P. 1
STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMP NEGERI 4 BATU

STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMP NEGERI 4 BATU

|Views: 460|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 09, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

1

STRATEGI PENGELOLAAN KELAS
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
SMP NEGERI 4 BATU




SKRIPSI



Oleh:
Nur Azizah
04310016

























JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
Januari, 2009

2
STRATEGI PENGELOLAAN KELAS
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
SMP NEGERI 4 BATU

SKRIPSI


Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang
untuk Mememenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)




Oleh:
Nur Azizah
04310016























JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
Januari, 2009
3
STRATEGI PENGELOLAAN KELAS
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
SMP NEGERI 4 BATU



SKRIPSI



Oleh:
Nur Azizah
04310016





Telah disetujui oleh:
Dosen Pembimbing





Dr. Hj. Sutiah, M.Pd
NIP. 150 262 509







Tanggal, 14 Januari 2009
Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam





Drs. Moh. Padil, M.Pd.I
NIP. 150 267 235

4
STRATEGI PENGELOLAAN KELAS
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
SMP NEGERI 4 BATU

SKRIPSI
Dipersiapkan dan disusun oleh:
Nur Azizah (04310016)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 17 Januari 2009
dengan nilai A dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk
memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
pada tanggal 22 Januari 2009

Panitia Ujian


Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,




Dr. Hj. Sutiah, M.Pd. Dr. Sugeng Listyo Prabowo, M.Pd.
NIP. 150 262 509 NIP. 150 303 050

Penguji Utama, Pembimbing,




Prof. Dr. H. Muhaimin, M.A. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd
NIP. 150 215 375 NIP. 150 262 509



Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang





Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031


5
T1)¸1^±/1/) T1)¸1^±/1/) T1)¸1^±/1/) T1)¸1^±/1/)

¸,v[v· /ìnvnvvìiììvn vìv. .c¡vìv ni[nvì vvn [c.cnvìvn /ììvn ¸+I ,vn¡ ìcìvn viìc·i[vn
[c¡vvv[v, .cnin¡¡v nvnìv vv¡vì ncn,cìc.vi[vn [v·,v [c.iì ini. ¸cno¡v ,vn¡ ìcìvn 1n¡[vv
[v·vniv ini, ìc·vnvnvn[vn vcn¡vn nvìi ,vn¡ ìvìv..

)cnvn]vvn vvn [c.cìvnvìvn ìcìv¡ ìc·.v·vn[vn [c¡vvv ìv¡invv )v.vìvììvn ¸/+. ¸cno¡v
vov ini .cìvìv ncnìc·i[v ìv·o[vn vvìn ncnìinìin¡[v vvìvn ncn]vìvni vnvnvn ini.

Icn¡vn ncn¡nv·v¡ ¡cnvn ·ivno /ììvn vvn vìv.vn),v [v¡c·.cnìvn[vn [v·,v [c.iì ini
[c¡vvv:

O·vn¡ ìvv[v ìc·.inìv, vìvn 1. /. I]vìi· vvn iìv ¸vìvivvn. )v[v[[v ìc·.inìv, [v[ ¸v[i,
nìv[ /invn, nìv[ ¸vn, [v[ )noìiì, [v[ ^vi., nìv[ ^vì, [v[ ·v:iv ,vn¡ .cìvìv
ncnìc·i[vn vov, [v.in .v,vn¡, nv.cnvì, noìi.v.i. Ic·inv [v.in vov .v¡¡o·ì vvn vovn,v .
¸cno¡v [iìv ìc·nv.v[ [cìvv·¡v ¸v[invn ^v.vvvvn .v )vnnvn.

/ìvn vvn +ni ^v.vvqi ^vn{vv: .c[cìvv·¡v,
,vn¡ ìcìvn ncnìc·i[vn iìnv, vov, vvn v..vn ìc·ìvi[.
¸c¡cnv¡ v.vìiv:vn Tonvo[ Tc.vnì·cn ¸vìv{i,vn ¸,v{ii,vn )v·vì 1vvv ^c·¡o.ono ^vìvn¡
(¡v. 1., ¡v. Inon, ¡v. ·v, ¡v. ¸,invì, nin¡ +i, nin¡ 1.nv, nin¡ O{vn, v.ìv. /.n.vn,
v.ìv:n. 1vv, v.ìv:n. 1vni{vn) ìc·inv [v.in vìv. iìnv vvn vovn,v. ¸cno¡v ncn]vvi iìnv ,vn¡
ìc·nvn{vvì vi vvniv vvn v[ni·vì

)c¡onv[vn[v ,vn¡ ìv.v, 1]v, I·iv, vvn Iinv, ,vn¡ .cìvìv ncnìc·i[vn .cnvn¡vì vnìv[ ìvìv..
(c·iv vvn .cnvn¡vì .cìvìv vvìvn ìcìv]v·...O[:::

/ìnv·nvnvn nìv[[v ^vìvnnvnvn vvn Ivviìvn,
ìc·inv [v.in vìv. [v.in .v,vn¡n,v, ,vn¡ ncn]v¡v vvn ncnìinìin¡[v, nc.[i¡vn [c.cn¡vìvn
iìv ìcìvn ìc·ncnìi vi.vvì ·cnv]v[v. ¸cno¡v /ììvn ¸+I. ncnc·inv vnvì ìvi[ .
Iov[v ini .cìvìv ncn,c·ìvi .cnvn¡vì[v ìv[ ncn,cìc.vi[vn [v·,v ini.

Tcn]v¡v +vvvvv, [cìvv·¡v vvvìvn .inìv .c]vìi, [cìc·.vnvvnn,v vvvìvn .v·¡v vvnivnv,
·vinìvn ·v.v vvn .iìvnv iìv, ìcìv¡ .cnvn¡vì...[v·cnv nc·c[v nc·invv[vnnv.

£iv vvn nv. /nvn .c[cìvv·¡v, ,v....cno¡v .iìvìv··vnni ini .cìvìv ìvn¡¡cn¡...., ìc·inv [v.in
vov vvn .cnvn¡vìn,v

Icnvnìcnvn )vnv, nìv +i2n, nìv 1ìv, 1{v, +.ìi, ìv vo[ìc· n 1i[
ìc·inv[v.in vìv. [on¡vìc· vvn ¡·inìc·n,v ,v..::, vì/.·o·, vvìv .ìvì,
[cìv. ¯ .ìvì, vvn ìcncnìcncn ¡cn¡v·v., n.i[v, nìvn, n. Iin2, :i:vn, n..v.i[, inv·vì, n,i[,
Tocì, n. /ìi[, vni., n. Ii], )v·i, 1q¯, £iv, 1.v, )vnni, 1.ìi, n. 1{i, vvn .cnvvn,v
ìc·inv [v.in .v¡¡o·ì vvn vo.vn,v







6
MOTTO

¸ `·``, .' ·· ¸· ·¸ `,¯ -' `¸· '.-`, = . , ¸,, ·,_ ,
Artinya:
Allah mencintai seseorang yang apabila ia mengerjakan suatu pekerjaan, maka
ia mengerjakannya dengan sempurna. (H.R. Baihaqi)

Husyain Syahatah, Kiat Islami Meraih Prestasi, (Jakarta: Gema Insani, 2004),
hlm. 114.































7
Dr. Hj. Sutiah, M.Pd
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang
NOTA DINAS PEMBIMBING


Hal : Skripsi Nur Azizah Malang, 14 Januari 2009
Lampiran : 4 (empat) Eksempelar


Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
di-
Malang

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan telah membaca skripsi mahasiswa tersebut
dibawah ini :
Nama : Nur Azizah
NIM : 04310016
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul skripsi : STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
SISWA SMP NEGERI 4 BATU
Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah
layak diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Pembimbing




Dr. Hj. Sutiah, M.Pd.
NIP. 150 262 509





8
SURAT PERNYATAN
Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat
karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu
perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya, juga tidak terdapat karya
atau pendapat yang pernah ditulis atau yang diterbitkan oleh orang lain, kecuali
yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.


Malang, 14 Januari 2009


Nur Azizah
04310016















9
KATA PENGANTAR
., , =· ¸«-¸|· ,,-¸|·
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa
melimpahkan rahmat, hidayah serta karunia-Nya, sehingga penulis mampu
menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam penulis
persembahkan kepada utusan-Nya yang telah memberikan penerang atas ayat-ayat
suci Al Qur’an.
Banyak bantuan yang penulis terima dari berbagai pihak dalam rangka
menyelesaikan penyusunan skripsi ini, oleh karena itu penulis ingin
menyampaikan terima kasih kepada :
1. Ayah dan Ibu tercinta yang dengan penuh ketulusan hati memberikan kasih
sayang, nasehat, kerja keras, keagungan do’a serta pengorbanan materi maupun
spiritual demi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi pada Fakultas
Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Malang.
2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku rektor Universitas Islam Negeri
Malang.
3. Bapak Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang.
4. Bapak Drs. M. Padil, M.Pd.I., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam,
Fakultas Tabiyah Universitas Islam Negeri Malang.
5. Ibu Dr. Hj. Sutiah, M.Pd. selaku dosen pembimbing skripsi penulis atas
kesabaran, ketelitian, motivasi dan keikhlasan meluangkan waktu guna
membimbing penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
10
6. Seluruh Dosen UIN Malang yang telah mentransfer ilmu kepada penulis
semoga mendapat balasan dari Allah SWT .
7. Bapak Djihad, S.Pd. selaku Kepala SMP Negeri 4 Batu yang telah memberikan
izin penulis untuk mengadakan penelitian di SMP Negeri 4 Batu serta Bapak
Drs. Masrukin, Drs. Akh. Masrur, dan Mahmud Huda, S.Ag. selaku guru
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Batu yang telah banyak
memberikan keterangan kepada penulis.
8. Keluarga besar Drs. KH. Masduqi Mahfudz dan Hj. Chasinah Masduqi yang
selalu memberikan nasehat, dan mendo’akan selama penulis tinggal di Ponpes
Salafiyyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang.
9. Teman-teman semua seiman dan seperjuangan. Semoga Allah menjadikan kita
penerus Islam yang mampu ”balance” dalam meraih kesuksesan dunia akhirat.
Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis tercatat
sebagai amal shaleh yang diterima oleh Allah SWT.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan yang ada, pada skripsi ini
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif
dari segenap pembaca guna perbaikan penulisan selanjutnya.
Akhirnya, semoga Allah SWT memberikan rahmat dan kemanfaatan atas
penulisan skripsi ini dan menjadikan kita sebagai hambaNya yang pandai
mensyukuri nikmat.
Malang, 13 Januari 2009
Penulis


11
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL...................................................................................... i
HALAMAN JUDUL......................................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN.......................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN........................................................................ v
HALAMAN MOTTO....................................................................................... vi
HALAMAN NOTA DINAS.............................................................................. vii
HALAMAN PERNYATAAN........................................................................... viii
KATA PENGANTAR....................................................................................... ix
DAFTAR ISI ..................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL............................................................................................. xv
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xvii
ABSTRAK......................................................................................................... xviii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ......................................................... 7
D. Penegasan Istilah dan Ruang Lingkup Penelitian ............................... 8
E. Keterbatasan Ruang Lingkup Penelitian ……………………………..9
F. Sistematika Pembahasan ................................................................... 10

12
BAB II KAJIAN TEORI .................................................................................. 13
A. Strategi Pengelolaan Kelas ................................................................ 13
1. Strategi Pengelolaan Kelas .......................................................... 13
2. Masalah Pengelolaan Kelas ......................................................... 16
3. Tujuan dan Fungsi Pengelolaan Kelas ......................................... 18
4. Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas................................................ 20
5. Macam-macam Pengelolaan Kelas............................................... 22
a. Kegiatan Administrasi Kelas ................................................... 23
b. Kegiatan Operatif Manajemen Kelas ....................................... 25
c. Penataan Ruang Kelas ............................................................. 27
d. Pengelolaan Perilaku Siswa ..................................................... 32
e. Strategi Pembelajaran.............................................................. 38
B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP ................................ 44
1. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam...................... 44
2. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam............................... 46
3. Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP...... 49
C. Prestasi Belajar ................................................................................. 51
1. Pengertian Prestasi Belajar........................................................... 51
2. Sistem Penilaian Prestasi Belajar ................................................. 53
3. Prestasi Belajar Pendidikan Islam di SMP.................................... 61
4. Penilaian Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam di SMP ........ 62
D. Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Prestasi Belajar ... 69
13
1. Masalah-masalah Pengelolaan Kelas yang dihadapi Guru\
Pendidikan Agama Islam............................................................. 69
2. Pelaksanaan Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi Belajar
Siswa........................................................................................... 73
3. Dampak Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa ........... 78
4. Faktor yang Mendukung dan Menghambat Strategi Pengelolaan
Kelas dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa................................. 86
BAB III METODE PENELITIAN................................................................... 98
A. Pendekatan Penelitian .................................................................... 98
B. Jenis Penelitian............................................................................... 99
C. Kehadiran Peneliti .......................................................................... 100
D. Lokasi Penelitian ............................................................................ 101
E. Sumber Data................................................................................... 102
F. Metode Pengumpulan Data............................................................. 105
G. Tehnik Analisis Data ...................................................................... 108
H. Pengecekan Keabsahan Data........................................................... 111
I. Tahap-Tahap Penelitan ................................................................... 114
BAB IV PENYAJIAN DATA ANALISIS DATA........................................... 116
A. Latar Belakang Objek Penelitian..................................................... 116
1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 4 Batu..................................... 116
14
2. Tujuan, Visi, dan Misi SMP Negeri 4 Batu ............................... 117
3. Struktur Organisasi SMP Negeri 4 Batu.................................... 119
4. Sarana dan Prasarana Sekolah................................................... 120
5. Keadaan Guru SMP Negeri 4 Batu............................................ 122
6. Keadaan Siswa-siswi SMP Negeri 4 Batu ................................. 123
B. Paparan Hasil Penelitian ................................................................. 124
1. Masalah-masalah Pengelolaan Kelas yang dihadapi
Guru Pendidikan Agama Islam
di SMP Negeri 4 Batu...............................................................125
2. Pelaksanaan Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi
Belajar Siswa SMP Negeri 4 Batu............................................128
a. Kegiatan Administrasi Manajemen.....................................130
b. Kegiatan Operatif Manajemen Kelas..................................136
c. Penataan Ruang Kelas.........................................................142
d. Pengelolaan Perilaku Siswa.................................................147
e. Penerapan Strategi Pembelajaran........................................152
3. Dampak Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi
Belajar Siswa SMP Negeri 4 Batu............................................160
4. Faktor yang Mendukung dan Menghambat Strategi Pengelolaan
Kelas dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk
Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMP Negeri 4 Batu.......166
15
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ............................................. 173
1. Masalah-masalah Pengelolaan Kelas yang dihadapi Guru
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Batu................................ 173
2. Pelaksanaan Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi Belajar
Siswa SMP Negeri 4 Batu ................................................................. 175
3. Dampak Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi
Belajar Siswa SMP Negeri 4 Batu.......................................................184
4. Faktor yang Mendukung dan Menghambat Strategi Pengelolaan
Kelas dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk
Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMP Negeri 4 Batu..................187
BAB VI PENUTUP........................................................................................... 191
A. Kesimpulan .................................................................................... 191
B. Saran .............................................................................................. 194
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN







16
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
I. Sarana dan Prasarana SMP Negeri 4 Batu .............................................. 120
II. Jumlah Siswa Menurut Umur dan Jenis Kelamin.................................... 123
III. Program Pengembangan Diri .................................................................. 124
IV. Tanggapan siswa tentang guru PAI dalam menyikapi siswa yang
berbuat onar atau hal-hal yang mengganggu berlangsungnya
pembelajaran PAI.................................................................................... I26
V. Tanggapan siswa tentang terciptanya suasana kerjasama dalam
kelompok belajar siswa mata pelajaran PAI............................................. 127
VI. Tanggapan siswa tentang sarana dan prasarana belajar disekolah............. 138
VII. Tanggapan siswa tentang guru PAI dalam berbicara/bertukar pendapat
terhadap permasalahan siswa................................................................... 149
VIII. Tanggapan siswa tentang terjalinnya persahabatan atau keakraban
dengan teman-temannya.......................................................................... 150
IX. siswa tentang guru PAI dalam menyikapi siswa
yang tidak mengerjakan tugas rumah (PR) pelajaran agama Islam........... 151
X. Tanggapan siswa tentang semangatnya dan sikap senangnya
dalam mengikuti pembelajaran PAI......................................................... 154
XI. Tanggapan siswa tentang partisipasinya aktif dalam pembelajaran PAI ... 154
XII. Tanggapan siswa tentang tingkat pengetahuan dan ketekunan
mengamalkannya terhadap ajaran agama Islam....................................... 162

17
XIII. Tanggapan siswa tentang kemampuannya dalam mempraktekkan atau
melakukan setiap hari ajaran agama Islam yang telah dipelajari............... 162
XIV. Tanggapan siswa tentang semangatnya dalam mengikuti kegiatan
keagamaan di sekolah.............................................................................. 165
XV. Tanggapan siswa tentang keinginannya (cita-cita) memiliki ....................
pengetahuan agama Islam yang tinggi ..................................................... 167
XVI. Tanggapan siswa tentang semangatnya dalam mengikuti kegiatan
keagamaan di sekolah.............................................................................. 169
XVII. Tanggapan siswa tentang konsentrasinya dalam mengikuti
pembelajaran PAI.................................................................................... 170
XVIII. Tanggapan siswa tentang semangatnya dan sikap senangnya
dalam mengikuti pembelajaran PAI......................................................... 170
XIX. Tanggapan siswa tentang keinginannya (cita-cita) memiliki
pengetahuan agama Islam yang tinggi ..................................................... 170
XX. Tanggapan siswa tentang partisipasinya aktif dalam pembelajaran
Pendidikan Agam Islam.......................................................................... 171









18
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Instrumen Penelitian
Lampiran 2 : Daftar Ceklis Perangkat Pembelajaran
Lampiran 3 : Jadwal Mata Pelajaran SMP Negeri 4 Batu
Lampiran 4 : Contoh Perangkat Pembelajaran
Lampiran 5 : Contoh Jurnal Mengajar, Hasil Penilaian per Kompetensi Dasar,
Rekapitulasi Nilai Rapor SMP Negeri 4 Batu
Lampiran 6 : Program Sekolah SMP Negeri 4 Batu Tahun Pelajaran 2008-2009,
Rencana Program dan Jadwal Kegiatan Sekolah, Pembagian Tugas
Guru, Tata Tertib Guru, Buku Tata Tertib Siswa
Lampiran 7 : Contoh Susunan Panitia Kegiatan Qurban OSIS SMP Negeri 4
Batu, Contoh Jadwal Sholat Dhuha, Denah SMP Negeri 4 Batu,
Contoh Do’a Awal dan Akhir Pelajaran
Lampiran 8 : Dokumentasi Penelitian
Lampiran 9 : Surat Permohonan Izin Penelitian
Lampiran 10 : Surat Keterangan Penelitian dari SMP Negeri 4 Batu
Lampiran 11 : Bukti Konsultasi







19
ABSTRAK

Azizah, Nur. 2009. (Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMP
Negeri 4 Batu). Skripsi, Program Pendidikan Agama Islam, Jurusan Pendidikan
Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang. Dosen
Pembimbing: Dr. Hj. Sutiah, M.Pd.

Kata kunci : strategi pengelolaan kelas, pembelajaran PAI, prestasi belajar.

Strategi pengelolaan kelas adalah pola/siasat, yang menggambarkan
langkah-langkah yang digunakan guru dalam menciptakan dan mempertahankan
kondisi kelas agar tetap kondusif, sehingga siswa dapat belajar optimal, aktif, dan
menyenangkan dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Keberhasilan pembelajaran PAI dapat diukur dari prestasi kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Pembelajaran PAI di sekolah umum memiliki aspek-aspek materi yang luas
dengan hanya terjadwal 2 jam mata pelajaran. Sementara itu, dalam proses
pembelajaran PAI di kelas sering ditemui kesulitan belajar siswa, kurang
konsentrasi, motivasi menurun, bahkan tingkah laku siswa yang mengganggu
proses pembelajaran. Sehingga hal ini akan berpengaruh bagi keberhasilan tujuan
pembelajaran PAI. Disinilah pentingnya guru mengelola kelasnya dengan baik.
Pada permasalahan di SMP Negeri 4 Batu ini, maka dilakukan penelitian dengan
rumusan permasalahan; Apa masalah-masalah pengelolaan kelas yang dihadapi
guru PAI di SMP Negeri 4 Batu. Bagaimana pelaksanaan, serta dampak, faktor-
faktor yang mendukung dan menghambat strategi pengelolaan kelas dalam
pembelajaran PAI untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan
membahas permasalahan tersebut.
Penelitian ini, menggunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang
ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisa fenomena, peristiwa, aktivitas
sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun
kelompok. Beberapa deskripsi digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip
penjelasan yang mengarah pada penyimpulan. Jenis penelitian ini merupakan
studi kasus. Metode pengumpulkan data yang digunakan observasi, interview,
dokumentasi, dan kuesioner. Sedangkan tehnik analisis data menggunakan
analisis deskriptif kualitatif yang ditunjang dengan teknik persentase:
P =
% 100 x
N
F


Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah Induvidu dan kelompok
dalam pengelolaan kelas yang dihadapi guru PAI SMP Negeri 4 Batu adalah
siswa mengganggu temannya, siswa belum percaya diri dalam mengeksipresikan
dirinya di kelas, siswa suka izin keluar kelas pada saat pelajaran,
ketidakkompakan dalam kelompok belajar. Guru tetap menanggapinya dengan
positif. Pelaksanaan strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran PAI untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu yang telah ditempuh
20
yaitu: Manajemen administratif kelas, sudah diselesaikan dengan baik oleh guru
PAI, yang didukung semua guru, OSIS, kurikulum dan perangkat kelas.
Manajemen operatif kelas, mengalami kekurangan pada perbekalan kelas,
pembinaan personal kelas, kepemimpinan guru/wali kelas, pembelajaran PAI
kurang dukungan maksimal dari guru-guru lain di sekolah. Penataan ruang kelas,
dalam sudah memadai, Namun siswa yang duduk di belakang sedikit sulit
berinteraksi dengan guru, karena bangku masih formasi tradisional, pembelajaran
variasi kelompok dilaksanakan di ruang multimedia. Almari pun belum memadai.
Pengelolaan perilaku siswa, dilakukan dengan pembentukan sikap dan perilaku
siswa melalui tata tertib sekolah, mengimplementasikan norma yang berlaku
dimasyarakat di sekolah, menciptakan suasana positif di kelas dengan memberi
perhatian. Sedangkan untuk mempertahankan kelas tetap kondusif dalam
pembelajaran PAI, guru menggunakan dua pendekatan dalam mengatasi satu
masalah yang timbul. Penerapan strategi pembelajaran, belum memperhatikan
keterampilan-keterampilan dalam penerapan strategi pembelajaran dan adanya
ketidaktepatan siklus pembelajaran. Sehingga guru mengubah strategi sesuai
dengan beban materi dan waktu. Pendekatan pembelajaran yang hanya sering
digunakan adalah learning community, tanya jawab interaktif dan ceramah dengan
membawa siswa untuk menemukan sendiri apa yang harus ia pelajari.
Dampak langsung strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran PAI untuk
meningkatkan prestasi kognitif siswa SMP Negeri 4 Batu adalah terdapat
peningkatan, terbukti pada hasil prestasi, rata-rata siswa telah mencapai lebih dari
KKM, Sedangkan prestasi psikomotorik, siswa belum maksimal mengamalkan
materi yang dipelajarinya. Dampak pengiringnya berupa prestasi afektif, secara
tidak langsung strategi pengelolaan kelas masih diusahakan dengan maksimal
untuk memberikan dampak terhadap siswa agar sanggup mengaplikasikan materi-
materi agama Islam yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga guru
berusaha dengan pembiasaan melalui pengembangan diri keagamaan di sekolah.
Faktor yang mendukung strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran PAI
untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu adalah penerapan
tata tertib sekolah. Visi, misi sekolah, dan tujuan pembelajaran yang berdasarkan
ketaqwaan dan akhlaq. Strategi pembelajaran yang interaktif. Musholla sebagai
sarana tempat ibadah dan belajar. Program pembiasaan beribadah. Keinginan
siswa untuk memiliki pengetahuan agama Islam. Sedangkan faktor yang
menghambat adalah: kurangnya dukungan orang tua terhadap peningkatan
kualitas agama anak. Kurangnya ruang dan media pembelajaran dalam
mempraktikkan materi PAI. Semangat, ketanggapan belajar, konsentrasi, dan
keaktifan siswa dalam pembelajaran PAI kurang maksimal. siswa tidak memiliki
buku tunjangan PAI. Kurangnya percaya diri siswa pada waktu pembelajaran PAI.
Penulis menyarankan kepada guru PAI dan warga sekolah agar ikut
mendukung kompak, dalam peningkatan prestasi, khususnya prestasi afektif.
Dalam meningkatkan prestasi belajar PAI dengan strategi mengelola kelas tidak
lepas dari faktor pendukung dan penghambat. Setiap pelaksanaan program kerja,
hendaknya faktor pendukung diikembangkan dengan maksimal, sehingga potensi
pendukungnya muncul lebih baik lagi. Sedangkan faktor penghambat hendaknya
dievaluasi dan dicarikan solusinya untuk meminimalisasi kekurangan yang ada.
21
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sekolah mempunyai peran sebagai lembaga pendidikan yang
mengembangkan potensi-potensi siswa yang manusiawi, agar mampu
menjalani tugas-tugas dalam kehidupan, baik secara individual maupun sosial.
Sekolah sebagai suatu organisasi kerja yang terdiri dari beberapa kelas. Setiap
kelas mempunyai perjenjangan sendiri. Menurut Hadari Nawawi menegaskan
bahwa sekolah dan kelas diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat dalam mendidik siswa, yang tidak harus didewasakan dari aspek
intelektualnya saja, akan tetapi dalam aspek kepribadiannya.
1

Sebagai calon penerus bangsa, siswa dalam dunia pendidikan lebih
ditekankan pada upaya membangkitkan semangat belajar yang tinggi.
Kemauan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan
masyarakat dan bangsa perlu lebih ditanamkan lagi kepada mereka. Hal ini
merupakan salah satu tantangan guru di dunia pendidikan. Para guru
diharapkan dan harus mampu menciptakan pembelajaran dengan efektif,
menyenangkan, tercipta suasana dan iklim pembelajaran yang kondusif,
terdapat interaksi balajar-mengajar yang bagus, sehingga keberhasilan belajar
dan prestasi dapat dicapai dengan baik sesuai tujuan pembelajaran.

1
Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaaan Kelas sebagai Lembaga Pendidikan,
(Jakarta: Haji Masagung, 1989), hlm. 117.
22
Salah satu unsur penting dari proses kependidikan adalah pendidik. Di
pundak pendidik terdapat tanggung jawab yang amat besar dalam upaya
mengantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Hal
ini disebabkan pendidikan merupakan culture transition yang bersifat dinamis
ke arah suatu perubahan secara kontinyu, sabagai sarana vital bagi
membangun kebudayaan dan peradaban umat manusia. Dalam hal ini,
pendidik bertanggung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik
spiritual, intelektual, moral estetika maupun kebutuhan fisik peserta didik.
2

Dalam kehidupan sekolah sering dijumpai guru-guru yang dapat
dikatakan kurang berhasil dalam mengajar. Indikator belum berhasilnya guru
adalah prestasi belajar yang rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas
ukuran yang ditentukan. Kegagalan guru ini mungkin bukan hanya kurang
menguasai materi bidang studinya, tetapi karena mereka tidak tahu atau belum
mampu mengelola kelas.
Pembaharuan pendidikan yang mulai digalakkan beberapa puluh tahun
yang lalu menyebabkan timbulnya usaha-usaha pemikiran diberbagai bidang
pendidikan, seperti pembaharuan kurikulum, pembaharuan metode mengajar,
pembaharuan administrasi pendidikan, pembaharuan media pendidikan,
pembaharuan sistem supervisi dan sebagainya. Adanya pembaharuan ini telah
menimbulkan perubahan bahan ukuran baik-buruk perihal kegiatan guru,
kegiatan siswa, suasana kelas dan sebagainya.
3


2
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 41.
3
Suharsimi Arikunto, Pengelolaan kelas dan Siswa, Sebuah Pendekatan Evaluatif, (Jakarta:
Rajawali, 1992), hlm. 2.
23
Pada tahun 2002 pemerintah merancang Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) guna memacu akselerasi peningkatan mutu dalam
pendidikan. Kemudian pada tahun 2006 Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) mengalami penyempurnaan. Kurikulum ini dibuat dengan konsep
kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi
sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, keadaan sosial budaya
masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik, namun disamping itu
tetap mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
4

Pembaharuan dunia pendidikan saat ini memberikan pengaruh besar
terhadap persiapan dan cara mengajar seorang guru serta mempengaruhi
persiapan dan kondisi belajar siswa di kelas, Metode mengajar yang berbeda
memberikan pengaruh terhadap suasana belajar di dalam kelas. Oleh karena
itu guru perlu terampil dalam mengelola kelas.
Tindakan pengelolaan kelas adalah tindakan yang menunjuk kepada
kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang
optimal bagi terjadinya proses belajar.
5

Manajemen kelas merupakan bagian dari pengelolaan sekolah yang
ikut menentukan mutu pendidikan. Kemampuan seorang guru dalam
pengelolaan kelas, memiliki peranan yang sangat sentral, baik sebagai
perencana, pelaksana, maupun evaluator pembelajaran. Hal ini harus dipahami
bahwa pendukung utama tercapainya tujuan pembelajaran sebagai media

4
Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006),
hlm. 8.
5
Ahmad Rohani H.M. dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 1991), hlm. 117.
24
pertemuan segala komponen pendidikan. Pengelolaan kelas merupakan tugas
utama guru dan wali kelas dalam menciptakan suasana kelas yang
memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran semaksimal mungkin,
meningkatkan, memperbaiki belajar siswa sehingga tetap tertarik terlibat
dalam kegiatan belajar mengajar dan lebih mudah dalam menerima pelajaran,
Keberhasilan pengajaran dalam arti tercapainya tujuan-tujuan
pengajaran sangat tergantung pada kemampuan mengatur kelas yang dapat
menciptakan situasi yang memungkinkan anak didik dapat belajar, sehingga
merupakan titik awal keberhasilan pengajaran. Siswa dapat belajar dengan
baik dalam suasana yang wajar, tanpa tekanan dalam kondisi yang
merangsang untuk belajar. Untuk menciptakan suasana yang dapat
menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, dan lebih
memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa
dalam belajar, maka diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai.
6

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar maupun di
Sekolah Menengah memiliki tujuan dan fungsi berbeda dari setiap komponen
materi yang dipelajari oleh siswa. Guru pendidikan agama Islam harus mampu
memilih strategi yang tepat untuk pembelajaran dan mampu mengelola kelas
dalam proses pembelajaran di sekolah, sehingga prestasi yang dihasilkan
memungkinkan dapat membantu siswa dalam mencapai suatu kemudahan,
kecepatan mencapai kebiasaan, dan kesenangan murid dalam mempelajari
Islam untuk dijadikan pedoman dan petunjuk hidup dalam kehidupan siswa.

6
Cony Semiawan, Pendekatan Keterampilan Proses, (Jakarta: Gramedia, 1990), hlm. 63.
25
Prestasi ini tidak hanya terlihat dalam lingkungan sekolah saja, tetapi juga
teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Aktivitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas yang hanya
terjadwal dengan dua jam mata pelajaran setiap minggunya pada sekolah
umum SMP Negeri 04 Batu (Sekolah Menengah Pertama), memiliki nilai
kebutuhan yang tinggi bagi siswa. Dengan waktu sangat minim dan komponen
materi pelajaran Pendidikan Agama Islam yang bermacam-macam tujuan dan
fungsinya, maka dibuatlah perencanaan pembelajaran dengan matang agar
proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan menyenangkan.
Namun dalam proses belajar mengajar di kelas sering ditemui sikap
atau tingkah laku siswa yang dapat mengganggu selama kegiatan
pembelajaran berlangsung. Hal ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi
keberhasilan proses pembelajaran dan prestasi belajar siswa. Untuk mencegah
timbulnya tingkah laku-tingkah laku siswa yang mengganggu jalannya
kegiatan belajar mengajar, guru berusaha mendayagunakan potensi kelas,
memfokuskan perhatian kepada peserta didik, memahami mereka secara
individu dan memberi pelayanan-pelayanan tertentu yang merupakan wujud
dukungan dari warga sekolah. Upaya-upaya yang dilakukan ini merupakan
usaha dalam menciptakan kondisi belajar yang kondusif, optimal dan
menyenangkan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan
efisien, sehingga tujuan pembelajaran prestasi dapat dicapai dengan maksimal.
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk
meneliti lebih lanjut tentang realisasi strategi pengelolaan kelas dan faktor-
26
faktor pendukung dan penghambatnya serta, dampak dari strategi pengelolaan
tersebut terhadap prestasi yang dicapai siswa. Untuk itu, penelitian ini diberi
judul: "STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMP NEGERI 04
BATU".
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, dapat dirumuskan pokok
permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apa masalah-masalah pengelolaan kelas yang dihadapi guru Pendidikan
Agama Islam di SMP Negeri 4 Batu?
2. Bagaimana pelaksanaan strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP
Negeri 4 Batu?
3. Bagaimana dampak strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP
Negeri 4 Batu?
4. Apa faktor-faktor yang menghambat dan mendukung strategi pengelolaan
kelas dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu?



27
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, tujuan penelitian
ini adalah:
a. Mendeskripsikan masalah-masalah pengelolaan kelas yang dihadapi
guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Batu ?
b. Mendeskripsikan pelaksanaan strategi pengelolaan kelas dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa SMP Negeri 4 Batu.
c. Mendeskripsikan dampak strategi pengelolaan kelas dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa SMP Negeri 4 Batu.
d. Mendeskripsikan faktor-faktor yang menghambat dan mendukung
strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan Agama
Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu.
2. Manfaat
a. Secara teoritis hasil penelitian ini, bermanfaat sebagai bahan masukan
konstruktif untuk memperluas pengetahuan tentang strategi
pengelolaan kelas serta sebagai acuan untuk meningkatkan prestasi
belajar melalui strategi pengelolaan kelas.
b. Secara praktis hasil penelitian, bermanfaat sebagai pengalaman dan
acuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan melalui
28
strategi pengelolaan kelas, sehingga pembelajaran Pendidikan Agama
Islam berjalan dengan efektif dan efisien
D. Penegasan Istilah dan Ruang Lingkup Penelitian
Untuk menghindari kesalahpahaman pengertian tentang arti yang
terkandung dalam penelitian, maka diperlukan penjelasan beberapa istilah
yang terdapat dalam pembahasan:
a. Strategi Pengelolaan kelas
Strategi pengelolaan kelas dapat didefinisikan "pola siasat, teknik, yang
menggambarkan langkah-langkah yang digunakan guru dalam
menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas tetap kondusif, agar
siswa dapat belajar optimal, aktif, dan menyenangkan secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran”.
b. Pembelajaran
Upaya membelajarkan siswa melalui kegiatan memilih, menetapkan dan
mengembangkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil
yang diinginkan berdasarkan kondisi pembelajaran yang ada.
7

c. Pendidikan Agama Islam
Suatu upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong
belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus menerus mempelajari agama
Islam, baik untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara beragama yang
benar, maupun belajar Islam sebagai pengetahuan.
8


7
Sutiah, Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran, (Malang: Universitas Negeri Malang,
2003), hlm. 8.
8
Muhaimin, Suti’ah dan Nur Ali, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Pengefektifan
Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Rosdakarya, 2004), hlm.183.
29
d. Prestasi Belajar PAI
Hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan
dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
9

Adapun yang dimaksud dengan strategi pengelolaan kelas dalam
penelitian ini adalah pelaksanaan langkah-langkah yang digunakan guru
Pendidikan Agama Islam dalam pembelajaran PAI dalam menciptakan kondisi
kelas tetap kondusif dan mempertahankan kondisi itu ketika timbul masalah
dengan cara pendekatan-pendekatan yang profesional, sehingga siswa balajar
optimal, aktif dan menyenangkan secara efektif dan efisien untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Dengan diterapkannya strategi pengelolaan kelas
diharapkan dapat memberi dampak positif terhadap prestasi belajar agama
Islam siswa, baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap siswa
tentang apa yang telah dipelajarinya. Sedangk$an yang dimaksudkan dengan
faktor yang mendukung dan menghambat strategi pengelolaan kelas
merupakan hal-hal yang ditemukan dapat mendukung dan menghambat dari
pelaksanaan strategi pengelolaan kelas.
E. Pembatasan Ruang Lingkup Penelitian
1. Kajian pertama dalam penelitian ini tentang masalah-masalah pengelolaan
kelas yang dihadapi guru, hanya dibatasi tentang masalah-masalah yang
dihadapi guru di kelas maupun di sekolah pada umumnya.
2. Kajian pokok dalam penelitian ini hanya dibatasi pada pelaksanaan
strategi pengelolaan kelas dalam meningkatkan prestasi belajar siswa

9
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha
Nasional, 1994)
30
dalam pelajaran PAI di SMP Negeri 4 Batu. Kajian yang diteliti dalam hal
ini adalah pelaksanaan strategi pengelolaan kelas yang dilakukan oleh
guru terhadap siswanya agar pembelajaran berlangsung efektif, siswa aktif
dan semangat mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
3. Kajian pokok tersebut, juga akan diteliti tentang dampak strategi
pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya yang
diketahui melalui hasil tes atau rapor. Dampak tersebut dibatasi pada
dampak langsung yang berimplikasi pada prestasi kognitif dan
psikomotorik (pengetahuan dan keterampilan), dan dampak pengiring
yang berimplikasi pada prestasi afektif (sikap atau nilai).
4. Sasaran ketiga yang akan diteliti adalah faktor-faktor yang mendukung
dan menghambat strategi pengelolaan kelas dalam meningkatkan prestasi
belajar pada pembelajaran PAI. Kajian ini dibatasi pada pelaksanaan
strategi pengelolaan kelas yang akan ditemukan segala hal yang
mendukung dan menghambat proses pembelajaran PAI di kelas.
F. Sistematika Pembahasan
Penulisan skripsi ini terdiri dari 6 bab yang masing-masing bab terdiri
dari beberapa sub bab. Adapun sistematika pembahasannya sebagai berikut:
Bab I. Pendahuluan. Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang,
rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, penegasan istilah dan ruang
lingkup penelitian, pembatasan ruang lingkup penelitian, dan sistematika
pembahasan.
31
Bab II. Kajian Teori. Dalam bab ini dibahas tentang pertama, kajian
tentang strategi pengelolaan kelas yang meliputi pengertian strategi
pengelolaan kelas, masalah pengelolaan kelas, tujuan dan fungsi pengelolaan
kelas, dan prinsip-prinsip pengelolaan kelas, macam-macam pengelolaan
kelas. Kedua, kajian tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP
yang meliputi: pengertian pembelajaran pendidikan agama Islam, tujuan dan
fungsi Pendidikan Agama Islam, serta karakteristik pembelajaran Pendidikan
Agama Islam di SMP. Ketiga, tentang prestasi belajar yang meliputi:
pengertian prestasi belajar, sistem penilaian prestasi belajar, prestasi belajar
Pendidikan Agama Islam di SMP dan penilaian prestasi belajar Pendidikan
Agama Islam di SMP. Keempat: kajian tentang masalah-masalah pengelolaan
kelas yang dihadapi guru Pendidikan Agama Islam, pelaksanaan strategi
pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa, dampak strategi pengelolaan kelas dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar
siswa, faktor-faktor yang mendukung dan menghambat strategi pengelolaan
kelas dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa.
Bab III. Metodologi Penelitian. Dalam bab ini diuraikan tentang jenis
metodologi penelitian yang meliputi: pendekatan penelitian, jenis penelitian,
kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, metode pengumpulan data,
teknik analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian
32
Bab IV. Hasil Penelitian. Dalam bab ini diuraikan tentang data dan
temuan yang diperoleh dengan menggunakan metode dan prosedur yang
diuraikan dalam bab III yang terdiri dari deskripsi data dari hasil pengamatan,
wawancara, dokumentasi, dan angket, dan dilanjutkan dengan hasil analisis
data.
Bab V. Pembahasan Hasil Penelitian. Pembahasan terhadap temuan
temuan dalam penelitian yang diuraikan di bab IV dengan menunjukkan
tujuan penelitian yang dicapai, menafsirkan data temuan penting yang dicapai,
menintegrasikan penemuan penelitian pada temuan pengetahuan yang telah
ada, menjelaskan implikai-implikasi lain dari hasil penelitian, yang mana
merupakan jawaban rumusan permasalahan dalam bab I.
Bab VI. Penutup. Bab ini memuat kesimpulan dan saran






















33
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Strategi Pengelolaan Kelas
1. Pengertian Strategi Pengelolaan kelas
Secara bahasa, strategi bisa diartikan sebagai ’siasat’, ’kiat’,’trik’,
atau ’cara’. Sedang secara umum strategi ialah suatu garis besar haluan
dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
10

Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan
yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah
disusun tercapai secara optimal adalah dinamakan dengan metode. Strategi
menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan
metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.
11

Strategi juga dapat diartikan istilah, teknik dan taktik mengajar.
Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam
mengimplementasikan suatu metode. Taktik adalah gaya seseorang dalam
melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Sedangkan mengenai
bagaimana menjalankan strategi, dapat ditetapkan berbagai metode
pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat

10
Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: PT.
Refika Aditama, 2007), hlm. 3.
11
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2007), hlm. 126.
34
menentukan tehnik yang dianggapnya relevan dengan metode, dan
penggunaan tehnik guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antara
guru yang satu dengan guru yang lain.
12

Mengacu pada konteks belajar mengajar bahwa strategi dalam
penelitian ini adalah tehnik atau siasat yang digunakan guru dan
diperagakan oleh guru dan siswa dalam berbagai peristiwa pembelajaran
untuk mewujudkan tujuan pembelajaran agar lebih efektif dan efisien.
Sedangkan pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu
pengelolaan dan kelas. Pengelolaan merupakan terjamahan dari kata
“management”. Dalam kamus umum bahasa Indonesia disebutkan bahwa
pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang
dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.
13

Sedangkan Drs. Winarno Hamiseno mengemukakan pengelolaan
adalah substantifa dari mengelola. Sedangkan mengelola berarti tindakan
yang dimulai dari penyusunan data, merencana, mengorganisasikan,
melaksanakan sampai dengan pengawasan dan penilaian. Sehingga
pengelolaan menghasilkan sesuatu, dan sesuatu itu dapat merupakan
sumber penyempurnaan dan peningkatan pengelolaan selanjutnya.
14

Dengan demikian pengelolaan dapat diartikan bahwa kemampuan
atau keterampilan seseorang dalam melakukan tindakan-tindakan melalui
proses kegiatan-kegiatan orang lain dalam rangka meraih suatu pencapaian

12
Ibid., hlm. 128.

13
Suharsimi Arikunto, Op.Cit., hlm. 7.
14
Ibid., hlm. 7.
35
hasil yang dapat berfungsi sebagai sumber penyempurnaan dan
peningkatan keterampilan selanjutnya.
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto kelas adalah sekelompok
siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari
guru yang sama pula. Dalam hal ini tidak terkait pengertian ruangan
kelas.
15
Pandangan beliau dalam pengertian pengajaran, kelas bukan
wujud ruangan, tetapi sekelompok peserta didik yang sedang belajar,
meskipun peristiwa itu terjadi di ditempat lain, dimana siswa sedang
berkerumun belajar tentang hal yang sama, dari fasilitator yang sama.
Untuk memahami tentang pengelolaan kelas secara mendalam
maka akan dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli diantaranya:
a. Hadari Nawawi
Kegiatan manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai
kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas
berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap
personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah,
sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara
efisien untuk melakukan kegiatan kelas yang berkaitan dengan
kurikulum dan perkembangan murid.
16




15
Suharsimi Arikunto, Suhadjono, dan Supardi, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007), hlm. 3.
16
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2006), hlm. 177.
36
b. Syaiful Bahri Djamarah
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan
memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila
terjadi gangguan dalam proses belajar mangajar.
17

c. Burhanuddin
Pengelolaan kelas merupakan proses upaya yang dilakukan guru untuk
menciptakan dan memelihara kondisi yang kondusif dan optimal bagi
terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien.
18

Dari beberapa pengertian strategi dan pengelolalaan kelas, maka
strategi pengelolaan kelas dapat didefinisikan "pola siasat, tehnik, atau
langkah-langkah yang digunakan guru dalam menciptakan dan
mempertahankan kondisi kelas tetap kondusif, agar siswa dapat belajar
optimal, aktif, dan menyenangkan dengan efektif dan efisien untuk
mencapai tujuan pembelajaran”.
2. Masalah Pengelolaan Kelas
a. Pada aspek fisik
Bentuk pelanggaran disiplin yang bersifat individual, yaitu:
19

1) Tingkah laku menarik perhatian
Siswa mencari kesempatan pada waktu yang tepat untuk
melakukan perbuatan yang dianggapnya dapat menarik perhatian
orang lain. Sehingga diberi bantuan ekstra.

17
Ibid., hlm. 173.
18
Burhanuddinn dkk., Manajemen Pendidikan, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2003),
hlm. 44.
19
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op.Cit.., hlm 201.
37
2) Tingkah laku mencari kekuasaan
Siswa berperilaku yang dapat menguasai orang lain seperti
mendebat, marah, dan selalu lupa pada peraturan kelas yang
disepakati sebelumnya.
3) Tingkah laku membalas dendam
Siswa yang berperilaku seperti ini biasanya merasa lebih kuat,
misalnya mengancam, menendang, dan sebagainya.
4) Peragaan ketidakmampuan.
Siswa biasanya sangat apatis terhadap pekerjaan apapun.
b. Masalah pada aspek non fisik
Masalah kelompok dalam pengelolaan kelas menurut Lois V.
Johnson dan Marry A. Bany adalah:
20

1) Kelas kurang kohesif. Misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, dan
tingkatan sosio-ekonomi, dan sebagainya.
2) Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
Misalnya mengejek kelas yang dalam pengajaran Seni Suara
menyanyi dengan suara sumbang
3) “Membesarkan” hati anggota kelas yang justru melanggar norma
kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas.
4) Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas
yang tengah digarap.

20
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka cipta, 2004),
hlm. 119
38
5) Semangat kerja rendah. Misalnya aksi protes kepada guru karena
menganggap tugas yang diberikan kurang adil.
6) Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
Misalnya guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain.
Masalah pengelolaan kelas aspek fisik biasanya cenderung tidak
menjadi sesuatu berkepanjangan. Tetapi aspek nonfisik seringkali menjadi
masalah serius. Namun masalah tersebut tetap harus ditangani secara baik.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu
mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam
suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Selain itu
hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan anak didik, dan
antara anak didik merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.
21

3. Tujuan dan Fungsi Pengelolaan Kelas
Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam
tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolaan kelas menurut
Sudirman N. adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan
belajar siswa dalam lingkungan social, emosional, dan intelektual dalam
kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan
bekerja, terciptanya suasana social yang memberikan kepuasan, suasana
disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi
pada siswa.
22



21
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op.Cit., hlm. 174.
22
Ibid., hlm. 178.
39
Tujuan diadakannya pengelolaan kelas menurut Suharsimi
Arikunto adalah agar setiap anak di kelas itu dapat bekerja tertib sehingga
tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien, sebagai indikator dari
sebuah kelas yang tertib adalah:
23

a. Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang
berhenti karena tidak tahu akan tugas yang diberikan padanya
b. Setiap anak harus melakukan pekerjaan tanpa mrmbuang waktu,
artinya tiap anak akan bekerja secepatnya agar lekas menyelesaikan
tugas yang diberikan kepadanya.
Dari pengertian diatas dikemukakan bahwa pengelolaan kelas
berkaitan erat dengan pengaturan kelas dan tujuan pembelajaran. Hal ini
merupakan tugas guru untuk menciptakan suasana yang dapat
menimbulkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa,
meningkatkan mutu pembelajaran dan lebih memungkinkan guru
memberikan bimbingan terhadap siswa dalam belajar, sehingga diperlukan
pengorganisasian kelas yang memadai.
Sedangkan fungsi pengelolaan kelas adalah proses membuat
perubahan-perubahan dalam organisasi kelas, sehingga individu-individu
mau bekerja sama dan mengembangan kontrol mereka sendiri.
24
Siswa
harus mampu memimpin kelasnya sendiri sebagai kontrol dalam belajar
mereka. Kerja sama dalam kelas akan tampak dengan adanya kekompakan
untuk semangat belajar.

23
Suharsimi Arikunto, Op.Cit., hlm. 68.
24
Made Pidarta, Pengelolaan Kelas, (Surabaya: Usaha Nasional, 1970), hlm. 21.
40
4. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas
Secara umum factor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas
dibagi menjadi dua golongan, yaitu: factor intern siswa dan factor ekstern
siswa. Factor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran
dan perilaku siswa. Sedangkan factor ekstern siswa terkait dengan masalah
suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa,
jumlah siswa dan sebagainya.
25

Oleh karena itu, untuk memperkecil masalah gangguan dalam
pengelolaan kelas, perlu dikuasai oleh guru prinsip-prinsip pengelolaan
kelas, yang meliputi:
26

a. Hangat dan Antusias
Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik selalu menunjukkan
antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam
mengimplementasikan pengelolaan kelas
b. Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang
menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar
sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang
menyimpang, selanjutnya akan menambah menarik parrhatian anak
didik dan dapat mengendalikan gairah belajar peserta didik



25
Ibid.
26
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op.Cit., hlm. 185.
41
c. Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara
guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan,
meningkatkan perhatian anak didik. Kevariasian dalam
penggunaannya merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas
yang efektif dan menghindari kejenuhan.
d. Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya
dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didk serta
menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. keluwesan
pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan,
tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
e. Penekanan pada hal-hal yang positif
Penekanan yang dilakukan guru tarhadap tingkahlaku anak didik yang
positif dari pada mengomeli tingkah laku yang negative.penekanan
tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan positif, dn
kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu
jalannya proses belajar mengajar.
f. Penanaman disiplin diri
Anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Oleh karena
itu, guru selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri
sendiri dan guru menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan
pelaksanaan tanggung jawab.
42
Keakraban guru, pola interaksi, cara kerja yang menantang,
kevariasian dalam pembelajaran, keluwesan tingkah laku guru untuk
mengubah strategi mengajarnya, penekanan guru tarhadap tingkah laku
siswa yang positif, dan keteladanan guru merupakan modal awal dalam
penanaman disiplin diri pada siswa yang dapat mengurangi kemungkinan
munculnya tingkah laku yang menyimpang, dan menambah menarik
perhatian anak didik, Prinsip-prinsip pengelolaan kelas ini merupakan
konsep-konsep yang harus diterapkan dalam proses belajar mengajar.
5. Macam-Macam Pengelolaan Kelas
Sistem pendidikan, pengajaran, dan pembelajaran dimasa kini dan
masa akan datang semakin kompleks. Kompleksitas itu menghendaki
guru-guru perlu memiliki suatu wawasan tentang bagaimana mengelola
kelas-kelasnya secara lebih efektif. Guru dalam memainkan perannya dan
tugasnya mempunyai responsibilitas untuk menyelenggarakan program-
program instruksional (pengajaran dan pembelajaran) dan menciptakan
lingkungan kelas yang menyenangkan guna memungkinkan setiap siswa
mengembangkan potensi-potensinya secara maksimal
Kelas yang diorganisasi dengan baik dan dikelola secara efektif
dan efisien merupakan fundasi esensial bagi terselenggaranya suatu
program instruksional yang baik dan terciptanya suatu iklim saling
merespek dan memperdulikan antara siswa dan guru. Oleh karena itu
dapat diidentifikasi dengan 5 kunci sebagai komponen yang penting dalam
sebuah kelas yang dikelola dengan baik, yaitu:
43
a. Kegiatan Administrasi Manajemen
Kegiatan administrasi pendidikan tidak terlepas dari proses
manajemen. Sebuah kelas sebagai suatu unit kerja yang di dalamnya
bekerja sama sejumlah orang untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu,
dalam mengelola suatu kelas, guru atau wali kelas melakukan tindakan-
tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, koordinasi,
komunikasi, dan control.
1) Perencanaan kelas
Program umum berupa kurikulum sebagai program umum harus
diterjemahkan menjadi program-program yang kongkrit dengan
mengkaitkannya menurut waktu yang tersedia, yang dapat berbentuk
program tahunan, program semester atau caturwulan, program bulanan,
program mingguan dan bahkan mungkin pula berupa program harian.
27

2) Pengorganisasian kelas
Program kelas sebagai rencana kerja untuk mencapai suatu tujuan
harus bersifat realistis dalam arti benar-benar dapat dilaksanakan dan
diwujudkan. Aspek terpenting dalam pengorganisasian ini adalah usaha
dalam menempatkan personal yang tepat pada tempat yang tepat, dengan
memperhatikan kemampuannya, tingkat pendidikannya, masa kerja dan
pengalamannya dan lain-lain.
28
Kemudian melengkapinya dengan alat-alat
yang memugkinkan personal tersebut melaksanakan tugas-tugasnya.


27
Hadari Nawawi, Op.Cit., hlm. 130.
28
Ibid., hlm. 131.
44
3) Pengarahan
Setelah program dan organisasi disusun, selanjutnya kegiatan
dilaksanakan, yang mana kegiatan ini harus diusahakan untuk tidak
menyimpang dari rencana atau program yang telah disusun. Untuk itu
diperlukan instruksi-instruksi dan petunjuk-petunjuk bahkan bimbingan-
bimbingan agar kegiatan tidak menyimpang dari rel yang seharusnya.
4) Koordinasi kelas
Koordinasi kelas merupakan kegiatan membawa personal,
material, semua fasilitas, teknik-teknik dan tujuan kedalam suatu
hubungan kerja yang harmonis dalam rangka mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Koordinasi kelas dapat diwujudkan dengan menciptakan kerja
sama yang didasari saling pengertian akan tugas dan peran masing-
masing.
29
Setiap personal menyampaikan saran, pendapat, dan gagasan
baik dalam bidang kerjanya sendiri maupun bidang kerja orang lain
5) Komunikasi kelas
Komunikasi disalurkan berupa kesediaan menyampaikan
keterangan dan penjelasan yang diperlukan oleh pihak lain sebagai
anggota kelas untuk mewujudkan program kelas. Komunikasi antar
personal di kelas dapat berlangsung secara formal di dalam rapat atau
diskusi-diskusi dan dapat pula diwujudkan secara informal (hubungan
pribadi) dalam setiap kesempatan di dalam dan di luar kelas/sekolah.
30



29
Ibid., hlm. 132.
30
Ibid., hlm. 133.
45
6) Kontrol kelas
Kontrol dihubungkan dengan program yang disusun, dengan
maksud menilai apakah tujuan telah dicapai atau sampai dimana tujuan
telah diwujudkan. Bentuk konkrit kontrol berupa realisasi jadwal
pelajaran, disiplin guru dan disiplin murid, pelaksanaan tugas murid,
partisipasi setiap personal dalam program kelas. Melalui kontrol dapat
diperoleh data tentang keberhasilan dan ketidaberhasilan setiap kegiatan.
31

b. Kegiatan Operatif Manajemen Kelas
Kegiatan manajemen administrasi kelas harus ditunjang dengan
kegiatan manajemen operatif agar seluruh program berlangsung efektif
bagi pencapaian tujuan dan keberhasilan belajar. kegiatan ini meliputi:
1) Tata usaha kelas
Tercakup seluruh kegiatan manajemen administratif kelas dan
manajemen operatif sebagai kegiatan yang berangkai dan dikendalikan
agar seluruhnya tertuju pada tujuan yang sama. Kegiatan tata usaha dapat
berupa menghimpun dan mencatat data murid diantaranya nama, tempat
dan tanggal lahir, data kesehatan dan nilai hasil belajar, hubungan sosial,
mencatat atau membuat buku inventaris kelas, membuat jadwal pelajaran,
mengirim laporan kelas. Untuk itu dibutuhkan berbagai sarana penunjang
seperti buku stambuk, buku laporan pendidikan, dan lain-lain, yang
menyangkut aspek perbekalan dalam kegiatan manajemen operatif.


31
Ibid., hlm. 134.
46
2) Perbekalan kelas
Perbekalan kelas merupakan alat bantu yang memungkinkan
program kelas berlangsung secara efekif. Perbekalan kelas dapat berupa:
papan tulis, dan berbagai alat peraga, raport, meja kursi guru dan murid..
3) Kegiatan keuangan kelas
Pengadaan, pemeliharaan perbekalan kelas, dan pelaksanaan
beberapa program kelas mengharuskan tersedianya sejumlah dana. Dana
dari murid untuk melakukan kegiatan kelas, pengelolaannya dilakukan
oleh murid sendiri dengan pengawasan atau dilakukan oleh guru dan wali
kelas. Sedangkan dana yang bersumber dari sekolah untuk kepentingan
kelas dibawah bimbingan guru dan kepala sekolah.
4) Pembinaan personal kelas
Pengelolaan personal yang terdiri dari siswa-siswa. Kegiatan ini
berkenaan dengan aspek penempatan murid, yaitu; tempat duduk murid,
besar kecilnya badan, kesehatan mata dan pendengaran murid serta jenis
kelamin dan persahabatan antar murid, pengelompokan dalam kelompok
belajar dengan memperhatikan aspek intelegensi, bakat dan minat.
5) Hubungan masyarakat di lingkungan sekolah
Hubungan masyarakat diciptakan secara intern dan ekstern. Secara
intern menyangkut usaha memberikan informasi dan penjelasan pada
murid di kelas lain atau pada guru-guru yang tidak bertugas di kelas
tersebut, agar memahami program yang hendak direalisir di suatu kelas.
47
Sedangkan yang ekstern dapat dilakukan dengan orang tua/wali murid,
dengan memberikan informasi atau penjelasan tentang program kelas
6) Kepemimpin wali/guru kelas
Kepemimpinan diartikan sebagai mengarahkan, membimbing,
mempengaruhi atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakan dan
tingkah laku orang lain. Guru kelas harus melakukan usaha
menggerakkan, memotivasi, menyatukan pikiran dan tingkah laku para
siswa dan guru terarah pada tujuan yang terdapat dalam program kelas.
32

c. Penataaan Ruang Kelas
Tindakan guru dalam mengatur peralatan belajar, lingkungan
belajar, dan lingkungan sosio-emosional merupakan suatu hal yang
mendukung keberhasilan pembelajaran. Menciptakan suasana yang
menggairahkan dan mengaktifkan siswa perlu memperhatikan pengaturan
ruang kelas. Pengaturan ini perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
33

- Aksessibilitas: siswa mudah menjangkau alat atau sumber belajar
- Mobilitas: siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian
lain dalam kelas
- Interaksi: memudahkan terjadi interaksi antara guru dengan siswa
maupun antar siswa
- Variasi kerja siswa: memungkunkan siswa bekerja sama secara
perorangan, berpasangan, atau berkelompok

32
Ibid., hlm. 140.
33
Sutrisno, “Revolusi Pendidikan di Indonesia”, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006), hlm. 80.
48
Segala sesuatu dalam lingkungan kelas menyampaikan pesan yang
memacu atau menghambat belajar. Segala yang dapat kita lihat, biasanya
memberi inspirasi untuk melahirkan pikiran yang orisinil. Demikian juga
lingkungan belajar yang tertata rapih memberi inspirasi berpikir yang
cermat dan kekuatan belajar. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1) Penataan bangku dalam kelas
Dekorasi interior kelas perlu dirancang yang memungkinkan siswa
belajar secara aktif, yakni menyenangkan dan menantang. Formasi bangku
dalam kelas dapat dengan mudah dipindah-pindah, maka sangat mungkin
menggunakan formasi ini sesuai dengan yang diinginkan. Yaitu:
34

a) Formasi huruf U
Susunan ini ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada siswa
secara cepat karena guru dapat masuk ke huruf U dan berjalan ke berbagai
arah dengan seperangkat materi

b) Formasi corak tim
Susunan ini memungkinkan siswa melakukan interaksi tim. Guru
meletakkan kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan paling akrab.

34
Ibid., hlm. 81-84.
Guru
Guru
49

c) Formasi meja konferensi
Susunan ini mengurangi peran dominan guru, lebih mengutamakan
peran penting siswa, tanpa merasa siswa yang berada diujung tertutup.




d) Formasi lingkaran
Sebuah lingkaran ideal untuk diskusi kelompok penuh

e) Kelompok untuk kelompok
Susunan ini memungkinkan guru untuk melakukan diskusi atau
menyusun permainan peran, berdebat atau observasi dari aktivitas
kelompok.
Guru Guru Guru
Guru
Guru
Guru
50

f) Susunan Chevron
Susunan V mengurangi jarak antara para siswa, sehingga
pandangan lebih baik dan memungkinkan melihat siswa lain dari baris
lurus. Susunan ini tempat paling bagus ada di pusat tanpa jalan tengah.

g) Kelas Tradisonal
Jika tidak ada cara untuk lingkaran dari baris lurus yang berupa
meja dan kursi, guru dapat mencoba mengelompokkan kursi-kursi dalam
pasangan-pasangan untuk memungkinkan penggunaan teman belajar.

Guru
Guru
Guru
51
2) Hiasan dinding
Dinding merupakan pajangan pesan yang setiap hari bisa diubah,
diganti sesuai pesan yang ingin disampaikan.
3) Penempatan lemari
Rak/lemari buku kelas merupakan miniature perpustakaan. Rak buku
membawa pesan budaya membaca lemari buku diletakkan di depan.
4) Pas bunga
Belajar dengan penuh kesegaran berarti belajar memungkinkan akan
lebih baik. Stimulus yang negative akibat suasana yang tidak segar banyak
mendorong pikiran kontra produktif.
5) Papan tulis, kapur tulis, dan lain-lain
Ukurannya disusaikan, warnanya harus kontras, penempatannya
memperhatikan estetika dan terjangkau oleh anak didik
6) Papan presensi anak didik
Diletakkan dibagian depan sehingga dapat dilihat semua peserta didik
7) Ventilasi dan pengaturan cahaya
Ventilasi sesuai dengan ruangan. Cahaya yang masuk harus cukup.
Cahaya masuk dari arah kiri, jangan berlawanan dengan bagian depan.
35

8) Halaman sekolah
Manajemen sekolah wajib membuat segalanya hidup, memberi pesan
dan membawa kesan.

Kebersihan akan membawa rasa nyaman saat belajar.
Guru memeriksa kebersihan dan ketertiban kelas dan halaman sekolah.



35
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op.Cit., hlm. 177.
52
9) Media pengajaran
Alat peraga atau media pengajaran seharusnya diletakkan di kelas agar
memudahkan penggunaannya. Pengaturannya bersama-sama anak didik.
d. Pengelolaan perilaku siswa
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan dan sebagai lingkungan
dimana siswa hidup, sangat diharapkan untuk membentuk sikap dan
perilaku siswa dengan baik. Dalam proses pembelajaran sering kali timbul
hal-hal yang mengganggu kondisi kelas. Oleh karena itu, terdapat
komponen-komponen keterampilan preventif dan kuratif yang harus
dimiliki seorang guru dalam penciptaan dan pemeliharaan dengan
pengembangan kondisi belajar yang optimal.
1) Keterampilan bersifat preventif dengan cara melakukan:
a) Sikap tanggap
Tanggap terhadap perhatian, keterlibatan, ketidakacuhan,
ketidaklibatan siswa dalam tugas-tugas di kelas. Ketanggapan ini dapat
ditunjukkan dengan cara:
Memandang secara seksama; bercakap-cakap, bekerja sama, dan
menunjukkan rasa persahabatan
Gerak mendekati. Gerak ini menandakan kesiagaan, minat, dan
perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas siswa.
Memberikan pertanyaan, tanggapan, komentar, ataupun yang lain
Memberi reaksi tepat terhadap gangguan dan ketidakacuhan siswa

53
b) Memberi perhatian
Membagi perhatian dapat dilakukan dengan dua cara;
visual; mengalihkan pandangan dari satu kegiatan kepada
kegiatan yang lain dengan kontak pandang terhadap kelompok
siswa atau seorang siswa
verbal; memberikan komentar, penjelasan, pertanyaan, dan
sebagainya terhadap aktivitas seorang siswa sementara ia
memimpin kegiatan siswa yang lain
c) Pemusatan perhatian kelompok:
Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara:
menyiagakan siswa; memusatkan perhatian siswa kepada suatu
hal sebelum guru menyampaikan materi pokok
menuntut tanggung jawab siswa. Guru memegang teguh
kewajiban dan tanggung jawab yang dilakukan oleh siswa serta
keterlibatan siswa dalam tugas-tugas.
d) Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas tentang hal atau cara
yang berhubungan dengan pelajaran sehingga tidak terjadi
kebingungan pada siswa
e) Menegur, Guru menegur siswa secara verbal ketika terjadi tingkah
laku siswa yang mengganggu kelas atau kelompok kelas. Teguran
verbal yang efektif adalah yang memenuhi syarat-syarat :
tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta
kepada tingkahlakunya menyimpang
54
menghindari peringatan yang kasar, ocehan atau ejekan dan
menyakitkan atau mengandung penghinaan.
f) Memberi penguatan dengan cara:
Dengan menggunakan penguatan positif bila anak didik telah
menghentikan gangguan atau kembali kepada tugas yang diminta
Dengan menggunakan penguatan positif terhadap anak didik
yang lain yang tidak mengganggu dan dipakai sebagai model
tingkah laku yang baik bagi anak didik yang suka mengganggu.
36

Tindakan preventif merupakan sikap dan tindakan yang dilakukan
oleh guru yaitu tindakan pencegahan dari timbulnya tingkah laku siswa
yang mengganggu kegiatan belajar mengajar. Tindakan pencegahan
dilakukan dengan menyediakan kondisi yang optimal, baik kondisi fisik
maupun kondisi sosio-emosional sehingga ada rasa keamanan dan
kenyamanan peserta didik dalam belajar.
37

2) Keterampilan bersifat kuratif
Pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi
untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus
menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas
di kelas. Strategi itu adalah:
38





36
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm.
98-99.
37
Ahmad Rohani dan Abu Rohani, Op.Cit., hlm. 117.
38
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op.Cit., hlm. 194.
55
a) Modifikasi Tingkah laku
Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami masalah
atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan
mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis
b) Pendekatan pemecahan masalah kelompok
Memperlancar tugas-tugas dengan mengusahakan terjadinya
kerjasama yang baik dalam pelaksanaan tugas
Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok dan memulihkan semangat
anak didik serta menangani konflik yang timbul
c) Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan
masalah misalkan dengan cara mengetahui sebab-sebab dasar yang
mengakibatkan ketidakpatuhan dan berusaha menemukan pemecahan.
Dalam mengelola kelas, seorang guru harus mampu menciptakan
kondisi yang optimal dan mempertahankan kondisi kelas tetap kondusif
ketika tingkah laku peserta didik menyimpang dan mengganggu proses
belajar mengajar. Guru harus mampu meminimalisir gangguan-gangguan
yang sekiranya terjadi.
Disamping pemenuhan keterampilan bagi guru dalam menciptakan
dan mempertahankan kondisi kelas, maka guru juga perlu melakukan
pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas untuk melahirkan interaksi yang
optimal dan menangani masalah-masalah dalam pengelolaan kelas.
Berbagai pendekatan tersebut adalah :

56
a. Pendekatan kekuasaan
pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol
tingkah laku siswa. Peranan guru adalah menciptakan dan
mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah
kekuatan yang menuntut kepada siswa untuk menaatinya. Didalamnya
ada kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk ditaati anggota
kelas. Melalui kekuasaan berbentuk norma itulah guru mendekatinya.
b. Pendekatan ancaman
Dari pendekatan ancaman dan intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah
juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik.
Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan
memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
c. Pendekatan kebebasan
Pengelolaan diartikan suatu proses untuk membantu siswa agar merasa
bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan
guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan siswa.
d. Pendekatan resep (cook book)
Pendekatan ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat
menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan
guru dalam mereaaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas.
e. Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu
perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah
57
tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa
dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam
mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik
yang kurang baik. Peranan guru adalah mererencanakan dan
mengimplementasikan palajaran yang baik.
f. Pendekatan perubahan tingkah laku
Pengelolaan kelas diartikan sebagai proses untuk mengubah tingkah
laku anak didik. Peranannya guru adalah mengembangkan tingkah
laku siswa yang baik dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.
g. Pendekatan suasana emosi dan hubungan sosial
Pendekatan ini berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial (socio
emotional climate approach) didalam kelas sebagai sekelompok
individu yang cenderung pada pandangan psikologi klinis dan
konseling. Pengelolaan kelas diartikan sebagai proses menciptakan
suasana emosional dan hubungan sosial positif di kelas melalui
hubungan baik antara guru dengan anak didik, dan antar anak didik.
guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi yang sehat.
h. Pendekatan proses kelompok
Pengelolaan kelas diartikan proses menciptakan kelas sebagai sistem
sosial, melalui proses kelompok. Guru berusaha agar perkembangan
dan pelaksanaan proses kelompok efektif. Guru mengelompokkan
siswa ke dalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan
individual sehingga tercipta kelas yang bergairah belajar.
58
i. Pendekatan elektis atau pluralistik
Pendekatan ini menekankan potensialitas, kreativitas, dan inisiatif guru
kelas dalam memilih berbagai pendekatan berdasarkan situasi,
mungkin diperlukan salah satu dan dalam situasi lain harus
mengkombinasikan pendekatan tersebut. Disebut pluralistik, karena
pengelolaan kelasnya menggunakan berbagai macam pendekatan yang
berpotensi untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang
memungkinkan proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien.
39

Dalam meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam
perlunya guru mempertahankan apa yang sudah efektif di dalam
pembelajaran dan menutupi kekurangan yang ada melalui kegiatan yang
telah ditetapkan oleh lembaga. Guru selalu mengontrol kemampuan siswa
artinya adanya perhatian terhadap setiap individu.
e. Strategi Pembelajaran
Untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan siswa
antusias dalam mengikuti pelajaran, guru harus mampu menerapkan
komponen strategi pembelajaran dan merancang pengajaran, sehingga
pengajaran yang dilakukan dapat memuaskan siswa. Untuk meningkatkan
prestasi belajar dalam dampak Instruksional dan dampak pengiring, guru
harus mampu menciptakan pembelajaran efektif dan menerapkan strategi
pembelajaran sesuai komponen-komponennya, yaitu:
40



39
Ibid., hlm. 179-184.
40
Hamzah B. Uno. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif
dan Efektif, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 3.
59
1) Kegiatan pembelajaran pendahuluan
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran khusus dan melakukan
apresiasi. Cara penyampaian bisa dengan menggunakan ilustrasi kasus
yang sering dialami oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Guru
menunjukkan eratnya hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa
dengan pengetahuan yang akan dipelajari.
2) Penyampaian informasi
Urutan penyampaian materi diberikan berdasarkan tahapan berfikir
dari hal-hal bersifat konkret ke hal-hal bersifat abstrak. Urutan
penyampaian informasi yang sistematis akan memudahkan peserta didik
cepat memahami apa yang ingin disampaikan gurunya. Besar kecilnya
materi disampaikan sangat bergantung pada karakteristik peserta didik dan
jenis materi yang akan dipelajari. Ruang lingkup materi yang akan
disampaikan sudah tergambar pada saat penentuan tujuan pembelajaran.
Guru harus terlabih dahulu memahami jenis materi pelajaran yang
akan disampaikan agar diperoleh strategi pembelajaran yang sesuai.
Apabila tujuannya untuk mengingat nama suatu objek atau peristiwa,
berarti materinya berbentuk fakta, sehingga strategi penyampaiannya
dengan ceramah atau tanya jawab. Apabila tujuannya untuk menyebutkan
suatu definisi atau menulis ciri khas dari suatu benda, berarti materinya
berbentuk konsep, sehingga strategi penyampaiannya dengan resitasi, atau
diskusi kelompok. apabila tujuannya untuk mengemukakan hubungan
60
antar beberapa konsep, berarti materinya berbentuk prinsip, sehingga
strategi penyampaiannya dengan diskusi terpimpin dan studu kasus.
3) Partisipasi peserta didik
Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik
secara aktif melakukan latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan
pembelajaran. Latihan dan praktik dilakukan setelah peserta didik diberi
informasi tentang pengetahuan, sikap atau keterampilan tertentu.
Setelah diberi kesempatan mempraktikkannya, guru memberikan
umpan balik yang berupa penguatan positif (bagus, dan tepat sekali) dan
positif negatif (kurang tepat, salah, perlu disempurnakan). Dengan
penguatan positif diharapkan perilaku akan terus dipelihara dan
ditunjukkan peserta didik. Penguatan negatif diharapkan perilaku atau
kesalahan itu tidak akan diulangi lagi oleh peserta didik.
41

4) Tes
Pelaksanaan tes dilakukan di akhir kegiatan pembelajaran setelah
peserta didik melalui proses pembelajaran, penyampaian materi, atau
dilaksanakan setelah dilakukan latihan dan praktik
5) Kegiatan lanjutan
Kegiatan yang dikenal dengan istilah follow up dari suatu hasil
kegiatan yang telah dilakukan. Misalnya, setiap kali setelah tes dilakukan,
selalu saja terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau di atas
rata-rata, hanya menguasai sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat

41
Ibid., hlm. 6.
61
penguasaan yang diharapkan dapat dicapai. Dengan begitu peserta didik
seharusnya menerima tindak lanjut yang berbeda sebagai konsekuensi dari
hasil belajar yang bervariasi tersebut.
Dari komponen-komponen yang saling berinteraksi ini, maka
pemilihan strategi pembelajaran perlu memperhatikan efisinsi dan
efektivitas dalam mencapai tujuan pembelajaran, sehingga peserta didik
dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara optimal.
Sedangkan perancangan pengajaran yang dinamis membutuhkan
beberapa modalitas yang dikembangkan sebagai resep pengelolaan kelas.
42

diantaranya:
1) Konsep “Dari dunia kita mereka ke dunia kita”
Konsep ini merupakan suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh
seorang guru untuk menjembatani jurang antara dunia kita dan dunia
mereka (siswa dan guru) yang akan memudahkan guru membangun
jalinan, menyelesaikan bahan pelajaran lebih cepat, membuat hasil belajar
lebih melekat, dan memastikan terjadinya pengalihan pengetahuan.
43

Dengan membuat rencana pengajaran yang dapat menyeberang dan
masuk ke dunia anak dengan cara mengerti minat, hasrat dan pikirannya,
maka siswa akan memberi izin guru dan diterima untuk menuntun dan
memimpinnya, sehingga guru dapat membawa siswa sepenuhnya ke dalam
proses pembelajaran.


42
Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Op.Cit., hlm. 106.
43
Bobbi De Porter, Mark Reardon, Sarah Singer-Nourie, Quantum Teaching-Mempraktikkan
Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas, (Bandung: Kaifa, 1999), hlm. 84.
62
2) Mencermati modalitas Visual, Auditorial, Kinestetik (V-A-K)
Proses pengajaran yang dilakukan guru harus mampu
menyesuaikan pengajaran dengan modalitas-modalitas tersebut. Semua
orang cenderung pada salah satu modalitas belajar yang berperan sebagai
saringan untuk pembelajaran, pemrosesan dan komunikasi. Penelitian
menunjukkan bahwa semakin banyak modalitas yang guru libatkan secara
bersamaan, maka belajar akan semakin hidup, berarti, dan melekat.
44

a) Visual
Modalitas ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun
diingatkan. Warna, hubungan ruang, potret mental, dan gambar akan
menonjol. Seseorang yang sangat visual membutuhkan gambaran dan
tujuan menyeluruh, menangkap detail mengingat apa yang dilihat
b) Auditorial
Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata yang
diciptakan dan diingatkan. Musik, nada, , dialog internal dan suara akan
menonjol. Seseorang yang auditorial belajarnya dengan mendengarkan,
bersuara saat membaca, berdialog secara internal/eksternal.
c) Kinestetik
Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi yang
diciptakan maupun diingat. Gerakan, koordinasi, irama, tanggapan
emosional, dan kenyamanan fisik menonjol disini. Seseorang yang sangat
kinestetik menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak, tipe

44
Ibid., hlm. 86.
63
belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi
secara fisik, mengingat sambil berjalan dan melihat.
3) Model kesuksesan dari sudut pandang perancang
Guru harus selalu mengolah secara cermat rencana pengajaran
untuk mempersiapkan siswa belajar dengan penuh kehangatan dan
antusias. Buat segalanya bertujuan dengan cara membuat strategi
TANDUR; Tumbuhkan (sertakan, pikat siswa pada manfaat tujuan bagi
dirinya), Alami (berikan pengalaman belajar), Namai (berikan data yang
tepat saat minat memuncak), Demonstrasikan (beri kesempatan siswa
untuk membuat pengajaran sebagai pengalaman pribadi), Ulangi (rekatkan
gambaran keseluruhan), dan Rayakan (rayakan kemenangan siswa).
45

Guru dalam proses pembelajaran harus mampu memikat siswa untuk
belajar, menumbuhkan rasa ingin tahu, mengerti identitas dan definisi
suatu pengalaman, kemudian pengalaman itu dikaitkan dengan
pengalaman baru, hingga siswa menghayati menjadi pengalaman pribadi.
Segala apa yang baru diketahui perlu diulang hingga merekat. Guru perlu
memberikan penghargaan dari usaha dan ketekunannya dalam belajar.
4) Pertemukan kecerdasan berganda
Prestasi belajar merupakan harmoni dari berbagai kecerdasan,
bukan satu kecerdasan. Seorang guru diharapkan dapat memanfaatkan
kecerdasan secara optimal. Dengan memasukkan kecerdasan berganda ke
dalam isi dan perancangan pengajaran, maka akan membantu siswa secara

45
Pupuh Fathurrohman dan M.Sobry Sutikno, Op.Cit., hlm. 107.
64
otomatis mendapatkan lebih banyak makna dan rangsangan otak dalam
proses balajar, sekaligus memberi lebih banyak variasi dan kesenangan,
serta mengembangkan dan memperkuat kecerdasan siswa.
5) Penggunaan metafora, perumpamaan dan sugesti
Metafora dapat menghidupkan konsep yang terlupakan dan
memunculkannya ke otak secara mudah dan cepat melalui asosiasi.
Perumpamaan memberi bayangan yang mudah diingat. Menurut ilmuwan
saraf bahwa 90% masukan indra untuk otak berasal dari sumber visual dan
ia memiliki tanggapan cepat terhadap simbol, gambar yang sederhana dan
kuat. Sedangkan sugesti/persepsi dalam pembelajaran bisa terjadi karena
niat, penggunaan lingkungan sekeliling, bahasa positif dan non verbal.
46

Dalam menampilkan lingkungan dan suasana belajar yang
mendukung, guru harus memiliki niat yang kuat atau kepercayaan akan
kemampuan dan motivasi siswa, memahami kaitan antara pandangan
(lingkungan sekeliling) dengan otak, serta mampu berkomunikasi secara
selaras antara bahasa vokal, bahasa tubuh, dan pikiran otak, sehingga
pesan yang disampaikan mudah direkam dan diterima siswa.
A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP
1. Pengertian pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran berasal dari kata “ajar” yang artinya petunjuk yang
diberikan kepada orang supaya diketahui/diturut. Selanjutnya kata “ajar”
mendapat awalan “ber” menjadi kata kerja “belajar” yang berarti berusaha

46
Bobbi De Porter, Mark Reardon, Sarah Singer-Nourie, Op.Cit, hlm 104.
65
memperoleh kepandaian suatu ilmu pengetahuan atau keterampilan. Kata
“pembelajaran” berasal dari kata “belajar” yang mendapat awalan “pe”
dan akhiran “an”, yang mempunyai arti proses.
47

Kata pembelajaran diinterpretasikan sebagai aktivitas guru yang
merencanakan atau merancang kegiatan belajar dan siswa yang melakukan
aktivitas belajar. Istilah pembelajaran diterjemahkan instruction yang
menurut Roniszowsky merujuk pada proses pengajaran yang berpusat
pada tujuan atau goal directed teaching process yang dapat direncanakan
sebelumnya. Sifat proses tersebut adalah perubahan perilaku dalam
konteks pengalaman yang sebagian besar sengaja dirancang.
48

Menurut Muahaimin pembelajaran merupakan proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan
belajar dimana seseorang bereaksi terhadap kondisi tertentu.
49

Menurut Degeng pembelajaran merupakan upaya membelajarkan
siswa. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa pembelajaran adalah
upaya membelajarkan siswa melalui memilih, menetapkan dan
mengembangkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil
yang diinginkan berdasarkan kondisi pembelajaran yang ada.
50

Bila dikaitkan dengan pengertian pembelajaran PAI, maka diperoleh
pengertian menurut Muhaimin bahwa Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam adalah upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar,

47
Peter Salim dan Yenniy Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern
English Press), hlm. 25.
48
Sutiah, Op.Cit., hlm. 8.
49
Muhaimin, Suti’ah dan Nur Ali, Op.Cit., hlm. 164.
50
Sutiah, Op.Cit., hlm. 8.
66
terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus menerus
mempelajari agama Islam, baik untuk kepentingan mengetahui bagaimana
cara beragama yang benar, maupun belajar Islam sebagai pengetahuan.
51

Dari pengertian ini dapat dicermati, pembelajaran Pendidikan
Agama Islam telah memberikan dorongan kepada peserta didik dengan
mengajak mereka untuk tertarik dan terus menerus mempelajari ajaran
agama Islam, sehingga dapat mengaplikasikan dalam kehidupannya
sehari-hari. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah
dilaksanakan bukan hanya untuk penguasaan materi pada aspek kognitif
saja, tetapi juga penguasaannya pada aspek afektif dan psikomotorik
2. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/madrasah memiliki fungsi
sebagai:
52

a. Pengembangan yaitu sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan
lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan
pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang
secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan
hidup di dunia dan di akhirat
c. Penyesuaian mental yaitu menyesuaikan diri pada lingkungan fisik dan
sosial serta dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran islam

51
Muhaimin, Suti’ah dan Nur Ali, Op.Cit., hlm. 183.
52
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 134.
67
d. Perbaikan yaitu memperbaiki kesalahan, kekurangan, anak didik dalam
pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
e. Pencegahan yaitu menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya yang
dapat membahayakan dirinya menuju manusia indonesia seutuhnya.
f. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam
nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya
g. Penyaluran, yaitu menyalurkan anak didik yang memiliki bakat khusus
di bidang agama islam agar bakat itu dapat berkembang secara optimal
sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya dan orang lain.
Dalam Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) bagian Standar Kelompok Mata Pelajaran
(SK-KMP) yang dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan
dan/atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran bahwa kelompok mata
pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan: membentuk peserta didik
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa serta berakhlak mulia. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan
dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu
pengetahuan dan tekhnologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.
53

Dari acuan Permendiknas No. 23 tahun 2006 tersebut disimpulkan
bahwa Pendidikan Agama Islam bertujuan membentuk peserta didik
menjadi manusia yang beriman kepada Allah SWT. dan berakhlak mulia.
Tujuan tersebut dicapai melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang sesuai

53
Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan-Konsep dan
Implementasinya di Madrasah, (Jogjakarta: Madrasah Development Center (MDC) Jateng dan
Pilar Media, 2007), hlm. 369.
68
dengan ajaran Islam, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan
dan tekhnologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.
Sedangkan Standar Kelompok Mata Pelajaran (SK-KMP) pada
tingkat SMP/MTs/SMPLB*/Paket B untuk selengkapnya bahwa mata
pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan:
54

a. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap
perkembangan remaja
b. Menerapkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan
c. Memahami keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan
sosial ekonomi
d. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun yang
mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk tuhan.
e. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan
waktu luang sesuai dengan tuntunan agamanya
f. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab
g. Menghargai perbedaan pendapat dalam menjalankan ajaran agama.
Rumusan fungsi dan tujuan Pendidikan Agama Islam ini yang
dilalui dan dialami oleh siswa disekolah dimulai dengan 3 tahapan, yaitu:
55

a. Kognisi yaitu pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan
nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran islam,
b. Afeksi yaitu terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke
dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan meyakininya,

54
Ibid., hlm. 371.
55
Muhaimin, Suti’ah dan Nur Ali, Op.Cit., hlm. 79.
69
c. Psikomotorik yaitu tahapan afeksi yang tumbuh dalam diri siswa
sebagai motivasi dan tergerak untuk mengamalkannya dan menaati
ajaran agama islam yang telah diinternalisasikan dalam dirinya.
Penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi
pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran dan nilai agama Islam, tumbuh
motivasi dalam diri siswa dan tergerak untuk mengamalkannya, sehingga akan
terbentuk manusia muslim beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.
3. Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP
a. Kondisi Pembelajaran PAI
Kondisi proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat
bervariasi. Menurut Imam Tholkhah pelaksanaan pembelajaran PAI di sekolah
pada umumnya di lakukan melalui dua pendekatan, yaitu:
56

1.) Intrakurikuler adalah proses belajar mengajar bidang Pendidikan Agama
Islam secara formal, sesuai dengan standar isi dan standar kelulusan yang
telah ditentukan oleh pemerintah. Waktu pembelajaran siswa sangat
terbatas pada jam-jam yang telah ditentukan oleh satuan pendidikan. Pada
sekolah tingkat menengah pertama terdapat 2 jam pelajaran perminggu.
2.) Ekstrakurikuler adalah proses belajar mengajar bidang Pendidikan Agama
Islam yang dilakukan di luar jam sekolah. Materi dalam pembelajaran
agama ekstrakurikuler umumnya digunakan sebagai media pendalaman
atau pengembangan materi pendidikan islam, yang dirasakan tidak cukup
waktu pada pembelajaran intrakurikuler

56
Imam Tholkhah, Strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, 25
Oktober 2007 http://www.ditpais.info. iqbalnurhadi.web.IdI Update: Wednesday, 13 February
2008.
70
Jika dilihat dari waktu jam yang disediakan pada masing-masing
pendekatan, maka penggunaan waktu jam pelajaran dan kurikulum
intrakurikuler mengikat bagi siswa dan guru, untuk sesuai dengan jadwal dan
aturan-aturan yang berlaku secara nasional, sehingga dikhawatirkan
kemampuan siswa menguasai pelajaran agama Islam tidak bisa maksimal.
Sedangkan waktu pembelajaran ekstrakurikuler tidak terikat oleh
tuntutan kebijakan nasional, tetapi tergantung kebijakan tiap guru dan sekolah.
Hal ini perlu perhatian oleh guru agama yang berkualitas dan bersedia
mengabdikan secara penuh, tulus dan ikhlas memberikan waktui dan
bimbingan agama kepada siswa. Disamping itu juga memerlukan kesediaan
para siswa untuk menambah waktu belajarnya di luar jam pelajaran.
b. Metode Pengajaran
Metode pengajaran merupakan salah satu kemampuan yang harus di
kuasai guru agama Islam. Guru tidak hanya dituntut dalam penguasaan materi
saja, tetapi harus mampu menguasai metode pengajaran yang dapat
mengantarkan siswa mencapai tujuan pembelajaran, baik dalam aspek
kognitif, psikomotorik maupun afektif. Peningkatan mutu guru agama Islam
ini memiliki tujuan akhir meningkatkan keberagamaan siswa yang berimtak.
Untuk meningkatkan keberagamaan siswa sekolah, dapat digunakan
metode internalisasi/personalisasi yaitu upaya memasukkan pengetahuan dan
keterampilan yang berada di daerah ekstern (otak atau badan) ke dalam
71
daerah intern yang berupa kepribadian siswa, sehingga menjadi satu kesatuan
dari keduanya. Berikut ini teknik dari metode internalisasi:
57

1.) Teknik pengajaran kognitif yang menggunakan uraian afektif, seperti
tahu konsep sholat (knowing), terampil melaksanakan sholat (doing),
dan melaksanakan sholat dalam kehidupan sehari-hari (being).
2.) Teknik non pengajaran kognitif yang meliputi; peneladanan,
pembiasaan, sholat sunnat yang mutlak sebagai pengganti ceramah Isra’
Mi’raj atau membca sholawat sebagai pengganti ceramah maulud Nabi,
perlombaan yang mengandung nilai keberagamaan, doa’do’a, membaca
Al-Qur’an, selalu thahur, puasa sunnat, dan sebagainya.
Upaya peningkatan pembelajaran agama Islam di SMP bukan hanya
tugas guru agama saja, tetapi harus melibatkan dukungan dari kepala
sekolah, tenaga pendidik dan warga sekolah lainnya serta orang tua siswa,
demi tercapainya tujuan pembelajaran.
B. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi akan dihasilkan selama seseorang melakukan suatu
kegiatan. Nasrun Harahap dan kawan-kawan memberikan batasan, bahwa
prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan
murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan
kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum.
58
Menurut

57
Ahmad Tafsir, Pendidikan Agama Islam di Sekolah, http://www.ditpais.info. Hlm.: 9-11.
58
Syaiful Bakri Djamarah, Op.Cit., hlm. 20.
72
Syaiful Bahri Djamarah prestasi adalah hasil dari sebuah kegiatan yang
telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok.
59

Prestasi dapat diartikan penilaian dari hasil kegiatan pendidikan
tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan
penguasaan bahan pelajaran dan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum
Sedangkan pengertian belajar secara psikologis menurut Slameto
merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi
dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar
adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
60

Setelah mengetahui pengertian ”prestasi´ dan ”belajar” dari para
ahli, maka dapat diambil pengertian yang sederhana bahwa prestasi belajar
adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan
perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
61

Dengan demikian prestasi belajar yang dikehendaki dalam
pembahasan ini adalah suatu hasil usaha kegiatan belajar dalam
pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yang
mana hasil belajar itu dapat dilihat dalam Kompetensi Dasar tertentu yang
terwujud dalam bentuk nilai deskriptif maupun angka.



59
Ibid.
60
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta:Bina Aksara, 1988),
hlm. 2.
61
Syaiful Bahri Dajmarah, Op.Cit., hlm. 23.
73
2. Sistem Penilaian Prestasi Belajar
Sistem penilaian merupakan suatu prosedur dan kriteria-ktiteria
penilaian yang diberlakukan sekolah untuk menetapkan tingkat ketuntasan
belajar dan kenaikan kelas peserta didik. Sistem penilaian itu berfungsi
untuk mengendalikan proses dan hasil belajar prestasi belajar dalam
mengimplentasikan kurikulum. Dalam dokumen KTSP, pembahasan
tentang sistem penilaian sekurang-kurangnya menggambarkan:
62

1. Model dan prosedur penilaian proses dan hasil belajar
2. Penetapan kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM)
3. Penetapan kriteria ketentuan kenaikan kelas
Sistem penilaian di SMP/MTs sebagai berikut :
a. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada kriteria hasil penilaian
proses, ujian blok, dan ujian sekolah/madrasah.
b. Penentuan kenaikan kelas dilaksanakan setiap akhir tahun pelajaran
c. Peserta didik dinyatakan tidak naik ke kelas VIII, apabila yang
bersangkutan tidak mencapai ketuntasan belajar minimal, lebih dari
tiga mata pelajaran
d. Peserta didik dinyatakan tidak naik ke kelas IX, apabila yang
bersangkutan tidak mencapai ketuntasan belajar minimal, lebih dari
tiga mata pelajaran

62
Muhaimin, Sutiah, dan Sugeng Listyo Prabowo, Pengembangan Model Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah & Madrasah, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008),
hlm. 104.
74
e. Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas, diwajibkan mengulang, yaitu
mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran pada tingkat kelas yang sama
pada tahun pelajaran berikutnya
f. Laporan hasil belajar peserta didiik disampaikan kepada peserta didik
dan orang tua/wali peserta didik, setiap akhir semester.
g. Ketuntasan belajar peserta didik ditetapkan oleh musyawarah guru
bidang studi berdasarkan acuan yang ditetapkan oleh SMP/MTS
masing-masing. SKBM atau KKM peserta didik tersebut berbeda pada
tiap mata pelajaran setelah diperhitungkan tingkat kompleksitas, daya
dukung, dan intake (kemampuan rata-rata siswa). Misalnya di SMP
tertentu ditetapkan KKM pada mata pelajaran PAI adalah nilai 75.
Sedangkan Penetapan Standar Ketuntasan Belajar Minimal
(SKBM) atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) berisi tentang kriteria
dan mekanisme penetapan ketuntasan minimal per mata pelajaran yang
ditetapkan oleh sekolah/madrasah. Penetapan nilai ketuntasan belajar
minimum dilakukan melalui analisis ketuntasan minimum pada setiap
indikator KD dan SK. Masing-masing dimungkinkan adanya perbedaan
nilai ketuntasan belajar dan penetapannya harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
63

a. Tingkat kompleksitas
Tingkat kompleksitas adalah tingkat kerumitan dan kesulitan setiap
indikator, KD dan SK per mata pelajaran yang harus dicapai oleh

63
Ibid.
75
siswa. Tingkat kompleksitas tinggi, bila dalam pelaksanaan suatu
indikator, KD, SK, MP menuntut kemampuan berfikir tingkat tinggi,
SDM memahami kompetensi yang harus dicapai siswa secara kreatif
dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran, membutuhkan waktu
cukup lama karena perlu pengulangan.
Pertimbangan tingkat kompleksitas mata pelajaran dalam
menetapkan KKM didasarkan pengalaman dan analisis guru bidang
studi terhadap tingkat kerumitan dan kesulitan setiap indikator, KD
dan SK mata pelajatan. Semakin tinggi tingkat kompleksitas mata
pelajaran, maka semakin sulit untuk dicapai, sehingga rata-rata
nilainya sangat rendah. Semakin rendah tingkat kompleksitas, maka
semakin mudah dapat dicapai, sehingga rata-rata nilainya sangat
tinggi.
64
Dari sinilah penetapan kriteria penilaian dapat diperoleh :
• Kompleksitas 1 jika tingkat kesulitan, kerumitan materi pada setiap
SK/KD/Indikator yang harus dikuasai peserta didik sangat
sulit/tinggi untuk mencapai nilai ketuntasan
• Kompleksitas 2 jika tingkat kesulitan, kerumitan materi pada setiap
SK/KD/Indikator yang harus dikuasai peserta didik sulit/tinggi
untuk mencapai nilai ketuntasan (tingkat kesulitannya lebih rendah
dari kompleksitas 1 )

64
Ibid.
76
• Kompleksitas 3 jika tingkat kesulitan, kerumitan materi pada setiap
SK/KD/Indikator yang harus dikuasai peserta didik cukup mudah
untuk mencapai nilai ketuntasan
• Kompleksitas 4 jika tingkat kesulitan, kerumitan materi pada setiap
SK/KD/Indikator yang harus dikuasai peserta didik sangat mudah
untuk mencapai nilai ketuntasan
b. Tingkat intake
Intake adalah tingkat kemampuan rata-rata siswa pada
sekolah/madrasah yang bersangkutan. Hasil belajar sangat dipengaruhi
oleh kesiapan da kemampuan peserta didik. Karena itu kondisi rata-
rata kemampuan peserta didik perlu dijadikan acuan standar
keberhasilan pembelajaran.
Pertimbangan intake siswa dalam menetapkan KKM kelas awal
didasarkan pada rata-rata tingkat kemampuan awal peserta hasil seleksi
PSB, NUN, raport kelas 3 SMP, test seleksi masuk atau psikotes,
didasarkan dari hasil belajar semestar sebelumnya. Sedangkan untuk
kelas diatasnya didasarkan pada tingkat pencapaian KKM siswa pada
semester atau kelas sebelumnya. Semakin tinggi rata-rata kemampuan
peserta didik, maka semakin mudah untuk mencapai hasil belajar,
sehingga nilainya sangat tinggi. dan semakin rendah rata-rata
kemampuan peserta didik, maka semakin sulit untuk mencapai hasil
77
belajar yang ditetapkan, sehingga rata-rata nilainya sangat rendah.
65

Dari sinilah penetapan kriteria penilaian dapat diperoleh dengan:
• Intake 4 jika rata-rata kemampuan siswa sangat mudah untuk dapat
mencapai nilai ketuntasan
• Intake 3 jika rata-rata kemampuan siswa mudah untuk mencapai
nilai ketuntasan (tingkat kemudahannya lebih rendah dari intake 4).
• Intake 2 jika rata-rata kemampuan siswa cukup mudah untuk dapat
mencapai nilai ketuntasan
• Intake 1 jika rata-rata kemampuan siswa sangat sulit/rendah untuk
dapat mencapai nilai ketuntasan
c. Daya dukung
Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan
pembelajaran pada masing-masing sekolah/madrasah. semakin
tecukupi sumber daya baik yang berupa sumber daya manusia maupun
lainnya, semakin tinggi tingkat keefektifan pembelajaran.
Pertimbangan daya dukung sekolah dalam menetapkan KKM dapat
didasarkan pada tingkat ketersediaan dan ketercukupan ketersediaan
tenaga pendidikan, fasilitas yang tersedia, sarana dan prasarana
pendidikan yang sangat dibutuhkan, Biaya Operasional Pendidikan,
manajemen sekolah, kepedulian stakeholder sekolah. Semakin tinggi
tingkat ketercukupan dan kesesuaian daya dukung, maka semakin
mudah untuk mencapai hasil belajar, sehingga nilainya sangat tinggi.

65
Ibid.
78
Dan semakin rendah ketercukupan dan kesesuaian daya dukung
sekolah, maka semakin sulit untuk dapat mencapai hasil belajar yang
ditetapkan, sehingga rata-rata nilainya sangat rendah.
66

Dengan demikian penetapan kritria penilaian dapat diperoleh
dengan :
• Daya dukung 4 apabila ketersediaan, ketercukupan, dan kesesuaian
sumber pendukung sangat tinggi untuk dapat membantu dan
mempermudah dalam mencapai nilai ketuntasan
• Daya dukung 3 apabila ketersediaan, ketercukupan, dan kesesuaian
sumber pendukung tinggi untuk dapat membantu dan
mempermudah dalam mencapai nilai ketuntasan (tingkat
ketersediaan, ketercukupan dan kesesuaian sumber pendukung
lebih rendah dari daya dukung 4)
• Daya dukung 2 apabila ketersediaan, ketercukupan, dan kesesuaian
sumber pendukung cukup untuk dapat membantu dan
mempermudah dalam mencapai nilai ketuntasan
• Daya dukung 1 apabila ketersediaan, ketercukupan, dan kesesuaian
sumber pendukung kurang cukup untuk dapat membantu dan
mempermudah dalam mencapai nilai ketuntasan.
Ada beberapa cara untuk menetapkan kriteria penilaian, yaitu:
a. Menggunakan penilaian skala, dengan memberikan point angka pada
setiap kriteria yang ditetapkan.

66
Ibid., hlm. 98.
79
• Itake : Sangat tinggi = 4
Tinggi = 3
Sedang = 2
Rendah = 1
• Kompleksitas : Sangat tinggi = 1
Tinggi = 2
Sedang = 3
Rendah = 4
• Daya dukung : Sangat tinggi = 4
Tinggi = 3
Sedang = 2
Rendah = 1

Contoh: jika indikator memiliki kriteria kompleksitas tinggi, daya
dukung tinggi dan intake siswa sedang nilainya adalah

(2+3+2) x 100 = 58,33
12
b. Menggunakan Rentang nilai pada setiap kriteria
• Intake : Sangat tinggi = 86 – 100
Tinggi = 70 – 85
Sedang = 55 - 69
Rendah = ... < 54
• Kompleksitas : Sangat tinggi = ... < 54
Tinggi = 55 – 69
Sedang = 70 – 85
Rendah = 86 - 100
• Daya dukung : Sangat tinggi = 86 - 100
Tinggi = 70 - 85
Sedang = 55 – 69
Rendah = ... < 54

Contoh jika indikator memiliki kriteria kompleksitas rendah, daya
dukung tinggi dan intake siswa sedang nilainya adalah

(90+85+65) = 80
3
c. Melakukan analisis dan memberikan kriteria penilaian indikator KD,
SK per mata pelajaran, untuk dimasukkan dalam kolom. Formula
perhitungan nilai kesimpulan KKM per semester/tahun dihitung
dengan cara:
80
Nilai Kriteria (K+DI) x 100 =KKM Per KD & Indikator
12 (skor maksimal)

Keterangan :
K = Kompleksitas
D = Daya dukung
I = Intake

• KKM Standar Kompetensi (SK) = rata-rata dari seluruh jumlah
nilai KKM KD & Indikatr
• KKM Mata Pelajaran (per smt/th) = rata-rata dari seluruh julah
KKM SK-KD & Indikator
dalam satu semester/satu tahun

Contoh format

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Kompetensi Dasar dan
Indikatornya Kriteria Penetapan Ketuntasan Nilai
KKM
Kompleksitas (K) Daya Dukung (D) Intake (I)

Sedang
(3)
Sangat tinggi
(4)
Tinggi
(3)
83,33
Tinggi
(2)
Sedang
(2)
Sedang
(3)
58,33
1.1 Mendeskripsikan hakikat
bangsa dan unsur-unsur
terbentuknya negara
• Mendeskripsikan
kedudukan manusia
sebagai makhluk individu
dan makhluk sosial
• Menguraikan pengertian
bangsa dan unsur
terbentuknya bangsa
• Manganalisis pengertian
negara dan unsur
terbentuknya negara
Sangat tinggi
(1)
Tinggi
(3)
Rendah
(1)
41,66
KKM KD & Indikator = Rata-rata dari JUMLAH TOTAL 61,10

Penilaian hasil belajar oleh pendidik hendaknya dilakukan secara
berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil
dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir
semester, ulangan kenaikan kelas. Adapun penilaian yang digunakan
bertujuan menilai pencapaian kompetensi siswa sebagai bahan penyusunan
laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran.
Penilaian hasil belajar pelajaran agama dan akhlak mulia maupun
kewarganegaraan dilakukan meliputi: 1) pengamatan terhadap ketaatan
81
menjalankan rukun Islam dan berakhlak mulia sebagai manifestasi dari
keimanan yang diyakininya. 2) pengamatan terhadap perubahan perilaku
dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian siswa. 3)
ujian ulangan atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif siswa.
67

Prestasi siswa yang dicapai tidak hanya dipandang dari hasil
ulangan dan penugasan saja, tetapi peningkatan sikap dan pribadi mukmin
yang bertakwa. Perhatian guru terhadap siswa mengenai ketaatannya
dalam mengamalkan ajaran Islam sangat dibutuhkan sebagai suatu kontrol.
3. Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam di SMP
Karakteristik utama pendidikan agama Islam adalah banyaknya
muatan komponen being, disamping sedikit komponen knowing dan doing.
Pembelajaran untuk mencapai being yang tinggi lebih mengarahkan pada
usaha pendidikan agar murid melaksanakan apa yang diketahuinya itu dalam
kehidupan sehari-hari. Bagian paling penting dalam PAI adalah mendidik
murid agar beragama dengan memahami agama (knowing) dan terampil
melaksanakan ajaran agama (doing) yang mengambil porsi sedikit saja.
68

Peningkatan mutu guru agama Islam bertujuan agar mampu mendidik
muridnya untuk menguasai tiga tujuan ini sebagai suatu prestasi yang harus
dicapai siswa di sekolah. Prestasi belajar pada pelajaran agama Islam
diarahkan pada pembentukan kepribadian siswa yang utuh, yaitu siswa harus
memahami ajaran Islam. Terampil melaksanakan ajaran agama Islam, dan
dapat melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

67
Khaeruddin dan mahfud Junaedi, Op. Cit., hlm. 68.
68
Ahmad Tafsir, Op.Cit., hlm. 7.
82
4. Penilaian Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam di SMP
Standar penilaian berorientasi pada tingkat penguasaan kompetensi
yang ditargetkan dalam Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan
(SKL). Dalam Peraturan Pemerintah (PP) 19 Pasal 1 butir 5 dinyatakan bahwa
Standar Isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang
dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan
kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus
dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Sedangkan dalam Pasal 1 butir 4 yang dimaksud SKL merupakan kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
69

Berdasarkan PP 19 Pasal 63 ayat (1) penilaian pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik, pada
kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, adalah dilakukan secara
berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil
dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir
semester, dan ulangan kenaikan kelas. Penilaian digunakan untuk menilai
pencapaian kompetensi peserta didik, bahan penyusunan laporan kemajuan
hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
70

Sedangkan pada Pasal 64 ayat 1 dan 2. Pasal 64 ayat 3 menyatakan
bahwa penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak

69
Harris, 3_September_2007, panduan penilaian kelompok mata pelajaran
agama dan akhlak mulia, Badan Standar Nasional Pendidikan, Departemen
Pendidikan Nasional 2007, oleh maspriesukorejo di/pada Januari 14, 2009,
Ditulis dalam Uncategorized Maspriesukorejo’s Weblog, Just another WordPress.com
weblog.
70
Ibid.,
83
mulia dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap
untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik; serta ujian,
ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.
71

Indikator yang terdapat dalam Standar Kompetensi mata pelajaran
Pendidikan Agama dikelompokkan menjadi aspek:
Kemampuan untuk mengembangkan konsep dan nilai-nilai kehidupan
beragama, dan
Kemampuan untuk menerapkan konsep dan nilai-nilai kehidupan beragama
melalui Praktik atau Pengalaman Belajar.
Berdasarkan hal itu, nilai hasil belajar yang dicantumkan dalam Rapor
juga mencakup aspek:
Penguasaan Konsep dan Nilai-nilai, dan
Penerapan.
Untuk kepentingan pembelajaran dan penilaian, analisis terhadap
seluruh indikator diperlukan untuk menentukan indikator yang termasuk ke
dalam masing-masing aspek. Hasil belajar yang dicantumkan dalam Rapor
merupakan keputusan akhir yang menyimpulkan pencapaian setiap aspek.
Berdasarkan PP 19 Tahun 2005, aspek yang dinilai pada kelompok
mata pelajaran agama dan akhlak mulia adalah aspek afektif dan kognitif.
Penilaian aspek kognitif dilakukan oleh guru agama melalui ujian, ulangan,
atau perilaku dilakukan melalui pengamatan. Untuk aspek afektif, guru agama
memperoleh informasi ataupun nilai dari guru mata pelajaran lain.

71
Ibid.,
84
Berikut ini prosedur penilaian oleh pendidik menurut panduan
penilaian kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia oleh Badan
Standar Nasional Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional 2007 dengan
menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
72

a. Penentuan Tujuan Penilaian
Penentuan tujuan penilaian merupakan langkah awal dalam rangkaian
kegiatan penilaian secara keseluruhan, penilaian harian, tengah semester, akhir
semester, kenaikan kelas, atau penilain akhir dari satuan pendidikan.
b. Penyusunan Kisi-kisi
Penyusunan kisi-kisi penilaian berupa kegiatan perencanaan
pembelajaran dalam bentuk silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Di dalam silabus, pendidik menunjukkan keterkaitan antara SK, KD, materi
pokok/materi pembelajaran, alokasi waktu, sumber belajar di satu sisi, dengan
indikator pencapaian KD yang bersangkutan beserta teknik penilaian dan
bentuk instrumen yang digunakan. Berikut ini disajikan contoh format kisi-
kisi penilaian yang menyatu dengan silabus.
Penilaian Kompetensi
Dasar

Materi Pokok/
Materi
Pembelajaran

Kegiatan
Pembelajaran

Indikator
Pencapaian

Teknik
Penilaian
Bentuk
Instrumen
Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar


Perencanaan penilaian yang dilengkapi dengan contoh instrumen
disajikan secara menyatu dengan RPP. Contoh:


72
Ibid.,
85
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sekolah : ……………………………..
Mata Pelajaran : ……………………………..
Kelas/Semester : ……………………………..
Alokasi Waktu : … jam pelajaran (… x pertemuan)
A. SK :………………………………………………………………
B. KD :
………………………………………………………………………….
C. Materi Pembelajaran : ……………………………..
D. Model/Metode Pembelajaran : …………………………….
E. Skenario/Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1 : …………………………………………..
Pertemuan 2 : ………………………………………….
dst.
F. Sumber Belajar : ……………………………..
G. Penilaian
Indikator
Pencapaian
Teknik
Penilaian
Bentuk Instrumen Contoh
Instrumen
Catatan:
Indikator yang ada dalam rumusan silabus sesuai dengan KD yang
bersangkutan
Teknik penilaian: teknik penilaian yang dipilih sesuai dengan karakteristik
indikator pencapaian, seperti tes tertulis, tes lisan, tes kinerja, dan portofolio
Bentuk instrumen: bentuk instrumen yang sesuai dengan teknik penilaian
yang dipilih, misalnya memilih bentuk pilihan ganda untuk teknik penilaian
tertulis atau memilih bentuk instrumen lembar penilaian portofolio untuk
teknik penilaian portofolio.
Contoh instrumen: contoh butir instrumen yang sesuai dengan bentuk
instrumen yang telah dipilih.

Untuk menilai pencapaian standar kompetensi dalam satu semester,
pendidik merancang penilaian untuk semester yang bersangkutan. Kisi-kisi
ulangan akhir semester memuat SK, KD, dan indikator pencapaiannya yang dapat
dijadikan dasar penyusunan tes pada akhir semester. Kisi-kisi ulangan akhir
semester dapat dirancang dengan memuat tes tertulis dan tes praktik yang
formatnya disajikan sebagai berikut.


86
Kisi-Kisi Ulangan Akhir Semester
Sekolah : ……………………………..
Mata Pelajaran : ……………………………..
Kelas/Semester : ……………………………..
Alokasi waktu : …………………………….
Teknik Penilaian Standar Kompetensi

Kompetensi
Dasar

Indikator
Pencapaian

Tes Tertulis Tes Praktik
Dituliskan seluruh SK
dalam semester
bersangkutan
Dituliskan KD
yang esensial dari
SK yang
bersangkutan

Dituliskan
indikator
pencapaian
yang esensial
dari KD yang
bersangkutan.
Dicantumkan
bentuk butir tes
yang dipilih,
seperti benar-
salah,
menjodohkan,
dan pilihan ganda
Dituliskan bentuk
tes yang dipilih
seperti tes
identifikasi, simulasi
atau petik kerja.

Untuk tes tertulis, guru dapat membuat kisi-kisi tes tertulis untuk
ulangan akhir semester seperti contoh berikut.
Kisi-Kisi Tes Tertulis Ulangan Akhir Semester
Sekolah : ……………………………..
Mata Pelajaran : ……………………………..
Kelas/Semester : ……………………………..
Alokasi waktu : ……………………………..

Bentuk Butir Tes Standar
Kompetensi
Kompetensi
Dasar
Indikator
Pencapaian
Pilihan
Ganda
Uraian ……
…….
………
Dituliskan
seluruh SK
dalam semester
bersangkutan
Dituliskan KD
yang esensial
dari SK yang
bersangkutan
Dituliskan indikator
pencapaian yang
esensial dari KD
yang bersangkutan.
… butir …butir …butir …butir
Keterangan: di bawah kolom bentuk butir tes diisi bentuk butir tes yang akan
digunakan seperti pilihan ganda, uraian, dan menjodohkan

c. Perumusan indikator pencapaian
Indikator pencapaian dikembangkan oleh pendidik berdasarkan KD
mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Rumusan indikator menggunakan kata kerja operasional.
87
Tiap KD dikembangkan dua atau lebih indikator
Tiap indikator dapat dibuat lebih dari satu butir instrumen.
Indikator memiliki aspek manfaat/terkait dengan kehidupan sehari-hari.
d. Penyusunan Instrumen Tes
Penyusunan tes disesuaikan dengan karakteristik teknik dan bentuk
butir instrumennya.
1) Penyusunan tes tertulis dengan:
memperhatikan persyaratan penyusunan tes tertulis, baik dari aspek
materi/isi/ konsep, konstruksi, maupun bahasa;
mengacu pada indikator pencapaian;
memilih bentuk butir yang sesuai dengan indikator, misalnya bentuk
isian, uraian, pilihan ganda atau lainnya;
membuat kunci jawaban dan/atau pedoman penskoran.
2) Penyusunan pedoman observasi dengan:
mengacu pada indikator pencapaian;
mengidentifikasi perilaku atau langkah kegiatan yang diobservasi;
menentukan model skala yang dipakai, yakni skala penilaian (rating
scale) atau daftar cek (check list);
membuat rubrik/pedoman penskoran.
3) Penyusunan penugasan (pekerjaan rumah/proyek) dengan:
mengacu pada indikator pencapaian;
mengacu pada jenis tugas yang dikerjakan;
membuat rubrik/pedoman penskoran
88
4) Penyusunan pedoman wawancara dan inventori
Untuk mengumpulkan informasi kemajuan peserta didik bisa
dilakukan wawancara atau membagikan inventori kepada guru mata
pelajaran lain. Pedoman wawancara atau inventori disusun dengan:
mengacu pada indikator pencapaian;
memilih pernyataan/pertanyaan yang tidak menuntut respon yang
mengandung keberpihakan sosial (social desirability) yang tinggi;
menyediakan pernyataan yang tidak merujuk pada hal yang benar/salah;
menentukan jenis skala yang dipilih dan pedoman penskorannya.
e. Telaah instrumen
Instrumen penilaian dalam bentuk tertulis, lisan maupun kinerja harus
melalui analisis secara kualitatif yang dilakukan bersama dengan teman
sejawat. Selain itu, pendidik dapat juga melakukan analisis secara kuantitatif.
1) Telaah instrumen secara kualitatif
Analisis instrumen secara kualitatif dilakukan dengan menelaah atau
mereviu instrumen penilaian yang telah dibuat. Telaah mencakup
substansi isi, konsep, dan bahasa yang digunakan. Berdasarkan hasil
telaah tersebut dilakukan revisi terhadap butir soal yang kurang baik.
2) Telaah Instrumen Secara Kuantitatif
Analisis instrumen secara kuantitatif dilakukan dengan menggunakan
data empiris baik hasil uji coba maupun dari ulangan peserta didik.
Analisis instrumen kuantitatif mencakup analisis validitas dan
reliabilitas, serta analisis butir soal.
89
f. Pelaksanaan Penilaian
Pelaksanaan penilaian dilakukan dalam bentuk ulangan harian, ulangan
tengah semester, ulangan akhir semester, penugasan, dan pengamatan dengan
menggunakan instrumen yang sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Penilaian harus dilaksanakan dalam situasi dan kondisi
yang memungkinkan peserta didik menunjukkan kemampuan optimalnya
yang dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian.
C. Strategi Pengelolaan Kelas pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
1. Masalah-masalah Pengelolaan Kelas yang dihadapi Guru Pendidikan
Agama Islam
Dalam kegiatan pembelajaran di kelas sering biasa timbul
gangguan tingkah laku yang tidak diinginkan dari siswa. Untuk mengatasi
gangguan yang sering timbul ini guru dapat melakukan tindakan kuratif
pada masalah pengelolaan kelas yang individual adalah:
73

a. Tingkah laku menarik perhatian
Bersikap masa bodoh, terhadap pelanggaran siswa yang menunjukkan
tingkah laku menarik perhatian, kemudian memberikan respon positif
terhadap tingkah laku siswa yang positif.
b. Tingkah laku mencari kekuasaan
Memberikan tugas yang bersifat memimpin, memberikan tugas yang
memerlukan keberanian, dan memberikan tugas yang menuntut

73
J.J. Hasibuan dkk., Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remadja Karya, 1988), hlm. 180.
90
kekuatan fisik, bagi siswa yang menunjukkan tingkah laku dapat
menguasai orang lain seperti mendebat, marah, dan selalu lupa pada
peraturan kelas yang disepakati sebelumnya.
c. Tingkah laku membalas dendam
Tidak memberikan respon, ekspresi wajah yang wajar terhadap siswa
yang menunjukkan tingkah laku membalas dendam. Misalnya siswa
mengancam, menendang, dan biasanya berperilaku merasa lebih kuat.
d. Peragaan ketidakmampuan.
Bagi siswa yang menunjukkan ketidakmampuan, biasanya bersikap
sangat apatis (masa bodoh) terhadap pekerjaan apapun, maka guru tidak
menyalahkan siswa secara langsung, guru menunjukkan segi
keberhasilan siswa.
Masalah individual dalam pengelolaan kelas cenderung tidak
menjadi sesuatu yang berkepanjangan. Tetapi masalah kelompok
seringkali menjadi masalah serius. Untuk mengatasi masalah pengelolaan
kelas yang bersifat kelompok dapat dilakukan tindakan sebagai berikut:
74

a. Kelas kurang kohesif.
Kurangnya kesatuan kelas dapat diatasi dengan meningkatkan
keakraban dan kerjasama. Mengusahakan kesatuan kelas dapat dengan
membuat kelompok menjadi menarik bagi semua anggota dan
memperbaiki iklim kelas. Langkah pertama adalah menganalisis situasi

74
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, hlm. 119
91
dan struktur kelas, kemudian menentukan kebutuhan-kebutuhan mereka,
selanjutnya kebutuhan itu dicoba diusahakan agar relatif terpenuhi.
75

b. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
Masalah ini dapat diatasi dengan membangun kerjasama dan
persahabatan, Dengan berinteraksi dan komunikasi, siswa akan dapat
gambaran realistik tentang situasi kelompok kelas, mengembangkan
pengertian untuk mengurangi konflik antar individu, dan belajar
mengendalikan diri untuk menciptakan situasi belajar yang baik.
76

c. “Membesarkan” hati anggota kelas yang justru melanggar norma
kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas.
Masalah ini merupakantindakan yang mengganggu kondisi kelas. Guru
harus segera menghentikannya secara tepat dan segera. Pesan-pesan
non-verbal atau body/language baik berupa isyarat tangan, bahu, kepala,
alis dan sebagainya dapat membantu guru dalam pengelolaan kelas.
77

d. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
Misalnya gangguan jadwal, atau guru kelas terpaksa diganti sementara
oleh guru lain, dan sebagainya.
Keadaan ini disebabkan menurunnya motivasi dan kegairahan belajar
siswa, maka guru perlu membangkitkan semangat siswa untuk belajar



75
Made Pidarta, Op.Cit., hlm. 39.
76
Ibid., hlm. 47- 48
77
Ahmad, Rohani H.M. dan Abu Ahmadi, Op.Cit., hlm. 130.
92
e. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang
tengah digarap.
Masalah ini mungkin disebabkan belum adanya tata tertib kelas
sebelumnya. Guru melakukan kontrol sosial melalui pendekatan.
Dengan siswa merasa dekat dengan guru akan memperkecil kesempatan
mereka untuk berbuat nakal dan melanggar tata tertib sekolah.
78

f. Semangat kerja rendah. Misalnya aksi protes kepada guru karena
menganggap tugas yang diberikan kurang adil.
Masalah ini diatasi dengan siasat yang tertib, melalui sikap demokratis
guru, akan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk ikut terlibat
dalam menegakkan disiplin sekolah, ikut bertanggung jawab dan ikut
mempertahankan aturan yang telah ditetapkan bersama.
79

Menurut Hadari Nawawi tipe kepemimpinan demokratis oleh
seorang guru dilingkungan kelasnya pada umumnya lebih berhasil dalam
menciptakan dinamika kelas yang positif. Namun kepemimpinan
demokratis tidaklah berarti pemberian hak kepada seseorang untuk
mewujudkan kehendaknya masing-masing, akan tetapi diarahkan pada
usaha menciptakan terpenuhinya keinginan pribadi tanpa mengorbankan
kepentingan bersama. Oleh karena itu, kepemimpinan ini akan lebih tepat
dipergunakan dalam lingkungan lembaga pendidikan dan kelas, bilamana
disertai sikap otoriter yang lunak.
80


78
Ibid., hlm. 131.
79
Ibid., hlm. 135.
80
Ibid., hlm. 140.
93
Kepemimpinan demokratis bukan hanya memberikan kebebasan
secara penuh kepada siswa untuk melakukan hal-hal yang diinginkan
mereka, namun juga diperlukan sikap otoriter yang lunak sebagai wujud
adanya kedisiplinan demi terlaksananya dinamika kelas yang efektif
sehingga akan menjadi suatu dukungan terhadap proses pengelolaan kelas.
2. Pelaksanaan Strategi Pengelolaan Kelas pada Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
Guru mempunyai tanggung jawab selama proses pembelajaran
berlangsung. Mulai dari linkungan fisik hingga pada suasana belajar di
kelas. Kelas yang diorganisasi dengan baik dan dikelola secara efektif dan
efisien merupakan fundasi esensial bagi terselenggaranya suatu program
instruksional yang baik dan terciptanya suatu iklim saling merespek dan
memperdulikan antara siswa dan guru.
Dengan adanya pengelolaan kelas, pembelajaran Pendidikan
Agama Islam sebagai suatu proses memiliki strategi dalam meningkatkan
prestasi siswa. Yaitu:
a. Pengelolaan lingkungan kelas
Iklim kelas yang kondusif merupakan pertimbangan utama dan
memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran. Iklim belajar
kondusif harus ditunjang oleh beberapa fasilitas yang menyenangkan demi
kelancaran proses pembelajaran pendidikan agama Islam. Seperti sarana,
penataan ruang kelas, laboratorium untuk praktik, pengaturan lingkungan
belajar, penampilan dan sikap guru, hubungan yang harmonis antar peserta
94
didik sendiri, serta penataan organisasi dan bahan pembelajaran secara
tepat sesuai dengan kemampuan peserta didik.
81

Iklim kelas yang positif juga dapat di ciptakan dengan pembinaan
disiplin yang lebih didasarkan pada responsibilitas ketimbang ”punishment
(hukuman)”, sehingga siswa dapat mandiri. Kerelasian-kerelasian antara
guru dan murid yang efektif diwarnai oleh perilaku-perilaku guru spesifik,
yang dilakukan dengan cara:
1) Membangkitkan peraturan, prosedur-prosedur, dan konsekuensi yang
jelas bagi perilaku murid
2) Merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran yang jelas, misalkan
mengkomunikasikan tujuan pembelajaran pada permulaan unit
pengajaran.
3) Memperlihatkan perilaku asertif (tegas) dalam hal penggunaan nada
suara yang tepat berbicara secara jelas dan tidak terlalu melengking,
penggunaan bahasa tubuh guru yang tegap dengan menjaga jarak
terhadap anak yang onar, guru dengan tegas menunggu respon atau
ungkapan murid.
4) Menciptakan kerjasama antara guru dan murid dengan memberikan
tujuan-tujuan pembelajaran yang fleksibel kepada siswa
5) Menarik minat peribadi dalam diri murid dengan cara berbicara secara
informal dengan murid

81
Abdul Majid. Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: Remeja Rosdakarya, 2006), hlm.
167.
95
6) Mempergunakan interaksi-interaksi kelas dengan murid secara positif
dan merata, dengan cara berkontak mata dengan murid dengan
memandang keseluruh kelas.
Kerelasian-kerelasian antara guru-murid memberikan suatu fundasi
esensial bagi manajemen kelas yang efektif dan merupakan kunci ke
peraihan prestasi belajar murid yang tinggi.
82
Terciptanya kerelasian
kerelasian yang positif akan membawa suasan yang menyenangkan bagi
siswa dalam belajar.
b. Penerapan Strategi pembelajaran PAI
Untuk menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan dan
siswa antusias dalam mengikuti pelajaran, seorang guru harus mampu
menerapkan komponen strategi pembelajaran, sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai
Dalam meningkatkan prestasi/hasil belajar dalam bentuk dampak
Instruksional dan untuk mengarahkan dampak pengiring terhadap hal-hal
yang positif, guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang efektif
dan menerapkan strategi pembelajaran. Upaya peningkatan kualitas
pengajaran PAI dapat ditempuh dengan strategi-strategi berikut ini:
a.) Strategi seluruh kelas yang meliputi:
83

1) Ceramah adalah memberikan pengetahuan secara verbal dengan
cara guru mempresentasikan sejumlah informasi luas secara

82
N.A. Ametembun Sistem Manajemen Kelas-Kelas Modern Jilid II - Manajemen Perilaku
Murid, (Bandung: Suri, 2004), hlm. 49
83
N.A. Ametembun, Sistem Manajemen Kelas-Kelas Modern Jilid III - Manajemen
Strategi-Strategi Instruksional, (Bandung: Suri, 2004), hlm. 5
96
efisien, yang berfungsi untuk memberikan pengetahuan dasar yang
dibutuhkan untuk aktivitas-aktivitas mendatang, mempresen suatu
pengetahuan penting bagi mrid untuk dipelajari
2) Diskus, memfokuskan pada interaksi, yang mana murid sebagai
partisipan dipersilahkan mengekspresikan pengetahuan dan
pemahaman serta opini tentang suatu topik.
3) Debat adalah strategi yang menghendaki berpikir lebih tingkat
tinggi, yang mana murid mempelajari informasi tentang suatu isyu
atau ide dengan mengambil posisi pro atau kontra. Sehingga siswa
harus belajar mendengarkan, memanipulasi pengetahuan untuk
menarik baik kebutuhan-kebutuhan faktual maupun emosional
pada audience-nya.
4) Demonstrasi guru merupakan strategi guru menempatkan perannya
untuk memberikan pengetahuan atau keterampilan dengan
mendemonstrasikan suatu metode. Strategi ini dipilih karena
keterbatasan waktu dan kelangkaan bahan yang diperlukan.
5) Memberikan pengarahan-pengarahan adalah memberikan
informasi yang efisien tentang apa, mengapa, bagaimana, dimana,
kapan tugas dan aktivitas kelas.
b.) Strategi-strategi kelompok kecil yang meliputi:
1) Pembelajaran kooperatif adalah formasi kelompok yang
”menshare” suatu pembelajaran yang sama, bekerja independen
97
untuk mencapai suatu penguasaan, dan memastikan bahwa semua
anggota kelompok dapat meraih tujuan kelompok secara sukses
2) Pembelajararan kolaboratif adalah pembelajaran yang
menghendaki murid-murid bekerja bersama tetapi hasilnya lebih
terbuka pada umumnya. Responsibilitas individual bagi
pembelajaran ini lebih besar ketimbang dalam situasi kooperatif.
c.) Strategi pembelajaran dengan bekerja berpasangan, dengan
membentuk:
1) Mentor-mentor murid yaitu membentuk pasangan-pasangan murid
dengan keterampilan yang tak sama, dengan menempatkan salah
satu murid yang sudah siap untuk mentutor teman pasangan .
2) Berpasangan secara random (acak) digunakan dalam suatu basis
jangka pendek sebab hanya berpikir sejenak, untuk memenuhi
kebutuhan murid atau memenuhi tuntutan tugas .
d.) Strategi pembelajaran dengan bekerja secara individu, adalah strategi
dengan bekerja secara independen oleh murid dalam mempelajari
keterampilan atau pengetahuan dan mepraktikkan serta memastikan
tingkat pemahamannya
Guru harus cerdas memilih dan menggunakan metode
pembelajaran atau dengan mengkombinasikan dari beberapa metode yang
sesuai dengan kondisi yang ada.

98
3. Dampak Strategi Pengelolaan Kelas pada Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
Setiap strategi yang dipilih dan digunakan membawa dampak
terhadap pencapaian hasil yang diharapkan, Menurut Sudirman, dalam
pemilihan metode mengajar harus mengandung dampak langsung
(Instuctional effects atau tujuan instruksional) dan dampak
penyerta/pengiring (nurturant effects atau tujuan pengiring).
84

Pendekatan dan strategi pengelolaan kelas sebagai bagian dari
proses dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki
efek atau dampak terhadap peningkatan prestasi belajar, baik dampak
langsung maupun dampak tidak langsung
Prestasi/keberhasilan belajar ini bukanlah semata-mata
keberhasilan dari segi kognitif dan psikomotorik saja, tetapi mesti melumat
aspek-aspek lain, seperti aspek afektif.. Pengevaluasian satu aspek saja
akan menyebabkan pengajaran kurang memiliki makna yang bersifat
komprehensif. Ketiga aspek ini merupakan unsur-unsur pendukung
hasil/prestasi pelajaran pendidikan agama islam. Dikatakan terdiri dari
berbagai aspek pendukung, sebab kalau kita kembalikan pada istilah
pendidikan itu sendiri sangatlah kompleks, yaitu meliputi seluruh
pembahasan tingkah laku, baik cita, rasa, dan karsa, terutama dalam
bidang agama (mata pelajaran pendidikan agama islam) yang didalamnya
banyak mengandung unsur bimbingan moral.

84
Sudirman N. Ilmu Pendidikan-Kurikulum-Program Pengajaran-Efek Instruksional dan
Pengiring-CBSA-Metode Mengajar-Media Pendidikan-Pengelolaan Kelas dan Evaluasi Hasil
Belajar, (Bandung: Remadja Karya, 1987), hlm. 92.
99
a. Dampak Langsung (Instuctional effects atau Tujuan
Instruksional)
Dampak langsung adalah tujuan yang secara langsung akan dicapai
melalui pelaksanaan program pengajaran (satuan pelajaran) yang
dilaksanakan guru setelah selesai suatu pertemuan peristiwa belajar
mengajar. Hasil yang akan dicapai biasanya berkenaan dengan
Cognitive Domain (pengetahuan) dan psycho-motor domain
(keterampilan). Kedua domain ini bisa diukur secara kongkrit, pasti,
dan karenanya dapat langsung dicapai ketika itu.
85

Hasil yang dirumuskan dalam tujuan instruksional dan ingin
dicapai melalui proses belajar-mengajar (pertemuan), tidaklah dapat
dicapai seluruhnya secara langsung dan dapat diukur dengan mudah,
karena hasilnya tidak selalu dalam bentuk yang nyata dan secara pasti
dapat dinyatakan telah dimiliki (dikuasai) siswa sepenuhnya. Akan
tetapi hasil belajar itu ada yang bersifat kongkrit dan secara pasti dapat
dinyatakan telah dimiliki (dikuasai) siswa.
86

Dalam kegiatan pembelajaran pendidikan Agama Islam guru
menggunakan strategi-strategi dalam menciptakan dan
mempertahankan kelas agar kondisi tetap kondusif dan menyenangkan.
Hal ini merupakan suatu upaya guru dalam meningkatkan
hasil/prestasi belajar siswa dan akan memberikan efek langsung

85
Ibid., hlm. 94.
86
Ibid., hlm. 92.
100
terhadap keberhasilan belajar siswa yang berkenaan dengan
pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik).
1.) Tipe Prestasi Belajar Bidang Kognitif
Tingkatan-tingkatan tipe hasil belajar bidang kognitif
mencakup:
87

a.) Pengetahuan (knowlage)
Pengetahuan ini mencakup aspek-aspek faktual dan ingatan
(sesuatu hal yang harus diingat kembali). Bahan-bahan pengajaran
Pendidikan Agama Islam seperti masalah tauhid, Al-Qur’an, Hadits,
prinsip-prinsip, dalam fiqih (hukum Islam) termasuk juga materi
sholat. Pengetahuan ini perlu dihafal dan ingat agar dapat dikuasai.
b.) Pemahaman (comprehention)
Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti
dari suatu konsep, seperti memahami makna kalimat bahasa Arab ke
dalam bahasa Indonesia (terjemah al-Qur’an)
c.) Penerapan (Aplikasi)
Tipe prestasi belajar ini merupakan kesanggupan menerapkan dan
mengabstraksikan suatu konsep, ide, rumus, hukum, dalam situasi
yang baru. Misalnya memecahkan persoalan fara’id, menerapkan suatu
dalil atau hukum Islam dan kaidah-kaidah ushul fiqih dalam suatu
persoalan umat.


87
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada
2006), hlm. 152.
101
d.) Analisis
Tipe prestasi belajar analisis merupakan kesanggupan
memecahkan, menguraikan suatu integritas menjadi unsur-unsur atau
bagian-bagian yang mempunyai arti. Analisis merupakan tipe prestasi
belajar yang kompleks, yang memanfaatkan unsur tipe hasil belajar
sebelumnya, yakni pengetahuan, pemahaman dan aplikasi.
e.) Sintesis
Sintesis meupakan lawan analisis. sintesis adalah kesanggupan
menyatukan unsur-unsur atau baian menjadi satu integritas. Sintesis
juga memerlukan hafalan, pemahaman, aplikasi dan analisis.
Melalui sintesis dan analisis maka berpikir kreatif untuk
menemukan sesuatu yang baru (inovatif) akan mudah dikembangkan.
f.) Evaluasi
Kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu
berdasarkan judgmen yang dimiliki dan kriteria yang digunakannya.
Tipe prestasi belajar evaluasi tekanannya pada pertimbangan pada
sesuatu nilai, mengenai baik tidaknya, tepat tidaknya, dengan
menggunakan kriteria tertentu. Untuk melakukan evaluasi diperlukan
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis dan sintesis.
2.) Tipe Prestasi Belajar Bidang Psikomotorik
Tipe prestasi ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill), dan
kemampuan bertindak seseorang. Adapun tingkatannya meliputi:
88


88
Ibid.,
102
a) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang sering tidak
disadari karena sudah merupakan kekuasaan).
b) Keterampilan ada gerakan-gerakan dasar
c) Kemampuan perspektual termasuk didalamnya membedakan visual,
membedakan auditif, motorik, dan lain-lain,
d) Kemampuan dibidang fisik: kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan
e) Gerakan-gerakan yang berkaitan dengan skill, mulai dari
keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks
f) Kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi
seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.
b. Dampak penyerta/pengiring (nurturant effects atau tujuan
pengiring)
Dampak pengiring adalah hasil pengajaran yang sebaiknya
dirumuskan agar lebih jelas dan terarah dalam program pengajaran
(satpel) karena hasil ini tidak perlu langsung dicapai ketika selesai
suatu pertemuan peristiwa belajar mengajar, tetapi diharapkan hasilnya
akan berpengaruh kepada siswa dan akan mengiringi atau menyertai
belakangan, mungkin masih memerlukan waktu atau tahapan-tahapan
pertemuan peristiwa belajar mengajar selanjutnya. Biasanya dampak
pengiring ini berkenaan dengan effective domain (sikap dan nilai).
89

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dampak pengiring itu
berupa hasil yang tidak langsung diukur dan tidak pasti dicapai ketika

89
Sudirman N., Op.Cit., hlm. 94.
103
berakhirnya suatu pertemuan peristiwa belajar mengajar. Hasil itu
dapat berupa: 1) sikap dan nilai, 2) hasil dimana siswa menjadi
modelling (dapat meniru), contagion (tertulari), osmosis (dirembesi)
tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari kondisi belajar, baik
ysng diprogram oleh guru maupun yang tidak diprogram oleh guru.
90

Hasil dalam bentuk abstrak dan sulit sekali secara pasti dinyatakan
langsung dimiliki (dikuasai) siswa setelah berakhirnya suatu
pertemuan. Namun yakin akan mempengaruhi atau ada hasilnya pada
siswa, baik sebagian maupun seluruhnya menyertai atau mengikuti
hasil (tujuan) yang langsung dicapai ketika itu (dampak langsung),
Mungkin juga masih memerlukan waktu atau beberapa pertemuan
peristiwa belajar mengajar selanjutnya untuk lebih memantapkan
hasilnya, itu sebabnya hasilnya disebut dampak pengiring.
Strategi-strategi yang dilakukan, sebagai upaya guru dalam
meningkatkan keberhasilan belajar dalam pembelajaran pendidikan
Agama Islam juga memberikan dampak yang menyertai dan
mengiringi hasil/prestasi belajar, walaupun hal itu melalui waktu dan
tahapan tertentu. Dampak tidak langsung yang ingin dicapai itu
berkenaan dengan prestasi sikap dan nilai (afektif)
Ada kecenderungan bahwa prestasi belajar bidang afektif kurang
mendapat perhatian dari guru. Para guru cenderung lebih
memperhatikan atau tekanan pada bidang kognitif semata. Tipe

90
Ibid., hlm. 95.
104
prestasi belajar bidang afektif tampak pada siswa dalam berbagai
tingkah laku seperti atensi atau perhatian terhadap pelajaran, disiplin,
motivasi belajar, menghargai guru dan teman, kebiasaan belajar, dan
lain-lain. Meskipun bahan pelajaran berisikan bidang kognitif, tetapi
bidang afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut, dan
harus tampak dalam proses belajar dan prestasi belajar yang dicapai.
Tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe prestasi belajar
mencakup:
91

1.) Receiving atau attending
Yakni kepekaan dalam menerima rangsangan dari luar yang datang
pada siswa, baik dalam bentuk masalah situasi, gejala.
2.) Responding atau jawaban
Yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang
datang dari luar
3.) Valuing (penilaian)
Yakni berkenaan dengan penilaian dan kepercayaan tarhadap
gejala atau stimulus
4.) Organisasi
Yakni pengembangan nilai ke dalam suatu sistem organisasi,
termasuk menentukan hubungan suatu nilai dengan nilai lain dan
kemantapan, priorita nilai dimilikinya


91
Tohirin, Op.Cit., hlm. 155.
105
5.) Karakterstik internalisasi nilai
Yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki
seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan perilakunya.
Tipe-tipe prestasi belajar seperti yang dikemukakan di atas tidak
berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan satu sama lain. Dalam proses
belajar-mengajar di sekolah misalnya, seorang siswa secara kognitif dalam
mata pelajaran shalat baik/bagus, tetapi dalam segi afektif dan psikomotor
kurang baik, sehingga banyak diantara mereka yang tidak bisa
mempraktikkan gerakan-gerakam shalat secara baik. Mereka harus
mengetahui bacaan-bacaan dalam sholat, memahami gerakan-gerakannya
dan praktiknya, dan mereka secara jujur dan khusyuk mengerjakan sholat
dimana pun mereka berada.
Dalam pengelolaan kelas akan tampak peraturan dan tata tertib
sebagai factor penunjang dalam proses pembelajaran. Namun demikian
kondisi tertib yang ditanamkan hendaknya diusahakan agar merupakan
langkah yang diterima oleh siswa.
92
Dengan adanya pengembangan
potensi-potensi yang ada di dalam kelas dan dilingkungan sekolah, maka
akan tercipta situasi kelas dan sekolah yang kondusif.
Menurut Carrol bahwa semua anak mampu belajar dan juga mau
belajar, memang pada dasarnya kemampuan anak berbeda, tetapi apabila
kepada mereka diberi layanan yang sesuai dengan keadaan masing-
masing, maka hasilnya akan sama. Benjamin S. Bloom menanggapi

92
Suharsimi Arikunto, Op.Cit., (Jakarta: Rajawali, 1992), hlm. 195.
106
pendapat ini dengan pentingnya penciptaan suasana kelas untuk memenuhi
kondisi belajar yang kondusif. Dari titik tolak kedua pendapat ini dapat
disimpulkan bahwa kondisi belajar merupakan sesuatu yang sangat
penting dan menentukan keberhasilan belajar anak.
93

Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah,
keadaan dan suasana kelas, maupun lingkungan masyarakat sekolah
mempunyai kedudukan penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran
dan berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Pengelolaan kelas menjadi
bagian manajemen pendidikan di sekolah. Tanpa adanya penciptaan
lingkungan belajar yang kondusif, pemanfaatan sarana secara maksimal,
menjaga keterlibatan siswa, dan penguasaan kelas dalam penyampaian
materi, maka pembelajaran tidak dapat terlaksana secara efektif dan
efisian. Hal ini yang akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.
4. Faktor-faktor yang Mendukung dan Menghambat Strategi
Pengelolaan Kelas pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
Dalam pelaksanaan pengelolaan kelas akan ditemui berbagai faktor
yang mendukung dan menghambat dalam proses pembelajaran.
a. Faktor pendukung strategi pengelolaan kelas
Salah satu aspek penting keberhasilan yang dilaksanakan oleh guru
adalah kondisi pembelajaran yang efektif, yaitu kondisi yang benar-benar
kondusif, benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta

93
Ibid., hlm. 183.
107
kelangsungan proses pembelajaran. Faktor-faktor yang mempunyai peran
penting dalam penciptaan kondisi pembelajaran adalah:
1.) lingkungan belajar
Lingkungan belajar adalah segala sesuatu yang berhubungan
dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Lingkungan ini
mencakup tiga hal utama:
94

a) Lingkungan fisik
Lingkungan fisik mampu memberi peluang gerak dan segala aspek
yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi siswa setelah
mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan. Lingkungan
fisik ini meliputi sarana-prasarana yang cukup dan memadai untuk proses
pembelajaran secara tuntas dipastikan dapat membawa siswa pada kondisi
pembelajaran yang kondusif.
b) Lingkungan social
Lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antar
personil yang ada dilingkungan sekolah secara umum. Lingkungan sosial
yang kondusif dalam hal ini, misalnya adanya keakraban yang
proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran
c) Lingkungan budaya
Lingkungan budaya merupakan suatu kondisi pola kehidupan yang
sesuai dengan pola kehidupan pada warganya, yakni siswa. Mereka adalah
pribadi yang masih labil dan masih membutuhkan proses adaptasi untuk

94
Muhammad Saroni, Manajemen Sekolah - Kiat menjadi Pendidik yang Kompeten,
(Jogjakarta, Ar-Ruzz, 2006), hlm. 82.
108
setiap lingkungan dimana ia berada. Untuk menciptakan kondisi
pembelajaran yang kondusif, maka yang terutama harus dilakukan adalah
menyamakan persepsi dan pola pikir tentang pola pergaulan.
2.) Kurikulum yang cocok
Kurikulum merupakan batasan yang harus diberikan kepada siswa
pada proses pembelajaran yang dilakukan guru dikelasnya. Seorang guru
agar dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif diharapkan
mampu menerjemahkan kurikulum dan menyesuaikan dengan tingkat
kebutuhan yang berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki oleh
siswa. Kondisi proses pembelajaran dapat kondusif jika isi dari kurikulum
yang diterapkan dapat mengakomodasi segala yang diharapkan oleh siswa
dan guru, siswa dan guru dapat mengikuti langkah-langkah penerapannya
tanpa perasaan tertekan atau terpaksa.
95

3.) Visi dan misi yang jelas
Pembelajaran yang kondusif mengisyaratkan adanya visi dan misi
yang jelas dan terukur serta dapat dicapai sesuai kemampuan yang ada.
Visi dan misi proses pembelajaran tidak lain adalah visi dan misi
pendidikan secara umum, yaitu peningkatan kualitas dengan
mengupayakan proses yang mampu membawa siswa pada penguasaan
materi, baik pengetahuan, sikap, maupun psikomotor yang dapat dipakai
sebagai bekal hidup.
96



95
Ibid., hlm. 86.
96
Ibid., hlm. 88.
109
4.) Kemauan yang kuat
Kemauan yang kuat adalah berusaha untuk memenuhi segala
kemauannya secara intensif dan terus menerus diusahakan. Dengan
kemauan yang kuat inilah seseorang guru akan terdorong untuk
menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif yang mengacu pada
kepentingan siswa dalam pengusaan materi pembelajaran.
97

Strategi pengelolaan kelas memerlukan dukungan dari kondisi
pembelajaran yang kondusif di kelas. Untuk memepelajari Pendidikan
Agama Islam siswa membutuhkan dukungan dari diri siswa itu sendiri dan
lingkungannya, seperti motivasi, kemauan belajar dan lingkungan kelas.
b. Faktor Penghambat strategi pengelolaan kelas
Dalam interaksi belajar mengajar ditemukan bahwa proses belajar
yang dilakukan oleh siswa merupakan kunci keberhasilan belajar. Proses
belajar merupakan kegiatan yang dialami dan dihayati oleh siswa sendiri
dan merupakan kegiatan mental dalam mengolah bahan belajar atau
pengalaman yang lain. Masalah-masalah intern yang dialami oleh siswa
dan berpengaruh pada proses belajar adalah:
1.) Sikap terhadap belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang
sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian
mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau belajar tersebut.
Hal ini berpengaruh pada perkembangan kepribadian. Oleh karena itu

97
Ibid.,
110
siswa mempertimbangkan dari akibat sikap terhadap belajar.
98
Sikap siswa
terhadap kebutuhan belajar merupakan pertimbangan yang diperhitungkan
oleh siswa itu sendiri. Seberapa besar siswa dapat menerima atau menolak
dirinya untuk belajar. Jika siswa itu menolak atau masih menunda waktu
belajar, maka hal ini masalah yang mengganggu proses belajarnya.
2.) Motivasi belajar
Motivasi merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya
proses belajar. Motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus
menerus. Agar siswa memiliki motivasi belajar yang kuat pada tempatnya
diciptakan suasana belajar yang menggembirakan.
Motivasi siswa mengikuti proses pembelajaran merupakan faktor
keberhasilan belajarnya. Jika siswa tidak semangat untuk mengikuti
pelajaran, hal ini, juga menjadi masalah yang harus ditangani.
3.) Konsentrasi belajar
Merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran,
yang tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya.
99

Materi pelajaran yang dibahas dikelas diperoleh dengan baik, apabila
siswa mampu merekam materi itu untuk disimpan di otak. Siswa
memikirkan sesuatu selain bahasan materi di kelas itu, dapat mengganggu
konsentarasi belajarnya.


98
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm.
239.
99
Ibid., 238.
111
4.) Mengolah bahan belajar
Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa menerima
isi dan cara memproleh ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa.
Kemampuan ini, bila siswa mengolah bahan menjadi makin baik dan
berpeluang aktif belajar.
100
Jadi mengolah bahan ajar dan pemerolehannya
ini membutuhkan konsentrasi belajar.
5.) Menyimpan perolehan hasil belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan
menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan
pesan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek (cepat dilupakan)
dan waktu yang lama (hasil belajar mudah/tetap dimiliki siswa).
101

Siswa mampu menyimpan hasil materi yang dipelajari, sehingga
dia tidak mudah melupakan pelajaran yang dipelajari. Jika siswa mudah
lupa hasil belajarnya, hal ini merupakan masalah dalam mangaplikasikan
hasil belajarnya dikemudian hari
6.) Menggali hasil belajar yang tersimpan
Menggali hasil belajar yan tersimpan merupakan proses
mengaktifkan pesan yang telah terterima. Dalam hal baru, siswa akan
memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali, atau mengaitkan
dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama, siswa akan membangkitkan
pesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar. Penggalian

100
Ibid., 240.
101
Ibid.
112
hasil yang tersimpan ada hubungannya dengan baik atau buruknya
penerimaan, pengolahan, dan penyimpanan pesan.
102

7.) Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil balajar
Kemampuan berprestasi merupakan suatu puncak proses belajar.
Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Siswa
menunjukkan bahwa ia telah mempu memecahkan tugas-tugas belajar atau
mentransfer hasil belajar.
Kemampuan berprestasi berpengaruh oleh proses penerimaan,
pengaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, pembangkitan
pesan dan pengalaman. Bila proses-proses tersebut tidak baik, maka siswa
dapat berprestasi kurang atau dapat juga gagal berprestasi.
8.) Rasa percaya diri siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak
dan berhasil. Rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari
lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi
merupakan tahap pembuktian ”perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan
rekan sejawat siswa. Makin sering berhasil menyelesaikan tugas, maka
semakin memperoleh pengakuan umum, dan selanjutnya rasa percaya diri
semakin kuat. Begitu juga sebaliknya.
Guru harus mampu mendorong keberanian terus menerus,
memberikan penguatan, memberikan pengakuan dan kepercayaan bila

102
Ibid. hlm. 242.
113
siswa telah berhasil. Siswa akan meresa percaya diri bahwa dirinya
mampu menyelesaikan tugasnya.
9.) Intelegensi dan keberhasilan belajar
Menurut wechler, intelegensi adalah kecakapan global atau
rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir
secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan
tersebut menjadi aktual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar
atau kehidupan sehari-hari. Intelegensi dianggap sebagai suatu norma
umum dalam keberhasilan belajar. Perolehan hasil belajar yang rendah
dapat disebabkan oleh intelegensi yang rendah. Begitu juga sebaliknya.
10.) Kebiasaan belajar
Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar
yang kurang baik. Misalnya balajar pada akhir semester, belajar tidak
teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bergaya minta belas kasihan
tanpa belajar. Untuk sebagian kebiasaan belajar tersebut disebabkan oleh
ketidakmengertian siswa pada arti belajar bagi diri sendiri. Hal ini dapat
diperbaiki dengan pembinaan disiplin membelajarkan diri.
11.) Cita-cita siswa
Cita-cita sebagai motivasi intrinsik perlu dididikkan sejak sekolah
dasar. Cita-cita merupakan merupakan wujud eksplorasi dan emansipasi
diri siswa. Didikan pemilikan dan pencapaian cita-cita sebaiknya
berpangkal dari kemampuan berprestasi, dimulai dari hal yang sederhana
ke semakin sulit. Dengan mengaitkan pemilikian cita-cita dengan
114
kemampuan berprestasi, maka siswa diharapkan berani bereksplorasi
sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri.
Masalah belajar yang dialami dari diri siswa dapat mempengaruhi
proses pembelajaran di kelas dan juga akan menghambat dalam penciptaan
kondisi pembelajaran yang kondusif dikelas. Apabila proses pembelajaran
terganggu, maka keberhasilan belajar dikhawatirkan juga terhambat.
Ditinjau dari segi siswa, faktor ekstern yang berpengaruh pada
aktivitas belajar adalah:
103

1) Peran guru sebagai pembina aktifitas belajar
Guru sebagai pendidik, ia memusatkan perhatian pada kepribadian
siswa, khususnya berkenaan dengan kebangkitan belajar yang merupakan
wujud emansipasi diri siswa. Sebagai guru pengajar, ia bertugas mengelola
kegiatan belajar siswa di sekolah. Dalam menciptakan dan
mempertahankan kondusi kelas agar tetap kondusif, guru sebagai pembina
aktifitas belajar juga menjadi penghambat dalam pelaksanaan pengelolaan
kelas itu sendiri. Diantaranya dalam hal :
104

a) Tipe kepemimpinan guru
Tipe mengajar yang terlalu otoriter, kurang demokratis, sehingga
menumbuhkan sikap pasif atau agresif peserta didik
b) Format belajar yang monoton
Format belajar mengajar monoton akan menimbulkan kebosanan
belajar. Hendaknya perlu dikembangkan format belajar bervariasi

103
Ibid., hlm. 249.
104
Ahmad Rohani H.M. dan Abu Ahmadi, Op.Cit., hlm. 146-148.
115
c) Kepribadian guru
Bersikap hangat, obyaektif, adil, dan fleksibel merupakan sikap
yang harus dimiliki oleh guru untuk menciptakan suasana emosional yang
menyenangkan dalam proses belajar-mengajar. Sikap yang bertentangan
dengan kepibadian seperti pilih kasih akan menimbulkan masalah dalam
pengelolaan kelas.
d) Pengetahuan guru yang terbatas dan lain-lain.
Keterbatasan pengetahuan guru tentang masalah dan pendekatan
pengelolaan kelas, baik yang bersifat teoritis maupun pengalaman praktis.
e) Pemahaman guru tentang peserta didik
Keterbatasan kesempatan guru untuk memahami tingkah laku
masing-masing siswa dan latar belakangnya dapat disebabkan karena
kurangnya usaha guru untuk memahami peserta didik dan latar
belakangnya, atau mungkin karena beban mengajar guru yang padat.
2) Prasarana dan sarana pembelajaran
Lengkapnya prasarana dan sarana merupakan kondisi pembelajaran
yang baik. Guru dan siswa dituntut dalam menggunakannya, baik dalam
pemanfaatannya maupun pemeliharaannya.
3) Kebijakan penilaian
Pada tujuan instruksional khusus mata pelajaran di kelas adalah
peran guru yang secara profesional yang bersifat otonom. Pada tujuan
instruksional tahap akhir, yang terkait dengan kenaikan kelas, muncul
116
urusan kebijakan sekolah. Kebijakan penilaian sekolah tersebut merupakan
kebijakan guru sebagai pengelola proses belajar.
Pada tujuan instruksional umum tingkat sekolah berlaku evaluasi
tahap akhir yang muncul dari kebijakan penilaian tingkat nasional. Jadi
peran guru menilai hasil belajar berorientasi pada ukuran-ukuran pada
tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat sekolah, wilayah, dan tingkat
nasional. Keputusan hasil belajar merupakan puncak harapan siswa.
Secara kejiwaan, siswa terpengaruh atau tercekam tentang hasil
belajarnya. Oleh karena itu, sekolah dan guru diminta berlaku arif dan
bijak dalam menyampaikan keputusan hasil belajar siswa.
4) Kurikulum sekolah
Perubahan kurikulum sekolah, mengakibatkan guru perlu
mengadakan perubahan pembelajaran. Guru harus menghindarkan diri dari
kebiasaan pembelajaran yang lama. Akibatnya guru harus mempelajari
strategi, metode, teknik, dan pendekatan mengajar yang baru, sehingga
kebiasaan belajar siswa juga akan mengalami perubahan.
5) Lingkungan sosial siswa di sekolah
Pengaruh lingkungan sosial siswa dapat berupa:
105

a) Pengaruh kejiwaan dalam menerima atau menolak siswa, yang
akan berakibat memperkuat atau memperlemah konsentrasi belajar
b) Lingkungan sosial mewujud dalam suasana akrab, gembira, rukun,
dan damai; sebaliknya mewujud dalam suasana perselisihan

105
Dimyati dan Mudjiono, Op.Cit., hlm. 252.
117
bersaing, salah menyalahkan. Suasana kejiwaan tersebut
berpengaruh pada semangat dan proses belajar.
c) Lingkungan sosial siswa di sekolah dan kelas dapat berpengaruh
pada semangat belajar kelas.dan setiap guru akan disikapi secara
tertentu oleh lingkungan sosial siswa. Sikap positif atau negatif
terhadap guru akan berpengaruh pada kewibawaan guru
d) Lingkungan keluarga
Tingkah laku peserta didik di kelas merupakan pencerminan
keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin
dalam tingkah laku peserta didik yang agrasif dan apatis. Tingkah
laku peserta didik dikelas mencerminkan tingkah laku dan
kebiasaan yang kurang terkontrol dirumah. Di dalam kelas sering
ditemukan peserta didik pengganggu dan pembuat ribut. Mereka
itu biasanya dari keluarga yang tidak utuh atau broken home.
106

Kebiasaan kurang baik di lingkungan keluarga seperti tata tertib
tidak patuh pada disiplin, kebebasan yang berlebihan atau terlampau
dikekang akan merupakan latar belakang yang menyebabkan peserta didik
melanggar disiplin di dalam kelas.





106
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Op.Cit., hlm. 151.
118
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif.
Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yng dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku,,
persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik (utuh), dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang
dialamiah dan dengan memanfatkan berbagai metode ilmiah.
107

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, penelitian kualitatif (Qualitatif
Research) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan,
persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.
108
Beberapa
deskripsi digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip penjelasan yang
mengarah pada penyimpulan.
Penelitian kualitatif ini bersifat induktif, yaitu peneliti membiarkan
permasalahan-permasalahan muncul dari data atau dibiaskan terbuka untuk
interpretasi. data dihimpun dengan pengamatan yang seksama, mencakup
skripsi dalam konteks yang mendetil disertai catatan-catatan hasil wawancara
yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan catatan-catatan.

107
Lexy J. Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remeja Rosdakarya, 2005),
hlm. 6.
108
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2005), hlm. 60.
119
Berdasarkan uraian diatas penggunaan pendekatan kuntitatif dapat
menghasilkan data deskriptif tentang strategi pengelolaan kelas, yang meliputi
pelaksanaan strategi pengelolaan kelas, dampak strategi pengelolaan kelas
serta faktor penghambat dan pendukung untuk meningkatkan prestasi balajar
dalam pembelajaran PAI siswa di SMP Negeri 04 Batu.
B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi
kasus. Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata menjelaskan bahwa studi
kasus (case study) merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu
kesatuan sistem. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau
sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu, atau ikatan tertentu.
109

Jenis penelitian ini diarahkan untuk menghimpun data, mangambil makna,
memperoleh pemahaman dari suatu kasus.
Suatu kasus dapat terdiri atas satu unit atau lebih dari satu unit, tetapi
merupakan satu kesatuan. Kasus dapat satu orang, satu kelas, satu sekolah,
beberapa sekolah tetapi dalam satu kantor kecamatan, dsb.
110

Dalam penelitian ini, peneliti meneliti suatu kasus yang terjadi di SMP
Negeri 4 Batu. Dengan adanya studi kasus ini, diharapkan dapat
mengumpulkan data-data yang diperoleh, kemudian mengolah, menganalisis
dan menyimpulkannya, sehingga didapatkan pemahaman yang jelas tentang
pelaksanaan strategi pengelolaan kelas, dampak strategi pengelolaan kelas

109
Ibid., hlm. 64.
110
Ibid.,
120
serta faktor penghambat dan pendukungnya untuk meningkatkan prestasi
belajar dalam pembelajaran siswa di SMP Negeri 4 Batu.
C. Kehadiran Peneliti
Penelitian kualitatif berasumsi bahwa realitas itu bersifat holistik
(menyeluruh), dinamis, tidak dapat dipisah-pisahkan ke dalam variabel-
variabel penelitian. Kalaupun dapat dipisah-pisahkan ke dalam variabelnya
akan banyak sekali. Dengan demikian dalam penelitian kulitatif ini belum
dapat dikembangkan instrumen penelitian sebelum masalah yang diteliti jelas
sama sekali. Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif “the researcher is the
key instrumen”.
111

Selanjutnya Nasutioan (1988) juga menyatakan bahwa dalam
penelitian kualitatif, tidaka ada pilihan lain dari pada menjadikan manusia
sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya karena segala sesuatunya
belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, hipotesis
yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat
ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu
dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti,
tidak ada pilihan lain, dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya
yang dapat mencapainya.
112

Jadi dapat dipahami, bahwa dalam penelitian kualitatif pada awalnya
dimana permasalahan belum jelas dan pasti, maka yang menjadi instrumen
adalah peneliti sendiri. Tetapi setelah masalahnya yang akan dipelajari jelas,

111
Sugiyono, Metode Penelitian Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,
(Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 306.
112
Ibid., hlm 307.
121
dapat dikembangkan suatu instrumen, seperti wawancara dan observasi.
Kehadiran peneliti dalam penelitian ini sebagai pengamat penuh, dalam artian
peneliti tidak termasuk sebagai guru ataupun sebagai siswa yang menjadi
subjek penelitian SMP Negeri 4 Batu.
D. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah letak dimana penelitian dilakukan untuk
memperoleh data atau informamsi yang diperlukan, berkaitan dengan
permasalahan penelitian. Lokasi yang dipilih pada penelitian ini adalah SMP
Negeri 4 Batu. Adapun obyek penelitiannya adalah tentang strategi
pengeloloaan kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Sedangkan
subyek penelitiaanya guru dan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama
Islam.
SMP Negeri 4 Batu dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan
sekolah/lembaga pendidikan berkualitas yang letaknya hampir jauh dari pusat
kota Batu, dan uniknya siswa-siswanya tidak hanya dari suatu kawasan,
namun mereka datang dari beberapa kawasan, baik dari sekitar sekolah itu
maupun dari kawasan kota batu. Hal ini terbukti dari perkembangan SMP
Negeri 4 Batu yang mampu membawa dirinya sejajar dengan sekolah
unggulan lain di kota Batu. Pengembangan kualitas dan pembinaan guru
melalui berbagai macam penataran keilmuan serta pengembangan seluruh
siswa SMP Negeri 4 Batu melalui kegiatan-kegiatan siswa yang dapat
menunjang keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah sehingga dapat
menambah pengalaman dan wawasan bagi siswa.
122
Mengelola kelas dengan baik terhadap siswa-siswa yang latarnya
majemuk adalah penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan
prestasi belajar siswa.
E. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat
diperoleh.
113
Dari sini dapatlah peneliti mengerti bila yang dimaksud sumber
data adalah dimana peneliti akan mendapatkan dan menggali informasi yang
berupa data-data yang diperlukan oleh peneliti sehingga mendukung penelitian
ini. Untuk mempermudah mengidentifikasi, maka sumber data dalam
penelitian ini diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu:
114

1. Person
Persoin merupakan, sumber data yang bisa memberikan data berupa
jawaban lisan melalui wawancara atau jawaban tertulis melalui angket.
Data person dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara dan angket
siswa. wawancara langsung dengan guru-guru Pendidikan Agama Islam
dan siswa SMP Negeri 4 Batu. Sedangkan angket digunakan untuk
memperoleh data dari beberapa siswa.
2. Place
Place adalah sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan
diam dan bergerak. Diam misalnya, ruangan, kelengkapan alat, wujud
benda, warna, dan lain-lain. Bergerak misalnya aktivitas kinerja, laju
kendaraan, ritme nyanyian, gerak tari, sajian sinetron, kegiatan belajar

113
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002), hlm. 107.
114
Ibid.
123
mengajar dan lain sebagainya. Data place diperoleh dengan melakukan
observasi terhadap kegiatan-kegiatan, keadaan sarana prasarana, keadaan
guru, keadaan siswa yang ada pada SMP Negeri 4 Batu.
3. Paper
Paper merupakan sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa
huruf, angka, gambar, atau simbol-simbol lain. Dengan pengertian ini,
maka ”paper” bukan terbatas hanya pada kertas sebagaimana terjemahan
dari kata ”paper” dalam bahasa Inggris, tetapi dapat berwujud batu, kayu,
tulang daun lontar dan sebagainya yang cocok untuk penggunaan metode
dokumentasi. Data paper dalam penelitian ini diperoleh dengan cara
mencari sumber-sumber data yang berupa dokumen data-data yang berasal
dari objek penelitian kemudian didokumentasi dengan rapi.
Sumber data sebagai subjek utama penelitian ini adalah guru
Pendidikan Agama Islam. Hasil wawancara dan keterangan yang diperoleh
dari guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Batu akan membantu
untuk mengetahui strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dan mengetahui
masalah-masalah pengelolaan kelas yang terjadi di kelas
Adapun sumber data yang menjadi informan penelitian ini adalah
siswa SMP Negeri 4 Batu. Informan adalah orang yang memberikan
informasi. Informan dapat dikatakan sama dengan responden, apabila
pemberian keterangannya karena dipancing oleh peneliti.
115
Sedangkan

115
Ibid., hlm. 122
124
responden atau penanggap dalam penelitian ini adalah sampel dari kelas IX.
Responden adalah orang yang diminta memberikan keterangan tentang suatu
fakta atau pendapat. Keterangannya dapat disampaikan dalam bentuk tulisan,
yaitu ketika mengisi angket, atau lisan, ketika menjawab wawancara.
116

Keterangan yang diperoleh dan diketahui dari responden sebagai informan
pada penelitian ini, adalah berupa hasil angket dan wawancara mengenai
pelaksanaan strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu
serta dampak dan faktor penghambat dan pendukungnya.
Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan ini, pada
pengambilan sampel dalam metode kuesioner ini menggunakan sampel secara
tidak acak dengan “purposif sampling”, yaitu pengambilan sampel yang
disesuaikan dengan tujuan penelitian.
117
Menurut Suharsimi arikunto
pengambilan sampel dengan teknik bertujuan ini cukup baik dengan
pertimbangan peneliti sendiri sehingga dapat mewakili populasi.
118

Dengan metode ini penulis bermaksud untuk memperoleh data dan
mengetahui dampak atau efek bagi prestasi kognitif, afektif, dan psikomotorik
siswa dari pelaksanaan strategi pengelolaan kelas yang dilakukan dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam, serta faktor-faktor yang mendukung
dan menghambatnya.
Angket ini diberikan kepada semua siswa kelas IX SMP Negeri 4
Batu, karena mereka dipertimbangkan sudah dianggap lebih dewasa dalam hal

116
Ibid.,
117
Nana Sudjana dan Ibrahim, Op.Cit., hlm. 254.
118
Suharsimi Arikunto, Op.Cit., (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 112.
125
pemikiran bila dibandingkan dengan siswa kelas VIII ataupun kelas VII dan
juga sudah dianggap lebih berpengalaman dalam terlibat proses pembelajaran.
F. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Metode Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara
mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap
kegiatan yang sedang berlangsung.
119

Metode ini digunakan dengan jalan terjun langsung ke dalam
lingkungan, di mana penelitian itu dilaksanakan disertai dengan
pengamatan dan pencatatan terhadap hal-hal yang muncul terkait dengan
informasi antara data yang dibutuhkan. Hal-hal yang di observasi adalah
aktivitas yang dilakukan guru PAI dan siswa sebagai pelaku strategi
pengelolaan kelas selama dalam waktu penelitian sampai data yang
diperlukan cukup. Metode ini digunakan dengan tujuan untuk memperoleh
data riil tentang lokasi, lingkungan belajar, sarana dan prasarana yang
tersedia dalam pelaksanaan strategi pengelolaan kelas, dan sebagainya.
2. Metode Interview
Interview adalah suatu proses tanya jawab lisan, dalam mana dua
orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat
muka yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri suaranya.
120


119
Nana Syaodih Sukmadinata, Op.Cit., hlm. 220.
120
Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid II, (Yogyakarta: Andi Offset,1991), hlm. 192.
126
Menurut Arikunto, interview merupakan wawancara atau
kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara
(interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara
(interviewee).
121

Metode ini digunakan untuk mendapatkan keterangan dari guru
Pendidikan agama Islam dan siswa melalui percakapan langsung untuk
memperoleh data-data atau informasi yang sebanyak-banyaknya mengenai
pokok permasalahan yaitu pelaksanaan strategi pengelolaan kelas dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa SMP Negeri 4 Batu, dan dampak, serta factor-faktor yang
mendukung dan menghambatnya..
3. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau
variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,
prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.
122

Berdasarkan pengertian tersebut maka metode ini dimaksudkan
untuk memperoleh data yang berupa dokumen yang mendukung strategi
pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu., seperti
perencanaan-perencanaan kegiatan, dokumen nilai prestasi belajar siswa,
latar belakang dan profil sekolah, visi-misi sekolah dan tujuan

121
Suharsimi Arikunto, Op.Cit., (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 132
122
Ibid., hlm. 206.
127
pembelajaran, dokumen-dokumen resmi, buku induk, buku pribadi, foto-
foto, dan lainnya yang ada di SMP Negeri 4 Batu.
4. Metode Kuesioner (angket)
Metode angket kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
123
Dalam metode angket ini
digunakan kuesioner tertutup; yang sudah disediakan jawabannya
sehingga responden tinggal memilih jawaban yang sudah tersedia.
124

Berdasarkan pada uraian di atas maka dalam penelitian ini
digunakan angket yang sudah disediakan jawabannya (kuesioner tertutup).
Hal ini didasarkan atas bahwa memungkinkan penulis untuk
mengungkapkan data secara serentak dan luas tanpa menyulitkan
responden dalam memberikan jawaban.
Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan,
pengambilan sampel dalam metode kuesioner ini menggunakan sampel
secara tidak acak dengan “purposif sampling”, yaitu pengambilan sampel
yang disesuaikan dengan tujuan penelitian.
125
Menurut Suharsimi arikunto
pengambilan sampel dengan teknik bertujuan ini cukup baik dengan
pertimbangan peneliti sendiri sehingga dapat mewakili populasi.
126

Dengan metode ini penulis bermaksud untuk memperoleh data dan
mengetahui dampak atau efek bagi prestasi kognitif, afektif, dan

123
Sugiyono, Ibid., hlm. 199.
124
Suharsimi Arikunto Op.Cit., (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 128.
125
Nana Sudjana dan Ibrahim, Op.Cit., hlm. 254.
126
Suharsimi Arikunto, Op.Cit. (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 112.
128
psikomotorik siswa dari pelaksanaan strategi pengelolaan kelas yang
dilakukan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, serta faktor-
faktor yang mendukung dan menghambatnya.
G. Tehnik Analisis Data
Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan disesuaikan
dengan jenis data yang diperoleh. adalah sebagai berikut:
1. Analisis Kuantitatif
Menurut Nana Sudjana data kuantitatif merupakan data yang bersifat
numerikal, yaitu maknanya belum menggambarkan apa adanya sebelum
dilakukan pengolahan dan analisis lebih lanjut. Salah satu cara untuk
mengolah dan menganalisis data kuantitatif adalah statistika desktiptif.
Analisis data statistika desktiptif

digunakan untuk mendeskripsikan
variabel penelitian yang diperoleh melalui hasil-hasil pengukuran.
127

Analisis data statistika desktiptif

dalam penelitian ini merupakan
tehnik analisis data pendukung untuk membantu peneliti menafsirkan dan
mendeskripsikan hasil pengukuran data yang berupa angka yang diperoleh
dengan metode angket. Analisis ini dilakukan dengan mendeskripsikan
data yang berupa angka dan mentabulasikannya dalam bentuk perhitungan
persentase kemudian ditarik suatu kesimpulan secara deskriptif. Data yang
diperoleh dari hasil angket merupakan data yang mendukung (pendukung)
kevalidan penelitian ini. Adapun rumus persentase tersebut adalah:
128


127
Nana Sudjana dan Ibrahim, Op.Cit., hlm. 126.
128
Atiyatul Karimah, Skripsi: Hubungan antara Self Concept, Self Control, dan Perilaku
Seksual Pra-Nikah Siswa Kelas XI SMA N 4 Kediri, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2008),
hlm. 53.
129
P =
% 100 x
N
F

Keterangan:
P = Angka Persentase
N = Number of case (jumlah frekuensi/banyaknya individu)
F = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya

Persentase yang diperoleh melalui perhitungan ini kemudian
ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif, misalnya sebagai
berikut:
Baik : 75 %- 100 % Kurang Baik : 45 %- 55 %
Cukup baik : 56 %- 75 % Tidak Baik : kurang dari 46 %.
Setelah semua data yang diperlukan terkumpul, maka selanjutnya data
tersebut diolah dan disajikan dengan menggunakan teknik analisis
deskriptif kuantitatif, dengan melalui tahapan-tahapan tertentu yaitu
identifikasi, klasifikasi, dan kategorisasi. Selanjutnya diinterpresentasikan
melalui penjelasan deskriptif.
2. Analisis Deskriptif
Data yang bersifat kualitatif akan dianalisis dengan mendeskripsikam
tentang keadaan atau status fenomena yang diselidiki dengan
menggambarkan berupa kata-kata atau kalimat yang dipisah-pisah
menurut data yang diperoleh kemudian diambil suatu kesimpulan dari data
tersebut. Tehnik analisis ini merupakan tehnik analisis pokok yang
digunakan dalam penelitian ini, yang mana hasil data yang diperoleh
dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi dianalisis dalam
130
tehnik analisis data kualitatif. Hal ini juga sesuai dengan pendekatan yang
digunakan yaitu pendekatan kualitatif yang terdiri dari tiga tahap, yaitu:
a. Data Display (Penyajian Data)
Mendisplay data dalam penelitian kualitatif adalah penyajian data
yang dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar
kategori. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk
memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan
apa yang telah dipahami tersebut.
129

Penyajian data dilakukan dengan cara menyusun data-data yang
diperoleh dari lapangan. Data dicatat dengan rinci secara naratif dan
diuraikan dengan kalimat verbal, sehingga memungkinkan membuat
kesimpulan dan tindakan selanjutnya.
b. Data Reduction (Reduksi Data)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan
membuang yang tidak perlu.
130
Dengan demikian data yang telah direduksi
akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti
untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.
Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan,
menggolongkan, mangarahkan, dan membuang yang tidak perlu dan
mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga ditarik
kesimpulan finalnya dan diverivikasi. Maka dari penelitian ini, data yang

129
Ibid., hlm. 341.
130
Sugiyono, Op.Cit., hlm. 338.
131
diperoleh dari guru PAI, siswa, dan pihak sekolah, disusun secara
sistematis untuk memperoleh gambaran yang sesuai dengan tujuan
penelitian yang dirumuskan.
c. Conclusion Drawing (Verivikasi)
Verifikasi adalah penarikan kesimpulan dimana pada kesimpulan
awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah-ubah
bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap
pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang
dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan
konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka
kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
131

Pada tahap ini mencoba ditarik kesimpulan dengan menemukan
makna dari data-data yang dikumpulkan. Kesimpulan ini diverifikasi
selama penelitian berlangsung sehingga mencapai kesimpulan yang
mendalam dan jelas.
Ketiga proses analisa ini merupakan suatu proses yang saling
berkaitan, yang nantinya akan menentukan hasil akhir dari penelitian.
Penyajian data (data display) yang didukung data-data yang mantap akan
menghasilkan kesimpulan kredibel.
H. Pengecekan Keabsahan Data
Setiap temuan dalam penelitian harus dicek keabsahannya agar hasil
penelitiannya dapat dipercaya dipertanggungjawabkan kebenarannya dan

131
Ibid., hlm. 345.
132
dapat dibuktikan keabsahannya. Adapun teknik pemeriksaan keabsahan data
yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Perpanjangan Keikutsertaan
Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrument sendiri.
Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam menentukan dalam data.
Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi
memerlukan perpanjangan keikutsertaan pada latar penelitian.
Perpanjangan keikutsertaan ini berarti peneliti tinggal dilapangan sampai
kejenuhan pengumpulan data tercapai.
132

Perpanjangan keikutsertaan juga dimaksudkan untuk membangun
kepercayaan para subjek penelitidan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
Dalam penelitian ini, peneliti langsung terjun ke lapangan tepatnya di
SMP Negeri 04 Batu dan mengamati strategi pengelolaan kelas yang
dilakukan oleh guru pada proses belajar mengajar Pendidikan Agama
Islam dan mengamati kemampuan/prestasi yang diperoleh siswa dengan
melalui strategi pengelolaan kelas.
Intensitas kehadiran peneliti yang cukup di sekolah untuk
mengetahui prestasi/keberhasilan belajar melalui strategi pengelolaan
kelas adalah mempunyai maksud untuk menguji kebenaran data yang
diperoleh agar lebih jelas.



132
Lexy Moleong, Op. Cit, hlm. 327.
133
2. Ketekunan/Keajegan Pengamatan
Peneliti mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara
berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol. Data-data yang
ada harus relevan dengan persoalan yang dibahas. Kemudian peneliti
menelaahnya secara rinci sampai pada suatu titik sehingga diperoleh
kejelasan yang mendalam.
3. Triangulasi
Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data
memanfaatkan sesuatu yang lain sebagai bahan perbandingan. Teknik
triangulasi yang digunakan adalah dengan sumber yaitu membandingkan
dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh
melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.
133

Triangulasi dengan sumber dapat dicapai melalui beberapa jalan:
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa
yang dikatakan secara pribadi
c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi
penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu
d. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan.
134

Teknik trianggulasi yang dilakukan peneliti membandingkan data
atau keterangan yang diperoleh dari responden sebagai sumber data

133
Ibid,. hlm. 330.
134
Ibid,. hlm. 331.
134
dengan dokumen-dokumen dan realita yang ada disekolah. Teknik ini
bertujuan untuk mengetahui strategi pengelolaan kelas dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 04 Batu
I. Tahap-Tahap Penelitian
Tahap-tahap yang akan dilakukan dalam penelitian ini meliputi tahap
persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian.
1. Tahap Persiapan
Pada tahap awal peneliti mengamati fenomena-fenomena yang
terjadi dan menemukan permasalahan yang ada di SMP Negeri 04 Batu.
Dari inilah peneliti mencoba mengajukan proposal penelitian. Setelah
proposal disetujui oleh dosen pembimbing, peneliti mengurus surat
perizinan sebagai tanda dibolehkannya melakukan penelitian.
Selanjutnya peneliti menemui kepala sekolah dan guru PAI untuk
menjelaskan kedatangan, maksud dan tujuan melakukan penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini peneliti mencari dan mengumpulkan data yang
diperlukan, sesuai dengan apa yang direncanakan:
a. Peneliti melakukan pencarian terhadap dokumen-dokumen resmi yang
mendukung penelitian.
b. Melakukan wawancara kepada Kepala Sekolah, guru PAI, dan siswa
guna memperoleh keterangan tentang strategi pengelolaan kelas yang
dilakukan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. serta kegiatan
135
pembelajaran dan kegiatan ekstra yang mendukung dalam usaha untuk
meningkatkan kualitas hasil pendidikan.
c. Melakukan observasi langsung mengenai pelaksanaan strategi
pengelolaan kelas pada saat pembelajaran PAI, kemudian mengambil
gambar tentang kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan
strategi pengelolaan kelas untuk didokumentasikan.
d. Melakukan pengecekan kembali terhadap data-data yang telah
diperoleh guna mengetahui data-data yang kurang, dan melengkapinya
sehingga memenuhi target dan lebih valid data yang diperoleh.
3. Tahap Penyelesaian
Pada tahap penyelesaian ini, dilakukan penulisan laporan penelitian
dalam bentuk skripsi, yang sesuai dengan format pedoman penulisan
skripsi terbitan Universiatas Islam Negeri Malang. Peneliti menyusun data
sesuai dengan apa yang ada di lapangan, selanjutnya dianalisis serta
disimpulkan.








136
BAB IV
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA

A. Latar Belakang Objek Penelitian
1. Sejarah SMP Negeri 4 Batu
SMP Negeri 4 batu merupakan salah satu lembaga pendidikan
formal di kota Batu dibawah dibawah naungan Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan kota Batu. Usia sekolah ini relatif masih muda yang berdiri ±
14 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 Oktober 1995. Lokasi SMP
Negeri 4 Batu berada pada dataran tinggi daerah pedesaan dengan luas
areal 6000m2, dengan alamat Jl. Diponegoro, Tulungrejo kecamatan
Bumiaji kota Batu.
Sekolah ini telah membuka sebanyak 15 rombongan belajar,
dengan 13 rombongan belajar pada SMP Negeri 4 Batu induk, dan 2
rombongan belajar pada SMP Negeri 4 Batu kelas jauh yang terletak di
desa Sumber Brantas kecamatan Bumiaji Batu. 13 rombongan belajar
SMP Negeri 4 Batu induk terdiri dari 5 kelas untuk kelas VII (VIIA, VIIB,
VIIC, VIID, VIIE), 4 kelas untuk kelas VIII (VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID),
dan 4 kelas untuk kelas IX (IXA, IXB, IXC, IXD). Sedangkan 2
rombongan belajar di SMP Negeri 4 Batu kelas jauh statusnya sebagai
kelas VIIIE dan kelas IXE. Kelas jauh ini dibentuk dengan maksud
sebagai perhatian sekolah terhadap siswa-siswa yang tempat tinggalnya
terlalu jauh dari lokasi lingkungan pendidikan, dan juga dikarenakan
137
sulitnya transportasi untuk menuju SMP Negeri 4 Batu. Oleh karena itu
sekolah membuka kelas jauh.
Suatu bentuk keberhasilan yang dicapai oleh SMP Negeri 4 Batu,
pada bulan Agustus tahun 2007 yang lalu, SMP Negeri 4 Batu berhasil
mengantarkan rombongan belajar kelas jauh menjadi suatu sekolah yang
mandiri, dengan menjadi SMP Negeri 5 Batu.
2. Tujuan, Visi, dan Misi SMP Negeri 4 Batu
a. Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional adalah pengembangan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
b. Tujuan Pendidikan Dasar
Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
c. Visi
Bertakwa, berakhlak mulia (berbudi pekerti luhur), dan berprestasi.
Sekolah juga memiliki indikator dalam menjadikan siswa SMP
Negeri 4 Batu yang :
- percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa
- mengerjakan salat atau beribadah sesui dengan ajaran agamanya
138
- mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah dan/atau di masyarakat
- santun terhadap orang lain dan/atau orang yang lebih tua
- bertindak sesuai dengan aturan dan tata tertib sekolah
- meraih kejuaraan di bidang akademis
- meraih kejuaraan di bidang nonakademis
d. Misi
1. Melaksanakan ajaran agama
2. Menaati norma yang berlaku di sekolah dan/atau di masyarakat
3. Mengembangkan kurikulum sekolah
4. Melaksanakan proses pembelajaran dengan optimal
5. Melaksanakan penilaian otentik
6. Meningkatkan tingkat kelulusan
7. Melaksanakan kegiatan pengembangan diri
8. Meningkatkan prestasi nonakademik
9. Mengembangkan potensi budaya
e. Tujuan Sekolah Tahun Pelajaran 2007/2008
1. Mengimplementasikan ajaran agama sesuai dengan yang dianut.
2. Mengimplementasikan norma yang berlaku di masyarakat dalam
kehidupan sekolah.
3. Mengembangkan kurikulum sekolah secara lengkap, baik dokumen
1 maupun dokumen 2.
4. Melaksanakan proses pembelajaran untuk semua kelas dengan
pendekatan pembelajaran aktif, yaitu; CTL dan PAKEM.
139
5. Meningkatkan tingkat kelulusan setinggi 5%, yaitu dari 95%
menjadi 100%
6. Meraih kejuaraan di bidang olahraga dan seni, baik tingkat kota
maupun provinsi.
7. Meraih kejuaraan olimpiade MIPA tingkat kota/provinsi.
8. Meningkatkan kebiasaan membaca bidang Iptek, agama, dan fiksi
bagi sekurang-kurangnya 75% siswa melalui kegiatan wajib baca.
9. Membekali 80% siswa untuk mengembangkan minat dan bakat
melalui kegiatan ekstrakurikuler (pengembangan diri), khususnya
bidang seni dan olahraga.
10. Melaksanakan fungsi layanan bimbingan dan konseling kepada
semua siswa.
3. Struktur Organisasi Sekolah
Struktur organisasi SMP Negeri 4 Batu pada tahun 2008-2009
adalah sebagai berikut:
STRUKTUR ORGANISASI SMP NEGERI 4 BATU















Kepala SMP Negeri 4 Batu
Djihad, S.Pd.
Wakil Kepala Sekolah
Drs. Soekamto
Koordinator Tata Usaha
Mujianto, S.Pd.
Ketua Komite Sekolah
H. Sugeng Handoyo
Fungsi Humas
Dra. Sasi Handayani
Fungsi Kurikulum
A. Khoifin, S.Pd.
Fungsi Kesiswaan
Dwi Lisman Putra
Fungsi Sarpras
Sudiyono, S.Pd.
Guru Bidang Studi Wali Kelas

S I S W A
140
4. Sarana dan Prasarana Sekolah
Tersedianya sarana dan prasarana juga menentukan keberhasilan
dan kelancaran dalam proses pembelajaran. Semenjak berdirinya SMP
Negeri 4 Batu, 14 tahun yang lalu hingga sekarang pembengunan
berkembang secara bertahap. Adapun sarana dan prasarana yang
disediakan oleh sekolah pada saat ini. Dapat dilihat pada tabel berikut ini:
TABEL I
Sarana dan Prasarana sekolah
No. Nama Barang Jumlah Keterangan
1 Ruang Kelas 14 ruang Baik
2 Ruang Kepala Sekolah 1 ruang Baik
3 Ruang Tata usaha 1 ruang Baik
4 Ruang Guru 1 ruang Baik
5 Ruang Wakasek 1 ruang Baik
6 Ruang BK 1 ruang Baik
7 Ruang Koperasi 1 ruang Baik
8 Ruang UKS 1 ruang Baik
9 Ruang Tamu 1 ruang Baik
10 Ruang Perpustakaan 1 ruang Baik
11 Ruang Komputer dan Internet 1 ruang Baik
12 Ruang Multi Media 1 ruang Baik
13 Ruang Dapur 1 ruang Baik
14 Kamar Mandi Guru 3 ruang Baik
15 Kamar Mandi Siswa 9 ruang 3 rusak ringan
16 Musholla 1 ruang Baik
17 Ruang Laboratorium IPA 1 ruang Baik
18 Meja siswa 285 buah Baik
19 Meja guru 59 buah Baik
20 Kursi siswa 553 buah Baik
21 Kursi Guru 53 buah Baik
22 Kursi+Meja 80 buah Baik
23 Almari 11 buah Baik
24 Rak buku 10 buah Baik
25 Mesin Ketik 4 buah Baik
26 Komputer untuk Praktik siswa 12 unit Baik
27 Printer untuk praktik siswa 4 unit Baik
28 Komputer untuk kegiatan administrasi sekolah 3 unit Baik
29 Printer untuk kegiatan administrasi sekolah 3 unit Baik
30 Meja computer 19 buah Baik
31 Kursi computer 25 buah Baik
32 Mesin stensil 1 buah Rusak
33 Brankas 1 buah Baik
34 O H P 1 unit Rusak ringan
35 Alat Kesenian 23 buah Baik
36 Alat olah Raga 50 buah Baik
141
37 Alat Keterampilan 65 buah Baik
38 Alat Peraga Matemaika 36 buah Baik
39 Alat Peraga IPA 72 set Baik
40 Alat Peraga IPS 23 buah Baik
41 Pesawat Amplivayer 2 unit Baik
42 Laptop 1 unit Baik
43 LCD 1 unit Baik
44 Mike 5 buah Baik
45 Radio 2 buah Baik
46 Televisi 3 buah Baik
47 VCD 2 unit Baik
48 Pesawat Telepon/faximile 1 unit Baik
49 Pesawat telapon 1 unit Baik
a. Dengan fasilitas kelas yang memadai, 14 ruang belajar (kelas) untuk
KBM, pada tahun 2008, sekolah berhasil menambah 1 kelas lagi,
sehingga kelas IX terdiri dari 4 kelas, sedangkan kelas VII dan kelas
VIII masing-masing terdiri dari 5 kelas
b. Perpustakaan merupakan sarana belajar siswa, baik diwaktu istirahat,
maupun diwaktu jadwal pembelajaran. Guru sewaktu waktu mengajak
siswa belajar di perpustakaan sebagai suatu variasi lingkungan belajar.
c. Keberadaan laboratorium IPA sangat diperlukan untuk menunjang
keberhasilan pengajaran mata pelajaran IPA, yaitu sebagai sarana
tempat praktikum
d. Laboratorium komputer dan internet juga sangat dibutuhkan oleh siswa
pada waktu mata pelajaran komputer dan internet sebagai praktik,
ternyata labortorium juga menunjang keuletan belajar siswa dalam
pelajaran Pendidikan agama Islam, yaitu sebagai sumber belajar siswa
yang diarahkan oleh guru PAI di sekolah ini.
e. Multi Media digunakan oleh para guru sebagai suatu variasi
pembelajaran salah satunya dengan tujuan agar siswa tidak jenuh dan
bosan belajar dikelas, tidak terkecuali guru Pendidikan Agama Islam.
142
5. Keadaan Guru SMP Negeri 4 Batu
Peran seorang guru dalam meningkatkan kualitas prestasi siswa
merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, terutama guru
agama Islam. Guru PAI bukan hanya mengajar siswa di kelas, akan tetapi
juga memiliki tugas pada penanaman moral dan pembinaan karakter siswa
yang Islami. Adapun tugas guru dalam mengajar:
a. Membuat perangkat pembelajaran (Prota, promes, RPP, AUH,
Program perbaikan dan pengayaan, serta silabus)
b. Melaksanakan KBM dengan tertib sesuai dengan jadwal yag telah
ditetapkan
c. Mengisi jurnal kegiatan guru, jurnal kelas, dan daftar hadir guru
d. Mengikuti upacara sekolah dan rapat dinas yang diselenggarakan
sekolah
e. Memimpin doa bersama di kelas pada awal dan akhir jam pelajaran
f. Ikut bertanggungjawab terhadap pelaksaan 7K
g. Melaksanakan tugas piket sekolah dan mengisi buku piket
h. Mengikuti kegiatan peningkatan mutu profesionalisme guru antara
lain: MGMP, pelatihan, dsb.
Pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh guru dan siswa bukan
merupakan interaksi atau tatap muka yang tidak sengaja, tetapi dalam
kegiatan ini mereka dipertemukan secara sengaja sesuai dengan rencana
yang dirancang sebelumya. Guru harus memiliki persiapan yang matang
denga merencanakan pembelajaran yang akan dilaksanakan, begitu juga
143
dengan siswa, mereka harus siap untuk belajar sebelum masuk kelas, agar
pembelajaran dapat berlangsug secara maksimal, sehingga prestrasi yang
aka diperoleh dapat maksimal pula.
6. Keadaan Siswa dan Siswi SMP Negeri 4 Batu
Siswa adalah asset bangsa sebagai penerus masa depan. Latar
belakang siswa SMP Negeri 4 Batu adalah beragam, tidak hanya deri desa
setempat, akan tetapi dari Batu kotanya dan desa tetangga, seperti
Gondang, SumberBrantas, Punten, dan lain-lain. Keadaan kulturbudaya
siswa pun bermacam-macam ada yang berasal dari anak seorang petani
(apel), pedagang, guru, pegawai negeri, pegawai swsta, dan lain-lain.
Sedangkan mengenai jumlah siswa menurut umur, kelas dan jenis
kelamin adalah:
TABEL II
Jumlah Siswa Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Kelas VII Kelas VIII Kelas IX Jumlah
Umur
L P L P L P L P L+P
<13 tahun 62 80 6 11 -- -- 68 91 159
13 tahun 29 17 65 72 5 15 99 104 203
14 tahun 5 6 21 14 54 70 80 90 170
15 tahun -- -- 5 1 9 11 14 12 26
> 15 tahun 1 -- 2 1 3 -- 6 1 7
Jumlah 97 103 99 99 71 96 267 298 565

Sedangkan kegiatan-kegiatan siswa di luar jam belajar di kelas di
buat sebagai suatu pengembangan diri. Kegiatan ini adalah kegiatan yang
bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan,
bakat, dan minat mereka. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau
dibimbing oleh konselor, guru, tenaga kependidikan lain yang
144
berkompeten di bidangnya. Pengembangan diri pilihan bagi kelas VII dan
VIII setiap peserta didik dapat mengikuti maksimal dua pilihan.
Berikut ini dideskripsikan program pengembangan diri melalui
tabel berikut:
TABEL III
Program Pengembangan Diri
K e l a s
Program
VII VIII IX
1. Tidak Terprogram/Pembiasaan Diri
a. Rutin
- Upacara Bendera
- Wajib Baca
- Salat Jumat/Berjamaah/Kebaktian
- Kerja Bakti (Gerakan Jumat Bersih)
- Senam
b. Keteladanan/Spontan
- Berpakaian Seragam, Bersih, dan Rapi
- Membuang sampah pada tempatnya
- Senyum ,Sapa, Salam, Salim, dan Sopan
- Budaya antre
- Pola hidup bersih
V V V
Terprogram
a. Bimbingan Konseling Wajib Wajib wajib
b. Ekstrakurikuler:
1) Baca tulis Al-Quran - Wajib -
2) English Conversation Pilihan Pilihan -
3) Jurnalistik Pilihan Pilihan -
4) Seni Tari Pilihan Pilihan -
5) Seni Musik/Suara Pilihan Pilihan -
6) Karya Ilmiah Remaja Pilihan Pilihan -
7) Komputer/Internet Pilihan Pilihan pilihan
8) Bola Voli Pilihan Pilihan -
9) Bola Basket Pilihan Pilihan -
9) Sepak Bola Pilihan Pilihan -
10) Tata Busana Pilihan Pilihan -
11) Tata Boga Pilihan Pilihan -
2.
12) Pramuka
13) PMR
Wajib
pilihan
Pilihan
Pilihan
-
-

B. Paparan Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang akan diuraikan tentang pelaksaanaan dan dampak
strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu, serta faktor-faktor
145
yang mendukung dan menghambatnya, mengacu pada hasil observasi,
wawancara, dokumentasi, dan angket.
1. Masalah-masalah Pengelolaan Kelas yang dihadapi Guru Pendidikan
Agama Islam di SMP Negeri 4 Batu
Dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas
biasa timbul gangguan tingkah laku yang tidak diinginkan dari siswa.
Guru harus pandai-pandai mengatasi dan meminimalisasi gangguan yang
timbul. Dari hasil wawancara dengan Bapak Drs. Masrukin
mengemukakan tentang masalah yang sering timbul di kelas bahwa:
”.....Kemudian juga ada siswa yang merasa dirinya tidak PD dalam
mempraktikkan membaca ayat. Saya beri motivasi siswa dan pemberian
nilai plus terhadap siswa yang mau berusaha berpartisipasi”.
135

Untuk mengatasi masalah tentang keadaan siswa yang belum Percaya Diri
dalam mempraktikkan sesuatu, guru berusaha memberikan motivasi dan
hadiah yang berbentuk nilai atau point plus.
Selanjutnya menurut hasil angket menunjukkan di bahwa 98,48 %
siswa mengetahui sikap guru PAI dalam memberikan teguran terhadap
siswa yang mengganggu proses pembelajaran PAI, dan 1,52 % siswa yang
mengetahui sikap guru PAI dengan membiarkan saja siswa yang
mengganggu proses pembelajaran PAI, sedangkan tidak ada siswa yang
mengetahui sikap guru dengan mengeluarkan siswa yang mengganggu
proses pembelajaran PAI.


135
Hasil wawancara dengan guru PAI SMP Negeri 4 Batu, Drs. Masrukin tanggal 28
November 2008.
146
TABEL IV
Tanggapan siswa tentang guru PAI dalam menyikapi siswa yang berbuat
onar atau hal-hal yang mengganggu berlangsungnya pembelajaran PAI
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
4 a. Memberikan teguran
b. Membiarkan saja
c. Mengeluarkan dari kelas
132 130
2
-
98,48
1,52
JUMLAH 132 132 100

Beliau juga menuturkan bahwa:
Gangguan lain yang sering timbul di kelas itu, seperti usil dan
mengganggu temannya saat pelajaran berlangsung, hal ini saya atasi
hanya dengan mendekati mereka saja, tanpa mengungkapkan satu kata
pun mereka sudah diam. Oya…dalam belajar kelompok pernah juga
ditemukan ketidakkompakan dari siswa, ya biasanya disebabkan tugas
kerja kelompok yang tidak merata yang digarap masing-masing siswa.
Jadi guru harus punya trik agar siswa dalam kelompok belajarnya
mereka sama-sama kerja. seperti mewajibkan siswa mencatat hasil
diskusi kelompok pada masing-masing buku tulis mereka atau browsing
mencari bahan materi yang dipelajari.
136


Dari keterangan-keterangan diatas disimpulkan bahwa gangguan
yang sering terjadi di kelas adalah siswa mengganggu temannya, usil
terhadap teman sebelahnya, dan dengan guru menghampirinya, maka
siswa itu diam seketika tanpa adanya kata yang diungkapkan oleh guru.
Masalah tentang ketidakkompakan dalam kelompok belajar, yang
disebabkan tidak meratanya tugas yang digarap masing-masing siswa,
maka guru mempunya trik agar siswa dalam kelompok belajarnya mereka
sama-sama kerja. seperti mewajibkan siswa mencatat hasil diskusi
kelompok pada masing-masing buku tulis mereka atau browsing mencari
bahan materi yang dipelajari
Disamping itu, dari hasil angket diperoleh data yang menggambarkan
bahwa 51,5 % siswa menanggapi telah tercipta suasana kerjasama dalam

136
Ibid.
147
kelompok belajar pelajaran agama Islam, dan 36,4 % siswa menanggapi
sulit terciptanya suasana kerjasama dalam kelompok belajar pelajaran
agama Islam, sedangkan 12,1 % siswa menanggapi tidak terciptanya
suasana kerjasama dalam kelompok belajar pelajaran agama Islam.
TABEL V
Tanggapan siswa tentang terciptanya suasana kerjasama
dalam kelompok belajar siswa mata pelajaran PAI
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
6 a. Ya, sudah tercipta
b. sulit tercipta
c. Tidak tercipta
132 68
48
16
51,5
36,4
12,1
JUMLAH 132 132 100

Kemudian tentang kerjasama yang tercipta dalam kelompok belajar
dapat dikatakan baik. Hal ini terbukti dengan 51 % siswa menanggapi
sudah terciptanya suasana kerjasama diantara mereka, kalaupun ada
menanggapi masih sulit tercipta, hal itu sudah diatasi oleh guru dengan trik
pemerataan tugas dan wajib mencatat.
Sedangkan Bapak. Mahmud Huda juga menyatakan tentang hal
yang mengganggu proses pembelajaran bahwa:
Dulu sering yang mengganggu saat pelajaran berlangsung itu, siswa
yang sering izin ke belakang yang keluar seringnya berbarengan. Ya...
bukan saja pada pelajaran PAI saja, bahkan pada waktu pelajaran
lainnya dan hanya anak-anak itu saja. Tapi itu bisa diatasi dengan cara
saya tetapkan siswa harus ke kamar mandi waktu istirahat. Itupun
sebelumnya saya tanyakan penyebabnya kenapa mereka sering izin?.
Memang hal ini agak memaksa, namun ini dapat meminimalisir
masalah.
137


Dalam mengatasi masalah siswa yang sukanya izin keluar kelas
pada saat pelajaran agama, guru mengambil langkah menanyakan

137
Hasil wawancara dengan guru PAI SMP Negeri 4 Batu, Mahmud Huda, S.Ag. pada
tanggal 24 November 2008.
148
penyebab keseringan siswa izin keluar kelas?, dan apabila tidak ada
penyebab logis maka guru mengambil tindak lanjut setengah memaksa
dengan menetapkan bahwa pada waktu pelajaran Bapak Mahmud Huda,
siswa pada waktu istirahat harus ke kamar mandi sebelum masuk kelas.
2. Pelaksanaan Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi Balajar Siswa
SMP Negeri 4 Batu.
SMP Negeri 4 Batu yang merupakan salah satu sekolah umum,
yang mana pada pelajaran agama (mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam) mempunyai target waktu 2 jam mata pelajaran (40 menit/jam
pelajaran) dalam 1 minggu dan guru pun harus pandai-pandai memilih dan
menggunakan metode dan strategi pembelajaran agar pembelajaran yang
direncanakan dapat mencapai target tujuan pembelajaran dan prestasi yang
diinginkan. Hal ini menuntut guru untuk profesional dalam melakukan
proses pembelajaran dengan efektif, efisien dan menyenangkan.
Untuk mencapai hal ini sekolah dan guru harus merencanakan
program-program yang nantinya akan dilaksanakan hingga berlangsung
dengan baik, tanpa timbulnya masalah atau gangguan yang tidak
diinginkan dalam pembelajaran. Kalaupun timbul masalah atau gangguan
guru harus dengan bijak untuk mengatasi atau meminimalisir timbulnya
masalah tersebut. Oleh karena itu diperlukan strategi-strategi dalam
mengelola kelas dalam rangka menciptakan dan mempertahankan kondisi
kelas agar tetap kondusif untuk pembelajaran. Dari hasil wawancara yang
149
dilaksanakan dengan Bapak Drs. H. Akh. Masrur juga sebagai guru PAI
kelas VII dan kelas VIII menyatakan:
Strategi pengelolaan kelas merupakan usaha yang dilakukan guru dalam
hal bagaimana caranya kelas itu menjadi baik, yang mana layak untuk
digunakan sebagai sarana tempat belajar dan penciptaan hingga
pemulihan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan, sehingga
siswa dapat belajar secara maksimal untuk mencapai tujuan
pembelajaran, yang nantinya berimbas pada pencapaian kualitas prestasi
belajar siswa.
138


Selanjutnya menurut Bapak Drs. Masrukin, selaku guru PAI dan
koordinator ekstrakurikuler keagaamaan menyatakan bahwa:
Strategi pengelolaan kelas merupakan usaha atau cara-cara mengatur,
menggunakan, memaksimalkan fungsi kelas, agar bisa efektif ketika
pembelajaran berlangsung, suasana kelas kondusif, dan bisa
menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan siswa
dalam belajar, sehingga siswa dapat aktif di kelas dan mencapai prestasi
yang diinginkan.
139


Untuk menciptakan dan mewujudkan itu semua beliau
menambahkan bahwa “Sedangkan untuk menambah wawasan dan
pengalaman tentang metode dan strategi pembelajaran, guru agama juga
aktif dalam mengikuti penataran, pelatihan, workshop, seminar atau
kegiatan MGMP”,
140

Pengelolaan kelas merupakan tanggugjawab guru dan wali kelas.
Dari kedua pihak inilah harus ada kerjasama. Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Bapak Mahmud Huda, S.Ag. beliau juga sebagai guru
PAI sekaligus wali kelas VIIE menyatakan bahwa:

138
Hasil wawancara dengan guru PAI SMP Negeri 4 Batu, Drs. H. Akh. Masrur pada tanggal
21 November 2008.
139
Masrukin, Op.Cit., tanggal 24 November 2008
140
Ibid.
150
Tentu saja, antara wali kelas dengan guru mata pelajaran harus ada
kumunikasi dan kerjasama dalam mengatur siswa. Setiap ketemu wali
kelas dengan guru lain, ya.., yang dibicarakan siswanya, seperti kalau
ada siswanya yang nyeleneh kurang tanggap pada pelajara, ya...sama-
sama kita cari solusinya, dengan mencari latar belakangnya.
141


Beliau juga menambahkan, sebagai wali kelas dan guru PAI, beliau
memang lebih sering mendekati dan kenal dengan anak yang nyeleneh dan
sering bermasalah. Sehingga terdapat keakraban dan beliau bisa
memberikan masukan tidak langsung kepada mereka. Dari penjelasan
Bapak Mahmud Huda, S.Ag. dapat disimpulkan bahwa guru dan wali
kelas haruslah ada kerjasama dalam mencapai tujuan pembelajaran dan
sering-sering mengadakan evaluasi sebagai kontrol terhadap siswa.
Dalam uraian hasil penelitian ini akan diklasifikasikan 5 strategi
yang digunakan dalam pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4
Batu, diantaranya; manajemen administrasi kelas, manajemen operatif
kelas, pengaturan ruang kelas, pengelolaan perilaku siswa, pengelolaan
instruksional.
a. Manajemen Administrasi Kelas
1.) Perencanaan kelas
Dari hasil wawancara dengan Bapak Mahmud Huda, S.Ag.
menyatakan:
Sebelum proses pembelajaran, guru harus membuat perencanaan kelas,
yang berupa perangkat pembelajaran yang terdiri dari: RPP, Silabus,

141
Mahmud Huda, S.Ag., Op.Cit., tanggal 24 November 2008.
151
pemetaan, promes, kalender mengajar dan prota. Guru harus membawa
perangkat pembelajaran tersebut.
142


Sesuai dengan observasi yang dilihat pada saat proses
pembelajaran PAI di kelas, guru pendidikan agama Islam sudah membuat
perangkat pembelajaran yang dibuat sebelumnya antara lain: kalender
pendidikan, rencana pekan efektif, prota, promes, pemetaan materi,
silabus, RPP. Pada RPP pendidikan agama Islam telah termuat: indikator
dan tujuan pembelajaran, appersepsi, kegiatan/langkah-langkah yang akan
dilakukan sebagai suatu strategi/metode pembelajaran, penguatan materi,
media pembelajaran, alokasi waktu secara tepat, sumber bahan ajar yang
bervariasi, dan teknik penilaian
Program kerja yang direncanakan secara konsisten di sekolah ini
dan juga merupakan program tahunan OSIS. Sebagaimana pernyataan
Bapak Mahmud Huda S.Pd., bahwa
Program rutin yang direncanakan setiap tahun adalah pondok
romadhon (pondok kilat) Halal bi Halal dan peringatan Isro’ Mi’roj
dan Maulud Nabi SAW. Program OSIS lainnya yang melibatkan
pengurus kelas adalah penyembelihan hewan qurban yang dibimbing
oleh para guru, khususnya guru agama Islam, yang mana sekarang ini
OSIS akan membentuk panitia penyembelihan hewan qurban.
Sedangkan program mingguan yang terstruktur sholat berjama’ah
jum’at disekolah.
143


Dari data yang dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa setiap
program yang direncanakan dan akan dilaksanakan di SMP Negeri 4 Batu,
khususnya dalam pembelajaran agama Islam, guru telah mampu
merancang dan membuat RPP yang akan dilaksanakannya. Sedangkan

142
Ibid.
143
Ibid.
152
program kerja kelas ekstern, salah satunya penyembelihan hewan qurban
oleh OSIS dan guru dapat dikatakan mampu melibatkan semua anggota
kelas dalam merancang dan mempersiapkan program tersebut. Hal ini
terbukti dengan dibentuknya panitia penyembelihan hewan qurban yang
melibatkan OSIS, guru, perangkat kelas, dan siswa.
2.) Pengorganisasian kelas
Program kelas sebagai rencana kerja untuk mencapai suatu tujuan
harus bersifat realistis dalam arti benar-benar dapat dilaksanakan dan
diwujudkan. Aspek yang terpenting dalam pengorganisasian ini adalah
usaha dalam menempatkan personal pada tempat yang tepat, dengan
memperhatikan kemampuannya, tingkat pendidikannya, masa kerja dan
pengalamannya dan lain-lain.
144
Kemudian melengkapinya dengan alat-
alat yang memugkinkan personal tersebut melaksanakan tugas-tugasnya.
Program kerja yang dirancang, termasuk program kelas dipegang
dan diatur oleh personal-personal yang ditunjuk sebagai koordinator pada
masing-masing bidang yang sesuai, antara lain; bidang kurikulum,
kesiswaan, sarana dan prasarana, humas, tata usaha dan BK. Sebagaimana
pernyataan Bapak Drs. Masrukin bahwa:
Dalam melaksanakan tugasnya, masing-masing bidang dari staf sekolah
ini, dipegang dan dikoordinir oleh personal yang tepat sesuai dengan
pengalamannya. Masing masing staf dibantu oleh 2 atau 3 personal,
yang mana satu diantaranya terdapat seniornya yang sudah pernah
menjabat bidang yang bersangkutan sebelumnya. Misalkan 1 personal
guru bisa jadi pernah menghandel bidang kurikulum dalam 2 kali (2
tahun). Sehingga program akan terlaksana dengan efisien.
145


144
Ibid., hlm. 131.
145
Masrukin, Op.Cit., tanggal 24 November 2008.
153
Adapun dokumen yang telah diperoleh dalam usaha menempatkan
personal yang tepat dalam melaksanakan program kerja. Sekolah telah
membuat Pembagian Tugas Guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar atau
Bimbingan dan Penyuluhan dan membentuk Tim Pembantu Kepala
Sekolah serta menentukan tugas-tugas dari masing-masing personal yang
bertugas yang sesuai dengan bidang dan pengalamannya,
Dari sinilah, dapat disimpulkan bahwa SMP Negeri 4 Batu telah
mengorganisasi program-programnya sebagai suatu tugas dengan
terancana dan koordinatif.
3.) Pengarahan kelas
Pengarahan di sekolah ini berkaitan dengan program-program yang
sudah direncanakan dan disusun oleh kurikulum, yang didukung oleh
kesiswaan ataupun guru agama, yang mana merupakan kesepakatan
bersama dari ketiganya mengenai pelaksanaanya. Misalnya membaca doa
pada waktu awal jam pelajaran dan akhir jam pelajaran yang juga sudah di
bertikan arahan mengenai isi doanya. Sesuai dengan hasil observasi, setiap
awal dan akhir jam pelajaran, siswa harus melaksanakan doa bersama
yang dipimpin oleh guru atau siswa dan juga setiap akan memulai dan
mengakhiri pelajaran di kelas siswa harus mengucapkan salam kepada
guru yang mengajar.
Adapun kegiatan keagamaan lainnya yang merupakan program
OSIS yang melibatkan pengurus kelas, seperti penyembelihan hewan
qurban, peringatan Isro’ Mi’roj dan Maulud Nabi SAW. Pelaksanaan dan
154
pengawasan terhadap program ini tetap dari OSIS dan diarahkan oleh guru
sesuai kesepakatan bersama. Menurut Bapak Drs. Akh. Masrur selaku
pembina program BTA menyatakan bahwa
program keagamaan yang sudah dibuat oleh kurikulum adalah program
Baca Tulis Al-Qur’an (BTA), sholat berjama’ah juma’at dan dzuhur yang
diadakan secara bergiliran dari setiap kelas. Program ini tetap dibimbing
oleh guru. Jadi siswa wajib untuk mengikutinya”.
146


Dari data inilah dapat disimpulkan bahwa pengarahan dan
pengawasan dalam pelaksanaan program kerja yang disusun oleh
kurikulum yang berkaitan dengan PAI telah dilaksanakan melalui
bimbingan, dari kesiswaan maupun guru-guru.
4.) Koordinasi kelas
Koordinasi kelas sangat diperlukan agar program yang
dilaksanakan berlangsung dengan baik. Sesuai dengan observasi yang
dilihat bahwa OSIS juga mengadakan rapat koordinasi mengenai program-
program yang dilaksanakannya. Sedangkan salah satunya dalam program
pembelajaran, berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. Masrukin yang
pernah menjadi koordinator kesiswaan bidang keagamaan menyatakan:
Koordinasi antar guru diadakan dengan membuat jadwal pelajaran.
Sedangkan program kegiatan keagamaan melakukan koordinasi dengan
membuat jadwal kegiatan baik waktu maupun tempatnya, dan juga
mengenai saran-saran dan sanksi pelanggaran bagi siswa yang tidak
mengikuti program kegiatan yang sedang dilaksanakan. Membicarakan
segala yang menjadi kekurangan untuk dilengkapi dan dicari
solusinya.
147



146
Akh. Masrur. Op.Cit., tanggal 21 November 2008.
147
Masrukin, Op.Cit., tanggal 24 November 2008


155
Dari keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa setiap program yang
dilaksanakan oleh OSIS maupun guru, diadakan rapat koordinasi
mengenai perkembangan pelaksanaan kegiatan yang diprogram. Hal ini
merupakan wujud kerjasama dari diantara guru-guru dan anggota OSIS.
5.) Komunikasi kelas
Komunikasi selalu terjalin dengan antara guru dan wali kelas, guru
dengan siswa, baik di kelas maupun diluar kelas. Dari observasi dan
wawancara dengan Bapak Drs. Masrukin bahwa hal-hal yang berkenaan
dengan program kelas yang direncanakan disampaikan (dikomunikasikan)
dengan cara memfungsikan perangkat kelas, seperti ketua kelas atau
dengan melalui forum OSIS, tetapi tidak menutup kemungkinan
disampaikan melalui pengumuman secara langsung (alat pengeras suara).
Dari keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa dari setiap program
yang dilaksanakan OSIS maupun guru, mereka dalam mensosialisasikan
hal-hal yang penting untuk diinformasikan melalui anggota OSIS dari
masing-masing koordianator, perangkat kelas, dan alat pengeras suara.
Sehingga pesan atau info dapat tersampaikan dengan efisien
6.) Kontrol kelas
Program yang dilaksanakan juga diperlukan evaluasi sebagai
sebagai kontrol tentang keberhasilan dan ketidakberhasilan setiap
kegiatan. Menurut Bapak Drs. Masrukin dan Drs, Akh. Masrur
menyatakan “mendata siiwa yang hadir dan tidak hadir dalam kegiatan
156
wajib keagamaan adalah merupakan bentuk kontrol terhadap siswa dalam
berpartisipasi mengikuti program kegiatan keagamaan”.
148

Hal ini sesuai dengan observasi di lapangan bahwa, semua kegiatan
BTA, sholat jamaah jum’at dan dzuhur diadakan pengabsenan pada kelas
yang terkena giliran sholat jama.ah, dan setiap hari senin setelah upacara
diadakan pemanggilan bagi siswa yang tidak mengikuti tersebut.
Sedangkan kontrol terhadap kualitas pelaksanaan tugas murid pada
kegiatan keagamaan ini sebagai bentuk evaluasi belum maksimal, hanya
sebatas belajar dan latihan saja ketika kegiatan itu berlangsung.
Dari beberapa data inilah dapat disimpulkan bahwa program
keagamaan yang merupakan program kurikulum, diadakan pengabsenan
terhadap siswa yang hadir maupun yang tidak hadir. Hal ini merupakan
kontrol untuk mengukur kualitas sikap atau perhatian siswa dalam
berpartisipasi mengikuti program tersebut. Namun tentang kualitas
keberhasilan program yang dilaksanakan masih belum terkontrol.
b. Manajemen Operatif Kelas
Untuk mencapai tujuan dan keberhasilan belajar, kegiatan
pembelajaran perlu ditunjang oleh kegiatan operatif.
1.) Tata usaha kelas
Kegiatan ini yang telah dilakukan sekolah adalah menghimpun dan
mencatat data murid diantaranya nama, tempat dan tanggal lahir, data
kesehatan dan nilai hasil belajar, membuat jadwal pelajaran, membuat dan

148
Ibid.
157
mengirim laporan kelas. buku laporan pendidikan, dan lain-lain yang
menyangkut aspek perbekalan dalam kegiatan manajemen.
Pada observasi yang dilihat pencatatan inventaris kelas tidak
dicatat pada setiap kelas, namun secara keseluruhan. Sedangkan dalam
rangka pencapaian tujuan pembelajaran, masing-masing guru di kelas
harus mengisi dan mengirim laporan kelas yang berbentuk jurnal
pengajaran, untuk dilaporkan kepada kepala sekolah.
Dari beberapa data diatas dapat disimpulkan bahwa dalam
pembelajaran PAI sebagai seorang guru mata pelajaran PAI telah mengisi
jurnal mengajar dan jurnal guru untuk dilaporkan kepada kepala sekolah.
Hal ini merupakan salah satu tugas wajib masing-masing guru yang btelah
ditentukan oleh sekolah
2.) Perbekalan kelas
Program kelas dan pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif,
bila digunakan media pengajaran yang memadai. Berdasarkan observasi
yang dilihat, adanya papan tulis, kursi, bangku, dan sebagainya sudah
memenuhi syarat untuk layak digunakan demi kelancaran pembelajaran.
Selain itu, dalam ruang multi media yang disediakan sekolah juga
menunjang pembelajaran. Ruang ini terdiri dari media pengajaran yang
fleksibel, diantaranya LCD, Laptop, Televisi, VCD player, beberapa kursi
yang mudah dipindah, dan sebagainya.
Berdasarkan wawancara dengan siswa kelas IX bahwa:
Kita pernah diajak ke musholla, multimedia pada waktu pelajaran PAI,
nonton VCD tentang siksa kubur, terus mengajar materi makhorijul
158
huruf melalui VCD, yang sering mengadakan belajar kelompok di
ruangan ini. Sedangkan kalau menggunakan LCD belum pernah.
149


Bardasarkan hasil angket dari siswa pada tabel dibawah ini adalah
33,3 % siswa menganggap baik sekali sarana dan prasarana belajar
disekolah, dan 64,4 % siswa menganggap cukup baik sarana dan prasarana
belajar disekolah, sedangkan hanya 2,3 % siswa yang menganggap kurang
baik sarana dan prasarana belajar disekolah. Hal ini menunjukkan bahwa
secara umum siswa menganggap tentang sarana dan prasarana belajar
disekolah adalah cukup baik.
TABEL VI
Tanggapan siswa tentang sarana dan prasarana belajar disekolah
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
13 a. Baik sekali
b. Cukup Baik
c. Kurang Baik
132 44
85
3
33,3
64,4
2,3
JUMLAH 132 132 100

Namun demikian Bapak Drs. Akh. Masrur juga menyatakan:
Media dan sarana pengajaran yang mendukung untuk pembelajaran PAI
belum memadai, seperti alat-alat peraga untuk praktik haji dan umroh
atau alat untuk mengkafani mayit. Ya.., yang sangat diharapkan ruangan
sebagai praktik untuk pelajaran agama. Musholla saja tidak cukup untuk
menampung untuk 4 kelas. Kalau masalah sarana dan prasarana yang
mendukung pembelajaran agama lumayan mendukung.
150


Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa sarana yang
disediakan masih belum maksimal, namun demikian guru tetap berusaha
memanfaatkan perbekalan kelas dan media yang ada dalam pembelajaran.



149
Hasil wawancara dengan siswa kelas IX SMP Negeri 4 Batu, Anggun pada tanggal 22
November 2008.
150
Akh. Masrur, Op.Cit., tanggal 21 November 2008.
159
3.) Kegiatan keuangan kelas
Berdasarkan observasi dan wawancara dengan siswa bahwa
disetiap kelas memang selalu diadakan pengumpulan uang kas kelas, yang
dikumpulkan setiap 1 minggu atau 1 bulan sekali, tergantung kesepakatan
kelas. Uang kas kelas digunakan untuk persiapan dana dalam pelaksanaan
program kelas, seperti lomba-lomba. Kelengkapan kelas ternyata juga
memerlukan dana yang dibuat oleh anggota kelas untuk kreatifitas kelas,
struktur organisasi kelas, pot bunga, dan lain-lain.
Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa siswa dari setiap
kelas telah mampu menmgelola keuangan kelas secara mandiri. Sehingga
alokasi kas kelas dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan kelas.
4.) Pembinaan personal kelas
Pembinaan personal kelas yang dilakukan SMP Negeri 4 Batu,
salah satunya adalah dalam aspek penempatan siswa. Pengaturan ini
dilakukan tergantung pada kebijakan wali kelas, tetapi tidak menutup
kemungkinan guru yang mengajar memindahkan posisi duduk siswa
ketika jam pelajaran guru tertentu. Sebagaimana menurut Bapak Drs. Akh.
Masrur sebagai guru agama dan wali kelas VIID menyatakan bahwa:
tempat duduk siswa diatur menurut kebijakan wali kelas, namun beliau
sendiri sebagai wali kelas memiliki ketentuan dan pertimbangan berikut:
tinggi pendek badan, sehingga siswa yang kebetulan pendek/kecil bisa
melihat ke papan tulis tanpa terhalangi teman yang tinggi badannya
digunakannya sistem rooling, yaitu siswa perderet bangku secara
bergiliran 1 bulan sekali pindah ke deretan sampingnya. sehingga
pandangan penglihatan siswa ke depan kelas ada keseimbangan
jenis kelamin yang sama pada tiap bangku.
151


151
Ibid.
160
Dari pengaturan yang dibuat ini, pada sekolah ini dalam
memposisikan tempat duduk siswa cukup baik, namun dasar
pembinaannya masih belum terarah. Hal ini terlihat pada dasar pembinaan
penempatan posisi duduk siswa yang hanya mempertimbangkan dari aspek
fisik saja, belum mempertimbangkan intelegensi, bakat dan minat siswa.
5.) Hubungan masyarakat dilingkungan sekolah
Kegiatan kemasyarakatan atau hubungan masyarakat di sekolah
adalah mengadakan pertemuan rutin dengan Komite Sekolah, mengadakan
peringatan hari besar nasional dan keagamaaan. Menurut Bapak Drs.
Masrukin hal ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dan
mental spiritual. Sekolah juga melaksanakan rapat dengan orang tua siswa,
seperti rapat pleno Komite Sekolah dengan orang tua siswa kelas VII baru.
Semua program yang direncanakan memerlukan partisipasi siswa,
sehingga mereka perlu dilibatkan dalam sosialisasi kegiatan ini.
Dari keterangan-keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa rapat-
rapat sebagai program rutin yang diadakan sekolah dengan komite sekolah
dan wali murid, merupakan suatu hubungan antara sekolah dengan
masyarakat. Sedangkan kegiatan peringatan hari besar nasional dan
keagamaan, seperti isra’mi’raj dan penyembelihan hewan qurban
merupakan kegiatan kemasyarakatan di lingkungan sekolah
6.) Kepemimpinan wali/guru kelas
Kepemimpinan guru di dalam kelas khususnya, diartikan sebagai
usaha guru dalam merealisasikan program yang direncanakan,
161
sebagaimana yang diungkapkan Bapak Drs. Akh. Masrur bahwa “seorang
guru harus menjadi tauladan bagi muridnya. Sholat berjama’ah juma’at di
sekolah guru yang berada disekolah wajib mengikutinya”.
152

Sebagai suatu program kurikulum, sholat berjama’ah juma’at dan
dzuhur merupakan salah satu sasaran dari rencana operasional sekolah
SMP Negeri 4 Batu yaitu mengimplemtasikan ajaran agama menurut
agama yang dianutnya. Sebagaimana pernyataan Drs. Masrukin bahwa:
Ya... kita harus ikut bersama-sama untuk sholat berjama’ah dzuhur,
bahkan semua guru dianjurkan untuk sholat berjam’ah. Bahkan kami
telah baru memprogramkan dan terlaksana sholat sunnat Dzuha di
sekolah secara bergiliran dari setiap kelas yang dilaksanakan pada jam
pertama. Hal ini bertujuan untuk melatih siswa agar terbiasa dengan
rutinitas seperti ini, dan alhamdulillah berjalan dengan dukungan guru
yang membantu untuk membimbing dan membina di musholla.
153


Sesuai observasi yang dilihat, ternyata dalam sholat jum’ah
memang semua guru dan siswa secara kompak melaksanakan sholat
berjama’ah dhuhur dan juma’at, namun tidak semua guru yang ada di
sekolah melaksanakan sholat berjam’ah dzuhur secara kompak, guru-guru
secara bergantian sholat, hal ini disebabkan kamar mandi yang terbatas,
terkadang berjama’ah dan terkadang tidak berjama’ah. Sebagaimana
pernyataan Drs. Akh. Masrur bahwa “Guru agama Islam harus lebih giat
lagi memotivasi siswa, memberikan masukan-masukan dengan cerita dan
kisah nabi atau rasul. Hal ini salah satu cara dalam memberikan motivasi
dan pengaruh terhadap siswa untuk semangat belajar agama Islam”.
154


152
Ibid.
153
Masrukin. Op.Cit., tanggal 24 November 2008.
154
Akh. Masrur. Op.Cit., tanggal 21 November 2008.
162
Dari keterangan ini disimpulkan bahwa guru PAI di SMP 4 Batu
dalam membimbing dan menggerakkan siswanya telah memberikan cara-
cara dan motivasi yang tinggi kepada siswanya. Sehingga suasana religius
di alami oleh siswa. Namun demikian dukungan dari guru-guru yang lain
masih kurang maksimal, yang kurang memberikan pengaruh terhadap
siswa. Sehingga guru PAI harus lebih baik lagi dalam memotivasi siswa.
c. Penataan Ruang Kelas
Berdasarkan observasi yang dilihat penataan ruang kelas yang ada
di SMP Negeri 4 Batu, bahwa siswa mudah untuk mengetahui dan
mengambil alat/sumber belajar yang disediakan. Ukuran kelas cukup baik,
tidak sesak, siswa dan guru dapat bergerak kearah mana saja. Sedangkan
interaksi antara guru dengan siswa maupun antar siswa cukup mudah,
tetapi bagi siswa yang duduk dibagian belakang sedikit kesulitan
berinteraksi dengan guru, namun guru tetap berusaha mendekati siswa.
Variasi kerja siswa di kelas secara perorangan, berpasangan, dan
berkelompok sesuai dengan strategi/metode yang ingin digunakan.
Kelas merupakan fasilitas yang perlu ditata dengan membuat kreasi
lingkungan pembelajaran yang menyenangkan dan efisien yaitu:
1) Meja dan kursi guru dan siswa
Keadaan dan ukuran kursi dan meja guru yang ada cukup memadai
bagi guru, yang dilengkapi dengan laci. Sedangkan pernyataan Bapak
Mahmud Huda S.Ag. sebagai wali kelas VIIE mengenai posisi bangku
ketika pembelajaran, mengemukakan bahwa:
163
Pengaturan bangku yang ada dikelas masih berbentuk tradisional, yaitu
siswa duduk dalam barisan meja dan bangku yang menghadap lurus ke
depan kelas dan papan tulis. namun guru berusaha untuk mengadakan
variasi bangku itu guru membawa siswa ke ruang multimedia, disanalah
siswa dapat belajar dengan kelompok yang pastinya mengubah bentuk
bangku. Karena disana kursinya bergabung dengan mejanya, jadi mudah
untuk dipindah-pindah. Sedangkan kalau di kelas jarang sekali
mengubah format bangku, karena sangat susah untuk dipindah.
155


Sedangkan menurut Bapak Akh. Masrur tentang format bangku
adalah:
Saat pembentukan belajar kelompok di kelas, jika tiap kelompok terdiri
dari 2 atau 4 siswa, maka pembelajaran saya adakan di kelas saja dan
pengelompokan dibentuk berdasarkan urutan bangku. Tapi kalau
anggota kelompoknya terdiri dari 6 siswa atau lebih, pembelajaran saya
adakan di ruang multimedia, dan pengelompokannya dibentuk
berdasarkan pilihan yang sudah ditentukan, misalkan dari segi
kemampuan mereka. variasi format bangku yang sering digunakan
adalah format U, karena dengan ini belajarnya bisa interaktif.
156


Sesuai dengan hasil observasi yang dilihat bahwa di ruang multi
media guru mengadakan pembelajaran dengan membentuk kelompok-
kelompok diskusi, dan diruang ini juga guru agama menggunakan media
VCD dalam pembelajaran materi tajwid, dengan begitu guru dapat
mengadakan pembelajaran dengan efektif dan efisien.
Dari beberapa keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa pengaturan
meja guru dan siswa di dalam kelas sendiri, masih monoton pada bentuk
tradisional, karena sulitnya pemindahan bangku dan tidak efisien untuk
belajar kelompok, hanya efisien untuk belajar berpasangan. Sedangkan
pembelajaran di ruang multimedia dapat dikatakan cukup efektif dari segi
pengubahan bangku.

155
Mahmud Huda, Op.Cit., tanggal 21 November 2008.
156
Akh. Masrur, Op.Cit., tanggal 21 November 2008.
164
2) Pajangan kelas
Penataan pajangan atau gambar di kelas atau sekitar kelas
merupakan pesan kesan tersendiri bagi siswa dan guru. Berdasarkan
observasi banyak sekali pajangan yang berupa gambar/latar menarik dan
yang ada di sekitar ruangan termasuk juga taman antara lain adalah:
Di depan ruang guru: “Waktu tidak akan terulang kembali untuk
kedua kaliny, jika engkau terlambat maka waktu akan
meninggalkanmu” - “Time will never come for the second chance, if
you are late time will passed you by”
Di depan musholla: “Sudahkah Anda Sholat”
Didepan kelas:” tiada jalan yang mulus untuk menjadi sukses ”-
“there is no smooth road to success”
Di depan ruang TU “hari ini harus lebih baik dari pada kemarin, esok
hari harus lebih baik dari pada hari ini”- “to day must be better than
yesterday, tomorrow must be better than today”
Di depan taman: “jagalah kebersihan lingkungan kita”- ”keep our
environment clean”
Di depan lab IPA:”saya pasti bisa jika saya piker bisa”- “I can, if I
think I can!”
Di depan kelas: “perbuatan baik akan selalu terkenang di hati”-
“gratitude is the memory of the heart”
Di depan perpustakaan: “saying sudahkah engkau meluangkan
waktumu untuk membaca hari ini”- “Honey, have you used your time
to read today”
Di depan ruang computer dan internet: “pengetahuan akan sia-sia jika
kita tidak menerapkannya dalam tindakan nyata”-“knowledge is
useless if you don’t applay it whit the real action”

Berdasarkan wawancara dengan 2 siswa kelas IX bahwa:
Ya…ketika gambar dan motto-motto itu baru di pajang di sekitar
sekolah,saya dan temen-teman bergerumun membacanya, bahkan
pernah dalam pelajaran bahasa daerah jawa, kami dapat tugas
mengartikannya ke bahasa jawa. Mau tidak mau kita mencermati isi
dari motto itu. Bagi kami pajang di lingkungan kelas telah
memberikan memberikan pesan dan kesan tersendiri untuk terus
semangat.
157



157
Hasil wawancara dengan siswa kelas IX SMP Negeri 4 Batu, Diah dan Fitri pada tanggal
23 November 2008.
165
Dari data-data ini dan observasi yang dilihat peneliti, maka
disimpulkan bahwa pajangan yang ada di sekitar sekolah dapat dikatakan
telah memberikan inspiratif tersendiri bagi siswa.
3) Almari dan Penyimpanan bahan-bahan
Lemari yang berada disudut-sudut kelas, sebagaimana hasil
observasi bahwa ternyata almari juga difungsikan sebagai rak buku yang
tertata rapi, dan tidak semua kelas terdapat almari, namun tidak semua
kelas terdapat lemari hanya 70 % kelas yang terdapat almarinya, itupun
tidak semuanya terisi buku-buku yang biasanya untuk dibaca siswa.
Pengaturan dan fungsi almari diserahkan kepada kebijakan kelas masing-
masing. Penyimpanan barang-barang di kelas seperti sapu dengan
digantung disudut belakang kelas. Barang yang lain diletakkan dilemari
bagian bawah. Sedangkan bagian atas atau nomor dua ditempati buku-
buku yang biasanya siswa membacanya. Jadi penyimpanan barang/bahan
dan buku menjadi satu.
Dari observasi ini, dapat disimpulkan bahwa almari sebagai sarana
dan prasarana masih belum memenuhi kebutuhan siswa. Hal ini terlihat
pada penyimpanan barang/bahan dan buku menjadi satu. Peneliti belum
mengetahui penyebab dari hal ini.
4) Papan tulis
Papan tulis yang ada disetiap kelas layak untuk digunakan, baik
ukuran maupun warnanya, warnanya hitam yang dilengkapi tempat kapur
dan penghapus.
166
5) Bunga
Bunga merupakan khas tersendiri dari kota Batu. Bunga yang ada
pada setiap kelas terletak didepan kelas, atau di depan ruangan kelas
(bunga digantung bagian luar kelas). Sesuai observasi yang dilihat peneliti
bahwa, siswa sangat rajin menyiram dan merawat bunga di sekitar kelas,
meskipun hal itu sebenarnya bukan tugas mereka.
Dari hal ini, dapat dilihat bahwa kelas menjadi indah dan segar,
yang memberikan pikiran yang segar dan suasana positif di kelas.
6) Ventilasi
Ventilasi disetiap kelas telah mampu menerima cahaya dari luar
ruangan, sehingga siswa tidak merasa silau ataupun gelap. Letak ventilasi
berada disebelah kanan dan kiri kelas. Ventilasi tidak berlawanan dengan
bagian depan, cahaya tidak masuk dari arah belakang. Dari hasil observasi,
disimpulkan bahwa ventilasi yang ada setiap kelas sudah memenuhi syarat
sebagai ruangan yang layak untuk ditempati dalam belajar.
7) Papan presensi
Pengadaan papan presensi di setiap kelas oleh siswa difungsikan
setiap hari. Berdasarkan observasi, kelengkapan pengisiannya dilakukan
oleh siswa yang piket kebersihan pada hari itu.
PAPAN PRESENSI
Kelas:
Absensi No. Nama Siswa
S I A
Keterangan







167
8) Struktur organisasi kelas
Setiap kelas telah memiki perangkat kelas secara lengkap. Dari
hasil observasi siswa membuat struktur kelas dengan bermacam-macam
bentuk. Mulai dari yang sederhana berupa print out biasa hingga ada yang
menggunakan kertas karton berwarna (manila). Hal ini tergantung pada
kreatifitas kelas.
9) Halaman sekolah
Berdasarkan wawancara dengan siswa SMP Negeri 4 Batu bahwa:
lingkungan yang ada di sekitar sekolah indah sekali, memang sekolah
kita ini terletak di daerah dataran tinggi yang lumayan desa, udaranya
segar, lingkungannya masih alami, kita senang sekolah disini. Kalau
taman disini bagus sekali, bersih dan hiasan bunga dan tanamannya
masih alami, bukan buatan. Oya... kalau tentang kebersihan kelas dan
sekitarnya biasanya dilakukan pengontrolan setiap senin setelah
upacara. Semua kelas wajib bersih.
158


Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa halaman dan taman
yang ada diakui oleh siswa adalah bagus dan indah. Ketertiban menjaga
kebersihan dan keindahan di lingkungan sekolah, termasuk taman adalah
tanggung jawab seluruh warga sekolah.
d. Pengelolaan Perilaku Siswa
Perilaku siswa di rumah dan sekolah merupakan suatu warna
kepribadian siswa. Sikap dan tindakan mereka terbentuk sedemikian
dengan pengaruh kepribadian dan lingkungan mereka, baik di rumah
maupun di sekolah. Tingkah laku dan sikap siswa dirumah yang
bermacam-macam itu juga berpengaruh terhadap tingkah laku siswa di

158
Anggun, Op.Cit., tanggal 23 November 2008.
168
sekolah. sehingga guru dalam proses pembelajaran perlu mengelola
tingkah laku siswa yang beraneka ragam, agar pembelajaran dapat
berlangsung dengan baik.
Di SMP Negeri 4 Batu dalam membina perilaku siswa sudah
ditentukan peraturan-peraturan sekolah yang dapat membantu guru dalam
mengatur perilaku siswa. Perilaku peserta didik disekolah memerlukan
perhatian dan pengelolaan. Strategi-strategi untuk menciptakan dan
memelihara suasana lingkungan pembelajaran yang positif (konsisten)
dengan peranan baru peserta didik juga perlu dikelola. Sebagaimana
program yang sudah terencana dan terlaksana yaitu sekolah SMP Negeri 4
Batu mengimplementasikan norma yang berlaku dimasyarakat dalam
kehidupan sekolah, misalnya berpartisipsi dalam FORMULASATU,
kebiasaan antre, santun kepada orang lain (yang merupakan
pengembangan diri tak terstruktur). Adapun pernyataan Mahmud Huda
S.Ag. mengemukakan:
Untuk menciptakan suasana positif di dalam dan diluar kelas, guru harus
merealisasikan program sekolah sebagai suatu pengembangan diri bagi
siswa dan guru, seperti sapa, salim, salam, senyum dan santun, ya.. tentu
saja dimulai dari guru sendiri, dari sinilah kita sebagai guru mendidik
diri dan siswa, sehingga ada keakraban diantara siswa dan guru.
159


Pernyataan ini diperkuat dengan observasi yang dilihat peneliti,
kebiasaan sapa, salim, salam, senyum dan santun di sekolah telah
membawa keakraban di kelas dan di sekolah tanpa kehilangan suatu

159
Mahmud Huda, Op.Cit., tanggal 24 November 2008.
169
wibawa seorang guru. Sesuai hasil wawancara dengan Diah dan Fitri,
siswa kelas IX bahwa:
kalau di kelas Bapak mengajar selalu jalan ke belakang, tidak berada di
depan saja, terutama waktu belajarnya kelompok, Ya...kita sering di luar
kelas ngumpul dengan teman-teman, ngobrol, guyon. Tidak pernah ada
masalah dengan guru agama. Pelajaran agama itu nyantai suasananya gak
pernah tegang, gak seperti pelajaran IPA.
160


Dari hasil angket dibawah ini mengenai keakraban siswa dengan
guru bahwa 50 % siswa yang mengetahui guru PAI pernah
berbicara/bertukar pendapat terhadap permasalahan siswa, 40,9 % siswa
mengetahui guru PAI jarang berbicara/bertukar pendapat terhadap
permasalahan siswa, sedangkan 9,1 % siswa mengetahui guru PAI tidak
pernah berbicara/bertukar pendapat terhadap permasalahan siswa.
Tabel VII
Tanggapan siswa tentang guru PAI dalam berbicara/bertukar pendapat
terhadap permasalahan siswa
No.Item Alternatif jawaban N F 100 %
7 a. Ya, pernah
b. Jarang
c. Tidak pernah
132 66
54
12
50
40,9
9,1
JUMLAH 132 132 100

Sedangkan persahabatan atau keakraban antar siswa, sesuai dengan
hasil angket dengan 83,3 % siswa yang menanggapi terjalinnya
persahabatan atau keakraban menggambarkan bahwa sudah terjalin
persahabatan atau keakraban antar siswa. 16,7 % siswa menanggapi
kadang-kadang terjalin persahabatan atau keakraban dengan siswa lain,
sedangkan tidak ada siswa yang menanggapi tidak pernah terjalinnya
persahabatan atau keakraban dengan siswa yang lain.

160
Diah dan Fitri, Op.Cit., tanggal 23 November 2008.
170
TABEL VIII
Tanggapan siswa tentang terjalinnya persahabatan atau keakraban dengan
teman-temannya
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
8 a. ya, sudah
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah (sering bermasalah)
132 110
22
-
83,3
16,7
JUMLAH 132 132 100

Dari keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa penciptaan suasana
positif di sekolah, termasuk kelas pada SMP Negeri 4 Batu, dari perhatian
guru terhadap siswa, keakraban guru dengan siswa dan antar siswa sudah
dapat dikatakan baik. Hal ini merupakan hasil usaha guru dalam
menciptakan suasana kondusif dalam proses pembelajaran PAI dikelas.
Selain itu untuk keakraban yang kukuh, guru sebagai pendidik
dapat mengajarkan siswanya berperilaku yang baik. Sebagaimana
pernyataan Bapak Drs. Masrukin:
Ketika siswa melakukan perilaku yang tidak dinginkan (perilaku
buruk), guru jangan sampai merespon dengan tindakan atau sikap yang
negatif, akan tetapi guru mencoba untuk mengajarkan sikap atau
perilaku yang sebenarnya, mencoba sharing dengan mereka merupakan
tindakan yang Insya Allah dapat menyadarkan mereka.
161


Sedangkan Bapak Drs. Akh. Masrur juga mempunyai trik
tersendiri terhadap siswa yang tidak mengerjakan tugas (PR), sebagaimana
ungkapan beliau:
Biasanya saya membuat kesepakatan dengan siswa, sebagai
konsekuensi dengan mereka bahwa tindakan atau sanksi apa, apabila
ada teman kalian yang tidak mengerjakan PR?, wah, anak-anak
biasanya langsung ramai untuk menjawabnya. Biasanya yang sering
dilakukan itu bernyanyi di kelas sambil jalan. Atau kalau sudah
berulangkali tidak mengerjakannya, saya tetap menagih tugasnya atau

161
Masrukin, Op.Cit., tanggal 24 November 2008.
171
diberi tugas lain. Hal ini secara tidak langsung, kasarannya sebagai
hukuman bagi mereka.
162


Dari hasil angket di bawah ini menunjukkan bahwa 75 % siswa
mengetahui guru PAI dalam menghadapi dan menyikapi siswa yang tidak
mengerjakan tugas (PR) pelajaran agama Islam, 1,52 % siswa mengetahui
sikap guru PAI dengan mengerjakan diluar terhadap siswa yang tidak
mengerjakan tugas (PR), sedangkan 9,8 % siswa yang mengetahui sikap
guru PAI dengan membiarkan siswa yang tidak mengerjakan tugas (PR).
TABEL IX
Tanggapan siswa tentang guru PAI dalam menyikapi siswa yang tidak
mengerjakan tugas rumah (PR) pelajaran agama Islam
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
5 a. Memberi hukuman
b. Mengerjakan diluar
c. Membiarkan
132 99
20
13
75
15,2
9,8
JUMLAH 132 132 100

Dari hasil angket menunjukkan di bahwa 98,48 % siswa
mengetahui sikap guru PAI dalam memberikan teguran terhadap siswa
yang mengganggu proses pembelajaran PAI, dan 1,52 % siswa yang
mengetahui sikap guru PAI dengan membiarkan saja siswa yang
mengganggu proses pembelajaran PAI, sedangkan tidak ada siswa yang
mengetahui sikap guru dengan mengeluarkan siswa yang mengganggu
proses pembelajaran PAI.
Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa guru dalam
menyikapi tindakan siswa yang salah, guru menyikapinya dengan teguran
dan pendekatan pengajaran yaitu mengajarkan hal yang sebenarnya dari
hal yang salah. Sedangakan tindakan siswa yang tidak mengerjakan tugas

162
Akh. Masrur, Op.Cit., tanggal 21 November 2008.
172
(PR) yaitu dengan memberikan ancaman ringan dan hukuman ringan
sebagai konsekuensi dari perbuatannya
Selanjutnya bapak Drs. Masrukin mengemukakan tentang respon
guru terhadap perilaku siswa yang baik (positif) bahwa:
Guru cukup memberikan penguatan positif terhadap siswa yang
berperilaku baik, misalkan dengan kata-kata “bagus” dan “siip” dan
sebagainya, dengan ini dapat mensuport mereka, dan dengan ungkapan-
yang positif akan dapat memberikan kesan tersendiri bagi siswa...
163


Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa guru dalam
menyikapi siswa yang berperilaku baik, maka guru menggunakan
penguatan positif kepada siswa. Begitu juga pun sebaliknya, siswa yang
bersikap negative atau melakukan kesalahan, guru tetap juga
menyikapinya dengan sikap positif dan tidak memarahinya.
e. Penerapan Strategi Pembelajaran.
Dalam menerapkan suatu strategi pada suatu pembelajaran, maka
sangat dipertimbangkan masalah waktu. Jadwal mata pelajaran pendidikan
Agama Islam di SMP Negeri 4 Batu telah ditentukan oleh kurikulum
sebanyak 40 menit / jam pelajaran, yang dikemas dalam 2 jam pelajaran
dalam 1 mingguya. Menurut bapak Drs. Akh. Masrur tentang target waktu
yang disediakan menyatakan bahwa:
Waktu yang sangat minim ini, guru perlu dan harus pandai-pandai
memanaj waktu, sebelum permulaan pelajaran, meskipun sudah
membuat RPP jauh sebelumnya. Guru perlu mempelajari pekan efektif
yang akan digunakan dalam pembelajaran. Jadi guru harus membuat
dan siap dengan promes dan perangkat lainnya yang sesuai dengan KD-
nya.
164


163
Masrukin , Op.Cit., tanggal 28 November 2008.
164
Akh. Masrur, Op.Cit., tanggal 24 November 2008.
173
Adapun pernyataan yang disambung oleh Drs. Masrukin yaitu:
Setelah menyusun langkah-langkah terencana mengenai pekan-pekan
dan hari efektif, guru perlu menentukan penggunaan blok-blok waktu
instruksional yang dialokasikan dalam jadwal harian yaitu: guru
mempersiapkan bahan-bahan atau petunjuk-petunjuk prosedur yang
akan digunakan, misalnya seperti akan dibentuk kelompok diruang
multimedia. Nah guru perlu memberikan petunjuk-petunjuk yang akan
dilakukan nantinya.petunjuk ini disosialissikan sebelum jam pelajaran
dimuai atau pada waktu pertemuan sebelumnya, melalui ketua kelas.
165


Mengenai langkah-langkah dalam proses pembelajaran dijelaskan
oleh beliau bahwa:
Dalam proses pembelajaran langkah awal yang menginformasikan
tujuan pembelajaran dan target apa saja yang harus dikuasai oleh siswa
dalam materi yang dipelajari itu. Guru sambil memberikan appersepsi
kepada siswa, agar mereka termotivasi dan semangat untuk mempelajari
materi itu.
166


Sesuai dengan observasi dan dokumen yang diperoleh bahwa RPP
dan perangkat pembelajaran lainnya sudah dipersiapkan jauh sebelumnya
oleh guru PAI. sebagaimana wawancara dengan siswa kelas IX fitri, Diah
dan Anggun menyatakan :
Selama ini Bapak yang mengajar pelajaran agama, Bapaknya ketika
mengajar selalu siap, tepat waktu, tidak selalu molor, dan suka memberi
motivasi kepada kita untuk belajar agama, dan sering nglucu. Kalau
pelajaran agama itu gak pernah tegang, tapi kalau mengenai semangat
mengikuti pelajaran agama ya tidak pasti. Kalau sudah capek agak siang
jam terakhir, sudah kelihatan malasnya.
167
Kalau tentang materi yang
disampaikan, ya.. faham, tapi pastinya ada yang belum dipahami,
biasanya teman-teman tanya hal-hal yang belum dipahami, tapi yang
tanya memang tetap anak itu saja, yang lain jarang mau bertanya kalau
gak dipaksa terutama dalam belajar kelompok diskusi.
168



165
Masrukin, Op.Cit., tanggal 28 November 2008.
166
Akh. Masrur, Op.Cit., tanggal 24 November 2008.
167
Fitri dan Diah, Op.Cit tanggal 23 November 2008
168
Anggun, Op.Cit., tanggal 24 November 2008
174
Dari hasil angket di bahwa ini menunjukkan 35,61 % siswa
memiliki semangat/senang yang tinggi mengikuti pembelajaran PAI, dan
64,39 % siswa yang kadang-kadang semangat/senang mengikuti
pembelajaran PAI, sedangkan tidak terdapat siswa yang tidak pernah
semangat/senang mengikuti pembelajaran PAI.
TABEL X
Tanggapan siswa tentang semangatnya dan sikap senangnya
dalam mengikuti pembelajaran PAI
No. Item Alternatif jawaban N F 100 %
1 a. Selalu senang
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah semangat
132 47
85
-
35,61
64,39
JUMLAH 132 132 100

Hasil angket jdibawah ini uga menunjukkan bahwa 33,33 % siswa
yang aktif dalam pembelajaran PAI, dan 62,88 % siswa yang kadang-
kadang aktif dan tidak aktif dalam pembelajaran PAI, sedangkan hanya
terdapat 3,79 % siswa yang tidak pernah aktif dalam pembelajaran PAI.
TABEL XI
Tanggapan siswa tentang partisipasinya aktif dalam pembelajaran PAI
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
3 a. Ya, selalu
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
132 44
83
5
33,33
62,88
3,79
JUMLAH 132 132 100

Dari data-data yang diperoleh ini, disimpulkan bahwa kesiapan
guru mengajar di kelas tidak diragukan lagi. Siswa sudah memiliki asumsi
terhadap guru PAI bahwa guru mampu dan berhasil membuat kelas tidak
tegang dan santai. Mengenai kesemangatan siswa mengikuti pembelajaran
tidak pasti, disebabkan energi fisik siswa yang menurun dan capek pada
jam pelajaran yang agak siang. Sedangkan keaktifan siswa dikelas masing
175
belum maksimal dan menyeluruh. Namun, guru tetap berusaha untuk
memberikan motivasi dan semangat kepada siswa.
Kualitas pengajaran merupakan sesuatu yang harus diupayakan,
diperhalus, dan diimplementasikan guru-guru secara sukses, demi
tercapainya tujuan poembelajaran dan prestasi belajar siswa. Guru harus
cerdas memberdayakan strategi-strategi yang baru dan yang telah teruji
keefektifannya. Di SMP Negeri 4 Batu telah mempunyai rencana program
sebagai suatu sasaran operasional bahwa melaksanakan proses
pembelajaran untuk semua kelas dengan berbasis pendekatan
pembelajaran aktif, diantaranya CTL dan PAKEM. Dalam pembelajaran
PAI, telah dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif dan efisien, menyenangkan) telah dilakukan oleh guru PAI juga.
Namun tidak semua pembelajaran PAI di selesaikan dengan CTL.
Sebagaimana pernyataan Drs. Akh. Masrur tentang PAKEM:
Guru membawa siswa keluar kelas menuju taman, tentu saja sesuai
dengan indikator dan tujuan pembelajaran, yang mana kebetulan pada
waktu itu tentang materi tauhid (sifat-sifat Wajib dan Mustahil bagi
Allah SWT) hal ini bertujuan untuk meletakkan pemahaman bagi siswa
tentang sifat wajib bagi Allah. Dengan terbawanya siswa ke lingkungan
luar yang sesungguhnya, penciptaan makhluk hidup dan benda mati,
siswa dapat menangkap makna dari materi itu.
169

Pada hasil observasi yang sempat dilihat pada waktu pembelajaran
oleh beliau yang kebetulan pertemuan pertama untuk mengajar tentang
bahasan sholat wajib. Langkah-langkah pembelajaran sebagai suatu
strategi yang diadakan di ruang multimedia saat itu adalah sebagai berikut:


169
Akh. Masrur, Op.Cit., tanggal 24 November 2008
176
1. Melakukan do’a dan tadarrus bersama
2. Mengadakan appersepsi dengan ceramah dan tanya jawab secara
interaktif pada awal pembelajaran dan menjelaskan hal-hal apa yang
harus dikuasai siswa. Ketika itu di singgung masalah pengertian sholat
dan fungsi sholat. dilanjutkan dengan pembentukan kelompok (5
kelompok) yang sudah ditentukan sebelumnya.
3. Anggota kelompok diberi waktu 5 menit untuk membaca dan
memahami tentang sholat wajib. Kemudian siswa mengumpulkan dan
berdiskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan sholat wajib dan.
4. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, sedangkan
kelompok lain memberikan tanggapan. Ketika itu masing-masing
kelompok diberi waktu presentasi hanya 5-7 menit, sehingga yang
terjadi masing-masing kelompok mempresentasikan satu bahasan
materi yang belum di presentasikan oleh kelompok sebelumnya.
Sehingga semua kelompok menghasilkan bahasan tentang syarat
wajib, syarat sah, rukun sholat, dan hal-hal yang membatalkan sholat.
5. Guru memberikan penjelasan secara interaktif bersama siswa dengan
diselangi tanya jawab dan canda gurau bagi siswa yang kelihatan tidak
konsentrasi (melamun). Secara bersamaan guru melakukan penilaian
terhadap anak yang aktif bertanya dan menjawab.
6. Diadakan penguatan terhadap materi yang telah dibahas tadi.
7. Guru mengadakan refleksi dan evaluasi bagi setiap kelompok terhadap
proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan saat itu
177
8. Guru memberi tugas (PR) untuk menyalin dalil sholat wajib dan siswa
diminta menghafal dalil sholat serta bacaan-bacaan dalam sholat.
170

Berdasarkan observasi pada pembelajaran PAI oleh Bapak Drs.
Masrukin, yang mana beliau kebetulan telah mengalami hambatan
mengenai waktu dari siklus pembelajarannya di kelas VIIIE bahwa
terdapat waktu/pekan efektif yang kebetulan beliau tidak bisa masuk ke
kelas ini, sehingga beliau tidak menggunakan strategi yang telah
direncanakan sebelumnya. Berikut ini langkah-langkah dalam
pembelajaran sesuai dengan observasi:
171

1. Melakukan do’a dengan bacaan fatihah, dilanjutkan dengan
pengabsenan yang selangi dengan canda gurau guru dengan siswa,
sehingga tidak tampak adanya ketegangan pada siswa dan guru.
2. Sebelum masuk inti pembelajaran guru menyuruh siswa berdiri dan
menggerakkan badannya sagar tidak ngantuk. Selanjutnya guru
memotivasi siswa untuk belajar agama Islam, sehingga menghasilkan
suatu motto “Belajar Agama?, Yes, Malas?, No!”.
3. Mengadakan appersepsi dengan tanya jawab interaktif dan
memberikan penjelasan tentang materi sehingga siswa menguasinya.
4. Siswa memberikan waktu sebentar untuk membaca bukunya tentang
sholat rawatib. Sedangkan guru memperhatikan siswa, terutama siswa
yang tidak membaca buku.

170
Observasi proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VII SMP Negeri 4 Batu
171
Observasi proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VII SMP Negeri 4 Batu
178
5. Guru membahas tentang pengertian sholat sunnah rawatib, dengan
menanyakan secara acak dan bergiliran kepada siswa apa sholat
rawatib itu? Dan semua siswa respek untuk mempersiapkan jawaban
dengan apa yang mereka ketahui tentang materi tersebut. Disamping
itu guru memang memperhatikan dan menanyakan siswa yang
melamun dan siswa yang sering sekali tidak memperhatikan pelajaran.
Sehingga perhatian dan pandangan guru tidak pada satu titik siswa.
6. Setelah pendapat siswa tentang pengertian sholat sunnah rowatib yang
masih diketahui abstrak dengan bahasa mereka sendiri, maka guru
memberikan arahan mengenai ciri-ciri dari sholat rawatib, sehingga
mereka dapat menyimpulkan dari pengertian sholat sunnah rowatib
7. Siswa dan guru bersama-sama membaca niat sholat rowatib,
selanjutnya guru menghubungkan bacaan dalam sholat sunnah rawatib
dengan sholat wajib. Sehingga siswa dengan sendirinya dapat
menyebutkan macam-macam dan waktu dalam sholat sunnah rawatib,
serta dapat menggambarkan cara melakukan sholat rawatib. guru juga
menghubungkan materi ini dengan sholat lainnya.
8. Guru dan siswa membaca dalil naqli dari sholat rawatib, dilanjutkan
bercerita tentang balasan orang yang tidak sholat. Disamping itu
diselingi dengan senda gurau, sehingga siswa memperhatikan guru dan
aktif bertanya. Dari salah satu siswa bertanya fungsi sholat rawatib.
9. Guru mengadakan penguatan materi dengan menegaskan/merevie
kembali materi yang telah dipelajari tadi. Disamping itu guru memberi
179
perhatian dan menanyakan siswa yang prestasinya rendah dari teman-
temannya yang lain.
10. Mengadakan evaluasi dengan cara seluruh siswa harus menutup
bukunya dan guru memberikan pertanyaan/soal, sedangkan siswa
langsung menjawabnya seketika itu dan seterusnya.
11. Setelah evaluasi selesai, terdiri dari 10 pertanyaan yang sesuai dengan
indikator yang harus dikuasai oleh siswa, selanjutnya jawaban siswa
tadi ditukar dengan teman sebangkunya dan jawabannya
dikoreksi/dibahas secara bersama-sama. Kemudian hasil evaluasi
dikumpulkan dan akan dimasukkan pada daftar nilai.
Dari hasil evaluasi yang diperoleh tadi, berdasarkan observasi yang
dilihat peneliti bahwa nilai yang dicapai oleh siswa tadi secara kognitf dan
psikomotorik rata-rata memperoleh nilai bagus. Namun dalam hal sholat
secara afektif masih sulit diukur. Berdasarkan wawancara dengan Bapak
Masrukin menyatakan bahwa:
Memang hasil belajar dari aspek afektif sulit diukur, namun kami
berusaha untuk memberikan motivasi kepada siswa di kelas, ketika di
musholla mengajak untuk mempraktikkan sholat, seperti sholat dzuha.
Menilai masing-masing sikap siswa terhadap materi PAI yang telah
dipelajari, khususnya sholat, kami hanya bisa melihat dari
hasil/keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler
keagamaan.
172


Dari beberapa data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
Appersepsi yang dilakukan guru ketika mengajar dilakukan dengan
pemberian motivasi dan tanya jawab dengan mengaitkan materi dengan

172
Masrukin, Op.Cit., tanggal 28 November 2008.
180
materi sebelumnya atau pengetahuan yang lain. Hal ini sesuai dengan
wawancara yang dilakukan bahwa umumnya pembukaan pembelajaran
dilakukaan dengan tanya jawab ringan, karena keinteraktifan siswa
dengan guru bisa terjalin lebih cepat, sehingga materi bisa mudah
masuk kepada diri siswa dan suasana kelas dengan lebih cepat.
Penyampaian materi yang disajikan dengan sistematis, dengan
mendahulukan materi dari pada praktik, yang mana sesuai dengan
wawancara bahwa umumnya penyampaian materi disesuaikan dengan
Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan.
Strategi dan metode yang digunakan tanya jawab dan ceramah dengan
membawa siswa untuk menemukan sendiri apa yang harus ia pelajari.
Panilaian diperoleh dari proses kelompok, keaktifan dan individu yang
dilakukan setelah materi benar-benar dikuasai oleh siswa.
3. Dampak Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi Balajar Siswa SMP Negeri 4
Batu
Dengan strategi pengelolaan kelas diharapkan dapat mengantarkan
kepada pembelajaran aktif, menyenangkan, sehingga tujuan pembelajaran dan
prestasi belajar dapat tercapai dengan maksimal. Dalam uraian dampak dari
strategi yang dilakukan akan diklasifikasikan menjadi 2 dampak atau efek:
a. Dampak Langsung
Dampak langsung ini di fokuskan pada prestasi yang berupa aspek
kognitif dan psikomotorik. Dari strategi pengelolaan kelas yang dilakukan
181
oleh guru, siswa diharapkan dapat memperoleh pemahaman secara langsung
saat itu juga, sehingga siswa mempraktikkan apa yang mereka sudah pelajari.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. Masrukin tentang dampak dan
efek dari strategi pengelolaan kelas pada aspek prestasi kognitif dan
psikomotorik menyatakan:
Siswa dalam mempelajari agama Islam di sekolah diharapkan dapat
memahami materi yang dipelajari, tentu saja acuan tujuannya sesuai
dengan KD dan indikator yang ada di RPP. Untuk mengukur pemahaman
siswa terhadap materi, yaitu pada waktu proses pembelajaran dapat
digunakan tanya jawab, dengan ini kita dapat mengetahui siswa yang aktif
dan yang tidak atau tes tulis cepat, yaitu guru memberikan pertanyaan dan
siswa langsung menjawabnya di kertas. Dengan begitu kita bisa melihat
dan mengukur pemahaman siswa, bahkan dalam aspek psikomotoriknya.
Kita bisa lihat seperti mereka mampu menulis ayat-ayat dengan tepat dan
benar, menulis niat sholat sunnat rowatib di waktu yang berbeda atau
praktik sholat.
173


Menurut Bapak Akh.Masrur menyatakan bahwa:
Dalam pertemuan tentang praktik sholat biasanya dibuat kelompok belajar,
mereka saling menilai temannya ketika mempraktikkan dan membaca
bacaan dalam sholat. Nah disinilah guru melakukan penilaian kelompok
belajar terhadap apa yang dipraktikkan.
174


Dari paparan ini disimpulkan siswa dalam mempelajari agama Islam di
sekolah mempunyai tujuan pembelajaran yang sesuai dengan apa yang
direncanakan guru sebelumnya, siswa dapat memahami dan menguasai materi
yang dipelajari, sehingga mampu mengaplikasikan dalam kehidupan. Untuk
mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari digunakan tanya
jawab, tes tulis. Sedangkan mengukur keterampilannya, dilakukan penilaian
dalam pembelajaran berkelompok atau dengan tanya jawab, tes lisan, dan

173
Masrukin, Op.Cit., tanggal 28 November 2008.
174
Akh. Masrur, Op.Cit., tanggal 21 November 2008.
182
praktik. Kita bisa lihat seperti kemampuan menulis niat sholat rawatib di
waktu yang berbeda.
Dilihat dari diri siswa, berdasarkan hasil angket telah dihasilkan bahwa
65,9 % siswa menanggapi semakin bertambah tingkat pengetahuan dan
ketekunannya mengamalkan ajaran agama yang dipelajarinya, 34,1 % siswa
menanggapi sedikit bertambah tingkat pengetahuan dan ketekunannya
mengamalkan ajaran agama yang dipelajarinya, sedangkan tidak ada siswa
yang menanggapi tidak bertambah tingkat pengetahuan dan ketekunannya
mengamalkan ajaran agama yang dipelajarinya.
TABEL XII
Tanggapan siswa tentang tingkat pengetahuan dan ketekunan mengamalkannya
terhadap ajaran agama Islam
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
10 a. Semakin bertambah
b. Sedikit bertambah
c. Tidak bertambah
132 87
45
-
65,9
34,1
JUMLAH 132 132 100

Adapun hasil angket di bawah ini tentang kemampuan siswa dalam
mempraktikkan materi yang dipelajari bahwa 27,3 % siswa selalu mampu
mempraktekkan/melakukan setiap hari ajaran agama Islam yang dipelajari,
dan 72,7 % siswa kadang mampu melakukan setiap hari ajaran agama Islam
yang dipelajari, sedangkan tidak ada siswa yang tidak pernah mampu
melakukan setiap hari ajaran agama Islam yang dipelajari.
TABEL XIII
Tanggapan siswa tentang kemampuannya dalam mempraktekkan atau
melakukan setiap hari ajaran agama Islam yang telah dipelajari
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
11 a. ya, selalu
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
132 36
96
-
27,3
72,7
JUMLAH 132 132 100

183
Sesuai dengan hasil observasi terhadap proses pembelajaran dan hasil
penilaian oleh guru Pendidikan Agama Islam yang kebetulan pada saat itu
membahas tentang materi mengenal tatacara sholat sunnat (sholat rawatib)
bahwa nilai prestasi (hasil belajar) yang diperoleh para siswa pada aspek
kognitif rata-rata mereka berhasil mencapai nilai baik sekali, jauh diatas KKM
yang telah ditetapkan guru, meskipun masih ada tiga anak yang memperoleh
nilai sesuai dengan KKM.
Namun pada aspek psikomotorik sesuai hasil penilaian, tentang
kemampuan siswa dalam mempraktikkan shalat rawatib, prestasi yang
diperoleh siswa adalah banyak diantara mereka memperoleh nilai baik sekali,
jauh diatas KKM dan terdapat juga diantara mereka tujuh siswa memperoleh
nilai dibawah KKM. Hal ini perlu perhatian dan dukungan dari semua pihak.
Sedangkan nilai yang dicapai siswa terhadap pelajaran agama Islam adalah
mencapai standar KKM yang ditentukan sekolah.
Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa strategi yang digunakan guru
PAI memberikan dampak bagi siswa dari aspek kognitif bahwa siswa merasa
pengetahuan agamanya bertambah dan sedikit sekali siswa yang menanggapi
sedikit bertambah. Hal ini menunjukkan pengetahuan siswa terdapat suatu
peningkatan, dan hal ini dapat dilihat dari hasil observasi hasil penilaian, yang
mana siswa rata-rata telah mencapai prestasi kognitifnya dengan baik sekali.
Sedangkan dari aspek psikomotorik siswa belum mampu mengamalkan dan
mempraktikkan secara maksimal dari materi-materi yang telah dipelajarinya,
karena meskipun terdapat nilai yang bagus masih terlihat nilai prestasinya
184
tidak merata dan masih adanya nilai beberapa siswa yang belum mencapai
KKM yang telah ditentukan.
b. Dampak tidak Langsung
Dampak atau efek tidak langsung hanya difokuskan pada pencapaian
prestasi aspek afektif yaitu sikap dan nilai. Dari strategi pengelolaan kelas
yang dilakukan oleh guru, disamping siswa memperoleh pemahaman dan
keterampilan mempraktikkannya pada saat itu juga, siswa diharapkan mampu
menanamkan sikap pada dirinya dan peka menilai dan menyimpulkan
terhadap sesuatu yang telah dipelajari, baik pada saat siswa belajar maupun
disaat selanjutnya. Bardasarkan wawancara dengan Drs. Masrukin mengenai
cara mengukur sikap afektif adalah:
Untuk mengajak siswa dan membawa siswa untuk mengaplikasikan materi
yang dipelajari, tidak hanya membutuhkan semangat dan motivasi dari
guru di kelas saja, tetapi juga guru bersama siswa mengaplikasikan dalam
kehidupan sekolah khususnya. Seperti saja dalam hal sholat sunnat, guru
tidak hanya menyuruh siswa untuk sholat dzuha, guru harus ikut
bergabung dengan siswa untuk melaksanakannya. Bahkan orang tua harus
mendukung mereka dirumah. Sedangkan untuk mengukurnya bisa kita
lihat pada ekstrakurikuler keagamaan, seberapa rajin dan peduli mereka
ketika diadakan kegiatan BTA, sholat jama’ah dzuhur dan juma’ah, sholat
dzuha, dan sebagainya…semua kegiatan ini menggunakan absensi.
175


Berdasarkan hasil observasi hasil penilaian yang diperoleh peneliti,
diketahui bahwa penilaian terhadap ektrakurikuler keagamaan ini
menggunakan penilaian dengan kategori huruf A (Baik Sekali), B (Baik), C
(Cukup), dan D (Kurang).
Penilaian yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam terhadap
prestasi afektif siswanya adalah adanya kesemangatan dan kerajinan yang

175
Masrukin, Op.Cit., tanggal 24 November 2008.
185
bagus pada siswa dalam mengikuti program keagamaan yang merupakan salah
satu program pengembangan diri di sekolah, seperti program pembiasaan
sholat berjamaah juma’at dan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA). Tidak terdapat
siswa yang bolos dalam mengikuti ekstrakurikuler keagamaan. Namun sikap
atau nilai ini masih hanya diukur dari sikap atau kerajinan siswa dalam
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan di sekolah saja, belum diukur
dari sikap dan kepribadian siswa dalam melaksanakan ibadah di luar sekolah
(di rumah dan di masyarakat).
Adapun hasil angket dibawah ini tentang semangat siswa dalam
mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah bahwa; 23,48 % siswa selalu
semangat dalam mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah dan 76,52 % siswa
merespon biasa-biasa saja dalam semangat mengikuti kegiatan keagamaan di
sekolah sedangkan tidak ada siswa yang merespon ketidak semangatan
mereka dalam mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah.
TABEL XIV
Tanggapan siswa tentang semangatnya dalam mengikuti kegiatan
keagamaan di sekolah
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
9 a. selalu semangat
b. Biasa saja (sedang)
c. Tidak semangat
132 31
101
-
23,48
76,52
JUMLAH 132 132 100

Dari keterangan ini disimpulkan bahwa secara tidak langsung
pembelajaran yang diusahakan secara maksimal oleh guru diharapkan dapat
memberikan suatu pengaruh terhadap siswa agar bisa dan sanggup
mengaplikasikan materi-materi agama yang dipelajari dalam kehidupan
sehari-hari, dimana saja mereka berada, baik disekolah maupun dirumah.
186
Untuk mengukur hal ini guru secara dhohirnya hanya bisa mengukurnya
melalui sikap atau nilai siswa ketika mengikuti ekstrakurikuler keagamaan.
Sedangkan dr umah dan di masyarakat guru sulit untuk mengidentifikasinya.
Namun guru tetap berusaha untuk itu menganjurkan kepada orang tua untuk
selalu mengontrol anaknya dirumah.
4. Faktor-faktor yang Menghambat dan Mendukung Strategi Pengelolaan
Kelas dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk
Meningkatkan Prestasi Balajar Siswa SMP Negeri 4 Batu
Dalam pelaksanaan strategi pengelolaan kelas akan ditemui berbagai
faktor yang mendukung dan menghambat proses pembelajaran. Berikut ini
akan diuraikan faktor-faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dari sebuah pelaksanaan strategi pengelolaan kelas
untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu
a. Faktor Pendukung
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Drs. Masrukin selaku
guru PAI SMP Negeri 4 Batu yang menyatakan bahwa:
Faktor yang mendukung pembelajaran PAI dalam strategi pengelolaan kelas
sebagai suatu usaha peningkatan prestasi belajar siswa, baik dukungan fisik
maupun non fisik, diantaranya, peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah
telah banyak membantu guru dalam mendisiplinkan siswa terutama selama
mereka berada disekolah, adanya musholla karena siswa 98 % beragama
Islam, program keagamaan yang direncanakan kurikulum terlaksana
176


Bapak Mahmud Huda, S.Ag. juga menambahkan bahwa
Adanya ruangan multimedia dan komputer-internet juga mendukung
belajarnya siswa, meskipun itu harus diarahkan hanya pada materi tertentu,
karena tidak semua materi agama Islam menggunakan referensi dari

176
Ibid.
187
internet, dikhawatirkan pemahaman seusia mereka belum waktunya,
terutama masalah aqidah dan tauhid, tapi kalau thoharoh dan sejarah
biasanya juga saya arahkan untuk browsing.
177


Menurut Bapak Drs. Masrur juga menyatakan bahwa:
Untuk mencapai prestasi dan tujuan pembelajaran agama Islam, yaitu agar
siswa mempunyai akhlak mulia dan mereka mampu menerapkan ajaran
agama Islam yang dipelajari, siswa diantarkan pada penguasaan materi dan
praktik dengan suatu metode yang digunakan oleh guru, baik di kelas
maupun dilingkungan sekolah, sehingga diharapkan akan menghasilkan
suatu sikap yang sanggup ditaati oleh dirinya sendiri.
178


Hasil angket di bawah ini juga menunjukkakan bahwa 78,03 % siswa
selalu memiliki keinginan (cita-cita) memiliki pengetahuan agama Islam yang
tinggi, dan 21,21 % siswa kadang-kadang berkeinginan memiki pengetahuan
agama Islam yang tinggi. Sedangkan hanya 1 siswa yang tidak pernah punya
keinginan memiliki pengetahuan agama Islam yang tinggi.
TABEL XV
Tanggapan siswa tentang keinginannya (cita-cita) memiliki
pengetahuan agama Islam yang tinggi
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
15 a. Selalu
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
132 103
28
1
78,03
21,21
0,76
JUMLAH 132 132 100

Sedangkan pada data dokumen SMP Negeri 4 Batu mempunyai dan
menerapkan visi ”bertakwa, berakhlak mulia (berbudi pekerti luhur), dan
berprestasi“, dengan misi ”melaksanakan ajaran agama, menaati norma
yang berlaku di sekolah dan/atau di masyarakat”.
Dari paparan yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang mendukung strategi pengelolaan kelas adalah:

177
Mahmud Huda, Op.Cit., tanggal 24 November 2008.
178
Akh Masrur, Op.Cit., tanggal 21 November 2008.
188
Peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah telah banyak membantu guru
dalam mendisiplinkan siswa terutama selama mereka berada disekolah,
Visi dan misi sekolah yang berdasarkan ketaqwaan dan akhlak mulia
Tujuan pembelajaran agama Islam disekolah ini menekankan agar siswa
dapat berakhlak mulia dan mampu menerapkan ajaran agama Islam
Adanya musholla sebagai suatu tempat/sarana belajar dan ibadah siswa yang
rata-rata mereka beragama Islam
Adanya ruangan multimedia sebagai tempat belajar siswa untuk
mengadakan kelompok belajar bervariatif
Ruang komputer dan internet sekolah sebagai sarana bagi siswa mencari
referensi tugas yang sudah diarahkan guru PAI.
Strategi dan metode yang digunakan guru dalam pembelajaran PAI, di kelas
dan dilingkungan sekolah sangat membantu pencapaian prestasi, sehingga
diharapkan menghasilkan suatu sikap sanggup ditaati bagi diri siswa.
Program keagamaan yang telah direncanakan dan dilaksanakan kurikulum
membantu siswa untuk terbiasa mempraktikkan materi yang dipelajari.
Siswa ternyata selalu memiliki keinginan (cita-cita) memiliki pengetahuan
agama Islam yang tinggi, meskipun semangatnya mengikutinya tidak stabil.
b. Faktor Penghambat
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Masrukin, bahwa:
dari aspek lingkungan kehidupan siswa sendiri kurangnya dukungan orang
tua siswa terhadap anaknya terutama masalah sholat, sehingga kita
berusaha membiasakan diri siswa mengikuti kegiatan keagamaan di
sekolah. Dari pembelajaran sendiri, siswa kurang PD untuk menjawab
pertanyaan yang diberikan, tapi kita tetap berusaha dengan menunjuk
langsung mereka, kemudian memberi nilai plus kepada siswa. Kalau
189
sarana disekolah ini cukup bagus, tapi musholla yang ada masih belum
memadai untuk 4 kelas, hanya 2 kelas, sehingga kegiatan tidak serempak
dilakukan, seperti sholat jama’ah sehingga perlu dibuat jadwal kegiatan.
179


Bapak Drs. Akh. Masrur juga menambahkan bahwa “ruangan atau
media pembelajaran untuk praktik khusus pelajaran agama Islam belum ada,
hanya sebatas pada musholla, sedangkan pelajaran fikih selain sholat sulit
untuk dipraktikkan seperti materi haji dan umroh.
180

Berdasarikan hasil angket di bawah ini diperoleh diketahui hal-hal
yang menjadi hambatan adalah :
23,48 % siswa selalu semangat dalam belajar dan mengerjakan tugas PAI
dan 76,52 % siswa merespon biasa-biasa saja dalam semangar mengerjakan
tugas PAI sedangkan tidak ada siswa yang merespon ketidak semangatan
mereka dalam mengerjakan tugas PAI
TABEL XVI
Tanggapan siswa tentang semangatnya dalam mengikuti kegiatan
keagamaan di sekolah
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
9 a. selalu semangat
b. Biasa saja (sedang)
c. Tidak semangat
132 31
101
-
23,48
76,52
JUMLAH 132 132 100

27,3 % siswa sangat bisa konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran PAI,
dan 72,7 % siswa kadang-kadang bisa konsentrasi dalam mengikuti
pembelajaran PAI, sedangkan tidak ada siswa yang tidak bisa konsentrasi
dalam mengikuti pembelajaran PAI.



179
Masrukin, Op.Cit., tanggal 24 November 2008
180
Akh. Masrur, Op.Cit., tanggal 21 November 2008
190
TABEL XVII
Tanggapan siswa tentang konsentrasinya dalam mengikuti
pembelajaran PAI
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
14 a. sangat bisa
b. Kadang-kadang
c. Tidak bisa konsentarasi
132 36
96
-
27,3
72,7
JUMLAH 132 132 100

35,61 % siswa memiliki semangat/senang yang tinggi mengikuti
pembelajaran PAI, dan 64,39 % siswa yang kadang-kadang
semangat/senang mengikuti pembelajaran PAI, sedangkan tidak terdapat
siswa yang tidak pernah semangat/senang mengikuti pembelajaran PAI.
TABEL XVIII
Tanggapan siswa tentang semangatnya dan sikap senangnya
dalam mengikuti pembelajaran PAI
No. Item Alternatif jawaban N F 100 %
1 d. Selalu senang
e. Kadang-kadang
f. Tidak pernah semangat
132 47
85
-
35,61
64,39
JUMLAH 132 132 100

78,03% siswa selalu memiliki keinginan (cita-cita) memiliki pengetahuan
agama Islam yang tinggi, 21,21% siswa kadang berkeinginan memiliki
pengetahuan agama Islam yang tinggi. Sedangkan hanya 1 siswa yang tidak
pernah punya keinginan memiliki pengetahuan agama Islam yang tinggi.
TABEL XIX
Tanggapan siswa tentang keinginannya (cita-cita) memiliki
pengetahuan agama Islam yang tinggi
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
15 a. Selalu
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
132 103
28
1
78,03
21,21
0,76
JUMLAH 132 132 100

191
33,33 % siswa yang aktif dalam pembelajaran PAI, dan 62,88 % siswa yang
kadang-kadang aktif dan tidak aktif dalam pembelajaran PAI, sedangkan
hanya adat 3,79 % siswa yang tidak pernah aktif dalam pembelajaran PAI.
TABEL XX
Tanggapan siswa tentang partisipasinya aktif dalam pembelajaran
Pendidikan Agam Islam
No. Item Alternatif jawaban N F 100%
3 a. Ya, selalu
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
132 44
83
5
33,33
62,88
3,79
JUMLAH 132 132 100

Berdasarkan observasi yang dilihat, hal-hal yang merupakan
hambatan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa adalah sedikit sekali
siswa yang mempunyai buku tunjangan pelajaran agama Islam, siswa masing-
masing hanya memiliki LKS yang memang diwajibkan dimiliki siswa,
sedangkan dalam proses pembelajaran siswa kurang percaya diri, hanya siswa
tertentu saja yang aktif di kelas, sebagaiman pernyataan Diah dan Fitri bahwa:
Kadang malu untuk tanya, kita kurang PD ngomong, sebenarnya tahu kita
untuk menjawabnya, ya biasanya teman-teman memang nunggu ditunjuk,
baru kita merasa terpaksa menjawabnya. biasanya belajar kalau ada PR atau
hafalan dan ulangan, ya.. biasanya sebelum pelajaran dimulai kita baca
LKS.
181


Dari paparan yang telah diuraikan, disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang menghambat strategi pengelolaan kelas pada pembelajaran PAI adalah:
Kurangnya dukungan orang tua terhadap anaknya tentang peningkatan
kualitas beragama, sehingga sekolah melakukan usaha membiasakan diri
siswa untuk mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah.

181
Fitri dan Diah, Op.Cit., tanggal 23 November 2008
192
Musholla tidak cukup menampung semua siswa, sehingga sekolah perlu
mengatur jadwal kegiatan secara bergiliran
Musholla yang ada belum dapat memadai untuk 4 kelas, hanya 2 kelas,
kegiatan yang dilakukan tidak bisa dilakukan secara serempak, seperti sholat
jama’ah sehingga perlu dibuat jadwal kegiatan.
Kurangnya ruang atau media pembelajaran yang khusus untuk mata
pelajaran agama Islam dalam mempraktekkan materi tentang fikih.
Belum adanya ruangan atau media pembelajaran untuk praktik khusus mata
pelajaran agama Islam
Kurang rasa semangat dan senang siswa dalam mengikuti pembelajaran PAI
Kurangnya rasa semangat dan rasa tanggap siswa terhadap belajar dan tugas
pelajaran agama Islam untuk dikerjakan.
Konsentrasi siswa saat mengikuti pembelajaran masih kurang maksimal
Keaktifan siswa saat pembelajaran PAI masih kurang maksimal.
Siswa hanya memiliki buku LKS, tidak semuanya memiliki buku tunjangan
khusus pelajaran Agama Islam
Siswa kurang percaya diri pada saat mengungkapkan jawaban pada
pembelajaran, hanya siswa tertentu saja yang aktif di kelas.









193
BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Dalam pembahasan hasil penelitian ini akan diuraikan beberapa bahasan
mengenai hasil analisis penelitian sesuai dengan rumusan masalahnya.
A. Masalah-Masalah Pengelolaan Kelas yang Dihadapi Guru Pendidikan
Agama Islam di SMP Negeri 4 Batu
Dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas sering
timbul masalah-masalah tingkah laku yang tidak diinginkan dari siswa.
Gangguan yang sering terjadi di kelas adalah siswa mengganggu temannya,
usil terhadap teman sebelahnya. Guru hanya dengan mendekati untuk
menghampirinya tanpa mengungkapkan kata sepatah pun, maka siswa bisa
tenang dan diam seketika itu. Memang suatu bentuk tingkah laku siswa yang
rawan terjadi di kelas, untuk menarik perhatian orang lain di sekitarnya.
Sehingga guru tidak terlalu banyak merespon atau menegur mereka . Menurut
J.J. Hasibuan guru cukup hanya bersikap masa bodoh, terhadap pelanggaran
siswa yang menunjukkan tingkah laku menarik perhatian, kemudian
memberikan respon positif terhadap tingkah laku siswa yang positif.
182

Kemudian, masalah yang juga sering terjadi dalam Pembelajaran
Agama Islam adalah terdapat siswa yang belum PD (Percaya Diri) untuk
mengungkapkan jawaban secara lisan, dan mempraktikkan materi yang
dipelajari. Dalam hal ini guru berusaha memberikan motivasi, dan mensuport

182
J.J. Hasibuan dkk. Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remadja Karya,1988), hlm. 180
194
mereka, guru menunjukkan segi keberhasilan siswa, memberi penguatan
positif serta memberikan hadiah yang berbentuk nilai atau point plus ketika
siswa tersebut aktif. Dengan cara inilah siswa yang kurang Percaya Diri dapat
termotivasi untuk aktif. Adapun taktik-taktik menurut N.A. Ametembun
dalam mensuport konfidensi siswa yang kurang berprestasi:
183

Mempergunakan test-test segampang mungkin, agar mayoritas kelas meraih
prestasi, sehingga tercipta mind-set (alam pikiran) positif; untuk menambah
self-confidence siswa.
Melibatkan siswa yang kurang berprestasi agar dipartisipasikan aktif dalam
diskusi, misalnya memanggilnya untuk diberanikan, diberi suport positif.
Memberikan penghargaan-penghargaan deskriptif.

Disamping itu, terdapat masalah dalam proses pembelajaran, yaitu
siswa yang sukanya izin keluar kelas pada saat pelajaran agama. Guru
umumnya mengambil langkah awal dengan menanyakan penyebab
keseringan siswa izin keluar kelas, dan apabila tidak ada penyebab logis maka
guru membuat kesepakatan kelas bahwa pada waktu pelajaran, khususnya
Bapak Mahmud Huda sebagai guru agama Islam, siswa pada waktu istirahat
harus ke kamar mandi sebelum masuk kelas yang harus dipatuhi sebagai
pengembangan self disiplin pada siswa. Norma yang dibuat ini dipilih akibat
dari tingkah laku siswa yang kurang disiplin dan mengganggu iklim
mengajar-belajar. Menurut N. A. Ametembun salah satu teknik
pengembangan self disiplin ialah teknik containment (pengekangan diri) guna
mengubah situasi negatif menjadi situasi positif.
184
Teknik kontainmen
menghendaki guru tidak marah, tetap tenang (mengekang atau menahan diri)

183
N.A. Ametembun, Menciptakan Iklim Mengajar-Belajar Positif di Kelas-Kelas,
(Bandung: Suri, 2005), hlm. 56-57
184
Ibid., hlm. 36
195
ketika siswa berperilaku buruk, guru harus dapat memahami situasi, tetapi
harus diarahkan lebih lanjut ke situasi positif dengan memberikan informasi
adisional (tambahan).
185
Hal ini merupakan solusi bersama yang didasarkan
dengan adanya saling pengertian.
Masalah kelompok yang terjadi dalam pembelajaran agama Islam
adalah adanya ketidakkompakan dalam kelompok belajar, yang disebabkan
tidak meratanya tugas yang digarap siswa. Maka guru mewajibkan siswa
mencatat hasil diskusi kelompok pada masing-masing bukunya, sehingga
mereka sama-sama kerja dan terdapat ketergantungan diantara mereka.
Menurut N.A. Ametembun, menstruktur situasi-situasi kooperatif merupakan
peranan penting guru untuk bekerja bersama dalam aktivitas pembelajaran
kooperatif, sesering mungkin dapat membantu pengembangan suatu
komunitas pembelajaran yang tangguh. Memberikan aktivitas yang mengacu
kepada suatu norma kooperatif menghendaki suatu atribut interdepensi
(saling bergantungan). Kerjasama yang membutuhkan interdepensi akan
menyebabkan suatu kelompok terikat dan kohesif.
186

B. Pelaksanaan Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi Balajar Siswa
SMP Negeri 4 Batu.
SMP Negeri 4 Batu merupakan sekolah umum, yang pelajaran agama
Islam mempunyai target waktu yang sedikit, yaitu 2 jam mata
pelajaran/minggu. Sementara itu, dalam proses pembelajaran sering ditemui

185
Ibid., hlm. 37
186
N. A. Ametembun, Sistem Manajemen Kelas-kelas Modern Jilid II- Manajemen Perilaku
Murid-Murid, (Bandung: Suri, 2005), hlm. 31.
196
masalah dan tingkah laku siswa yang mengganggu kelancaran pembelajaran.
Hal ini menuntut guru untuk profesional mengelola kelas, sehingga
pembelajaran berlangsung efektif, efisien dan menyenangkan. Ada beberapa
strategi yang dilakukan SMP Negeri 4 Batu dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan prestasi belajar siswa :
1. Manajemen Administrasi Kelas
Dari hasil penelitian diketahui bahwa proses kegiatan manajemen
administratif kelas yang dilakukan, bahwa guru agama Islam telah mampu
membuat perangkat pembelajaran dengan baik. Sekolah juga memprogram
kegiatan keagamaan dalam bentuk ekstrakurikuler dan peringatan hari besar
keagamaan. Setiap program yang direncanakan sekolah dipegang oleh guru
yang ahli dibidangnya, disamping itu juga telah ditentukan tugas-tugas dari
masing-masing guru dalam membantu pelaksanaan program kerja.
Selanjutnya, dalam setiap pelaksanaan program keagamaan, selalu ada
arahan dan bimbingan dari guru agama Islam dengan dukungan OSIS dan
guru-guru lain. Guru Pendidikan Agama Islam selalu mengadakan rapat rutin
dalam rangka membahas tentang perkembangan pelaksanaan kegiatan,
khusunya mengenai hambatan-hambatan dan solusinya. Segala informasi
mengenai kegiatan, disampaikan dengan memfungsikan wali kelas, forum
OSIS, dan perangkat kelas, serta alat pengeras suara. Semua kegiatan
keagamaan yang terlaksana, selalu dilakukan pengabsenan kehadiran siswa.
Hal ini merupakan kontrol untuk mengukur kualitas sikap/perhatian siswa
dalam berpartisipasi mengikuti program tersebut.
197
Semua program telah terencana dalam program kurikulum sekolah,
sebagaimana fungsi suatu sistem organisasi. Menurut pandangan Hadari
Nawawi perencanaan merupakan program umum berupa kurikulum yang
harus diterjemahkan menjadi program-program yang kongkrit dengan
mengkaitkannya menurut waktu yang tersedia. Program harus disusun
lengkap mulai dari perumusan tujuan sampai pada rencana evaluasinya.
Sebuah kelas sebagai suatu unit kerja, di dalamnya terdapat kerja sama
sejumlah orang untuk mencapai tujuan. Sehingga dalam mengelola suatu
kelas, guru/wali kelas melakukan tindakan-tindakan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, koordinasi, komunikasi, dan kontrol.
187

2. Manajemen Operatif Kelas
Dari hasil penelitian diketahui bahwa agar tercipta kelancaran
pembelajaran dalam mencapai tujuan dan keberhasilan belajar siswa SMP
Negeri 4 Batu, telah dilaksanakan kegiatan operatif yang berupa tata usaha
kelas, mulai dari menghimpun biodata siswa, nilai hasil belajar, membuat
jadwal, mengirim laporan kelas dan jurnal kepada kepala sekolah. Kemudian,
pada setiap kelas juga diadakan pengumpulan uang kas kelas. Biasanya
digunakan untuk dana persiapan dalam kreatifitas kelas, realisasi program
kelas dan kebutuhan kelas lainnya.
Sedangkan untuk mengaktifkan program pembiasaan beribadah pada
keseharian siswa, guru telah menjadi tauladan bagi siswanya, dan mampu
memberikan motivasi bagi siswanya. Hal ini merupakan salah satu cara tipe

187
Hadari Nawawi, Op.Cit., hlm. 130
198
kepemimpinan yang harus dimiliki agar siswa selalu aktif ikut kegiatan
keagamaan. Sebagaimana menurut Hadari Nawawi kepemimpinan diartikan
sebagai mengarahkan, membimbing, mempengaruhi pikiran, perasaan atau
tindakan dan tingkah laku orang lain. Guru kelas harus melakukan usaha
menggerakkan, memotivasi, menyatukan pikiran dan tingkah laku para siswa
dan guru terarah pada tujuan yang terdapat dalam program kelas.
188
Namun
hanya sebagian guru yang mendukung untuk aktif mengikuti program ini
bersama-sama siswa. Sehingga guru PAI harus lebih baik lagi dalam
menggerakkan dan memotivasi siswa.
Kegiatan kemasyarakatan juga dilaksanakan disekolah ini, dengan
rapat pleno, pertemuan rutin dengan Komite Sekolah, dan orang tua siswa
kelas VII baru sebagai suatu hubungan sekolah dengan masyarakat.
peringatan hari besar nasional dan keagamaaan dengan tujuan, menanamkan
nilai kepahlawanan dan mental spiritual.
Untuk kenyamanan dan keefektifan pembelajaran, telah tersedia papan
tulis, dan berbagai alat peraga, buku raport, meja kursi guru, dan murid yang
layak pakai. Sedangkan media yang tersedia sudah dimanfaatkan oleh guru,
namun alat peraga sebagai media khusus mata pelajaran PAI belum tersedia.
Hal ini merupakan salah satu hambatan dalam pembelajaran agama Islam.
Penempatan posisi siswa SMP Negeri 4 Batu di kelas, sebagai suatu
bentuk pembinaan personal kelas diketahui telah mempertimbangkan; tinggi
pendek badan siswa, kesamaaan jenis kelamin keseimbangan pandangan pada

188
Ibid., hlm. 140.
199
penglihatan siswa, melalui sistem rooling. Namun dasar pembinaan posisi
duduk ini belum maksimal, kerena masih mempertimbangkan aspek fisik,
belum memperhatikan intelegensi, bakat dan minat siswa.
Menurut Hadari Nawawi kegiatan manajemen administrasi kelas
harus ditunjang dengan kegiatan manajemen operatif agar seluruh program
berlangsung efektif bagi pencapaian tujuan dan keberhasilan belajar dengan
melakukan kegiatan tata usaha kelas, pengadaan perbekalan kelas, kegiatan
keuangan kelas, pembinaan personal kelas, hubungan masyarakat di
lingkungan sekolah, dan kepemimpin wali/guru kelas.
189

3. Pengaturan Ruang Kelas
Hasil penelitian tentang pengaturan ruang kelas SMP Negeri 4 Batu
diketahui siswa mudah menjangkau alat/sumber belajar yang disediakan.
Pada variasi kerja siswa dalam pembelajaran di kelas dilakukan sesuai dengan
strategi/metode yang digunakan secara perorangan, berpasangan, dan
berkelompok. Meskipun formasi meja sulit diubah, dikarenakan formasi
bangku masih monoton duduk secara berpasangan, maka untuk variasi
kelompok lebih dari 4 siswa, pembelajaran dilakukan di ruang multimedia.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan menurut Sutrisno dalam pengaturan
ruang kelas/belajar:
a. Aksessibilitas: siswa mudah menjangkau alat atau sumber belajar yang
tersedia
b. Mobilitas: siswa dan guru di kelas mudah bergerak dari satu bagian ke
bagian lain.
c. Interaksi: memudahkan terjadi interaksi guru dengan siswa maupun antar
siswa

189
Ibid., hlm. 136.
200
d. Variasi kerja siswa: memungkunkan siswa bekerja sama secara
perorangan, berpasangan, atau berkelompok.
190


Sedangkan Interaksi antara guru dengan siswa maupun antar siswa
cukup mudah. Tetapi siswa yang duduk dibagian belakang sedikit kesulitan
berinteraksi dengan guru, namun guru tetap berusaha mendekati siswa.
Adapun kondisi kelas dan ventilasinya sudah memadai, kelengkapan kelas
dan inventarisnya cukup baik meskipun masih terdapat kekurangan mengenai
fungsi lemari. Bunga, halaman, taman, dan pajangan, telah memberikan
pesan, kesan, dan keindahan tersendiri bagi siswa. ketertibannya sudah
terkontrol dan terjaga bersama. Pajangan bergambar yang ada antara lain:
di depan ruang guru: “Waktu tidak akan terulang kembali untuk kedua
kalinya”
di depan musholla: “Sudahkah Anda Sholat”
di depan taman: “jagalah kebersihan lingkungan kita”
di depan kelas: “perbuatan baik akan selalu terkenang di hati
di depan perpustakaan: “sayang sudahkah engkau meluangkan waktumu
untuk membaca hari ini”
dan lain-lain

Menurut N.A. Ametembun pajangan-pajangan yang dipajang
merupakan alat pembelajaran yang memberikan informasi tentang kuritinan
kelas dan sekolah, serta dapat mensuport konsep-konsep dan keterampilan
yang sedang diajarkan di sekolah.
191

4. Pengelolaan Perilaku Siswa
Dari hasil penelitian diketahui bahwa guru agama Islam SMP Negeri 4
Batu menggunakan beberapa cara dalam menciptakan kondisi kelas yang
kondusif, sebagai langkah awal adalah melakukan pembinaan perilaku siswa

190
Sutrisno, “Revolusi Pendidikan di Indonesia”, Op.Cit., hlm. 80.
191
N.A. Ametembun, Sistem Manajemen Kelas-Kelas Modern Jilid I – Manajemen Waktu dan
Ruang Kelas. Op.Cit, hlm 23.
201
dengan menentukan peraturan-peraturan sekolah dan mengimplementasikan
norma yang berlaku dimasyarakat dalam kehidupan sekolah, seperti
berpartisipsi dalam FORMULASATU, kebiasaan antre, sapa, salim, salam,
senyum, dan santun kepada orang lain. Pengembangan diri ini merupakan
salah satu tujuan situasional/sasaran dari program sekolah SMP Negeri 4 Batu
yang dirancang dalam kurikulum, dan telah banyak membantu guru dalam
mendisiplinkan siswanya serta membina siswanya untuk menerapkan adat
perilaku yang berlaku dimasyarakat sebagai suatu norm. Sehingga siswa
dapat menjadi manusia yang bersosial dan bermoral dimasyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum kaitannya dengan
pengelolaan kelas haruslah dirancang sebagai jumlah pengalaman edukatif
yang menjadi tanggung jawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai
tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana dan terarah
serta terorganisir, karena kegiatan kelas bukan sekedar dipusatkan pada
penyampaian sejumlah materi pelajaran atau pengetahuan yang bersifat
intelektualistik, akan tetapi juga memperhatikan aspek pembentukan pribadi,
baik sebagai makhluk individual, dan makhluk social maupun sebagai
makhluk yang bermoral.
192

Dalam pembelajaran di kelas guru memberikan perhatian kepada
semua siswa dengan berjalan dan memandang kesemua arah. Keakraban
diantara guru dan siswa sudah bagus. Kerjasama dalam kelompok belajar
sudah tercipta, meskipun terdapat hambatan dari ketidakkompakan kelompok.

192
http://sobatbaru.blogspot.com./2008/08/30.faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pengelolaan-
kelas.html.Artikel.Arianto Sam.
202
Oleh karena itu guru memberikan tugas-tugas secara rata terhadap masalah
ketidakkompakan ini. Adapun menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam
mengatasi masalah kelompok adalah memperlancar tugas-tugas dengan
mengusahakan terjadinya kerjasama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
193

Disamping itu, mencegah dan meminimalisasi masalah yang timbul,
guru memberikan penguatan positif kepada siswa yang berperilaku baik dan
benar, seperti dengan motivasi dan nilai plus Pada setiap kesalahan yang
dilakukan siswa, guru menginginkan perubahan tingkah laku dengan menegur
dan mengajarkan hal yang sebenarnya dilakukan.
Guru juga menggunakan pendekatan kekuasaan dan pendekatan
ancaman yang ringan terhadap siswa yang selalu tidak mengerjakan PR,
dengan membuat kesepakatan kelas. Hal ini dilakukan demi menjaga
kedisiplinan dan kemandirian siswa.
Pendekatan-pendekatan yang digunakan guru SMP Negeri 4 Batu
dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam pengelolaan kelas,
tidak hanya menggunakan satu pendekatan kelas, tetapi juga dua pendekatan
sekaligur. Guru menggunakan cara dan strategi secara bersamaan untuk
membuat dan mempertahankan suasana kelas untuk kembali kondusif.
Pendekatan ini dikenal dengan istilah pendekatan pluralistik, yaitu
pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan

193
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op.Cit., hlm. 194.
203
yang memilki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan kondisi
yang memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien.
194

5. Penerapan Strategi Pembelajaran.
SMP Negeri 4 Batu sebagai sekolah umum, mempertimbangkan
masalah waktu dalam menerapkan suatu strategi untuk pembelajaran agama
Islam, yang hanya terjadwal 80 menit/minggu. Sebelum proses pembelajaran,
guru menentukan penggunaan blok-blok waktu instruksional dan
mempersiapkan bahan atau petunjuk prosedur belajar yang akan digunakan.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa guru mampu membuat kelas
tidak tegang dan santai. Guru sering menggunakan pembelajaran learning
comunity yang adakan di ruang multimedia. Penyampaian materi disajikan
dengan mendahulukan materi dari pada praktik, sesuai dengan Kompetensi
Dasar yang ditetapkan. Pemberian motivasi dengan keyakinan siswa bahwa ia
bisa dan tanya jawab lebih sering dilakukan, sehingga belajar menjadi
interaktif dan materi lebih diterima. Strategi dan metode yang digunakan tanya
jawab dan ceramah dengan membawa siswa untuk menemukan sendiri apa
yang harus ia pelajari. Langkah-langkah pembelajaran inilah yang dianggap
efektif dan efisien yang lebih sering dilakukan guru agama Islam SMP Negeri
4 Batu. Sebagaimana komponen-komponen yang harus dilakukan dalam
menerapkan suatu strategi pembelajaran, yaitu: kegiatan pembelajaran

194
Ibid., hal 184
204
pendahuluan, seperti apresiasi, dan ilustrasi kasus, penyampaian informasi,
partisipasi peserta didik, tes, kegiatan lanjutan (tindak lanjut).
195

Panilaian yang dilakukan, setelah materi benar-benar dikuasai oleh
siswa. Atau pada saat proses kelompok berlangsung. Guru juga dapat
menggunakan pembelajaran dengan pendekatan PAKEM pada materi
pelajaran agama Islam sebagai realisasi dari sasaran operasional SMP Negeri
4 Batu. Guru mengajak siswa belajar diluar kelas, seperti di taman sekolah.
Namun demikian, keadaan semangat siswa mengikuti pembelajaran
ini tidak pasti, disebabkan energi fisik siswa yang menurun dan capek pada
jam pelajaran yang agak siang. Dan juga keaktifan siswa dikelas masih belum
maksimal dan menyeluruh, namun, guru tetap berusaha untuk memberikan
motivasi dan semangat kepada siswa.
C. Dampak Strategi Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk Meningkatkan Prestasi Balajar Siswa SMP Negeri 4
Batu
1. Dampak Langsung (Instuctional Effects atau Tujuan Instruksional)
Dalam proses pembelajaran agama Islam, guru mengharap siswanya
secara langsung dapat menguasai pada saat itu juga materi yang dipelajari.
Antara lain siswa dapat mencapai pada aspek kognitif dan psikomotorik. Dari
hasil penelitian, diketahui bahwa untuk mengukur pemahaman siswa terhadap
materi, pada waktu proses pembelajaran digunakan tanya jawab dan tes tulis.
Sedangkan untuk mengukur keterampilan siswa dalam mempraktikkan materi

195
Hamzah B. Uno. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengaja yang Kreatif
dan Efektif, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 3
205
yang dipelajari, penilaian dilakukan pada saat siswa melakukan belajar
kelompok atau dengan tanya jawab, tes lisan, belajar kelompok dan praktik.
Dari hasil penelitian, diketahui bahwa strategi pengelolaan kelas yang
digunakan guru agama Islam telah mampu membantu siswa dalam menguasai
dan memahami materi yang dipelajari. Menurut hasil angket dan wawancara,
diperoleh siswa merasa pengetahuannya bertambah dengan mempelajari
agama Islam. Disamping itu, sesuai dengan hasil observasi terhadap proses
pembelajaran dan hasil penilaian oleh guru Pendidikan Agama Islam yang
kebetulan pada saat itu membahas tentang materi mengenal tatacara sholat
sunnat (sholat rawatib) bahwa nilai prestasi yang diperoleh para siswa pada
aspek kognitif, rata-rata mereka berhasil mencapai nilai baik sekali, jauh
diatas KKM yang telah ditetapkan guru, meskipun masih ada tiga anak yang
memperoleh nilai sesuai dengan KKM.
Namun pada aspek psikomotorik sesuai observasi hasil penilaian,
tentang kemampuan siswa dalam mempraktikkan shalat rawatib, prestasi yang
diperoleh siswa adalah banyak diantara mereka memperoleh nilai baik sekali,
jauh diatas KKM dan terdapat juga diantara mereka tujuh siswa memperoleh
nilai dibawah KKM. Hal ini tetap diperlukan perhatian dan dukungan dari
semua pihak, khususnya guru agama Islam, salah satunya adanya remidial.
Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa siswa secara langsung
dapat dikategorikan telah mampu meningkatkan prestasinya dalam
mempelajari materi shalat rawatib melalui proses evaluasi, baik penguasaan
materinya, maupun praktiknya. Hal ini sejalan dengan Sudirman N. Bahwa
206
terdapat tujuan yang secara langsung yang akan dicapai melalui pelaksanaan
program pengajaran (satuan pelajaran) yang dilaksanakan guru setelah selesai
suatu pertemuan peristiwa belajar mengajar. Hasil yang akan dicapai biasanya
berkenaan dengan Cognitive Domain (pengetahuan) dan psycho-motor
domain (keterampilan). Kedua domain ini bisa diukur secara kongkrit, pasti,
dan karenanya dapat langsung dicapai ketika itu.
196
Dengan demikian strategi
pengelolaan kelas yang dilaksanakan telah memberikan efek/dampak langsung
terhadap peningkatan prestasi belajar pada pelajaran agama Islam.
2. Dampak pengiring (Nurturant Effects atau Tujuan Pengiring)
Biasanya dampak pengiring ini berkenaan dengan affective domain
(sikap dan nilai).
197
Dalam menilai prestasi afektif (sikap/nilai) siswa, guru
PAI SMP Negeri 4 Batu hanya bisa melakukan penilaian melalui sikap siswa
ketika mengikuti ekstrakurikuler keagamaan. Sedangkan dirumah dan di
masyarakat guru sulit untuk mengidentifikasinya. Namun demikian guru PAI
tetap berusaha dengan meminta dukungan dari guru-guru lain memotivasi
siswa dan bersama-sama melakukan pembiasaan beribadah disekolah. serta
menganjurkan kepada orang tua untuk selalu mengontrol anaknya dirumah.
Dari observasi hasil penilaian, diketahui adanya kesemangatan dan
kerajinan yang bagus pada siswa dalam mengikuti program keagamaan
sebagai salah satu program pengembangan diri di sekolah, seperti program
pembiasaan sholat berjamaah juma’at dan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA).
Penilaian disajikan dengan kategori huruf A (Baik Sekali), B (Baik), C

196
Sudirman N. Op. Cit., hlm. 94
197
Sudirman N., Op.Cit., hlm. 94.
207
(Cukup), dan D (Kurang). Namun penilaian sikap ini masih diukur dari sikap
atau kerajinan siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan di
sekolah saja, belum diukur dari kepribadian siswa dan sikap mandiri dalam
melaksanakan ibadah di luar sekolah (di rumah dan di masyarakat).
Hasil belajar pendidikan agama tidak semua berupa hasil nyata yang
dapat diukur langsung setelah belajar, karena hasil pembelajaran ranah sikap
tidak bisa diamati setelah pembelajaran pendidikan agama berakhir. Ranah
sikap merupakan hasil pendidikan agama yang banyak diharapkan dan sikap
lebih merupakan hasil pendidikan agama yang berbentuk secara kumulatif
dalam waktu yang relatif lama dan merupakan integrasi internalisasi dari hasil
sejumlah perlakuan pembelajaran pendidikan agama.
198

Oleh karena itu, untuk meningkatkan prestasi afektif siswa SMP
Negeri 4 Batu dalam pembelajaran agama Islam, secara tidak langsung strategi
pengelolaan kelas masih diusahakan dengan maksimal untuk memberikan
pengaruh terhadap siswa agar bisa dan sanggup mengaplikasikan materi-
materi agama Islam yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, dimana dan
kapan saja mereka berada.
D. Faktor-Faktor yang Menghambat dan Mendukung Strategi Pengelolaan
Kelas dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk
Meningkatkan Prestasi Balajar Siswa SMP Negeri 4 Batu
Proses pembelajaran bisa dipengaruhi oleh lingkungan belajar, seperti;
sarana dan prasarana, interaksi dan kondisi pola kehidupan di sekolah.

198
Muhaimin, Sutiah, dan Nur Ali, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan
Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), hlm.192.
208
Kurikulum yang cocok, visi dan misi sekolah dan pembelajaran, kemauan
yang kuat, motivasi dapat mendukung strategi pengelolaan kelas, sehingga
mempengaruhi kekondusifan proses pembelajaran. Untuk mempelajari agama
Islam siswa butuh dukungan dari diri siswa sendiri dan lingkungannya.
Disamping itu, masalah-masalah yang timbul dalam proses
pembelajaran juga dapat mempengaruh kualitas keberhasilan pembelajaran di
kelas. Seperti; sikap siswa terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi, rasa
percaya diri siswa, kebiasaan belajar, cita-cita dengan kemampuan berprestasi
siswa, kebijakan penilaian, kurikulum sekolah, lingkungan sosial siswa di
sekolah dan di rumah, dan lain-lain. Apabila proses pembelajaran terganggu,
maka keberhasilan belajar dikhawatirkan juga terhambat.
Dalam pelaksanaan strategi pengelolaan kelas di SMP Negeri 4 Batu
telah ditemui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam proses
pembelajaran Agama Islam. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas tujuan
pembelajaran dan prestasi yang akan dicapai.
1. Faktor pendukung
Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor yang telah mendukung
pelaksanaan strategi pengelolaan kelas di SMP Negeri 4 Batu antara lain:
a. Peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah yang banyak membantu guru
dalam mendisiplinkan siswa terutama selama mereka berada disekolah
b. Visi dan misi sekolah yang berdasarkan ketaqwaan yang berbunyi
”bertakwa, berakhlak mulia (berbudi pekerti luhur), dan berprestasi“,
209
dengan misi diantaranya ”melaksanakan ajaran agama, menaati norma
yang berlaku di sekolah dan/atau di masyarakat”
c. Tujuan pembelajaran agama Islam disekolah ini menekankan agar siswa
dapat berakhlak mulia dan mampu menerapkan ajaran agama Islam
d. Adanya sarana belajar; musholla, ruangan multimedia ruang komputer dan
internet telah membantu siswa dan guru untuk mengadakan pembelajaran.
e. Strategi dan metode yang digunakan guru dalam pembelajaran PAI, baik
di kelas maupun dilingkungan sekolah sangat membantu pencapaian
prestasi belajar siswa, dan diharapkan akan menghasilkan sikap yang
sanggup ditaati oleh diri siswa.
f. Program keagamaan yang terencana dan terlaksana sesuai kurikulum,
membantu siswa untuk terbiasa mempraktikkan materi yang dipelajari.
g. Siswa ternyata selalu memiliki keinginan (cita-cita) memiliki pengetahuan
agama Islam, meskipun semangatnya untuk mengikutinya tidak stabil.
2. Faktor penghambat
Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor-faktor yang menghambat
pelaksanaan strategi pengelolaan kelas di SMP Negeri 4 Batu antara lain:
a. Kurangnya dukungan orang tua terhadap peningkatan kualitas agama
anak, sehingga perlu pembiasaan diri dengan kegiatan keagamaan sekolah.
b. Musholla sebagaai sarana ibadah dan belajar tidak cukup menampung
semua siswa, sehingga sekolah mengatur jadwal kegiatan secara bergiliran
c. Kurangnya ruang atau media pembelajaran untuk praktik khusus pelajaran
agama Islam dalam mempraktikkan materi tentang fikih.
210
d. Kurangnya rasa semangat dan senang siswa dalam mengikuti
pembelajaran PAI akibat, kondisi siswa yang sudah lelah dalam belajar.
e. Kurangnya rasa tanggap siswa untuk tekun belajar pelajaran agama Islam
f. Konsentrasi siswa saat mengikuti pembelajaran masih kurang maksimal
g. Keaktifan siswa saat pembelajaran PAI masih kurang maksimal.
h. Tidak semua siswa memiliki buku tunjangan khusus PAI, hanya LKS saja.
i. Siswa kurang percaya diri pada saat mengungkapkan jawaban pada
pembelajaran, hanya siswa tertentu saja yang aktif di kelas.















211
BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan dan penelitian yang diuraikan pada bab-bab
sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Masalah Induvidu dalam pengelolaan kelas yang terjadi di SMP Negeri 4
Batu adalah masalah tingkah laku siswa, diantaranya; siswa mengganggu
temannya (usil), siswa yang belum percaya diri dalam mengeksipresikan
dirinya di kelas, siswa yang suka izin keluar kelas pada saat pelajaran.
Guru menanggapinya positif. Guru cukup memandang siswa, mensuport
siswa, dan membuat kesepakatan kelas demi kedisiplin dan kemandirian
siswa. Masalah ketidakkompakan dalam kelompok belajar sering terjadi,
sehingga guru memberikan tugas secara merata dan berkaitan.
2. SMP Negeri 4 Batu sebagai sekolah umum dituntut profesional dalam
melaksanakan pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan.
Adapun strategi mengelola kelas yang dilakukan guru dan sekolah dengan
menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas agar tetap kondusif :
a. Manajemen administrasi kelas yang dibuat oleh kurikulum dan
dilaksanakan dengan baik oleh guru, OSIS, dan perangkat kelas.
b. Manajemen operatif kelas telah dilaksanakan dengan baik meskipun
masih ada kendala dari sarana dan kurang maksimalnya dukungan
guru-guru lain dalam pelaksanaan program keagamaan di sekolah.
212
c. Pengaturan ruang kelas sudah memenuhi standar dan layak. Tetapi
lemari kelas belum berfungsi maksimal sebagaimana mestinya, dan
formasi bangku masih monoton bentuk tradisional, sehingga dalam
pembelajaran variasi tertentu dilaksanakan di ruang multimedia.
d. Pengelolaan perilaku siswa dilakukan dengan membentuk sikap dan
perilaku siswa, melalui penerapan tata tertib sekolah, dan
mengimplementasikan norma masyarakat di sekolah. Perhatian guru
dan keakraban telah menciptakan suasana positif di kelas. Sedangkan
Untuk mempertahankan kelas tetap kondusif dalam pembelajaran, guru
PAI tidak hanya menggunakan satu pendekatan saja, tetapi dua
pendekatan dalam mengatasi satu gangguan yang timbul.
e. Penerapan strategi pembelajaran agama Islam yang dipilih berhasil
membuat kelas tidak tegang dan santai. pelaksanaannya sesuai dengan
komponen-komponen penerapan suatu strategi pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran yang sering dilaksanakan di ruang
multimedia adalah learning comunity. Metode yang digunakan adalah
tanya jawab interaktif dan ceramah dengan membawa siswa untuk
menemukan sendiri apa yang ia pelajari. namun pelaksanaannya
terkadang terjadi ketidaktepatan dalam siklus pembelajaran, sehingga
guru merubah strategi yang sesuai dengan beban materi dan waktu.
3. Dampak langsung strategi pengelolaan kelas yang dilaksanakan dalam
pembelajaran PAI terdapat peningkatan hasil belajar siswa melalui proses
evaluasi penguasaan materi dan praktik. meskipun masih ada tiga siswa
213
yang memperoleh nilai sesuai dengan KKM pada prestasi kognitif, dan
tujuh siswa memperoleh nilai dibawah KKM pada prestasi psikomotor.
Sehingga guru mengadakan remidial. Sedangkan untuk meningkatkan
prestasi afektif siswa dalam pembelajaran agama Islam, secara tidak
langsung strategi pengelolaan kelas masih diusahakan dengan maksimal
untuk memberikan dampak/pengaruh terhadap prestasi siswa agar bisa
dan sanggup mengaplikasikan materi-materi agama Islam yang dipelajari
dalam kehidupan sehari-hari, dimana dan kapan saja mereka berada.
4. Faktor yang mendukung strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran
agama Islam di SMP Negeri 4 Batu adalah
Penerapan tata tertib sekolah demi terciptanya kedisiplinan
Visi, misi sekolah, dan tujuan pembelajaran menekankan agar siswa
bertakwa, berakhlak mulia dan mampu menerapkan ajaran agama Islam
Sarana belajar; musholla, ruang multimedia, komputer dan internet telah
membantu siswa dan guru dalam mengadakan pembelajaran.
Strategi dan metode pembelajaran PAI yang digunakan guru, baik di luar
maupun diluar kelas sangat membantu pencapaian prestasi belajar siswa
Program keagamaan yang direncanakan kurikulum, telah membantu
siswa untuk terbiasa mempraktikkan materi yang telah dipelajari.
Siswa mempunyai cita-cita dan semangat untuk tahu ajaran agama.
5. Faktor yang menghambat strategi pengelolaan kelas SMP Negeri 4 Batu:
Kurangnya dukungan orang tua tentang peningkatan kualitas agama
anak, sehingga dilakukan usaha pembiasaan diri beribadah di sekolah.
214
Siswa kurang percaya diri dalam mengekspresikan dirinya dikelas.
Kurangnya ruang dan media pembelajaran dalam mempraktikkan materi.
Musholla tidak cukup menampung siswa dalam melaksanakan kegiatan.
Siswa memiliki LKS, tidak semua siswa memiliki buku tunjangan PAI,
Kurang rasa semangat, dan tanggap siswa dalam belajar, mengikuti
pembelajaran PAI, dan mengerjakan tugas pelajaran agama Islam
Konsentrasi dan keaktifan siswa saat pembelajaran tidak stabil
B. SARAN
1. Strategi pengelolaan kelas dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada
mata pelajaran PAI yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Batu belum bisa
dikatakan baik dan maksimal, karena masih banyak kekurangan, baik dari
sarana maupun dari siswa sendiri. Oleh karena itu guru PAI dan Kepala
Sekolah serta guru lain sangat diperlukan dukungannya secara kompak,
khususnya dalam peningkatan prestasi belajar siswa dalam aspek
psikomotorik, dan afektif.
2. Dalam meningkatkan prestasi belajar PAI dengan mengelola kelas tidak
lepas dari faktor pendukung dan penghambat. Setiap program kerja,
disarankan agar setiap faktor pendukungnya dalam pelaksanaan
diikembangkan dengan maksimal, sehingga potensi pendukungnya muncul
untuk lebih baik. Sedangkan faktor penghambat yang ada disarankan
untuk dievaluasi dan dicarikan solusinya untuk meminimalisir kekurangan
yang ada.

215
DAFTAR PUSTAKA

Ametembun, N.A. 2004, Sistem Manajemen Kelas-Kelas Modern jilid II
Manajemen Perilaku Murid, Bandung: Suri.

Ametembun, N.A. 2004. Sistem Manajemen Kelas-Kleas Modern jilid III
Manajemen Strategi-Strategi Instruksional. Bandung: Suri

Arikunto, Suharsimi. 1992. Pengelolaan kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan
Evaluatif. Jakarta: Rajawali.

_______________,. 1993. Manajemen Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

_______________,. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.

_______________,. Suhadjono, dan Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Bumi Aksara.

Burhanuddinn dkk., 2003. Manajemen Pendidikan. Malang: Universitas Negeri
Malang.

DePorter, Bobbi. Mark Reardon dan Sarah Singer-Nourie. 1999. Quantum
Teaching-Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas.
Bandung: Kaifa.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya:
Usaha Nasional

___________________,. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.

E.Q., Nurwadjah Ahmad. 2007. Tafsir ayat-ayat pendidikan. Bandung: Marja.

Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar-
Strategi mewujudkan Pembelajaran Bermakna melalui Penanaman
Konsep Umum & Konsep Islam. Bandung: PT. Refika Aditama.

Hadi, Sutrisno. 1991. Metodologi Research Jilid II. Yogyakarta: Andi Offset.

Hasibuan, J.J. dkk. 1988. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya.

216
Karimah, Atiyatul. 2008. Skripsi: Hubungan antara Self Concept, Self Control,
dan Perilaku Seksual Pra-Nikah Siswa Kelas XI SMA N 4 Kediri. Malang:
Universitas Negeri Malang.

Khaeruddin dan Mahfud Junaedi. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan-
Konsep dan Implementasinya di Madrasah. Jogjakarta: Madrasah
Development Center (MDC) Jateng dan Pilar Media.

Majid, Abdul dan Dian Andayani. 2005. Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Meleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remeja
Rosdakarya.

Muhaimin. 2002. Paradigma Pendidikan Islam Upaya pengefektifan PAI di
Sekolah. Bandung: Rosdakarya.

________,. 2004. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: Rosdakarya.

________, Sutiah, dan Sugeng Listyo Prabowo. 2008. Pengembangan Model
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah & Madrasah.
Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Mulyasa, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Nawawi, Hadari. 1989.Organisasi Sekolah dan Pengelolaaan Kelas sebagai
Lembaga Pendidikan. Jakarta: Haji Masagung.

Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.

N., Sudirman. 1987. Ilmu Pendidikan-Kurikulum-Program Pengajaran-Efek
Instruksional dan Pengiring-CBSA-Metode Mengajar-Media Pendidikan-
Pengelolaan Kelas dan Evaluasi Hasil Belajar. Bandung: Remadja Karya.

Pidarta, Made. 1970. Pengelolaan Kelas. Surabaya: Usaha Nasional.

Rohani, Ahmad dan Abu Ahmadi. 1991. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.

Salim, Peter dan Yenniy Salim. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta:
Modern English Press.

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana.

217
Saroni, Muhammad. 2006. Manajemen Sekolah-Kiat menjadi Pendidik yang
Kompeten. Jogjakarta: Ar-Ruzz.
Setiawan, Cony. 1990. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: Gramedia.

Slameto. 1988.Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina
Aksara.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.

Sutiah. 2003. Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran. Malang: Universitas
Negeri Malang,

Sutrisno. 2006. Revolusi Pendidikan di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

Tafsir, Ahmad. Strategi Pendidikan Agama Islam di Sekolah.
http://www.ditpais.info.

Tholkhah, Imam. Strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran PAI. 25 Oktober 2007
http://www.ditpais.info. iqbalnurhadi.web.IdI Update: Wednesday, 13
February 2008.

Tohirin. 2006. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar
Mengaja yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Usman, Moh. Uzer. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja
Rosdakarya.













218
INSTRUMENT PENELITIAN


Rumusan Masalah I
Apa masalah-masalah pengelolaan kelas yang dihadapi guru Pendidikan Agama
Islam di SMP Negeri 4 Batu
Variabel Penelitian Sumber Data Metode Instrument

Masalah-masalah
pengelolaan kelas yang
dihadapi guru PAI
• Guru PAI • Wawancara • Pedoman
Wawancara

Rumusan Masalah II
Bagaimana strategi pelaksanaan pengelolaan kelas dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri
4 Batu.
Variabel Penelitian Sumber Data Metode Instrument

Strategi pelaksanaan
pengelolaan kelas
• Guru PAI





• Siswa






• Wawancara
• Dokumentasi


• Observasi

• Wawancara
• Observasi
• Dokumentasi


• Kuesioner

Pedoman wawancara
• Dokumen-dokumen
tentang kegiatan guru
dalam Pembelajaran
• Ceklis (terlampir)

• Pedoman wawancara
• Ceklis
• Foto dan dokumen
kegiatan yang
mendukung PAI
• Angket (Pedoman
kuesiner)
Peningkatan prestasi
belajar siswa dalam
PAI
• Guru PAI




• Siswa



• Wawancara
• Dokumentasi



• Observasi
• Wawancara
• Dokumentasi

• Observasi
• Pedoman wawancara
• Foto, data-data yang
mendukung penelitian
• Ceklis (terlampir)

• Pedoman wawancara
• Foto dan dokumen-
dokumen kegiatan yang
mendukung PAI
• Ceklis

219
Rumusan Masalah III
Bagaimana dampak strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu.
Variabel Penelitian Sumber Data Metode Instrument

Dampak strategi
pengelolaan kelas
• Guru PAI




• Siswa
• Wawancara
• Observasi
• Dokumentasi


• Observasi
• Kuesioner

• Pedoman wawancara
• Ceklis
• Dokumen tentang
evaluasi dan nilai
siswa/raport
• Ceklis
• Angket (Pedoman
kuesiner)

Rumusan Masalah IV
Apa faktor-faktor yang menghambat dan mendukung strategi pengelolaan kelas
dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa SMP Negeri 4 Batu
Variabel Penelitian Sumber Data Metode Instrument

Faktor penghambat
dan pendukung
peningkatan prestasi
belajar siswa
• Guru PAI




• Siswa
• Wawancara
• Observasi
• Dokumentasi


• Observasi
• Kuesioner

• Pedoman wawancara
• Ceklis
• Foto, data yang
mendukung
penelitian
• Ceklis
• Angket (Pedoman
kuesiner)









220
URAIAN INSTRUMENT

Rumusan Masalah I
Apa masalah-masalah pengelolaan kelas yang dihadapi guru Pendidikan Agama
Islam di SMP Negeri 4 Batu
Sumber Data: Guru PAI
Metode Penelitian: interview/wawancara
Instrumen: pedoman wawancara
Interview dengan Guru PAI SMP Negeri 4 Batu:
1. Masalah-masalah apa yang sering terjadi di kelas dan menggnggu proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam?
2. Bagaimana Bapak menyikapi dan mengatasimasala-masalah yang timbul?

Rumusan Masalah II
Bagaimana strategi pelaksanaan pengelolaan kelas dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri
4 Batu
A. Sumber Data: Guru PAI
a. Metode Penelitian : Interview/wawancara
Instrumen : pedoman wawancara
Interview dengan Guru PAI SMP Negeri 04 Batu:
1. Untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI, Bagaimana Bapak
menerapkan komponen strategi pembelajaran sebagai suatu rangkaian
proses pembelajaran?
2. Untuk membawa siswa kepada suasana proses pembelajaran,
bagaimana cara dalam melakukan apresiasi, agar Bapak mudah
diterima sebagai seorang guru dan di kelas?
3. Agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan, bagaimana
konsep atau dasar urutan penyampaian materi yang Bapak gunakan
dalam pembelajaran PAI? dan seberapa porsi (ruang lingkup) bahan
materi yang disampaikan?
221
4. Bagaimana metode/strategi penyampaian yang Bapak gunakan dalam
pembelajaran PAI? Bagaiamana metodenya bila materinya berbentuk
fakta (peristiwa), konsep (definisi atau menulis ciri khas), dan prinsip
(mengemukakan hubungan antar beberapa konsep)?
5. Bagaimana cara Bapak dan sekolah untuk melihat tipe belajar siswa,
sifat dan gaya belajar siswa yang berbeda-beda?
6. Bagaimana posisi tempat duduk dan metode mengajar kalau tipe atau
karakter belajar siswa itu sebagai individu yang visual, auditorial, atau
kinestik?
7. Agar siswa memperoleh makna yang lebih banyak dalam belajar,
bagaimana Bapak memanfaatkan kecerdasan yang dimiliki siswa
secara optimal?
8. Apa yang Bapak lakukan, apabila siswa lupa dan susah mengingat
suatu konsep (pengetahuan)? Dan Bagaiman cara Bapak meyakinkan
siswanya bahwa materi yang akan dipelajari itu mudah untuk dikuasai?
9. Kapan bapak mengadakan evaluasi atau tes untuk mengukur
penguasaan dan kemampuan siswa? Bagaimana cara bapak melakukan
penilaian mata pelajaran PAI?
10. Bagaimana hasil yang dicapai siswa setelah diadakan tes?Apakah
pernah terjadi ketidaksesuaian antara hasil tes dengan hasil tingkat
penguasaan (hasil tes bagus diatas rata-rata, tapi ternyata hanya
menguasai sebagian dirata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan)?
Apabila pernah, tindakan apa yang akan bapak lakukan?
11. Pernahkah timbul masalah-masalah yang dapat mengganggu kondisi
dan suasana kelas? Bagaimana usaha Bapak untuk mengantisipasi dan
meminimalisir timbulnya masalah tersebut, sehingga kondisi kelas
tetap kodusif, optimal dan menyenangkan?
12. Apa yang bapak ketahui tentang strategi pengelolaan kelas? sudahkah
Bapak melaksanakan strategi pengelolaan kelas?
13. Apa yang bapak siapkan untuk melakukan tindakan perencanaan
dalam mengelola kelas?
222
14. Bagaimana menciptakan kerjasama antar personal untuk mencapai
suatu tujuan yang diharapkan? Bagaimanakah caranya agar rencana
dan program itu tidak menyimpang dari rel yang sudah direncanakan
sebelumnya?
15. Bagaimana bentuk pembinaan personal kelas tentang tempat duduk
murid, besar kecilnya badan, kesehatan mata dan pendengaran murid,
jenis kelamin dan persahabatan antar murid, dan pengelompokan
dalam kelompok belajar?
16. Bagaimana cara Bapak melakukan usaha menggerakkan, memotvasi,
menyatukan pikiran dan tingkah laku murid-murid dan guru-guru agar
terarah pada tujuan yang terdapat di dalam program kelas.?
17. Dalam menciptakan dan memelihara kondisi belajar agar tetap kodusif
dan optimal, keterampilan apa yang Bapak siapkan dalam mengelola
kelas ?
18. Bagaimana cara Bapak menunjukkan sikap rasa persahabatan,
membagi perhatian dan kesan ketanggapan kepada siswa?
19. Bagaimana cara Bapak agar siswa memiliki rasa tanggung jawab
terhadap tugas-tugas yang diberikan?
20. Dilihat dari pengelolaan kelas secara fisik, bagaimana pengaturan dan
keadaan ruang kelas dan sekitarnya agar bisa memberikan kesan dan
pesan yang inspiratif?
21. Menurut Bapak apa fungsi dan manfaat dari adanya rak buku kelas,
musik dan hiasan dinding yang dipajang?
22. Pernahkah Bapak mengadakan pembelajaran diluar kelas atau bukan
pada kelas yang biasanya? Jika pernah kapan, dimana dan apa tujuan
Bapak mengadakan pembelajaran ?
23. Bagaimana bentuk formasi bangku yang digunakan di kelas? Kapan
dan mengapa Bapak mengubah formasi bangku yang bervariasi itu?
24. Pendekatan apa saja yang cocok, agar siswa menaati peraturan di
dalam kelas dengan tanpa merasa terkekang? Kapan Bapak
menggunakan Pendekatan-pendekatan tersebut?
223
25. Bagaimana cara Bapak mengontrol tingkah laku siswa?
26. Bagaimana cara Bapak mengembangkan tingkah laku siswa yang baik
dan mencegah tingkah laku yang kurang baik ?
27. Bagaimana Bapak menciptakan suasana hati dan perasaan yang baik
bagi siswa dalam proses belajar mengajar ?
28. Bagaimana Bapak menciptakan dan membina hubungan yang positif
antara guru dengan siswa dan antar siswa dengan siswa?
29. Apabila tetap saja timbul masalah-masalah dari siswa yang
mengganggu suasana kelangsungan proses pembelajaran, Bagaimana
tindakan (perbaikan) bapak untuk membuat suasana kelas menjadi
kondusif kembali?
b. Metode penelitian : Dokumentasi
Instrumen : Dokumen-dokumen tentang pembelajaran atau kegiatan guru
(RPP, Silabus, Prota, Promes, jadwal kegiatan dan mengajar, kalender
pendidikan, nilai siswa/raport)
c. Metode penelitian : Observasi
Instrumen : ceklis (terlampir)
B. Sumber data: Siswa
a. Metode Penelitian : Interview/wawancara
Instrumen : Pedoman wawancara
Interview dengan Siswa SMP Negeri 04 Batu:
1. Bagaimana menurut Anda, mengenai guru PAI yang mengajar disini,
yaitu dalam hal:
- Kesiapan dalam mengajar - Penggunaan media belajar
- Rajinnya mengajar - Pemberian tugas
- Tepat waktu - Ulangan blok
- Memberikan penjelasan,
2. Apakah Guru PAI selalu perhatian terhadap siswa-siswinya?
3. Menurut anda, apakah materi yang diberikan guru PAI disampaikan
secara sistematis?
4. Apakah anda dapat memahami materi yang telah disampaikan?
224
5. Apakah anda berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran PAI?
Bagaimana cara anda berpartisipasi?
6. Pernahkah guru PAI Anda menggunakan metode pembelajaran yang
bervariasi atau berganti-ganti dalam setiap kegiatan pembelajaran?
7. Bagaimana suasana dan kondisi kelas saat pembelajaran PAI
berlangsung?
8. Apakah anda senang mengikuti proses pembelajaran PAI? Mengapa?
9. Apabila Anda merasa bosan mengikuti pembelajaran PAI, sejauh yang
anda ketahui, apa yang dilakukan bapak guru?
10. Apa pendapat Anda tentang halaman sekolah, pajangan gambar-
gambar, dan rak buku yang ada dan dirancang sedemikian rupa ini,?
Menurut Anda, pesan kesan apa yang terkandung didalamnya?
11. Hal-hal apa yang pernah mengganggu, ketika proses pembelajaran PAI
berlangsung?
12. Sejauh yang anda ketahui, bagaimana tindakan guru untuk mengatasi
gangguan tersebut?
13. Bagaimana pengetahuan/materi tentang agama Islam yang selama ini
Anda pelajari SMP Negeri 04 Batu? Apakah Anda berusaha
mempraktekkan materi yang telah anda dapatkan disekolah? Dan
seberapa pentingnya kebutuhan anda terhadap materi pelajaran PAI?
14. Bagaimana prestasi Anda yang dicapai dari pelajaran PAI?
b. Metode Penelitian : Dokumentasi
Instrumen : foto dan dokumen kegiatan siswa yang mendukung dan
berkaitan dengan PAI
c. Metode penelitian : Observasi
Instrumen : ceklis (terlampir)

Rumusan Masalah III
Bagaimana dampak strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu.

225
A. Sumber Data: Guru PAI
a. Metode Penelitian : Interview/wawancara
Instrumen : pedoman wawancara
Interview dengan Guru PAI SMP Negeri 04 Batu:
1. Apakah strategi pengelolaan kelas ini akan memberikan dampak
terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dalam PAI, baik prestasi
dalam aspek kognitif, psikomotorik maupun afektif.?
2. Usaha apa yang dilakukan Bapak agar siawa bisa mencapai tiga aspek
prestasi itu?
b. Metode penelitian : Dokumentasi
Instrumen : foto dan dokumen penting yang mendukung penelitian
c. Metode penelitian : Observasi
Instrumen : ceklis (terlampir)
B. Sumber Data: Siswa
a. Metode Penelitian : observasi
Instrumen : ceklis (terlampir)

Rumusan Masalah IV
Apa faktor-faktor yang menghambat dan mendukung strategi pengelolaan kelas
dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa SMP Negeri 4 Batu.
A. Sumber Data : Guru PAI
a. Metode Penelitian : Interview/wawancara
Instrumen : pedoman wawancara
Interview dengan Guru PAI SMP Negeri 04 Batu:
1. Dalam meningkatkan prestasi belajar siswa faktor-faktor apa yang
mendukung pembelajaran PAI dalam pelaksanaan strategi pengelolaan
kelas.
2. Selanjutnya, faktor-faktor apa saja yang menghambat pembelajaran
PAI dalam pelaksanaan strategi pengelolaan kelas.?
3. Bagaimana Bapak mengatasi hambatan-hambatan tersebut?
226
4. Bagaimana kondisi dan suasana kelas dalam pembelajaran PAI setelah
diterapkan strategi pengelolaan kelas?
5. Bagaimana prestasi belajar PAI siswa pada saat ini setelah strategi
pengelolaan kelas dilakukan?
b. Metode Penelitian : Dokumentasi
Instrument: foto dan dokumen penting yang mendukung penelitian
c. Metode penelitian : observasi
Instrument: ceklis (terlampir)

PEDOMAN KUESIONER
Sumber Data : beberapa siswa
Keterangan: - Metode Penelitian : Kuesioner
- Instrument : Daftar angket
- Petunjuk Pengisian : Isilah identitas anda secara lengkap dan
jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jujur dan berilah tanda
silang (X) pada salah satu jawaban yang paling sesuai dengan
keadaan yang ada

Identitas Siswa
Nama: Kelas :

Rumusan masalah II
Bagaimana strategi pelaksanaan pengelolaan kelas dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dalam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP
Negeri 4 Batu
1. Apakah anda merasa senang dan semangat mengikuti pelajaran Pendidikan
Agama Islam?
a. Ya, selalu b. Kadang-kadang c. Tidak pernah semangat
2. Bagaimana suasana/kondisi kelas anda pada waktu Bapak / Ibu guru sedang
menjelaskan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam ?
a. tenang b. Tidak pasti (berisik) c. Ramai
227
3. Apakah Anda selalu berpartisipasi aktif dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam?
a. Ya, selalu b. Kadang-kadang c. Tidak pernah
4. Apabila Guru Pendidikan Agama Islam sedang menjelaskan materi
pelajaran, kemudian ada teman anda yang membuat onar, sehingga
mengganggu kondisi pembelajaran PAI, apa yang dilakukan oleh guru
anda?
a. Memberikan teguran b. Membiarkan saja c. Mengeluarkan dari kelas
5. Apa yang dilakukan Bapak / Ibu Guru, jika Anda tidak mengerjakan tugas
rumah (PR) yang diberikan ?
a. Memberi hukuman b. Mengerjakan diluar c. Membiarkan
6. Ketika dibentuk kelompok belajar dalam kelas pada saat mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam, apakah telah tercipta suasana kerjasama dalam
kelompok belajar anda ?
a. Ya, sudah tercipta b. Belum tercipta c. Tidak tercipta
7. Sejauh yang Anda ketahui, pernahkah guru Pendidikan Agama Islam
berbicara/bertukar pendapat terhadap permasalahan siswa?
a. Ya, pernah b. Kadang-kadang c. Tidak pernah
8. Apakah anda sudah terjalin persahabatan dan keakraban dengan teman yang
lain?
a. ya, sudah b. Kadang-kadang c. Tidak pernah (sering bermasalah)

Rumusan Masalah III
Bagaimana dampak strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu.
9. Apakah anda senang dan semangat, dalam mengikuti kegiatan keagamaan
yang diprogramkan oleh sekolah?
a. selalu semangat b. Biasa saja (sedang) c. Tidak semangat


228
10. Selama anda belajar Pendidikan Agama Islam, apakah pengetahuan
tentang ajaran Agama Islam anda semakin bertambah dan tekun
melaksanakannya ?
a. Semakin bertambah b. Sedikit bertambah c. Tidak bertambah
11. Apakah anda bisa mempraktekkan atau melakukan hal-hal yang telah
dipelajari dari ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari?
a. ya, selalu b. Kadang-kadang c. Tidak pernah
12. Apakah terdapat pemberian jam belajar tambahan pelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk remedial bagi siswa yang belum mencapai berprestasi ?
a. ya, selalu ada b. Kadang-kadang c. Tidak pernah ada
Rumusan Masalah IV
Apa faktor-faktor yang menghambat dan mendukung strategi pengelolaan kelas
dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa SMP Negeri 04 Batu
13. Menurut Anda, Bagaimana sarana dan prasarana belajar di sekolah ?
a. Baik b. Cukup Baik c. Kurang Baik
14. Ketika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung, apakah Anda
bisa konsentrasi untuk mengikutinya?
a. sangat bisa b. Kadang-kadang c. Tidak bisa konsentarasi
15. Pernahkah Anda mempunyai harapan dan cita-cita untuk ingin memiliki
pengetahuan agama yang tinggi?
a. Selalu pernah b. Kadang-kadang c. Tidak pernah







229
DAFTAR CEKLIS
R u m u s a n M a s a l a h I I
Bagaimana strategi pelaksanaan pengelolaan kelas dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri
4 Batu?
A. Sumber Data: Guru PAI
Pertimbangan No. Aspek yang dinilai
Ya tidak
1. Adanya perangkat pembelajaran (kalender pendidikan, prota, promes,
pemetaan, silabus, RPP)



2. Terdapat jurnal, mengajar, bahan/materi ajar, sumber belajar, metode
pengajaran, evaluasi (penilaian hasil belajar)



3. Guru melakukan appersepsi Dengan tanya jawab dan ceramah dengan mengaitkan materi
dengan peristiwa yang sering terjadi dalam kehidupan siswa
4. Guru memberikan penguatan positif disaat siswa berprilaku baik


5. Guru memberikan penguatan negatif disaat siswa berprilaku salah



Guru menegur siswa dan memberikan hal yang sebenarnya, secara
tidak langsung guru memberikan penguatan positif ketika siswa
menghentikan kesalahannya
6. Guru tanggap terhadap aktifitas, perhatian, ketidakacuhan, keterlibatan
siswa dalam tugas-tugas


Pandangan guru di kelas tidak pada satu titik, akan tetapi guru
memperhatikan semua siswa atau dengan mendekati siswa
7. Adanya keakraban antara guru dengan siswa Di kelas maupun luar kelas
8. Adanya keteladanan guru sebagai pendidik Tetapi kurang dukungan dari guru
9. Guru memberikan tanggapan terhadap pertanyaan siswa
10 Guru mengatasi gangguan yang timbul dan mampu mengembalikan
kondisi pembelajaran yang kondusif




Pengamatan Keadaan Fasilitas Fisik Kelas di SMP Negeri 04 Batu
Pertimbangan No.

Aspek yang dinilai Jenis jawaban
ya tidak
1. Papan tulis a. Kesesuaian ukuran dengan kelas
b. warna cat, letak, sesuai persyaratan dan layak pakai
c. dilengkapi dengan tempat kapur




2. Meja dan kursi
guru
a. ukuran dan tempatnya memadai bagi guru
b. dilengkapi dengan laci



3. Tempat duduk
siswa
a. meja terpisah dari tempat duduknya

b. jumlah tempat duduk dan meja sesuai jumlah siswanya
c. ada tempat menyimpan alat-alat pelajaran
d. tempat duduk layak pakai dan tertata rapih
e. pengaturan memungkinkan siswa bergerak leluasa
f. pengaturannya dapat dengan mudah melihat papan tulis










4. Ventilasi a. ventilasi sesuai dengan ruangan cahaya.
b. cahaya masuk dari arah kiri,
c. cahaya tidak berlawanan dengan bagian depan





230
5 Rak buku a. ada dan tidaknya rak buku
b. ukuran rak buku serasi dengan ukuran kelas
c. diatur dengan rapih
d. difungsikan oleh siswa




6. Almari a. ada dan tidaknya almari
b. ukuran almari serasi dengan ukuran ruangan
c. digunakan hanya untuk kelas itu saja
d. dapat digunakan penyimpanan dengan aman





7 Papan presensi a. ada papan absen siswa
b. kelengkapan isian/jenis yang diisikan memadi
c. diisi sesuai ketentuan





8. Papan
pengumuman kelas
a. ada papan pengumuman kelas
b. diisi sesuai dengan keperluan




9 Struktur organisasi
kelas
a. Ketua dan wakil ketua
b. Sekretaris
c. Bendahara




10 Lingkungan belajar a. terorganisasi dengan baik
b. taman yang indah
c. nyaman dan menyenangkan




11 Fasilitas ibadah a. musholla bersih dan tenang
b. perangkat sholat dan jamaah jum’at
c. kamar mandi dan tempat wudhu





B. Sumber Data : Siswa

Rumusan Masalah III
Bagaimana dampak strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Batu.
A. Sumber Data : Guru PAI
Pertimbangan No. Aspek yang dinilai
Ya Tidak
1. Suasana dan kondisi kelas sejuk dan bersih
2. Siswa bisa disiplin dan tertib dalam kelas Meskipun ada sedikit gangguan dari siswa
3. Siswa belajar dengan santai dan aktif Tetapi yang aktif hanya siswa yang itu saja
4. Terdapat buku tunjangan PAI oleh siswa Tidak semua siswa punya buku tunjangan PAI, siswa hanya memili LKS
5. Siswa pernah belajar di tempat selain kelas Di taman, ruang multimedia, dan musholla
Pertimbangan No. Aspek yang dinilai
Ya Tidak
1. Pembelajaran diadakan dengan interaktif, dan
menyenangkan



2. Adanya keteladanan dari guru Namun kurang dukungan dari guru-guru yang lain, seperti kedisiplinan dalam sholat
berjama’ah
3. Guru memberikan penjelasan materi dengan baik
sehingga siswa faham

4. Penilaian dilakukan melalui tes
a. lisan,
b. tulis,
c. praktek





Tanya jawab, keaktifan

Hafalan, latihan menulis dan membaca dan lain
231
B. Sumber Data : Siswa

Rumusan Masalah IV
Apa faktor-faktor yang menghambat dan mendukung strategi pengelolaan kelas
dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa SMP Negeri 4 Batu
Sumber Data : Guru, Siswa, dan lingkungan Sekolah
d. observasi Salah satunya kerajinan
5. Guru mampu menilai prestasi siswa (kognitif,
psikomotorik, dan afektif)



6. Adanya standar nilai/KKM pelajaran PAI Nilai KKM 70
7. Adanya daftar nilai per KD
8. Nilai siswa mencapai standar Hampir semua mencapai standar KKM, hanya sedikit sekali siswa yang belum mencapai
standar
9. Terdapat remidial bagi siswa yang belum mencapai
nilai sesuai KKM

Pertimbangan No. Aspek yang dinilai
Ya Tidak
1. Mengikuti remidial bagi siswa yang nilainya
belum mencapai standar nillai/KKM


Hanya sedikit sekali siawa yang remidi
2. Seluruh siswa mengikuti kegiatan wajib sholat
dhuhur


dilakukan pengabsenan
3. Siswa mengikuti sholat jamaah jum’at dilakukan pengabsenan
4. Siswa mengikuti kegiatan wajib baca tulis al-
Qur’an
dilakukan pengabsenan
Pertimbangan No. Aspek yang diamati
Ya Tidak
1. Faktor pendukung :
1. Penerapan tata tertib sekolah


2. Visi, misi sekolah, dan tujuan pembelajaran PAI


3. Strategi/metode pembelajaran yang digunakan guru
PAI



Sarana dan prasarana yang disediakan sekolah


Kurikulum

Sikap guru dengan siswa dan antar siswa






















Banyak membantu guru dalam mendisiplinkan siswa terut
berada disekolah dan dikelas

Karena mepunyai dasar akhlaq dan ketaqwaan yang merupakan dukungan berarti
terhadap strategi pengelolaan kelas

Dengan learning comunity, tanya jawab interaktif dan ceramah. Disamping itu
adanya program atau metode pembiasaan ibadah di sekolah sangat membantu
pencapaian prestasi belajar siswa.

Termasuk musholla, ruangan multimedia, ruang komputer dan internet tela
membantu siswa dan guru dalam mengadakan pembelajaran yang bervariatif dan
praktik ibadah.

Program keagamaan yang telah direncanakan kurikulum membantu siswa untuk
terbiasa mempraktikkan dan mengaplikasikan materi yang telah dipelajari.
Adanya kehangatan dan keakraban di kelas dalam proses pembelajaran dan di
lingkungan sekolah
2. Faktor penghambat :
1. Musholla yang memadai





Tidak cukup menampung semua siswa,
232



















2. Ruang dan media pembelajaran PAI

3. Semangat siswa

4. Konsentrasi

5. keaktifan

6. Adanya buku tunjangan PAI

7. Siswa percaya diri saat mengungkapkan jawaban
pada proses pembelajaran

8. tipe mengajar otoriter































serempak, sehingga guru perlu mengatur jadwal kegiatan secara bergiliran

Dalam mempraktikkan materi agama, khususnya materi fiqih

Tetapi semangat siswa kurang maksimal

Tidak pasti kadang-kadang

Tetapi tidak pasti, hanya siswa tertentu saja yang aktif

Siswa hanya memiliki LKS, tidak semua siswa memiliki buku tunjangan PAI

Tetapi siswa tertentu yang demikian, sedangkan yang lain masih kaku untuk
mengungkapkannya

Guru demokratis saat mengambil suatu keputusan di kelas dan terkontrol
233
JADWAL MATA PELAJARAN
SEMESTER GANJIL (1) TAHLN PELAJARAN 2008·2009
SMP NEGERI 4 BATL

HARI SENIN SELASA RABU KAMIS JUMAT
KELAS VII A B C D E A B C D E A B C D E A B C D E A B C D E
07.40 UPACARA
4
H
24
L
37
J
39
K
1
F
7
M
5
C
26
D
21
F
39
K
5
C
21
F
19
G
26
D
1
F
39
K
08.20
19
G
20
N
24
A
21
F
1
N
4
H
24
L
37
J
39
K
1
F
7
M
5
C
26
D
21
F
39
K
5
C
21
F
19
G
26
D
1
F
Jumat Bersih &
Senam Pagi
39
09.00
19
G
37
J
24
A
21
F
3
C
24
L
39
K
26
D
37
J
14
E
5
C
7 I
21
F
24
L
6
B
21
F
19
G
39
K
12
G
26
D
24
A
5
C
7 I
19
M
27
A
26
09.40
20
N
37
J
21
F
7 I
3
C
24
L
39
K
26
D
37
J
14
E
5
C
7 I
21
F
24
L
6
B
21
F
19
G
39
K
12
G
26
D
24
A
5
C
7 I
19
M
27
A
26
10.10 I S T I R A H A T
10.50
37
J
14
E
20
N
7 I
12
G
7 I
21
F
6
B
14
E
26
D
14
E
26
D
4
H
39
C
3
C
19
G
26
D
25
C
39
C
12
G
14
E
7
M
25
C
27
A
19
M
11.30
37
J
14
E
21
F
20
N
12
G
7 I
21
F
6
B
14
E
26
D
14
E
26
D
4
H
39
C
3
C
19
G
26
D
25
C
39
C
12
G
14
E
7
M
25
C
27
A
19
M
12.10
6
B
19
G
14
E
12
G
24
L
21
F
14
E
19
G
26
D
7 I
26
D
6
B
24
L
4
H
14
E

12.50
6
B
19
G
14
E
12
G
24
L
21
F
14
E
19
G
26
D
7 I
26
D
6
B
24
L
4
H
14
E

PENGAYAAN
MTK / SENI BUDAYA BIG / KETRAMPILAN B. INDONESIA / PKn IPA / LH P. AGAMA

HARI SENIN SELASA RABU KAMIS JUMAT
KELAS VIII A B C D E A B C D E A B C D E A B C D E A B C D E
07.40 UPACARA
29
C
28
B
17
F
8
D
27
J
13
E
17
F
15
K
8
D
25
C
27
A
10
G
29
C
30
L
25
C
31
D
08.20
17
F
4 I
13
E
9
F
2
N
29
C
28
B
17
F
8
D
27
J
13
E
17
F
15
K
8
D
25
C
27
A
10
G
29
C
30
L
25
C
Jumat Bersih &
Senam Pagi
31
09.00
17
F
4 I
13
E
9
F
30
L
3
H
10
G
18
A
27
J
4 I
17
F
31
D
13
E
25
C
8
D
29
C
17
F
9M
15
K
10
G
37
J
13
E
10
G
4 I
28
B
10
09.40
27
L
18
A
10
G
2
N
30
L
3
H
10
G
18
A
27
J
4 I
17
F
31
D
13
E
25
C
8
D
29
C
17
F
9
M
15
K
10
G
37
J
13
E
10
G
4 I
28
B
10
10.10 I S T I R A H A T
10.50
27
L
18
A
10
G
13
E
3
H
28
B
9
M
3
H
13
E
10
G
15
K
29
C
31
D
9
F
13
E
10
G
29
C
17
F
9M
15
K
4 I
37
J
28
B
18
A
9
M
11.30
2
N
27
L
4 I
13
E
3
H
28
B
9
M
3
H
13
E
10
G
15
K
29
C
31
D
9
F
13
E
10
G
29
C
17
F
9
M
15
K
4 I
37
J
28
B
18
A
9
M
12.10
13
E
20
N
4 I
10
G
9
F
9
M
3
H
31
D
25
C
13
E
31
D
15
K
29
C
28
B
9
F

12.50
13
E
27
L
20
N
10
G
9
F
9
M
3
H
31
D
25
C
13
E
31
D
15
K
29
C
28
B
9
F

PENGAYAAN
IPA / TIK PKn / BIG BIN / SENI BUDAYA IPS / LH P. AGAMA

HARI SENIN SELASA RABU KAMIS JUMAT
KELAS IX A B C D A B C D A B C D A B C D A B C D
234
07.40 UPACARA
15
E
18
A
12
G
2
N

28
J
22
L
16
E
24
A

12
G
15
E
28
J
31
D

5
C
08.20
12
G
8
D
18
A
16
E

15
E
18
A
12
G
31
D

28
J
22
L
16
E
24
A

12
G
15
E
28
J
31
D

Jumat Bersih &
Senam Pagi
09.00
12
G
8
D
18
A
16
E

2
N
12
G
16
E
31
D

3
H
28
J
22
C
16
E

5
C
11
F
22
C
28
J

15
E
12
G
3
H
17
M

19
M
09.40
15
E
8
D
31
D
16
E

8
D
12
G
16
E
31
D

3
H
28
J
22
C
16
E

5
C
11
F
22
C
28
J

15
E
12
G
3
H
17
M

19
M
10.10 I S T I R A H A T
10.50
11
F
5
C
31
D
6
B

8
D
11
F
16
E
12
G

8
D
5
C
17
M
11
F

11
F
8
D
31
D
22
C

16
K
15
E
22
L
3
H

11.30
11
F
5
C
31
D
6
B

8
D
11
F
2
N
12
G

8
D
5
C
17
M
11
F

11
F
8
D
31
D
22
C

16
K
15
E
22
L
3
H

12.10
22
L
2
N
16
K
11
F

18
A
6
B
11
F
16
K

6
B
3
H
11
F
22
C

12.50
22
L
15
E
16
K
11
F

18
A
6
B
11
F
16
K

6
B
3
H
11
F
22
C

PENGAYAAN
PKn / LH IPS / MTK IPA / TIK BIG / SENI BUDAYA P. AGAMA

: Batu, 15 Juli 2008
*. Pendalaman Mata Pelajaran Kelas IX (hari Sabtu) di atur kemudian Fungsi Kurikulum
Jadwal boleh disesuaikan, tapi ingat penyusunan jadwal rumit sekali. Oleh karena itu
hasil pemikiran sampaikan/koordinasikan dengan kurikulum (terakhir hari jumat, 18 Juli 2008
*. Kode guru sama dengan nomor urut di Pembagian Tugas Guru Ttd.
Kode Mata Pelajaran:
L ~ Matematika I = Ketrampilan M ~ Ll
l ~ IPA J ~ PLNJASORKLS N ~ BK
Indonesia G~ IPS K ~ 1IK Ahmad Khoifin, S.Pd
~ Bahasa inggris l ~ Seni Budaya L ~ B. Jawa NIP 132220595


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->