Sejarah Penulisan Hadits

Ditulis oleh Mujtahid Senin, 26 September 2011 15:08

SEBAGAIMANA pengetahuan yang sering kita terima dari studi hadits, bahwa hadits adalah sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur'an, yang memiliki peranan penting dalam berbagai disiplin dan dimensi kehidupan. Rasulullah selain meninggalkan wahyu (al-Qur'an) juga As-Sunnah (Hadits) sebagai pegangan dan penuntun umat Islam dimanapun dan kapanpun. Walapun posisinya nomor dua, tetapi kedudukan hadits sangat penting dalam menjelaskan dan menjabarkan pesan-pesan atau perintah dan larangan yang ditegaskan oleh al-Qur'an.

Tulisan ini akan menyajikan tentang sejarah penulisan hadits. Seperti yang banyak kita jumpai bahwa dari sekian kitab sunnah yang ada sekarang ini merupakan hasil kerja keras dari proses seleksi yang cukup panjang. Tak pelak lagi, bahwa dalam sejarah pengumpulan dan penulisan selalu diwarnai perdebatan panjang dalam rangka menentukan keotentikan hadits. Sikap kehati-hatian dan kecermatan telah ditunjukkan oleh para penghimpun hadits dengan cara yang selektif dan penuh pertimbangan.

Sebagian orang berpendapat bahwa pada masa Rasulullah, periwayatan hadits umumnya hanya dilakukan melalui hafalan dari satu sahabat ke sahabat lain, bukan melalui tulisan. Pertimbangannya hanya sederhana, yakni dikhawatirkan akan tercampur dengan ayat-ayat al-Qur'an. Meskipun al-Qur'an sendiri pada awalnya juga sama, bukan untuk dibukukan (ditulis). Tetapi secara tegas, Rasulullah memberikan lampu hijau kepada para sahabat supaya mencatatnya dengan alat tulis. Sehingga pengumpulan dan penulisan ayat-ayat al-Qur'an lebih mudah di bandingkan dengan kondisi hadits.

Sementara pendapat lain mengatakan bahwa pada diri hadits belum ada ketegasan tentang perintah yang jelas mengenai penulisannya. Bahkan ada sebuah riwayat yang mengatakan sebaliknya, bahwa para sahabat dilarang menulis. Atas dasar inilah kemudian tidak semua hadits dapat diterima dengan serta-merta. Sehingga satu hal yang membuktikan ketidakotentikan hadits yang dianggap berasal dari Nabi tentang pelarangan penulisan hadits adalah pernyataan Umar, berkenaan dengan maksud penghimpunan hadits. Umar diriwayatkan berkata: "saya bermaksud menuliskan hadits Nabi. Tetapi niat itu segera kusadari bahwa umat terdahulu menulis kitab-kitab tertentu dan mereka mengabaikan kitab suci. Demi Allah, saya tidak akan membiarkan sesuatu pun yang dapat mengubah Kitab Allah. "

Riwayat di atas mengungkapkan bahwa khalifah kedualah yang untuk pertama kali, berniat menulis hadits. Dalam sebagian versi dari riwayat penulisan ini disebutkan bahwa Umar berembuk dengan para sahabat yang lain tentang perkara ini dan mereka pun menyetujuinya;

1 / 10

sedang waktu itu wahyu Ilahi masih turun Qur'an. 26 September 2011 15:08 tetapi pendiriannya lalu berubah karena alasan yang telah ia nyatakan. Al-Nawawi dalam bukunya yang berjudul al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj. dengan bersumber pula pada hadits Nabi. dan barangsiapa telah menulis sesuatu dariku selain al-Qur'an. sehingga terjadi percampuran antara keduanya. dan bukan berdasarkan larangan Nabi. Sejalan dengan hadits di atas. Pertama. hendaklah ia menghapusnya. berhubungan pada waktu itu sahabat-sahabat Nabi masih banyak yang Ummi (tidak bisa baca tulis). Hal lain yang dapat dikutip sebagai bukti ketidakotentikan hadits mengenai larangan penulisan hadits ialah pernyataan Nabi pada hari Selasa menjelang akhir hayatnya. sehingga dapat aku tuliskan sesuatu untuk kalian. Pada hari itu. tetapi penulisan itu bahkan penting menurut pertimbangan Nabi agar ummah tidak terjebak dalam kekeliruan dan kesesatan. 2 / 10 . ُ‫ﻟﺎَ ﺕَﻙْﺕُﺏُﻭْﺍ ﻉَﻥِّﻱْ، ﻭَﻡَﻥْ ﻙَﺕَﺏَ ﻉَﻥِّﻱْ ﻍَﻱْﺭَ اﻞْﻕُﺭْآﻦِ ﻑَﻝْﻱَﻡْﺱَﺡُﻩ‬ Artinya: Jangan kamu sekalian menulis sesuatu dariku. Sekitar Penulisan Hadits Mengkaji tentang seputar penulisan hadits. Masjfuk Zuhdi menambahkan bahwa larangan penulisan ini ada hikmahnya. Perspektif yang pertama melarang penulisan hadits dengan memakai dasar kepada hadits yang diyakini dari Rasul. yang tidak akan menyebabkan kalian terjerumus ke dalam kekeliruan. Nabi percaya atas kekuatan hafalan para sahabatnya dan kemampuannya mereka untuk memelihara semua ajarannya tanpa catatan/ulisan danini berarti secara tidak langsung mendidik mereka untuk percaya pada kemampuan sendiri. ketika para sahabat berkumpul mengelilingi tempat wafatnya. Sementara perspektif kedua. Nabi bersabda kepada mereka: "Bawakan kepadaku kertas dan tinta. setidaknya akan kita jumpai dua perspektif yang berbeda. menjelaskan bahwa ada beberapa riwayat tentang pelarangan menulis hadits pada masa Rasulullah saw. mengatakan bahwa penulisan hadits pada masa Nabi diperbolehkan. "Cukup bagi kita Kitab Allah. Salah satu hadits yang diyakini dari Rasulullah diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri." Ada sebagian orang di bawah pimpinan Umar yang menentangnya dengan mengatakan.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. jadi Nabi mengkhawatirkan kalau-kalau mereka tidak dapat membedakan qur'an dan hadits. Kedua." Riwayat ini menunjukkan kepada kita bahwa penulisan apa pun selain al-Qur'an bukan saja tidak dilarang.

ketika dalam penyampaian ada seorang dari Yaman berdiri bernama Abu Syah. istikharah disebut bersama tasahhud. Dan masih banyak alasan lain yang berkenaan dengan riwayat Abu Sa'id al-Khudri tersebut. ia harus menunjukkannya. 26 September 2011 15:08 Masih menanggapi hadits Abu Sa'id al-Khudri. ditambahkannya kata tasahhud dalam pernyataanitu tidak sesuai dengan maksud pelarangan penulisan apa pun kecuali al-Qur'an. Perlu diperhatikan bahwa dalam hadits lain yang semua dari Ibn Mas'ud. kita tidak dapat membuktikan kelemahan hadits dengan cara lain. Pada waktu itu. kerana seandainya demikian. telah menyampaikan pernyataan lain yang bertentangan dengan ini. Ketiga. walaupun misalnya. maka Rasulullah berkata kepada para sahabat. Kedua. Sebaliknya. menurut Ja'farian hadits tersebut tidak dapat diterima keshahihannya dengan alasan berikut. Jika penulisan hadits tidak diperbolehkan dan haram.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. 3 / 10 . kalau kita menerima hadits itu. berarti kita tidak dapat membatasi penerapannya pada masa tertentu saja. Ia berkata. Dalam hal ini keduanya kehilangan kredibilitasnya. tuliskan khutbah ini untuknya! Penjelasan lain yang diungkapkan oleh Hasbi al-Shidiqi. perawi initelah meriwatkan juga hadits yang lain yang menunjukkan boleh menulishadits. Abu Sa'id al-Khudri tidak berkata bahwa mereka menuliskan hadits atas perintahNabi. Pertama. tiba-tiba berkata. kita tidak menuliskan apa pun kecuali al-Qur'an dan Tasahhud". tuliskan (khutbah tersebut) untukku. Abu Sa'id al-Khudri yang meriwayatkan juga hadits ini. kecuali kalau penjelasan tersebut bukanlah yang ia maksudkan. ya Rasulullah!. pertama. Tetapi para perawi hadits tidak berpegang kepadanya dan pada akhirnya mereka menulis serta menghimpun berbagai hadits. Kedua.dan kalu kita menganggap kedua rangkaian hadits ini sama kuat. Rasulullah berdiri untuk menyampaikan khutbahkepada penduduk Makkah. Periwayatan ini. berkaiatn dengan terjadinya "fath al-Makkah". maka haramnya itu harus untuk setiap saat. merujuk kepada kitab "al-Madkhal" yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi dari Abu Hurairah. di samping ada riwayat yang melarang penulisan hadits. "pada masa iti. Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam bukunta Fath al. ada juga yang membolehkannya. kita harus menolak kedua-duanya karena bertentangan. Dari pernyataan ini ada dua hal yang dapat disimpulkan.Bari Syarh al-Bukhari dikatakanbahwa riwayat yang membolehkan itu berasal dari Abu Hurairah.

Dia menuliskan apa yang dia dengar. menjelaskan riwayat tersebut bahwa selain Nabi sendiri pernah mengirim surat kepada sebagain pegawainya menerangkan kadar-kadar zakat Unta dan Kambing. 4 / 10 . yakni mengambil salah satu riwayat yang terkuat dari kedua riwayat tersebut. Lebih lanjut. tidak keluar dari mulutku kecuali yang benar (haq). ia mengatakan bahwa menurut sebuah riwayat. Dan pernah dengan tegas Nabi memerintahkan sahabat menulis hadits. bahwa ada pula riwayat yang menerangkan bahwa Ali mempunyai sebuah shahifah. Secara dhahir. selain Abdullah ibn Amr ibn Ash. dan lain-lain. dua versi riwayat di atas betul-betul bertentangan. Penjelasan yang hampir senada juga dikemukakan Zuhdi. Hadits tersebut. ditulis di dalamnya hukum-hukum diyat yang diberatkan kepada keluarga. Salah satu cara untuk mengambil jalan tengah dari versi yang berbeda tersebut adalah dengan cara tarjih. َّ‫ﺍُﻙْﺕُﺏْ ﻉَﻥِّﻱْ، ﻑَﻭَاﻞَّﺫِﻱ ﻥَﻑْﺱِﻯ ﺏِﻱَﺩِﻩِ ﻡَاﺦَﺭَﺝَ ﻡِﻥْ ﻑَﻡِّﻱْ ﺇِﻟﺎ‬ ٌّ‫ﺡَﻕ‬ Artinya: Tulislah dariku. 26 September 2011 15:08 ْ‫ﻡَاﻢِﻥْ ﺃَ ﺡَﺩٍ ﻡِﻥْ ﺃَﺹْﺡَاﺐِ اﻠﻦَّﺏِﻱِ ﺹ ﻡ، ﺃَﻙْﺙَﺭَ ﺡَﺩِﻱْﺙًﺍ ﻉَﻥْﻩُ ﻡِﻥِّﻱ‬ َ‫ﺇِﻟﺎَّ ﻡَاﻚَاﻦَ ﻉِﻥْﺩَ ﻉَﺏْﺩِ اﻠﻠﻪِ ﺏْﻥِ ﻉَﻡْﺭِوﺐْﻥِ اﻠﻊَاﺺِ ﻑَﺇِﻥَّﻩُ ﻙَاﻦ‬ ُ‫ﻱَﻙْﺕُﺏُ ﻭَﻟﺎَ ﺃَﻥَﺍ ﺃَﻙْﺕُﺏ‬ Artinya: Tidak seorang dari sahabat nabi yang demikian banyak (lebih mengetahui) hadits rasul daripadaku. Anas ibn Malik juga mempunyai sebuah buku catatan. karena itu para ulama mengambil suatu pendekatan untuk mengkompromikan atau mendamaikan (al-jam'u) antara keduanya. merupakan sebuah jawaban terhadap pertanyaan Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash tentang penulisan sunah-sunah. demi dzat (Tuhan) yang jiwaku di dalam kekuasaan-Nya. Sementara al-Shidiqi.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. Masih dalam penjelasan al-Shidiqi. sedangkan aku tidak menulisnya. bahwa sebuah riwayat dari Nabi.

sehingga kalau ditulis dalam satu shahifah akan tercampur. 26 September 2011 15:08 Pendekatan pertama. Pendekatan kedua. sebetulnya ditujukan kepada mereka yang menulis hadits dan al-Qur'an dalam satu shahifah. Hadits riwayat Abu Sa'id al-Khudri. yang intinya bahwa Rasulullah menginzinkan penulisan hadits. sehingga kalau dibolehkan menulis hadits. Larangan Rasulullah itu beralasan bahwa hanya dikhawatirkan para shahabat akan sibuk dengan hadits. Penolakan al-Khatib terhadap hadits itu beralasan bahwa sanad haditsnya masih belum jelas. yakni terhenti sampai Abu Sa'id al-Khudri. menurut Muhammad ‘Ijaj al-Khatib dan Abd Rahim ibn al-Husein al-Iraqi yang didasarkan pada pendekatan-pendekatan di atas. hanya ditujukan kepada mereka yang lemah hafalannya. juga mendengarkan penafsiran yang dilakukan oleh Nabi. Begitu pula dengan keringanan (rukhshah). Dengan demikian. dikhawatirkan selalu bergantung pada tulisan. Dengan adanya hadits-hadits yang mengandung perintah untuk menulis. bahkan sebagian imam hadits mengatakan mauquf.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. sehingga keringanan (rukshah)menulis hadits. sebagaimana yang termaktub dalam kitab Ushul al-Hadits bahwa perlu dilakukan sebuah langka pendamaian hadits yang bertentangan. maka sebenarnya tidak terjadi pertentangan makna yang berarti. itu bersifat umum (‘am) dan larangan bersifat khusus (khas). al-Khatib mengambil sebuah konklusi bahwa pendekatan pertama tidak dapat diterima. dalam Ushul al-Hadits dikatakan bahwa larangan penulisan hadits ditujukan kepada mereka yang mempunyai hafalan yang luar biasa. yang berarti penulisan hadits sesungguhnya tersebut dimulai sejak masa Rasulullah. Pendekatan ketiga. Sehingga al-Khatib berpendirian bahwa larangan tersebut berlaku kepada mereka yang menulis al-Qur'an dan hadits dalam satu shahifah seperti pada pendekatan kedua. sementara penulisan al-Qur'an ditinggalkan. sebab selain mereka mendengar ayat yang diturunkan. sekalipun yang diperioritaskan adalah wahyu yang turun. karena keduanya bisa dipadukan dengan alternatif-alternatif di atas. seperti yang tertera dalam Kitab Ibn Hajar bahwa langkah yang harus ditempuh adalah dengan cara mengkritisi sanad/rawinya. Sedangkan riwayat yang berkenaan dengan larangan penulisan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri merupakan salahsatu hadits yang sanadnya mauquf. 5 / 10 . Hadits Masa Rasulullah Al-Zahrani dalam bukunya "Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah" menyatakan bahwa penulisan hadits sebenarnya telah di mulai sejak masa Rasulullah. Dari ketiga pendekatan yang dilakukan oleh para ulama tersebut.

Saling mengirim tulisan hadits di antara mereka. kemudian di kirimkan kepada ‘Amr ibn Said Abi Waqash karena permintaannya. kadang melarangnya dan kadang membolehkannya. juga didukung beberapa ungkapan para sahabat itu sendiri. Kalau begitu. sesungguhnya telah ada sebuah perhatian yang sangat besar ditunjukkan para sahabat kepada hadits tersebut.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. tidak jauh berbeda dengan hadits di masa sahabat. menyadari bahwa terjadinya sebuah kontradiksi yang sangat keras di kalangan sahabat itu diakibatkan pandangan yang masih bersifat generik. yang menyatakan bahwa Jabir ibn Samurah menuliskan sebagian hadits Rasulullah. hadits-hadits yang menyatakan rukshah. b. Di sana 6 / 10 . karena ia tidak menulis sedangkan Ibnu ‘Amr menulis hadits. yang menyatakan bahwa hafalannya tidak ada yang melindungi kecuali ‘Abdullah ibn ‘Amr. Sebagian yang tidak setuju menulis hadits menolaknya mentah-mentah dan bahkan sampai ada yang membakarnya. tulisan tersebut dihapus agar tidak tergantung kepada tulisan dan mengurangi minat menghafal. sebagai berikut. Ada beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan para sahabat dalam menjaga kelestarian al-Sunnah al-Nabawiyah. dan shahifah ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash. ada pula yang menggunakan dua pendapat dalam waktu berbeda. 26 September 2011 15:08 Sementara itu. Ada sebagian yang lain memahami larangan itu sudah di nasakh. Adapun hadits pada masa tabi'in. Setelah dirasa hafalnnya sudah mantap. Membukukan hadits dalam bentuk shuhuf dan melalui bentuk shuhuf inilah akhirnya kegiatan penulisan dan pengumpulan hadits pada masa-masa berikutnya. seperti pendapat di atas. Dan ini merupakan dasar bagi penulisan hadits serta lebih-lebih untuk menjaga kemurnian dan penyebarannya kepada umat Islam. Menganjurkan untuk menghafal dengan disertai mengkritisi teks-teks hadits secara cermat dan tegas. Bukti lain yang serupa adalah bentuk shahifah. Shahifah ‘Ali ibn Abi Tahlib. Salah satunya adalah Abu Hurairah. Sebagaimana yang di riwayatkan Imam Muslim. Hadits Masa Shahabat dan Tabi'in Akram Dhiya' al-‘Umari sebagai penulis buku Buhuts fi Tarikh al-Sunnah al-Nabawiyah. Misalnya ada shahifah Abu Bakr. Begitu pula mereka menyuruh para santrinya manulis teks-teks supaya mudah dalam menghafalnya. a. semua itu merupakan bukti yang ada pada diri yang telah banyak membukukan hadits pada masa Rasulullah. c.

seorang tabi'in yang pernah bertemu dengan 70 ahli badr. untuk menulis apa-apa yang pernah didengar dari hadits-hadits Rasulullah. ia menulis permohonan kepada Kathir ibn Murrah al-Khadlrami. dan 4) munculnya gerakan-gerakan bid'ah. Akhirnya. tentu akan semakin besar kemungkinan hadits yang hilang. Selain itu. Al-Zuhri termasuk orang pertama kali yang dapat membukukan hadits secara resmi dan menyeluruh. karena makin banyak ilmu pengetahuan yang membutuhkan pemikiran juga.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. Umar juga meminta kepada ulama yang ada diseluruh wilayah Islam. dan kondisi demikian telah membentuk sikap mereka untuk menulis dalam setiap halaqah al-‘Ilm. Abu Bakr ibn Hazm meninggal dunia. Menurut sejarahnya. pada masa ini lahir beberapa ulama dengan perhatian yang sangat besar terhadap penulisan hadits. dan segera menulis surat kepada Abu Bakr ibn Hazm. seperti Abi al-Zubair Muhammad ibn Muslim ibn Tadrus al-Asadi. Setelah itu. Tidak hanya itu. yang intinya meminta kepadanya untuk menulis hadits-hadits Rasulullah dari Umrah binti ‘Abd al-Rahman al-Anshariyah dan Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr. 2) para sahabat dan tabi'in tua yang terkenal kuat hafalannya. 3) kekuatan hafalan yang dimiliki oleh para ummat Islam pada waktu itu semakin lemah. misalnya 1) meluasnya periwayatan. yang kemudian dijadikan sebuah buku. mereka menyadari bahwa menulis ilmu merupakan kebutuhan. kalau tidak segera dibukukan. bahkan di antara mereka ada yang sangat memperhatikan terhadap penulisan ilmu yang mereka terima. Menyadari akan pentingnya penulisan ‘ilm (hadits) mereka berusaha untuk menjaganya. mereka menjaganya dengan bentuk shahifah. Ulama yang terlibat dalam penulisan ini. yang menulis beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Jabir ibn ‘Abdillah dan dari yang lainnya. Sehingga berkembangnya penulisan ini juga atas pertimbangan banyak hal. Namun hasil akhirnya belum dapat diketahui secara jelas. usaha yang maksimal baru dikerjakan oleh Imam Muhammad ibn Syihab al-Zuhri. yang mencantumkan nama-nama perawi. Umar ibn ‘Abd Aziz termasuk orang yang mempunyai hasrat besar terhadap pembukuan hadits. dan banyaknya orang-orang yang membuat hadits palsu. 26 September 2011 15:08 juga masih ada perbedaan mengenai hukum menulis hadits Rasulullah. 7 / 10 . Dengan semangat yang tinggi. Pada waktu itu. julukan dan nasabnya. semula yang ingin membukukan adalah ayahnya (‘Abd Aziz ibn Marwan). Sebelum selesai penulisan. Umar ibn ‘Abd Aziz meneruskan usaha tersebut. banyak yang telah meninggal dunia. disertai dengan sanad yang panjang. Meskipun demikian. ketika menjabat sebagai gubernur di Mesir. kegiatan tulis-menulis semakin berkembang pesat. Masa Umar ibn ‘Abd Aziz Setelah melalui beberapa periode. Pada masa tabi'in. Ia di tugasi Umar untuk mengumpulkan seluruh hadits-hadits Rasulullah. Mereka ramai-ramai menyerbu halaqah al-‘Ilm.

dan al-Masanid. Mereka sangat faham tetang kronologis periwayatan hadits. Catatan Akhir 8 / 10 . seperti Imam Ahmad ibn Hanbal. Selain itu. terutama yang berkaitan dengan Hadits. Generasi pertama. kondisinya jauh berbeda dengan abad sebelumnya.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. bahwa dari perkembangan yang sangat pesat itu. al-Bukhari. yaitu generasi shighar al-tabi'in dan generasi atba'u al-tabi'in. 26 September 2011 15:08 Hadits Masa Abad Kedua dan Ketiga Hijrah Pada abad kedua hijrah terdapat dua generasi. Umumnya. dalam tingkatan periwayatan hadits dan penyebaran agama Islam kepada umat. Ishaq ibn Rahwaih dan lain-lain. imam Syafi'I. Selain itu. generasi ini mempunyai peranan sangat besar dalam menghadapi ahl al-bida' wa al-ahwa'. Sedangkan generasi kedua. Imam al-Auza'I dan lain-lain. Ibn al-Mubarak. Abad ini sampai dikenal dengan the golden age bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam. mengadakan tahdzib dan seterusnya. dan berusaha sekuat tenaga dalam menghalau segala bentuk kebohongan hadits (al-wadl'u fi al-hadits) yang dipelopori oleh kelompok al-Zanadiyah. Dlamrah ibn Rabi'ah dan lain-lain. dan sebgai kelanjutannya menulis sebuah ilm al-rijal yang banyak beredar buku-buku kumpulan hadits seperti. mereka yang hidup setelah periode sahabat dan tabi'in. Semua itu adalah figur pertama yang menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits. imam al-Tsauri. mereka itu adalah Imam Malik. keberhasilan mereka adalah menyusu ilm al-rijal. mereka yang hidup sampai setelah tahun 140 hijrah. karena ulama-ulama setelah itu tidak menghasilkan karya seperti abad sebelumnya. Mereka mungkin hanya berusaha untuk memperbaiki susunannya. al-Kutub al-Sittah. Imam Muslim. mereka sangat berhati-hati ketika melakukan seleksi hadits untuk dibukukan dan sekaligus disusunnya dalam bentuk susunan bab. Adapun pada abad ketiga hijrah. Ali ibn al-Madini. telah menjadi tonggak sejarah penulisan dan penyusunan hadits. abad kedua juga terkenal dengan banyaknya ulama yang muncul. Satu hal lagi. Perkembangan semacam itu akibat tumbuhnya semangat untuk mengadakan rihlah ilmiah dalam rangka mencari hadits. yang ditandai dengan adanya buku-buku yang ditulis oleh al-Laits ibn Sa'ad. yang sampai sekarang menjadi rujukan dalam bidang hadits. Dan pada abad ini pula merupakan batas yang membedakan antara muta'akhirin dan mutaqaddimin. Semua buku tersebut merupakan sumbangan besar dalam perkembangan ilmu hadits dari ulama yang mempunyai wawasan keilmuan yang luas.

sudah dimulai sejak masa Rasulullah. Argumen ini tidak dapat diterima. 15:9). Tetapi larangan terhadap penulisan hadits. sebab hal yang sama dapat terjadi terhadap al-Qur'an dan hadits yang disampaikan secara lisan. tetapi tidak dapat diterima oleh para peneliti. Padahal jika kita cermati secara mendalam. Abu Ruyyah menganggap bahwa bukan karena ketakutan tercampur antarahadits dan ayat al-Qur'an. Lebih lanjut. Bahasa Al-Qur'an merupakan mukjizat yang sulit ditandingi oleh bahasa siapa pun. yang menimbulkan kerusakan yang sulit diperbaiki pada kebudayaan Islam. Dan jika kekhawatiran tersebut diyakini. Problema yang terjadi pada penulisan hadits hanya di dasarkan pada kekhawatiran belaka. Kekhawatiran tercampurnya hadits dengan al-Qur'an mustakhil akan terjadi. Sebagaimana penolakan yang ditunjukkan oleh Abu Ruyyah dalam kitabnya "Adwa' ala Sunnah Muhammadiyah " yang dikutip Rasul Ja'farian dalam al-Hikmah dikatakan sebagai berikut: "Alasan demikian mungkin tampak meyakinkan bagi orang awam. Memang benar bahwa perhatian ekslusif terhadap hadits merupakan penyimpangan yang bagi mereka memiliki kecenderungan ke sana. bukanlah cara yang tepat untuk mendapatkan hasil 9 / 10 . Lebih lanjut. sehingga harus diperingatkan dan diminta untuk memberikan perhatian yang sama terhadap al-Qur'an. itu berarti manyamakan keindahan bahasa al-Qur'an setingkat dengan hadits". kemudian orang akan mengabaikan al-Qur'an karena memberikan seluruh perhatiannya kepada hadits. Ruyyah menyatakan bahwa meyakini adanya kemungkinan bercampuraduknya al-Qur'an dengan hadits berarti meyakini adanya kemungkinan pengurangan ayat dalam al-Qur'an. akan tetapi ada yang lebih daripada itu yang belum terketahui. 26 September 2011 15:08 Dari beberapa riwayat dan argumentasi yang dikemukakan para ulama di atas dapat dipahami bahwa sesungguhnya kegiatan tulis menulis ---termasuk hadits-. Keyakinan ini tidak dibenarkan karena keaslian al-Qur'an sudah dijamin oleh Allah. Sebab. alasan kekhawatiran tersebut sangat lemah. Sungguh. termasuk oleh rasul sendiri.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. Dan Kamijualah memeliharanya (Q. maka berarti mengingkari keistimewaan (mukzizat) al-Qur'an. telah Kami turunkan al-Qur'an (pemberi peringatan).S. karena salah satu letak kemukjizatan al-Qur'an adalah keindahan bahasa. Ja'farian menggugat bahwa alasan lain yang diberikan dalam soal penulisan hadits.

1412 H. 1980. Pengantar Ilmu Hadits. AL-HIKMAH. Beirut: al-Maktab al-Islami. Beirut: Dar al-Ma'rifah. Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Daftar Pustaka Al-Khatib. Buhuth fi Tarikh al-Sunnah al-Nabawiyah. Azami. Al-Minhaj Syar Shahih Muslim ibn al-Hajjaj. Muhyidin. Beirut: Bitsah. Pustaka Firdaus. Ulumuhu wa Musththalahuhu. Al-Umari. 10 / 10 . Rasul Ja'farian. *) Mujtahid. cet. Dirasat fi al-Hadits al-Nabawi wa Tarikh Tadwinihi. 26 September 2011 15:08 semacam itu. 1995. Sya'ban-Dzu al-qa'dah 1410 H. Jakarta.. Ushul al-hadits. Muhammad ‘Ijaj. Al-Zahrani. Semarang: Pustaka Rizki Putra.II.Shadiq. No.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. 2000. 1976. 1984. cet. Akram Dhiya'. Surabaya: Pustaka Progressif. 1998. Beirut: Dar al-Fikr. Muhammad Hasbi. Al-Nawawi. dialibahasakan oleh Ali Mustafa Yaqub dengan judul Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. Al-Shidiqi. Muhammad ibn Mathr. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Muhammad Musthafa. Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah" Thaif: Maktabah al. Masjfuk. 1. II. 1989. Zuhdi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful