MAKALAH EKOLOGI TUMBUHAN PENERAPAN EKOLOGI DALAM BIDANG PERTANIAN, KEHUTANAN, DAN TATA KOTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Biologi lingkungan atau yang biasa dikenal dengan ekologi adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang mempunyai hubungan erat dengan lingkungan. Ekologi berasal dari kata oikos yang berarti rumah tangga dan logos yang mempunyai arti ilmu pengetahuan. Jadi, ekologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan keadaan lingkungannya yang bersifat dinamis. Hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya sangat terbatas terhadap lingkungan yang bersangkutan, hubungan inilah yang disebut dengan keterbatasan ekologi. Dalam keterbatasan ekologi terjadi degradasi ekosistem yang disebabkan oleh dua hal yaitu peristiwa alami dan kegiatan manusia. Secara alami merupakan peristiwa yang terjadi bukan karena disebabkan oleh perilaku manusia. Sedangkan yang disebabkan oleh kegitan manusia yaitu degradasi ekosistem yang dapat terjadi diberbagai bidang meliputi bidang pertanian, pertambangan, kehutanan, konstruksi jalan raya, pengembangan sumber daya air dan adanya urbanisasi. Indonesia mempunyai hutan tropis dunia sebesar 10 persen. Sekitar 12% keadaan hutan di Indonesia yang merupakan bagian dari jumlah binatang yang tergolong jenis mamalia, 16% persen merupakan bagian dari spesies amphibi dan binatang sejenis reptil dan 25% dari bagian spesies sejenis burung dan sekitar 1.519 merupakan bagian dari spesies burung. Sisanya merupakan endemik yang hanya dapat ditemui didaerah tersebut. Penyusutan luas hutan alam yang merupakan asli Indonesia mengalami kecepatan menurunan yang cukup memprihatinkan. Menurut World Resource Institute (1997), hingga saat ini hutan asli Indonesia. Selama periode 1985-1997 kerusakan hutan mencapai 1,6 juta hektar per tahun. Pada periode 1997-2000 bertambah menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Berdasarkan pada hasil penelitian citra landsat pada tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan mengalami kerusakan yang cukup serius. Diantaranya, hutan seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan [Badan Planologi Dephut,2003]. Menurut data yang diperoleh dari Bakornas Penanggulangan Bencana pada tahun 2003, bencana yang terjadi selama tahun 1998 hingga pertengahan 2003 data yang didapat menunjukan telah terjadi 647 bencana dengan 2022 korban jiwa dan mengalami kerugian milyaran rupiah dengan 85% merupakan bencana banjir dan longsor. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan Latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah yang dapat kami susun adalah sebagai berikut : 1.Bagaimana Penerapan Ekologi dalam Bidang Pertanian? 2.Bagaimana Penerapan Ekologi dalam Bidang Kehutanan? 3.Bagaimana Penerapan Ekologi dalam Bidang Tatakota? 1.3Tujuan Dalam rumusan masalah di atas terdapat beberapa tujuan dan manfaat diantaranya:

Sistem ini secara langsung diarahkan pada usaha meningkatkan proses daur ulang alami daripada usaha merusak ekosistem pertanian (agroekosistem). mikroorganisme. dan energi bisa ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah pencemaran. ekosistem. termasuk pertanian. sumber daya pendukung. dan lingkungan dengan memperhatikan keseimbangan dan keanekaragaman hayati. tanaman.1. Pertanian organik memandang alam secara menyeluruh. Prinsip ekologi dalam pertanian organik didasarkan pada hubungan antara organisme dengan alam sekitarnya dan antarorganisme itu sendiri secara seimbang. BAB II PEMBAHASAN 2. Artinya pengembangan pertanian organik harus disesuaikan dengan daya adaptasi tumbuh tanaman/binatang terhadap kondisi lahan. sistem pertanian organik sangat memperhatikan kondisi lingkungan dengan mengembangkan metode budi daya dan pengolahan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Demikian juga dengan . manfaat sosial tanaman/ binatang bagi komunitas. 2. manusia. Pertanian organik banyak memberikan kontribusi pada perlindungan lingkungan dan masa depan kehidupan manusia. Pertanian organik kemudian dipercaya menjadi salah satu solusi alternatifnya. bimassa. Sistem pertanian organik diterapkan berdasarkan atas interaksi tanah. 3.1 Penerapan Ekologi dalam Bidang Pertanian Pertanian organik yang semakin berkembang belakangan ini menunjukkan adanya kesadaran petani dan berbagai pihak yang bergelut dalam sektor pertanian akan pentingnya kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. dan manusia adalah bagian di dalamnya. Revolusi hijau dengan input bahan kimia memberi bukti bahwa lingkungan pertanian menjadi hancur dan tidak lestari.Mengetahui Penerapan Ekologi dalam Bidang Pertanian. hewan. pengetahuan lokal teknis perawatannya. Dalam pelaksanaannya. Pertanian organik juga menjamin keberlanjutan bagi agroekosistem dan kehidupan petani sebagai pelaku pertanian. Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga unsur hara. Pola hubungan antara organisme dan alamnya dipandang sebagai satu – kesatuan yang tidak terpisahkan. komponennya saling bergantung dan menghidupi.Mengetahui Penerapan Ekologi dalam Bidang Kehutanan.Mengetahui Penerapan Ekologi dalam Bidang Tatakota. sekaligus sebagai pedoman atau hukum dasar dalam pengelolaan alam. Pemanfaatan bahan-bahan alami lokal di sekitar lokasi pertanian seperti limbah produk pertanian sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik seperti kompos sangat efektif mereduksi penggunaan pupuk kimia sintetis yang jelas-jelas tidak ramah lingkungan. Pengembangan pertanian organik secara teknis harus disesuaikan dengan prinsip dasar lokalitas.

Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik. Dengan kemajuan teknologi. laju ekstraksi sumbedaya hutan tidak boleh melebihi laju daya pemulihan dari ekosistem hutan tersebut. banyak mikroorganisme di alam yang memiliki kemampuan mereduksi dan mendegradasi bahan-bahan kimia berbahaya yang diakibatkan pencemaran dari bahan racun yang digunakan dalam aktivitas pertanian konvensional seperti racun serangga dan hama. besar volume kayu yang ditebang tidak boleh melebihi riap volume tegakan hutan. fungisida.2% dari tahun 1990 hingga tahun 2008-2012. Beberapa ahli pertanian Amerika Serikat yakin pertanian organik merupakan cara baru mengurangi gas-gas rumah kaca yang menyumbang pemanasan global. Pertanian organik bukan hanya baik bagi kesehatan. sedangkan dalam konteks pemanfaatan secara umum. Dalam konteks penebangan kayu. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature (Desember 1998) jika pupuk organik digunakan dalam kawasan pertanian kedelai utama di AS. Laurie Drinkwater.2 Penerapan Ekologi dalam Bidang Kehutanan Hutan merupakan salah satu sumberdaya yang bersifat dapat dipulihkan (renewable atau funding resource). AS bersama koleganya membandingkan pertanian organik dengan metode sebelumnya yang menggunakan pupuk kimia selama 15 tahun. pertanian organik menggunakan energi 50% lebih kecil dibandingkan dengan metode pertanian konvensional. 2. binatang. pelaku sistem pertanian organik telah berusaha tidak merusak dan menganggu keberlanjutan komponen-komponen lingkungan yang terdiri atas tanah. Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan penggunaan insektisida kimia yang hanya satu macam. dan insektisida kimia. Drinkwater mengatakan. Dalam penelitian ini juga ditemukan. pemanfaatan hutan sebagai ekosistem . Selain itu negara-negara industri sepakat dalam pertemuan Bumi di Kyoto Jepang untuk mengurangi emisi karbondioksida sampai 5. pertanian organik adalah pertanian ramah lingkungan yang murah dan berteknologi sederhana (tepat guna) dan dapat dijangkau semua petani di Indonesia. selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. pengurangan ini merupakan kontribusi yang sangat berarti. Serangga hama dan musuh alami merupakan bagian keanekaragaman hayati. Serangga hama memiliki kemampuan berbiak yang tinggi untuk mengimbangi tingkat kematian yang tinggi di alam. Di samping itu. yaitu suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai satu kesatuan bentang darat. fakta mengungkapkan bahwa sistem pertanian organik adalah pertanian yang ramah lingkungan. Oleh karena itu pengelolaannya harus berdasarkan pada prinsip-prinsip sustainable (sustainable – based principle) dari semua manfaat yang bisa diperoleh dari hutan sebagai sumberdaya sekaligus sebagai ekosistem. Berhubung di alam ini antara ekosistem yang satu berinteraksi dengan ekosistem yang lain. Pennsylvania. karbon dioksida di atmosfer dapat berkurang 1-2%. mikroorganisme. juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan. setiap tahun. udara. ahli manajemen tanah dan ekologi Rodale Institute di Kutztown. tanaman. air. Demikianlah. Dalam rangka mencapai azas kelestarian (sustainable). Artinya. dan tentunya manusia. maka konteks pengelolaan hutan harus berdasarkan pada anggapan bahwa hutan merupakan salah satu bagian integral dari ekosistem yang lebih besar dimana hutan tersebut berada. tetapi juga bagi lingkungan bumi.pemanfaatan bahan alami seperti tanaman obat yang ada untuk dibuat racun hama akan mengurangi penggunaan bahan pencemar bahaya yang diakibatkan pestisida.

Dengan demikian.tidak boleh melebihi daya dukung maksimum dari ekosistem tersebut. Kondisi tanah tersebut bersifat fragil terhadap gangguan pengurangan/penghilangan tutupan vegetasi.Memelihara ketersediaan bahan organik tanah. harus dilakukan sedemikian rupa agar tidak melampaui daya recovery dari ekosistem hutan yang bersangkutan sebagai respons terhadap gangguan tersebut. keindahan alam. gangguan terhadap struktur tanah harus diusahakan seminimal mungkin untuk menghindari kehilangan unsur hara (nutrient) akibat surface run-off. dan lain-lain). derajat pemanfaatan hutan harus diupayakan pada tingkat daya dukung optimalnya atau paling tinggi berada pada kisaran nilai antara daya dukung optimal dengan daya dukung maksimumnya. 2. Semua upaya peningkatan produktivitas lahan pada prinsipnya merupakan upaya meningkatkan jumlah persediaan bahan organik tanah. sehingga hutan bersifat multimanfaat. 1985. Hutan dapat secara berkelanjutan memberikan manfaatnya bila proses ekologis internal dalam ekosistem hutan tersebut tidak terganggu atau terganggu tetapi tidak menimbulkan stress ekologis yang bersifat irreversible. ekosistem hutan harus dibuat tahan terhadap gangguan dengan cara mempertahankan keanekaragaman hayati (biodiversity) hutan yang tetap tinggi. Hutan dapat menghasilkan berbagai macam barang (kayu dan hasil hutan bukan kayu) dan jasa lingkungan (air. Hal ini dimaksudkan agar pemanfaatan hutan tidak menimbulkan derajat gangguan lingkungan yang melebihi daya asimilatif dari ekosistem hutan tersebut. terutama humus. 1981 b). pengelolaan hutan harus dilakukan secara tepat agar ragam dan derajat pemanfaatan hutan. yang tidak lain adalah berupa “tindakan gangguan” terhadap hutan. 1984. Oleh karena itu. penyerap berbagai polutan. karena kalau tutupan vegetasi berkurang signifikan atau hilang sama sekali (misal karena deforestasi atau kebakaran) maka bahan organik tanah. manual clearing dan penggunaan herbisida dalam persiapan lahan menyebabkan sedikitnya kehilangan unsur hara dari tanah. akan cepat hilang terbawa surface runoff air hujan. Lal. Mikroorganisme tersebut sangat penting dalam mencegah kehilangan nutrient dan memasok nutrient terhadap tanaman. Secara ideal. Bahan Organik Tanah (BOT) merupakan natural slowrelease fertilizer yang berperan sebagai reservoar penyimpan nutrient dan beragam komunitas mikroba aktif.1 Persyaratan Ekologis Penerapan Multisistem Silvikultur Berhubung Indonesia termasuk kedalam wilayah tropis. Upaya pengolahan lahan dengan cara minimum tillage. yaitu: 1.2.Meminimasi gangguan terhadap tanah Kondisi iklim daerah tropis yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai jenis mikroorganisme tanah menyebabkan proses pelapukan serasah berjalan secara terus-menerus dengan laju yang cukup tinggi untuk menghasilkan bahan organik tanah yang selanjutnya berubah menjadi unsur hara bagi tumbuhan melalui proses mineralisasi. karena aktivitas mikroba menghasilkan nutrient secara perlahan (sedikit demi sedikit) tapi kontinyu dalam bentuk yang dapat diserap tanaman (soluble form). Oleh karenanya. sehingga secara perlahan-lahan tanah menjadi miskin hara. Sehubungan dengan ini pengelolaan hutan seyogyanya tidak boleh memaksimumkan perolehan dari satu macam manfaat saja (misal kayu) dengan mengorbankan manfaat-manfaat lainnya. Vitousek dan Matson. Dengan demikian metoda pengolahan lahan yang harus diterapkan adalah metoda yang membiarkan ekosistem di bawah tanah tidak terganggu atau metoda yang memungkinkan cepat . 2. sehingga menunjang upaya konservasi unsur hara pada tanah hutan yang bersangkutan (Jordan. dalam upaya pengolahan lahan. maka sedikitnya ada tiga prinsip persyaratan ekologis pengelolaan ekosistem hutan dengan multisistem silvikultur. karena berbagai macam manfaat hutan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. oksigen.

pulihnya ekosistem di bawah tanah dari gangguan. akan memberikan peluang pada komunitas tumbuhan untuk cepat pulih dari gangguan dan memungkinkan penyebaran benih (biji) dan . 4. d. Suatu komunitas tumbuhan yang secara struktural mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi atau suatu komunitas yang bersifat polyculture akan memperlihatkan fenomena ”overyielding” bila dibandingkan dengan komunitas monoculture. Proses pengayaan unsur hara dari top-soil tersebut terjadi melalui guguran serasah pohon yang bersangkutan ke permukaan tanah.Keberadaan banyak jenis tumbuhan dalam suatu komunitas akan menjamin permukaan tanah tertutup vegetasi sepanjang waktu. Selain itu. Selain itu. baik oleh praktek penebangan maupun pemanfaatan lain. Adapun keharusan relatif kecilnya areal hutan yang diganggu (ditebang). Apabila pada daerah hulu sungai dilakukan penebangan hutan atau bentuk pemanfaatan lahan lainnya. e. b.Kehadiran beragam jenis pohon pada komunitas polyculture akan memperkaya unsur hara topsoil dengan unsur-unsur hara yang dibebaskan oleh pelapukan batuan induk dan bahan organik yang terpendam di tanah yang cukup dalam melalui penyerapan unsur hara tersebut oleh akar-akar tunjang yang menembus kedalam tanah tersebut. Selain itu dalam suatu polyculture umumnya hadir jenis-jenis tumbuhan yang bersifat alelophatik yang mengeluarkan zat-zat allelokimia yang bersifat racun bagi beberapa jenis serangga herbivora dan gulma. pembersihan lahan atau pemanenan hutan dalam ukuran yang relatif kecil yang tersebar didalam suatu hamparan hutan atau hamparan kanopi vegetasi yang padat atau pemanenan hutan dalam bentuk strip (jalur) menyebabkan berkurangnya erosi dan kehilangan unsur hara. maka pembangunan hutan sepanjang sungai atau saluran air yang ada merupakan suatu keharusan untuk upaya konservasi unsur hara. 3. f. sehingga secara keseluruhan kehilangan unsur hara dari ekosistem tersebut menjadi relatif kecil (Jordan. Beberapa kelebihan polyculture tersebut adalah sebagai berikut: a. Ukuran dan bentuk areal yang diganggu.Suatu komunitas polyculture akan mempunyai produksi primer yang relatif besar karena adanya interaksi mutualistik diantara species yang ada.Beragam jenis tumbuhan pada komunitas polyculture akan mempunyai sistem perakaran yang kompleks yang berkembang baik di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda-beda. 1985).Mempertahankan Keanekaragaman. Sistem perakaran tersebut umumnya mengandung proporsi akar halus (yang berperan menyerap unsur hara) yang relatif besar dan akar tanaman dari berbagai kelas ukuran yang efektif untuk mencegah terjadinya longsor dan erosi.Secara struktural komunitas tumbuhan dengan jenis beragam atau polyculture dapat memanfaatkan energi cahaya matahari lebih besar daripada komunitas monoculture karena kompleksnya susunan jarak dan tata daun dari masyarakat tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.Keanekaragaman jenis membatasi pertumbuhan secara eksponensial dari populasi serangga herbivora karena secara spasial tanaman inang terpisah satu sama lain dan habitat yang beragam mendukung populasi predator yang beragam dalam jumlah yang relatif lebih besar. Sehubungan dengan ini. akibat surface run-off. vegetasi pada jalur yang tidak ditebang akan menangkap unsur hara yang tercuci. c. Di daerah tropika. Wade dan Sanched (1983) menyarankan penggunaan mulsa (mulching) dan pupuk hijau (green manure) sebagai pengganti penggunaan pupuk inorganik dalam budidaya pertanian intensif di daerah tropis sebagai upaya mengkonservasi nutrient. sistem perakaran tersebut memungkinkan penyerapan unsur hara dari seluruh horizon tanah yang ada.

Makin besar suplesi. laju penguapannya lebih kecil karena serasah menghalangi penguapan air. air hujan yang jatuh tertahan oleh tajuk (intersepsi).Jenis pohon yang ditanam disesuaikan antara tingkat transpirasi jenis tersebut dengan jumlah curah hujan areal penanaman.. Dengan kombinasi bentuk daun yang runcing dan sempit serta dengan adanya strata tajuk tersebut dapat memperkecil massa dan kecepatan butir air hujan yang jatuh ke lantai hutan. Sebagian air meresap ke tanah mengisi lengas tanah menjadi air simpanan. Air simpanan adalah sumber untuk aliran air dalam jangka panjang. hal ini sangat terasa pada musim kemarau Di AS. 1991). Dengan berkurangnya air larian dan meningkatnya suplesi air maka pembangunan hutan dapat mengurangi bahaya banjirdan erosi serta meningkatkan airsimpanan (air tanah).propagul mikoriza oleh burung dan mamalia ke areal yang terganggu (Jonson. Misalnya jika jenis yang ditanam mempunyai evapotranpirasi sebesar 3000 mm/th. Air di lantai hutan diserap serasah dan humus (intersepsi serasah). sehingga hutan mempunyai dua pengaruh yang berlawanan terhadap besarnya aliran dasar. sebagian air akan mengalir di atas permukaan tanah sebagai air larian. air intersepsi menguap kembali ke udara. maka jenis tersebut hanya dapat ditanam pada daerah dengan curah hujan > 3000 mm/th. yaitu strata kanopi pohon dan strata tumbuhan penutup tanah. Jika lantai hutan penuh dengan tumbuhan penutup tanah. pengisian air simpanan disebut suplesi. maka daerah tersebut akan mengalami defisit air. 2. makin besar tajuk dan biomassa makin banyak air hujan yang diintersepsi. Setelah serasah jenuh dengan air. Tanah kosong yang ditutupi serasah. Pada hujan yang tidak lebat seluruh air hujan dapat diintersepsi.2 Pembangunan Hutan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Pembangunan hutan dapat menjaga keseimbangan air jika pembangunan hutan dilaksanakan secara bijaksana dengan memperhatikan : 1. sebagian keluar melalui mata air dan menambah aliran air.Penanaman hutan sebaiknya menciptakan strata tajuk. Sebagian hujan mengalir melalui batang (aliran batang) dan selanjutnya mengalir ke tanah. maka makin kecil. serasah dan humus. Hutan dapat meningkatkan suplesi air. Hutan juga menahan air hujan yang jatuh. karena jika ditanam pada daerah dengan curah hujan < 3000 mm/th. Banyaknya hujan yang dintersepsi bervariasi 10-40 % (Soemarwoto. paling tidak ada dua strata. Pembuangan serasah dapat meningkatkan air larian sebesar 4 % (Soemarwoto. Pada lahan kritis atau tanah kosong (tidak bervegetasi) air menguap dari permukaan tanah dan diganti oleh air dari bawahnya. 1983). Setelah tajuk hutan jenuh air. baru air hujan jatuh atau menetes dari tajuk sebagai air lolosan. 2. Hutan dapat pula mengurangi air simpanan melalui evapotranspirasi. tetapi hutan juga mengurangi air simpanan karena evapotranspirasi. karena permukaan daun yang luas dan perakaran yang ekstensif sehingga laju penyerapan dan penguapan air lebih besar dibandingkan dengan tanah kosong dan tanah kosong yang ditutupi serasah. 1991). Suplesi diperbesar/dipermudah kalau ada serasah (ada intersepsi oleh serasah) karena tanah menjadi gembur akibat aktivitas makhluk hidup tanah.2. maka pembangunan hutan tersebut dapat mengurangi aliran permukaan (air larian) dan dapat meningkatkan infiltrasi air (suplesi air). Namun pada tanah berhutan. lengas tanah diserap oleh perakaran dibawa ke daun. sehingga tanah cepat kering dan laju penguapan menurun. Aliran batang dan air lolosan akhirnya sampai lantai hutan sebagai curahan atau presipitasi. konversi hutan campuran berdaun lebar menjadi hutan Pinus telah menyebabkan . baik air larian maupun aliran air sungai. laju penguapan lebih tinggi daripada laju naiknya air.

pertanian dan daerah resapan air menjadi penggunaan perkotaan (nonpertanian) memberikan dampak terhadap kerusakan lingkungan. walaupun sebenarnya aliran air total berkurang karena naiknya laju intersepsi dan evapotranspirasi. cair dan padat) dapat mencemari lingkungan. Adanya fenomena semakin berkurangnya lahan terbuka hijau karena perluasaan lahan terbangun yang terjadi pada daerah yang mengalami urbanisasi memberikan konsekwensi logis bahwa semakin besar perubahan penggunaan lahan hutan. dinamika perkembangan kegiatan di kawasan perkotaan ini menimbulkan persaingan antar penggunaan lahan yang mengarah pada terjadinya perubahan penggunaan lahan dengan intensitas yang semakin tinggi. tata air dan keanekaragaman hayati. tanah. Sumur pun tidak dapat diandalkan terutama musim kemarau Pada reboisasi dan penghijauan lahan kritis menjadi hutan yang berhasil. Perkembangan kota juga didorong faktor ekonomi yang menuntut pemanfaatan secara maksimal sumber daya yang dimiliki. Konversi hutan untuk pemukiman dan industri serta jalan mengakibatkan peresapan (suplesi) air menurun. industri dan kegiatan usaha non pertanian lainnya. Umumnya pembangunan hutan menambah aliran air pada waktu hutan masih muda. setelah dewasa pengaruh tersebut menurun.penurunan aliran air. maka laju evapotranspirasi dan suplesi air simpanan akan meningkat. Kerusakan lingkungan yang terjadi adalah penurunan jumlah dan mutu lingkungan diantaranya penurunan mutu dari keberadaan sumberdaya alam seperti. Perubahan land use berimplikasi pada kondisi ekologis (biodiversiti dan sumber daya alami). termasuk kebutuhan akan sumberdaya lahan. .3 Penerapan Ekologi dalam Bidang Tata kota Pesatnya pembangunan menyebabkan bertambahnya kebutuhan hidup. 2. Dari area hijau yang alami menjadi area terbangun. sehingga air larian dan aliran air meningkat. kapasitas mata air menurun dan aliran dasar akan menurun (bahkan mengering) akibatnya sungai dari parennial (mengalir tahunan) menjadi sungai periodik (musiman). sehingga air simpanan naik untuk memasok mata air dan sumur. Peningkatan kebutuhan lahan ini merupakan implikasi dari semakin beragamnya fungsi di kawasan perkotaan seperti pemerintahan. 1991). Perkembangan kota diikuti dengan perubahan land use di perkotaan. sehingga volume air simpanan menurun. perdagangan dan jasa serta industri yang disebabkan oleh keunggulannya dalam hal ketersediaan fasilitas dan kemudahan aksesibilitas sehingga mampu menarik berbagai kegiatan untuk beraglomerasi. daerah resapan air dan pertanian. Transpirasi selain tergantung pada jenis tumbuhan juga tergantung pada tingkat kesuburan tanah. berubah fungsi menjadi kawasan perumahan. semakin subur tanah semakin tinggi laju transpirasi. menurunnya produksi pertanian dan lain-lain. Berkaitan dengan karakteristik lahan yang terbatas. Jika pembangunan hutan menggunakan dengan jenis yang mempunyai evapotranspirasi yang tidak cocok tidak akan meningkatkan air simpanan karena air simpanan habis terpakai oleh evapotranspirasi. Kebutuhan lahan di kawasan perkotaan semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan kegiatan sosial ekonomi yang menyertainya. Reboisasi dan penghijauan yang berhasil akan menaikkan peresapan air. yaitu pada umur 23 tahun Hutan tersebut menurunkan aliran air 20 – 25 cm atau 20 % aliran air sebelum konversi (Soemarwoto. Akibat yang ditimbulkan oleh perkembangan kota adalah adanya kecenderungan pergeseran fungsi-fungsi kota ke daerah pinggiran kota (urban fringe) yang disebut dengan proses perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar (urban sprawl) Pergeseran fungsi yang terjadi di kawasan pinggiran adalah lahan yang tadinya diperuntukkan sebagai kawasan hutan. Out put yang dihasilkan dari aktifitas masyarakat kota berupa limbah (gas.

perpindahan material. Kebakaran padang rumput kering dapat mencetus perubahan ekologis di area atau sekitar area . Aktifitas dan frekuensi manusia juga terjadi pada patch yang sama sehingga terjadi perubhan-perubahan pada struktuk tropik populasi tersebut. Pada aspek ekologi yang menjadi dasar pengamatan adalah produksi primer.Produksi primer oleh tanaman Tanaman yang hidup pada terestrial maupun aquatik menghasilkan bahan organik melalui proses fotosintesis dan khemosintetis. Satu tingkatan dalam struktur tropik rusak berimplikasi pada struktur tropik lainnya. Perubahan land use dan perkembangan kota dapat diamati secara spasial dan temporal. 1.Frekuensi dan pola gangguan Dampak perubahan penggunaan lahan terhadap kondisi tata air (hidrologis) adalah terjadinya perubahan perilaku dan fungsi air permukaan. jenis dan konfigurasi ekosistem. distribusi energi. material dan spesies dalam komponen ekosistem. Pola-polaseperti ini sangat rentan terhadap aktifitas manusia sehingga kawasan-kawasan yang memeiliki biodiversiti tinggi harus dipertahankan dan diisolasi. dan spesies dalam hubungannya terhadap ukuran. Di dalam struktur tropik terjadi aliran energi.Penyimpanan dan dinamik bahan organik Bahan organik terbentuk karena dekomposisi tanaman atau pohon-pohon yang mati. Bahan organik ini merupakan sumber energi bagi mahkluk lainnya. Dekomposisi bahan organik juga banyak melibatkan jasad-jasad renik sebagai aktor dalam proses tersebut. Struktur tropik dimulai dari produsen (tanaman). sehingga menimbulkan ketidakseimbangan tata air. setiap waktu lanskap mengalami perubahan. karakter populasi dan komunitas alami. Perkembangan kota dinilai dari dua aspek yaitu ekologi dan sosial ekonomi. Fungsi adalah interaksi antara elemen spasial berupa aliran energi. populasi dan komunitas sangat tergantung pada patch yang didiami baik dari ukuran dan qualitas patch. Sedangkan perubahan adalah perubahan struktur dan fungsi mosaik ekologis. bentuk. Hilangnya daerah resapan akibat pembangunan dapat menyebabkan bencana banjir dan kekeringan. Bahan organik merupakan lapisan horizon tanah yang menjadi sumber nutrien bagi tanaman (produsen). Lanskap prosesnya tidak statis namun dinamis. penyimpanan dan dinamik bahan organik. salah satunya dengan kebijakan pengaturan air (efek pencucian dan irigasi). karnivora dan pengurai. Proses fotosintesis membutuhkan air dan CO2 sebagai bahan baku dan melepaskan O2 ke udara. material. Dengan mengetahui pola ini diharapkan dapat menjaga biodiversiti dan suberdaya alam serta menciptakan kota yang sustainable. dan pola gangguan oleh pembangunan seperti kebakaran dan banjir. 4.Karakter populasi dan komunitas alami Organisme. Struktur merupakan hubungan spasial antara ekosistem-ekosistem yang berbeda atau kehadiran elemen-elemen lebih khusus. Dalam keadaan ini terjadi pengurangan aliran dasar (base flow) dan pengisian air tanah. Simbiosis tanaman dengan organisme lain (mikoriza dan bintil akar) dapat menyerap nitrogen bebas sehingga meningkatkan kesuburan tanah. Pengamatan ini untuk mempelajari hubungan antara aktifitas manusia dan perubahan land use dengan pola ekologis. 2. Lanskap terbentuk dari proses secara fisik dan biologi dari waktu ke waktu. jumlah.Lanskap merupakan totalitas karakter baik abiotik maupun biotik serta proses yang berlangsung diantaranya. Untuk dapat mengelola lanskap dengan baik. Aktifitas ini mempengaruhi iklim mikro khususnya pada penurunan temperatur. fungsi dan perubahan. herbivora. Keberadaan bahan organik ini harus dikontrol dan dijaga agar tidak rusak. 3. kita mengenal tiga faktor penting didalam manajemen lanskap yaitu struktur.

air. dan tentunya manusia. udara. karena jejaring ekologi merupakan rangkaian yang saling mengait dan merupakan suatu sistem kesetimbangan. Pembangunan berwawasan lingkungan pada dasarnya bertumpu pada kondisi sumber daya alam. binatang.1 Kesimpulan a.Pembangunan berwawasan lingkungan pada dasarnya bertumpu pada kondisi sumber daya alam. yang tidak lain adalah berupa “tindakan gangguan” terhadap hutan. d. sehingga segala kegiatan tidak hanya mencari keuntungan ekonomi semata.2 Saran Dengan membaca makalah ini di harapkan dapat menambah wawasan para pembaca tentang Penerapan ekologi dalam bidang pertanian. Pada saat kebakaraan maka ekosistem padang rumput tersebut akan berubah.Sistem pertanian organik adalah pertanian yang ramah lingkungan. Dampak ekologi apa yang muncul terhadap keputusan merubah penggunaan lahan pada feature ekologi. BAB III PENUTUP 3. dijaga. dikelola dan dimanfaatkan dengan tetap memelihara kelestarian fungsi lingkungan sesuai daya tampung dan daya dukung (Carring Capasity) untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran manusia. Aspek sosial ekonomi dilakukan untuk mengamati keterkaitan keputusan penggunaan lahan dan karakter ekologi. Artinya. c. DAFTAR PUSTAKA .Dengan demikian.Ekologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan keadaan lingkungannya yang bersifat dinamis. Hal ini perlu diamati untuk mengetahui arah kebijakan dimasa yang akan datang. 3. b. mikroorganisme. jasad-jasad renik yang ada didalam tanah pun akan mati. kualitas lingkungan dan kependudukan. akan tetapi lingkungan pun harus terlindungi. lingkungsn dan tata kota serta di harapkan para pembaca mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. pengelolaan hutan harus dilakukan secara tepat agar ragam dan derajat pemanfaatan hutan. pelaku sistem pertanian organik telah berusaha tidak merusak dan menganggu keberlanjutan komponenkomponen lingkungan yang terdiri atas tanah. kualitas lingkungan dan kependudukan sehingga perlu mendapat perhatian secara terintegrasi keseluruh komponen masyarakat.tersebut. tanaman.

Sejarah ruang lingkup ekologi dan ekosisitem.wordpress.com/readmore/Sejarah+dan+Ruang+Lingkup+Ekologi+dan+Ekosistem+"%3 B+CARI+ILMU di akses 11 Desember 2010 .Yogyakarta:Kanisius. 2010.2006. Dasar-Dasar Ekologi Arsitektur. Sejarah ruang lingkup ekologi dan ekosisitem. 2010. Hasan Basri. Ekologi Arsitektur . http://www. http://massofa.Bambang Suskiyatno.Yogyakarta:Kanisius.Rajawali Press:Jakarta Anonymous. Ekologi Tanaman.2lisan.Heinz Frick.com/2008/09/23/sejarah-dan-ruang-lingkup-ekologi-dan-ekosistem/ diakses 11 Desember 2010 Anonymous.1992. Bambang Suskiyanto. Heinz Frick Fx.2006. Jumin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful