Sejarah

Perkembangan kota ini pada awalnya tidak terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai sarana transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi dari dataran tinggi Minangkabau ke wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah Senapelan di tepi Sungai Siak, menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang Minangkabau.[5] Seiring dengan berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi tempat pemukiman yang ramai. Pada tanggal 23 Juni 1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri" yang terdiri dari datuk empat suku (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan ini dinamai dengan Pekanbaru, dan dikemudian hari diperingati sebagai hari jadi kota ini.[6][7] Berdasarkan Besluit van Het Inlandsch Zelfbestuur van Siak No.1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru menjadi bagian distrik dari Kesultanan Siak. Namun pada tahun 1931, Pekanbaru dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang controleur yang berkedudukan di Pekanbaru dan berstatus landschap sampai tahun 1940. Kemudian menjadi ibukota Onderafdeling Kampar Kiri sampai tahun 1942.[8] Setelah pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Pekanbaru dikepalai oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung. Kemudian, berdasarkan Undang-undang nomor 22 tahun 1948, ditetapkan kabupaten Kampar dan kota Pekanbaru diberikan status kota kecil, dan menjadi kota praja setelah keluarnya Undang-undang nomor 1 tahun 1957. Kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota provinsi Riau pada tanggal 20 Januari 1959 berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25[7] sebelumnya yang menjadi ibu kota adalah Tanjung Pinang[9] (kini menjadi ibu kota provinsi Kepulauan Riau).

Penduduk provinsi Riau terdiri dari bermacam-macam suku bangsanya. Mereka bermukim di wilayah perkotaan dan di pedesaan di seluruh pelosok provinsi Riau. Adapun etnis-etnis yang terdapat di provinsi Riau antara lain Banjar, Melayu, Jawa, Minangkabau, Tionghoa, Mandailing, Batak, Bugis, Aceh, Sunda, dan Flores. Suku Melayu merupakan suku mayoritas di provinsi ini dan terdapat pada setiap kabupaten dan kota, suku Jawa dan Sunda pada umumnya banyak berada pada kawasan transmigran. Sementara etnis Minangkabau umumnya menjadi pedagang dan banyak bermukim pada kawasan perkotaan seperti Pekanbaru, Dumai, serta terdapat juga di Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu. Begitu juga orang Tionghoa pada umumnya sama dengan etnis Minangkabau yaitu menjadi pedagang dan bermukim pada kawasan perkotaan serta banyak juga terdapat pada kawasan pesisir timur seperti di Bagansiapiapi, Selatpanjang, Pulau Rupat dan Bengkalis. Suku Banjar dan Suku Bugis umumnya banyak terdapat di kabupaten Indragiri Hilir, terutama di Tembilahan. Selain itu di provinsi ini masih terdapat sekumpulan masyarakat terasing di kawasan pedalaman dan bantaran sungai seperti Orang Sakai, Suku Akit, Suku Talang Mamak, dan Suku Laut.

Bahasa yang dipakai adalah bahasa resmi yaitu Bahasa Indonesia dan ada juga yang menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu Riau mempunyai sejarah yang cukup panjang, karena pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada Zaman Kerajaan Sriwijaya, Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa internasional Lingua franca di kepulauan Nusantara, atau sekurang-kurangnya sebagai bahasa perdagangan di Kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu, semenjak pusat kerajaan berada di Malaka kemudian pindah ke Johor, akhirnya pindah ke Riau mendapat predikat pula sesuai dengan nama pusat kerajaan Melayu itu. Karena itu bahasa Melayu zaman Melaka terkenal dengan Melayu Melaka, bahasa Melayu zaman Johor terkenal dengan Melayu Johor dan bahasa Melayu zaman Riau terkenal dengan bahasa Melayu Riau. Pada zaman dahulu ada beberapa alasan yang menyebabkan Bahasa Melayu menjadi bahasa resmi digunakan, yaitu: 1. Bahasa Melayu Riau secara historis berasal dari perkembangan Bahasa Melayu semenjak berabad-abad yang lalu. Bahasa Melayu sudah tersebar keseluruh Nusantara, sehingga sudah dipahami oleh masyarakat, bahasa ini sudah lama menjadi bahasa antar suku di Nusantara. 2. Bahasa Melayu Riau sudah dibina sedemikian rupa oleh Raja Ali Haji dan kawankawannya[rujukan?], sehingga bahasa ini sudah menjadi standar. 3. Bahasa Melayu Riau sudah banyak publikasi, berupa buku-buku sastra, buku-buku sejarah dan agama baik dari zaman Melayu klasik maupun dari yang baru.

Pacu Jalur adalah sejenis lomba perahu dayung tradisional dari Riau berukuran panjang sekitar 25-40 m dengan awak perahu 40-60 orang.[rujukan?] Setiap tahunnya, sekitar tanggal 23-26 Agustus, diadakan Festival Pacu Jalur sebagai sebuah acara budaya masyarakat tradisional Kabupaten Kuantan Singingi,Riau bersamaan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.[1] Pacu Jalur ini sudah masuk kalender pariwisata nasional[rujukan?]. Biasanya sebelum pacu jalur dimulai diawali dengan Upacara Sakral dan Magis oleh Pawang jalur. Seluruh Desa dan Kecamatan di Kabupaten Kuantan Singing mengirimkan wakilnya untuk mengikuti lomba sebagai partisipasi dan prestise masing-masing desa. Disamping pacu jalur diadakan juga Pekan Raya Kuantan Singing, pertunjukan Sendratari, lagu daerah, randai, dan sebagainya.[rujukan?]

menjadi wajar jika Pemerintah daerah Riau menciptakan visi Riau menjadi pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada 2020.Anugerah Sagang adalah sebuah penghargaan/award dunia Melayu yang diberikan kepada sosok atau tokoh yang berdedikasi terhadap kehidupan berkesenian. pernah berdiri kerajaan-kerajaan Melayu yang cukup besar dan memiliki pengaruh yang luas di zamannya. Fungsinya untuk menjaga bentangan layar agar tetap terbuka dalam menerima tiupan angin sehingga perahu tetap melaju kencang. dan monumental. yang menjadi pemersatu bahasa di Indonesia. dari tanah Riau juga pernah lahir tokoh-tokoh kebudayaan Melayu. Gunanya untuk menjaga keseimbangan bila terjadi terpaan angin ribut. pendorong dan penggerak semangat berkreasi budaya Melayu. Riau juga kaya akan kerajinan tradisional seperti songket. Penganugerahan Sagang ini merupakan komitmen yayasan Sagang terhadap negeri Riau. Selain kerajaan dan tokoh Melayu. Biasa digunakan sebagai penyangga bubungan rumah di kawasan pantai. Masyarakat nelayan biasa menyebutnya “sagang barat. bordir. Ia merupakan simbol dari semangat pantang menyerah. tekat. atau ukiran kayu. Kata ini populer di kalangan nelayan yang bermukim di Singkep. Para nelayan biasa menggunakan kayu kecil ini sebagai penyokong bentangan layar. Sagang adalah nama sepotong kayu kecil. Dipilihnya kata “Sagang” karena mengandung sebuah filosofi mendalam. pesisir semenanjung Malaysia dan sekitarnya. anyaman. Anugerah Sagang telah memberikan anugerah dalam berbagai kategori. negeri yang menjadi salah satu teras tumbuh-kembangnya budaya Melayu. Sebut saja Kerajaan Siak Sri Indrapura atau Kerajaan Lingga. berkualitas. Bahasa Melayu merupakan cikal bakal dari bahasa Indonesia yang digunakan saat ini. Sejak ditaja pada tahun 1996. Berdasarkan bukti-bukti kebudayaan ini. Sebuah kontribusi dan sumbangan yang tak ternilai harganya. semangat yang tak gentar betapapun hebat tantangan yang dihadapi. Sagang merupakan simbol dari semangat untuk menjadi penyangga/penyokong. Suatu daerah yang dalam perjalanan sejarahnya telah menyumbangkan sebongkah emas budaya yang bernama bahasa Melayu.” karena kayu kecil itu sangat berjasa dalam meredam goncangan angin barat. karya yang dinilai unggul. Riau sebagai salah satu provinsi di Indonesia memang cukup banyak memiliki jejak-jejak kebesaran kebudayaan Melayu. semisal Raja Ali Haji. sebuah yayasan dalam grup Riau Pos yang menaruh kepedulian atas pelestarian dan pengembangan budaya Melayu. batik. Kata “Sagang” berasal dari khazanah tradisi kehidupan masyarakat Melayu Riau di kawasan pesisir. Penganugerahan Sagang diberikan oleh Yayasan Sagang. dengan diameter sekitar 2-3 cm. Tiap tahun jumlah kategori yang diberikan selalu bertambah. Selain itu. Di daerah Riau. Kerajinan-kerajinan ini terdokumentasi . serta pemikiran yang mampu menggerakkan dinamika budaya Melayu dalam ranah tertentu. Kayu kecil itu dipasang melintang diagonal pada bentangan atap rumah.

dan orang cukup melihat buku sejarah nasional Indonesia (Nugroho Notosusanto. Dkk. Itu berarti tak lain kesultanan Melayu Riau lah yang menjadi pusat kekuasaan dan pendorong pertumbuhan budaya tersebut. Contohnya tak begitu sulit untuk dicari. Buku ini membahas tentang berbagai kerajinan khas Riau yang merupakan kebudayaan orang Riau masa silam. Di SMPT. Lolosnya kerajaan Melayu Riau dari catatan sejarah Nasional itu. sekalipun dalam kelompok seminar ada kelompok aspek sejarah. Disitu peranan dan kedudukan Kerajaan Melayu Riau nyaris tak pernah disentuh dan disebut-sebut. kemudian tentu saja menurun ke buku-buku pelajaran sekolah-sekolah yang bersumber dari buku babon tersebut. 1975) yang dianggap sebagai buku babon (standar) bagi penulis sejarah Indonesia. Sebab bagaimanapun selama ini. seperti Aceh. namun induk yang membesarkannya hampir tak mendapat tempat yang wajar. Apalagi cakupan Melayu dalam pengertian seminar tersebut. buku pelajaran sejarah Nasional tak sempat menyebutnyebut Kerajaan Melayu itu. Kerajinan-kerajinan ini hingga kini masih terjaga dengan cukup baik. pernyataan-pernyataan tersebut hampir tak terjawab. tetapi permasalahan yang dibicarakan sangat beragam dan tidak merupakan suatu pembicaraan khusus tentang sejarah politik dan kekuasaan kerajaan-kerajaan yang pernah ada dan memainkan peranannya di kawasan ini. di Riau terutama pengakuan itu tampaknya sangat penting dan melibatkan emosi. Untuk melestarikan budaya Riau. Bagian dari Sejarah Indonesia Atau Malaysia? Pengakuan bahwa bahasa Melayu yang menjadi teras bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau. penerbitan buku ini penting untuk diapresiasi. Sehingga.dengan baik dalam buku berjudul Khazanah Kerajinan Melayu Riau ini. secara implisit berarti juga pengakuan tentang adanya satu pusat kekuasaan yang telah memberi ruang dan kesempatan bahasa dan sastra Melayu itu tumbuh dan berkembang sehingga menjadi aspek budaya yang tinggi nilainya. kecuali yang dipakai di Riau. terutama karena seminar itu bukanlah seminar tentang sejarah. . tetapi tentang budaya yang merangkut berbagai hal secara umum. Bagi masyarakat Melayu. Sayang selama seminar empat hari itu. atau SMAT misalnya. sekalipun bahasa Melayu diakui telah memberikan sumbangan yang tidak ternilai harganya terhadap pengembangan kebudayaan nasional. Apalagi buku pelajaran IPS di sekolah dasar. tetapi menjadi bagian sejarah Johor (Malaysia)? Itulah antara lain pertanyaan-pertanyaan menarik yang sudah bergaung jauh sebelum Seminar Nasional Kebudayaa Melayu itu berlangsung. Dan ini pun bisa dimaklumi. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Apakah sejarah kebudayaan Melayu Riau yang jatuh bangun selama 189 tahun (1722-1911) bukan merupakan bagian sejarah nasional Indonesia. bahkan tenggelam dalam kebesaran kekuasaan lain. tetapi sedaya upaya ingin merangkum semua kawasan di Indonesia yang merupakan pendukung dari kebudayaan ini. bukanlah semata-mata terpacu pada Riau.

di satu kawasan bernama Riau. Aksi Protugis menyerang Malaka 1511 itupun tak lain sama dengan bajak laut. perdagangan dan pembajak laut tak banyak bedanya. berarti hampir bersamaan dengan masa keemasan kerajaan Melayu Malaka (1400-1528). saat wilayah eks Kesultanan Johor dibagi dua. Dr Onghokham. Kekaburan itu. seperti kebanyakan sejarahwan dari luar Riau. Begitu kesimpulan Dr Onghokham. memang masih belum bersedia untuk penegaskan mana yang dimaksud dengan kerajaan Riau itu. Sumber-sumber Protugis. Kadang-kadang dipakai istilah Kesultanan Riau. Meskipun untuk pengertian ini. Onghokham perlu mengaris bawahi bahwa pada zaman itu. dalam berbagai penulisan sejarah. Dr Onghokham membenarkan bahwa dalam soal budaya. hanya empat makalah yang secara langsung menyinggung tentang sejarah politik dan kekuasaan kerajaan Melayu di semenanjung. Tetapi. Tidak disebutkan faktor apa yang mendorong lahirnya budaya yang unggul itu. terutama oleh sejarahwan Riau dan Malaysia. Bagi kalangan sejarahwan di Riau sekarang ini. menyebut gerilnya laut yang berpangkat di pulau Bintan itu sebagai bajak laut. Sedangkan. dalam percaturan Politik internasional tidak pernah merupakan pusat kekuasaan terpenting atau terbesar. Wilayah itu hanya menjadi pemukiman orang laut dan tempat pelarian raja-raja yang syah. kadang-kadang kerajaan Bintan. juga pengistilahan yang persis tentang kesultanan. Salah satu yang cukup mengelitik adalah makalah Dr Onghokham. RiauLingga) baru punya eksitensi politik dan kekuasaan pada saat lahirnya Trakat London (1824). . seperti untuk menyerang Protugis di Malaka. menjadi bagian Semenanjung Melaysia di bawah kekuasan Inggris. politik. ketika Sultan Ibrahim (1677-1685) dari Johor. ketika orang-orang Bugis melantik Tengku Sulaiman sebagai Sultan. “Dinasti raja-raja Riau mungkin kalah dalam kekuasaan politik dan kalah dalam kekayaan dengan raja-raja sekitarnya. Tampaknya dalam masalah tersebut Dr Onghokham hanya mencoba mengambarkan selintas perkembangan sejarah. bagaimanapun. Riau masuk bagian Sultan Riau Lingga dan dibawah pengawasan Belanda dan Singapura dan Johor. pengertian Riau itu sendiri baru ada sekitar tahun 1978. atau dinasti atau wangsa sah sekitarnya digulingkan. antara perang.Pusat Bajak Laut Dari sebelas makalah tentang aspek sejarah yang diperbincangkan. Pusat pemerintahan itu kembali ke Johor tahun 1690 pada masa pemerintahan Sultan Mahmudsyah. (UI-Jakarta) yang berjudul “Pemikiran Tentang Sejarah Riau”. Dr Onghokham juga melihat dalam sejarah perkembangannya Kesultanan Riau itu. Akibatnya selain acuan ruangan dan waktu menjadi sering tidak jelas. Bahkan masih ada pendapat lain yang justru mencatat bahwa Kesultanan Riau (yang lebih sering dipakai. Kepulauan Riau tidak kalah dengan sekitarnya. yaitu sebagai tempat strategis untuk melakukan gerilya laut. atau lebih tepat Riau dahulunya itu. Namun dalam hal budaya mereka tetap unggul”. sebagai salah satu kawasan kerajaan maritim yang dalam pertumbuhannya tenggelam dalam bayang-bayang kebesaran Kesultanan Malaka. terutama berkaitan dengan Kerajaan Melayu Riau. Demikian juga blokade Belanda terhadap Makasar atau Banten abad ke-17. Riau itu pun sering berganti-ganti. sebuah makalah yang tebalnya hanya sembilan halaman. Peranan Kesultanan Riau pada tahun-tahun setelah 1511. sama juga dengan penegasan ahli sejarah itu tentang jejak paling jelas dari kesultanan Riau yang dikatakan abad ke-15. memindahkan sementara ibukota kerajaannya dari Batu Sawar (Johor) kehulu Riau. Kesultanan Riau baru terwujud tahun 1722. menurut Dr Ong.

Namun demikian. Sekalipun dalam berbagai penulisan. Pokok bahasan bukanlah tentang apa dan bagaimana Kesultanan Melayu di Riau itu. yaitu Siak. Lingga. dan Johor yang kemudian bangkit kembali sesudah Trakat London. Suwardi Ms. dan dibesarkan di Minangkabau itu. Berdirinya kesultanan Siak. keduanya dijadikan daerah pegangan yang masing-masing dikuasai oleh dua Petinggi kerajaan. dan kedua kesultanan Siak dengan penguasanyan Raja kecil. Dimulai dengan kesultanan Malaka (1400-1528). dalam pembicaraan itu pengertian tentang wilayah kesatuaan kekuasaan itu lebih punya batasan dan ruangan serta waktunya. dan Pulau Tujuh (Natuna). Kalau sebelum terjadi perebutan kekuasaan antara keturunan Sultan Malaka dan keturunan Bendahara Tun Habib. Pahang dan Riau. Bahkan mungkin lebih jika dikaitkan dengan munculnya Kesultanan Pahang yang dahulu menurunkan bagian dari wilayah Riau. Sedangkan Johor dan Pahang serta Singapura masuk wilayah semenanjung dan berdiri sendiri. Raja Kecil. Raja Kecil. Oleh karenanya banyak juga yang berpendapat bahwa Imperium Melayu di kawasan Semenanjung dan tenggara Asia itu jatuh bangun selama lebih dari lima abad. ada dua pusat kekuasaan.Saham Raja Kecil Sejarahwan lain yang berbicara dengan acuan yang lebih jelas tentang pengertian Kesultanan Riau itu. dan ditutup oleh Riau dan Siak yang berakhir tahun 1945. dengan sendirinya mengucapkan pengertian bahwa dikawasan Riau (dalam pengertian geo administrasi sekarang ini) ketika itu. Tahun 1824. Kesultanan Johor itu disebut sebagai Johor. kemudian memindahkan kekuasaan itu ke Riau. yang dikatakan anak Sultan Johor Mahmudsyah yang mati terbunuh tahun 1699.dan kemudian secara bertahap membangun Kesultaanan baru yaitu Kesultanan Siak (1723-1945). Walaupun masa kekuasaan Raja kecil ini di Riau hanya berlangsung empat tahun. sesudah perbelahan itu sebutannya menjadi Riau. dilanjutkan Johor (1528-1722). adalah Drs Suwardi Ms (UNRI Pekanbaru) dengan makalahnya “Kesultanan Melayu di Riau: Kesatuan dalam Keragaman). Namun. 1719. memulai pengertian kerajaan-kerajaan Melayu dan berkembang di Riau dari tokoh kontaraversial. adalah eks Kesultanan Johor. 1824. kemudian memilih pusat kekuasaannya yang baru. (Raja Kecik) yang dalam satu perebutan kekuasaan di Kesultanan Johor 1717. Johor dan Pahang. yaitu Kesultanan Johor yang merupakan penerus Malaka. Sementara Johor dan Pahang. apa yang disebut sebagai Kesultanan Riau itu. melainkan tentang kesatuan dan keragaman pemerintahan dan peranannya dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai sosial budaya Melayu. setelah berhasil merampas tahta kerajaan. dan Pahang dibawah Bendahara. namun Suwardi Ms mengganggap Raja kecil sebagi tokoh yang punya andil (saham) besar dalam upaya mewujudkan kembali kesatuan Melayu di Selat Malaka yang dahulu terpecah belah oleh kekuasaan Protugis dan Belanda. wilayah kekuasaan Riau ini tinggal lagi gugusan pulau Bintan. sebenarnya Kesultanan Riau itu hanya berlangsung tak lebih dari 62 tahun (1722- . Itu bermula dari tahun 1722 saat Sultan Sulaiman dilantik dan menjadikan Riau (dalam hal ini Riau dalam pengertian ibukota dan bukan wilayah) sebagai pusat kekuasaannya. sejarahwan Riau yang memang sudah cukup banyak mengeluti masalah sejarah yang terjadi dikawasan Riau sekarang ini. Dipandang dari segi kekuasaan dan kedaulatan sebagai sebuah kerajaan yang merdeka dan berdulat. selalu harus ditunjukkan bahwa hulu kedua Kesultanan ini adalah satu. berhasil merampas kekuasaan dari tangan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah. Yaitu Riau yang berpusat di Ulu Riau dengan Sultannya Sulaiman Badrul Alamsyah. Raja kecil yang terusir dari Riau itu. Johor dibawah seorang Temenggung. Batam. dalam kaitan yang lebih khusus.

Padahal dalam berbagai penulisan sejarah asing. Juga dengan perang Riau 1782-1784 yang menewaskan ribuan. seperti terlepas dari catatan sejarah. seperti Raja Ali Hajji dengan Tuhfat Annavis. sebelum akhirnya dihapuskan sama sekali dari daftar administrasi pemerintah kolonial Belanda di Indonesia sebagai daerah kerajaan. dkk 1977). Peranan yang jernih dari bangsawan dan pengusaha Melayu keturunan Bulgis. terutama hasil kerja para penulis dari Kesultanan Riau sendiri. Jejak-jejak sejarah yang tenggelam dalam belukar dan kemudian terus terlupakan itu. Boxer. Di Riau sendiri tahun 1975 sudah ada satu seminar sejarah Riau. Dalam buku-buku sejarah nasional yang dipelajari di sekolah-sekolah tampaknyaber lawan Sultan Siak terhadap VOC di Guntung dan berhasil membantai habis satu datasemen tentara VOC. disulap demikian rupa dan tenggelam oleh berbagi figur keturunan Melayu asli yang sebenarnya tidak begitu amat menonjol. Dalam perjanjian di atas kapal perang VOC “Utrech”. yang kemudian tahun 1977 diikuti dengan terbitnya buku “Sejarah Riau” (Mukhtar Luthfi. Dalam pembicaraan tentang Kesultanan Riau misalnya. Ia hanya menjadi sebuah karesidenan yang kemudian menjadi teras daerah kekuasaan propinsi Riau. Riau sempat sekejap menjadi negeri merdeka.R. Tenggelam Jejak-jejak sejarah yang gelap dan saling berbaur itulah yang kemudian membuat Kesultanan Riau yang secara jelas adanya selama 189 tahun itu. membuat penulis sejarah tersebut jadi berat sebelah. 1815. bukan tak ada. juga Kesultanan Siak. Tetapi akibat berbagi kelemahan pemerintahan ketika itu. SH-1983) perang tersebut ikut dicatat. Ketika terjadi peralihan kekuasaan antara Belanda dan Inggris akibat perang Eropa 1795. Riau.tentara VOC dan menenggelamkan sebuah kapal perang komando VOC “Malaka Walvaren” bersama 300 pasukannya. Sebab. Ketika Inggris mengambil alih semua kekuasaan Belanda seperti Malaka. dan negeri-negeri lain di Semenanjung Malaysia. ketika seluruh jajahan Belanda yang diambil alih Inggris dikembalikan. Upaya untuk mengangkat figur Raja Kecik sebagi tokoh utama pemersatu kekuatan dan kekuasaan orang Melayu setelah Malaka runtuh dan Johor tumbang. Anti Bugis Usaha untuk merambas belukar sejarah kerajaan-kerajaan Melayu di Riau itu. maka sejak saat itu Riau sudah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan VOC. Riau kembali jatuh ke dalam kencaman Belanda. seperti buku “Jan Kompeni” (C. Tetapi buku sejarah itu ditangguhkan pengedarannya karena ada bagian isinya yang masih jadi sengketa. buku itu dikencam sebagai terlalu “Siak Sentris” dan terlalu “Anti Bugis”. tak cukup kuat untuk dicatat. antara lain disebut bahwa Riau mengakui Belanda sebagai penguasa tertinggi. toh tak lebih dari sebuah koloni yang dalam pengertian kesombongan VOC disebut sebagai daerah “Anugerah sang ratu dan sebagai pinjaman”. juga terhadap silsilah Melayu Bugis. Riau ketika itu meskipun punya sultan dan perangkat pemerintahan. Kepincangan dalam penulisan itu. bukan cuma diterima oleh Kesultanan Riau. dengan berakhirnya perang Riau (1782-1784) dimana Riau dikalahkan oleh Belanda. oleh Inggris dinyatakan bebas dan berarti sendiri. dan tenggelam dalam pengertian sebuah koloni jajahan Belanda (1824-1913). Ia seakan tenggelam dalam raupan tentang kebesaran sejarah Johor yang dianggap berlangsung dari 1528 sampai dengan tahun 1824. tampaknya ada kaitan dengan upaya melawan berbagai penulisan sejarah yang sudah ada. yang dianggap terlalu “Bugis sentris” pula dan mengenyampingkan sama sekali hasil . Sejak awal buku itu sudak dikencam sebagai kurang obyektif dan banyak mengelapkan fakta sejarah.1784). dan pengantian para Sultan dan Wakil Sultan Harus dengan seizin VOC.

Saat ini. tetapi amat sedikit menyentuh tentang Kesultanan Riau yang dianggap sebagai sumber pembentukan bahasa Melayu tinggi itu. Kekhasan tersebut berkaitan dengan fungsi bangunan. misalnya Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat. Kalimantan Barat. di Indradiri Hilir. Riau. yang masih bisa dinikmati kekhasannya hanyalah tempat-tempat ibadah. Masjid Syekh Abdurrahman Siddiq al Banjari. seni bina tersebut juga memiliki ciri khas yang terefleksi pada simbol-simbol bangunan yang sarat makna. sehingga belukar sejarah yang sudah semak samun itu menjadi agak lebih terang. dan Masjid Lama Kraton Melayu Sambas. Ada beberapa makalah lain. namun. kalau pun ada. Sedangkan bangunan tempat tinggal sudah sangat jarang dijumpai.Dalam budaya Melayu. model. bangunan-bangunan yang berarsitektur Melayu masih dapat ditemui di beberapa daerah di Nusantara. Semenanjung Malaysia. Kepulauan Riau. Brunei Darussalam dan negara rumpun Melayu lainnya. serta serta menyudutkan figur Raja Kecik sebagai “Si Pembuat Onar” Sayang pertemuan ilmiah yang sudah memilih aspek sejarah sebagai salah satu masalah yang jadi bahasan. ornamen dan makna simbolik yang dikandung oleh setiap elemen bangunan. (bersambung) Rumah Melayu: Memangku Adat. Menjemput Zaman Seni bina pada setiap kebudayaan biasanya memiliki ciri khas. hanyalah .kecermelangan beberapa tokoh keturunan Melayu. Medan). tidak sempat menampilkan penulisan tentang sejarah kesultanan-kesultanan Melayu di Riau dan jernih. seperti sejarah Kesultanan Melayu di Sumatera Timur (Tengku Lukman Sinar SH.

Oleh sebab itu. tempat bermusyawarah.Dengan terpenuhinya unsur-unsur tersebut.38). Selain berukuran besar. Simbol-simbol itu biasa diiringi dengan ornamen yang khas dan memiliki makna tertentu pula. perubahan model arsitektur dan bahan bangunan dalam rumah Melayu modern. rumah balai. jendela. pintu. maka sebuah rumah diyakini akan menjadi suatu ruang yang membawa kebahagiaan lahir dan batin bagi penghuni rumah dan masyarakat sekitarnya. Akibatnya. Misalnya atap lontik. tempat beradat berketurunan. Dan. tidak sampai mengubah makna dan nilai simbolik yang terkandung dalam rumah Melayu tradisional. rumah Melayu tradisional kemudian semakin ditinggalkan. . Kemajuan ilmu pengetahuan. tiang enam berserambi dan tiang dua belas atau rumah serambi. jenis rumah Melayu meliputi rumah kediaman. Menjemput Zaman. tangga. Dalam buku ini. rumah merupakan bangunan utuh yang dapat dijadikan tempat kediaman keluarga. dinding. sains dan teknologi telah mempengaruhi perkembangan kebudayaan. karena perubahan zaman memang tidak dapat dielakkan lagi. Dalam masyarakat tradisional Melayu. yang melambangkan bahwa pada awal dan akhir hidup manusia akan kembali kepada penciptanya. Kondisi di atas mungkin bisa dimaklumi. rumah Melayu tradisional umumya berukuran besar. atap. dengan menghadap ke arah matahari terbit. Dalam masyarakat Melayu tradisional. rumah ibadah dan rumah penyimpanan.tinggal istana-istana kerajaan yang jarang mendapat perhatian. pembangunan rumah selalu dilakukan dengan hati-hati. Maka dari itu. Secara umum. dan lain sebagainya. sebagai gantinya. bukan saja sebagai tempat tinggal di mana seseorang atau satu keluarga melakukan kegiatan hariannya. Atap lontik ini berciri kedua perabungnya melentik ke atas. walau zaman telah berubah. Dengan demikian. termasuk kebudayaan Melayu. terdapat pula beberapa macam arsitektur untuk setiap bagian rumah yang memiliki arti tersendiri. tetapi juga menjadi lambang kesempurnaan hidup. Itulah yang dimaksud oleh Mahyudin Al Mudra dengan “memangku adat menjemput zaman” dalam bukunya: Rumah Melayu: Memangku Adat. dan ada kalanya juga dihiasi dengan kaligrafi Arab. tiang. rumah Melayu juga selalu berbentuk panggung atau rumah berkolong. adat dan nilai tetap dijunjung. Yang paling menarik dari arsitektur rumah Melayu ialah simbol-simbol yang terdapat pada bagian-bagian rumah. Sementara lekukan pada pertengahan perabungnya melambangkan „lembah kehidupan„ yang terkadang penuh dengan berbagai macam cobaan (h. Penamaan itu disesuikan dengan fungsi dari setiap bangunan. Meskipun demikian. rumah memiliki arti yang penting. kemudian tumbuh berkembang rumah Melayu modern yang menggunakan arsitektur dan bahan bangunan yang berbeda. tempat berlindung bagi siapa saja yang memerlukan. dengan memperhatikan segala unsur unsur-unsur perlambangan yang merupakan refleksi nilai budaya. Mahyudin membedah secara luas dan mendalam simbol-simbol dan nilai yang terkandung dalam arsitektur rumah Melayu. biasanya bertiang enam.

tapi simbol dan nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam rumah Melayu tradisional tetap ia pertahankan. dedikasikan untuk melestarikan dan mengembangkan arsitektur Melayu yang sarat dengan muatan simbol dan pandangan hidup. hampir seluruh elemen yang ada dalam rumah Melayu mengandung nilai budaya. Hal ini sangat penting dilakukan. Hal ihwal dan detail tentang rumah Melayu cukup terangkum dalam buku ini.80). penulis buku ini juga memberikan gambar-gambar untuk melengkapi setiap uraiannya.tiga warna yang menyimbolkan kemelayuan riau. kamar dara yang terletak di atas loteng atau para-para dengan jalan masuk dan keluarnya dari ruang tengah.Bisa dikatakan. Setidaknya.adalah burung serindit (loriculus galgulus) berukuran mini tak lebih hanya 15cm. Keunikan lain dari burung yang akan di jadikan maskot pada pelaksanaan PON XVIII di propinsi riau . Buku yang berisikan lima puluh gambar arsitektur Melayu ini. sikap dan perilaku anak dara tersebut berkaitan dengan kehormatan serta harga diri keluarga (h. Contoh dari usaha tersebut adalah rumah Melayu modern yang dibangun Mahyudin di Yogyakarta. uraian tentang bagaimana mempertahankan simbol-simbol pada rumah Melayu tradisional dalam arsitektur rumah Melayu modern. Bagian lain yang paling menarik dalam buku ini ialah. Misalnya.cuma pada jantan memiliki tanda pada kepala dan bercak merah pada bagian tenggorokan sedangkan yang betina memiliki warna yang sedikit pudar.Memiliki warna hijau kuning dan sedikit kemerahan di bagian ekornya . kehadiran buku yang mendapatkan anugerah „Sagang Award„ tahun 2003 ini dapat menjadi panduan bagi orang Melayu dalam merancang bagunan yang besendikan nilai kemelayuan di zaman modern. Selain itu. Serindit jantan dan serindit betina memiliki ciri fisik yang tak jauh berbeda . Walaupun rumahnya modern. Burung Srindit . karena sifat. Burung yang di identikkan dengan sifat ke arifan dimana burung ini hidup akur antar komunitasnya tanpa harus saling mengalahkan jika di tempatkan pada satu sangkar. dimaksudkan untuk menjaga keselamatan dan mengontrol perilaku si anak dara.

sering digunakan sebagai media pengajaran dan pendidikan. Tunjuk ajar yang terangkum dalam buku ini berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan. fungsi dari tunjuk ajar ini untuk membawa manusia ke jalan yang lurus dan diridhai Allah. petunjuk dan contoh teladan. Tunjuk Ajar Melayu Kebudayaan Melayu sarat muatan kesusastraan.yang akan datang ini yaitu lebih banyak beraktifitas dengan berjalan dari pada terbang dan ketika istirahat ia menggantungkan badan dengan posisi kepala di bawah. Buku Tunjuk Ajar Melayu karya Tenas Effendy ini. sehingga selamat dalam kehidupan di dunia dan akhirat. sebagaimana disampaikan oleh Tenas Effendy. ungkapan-ungkapan yang mengandung petuah dan nasehat disebut juga dengan tunjuk ajar. tunjuk ajar yang terangkum dalam buku tersebut kemudian ia klasifikasi ke dalam beragam tema. Oleh sebab itu. yang sering diselipkan dalam bahasa komunikasi sehari-hari. Sastra lisan orang Melayu dikenal cukup indah dengan pilihan kata dan susunan kalimat yang elok. syair. Agar lebih sistematis. nasehat. . gurindam. dan sastra lisan mengambil bagian terbesar setelah sastra tulis. Tenas cukup telaten dalam mengumpulkan dan menyusun ungkapan-ungkapan tunjuk ajar yang mulai jarang digunakan oleh masyarakat Melayu tersebut menjadi satu buku. Menurut orang tua-tua Melayu. memuat ungkapan-ungkapan yang mengandung tunjuk ajar tersebut. Ungkapan-ungkapan indah tersebut. biasanya dalam bentuk pantun. Banyak di antara ungkapan-ungkapan indah tersebut mengandung petuah. seloka dsb. kedudukan tunjuk ajar menjadi sangat penting dalam kesusastraan dan tradisi Melayu.seperti halnya kelelawar. peribahasa. karena itu. Di kalangan orang-orang Melayu. sesuai dengan kandungan isi masing-masing ungkapan.

sehingga ungkapan-ungkapan yang mengandung nilai-nilai luhur itu dapat dipahami dan berfungsi dengan baik. kehadiran buku ini telah memberikan kontribusi besar dalam upaya melestarikan tamadun Melayu. bahkan penting.207) Contoh lain. mengingat perkembangan penafsiran harus sejalan dengan konteks masyarakatnya. sebab. tetapi lebih dari itu adalah pada makna yang terkandung di dalamnya. sebab masih banyak sekali tunjuk ajar Melayu yang belum terjamah. (h. etika. Pada setiap tema dan kategori. mungkin kita bisa berbeda pendapat dengan Tenas dalam hal kategorisasi dan pemaknaan setiap ungkapan ini. walaupun beberapa ungkapan ini bisa ditempatkan secara fleksibel dalam beberapa kategori atau tema. di tengah ketidakpedulian generasi muda pada warisan agung leluhurnya. ungkapan-ungkapan yang disajikannya secara tematik tersebut belum dapat mengungkap seluruh jenis tunjuk ajar. Meskipun buku ini cukup tebal. demikian kata Mahyudin Al Mudra dalam pengantar buku ini. Misalnya ungkapan. kita akan terbuai dan terlena oleh indahnya ungkapan-ungkapan Melayu. “bila hidup tidak mufakat. . pantun mengenai rasa tanggung jawab. Buku ini cukup representatif untuk memahami adat istiadat Melayu. Selain itu. Selebihnya. Namun. terutama dalam kesusastraan. sebenarnya ungkapan di atas bisa dimasukkan pula dalam tema musyawarah dan mufakat. bila orang Melayu kehilangan tunjuk ajarnya. terutama syair. namun Tenas mengakui bahwa. bila diperhatikan. gotong royong dan tenggang rasa. sehingga memudahkan pembaca dalam memahami nilai luhur yang terkandung dalam budaya Melayu. Tenas memberikan keterangan pengantar tentang adat istiadat Melayu yang berhubungan dengan tema yang disajikan. Keindahan ungkapan bukan saja terletak pada pilihan kata serta kalimat yang rancak. misalnya pantun tentang musyawarah dan mufakat. Sebagai pembaca. Namun. apalah tanda batang dedap / pohonnya rindang daunnya lebat / apalah tanda orang beradap / bertanggung jawab samapi ke lahat. tetapi kandungan ajarannya yang paling dalam tetap sama: sebagai pedoman dan petunjuk bagi orang Melayu.262) Pembagian secara tematik yang dilakukan Tenas dalam buku ini disesuaikan dengan isi kandungan dari setiap ungkapan. Dalam konteks tersebut. mengutip Tenas. (h. sesuai dengan pemahaman dan penafsiran pembaca. pucuk putat warnanya merah / bila dikirai terbang melayang / duduk mufakat mengandung tuah / sengketa usai dendam pun hilang. hal ini dapat dimaklumi. pembaca dapat menafsirkan dan memahaminya sendiri. dari setiap ungkapan yang disajikan. Ringkasnya. di sanalah tempat tumbuhnya laknat”. Tampaknya. buku ini menjadi sangat penting. bisa saja satu ungkapan memiliki beragam kandungan isi. kehadiran buku ini juga penting dalam upaya memahami seni kesusastraan Melayu. terutama tunjuk ajar yang berkembang dalam masyarakat perkampungan. upaya tematik yang diberikan Tenas hanya untuk mempermudah pembaca dalam menelusuri kandungan atau sebagian kandungan. Membaca buku setebal 688 halaman ini. Misalnya. Setidaknya.mulai dari masalah keagamaan. ungkapan diatas dimasukkan dalam tema persatuan dan kesatuan. kekeluargaan. moral hingga politik. Namun. Oleh Tenas. menurut Tenas. sosial. berarti mereka telah kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang selama berabad-abad telah mampu mengangkat harkat dan martabat Melayu.

etnik. tenggelam di tengah riuh-rendah persaingan peradaban di bumi. Salah kaprah dalam memaknai Melayu inilah yang kemudian justru membuat kebesaran rumpun Melayu semakin lama semakin tergerus dan kian lirih gaungnya. bahkan oleh kalangan ilmuan dan orang Melayu sendiri. politik. Mahyudin Al Mudra berusaha melakukan upaya pencerahan agar bangsa Melayu tidak melupakan asal-usul dan nenek-moyangnya. Dalam buku ini. jauh sebelum Islam datang dan menebar pengaruh.Redefinisi Melayu: Perjuangan Tanpa Akhir Pengertian Melayu seringkali dipahami dengan cara pandang yang sempit sehingga membentuk pemikiran dan pengertian yang terkungkung dalam lingkaran parsial. Mahyudin Al Mudra menjelaskan fase-fase perjalanan bangsa Melayu dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa bangsa Melayu adalah bangsa yang sudah ada sejak lama. Kejayaan Melayu sebagai salah satu rumpun bangsa yang besar di jagat raya ini seolah-olah lenyap tanpa bekas. Melayu tidak lagi dipandang secara utuh melainkan diartikan dengan subjektif atas nama kepentingan masing-masing etnis/bangsa yang merasa “memiliki” hak membawa nama rumpun Melayu dengan congkak dan angkuh. yang nyaris selalu didefinisikan melalui sekat-sekat perspektif. Istilah Melayu pada akhirnya kerap ditinjau lewat sudut pandang tertentu. geografi. terasing dari gegap-gempita semesta. dan agama. Mahyudin Al Mudra memaparkan kenyataan bahwa bangsa Melayu adalah bangsa yang sudah tua. bangsa yang sudah ada sejak zaman purbakala. Di bagian awal dari buku ini. termasuk lewat pandangan linguistik. Hal ini disebabkan oleh efek eksklusifitas yang berdampak pada kecongkakan etnis/suku bangsa tertentu dan memecah-belah serta menempatkan bangsabangsa Melayu serumpun ke dalam kotak-kotak yang berdiri sendiri-sendiri. tepatnya sejak tahun .

MelayuOnline. Dalam konteks negara dan bangsa saat ini. upaya yang Mahyudin Al Mudra untuk meredefinisikan Melayu dan telah diwujudkannya dalam struktur dan isi dalam portal www. Mahyudin Al Mudra menegaskan.com. Malaysia. yakni rumpun bangsa Austronesia. Orang-orang Melayu yang ada di Thailand.” jelas Mahyudin Al Mudra (hal. kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru dunia merupakan alasan www. Kenyataan bahwa bangsa Melayu telah ada sejak zaman pra HinduBuddha. ras. Dengan demikian. orang-orang Melayu yang hidup di luar areal Semenanjung Melayu juga tidak bisa diabaikan kemelayuannya. Vietnam. Upaya untuk mewujudkan redefinisi Melayu demi terciptanya kesatuan bangsa Melayu serumpun yang bebas dari segala bentuk kekangan parsial memang diperlukan kerja yang ekstra keras. Brunei Darussalam. dan bahkan agama sekalipun. Maka tidak mengherankan bila puak-puak Melayu tersebar di berbagai tempat dan masih mengamalkan tradisi Melayu hingga saat ini. . etnik. Salah kaprah dalam kemelayuan harus diluruskan dengan mengembalikan perspektif asal-usul bangsa Melayu. bahkan Pulau Cocos dan Pulau Krismas di Oceania. dan Suriname. tidak berbeda dengan orang-orang Melayu Semenanjung. bukan untuk menambah daftar perbedaan definisi. dan afiliasi politik. Bangsa Melayu adalah manusia-manusia diaspora yang sering berkelana ke negeri-negeri lain.3000 Sebelum Masehi. orang Melayu diharapkan akan terus belajar dalam melihat dan mengidentifikasi dirinya sendiri untuk kemudian bersiap memberikan sumbangsih yang berarti bagi dunia. Gerak diaspora yang dilakukan oleh orang-orang Melayu itu mengemban peran penting dalam upaya penyebaran budaya Melayu. Sebagian besar orang Melayu memang menghuni wilayah di sekitar Semenanjung Melayu. Caranya adalah dengan bersama-sama membenahi pandangan tentang Melayu dengan membangun paradigma yang berbeda dalam tataran horisontal melalui perspektif yang tidak lagi sempit. 5). “Melalui www. Sudah saatnya bangsa Melayu sedunia dipersatukan agar bangsa Melayu lebih dikenal dunia global. Kamboja. Namun. Srilanka. memang tidak mudah memberikan redefinisi Melayu yang dapat memuaskan semua pihak.MelayuOnline. Semuanya masih terhimpun dalam satu rumpun. orang-orang Melayu itu berdiam di Indonesia. upaya redefinisi Melayu bertujuan untuk mengakomodir dan menyatukan seluruh puak-puak Melayu di seluruh dunia dengan memanfaatkan teknologi informasi. bahasa.com dinilai oleh beberapa orang masih problematis. Filipina. saya meredefiniskan Melayu sebagai bangsa di manapun mereka berada yang pernah atau masih mempraktekkan budaya Melayu tanpa dibatasi sekat-sekat agama. geografi. Laos. bukan atas dasar kepentingan politik. Afrika Selatan. Perjuangan meredefinisi Melayu bisa dilakukan dengan memetakan serta mencari kelebihan dan kekurangan dengan tujuan memberi keleluasaan pada bangsa-bangsa Melayu untuk berkembang secara utuh. dan Singapura.MelayuOnline. serta Madagaskar. Sejauh ini. Asia Selatan.com meredefinisikan Melayu berdasarkan kesamaan sejarah dan budaya. Mahyudin Al Mudra mengakui.

Seninya tidak bertujuan untuk menonjolkan segi rasional jiwanya. Dalam bidang antropologi dan sastra. Dalam mengkaji sastra. namun sayangnya justru analisis tentang struktural fungsional itu sendiri tidak ada.Hikayat Hang Tuah Analisis Struktur dan Fungsi Ketika kita membincangkan tema sastra. hal pertama kali yang teringat adalah pandangan Plato mengenai sastra. yaitu Hikayat Hang Tuah (HHT). Sulastin Sutrisno ini adalah salah satu buku yang mencoba mengkaji salah satu karya sastra terbesar Melayu. yaitu sifat manusia yang paling luhur. Heddy Shri Ahimsa-Putra dalam pengantar buku ini. Dr. dan filsafat. Berdasarkan tiga keberatan di atas. Seniman itu – karena sifat pekerjaannya – demi keberhasilannya. yang diekspresikan dalam karya sastra adalah kenyataan yang kurang. Dr. kajian ini banyak memakai epistimologi struktural fungsional. Aristoteles memandang sastra secara lebih positif. . 1956). Berbeda dengan Plato.Dr. Kajian struktur dan fungsi bertujuan untuk mencari unsur terdalam dalam sebuah karya sastra. maka sastra perlu untuk dikaji dan dipelajari. bahwa seluruh bagian dalam karya sastra merupakan bahan organik pembangun hasil seni itu. Artinya. padahal yang ingin dicapai orang adalah ide-ide yang ada di balik kenyataan tersebut. ilmu pengetahuan. dari sisi struktur dan fungsi. terpaksa menonjolkan sifat-sifat rendah manusia. buku karya Prof. Aristoteles menganggap bahwa sastra justru merupakan kegiatan utama manusia untuk menemukan dirinya di samping kegiatan lain seperti agama. Menurut Plato. Artinya. Seperti dikatakan oleh Prof. tiruan atau gambaran dari kenyataan. Dalam konteks ini. Sulastin Sutrisno ini merupakan kajian sastra yang serius. Buku karangan Prof. maka berarti seni hanya meningkatkan nafsu yang sebenarnya harus ditekan. sastra layak untuk diapresiasi sehingga muncullah pemahaman atas karya sastra sebagai a unified whole. Karena itu. sastra hanyalah mimesis. Untuk itu. maka kajian struktur adalah penting untuk mengetahui arti keseluruhan karya sastra tersebut. Daiches. Jika seni bermaksud demikian. pembaca sebaiknya memahami dahulu apa itu struktural fungsional sebelum lebih jauh membaca buku ini. maka sastra tidak perlu dipandang sungguhsungguh untuk mencapai kebenaran (D.

yang menampilkan tata cara hidup Melayu beberapa abad yang lalu. Baginya. seorang ahli bahasa dan sastra Melayu dari Rusia yang bernama B. HHT telah menjadi bahan kajian dari berbagai disiplin ilmu. Sementara itu. HHT secara umum mengisahkan tentang sosok Hang Tuah. Sebagian besar menganggap karya ini sebagai karya fiksi. Sementara itu. Pandangan ini disampaikan oleh Abdul Azis Mone (1972) dalam buku Hikayat Hang Tuah dalam Kesusasteraan Indonesia Lama. Afrika. Erington memandang HHT sebagai sejenis karya sejarah dalam hal menyimpan peristiwa-peristiwa sejarah. Dalam buku History of Indian Archipelago (1820). Para peneliti dari puak Melayu memandang HHT dengan cara yang beragam pula. Pada tahun 1854. Parnickel. Hang Tuah adalah tokoh penting dalam alam pikiran orang Melayu. Dalam buku A study of Genre: Meaning and Form in The Malay Hikayat Hang Tuah (1975). Hang Tuah diceritakan berlayar mengelilingi dunia dari Indonesia hingga Madagaskar.Hikayat Hang Tuah dalam Kajian yang Sudah Ada Hikayat Hang Tuah (HHT) dikenal sebagai salah satu karya sastra tradisional Melayu. Hang Tuah adalah pengarang buku sejarah Melayu dan Iskandar Zulkarnain adalah nenek moyang raja-raja Melayu. HHT hanya bernilai ketika mengisahkan tentang budi pekerti dan cara hidup orang Melayu. seorang pendeta Swiss. baik oleh ahli sastra dari luar maupun ahli dari puak Melayu sendiri. yaitu nama lain untuk Sejarah Melayu. Menurutnya. dia menyebutkan sebuah karya Melayu yang indah yang bernama Hikayat Hang Tuah. dalam lukisannya tentang Malaka. Pada jilid V.H. menganggap HHT sebagai karya sastra hasil masyarakat feodal. Namun. Kajian-kajian tersebut memiliki sudut pandang yang berbeda-beda sehingga menghasilkan pandangan yang berbeda-beda pula. Ungkapan paling terkenal yang konon yang berasal dari Hang Tuah adalah “Tak Kan Melayu hilang di dunia”. pada awalnya Hang Tuah adalah pahlawan rakyat yang membela kepentingan kalangan kelas menengah melawan Raja yang lalim. Hal yang sama juga dilakukan oleh G. John Crawfurd menganggap HHT sebagai cerita yang tidak masuk akal dan kekanak-kanakan. dalam buku An Epic Hero and: an Epic Traitor in the Hikayat Hang Tuah. HHT sudah dikenal sejak lama oleh para pengkaji sastra di dunia. Buku tersebut kemudian jatuh ke tangan ke kelas feodal dan diubah sesuai kepentingan kaum feodal. Anas Haji Ahmad (1962) dalam buku . Werndly. Netscher menolak anggapan tentang HHT sebagai karangan sejarah. peneliti Inggris yang bernama John Eyden menyebut HHT sebagai roman sejarah yang di dalamnya fiksi dan data sejarah tercampur. Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Abdul Ghani Suratman (1963) dalam buku Hikayat Hang Tuah dalam Bidang Sastera Melayu Lama. HHT adalah sebuah roman yang amat penting. dalam buku ini HHT disalahartikan dengan kitab Sulalatus Salatin (sultan-sultan Malaka). terutama adanya pengiriman utusan Melayu ke Rum untuk membeli senjata dan peristiwa penaklukan Malaka oleh Portugis. Dalam HHT. dan dalam kertas kerjanya berjudul Some Comments on Style in The Meaning of The Past (1976). Baginya. Berdasarkan perjalanan Hang Tuah inilah. E. Sebagai sebuah karya sastra Melayu. Nama HHT konon pertama kali didengungkan oleh pendeta Belanda yang bernama Francois Valentijn dalam bukunya Oud en Niuews Oost-Indien (1726) yang terdiri dari tujuh jilid. puak-puak Melayu meyakini bahwa suku Melayu juga tersebar dari Indonesia hingga Madagaskar. Afrika.

HHT memang merupakan sebuah karya sastra yang besar dan penting untuk dikaji jika kita melihat berbagai kajian di atas. maka tidak demikian halnya dengan HHT. Pelaku-pelakunya terdiri atas orang-orang yang berbicara. Ahmad Sarji Abdul Hamid (1960) dalam buku Hang Tuah dalam Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu. dan Abu Hasan Syam (1976) dalam buku Wanita dalam HHT: Imej Wanita dalam Hikayat Hang Tuah. cita-citanya. Ada pula peneliti yang memandang HHT sebagai karya sejarah. Unsur umum cinta tidak tumbuh subur dalam HHT. Kassim Ahmad dari Universitas Malaya dalam buku teks Hikayat Hang Tuah (1964) menganggap bahwa HHT bukan karya sejarah melainkan karya sastra Melayu asli yang melahirkan cita-cita dan kebesaran bangsa Melayu. Ada juga peneliti yang lain mengklasifikasikan HHT sebagai karya sastra dengan kategori “karya sastra lain”. yaitu tetap kuat unsur tradisionalnya namun juga memuat nilai-nilai internasional sebagai sebuah roman. Menurut Kassim Ahmad.Kenapa Hikayat Hang Tuah bukan Satu Penulisan sejarah?. Sulastin Sutrisno menyatakan bahwa dari segi tradisi dan pembaharuan. HHT layak untuk mendapat tempat dalam ilmu sastra dan menjadi warga sastra dunia. . Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa teks HHT yang panjang dan berbentuk prosa itu mengisahkan seluruh kehidupan pelaku-pelakunya dengan segala untung malangnya. Hikayat Hang Tuah di Mata Sulastin Sutrisno Pada akhir kajiannya. Artinya. dalam ruang dan waktu tertentu. Kesimpulan yang beragam tentang HHT justru menunjukan bahwa HHT ikut melambungkan kebudayaan Melayu sebagai kebudayaan besar dunia. pengarang HHT tidak mempedulikan tata tertib sejarah. Untuk itu. jika kita mencermati pernyataan di atas. sikapnya dan sebagainya. Zahari bin Md. Dia hendak menciptakan manusia Hang Tuah yang luar biasa. Pandangan ini disampaikan oleh Abu Hasan Sham (1976) dalam buku Perbandingan antara Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Inderaputera dan Nilai-nilia Tradisional dalam HHT. peranan tokoh utama yang tidak dimainkan atas nama pribadinya sendiri. Apapun kesimpulannya. bahkan beliau pantas untuk dihormati sebagai salah seorang tokoh Melayu meskipun beliau berasal dari suku Jawa. kajian ini mengajarkan kepada kita semua bahwa HHT sebagai sebuah karya sastra Melayu dapat dijadikan sebagai media untuk memahami kebudayaan Melayu yang penuh warna. Pandangan ini diungkapkan antara lain oleh Abdul Khadi Ahmad 1963 dalam buku Hang Tuah Sebenarnya Ada Hidup Buku Sejarah Melayu menjadi Buktinya. Nilainilai Masyarakat Melayu Tradisional dilihat dari Hikayat Hang Tuah. pada segi kehidupan jiwanya. tokoh Hang Tuah lebih merepresentasikan manusia Melayu dalam tanah Melayu yang dicitacitakan. Zain (1970) dalam buku Persamaan dan Perbedaan antara Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu. Kedua. Pertama. HHT mengandung sifat-sifat roman modern. Pernyataan Sulastin Sutrisno di atas dikaitkan dengan hasil kajiannya yang menemukan bahwa HHT secara umum mengandung sifat roman karena dua hal. jalan pikirannya. dan MD. bukan dewa-dewa atau jin dan peri (hal 343). HHT di mata Sulastin Sutrisno justru komplit. Lebih lanjut. jika dalam cerita roman umumnya cerita cinta ditonjolkan. Akan tetapi “cerita cinta” yang dimunculkan justru ketegangan dalam episode Tun Teja yang menegaskan tentang kesetiaan seorang Hang Tuah sebagai hamba kepada rajanya. sepanjang cerita HHT. usaha Sulastin Sutrisno dalam menulis buku ini patut untuk diapresiasi.

Azmi juga menunjukkan bahwa karya sastra yang diciptakan pada abad ke-19 ini dibuat oleh seorang penyair yang memiliki pengetahuan luas mengenai kehidupan di dalam air. Di samping itu. ia pun mengerahkan bala pasukan yang dimilikinya untuk menerobos masuk ke kerajaan air tawar. Syair Ikan Terubuk yang menceritakan nasib ikan Terubuk dan pasukannya yang terjerat jaring para nelayan mengalami pergeseran nilai dan fungsi. salah satu jenis ikan yang menjadi pemimpin kerajaan laut dengan daerah kekuasaan meliputi beberapa selat. . Riau adalah kisah ikan Terubuk. pasukan Terubuk terjerat jaring nelayan. Rangkaian syair ini menceritakan perjuangan ikan Terubuk. khususnya di laut muara sungai Siak. Kisah ini terabadikan dalam bentuk syair dengan 285 rangkaian bait yang lebih dikenal dengan Syair Ikan Terubuk. Ulul Azmi menunjukkan bahwa syair ikan Terubuk merupakan karya sastra sarat makna dan bernilai tinggi yang mempunyai pengaruh cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat Bengkalis. Melalui buku ini. baik air asin maupun air tawar. salah satunya ditulis oleh Ulul Azmi. Mantra Sakti Ikan Terubuk Dalam perkembangannya. Untuk mendapatkan putri Puyu-Puyu. Namun mujur tak dapat diraih. Riau. malang tak dapat ditolak. untuk mendapatkan putri nan cantik jelita bernama Puyu-Puyu dari kerajaan air tawar. Rangkaian bait syair ini telah diterbitkan sekitar dua puluh versi.Muatan Politik dan Magis dalam Syair Ikan Terubuk Salah satu cerita lisan yang masih mentradisi di kalangan masyarakat Melayu Bengkalis.

Perubahan dari sekedar karya sastra menjadi mantra berkekuatan magis menunjukkan adanya pergeseran makna dan fungsi dari Syair Ikan Terubuk. Masyarakat Bengkalis percaya bahwa pembacaan Syair Ikan Terubuk dapat mengundang ikan Terubuk yang “dipercaya” berasal dari selat Malaka agar datang berbondong-bondong ke wilayah perairan Bengkalis untuk bertelur. . semakin sering dibaca. untuk menguasai daerah pedalaman. Alam. seperti Pagarruyung. Tanpa menggunakan kaca mata penaklukan dalam membaca Syair Ikan Terubuk. Pelaksanaan upacara semah laut dipandu oleh para Bathin (tetua adat) yang berasal dari Bengkalis. Minangkabau dan negeri-negeri agraris lainnya. buku yang ditulis oleh Ulul Azmi cukup menarik dengan pemilihan kata yang cukup bagus sehingga tidak akan membosankan pembaca. putri PuyuPuyu. Sebagai sebuah karya sastra. para tetua adat berperan sebagai mediator untuk memanggil ikan-ikan Terubuk. Namun dengan mengaitkannya dengan upaya penaklukan pada masa itu. Jika ditarik pada konteks awal keberadaan syair tersebut. Senderak. kemudian beralih fungsi menjadi mantera pengundang yang mempunyai kekuatan magis. Nuansa Penaklukan Membaca Syair Ikan Tarubuk akan semakin menarik jika kita membacanya melalui kaca mata politik. Syair Ikan Terubuk selalu dibacakan dalam upacara mengundang ikan Terubuk. hingga akhirnya dapat ditangkap oleh para nelayan setempat. Upacara ini disebut semah laut. Secara politik. Syair Ikan Terubuk akan mempunyai nilai lebih terutama di tengah situasi di mana sebagian besar masyarakat selalu melihat pusat kekuasaan sebagai mimpi-mimpi yang tak teraih. kita akan terperosok dalam sebuah langgam dan irama yang membosankan. rangkaian Syair Ikan Terubuk menggambarkan ambisi yang gagal dari penguasa lautan. dan harapan yang selalu (disuntikkan) kepada anak-cucu agar suatu saat kelak mereka akan menjadi penglima yang memegang peranan penting dalam sebuah pusat kekuasaan.Mulanya syair ini merupakan karya sastra sarat makna. Untuk menghadirkan kekuatan sakral sebagai mantra pengundang. Bahkan. beranak pinak. dan Penebal. kita akan mengetahui bahwa Syair Ikan Terubuk menceritakan ambisi dari negeri pantai di wilayah Semenanjung Melayu. semakin banyak pula nilai-nilai tersirat di dalamnya yang bisa dibongkar. ikan Terubuk. Usaha Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa dalam menerbitkan buku Syair Ikan Terubuk merupakan salah satu upaya pelestarian dan pengekalan khazanah seni budaya Melayu. untuk menaklukan negeri-negeri di daerah pedalaman. Dalam upacara ini. yang diwakili oleh Sultan Mahmud dari Melaka. bahan gunjingan.

Banyak sudah buah karya Tenas yang telah dipublikasikan dan menjadi bahan rujukan di kalangan peneliti dan pecinta budaya Melayu.. terutama peradaban Melayu di Nusantara. sebagaimana dituliskan dalam syair berikut ini: (bait 49. dasar pemikiran inilah yang mendorong Tenas begitu ulet mengkaji kebudayaan Melayu.Syair Nasib Melayu Perhatian Tenas Effendy terhadap khazanah warisan budaya Melayu tidak diragukan lagi. Semua persoalan itu bagaikan benang kusut yang sangat sulit untuk diuraikan kembali. kualitas pendidikan dan pengetahuan yang rendah. 53) Di bumi Melayu pembangunan pesat Baik di laut maupun di darat Banyak peluang boleh didapat Banyak usaha boleh dibuat Tetapi karena ilmu tak ada Peluang yang ada terbuang saja Diisi orang awak menganga Akhirnya duduk mengurut dada . sampai kepada kerusakan lingkungan. Tenas selalu menekankan pentingnya menjaga identitas Melayu dengan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur budaya lokal. Masyarakat tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi itu. 50. Perhatian tersebut telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi peradaban manusia.. yang menurut Tenas dikarenakan ketertutupan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan modern. karena nilai-nilai tersebut senafas dengan prinsip-prinsip ajaran agama Islam. Mungkin atas dasar itulah "Syair Nasib Melayu" ditulis. Dalam karya-karyanya. keterbatasan lahan pekerjaan. mulai dari penetrasi kapitalisme global. maka banyak hal .. Syair ini berisikan refleksi penulisnya terhadap fenomena dan problematika Melayu masa kini. Disinilah tempat Melayu jatuh Karena banyak yang masih bodoh Peluang yang dekat menjadi jauh Nasib pun malang celaka tumbuh Syair di atas mengisyaratkan bahwa ketika orang lain telah mencapai kemajuan dalam berbagai bidang.. Agaknya.. Melalui buku ini. jika saja mereka punya kemauan untuk membuka lembaran sejarah Melayu. Tenas menuangkan pandangan-pandanganya terhadap Melayu modern tanpa melupakan realitas sejarah Melayu itu sendiri. Tenas Effendy mengakui bahwa kondisi semacam itu mempengaruhi cara pandang orang-orang Melayu terhadap sejarah dan budayanya. Realitas modern menciptakan persoalan-persoalan baru yang sangat kompleks di tengah masyarakat. khususnya Melayu Riau dan Kepulauan Riau.. Padahal. Misalnya perihal penyebab dari kemunduran awal Melayu modern. orang Melayu justru hanya berdiam diri atau berjalan di tempat.. kerusakan moral.. Fenomena ini sangat memilukan. "Syair Nasib Melayu" adalah salah satu karyanya yang cukup bagus.

Tenas cukup memahami karakter masyarakat Melayu Riau yang cenderung “pemalas”. Sifat inilah yang membawa mereka pada keterpurukan dalam berbagai aspek kehidupan modern. mirip dengan sejumlah syair “Lingkaran Penyengat”. "Syair Nasib Melayu" masih menampilkan gaya penulisan tradisi sastra kuno. menurut penilaian Al Azhar. serta menjadikan sejarah itu sebagai pedoman dalam membangun masa depan. Syair Kadamuddin. seperti Syair Lebai Guntur. tidak lupa pula Tenas memberikan sugesti kepada generasi-generasi muda Melayu sebagai pewaris kebudayaan. seperti termaktub dalam syair di bawah ini (bait 255 dan 256): Ke generasi muda kita berharap Kuatkan semangat betulkan sikap Kokohkan iman tinggikan adab Supaya Melayu berdiri tegap Ke generasi muda kita berpesan Hapuslan sifat malas dan segan Isilah diri dengan ilmu pengetahuan Supaya Melayu tidak ketinggalan Karya sastra yang diselesaikan pada tahun 1990 ini merefleksikan pandangan-pandangan penulisnya. tanpa melepaskan gaya modernnya. dan pada saat yang sama mengadopsi hal-hal baru dari luar yang lebih baik.yang dapat dipelajari dan dipetik hikmahnya. gaya kritik sosial yang dibangun. Syair Awai. karena proses penulisannya berlangsung dalam sebuah kondisi yang tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini. kuat dan demokratis. Beberapa bait di atas adalah salah satu contohnya. Tenas banyak memotret kondisi sosial dan budaya masyarakat Melayu Riau sebelum tahun 1990. suatu masyarakat harus mempertahankan warisan sejarah dan budaya yang baik. Masyarakat Melayu Riau pada kenyataannya kurang membuka diri terhadap kemajuan dan perkembangan modern karena mereka terlalu silau terhadap warisan sejarah dan budayanya. sehingga terbuai dengan masa lalunya. Dalam buku ini.karakter lain orang Melayu Riau. Dengan diterbitkannya karya ini. Selain itu. Inilah salah satu unsur yang membuat karya sastra ini begitu nikmat untuk dibaca dan diresapi. Meskipun demikian. Sebagai karya sastra. Meminjam perkataan Mahyudin Al Mudra. Tenas cukup jujur dalam menilai karakter orang Melayu. dalam prakatanya. Untuk membangun masyarakat yang terbuka. Dalam syair ini. bila dicermati secara mendalam. Tenas menjelaskan secara detil karakter. Di bagian akhir syairnya. telah bertambah khazanah kesusastraan Melayu. . dan lain sebagainya. Dalam syairnya Tenas menulis (bait 94): Walau Melayu bertanah luas Tetapi terlantar karena malas Dimanfaatkan orang awak pun cemas Lambat laun semuanya lepas. syair-syair tersebut masih memiliki relevansi dengan kondisi sekarang. pemangku Balai Melayu Yogyakarta.

Suku Talang Mamak: berdiam di daerah Kabupaten Indragiri Hulu dengan daerah persebaran meliputi tiga kecamatan: Pasir Penyu. Dumai: 2. Siberida. Suku Sakai: kelompok etnis yang berdiam di beberapa kabupaten antara lain Kampar. Kabupaten Bengkalis: 4. pangilo. Hasil anyaman ini bermacam – macam pula. katang – katang."Syair Nasib Melayu " menjadi penting di kalangan peneliti dan pencinta budaya Melayu karena memuat gambaran utuh namun ringkas tentang sejarah. ketupat. ambung. dan China. Adat istiadat yang berkembang dan hidup di provinsi ini adalah adat istiadat Melayu. Minangkabau. dan Rengat: 3. tikar. Provinsi Riau sangat kaya dengan kerajinan daerah. rotan. sungai Apit dan Kuala Kampar. Riau berada di garda terdepan dalam menjaga tradisi dan kebudayaan Melayu di Indonesia. karakter. Suku Akit: kelompok sosial yang berdiam di daerah Hutan Panjang Kecamatan Rupat. Uniknya. di provinsi ini masih terdapat kelompok masyarakat yang di kenal dengan masyarakat terasing. tudung kepala dan alat penangkap ikan yang disebut sempirai. rumput laut. mulai dari Bugis. Kerajinan ini dikembangkan dalam bentuknya yang aneka ragam. antara lain: 1. Suku Hutan: suku asli yang mendiami daerah Selat Baru dan Jangkang di Bengkalis. dibuat dari daun pandan. baik kelebihan maupun kekuranganya. Salah satu bentuk kerajinan daerah Riau adalah anyaman yang erat hubungannya dengan kebutuhan hidup manusia. Banjar. Hanya saja hingga kini potensi kini potensi ekonomi rakyat ini masih kurang perhatian. batang rumput resam. Batak. yang mengatur segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakatnya bersendikan Syariah Islam. Mandahiling. atap. hadirnya karya sastra ini ibarat cermin datar yang menjalaskan realita secara apa adanya. Bahasa pengantar di provinsi ini umumnya Melayu. Penduduknya pun terdiri dari Suku Melayu Riau dan berbagai suku lainnya. tudung saji. . Tenunan ini mempunyai motif yang khas. Jawa. dan tantangan Melayu di masa depan. bagi orang Melayu sendiri. daun kelapa. Bengkalis. daun rasau. Tanpa bermaksud untuk berlebihan. daun nipah. sehingga nilai jualnya juga cukup tinggi. dan juga membuat desa Sokap di Pulau Rangsang Kecamatan Tebing Tinggi serta mendiami Merbau. Tenunan ini biasanya dikerjakan dengan peralatan tradisional. lukah dan sebagainya. kajang. sumpit. Kerajinan lain yang juga populer adalah Tenunan Siak. dan daun rumbia. mulai dari bakul.

Dewasa ini. Oleh sebab itu. salah seorang budayawan yang amat berkhikmad dalam upaya menghimpun kembali Tunjuk Ajar ini dalam bentuk buku adalah Bapak Tennas Effendy. hanya tersimpan dalam minda dan tersebar melalui tutur dari mulut ke mulut (ungkapan). tetap saja jumlah yang ternukil itu tak seberapa jumlahnya dibanding yang tersebar dalam tutur. mungkin. di Riau. Dan (mungkin) sejak era kepengarangan Raja Ali Haji ada upaya untuk “menyimpan” – dan juga menggubah – hal semacam ini dalam bentuk nukilan atau karya sastra. Tapi.Net Refleksi Pribadi dan Catatan-Catatan Kecil Tunjuk Ajar Melayu February 18th. belum terlalu tepat benar. dahulunya. Tunjuk ajar ini. Demikianlah betapa banyaknya ungkapan-ungkapan bijak ini jumlahnya.    Home About Arsip Lengkap Copyright © RSS → Subscribe Sudeska. . Defenisi ini adalah hasil tafsiran saya sendiri terhadap Tunjuk Ajar Melayu ini. pengajaran atau nasehat orang tua kepada anak secara turun-temurun – atau dari orang tua-tua kepada generasi muda – dari generasi ke generasi dalam masyarakat Melayu. 2010 → 5:11 pm by Khery Sudeska 58 Tunjuk ajar adalah ungkapan-ungkapan bijak yang dikemas dalam pantun atau syair – di lain waktu ia juga bisa berupa gurindam atau hikayat – berisi petuah.

tunangan hidup adalah mati carilah bekal ketika pagi supaya tidak menyesal nanti wahai ananda dengarlah madah. hidup di dunia amatlah singkat banyakkan amal serta ibadat supaya selamat dunia akhirat wahai ananda dengarkan peri. Wahai ananda hendaklah ingat. berbuat khianat engkau jauhi banyakkan olehmu bertanam budi supaya kelak hidup terpuji wahai ananda cahaya mata. Selamat menikmati. saya kutipkan di sini. kuatkan hati teguhkan iman jangan didengar bisikan setan supaya dirimu diampuni Tuhan wahai ananda peganglah janji.Untuk menyebarluaskannya lebih jauh lagi. sebagian dari apa yang telah beliau himpun dalam buku yang bertajuk Tunjuk Ajar Melayu itu. janganlah tamak kepada harta mencari nafkah berpada-pada supaya hidupmu tiada ternista . baikkan laku elokkan tingkah banyakkan kerja yang berfaedah supaya hidupmu beroleh berkah wahai ananda dengarlah pesan.

. Semoga bermanfaat. kerja menyalah jangan hampiri berbuat maksiat jangan sekali supaya hidupmu diberkahi Ilahi… Ini hanya sebagian kecil saja dari yang ada. akan saya kutipkan juga petuah-petuah yang lainnya.wahai ananda sibiran tulang. di lain masa. tegakkan sembahyang umur yang ada jangan dibuang supaya hidupmu dipandang orang wahai ananda belahan diri. betulkan kaji. Boleh jadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful