P. 1
Tahammul Al Hadits Wa Ada

Tahammul Al Hadits Wa Ada

|Views: 474|Likes:

More info:

Published by: AdiGang AdiGung AdiGuno on Jun 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2014

pdf

text

original

TAHAMMUL AL HADITS WA ADA’UHU (PENERIMAAN HADITS DAN PERIWAYATANNYA) A.

Pengertian Tahammul Al Hadits Wa Ada’uhu Dalam istilah ilmu hadits, terdapat istilah at-tahammul dan al-ada’. Attahammul adalah menerima dan mendengar suatu periwayatan dari seorang guru dengan menggunakan beberapa metode tertentu. Adapun yang dimaksud dengan al-ada’ adalah menyampaikan atau meriwayatkan suatu hadits kepada orang lain. 1 B. Syarat-Syarat Orang Yang Menerima dan Meriwayatkan Hadits Adanya perintah Nabi SAW untuk menyebarluaskan hadits, menjadikan para shahabat sangat bersemangat untuk menyebarluaskan nya. Diantara haditshadits yang menjadi motivasi tersebut adalah: ?Riwayat Al Bukhari dari Ibnu ‘Amer Ibnu ‘Ash, bahwa Nabi bersabda: “Sampaikanlah (segala sesuatu yang berasal) dariku walaupun hanya satu ayat”. ?Riwayat Ibnu Abdil Bar dari Abi Bakrah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Ketahuilah, hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir (jauh)” Dengan adanya hadits-hadits seperti diatas, para sahabat berlomba-lomba untuk menyebarkan hadits-hadits yang mereka ketahui ke seluruh penjuru daerah kekuasaan Islam. Terutama setelah Nabi SAW wafat, para sahabat tidak lagi tinggal di Madinah. Mereka pergi ke kota-kota lain. Sejak itulah penduduk kotakota lain mulai menerima hadits. Pada perkembangan selanjutnya, hadits tersebar dikalangan umat. Sehingga apabila ada seseorang yang lupa terhadap suatu hadits, tetap ada orang yang masih menghafalnya. Akan tetapi, mereka tetap behati-hati dalam menerima hadits. Mereka meneliti dulu tentang biografi pembawa hadits, syarat-ayarat pembawa hadits, dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan hamper setiap orang meriwayatkan hadits dengan leluasa. Sehingga para ulama membatasi orangorang yang dapat menerima hadits dan meriwayatkannya. Dari masalah ini, timbullah banyak pendapat tentang syarat orang yang

1 Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),181 1

menerima hadits dan orang yang meriwayatkannya. Diantaranya adalah: 2 I. Syarat-syarat orang yang menerima hadits ( dalam ilmu hadits dikenal dengan istilah Ahliyyatul-tahammul ) Diantara Ahliyyatul-tahammul adalah sebagai berikut: a) Tamyiz. Jumhurul ulama’ ahli hadits berpendapatbahwa penerimaan periwayatan suatu hadits oleh anak yang belum sampai umur (belum mukallaf) dianggap sah apabila periwayatan hadits tersebut disampaikan kepada orang lain ketika ia sudah mukallaf. Hal ini didasarkan pada keadaan para sahabat, tabi’in, dan ahli ilmu setelahnya yang menerima periwayatan hadits, seperti Hasan , Husein, Abdullah bin Zubair, Ibnu Abbas, dan lain-lain tanpa mempermasalahkan apakah mereka telah

baligh atau belum. 3 Dalam hal ini para ulama’ berbeda pendapat. Sebagian ulama' menetapkan seseorang boleh bertahamul dengan batasan usia. Misalnya Al Qadi Iyad menetapkan batas usia anak boleh bertahamul adalah lima tahun, karena pada usia ini seorang anak bisa menghafal dan mengingatingat sesuatu, termasuk hadits Nabi SAW. Abu Abdullah Az-Zubairi mengatakan bahwa seorang anak boleh bertahamul jika telah berusia sepuluh tahun, sebab pada usia ini akal mereka telah dianggap sempurna. Sedangkan Yahya bin Ma’in menetapkan usia lima belas tahun. Kebanyakan ulama ahli hadits tidak menetapkan batasan usia tertentu bagi anak yang diperbolehkan bertahammul, tetapi lebih menitik beratkan pada ketamyizannya. Namun mereka juga berbeda pendapat tentang ketamyizan tersebut. Menurut Al Hafidz bin Musa bin Harun Al Hammal, seorang anak bisa disebut tamyiz jika sudah membedakan antara baqar dan himar. 4 Menurut Imam Ahmad, ukuran tamyiz adalah adanya kemampuan menghafal yang didengar dan mengingat yang dihafal. Ada juga yang mengatakan bahwa ukuran tamyiz adalah pemahaman anak pada pembicaraan dan kemampuan menjawab pertanyaan dengan baik dan benar. 5 b) Muslim dan bukan orang fasik 2 Teungku Muhammad Hussein Hasbi Ash Shiddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang:Pustaka Rizki Putra.1999) 39-43 3 Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),181-182 4 Ibid, 181-182 5 Munzier Suparca, Ilmu Hadits, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996) 149

2

Jumhurul ulama hadits menganggap sah mengenai penerimaan hadits bagi orang kafir dan orang fasik, asalkan hadits tersebut diriwayatkan kepada orang lain pada saat mereka telah masukIslam dan bertobat. Alas an mereka adalah banyaknya kejadian yang mereka saksikan dan banyaknya sahabat yang mendengar sabda Nabi SAW sebelum mereka masuk Islam. Diantaranya adalah Zubair. 6 II. Syarat-syarat orang yang meriwayatkan hadits ( Ahliyyatul ‘ada’I ) a) Islam Pada waktu periwayatan suatu hadits, seorang perowi harus muslim. Menurut ijma’, periwayatan orang kafir dianggap tidak sah. Terhadap perowi yang fasik saja kita disuruh bertawaquf, apalagi terhadap perowi yang kafir. 7 b) Baligh Yang dimaksud dengan baligh adalah perawinya cukup usia ketika ia meriwayatkan hadits walaupun penerimaannya sebelum baligh. 8 c) ‘Adalah Yang dimaksud dengan ‘adalah yaitu suatu sifat yang melekat pada jiwa seseorang sehingga ia tetap taqwa, menjaga kepribadian dan percaya pada diri sendiri dengan kebenarannya, menjauhkan diri dari dosa besar dan sebagian dosa kecil, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang mubah yang tergolong kurang baik, dan selalu menjaga kepribadiannya. 9

d) Dhobit Dhobit ialah ingatan seorang perowi ketika ia mendengar hadits dan memahami apa yang didengarnya serta yang ia hafal sejak ia menerima hingga menyampaikan hadits tersebut. 10 Selain syarat-syarat diatas, ada yang mengatakan masih ada persyaratan lain, yaitu antara satu perowi dengan perowi lain harus bersambung, hadis yang disampaikannya itu tidak syadz, tidak ganjil, dan tidak bertentangan dengan hadits-hadits lain yang lebih kuat serta ayat-ayat Al Qur’an. 11 C. Cara Penerimaan Hadits dan Sighot Periwayatannya 6 Munzier Suparca, Ilmu Hadits, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996) 149-150. lihat juga di Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),182-183 7 Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),189 8 Ibid, 190 9 Ibid, 190 10 Ibid, 191 11 Ibid, 191 3

Dari sekian banyak hadits yang diriwayatkan oleh ribuan shahabat maupun tabi’in dan seterusnya, hingga sampai kepada kita, para ulama ahli hadits menggolongkan metode penerimaan serta periwayatan suatu hadits menjadi delapan macam 12 berikut ini:

1) As-Sima’ Yaitu penerimaan hadits dengan cara mendengarkan perkataan gurunya, baik dengan cara didektekan maupun dengan cara yang lainnya, baik dari hafalannya maupun dari tulisannya. 13 Menurut jumhur ahli hadits, as sima’ merupakan cara penerimaan hadits yang paling tinggi tingkatannya. 14 Sebagian dari mereka mengatakan bahwa as sima’ yang di barengi dengan al kitabah mempunyai nilai lebih tinggi karena terjamin kebenarannya dan terhindar dari kesalahan dibandingkan dengan cara-cara yang lainnya. Disamping itu, mayoritas para sahabat juga menerima hadits dari Nabi SAW dengan cara ini. 15 Menurut Al Qadhi Iyadh, para perowi yang menggunakan cara sima’, dalam meriwayatkan haditsnya, mereka biasanya menggunakan kata-kata: ? (seseorang telah menceritakan kepada kami). Ada pendapat bahwa kata ini menunjukkan bahwa ia mendengar hadits ini tidak langsung dari Nabi SAW. ? (seseorang telah mengabarkan kepada kami). Ada pendapat bahwa kata ini menunjukkan bahwa ia mendengar hadits ini langsung dari Nabi SAW. ? (seseorang telah memberitakan kepada kami) ? (saya telah mendengar seseorang) ? (seseorang telah berkata kepada kami) ? (Seseorang telah menuturkan kepada kami) 16 ? (berbicara dihadapanku) Seluruh hadits yang

diriwayatkan dengan lafadz-lafadz tersebut, dipandang hujjah dengan tanpa khilaf. 17 12 Ibid, 183. Pendapat lain mengatakan 9 macam. Lihat Muhammad Jamaluddin Al Qosimi, Qowa’id At-Tahditsi, (Mesir: Dar Ihya’ As Sunnah) 202 13 Ibid, 183 14 Teungku Muhammad Hussein Hasbi Ash Shiddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang:Pustaka Rizki Putra.1999) 44 15 Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),183 16 Ibid, 184. Pendapat lain mengatakan bahwa cara periwayatannya hanya dengan haddatsani dan sami’tu. Lihat Hafid Hasan Mas’udi, Minhatul Mughits. (Surabaya: Maktabah Al Hidayah) 59 17 Teungku Muhammad Hussein Hasbi Ash Shiddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang:Pustaka Rizki Putra.1999) 44 4

2)Al Qiro’ah Ala Asy-Syaikh atau disebut juga dengan Al-Aradh Yakni penerimaan hadits dengan cara seorang murid membacakan hadits dihadapan guru, baik dia sendiri yang membacakan maupun orang lain dan dia hanya mendengarkannya, baik sang guru hafal atau tidak, namun ia memegang atau mengetahui tulisannya atau tergolong tsiqoh. Para ulama’ hadits sepakat bahwa cara seperti ini dianggap sah, namun mereka berbeda pendapat mengenai derajat al qira’ah. Al Lais bin Sa’ad,

Syu’ban, Ibnu Juraih, Sufyan Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah menganggap bahwa al qira’ah lebih baik dibandingkan dengan as sima’, sebab dalam as sima’ bila bacaan guru salah, murid tidak leluasa untuk menolak kesalahan, sedangkan dalam al qiro’ah, bila bacaan murid salah, guru dapat segera mengoreksinya. Imam Malik, Bukhari, mayoritas ulama hijaz dan kufah menganggap bahwa al qira’ah dengan as sima’ memiliki derajat yang sama. Ibnu Abbas Mengatakan (kepada muridnya),”Bacakanlah kepadaku, sebab bacaan kalian kepadaku sama dengan bacaanku kepada kalian.” Sementara itu, Ibnu Ash-Shalah dan beberapa ulama lainnya beranggapan bahwa as sima’ lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan cara al qiro’ah. 18 Para perowi yang menggunakan cara ini, dalam meriwayatkan haditsnya, mereka biasanya menggunakan kata-kata: ? (seseorang telah mengabarkan kepada kami). ? (seseorang telah menberitakan kepada kami) ? (Saya telah membaca dihadapan seseorang) ?(seseorang telah membaca dihadapan orang lain, dan saya mendengarkannya) 19 3) Al Ijazah Yakni seorang guru memberikan izin kepada muridnya untuk meriwayatkan hadits atau kitab kepada seseorang atau orang-orang tertentu, sekalipun sang murid tidak membacakan kepada gurunya atau tidak mendengar bacaan gurunya, seperti: (aku mengijazahkan kepadamu untuk meriwayatkan dariku) Para ulama berbeda pendapat tentang penggunaan al ijazah sebagai cara untuk meriwayatkan hadits. Ibnu Hazm mengatakan bahwa cara ini termasuk bid’ah dan tidak diperbolehkan. Bahkan ada yang mengingkari cara ini. 18 Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),184-185 19 Hafid Hasan Mas’udi, Minhatul Mughits. (Surabaya: Maktabah Al Hidayah) 59-60 5

Adapun ulama yang memperbolehkan cara ini menetapkan beberapa syarat, yaitu: oSang guru harus benar-benar mengerti tentang hadits atau kita yang diijazahi. oNaskah muridnya harus menyamai dengan yang asli. oSang guru benar-benar ahli ilmu. A Qadhi Iyadh membagi al ijazah menjadi enam macam, sedangkan Ibnu Ash Shalah menambah satu macam lagi. Ketuju macam tersebut adalah: a. Seorang guru mengijazahkan kepada seseorang atau beberapa orang tertentu sebuah kitab yang ia sebutkan kepada mereka. Cara ini diperbolehkan menurut jumhur. b. Bentuk ijazah kepada orang tertentu untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu, seperti, “Aku ijazahkan kepadamu sesuatu yang saya riwayatkan untuk kamu riwayatkan.” 20 Cara ini tergolong diperbolehkan menurut jumhur. c. Bentuk al ijazah secara umum, seperti ungkapan “Aku ijazahkan kepada kaum muslimin atau kepada orang-orang yang ada (hadir).” d. Bentuk ijazah kepada orang yang tidak tertentu

untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu. Seperti: “aku ijazahkan kepada siapapun untuk meriwayatkan seluruh riwayatku.” Cara ini dianggap fasid. e. Bentuk al ijazah kepada orang yang tidak ada, seperti mengijazahkan kepada bayi yang masih dalam kandunganbentuk ijazah ini tidak sah. f. Bentuk al ijazah mengenai sesuatu yang belum diperdengarkan kepada penerima ijazah, seperti ungkapan “Aku ijazahkan kepadamu untuk 20 Muhammad Jamaluddin Al Qosimi, Qowa’id At-Tahditsi, (Mesir: Dar Ihya’ As Sunnah) 203 6

kamu riwayatkan dariku sesuatu yang akan ku dengarkan.” Cara ini dianggap batal. g. Bentuk al ijazah al mujaz, seperti perkataan guru “Aku ijazahkan kepadamu ijazahku.” Bentuk ini diperbolehkan. 21 4) Al Munawalah

Yakni seorang guru memberikan hadits atau beberapa hadits atau sebuah kitab kepada muridnya untuk diriwayatkan. Ada juga yang mengatakan, bahwa al munawalah ialah seorang guru memberi kepada seorang murid, kitab asli yang didengar dari gurunya, atau suatu naskah yang sudah dicocokkan, sambil berkata “Inilah hadits-hadits yang sudah saya dengar dari seseorang, maka riwayatkanlah hadits itu dariku dan saya ijazahkan kepadamu untuk diriwayatkan.” Al Munawalah itu ada dua bentuk, yaitu: a. Al munawalah dibarengi dengan ijazah. Menurut al Qadhi Iyadh, cara ini termasuk periwayatan yang dianggap sah oleh para ulama ahli hadits. Ketika meriwayatkan, perowi mengatakan: (seseorang telah memberiku) b. Al Munawalah yang tidak dibarengi dengan ijazah. Seperti perkataan guru,”Ini hadits saya” dan tidak mengatakan “Riwayatkanlah dariku atau saya ijazahkan kepadamu”. Menurut kebanyakan ulama’, munawalah dalam bentuk ini tidak diperbolehkan. 22 5) Al Mukatabah Yakni serang guru menuliskan sendiri atau menyuruh orang lain untuk menuliskan sebagian haditsnya guna diberikan kepada murid yang ada dihadapannya atau yang tidak hadir dengan jalan dikirimi surat melalui orang yang dipercaya untuk menyampaikannya. Al mukatabah ada dua macam, yaitu: a. Al Mukatabah yang dibarengi dengan ijazah. Kedudukan mukatabah dalam bentuk ini sama halnya dengan al munawalah yang dibarengi dengan ijazah, yaitu dapat diterima. 21 Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),185-186 22 Munzier Suparca, Ilmu Hadits, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996) 153

7

b. Al Mukatabah yang tidak dibarengi dengan ijazah. Dalam hal ini terjadi terjadi perbedaan pandapat. Ayub, Manshur, al Lais, dan tidak sedikit ulama Syafi’iyah dan ulama ushul menganggap sah periwayatan dengan cara ini. Sedangkan al Mawardi menganggap tidak sah. 23 Adapun sighot periwayatannya adalah (seseorang telah menulis kepadaku). 24 6) Al I’lam Yaitu pemberitahuan seorang guru kepada muridnya, bahwa hadits atau kitab yang diriwayatkan dia terima dari seseorang tanpa memberikan izin kepada muridnya untuk meriwayatkan haditstersebut atau tanpa ada perintah untuk meriwayatkannya. Sebagian ulama ahli ushul dan Ibnu Ash Shalah menetapkan bahwa meriwayatkan hadits dengan cara ini adalah tidak sah, sedangkan ulama ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul membolehkannya. 25 Adapun lafadz yang digunakan meriwayatkan hadits-hadits ini adalah: (seseorang telah memberitahuku) 26

7) Al Washiyah Yakni seorang guru, ketika akan meniggal atau bepergian, meninggalkan pesan kepada orang lain untuk meriwayatkan hadits atau kitabnya apabila ia meninggal atau bepergian. Periwayatan hadits dengan cara ini oleh jumhur dianggap lemah. 27 Adapun lafadz yang digunakan meriwayatkan hadits-hadits ini adalah: (seseorang telah mewasiatkan kitab ini kepadaku. Dia berkata dalam kitab ini:….) 28 8) Al Wajadah Yakni seseorang memperoleh hadits orang lain dengan mempelajari kitab-kitab hadits dengan tidak melalui cara as sima’, al ijazah, atau al munawalah. Para ulama berselisih pendapat mengenai cara ini. Imam Syafi’I dan dan segolongan pengikutnya memperbolehkan beramal dengan hadits yang periwayatannya melalui cara ini. Ibnu Ash Shalah mengatakan bahwa sebagian ulama muhaqqiqin mewajibkan mengamalkannya bila diyakini 23 Ibid, 153-154. 24 Hafid Hasan Mas’udi, Minhatul Mughits. (Surabaya: Maktabah Al Hidayah) 60-61. 25 Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),187. 26 Hafid Hasan Mas’udi, Minhatul Mughits. (Surabaya: Maktabah Al Hidayah) 61-62. 27 Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),188. 28 Hafid Hasan Mas’udi, Minhatul Mughits. (Surabaya: Maktabah Al Hidayah) 60-61. 8

kebenarannya. 29

Adapun lafadz yang digunakan meriwayatkan hadits-hadits ini adalah: (saya telah menemukan tulisan seseorang atau saya telah membaca tulisan seseorang). 30 Muhammad Jamaluddin Al Qosimi mengatakan bahwa lafadz-lafadz dalam periwayatan hadits (Alfadzul Ada’) ada sepuluh macam, yaitu: A. F. B. G. C. H. D. I. E. J. 31 DAFTAR PUSTAKA ?Al Qosimi, Muhammad Jamaluddin._____ Qowa’id At-Tahditsi, Mesir: Dar Ihya’ As Sunnah ?Mas’udi, Hafid Hasan._____ Minhatul Mughits. Surabaya: Maktabah Al Hidayah ?Mudasir, 1999. Ilmu Hadits,Bandung:Pustaka Setia. ?Suparca, Munzier. 1996. Ilmu Hadits, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. ?Ash Shiddiqy, Teungku Muhammad Hussein Hasbi. 1999. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang:Pustaka Rizki Putra. 29 Mudasir, Ilmu Hadits,(Bandung:Pustaka Setia, 1999),188. 30 Hafid Hasan Mas’udi, Minhatul Mughits. (Surabaya: Maktabah Al Hidayah) 61. 31 Muhammad Jamaluddin Al Qosimi, Qowa’id At-Tahditsi, (Mesir: Dar Ihya’ As Sunnah) 204 9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->