P. 1
Banjir

Banjir

|Views: 23|Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Jun 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2013

pdf

text

original

Banjir! Longsor! Kita Kaget Lagi!

Oleh Otto Soemarwoto Guru Besar Emeritus Ekologi Unpad Musim hujan telah tiba. Masih belum puncaknya. Namun, berturut-turut terjadi banjir bandang di Jember, Jawa Timur (2/1), dan longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah (3/1). Korban yang besar lebih dari 100 orang di Jember, dan dikhawatirkan melebihi 100 orang di Banjarnegara. Kita terkejut meskipun telah menjadi berita rutin setiap musim hujan. Banjir dan longsor serta sejolinya kekurangan air dan kebakaran hutan adalah risiko bencana yang dapat kita kelola. Pengelolaan adalah usaha berencana dan sistematis untuk memperkecil besarnya risiko. Besarnya risiko dapat dihitung dengan rumus R = p x K; dengan R = risiko, p = probabilitas yang dalam bahasa sehari-hari disebut kemungkinan, dan K = konsekuensi berupa kerugian materiil, luka, dan kematian. Dari rumus itu, risiko bencana dapat diperkecil dengan memperkecil kemungkinan (p) terjadinya bencana dan/atau memperkecil konsekuensinya (K). Usaha ini bersifat preventif. Namun, kita tidak melakukan usaha preventif. Penanggulangan bencana itu mahal dan penderitaan telah terjadi. Usaha preventif lebih murah dan penderitaan dapat dicegah. Lahan kritis Banjir dan longsor adalah bencana alam yang bersumber pada hujan lebat serta kerusakan hutan dan vegetasi lain yang menghasilkan lahan kritis. Untuk mengelola risiko bencana banjir dan longsor, kita tidak dapat mencegah terjadinya hujan lebat. Namun, kita dapat mengurangi kemungkinan (p) terjadinya bencana dengan mencegah dan/atau memperbaiki lahan kritis. Meskipun telah dilakukan reboisasi dan penghijauan berjuta hektar sejak tahun 1960, luas lahan kritis bukannya berkurang, melainkan terus bertambah. Kegagalan ini disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, karena ada oknum pejabat yang pura-pura tidak tahu ada penebangan hutan untuk mendapatkan kayu dan menanam sayuran yang kemudian ditadah oleh oknum-oknum di kota. Oknum ini pun yang memodali penebangan. Dari tayangan di televisi tampak jelas, air banjir bandang di Jember membawa banyak sekali lumpur yang memberi petunjuk bahwa hutan di hulu telah rusak. Kerusakan disebabkan konversi hutan untuk perkebunan kopi rakyat dan pertanaman sayuran

dan palawija. Tetapi, mengapa yang berwewenang atas hutan itu diam saja? Kedua, kegagalan reboisasi dan penghijauan yang telah kita lakukan sejak tahun 1960-an. Kegagalan reboisasi dan penghijauan dalam tahun pertama sudah dapat mencapai lebih dari 50 persen. Karena pemeliharaan sangat minim, setelah lima tahun yang hidup tinggal beberapa persen saja. Yang mati lebih dari 90 persen. Lalu diadakan gerakan reboisasi dan penghijauan lagi. Sebab, kegagalan ialah waktu penanaman sering tidak tepat. Anggaran baru cair akhir musim kemarau dan bibit yang ditanam masih kecil sehingga banyak yang mati. Lebih celaka lagi jika anggaran baru cair pada akhir musim hujan dan bibit yang kecil ditanam pada musim kemarau. Mubazirlah miliaran, bahkan secara nasional triliunan rupiah. Herankah kita kegagalannya tinggi? Pada lain pihak, kegagalan memberi kesempatan kepada instansi dan lembaga swadaya masyarakat tertentu untuk mendapatkan proyek reboisasi dan penghijauan lagi. Adakah kesengajaan untuk menjaga agar dana proyek reboisasi dan penghijauan tidak mengering? Wallahualam. Ketiga, kemiskinan yang diperparah oleh pembangunan yang tidak prorakyat miskin. Di Jawa tampak jelas, pembangunan jalan tol, industri, dan permukiman telah memarjinalkan rakyat miskin. Pemilik lahan dapat ganti rugi meskipun sering di bawah harga pasar. Namun, buruh tani serta pengusaha pedati dan pedagang pengangkut hasil pertanian yang kehilangan sumber pendapatannya tidak dapat ganti rugi apa-apa. Mereka tergusur dan hanya mempunyai dua pilihan, naik gunung dan membabat hutan untuk menanam bahan pangan agar tidak mati kelaparan atau bermigrasi ke kota serta memperbesar barisan pengamen, penganggur, pengemis, pedagang kaki lima, serta penghuni rumah reyot di bantaran sungai dan di kolong jembatan. Peristiwa ini terutama terjadi pada waktu laju pembangunan sangat tinggi dalam tahun 1970-1990 pada era Orde Baru. Analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang dibuat, juga oleh universitas terkenal, tak memerhatikan ini dan disetujui Kementerian Negara Lingkungan Hidup serta instansi bawahannya. Gunung Geulis di Jawa Barat adalah sebuah contoh yang sangat ilustratif bagaimana penduduk tertekan oleh pembangunan industri dan perumahan ke lereng gunung. Gunung telah gundul sampai ke puncaknya. Gunung Geulis tidak geulis (cantik) lagi. Ala Protokol Kyoto Mengingat reboisasi dan penghijauan selama 50 tahun telah gagal,

perlu dicari modus operandi baru. Disarankan untuk meniru mekanisme pembangunan bersih (MPB) ala Protokol Kyoto yang saya sebut pseudoMPB (tiruan MPB). Penelitian dan pengalaman menunjukkan, di bawah kondisi tanah dan iklim Indonesia, hutan yang rusak dapat pulih kembali secara alamiah. Tak perlu direboisasi. Hutan yang tumbuh kembali mengikat karbon. Karbon itu diberikan kepada penduduk. Yang diberikan hanya karbonnya, bukan hutannya dan lahannya. Hutan dan lahan hutan tetap milik negara. Karena tidak perlu reboisasi, dana reboisasi digunakan membeli karbon yang terikat dalam hutan yang tumbuh kembali. Uang pembelian karbon itu diberikan kepada penduduk dengan syarat hutan tetap utuh. Jika hutan dibabat atau dibakar untuk menanam sayuran atau jagung dan singkong, uang pembelian karbon hangus. Pembelian karbon itu akan merupakan insentif yang kuat untuk mendorong penduduk menjaga hutan dari kerusakan. Memperkecil konsekuensi bencana (K) dapat dilakukan dengan menggunakan sifat curah hujan serta peta topografi dan rawan longsor. Berdasarkan data itu, dapat direncanakan tata ruang pembangunan untuk menghindari penduduk terdorong ke lereng gunung dan membangun perumahan di bawah lereng itu. Dalam amdal harus secara eksplisit dicantumkan rekomendasi cara menangani rakyat miskin bukan pemilik lahan. Permukiman yang telanjur ada yang menghadapi risiko bencana tinggi perlu ditata kembali. Penataan kembali memang tidak mudah. Namun, alternatifnya ialah pengungsian penduduk serta jatuhnya korban luka dan meninggal karena banjir dan longsor. Salahkah penduduk miskin yang merambah hutan? Dari segi hukum formal, ya. Namun, dari segi sosial-ekonomi tidak. Mereka tergusur oleh pembangunan dan menjadi korban bencana. Menyalahkan mereka, ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. Yang salah ialah para perencana dan pelaksana pembangunan, pembuat amdal, dan instansi yang menyetujuinya. Mereka tidak mempunyai kepekaan sosial dan hanya mengejar ekonomi. Dari tiga pilar pembangunan berkelanjutan ekologi, ekonomi, dan sosial yang disetujui dalam KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg dalam tahun 2002 hanya pilar ekonomi yang diperhatikan. Dua pilar lainnya, yaitu ekologi dan sosial, diabaikan. Hasilnya, pembangunan tidak akan berkelanjutan. Nanti bulan Mei kita lupa bencana banjir dan longsor. Kita kaget kebakaran hutan. Malaysia dan Singapura mengomeli kita. Kita malu. Atau mungkin tidak juga karena kita sudah kehilangan budaya malu. Kemudian mulai bulan Juni kita kaget berita rutin kekurangan air.

Sawah puso. Orang antre di pompa air umum dan di sumur komunal untuk mendapatkan air. Mengapa kita tidak mau belajar dari pengalaman dan melakukan pengelolaan risiko dengan baik? Mengapa yang kita lakukan penanggulangan bencana, bukannya usaha preventifnya? Karena motivasi mendapatkan proyekkah?

Banjir dan Hutan Gundul
Hujan yang turun terus menerus sejak akhir tahun 2005 hingga memasuki tahun 2006 menimbulkan banjir di beberapa daerah, terutama di Pulau Jawa. Awal tahun 2006 ditandai oleh banjir bandang dan tanah longsor melanda Kecamatan Panti, Kecamatan Rambipuji, Kecamatan Tanggul, dan Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Hujan lebat sejak Minggu (1/1) malam itu menyebabkan banjir dan tanah longsor pada keesokan harinya (Senin, 2/1). Terjadinya banjir bandang dan tanah longsor yang mengagetkan penduduk Jember mengakibatkan 51 orang tewas, ratusan rumah hancur, ratusan hektare sawah rusak, dan ratusan warga terjebak dan terisolasi karena jembatan terputus. Sampai saat ini tim SAR terus bekerja keras menyelamatkan penduduk yang terjebak di tengah-tengah air bercampur lumpur. Bantuan makanan dan obat-obatan pun mengalir ke Jember. Bupati Jember, MZA Djalal mengatakan bencana alam ini tak terlepas dari gundulnya hutan di lereng Gunung Argopuro yang merupakan hulu Sungai Kaliputih, Sungai Bedadung dan Sungai Jompo. Namun Gubernur Jatim, Imam Utomo, membantah musibah ini akibat gundulnya hutan gara-gara penebangan liar. Penyebabnya di aliran sungai terdapat lumbung-lumbung. Seharusnya air keluar dari lumbung, tetapi salurannya tertutup kayu yang sudah tua sehingga air tersumbat. Selain Jember, tanah longsor juga menimpa Banjarnegara, Jawa Tengah. Tanah longsor menimbun Kampung Gunungrejo di Kecamatan Banjarmangu, sekitar 15 kilometer arah utara kota Banjarnegara, Rabu (4/1) dini hari. Seperti diberitakan Kompas (Kamis, 5/1), dari lima RT di kampung yang berpenduduk 655 jiwa itu, hanya satu RT yang selamat dari musibah. Kita sungguh prihatin atas terjadinya bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa Pulau Jawa. Hujan lebat sepanjang Januari-Februari seharusnya membuat wilayah lain di Indonesia siap siaga mengantisipasi kejadian serupa. Namun, kita lebih prihatin lagi karena hutan sebagai penyangga air hujan justru sebagian besar gundul akibat penebangan yang membabi buta. Padahal hutan gundul sangat berpotensi menimbulkan bencana alam, seperti banjir bandang dan tanah longsor.

Dirut Perum Perhutani, Transtoto Handadhari, mengakui 60 persen hutan Perhutani di Pulau Jawa berpotensi rawan bencana akibat penjarahan. Bahkan Menhut MS Kaban pun membenarkan, secara nasional luas hutan yang dipastikan gundul mencapai 59,2 juta hektar, dari total luas hutan 120,35 juta hektar. Pengalaman membuktikan bahwa ulah manusia merusak hutan, melakukan penebangan secara serampangan merupakan bom waktu di kemudian hari. Namun, hal ini berkali-kali terjadi, hutan tetap saja dijarah, sedangkan penanaman kembali tidak secepat penjarahan itu terjadi. Semestinya manusia hidup bersatu dengan alam dan memelihara lingkungan sekitar. Jika lingkungan dirusak, akibatnya sungguh luar biasa, dan akhirnya manusia juga yang menderita. (**) Cuaca Buruk, Angin Kencang, Gelombang Besar Ancam Laut Jawa Banjarmasin-RoL -- Ini Suatu peringatan bagi pengguna pelayaran di perairan Laut Jawa atau daerah Selatan Pulau Kalimantan yang belakangan ini terjadi beberapa kali musibah kapal terbalik, dan tenggelam terkena hantaman angin kencang dan gelombang besar. Peringatan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Badan Meterologi dan Geofisika (BMG) Banjarbaru, Dwi Agus Priyono ketika dihubungi Antara di Banjarbaru, 35 kilometer Selatan Banjarmasin menanggapi beberapa kali musibah pelayaran laut di kawasan tersebut. Menututnya cuaca Kalimantan bagian selatan dalam pekan-pekan terakhir memang buruk, sehingga keadaan gelombang di Laut Jawa mencapai ketinggian antara satu - dua meter, bahkan pada kondisi dan tempat tertentu sampai tiga meter. "Begitu pula perkiraan untuk sekitar lima hari ke depan keadaan cuaca di selatan Kalsel masih relatif buruk, sehingga cukup mengganggu terhadap pelayaran atau angkutan laut," katanya seraya mengingatkan, mereka yang mengarungi Laut Jawa harus hati-hati dan kalau cuaca sedang keadaan buruk untuk sementara agar jangan berlayar. Berdasarkan pantauan BGM di kawasan Laut Jawa belakangan ini, selain kecepatan angin tergolong cepat yaitu berkisar antara 5 - 20 not/mil luat/jam sabagai akibat pengaruh angin baratan yang banyak menimbulkan hujan, juga suhu udara sekitar 28 - 30 derajat Cilcius sehingga memudahkan penguapan dan terbentuknya awan hujan. Pasalnya juga belakangan ini di Laut Jawa merupakan pertemuan gerakan udara dari bumi belahan selatan dan utara, sehingga menimbulkan gelombang tinggi dan angin kencang. Keadaan tersebut cukup rawan dan rentan kecelakaan laut bila tidak hati-hati, terlebih bagi kapal-kapal kecil, demikian Dwi Agus Priyono. Peringatan itu disampaikan sehubungan kecelakaan laut yang di awal Tahun 2006 atau dalam beberapa hari terakhir ini terjadi tiga kapal tenggelam di perairan pantai Laut Jawa

selatan Kalimantan yaitu Kapal Layar Motor (KLM) Putra Abadi, Kapal Motor (KM) Belinda I dan KLM Cristal. Peristiwa tenggelamnya KLM Putra Abadi dengan 12 anak buah kapal (ABK) termasuk nahoda, yang membawa sekitar 400 meterkubik (M3) kayu olahan dari Sebangau, Kalimantan Tengah dengan tujuan Pasuruan Jawa Timur itu terjadi Minggu (1/1) sore di perairan pantai Tabaneo, Kalsel hampir memasuki laut lepas Laut Jawa. Sebanyak delapan ABK KLM Putra Abdi yang berhasil diselematkan oleh kapal tangker Orion yang sedang melintas di kawasan itu sempat terkatung-katung selama tiga hari-tiga malam, sementara empat orang lainnya hingga kini masih belum diketahui nasibnya. Sedangkan KM Belinda I yang membawa pupuk sekitar seribu ton dari Bontang, Kalimantan Timur dengan 14 ABK (termasuk nahoda) yang kesemuanya dapat diselamatkan untuk tujuan Sampit, Kalimantan Tengah itu, tenggelam di perairan Tanjung Malatayur, Kalteng pada Minggu (1/1) malam. Sementara KLM Cristal dengan enam ABK termasuk nahodanya dan berhasil diselamatkan itu membawa kayu masak dari Marabahan, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalsel tujuan Takalar, Sulawesi Selatan, tenggelam di perairan pantai Tanjung Selatan (Tanjung Silat) Kalsel atau sekitar 60 mil laut dari bouy yang berada di muara Alur Sungai Barito, dinihari Senin (2/1) atau beberapa jam setelah kejadian KM Belinda I. Tenggelamnya tiga kapal tersebut disebabkan pukulan gelombang yang mencapai ketinggian tiga meter disertai terjangan badai kencang, sehingga mengalami kerusakan, seperti kebocoran dan secara perlahan pun tenggelam ditelan ombak. Pengakuan angin kencang dan gelombang besar di laut Jawa tersebut juga dituturkan pemancing ikan dilaut, Haji Jali yang melaut bersama puluhan temannya termasuk seorang dokter pimpinan Puskesman Prumnas Kayutangi Banjarmasin, di perairan Kabupaten Tanah Laut. Mereka berangkat dengan dua buah kapal yang disewa untuk memancing ikan dalam perjalanan sekitar dua jam ke tengah laut, tiba-tiba kapal mereka dihantam gelombang besar, dan satu kapal tenggal dan dua orang diantara mereka terlempar ke laut. Untung saja kapal yang satu masih utuh sehingga semua menumpang di kapal yang satu ini, kemudian berhasil menyelamatkan dua rekan mereka. Dengan keahlian seorang juragan kapal yang mereka sewa tersebut berhasil menyelamatkan diri ke tepian dengan cara mengikuti aliran gelombang sehingga kapal tinggal terbalik, kata Haji Jali yang dikenal sebagai seorang perawat kesehatan tersebut. ant/pur

Kerusakan Lingkungan Penyebab Utama Banjir Jember Penulis: Amirudin Zuhri

YOGYAKARTA--MIOL: Tim Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Universtas Gadjah Mada (UGM) yang sedang berada di Jember, Jawa Timur menilai kabar banjir bandang di daerah itu terjadi akibat adanya badai tropis di Australia tidak seluruhnya benar. Bahkan tim ini menilai kerusakan lingkungan sebagai penyebab utama terjadinya banjir bandang itu. Menurut hasil interpretasi tim peneliti yang beranggotakan tiga orang ini terhadap citra satelit tanggal 3 Januari 2006 dari Japan Meteorological Satellite tidak secara jelas adanya badai tropis Australia. Yang lebih tampak dari rekaman satelit itu adalah adanya potensi terjadinya hujan badai di selatan Pulau Jawa terupaya di wilayah selatan Jawa Timur dan Hindia Belanda. Curah hujan diperkirakan mencapai 100mm/jam dan kecepatan angin mencapai 175 km/jam. "Tidak jelas adanya badai tropis Asutralia, akan tetapi hanya awan sangat tebal dengan potensi curah hujan sangat tinggi. Kejadian ini hampir sama dengan tahun lalu saat terjadi banjir bandang di Lumajang, Tulungagung dan wilayah sekitarnya," kata Sudibiyakto ketua tim PSBA UGM melalui siaran pers yang dikirim dari Jember. Menurut Sudibiyakto, salah satu penyebab penting terjadinya banjir bandang itu karena perubahan alih fungsi lahan yang sngat cepat dalam 10 tahun terakhir. Bahkan menurut data yang dia miliki, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir telah terjadi alih fungsi lahan hutan menjadi nonhutan sekitar 10/tahun. "Akibatnya, kapasitas inflitrasi tanah sangat kurang, sehigga limpasan permukaan meningkat tajam," katanya. Selain itu, lanjut Sudibiyakto. Berdasarkan interpretasi peta rupa bumi kabupaten Jember, terdapat perubahan tekuk lereng yang sangat tajam di sebalah utara kota Jember yaitu dari lereng sekitar 45 persen menjadi 15-10 persen. Ini menyebabkan aliran air sangat cepat dan melibas apa saja yang dilewati. "Sementara faktor ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi bencana juga menjadi penyebab banyaknya warga yang menjadi korban dalam bencana ini," kata Sudibiyakto. (AZ/OL-1) PANGGUNG HAJATAN BENCANA NASIONAL Kawan-kawan Pemerhati dan Peduli Bencana Jember, Banyak pertanyaan mengenai situasi dan kondisi di lokasi bencana setelah bencana banjir bandang dan longsor di Jember? Apa yang sebenarnya terjadi di lapangan? Terus terang sejak tiba di Jember hari Rabu sore (3/1/06), saya belum pernah sekali pun melihat lokasi bencana. Saya lebih sibuk mengurusi sekretariat posko dan relawan HAMIM. Baru tadi sore-malam ini (11/1/06) saya berkunjung ke lokasi bencana di Desa Kemiri, Kec. Panti, Kab. Jember. Apa yg saya lihat dan rasakan sangat impresif dan membuat syok diri saya. Padahal dalam laporan-laporan saya terdahulu sudah saya gambarkan tentang "hiruk-pikuknya" lokasi bencana. Akan tetapi, mengalami sendiri dan mendengarkan

laporan orang lain memang jauh berbeda. 1. Hajatan Bencana Lokasi bencana banjir bandang dan longsor di Desa Kemiri, Kec. Panti, Kab. Jember ini dan segala hal yang berkaitan dengan bencana tersebut telah menjadi PANGGUNG HAJATAN BENCANA NASIONAL. Betul-betul sebuah panggung dengan segala atributnya lengkap. Tidak terasa aroma kepiluan dan tragedi sebuah bencana di sana. Yang ada adalah keriaan sebuah pesta. Dan seperti layaknya sebuah pesta yang telah usai, maka yang tinggal adalah panggung yang telah ditinggalkan para penonton, "panitia" yang sedang sibuk "berkemas-kemas", barang-barang dan "sampah" yang berserakan, ke-santai-an para "panitia dalam membereskan barang-barang dan urusan untuk segera pulang ke rumahnya masing-masing. Yang menjadi aktor utama dari PANGGUNG HAJATAN BENCANA NASIONAL ini adalah Bapak Presiden SBY. Para aktor pembantu banyak sekali mulai dari menteri, gubernur, bupati, pangdam, ketua MPR, ketua DPR, dll. Tidak ketinggalan para bodyguard yang keren-keren dan galak, seperti paspampres, tentara, dan polisi. Lalu apa peran para penduduk yang terkena bencana (pengungsi), tentu saja mereka sebagai aktor pelengkap penderita. Dan apa panggungnya? Sebagai panggungnya adalah lanskap bentang alam yang porak poranda, dan rumah-pasar-masjid-sekolah yang rata dengan tanah. Menurut Satkorlak Kab. Jember panggung untuk Hajatan Bencana Nasional itu telah "memakan" biaya sebesar Rp 60 Milyar (baca: Radar Jember, Rabu, 11 Januari 2006 dengan judul "Kerugian Mencapai Rp 60 Miliar, Bantuan Banjir harus Dikoordinasi Secara Tepat"). Sebuah hajatan tidak akan ramai bila tidak ada penonton, penggembira dan dokumentatornya. Siapa penontonnya? Ya kita semua ini menjadi penonton hajatan tersebut; bahkan setelah sholat Idul Adha, berduyun-duyun para "wisatawan bencana" memadati Desa Kemiri dan sekitarnya. Kemacetan lalu-lintas tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja, tapi juga di sebuah jalan kecil menuju kampung kecil di kaki gunung Argopuro. Siapa para penggembira hajatan ini? Para penggembira datang dengan segala atributnya yang gagah dan kecap nomor satunya, bahwa partainya adalah yang paling tanggap dalam membantu korban bencana alias para penderita dalam hajatan ini. Terus, siapa pula dokumentator hajatan? Tidak usah diundang mereka datang berbondong-bondong dengan

sendirinya, seperti MetroTV, TransTV, SCTV, RCTI dan media massa lainnya. Itulah PANGGUNG HAJATAN BENCANA NASIONAL yang terjadi di sebuah kampung kecil di kaki Gunung Argopuro. 2. Korban Bencana PANGGUNG HAJATAN BENCANA NASIONAL terasa sekali sejak dari kota Jember hingga Desa Kemiri. Akan tetapi, kontras sekali ketika saya memasuki daerah barak pengungsian di sebelah timur lapangan Balai Desa Kemiri. Barak pengungsian ini berupa tenda peleton ukuran tanggung (ada 10 buah). Tiap tenda peleton diisi lebih kurang 25 KK (lebih kurang 77 jiwa), ada 2 tenda yang diisi lebih dari 100 jiwa. Secara umum "kompleks" tenda pengungsian di situ tampak bersih, teratur dan teroganisir dengan baik. Sebagai alas untuk tenda adalah papan yang di atasnya diberi plastik dan kemudian tikar. Di barak pengungsian ini terasa sekali udara kesedihan dan tragedi. Wajah-wajah duka dan kepasrahan tertampang di depan saya. Ada satu pengungsi yg seluruh keluarganya habis diterjang banjir bandang dan tinggal dia sendiri yang hidup. Ada pula yang rumah dan harta bendanya hancur rata dengan tanah. Ada semacam keheningan yang pekat dengan kedukaan dan kesedihan di dalam ruang tenda-tenda para pengungsi terebut. Waktu kawan saya bertanya tentang apa sebab banjir bandang ini? Pak Tua pengungsi tertunduk kuyu, "Hujan!", jawabnya. "Lho kok hujan?", tanya kawan saya lagi. "Kalau menjawab karena penebangan liar atau ulah perkebunan, nanti malah dimarahi, maka yang aman ya HUJAN itu yang salah", jawab Pak Tua itu. "Kalo begitu, yang salah Sang Pangeran (Tuhan) dong?" sahut kawan saya lagi. "Ya tidak begitu tho mas", kata Pak Tua lemah. Ketika bertamu ke tenda Pak Tua itu saya dan kawan-kawan sempat disuguh air dalam kemasan dan roti. "Cuma ini rejekinya, seadanya ya mas", kata istri Pak Tua itu. Sebuah keramahtamahan yang menggiriskan hati. 3. Bantuan untuk Pengungsi Bantuan untuk korban bencana sudah bertumpuk-tumpuk di

posko-posko. Di Balai Desa Kemiri ada tumpukan tinggi air kemasan, mi instan, pakaian pantas pakai, dll. Di rumahrumah yang dijadikan posko bantuan juga bertumpuk-tumpuk. Ada ketentuan bahwa semua bantuan untuk pengungsi mesti melewati satu pintu, yaitu lewat Satkorlak Jember. Apakah ketentuan itu dapat memperlancar kerja penyaluran bantuan kepada korban bencana yang benar-benar membutuhkannya? Kenyataannya adalah bantuan-bantuan itu menumpuk di poskoposkonya Satkorlak dan Satlak beserta jajarannya. Banyak pengungsi yang tidak mendapatkan bantuan yang sebenarnya mereka butuhkan. Hal ini sudah banyak pihak yang mengeluhkannya. Mengapa hal tersebut terjadi? Jawabnya mungkin karena tiadanya manajemen pengelolaan dan distribusi bantuan yang baik. Sebenarnya, apa sih yang benar-benar dibutuhkan oleh para pengungsi sekarang ini? Apakah bahan makanan yang cepat saji? Apakah air minum dan sanitasi? Apakah barak-barak pengungsian yang sesuai dengan prinsip-prinsip SPHERE? Apakah konseling psikologis untuk mengatasi trauma pasca bencana? Apakah ...? 4. Manajemen Penanggulangan Bencana Saat ini baru dalam tahap emergency response dan relief. Jalan masih panjang dan butuh waktu lama agar para pengungsi dapat pulang ke rumah dan kembali pada kehidupan normal sehari-hari. Padahal yang terjadi di lapangan adalah begitu amburadulnya manajemen penanggulangan bencana di Jember. Tidak jelas siapa bertanggung jawab kepada siapa, dan siapa mengerjakan apa. Kalau toh ada struktur penanggulangan bencana ya cuma di atas kertas; dalam kenyataannya saling silang tunjuk dan lempar tanggung jawab atau tungu-tungguan karena takut untuk ambil resiko suatu tindakan. Tidak ada kepemimpinan dalam penanggulangan bencana. Akibatnya adalah semua berjalan sendiri-sendiri, sesuai dengan target masing-masing dan interest masingmasing pula. Bagaimana rencana pemerintah daerah dan instansi-instansi terkait lainnya dalam tahap-tahap, seperti rehabilitasi, rekontruksi dan relokasi? Apakah ada blueprint dan rencana tindak yang tidak merugikan para korban bencana serta lingkungan? Bagaimana early warning terhadap adanya bencana dari kaki Gunung Argopuro?

Tampaknya pertanyaan-pertanyaan di atas masih perlu didesakkan dengan gencar oleh berbagai elemen di Jember. Semakin banyak pihak terlibat dalam hal ini, maka akan semakin baik hasilnya. 5. Apa Selanjutnya? Kerja-kerja untuk penanggulangan dan penanganan bencana banjir bandang dan longsor di Jember jelas sekali memerlukan kolaboratif banyak elemen. Jalan masih panjang yang mesti dilalui. 6. Point-Point Catatan dari Berita Media (1) Bantahan pejabat pusat dan provinsi bahwa banjir bandang di Jember bukan disebabkan kerusakan hutan, ternyata tak menggoyahkan keyakinan masyarakat. Warga yang tinggal di kawasan bencana banjir bandang tetap berpendapat, faktor utama bencana adalah kerusakan hutan di lereng pegunungan Argopuro. (2) Warga juga menyoroti terjadinya alih fungsi hutan menjadi perkebunan. Sebagian besar hutan telah beralih fungsi ditanami kopi oleh sebagian anggota masyarakat dan perusahaan daerah perkebunan. (3) Perlunya evaluasi terhadap BUMN yang berwenang mengurusi hutan. Mereka harus bertanggung jawab, jika dalam penelusuran, ditemukan adanya illegal logging. Pasalnya, bencana berasal dari wilayah yang dikuasai BUMN bersangkutan. (4) Kendati sejak 8 Januari lalu, kawasan bencana di Desa Kemiri Kecamatan Panti sudah dinyatakan ditutup untuk umum, namun masih banyak masyarakat yang berduyun-duyun mendatangi lokasi. Tak ayal, polisi pun kewalahan dan penjagaan yang dibuat berlapispun akhirnya jebol. Ribuan warga dengan leluasa menuju lokasi banjir baik dengan jalan kaki maupun naik kendaraan roda dua. Kemacetan pun terjadi di sepanjang jalur menuju lokasi bencana. (5) Pemerintah Kabupaten Jember mempersiapkan kawasan rumah darurat bagi pengungsi banjir bandang di Jember. Pemukiman itu rencananya akan ditempatkan di tiga lokasi. Antara

lain: di lapangan Suci, lapangan Serut, dan lapangan Tenggiling. Selain APBD, pemkab juga akan mengajukan anggaran rumah darurat ke Pemerintah Provinsi dan Pusat. (6) Dalam usulan perbaikan sarana prasarana, Pemerintah Kabupaten mengajukan rencana pembuatan tenda penampungan, dengan alas tenda, dan lantai kayu. Dalam usulan itu, direncanakan membuat 760 tenda penampungan dengan alokasi anggaran Rp. 3,040 Miliar. Namun, belakangan rencana tenda penampungan itu diubah dengan tenda darurat, dengan pertimbangan rumah tinggal yang lebih layak. (7) Bencana alam yang terjadi di Jember mengakibatkan kerugian material cukup besar. Berdasarkan catatan Satkorlak Kabupaten Jember, kerugian akibat tanah longsor dan banjir lumpur ini mencapai Rp 60 miliar lebih. (8) 1500 Relawan dan TNI Dikerahkan, Tangani Pasca Bencana, Jalur Ditutup Total. Penanganan pasca bencana mulai dilakukan tim satuan pelaksana penanggulangan bencana alam (Satlak PBA) Pemkab Jember. (9) Dari pendataan diketahui ada 20 lebih kelompok tim relawan yang membuat posko dekat lapangan Desa Kemiri sampai di Desa Serut, Kecamatan Panti. Diantaranya: Politeknik, Posko Bersama Radar Jember-Taruna Bhumi-APTRIIndomie-TNI, Tim Raung 4x4, Persada Agung, Kehutanan KSDA, ACT, PLN, Bulan Sabit Merah, PKS, Kosgoro, Merah Putih, Kupi, Satgas PKB, Muhammadiyah-Aisiyah, Solidaritas Bencana Alam, Posko 2 Tenggiling Atas Artha Graha, Banser-Anshor, SAR OPA, Hidayatullah, PAN, Perhutani, Ababil PPP, PTP, Garda Bangsa, HKTI, Merah Putih. (10) Rusaknya sarana sekolah akibat banjir bandang dan tanah longsor di Jember menjadi perhatian Dinas P dan K Jatim yang menyiapkan dana Rp 3,59 miliar untuk rehabilitasi. Dana Rp 3,59 miliar itu diperuntukkan bagi 20 sekolah yang tersebar di beberapa wilayah di Jember. Untuk sementara sekian dulu laporan singkat ini atas upayaupaya penanggulangan bencana banjir bandang dan longsor di Jember. Bila ada kesempatan silahkan surfing di Blog Peduli Bencana Jember dg alamat di : <<http://bencanajember.blogspot.com/>> Kliping berita mengenai bencana banjir bandang dan longsor

Jember dapat diakses di Milis Berita Lingkungan <<http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan>> Bila tertarik silahkan mendaftar gratis dengan mengirim email kosong ke : berita-lingkungan-subscribe@yahoogroups.com Salam, Djuni "Lethek" Pristiyanto Urgensi Sistem Mitigasi Bencana
Oleh: Nurhadi Sabtu, 7 Januari 2006 Memasuki awal tahun 2006, bangsa Indonesia telah mengalami dua musibah yang cukup dahsyat. Jika sebelumnya warga Jember, Jatim, tertimpa musibah bencana banjir bandang disertai lumpur, giliran warga Kampung Gunungrejo, Banjarnegara, Jateng tertimbun tanah longsor, Rabu (4/1) lalu. Tercatat paling tidak 62 orang tewas, puluhan hilang dan ribuan lainnya harus mengungsi dalam peristiwa banjir bandang di Jember. Sementara peristiwa tanah longsor di Banjarnegara mengakibatkan ratusan orang tewas akibat tertimbun tanah. Banjir di Jember juga menghancurkan puluhan rumah, memutus jembatan, sekolah, pondok pesantren, perkebunan dan persawahan. Hingga kini masih saja ada warga yang terjebak dan terisolasi karena putusnya jalur komunikasi. Jika upaya evakuasi tidak segera dilakukan, dikhawatirkan mereka akan menjadi korban ganasnya banjir susulan, mengingat curah hujan yang masih tinggi. Belum lagi soal persediaan makanan yang terus menipis. Kondisi serupa praktis dialami pula para korban tanah longsor yang masih selamat di Banjarnegara. Yang kita sesalkan, banjir bandang di Jember ini sebenarnya bukanlah peristiwa kali ini saja. Tahun-tahun sebelumnya, di daerah sekitar Jember, Probolinggo dan wilayah pegunungan Argopuro sudah sering terjadi kejadian serupa meski sifatnya kecil. Seharusnya banjir-banjir kecil tersebut bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi pemerintah dan warga setempat agar kejadian serupa tidak terjadi di kemudian hari. Tapi nyatanya, kiriman banjir yang lebih besar tetap saja datang. Lagi-lagi, warga sendiri yang harus menanggung akibatnya. Boleh dibilang, banjir bandang kali ini merupakan yang terbesar di Jember dan sekitarnya, bahkan mungkin di Jawa Timur. Banyak yang bertanya-tanya, mengapa banjir bandang di Jember begitu dahsyat? Bayangkan, selain membawa berton-ton lumpur, air bah ini juga "menggondol" ribuan kubik kayu gelondongan dalam kondisi utuh. Mengapa sebuah pohon yang begitu kukuh bisa dengan mudahnya dijebol oleh laju aliran air? Salah satu aspek yang dituding oleh pakar lingkungan adalah gundulnya hutanhutan pelindung di daerah sekitar Jember. Pegunungan Argopuro, misalnya, nyaris tanpa ditumbuhi pepohonan yang berarti. Kalaupun ada jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Selebihnya hanyalah semak belukar yang menutupi permukaan. Praktis, dengan kondisi seperti ini hutan tidak memiliki kemampuan daya lingkungan yang memadai. Pori-pori tanah menjadi lebar, daya serap air turun dan struktur tanah menjadi labil. Jangka panjangnya, hutan yang fungsinya sebagai "penyerap air alami" tidak mampu lagi menahan laju aliran air dari atas. Terjadilah fenomena banjir bandang yang mengerikan itu.

Dengan melihat realitas di atas, sudah seharusnya ada upaya konkret dan sistematis agar kejadian serupa tidak terlulang lagi di kemudian hari. Kalaupun tetap terjadi, korban yang timbul bisa ditekan seminimal mungkin. Di sinilah perlunya sebuah sistem mitigasi bencana. Dalam kajian physical disaster, mitigasi berarti segala tindakan yang dilakukan untuk mengurangi pengaruhpengaruh dari suatu bahaya sebelum bahaya itu sendiri terjadi. Istilah mitigasi berlaku untuk cakupan yang lebih luas dari aktivitas dan tindakan perlindungan yang mungkin diawali dari yang fisik, seperti pembangunan bendungan yang lebih kokoh hingga tindakan prosedural seperti teknik-teknik yang baku untuk menggabungkan penilaian bahaya di dalam rencana penggunaan lahan. (Program Pelatihan Manajemen Bencana, UNDP 1994). Terkait dengan banjir di Jember dan tanah longsor di Banjarnegara, maka langkahlangkah mitigasi (baik fisik dan prosedural) bisa diterapkan. Pertama, pengkajian bahaya dan teknik-teknik pemetaan. Artinya, histografi terjadinya banjir dan tanah longsor di Jember dan Banjarnegara bisa dijadikan sebagai patokan analisis topologi struktur tanah setempat. Ini bisa digunakan untuk menentukan estimasi struktur hidrologi yang akan dipakai sebagai sarana memrediksi kemampuan tanah dalam proses penyerapan air. Dengan demikian, kita bisa menentukan dan memperkirakan, jika terjadi curah hujan dalam taraf tertentu maka meter kubik air yang bisa ditampung tanah adalah sekian. Kedua, penghijauan hutan dan mengembalikan fungsinya kembali sebagai sarana penyerap air "raksasa". Jika perlu, pemerintah (daerah/pusat) harus berani dengan tegas mengkhususkan lahan yang kritis sebagai wilayah rehabilitasi dan konservasi. Dengan status demikian, tindakan apa pun yang bertolak belakang dengan upaya perbaikan lingkungan wajib ditolak. Program ini memang sangat sulit. Karena secara tidak langsung terkait dengan pola hidup sosial masyarakat setempat yang menganggap hutan sebagai bagian dari hidup mereka. Namun dengan pendekatan dan teknik-teknik khusus mutualisme antara masyarakat dan Perhutani, misalnya, persoalan ini akan bisa diselesaikan. Toh, dengan gundulnya hutan masyarakat dengan mata kepala sendiri sudah bisa merasakan akibatnya. Ketiga, pembuatan sistem peringatan dini (early warning system) kepada masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi bencana yang datangnya tidak terduga. Wujudnya bisa berupa alat sensor khusus atau alarm yang akan terhubung dengan petugas pemantau. Sistem ini harus dipasang di tempat-tempat yang rawan bencana, seperti daerah longsoran, aliran air sungai yang deras maupun daerah pegunungan. Kejelian salah seorang ustad pondok pesantren di Jember, membaca tanda-tanda akan bahaya banjir sehingga langsung menginstruksikan para santrinya mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, perlu diapresiasi. Walhasil, meski gedung pesantrennya rusak parah, sekitar 400 santri dapat terselamatkan. Nah, dengan sistem peringatan dini, antisipasi datangnya banjir dan bentuk-bentuk bencana lainnya dapat dilakukan secara lebih sistematik, prosedural dan terukur. Salah satu sistem peringatan dini yang layak dijadikan contoh adalah DART (Deep Ocean Assesment and Reporting) milik Amerika Serikat. Alat ini mampu mendeteksi jika sewaktu-waktu akan terjadi gempa bumi dan tsunami. Dalam waktu sepersekian detik, informasi yang dikumpulkan akan langsung dikirim ke "control room" yang ada di darat. Selanjutnya, petugas yang berwenang akan menginformasikannya ke tim SAR, PMK, rumah sakit, pemerintah hingga media massa. Tujuannya, selain agar masyarakat segera tahu, pemerintah memiliki waktu yang cukup untuk mengantispasi efek bencana. Teknologi terintegrasi tersebut memang mahal dan masih sedikit negara yang memilikinya. Untuk kasus Indonesia, dengan alam dan lingkungan yang khas, kita bisa memilih bentuk dan teknologi mitigasi bencana yang paling sesuai. *** Penulis mahasiswa Jurusan Teknik Fisika ITS Surabaya

Pasca-â?•Holocaustâ?• Ekologi

Mutiara Andalas Alarm bencana ekologi berdering keras di berbagai daerah di Indonesia. Di Jember, korban meninggal akibat bencana banjir bandang sudah melampaui angka 100 warga. Ribuan warga meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi karena genangan banjir. Di Banjarnegara, bencana tanah longsor dalam sekejap mengubur hidup puluhan warga. Ratusan rumah warga terkubur akibat tanah longsor. Status siaga III dan zona merah dikenakan pada berbagai daerah yang rawan banjir dan tanah longsor. Monster kerusakan ekologi ciptaan manusia sedang memburu penciptanya. Bencana ekologi, seperti banjir dan tanah longsor, menyingkap persoalan kerusakan ekologi yang sudah mencapai taraf kritis. Pembabatan hutan dalam skala massal dan berbagai eksploitasi ekologi lainnya telah melahirkan monster ekologi pemangsa kehidupan. Akibatnya, kehidupan ekologi pada masa sekarang dan masa depan berada dalam ancaman serius kematian prematur. Di hadapan ancaman kematian prematur manusia, habitus baru humanitas untuk memerangi kerusakan ekologi itu bukan sekadar fakultatif lagi. Menciptakan kultur kehidupan ekologi di tengah-tengah kematian prematur korban adalah imperatif. Pengingkaran kita terhadap kerusakan ekologi telah memproduksi kematian prematur korban akibat bencana banjir dan tanah longsor. Desekrasi ekologi Jon Sobrino dalam Where is God?: Earthquake, Terrorism, Barbarity, and Hope (2004) menyatakan bahwa sumber sejati solidaritas adalah penemuan realitas the suffering others. Dimensi personal humanitas dan dimensi sosial kita sebagai komunitas manusia ditantang saat berjumpa dengan fakta penderitaan korban. Pengingkaran tanggung jawab kita terhadap mereka yang menderita mempercepat kematian prematur korban. Sebaliknya, tanggung jawab kita terhadap mereka memulihkan kehidupan mereka yang menderita. Kematian prematur mereka berlawanan dengan kehendak Allah untuk kehidupan mereka. Para ahli ekologi Indonesia sudah mendeteksi ekologi sebagai the suffering others baru dalam dunia kita. Eksploitasi hutan sudah mencapai taraf merusak kehidupan ekologi. Namun, kita tak serius menanggapi isu kerusakan ekologi ini. Kita tidak sadar bahwa pembabatan hutan besar-besaran itu melahirkan monster ekologi dengan daya destruktif mengerikan. Kerusakan dan kematian prematur yang diderita banyak warga korban banjir dan tanah longsor merupakan lensa tembus padang untuk melihat habitus lama eksploitasi manusia terhadap kehidupan ekologi selama ini. Sallie McFague dalam Life Abundant: Rethinking Theology and Economy for a Planet in Peril (2001) menegaskan bahwa komunitas dunia perlu melakukan revolusi ekologi untuk

menghentikan desekrasi ekologi. Berbagai krisis alam akhir-akhir ini memperkuat relasi intrinsik antara bencana alam dan perilaku eksploitatif manusia terhadap ekologi. Eksploitasi manusia sudah mencapai taraf melampaui batas kemampuan ekologi untuk menanggungnya. Menurut dia, perilaku destruktif manusia terhadap ekologi itu bersumber pada pandangan mengenai ciptaan yang ditata dalam relasi dualistik hierarkis. Paradigma superioritas-subordinasi ini opresif terhadap alam. Kredo dominasi dan kontrol absolut manusia terhadap ciptaan-ciptaan lain memberikan lisensi untuk eksploitasi ekologi. Alam sekadar dipandang sebagai obyek par excellence. Alam menjadi the suffering other baru karena terus-menerus diperas secara rakus oleh manusia. Dominasi manusia terhadap alam ini berakibat pada desekrasi alam. Kehidupan planet kita terancam mengalami kematian prematur karena luka-luka yang diderita alam sangat parah. Manusia tak hanya mengeliminasi dirinya, tetapi juga ciptaan- ciptaan lain. Tanpa sadar manusia eksploitasi manusia terhadap alam ini menciptakan monster ekologi yang sekarang memorakporandakan kehidupan seluruh ekologi. Tak boleh mati rasa Holocaust ekologi tampaknya akan menjadi salah satu isu utama dunia abad ini. Ancaman holocaust ekologi itu telah menjadi realitas di berbagai belahan dunia dalam waktu yang saling berdekatan. Dunia kita tak boleh lagi mati rasa terhadap isu kerusakan ekologi. Selama ini kita masih terbuai oleh imajinasi tatanan ekologi pra-holocaust. Tsunami, badai, banjir, dan bencana-bencana ekologi lainnya membantu kita untuk mengimajinasikan kerusakan pasca-holocaust ekologi. Sallie McFague mengusulkan model ekosentris sebagai alternatif baru untuk mengalamatkan problem kerusakan ekologi. Seluruh ciptaan dalam ekologi berada jejaring interrelasi dan interdependensi. Dunia dipandang sebagai a living body. Paradigma subyek-obyek harus digeser menjadi paradigma subyek-subyek yang menempatkan alam sebagai tubuh Allah. Model dunia sebagai tubuh Allah ini merawat dan menumbuhkan ekologi. Perhatian Pemerintah Indonesia belum sampai pada kesadaran perlunya habitus baru untuk merawat ekologi. Perhatian kita masih terforsir pada usaha mereduksi kerusakan ekologi dan rehabilitasi korban pasca-bencana. Kita masih berada pada tahap memetakan wilayah-wilayah paling berisiko terhadap ancaman holocaust ekologi dan manajemen menghadapi holocaust ekologi. Revolusi ekologi harus sampai pada habitus baru manusia untuk merawat ekologi. Kita, manusia, tidak hidup di luar ekologi. Kita adalah bagian dari jejaring ekologi. Eksploitasi manusia terhadap alam terbukti berdampak destruktif bagi kontinuasi kehidupan seluruh ekologi. Bencana banjir bandang dan tanah longsor di berbagai daerah di Indonesia merupakan metafor sangat kuat untuk menunjukkan disorientasi ekologi sebagai akibat eksploitasi manusia terhadap alam. Ekologi sekarang berada dalam sirene tanda bahaya. Kehidupan

ekologi terancam mengalami kepunahan karena habitus lama manusia yang eksploitatif terhadap ekologi. Kita diundang semakin mengambil habitus baru yang merawat ekologi. Hanya dengan merawat ekologi, monster buas ekologi yang sekarang memorakporandakan kehidupan dapat dijinakkan. Mutiara Andalas Mahasiswa Program Licensiat Graduate Theological Union, Berkeley, California

SARKASME ALA TIM SAR OPA JEMBER

Kawan-kawan Pemerhati dan Peduli Bencana Jember, Ada yang menarik ketika tadi malam saya berkunjung ke lokasi bencana di Desa Kemiri, Kec. Panti, Kab. Jember. Saat ini Balai Desa Kemiri penuh dengan bantuan untuk pengungsi yang menumpuk tinggi dan di rumah-rumah depan Balai Desa Kemiri juga penuh barang-barang bantuan untuk pengungsi. Selain itu di sekitar Balai Desa Kemiri juga banyak personel polisi dan tentara yang bergerombol membentuk kelompokkelompok kecil "diskusi". Ada satu orang anggota Tim SAR OPA Jember yang saat itu sedang asyik nempel sebuah poster di dinding rumah yang sebagian besar telah roboh diterjang banjir bandang. Apa isi poster itu? Isinya adalah : ADVENTURE TOURISM ORGANIZER SEDIA PEMANDU "WISATA BENCANA ALAM" AREA : Gunung Pasang & Kali Putih FASILITAS : Mobil off road, porter dan tenda, perahu karet HUB: 0813 - 30306794 Apakah ini sebuah iklan wisata petualangan? Bukan! Bahkan ini jauh dari sebuah iklan wisata petualangan. Poster itu merupakan sebuah KRITIK KERAS kepada pihak-pihak yang telah menjadikan bencana banjir bandang dan longsor ini menjadi sebuah arena "pertunjukkan". Menjadi arena "wisata bencana" yang dipadati oleh para "wisatawan bencana". Menjadi sebuah Panggung Hajatan Bencana Nasional (baca: [Jember] Update info 11/01/06: PANGGUNG HAJATAN

BENCANA) Sarkasme adalah sebuah gaya bahasa sindiran atau kritik yang kasar. Apakah orang-orang yang menjadi tujuan kritik tersebut tahu dan paham dengan maksud kawan-kawan SAR OPA Jember? Apakah kritik ini akan mengena pada sasaran? Jawaban pertanyaan di atas sangat tergantung dengan kepekaan masing-masing individu yang membaca poster tersebut. Bagi kebanyakan orang poster itu mungkin malah dianggap sebagai iklan petualangan benar-benar. Sebagian yang lain akan menganggap hanya sebagai "joke" ala pencinta alam. Tapi sebagian lain yang kecil jumlahnya karena mempunyai kepekaan dan hati nurani akan menanggapi serius "iklan petualangan ala Tim SAR SOP Jember" ini. Bagi kelompok yang sedikit ini, "iklan petualangan ala Tim SAR SOP Jember" adalah bentuk kritik dan ketidakpuasan atas ketidakbecusan pihak-pihak yang seharusnya berwenang dalam melakukan kerja-kerja penanggulangan bencana banjir bandang dan longsor di Jember ini. Jember, 12 Januari 2006 Jam 09.55 Djuni "Lethek" Pristiyanto Email: senoaji@cbn.net.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->