STUDI PERBANDINGAN KURIKULUM: APA, UNTUK APA, DAN BAGAIMANA?

1
S. HAMID HASAN2

PENDAHULUAN Kurikulum adalah bidang kajian akademik dan suatu kebijakan pendidikan. Sebagai suatu kajian akademik maka kurikulum memiliki persyaratan dan tata kerja yang berbeda dari kurikulum sebagai suatu kebijakan pendidikan. Memang harus dIakui sebagai kenyataan bahwa pembahasan yang paling banyak dilakukan dalam literatur berkenaan dengan kurikulum sebagai suatu kebijakan pendidikan. Berbagai definisi kurikulum dikemukakan para akhli selalu berkenaan dengan kurikulum sebagai suatu upaya pendidikan atau kebijakan pendidikan. Dalam definisi yang dikemukakan para akhli mengenai kuurikulum sebagai kebijakan pendidikan seringkali mengkerdilkan pengertian kurikulum itu sendiri. Definisi yang dikemukakan tidak mencakup keseluruhan dimensi kurikulum. Ada definisi yang berkenaan dimensi dokumen atau perencanaan (hasil dari curriculum construction), ada yang hanya berkenaan dengan kurikulum sebagai proses (hasil dari implementasi kurikulum atau taught curriculum), ada pula yang hanya berkenaan kurikulum sebagai hasil (outcomes) sehingga kurikulum dirumuskan sebagai “statement of objectives”. Dimensi kurikulum sebagai ide yang merupakan jawaban (kurikulum sebagai construct) dan dasar bagi pengembangan suatu dokumen kurikulum seringkali dilupakan. Tentu saja kekerdilan dalan definisi kurikulum berpenaruh terhadap ruang lingkup kajian kurikulum sebagai bidang studi. Suatu definisi kurikulum yang lengkap mencakup keseluruhan dimensi kurikulum (ide, plan, action, outcomes). Kurikulum sebagai suatu bidang kajian akademik berfokus pada keempat dimensi kurikulum. Schubert (1986:4) mendefinisikan kurikulum sebagai bidang studi sebagai “an area of inquiry in higher education”. Lebih lanjut, sebagai suatu bidang studi menurut Schubert (1986:40-43) kurikulum mengkaji “curriculum theory, curriculum history, curriculum development, curriculum design, curriulum implementation, curriculum evaluation, curriculum change, dan curriculum inquiry”. Fokus yang disebutkan terakhir
1 Disajikan pada seminar internasional di PPS UPI Bandung, tanggal 15 Juni 2010 2 Guru Besar Kurikulum dan Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

1

Diantara sedikit buku yang membahas mengenai studi perbandingan kurikulum. and outcomes. Mereka mengutip Reid yang mengatakan: Curriculum is not comparable across nations. sebagai suatu penelitian maka kurikulum mengkaji menurut kaedah-kaedah yang berlaku dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahaman mengenai ketujuh aspek studi kurikulum. 1979:260-277) membahas studi perbandingan sebagai bagian dari studi kurikulum dalam bukunya yang berjudul “Curriculum Inquiry”. Metodologi untuk bidang kajian perbandingan kurikulum berkembang walaupun kajian terhadap dokumen dan hasil belajar masih menggunakan metode yang dapat dikatakan konvensional. Hal tersebut merupakan suatu kewajaran sebagaimana banyak buku tentang kurikulum tidak secara khusus mengemukakan kurikulum sebagai suatu bidang studi. Lebih lanjut Henderson dan Kesson (2004:189) mengutip pendapat Reid yang juga menentang adanya studi perbandingan. National curriculum are cultural artifacts. in the same way that national songs. Curriculum inquiry is the study of this work in all its aspects: context. Goodlad (Goodlad. stories.. . et al. problems. and festivals are cultural artifacts. 1979: 17) menulis mengenai “curriculum inquiry” sebagai berikut. conduct. Henderson dan Kesson (2004) merekam adanya pendapat dari dua akhli kurikulum Afrika. Studi perbandingan kurikulum memang tidak dinyatakan secara eksplisit dalam wilayah kajian kurikulum yang dikemukakan Schubert.mencakup kajian terhadap tujuh bidang kajian kurikulum yang disebutkan sebelumnya. Gado dan Verma. Curriculum practice is what curriculum makers work at. Pendapat Reid yang dikemukakan Henderson dan Kesson di atas tentu saja memiliki kebenaran bahwa kurikulum adalah produk unik suatu bangsa. and theorists are not dealing with the components of a universal scientific enterprise. what result from those materials has unique meaning or individual nations. yang menentang adanya suatu studi perbandingan kurikulum karena mereka beranggapan bahwa kurikulum adalah masalah nasional bangsa. Klein dan Goodlad (Goodlad. et al. Meski pun demikian. studi perbandingan kurikulum menunjukkan eksistensinya melalui berbagai studi yang dipublikasikan di berbagai jurnal dan melalui berbagai organisasi yang secara khusus memusatkan perhatian mereka pada kajian studi perbandingan kurikulum. Artinya. assumptions. Even if they use the same materials.. Ruang lingkup kajian perbandingan kurikulum terumuskan dengan jelas sehingga bidang kajian perbandingan kurikulum pantas mendapat tempat sebagai salah satu bidang kajian akademik kurikulum sebagai bidang studi disamping evaluasi kurikulum dan penelitian kurikulum.

Ibarat mata uang maka unik adalah salah satu sisi yang berbeda dari sisi lain yang bersifat umum tetapi keduanya saling melengkapi. Tidak ada unsur unik dihasilkan hanya oleh unsur unik semata. kesetaraan itu diartikan sebagai jenjang pendidikan atau kedudukan satuan pendidikan. Artinya. Oleh karena itu sifat unik kurikulum suatu bangsa tidaklah menjadi hambatan bagi studi perbandingan kurikulum. SMP/MTs. Keunikan memberikan gambaran hasil dari berbagai faktor yang mungkin sama tetapi menghasilkan pengaruh yang berbeda sehingga menimbulkan upaya pemahaman yang lebih mendalam. Keterkaitan kurikulum dengan politik. universitas. atau antar pendidikan dasar. pendidikan tinggi. akademi. Berikutnya adalah suatu kenyataan bahwa unsur unik dihasilkan dari unsur umum. polyteknik. Justeru keunikan itu yang menjadikan studi perbandingan kurikulum menjadi menarik. Keunikan itu justeru menjadi tantangan dan daya tarik studi perbandingan kurikulum. PENGERTIAN STUDI PERBANDINGAN KURIKULUM Studi perbandingan kurikulum mengandung pengertian yang tidak dapat dipisahkan dari pengertian perbandingan. budaya. kesetaraan terjadi antar kurikulum SD/MI. SMA/MA. Dengan perkataan lain kesetaraan dalam studi perbandingan kurikulum dikaitkan dengan 3 . Studi perbandingan kurikulum adalah suatu upaya murni akademik dalam menjawab kerisauan para akademisi untuk mengetahui dan memahami apa yang dilakukan orang di tempat lain atau di kurun waktu yang berbeda di tempat yang sama. SMK/MAK.Oleh karena itu ada perbedaan antara kurikulum satu bangsa dengan bangsa lainnya. Dalam konteks studi kurikulum. dan sosial yang bersifat unik di setiap bangsa tidak memberi peluang yang besar untuk suatu upaya internasionalisasi kurikulum kecuali jika kebijakan politik suatu bangsa memperkenankannya. Perbandingan mengandung makna perbandingan antara yang satu dengan lainnya dari dua hal atau lebih yang setara. Hal lain yang perlu dikemukakan adalah studi perbandingan kurikulum tidak dalam upaya menjadikan kurikulum suatu bangsa kehilangan keunikannya. institut. Studi perbandingan kurikulum dapat mempelajari kedua sisi tersebut secara terpisah tetapi dapat juga mempelajarinya secara utuh. pendidikan menengah. Jika kekuasaan politik memperkenankannya maka kebijakan tersebut adalah sesuatu yang di luar jangkauan kewenangan studi perbandingan kurikulum untuk menentukannya.

Sementara itu berbagai organisasi tentang perbandingan kurikulum memiliki anggota yang berkiprah dalam studi perbandingan kurikulum. Studi perbandingan kurikulum memenuhi persyaratan sebagai sebuah disiplin sebagaimana akan diperlihatkan dari uraian di bagian-bagian lain makalah ini. 2005: Religious study accross curricula) disajikan di salah satu pertemuan . organisasi yang dibentuk di Paris pada tahun 1972 dengan nama International Curriculum Organization (ICO) adalah organisasi yang memiliki anggota dari pusat-pusat pengembangan kurikulum di berbagai negara di dunia (Klein dan Goodlad dalam Goddlad et al. Memang belum ada organisasi khusus yang menjadi wadah bagi mereka yang mengambil spesialisasi dalam studi perbandingan kurikulum tetapi AERA memiliki bagian perbandingan. dalam tulisan tersebut Hasan (2005) merumuskan bahwa suatu disiplin ilmu memiliki “principles/principles.kesetaraan fungsi. epistemology (Oliva. bimbingan-konseling. 1979:261-262) dan Malaysia dinyatakan dalam buku tersebut sebagai salah satu anggotanya aktif sejak pertemuan di Gränna. administrasi pendidikan. publikasi khusus (Beachaump. Dalam tulisan ini. sosiologi pendidikan. ekonomi pendidikan. 1997. theoritician and practitioners. 1981). Selain AERA yang sudah disebutkan. dan sebagainya lahir dari persinggungan antara ilmu pendidikan dengan ilmu yang relevan. 1967). Dengan mengutip pendapat berbagai sarjana. Keduanya disebut sebagai “proper disciplines” karena keduanya lahir sebagai “offshoot” ilmu pendidikan sedangkan disiplin lain dalam ilmu pendidikan seperti psikologi pendidikan. Schwab. Organisasi lain seperti Comparative Education Society of Asia (CESA) memiliki anggota dan topik seminar yang terkait dengan studi perbandingan kurikulum. Sebagaimana dikemukakan Hasan (2005) dalam tulisannya mengenai belajar bahwa kurikulum dan belajar adalah disiplin utama (proper) dalam ilmu pendidikan. knowledge and skills/substantive structure. Swedia tahun 1971. dan organisasi profesi. Studi perbandingan kurikulum telah berkembang sedemikian rupa sehingga pada saat sekarang sudah menjadi bidang kajian yang memiliki peran penting dalam pengembangan disiplin kurikulum.. kedudukan dan tujuan lembaga pendidikan yang dikaji. Kajian tersebut menghasilkan informasi tentang kurikulum yang dibandingkan baik pada negara yang sama maupun pada negara yang berbeda. Kajian penulis tentang studi agama (Hasan. Kedudukan kurikulum sebagai suatu disiplin dalam lingkup ilmu pendidikan sudah tidak mungkin digoyahkan lagi. studi perbandingan kurikulum diartikan sebagai suatu kajian akademik pada jenjang perguruan tinggi terhadap berbagai aspek pengembangan kurikulum sebagai suatu kebijakan atau program pendidikan.

Meski pun demikian. Demikian pula dengan kewenangan dan proses pegambilan kebijakan pada jenjang pemerintahan atau pada jenjang otoritas pendidikan. TUJUAN DAN MANFAAT STUDI PERBANDINGAN KURIKULUM Studi perbandingan kurikulum berkembang terutama sejalan dengan adanya keinginan untuk menemukan berbagai perbedaan dalam kegiatan pengembangan kurikulum (curriculum development) di berbagai satuan pendidikan atau jenjang pendidikan. Hal ini tentu saja tidak mudah karena kurikulum yang dikembangkan di negara yang dikaji mungkin saja sesuai dengan tuntutan politik.seminar organisasi tersebut dimana penulis pernah menjadi anggotanya. Perbedaan yang yang ditemukan tidak digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan keunggulan atau pun kekurangan dari pengembaangan kurikulum yang dikaji. kajian studi perbandingan kurikulum selalu dapat diambil manfaatnya ketika upaya 5 . budaya. menarik berbagai kesimpulan dari hasil kajian untuk digunakan sebagai bahan belajar dan pengembangan prinsip dan teori pengembangan kurikulum. Hasil kajian studi perbandingan kurikulum adalah bahan yang kaya untuk dikaji sebagai pelajaran sehigga dapat digunakan untuk mengembangkan kurikulum di negara peneliti. studi perbandingan kurikulum berbeda secara mendasar dalam pemberian pertimbangan dengan evaluasi kurikulum walau pun dalam berbagai model evaluasi kurikulum pertimbangan itu tidak dilakukan oleh evaluator. studi perbandingan kurikulum harus selalu memiliki dua atau lebih kurikulum yang dikaji sedangkan penelitian kurikulum (curriculum inquiry) tidak mensyaratkan adanya dua kurikulum atau lebih yang menjadi fokus kajian. Tujuan dari studi perbandingan kurikulum adalah untuk mengetahui dan memahami perbedaan yang terjadi. ilmu. Sebagaimana studi pada umumnya. Meski pun demikian. berbeda dari penelitian kurikulum (curriculum inquiry). studi perbandingan kurikulum melakukan pemahaman terhadap perbedaan yang terjadi antara kurikulum yang dikaji dan berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaanperbedaan. Perbedaan lainnya antara studi perbandingan kurikulum dengan penelitian kurikulum adalah studi perbandingan kurikulum selalu menempatkan perbedaan dalam pengembangan kurikulum sebagai variable terikat (dependent variable) sedangkan penelitian kurikulum (curriculum inquiry) dapat memposisikan perbedaan yang terjadi sebagai variabel terikat tetapi dapat pula diposisikan sebagai variable bebas (independent variable). sosial. dan teknologi masyarakat di negara yang dikaji dan belum tentu sesuai dengan negara dan masyarakat peneliti. Oleh karena itu.

budaya.. in national settings other than the United States”. ilmu dan teknologi yang berbeda. mengembangkan. 1977:260) mengatakan tentang tujuan dan makna studi perbandingan kurikulum sebagai berikut: We thought it would be useful to find out what curriculum task they seek to perform and. perhaps learn something about the present status of curriculum of curriculum development in countries other than our own. teknologi. satu atau semuanya. dan politik). prosedur. cara dan kemampuan kerja. through them. kemampuan berinovasi. Model dan prosedur teknis yang lebih bersifat akademik dapat dipelajari dan diterapkan dalam konteks politik. Tentu saja ketika mereka berbicara tentang perlunya studi perbandingan kurikulum di tahun 1968 di Moscow dan dihadiri oleh duapuluh dua negara . teori bahkan filosofi kurikulum. Lebih lanjut. sosial. dan mempertahankan rasa harga diri sebagai bangsa dan kepedulian yang tinggi terhadap kualitas hidup (termasuk kualitas produk yang dihasilkan di bidang pertanian. Misalnya. hasil kajian studi perbandingan kurikulum dapat menjadi masukan bagi pengembangan filosofi. dari hasil studi perbandingan tentang kurikulum di Jepang dan Korea Selatan diidentikasi adanya upaya yang jelas dalam kurikulum untuk membangun. Tujuan dan manfaat studi perbandingan kurikulum lainnya adalah untuk mengembangkan prinsip. budaya. Upaya pengembangan kurikulum baru di Indonesia dapat memposisikan kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek sebagai bagian yang harus diperbaharui kurikulum. ketika kurikulum akan dirancang maka berbagai perubahan yang diinginkan dalam berbagai aspek kehidupan tersebut. . teori. Dengan demikian. kepedulian pada kualitas masyarakat dan bangsa melalui pendidikan generasi muda sehingga mereka memiliki berbagai kualitas yang diharapkan sebagai warganegara. Artinya. Such an inquiry provided a unique opportunity to employ the conceptual system . kebijakan pembaharuan kurikulum diarahkan untuk memperbaiki sikap.baru dilakukan dalam pengembangan kurikulum. ilmu dan teknologi dapat dijadikan “framework” untuk bekerja tetapi dapat pula dijadikan aspek yang menjadi target yang harus ikut diubah dan dikembangkan dalam dimensi hasil dari pengembangan kurikulum baru. sosial. Posisi bidang studi kurikulum yang menjadi ujung tombak dalam pendidikan memberikan peluang besar memanfaatkan hasil kajian studi perbandingan kurikulum bagi bidang kajian dan kebijakan kurikulum. Tujuan dan manfaat ini bersifat universal dan berkenaan dengan “body of content” bidang studi kurikulum. Kondisi masyarakat dalam aspek kehidupan politik. dkk. . dan tujuan pendidikan. Klein dan Goodlad (Goodlad. menjadi target dari perubahan kurikulum baru.

logistics. Pada dasarya apa yang dikemukakan Goodlad berlaku pula untuk studi perbandingan kurikulum. or replaced. labour force. and evaluation through which curricula are improved. materials. 1977:260) dominasi Amerika Serikat dan bias para akhli kurikulum Amerika Serikat (Tyler. dengan catatan bahwa untuk Indonesia kata-kata dalam kalimat yang dikutip di atas dapat diganti dengan “in national settings other than the Republic of Indonesia” dan untuk Malaysia menjadi “in national settings other than the Kingdoms of Malaysia”. and the like – the commonplaces of any curriculum.. Goodlad) sangat kuat mengingat perkembangan konsep kurikulum sebagai kebijakan pendidikan dan studi kurikulum di negara tersebut. RUANG LINGKUP STUDI PERBANDINGAN KURIKULUM Sebagaimana dikemukakan oleh Goodlad “curriculum inquiry” membahas mengenai apa yang dilakukan orang dalam pengembangan kurikulum. dkk. Meski pun demikian. Klein. Curriculum inquiry examines those processes of group or individual engineering. The third is technical-professional. education budget 7 .(Klein dan Goodlad dalam Goodlad. Inquiry involves the study of all those human processes through which some interests come to prevail over others so that these ends and means rather than others emerge. 2009) menggunakan berbagai aspek yang dijadikan ruang lingkung kajian yang mereka lakukan dalam studi perbandingan kurikulum yaitu: General characteristics (population. Goodlad (1979:17) mengatakan: Such inquiry embraces at least three kinds of phenomena. The first is substantive and has to do with goals. The second is politicalsocial. dan hal terkait dengan profesionalisme para pengembang. Studi INCA (McDonnel. Meski pun demikian jika kajian yang dilakukan oleh INCA dan NIER diperhatikan maka ketiga kelompok fenomena yang dikemukakan Goodlad tersebut dirinci lebih jauh dan lebih operasional untuk melakukan studi perbandingan. subject matter. sosialpolitik. Bloom. Inquiry is into its nature and worth. apa yang dikemukakan Goodlad tersebut tampaknya masih relevan dengan tujuan dan manfaat studi perbandingan kurikulum pada saat sekarang. Lebih lanjut. Dalam ruang lingkup yang dikemukakan Goodlad memang membagi fenomena studi pengembangan kurikulum ke dalam substantif. installed.

. Faktor external yang berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum adalah politik.in comparison with GDP) Government policy on the aims Level of control and administrative organization Schooling: duration. Faktor eksternal menjadi fokus studi dari Pawilen dan Suwida (2005) dalam studi mereka membandingkan pendidikan science di Jepang dan Filipina. Aspek-aspek dari faktor external tersebut membuat banyak perbedaan terhadap berbagai faktor akademik suatu kurikulum. Mereka menggunakan latar belakang sejarah (historical background) sebagai faktor eksternal untuk menjelaskan mengenai kebijakan kurikulum di kedua negara yang mereka teliti. budaya. Studi yang dilakukan Woolman (2001) membandingkan pengembangan kurikulum di 4 negara Afrika (Kenya. Dalam studi INCA faktor eksternal ini diterjemahkan sebagai “general characteristics” dan “government policy on the aims” sedangkan Goodlad menyebutkannya sebagai faktor sosial-politik. Faktor politik seperti adanya tuntutan yang kuat untuk “nation building” merupakan faktor eksternal yang sangat berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum di negara-negara tersebut. Faktor ini disebut faktor eksternal karena faktor tersebut tidak berkenaan dengan teknis akademik pengembangan kurikulum tetapi tidak mungkin diabaikan. phases. Mozambique. dan Nigeria maka faktor budaya menjadi independen variable yang dipakai untuk memahami mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam pengembangan kurikulum di masa kemerdekaan 4 negara tersebut. Suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa faktor eksternal menunjukkan pengaruhnya baik di negara berkembang mau pun di negara maju. dan organisasi penentu kebijakan kurikulum. berkenaan dengan pengembangan kurikulum di negara-negara maju di Eropa dan Asia memperlihatkan hasil yang sama dengan studi Woolman di negara Afrika. ilmu. sosial. Dalam konteks negara mana pun faktor eksternal menampakkan pengaruhnya. ekonomi. teknologi. participation rates Structure of the education system Curriculum and assessment framework Initial teacher training system Jika proses pengembangan kurikulum diperhatikan maka terdapat faktorfaktor non-teknis tapi sangat berpengaruh dan bahkan menentukan tidak saja terbatas pada hal terkait dengan sosial-politik tetapi lebih luas lagi. Studi INCA yang dilaporkan O’Donnell et al. Mali.

SMK/MAK atau berbagai lembaga dan jenjang pada pendidikan tinggi. SMP/MTs. pelaksanaan kurikulum (curriculum as taught. Pendapat serupa dikemukakan Bloomer (1997: 14) yang menyebutkan faktor sosial-budaya sebagai konteks yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum. pemberian 9 . philosophical positions. curriculum responds to and is changed by social forces. Sebelum Oliva. . implemented. Fokus akademik berkenaan dengan proses dan prosedur pengembangan ide kurikulum (curriculum as an idea/ideas). Keempat dimensi kurikulum dalam fokus akademik. Fokus akademik dapat pula dibatasi oleh jenjang satuan pendidikan atau jenjang pendidikan. accumulating knowledge” bukanlah faktor eksternal. reality). bukan faktor eksternal tetapi merupakan faktor akademik pengembangan suatu kurikulum. psychological principles. Suatu studi perbandingan kurikulum dapat berkenaan dengan kurikulum SD/MI. Tentu saja tuntutan personal peserta didik. Unruh dan Unruh (1984: viii) telah mengatakan bahwa pengembangan kurikulum adalah untuk memenuhi tuntutan kultural dan sosial disamping personal peserta didik. Suatu hal yang amat lumrah jika perbandingan kurikulum dilakukan berdasarkan jenjang ini. Memang harus diakui bahwa faktor seperti “ philosophical positions. Dalam dimensi dokumen. adalah dimensi besar dari fokus akademik. psychological principles. dan evaluasi kurikulum (curriculum as assessed). dokumen kurikulum (curriculum as a plan). . Fokus akademik ini adalah fokus yang paling banyak menjadi perhatian dalam studi perbandingan kurikulum. ide-dokumenpelaksanaan-hasil.Pemanfaatan faktor eksternal dalam studi kompratif kurikulum memperkuat posisi teoritik tentang pengaruh faktor tersebut. sosialisasi ide dan dokumen. process. Keempatnya dapat dilakukan dalam satu studi komparasi tetapi dapat pula dilakukan hanya terbatas pada salah satu dimensi dan harus diakui bahwa yang paling banyak pada fokus akademik berkenaan dengan dimensi dokumen. and educational leadership at its moment in history”. Fokus manajemen kurikulum berkenaan dengan distribusi dan ketersediaan dokumen kurikulum di sekolah. Sebagaimana dikatakan Oliva (1992:29) “curriculum is a product of its time . SMA/MA. Pikiran yang dikembangkan sebagai jawaban pendidikan terhadap tantangan yang dihadapi suatu bangsa dalam membangun generasi mudanya mendapat perhatian besar. accumulating knowledge. fokus studi perbandingan kurikulum dapat pula berkenaan dengan salah satu mata pelajaran dalam kurikulum seperti misalnya yang dilakukan Pawilen dan Suwida (2005) mengenai mata pelajaran “science” di kurikulum sekolah dasar Filipina dibandingkan dengan mata pelajaran yang sama di Jepang.

emotional. rasa ingin tahu. Kenyataan lain yaitu waktu. Fokus manajemen sangat menentukan keberhasilan kurikulum menccapai tujuan yang telah dinyatakan dalam doumen dan dilaksanakan dalam proses. social.bantuan profesional kepada kepala sekolah dan sekolah. METODOLOGI STUDI PERBANDINGAN KURIKULUM Studi perbandingan kurikulum menggunakan metodologi yang banyak dipakai dalam bidang kajian lain ilmu pendidikan. wawancara atau pun questionnaires. Studi dokumen menjadi primadona dalam penelitian studi perbandingan kurikulum. Jika manajemen lumpuh maka dapat dikatakan bahwa kurikulum dalam bentuk dokumen akan menjadi suatu renccana yang “ininertia” (Hasan. kreativitas. dan tenaga menjadi penghambat dalam studi perbandingan kurikulum untuk menerapkan teknik observasi terhadap proses dalam pengumpulan data. pemantauan proses. menghargai pendapat orang lain. 1984). Informasi tentang kegiatan yang berkenaan dengan proses dihimpun dari dokumen. berpikir kritis. dan tindak lanjut program. kualifikasi dan beban kerja guru. Metodologi yang dinamakan survey atau pun studi deskriptif merupakan metodologi yang umum dipakai. Hakekat studi perbandingan yang sangat mendasarkan diri pada kenyataan yang sudah terjadi dan sedang terjadi di lapangan menyebabkan studi ini menjauhkan diri dari penggunaan metodologi yang menghasilkan model (Research & Development) mau pun yang berkaitan dengan upaya manipulasi (eksperimen). Kegiatan implementasi kurikulum yang dilaksanakan secara individual dan meninggalkan sekolah sebagai usaha kooperatif “community of educators” telah memberikan beban berat kepada setiap mata pelajaran untuk mengembangkan materi yang bersifat ketrampilan (intellectual. dan communication skills) dan materi nilai/attitudes (kebiasaan membaca. suasana dan fasilitas kerja guru. dana. Pemanfaatan questionnaires lebih fleksibel dibandingkan wawancana terutama dilihat dari waktu dan dana. learning. perencanaan sekolah dalam implementasi. dan sebagainya) menjadi materi yang sukar atau bahkan tidak mungkin dikuasai dan dimiliki dengan baik. kerjakeras. . Oleh karena itu kedua metodologi tersebut tidak digunakan dalam penelitian studi perbandingan kurikulum. Fokus ini sama pentingnya dengan kedua fokus yang telah dikemukakan di atas. jujur. Adanya keharusan berhadapan muka antara peneliti dengan sumber data dalam wawancara menjadi kendala utama dalam menggunakan wawancara. Dalam keadaan yang demikian maka kurikulum sebagai implementasi/proses/pelaksanaan akan membangun dirinya sebagai sesuatu “construct” yang sangat kecil atau bahkan sama sekali tidak sama dengan apa yang sudah direncanakan.

Analisis yang lebih tinggi untuk data kuantitatif studi perbandingan kurikulum tidak diperlukan karena tidak akan memberikan makna. Data kualitatif sangat dominan dalam studi perbandingan kurikulum dan oleh karena itu analisis data studi perbandingan kurikulum terutama dilakukan secara deskriptif ilustratif. Data kuantitatif terutama terkait pada informasi tentang jumlah penduduk. angka partisipasi penduduk. Meski pun demikian. Data kuantitatif dapat diolah secara deskriptif statistik untuk menghasilkan prosentase dan rata-rata (mean). Analisis historis yang menggunakan unsur waktu dan tempat untuk memahami data studi perbandingan kurikulum digunakan terkait dengan informasi yang bersifat historis. luas wilayah. informasi yang disajikan dalam tabel bersifat ya/tidak atau penjelasan. 11 . Oleh karena itu kemampuan analisis intrapolasi data historis dalam penelitian studi perbandingan kurikulum akan sangat menentukan makna yang dapat dipahami dari berbagai informasi yang tersedia. Oleh karena itu analisis yang demikian lebih sulit terutama ketika peneliti harus menegakkan hubungan korelatif apalagi kasualita antara satu informasi dengan informasi lain.Data dalam studi perbandingan kurikulum terdiri dari data kunatitatif dan data kualitatif. Analisis deskriptif ilustratif menghendaki pengetahuan dan pemahaman peneliti yang luas dalam konsep dan teori pengembangan kurikulum. Dalam analisis deskriptif ilustratif tabel dapat digunakan untuk meringkas informasi dan memberikan gambaran menyeluruh aspek kajian. dan pendapatan negara. Data yang berkenaan dengan perkembangan kebijakan kurikulum pada umumnya bersifat historis dan dianalisis dengan pendekatan kronologis baik untu memaparkan fenomena mau pun ketika menentukan adanya hubungan kausalita antara satu informasi dengan informasi lain tentang suatu kejadian.

et al. dan A. Berkeley. S. K. O’Donnell. Qualifications and Curriculum Development Agency.R. process.H. Paradigm. Sydney: Macquarie University. (2005). (2005). Curriculum and assessment: some policy issues. (1979). dan Suwida. (2001).I. J.A.H. Kagg Press Bloomer. (1997). INCA Comparative Table: International Review of Curriculum Frameworks Internet Archive. New Jersey: Pearson Education. S. G. W. Henderson. New York: McGraw-Hill Book Company. White. Curriculum Theory. A comparative Study of the Elementary Science Curriculum o Philippines and Japan Raggart. dan G. Unruh. Unruh (1984). Gray.. Ill. (1981).H. Curriculum Making in Post-16 Education. P. Oxford: Pergamon Press Schubert.G. An Evaluation o the Implementation of the 1975 Senior Secondary Social Studies Curriculum in Bandung Municipality.P.DAFTAR BACAAN Beauchamp. Byrne. M.D thesis. (1986). and progress. Curriculum Inquiry: the Study of Curriculum Practice. M. (1981).uk Oliva. Wilmette. Weiner (1985).. Religious study accros Curricula. G. (2004). and Possibility.inca.org. Social pressure and curriculum development.A. 4th ed. Curriculum Wisdom: Educational Decisions in Democratic Societies.G. Inc. Curriculum development: problems.T. A study of Nuffield Foundation Science Teaching Project.F. Unpublished Ph. London: Methuen Woolman. Waring. New York: Longman Pawilen.C. paper presented at CESA Seminar in Bandung. D. Developing the Curriculum. J.G. (1997). California: McCutchan Publishing Company. S. (2009).. London dan New York: Routledge Goodlad. Curriculum: Perspectives. New York: McGraw-Hill Book Company Hasan.. E. W. dan Kesson. J.. (1984). Hasan. Sargent.C. Available at http://www. Educational Reconstruction and Post-colonial .

2. vol. Available at http://www. International Education Journal. 5.no.flindex.edu.Curriculum Development: A Comparative Study of Four African Countries.au/education/ iej27 13 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful