P. 1
RANCANGAN PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOKAN MINYAK AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE

RANCANGAN PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOKAN MINYAK AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE

|Views: 253|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 09, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

02/09/2014

RANCANGAN PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOKAN MINYAK AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN

OPERATIONS REFERENCE

Oleh MURSALIENA NOOR LAELA H24070050

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

RINGKASAN MURSALIENA NOOR LAELA. H24070050. Rancangan Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi di Kabupaten Garut dengan Pendekatan Green Supply Chain Operations Reference. Di Bawah Bimbingan HETI MULYATI dan ALIM SETIAWAN S. Minyak atsiri yang berpotensi untuk dikembangkan antara lain minyak akar wangi (java vetiver oil). Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil minyak akar wangi di dunia. Sentra minyak akar wangi yang paling besar di Indonesia berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sentra industri minyak akar wangi tersebut berada di Kecamatan Samarang, Bayongbong, Cilawu, dan Leles. Selama ini, penelitian tentang pengukuran kinerja rantai pasokan tidak memperhatikanaspek lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan berdasarkan konsep “green” manajemen rantai pasokan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis kondisi rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut, (2) Merancang pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut dengan pendekatan Green Supply Chain Operations Reference (GSCOR) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung, wawancara mendalam, dan pengisian kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, snowball sampling, dan stratified random sampling. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 16.0, Microsoft Excel 2007 dan Expert Choice 2000. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden dan keadaan umum rantai pasokan minyak akar wangi. Desain pengukuran kinerja berdasarkan model GSCOR dengan pertimbangan pakar-pakar dibentuk dalam struktur hirarki pemilihan indikator kinerja rantai pasokan minyak akar wangi. Sedangkan untuk pemilihan indikator prioritas pengukuran kinerja rantai pasokan diperoleh dari bobot hasil perhitungan menggunakan AHP. Anggota rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, dan eksportir. Berdasarkan perhitungan AHP untuk proses rantai pasok GSCOR, proses perencanaan memiliki bobot yang paling tinggi yaitu 0,454 dan menjadi prioritas utama. Atribut kinerja yang menjadi prioritas utama adalah variabel responsivitas rantai pasokan dengan bobot 0,241. Indikator kinerja yang menjadi prioritas berdasarkan atribut kinerjanya adalah waktu tunggu pemenuhan pesanan (0,241), pemenuhan pesanan sempurna (0,111), siklus cash to cash (0,101), biaya pokok produksi (0,106), fleksibilitas rantai pasokan (0,111), dan pengolahan limbah padat (0,051).

RANCANGAN PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOKAN MINYAK AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Oleh MURSALIENA NOOR LAELA H24070050

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

Judul Skripsi : Rancangan Pengukuran Kinerja Rantai pasokan Minyak Akar Wangi di Kabupaten Garut dengan Pendekatan Green Supply Chain Operations Reference Nama NIM : Mursaliena Noor Laela : H24070050

Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II

Heti Mulyati, S.TP, MT NIP. 19770812 200501 2 001

Alim Setiawan S, S.TP, M.Si NIP. 19820227 200912 1 001

Mengetahui Ketua Departemen,

Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc NIP. 196101231986011002

Tanggal Lulus:

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Indramayu, Jawa Barat, pada tanggal 5 Januari 1989 dari pasangan Turomo dan Etin. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan di Taman Kanakkanak Al-Falah Jayalaksana pada tahun 1993-1995 dan melanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri Jayalaksana 03 pada tahun 1995-2001. Pada tahun 2001, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Karangampel dan lulus pada tahun 2004. Selanjutnya penulis lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sliyeg pada tahun 2007. Pada tahun 2007 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI), di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama masa perkuliahan, penulis ikut berpartisipasi dalam Organisasi Mahasiswa Daerah Ikatan Keluarga dan Mahasiswa Darma Ayu Indramayu (IKADA Bogor). Penulis juga cukup aktif di berbagai kepanitiaan, yaitu panitia Masa Perkenalan Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Masa Perkenalan Departemen Manajemen, COM@ Marketing Competition (COMIC) 2009, Economic Discussion and Essay Competition (ESDISCO) 2009, Fast and Precise Economic Competition (SANSET) 2009, dan kepanitiaan acara lainnya yang diadakan oleh OMDA IKADA Bogor.

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Rancangan Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi di Kabupaten Garut dengan Pendekatan Green Supply Chain Operations Reference” dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Manajemen, IPB. Skripsi ini membahas tentang rancangan pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi yang berada di Kabupaten Garut. Pengukuran kinerja merupakan aspek yang sangat penting dalam manajemen rantai pasokan minyak akar wangi dalam rangka perbaikan berkelanjutan. Kinerja rantai pasokan perlu memperhatikan aspek lingkungan agar tercipta rantai pasokan yang bebas dari cemaran. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran atau referensi yang berguna bagi pihak perusahaan ataupun pihak-pihak yang berkepentingan terkait kinerja “green” manajemen rantai pasokan. Dalam pembuatan skripsi ini, penulis menyadari masih terdapat kekurangan. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan oleh penulis untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya.

Bogor, Agustus 2011

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia dan nikmat-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis, terutama dalam penyelesaian skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ibu Heti Mulyati, S.TP, MT, dan Bapak Alim Setiawan S, S.TP, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran dan motivasi kepada penulis. 2. Bapak Dr. Ir. Muhammad Syamsun, M.Sc selaku dosen penguji sidang yang bersedia meluangkan waktunya dan memberikan saran pada skripsi ini. 3. Kedua orang tua tercinta, Bapak dan Mama, untuk segala cinta, kasih sayang, perhatian, nasehat, pengorbanan, dukungan, doa, dan segalanya. Para motivator kecilku, adik-adik tersayang Mohammad Aziz Fauzan, Luthfi Fathurrahman, dan si kecil Rahma Cahya Shafira. Keluarga besar dan saudara-saudaraku tercinta atas doa dan dukungannya. 4. Bapak H. Ede, Bapak H. Abdullah dan seluruh petani dan penyuling minyak akar wangi di Kabupaten Garut yang telah mengizinkan dan bersedia meluangkan waktu dan partisipasinya selama proses penelitian. 5. Bapak Hari Wardana dan bapak Haeruman pihak dari Dinas Perkebunan serta Bapak Tjutju Ruhiyat Pihak dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Garut. 6. 7. Seluruh staf pengajar dan tata usaha Departemen Manajemen, FEM IPB. Teman-teman satu bimbingan (Izni Sorfina, Intania Sudarwati, Reni Mei Farida, Irma Oktavia, Agung Cahya Nugraha, Eka Astriani, Nola Noviawati, Rivaldi Amanda) untuk motivasi, persahabatan, persaudaraan, kebersamaan dan kerjasamanya selama proses bimbingan dan penyusunan skripsi ini. 8. Koordinator lapang penelitian, Roni Jayawinangun, S.E yang telah memberi bimbingan, arahan, dan masukan dalam penyusunan skripsi ini. Terimakasih untuk doa, semangat, dan pengalaman yang telah diberikan kepada penulis. 9. Sahabat terbaik, Fatimatuzzahro DPD, Winda AWK, Norvi Handayati, Ananda Puput R, dan Lely Purnama C, atas segala bantuan, semangat,

dukungan, perhatian, doa, persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan selama ini. 10. Arif Maulana dan Dini Marliani yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi. Eka Intina, Rosyidah R, Disa Rusdiana, dan semua teman-teman perkuliahan. 11. Tustiah Tri Novianti, Maya Angrum Prihatin, Indah Khayati, Aam Amelia, Nova Nisa N, dan semua teman-teman IKADA Bogor untuk segala doa, semangat, pertolongan, kebersamaan dan kekeluargaan selama berada di perantauan ini. 12. Susanti, Alm. Melissa, Leliyah, Novita, Adijah, Ida Farida, Jeni Eryani, Imam Sudrajat, Bia Dwiripa, Arie Rifky, Yamien, Nurkamal serta seluruh keluarga besar Alumni SMAN 1 Sliyeg 2007 dan Alumni SMPN 1 Karangampel 2004 atas doa, semangat, dan persahabatan yang telah diberikan kepada penulis. 13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dan mendoakan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini. Manajemen 44 untuk kebersamaannya selama masa

DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ KATA PENGANTAR .................................................................................... UCAPAN TERIMA KASIH ......................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... DAFTAR TABEL ......................................................................................... DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Latar Belakang .................................................................................... Perumusan Masalah ............................................................................ Tujuan Penelitian ................................................................................ Ruang Lingkup Penelitian .................................................................. Manfaat Penelitian .............................................................................. iii iv v vii ix x xi 1 1 2 3 4 4 5 5 6 7 9 11 13 15 15 17 19 19 22 24 27 27 29 33 33

II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 2.1. Rantai Pasokan dan Manajemen Rantai Pasokan ............................... 2.2. Kinerja ................................................................................................. 2.3. Supply Chain Operations Reference ................................................... 2.4. Green Supply Chain Management dan Green Supply Chain Operations Reference .............................................................. 2.5. Analytical Hierarchy Process ............................................................ 2.6. Penelitian Terdahulu ........................................................................... III. METODE PENELITIAN ....................................................................... 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ........................................................... 3.2. Tahapan Penelitian ............................................................................. 3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 3.4. Jenis dan Metode Pengumpulan Data ................................................ 3.5. Teknik Pengambilan Sampel ............................................................... 3.6. Pengolahan dan Analisis Data ............................................................. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................ 4.1. Identifikasi Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi ............................... 4.1.1 .Aktifitas Petani Akar Wangi ................................................... .. 4.1.2. Aktifitas Pengumpul Tanaman Akar Wangi ............................. 4.1.3. Aktifitas Penyuling Akar Wangi ............................................ ...

4.1.4. Aktifitas Pengumpul Minyak Akar Wangi ................................ 4.1.5. Sumber Daya Rantai Pasokan ................................................. .. 4.2. Rancangan Indikator Kinerja Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi dengan Pendekatan GSCOR................................................................. 4.2.1. Proses Rantai Pasok .................................................................. 4.2.2. Atribut Kinerja dan Indikator Kinerja ....................................... 4.3. Implikasi Manajerial ............................................................................ KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 1. Kesimpulan ........................................................................................... 2. Saran ..................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... LAMPIRAN ....................................................................................................

36 36 37 40 42 48 49 49 49 50 52

DAFTAR TABEL

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Halaman Skala perbandingan berpasangan ........................................................ Jenis, metode pengumpulan, dan sumber data ................................... Jumlah responden penelitian untuk identifikasi rantai pasok ............. Bobot dan prioritas proses rantai pasokan berdasarkan GSCOR ....... Bobot dan prioritas atribut kinerja berdasarkan GSCOR ................... Atribut dan indikator kinerja GSCOR rantai pasokan minyak akar Wangi Kabupaten Garut ..................................................................... 12 22 23 40 43 47

DAFTAR GAMBAR

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Halaman 6 9 11 16 18 26 27 30 30 39

Struktur manajemen rantai pasokan .................................................... Struktur model SCOR ......................................................................... Struktur model GSCOR ...................................................................... Kerangka pemikiran penelitian ........................................................... Tahapan penelitian .............................................................................. Hirarki pemilihan indikator prioritas kinerja rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut ............................................. 7. Pola aliran rantai pasokan minyak akar wangi .................................... 8. Lama usaha budidaya akar wangi ....................................................... 9. Luas lahan budidaya akar wangi ......................................................... 10. Hirarki dan pembobotan pemilihan indikator prioritas kinerja rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut .....................

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Halaman

1. Hasil pengolahan data dengan Expert Choice ...................................... 52

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Salah satu komoditas pertanian yang potensial sebagai produk ekspor Indonesia adalah minyak atsiri atau dikenal dengan minyak esensial. Jenis minyak atsiri terbuat dari tumbuh-tumbuhan tertentu, baik berasal dari bunga, putik bunga, daun, biji-bijian, kayu, ataupun akar. Manfaat minyak atsiri sangat banyak, diantaranya sebagai bahan baku minyak wangi, kosmetik, obat-obatan, dan digunakan sebagai kandungan dalam bumbu penyedap makanan. Jenis komoditas ekspor minyak atsiri yang berpotensi untuk

dikembangkan adalah minyak akar wangi (java vetiver oil). Minyak akar wangi merupakan produk industri kecil berbasis sumber daya lokal yang berorientasi pasar ekspor. Sentra minyak akar wangi yang paling besar di Indonesia berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Akar wangi merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan yang sangat potensial untuk dikembangkan di daerah Garut. Hal ini disebabkan karena Kabupaten Garut memiliki tingkat kesuburan tanah yang baik. Kondisi lingkungan sumber daya alam Kabupaten Garut dengan daya dukung agroklimat yang cukup baik, sangat mungkin untuk meningkatkan produksi minyak akar wangi baik kualitas maupun kuantitasnya Usaha minyak akar wangi di Kabupaten Garut sudah dilakukan sejak tahun 1918 (www.garutkab.go.id, 2009). Sumber perekonomian Indonesia antara lain berasal dari kegiatan ekspor dan impor, salah satunya adalah ekspor minyak akar wangi. Pertumbuhan ekonomi pada industri minyak akar wangi diharapkan dapat memperhatikan kondisi lingkungan. Pertumbuhan ekonomi yang memperhatikan kondisi lingkungan merupakan respon atas perubahan iklim global dan permasalahan lingkungan yang dianggap mengancam keberlanjutan kehidupan. Pertumbuhan ekonomi yang mengacu pada kondisi lingkungan diharapkan dapat menciptakan pembangunan berkelanjutan yang dapat diimplementasikan dalam jangka panjang. Pembangunan berkelanjutan merupakan salah satu yang berkaitan dengan aspek lingkungan. Konsep pembangunan berkelanjutan muncul seiring dengan kesadaran manusia terhadap lingkungan. Pembangunan berkelanjutan

dikembangkan karena kecemasan akan semakin merosotnya kemampuan bumi menyangga kehidupan. Hal ini terjadi karena ledakan jumlah penduduk tinggi, meningkatkan aktivitas manusia, intensitas eksploitasi sumber daya alam, yang diiringi dengan meningkatnya limbah yang dilepaskan alam. Daya dukung lingkungan semakin hari semakin berkurang karena pencemaran cenderung meningkat (Setiawan dkk, 2011). Oleh karena itu, aspek lingkungan sangat diperlukan dalam industri minyak akar wangi. Cemaran yang dihasilkan dari industri minyak akar wangi yaitu cemaran dari limbah cair, limbah padat, dan limbah udara. Selain kondisi lingkungan, sumber daya alam, dan peran pemerintah yang mendukung kelangsungan industri minyak akar wangi, manajemen rantai pasokan pun perlu ditingkatkan agar seluruh proses bisnis berjalan dengan baik. Dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas minyak akar wangi dibutuhkan strategi dan kinerja yang efektif dari aliran rantai pasokan industri tersebut. Sistem perancangan pengukuran kinerja merupakan faktor penting untuk optimalisasi aliran rantai pasokan. Salah satu faktor kunci keberhasilan sebuah rantai pasok dalam memperbaiki kinerja proses bisnisnya adalah terletak pada kemampuan bekerjasama diantara masing-masing pelaku dalam mata rantai pasokan. Berdasarkan penjelasan-penjelasan sebelumnya, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi rantai pasokan dan mengukur kinerja rantai pasokan minyak akar wangi yang ada di Kabupaten Garut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu para pelaku usaha minyak akar wangi dalam rangka mengoptimalkan kinerja rantai pasokan minyak akar wangi yang memperhatikan aspek lingkungan. 1.2. Perumusan Masalah Para pelaku usaha minyak akar wangi harus melakukan perbaikan secara terus-menerus untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas minyak akar wangi. Anggota rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, dan eksportir minyak akar wangi. Anggota rantai pasokan tersebut tidak hanya sebagai pihak yang menyediakan produk untuk di ekspor, tetapi juga sebagai

pihak yang berperan dalam menjaga kepercayaan konsumen luar negeri terhadap minyak akar wangi Indonesia. Kinerja merupakan salah satu aspek yang dapat diukur dalam manajemen rantai pasokan. Pengukuran kinerja dilakukan dalam rangka untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan dalam suatu rantai pasokan. Pengukuran kinerja melibatkan semua anggota rantai pasokan dari pemasok hingga konsumen akhir. Konsep Green Supply Chain Management (GSCM) merupakan

manajemen rantai pasokan yang berhubungan dengan aspek lingkungan. Manajemen rantai pasokan yang berbasis “green” penting untuk diterapkan karena selama ini ukuran kinerja rantai pasokan tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Pada penelitian ini digunakan pendekatan Green Supply Chain Operations Reference (GSCOR) untuk mengukur kinerja rantai pasokan minyak akar wangi. Pengukuran kinerja dengan pendekatan GSCOR penting untuk dilakukan karena dapat menilai kinerja keseluruhan perlu rantai pasokan, dan

mengidentifikasi

perbaikan-perbaikan

yang

dilakukan,

mempertimbangkan aspek lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana kondisi rantai pasokan pada industri minyak akar wangi di Kabupaten Garut? 2. Bagaimana desain pengukuran kinerja rantai pasokan pada industri minyak akar wangi di Kabupaten Garut dengan pendekatan Green Supply Chain Operations Reference (GSCOR) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP)? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisis kondisi rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut. 2. Merancang desain pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut dengan pendekatan GSCOR menggunakan metode AHP.

1.4.Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini membahas tentang identifikasi rantai pasokan dan pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut, yang berada di Kecamatan Samarang, Kecamatan Bayongbong, Kecamatan Cilawu, dan Kecamatan Leles. Anggota rantai pasokan yang diidentifikasi adalah petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, dan eksportir minyak akar wangi. 1.5. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat untuk berbagai pihak, diantaranya untuk penulis, bagi ilmu pengetahuan, dan bagi pihak – pihak lain yang berkepentingan. 1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan tentang manajemen rantai pasokan dan menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah, khususnya ilmu manajemen produksi dan operasi. 2. Bagi pelaku usaha minyak akar wangi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang kondisi rantai pasokan minyak akar wangi dan kinerja rantai pasokan yang lebih baik. 3. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang ilmu manajemen produksi dan operasi. Selain itu penelitian ini dapat menjadi referensi atau rujukan bagi penelitian selanjutnya, khususnya penelitian di bidang manajemen rantai pasokan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Rantai Pasokan dan Manajeman Rantai Pasokan Menurut Pujawan (2005), rantai pasokan adalah jaringan perusahaanperusahaan yang bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir secara bersama-sama. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya pemasok, pabrik, distributor, toko, atau ritel dan perusahaan-perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik. Menurut Siagian (2005), strategi rantai pasokan merupakan strategi yang dibutuhkan untuk membantu pencapaian tujuan perusahaan yang diinginkan dalam strategi perusahaan. Inovasi terhadap pendekatan-pendekatan strategi rantai pasokan akan membuat perusahaan dapat unggul dalam bersaing. Menurut Sislian dan Satir dalam Siagian (2005), unsur-unsur pembuatan strategi rantai pasokan terdiri dari faktor primer (keunggulan bersaing, fleksibilitas permintaan) dan faktor sekunder (kapabilitas proses, batas waktu proses, dan risiko strategi). Menurut Martin dalam Tunggal (2009), manajemen rantai pasokan adalah jaringan organisasi yang melibatkan hubungan hulu (upstream) dan hilir (downstream) dalam proses dan aktivitas yang berbeda yang memberi nilai dalam bentuk produk dan jasa pada pelanggan. Menurut Heizer dan Render (2010), manajemen rantai pasokan merupakan integrasi aktivitas pengadaan bahan dan pelayanaan, pengubahan barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman kepada pelanggan. Menurut Siagian (2005), ruang lingkup manajemen rantai pasokan meliputi, (1) Rantai pasokan yang mencakup seluruh kegiatan arus dan transformasi barang mulai dari bahan mentah, sampai penyaluran ke tangan konsumen termasuk aliran informasinya. Bahan baku dan aliran informasi adalah rangkaian dari rantai pasokan. (2) Rantai pasokan sebagai suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasa kepada para pelanggannya. Struktur manajemen rantai pasokan dapat dilihat pada Gambar 1.

-

Informasi penjadwalan Arus kas Arus pesanan

Pemasok

Persediaan

Perusahaan

Distribusi

Konsumen

-

Arus kredit Arus bahan baku

Gambar 1. Struktur manajemen rantai pasokan (Siagian, 2005)

Manajemen rantai pasokan berkaitan langsung dengan siklus lengkap bahan baku dari pemasok ke produksi, gudang, dan distribusi kemudian sampai ke konsumen. Sementara perusahaan meningkatkan kemampuan bersaing mereka melalui penyesuaian produk, kualitas yang tinggi, pengurangan biaya, dan kecepatan mencapai pasar diberikan penekanan tambahan terhadap rantai pasokan. Rantai pasokan mencakup keseluruhan interaksi antara pemasok, perusahaan manufaktur, distributor, dan konsumen. Interaksi ini juga berkaitan dengan transportasi, informasi penjadwalan, transfer kredit, dan tunai, serta transfer bahan baku antara pihak-pihak yang terlibat. 2.2. Kinerja Menurut Wibowo (2009), kinerja adalah melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut, tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Pengukuran kinerja perlu dilakukan untuk mengetahui apakah selama pelaksanaan kinerja terdapat penyimpangan dari rencana yang telah ditentukan, apakah kinerja dapat dilakukan sesuai jadwal waktu yang ditentukan, dan apakah hasil kinerja telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Pengukuran kinerja yang tepat dapat dilakukan dengan cara: 1. Memastikan bahwa persyaratan yang diinginkan pelanggan telah terpenuhi.

2. Mengusahakan standar kinerja untuk menciptakan perbandingan. 3. Mengusahakan jarak bagi orang untuk memonitor tingkat kinerja. 4. Menetapkan arti penting masalah kualitas dan menentukan apa yang perlu prioritas perhatian. 5. Menghindari konsekuensi dari rendahnya kualitas. 6. Mempertimbangkan penggunaan sumber daya. 7. Mengusahakan umpan balik untuk mendorong usaha perbaikan. Menurut Pujawan (2005), salah satu aspek fundamental dalam manajemen rantai pasokan adalah manajemen kinerja dan perbaikan secara berkelanjutan. Untuk menciptakan manajemen kinerja yang efektif diperlukan sistem pengukuran yang mampu mengevaluasi kinerja rantai pasokan secara holistik. Sistem pengukuran kinerja diperlukan untuk: 1. Melakukan pengawasan dan pengendalian. 2. Mengkomunikasikan tujuan organisasi ke fungsi-fungsi pada rantai pasokan. 3. Mengetahui posisi suatu organisasi terhadap pesaing maupun terhadap tujuan yang hendak dicapai. 4. Menentukan arah perbaikan untuk menciptakan keunggulan dalam bersaing. Filosofi manajemen rantai pasokan menekankan perlunya koordinasi dan kolaborasi baik antar fungsi di dalam sebuah organisasi maupun lintas organisasi pada suatu rantai pasokan. Hal ini menyiratkan pentingnya sistem pengukuran kinerja yang terintegrasi, bukan hanya di dalam suatu organisasi, tetapi juga antar pemain organisasi pada suatu rantai pasokan. Artinya, sistem pengukuran kinerja harus memiliki alat ukur yang dapat digunakan untuk memonitor kinerja secara bersama-sama antara satu organisasi dengan organisasi lainnya pada sebuah rantai pasokan. 2.3. Supply Chain Operations Reference Menurut Pujawan (2005), Supply Chain Operations Reference (SCOR) adalah suatu model acuan dari operasi rantai pasokan. SCOR merupakan model yang berdasarkan proses. SCOR membagi proses-proses rantai pasokan menjadi lima proses yang terdiri dari:

1. Plan (Proses Perencanaan) Plan yaitu proses yang menyeimbangkan permintaan dan pasokan untuk menentukan tindakan terbaik dalam memenuhi kebutuhan pengadaan, produksi, dan pengiriman. Plan mencakup proses menaksir, kebutuhan distribusi, perencanaan dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi, perencanaan material, perencanaan kapasitas, dan melakukan penyesuaian rencana rantai pasokan dan rencana keuangan. 2. Source (Proses Pengadaan) Source yaitu proses pengadaan barang maupun jasa untuk memenuhi permintaan. Proses source mencakup penjadwalan pengiriman dari pemasok, menerima, mengecek, dan memberi otorisasi pembayaran untuk barang yang dikirim pemasok, memilih pemasok, dan mengevaluasi kinerja pemasok. 3. Make (Proses Produksi) Make yaitu proses untuk mentransformasi bahan baku menjadi produk yang diinginkan pelanggan. Proses make mencakup penjadwalan produksi, melakukan kegiatan produksi dan melakukan pengetesan kualitas, mengelola barang setengah jadi, dan memelihara fasilitas produksi. 4. Deliver (Proses Pengiriman) Deliver yaitu proses untuk memenuhi permintaan terhadap barang maupun jasa yang meliputi manajemen pesanan, transportasi, dan distribusi. Proses deliver mencakup menangani pesanan dari pelanggan, memilih perusahaan jasa pengiriman, menangani kegiatan pergudangan produk jadi, dan mengirim tagihan ke pelanggan. 5. Return (Proses Pengembalian) Return yaitu proses pengembalian atau menerima pengembalian produk karena berbagai alasan. Kegiatan return antara lain identifikasi kondisi produk, meminta otorisasi pengembalian cacat, penjadwalan pengembalian, dan melakukan pengembalian. SCOR dapat mengukur kinerja rantai pasokan secara obyektif berdasarkan data yang ada serta dapat mengidentifikasi di mana perbaikan perlu dilakukan untuk menciptakan keunggulan bersaing dengan melakukan analisis dan dekomposisi proses. Gambar struktur model SCOR dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Struktur model SCOR (Supply Chain Council, 2006)

2.4. Green Supply Chain Management dan Green Supply Chain Operations Reference Green Supply Chain Management (GSCM) merupakan kata kunci untuk meyakinkan bahwa semua faktor atau semua elemen dalam rantai pasokan memperhatikan lingkungannya atau tidak menimbulkan dampak berbahaya bagi lingkungan (Hutchison dalam Setiawan dkk, 2011). Narasimhan dan Carter dalam Setiawan dkk (2011) mendefinisikan GSCM sebagai fungsi pembelian termasuk pengurangan, daur ulang, penggunaan kembali, dan substitusi bahan baku. Sedangkan menurut Walker et al dalam Setiawan dkk (2011), konsep GSCM mencakup seluruh tahapan dalam siklus hidup produk, mulai dari penyedian bahan baku, produksi, distribusi, dan penggunaan produk oleh konsumen sampai kepada bagian akhir dari produk tersebut yaitu pembuangan (limbah yang dihasilkan). Tujuan dasar dari pengukuran kinerja GSCM adalah pelaporan eksternal, pengendalian internal, dan analisis internal (memahami bisnis yang lebih baik dan perbaikan terus-menerus). Hal tersebut merupakan hal mendasar dalam mendesain kerangka kerja pengukuran kinerja GSCM. Pengukuran kinerja GSCM lebih menekankan aspek ekologi dan ekonomi sebagai sistem manajemen lingkungan.

GSCM bertujuan untuk membatasi limbah yang dihasilkan dalam sistem industri sehingga dapat menghemat energi dan mencegah pembuangan bahan berbahaya ke lingkungan. Desain pengukuran kinerja GSCM harus dimulai dengan mendefinisikan tujuan sistem rantai pasok secara keseluruhan. Pengukuran kinerja GSCM harus sesuai dengan prinsip sistem manajemen lingkungan, seperti ISO 14000 (Setiawan dkk, 2011). Menurut LMI (2003), konsep dari Green Supply Chain Operations Reference (GSCOR) cukup sederhana karena merupakan modifikasi dari model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dan manajemen rantai pasokan yang dibangun dengan memasukkan unsur-unsur sistem manajemen lingkungan. Tujuannya adalah untuk menciptakan suatu alat analisis yang memberikan gambaran tentang hubungan antara fungsi rantai pasokan dengan aspek lingkungan agar tercipta peningkatan kinerja manajemen diantara keduanya. Sebagai dasar untuk membangun GSCM maka digunakanlah pendekatan SCOR, yang kini alat pengukurannya disebut dengan GSCOR. Keuntungan dalam menggunakan pendekatan GSCM, antara lain adalah (1) meningkatkan kinerja manajemen lingkungan, (2) meningkatkan kinerja manajemen rantai pasokan, dan (3) meningkatkan inisiatif terhadap GSCM. Gambar struktur model GSCOR dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Struktur model GSCOR (LMI, 2003)

2.5. Analytical Hierarchy Process Analytical Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton School of Business pada tahun 1970-an untuk mengorganisir informasi dan pendapat ahli dalam memilih alternatif yang paling disukai (Saaty 1983 dalam Marimin dan Maghfiroh, 2010). Suatu persoalan akan diselesaikan dengan menggunakan AHP dalam suatu kerangka pemikiran yang terorganisir, sehingga dapat diekspresikan untuk mengambil keputusan yang efektif atas persoalan tersebut. Persoalan yang kompleks dapat disederhanakan dan dipercepat proses pengambilan keputusannya (Marimin dan Maghfiroh, 2010). Saaty (1991) menyatakan bahwa terdapat tiga prinsip di dalam metode AHP, yaitu: 1. Penyusunan hirarki, yaitu menguraikan permasalahan yang kompleks menjadi elemen pokoknya. 2. Penentuan prioritas, yaitu menentukan peringkat elemen-elemen menurut kepentingannya. 3. Konsistensi logis, yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan dan diperingkatkan secara logis.

AHP dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah yang terukur maupun yang memerlukan suatu pendapat. Penggunaan pendapat dalam memecahkan masalah dilakukan dengan membandingkan elemen-elemen secara berpasangan (pairwise comparison). Penilaian dilakukan dengan cara memberikan bobot dan membandingkan antara satu elemen dengan elemen lain berdasarkan skala komparasi yang telah ditetapkan. Tahap berikutnya adalah melakukan sintesis terhadap hasil penilaian yang dilakukan untuk menentukan elemen mana yang memiliki prioritas tertinggi dan terendah. Skala banding secara berpasangan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Skala perbandingan berpasangan
Intensitas Pentingnya 1 3 5 7 9 2, 4, 6, 8 Definisi Sama Penting Sedikit Lebih Penting Sangat Penting Jelas Lebih Penting Mutlak Lebih Penting Nilai-nilai antara di antara dua pertimbangan yang berdekatan

Sumber: Saaty (1991) AHP menguraikan sistem yang komplek menjadi elemen-elemen yang lebih sederhana. Menurut Fewidarto (1996), hirarki merupakan abstraksi struktur suatu sistem dimana fungsi hirarki antar komponen dan dampak-dampaknya pada sistem secara keseluruhan dapat dipelajari. Abstraksi mempunyai bentuk yang saling berkaitan yang menggambarkan sistem secara keseluruhan. Keuntungan dari penerapan hirarki menurut Fewidarto (1996) adalah: 1. Hirarki dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan prioritas pada level yang lebih tinggi dapat mempengaruhi prioritas pada level bawahnya. 2. Hirarki memberikan informasi yang lengkap mengenai struktur dan fungsi suatu sistem pada level yang lebih rendah dan memberikan gambaran mengenai aktor dan tujuan pada level yang lebih tinggi. 3. Sistem akan menjadi lebih efisien jika disusun dalam bentuk hirarki dibandingkan dalam bentuk lain.

4. Hirarki bersifat stabil dan fleksibel. Stabil dalam arti bahwa perubahan yang kecil mempunyai efek yang kecil dan fleksibel dalam arti penambahan elemen pada struktur yang telah tersusun baik tidak akan mengganggu kinerjanya. 2.6. Penelitian Terdahulu Asril (2009), melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kondisi dan Desain Indikator Kinerja Rantai Pasokan Brokoli (Brassica Olerecea) di Sentra Hortikultura Cipanas – Cianjur, Jawa Barat”. Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis kondisi rantai pasokan brokoli, menganalisis nilai tambah rantai pasokan brokoli, dan merancang indikator kinerja rantai pasokan brokoli. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu analisis deskriptif, metode Hayami, Supply Chain Operations Reference (SCOR), dan Analythical Hierarchy Process (AHP). Desain indikator kinerja dibangun dengan model SCOR, terdiri dari tingkat 1 yaitu proses bisnis yang terdiri dari perencanaan, pengadaan, budidaya, pengolahan, dan pengiriman. Tingkat 2 yaitu parameter kinerja industri sayuran yang terdiri dari nilai tambah, kualitas, dan resiko. Tingkat 3 yaitu atribut kinerja yang terdiri dari reliability, responsiveness, flexibility/quality, biaya, dan asset. Tingkat 4 yaitu indikator kinerja yang terdiri dari kinerja pengiriman, pemenuhan pesanan sempurna, siklus pemenuhan pesanan, lead time pemenuhan pesanan, fleksibilitas pemenuhan pesanan, kesesuaian standar mutu, biaya transportasi optimal, cash to cash cycle, dan inventory days of supply. Sedangkan berdasarkan penghitunagn AHP, indikator yang menjadi pilihan berdasarkan atribut kinerja adalah kesesuaian standar mutu, kinerja pengiriman, biaya transportasi optimal, cash to cash cycle time, dan lead time pemenuhan pesanan. Mulyati dkk (2009) melakukan penelitian dengan judul “Rancang Bangun Sistem Manajemen Rantai Pasokan Dan Risiko Minyak Akar Wangi Berbasis IKM Di Indonesia”. Tujuan khusus dari penelitian tersebut dibagi menjadi tiga tahapan berdasarkan tahun penelitian. Tujuan tahun pertama adalah 1) mengkaji potensi pengembangan minyak atsiri umumnya dan minyak akar wangi khususnya, 2) menganalisis rantai pasokan dan risiko minyak akar wangi, dan menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman IKM minyak akar wangi di Indonesia. Indonesia tercatat sebagai negara eksportir terbesar untuk komoditi minyak akar wangi. Minyak akar wangi Indonesia memiliki keunggulan

komparatif paling baik dibandingkan negara lainnya. Sentra produksi akar wangi di Indonesia berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat yang mampu mengekspor hampir 90 persen minyak akar wangi. Para petani dan penyuling minyak akar wangi tersebar di empat kecamatan yaitu Samarang, Bayongbong, Cilawu, dan Leles. Anggota primer rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari petani akar wangi sebagai pemasok bahan baku, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, dan eksportir minyak akar wangi.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Minyak akar wangi atau dalam dunia perdagangan biasa disebut dengan java vetiver oil merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang sangat potensial dikembangkan di Kabupaten Garut. Industri minyak akar wangi Kabupaten Garut tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Samarang, Bayongbong, Cilawu, Leles, dan mulia dikembangkan di Kecamatan Pasirwangi. Adanya permintaan minyak akar wangi dunia yang terus meningkat sebesar 250300 ton, mengharuskan para pelaku usaha minyak akar wangi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas minyak akar wangi. Konsumen yang merupakan pengumpul minyak akar wangi ataupun eksportir menginginkan minyak akar wangi yang berkualitas premium, yaitu minyak akar wangi yang menurut standar nasional mempunyai kualitas yang bagus, jernih, tidak ada campuran bahan lain dan berwarna kuning muda sampai coklat kemerahan. Penerapan manajemen rantai pasokan dalam industri minyak akar wangi bertujuan agar minyak akar wangi yang dihasilkan dapat didistribusikan dengan kuantitas, kualitas, tempat, dan waktu yang tepat. Anggota rantai pasok minyak akar wangi (petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, dan eksportir) harus lebih proaktif dalam merespon peubahan harga dan permintaan minyak akar wangi. Kondisi rantai pasokan yang baik sangat ditentukan oleh kinerja rantai pasokannya. Pengukuran kinerja dalam manajemen rantai pasokan melibatkan semua pihak yang terkait dalam setiap mata rantai pasokan, yaitu dari pemasok hingga konsumen. Selama ini pengukuran kinerja rantai pasokan tidak pernah memperhatikan aspek lingkungan. Pencemaran lingkungan yang diakibatkan industri minyak akar wangi dapat berasal dari limbah cair, limbah padat, dan limbah udara. Penelitian ini akan membahas tentang pengukuran kinerja menggunakan pendekatan Green Supply Chain Operations Reference (GSCOR) yang mengacu pada Green Supply Chain Management (GSCM) dengan menambahkan aspek manajemen lingkungan.

Faktor-faktor

yang dapat meningkatkan kualitas minyak akar wangi

bukan hanya dari kinerja rantai pasokannya. Faktor tersebut juga harus didukung oleh kinerja aspek lingkungan yang baik. Salah satunya adalah dengan menggunakan pendekatan GSCOR sebagai indikator pengukur kinerjanya. Pengukuran kinerja dengan pendekatan GSCOR akan menghasilkan desain pengukuran kinerja dan indikator kinerja prioritas rantai pasokan minyak akar wangi. Setelah diketahui indikator prioritas dari pengukuran kinerja tersebut, permasalahan akan dievaluasi dan hasilnya disarankan kepada para pelaku usaha minyak akar wangi agar kinerja rantai pasokan minyak akar wangi dapat lebih baik. Kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.

Permintaan minyak akar wangi meningkat Peningkatan kuantitas dan kualitas minyak akar wangi Adanya pencemaran lingkungan yang berasal dari industri minyak akar wangi berupa limbah cair, limbah padat, dan limbah udara.

Manajemen rantai pasokan yang memperhatikan aspek lingkungan

Pengukuran kinerja rantai pasokan dengan menggunakan pendekatan GSCOR

Desain pengukuran kinerja rantai pasokan

Hasil pengukuran menjadi evaluasi dan solusi bagi para pelaku industri minyak akar wangi dalam mengoptimalkan kinerja rantai pasokan

Gambar 4. Kerangka pemikiran penelitian

3.2. Tahapan Penelitian Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yang dimulai dari tahap studi pustaka yang berkaitan dengan topik penelitian sampai didapatkannya kesimpulan penelitian. Penelitian ini terbagi atas tiga tahap, yaitu: 1. Tahap pertama Tahap pertama adalah tahap pra penelitian yang diawali dengan studi pustaka untuk mendukung dan menambah pengetahuan tentang aspek kajian yang akan diteliti. Selanjutnya, dilakukan penyusunan proposal penelitian yang mencakup pemilihan judul penelitian, perumusan masalah dan tujuan penelitian, membuat rancangan pengumpulan data berupa identifikasi data yang dibutuhkan, metode pengumpulan data, dan pemilihan teknik analisis data, serta menyusun rancangan struktur hirarki pemilihan indikator kinerja. 2. Tahap kedua Tahapan kedua adalah pengumpulan data, input data, pengolahan data, dan analisis data. Pengumpulan data diperoleh dari data primer yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan pengisian kuesioner. Data sekunder didapat dari studi pustaka, internet, jurnal, dokumen-dokumen dari Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Perkoperasian Kabupaten Garut, serta hasil penelitian terdahulu. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 16.0 dan Microsoft Excel 2007. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif untuk mengidentifikasi rantai pasokan serta menggunakan pendekatan GSCOR dan metode AHP untuk merancang tingkat kepentingan dari kinerja rantai pasokan minyak akar wangi. 3. Tahap ketiga Tahap ketiga adalah tahap akhir yaitu pembuatan pembahasan hasil penelitian dan kesimpulan dari keseluruhan proses penelitian ini. Tahapan-tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.

Tahap Pertama

Studi Pustaka

Penentuan Judul Penelitian : Rancangan Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi di Kabupaten Garut dengan Pendekatan Green Supply Chain Operations Reference

1. 2.

Perumusan Masalah : Bagaimana kondisi rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut? Bagaimana desain pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut?

1. 2.

Tujuan Penelitian : Menganalisis kondisi rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut. Merancang desain pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut Rancangan Pengumpulan Data : Identifikasi kebutuhan data, pengumpulan data, pemilihan alat analisis, rancangan struktur hirarki pemilihan indikator kinerja

1. 2.

Pengumpulan Data : Data Primer : Observasi, wawancara, kuesioner Data sekunder : studi pustaka, internet, jurnal, dokumen-dokumen dari Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Garut, serta hasil penelitian terdahulu

Tahap Kedua

Input Data

1. 2.

Pengolahan dan Analisis Data : Kondisi Rantai Pasokan : Analisis deskriptif Rancangan Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan : Pendekatan GSCOR dan metode AHP

Tahap Ketiga

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Gambar 5. Tahapan penelitian

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Lokasi penelitian di fokuskan pada daerah sentra industri minyak akar wangi di Garut, yaitu di Kecamatan Samarang, Kecamatan Bayongbong, Kecamatan Cilawu, dan Kecamatan Leles. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – Juli 2011. 3.4. Jenis dan Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan, pengisian kuesioner, dan wawancara dengan anggota rantai pasokan minyak akar wangi (petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wnagi, pengumpul minyak akar wangi), pihak dari Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Perkoperasian Kabupaten Garut. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, internet, jurnal, dokumen-dokumen dari Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Perkoperasian Kabupaten Garut, serta hasil penelitian terdahulu. Jenis, metode pengumpulan, dan sumber data secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Observasi yaitu pengamatan langsung obyek penelitian dengan tujuan untuk memahami kondisi rantai pasokan yang sebenarnya. Observasi dilakukan untuk mengidentifikasi anggota rantai pasokan dan kinerja rantai pasokan minyak akar wangi. Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung ke lokasi penanaman akar wangi dan ke lokasi penyulingan untuk mengetahui proses produksi minyak akar wangi. 2. Wawancara dilakukan kepada petani akar wangi, pengumpul akar wangi. penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Garut, dan akademisi. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi rantai pasokan dan kinerja rantai pasokan minyak akar wangi. 3. Kuesioner berisi daftar pertanyaan yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait dengan topik penelitian, yaitu kepada petani akar wangi, pengumpul akar

wangi. penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Garut, dan akademisi. Kuesioner dibagi menjadi dua jenis yaitu i) kuesioner untuk mengetahui identifikasi rantai pasokan minyak akar wangi dan ii) kuesioner rancangan pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi dengan pendekatan GSCOR menggunakan metode AHP. i) Kuesioner Identifikasi Rantai Pasokan Kuesioner untuk petani berisi daftar pertanyaan mengenai identitas usaha, aspek budidaya dan pasca panen, aspek pemasaran, aspek keuangan, dan aspek kemitraan. Identitas usaha petani bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dari petani yaitu status usaha petani, kegiatan petani, jumlah produksi, kepemilikan lahan, dan awal mulai usaha bertani akar wangi. Aspek budidaya dan pasca panen berisi daftar pertanyaan mengenai pola tanam akar wangi, proses budidaya akar wangi yang sesuai Good Agricultural Process (GAP) dari pembibitan sampai panen, masa tanam, kebutuhan input pertanian dan pemasok, permasalahan dan kendala budidaya akar wangi serta solusi yang diterapkan. Aspek pemasaran pada petani akar wangi berisi pertanyaan mengenai cara penjualan, kerjasama penjualan yang dilakukan, wilayah penjualan, harga jual, mekanisme pembayaran, dan permasalahan serta solusinya. Aspek keuangan bertujuan untuk mengetahui permodalan dalam budidaya akar wangi, investasi yang dibutuhkan, dan masalah permodalan yang dihadapi serta solusinya. Aspek kemitraan bertujuan untuk mengetahui bentuk kemitraan dan pihak-pihak yang menjadi mitra usaha petani. Kuesioner untuk penyuling berisi pertanyaan mengenai identitas usaha, aspek penyulingan akar wangi, aspek pemasaran, aspek keuangan, dan aspek kemitraan. Identitas usaha penyuling bertujuan untuk

mengidentifikasi karakteristik dari penyuling yaitu status dan bentuk usaha penyuling, kegiatan penyuling, jumlah produksi minyak akar wangi, dan awal mulai usaha penyulingan akar wangi. Aspek penyulingan akar wangi berisi daftar pertanyaan mengenai karakteristik input penyulingan akar

wangi, proses penyulingan akar wangi, dan output yang dihasilkan. Jenis kendala dan permasalahan selama proses penyulingan akar wangi serta solusi yang diterapkan. Aspek pemasaran pada penyuling berisi pertanyaan mengenai cara penjualan minyak akar wangi, kerjasama penjualan yang dilakukan, wilayah penjualan minyak akar wangi, harga jual minyak akar wangi, mekanisme pembayaran, dan permasalahan serta solusinya. Aspek

keuangan bertujuan untuk mengetahui permodalan dalam proses penyulingan akar wangi, investasi yang dibutuhkan, dan masalah permodalan yang dihadapi serta solusinya. Aspek kemitraan bertujuan untuk mengetahui bentuk kemitraan dan pihak-pihak yang menjadi mitra usaha penyuling. Kuesioner untuk pengumpul akar wangi dan pengumpul minyak akar wangi berisi garis besar pertanyaan yang sama yaitu identitas usaha, aspek pemasaran, aspek keuangan, dan aspek kemitraan. Idetitas usaha untuk pengumpul akar wangi/minyak akar wangi berisis pertanyaan mengenai karakteristik pengumpul akar wangi/ minyak akar wangi, status usaha, bentuk usaha, sistem pemesanan, mekanisme pembayaran, dan

permasalahan serta solusinya. Aspek Pemasaran berisi pertanyaan mengenai cara penjualan akar wangi/minyak akar wangi, kerjasama penjualan yang dilakukan, wilayah penjualan akar wangi/minyak akar wangi, harga jual akar wangi/minyak akar wangi, dan permasalahan serta solusinya. Aspek keuangan bertujuan untuk mengetahui permodalan dalam proses pengumpulan akar wangi/minyak akar wangi, investasi yang dibutuhkan, dan masalah permodalan yang dihadapi serta solusinya. Aspek kemitraan bertujuan untuk mengetahui bentuk kemitraan dan pihak-pihak yang menjadi mitra usaha pengumpul akar wangi/minyak akar wangi.

ii) Kuesioner rancangan pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi dengan pendekatan GSCOR menggunakan metode AHP Kuesioner AHP terdiri dari pertanyaan-pertanyaan untuk pakar yang membandingkan antara proses rantai pasokan, atribut kinerja, dan indikator kinerja berdasarkan pendekatan GSCOR. Proses rantai pasok merupakan proses-proses yang ada untuk menjalankan industri minyak akar wangi di seluruh mata rantai. Kriteria yang digunakan dalam pengukuran kinerja rantai pasokan disebut dengna atribut kinerja. Atribut kinerja masing-masing memiliki indikator kinerja yang didefinisikan terhadap titik acuan (reference point) yaitu proses rantai pasok (metrik level 1 GSCOR). Jenis, metode pengumpulan, dan sumber data pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Jenis, metode pengumpulan, dan sumber data
No 1 Tujuan Penelitian Menganalisis kondisi rantai pasokan minyak akar wangi Jenis Data  Primer  Sekunder Metode Pengumpulan Data  Studi literatur  Observasi  Wawancara  Kuesioner Sumber Data  Petani akar wangi  Pengumpul akar wangi  Penyuling akar wangi  Pengumpul minyak akar wangi  Dinas Perkebunan  Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi  Bahan pustaka  Penelitian terdahulu  Petani akar wangi  Penyuling akar wangi  Pengumpul minyak akar wangi  Dinas Perkebunan  Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Perkoperasian  Akademisi

2

Merancang desain Primer pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi

 Wawancara  Kuesioner

3.5. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel untuk identifikasi rantai pasokan dalam penelitian ini menggunakan probability dan non probability sampling. Teknik

probability sampling yang digunakan adalah stratified random sampling. Stratified random sampling populasi menjadi subpopulasi. adalah pengambilan sampel dengan membagi Stratified random sampling didasarkan pada

populasi yaitu pelaku industri minyak akar wangi yang terdiri dari petani akar wangi, pengumpul akar wangi. penyuling akar wangi, dan pengumpul minyak akar wangi. Sedangkan non probability sampling menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling adalah pengambilan sampel yang dilakukan dengan pertimbangan tertentu dan karena penelitian ini mempunyai tujuan tertentu, yaitu mengidentifikasi rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut. Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel yang awalnya jumlahnya kecil kemudian membesar, dari responden pertama yang ditemui, selanjutnya dicari lagi responden lain yang direkomendasikan dari responden pertama. Sampel dipilih disesuaikan dengan kriteria antara lain mempertimbangkan lokasi usaha, status usaha, dan keberlanjutan usaha para pelaku industri minyak akar wangi. Jumlah responden untuk mengidentifikasi rantai pasokan minyak akar wangi dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Jumlah responden untuk mengidentifikasi rantai pasokan No. Kecamatan Petani Penyuling Pengumpul Akar Wangi 2 1 3 Pengumpul Minyak Akar Wangi 1 1 2

1 2 3 4 5

Samarang Bayongbong Cilawu Leles Garut Kota Total

10 7 7 1 25

5 4 2 1 12

Responden untuk rancangan pengukuran kinerja adalah dari para pakar yang mengetahui industri minyak akar wangi. Responden pakar berjumlah 8 (delapan) orang, terdiri dari petani akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul akar wangi, pihak dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Perkoperasian, dua

orang pakar dari pihak dari Dinas Perkebunan Kabupaten Garut, dan dua orang dari akademisi. 3.6. Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 16.0 yaitu program komputer yang dipakai untuk analisa data statistika dan Microsoft Excel 2007. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Analisis deskriptif. Analisis deskriptif merupakan metode statistik yang digunakan untuk menggambarkan data yang telah terkumpul. Analisis data secara deskriptif dilakukan untuk menggambarkan karakteristik responden, dan keadaan umum rantai pasok minyak akar wangi. Data disajikan dalam bentuk charts. 2. Desain pengukuran kinerja menggunakan metode AHP. berdasarkan pendekatan GSCOR

Rancangan pengukuran kinerja dibuat berdasarkan model GSCOR dengan mengidentifikasi metrik level 1 yaitu berupa proses rantai pasok dan mempertimbangkan atribut serta indikator kinerja yang ada pada GSCOR. Selanjutnya struktur hirarki rancangan pengukuran kinerja dibuat dengan pertimbangan pakar-pakar yang terlibat dalam anggota rantai pasok minyak akar wangi yaitu petani, penyuling, dan pengumpul minyak akar wangi, serta pakar dari Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, dan akademisi. Hasil dari desain pengukuran tersebut, berbentuk struktur hirarki pemilihan indikator kinerja rantai pasokan minyak akar wangi. Model GSCOR memiliki berbagai dimensi untuk pengukuran kinerja yaitu : a. Reliabilitas Rantai Pasokan Reliabilitas rantai pasokan adalah kinerja rantai pasokan dalam mengirim minyak akar wangi, ke tempat pelanggan dengan waktu dan kualitas yang tepat sesuai pesanan. b. Responsivitas Rantai Pasokan Responsivitas rantai pasokan adalah respon rantai pasokan untuk menyiapkan minyak akar wangi yang siap dikirim kepada pelanggan.

c.

Fleksibilitas Rantai Pasokan Fleksibilitas rantai pasokan adalah kemampuan rantai pasokan minyak akar wangi dalam merespon perubahan pasar untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.

d.

Biaya Rantai Pasokan Biaya rantai pasokan merupakan biaya operasional rantai pasokan minyak akar wangi.

e.

Asset Rantai Pasokan Asset rantai pasokan merupakan keefektifan industri minyak akar wangi dalam mengatur assetnya untuk memenuhi permintaan. Asset dalam industri minyak akar wangi yaitu permodalan antara lain lahan akar wangi dan alat suling.

f.

Aspek Lingkungan Dimensi pengukuran kinerja dalam penelitian ini ditambahkan dengan aspek lingkungan dikarenakan menggunakan pendekatan SCOR yang berbasisi “green”. Pendekatan GSCOR digunakan untuk merancang pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wnagi dikarenakan selama ini pengukuran kinerja belum memperhatikan aspek lingkungan. Analythical Hierarchy Process (AHP) merupakan pendekatan dasar dalam

pengambilan atau membuat keputusan. AHP adalah suatu metode yang digunakan untuk menilai tindakan yang dikaitkan dengan perbandingan beberapa alternatif pilihan. Validitas kuesioner untuk pemilihan indikator kinerja dilihat melalui konsistensi setiap matriks, baik individu maupun gabungan serta konfirmasi yang dilakukan dengan pakar. Alat analisis data yang digunakan untuk membantu dan mempermudah perhitungan adalah program Expert Choice 2000 dan Microsoft Excel 2007. Struktur hirarki dari pemilihan indikator prioritas kinerja rantai pasokan minyak akar wangi dapat dilihat pada Gambar 6.

Tujuan

Pemilihan Indikator Prioritas Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi Kabupaten Garut dengan Pendekatan Green Supply Chain Operations Reference

Proses rantai pasok

Proses perencanaan (Plan)

Proses pengadaan (Source)

Proses produksi (Make)

Proses pengiriman (Deliver)

Proses pengembalian (Return)

Pengelolaan lingkungan

Atribut kinerja

Reliabilitas rantai pasokan

Responsivitas rantai pasokan

Fleksibilitas rantai pasokan

Biaya rantai pasokan

Asset rantai pasokan

Pemanfaatan limbah produk

Indikator kinerja

Pemenuhan pesanan sempurna

Waktu tunggu pemenuhan pesanan

Fleksibilitas rantai pasokan

Biaya total rantai pasokan

Siklus cash to cash

Pengolahan limbah cair

Kinerja pengiriman

Biaya pokok produksi

Persediaan harian

Pengolahan limbah padat

Gambar 6. Hirarki pemilihan indikator prioritas kinerja rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Identifikasi Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi Rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari rangkaian kegiatan produktif yang terhubung antara aktifitas nilai yang satu dengan yang lain membentuk rantai nilai industri. Rantai pasokan minyak akar wangi di Indonesia berakhir sampai dengan eksportir. Selanjutnya eksportir mengekspor minyak ke negara-negara Asia dan Eropa, seperti Jepang, Singapura, Inggris, Swiss, Italia, Jerman, Hongkong, India, Perancis dan Amerika Serikat. Anggota utama rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari petani akar wangi sebagai pemasok bahan baku, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, dan eksportir minyak akar wangi. Setiap anggota rantai pasokan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan operasional untuk menghasilkan minyak akar wangi yang berkualitas. Pola aliran rantai pasokan minyak akar wangi disajikan pada Gambar 7.

2

3

2 1 2 2 3

4

5

6

7

Keterangan:
1 2 3 4 5

Penyedia sarana produksi untuk petani Petani akar wangi Pengumpul akar wangi Penyuling akar wangi Pengumpul minyak akar wangi

6
7

Pengekspor minyak akar wangi Konsumen Luar Negeri Aliran barang Aliran finansial Aliran informasi

Cakupan rantai pasok minyak akar wangi Indonesia

Gambar 7. Pola aliran rantai pasokan minyak akar wangi

Aliran rantai pasokan minyak akar wangi dimulai dari petani sebagai penghasil akar wangi atau pemasok bahan baku minyak akar wangi. Hasil panen dari petani akan dibeli oleh pengumpul dan penyuling akar wangi. Pengumpul akar wangi menjual akar wangi ke penyuling. Harga akar wangi dari petani berkisar antara Rp 2.000,00 sampai Rp 3.000,00. Ketika panen raya harga akar wangi di tingkat petani cenderung turun. Selain itu, kualitas akar wangi juga dipengaruhi oleh cuaca. Jika kondisi cuaca buruk, harga akar wangi yang dijual dapat mencapai di bawah harga standar yaitu Rp 1.200,00 per kg. Mekanisme pembelian akar wangi dilakukan dengan cara: (1) petani langsung mengantarkan akar wangi ke pengumpul atau penyuling, (2) pengumpul atau penyuling langsung membeli akar wangi yang masih berada di lahan atau dengan sistem ijon. Alat transportasi yang digunakan oleh petani untuk mengantarkan akar wangi kepada penyuling adalah dengan menggunakan truk. Minyak akar wangi yang dihasilkan oleh penyuling dijual langsung ke pengumpul minyak akar wangi atau eksportir yang berada di luar wilayah Kabupaten Garut. Eksportir minyak akar wangi paling banyak berada di wilayah Bogor dan Jakarta. Minyak akar wangi diekspor ke beberapa negara yaitu Jepang, Singapura, Inggris, Amerika Serikat, Swiss, Italia, Jerman, Hongkong, dan India. Harga beli minyak akar wangi oleh pengumpul atau eksportir berkisar antara Rp 1.000.000,00 sampai Rp 1.400.000,00 bergantung pada kualitas yang dihasilkan. Semakin baik kualitas minyak akar wangi, maka semakin mahal harga minyak akar wangi tersebut. Aliran finansial pada rantai pasokan minyak akar wangi terjadi dari pengekspor minyak akar wangi ke pengumpul minyak atau langsung ke penyuling. Selanjutnya, aliran finansial dari penyuling diteruskan ke pengumpul akar wangi atau langsung ke petani. Pembayaran dari eksportir kepada penyuling atau pengumpul minyak akar wangi dilakukan secara tunai tu transfer setelah minyak dikirim. Sebagian besar eksportir atau pengumpul minyak memberikan pinjaman modal sebelum penyulingan kepada penyuling sebelum penyulingan dilakukan. Pemberi modal dalam hal ini menerima pembayaran berupa minyak setelah minyak terkumpul selama kurang lebih 10 hari. Sebagian penyuling juga memberikan pinjaman modal kepada petani untuk melakukan budidaya akar

wangi. Setelah panen, petani tersebut harus menjual akar wangi ke penyuling tersebut dan dibeli dengan harga yang berlaku dan disepakati oleh kedua belah pihak. Sistem komunikasi yang terjalin antara anggota primer dalam rantai pasokan akar wangi sudah terintegrasi dengan baik. Aliran informasi terjadi pada pengekspor minyak akar wangi dan pengumpul minyak akar wangi atau langsung ke penyuling akar wangi. Selanjutnya dari penyuling ke pengumpul akar wangi atau langsung ke petani. Komunikasi antara pengekspor dengan penyuling menggunakan telepon untuk mengetahui harga yang berlaku dan tanggal pengiriman minyak akar wangi. Komunikasi antara penyuling dengan petani akar wangi berupa informasi tentang harga akar wangi, tanggal panen, dan kapasitas pengiriman akar wangi kepada penyuling. Komunikasi yang dilakukan antara petani dan penyuling biasanya dilakukan dengan mengadakan rapat atau musyawarah. Petani dan penyuling tersebut merupakan anggota koperasi dan kelompok tani yang ada di masingmasing kecamatan dan seluruh Garut. Hal yang dibahas dalam rapat atau musyawarah tersebut membahas tentang perijinan pemakaian bahan bakar berupa oli bekas, penggunaaan pupuk, bantuan modal, dan pemilihan bibit. Komunikasi antara petani dan penyuling dilakukan secara informal seperti penyuling mengunjungi langsung lahan akar wangi petani. 4.1.1 Aktivitas Petani Akar Wangi Petani akar wangi di Kabupaten Garut tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Bayongbong, Samarang, Cilawu, Leles, dan Pasir Wangi. Petani tersebut dikelompokkan menjadi petani individu, petani kelompok, dan petani penyuling. Kelompok tani berbentuk Persekutuan Komanditer (CV) sebesar 32 persen dan ada juga kelompok tani yang tidak berbadan hukum berjumlah 40 persen. Pertanian akar wangi di Garut dilakukan secara turun-temurun, sebesar 70 persen rata-rata lama petani dalam menjalani usaha budidaya akar wangi adalah lebih dari 10 tahun (Gambar 8). Hal tersebut mengindikasikan bahwa para petani di Garut sudah mahir dan berpengalaman dalam budidaya akar wangi. Sebagian besar petani memiliki lahan budidaya seluas kurang dari 5 Ha (Gambar 9). Status kepemilikan lahan ada yang milik sendiri (88 persen), sewa (4 persen), milik

sendiri dan sewa (8 persen). Hasil rata-rata produksi dari lahan tersebut adalah 10 sampai 21 ton per hektar. Produktivitas dan hasil tanaman ditentukan oleh varietas tanaman, teknik budidaya dan perawatan tanaman akar wangi. Faktor cuaca sangat berpengaruh terhadap kualitas akar wangi. Hal tersebut sangat mempengaruhi rendemen yang dihasilkan saat penyulingan.

< 10 tahun 4% 12% 12% 10 - 20 tahun 20 - 30 tahun 30 - 40 tahun 32% 40% > 40 tahun

Gambar 8. Lama usaha petani akar wangi

24% 40% 36%

<5 Ha 5 - 10 Ha >10 Ha

Gambar 9. Luas lahan budidaya akar wangi Tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) termasuk famili Graminieae atau rumput-rumputan. Tanaman akar wangi memiliki bau yang sangat wangi, berumpun lebat, akar tinggal bercabang banyak berwarna kuning pucat atau abuabu sampai merah tua. Tangkai daun tersembul dari akar tinggal yang dapat mencapai 2 meter. Daun akar wangi berwarna kelabu, tampak kaku, panjangnya mencapai 100 cm dan tidak mengandung minyak. Daun akar wangi banyak digunakan sebagai bahan baku kerajinan. Bunganya berwarna hijau atau ungu

pada pucuk tangkai daun. Cara memperbanyak dengan biji, memisahkan anak rumpun atau memecah akar tinggal yang telah bertunas

(www.ditjenbun.deptan.go.id, 2009). Budidaya tanaman akar wangi yang diterapkan para petani dilakukan dengan sistem monokultur (16 persen) dan tumpang sari (84 persen). Petani melakukan sistem budidaya tumpang sari dengan tanaman hortikultura seperti kol, tomat, kentang, kubis, dan cabai. Tanaman akar wangi tumbuh baik pada ketinggian antara 700‐1600 meter di atas permukaan laut. Curah hujan yang cocok berkisar antara 1500-2500 mm setiap tahun, dengan suhu lingkungan 17-27°C, dengan derajat keasaman tanah (pH) sekitar 6-7. Budidaya akar wangi dimulai dengan pembibitan, pencangkulan, penanaman, penyiangan, pemberian pupuk dan panen. Bibit akar wangi diperoleh dengan cara memisahkan daun dan akar. Setelah itu diambil bonggol akarnya untuk ditanam. Permasalahan yang sering muncul dalam penyediaan bibit akar wangi adalah ketersediaan bibit yang tidak konsisten dan mutu bibit tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tanah yang baik untuk pertumbuhan akar wangi adalah tanah yang tidak padat (gembur) atau tanah yang berpasir seperti tanah yang mengandung abu vulkanik. Hal tersebut menyebabkan akar wangi tumbuh dengan baik dan mudah dicabut pada waktu panen sehingga tidak ada akar yang tertinggal di dalam tanah. Akar wangi tumbuh dengan baik jika dilakukan pemangkasan daun pada bulan ke lima penanaman. Pemangkasan dapat meningkatkan hasil sampai sekitar 10 persen. Waktu penanaman akar wangi dapat dilakukan setiap saat, sepanjang tahun, namun waktu penanaman yang terbaik adalah pada awal musim hujan. Akar wangi merupakan tanaman yang tidak berhama penyakit, sehingga tidak membutuhkan obat tanaman. Hama yang sering ada berupa hama hidup yaitu “kuuk” atau beberapa binatang hutan seperti ayam alas dan babi hutan yang merusak tanaman.

Pemupukan dilakukan hanya sekali dalam musim tanam. Namun, ada petani yang tidak melakukan pemupukan. Hal tersebut dikarenakan tidak sesuainya harga beli dan biaya operasional yang dikeluarkan. Pada sistem tanam monokultur, petani berpendapat jika tanaman akar wangi akan lebih bagus walaupun tidak diberi pupuk. Pemupukan pada sistem tanam tumpang sari diutamakan untuk tanaman tumpangnya daripada tanaman akar wangi. Pupuk yang digunakan petani adalah pupuk organik dan anorganik. Jenis pupuk anorganik yang digunakan adalah ZA, TSP, NPK, KCL, kecuali pupuk urea. Sedangkan pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang. Pemanenan akar wangi dapat dilakukan setelah tanaman berumur 8 bulan pada musim kemarau. Namun sebagian besar petani akar wangi memanen setelah tanaman berumur 12 bulan. Hasil akar yang optimum dengan mutu minyak yang baik dihasilkan oleh akar wangi yang berumur lebih dari 15 bulan. Cara panen akar wangi adalah dengan mencangkul tanah di sekeliling rumpun tanaman agar longgar sehingga semua akar bisa diambil dan tidak ada yang putus. Oleh karena itu dibutuhkan traktor yang dapat mencangkul lebih dalam, sehingga memudahkan pekerja dalam memanen akar wangi. Petani yang tidak memiliki alat suling menjual akar wangi yang telah dipanen langsung kepada penyuling atau kepada pengumpul akar wangi. Jika petani tersebut merupakan petani-penyuling, maka akar wangi yang telah dipanennya akan langsung disuling sendiri. Petani umumnya menyuling akar wangi di tempat penyulingan milik penyuling dengan ketentuan bahwa produk yang dihasilkan dijual ke pemilik alat suling. Selain itu, ada pula petani yang melakukan penyulingan dengan sistem sewa alat suling kepada penyuling. Biaya sewa penyulingan dikenakan sebesar Rp. 1.500.000,00 per sekali suling. Namun minyak akar wangi yang dihasilkan tidak dijual kepada penyuling melainkan langsung dijual ke pengumpul minyak akar wangi yang berskala usaha besar. Pemasaran akar wangi tidak mempunyai kendala yang signifikan. Semua hasil panen pasti terserap pasar. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kerjasama petani dengan penyuling atau pengumpul akar wangi. Harga akar wangi basah berkisar antara Rp 1.200,00 sampai Rp 3.000,00 per kilogram. Harga akar wangi cenderung menurun akibat cuaca saat ini yang tidak menentu sehingga kualitas

tidak sebagus musim kemarau. Sebagian besar petani menjual akar wangi dengan harga Rp 2.000,00 per kilogram. Modal petani dalam usaha budidaya akar wangi ini sebagian besar adalah modal sendiri atau mendapat modal pinjaman dari saudara. Bagi petani yang tergabung dalam kelompok tani biasanya mendapat pinjaman modal dari ketua kelompoknya. Modal dalam budidaya akar wangi per hektar selama satu periode penanaman kurang dari Rp 25.000.000,00. Kendala modal sering dihadapi oleh petani karena lamanya masa tanam. Oleh karena itu, terkadang petani menjual akar wangi dengan sistem ijon saat tanaman berumur 8 bulan dan siap dipanen setelah berumur 12 bulan. Sebagian besar petani tidak memanfaatkan fasilitas kredit lembaga keuangan karena persyaratan yang dirasa terlalu memberatkan, seperti bunga pinjaman yang dikenakan terlalu besar. 4.1.2 Aktivitas Pengumpul Tanaman Akar Wangi Pengumpul akar wangi membeli akar wangi langsung dari petani setelah panen atau membeli dengan sistem ijon saat akar wangi masih di lahan. Pengumpul akan menjual akar wangi kepada penyuling atau pengumpul lain yang melakukan penyulingan. Pengumpul biasanya mendapat modal dari penyuling untuk mencari akar wangi. Pengumpul akar wangi terkadang juga melakukan penyulingan sendiri dengan menyewa alat suling kepada penyuling dan membayarnya dengan minyak akar wangi kasar. Pengumpul akar wangi dalam sehari mampu mengumpulkan 4-5 ton akar wangi dengan harga berkisar antara Rp 2.000,00 - Rp 3.000,00 per kilogram. Sistem pemesanan dilakukan secara langsung dengan mekanisme pembayaran cash and carry. Jumlah pengumpul tidak banyak untuk setiap wilayah, hanya ada satu atau dua pengumpul dalam satu wilayah desa atau kecamatan. Pengumpul bekerja sendiri karena tidak adanya kelompok pengumpul dan cenderung bersaing antar pengumpul. Kendala yang dialami pengumpul adalah ketersediaan akar wangi yang tidak konsisten dan mutu yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. 4.1.3 Aktivitas Penyuling Akar Wangi Produk minyak akar wangi yang diperdagangkan berupa minyak akar wangi kasar. Penyuling akar wangi tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan

Samarang, Bayongbong, Cilawu, dan Leles. Para penyuling tersebut sebanyak 75 persen bergabung dalam koperasi Usaha Rakyat (USAR) yang diketuai oleh Bapak H.Ede Kadarusman. Para penyuling juga bertindak sebagai petani yang disebut petani-penyuling. Penyuling yang tidak menanam akar wangi memenuhi kebutuhan akar wangi dengan membeli langsung dari petani/kelompok tani dan pengumpul akar wangi. Penyuling yang diberi pinjaman modal dari pengumpul minyak atau eksportir, membayar pinjaman tersebut dengan memberikan minyak hasil sulingan mereka. Pengiriman minyak dilakukan setelah minyak terkumpul selama 10 hari dengan jumlah rata-rata sebanyak 40 kg. Namun, pada musim kemarau penyuling dapat memproduksi minyak lebih banyak dengan jumlah 50 kg selama satu minggu. Pada saat penelitian, rendemen menurun menjadi berkisar 0,4-0,5 persen karena cuaca yang tidak mendukung. Penyulingan (50%) dilakukan dengan menggunakan ketel stainless steel dengan sistem kukus. Penyuling melakukan penyulingan dengan menggunakan sistem boiler atau sistem uap terpisah sebesar 33 persen. Sisanya sebesar 17 persen penyuling masih menggunakan sistem rebus. Bahan bakar yang digunakan saat ini didominasi oleh minyak solar dan oli bekas, namun masih ada juga yang menggunakan kayu bakar. Berdasarkan survey, pemakaian solar lebih ramah lingkungan, namun lebih mahal jika dibandingkan dengan oli bekas. Harga solar adalah Rp. 4.500,00 sedangkan harga oli bekas berkisar Rp. 2.500,00 per liter. Kelangkaan bahan bakar memperburuk kondisi penyulingan. Banyak usaha penyulingan yang tidak berproduksi karena biaya operasional tidak tertutup oleh harga jual minyak akar wangi. Mutu minyak akar wangi ditentukan oleh suhu dan tekanan yang digunakan. Pada sistem kukus, para penyuling menaikkan tekanan pada 5 (lima) bar yang sebelumnya dijaga pada 3 (tiga) bar dengan suhu sekitar 140°C-160°C. Hal tersebut mampu menghemat waktu sekitar 5 (lima) jam. Apabila menggunakan sistem uap terpisah atau boiler, suhu dijaga pada 120°C dengan tekanan 2-3 bar selama 20 jam. Tekanan yang rendah membuat mutu minyak lebih bagus dibandingkan tekanan tinggi yang dapat menyebabkan minyak akar wangi gosong.

Penyuling umumnya tidak menerapkan penyulingan dengan ketentuan yang baku (good manufacturing process). Pencucian akar wangi hanya dilakukan apabila musim hujan dan terdapat banyak tanah yang menempel. Penjemuran hanya dilakukan pada pagi hari dan tidak ada proses perajangan. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat proses produksi dan menghemat biaya operasional. Kesadaran dan kemauan yang rendah untuk memproses dengan ketentuan yang baku membuat mutu dan rendemen minyak tidak optimal dan tidak sesuai standar. Proses penyiapan penyulingan akar wangi dimulai dengan pembersihan dan pencucian akar wangi untuk menghilangkan tanah yang menempel pada akar wangi. Jika ada tanah yang menempel pada akar dan ikut dalam proses penyulingan maka dapat menurunkan rendemen dan mutu minyak akar wangi. Setelah itu dilakukan pengeringan yang bertujuan untuk menguapkan sebagian air dalam bahan, sehingga proses penyulingan lebih mudah dan singkat. Pengeringan akar wangi sebaiknya dilakukan selama 12 jam di bawah sinar matahari langsung. Sebelum penyulingan sebaiknya akar wangi dirajang terlebih dahulu untuk memudahkan penguapan akar wangi. Akar wangi yang sudah dikeringkan dan dirajang dimasukkan dalam ketel yang tertutup rapat. Penyuling membutuhkan waktu 12 jam dalam satu kali proses penyulingan yaitu 10 jam untuk pengukusan dan 2 (dua) jam untuk memasukkan dan membongkar akar wangi dalam tungku. Alat suling hanya mampu melakukan penyulingan maksimal sebanyak dua kali sehari. Kapasitas tungku per penyulingan sebesar 1,2 sampai dengan 2 (dua) ton. Minyak akar wangi yang dihasilkan sebesar 4-8 kg per satu suling dengan catatan kondisi akar wangi yang digunakan tersebut bagus. Penyuling dengan modal besar dapat menjual minyak akar wangi kepada pengumpul atau eksportir yang memberi harga yang lebih menguntungkan. Hal tersebut tidak berlaku bagi sebagian besar penyuling yang kesulitan modal. Mereka bergantung pada pinjaman modal dari pengumpul atau eksportir sehingga harus mengembalikan pinjaman modal tersebut dengan minyak yang mereka hasilkan. Berdasarkan survey, pengumpul minyak akar wangi di Garut terdapat kasus yaitu adanya satu pengumpul yang dominan sehingga hampir seluruh penyuling memiliki hubungan keterkaitan dengan pedagang pengumpul tersebut.

Konsekuensi dari kondisi tersebut adalah harga beli minyak akar wangi relatif lebih murah dari harga yang berlaku. Permasalahan yang sering dihadapi oleh penyuling adalah ketersediaan bahan baku yang tidak konsisten, mutu bahan baku, modal dan alat suling yang tidak sesuai standar. Alat pemisah air dan minyak yang masih sederhana, sehingga membuat mutu minyak kurang bagus dan rendahnya rendemen akibat tingginya penyusutan. Selain itu, mutu oli bekas pun rendah sehingga tidak optimal dalam pembakaran karena terlalu banyaknya bahan campuran lain pada oli bekas tersebut. 4.1.4 Aktivitas Pengumpul Minyak Akar Wangi Pengumpul minyak di daerah Garut tidak banyak, salah satu dari mereka merupakan perwakilan eksportir dari PT. Djasula Wangi Jakarta. Saat panen raya pengumpul minyak mampu mengumpulkan 100 kg – 400 kg minyak akar wangi dalam satu minggu. Sedangkan saat musim paceklik hanya mampu

mengumpulkan 200 kg dalam waktu 10 hari. Minyak yang telah terkumpul langsung dikirim ke eksportir yang berada di Jakarta dan Bogor. Harga ekspor minyak tidak diketahui secara pasti oleh para pengumpul minyak, mereka hanya menerima harga yang sudah ditetapkan eksportir. Risiko yang dihadapi oleh pengumpul minyak sangatlah tinggi. Jika mutu tidak sesuai standar, maka minyak tidak akan diterima oleh eksportir. Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran dan pengalaman dalam menguji standar mutu minyak akar wangi sebelum diuji di laboratorium milik eksportir. 4.1.5 Sumber Daya Rantai Pasokan Sumber daya rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari sumber daya fisik, sumber daya teknologi, sumber daya manusia dan sumber daya permodalan. 1. Sumber daya fisik Sumber daya fisik rantai pasokan minyak akar wangi meliputi, lahan pertanian, sarana dan prasarana penyulingan. Umur ekonomis dari alat suling (ketel) adalah sekitar 10 – 15 tahun.

2. Sumber daya teknologi Penyulingan akar wangi masih menggunakan sisitem kukus, masih sangat sedikit yang menggunkan sistem uap terpisah (boiler). Meskipun ada bantuan peralatan dari pemerintah, namun masih ada kendala operasional, yaitu kapasitas mesin yang masih kurang, belum ada operator yang ahli tentang mesin tersebut, dan mesin masih banyak kendala teknis. Keuntungan yang diperoleh dari proses penyulingan uap terpisah dengan sistem kukus berbeda sangat tipis. Hal tersebut merupakan penyebab penyuling masih tetap menggunakan sistem kukus. 3. Sumber daya manusia Proses penyulingan melibatkan 2 (dua) orang tenaga kerja dalam 1 (satu) kali proses penyulingan yang bertindak sebagai operator. Proses pencucian akar wangi melibatkan pekerja borongan. 4. Sumber daya permodalan Pembiayaan pada pertanian akar wangi cukup sulit didapat dari perbankan. Syarat yang rumit dan adanya agunan membuat petani menggunakan modal sendiri atau pinjam ke saudara, pengumpul atau penyuling. Petani merasa lebih nyaman membayar pinjaman dengan hasil panen mereka. Hal serupa juga terjadi pada penyuling, syarat perbankan menuntut kepastian hasil dari penyuling sedangkan rendemen tidak dapat ditentukan secara pasti. Oleh karena itu penyuling juga lebih memilih modal pinjaman dari pengumpul minyak atau eksportir dan membayar pinjaman tersebut dengan minyak hasil sulingan mereka. 4.2. Rancangan Indikator Kinerja Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi dengan Pendekatan GSCOR Rancangan indikator kinerja rantai pasokan minyak akar wangi ini termasuk dalam level 1 SCOR dengan menambahkan aspek pengelolaan lingkungan. Rancangan indikator kinerja dalam penelitian ini secara keseluruhan dimulai dari dasar tujuan untuk mengembangkan industri minyak akar wangi agar lebih maju. Target dari perancangan pengukuran kinerja ini adalah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas dari minyak akar wangi. Sasaran dari perancangan pengukuran kinerja adalah para pelaku industri minyak akar wangi, yaitu petani,

pengumpul akar wangi, penyuling, pengumpul minyak akar wangi dan eksportir. Sedangkan para pelaku pembuat rancangan pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi adalah masing-masing dari para pelaku usaha tersebut dan dari pihak pemerintah, yaitu Dinas Perkebunan serta Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Garut. Proses rancangan pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi di Kabupaten Garut terdiri dari tiga tahap, yaitu mendefinisikan pekerjaan, menilai kinerja, dan memberikan umpan balik. Pendefinisian pekerjaan berarti memastikan bahwa pelaku usaha minyak akar wangi (petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, eksportir) melakukan kewajiban serta pekerjaannya masing-masing sesuai profesi mereka. Para pelaku usaha minyak akar wangi bekerja sama dalam menentukan tujuan, membangun komitmen dan merencanakan langkah-langkah berikutnya untuk memajukan industri minyak akar wangi. Penilaian kinerja dilakukan untuk membandingkan kinerja sesungguhnya dari masing-masing pelaku usaha minyak akar wangi dengan standar yang telah ditetapkan secara nasional maupun internasional. Penilaian kinerja membutuhkan umpan balik dari masing-masing anggota rantai pasokan minyak akar wangi agar terciptanya kinerja yang lebih baik. Pengukuran kinerja dapat dilakukan setiap bulan, setiap semester, atau setiap tahun tergantung waktu yang telah disepakati oleh para pelaku usaha minyak akar wangi yang merumuskannya. Hasil pengolahan dengan menggunakan AHP dapat dilihat dari bobot yang dihasilkan. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 10.

Tujuan

Pemilihan Indikator Prioritas Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi Kabupaten Garut dengan Pendekatan Green Supply Chain Operations Reference

Proses rantai pasok

Proses perencanaan (0,454)

Proses pengadaan (0,162)

Proses produksi (0,122)

Proses pengiriman (0,099)

Proses pengembalian (0,044)

Pengelolaan lingkungan (0,199)

Atribut kinerja

Reliabilitas rantai pasokan (0,218)

Responsivitas rantai pasokan (0,241)

Fleksibilitas rantai pasokan (0,111)

Biaya rantai pasokan (0,127)

Asset rantai pasokan (0,202)
Siklus cash to cash (0,101)

Pemanfaatan limbah produk (0,103)

Indikator kinerja

Pemenuhan pesanan sempurna (0,111)

Waktu tunggu pemenuhan pesanan (0,241)

Fleksibilitas rantai pasokan (0,111)

Biaya total rantai pasokan (0,021)

Pengolahan limbah cair (0,051)

Kinerja pengiriman (0,106)

Biaya pokok produksi (0,106)

Persediaan harian (0,101)

Pengolahan limbah padat (0,051)

Gambar 10. Hirarki dan pembobotan pemilihan indikator prioritas kinerja rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut

4.2.1. Proses Rantai Pasok Proses rantai pasok terdiri dari proses perencanaan, proses pengadaan, proses produksi, proses pengiriman, proses pengembalian, dan sistem manajemen lingkungan. Berdasarkan perhitungan AHP, proses perencanaan memiliki bobot yang paling tinggi (0,454) dan menjadi prioritas pertama. Proses perencanaan menjadi prioritas pertama dikarenakan dalam pembuatan minyak akar wangi ini diperlukan perencanaan yang matang agar didapatkan minyak akar wangi yang berkualitas. Kondisi tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Bobot dan prioritas proses rantai pasokan minyak akar wangi berdasarkan GSCOR Proses rantai pasok Proses perencanaan (Plan) Proses pengadaan (Source) Proses produksi (Make) Sistem Manajemen Lingkungan Proses pengiriman (Deliver) Proses pengembalian (Return) Bobot 0,454 0,162 0,122 0,199 0,099 0,044 Prioritas 1 2 3 4 5 6

Masing-masing dari proses rantai pasok dijelaskan sebagai berikut : a. Proses Perencanaan (Plan) Proses perencanaan merupakan proses yang dilakukan untuk

menyeimbangkan sumberdaya dan membuat rencana untuk rantai pasok secara keseluruhan, termasuk rencana pengembalian, dan rencana pelaksanaan proses dari kebutuhan pengadaan, produksi, dan pengiriman minyak akar wangi. Pada saat survey, perencanaan dalam industri minyak akar wangi sudah terlaksana cukup baik, karena semua komponen rantai pasokan membuat perencanaan. Petani membuat perencanaan dalam hal menanam akar wangi, merencanakan masa tanam dan panen akar wangi. Penyuling melakukan perencanaan dalam mempersiapkan bahan baku yang akan dijadikan minyak akar wangi, seperti mendatangi kebun akar wangi untuk membeli akar wangi, dan merencanakan berapa banyak akar wangi yang harus disediakan untuk mendapatkan jumlah minyak yang diinginkan. b. Proses Pengadaan (Source) Proses pengadaan merupakan proses melakukan pengadaan produk untuk memenuhi permintaan. Pada proses ini, diharapkan para pelaku usaha minyak

akar wangi dapat memenuhi permintaan konsumen dengan secara tepat agar tercapainya kepuasan dan loyalitas konsumen. Pengadaan bahan baku akar wangi untuk produksi minyak biasanya dilakukan oleh pengumpul akar wangi. Pengumpul akar wangi menjalin kerjasama dengan petani langganannya untuk mendapatkan akar wangi dengan jumlah yang banyak. Pengadaan bahan baku juga terkadang dilakukan oleh petani sendiri. Akar wangi tersebut digunakan untuk disuling sendiri atau langsung diserahkan kepada penyuling yang telah memesannya. c. Proses Produksi (Make) Proses produksi merupakan proses transformasi bahan baku menjadi produk yang diinginkan kosumen. Penyulingan akar wangi menjadi minyak akar wangi haruslah mengikuti aturan yang telah ditetapkan (good manucfacturing process). Namun, sebagian besar penyuling tidak menerapkan penyulingan dengan ketentuan yang baku. Proses produksi atau proses penyulingan akar wangi mencakup pembersihan dan pencucian akar wangi, pengeringan, dan perajangan. Setelah itu dilakukan proses penyulingan dengan sistem kukus, sistem rebus atau sistem uap terpisah. Pembersihan akar wangi dari tanah yang menempel pada akar adalah bagain penting yang harus dilakukan. Tanah yang menempel pada akar akan menurunkan rendemen dan mutu minyak akar wangi jika terbawa dalam proses penyulingan. d. Pengelolaan Lingkungan Pengelolaan lingkungan merupakan suatu kerangka kerja untuk mengenal, mengukur, mengelola, dan mengontrol dampak-dampak lingkungan secara efektif yang diakibatkan oleh industri minyak akar wangi ini. Pengelolaan lingkungan perlu diterapkan karena untuk mencegah adanya polusi dan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh industri minyak akar wangi. Meskipun pengelolaan lingkungan yang ada belum diterapkan seutuhnya oleh para pelaku usaha minyak akar wangi, tetapi mereka sudah berusaha mewujudkannya. Misalnya, lokasi penyulingan didirikan berada jauh dari pemukiman warga untuk menghindari pencemaran lingkungan yang

ditimbulkan dari limbah sisa hasil penyulingan. Limbah cair maupun padat

dibuang ke tempat pembuangan limbah, dan sebagian limbah padat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kompos serta barang kerajinan. Beberapa pihak menyatakan bahwa tanaman akar wangi dapat menyebabkan erosi tanah. Namun, berdasarkan hasil survey kepada para petani akar wangi ternyata hal tersebut tidak benar. Tanaman akar wangi sebetulnya adalah tanaman yang dapat menyuburkan tanah. e. Proses Pengiriman (Deliver) Proses pengiriman yang dilakukan haruslah terencana dan sesuai waktu yang telah disepakati dengan konsumen. Proses pengiriman akar wangi dilakukan oleh petani kepada pengumpul akar wangi atau langsung ke penyuling dengan menggunakan alat transportasi berupa truk. Akar wangi yang telah dipanen dari kebun langsung dikirimkan kepada pengumpul atau penyuling yang telah membelinya. Pengiriman minyak akar wangi dari penyuling ke pengumpul minyak dilakukan langsung tanpa perantara. Proses tawar-menawar, negosiasi harga, dan pemesanan akar wangi dan minyak akar wangi biasanya dilakukan melalui telepon. Jika barang sudah ada dan harga sudah disepakati, maka akar wangi atau minyak akar wangi akan segera dikirim kepada pemesannya. f. Proses Pengembalian (Return) Proses pengembalian tidak banyak dilakukan, karena bagaimanapun kondisi minyak atau berapapun jumlah minyak yang dijual penyuling ke pengumpul minyak, pasti akan diterima oleh pengumpul minyak. Kebanyakan pengumpul minyak tidak memperhatikan mutu minyak akar wangi yang dijual oleh penyuling. Pengumpul minyak akan menerima semua minyak akar wangi yang dijual oleh penyuling bagaimanapun kondisi minyak akar wangi tersebut. Oleh karena kondisi tersebut, maka penyuling harus lebih peka terhadap mutu minyak akar wangi yang dihasilkannya dan diperlukan adanya tingkatan mutu dari minyak akar wangi yang dihasilkan. 4.2.2 Atribut Kinerja dan Indikator Kinerja Atribut kinerja terdiri dari reliabilitas rantai pasokan, responsivitas rantai pasokan, fleksibilitas rantai pasokan, biaya rantai pasokan, manajemen asset rantai pasokan, dan pemanfaatan limbah produk. Pembobotan dan prioritas atribut

kinerja disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa responsivitas rantai pasokan memiliki bobot yang paling tinggi (0,241) dan menjadi prioritas pertama. Tabel 5. Bobot dan prioritas atribut kinerja rantai pasokan minyak akar wangi berdasarkan GSCOR Atribut kinerja Responsivitas rantai pasokan Reliabilitas rantai pasokan Manajemen asset rantai pasokan Biaya rantai pasokan Fleksibilitas rantai pasokan Pemanfaatan limbah produk Bobot 0,241 0,218 0,202 0,127 0,111 0,103 Prioritas 1 2 3 4 5 6

Masing-masing atribut kinerja akan dijelaskan beserta dengan indikator kinerjanya. 1. Responsivitas rantai pasokan Variabel responsivitas yang diukur adalah waktu tunggu pemenuhan pesanan (0,241). Waktu tunggu pemesanan adalah waktu yang dibutuhkan pelanggan memesan produk sampai pesanan tersebut diterima. Waktu tunggu rata-rata yang diperlukan dalam memesan akar wangi atau minyak akar wangi adalah satu minggu sampai barang diterima oleh pemesan. 2. Reliabilitas rantai pasokan Indikator kinerja dari reliabilitas adalah pemenuhan pesanan sempurna dan kinerja pengiriman. Bobot pemenuhan pesanan adalah 0,111 dan bobot kinerja pengiriman adalah 0,106. a. Pemenuhan pesanan sempurna Pemenuhan pesanan sempurna meliputi ketepatan jenis produk yang dipesan, ketepatan waktu pengiriman, ketepatan jumlah pengiriman, dan ketepatan tempat pengiriman. Pesanan akar wangi dari pengumpul atau penyuling selalu dipenuhi oleh petani sesuai jumlah akar wangi yang dihasilkannya saat panen. Pesanan minyak akar wangi dari pengumpul minyak kepada penyuling pun selalu diusahakan terpenuhi jumlahnya dan ketepatan waktu serta tempat pengirimannya.

b. Kinerja pengiriman Indikator kinerja pengiriman adalah pengiriman pesanan tepat waktu dan sesuai tanggal pesanan yang diinginkan konsumen. Pesanan akar wangi dari pengumpul atau penyuling ke petani dan pesanan minyak akar wangi dari pengumpul minyak kepada penyuling selalu diantar dan diterima sesuai jadwal pemesanan. Jika terjadi keterlambatan dalam pengiriman, biasanya dikarenakan oleh gangguan cuaca ataupun terjadi kerusakan pada alat transportasi yang digunakan. 3. Manajemen asset rantai pasokan Indikator kinerja dari manajemen asset adalah siklus cash to cash dan persediaan harian. Bobot siklus cash to cash adalah 0,101 dan bobot persediaan adalah 0,101. a. Siklus cash to cash Siklus cash to cash menerangkan perputaran keuangan industri, mulai dari pembayaran bahan baku ke pemasok, sampai pembayaran produk dari konsumen. Siklus pembayaran yang dilakukan pengumpul akar wangi atau penyuling yang membeli akar wangi dari petani adalah dilakukan dengan cara tunai. Biasanya akar wangi yang masih di kebun dan belum masuk masa panen sudah dibeli oleh pengumpul akar wangi atau penyuling dengan sistem ijon. Sedangkan untuk pembayaran minyak akar wangi dari pengumpul minyak kepada penyuling biasanya dilakukan melalui transfer dan tunai. Pembayaran dilakukan oleh pengumpul setelah minyak akar wangi diterima. b. Persediaan harian Persediaan harian adalah persediaan untuk memenuhi kebutuhan usaha minyak akar wangi apabila tidak ada pasokan lebih lanjut. Bagi penyuling, minimal sehari sebelum melakukan penyulingan selalu ada persediaan bahan baku akar wangi. Petani akar wangi tidak memiliki persediaan harian karena setiap kali setelah panen akar wangi akan langsung dikirim ke tempat pengumpul akar wangi atau penyuling yang telah memesannya.

4. Biaya rantai pasokan Variabel biaya yang diukur adalah biaya pokok produksi dan biaya total rantai pasokan. Bobot biaya pokok produksi adalah 0,106 dan bobot biaya total rantai pasokan adalah 0,021. a. Biaya pokok produksi Biaya pokok produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk membuat suatu produk, dari bahan mentah menjadi barang jadi. Pada kasus minyak akar wangi ini, yang mengeluarkan biaya pokok produksi adalah petani dan penyuling. Biaya pokok produksi yang dikeluarkan oleh petani adalah biaya bahan baku akar wangi, biaya tenaga kerja dan biaya untuk pupuk. Sedangkan biaya pokok produksi untuk penyulingan adalah biaya bahan baku untuk minyak akar wangi, biaya bahan bakar, biaya penyusutan alat suling, biaya listrik, dan yang perlu diperhatikan adalah jumlah rendemen minyak yang dihasilkan. b. Biaya total manajemen rantai pasokan Biaya total manajemen rantai pasokan adalah total biaya yang dikeluarkan oleh industri dalam melakukan penanganan bahan mulai dari pemasok sampai konsumen. Biaya total manajemen rantai pasokan minyak akar wangi ini terdiri dari biaya transportasi pengiriman akar dari petani kepada pengumpul akar wangi atau penyuling, biaya transportasi pengiriman minyak akar wangi dari penyuling kepada pengumpul minyak, dan biaya proses penyulingan bagi penyuling. 5. Fleksibilitas rantai pasokan Variabel fleksibilitas yang diukur adalah fleksibilitas rantai pasokan (0,111). Fleksibilitas rantai pasokan adalah waktu yang dibutuhkan untuk merespon rantai pasokan yang tidak direncanakan, baik penurunan atau peningkatan permintaan. Permintaan minyak akar wangi selalu terjadi peningkatan permintaan setiap tahunnya. 6. Pemanfaatan limbah produk Pemanfaatan limbah produk terbagi menjadi pemanfaatan limbah cair dan pemanfaatan limbah padat. Bobot pemanfaatan limbah cair adalah 0,051 dan bobot pemanfaatan limbah padat adalah 0,051.

a. Pemanfaatan limbah cair Limbah cair yang dihasilkan dari industri minyak akar wangi ini adalah air hasil pencucian akar wangi, air hasil sisa penyulingan akar wangi, dan air hasil pemisahan minyak dengan air. Limbah cair hasil sisa penyulingan akar wangi tidak dimanfaatkan, tetapi limbah tersebut langsung dibuang ke sungai atau ke parit-parit. Menurut para penyuling, limbah cair yang dihasilkan dari industri ini tidak mengandung senyawa berbahaya yang dapat merusak lingkungan. b. Pemanfaatan limbah padat Limbah padat hasil dari sisa penyulingan akar wangi berupa ampas akar wangi. Penanganan limbah padat sisa hasil penyulingan akar wangi sebagian ada yang dijadikan pupuk kompos, tetapi kebanyakan dari penyuling membuang limbah padat tersebut. Ampas tersebut hanya dibiarkan menumpuk dan belum ada solusi bagaimana memanfaatkannya. Namun pada saat ini, pemanfaatan limbah padat yang masih dalam proses realisasi adalah dijadikan sebagai barang kerajinan untuk hiasan, pot, dan media tanam bunga. Selain limbah cair dan limbah padat yang dihasilkan dari industri minyak akar wangi, terdapat pula limbah udara. Limbah udara berupa karbon, asap hasil sisa pembakaran dalam proses penyulingan akar wangi. Limbah udara ini termasuk limbah yang cukup berbahaya karena dapat mengakibatkan polusi udara yang mencemari lingkungan. Tetapi, karena pabrik penyulingan berada cukup jauh dari lokasi pemukiman penduduk, limbah udara tersebut tidak sampai mencemari lingkungan sekitar yang ditinggali penduduk. Metode pengukuran limbah bermacam-macam tergantung jenis limbah yang dihasilkan pada industri tersebut. Pada industri minyak akar wangi ini, nilai pengukuran limbah dapat dilihat dari segi kuantitas dan segi kualitasnya. Pengukuran limbah dari segi kuantitas akan terukur jumlah limbah yang dihasilkan dari proses penyulingan minyak akar wangi. Sedangkan dari segi kualitas, pengukuran limbah diukur menurut kandungan bahan berbahaya yang dapat dihasilkan oleh limbah tersebut.

Pengukuran limbah dari segi kualitas dilakukan dengan uji laboratorium dengan prosedur, metode pengukuran dan alat ukur yang telah ditentukan sesuai jenis limbahnya. Indikator pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut terdiri dari variabel atribut kinerja. Berdasarkan bobot indikator kinerja, didapatkan indikator kinerja yang menjadi prioritas yaitu waktu tunggu pemenuhan pesanan, pemenuhan pesanan sempurna, siklus cash to cash, biaya pokok produksi, fleksibilitas rantai pasokan, dan pengolahan limbah padat. Tahap terakhir dari perancangan pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut adalah membuat kartu GSCOR (GSCOR scor) dengan nilai-nilai bobot yang telah didapat dari perhitungan dengan metode AHP. atribut dan indikator kinerja GSCOR rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Atribut dan indikator kinerja GSCOR rantai pasokan minyak akar wangi Kabupaten Garut Atribut Kinerja Responsivitas Rantai Pasokan Reliabilitas Rantai Pasokan Indikator Kinerja Waktu Tunggu Pemenuhan Pesanan Pemenuhan Pesanan Sempurna Kinerja Pengiriman Manajemen Asset Rantai Pasokan Siklus Cash to Cash Persediaan Harian Biaya Rantai Pasokan Biaya Pokok Produksi Biaya Total Manajemen Rantai Pasokan Fleksibilitas Rantai Pasokan Fleksibilitas Rantai Pasokan Pengolahan Limbah Produk Pemanfaatan Limbah Cair Pemanfaatan Limbah Padat Bobot 0,241 0,111 0,106 0,101 0,101 0,106 0,021 0,111 0,051 0,051

Identifikasi Persoalan Pencemaran Lingkungan Pada Setiap Anggota Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi Pada petani, pencemaran lingkungan bisa diakibatkan jika pada saat menanam akar wangi menggunakan pupuk anorganik yang mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari kesuburan tanah. Pada penyuling, potensi pencemaran lingkungan dapat terjadi akibat aktifitas penyulingan yang dilakukan penyuling, seperti polusi udara yang dihasilkan oleh cerobong asap dari alat suling. Selain itu, potensi pencemaran lingkungan juga disebabkan oleh cemaran

udara dari polusi alat transportasi yang terjadi pada mata rantai pengumpul akar wangi dan pengumpul minyak akar wangi. Alat transportasi tersebut digunakan untuk mengangkut akar wangi dari petani ke pangumpul akar wangi atau penyuling, dan untuk mengangkut minyak akar wangi dari penyuling ke pengumpul minyak akar wangi atau eksportir. 4.3. Implikasi Manajerial Identifikasi rantai pasok mampu mendeskripsikan rantai pasok minyak akar wangi. Berdasarkan hasil penelitian, prioritas tertinggi dalam proses rantai pasok adalah proses perencanaan. Dalam proses rantai pasokan harus dilakukan perencanaan yang terstruktur agar didapatkan minyak akar wangi yang berkualitas. Prioritas tertinggi dari atribut kinerja adalah responsivitas rantai pasokan yang berupa waktu tunggu pemenuhan pesanan. Para pelaku industri minyak akar wangi dalam rantai pasokan harus cepat tanggap untuk menyiapkan produk kepada pelanggan. Kinerja waktu tunggu pemenuhan pesanan harus ditingkatkan agar para pelanggan selalu menerima produk sesuai pesanan dan dengan waktu yang tepat.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan a. Akar wangi yang telah dipanen oleh petani dibeli oleh pengumpul akar wangi atau penyuling, dan ada juga petani yang melakukan penyulingan sendiri. Hasil sulingan minyak akar wangi dari penyuling langsung dijual dan dikirim kepada pengumpul minyak akar wangi atau langsung ke eksportir. b. Rancangan indikator kinerja rantai pasokan minyak akar wangi berdasarkan pendekatan GSCOR terdiri dari empat tingkatan, yaitu tujuan, proses rantai pasok, atribut kinerja, dan indikator kinerja. Berdasarkan perhitungan AHP, proses rantai pasok menjadi prioritas utama adalah proses perencanaan (0,545). Sedangkan untuk atribut kinerja yang menjadi prioritas utama adalah responsivitas rantai pasokan (0,241). c. Indikator kinerja yang menjadi prioritas berdasarkan atribut kinerjanya adalah waktu tunggu pemenuhan pesanan (0,241), pemenuhan pesanan sempurna (0,111), siklus cash to cash (0,101), biaya pokok produksi (0,106), fleksibilitas rantai pasokan (0,111) dan pengolahan limbah padat (0,051). 2. Saran a. Perlu diadakannya penelitian lebih lanjut tentang pengukuran kinerja rantai pasokan minyak akar wangi dengan pendekatan Green Supply Chain Operations Reference agar dapat diketahui lebih dalam manajemen kinerja yang berkaitan dengan aspek lingkungan dan memperhatikan level utama (level 1), kategori proses (level 2), elemen proses (level 3), dan implementasi level (level 4) dalam GSCOR. b. Perlu adanya komunikasi, keterbukaan, kerjasama, dan kemitraan yang terjalin antar anggota rantai pasokan agar dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan.

DAFTAR PUSTAKA

Asril. 2009. Analisis Kondisi dan Desain Indikator Kinerja Rantai Pasokan Brokoli (Brassica Olereceae) di Sentra Hortikultura Cipanas – Cianjur, Jawa Barat. Skripsi pada Departemen Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Fewidarto, P.D. 1996. Proses Hirarki Analitik (Analytical Hierarchy Process). Materi Kursus Singkat. Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Heizer, J dan B. Render. 2010. Manajemen Operasi. Salemba Empat, Jakarta. http://www.ditjenbun.deptan.go.id. diakses pada [10 Mei 2011] http://www.garutkab.go.id. diakses pada [10 Mei 2011] http://www.sinartani.com. diakses pada [4 Mei 2011] LMI. 2003. GreenSCOR: Developing a Green Supply Chain Analytical Tool. Working Paper. Marimin dan Maghfiroh. 2010. Aplikasi Teknik pengambilan Keputusan dalam Manajemen Rantai Pasok. IPB Press, Bogor. Mulyati, Setiawan dan Rusli. 2009. Rancang Bangun Sistem Manajemen Rantai Pasokan dan Risiko Minyak Akar Wangi Berbasis IKM di Indonesia. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Institut Pertanian Bogor. Pujawan, I. 2005. Supply Chain Management. Guna Widya, Surabaya. Saaty, L. 1991. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta Pusat. Setiawan, Mulyati dan Suroso. 2011. Kerangka Pengukuran Kinerja pada Green Supply Chain Management pada Orange Book 3 Green Economy Menuju Pembangunan Berkelanjutan. IPB Press, Bogor. Siagian, M. 2005. Aplikasi Supply Chain Management dalam Dunia Bisnis. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Supply Chain Council. 2006. Supply Chain Operations Reference Model Version 6.0. Working Paper. Tunggal, AW. 2009. Supply Chain Management (Manajemen Rantai Pasokan). Harvarindo, Jakarta. Wibowo. 2009. Manajemen Kinerja. Raja Grafindo Perkasa, Jakarta.

Lampiran 1. Hasil Pengolahan dengan Expert Choice

Lanjutan Lampiran 1.

Lanjutan Lampiran 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->