P. 1
Untitled

Untitled

|Views: 28|Likes:
Published by api-142935716

More info:

Published by: api-142935716 on Jun 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2013

pdf

text

original

FREE WILL DAN PREDESTINATION DALAM PANDANGAN ALIRANALIRAN TEOLOGI ISLAM Makalah (Makalah Ini Dikerjakan Untuk Memenuhi

Tugas Ujian Tengah Semester) Dosen Pengampu: Sarkowi M.Pd

Kelompok 10: Hilmi Faizah Wildan Hakim Maslachah (07610027) (10610093) (10610081)

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2011 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah perbuatan manusia termasuk pembahasan yang begitu kuno, jadi perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia, tetapi manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatannya, menurut aliran Mu'tazila. Sedangkan aliran Asy'ariyah mengemukakan dalam faham Asy'ari manusia ditempatkan pada posisi yang lemah. Jadi, aliran ini lebih dekat pada faham Jabariyah sedangkan aliran Maturidiyah masih ada perbedaan antara Matudiriyah Samarkand dan Matudiriyah Bakhara mengenai perbuatan manusia. Kelompok pertama lebih dekat dengan faham Mu'tazilah sedangkan kelompok kedua lebih dekat pada faham Asy'ariyah. Menurut Harun Nasution yang kemudian diikuti Dr. Hasan Zaini, Qadariyah dalam isitlah inggrisnya dikenal dengan nama Free Will, sedangkan Jabariyah dikenal dengan sebutan Predestination atau Fatalism. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah : “Bagaimana kajian tentang Free Will dan Predastinasion menurut aliran-aliran Teologi Islam?”. 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah “untuk mengetahui kajian tentang Free Will dan Predastinasion menurut aliran-aliran Teologi Islam”.

BAB II PEMBAHASAN Aliran Jabariyah

Dalam pembahasan mengenai perbuatan manusia tampaknya ada perbedaan pandangan antara Jabariyah Ekstrim dan Jabariyah Moderat. Jabariyah Ekstrim berpendapat bahwa segala perbuatan manusia bukanlah merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi kemauan yang dipaksakan atas dirinya. Salah seorang tokoh Jabariyah Ekstrim, mengatakan bahwa manusia tidak mampu berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Jabariyah Moderat mengatakan bahwa Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik, tetapi manusia mempunyai peranan didalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Inilah yang dimaksud dengan kasab (acquisition). Menurut faham Kasab manusia tidaklah Majbur. Tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan. Tetapi manusia itu memperoleh perbuatan yang diciptakan oleh Tuhan. Aliran Qadariyah Aliran Qadariyah menyatakan bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatannya atas kehendaknya sendiri, baik itu berbuat baik maupun berbuat jahat. Karena itu ia berhak menentukan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak memperoleh hukuman atas kejahatan yang telah ia perbuat. Faham Takdir dalam pandangan Qadariyah, Takdir itu adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya untuk alam semesta beserta seluruh isinya yang dalam istilah Al-qur’an adalah Sunatullah. Aliran Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan yang tepat menyandarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan Tuhan. Doktrin-doktrin ini mempunyai tempat pijakan dalam doktrin Islam sendiri banyak ayat Al-Qur’an yang mendukung pendapat ini misalnya dalam surat Al-Kahfi ayat ke-29 yang artinya :

‫وقل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن و من شاء فليكفر إنا اعتدنا للظلمين نارا أحاط بهم‬ (29)‫سرادقها وإنايستغيثوا يغاثوا بماء كالمهل يشوى الوجوه بئس الشراب وساءت مرتفقا‬ “Katakanlah, kebenaran dari Tuhanmu, barang siapa yang mau, berimanlah dia, dan barang siapa yang ingin kafir maka kafirlah ia” Aliran Mu’tazilah Aliran Mu'tazilah memandang manusia mempunyai daya yang besar dan bebas. Oleh karena itu, Mu'tazilah menganut faham Qodariyah atau Free Will. Menurut Al-Juba'i dan Abd. Aljabbra, manusialah yang menciptakan perbuatanperbuatannya. Manusia sendirilah yang membuat baik dan buruk. Kepada Tuhan dan ketaatan seseorang kepada Tuhan adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri. Daya (al-istita'ah)untuk mewujudkan kehendak terdapat dalam diri manusia sebelum adanya perbuatan. Menurut tokoh Mu’tazilah manusia yang menciptakan perbuatanperbuatannya. Mu’tazilah dengan tegas menyatakan bahwa daya juga berasal dari manusia. Daya yang terdapat pada diri manusia adalah tempat terciptanya perbuatan. Jadi, Tuhan tidak dilibatkan dalam perbuatan manusia. Paham Mu’tazilah yang memberikan kebebasan dan berkuasanya manusia, akan lebih jelas lagi jika kita merujuk pernyataan para tokohnya, Wasil bin Atha. Misalnya dalam masalah ini, pendiri Mu’tazilah ini banyak persamaan dengan Ma’bad Al-Juhani dan Ghilan Al-Dimsyaqi. Menurut Wasil bin Atha, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu adil. Tidak boleh menyandarkan kejelekan dan kedzaliman kepada-Nya, dan tidak boleh berkehendak agar hamba-Nya menyelesihi perintah-Nya. Tuhan harus mengadili mereka kemudian membalas mereka atas perbuatan-perbuatannya. Maka hamba, kata Washil bin Atha adalah yang mengerjakan kebaikan dan keburukan. Begitu juga iman, kufur, ta’at dan ma’siat itu pilihan manusia. Senada dengan Washil, Al-Juba’I juga mempunyai pandangan bahwa manusialah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya. Manusia berbuat baik dan buruk, patuh dan tidak patuh kepada Tuhan atas kemauannya sendiri. Dan daya (al-Isthitha’ah) untuk mewujudkan kehendak itu telah terdapat dalam diri

manusia sebelum adanya perbuatan. Begitu juga dengan Al-Qadh Abd Al-Jabbar. Menurutnya, perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia. Tetapi, manusia sendirilah yang mewujudkannya. Perbuatan adalah apa yang dihasilkan dengan daya yang bersifat baharu. Manusia adalah makhluk yang dapat memilih. Tuhan, menurut Abd Al-Jabbar, tidak akan menyiksa atau memberi pahala kepada seseorang berdasar kehendak mutlak-Nya, tetapi karena amal yang dilakukannya. Dalam pengertiannya sebagai suatu tindakan, amal yang dilakukan seseorang terjadi karena pilihan bebasnya. Karena itu, menjadi mukmin atau kafir bukanlah ditetapkan oleh kehendak mutlak Tuhan, tetapi merupakan pilihannya sendiri. Akan tetapi, agar pilihan tersebut berjalan adil pula, Allah wajib menurunkan petunjuk, aturan, dan mengirim nabi-nabi dengan membawa peringatan. Jika semua itu telah diberikan Tuhan, maka manusia dipersilahkan memilih menjadi iman atau kafir. Dari beberapa keterangan tokoh Mu’tazilah di atas, jelaslah bahwa manusia dalam pandangan Mu’tazilah adalah pencipta perbuatannya. Kehendak berbuat adalah kehendak manusia. Perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia, tetapi manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatannya. Lantas bagaimana dengan daya? Apakah diciptakan Tuhan untuk manusia, atau berasal dari manusia sendiri? Mu'tazilah dengan tegas mengatakan bahwa daya juga berasal dari manusia. Daya yang terdapat pada diri manusia adalah tempat terciptanya perbuatan. Jadi, Tuhan tidak dilibatkan dalam perbuatan manusia. Aliran Mu'tazilah mengecam keras faham yang mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan. Bagaimana mungkin, dalam satu perbuatan akan ada dua daya yang menentukan? Dengan faham ini, aliran Mu'tazilah mengaku Tuhan sebagai pencipta alam, sedangkan manusia berpihak sebagai pihak yang berkreasi untuk mengubah bentuknya. Meski berpendapat bahwa Allah tidak menciptakan manusia dan tidak pula menentukannya, kalangan Mu'tazilah tidak mengingkari Azali Allah yang

mengetahui segala apa yang akan terjadi dan diperbuat manusia, pendapat inilah yang membedakannya dari penganut Qodariah murni. Untuk membela fahamnya, aliran Mu'tazilah mengungkapkan ayat berikut: ۷ : ‫)ألذى أحسن كل شێ خلقه )السجدة‬ Artinya: "Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya". (QS. As-Sajdah: 7). Yang dimaksud dengan Ahsana pada ayat di atas, adalah semua pebuatan Tuhan adalah baik. Dengan demikian, perbuatan manusia bukanlah perbuatan Tuhan, karena perbuatan manusia terdapat perbuatan jahat. Dalil ini di kemukakan untuk mempertegas bahwa manusia akan mendapat balasan atas perbuatannya. Sekiranya perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan, balasan dari Tuhan tidak ada artinya. Disamping argumentasi Naqliah di atas, aliran Mu'tazilah mengemukakan argumentasi berikut ini : Kalau Allah menciptakan perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri tidak mempunyai perbuatan, bat Allah taklif syar'i. Hal ini karena Syariat pemenuhan Thalap tidak terlepas dari kemampuan, kebebasan, dan pilihan. b. Kalau manusia tidak bebas untuk melakukan perbuatannya. Runtuhlah teori pahala dan hukuman yang muncul dari konsep faham Al-Wa'dwaalwa'id(janji dan ancaman). Hal ini karena perbuatan itu menjadi tidak dapat disandarkan kepadanya secara mutlak sehingga berkonsekuensi pujian atau celaan. c. Kalau manusia tidak mempunyai kebebasan dan pilihan, pengutusan para nabi tidak ada gunanya sama skali. Bukankah tujuan pengutusan itu adalah dakwa dan dakwa harus di barengi kebebasan pilihan?

Konsikoensi lain dari faham di atas, Mu'tazilah berpendapat bahwa manusia terlibat dalam penentuan ajal karena ajal itu ada dua macam, pertama, adalah AlAjal Ath-Thabi'i. Ajal inilah yang di pandang Mu'tazilah sebagai kekua saan mutlak Tuhan untuk menentukannya. Adapun jenis yang kedua adalah ajal yang dibikin manusia untuk sendiri, misalnya membunuh seseorang, atau bunuh diri di tiang gantungan, atau minum racun. Ajal yang ini dapat dipercepat dan diperlambat. Aliran Asy'ariyah Dalam faham Asy'ari manusia di tempatkan pada posisi yang lemah. Ia di ibaratkan anak kecil yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Oleh karana itu, aliran ini lebih dekat dengan paham Jabariah dari pada dengan faham Mu'tazilah untuk menjelaskan dasar pijakannya. Asy'ari, pendiri aliran Asy'ariyah, memakai teori Al-Kasb (acquisition, perolehan). Teori Al-Kasb Asy'ari dapat di jelaskan sebagai berikut: Segala sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang di ciptakan, sehingga menjadi perolehan bagi Muktasib yang memperoleh kasab untuk melakukan perbuatan. Sebagai konsekoensi dari teori Kasab ini, manusia kehilangan keaktifan, sehingga manusia bersifat pasif dalam perbuatanperbuatannya. Argumen yang diajarkan oleh Al-Asya‘ari untuk membela keyakinannya adalah firman Allah: (PAGE 6 ۹ : ‫وال خلقكم وما تعملون )الصافات‬ Artinya: "Tuhan menciptakan kamu apa yang kamu perbuat". (Q.S. Ash-Shaffat [37]:96) Wama Ta'malun pada ayat diatas di artikan Al-Asy'ari dengan apa yang kamu perbuat dan bukan apa yang kamu perbuat. Dengan demikian, ayat ini mengandung arti Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatanmu dengan kata lain, dalam faham Asy'ari, yang mewujudkan Kasab atau perbuatan manusia sebenarnya adalah Tuhan sendiri. Pada prinsipnya aliran Asy'ariyah berpendapat

bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya. Allah menciptakan perbuatan untuk manusia dan menciptakan pula pada diri manusia, daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan di sini adalah ciptaan Allah dan merupakan Kasab (perolehan) bagi manusia. Dengan demikian, Kasab mempunyai pengertian penyertaan perbuatan dengan daya manusia yang baru. Ini berimplikasi bahwa perbuatan manusia di barengi oleh daya kehendaknya, dan bukan atas daya kehendaknya. Aliran Maturidiyah Ada perbedaan antara Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah Bukhara mengenai perbuatan manusia. Kelompok pertama lebih dekat dengan faham Mu'tazilah, sedangkan kelompok kedua lebih dekat dengan faham Asy'ariyah. Kehendak dan daya berbuat pada diri manusia, menurut Maturidiyah Semarkand, adalah kehendak dan daya manusia dalam kata arti sebenarnya, dan bukan dari kiasan. Perbedaannya dengan Mu'tazilah adalah bahwa daya untuk berbuat tidak diciptakan sebelumnya, tetapi bersama-sama dengan perbuatannya. Daya yang Mu'tazilah. Oleh karena itu, manusia dalam faham Al-Maturidi, tidaklah sebebas manusia dalam Mu'tazilah. Maturidiyah Bakhara dalam banyak hal sependapat dengan Maturiyah Samarkand. Hanya saja golongan ini memberikan tambahan dalam masalah daya. Manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhanlah yang dapat menciptakan, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan baginya. Asal-Usul Maturidiya Aliran Maturidiyah lahir di Samarkand, pertengahan kedua dari abad IX M. Pendirinya adalah Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Almaturidi. Riwayatnya tidak banyak diketahui. Ia sebagai pengikut Abu Hanifa sehingga paham teologinya memiliki banyak persamaan dengan paham-paham yang dipegang Abu Hanifa. Sistem pemikiran aliran Maturidiyah, termasuk golongan

teologi ahli sunah. Untuk mengetahui sistem pemikiran Al-maturidi, kita bisa meninggalkan pikiran-pikiran Asy’aryah dan aliran Mu’tazilah, sebab ia tidak lepas dari suasana zamannya. Maturidiyah dan Asy’ariyah sering terjadi persamaan pendapat karena persamaan lawan yang dihadapinya yaitu Mu’tazilah. Namun, perbedaan dan persamaannya masih ada. Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-maturidi sebagai pengikat Abu Hanifa. Dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap Mu’tazilah.

Pokok-Pokok Ajaran Maturidiyah, adalah: Aliran Maturidiyah lahir di Samarkand, pertengahan kedua dari abad IX M. Pendurinya adalah Abu Mansur Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmud Almaturi di. Riwayatnya tidak banyak diketahui. Ia sebagai pengikut Abu Hanifa sehingga paham teologinya memiliki banyak persamaan dengan paham-paham yang dipegang Abu Hanifa. Sistem pemikiran aliran Maturidiyah, termasuk golongan teologi ahli sunah. Untuk mengetahui sistem pemikiran Al-Maturidiyah, kita bisa

meninggalkan pikiran-pikiran Asy’aryah dan aliran Mu’tasilah, sebab ia tidak lepas dari suasana zamannya. Maturidiyah dan Asy’aryah sering terjadi persamaan pendapat karena persamaan lawan yang dihadapinya yaitu Mu’tazilah. Namun, perbedaan dan persamaannya masih ada. Al-Maturidiyah dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-maturidi sebagai pengikat Abu Hanifa. Dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap Mu’tazilah.

Golongan-bolongan Di dalam Maturidiyah Ada dua golongan didalam maturidiyah yaitu ; 1. Golongan Maturidiyah Samarkand a. Yang menjadi golongan ini dalah pengikut Al-Maturidi sendiri, golongan ini cenderung ke arah paham Mu’tazilah. Sebagaimana pendapatnya soal sifatsifat Tuhan, Maturidi dan Asy’ary terdapat kesamaan pandangan, menurut Maturidiyah. Tuhan mempunyai sifat-sifat, Tuhan mengetahui bukan dengan Zat-Nya, melainkan dengan pengetahuan-Nya. Begitu juga Tuhan berkuasa dengan Zat-Nya. Mengetahui perbuatan-perbuatan manusia. Maturidiyah sependapat dengan golongan Mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya menwujudkan perbuatan-perbutannya. Apabila ditinjau dari sini, Al-Maturidi berpaham Qadariyah. Maturidiyah menolak paham-paham Mu’tazilah, antara lain dalam soal tidak sepaham mengenai pendapat mu’tazilah yang mengatakan bahwa AlQur’an itu makhluk. b. Paham posisi menengah kaum Mu’tazilah, hal ini Maturidi juga sepaham dengan Mu’tazilah dalam soal Al-Wa’d wa al-Waid. Bahwa janji dan ancaman Tuhan kelak pasti terjadi, yaitu memberi pahala surga bagi yang berbuat baik (al-muthi) dan mengancam dengan siksa neraka atas orang yang durhaka (al-ashi). Demikian pula masalah Antropomorphisme. Dimana faham Maturidi berpendapat bahwa Tuhan mempunyai tangan, mata, wajah, dan sebagainya seperti pengambaran Al-Qur’an. Mesti diberi arti kiasan (majazi). Dalam hal ini. Al-Maturidi bertolak belakang dengan pendapat Asy’ary, sebagai mana aliran Maturidiyah Samarkand yang menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan mempunyia bentuk jasmani tak dapat diberi interpretasi (ditakwilkan). 2. Golongan Maturidiyah Bukhara Golongan Maturidiyah Bukhara ini dipimpin oleh Abu Al-yusr Muhammad Al-Bazdawi. Dia merupakan pengikut Al-Maturidi yang penting dan penerus yang

baik dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi menjadi salah satu murid AlMaturidi. Dari orang tuanya, Al-Bazdawi dapat menerima ajaran Al-Maturidi. Dengan demikian yang di maksud golongan Maturidiyah Bukhara adalah pengikut-pengikut Al-Bazdawi di dalam aliran Al-Maturidi, yang mempunyai pendapat lebih dekat kepada pendapat-pendapat Al-asy’ary. Namun walaupun sebagai aliran Maturidiyah. Al-Bazdawi tidak selamanya sepaham dengan Al-Maturidi. Ajaran-ajaran teologinya banyak dianut oleh sebagin umat Islam yang bermazab Hanafi. Dan pemikiran-pemikiran Maturidiya sampai sekarang masih hidup dan berkembang dikalangan umat Islam. Bagi golongan Maturidaiyah perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan. AlMaturidi mengikuti Abu Hanifah, menyebut dua perbuatan, perbuatan tuhan dan perbuatan manusia. Peruatan maTuhan mengambil bentuk penciptaan daya dalam diri manusia dan pemekaian daya ituitun sendiri merupakan merupakan perbuatan manusia. Daya diciptakan bersama-sam dengan perbuatan.sedangkan perbuatan manusia adalah perbuatan manusia dalam arti sebenarnya dan bukan dalam arti kiasan, pemberian hukum didasarkan atas pemakaian daya daya yang di ciptakan. Dengan demikian manusia diberi daya untuk melakukan perbuatan, yang mana manusia akan mendapat hukuman jika salah memakai daya dan mendapat pahali jika memaki daya dengan benar.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari beberapa penjelasan di atas menjelaskan pemikiran dan sudut pandang dalam menyikapi Tuhan dengan manusia adalah Tuhan sebagai pencipta alam, sedangkan manusia berpihak sebagai pihak yang berkreasi untuk mengubah bentuknya. Aliran Asy'ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya. Allah menciptakan perbuatan untuk manusia dan menciptakan pula pada diri manusia, daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Menurut aliran Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-maturidi sebagai pengikat Abu Hanifa. Dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap Mu’tazilah. B. Saran Dari beberapa uraian di atas yang telah kami susun sangatlah sesuai dengan apa yang telah di sebutkan dalam buku (ilmu kalam) dan dari semua itu

merupakan hasil pemikiran yang telah kami kembangkan. Dengan adanya makalah ini maka dapat kami sarankan bahwa kita selaku umat islam haruslah benar-benar berprilaku yang baik dan bertindak dengan baik supaya tidak menyimpang dari ranah-ranah yang telah ditentukan oleh Allah SWT dan dicontohkan terhadap Nabi Muhammad SAW. Dan dengan tersusunnya makalah ini pula lah kita jadikan sebagai bahan acuan dan pertimbangan. Walaupun semua pendapat manusia itu belum tentu selamanya benar dan juga salah. DAFTAR PUSTAKA Anwar, Rosihon.2003. Ilmu Kalam.Bandung : Pustaka setia. Geroge,Balandes.1986. Antropologi Politik.Jakarta : Bina Aksara. Moosa,Ebrahim.2000. Fundamentalisme Islam.Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nasution,Harun.2002. Teologi Islam.Jakarta:UI-Press. Zaini,Hasan.1997. Tafsir Tematik Ayat-Ayat Kalam Tafsir alMaraghi.Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Nasution Harun, 2002. Teologi Islam, Jakarta:UI-Press. Rozak, Abdul dan Rosihon Anwar.2001.Ilmu Kalam.Bandung:CV Pustaka Setia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->