MAKALAH

IDENTIFIKASI RESIKO LABORATORIUM PENGUJIAN

Disusun oleh : Ahmad Sobani 4408216059

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PANCASILA 2012

serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja merupakan tanggung jawab dari pengusaha.PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Program Kesehatan Kerja mempunyai tujuan utama yaitu memberikan perlindungan kepada pekerja dari bahaya kesehatan yang berhubungan dengan lingkungan kerja dan promosi kesehatan pekerja. pendidikan dan pelatihan. Tujuan tersebut hanya akan tercapai melalui kerja sama antara profesional kesehatan dan keselamatan kerja yang membantu manajemen dalam mengembangkan dan mengimplementasikan program kesehatan kerja. meningkatkan kesempatan/peluang untuk meningkatkan produksi melalui suasana kerja yang aman. Meskipun demikian keberhasilan kegiatan manajemen risiko kesehatan dengan efektifitas dan efisiensinya sangat tergantung pada kerjasama antara berbagai pihak yang terlibat dalam program kesehatan dan keselamatan kerja. termasuk pekerja. Manajemen risiko kesehatan di tempat kerja mempunyai tujuan: meminimalkan kerugian akibat kecelakaan dan sakit. Lebih jauh lagi adalah menciptakan kerja yang tidak saja aman dan sehat. serta pencegahan kerugian akibat kecelakaan dan penyakit akibat kerja . Aspek dasar perlindungan kesehatan adalah manajemen risiko kesehatan. sehat dan nyaman. partisipasi pekerja merupakan hal mutlak yang tidak hanya terkait dengan peningkatan pengetahuan melalui pelatihan. pertolongan pertama dan pengobatan/kuratif Manajemen risiko kesehatan adalah proses yang bertahap dan berkesinambungan. Terkait dengan pemenuhan legislasi dan peraturan. Dalam hubungan ini. memotong mata rantai kejadian kerugian akibat kegagalan produksi yang disebabkan kecelakaan dan sakit. Tujuan utama manajemen risiko kesehatan adalah menurunkan risiko pada tahap yang tidak bermakna sehingga tidak menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan pekerja. tetapi juga nyaman serta meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas kerja. tetapi menjamin implementasi program promosi kesehatan dan menjamin tercapainya keberhasilan program. dengan pengusaha yang bertanggung jawab dalam menjamin kesehatan dan keselamatan perusahaan pada tingkat yang setinggi tingginya. pencegahan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan.

Penilaian dosis/intensitas efek (dose-effect assessment). Kelompok itu dikenal juga dengan similar exposure group (kelompok pekerja dengan pajanan yang sama). pengelompokan bahan kimia menurut jenis bahan aktif yang terkandung. kimia. Untuk dapat melakukan karakterisasi risiko perlu diketahui status kesehatan pekerja dan penilaian pajanan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi faktor risiko kesehatan yang dapat tergolong fisik. Untuk dapat menemukan faktor risiko ini diperlukan pengamatan terhadap proses dan simpul kegiatan produksi. dan bahan inert yang menyertai. dan psikologi yang terpajan pada pekerja. Pada kasus terkait dengan bahan kimia. sangat mungkin berinteraksi dan menjadi lebih berbahaya atau mungkin juga menjadi kurang berbahaya. Sebagai contoh. Di dalam komponen surveilans kesehatan tercakup unsur surveilans medis dan pemantauan biologis. terdapat unsur tahapan yang meliputi Identifikasi bahaya (hazard identification). dan pencatatan (records). maka diperlukan: pemilikan material safety data sheets (MSDS) untuk setiap bahan kimia yang digunakan. PENILAIAN PAJANAN Proses penilaian pajanan merupakan bentuk evaluasi kualitatif dan kuantitatif terhadap pola pajanan kelompok pekerja yang bekerja di tempat dan pekerjaan tertentu dengan jenis pajanan risiko kesehatan yang sama. mengidentifikasi bahan pelarut yang digunakan. bahan baku yang digunakan. termasuk efek toksiknya. serta limbah yang terbentuk proses produksi.Komponen utama manajemen risiko kesehatan dalam kesehatan kerja adalah penilaian risiko (risk assessment). Ketika ditemukan dua atau lebih faktor risiko secara simultan. maka ketulian akibat bising akan lebih mudah terjadi. lingkungan kerja yang bising dan secara bersamaan terdapat pajanan toluen. dan karakterisasi risiko. biologi. IDENTIFIKASI BAHAYA Langkah pertama manajemen risiko kesehatan di tempat kerja adalah identifikasi atau pengenalan bahaya kesehatan. . ergonomik. bahan atau barang yang dihasilkan termasuk hasil samping proses produksi. surveilans kesehatan (health surveillance). Di dalam komponen penilaian risiko (risk assessment).

. hygiene perorangan. SURVEILANS KESEHATAN Surveilans kesehatan merupakan penilaian keadaan kesehatan pekerja yang dilakukan secara teratur dan berkala. serta upaya yang telah dilakukan untuk pencegahan dan pengendalian tingkat pajanan. Sebagai pedoman umum adalah mengacu pada peraturan dan perundangan di Indonesia yaitu sekali setiap tahun.2 Lebih tepat lagi bahwa bentuk/ isi dan kekerapan (frequency) pemeriksaan kesehatan ini ditetapkan oleh dokter yang berkompeten dalam program kesehatan kerja. serta kebiasaan selama bekerja yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. aktivitas kerja. Bentuk dan jenis pemeriksaan kesehatan harus secara tegas terkait dengan bahaya kesehatan yang teridentifikasi dan sesuai karakter risikonya. Karakterisasi risiko dimulai dengan mengintegrasikan informasi tentang bahaya yang teridentifikasi (efek gangguan/toksisitas spesifik) dengan perkiraan atau pengukuran intensitas/konsentrasi pajanan bahaya dan status kesehatan pekerja. KARAKTERISTIK RESIKO Tujuan langkah karakterisasi risiko adalah mengevaluasi besaran (magnitude) risiko kesehatan pada pekerja. Dalam hal ini adalah perpaduan keparahan gangguan kesehatan yang mungkin timbul termasuk daya toksisitas bila ada efek toksik.Penilaian pajanan harus memenuhi tingkat akurasi yang adekuat dengan tidak hanya mengukur konsentrasi atau intensitas pajanan. serta pemantauan biologis. Kekerapan pemeriksaan kesehatan ditentukan oleh besaran risiko kesehatan dan gangguan kesehatan terkait. Pengukuran dan pemantauan konsentrasi dan intensitas secara kuantitatif saja tidak cukup. Termasuk yang perlu diperhatikan juga adalah perilaku bekerja. Risiko adalah probabilitas suatu bahaya menjadi nyata. tetapi juga faktor lain. dengan kemungkinan gangguan kesehatan atau efek toksik dapat terjadi sebagai konsekuensi pajanan bahaya potensial. Surveilans kesehatan terdiri atas surveilans medis (termasuk pemeriksaan fisik. yang ditentukan oleh frekuensi dan durasi pajanan. Faktor tersebut perlu dipertimbangkan untuk menilai potensial faktor risiko (bahaya/hazards) yang dapat menjadi nyata dalam situasi tertentu. karena pengaruhnya terhadap kesehatan dipengaruhi oleh faktor lain itu. pemeriksaan laboratorium dan penunjang. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan harus memperhatikan hasil proses penilaian risiko.

kerentananan calon pekerja terhadap bahaya kesehatan tertentu yang memerlukan eksklusi pada individu dengan pajanan tertentu. Mengidentifikasi kondisi kesehatan yang mungkin diperburuk oleh pajanan bahaya kesehatan. dan pemeriksaan kesehatan khusus (specific medical examination) yang terkait dengan kembali bekerja (returning to work) setelah terdapat gangguan kesehatan yang bermakna dan penyakit yang berat. . Menetapkan data dasar (baseline data) evaluasi sebelum pekerja ditempatkan atau melaksanakan pekerjaannya. Mendeteksi sedini mungkin setiap gangguan kesehatan yang mungkin terjadi dan disebabkan oleh pajanan bahaya kesehatan di tempat kerja.SURVEILANS MEDIS Surveilans medis terdiri atas tiga hal penting yaitu pemeriksaan kesehatan pra-kerja (pre-employment atau preplacement medical examination). Menetapkan kemampuan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan penempatan pekerja 2. dan kondisi kerja. sebelum subjek pemeriksaan bekerja atau ditempatkan. 2. 3. Tujuan pemeriksaan kesehatan pra-kerja 1. Pemeriksaan kesehatan berkala (periodic medical examination) yang terkait dengan pajanan bahaya kesehatan. atau menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap pajanan bahaya kesehatan di tempat kerja atau kondisi kerja. Mendeteksi perubahan status kesehatan (penyakit yang tidak berhubungan dengan pekerjaan) yang bermakna dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila melanjutkan pekerjaan. Tujuan Pemeriksaan Kesehatan Berkala 1. Data dasar ini berguna sebagai pertimbangan kelak adanya gangguan kesehatan dan adanya kaitan dengan pajanan bahaya kesehatan di tempat kerja. Riwayat kesehatan dan riwayat pekerjaan secara lengkap diperlukan untuk dapat dilakukan pemeriksaan kesehatan yang sesuai terutama bila diketahui adanya pajanan yang berulang dan kemungkinan gangguan kesehatan.

PEMANTAUAN BIOLOGIS Pemantauan biologis (biological monitoring) adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap bagian tubuh sebagai media biologis (darah.4 Dengan melakukan pemantauan biologis memungkinkan kita untuk dapat mengetahui dosis yang masuk ke dalam tubuh dari gabungan berbagai cara masuk. PENGENDALIAN PAJANAN BAHAYA KESEHATAN Pengendalian pajanan ditujukan untuk mencegah terjadinya pajanan bahaya kesehatan. Hirarki yang disarankan dalam pengendalian secara umum adalah. atau menurunkan tingkat pajanan sampai pada tingkat yang dapat diterima (acceptable level). dll) yang ditujukan untuk mengetahui tingkat pajanan atau efeknya pada pekerja. tergantung keadaan pada saat tersebut. pemeriksaan dapat berupa bahan aktif atau metabolitnya. perbaikan prosedur kerja dengan tujuan menurunkan pajanan. Pada kasus pajanan bahan kimia. Pemantauan biologis juga ditujukan untuk mengetahui pengaruh suatu pajanan bahaya kesehatan terhadap tubuh dan kerentanan tubuh terhadap pajanan bahaya kesehatan tertentu. urin. pengendalian teknik seperti penyempurnaan ventilasi. pengendalian secara teknis. dan penggunaan alat pelindung diri. Pada kasus pajanan kimia maka hirarki yang disarankan adalah: substitusi bahan yang berbahaya dengan yang tidak atau kurang berbahaya. rambut. pengendalian secara administratif. Disamping itu dengan pemantauan biologis dimungkinkan pemeriksaan pajanan untuk jangka lama dan adanya akumulasi di dalam tubuh. . dan yang terakhir adalah penggunaan alat pelindung diri (personal protective equipment). Dalam hal ini hasil pemeriksaan kesehatan khusus ditempatkan sebagai data dasar menggantikan data dasar hasil pemeriksaan kesehatan prakerja. jaringan lemak. liur. Pengendalian dapat dilakukan dengan berbagai cara.TUJUAN PEMERIKSAAN KESEHATAN Pada dasarnya pemeriksaan kesehatan khusus sama dengan pemeriksaan kesehatan prakerja. Jenis pemeriksaan yang dilakukan pada pemeriksaan kesehatan khusus tergantung pada riwayat penyakit dan status kesehatan saat terakhir atau saat pemulihan.

mempunyai kebiasaan sehat dan selamat serta higine perorangan yang baik mengenal gejala dini gangguan kesehatan akibat pajanan bahaya tertentu . bahaya kesehatan yang terdapat di lingkungan kerjanya 2. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Kegiatan komunikasi. termasuk pemantauan kinerja program kesehatan dan keselamatan kerja. informasi dan edukasi termasuk penyampaian instruksi dan pelatihan. tersedianya dokumentasi yang sesuai dengan pekerja dan perusahaan dalam kasus klaim kompensasi kecelakaan kerja termasuk penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan 5. memungkinkan evaluasi epidemiologi 3. perlu dilakukan secara berkesinambungan. Seluruh data yang diperoleh dari kegiatan manajemen risiko kesehatan ini terutama data tingkat pajanan dan surveilans kesehatan harus tersimpan rapi dan dijaga untuk setiap saat dapat digunakan sampai paling tidak selama 30 tahun. mengerti. terbiasa dengan prosedur kerja dan melakukan pekerjaan sesuai prosedur untuk mengurangi tingkat pajanan 3. memungkinkan pemantauan kinerja kesehatan pekerja. Tujuan utama pendidikan dan latihan ini adalah agar pekerja: 1. memenuhi persyaratan legal 4. Perlu dipahami bahwa data surveilans kesehatan pekerja bersifat rahasia sehingga harus mendapat penanganan untuk menjaga kerahasiaan tersebut. paling tidak pada tingkat dasar. menggunakan alat pelindung diri dengan benar dan memelihara agar tetap berfungsi baik 4. Pendidikan dan latihan merupakan komponen penting dalam perlindungan kesehatan pekerja.PENATAAN DATA Penataan data (record keeping) merupakan bagian yang tidak boleh dilupakan dalam manajemen risiko kesehatan. Data lain yang perlu ditata adalah yang terkait dengan pengendalian dan penilaian pajanan serta kegiatan surveilans kesehatan yang dilaksanakan dalam proses manajemen risiko kesehatan. dapat mengenal tren kesehatan dan masalah yang perlu penyelesaian 2. Data anonim harus digunakan ketika menyampaikan laporan kepada manajemen dan pengusaha. Penataan data ini ditujukan agar: 1. 5.

Di dalam praktik kesehatan kerja. tidak ditemukan gangguan kesehatan terkait dengan pajanan bahaya kesehatan. yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan proses manajemen risiko. PENUTUP Harus dipahami bahwa surveilans kesehatan. Evaluasi secara kelompok memungkinkan kita melihat apakah pada level individual pemeriksaan kesehatan telah dilakukan sesuai kriteria standar. Evaluasi epidemiologi terhadap hasil pemeriksaan kesehatan pekerja dapat bermanfaat untuk melihat kecenderungan kelainan pada kelompok pekerja. dan selanjutnya melaksanakan program promosi kesehatan. Apabila disimpulkan bahwa risiko bahaya kesehatan dapat diabaikan atau dalam batas yang dapat diterima. Kebiasaan dokter di Indonesia tertuju pada deteksi dan pengobatan gangguan kesehatan yang ada. Dipihak lain. serta pemantauan biologis tidak disesuaikan dengan pajanan bahaya kesehatan yang ada. Sebagai konsekuensi manajemen dan merupakan hal yang penting adalah . Surveilans kesehatan juga merupakan sarana untuk menilai tingkat pelaksanaan manajemen risiko. Pemeriksaan kesehatan tidak dilaksanakan dengan tepat tidak ditujukan pada pemeriksaan fungsi dan organ target yang relevan. Isu penting lain dalam penyelenggaraan program kesehatan dan keselamatan kerja adalah penerapan evaluasi epidemiologi status kesehatan pekerja. Hal tersebut tidak salah tetapi tidak boleh berhenti sampai pada kegiatan tersebut. pemantauan biologis menunjukkan tingkat pajanan yang rendah maka dapat dikatakan program manajemen risiko adekuat. Sayangnya justru surveilans kesehatan diselenggarakan sebagai bagian yang terpisah. tetapi merupakan sarana konfirmasi bahwa efek buruk pajanan bahaya kesehatan sudah tidak ada. dan perbedaan analisis telah mendapat perhatian. Program selanjutnya ditujukan pada zero accident. ketika pada kelompok pekerja kelainan tersebut tidak tampak maka kita dapat mengatakan bahwa program pengendalian bahaya kesehatan telah berjalan baik. terutama surveilans medis berbeda dengan surveilans kesehatan pada umumnya. surveilans kesehatan bukanlah tujuan utama dalam manajemen risiko kesehatan. yang menyebabkan keluar dari tujuan dan jauh dari efektif dan efisien.6. melakukan pertolongan pertama apabila terjadi gangguan kesehatan sesegera mungkin. yang pada hasil individual tidak terlihat.

kebutuhan dokter yang mempunyai kompetensi dan wewenang dalam praktik kedokteran kerja. . Manajemen hendaknya tidak memandang dokter perusahaan sebagai dokter yang berpraktik mengobati pekerja sakit saja.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas. . Manajemen Risiko Kesehatan di Tempat Kerja. 2007. Muchtaruddin.DAFTAR PUSTAKA Mansyur.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful