Tugas Makalah

PEMBANGUNAN SEKTOR KESEHATAN

DI SUSUN OLEH:

FIFI.M NPM : 115 07 042

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INDONESIA JAYA PALU

2 0 10

Daerah memberikan kewenangan untuk daerah otonom (daerah Kabupaten dan Kota) untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 25 tahun 2000. pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 25 tahun 2000. 22 tahun 1999). Bab II. Keluarnya undang-undang tersebut membawa implikasi yang luas terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang pihak penyelenggara pemerintah Kabupaten dan Kota (eksekutif dan legislatif). Salah satu hal yang menonjol dari desentralisasi bidang kesehatan seperti yang digariskan dalam UU No. pasal 2 mengatur tugas dan wewenang desentralisasi bidang kesehatan pada daerah provinsi sebagai daerah otonom. dan DPRD akan bertindak sebagai wasit ‘tegas’ yang sewaktu-waktu dapat menjatuhkan Bupati/Walikota. yang menunjukkan bahwa pihak Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menginginkan kekuasaan yang lebih luas daripada yang ditetapkan undang-undang.25 tahun 2000 adalah pemberian tugas dan wewenang yang sangat besar .dkk (2002). Surat Edaran Menteri Kesehatan No. PENDAHULUAN 1. Selanjutnya.Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan UU No. pemindahan korupsi dari pusat ke daerah. Di satu sisi. Beberapa kekhawatiran yang berkembang di masyarakat sebagai akibat dari kebijakan otonomi daerah.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan. PP No. pihak eksekutif sebagai pelaksana kebijakan akan memiliki tugas dan wewenang yang semakin besar. Indikasi ke arah tersebut telah ditemukan oleh Suryadharma. 1107/Menkes/E/VII/2000 mengatur tugas dan wewenang dekonsentrasi bidang kesehatan pada daerah provinsi sebagai wilayah administrasi dan daerah Kabupaten/Kota sebagai daerah otonom. 22 tahun 1999 dan PP No. pihak legislatif (DPRD) dituntut untuk mengoptimalkan pengawasan pelaksanaan kebijakan oleh eksekutif.PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN KESEHATAN (Suatu Kajian Kesiapan Daerah Menghadapi Desentralisasi Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010) I. antara lain adalah munculnya raja-raja kecil di daerah. Di sisi lain.22 Tahun 1999.

Dengan sistem desentralistik. profesionalisme. yang menyebabkan mereka sulit untuk dilibatkan. Hal ini tidak mudah.kepada daerah (Tabel 1). padahal kenyataannya tidak dan bahkan sangat berbeda dari daerah yang satu ke daerah lain. Salah satu misi pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Berdasarkan uraian di atas . tidak saja karena selama ini masyarakat jarang dilibatkan dalam setiap program pembangunan. Paradigma sehat merupakan modal pembangunan kesehatan yang dalam jangka panjang akan mampu mendorong masyarakat untuk bersikap dan bertindak mandiri dalam menjaga kesehatannya sendiri melalui kesadaran terhadap pentingnya upaya-upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif. Dengan cara ini masyarakat tidak lagi sebagai objek pembangunan tetapi akan berperan sebagai subjek pembangunan. Hal ini dimungkinkan karena dengan sistem desentralistik rantai birokrasi akan diperpendek. yaitu pembangunan berwawasan kesehatan. Untuk dapat terselenggaranya misi tersebut ditetapkanlah empat strategi pembangunan kesehatan. 1999). Secara tidak langsung sistem sentralistik menganggap masalah kesehatan di seluruh Indonesia sama. 2001). sistem desentralistik juga memberi kewenangan bagi daerah untuk menentukan sendiri program serta pengalokasian dana pembangunan kesehatan di daerahnya. Hal ini berbeda dengan sistem sentralistik yang mekanisme penyusunan program dan pengalokasian dana pembangunannya yang top-down. dan desentralisasi (Depkes. Hakikat desentralisasi kesehatan ini juga sesuai dengan paradigma sehat yang ditetapkan sebagai model pembangunan kesehatan di Indonesia. tetapi juga adanya ‘stigmatisasi negatif’ masyarakat terhadap pemerintah. Dengan sistem desentralisasik diharapkan pembangunan kesehatan dilakukan dengan mempertimbangkan masalah dan kebutuhan kesehatan dan potensi setempat. jaminan pemeliharaan kesehatan. diharapkan adanya keterlibatan masyarakat (community involvement) yang besar dalam pembangunan kesehatan di daerahnya. Selain itu. Hal yang menarik lagi adalah pemerintah pusat masih memilki wewenang yang besar yang didekonsentrasikan melalui pemerintah daerah provinsi sebagai perpanjangan tangan (Tabel 2). yaitu pembangunan kesehatan yang mengutamakan upaya-upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya-upaya kuratif dan rehabilitatif (Depkes. juga. Desentralisasi pembangunan kesehatan dimaksudkan untuk lebih mengoptimalkan pembangunan bidang kesehatan dengan cara lebih mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan sistem desentralistik diharapkan program pembangunan kesehatan lebih efektif dan efisien serta menyentuh kepada kebutuhan kesehatan riil masyarakat.

bagaimana menentukan skala prioritas. Dampak desentralisasi kesehatan terhadap pelaksanaan program kesehatan di daerah oleh penyelenggara pemerintaan di Kabupaten/Kota. 2. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai bagaimana penyelenggara pemerintah daerah memahami hakikat desentralisasi kesehatan. bagaimana mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada. bagaimana melibatkan masyarakat. 3. Apakah penyusunan program pembangunan kesehatan daerah mempertimbangkan potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam daerah? Paradigma Lama Paradigma Baru • • • • • • • • • • • • Program dan Kebijakan yang top-down Mentalitas nrimo Meninabobokan potensi lokal Pembangunan Kesehatan berbasis Pemerintah Sistem purna bayar pelayanan kesehatan Pembanguan Kesehatan Sektoral Program dan Kebijakan yang Bottom-up Mentalitas proaktif Pemberdayaan sumberdaya lokal Pembangunan Kesehatan Berbasis Masyarakat Sistem prabayar pelayanan kesehatan Pembangunan Kesehatan Multi Sektor 1. menguraikan sumbangan pemikiran mengenai beberapa (sebagian) upaya yang perlu dilakukan oleh penyelenggara pemerintah dan masyarakat daerah untuk menghadapi era desentralisasi pembangunan kesehatan. melalui makalah ini. maka penulis.3 Tujuan Menyadari bahwa berhasilnya pelaksanaan desentralisasi pembangunan kesehatan sangat bergantung pada kesiapan (dalam arti luas) daerah sebagai daerah otonom.beberapa hal yang patut dikaji dalam upaya meningkatkan kesiapan daerah dalam melaksanakan pembangunan kesehatan pada era desentralisasi kesehatan adalah: 1. dan bagaimana melibatkan sektor (instansi) lain dalam pembangunan . bagaimana menganalisis potensi setempat. Bagaimana meningkatkan kesiapan masyarakat untuk turut serta mendukung kebijakan desentralisasi kesehatan? Bagimana kesiapan sarana dan prasarana daerah Kabupaten/Kota untuk mendukung kebijakan desentralisasi kesehatan? 4.

wewenang. misi. Pembahasan akan dimulai dari tinjauan kepustakaan mengenai kebijakan desentralisasi pembangunan bidang kesehatan (terutama mengenai tugas. dan visi.kesehatan di daerah. dan kebijakan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. dan peran daerah). . konsep paradigma sehat.

Devolusi merupakan kebijakan untuk membentuk atau memperkuat pemerintahan tingkat sub-nasional (pemerintah daerah) yang benar-benar independen dari tingkat pusat dalam beberapa fungsi secara jelas. devolusi. Walaupun pihak Dinas Kabupaten/Kota diberi kewenangan untuk mencari sumber dana sendiri. secara kuat. atau pembagian kekuasaan dalam perencanaan pemerintahan. terdapat empat jenis desentralisasi yang umum dijumpai. Pengadaan dokter pegawai tidak tetap (dokter PTT) adalah contoh delegasi di Indonesia. sejumlah fungsi yang harus dikerjakan. Dalam prakteknya. dan untuk menyusun suatu organisasi yang responsif dan luwes. masih dikontrol pemerintah pusat. tetapi pelaksanaannya. tetapi pelaksananya mempunyai kewenangan luas untuk melaksanakan tugas-tugas kewenangan dan kewajiban yang sudah ditentukan. secara ’setengah hati’ telah mempraktekkan devolusi. namun dalam prakteknya bagian terbesar pembiayaannya masih berasal dari pemerintah pusat. Pengadaan dokter PTT merupakan kebijakan pemerintah pusat (termasuk penggajian). yaitu dekonsentrasi. dan kewenangan untuk mencari sumber pembiayaan serta pembelanjaannya. manajemen dan pengambilan keputusan dari tingkat nasional ke tingkat daerah (Rondinelli. Istilah dekonsentrasi dipakai untuk menggambarkan pemindahan beberapa kekuasaan administratif ke kantorkantor daerah dari pemerintah pusat. 1981).1 Pengertian Desentralisasi Desentralisasi dalam arti umum didefinisikan sebagai pemindahan kewenangan. yaitu dengan adanya Kantor Dinas di Kabupaten/Kota. sedangkan pengelolaannya (penugasan) . Otoritas daerah mempunyai status hukum yang jelas. 1989). TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2. Tanggungjawab terakhir masih di tangan pemerintah pusat.II. dkk. delegasi. Pemerintah Indonesia. masih memegang kewenangan dalam hal penentuan kebijakan pembangunan di daerah. dan privatisasi (Rondinelli. kekuasaan. dan pengambilan keputusan dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah (Mills. Pemerintah pusat memandang pendelegasian tanggungjawab sebagai suatu cara untuk menghindari ketidakefisienan pengelolaan. perencanaan pemerintahan. secara tidak langsung. Pemerintah pusat. Secara lebih umum desentralisasi didefinisikan sebagai pemindahan kewenangan. Delegasi berkaitan dengan pemindahan tanggungjawab manajerial untuk tugas-tugas tertentu ke organisasi-organisasi tertentu di luar stuktur pemerintah pusat. penghematan biaya pengawasan. 1983).

implikasi desentralisasi pembangunan kesehatan. UU No. dkk. baik yang mencari untung maupun tidak. Kandungan makna substansial dari desentralisasi adalah bagaimana menyejahterakan dan menciptakan keadilan bagi kehidupan masyarakat di daerah (Tagela.merupakan wewenang pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan.2 Desentralisasi Sistem Kesehatan di Indonesia Desentralisasi kesehatan di Indonesia secara lebih jelas dilakasanakan setelah dikeluarkannya UU No. Privatisasi merupakan pemindahan tugas-tugas pengelolaan ke organisasi-organisasi sukarelawan atau perusahaan privat. desentralisasi bidang kesehatan di Indonesia menganut semua jenis desentralisasi (dekonsentrasi. delegasi. atau bahkan saling tumpang tindih. devolusi. antara lain. berdasarkan SE Menkes/E/VII/2000 disebutkan beberapa tugas yang mungkin tidak dapat dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota dapat diserahkan ke tingkat yang lebih tinggi. Upaya privatisasi pelayanan kesehatan dan perusahaan pendukung pelayanan kesehatan juga sedang giat dilakukan. Pemerataan pembangunan dan pelayanan kesehatan. Dalam bidang kesehatan. PP No. . 22 tahun 1999 pasal 1 ayat h menyebutkan “otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat (termasuk bidang kesehatan). Hal ini terlihat dari masih adanya kewenangan pemerintah pusat yang didekonsentrasikan di daerah provinsi melalui Dinas Kesehatan Provinsi. 2. seperti pengelolaan Rumah Sakit dan perusahaan farmasi. 22 tahun 1999. Menurut aturan perundang-undangan dan dalam prakteknya. Selanjutnya. 1107/Menkes/E/VII/2000. Perbedaan antara keempat jenis desentralisasi tersebut di atas pada prinsipnya berdasar atas status hukumnya (Mills. salah satu jenis desentralisasi di Negara tertentu dapat lebih menonjol daripada jenis yang lainnya. Sebuah badan pengatur (misalnya Badan Pengawasan Obat dan Makanan) dibutuhkan untuk mengawasi penyediaan dan mutu obat dan makanan. menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. 1989). 25 tahun 2000. 2001). serta SE Menkes No. adalah sebagai berikut: 1) 2) Terwujudnya pembangunan kesehatan yang demokratis yang berdasarkan atas aspirasi masyarakat. dan privatisasi). beberapa jenis pelayanan telah diserahkan kepada perusahaan swasata. Dalam bidang kesehatan. Namun penting untuk diketahui bahwa privatisasi tidak membuat pemerintah lepas beban dari pengelolaan pelayanan kesehatan. Selain itu.

Kesemuanya ini bermuara pada peneingkatan kesejahteraan masyarakat di daerah. Penyelenggaraan sistem kewaspadaan pangan dan gizi skala provinsi 3. Selanjutnya. Penyelenggaraan upaya kesehatan lingkungan termasuk domestik 2. memuat kewenangan dekonsentrasi dan desentralisasi Provinsi dan kewenangan desentralisasi daerah Kabupaten/Kota. Penetapan Sistem Kesehatan Provinsi 2. Penyelenggaraan upaya dan sarana kesehatan tertentu skala provinsi dan yang belum dapat diselenggarakan Kabupaten/Kota 9.3 Fungsi dan Kewenangan Daerah Kabupaten/Kota dalam Desentralisasi Kesehatan Kewenangan Desentralisasi Kesehatan Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota diatur melalui PP No.3) 4) 5) Optimalisasi potensi pembangunan kesehatan di daerah yang selama ini belum tergarap. Memacu sikap inisiatif dan kreatif aparatur pemerintah daerah yang selama ini hanya mengacu pada petunjuk atasan. pedoman. Perencanaan dan pengadaan obat pelayanan kesehatan dasar sangat esensial Pembinaan dan Pengawasan 6. Kewenangan Fungsi Dekonsentrasi Desentralisasi Sistem 1. Perencanaan pembangunan kesehatan wilayah provinsi 5. Penyelengaraan sistem informasi Kesehatan skala provinsi 1. Pengawasan aspek dan dampak perencanaan tata ruang dan pembangunan terhadap kesehatan 7. 2. 1107/Menkes/E/VII/2000. 10 bidang kesehatan. Surveilens epidemiologi serta penanggulangan wabah dan kejadian luar biasa (KLB) Perizinan dan penilaian pelabuhan . Penetapan pedoman penyuluhan dan kampanye kesehatan Perncanaan 4. Tabel 1 dan Tabel 2. Pembinaan dan pengawasan penerapan kebijakan. Menumbuhkembangkan pola kemandirian pelayanan kesehatan (termasuk pembiayaan kesehatan) tanpa mengabaikan peran serta sektor lain. 25 tahun 2000 pasal 2 No. kewenangan desentralisasi dan dekonsentrasi daerah Kabupaten/Kota dijabarkan dalam SE No. dan pengaturan bidang kesehatan Upaya Kesehatan 8. berturut-turut. standar.

Sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi Pengelolaan SDM 12. Hal ini merupakan kendala. Melaksanakan registrasi dan uji dalam rangka sertifikasi tenaga kesehatan 3. beberapa kendala umum yang dihadapi daerah (Kabupaten/Kota) dalam melaksanakan desentralisasi adalah terbatasnya sumber daya manusia. sangat dituntut. Penempatan tenaga kesehatan strategis. sumber daya alam. pemindahan tenaga kesehatan tertentu antar kabupaten/kota. 2002). pemerintah daerah diharapkan untuk menyusun sistim kesehatan. KENDALA DALAM PELAKSANAAN DESENTRALISASI KESEHATAN Harus diakui bahwa melaksanakan sesuatu yang relatif baru tentu akan berhadapan dengan berbagai kendala. melakukan bimbingan dan pengendalian upaya kesehatan. dan mental aparatur yang sudah terbiasa dengan mengikuti petunjuk atasan. Arus desentralisasi semakin menuntut perobahan ‘radikal’ dalam kinerja birokrasi aparatur pemerintahan. Selama ini masyarakat memandang birokrasi sebagai suatu proses panjang dan berbelit-belit. pendapatan asli daerah. dan pelatihan kesehatan Lainnya 6. Selain itu. yang penyelesaiannya membutuhkan waktu yang relatif lama. Memfasilitasi pendayagunaan tenaga kesehatan 5. Salah satu hal yang dapat menghambat pelaksnaan desentralisasi adalah perubahan yang dramatis terhadap birokrasi pemerintahan di daerah. Hal ini tidak . Kewenangan lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan III. sarana dan prasarana. berdasarkan fungsi dan kewenangan daerah Kabupaten /Kota. Pengelolaan dan perizinan sarana dan prasarana kesehatan khusus 4. apabila masyarakat akan menyelesaikan suatu urusan dengan aparatur pemerintah (Widjaya. pendidikan tenaga kesehatan. kesiapan daerah. Dalam bidang kesehatan. Menurut Tagela (2001). dan pengembangan kerjasama lintas sector (lintas instansi).10. karena peroses perobahannya memerlukan waktu lama dan kemauan kuat dari aparatur pemerintah (termasuk perubahan mental birokrat) yang selama ini sudah ‘mapan’. baik dari pihak penyelenggara pemerintahan (ekesekutif dan legislatif) maupun dari pihak masyarakat. Sebagai contoh. pemerintah daerah dituntut untuk mengoptimalkan seluruh potensi yang ada di daerah dan sedapat mungkin melibatkan masyarakat dalam setiap perencanaan dan penyusunan program pembangunan kesehatan di daerah. manajemen. merencanakan pembangunan kesehatan. Perizinan dan akreditasi upaya/sarana kesehatan serta system pembiayaan kesehatan skala provinsi 11.

Bekenaan dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan. Untuk tujuan ini pemerintah daerah bersama-sama dengan pihak DPRD dapat menyelenggarakan sebuah seminar atau sejenis pelatihan bekenaan dengan fungsi. sistem kesehatan . ada tiga elemen masyarakat pokok di daerah yang dituntut kesiapannya dalam memahami hakikat dan tujuan desentralisasi kesehatan sehingga pelaksanaannya di daerah dapat berjalan sesuai dengan harapan. hal lain yang sama pentingnya adalah pemahaman dan fungsi. antara lain. UPAYA MENINGKATKAN KESIAPAN DAERAH Keberhasilan pelaksanaan desentralisasi kesehatan tergantung pada kesiapan daerah untuk dapat mengimplementasikannya. tugas. dan memberikan perlindungan finansial terhadap kemungkinan dikeluarkannya biaya pelayanan kesehatan. dan c) masyarakat. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk lebih menyiapkan daerah dalam menghadapi dan melaksanakan desentralisasi kesehatan diuraikan berikut ini.mudah dilakukan. tugas. b) DPRD Kabupaten/Kota (pihak legislatif). serta kewenangan pihak instansi yang lebih tinggi (Provinsi dan Pusat). Tujuan pokok penetapan sistem kesehatan adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. merespon harapan-harapan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan harga diri dan hak azasinya. Hal ini diperlukan untuk menghindari kemungkinan adanya saling tidak pengertian antara pemerintah Kabupaten/Kota dengan pemerintah Provinsi dan Pusat. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Selain itu. Untuk mencapai tujuan tersebut. Berdasarkan fungsi dan kewenangan yang dimiliki Kabupaten/Kota dan visi dan misi pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. 4. dan DPRD perlu melaksanakan hal-hal. dan wewenang Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ditetapkan oleh peraturan. IV. Menetapkan Sistem Kesehatan Daerah Menurut Hartono (2001). sebagai berikut: a. karena selama ini daerah sudah dininabobokan oleh kebijakan yang ditetapkan dari pusat.1 Dinas Kesehatan Kabupaten Kota Hal pertama yang perlu dipahamai oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota beserta jajarannya adalah memahami hakekat dan tujuan kebijakan desentraslisasi kesehatan dan mengintegrasikannya dengan visi dan misi pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. pihak Pemerintah Daerah. dan wewenang daerah untuk menyamakan persepsi mereka terhadap desentralisasi kesehatan. Ketiga elemen tersebut adalah a) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (pihak ekeskutif). sistem kesehatan adalah semua kegiatan yang secara bersama-sama diarahkan untuk mencapai tujuan utama berupa peningkatan dan pemeliharaan kesehatan.

dan kondisi setempat). Visi dan misi ini selanjutnya dimasukkan dalam rencana strategis pembangunan kesehatan daerah. Semua program pembangunan sedapat mungkin diarahkan untuk mendukung program kesehatan. c. tentunya. Analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi program pembangunan (Rangkuti. Menata Ulang Struktur Organisasi Kesehatan Dinas Kesehatan Struktur organisasi yang selama ini dianut sudah sangat terbiasa dengan pola sentralistik. dengan melihat potensi dan prioritas masalah di daerah. dengan menempatkan bidang kesehatan sebagai salah satu ‘pilar’ pembangunan daerah. Hal ini didukung oleh penentuan skala prioritas pembangunan. Sub Dinas ini nantinya akan membawahi Seksi Sistem Informasi Kesehatan. Opportunities.memiliki empat fungsi. Weaknesses. pembiayaan kesehatan. Analisis ini didasarkan pada logika yang . pengembangan sumber daya kesehatan. salah satunya. Hal ini dilakukan. Melakukan analisis SWOT (Strengths. 2002). and Threats) untuk mengidentifikasi dan mengetahui kekuatan. maka hal yang segera perlu dilakukan adalah merencanakan dan menyusun program pembangunan kesehatan secara bottom-up. sehingga untuk lebih akomodatif dan tanggap terhadap perubahan yang relative sangat berbeda perlu dilakukan penyegaran strukturnya. peluang. kelemahan. b. 1992) berdasarkan potensi setempat dan masalah untuk dapat digunakan sebagai dasar penentuan prioritas pembangunan. Konsekuensi lain adalah perlunya peningkatan yang signifikan alokasi biaya pembangunan kesehatan dalam Rancangan Anggaran Pembangunan Daerah. Dalam Sistem Kesehatan daerah juga harus ditetapkan visi dan misi pembangunan kesehatan daerah. Memilih/menentukan program kesehatan yang sesuai dengan kondisi riil masyarakat setempat (melakukan identifikasi masalah secara akurat). yang dapat menunjang dan mendukung visi dan misi pembangunan kesehatan nasional. Dalam menyusun program kesehatan ini. Dianjurkan untuk pembentukan Sub Dinas baru (sesuai dengan kebutuhan. yaitu pelayanan kesehatan. Dinas Kesehatan diberi kewenangan yang sangat luas untuk merencanakan dan menyususn programnya. Pihak perencana program dituntut kepekaannya untuk menangkap setiap peluang untuk melakukan perubahan (seizing the opportunity for change) (IVACG. ii. Penetapan sistem kesehatan dapat dilakukan. dan pengawasan dan pengarahan pembangunan dan pelayanan kesehatan. dan ancaman daerah. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus memperhatikan hal-hal berikut: i. Menyusun Program Pembangunan secara Bottom-Up Setelah pihak Kabupaten/Kota menetapakan sistem kesehatan daerahnya. misalnya Sub Dinas Penelitian dan Pengembangan.

Oleh karena itu. Puskesmas Pembantu. kondisi geografis. adalah sumber daya (alam. Menjajaki kemungkinan pemanfaatan pengobatan tradisional. Menumbuhkan Mental Proaktif Sudah saatnya pihak Dinas Kesehatan melakukan upaya-upaya pembangunan secara proaktif tanpa menunggu petunjuk dari atasan. d. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman. Budaya Asal Bapak Senang sudah saatnya ditinggalkan. dan lain-lain). Mengoptimalkan potensi daerah. dan iv. langkah yang penting diambil adalah pengumpulan data yang akurat dan mutakhir tentang situasi kesehatan daerah dan faktor-faktor pendukungnya. ii. iii. . Dengan demikian para perencana strategic harus menganalisis faktor-faktor strategis daerah (kekuatan. Hal tersebut dapat dialakukan dengan merevitalisasi dan menata kembali peran system informasi kesehatan yang selama ini kurang berjalan dengan baik. proaktif melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga donor nasional dan internasional. adalah: i. Pembentukan seksi penelitian dan pengembangan juga merupakan salah satu alternatif untuk pengadaan data yang akurat untuk tujuan penyusunan program kesehatan daerah. kebanyakan data yang dilaporkan disesuaikan dengan keinginan pihak yang dilapor (atasan) sehingga data yang ada tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan. Mengembangkan Sitsem Informasi Kesehatan Daerah Setiap program yang direncanakan dan disusun harus didukung oleh data yang akurat dan mutakhir. sarana dan prasarana (RS. dan budaya masyarakat. sarana transportasi. proaktif mengembangkan dan menghasilkan ide-ide dan berpikir secara sistem (system thinking). Puskesmas. proaktif mencari sumber dana pembangunan kesehatan. Menjalin Kerjasama dengan Lembaga-lembaga Ilmiah dan Pendidikan Kesehatan Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota juga dituntut untuk lebih proaktif menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan yang terkait dengan kesehatan. dan ancaman) pada kondisi saat ini. manusia). Posyandu. Beberapa faktor strategis yang harus dipertimbangkan. e. Beberapa hal yang dapat dilakukan. f. jumlah penduduk. Selama ini. kelemahan. melalui pemanfaatan secara bijaksana sumber daya lokal untuk mendukung pembangunan kesehatan. proaktif mengundang investor bidang kesehatan. antara lain.dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang. antara lain. iii. peluang. adalah contoh optimalisasi potensi daerah.

Meningkatkan Kerjasama Lintas Sektor Salah satu penyebab kurangberhasilnya program pembangunan (dalam berbagai bidang) selama ini adalah adanya ego-sektoral instansi pemerintahan. Oleh karena itu. Upaya-upaya penyuluhan kesehatan akan berjalan lebih efektif apabila didukung oleh promosi kesehatan yang baik. Pembangunan sektor kesehatan. g. masalah penyakit yang dihadapai daerah yang satu dengan daerah yang lain (dalam satu provinsi) relatif sama. i. dan sosial. memerlukan kerjsama dengan sektor pertanian. Namun hal ini dapat diatasi dengan melakukan kerjasama dengan pihak perguruan tinggi untuk menempatkan dokter yang sedang mengikuti pendidikan dokter spesialis untuk berpraktek di rumah sakit daerah. pendidikan. dan penentuan sasaran dengan baik. dan efektif. Adanya PJHC juga akan meningkatkan posisi tawar daerah terhadap pemerintah provinsi dan pusat. Selain itu. Kerjasama dapat berupa pertukaran informasi. selama ini tenaga dokter spesialis enggan bertugas di daerah. Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat memilih berbagai model pemasaran sosial untuk tujuan itu.Sebagai contoh. Padahal beberapa program pembangunan akan dapat berjalan dengan apabila ada kerjasama dengan sektor lain. pelatihan bersama. perlu dibentuk badan kerjasama antar Kabupaten/Kota berupa Provincial Joint Health Council (PJHC). Mengembangkan Model Promosi Kesehatan Daerah Pembangunan kesehatan akan berjalan lebih baik bila didukung oleh bentuk penyampaian informasi yang baik dan efektif. Membentuk Badan Kerjasama antar Kabupaten/Kota Harus disadari bahwa penyakit tidak mengenal batas daerah. Wabah penyakit di satu daerah dapat menjalar ke daerah lain. misalnya. j. untuk dapat mengatasi masalah tersebut secara bersama-sama dengan daerah lain secara lebih terarah. efisien. Dengan menerapkan sistem pemasaran sosial dapat dilakukan penentuan bentuk informasi yang akan disampaikan. dan penanganan masalah penyakit bersama. h. Berbagai jenis pelatihan tenaga kesehatan juga dapat dilakukan dengan baik dengan adanya kerjasama dengan pihak perguruan tinggi dan lembaga pendidikan kesehatan. Misra (1981) menyatakan bahwa ‘real meaning of development is an increasing attainment . pengembangan strategi komunikasi. Meningkatkan Keterlibatan Masyarakat Hakikat pembangunan adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam arti luas.

menciptakan iklim yang kondusif untuk infestasi kesehatan. Mengembangkan Model Pembiayaan Kesehatan Dalam SE Menkes No. 4. seperti arisan kesehatan. Konsep pemberdayaan masyarakat harus lebih diartikan sebagai lebih memberdayakan masyarakat. Sebagai contoh adalah arisan kesehatan para penarik becak. terutama DPRD tingkat Kabupaten/Kota. 1107/Menkes/E/VII/2000 disebutkan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berwewenang mengembangkan sistem pembiayaan kesehatan melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM).of one’s own cultural values’. tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tanpa mengabaikan harkat dan martabat serta budaya masyarakat. yaitu dengan mendengarkan aspirasi masyarakat. Oleh karena itu. PERDA yang dihasilkan harus mendukung program pembangunan kesehatan. k. Hal ini dapat diterapkan pada organisasi sosial dan adat baik yang formal maupun tidak formal. Dalam bidang kesehatan. Program yang baik menurut pemerintah belum tentu baik menurut masyarakat dan sebaliknya. Sementara mereka dituntut untuk memahami hakikat desentralisasi (termasuk desentralisasi bidang kesehatan) agar dapat mengawasi pelaksanaan pembangunan kesehatan daerah dan mengeluarkan peraturan daerah (PERDA). Pembangunan harus bermuara kepada peningkatan dan apresiasi martabat dan harga diri manusia. Hal ini dapat terjadi jika pihak DPRD memiliki komitmen yang baik terhadap pembangunan kesehatan dan memahami hakikatnya. Hal tersebut senada dengan salah strategi pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. Pemerintah dan masyarakat harus duduk dan berjalan bersamasama menyususn dan melaksanakan pembangunan kesehatan daerah. Untuk tujuan ini perlu diselenggarakan pelatihan (capacity building) kepada anggota DPRD (terutama komisi E yang membidangi kesehatan) mengenai kebijakan desentralisasi . Salah satu bentuk pembiayaan kesehatan tersebut adalah asuransi kesehatan skala kecil. tetapi lebih daripada itu untuk peningkatan dan pengakuan harkat dan martabat manusia. pembangunan kesehatan harus dilakukan dengan melibatkan masyarakat.2 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Disadari bahwa kemampuan anggota DPRD sangat beragam dan cenderung terbatas. yaitu JPKM. Untuk mendukung hal tersebut salah satu model pembiayaan kesehatan yang mungkin dilakukan adalah sistem prabayar layanan kesehatan. bukan menganggap masyarakat tidak berdaya. Selanjutnya Susanto (2000) menyatakan pembangunan tidak hanya ditujukan untuk pencapaian kebutuhan fisik saja. Masyarakat yang selama ini dianggap sebagai objek pembangunan harus dirobah menjadi pelaku pembangunan.

Organisasi sosial kemasyarakatan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota) untuk meningkatkan kesiapan daerah . Dengan adanya kebijakan desentralisasi maka terdapat keluwesan pemerintah daerah untuk melaksanakanan pemerintahan sendiri atas prakarsa. Di satu sisi. masyarakat sangat jarang dilibatkan dalam proses pembangunan kesehatan. Oleh karena itu. Masyarakat berhak dimintai pendapatnya mengenai apa yang terbaik bagi mereka dan apa yang mereka butuhkan.kesehatan.3 Masyarakat Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa makna substansial dari desentralisasi kesehatan adalah peran serta masyarakat. karena selama ini daerah sudah terbiasa dengan kebijakan pembangunan yang top-down tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat. Ada baiknya juga dipertimbangkan agar komisi E DPRD memiliki staf ahli bidang kesehatan untuk dimintai saran dan pendapat berkaitan dengan tugas pengawasan DPRD. DPRD. dan peran serta masyarakat dalam mengembangkan dan memajukan kesehatan di daerahnya. pihak pemerintah daerah (Dinas Kesehatan) tidak terbiasa merencanakan dan menyusun program pembangunan daerah. Pemerintah harus memberi akses yang sebesar-besarnya kepada masyarakat tentang kebijakan yang dilakukan. maka adanya kebijakan desentralisasi akan memberi ruang dan waktu bagi masyarakat untuk mengemukakan pendapat dan mengajukan usul berkenaan dengan pembangunan kesehatan di daerah. Implikasi dari kebijakan tersebut adalah daerah Kabupaten/Kota (pemerintah. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) harus secara bersama-sama dan bahu-membahu dengan pemerintah menjalankan pembangunan kesehatan di daerahnya. Hal ini tidak mudah. tokoh masyarakat. Di sisi lain. Selain itu. Program pembangunan kesehatan harus bersifat bottom-up. V. pengakuan martabat. sehingga masyarakat merasa turut memiliki pembangunan dan diakui keberadaannya. yaitu berdasarkan aspirasi dari bawah. 4. dan masyarakat) harus merencanakan dan merumuskan sendiri program pembangunan kesehatan di daerahnya tanpa harus menunggu kebijakan dari atas.dan peningkatan serta apresiasi terhadap harga diri masyarakat. lembaga adat. PENUTUP Hakikat dari pembangunan adalah peningkatan kesejahteraan. keberhasilan pembangunan kesehatan di era desentralisasi sangat tergantung pada kesiapan daerah untuk melaksanakannya. kreativitas. masyarakat dapat berperan sebagai pengawas jalannya pembangunan kesehatan daerah. Kebijakan desentralisasi pembangunan kesehatan seyogianya dimaksudkan untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara merata di seluruh Indonesia.

1999. mengembangkan model promosi kesehatan daerah. dan mengembangkan model pembiayaan kesehatan. Masyarakat. di samping berperan sebagai pengawas pelaksanaannya. dengan adanya kebijakan desentralisasi. harus terlibat dalam penyusunan dan pelaksanaan pembangunan kesehatan di daerah. menetapkan sistem kesehatan daerah. serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama bahu-membahu menjalankan pembangunan kesehatan untuk mencapai kondisi kesehatan yang dicanangkan dalam Indonesia Sehat 2010. memiliki kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. meningkatkan keterlibatan masyarakat. PP Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom . DAFTAR PUSTAKA ---------. yaitu masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat.dalam menghadapi dan melaksanakan desentralisasi pembangunan kesehatan. adalah menata ulang struktur organisasi Dinas Kesehatan. membentuk badan kerjasama antar Kabupaten/Kota. merencanakan dan menyusun program pembangunan secara bottom-up. DPRD Kabupaten/Kota harus mengawasi jalannya pembangunan kesehatan dan menghasilkan peraturan daerah yang memberikan suasana kondusif kepada proses pembangunan dan infestasi bidang kesehatan di daerah. menjalin kerjasama dengan lembagalembaga ilmiah dan pendidikan kesehatan. Selain itu. UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah --------. 2000. antara lain. mengembangkan sistem informasi kesehatan. menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan kesehatan. Akhirnya. meningkatkan kerjasama lintas sektor. menumbuhkan mental proaktif pada aparatur pemerintah. juga.

Maruzen. F. 1983.. Jakarta Rondinelli. D. Nagoya Rangkuti. 2001. Tabibzadeh. T.W. D. Simangunsong. Medan Susanto.). Seputar Otonomi Daerah. dan I. A. 1981. PPS IPB 25-26 September 2000. 1992. Decentralization in Developing Countries (Staff Working Paper). dan Pengalaman di Berbagai Negara (diterjemahkan oleh Trisnantoro. Mills. 2002. Makalah disampaikan dalam Seminar dan Pertemuan kedua Penerima Beasiswa UBCHEA. Penataan Sistem Kesehatan Daerah.P.A.A. Jakarta. Kebijakan. Misi. Government Decentralization in Comparative Theory and Practice in Developing Countries. Washington. International review of administrative sciences 47(2): 133145 Rondinelli. International Perspectives. 2002. Laporan Hasil Penelitian. Gajah Mada University Press. D. U.A. Isu-isu. B. PT. Departemen Kesehatan RI.C. Jakarta Hartono. 2001. Vaughan. J. . Desentralisasi Sistem Kesehatan: Konsep-konsep. Asia. 1999. D. PT. 13-15 Oktober 2001 di Salatiga.L. Pendekatan Paradigma Baru Ilmu Penyuluhan Pembangunan: Sumbang Pikiran dalam Meningkatkan Kiprah Jajaran Alumni Program Studi PPN. 1989. Smith. SE Menkes Nomor 1107/Menkes/E/VII/2000 tentang Penjabaran Kewenangan Desentralisasi Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota Depkes RI. Widjaya.C. 2002. 9-11 Februari 2001. World Bank. Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Suryadharma dan Suryautama. dan Strategi Pembangunan Kesehatan. Wisma Kinasih Caringin Bogor. 2000. D. L. 2001. Washington. Yogjakarta Misra. Jakarta IVACG. Nutrition Communications in Vitamin A Programs. Tagela. Makalah disajikan sebagai sumbangan bahan diskusi di dalam Seminar Nasional Pemberdayaan SDM menuju terwujudnya masyarakat madani. Otonomi Daerah. Antara Harapan dan Kenyataan.P. 1981. Regional Development Alternatives. Gramedia. Indonesia Sehat 2010: Visi Baru. International Vitamin A Consultative Group. Makalah disampaikan pada pertemuan senior members and friends dan Dies Natalis ke-51 GMKI.---------. H. D. Depelopment Where People Matter: Case for a Comprehensive Social Policy. Raja Grafindo Persada. Otonomi Daerah dan Daerah Otonom. Fungsi Dinas Kesehatan Provinsi dalam Era Desentralisasi. R.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful