P. 1
Sumatera

Sumatera

|Views: 49|Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Jun 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2012

pdf

text

original

Sejarah Singkat Sumatera

Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di dunia. Tetapi Sumatera menjadi pulau kurang dari 7000 tahun yang lalu ketika permukaan air laut naik mencapai tingkat seperti sekarang ini sebagai akibat mencairnya tudung es kutub pada periode gletser yang terakhir. Sebelum ini, ketika permukaan air laut lebih rendah, Sumatera membentuk pinggiran di sebelah barat dari apa yang dinamakan Sundaland (seluruh Indonesia bagian barat dan Malaysia) dan oleh karenanya menjadi satu dengan benua Asia. Selain spesies endemiknya, sebagian flora dan fauna Sumatera sama dengan yang di Asia. Yang paling menonjol dalam hal ini adalah beberapa mamalia besar seperti gajah dan harimau yang sekarang sangat terancam, dan Sumatera merupakan salah satu tempat kehidupan mereka yang terakhir. Keberadaan mereka terancam oleh keberadaan manusia. Sebagaimana adanya bukti di Jawa, orang primitif (Homo erectus) sudah ada di Sundaland lebih dari 1 juta tahun yang lalu meskipun belum diketemukan peninggalannya di Sumatera. Peninggalan orang moderen (Homo sapiens) pada jaman dahulu, seperti terdapat di Gua Niah di Borneo dimana peninggalan-peninggalan telah berumur 60 ribu tahunan, juga belum ditemukan di Sumatera. Tempat tinggal manusia yang telah ditemukan baru sejak 10 ribu tahun yang lalu. Diantaranya yang terpenting adalah Gua Tiangko Panjang di Jambi. Masyarakat pemburu dan pengumpul hasil alam yang pada waktu itu tinggal di Sumatera mungkin juga ada kaitannya dengan orang Negrito yang sekarang masih ditemukan di Semenanjung Melayu, Filipina dan pulau-pulau Andaman di sebelah utara Sumatera. Orang Sumatera yang ada sekarang ini merupakan pendatang yang relatif baru. Nenek moyang mereka telah tiba di sini kira-kira 4000 tahun lalu, dan mengasimilasikan atau menghapuskan penduduk sebelumnya. Seperti kebanyakan orang Indonesia (kecuali orang Papua, Timor, dan beberapa bagian kepulauan Maluku), mereka termasuk dalam keluarga berbahasa Austronesian. Menurut bukti linguistik dan arkeologi mutakhir, orang Austronesia berasal dari Cina selatan kira-kira 6000 tahun lalu dan secara bertahap bergerak ke selatan masuk ke Indonesia via Taiwan dan Filipina. Diantara mereka yang menduduki Indonesia bagian barat berhasil mencapai Madagaskar. Yang lainnya menuju ke timur dan dengan perahu berhasil mendiami pulau-pulau di hampir seluruh Lautan Pasifik. Orang Austronesia datang dengan membawa pertanian dan dengan demikian berpotensi besar untuk meningkatkan populasi mereka. Tentu saja ini menjadi faktor yang mempengaruhi migrasi secara besar-besaran dan watak mereka yang suka berperang. Tidak banyak diketahui tentang bagaimana terjadinya banyak perbedaan budaya di Sumatera. Sejauh mana perbedaan budaya itu menggambarkan perbedaan kelompok kelompok migran yang datang dalam pra sejarah, atau muncul sebagai akibat dari adanya faktor sejarah lokal dan adaptasi lingkungan. Namun demikian, sama menariknya dengan perbedaan itu adalah keseragaman budaya yang banyak mencirikan Sumatera, terutama pada kawasan pesisir dan sekitarnya. Letak Sumatera yang berdekatan dengan Selat Malaka, yang kira-kira 1500 tahun lalu menjadi jalur perdagangan penting antara Timur dan Barat, jelas mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan di Sumatera. Suku-suku kecil di sekitar pesisir yang menguasai akses masuk ke pulau lewat sungai terlibat dalam perdagangan yang menggunakan sarana laut

dengan memanfaatkan produk yang dihasilkan dari daerah di hulu. Model kerajaan serta agama menambah kebesaran rohani dan martabat keduniawian terutama diimpor dari India sebagai budaya yang membungkus sistem politik dan agama asli. Bahasa yang digunakan di sekitar Selat Malaka menjadi bahasa pergaulan atau bahasa perdagangan bagi seluruh daerah dan juga bahasa kerajaan-kerajaan di pesisir. Bahasa ini terkenal dengan sebutan bahasa Melayu. Datangnya pedagang dan penakluk dari Eropah di kawasan itu, yang pertama kali bangsa Potugis pada awal abad ke16, kemudian Belanda dan akhirnya Inggris, menambah volume perdagangan terutama tanaman rempah-rempah dan hasil hutan. Lada ditanam secara luas di Sumatera sejak abad ke 17. Baru pada abad ke 19 pendudukan dan kekuasaan kolonial menjadi luas. Dan baru pada permulaan abad ke 20 Belanda dapat menguasai seluruh Sumatera. Kekuasaan kolonial yang dikonsolidasikan ini berlangsung kurang dari 40 tahun sebelum Belanda diusir keluar oleh Jepang yang kemudian juga dipaksa mundur tiga tahun kemudian. Usaha Belanda untuk menduduki kembali daerah jajahan selanjutnya dikalahkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Meskipun waktunya singkat, kekuasaan kolonial benar-benar telah meletakkan suatu dasar penting bagi pembangunan khususnya melalui pembangunan infrastruktur perhubungan, terutama jalan, dan sistem pemerintahan kesatuan yang menggantikan kerajaan-kerajaan kecil dan struktur adat yang terpisah-pisah. Untuk sebagaian besar, bentuk kerajaan dan organisasi adat yang bermacam-macam itu memang dipertahankan untuk memudahkan pelaksanaan pemerintahan tingkat lokal. Meskipun ekonomi perkebunan dikembangkan di beberapa kawasan, terutama di Sumatera Utara, pola dominan sebagai penghasil tanaman komersial terus dilakukan oleh petani kecil. Karet merupakan hasil terpenting dari semua ini dan dipadukan secara lihai ke dalam pola lama ladang berpindah dan pengumpulan hasil hutan. Pola ini terus berlangsung lama setelah kemerdekaan. Pada kenyataannya, hanya pada jaman Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto benar-benar telah berlangsung suatu revolusi dalam hal pemanfaatan dan pendistribusian sumber daya juga penguasaan politis terhadap sumber daya ini. Hutan-hutan sekarang ditebang secara besar-besaran untuk tujuan komersial, kawasan-kawasan hutan sangat luas dibuka untuk perkebunan dan pemukiman transmigrasi yang disponsori oleh pemerintah. Hutan-hutan ulayat diambil alih dari masyarakat lokal kepada pemerintah dan kemudian dibagi-bagikan kembali kepada para elit yang mempunyai hubungan dekat. Pemerintahan masyarakat lokal yang didasarkan pada hukum tradisional dan struktur politik digantikan dengan suatu pemerintahan desa yang bentuknya seragam secara nasional. Bentuk pemerintahan desa ini tidak mengakui hak-hak adat atas tanah dan sumber daya dan lebih bersifat mengatur dari atas. Kesemuanya ini dicapai dengan suatu tatanan kekuatan perpaduan antara sipil dan militer yang dapat menekan rasa ketidak puasan dan perlawanan. Sebagai satu konsekwensi dari pengambilalihan dari hak-hak atas tanah dan sumber daya adalah terjadinya degradasi dan kerusakan lingkungan berskala luar biasa. Penduduk lokal telah dipaksa untuk menanggung biaya-biaya eksternal yang diakibatkannya meskipun keuntungan yang mereka dapatkan relatif sedikit. Proses kerusakan lingkungan terus berlangsung dan bahkan berlangsung cepat ketika masyarakat lokal dengan tanpa rasa takut ikut serta dalam penjarahan terhadap apa saja yang tersisa dari hutan untuk mendapatkan sesuatu yang dulunya menjadi hak mereka sebelum semuanya habis. Peralatan yang merusak, terutama chainsaw, harganya sangat murah dibandingkan kapasitas peralatan itu. Dan dari pada tidak mendapat bagian, banyak perusahaan kayu bersedia mengusahakan peralatan berat

seperti buldoser dan truk kepada masyarakat lokal. Usaha ini sering diatur dalam koperasikoperasi semu dalam bentuk usaha bersama yang nampaknya mempunyai kekebalan terhadap hukum. Situasi diperburuk berkat adanya beberapa perusahaan kertas terbesar dunia yang tidak cukup mempunyai pasokan kayu. Teknologi yang digunakannya dapat memanfaatkan hampir semua jenis kayu. Dengan demikian Sumatera ditakdirkan pada waktu sangat dekat ini kehilangan semua sisa hutan-hutannya yang dapat diakses. Yang masih dipertanyalam adalah apakah beberapa taman nasional dan kawasan konservasi lainnya akan terhindar dari ancaman itu. Jika tidak, akan seperti apa Sumatera pada millenium baru ini? Dengan pasti akan tidak ada mamalia besar kecuali manusia itu sendiri karena habitat tidak lagi mendukung kehidupan mereka. Pada kenyataannya, sebagian besar tumbuhan dan binatang pada akhirnya akan hilang jika kecenderungan seperti sekarang ini terus berlangsung. Tumbuhan dan binatang dan ekosistemnya dulunya merupakan bagian dari salah satu pusat terpenting keragaman hayati di dunia. Perubahan ini begitu fundamental sehingga tidak hanya merupakan bagian akhir dari suatu jaman, tetapi juga akhir dari dunia yang diketahui orang Sumatera selama ini. (Oyvind Sandbukt)

Refleksi Terhadap Sumatera (1983 - 2000)
Buku The Ecology of Sumatra dan Ekologi Ekosistem Sumatera terbit pertama kali tahun 1984. Penulis buku tersebut, selain saya (ketika bekerja di Pusat Studi Lingkungan USU) juga Jazanul Anwar, Sengli Damanik serta Nazaruddin Hisyam (kesemuanya dari Universitas Sumatera Utara _ USU). Edisi baru dalam bahasa Inggris Ekologi Ekosistem Sumatera segera beredar. Oleh banyak pihak, termasuk saya, terbitan ulang buku ini diharapkan akan memungkinkan revisi dan pembaharuan yang lengkap mengenai bahan dan pelajarannya. Sayangnya, tidak bisa mendapatkan dana untuk melakukan hal ini. Penerbit akhirnya memutuskan, untuk memenuhi komitmen pada mitranya dalam melengkapi seri Ecology of Indonesia, buku ini sebaiknya diterbitkan hanya dengan beberapa koreksi dan suatu introduksi baru dengan 133 referensi baru. Alasan dana juga menjadi kendala untuk terbitan ulang bahasa Indonesia yang sudah habis sejak beberapa tahun lalu. Oleh karenanya diharapkan sumber dana segera tersedia. Versi Indonesia dari seri Ecology of Indonesia selalu menjadi alasan utama untuk kesanggupan melakukan pekerjaan sebanyak ini. Artikel ini juga didasarkan pada introduksi buku tersebut. Kabar baik Yang pertama, kabar baik. Kesadaran dan perhatian serta komitmen terhadap sumber hayati secara bijaksana di Sumatera telah tumbuh dengan hebat. Penerbitan Alam Sumatera dan Pembangunan serta sejumlah pembacanya merupakan bukti akan hal itu. Kelompokkelompok non pemerintah sudah efektif dan menjadi partner yang semakin dipercaya bagi lembaga pembangunan pemerintah maupun internasional. Kapasitas manusia dan kesadaran lingkungan pada pemerintah juga telah mengalami banyak peningkatan, meskipun jelas belum pada taraf yang diharapkan. Semakin banyak ilmuwan Indonesia melakukan penelitian lapangan di Taman Nasional utama atau dimana saja dan juga mempublikasikan hasilnya dalam majalah ilmiah Indonesia terkenal, seperti Tropical Biodiversity. Ini penting, karena

kehadiran publisitas ilmiah akan meningkatkan pengamanan serta kesadaran terhadap kawasan-kawasan sensitif tersebut. Beberapa perusahaan telah menunjukkan adanya tinjauan ke masa depan serta tanggung jawab pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan, termasuk pemahaman yang baik untuk usaha yang menguntungkan. Bahkan diantaranya ada yang dianugerahi sertifikat dari Lembaga Ekolabel Indonesia. Selain itu, telah ada kerjasama penelitian yang subur antara ilmuwan Indonesia dengan ilmuwan asing. Dihasilkannya peta-peta penting tentang penggunaan lahan/tutupan lahan (RePProt 1988, dan Departemen Kehutanan dan Perkebunan 1999, http://mofrinet.cbn.net.id/einformasi/ enfi/GIS/vegetasi,htm, http://www.bart.nl/edcolijn/nfi.html), juga penetapan lengkap taman nasional yang pertama dan satu-satunya di Indonesia (Kerinci) serta penemuan banyak spesies binatang dan tumbuhan baru. Terjadinya suatu revolusi dalam teknologi komputer yang memungkinkan masyarakat madani untuk menyampaikan isu-isu yang memprihatinkan di Sumatera, agar mendapat atensi dunia dengan cepat dan menerima informasi atau umpan balik dari luar. Sebelumnya, rasanya seperti hampir tidak mungkin ketika buku Ekologi Ekosistem Sumatera ditulis dengan menggunakan mesin ketik manual dan mengedit naskahnya dengan gunting dan lem. Kabar Buruk - Lahan dan Habitat Disamping adanya perbaikan-perbaikan tersebut, yang jadi kabar buruk dan benar-benar menyedihkan adalah, eksploitasi kayu dan sumberdaya hayati dan fisik lainnya. Ini sudah berkembang luas hampir tanpa kendali, meskipun sudah ada keluhan. Keserakahan dan kecerobohan telah menguasai segalanya. Kalau kegiatan ini memang benar-benar untuk menguntungkan bagi masyarakat Sumatera terutama mereka yang menggunakan dan tinggal dekat dengan sumber daya itu, mungkin kehilangannya tidaklah demikian parah. Bahkan banyak laporan tentang ganti rugi yang tidak memadai atau tidak sama sekali. Adanya intimidasi, korupsi, penyimpangan dan penekukan peraturan serta proses perencanaan yang tidak transparan. Hilanglah sudah semuanya, kecuali sedikit yang tersisa dari hutan dataran rendah tidak berawa yang sangat mempesonakan. Namun informasi terakhir diprediksikan hutan ini bahkan akan punah sekitar 3 _ 5 tahun mendatang. Hutan alami yang masih asli bisa hanya tinggal kenangan. Beruntunglah orang yang pernah mengalaminya, sedangkan yang belum pernah, tidak menyadari betapa besar kehilangan mereka. Jika revisi buku Ekologi Ekosistem Sumatera dilakukan, maka kemungkinan perlu ditulis mengenai hutan dataran rendah telah menjadi suatu keadaan historis, sebagaimana dalam buku Ecology of Java and Bali. Kalimat yang tepat adalah "dari segi tertentu kurang ada gunanya menggambarkan yang secara mendasar telah menjadi suatu keadaan historis. Namun, masih ada sisa kawasan berhutan walaupun terganggu dan demi mendorong minat serta meningkatkan pemahaman tentang kawasan ini, dideskripsikan pada bab ini". Satu tipe hutan yang sekarang kemungkinan besar telah hilang secara total dari lanskapnya pada bentuk asli maupun yang telah diubah adalah hutan kayu ulin yang luar biasa itu. Kayu ulin tumbuh secara merata di hutan (lihat photo dan informasi dalam buku Ekologi Ekosistem Sumatera). Sumber daya sangat bernilai ini telah dihabiskan, sedangkan kesempatan regenerasi terlewatkan, termasuk keterkaitannya dengan budaya Jambi pun hilang. Beberapa tahun terakhir, terlihat adanya perhatian dunia tertuju pada Sumatera sebagaimana tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini karena adanya kebakaran hutan yang mengerikan dengan

asap tebal memedihkan mata. Tulisan ini sesungguhnya dibuat pada Maret 2000, bertepatan orang Sumatera bagian tengah kembali menderita akibat asap dari kebakaran. Asap menutupi daratan sehingga menyebabkan gangguan transportasi dan kesehatan. Tidak peduli lagi tentang nasib keragaman hayati. Semangat menyalakan api lebih hebat untuk membantu membuka lahan, hilang ketika hujan mulai turun. Perdebatan menjadi semarak dengan pelayanan media dunia, untuk mengetahui apakah bencana lingkungan itu akibat kesalahan dari lembaga dan perusahaan yang terlibat dalam konversi lahan berskala besar untuk tujuan perkebunan, Hutan Tanaman Industri (HTI) atau pemukiman transmigrasi? Ataukah dari petani yang membuka lahan untuk perladangan? Para pendukung penyebab pertama dicap sebagai komunis, sedangkan pendukung kedua dituduh anti masyarakat. Apapun alasannya, telah direkomendasikan sejak bertahun-tahun, jika petani diberi hak milik atas lahan ladang mereka, mereka mungkin akan lebih memperhatikan perawatannya. Hutan hujan tropis yang belum terganggu memang tidak terbakar kecuali pada kondisi kekeringan sangat kritis. Karenanya, sedikit sekali spesies binatang dan tumbuhan asli Sumatera yang telah beradaptasi dengan kebakaran. Sebagai akibatnya, terdapat kerusakan ekologis yang tidak terhingga dan begitu luasnya kebakaran berarti pertumbuhan kembali hutan akan berjalan sangat lambat. Termasuk pada kawasan yang ditunjuk sebagai hutan seperti hutan lindung dan kawasan konservasi, juga pada kawasan yang keadaan sosialnya memungkinkan hutan itu dipertahankan. Ketika buku Ekologi Ekosistem Sumatera pertama kali ditulis (1981-1983) kata `Hutan Tanaman Industri' tidak terdapat dalam kosa kata kami. Kawasan hutan Sumatera yang telah dibuka dan telah (atau sedang) diubah menjadi area HTI sekarang mencapai ratusan ribu hektar. Beberapa dari HTI ini dibuka pada lahan alang-alang yang terdegradasi, dimana konversi lahan menjadi lahan produktif patut disambut dengan baik. Akan tetapi, sebagian besar dari HTI memanfaatkan lahan dari konsesi hutan (HPH) yang dikelola secara tidak baik. Bahkan manejer dan sponsor perusahaan pernah dituduh membakar hutan untuk menurunkan nilai kayu sehingga di bawah ambang batas yang dijadikan kriteria untuk konversi hutan. Kawasan baru yang sangat luas ini dikaitkan dengan pabrik pulp. Sumatera memang berjasa mempunyai pabrik pulp terbesar di negeri ini, namun masyarakat lokal yang dari dulu memperoleh pendapatan mencukupi dari karet belantara menulis surat pengaduan kepada para pengambil kebijakan penting di jajaran sipil dan militer karena proyek ini mengganggu perekonomian mereka. Kurangnya kerjasama perusahaan dengan masyarakat tidak mendapat perhatian, kepentingan masyarakat kurang dihargai. Pemberitaan jelek tentang isu tersebut, menyebabkan ditutupnya surat kabar lokal. Beberapa sumber mempercayai bahwa tidak mungkin menghasilkan kayu yang cukup pada lahan yang dialokasikan untuk pabrik pulp. Jika demikian, kayu harus pula diambil dari hutan sekelilingnya, dimana sebagian berada pada lahan gambut yang tidak tumbuh kembali menjadi hutan seperti semula. Bahkan sebagian lagi berada pada tanah gambut yang terlalu dalam untuk pertanian. Karena yang diinstalasikan di pabrik adalah mesin bekas, orang yang sinis mungkin akan mengatakan bahwa ketika hutan alami telah ditebang dan dijadikan pulp kertas, maka investor sudah meperoleh keuntungan dari investasi mereka dan akan pindah ke tempat lain dengan meninggalkan berbagai kehancuran. Taman Nasional, merupakan permata mahkota dari salah satu sistem kawasan terpenting yang dilindungi di dunia, sekarang ini keadaannya tidak aman. Taman Nasional Leuser dan

Kerinci misalnya, bagian terbaik kawasan inti dari hutan dataran rendahnya yang relatif tidak terganggu, bahkan telah dibagi-bagi menjadi HPH dengan cara resmi maupun tidak resmi. Kasus lain, setelah bertahun-tahun diadakan persiapan dan studi, pemerintah dan Bank Dunia bersama Global Environment Facility menyetujui suatu proyek kerjasama antara pemerintah lokal, LSM dan masyarakat di dalam dan sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Tujuannya untuk mempertahankan masa depan taman melalui program yang membantu pembangunan sosial dan ekonomi. Baru saja proyek secara resmi dimulai, muncullah laporan-laporan di surat kabar yang kemudian dikonfirmasikan, bahwa terdapat suatu jalan yang dibangun oleh pemerintah lokal memotong taman. Meskipun ada perjanjian yang jelas bahwa hal itu tidak diijinkan. Selain itu, telah pula disetujui bahwa perusahaan-perusahaan kayu (HPH) di sekitar taman akan bekerjasama dalam mengadopsikan praktek yang dapat menghasilkan pengelolaan kehutanan lebih baik. Meskipun demikian, komponen ini juga menghadapi masalah serius. Kawasan penting internasional lainnya adalah Pulau Siberut yang merupakan salah satu dari empat Cagar Biosfer di Indonesia dalam Program Manusia dan Biosfer di UNESCO. Selama 15 tahun muncul desas desus dan rencana yang telah diberitakan tentang pemukiman transmigrasi beserta perkebunan kelapa sawit dan HTI. Protes keras dari pihak nasional dan internasional sebelum dimulainya proyek konservasi dan pembangunan yang didanai ADB di pulau itu, mendahului pencabutan ijin penebangan. Tetapi pada saat perusahaan-perusahaan benar-benar meninggalkan kawasan, sebagian besar kayu yang dapat dijangkau dan bernilai komersial telah ditebang. Menjelang proyek ADB selesai, perusahaan-perusahaan kembali antri membuka perkebunan dengan membawa buruh migran. Memasukkan Siberut bersama masyarakatnya ke daftar tempat-tempat terlanda bencana ekologi dan sosial. Pembangunan dewasa ini diwarnai dengan kisah-kisah pemaksaan dan penipuan dalam mempengaruhi masyarakat lokal untuk menanda tangani pelepasan hak-hak tanah mereka. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di utara Sumatera yang luar biasa (www.euldp.co.id) selama puluhan tahun juga mengalami pengelolaan yang jelek atau tidak adanya pengelolaan sama sekali meskipun ada dukungan LSM internasional. TNGL jadi menderita akibat segala macam pelanggaran tanpa banyak perlindungan dari lembaga konservasi (PHPA) maupun pihak lain yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan dan peraturan. Diharapkan segala sesuatunya akan berubah melalui badan pengelola yang inovatif, yaitu Yayasan International Leuser. Yayasan ini didirikan untuk mengganti lembaga konservasi pemerintah dengan diberikan kuasa lebih luas. Yayasan ini mendapat persetujuan konsesi berjangka tujuh tahun untuk mengelola `ekosistem Leuser' yang mencakup luasan lebih dari 2 juta hektar. Beban biaya pengelolaannya dibagi antara Dana Peremajaan Hutan Pemerintah dengan Uni Eropa. Keterlibatan politisi, pejabat tinggi tingkat propinsi, polisi, militer, juga staf Depertemen Kehutanan mungkin telah menghasilkan potensi pengelolaan terbaik sepanjang masa bagi taman yang terancam ini, dan sebagian besar taman nasional Indonesia lainnya. Keterlibatan mereka telah mencegah rencana pelaksanaan pembangunan jalan dan proyek transmigrasi. Sebaliknya, hal ini telah menyebabkan tekanan terhadap yayasan untuk mengembangkan program alternatif. Meskipun demikian, kawasan itu sedang menghadapi masalah berat dan sepertinya tidak mungkin membayangkan perhatian semacam ini pada setiap kawasan konservasi. Kabar Buruk - Margasatwa Dengan hilangnya habitat, tidak terhindarkan mengakibatkan populasi tumbuhan dan margasatwa telah berkurang. Bersamaan dengan adanya perburuan liar, kehilangan habitat

telah menyebabkan penurunan jumlah spesies secara mengejutkan. Sebagai contoh, jumlah Badak Sumatera di TNKS dan hutan-hutan sekelilingnya mengalami penurunan dari kira-kira 300 ekor menjadi kurang dari 30-an. Ini terjadi meskipun ada proyek UNDP/Global Environment Facility yang mengembangkan kapasitas dibutuhkan dalam pelestarian badak. Tujuan khusus proyek ini adalah untuk menahan dan mengembalikan penurunan jumlah populasi badak akibat perburuan dan gangguan habitatnya, sehingga diharapkan tercapai tujuan nasional dan global untuk mengembalikan populasi spesies badak yang berkelanjutan. Yang menghilang hampir secepat badak adalah harimau. Populasi harimau mengalami penurunan sebanyak 95% dari seluruh area persebarannya selama abad ini. Kemungkinan hanya tersisa 500 individu dari subspesies Sumatera. Dari jumlah itu sebagian besar berada di kawasan yang tidak dapat lagi mendukung populasinya. "Spesies yang dilindungi ini" dicari di Indonesia dan negara lain, karena kulit dan bagian tubuh lainnya. Perdagangan kulit binatang, umumnya bersifat domestik dan ahli pembuat hiasan dari kulit binatang dapat ditemukan di kota-kota besar Sumatera. Sedangkan perdagangan gelap potongan tubuh binatang tertuju ke Cina. Di negara ini, kaki depan harimau dijual seharga $ 1.000 per kg. Satu mangkok sop penis harimau dapat dibeli dengan harga $ 320 oleh mereka yang merasa lemah sahwat atau iri dengan kemampuan harimau yang mampu bersetubuh beberapa kali dalam satu jam. Jika pelanggan menyadari bahwa harimau, ternyata tiap kali melakukan senggama berlangsung kurang dari 15 detik, kemungkinan pasar sop penis harimau akan jatuh. Tulang, sungut atau mata harimau, yang diyakini mempunyai kekuatan menyembuhkan atau manfaat lain, jelas lebih mudah disembunyikan untuk diperdagangkan dari pada bagian tubuh yang lebih besar. Sejalan dengan teori ekonomi, harga akan naik ketika binatang ini semakin langka. Perantara memanfaatkan orang desa yang mempunyai ketrampilan, termasuk memanfaatkan masyarakat hutan _seperti orang Kubu- untuk memburu binatang bernilai. Pemburu diberi imbalan jasa sangat kecil dibanding dengan hasil buruannya, tetapi imbalan itu masih lebih lumayan dibanding dengan pendapatan dari kegiatan lainnya. Jika benar bahwa mereka yang berwenang terlibat dalam perdagangan ini, prospek masa depan akan benar-benar menjadi suram. Tentu saja dorongan pasar gelap ini begitu kuat sehingga semua usaha dari dalam dan luar Sumatera untuk membendung arus perdagangan satwa telah mengalami kegagalan. Kesimpulan Telah banyak kejadian sejak 1984, begitu banyak pula rekomendasi, argumen, seruan dan proposal, pertemuan-pertemuan, tinjauan serta rencana-rencana. Sebuah undang-undang baru tentang konservasi telah disahkan, sedangkan jumlah taman nasional beserta anggarannya bertambah. Walaupun demikian… Pada tanggal 1 Februari 2000, pemerintah mengumumkan suatu Program Hutan Nasional yang akan disusun secara transparan dan mufakat. Program ini akan dikembangkan oleh suatu badan sah, didirikan pada tanggal 1 April. Suatu komite antar departemen akan dibentuk oleh EKUIN untuk meninjau proses ini. Sejumlah aksi jangka pendek yang menarik telah diumumkan, temasuk : Aksi terpadu terhadap para penebang ilegal, terutama dalam taman nasional dan menutup sawmill-sawmill ilegal Evaluasi kembali kebijakan hutan konversi dan penundaan semua konversi hutan alami hingga Program Hutan Nasional disetujui

Mereduksi dan restrukturisasi industri kayu untuk menyeimbangkan antara suplai dan permintaan akan bahan dasar dan untuk meningkatkan daya saing industri kayu Mengaitkan program reforestasi dengan kebutuhan industri hutan Mengkalkulasi kembali nilai nyata kayu, dan Memanfaatkan proses desentralisasi sebagai alat untuk meningkatkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan Tetapi aksi pemerintah saja tidak cukup. Konservasi yang terjamin hanya dapat menjadi kenyataan jika para individu ikut serta melihat, mendengar dan berbicara di lapangan. Desentralisasi kewenangan atas sumberdaya alam yang sedang berjalan akan memerlukan keikut sertaan masyarakat madani, baik perorangan maupun kelompok lokal, secara terus menerus dan diikuti dengan komitmen. Ini dibutuhkan jika ingin melestarikan, menggunakan dan menikmati sumber daya alam secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, saya berharap pembaca Alam Sumatera dan Pembangunan akan melanjutkan dan bahkan meningkatkan usaha mereka untuk mempertahankan alam di Sumatera bagi kepentingan generasi mendatang dan seterusnya. OLEH : Tony Whitten (Ahli Ekologi berkebangsaan Inggris, sekarang berbasis di Washington DC. twhitten@worldbank.org)

Gurun Hijau Sumatera
Perlombaan dan perburuan lahan hutan untuk diubah jadi perkebunan secara besar-besaran terjadi pada dekade 1980 _ 1990an, menyusul kegiatan eksploitasi hutan oleh HPH yang dilakukan sebelumnya. Selama 20 tahun pelaksanaan HPH, pembangunan kehutanan terus ditekan pada peningkatan produksi hasil hutan. Hasil-hasil hutan (terutama kayu) menjadi komoditas yang menonjol sekaligus menguntungkan bagi para pemilik HPH. Kayu memainkan peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Departemen Kehutanan mengklasifikasikan jumlah hutan produksi sebanyak 64 juta hektar. Dari jumlah tersebut, 53,4 juta hektar diantaranya diberikan kepada konsesi HPH. Pada tahun 1980, Bank Dunia memberikan komentar atas keadaan ini, "dalam 40 tahun Indonesia akan jadi tandus, faktor penyebabnya praktek penebangan kayu tanpa perhatian". Di Sumatera, kayu dari dulu biasa diambil secara manual dengan sistem panglong dan kayu gergajian, disuplai ke pabrik-pabrik dengan sasaran Singapura. Lebih 80% kebutuhan kayu Singapura dipasok dari Sumatera pada era 1920 dan 1930an. Akhir dekade 1960-an, penanam modal bidang kehutanan berlomba mengkapling hutan Sumatera. Ada sekitar puluhan HPH yang dikuasai elit tertentu bekerjasama dengan investor luar negeri melakukan pembabatan hutan besar-besaran. Saat itu memang dikondisikan untuk dapat menghasilkan uang secara cepat dalam memperbaiki perekonomian negara. Kayu pun menjadi emas hijau khatulistiwa hingga tahun 1980an. Setelah tahun 1985, ketika kayu log dilarang untuk diekspor, industri pengolahan kayu-terutama pabrik kayu lapismulai berkembang pesat sehingga kapasitas terpasang jauh melebihi ketersediaan bahan baku. Kondisi hutan semakin parah setelah hadirnya pabrik pulp dan kertas yang rakus menghabiskan kayu dengan berbagai jenis dan ukuran pada era 90-an. Karena perusahaanperusahaan ini tidak punya sumber bahan baku yang mencukupi, akibatnya semakin bertambah luas areal hutan yang dibabat.

Penurunan nilai kayu pada Hutan Produksi Tetap dan Hutan Produksi Terbatas dijadikan alasan bahwa hutan tidak bisa direhabilitasi lagi. Era konversi hutan dimulai, banyak kawasan hutan alam Sumatera yang akhirnya dengan terpaksa atau dipaksakan untuk dirubah menjadi perkebunan atau HTI. Berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tahun 1982, hutan konversi di Indonesia terbesar berada di Sumatera. Jumlahnya hampir mencapai 2 juta hektar. Kini, sebagian besar hutan alam Sumatera sudah habis, bahkan kawasan konservasi menjadi sasaran selanjutnya. Di beberapa tempat, kawasan konservasi sudah mulai dijarah oleh perusahaan atau perorangan untuk dirubah menjadi perkebunan dan HTI. Gurun Hijau Dahulu, kebijakan pekebun kita masih bisa memandang lahan dan hutan sebagai satu kesatuan ekosistem yang perlu dijaga kelestariannya. Kini, ketika pekebun telah banyak ditangani para investor yang lebih mementingkan antara modal dengan keuntungan, maka kondisi hutan Sumatera semakin memprihatinkan. Ahli agronomi yang ikut dalam mengelola perkebunan, ikut terbawa arus pengusaha. Tidak ada lagi upaya untuk mempertahankan Daerah Aliran Sungai sepanjang perkebunan. Bahkan tidak terlihat kegiatan penyelamatan satwa tersisa dengan mempertahankan kawasan berupa koridor biologis. Semuanya diubah total tanpa menyisakan kawasan hutan yang ada. Budaya tumbang, imas dan bakar sudah menjadi pandangan umum pada areal hutan yang telah dikonversi menjadi kebun. Akibatnya, seperti tidak mau peduli dan selalu terjadi setiap tahun, asap menjadi kasus besar di sebagian besar Pulau Sumatera. Lalu tumbuhlah tanaman kelapa sawit muda di hamparan yang luas. Hutan alam berubah jadi tanaman monokultur. Tidak bisa dibayangkan, berapa banyak keragaman hayati yang musnah. Kondisi fisik dan biologis tanah juga berubah total. Kelapa sawit memang sedang jadi primadona, di balik itu semua tentu perlu ditegaskan bahwa perburuan kawasan hutan untuk diubah menjadi perkebunan kelapa sawit harus segera bisa ditata ulang. Setiap satuan luas lahan budidaya kelapa sawit dipastikan tetap menyisakan hutan untuk keberlangsungan kehidupan satwa liar demi keseimbangan ekologis. Daerah tangkapan air tetap dilestarikan, agar ketersediaan air tanah tetap terjaga. Ratusan gajah merusak kebun, hama babi hutan menggasak tanaman muda, adalah dampak dari keseimbangan alam yang tidak terjaga baik. Berbeda sekali kemampuan tanaman kelapa sawit pada areal yang luas dengan kemampuan tanaman polikultur di suatu areal hutan dalam menahan laju pergerakan air permukaan (run off). Untuk satu tanaman kelapa sawit dewasa bisa menyerap hingga 5 – 10 liter air setiap hari, maka tidak kurang dari 1.000 liter air dibutuhkan setiap hari untuk 1 hektar kebun kelapa sawit. Bisa dibayangkan berapa besar kebutuhan air tanah untuk ratusan ribu pohon kelapa sawit setiap hari dari satu perusahaan perkebunan yang setidaknya memiliki luas 6.000 hektar kebun untuk satu pabrik pengolahan. Bahkan, secara teoritis, tanaman sejenis pada suatu areal yang sangat luas sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Kasus seperti ini pernah terjadi pada tanaman karet di negeri asalnya. Kalau ini sempat terjadi, bencanalah yang akan dituai oleh pekebun sawit kita di masa datang. Satu tanaman dewasa kelapa sawit akan memiliki perakaran kuat sepanjang daun terluar tanaman itu. Perakaran itu bersatu dengan yang lainnya bila daun terluar tanaman satu dengan tanaman lain menyatu. Setelah tanaman tidak produktif dan perlu di-replanting, akar tanaman tidak bisa hancur oleh mikro-organisme tanah. Perlu penghancuran secara fisik. Bagi perusahaan yang punya modal, dalam kegiatan replanting,bukan masalah menggunakan alat

berat untuk mengolah tanah. Tetapi bagi petani tradisional, tentu jadi masalah besar. Paling tidak dibutuhkan hingga Rp 500.000,- untuk menghancurkan perakaran setiap tanaman tua. Kalau tidak dihancurkan, pertumbuhan tanaman baru akan terganggu. Bisa saja dilakukan penanaman tanaman baru pada barisan atau larikan sepanjang tanaman tua. Kalau ini terjadi tentu lapisan top soil tanah akan tertutupi oleh perakaran serabut tanaman kelapa sawit yang cukup kuat itu. Tanah pun akan gersang pada suatu ketika. Penurunan kesuburan tanah dalam luasan yang demikian besar, akan berakibat fatal bila tidak segera dapat diperbaiki. Suatu waktu nanti, kondisi ini bahkan dikhawatirkan akan menjadi tempat yang tandus dan gersang. Karenanya, kelapa sawit bisa jadi sebagai gurun hijau di Sumatera saat ini, dan akan menjadi gurun sebenarnya pada masa mendatang. Pulau Biologis Hampir semua kawasan konservasi di Pulau Sumatera mengalami tekanan. Akibatnya, kelestarian ekosistem tidak tercapai. Jika hutan sekeliling kawasan konservasi dikonversi menjadi perkebunan atau HTI, secara ekologis kawasan itu menjadi pulau hutan yang terpencil. Dengan terus berlangsungnya gangguan terhadap ekosistem alamiah, maka terbentuklah `pulau-pulau' ekosistem alamiah yang lebih kecil berupa pulau biologis. Kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) misalnya, kini tengah mendapat tekanan dari berbagai arah. Meskipun kehancuran hebat belum masuk ke dalam kawasan inti, daerah penyangganya menjadi rebutan berbagai kepentingan. Perusahaan berlomba untuk mendapatkan akses lahan di sekelilingnya. Analisa citra landsat menunjukkan, bukaan lahan sampai dengan tahun 1993 diperkirakan mencapai 24.104 hektar. Tiga tahun kemudian, bertambah menjadi 34.299 hektar. Kawasan TNBT bisa diibaratkan sebagai sebuah kue donat. Daerah penyangganya, diibaratkan bagian kue yang melingkar, menjadi rebutan dan siap dihabiskan. Bagian tengah, yang diibaratkan kawasan inti, bolong sehingga akan tidak berguna sama sekali jika daerah di sekelilingnya telah habis. Karenanya, kawasan penyangga suatu ekosistem yang dilindungi merupakan satu keutuhan yang tidak dapat dipisahkan. Teori keseimbangan Mac Arthur dan Wilson (1963 dan 1967) sudah mengingatkan, semakin kecil areal dari suatu tipe habitat semakin besar pula laju kepunahan spesies yang ada di dalamnya. Bahkan kawasan konservasi dengan luas sekitar 10.000 km2 bisa kehilangan setengah dari jenis mamalia besar (dan kebanyakan jenis burung) dalam jangka waktu kirakira seribu tahun mendatang. Pengurangan areal hutan jelas berdampak pada pengurangan spesies. Perkawinan antar keluarga akan mengurangi ketahanan, termasuk kemampuan menyesuaikan diri, kestabilan plasma nuftah dan variasi. Sifat yangmerusak dalam suatu populasi dapat menimbulkan kepunahan. Pada manusia, dan juga hewan, terdapat banyak cara sosial untuk menghindarkan perkawinan antar keluarga. Sebaliknya, bagi hewan yang `terperangkap' dalam populasi kecil, karena menempati suatu petakan hutan kecil, mungkin tidak punya pilihan lain. Daerah berupa lorong terbuka yang menghubungkan dua daerah hutan, hanya mau dilewati oleh beberapa jenis hewan. Sedangkan jenis lainnya jelas tidak mau berjalan melewati atau terbang di atas daerah-daerah terbuka dan terganggu tersebut. Inilah pentingnya dipertahankan kawasan berhutan yang merupakan koridor biologis. Revisi Tata Ruang Dalam aktifitasnya, manusia tidak dapat lepas dari kebutuhan akan ruang. Konsep penataan ruang tidak hanya berdasarkan pada pertumbuhan ekonomi semata, namun juga tetap memperhatikan aspek lingkungan dengan memasukkan konsep ekologis. Meskipun UU No.

24/1992 tentang Penataan Ruang telah diimplementasikan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) hingga ke tingkat kecamatan dan desa, namun pada kenyataannya masih merupakan suatu konsep. Penyusunan RTRWP sendiri belum melihat kepentingan masyarakat banyak terutama di daerah-daerah sekitar hutan dan kawasan konservasi. Penekukan peraturan dan perencanaan yang tidak transparan memberikan keuntungan kelompok tertentu yang memiliki akses besar terhadap hutan. Ada kesempatan untuk melakukan perubahan pada penyusunan RTRWP pada setiap lima tahun berjalan. Tahun ini, kesempatan itu terbuka lebar bila kita masih menginginkan kepada perubahan yang lebih baik, atau kesempatan itu akan hilang dan tidak pernah bisa dilakukan sama sekali. Maka kerugian dan bencana siap menunggu kita pada masa mendatang. Pengalaman memang guru terbaik, tetapi jangan sampai uang sekolahnya terlalu mahal, sehingga harus mengorbankan segala yang ada hanya untuk hari ini. Keledai pun tidak mau terperosok pada lobang yang sama untuk kedua kali. (Purwo Susanto).

Lingkungan Hidup dan Nasib Suku Minoritas Sumatera
Sumatera merupakan tempat tinggal bagi suku-suku besar yang mempunyai tradisi budaya terkenal seperti Aceh, Batak, Minangkabau dan Melayu. Selain itu terdapat juga sejumlah suku-suku minoritas dan nyaris tidak dikenal. Sebagian besar suku ini terdapat di dataran rendah Sumatera sebelah timur dimana mereka pernah hidup secara tradisional di kawasan hutan luas diantara sungai-sungai penting maupun rawa-rawa pantai dan pulau-pulau lepas pantai. Di pedalaman terdapat Orang Sakai yang berada diantara Sungai Rokan dan Siak, Orang Petalangan diantara sungai Siak dan Kampar dan diantara Sungai Kampar dan Indragiri, dan Orang Talang Mamak diantara sungai Indragiri dan Batang Hari. Ada juga Orang Batin Sembilan di kawasan antara sungai Batang Hari dan Musi, khususnya di sisi perbatasan propinsi Jambi. Suatu populasi yang mempunyai hubungan erat dengan Orang Batin Sembilan berada dan pernah hidup secara tradisional di kawasan sisi perbatasan Sumatera Selatan. Kawasan-kawasan lebih kecil yang terbentuk oleh banyak cabang sungai di hulu DAS Batang Hari dan DAS Musi merupakan tempat tinggal bagi orang-orang yang menamakan dirinya sebagai Orang Rimba. Satu-satunya suku minoritas yang tidak tinggal di pedalaman diantara sungai-sungai adalah Orang Bonai. Mereka mendiami daerah berawa di pertengahan DAS Sungai Rokan yang bersebelahan dengan kawasan Orang Sakai. Di kawasan pantai tedapat Orang Akit tepatnya di pulau Rupat diantara muara sungai Siak dan Rokan dan Orang Utan di beberapa pulau dan tanah daratan antara kuala sungai Siak dan Kampar. Kemudian diantara kuala sungai Kampar dan Batang Hari terdapat Orang Kuala atau dalam bahasa mereka disebut Duano. Di pulau-pulau lepas pantai tedapat berbagai sub-kelompok Orang Laut dari kepulauan Riau dan Lingga. Selain itu juga terdapat keturunan Orang Darat yang dulunya hidup di pedalaman pulau-pulau Riau yang besar, namun keadaan mereka sekarang tidak diketahui. Di Sumatera Selatan terdapat Orang Sekak di kawasan pesisir kepulauan Bangka dan Belitung. Pada waktu dulu mereka biasa hidup berpindah-pindah sebagai orang perahu. Yang tersisa adalah Orang Lom, disebelah utara pulau Bangka

Keadaan kelompok-kelompok suku tersebut , kecuali Orang Darat di kepulauan Riau, telah disurvei kembali pada beberapa tahun terakhir berkaitan dengan proyek WWF dan WARSI. Hampir semua suku minoritas mengalami tekanan berat, tekanan yang paling penting disebabkan adanya kerusakan habitat dan sumber daya, dan penyerobotan kawasan serta tanah leluhur mereka oleh perusahaan perkebunan dan migran. Mungkin selama ini kasus paling tragis adalah yang dialami oleh Orang Sakai. Sampai pertengahan 1980-an ketika penulis melakukan penelitian lapangan didaerah mereka, orang Sakai masih mempunyai cukup hutan dan tanah meskipun hutannya telah ditebang untuk kegiatan eksplorasi minyak PT Caltex. Selain itu hutan tersebut juga mengalami degradasi akibat kegiatan perusahaan penebangan dan pencurian kayu. Meskipun kekayaan minyak telah dipompa keluar dari tanah Orang Sakai dengan produksi puncak hampir sama dengan ¾ total produksi minyak Indonesia dan kira-kira ½ pendapatan ekspor dari semua sektor, Orang Sakai sendiri hampir-hampir tidak menerima tetesannya kecuali hanya berupa proyek pemukiman kembali oleh Depsos yang salah arah dan ditinggalkan. Ketika suatu tim peneliti UNRI dan WWF melakukan survei di kawasan Sakai pada 1998/99, diketahui bahwa situasi mereka telah sangat memprihatinkan. Beberapa perkebunan besar telah mencaplok sebagian besar hutan dan tanah, yang masih tersisa telah diambil alih oleh para migran berasal dari luar propinsi. Orang Sakai sendiri biasanya menjual tanah kepada migran tanpa menyadari bahwa mereka sendiri akan tidak mempunyai tanah lagi karena lahan luas tersebut telah berpindah kepada pemilik perkebunan. Oleh sebab itu, sekarang ini orang Sakai tidak hanya kehilangan hutan, tetapi di beberapa desa sudah kehilangan tanah yang bisa diolah untuk menopang penghidupan mereka sendiri dan keluarganya. Yang tertinggal hanyalah tangan hampa yang mereka gunakan untuk bekerja demi mendapatkan upah harian jika ada. Nasib yang sama dialami oleh sebagian Orang Rimba di Jambi dimana pemukiman transmigrasi dan perkebunan kelapa sawit tidak hanya menghabiskan hutan tetapi juga tanah yang biasanya diolah untuk perladangan . Perambahan sisa kawasan hutan terus berlangsung dan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kayu dan perkebunan maupun peladang berskala kecil dari desa lokal. Selain itu perambahan juga disebabkan oleh pemukiman transmigrasi dimana generasi kedua membutuhkan tanah tambahan, atau oleh migran dari luar propinsi. Kesemuanya ini akan mengurangi hutan yang didiami oleh Orang Rimba. Pada tahun ini peristiwa itu mendapatkan suatu pengakuan secara nasional ketika salah satu pemimpin mereka, Tumenggung Tarib, dianugrahi Penghargaan Kehati atas perjuangannya mempertahankan hutan dari perambahan. Situasi ini sama halnya dengan yang dialami oleh Orang Batin Sembilan, Orang Petalangan, dan segera juga akan dialami oleh Orang Bonai, Orang Akit, Orang Utan, dan Orang Lom. Kebutuhan sumber daya bagi orang Talang Mamak di Taman Nasional Bukit Tigapuluh telah terjamin, tetapi mereka yang diami kawasan sekelilingnya mengalami ancaman yang gawat. Perjuangan seorang pemimpin Talang Mamak dewasa ini juga mendapatkan pengakuan ketika patih Laman memenangkan penghargaan untuk konsevasi tingkat lokal dari WWF International atas keberhasilanya melindungi hutan peninggalan nenek moyangnya dari ancaman pemukiman transmigrasi, para penebang liar maupun perusahaan perkebunan. Beberapa masyarakat yang mempunyai tradisi bertempat tinggal di perahu dan hidup berpindah-pindah seperti misalnya: Orang Laut, Orang Kuala dan Orang Sekak juga termarjinalkan.Habitat mereka telah dieksploitasi secara berlebihan dan lebih dari itu dirusak

oleh kegiatan pemukatan ikan secara ilegal atau dengan menggunakan bahan peledak dan racun. Pelaku kejahatan adalah para nelayan atau pedagang yang bermodal dan mempunyai koneksi serta tidak memikirkan keberlanjutannya. Orang laut pada umumnya telah didesak untuk bermukim di pantai, tetapi hal ini menyebabkan mereka berada pada posisi yang sulit ketika harus menyesuaikan dengan perubahan musim. Disamping itu hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada lahan tersedia di pemukiman mereka yang dapat digunakan sebagai tempat berladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebelum kawasan mereka dimerosotkan pihak lain, pemanfaatan lahan maupun sumber daya alam oleh suku minoritas Sumatera sudah bersifat sangat berkelanjutan. Kenyataannya, bermacam-macam vegetasi sebagai akibat kegiatan pengolahan lahan dengan intensitas rendah oleh kelompok-kelompok di hutan basah agaknya memberi kontribusi terhadap keragaman. Tentunya ini sangat berbeda dari pada tanaman monokultur yang diandalkan oleh perkebunan dan bahkan migran yang sekarang menyukai penanaman kelapa sawit. Sesungguhnya dapat diargumentasikan bahwa keragaman budaya dan keragaman hayati merupakan dua sisi mata uang logam. Dan tentu saja argumen ini benar jika alternatifnya adalah monokultur dalam arti ganda. Degradasi lingkungan dan kehilangan sumber daya yang dialami oleh suku-suku ini tentu saja sama halnya dengan yang dialami oleh orang-orang Sumatera pada umumnya pada beberapa dekade terakhir. Namun demikian, akibat kerusakan jauh lebih gawat bagi suku-suku kecil. Mereka juga bisa kehilangan sistem sosial dan identitas budaya mereka yang merupakan bagian dasar dari cara hidup yang tergantung pada adaptasi dengan alam. Suku-suku minoritas yang dulunya kaya akan lahan dan sumber daya sekarang ini mengalami suatu kemiskinan, yang menyebabkan lebih sulit bagi mereka untuk menjadi bagian dari masyarakat luas yang diakui dan dihormati. Budaya mereka terancam menjadi suatu budaya kemiskinan. Pendidikan mungkin pada taraf tertentu merupakan suatu cara untuk menghindari kemiskinan dan status yang rendah. Sebaliknya, pendidikan mungkin juga akan menambah perbedaan. Kemiskinan sendiri merupakan sebab sukarnya memperoleh pendidikan. Dan sebagaimana diketahui dalam survei WWF, sebagian besar dari mereka yang lepas sekolah tidak hanya disebabkan oleh kemiskinan tetapi juga karena diskriminasi dan cemooh. Kasus terburuk dialami oleh Orang Laut yang kadang-kadang anak mereka menjadi bahan cemooh oleh anak-anak lain sehingga anak Orang Laut meninggalkan sekolah. Dalam beberapa kasus dilaporkan bahkan ada guru yang melakukan hal itu. Sebaliknya, banyak orang Talang Mamak tidak mengijinkan anak mereka pergi ke sekolah umum karena mereka beranggapan bahwa sekolah bertentangan dengan budaya mereka. Pernah dialami adanya tekanan dan bujukan kepada anak-anak tersebut agar menjadi Orang Melayu. Juga Orang Rimba pada umumnya menolak sekolah karena mereka menganggap tidak sesuai dengan tradisi budaya mereka. Jadi masa depan suku minoritas memang perlu dipertanyakan. Apakah mereka secara berangsu-angsur akan menghilang bersama habitat dan sumber daya mereka? Atau apakah mereka akan menjadi bagian dari budaya kemiskinan dan penghuni pedesaan kumuh yang menjadi luka berkepanjangan di lanskap sosial dan budaya Sumatera? Jawaban atas pertanyaan itu akan tergantung pada kearifan dari perencana dan pembuat kebijakan dalam bidang lingkungan dan sosial. Sejauh ini kebijaksanaan mereka belum memenuhi harapan masa depan suku-suku minoritas. (O.S.)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->