PENDAHULUAN

Latar Belakang Kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan. Gangguan kognitif erat kaitannya dengan fungsi otak, karena kemampuan pasien untuk berpikir akan dipengaruhi oleh keadaan otak. Tiga unsur tingkah laku manusia terhadap alam sekelilingnya ialah pengamatan, pikiran dan tindakan. Dalam bidang neurologi tiga unsur tersebut tertuang dalam fungsi sensorik, luhur dan motorik. Dalam keadaan sakit, unsur-unsur tadi dapat terganggu. Gangguan tersebut dapat berupa gejala neurologic elementer, misalnya hemiparesis, hemihipestesia, koma, kejang dan sebagainya tetapi dapat pula berupa gejala neurologik luhur, yang merupakan kelainan integratif yang kompleks dari ke tiga fungsi di atas. Yang dimaksud dengan fungsi luhur atau fungsi kognitif adalah fungsi-fungsi: 1. bahasa 2. persepsi 3. memori 4. emosi Dalam neurologi, gejala elementer dan luhur dipergunakan untuk menetapkan adanya kerusakan di otak, baik tentang lokalisasi maupun luas lesinya. Kedua fungsi tersebut sama pentingnya dalam penetapan diagnosis. Juga keduanya menuruti prinsip organisasi lateral dan longitudinal serebral yang akan diuraikan kemudian. Karena gejala fungsi luhur ini kerap dilupakan atau diabaikan, maka disini akan diuraikan secara singkat peranan fungsi ini, terutama fungsi bahasa, persepsi dan memori pada kelainan otak. Seperti halnya gejala elementer, maka gejala fungsi Iuhur ini dapat dipakai untuk menetapkan diagnosis dan rehabilitasi pasien dengan penyakit otak. Pada

1

kerusakan difus dan berat dari otak, maka semua fungsi-fungsi luhur tersebut dapat terkena dan hasilnya adalah suatu demensia atau retardasi mental. Tetapi pada kerusakan yang fokal, maka biasanya hanya satu atau beberapa dari fungsi ini terganggu. Justru pada kerusakan otak yang fokal inilah, gejala luhur mempunyai peranan penting. Pada pasien dengan kelainan tingkah laku, perlu ditentukan apakah kelainan ini disebabkan oleh kerusakan otak (brain damage) ataukah sesuatu yang fungsional (kasus psikiatrik). Penelusuran gangguan fungsi luhur inilah yang dapat membedakan kedua kemungkinan tadi.

Tujuan Tujuan dari penulisan ini adalah untuk membahas dan menggali lebih mendalam mengenai fungsi kognitif, yang meliputi atensi dan konsentrasi, memori, bahasa, persepsi, praksis, dan gnosis.

2

TINJAUAN PUSTAKA

Fungsi otak yang lebih tinggi dapat disubklasifikasi menjadi : 1. Fungsi yang terdistribusi Fungsi yang terlokalisasi pada region otak tertentu, namun membutuhkan aksi dari berbagai bagian pada kedua sisi otak, seperti : Atensi dan konsentrasi Memori Fungsi eksekutif yang lebih tinggi Konduksi social dan kepribadian.

2. Fungsi yang terlokalisasi Tergantung dari struktur dan fungsi normal dari suatu area tertentu pada satu hemisfer serebri.

Fungsi Kognitif Distribusi Atensi dan Konsentrasi Atensi merupakan kemampuan untuk memfokuskan (memusatkan) perhatian pada masalah yang dihadapi. Konsentrasi adalah kemampuan untuk mempertahankan focus tersebut. Atensi memungkinkan seseorang untuk menyeleksi aliran stimulus eksogen dan endogen yang memborbardir otak, yang dianggap perlu, dan membutuhkan pemrosesan lebih lanjut dan dari hal-hal yang perlu diabaikan. Atensi yang terpusat merupakan hal esensi dalam belajar. Hal ini memberikan kemampuan untuk memproses item penting yang dipilih, dan mengabaikan yang lainnya.

3

dk/Skovweb Gambar 2.Anatomi Pemeliharaan atensi normal tergantung dari dasar anatomis yang sama dengan kesadaran.catsclem.nl/medisch/medheh. yaitu sistem aktivasi retikuler yang berproyeksi ke thalamus. Gambar 1.htm 4 . dan kemudian ke korteks serebri secara difus. Formatio Retikularis pada Batang otak Sumber : http://www.michaeljuhl. Formatio Retikulatis Sumber : http://www.

5 . Pemeriksaan Orientasi Orientasi merupakan kemampuan untuk mengaitkan keadaan sekitar dengan pengalaman lampau. 9-4-5-8-1-6-3. satu angka satu detik. 3-7-1-9-6-4.Pemeriksaan fisik Pemeriksaan atensi dan konsentrasi meliputi : 1. Pada tes ini pasien disuruh mengulangi sebaris angka yang dipilih secara acak. kemudian ditingkatkan sampai terdapat kesalahan. 2-6-9-3-8. pasien tidak perlu mengulanginya dengan lambat. Bila orientasi pasien terganggu. Pemeriksa menyebutkan angka dengan lambat dan jelas. yaitu kemampuan pasien memantau perubahan sekitar yang continue. 2-5-7-8. Pasien disuruh mengulangnya. Tes mengulang angka Mengulangi angka dapat mengukur atensi terhadap stimulus verbal. Orientasi terhadap waktu dan tempat dapat dianggap sebagai ukuran memori jangka pendek. dimulai dengan tiga angka. atau sampai dapat mengulang 7 angka. serta pemeriksa sebagai dokter. selain itu juga mengukur kemampuan mempertahankan atensi selama mengulangi urutan angka. hal ini menunjukkan memori jangka pendeknya mungkin terganggu. Orientasi tempat Dimana kita sekarang berada? Apa nama tempat ini? Di kota mana kita sekarang? Orientasi waktu Hari apa sekarang? Hari ini tanggal berapa? Bulan apa? Tahun berapa? Kirakira jam berapa sekarang? 2. Contohnya 3-2-9. satu angka dalam satu detik. Orientasi terhadap orang Siapa nama anda? Berapa usia anda? Apa tugas anda? Kapan anda dilahirkan? Apakah ia mengenal orang lain disekitarnya.

Dari anatominya dapat diprediksi bahwa penyebab delirium adalah sama dengan penyebab perubahan tingkat kesadaran. Suruh pasien mengetukkan jarinya ke meja bila ia mendengar angka tertentu. Bahkan. Gangguan memori. sindrom ini dapat dianggap sebagai akhir yang ringan dari suatu spectrum yang dapat berlanjut menjadi koma. Orang normal dapat melakukan hal ini tanpa kesalahan. Komprehensi yang terganggu bagi bahasa mengakibatkan tes mengulang angka dan tes mengetuk tidak dapat digunakan sebagai tes untuk atensi dan kesiagaan. 6 . atau kadang sindrom otak organic akut. terutama pada orang usia lanjut. dengan kecepatan satu angka satu detik. Angka-angka kita sebutkan dengan jelas. dan apatis.dan seterusnya.3. atau akan terlihat lemah. Kesalahan mengetuk yang konstan dapat dijumpai pada lesi di frontal. pasien seringkali terbangun dan bahkan menjadi lebih bingung pada malam hari. Aspek klinik Sindrom yang paling sering berhubungan dengan gangguan atensi dan konsentrasi adalah acute confutional state. yang merupakan masalah tata laksana yang sering didapatkan dalam praktek umum. misalnya angka 4. Pasien mungkin terlihat gelisah dan mudah terangsang. dengan ketidakmampuan menerima hal-hal baru. yang saat ini disebut delirium. Kita sebutkan serangkaian angka misalnya 1-12-4-7-9-2-6-0-4. Tes mengetukkan jari Tes ini juga dapat menilai atensi dan kesiagaan pasien. Perubahan mood. Gambaran lain keadaan ini meliputi : Pikiran yang keruh dan tata bicara yang tidak jelas Halusinasi visual Gangguan siklus bangun-tidur.

Evaluasi yang akurat dan tepat dari fungsi memori merupakan salah satu bidang yang paling penting dalam evaluasi neuropsikologi pada manula. misalnya : deficit memori yang terisolasi pada sindrom Korsakoff.Tergantung dari penyebabnya. Demensia ditandai oleh gangguan memori dan fungsi intelektual. Memperhatikan dengan seksama hasil tes memori sering dapat mengungkapkan adanya gangguan organic sebelum terlihat adanya kelainan pada pemeriksaan neurologi rutin baku. Hampir semua penderita demensia menunjukkan masalah memori dini pada perjalanan penyakitnya. keadaan ini umumnya sementara. fungsi memori terganggu dengan latar belakang fungsi intelektual terpelihara. Memori membuat kita mampu menginterpretasi dan bereaksi terhadap persepsi yang baru dengan mengacu kepada pengalaman lampau. Dapat terjadi efek yang buruk pada penyesuaian social dan vokasional sebelum sifat organic dari masalahnya dapat difahami. mekanisme patofisiologi gangguan memori berbeda-beda. Mereka mungkin lupa tanggal. psikiatrik atau proses menua. atau gangguan memori baru disertai disfungsi kognitif umum pada demensia. Mengetahui adanya gangguan memori dapat menolong pasien terhindar dari kerugian yang besar pada pribadinya. Pada amnesia. bulan. Pada usia lanjut perubahan memori dapat disebabkan oleh factor neurologic. gangguan memori yang disertai in-atensi dan agitasi pada keadaan konfusi kacau. Gangguan memori merupakan keluhan yang paling sering dijumpai pada pasien dengan sindrom mental organic. lupa rincian pekerjaannya atau gagal mengingat janji yang diluar kegiatan rutin sehari-hari. Memori verbal dapat terganggu pada lesi unilateral 7 . Pada tiap kelainan ini. Hal ini disebabkan oleh berbagai penyakit organic mengakibatkan berbagai jenis gangguan memori. yang biasanya berlangsung selama beberapa hari. Memori Memori menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Tiap tahapan pada seluruh proses memori bertumpu pada integritas langkah-langkah sebelumnya. 8 . Proses penyimpanan ini dapat ditingkatkan oleh repetisi atau oleh penggabungan dengan informasi lain yang sudah berada di dalam simpanan. terutama depresi dan ansietas dapat juga mempengaruhi fungsi memori dan kognitif. Tidak semua gangguan memori disebabkan oleh kelainan organic. Penderita yang depresi dan cemas. Proses memori terdiri dari beberapa tahapan. atau visual). dan diregistrasi. dan juga pasien dengan gangguan psikiatrik yang berarti.hemisfer kiri. Bila ada interupsi dalam urutannya. atau setelah beberapa tahun. Penyimpanan merupakan proses aktif yang membutuhkan upaya melalui praktek dan latihan. dan kemudian diregistrasi. hal ini dapat menghalangi penyimpanan atau penjumputan suatu memori. auditif. Pertama-tama informasi diterima oleh modalitas sensorik khusus (misalnya raba. Sering keluhan disfungsi memorik pada usia lanjut lebih berkaitan dengan keadaan afektif daripada factor neurologic. Terminologi Memori merupakan terminology umum untuk status mental yang memungkinkan seseorang menyimpan informasi untuk dipanggil kembali di kemudian hari. Penelitian mengenai memori memberikan kesan bahwa tiap aspek memori melibatkan substrata atau sistem neurobiologik yang terpisah. beberapa detik. sering mengalami gangguan memori. Rentang waktu untuk memanggil kembali dapat singkat. Langkah kedua terdiri dari penyimpanan dan mempertahankan informasi ke dalam bentuk yang lebih permanen (memori jangka panjang). informasi ini disimpan sebentar di memori jangka pendek (memori kerja). Factor psikiatrik. Sekali input memori telah diterima. Langkah menjumput merupakan proses aktif. memobilisasi informasi yang telah disimpan. dan memori visual non-verbal dapat terganggu pada lesi hemisfer kanan yang unilateral. Langkah akhir pada proses memori ialah memanggil kembali (recall) atau menjumput (retrieval) informasi yang disimpan.

yang kemudian disubklasifikasikan lagi menjadi : Memori episodic Misalnya menceritakan kembali detil autobiografi dan kejadian pengalaman pribadi lainnya yang berhubungan dengan waktu tertentu. Memori anterograd Penerimaan hal-hal baru. dan lama biasanya digunakan untuk menyatakan jenis memori. 2. Memori eksplisit Berhubungan dengan akses kesadaran. sistem memori telah dibagi menjadi beberapa komponen : 1. Memori implicit Respon motorik yang dipelajari yang tidak berhubungan dengan akses kesadaran.namun saling berkaitan. 2. misalnya mengendarai mobil dan keterampilan motorik kompleks lainnya. Dengan kemajuan dalam sistem neuropsikologi. 9 . baru. Memori semantic Penyimpanan pengetahuan dunia secara umum. 3. Kata segera. Di klinik. Konsep-konsep lain yang berguna adalah : 1. Memori retrograde Mengingat kembali hal yang telah dipelajari. Memori jangka pendek Memori yang bertanggung jawab untuk mengingat segera materi verbal atau spasial dalam jumlah sedikit. dan dengan demikian memproduksi gambaran klinik yang beragam. memori dibagi atas tiga jenis berdasarkan kurun waktu antara presentasi stimulus dan penjumputan memori.

Anatomi Dasar anatomis untuk memori episodic adalah sistem limbic (terutama hipokampus dan thalamus. Memori implicit melibatkan berbagai struktur termasuk ganglia basalis dan serebelum dan hubungannya dengan korteks serebri.Memori segera merupakan pemanggilan setelah rentang waktu beberapa detik. kejadian sehari-hari. seperti nama guru. jam. serta hubungan-hubungannya). memori baru ialah kemampuan untuk mengingat materi yang baru dan menjumput materi tersebut setelah interval beberapa menit. Lebih tegas lagi. Memori baru jangka pendek. Memori rimot digunakan bagi kemampuan mengumpulkan fakta atau kejadian yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya. sementara memori semantic terletak pada neokorteks temporal. Memori rimot (jangka panjang). Gambar 3. atau hari. Pusat Memori Sumber : lecture anatomi SSP blok Neurobihavioural System 10 . Memori baru mengacu pada kemampuan pasien untuk mengingat kejadian yang baru terjadi. seperti pada pengulangan deretan angka. atau nama teman satu sekolah dulu.

tes memori 4 kata yang tidak berhubungan. Memori baru. menilai kemampuan mempelajari hal baru.terganggu. dan 11 . Kemampuan memanggil kembali biasanya dites dengan tes mengulang angka. misal : cokelat. 3. Menilai memori visual bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut : pemeriksaan menggunakan 5 objek kecil. Sambil menyembunyikan objek. Pasien yang tidak retardasi mental dan tanpa afasia yang nyata bila tidak mampu mengulang lebih dari 5 angka. misalnya pensil. memori baru dan memori rimot. misalnya bila ditanya kepada pasien tentang apa yang dimakannya waktu pagi tadi.Pemeriksaan Pada pemeriksaan status mental. tiap aspek memori perlu dinilai secara rinci. 2. menilai memori baru tentang orientasi. yang dengan mudah dapat disembunyikan di sekitar pasien. dimana kata-kata tersebut tidak saling berhubungan. Dalam hal ini perlu dinilai memori segera. pemeriksa menyebutkan nama objek. mawar. misalnya anggota keluarga atau teman dekatnya. Memori segera. Pasien diperintahkan untuk mengulangi 4 kata yang sebelumnya disebutkan oleh pemeriksa. Pemeriksaan ini membutuhkan jaminan bahwa jawaban yang diberi oleh pasien dapat di cek kebenarannya melalui sumber yang mengetahui. sisir. sehingga pasien mengetahui apa yang disembunyikan. menunjukkan atensi atau memori segera. Pemeriksaan memori baru mencangkup memori verbal dan memori visual. Orang dengan intelegensi rata-rata dapat dengan akurat mengulang 5 sampai 7 angka tanpa kesulitan. Pemeriksaan memori verbal antara lain : 1. jujur. Dalam hal ini dibutuhkan sumber pengecekan yang mengetahui keadaan pasien. kunci. lengan. Tidak jarang pasien dengan defisit memori memberikan jawaban yang salah atau ia berkonfabulasi untuk menutupi kekurangannya.

mulai dari yang saat ini dengan urutan ke belakang. bangunan yang berperan untuk pemanggilan kembali segera dan memori rimot belum dapat ditentukan. Namun demikian. misalnya dengan mengajukan pertanyaan atau berkonversasi. penjumputan). Pertanyaan yang dapat diajukan : informasi pribadi : Dimana anda dilahirkan Sekolah : dimana anda dulu bersekolah? Pekerjaan : apa saja pekerjaan anda? Pengetahuan umum. Setelah 5 menit berlalu. berbahasa dan memori merupakan dasar dari proses yang menjadi pondasi dari perkembangan fungsi intelektual yang lebih tinggi. Walaupun jejak memori visual. pasien ditanya objek apa yang disembunyikan dan dimana lokasinya. penyimpanan. verbal dan taktil mungkin sekali disimpan di neokorteks. Data pribadi membutuhkan perivikasi dari orang lain yang mengetahui. pengalaman social. Tes memori rimot ini dapat mengenai informasi pribadi. Kerusakan pada berbagai sistem kortikal akan mengakibatkan berbagai pola gangguan fungsi. Perhatian. Pengetahuan umum dan sejarah dipengaruhi oleh tingkat edukasi. Setelah objek disembunyikan. banyak bangunan subkortikal dibutuhkan untuk proses total dari memori (registrasi. pasien diberi tugas lain untuk mengalihkan perhatiannya. Implikasi Klinik Beberapa aspek proses memori terjadi pada bangunan neuroanatomi tertentu atau sistem neuronal. fakta sejarah misalnya dengan menyuruh pasien menyebutkan nama empat wakil presiden Indonesia. Memori rimot. Tes ini cukup sering gagal dilakukan oleh penyakit Alzeimer dini. Penelitian patologi anatomi telah banyak mendokumentasikan bahwa bangunan limbic terlibat dalam penyimpanan jangka panjang dan penjumputan informasi baru.dimana. Fungsi kognitif yang 12 . dan intelegensi premorbid. pengetahuan umum dan sejarah.

Amnesia anterograd dan retrograde. Memori retrograde dapat hilang sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kadang pasien dapat mengingat sebagian dari periode amnesia yang tidak bermuatan trauma emosional. Amnesia dapat terjadi tanpa keadaan lain. menghitung. misalnya amnesia pasca trauma.lebih tinggi mencangkup manupulasi bahan yang telah dipelajari. Amnesia. Amnesia umumnya melukiskan defek pada fungsi memori. menyelesaikan masalah (problem solving). ia dapat mempelajari item baru sewaktu periode amnesia dan setelah periode amnesia berlalu. Amnesia psikogenik. atau pada konteks adanya deficit kognitif lainnya. paling sering amnesia digunakan untuk melabel pasien dengan deficit memori yang relative terbatas (terisolasi). tapi dapat juga terjadi setelah jejas otak mayor (misalnya stroke). namun akan memblok kejadian yang secara emosional traumatic. Amnesia dapat juga berbentuk amnesia psikogenik. Amnesia retrograde berarti amnesia terhadap kejadian sebelum terjadinya jejas atau insult otak. Hilangnya memori yang berdasarkan keadaan psikologis mengakibatkan lubang-lubang pada memori terhadap kejadian sewaktu adanya amnesia. dan tidak menderita defek pada memori jangka pendek dan jangka panjang bila dites. Amnesia dapat terjadi akut dan sementara atau kronik dan persisten. amnesia retrograde. dsbnya. Rentang waktu amnesia dapat sesingkat mungkin beberapa detik sampai beberapa tahun. Walaupun istilah amnesia digunakan untuk defek memori dengan spectrum yang luas. Kejadian ini paling sering dijumpai pasca trauma kepala. Pasien akan tampak panic. menanyakan 13 . pemikiran abstrak. Amnesia global sementara (transient global amnesia) adalah suatu kondisi pada pasien usia pertengahan atau usia lanjut yang tiba-tiba menjadi amnesia berat dengan hilangnya memori anterograd dan retrograde. Dalam hal ini pasien memblok suatu kurun waktu tertentu. Pasien ini tidak menunjukkan deficit memori baru. Ketidakmampuan mempelajari materi baru setelah jejas otak disebut amnesia anterograd.

Perbaikan terjadi dalam beberapa jam. digabung dengan aspek perilaku social dan kepribadian. namun etiologinya masih belum diketahui. hal ini disebabkan oleh kerusakan fokal sistem limbic. tetapi meliputi kemampuan untuk membuat rencana. menangani konsep abstrak. kepribadian dan perilaku. biasanya irreversible. gangguan ini diperkirakan sebagai manifestasi penyakit serebrovaskuler. Amnesia sering terjadi secara akut dan sementara pada acute confusional state bersamaan dengan adanya deficit kognitif lainnya. defisiensi vitamin B (sindrom Korsakoff). infark thalamus.pertanyaan sederhana (misalnya “apa yang terjadi ?”) secara berulang-ulang. Dahulu. Fungsi eksekutif yang lebih tinggi. Amnesia berat umumnya merupakan gambaran awal penyakit Alzaimer. beradaptasi. tetapi dengan fungsi kognitif lain yang masih baik. Beberapa pasien dengan episode berulang biasanya mengalami epilepsy yang berasal dari lobus temporalis (amnesia epilepsik transien). Rekurensi jarang terjadi dan prognosisnya baik. dan juga amnesia dapat terjadi secara persisten pada demensia. motivasi. dan cedera kepala tertutup. Fungsi eksekutif sulit didefinisikan dengan tepat. walaupun gangguan ini berhubungan dengan migren. misalnya anoksia hipokampus. sehingga pasien hanya mengalami amnesia pada periode serangan tersebut. termasuk amnesia retrograde. dan menyelesaikan masalah. tetapi tanpa adanya gangguan kesadaran atau deficit kognitif lainnya. 14 . dan inhibisi. Sindrom amnestik merujuk pada kegagalan memori yang kronik dan persisten (anterograd dan retrograd). misalnya inisiatif. kerusakan hipokampus akibat ensefalitis virus herpes simpleks.

Anatomi Lobus frontal hemisfer serebri. dan perilaku. 15 . Perkiraan kognitif. misalnya memperkirakan tinggi suatu gedung. Area Frontalis Cerebri Sumber : lecture anatomi SSP blok Neurobihavioural System Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik untuk disfungsi lobus frontal umumnya hanya secara kasar dan bisa didapatkan dari alloanamnesa. merupakan area yang penting untuk fungsi eksekutif normal. Perseverasi juga merupakan gambaran kerusakan lobus frontal. yaitu pengulangan kompulsif kata-kata atau gerakan. terutama area prefrontal. kata-kata yang diawali huruf tertentu. Interpretasi peribahasa. misalnya dengan membuat daftar belanja yang dibeli di supermarket. menjelaskan maksud konkret peribahasa. misalnya dari anggota keluarga (apakah pasien dapat mengerjakan tugas? Pergi berbelanja?) dan dari observasi klinis. sementara lobus ventromedial frontal memiliki peran yang penting dalam kognisi social. Gambar 4. Pasien dengan disfungsi bifrontal dapat menunjukkan hasil yang sangat jelek pada tes-tes berikut : Kelancaran verbal. kepribadian.

Fungsi Kognitif yang Terlokalisasi Dominansi Hemisfer Pada kebanyakan individu. dengan penurunan perilaku social dan higien.Dengan kerusakan lobus frontal yang lebih berat. tumor. Aspek klinik Kerusakan bifrontal dapat terjadi akibat trauma. yang lain mungkin lebih pasif. Reflex genggam (grasping) : gerakan menggenggam yang involunter yang dirangsang dengan mengelus talapak tangan pasien. Reflex mengerutkan bibir (pouting) : dirangsang dengan mengetukkan spatula yang diletakkan di bibir pasien. control inhibisi akan hilang. Jika positif. yang akhirnya mengakibatkan inkontinensia. 2. pasien menjadi mudah tersinggung dan agresif. Bahkan mayoritas orang kidal juga memiliki hemisfer yang dominan. berbicara dan bergerak sedikit. bibir akan melipat ke arah spatula. hemisfer serebri merupakan hemisfer yang dominan untuk fungsi bahasa. dan dua reflex primitive yang paling berguna adalah : 1. Sementara beberapa pasien menjadi suka bergurau dan rebut. dan penyakit degenerative fokal. 16 . akan lebih jelas jika perhatian pasien dialihkan. dan pada hal yang ekstrem menjadi mutisme akinetik. infark. Hilangnya inbihisi lobus frontal normal dapat mengakibatkan timbulnya reflex primitive.

Hal ini berarti bahwa mekanisme neuronal yang mendasari proses mental itu beroperasi di hemisferium dominan. dan merupakan dasar dan tulang punggung bagi kemampuan kognitif. berfikir dan berhayal ataupun ketika merencanakan sesuatu. persamaan. setelah memiliki kemampuan untuk mengenal (gnosis) akan belajar memperhatikan dan mengingat perbedaan. Bila terdapat deficit pada sistem berbahasa. pengenalan benda atau apa saja yang dapat dipegang. menamai. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi merupakan manifestasi eksternal. Bahasa yang kita gunakan tanpa berkomunikasi dengan dunia luar itu dikenal dengan bahasa internal. interpretasi pepatah dan berhitung lisan menjadi sulit dan mungkin tidak dapat dilakukan. Juga dari bahan apa sesuatu dibuat dapat diketahui dengan jalan perabaan. 17 . repetisi. Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sangat penting. mana yang halus. penekanan. sehingga ia mulai dapat menafsirkan mana yang berat. dan seterusnya.Fungsi Hemisfer Dominan Bahasa Dalam berbahasa tercakup berbagai kemampuan. Dengan demikian. dan perbandingan. diraba dan ditekan dengan mudah dapat dilakukan secara tepat tanpa melihat. Baik perkembangan bahasa maupun sensibilitas taktil terkait pada perkembangan gerakan tangkas selanjutnya. Anak yang sedang berkembang. tanpa berbicara atau berunding dengan siapapun. yaitu : bicara spontan. Bila terdapat gangguan. Bahasa merupakan instrument dasar bagi komunikasi pada manusia. membaca dan menulis. dan pemegangan. Tetapi kita bisa berbahasa di dalam pikiran kita sendiri. yang bagus. penilaian factor kognitif seperti memori verbal. hal ini akan mengakibatkan hambatan yang berarti bagi pasien. yang secara singkat dinamakan sensibilitas taktil. seperti ketika berhitung. komprehensi.

Perkembangan gerakan tangkas. Bahasa lisan dihasilkan oleh kegiatan di pusat pengertian 18 . Pada kebanyakan orang. Kemudian data itu dikirim (E) ke pusat pengertian bahasa. ternyata tidak berjalan serasi pada kedua belahan tubuh.Pada perkembangan ontogenik terjadi mekanisme neuronal yang khas bagi manusia. yaitu proses lateralisasi. Di pusat Wernicke suara dikenal sebagai symbol bahasa. Pengiriman data dari hemisfer yang tak dominan ke pusat Wernicke dilaksanakan melalui serabut korpus kalosum. Pada hemisfer yang dominan data auditorik tersebut dikirim (A) ke pusat Wernicke. Anatomi dan Fisiologi Berbahasa G C B A E F D H Gambar 5. belahan tubuh kanan dapat bergerak lebih terampil. luwes dan tangkas daripada belahan tubuh kiri. Fisiologi Berbahasa Sumber : Neurologi Klinis Dasar Semua impuls auditorif disampaikan kepada korteks auditori primer kedua sisi. Di situ symbol bahasa lisan (auditorik) diintegrasikan dengan symbol bahasa visual dan sifat-sifat lain dari bahasa. yang bermula dengan gerakan canggung sampai akhirnya menjadi gerakan yang luwes dan terampil.

Lesi C : afemia (afasia motorik dengan utuhnya kemampuan untuk mengerti bahasa lisan dan tertulis dan mampu berekspresi dengan tulisan). yang pada gilirannya mengirimkan (B) pesan ke pusat Broca (yang menyelenggarakan produksi kata-kata) melalui (C) daerah motorik primer dan melalui lobus frontalis (area motorik suplementer). afasia sensorik.afasia sensorik transkortikal. 19 . Lesi E : afasia transkortikal. lesi di pusat pengertian bahasa. Dari korteks visual primer kedua sisi data visual disampaikan (H) kepada korteks visual sekunder di hemisferium yang dominan. Lesi B : afasia konduktif (berbahasa verbal terganggu. yang ikut mengatur produksi aktivitas motorik yang tangkas dalam bentuk kata-kata yang jelas. Lesi D : aleksia tapi tidak agrafia.bahasa yang menggalakan (F) pusat pengenalan kata (Wernicke). Data tersebut dikirim (D) ke pusat Wernicke dan ke (G) pusat pengintegrasian pengertian bahasa. Bahasa visual dikembangkan melalui persepsi visual bilateral. lesi di pusat Wernicke. Manifestasi dari lesi di berbagai lokasi pada hemisferium yang dominan adalah sebagai berikut : Lesi A : word deafness. lesi di pusat Broca – afasia motorik). Lesi H : agnosia visual (tidak dapat menyebut nama segala sesuatu yang dilihat). Lesi F : afasia nominatif Lesi G : agnosia asosiatif tanpa aleksia. Lesi di daerah motorik suplementer irama dan lafal bahasa kacau. tapi masih mengerti lengkap bahasa verbal.

Disleksia merupakan gangguan perkembangan membaca pada anak dengan intelegensi yang normal. Jadi. komprehensi dan pemilihan kata tidak terganggu. Dalam praktek. Disfonia terjadi pada gangguan fungsi neuromuskuler yang melibatkan pita suara atau palatum. Sebagai akibatnya pasien bicara secara monoton (irama datar). Aleksia adalah kata yang digunakan untuk menyatakan kehilangan kemampuan membaca yang sebelumnya ia mampu. atau ia mungkin menghembus kuat namun tidak mengerutkan bibirnya. Apraksia oral atau apraksia bukofasial ialah ketidakmampuan melakukan gerakan terampil dari otot wajah dan otot berbicara sedangkan komprehensi. Aleksia perlu dibedakan dengan disleksia. kemampuan berbahasa seperti gramatika (tata bahasa). melodi. Ia mungkin akan menghirup udara pada saat harus menghembus udara. Agrafia ialah gangguan pada bahasa yang dinyatakan dalam penulisan. lidah dan bibir sewaktu artikulasi (berbicara). pasien yang apraksia mungkin mengalami kesulitan mengatur bibirnya. Disfonia (serak. Bila pasien disuruh memperagakan bagaimana cara menghembuskan geretan yang sedang menyala. dan intonasi suara terganggu. Disartria disebabkan oleh gangguan pada control neuromuskuler pada proses artikulasi. bukan pada bentuk huruf dan tulisan yang buruk. hal ini biasanya berarti kesulitan dalam menggerakan palatum. bindeng) ialah kesulitan dalam fonasi (mengeluarkan bunyi atau suara). Disprosodi ialah gangguan pada irama bicara. tenaga otot. Pada keadaan ini. Dalam hal ini. dan koordinasi otot normal.Terminology Disartria (pelo. pengucapan kata. 20 . cadel) merupakan gangguan pada artikulasi. ritme.

yang mungkin dapat terjadi pada disfasia berat atau disartria. bila seseorang diklasifikasikan sebagai menderita afasia motorik. sedang bentuk lainnya seperti afasia reseptif sedikit banyak dijumpai. namun semua bentuk klasifikasi mempunyai kekurangan. Pasien dengan afasia jenis ekspresif (motorik) ditandai oleh gangguan ekspresif. Jadi. dan sampai saat ini belum didapat suatu bentuk klasifikasi yang dapat mencangkup seluruh gangguan berbahasa atau mengatasi seluruh kekurangan pada klasifikasi yang ada sebelumnya. namun tidak menonjol. Dalam hal ini pasien menunjukkan gangguan dalam memproduksi dan atau memahami bahasa. Klasifikasi gangguan bahasa Berbagai klasifikasi gangguan berbahasa telah dikemukakan oleh berbagai pakar. karena umumnya kemampuan untuk berbahasa tidak hilang secara 21 . Afasia biasanya berarti hilangnya kemampuan berbahasa setelah kerusakan otak. defek dalam komprehensi hampir selalu ada. Gangguan artikulasi dan praksis mungkin ada sebagai gejala penyerta. Sebelum menelaah beberapa bentuk klasifikasi yang dikenal. Gangguan cara berbahasa Gangguan cara berbahasa dinamakan afasia. Dalam hal ini. Lebih tepat untuk menggunakan istilah disfasia. seharusnya ini berarti afasianya bersifat motorik. perlu diketahui bahwa jarang sekali dijumpai jenis gangguan bahasa yang murni. perkembangan kemampuan berbahasa yang tidak sebanding dengan perkembangan kognitif umumnya.Afasia merupakan gangguan berbahasa. Defek dasar pada afasia adalah pada pemrosesan bahasa di tingkat integrative yang lebih tinggi. selain itu. Kata afasia perkembangan (sering disebut sebagai disfasia) digunakan bila anak mempunyai keterlambatan spesifik dalam memperoleh kemampuan berbahasa. Mutisme adalah kegagalan total untuk bersuara. atau bagian dari penyakit psikiatrik.

dan mengalami kesulitan atau memerlukan banyak upaya dalam berbicara. Adakalanya hanya dapat mengucapkan “ya” atau “he-ng” 22 . Menulis sering tidak mungkin atau sangat terganggu. Afasia motorik terberat ialah jika penderita sama sekali tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Pemahaman terhadap bahasa lisan dan tulisan kurang terganggu dibandingkan dengan kemampuan mengemukakan isi pikiran. Pasien tidak begitu sadar akan kekurangannya. namun didapat gangguan berat pada memformulasi dan menamai sehingga kalimat yang diucapkan tidak mempunyai arti. Kadang dijumpai pasien dengan gangguan yang berat pada semua modalitas bahasa. yang selalu diulang-ulang. Sindrom afasia dapat dibagi dalam afasia motorik dan sensorik atau afasia ekspresif dan reseptif. Afasia jenis pertama dinamakan afasia Broca atau afasia motorik atau ekspresif. Afasia jenis kedua dinamakan afasia Wernicke atau sensorik atau reseptif.mutlak. Pasien sama sekali tidak bicara atau hanya bicara sepatah kata atau frasa. dan menulis secara motorik terpelihara. pasien tidak bicara atau sangat sedikit bicara. namun isi tulisan tidak menentu. cara mengucapkan baik dan irama kalimat juga baik. Pada lesi di temporoparietal pasien justru terlalu banyak bicara. Pasien sadar akan kekurangan dan atau kelemahannya. Tetapi afasia sudah umum digunakan baik untuk afasia ringan maupun afasia berat. serta terdapat perseverasi. Bahasa lisan dan tulisan tidak atau kurang difahami. Pada lesi di frontal. Selain itu gramatikanya miskin (sedikit) dan menyisipkan atau mengimbuh huruf atau bunyi yang salah. Lesi yang menimbulkan afasia motorik terletak di sekitar daerah Broca. Afasia ialah kesulitan dalam memahami dan atau memproduksi bahasa yang disebabkan oleh gangguan (kelainan. penyakit) yang melibatkan hemisfer otak. dengan artikulasi dan irama yang buruk dan tidak bermakna.

baik secara verbal maupun visual (afasia motorik kortikal). tetapi bisa juga terjadi adanya agrafia.tu…tulis…”. Tetapi decoding dari abstraksi terganggu. tetapi tidak mampu mengucapkan kata-kata yang terkandung dalam fikirannya. Afasia motorik yang ringan ialah afasia nominative atau afasia amnestik. juga persandian abstraksi masih utuh. Afasia motorik yang mencerminkan kerusakan terhadap seluruh korteks daerah Broca ialah afasia pada mana penderita tidak bisa melakukan ekspresi dengan cara apapun. adakalanya kata-kata yang bersifat ledakan-ledakan emosional masih bisa diucapkan secara spontan misalnya “asu”. Pada afasia motorik yang terberat. Namun demikian. umumnya kemampuan untuk menulis kata-kata masih tidak terganggu. Tetapi ia tidak bisa mengucapkan kata pensil. Afasia motorik pada mana penderita tidak bisa mengucapkan satu kata apapun. lesi tersebut diketemukan di daerah antara daerah Broca dan Wernicke. Ia tahu abstraksi dari benda tersebut dalam fikiran. ia masih mengerti bahasa verbal dan visual. Dan yang lebih-lebih menekan jiwanya ialah bahwa ia sadar akan apa yang hendak diucapkan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa penyimpanan kata pensil utuh. bisa timbul akibat lesi di masa putih daerah Broca. Juga perintah-perintah untuk melakukan sesuatu (praksis) bisa dilaksanakan sesuai dengan makna perintah. sambil menganggukan kepalanya.saja. tetapi juga diluar daerah Wernicke.itu…. Misalnya penderita diminta untuk menyebutkan nama benda yang disodorkan kepadanya. Jadi bahasa internalnya masih utuh. Afasia ini ditandai dengan kesulitan menemukan nama suatu benda. Oleh karena itu. Lesi yang dapat menimbulkan afasia nominative itu terletak di luar area Broca. Ia bisa menjawab sebagai berikut “ tu…. Pada afasia motorik. Ketidakmampauan untuk menyatakan fikirannya dengan kata-kata menjengkelkan penderita. Penderitanya tidak bisa menemukan simbolik verbal dari benda yang diperlihatkan kepadanya. tetapi lafal dari abstraksi itu tidak bisa dinyatakan. Untuk jenis afasia ini digunakan juga istilah awam “pure 23 . namun masih bisa mengutarakan fikirannya dengan jalan tulis menulis. Memang. afasia motorik termaksud dinamakan juga afasia motorik subkortikal.

Ibaratnya gudang yang bisa dibuka dengan kunci yang masih kita miliki tetapi isi gudangnya atau gudangnya sendiri sudah terbakar habis. Afasia motorik yang berat dengan masih adanya kemampuan untuk membeo ini dinamakan afasia motorik transkortikal. Tergolong dalam afasia motorik adalah juga akalkulia ekspresif dan agrafia ekspresif. dan lobus parietalis. ekspresi dengan cara berbahasa masih bisa. Iapun tidak mengerti lagi isi surat yang dibacanya. Hancurnya gudang pengertian berarti hilangnya daya untuk mengerti apa yang dibicarakan atau ditulis.word dumbness” atau “bisu kata-kata yang tulen”. Penyimpanan (storage) berikut proses coding dari apa yang didengar dan ditulis terjadi didaerah antara bagian belakang lobus temporalis. walaupun ia tidak buta huruf. walaupun ia tidak tuli. kemampuan untuk mengerti bahasa verbal dan visual terganggu atau hilang sama sekali. Penderita dengan afasia perseptif tidak mengerti lagi bahasa yang didengarnya. Tetapi kemampuan untuk secara aktif mengucapkan kata-kata dan menulis kata-kata masih ada. namun tidak mampu lagi untuk mengeluarkan kata-kata sebagai cara ekspresi aktifnya. penderita sendiri sadar akan ketidakmampuannya. Jika daerah tersebut rusak. yang berarti hilangnya kemampuan untuk ekspresi dengan menggunakan simbolik matematika dan huruf. Jika seorang penderita afasia motorik masih bisa membeo. Derah tersebut dikenal sebagai daerah Wernicke. maka afasia motorik semacam itu disebabkan oleh suatu lesi kortikal yang agak besar di daerah Broca dan Wernicke. Lesi yang berkorelasi dengan gangguan terletak di lobus frontalis yang berdampingan dengan korteks motorik. Dan daerah itu dapat diumpamakan dengan gudang pengertian. Oleh karena kata 24 . tetapi apabila ekspresi itu diwujudkan dalam bentuk tulisan. kendatipun apa yang diucapkan dan ditulis tidak mempunyai arti sama sekali. Hilangnya pengertian berarti juga hilangnya gnosis dan kognisio. lobus oksipitalis. Pada akalkulia ekspresif dan agrafia ekspresif. Afasia sensorik atau afasia persepsif dikenal juga sebagai afasia Wernicke. proses coding pun tidak akan menghasilkan apa-apa.

maka kita namakan gejala tersebut agrafia reseptif. tetapi bahasa visual tidak mempunyai arti baginya. Semacam afasia sensorik yang ringan. hanya kemampuan untuk mengerti apa yang dibaca terganggu. tetapi ia masih bisa mengerti bahasa tertulis dengan baik. penderita sama sekali tidak mengerti bahasa verbal yang didengarnya. dibedakan atas : 25 . Dalam hal agrafia ekspresif (akibat lesi di sekitar Broca). Demikian juga arti istilah akalkulia reseptif. Pada aleksia reseptif. Tuli kata-kata atau buta kata-kata timbul akibat lesi kecil di sekitar daerah Wernicke. Klasifikasi afasia Klasifikasi afasia yang berpedoman pada lesi anatomic. ekspresi melalui bahasa ikut terganggu. yang terletak baik di lobus temporalis ataupun parietal bahkan oksipital. maka ia akan berbicara dan menulis suatu bahasa yang tidak dimengerti oleh dirinya sendiri ataupun orang lain. pada mana si penderita masih bisa mengerti bahasa verbal tetapi tidak dapat mengerti soal-soal yang menyangkut hitung berhitung. Ocehan itu dinamakan jargon afasia. Jika kemampuan untuk mengerti bahasa verbal masih utuh tetapi daya untuk mengerti bahasa tertulis hilang. Girus yang tersebut pertama terletak di ujung sulkus temporalis superior dan girus yang tersebut terakhir terletak di ujung fisura serebri lateralis Sylvii. dan aleksia reseptif. pada mana bahasa verbal masih bisa dimengerti. yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai word deafness (tuli kata-kata). Lesi-lesi yang relevan bagi afasia reseptif fraksional itu terbatas pada girus angularis dan supramarginalis. sedangkan ia masih mengerti bahasa verbal. tetapi kebanyakan merupakan ocehan yang tidak mempunyai arti. Dalam hal tersebut. bisa dijumpai.dan tulisan yang masih dapat diucapkan dan ditulis oleh seorang penderita tidak lagi dikenal dan diketahui. Juga afasia sensorik yang dinamakan buta katakata. jarang dijumpai. Sebagai varian dari buta kata-kata ialah agrafia. Adakalanya bahasa baru (neologisme) mengandung kata-kata yang menyerupai kata-kata yang awajar. akalkulia.

Sindrom afasia subkortikal Afasia talamik Afasia striatal 4. Afasia lancar Pada afasia yang lancar didapatkan bicara yang lancar. Afasia jargon 5. namun sering isi bicara tidak bermakna dan tanpa isi (kalimat yang diucapkan tidak tahu kita maksud dan maknanya). Afasia global Pada klasifikasi yang berdasarkan manifestasi klinik ada yang membagi atas dasar lancarnya berbicara. Afasia yang lancar mencangkup : 26 . Kata-kata yang digunakan sering salah dan sering didapatkan parafasia.1. Sindrom afasia non-lokalisasi Afasia anomik Afasia global Klasifikasi yang merujuk pada linguistic. Sindrom afasia daerah perbatasan (border zone) Afasia transkortikal motorik Afasia transkortikal sensorik Afasia transkortikal campuran 3. artikulasi baik. Sindrom afasia peri-silvian Afasia broca Afasia wernicke Afasia konduksi 2. Afasia semantic 3. irama dan prosodi baik. dalam hal ini afasia dapat dibedakan atas : 1. Terdiri dari : 1. Afasia sintaktik 2. Afasia pragmatic 4.

misalnya tandi. irama berbicara terpelihara. Bentuk parafasia yang menggunakan kata yang sama sekali asing. miban. namun isi bicara atau kalimat-kalimatnya kosong (tidak mempunyai arti). Parafasia fonemik ialah mensubstitusi suatu bunyi dengan bunyi yang lain. aliran bicaranya lancar. disebut neologisme. Kita mengenal 2 jenis parafasia. Banyak menggunakan kata-kata yang abnormal (parafasia. Parafasia semantic ialah mensubstitusi satu kata dengan kata yang lain. neologisme). 2. yaitu parafasia semantic (ventral) dan parafasia fonemik (literal). Afasia tidak lancar 27 . misalnya menggantikan kata mobil dengan kuda.- Afasia reseptif (Wernicke) Afasia konduksi Afasia amnesik (anomik) Afasia transkortikal Seorang afasia yang fluen mungkin mengatakan (dengan lancar) : “rokok tembakau beli kemana situ tadi gimana dia” Gambaran klinik afasia yang fluen (jenis Wernicke) : Keluaran bicara yang lancar Panjang kalimat normal Artikulasi baik Prosodi baik Anomi Terdapat parafasia fonemik dan semantic Komprehensi auditif dan membaca buruk Repetisi terganggu Menulis lancar tetapi isinya kosong. Pada keadaan ini. misalnya mengganti kata mobil dengan gobin. Parafasia ialah mensubstitusi kata.

Pemahaman lumayan (namun mengalami kesulitan memhami kalimat yang sintaksisnya kompleks) Pengulangan (repetisi) buruk Kemampuan menamai. bicara dalam bentuk yang sederhana. menyebut nama benda buruk. Terdapat kesalahan parafasia.Pada afasia yang tidak lancar output (keluaran) bicara terbatas. kurang kompleks Artikulasi umumnya terganggu Irama kalimat dan irama bicara terganggu. 28 . Gambaran klasik afasia non fluen ialah : Pasien tampak sulit memulai bicara Panjang kalimat berkurang (5 kata atau kurang per kalimat) Gramatika bahasa berkurang. Afasia yang tidak lancar mencangkup : Afasia ekspresif Afasia global Penyandang afasia yang menggunakan kalimat pendek (kurang dari 5 kata) dan kurang baik gramatikanya dianggap non-fluen. sering disertai artikulasi yang buruk. bicara singkat berbentuk gaya telegram. Kebanyakan penyandang afasia yang non-fluen mempunyai deficit dalam artikulasi dan juga dalam prosodi (irama bicara).

Algoritme Klasifikasi Afasia Kortikal Kelancaran pemahaman (komprehensi) mengulang (repetisi) jenis afasia Baik Baik Lancar buruk Baik Buruk AFASIA Buruk Baik Baik Tidak lancar Buruk Baik Buruk Buruk anomik konduksi transkortikal sensorik wernick transkortikal motorik Broca transkortikal campuran global 29 .

misalnya “iya…iya…iya…”. Afasia Global Afasia global adalah bentuk afasia yang paling berat. Membaca dan menulis juga terganggu berat. temporal superior posterior Peri sylvian anterior Peri sylvian posterior Gambaran dan gejala klinik afasia 1. Komprehensi menghilang atau sangat terbatas. Repetisi juga sama berat gangguannya seperti bicara spontan. Keadaan ini ditandai dengan tidak adanya lagi bahasa spontan atau berkurangnya sekali dan menjadi beberapa patah kata yang diucapkan secara stereotip . misalnya hanya mengenal namanya saja atau satu atau dua patah kata. girus supra marginalis Girus angular.Beberapa bentuk afasia mayor Bentuk afasia Ekspresif (broca) Reseptif (wernicke) ekspresi Kompreh repetisi ensi verbal Relative terganggu terpelihara terganggu terganggu menamai Kompreh ensi membaca Bervariasi menulis lesi Tak lancer Lancar terganggu terganggu terganggu Terganggu terganggu Global Konduksi Tak lancer Lancar terganggu terganggu terganggu terganggu Terganggu terganggu Bervariasi terganggu Relative terganggu terpelihara Nominal Lancar Relative terpelihara terganggu terpelihara Bervariasi bervariasi Transkortik al motor Transkortik al sensorik Tak lancer Lancar Relative terpelihara terganggu terpelihara terganggu terpelihara terganggu Bervariasi terganggu Terganggu terganggu Frontal inferiorposterior Temporal superior posterior (Wernicke) Fronto temporal Fasikulus arkuatus. 30 .

Afasia global hampir selalu disertai hemiparese atau hemiplegic yang menyebabkan invaliditas kronis yang parah. Ciri klinik afasia Broca : Bicara tidak lancar Tampak sulit memulai bicara Kalimatnya pendek (5 kata atau kurang per kalimat) Repetisi buruk Kemampuan menamai buruk Kesalahan parafasia Pemahaman lumayan Gramatika bahasa kurang. 31 . tidak kompleks Irama kalimat dan irama bicara terganggu. Lesi yang menyebabkan afasia Broca mencangkup daerah Brodmann 44 dan sekitarnya. 2. Lesi yang mengakibatkan afasia Broca biasanya melibatkan operculum frontal (area Broadmann 44 dan 45) dan massa alba frontal dalam (tidak melibatkan korteks motorik bawah dan massa alba paraventrikuler daerah Brodmann 4.”.kontrol……ya….kon…trol…. Afasia Broca Bentuk afasia ini sering kita lihat di klinik dan ditandai dengan bicara yang tidak lancar. Menamai (naming) dapat menunjukkan jawaban yang parafasik. Pasien sering atau paling banyak mengucapkan kata benda dan kata kerja.Afasia global disebabkan oleh lesi luas yang merusak sebagian besar atau semua daerah bahasa. Contoh : “Saya……. serta tampak melakukan upaya bila berbicara. Penyebab lesi yang paling sering ialah oklusi arteri karotis interna atau arteri serebri media pada pangkalnya.sembuh……rumah……. Kemungkinan pulih ialah buruk. Pemahaman auditif dan pemahaman membaca tampaknya tidak terganggu. namun pemahaman kalimat dengan tata bahasa yang kompleks sering terganggu.. Mengulang (repetisi) dan membaca kuat-kuat sama terganggunya seperti bicara spontan. dan disartria.

tanpa melibatkan jaringan di sekitarnya. Maka terjadilah kalimat yang isinya kosong. dan bila ia menjawab iapun tidak mampu mengetahui apakah jawabannya salah. dan neologisme. dan tidak mampu mengetahui kata yang diucapkannya. seperti frustasi dan depresi. pasien dapat lebih baik beradaptasi dengan keadaannya. 3. Ada pakar yang menyatakan bahwa bila kerusakan terjadi hanya di area Brocca di korteks. Pada kelainan ini pemahaman bahasa terganggu. berisi parafasia. Pemulihan terhadap berbahasa (prognosis) umumnya lebih baik daripada afasia global. Repetisi terganggu berat. Afasia Wernicke Afasia Wernicke. Karena pemahaman relative baik. pasien afasia Wernicke ditandai oleh ketidakmampuan memahami bahasa lisan. Membaca dan menulis juga terganggu berat. Gambaran klinik afasia Wernick : Keluaran afasik yang lancar Panjang kalimat normal Artikulasi baik Prosodi baik 32 . Di klinik. Apakah hal ini disebabkan oleh gangguan berbahsanya atau merupakan gejala yang menyertai lesi di lobus frontalis kiri belum dapat dipastikan. maka tidak akan terjadi afasia. Penderita afasia Broca sering mengalami perubahan emosional. Ia tidak mampu memahami kata yang diucapkannya.ada pula yang terganggu di daerah peri-rolandik dengan kerusakan massa alba yang ekstensif. apakah benar atau salah. Menamai (naming) umumnya parafasik. Misalnya menjawab pertanyaan : bagaimana keadaan ibu sekarang? Pasien mungkin menjawab : Anal saya lalu sana sakit tanding tak bertabir.

Sering lesi ada di 33 . Afasia jenis Wernicke dapat juga dijumpai pada lesi subkortikal yang merusak isthmus temporal memblokir signal aferen inferior ke korteks temporal. Terputusnya hubungan antara area Wernicke dan Broca diduga menyebabkan manifestasi kelainan klinik ini. Terlibatnya girus supramarginalis diimplikasikan pada beberapa pasien. bisa-bisa disangka menderita psikosis. walaupun diberikan terapi bicara yang intensif. gangguan dalam menulis. Penderita dengan deficit komprehensi yang berat. 4. karena kelainannya hanya atau terutama pada berbahasa. semakin besar kemungkinan lesi mencangkup bagian posterior dari girus temporal superior. Lesi yang menyebabkan afasia jenis Wernicke terletak di daerah bahasa bagian posterior. Semakin berat defek dalam komprehensi auditif. dan neologisme. Penderita yang tanpa hemiparese. kesulitan dalam membaca kuat-kuat (namun dalam pemahaman membaca baik). Bila pemahaman kata tunggal terpelihara. ada pula yang tidak. namun kata kompleks terganggu. ketimbang lobus temporal superior. yaitu bicara yang kacau disertai banyak parafasia. prognosis penyembuhannya buruk. Penderita afasia jenis Wernicke ada yang menderita hemiparese.- Anomia (tidak dapat menamai) Parafasia fonemik dan semantic Komprehensi auditif dan membaca buruk Repetisi terganggu Menulis lancar tapi isinya kosong. Afasia Konduksi Merupakan gangguan bahasa yang lancar yang ditandai oleh gangguan yang berat pada repetisi. parafasia yang jelas. namun umumnya pemahaman bahasa lisan terpelihara. lesi cenderung mengenai daerah lobus parietal. Anomianya berat.

pasien dengan afasia sensorik transkortikal.spontan terbatas. dapat mengulang dengan baik. Bicara spontannya dan menamai lancar. Pasien dengan afasia motorik transkortikal mampu mengulang (repetisi). 5. Sebaliknya. seperti pasien dengan afasia Broca. Ada pasien yang mengalami kesulitan dalam memproduksi bahasa. namun dalam bicara. dan mengenai fasikulus arkuatus yang menghubungkan korteks temporal dan frontal. namun komprehensinya buruk. juga dalam bahasa asing dengan tepat.massa alba subkortikal di korteks parietal inferior. tetapi parafasik seperti afasia jenis Wernicke. Ada pula pasien yang produksi bahasanya lancar. memahami dan membaca. Sesekali ada pasien yang menderita kombinasi dari afasia transkortikal motorik dan sensorik. namun komprehensinya lumayan. dan mereka cenderung menjadi echolalia (mengulang apa yang didengarnya). namun fungsi bahasa lainnya terganggu. Mudah mencetuskan repetisi pada pasien ini. Gambaran klinik afasia sensorik transkortikal : Keluaran (output) lancar. Pasien ini mampu mengulangi kalimat yang panjang. Pemahaman buruk Repetisi baik Echolalia Komprehensi auditif dan membaca terganggu Deficit motorik dan sensorik jarang dijumpai Didapatkan deficit lapangan pandang di sebelah kanan. Gambaran klinik afasia motorik transkortikal : Keluaran tidak lancar Komprehensi baik 34 . namun tidak memahami apa yang didengarnya atau yang diulangnya. Afasia Transkortikal Ditandai oleh repetisi bahasa lisan yang baik (terpelihara).

Afasia transkortikal disebabkan oleh lesi yang luas. Demensia. 2. Afasia transkortikal motorik terlihat pada lesi di perbatasan anterior yang menyerupai huruf C terbalik. Afasia Anomik Ada pasien afasia yang defek berbahasanya berupa kesulitan dalam menemukan kata dan tidak mampu menamai benda yang dihadapkan 35 . Lesi ini tidak mengenai korteks temporal superior dan frontal inferior (area 22 dan 44 dan lingkungan sekitar) dan korteks peri sylvii parietal. Gambaran klinik afasia transkortikal campuran : Tidak lancar (non-fluent) Komprehensi buruk Repetisi baik Echolalia mencolok. 6.- Repetisi baik Inisiasi output terlambat Ungkapan-ungkapan singkat Parafasia semantic Echolalia. Penyebab yang paling sering dari afasia transkortikal ialah : 1. Anoksia sekunder terhadap sirkulasi darah yang menurun. Anoksia oleh keracunan CO 4. Korteks perisylvii yang utuh ini dibutuhkan untuk kemampuan mengulang yang baik. di dalam zona perbatasan antara pembuluh darah serebral mayor (misalnya di lobus frontal antara daerah arteri serebri anterior dan media). Oklusi atau stenosis berat arteri karotis 3. berupa infark berbentuk bulan sabit. misalnya cardiac arrest.

Berbicara spontan biasanya lancar dan kaya dengan gramatika. bukan oleh lesi kortikal saja. namun sering tertegun mencari kata dan terdapat parafasia mengenai nama objek. atau amnestik. atau dapat pula demikian beratnya sehingga keluaran spontan tidak lancar dan isinya kosong. putamen-kaudatus. Afasia dapat juga terjadi oleh lesi subkortikal. Keadaan ini disebut sebagai afasia anomik. Prognosis untuk penyembuhan bergantung kepada beratnya defek inisial. dengan demikian nilai lokalisasi jenis afasia ini terbatas. Gambaran klinik afasia anomik : Keluaran lancar Komprehensi baik Repetisi baik. atau di kapsula interna. pasien demikian dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik daripada jenis afasia lain yang lebih berat. Lesi di thalamus. dapat menyebabkan afasia anomik. Mekanisme terjadinya afasia ini masih belum jelas. Gangguan (defisit) dalam menemukan kata. nominal. 36 .kepadanya. misalnya oleh perdarahan atau infark. Anomia dapat demikian ringannya sehingga hampir tidak terdeteksi pada percakapan biasa. mungkin antara lain oleh berubahnya input ke serta fungsi korteks sekitarnya. Karena output bahasa relative terpelihara dan komprehensi lumayan utuh. Banyak tempat lesi di hemisfer dominan yang dapat menyebabkan afasia anomik.

akan menyebabkan disfasia tidak lancar. Lesi di bawah garis b yang melalui fisura Sylvii. Pemeriksaan fisik 1. di luar lesi ini kemampuan repetisi dipertahankan. 37 . akan mempengaruhi komprehensi. yang melalui sulkus sentral hemisfer dominan. Lesi yang berada di dalam garis c mempenagruhi kemampuan pasien untuk mengulangi frase. sedangkan lesi di atas garis b. Lesi yang terletak anterior dari garis a. Kelancaran berbicara Apakah pasien dapat mengeluarkan frase atau kalimat yang panjang yang normal (lima atau lebih kata) secara spontan? Jika berbicaranya tidak lancar. repetisi terganggu. Jadi afasia Broca (B) merupakan afasia tidak lancar.a c B b W C Gambar 6. Gambar diatas menunjukkan afasia konduksi (C) dan afasia Wernicke (W). Lokalisasi dan subklasifikasi sindrom disfasia Sumber : lecture Notes Neurologi. maka kelancaran berbicara akan dipertahankan. maka tata bicara (sintaks) umumnya juga abnormal. tetapi komprehensi masih baik. komprehensinya masih baik. Bila lesi tejadi di posterior garis a. Afasia global mempengaruhi semua aspek fungsi bahasa.

gesper. Kemampuan menulis terletak di region girus angularis. seperti jam tangan. dan. Pengertian / komprehensi Sejumlah benda dijajarkan di depan pasien. kunci. umumnya juga menyebabkan deficit lainnya seperti diskalkulia-gangguan dalam komprehensi angka dan tulisan. Repetisi Apakah pasien dapat mengulang kata-kata tunggal atau seluruh kalimat seperti ”jika tidak. selain menyebabkan disgrafia. Apakah pasien dapat mengerti konsep di balik pertanyaan (“Apakah nama debu yang tertinggal setelah rokok habis?”). Anatomi Klinik Kerusakan frontal pada berbagai area bahasa yang berbeda dapat disebabkan oleh trauma. Lesi pada region ini. jam tangan. sehingga menyebabkan ketidakmampuan berhitung. Selain itu. atau tetapi?” 4. 5. yang berada di posterior dari area bahasa mayor. infark. Menyebutkan nama Misalnya nama-nama benda sehari-hari. atau tumor.2. Penyakit otak degenerative (sementara demensia) jarang menimbulkan deficit seperti ini. 38 . apakah pasien mampu melakukannya? Apakah pasien dapat mengeluarkan perintah yang lebih kompleks? (“Coba anda ambil kunci dan berikan pulpen kepada saya”). pulpen. dan pasien diperintahkan menunjuk benda yang disebutkan oleh pemeriksa. membaca dan menulis dapat diperiksa secara terpisah. misalnya pulpen. 3. dan benda-benda yang kurang familiar – pena. kumparan.

Praksis Apraksia Apraksia merupakan gangguan didapat pada gerakan motorik yang dipelajari dan berurutan, yang bukan disebabkan oleh gangguan elementer pada tenaga, koordinasi, sensorik atau kurangnya pemahaman (komprehensi) atau atensi. Hal ini merupakan hendaya (impairment) dalam menyeleksi dan mengorganisasi inervasi motorik yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu aksi. Apraksia bukanlah gangguan motorik tingkat rendah, namun merupakan defek dalam perencanaan motorik, yang mencangkup langkah-langkah integrative yang dibutuhkan pada gerakan terampil atau yang dipelajari. Berbagai jenis apraksia telah dikemukakan oleh para pakar, tergantung kepada kerumitan (kompleksitas) dan sifat dari tugas yang dilaksanakan. Kerusakan pada lobus parietal dominan akan menyebabkan apraksia. Jaras untuk praksis normal melewati region ini ke area premotorik ipsilateral pada lobus frontal, dan ke region yang ekuivalen pada hemisfer lainnya melalui korpus kalosum.

1. Apraksia Ideomotor Merupakan jenis apraksia yang paling sering dijumpai. Penderita tidak mampu melakukan gerak motorik yang sebelumnya pernah dipelajari, secara akurat. Pada keadaan ini terdapat ketidakmampuan lobus frontalis untuk menerjemahkan aksi menjadi gerakan motorik. Gangguan dapat dilihat pada otot bukofasial, ekstremitas atas atau bawah, atau otot badan. Pasien misalnya tidak mampu melakukan suruhan berikut : peragakan bagaimana menghembuskan api pada geretan yang sedang menyala! Peragakan bagaimana minum dengan menggunakan sedotan! Kegagalan ini dinamakan : apraksia bukofasial. Kesulitan dalam gerakan lengan atau tungkai dapat dideteksi dengan : peragakan bagaimana menendang bola! Kegagalan ini

39

dinamakan apraksia anggota gerak. Kesulitan dalam gerakan tubuh dapat dideteksi dengan : peragakan bagaimana sikap seorang peninju menangkis serangan lawan! Kegagalan ini disebutkan apraksia gerak tubuh seluruhnya. Pasien dengan apraksia ideomotor mungkin tidak mampu menutup (memejamkan) mata atas suruhan, namun ia dapat mengedipkan mata secara spontan. Implikasi klinik Kemampuan melaksanakan gerakan terampil atas suruhan verbal berasosiasi erat dengan fungsi bahasa pada hemisfer yang dominan. Bila suruhan telah dipahami, informasi meluas ke girus supramarginalis yang letaknya berbatasan, tempat kata (misalnya :hembus lilin yang menyala) di asosiasikan dengan memori kinetic yang berada di korteks parietal post rolandik. Memori dari gerakan ini di transfer melalui jaras C ke daerah pre motor tempat memori bagi pola motorik dicetuskan. Daerah premotor kemudian mengarahkan neuron pyramid di daerah motor E untuk melaksanakan gerakan (aksi). Lesi di salah satu titik sepanjang jalur ini dapat mengakibatkan apraksia ideomotorik. Banyak pasien dengan mempunyai lesi di daerah ini, pada hemisfer yang dominan, juga menderita afasia. Oleh karenanya dalam menilai apraksia kita harus teliti, untuk memastikan bahwa pemahaman tidak terganggu dan gangguan kinerja motorik bukan disebabkan oleh gangguan komprehensi. 2. Apraksia Ideasional Merupakan gangguan perencanaan motorik yang kompleks, yang lebih tinggi dari ideomotorik. Hal ini merupakan kegagalan dalam melaksanakan tugas yang mempunyai berbagai komponen yang berurutan. Pada keadaan ini pasien tidak mampu memformulasikan rancangan aksi (plan of action). Suruhan melakukan aksi jelas difahami, namun pasien tidak mampu

40

merencanakan rentetan aktivitas yang dibutuhkan untuk melakukan aksi yang diminta. Contoh : pasien disuruh menuangkan air dari teko ke dalam gelas, kemudian meminum air dari gelas. Pasien mungkin akan gagal menuangkan air ke dalam gelas, dan mungkin mengangkat gelas ke bibirnya atau mengangkat teko dan minum langsung dari teko. Apraksia jenis ini merupakan disabilitas yang kompleks yang biasa dijumpai pada pasien dengan penyakit otak bilateral. Penyakit kortikal yang difus terutama yang mengenai lobus parietal. Satu unsur menarik pada kinerja pasien dengan apraksia ideasional ialah adanya kesan ketidakmampuan mengetahui kegunaan suatu objek.

Fungsi Hemisfer non-Dominan Jika sebagian besar fungsi bahasa terletak pada hemisfer dominan, maka hemisfer non dominan sebagian besar, walaupun tidak semuanya, bertanggung jawab untuk keterampilan untuk keterampilan visuospasial. Gangguan utuk menafsirkan posisi, jarak, gerak, bentuk dan hubungan anggota tubuhnya terhadap objek sekitarnya. la seakan-akan tidak tahu terhadap konsep atas-bawah, depan-belakang, dan dalam-luar. Pasien mengalami kesukaran bila harus melewati sebuah gang, ia tidak ingat lagi tata ruang yang pernah dikenalnya, tidak tahu letak kamar tidurnya, tidak kenal peta rumah tinggalnya. Pasien tidak dapat menjiplak sebuah gambar bergaris, tidak sanggup menggambar kubus atau binatang dan tidak dapat menyusun balok-balok yang diperlihatkan kepadanya. Gangguan orientasi ini disebabkan kelainan hemisfer non-dominan. 1. Pengabaian (neglect) Pasien dengan lesi hemisfer serebri kanan ekstensif akut, misalnya stroke, bisa menunjukkan sikap bahwa sepertinya sisi kiri tubuh dan lingkungannya tidak ada. Sehingga sebagai akibatnya mereka mungkin :

41

mereka akan tidak mengikutsertakan sisi kiri gambar. Anosognosia merupakan gambaran kelainan di frontal posterior dan lobus parietal dari otak dan lebih sering terlihat bila lesi melibatkan hemisfer yang yang non-dominan. tetapi lengan orang lain. Abnormalitas yang tidak jelas dapat diperiksa dengan meminta pasien untuk menyilang susunan kata-kata dalam suatu halaman. 2. Berpakaian hanya di sisi kanan. Mekanisme dasar penyebab pengabaian masih controversial. karena problem yang ada bukanlah motorik. atau untuk membagi dua garis-garis yang bervariasi penjangnya (pasien yang mengalami pengabaian akan secara konsisten membagi dua di sebelah kanan titik tengah). 42 . Istilah „apraksia‟ digunakan secara tidak tepat dalam konteks ini. Pengabaian dapat diuji secara klinis dengan meminta pasien untuk meniru suatu gambar rumah atau jam . tetapi beberapa pasien tetap mengalami masalah yang persisten sehingga mempersulit rehabilitasi. tetapi lebih ke masalah visuospasial – berhubungan dengan orientasi terhadap bagian tubuh atau pakaian. - Mengacuhkan rangsang visual dan taktil pada sisi kiri. makan hanya dari sisi kanan piring.- Menyangkal ketidakmampuan sisi kiri tubuh. Tidak mengakui adanya penyakit atau kelainan dan keadaan tidak mengakui atau tidak menyadari adanya gangguan fungsi pada sebagian tubuh dinamakan juga anosognosia. Apraksia berpakaian Pasien dengan lesi hemisfer kanan seringkali tidak mampu berpakaian dengan benar. walaupun sisi kiri tubuh telah mengalami paralisis akibat stroke. Walaupun banyak pasien stroke yang pulih dari pengabaian. - Mengatakan bahwa lengan kiri mereka sendiri bukan miliknya. tetapi merupakan fenomena yang penting dan sering tidak disadari.

Kemampuan konstruksional (praksis konstruksional). Pemeriksaan Kemampuan konstruksional dapat dinilai dengan berbagai cara. integrasi persepsi ke dalam citra kinestetik dan penerjemahan citra kinestetik ke pola gerak motorik akhir yang dibutuhkan untuk membangun konstruksi. tingkat tinggi ini merupakan tugas motorik perceptual yang kompleks yang melibatkan integrasi fungsi lobus oksipital. Tahap akhir tentunya membutuhkan tenaga ekstremitas serta koordinasi. Dapat digunakan 6 tes dasar untuk menunjukkan bukti adanya gangguan konstruksional. jejas otak yang dini atau ringan sering telah mengganggu kinerjanya. Fungsi kognitif non verbal. Reproduksi demikian membutuhkan persepsi visual yang akurat. Apraksia kostruksional Praksis dalam arti sempit berarti integrasi motorik yang digunakan untuk melakukan gerakan kompleks yang bertujuan. dan berbagai tingkat kinerja dapat dijumpai pada pasien yang sama bila diberikan tes yang berbeda. yaitu : Menggambar segi empat Mereproduksi bangunan geometri dengan pensil dan kertas Menggambar secara spontan 43 . parietal dan frontal. Tugas konstruksional seperti menggambar garis dan bangunan balok sangat berguna dalam mendeteksi penyakit otak organic dan harus dimasukkan pada tiap pemeriksaan status mental. Ketidakmampuan melaksanakan tugas konstruksional disebut ketidakmampuan konstruksional (apraksia konstruksional). Reproduksi gambar garis atau bangunan balok mencangkup lebih dari hanya mengorganisasi gerak tangan yang terampil. Karena luasnya daerah kortikal yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas konstruksional.3.

4. Gangguan visuopersepsi yang lebih kompleks umumnya terjadi pada kerusakan parieto-oksipitotemporal bilateral dan meliputi : Ketidakmampuan mengenali benda yang ditunjukkan secara visual (agnosia objek visual)-gangguan ini hanya dapat didiagnosis jika tidak ada disfasia. atau fungsi intelektual umum yang rendah. rasa raba dan persepsi tubuh. misalnya visual. walaupun sensabilitas primernya normal. Agnosia Agnosia adalah gangguan persepsi sensasi. disfungsi visual dasar. Tugas analisa spasial. Meniru gambar : suruh pasien meniru gambar di bawah ini. Agnosia dapat melibatkan semua jenis sensasi.- Reproduksi pola dengan menggunakan batang korek api Membuat konstruksi dari balok tiga dimensi. yaitu pasien diminta menandai bagian yang bertindihan. Ketidakmampuan mengenali wajah-wajah yang familiar (prosopagnosia). 44 . Defek sentral penglihatan warna.

demikian pula delirium. Demensia adalah hilangnya fungsi kognisi secara multidimensional dan terus menerus. yang merupakan gambaran yang menonjol. dan pada penderita tidak terdapat gangguan kesadaran. disebabkan oleh kerusakan organic sistem saraf pusat. tetapi semuanya harus mengandung tiga hal pokok : gangguan kognitif. Etiologi Demensia Penyebab Demensia Diturunkan : Trauma : Infeksi : Sifilis Panensefalitis sklerosis subakut Demensia terkait AIDS Leukoensefalopati multifocal progresif Penyakit Whipple serebral (berhubungan dengan arthritis dan gejala usus) Inflamasi : Hematoma subdural Cedera kepala berat lainnya Penyakit Alzeimer familial Penyakit Huntington Beberapa Ataksia serebelar Penyakit Wilson 45 . gangguan tadi harus melibatkan berbagai aspek fungsi kognitif dan bukannya sekedar penjelasan deficit neuropsikologik. tidak disertai oleh penurunan kesadaran secara akut seperti halnya terjadi pada delirium.DEMENSIA Ada sejumlah defisi tentang demensia.

mulai dari demensia dimana korteks serebri sebagai letak primer penyakit. vaskulitis Neoplasma : Tumor lobus frontalis Metastasis serebral multiple Hidrosefalus sekunder akibat tumor fossa posterior (nb : hidrosefalus tekanan normal. Degenerative : Penyakit alzeimer Penyakit pick Penyakit Parkinson (kadang) dan sindrom rigiditas akinetik Penyakit prion. lupus. Demensia kortikal dan subkortikal Pembagian subdivisi demensia yang berguna adalah berdasarkan letak lesi. Pada demensia kortikal. tanpa adanya penyebab structural) Vaskuler : Demensia multi infark Paraneoplastik Metabolic : Miksedema Defisiensi vitamin B12 Gagal organ kronik Obat / toksin : Contohnya : barbiturate.- Sklerosis multiple Sarkoidosis. hingga demensia dengan struktur subkortikal yang lebih banyak terlibat (walaupun beberapa gangguan menunjukkan bentuk campuran). alcohol. timbal. pasien memiliki 46 .

Walaupun memori terganggu. dan keterampilan visuospasial umumnya cukup baik setidaknya pada awal penyakit. Karakterisitik demensia subkortikal adalah fungsi kognitif yang melambat (bradifrenia). Demensia ialah suatu sindrom yang terdiri dari gejala-gejala gangguan kognitif global yang tidak disertai gangguan derajat kesadaran. praksis. karena perangai kakek atau neneknya mengganggu. Namun pikun selalu dihubungkan dengan usia yang sudah lanjut. Daya berfikir. mereka tidak akan dibawa ke dokter. Keluarga seorang yang pikun baru membawa kakek dan neneknya ke dokter. tetapi bahasa. praksis dan atau fungsi spasial yang terganggu. Pasien nampak apatis dan sulit dipengaruhi. namun bergandengan dengan perubahan tabiat yang dapat berkembang secara mendadak atau sedikit demi sedikit pada tiap orang dari semua golongan usia. menjadi galak terhadap cucu atau istrinya. Orang awam menyebutnya dengan nama pikun. Mengompol atau buang air seenaknya saja. Demensia dapat dibagi dalam demensia yang reversible dan yang tak reversible. regulasi dan verifikasi. Hal-hal itu tampaknya merupakan perubahan watak dan tabiat saja. bermusuhan atau terlampau usil terhadap sekelilingnya. mengadukngaduk isi lemari pakaian. serta gangguan kepribadian dan mood. daya untuk dapat mempertimbangkan dan berbuat sesuatu selaras dengan tata adab dan karma semua terganggu dengan nyata. Tetapi pada penilaian lebih mendalam. Selama mereka tidak mengganggu. Orang tua dapat menjadi pikun dan hal ini dianggap lazim. kemampuan bahasa. akan ternyata bahwa fungsi intelektual yang memperlihatkan sifat-sifat perencanaan.memori. Pembagian dalam demensia senilis dan presenilis menyesatkan karena demensia dikaitkan dengan usia. Mereka dapat mengganggu rumah tangga dalam hal-hal berikut. walaupun pikun. disertai gambaran lain dari disfungsi frontal. 47 . semuanya menurun sekali. Batas usia lanjut dan kurang lanjut itu sangat samar. sebentar-sebentar mau menangis.

tentu fungsi kortikal tidak akan pulih kembali dan demensia menetap.Lagipula sebutan senilis dan presenilis bersifat deskriptif. daya kognitif global dan fungsi luhur lainnya terganggu oleh karena metabolisme neuron-neuron kedua belah hemisferium tertekan atau dilumpuhkan oleh berbagai sebab. Apabila sebab ini telah menimbulkan kerusakan infrastruktur neuron-neuron kortikal. pyramidal. jika bibirnya tersentuh oleh sesuatu. sehingga diagnosis senilis dan presenilis mudah dibuat tanpa menghiraukan patologinya. dan semua daerah asosiatif menimbulkan demensia. Pada umumnya tanda-tanda tersebut mencerminkan gangguan pada korteks premotor atau prefrontal. tanda-tanda lesi organic masih dapat ditimbulkan. misalnya sebatang pensil. Reflex menetek (suck refleks) Reflex menetek adalah positif bila bibir penderita dicucurkan secara reflektorik seolah-olah mau menetek. Reflex memegang (grasping refleks) Jari telunjuk dan tengah si pemeriksa diletakkan pada telapak tangan si penderita. Kerusakan yang merata pada neuron-neuron kortikal kedua belah hemisferium. Tanda tersebut dapat dibangkitkan dengan refleksrefleks. maka hemipareses. yang mencangkup daerah persepsi primer. Apabila manifestasi gangguan korteks pyramidal dan ekstrapiramidal tidak nyata. Karena daerah motorik. Dengan demikian fungsi luhur dalam keseluruhannya akan kembali pulih. Pada demensia yang reversible. maka metabolism kortikal dapat berjalan kembali sempurna. dan ekstrapiramidal ikut terlibat secara difus. 1. Reflex memegang adalah positif apabila jari pemeriksa dipegang oleh tangan penderita. Apabila sebab ini dapat dihilangkan. korteks motorik. 48 . monoparese dan diplegi juga dapat melengkapkan sindrom demensia. Sebab-sebab yang disebut di atas sebagai penyebab subacute amnestic confusional syndrome merupakan penyebab juga bagi demensia reversible dan tak reversible. 2.

Pada orang sehat. m. Reflex kaki tonik Pada demensia penggoresan pada telapak kaki membangkitkan kontraksi tonik dari kaki berikut jari-jarinya. dan selanjutnya mata tidak akan memejam lagi. Snout reflex Pada penderita dengan demensia tiap kali bibir atau bawah diketuk. Reflex palmomental Pada penderita dengan demensia.oblikus oris berkontraksi. 5. Reflex korneomandibular Pada penderita dengan demensia.3. Snout Refleks Sumber : http://www. Reflex glabela Orang dengan demensia akan memejamkan matanya tiap kali glabelanya diketuk.alzinfo.org/clinical-stages-of-alzheimers-disease 4. 6. goresan pada kulit tenar membangkitkan kontraksi otot mentalis ipsilateral. Gambar 7. 49 . pemejaman mata pada ketukan berkali-kali pada glabela timbul dua tiga kali saja. goresan kornea membangkitkan pemejaman mata ipsilateral yang disertai oleh gerakan mandibula ke sisi kontralateral. 7.

mengenakan pakaian. Bahasa lisan dan tertulis juga dapat terganggu. 3. Apraksia Ketidakmampuan untuk melakukan gerakan meskipun kemampuan motorik. atau lupa akan hal-hal yang baru saja dikenal. misalnya “anu”. pena. dan bahkan namanya sendiri. sekolah. dan menggunakan istilah yang tidak menentu.Gejala Demensia. penderita tidak mengenali kursi. dikerjakan atau dipelajari. meskipun visusnya baik. Afasia Dapat dalam bentuk kesulitan menyebut nama orang atau benda. dan merasa asing dengan tetangganya. fungsi sensorik. Akhirnya penderita tidak mengenal lagi 50 . Penderita dapat mengalami kesulitan dalam menggunakan benda tertentu (menyisir rambut) atau melakukan gerakan yang telah dikenali (melambaikan tangan). dengan ungkapan katakata yang panjang. Penderita sering kehilangan dompet dan kunci. menggambar. 4. “itu”. Sebagai contoh. lupa sedang meninggalkan bahan masakan di kompor yang menyala. Gangguan memori Dalam bentuk ketidakmampuan untuk belajar tentang hal-hal baru. Rincian gambaran klinik demensia adalah sebagai berikut : 1. Penderita afasia berbicara samar-samar atau terkesan hampa. penderita dapat menjadi bisu atau mengalami gangguan pola bicara yang dicirikan oleh ekolalia (menirukan apa yang didengar) atau palilalia (mengulang suara atau kata terus menerus). 2. Pada tahap lanjut. Agnosia Ketidakmampuan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda meskipun fungsi sensoriknya utuh. tanggal lahir. anggota keluarga. gangguan memori menjadi sedemikian berat sehingga penderita lupa akan pekerjaan. Apraksia dapat mengganggu keterampilan memasak. Pada demensia tahap lanjut. dan pengertian yang diperlukan tetap baik.

mudah terjatuh saat berjalan. membuat urutan. lupa akan higien dirinya. Penderita kurang menyadari adanya gangguan memori dan kelainan kognitif lainnya. Kadang-kadang penderita demensia dapat membahayakan orang lain dengan tindakan kekerasan yang dilakukannya. Gejala yang lain. Memperhitungkan resiko dalam aktivitasnya juga dapat keliru. Sangat bervariasi. 6. Penderita melakukan pengukuran yang tidak realistic terhadap kemampuannya dan membuat rencana yang tidak sesuai dengan tingkat kemampuannya. memperlihatkan hal-hal yang tak pantas pada orang lain. Fungsi eksekutif melibatkan kemampuan berfikir abstrak. Penderita demensia dapat mengalami gangguan orientasi ruang. Gangguan fungsi eksekutif Gejala yang sering dijumpai. gejala ini erat kaitannya dengan gangguan di lobus frontalis atau jaras subkortikal yang berhubungan dengan lobus frontalis. terutama pada tahap awal dimana penderita masih lebih mampu untuk melaksanakan tugas kerjanya. Demikian pula. atau menghentikan kegiatan yang kompleks. merencanakan. Gangguan dalam berfikir abstrak dapat muncul sebagai kesulitan dalam hal menguasai tugas/ide baru serta menghinari situasi yang memerlukan pengolahan informasi baru atau kompleks. mengambil keputusan.anggota keluarganya dan bahkan dirinya sendiri yang nampak pada cermin. inisiatif. Dapat terjadi percobaan bunuh diri. Dengan demikian akan sulit untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan ruangan. misalnya uang logam. atau tak menganggap lagi adanya aturan social yang berlaku. Sementara perilaku melakukan tindakan yang tak terkendali atau aneh. penderita tak dapat mengenali benda yang diletakkan di tangannya atau yang disentuhnya. memantau. 51 . 5. Demensia kadang-kadang disertai gangguan motorik. walaupun sensai taktilnya utuh. misalnya membuat lelucon yang tidak lucu. Sementara itu wawasan menjadi sempit dan sulit untuk menyatakan pendapat.

penyakit endokrin. memori (tanggal lahir yang dalam budayanya tidak diperingati secara rutin). penyakit hepar. Gambaran spesifik tentang budaya dan umur Sekelompok orang dengan latar belakang tertentu mungkin saja tidak mengerti sama sekali tentang pengetahuan umum (misalnya nama presiden. Kejang dapat terjadi tetapi sangat jarang ditemukan. Perjalanan klinik demensia Istilah demensia memang merujuk pada makna progresif atau sesuatu yang tidak kembali lagi (irreversibel). infeksi. Penyebab-penyebab lainnya ialah penyakit Pick. atau mengalami remisi. 7. Tanda klinik dan kondisi medik secara umum Bergantung pada riwayat penyakit. yang seringkali bersifat fatal. hidrosefalus normotensif. tumor otak. abnormalitas aktivitas susunan saraf pusat dan tepi. 9. gangguan metabolic. penderita dapat terlupa secara total terhadap lingkungannya dan memerlukan perawatan yang konstan. dan orientasi (perasaan tentang tampat atau lokasi yang tidak pernah diperhatikan). Namun demikian. 8. penyakit Huntington. penyakit Parkinson. pengetahuan geografi). defisiensi vitamin. static. trauma kepala. Penderita demensia lanjut rentan terhadap kecelakaan dan penyakit infeksi. Tingkat disabilitas tidak hanya bergantung pada beratnya gangguan kognitif tetapi juga bergantung pada pendukung social. Pola awitan dan gejala klinik berikutnya bergantung pada etiologi yang mendasarinya. definisi demensia didasarkan pada pola deficit kognitif dan tidak membawa konotasi prognosis. letak dan tahap perjalanan proses patologik yang mendasarinya. Demensia dapat bersifat progresif. inkontinensia urin dan feses.Beberapa penderita menunjukkan adanya gangguan ekstrapiramidal. Pada demensia lanjut. dan sklerosis multipleks. Penyebab utama demensia adalah penyakit Alzeimer kemudian diikuti oleh penyakit vascular dan kemudian factor etiologi multipleks. 52 . anoksia.

penyakit berat. seringkali tidak dapat dimengerti & tidak tepat Ingatannya bercampur baur. kelainan metabolisme Hampir selalu memburuk di malam hari Tidak mampu memusatkan perhatian Kesiagaan berfluktuasi dari letargi menjadi agitasi Orientasi terhadap lingkungan bervariasi Bahasanya lambat. dan 53 . terutama untuk peristiwa yang baru saja terjadi Sering bertambah buruk di malam hari Perhatiannya 'mengembara' Bisa tanpa penyakit Demensia Terjadi secara perlahan Bisa menetap Diagnosis Demensia 1. linglung Kesiagaan seringkali berkurang Orientasi terhadap lingkungan terganggu Kadang mengalami kesulitan dalam menemukan kata-kata yg tepat Ingatannya hilang. dan mengenal informasi. mengingat. menyimpan. Kemampuan untuk mempelajari informasi baru dapat diperiksa dengan minta penderita untuk mempelajari suatu daftar kata-kata (registration).Membedakan Delirium Dengan Demensia Delirium Terjadi secara tiba-tiba Berlangsung selama beberapa minggu Berhubungan dengan pemakaian obat atau gejala putus obat. mengingat kembali informasi tadi setelah istirahat beberapa menit (retention. Pemeriksaan memori Secara formal pemeriksaan memori dapat dilakukan dengan meminta pasien untuk mencatat. recall).

mengenal kata-kata dari banyak daftar (recognition). tumor. Memori lama dapat diperiksa dengan meminta penderita untuk mengingat orang-orang lain atau bahan-bahan lama yang dahulu pernah diminatinya (politik. atau iskemia otak periventrikuler. hematom subdural). Pemeriksaan kemampuan bahasa Penderita diminta untuk menyebut nama benda di dalam ruangan (misalnya. hidrosefalus. 3. atau mengulang ungkapan. Sebaliknya penderita yang sejak awal mengalami deficit dalam hal “mendapatkan kembali” dapat diperiksa dengan MCQ karena gangguannya terletak dalam kemampuan untuk menggunakan memorinya. meja. misalnya perubahan di lobus 54 . 2. menulis huruf m dan n secara bergantian. olah raga). Mini Mental State Examination 6. Pemeriksaan daya abstraksi Menyuruh penderita untuk menghitung sampai sepuluh. baju) atau bagian dari tubuh. menyebut seluruh alphabet. Pemeriksaan apraksia Meminta penderita untuk melakukan gerakan tertentu. misalnya PET (positron emition tomografi) tidak dikerjakan secara rutin. Pemeriksaan radiologi dapat membantu dalam penyusunan diagnosis banding. mengikuti perintah atau aba-aba. CT Scan atau MRI mungkin memperlihatkan atrofi otak. Pemeriksaan fungsional imaging. 4. dasi. Penderita yang mengalami kesulitan dalam mempelajari hal-hal baru tidak diperiksa dengan tebak-tebakan (multiple choice question) karena pada awalnya penderita tidak mempelajari hal-hal yang tidak ditanyakan. namun dapat membantu informasi untuk diagnosis banding kasus-kasus yang tidak memperlihatkan adanya kelainan pada CT Scan atau MRI. misalnya memperlihatkan bagaimana cara menggosok gigi. lesi otak fokal (stroke. Pemeriksaan laboratorium dan radiologi Pemeriksaan laboratorium didasarkan atas hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. 5.

Pengobatan Demensia 1. Sementara itu. Dihydropiridin Pada lansia dengan perubahan mikrovaskuler dan neuronal. dengan 55 . pemberian ACTH dapat memperbaiki daya konsentrasi dan memperbaiki keadaan umum. 2. Notropic agent Memperbaiki perfusi serebral dengan cara mengurangi tahanan vaskuler dan meningkatkan konsumsi oksigen otak.parietal pada penyakit Alzeimer atau perubahan di lobus frontal pada degenerasi lobus frontalis. vasopressin. Dengan lesitin hasilnya cenderung negative. Dengan cholin ada sedikit perbaikan terutama dalam fungsi verbal dan visual. Choline dan lecithin Deficit asetilkolin di korteks dan hipokampus pada demensia Alzeimer dan hipotesis tentang sebab dan hubungannya dengan memori mendorong peneliti untuk mengarahakan perhatiannya pada neurotransmitter. Neuropeptida. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa demensia Alzeimer tidak semata-mata disebabkan oleh defisiensi kolinergik. Pemberian precursor. aktivitas. dan mengurangi bingung. 4. namun tidak memperlihatkan hal yang istimewa. 5. kombinasi kolinergik dan noradrenergic ternyata bersifat kompleks. Memelihara selsel endothelial / kondisi mikrovaskuler tanpa dampak hipotensif. serta memperbaiki kognisi. dan ACTH Neuropeptida dapat memperbaiki daya ingat semantic yang berkaitan dengan informasi dan kata-kata. Cholinergic enhancing agent Pemberian ini menunjukkan keberhasilan pada demensia Alzeimer. Pada lansia tanpa gangguan psiko organic. choline dan lecithin merupakan salah satu pilihan dan member hasil lumayan. 3. Obat ini memperbaiki perilaku. tetapi defisiensi neurotransmitter lainnya.

jam dinding dengan angka-angka yang besar atau radio juga bisa membantu penderita tetap memiliki orientasi. Meminta bantuan organisasi yang memberikan pelayanan sosial dan perawatan. Membantu penderita demensia dan keluarganya: 1. semakin signifikan efeknya. tetapi juga dapat membantu menurunkan efek . bermain alat musik. Jagalah agar pikiran aktif.semakin sering aktivitas. melukis atau menggambar. Pencegahan Demensia 1.demikian sangat dianjurkan sebagai terapi alternative untuk lansia yang mengidap hipertensi esensial. 4. Ini mencakup hal-hal seperti teka-teki dan permainan kata. Menyembunyikan kunci mobil dan memasang detektor pada pintu bisa membantu mencegah terjadinya kecelakaan pada penderita yang senang berjalan-jalan. Menjalani kegiatan mandi. Jadilah aktif secara fisik dan sosial. bisa memberikan rasa keteraturan kepada penderita. 5. Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita tetap memiliki orientasi. Semakin sering aktivitas. 2. bahkan akan memperburuk keadaan. belajar bahasa. akan sangat membantu. Fisik dan kegiatan sosial dapat menunda mulainya dementia dan juga mengurangi gejala. cahaya yang terang. 2. Kalender yang besar. makan. Contoh aktivitas fisik berjalan kaki. semakin memberi efek menguntungkan. membaca. berenang dan 56 . 3. Kegiatan merangsang secara mental dapat meningkatkan kemampuan untuk menangani atau mengkompensasi perubahan yang berhubungan dengan demensia. tidur dan aktivitas lainnya secara rutin. Memarahi atau menghukum penderita tidak akan membantu. menulis. Tidak hanya kegiatan ini dapat menunda mulainya dementia.

7. Turunkan kadar homosistein. dapat memiliki efek perlindungan dan menurunkan resiko terkena demensia. menurunkan kadar kolesterol dapat membantu mencegah kondisi ini. Pendidikan. 3. juga dapat membantu menurunkan risiko berkembangnya demensia.asam folat. dan bermain kartu atau permainan. bahkan ketika mereka memiliki kelainan otak. Diet yang sehat adalah penting karena berbagai alasan. sayuran dan omega-3 asam lemak. 9. Kendalikan diabetes. Para peneliti berpendapat bahwa pendidikan dapat membantu Anda mengembangkan jaringan sel saraf otak yang kuat yang mengkompensasi kerusakan sel saraf yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer. 6. Penelitian awal menunjukkan bahwa tiga dosis tinggi vitamin B .membantu menurunkan kadar homosistein dan berguna untuk memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer. menonton teater dan pameran seni. Menurunkan tekanan darah. Menjaga tekanan darah pada tingkat normal dapat secara signifikan mengurangi risiko penyakit Alzheimer dan demensia vaskular. Endapan yang terjadi dalam otak orang-orang dengan kolesterol tinggi merupakan salah satu penyebab demensia vaskular. 5. Kegiatan sosial meliputi perjalanan. Mengontrol diabetes dapat mengurangi resiko terkena penyakit Alzheimer dan demensia vaskular. Pertahankan pola makan yang sehat. Jadi. Statin obatobatan. 57 . Orang-orang yang telah menghabiskan lebih banyak waktu di pendidikan formal tampaknya memiliki insiden lebih rendah dari penurunan mental. difteri dan polio tampaknya secara signifikan mengurangi risiko penyakit Alzheimer. 8. yang membantu menurunkan kadar kolesterol. Turunkan kadar kolesterol.menari. tetanus. umumnya ditemukan di ikan dan kacang-kacangan tertentu. B-6 dan B-12 . Vaksinasi. Mereka yang menerima vaksinasi untuk influenza. jadi tetap jalani vaksinasi dapat memiliki efek perlindungan terhadap berkembangnya demensia. 4. tetapi studi menunjukkan bahwa makanan yang kaya buahbuahan.

kota. Mengingat kembali : Pasien diminta untuk mengulang kembali 3 kata yang telah 3 5 disebutkan sebelumnya. bulan. provinsi. nama rumah sakit. Selain itu terdapat tes mental standar seperti pemeriksaan mental mini / mini mental state examination (MMSE). dari belakang ke depan.EVALUASI NEUROPSIKOLOGIS Fungsi kognitif yang terdistribusi dan terlokalisasi dapat dinilai secara klinis dengan menggunakan berbagai komponen pemeriksaan. Domain Orientasi : Tahun. Atensi : 7 serial : hentikan setelah 5 jawaban. 5 5 Nilai maksimum Registrasi : Pemeriksa menyebutkan 3 kata/ benda dan minta pasien mengulangi kata-kata tadi (kemudian 3 mengulangi lagi sebanyak 3 kali). alternative lain minta pasien untuk menyebut huruf yang membentuk kata DUNIA. tanggal. nama ruang rawat. Bahasa : Pasien diminta untuk menyebutkan 2 58 . 1 poin untuk setiap jawaban yang benar. musim Negara. hari.

Oleh karena itu. Pasien diminta untuk membaca dan mematuhi suatu perintah yang 1 3 1 ditulis pada selembar kertas yang menyatakan “tutup mata” Pasien diminta untuk menulis 1 sebuah kalimat – beri nilai bila kalimat mamsuk akal. Akan tetapi. Nilai 1 untuk setiap tahap (misalnya : ambil kertas ini dengan tangan kanan. TOTAL 30 Skor di bawah 24/30 pada tes ini mengindikasikan demensia. dan letakkan di atas meja). dan mengandung subjek dari kata kerja. dan atau tetapi” Berikan perintah 3 tahap. Pasien diminta untuk mengulang “ jika tidak. teutama jika kemampuan intelektual premorbid cukup tinggi. dan pada deficit kognitif sirkumskrip. Meniru : Pasien gambar diminta pentagon untuk yang meniru saling 1 berpotongan. terutama yang melibatkan fungsi hemisfer non dominan dan lobus frontal. lipat jadi dua. 59 .merek pulpen dan merek jam. banyak pasien dengan deficit kognitif membutuhkan evaluasi psikometrik yang lebih detail oleh neuropsikologi. keseluruhan nilai tes ini tidak sensitive pada tahap awal demensia.

Konduksi social dan kepribadian. Fungsi otak yang lebih tinggi dapat disubklasifikasi menjadi : Fungsi yang terdistribusi serta fungsi terlokalisasi. apraksia konstruksional. 60 . apraksia berpakaian. 3. Terdiri dari fungi hemisfer dominan (bahasa dan praksis). menilai. serta fungsi hemisfer non dominan (pengabaian. Fungsi yang terdistribusi antara lain mencangkup : Atensi dan konsentrasi. 4. 5. 2. Fungsi yang terlokalisasi tergantung dari struktur dan fungsi normal dari suatu area tertentu pada satu hemisfer serebri. Fungsi kognitif yang terdistribusi dan terlokalisasi dapat dinilai secara klinis dengan menggunakan tes mental standar seperti pemeriksaan mental mini / mini mental state examination (MMSE). 6. termasuk proses mengingat.KESIMPULAN 1. agnosia). Kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional. orientasi. Fungsi eksekutif yang lebih tinggi. Memori. Demensia ialah suatu sindrom yang terdiri dari gejala-gejala gangguan kognitif global yang tidak disertai gangguan derajat kesadaran. namun bergandengan dengan perubahan tabiat yang dapat berkembang secara mendadak atau sedikit demi sedikit pada tiap orang dari semua golongan usia. persepsi dan memperhatikan.

Diagnosis Topik Neurologi. 2006. Snell. Sidharta. Jakarta : Dian Rakyat. 4. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. 2005. Richard S. Lionel. Lumbantobing. 2008. Sidharta. Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. 2006. Jakarta : Dian Rakyat. 5. 2005. 61 . 2. Kapita Selekta Neurologi. Jakarta : EGC. Harsono. Jakarta : Balai Penerbit FK-UI. Ginsberg. Priguna. Lecture Notes : Neurologi. 1999. Neuroanatomi Klinik. Peter. Priguna. Mahar dan Priguna Sidharta. Jakarta : Erlangga. Jakarta : EGC. 8. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Duus. Marjono. 1996. Neurologi Klinis Dasar. 3.DAFTAR PUSTAKA 1. 1999. Jakarta : Dian Rakyat. 6. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful