BAB III PERANAN PERS DALAM MASYARAKAT DEMOKRASI Standar Kompetensi : 2. Mengevaluasi peranan pers dalam masyarakat demokrasi. Kompetensi Dasar : 2.1. Mendeskripsikan pengertian, fungsi dan peranan sertaperkembangan pers di In donesia. 2.2. Menganalisis pers yang bebas dan bertanggung jawab sesuai kodeetik jurnalis tik dalam masyarakat demokratis di Indonesia. 2.3. Mengevaluasi kebebasan pers dan dampak penyalahgunaankebebasan media massa dalam masyarakat demokratis diIndonesia. PENDAHULUAN -------------------------------(Ada gambar kalangan pers sedang meliput )-----------------------------Salah satu ciri menonjol negara demokrasi adalah adanya kebebasanuntuk berekspre si. Kebebasan berkespresi dapat terwujud dalam berbagaibentuk, seperti ; berkese nian, menyampaikan protes atau menyebarkan gagasan melalui media cetak sebagai bagian dari bentuk ekspresi. Di antara media ekspresi dan penyebarluasan gagasan yang banyak dikenalmasyarakat a dalah melalui pers. Dalam sejarah kehidupan masyarakat Indonesia, dunia Pers tidaklah asing. Jauh sebelum Indonesia merdeka, awal kemunculan Pers merupakanalat perjua ngan bagi seluruh komponen masyarakat Indonesia dalam menyampaikan aspirasinya guna mencapai Proklamasi Kemerdekaan. PascaProklamasi K emerdekaan 1945, peranan pers sangat besar sebagai alatperjuangan dalam rangka m enyebarluaskan informasi atau berita-berita keseluruh pelosok daerah Indonesia b ahkan penjuru dunia. Dalam perkembangannya di Indonesia, dunai pers pernah mengalami pasang surutbaik di er a liberal, orde lama, orde baru maupun era reformasi. Pada kehidupan masyarakat demokratis, salah satu peranan penting pers adalahsebagai p enggerak prakarsa masyarakat, memperkenalkan usaha-usahanyasendiri, dan menemuka n potensi-potensinya yang kreatif dalam usaha memperbaiki peri kehidupannya. Pers yang juga mengemban misi sebagai salah satu alat kontrol sosialterhadap pem erintah, telah mampu memberikan kontribusi guna melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan dalam melaksanakan pemerintahan. Oleh sebab itu, agar tidak terjadi pemberitaan yang menjurus fitnah setiap insan pers telah dibekali Kode Etik Profesi wartawanIndon esia yang harus dipatuhi. Kode Etik mencakup : 1) KepribadianWartawan Indonesia, 2) Pertanggung jawaban, 3) Cara Pemberitaan danMenyatakan Pendapat, 4) Pelangga ran Hak Jawab, 5) Sumber Berita, 6) Kekuatan Kode Etik, dan 7) Pengawasan Penataan Kode Etik. Era globalisasi dewasa ini telah memberi peranan yang lebih besar kepada dunia pers dalam menggalang prakarsa dan kreativitas wargamasyarakat mela lui berbagai infrastruktur teknologi informasi. Dunia persdalam perspektif demok rasi, telah menemukan jati diri dan kebebasannya yang mampu menembus batas-batas negara baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, hukum, pertahanan kemanan dan sebagainya. Oleh sebab itu, memasuki era globalisasi seluruh komponen birokrasi, maupun masyarakat harus bersikap arif dan bijaksana dalam menanggapikritik, sara n yang dilontarkan dunia pers. PENGERTIAN, FUNGSI DAN PERAN SERTA PERKEMBANGAN PERS DI INDONESIA 1. Pengertian Pers Dalam kehidupan modern, kebutuhan orang akan komunikasi dan informasi semakin meningkat. Informasi dibutuhkan oleh orang untukmemperluas waw asan dan pengetahuan. Tidak jarang informasi jugamenjadi bahan pertimbangan bagi seseorang untuk mengambil suatukeputusan. Dalam hal ini, pers menyediakan berba gai informasi yangberguna bagi masyarakat luas. Tidak hanya itu, pers juga dapat dimanfaatkan untuk membentuk opini publik atau mendesakkan kepentingan publik agar diperhatikan oleh penguasa. Dengan semakin berkembangnya dunia informasi, pers sebenarnyasemakin dekat denga n kehidupan kita. Lantas, apa sesungguhnyamakna pers itu sendiri ? Untuk memaham i makna tentang pers, berikutini akan diberikan beberapa pengertian : a. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata pers berarti a) alatcetak untuk mencetak b uku atau surat kabar; 2) alat untuk menjepit, memadatkan; 3) surat kabar dan majalah yang berisi berita : berita seperti yang ditulis oleh ..... ; 4) orang yang bekerja di bidang persuratkabaran. b. Ensiklopedi Indonesia, istilah Pers merupakan nama seluruh penerbitan berkala : koran, majalah, dan kantor berita. c. Ensiklopedi Pers Indonesia, istilah Pers merupakan sebutan bagi penerbit/perusahaan/kalangan yang berkaitan dengan media masa atau wartawan. Sebutan ini bermula dari cara bekerjanya media cetak yang awalnya menekankan huruf-huruf di atas kertas yang akan dicetak. Dengan demikian segala barang yang dikerjakan dengan mesin cetak disebut pers. d. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, bahwa yang dimaksud Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya denganmenggunakan medi a cetak, media elektronik dan segala jenis saluranyang tersedia. e. Profesor Oemar Seno Adji, Pers dalam sempit seperti diketahuimengandung penyiara n-penyiaran pikiran, gagasan atau berita-beritadengan kata tertulis. Sebaliknya pers dalam arti luas memasukkan didalamnya semua media mass communications yang memancarkan pikiran, dan perasaan seseorang baik dengan kata-kata tertulis maupun dengan lisan. Dengan demikian dapatlah diketahui, bahwa pers dalam arti sempitmerupakan manife stasi dari Freedom of the press , sedangkan pers dalam arti yang luas merupakan manifestasi dari freedom of speech dan keduanya tercakup oleh pengertian freedom of expression . f. L. Taufik, dalam bukunya Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia , menyatakan bahwa pengertian pers terbagi dua, yaitu pers dalam arti sempit dan pers dalam arti luas. . Pers dalam arti sempit diartikan sebagai surat kabar, koran, majalah, tabloid, dan buletin-buletin kantor berita. Jadi, pers terbatas pada media tercetak. . Pers dalam arti luas mencakup semua media massa, termasukradio, televisi, film d an internet. f. Leksikom Komunikasi, Pers berarti : 1) usaha percetakan dan penerbitan, 2) usaha pengumpulan dan penyiaran berita, 3) penyiaranberita melalu i surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Sedangkan istilah press berasal dari bahasa Inggris to press artinyamenekan, selanjutnya press atau pers diartikan sebagai surat kabardan majalah (dalam arti sempit) dan pers dalam arti luas yang menyangkut media massa (surat kabar, radio, televisi, dan film). Fokus Kita : Dalam perkembangannya, istilah Pers diberi pengertian denganpenerbitan pers. Bah kan belakangan pengertiannya meliputi duahal : pers dalam arti sempit, yakni med ia cetak dan pers dalam arti luas, yakni meliputi semua barang cetakan yang ditujukan untuk umum sebagai pengganti istilah printed mass media. Tapi juga lazim untuk menyebut orang atau kegiatan yang 2. Teori-teori Tentang Pers Telah diuraikan secara singkat di muka bahwa pers berperan antaralain untuk meny ebarluaskan informasi. Dalam konteks hak asasi manusia, hak setiap orang untuk memperoleh informasi merupakan hakyang diakui se cara universal. Sementara dalam kedudukannya sebagaimedia massa, pers juga dapat menjadi wahana untuk menyuarakanekspresi (kehendak, kepentingan, gagasan dan ke yakinan). Kebebasanuntuk berekspresi ini pun merupakan hak asasi yang berlaku un iversal. Dengan demikian, kemerdekaan pers perlu memperoleh jaminan perlindungan agar hak asasi manusia tidak tertindas. Teori tentang kebebasan pers mulai memperoleh perhatian besarsejak tahun 1956. D alam situasi perang dingin, muncul gejala persaingan antara dua ideologi besar, yaitu Komunisme dan Liberalisme. Tidak mengherankan jika konsep kemerdekaan pers kemudian berkembangsesuai dengan seman gat zaman yang tengah dilanda persaingan tersebut di atas. Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm dalam buku Four Theories The Press , yang diterjemahkan oleh Putu Lakman Sanjaya Pendit dan dikutip oleh Krisna Harahap dalam bukunya Pasang Surut Kemerdekaan Pers , mengemukakan empat teori kemerdekaan pers. Ke-empat teori pers tersebut adalah sebagai berikut : a. Teori Pers Otoritarian Teori ini muncul berkaitan erat dengan pandangan filosofis tentanghakikat negara dan masyarakat. Teori Otoritarian menganggap negara merupakan ekspresi tertinggi dari organisasi kelompok manusia, mengungguli masyarakat dan individu. Negara dianggap sesuatu yang terpenting dalam membangun dan mengembangkan manusia seutuhnya. Tanpa negara, manusia tidak dapat mencapaitujuan hidupnya dan akan tetap menjadi manusia primitif. Pada saatteori ini lahir, hubungan antara pers dan negara berada dalam kerangka seperti itu. Pada teori tentang pers otoritarian, kedudukan negara mengungguli kelompok manusia dan individu. Dengan demikian dibenarkan adanya sensor pendahuluan, pembredelan, pengendalianproduksi secara l angsung oleh pemerintah dan sebagainya, yang dikukuhkan oleh peraturan perundang-undangan. Keberadaan perssepenuhnya bertujua n untuk mendukung pemerintah yang bersifatotoritas, sehingga pemerintah langsung menguasai, mengawasi danmengendalikan seluruh media massa. Dengan demikian, per smerupakan alat penguasa untuk menyampaikan keinginannyakepada rakyat. Andai pun ada kebebasan pers, kebebasannya itu Fokus Kita : Teori Otoritarian menganggap negara merupakan ekspresi tertinggi dari organisasi kelompok manusia, mengungguli masyarakat dan individu. Negara dianggap sesuatu yang terpenting dalam membangun dan mengembangkan manusia Menurut pendapat Mc. Quail, di dalam teori pers otoritarian disebutkan prinsip-prinsip dasar pelaksanaan sebagai berikut : 1) Media selamanya (akhirnya)harus tunduk kepada penguasa yang ada. 2) Penyensoran dapat dibenarkan. 3) Kecaman terhadap penguasa atau terhadap penyimpangan dari kebijakan resmi tidak dapat diterima. 4) Wartawan tidak mempunyai kebebasan di dalam organisasinya. b. Teori Pers Libertarian Teori ini merupakan reaksi terhadap Teori Pers Otoritarian dan sekaligus menjungkir balikkannya. Jika teori Otoritarian menekankankepada negara sebagai ekspresi tertinggi dari organisasi kelompokmanusia, maka dalam teori Li bertarian kebalikannya, yaitu tekanan diberikan kepada individu dan masyarakat yang kelak melahirkan pemikiran tentang demokrasi. Sesuai dengan ajaran demokrasi, manusia memiliki hak-hak alamiah untuk mengejar kebenaran yang hakiki dan memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat, secara lisan dan tulisan (pers) tanpa kontrol dari pemerintah (pihak luar). Maka, Teori Libertarian berpendapat bahwa pers harus memiliki kebebasan yang seluas-luasnya untuk membantu manusia mencari dan menemukan kebenaran yang hakiki tersebut. Salah satu cara yang paling efektifuntuk mencari dan menemukan kebenaran itu ialah melalui pers. Menurut teori ini, pers merupakan sarana penyalur hati nurani rakyatuntuk mengaw asi dan menentukan sikap terhadap kebijakan pemerintah. Karenanya ia bukanlah alat kekuasaan pemerintah, sehingga ia harus bebas dari pengaruh dan pengawasan pemerintah. Fokus Kita : Menurut teori libertarian, pers merupakan sarana penyalur hatinurani rakyat untu k mengawasi dan menentukan sikap terhadapkebijakan pemerintah. Oleh sebab itu, p ers bukanlah alat kekuasaan pemerintah, sehingga ia harus bebas dari pengaruh dan pengawasan pemerintah. Dengan demikian teori ini nd b i ink titusi l tehad Dengan demikian, teori ini memandang sensor merupakantindakan yang inkonstitusio nal terhadap kemerdekaan pers. MenurutKrisna Harahap Pers Libertarian, mempunyai tugas sebagai berikut : 1) Melayani kebutuhan kehidupan ekonomi (iklan) 2) Melayani kebutuhan kehidupan politik 3) Mencari keuntungan (demi kelangsungan hidupnya) 4) Menjaga hak warga negara 5) Memberi hiburan. Selanjutnya Krisna Harahap menyebutkan tentang ciri-ciri pers yang merdeka (libertarian) sebagai berikut : 1) Publikasi bebas dari setiap penyesoran pendahuluan, 2) Penerbitan dan pendistribusian terbuka bagi setiap oran tanpa memerlukan izin atau lisensi, 3) Kecaman terhadappemerintah, pejabat atau partai politik tidak dapat dipidana, 4) Tidak ada kewajiban mempublikasikan segala hal, 5) Publikasi kesalahan dilindungi sama halnya degan publikasi kebenaran dalam hal-hal yang berkaita dnegan opini dan keyakinan, 6) Tidak ada batasan hukum terhadap upaya pengumpulan informasiuntuk kepentingan publikasi, 7) Wartawan mempunyai otonomi profesional dalam organisasi mereka. c. Teori Tanggung Jawab Sosial Pada awal abad ke-20, lahirlah teori pers lain, yaitu Teori Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility sebagai protes terhadap Teori Libertarian yang mengajarkan kebebasan mutlak, yang dianggap telah menimbulkan kemerosotan moral masyarakat. Teori ini mengemukakan dasar pemikiran bahwa kebebasan pers harus disertai dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Menurut Teori Tanggung Jawab Sosial, kebebasan pers itu perlu dibatasi olehdasar moral, etika dan hati nurani insan pers. Prinsip dasar pandangannya adalah bahwa kemerdekaan pers harus disertai dengan kewajiban-kewajiban, antara lain untuk bertanggung jawabkepada masyarakat . Menurut Krisna Harahap prinsip utama teori Tanggung Jawab Sosial, dapat ditandain sebagai berikut : 1) Media mempunyai kewajiban tertentu kepada masyarakat. 2) Kewajiban tersebut dipenuhi dengan menetapkan standar yang tinggi atau professional tentang keinformasian, kebenaran, obyektivitas, keseimbangan, dsb. 3) Dalam menerima dan menerapkan kewajiban tersebut, media seyogyanya dapat mengatur diri sendiri dalam kerangka hukumdan lembaga yang ada. 4) Media seyogyanya menghindari segala sesuatu yang mungkin menimbulkan kejahatan, yang akan mengakibatkan ketidaktertiban atau penghinaan terhadap minoritas etnik atau agama. 5) Media hendaknya bersifat pluralis dan mencerminkan kebhinekaan. 6) masyarakatnya dengan memberi kesempatan yang sama untukmengemukakan berbagai sud ut pandang dan hak untuk menjawab. 7) Masyarakat memiliki hak mengharapkan standar prestasi yang tinggi dan intervensi dapat dibenarkan untuk mengamankan kepentingan umum. Mengenai kebebasan pers, Komisi Kemerdekaan Pers menyatakan bahwa kemerdekaan pers itu harus diberi arti : 1) Bahwa kebebasan tersebut tidaklah berarti bebas untuk melanggar kepentingan-kepentingan individu yang lain. 2) Bahwa kebebasan harus memperhatikan segi-segi keamanan negara. 3) Bahwa pelanggaran terhadap kemerdekaan pers membawa konsekuensi/ tanggung jawab terhadap ukuran yang berlaku. Pengertian kemerdekaan pers yang diberikan oleh Komisi Kemerdekaan Pers seperti tersebut di atas menunjukan bahwa kemerdekaan yang mutlak hanyalah merupakan khayalan belaka. Menurut teori tanggung jawab sosial, bahwa pembatasan terhadapkemerdekaan pers i tu justru perlu diadakan dengan alasan : untukmelindungi kehormatan dan nama bai k individu/kelompok, melindunginilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat dan mel indungi ketertibanserta keamanan, baik yang datang dari dalam (subversi) maupun yang datang dari luar (agresi). Perlunya pembatasan pers, yaitu dimaksudkan untuk kepentingan: keamanan sosial, ketertiban umum, memelihara persahabatan antarnegara, melindungi agama yang dian ut oleh masyarakat, melindungiras/golongan suku bangsa, melindungi orang/masyara kat, dan melindungi hak-hak peradilan terhadap contempt of court atau pengkhianatan/pendiskreditan pengadilan. Bonus Info Kewarganegaraan Komisi Kemerdekaan Pers menggariskan lima hal yang menjadituntutan masyarakat mo dern terhadap pers, dan merupakan ukuranpelaksanaan kegiatan pers, yakni : 1. Pers dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian seharihari secara jujur, mendalam dan cerdas. Ini merupakan tuntutankepada pers untuk menul is secara akurat, dan tidak berbohong. 2. Pers dituntut untuk menjadi sebuah forum pertukaran komentardan kritik, yang berarti pers diminta untuk menjadi wadah diskusidi kalangan masyarakat, walaupun berbeda pendapat dengan pengelolanya sendiri. 3. Pers hendakanya menonjolkan sebuah gambaran yang representatif kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada segelintir kelompok minoritas dalam masyarakatyang juga memiliki ha k yang sama dalam masyarakat untuk didengarkan. 4. Pers hendaknya bertanggung jawab dalam penyajian dan penguraian tujuan dan nilai-nilai dalam masyarakat. 5. Pers hendaknya menyajikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh berita sehari-hari. Ini berkaiatan dengan kebebasan informasi yang diminta masyarakat. d. Teori Pers Komunis Teori ini beranjak dari ajaran Karl Marx yaitu Marxisme/Komunisme. Menurut Teori Pers Komunis, pers merupakan alat pemerintah (partai yang berkuasa) dan bagian integral dari negara, sehingga pers harus tunduk kepada pemerintah. Pers Komunis berfungsi sebagai alat untuk melakukan indoktrinasi massa . Sehubungan dengan itu, F. Rachmadi (1990) dalam bukunya Perbandingan Sistem Pers , menyatakan bahwa dalam hubungan dengan fungsi dan peranan pers Komunis sebagai alat pemerintah dan partai, pers harus menjadi suatu collective propagandist, collective agitation dan collective organizer. Ciri-ciri Teori Pers Komunis ini adalah sebagai berikut : 1) Media berada di bawah pengendalian kelas pekerja, karenanya ia melayani kepentingan kelas tersebut. 2) Media tidak dimiliki secara pribadi. 3) Masyarakat berhak melakukan sensor dan tindakan hukum lainnya untuk mencegah atau menghukum setelah terjadinya peristiwa publikasi anti masyarakat. Penugasan PraktikKewarganegaraanSetelah mempelajari materi-materi tentang : Peng ertian, Fungsi danPeran Serta Perkembangan Pers Indonesia (Pengertian Pers, dan Teori-teori tentang pers), dilanjutkan Penugasan dengan menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut : 1 1. Berikan ulasan pengertian kembali tentang Pers sesuai pendapat anda dan tokoh-tokoh terkenal ! Pendapat anda tentang Pers? .......................................................................... ................................ ........... ................................................................................ .................................... ..................................................... No Tokoh Uraian Singkat 1. Oemar Seno Adji ................................................................................ . ..................................... ................................................................................ . ..................................... 2. L. Taufik ................................................................................ . ..................................... ................................................................................ . ..................................... 2. Dalam teori pers Otoritarian menganggap negara merupakan ekspresi tertinggi dari organisasi kelompok manusia, mengungguli masyarakat dan individu. Berikan penjelasn singkatnya yang dimaksud dengan ! a. Negara merupakan ekspresi tertinggi: ..................................................................... .................. ................................................................................ .............................. ................................................... b. Mengungguli masyarakat: .................................................................... .................... ...................... ................................................................................ ............................... ................................................... 3. Menurut Teori Tanggung Jawab Sosial, kebebasan pers itu perlu dibatasi oleh dasar moral, etika dan hati nurani insan pers. Beri penjelasan singkat pada kolom di bawah ini ! Dasar moral Hati nurani insan pers ........................................................ ...................... ........................................................ ...................... ........................................................ ...................... ........................................................ ...................... ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ 4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa di dalam pers kemerdekaanyang mutlak hanya lah merupakan khayalan belaka ! ................................................................................ .................................... ................................................... ................................................................................ .................................... ................................................... ................................................................................ .................................... ................................................... 5. Tuliskan perbedaan dan persamaan pada teori pers Otoriterian dengan Komunis di bawah ini ! Persamaan Perbedaan ........................................................ ........................ ..................................................... ........................ ........................................................ ........................ ........................................................ ........................ ........................................................ ........................ ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ 3. Sistem Pers di Beberapa Negara a. Sistem Pers Barat (USA) Pada negara-negara Barat yang diwakili oleh Amerika dan Eropa, kebebasan pers diyakini sebagai bagian dari kebebasan berekspresi yang dimiliki oleh setiap individu. Oleh sebab itu, masyarakat meminta kepada negara agar memberikan kemerdekaan dengan tanpa turut campur terlalu dalam terhadap kehidupan pers. Fokus Kita : Representasi sistem pers barat ini dapat diwakili oleh sistempers Amerika Serika t dan Eropa. Negara-negara barat pada umunyabaik Amerika maupun Eropa menganut f alsafah yang sama yaitu Liberalisme , yang menjadi landasan sistem sosial, sistem po litikdan sistem pemerintahan mereka. Perihal kebebasan pers di Amerika yang mengusung falsafah Liberalisme , telah mengundang pro dan kontra dalam beberapa kasus sebagai berikut : Pandangan Pro Kebebasan Pandangan Kontra Kebebasan Kebebasan pers telah terbukti Kemerdekaan pers Amerika Serikat memberi sumbangan positif bagiyang terlalu bebas, telah menuai praktik demokrasi dan kontrol yangkritik-kritik tajam terhadap pers itu efektif terhadap pengelolaan sendiri. Pers yang dianggap terlalu negara. Sebagai contoh, dapatasyik mengungkap aspek-spek dikemukakan salah satu kasus yangnegatif Amerika Serikat, sehingga meng-hebohkan dunia pers Amerikamembuat negara Amerika tampak Serikat, yaitu Watergate. Kasus ini buruk di mata dunia. bermula dari tertang-kapnya lima Edwin Emery dan kawan-kawan orang yang memasuki kantor Parti dalam buku Introduction to Mass Demokrat di kompleks Watergate, Communiction menyatakan bahwa Washington DC dengan tanpa izin memang benar konstitusi Amerika pada tanggal 17 Juni 1972.Serikat menjamin kebebasan pers, Beberapa pejabat tampakyang semestinya harus berjalan berusaha menutupi apa yang sebebersamasama dengan narnya terjadi di balik kasus ini. kebebasannya. Interpretasi Penyelidikan yang dilakukan oleh mengenai tanggungjawab ini Carl Bernstein dan Bob sebagian besar diserahkan kepada Woodward, dua orang wartawan integritasi, etika, dan rasa moral dari Washington Post menguak hubuorang yang menulis, menerbitkan ngan kelima kawanan pencuri dan berbicra . tersebut dengan Gedung Putih. Hal ini dapat menimbulkan Terungkap kemudian bahwa kelima berbagai bahaya, karena kekuatan orang tersebut melakukan upaya pers dapat membakar opini dan memata-matai Partai Demokrat emosi publik dalam situasi konflik yang merupakan lawan politik sosial dan keadaan sensitif lainnya. presiden berkuasa, Richard M. Kemerdekaan pers yang terlalu Nixon (berasal dari Partai Republik).bebas ini, dalam dua sampai tiga Kasus ini berakhir dengan dasa warsa terakhir dirasakan dipenjarakannya para pelakukejahatan dan mundurnya PresidenNixon dari jabatan Pr esiden AmerikaSerikat. Atas kerja keras mengungkap kasus tersebut, dua wartawan yang bersangkutan kemudian memperolehpengharagaan pers yang bergengsi, yaitu Pulitzer. merusak moral masya-rakat dan mengganggu keamanan pemerintah. Belakangan ini tuntutan masyarkatdan pemerintah terhadap pertanggung jawaban pers semakin serius. Kritik-kritik tajam pun sangatderas menghujani pers, karena persdianggap terlalu komersial, merusakmoral masyarakat dan lain-lain, sertatelah berani mel anggar hak kehidupan pribadi seseorang melaluitulisan-tulisannya yang sensasional, murahan, demi kepentingan untuk meraup uang yang sebanyakbanyaknya. Jika di lihat dari aspek hubungan pers dengan pemerintah AmerikaSerikat, dapat d igambarkan sebagai hubungan persaingan. Artinyapers Amerika Serikat bebas dari c ampur tangan pemerintahannya dandemikian pula sebaliknya, sehingga terdapat pers aingan diantara persdengan pemerintah, terutama dalam hal megembangkan diri dan kepemimpinan. Di Amerika Serikat, pers mempunyai kebebasan untuk bergerak. Di dalam sistem liberal seperti di Amerika serikat, pers tidak berorientasi pada politik pemerintah, artinya pers bukanmerupaka tero mpet pemerintah seperti di negara-negara sosialis. Disisi lain perlu difahami pula bahwa hubungan antara pers, pemerintah dan masyarakat di Amerika dan Eropa, sesungguhnya dapat digambarkan sebagai upaya saling mengontrol . Artinya, walaupun ideologi kebebasan yang dianut memberi kemerdekaan berekspresi, tetapi bukan berarti semuanya tanpa kontrol. Hubunganyang demikian dapat menciptakan pemerintahan yang bersih dan kuat serta masyarakat sipil yang juga kuta. Kondisi yang demikian memberi sumbangan penting bagi terbangunnya kehidupan sosial yang demokratis. Bonus Info Kewarganegaraan Dikalangan eksekutif pers Amerika Serikat, seperti redaktur, danpara editor yang merasa profesi persnya telah tercemar akibat itusemua, berusaha menyusun Kode E tik Pers yang di sebut Canon Jurnalism , yang isinya dikutip oleh F. Rachmadi antara lain sebagai berikut : a. Tanggung jawab (Romawi I) yaitu hak koran untuk menarik pembaca tidak ada yang membatasi kecuali pertimbangan tentang kesejahteraan publik. Jurnalis yang memakai kekuatannya untuk kepentingan sendiri atau tujuan yang takberharga adalah durhak a pada kepercayaan yang tertinggi. b. Ketulusan, kebenaran, ketepatan (Romawi IV), yaitu kepercayaan pembaca adalah dasar bagi semua yang dinamakan jurnalisme. Bagi koran, untuk berbuat jujur adalah hal yang memaksa. c. Netral/adil (Romawi V), yaitu memisahkan laporan berita dengan pernyataan pendapat. Laporan berita haruslah bebasdari pendapat atau maca m-macam bias. d. Fair play (Romawi VI), yaitu antara lain berisi larangan untukmencampuri hak pri badi atau perasaan seseorang tanpa pembenaran undang-undang dan harus mengadakan koreksi lengkap mengenai kesalahan seriusnaya mengenai fakta atauopini yang mereka buat, apapun masalahnya. Kode etik ini merupakan bentuk atau isyarat bahwa pers Amerika Serikat menuju kepada pers yang bertanggung jawab. b. Sistem Pers Komunis (Rusia) Kehidupan pers di negara-negara komunis (yang akan diwakili olehSistem Pers Rusi a) pada umumnya, merupakan cerminan sistem sosial dan politik komunis. Bertolak dari konsep bahwa kepemilikan atas sarana-sarana produksi dan distribusi berada di bawah kekuasaan negara, maka pers di negara Komunis dimiliki sepenuhnyaoleh pemerintah ; tidak adak kepemilikan oleh perorangan atau swasta. Pemerintah dan partai komunis menggunakan pers sebagaialat untuk mencapa i tujuan-tujuannya, yaitu sebagai instrumen yangterintegrasi dengan kekuasaan pe merintah dan partai untuk kegiatanpropaganda dan agitasi. Menurut Heinz Ditriech Fisher dan John C. Merril, dalam buku Internasional Communication yang di kutip oleh F. Rachmadi, menyatakan Membicarakan sistem pers Uni Soviet (Rusia), tidak dapat terlepas dari tiga nama tokoh yang meletakan dasar sistem pers Soviet. Mereka adalah Lenin, Stallin, dan Kruchcev. ..... Menurut Lenin, pers harus melayani kepentingan kaum buruh yang merupakan kelompok mayoritas . Dijelaskan lebih lanjut, Lenin adalah pencetus teori pers komunis dan Stalinlah yang menerapkanajaran Lenin. St alinlah yang membuat lembaga sensor, penekananpenekanan, dan sebagainya, sedangkan Krushcev lebih menyadari bahwa pers itu ternyata dapat juga menjadi forum pertukaran pendapat. Fokus Kita : Didalam sistem pers komunis dikenal adanya lembaga kontrol atau lembaga sensor yang diberi nama Glavit yang bertugasantara lain mengawasi b ahan-bahan pers yang akan dipublikasikandan tugas-tugas untuk mengamankan politi k ideologis dan Secara ringkas tentang fungsi pers di bekas negara Uni Soviet (Rusia) seperti yang ditulis oleh F. Rachmadi , adalah sebagai berikut : 1) Pers sebagai alat propaganda, agitator, dan organisator kolektif. 2) Pers merupakan tempat pendidikan kader-kader komunis di kalangan masa. 3) Pers bertugas sebagai lembaga yang memmobilisasi dan berorganisir masa untuk pembangunan ekonomi. 4) Pers menerapkan dan menyiarkan semua dekrit, keputusan, intruksi yang di keluarkan oleh Komite Sentral Partai maupun olehPemerintah Rusi a serta bahan publikasi lain dari pemerintah. 5) Pers berfungsi sebagai alat untuk melakukan kontrol dan kritik. Sesuai dengan fungsi dan peranan pers di Rusia, mereka tidakmementingkan pemberi taan, karena badan sensor tidak akan memberi izin untuk memberitakan kejadian-kejadian penting yang tidak dikehendaki, serta menghindari pemberitaan-pemberitaan tentang hak asasi manusia. c. Karakteristik Pokok Pers Barat dan Pers Komunis Sistem pers sebagaimana sistem-sistem yang lain di berbagainegara, memiliki ciri khas atau karakteristik masing-masing. Berikutini, perbandingan karakteristik p ers Barat dan pers Komunis/Sosialis. Perbandingan Karakteristik Sistem Pers Pers Barat Pers Komunis 1. Mengagung-agungkankebebasan pers yang seluasluasnya, karena mereka merasa bahwa kebebasan persberkaitan erat dengan kebebasan politik (asas Demokrasi). Pers memiliki peranan penting di dalam sistem politik modern. 1. Sistem pers Komunis/ Sosialis didasari oleh ajaran Marxisme/ Leninisme. 2. Pers berada di tangan partai komunis dan 2. Hubungan pers dan pemerintahadalah saling berhadapan (adversary theory), dengan persaingan yang sama. Pers bebas dari campur tangan pemerintah dan sebaliknya. Demikian pula hubungandengan masyarakat, keduanya sama-sama saling membutuhkan. Tanpa saling menunjang, maka baik pers maupun masyarakat akan menjadi organ propaganda dan agitasi partai untuk mencapai masyarakat komunis internasional. Kekua-saan ada ditangan satu partai, yaitu partai komunis dengan sistem pengendalian media masa secara sentral. 3. Kebebasan pers secara sama-sama kehilangan mata rantai kehidupan. 3. Media masa, khususnya pers, sebagai ajang bisnis besar (diAmerika Serikat). Pelayanan pokok terhadap kemajuanbidang ekonomi, adalah bahwa pers mampu menjangkau konsumen yang luas untuk mengiklankan suatu produk. Tanpa iklan, produk industri tidak akan dikenal oleh konsumen. 4. Angka sirkulasi surat kabar sangat tinggi. Ratio antara surat kabar dengan pendudukberbanding 1 : 3, bahkan ada yang mencapai 1: 2. Sirkulasi surat kabar yang besar itu ditunjang oleh sistem disribusiyang baik pula. formal di jamin dalam konstitusi, tetapi di dalampraktiknya terdapatpenekanan-penekanan, dengan di ciptakannya lembaga sensor yang di sebut GLAVIT . 4. Kebebasan hanya ada pada kaum proletar, yaitukaum buruh. Menurut Lenin, sistem pers yang berlaku di Soviet adalah pers yang melayanikepentingan kaum buruh. 5. Kebebasan individu dibatasi dan masyarakatnya bersifat tertutup. 5. Media masa khusunya pers, mempunyai pengaruh yangkuat terhadap kehidupan sosialdan politik dalam masyaraka t. 6. Reading habit masyarakat tinggi, ditunjang oleh pendapata per kapita yang tinggi pula. 7. Teknik persurat kabaran sangatmodern, ditunjang oleh teknologi komunikasi yang canggih. 4. Sistem Pers di Negara-Negara Berkembang a. Pengertian Sebagian besar negara-negara berkembang adalah negara-negarayang baru merdeka se telah berakhirnya Perang Dunia Kedua yangada pada kawasan benua Asia, Afrika, da n Amerika Latin. Kehadirannya ada yang lahir melalui perjuangan kemerdekaan (seperti Indonesia, Vietnam, Aljazair), ada pula yang merupakan pemberian dari negara penjajahnya seperti India, dan Malaysia. Akibat cara memperoleh kemerdekaan yang berbeda, hal ini sangat berpengaruh terhadap sosial, ekonomi, politik dan budaya serta sistem pers negara yang bersangkutan. Pers di negara-negaraberkembang pun berada dalam proses perubahan nilai-nilai lama kenilai-nilai baru yang lebih bersifat nasionalisme. Namun ironisnya setelah terbentuknya pemerintahan sendiri yangberdaulat, sebagia n negara-negara berkembang tersebut masuk kembali dalam pusaran penjajahan. Bedanya, penjajahan kali ini dilakukan oleh pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh pemimpinyang otoriter. Pa ra pemimpin otoriter ini melakukan kontrol terhadap segenap kehidupan masyarakat dan sebaliknya, berupaya membebaskan pemerintahannya dari kontrol masyarakat. Fokus Kita : Penduduk di negara-negara berkembang dengan jumlah lebih kurang 70 % dari penduduk dunia, hanya sekitar 26% yangmengkonsumsi surat kabar dari total sirkulasi surat kabar di dunia. Hal ini menunjukkan, bahwa minat baca (reading habit) penduduknegara-negara berk embang masih sangat rendah yang disebabkank k tuna k (buta huruf) ih ti i d Lembaga pers juga tidak lepas dari pengaruh dan kontrol pemerintah. Hal ini tidak dapat dihindarkan dari kenyataan bahwapers dapat menja di pembentuk opini publik. Jika kritisme pers dapatdibungkam, besar kemungkinan kendali terhadap segenap kehidupanrakyat akan tergenggam aman di tangan penguasa . b. Sistem Pers dan Karakteristiknya di Negara-negara Berkembang Sistem politik dan sistem pemerintahan di negar-negara berkembang pada umumnya masih mengikuti atau meneruskan sistem pemerintahan/sistem politik negara bekas penjajahnya denganbeberapa penye suaian, termasuk pula pada sistem persnya. Pers dinegara-negara berkembang hingg a kini, kebanyakan berada dalamproses transisi dan transformasi dari nilai-nilai lama (kolonial) ke nilainilai baru (nasional). Dengan demikian berarti mereka berada dalam proses mencari bentuk yang paling tepat, atau sedang berusaha keras untuk menemukan indentitas dirinya. Ciri-ciri khusus sistem pers pada negara-negara berkembang umumnya adalah sebagai berikut : 1) Sistem persnya cenderung mengikuti sistem pers negara bekaspenjajahnya. 2) Pers di negara berkembang sampai saat ini berada dalam bentuktransisi. Ia mas ih berusaha mencari bentuk yang tepat atau mencari identitas. Karena masih dalam taraf transisi, maka persnegara berkembang biasanya kurang stabil. 3) Negara berkembang umumnya sedang membangun. Hal ini menyebabkan pers dituntut untuk bisa berperan sebagai agent of social change di mana pers bersma-sama pemerintah mempunyaitanggung jawab atas ke berhasilan pembangunan. 4) Secara umum kebebasan pers di negara berkembang diakui keberadaannya, tetapi dalam pelaksanaannya terdapat pembatasan-pembatasan. Hal ini disebabkan oleh karena persdituntut untuk ikut me njamin atau mengusahakan stabilitas politikdan ikut serta dalam pembangunan ekon omi. Pada umumnya, sistem persnya menganut sistem tanggung jawab sosial (social responsibility ). 5) Pada umumnya, pers di negara berkembang mengalami masalahyang sama di bidang komunikasi, yaitu; ketimpangan informasi, monopoli, dan pemusatan yang berlebihan dari sumber dan jalurkomunikasi. Hal ini mengakibatkan adanya dominasi negara majuatas negara berkembang di bidang infor masi dan komunikasi. 6) sistem dan pola hubungan antara pers dan pemerintah mempunyai tendensi perpaduan antara sistem-sistem yang ada (libertarian, authoritarian, social responsibility, dan lain-lain.). C u, koran, majalah, i n hal-hal berikut : Rumuskan kembali pemahaman tentang Sistem Pers yangditerapkan di beberapa negara ( Barat, Komunis dan Berkembang) ! Berikan alasan penjelasan, mengapa sistem pers di negaranegara barat (terutama di Amerika Serikat yang berfalsafah liberalisme) ada tidak sependapat dengan kebebasan pers yangada ! Berikan alasan penjelasan, mengapa di negara-negaraKomunis pada umumnya, kebebas an pers sulit diwujudkan ! Tulisakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) karakteristik sistempers di negara-negara berkembang pada umumnya ! Berikan penjelasan, bagaimana hubungan antara keberadaan pers yang bebas dan bertanggung jawab denganhak asasi manusia dan dem okrasi ! Penugasan PraktikKewarganegaraan 2 Sifat, Fungsi dan Peranan Pers a. Sifat Pers Ideologi atau falsafah yang dianut setiap negara, akan berpengaruh terhadap sifat pers yang ada di negara tersebut. Olehsebab itu, sifa t pers antara satu negara dengan negara lainnya tidaksama. Hingga sekarang palin g tidak terdapat 6 (enam) sifat persyang penerapannya berbeda, yaitu dapat dilih at berikut ini : N o Sifat Pers (Falsafah) Keterangan/Uraian Contoh Negara 1. Liberal Democration press (PersDemokrasi liberal). Kebebasan pers dipersepsikan sebagai kebebasan yang tanpa batas. Artinya, kritik dan komentar pers dapat dilakukan kepada siapa saja, termasuk kepada kepala negara sekalipun. Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon misalnya, tumbang setelah dihujat habis-habisan pers AS, karena skandal watergate-nya . Amerika Serikat, Inggris, & negaranegaraEropa. 2. Communist Press (PersKomunis) Terbentuk karena latar belakang pemerintahan negaranya yamgmenitik beratkan pada kekuasaantunggal Partai Komunis . Dengandemikian, suara pers harus samadengan suara partai komunis yangberkuasa, dan wartawannya adalah orang-orang yang setia kepada partai komunis. Pers komunis umumnya berada di negara-negara sosialis yang menganut ideologi komunis atau marxisme. Rusia, Cina, Kuba, Korea Utara, dan lain-lain. 3. Authoritaria n Press (PersOtoriter ) Terlahir dari negara penganut politik fasis, dimana pemerintah berkuasa secara mutlak. Pers Otoriter terjadi pada saat pemerintahan Nazi Jerman (19361945) yang sangat terkenal kekejamannya. Pers dilarang melakukan kritik dan kontrol kepada pemerintah. Pers hanyauntuk kepentingan penguasa. Jerman (AdolfHitler) danItalia (Musolini) 4. Freedom and Responsibility Perss(Pers Istilah ini semula merupakan slogan dari negara-negara barat, yang menginginkan kebebasan pers harus dipertanggungjawabkankepada kehidupan bermasyarakat. Bebas dan Bertanggung-jawab) Akan tetapi karena negara-negaratersebut masing-masing mempunyai pandangan berbeda terhadap pengertian bebas, makakebebasan pers disetiap negaramenjadi berbeda pul a, tergantungpada bobot yang dianut oleh masimg-masimh negara. 5. Development Press (PersPembangunan) Dimunculkan oleh para jurnalis dari negara-negara yang sedang berkembang (development country) dengan alasan karena sedang giat-giatnya melakukan pembangunan. Namun masingmasing negara tersebut memiliki arah dan tujuan pembangunanyang berbeda. Untuk menyamakanpandangan terhadap pers pembangunan, Wilbur Schramm memberi-kan batasan sebagai berikut : a. Pers harus dapat menciptakaniklim pem-bangunan di negaranya. b. Pers harus mampu mengarahkan perha-tian masyarakat dari kebiasaan lama menjadi perilaku yang lebih maju lagi. c. Pers harus mampu memperluaspanda-ngan (cakrawala) bagi masyarakatnya. d. Pers harus dapat meningkatkanaspirasi dan mendorong masyarakat berpola pikir kearah kehidupan yang lebih baik lagi. e. Pers harus bisa memperlebar tukar piki-ran (diskusi) dan kebijakan (policy). f. Pers harus mampumenetapkan norma sosial. g. Pers harus mampu membantusecara substansial dari semua jenis kehidupanbermasyarakat, berbangsa danbernegara. Indonesia, dan negaranegaraAsia, Afrika dan Amerika Latin. 6. Five Dilahirkan oleh bangsa Indonesia Indonesia Foundation karena falsafah negaranya adalahPress (PersPancasila) Pancasila. Sampai sekarang belumditemukan definsi yang tepat. Beberapa tokoh pers, memberi ancar-ancar sifat pers Pancasila ituadalah pers yang melihat segala sesuatu secara proposional. Pers Pancasila mencari keseimbangandalam berita atau tulisannya demikepentingan dan k emaslahatan semua pihak sesuai dengankonsensus demokrasi Pancasila. b. Misi dan Fungsi Pers Pers sesungguhnya lebih dikenal sebagai Lembaga Kemasyarakatan (social institution). Sebagai lembaga sosial, pers mempengaruhi pola pikir dan kehidupan masyarakat, tetapisebaliknya masyarakat ju ga berpengaruh terhadap pers. Pers dapatmempengaruhi masyarakat karena ia sebaga i komunikator massa. Pers berusaha menyampaikan informasi dengan sesuatu yang baru, karena masyarakat sebagai konsumen pers, sangat selektif dalam memilih informasi. Pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang pengumpulan dan penyebaran informasi mempunyai misi sebagai berikut : 1) Ikut mencerdaskan masyarakat, 2) Menegakkan keadilan, 3) Memberantas kebatilan. Fokus Kita : Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pada Pasal 3 antara lain disebutkan pers nasional berfungsi sebagaimedia informa si, pendidikan, hiburan, kontrol sosial dan dapat jugasebagai lembaga ekonomi Dalam tulisan Kusman Hidayat yang berjudul Jurnalistik/Pers Dasar-dasar menyatakan bahwa Pers mempunyai 4 (empat) fungsi sebagai berikut : 1) Fungsi Pendidik, yaitu melalui karya-karya tercetaknya dengan segala isi, baik langsung ataupun tidak langsung dengan sifat keterbukaannya, membantu masyarakat meningkatkan budayanya. Segala peristiwa yang dimuat pers, masyarakat bisa menilai sendiri hal ihwal sebagai teladan bagi kehidupannya. Melalui rubrik-rubrik khusus, seperti ruang kebudayaan atau ruangilmu pengetahua n, dapat menambah pengetahuan masyarakat. 2) Fungsi Penghubung, dengan ciri universalitasnya, pers merupakan sarana lalu-lintas hubungan antar manusia. Melalui pers akan tumbuh saling pengertian atau dapat digunakan olehlembaga-lembaga kema syarakatan untuk menumbuhkan kontak antar manusia agar tercipta saling pengertian dan saling tukarpandangan bagi per kembangan dan kemajuan hidup manusia. 3) Fungsi Pembentuk Pendapat Umum; melalui rubrik-rubrik dan kolom-kolom tertentu seperti tajuk rencana, pikiran pembaca, pojok, dan lain-lain, merupakan suatu ruang untuk memberikanpandangan atau pikir an kepada khalayak pembaca. 4) Fungsi Kontrol, dengan fungsi ini pers berusaha melakukan bimbingan dan pengawasan kepada masyarakat tentang tingkahlaku yang benar atau t ingkah laku yang tidak dikehendaki olehkhalayak. Bonus Info Kewarganegaraan Menurut Mochtar Lubis, di negara-negara berkembang persmempunyai 5 (lima) fungsi , yaitu : a. Fungsi pemersatu, yakni memperlemah tendensi perpecahan, baik perpecahan sosial maupun kultural. b. Fungsi pendidik, artinya memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, do sampingmenunjukkan betapa kemaju an IPTEK itu dapat dimanfaatkanuntuk mencapai kesejahteraan material dan spiritu al. c. atau penjaga kepentingan Fungsi public watch dog umum. Dalam hal ini pers harus melawan setiap penyalahgunaan kekuasaan dana korupsi, menentang setiapkebijakan yang bertentang an dengan kepentingan rakyat, sertamenyuarakan kepentingan kelompok kecil rakyat yang tidak dapat menyuarakan kehendaknya. d. Fungsi mengapuskan mitos dan mistik dari kehidupan politik negara-negara berkembang. e. Fungsi sebagi forum untuk membicarakan masalah-masalah politik yang dihadapi oleh negar-negara Asia, dan menumbuhkan dialog agar timbul pemecahan masalah yangdihadapi bersama. c. Peranan Pers Di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, disebutkan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut : 1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. 2) Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnyasupremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan. 3) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar. 4) Melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-halyang berkaita n dengan kepentingan umum. 5) Memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Fokus Kita : Pers dalam menjalankan fungsi, tugas dan peranannya menghadapi banyak tantangan dan masalahnya sendiri. Pers ditantang untuk bekerja lebih profesional sesuai kode etik jurnalistik, dan dilain pihak pers menghadapi masalah bagaimana Sedangkan menurut Jacob Utama, dalam konteks masyarakatIndonesia pers mempunyai peranan khusus sebagai berikut : 1) Tugas untuk memperkuat dan mengkreatifkan konsensuskonsensus dasar nasional. Ini penting karena umumnya negara sedang berkembang adalah bangsa yang masih membutuhkan konsensus dasar bagi perekat integrasi nasional. Itulah infrastruktur kejiwaaan bagi pembangunan bangsa. 2) Pers perlu mengenali masalah-masalah sosial yang peka dalam masyarakatnya. Bukan untuk didiamkan, tetapi juga bukan sertamerta diberitakan b egitu saja. Perlu diusahakan pemecahannya bersama pemerintah dan masyarakat secara bijaksana dengan tetap berorientasi maju. 3) Pers perlu menggerakkan prakarsa masyarakat, memperkenalkanusaha-usahanya sen diri, menemukan potensi-potensinya yang kreatif dalam usaha memperbaiki peri kehidupannya. 4) Pers menyebarluaskan dan memperkuat rasa mampu masyarakatuntuk mengubah nasib nya sendiri. porkan bukan untuk tapi untuk koreksi u. Penugasan PraktikKewarganegaraanSetelah mempelajari materi-materi tentang : Sifa t, Fungsi dan Peranan Pers, lakukan Strategi Pembelajaran dengan Penugasan Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) atau Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis. Langkah-langkah : Bentuk kelompok dengan anggotanya antara 4 5 orang. Diberikan wacana atau kliping sesuai dengan topik pembelejaran. Setiap kelompok bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok serta memberi tanggapan terhadap wacana/kliping, dan ditulis pada lembar kertas. Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok. Buatlah kesimpulan bersama. P utup 3 6. Perkembangan Pers di Indonesia a. Pers Jaman Penjajahan Belanda Pemerintah penjajah Belanda sejak menguasai Indonesia, mengetahui dengan benar pengaruh surat kabar terhadap masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu dipandang perlu membuat undang-undang khusus untuk membendung pengaruh pers Indonesia, karena merupakan momok yang harus diperangi. Saruhum dalam tulisannya yang berjudul Perjuangan Surat Kabar Indonesia yang dimuat dalam sekilas Perjuangan Surat Kabar , menyatakan: Maka untuk membatasi pengaruh momok ini, pemerintah Hindia Belanda memandang tidak cukup mengancamnya saja denagn Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Setelah ternyata dengan KUHP itu saja tidak mempan, maka diadakanlah pula artikelartikel tambahan seperti artikel 153 bis dan ter. 161 bis dan ter. dan artikel 154 KUHP. Hal itu pun belum dianggap cukup, sehingga diadakan pula Persbreidel Ordonantie, yang memberikan hak kepada pemerintah penjajah Belanda untuk menghentikan penerbitan surat kabar /majalah Indonesia yang dianggap berbahaya . Tindakan lain, di samping Persbeidel Ordonantie adalah Haatzai Artikelen, karena pasal-pasalnya mengancam hukuman terhadapsiapapun yang menyeba rkan perasaan permusuhan, kebencian sertapenghinaan terhadap pemerintah Nederlan d dan Hindia Belanda (Pasal 154 dan 155) dan terhadap sesuatu atau sejumlah kelompokpenduduk di Hindi a Belanda (Pasal 156 dan 157). Akibatnya, banyakkorban berjatuhan, antara lain S .K. Trimurti, sampai melahirkan di penjara, bahkan ada yang sampai di buang ke Boven Digul. Demikian juga jaman pendudukan Jepang yang totaliter dan facistis, orang-orang surat kabar (pers) Indonesia banyak yang berjuang tidak dengan ketajaman penanya (tulisan), melainkan menempuh cara dan jalan lain (misalnya melalui organisasi keagamaan, pendidikan, politik, dan sebagainya). Hal ini menggambarkan bahwa kehidupan pers ketika itu sangat tertekan. Bonus Info Kewarganegaraan Surat kabar sebagai senjata untuk menyebarkan cita-cita sudahdikenal di dalam se jarah dunia. Julius Caesar sebagai pendiri kemaharajaan Romawi pada abad sebelum masehi, sudah mengetahui betapa pentingnya surat kabar sebagai senjata yangtajam, sehingga ia menganjurkan untuk menerbitkan surat kabar Acta Diurna . Napoleon Bonaparte pun menerbitkan surat kabar untuk mempertahankan pendiriannya dan menyerang musuh-musuhnya. Pers tertua berbahasa Melayu Indonesia antara lain : Bromartani (Solo, 1855), Djurumartini (1864), Darmo Kondo (1903) yang menjadi harian tahun 1910, juga harian Pewarta Deli (1912) di Medan. b. Pers di Masa Pergerakan Masa pergerakan adalah masa bangsa Indonesia berada padadetik-detik terakhir pen jajahan Belanda sampai saat masuknya Jepangmenggantikan Belanda. Pers pada masa pergerakan tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan nasional bangsa Indonesia melawan penjajahan. Setelah munculnya pergerakan modern Budi Utomo tanggal 20Mei 1908, surat kabar y ang dikeluarkan orang Indonesia lebih banyakberfungsi sebagai alat perjuangan. P ers saat itu merupakan terompet dari organisasi pergerakan orang Indonesia. Surat k abarnasional menjadi semacam parlemen orang Indonesia yang terjajah. Pers menyuarakan kepedihan, penderitaan dan merupakan refleksidari isi hati bang sa terjajah. Pers menjadi pendorong bangsa Indonesia dalam perjuangan memperbaiki nasib dan kedudukan bangsa. Beberapa contoh harian yang terbit pada masa pergerakan, antara lain sebagai berikut: 1) Harian Sedio Tomo sebagai kelanjutan harian Budi Utomo yang terbit di Yogyakarta didirikan bulan Juni 1920. 2) Harian Darmo Kondo 3) Harian Utusan Hindia HOS. Cokroaminoto. 4) Harian Fadjar Asia Salim. 5) Majalah mingguan oleh Ir. Soekarno. 6) Majalah berkala Sutan Syahrir. terbit di Solo, yang dipimpin oleh SudaryaCokrosisworo. terbit di Surabaya, yang dipimpin oleh terbit di Jakarta, dipimpin oleh Haji Agus Pikiran Rakyat terbit di Bandung, didirikan Daulah Rakyat , dipimpin oleh Moch. Hatta dan Karena sifat dan isi pers pergerakan anti penjajahan, persmendapat tekanan dari pemerintah Hindia Belanda. Salah satu carapemerintah Hindia Belanda saat itu ada lah dengan memberikan hakkepada pemerintah untuk memberantas dan menutup usaha penerbitan pers pergerakan. Pada masa pergerakan itu berdirilah Kantor Berita Nasional Antara pada tanggal 13 Desember 1937. c. Pers di Masa Penjajahan Jepang Jepang menduduki Indonesia selama kurang lebih 3,5 tahun. Untukmeraih simpati ra kyat Indonesia, Jepang melakukan propaganda tentang Asia Timur Raya. Namun, propaganda itu hanyalah demi kejayaan Jepang belaka. Sebagai konsekuensinya, seluruh sumber daya Indonesia diarahkan untuk kepentingan Jepang. Fokus Kita : Pada masa penjajahan Jepang, boleh dikatakan pers nasionalmengalami kemunduran b esar. Pers nasional yang pernah hidup dijaman pergerakan secara sendiri-sendiri dipaksa bergabung untuktujuan yang sama, yaitu mendukung kepentingan Jepang Pers di masa pendudukan Jepang semata-mata menjadi alat pemerintah Jepang dan bersifat pro Jepang. Beberapa harian yang muncul pada masa itu, antara lain: 1) Asia Raya di Jakarta2) Sinar Baru di Semarang3) Suara Asia di Surabaya4) Tjah aya di Bandung Pers nasional masa pendudukan Jepang memang mengalamipenderitaan dan pengekangan kebebasan yang lebih daripada jamanBelanda. Namun, ada beberapa keuntungan yang didapat oleh parawartawan atau insan pers di Indonesia yang bekerja pada penerb itanJepang, antara lain sebagai berikut: 1) Pengalaman yang diperoleh para karyawan pers Indonesia bertambah. Fasilitas dan alat-alat yang digunakan jauh lebih banyak daripada masa pers jaman Belanda. Para karyawan pers mendapat pengalaman banyak dalam menggunakan berbagai fasilitas tersebut. 2) Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pemberitaan makin seringdan luas. Penjajah Jepang berusaha menghapuskan bahasa Belanda dengan kebijakan menggunakan bahasa Indonesia dalamberbagai kesempatan. Kondisi ini sangat membantu perkembangan bahasa Indonesia yang nantinya juga menjadi bahasa nasional. 3) Adanya pengajaran untuk rakyat agar berpikir kritis terhadapberita yang disaj ikan oleh sumber-sumber resmi Jepang. Selain itu, kekejaman dan penderitaan yang dialami pada masa pendudukanJepang memudahkan par a pemimpin bangsa memberikan semangat untuk melawan penjajahan. d. Pers di Masa Revolusi Fisik Periode revolusi fisik terjadi antara tahun 1945 sampai 1949. Masa itu adalah masa bangsa Indonesia berjuang mempertahankankemerdekaan yang berhasi l diraihnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Belanda ingin kembali menduduki Indonesia, sehingga terjadilahperang mempertahan kan kemerdekaan. Pada saat itu, pers terbagimenjadi dua golongan, yaitu : 1) Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh tentara pendudukanSekutu dan Belanda y ang selanjutnya dinamakan Pers Nica (Belanda). 2) Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh orang Indonesia yangdisebut Pers Repub lik. Kedua golongan ini sangat berlawanan. Pers Republik disuarakanoleh kaum Republik , yang berisi semangat mempertahankan kemerdekaan dan menentang usaha pendudukan Sekutu. Pers ini benar-benar menjadi alat perjuangan masa itu. Sebaliknya, Pers Nicaberusaha memp engaruhi rakyat Indonesia agar menerima kembali Belanda untuk berkuasa di Indonesia. Beberapa contoh Koran Republik yang muncul pada masa itu, antara lain harian Merdeka , Sumber , Pemandangan , Kedaulatan Rakyat , Nasional dan Pedoman . Jawatan Penerangan Belanda menerbitkan Pers Nica, antara lain Warta Indonesia di Jakarta, Persatuan di Bandung, Suluh Rakyat diSemarang, Pelita Rakyat urabaya dan Mustika di Medan. Padamasa revolusi fisik inilah, Persatuan Wartawan I ndonesia (PWI) danSerikat Pengusaha Surat Kabar (SPS) lahir . Kedua organisasi inim empunyai kedudukan penting dalam sejarah pers Indonesia. Pemerintah republik Indonesia untuk pertama kali mengeluarkan peraturan yang membatasi kemerdekaan pers terjadi pada tahun 1948. Menurut Smith, dalam kegembiraan kemerdekaan ini, pers dan pemerintah bekerja bergandengan tangan erat sekali dalam seratus hari pertama masa merdeka itu . Fokus Kita : Pejabat pemerintah pada awalnya menyuarakan perasaan yangtepat bahwa kebebasan p ers merupakan sesuatu yang mutlak bagikebebasan jiwa manusia, keharusan bagi mar tabat manusia, danmenjdi dasar bagi proses demokrasi. Namun belakangan akibat kritikan pers yang pedas, timbul pemaksaan agar pers tunduk di di Pemerintah memperlihatkan itikad baik terhadap pers dan berusaha membantunya dengan mengimpor dan mensubsidi kertaskoran dan dengan memb erikan pinjaman keuangan. Pada awalnya semua berjalan lancar, namun saat pers mulai bertindak dengan menyerang pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat sampai padapresiden sendiri, nam paknya pemerintah yang baru ketika itu belumdapat menerima kritikan yang pedas. Sesuai dengan fungsi, naluri dan tradisinya, pers harus menjadipenjaga kepenting an publik (public watch dog). Pers telah menyampaikan saran-saran yang amat diperlukan oleh pemerintah. Kritik-kritik pers yang pedas dan menjengkelkan, menjadi beban pemerintah yang terlampau berat, sehingga pemerintah mulai memukul balik kepada pers. Konflik keduanya berkembang menjadi pertentangan permanen dan pers dipaksa tunduk di bawah kekuasaan pemerintah. Untuk menangani masalah-masalah pers, pemerintah membentukDewan Pers pada tangga l 17 Maret 1950. Dewan Pers tersebut terdiri dari orang-orang persuratkabaran, cendikiawan, dan pejabatpejabat pemerintah, dengan tugas: 1) Penggantian undang-undang pers kolonial, 2) Pemberian dasar sosial ekonomis yang lebih kuat kepada pers Indonesia (artinya, fasilitas-fasilitas kredit dan mungkin juga bantuan pemerintah), 3) Peningkatan mutu jurnalisme Indonesia, 4) Pengaturan yang memadai tentang kedudukan sosial dan hukum bagi wartawan Indonesia (artinya, tingkat hidup dan tingkat gaji, perlindungan hukum, etik jurnalistik dan lain-lain). Namun akibat kekuasaan pemerintah yang tidak terlawan, menyebabkan organisasi-organisasi pers tidak berkutik. Tidak tampakbukti bahwa l embaga-lembaga ini berhasil membelokkan jalannya kegiatan-kegiatan anti pers, secara berarti. Bonus Info Kewarganegaraan Edward C. Smith dalam bukunya Pembredelan Pers Indonesia mengutip Ruslan Abdulgani ketika berbicara tentangkrisis keadaan Republ ik Indonesia sedang bertempur pada tahun1948, ia mengusulkan : Dalam masa belum tercapainya kesatuan ini -yang mencapai puncaknya pada peristiwa Madiun (pemberontakan Komunis) -Republik Indonesia mengeluarkan peraturannya yangpertama yang membatasi kemerdekaan pers. Yang terkenal ialahpembatasan yang dikenakan terhadap surat-surat kabar yang ad a hubungannya dengan FDR (Front Demokrasi Rakyat) (Komunis), seperti Harian Patriot, Buruh dan Suara Ibu Kota. Sebaliknya, FDR ketika terjadi perebutan kekuasaan di Madiun, mengenakan pembatasan terhadap surat kabar Api Rakyat untuk memungkinkan Front Nasional dapat didengar masyarakat. Pembatasan yang mencerminkan sikap tidak toleran di kalangan kelompok militer yang baru, dan ketidaksenangan mereka terhadap kecaman pers nasional , ialah pelarangan selama beberapa minggu surat kabar Suara Rakyat Kediri, mengakibatkan tutupnya surat kabar ini . e. Pers di Era Demokrasi Liberal (1949-1959) Di era demokrasi liberal, landasan kemerdekaan pers adalah Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS 1949) dan Undang-UndangDasar Sementar a (1950). Dalam Konstitusi RIS --yang isinya banyak mengambil dari Piagam Pernyataan Hak Asasi Manusia sedunia Universal Declaration of Human Rights, --pada pasal 19 menyebutkan Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat . Isi pasal ini kemduain dicantumkan kembali dalam Undang-Undang Dasar Sementara (1950). Fokus Kita : Pers di Zaman Liberal (1950-1959) sesuai dengan struktur politikyang berlaku pad a waktu itu, lebih banyak menimbulkan akibatakibat negatif daripada positif. Selama periode tahun 1952-1959 menurut catatan Edward C. Smith, terjadi tindakan anti pers sebanyak 374 kali, dan yang terbanyak selama tahun 1957, yaitu Awal pembatasan terhadap kebebasan pers adalah efek sampingdari keluhan para war tawan terhadap pers Belanda dan Cina. Pemerintah mulai mencari cara membatasi penerbitan itu, karena negara tidak akan membiarkan ideologi asing merongrong Undangundang Dasar. Pada akhirnya pemerintah melakukan pembredelan pers, dengan tindakan-tindakannya yang tidak terbatas pada pers asing saja. Pertanda akan terjadinya pembatasan terhadap kebebasan pers, terbaca dalam artikel Sekretaris Jenderal Kementrian Penerangan, Ruslan Abdulgani, yang antara lain : ...khusus di bidang pers beberapa pembatasan perlu dikenakan atas kegiatan-kegiatan kewartawanan orang-orang asing... . Pernyataan di atas ditindak lanjuti dengan pengesahan Undang-Undang yang mengharuskan parapenerbit Belanda m embayar tiga kali lipat untuk kertas koran ketimbang pers Indonesia. f. Pers di Zaman Orde Lama atau Pers Terpimpin (1956-1966) Lebih kurang 10 hari setelah Dekrit Presiden R.I. yang menyatakankembali ke UUD 1945, tindakan tekanan terhadap pers terus berlangsung, yaitu pembredelan terhadap Kantor berita PIA dan Surat Kabar Republik, Pedoman, Berita Indonesia, dan Sin Po yang dilakukan oleh Penguasa Perang Jakarta. Fokus Kita : Di zaman orde lama atau Demokrasi Terpimpin atau era Pers Terpimpin, pers lebih banyak merupakan alat penguasa daripadaalat penyambung lid ah rakyat. Upaya untuk membatasi kebebasan pers itu tercermin dari pidatoMenteri Muda Pener angan Maladi, ketika menyambut HUT Proklamasi Kemerdekaan R.I ke-14, antara lain ia menyatakan; ...Hak kebebasan individu disesuaikan dengan hak kolektif seluruh bangsa dalam melaksanakan kedaulatan rakyat. Hak berfikir, menyatakan pendapat, dan memperoleh penghasilan sebagaimana yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945 harus ada batasnya: keamanan negara, kepentingan bangsa, moral dan kepribadian Indonesia, serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa . Pada awal 1960, penekanan kepada kebebasan pers diawali dengan peringatan Menteri Muda Penerangan Maladi bahwa langkah-langkah tegas akan dilakukan terhadap surat kabar, majalah-majalah, dan kantor-kantor berita yang tidak mentaati peraturan yang diperlukan dalam usaha menerbitkan pers nasional . Masih pada tahun 1960, penguasa perang mulai mengenakan sanksisanksi perizinan terhadap pers. Demi kepentingan pemeliharaanketertiban umum dan ketena ngan, penguasa perang mencabut izinterbit Harian Republik. Memasuki tahun 1964 kondisi kebebasan pers semakin memburuk, hal ini digambarkan oleh E.C. Smith dengan mengutip dari Army Handbook bahwa Kementerian Penerangan dan badanbadannya mengontrol semua kegiatan pers. Perubahan yang ada hampir-hampir tidak lebih dari sekedar perubahan sumber wewenangkarena sensor te tap ketat dan dilakukan secara sepihak. Berdasarkan uraian di atas, tindakan-tindakan penekananterhadap kemerdekaan pers oleh penguasa Orde Lama, bertambahbersamaan dengan meningkatnya ketegangan dala m pemerintahan. Tindakan-tindakan penekanan terhadap kebebasan pers merosot, ketika ketegangan dalam pemerintahan menurun. Lebih-lebih setelahpercetakan-perc atakan diambil alih oleh pemerintah dan parawartawan diwajibkan untuk berjanji m endukung politik pemerintah, sangat sedikit pemerintah melakukan tindakan penekanan kepada pers. Bonus Info Kewarganegaraan Tindakan pembatasan terhadap kemerdekaan pers selama tahun 1959 sama arahnya dengan tahun-tahun sebelumnya, dengan jumlah tindakan sebanyak 73 kali. Selama 1960 terjadi tigakali pencabutan izin terbit, sedangkan pada tahun 1961 mencapai13 kali. Rincian tindakan peneka nan atau tindakan anti persselama 14 tahun sejak Mei 1952 sampai dengan Desember 1965, menurut catatan Edward C. Smith mencapai 561 tindakan. Pemerintah menekankan bahwa fungsi utama pers ialah menyokong tujuan revolusi dan semua surat kabar menjadi jurubicara resmi pemerin tah. Hal ini diungkapkan Smith berdasarkan pandangan Presiden Soekarno ketika berpidato di muka rapatumum HUT ke-19 PWI, ya ng dimuat oleh New York Times, antara lain ...Saya dengan tegas menyatakan sekarang bahwa dalam suatu revolusi tidak boleh ada kebebasan pers. Hanya pers yang mendukung revolusi yang dibolehkan hidup , katanya. Pers yang bermusuhan terhadap revolusi harus disingkarkan . g. Pers di Era Demokrasi Pancasila dan Orde Baru Di awal pemerintahan Orde Baru, menyatakan bahwa akan membuang jauh-jauh praktek demokrasi terpimpin dan menggantinyadengan Demokrasi Pancasila. Pernyataan tersebut tentu sajamembuat para tokoh politik, kaum intele ktual, tokoh umum, tokoh pers terkemuka dan lain-lain menyambutmya dengan antusias sehingga lahirlah istilah Pers Pancasila. Pemerintahan Orde Baru sangat menekankan pentingnya pemahaman tentang Pers Pancasila. Menurut rumusan Sidang Pleno XXV Dewan Pers, (Desember 1984) bahwa Pers Pancasila adalah pers Indonesia dalam arti pers yang orientasi, sikap dan tingkah lakunya berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hakekat Pers Pancasila adalah pers yang sehat, yakni pers yang bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstrukrif Fokus Kita : Memasuki era Orde Baru, pers menyambutnya dengan penuh sukacita, karena pemerint ah memberi kebebasan penuh kepada perssetelah mengalami masa traumatik selama tu juh tahun di zamanOrde Lama. Apalagi apabila pemberitaan menyoroti kebobrokan Masa bulan madu antara pers dan pemerintah ketika itu dipermanis dengan keluarnya Undang-undang Pokok Pers (UUPP) Nomor 11 Tahun 1966, yang dijamin tidak ada sensor dan pembredelan, serta penegasan bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menerbitkan pers yang bersifat kolektif, dantidak diperlukan surat izin terbit. Kemesraan tersebut ternyata hanyaberlangsung kurang lebih de lapan tahun, karena sejak terjadinya Peristiwa Malari (peristiwa limabelas Januari 1974), kebebasan persmengalami set-back (kembali seperti jaman Orde Lama). Terjadinya Peristiwa Malari tahun 1974, berakibat beberapasurat kabar dilarang t erbit Tujuh surat kabar terkemuka di Jakarta(termasuk Kompas ) diberangus untuk beberapa waktu dan baru diijinkan terbit kembali, setelah para pemimpin redaksinya menandatangani surat pernyataan maaf. Penguasa lebih menggiatkan larangan-larangan melalui telepon supaya pers tidak menyiarkan suatu berita, ataupun para wartawan lebih diperingatkanuntuk mentaati kode etik jurnalistik sebagai selfcensorship .(saya memperhitungkan ). Demikian juga pengawasan terhadap kegiatanpers dan wartawan d iperketat. (menjelang ) Sidang MPR-1978. Pers pasca Malari merupakan pers yang cenderung mewakili kepentingan penguasa, pemerintah atau negara. Pada saat itu persjarang, malah ti dak pernah melakukan kontrol sosial secara krisis, tegas dan berani. Pers pasca Malari tidak artikulatif dan mirip denganjaman rezi m Demokrasi Terpimpin. Perbedaan hanya pada kemasanyakni rezim Orde Baru melihat pers tidak lebih dari sekedar institusipolitik yang harus diatur dan dikontrol seperti halnya dengan organisasi massa dan Partai Politik. Bonus Info Kewarganegaraan Prof. Oemar Seno Adji, SH dalam bukunya Mass Media dan Hukum menggambarkan kebebasan pers di alam demokrasi Pancasila, dengan karakteristik sbb: 1. Kemerdekaan pers harus diartikan sebagai kemerdekaan untukmempunyai dan menyatak an pendapat dan bukan sebagai kemerdekaan untuk memperoleh alat-alat dari expression tadi, seperti dikatakan oleh negara-negara sosialis. 2. Tidak mengandung lembaga sensor preventif. 3. Kebebasan ini bukanlah tidak terbatas, tidak mutlak dan bukanlah tidak bersyarat sifatnya. 4. Ia merupakan suatu kebebasan dalam lingkungan batas-batas tertentu, dan syarat-syarat limitatif dandemokratis, sepe rti diakui oleh hukum internasional dan ilmuhukum. 5. Kemerdekaan pers ini dibimbing oleh rasa tanggung jawab, dan membawa kewajiban-kewajiban yang untuk pers sendiri disalurkan melalui beroepsthiek mereka. 6. Ia merupakan kemerdekaan yang disesuaikandengan tugas pers sebagai kritik adalah negatif karakternya, melainkan pula ia positif sifatnya, apabila ia menyampaikan wettige-initiativen dari pemerintah. 7. Aspek positif di atas tidak mengandung dan tidak membenarkan suatu konklusi, bahwa posisinya adalah subordinated terhadap penguasa politik. 8. Adalah suatu kenyataan, bahwa aspek positifini jarang ditemukan oleh kaum Libert arian sebagai suatu unsuressentiel dalam persoalan mass-communication . 9. Pernyataan, bahwa pers itu tidak subordinated kepada penguasa politik berarti, bahwa konsep authoritarian tidak acceptable bagi Pers Indonesia. 10. Konsentrasi perusahaan-perusahaan pers, bentukan dari chains yang bisa merupakan ekspresi dari kapitalisme yang ongebreideld , merupakan suatu hambatan yang daadwerkelijk dan ekonomis terhadap pelaksanaanidee kemerdekaan pers. Pemuli han suatu bentuk perusahaan, entah dalam bentuk co-partnership atau co-operative entah dalam bentuk lain, yang tidak memungkinkan timbulnyakonsentrasi dari perusahaan pers dalam satu atau beberapatangan saja, adalah perlu. 11. Kebebasan pers dalam lingkungan batas limitatif dan demokratis , dengan menolak tindakan preventifadalah lazim dalam N egara Demokrasi dan karen aitu tidak bertentangan dengan idee pers merdeka. 12. Konsentrasi perusahaan-perusahaan yang membahayakan performance dari pers excessife, kebebasan pers yangdirasakan berkelebih-lebihan dan seolah-olah memberikan hak kepada pers untuk misalnya berbohong (the right to lie ), mengotorkan nama orang (the right to vilify ), the right ti invade privacy, the right to distort dan lain-lain, dapat dihadapi dengan rasa tanggung jawab dari pers sendiri. Ia harus memberikan ilustrasi tentang suatu pers yang bebas, akan tetapi bertanggung jawab (a free and responsible ). Kebebasan Pers di Era Reformasi Sejak masa reformasi tahun 1998, pers nasional kembali menikmati kebebasan pers. Hal demikian sejalan dengan alam reformasi, keterbukaan dan demokrasi yang diperjuangkan rakyat Indonesia. Pemerintahan pada masa reformasi sangatmempermudah izin penerbitan pe rs. Akibatnya, pada awal reformasibanyak sekali penerbitan pers atau koran-koran , majalah atau tabloidbaru bermunculan. Bisa dikatakan pada awal reformasi kemun culanpers ibarat jamur di musim hujan. Kalangan pers mulai bernafas lega ketika di era reformasi pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kendati belum sepenuhnya memenuhi keinginankalangan pers, kel ahiran undang-undang pers tersebut disambut gembira, karena tercatat beberapa kemajuan penting dibandingdengan undang-undang sebelumnya, yaitu Undang-Undang Nomor 21Tahun 1982 tentang Pokok-Pokok Pers (UU PP). Fokus Kita : Pada tanggal 21 Mei 1998 Orde Baru tumbang dan mulailah EraReformasi. Tuntutan r eformasi bergema di semua sektor kehidupan, termasuk sektor kehiduan pers. Selama rezim Orde Lama dan ditambah dengan 32 tahun di bawah rezim Orde Baru, Pers Indonesia tidak berdaya, karena senantiasa di bawah bayangDi dalam Undang-undang Pers yang baru ini, dengan tegas menjamin adanya kemerdekaan pers, sebagai hak asasi warga negara (Pasal 4). Itulah sebabnya mengapa tidak lagi di singgungperlu tidaknya s urat izin terbit. Di samping itu ada jaminan lain yangdiberikan oleh undang unda ng ini, yaitu terhadap pers nasional tidakdi kenakan penyensoran, pembredelan da n pelarangan penyiaran sebagaima tercantum dalam Pasal 4 ayat (2). Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai hak tolak. Tujuan hak tolak adalah agarwartawan dapat melindu ngi sumber informasi, dengan cara menolakmenyebutkan identitas sumber informasi. Hak tersebut dapatdigunakan jika wartawan dimintai keterangan oleh penjabat pen yidikdan atau dimintai menjadi saksi di pengadilan. Hak tolak dapat dibatalkan demi kepentingan dan keselamatan negara atau ketertiban umum yang dinyatakan oleh pengadilan. Pada masa reformasi ini dengan keluarnya Undang-Undangtentang pers, yaitu Undang -Undang No. 40 Tahun 1999 tentang pers, maka pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut : 1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkaninformasi 2) Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan 3) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar 4) Melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-halyang berkaitan d engan kepentingan umum 5) Memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Bonus Info Kewarganegaraan Dengan lahirnya Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999, makatamatlah riwayat Peratura n Menteri Penerangan Nomor 01 Tahun1998 yang masih mewajibkan kepada para penerb it untuk memilikiSurat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Perusahaan pers tidak perlu lagi mendaftarkan diri ke Departemen Penerangan untuk memperoleh SIUPP sebagai mana diatur dalam undang-undang Pokok Pers Nomor 21 Tahun 1982. Jadi, jika di era Orde Lama dan Orde Baru, pers sepenuhnyabertanggung jawab kepa da pemerintah, sehingga pers terpaksasepenuhnya tunduk pada kemauan pemerintah, sedangkan pers diera Reformasi pertanggungjawaban adalah kepada profesi dan hati nurani sebagai insan pes. Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, dan pers bebas dari tindakan pencegahan, pelarangan, dan ataupenekanan agar hak masyarakat untuk memperoleh informasiterjamin. Kemerdekaan pers adalah kemerdeka an yang di sertaikesadaran pentingnya penegakkan supremasi hukum yangdilaksanaka n oleh pengadilan, dan tanggung jawab profesi yangdijabarkan dalam Kode Etik Jur nalistik seta sesuai dengan hati nurani insan pers. Car an, majalah, Penugasan PraktikKewarganegaraan 4Carilah sumber informasi lain baik dari buku, koran, majalah, internet, buletin dan sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut : Rumuskan kembali pemahaman anda tentang perkembangan kehidupan pers di Indonesia semenjak pra kemerdekaan hingga sekarang ini ! Berikan penjelasan bagaimana peranan pers Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang ! Berikan penjelasan kembali tentang peranan pers di masarevolusi yang dikatakan s ebagai penjaga kepentingan publik ! Berikan sekurang-kurangnya 2 (dua) indikator yangmendasar antara peranan pers pa da masa orde lama dan orde baru ! Identifikasikan kembali dalam bentuk apa sajakah perubahan pers di Indonesia paska rezim orde baru atau era reformasi dewasa ! PERS YANG BEBAS DAN BERTANGGUNG JAWAB SESUAI KODE ETIK JURNALISTIK DALAM MASYARAKAT DEMOKRATIS DI INDONESIA 1. Landasan Hukum Pers Indonesia . Pasal 28 UUD 1945 Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undangundang . . Pasal 28 F UUD 1945 Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia . . Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi ManusiaLebih rincinya lagi terdapat pada Piagam Hak Asasi Manusia, Bab VI, Pasal 20 dan 21 yang berbunyi sebagai berikut: (20) Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya . (21) Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia . d. Undang-Undang No. 39 Tahun 2000 Pasal 14 Ayat 1 dan 2 tentangHak Asasi Manusi a (1) Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya . (2) Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia . . Undang-undang No. 40 Tahun 1999 dalam Pasal 2 dan Pasal 4 ayat 1 tentang persPasal 2 berbunyi, Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum . Pasal 4 Ayat 1 berbunyi, Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara . Fokus Kita : Lahirnya Undang-Undang Pers yang baru (Nomor 40 Tahun 1999) atas pertimbangan bahwa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966tentang Ketentuan-keten tuan pokok pers sebagaimana telah diubahlagi dengan Undang-undang No. 4 Tahun 19 67 dan diubah lagi dengan Undang-undang No. 21 Tahun 1982, yang dianggap sudah tid k i l i d n tuntuta k b Peraturan tentang pers yang berlaku sekarang ini (Undang-UndangNomor 40 Tahun 19 99 telah diundangkan pada tanggal 23 September1999 yang dimuat dalam Lembaran Ne gara Republik Indonesia Tahun1999 Nomor 166), memuat berbagai perubahan yang men dasar atasUndang-Undang pers sebelumnya. Hal ini dimaksudkan agar persberfungsi maksimal sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 28 UndangUndang Dasar 1945. Fungsi yang maksimal tersebut diperlukan karenakemerdekaan pe rs adalah satu perwujudan kedaulatan rakyat dan merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis. Pencabutan undang-undang lama yang diganti dengan undangundang baru, pada hakekatnya mencerminkan adanya perbedaan nilainilai dasar politis ideologis antara orde baru dengan orde reformasi. Halini tampak de ngan jelas dalam konsideran undang-undang pers yangbaru, yang antara lain bahwa undang-undang tentang ketentuan pokok pers yang lama dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Di samping itu tentang fungsi, kewajiban, dan hak pers dalamundang-undang yang baru tidak lagi mengkaitkannya dengan penghayatan dan pengamalan inti P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Bonus Info Kewarganegaraan Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya, persharus menghormati hak asasi setiap orang. Oleh sebab itu persdituntut profesional dan terbuka unt uk dikontrol masyarakat, antaralain: bahwa setiap orang dijamin hak jawab dan ha k koreksinya. Pers memiliki peranan penting dalam mewujudkan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagaimana dijamin di dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998 yang antara lain yang menyatakan bahwa setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi sejalan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hak asasi manusia. Selanjutnya dalam Pasal 19 berbunyi, Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah . Pers juga melaksanakan kontrol sosial (social control ) untukmencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan baik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun penyelewengan dan penyimpangan lainnya. 2. Norma-Norma Pers Nasional Pers sebagai salah satu unsur mass media yang hadir di tengah tengah masyarakat demi kepentingan umum, harus sanggup hidup bersama-sama dan berdampingan dengan lembaga-lembaga masyarakat lainnya dalam suatu suasana keserasian/sosiologis. Dalam hal ini, corak hubungan antara satu dengan yang lainnya tidak akanluput dari pen garuh falsafah yang dianut oleh masyarakat dan bangsakita, yakni Pancasila dan s truktur sosial dan politik yang berlaku di sini. Fokus Kita : Berdasarkan norma-norma keserasian sosiologis yang berpedomankepada Pancasila, p ers Indonesia dalam pola berpikir dan bekerjanyatidak akan melepaskan diri dari nilai-nilai gotong-royong yang telahmenjadi ciri khas dari pandangan dan sikap b angsa dan masyarakat. Dalam melaksanakan fungsinya sehari-hari, partisipasi pers dalam pembangunan melibatkan lembaga-lembaga masyarakat lainnya yanglingkup hubunganny a, dapat dibagi dalam dua golongan sebagai berikut: 1) Hubungan antara pers dan pemerintah2) Hubungan antara pers dan masyarakat cq. golongan-golongan dalam masyarakat. Hubungan antara pers dan pemerintah terjalin dalam bentuk yangdijiwai oleh seman gat persekawanan (partnership) dalam mengusahakanterwujudnya masyarakat yang adi l dan makmur berdasarkan Pancasila. Dalam alam pembangunan, stabilitas politik, ekonomi dan sosial merupakan prasyarat untuk suksesnya usaha-usaha pembangunan yangsedang diselengg arakan. Dalam hal ini hendaknya pers merasa terpanggil untuk membantu pemerintah dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan umum demi kemantapan stabilitas yangdinamis, tanpa mengur angi hak-haknya memberikan kritik yang sehatdan konstruktif dalam alam kebebasan yang bertanggung jawab. Dalam negara yang sedang membangun, pers sebagai lembaga masyarakat secara implisif perlu juga dibangun. Dalam hal ini, pemerintah sejauh kemampuannya merasa terpanggil untuk membantu usaha-usaha pers untuk membangun dirinya sendiri, agar dalam waktu secepat mungkin pers sendiri mampu mengembangkan dirinya atas dasar kekuatan sendiri. Jika terjadi perbedaan atau konflik pendapat antara pemerintah dan pers dalam menjalankan fungsinya masing-masing, maka yang dijadikan dasar penyelesaian adalah ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, namun tetap dengan berlandaskan pada itikad baik untuk menjamin atau menegakkan asas kebebasan pers yang bertanggung jawab. Hubungan antara pers dan masyarakat dijiwaisemangat dan itika d baik untuk saling membina demi kemajuan masingmasing. Dalam menjalankan fungsi-fungsinya sebagai sarana penerangan, pendidikan umum, kontrol sosial dan hiburan pers menjadi wahana bagipembinaan pe ndapat umum yang sehat. Di satu pihak, pers ikut menajamkan daya tangkap dan daya tanggap masyarakat terhadaplangkah-langkah kebi jakan yang diambil oleh pemerintah. Di lain pihak, dengan meningkatkan daya tangkap dan daya tanggap masyarakattersebut yang akan t ercermin dalam peningkatan secara kualitatif dan kuantitatif pendapat umum yang disuarakan, pers dapat menjadiwahana untuk menyam paikan pendapat umum tersebut sebagai denyutjantung rakyat kepada pemerintah untuk dipakai sebagai bahan pengkajian bagi tepat tidaknya langkah-langkah kebijaksanaan tersebut. Dengan demikian pers membantu masyarakat meningkatkan partisipasinya dalam melaksanakan tugas-tugas nasional melalui komunikasi dua arahnya. Dalam alam dan suasana membangun di mana pers sendiri masihmemerlukan pembanguna n diri di segala bidang, masyarakat perlumembantu dan membimbing pertumbuhan dan perkembangan terhadapsegala kekurangan yang terdapat di dalam pers atau secara positifnya, bantuan masyarakat ini diwujudkan dalam tetap menumpahkan kepercayaan masyarakat terhadap pers nasional sebagai salah satu sumber informasinya yang pokok. Dengan jalan demikian perbedaanatau konflik pend apat di dalam tubuh pers atau lingkungan pers sendiri, atau antara pers dengan masyarakat cq. golongan dalam masyarakat, dicarikan penyelesaiannya atas dasar hukum yang berlaku, namun tetapberlandaskan pada itikad baik dari suatu pers yang bertanggung jawabdalam alam hidup Pancasi la. 3. Organisasi Pers Organisasi Pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers (ps. 1: 5). Organisasi-organisasi tersebut mempunyai latar belakang sejarah, alur perjuangan dan penentuan tata krama professional berupa kode etik masing-masing. PWI (Persatuan WartawanIndonesia) y ang lahir di Surakarta, dalam kongresnya yang berlangsungtanggal 8-9 Februari 19 46 dan SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar) yanglahir di serambi Kepatihan Yogyaka rta pada hari Sabtu tanggal 8 Juni1946, merupakan komponen penting dalam pembina an pers Indonesia. Ketika itu di Indonesia sedang berkobar revolusi fisik melawan kolonialisme Belanda yang mencoba menjajah kembali negeri kita. Dari organisasi inilah adanya komponen sistem pers nasional, yang didalamnya ter dapat Dewan Pers sebagai lembaga tertinggi dalam sistempembinaan pers di Indones ia dan memegang peranan utama dalam membangun institusi bagi pertumbuhan dan perkembangan pers. Dewan pers yang independent, dibentuk dalam upayamengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan persnasional (UU No. 40/1999 ps. 15: 1). Dan Dewan pe rs melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut: a. Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain; b. Melakukan pengkajian untuk pengembangan pers; c. Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik; d. Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaianpengaduan masyarakat atas k asus-kasus yang berhubungan denganpemberitaan pers; e. Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat dan pemerintah; f. Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan dibidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan; g. Mendata perusahaan pers (ps. 15: 2). Anggota Dewan Pers terdiri dari: a. Wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan; b. Pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers; c. Tokoh masyarakat, ahli bidang pers atau komunikasi dan bidang lainnya yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers; d. Ketua dan wakil ketua Dewan Pers dipilih dari dan oleh anggota; e. Keanggotaan Dewan Pers sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 3pasal 15 ditetapkan dengan keputusan presiden; f. Keanggotaan Dewan Pers berlaku untuk masa tiga tahun dan sesudahitu hanya dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya. 4. Sistem Pers Indonesia Sistem pers merupakan subsistem dari sistem komunikasi, sedangkansistem komunika si itu sendiri merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan (sistem sosial). Sistem komunikasi adalah sebuah pola tetap tentang hubungan manusia yang berkaitan dengan proses pertukaran lambang-lambang yang berarti untuk mencapai salingpengertian dan sali ng mempengaruhi dalam rangka mewujudkan suatumasyarakat yang harmonis. Fokus Kita : Suatu sistem pers, adalah sistem kebebasannya. Suatu sistem persdiciptakan untuk menentukan bagaimana sebaiknya pers itu dapatmelaksanakan kebebasan dan tanggun gjawabnya. Pers dalam sejarah Indonesia, memiliki peranan yang efektif sebagaijembatan komu nikasi timbal balik antara pemerintah dan Ciri khas sistem pers adalah sebagai berikut : a. integrasi (integaration ) b. keteraturan (regularity ) c. keutuhan (wholeness ) d. organisasi (organization ) e. koherensi (coherence ) f. keterhubungan (connectedness ) dan g. ketergantungan (interdependence ) dari bagian-bagiannya. Inti permasalahan dalam sistem kebebasan pers adalah sistem kebebasan untuk mengeluarkan pendapat (freedom of expression ) di negara-negara barat atau sistem kemerdekaan untuk mengeluarkanpikiran dengan lisa n dan tulisan , sebagaimana tercantum dalam Pasal28 UUD 1945. Faham dasar sistem pers Indonesia tercermin dalam konsideran Undang-undang Pers, yang menegaskan bahwa Pers Indonesia (nasional) sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun . Dengan demikian, sistem pers Indonesia tidak lain adalah sistem pers yang berlaku di Indonesia. Kata Indonesia adalah pemberi, sifat, warna, dan kekhasan pada sistem pers tersebut. Dalam kenyataan, dapat dijumpai perbedaan-perbedaan essensial sistem pers Indonesia dari periode yang satu ke periode yang lain, misalnya Sistem Pers Demokrasi Liberal, Sistem Pers Demokrasi Terpimpin, Sistem Pers Demokrasi Pancasila, dan Sistem Pers di era reformasi, sedangkan falsafah negaranya tidak berubah. 5. Kode Etik Jurnalistik Dan Tanggung Jawab Profesi Kewartawanan Media massa pers berperan membina dan mengembangkan pendapat umum (publik opini), menumbuhkan dan menyalurkan aspirasi masyarakat secara positif dan konstruktif, serta mengembangkankomunikasi timbal balik antara kekuatan sosial masyarakat. Lebih jauhlagi media massa pers ikut pu la berperan dalam penumbuhan dan pengembangan kehidupan sistem politik demokratis. Fokus Kita : Pers Indonesia yang telah meletakkan dasar kebebasan yangbertanggung jawab, dala m kerangka memainkan peranan strategistelah bergabung dalam satu wadah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) merupakan organisasi wartawan di Indonesia yangdikukuhkan Pemeri ntah melalui Surat Keputusan Menteri Penerangan Penerapan pers yang bebas dan bertanggungjawab dikembangkandan dibina dalam suas ana yang harmonis terhadap lingkungan, serta merangsang timbulnya kreativitas, bukan sebaliknya dengan menimbulkan ketegangan-ketegangan yang bersifat antagonistis. Kehidupan pers nasional Indonesia, merupakan produk dari sistemnilai yang berlak u dalam masyarakat yang diproyeksikan ke dalam bidang kegiatan pers, maka dalam menjalankan peranannya pers sebagai salah satu modal bangsa menggunakan aturan main (rules of the game ) pers nasional: 1. Landasan Idiil : Falsafah Pancasila (Pembukaan UUD 1945). 2. Landasan Konstitusi : Undang-Undang Dasar 1945. 3. Landasan Yuridis : Undang-undang Pokok Pers. 4. Landasan Strategis : GBHN. 5. Landasan Profesional : Kode Etik Jurnalistik. 6. Landasan Etis : Tata nilai yang berlaku dalam masyarakat. Bonus Info Kewarganegaraan Prof. Oemar Seno Adji, dalam bukunya berjudul Hukum Kebebasan Pers , dari J.C.T. Simorangkir, SH., menyimpulkan mengenai kebebasan pers Indonesia sebagai berikut : I. Hukum Indonesia telah mengakui/mengatur/menjamin perihal kebebasan pers. II. Kebebasan pers di Indonesia tidaklah dapat dilihat/diukur sematamata dengan kaca mata/ukuran luar negeri. III. Ciri kebebasan pers Indonesia, adalah: a. Pers yang bebas dan bertanggung jawab ; b. Pers yang sehat: c. Pers sebagai penyebar informasi yang obyektif; d. Pers yang melakukan kontrol sosial yang konstuktif; e. Pers sebagai penyalur aspirasirakyat dan meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat ; f. Terdapat interaksi positif antara pers, pemerintah dan masyarakat. IV Kebebasan pers diakui, dijamin dan dilaksanakan di Indonesia dalamrangka pela ksanaan Demokrasi Pancasila. a. Pertanggungjawaban Pers sebagai salah satu unsur mass media hadir di tengah masyarakat bersama dengan lembaga masyarakat lainnya harus mampu menjadikan diri sebagai forum pertukaran pikiran, komentar, dan kritik yang bersifat menyeluruh dan tuntas, tidak membedakankelompok, golong an dan etnis ataupun agama. Semuanya itu harusmendapatkan porsi yang seimbang. Fokus Kita : Dalam menjalankan profesinya seorang wartawan harus dengansadar menjalankan tuga s, hak, dan kewajiban, dan fungsinya yaknimengemukakan apa yang sebenarnya terja di, jelas, terang, dan mudah dimengerti serta bersifat terbuka Pers dalam pengembangan kegiatan sehari-hari harus berada dalam konteks interaksi positif antara pers dan Pemerintah serta masyarakat. Jika ada masalah dalam masyarakat, maka pers berupaya membantu menjernihkan persoalan, bukan sebaliknya ikut memperburuk persoalan yang ada di lingkungan masyarakat itu. Ia harus memainkan fungsi mendidiknya. Guna menunjang pertumbuhan dan perkembangan masyarkaat, pers perlu melakukan hal-hal berikut : 1) Menghimpun bahan-bahan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, sehingga dapat memberikan partisipasinya dalam melancarkan program pembangunan. 2) Mengamankan hak-hak pribadi (hak azasi) untuk menghindari tirani dan membina kehidupan yang demokratis sehingga golongan minoritas tidak ditindas oleh golongan mayoritas. 3) Mampu menampung dan menyalurkan kritik dan saran yang bagaimanapun pedasnya, sekalipun yang dituju pers itu sendiri, demi berlangsungnya perbaikan dan penyempurnaan. 4) Memberikan penerangan melalui iklan dengan sebaikbaiknya kepada masyarakat tentang barang dan jasa yang berguna dan tepat guna dari produk-produk yang ada. 5) Memelihara kesejahteraan masyarakat dan memberikan hiburan, seperti dengan menyajikan cerita pendek, fiksi, teka-tekisilang, komik, dan sebagainya. 6) Memupuk kekuatannya sendiri (permodalan dan sumber daya manusianya) hingga terbebas dari pengaruh luar, sepertipemberi modal dan in tervensi dari pihak-pihak tertentu yang bisamempengaruhi kebebasan dan idealisme nya. 7) Menjalankan fungsi kemasyarakatan dengan melakukan penyelidikan untuk mendapatkan kebenaran dan kontrol sosial demi kepentingan umum, namun dalam penyajiannya harus bersifat objektif dan mengemukakan alternatif-alternatif pemecahan, tidak bersifat menghasut apalagi memvonis seseorang (trial by the press ). 8) Dalam penyajian tulisannya, pers dengan bijaksana harusmenggunakan pendekatan praduga tak bersalah (presumption of innocence), terutama berita-berita yang langsung menyinggung pribadi (hak azasi) seseorang seperti kesusilaan. 9) Menghindari penyajian bahan berita yang sensitif baik berupa gambar, ulasan, karikatur dan sebagainya yang dapat menimbulkan gangguan stabilitas, seperti menyangkut Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA). 10) Menghindari penulisan,berita, ulasan, cerita, gambar, dankarikatur yang cend erung bersifat pornografi dan sadisme, kekejaman dan kekerasan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral. Demikian pula pemberitaan yang bersifat gossip (desasdesus) tanpa didukung fakta yang kuat dan akan merusak namabaik seseorang atau golongan . 11) Pers dapat menyajikan bahan siaran atau tulisan-tulisannya yang selalu menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi dan golongannya. Demikian juga harus menghindari penyebaran secara terbuka dan terselubung ajaranMarxisme/Leninisme a tau Komunisme. Bonus Info Kewarganegaraan PERS PANCASILA Sidang pleno ke 25 Dewan Pers di Solo, tanggal 7 dan 8 Desember1981, telah membu at keputusan dan merumuskan pengertian PersPancasila yang menjadi pola kehidupan Pers Nasional. Pers Pancasilaadalah pers yang orientasi, sikap, dan tingkahlaku nya berdasarkannilai-nilai Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Sedangkan Per spembangunan merupakan Pers Pancasila dalam pembangunan sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat., berbangsa dan bernegara, termasuk pembangunan itu sendiri. Hakekat Pers Pancasila adalah adalah pers yang sehat, bebas danbertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstruktif. Melalui Pers Pancasila dapatdikembangkan suasan a saling percaya menuju masyarakat terbukayang demokratis dan bertanggungjawab. Dalam mengamalkan PersPancasila mekanisme yang dipakai adalah interaksi positif antara masyarakat, pers, dan Pemerintah. Dewan Pers berperan sebagai pengembang mekanisme interaksi positif tersebut. Dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1983 tentang GBHN, disebutkanbahwa fungsi pers an tara lain sebagai penyebar informasi yang obyektif, melakukan kontrol sosial yang konstruktif, menyalurkanaspirsi rakyat d an meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat. Dengan memperhatikan rumusan Dewan Pers dan Ketetapan MPRdi atas, dapat dirumusk an bahwa pers berfungsi sebagai berikut. 1. Mendidik (educatif) 2. Menghubungkan masyarakat (sosial contact ) 3. Menyalurkan aspirasi masyarakat (agen of information ) 4. Membentuk pendapat umum (pblic opini ) 5. Melakukan sosial kontrol (sosial control ) 6. Memberikan hiburan (entartiment ). b. Kode Etik Jurnalistik Dalam melaksanakan fungsi dan peranannya yang strategis, persmelalui organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) telah menetapkan Kode Etik Kewartawanan, yang sudah dimulai dari sebelum Indonesia Merdeka, seperti Persatuan Djurnalis Indonesia (PERDI). Fokus Kita : Tentang Kode Etik Wartawan sesungguhnya telah dijadikanpedoman sejak berdirinya PWI di Surakarta bulan Februari 1946. Penegasan berlakunya Kode Etik Jurnalistik mulai dilaksanakan padatanggal 1 Mei 1955. Dalam Kongres PWI di Medan (1955), telahdikeluarkan pengesahan berlakunya Kode Etik Jurnalistik tersebut. PWI dalam sidang gabungan PWI Pusat dengan Badan PekerjaKongres yang berlangsung di Ujung Pandang (1968) menetapkan Kode Etik Jurnalistik merupakan aturan mengenai perilaku dan pertimbangan moral yang harus dianut dan ditaati oleh media persdalam siarannya. Secara lengkap Kode Etik Jurnalistik adalah sebagai berikut : KODE ETIK JURNALISTIK PEMBUKAAN Bahwasanya kemerdekaan pers adalah perwujudan kemerdekaanmenyatakan pendapat seb agaimana tercantum dalam Pasal 28 UUD1945, dan karena itu wajib dihormati semua pihak. Kemerdekaan pers merupakan salah satu ciri negara hukum yangdikehendaki oleh pen jelasan-penjelasan Undang-Undang Dasar 1945. Sudah barang tentu kemerdekaan pers itu harus dilaksanakan dengan tanggung jawab sosial serta jiwa Pancasila demi kesejahteraan dan keselamatan Bangsa dan negara. Karena itulah PWI menetapkan Kode Etik Jurnalistik untuk melestarikan asas kemerdekaan pers yang bertanggung jawab. Pasal 1 KEPRIBADIAN WARTAWAN INDONESIA Wartawan Indonesia adalah warga negara yang memiliki kepribadian : a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; b. berjiwa Pancasila; c. taat pada Undang-Undang Dasar 1945; d. bersifat ksatria; e. menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia; f. berjuang untuk emansipasi bangsadalam segala lapangan sehingga dengan demikia n turut bekerjake arah keselamatan masyarakat Indonesia sebagai anggota masyarakat bangsa-bangsa di dunia. Pasal 2 PERTANGGUNGJAWABAN 1. Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tangung jawab dan bijaksana mempertimbangkan perlu/patut atau tidaknya suatu berita, tulisan, gambar, karikatur dan sebagainya disiarkan. 2. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan : a. hal-hal yang sifatnya destruktif dan dapat merugikan negara dan bangsa; b. hal-hal yang dapat menimbulkan kekacauan; c. hal-hal yang dapat menyinggung perasaan susila, agamakepercayaan atau keyakinan seseorang atau sesuatu golongan yang dilindungi undang-undang. 3. Wartawan Indonesia melakukan pekerjaannya berdasarkan kebebasan yang bertanggung jawab demi keselamatan umum. Ia tidak menyalahgunakan jabatan dan kecakapannya untuk kepentingansendiri dan/atau kepen tingan golongan. 4. Wartawan Indonesia dalam menjalankan tugas jurnalistiknya yang menyangkut bangsadan negara lain, me ndahulukan kepentingan nasional Indonesia. Pasal 3 CARA PEMBERITAAN DAN MENYATAKAN PENDAPAT 1. Wartawan Indonesia menempuh jalan dan cara yang jujuruntuk memperoleh bahan-b ahan berita dan tulisan dengan selalumenyatakan identitasnya sebagai wartawan ap abila sedang melakukan tugas peliputan. 2. Wartawan Indonesia meneliti kebenaran sesuatu berita atau keterangan sebelum menyiarkannya, dengan juga memperhatikan kredibilitas sumber berita yang bersangkutan. 3. Di dalam menyusun suatu berita, wartawan Indonesia membedakan antara kejadian (fakta) dan pendapat (opini), sehingga tidak mencampuradukkan fakta dan opini tersebut. 4. Kepala-kepala berita harus mencerminkan isi berita. 5. Dalam tulisan yang memuat pendapat tentang sesuatukejadian (byline story), wa rtawan Indonesia selalu berusaha untukbersikap obyektif, jujur, dan sportif berd asarkan kebebasan yangbertangung jawab dan menghindarkan diri dari cara-cara penulisan yang bersifat pelanggaran kehidupan pribadi (privacy), sensasional, immorial atau melanggar kesusilaan. 6. Penyiaran setiap berita atau tulisan yang berisi tuduhan yang tidak berdasar, desas-desus, hasutan yang dapat membahayakan keselamatan bangsa dan negara, fitnahan, pemutarbalikan sesuatu kejadian, merupakan pelanggaran beratterhadap profesi jur nalistik. 7. Pemberitaan tentang jalannya pemeriksaan perkara pidana di dalam sidang-sidang pengadilan harus dijiwai oleh prinsip praduga tak bersalah , yaitu bahwa seseorang tersangkaharus dianggap bersal ah telah melakukan suatu tindak pidana apabila ia telah dinyatakan terbukti bersalah dalam keputusanpengadilan yang tel ah memiliki kekuatan tetap. 8. Penyiaran nama secara lengkap, identitas dan gambardari seorang tersangka dil akukan dengan penuh kebijaksanaan, dan dihindarkan dalam perkara-perkara yang menyangkut kesusilaan atau menyangkut anak-anak yang belum dewasa. Pemberitaan harus selalu berimbang antara tuduhan dan pembelaan dan dihindarkan terjadinya trial by the press . Pasal 4 HAK JAWAB 1. Setiap pemberitaan yang kemudian ternyatatidak benar atau berisi hal-hal yang menyesatka, harus dicabutkembali atau diralat atas keinsyafan wartawan sendiri. 2. Pihak yang merasa dirugikan wajib diberi kesempatan secepatnya untuk menjawab atau memperbaiki pemberitaan yang dimaksud, sedapat mungkin dalam ruangan yang sama dengan pemberitaan semula dan maksimal sama panjangnya, asal saja jawaban atau perbaikin itu dilakukan secarawajar. Pasal 5 SUMBER BERITA 1. Wartawan Indonesia menghargai dan melindungi kedudukan sumber berita yang tidak bersedia disebut namanya. Dalam hal berita tanpa menyebutkan nama sumber tersebut disiarkan, maka segala tanggung jawab berada pada wartawandan/atau penerbit pers yang bersangkutan. 2. Keterangan-keterangan yang diberikan secara off the record tidak disiarkan, kecuali apabila wartawan yangbersangkutan secara nyata-ny ata dapat membuktikan bahwa iasebelumnya memiliki keterangan-keterangan yang kem udian ternyata diberikan secara off the record itu. Jika seorangwartawan tidak ingin ter ikat pada keterangan yang akan diberikandalam suatu pertemuan secara off the reco rd , maka ia dapat tidak menghadirinya. 3. Wartawan Indonesia dengan jujur menyebut sumbernya dalam mengutip berita, gambar atau tulisan dari suatu penerbitan pers, baik yang terbit di dalam maupun di luar negeri. Perbuatan plagiat, yaitu mengutip berita, gambar atau tulisan tanpa menyebutkan sumbernya, merupakan pelanggaran berat. 4. Penerimaan imbalan atau sesuatu janji untuk menyiarkansuatu berita, gambar at au tulisan yang dapat menguntungkanatau merugikan seseorang, sesuatu golongan at au sesuatu pihakdilarang sama sekali. Pasal 6 KEKUATAN KODE ETIK 1. Kode Etik ini dibuat atas prinsip bahwa pertanggungjawaban tentang penataannya berada terutama padahati nurani setiap wa rtawan Indonesia. 2. Tiada satu pasal dalam Kode Etik ini yang memberi wewenang kepada golongan manapun di luar PWI untuk mengambil tindakan terhadap seorang wartawan Indonesia atauterhadap penerbitan p ers di Indonesia berdasarkan pasal-pasaldalam Kode Etik ini, karena sanksi atas pelanggaran Kode Etik iniadalah merupakan hak organisatoris dari Persatuan Warta wan Indonesia (PWI) melalui organ-organnya. Bonus Info Kewarganegaraan M. Alwi Dahlan, Ph. D, menyebutkan bahwa ada tiga faktor yangmempengaruhi pelaks anaan Kode Etik Jurnalistik, yakni: 1) Etik Institusional, yaitu sistem aturan, peraturan, kebijaksanaandan kendala formal yang dikembangkan oleh institusi yang memilikimedia, maupun yang mengawas i media. Fungsinya adalah untukmencapai tujuan institusi yang bersangkutan , sep erti penegakkanideologi, keuntungan, kekuasaan dan sebagainya. 2) Etik Personel, yaitu sistem nilai dan moralitas perorangan yang merupakan hati nurani wartawan, didasarkan pada keyakinan atau kepercayaan pribadi yang menimbang tindakan yang hendak dilakukannya. 3) Etik Profesional, yaitu menentukan cara pemberian yang paling tepat sehingga informasi itu mudah diterima oleh khalayak, dalam proporsi yang wajar. Kode Etik Profesioinal ini adalah tolak ukur perilaku dan pertimbangan moral yang disepakati bersama oleh komunitas profesi jurnalistik. Tujuannya adalah untuk menghasilkan karya yang memenuhi kebutuhan khalayak akan informasi, namun dilakukan dengan caratanggung jawab sos ial yang tinggi. Dalam penerapan Kode Etik Jurnalistik, ia akan bergerak di antaraEtik Personal d an Etik Institusional. Etik Profesional mungkin sajaberbeda dengan Etik Institus ional yang berlaku disegala media yangbersangkutan, sekali pun Etik Personal tel ah meloloskan materi beritabersangkutan. Pembinaan dan pengembangan media pers a kan ditentukan oleh sikap dan kepribadian dari media bersangkutan ataudalam hal ini bisa dikatakan oleh wartawannya. Kredilibitas sebuah media pers itu akan ditentukan oleh objektiftidaknya materi berita yang disiarkannya, tanggung jawab sosial yangdiperlihatkannya, kedalaman dan ketajaman analisanya. Hal ini akanditentukan oleh ketaatannya kepada Kode Et ik Jurnalistik. Kode Etik Jurnalistik ini akan terus berperan dan semakin penting dalam menyongsong kemajuan dan perkembangan teknologi dimasa mendatang. Hal-hal yang tidak mungkin diambil dan diungkapkanpada saat sekarang dengan kemajuan teknologi seperti kamera, taperecorder, alat penyadap percakapan yang semakin canggih, kiranyahanya bisa dibatasi dengan penataan Kode Etik Jurn alistik. Demikian juga halnya dengan pelestarian nilai-nilai kepribadianbangsa, ideologi Pancasila yang menjadi dasar falsafah bangsa bilaberhadapan dengan globalisasi d unia dan kemajuan ilmu teknologi, perlu pengawalannya dengan Kode Etik Jurnalistik. Jangan wartawanterjebak untuk memanipulasi informasi, menyiarkan berita secara tid Penugasan PraktikKewarganegaraanSetelah mempelajari materi-materi tentang : Pers yang bebas dan betanggung jawab sesuai kode etik jurnalistik dalam masyarakat demokratis di Indonesia, dilanjutkan Penugasan dengan menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut : 5 1. Berikan penjelasan, bagaimana batasan yang dimkasud pers yang bebas dan betanggung jawab , dan Berikan Contohnya ! Penjelasan : ................................................................... ............................. ................................................... ................................................................................ .................................... ..................................................... No Contoh Uraian Singkat 1. ............................................................................. ............................................................................. ...................................................................... 2. ............................................................................. ............................................................................. ...................................................................... 2. Dalam menjalankan fungsi-fungsinya sebagai sarana penerangan, pendidikan umum, kontrol sosial dan hiburan pers menjadi wahana bagi pembinaan pendapat umum yang sehat. Berikan penjelasn singkatnya yang dimaksud dengan ! a. Pendidikan umum : .............................................................................. ............................... ............. ................................................................................ ............................... ................................................... b. Kontrol sosial : .............................................................................. ............................... ....................... ................................................................................ ............................... ................................................... 3. Organisasi Pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers yang mempunyai latar belakang sejarah, alur perjuangan dan penentuan tata krama professional berupa kode etikmasing-masing. Beri penjelasan singkat pada kolom di bawah ini ! Alur perjuangan Tata krama professional ........................................................ ...................... ........................................................ ...................... ........................................................ ...................... ........................................................ ...................... ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ 4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa pers harus memiliki rasa pertanggungjawaban terhadap informasi/berita-berita yang ditulisnya ! ................................................................................ .................................... ................................................... ................................................................................ .................................... ................................................... ................................................................................ .................................... ................................................... 5. Tuliskan perbedaan dan persamaan organisasi pers di Indonesia padamasa sebelum d an setelah reformasi di bawah ini ! Persamaan Perbedaan ........................................................ ........................ ........................................................ ........................ ........................................................ ........................ ........................................................ ........................ ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ ..................................................... ........................ A.KEBEBASAN PERS DAN DAMPAK PENYALAHGUNAAN KEBEBASAN MEDIA MASSA DALAM MASYARAKAT DEMOKRATIS DI INDONESIA 1. Kebebasan Pers Indonesia Kebebasan pers adalah kebebasan mengemukakan pendapat, baiksecara tulisan maupun lisan, melalui media pers, seperti harian, majalah, dan buletin. Kebebasan pers dituntut tanggung jawabnya untuk menegakkan keadilan, ketertiban dan keamanan dalam masyarakat, bukan untuk merusakkannya. Kebebasan harus disertai tanggung jawab, sebab kekuasaan yang besar dan bebas yang dimiliki manusiamudah sekali di salahgunakan dan dibuat semena-mena. Demikian jugapers harus mempertimbangkan ap akah berita yang disebarkan dapat menguntungkan masyarakat luas atau memberi dampak positif padamasyarakat dan ban gsa. Inilah segi tanggung jawab dari pers. Jadi, persdiberi kebebasan dengan dis ertai tanggung jawab sosial. Selanjutnya, Komisi Kemerdekaan Pers menggariskan lima hal yang menjadi tuntutan masyarakat modern terhadap pers, yang merupakan ukuran pelaksanaan kegiatan pers, yaitu sebagai berikut : a. Pers dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian sehari-harisecara jujur, mendalam dan cerdas. Ini merupakan tuntutan kepadapers untuk menulis secara aku rat dan tidak berbohong. b. Pers dituntut untuk menjadi sebuah forum pertukaran komentar dan kritik, yang berarti pers diminta untuk menjadi wadah diskusi dikalangan masyara kat, walaupun berbeda pendapat dengan pengelolapers itu sendiri. c. Pers hendaknya menonjolkan sebuah gambaran yang representativekelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada segelintir kelompok minoritas dalam masyarakat yang juga memilikihak yang sama d alam masyarakat untuk didengarkan. d. Pers hendaknya bertanggung jawab dalam penyajian dan penguraiantujuan dan nilainilai dalam masyarakat. e. Pers hendaknya menyajikan kesempatan kepada masyarakat untukmemperoleh berita se hari-hari. Ini berkaitan dengan kebebasan informasi yang diminta masyarakat. Adapun landasan hukum kebebasan pers Indonesia termaktub dalam : a. Undang-undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan MenyampaikanPendapat di Muka Um um b. Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers c. Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. 2. Pers, Masyarakat dan Pemerintah Hal terpenting yang harus diperhatikan berkaitan antara pers, masyarakat dan pemerintah adalah sebagai berikut : a. Interaksi harus dikembangkan sekreatif mungkin untuk tercapainya tujuan pembangunan, yaitu kesejahteraan manusia danmasyarakat Indone sia seutuhnya. Interaksi positif antara ketigakomponen tidak bisa lain berlangsu ng dalam perangkat dan pranataPancasila, norma dan etika dasar bagi kehidupan ma syarakat, bangsadan Negara Republik Indonesia. Karena itu, sebelum menjabarkanle bih lanjut, bagaimana interaksi positif antara ketiga komponen itubisa dikembang kan secara maksimal, perlu lebih dulu dipahami hakekat Pancasila bagi kehidupan nasional Indonesia. b. Negara-negara demokrasi Liberal Barat mendasarkan kehidupan dan dinamiknya pada individu dan kompetisi secara antagonis, sedangkan negara-negara komunis berdasarkan kepada pertentangan kelas yang bersifat dialektis materiil. Adapun negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila, berpaham pada keseluruhan dan keseimbangan, baik antara individu dan masyarakat maupunantara berbagai kelo mpok sosialnya. Dinamika dikembangkan bukandari pertarungan menurut paham singa g ede menang kerahe (singa besar pasti menang bertarung), melainkan atas paham hidup menghidupi, simbiosis mutualis. Pola dasar dan sistem nilai yangdemikian itu jug a menjadi dasar dan semangat dari hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat. Hubungan itu tidak disemangatioleh sikap aprior i atau saling curiga, apalagi saling memusuhi. Hubungan itu adalah hubungan perkerabatan yang fungsional. c. Antara pemerintah, pers dan masyarakat, harus dikembangkan hubungan fungsional sedemikian rupa, sehingga semakin menunjang tujuan bersama yaitu terwujudnya masyarakat adil danmakmur berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan RepublikIndonesia. Dimungkinkan adanya perbedaa n pendapat dalam proseshubungan tersebut. Namun perbedaan pendapat tidak harus ditafsirkan sebagai konflik melainkan sebagai proses kreatif dan dinamis dalam usaha mencapai harmoni dan keseimbangan yang setiap kali semakin maju, kuantitatif dan kualitatif. d. Hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat, sesungguhnyamerupakan pengejawa -ntahan dari nilai-nilai Pancasila. Itulah sebabnya, salah satu pendekatan kultural terhadap segala persoalan, lebih cocok dengan identitas Indonesia, lagipula pendekatan kulturalini telah di buktikan kharisma dan daya mampunya dalam periode perjuangan kemerdekaan nasional, sehingga mampu membangkitkan semangat patriotisme, pengorbanan tanpa pamrih dan dedikasi total terhadap kepentingan rakyat banyak. Pendekatan kultural juga dapat memperlancar proses kembar, yaitukontinuitas dan perubahan yang menjadi ciri-ciri kehidupan setiap bangsa, apalagi bangsa yang sedang membangun. Pembangunan berarti perubahan yang terarah seca bertahap tapi konsisten. Sedangkan perubahan itu agar kokoh, harus berakar dan akar itu adalah kontinuitas. Kontinuitas dari nilai kebudayaan bangsa yangpaling mulia, t ermasuk di antaranya warisan nilai-nilai empat puluhlima. e. Baik untuk menjamin tercapainya sasaran maupun karena sesuai dengan asas demokrasi Pancasila, maka dalam hubungan fungsional antara pemerintah, pers dan masyarakat, perlu dikembangkan kultur politik dan mekanisme yang memungkinkan berfungsinya sistem kontrol sosial dan kritik secara efektif dan terbuka. Tetapikontrol sosia l itu pun substansi dan caranya tidak terlepas dari asaskeselarasan dan keseimba ngan, kekerabatan dan hidup menghidupi. f. Pembangunan masyarakat bisa berlangsung dalam pola evolusi, reformasi dan revolusi. Jika kita menempatkan pembangunannasional Indonesia ke d alam salah satu dari ketiga kategori itu, makayang paling tepat ialah pada pola reformasi. Pembangunan dalampola reformasi berarti perobahan terarah yang fundam ental sesuaidengan konsep masyarakat Pancasila, namun dilaksanakan secara bertahap dan menurut asas prioritas. g. Seluruh bidang kehidupan masyarakat hendak dibangun, tetapi pelaksanaannya bertahap dan selektif, semakin hari semakin maju dan menyeluruh sehingga akhirnya seluruh bidang kehidupanmasyarakat bangsa dan negara dijamahnya, ditransformir menjadimasyarakat Pancasila. Pendekatan ber tahap, berprioritas, berencanamerupakan pendekatan yang tepat, mengingat serta k eterbatasan yang ada pada kita, tetapi seluruh prosesnya perlu dipercepat (diakselarasi), karena sebagai bangsa dihadapkan dengan faktor waktu yang semakin mengejar. Pemerintah, pers dan masyarakat harus mampu membangun diririnya sendiri agar menjadi lembagayang lebih baik dan lebih ampuh untuk melaksanakan pembangunan. h. Adanya kekurangan merupakan gejala umum yang harus kita terima bersama. Bukan agar kita menyerah dan menjadi dalih dariberbagai kemungki nan penyalahgunaan, melainkan agar kita mampumelihat segala sesuatunya dengan pr oporsi yang tepat dan konstruktif. Agar dalam melakukan koreksi, kita tidak menimbulkanapatisme dan an tipati melainkan justru menggairahkan usaha-usahaperbaikan dan pembangunan itu s endiri. Di samping menunjukkankekurangan-kekurangan, pers harus bisa juga menunj ukkkan hal-halpositif. Berlaku kembali di sini asas keselarasan dan keseimbangan yang merupakan tipe ideal masyarakat kita, sekali pun merupakannilai dalam prose s pendekatan. Interaksi berarti proses pengaruhmempengaruhi sebagai dasar dari konsensus bersama yang merupakan hasil komunikasi dua arah timbal balik. i. Hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat merupakan hubungan kekerabatan dan fungsional yang terus menerus dikembangkan dalam mekanisme dialog. Di samping mekanisme dialog, juga perlu dikembangkan mekanisme lain, yaitudiselenggarakan seminar seb agai kegiatan rutin yang kreatif dalamusaha mengembangkan konsepsi, nilai-nilai dan mekanisme. Dalam usaha memelihara kontinuitas yang kreatif, juga dipandang bermanfaat untuk menerbitkan buku-buku dalam bidang pers, sehingga menjadi bahan bacaan bagi para wartawan, pejabat pemerintah maupun perguruan tinggi. Perlu diketahui bahwa kini telah diterbitkan tiga buku hasil panitia Dewan Pers, yaitu Sejarah Pers Indonesia, Pornografi dan Pers Indonesia dan Naskah Pengetahuan Dasar bagi Wartawan Indonesia . j. Dalam hubungan antara pemerintah, pers dan masyarakat, otonomi masing-masing lembaga sesuai dengan asas Demokrasi Pancasila, dihormati dan perlu dikembangkan. Salah satu karya otonomi ialah apa yang dengan baik bisa dilakukan sendiri oleh lembaga masyarakat, tidak perlu pemerintah mencampurinya. Dalamkonteks ini, misa lnya perlu dikembangkan adanya mekanisme efektifoleh masyarakat pers sendiri unt uk mengatur perilaku kehidupannya. Pelaksanaan kode etik dan sanksi atas pelanggaran, misalnya perluditingkatkan. D isarankan agar dipelajari kemungkinan dibentuknya suatu Dewan Kehormatan, yang terdiri dari tiga pihak; pers, masyarakat, pemerintah. Dewan kehormatan yang demikian itu agardibentuk di pusat maupun di daerah sesuai dengan kebutuhannya. k. Jadi, bila dibahas lebih spesifik lagi, pers memang lahir di tengah-tengah masyarakat, sehingga pers dan masyarakatmerupakan dua hal yang tid ak dapat dipisahkan satu sama lain. Pers lahir untuk memenuhi tuntutan masyarakat u ntuk memperoleh informasi yang aktual dengan terus-menerus mengenai peristiwaperistiwa besar maupun kecil. Pers sebagai lembaga kemasyarakatantidak dapat hidup sendiri , akan tetapi pers dipengaruhi dan mempengaruhi lembaga kemasyarakatan yang lain. l. Menurut Wilbur Schramm, pers bagi masyarakat adalah Watcher, forum and teacher (pengamat, forum dan guru). Maksud pernyataan di atas adalah, bahwa setiap hari pers memberikan laporan dan ulasan mengenai berbagai macam kejadian dalam dan luar negeri, menyediakan tempat (forum) bagi masyarakat untuk mengeluarkanpendapat secara ter tulis dan turut mewariskan nilai-nilai kemasyarakatan dari generasi ke generasi. 3. Dampak Penyalahgunaan Kebebasan Media Dalam kehidupan masyarakat, media massa dapat memberikan informasi atau berita yang jelas dan akurat. Media massa dalam penyampaian beritanya untuk kehidupan masyarakat memiliki manfaat yang cukup besar. Istilah media mengandung makna untuk semua organisasi, baik swasta maupun pemerintah yang bertugas mencari informasi kepada publik. Mereka menggunakan alat atau media sepertikoran, radio, televisi, seni pertunjukan dan lain sebagainya. Peralatan tersebut digunakan untuk menyampaikan pesan. Namun jika fungsi-fungsi penyampaian informasi atau berita disalahgunakan, hal ini dapat berdampak sebagai berikut (lihat boksjejak pendapa t Kompas, tanggal 12 Februari 2007). JEJAK PENDAPAT KOMPAS Pers Semakin Tenggelam Di DekapanKomersialisme Dunia pers Indonesia semakin tenggelam dalam ideologi komersial, setelah ideologi kebebasan mampu diraihnya pascalengsernya kekuasaan Orde Baru. Sayangnya, pergeseran ideologi itu membuat fungsi media masa sebagai alat pendidikan masyarakat tidak lagi menjadi ciri yang kuat melekat. Kehadiran pers dalam sebuah sistem politik modern merupakan wujud dari kedaulatan rakyat, dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang demokratis. Melalui pers, kekosongan ruang publik yang terjadi, baik antarkelompokmasyarakat maupun antara pemerintah dan masyarakat, bisa terjembatani. Pers sebagai instrumen komunikasi yang melibatkan manusia dalam jumlah yang besar menjadi forum bagi berlangsungnyadialog secara t erbuka antarkelompok dalam masyarakat serta antaramasyarakat dan pemerintah. Di sini pers memainkan peran sentral sebagai pemasok dan penyebar informasi yang diperlukan untuk memfasilitasi pembentukan opini publik dalam rangka mencapai konsensus bersama atau mengontrol kekuasaan para penyelenggara negara. Pers yang bebas akan memainkan peran sebagai forum dialog yang demokratis, termasuk memberikan kesempatan bagi suara yangmungkin selama ini ter abaikan. Ia juga memainkan peranan sebagaisumber informasi yang berharga, sebaga i pelengkap atau bahkan bisapula menjadi alat utama bagi proses pendidikan, sert a sebagai alat kontrol yang efektif terhadap kinerja penguasa dan proses pembangunan. Kebebasan pers Indonesia, sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, mencakup jaminandan perlindungan hukum serta tidak adanya campur tangan atau paksanaan dari pihak manapun terhadap pekerjaan Pers. Selain itu, pers nasional juga tidak dikenal penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran. Dengan kata lain, di bawah aturan yang baru, kebebasan pers sebagai ekspresi dari hak asasi dan hak politikmendapat jam inan hukum. Di bawah sistem Orde reformasi sekarang, fungsi pers tidak seharusnya sekadar medium penebar informasi, hiburan, dan pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Fungsi dasar Sayangnya, pers di negeri ini, baik media cetak maupun media elektronik, hingga saat ini masih banyak berkutat dengan fungsidasarnya sebagai medium penyebar informasi, hiburan, dan pendidikan. Kedua jenis media itu memang sudah mampu menjangkau mayoritaspublik penggunaanny a dalam memberikan informasi. Setidaknya, mayoritas responden merasa puas dengan kemampuan media ini dalammenyebarkan info rmasi kepada masyarakat. Begitu juga dengan fungsihiburan yang dibawa oleh kedua media ini. Kepuasan respondenterhadap aspek hiburan media massa tidak hanya ter hadap apa yangdisajikan oleh media elektronik, terutama televisi, tetapi juga da ri yangmereka baca dari media cetak. Adapun untuk fungsi pendidikan, tampaknya responden masih lebihpercaya kepada me dia cetak ketimbang media elektronik. Setidaknya, 57,2 persen responden merasa puas dengan fungsi pendidikan yangmereka dapat dari media cetak. Sementara responden yang puasdengan fungsi pendidikan yang diberik an oleh media elektronik hanya42,5 persen. Apresiasi responden terhadap media ce tak dan media elektronik itu mencerminkan tingginya kebutuhan informasi di masyarakat. Meskipun informasi yang diperoleh dikemas dalam perspektif yang berbeda-beda, tetapi soal aktualitas, obyektivitas, dannetralita s media selalu menjadi tolok ukur kejujuran media massa dalammengungkapkan fakta . Terhadap tolok ukur itu, sebagian besar (62,0 persen) respondenmenilai, pemberit aan yang dilakukan oleh media massa saat inisudah sesuai dengan fakta, sementara 33 persen responden malah menilai sebaliknya. Begitu juga dengan soal proporsionalitaspemberitaan. Bagi 51 ,9 persen responden, media massa saat ini sudahproporsional dalam memberitakan s uatu peristiwa. Namun, pendapat iniditentang 43,1 persen responden yang melihat media massa saat inicenderung melebih-lebihkan sebuah pemberitaannya. Soal keberpihakan media, lebih dari separuh bagian (53,7 persen) responden menilai media massa saat ini sudah berimbang dalam memberitakan sebuah peristiwa, sementara 42,5 persen respondenmenanggapi sebalik nya. Kendati demikian, keberhasilan pers itu tidaklantas membuat pers Indonesia bebas dari ekses negatif yang di timbulkan akibat kebebasan pers yang dimilikinya. Benturan idealisme pers dengan kepentingan internal dan eksternal pers selalu mengondisikan pers Indonesia dalam posisi yang dilematis. Inilah persoalan klasik yang selalu melanda pers Indonesia selama ini. Peran pers yang begitu besar dalam pembentukan opini publik membuat lembaga ini selalu berbenturan dengan kepentingan pemerintah. Pada masa Orde Baru, sering kali pers dipaksamengakomodasikan kepent ingan pemerintah atau terpaksa berhadapan dengan penguasa jika bersikukuh mempertahankan idealisme kebebasannya. Namun, tampaknya dunia pers saat ini sudah bisa menikmati kebebasannya. Setidaknya, lebih dari separuh bagian (52,6 persen) responden merasakan media massa saat ini sudah bebas dari pengaruh, terutama tekanan atau intervensi penguasa. Meskipun demikian, 43,6persen respond en malah merasa pengaruh pemerintah masih cukup kuat terhadap media massa. Berbeda dengan penguasa, pengaruhtokoh politik malah dirasakan cukup kuat di dalam kehidupan pers saatini. Separuh bagian responden m erasakan hal ini. Hubungan saling mempengaruhi antara pers dan pihak yang berada di luar dirinya, seperti yang terungkap dalam jejak pendapat ini, memberi penegasan bahwa tidak ada indenpendensi absolut dalam kehidupan pers. Fenomena ini bisa dilihat dari orientasi pers saat ini. Sebagian besar responden menilai media massa saat ini cenderung berorientasi pada aspek komersial ketimbang idealisme pers sebagai politik pembebasan. Kecenderungan ini bisa dilihat dari fenomena pemberitaan yangdilakukan media mas sa saat ini. Bagi media elektronik, untuk mengejar rating yang tinggi, program acara bersifat sensasional, yang kandunganpendidikan nya untuk publik relatif rendah, semakin sering ditawarkankepada publik. Unsur p ornografi, kekerasan, hingga mistik pun dipublikasikan. Sebagian besar (64,5 persen) responden mengakuprihatin dengan ta yangan televisi yang mengandung kekerasan. Menurut sebagian responden itu, penayangan adegan kekerasan ditelevisi pada masa reformasi ini sudah berlebihan. Begitu juga dengan tayangan yang berbau pornografi. Lebih dari separuh bagian (58,0 persen) responden mengaku, tayangan itu sudah berlebihan. Keprihatinan yang sama juga diungkapkan oleh 58,6 persen respondenterhadap penay angan acara televisi yang berbau mistik. Kecenderunganserupa terjadi di media ce tak. Kendati tidak separah yang ditayangkanmedia elektronik, publik tetap mempri hatinkan pemunculan beritaberbau pornografi, kekerasan, atau mistik. Begitulah wajah kebebasan pers Indonesia saat ini. Di satu sisi keberadaannya mencerminkan tanggung jawab sosialnya bagi masyarakat dan negara, namun di sisi lain, keberadannya malah dikhawatirkan menghancurkan moral bangsa ini. Inilah eforia pers yang menghasilkan wajah pers Indonesia dengan karakter yang beragam seperti sekarang. Catatan : Jumlah responden = 722 orang, dengan cakupan wilayah : Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Banjarmasin, Pontianak, Manado, Makassar dan Jayapura. Sumber : Sultani (Litbang Kompas), 12/2/2007. Bonus Info Kewarganegaraan 08 Februari 2007 16:17:53 Kemajuan Teknologi Jadi Tantangan Pers Saat ini, melalui teknologi, masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam berbagai media komunikasi. Perkembangan ini juga membawa perubahan besar pada industri media massa. Beberapa penelitian menyimpulkan, suratkabar (media cetak) mulai menuju kematian, yang ditandai dengan menurunnya jumlah tiras. Masa keemasan suratkabar telah lewat, digantikan dengan media elektronik. Namun, suratkabar tetap bisa hidup. Syaratnya harus melakukan perluasan dengan bergerak di bisnis multimedia. Di Indonesia upaya ini telah dimulai. Kelompok-kelompok suratkabar besarsaat ini merambah kepemilikannya ke radio, televisi, dan bisnis lainnya. Demikian beberapa pemikiran yang muncul dalam acara Dewan Pers Menjawab yang disiarkan langsung stasiun TVRI, Rabu, 7 Februari lalu, bertema Refleksi Hari Pers Nasional (HPN). Tema ini diangkap untuk menyambut hari pers yang diperingati setiap tanggal 9 Februari. Acara yangdipand u Hinca IP Pandjaitan ini menghadirkan wartawan senior, Djafar H. Assegaf, anggota Dewan Pers, Sabam Leo Batubara, dan program officer UNESCO-Jakarta, Arya Gunawan. Assegaff menyatakan komunikasi adalah fitrah manusia. Karena itu setiaphari manu sia membutuhkan media massa. Pada abad teknologi saat ini hukumbesi berlaku, seh ingga menurutnya bisnis media massa membutuhkan skill yang luas dan modal besar. Terkait dengan peringatan HPN, Assegaff memandang pentingnyapendidikan bagi wart awan. Ia juga menyoroti pentingnya kebiasaan membaca(reading habit). Sebab salah satu tantangan untuk meningkatkan tiras suratkabar adalah bagaimana meningkatkan minat baca. Assegaff menyatakan, Sekarang adalah abad new media. (Namun) semua tidak adaartinya kalau tidak didalami dengan membaca koran, dan lebih lagi membacabuku . Sementara itu Leo membenarkan berbagai riset yang menyimpulkan adanya penurunan tiras surat kabar di dunia. Namun, menurutnya, hal itu tidak berlaku di beberapa negara seperti India. Mengutip hasil pertemuanserikat penerbit surat kabar seluruh dunia yang berlangsung tahun 2000 lalu, Leo menyatakan suratkabar perlu melakukan konvergensi untuk dapat bertahan hidup. Ia melihat di Indonesia sudah ada kencenderungan demikian. Selain ke suratkabar, kelompok pebisnis pers telah memperluas bisnisnya ke radio dantelevi si. Dengan demikian suratkabar dapat tetap eksis. Apalagi suratkabarpunya kelebi han dibanding media elektronik. Kelebihan suratkabar yang tidakbisa ditandingi ya itu kedalaman berita , ungkapnya. Menanggapi pers di Indonesia yang sering dinilai telah sangat bebas dan cenderung kebablasan, Leo menyatakan, pers sebetulnya belum benarbenar bebas. Di Indonesia pers yang mengungkap korupsi tapi pers malahyang ditangkap. J adi pers belum bebas . Sedangkan Arya melihat posisis pers diuntungkan dengan reformasi. Pers dapat terbuka, tidak lagi memerlukan izin sehingga tidak dapatdibredel. Keb ebasan pers saat ini, menurut Arya, adalah berkah, ancaman, dan sekaligus tantangan. Tantangan pertama pers Indonesia adalah menjaga kebebasan pers. Ancaman teknologimanjadi tantangan beriku tnya. Ia menambahkan, keberadaan wartawanpemeras dan penyalahgunaan kebebasan ol eh kalangan pers sendirimenjadi tantangan lainnya. Karena itu perlu ditekankan p entingnyapeningkatan profesionalisme wartawan. (Redaksi-Dewan Pers). Sumber : http://www.dewanpers.org/dpers.ph Istilah p penerbitan yang berkaitan dengan media massa atau wartawan. KESIMPULAN EDapat juga merupakan lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik baik cetak maupunelektronik. Dalam pelaksanaan pers di beberapa negara, terdapat kebebasan pers yang ternyata antar negara tidak sama. Ada beberapa negara yang menganut pers Barat dan pers Komunis. Demikian juga di dalam karakteristiknya, ada yang menerapkan teori pers otoriterian, libertarian, tanggung jawab sosial dan komunis. Perkembangan pers di Indonesia yang terus mengalami kemajuan, adalah setelah pemerintah republik Indonesia terbentuk pada tahun 1945. Pasang surut pers di Indonesia dialami baik pada masa revolusi, era demokrasi liberal, zaman orde lama atau persterpimpin, era demokra si Pancasila dan orde baru, serta kebebasan pers era reformasi. Setiap negara memilki karakteristik pers yang berbeda antara satu negara dengan negara lain, hal ini sangat tergantung kepada ideologi atau falsafah yang dianutnya. Ada 6 sifat pers yang kitakenal, yaitu : pers demokrasi liberal, pers komunis, pers otoriter, pers bebas dan bertanggung jawab, pers pembangunan, dan persPancasila. Pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidangpengumpulan dan penye baran informasi, memiliki Visi yakni : ikuat mencerdaskan masyarkat, menegakkan keadilan dan memberantaskebatilan. Menurut Kusman Hidayat dalam bukunya yang berjudul Dasardasar Jurnalistik/Pers menyebutkan ada 4 fungsi pers : yaitu fungsipendidik, fung si penghubung, fungsi pembentuk pendapat umum dan fungsi kontrol. Pers dalam menjalankan fungsi, tugas dan peranannya menghadapibanyak tantangan d an masalahnya sendiri. Pers ditantang untuk bekerja lebih profesional sesuai kode etik, dan dilain pihak pers menghadapi masalah bagaimana memperoleh tenaga yang profesional, cakap dan terampil. Undang-Undang Pers yang pernah ada di Indonesia, antara lain : Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966, Undang-Undang Nomor 4Tahun 1967, Undang-Undan g Nomor 21 Tahun 1982, dan terbaru Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999. Penerapan pers yang bebas dan bertanggungjawab dikembangkan dan dibina dalam suasana yang harmonis terhadap lingkungan, serta merangsang timbulnya kreativitas, bukan sebaliknya dengan menimbulkan ketegangan-ketegangan yang bersifat antagonistis. P l lui ni i P W Ind i (PWI) l h pers pada umumnya mengandung arti merupakan memilki Kode Etik Jurnalistik yang merupakan aturan mengenaimengenai perilaku da n pertimbangan moral yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya. LATIHAN UJI KOMPETENSI A.Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling benar ! 1. Berikut ini merupakan kategori pengertian Pers sesuai dengan Kamus UmumBahasa Indonesia, kecuali .... a. alat cetak untuk mencetak buku atau surat kabar. b. merupakan nama seluruh pener-bitan yang berkala. c. alat untuk menjepit atau memadatkan. d. surat kabar dan majalah yang berisi berita. e. orang yang bekerja di bidang persuratkabaran. 2. Perkembangan pers pada jaman Belanda banyakmengalami hambatan, karenapers dianggap sebagai .... a. momok yang harus diperangi b. media yang sering menghasut c. mitra komunikasi yang jujur d. sarana komunikasi yang ampuh e. lembaga yang harus diwaspadai 3. Pada awal revolusi, sesuai dengan fungsinya persharus menjadi penjaga kepentingan publik atau disebut .... a. public of security b. public watch dog c. public of prosperity d. public of opinion e. public of interest 4. Pada masa orde lama, peranan pers lebih banyak merupakan .... a. alat bagi kepentingan rakyat b. penampungaspirasi rakyat c. sosial kontrol rakyat d. alat bagi para penguasa e. penyambunglidah rakyat 5. Salah satu alasan pemerintahan Orde Baru yangkemudian membatasi kebebasan pers pada masa ituadalah .... a. demonstrasi insan pers yang anarkis b. pemogokanpenerbitan pers c. munculnya pers asing yang komunis d. terjadinya peristiwa Malari 1974 e. pers disusupi kepentingan barat 6. Berikut ini adalah yang termasuk dalam sifat-sifat pers yang antara satu negaradengan negara lain berbeda, kecuali .... a. Pers demokrasi liberal b. Pers reformasi c. Pers komunis d. Pers pembangunan e. Pers otoriter 7. Salah satu misi pers yang harus ditegakkan di Indonesia adalah .... a. melakukan peliputan dengan baik b. selalu berdiri di atas kebenaran c. ikut mencerdaskan masyarakat d. memperjuangkan rasa keadilan e. mendorong clean governance 8. Jika pers melakukan pengawasan kepada masyarakat tentang tingkah laku yang tidak dikehendaki khalayak, maka pers tersebutmelaksanakan fungsi .... a. Kontrol b. c. d. e. opini publik penghubung sensasi publik pendidik 9. Sesuai dengan UndangUndang No.40 Tahun 1999 tentang Pers, bahwa salah satu peranan pers nasional adalah .... a. memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui b. selalu berupaya menggerakan prakarsa masyarakat c. selalu menjadi penengah dalam mengatasi konflik d. mendorongterwujudnya negara hukumIndonesia e. menyebarluaska n informasi yang selalu terbaru 10. Dalam upaya pers menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi atau golongan, maka harus dihindari penyebaran secara terbuka atau terselubung ajaran-ajaranyang mengarah pada .... a. Kapitalisme dan liberalisme b. Sosialisme dan ajaran-ajarannya c. Liberalisme dan ajaran-ajarannya d. Komunisme dan ajaran-ajarannya e. Marxisme atau komunisme B.Uraian Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas ! 1. Jelaskan yang anda ketahui makna pers dalam kehidupan masyarkatdemokratis ! 2. Salah satu karakteristik pers adalah adanya kebebasan yang bertanggung jawab, berikan alasan mengapa demikian ! 3. Beri penjelasan singkat perbandingan sisem dan kemerdekaan pers padanegara barat dengan negara berkembang pada umumnya ! 4. Berikan contoh sekurang-kurangnya 3 (tiga) dampak positif kelahiran erareformasi dengan kebebasan pers di Indonesia ! 5. Beri penjelasan perbedaan yang mendasar antara sifat pers pada negarayang berfal safah demokrasi liberal dengan komunis ! 6. Jelaskan yang dimaksud bahwa pers memiliki fungsi pendidik dan penghubung ! 7. Berikan alasan, mengapa salah satu peranan pers berdasarkan UndangUndang Nomor 40 Tahun 1999 yaitu memperjuangkan keadilan dan kebenaran ! 8. Menurut pendapat anda, apa langkah-langkah yang paling mungkindilaksanakan pemer intah Indonesia dalam rangka menghadapi pers diera reformasi yang cenderung meng edepankan kebebasannya dari padatanggungjawabnya ! 9. Jelaskan, mengapa dalam melaksanakan tugas kewartawanan diperlukanKode Etik Jurn alistik ! 10. Berikan alasan mengapa Kode Etik Jurnalistik menjadi aturan mengenai perilaku dan pertimbangan moralyang harus di anut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya ! C. Tugas dan Diskusi 1. Diskusikan dengan teman-temanmu tentang topik-topik berikut ini ! a. Hubungan kebebasan pers dengan demokratisasi. b. Tantangan dunia pers dalam menjembatani kepentingan rakyat dan pemerintah. c. Pentingnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan perananpers di Indonesia. d. Melalui pers yang bebas dan bertanggung jawab dapat terwujudtegaknya keadilan ! 2. Carilah referensi lain baik dari buku, koran, buletin, majalah, internetdan s ebagainya yang berhubungan dengan pers yang bebas dan bertanggung jawab ! Bentuklah kelompok sesuai dengan kebutuhan ! a. Rumuskan kembali yang dimaksud dengan pers ! b. Jelaskan mengapa di negara Indonesia lebih tepat menerapkan teori pers tanggung jawab sosial ! c. Jelaskan kembali fungsi dan peranan pers dalam kehidupan masyarakat ! d. Berikan contoh dampak positif dan negatif pers Indonesia di era orde baru dan pasca orde baru (reformasi) ! e. Buatlah analisis tentang penerapan peranan pers yang bebas danbertanggung jaw ab di Indonesia dalam rangka mendorongmasyarakat dan pemerintah menuju kehidupan yang demokratis ! f. Buatlah makalah sehubungan dengan pembahasan tersebut danpresentasikan hasiln ya di depan kelas ! D. Inquiry Isilah titik-titik pada kolom berikut ini untuk menganlisis fungsi pers Indonesia dalam mendorong kehidupan masyarakat yang demokratis ! N o FungsiPers Indikator / Keterangan Contoh 1. Pendidik .......................................................... ........................... .......................................................... ........................... .......................................................... ........................... ........................... ............. ........................... ............. ........................... ............. 2. Penghubu ng .......................................................... ........................... .......................................................... ........................... .......................................................... ........................... ........................... ............. ........................... ............. ........................... ............. 3. Pembentu k PendapatUmum .......................................................... ........................... .......................................................... ........................... .......................................................... ........................... ........................... ............. ........................... ............. ........................... ............. 4. Kontrol .......................................................... ........................... .......................................................... ........................... .......................................................... ........................... ........................... ............. ........................... ............. ........................... ............. 5. Pemersat u .......................................................... ........................... .......................................................... ........................... ............. ........................... ........................... .......................................................... ........................... ............. ........................... ............. DAFTAR PUSTAKA (TAMBAHAN) Anwary. S. Dr., Bunga Rampai Amanat Rakyat Jilid I , Jakarta, Penerbit Institute of socio-Ekonomics and Political Studies , 2001. Deden Faturohman dan Wawan Subari, Pengantar Ilmu Politik , Malang, Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang, 2002. Eyo Kahya, Perbandingan Sistem dan Kemerdekaan Pers , Bandung, Penerbit Pustaka Bani Quraisy, 2004. Heru Santoso, Ir. M.Hum., dkk., Sari Pendidikan Pancasila , Yogya, Penerbit PT Tiara Wacana, 2002. Idup Suhadi Drs. M.Si. dan Desi Fernanda Drs. M.Soc.Sc., Dasar-dasar Kepemerintahan Yang Baik , Jakarta, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2001. Kurniawan dan Junaedhie, Ensiklopedi Pers Indonesia , Jakarta, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 1991. Pramudito Sumalyo, Ideologi Negara dan Tantangan Zaman , Jakarta, PT Golden Terayon Press, 1995. Salamoen Soeharyo, Drs. MPA. Dan Nasri Effendi Drs. M.Sc., Administrasi Negara Republik Indonesia , Jakarta, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2001. Sistem Winarno, A. Drs. M.Sc., dan Tri Saksono SH. M.Pd., Kecerdasan Emosional , Jakarta, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2001. Wahyu Suprapri Hj. Dra. MM. Dan Sri Ratna Hj. Ir. MM., Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri , Jakarta, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2001. Yurnaldi dkk., Jurnalistik Siap Pakai , Padang, Penerbit Angkasa Raya.
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful