P. 1
Telaah Terhadap Uu No. 32 Tahun 2004

Telaah Terhadap Uu No. 32 Tahun 2004

|Views: 455|Likes:
Published by Afif Pratama Putra

More info:

Published by: Afif Pratama Putra on Jun 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2014

pdf

text

original

PEMILIHAN KEPALA DAERAH DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DEMOKRASI (TELAAH TERHADAP UU No.

32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH) Arif Dwi Atmoko, SH., MH1 ABSTRAK Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) pada awalnya dilakukan secara tidak langsung melalui perwakilan DPRD Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Sebagai akibat dari perubahan konstelasi politik dan sosial, maka Pilkada tidak lagi dilakukan oleh DPRD, akan tetapi dipilih secara langsung oleh masyarakat. Pilkada langsung ini dilakukan sejak diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Partai politik dan masyarakat daerah dianggap telah mengalami perubahan pendewasaan dalam berdemokrasi. Akan tetapi hal ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena dengan Pilkada Langsung pelanggaran Pilkada tidak lagi melibatkan elit politik daerah, tetapi meluas menjadi persoalan dan sengketa masyarakat daerah. Kata Kunci: Pemerintahan Daerah, Pilkada, Pelanggaran Pilkada.

PENDAHULUAN Latar Belakang Penyelenggaraan pemerintahan daerah dilakukan oleh gubernur, bupati atau walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah (Pasal 1 huruf 3 UU Pemda). Dalam menyelenggarakan pemerintahan di daerah, pemda diberi hak-hak otonomi daerah. Hak otonomi daerah adalah hak wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat sesuai dengan pengaturan perundangundangan (Pasal 1 huruf 5 UU Pemda). Pasal 10 Ayat 1 UU Pemda menyatakan bahwa pemerintah daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan pemerintah. Urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat meliputi: a. Politik Luar Negeri. b. Pertahanan. c. Keamanan. d. Yustisi. e. Moneter dan Fiskal Nasional. f. Agama. Demikian ditegaskan dalam Pasal 10 Ayat (3) UU Pemda. Dalam penyelenggara pemerintahannya, pemerintah daerah memperoleh penyerahan wewenang pemerintahan dari pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1

Dosen Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya

39

keenam. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . jelas tidak akan mendukung bagi munculnya demokrasi. yang menjalankan pemerintahan tanpa mengindahkan kaidah-kaidah hukum dan hak-hak asasi warga negara. h. rekomendasi nasional untuk menyelesaikan berbagai masalah dan kasus-kasus yang dilakukan oleh rezim orde baru. Pendekatan Masalah Pendekatan masalah menggunakan metode penelitian yuridis normatif. Ghalia Indonesia. pemerintahan yang kuat tidak identik dengan pemerintahan otoriter. juga menelaah kaidah-kaidah hukum yang berlaku dalam masyarakat. komitmen untuk menjunjung prinsip supremasi hukum dan pemerintahan yang baik guna menjamin keadilan. Untuk itu yang harus dilakukan. MH. didukung oleh watak kepemimpinan yang profesional dan beretika pada semua tingkatan pemerintahan. kelima. Akan tetapi. h. Bagaimanakah sanksi terhadap pelanggaran dalam Pilkada? 1. maka tidak dapat diharapkan banyak akan munculnya demokrasi. segera dirumuskan suatu strategi reformasi dan pemulihan yang integral dan komprehensif.2 Dengan model demokrasi yang seperti ini dalam masa transisi diperlukan sebuah pemerintahan yang kuat menjadi topangan masyarakat. dan kepastian hukum. Demokrasi dikembangkan atas dasar saling percaya antara satu dengan yang lainnya. baik secara nasional maupun internasional. Menurut Ronny Hanitijo Soemitro arti dari yuridis normatif adalah penelitian yang dilakukan terhadap data sekunder dan merupakan suatu penelitian yang menekankan pada ilmu hukum.Arif Dwi Atmoko. kecenderung-an ekstrimitas dalam sikap. Pustaka Pelajar.3 Pendekatan normatif dapat dimaksudkan sebagai penelaah 2 Afan Gaffar. Rumusan Masalah a. 1998. No. 11 JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. III. Transisi Menuju Demokrasi. Legitimasi tersebut diperoleh karena keberhasilannya dalam mewujudkan darinya dalam masyarakat sehingga masyarakat menghormati dan mempercayainya. harus selalu ada tekanan sosial (dalam arti positif). Yogyakarta. Kalau pemerintahan tidak memiliki kepercayaan terhadap rakyat. pertama. Metode Penelitian a. Pemerintah yang seperti inilah yang harus dibangun di Indonesia pada saat memasuki masa-masa transisi menuju Indonesia baru yang dicita-citakan. 353 3 Ronny Hanitijo Soemitro. Di samping itu. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri. pemerintah akan memonopoli kekuasaan yang ada. 20. SH. segala sesuatu diputuskan sendiri sementara rakyat ditinggalkan.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. etnisitas. kedua. Cet. terdapat kemauan politik yang kuat khususnya dari para elit untuk segera keluar dari krisis yang melelahkan. kita harus memperhatikan bahwa demokrasi juga mempersyaratkan sikap dan perilaku yang moderat serta taat aturan hukum. dan kelas sosial masyarakat Indonesia akan sangat sulit membentuk sebuah pemerintahan yang stabil yang mampu mewujudkan dirinya untuk memberikan pelayanan dan perlindungan masyarakat. ketiga. Pelanggaran apa saja yang dapat terjadi dalam Pilkada? b. karena kalau tidak ada kepercayaan. Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang memiliki tingkat legitimasi tinggi. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 40 Menurut Afan Gaffar tingkat pluralitas yang sangat tinggi dan pemilahan sosial yang saling berkonsolidasi antara agama. keempat. Politik Indonesia. Jakarta. keamanan.

Pelanggaran dalam Pilkada Menurut Wolhoft5 dalam sistem organisme rakyat dipandang sebagai sejumlah individu-individu yang hidup bersama-sama dalam beraneka warna persekutuan hidup seperti genealogi (rumah tangga). Badan perwakilan menurut sistem organisasi ini bersifat badan perwakilan kepentingan-kepentingan khusus persekutuan hidup yang biasa disebut Dewan Korporatif. hasil penelitian. Penelitian Hukum Normatif. 20. Masyarakat dipandangnya sebagai suatu organisasi yang terdiri dari organorgan yang mempunyai kedudukan dan fungsi tertentu dalam totalitet organisasi itu. 10 Ibid. b. rakyat dipandang sebagai massa individu-individu inilah yang berfungsi sebagai pengendali hak pilih aktif dengan masing-masing mengeluarkan satu suara dalam tiap pemilihan untuk satu lembaga perwakilan. Jakarta. Sistem pemilihan proporsional adalah suatu sistem pemilihan di mana kursi yang tersedia di parlemen dibagikan kepada partai-partai politik (organisasi peserta 4 5 Suryono Sukamto. diklat. aturan perundangan media cetak yang lain seperti surat kabar. Analisa Data Data yang sudah diolah selanjutnya dianalisis melalui metode deskriptif analisis. Sistem pemilihan mekanis biasanya dilaksanakan dengan dua sistem pemilihan umum. Universitas Indonesia. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. d. No. serta untuk menjawab permasalahan yang diajukan. daerah) fungsional spesial (cabang industri). PEMBAHASAN A. b. dan sebagainya. lapisan-lapisan. SH. kota. h. yaitu persekutuan-persekutuan hidup di atas. c. Bahan hukum sekunder yang meliputi literatur. Prosedur Pengumpulan Bahan Hukum Teknik pengumpulan bahan hukum melalui pengumpulan data atas kasus yang terjadi dalam praktik praktisi di lapangan dan melalui studi kepustakaan dengan cara menggunakan peraturan perundang-undangan dengan membaca dan mempelajari literatur. menurut Wolhoff. Sumber Bahan Hukum a. teritorial (desa. atau lebih tepat sebagai hak untuk mengutus wakilwakil kepada perwakilan masyarakat (rakyat).4 yang bertujuan menjelaskan dan menggambarkan suatu keadaan yang menghasilkan data non statistik yang kemudian diolah dengan menggunakan logika berfikir deduktif yaitu mengenai hal yang bersifat umum untuk menjelaskan hal yang lebih khusus.171. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. diklat. Dalam pemilihan mekanis. surat kabar yang memuat berita yang berkaitan dengan bahan hukum primer. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 41 suatu objek penelitian melalui penelaahan peraturan perundang-undangan. teori yang baku serta saling berhubungan dan menunjukkan hubungan kausalitas antara pokok permasalahan dengan teori-teori dan peraturan perundang-undangan tersebut. Persekutuan-persekutuan hidup inilah sebagai pengendali hak pilih. majalah-majalah hukum. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya .Arif Dwi Atmoko. yaitu: a) sistem proporsional. b) sistem distrik. Bahan hukum primer yaitu aturan perundang-undangan yang terkait dengan permasalahan yang dibahas seperti Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang No. MH. h.

Terjadinya pencerminan pendapat yang salah tingkat pertama (the first stage of distortions of opinion). Oleh karena itu. 4. dan sebagainya. 180 8 Ibid. karena luasnya wilayah negara dan jumlah penduduk warga negara yang cukup banyak. tetapi kecenderungan lebih mempertajam perbedaan-perbedaan yang ada dan oleh karena itu kurang terdorong untuk menari dan memanfaatkan persamaan-persamaan. Segi-segi positif sistem pemilihan distrik:8 1. Sistem pemilihan distrik adalah suatu sistem pemilihan yang wilayah negaranya dibagi atas distrik-distrik pemilihan. (2) partai-partai politik kecil/minoritas. sedangkan segi-segi negatif dari sistem ini adalah sebagai berikut:7 1. perimbangan partai politik. Banyaknya partai politik mempersukar dalam membentuk pemerintahan yang stabil. Hubungan antara si pemilih dengan wakilnya sangat dekat. Sistem ini tidak menjurus ke arah integrasi bermacammacam golongan dalam masyarakat. Karena pembentukan pemerintah/kabinet harus didasarkan atas koalisi (kerja sama) antardua partai politik atau lebih. lebih-lebih dalam sistem pemerintahan parlementer. Akan tetapi. Sistem ini mempermudah fragmentasi partai politik dan timbulnya partaipartai politik baru. No. Setiap distrik pemilihan hanya memilih satu orang wakil dari calon-calon yang diajukan oleh masing-masing partai politik/organisasi peserta pemilihan umum. sistem ini juga disebut “single member constituency”. wilayah itu dibagi atas daerah-daerah pemilihan (misalnya provinsi menjadi suatu daerah pemilihan). karena itu partaipartai politik tidak berani mencalonkan orang yang tidak populer (tidak dikenal) dalam distrik tersebut.Arif Dwi Atmoko. Hal yang pasti adalah jumlah kursi yang diperebutkan pada masing-masing daerah pemilihan lebih dari satu.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. SH.cit. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . Kepada daerah-daerah pemilihan ini dibagikan sejumlah kursi yang harus diperebutkan. besar kemungkinan mendapat kursi di parlemen. yang jumlahnya sama dengan jumlah kursi yang tersedia di parlemen. 20. Oleh karena itu. Segi-segi positif dari sistem pemilihan proporsional: (1) suara yang terbuang sangat sedikit. Setiap calon yang terpilih menjadi anggota parlemen merasa dirinya lebih terikat kepada partai politik yang mencalonkan dan kurang merasakan loyalitasnya kepada rakyat yang telah memilihnya. karena itu sistem pemilihan proporsional ini disebut juga dengan “Multi member Constituency”. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. Saragih. sistem pemilihan umum ini disebut juga dengan “sistem berimbang”. h. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 42 pemilihan umum) sesuai dengan imbangan perolehan suara yang didapat partai politik/organisasi peserta pemilihan bersangkutan. 2. MH. 6 7 Sri Soemantri M.cit. Pihak yang menjadi pemenangnya (calon terpilih) adalah yang memperoleh suara terbanyak (mayoritas) dalam distrik tersebut. op. Sisa suara dari masing-masing peserta pemilihan umum di daerah pemilihan tertentu tidak dapat lagi digabungkan dengan sisa suara di daerah pemilihan lainnya. sistem pemerintahan umum ini memperbanyak jumlah partai politik. Bintan R. Sebagai akibatnya. wilayah negara merupakan satu daerah pemilihan. luas daerah pemilihan. loc. 3.6 Dalam sistem ini. Terpilihnya seorang calon biasanya karena kualitas dan kepopulerannya dan baru kemudian kepopuleran partai politiknya.

Hal ini terjadi karena besarnya peranan Lembaga Pemilihan Umum dan Kopkamtib di dalam menyaring calon-calon yang diajukan oleh partai.9 Ketika situasi politik berubah searah arus reformasi yang ditandai dengan jatuhnya Pemerintahan Soeharto pada 1998. Sistem ini akan menyulitkan partai-partai kecil dan golongan-golongan minoritas. ibid. bukan sesuatu yang terjadi secara alamiah. MH.). Artinya. terutama untuk partai-partai politik non pemerintah. Menurut Affan Gafar sistem pemilihan (electoral laws) tidak mempunyai kaitan dengan sistem kepartaian di Indonesia. 3. 2. Sistem pemilihan ini mengakibatkan terjadinya penyederhanaan jumlah partai politik. Terjadinya pencerminan pendapat yang salah tingkat pertama dan tingkat dua (the first and the second stage of distortion of opinion).Arif Dwi Atmoko. Segi-segi negatif sistem pemilihan distrik adalah sebagai berikut: 1. Organisasi penyelenggara pemilihan dengan sistem ini lebih sederhana. 20. sejak tahun 1973 Indonesia sudah mengatur sistem tiga partai yang merupakan hasil reformasi sistem kepartaian yang dibuat oleh pemerintah. Akibatnya. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 43 2. “Sistem Pemilihan Umum di Indonesia Beberapa Catatan Kritis”. Biaya lebih murah dan perhitungan suara lebih singkat karena tidak perlu menghitung sisa suara yang terbuang. SH. 3. jujur dan adil 9 Affan Gafar. Kedua. dalam Dahlan Thaib dan Ni’matul Huda (ed. banyak sekali orang yang mencampurkan antara electoral laws dengan electoral processes. terlaksana dengan relatif bebas. Sukar bagi mereka mempunyai wakil di lembaga perwakilan. cara berkampanye. calon-calon yang tidak terbuka. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . pelaksanaan pemilu pada 1999 yang disiapkan dalam waktu singkat. karena peraturan yang ada maka sudah tidak mungkin lagi untuk membentuk partai politik yang baru kecuali undang-undangnya yang harus diubah. ada kemungkinan calon terpilih mendapat suara minoritas lawan-lawannya. Ada dua alasan yang mendasari pendapat tersebut. Sistem ini mendorong bersatunya partai-partai politik. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. Sementara electoral process adalah mekanisme yang dijalankan di dalam pemilihan umum. h. dan lain-lain. Untuk konteks Indonesia.31. Proses dan mekanisme pemilihan yang membawa konsekuensi terhadap sistem kepartaian. Pertama.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. Di dalam ilmu politik yang disebut dengan electoral laws menurut Douglas Rae adalah “those which govern the processes by which electoral preferences are articulated as votes and by which these votes are translated into distribution of governmental authority (typically parliamentary seats) among the competing political parties”. beberapa partai dipaksa/terpaksa bergabung untuk mencalonkan seorang yang lebih populer dan berkualitas serta berbakat di antara calon-calon yang lain. sistem pemilihan dan aturan yang menata bagaimana pemilu dijalankan serta distribusi hasil pemilihan umum. Karena calon yang terpilih hanya satu. Kemungkinan ada suara yang terbuang. No. 4. mekanisme dan proses pemilu yang tidak kompetitif telah berhasil membuat partai politik yang hegemonik. Bahkan. seperti misalnya mekanisme penentuan calon. tidak perlu memakai banyak orang untuk duduk dalam panitia pemilihan. Proses pemilihan umum tersebut mencakup rekruitmen. Di dalam proses rekruitmen tersebut partai non pemerintah tidak mempunyai kharisma sehingga tidak mampu menarik massa dukungan yang diharapkan.

JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. Pada proses pelaksanaan Pilkada selalu saja terjadi adanya pelanggaranpelanggaran terhadap aturan-aturan hukum yang berlaku. 2004. Ini merupakan pancangan awal menuju ke arah terbentuknya tatanan politik yang demokratis. Dalam rangka perubahan pertama sampai perubahan keempat UUD 1945. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di Indonesia. massa pendukung calon pasangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan atau dengan kendaraan di jalan raya. No. Pertama. Pada proses pemilihan walikota di Surabaya telah diberitakan melalui surat kabar adanya pelanggaran aturan-aturan Pilkada yang berkaitan dalam pelaksanaan kampanye seperti pencurian waktu kampanye. Hal ini dapat kita ketahui melalui media massa cetak (surat kabar) dan melalui media massa elektronik (televisi) seperti contohnya kasus Pilkada di Surabaya dalam pemilihan walikota di Surabaya pada 2005. merusak dan atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan lain.Arif Dwi Atmoko. suatu tatanan politik yang demokratis.4 Ibid. Pada proses pemilihan walikota di Surabaya telah diberitakan melalui surat kabar adanya pelanggaran-pelanggaran aturan-aturan Pilkada di Surabaya dalam pemilihan Walikota di Surabaya pada 2005. DPRD sampai dengan pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Hanya saja persiapan pemilu 1999 perangkat perundang-undangnya masih memihak status quo dan tidak mencerminkan amanat reformasi. mulai dari Pemilu anggota DPR. DPD. Harusnya pemilu merupakan aktualisasi nyata demokrasi di mana rakyat bisa menyatakan kedaulatannya terhadap negara dan pemerintahan. MH. Pemilu 1999 jelas baru langkah awal dan belum mampu menjadi sarana partisipasi politik rakyat. bangsa Indonesia mendapat ujian yang berat karena disibukkan dengan banyaknya jadwal pemilihan. pemilu dipersiapkan secara tergesa-gesa sehingga tidak memberi kesempatan kepada partai politik untuk melakukan sosialisasi program kepada masyarakat luas. hlm. Sekurangkurangnya ada dua penjelasan.10 Pada 2004. Melalui pemilu ini rakyat menentukan siapa yang menjalankan dan mengawasi jalannya pemerintahan negara. bangsa kita telah mengadopsikan prinsip-prinsip baru dalam sistem ketatanegaraan.11 UUD 1945 telah mengalami perubahan mendasar sebanyak empat kali. Kedua. 10 11 ”Berita Mahkamah Konstitusi”. edisi khusus. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . Di sini rakyat memilih dan melakukan pengawasan terhadap wakilwakilnya. dan Mahkamah Konstitusi telah menuntaskan tugas konstitusionalnya dengan memutus seluruh perkara dengan putusan yang bersifat final. perangkat perundang-undangan yang disiapkan masih terpaut dengan kepentingan partai Orde Baru. Dalam pelaksanaan Pilkada menurut ketentuan UU Pemda harus diikuti paling sedikit 2 (dua) pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. SH. 20. Sebanyak 273 perkara masuk ke lembaga pelaksanaan kekuasaan kehakiman baru ini. perselisihan hasil Pemilu Legislatif 2004 diadili dan diputus oleh Mahkamah Konstitusi. mulai dari pemisahan kekuasaan dan checks and balances sampai dengan penyelesaian “konflik politik” melalui jalur hukum.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 44 khususnya jika dibandingkan dengan pelaksanaan pemilu sebelumnya. suatu tatanan politik yang mampu menjamin tegaknya hak-hak politik rakyat sebagai cerminan dari prinsip kedaulatan rakyat.

yang tiap-tiap provinsi. Berdasar pasal 18 UUD 1945 pada ayat (1) menegaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan Undang-Undang. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. 32 Tahun 2004.Arif Dwi Atmoko. SH. B. No. 20. mereka melakukan perusakan pada kantor DPRD Kota Surabaya yang tidak mau menerima berita acara penetapan calon pasangan walikota dan wakil walikota terpilih. Massa pendukung calon pasangan Noor Nahar Husein dan Go Tjong Ping yang tidak mau menerima kekalahan dan menuduh adanya kecurangan dalam pelaksanaan Pilkada melakukan tindakan anarkis dengan merusak dan membakar kantor KPUD Tuban. Demikian pula pada kasus pelaksanaan Pilkada di Kabupaten Tuban yang diikuti oleh 2 (dua) pasangan calon bupati dan wakil bupati. Upaya Mengatasi Pelanggaran Pilkada 1. ketika dinyatakan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 oleh Ir. yaitu Bambang DH dan wakilnya. pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Haeny Relawati dan Lilik Suherdjono memperoleh kemenangan dalam Pilkada. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 45 Kecurangan dalam proses penghitungan suara. yaitu adanya politik uang (money politics). yaitu pada pasal 18 UUD 1945 di Negara Republik Indonesia dianut sistem desentralisasi. Soekarno dan Moh. Pelanggaran yang juga terjadi pada pasca pemungutan suara di mana ketika KPUD Surabaya memutuskan kemenangan salah satu pasangan calon wali kota dan wakil walikota Surabaya yang ikut dalam Pilkada. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . Selanjutnya. bahkan merusak dan membakar rumah pribadi calon bupati terpilih. yaitu Noor Nahar Husein dan Go Tjong Ping yang didukung oleh koalisi PKB-PDIP. Arief Afandi. MH. Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Bahwa penyelenggaraan pemilihan kepala daerah adalah suatu mekanisme penggantian kepala daerah yang sudah habis masa jabatannya yang dilakukan secara konstitusional. Ketidakpuasan dalam pelaksanaan Pilkada oleh pasangan calon kepala daerah yang ikut dalam Pilkada dapat dilakukan pasangan calon kepala daerah yang ikut dalam Pilkada dapat dilakukan pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPUD kabupaten/kota apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam pasal 99 ayat (2) Undang-Undang No. di mana tim sukses dari pasangan calon membagi-bagikan sejumlah uang kepada rakyatnya yang akan melakukan pemilihan. Pemilihan Pilkada di Kabupaten Tuban dilaksanakan pada 27 April dan pada hari esoknya. Sejak Negara Republik Indonesia ada. Hatta di mana sehari setelah kemerdekaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang secara yuridis disebut sebagai pembentuk Negara menetapkan dan mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang dikenal Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). yaitu Haeny Relawati dan Lilik Suherdjono yang didukung Partai Golkar dan pasangan calon bupati dan wakilnya. merusak Kantor Bupati Tuban. massa pendukung calon pasangan walikota dan wakil walikota yang lain dan tidak mau menerima kekalahannya. Berdasarkan salah satu pasal Undang-Undang Dasar 1945.

Selanjutnya. yaitu Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) yang bertanggungjawab kepada DPRD (Pasal 57 ayat 1 UU NO. Undang-Undang yang mengatur tentang pemilihan kepala daerah ini pertama kali pada era Orde Baru diatur pada Undang-Undang No. 32 tahun 2004 adalah sebagai berikut: a. Sehat jasmani dan rohani berdasar hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter. Panitia pengawas untuk Kabupaten/kota ditetapkan oleh DPRD. d. dan walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi.Arif Dwi Atmoko. Berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa b.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. 32 Tahun 2004 diselenggarakan oleh suatu badan. perguruan tinggi. dibentuk Panitia Pengawas Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian. maka Undang-Undang No. Berdasar Undang-Undang No. c. e. kabupaten. Sedang pemilihan kepala daerah kabupaten (bupati) dan kota (walikota) dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota. Di dalam dua Undang-Undang sebelumnya pemilihan kepala daerah dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pemilihan untuk Kepala Daerah Provinsi (Gubernur) dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pemilihan untuk Kepala Daerah Provinsi (Gubernur) dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. MH. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon kepala daerah dan wakil kepala daerah berdasar Undang-Undang No. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . Dengan semakin berkembangnya kehidupan demokrasi di Indonesia. pada ayat (4) pasal 18 UUD 1945 menegaskan gubernur. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 46 Selanjutnya. Panitia pengawas pemilihan kepala darah dan wakil yang dibentuk oleh dan bertanggungjawab kepada DPRD dan berkewajiban menyampaikan laporannya. dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta pemerintah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau Sederajat. g. Setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara. Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 32 tahun 2004. pemilihan kepala daerah provinsi kabupaten dan kota dilakukan oleh rakyat secara langsung melalui pemilihan kepala daerah dan wakilnya. f. Anggota panitia pengawas berdasar Undang-Undang ini berjumlah 5 (lima) orang untuk provinsi 5 (lima) orang untuk Kabupaten/Kota dan 3 (tiga) orang untuk kecamatan. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. dan tokoh masyarakat. 32 Tahun 2004. h. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau lebih. No. 32 Tahun 2004). pers. Dalam rangka supaya penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakilnya dapat berlangsung secara jujur dan adil berdasar pada ketentuan UU No. Pada Undang-Undang No. sedang panitia pengawas untuk kabupaten/kota ditetapkan oleh DPRD. dan kota dipilih secara demokratis. Undang-Undang ini diganti dengan Undang-Undang No. bupati. kejaksaan. 32 tahun 2004. 5 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Otonomi Daerah. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 20. 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang-Undang No. Mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. SH.

Surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon. dan program dari pasangan calon secara tertulis. k. Kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. d. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . anggota Tentara Nasional Indonesia. Surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. l. Surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya sebagai pimpinan DPRD tempat yang bersangkutan menjadi calon di daerah yang menjadi wilayah kerjanya. SH. 32 tahun 2004). Kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Partai politik atau gabungan partai politik dapat mendaftarkan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15 persen dari jumlah kursi DPRD atau 15 persen dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilihan umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan. m. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 47 i. dan program dari pasangan calon secara tertulis. Tidak pernah melakukan perbuatan tercela. 20. Surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi anggota DPR. Kesepakatan tertulis antarpartai politik yang bergabung untuk mencalonkan pasangan calon. i. Pada saat mendaftarkan pasangan calon partai politik atau gabungan partai politik wajib menyerahkan: a. misi. Bahwa calon pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang diusulkan secara berpasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik (pasal 59 UU No. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran pajak. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. Belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama. Naskah visi. p. j. Surat pernyataan kesediaan yang bersangkutan sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan. o. Menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap yang memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan serta keluarga kandung suami atau istri. Tidak sedang memiliki tanggung jawab utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggungjawabnya yang merugikan keuangan negara. l. k. f. e. misi. Menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan. MH. b. h. Surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri bagi calon yang berasal dari Pegawai Negeri Sipil. Tidak dalam status sebagai pejabat kepala daerah. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. c.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. j. DPD dan DPRD yang mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. n. Surat pernyataan tidak akan menarik pencalonan atas pasangan yang dicalonkan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau para pimpinan partai politik yang bergabung. m. g.Arif Dwi Atmoko. Naskah visi. Surat pencalonan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik yang bergabung. Tidak sedang dinyatakan pailit berdasar keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. No.

Penetapan daftar pemilih. Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. 32 tahun 2004. d. Penghitungan suara. Bilamana menurut KPUD pasangan calon tidak memenuhi semua persyaratan yang ditentukan sebagaimana diatur pada pasal 59 UU No. MH. Kampanye. Tahapan berikutnya KPUD melakukan penelitian terhadap pasangan calon yang diusulkan partai politik atau gabungan partai politik. 32 tahun 2004. 32 Tahun 2004). Pembentukan Panitia Pengawas Kecamatan (PKK). maka pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan melalui masa persiapan dan tahap pelaksanaan. Perencanaan penyelenggaraan. meliputi penetapan tata cara. c. Setelah masa kampanye berakhir. c. b. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 48 n. Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat mengusulkan satu pasangan calon dan pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan lagi oleh partai politik atau gabungan partai politik lain. Tahapan pelaksanaan Pilkada berdasar Pasal 65 ayat (3) UU ini meliputi hal-hal sebagai berikut: a. Penetapan pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah terpilih. d. Demikian diatur dalam pasal 65 ayat (2) UU No. Tahapan berikutnya dari pelaksanaan pemilihan kepala daerah adalah pasangan calon kepala daerah yang diusulkan dalam Pilkada memasuki masa kampanye. No. Pemungutan suara. Dalam hal salah 1(satu) calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. dan pelantikan. e. Pemberitahuan DPRD kepada daerah mengenai berakhirnya masa jabatan. 20. o. b. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari dan partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. SH. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . f.Arif Dwi Atmoko. KPUD menetapkan pasangan calon yang dituangkan dalam Berita Acara Penetapan pasangan calon (Pasal 61 UU No. Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calon dan pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPUD. e. pengesahan. Masa pendaftaran pasangan calon paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak pengumuman pendaftaran pasangan calon. Masa persiapan adalah meliputi hal-hal sebagai berikut: a. dan Kepala Panitia Pemungutan Suara (KPPS). Panitia Pemungutan Suara (PPS). dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Pendaftaran dan penetapan calon kepala daerah/wakil kepala daerah.

Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan perundang-undangan. Menyelenggarakan rapat paripurna untuk menyelenggarakan penyampaian visi. kepada institusi yang berwenang. b. Menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan Pilkada. h. Berdasarkan ayat (3) pasal 66 DPRD dalam penyelenggaraan Pilkada bertugas dan berwenang: a. Menerima laporan adanya pelanggaran pendaftaran peraturan perundangundangan dalam Pilkada. Menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye dan mengumumkan hasil audit. c. Meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan. Meminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD. Menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye. i. Merencanakan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Mengkoordinasikan. Mengusulkan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berakhir masa jabatannya dan mengusulkan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpiliah. f. b. Menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. c. Melakukan pengawasan pada semua tahapan pelaksanaan pemilihan. 20. MH. KPUD mempunyai tugas dan berwenang sebagai berikut (Pasal 66 ayat (1)): a. Menerima pendaftaran dan mengumumkan tim kampanye. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 49 Dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah/wakil kepala daerah. d. SH. Mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye. Mengatur hubungan koordinasi antar panitia pengawasan pada semua tingkatan. Meneliti persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan. g. d. b. d. Menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur dalam peraturan perundangundangan.Arif Dwi Atmoko. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . l. Mengawasi semua tahapan penyelenggaraan Pilkada. e. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. No. Memberitahukan kepada kepala daerah mengenai akan berakhirnya masa jabatan. e. k. f. Panitia pengawas yang dibentuk oleh DPRD mempunyai tugas dan wewenang menurut Pasal 66 ayat (4) Undang-Undang ini adalah sebagai berikut: a. j. Menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan Pilkada. Meneliti persyaratan partai politik dan gabungan partai politik yang mengusulkan calon. menyelenggarakan. serta pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. c. Membentuk panitia pengawas. e. m. misi. dan program dari pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah.

32 tahun 2004): a. h. Debat publik/debat terbuka antar calon. agama. Menghasut atau mengadu domba partai politik. dan/atau i. Pelaksanaan kampanye dapat dilaksanakan melalui: a. f. Rapat umum. Tatap muka dan dialog. g. ancaman kekuasaan dan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada perseorangan. Dalam pelaksanaan kampanye pasangan calon dilarang. dan bersifat edukatif. e. Penanggungjawab kampanye adalah pasangan calon. j. d. Menggunakan kekerasan. MH. dan warga negara asing. ras. 32 tahun 2004). Merusak dan atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan calon lain. c. yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya .Arif Dwi Atmoko. Kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. tertib. Menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. Penetapan kampanye dan tim kampanye dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan pasangan calon tim kampanye menurut Undang-Undang ini didaftarkan ke KPUD bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon. Dalam penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara yang sopan. Mempersoalkan Dasar Negara Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. f. Berdasar pasal 75 Undang-Undang ini masa kampanye adalah 14 (empat belas) hari dan berakhirnya 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. b. e. dan/atau kelompok masyarakat. Pertemuan terbatas. Mengancam dan menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintah yang sah. Demikian diatur dalam Pasal 76 ayat (1) Undang–Undang ini. h. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 50 Sebelum memasuki tahapan pemungutan suara. golongan calon kepala daerah/wakil kepala daerah dan/atau partai politik. Penyebaran bahan kampanye kepada umum. Berdasar pasal 78 UU ini dalam kampanye dilarang melakukan hal-hal sebagai berikut: a. Penyiaran melalui radio dan/atau televisi. d. Menghina seorang. pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah menyelenggarakan kampanye. kelompok masyarakat dan/atau partai politik. g. Penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. Pemasangan alat peraga ditempat umum. perseorangan. No. 20. lembaga swadaya masyarakat asing. dan ketertiban umum. b. Mengganggu keamanan. Menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan. Negara asing. ketentraman. Melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan atau dengan kendaraan di jalan raya. i. Mengenai jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPUD dengan memperhatikan usul dari pasangan calon (Pasal 75 ayat 9 UU No. menerima sumbangan atau bantuan lain untuk kampanye yang berasal dari (Pasal 85 UU No. suku. lembaga swasta asing. c. SH.

Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada pasal 107 ayat 1 tidak terpenuhi. pelaksanaan pemungutan suara siap dilaksanakan. penentuan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas (pasal 107 ayat 3 UU No. 52 tahun 2004). Dalam hal tidak terpenuhi atau tidak ada yang mencapai 25% dari jumlah suara yang sah. 2. selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU. Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur terpilih pengesahan dan pengangkatannya dilakukan oleh presiden selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari (Pasal 109 ayat 1). BUMN. Pasangan calon yang melanggar ketentuan sebagaimana tersebut di atas dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPUD. 32 Tahun 2004). diusulkan oleh DPRD kabupaten/kota. MH. Pemerintah. No. Sanksi yang Dikenakan terhadap Pelanggaran Pelaksanaan Pilkada Sesuai dengan asas negara berdasarkan asas hukum sebagaimana diamanatkan dalam penjelasan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Berdasar pasal 109 ayat (3) Undang-Undang ini pasangan calon gubernur dan wakil gubernur terpilih diusulkan oleh DPRD Provinsi.Arif Dwi Atmoko. pasangan calon kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 25% dari jumlah suara sah. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . Penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak jelas identitasnya. c. Penentuan waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan suara ditetapkan oleh KPUD (Pasal 92 ayat (5) UU No. SH. Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50% jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih (Pasal 107 ayat 1). Dalam hal pelaksanaan pemungutan suara. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 51 b. 20. selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU Kabupaten/Kota untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. Untuk calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota terpilih. pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tersebut terdapat lebih dari satu pasangan calon yang memperoleh suaranya sama. Provinsi untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. segala proses penyelenggaraan pemerintahan negara harus berdasarkan pada aturan-aturan perundangan yang berlaku. Setelah pelaksanaan kampanye Pilkada selesai dilaksanakan. dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua. Demikian pula pada pelaksanaan Pilkada harus menaati JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. suara yang dianggap sah untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah apabila sesuai dengan yang ditetapkan dalam Pasal 95 Undang-Undang ini.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. dan BUMD. Setelah pelaksanaan pemungutan suara Pilkada selesai dilaksanakan dimulai penghitungan suara di tempat pemungutan suara oleh KPPS. Sedang pengangkatan pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota terpilih dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari (pasal 109 ayat 2).

. MH.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. Mengenai penyelesaian hukum terhadap kasus-kasus pelanggaran pelaksanaan Pilkada sejauh ini sepanjang yang saya ketahui tidak pernah dimuat dalam pemberitahuan pada media massa surat kabar. demikian diatur dalam Pasal 116 ayat (3) UU No. 32 tahun 2004. demikian diatur dalam pasal 117 ayat (2). untuk masing-masing pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 ayat (2) diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lambat 3 (tiga) bulan dan atau denda paling sedikit Rp. 32 Tahun 2004 tidak terdapat pengaturannya. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. 1.000. seperti politik uang dalam Pilkada yang sulit untuk terbukti.. sehingga surat suaranya menjadi tidak sah.000.000 (satu juta rupiah) demikian diatur pada pasal 116 ayat (1) UU No.000. Contohnya: pada jenis pelanggaran di mana setiap orang yang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu kampanye yang telah ditetapkan oleh KPUD. 100. Pelanggaran terhadap aturan-aturan yang diatur dalam UU No. hanya mencantumkan 3 pasal saja yang mengatur tentang sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap pelanggaran pelaksanaan Pilkada sebagaimana kasus yang terjadi pada pelaksanaan Pilkada di Surabaya dan Tuban. Dalam hal terjadi perusakan atau penghilangan alat peraga kampanye pasangan calon lain dan kampanye dilakukan dengan pawai atau penghilangan alat peraga kampanye pasangan calon lain dan kampanye dilakukan dengan pawai arakarakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan atau dengan kendaraan di jalan raya. seperti yang telah terjadi di Surabaya. Mengenai tindakan anarkis dan pembakaran yang terjadi pasca pemungutan suara dalam Pilkada di Tuban dalam UU No. Pelanggaran yang terjadi umumnya pada pelaksanaan kampanye yang dilakukan oleh pasangan calon kepala daerah yang didukung masa partai politik yang mengusulkan.(seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.000 (satu juta rupiah). April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . SH. 32 tahun 2004 dapat dikenakan sanksi. Kesimpulan 1. orang yang melakukan diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lambat 6 (enam) bulan dan atau denda paling sedikit Rp.(seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp. Untuk penjatuhan sanksi atau hukuman bagi orang yang melakukan tindakan anarkis seperti yang terjadi di Tuban. 32 Tahun 2004. No. 20. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 52 aturan-aturan pelaksanaannya yang diatur dalam Undang-Undang No.000 (satu juta rupiah). PENUTUP A. 1. uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih pasangan calon tertentu atau menggunakan hak pilihnya dengan calon tertentu.Arif Dwi Atmoko. Dalam tulisan ini. Sanksinya diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). 32 tahun 2004. Dalam hal terjadi kesengajaan oleh setiap orang memberikan atau menjanjikan. 100. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan atau denda paling sedikit Rp. Hal ini dapat terjadi karena bukti-bukti terjadinya pelanggaran tidak kuat atau sukar untuk membuktikannya.000.000. 1. Tindakan anarkis dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal kejahatan. Bahwa dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dapat terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan-aturan pelaksanaan Pilkada yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. Yogyakarta. Januari 1990. Kusuma. Pembangunan Jakarta. Pemilu Ditinjau dari Landasan Konstitusional UUD 1945. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. III. Sistem Pemilu Dalam Ketatanegaraan Indonesia. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. yang dalam hal ini dapat dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat yang memimpin partai-partai politik yang dapat memberikan petunjuk dan himbauan kepada massa pendukungnya untuk mentaati aturan hukum yang berlaku pada pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah dalam sistem demokrasi. Tiga Undang-Undang Dasar. juga dapat dikenakan hukuman yang diatur dalam KUHP mengenai tindakan anarkis. Gaya Media Pratama. Bintan R Saragih. KIPP Indonesia. Raja Grafindo Persada. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 53 Pelanggaran juga dapat terjadi pasca pemungutan suara di mana pasangan calon kepala daerah dan masa pendukungnya tidak mau menerima kesalahan kemudian melakukan tindakan anarkis. 1999. Jakarta. Lembaga perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. Mulyana W. 1987 Dahlan Thaib. Politik Indonesia. Gaya Media pratama. Pringgodigdo. Jakarta. SH. 2005. 1982. Ronny Hanitijo Soemitro. 1987 Darji Darmodiharjo. IKIP Malang. 2000. Saran 1. Hukum Tata Negara Indonesia. DAFTAR PUSTAKA BUKU Afan Gaffar. Ni’matul Huda. Bahwa pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan-aturan Pilkada dikategorikan sebagai tindak pidana yang dapat dikenakan hukuman penjara dan hukuman denda yang selain diatur dalam UU No. No. Jakarta. Ghalia Indonesia. 2. Pustaka Pelajar. Pustaka Pelajar. B. Kairudin. AK. April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . Majalah PERSAHI. dipandang perlu untuk meningkatkan kesadaran hukum dan kematangan dalam kehidupan demokrasi yang dapat dilakukan melalui permasyarakatan. 2. PT. Sri Soemantri M. 32 Tahun 2004. Transisi Menuju Demokrasi. MH. 20. Nomor Ketiga. 1998. 2004. Menata Politik Pasca Reformasi.Arif Dwi Atmoko. Cet. Jakarta. Yogyakarta. Laboratorium Pancasila. Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi. Dalam rangka mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam pelaksanaan Pilkada. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri. 1994. Undang-Undang Pemilu dan Undang-Undang No. Jakarta.

April 2011 Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya . 20. JURNAL FAKULTAS HUKUM VOLUME XX. Suryono.Arif Dwi Atmoko. 1985 PERUNDANG-UNDANGAN Undang-Undang Dasar 1945. Jakarta. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) 54 Sukamto. No. MH.: Pemilihan Kepala Daerah dalam Sistem Pemerintahan Demokrasi (Telaah terhadap UU No. Rajawali. SH. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Penelitian Hukum Normatif.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->