Berbagai Kebijakan Pemerintah dalam Perekonomian Indonesia 20 Februari 2009

jika kita berbicara tentang perekonomian Indonesia, yang akan terpikir di benak kita adalah tentang kondisi dan keadaan ekonomi di Indonesia. Kondisi perekonomian Indonesia dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator, misalnya pendapatan nasional dan Produk Domestik Bruto (PDB). pendapatan nasional dan PDB yang tinggi menandakan kondisi perekonomian suatu negara sedang bergairah. pemerintah mempunyai berbagai kebijakan untuk menjaga atau memperbaiki kualitas perekonomian Indonesia. yang pertama adalah kebijakan fiskal. kebijakan fiskal merupakan kebijakan yang berkaitan dengan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). kebijakan fiskal mempunyai berbagai bentuk. salah satu bentuk kebijakan fiskal yang sedang marak adalah BLT. banyak orang melihat BLT hanya bantuan kepada orang yang kurang mampu. sebenarnya di balik itu ada tujuan khusus dari pemerintah. BLT diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, daya beli masyarakat juga meningkat. dengan demikian permintaan dari masyarakat juga meningkat. meningkatnya permintaan dari masyarakat akan mendorong produksi yang pada akhirnya akan memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia. contoh lain dari kebijakan fiskal adalah proyek-proyek yang diadakan oleh pemerintah. katakanlah pemerintah mengadakan proyek membangun jalan raya. dalam proyek ini pemerintah membutuhkan buruh dan pekerja lain untuk menyelesaikannya. dengan kata lain proyek ini menyerap SDM sebagai tenaga kerja. hal ini membuat pendapatan orang yang bekerja di situ bertambah. dengan bertambahnya pendapatan mereka akan terjadi efek yang sama dengan BLT tadi. kebijakan fiskal juga dapat berupa kostumisasi APBN oleh pemerintah. misalnya dengan deficit financing. defcit financing adalah anggaran dengan menetapkan pengeluaran > penerimaan. deficit financing dapat dilakukan dengan berbagai cara. dahulu pemerintahan Bung Karno pernah menerapkannya dengan cara memperbanyak utang dengan meminjam dari Bank Indonesia. yang terjadi kemudian adalah inflasi besar-besaran (hyper inflation) karena uang yang beredar di masyarakat sangat banyak. untuk menutup anggaran yang defisit dipinjamlah uang dari rakyat. sayangnya, rakyat tidak mempunyai cukup uang untuk memberi pinjaman pada pemerintah. akhirnya, pemerintah terpaksa meminjam uang dari luar negeri. tidak hanya Indonesia, tetapi Amerika Serikat juga pernah menerapkan deficit financing dengan mengadakan suatu proyek. proyek tersebut adalah normalisasi sungan Mississipi dengan nama Tenesse Valley Project. proyek ini dimaksudkan agar tidak terjadi banjir. proyek ini adalah contoh proyek yang menerapkan prinsip padat karya. dengan adanya

dari sini. diharapkan investasi meningkat. pada saat itu memang seluruh tabungan dijamin oleh pemerintah. BI rate adalah instrumen dari pemerintah untuk acuan seberapa besar bunga simpanan jangka pendek. jika tarif impor naik. jumlah uang yang beredar dapat dipengaruhi oleh Bank Indonesia. perlu diingat. suku bunga kredit juga turun. pada saat itu nasabah berduyun-duyun mengambil uang di bank (fenomena bank rush) karena takut bank tidak mempunyai dana yang cukup untuk mengembalikan tabungan mereka. pemerintah bisa menambah dana dengan menjual saham yang dimiliki pemerintah. kebijakan yang kedua adalah kebijakan moneter. dalam kasus ini industri katun sebagai hasil olahan kapas dalam negeri akan turun jika tarif impor naik. ada beberapa perusahaan yang sahamnya dimiliki pemerintah.proyek ini pengeluaran pemerintah memang bertambah. mari kita mengingat sedikit kejadian pada akhir tahun 1997 saat terjadi krisis moneter di Indonesia. selain dengan langsung menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. sekitar 95 % kapas yang digunakan sebagai produksi di Indonesia adalah hasil impor. misalnya Surat Berharga Indonesia. maka dari itu. dorongan untuk ipmpor bertambah dan harga barang-barang impor menjadi lebih murah. misalnya. pada akhirnya hal ini akan mendorong kegiatan ekonomi agar menjadi bergairah. sehingga biaya investasi ikut turun. seharusnya saat suatu perusahaan (termasuk bank umum) kekurangan modal pemilik harus menambah modalnya pada perusahaan tersebut. satu lagi kebijakan yang dimiliki pemerintah Indonesia adalah kebijakan sektoral. jika tarif impor turun. yaitu jumlah simpanan bank umum di Bank Indonesia yang merupakan sebagian dari titipan pihak ketiga. saat ini giro wajib minimum sebesar 8 % dari titipan pihak ketiga. kebijakan ini menitikberatkan pada satu dari sembilan sektor perekonomian di Indonesia. maka dari itu pemerintah juga harus mengambil tindakan saat terjadi fenomena tadi. dorongan untuk impor berkurang. saat BI Rate diturunkan. subsidi ini diberikan . di sektor pertanian pemerintah memberikan subsidi pupuk. sedikit tambahan. untuk mengatasi masalah ini bank-bank umum diberi pinjaman dari Bank Indonesia yang disebut Bantuan Langsung Bank Indonesia (BLBI). ini berlaku pada umum dan pemerintah. kebijakan moneter juga berpengaruh dalam perdagangan internasional dengan mengendalikan tarif ekspor impor. mengatur jumlah uang yang beredar juga bisa menggunakan BI Rate. tetapi pendapatan masyarakat juga naik. jika pemerintah kekurangan dana. biasanya bank-bank umum akan menaikkan atau menurunkan suku bunganya seiring dengan naik atau turunnya BI Rate. (kapitalis banget…) kebijakan moneter juga mengatur tentang giro wajib minimum. kebijakan moneter adalah kebijakan dengan sasaran mempengaruhi jumlah uang yang beredar.

dengan demikian pupuk akan terdorong untuk dipakai. contoh lainnya adalah kebijakan di sektor industri. kawasan ini mempunyai hak khusus. sehingga hal ini akan mendorong produksi di sana. misalnya di Batam impor bahan mentah tidak terkena pajak. misalnya. kawasan ekonomi khusus adalah kawasan yang khusus digunakan untuk pendirian industri. kawasan industri Cilacap. di sektor ini pemerintah membuat kebijakan kawasan ekonomi khusus. .agar harga pupuk murah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful