MAKALAH USHUL FIQIH (SEDERHANA

)
Hai sahabat blogger,,,,nih gue postingkan hasil makalh usuhl fiqih untuk mahasiswa semester V jurusan PAI,,,,,mohon maaf jika dalam isi postingan ini terdapat banyak kesamaan dan kekurangan dari sumbernya,,,mohon doa restunya,,,,,

ALITAN-ALIRAN DALAM USHUL FIQH BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam sejarah panjang perkembangan fiqh dikenal dua aliran ushul fiqh yang berbeda. Perbedaan ini muncul akibat perbedaan dalam membangun teori ushul fiqh, yang masing-masing digunakan dalam menggali hukum Islam. Perbedaan-perbedaan yang terjadi tersebut diakibatkan oleh berbedanya pendapat dalam membangun ushul fiqh. Ada aliran yang mengkaji ushul fiqh secara teoritis tanpa terpengaruh dengan masalah-masalah furu‟. Banyak imam-imam yang tidak sependapat dengan hal ini sehingga terjadilah penafsiran yang berbeda dengan kajian teoritis tersebut. Demikian juga selanjutnya, banyak pula terjadi pertentangan-pertentangan akibat ketidaksependapatan dari masing-masing imam yang akhirnya muncullah aliran-aliran dalam ushul fiqh yang perlu lebih dalam lagi. Untuk itu penulis akan mengkaji tentang “Aliran-aliran dalam Ushul Fiqh “ sebagai karya tulis. 1.2 Rumusan Masalah Secara umum, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah aliranaliran dalam ushul fiqih ini bisa terbagi. Secara khusus, masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut; (a) Mengapa aliran dalam ushul fiqih bisa terjadi?; dan (b) Bagaimana bentuk pemikiran aliran dalam ushul fiqih?

biasanya dikemukakan para ahli ushul fiqh berkaitan dengan pembahasan hakim (pembuat hukum). yaitu al-Mankhul min Ta‟liqat al-Ushul. dan al-Mustashfa fi ‟Ilm al-Ushul. Dalam membangun teori. karena ijma‟ yang dia terima hanyalah ijma‟ para sahabat secara jelas. sehingga teori tersebut adakalanya sesuai dengan furu‟ dan ada kalanya tidak. Imam al-Amidi (ahli ushul fiqh Syafi‟i). masalah tahsm (menganggap sesuatu perbuatan itu baik dan dapat dicapai oleh akal atau tidak) dan taqbih (menganggap sesuatu itu buruk dan dapat dicapai oleh akal atau tidak). disusun Abu al-Husain Muhammad ibn All al-Bashri (wafat 463 H). Sekalipun kitab ushul fiqh dalam aliran Syafi'iyyah/Mutakallimin cukup banyak. Misalnya. aliran ini menetapkan kaidah-kaidah dengan alasan yang kuat. tetapi yang menjadi sumber dan standar dalam aliran ini adalah kitab ushul fiqh tersebut di atas. teori yang dibangun aliran Syafi‟iyyah/Mutakallimin sering tidak membawa pengaruh pada keperluan praktis. Landasan Teori Aliran Syafi’iyyah dan Jumhur Mutkallimin (ahli kalam) Aliran ini membangun ushul fiqh mereka secara teoritis. seperti yang dikemukakan al-Amidi di atas. disusun Imam al-Haramain alJuvaini (wafat 487 H). dapat dijadikan kaidah. dan tiga rangkaian kitab ushul fiqh Imam Abu Hamid al-Ghazali (450505 H/1085-1111 H). kitab al-Mu‟tamad. baik dari naqli[2] maupun dari „aqli (akal pikiran). Imam al-Amidi dan Imam al-Qarafi (ahli ushul fiqh Maliki). Pem bahasan seperti ini. tanpa terpengaruh oleh masalah-masalah furu‟[1]. Imam al-Syafi‟i sendiri tidak mengakui keabsahan ijma‟ sukuti sebagai hujjah. menyatakan bahwa ijma‟ al-Sukuti dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum Islam.BAB II PEMBAHASAN A. Setiap permasalahan yang diterima akal dan didukung oleh dalil naqli. Sesuai dengan namanya. kitab al-Burhanfi Ushul al-Fiqh. baik kaidah itu sejalan dengan furu‟ mazhab maupun tidak. sehingga terdapat pertentangan dengan teori yang telah dibangun. Kedua konsep ini berkaitan erat dengan masalah ilmu kalam yang juga berpengaruh dalam penentuan teori ushul fiqh. 1. . berupaya menggabungkan teori aliran Syafi‟iyyah/Mutakallimin dengan aliran yang lain. maka aspek-aspek bahasa sangat dominan dalam pembahasan ushul fiqh mereka. tanpa dipengaruhi oleh masalah-masalah furu‟ dari berbagai mazhab. Aliran Fuqaha’ A. Kitab ushul fiqh standar dalam aliran Syafi‟iyyah/Mutakallimin ini adalah al-Risalah yang disusun Imam al-Syafi‟i. Dalam kenyataannya. Hal ini mereka lakukan untuk mencari jalan terbaik dalam masalah ushul fiqh. ada ulama mazhab Syafi‟iyyah yang berupaya menyusun teori tersendiri. Oleh sebab itu. Syifa‟ al-Ghalil Fil Bayan alSyabah wal Mukhil wa Masalik al-Ta‟lil. ada beberapa teori ushul fiqh mereka yang bertentangan dengan pendapat mazhab mereka sendiri. Akibat dari perhatian yang hanya tertuju kepada masalah-masalah teoritis. sejalan dengan kaidah yang telah ditetapkan imam mazhab atau tidak[3]. Misalnya. aliran mutakallimin (ahli kalam).

dan kitab Kasyfal-Asrar. yang qath‟i tidak bisa dikalahkan dan dikhususkan oleh yang zhanni. al-Mahshul karya Fakh al-Din al-Razi al-Syafi‟i. disusun Kamal al-Din Ibn al-Humam al-Hanafi (wafat 861 H). Berbeda dengan aliran Syafi‟iyyah/Mutakal limin yang sama sekali tidak terpengaruh oleh furu‟ yang ada dalam mazhab nya. Oleh sebab itu. sehingga tidak satu kaidah pun yang tidak bisa diterapkan. Kitab al-Ushul. yang selama ini kurang diperhatikan oleh ulama ushul fiqh. mereka tidak membangun suatu teori kecuali setelah melakukan analisis terhadap masalah-masalah furu‟ yang ada dalam mazhab mereka. maka mereka berusaha untuk mengubati kaidah tersebut dan membangun kaidah lain yang sesuai dengan masalah furu‟ yang mereka hadapi. yaitu Kasyf al-Asrarkarya Imam al-Bazdawi al-Hanafi. Ushul al-Sarakhsi. Akibatnya. karena aliran ini dalam membangun teori ushul fiqhnya banyak dipengaruhi oleh masalah furu‟ dalam mazhab mereka[4]. De ngan demikian. di samping menguraikan berbagai kaidah yang berkaitan dengan aspek-aspek kebahasaan.a) b) c) d) Aliran ini dianut ulama-ulama mazhab Hanafi. di antaranya adalah: Tanqih al-Ushul. Al-Tahrir. disusun Muhibullah ibn „Abd al-Syakur (wafat 1119 H). disusun Imam al-Sarakhsi. Ta'sis al-Nazhar. la juga mengemukakan maqashid al-Syari‟ah (tujuan-tujuan syara‟ dalam menetapkan hukum). Pada abad ke-8 Hijriah muncul Imam Abu Ishaq al-Syathibi (wafat 790 H) dengan bukunya al-Muwafaqatfi al-Ushul al-Syari‟ah. di antaranya adalah Imam Kamal ibn al-Humam dalam kitab ushul fiqhnya. sedangkan dalil umum tersebut bersifat qath‟i. al-Tahnr. mereka menetapkan kaidah bahwa “dalil yang umum itu bersifat qath‟i (pasti)”. disusun Taj al-Din „Abd al-Wahhab al-Subki al-Syafi‟i (wafat 771H). Dalam menetapkan teori tersebut. Musallam al-Tsubut. dan Mukhtashar Ibn al-Hajib karya Ibn alHajib al-Maliki. Di kalangan aliran fuqaha‟ sendiri ada ahli ushul fiqh yang berupaya untuk mengkompromikan kedua aliran tersebut. maka dalil yang umum itu yang diterapkan. Adapun kitab-kitab ushul fiqh yang menggabungkan teori Syafi'iyyah/Jumhur Mutakallimin dengan teori fuqaha‟. apabila terdapat pertentangan antara kaidah yang ada dengan hukum furu‟. yang disusun Shadr al-Syari‟ah (wafat 747 H). Jam‟u al-Jawami‟. Dinamakan aliran fuqaha‟. karena hadits ahad hanya bersifat zhanni (relatif). apabila terjadi pertentangan dalil umum dengan hadhsahod (bersifat zhanni). Kitab ini merupakan rangkuman dari tiga buku ushul fiqh. maka kaidah tersebut diubah dan disesuaikan dengan hukum furu‟ tersebut. yang dianggap sebagai kitab ushul fiqh standar dalam aliran ini adalah Kitab al-Ushul yang disusun Imam Abu al-Hasan al-Karkhi. Imam al- . Misalnya. Pembahasan ushul fiqh yang dikemukakan Imam al-Syathibi dalam kitabnya ini. sehingga sering terjadi pertentangan kaidah dengan hukum furu‟ dan terkadang kaidah yang dibangun sulit untuk diterapkan. Apabila suatu kaidah bertentangan dengan furu‟. disusun Abu Bakr al-Jashshash. Setiap permasalahan dan kaidah kebahasaan yang ia kemukakan senantiasa dikaitkan dengan tujuan syara‟ dalam menetapkan hukum. aliran ini berupaya agar kaidah yang mereka susun sesuai dengan hukum-hukum furu‟ yang berlaku dalam mazhabnya. Artinya. disusun Imam al-Bazdawi. disusun Imam Abu Zaid al-Dabusi (wafat 430 H). Dari sekian banyak kitab ushul fiqh.

yang oleh para ahli ushul fiqh kontemporer dianggap sebagai buku ushul fiqh yang konprehensif dan akomodatif untuk zaman sekarang.Syathibi memberikan warna baru di bidang ushul fiqh dan kitabnya al-Muiwafaqat fi alUshul al-Syari‟ah. .

tanpa terpengaruh oleh masalah-masalah furu‟ (masalah keagamaan yang tidak pokok) dan Aliran Fuqaha‟ dalam membangun teori ushul fiqhnya banyak dipengaruhi oleh masalah furu‟ dalam mazhab mereka.  Aliran Syafi‟iyyah dan Jumhur Mutakllimin dalam membangun ushul fiqh mereka secara teoritis.BAB III KESIMPULAN 1. Sehingga perbedaan yang muncul ini akibat perbedaan dalam membangun teori ushul fiqh masing-masing yang digunakan dalam menggali hukum islam. Kesimpulan  Terjadinya perbedaan aliran dalam ushul fiqih dibentuk karena adanya perbedaan cara berfikir dan interpretasi ushul fiqih dari kalangan penafsir dan pemikir. .

1997. Bandung: Pustaka Setia [1] [2] [3] [4] masalah keagamaan yang tidak pokok (al-Qur’an dan atau Sunnah Haroen. Ilmu Ushul Fiqh . Nasrun. Ushul Fiqh 1. Rachmat. 2007. Ilmu Ushul Fiqh. 2007. Ushul Fiqh 1. Nasrun. Jakarta: Logos Wacana Ilmu Syafe‟i. 1997. Rachmat.DAFTAR PUSTAKA Haroen. Syafe‟i.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful