Daftar isi

Katapengantar..........................................................................................................i Daftar isi..................................................................................................................1 Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar belakang.......................................................................................2 1.2 Tujuan....................................................................................................2 1.3 Metode penelitian..................................................................................2 1.4 Rumusan Masalah..................................................................................3 Bab 2 Pembahasan 2.1 Struktur Undang-undang No. 5 Tahun 1986........................................4 2.2 Dasar Hukum UU No. 5 Tahun 1986...................................................5 2.3 Isi Undang-undang No. 5 Tahun 1986.................................................5 2.4 Perbandingan Pasal 116 UU No. 5 Tahun 1986 dengan UU No. 9 Tahun 2004.................................................................................................8

Bab 3 Penutup 3.1 Kesimpulan..........................................................................................11 3.2 Saran....................................................................................................11 Daftar Pustaka.......................................................................................................12

1

1. 5 Tahun 1986 1. 5 Tahun 1986 dan Undang-undang No. Pembentukan atau perubahan perundang-undangan tersebut dilakukan dengan pertimbangan sebagai usaha memperkuat prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka dan bebas dari pengaruh kekuasaan lainnya untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. administrasi. Untuk lebih bisa memahami isi dari Undang-undang No. Kasus Perparkiran di Kotamadya Medan. Dikatakannya bahwa masih terdapat Badan/Pejabat TUN yang tidak bersedia melaksanakan putusan Peradilan TUN yang tidak dilakasanakan. Menjelaskan secara terperinci dari isi Undang-undang no. Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara telah meletakkan dasar kebijakan bahwa segala urusan mengenai peradilan umum. 5 Tahun 1986 3. Mengetahui apa saja yang menjadi kekurangan dari Undang-undang No. 9 Tahun 2004. misalnya pada Sengketa Pengelolaan Sarang Burung di Tabalong.1 Latar Belakang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah membawa perubahan penting terhadap penyelenggaraan kekuasaan kehakiman sehingga membawa konsekuensi perlunya pembentukan atau perubahan seluruh perundang-undangan di bidang kekuasaan kehakiman. dan Kasus Pembongkaran Restoran Bali Sky Light. baik menyangkut teknis yudisial maupun non yudisial yaitu urusan organisasi.3 Metode Penelitian Dalam penyusunan makalah ini.BAB I PENDAHULUAN 1. 5 Tahun 1986 2.2 Tujuan 1. dan finansial di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. Nampaknya perubahan Pasal ini tidak terlepas dari suatu fenomena yang disinggung oleh Sudarsono[3] dalam Varia Peradilan. Salah satu perubahan penting atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara adalah adanya sanksi terhadap pejabat karena tidak dilaksanakannya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. karena pada dasarnya kami berusaha untuk membandingkan kedua undangundang tersebut 2 . Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (selanjutnya disebut UU Peradilan TUN) merupakan salah satu undangundang yang mengatur lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung perlu pula dilakukan perubahan. sebagian besar isi dari makalah ini adalah isi dari Undang-undang no.

Bagaimana perbandingan Pasal 116 dalam UU No.1.4 Rumusan masalah Berdasarkan hal tersebut rumusan masalah yang hendak dikemukakan adalah sebagai berikut: 1. Struktur Undang-undang no. 5 Tahun 1986 2. 5 tahun 1986 dengan pasal 116 UU Nomor 9 tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara ? 3 .

Bahwa meskipun pembangunan nasional hendak menciptakan suatu kondisi sehingga setiap warga masyarakat dapat menikmati suasana serta iklim ketertiban dan kepastian hukum yang berintikan keadilan. perselisilian. tenteram. menyempurnakan. perlu dibentuk Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara. sehingga dapat memberikan pengayoman kepada masyarakat. agar mampu menjadi alat yang efisien. atau sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat yang dapat merugikan atau menghambat jalannya pembangunan nasional. diusahakan untuk membina. Bahwa dalam mewujudkan tata kehidupan tersebut. serta tertib. Bahwa sehubungan dengan pertimbangan tersebut. yakni pada 4 . 5 tahun 1986 maka tujuan dari di bentuknya undang-undang ini adalah sebagai berikut : a. dengan jalan mengisi kemerdekaan melalui pembangunan nasional secara bertahap. b. e. khususnya dalam hubungan antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan masyarakat. efektit. aman. serta selaras antara aparatur di bidang Tata Usaha Negara dengan para warga masyarakat. dalam pelaksanaannya ada kemungkinan timbul benturan kepentingan. yang menjamin persamaan kedudukan warga masyarakat dalam hukum. Bahwa untuk menyelesaikan sengketa tersebut diperlukan adanya Peradilan Tata Usaha Negara yang mampu menegakkan keadilan. dan yang menjamin terpeliharanya hubungan yang serasi. bersih. dan yang dalam melaksanakan tugasnya selalu berdasarkan hukum dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian untuk masyarakat.BAB II PEMBAHASAN 2. serta berwibawa. Bahwa negara Republik Indonesia sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera. kebenaran. dan kepastian hukum. Setelah melihat dari isi konsiderans menimbang di atas maka jelas sudah yang menjadi tujuan dan maksud dari dibentuknya undang-undang ini. 5 Tahun 1986 Sesuai dengan isi dari pada konsiderans menimbang dari undang-undang no. ketertiban. c. dan menertibkan aparatur di bidang Tata Usaha Negara.1 Struktur Undang-undang No. seimbang. d. dan sesuai pula dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuanketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.

Bab II Susunan Pengadilan - 5 . dan untuk mengisi kemerdekaan dan untuk membina.2 Dasar Hukum UU No. 5 tahun 1986 terdapat 7 Bab dengan 145 Pasal. dan untuk menciptakan dan mewujudkan kepastian hukum yang berintikan keadilan. Pasal 20 ayat (1). yakni : Bab I Ketentuan Umun Yakni pada bab ini. 5 Tahun 1986 Dalam UU no. Pasal 24. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2951) 4. Pasal 5 ayat (1). dan untuk penyelesain sengketa maka perlu di bentuk sebuah Peradilan Tata Usaha Negara yang mampu menegakan keadilan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3316) Maka jelas Undang-undang no. bahwa Indonesia adalah negara Hukum. 5 tahun 1986 memiliki dasar hukum yang cukup kuat dan mendasar. adalah segala penjelasan dari semua hal yang an Tata Usaha Negara. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 73. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1978 dihubungkan dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara 3. menyempurnakan.intinya adalah untuk menegakan hukum di Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 2. dan menertibkan aparatur di bidang Tata Usaha Negara. maka jelas sudah apa yang menjadi landasan yuridis dari undang-undang no. 5 Tahun 1986 Maka kemudian isi dari undang-undang no. kebenaran. 5 tahun 1986 yang akan kami bahas ini. yakni : 1. dan kepastian hukum khususnya dalam hubungan antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan Masyarakat.3 Isi Undang-undang No. dan Pasal 25 UndangUndang Dasar 1945 2. terdapat 7 Pasal pada Bab ini. 5 Tahun 1986 kita dapat melihat yang menjadi dasar hukum UU ini adalah dalam konsiderans mengingat UU ini sendiri. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuanketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 74. 2.

b. yaitu pada pasal 49 yang menyebutkan bahwa Pengadilan tidak berwenang memeriksa. 6 .S/PKI" atau organisasi terlarang lainnya. dan berkelakuan tidak tercela. Bab IV Hukum Acara Pada Bab ini terdapat beberapa bagian yakni pada bagian yang pertama di atur tentang gugatan dan bagaimana cara mengajukan sebuah sebuah gugatan. keterangan saksi d. memutus. seorang calon harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. bagian kedua adalah tentang pemeriksaan di tingkat pertama.- - - Terdapat 38 Pasal yang menjelaskan dan mengatur susunan pengadilan dalan peradilan Tata Usaha Negara. pengetahuan Hakim dan bagian keempat adalah Putusan Pengadilan. pengakuan para pihak e. dan dalam putusan pengadilan tersebut harus memuat beberapa hal sesuai dengan Pasal 109 UU No. Bab III Kekuasaan Pengadilan Terdapa 6 Pasal dalam Bab ini. h. keadaan bencana alam. sesuai dengan pasal 100 yang dimaksud dengan alat bukti adalah : a. berwibawa. dalam waktu perang. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. f. g. 5 Tahun 1986 yaitu : a. keterangan ahli c. atau keadaan luar biasa yang membahayakan. keadaan bahaya. e. bagian ketiga adalah pembuktian. pegawai negeri. jujur. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku b. yakni pada Pasal 14 yaitu : Untuk dapat diangkat menjadi Hakim pada Pengadilan Tata Usaha Negara. berumur serendah-rendahnya dua puluh lima tahun. surat atau tulisan b. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. c. namun terdapat pengecualian terhadap pasal 47. Kepala putusan yang berbunyi : "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA". adil. memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara. bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia. yakni pada dasarnya pada pasal 47 menyebutkan jika kewenangan dan Tugas dari Pengadilan Tata Usaha Negara adalah untuk memeriksa. warga negara Indonesia. dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara tertentu dalam hal keputusan yang disengketakan itu dikeluarkan : a.30. sarjana hukum atau sarjana lain yang memiliki keahlian di bidang Tata Usaha Negara. dan dalam bab ini juga mengatur tentang syarat menjadi seorang Hakim. termasuk organisasi massanya atau bukan seseorang yang terlibat langsung ataupun tak langsung dalam "Gerakan Kontra Revolusi G. d. dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

wewenang dan tugas dari Ketua Pengadilan dan Panitera Pengadilan. pertimbangan dan penilaian setiap bukti yang diajukan dan hal yang terjadi dalam persidangan selama sengketa itu diperiksa. alasan hukum yang menjadi dasar putusan. tanggal putusan. bagian kesembilan adlah Pemeriksaan Peninjauan Kembali. jabatan. g. tempat kediaman. sebelum kita membahas masalah yang ke dua yakni tentang Bagaimana perbandingan Pasal 116 dalam UU No. 7 .- - - b. f. e. bagian kedelapan adalah Pemeriksaan di Tingkat Kasasi. Bab VI Ketentuan Peralihan Dalam bab ini mengatur tentang peraturan peralihan seperti pada pasal 142 yaitu : (1) Sengketa Tata Usaha Negara yang pada saat terbentuknya Pengadilan menurut Undang-undang ini belum diputus oleh Pengadilan di lingkungan Peradilan Umum tetap diperiksa dan diputus oleh Pengadilan di lingkungan Peradilan Umum. nama Panitera. hari. amar putusan tentang sengketa dan biaya perkara. nama Hakim yang memutus. dilimpahkan kepada Pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara. nama. bagian ketujuh adalah Pemeriksaan di Tingkat banding. c. d. ringkasan gugatan dan jawaban tergugat yang jelas. Bagian kelima adalah ganti rugi. Bab VII Ketentuan Penutup Terdapat 2 pasal dalam Bab ini yakni : Pasal 144 Undang-undang ini dapat disebut "Undang-undang Peradilan Administrasi Negara". 5 Tahun 1986 masih terdapat kekurangan yakni pada pasal 116 yang akan di bahas selanjutnya. bagian keenam adalah Rehabilitasi. maka dari isi dari Undang-undang No. Agar setiap orang mengetahuinya. serta keterangan tentang hadir atau tidak hadirnya para pihak. Itulah tentang Struktur dari Undang-undang No. 5 Tahun 1986 yang telah di uraikan di atas. atau tempat kedudukan para pihak yang bersengketa. Pasal 145 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan dan penerapannya diatur dengan Peraturan Pemerintah selambat-lambatnya lima tahun sejak Undang-undang ini diundangkan. (2) Sengketa Tata Usaha Negara yang pada saat terbentuknya Pengadilan menurut Undang-undang ini sudah diajukan kepada Pengadilan di lingkungan Peradilan Umum tetapi belum diperiksa. 5 tahun 1986 dengan UU Nomor 9 tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. kewarganegaraan. Bab V Ketentuan Lain Dalam bab ini mengatur tentang fungsi. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

(4) Jika tergugat masih tetap tidak mau melaksanakannya. (3) Dalam hal tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b dan huruf c. (5) Instansi atasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4). tidak mengindahkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5). 5 Tahun 1986 dengan UU No. maka penggugat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 9 Tahun 2004 Sebelum kita membandingkan kedua pasal tersebut. 9 Tahun 2004 di bawah ini 8 . Ketua Pengadilan mengajukan hal ini kepada instansi atasannya menurut jenjang jabatan. 5 Tahun 1986. 5 Tahun 1986 dan pasal 116 UU No. 5 Tahun 1986 Pasal 116 (1) Salinan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Dalam hal empat bulan setelah putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikirimkan tergugat tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf a.2. maka Ketua Pengadilan mengajukan hal ini kepada Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintah tertinggi untuk memerintahkan pejabat tersebut melaksanakan putusan Pengadilan tersebut. (6) Dalam hal instansi atasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4). maka Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan hukum lagi. dalam waktu dua bulan setelah menerima pemberitahuan dari Ketua Pengadilan harus sudah memerintahkan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) melaksanakan putusan Pengadilan tersebut.4 Perbandingan Pasal 116 UU No. sekarang mari kita lihat perbandinganya dengan pasal 116 UU No. 9 Tahun 2004. dikirimkan kepada para pihak dengan surat tercatat oleh Panitera Pengadilan setempat atas perintah Ketua Pengadilan yang mengadilinya dalam tingkat pertama selambat-lambatnya dalam waktu empat belas hari. dan kemudian setelah tiga bulan ternyata kewajiban tersebut tidak dilaksanakannya. agar Pengadilan memerintahkan tergugat melaksanakan putusan Pengadilan tersebut. Itu adalah isi dari pasal 116 UU No. sebaiknya kita lihat terlebih dahulu isi dari pasal 116 UU No. UU No.

(5). 9 Tahun 1986 Pasal 116 (1). cenderung ditekankan pada hal Eksekusi. Pada UU lama Jika tergugat masih tetap tidak mau melaksanakannya. Sedangkan Pada UU baru. Setelah kita melihat isi dari pada kedua pasal tersebut maka kita dapat melihat perubahan yang terjadi dari UU yang lama ke UU yang baru. Ketua Pengadilan mengajukan hal ini kepada instansi atasannya menurut jenjang jabatan. dan kemudian setelah 3 (tiga) bulan ternyata kewajiban tersebut tidak dilaksanakannya. (3). Salinan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Dalam hal tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (4). penggugat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) agar Pengadilan memerintahkan tergugat melaksanakan putusan Pengadilan tersebut. terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif. (2). Dalam hal tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b dan huruf c. Pada pasal ini UU lama maupun UU baru. Dalam hal 4 (empat) bulan setelah putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan. terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif. Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan hukum lagi. Dalam hal tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.UU No. dikirimkan kepada para pihak dengan surat tercatat oleh Panitera Pengadilan setempat atas perintah Ketua Pengadilan yang mengadilinya dalam tingkat pertama selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari. 9 . Pejabat yang tidak melaksanakan putusan pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diumumkan pada media massa cetak setempat oleh Panitera sejak tidak terpenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tergugat tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf a.

karena. sehingga cenderung tidaj efektif. Dengan begitu. atau mempunyai relasi yang kuat. terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif. eksekusi pada UU lama cenderung menerapkan eksekusi hierarkis dan otomatis.Di sini bisa kita lihat jelas bahwa. dapa dikatakan proses eksekusi ini telah dilaksanakan dengan adil. Itu adalah beberapa analisis yang kami bisa sajikan tentunya bukan hanya pasal ini saja yang dirubah karena banyak pasal-pasal lainya yang juga dirubah.maka dapat terjadi eksekusi tidak dilaksanakan dengan baik. Sedangkan pada UU baru dapat diktakan eksekusi yang diatur sangat efektif. bahkan jika tergugat dengan pejabat atasan saling kenal. 10 .

memang tidak mudah untuk merubah suatu peraturan perundang-undangan. 11 . 9 Tahun 2004. 3. 5 Tahun 1986 dengan pasal 116 UU No.BAB III PENUTUP 3. namun dengan semangat untuk memperbaiki aturan hukum yang ada. mungkin itu kesimpulan yang dapat kami simpulkan. asalkan ada kesadaran dalam diri setiap anggota masyarakat. kita dapat menarik sebuah kesimpulan jika dalam sistem perundang-undangan di Indonesia masih terdapat banyak kekurangan dan tentunya ini adalah tugas kita sebagai generasi penerus untuk terus meningkatkan mutu dan kwalitas dari UU yang di hasilkan. dan juga dalam perubahan UU di atas membutuhkan waktu yang cukup panjang.1 Kesimpulan Setelah kita membahas tentang bagaimana struktur dari UU No. 5 Tahun 1986 dan kita juga setelah membandingkan salah satu pasal yakni pasal 116 dari UU No. itu juga salah satu faktor yang menjadikan kekuatan hukum di Indonesia kurang mengikuti perkembangan jaman. para calaon sarjana dan para sarjana harusnya lebih peka terhadap peraturan perundang-undangan yang memang mempunyai kekurangan dan harus segera di ganti. banyak nya peraturan perundangundangan yang saling tumpang tindih juga menjadikan penghambat dalam kepastian hukum bagi warga masyarakat.2 Saran Sebagai Praktisi hukum. kami rasa itu bisa di wujudkun.

5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara 2. Edisi Baru. UU No. Pustaka Sinar Harapan. 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara 3. SEMA RI No. 12 . 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. 4. 1994. Usaha Memahami Undang-Undang Tentang PeradilanTata Usaha Negara. 2 Tahun 1991 tentang Petunjuk Pelaksanaan BeberapaKetentuan Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 Tentang perubahan atas UU No. SH. Jakarta. UU No. Buku II. Indro harto.DAFTAR PUSTAKA 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful