BAB I PENDAHULUAN

Anggaran negara adalah urat nadi bagi suatu negara dalam menjalankan pemerintahan. Pengertian anggaran (budget) menurut Robert D Lee, Jr dan Ronald W Johnson adalah “A document or a collection of documents that refer to the financial condition of an organization ( family, corporation, government), including information on revenues, expenditures, activities, and purposes or goals”. Terjemahan bebas dari pengertian anggaran tersebut adalah dokumen yang menunjukkan kondisi atau keadaan keuangan suatu organisasi (keluarga, perusahaan, pemerintah) yang menyajikan informasi mengenai pendapatan, pengeluaran, aktivitas dan tujuan yang hendak dicapai. Di Indonesia anggaran negara setiap tahun disusun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). APBN secara filosofi adalah perwujudan dari kedaulatan rakyat sehingga penetapannya dilakukan setiap tahun dengan undang-undang. APBN pada dasarnya sebagai bentuk kepercayaan rakyat kepada pemerintah untuk mengelola keuangan negara sehingga pengelolaannya diharapkan dapat memenuhi syarat akuntabilitas (accountability), transparan (transparency), dan kewajaran (fairness). Hampir di semua negara yang berlandaskan hukum, ketentuan mengenai anggaran belanja negara ditetapkan dalam konstitusi. Di Indonesia ketentuan mengenai APBN terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab VIII Hal Keuangan Pasal 23 yaitu: 1) Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 2) Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah

3) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan anggaran pendapatan dan belanja tahun yang lalu. APBN yang ditetapkan tiap tahun dengan undang undang mempunyai arti bahwa terdapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai wakil rakyat atas rancangan APBN yang diajukan oleh pemerintah. Menurut Arifin P.Soeria Atmadja pada Persetujuan DPR atas APBN yang diusulkan pemerintah pada dasarnya adalah machtiging bukan hanya sebagai consent dari DPR kepada Pemerintah dalam hal ini presiden. Machtiging berarti menghendaki pertanggungjawaban pengelolaan APBN oleh presiden kepada pemberi mandat yaitu DPR. APBN mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan. Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran negara harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental

perekonomian. Dalam penyusunan APBN terdapat tahapan dari proses perencanaan sampai dengan pertanggungjawaban yang dikenal dengan siklus APBN. Siklus APBN meliputi tahap

perencanaan dalam bentuk RAPBN, pembahasan dan penetapan RAPBN menjadi APBN, pelaksanaan APBN, tahap pengawasan pelaksanaan APBN oleh instansi yang berwenang dan pertanggungjawaban APBN. Pelaksanaan APBN secara khusus diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Pelaksanaan APBN disamping sebagai pembiayaan operasional pemerintahan juga mempunyai implikasi penting terhadap perekonomian negara, mengingat fungsi APBN adalah sebagai sistem kebijakan fiskal negara. Kebijakan fiskal adalah kebijakan dalam hal penerimaan dan pengeluaran negara. Menurut Mari‟e Muhammad kebijakan fiskal sebenarnya merupakan kebijakan pengelolaan keuangan negara dan terbatas pada sumber-sumber penerimaan dan alokasi pengeluaran negara yang tercantum dalam APBN.

politik. politik. Setiap tahun pemerintah menghimpun dan membelanjakan dana triliunan rupiah melalui APBN. Hal ini disebabkan karena tidak stabilnya situasi sosial. Defisit anggaran belanja yang besar dan memuncak pada periode waktu akhir pemerintahan Orde Lama telah menimbulkan keadaan inflasi yang sangat gawat. namun telah . Kebijakan APBN defisit dijalankan selama periode waktu sebelum pemerintahan Orde Baru tidak jelas ditunjukan mencapai suatu tujuan tertentu.BAB II PEMBAHASAN A. APBN mencakup seluruh penerimaan dan pengeluaran yang ditampung dalam satu rekening yang disebut rekening Bendaharawan Umum Negara (BUN) di bank sentral (Bank Indonesia). dalam hal ini Presiden berkewajiban menyusun dan mengajukan Rancangan APBN kepada DPR. pengeluaran. Kebijakan moneter dan kebijakan fiskal telah dipakai untuk mengatasinya. pembiayaan defisit dan kebijakan pemerintah. RAPBN memuat asumsi umum yang mendasari penyusunan APBN. Pengertian dan Filosofi APBN Pemerintah dalam melaksanakan hak dan kewajibannya harus memiliki rencana yang akan dipakai sebagai pedoman dalam setiap pelaksanaan tugas negara termasuk dalam hal pengurusan keuangan. APBN harus diwujudkan dalam bentuk undang-undang. fungsi APBN tidaklah bejalan dengan baik. keamanan serta keadaan ekonomi. dan ekonomi serta keamanan. transfer. mencapai lebih dari 500% per tahun di tahun 1966. perkiraan penerimaan. APBN dipengaruhi dan ditentukan oleh keadaan sosial. defisit/surplus. Sesuai UUD 1945. Sejak masa kemerdekaan sampai dengan sebelum era pemerintahan Orde Baru diakhir tahun 1960-an. Pada mulanya dialami keadaan ekonomi dengan tingkat output (produksi) nasional rendah dan dibarengi dengan adanya inflasi sangat tinggi. Baru setelah pemerintahan Orde baru yang efektif sejak awal tahun 1970-an fungsi APBN bisa berjalan.

sisi penerimaan dan sisi . B. Dalam T-account. Seimbang berarti sisi penerimaan dan pengeluaran mempunyai nilai jumlah yang sama. Format Struktur APBN Selama TA 1969/1970 sampai dengan 1999/2000 APBN menggunakan format T-account. T-account mengikuti anggaran yang berimbang dan dinamis. meskipun untuk sementara masih belum bisa menaikkan tingkat produksi nasional serta kesempatan kerja. Format ini dirasakan masih mempunyai kelemahan antara lain tidak memberikan informasi yang jelas mengenai pengendalian defisit dan kurang transparan sehingga perlu disempurnakan. pada format Taccount. sisi penerimaan dan sisi pengeluaran dipisahkan di kolom yang berbeda. DalamI-account. Jika jumlah pengeluaran lebih besar daripada jumlah penerimaan. volume besarnya APBN selalu bertambah besar secara riel dari tahun ke tahun. Versi T-account tidak menunjukan dengan jelas komposisi anggaran yang dikelola pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Penurunan secara drastis pengeluaran pemerintah telah menurunkan angka laju inflasi secara drastis pula. Mulai TA 2000 format APBN diubah menjadi I-account. pinjaman luar negeri dianggap sebagai penerimaan pembangunan dan pembayaran cicilan utang luar negeri dianggap sebagai pengeluaran rutin. Meskipun demikian.mengakibatkan penurunan pengeluaran konsumsi dan investasi agregatif yang selanjutnya telah mengakibatkan penurunan inflasi. Selain itu. Sejauh ini prinsip APBN seimbang selalu dipertahankan karena pengalaman di masa lampau APBN defisit akan membawa akibat terjadinya inflasi. Penerimaan pajak yang telah digalakkan pun secara relatif kenaikan jumlahnya belum signifikan. Ini merupakan akibat dari sistem anggaran yang terpusat. kemudian kekurangannya ditutupi dari pembiayaan yang berasal dari sumber-sumber dalam atau luar negeri. disesuaikan dengan Government Finance Statistics (GFS).

Sedangkan bantuan proyek adalah nilai lawan rupiah dari bantuan dan atau pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan. Bantuan program merupakan nilai lawan rupiah dari bantuan dan atau pinjaman luar negeri dalam bentuk pangan dan bukan pangan serta pinjaman yang dapat dirupiahkan. bantuan program dan bantuan proyek terdiri atas pinjaman dan bantuan (hibah). dan atau pinjaman luar negeri. 1969/1970 sampai dengan TA. Penerimaan pembangunan tersusun atas dua komponen yaitu bantuan program dan bantuan proyek. bantuan. Pemerintahan Orde Baru Selama pemerintahan orde baru dari TA. Hal ini membawa konsekuensi meleburnya sumber daya dan dana yang berupa hibah dan yang berupa pinjaman (utang) sehingga tidak nampak sumber daya dan dana yang menjadi hak milik negara khususnya pemerintah dan sumber dana yang harus dikembalikan. 1998/1999. Terdapat dua hal yang dapat ditarik dari pengertian tersebut. yaitu penerimaan dan pengeluaran. Pada sisi penerimaan terbagi atas penerimaan dalam negeri dan penerimaan pembangunan. Pertama. penerimaan pembangunan pada dasarnya merupakan sumber daya atau sumber dana yang berasal dari luar negeri. Yang . APBN disusun berdasarkan sistem anggaran berimbang (T account) dan diklasifikasikan menjadi dua pos besar (sisi). Penerimaan pembangunan menurut APBN adalah penerimaan yang berasal dari nilai lawan rupiah. I-account menerapkan anggaran defisit/surplus. Kedua. Dengan format baru ini pinjaman luar negeri diperlakukan sebagai utang.pengeluaran tidak dipisahkan atau dalam satu kolom.Kronologis perubahan format APBN digambarkan sebagai berikut: 1. sehingga jumlahnya harus sekecil mungkin karena pembayaran kembali bunga dan cicilan pinjaman luar negeri akan memberatkan APBN di masa yang akan datang.

pada TA. realisasi hibah pada TA. 1999/2000 tetap menggunakan sistem anggaran berimbang tetapi pos penerimaan pembangunan berganti nama menjadi penerimaan luar negeri sehingga sisi penerimaan APBN TA. 1999/2000 Sejalan dengan tuntutan reformasi.1999/2000 dalam bentuk in-cash sebesar Rp 50. Dengan klasifikasi dan pengertian tersebut. Penerimaan luar negeri merupakan penerimaan yang berasal dari nilai lawan rupiah pinjaman luar negeri. pemerintahan Presiden Habibie berupaya memperbaharui sistem APBN. 1999/2000 terdiri atas penerimaan dalam negeri dan penerimaan luar negeri.dapat diketahui dari sistem APBN seperti ini adalah bahwa setiap tahun pemerintah harus mengeluarkan sejumlah dana untuk membayar cicilan pokok pinjaman (utang) luar negeri serta bunganya. 1999/2000 diusahakan untuk lebih transparan. Pinjaman program adalah nilai lawan rupiah dari pinjaman luar negeri dalam bentuk pangan dan bukan pangan serta pinjaman yang dapat dirupiahkan. APBN pada tahun anggaran sebelumnya dinilai kurang transparan dan terkesan mengelabui terutama pos penerimaan pembangunan. Padahal pada tahun anggaran ini sejumlah negara anggota Consultative Group on Indonesia (CGI) memberikan komitmen hibah yang dapat dicairkan pada tahun anggaran yangbersangkutan. APBN TA. 2001 (hal. IV/31). 1999/2000 hibah luar negeri tidak tercatat (tidak diperhitungkan) dalam APBN. 2. APBN TA. Penerimaan luar negeri terdiri atas dua komponen. Jumlah hibah pledge CGI tahun 1999 adalah sebesar USD 490 juta. . Menurut Nota Keuangan dan Rancangan APBN TA.6 miliar. Secara umum tidak banyak yang berubah namun penyusunan APBN TA. Pinjaman proyek adalah nilai lawan rupiah dan pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai proyek pembangunan. yaitu pinjaman program dan pinjaman proyek.

format APBN disusun menurut standar internasional. Meskipun dalam kerangka CGI terdapat negara-negara dan lembagalembaga internasional yang secara konsisten (sesuai kebijakan nasionalnya) memberikan hibah kepada Indonesia. realisasi penerimaan hibah pada TA. yaitu Government Finance Statistic (GFS). Hibah didefinisikan sebagai semua penerimaan negara yang berasal dari sumbangan swasta dalam negeri dan sumbangan lembaga swasta dan pemerintah luar negeri. 2000 (tahun anggaran transisi sebelum penyesuaian tahun anggaran dengantahun takwim). 2001 yang disampaikan pemerintah kepada DPR tanggal 2 Oktober 2000 (hal. 2000 sampai bulan Agustus 2000 masih nihil namun diperkirakan sampai akhir tahun anggaran diharapkan dapat terealisasi sebesar Rp 211. APBN TA. Dalam sidang CGI Februari 2000.Selain itu dalam format baru ini secara jelas dinyatakan adanya hibah sebagai salah satu sumber penerimaan negara. APBN dengan format GFS menggunakan sistem deficit spending dimana pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri merupakan sumber untuk menutup defisit anggaran dan tidak lagi diklasifikasikan sebagai penerimaan. 2000 Mulai TA. Berbeda dengan sistem anggaran berimbang dimana pinjaman program dan proyek dimasukkan dalam pos penerimaan.1 miliar. pada APBN TA. . 2000 ternyata perencanaan penerimaan hibah ditetapkan nihil (0rupiah). para peserta CGI telah memberikan pledge berupa hibah sebesarUSD 510 juta. Sedangkan dalam Nota Keuangan dan Rancangan APBN TA. IV/31).3.

Komponen Struktur APBN APBN mencakup seluruh penerimaan dan pengeluaran yang ditampung dalam satu rekening yang disebut rekening Bendaharawan Umum Negara (BUN) di bank sentral (Bank Indonesia). Belanja Negara I. Penerimaan Pajak 2. Dalam Negeri II. Pembiayaan dari dalam negeri meliputi penerimaan pajak dan bukan pajak (PNBP). Pembiayaan I. Secara harfiah. Pengeluaran Pembangunan II.Struktur APBN menggunakan format I-account: A. Pengeluaran Rutin 2. Termasuk kedalam penerimaan pajak adalah Pajak Penghasilan (PPh). Luar Negeri C. APBN disusun dengan mengandung dua komponen utama yaitu : 1. Pajak Pertambahan . Penerimaan Dalam Negeri 1. Dana Perimbangan III. Anggaran Belanja Pemerintah Pusat 1. Keseimbangan Primer D. Pada dasarnya semua penerimaan dan pengeluaran pemerintah harus dimasukkan dalam rekening tersebut. Surplus/Defisit Anggaran (A-B) E. Penerimaan Bukan Pajak II. Penerimaan Penerimaan APBN diperoleh dari berbagai sumber yang meliputi dalam dan luar negeri. Hibah B. Pendapatan dan Hibah I. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang C.

anggaran pengeluaran merupakan batas pengeluaran yang tidak boleh dilampaui. privatisasi. Pembiayaan Bunga Utang. Pengeluaran pemerintah sendiri terbagi menjadi belanja pemerintah pusat dan anggaran belanja untuk daerah. Berbeda dengan anggaran penerimaan negara yang diperlakukan sebagai target penerimaan pemerintah dan diharapkan dapat dilampauinya. Belanja Modal. cukai dan Pajak lainnya yang merupakan sumber utama penerimaan APBN. Belanja Pemerintah Pusat dapat dikelompokkan menjadi: Belanja Pegawai. 2. untuk kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah yang bersangkutan. Selanjutnya Penerimaan Non Pajak. perbankan. Belanja Daerah. Belanja Barang. Pengeluaran Secara umum. Belanja Hibah. Belanja Sosial (termasuk Penanggulangan Bencana). Surat Utang Negara. dan Belanja Lainnya. serta penyertaan modal negara. Dana Alokasi Umum (DAU) adalah sejumlah dana yang dialokasikan kepada setiap Daerah Otonom (provinsi/kabupaten/kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana pembangunan. Belanja Daerah meliputi dana bagi hasil yang berwujud Dana Alokasi Umum. Subsidi BBM dan Subsidi Non-BBM. pengeluaran yang dilakukan pada suatu tahun anggaran harus ditutup dengan penerimaan pada tahun anggaran yang sama. laba BUMN. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah (dekonsentrasi dan tugas pembantuan). adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah Daerah.Nilai (PPn). Dana Alokasi Khusus. DAU merupakan salah satu komponen belanja pada APBN. diantaranya penerimaan dari sumber daya alam. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Belanja Pemerintah Pusat. Dana Otonomi Khusus. adalah belanja yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan Pemerintah Pusat. dan menjadi .

Keseimbangan primer adalah total penerimaan dikurangi belanja tidak termasuk pembayaran bunga. Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Defisit dan Surplus Defisit atau surplus merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran. Sementara itu. dikenal dua istilah defisit anggaran. antara lain dengan variabel jumlah penduduk dan luas wilayah yang ada di setiap masing-masing wilayah/daerah. yaitu: keseimbangan primer. Jumlah Dana Alokasi Umum setiap tahun ditentukan berdasarkan Keputusan Presiden. Setiap provinsi/kabupaten/kota menerima DAU dengan besaran yang tidak sama. 3. dan ini diatur secara mendetail dalam Peraturan Pemerintah. Tujuan DAU adalah sebagai pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan Daerah Otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. dan keseimbangan umum. Dana Otonomi Khusus adalah dana perimbangan yang diberikan kepada daerah otonomi khusus. . Pengeluaran yang melebihi penerimaan disebut defisit. sebaliknya jika penerimaan yang melebihi pengeluaran disebut surplus.salah satu komponen pendapatan pada APBD.Dana Alokasi Umum terdiri dari Dana Alokasi Umum untuk Daerah Provinsi dan Dana Alokasi Umum untuk Daerah Kabupaten/Kota. sedangkan Kesembangan Umum adalah total penerimaan dikurangi total pengeluaran termasuk pembayaran bunga. 4. Besaran DAU dihitung menggunakan rumus/formulasi statistik yang kompleks. Keseimbangan Dalam tampilan APBN.

penjualan asset dan privatisasi. Pengajuan.5. dan pembiayaan luar negeri meliputi pinjaman proyek. sektor. pembayaran kembali utang. Beberapa sumber pembiayaan yang penting saat ini adalah pembiayaan dalam negeri meliputi penerbitan obligasi. Untuk pengeluaran pembangunan. pembahasan. Apabila DPR menolak RAPBN yang diajukan pemerintah tersebut . pinjaman program dan penjadwalan kembali utang. sektor. antara lain meliputi penentuan asumsi dasar APBN. maka pemerintah menggunakan APBN tahun sebelumnya. 2. Tahapan ini diakhiri dengan finalisasi penyusunan RAPBN oleh pemerintah. Berdasarkan satuan 3 (alokasi dana per departemen/lembaga. Pembiayaan Pembiayaan diperlukan untuk menutup defisit anggaran. Penyusunan APBN Proses penyusunan APBN dapat dikelompokkan dalam dua tahap. maupun antara komisi dengan departemen. Kegiatan dilanjutkan dengan persiapan rancangan APBN oleh pemerintah. Dirjen Anggaran dan Menteri Membahas detail pengeluaran rutin berdasarkan pedoman penyusunan DIK dan indeks satuan biaya yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan. Dirjen Anggaran. program dan kegiatan yang disebut satuan 3. dan Menteri teknis membahas detail pengeluaran untuk tiap-tiap kegiatan. dan penetapan APBN Hal ini dilakukan oleh Menteri Keuangan dengan Panitia anggaran. Hasil pembahasan ini adalah UU APBN yang memuat alokasi dana per departemen/lembaga. sub sektor. D. perkiraan penerimaan dan pengeluaran. sub sektor. Bappenas. Hal . yaitu: 1. program dan kegiatan). Pembicaraan pendahuluan antara pemerintah dan DPR Tahap ini diawali dengan beberapa kali pembahasan antara pemerintah dan DPR untuk menentukan mekanisme dan jadwal pembahasan APBN.

Maka. Kesimpulan ini diambil oleh Komisi Anggaran Independen (KAI) sesudah melihat dan menemukan hal-hal yang ada dalam APBN 2010 sebagaimana tampak dalam tabel berikut di bawah ini: Aspek Belanja sosial Indikator yang diperiksa besaran alokasi kesehatan. kasus-kasus korupsi dan penyalahgunaan kewenangan. (iii) beban utang. E. alokasi pembiayaan utang 5 kali lebih besar ketimbang alokasi kesehatan.ini berarti maksimum yang dapat dilakukan pemerintah harus sama dengan pengeluaran tahun lalu. cicilan pembayaran tiap tahun. Cakupan masih terbatas untuk yang miskin (targeting) bukan universal(semua warga negara Indonesia). tingkat korupsi masih tinggi. seberapa responsif pada pengangguran dan kemiskinan Perkembangan/penialaian Jumlah nominal dan proporsional masih tetap minimal. di sisi lainnya. hasil Akuntabilitas . lebih dari 12 tahun setelah krisis ekonomi Indonesia 1998. rendah dibandingkan potensinya. rendah dibanding negara sebaya. Persoalan muncul dari berbagai sisi: (i) belanja sosial. besaran alokasi bantuan sosial. APBN masih sarat masalah. masih belum akuntabel. cakupan penerima belanja sosial. Angka nominal alokasi di 2010 menurun. (ii) penerimaan negara. dalam catatan anggota Badan Pekerja Komisi Anggaran Independen (BP-KAI). perbandingan antara cicilan untuk utang dengan alokasi untuk kesehatan. Penerimaan APBN Utang rasio pajak dan non pajak terhadap PDB (Pendapatan Domestik Bruto). (iv) akuntabilitas. dan (e) reformasi birokrasi. potensi yang sebenarnya tidak diketahui. kebocoran penerimaan pajak (kasus mafia pajak Gayus Tambunan. utang terus meningkat sejak 2004. utang dalam negeri terus membesar. korupsi perpajakan belum diatasi secara sistemik. APBN Indonesia Tahun 2010. belum ada perkembangan yang berarti. keadaan APBN Indonesia dapat dicirikan sebagai berikut: di satu sisi masih sangat elitis dan belum memihak warga negara.) utang dalam negeri. dkk.

lebih sebagai pilot project MA. tidak adanya target ketimbang pengurangan kinerja/perubahan kinerja. dari angka Rp. Dengan dana itu. penyedia jaminan sosial. jumlah itu tidak banyak berubah karena volume APBN Indonesia masih berkisar di bawah 20% (dari PDB atau „kue ekonomi‟ atau nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu). pengawasan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI atas kinerja keuangan pemerintah belum maksimal renumerasi di Kemenkeu. BPK. Sebagaimana telah banyak diberitakan. korupsi terjadi pada sisi penerimaan dan pengeluaran/belanja APBN. jumlah atau volume anggaran secara nominal semakin meningkat sepanjang 5 tahun terakhir ini. menciptakan lapangan kerja. sebagian besar Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) disclaimer. Dengan dana itu.audit BPK. dan strategis.047. ketimbang rencana Kejaksaan Agung.5 % terhadap PDB/Produk Domestik Bruto). uraian mengenai kelima aspek di atas dapat dibaca pada pointpoint di bawah ini. Hal ini belum tentu baik karena secara proporsi. bukan nominalnya. menyediakan pelayanan pendidikan. pengawasan DPR. menolong . korupsi. pemerintah dapat membangun atau memperbaiki banyak hal terutama terkait kepentingan warganya. 380.  Belanja Sosial APBN adalah sumberdaya dan wewenang pemerintah. pemerintah dapat menaikkan pendapatan warga negara.7 triliun (17. lebih menaikkan POLRI yang lebih gaji (remunerasi) besar. kesehatan. Reformasi birokrasi kinerja meluas dan sistemik.3 Triliun (2005) dan pada 2010 naik menjadi Rp 1. Secara lebih detail. mengatasi kemiskinan dan pengangguran.

korban bencana alam. subsidi. alokasi anggaran bantuan sosial ditetapkan sebesar Rp 64. Tabel 1.9 21.7 % 22. sementara belanja sosial yang langsung untuk publik lebih kecil dari belanja pegawai. Dilihat dari belanja sosial. Maka salah satu cara dan ukuran untuk meneropong APBN adalah dari sisi belanja sosial. dan sebagian belanja barang.8 1 8. tampak bahwa alokasi belanja pemerintah pusat masih didominasi oleh pengeluaran yang sifatnya wajib (non discretionary expenditure). Dalam hal ini belanja sosial lebih dekat masuk dalam kelompok bantuan sosial ketimbang kelompok belanja lain. Minimnya alokasi anggaran kesehatan dan . Dalam APBN tahun 2010. dan (ii) alokasi bantuan sosial yang disalurkan kepada masyarakat melalui berbagai Kementerian/Lembaga sebesar Rp 61. Sedangkan sisanya merupakan belanja tidak mengikat (discretionary 2010 160.6 157. Data APBN 2010 menunjukkan bahwa belanja sosial jumlahnya kecil dan programnya kurang sesuai dengan persoalan yang dihadapi oleh sebagian besar rakyat.9 4. yang meliputi: belanja pegawai.8 7.2 expenditure).2 64. dan seterusnya.8 11.3 triliun atau 1. maka satu ciri utama dan menonjol dalam APBN adalah anggaran rutin atau pegawai yang terus meningkat.3 15. Alokasi anggaran bantuan sosial dalam tahun 2010 tersebut.1 82.4 107. pembayaran bunga utang.0 triliun. terdiri dari: (i) alokasi dana penanggulangan bencana alam sebesar Rp 3.1 14.3 30.3 triliun.2 115. Anggaran Belanja pemerintah Pusat (dalam triiun rupiah) Belanja pegawai Belanja barang Belanja modal Pembayaran bunga utang Subsidi Belanja hibah Bantuan sosial Belanja lain-lain Sumber: APBN 2010 Dari komposisi tersebut.1 % terhadap PDB.

9 Miliar. Namun demikian. diperkirakan hanya sekitar Rp 12. Kini Indonesia sudah masuk pada kelompok negara-berpenghasilan-menengah (medium income country).5 % dari APBN.tidak adanya alokasi anggaran untuk jaminan bagi pengangguran. Karena perolehan pajak Indonesia masih jauh di bawah Thailand dan Srilanka yang merupakan negara lebih miskin dari Indonesia. tetapi jumlah penerimaan pada 5 tahun terakhir belum mencerminkan potensi sebenarnya. bahwa angka-angka penerimaan atau pendapatan meningkat secara nominal. Studi Richard Bird dan Eric M Zolt (2003) menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki tax ratio paling rendah dalam kelompok negara-negara berpenghasilan rendah. bandingkan dengan rata-rata kelompok ini pada angka 17 %. DPR telah mendesak pemerintah menaikkan perolehan pajak dari level 12 % PDB menjadi 16 % PDB.28 %. yaitu untuk anggaran kesehatan sebesar Rp 11. Secara rata-rata. Dalam hal kesehatan. usulan DPR ini . 2003).14 % pada Februari 2009. US$ 17. data tahun 2007 menunjukkan alokasi kesehatan sebesar 2.45 %.000. klaim prestasi harus diterima dengan hati-hati dan kritis. Meski angkanya naik.000 s. angka resmi pengangguran masih relatif tinggi.d. Namun.Tahun 2010. mencapai 8. yakni negara dengan pendapatan per kapita pada kisaran US$ 1. perolehan pajak di negara berpenghasilan-menengah (medium income country) ini sebesar 22 % dari PDB (Bird dan Zort.3 Triliun yang dapat dikategorikan dalam belanja sosial.68 % pada tahun 2009 dan hanya sedikit naik pada tahun 2010 yang mencapai. Dalam hal pengangguran.0 Triliun atau hanya 2.  Sisi Penerimaan Seringkali dikatakan bahwa dengan naiknya angka APBN maka secara nominal pemerintah telah berprestasi dalam menaikkan penerimaan atau pendapatan negara. Rp 18.4 Triliun dan keluarga berencana sebesar Rp 900. yakni pada 12. turun hingga 1. Memang benar.

Pengecekan atas dua sumber penerimaan yakni penerimaan perpajakan dan penerimaan negara dari sektor ekstraktif (pertambangan. Yang beralih adalah bentuknya. Turun dibandingkan angka tahun 2003 sebesar 13% PDB.000 kuasa pertambangan batubara. sejak tahun 2005 utang dalam negeri menjadi instrumen pengganti utang luar negeri.000 perusahaan yang memegang kuasa itu telah membayar pajak atau belum? Dan bila sudah membayar. pemerintah daerah dalam hal pertambangan batubara telah mengeluarkan 8. Apakah 8. Perkembangan utang dalam APBN. masih lebih rendah ketimbang sumber dan potensi yang ada. Pemerintah hanya mampu berjanji perolehan pajak di sekitar angka 12 % dari PDB. Misalnya. maka ratusan triliun dapat dijadikan uang negara. minyak dan gas bumi) memperlihatkan secara gamblang bahwa terdapat potensi besar untuk menaikkan dan memperbesar pendapatan pemerintah. Pemerintah berkilah soal metode perhitungan tax ratio yang belum memasukkan pendapatan daerah.ternyata tidak mampu dipenuhi oleh pemerintah. Rendahnya transparansi serta akuntabilitas baik di pusat atau di daerah. penyebabnya antara lain: a. apakah sesuai dengan besaran kewajibannya? Bila saja kasus-kasus “penggarongan” ala Gayus Tambunan dkk dapat diminimalisir dan dihapus. Miss management di pusat dan daerah b. pada tahun 2005 utang dalam negeri melebihi kebutuhan untuk menutup defisit APBN. selama ini menunjukkan bahwa utang menjadi elemen utama untuk membiayai defisit APBN.  Sisi Pengeluaran APBN juga dibebani oleh beban utang (dalam dan luar negeri) yang cukup berat. Menurut data Dirjen Pengelolaan Utang Kemenkeu (Juli 2010). Terlepas dari soal metode perhitungan. Pendapatan Indonesia. Dari Rp 14 triliun defisit APBN . baik bersumber dari pajak maupun non pajak. Tingginya korupsi baik di pusat maupun di daerah c.

(audited). dalam APBN 2009 (realisasi). Jika Government is broke.300 trilliun menjadi Rp 1. Selain utang membebani warga negara dalam hitungan rata-rata per kapita. Presiden SBY sendiri pernah melontarkan pernyataan “government is broke”. dan naik sedikit menjadi 17. mengapa terus menambah utang? Bila pemerintah hanya mengalihkan model beli utang baru untuk menutup utang lama – seperti halnya .38 % dari total pengeluaran anggaran) untuk membayar bunga utang. Pada tahun 2004 utang per kapita Indonesia sebesar Rp 5.30 triliun pada tahun 2009. Tahun 2008 paling mencengangkan. turun menjadi Rp. Angka tersebut terus naik hingga menjadi Rp 1. Dari tahun ke tahun. dari defisit APBN sebesar Rp 4 triliun. Dengan melihat postur APBN. Alokasi belanja kesehatan hanya sebesar Rp 17. Pada saat bersamaan.613 trilliun per Juni 2010. Sementara.591 trilliun. Keadaan ini masih berlangsung sampai tahun 2009. pemerintah mendulang utang dalam negeri sebesar Rp 86 triliun. dalam kurun waktu antara 2004-2009 utang luar dan dalam negeri mengalami kenaikan dari Rp 1.8 juta per kepala. dan pada Februari 2009 melonjak menjadi Rp 7. wajib dialokasikan dana besar untuk membayar utang. saat membuka Sidang Pleno I Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Jakarta pada Selasa (10/03/2009). utang juga mengurangi diskresi pemerintah dalam upaya melakukan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Pada tahun 2010. Dengan asumsi nilai rupiah 9. tidak tampak ada upaya serius pemerintah untuk mengurangi utang. pemerintah telah menarik utang dalam negeri sebesar Rp 23 triliun. bandingkan dengan dana yang dialokasikan untuk kesehatan yang turun. 17. utang dalam negeri sebesar Rp 99 triliun untuk membiayai defisit Rp 87 triliun.7 juta per kepala.275 per US dollar.7 triliun (9.27 triliun pada tahun 2008. Utang Indonesia memang terus mengalami kenaikan.46 triliun pada tahun 2007. sementara pokok utang tidak kunjung habis bahkan terus bertambah. APBN-P juga mengalokasikan dana sebesar Rp 105.

bertambahnya PDB itu sendiri adalah akibat bertambahnya utang secara signifikan (Dirjen Pengelolaan Utang. persoalan juga terkait dengan kinerja dan integritas hasil pemeriksaan keuangan BPK sebagai pemeriksa keuangan secara eksternal. Beberapa kasus pemeriksaan keuangan bahkan menunjukan bahwa pengawas internal tidak berfungsi untuk penguatan akuntabilitas internal instansi. Inspektorat. BPKP) dan pengawasan eksternal (BPK). DPD dan DPRD (MD3) mengamanatkan pembentukan alat kelengkapan baru yaitu Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) yang memperkuat peran pengawasan DPR atas kinerja keuangan pemerintah. Apalagi. . Instansi pengawasan internal masih bersifat tertutup terkait hasil pemeriksaannya. mengapa utang terus dilakukan? Selain itu. Sejauh ini.Seperti halnya instansi pengawas internal. Sejauh ini institusi yang diserahi tanggungjawab atas pemeriksaan keuangan negara dinilai belum berfungsi maksimal. Juni 2010).menggalakkan SBN untuk menutup sebagian utang luar negeri –terus mengurangi diskresi fiskal. kiranya pemerintah perlu mencatat tebal bahwa ketergantungan terhadap utang tidak cukup diukur dari rasio terhadap PDB.  Sisi Akuntabilitas Sejauh ini. BAKN bertugas. indikasi penyalahgunaan wewenang dan dugaan kerugian negara yang ditemukan oleh instansi pengawas eksternal sering berbeda dengan temuan instansi pengawas internal. Kelemahan dalam mendorong hasil pemeriksaan BPK ini kemudian melemahkan fungsi pengawasan parlemen atas akuntabilitas administrasi keuangan. akuntabilitas dari sistem administrasi keuangan ditopang oleh peran dan eksistensi lembaga pengawasan keuangan yang bersifat internal (Bawasda. UU No 27 Tahun 2009 tentang MPR. akan tetapi lebih sebagai alat justifikasi bagi praktik-praktik distorsif termasuk korupsi di internal instansi. Di beberapa daerah. DPR. hasil-hasil pemeriksaan BPK belum dapat secara maksimal ditindaklanjuti oleh DPRD di tingkat daerah dan DPR di tingkat pusat.

proses politik anggaran di Indonesia tidak pernah dianggap penting. sementara yang sudah wajar-tanpa-pengecualian baru mencapai 11.6%). Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tidak bisa diberikan pendapat oleh auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Rekapitulasi penerapan opini atas realisasi belanja kementrian/lembaga pemerintah pusat di tahun 2007 menunjukan jumlah lembaga yang diclaimer atau tidak-bisa-diberikanopini masih tertinggi (85. pengelolaan anggaran masih jauh dari prinsip-prinsip pengelolaan sesuai dengan standar akuntansi keuangan pemerintah. Hal ini dapat kita lihat dari kinerja BAKN selama setahun lebih ini. Lembaga politik maupun birokrasi umumnya menerima proses perencanaan anggaran yang sudah mengadopsi sistem perencanaan pembangunan bertingkat (Musrenbang). dan (v) penyajian dan kualitas laporan. peran pengawasan (oversight) DPR RI belum bekerja secara maksimal. Hal ini berarti. pengelolaan anggaran negara juga masih dinilai buruk. Selama ini. (iv) memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja pemeriksaan tahunan. Laporan BPK terhadap LKPP juga menunjukan masih tingginya indikasi praktek-praktek yang dapat merugikan keuangan negara. Dari berbagai riset disebutkan bahwa Musrenbang tidak lagi efektif untuk dijadikan sebagai sarana penyerapan aspirasi masyarakat. Tetapi.79%. Selama 3 tahun berturut-turut. hambatan pemeriksaan.(i) melakukan penelaahan temuan hasil pemeriksaan BPK yang disampaikan ke DPR. Sayangnya proses ini belum dapat dikatakan telah mewakili aspirasi politik warga. (iii) menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK atas permintaan komisi. (ii) menyampaikan hasil penelaahan sebagaimana kepada komisi-komisi di DPR. Ini karena tidak adanya wakil warga di tingkat . Status disclaimer juga diberikan untuk pengelolaan keuangan yang masih bertentangan dengan aturan perundangan yang ada (kepatuhan) dan kelayakan presentasi laporan (kepatutan). Selain karena faktor dorongan politik untuk korupsi.

kecamatan dan di tingkat kabupaten. Tingginya tingkat korupsi di sektor perpajakan. Hilangnya usulan masyarakat dari proses Musrenbang hanya merupakan akibat logis dari tidak adanya perwakilan warga. Rasio pajak (tax ratio) Indonesia dalam APBN 2009 baru mencapai 12% dan 12. proses Musrenbang sebenarnya bukan sebuah representasi kepentingan berbasis warga akan tetapi hanya alat justifikasi proses penganggaran untuk dapat disebut telah dilakukan secara aspiratif dan partisipastif.8 bersama 9 negara lain dengan skor yang sama. Korupsi anggaran secara mudah dapat dilihat dari tingginya kebocoran di sisi penerimaan dan di sisi belanja. Korupsi di sektor penerimaan banyak menggerogoti sektor perpajakan dan penerimaan dari sumber daya alam. Rasio pajak terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia hingga saat ini masih terlalu kecil bila dibandingan dengan negara lain. Selain itu. Dan sangat jauh di bawah negara-negara maju seperti Uni-Eropa (EU27) yang mencapai 40%. bisanya tergambar dari rasio pajak (tax ratio). Sehingga. rasio pajak dapat menjadi petunjuk yang jelas tentang hubungan antara tingkat kepatuhan pembayar pajak di satu sisi dengan kinerja pemungut pajak di .1 % di dalam RAPBN 2010. terutama sektor ekstraktif. disebabkan oleh beberapa faktor lain antara lain transparansi anggaran yang tersedia dan juga akuntabilitas pembangunan yang lalu. sistem perencanaan pembangunan nasional yang dikoordinasikan oleh Bappenas tidak dapat dianggap sebagai mekanisme yang dilakukan secara bottom-up. Penelitian Transparency International menyebutkan adanya hubungan yang berbanding lurus antara peringkat korupsi dengan rasio pajak. Angka ini masih terpaut jauh dengan negara tetangga seperti Malaysia yang pada periode yang sama mencapai 25%. Dari kecenderungan ini. Karena dari tingkatan desa proses ini telah terputus. dimana dalam rasio pajak Indonesia menduduki urutan 145 di tahun 2009 dan Indeks Persepsi Korupsi 2009 yang berada di urutan 111 dengan skor 2.

Di sektor ekstraktif. diatur melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 289/KMK. Fungsi anggaran DPR memang dijamin konstitusi. apabila DPR tidak menyetujui RancanganAPBN yang diajukan Presiden. mulai dari Presiden hingga Menteri. pemerintah menggulirkan reformasi birokrasi. wewenang tersebut belum berjalan efektif. yang bertanggungjawab adalah birokrasi. Namun demikian. Pilot proyek reformasi birokrasi Depkeu.sisi yang lain. kelembagaan DPR terlihat memanfaatkan kewenangan itu untuk berbagai kegiatan yang royal sperti pembangunan gedung. Dalam konstitusi disebutkan kekuatan fungsi anggaran DPR. Untuk mengatasi rendahnya akuntabilitas dan korupsi yang sistemik. yang salah satunya fungsi anggaran. Pemerintah hanya dapat menjalankan APBN tahun yang lalu. Sayangnya. pihak utama yang memutuskan (dan menggunakan) anggaran adalah DPR.01/2007 dan . Karena soal keputusan dan penggunaan anggaran. dibanding kemajuan yang dicapai ternyata reformasi birokrasi itu lebih banyak menggemukkan renumerasi/gaji para pejabat ketimbang hasil lainnya. Genderang reformasi birokrasi di Indonesia dipelopori oleh Departemen Keuangan pada tahun 2007. Selain birokrasi. tingkat kebocoran anggaran sangat tinggi. studi banding dan sebagainya. Dengan kata lain. Konstitusi secara tegas menyampaikan tiga fungsi DPR. sebagian besar dilakukan oleh birokrasi. Bahkan sebaliknya. Hasil kajian Indonesia Corruption Watch (ICW) di tahun 2008 menyebutkan terdapat kebocoran pendapatan di sektor ekstraktif dari hulu hingga hilir. belanja dan akuntabilitas tidak lain dan tidak bukan ditentukan oleh para pelaku utama yakni (a) mereka yang memutuskan anggaran. Misalnya dalam hal kenaikan perolehan pajak Indonesia dan Dana untuk “penyelamatan” Century. Gubernur dan Bupati/Walikota.  Reformasi Birokrasi Berbagai kelemahan dan kekurangan sistemik dalam pengelolaan anggaran baik di sisi penerimaan. dan (b) mereka yang menggunakan anggaran.

menyedot anggaran hingga Rp. turut mendapat kucuran tambahan remunerasi. dan sang auditor anggaran serta sang hakim yang memutuskan kebenaran. Meskipun. Bendahara yang punya kuasa atas uang. dengung reformasi birokrasi ini mulai jauh berkurang.04 triliyun. Hasil pemeriksaan BPK menemukan piutang pajak tahun 2007 sebesar Rp.290/KMK. Menurut UU No. Lingkaran ini menjadi lengkap kiranya. Menteri Keuangan merupakan Bendahara Umum Negara. MA sebesar 230% dan BPK 163%. alih-alih early warning. dengan tunjangan ditambah. Ketua MA mendapatkan tunjangan kinerja hingga Rp 50 Juta. tidak berhasil ditarik Depkeu. Perpres ini berlaku surut mulai September 2007. Tambahan tunjangan juga tidak berpengaruh terhadap keterbukaan MA soal uang perkara yang tidak mau diaudit. maka prestasi akan meningkat dan korupsi akan berkurang. Berdasarkan catatan FITRA. Seolah tidak mau rugi. BPK juga melansir lagi-lagi Laporan Keuangan Pemerintah Pusat adalah disclaimer. Presiden SBY sebagai incumbent akan menjaga citranya dengan tidak mengeluarkan .5 Trilyun dengan mengalami kenaikan belanja pegawai di Depkeu hingga 270%. 42. kenaikan belanja pegawai pada tahun 2008 di ketiga lembaga ini. Asumsinya. Tunjangan prestasi terus bergulir ke tubuh MA. Melalui Perpres No 19 tahun 2008. Atas nama reformasi birokrasi ini. Lalu apakah selaku bendahara Negara. Tentunya. 9. belum ada kejelasan landasan hukum kenaikan remunerasi di tubuh BPK ini. pejabat dengan level eselon I atau Direktur Jenderal di lingkungan Departemen Keuangan memperoleh remunerasi mencapai Rp 46. Pada tahun anggaran 2009.9 Juta per bulannya. semua mendapat jatah remunerasi.01/2007. Depkeu dapat menambah penghasilan dengan mengatasnamakan reformasi birokrasi. BPK sebagai auditor Negara. Dipastikan tambahan tunjangan ini “aman”. cukup dengan landasan yuridis keputusan internal? Dengan alasan memberikan pilot project. 1 2004 tentang Perbendaharaan Negara. adalah tidak relevan.

kebijakan tidak populer di tahun Pemilu. . kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil/TNI/Polri sebesar 15% di tahun 2009 cukup efektif meraih simpati pemilih ditubuh birokrasi. Sebagai instrumen politik.

distribusi. dan stabilisasi. Di Indonesia anggaran negara setiap tahun disusun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). alokasi. Selama pemerintahan orde baru yaitu dari TA 1969/1970 sampai dengan 1999/2000 APBN disusun berdasarkan sistem anggaran berimbang (T-account) yang terdiri dari penerimaan dan pengeluaran. disesuaikan dengan Government Finance Statistics (GFS). APBN yang ditetapkan tiap tahun dengan undang undang harus mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai wakil rakyat atas rancangan APBN yang diajukan oleh pemerintah. pengawasan. Penerimaan bersumber dari dalam negeri yaitu pajak dan non pajak serta luar negeri yaitu . pemerintah) yang menyajikan informasi mengenai pendapatan. APBN disusun oleh dua komponen utama yaitu penerimaan dan pengeluaran. Mulai TA 2000 yaitu pada masa pemerintahan reformasi format APBN diubah menjadi Iaccount.BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. APBN mempunyai fungsi otorisasi. APBN mencakup seluruh penerimaan dan pengeluaran yang ditampung dalam satu rekening yang disebut rekening Bendaharawan Umum Negara (BUN) di bank sentral (Bank Indonesia). perusahaan. Format ini dirasakan masih mempunyai kelemahan antara lain tidak memberikan informasi yang jelas mengenai pengendalian defisit dan kurang transparan antara dana milik negara atau dana yang merupakan utang sehingga perlu disempurnakan. perencanaan. aktivitas dan tujuan yang hendak dicapai. pengeluaran. APBN dengan format GFS menggunakan sistem deficit spending dimana pinjaman dalam negeri dan luar negeri merupakan sumber untuk menutup defisit anggaran dan tidak diklasifikasikan sebagai penerimaan. KESIMPULAN Pengertian anggaran adalah dokumen yang menunjukkan kondisi atau keadaan keuangan suatu organisasi (keluarga.

Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dengan kenaikan anggaran. APBN masih sarat masalah. Untuk Aspek Penerimaan Pajak KAI mendukung usulan kenaikan perolehan pajak hingga 16 % PDB oleh DPR sebab hal itu layak dicapai dan dapat dilaksanakan. sebaliknya jika penerimaan yang melebihi pengeluaran disebut surplus. Pengeluaran yang melebihi penerimaan disebut defisit. REKOMENDASI 1. pajak polusi atau pajak ekologis. Alokasi dana untuk Kesehatan misalnya minimal dapat dinaikan menjadi 5-8 % dari total anggaran APBN dan APBD. belanja daerah. Untuk Belanja Sosial Pemerintah dan DPR perlu membalik prioritas yang ada selama ini. dan sebagainya.utang. Sedangkan pengeluaran terdiri dari belanja pemerintahan pusat. Keadaan APBN Indonesia dapat dicirikan sebagai berikut: di satu sisi masih sangat elitis dan belum memihak warga negara. Untuk itu. di sisi lainnya. Defisit atau surplus merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran. Tidak ada gunanya kue ekonomi membengkak (PDB) dan pendapatan perkapita mencapai 3000 dolar per kapita bila perolehan pajak rendah. dalam catatan anggota Badan Pekerja Komisi Anggaran Independen (BP-KAI). . B. pemerintah dan DPR perlu membuka potensi pajak yang sebenarnya serta mengusulkan perluasan sumber pajak baru seperti: pajak transaksi elektronik. Tahun 2010. masih belum akuntabel. UU Kesehatan. bantuan sosial dan tunjangan pengangguran. yakni dengan mengutamakan alokasi untuk belanja sosial terutama untuk kesehatan. lebih dari 12 tahun setelah krisis ekonomi Indonesia 1998. 2. maka cakupan penerima Jamkesmas atau asuransi kesehatan universal Indonesia (untuk seluruh warga negara) dapat dimulai sejalan dengan amanat UU SJSN 2004.

Rasanya sudah tidak masuk akal utang baru Indonesia berada jauh di bawah kewajiban membayar bunga dan cicilan utang lama. sekedar untuk “gali lubang tutup lubang” saja. maka Indonesia akan terus mengalami penurunan kapasitas fiskal disebabkan beban bunga utang dan cicilan pokok utang. rekayasa keuangan terhadap utang lama. Bila optimalisasi sumber daya alam yang dipilih. bila mengikuti ketentuan bunga yang berlaku. menghentikan utang baru. Bukankah argumen ini yang dalam waktu lama dipakai oleh pemerintah untuk mendapatkan penambahan utang? Mengapa tidak bisa dipakai pula untuk mengurangi atau . Pemerintah bersama lembaga legislatif harus serius berpikir bagaimana mengatasi problem defisit. Apakah menguatkan sumber pendanaan dalam negeri melalui pengelolaan sumber daya alam yang mandiri. seperti Undang-undang Migas No. atau melakukan penghematan dan mengurangi porsi belanja yang tidak penting (efisiensi). Ketiga. Terhadap utang lama.4% utang luar negeri berasal dari Jepang. Mengapa Jepang. 22 Tahun 2001. maka akan banyak kebijakan yang harus direvisi. Tujuan negosiasi adalah mengurangi pokok utang atau bahkan menghapus pokok utang. dan Undang-undang No. karena 44. Ada banyak perundangundangan yang tidak menguntungkan bagi kepentingan nasional harus dirombak. Jadi. 4 Tahun 2009 Tentang Mineral dan Batubara (Minerba) yang tidak mengatur pentingnya DMO (Domestic Market Obligation) bagi kepentingan nasional. Untuk Pembiayaan dan Utang KAI merekomendasikan kepada Pemerintah dan DPR RI untuk: Pertama. Undang-undang No. Argumen geopolitik dan strategik bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk mendekati Jepang. pemerintah harus lebih agresif melakukan negosiasi bilateral terutama dengan Jepang.3. Indonesia sudah tidak mungkin mampu melunasi semua utang. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal yang membebaskan kepemilikan asing di sektor tambang hingga 95 %. Kedua.

karena debt ratio mengabaikan fakta bahwa pembayaran utang mempunyai konsekuensi terhadap penurunan pelayanan negara terhadap masyarakat. Pemerintah ke depan juga harus mengembangkan indikator tambahan. Outstanding utang tidak hanya dilihat dengan rasio terhadap PDB. yaitu utang baru seyognyanya tidak digunakan untuk sisi konsumsi dalam APBN.  Pemerintah dan DPR perlu membuka data-data potensi pajak dari sector ekstraktif dan  membandingkannya dengan angka realisasi sehingga penerimaan negara dari perpajakan dan industri ektraktif masih dapat dioptimalkan. Untuk Penerimanaan dari Sektor Ekstraktif  Pemerintah dan DPR harus menetapkan target kuantitatif minimal 5 % dari PDB untuk mendorong kenaikan penerimaan non-pajak dari sektor ekstraktif. rasio utang semakin menunjukkan perlunya reorientasi manajemen utang pemerintah. sebenarnya harus didistribusikan bagi pencapaian kesehatan dan akses pendidikan masyarakat yang bermutu. Ini juga membawa konsekuensi tambahan. Tapi justru lebih difokuskan untuk pembangunan infrastruktur seperti listrik. sebagai pengelola utang. Keempat. memang strategi negosiasi utang perlu memanfaatkan faktor non teknis ekonomi. 4. bukan pengalihan utang ke generasi mendatang dan/atau penambahan utang baru. Setiap rupiah yang dibayarkan ke utang. sehingga penerimaan negara dari sektor ekstraktif (pertambangan. Untuk kasus Indonesia.menghapus utang? Dalam konteks ini. dengan re-fokus kepada pengurangan debt stock.  Perbaikan tata kelola administrasi pajak serta penegakannya regulasi harus mendapatkan perhatian lebih sungguh-sungguh. . minyak dan gas bumi) akan meingkat. jalan dan komunikasi.

Presiden wajib mendukung penguatan kerja-kerja KPK sebagai avant garde pemberantasan korupsi. sebagai bukti pengelolaan keuangan/anggaran Pemerintah/Kementerian/ Lembaga sudah lebih baik sesuai dengan tata kelola keuangan. politik. Pemerintah dan DPR perlu mendeklarasikan “zero corruption” dalam pengelolaan dan penggunaan APBN dan APBD untuk 3 tahun ke depan. .Dalam rangka penguatan akuntabilitas.  Meninjau ulang kontrak karya perusahaan yang bergerak di industri ekstraktif sehingga sesuai dengan perkembangan kondisi ekonomi. sebagai permulaan untuk memulai tindakan sistemik memerangi korupsi.6 Untuk Reformasi Birokrasi "Sebetulnya. sosial dan lingkungan. Rekening Gendut. Ujian yang sederhana bagi KPK adalah soal kasus dana Bank Century. Sebagai awal dan niat baik. Gagasan Presiden tentang pembentukan Tim Penghematan Anggaran tidak mencerminkan upaya melakukan akuntabilitas di sisi penghematan. Untuk Aspek Akuntabilitas Penerimaan yang besar akan tiada guna apabila terjadi korupsi dan kebocoran secara massif dan sistemik. Oleh karena itu. standard akuntasi yang berlaku dan aturan perundangan. 3. Kementerian/Lembaga lebih banyak yang tidak disclaimer (60%) lagi. Presiden harus melakukan tindakan yang sistematis dengan membuat target dan sasaran agar LKPP Pemerintah. perlu diberlakukan sistem antikorupsi dan integritas serta sistem akuntabilitas yang tidak tergantung angin rezim politik. Peran KPK harus kuat baik dalam hal pencegahan maupun penindakan terhadap kasus korupsi sistemik. 5. Pengemplang Pajak dan kasus-kasus pengadaan barang. terutama mekanisme transparansi dan akuntabilitas aliran pendapatan dari sektor ekstraktif. Mengembangkan dan menegakkan mekanisme transparansi dan akuntabilitas yang ketat. yang namanya renumerasi itu di ujung dari reformasi birokrasi”.

3) Melakukan evaluasi reformasi birokrasi secara menyeluruh dan melibatkan multi stakeholders dan melakukan moratorium remunerasi. 2) Mencegah reformasi birokrasi hanya terpeleset/terjebak menjadi reformasi renumerasi. Oleh karena itu. Pemerintah dan kelompok independen untuk menilai kemajuan dan kelemahan program reformasi birokrasi yang telah berjalan selama ini.ujar Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional. (iv) mengusulkan lahirnya Tim Evaluasi yang berisi dari unsur DPR. rekomendasi yang KAI tawarkan adalah: 1) Mengefektifkan skema reward and punishment dengan pendekatan berbasis kinerja (performance based) dalam melihat tugas dan kewenangan K/L dan aparatusnya. . Lukita Dinarsyah Tuo tentang reformasi birokrasi dan hubungannya dengan remunerasi.

University Park Press. Jr and Ronald W. Farid. 1989.: RajaGrafindo Persada. Teori. Lee. pasal 23 ayat (1) (2) (3). Arifin P.DAFTAR PUSTAKA Wijaya. Ekonomika Makro Edisi 3. Undang-Undang Dasar 1945. Keuangan Publik dalam Perspektif Hukum. Kritik dan Praktik. BPFP. Jakarta. 1978 Public Budgeting System. 2009. Yogyakarta. Second Edition. Baltimore. Johnson . Robert D. Soeria Atmadja . .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful