IMAM SHALAT BERJAMA‟AH

A. Pengertian Imam Shalat Berjamaah Imam Salat adalah seseorang yang ditunjuk untuk memimpin salat yang dilakukan secara bersama-sama (berjama'ah). Sedangkan Salat berjamaah adalah aktivitas salat yang dilakukan secara bersama-sama. Salat ini dilakukan oleh minimal dua orang dengan salah seorang menjadi imam (pemimpin) dan yang lainnya menjadi makmum. B. Syarat Imam Shalat Berjamaah Syarat untuk menjadi seorang imam shalat yang layak telah ditetapkan oleh para ulama berdasarkan nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah sebagai berikut: 1. Muslim. 2. Akil. Orang gila dan tidak waras tidak syah bila menjadi imam. 3. Baligh. Jumhur ulama termasuk di antaranya Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan AlHanabilah sepakat bahwa anak kecil yang belum baligh tidaksyah bila menjadi imam shalat fardhu di depan jamaah yang sudah baligh. Hal itu berdasarkan hadits Nabi SAW. "Janganlah kalian jadikan anak kecil sebagai imam shalat." Namun bila shalat itu hanyalah shalat sunnah seperti tarawih, bolehlah anak kecil yang baru mumayyiz tapi belum baligh untuk menjadi imam shalat tersebut. Kecuali pendapat terpilih dari kalangan Al-Hanafiyah yang bersikeras tentang tidak syahnya anak kecil yang belum baligh untuk menjadi imam dalam shalat apapun. 4. Laki-laki. Seorang wanita tidak syah bila menjadi imam shalat buat laki-laki menurut jumhurul ulama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Dan tempatkan mereka di belakang sebagaimana Allah SWT menempatkan mereka." Dan juga berdasarkan hadits dari Jabir yang hukumnya marfu', "Janganlah seorang wanita menjadi imam buat lakilaki." 5. Mampu membaca Al-Quran dengan fasih. Syarat ini berlaku manakala ada di antara makmum yang fasih membaca Al-Quran. Maka seharusnya yang menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya. Sebab imam itu harus menanggung bacaan dari para makmum, sehingga bila bacaan imam rusak atau cacat, maka cacatlah seluruhnya.

Adab Imam dan Makmum dalam Shalat Berjamaah Seorang muslim yang baik. (sumber: Lihat Al-Mausu'ah AlFiqhiyah) C. mudah buang angin (kentut). karena hal itu merupakan bukti keimanannya.6. senantiasa berupaya untuk menyempurnakan setiap amalnya. namun tidak syah bila menjadi imam untuk makmum yang shalat sambil berdiri karena mampu. 8. Adapun mazhab Al-Malikiyah dan sebagian riwayat dari As-syafi'iyah tidak menjadikan masalah ini sebagai syarat bagi seorang imam shalat. 7. atau Allâh akan memecah belah persatuan kalian. Seperti luka yang darahnya masih mengalir. sebagaimana yang disabdakan oleh Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam: Hendaklah kalian luruskan shaf kalian. Apa yang kami sebutkan di atas adalah syarat minimal yang harus ada untuk seorang imam shalat jamaah. Kesempurnaan pelaksanaan shalat berjama'ah merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Seseorang yang tidak mampu shalat dengan berdiri. Selamat dari kehilangan satu syarat dari syarat-syarat shalat. . Namun masih ada kajian tentang siapa saja yang paling berhak untuk menjadi imam. Insya Allah SWT pada kesempatan mendatang akan kami bahas juga. Mampu melaksanakan rukun-rukun shalat dengan sempurna. dia boleh shalat sambil duduk. Misalnya kesucian dari hadats dan khabats. Sebab orang yang menderita hal-hal seperti di atas pada hakikatnya tidak memenuhi syarat suci dari hadats kecuali karena ada sifat kedaruratan saja. Ini adalah pendapat dari kalangan Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah serta sebagian dari riwayat As-syafi'iyah. Maka tidak syah shalat seorang makmum yang melihat bahwa imamnya batal atau terkena najis saat menjadi imam. Selamat dari Uzur. Ini adalah pendapat jumhur ulama kecuali As-syafi'iyah. atau penyakit mudah keluar kencing (salasil baul). Persatuan dan kesatuan umat Islam terlihat dari lurus dan rapatnya suatu shaf (dalam shalat berjama'ah).

Pertama. Mereka tidaklah maju ke depan. atau memakai emas. Banyak hadits yang menerangkan tentang fadhilah imam. atau istrinya bertabarruj. bahkan kadang-kadang sampai kepada perkara yang lebih parah dari apa yang telah kita sebutkan di atas”.Pembahasan ini terbagi menjadi dua bagian. Adab-adab Imam dan kedua. seorang imam masjid tidak memenuhi kriteria kelayakan syarat-syarat menjadi imam. –para imam seperti ini– menjauhkan orang-orang yang semestinya layak menempati posisi yang penting ini. tidaklah aneh. atau bermu‟amalah dengan riba. “Tiga golongan di atas unggukan misik pada hari kiamat. Pada hadits yang lain disebutkan. apalagi menjawab sebuah pertanyaan si penanya tentang sebuah hukum atau akhlak yang dirasa perlu untuk agama ataupun dunianya. –sebagaimana yang terjadi di sebagian daerah kaum muslimin– sering kita temui. Tidak diragukan lagi. (ialah) seseorang yang menjadi imam untuk satu kaum sedangkan mereka (kaum tersebut) suka kepadanya. kita melihat ada diantara mereka yang mencukur jenggot. Hingga. menipu dalam bermua`amalah. Adab-adab Makmum. kecuali dalam rangka mencari penghasilan. mendengarkan musik. atau membiarkan anak-anaknya tidak shalat. Bahkan kebanyakan yang mengambil posisi ini dari golongan orang-orang awam dan orang-orang yang bodoh. bahwa dia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang shalat di belakangnya. memberi saham dalam hal yang haram. menjulurkan pakaiannya (sampai ke lantai) dengan sombong.” kemudian beliau menyebutkan. bahwa tugas imam merupakan tugas keagamaan yang mulia. sangat disayangkan “masjid pada masa sekarang ini telah sepi dari para imam yang bersih dan berilmu dari kalangan penuntut ilmu dan ahli ilmu –kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allâh. merokok. diantara mereka. Secara tidak langsung. Dan yang kedua. Diantaranya sabda Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. tatkala tidak ada penghalang yang menghalanginya menjadi imam. memanjangkan kumis. yang telah diemban sendiri oleh Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam dan juga Khulafa„ Ar Rasyidin radhiyallâhu'anhum setelah beliau shallallâhu 'alaihi wasallam wafat. . menjauhnya para penuntut ilmu dari tugas yang mulia ini. Semisal. Pertama. dalam hal membaca Al Fatihah saja tidak tepat. Oleh karenanya. Akan tetapi –dalam hal ini– manusia berada di dua ujung pertentangan.

atau yang mewakilinya. Hal ini ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan Abi Mas`ud Al Badri radhiyallâhu'anhu. apakah dirinya layak menjadi imam untuk jama‟ah. Maka tidaklah boleh maju menjadi imam. . Menimbang diri. akan dijelaskan tentang siapa yang berhak menjadi imam. yang disebut dengan imam rawatib. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum. atau ada yang lebih afdhal darinya? Penilaian ini tentu berdasarkan sudut pandang syari‟at. jika tuan rumah layak menjadi imam. kecuali atas izinnya. 1. sebaiknya dia mendahulukan orang tersebut.Berikut ini. Maksudnya. dan beberapa adab berkaitan dengannya. Penguasa lebih berhak menjadi imam. maka yang berhak menjadi imam ialah tuan rumah. jika ada yang lebih fasih dalam membawakan bacaan Al Qur'an dan lebih „alim. Diantara yang harus menjadi penilaiannya ialah: Jika seseorang sebagai tamu. Begitu juga orang yang ditunjuk oleh penguasa sebagai imam. Kefasihan dan kealiman dirinya.

kecuali seizinnya. Dan janganlah duduk di tempat duduknya. pent). Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di tempat kekuasaannya (dalam riwayat lain: di rumahnya). Jika mereka dalam hijrah sama.. Seseorang tidak dianjurkan menjadi imam. atau yang . maka yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka dalam sunnah sama.. bahwa tidak ada perbedaan antara orangorang yang membenci dari orang-orang yang mulia (ahli ilmu. apabila jama‟ah tidak menyukainya. maka yang lebih mengetahui tentang sunnah. Berkata Shiddiq Hasan Khan rahimahullâh: ”Dhahir hadits yang menerangkan hal ini.ialah yang paling pandai membaca Kitabullah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu radhiyallâhu'anhu disebutkan: Tiga golongan yang tidak terangkat shalat mereka lebih satu jengkal dari kepala mereka: (Yaitu) seseorang menjadi imam suatu kaum yang membencinya. maka yang lebih dahulu masuk Islam (dalam riwayat lain: umur). Jika mereka dalam bacaan sama.

hingga dibenci oleh kebanyakan kaum. sebagaimana yang pernah penulis dengar dari sebagian imam yang sedang membawakan surat Al Lumazah. kecuali pada bilangan tertentu dari hamba Allâh. kebencian yang timbul –terkhusus pada zaman sekarang ini– berasal dari permasalahan dunia. sehingga merubah makna ayat.lainnya. Karena seringkali kita mendapatkan seorang imam memiliki bacaan yang salah. Maka. maka tidak mengapa ia shalat bersama mereka. bagi siapa yang mengetahui. Batasan dalam hal ini. pen. Berkata Ahmad dan Ishaq: ”Jika yang membencinya satu. karena kebencian (didasarkan. Tidak ada hakikatnya. Seseorang yang menjadi imam harus mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat. Mentakhfif shalat. 3. sehingga artinya berubah dari arti „mengumpulkan‟ harta. Jika ada di sana dalil yang mengkhususkan kebencian. dapat menjadi udzur bagi yang layak menjadi imam untuk meninggalkannya. maka kebencian ini bagaikan kibrit ahmar (ungkapan untuk menunjukkan sesuatu yang sangat langka. menjadi „menyetubuhi‟nya. dengan adanya unsur kebencian. dua atau tiga. maka yang lebih utama.) karena Allâh.). red. dengan memanjangkan “Ja”. (Jika) tidak ada dalil yang mengkhususkan kebencian tersebut. dia mengucapkan ”Allazi jaama„a maalaw wa „addadah”. Kebanyakan. bahwa sekelompok orang membencinya –tanpa sebab atau karena sebab agama– agar tidak menjadi imam untuk mereka.” 2. atau melalaikan kewajiban yang telah dibebankan kepadanya. Yaitu mempersingkat shalat demi menjaga keadaan jama‟ah dan untuk memudahkannya. seperti seseorang membenci orang yang bergelimang maksiat. ialah mencukupkan shalat dengan hal-hal yang wajib dan yang sunat- . pahala meninggalkannya lebih besar dari pahala melakukannya.

sunat saja. begitu juga sebaliknya. Dari Nu„man bin Basyir radhiyallâhu'anhu berkata: ”Adalah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam meluruskan shaf kami. hendaklah dikembalikan kepada sunnah. Sampai beliau melihat. 4. barulah seorang imam bertakbir. bukan pada keinginan imam. jika dia shalat sendiri. Oleh karenanya. bahwa penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan beliau shallallâhu 'alaihi wasallam dalam shalat. hendaklah bagi imam mencontoh yang dilakukan Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam. Ketika shaf dilihatnya telah lurus dan rapat. Akan tetapi perlu diingat. ialah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu : Jika salah seorang kalian shalat bersama manusia. Di antara nash yang menerangkan hal ini. maka berlamalah sekehendaknya. Seakan-akan beliau meluruskan anak panah. atau hanya mencukupkan hal-hal yang penting dan tidak mengejar semua hal-hal yang dianjurkan. maka hendaklah (dia) mentakhfif. sebagaimana Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam mengerjakannya. bahwa kami telah memenuhi panggilan beliau. sedangkan menurut yang lain terasa pendek. lemah dan orang tua. (Akan tetapi). Kewajiban imam untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Tidak ada batasannya menurut syari‟at atau adat. karena pada mereka ada yang sakit. bahwa takhfif merupakan suatu perkara yang relatif. . Semua itu. kembali kepada mashlahat. Bisa saja menurut sebagian orang pelaksanaan shalatnya terasa panjang. dan tidak juga kepada keinginan makmum.

” kemudian dia langsung bertakbir. apakah imam tersebut tidak tahu arti rapat dan lurus. ”Bahwa ketika beliau datang ke Madinah. Begitu juga Ali dan Utsman melakukannya juga.Kemudian. Kita tidak tahu. ”Maju.” Dalam satu riwayat disebutkan. Adalah Umar bin Khattab radhiyallâhu'anhu mewakilkan seseorang untuk meluruskan shaf. Beliau berdiri. bahwa shaf telah lurus. dan ketika hendak bertakbir. ‟Tidak ada yang aku ingkari dari mereka.” Berkata Syaikh Masyhur bin Hasan hafizhahullah: ”Jika para jama’ah tidak mengerjakan apa yang dikatakan oleh Anas dan Nu‘man radhiyallâhu'anhuma. pen). suatu hari beliau keluar (untuk shalat). kecuali mereka tidak merapatkan shaf‟. Jika engkau lakukan pada zaman sekarang. ‟Apa yang engkau ingkari pada mereka semenjak engkau mengenal Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam?‟ Beliau menjawab. Beliau tidak akan bertakbir hingga dikabarkan. Atau rapat dan lurus yang dia maksud berbeda dengan rapat dan lurus yang dipahami oleh semua orang?! Anas bin Malik radhiyallâhu'anhu berkata: “Adalah salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya. nampak seseorang kelihatan dadanya maju dari shaf. Busyair bin Yasar Al Anshari berkata. dikatakan kepadanya. kakinya dengan kaki temannya. jika shaf dirapatkan. wahai fulan!” Salah satu kesalahan yang sering terjadi. seorang imam menghadap kiblat dan dia mengucapkan dengan suara lantang. Ali sering berkata. atau Allâh akan memecah-belah persatuan kalian. dari Anas radhiyallâhu'anhu.” Oleh karenanya. Kenyataanya. niscaya mereka bagaikan keledai liar (tidak suka dengan hal itu. ”Aku telah melihat salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya. kakinya dengan kaki kawannya. wahai fulan! Ke belakang.” Beliaupun berkata: Hendaklah kalian luruskan shaf kalian. . maka celah-celah tetap ada di shaf. ”Rapat dan luruskan shaf.

Barangsiapa yang memutuskan shaf. jika mereka tidak melakukannya. diantaranya sabda Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam: Sesungguhnya Allâh dan MalaikatNya mendo‟akan orang yang menyambung shaf. 5. dan tutuplah celah-celah. Meletakkan orang-orang yang telah baligh dan berilmu di belakang imam.” Perpecahan hati dan banyaknya perselisihan diantara jama‟ah. Akan tetapi. Hilangnya pahala yang besar.tentu shaf dapat diisi oleh dua atau tiga orang lagi. sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih. Diantaranya: Membiarkan celah untuk syetan dan Allâh Ta'âla putuskan perkaranya. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam : . Jangan biarkan celah-celah tersebut untuk syetan. Barangsiapa yang menyambung shaf. bahwasanya Rasulullah shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda. niscaya mereka akan jatuh ke dalam larangan syari’at. dan luruskanlah pundak-pundak kalian. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallâhu'anhu. ”Luruskanlah shaf kalian. niscaya Allâh akan memutus (urusan)nya. niscaya Allâh akan menyambung (urusan)nya.

sesungguhnya bersamanya jin. Diantaranya hadits Ibnu Umar radhiyallâhu'anhu: Janganlah shalat. Membuat sutrah (pembatas) ketika hendak shalat. Sedangkan dalam shalat berjama‟ah. Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda. Jika dia tidak mau. kecuali dengan menggunakan sutrah (pembatas).” Salah seorang rawi hadits bernama Abu Nadhar berkata: . niscaya berselisih juga hati kalian.Hendaklah yang mengiringiku orang-orang yang telah baligh dan berakal. dan jauhilah oleh kalian suara riuh seperti di pasar. niscaya (dia) berdiri selama empat puluh. Hadits yang menerangkan hal ini sangat mashur. dan janganlah kalian berselisih. bahwa lewat di hadapan orang yang shalat merupakan perbuatan dosa. Nabi telah menerangkan. pen). Dan jangan biarkan seseorang lewat di hadapanmu. kemudian orang-orang setelah mereka. Hal ini tidak perselisihan di kalangan para ulama. (itu) lebih baik daripada melewati orang yang sedang shalat tersebut. maka bunuhlah dia. kemudian orang-orang setelah mereka. ”Jika orang yang lewat di hadapan orang shalat mengetahui apa yang dia peroleh (dari dosa. maka kewajiban mengambil sutrah ditanggung oleh imam. 6.

Dan hendaklah dia berbaik dalam mengajar mereka. Imam Ahmad berkata: ”Imam (adalah) orang yang paling layak dalam menasihati orang-orang yang shalat di belakangnya. . menyempurnakan serta memperkokohnya. Dan hendaklah hal itu menjadi perhatiannya. apakah (yang dimaksud itu.) empat puluh hari atau bulan atau tahun. karena (seorang) imam dijadikan untuk diikuti. Akan tetapi.” 7. red. Seseorang tidak boleh bermakmum kepada orang yang ummi.”Aku tidak tahu. yaitu orang yang mampu membaca al-Qur‟an dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan tajwid. Janganlah mereka ruku‟ dan sujud serentak (bersamaan) dengan imam. ketika dia ruku‟ agar memanjangkan sedikit ruku‟nya. hendaklah memerintahkan mereka agar rukuk dan sujud mereka. seorang qari' tidak boleh bermakmum kepada orang ummi. Dan seharusnyalah imam meperbaiki shalatnya. manakala merasa ada yang masuk. sehingga (yang masuk itu) dapat memperoleh satu raka‟at. di antara syarat-syarat bermakmum adalah seorang imam haruslah qari'.” 8. karena kehormatan orang-orang yang makmum lebih mulia dari kehormatan orang yang masuk tersebut. bangkit dan turun mereka (dilakukan) setelah imam. dia berdosa seperti dosa mereka. jika dia tidak menyempurnakan shalatnya. agar tidak mendahului imam dalam ruku‟ atau sujudnya. Dalam shalat berjamaah. selagi tidak memberatkan makmum. Sebaliknya. yaitu orang yang buta huruf atau tidak mampu melafadzkan Al Qur'an dengan dengan fasih atau masih sering terjadi kesalahan (Al Lakhnu). jika dia mendirikan shalat dengan baik. Dianjurkan bagi imam. maka dia pun memperoleh ganjaran yang serupa dengan orang yang shalat di belakangnya. karena dia bertanggung jawab kepada mereka dan akan diminta pertanggungjawaban besok. karena. Terlebih lagi. Menasihati jama‟ah. dan melarang mereka dari mendahuluinya dalam ruku‟ atau sujud.

bahwa dia menuturkan: Rasulullah SAW bersabda: ْ َ ْ ‫ه َ ْ ِ َ َ َ ُ ُّ ْ َ ْ َ ُ ْ ِ ِ ه‬ ًِ‫عٍَ أَبًِ يسعُىد اْلََصازيِّ قَال قَال زسُىل َّللاِ صههى َّللاُ عهٍَه وسههى ٌَإو انقَىْ و أَقسؤهُى نِكخَاب َّللاِ فَاٌِ كاَُىا ف‬ َ ‫َ َ َ ُ ه‬ ِ َ ْ ْ ٍ ْ َ َ ْ َ ِ ْ ُ َ ْ ً َ َ ِ ُّ َ ْ ِ ُّ ْ ُ ْ ً َ َ ِ َ َ ْ ‫انقِساءة سىاء فَأَعهًَهُى بِانسُهت فَاٌِ كاَُىا فًِ انسُهت سىاء فَأَقديهُى هجْ سةً فَاٌِ كاَُىا فًِ انهجْ سة سىاء فَأَقديهُى س ْهًا‬ ً ِ ْ َُْ ً ََ َِ ِْ ُْْ ََ ِ ْ ‫وَل ٌَإيٍ انسجم انسجُم فًِ سُهطَاَِه وَل ٌَقعد فًِ بٍَخِه عهَى حَكسيخِه ئَِل بِاِذَِه‬ َ ِ ْ َ ‫ََ ُ ه ه ه ُ ُ ه‬ ِ ْ ‫ْ َِ ِ ه‬ Yang berhak mengimami shalat adalah orang yang paling bagus atau paling banyak hafalan AlQu‟rannya. baik keseluruhan maupun sebagian.)اإلبدَال‬baik pergantian huruf itu disertai idgham ataupun tidak. ِ َ 3. dipilih yang lebih dahulu berhijrah. Kalau di dalam berhijrah juga sama. ia meng-idghamkan huruf yang tidak semestinya sehingga mengganti atau merubah redaksi kata. ataupun hanya 1 (satu) huruf saja. Janganlah seseorang mengimami orang lain di dalam wilayah kekuasaannya.)يانِك‬maka ia bukan termasuk Arott. seperti mentasydid huruf lam atau kaf pada kata (‫ .)أنثغ‬Altsagh lebih umum daripada Arott.MusnadAhmad) Keterangan: (*) Yang paling banyak hafalannya dan paling bagus mutu bacaannya (Tajwid dan Tilawahnya) Termasuk dalam kategori orang ummi yang tidak boleh dijadikan imam. dan janganlah dia duduk di rumah orang lain di tempat duduk khusus/kehormatan untuk tuan rumah tersebut tanpa seizinnya.)أزث‬yaitu orang yang bacaannya bisa menyebabkan pergantian suatu huruf. adalah: 1. Arott (‫ .[*] Kalau di dalam Al-Qur‟an kemampuannya sama.yaitu orang yang mengganti suatu huruf ِْ dengan huruf lain (‫ .Muslim. Kalau di dalam sunnah juga sama. dipilih yang lebih dahulu masuk Islam. (HR. Fasid (‫ . ((Hasyiyah . Lain ِ ْ ُ ِ ُ halnya dengan orang yang hanya meng-idgham-kan saja tanpa mengganti huruf. seperti kata (‫ )انًسخَقٍِْى‬menjadi (‫ )انًخهـقٍِْى‬dengan mengganti sin dengan ta' karena idgham. Altsagh (‫. (Hasyiyah 'Ianatuth Thalibiin -Ad-Dimyati: 43) ّ 2. Misalnya. dipilih yang paling faham tentang ajaran sunnah.Sebagaimana Hadits Dari Abu Mas‟ud Al-Anshari.)فاسد‬yaitu orang yang bacaan al-Fatihahnya tidak benar.

)زخىة‬yaitu orang yang lisannya tidak dapat mengucapkan tasydiid. (Nihayah az-Zain –Imam Nawawi Al-Bantani. Ia tidak boleh menjadi imam.ُْ 'Ianatuth Thalibiin -Ad-Dimyati: 44) Misalnya. 4. Al-Bukhari) .[Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi'i. (Kifayatul Akhyaar -Al-Husaini. 1994:110) Adapun seseorang bermakmum kepada orang yang ta‟-ta‟ (bacaannya selalu mengulang-ulang ta') atau orang fa'-fa' (bacaannya selalu mengulang fa‟) maka hukumnya adalah makruh. (HR. maghrib dan isyak). jika bacaan si makmum dan Imamnya sama-sama lakhn. atau kata ( ٌٍَ‫ )انهد‬menjadi ( ٌٍَ‫ )اهنر‬yaitu dengan mengganti huruf dal menjadi dzal atau terbaca "dhin". (Nihayah az-Zain Imam Nawawi Al-Bantani. maka ia boleh tetap bermakmum kepada imam tersebut hanya pada shalat sirriyah (dhuhur dan ashar) saja. Tuhfah al-Muhtaj] Kecuali. Sabda Rasulullah SAW dari Ubadah bin Shamit: ‫عٍَ عبَادةَ بٍ انصهايج أٌَ زسُىل َّللاِ صههى َّللاُ عهٍَه وسههى قَال َل صَلةَ نًٍِ نَى ٌَقس ْأ بِفَاحِحت انكخَاب‬ َْ ْ ْ َ ََ َ َ َ َ َ ِْ َ ‫ه‬ َ ‫ِ ِ ه َ َ ه‬ ِ ِْ ِ َ ِ ْ َ ُ ْ Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah. maka si makmum harus mengulang shalatnya. maka shalatnya tetap sah dan kasus ini termasuk dharurat. Rakhwah (‫ . Jika makmum tetap mengikuti imam yang ia ketahui bacaannya lakhn (salah) pada shalat jahriyah (subuh. bacaan kata (‫ )انًسخَـقٍِْى‬menjadi (‫ )انًثـخَـقٍِْى‬dengan ِ ْ ُ ِْ ِْ mengganti huruf sin menjadi tsa'. 1995:116). 1995:116). Jika makmum meragukan atau tidak mengetahui kemampuan imamnya.

com/2009/09/syarat-yang-harus-terpenuhi-untuk.php?option=com_content&task=view&id=55&Itemid=42 (Diakses tanggal 25 mei 2012 ) http://id.wikipedia. halaman 1/149. Syaikh Masyhur Hasan Al Salman. Syaikh Shalih bin Fauzan.org/wiki/Imam_shalat (Diakses tanggal 25 mei 2012 ) http://petanidakwahmenulis. Kitab Akhtha-ul Mushallin.DAFTAR PUSTAKA Kitab Mulakhkhsul Fiqhi. halaman 249.html (Diakses tanggal 25 mei 2012 ) .com/index.blogspot. http://jatiqo.

BA FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN TADRIS BIOLOGI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG 2012 .IMAM SHALAT BERJAMA‟AH Disusun oleh : Nama NIM : Fauzan Al Ikhsan : 09222077 Mata kuliah Dosen Pembimbing : Pembekalan KKN : DR. Zaenal Berlian.

Oleh karena itu di dalam makalah dijelaskan seluk –beluk menjadi imam dan pernerapannya di dalapangan .PENDAHULUAN Imam sholat berjama‟ah adalah seorang yang memimpin sholat bejama‟ah dalam pembelajaran pembekalan kkn mahasiswa mampu dituntut untuk dapat menjadi seorang imam agar pada saat terjun ke lapangan mahasiswa sudah menguasainya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful