P. 1
Sejarah Penulisan Hadits

Sejarah Penulisan Hadits

|Views: 40|Likes:
Published by Miftah Ahmad

More info:

Published by: Miftah Ahmad on Jun 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2012

pdf

text

original

Sejarah Penulisan Hadits

Ditulis oleh Mujtahid Senin, 26 September 2011 15:08

SEBAGAIMANA pengetahuan yang sering kita terima dari studi hadits, bahwa hadits adalah sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur'an, yang memiliki peranan penting dalam berbagai disiplin dan dimensi kehidupan. Rasulullah selain meninggalkan wahyu (al-Qur'an) juga As-Sunnah (Hadits) sebagai pegangan dan penuntun umat Islam dimanapun dan kapanpun. Walapun posisinya nomor dua, tetapi kedudukan hadits sangat penting dalam menjelaskan dan menjabarkan pesan-pesan atau perintah dan larangan yang ditegaskan oleh al-Qur'an.

Tulisan ini akan menyajikan tentang sejarah penulisan hadits. Seperti yang banyak kita jumpai bahwa dari sekian kitab sunnah yang ada sekarang ini merupakan hasil kerja keras dari proses seleksi yang cukup panjang. Tak pelak lagi, bahwa dalam sejarah pengumpulan dan penulisan selalu diwarnai perdebatan panjang dalam rangka menentukan keotentikan hadits. Sikap kehati-hatian dan kecermatan telah ditunjukkan oleh para penghimpun hadits dengan cara yang selektif dan penuh pertimbangan.

Sebagian orang berpendapat bahwa pada masa Rasulullah, periwayatan hadits umumnya hanya dilakukan melalui hafalan dari satu sahabat ke sahabat lain, bukan melalui tulisan. Pertimbangannya hanya sederhana, yakni dikhawatirkan akan tercampur dengan ayat-ayat al-Qur'an. Meskipun al-Qur'an sendiri pada awalnya juga sama, bukan untuk dibukukan (ditulis). Tetapi secara tegas, Rasulullah memberikan lampu hijau kepada para sahabat supaya mencatatnya dengan alat tulis. Sehingga pengumpulan dan penulisan ayat-ayat al-Qur'an lebih mudah di bandingkan dengan kondisi hadits.

Sementara pendapat lain mengatakan bahwa pada diri hadits belum ada ketegasan tentang perintah yang jelas mengenai penulisannya. Bahkan ada sebuah riwayat yang mengatakan sebaliknya, bahwa para sahabat dilarang menulis. Atas dasar inilah kemudian tidak semua hadits dapat diterima dengan serta-merta. Sehingga satu hal yang membuktikan ketidakotentikan hadits yang dianggap berasal dari Nabi tentang pelarangan penulisan hadits adalah pernyataan Umar, berkenaan dengan maksud penghimpunan hadits. Umar diriwayatkan berkata: "saya bermaksud menuliskan hadits Nabi. Tetapi niat itu segera kusadari bahwa umat terdahulu menulis kitab-kitab tertentu dan mereka mengabaikan kitab suci. Demi Allah, saya tidak akan membiarkan sesuatu pun yang dapat mengubah Kitab Allah. "

Riwayat di atas mengungkapkan bahwa khalifah kedualah yang untuk pertama kali, berniat menulis hadits. Dalam sebagian versi dari riwayat penulisan ini disebutkan bahwa Umar berembuk dengan para sahabat yang lain tentang perkara ini dan mereka pun menyetujuinya;

1 / 10

mengatakan bahwa penulisan hadits pada masa Nabi diperbolehkan. tetapi penulisan itu bahkan penting menurut pertimbangan Nabi agar ummah tidak terjebak dalam kekeliruan dan kesesatan. "Cukup bagi kita Kitab Allah. ُ‫ﻟﺎَ ﺕَﻙْﺕُﺏُﻭْﺍ ﻉَﻥِّﻱْ، ﻭَﻡَﻥْ ﻙَﺕَﺏَ ﻉَﻥِّﻱْ ﻍَﻱْﺭَ اﻞْﻕُﺭْآﻦِ ﻑَﻝْﻱَﻡْﺱَﺡُﻩ‬ Artinya: Jangan kamu sekalian menulis sesuatu dariku. Sejalan dengan hadits di atas. sehingga terjadi percampuran antara keduanya. Perspektif yang pertama melarang penulisan hadits dengan memakai dasar kepada hadits yang diyakini dari Rasul. jadi Nabi mengkhawatirkan kalau-kalau mereka tidak dapat membedakan qur'an dan hadits. Pada hari itu. berhubungan pada waktu itu sahabat-sahabat Nabi masih banyak yang Ummi (tidak bisa baca tulis)." Riwayat ini menunjukkan kepada kita bahwa penulisan apa pun selain al-Qur'an bukan saja tidak dilarang. 2 / 10 . sehingga dapat aku tuliskan sesuatu untuk kalian. Al-Nawawi dalam bukunya yang berjudul al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj. menjelaskan bahwa ada beberapa riwayat tentang pelarangan menulis hadits pada masa Rasulullah saw. Nabi percaya atas kekuatan hafalan para sahabatnya dan kemampuannya mereka untuk memelihara semua ajarannya tanpa catatan/ulisan danini berarti secara tidak langsung mendidik mereka untuk percaya pada kemampuan sendiri. yang tidak akan menyebabkan kalian terjerumus ke dalam kekeliruan. hendaklah ia menghapusnya. Nabi bersabda kepada mereka: "Bawakan kepadaku kertas dan tinta. dan barangsiapa telah menulis sesuatu dariku selain al-Qur'an. Sekitar Penulisan Hadits Mengkaji tentang seputar penulisan hadits. dengan bersumber pula pada hadits Nabi. dan bukan berdasarkan larangan Nabi. Salah satu hadits yang diyakini dari Rasulullah diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. Hal lain yang dapat dikutip sebagai bukti ketidakotentikan hadits mengenai larangan penulisan hadits ialah pernyataan Nabi pada hari Selasa menjelang akhir hayatnya. Sementara perspektif kedua. Pertama. 26 September 2011 15:08 tetapi pendiriannya lalu berubah karena alasan yang telah ia nyatakan. Kedua. setidaknya akan kita jumpai dua perspektif yang berbeda." Ada sebagian orang di bawah pimpinan Umar yang menentangnya dengan mengatakan. ketika para sahabat berkumpul mengelilingi tempat wafatnya. Masjfuk Zuhdi menambahkan bahwa larangan penulisan ini ada hikmahnya. sedang waktu itu wahyu Ilahi masih turun Qur'an.

"pada masa iti.Bari Syarh al-Bukhari dikatakanbahwa riwayat yang membolehkan itu berasal dari Abu Hurairah. ketika dalam penyampaian ada seorang dari Yaman berdiri bernama Abu Syah. berkaiatn dengan terjadinya "fath al-Makkah". ditambahkannya kata tasahhud dalam pernyataanitu tidak sesuai dengan maksud pelarangan penulisan apa pun kecuali al-Qur'an. merujuk kepada kitab "al-Madkhal" yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi dari Abu Hurairah. telah menyampaikan pernyataan lain yang bertentangan dengan ini. ia harus menunjukkannya. tiba-tiba berkata. Kedua. Kedua. menurut Ja'farian hadits tersebut tidak dapat diterima keshahihannya dengan alasan berikut. Dalam hal ini keduanya kehilangan kredibilitasnya. kerana seandainya demikian. Ketiga. berarti kita tidak dapat membatasi penerapannya pada masa tertentu saja. Rasulullah berdiri untuk menyampaikan khutbahkepada penduduk Makkah. istikharah disebut bersama tasahhud. Periwayatan ini.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. kalau kita menerima hadits itu. Dari pernyataan ini ada dua hal yang dapat disimpulkan. kita tidak menuliskan apa pun kecuali al-Qur'an dan Tasahhud". di samping ada riwayat yang melarang penulisan hadits. 3 / 10 . Jika penulisan hadits tidak diperbolehkan dan haram. perawi initelah meriwatkan juga hadits yang lain yang menunjukkan boleh menulishadits. walaupun misalnya. maka haramnya itu harus untuk setiap saat.dan kalu kita menganggap kedua rangkaian hadits ini sama kuat. pertama. tuliskan khutbah ini untuknya! Penjelasan lain yang diungkapkan oleh Hasbi al-Shidiqi. Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam bukunta Fath al. Ia berkata. Perlu diperhatikan bahwa dalam hadits lain yang semua dari Ibn Mas'ud. tuliskan (khutbah tersebut) untukku. Abu Sa'id al-Khudri tidak berkata bahwa mereka menuliskan hadits atas perintahNabi. Tetapi para perawi hadits tidak berpegang kepadanya dan pada akhirnya mereka menulis serta menghimpun berbagai hadits. maka Rasulullah berkata kepada para sahabat. 26 September 2011 15:08 Masih menanggapi hadits Abu Sa'id al-Khudri. Dan masih banyak alasan lain yang berkenaan dengan riwayat Abu Sa'id al-Khudri tersebut. kita tidak dapat membuktikan kelemahan hadits dengan cara lain. Pada waktu itu. kita harus menolak kedua-duanya karena bertentangan. Abu Sa'id al-Khudri yang meriwayatkan juga hadits ini. Sebaliknya. ada juga yang membolehkannya. Pertama. ya Rasulullah!. kecuali kalau penjelasan tersebut bukanlah yang ia maksudkan.

Masih dalam penjelasan al-Shidiqi. Salah satu cara untuk mengambil jalan tengah dari versi yang berbeda tersebut adalah dengan cara tarjih. Dia menuliskan apa yang dia dengar. dua versi riwayat di atas betul-betul bertentangan. َّ‫ﺍُﻙْﺕُﺏْ ﻉَﻥِّﻱْ، ﻑَﻭَاﻞَّﺫِﻱ ﻥَﻑْﺱِﻯ ﺏِﻱَﺩِﻩِ ﻡَاﺦَﺭَﺝَ ﻡِﻥْ ﻑَﻡِّﻱْ ﺇِﻟﺎ‬ ٌّ‫ﺡَﻕ‬ Artinya: Tulislah dariku. menjelaskan riwayat tersebut bahwa selain Nabi sendiri pernah mengirim surat kepada sebagain pegawainya menerangkan kadar-kadar zakat Unta dan Kambing. 26 September 2011 15:08 ْ‫ﻡَاﻢِﻥْ ﺃَ ﺡَﺩٍ ﻡِﻥْ ﺃَﺹْﺡَاﺐِ اﻠﻦَّﺏِﻱِ ﺹ ﻡ، ﺃَﻙْﺙَﺭَ ﺡَﺩِﻱْﺙًﺍ ﻉَﻥْﻩُ ﻡِﻥِّﻱ‬ َ‫ﺇِﻟﺎَّ ﻡَاﻚَاﻦَ ﻉِﻥْﺩَ ﻉَﺏْﺩِ اﻠﻠﻪِ ﺏْﻥِ ﻉَﻡْﺭِوﺐْﻥِ اﻠﻊَاﺺِ ﻑَﺇِﻥَّﻩُ ﻙَاﻦ‬ ُ‫ﻱَﻙْﺕُﺏُ ﻭَﻟﺎَ ﺃَﻥَﺍ ﺃَﻙْﺕُﺏ‬ Artinya: Tidak seorang dari sahabat nabi yang demikian banyak (lebih mengetahui) hadits rasul daripadaku. Secara dhahir. tidak keluar dari mulutku kecuali yang benar (haq). Anas ibn Malik juga mempunyai sebuah buku catatan. 4 / 10 . demi dzat (Tuhan) yang jiwaku di dalam kekuasaan-Nya. ditulis di dalamnya hukum-hukum diyat yang diberatkan kepada keluarga. karena itu para ulama mengambil suatu pendekatan untuk mengkompromikan atau mendamaikan (al-jam'u) antara keduanya. dan lain-lain. Dan pernah dengan tegas Nabi memerintahkan sahabat menulis hadits. Lebih lanjut. yakni mengambil salah satu riwayat yang terkuat dari kedua riwayat tersebut. bahwa sebuah riwayat dari Nabi.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. Sementara al-Shidiqi. sedangkan aku tidak menulisnya. selain Abdullah ibn Amr ibn Ash. Hadits tersebut. ia mengatakan bahwa menurut sebuah riwayat. Penjelasan yang hampir senada juga dikemukakan Zuhdi. merupakan sebuah jawaban terhadap pertanyaan Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash tentang penulisan sunah-sunah. bahwa ada pula riwayat yang menerangkan bahwa Ali mempunyai sebuah shahifah.

Sedangkan riwayat yang berkenaan dengan larangan penulisan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri merupakan salahsatu hadits yang sanadnya mauquf. Dari ketiga pendekatan yang dilakukan oleh para ulama tersebut. al-Khatib mengambil sebuah konklusi bahwa pendekatan pertama tidak dapat diterima. Begitu pula dengan keringanan (rukhshah). Dengan adanya hadits-hadits yang mengandung perintah untuk menulis. sementara penulisan al-Qur'an ditinggalkan. Larangan Rasulullah itu beralasan bahwa hanya dikhawatirkan para shahabat akan sibuk dengan hadits. sekalipun yang diperioritaskan adalah wahyu yang turun. juga mendengarkan penafsiran yang dilakukan oleh Nabi. Pendekatan ketiga. karena keduanya bisa dipadukan dengan alternatif-alternatif di atas. sehingga kalau dibolehkan menulis hadits. Pendekatan kedua. sebetulnya ditujukan kepada mereka yang menulis hadits dan al-Qur'an dalam satu shahifah. sebab selain mereka mendengar ayat yang diturunkan.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. Hadits riwayat Abu Sa'id al-Khudri. 5 / 10 . yang intinya bahwa Rasulullah menginzinkan penulisan hadits. Hadits Masa Rasulullah Al-Zahrani dalam bukunya "Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah" menyatakan bahwa penulisan hadits sebenarnya telah di mulai sejak masa Rasulullah. sehingga keringanan (rukshah)menulis hadits. sebagaimana yang termaktub dalam kitab Ushul al-Hadits bahwa perlu dilakukan sebuah langka pendamaian hadits yang bertentangan. Penolakan al-Khatib terhadap hadits itu beralasan bahwa sanad haditsnya masih belum jelas. seperti yang tertera dalam Kitab Ibn Hajar bahwa langkah yang harus ditempuh adalah dengan cara mengkritisi sanad/rawinya. dikhawatirkan selalu bergantung pada tulisan. sehingga kalau ditulis dalam satu shahifah akan tercampur. 26 September 2011 15:08 Pendekatan pertama. menurut Muhammad ‘Ijaj al-Khatib dan Abd Rahim ibn al-Husein al-Iraqi yang didasarkan pada pendekatan-pendekatan di atas. bahkan sebagian imam hadits mengatakan mauquf. yang berarti penulisan hadits sesungguhnya tersebut dimulai sejak masa Rasulullah. Sehingga al-Khatib berpendirian bahwa larangan tersebut berlaku kepada mereka yang menulis al-Qur'an dan hadits dalam satu shahifah seperti pada pendekatan kedua. dalam Ushul al-Hadits dikatakan bahwa larangan penulisan hadits ditujukan kepada mereka yang mempunyai hafalan yang luar biasa. maka sebenarnya tidak terjadi pertentangan makna yang berarti. itu bersifat umum (‘am) dan larangan bersifat khusus (khas). Dengan demikian. yakni terhenti sampai Abu Sa'id al-Khudri. hanya ditujukan kepada mereka yang lemah hafalannya.

Begitu pula mereka menyuruh para santrinya manulis teks-teks supaya mudah dalam menghafalnya. Bukti lain yang serupa adalah bentuk shahifah. yang menyatakan bahwa hafalannya tidak ada yang melindungi kecuali ‘Abdullah ibn ‘Amr. Sebagaimana yang di riwayatkan Imam Muslim. Saling mengirim tulisan hadits di antara mereka. seperti pendapat di atas.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. karena ia tidak menulis sedangkan Ibnu ‘Amr menulis hadits. Membukukan hadits dalam bentuk shuhuf dan melalui bentuk shuhuf inilah akhirnya kegiatan penulisan dan pengumpulan hadits pada masa-masa berikutnya. Sebagian yang tidak setuju menulis hadits menolaknya mentah-mentah dan bahkan sampai ada yang membakarnya. c. sesungguhnya telah ada sebuah perhatian yang sangat besar ditunjukkan para sahabat kepada hadits tersebut. menyadari bahwa terjadinya sebuah kontradiksi yang sangat keras di kalangan sahabat itu diakibatkan pandangan yang masih bersifat generik. tidak jauh berbeda dengan hadits di masa sahabat. Salah satunya adalah Abu Hurairah. Adapun hadits pada masa tabi'in. Ada beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan para sahabat dalam menjaga kelestarian al-Sunnah al-Nabawiyah. Kalau begitu. b. hadits-hadits yang menyatakan rukshah. juga didukung beberapa ungkapan para sahabat itu sendiri. a. Misalnya ada shahifah Abu Bakr. yang menyatakan bahwa Jabir ibn Samurah menuliskan sebagian hadits Rasulullah. semua itu merupakan bukti yang ada pada diri yang telah banyak membukukan hadits pada masa Rasulullah. 26 September 2011 15:08 Sementara itu. Hadits Masa Shahabat dan Tabi'in Akram Dhiya' al-‘Umari sebagai penulis buku Buhuts fi Tarikh al-Sunnah al-Nabawiyah. Di sana 6 / 10 . Shahifah ‘Ali ibn Abi Tahlib. tulisan tersebut dihapus agar tidak tergantung kepada tulisan dan mengurangi minat menghafal. kadang melarangnya dan kadang membolehkannya. Setelah dirasa hafalnnya sudah mantap. Dan ini merupakan dasar bagi penulisan hadits serta lebih-lebih untuk menjaga kemurnian dan penyebarannya kepada umat Islam. ada pula yang menggunakan dua pendapat dalam waktu berbeda. kemudian di kirimkan kepada ‘Amr ibn Said Abi Waqash karena permintaannya. dan shahifah ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash. Ada sebagian yang lain memahami larangan itu sudah di nasakh. sebagai berikut. Menganjurkan untuk menghafal dengan disertai mengkritisi teks-teks hadits secara cermat dan tegas.

seorang tabi'in yang pernah bertemu dengan 70 ahli badr. semula yang ingin membukukan adalah ayahnya (‘Abd Aziz ibn Marwan). Abu Bakr ibn Hazm meninggal dunia. yang kemudian dijadikan sebuah buku. tentu akan semakin besar kemungkinan hadits yang hilang. seperti Abi al-Zubair Muhammad ibn Muslim ibn Tadrus al-Asadi. Sehingga berkembangnya penulisan ini juga atas pertimbangan banyak hal. Ia di tugasi Umar untuk mengumpulkan seluruh hadits-hadits Rasulullah. kalau tidak segera dibukukan. pada masa ini lahir beberapa ulama dengan perhatian yang sangat besar terhadap penulisan hadits. misalnya 1) meluasnya periwayatan. dan banyaknya orang-orang yang membuat hadits palsu. Ulama yang terlibat dalam penulisan ini. Namun hasil akhirnya belum dapat diketahui secara jelas. disertai dengan sanad yang panjang. Pada waktu itu. dan kondisi demikian telah membentuk sikap mereka untuk menulis dalam setiap halaqah al-‘Ilm. Meskipun demikian. yang intinya meminta kepadanya untuk menulis hadits-hadits Rasulullah dari Umrah binti ‘Abd al-Rahman al-Anshariyah dan Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr. Masa Umar ibn ‘Abd Aziz Setelah melalui beberapa periode. Dengan semangat yang tinggi. banyak yang telah meninggal dunia. Mereka ramai-ramai menyerbu halaqah al-‘Ilm. usaha yang maksimal baru dikerjakan oleh Imam Muhammad ibn Syihab al-Zuhri. 26 September 2011 15:08 juga masih ada perbedaan mengenai hukum menulis hadits Rasulullah. Akhirnya. 7 / 10 . julukan dan nasabnya. 3) kekuatan hafalan yang dimiliki oleh para ummat Islam pada waktu itu semakin lemah. Pada masa tabi'in. dan 4) munculnya gerakan-gerakan bid'ah. Menurut sejarahnya. Tidak hanya itu. mereka menjaganya dengan bentuk shahifah. yang mencantumkan nama-nama perawi. Setelah itu. yang menulis beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Jabir ibn ‘Abdillah dan dari yang lainnya. kegiatan tulis-menulis semakin berkembang pesat. Umar ibn ‘Abd Aziz termasuk orang yang mempunyai hasrat besar terhadap pembukuan hadits. Selain itu. karena makin banyak ilmu pengetahuan yang membutuhkan pemikiran juga. untuk menulis apa-apa yang pernah didengar dari hadits-hadits Rasulullah.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. Umar juga meminta kepada ulama yang ada diseluruh wilayah Islam. Sebelum selesai penulisan. 2) para sahabat dan tabi'in tua yang terkenal kuat hafalannya. bahkan di antara mereka ada yang sangat memperhatikan terhadap penulisan ilmu yang mereka terima. Al-Zuhri termasuk orang pertama kali yang dapat membukukan hadits secara resmi dan menyeluruh. Umar ibn ‘Abd Aziz meneruskan usaha tersebut. Menyadari akan pentingnya penulisan ‘ilm (hadits) mereka berusaha untuk menjaganya. mereka menyadari bahwa menulis ilmu merupakan kebutuhan. dan segera menulis surat kepada Abu Bakr ibn Hazm. ia menulis permohonan kepada Kathir ibn Murrah al-Khadlrami. ketika menjabat sebagai gubernur di Mesir.

Dan pada abad ini pula merupakan batas yang membedakan antara muta'akhirin dan mutaqaddimin. Imam Muslim. Imam al-Auza'I dan lain-lain.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. karena ulama-ulama setelah itu tidak menghasilkan karya seperti abad sebelumnya. dan sebgai kelanjutannya menulis sebuah ilm al-rijal yang banyak beredar buku-buku kumpulan hadits seperti. seperti Imam Ahmad ibn Hanbal. mereka itu adalah Imam Malik. yaitu generasi shighar al-tabi'in dan generasi atba'u al-tabi'in. kondisinya jauh berbeda dengan abad sebelumnya. Semua buku tersebut merupakan sumbangan besar dalam perkembangan ilmu hadits dari ulama yang mempunyai wawasan keilmuan yang luas. telah menjadi tonggak sejarah penulisan dan penyusunan hadits. Sedangkan generasi kedua. bahwa dari perkembangan yang sangat pesat itu. 26 September 2011 15:08 Hadits Masa Abad Kedua dan Ketiga Hijrah Pada abad kedua hijrah terdapat dua generasi. Ali ibn al-Madini. Selain itu. abad kedua juga terkenal dengan banyaknya ulama yang muncul. Catatan Akhir 8 / 10 . Satu hal lagi. imam Syafi'I. yang sampai sekarang menjadi rujukan dalam bidang hadits. Abad ini sampai dikenal dengan the golden age bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Dlamrah ibn Rabi'ah dan lain-lain. keberhasilan mereka adalah menyusu ilm al-rijal. dan berusaha sekuat tenaga dalam menghalau segala bentuk kebohongan hadits (al-wadl'u fi al-hadits) yang dipelopori oleh kelompok al-Zanadiyah. terutama yang berkaitan dengan Hadits. Mereka mungkin hanya berusaha untuk memperbaiki susunannya. al-Bukhari. al-Kutub al-Sittah. Perkembangan semacam itu akibat tumbuhnya semangat untuk mengadakan rihlah ilmiah dalam rangka mencari hadits. Ibn al-Mubarak. mengadakan tahdzib dan seterusnya. mereka sangat berhati-hati ketika melakukan seleksi hadits untuk dibukukan dan sekaligus disusunnya dalam bentuk susunan bab. Semua itu adalah figur pertama yang menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits. dalam tingkatan periwayatan hadits dan penyebaran agama Islam kepada umat. Adapun pada abad ketiga hijrah. Ishaq ibn Rahwaih dan lain-lain. Umumnya. yang ditandai dengan adanya buku-buku yang ditulis oleh al-Laits ibn Sa'ad. Mereka sangat faham tetang kronologis periwayatan hadits. Generasi pertama. mereka yang hidup sampai setelah tahun 140 hijrah. Selain itu. generasi ini mempunyai peranan sangat besar dalam menghadapi ahl al-bida' wa al-ahwa'. dan al-Masanid. mereka yang hidup setelah periode sahabat dan tabi'in. imam al-Tsauri.

sebab hal yang sama dapat terjadi terhadap al-Qur'an dan hadits yang disampaikan secara lisan. telah Kami turunkan al-Qur'an (pemberi peringatan).sudah dimulai sejak masa Rasulullah. Argumen ini tidak dapat diterima. alasan kekhawatiran tersebut sangat lemah. Memang benar bahwa perhatian ekslusif terhadap hadits merupakan penyimpangan yang bagi mereka memiliki kecenderungan ke sana. Kekhawatiran tercampurnya hadits dengan al-Qur'an mustakhil akan terjadi. 26 September 2011 15:08 Dari beberapa riwayat dan argumentasi yang dikemukakan para ulama di atas dapat dipahami bahwa sesungguhnya kegiatan tulis menulis ---termasuk hadits-. Ja'farian menggugat bahwa alasan lain yang diberikan dalam soal penulisan hadits. karena salah satu letak kemukjizatan al-Qur'an adalah keindahan bahasa. Bahasa Al-Qur'an merupakan mukjizat yang sulit ditandingi oleh bahasa siapa pun. maka berarti mengingkari keistimewaan (mukzizat) al-Qur'an. Sebab.S. sehingga harus diperingatkan dan diminta untuk memberikan perhatian yang sama terhadap al-Qur'an. tetapi tidak dapat diterima oleh para peneliti. Dan jika kekhawatiran tersebut diyakini. Padahal jika kita cermati secara mendalam. akan tetapi ada yang lebih daripada itu yang belum terketahui. Sebagaimana penolakan yang ditunjukkan oleh Abu Ruyyah dalam kitabnya "Adwa' ala Sunnah Muhammadiyah " yang dikutip Rasul Ja'farian dalam al-Hikmah dikatakan sebagai berikut: "Alasan demikian mungkin tampak meyakinkan bagi orang awam. Ruyyah menyatakan bahwa meyakini adanya kemungkinan bercampuraduknya al-Qur'an dengan hadits berarti meyakini adanya kemungkinan pengurangan ayat dalam al-Qur'an. Tetapi larangan terhadap penulisan hadits. bukanlah cara yang tepat untuk mendapatkan hasil 9 / 10 . Abu Ruyyah menganggap bahwa bukan karena ketakutan tercampur antarahadits dan ayat al-Qur'an. Problema yang terjadi pada penulisan hadits hanya di dasarkan pada kekhawatiran belaka. termasuk oleh rasul sendiri. Dan Kamijualah memeliharanya (Q. Lebih lanjut. Lebih lanjut. yang menimbulkan kerusakan yang sulit diperbaiki pada kebudayaan Islam. itu berarti manyamakan keindahan bahasa al-Qur'an setingkat dengan hadits". Sungguh. Keyakinan ini tidak dibenarkan karena keaslian al-Qur'an sudah dijamin oleh Allah. 15:9).Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. kemudian orang akan mengabaikan al-Qur'an karena memberikan seluruh perhatiannya kepada hadits.

Muhammad ‘Ijaj. Ushul al-hadits. 1989. Beirut: al-Maktab al-Islami. 1980. Pustaka Firdaus. Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah" Thaif: Maktabah al. Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Daftar Pustaka Al-Khatib. 2000. Sya'ban-Dzu al-qa'dah 1410 H. Pengantar Ilmu Hadits. Muhammad Hasbi. dialibahasakan oleh Ali Mustafa Yaqub dengan judul Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. Jakarta. Beirut: Dar al-Fikr. Ulumuhu wa Musththalahuhu. cet. No. Zuhdi. AL-HIKMAH. 1412 H. Semarang: Pustaka Rizki Putra. 26 September 2011 15:08 semacam itu. Muhyidin. Al-Shidiqi. 1984.II. 1995. Beirut: Bitsah. *) Mujtahid.Shadiq. Surabaya: Pustaka Progressif. Dirasat fi al-Hadits al-Nabawi wa Tarikh Tadwinihi. Azami. Al-Nawawi.Sejarah Penulisan Hadits Ditulis oleh Mujtahid Senin. 1998. Akram Dhiya'. 10 / 10 . Al-Umari. Muhammad ibn Mathr. Rasul Ja'farian. 1976. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Muhammad Musthafa. Masjfuk. Al-Minhaj Syar Shahih Muslim ibn al-Hajjaj. 1. Beirut: Dar al-Ma'rifah.. Buhuth fi Tarikh al-Sunnah al-Nabawiyah. cet. Al-Zahrani. II.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->