ‘azab (siksaan) kepada
mereka dengan suatu ‘azab (siksaan) yang seperti dikatakan oleh
seseorang ‘agar dengan azab itu mereka kembali.”
An-Nasafi
10
--rahimahu-Llâh—berkata:
ىن`د ألا با ذعل ا ن م `م`ه`نقي ذ`نل و
Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang
dekat
yakni ‘azab dunia, dari suatu perkara dan apa yang kami uji
dengannya dari as-sunnah selama tujuh tahun. dûna ‘adzâb al-akbar
(tanpa azab yang lebih besar) yakni ‘azab akhirat. Maksudnya adalah
kami akan menimpakan kepada mereka ‘azab dunia sebelum kami
masukkan mereka ke dalam akhirat.”
Al-Qurthubi
11
--rahimahu-Llâh-- berkata, wa li nudzîqannahum
min ‘adzâb al-adnâ (Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka
sebahagian azab yang dekat). Al-Hasan, Abu al-‘Aliyah, adh-Dhahâk,
Ubai bin Ka’ab, dan Ibrahim an-Nakha’i berkata, ‘’azab yang dekat
adalah musibah dunia dan berbagai macam penyakit untuk menguji
hamba hingga mereka bertaubat.’ Hal ini juga dikatakan oleh Ibnu
10
Dalam tafsirnya Tafsir an-Nasafi.
11
Dalam tafsir al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân.
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
184
‘Abbas. Juga ada riwayat bahwa Ibn ‘Abbas menyatakan bahwa yang
dimaksud adalah hudud (sanksi-sanksi kejahatan). Ibnu Mas’ud dan
al-Husain bin ‘Ali, dan ‘Abdullah bin al-Hârits berkata, ‘Yang
dimaksud adalah pembunuhan menggunakan pedang pada hari
Perang Badar.’ Muqâtil berkata, ‘yang dimaksud adalah kelaparan
selama tujuh tahun di Makkah hingga mereka memakan bangkai.’
Pendapat ini juga dikatakan oleh Mujahid.
Ibnu Katsir
12
--rahimahu-Llâh— mengenai konotasi ayat tersebut
dengan pendapat yang mendekati pendapat yang diuraikan oleh al-
Qurthubi di atas.
Dengan demikian, maka pendapat yang menyatakan bahwa
ayat tersebut menunjukkan adanya ‘azab kubur, tidak sesuai dengan
apa yang difirmankan oleh Allah SWT la’allahum yarji’ûn (mudah-
mudahan mereka kembali). Bagaimana mungkin mereka dapat
kembali setelah di alam kubur? Maka konotasi seperti ini terhalang
(gugur). Berbeda dnegan kembali setelah malapetaka di dunia
dimana hal ini mungkin.
Adapun ayat:
هللا لض`ي و ةر خآلا يفو اي`ن' دلا ةاي حلا يف تباثل ا ل`وقل ا ب او`نم اء نيذل ا `هللا `ت`بث`ي
ءاش ي ام `هلل ا لعفي و يمل اظلا
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan
yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat … (TQS.
Ibrahim [14]: 27)
Ath-Thabari
13
--rahimahu-Llâh-- berkata, “Adapun firman-Nya fi
al-hayât[i] ad-dunya (dalam kehidupan dunia), sesungguhnya para ahli
ta’wil (ahli tafsir) berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian
mereka berkata, ‘Yang dimaksud adalah bahwa Allah meneguhkan
mereka di dalam kubur mereka sebelum datangnya Hari Kiamat.
Sebagian yang lain berkata, ‘mengenai ‘azab kubur.’ Sebagian yang
lain berkata, ‘Pertanyaan di dalam kubur’.”
Kemudian beliau berkata, “Dan yang benar dari semua
perkataan dalam pembahasan ini, adalah apa yang telah ditetapkan
dengan hadits dari Rasulullah saw mengenai masalah tersebut. Yang
dimaksud dari konotasi ayat di atas adalah bahwa Allah meneguhkan
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di kehidupan
12
Dalam kitabnya Tafsir al-Qurân al-‘Azhîm.
13
At-Thabari dalam tafsirnya.
Perihal Adzab Kubur 185
dunia, yakni dengan cara Allah meneguhkan mereka dalam
kehidupan dunia dengan keimanan kepada Allah dan keimanan
kepada Rasul-Nya Muhammad saw Dan di kehidupan akhirat, Allah
juga meneguhkan orang-orang mukmin seperti diteguhkannya
mereka di kehidupan dunia dengan keimanan kepada Allah dan
Rasul-Nya. Yang demikian itu di dalam kubur mereka ketika mereka
ditanya mengenai dzat yang mereka tauhidkan dan keimanan
kepada Rasulullah saw
Ar-Razi
14
--rahimahu-Llâh-- berkata, “Firman Allah, yusbitu-Llâh
al-ladzîna âmanû (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman)
yakni diteguhkan di atas pahala dan kemuliaan. Dan firman-Nya bi
al-qaul[i] ats-tsâbit fi al-hayât[i] ad-dunya wa fi al-âkhirah (dengan ucapan
yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat) yakni dengan
ucapan teguh yang keluar/bersumber dari mereka (dalam) kondisi
yang mereka jalani di kehidupan dunia.”
Beliau melanjutkan, “Dalam ayat ini ada perkataan lain, dan
pendapat ini merupakan perkataan yang masyhur, yakni bahwa ayat
ini membicarakan mengenai pertanyaan dua malaikat di dalam
kubur, dan Allah mendiktekan/membisikkan kalimat yang haq
kepada orang mu’min di dalam kubur berkaitan dengan pertanyaan
tersebut, dan peneguhan Allah kepada orang mukmin di atas perkara
yang haq. Diriwayatkan dari Nabi saw berkaitan dengan firman-Nya
yutsbitu-Llâh[u] al-ladzîna âmanû (Allah meneguhkan orang-orang
yang beriman), bahwa beliau bersabda:
مل`س ل ا `ين`ي د و لا يبر ل`وقي ف ؟ك`ن`ي د ام و ك'ب ر `نم ر`بقل ا يف `هل لاق` ي ن`يح
مل س و ه`يل ع لا ىل ص `د`م ح`م ييبن و
Ketika ditanyakan kepadanya di dalam kubur ‘Siapa Rabb (tuhan)-mu
dan apa agamamu?’ Maka ia berkata, ‘Rabb-ku adalah Allah,
agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad saw’.”
An-Nasafi
15
--rahimahu-Llâh— mengatakan tentang firman-Nya
yutsbitu-Llâh[u] al-ladzîna âmanû (Allah meneguhkan orang-orang
yang beriman), yaitu menetapkan mereka di atas bi al-qaul[i] ats-tsâbit
(dengan ucapan yang teguh) yaitu ucapan “Lâ Ilâh[a] Illa-Llâh,
Muhammad Rasûlu-Llâh”, fi al-hayât[i] ad-dunya (di kehidupan dunia)
sehingga ketika mereka diuji dalam agamanya, mereka tidak
14
Ar-Razi dalam tafsirnya.
15
Dalam Tafsir an-Nasafi.
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
186
tergelincir, seperti halnya keteguhan orang-orang yang diberikan
ujian kepada mereka semisal Ashhâb[u] al-Ukhdûd dan yang lainnya,
wa fi al-âkhirah (dan di akhirat), jumhur (mayoritas ‘ulama)
berpendapat bahwa yang dimaksud adalah alam kubur, yaitu dengan
mendiktekan/ membisikkan jawaban, dan memungkinkannya untuk
menjawab dengan benar. Dari al-Barâ’ bahwa Rasulullah saw
menyebutkan mengenai pencabutan ruh orang mu’min. beliau
bersabda:
؟ك'ب ر `نم `هل نل` وقي ف هر`ب ق يف هن اسل`جي ف ناكل م ه`يت أي ف ه دس ج يف `ه`ح`و`ر `داع` ت `مث
– ` د`م ح`م `ي`يب ن و ,`مل`س لا `ين`يد و ,لا ي`بر ·ل`وقي ف ؟ك'يب ن `نم و ؟ك`ن`ي د ام و
' `هل ` وق كل ذف ,`ي د`بع ق دص ن أ ءام`سلا نم ¸دان` م ىدان`ي ف ملس و ه`يل ع لا ىلص
ت`م و اد`يع س ت`شع نا كلملا ل`وق ي `مث 'تباثل ا ل` وقل اب ا` و`نم آ ن`يذل ا لا `تبث`ي
س` و`ر`عل ا ةم ` ون `م`ن ا د`يمح
Kemudian ruhnya kembali kepada jasadnya. Maka datanglah dua
malaikat kepadanya. Kemudian kedua malaikat tersebut duduk di
kuburnya, dan mereka berkata kepadanya, ‘Siapa Rabb-mu? Siapa
nabimu?’ Maka ia berkata, ‘Rabb-ku adalah Allah, agamaku adalah
Islam, dan nabiku adalah Muhammad saw’ Maka datanglah seruan
dari langit, ‘Sungguh benar hambaku.’ Itulah yang dimaksud dengan
firman-Nya [Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan
ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat].
Kemudian kedua malaikat itu berkata, ‘Hiduplah dengan bahagia,
matilah dengan terpuji, dan tidurlah seperti tidurnya pengantin’.
Al-Qurthubi
16
--rahimahu-Llâh-- berkata, “an-Nasâ’i
meriwayatkan dari al-Barra’, ia berkata bahwa firman Allah yutsbitu-
Llâh[u] al-ladzîna âmanû bi al-qaul[i] ats-tsâbit fi al-hayât[i] ad-dunya wa fi
al-âkhirah (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan
ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat] turun
berkenaan dengan ‘azab kubur. Dikatakan kepadanya, ‘Siapa Rabb-
mu?’ Maka ia berkata, ‘Rab-ku adalah Allah, agamaku adalah
agamanya Muhammad.’ Demikianlah yang dimaksud dengan
firman-Nya yutsbitu-Llâh[u] al-ladzîna âmanû bi al-qaul[i] ats-tsâbit
(Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh).”
16
Dalam tafsirnya.
Perihal Adzab Kubur 187
Al-Qurthubi pun mengatakan bahwa perkataan tersebut
datang (diriwayatkan) secara mauquf pada sebagian jalur Muslim
dari al-Barra’. Dan yang shahih aalah yang di dalamnya ar-Raf’i,
seperti yang terdapat dalam shahih Muslim serta tulisan an-Nasâ’i,
Abu Dawud, Ibnu Majah, serta yang lainnya, dari al-Barra’ dari Nabi
saw
Dan untuk mengetahui makna mauquf dan marfu’, maka kami
telah memaparkan pengertian hadits mauquf pada pokok
pembahasan Mushâfahah (berjabat tangan pria-wanita).
Marfu’, yakni riwayat yang disandarkan kepada Nabi saw
secara khusus, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir
(diam/pengakuan) maupun sifat, baik yang menyandarkan kepada
Nabi saw itu adalah para shahabat, tabi’in ataupun orang-orang
setelahnya. Contohnya adalah perkataan para shahabat:
ملس و ه`يل ع لا ىلص ل`و`س`رل ا ةاي ح يف اذ ك ل` وق ن ` وا ا ذك لعف ن `نك
Kami melakukan atau mengatakan demikian semasa hidup Rasul saw
Atau
اذ ك ب ان`رم ا
Kami diperintah oleh Rasul saw demikian.
Begitu juga dihukumi sebagai marfu’, tafsir shahabat yaitu berkaitan
dengan sabâb an-nuzûl (sesuatu yang menjadi sebab turunnya suatu
ayat)
17
.
Selain yang demikian dari tafsir para shahabat, maka hal itu
tidak bisa dianggap sebagai hadits. Karena para shahabat banyak
melakukan ijtihad dalam menafsirkan al-Qurân. Dan mereka juga
berbeda pendapat di dalam banyak hal ketika menafsirkan al-Qur’ân.
Demikianlah, kita banyak mendapati banyak dari mereka yang
meriwayatkan kisah-kisah Israiliyat dari Ahli Kitab. Oleh karena itu
tafsir para shahabat tidak bisa dinilai sebagai hadits, terlebih dinilai
marfu’
18
.
17
As-Shakhshiyyah al-Islâmiyyah juz I oleh Taqiyuddin an-Nabhani, Al-Majmû’ oleh an-
Nawawi juz I, serta Syarh Ikhtishâr ‘Ulûm al-Hadits oleh Ibnu Katsir.
18
Idem.
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
188
Atas dasar itu maka perkataan al-Barra’ adalah bukan hadits
yang diriwayatkan dari Rasulullah saw, akan tetapi hanya merupakan
tafsir al-Barra’ atas ayat tersebut.
Ibnu Katsir –rahimahu-Llâh-- berkata dalam tafsirnya, secara
panjang lebar berkaitan dengan pertanyaan dua malaikat kepada si
mayit di dalam kuburnya. Hal seperti ini pun dikatakan juga oleh al-
Qurthubi serta yang lainnya. Dan tidak ruang untuk membatasinya.
Dan dari apa yang telah dipaparkan berkatitan dengan ayat
tersebut, kita menemukan bahwa jumhur (mayoritas) ‘ulama tafsir
mengkhususkan pembahasan pada permasalahan tanya-jawab,
pendiktean atau pembisikan jawaban. Dalam ayat tersebut terdapat
perbedaan antara pertanyaan dengan ‘azab. Hal ini berdasarkan
sabda Rasul saw setelah pertanyaan tersebut diajukan, para malaikat
mengatakan kepada si mayat:
يذل ا كدعق مب كل د`ب أ و `ه`ن م لا كاج`نا `دق را`نل ا يف كل ناك يذل ا كدعق م `رظ`ن ا
ا م ه`يل ك ام` هاري ف ة`ن جلا يف ىر ت `يذل ا كدعق م را`نل ا ي ف ىرت
Lihatlah tempat dudukmu yang telah disiapkan untukmu di dalam
neraka. Sungguh Allah telah menyelamatkanmu darinya, dan
kemudian menggantikan tempat dudukmu yang engkau lihat di
neraka dengan tempat dudukmu yang engkau lihat di surga. Maka
pandanglah keduanya.”
Dan demikianlah, Wallahu A’lam, benarlah hadits yang
bermakna:
را`نل ا رف `ح `ن م „ةرف ` ح ` وا ة`ن جلا ضاي ر `ن م „ةض`ور
Taman yang merupakan bagian dari taman-taman surga, atau jurang
yang merupakan bagian dari jurang-jurang neraka.”
Adapun ayat:
دشأ ن`وع`رف لا ء اولخ`د أ ة عا`سل ا `موق ت م` وي و ا'ي شعو ا'و`د غ اه`يل ع نو`ضر`ع` ي `را`نل ا
باذعل ا
Neraka, yang ditampakkan kepada mereka setiap pagi dan petang, dan
pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat):
Perihal Adzab Kubur 189
"Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat
keras". (TQS. al-Ghâfir/al-Mu’min [40]: 46)
At-Thabari
19
--rahimahu-Llâh-- berkata, “Bahwa mereka ketika
binasa dan Allah menenggelamkan mereka, kemudian nyawa-nyawa
mereka dijadikan berada di dalam perut burung hitam. Dan kepada
ruh tersebut ditampakkan neraka, sebanyak dua kali setiap harinya,
pada pagi dan petang, hingga datang Hari Kiamat. Dan dikatakan
pula bahwa kepada mereka ditampakkan tempat-tempat tinggal
mereka di neraka, sebagai ‘azab bagi mereka, pada pagi dan petang.”
Ar-Râzi
20
--rahimahu-Llâh— mengatakan, “Kemudian anda
berkata “di dalam ayat ini hal yang menghalangi dibawa (dipahami)
kepada ‘azab kubur?. Penjelasannya bisa dilihat dari dua segi.
Pertama, bahwa siksa tersebut haruslah langgeng tanpa
terputus. Dan firman-Nya yu’radhûna ‘alayha ghuduww[an] wa
‘asyiyy[an] (yang ditampakkan kepada mereka setiap pagi dan petang)
maknanya mengharuskan bahwa ‘azab tersebut tidak terjadi kecuali
hanya pada dua waktu itu. Oleh karena itu jelaslah bahwa tidak
mungkin untuk membawa makna ayat tersebut kepada makna ‘azab
kubur.
Kedua, bahwa waktu pagi dan petang merupakan waktu yang
terdapat di dunia. Sedangkan di dalam kubur tidak terdapat
keduanya. Maka jelas dikarenakan dua segi ini, bahwa tidak
mungkin membawa konotasi ayat ini kepada konotasi ‘azab kubur.”
An-Nasafi
21
--rahimahu-Llâh-- berkata, “Dan makna
‘penampakan mereka atasnya adalah ‘dibakarnya mereka
dengannya’, seperti dikatakan, ‘aradha al-imâmu al-usârâ bi as-sayf
(imam menampakkan pedang kepada para tawanan) maknanya ‘Ia
membunuh mereka dengan pedang tersebut.’ Ghuduwwa[an] wa
‘asyiyy[an] (Setiap pagi dan petang) yakni pada tiap-tiap waktu inilah
mereka disiksa dengan api neraka. Sedangkan di antara waktu-waktu
ini, mereka bisa saja disiksa dengan jenis siksaan yang lain, atau bisa
juga mereka diberi jeda waktu (tidak disiksa). Bisa pula kalimat
ghuduww[an] wa ‘asyiyy[an] (setiap pagi dan petang) merupakan
penggambaran terhadap waktu yang terus-menerus. Dan hal ini
terjadi di dunia. Wa yaum taqûm as-sâah (Dan pada hari terjadinya
Kiamat) diucapkan demikian untuk menyatakan tempat kembali
yaitu neraka Jahannam. Adkhulû âla fir’aun asyadd[a] al-‘Adzâb
19
Dalam tafsirnya.
20
Dalam tafsirnya Mafâtih al-Ghaib.
21
Dalam tafsirnya.
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
190
(‘Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat
keras’) yakni ‘azab neraka Jahannam. Dan ayat ini merupakan dalil
atas keberadaan ‘azab kubur.”
Al-Qurthubi
22
--rahimahu-Llâh-- berkata, “Mayoritas ‘ulama
berpendapat bahwa ini merupakan pertanyaan di alam Barzakh
(kubur), dan sebagian ahli ‘ilmu menetapkannya sebagai dalil adanya
azab kubur. Disebutkan oleh al-Farra’ bahwa permulaan dan akhir
ayat tersebut merupakan kiasan, adkhulû âla fir’aun asyadda al-‘adzâb
an-nâr yu’radhûna ‘alaiyha ghuduww[an] wa asyiyya[an] (Masukkanlah
Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras), maka
dijadikanlah penampakkan ini di akhirat.”
Ibnu Katsir
23
--rahimahu-Llâh-- berkata, “Sesungguhnya kepada
arwah mereka ditampakkan neraka setiap pagi dan petang hingga
datang Hari Kiamat. Maka ketika terjadi Hari Kiamat, arwah dan
jasad mereka bersatu di neraka, yang karena itulah dikatakan
(Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat
keras).”
Beliau juga menyatakan, akan tetapi masih ada persoalan,
yakni tidak ada keraguan lagi bahwa ayat tersebut merupakan ayat
Makkiyah, dan mereka menjadikannya sebagai dalil atas adanya
‘azab kubur. Al-Imam Ahmad mengatakan, “Hasyim yakni Ibnu al-
Qâsim Abu Nadhir meriwayatkan kepada kami bahwa Ishaq Bin
Sa’id yakni Ibnu ‘Umar Ibnu Sa’id Ibnu al-‘Ash meriwayatkan kepada
kami bahwa Sa’id yakni ayahnya meriwayatkan dari ‘Aisyah –
radhiya-Llâh ‘anha-- bahwa seorang wanita Yahudi yang menjadi
pelayannya. Dan ‘Aisyah ra tidak pernah
membentak/memerintahkan untuk mengerjakan sesuatu yang ma’ruf
kecuali ketika wanita Yahudi itu berkata, “Semoga Allah melindungimu
dari ‘azab kubur.” ‘Aisyah berkata, “Kemudian Rasulullah saw masuk
lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah ada ‘azab di dalam kubur
sebelum Hari Kiamat?’ Lalu Rasulullah bersabda, “Tidak. Siapa yang
menduga demikian?” Aku berkata, “Wanita Yahudi ini. Aku tidak pernah
membentak/memerintahkan untuk mengerjakan sesuatu yang ma’ruf kecuali
ketika ia berkata, “Semoga Allah melindungimu dari ‘azab kubur”.’
Rasulullah saw bersabda, ‘Wanita Yahudi ini telah berdusta, dan mereka
lebih berdusta lagi di sisi Allah. Tidak ada ‘azab sebelum Hari Kiamat.’
Kemudian setelah itu beliau diam hingga beberapa waktu sesuai
kehendak Allah. Kemudian pada suatu waktu di tengah hari, beliau
keluar dengan berpayungkan pakaian beliau dan dengan mata yang
22
Dalam tafsirnya Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân.
23
dalam kitabnya Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm.
Perihal Adzab Kubur 191
kemerahan. Dan beliau menyeru manusia dengan suara yang tinggi,
‘Alam kubur itu seperti potongan malam yang gelap gulita. Wahai sekalian
manusia, sekiranya kalian melihat apa yang aku lihat, kalian pasti akan
banyak menangis dan sedikit tertawa. Wahai sekalian manusia, mohonlah
perlindungan kepada Allah dari azab kubur, sesungguhnya ‘azab kubur
adalah haq.” Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah ra, bahwa seorang
wanita Yahudi meminta sesuatu kepadanya, lalu ia pun memberikan
sesuatu kepada wanita Yahudi tersebut. Kemudian wanita Yahudi itu
berkata kepadanya, “Semoga Allah melindungi Anda dari ‘azab kubur.”
‘Aisyah ra pun mengingkarinya. Maka ketika ia melihat Rasulullah
saw, ia berkata kepada beliau. Beliau lalu bersabda, “Tidak.” ‘Aisyah
lalu berkata, “Kemudian setelah itu Rasulullah saw bersabda
kepadaku, ‘Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan
diuji dalam kubur kalian’.”
Kemudian Ibn Katsir mengatakan: “lalu bagaimana cara
mempertemukan (mengkompromikan) antara riwayat ini dengan
ayat Makkiyah sebelumnya hingga kemudian dikatakan sebagai ‘azab
kubur? Jawabnya, bahwa ayat tersebut menunjukkan
ditampakkannya neraka kepada arwah setiap pagi dan petang di
alam Barzakh (kubur), dan tidak terdapat di dalamnya penunjukkan
yang berkaitan dengan penyiksaan terhadap arwah tersebut beserta
jasadnya di dalam kubur, sebab terkadang hal demikian itu
dikhususkan kepada ruhnya saja. Adapun terjadinya siksaan kepada
jasad di dalam kubur serta penyiksaan terhadapnya karena suatu
sebab, maka tidak ada dalil yang menunjukkannya kecuali dalil as-
sunnah yaitu hadits-hadits yang telah disebutkan. .
Dan kesimpulan dari pembicaraan mengenai ayat ini adalah
sabda Rasul saw:
ة`ن جلا ل` ها `نم ناك نا `يشعل او ةا دغل اب `ه`دعق م ه`يل ع ضر`ع تا م اذا `مك` دحا ن ا
ك` دعق م ا ذ ه ' `هل لاق`ي ف را`نل ا ل` ه ا `نم ف را`نل ا ل` ه ا `نم نا ك نا و ة`ن جلا ل` ه ا `نم ف
ةم ايقل ا م`و ي ىل ا – ل ج و `زع – لا كثع`ب ي ى`ت ح
Sesungguhnya jika seseorang dari kalian mati, akan ditampakkan
kepadanya tempat duduknya (tempat tinggalnya) kelak, setiap pagi
dan petang. Maka jika ia termasuk dari penduduk surga, maka
ditampakkan bahwa ia adalah penghuni surga. Dan jika ia termasuk
penghuni neraka, maka ditampakkan bahwa ia adalah penghuni
neraka. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat dudukmu
hingga Allah ‘Azza wa Jalla membangkitkanmu pada Hari Kiamat’.”
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
192
Kesimpulannya adalah bahwa dari keseluruhan apa yang telah
kami uraikan berkenaan dengan ayat-ayat al-Qur’an dalam
pemasalahan alam kubur dan ‘azab di dalamnya, menunjukkan
bahwa ayat-ayat tersebut zhanni dalam dilalah (penunjukkan
maknanya)-nya, karena ayat-ayat tersebut memiliki makna atau
konotasi lebih dari satu --sebagaimana yang telah disebutkan oleh
para ‘ulama tafsir--. Oleh karena itu, ayat-ayat tesebut bukan
merupakan dalil yang qâthi’ (yang memastikan) adanya ‘azab kubur.
Kedua, Dalil-Dalil Hadits
Adapun hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini, akan
saya sebutkan beberapa diantaranya.
Pertama, sabda Rasul saw:
ر`بقل ا باذ ع `ن م لا ب ا`و ذ`يعت `س ا
Kalian mohonlah perlindungan kepada Allah dari ‘azab kubur.
Kedua, sabda Rasul saw ketika beliau melewati dua kuburan:
ام ا و هل `و ب `نم ` ئر`بت `سي ل ناكف ام` ه`د حا اما ¸ر`يب ك يف ناب ذع` ي امو ناب ذع` ي ام`ه`ن ا
هلع ل لاق ف ن`يف `صن اهقش ف ةب ط` ر ه د`ير جب اعد `مث ةم`ي م`نل ا يف `يش` مي ناك ف `ر خل ا
اسب`ي ي `م ل ام ا م` ه`نع `ففخ`ي
Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa. Dan mereka tidaklah
disiksa karena dosa-dosa besar. Adapun yang satu, ia dahulu tidak
membersihkan diri dari kencingnya. Sedangkan yang satunya, ia
dahulu suka mengadu domba. Lalu beliau berdo’a dengan pelepah
daun kurma yang masih basah, kemudian merobeknya menjadi dua
bagian yang sama, seraya berkata: Semoga diringankan dari
keduanya, selama ia belum kering.
Ketiga, sabda Rasul saw:
را`نل ا رف `ح `نم „ةرف ` ح `وا ة`ن جلا ضاي ر `ن م „ة ض`و ر `ر`بقل ا
Kubur adalah taman bagian dari taman-taman surga, atau jurang
bagian dari jurang-jurang neraka.
Perihal Adzab Kubur 193
Keempat, sabda Beliau saw:
ي`نا `مل`ع ت `ملا ؟ك`رغ ام مدآ ن`ب ا اي 'كحي و ه`يف `عض`و` ي ن`يح ت`ي مل ل `ر`بقل ا ل`وقي
د`و' دلا `ت`ي ب و ة د` ح ولا `ت`يب و ةملظل ا `ت`يب
Ketika mayat diletakkan pada kuburnya, sang kubur berkata kepada si
mayat, ‘Celakalah engkau wahai anak Adam, apakah yang telah
menipumu? Apakah engkau tidak tahu bahwa aku adalah rumah
kegelapan, rumah satu-satunya, serta rumah ulat/cacing.
Juga hadits-hadits mengenai pertanyaan di dalam kubur, hadits
mengenai di’azabnya orang Yahudi di dalam kuburnya, hadits bahwa
alam kubur merupakan permulaan tempat di akhirat, dan hadits-
hadits lainnya.
Jika kita memikirkan semua hadits-hadits ini dan juga yang
semisalnya, kita dapat menemukan beberapa perkara darinya.
Perkara pertama, kita mengetahui bahwa hadits-hadits tersebut
menuntut kita untuk melakukan suatu perbuatan, dan bukan
menuntut keimanan. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan antara
tuntutan iman dan tuntutan ‘amal -seperti yang telah kami uraikan
pada bagian sebelumnya dari pembahasan ini-, yakni bahwa hukum
syara’ adalah seruan as-Syâri’ (sang pembuat syara’) berkaitan
dengan perbuatan hamba. Yaitu sesuatu yang menuntut suatu
perbuatan sesuai dengan yang menuntutnya, dan tidak menuntut
keimanan dengannya, akan tetapi yang ada adalah tuntutan
pebuatan. Oleh karena itu, terdapat perbedaan antara hukum-hukum
i’tiqâdiyah (berkaitan dengan ‘aqidah/keyakinan) dengan hukum-
hukum ‘amaliyah (berkaitan dnegan perbuatan). Ini dapat
diperhatikan dari hadits-hadits yang telah disebutkan. Sabda Rasul
saw, ista’îdû bi-Llâh (Kalian mohonlah perlindungan kepada Allah)
berkonotasi do’a. Dan do’a adalah ‘amal perbuatan dan fi’il
(tindakan). Oleh karena itu yang dimaksud dalam hadits ini adalah
tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan, yakni berdo’a. Dan
sabda Beliau saw, innahuma yu’adzabân[i] wa mâ yu’adzabâni fi kabîr
(Sesungguhnya mereka berdua sedang di’azab/disiksa. Dan mereka
tidaklah disiksa karena dosa-dosa besar.) Hadits ini menunjukkan
atas targhîb wa tarhîb (dorongan dan ancaman). Targhîb (dorongan)
dalam membersihkan diri dari kencing (bersuci dari hadats ), dan
dorongan meniadakan sifat adu domba, serta tarhîb (ancaman) bagi
siapa saja yang melakukan hal tersebut. Hal ini merupakan qarinah
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
194
(indikasi) bahwa perbuatan tersebut adalah haram, yakni perbuatan
mengadu domba serta tidak bersuci karena buang air. Hal ini seperti
sabda Beliau saw, laysa minnâ (Bukan termasuk bagian dari kami), hal
ini merupakan qarinah untuk jenis suatu perbuatan, dan bukan
bahwa seseorang itu telah keluar dari millah (jalan hidup) ataupun
agama
24
.
Dan sabda Beliau saw:
را`نل ا رف `ح `نم „ةرف ` ح `وا ة`ن جلا ضاي ر `ن م „ة ض`و ر `ر`بقل ا
Kubur adalah taman bagian dari taman-taman surga, atau jurang
bagian dari jurang-jurang neraka.
Makna hadits ini, --Wallahuh a’lam--, bahwa setelah pertanyaan
mengenai agamanya, Rabbnya, dan nabinya. Jika ia seorang mu’min
dan muslim, ia akan melihat tempatnya kelak disurga, sehingga
keadaan tersebut menjadi “taman, bagian dari taman-taman surga”.
Akan tetapi jika ia orang yang kafir dan termasuk dalam penghuni
neraka, maka ia akan melihat tempatnya kelak di neraka, sehingga
keadaan tersebut menjadi “jurang, bagian dari jurang-jurang neraka”.
Hal seperti ini telah disabdakan oleh Rasul saw:
ة`ن جلا ل` ها `نم ناك نا `يشعل او ةا دغل اب `ه`دعق م ه`يل ع ضر`ع تا م اذا `مك` دحا ن ا
ك` دعق م ا ذ ه ' `هل لاق`ي ف را`نل ا ل` ه ا `نم ف را`نل ا ل` ه ا `نم نا ك نا و ة`ن جلا ل` ه ا `نم ف
ةم ايقل ا م`و ي ىل ا – ل ج و `زع – لا كثع`ب ي ى`ت ح
Sesungguhnya jika seseorang dari kalian mati, akan ditampakkan
kepadanya tempat duduknya (tempat tinggalnya) kelak, setiap pagi
dan petang. Maka jika ia termasuk dari penduduk surga, maka
ditampakkan bahwa ia adalah penghuni surga. Dan jika ia termasuk
penghuni neraka, maka ditampakkan bahwa ia adalah penghuni
neraka. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat dudukmu
hingga Allah ‘Azza wa Jalla membangkitkanmu pada Hari Kiamat’.
Adapun sabda Beliau:
24
Lihat As- Sayl al-Jarâr oleh as-Syaukani juz I, Syarat Sahnya Shalat, yakni
ketika dia menyebutkan kalimat yang seperti itu. Maka dikatakan olehnya, “Tidak terdapat
padanya kecuali dalil-dalil atas kewajiban istinzâh.”
Perihal Adzab Kubur 195
ي`نا `مل`ع ت `ملا ؟ك`رغ ام مدآ ن`ب ا اي 'كحي و ه`يف `عض`و` ي ن`يح ت`ي مل ل `ر`بقل ا ل`وقي
د`و' دلا `ت`ي ب و ة د` ح ولا `ت`يب و ةملظل ا `ت`يب
Ketika mayat diletakkan pada kuburnya, sang kubur berkata kepada si
mayat, ‘Celakalah engkau wahai anak Adam, apakah yang telah
menipumu? Apakah engkau tidak tahu bahwa aku adalah rumah
kegelapan, rumah satu-satunya, serta rumah ulat/cacing.
Hadits ini pun menunjukkan adanya targhîb wa tarhîb (dorongan dan
ancaman), dari (mengutamakan) dunia untuk (mengutamakan dan
menggapai) akhirat, dan seterusnya.
Perkara kedua, dan inilah bagian yang terpenting, bahwa hadits-
hadits di atas dan juga yang serupa berkaitan dengan permasalahan
alam kubur dan ‘azab kubur, tidak mencapai batas tawatur dan batas
qath’i (pasti/tegas) dalam tsubut (asal sumber)-nya. Akan tetapi ia
hanya zhanni. Sebagiannya ada yang termasuk hadits ahad, dan
sebagiannya ada yang bukan hadits ahad, yakni hadits dha’if
(lemah)
25
.
Selama hasits-hadits tersebut demikian keadaannya maka kita
tidak dapat men-jazm-kan (memastikan)-nya, dan lebih jauh
menyebabkan status hadits-hadits tersebut turun dari derajat ‘aqidah
atau hukum-hukum ‘aqidah. Karena hukum-hukum ‘aqidah, dalil-
dalilnya harus bersifat qath’i, sehingga dengannya ada jazm
(ketegasan/kepastian), yang kemudian akan terdapat keimanan
dengannya. Sebab jika tidak demikian, ‘aqidah kaum muslim akan
bersifat zhanniy disebabkan dalilnya tidak qath’i. Dan hal ini tidak
boleh terjadi. Bahkan haram hukum-nya ‘aqidah kaum muslim
dibangun dengan dasar zhann. Hal ini dikarenakan adanya celaan
dan kecaman Allah SWT di dalam al-Qur’ân kepada siapa saja yang
mengikuti zhann dalam masalah ‘aqidah
26
.
Demikianlah. Disamping juga terdapat qarinah (indikasi) lain
yang memalingkan sifat jazm/pasti akan adanya azab kubur. Hal ini
menunjukkan ketiadaan ‘azab sebelum Hari Kiamat. Ini dilihat dari
dua segi.
25
Lihat ringkasan Mukhtashar Minhâj al-Qâshidîn oleh Ibnu Qudâmah al-Maqdisi
guna meneliti apa yang ia katakan perihal sebagian hadits-hadits ini dan juga hadits-hadits
yang lain dari kitab-kitab Takhrij al-Hadits.
26
Lihat Al-Istidlâl bi azh-Zhân fi al-‘Aqîdah oleh Muhammad Salim, serta
muqadimah masalah ini.
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
196
Pertama, adanya istihjân dan istinkâr (pengingkaran) orang-
orang yang di’azab bahwa mereka mengetahui adanya ‘azab sebelum
hari Kiamat. Di antaranya:
Firman Allah SWT:
نول س`ر` ملا قد صو `نم`ح`رل ا د ع و ام اذ ه ان د ق`ر م `ن م انثع ب `ن م انل`ي واي اول اق
Mereka berkata: "Aduh celakalah kami! Siapakah yang
membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang
dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul
(Nya). (TQS. YâSîn [36]: 52)
Juga firman-Nya:
اها ح` ض `وأ ة`ي ش ع ال إ اوثبل ي `مل اهن ` ور ي م` وي `م`ه`ن أك
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-
akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore
atau pagi hari. (TQS. an-Nâzi’ât [79]: 46)
Juga firman-Nya:
ني `دلا `م`وي ا ذ ه انل`ي واي اول ا ق و
Dan mereka berkata: "Aduhai celakalah kita!" Inilah hari pembalasan.
(TQS. as-Shâffât [37]: 20)
Juga firman-Nya:
راه`نل ا ن م ةعا س ال إ اوثبل ي ` مل ن أك `م` ه`ر`ش` حي م` وي و
Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan
mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah
berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari… (TQS. Yunus
[10]: 45)
Juga firman-Nya:
¸ةعا س ر`ي غ اوثب ل ام نو`مر ` ج` ملا ` مسق` ي ةعا`سل ا `موق ت م` وي و
Perihal Adzab Kubur 197
Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang
berdosa; "Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat
(saja)"… (TQS. ar-Rûm [30]: 55)
Juga firman-Nya:
¸راه ن `ن م ةعاس ال إ اوثبل ي `مل نو`د عو`ي ام ن` ور ي م` وي
… Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka
(merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada
siang hari... (TQS. al-Ahqâf [46]: 35)
Dengan demikian dapat dikatakan, bagaimana mereka dapat
mengatakan hal seperti itu, padahal mereka termasuk orang-orang
yang di’azab di dalam kubur mereka? Hal ini merupakan suatu
kontradiksi dan pertentangan, kecuali jika hal ini merupakan khabar
zhanni.
Adapun mereka yang mengatakan bahwa mereka pada hari
Kiamat tidak diberitahukan mengenai apa yang terjadi pada mereka
berupa ‘azab dalam kubur, yakni bahwa mereka kehilangan akal
mereka di dalam kubur. Hal ini bertentangan dengan apa yang telah
disabdakan oleh Rasulullah saw kepada ‘Umar ketika ia bertanya:
ف`و خ ل ·`ر م`ع لا ق ,`معن·هل لاق ؟ناكلملا نل أسي امن`ي ح `يلق ع `يل ا `عج`ر`ي أ
نذ ا
Apakah akalku akan dikembalikan kepadaku ketika dua orang malaikat
tersebut bertanya kepadaku?” Beliau bersabda kepadanya, “Ya.”
‘Umar lalu berkata, “Kalau begitu, tidak ada yang perlu ditakutkan.”
Dari hadits ini terlihat bahwa akal manusia berada bersamanya ketika
ia dua orang malaikat menanyainya. Demikian pula pada Hari
Kiamat karena kelak di sana akan diberitahukan semua perkara baik
kecil maupun besar sehingga terhimpunlah semuanya. Sebab ia akan
dihisab dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya.
Kedua, bahwa sesungguhnya hisab, ‘azab, dan
bencana/siksaan, terjadi pada Hari Kiamat. Dan sungguh tidak ada
‘azab kecuali setelah adanya hisab. Hal ini berdasarkan firman Allah
‘Azza wa Jalla berkaitan dengan hisab sebelum adanya ‘azab.
Firman-Nya:
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
198
ابي سح ك`يل ع م` ويل ا كسفن ب ىفك كب ات ك أر قا
"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai
penghisab terhadapmu." (TQS. al-Isrâ’ [17]: 14)
Juga firman-Nya:
`دا ه ملا سئب و `م`ن ه ج ` م`ها و أمو باس حلا ءو`س ` م`ه ل كئل وأ
… Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat
kediaman mereka ialah Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat
kediaman. (TQS. ar-Ra’du [13]: 18)
Juga firman-Nya:
¸باسح ر`يغ ب `م`هر`جأ نو`رب ا`صل ا ى ف و`ي ام`ن إ
... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang
dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (TQS. az-Zumar [39]: 10)
Juga firman-Nya:
باسحلا ` عيرس هلل ا نإ م` ويل ا ملظ ال
... Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat
cepat hisabnya. (TQS. Ghâfir/al-Mu’min [40]: 17)
Adapun firman Allah SWT yang menunjukkan bahwa ‘azab
hanya pada Hari Kiamat diantaranya:
`تب سك امب ¸سف ن ل ك ىز` ج`ت م` ويل ا
Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang
diusahakannya... (TQS. Ghâfir/al-Mu’min [40]: 17)
Juga firman-Nya:
نول ط`ب `ملا `رس`خي ¸ ذئم ` وي ةعا`سل ا `موق ت م` وي و
Perihal Adzab Kubur 199
... Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu
orang-orang yang mengerjakan kebathilan. (TQS. al-Jâtsiyah [45]:
27)
Juga firman-Nya:
نول م`ع ت ` م`ت`ن ك ام ن`وز`ج` ت م`ويل ا ا هب ات ك ىل إ ى ع`د`ت ¸ة`م أ لك
... Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya.
Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu
kerjakan. (TQS. al-Jâtsiyah [45]: 28)
Juga firman-Nya:
اي`ن'دلا `م كت اي ح يف `م كت اب`ي ط `م`ت`ب هذ أ را`نل ا ىلع او`رف ك ني ذل ا `ضر`ع` ي م ` وي و
ض`رألا يف نو`رب كت `ست `م`ت`ن ك امب نو` هلا با ذ ع ن` وز` ج`ت م` ويل ا ف اهب `م`ت`عت `مت `سا و
نوق`سف ت `م`ت`ن ك امب و `قحلا ر`يغب
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka
(kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezkimu yang
baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-
senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab
yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka
bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik". (TQS. al-Ahqâf [46]:
20)
Juga firman-Nya:
` هو` ج` و 'دو` ست و `هو` ج` و 'ضي`ب ت م` وي
Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada
pula muka yang hitam muram... (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 106)
Juga firman-Nya:
¸يب ك ¸م`و ي باذع `م ك`يل ع ` فا خ أ ي`ن إف ا` ول وت نإ و
... Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan
ditimpa siksa hari kiamat. (TQS. Hûd [11]: 3)
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
200
Juga firman-Nya:
¸ميظ ع ¸م`و ي باذع `م ك`يل ع ` فا خ أ ي`ن إ
Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar".
(TQS. as-Syu’arâ [26]: 135)
Dan juga ayat-ayat yang lain yang membatasi adanya hisab
pada hari Kiamat saja, dan membatasi ‘azab Jahannam hanya pada
Hari Kiamat. Dan bahwa surga, neraka, kerusakan dan kebinasaan
hanya ada pada hari Kiamat.
Kesimpulan pendapat dari seluruh pembicaraan pada masalah
ini, bahwa dalil mengenai adanya azab kubur bersifat zhanni,
sehingga dengan dalil-dalil tersebut kita tidak dapat men-jazm-kan
(memastikan) adanya azab kubur. Demikian juga seperti apa yang
kami katakan, bahwa ayat-ayat al-Qur’ân tidak menunjukkan dilalah
(penunjukkan makna) yang qath’i dalam masalah azab kubur.
Sedangkan hadits-hadits berkenaan dengan azab kubur ini semuanya
zhanni dalam tsubut (asal sumber)-nya.
Oleh karena itu, masalah azab kubur merupakan perkara
khilafiyah di antara kaum muslim, seperti apa yang telah dinyatakan.
Bagi setiap orang yang tegak baginya hujjah serta dalil atas adanya
‘azab kubur, maka itu merupakan keyakinan bagi dirinya dan bagi
orang-orang yang mengikutinya. Hal ini dikarenakan tidak adanya
dalil qath’iy yang menunjukkan i’tiqâd atau iman terhadap adanya
‘azab kubur. Sebab, iman atau i’tiqâd terhadap suatu, dalilnya wajib
bersifat qath’i. Dan ketentuan ini tidak terpenuhi secara sempurna
pada dalil-dalil mengenai ‘azab kubur.
Atas dasar ini maka perkara-perkara i’tiqâdiy (perkara-perkara
aqidah) tidak boleh bersifat zhanni. Sebab jika tidak demikian, pasti
akan terwujud pertentangan dalam ‘aqidah kaum muslim, karena
adanya ijtihad-ijtihad di dalamnya sehingga ada yang benar adan ada
yang salah. Dan hal ini merupakan perkara yang terlarang atau tidak
boleh terjadi dalam ‘aqidah “Lâ Ilâha Illa-Llâh, Muhammad Rasûlu-Llâh”
--seperti yang telah kami uraikan pada pembahasan Ikhtilaf
(peredaan pendapat)--, bahwa ikhtilaf dalam perkara ushuluddin
(pokok agama) adalah perkara yang terlarang, sebab seorang
mujtahid bisa menjadi fasik atau kafir. Dan ‘aqidah merupakan
perkara ushuluddin (pokok agama), yang karenanya tidak boleh ada
ikhtilaf di dalamnya. Supaya terhalang khilaf dan ihktilaf di
dalamnya maka dalil-dalilnya haruslah jelas, kokoh, qath’iy, dan
Perihal Adzab Kubur 201
tidak mengandung konotasi kecuali satu pengertian saja sehingga
tidak mungkin dilakukan tarjih, penambahan dan pengurangan.
Adapun ‘azab kubur, maka para ‘ulama serta mufasirin (ahli
tafsir) telah berbeda pendapat di dalamnya -seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya--. Selama kondisinya demikian maka masalah
ini termasuk dalam furu’uddin (perkara cabang dari agama), dan
tidak termasuk perkara ushul (perkara pokok) agama. Karena
masalah ini tidak bersifat bayyin[an] tsâbit[an] qath’iy[an] (jelas, kokoh,
dan qath’i) bahkan hanya bersifat zhanni.
Dan sesuai dengan ghalabah azh-zhân kami semua dalil dalam
pembahasn ‘azab kubur tidak mencapai derajat qath’i baik dalam
tsubut (sumber) maupun dilalah (penunjukkan)-nya baik sendiri
maupun kedua-duanya. Semua dalilnya bersifat zhann yang tidak
dapat menegakkan hujjah dalam masalah ‘aqidah. Oleh karena itu,
maka semua pendapat dalam permasalahan ini menolak untuk
mengambil khabar zhanni dalam ‘aqidah, yakni tidak boleh
membangun ‘aqidah dengan dalil-dalil zhanni, sebab ‘aqidah
mengharuskan adanya pembenaran yang pasti. Jika suatu perkara
(dalil) bersifat zhanni maka pembenaran berdasarkan dalil itu tidak
bersifat pasti, karena dalil tersebut tidak bersifat pasti baik dalam
khabarnya maupun maknanya, yang memungkinkan bersifat zhanni
maupun qath’i. Hal ini menjadikan perkara-perkara ‘aqidah dapat
saling ditarjih antara yang satu dengan yang lainnya.
Oleh karena itu, tidak boleh ada sikap pada diri kita kecuali
sikap membenarkan nash tersebut dan tidak mendustakannya. Jadi
kita (harus) membenarkan hadits-hadits tersebut dan tidak
mendustakannya. Hanya saja kita tidak mengimani (tidak
membenarkan secara pasti) dilâlah (konotasi)-nya yakni maknanya,
sebab kita tidak dapat memastikan berdasar dalil-dalil tersebut --
seperti yang telah kami katakan--. Maka siapa saja yang menetapkan
pada dirinya bahwa dalil-dalil tersebut bersifat qath’i, maka hal
tersebut menjadi keyakinan bagi dirinya. Dan siapa yang tidak
menetapkan hal tersebut, maka hal itu pun menjadi hukum baginya.
Wa-Llâhu a’lâ wa a’lam wa ilaihi al-masîr (Allah Maha Tinggi dan Maha
Mengetahui dan kepada-Nyalah tempat kembali).
Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam
202

‫م ن$ ك !ب عل ي تمع مدا يفت ب وء م ع ده من لن ار‬ ‫ا‬ ‫ق‬ ‫ل‬ ‫ذ‬
Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya kelak yang terbuat dari api neraka. Kedua, qath’i ad-dilâlah (pasti penunjukkan maknanya/ konotasinya). Yaitu dalil yang tidak mengandung konotasi/makna kecuali satu konotasi dan tidak ada konotasi yang lain. Seperti firman Allah SWT:

‫د‬ % ‫+ل هولل!ه أح‬ ‫ا‬ ‫ق‬
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. (TQS. al-Ikhlash [112]: 1) Juga firman-Nya:

‫فاع$ل من أه لال إه ل!الل!ه‬ ‫إ ا‬ $
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah ... (TQS. Muhammad [47]: 19) Ayat-ayat di atas hanya memiliki satu konotasi saja dan tidak ada konotasi lain. Yaitu bahwa wahdaniyah (ke-esa-an) hanya milik Allah semata. Dan bahwa tidak ada dzat yang patut disembah kecuali Allah semata. Ayat tersebut juga qath’i ats-tsubût karena merupakan ayat al-Qur’ân. Mengenai dalil zhanni ialah dalil yang dapat menerima tambahan ataupun pengurangan, serta tunduk pada (boleh terjadi) ijtihad dan tarjih serta memungkinkan terjadinya ikhtilaf (perbedaan pendapat) di dalamnya. Dalil zhanni terbagi menjadi dua bagian, yakni zhanni ats-tsubût dan zhanni ad-dilâlah. Adapun zhanniy ats-tsubût, yaitu dalil yang turun dari derajat qath’iy at-tsubut. Dan hal ini terdapat pada hadits syarif seperti hadits ahad. Hadits ahad adalah shahih secara dzatnya, akan tetapi syaratsyarat yang ditetapkan bagi hadits ahad, dan karenanya hadits ahad itu bisa diambil, menurunkan hadits ahad dari derajat qath’i ats – tsubût dan menjadi zhanni ats-tsubût. Oleh karenanya hadits ahad memungkinkan tetap tsubut-nya dan ketiadaan tsubut-nya. Demikian juga terkait dengan hadits masyhur. Semua ini berbeda

170

Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam

dengan al-Qur’ân. Al-Qur’ân adalah qath’i, dan apapun yang datang melalui jalan tersebut (metode pentransformasian al-Qur’ân), adalah qath’i. Dan ia tidak akan zhanni ats-tsubût, karena zhanni ats-tsubût maknanya tidak pasti tsubût (sumber)-nya. Dan yang demikian bermakna bahwa al-Qur’ân tsubut (sumber)-nya tidak qath’i, dan hal ini bermakna adanya kemungkinan bahwa al-Qur’ân dzatnya merupakan (wahyu) yang diturunkan kepada Muhammad saw, atau bukan sesuatu yang diturunkan kepada Muhammad saw Hal ini adalah mustahil. Pendapat demikian (zhanni ats-tsubûtnya al-Qur’ân) merupakan kekufuran dan penentangan kepada Allah. Oleh karena itu kondisi as-Sunnah berbeda dengan kondisi al-Qur’ân. Bagian kedua, yakni zhanni ad-dilâlah, yakni (dalil) yang diambil dan mengandung lebih dari satu makna. Dan hal ini bisa diterapkan pada zhanni ad-dilâlah dari al-Qur’ân, juga pada hadits syarif. Al-Qur’ân yang zhanni dalam dilalahnya, tetapi tidak pada tsubut-nya, contohnya adalah firman Allah SWT:

0‫وال ل!ق اتت ر ب ص$ن ن$ف+س ن ثل ثا ة +ر وء‬ ‫ق‬ ‫بأ ه‬ ‫ي‬ ‫مط‬
Dan wanita-wanita yang dicerai hendaklah menahan (menunggu) tiga kali quru ... (TQS. al-Baqarah [2]: 228) diri

Ayat al-Qurân ini zhanni dilalah-nya yaitu mengandung konotasi lebih dari satu konotasi. Kata “ qurû’ ” dapat bermakna “haidh” atau “suci”. Dan kedua konotasi ini adalah benar. Dan yang seperti ini karakternya banyak terdapat dalam al-Qur’ân. Hadits bisa saja zhanni tsubut-nya atau zhanni dilalah-nya, atau keduanya bersamaan (zhanni ats-tsubût, zhanni ad-dilâlah). Yang demikian berbeda dengan al-Qur’ân (karena al-Qur’ân tsubutnya adalah qath’i sedang dilalahnya bisa qath’i dan bisa juga zhanni -ed-). Contohnya adalah sabda Rasul saw:

‫ل يل@ي ن احدل اع ص$ر ال في نب ير +ي$ظة‬ ‫$ق‬ ! % ‫ص‬
Janganlah salah seorang dari kalian shalat ‘Ashar kecuali di Bani Quraizah. Hadits ini zhanni tsubut-nya, sebab ia termasuk kabar ahad. Dan juga zhanni dilalah-nya, yakni memungkinkan adanya banyak makna seperti yang terjadi dengan para sahabat ketika itu1.
1

Lihat pada pembahasan ikhtilaf dalam kaitannya dengan qath’i dan zhanni.

Perihal Adzab Kubur

171

Muhammad Rasûl[u]-Llâh (tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasûlullâh)”. dan kebangkitan adalah haq. seperti al-Qur’ân dan hadits mutawatir. rasul-rasulNya. Dan juga tashdîq. maka ia memungkinkan adanya tambahan dan pengurangan. ijtihad dan ikhtilaf. yang sesuai dengan fakta. serta mungkin dilakukan tarjih. neraka adalah haq. Allah SWT berfrman: ‫اخر لا بر$هان له به فإن ما حساه عن$د رب ه إن ه لا في ل ح‬E‫وم ن$ يد$ع مع الل!ه إل ها ء‬ ‫ب‬ ‫ال ر ون‬ ‫كاف‬ Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah. Suatu dalil tidak mencapai demikian kecuali dalil yang qath’i. maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. 172 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . Sehingga tashdîq (pembenaran)-nya bersifat pasti dan tidak bersifat zhanni. Hal ini mustahil atau tidak boleh terjadi dalam masalah ‘aqidah (keyakinan) “Lâ Ilâha Illa-Llâh. serta AsSyakhshiyyah al-Islâmiyah juz I oleh Taqiyuddin an-Nabhani. dalil atau bukti yang qath’i’ (bersifat pasti). dan kepada qadha dan qadar baik dan buruknya berasal dari Allah SWT. ‘aqidah berbeda dengan hukum syara’. kitab-kitab-Nya. i’tiqâd dan iman bahwa surga adalah haq. Jika tidak demikian. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu. kematian adalah haq. dan kecaman serta celaan Allah kepada mereka yang mengambil ‘aqidah dengan tanpa kepastian.Atas dasar ini. malaikat-malaikat-Nya. Yang padanya wajib ada tashdîq jâzim muthabiq[u] li al-wâqi’ ‘an dalîl (pembenaran yang pasti. al-Mu’minûn [23]: 117) Juga firman-Nya: ‫ +ل هتا وا بر$هنا +م‬K‫أم تا خ +وا من$ دوه ءلا ة‬ $‫ك‬ ‫ه ق‬E ‫ن‬ ‫ذ‬ 2 Lihat ijâbah as-sâil syarh bighayah al-amal oleh as-Shan’ani. dan berdasarkan dalil)2. Hari Akhir. Dalil bahwa ‘aqidah ataupun perkara-perkara i’tiqadiy lainnya wajib bersifat qath’i (pasti) dan ditetapkan dengan dalil yang qath’i ialah kecaman dan celaan Allah SWT kepada orang-orang yang menggunakan zhanni dalam masalah ‘aqidah. ‘Aqidah adalah tashdîq (pembenaran) atau i’tiqâd (keyakinan) atau iman kepada Allah. Serta perkara-perkara i’tiqâdiy (keyakinan) lainnya. (TQS.

Oleh karenanya. al-Qashash [28]: 75) Serta ayat-ayat lainnya yang mencela orang-orang yang mengambil ‘aqidah dan perkara-perkara dalam masalah ‘aqidah tanpa kepastian. al-A’râf [7]: 71) Juga firman-Nya: ‫نوز ع$نا من$ +لم+ ة0 شهيدا ق+ل نا هتا وا بر$هنا كم$ عف ل موا أن! ال حق لل!ه وضل عن$هم‬ ! + ‫ف‬ ‫ك@أ‬ ‫م ا كنا واف يت ر ون‬ Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi. padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? … (TQS. Adapun bagian kedua yaitu dalil-dalil yang mencela orangorang yang mengambil zhan dalam ‘aqidah adalah Firman Allah SWT: ‫ وما لهم$ به من‬ ‫إ ن! ال!ذين لا يؤ$ ن ون بال آخر ة لي س [ون ال مل ئا ة تس$مة ال أن$ثى‬ + ‫ك ي‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫ا‬K‫عل م إنت بي ع ن ل!ا ال ن إن! ا ن لا غ$ن ي من ال ق ي$ئ‬ ‫ح ش‬ ‫و إ ! و لظ! ي‬ ‫ظ‬ 0 Perihal Adzab Kubur 173 . tanpa dalil dan bukti yang qath’i. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya.. burhan (bukti) atau sulthan (hujah) mengharuskan dalil tersebut bersifat qath’i. (TQS.. lalu Kami berkata "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu". al-Anbiyâ’ [21]: 24) Juga firman-Nya: 0‫با اؤكم$ ما ز للل!ه بها من$ سط ان‬E‫أت جدا ل+ون ي في أس$ماء0 ي$ت موها ن$ت م ء‬ ‫ل‬ ‫أ $و + ن ا‬ ‫سم‬ ‫ن‬ . dalil itu sendiri tidak dinyatakan kecuali bersifat qath’i dan al-Qur’ân menggunakannya dengan penunjukkan makna yang bersifat qath’i yakni sebagai dalil yang memastikan. maka tahulah mereka bahwa yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan. maka keberadaannya sebagai dalil. Ayat-ayat tadi datang dengan makna yang memastikan. dalil ‘aqidah dikarenakan ia merupakan dalil atas masalah ‘aqidah. Atas dasar ini.Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah hujjahmu! … (TQS.

dan jelas dalam mencela orang-orang yang tidak 174 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Yunus [10]: 36) Juga firman-Nya: ‫وك عن$ س يل الل!ه إنت بي ع ون ل!ا الظ!ن و ن‬e‫و ن تط ع$ أكر م ن$ في ال أر$ض يضل‬ ‫إ‬ ‫إ‬ ‫ب‬ ‫ث‬ ‫إ‬ ‫هم$ ل!ا يخ ص ون‬ $‫إ ر‬ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini. dan kamu tidak lain hanya berdusta. niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. an-Najm [53]: 27-28) Juga firman-Nya: ‫ا‬K‫ا ن! ا ن لا غ$ن ي من ال حق ي$ئ‬b‫م ا ت يب ع أكر هم$ ل!ا ن‬ ‫ش‬ ‫إ ظ إ لظ! ي‬ ‫ث‬ ‫و‬ Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. (TQS. al-An’âm [6]: 148) Maka semua ayat ini sharîh (jelas) mengecam orang-orang yang mengikuti zhann.Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran… (TQS. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (TQS. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka. (TQS. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. alAn’âm [6]: 116) Juga firman-Nya: ‫كذل ك ك ! ب ال!ذ ين م ن$ ب$ل ه م$ ح ت ى ذا+وا بأسن ا +ل هل عن$د +م$ م ن$ عل م‬ ‫ك‬ ‫ق‬ ‫ق‬ ‫ق‬ ‫ذ‬ ‫ف خ$ر جوه نل ا إنت بت ع ون ل!ا ا ن وإن ن$ت م$ ل!ا تخ$ ص ون‬ ‫أ إ ر‬ !‫إ لظ‬ ‫ت‬ … Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami.

dan tidak khusus untuk kaum muslimin serta tidak mencakup mereka. Kecaman terhadap mereka. maka ayat tersebut adalah khusus untuk mereka. Begitu juga mereka yang mengatakan bahwa khabar ahad tidak memiliki faedah qath’i.” Juga ar-Râzi dalam tafsirnya terhadap ayat tadi. Tidak bisa dikatakan seperti itu. tidak berarti bahwa ayat tersebut 3 Al-Ghazâli mengatakannya dalam kitab Al-Mustashfa. Perihal Adzab Kubur 175 . dan tidak meliputi perkara hukum syara. Lihat kitab-kitab mereka dalam bidang ushul.mengikuti hujjah. Demikianlah pendapat mayoritas ‘ulama kaum muslimin3. juga al-Baghdadi dalam kitab Al-Faqîh wa al-Mutafaqih. serta pada kitab lainnya. bukti dan dalil yang qath’i dalam masalah ‘aqidah. Dan juga mayoritas ‘ulama seperti alGhazali. dikarenakan kaidah syar’iyah menyatakan: ] ‫ل[عا ب$ر ة بع مو$م لل!ف ظ ل ص و$ص لس ب‬ ‫اب‬ ‫بخ‬ ‫ا‬ + Sesungguhnya ibrah (hikmah/makna ilmu) itu diambil dari keumuman lafazh. serta para ‘ulama salaf selain mereka. maka hendaklah merujuk kitab-kitab ushul yang telah kami tunjukkan dalam buku kami pada pembahasan Al-Ikhtilaf (Perbedaan Pendapat). Adapun mereka yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Serta merupakan larangan yang pasti agar tidak mengikuti segala sesuatu yang tidak dibangun di atas dalil yang qâthi’ (memastikan). Hal ini khusus dalam perkara ‘aqidah. Juga an-Nawawi dalam kitab Tadrîb ar-Râwi li as-Suyûthi. Dan bagi siapa yang berminat untuk menambah lebih jauh. merupakan dalil pelarangan yang bersifat pasti (tegas) agar tidak mengikuti zhann. pengungkapan aib mereka. dikarenakan beberapa hal. dan celaan kepada mereka. di antaranya: Pertama. bukan dari kekhususan sebab Dan bahwa: ] ‫[ ن! ص و$ص لسب ب ل يس$ق + ل اع مو$م‬ ‫ط‬ ‫ا‬ ‫ا خ‬ Sesungguhnya kekhususan sebab tidak mengugurkan keumuman (lafazh). Abu Ishaq as-Syiyrâzi. al-Amidi. Juga Sayyid Quthb dalam tafsirnya fi zhilâl al-Qur’ân terhadap surat al-Falaq. Juga al-Qâdhi al-Baydhâwi dalam tafsirnya terhadap ayat surat an-Najm dan Yunus “Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Lihat pula Al-Istidlâlu bi az-Zhanni fi al-‘Aqîdah oleh Fathi Muhammad Salîm. Maka jika ayat-ayat tersebut disebutkan berkaitan dengan individu atau sekelompok manusia tertentu.

dalam perkara ushuluddin (pokok agama). (TQS. Karena zhann itu tidak qath’i atau yakin. Kedua..khusus bagi mereka. yakni pemahaman tidak adanya ijtihad dalam masalah ‘aqidah. dan ini dilarang. Mengikuti zhann dalam ‘aqidah. Maka kaum muslim termasuk dalam cakupan dalam keumuman ayat tersebut sesuai dengan kaidah syar’i yang telah disebutkan. Ketiga. akan menyebabkan terjadinbya ikhtilaf dan tafarruq (keterpecah-belahan) dalam agama. sesungguhnya ayat-ayat yang telah disebutkan mengenai mengecam terhadap orang-orang yang mengambil zhann 176 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . agar ‘aqidah mereka dibangun di atas zhann karena zhann bisa benar dan bisa salah. kefasikan dan kekafiran. sesungguhnya kita diperintahkan meniadakan ikhtilaf dalam agama dilihat dari sisi keberadaannya sebagai agama keimanan kepada Allah dan Hari Akhir. jika kecaman dan celaan itu ditujukan kepada orangorang kafir agar tidak mengambil zhann dalam perkara ‘aqidah. lafazh ini mencakup kaum muslim dan orang-orang kafir. seperti ikhtilaf-nya kaum kafir baik orang-orang musyrik maupun Ahl al-Kitab.. sehingga memiliki dua kemungkinan dengan men-tarjih (menguatkan) yang satu atas yang lain. dan karena adanya kemungkinan terdapat konotasi yang saling bertentangan. Allah berfirman: ‫ حز$ب‬e‫ م ن ال!ذين ر ق+وا دين ه م$ وكنا وا شي عا ل‬ ‫و ا ت +و وا من ال مش$ر كي‬ ‫ك‬ + ‫ف‬ ‫ل كن‬ ‫ب ما لدي$هم$ ر حون‬ ‫ف‬ … dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. dan hal ini membawa mereka kepada kehancuran. Firman-Nya alladzîna (Orang-orang yang…). Ayat-ayat di atas sungguh telah dinyatakan dengan bentuk yang umum. Demikianlah yang difahami oleh para ‘ulama. akan tetapi ayat tersebut tetap bersifat umum bagi siapapun yang sesuai dengan ayat tersebut. dengan kata lain. Inilah yang dilarang Allah dalam ayat-ayat di atas. dan mengikuti hawa nafsu di dalamnya tanpa disertai dalil yang qath’i (yang memastikan) atau tanpa bukti yang jelas dan terang. arRûm [30]: 31-32) Keempat. maka lebih utama lagi bagi kaum muslim yang meng-esakan Allah SWT. yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.

(TQS. mengungkapkan aib mereka dan mencela mereka. (TQS. dalam memperingatkan dan melarang Beliau untuk tidak mengikuti orangorang yang mengambil zhann dalam masalah ‘aqidah. tuntutan Allah SWT kepada Muhammad saw untuk mengingkari. sebagiannya datang menyeru Rasulullah saw Allah SWT berfirman: ‫وك عن$ س يل الل!ه إنت بي ع ون ل!ا الظ!ن و ن‬e‫و ن تط ع$ أكر م ن$ في ال أر$ض يضل‬ ‫إ‬ ‫إ‬ ‫ب‬ ‫ث‬ ‫إ‬ ‫هم$ ل!ا يخ ص ون‬ $‫إ ر‬ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini. dan melarang orang-orang yang mengambil zhann tanpa disertai ‘ilmu dalam perkara ‘aqidah.dalam masalah ‘aqidah. mengecam. alAn’âm [6]: 116) Juga firman-Nya: ‫كذل ك ك ! ب ال!ذ ين م ن$ ب$ل ه م$ ح ت ى ذا+وا بأسن ا +ل هل عن$د +م$ م ن$ عل م‬ ‫ك‬ ‫ق‬ ‫ق‬ ‫ق‬ ‫ذ‬ ‫ف خ$ر جوه نل ا إنت بت ع ون ل!ا ا ن وإن ن$ت م$ ل!ا تخ$ ص ون‬ ‫أ إ ر‬ !‫إ لظ‬ ‫ت‬ … Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. dan kamu tidak lain hanya berdusta. Sebab: ] ‫[ ط اب الر سو$ل خط ا %مل+ات ه ال ما رد الدي$ل+ن اه خا % به‬ ‫ص‬ ‫! و ل‬ ‫ب‬ ‫خ‬ seruan bagi Rasul merupakan seruan bagi umatnya kecuali terdapat dalil bahwa hal itu adalah khusus hanya bagi beliau Perihal Adzab Kubur 177 . serta mengecam mereka. niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Ayat-ayat ini merupakan seruan bagi Rasul saw Ayat ini merupakan larangan yang jelas atas mengambil zhann dalam perkara ‘aqidah. Kedua. al-An’âm [6]: 148) Kedua ayat ini datang untuk menyeru Rasulullah saw Pertama. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Ayat di atas juga merupakan nash yang jelas bahwa kita juga termasuk yang diseru oleh ayat tersebut. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka.

maka hendaklah merujuk pada kitab-kitab ushul fikih yang telah ditunjukkan dalam buku ini pada pembahasan al-Ikhtilâf bayna alMuslimîn (Perbedaan pendapat antara kaum muslim). 178 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . dan yang dituntut adalah i’tiqâd (keyakinan) dan tashdîq (pembenaran) yang pasti. ayat-ayat al-Qur’ân. yakni ‘azab kubur. dan dalilnya tidak disyaratkan harus bersifat qath’i. Firman Allah SWT: ‫و و$ تر ى إذ الظ!لا مون في ر ات ال مو$ت وال مل ئا ة+ باسط+و أي$ديه م$ أخ$ر جوا‬ ‫ك‬ ‫غم‬ ‫ل‬ ‫ن$ف+س +م ل اي م تج$ز ن عذاب ال هون بما ن$ت م ق+ول+ون ل ىلل!ه ي$ر ال ق‬ ‫ع ا غ ح‬ ‫+ $ت‬ ‫ك‬ $‫و‬ $‫أ ك و‬ … Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orangorang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut. yang dalil syara’ menunjukkan atasnya. hukum syara’ adalah seruan asy-Syâri’ (sang pembuat hukum syara’) berkaitan dengan perbuatan hamba yaitu apa-apa yang dilakukan oleh hamba baik berupa perbuatan maupun perkataan. tidak yang lain. menyusun kemudian menjelaskan pembahasan ini. Ada baiknya Anda membaca buku Al-Istidlâl bi azh-Zhân fi al-‘Aqîdah yang mengumpulkan. Ini berbeda dengan hukum syara’.Dan dalam hal ini tidak terdapat dalil bahwa hal itu hanya khusus bagi Rasul saw Oleh karenanya ayat di atas tetap berlaku umum bagi Rasul saw maupun bagi kita. Demikianlah. Sebab hukum syara’ berkaitan amal jawârih (aktivitas fisikal). dan Anda akan melihat dan meyakini apa yang telah diuraikan. Dalil-dalil yang dijadikan sandaran mengenai ‘azab kubur oleh mereka yang mengatakan keberadaan ‘azab kubur adalah: Pertama. Adapun pokok pembahasan yang kami pilih pada pembahasan ini. Hal ini cukup untuk menetapkan bahwa seruan ayat di atas adalah bersifat umum bagi kaum musyrik maupun kaum muslim berupa larangan. bagi Anda yang ingin menambah pengetahuan dalam mengetahui mengenai pembahasan qath’i dan zhanni. celaan serta pengeksposan aib orang-orang yang mengambil zhann dalam perkara ‘aqidah tanpa disertai ‘ilmu maupun bukti yang jelas. Adapun berkaitan dengan hukum syara’. manusia terbagi dalam dua kelompok -seperti yang telah kami utarakan pada pembahasan sebelumnya. Sebab tempat i’tiqâd (keyakinan/keimanan) adalah di dalam qalbu. kecaman. Hukum syara’ bukan ‘aqidah.

(TQS.. karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar . (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras". Ibrahim [14]: 27) Juga firman-Nya: ‫ الن ر ع$ر ض ون‬ ‫ ل اع ذاب‬w‫فوقاه الل!ه سئ ات ما ر وا وحاق بآل فر$عو$ن سوء‬ ‫ا ي‬ ‫مك‬ ‫ي‬  ‫أشدل اع ذاب‬ ‫ال فر$ع ن‬E‫ة+ أد$خل+وا ء‬ $‫و‬ ‫ا و م تق+وم الساع‬b‫ا شي‬b ‫ع ي$ها +د‬ $‫ل غ و وع ي و‬ Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka. --baik secara dekat maupun jauh-. Adapun ayat pertama yakni firman Allah SWT: Perihal Adzab Kubur 179 . alGhâfir/al-Mu’min [40]: 45-46) Ayat-ayat ini tidak menunjukkan. asSajdah [32]: 21) Juga firman-Nya: ‫ا ن وا لباق و$ل لث!ات في ال ح اة الن$ي ا وفي ال آخر ة‬E‫ي ث ب ت لل!ه ال!ذين ء‬ ‫ي د‬ [ ‫اب‬ ‫م‬ ‫ا‬ Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat … (TQS. dan Fir`aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang. mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS. dan pada hari terjadinya Kiamat. al-An’âm [6]: 93) Juga firman-Nya: ‫لون يق ن هم$ من ل اع ذاب الد$ن ى دون ل اع ذاب ال أكر عل ل!هم$ ع ون‬ ‫ير$ج‬ ‫ب‬ ‫أ‬ ‫ذ‬ Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat). (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu".. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan. (TQS. Berikut ini akan kami paparkan ungkapan para mufasir (ulama ahli tafsir) mengenai ayat-ayat di atas untuk menunjukkan hal tersebut.dalam dilalah (penunjukkan makna)-nya atas adanya ‘azab kubur secara pasti.sedang para malaikat memukul dengan tangannya.

keluarlah kamu dengan kemurkaan yang telah diberikan atasmu untuk menuju ‘adzab Allah yang menghinakan’. dalam kitabnya Jâmi’ al-Bayân li at-Tafsîr. sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan cabutan yang keras lagi bengis. karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar . padahal Allah tidak mewahyukan apapun kepada kalian. serta menuju laknat-Nya. yakni bahwa mereka tidak mampu mengeluarkan nyawa 4 5 6 Beliau adalah Syaikh al-Mufasiriin (guru besar/sesepuh para ‘ulama tafsir) Muhammad Ibnu Jariir at-Thabari.” Al-Qurthubi5 --rahimahu-Llâh-. kemudian kalian menyombongkan diri dari ketundukan kepada perintah Allah dan perintah Rasul-Nya. 180 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . sedang para malaikat membentangkan tangannya (dengan memukul). (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu".. yakni ‘adzab neraka jahannam yang menghinakan mereka dan merendahkan mereka sehingga mereka mengetahui kekecilan/kekerdilan dan kerendahan diri mereka. Dan juga anggapan (kalim) kalian bahwa Allah memberi wahyu kepada kalian. sebab ruh/nyawa orang mu’min bergembira untuk keluar menuju pertemuan dengan Rabbnya.‫و و$ تر ى إذ الظ!لا مون في ر ات ال مو$ت وال مل ئا ة+ باسط+و أي$ديه م$ أخ$ر جوا‬ ‫ك‬ ‫غم‬ ‫ل‬ ‫ن$ف+س ك+مل اي وم تج$ز ون عذاب ال هون بما ن$ت م ق+ول+ون عل ىلل!ه ي$ر ال حق‬ ‫ا غ‬ ‫+ $ت‬ ‫ك‬ $ $ ‫أ‬ … (Alangkah dahsyatnya) sekiranya kamu melihat di waktu orangorang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut. Maka sungguh kalian pada hari ini akan mendapat balasan atas kekufuran kalian terhadap Allah serta perkataan bathil yang kalian ucapkan berkaitan dengan-Nya. Dalam tafsirnya Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân. (TQS. Dalam tafsirnya Mafâtih al-Ghaib. “di sini ada pertanyaan.’ Ini adalah ‘adzab yang menghinakan. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan. dan dikatakan kepadanya.” Ar-Râzi 6 --rahimahu-Llâh-. “akhrijû anfusakum (Keluarkanlah nyawamu) yakni bebaskan dirimu dari ‘adzab jika kalian mampu.berkata.berkata. Dan dikatakan “keluarkan nyawa mereka secara paksa.mengatakan.. al-An’âm [6]: 93) At-Thabari 4 --rahimahu-Llâh-. “’Keluarkanlah nyawa kalian menuju kemurkaan Allah. Dan Ia telah memperingatkan kalian bahwa Allah telah menurunkan sesuatu kepada seorang manusia. dan dari keterikatan kepada-Nya. Dan hal ini merupakan celaan. ‘Wahai jiwa yang kotor.

Perihal Adzab Kubur 181 .’ Kedua.berkata.” Ibnu Katsir7 --rahimahu-Llâh-. firman-Nya: ‫و و$ تر ى إذ الظ!لا مون في ر ات ال مو$ت‬ ‫غم‬ ‫ل‬ (Alangkah dahsyatnya) sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut yakni pada waktu sekarat dan menjelang mautnya dan pada kesusahannya. Dan para malaikat berkata pada mereka. dan berkata kepada mereka. Seperti firman-Nya: 7 Dalam kitabnya Tafsir al-Qurân al-‘Azhîm. dan para malaikat mengulurkan tangannya -yakni memukul-. yakni ketika kematian turun kepada mereka di dunia. akan tetapi ia merupakan ancaman dan juga celaan. di akhirat maka mereka masuk ke dalam neraka jahannam’. Adh-Dhahâk dan Abu Shâlih mengatakan. Dan ini merupakan pendeskripsian akan kebengisan dan kepedihan dalam pencabutan nyawa tanpa ada jeda atau tidak perlahan. akhrijû anfusakum (Keluarkanlah nyawa kalian) yakni ‘Keluarkanlah nyawa kalian kepada kami dari tubuh kalian’. lafazh ini sebenarnya merupakan kinayah (kiasan) akan pedihnya keadaan mereka.’ Ketiga. dan para malaikat mengulurkan tangan mereka untuk menarik nyawa-nyawa mereka. “ bâsithû aydîhim (Mengulurkan tangan mereka) yakni dengan menyiksa. Pertama. dan bahwa mereka bener-benar berada dalam siksa dan kepedihan hingga datang kepada dirinya masa pencabutan ruh. Dan para malaikat mengayunkan tangan-tangan mereka menimpakan ‘azab berupa pukulan kepada mereka. ‘(Alangkah dahsyatnya) sekiranya kamu melihat orang-orang yang zalim sedang menahan tekanan-tekanan sakaratul maut. Keempat. sesungguhnya firman-Nya akhrijû anfusakum (Keluarkanlah nyawa kalian) bukanlah merupakan perintah. lalu apa faedah/manfa’at dari perkataan ini? Saya katakan.mereka dari jasadnya. bahwa di dalam ayat ini terdapat beberapa segi. ‘Keluarkan nyawa kalian dari siksaan ini. ‘Keluarkanlah (bebaskanlah) nyawa kalian dari ‘azab yang pedih ini jika kalian mampu. Ghamrât al-maut (Tekanan-tekanan sakaratul maut) merupakan pendeskripsian terhadap apa yang menimpa mereka di akhirat berupa bermacam-macam kebengisan dan azab. dan selamatkan nyawa kalian dari bencana dan hukuman ini. Kelima.

nyala api dan air panas. rantai. maka dalam dilalah (penunjukkan makna)-nya tidak menunjukkan akan adanya siksa (‘adzab) kubur. (TQS. dan kemurkaan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. siksa. belenggu. (tentulah kamu akan merasa ngeri). Maka ruh tersebut hendak dipisahkan dari jasadnya. Demikianlah bahwa orang-orang kafir ketika berada dalam kedaan ini (sakaratul maut). al-Anfâl [8]: 50) Oleh karenanya. maka firman-Nya: $‫وال مل ئا ة+ باسط+و أي$ديهم‬ ‫ك‬ sedang para malaikat membentangkan tangannya yakni dengan memukul mereka hingga keluar nyawa mereka dari jasadnya. al-An’âm [6]: 93) Atas dasar penjelasan di atas. dari semua yang telah dikatakan oleh para ‘ulama tafsir tentang ayat ini. para malaikat menimpakan ‘azab. Akan tetapi ayat-ayat di atas hanya menunjukkan 182 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan. karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar’. seraya berkata kepada mereka: ‫أ خ$ر جوا ن$ف+س +مل اي و$م تج$ز و$ن عذاب ال هون بما ن$ت م$ تق+ ل+ون ل ى الل!ه غي$ر‬ ‫و ع‬ ‫ك‬ + ‫أ ك‬ ‫ال حق‬ Keluarkanlah nyawa kalian.‫و و$ تر ى إذ تي و ف!ى ال!ذين ك ر وا ال مل ئا ة+ ر$ ب ون وجوهه م$ ود$ب ار ه م$ ذ+و+وا‬ ‫و ق‬ ‫أ‬ ‫ك يض‬ ‫ف‬ ‫ل‬ ‫عذاب ال حر يق‬ Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar". akan tetapi ruh itu melawan dan enggan keluar. Maka para malaikat pun memukulnya hingga keluarlah nyawa-nyawa mereka dari jasadnya. (TQS. Dan malaikat berkata kepada mereka: $‫اخ$ر جو$ان$ف+س كم‬ + ‫ا‬ Keluarkanlah nyawa kalian.

Adapun ayat kedua. Perihal Adzab Kubur 183 . ditimpakan kepada mereka ‘azab di dunia. maka ia tidak akan menetapinya terus. ‘Yang dimaksud adalah ‘azab kubur’. Sebab sesungguhnya ‘azab yang pedih di dunia bersifat membinasakan. Yang lain berkata.” Ar-Râzi9 --rahimahu-Llâh-. ‘Yang dimaksud adalah hudud (sanksi-sanksi kejahatan). Sesungguhnya ‘azab di dunia tidak sepadan dengan ‘azab akhirat.berkata.’ Yang lain berkata. “Para ahli ta’wil berbeda pendapat mengenai konotasi al-’adzâb al-adnâ (‘azab yang dekat) yang dijanjikan Allah akan ditimpakan kepada semua kefaikan ini. Dan sebenarnya orang yang menyiksa menginginkan untuk 8 9 Dalam tafsirnya Jâmi’ al-Bayân. ‘Yang dimaksud adalah musibah bertahun-tahun yang ditimpakan kepada mereka. Yakni ketika para malaikat memukul muka (wajah) dan belakang (punggung) mereka hingga keluarlah ruh mereka dari jasadnya.berkata. sebab ‘azab dunia itu tidak pedih. mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). yakni firman Allah SWT: ‫لون يق ن هم$ من ل اع ذاب الد$ن ى دون ل اع ذاب ال أكر عل ل!هم$ ع ون‬ ‫ير$ج‬ ‫ب‬ ‫أ‬ ‫ذ‬ Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat). dan akan mendapatkan kelegaan padanya. Sebagian dari mereka berkata. dan tidak pula panjang (berlangsung lama). ‘yang dimaksud adalah adalah musibah-musibah di dunia yang menimpa diri maupun hata. maka dikenakanlah ‘azab pada ruh tersebut dan juga kepada orang tersebut. sehingga orang yang disiksa mati. Yakni ketika hendak dipisahkan ruh dari jasadnya dan kemudian ia enggan untuk keluar. Dalam tafsirnya Mafâtih al-Ghaib.’ Yang lain berkata. Inilah siksa (‘azab) tersebut. “yang dimaksud adalah bahwa sebelum ‘azab akhirat. asSajdah [32]: 21) At-Thabari8 --rahimahu-Llâh-. Nyawa orang kafir tidak menolak untuk keluar dari jasadnya kecuali setelah mengetahui bahwa ia termasuk orang kafir yang kelak akan meminum al-hamîm. dan juga kelak pada hari kiamat akan berhadapan dengan kemurkaan Allah SWT. hingga keluarlah ruh dari jasadnya. (TQS.tentang penyiksaan terhadap orang kafir ketika ruhnya keluar dari jasadnya karena ia menolak dan enggan keluar. dan diikat dengan rantai dan belenggu menuju ‘azab neraka jahannam.

dari suatu perkara dan apa yang kami uji dengannya dari as-sunnah selama tujuh tahun. dûna ‘adzâb al-akbar (tanpa azab yang lebih besar) yakni ‘azab akhirat.berkata.’ Hal ini juga dikatakan oleh Ibnu 10 11 Dalam tafsirnya Tafsir an-Nasafi. Kedua. dan Ibrahim an-Nakha’i berkata. Dan firman-Nya la’alahum yarji’ûn (mudah-mudahan mereka kembali). wa li nudzîqannahum min ‘adzâb al-adnâ (Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat). dan Allah mustahil melakukan hal tersebut. Dalam tafsir al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân. as-Sajdah [32]: 14) Yakni meninggalkan kalian sebagaimana Ia meningalkan orang yang lupa ketika memalingkan perhatian dari-Nya.” An-Nasafi10 --rahimahu-Llâh—berkata: ‫لون يق ن هم$ من ل اع ذاب الد$ن ى‬ ‫أ‬ ‫ذ‬ Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat yakni ‘azab dunia. Ubai bin Ka’ab. maknanya adalah sungguh kami akan menimpakan ‘azab (siksaan) kepada mereka dengan suatu ‘azab (siksaan) yang seperti dikatakan oleh seseorang ‘agar dengan azab itu mereka kembali. ‘’azab yang dekat adalah musibah dunia dan berbagai macam penyakit untuk menguji hamba hingga mereka bertaubat. kata la’ala ini bermakna harapan. Sedangkan ‘azab di akhirat bersifat menyengsarakan dan panjang. maknanya adalah sungguh kami akan menimpakan siksaan kepada mereka yaitu siksaan yang ditunda. Al-Hasan.terus menyiksa orang yang di’azab dengan ‘azab yang dimaksudkan untuk menyengsarakannya.” Al-Qurthubi11 --rahimahu-Llâh-. lalu apa hikmah yang terdapat di dalamnya? Maka kami katakan bahwa dalam hal ini terdapat dua segi. Maksudnya adalah kami akan menimpakan kepada mereka ‘azab dunia sebelum kami masukkan mereka ke dalam akhirat. seperti firmanNya: ‫إن ا نسين اكم‬ $+ … sesungguhnya Kami telah melupakan kalian… (TQS. Pertama. 184 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . Abu al-‘Aliyah. adh-Dhahâk.

At-Thabari dalam tafsirnya.’ Sebagian yang lain berkata. dan ‘Abdullah bin al-Hârits berkata. Dengan demikian. Ibnu Mas’ud dan al-Husain bin ‘Ali. sesungguhnya para ahli ta’wil (ahli tafsir) berbeda pendapat dalam masalah ini. ‘Pertanyaan di dalam kubur’. Yang dimaksud dari konotasi ayat di atas adalah bahwa Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di kehidupan 12 13 Dalam kitabnya Tafsir al-Qurân al-‘Azhîm. Juga ada riwayat bahwa Ibn ‘Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud adalah hudud (sanksi-sanksi kejahatan). “Adapun firman-Nya fi al-hayât[i] ad-dunya (dalam kehidupan dunia). ‘yang dimaksud adalah kelaparan selama tujuh tahun di Makkah hingga mereka memakan bangkai. adalah apa yang telah ditetapkan dengan hadits dari Rasulullah saw mengenai masalah tersebut. maka pendapat yang menyatakan bahwa ayat tersebut menunjukkan adanya ‘azab kubur. Ibrahim [14]: 27) Ath-Thabari13 --rahimahu-Llâh-. Adapun ayat: ‫ الل!ه‬e‫ا ن وا لباق و$ل لث!اب ت في ال ح اة الدن$يا وفي ال آخر ة يوضل‬E‫ي ث ب ت الل!ه ال!ذين ء‬ [ ‫ي‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ال !لا ميي و ع ل+لل!ه ما يش اء‬ ‫ا‬ ‫ف‬ ‫ظ‬ Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat … (TQS. Bagaimana mungkin mereka dapat kembali setelah di alam kubur? Maka konotasi seperti ini terhalang (gugur). Berbeda dnegan kembali setelah malapetaka di dunia dimana hal ini mungkin. Sebagian mereka berkata.berkata.‘Abbas. ‘Yang dimaksud adalah bahwa Allah meneguhkan mereka di dalam kubur mereka sebelum datangnya Hari Kiamat. ‘Yang dimaksud adalah pembunuhan menggunakan pedang pada hari Perang Badar. Perihal Adzab Kubur 185 . Ibnu Katsir12 --rahimahu-Llâh— mengenai konotasi ayat tersebut dengan pendapat yang mendekati pendapat yang diuraikan oleh alQurthubi di atas. tidak sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT la’allahum yarji’ûn (mudahmudahan mereka kembali).’ Pendapat ini juga dikatakan oleh Mujahid.’ Muqâtil berkata. “Dan yang benar dari semua perkataan dalam pembahasan ini. Sebagian yang lain berkata.” Kemudian beliau berkata. ‘mengenai ‘azab kubur.

dan peneguhan Allah kepada orang mukmin di atas perkara yang haq. Diriwayatkan dari Nabi saw berkaitan dengan firman-Nya yutsbitu-Llâh[u] al-ladzîna âmanû (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman).” An-Nasafi15 --rahimahu-Llâh— mengatakan tentang firman-Nya yutsbitu-Llâh[u] al-ladzîna âmanû (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman). mereka tidak 14 15 Ar-Razi dalam tafsirnya.berkata. bahwa beliau bersabda: ‫ و ي$ن ي$ ال سل م‬w‫حي$ن يق ل+ له فيق+ب$ر م ن$ رب[ك وما ي$ن ك؟ يفق+ ل+ رب ي ا ل‬ $ ‫د‬ $‫و‬ ‫د‬ ‫ل ا‬ ‫ا‬ ‫م‬E‫ لعي$ه و س‬w ‫ن بوي ي محم % ل ى ا‬ ‫ل‬ ‫دص ل‬ Ketika ditanyakan kepadanya di dalam kubur ‘Siapa Rabb (tuhan)-mu dan apa agamamu?’ Maka ia berkata. fi al-hayât[i] ad-dunya (di kehidupan dunia) sehingga ketika mereka diuji dalam agamanya. “Dalam ayat ini ada perkataan lain. “Firman Allah. 186 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . dan pendapat ini merupakan perkataan yang masyhur. Dalam Tafsir an-Nasafi. yusbitu-Llâh al-ladzîna âmanû (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman) yakni diteguhkan di atas pahala dan kemuliaan. yakni dengan cara Allah meneguhkan mereka dalam kehidupan dunia dengan keimanan kepada Allah dan keimanan kepada Rasul-Nya Muhammad saw Dan di kehidupan akhirat.dunia.” Beliau melanjutkan. yakni bahwa ayat ini membicarakan mengenai pertanyaan dua malaikat di dalam kubur. dan Allah mendiktekan/membisikkan kalimat yang haq kepada orang mu’min di dalam kubur berkaitan dengan pertanyaan tersebut. Allah juga meneguhkan orang-orang mukmin seperti diteguhkannya mereka di kehidupan dunia dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu di dalam kubur mereka ketika mereka ditanya mengenai dzat yang mereka tauhidkan dan keimanan kepada Rasulullah saw Ar-Razi14 --rahimahu-Llâh-. yaitu menetapkan mereka di atas bi al-qaul[i] ats-tsâbit (dengan ucapan yang teguh) yaitu ucapan “Lâ Ilâh[a] Illa-Llâh. Muhammad Rasûlu-Llâh”. ‘Rabb-ku adalah Allah. agamaku adalah Islam. Dan firman-Nya bi al-qaul[i] ats-tsâbit fi al-hayât[i] ad-dunya wa fi al-âkhirah (dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat) yakni dengan ucapan teguh yang keluar/bersumber dari mereka (dalam) kondisi yang mereka jalani di kehidupan dunia. dan nabiku adalah Muhammad saw’.

beliau bersabda: ‫ث+م تع د رو$حه في جسده ف تأي$ه مل كان ف ج$ل ساه في ب$ر ه يفق+و$لن له من$ ب[ك؟‬ ‫ر‬ ‫ق‬ + ‫ي ن‬ ‫ي‬ ‫ا‬ – ‫. ia berkata bahwa firman Allah yutsbituLlâh[u] al-ladzîna âmanû bi al-qaul[i] ats-tsâbit fi al-hayât[i] ad-dunya wa fi al-âkhirah (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat] turun berkenaan dengan ‘azab kubur. Perihal Adzab Kubur 187 . ‘Rab-ku adalah Allah. ‘Siapa Rabbmu?’ Maka ia berkata. agamaku adalah Islam. dan memungkinkannya untuk menjawab dengan benar. “an-Nasâ’i meriwayatkan dari al-Barra’.يفن اد ى م د0 من السماء أن ق عب$دي$. wa fi al-âkhirah (dan di akhirat).” 16 Dalam tafsirnya. ‘Siapa Rabb-mu? Siapa nabimu?’ Maka ia berkata.tergelincir. dan tidurlah seperti tidurnya pengantin’. matilah dengan terpuji. Kemudian kedua malaikat tersebut duduk di kuburnya. seperti halnya keteguhan orang-orang yang diberikan ujian kepada mereka semisal Ashhâb[u] al-Ukhdûd dan yang lainnya. Maka datanglah dua malaikat kepadanya. agamaku adalah agamanya Muhammad. dan mereka berkata kepadanya. و بني ي$ محمد‬w‫ك؟ و م ن$ بني[ك؟ يفق+و$ل: رب ي ا ل‬E ‫و ما ي$ن‬ % ‫د‬ " ‫ ع ي$ه و سل م.’ Itulah yang dimaksud dengan firman-Nya [Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat]. ‘Rabb-ku adalah Allah.’ Demikianlah yang dimaksud dengan firman-Nya yutsbitu-Llâh[u] al-ladzîna âmanû bi al-qaul[i] ats-tsâbit (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh). Dari al-Barâ’ bahwa Rasulullah saw menyebutkan mengenai pencabutan ruh orang mu’min. jumhur (mayoritas ‘ulama) berpendapat bahwa yang dimaksud adalah alam kubur. Al-Qurthubi16 --rahimahu-Llâh-berkata. فذ ك قول+ه‬w‫صل ى ال‬ $ ‫ل‬ ‫صد‬ ‫نا‬ ‫ل‬ ‫ ال!ذي$ن مآ ن و$ا باق و$ل الث!اب ت" ث+م يق+ ل+ ال مل كان عش$ت س ي$دا و مت‬w‫ي ث ب ت ا ل‬ ‫ع‬ $‫و‬ ‫ل‬ ‫حمي$دا نم$ نو ةل ع ر و$س‬ ‫م$ ا‬ Kemudian ruhnya kembali kepada jasadnya. Dikatakan kepadanya. Kemudian kedua malaikat itu berkata. yaitu dengan mendiktekan/ membisikkan jawaban. ‘Sungguh benar hambaku. دوي$ن ي$ ال س$لم . dan nabiku adalah Muhammad saw’ Maka datanglah seruan dari langit. ‘Hiduplah dengan bahagia.

Idem.Al-Qurthubi pun mengatakan bahwa perkataan tersebut datang (diriwayatkan) secara mauquf pada sebagian jalur Muslim dari al-Barra’. terlebih dinilai marfu’18. tabi’in ataupun orang-orang setelahnya. Ibnu Majah. baik yang menyandarkan kepada Nabi saw itu adalah para shahabat. 17 18 As-Shakhshiyyah al-Islâmiyyah juz I oleh Taqiyuddin an-Nabhani. maka hal itu tidak bisa dianggap sebagai hadits. taqrir (diam/pengakuan) maupun sifat. Demikianlah. maka kami telah memaparkan pengertian hadits mauquf pada pokok pembahasan Mushâfahah (berjabat tangan pria-wanita). Abu Dawud. serta yang lainnya. Marfu’. perbuatan. Oleh karena itu tafsir para shahabat tidak bisa dinilai sebagai hadits. serta Syarh Ikhtishâr ‘Ulûm al-Hadits oleh Ibnu Katsir. Dan mereka juga berbeda pendapat di dalam banyak hal ketika menafsirkan al-Qur’ân. dari al-Barra’ dari Nabi saw Dan untuk mengetahui makna mauquf dan marfu’. baik berupa perkataan. tafsir shahabat yaitu berkaitan dengan sabâb an-nuzûl (sesuatu yang menjadi sebab turunnya suatu ayat)17. kita banyak mendapati banyak dari mereka yang meriwayatkan kisah-kisah Israiliyat dari Ahli Kitab. Karena para shahabat banyak melakukan ijtihad dalam menafsirkan al-Qurân. yakni riwayat yang disandarkan kepada Nabi saw secara khusus. seperti yang terdapat dalam shahih Muslim serta tulisan an-Nasâ’i.‫ن ف نع ل+ كذا او نق+ ل+ كذا في ح اة الر سو$ل . 188 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . Al-Majmû’ oleh anNawawi juz I.صل ى ال لعي$ه و سل م‬ w ‫ي‬ ‫$ و‬ $ ‫ك‬ + Kami melakukan atau mengatakan demikian semasa hidup Rasul saw Atau ‫ذا‬E‫م +ار$ن ا بك‬ Kami diperintah oleh Rasul saw demikian. Begitu juga dihukumi sebagai marfu’. Selain yang demikian dari tafsir para shahabat. Contohnya adalah perkataan para shahabat: . Dan yang shahih aalah yang di dalamnya ar-Raf’i.

(Dikatakan kepada malaikat): Perihal Adzab Kubur 189 .” Adapun ayat: ‫ال فر$عو$ن أشد‬E ‫ة+ أد$خل+وا‬ ‫ء‬ ‫ا و و$م ق+وم الساع‬b‫ا ش ي‬b ‫الن ر ع$ر ض ون ع ي$ها +د‬ ‫ل غ و وع ي ت‬ ‫ا ي‬ ‫ل اع ذاب‬ Neraka. Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw setelah pertanyaan tersebut diajukan. Hal seperti ini pun dikatakan juga oleh alQurthubi serta yang lainnya. Sungguh Allah telah menyelamatkanmu darinya.” Dan demikianlah.Atas dasar itu maka perkataan al-Barra’ adalah bukan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. akan tetapi hanya merupakan tafsir al-Barra’ atas ayat tersebut. dan pada hari terjadinya Kiamat. Maka pandanglah keduanya. Ibnu Katsir –rahimahu-Llâh-. yang ditampakkan kepada mereka setiap pagi dan petang. Wallahu A’lam. atau jurang yang merupakan bagian dari jurang-jurang neraka. secara panjang lebar berkaitan dengan pertanyaan dua malaikat kepada si mayit di dalam kuburnya.berkata dalam tafsirnya. Dalam ayat tersebut terdapat perbedaan antara pertanyaan dengan ‘azab. benarlah hadits yang bermakna: ‫ر و$ضة„ من$ ر اض ال جة او ح ر „ من$ ح ر لن ار‬ ‫ن $ف ة ف ا‬ ‫ي‬ Taman yang merupakan bagian dari taman-taman surga. Dan tidak ruang untuk membatasinya. dan kemudian menggantikan tempat dudukmu yang engkau lihat di neraka dengan tempat dudukmu yang engkau lihat di surga. Dan dari apa yang telah dipaparkan berkatitan dengan ayat tersebut. pendiktean atau pembisikan jawaban. kita menemukan bahwa jumhur (mayoritas) ‘ulama tafsir mengkhususkan pembahasan pada permasalahan tanya-jawab. para malaikat mengatakan kepada si mayat: ‫ من$ه و أب$د ك بم ع دك ال!ذي‬w‫+ان$ظ+ر$ م ع دك ال!ذي كان لك في الن ر قد$ ان$جاك ال‬ ‫ل ق‬ ‫ا‬ ‫ق‬ ‫ت ر ى في لن ر م ع دك ال!ذي$ تر ى في ال جة يفر اهما ك ي$هما‬ +‫ل‬ ‫ن‬ ‫اا ق‬ Lihatlah tempat dudukmu yang telah disiapkan untukmu di dalam neraka.

“Bahwa mereka ketika binasa dan Allah menenggelamkan mereka.” Ar-Râzi20 --rahimahu-Llâh— mengatakan. Dalam tafsirnya. bahwa waktu pagi dan petang merupakan waktu yang terdapat di dunia. mereka bisa saja disiksa dengan jenis siksaan yang lain. “Dan makna ‘penampakan mereka atasnya adalah ‘dibakarnya mereka dengannya’. al-Ghâfir/al-Mu’min [40]: 46) At-Thabari19 --rahimahu-Llâh-. bahwa tidak mungkin membawa konotasi ayat ini kepada konotasi ‘azab kubur."Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras". Dalam tafsirnya Mafâtih al-Ghaib. kemudian nyawa-nyawa mereka dijadikan berada di dalam perut burung hitam. Kedua. atau bisa juga mereka diberi jeda waktu (tidak disiksa).berkata. Bisa pula kalimat ghuduww[an] wa ‘asyiyy[an] (setiap pagi dan petang) merupakan penggambaran terhadap waktu yang terus-menerus. Wa yaum taqûm as-sâah (Dan pada hari terjadinya Kiamat) diucapkan demikian untuk menyatakan tempat kembali yaitu neraka Jahannam. bahwa siksa tersebut haruslah langgeng tanpa terputus. ‘aradha al-imâmu al-usârâ bi as-sayf (imam menampakkan pedang kepada para tawanan) maknanya ‘Ia membunuh mereka dengan pedang tersebut. hingga datang Hari Kiamat. Dan hal ini terjadi di dunia.” An-Nasafi21 --rahimahu-Llâh-berkata. 190 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . Oleh karena itu jelaslah bahwa tidak mungkin untuk membawa makna ayat tersebut kepada makna ‘azab kubur. Sedangkan di antara waktu-waktu ini. Sedangkan di dalam kubur tidak terdapat keduanya. sebanyak dua kali setiap harinya.’ Ghuduwwa[an] wa ‘asyiyy[an] (Setiap pagi dan petang) yakni pada tiap-tiap waktu inilah mereka disiksa dengan api neraka. sebagai ‘azab bagi mereka. Maka jelas dikarenakan dua segi ini. Adkhulû âla fir’aun asyadd[a] al-‘Adzâb 19 20 21 Dalam tafsirnya. seperti dikatakan. Penjelasannya bisa dilihat dari dua segi. “Kemudian anda berkata “di dalam ayat ini hal yang menghalangi dibawa (dipahami) kepada ‘azab kubur?. Dan kepada ruh tersebut ditampakkan neraka. Pertama. pada pagi dan petang. Dan firman-Nya yu’radhûna ‘alayha ghuduww[an] wa ‘asyiyy[an] (yang ditampakkan kepada mereka setiap pagi dan petang) maknanya mengharuskan bahwa ‘azab tersebut tidak terjadi kecuali hanya pada dua waktu itu. pada pagi dan petang. Dan dikatakan pula bahwa kepada mereka ditampakkan tempat-tempat tinggal mereka di neraka. (TQS.

adkhulû âla fir’aun asyadda al-‘adzâb an-nâr yu’radhûna ‘alaiyha ghuduww[an] wa asyiyya[an] (Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras). dan sebagian ahli ‘ilmu menetapkannya sebagai dalil adanya azab kubur. “Wanita Yahudi ini.” Ibnu Katsir23 --rahimahu-Llâh-. apakah ada ‘azab di dalam kubur sebelum Hari Kiamat?’ Lalu Rasulullah bersabda. Maka ketika terjadi Hari Kiamat. Dan ‘Aisyah ra tidak pernah membentak/memerintahkan untuk mengerjakan sesuatu yang ma’ruf kecuali ketika wanita Yahudi itu berkata. akan tetapi masih ada persoalan. ‘Wahai Rasulullah. dan mereka menjadikannya sebagai dalil atas adanya ‘azab kubur. Tidak ada ‘azab sebelum Hari Kiamat. Disebutkan oleh al-Farra’ bahwa permulaan dan akhir ayat tersebut merupakan kiasan. maka dijadikanlah penampakkan ini di akhirat. dalam kitabnya Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm.” Al-Qurthubi22 --rahimahu-Llâh-. “Mayoritas ‘ulama berpendapat bahwa ini merupakan pertanyaan di alam Barzakh (kubur). Siapa yang menduga demikian?” Aku berkata. “Tidak.bahwa seorang wanita Yahudi yang menjadi pelayannya. yakni tidak ada keraguan lagi bahwa ayat tersebut merupakan ayat Makkiyah. Kemudian pada suatu waktu di tengah hari. “Hasyim yakni Ibnu alQâsim Abu Nadhir meriwayatkan kepada kami bahwa Ishaq Bin Sa’id yakni Ibnu ‘Umar Ibnu Sa’id Ibnu al-‘Ash meriwayatkan kepada kami bahwa Sa’id yakni ayahnya meriwayatkan dari ‘Aisyah – radhiya-Llâh ‘anha-. beliau keluar dengan berpayungkan pakaian beliau dan dengan mata yang 22 23 Dalam tafsirnya Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân. ‘Wanita Yahudi ini telah berdusta.’ Kemudian setelah itu beliau diam hingga beberapa waktu sesuai kehendak Allah. Al-Imam Ahmad mengatakan. “Semoga Allah melindungimu dari ‘azab kubur.” ‘Aisyah berkata. “Kemudian Rasulullah saw masuk lalu aku berkata. dan mereka lebih berdusta lagi di sisi Allah.(‘Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’) yakni ‘azab neraka Jahannam. “Semoga Allah melindungimu dari ‘azab kubur”. Dan ayat ini merupakan dalil atas keberadaan ‘azab kubur. arwah dan jasad mereka bersatu di neraka. Perihal Adzab Kubur 191 . “Sesungguhnya kepada arwah mereka ditampakkan neraka setiap pagi dan petang hingga datang Hari Kiamat. Aku tidak pernah membentak/memerintahkan untuk mengerjakan sesuatu yang ma’ruf kecuali ketika ia berkata. yang karena itulah dikatakan (Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras).berkata.berkata.’ Rasulullah saw bersabda.” Beliau juga menyatakan.

bahwa ayat tersebut menunjukkan ditampakkannya neraka kepada arwah setiap pagi dan petang di alam Barzakh (kubur). dan tidak terdapat di dalamnya penunjukkan yang berkaitan dengan penyiksaan terhadap arwah tersebut beserta jasadnya di dalam kubur. Wahai sekalian manusia. bahwa seorang wanita Yahudi meminta sesuatu kepadanya.” ‘Aisyah lalu berkata. sesungguhnya ‘azab kubur adalah haq. maka tidak ada dalil yang menunjukkannya kecuali dalil assunnah yaitu hadits-hadits yang telah disebutkan. akan ditampakkan kepadanya tempat duduknya (tempat tinggalnya) kelak. Kemudian dikatakan kepadanya. Dan beliau menyeru manusia dengan suara yang tinggi. maka ditampakkan bahwa ia adalah penghuni neraka. sekiranya kalian melihat apa yang aku lihat. Maka jika ia termasuk dari penduduk surga. “Tidak. Dan jika ia termasuk penghuni neraka. ia berkata kepada beliau. “Semoga Allah melindungi Anda dari ‘azab kubur. “Kemudian setelah itu Rasulullah saw bersabda kepadaku.” ‘Aisyah ra pun mengingkarinya. ‘Alam kubur itu seperti potongan malam yang gelap gulita. setiap pagi dan petang. lalu ia pun memberikan sesuatu kepada wanita Yahudi tersebut. Kemudian wanita Yahudi itu berkata kepadanya.” Kemudian Ibn Katsir mengatakan: “lalu bagaimana cara mempertemukan (mengkompromikan) antara riwayat ini dengan ayat Makkiyah sebelumnya hingga kemudian dikatakan sebagai ‘azab kubur? Jawabnya. kalian pasti akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Wahai sekalian manusia. Adapun terjadinya siksaan kepada jasad di dalam kubur serta penyiksaan terhadapnya karena suatu sebab. maka ditampakkan bahwa ia adalah penghuni surga. Maka ketika ia melihat Rasulullah saw.” Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah ra.kemerahan. ‘Inilah tempat dudukmu hingga Allah ‘Azza wa Jalla membangkitkanmu pada Hari Kiamat’. Dan kesimpulan dari pembicaraan mengenai ayat ini adalah sabda Rasul saw: ‫ان! احد +م$ اذ ا مات عر ض ع ي$ه م ع ده باغ داة ل ع ش ي ان كان من$ اه$ل ال ج ة‬ ‫ن‬ ‫وا‬ ‫ل‬ ‫ل ق‬ ‫ك‬ ‫فم ن$ اه$ل ال جة وان كان م ن$ اه$ل لن ار فم ن$ اه$ل لن ار يفق ل+ له " هذا م ع دك‬ ‫ق‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫ح ىب$ع ث ك ال – عز و ل! – لا ى يو$م ل ق يما ة‬ ‫ا‬ ‫ج‬ w ‫ت ي‬ Sesungguhnya jika seseorang dari kalian mati. mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur.” 192 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . . ‘Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji dalam kubur kalian’. sebab terkadang hal demikian itu dikhususkan kepada ruhnya saja. Beliau lalu bersabda.

sabda Rasul saw ketika beliau melewati dua kuburan: ‫نا هما يع ذ ان وما يع ذب! ان في بكي$ر0 اما احدهما فكان ل يتس$ب$ر ئ من$ بو$ ه و اما‬ ‫ل‬ !‫ب‬ ‫ر فكان يم$ش ي$ في الن مي$مة ث+م دعا بج ي$ده رطب ة شق!ها ن ص$ي$ن فق ال عل ل!ه‬ ‫ف‬ ‫ف‬K ‫ر‬ ‫الخ‬ ‫ي خف!ف عن$هما ما لم$ي$بي س ا‬ Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa. akan saya sebutkan beberapa diantaranya. atau jurang bagian dari jurang-jurang neraka. ayat-ayat tesebut bukan merupakan dalil yang qâthi’ (yang memastikan) adanya ‘azab kubur. Dan mereka tidaklah disiksa karena dosa-dosa besar. Oleh karena itu. sabda Rasul saw: ‫ل ق+ب$ر رو$ض „ من$ ر اض ال جة او$ ح ر „ من$ ح ر لن ار‬ ‫ف ة ف ا‬ ‫ن‬ ‫ة ي‬ ‫ا‬ Kubur adalah taman bagian dari taman-taman surga. seraya berkata: Semoga diringankan dari keduanya. Adapun yang satu. ia dahulu suka mengadu domba. Kedua. Lalu beliau berdo’a dengan pelepah daun kurma yang masih basah. sabda Rasul saw: ‫اتس$ع ي$ذو$ا بال من$ عذابق+ب$ر‬ ‫ل ا‬ + Kalian mohonlah perlindungan kepada Allah dari ‘azab kubur. Kedua. Perihal Adzab Kubur 193 . ia dahulu tidak membersihkan diri dari kencingnya. Pertama. Dalil-Dalil Hadits Adapun hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini. Ketiga. kemudian merobeknya menjadi dua bagian yang sama.Kesimpulannya adalah bahwa dari keseluruhan apa yang telah kami uraikan berkenaan dengan ayat-ayat al-Qur’an dalam pemasalahan alam kubur dan ‘azab di dalamnya. karena ayat-ayat tersebut memiliki makna atau konotasi lebih dari satu --sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ‘ulama tafsir--. selama ia belum kering. menunjukkan bahwa ayat-ayat tersebut zhanni dalam dilalah (penunjukkan maknanya)-nya. Sedangkan yang satunya.

serta rumah ulat/cacing. Dan sabda Beliau saw. ‘Celakalah engkau wahai anak Adam. akan tetapi yang ada adalah tuntutan pebuatan. apakah yang telah menipumu? Apakah engkau tidak tahu bahwa aku adalah rumah kegelapan. Yaitu sesuatu yang menuntut suatu perbuatan sesuai dengan yang menuntutnya. ista’îdû bi-Llâh (Kalian mohonlah perlindungan kepada Allah) berkonotasi do’a. yakni bahwa hukum syara’ adalah seruan as-Syâri’ (sang pembuat syara’) berkaitan dengan perbuatan hamba. Ini dapat diperhatikan dari hadits-hadits yang telah disebutkan. dan bukan menuntut keimanan. terdapat perbedaan antara hukum-hukum i’tiqâdiyah (berkaitan dengan ‘aqidah/keyakinan) dengan hukumhukum ‘amaliyah (berkaitan dnegan perbuatan). Perkara pertama. Dan do’a adalah ‘amal perbuatan dan fi’il (tindakan). hadits bahwa alam kubur merupakan permulaan tempat di akhirat. dan dorongan meniadakan sifat adu domba. dan tidak menuntut keimanan dengannya. hadits mengenai di’azabnya orang Yahudi di dalam kuburnya. Juga hadits-hadits mengenai pertanyaan di dalam kubur. Sabda Rasul saw. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan antara tuntutan iman dan tuntutan ‘amal -seperti yang telah kami uraikan pada bagian sebelumnya dari pembahasan ini-. Jika kita memikirkan semua hadits-hadits ini dan juga yang semisalnya. sang kubur berkata kepada si mayat. kita mengetahui bahwa hadits-hadits tersebut menuntut kita untuk melakukan suatu perbuatan. sabda Beliau saw: ‫ي ق+ول+ق+ب$ر ل مي ت حي$ن يو$ض ع في$ه و ح ك[ يا اب$ن آد م ما غر ك؟ ال م$ ع$ل م$ ان ي‬ ‫ت‬ ‫ي‬ ‫$ل ا‬ ‫ل مة بوي$ت ال وح$دة و ي$ت الدو$د‬e‫ب ي$ت لظ‬ [ ‫ب‬ ‫ا‬ Ketika mayat diletakkan pada kuburnya. kita dapat menemukan beberapa perkara darinya. yakni berdo’a. Oleh karena itu yang dimaksud dalam hadits ini adalah tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan. Dan mereka tidaklah disiksa karena dosa-dosa besar. Targhîb (dorongan) dalam membersihkan diri dari kencing (bersuci dari hadats ).) Hadits ini menunjukkan atas targhîb wa tarhîb (dorongan dan ancaman). innahuma yu’adzabân[i] wa mâ yu’adzabâni fi kabîr (Sesungguhnya mereka berdua sedang di’azab/disiksa.Keempat. Oleh karena itu. Hal ini merupakan qarinah 194 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . serta tarhîb (ancaman) bagi siapa saja yang melakukan hal tersebut. rumah satu-satunya. dan haditshadits lainnya.

bagian dari taman-taman surga”.(indikasi) bahwa perbuatan tersebut adalah haram. Syarat Sahnya Shalat. hal ini merupakan qarinah untuk jenis suatu perbuatan. Hal seperti ini telah disabdakan oleh Rasul saw: ‫ان! احد +م$ اذ ا مات عر ض ع ي$ه م ع ده باغ داة ل ع ش ي ان كان من$ اه$ل ال ج ة‬ ‫ن‬ ‫وا‬ ‫ل‬ ‫ل ق‬ ‫ك‬ ‫فم ن$ اه$ل ال جة وان كان م ن$ اه$ل لن ار فم ن$ اه$ل لن ار يفق ل+ له " هذا م ع دك‬ ‫ق‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫ح ىب$ع ث ك ال – عز و ل! – لا ى يو$م ل ق يما ة‬ ‫ا‬ ‫ج‬ w ‫ت ي‬ Sesungguhnya jika seseorang dari kalian mati.” Perihal Adzab Kubur 195 . sehingga keadaan tersebut menjadi “taman. ‘Inilah tempat dudukmu hingga Allah ‘Azza wa Jalla membangkitkanmu pada Hari Kiamat’. dan nabinya. yakni ketika dia menyebutkan kalimat yang seperti itu. sehingga keadaan tersebut menjadi “jurang. Makna hadits ini. yakni perbuatan mengadu domba serta tidak bersuci karena buang air. setiap pagi dan petang. Maka jika ia termasuk dari penduduk surga. dan bukan bahwa seseorang itu telah keluar dari millah (jalan hidup) ataupun agama24. “Tidak terdapat padanya kecuali dalil-dalil atas kewajiban istinzâh. Kemudian dikatakan kepadanya. bagian dari jurang-jurang neraka”. Akan tetapi jika ia orang yang kafir dan termasuk dalam penghuni neraka. maka ditampakkan bahwa ia adalah penghuni surga. maka ditampakkan bahwa ia adalah penghuni neraka. laysa minnâ (Bukan termasuk bagian dari kami). Adapun sabda Beliau: 24 Lihat As. bahwa setelah pertanyaan mengenai agamanya. akan ditampakkan kepadanya tempat duduknya (tempat tinggalnya) kelak. Rabbnya.Sayl al-Jarâr oleh as-Syaukani juz I. atau jurang bagian dari jurang-jurang neraka. --Wallahuh a’lam--. ia akan melihat tempatnya kelak disurga. Hal ini seperti sabda Beliau saw. maka ia akan melihat tempatnya kelak di neraka. Dan sabda Beliau saw: ‫ل ق+ب$ر رو$ض „ من$ ر اض ال جة او$ ح ر „ من$ ح ر لن ار‬ ‫ف ة ف ا‬ ‫ن‬ ‫ة ي‬ ‫ا‬ Kubur adalah taman bagian dari taman-taman surga. Maka dikatakan olehnya. Jika ia seorang mu’min dan muslim. Dan jika ia termasuk penghuni neraka.

tidak mencapai batas tawatur dan batas qath’i (pasti/tegas) dalam tsubut (asal sumber)-nya. sang kubur berkata kepada si mayat. serta rumah ulat/cacing. dan seterusnya. yakni hadits dha’if (lemah)25. Akan tetapi ia hanya zhanni. Selama hasits-hadits tersebut demikian keadaannya maka kita tidak dapat men-jazm-kan (memastikan)-nya. apakah yang telah menipumu? Apakah engkau tidak tahu bahwa aku adalah rumah kegelapan. Sebagiannya ada yang termasuk hadits ahad. ‘Celakalah engkau wahai anak Adam. bahwa haditshadits di atas dan juga yang serupa berkaitan dengan permasalahan alam kubur dan ‘azab kubur. ‘aqidah kaum muslim akan bersifat zhanniy disebabkan dalilnya tidak qath’i. Demikianlah. 196 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . yang kemudian akan terdapat keimanan dengannya.‫ي ق+ول+ق+ب$ر ل مي ت حي$ن يو$ض ع في$ه و ح ك[ يا اب$ن آد م ما غر ك؟ ال م$ ع$ل م$ ان ي‬ ‫ت‬ ‫ي‬ ‫$ل ا‬ ‫ل مة بوي$ت ال وح$دة و ي$ت الدو$د‬e‫ب ي$ت لظ‬ [ ‫ب‬ ‫ا‬ Ketika mayat diletakkan pada kuburnya. dan sebagiannya ada yang bukan hadits ahad. sehingga dengannya ada jazm (ketegasan/kepastian). Ini dilihat dari dua segi. dari (mengutamakan) dunia untuk (mengutamakan dan menggapai) akhirat. rumah satu-satunya. Perkara kedua. Dan hal ini tidak boleh terjadi. Bahkan haram hukum-nya ‘aqidah kaum muslim dibangun dengan dasar zhann. Hadits ini pun menunjukkan adanya targhîb wa tarhîb (dorongan dan ancaman). Hal ini dikarenakan adanya celaan dan kecaman Allah SWT di dalam al-Qur’ân kepada siapa saja yang mengikuti zhann dalam masalah ‘aqidah26. Hal ini menunjukkan ketiadaan ‘azab sebelum Hari Kiamat. dan inilah bagian yang terpenting. 25 26 Lihat ringkasan Mukhtashar Minhâj al-Qâshidîn oleh Ibnu Qudâmah al-Maqdisi guna meneliti apa yang ia katakan perihal sebagian hadits-hadits ini dan juga hadits-hadits yang lain dari kitab-kitab Takhrij al-Hadits. Disamping juga terdapat qarinah (indikasi) lain yang memalingkan sifat jazm/pasti akan adanya azab kubur. serta muqadimah masalah ini. Karena hukum-hukum ‘aqidah. Lihat Al-Istidlâl bi azh-Zhân fi al-‘Aqîdah oleh Muhammad Salim. Sebab jika tidak demikian. dan lebih jauh menyebabkan status hadits-hadits tersebut turun dari derajat ‘aqidah atau hukum-hukum ‘aqidah. dalildalilnya harus bersifat qath’i.

(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari… (TQS. as-Shâffât [37]: 20) Juga firman-Nya: ‫ من الن ر‬K‫و و$م يح$شر هم$ كأن لمل بي ث+وا ل!ا ساعة‬ ‫ها‬ ‫إ‬ $ ‫ي‬ Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka. Yunus [10]: 45) Juga firman-Nya: 0‫و و$م تق+ م لس ة+ يق سم ال مج م ون ماب لث+وا ي$ر ة‬ ‫غ ساع‬ $‫ر‬ ‫و ا اع‬ ‫ي‬ Perihal Adzab Kubur 197 . (TQS. YâSîn [36]: 52) Juga firman-Nya: ‫ أو$ ضحاها‬K‫كأ هم$ يو$م ير و ها لم$ل بي ث+وا ل!ا ش ة‬ ‫إ عي‬ $‫ن‬ ‫ن‬ Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu.Pertama. (TQS. Di antaranya: Firman Allah SWT: ‫قال+وا ياو ن ا من$ع بث ن ا من$ مر$قد ا هذا ما وعد الر ح$من ق ال ل+ون‬ ‫وصد مر$س‬ ‫ن‬ ‫ي$ل‬ Mereka berkata: "Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). an-Nâzi’ât [79]: 46) Juga firman-Nya: ‫وقال+وا ياو ن ا هذا ي م الدين‬ $‫و‬ ‫ي$ل‬ Dan mereka berkata: "Aduhai celakalah kita!" Inilah hari pembalasan. mereka merasa seakanakan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (TQS. adanya istihjân dan istinkâr (pengingkaran) orangorang yang di’azab bahwa mereka mengetahui adanya ‘azab sebelum hari Kiamat.

‘azab. bagaimana mereka dapat mengatakan hal seperti itu. yakni bahwa mereka kehilangan akal mereka di dalam kubur. al-Ahqâf [46]: 35) Dengan demikian dapat dikatakan. tidak ada yang perlu ditakutkan. ar-Rûm [30]: 55) Juga firman-Nya: 0‫ من$ ر‬K‫ي و$م ير و$ن ما يوعدون لم$ل بي ث+وا ل!ا ساعة‬ ‫نها‬ ‫إ‬ … Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. Hal ini bertentangan dengan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw kepada ‘Umar ketika ia bertanya: ‫أي ر$جع ال ي ع ل ي$ ي$ن ما يسألن ال مل كان؟ قال له:ن ع م$. قال ر%: ل خو$ف‬ ‫عم‬ ‫ق ح‬ ‫ذن‬ ‫ا‬ Apakah akalku akan dikembalikan kepadaku ketika dua orang malaikat tersebut bertanya kepadaku?” Beliau bersabda kepadanya. padahal mereka termasuk orang-orang yang di’azab di dalam kubur mereka? Hal ini merupakan suatu kontradiksi dan pertentangan. “Ya. Adapun mereka yang mengatakan bahwa mereka pada hari Kiamat tidak diberitahukan mengenai apa yang terjadi pada mereka berupa ‘azab dalam kubur. bersumpahlah orang-orang yang berdosa. Dan sungguh tidak ada ‘azab kecuali setelah adanya hisab. "Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)"… (TQS. terjadi pada Hari Kiamat.Dan pada hari terjadinya kiamat. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla berkaitan dengan hisab sebelum adanya ‘azab. Firman-Nya: 198 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . Sebab ia akan dihisab dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya. kecuali jika hal ini merupakan khabar zhanni. Demikian pula pada Hari Kiamat karena kelak di sana akan diberitahukan semua perkara baik kecil maupun besar sehingga terhimpunlah semuanya. “Kalau begitu. bahwa sesungguhnya hisab. dan bencana/siksaan. (TQS.” ‘Umar lalu berkata. Kedua..” Dari hadits ini terlihat bahwa akal manusia berada bersamanya ketika ia dua orang malaikat menanyainya..

(TQS. (TQS. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.. az-Zumar [39]: 10) Juga firman-Nya: ‫ل ا +ل م ل اي و$م ن!لل!ه سر يع ال س اب‬ ‫ح‬ ‫إ ا‬ ‫ظ‬ . cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (TQS. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Ghâfir/al-Mu’min [40]: 17) Adapun firman Allah SWT yang menunjukkan bahwa ‘azab hanya pada Hari Kiamat diantaranya: $‫ فن س0 بما كست‬e‫ل اي و$م تج$ز ى ل‬ ‫ب‬ ‫ك‬ + Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya....‫اق أ ك با ك كف ىن بف س ك ل اي و$م ع ي$ك سيب ا‬ ‫ل ح‬ ‫ر ت‬ "Bacalah kitabmu. (TQS. Ghâfir/al-Mu’min [40]: 17) Juga firman-Nya: ‫و و$م تق+ م لس ة+ يو ئ ذ يخ$سر ال ب$طل+ون‬ ‫م‬ 0 $‫و ا اع م‬ ‫ي‬ Perihal Adzab Kubur 199 . (TQS. al-Isrâ’ [17]: 14) Juga firman-Nya: ‫ ال س اب وم أواهم جه م بوئ س ال د‬w‫أ+وئ ك لهم سوء‬ ‫مها‬ ‫$ ن‬ ‫ح‬ $ ‫ل‬ … Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. ar-Ra’du [13]: 18) Juga firman-Nya: 0‫إن ما يو!ى لصبار ن أج$ر هم$غ بي$ر س اب‬ ‫ح‬ ‫ف ا و‬ ..

. (TQS. (TQS. (TQS. maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.. Jika kamu berpaling.. Ali ‘Imrân [3]: 106) Juga firman-Nya: 0‫إن تول!و$ا فإ ي أخاف ع ي$كم$ عذاب يو$م0 ك ي‬ ‫ب‬ + ‫ل‬ ‫ن‬ ‫و‬ . dan ada pula muka yang hitam muram. al-Jâtsiyah [45]: 27) Juga firman-Nya: ‫ +م ة0 تد$عى لإ ى ك با ها ل اي و$م تج$ز و$ن ما ن$ت م ل+ون‬e‫ل‬ ‫ك $ تع$م‬ + ‫ت‬ ‫+ أ‬ ‫ك‬ . akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebathilan. (TQS... Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya.. Dan pada hari terjadinya kebangkitan.. al-Ahqâf [46]: 20) Juga firman-Nya: ‫ي و$م ب$يت ض[ وجو % و س$ود[ وجوه‬ % ‫هت‬ Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri. maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik".. (TQS.. Hûd [11]: 3) 200 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . al-Jâtsiyah [45]: 28) Juga firman-Nya: ‫و و م ع$ر ض ال!ذ ين ك ر وا عل ى لن ر أذ ب$ت م$ طب تا ك م$ ف ي ح تا ك م ال [ن$ي ا‬ ‫ي + د‬ + ‫اا ه ي‬ ‫ف‬ ‫ي$ ي‬ ‫وا ست$تم$ع$ت م$ بها فاي و$م تج$ز و$ن عذاب ال هون بما ن$ت م$ ت ست$ كر ن في ال أر$ض‬ ‫ب و‬ ‫ك‬ + ‫ل‬ ‫ب غ ي$ر ال ق و ما ن$ت م$ فت سق+ون‬ +‫ح ب ك‬ Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenangsenang dengannya.

bahwa ikhtilaf dalam perkara ushuluddin (pokok agama) adalah perkara yang terlarang. Dan hal ini merupakan perkara yang terlarang atau tidak boleh terjadi dalam ‘aqidah “Lâ Ilâha Illa-Llâh. bahwa dalil mengenai adanya azab kubur bersifat zhanni. Dan bahwa surga. Sebab. Supaya terhalang khilaf dan ihktilaf di dalamnya maka dalil-dalilnya haruslah jelas. maka itu merupakan keyakinan bagi dirinya dan bagi orang-orang yang mengikutinya. sebab seorang mujtahid bisa menjadi fasik atau kafir. Sedangkan hadits-hadits berkenaan dengan azab kubur ini semuanya zhanni dalam tsubut (asal sumber)-nya. qath’iy. Demikian juga seperti apa yang kami katakan. (TQS.Juga firman-Nya: 0‫إن ي أخاف ع ي$كم$ عذاب يو$م0 ظ يم‬ ‫ع‬ + ‫ل‬ Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar". neraka. iman atau i’tiqâd terhadap suatu. sehingga dengan dalil-dalil tersebut kita tidak dapat men-jazm-kan (memastikan) adanya azab kubur. yang karenanya tidak boleh ada ikhtilaf di dalamnya. kerusakan dan kebinasaan hanya ada pada hari Kiamat. Sebab jika tidak demikian. Dan ketentuan ini tidak terpenuhi secara sempurna pada dalil-dalil mengenai ‘azab kubur. bahwa ayat-ayat al-Qur’ân tidak menunjukkan dilalah (penunjukkan makna) yang qath’i dalam masalah azab kubur. Hal ini dikarenakan tidak adanya dalil qath’iy yang menunjukkan i’tiqâd atau iman terhadap adanya ‘azab kubur. masalah azab kubur merupakan perkara khilafiyah di antara kaum muslim. dan Perihal Adzab Kubur 201 . Muhammad Rasûlu-Llâh” --seperti yang telah kami uraikan pada pembahasan Ikhtilaf (peredaan pendapat)--. Oleh karena itu. Kesimpulan pendapat dari seluruh pembicaraan pada masalah ini. Atas dasar ini maka perkara-perkara i’tiqâdiy (perkara-perkara aqidah) tidak boleh bersifat zhanni. seperti apa yang telah dinyatakan. dan membatasi ‘azab Jahannam hanya pada Hari Kiamat. as-Syu’arâ [26]: 135) Dan juga ayat-ayat yang lain yang membatasi adanya hisab pada hari Kiamat saja. dalilnya wajib bersifat qath’i. kokoh. Bagi setiap orang yang tegak baginya hujjah serta dalil atas adanya ‘azab kubur. karena adanya ijtihad-ijtihad di dalamnya sehingga ada yang benar adan ada yang salah. pasti akan terwujud pertentangan dalam ‘aqidah kaum muslim. Dan ‘aqidah merupakan perkara ushuluddin (pokok agama).

karena dalil tersebut tidak bersifat pasti baik dalam khabarnya maupun maknanya. dan tidak termasuk perkara ushul (perkara pokok) agama. Oleh karena itu. maka hal tersebut menjadi keyakinan bagi dirinya. Semua dalilnya bersifat zhann yang tidak dapat menegakkan hujjah dalam masalah ‘aqidah. penambahan dan pengurangan.tidak mengandung konotasi kecuali satu pengertian saja sehingga tidak mungkin dilakukan tarjih. maka para ‘ulama serta mufasirin (ahli tafsir) telah berbeda pendapat di dalamnya -seperti yang telah dijelaskan sebelumnya--. maka semua pendapat dalam permasalahan ini menolak untuk mengambil khabar zhanni dalam ‘aqidah. sebab ‘aqidah mengharuskan adanya pembenaran yang pasti. Dan sesuai dengan ghalabah azh-zhân kami semua dalil dalam pembahasn ‘azab kubur tidak mencapai derajat qath’i baik dalam tsubut (sumber) maupun dilalah (penunjukkan)-nya baik sendiri maupun kedua-duanya. dan qath’i) bahkan hanya bersifat zhanni. Oleh karena itu. yang memungkinkan bersifat zhanni maupun qath’i. maka hal itu pun menjadi hukum baginya. yakni tidak boleh membangun ‘aqidah dengan dalil-dalil zhanni. Jadi kita (harus) membenarkan hadits-hadits tersebut dan tidak mendustakannya. Wa-Llâhu a’lâ wa a’lam wa ilaihi al-masîr (Allah Maha Tinggi dan Maha Mengetahui dan kepada-Nyalah tempat kembali). Adapun ‘azab kubur. 202 Masalah-Masalah Khilafiyah di antara Gerakan Islam . Hanya saja kita tidak mengimani (tidak membenarkan secara pasti) dilâlah (konotasi)-nya yakni maknanya. Jika suatu perkara (dalil) bersifat zhanni maka pembenaran berdasarkan dalil itu tidak bersifat pasti. Maka siapa saja yang menetapkan pada dirinya bahwa dalil-dalil tersebut bersifat qath’i. Karena masalah ini tidak bersifat bayyin[an] tsâbit[an] qath’iy[an] (jelas. kokoh. Dan siapa yang tidak menetapkan hal tersebut. Selama kondisinya demikian maka masalah ini termasuk dalam furu’uddin (perkara cabang dari agama). sebab kita tidak dapat memastikan berdasar dalil-dalil tersebut -seperti yang telah kami katakan--. Hal ini menjadikan perkara-perkara ‘aqidah dapat saling ditarjih antara yang satu dengan yang lainnya. tidak boleh ada sikap pada diri kita kecuali sikap membenarkan nash tersebut dan tidak mendustakannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful