P. 1
Silabus Hukum Pidana 1

Silabus Hukum Pidana 1

|Views: 151|Likes:
Published by Joe Anto

More info:

Published by: Joe Anto on Jun 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2012

pdf

text

original

Sections

  • Hukum Pidana Pidana (1)
  • Hukum Pidana Pidana (2)
  • Hukum Pidana Pidana (3)
  • Hukum Pidana Pidana (4)
  • Pembagian Hukum
  • Hukum Pidana Pidana &
  • & Ilmu Ilmu--ilmu ilmu
  • lainnya
  • KUHP dan
  • dan Sejarahnya Sejarahnya
  • Jaman VOC VOC
  • Hindia Belanda Belanda
  • Jaman Jepang Jepang
  • Jaman Kemerdekaan Kemerdekaan (1)
  • Jaman Kemerdekaan Kemerdekaan (2)
  • KUHP
  • Pembaharuan Hukum
  • Hukum Pidana Pidana
  • UU Pidana Pidana di
  • luar KUHP KUHP
  • Pasal 1 KUHP 1 KUHP
  • Ps 28i UUD 1945
  • UU No. 39/ 1999 ttg
  • ttg HAM HAM
  • UU No. 26/ 2000 ttg
  • ttg Pengadilan Pengadilan
  • PENAFSIRAN & ANALOGI
  • Tempus delicti
  • penting diketahui diketahui
  • dalam hal
  • hal22 ::
  • Tempus Delicti Delicti
  • Locus Delicti Delicti
  • dalam hal2 : hal2 :
  • Teori mana mana yg
  • Tindak Pidana Pidana (1)
  • Tindak Pidana Pidana (2)
  • Jenis Delik Delik (1)
  • Jenis Delik Delik (2)
  • Jenis Delik Delik (3)
  • Tindak Pidana Pidana (5)
  • Tindak Pidana Pidana (6)
  • KESALAHAN
  • Culpa (2)
  • KAUSALITAS
  • Pengertian Kausalitas Kausalitas
  • Ajaran Kausalitas Kausalitas
  • Conditio Sine Qua Non Sine Qua Non
  • Pembatasan Ajaran
  • Ajaran Von
  • Von Buri Buri
  • teori menggeneralisasi menggeneralisasi (1) (1)
  • teori menggeneralisasi menggeneralisasi (2) (2)
  • teori menggeneralisasi menggeneralisasi (3) (3)
  • Teori Relevansi Relevansi
  • Sifat Melawan Melawan Hukum Hukum
  • Pembuktian Melawan
  • Melawan Hukum Hukum
  • Konsekuensi aliran
  • aliran Materiil Materiil
  • POGING (PERCOBAAN)
  • ercobaan sebagai
  • sebagai Suatu
  • Suatu Delik Delik
  • yang Telah
  • Telah Selesai Selesai
  • Melakukan Tindak Tindak
  • Pidana yang
  • yang Tidak
  • Tidak Dilarang Dilarang
  • Syarat Percobaan Percobaan yg
  • yg dapat dapat
  • dipidana
  • Permulaan Pelaksanaan Pelaksanaan
  • CONTOH KASUS
  • Pendapat Hoge
  • Hoge Raad Raad

HUKUM PIDANA

HPI 10102 3 SKS TOPO SANTOSO, SH.MH

Pengertian Hukum Pidana (1)
Prof. Moeljatno • Hukum Pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yg berlaku di suatu negara, yg mengadakan dasar-dasar dan aturan untuk : 1) menentukan perbuatan-perbuatan mana yg tidak boleh dilakukan, yg dilarang, dg disertai ancaman atau sanksi berupa pidana tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tsb; Criminal Act 2) menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yg telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yg telah diancamkan ; Criminal Liability/ Criminal Responsibility 1) dan 2) = Substantive Criminal Law / Hukum Pidana Materiil 3) menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tsb. Criminal Procedure/ Hukum Acara Pidana

Pengertian Hukum Pidana (2)
Prof. Pompe

• Hukum Pidana adalah semua aturanaturan hukum yang menentukan terhadap perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dijatuhi pidana, dan apakah macamnya pidana itu

kesemuanya aturan-aturan yg menentukan syarat-syarat bagi akibat hukum itu dan kesemuanya aturan-aturan untuk mengadakan (menjatuhi) dan menjalankan pidana tersebut. .Pengertian Hukum Pidana (3) Prof. Simons • Hukum Pidana adalah kesemuanya perintah-perintah dan larangan-larangan yang diadakan oleh negara dan yang diancam dengan suatu nestapa (pidana) barangsiapa yang tidak mentaatinya.

Van Hamel • Hukum Pidana adalah semua dasar-dasar dan aturan-aturan yang dianut oleh suatu negara dalam menyelenggarakan ketertiban hukum (rechtsorde) yaitu dengan melarang apa yang bertentangan dengan hukum dan mengenakan suatu nestapa kepada yang melanggar larangan-larangan tersebut .Pengertian Hukum Pidana (4) Prof.

Pembagian Hukum Pidana • Hukum Pidana Materiil (Hukum Pidana) • Hukum Pidana Formil (Hukum Acara Pidana) .

Ilmu Hukum Pidana & Ilmu-ilmu lainnya • Kriminologi : 0byek studinya --> kejahatan. reaksi masyarakat terhadap kejahatan & penjahat • • • • Kriminalistik : Ilmu Forensik: Psikiatri Kehakiman : Sosiologi Hukum : . penjahat.

KUHP dan Sejarahnya • Andi Hamzah .Jaman Jepang .Jaman VOC .Jaman Kemerdekaan • Utrecht -Jaman VOC -Jaman Daendels -Jaman Raffles -Jaman Komisaris Jenderal -Tahun 1848-1918 -KUHP tahun 1915 sekarang .Jaman Hindia Belanda .

Romawi • Di daerah lainnya berlaku Hukum Adat • mis.Jaman VOC • Statuten van Batavia • Hk. Belanda kuno • Asas2 Hk. Pepakem Cirebon .

Ordonnantie 6 Mei 1872 (S.Indie . Pidana baru. Pidana 1.1866 no.1917 no.Putusan Raja Belanda 15/10/1915 Berlaku 1/1/1918 disertai . Putusan Raja Belanda 10/2/1866 (S.Jaman Hindia Belanda • Dualisme dalam H.55) -> Orang Eropa 2.Putusan Raja Belanda 4/5/1917 (S.1872) --> Orang Indonesia & Timur Asing • Unifikasi : Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch . Pidana lama --> H. . 497) : mengatur peralihan dari H.

berlaku 7/3/1942 • H. 1 Tahun 1942. Pidana formil yang mengalami banyak perubahan .Jaman Jepang • WvSI masih berlaku • Osamu Serei (UU) No.

Jaman Kemerdekaan (1) • UUD 1945 Ps. II Aturan Peralihan Segala Badan Negara dan Peraturan yang ada masih berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini .

Jaman Kemerdekaan (2) • UU No. 73 Tahun 1958 : “ Undang-undang tentang menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana untuk seluruh wilayah RI dan mengubah Kitab Undang-undang Hukum Pidana” . 1 Tahun 1946 : Penegasan tentang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia • Berlaku di Jawa-Madura (26/2/1946) • PP No. 8 Tahun 1946 : Berlaku di Sumatera • UU No.

SUMBER-SUMBER HUKUM PIDANA DI INDONESIA • KUHP (beserta UU yang merubah & menambahnya) • UU Pidana di luar KUHP • Ketentuan Pidana dalam Peraturan perundang-undangan non-pidana .

kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain • Buku II : Kejahatan (ps 104 – 488) • Buku III : Pelanggaran (ps 489 – 569) .KUHP • Buku I : Ketentuan Umum (ps 1 – ps 103) Pasal 103 Ketentuan-ketentuan dalam Bab I sampai Bab VIII buku I juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan perundang-undangan lainnya diancam dengan pidana.

154a • UU drt No. tambahan Ps 52a. 73/1958 : menyatakan UU No.XVI • UU No. 20/1946 : tambahan jenis pidana Ps 10 a KUHP --> pidana Tutupan • UU drt No.Beberapa UU yang merubah & menambah KUHP (1) • UU No. penghapusan beberapa pasal. 360 menjadi 5 Tahun penjara atau 1 tahun kurungan . 1/1946 berlaku di seluruh Indonesia. 1/1960 : menambah ancaman pidana dari Ps 188. 359. 142a.1/1946 : berlakunya KUHP. 8/1955 : menghapus Ps 527 • UU No. perubahan beberapa istilah. penambahan pasal-pasal baru : Bab IX .

4/1976 perubahan dan penambahan tentang Kejahatan penerbangan : Ps 3. 407 (1) • Perpu No. 373. 20/2001 : menghapus pasal-pasal tentang korupsi dari KUHP . 18/1960 : pidana denda dilipatgandakan 15 X • UU No. • UU No. 95b. denda 10 juta. Ps 303 bis pidana menjadi 4 tahun. 7/1974 : tambahan sanksi untuk judi Ps 303 menjadi 10 juta & denda 25 juta. 384. Ps 542 (1) menjadi Kejahatan.95c. 16/1960 : penambahan nilai terhadap beberapa kejahatan ringan : Ps 364. Ps 4 angka 4.Beberapa UU yang merubah & menambah KUHP (2) • Perpu No. 1/PNPS/1965 : tambahan Ps 156 a • UU No. 379. Bab XXIX A. • UU No. Ps 95a.

Pembaharuan Hukum Pidana RUU KUHP Nasional • Sejarah Penyusunan • Metode & Sumber penyusunan • Beberapa asas yg berubah • Tindak pidana2 baru • Pasal-pasal kontroversial .

UU Pidana di luar KUHP • UU Anti Subversi. UU No. UU No.P. 7/drt/1955 • Perpu 1/2002 UU 15/2003 Anti Terorisme • UU Money Laundering . 20/2001 jo UU No. 31/1999 • UU Tindak Pidana Ekonomi. 11/PNPS/1963 (Sudah dihapus) • UU Pemberantasan T. Korupsi. UU No.

Contoh UU non pidana yang memuat sanksi pidana • • • • • • • • • • UU Lingkungan UU Pers UU Pendidikan Nasional UU Perbankan UU Pajak UU Partai Politik UU pemilu UU Merek UU Kepabeanan UU Pasar Modal .

dll) . KUHP & UU yg merubah & menambahnya • H.TPK. Pidana militer 2. UU non pidana yg. Bersanksi pidana TPE. H. H. Berlaku 3. militer. umum (KUHP.Pidana non militer 2. H. TPE. Pidana Khusus 1.Pid. Pidana Umum 1. Pidana yg.TPS. H.Hukum Pidana Umum & Khusus • H. TPS.TPK.Pid. H. Fiskal 3.

kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada sebelumnya. (2) Jika ada perubahan dalam perundangundangan sesudah perbuatan dilakukan. maka terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yang paling menguntungkan .Pasal 1 KUHP (1) Tiada suatu perbuatan dapat dipidana. .

ASAS YG TERCAKUP DLM PASAL 1 (1) KUHP • Nullum delictum. tiada hukuman tanpa suatu peraturan yg terlebih dahulu menyebut perbuatan yang bersangkutan sebagai suatu delik dan yang memuat suatu hukuman yg dapat dijatuhkan atas delik itu . nulla poena sine praevia lege poenali : • Tiada delik.

Asas Larangan berlaku surut 3.Asas-asas dalam Pasal 1 ayat (1 ) KUHP 1. Asas Larangan penggunaan Analogi . Asas Legalitas 2.

ASAS LARANGAN BERLAKU SURUT • Undang-undang pidana berjalan ke depan dan tidak ke belakang : X --------.UU Pidana ------------- .

Larangan berlaku surut (dan pengecualiannya) dalam berbagai ketentuan
Nasional • Ps 28i UUD 1945 • Ps 18 (2) dan Ps 18 (3) UU No. 39 Tahun 1999 • Ps 43 UU No. 26 Tahun 2000 • Perpu 1/2002 & 2/2002 UU 15/2003 ; UU 16/2003

Internasional • Ps 15 (1) dan (2) ICCPR • Ps 22, 23, dan 24 ICC

Ps 28i UUD 1945
• “… hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.”

UU No. 39/ 1999 ttg HAM
• Ps 18 (2)
Setiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi pidana, kecuali berdasarkan suatu peraturan perundangundangan yang sudah ada sebelum tindak pidana itu dilakukan • Ps 18 (3)
Setiap ada perubahan dalam peraturan perundang-undangan maka berlaku ketentuan yang paling menguntungkan bagi tersangka

Terjadi sebelum diundangkannya UU ini. diperiksa dan diputus oleh pengadilan HAM ad hoc.UU No. DPR Indonesia mendasarkan pada dugaan telah terjadinya pelanggaran HAM yang berat yg dibatasi pada locus dan tempus delicti tertentu yg terjadi sebelum diundangkannya undangundang ini. (2) Pengadilan HAM ad hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk atas usul DPR Indonesia berdasarkan peristiwa tertentu dg. . • Penjelasan Ps 43 (2) “ Dalam hal DPR Indonesia mengusulkan dibentuknya Pengadilan HAM ad hoc. Keputusan presiden. Berat yg. 26/ 2000 ttg Pengadilan HAM (bisa berlaku surut ?) (1) Pelanggaran hak asasi manusia yg.

UU Anti Terorisme dan Putusan MK • MK membatalkan ketentuan berlaku surut dalam UU Anti Terorisme krn bertentangan dengan UUD 1945 .

PENAFSIRAN & ANALOGI • Penafsiran : Otentik Sistematis Gramatikal Historis Sosiologis Teleologis Ekstensif Penafsiran Ekstensif Vs Analogi ? • • Putusan HR 23 Mei 1921 (kasus pencurian listrik di Gravenhage) Putusan Rechtbank Leeuwarden. Zevenbergen. 10 Des 1919 (pencurian sapi) Taverne Vs para sarjana pidana lainnya (Van Hattum. Simons. Van Hamel) • .

Dalam kedua hal itu hakim membuat konstruksi .Pendapat Scholten (dan juga Utrecht) (1) • Pada hakekatnya tidak ada perbedaan antara penafsiran ekstensif dan analogi. Hakim membuat suatu kaidah yang lebih tinggi dan yang dapat dijadikan dasar beberapa ketentuan yang mempunyai kesamaan. • Mengambil = mengadakan suatu perbuatan yang bermaksud memindahkan sesuatu benda dari tangan yang satu ke tangan yang lain . Mis. yaitu membuat (mencari) suatu pengertian hukum yang lebih tinggi.

Pendapat Scholten (dan juga Utrecht) (2) • PENAFSIRAN EKSTENSIF • Hakim meluaskan lingkungan kaidah yang lebih tinggi sehingga perkara yang bersangkutan termasuk juga di dalamnya • ANALOGI • Hakim membawa perkara yang harus diselesaikan ke dalam lingkungan kaidah yang lebih tinggi .

228 . Teori : (1) Teori formil (2) Teori materiil terbatas (3) Teori materiil tidak terbatas • Paling menguntungkan ? …………. Hal ini tidak dapat ditentukan sec.Pasal 1 ayat (2) KUHP -+-----------+---------------+----> UU Perbuatan Perubahan UU • Perubahan UU ? ……………. Umum (in abstracto) • Periksa : Utrecht h.. • Terserah pada praktek & hanya dapat ditentukan untuk masing2 perkara sendiri (in concreto).

Perubahan UU yg dimaksud Pasal 1 (2) KUHP • Teori Formil :Ada perubahan undang-undang kalau redaksi undangundang pidana berubah (simons) ditolak oleh Putusan HR 3 Des 1906 . kasus ps 295 sub 2 KUHP. batas dewasa 23 21 tahun dlm BW Teori Materiil Terbatas : Tiap perubahan sesuai dg suatu perubahan perasaan (keyakinan) hukum pada pembuat undang-undang (jadi tidak boleh diperhatikan perubahan keadaan karena waktu) Teori Materiil tidak Terbatas : tiap perubahan – baik dalam perasaan hukum dari pembuat undang-undang maupun dalam keadaan karena waktu – boleh diterima sebagai suatu perubahan dalam undang-undang Sesuai HR 5 Des 1921 • • .

47 KUHP atau UU Pengadilan Anak .46.Tempus delicti penting diketahui dalam hal2 : • Kaitannya dg Ps 1 KUHP • Kaitannya dg aturan tentang Daluwarsa • Kaitannya dg ketentuan mengenai pelaku tindak pidana anak : Ps 45.

Teori bekerjanya alat yg digunakan (de leer van het instrumen) • 3. Teori Akibat (de leer van het gevolg) • 4. Teori Perbuatan fisik (de leer van de lichamelijke daad) • 2. Teori waktu yg jamak (de leer van de meervoudige tijd) .Teori2 Tempus Delicti • 1.

Teori Perbuatan fisik (de leer van de lichamelijke daad) • 2. Teori Tempat yg jamak (de leer van de meervoudige tijd) . Teori Akibat (de leer van het gevolg) • 4.Teori2 Locus Delicti • 1. Teori bekerjanya alat yg digunakan (de leer van het instrumen) • 3.

Indonesia atau H. negara lain • Kompetensi relatif suatu pengadilan .H.contoh : PN Jakarta Selatan atau PN Bogor .Locus delicti penting diketahui dalam hal2 : • Hukum pidana mana yang akan diberlakukan .

Simons : Bergantung sifat dan corak perkara konkret yang hendak diselesaikan • Hazewinkel-Suringa.Teori mana yg dipilih ? • Van Hamel. Noyon-Langemejer : Mempergunakan 3 teori sec teleologis • Periksa buku Utrecht hal 239 . Zevenbergen.

racun --> ----diminum ---> ----.mati A --> B B B Meervoudige locus delicti •Hakim diberi kemerdekaan memilih diantara 3 locus delicti ini •Lihat --> Keputusan Hoge Raad 2/1/1923 w.1108 .Nr.Surabaya Semarang Cirebon ---.

2 dan 4 --> Ps 8 KUHP . uang kertas negara atau uang kertas Bank” . 4/1976 .Asas2 Berlakunya Hukum Pidana (1) • Asas Teritorialitas/ wilayah : Ps 2 --> Ps 3 KUHP --> Ps 95 KUHP . 7/ drt/ 1955 Lihat Ps 16 UU 31/1999 • Asas Personalitas/ Nasionalitas Aktif : Ps 5 KUHP --> Ps 7 KUHP --> Ps 92 KUHP • Asas Universalitas : Ps 4 :2 . UU No. UU No 4/1976 • Asas Nasionalitas Pasif/ perlindungan : Ps 4 :1. Ps 1 UU 4/ 1976 “melakukan kejahatan ttg mata uang. Ps 4 sub 4 . Ps 3 UU No.

Pidana : Beberapa masalah ! • Wilayah Indonesia ? • Kapal : a) kapal Indonesia b) kapal perang c) kapal dagang • Prinsip ius passagii innoxii • Asas Universalitas : .Kejahatan HAM berat ? .Kejahatan Terorisme ? .Asas2 berlakunya H.

resmi.Asas2 Berlakunya H. bukan incognito/singgah) 2) Duta negara asing & keluarganya --> konsul : tergantung traktat antar negara.pidana : Sesuai perjanjian Wina 18/4/1961 Yg memiliki imunitas : 1) Kepala-kepala negara & keluarganya (sec.4. Pidana : Pengecualian (2) • Ps 9 KUHP : Hukum publik internasional membatasi berlakunya Ps 2. 3) Anak buah kapal perang asing : termasuk awak kapal terbang militer 4) Pasukan negara sahabat yg berada di wilayah negara atas persetujuan negara • • .3.5. 7. dan 8 KUHP Termasuk yg memiliki imunitas h.

& jenis2 Tindak Pidana • Subyek Tindak Pidana • Cara merumuskan & Unsur-unsur Tindak Pidana .Tindak Pidana (1) • Istilah. Definisi.

Tindak Pidana (2) Istilah • • • • • • • Strafbaar feit Perbuatan pidana Peristiwa pidana Tindak pidana Delict / Delik Criminal act Jinayah .

. jadi suatu kelakuan manusia yg pada umumnya dilarang & diancam dengan pidana” • Aliran Monistis ………. . • Aliran Dualistis ………….Tindak Pidana (3) • Simons : “kelakuan yg diancam dg pidana... melawan hukum. yg bersifat melawan hukum yg berhubungan dg kesalahan & dilakukan oleh orang yg mampu bertanggung jawab” Definisi • Van Hamel : “kelakuan manusia yg dirumuskan dalam UU. yg patut dipidana & dilakukan dg kesalahan” • Vos : “suatu kelakuan manusia yg oleh per UU an diberi pidana.

Delik Berprivilege Delik Politik & Delik Komun (umum) Delik Propia & Delik Komun (umum) Pembagian delik menurut kepentingan yg dilindungi : Lihat judul-judul bab pada Buku II dan Buku III KUHP .Tindak Pidana (4) Pembagian Tindak Pidana (Jenis Delik) • • • • • • • • • • • • Delik Kejahatan & Delik pelanggaran Delik Materiil & Delik Formil Delik Komisi & Delik Omisi Delik Dolus & Delik Culpa Delik Biasa & Delik Aduan Delik yg Berdiri sendiri & Delik Berlanjut Delik Selesai & Delik yg diteruskan Delik Tunggal & Delik Berangkai Delik Sederhana & Delik Berkualifikasi.

Jenis Delik (1) Kejahatan (misdrijf) • dlm. hanya perbedaan kuantitatif • Pelanggaran (overtreding) dlm MvT : baru dianggap tidak baik setelah ada UU (wet delicten) Perbedaan dg kejahatan: • • a) Percobaan : dipidana b) Membantu : dipidana c) Daluwarsa : lebih panjang d) Delik aduan : ada e) Aturan ttg Gabungan berbeda a) Percobaan : tidak dipidana b) Membantu : tidak dipidana c) Daluwarsa : lebih pendek d) Delik aduan : tidak ada e) Aturan ttg Gabungan berbeda • KUHP : Buku II • KUHP : Buku III . MvT : sebelum ada UU sudah dianggap tidak baik (recht-delicten) Hazewinkel-Suringa : tidak ada perbedaan kualitatif.

Ps 360 . Culpa : Delik dilakukan dg kealpaan. Materiil : Yang dirumuskan akibatnya --> Ps 338. Ps 187. Ps 263. Ps 164. mis Ps 194 KUHP • • D.Jenis Delik (2) • • D. Ps 224 KUHP b) D. dll D. Ps 338. Komisi : melanggar • larangan dg perbuatan aktif D. mis. Dolus : delik dilakukan dg • sengaja. Formil : yang dirumuskan bentuk perbuatannya --> Ps 362. mis. Ps 359. Omisi tak murni : melanggar larangan dg tidak berbuat. dll D. Omisi : melakukan delik dg perbuatan pasif a) D. mis. Omisi murni : melanggar perintah dg tidak berbuat. Ps 351 D.

Ps 340. Ps 285 • D. Ps 284 .Jenis Delik (3) • D. mis. Biasa : penuntutannya tidak memerlukan pengaduan. mis. Ps 310. Aduan : penuntutannya memerlukan pengaduan.

penjara.P. Korupsi • Draft RUU KUHP • adanya kebutuhan untuk memidana korporasi • Korporasi ? • Badan hukum ? .” b) hukuman : mati. kurungan. dll (Ps 10 KUHP) c) Hukum Pidana disandarkan pada kesalahan orang • Korporasi • UU TPE • UU Pemberantasan T.Tindak Pidana (5) Subyek • Manusia (natuurlijk personen) a) syarat merumuskan : “Barangsiapa ….

Ps 351 • disebutkan unsur-unsurnya. Ps 209 . Ps 362 KUHP • disebutkan kualifikasinya tanpa disebut unsur-unsurnya --> mis. Ps 297. Ps 106. Ps 184. Ps 167. tidak disebut kualifikasinya --> mis.Tindak Pidana (6) Cara Merumuskan Tindak Pidana • Disebutkan unsur-unsurnya & disebut kualifikasinya --> mis.

Secara melawan hukum 2. bagian2 lain yg menentukan dapat dikenakan pidana (syarat tambahan. Dapat dipersalahkan 3. Bagian subyektif : kesalahan. rencana. yg apabila dipenuhi membuat tingkah laku menjadi tindakan yg melawan hukum 1. Bagian yg mempertinggi dapatnya dikenakan pidana Tindak Pidana (6) Unsur-unsur (van Bemmelen) • Di luar perumusan (unsur) : syarat dapat dipidana 1. Dapat dipertanggungj awabkan . Tingkah laku yg dilarang 2. sebanyak itu pula. niat. kausalitas.• • • Di dalam perumusan (bagian) dimuat dalam surat dakwaan semua syarat yg dimuat dalam rumusan delik merup-akan bagian-bagian. keadaan) 4. Bagian obyektif : secara melawan hukum. tujuan. maksud. ketakutan 3.

Tindak Pidana (7) Unsur-unsur (Prof. unsur melawan hukum yg subyektif . hal ikhwal atau keadaan yg menyertai perbuatan • c. unsur melawan hukum yg obyektif • e. keadaan tambahan yg memberatkan • d. Moeljatno) • a. kelakuan dan akibat ( = perbuatan) • b.

Unsur Subyektif .akibat . Unsur Obyektif .dapat dipertanggungjawab kan .melawan hukum .secara melawan hukum .dapat dipersalahkan .perbuatan (aktif/pasif) .Tindak pidana (8) Unsur-unsur • Unsur2 dalam perumusan A.kesalahan : (a) sengaja (b) kealpaan .keadaan B.syarat tambahan .keadaan • Unsur2 di luar perumusan .

yg sebagian/ seluruhnya kepunyaan orang lain dengan maksud memiliki secara melawan hukum • • Pasal 338 KUHP • barangsiapa • dengan sengaja • menghilangkan nyawa orang lain .Contoh unsur2 dalam rumusan tindak pidana (1) Pasal 362 KUHP • • • barangsiapa mengambil barang .

Contoh unsur2 dalam rumusan tindak pidana (2) Pasal 285 • • • • barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa Pasal 259 • barangsiapa • karena kealpaannya • menyebabkan orang lain mati • seorang wanita • bersetubuh dengan dia • di luar perkawinan .

Contoh unsur2 dalam rumusan tindak pidana (3) • Pasal ……. • Pasal …... .

Arti luas : Dolus & culpa • 3. Arti sempit : culpa .KESALAHAN Pengertian • 1. Dapat dipersalahkan • 2.

maka dari itu ia menyesuaikan perbuatannya dengan akibat itu” .1886) • Teori2 “sengaja” : (a) teori kehendak (wils theorie) “ opzet ada apabila perbuatan & akibat suatu delik dikehendaki si pelaku” (b) teori bayangan (voorstellings-theorie) “opzet ada apabila si pelaku pada waktu mulai melakukan perbuatan. ada bayangan yg terang bahwa akibat yg bersangkutanakan tercapai.Dolus/ opzet/ sengaja (1) • Apakah sengaja itu ? Sengaja = willens (dikehendaki) en wetens (diketahui) (MvT.

263 KUHP niat : Ps 53 KUHP dengan rencana lebih dahulu : Ps 340. (b) berpikir dg tenang. ( c ) direnungkan lebih dahulu. 378. . 355 KUHP .ada tenggang waktu antara timbulnya niat dengan pelaksanaan delik .Dolus/ opzet/ sengaja (2) istilah2 dalam rumusan tindak pidana • • • • • • Dengan sengaja : Ps 338 KUHP Mengetahui bahwa : Ps 220 KUHP tahu tentang : Ps 164 KUHP dengan maksud : Ps 362.dengan rencana : (a) saat pemikiran dg tenang .

Dolus/ opzet/ sengaja (3) Macam2 opzet • Sengaja sebagai maksud/ tujuan (opzet als oogmerk) • Sengaja sebagai kesadaran (keinsyafan) kepastian (opzet bij zekerheidsbewustzijn) • Sengaja sebagai kesadaran (keinsyafan) kemungkinan (opzet bij mogelijkheids-bewutzijn) .

pembuat sadar bahwa mungkin akibat yg tidak dikehendaki akan terjadi untuk mencapai akibat yg dimaksudnya • 2 macam sengaja sbg keinsyafan kemungkinan ( Hazewinkel-Suringa) : (a) sengaja dg kemungkinan sekali terjadi (b) sengaja dg kemungkinan terjadi / sengaja bersyarat/ dolus eventualis .pembuat yakin bahwa akibat yg dimaksudkannya tidak akan tercapai tanpa terjadinya akibat yg tidak dimaksud • Sengaja sebagai keinsyafan kemungkinan: .apabila pembuat menghendaki akibat perbuatannya.Dolus/opzet/sengaja (4) macam 2 opzet • Sengaja sebagai maksud/ tujuan : . .tidak dilakukan perbuatan itu jika pembuat tahu akibat perbuatannya tidak terjadi (Vos) • Sengaja sebagai keinsyafan kepastian : .

resiko akan timbulnya akibat atau keadaan disamping maksudnya itu pun diterima • Prof. Moeljatno : “teori apa boleh buat” : kalau resiko yg diketahui kemungkinan akan adanya itu sungguh-sungguh timbul (disamping hal yg dimaksud). dia juga berani pikul resiko .Dolus/ opzet/ sengaja (5) Dolus eventualis • Teori “inkauf nehmen” : untuk mencapai apa yang dimaksud . apa boleh buat.

culpa .kealpaan .nalatigheid .schuld .kelalaian .kesalahan .sepatutnya diketahuinya .Culpa (1) Istilah2 • • Culpa (dalam arti luas) : berarti kesalahan pada umumnya Culpa (dalam arti sempit) : bentuk kesalahan yg berupa kealpaan • Istilah2 : .teledor • istilah 2 yg digunakan dalam rumusan : .sembrono .seharusnya diketahuinya .

2) tidak berhati-hati sebagaimana diharuskan hukum ( c) Simons : pada umumnya “schuld” (kealpaan) mempunyai 2 unsur : 1) tidak berhati-hati.Culpa (2) pengertian. 2) kekurangan berhati-hati (b) van Hamel : 1) tidak menduga-duga sebagaimana diharuskan hukum. culpa lata (b) culpa yg disadari (bewuste) : culpa yg tidak disadari (on bewuste) • Syarat adanya kealpaan : (a) Hazewinkel-Suringa : 1) kekurangan menduga-duga. syarat • KUHP : tidak ada definisi • MvT : kealpaan di satu pihak berlawanan benar2 dg kesengajaan dan di fihak lain dengan hal yg kebetulan • Macam2 Culpa : (a) culpa levis . . jenis. 2) dapat diduganya akibat.

KESALAHAN Beberapa masalah !
• Apa beda dolus eventualis dg culpa yg disadari ? • Apa yg dimaksud dg : (a) pro parte dolus proparte culpa (b) dolus directus; dolus indirectus (c ) dolus determinatus; dolus indeterminatus (d) dolus premeditatus; dolus repentinus (e) dolus malus • Di Indonesia sebagaimana di Belanda dianut pendapat bahwa sengaja itu tidak berwarna. Apa maksudnya ?

KAUSALITAS
• 1. Pengertian ? • 2. Kapankah diperlukan ajaran kausalitas ? • 3. Ajaran Kausalitas ? Ilustrasi : B pinjam uang ke rumah A, karena kedatangan B, maka A terlambat ; karena terlambat A mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi; A menubruk C sehingga lukaluka; C dibawa ke RS dan dioperasi oleh dokter D; D meminta E merawat dengan suntikan tertentu; E salah memberikan obat pada C; C mati.

Pengertian Kausalitas
• • • • Hal sebab-akibat Hubungan logis antara sebab dan akibat Persoalan filsafat yang penting Setiap peristiwa selalu memiliki penyebab sekaligus menjadi sebab peristiwa lain • Sebab dan akibat membentuk rantai yang bermula di suatu masa lalu • Yang menjadi fokus perhatian ahli hukum pidana (bukan makna di atas), tetapi makna yang dapat dilekatkan pada pengertian kausalitas agar mereka dapat menjawab persoalan siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban atas suatu akibat tertentu

dimana perbuatan tersebut kadang tercakup dan kadang tidak tercakup sebagai unsur dalam perumusan delik. ia sesungguhnya harus menjamin bahwa suatu akibat tertentu tidak timbul. mis. Ps 351 (1) (2)/ Ps 351 (3) . Ps. • Delik yang terkualifikasi/dikwalifisir : tindak pidana yang karena situasi dan kondisi khusus yang berkaitan dengan pelaksanaan tindakan yang bersangkutan atau karena akibat-akibat khusus yang dimunculkannya.Kapankah diperlukan ajaran Kausalitas ? • Delik Materiil : perbuatan yang menyebabkan konsekuensikonsekuensi tertentu. Ps 359. Ps 360 • Delik Omisi tak murni/semu (delicta commissiva per omissionem/ Oneigenlijke Omissiedelicten) : Pelaku tidak melakukan kewajiban yang dibebankan padanya dan dengan itu menciptakan suatu akibat yang sebenarnya tidak boleh ia ciptakan. Ia sekaligus melanggar suatu larangan dan perintah. diancam dengan sanksi pidana yang lebih berat ketimbang sanksi yang diancamkan pada delik pokok tersebut. (pengkualifikasian delik juga dapat dilakukan atas dasar akibat yang Ps 351 muncul setelah delik tertentu dilakukan. mis. 338.

Ajaran Kausalitas • Conditio Sine Qua Non/ Ekuivalensi (Von Buri) • Teori-teori Individualisasi / Causa Proxima : Birkmeyer . Rumelink) • Teori Relevansi : Langemeyer . Pompe. Mulder • Teori-teori menggeneralisasi : teori Adekuat (Von Kries. Simons.

Harus dianggap causa (sebab) akibat itu. • Semua syarat nilainya sama (ekuivalensi) • Ada beberapa sebab • Syarat = sebab . yang turut serta menyebabkan suatu akibat dan yang tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor ybs.Ajaran Conditio Sine Qua Non • Semua faktor yaitu semua syarat.

Pembatasan Ajaran Von Buri • Pembatasan ajaran Von Buri oleh Van Hamel [dibatasi dg ajaran kesalahan (dolus/culpa)] • Pengkesampingan semua sebab yang terletak di luar dolus atau culpa. maka solusinya harus dicari dengan bantuan alasan atau dasar-dasar yang meniadakan pidana. dalam banyak kejahatan dolus atau culpa merupakan unsurunsur perumusan delik. • Jika hal itu bukan merupakan unsur delik. .

Teori-teori Individualisasi / Causa Proxima • Birkmeyer : Teori ini berpangkal dari teori Conditio Sine Qua Non . Di dalam rangkaian syarat-syarat yang tidak dapat dihilangkan untuk timbulnya akibat. yang paling banyak membantu untuk terjadinya akibat.E Mulder : • Sebab adalah syarat yang paling dekat dan tidak dapat dilepaskan dari akibat. • G. lalu dicari syarat manakah yang dalam keadaan tertentu itu. .

Yang dipersoalkan adalah apakah satu syarat yang secara umum dapat dipandang mengakibatkan terjadinya peristiwa seperti yang bersangkutan mungkin ditemukan dalam rangkaian kausalitas yang ada .Teori-teori menggeneralisasi (1) • Von Bar : teori ini tidak menyoal tindakan mana atau kejadian mana yang in concreto memberikan pengaruh (fisik/psikis) paling menentukan.

Teori-teori menggeneralisasi (2) • Von Kries (Teori Adequat Subjectif) : Sebab adalah keseluruhan faktor positif & negatif yang tidak dapat dikesampingkan tanpa sekaligus meniadakan akibat. Apakah suatu tindakan memiliki kecenderungan memunculkan akibat tertentu hanya dapat diselesaikan apabila kita memiliki 2 bentuk pengetahuan : (a) hukum umum probabilitas dalam peristiwa yg terjadi / pengetahuan Nomologis yg memadai (b) situasi faktual yg melingkupi peristiwa yg terjadi/ pengetahuan Ontologis/ pemahaman fakta (empirik) • . atau secara objectif memperbesar kemungkinan munculnya akibat tersebut. tetapi dinilai dari makna semua itu secara umum. Sebab = syarat-syarat yang dalam situasi dan kondisi tertentu memiliki kecenderungan untuk memunculkan akibat tertentu. biasanya memunculkan akibat itu. Namun pembatasan demi kepentingan penetapan pertanggungjawaban pidana tidak dicari dalam nilai kualitatif/kuantitatif atau berat/ringannya faktor dalam situasi konkret. kemungkinan dari faktor-faktor tersebut untuk memunculkan akibat tertentu.

entah diketahuinya atau tidak – jadi pada apa yang kemudian terbukti merupakan situasi dan kondisi yang melingkupi peristiwa tersebut. melainkan pada fakta yang objektif pada waktu itu ada. harus (perlu) ada untuk terjadinya akibat. Ihwal probabilitas tidak berdasarkan pada apa yang diketahui atau mungkin diketahui pada waktu melakukan tindakannya.Teori-teori menggeneralisasi (3) • Rumelink (Teori Adequat Objectif) : Faktor yang ditinjau dari sudut objektif . Simons : Sebab adalah tiap-tiap kelakuan yang menurut garis-garis umum pengalaman manusia dapat menimbulkan akibat Pompe : Sebab adalah hal yang mengandung kekuatan untuk dapat menimbulkan akibat • • .

yakni yang kiranya dimaksudkan sebagai sebab oleh pembuat undang-undang. . yang dipilih sebab-sebab yang relevan saja .Teori Relevansi • Langemeijer Teori ini ingin menerapkan ajaran von Buri dengan memilih satu atau lebih sebab dari sekian yang mungkin ada.

Sifat Melawan Hukum • Arti : .aliran formil : melawan hukum = melawan UU. -aliran materiil : melawan hukum adalah perbuatan yg oleh masyarakat tidak dibolehkan.tanpa alasan yg wajar . .Bertentangan dengan hukum positif • Melawan hukum : formil & materiil . sebab hukum adalah UU.bertentangan dg hak orang lain (tegen eens anders recht) .tanpa hak sendiri (zonder eigen recht) .

hanya jika dalam rumusan delik disebutkan dengan nyatanyata barulah menjadi unsur delik • • . 49. Ps. juga bagi yang dalam rumusannya tidak menyebut unsur-unsur tersebut Formil : sifat tersebut tidak selalu menjadi unsur delik.Perbedaan Ajaran Materiil dan Formil • Materiil : mengakui adanya pengecualian / penghapusan dari sifat melawan hukumnya perbuatan menurut hukum yang tertulis dan yang tidak tertulis Formil : hanya mengakui pengecualian yang tersebut dalam undangundang saja/ mis. • Materiil : sifat melawan hukum adalah unsur mutlak dari tiap-tiap tindak pidana.

jika tidak dinyatakan maka tidak perlu dibuktikan. ini tidak berarti bahwa karena itu harus selalu dibuktikan adanya unsur tersebut oleh penuntut umum • Soal apakah harus dibuktikan atau tidak.Pembuktian Melawan Hukum • Dengan mengakui bahwa sifat melawan hukum selalu menjadi unsur delik. . adalah tergantung dari rumusan delik yaitu apakah dalam rumusan unsur tersebut disebutkan nyata-nyata.

Alasan Pencantuman unsur Melawan Hukum • Pada umumnya dalam perundang-undangan . lebih banyak delik yang tidak memuat unsur melawan hukum dalam rumusannya • Alasan pencantuman sifat melawan hukum dalam perumusan tindak pidana : .untuk melindungi orang2 yg memiliki hak dari tuntutan pidana. .

kecuali jika dibuktikan sebaliknya oleh pihak terdakwa. maka unsur itu dianggap diam-diam telah ada. .Konsekuensi aliran Materiil • Apakah konsekuensi ajaran bahwa sifat melawan hukum selalu menjadi unsur tiaptiap delik ? Jika unsur melawan hukum tidak tersebut dalam rumusan delik.

Mis. semuanya mesti dibaca “dengan sengaja dan melawan hukum” Remelink. van Bemmelen : kata penghubung “dan” tidak mempunyai arti. simons. zevenbergen. jadi istilah “dengan sengaja” meliputi pula “melawan hukum. Ps 333 KUHP : dengan sengaja melawan hukum Vos. pompe : perbedaan itu mempunyai arti. langemeijer : tiadanya kata “dan” tidak berarti apa2. Ps 406 KUHP : dengan sengaja dan melawan hukum .Arti “dan” diantara unsur dengan sengaja & unsur melawan hukum • Van Hamel.” • • .

bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. (2) Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan. dan tidak selesainya pelaksanaan itu.PERCOBAAN (POGING) • PASAL 53 (1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana. (3) Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup. dalam hal percobaan dikurangi sepertiga. (4) Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan kejahatan selesai. • Pasal 54 Mencoba melakukan pelanggaran tidak dipidana . dijatuhkan pidana penjara paling lama 15 tahun.

POGING (PERCOBAAN) • • • • • • • • • “Permulaan kejahatan yang belum selesai” Poging bukan suatu delik. tetapi poging dilarang dan diancam hukuman oleh undang-undang Poging adalah perluasan pengertian delik Suatu perbuatan dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang sebab perbuatan itu melanggar kepentingan hukum atau membahayakan kepentingan hukum KUHP tidak memberi perumusan/ definisi Harus diketahui kapan suatu delik dianggap selesai Delik selesai berbeda antara delik formil dan delik materiil Pada delik formil : delik selesai apabila perbuatan yang dilarang telah dilakukan Pada delik materiil : delik selesai apabila akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang telah timbul atau terjadi .

Percobaan Menurut KUHP: • Percobaan sebagai Suatu Delik yang Telah Selesai (voltooid delict) • Percobaan Melakukan Tindak Pidana yang Tidak Dilarang • Percobaan Melakukan Pelanggaran • Percobaan terhadap Delik Kealpaan .

.

Percobaan sebagai Suatu Delik yang Telah Selesai (voltooid delict) • Pasal 104-107. 139c KUHP • Pasal 250. 125. 261. 275 KUHP . 139a dan 139b KUHP • Pasal 110. 116.

Pasal 351 ayat 5 dan 352 ayat 2 KUHP 3. Pasal 184 KUHP) 2.Percobaan Melakukan Tindak Pidana yang Tidak Dilarang 1. Pasal 302 ayat 4 KUHP) .

Percobaan Menurut Doktrin • Percobaan yang Tidak Sempurna (Ondeugdelijk Poging) • Percobaan yang Dikualifisir (Gequalificeerde Poging) • Percobaan yang Ditangguhkan (Geschorste Poging) • Percobaan yang Selesai / Sempurna (Voleindigde Poging) .

bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri .Syarat Percobaan yg dapat dipidana • Niat • Permulaan Pelaksanaan • Tidak selesainya pelaksanaan itu.

yaitu kehendak melakukan kejahatan • Karena ada 3 macam opzet.NIAT “Voornemen” • Menurut doktrin dan yurisprudensi :”voornemen” harus ditafsirkan sebagai kehendak. “willen” atau “opzet” • Seseorang harus mempunyai kehendak. apakah opzet di sini harus dtafsirkan dalam arti luas atau hanya opzet dalam arti pertama (sebagai “ogmerk” atau tujuan) ? .

Permulaan Pelaksanaan • “Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan pelaksanaan” een begin van uitvoering • Harus ada suatu perbuatan(handeling) • apa yang dimaksud “perbuatan sebagai permulaan pelaksanaan” ? • Undang-undang tidak merumuskan pelaksanaan atau”uitvoering” dan bagaimana bentuknya • Perlu digunakan penafsiran .

bukan sematamata disebabkan karena kehendaknya sendiri” maka secara sistematis maka ditafsirkan sebagai “pelaksanaan kejahatan” TEORI POGING OBYEKTIF . jika dihubungkan dengan anak kalimat berikutnya “… tidak selesainya pelaksanaan itu. harus dihubungkan dengan kata yang mendahuluinya yaitu “voornemen”/ niat/kehendak Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan pelaksanaan.Pelaksanaan Kehendak atau Pelaksanaan Kejahatan ? • Secara gramatika. Jadi : pelaksanaan itu ditafsirkan sebagai “pelaksanaan kehendak” TEORI POGING SUBYEKTIF • Tetapi.

A membawa senjata api ke rumahnya d. yaitu : a. A pergi ke tempat penjualan senjata api b. A mengarahkan senjata kepada B i. A melepaskan tembakan ke arah B . A mengisi senjata itu dengan peluru h. A menyiapkan sebjata apinya dengan membungkusnya rapatrapat f. A harus melakukan beberapa perbuatan.CONTOH KASUS • • • • • • • • • • A menghendaki untuk membunuh B . A membeli senjata api c. A berlatih menembak e. Sesampai di rumah B. A menuju rumah B g. untuk melaksanakan maksudnya.

Menurut Teori Poging Obyektif : perbuatan a f belum merupakan “permulaan pelaksanaan” karena semua perbuatan itu “belum membahayakan kepentingan hukum si B .MANA YANG MERUPAKAN PELAKSANAAN ? APAKAH TIAP2 PERBUATAN DALAM KASUS TSB DAPAT DIHUKUM ? • 1. Menurut Teori Poging Subyektif : perbuatan a sudah merupakan “permulaan pelaksanaan” karena telah menunjukkan “kehendak yang jahat” • 2.

53 ayat 3) • • .Contoh Percobaan Pembunuhan Berencana • KASUS A bermaksud menghabisi nyawa B dengan meletakkan bom di mobil B. PASAL YG DIDAKWAKAN Pasal 340 jo Pasal 53 KUHP ( Percobaan pembunuhan berencana) ANCAMAN PIDANA 15 tahun penjara (lihat Ps. Bom meledak sebelum B masuk mobil dan mengakibatkan B luka-luka parah.

tindakan atau perbuatan persiapan (belum dapat dihukum) • 2. pertanyaannya : mana yang merupakan “perbuatan persiapan” dan mana yang merupakan “perbuatan pelaksanaan” ? .PEMBATASAN TERHADAP TEORI SUBYEKTIF • Perbuatan dibedakan : • 1. tindakan atau perbuatan pelaksanaan (sudah dapat dihukum) • Tetapi.

Pompe : ada “permulaan pelaksanaan” apabila suatu perbuatan yang bagi orang normal memungkinkan terjadinya suatu delik. • Pada delik formil apabila perbuatan itu merupakan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU. apabila perbuatan itu merupakan sebagian dari perbuatan yang dilarang.PENDAPAT PARA AHLI DALAM MASALAH TSB 1. .Vos : ada “permulaan pelaksanaan” apabila perbuatan itu mempunyai sifat terlarang terjadap suatu kepentingan hukum.Simons melihat dari jenis deliknya : delik materiil atau delik formil. 4.Van Hamel : “apabila dari perbuatan itu telah terbukti kehendak yang kuat dari si pelaku untuk melaksanakan perbuatannya” 2. jika ada beberapa unsur maka jika sudah melakukan salah satu unsur • Pada delik materril apabila perbuatan itu dianggap sebagai perbuatan yang menurut sifatnya adalah sedemikian rupa . sehingga secara langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU 3.

perbuatan itu baru dianggap sebagai permulaan pelaksanaan apabila disamping perbuatan itu tidak dibutuhkan lagi perbuatan-perbuatan yang lain untuk menyelesaikan kejahatan. .Pendapat Hoge Raad Ada “permulaan pelaksanaan” apabila antara perbuatan yang dilakukan dan kejahatan yang dkehendaki oleh seseorang itu terdapat hubungan erat langsung. yaitu apabila seorang melakukan sesuatu perbuatan untuk melaksanakan kejahatan .

namun tidak berhasil disebabkan alat (sarana) tidak sempurna atau obyek (sasaran) tidak sempurna. Tidak sempurna : mutlak atau relatif .Macam2 Percobaan (Doktrin) • Percobaan yg Sempurna : Voleindigde Poging --> apabila seseorang berkehendak melakukan kejahatan. tetapi kurang satu perbuatan ia terhalang oleh suatu hal • Percobaan yg Tidak Sempurna : Ondeugdelijke Poging --> apabila seseorang berkehendak melakukan suatu kejahatan. dimana ia telah melakukan semua perbuatan yg diperlukan bagi selesainya kejahatan. tetapi kejahatan tidak selesai karena suatu hal • Percobaan yg Tertangguh : Geschorte Poging --> apabila seseorang berkehendak melakukan kejahatan. ia telah melakukan beberapa perbuatan yg diperlukan bagi tercapainya kejahatan. ia telah melakukan semua perbuatan yg diperlukan bagi selesainya kejahatan.

melakukan .membantu melakukan Pengertian & syarat Pertanggung jawaban masing-masing Penyertaan mutlak perlu Tindak pidana dg alat cetak • • • • .menggerakkan untuk melakukan .turut serta melakukan .menyuruh melakukan .Penyertaan (1) (Deelneming) • • • Pengertian penyertaan Saat terjadinya Macam/ bentuk .

maksimum dikurangi : a.Penyertaan : turut sertanya seorang atau lebih pada waktu seorang lain melakukan suatu tindak pidana (Wirjono. pembujuk --> dipidana sebagaimana pelaku • Ps 56. penjara --> dikurangi 1/3 b. penyuruh c. pembantu ---> ancaman pidana berbeda dg pelaku . mati/ seumur hidup --> maks 20 tahun . turut serta d. pelaku b.57 KUHP e.P) • Ps 55 KUHP a.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->