DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI SECARA EKLEKTIK PADA DESAIN MASA KINI
berdasarkan perspektif historis dan semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini Berdasarkan Perspektif Historis dan Semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn E-mail: arimbawa @yahoo.com Hak Cipta © 2010 Pada penulis Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara digital maupun mekanis, termasuk memfotocofy, merekam atau dengan system penyimpanan lainnnya, tanpa seizin tertulis dari penulis Desain cover & setiting : Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn 21 x 15 cm Penerbit : Udayana University Press Jimbaran Denpasar Bali Bekerja sama dengan: Intitut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar

ISBN: 978-602-8566-65-0

.. Kajian Historis………………………………….……………………………… v PENGANTAR PENULIS…………………………….. 97 A... 119 D. 116 2.. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali 21 BAB III PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI………………………………….... 19 B... 128 1........ 1 BAB II EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI………………………………………. 52 BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA…………………………………………….... 97 B. Sejarah Penerapan Produk Kriya……………. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Ele-men Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini…….... 122 BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI ……………………………… 128 A.... 28 B...... 19 A. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu …………….. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali…..... 115 1.... Konsep Sekular………………………………. Konsep Spiritual Religius……………………. Pengertian Eklektik…………………………….DAFTAR ISI JUDUL………………………………………………… i DAFTAR ISI………………………………………….. Pendekatan Historis……………………………. 128 .... viii BAB I PENDAHULUAN………………………………. Pendekatan Semiotis…………………………… 100 C. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya….... iii SAMBUTAN .. 28 A..

. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini…………………………………. 157 1...... Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini……...2. 148 B... 159 2...... 161 DAFTAR BACAAN 168 ........ Kajian Semiotis………………………………. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu………………………….

BAB I

PENDAHULUAN

etelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950, perkembangan pariwisata di Bali kembali mengalami kebangkitan dan hingga sekarang menjadi pusat pengembangan industri pariwisata di kawasan tengah Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut, pengaruh pariwisata sangat dirasakan oleh masyarakat di Bali. Di satu sisi banyak prestasi gemilang yang telah diraih dan secara tidak langsung dapat membawa kehidupan masyarakat di Bali menjadi lebih baik, namun di sisi lain pengaruh tersebut tidak dapat dielakkan lagi menimbulkan dampak negatif dan menjadi masalah terhadap kelestarian kebudayaan Bali. Nilai-nilai tradisional banyak menjadi tidak eksis dan bahkan menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antar manusia sebagai konsekuensi logis adanya aktivitas pariwisata. Hubungan sosial antar manusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi dan kepentingan. Budaya kolektif berubah menjadi individual. Menurut Geriya (1993), bahwa dampak pariwisata khususnya dalam konteks sosial budaya ditandai dengan adanya beberapa indicator sebagai berikut.

S

1. Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan terkonsentrasi di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut. 2. Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. 3. Meningkatnya mobilitas penduduk dalam bekerja. 4. Mundurnya aktivitas gotong royong. 5. Berkembangnya konflik antargenerasi, khususnya generasi tua dan generasi muda. 6. Terjadinya gejala social defiance yang meliputi kejahatan, narkotika, maupun penyakit kelamin. 7. Terjadi komersialisasi kebudayaan dan hasilnya. Mengenai indikator pada poin ketujuh merupakan salah satunya masalah terkait dengan eksistensi kehidupan kebudayaan tradisional Bali. Hasil kebudayaan unggul (height culture) hendaknya diposisikan sebagai basis kreativitas yang kaya inspirasi, kokoh identitas, kuat modal budaya yang mengkonstruksi, mengintegrasi dan menyeimbangkan, sehingga tidak tergerus oleh mekanisme komersialisasi dan komoditisasi. Antara kebudayaan tradisional Bali dan penciptaan desain produk masa kini agar terjaga pola hubungan sinergis, komplementer yang simetris dan saling meningkatkan. Hal tersebut menjadi penting, mengingat hasil kebudayaan unggul memiliki karakteristik sebagai ber-

ikut: (1) mengedepankan kualitas, sehingga diagungkan dan dimuliakan (adhiluhung); (2) menjadi sumber inspirasi atau spirit dan kreasi oleh mayoritas populasi dan perajin; (4) memiliki sifat khas, lentur dan adaptif dengan roh budaya; (5) mengandung sari-sari budaya dan peradaban, seperti etika, estetika, logika, solidaritas, spiritualitas dan aneka kearifan lokal. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Mantra (1988) bahwa kebudayaan Bali dalam perkembangannya berfungsi secara “normatif” dan “operasional”. Berfungsi normatif, karena terkait dengan adat-agama Hindu di Bali, maka peranan kebudayaan Bali diharapkan mampu dan berpotensi memberikan pegangan dasar dan pola pengendalian, sehingga ketahanan dan kelestarian budaya dapat diwujudkan. Berfungsi operasional, karena kebudayaan Bali diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi peningkatan kualitas kepariwisataan di Bali. Upaya mewujudkan ketahanan dan kelestarian kekayaan budaya serta alam Bali, maka pada beberapa dasawarsa silam, pemerintah daerah Tingkat I Bali dalam melaksanakan pembangunan yang mencakup berbagai sektor dirumuskan peraturan-peraturan daerah yang diarahkan pada pembangunan dengan pola budaya Bali, berwawasan lingkungan dan dilandasi dengan konsep adati-Hinduisme, seperti: 1. Rwa Bhineda, yaitu dua hal yang berbeda terdapat di dunia ini. Bagi orang Bali perbedaan tersebut tidak harus dipertentangkan, melainkan

Konsep tersebut memberi kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan tidak luput dari belenggu dikotomi yang bersifat kodrati. yaitu kemampuan untuk menimbang konsekuensi baik atau buruk yang akan berpengaruh pada manusia dan lingkungan. prãptavyamavašaih sarva parihãro na vidyate. Hal tersebut. 1993. selaras dan seimbang).diharmoniskan (serasi. . dan sakral atau profan. menghidarkan tindakan yang arogan dan harus berdasarkan nalar atau wiweka. Oleh sebab itu. sehingga segala makhluk tidak luput dari ikatan suka maupun duka (Kadjeng. nyata atau tidak nyata (sekala atau niskala). Artinya: dua hal yang berbeda. maka dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. yaitu sebagai berikut: sukha vã yadi vã duhkham bhûtãnãm paryupasthitam. seloka: 498. seperti: baik atau buruk. merupakan kekuasaan Sang Hyang Widhi Waša atau Tuhan. seperti suka dan duka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. kebolehan dan kemampuan sebenarnya sangat sulit untuk menentukan batas absolut dua hal tersebut.) Sebagai manusia dengan berbagai keterbatasan. dituntut bijak. sesuai dengan yang termaktub dalam Kitab Sarasamušcaya. siang atau malam. pria atau wanita.

moksartham jagadithya ca iti dharma. karena merupakan kebahagian sejati. Perkataan dharma. ‘dhir. artinya empat tujuan hidup sebagai dasar kehidupan sosial. berasal dari bahasa Šanskerta. adil. menuntun. artinya benda atau sarana yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. berasal dari Bahasa Šanskerta. kãma dan moksa. Hal tersebut. Catur Purusha Artha. sesuai dengan pen- . Artha. maka tuntutan akan artha dan kãma dapat dikendalikan. Dari keempat tujuan hidup tersebut. Kãma.’ yang berarti: menjunjung. dorongan nafsu atau keinginan yang bersifat duniawi. berarti naluri. Sedangkan perkataan Moksa.2. yaitu terdiri dari: dharma. rasa bersahabat. memangku. Keempat bagian tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh. Sedangkan dharma adalah tujuan terpenting. ‘Muc’ yang berarti membebaskan atau melepaskan ikatan duniawi. artinya tujuan dharma adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani yang selaras dan seimbang. memelihara dan melestarikan. moksa adalah merupakan tujuan hidup yang tertinggi. mengatur. sebab dengan perbuatan yang dilandasi dengan dharma. artha.

adalah bagian dari Tri Pramana dalam lingkup perilaku manusia. hendaknya mengutamakan dharma.1993.) Konsep tersebut merupakan panduan absolut bagi manusia untuk membina keseimbangan dan keselarasan antara alam sekala dan niskala. Artinya: jika menuntut artha dan kãma dalam hidup ini. Dalam usaha memenuhi tuntutan artha dan kãma. untuk mencapai jagaddhita atau kebahagian dan kesejahteraan hidup. Desa Kala Patra.jelasan dalam Kitab Sarasamušcaya. nahi dharmmãdapetyãrthah kãmo vapi kadãcana. nantinya tak disangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kãma. seloka: 12. bila artha dan kãma tesebut diperoleh dengan perbutan yang menyimpang dari dharma (Kadjeng. Hal tersebut merupakan suatu penafsiran atau fatwa agar manusia senantiasa memelihara dan melestarikan alam semesta yang mencakup bhuana agung (makrokosmos) serta bhuana alit (mikrokosmos). 3. Tidak ada artinya. merupakan tiga ukuran yang dapat dipakai seba- . hendaknya manusia mengendalikan diri dan lebih mengutamakan perbuatan dharma. yaitu sebagai berikut: Kamãrthau lipsamnastu dharmmamevãditašsaret.

peraturan. Manusia hendaknya mampu menyesuaikan dengan waktu. keputusan atau kebijakan yang akan diberlakukan dalam masyarakat. Desa dalam konteks perilaku manusia merupakan pedoman berdasarkan tempat atau lingkungan di mana perbuatan tersebut dilakukan. Dua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik dan marupakan “hukum” dan telah dipercayai umat Hindu di Bali. kenyamanan. tempat atau lingkungan dan keadaan atau peraturan yang telah berlaku. yaitu terdiri dari kata Karma yang artinya perbuatan dan Phala artinya buah atau hasil. Sedangkan Patra merupakan pedoman berdasarkan “keadaan” atau peraturan tertulis yang berlaku.gai pedoman untuk menilai kenyataan Rwa Bhineda. sehingga tercipta kesatuan pandang dan keadaan yang mengarah pada kedamaian. 4. Karma Phala. khususnya dalam mengambil sikap. Konsep tersebut memberikan landasan ideal yang luwes atau fleksibel. Jadi Karma Phala mengandung arti: hasil dari perbuatan. bahwa semua perbuatan manusia pasti akan memperoleh hasil yang setimpal (inter- . kesejahteraan umat manusia dan kelestarian lingkungan. Kala merupakan pedoman berdasarkan waktu perbuatan atau aktivitas tersebut dilakukan.

Hukum Karma dikenal pula sebagai hukum alam atau kausalitas dan tak seorang pun luput dari hukum tersebut. baik di dunia nyata (sekala) maupun di akhirat (nis-kala). sebaliknya perbuatan buruk akan memperoleh hasil yang buruk. 25. konsep tersebut melandasi sikap antisipatif. 1. Dewa yang tersuci penegak hukum keabadian yang memiliki kekuatan suci. baik antar sesama sebagai sum- . Dalam Kitab Reg Veda VII. pengendalian atau restraint dan pembinaan moral dalam segala perilaku manusia sehari-hari. keseimbangan dan menghindari kekacauan alam semesta. memberi pendirian terhadap hukum kausalitas yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini. Jadi. Konsep yang dilandasi Karma Phala. hukum tersebut dikenal dengan perkataan Rtã dan dijelaskan sebagai berikut: Tã vãm vivaya gopã Deva dikesu yajñiyã rtãvãnã yajase putadaksasã. Menanamkan kepercayaan bahwa. Hukum tersebut mengatur keterpaduan. perbuatan baik selalu akan mendatangkan hasil yang baik. Artinya: Kami memuja engkau yang menjaga alam semesta.aksi yang seimbang). juga sebagai hukum jagat raya. Jadi. hukum Rtã selain sebagai hukum perbuatan serta hukum moral.

ber daya manusia. ‘Hita’ berarti sejahtera. selamat dan sejahtera. artinya manusia hendaknya selalu sujud kehadapan-Nya atas segala rahmat dan karunia-Nya. artinya manusia hendaknya selalu merawat dirinya sendiri dan menjaga. maupun dalam memperdayakan sumber daya alam. (2) Pola hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya disebut Palemahan. yaitu: (1) Pola hubungan manusia dengan Tuhan disebut Parhyangan. Perkataan tersebut terdiri dari kata ‘Tri’ berarti tiga. selamat atau kemakmuran dan ‘Karana’ berarti penyebab. sehingga tercipta kehidupan yang sehimbang. kesejahteraan atau kemakmuran. Secara keseluruhan Tri Hita Karana mengandung pengertian: tiga penyebab terciptanya keselamatan. Esensi dari konsep tersebut merupakan sinergisme yang meliputi pembinaan hubungan yang harmonis. Membatasi eksplorasi dan ekploitasi alam. (3) Pola hubungan manusia dengan manusia disebut dengan Pawongan. baik secara vertikal maupun horizontal. artinya manusia dalam kehidupanya hendaknya selalu dapat menjalin rasa persahabatan . Palemahan dan Pawongan. Terdiri dari: Parhyangan. 5. Tri Hita Karana. memelihara kelestarian alam disekitarnya.

1985) Sedangkan jengah dalam Bahasa Bali berarti: semangat juang. 1994) Demikian juga secara Sosiologi. kata jengah berkonotasi sebagai .yang didasari dengan saling pengertian dan Tãt Twãm Ãsi. terutama dalam menciptakan produk-produk seni bermutu tinggi. bahwa perkataan etos yang terkait dengan kebudayaan berarti: sifat. 6. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. Twãm artinya “kamu” dan Ãsi artinya “adalah”. (2) karakter umum suatu pekerjaan (Soekanto. Jadi secara keseluruhan berarti “itu adalah kamu”. Etos Kerja dan Jengah atau semangat kerja. Kalau ditambah dengan kerja. Pengertian “itu” termasuk “aku” dimaksudkan diri sendiri dan alam semesta beserta isinya. berarti semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Jika menyakiti orang lain secara implisit berarti menyakiti diri sendiri. nilai dan adat-istiadat yang khas serta memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial di masyarakat. Dalam konteks seni Budaya Bali. berarti: (1) nilai-nilai dan ide-ide suatu kebudayaan. Secara harfiah terdiri dari kata: Tãt artinya “itu”.

“semangat bersaing” atau competitive pride (Mantra. 1993) Dari pengertian etos kerja tersebut. dinamis dan kebersamaan dalam pembangunan disegala sektor. rasa dan karsa manusia yang muncul akibat perpaduan antara keserasian keselarasan dan keseimbangan dalam suatu pro- . maka sifat khas atau semangat kerja yang dimiliki masyarakat dalam lingkungan adat Bali. Bagi orang Bali keindahan. diakomodasikan dan dikendalikan dengan konsep tersebut sebelumnya. 7. sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian serta dalam mengeksploitasi sumber daya alam akan dapat diharapkan terwujudnya kelestarian. yaitu dalam bentuk pengorbanan suci atau Yajña. Konsep tersebut merupakan landasan dari kerja keras. Sedangkan dalam perkata jengah secara implisit tersirat sifat dinamis dan merupakan pangkal dari segala dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat di Bali. Tetapi kedua hal tersebut perlu diarahkan. baik keindahan alam maupun keindahan hasil olah cita. Estetika. adalah semangat kerja yang dilandasi dengan gotong royong serta berbakti dengan cara yang tulus iklas atau ngayah kepada Tuhan berserta ciptaannya.

maupun pada produk seni atau produk kriya tradisional yang adiluhung. Sehingga dengan melakukan persembahan keindahan berarti berbuat yajña. kejujuran dan kebenaran. maka pengertian indah akan menyiratkan nilai kejujuran dan kebaikan. keindahan merupakan hal pokok yang harus diperhitungkan. seni dengan keindahan hendaknya dipersembahkan kembali kepada-Nya dalam produk seni ataui desain berbentuk simbol-simbol atau nyasa. karena bagi umat Hindu di Bali dipercayai bahwa dalam keindahan tersirat nilai-nilai kebaikan. baik terlihat di alam sebagai ciptaan-Nya yang agung. sebagai rasa terimakasih. Oleh sebab itu. maka dalam setiap kegiatan adat-agama Hindu di Bali. seperti Plato menyebut ‘watak indah’ atau ‘hukum indah’ dalam konteks tersebut. Pandangan tersebut sesuai dengan yang dijelaskan Gie (1976) bahwa keindahan dalam arti luas mencakup pula ide kebaikan (mengacu pada pengertian bangsa Yunani kuno. karena . Konsep tersebut juga merupakan pedoman bagi generasi penerus dalam menghayati menikmati. dan menghargai keindahan. Dengan pandangan tersebut.duk seni atau desain adalah merupaka karunia Tuhan.

di dalamnya tersirat nilai-nilai luhur. baik dengan Tuhan. apabila mampu merefleksikan inner power pada produk visualnya. sehingga tetap tercipta “keindahan”. Seorang perupa dikatakan produknya ber-taksu. keserasian. Dalam kaitannya dengan pelbagai aktivitas budaya Bali. keindahan dan mujizat. Mengajarkan manusia agar berbuat dengan mengarah pada keselarasan. merupakan personal asset atau inner power yaitu kekuatan dari dalam diri seseorang sebagai fitrah yang memberikan kecerdasan. Taksu. 8. yang memberi kekuatan spiritual kepada seorang seniman untuk mengungkap dirinya menjadi “lebih besar” dari kehidupan sebelumnya (Mantra. sehingga berkesan “hidup” . apabila ia mampu mentransformasikan dirinya secara utuh sesuai dengan peran yang ditampilkan. sehingga dapat tampil sebagai jati diri yang mandiri. genuine creativity. taksu juga mempunyai arti sebagai kreativitas murni. dan keseimbangan. 1993) Konsep tersebut menuntun kesadaran manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. sebab setiap insan memiliki taksu sebagai anugrah Tuhan yang perlu dilatih dan dikembangkan. Seorang seniman tari dapat dikatakan memiliki taksu. sesama mahkluk maupun dengan alam di sekelilingnya.

Konsep pariwisata budaya diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan kebudayaan masyarakat Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. “over acting”. yaitu jenis kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu sebagai potensi daerah yang paling dominan. Karena sikap tersebut. Dalam konsep tersebut secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. Namun dalam mensosialisasikan kesadaran tersebut. sela- . atau jangan sampai melewati batas norma-norma yang berlaku.dan sebagainya. Demikian juga pengembangan pariwisata di daerah Bali. sehingga tidak terjadi penampilan yang terlalu berlebihan. secara yuridis berdasarkan Perda Nomor 3 tahun 1974 juncto Perda Nomor 3 tahun 1991 yang menetapkan bahwa konsep pengembangan pariwisata di Bali adalah berbasis budaya Bali. perlu juga ditopang atau dikendalikan oleh konsep-konsep lainnya yang telah dipaparkan. Taksu yang dimiliki akan berubah menjadi “kelemahan”. kadang dapat menjadi bumerang.

Walaupun sedemikian luhurnya maksud dan tujuan konsep yang melandasi strategi pembangunan di Bali. dan nilai-nilai estetika yang khusus untuk diterapkan pada sarana pemujaan dan dianggap mengandung nilai simbolis dan sakral. Karang Bhoma yang sebenarnya merupakan ragam hias pada bangunan-bangunan suci. rumah tinggal dan bahkan sebagai hiasan pada bagian tubuh dengan di-tatto. seperti fenomena eklektik atau “pemilihan” bentuk-bentuk atau ragam hias tradisional Bali yang sebenarnya dirancang dengan bentuk. namun kini banyak tampak diterapkan pada desain produkproduk profan atau tempat-tempat yang tidak sesuai. dan seimbang. Kalau dikaji dari sudut kesejarahan dan semiotika.ras. Diupaya agar meminimalkan timbulnya dampak negatif terhadap kelestarian seni budaya Bali. isi (content) atau bobot. Produk yang dibuat tersebut kadang-kadang menampakan “kejanggalan”. karena dalam pengerjaannya tidak mengacu pada referensi kesepakatan yang dibuat . perkantoran. pengkaburan makna dan berkonotasi negatif. narasi. sekarang banyak terlihat diterapkan sebagai elemen estetis pada hotel. Misalnya. Sebagai salah satu contoh yang dapat dijumpai dalam dasawarsa belakangan ini. maka fenomena tersebut merupakan suatu pergeseran makna dan dapat berakibat terjadinya “desakralisasi”. Namun pada kenyataannya tak jarang ditemukan juga “ketidaktaatan” dalam operasionalnya.

mereka kadang-kadang tidak mempersoalkan masalah eksistensi makna dan nilainilai filosofi yang dikandungnya. baik terhadap produk yang dipilih dan demikian juga terhadap desain yang diberi elemen estetis produk kriya tradisional yang sarat makna religius. terutama yang terkait dengan nilai-nilai simbolis religius yang dikandungnya. Dalam penerapan elemen estetis tradisional pada desain masa kini. Jika ditinjau kembali dengan merujuk konsep estetika yang mendasari strategi pembangunan di daerah Bali. Penerapannya sematamata berorientasi pada faktor estetis dan komersial. Menyikapi kondisi tersebut dalam masyarakat Bali terjadi polarisasi pandangan. Produk yang tergolong high art sebagai hasil kebu- . sementara ada yang berpendapat bahwa hal tersebut “sah-sah” saja tergantung pada proses pengerjaannya. tanpa peduli akan terjadi pelunturan nilai-nilai filosofi.oleh leluhurnya di masa lalu dan nilai-nilainya masih eksis pada masyarakat Hindu di Bali. di lain pihak ada yang memandang sebagai sesuatu yang baku dan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang keliru. Mereka memilih dan menerapkannya pada produk atau tempat yang bersifat profan dengan tendensi lebih mengutamakan segi pemampilan “artistik” semata. Jelas tidakan tersebut tidak relevan dan merupakan suatu sikap “ketidaktaatan. Namun jika ditinjau dari sudut visualnya sebenarnya implementasi tersebut tidak sesuai dan dapat berdampak buruk.

secara umum dapat digambarkan dalam suatu sekematik hubungan hirarki atau taksonomi pandangan tentang dunia (weltanschaúung) manusia Bali seperti Gambar 1 berikut: .dayaan tinggi atau high culture yang adiluhung. menjadi kehilangan ‘jiwa’ kesuciannya atau menjadi suatu produk yang lumrah. Sikap seperti tersebut tanpa disadari dapat mengancam spirit dan kelestarian budaya Bali yang dibanggakan dan dijadikan sebagai daya tarik utama dalam pengembangan kepariwisataan di Bali Dari uraian tersebut dapat diketahui. bahwa “masyarakat Bali” dalam mengaplikasikan konsep-konsep adati Hinduisme yang kini dijadikan sebagai landasan strategi pembangunan di daerah Bali. khususnya dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan elemen estetis produk kriya tradisional.

NISKALA ASUMSI DASAR THEOLOGICAL CONCEPT KARMA PHALA RWA BHINEDA SIO NAL (HIDUP DI B U ER A MI) OP FORMITAS TOTAL KON CATUR PURUSHA ARTHA KEINDAHAN ("RASA") TAKSU TRI HITA KARANA DESA PATRA KALA JENGAH ETOS KERJA SKALA ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYATRADISIONAL MASA LALU DI BALI EXTERNAL (SUB SISTEM) PENGARUH -PARIWISATA -MODERNISASI /TEKNOLOGI DESAIN MASA KINI BERSIFAT KOMERSIAL: .CITRA TRADISIONAL PENUNJANG KEPARIWISATAAN DI BALI Gambar 1: Taksonomi Pandangan Dunia Manusia Bali .

dan dalam Moeliono. suatu usaha bersifat BAB II P . 1989). eklegein berarti:1) memilih yang dipandang terbaik dari berbagai doktrin. eklektik merupakan praktek memilih doktrin dari beberapa sistem yang berbeda tanpa memakai keseluruhan sistem yang lama untuk masing-masing doktrin. Berbeda dengan sinkretisme —merupakan suatu usaha untuk menyerasikan. baik berupa orang.1995). et al. perkataan eklektik mengandung pengertian. 1983. (1994). 2) mengkomposisikan beberapa elemen yang diambil dari berbagai sumber (Webster. diartikan bahwa eklektik sebagai usaha memilih atau menggunakan bermacam-macam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Perancis. perpaduan atau mengkombinasikan beberapa sistem— karena masih meninggalkan kontradiksi yang belum dihilangkan (Encyclopaedia Britannica . metode. atau gaya.EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. sistem. kepercayaan dan sebagainya (Hornby. Pengertian Eklektik erkataan eklektik dalam bahasa Yunani disebut eklektikos.) Dalam filosofi dan teologi.

Dari uraian tersebut. istilah eklektik dikenal sebagai upaya untuk mencampur atau meramu beberapa gaya yang berasal dari berbagai sumber dalam satu produk. bahwa eklektik tidaklah selalu menghasilkan sesuatu yang bersifat “merusak” norma-norma masa lampau akan tetapi dapat juga berarti sebagai bentuk “penghargaan” atau produk “nostalgia”. sebenarnya eklektik tidak memiliki prinsip khusus dalam kreativitasnya. seperti elemen-elemen estetika tradisional) agar dapat berkomunikasi dengan publik dan . Bahkan pada perkembangannya dalam seni dan desain. Meski terkesan tidak memiliki prinsip. Hal tersebut juga sesuai dengan konsep Charles Jencks yang menggunakan pengkodean ganda atau double coding dan eklektik digunakan untuk menerangkan hakekat produk post modernisme. Dalam seni dan desain. namun bukan berarti eklektik tidak unik. maka dapat dipahami. Misalnya. Dalam hal tersebut ia mendefinisikan postmodern sebagai” kombinasi teknik-teknik modern dengan sesuatu yang lain. Justru dengan perpaduan berbagai macam gaya akan melahirkan satu nuansa baru yang jelas berbeda dengan gaya-gaya sebelumnya. eklektik lebih merujuk pada perpaduan antara beberapa gaya yang saling bertolakbelakang.memilih yang terbaik dari berbagai sumber tentang: orang. Jadi. memadukan gaya modern dan tradisional. namun gaya eklektik merupakan olah image dari perpaduan berbagai gaya. gaya atau metode.

mengingat unsur-unsur produk kriya masa lalu yang “dipilih” terkait dengan sarana penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu sesuai dengan adat di Bali dan nilainilainya masih diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. maka dalam pembahasan selanjutnya mengenai masalah penerapan elemen produk kriya tradisional secara eklektik pada desain masa kini. akan dicoba mengkaji mengenai dampak “negatif” yang ditimbulkan akibat eklektisme yang kurang terkendali. Hal tersebut. dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya.minoritas yang terkait” (Jencks. bahwa per- . et al (1994) dijelaskan. kembalinya nilainilai tradisional dan juga reaksinya yang justru menekankan bentuk-bentuk baru yang radikal dan menentang seluruh ekspresi kesenian yang dianggap ideal dalam bingkai high art Berdasarkan pada pengertian tersebut. Dalam Kamus Bahasa Kawi Indonesia dijelaskan. B.1987). 1977) dan menurut Moeliono. kriya dan kerja dalam bahasa Jawa disebut pekaryaan yang berarti pekerjaan dan pengertian tersebut mengacu kepada hasil suatu pekerjaan yang disebut ‘karya’. Perkembangan yang menampilkan multivariousness. bahwa kriya berarti pekerjaan atau perbuatan (Wojowasito. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Kata kriya atau kria berasal dari bahasa Sansekerta “kr” yang berarti ‘mengerjakan’.

Pengertian kriya juga sering dipadankan dengan istilah craft yang mengandung pengertian suatu keahlian atau keterampilan yang menghasilkan benda. Sehingga kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan yang memungkinkan melahirkan nilai seni terapan atau dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini. Atas dasar hal tersebut. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek yang bernilai seni dan miliki nilai estetis.kataan kriya berarti pekerjaan tangan. bahkan untuk tujuantujuan tertentu dapat diciptakan peralatan khusus. Menurut Soedarso (1988) kriya adalah cabang seni rupa yang mengutamakan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi. Pengerjaannya bisa saja menggunakan bantuan peralatan kerja. Dalam Encyclopedia of World Art (1963) didefinisikan sebagai berikut: The word “handicrafts” refers to useful or decorative objects made by hand or with tool by workman who has direct control over the product during all stages of production. namun sepanjang proses pembuatannya si pembuat atau kriyawan sepenuhnya dapat menguasai seluruh tahap produksi. Pengertian kriya sering diselaraskan pengertian handicrafts. maka cakupan kriya memiliki fleksibilitas yang . Istilah tersebut dipergunakan untuk menyebut suatu cabang seni yang mengutamakan keterampilan yang luar biasa (virtousity) menggunakan tangan.

Hal tersebut ada benarnya. Bersifat dekoratif atau secara visual dibuat sangat indah dan dalam perujudannya dapat berupa produk seni murni atau seni terapan atau desain yang memiliki fungsi guna atau utility. Sedangkan pada masyarakat umumnya kriya sering disebut sebagai “seni rakyat”. bahwa pengertian kriya. Berdasarkan beberapa definisi dan ulasan tersebut. Jadi orientasi penciptaan produk mencerminkan kecenderungan-kecenderungan kepada salah satu dari kedua hal tersebut atau terkadang dapat merupakan perpaduan seni dan desain. handicrafts atau craft adalah: 1.tinggi. Sesuatu yang dibuat dengan kecenderungan lebih banyak melibatkan kemampuan atau keahlian tangan kriyawan atau virtousity 2. Kriya juga disebut “industri rumah-tangga” atau home industry yang memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan . bisa berada pada domain seni murni atau seni pakai atau seni terapan atau desain. maka dapat disimpulkan. Hal tersebut membawa cara penilaian atau assessment estetika produk kriya tergantung dari wawasan atau persepektif ilmu yang dipergunakan untuk mendekatinya. bisa memiliki ciri khas atau identitas. karena sumberdaya manusia pelaku kegiatan tersebut umumnya rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan atau konsisten berbasis pada estetika tradisional.

Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. Karya kriya me- . Produk yang dihasilkan dapat berupa hiasan atau benda seni maupun barang pakai (Wikipedia. batik dan sebagainya. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata. Berdasarkan pengertian tersebut. Selain hal tersebut. kulit. yaitu samasama menggunakan keterampilan tangan dalam proses pengerjaannya dan benda yang dihasilkan dapat berupa produk seni atau produk pakai yang mengutamakan kegunaan atau utility. juga berarti industri kecil small scale industry yang membuat barang-barang sederhana dan bisa menggunakan unsur seni. sehingga sebutan jenis kerajinan dikaitkan dengan medium yang digunakan. seperti: kerajinan logam. Menurut Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan bahwa kerajinan adalah proses produksi melalui keterampilan tangan. 2010). didalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skil yang tinggi craftmenship. maka dapat dipahami bahwa antara kriya dengan kerajinan memiliki kesamaan ditinjau dari proses pengerjaannya dan pencapaian hasil. Namun antara seni kriya dan kerajinan secara prinsip terdapat perbedaan.peralatan sederhana. Selain hal tersebut seni kriya juga sering didekatkan dengan istilah “kerajinan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan.

angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. serta magis. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsur seni.rupakan karya yang memiliki keunikan. yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. Dalam Konsep tersebut termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual. filosofis dan sekaligus fungsional. kegiatan. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. yang kemudian disebut seni kerajinan . solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas dan mencerminkan jiwa zaman lampau. di dalamnya terkandung muatan-muatan atau nilai estetik. Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat. simbolis. kegetolan. religius. Sebab pada masa lampau. barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan. para kriyawan menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. komologis. Kerajinan suatu hal yang rajin. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam.karakteristik. pikiran.

Dewasa ini penciptaan produk kriya di satu sisi mengarah pada estetika plural. Kecenderungan saat ini mengusung pemahaman bahwa media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. Menurut Julian Stallabrass dalam "Contemporary Art" mengatakan bahwa sekarang ini bermacam-macam bentuk. Sekarang jamannya permainan tanda-tanda budaya glo- . Namun. Dalam kreativitas penciptaan karya kriya. sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa kriya seni. teknik. Sebutan "kriya kontemporer" (yang merupakan padan kata dari contemporary craft) sendiri sebenarnya mengandung paradoks karena di satu sisi ia menempatkan dirinya pada suatu kategori "kriya" (craft) yang berseberangan atau setidaknya terpisah dari "seni" (art). di sisi lain. Selain hal tersebut juga terjadi reproduksi karya masa lalu yang diwarisinya dengan tujuan untuk menampilkan karya kriya etnis. dan subject-matter dalam seni rupa sudah benar-benar campuraduk. sebutan kontemporer seolah mengacu pada paradigma seni masa kini yang dilandasi pandangan postmodernisme. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang membuat seni kriya mengikuti nazab seni yang sedang berkembang. di mana pembedaan kategori dianggap tidak berlaku lagi. seperti karya kriya kontemporer. terjadi gejala mempertontonkan identitas invidual. Perkembangan karya menampilkan multivariousness.

Bertolak dari uraian tersebut. dan sakral. produk kriya diciptakan mengarah pada “komersialisasi” produk dan dianggap sebagai barang komuditi yang memiliki milai ekonomis. merupakan hasil pekerjaan tangan para kriyawan secara konvensional. bersifat tradisional.bal yang melingkupi budaya tradisi. maka yang dimaksud dengan elemen estetis produk kriya tradisional Bali adalah mengenai unsur-unsur atau bagian-bagian yang mengandung nilai-nilai estetik. Dalam kaitan tersebut. adiluhung dan terkait erat dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Untuk lebih jelasnya nilainilai yang dikandung dalam produk kriya dapat ditelusuri dari perkembangan penciptaan produk kriya. simbolik. budaya modern dan budaya masa kini. . maka parameter pengukur nilai estetika produk kriya adalah uang. Seperti diuraikan pada BAB III berikut. Produk seni kriya dapat mengambil posisi strategis di tengah mengeliatnya isu seni rupa kontemporer dan pasar seni rendah dengan kuantitas massal. Estetika menjadi praktik normatif dalam menciptakan unique selling point. filosofis. kosmologis.

Namun berdasarkan benda etnologi yang tersimpan di Museum Bali. Penggunaan dan penciptaan produk kriya tradisional Bali dewasa ini adalah merupakan bagian dari mata-rantai sejarah perkembangan kebudayaan Bali sejak berabad-abad yang silam. Bedulu. maka dalam penelusuran perkembangan dan motivasi penciptaan produk kriya dalam masyarakat Hindu di Bali. seperti tingkat peradaban. BAB III P Sehubungan dengan hal tersebut. tidaklah mungkin dapat dipaparkan secara kronologis. Sejarah Penerapan Produk Kriya emaparan produk kriya di Bali secara hitoris mengenai awal penciptaan dan penggunaan-nya dalam kehidupan masyarakat di Bali adalah merupakan hal yang sangat sulit diungkap secara tuntas. akurat dan tuntas. Museum Gedung Arca. Tingkat perkembangannya ditentukan oleh berbagai faktor. dinamika dan perubahan lingkungan budaya internal maupun eksternal.PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI A. Denpasar. Gianyar dan didukung dengan beberapa buku yang terkait. karena keterbatasan referensi dan data berupa artifak-artifak yang ada. maka secara sinkronis atau berdasarkan penggalan sejarah dapat ditelusuri sebagai berikut: .

gangguan binatang buas. Dalam melakukan aktivitas hidupnya didukung dengan peralatan kerja berupa produk kriya terbuat dari ranting kayu. penduduk yang menghuni pulau Bali masih hidup dengan pola nomaden. timbulnya api. Kejadian-kejadian tersebut. kejadian gunung berapi. dan sebagainya. Pola pikirnya masih terbatas pada tingkat pemenuhan kebutuhan hidup berupa makanan dan belajar secara alamiah dari gejala-gejala atau kejadian-kejadian alam yang pernah dialaminya. mengembara. sebagai pemburu dan peramu. Dalam terminologi antropologi disebut dengan kepercayaa animisme dan dinamisme. Pulau Bali —seperti halnya beberapa pulau lain di Nusantara— dihuni oleh penduduk yang tergolong ras Negrito yang mengusung kebudayaan Paleolitikum (Koentjaraningrat.1. Sebelum kedatangan gelombang migrasi bangsabangsa pendukung kebudayaan Neolitikum dan Perunggu dari dataran Asia Tenggara. memohon keselamatan dan memuja atau percaya dengan kekuatan alam. membuat mereka harus waspada dan seolah-olah selalu dibayangi oleh perasaan takut. Seperti terjadinya kelahiran. berpindah-pindah. seperti berupa kapak batu yang tergo- . tanduk dan batu yang dikerjakan dengan cara sangat sederhana. sehingga hasil produk yang ditinggalkan tampak relatif masih kasar. angin. Pada saat tersebut. petir. 1971). tanah longsor. Zaman Pra-Hindu. hujan. kematian. tulang binatang.

Buleleng. seperti: di daerah Sembiran. Di antaranya berhasil ditemukan Bali oleh R. desa Pecatu.long jenis kapak perimbas. Soejono.P. Badung ditemukan beberapa buah sudip dan tiga buah alat tusuk terbuat dengan tulang binatang atau tanduk rusa dan di daerah lainnya. di Gua Seloding. kapak genggam dan sebagainya. Gambar 2: Kapak perimbas dari batu peninggalan zaman Palaeolithikum (Zaman Batu Tua) .

Gambar 3 Kapak Gengngam dari Batu Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda Gambar 4 Kapak dari Batu Bertangkai Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda) .

1977-1978). bahwa roh yang ada di sekeliling manusia dapat merasuk ke tubuh seseorang melalui suatu ritual tertentu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. belum tampak usaha untuk memperindah penampilan dan kenyamanan (ergonomis). mulai hidup bertempat tinggal di suatu daerah dengan batas-batas wilayah tertentu yang disebut pedukuhan. kemudian ditinggalkan ke tempat lain (Sutaba. Kemungkinan juga peralatan tersebut diambil langsung dari alam serta digunakan hanya sekali pakai. belajar bercocok tanam dan bermasyarakat. tokoh-tokoh masyarakat atau orang yang dianggap memiliki kekuatan tertentu. tampak bersahaja. bahwa roh . 1994). diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2500 SM— maka mulailah terjadi integrasi dengan kebudayaan dari luar (Suwondo. —migrasi orang-orang Proto Melayu dan tergolong ras Mongoloid.Produk kriya berupa peralatan kerja yang ditinggalkan tersebut. yaitu suatu ajaran berdasarkan keyakinan. muncul etiket saling menghargai antar sesama dan berkembang tradisi menghormati orang yang dituakan. Hal tersebut menjadi dasar berkembangnya kepercayaan syamanisme. Penduduk Bali secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup nomaden. seperti. Dalam masyarakat yang terbentuk saat tersebut. 1980) Kemudian dengan kedatangan gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Neolitikum. lebih mengutamakan kegunaan. Mereka percaya.

seperti kapak persegi. dalam terminologi antropologi. Menganggap suatu benda memiliki kekuatan magis atau bertuah dan dapat menyelamatkan atau merusak kehidupannya. Pengaruh kebudayaan Neolitikum terutama tampak dalam penciptaan produk kriya berupa peralatan dari batu. Produk kriya tersebut dibuat sebagai simbol penghormatan atas jasa orang yang meninggal. belincung.orang yang meninggal dapat berpengaruh terhadap kehidupan di dunia ini. Kepercayaan animisme dan dinamisne juga semakin tumbuh subur di masyarakat Mereka percaya dengan kekuatan-kekuatan metafisis yang dimiliki oleh suatu materi. maka berkembang gejala simbolisasi dan penghargaan atau pemujaan terhadap suatu benda. perilaku tersebut disebut fetisisme. pohon dan di antara produk-produk kriya yang diciptakan juga dihargai dan dipuja sebagai benda bertuah atau sebagai simbol-simbol tertentu. pahat pembelah batang kelapa dan sebagainya. 1980). Mereka mampu menciptakan produk-produk dari batu dengan disertai usaha-usaha untuk memperindah penampilan dan memikirkan segi kenyamanan dalam pemakaiannya. beliung. Seperti menyembah batu. Proses pengerjaannya dengan cara digosok menggunakan batu lain sampai halus (Sutaba. Beberapa peninggalan produk kriya yang mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum berupa peralatan . Atas dasar kepercayaan tersebut. seperti bekal kubur (funeral gifts).

dan sebagainya. seperti masuknya pengaruh kebudayaan Budha.terbuat dengan batu. Bantiran. seperti ditemukan di beberapa tempat di Bali. tembaga. Misalnya di Palasari. perak. maka di Bali terjadi akulturasi antara kebudayaan batu dengan perunggu. Cina. besi. kuningan. Unsur-unsur kebudayaan tersebut diterima dan diadaptasi. Kemampuan tersebut terus ditingkatkan. Gianyar. datang gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Perunggu yang disebut juga migrasi orang-orang Deutro Melayu. sehingga mampu menghasilkan beberapa jenis produk dari perunggu yang cukup berkualitas. Mesir. Dengan kedatangannya. sehingga memperkaya kasanah kebudayaan Bali di masa lalu. Hindu. Nusa Penida dan di daerah lain. karena mereka mengenal bijih logam dan cara peleburannya. Denpasar dan Ge-dung Arca. diperkirakan sekitar tahun 600-300 SM. dan sebagainya. Dalam penciptaan produk-produk kriya tersebut. disimpan di Museum Bali. Cara penciptaan produk kriya untuk penunjang aktivitas hidupnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. tetapi keindahan penampilan produk juga mu- . Sekarang benda-ben-da itu. Bedulu. Kebudayaan masyarakat di Bali semakin tumbuh dan berkembang. seperti: emas. Dalam perkembangan selanjutnya. mereka tidak hanya mengutamakan kegunaan semata. Demikian juga pengaruh-pengaruh dari luar terus berlangsung.

Mempunyai ukuran luar biasa dengan tingggi 1. Nekara Perunggu Ditemukan di Pejeng. yakni berupa sebuah nekara perunggu yang ditemukan di desa Pejeng. di antaranya berupa hiasan yang .60 m. Pola hias yang diterapkan. Gianyar detail hiasan wajah manusia 1m hias an waj ah man usia Gambar 5. Gianyar Nekara tersebut berbentuk selinder atau dadang terbalik. Digunakan untuk genderang perang atau sarana upacara memohon turunnya hujan (Kartodirdjo. 1976). Hal tersebut dapat dilihat pada artifak yang sangat menakjubkan.96 m dan bidang pukulnya bergaris tengah 1.lai diperhatikan.

3. diduga berlangsung melalui dua “pengaruh”. Penerapan ragam hias tersebut. 1960). Pada masa tersebut. Zaman Hindu (Pengaruh dari India dan Majapahit) Pengaruh kebudayaan Hindu yang masuk ke Pulau Bali. Pada sarkofagus tersebut tampak ditatah langsung berupa hiasanhiasan dan simbol-simbol terkait dengan kepercayaan mereka. merupakan personifikasi nenek moyangnya yang telah meninggal. 1975). pola tumpal yang tersusun bertolak belakang. empat pasang topeng dan lain sebagainya (Kempers.distilasi dari bentuk wajah manusia. Benda atau hiasan tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis atau bertuah yang memberi perlindungan dan keselamatan kepada kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya (Soejono. anyamanyaman bambu dan mengukir batu sebagai perkembangan kebudayaan Neolitikum. selain bertujuan sebagai dekorasi. binatang. . Salah satu contoh peninggalan berupa peti terbuat dengan batu (sarkofagus) digunakan untuk tempat mayat. seperti penerapan hiasan empat pasang topeng wajah manusia. pembuatan produk kriya selain menggunakan logam juga dengan bahan-bahan lain. bulu burung. seperti tanah liat yang dibakar atau tembikar. juga sebagai simbol yang mengandung makna terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.

yaitu pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa langsung dari India. Julah. yaitu saat Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Tri Bhuwana Tungga Dewi Djaya Wisnuwardana). Hubungan tersebut terus berlangsung pada zaman Kerajaan Singosari dan puncaknya terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad 14 dan 15 M (Suwondo. 1953) dan pengaruh kebudayaan Hindu yang berasal dari Pulau Jawa. Pedawa. Kedisan. Kubu dan Sukawana. baik yang dibawa oleh orang-orang Drawida maupun Arya pada masa-masa Raja Maya Denawa berkuasa di Bali. Songan. Cempage. 1977/1978). . diawali dengan ekspedisi di bawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada (Prabu Wisnuwardana) pada tahun 1343. akhirnya terdesak ke daerah pedalaman. dan di daerah lainnya di Buleleng (Covarrubias. yaitu sejak terjadi hubungan antara masyarakat Bali dengan Kerajaan Medang Kemulan di Pulau Jawa. Karangasem. Dalam ekspedisi tersebut terjadi perang melawan penduduk Bali asli dan berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Gajah Mada. 1972). Bangli. seperti di Desa Tenganan. Sidetapa. Kekalahan tersebut mengakibatkan penduduk Bali asli. Sembiran. Persebaran kebudayaan Hindu dari Pulau Jawa. Desa Trunyan. sekitar abad 8 M (Djawatan Penerangan Propinsi Suda Ketjil. diduga berlangsung sekitar abad 10 M. Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dari Majapahit ke Bali.

roh nenek moyang. Bayu. .1986). Seluruh unsur kebudayaan tradisonal Bali dominan dijiwai oleh agama Hindu dan sebaliknya wujud kebudayaannya kembali diabdikan untuk keperluan agama. dan konsep utara-selatan (kaja-kelod atau dulu dan tebén) dengan berpedoman pada laut dan gunung (segaraukir). Sebagai penganut sekte-sekta. Wisnu. dan Kala (Soeka. ternyata membawa pengaruh yang cukup besar terhadap konstelasi kehidupan masyarakat di Bali.Penduduk di Pulau Bali saat tersebut jumlahnya relatif sedikit di bandingkan sekarang. Brahma. Namun mereka telah memiliki sistem kemasyarakatan yang mapan dengan kebiasaan berbeda dengan penduduk Bali lainnya. di mana gunung dianggap utara dan sebagai tempat yang bersih atau suci sedangkan laut adalah selatan sebagai tempat yang kotor atau tempat pembersihan. kekuatan alam atau dewa-dewa penguasa alam gaib. Indra. Gunung dianggap sebagai alam arwah dan sekaligus sebagai waduk alamiah yang mengairi dataran rendah di Pulau Bali sepanjang tahun. seperti: Sambu. Daerahnya dibatasi hutan belantara. Percaya dengan alam nyata dan tidak nyata. bahasa yang digunakan umumnya menggunakan Bahasa Bali Kuno dan tidak mengenal tingkatan bahasa (bahasa halus-kasar) Masuknya kebudayaan Hindu ke Bali. Sehingg terjalin hubungan yang saling berkait seperti pada Gambar 6. Mereka tidak mengenal sistem Kasta.

Gambar 6. (4) Organisasi sosial tradisional. dan (5) Keseluruhannya dilandasi dengan ajaran Agama Hindu. seperti: (1) Filsafat hidup atau pandangan hidup masyarakat. Unsur Kebudayaan Bali Dijiwai Agama Hindu Keterangan  Lima unsur dominan dalam tata kehidupan tradional di Bali. dan sebagainya.    . Anak panah munuju kearah keluar lingkaran besar. tari. (3) Seni budaya. tata cara upacara di pura. (2) Adat istiadat dan hukum adat. Anak panah menuju kearah pusat lingkaran besar menunjukkan bahwa semua unsur bertumpu pada ajaran Agama Hindu. bangunan tradisional. seperti: berupa seni rupa. Anak panah melengkung pada gambar tersebut menunjukkan hubungan antar unsur. menunjukkan segala produk kebudayaan kembali diabdikan atau dipersembahkan untuk agama.

Pura Puseh dan Pura Bale Agung— untuk melengkapi Desa Pekraman. Mengajarkan pembuatan Sadkahyangan Jagat. Ia mengembangkan konsep Tri Murti untuk pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma ‘pencipta alam’ ke arah laut. Wisnu ‘pemelihara alam’ tengah dan Šiwa ‘pelebur alam’ ke arah gunung.Tata cara bercocok tanam tradisonal dan sistem pengairan atau subak dikembangkan berdasarkan konsepsi Agama Hindu. 1977 /1978). yaitu pada zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan di Bali diperintah oleh Raja Marakata dan Anak Wungsung. Sedangkan Dang Hyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra (juga terkenal dengan sebutan Peranda Sakti Wawu Rawuh) —seorang agamawan dan pujangga besar dari Jawa Timur— datang ke Bali ketika Keraja- . Kayangan Tiga —terdiri dari: Pura Desa. Empu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11. seperti. Menyusun sistem organisasi kemasyarakatan berdasarkan ajaran Agama Hindu yang disebut Desa Pekraman atau Desa Adat. Kayangan Catur Lokapala. Sarana dan prasarana keagamaan mengalami perkembangan dan pembenahan sejak datangnya Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirarta dari Jawa Timur. Mengajarkan tata cara pembuatan Kayangan atau Pura. Sistem tersebut diajarkan oleh Resi Markandeya berasal dari Jawa Timur. Kayangan Rwabhineda dan memperlebar Pura Besakih dan sebagainya (Purnata.

seperti patra punggel. Kalpa Warksa. seperti. Dia mengembangkan konsep Tri Purusa yang terdiri dari: Parama Šiwa (Swah Loka atau alam atas). patra welanda. sedangkan Pura Dadia. Salah satu contoh. Naga Basuki. Purnaghata. Klungkung dipemerintah oleh Dalem Waturenggong (1460-1550). seperti karang asti. patra sari. Achentya dan sebagainya yang terkait dengan konsepsi Tri Murti dan Tri Purusa. Keberhasilannya adalah memperjelas “kekaburan” antara tempat pemujaan Tuhan dengan roh leluhur. yaitu untuk pemujaan Tuhan. Penciptaan produk-produk kriya pada zaman tersebut. Kedatangannya sangat berpengaruh dalam pengembangan dan penyempurnaan ajaran Agama Hindu di Bali serta turut membawa Kerajaan Gelgel ke zaman keemasannya. seperti Empas. dan sebagainya. Perwujudan dalam bentuk simbol. dalam pembuatan Pelinggih Padmasana. Kinara Kiniri. karang goak. mempunyai peranan yang sangat penting. Sada Šiwa (Bwah Loka atau alam Tengah) dan Šiwa (Bhur Loka atau alam bawah). mas-masan dan sebagainya serta kekarangan. karang bentulu. Pedharmaan. yakni dengan membuat pelinggih berupa Padmasana. Hiasan yang diterapkan berupa pepatran. terutama untuk sarana pemujaan. 1945). .an Gelgel. simbol maupun sebagai hiasan. seperti berupa wadah. menunjang keperluan sehari-hari. Paibon untuk pemujaan roh leluhur (Wiana. berupa alat pertanian. Ananta Boga.

1974) Prasasti tersebut memberi petunjuk. rge pasaran Wijayamanggala. wayang dan sebagainya. bahwa kesenian termasuk produk-produk kriya pada zaman tersebut. pagending (penyanyi). tembaga). besi. pabangsi (juru rebab). Seperti seni tari. nomor kropak M55 dijelaskan: . pertunjukan wayang. (dibuat oleh pegawai di Singamandawa pada bulan ke-10... pabunjing (penari). Pada zaman tersebut di Bali sudah berdiri kerajaan-kerajaan.pandê mas. Kerajaan Samprangan (13511380) dengan rajanya Sri Kresna Kepakisan berasal dari Daha (Kediri). tanggal 5 tahun Šaka 818) ( Simpen. Hal ini dapat diketahui dari Prasasti Bebetin. di bulan besakha Cuklapancami. yaitu salah satu kerajaan di Bali yang pa- . Jawa Timur. juga mengalami perkembangan diwarnai dengan pengaruh kebudayaan Jawa dan sarat dengan misi pembinaan umat Hindu.Di bidang kesenian lainnya. parbwayang (wayang). tari topeng. dan sebagainya. Seperti dalam bentuk pagelaran topeng... pamukul (juru tabuh). tahun Šaka 818 (896 M). juga dipakai sebagai media pendidikan atau komunikasi dalam masyarakat. partapukan (topeng). besi.turun di panglapuan di Singamandawa. Kerajaan Gelgel (1380 -1460) dengan masa keemasan pada saat pemerintahan Raja Dalem Waturenggong sampai Kerajaan Klungkung. tembaga (kriyawan atau “tukang” emas. seperti kerajaan Bedahulu (1324-1343) dengan rajanya yang terkenal bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

Jadi berorientasi pada puri atau istana centris. 1990:4). umumnya dibuat lebih megah dibandingkan dengan perumahan rakyat dan sebagainya. Pada tahun 1597 sempat mampir di Kerajaan Gelgel (Bali). bangunan istana raja. Zaman Kolonial Ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk menemukan sumber rempah-rempah di dunia timur. Sebagai contoh. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para raja dan keluarganya yang bersifat hedonistik atau sebagai simbol status sosial. kegiatan penciptaan produk-produk kriya tampak lebih berkembang di sekitar pusat kerajaan dan di bawah patronage kerajaan (Joedawinata. Produk kriya yang diciptakan saat itu tampak lebih mengutamakan segi keindahan. Oleh sebab itu. produk kriya berupa keris atau atribut raja dibuat dengan sangat indah.ling terakhir dikuasai oleh Belanda dalam perang Puputan pada tanggal 28 April 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe. Dalam kaitan dengan sistem kerajaan. Kedatangannya disambut dengan tata . maka peranan penciptaan produk-produk kriya saat tersebut memiliki kecenderungan untuk melaksanakan tugas yang dilandasi dengan semangat kebanggaan dan dedikasi kepada raja dan keluarga raja. 4. saat diperintah oleh Raja Dalem Sagening. Sehingga melahirkan produk-produk yang unggul dan adhiluhung.

artinya “Belanda Muda”. misalnya. Bagi Belanda. menyebabkan muncul kelompok-kelompok elite atau golongan atas baru dalam masyarakat dan memperkenalkan ide-ide baru. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Be-landa dengan sebaik-baiknya untuk menulis mengenai Bali. Mulai saat itu pamor kekuasaan para raja semakin memudar di mata rakyat Bali. Impian tersebut akhirnya benar menjadi kenyataan. karena kunjungannya tersebut dengan dalih ingin menawarkan ikatan persahabatan. karena kekuasaan kerajaan “feodal” secara berangsur-angsur diganti dengan sistem pemerintahan kolonial “modern” menurut cara Belanda. dalam julukan itu sebenarnya teselip suatu ambisi atau impian untuk menjadikan Bali sebagai wilayah kekuasaannya. menanamkan pengertian tentang pentingnya hidup non-agraris dan sebagainya. terutama mengenai segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan Raja Dalem Sagening. setelah Belanda mampu mengalahkan perlawanan para raja Bali dalam perang puputan (terakhir tahun 1908). Pada saat tersebut. Sistem pemerintahan tersebut. yang ditujukan untuk Pulau Bali. Belanda juga melontarkan suatu julukan “Jonck Hollands”. . dalam pendidikan.cara yang sangat hormat. kesehatan. yang nantinya akan ditingkatkan menjadi hubungan perdagangan. Keadaan tersebut menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat di Bali.

terdapat pura hampir di seluruh pelosok Pulau Bali dan sebagainya. Sistem pendidikan itu dikenal dengan . maka mereka selalu konsisten untuk menjaga kelestariannya dan berusaha untuk mengisolasi dari penetrasi pengaruh-pengaruh kebudayaan eksternal. upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di Bali. Misalnya. seperti memiliki beraneka ragam jenis kesenian tradisional. Sehubungan dengan hal tersebut. seperti mengembangkan sistem pendidikan kolonial yang disesuaikan dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu di Bali. pemerintah kolonial Belanda berkeinginan untuk mengembangkan potensi tersebut untuk dijadikan objek wisata. Belanda juga sangat tertarik dengan keindahan alam dan kehidupan kebudayaan masyarakat di Bali yang memiliki ciri tersendiri. seperti pelajaran menggambar diajarkan oleh “Guru Adat” (seniman tradisional).Di sisi lain. sebagai “museum hidup” dan menjadi tontonan semata. Dalam menyusun strategi pengembangan ke arah tersebut. Pemerintah Belanda menginginkan agar keindahan alam dan kebudayaan Bali menjadi objek wisata budaya. karena dikawatirkan dapat “merusak”. diupayakan dengan mengangkat tenaga pendidik lokal. 1953) Langkah-langkah lain yang dilakukan dalam upaya pelestarian itu. Pemasukan berupa devisa hanya diharapkan dari pemungutan pembayaran yang dikenakan pada para wisatawan yang berkunjung (Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Ketjil.

medirikan Gedong Kirtya yang digunakan sebagai perpustakaan untuk menyelamatkan lontar-lontar yang berisi sastra lama dan segala aspek tentang Bali. (Putra. meneliti dan menulis berbagai aspek tentang Bali. Goris menulis buku berjudul “Secten op Bali” (1933).sebutan Balisering. De Kat Angelino dengan tulisannya berjudul “De Leak op Bali” (1923). 1991/1992). Sekitar tahun 1920.M . R. Kemudian tulisan-tulisan tersebut didistribusikan ke seluruh dunia. Sedangkan dalam usaha mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata. usaha tersebut cukup menggetarkan keinginan banyak orang termasuk para penulis dari barat lain-nya untuk melihat Bali secara langsung. di bawah pimpinan Leifrinck dan Van der Tull.P. Kroos mendirikan sebuah bangunan digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu dan sekarang dijadikan Museum Bali. V. te Flierhaar —seorang tokoh pendidik dari Negeri Belanda— pada tahun 1920.N. Korn menulis buku berjudul “Het Adatrecht van Bali” (1932) dan yang lainnya. menulis tentang “Kawi-BalineeschNederlandsch Woordenboek” (1912).Van der Tuuk. kapal dagang Belanda K. dikembangkan oleh H. ketika menjadi guru HIS di Klungkung. Walhasil. Selain itu. di Singaraja pada tahun 1928. E. dilakukan dengan mendatangkan beberapa pakar dalam berbagai disiplin ilmu dari negeri Belanda untuk mempelajari. Kemudian di Denpasar pada tahun 1932. Di antaranya H. WF. P.

Penciptaan tersebut termotivasi oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat. maka dalam pengembangan selanjutnya mulailah diadakan pembenahan sarana dan prasarana yang terkait. sehingga banyak di antara mereka terpaksa tidur dalam kapalnya. Pada masa tersebut. seperti membangun Hotel Bali di Denpasar. pesanggrahan di Kintamani dan di Pelaga. perbaikan sarana transportasi. sehingga para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya di Bali mulai merasakan nilai ekonomis atau nilai tukar dari produk kriya yang diciptakan atau diusahakannya. Upaya pengembangan tersebut secara tidak langsung akhirnya berpengaruh pada kegiatankegiatan lain di Bali. Sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan di Bali saat itu kurang memadai. para kriyawan dengan “serta merta” mulai aktif menciptakan produk-produk kriya untuk dijadikan mata dagangan berupa produk kriya lokal sebagai cenderamata. Melihat peluang tersebut.(Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dialihfungsikan untuk mengangkut rombongan wisatawan Belanda pertama mengunjungi Bali. Namun kebanyakan wisatawan dalam rombongan tersebut merasa puas setelah meninggalkan Pulau Bali. Motivasi atau semangat penciptaan produk yang dulunya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan ke- . dan sebagainya. Misalnya pada kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya.

Jepang lebih terfokus pada ambisinya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. kemudian disuguhkan untuk para wisatawan. Pada masa selanjutnya. Zaman Kemerdekaan Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang ini (lebih kurang seperempat abad silam). Dalam kreativitas penciptaan produk berciri khas Bali mulai terjadi gejala reproduksi atau tindakan eklektik terhadap unsur-unsur produk masa lalu yang diwarisinya. (Mirsa. Walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan kendala. karena saat tersebut.rajaan. namun pada saat tersebut mulai muncul gejala yang mengarah pada komersialsasi produk kriya. karena harus menerima kekalahan dalam menghadapi semangat hegemonisme Jepang. Di bawah penguasaan Jepang yang berlangsung dalam waktu relatif singkat sehingga pengembangan sektor pariwisata kurang mendapat prioritas. maka situasi dan kondisi masyarakat di Bali mengalami perubahan cukup drastis. Dalam kurun waktu tersebut. pembangunan di daerah Bali yang dilaksanakan berdasarkan program Repelita dan dengan strategi pembangunan daerah seperti tampak pada Gambar 7. maka pengembangan pariwisata di Bali tidak dapat diteruskan lagi oleh pemerintah Belanda. . ternyata mengalami perkembangan cukup pesat. Dengan kekalahan Belanda. 5. 1988). dengan meletusnya Perang Dunia ke-II.

Pelestarian nilainilai budaya.2. Pembangunan Sektor Pariwisata c. agama dan warisan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan B. Pengembangan identitas Bali 1. Peningkatan dan Perluasan Sarana dan Prasarana Sosial c. Delapan Jalur Pemerataan 2. Pemenuhan Kebutuhan Dasar b.2. Pembangunan Sektor Industri SOSIAL a. Mendorong Partisipasi Aktif dari Masyarakat dalam Pembangunan TUJUAN INTI ARAH IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN ALAT UKUR YANG MENGARAHKAN PADA KESERASIAN DAN KETERPADUAN Sumber: (Oka. Pendekatan Regional Gambar 7. Bagan Strategi Dasar Pembangunan Daerah Bali .TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PEMERATAAN TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI a. Pembangunan Sektor Pertanian b. 1991) A.

prospektif dan sesuai . Pemerintah menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu cabang industri alternatif yang strategis. Hasil pembangunan ketiga sektor tersebut. ternyata memberi peningkatan perekonomian yang cukup signifikan bagi masyarakat di Bali. berbagai jenis industri kecil dan rumah tangga dan sebagainya. Pembangunan sektor pariwisata di Bali. seperti pada Pelita I yang dimulai sejak tahun 1969 dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. seperti semakin menjamurnya usaha di bidang perhotelan. yang kembali dibangkitkan oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950. karena kemantapannya yang kuat sebagai masyarakat pewaris budaya agraris. kini terus dibina dan dikembangkan. pariwisata dan industri kecil.Dari sekema tersebut dapat diketahui. ternyata mendapat respons cukup besar dari masyarakat petani di Bali. dengan tetap memakai potensi budaya sebagai daya tarik utama. garmen. bahwa tujuan pembangunan bidang ekonomi di Bali adalah berorientasi pada pertumbuhan sektor pertanian. Demikian juga industri kecil dan rumah tangga yang bergerak dalam usaha penciptaan produk kriya. toko kesenian. Sektor tersebut memberi oportunitas cukup besar untuk tumbuh suburnya berbagai bidang usaha. Sehingga hasilnya tampak jelas dari Pelita I sampai V mampu membawa masyarakat Bali ke tingkat swasembada pangan. transportasi atau biro perjalanan.

Kondisi tersebut semakin terpacu. Para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya masa kini merasa semakin bergairah dalam usaha tersebut. salah satunya seperti program OVOP (one village one product). Malah pada tahun 1990-an terbukti produk-produk kriya sempat dijadikan sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor di luar minyak dan gas alam (LNG) Liquid Natural Gas. tampak semakin mantap dan dengan kecenderungan mengarah kepada hal yang bersifat “komersial”. karena pada dasawarsa belakangan ini pemerintah Indonesia semakin mengkonsetrasikan perhatiannya pada sektor tersebut. sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja (mass employee) berakumulasi modal kecil. sehubungan dengan upaya untuk memperoleh sumber dana penunjang pembangunan nasional. Berbagai program telah diluncurkan terkait dengan hal tersebut. Sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat di pedesaan serta dapat memperlambat laju urbanisasi. usaha perluasan atau enlargement penciptaan produk-produk kriya. maka pada era kemerdekaan. Dengan dukungan pemerintah dan perkembangan pariwisata di Bali yang cukup pesat. karena termotivasi oleh nilai ekonomi yang dapat dinikmati dari produk kriya yang diciptakannya.dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara. dan sebagainya. karena memiliki karakteristik antara lain. Kebijakan tersebut . humanisasi proses kerja.

Pelaksanaan Ajaran Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali Agama Hindu berasal dari lembah Sungai Sindhu di India. salah satunya. ajaran diterima dari Tuhan dalam bentuk wahyu suci oleh tujuh orang Maharsi. Hindu Jawa. mengingat ekspor andalan Indonesia berupa bahan-bahan mentah yang dibutuhkan oleh industri pengolahan di luar negeri. yaitu: Maharesi Grtsamada. hingga sampai ke Indonesia. kala dan patra. Atri. Hindu Kaharingan dan sebagainya. sehingga da- . Agama Hindu sering diberi sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan nama daerah di mana Agama Hindu tersebut tumbuh dan berkembang. Wasista dan Kanwa. Di Indonesia. Wamadewa. 1990) B.ditempuh oleh pemerintah. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali 1. karena dalam tata cara pengamalan ajarannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi budaya masyarakat penganutnya atau disesuaikan dengan desa. mengalami penurunan dipasaran dunia dan diikuti oleh resesi dunia pada saat tersebut (Joedawinata. Wiswamitra. Baradwaja. Terjadinya hal tersebut. Ajaran tersebut dikumpulkan dan disusun kembali oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk kitab suci yang disebut Weda. Di tempat tersebut. seperti disebut Agama Hindu Bali. Kemudian ajaran tersebut disebarkan keseluruh dunia melalui para pengikutnya.

Seperti yang . Namun umat seperti tersebut populasinya sangat sedikit dapat dikatakan satu per mil atau sewu tinunggal. seperti produk-produk kriya berupa simbol-simbol atau nyasa yang bersifat sakral. tt). dibenarkan mengamalkannya dengan tanpa sarana upacara dan tidak memilih tempat serta arah tertentu. Berdasarkan hal tersebut. maka sarana dan prasarana yang bersifat lahiriah. suara sukma yang tidak pernah putus (swaraning genta pinara pitu). Hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Agama Hindu. Seperti bunga yang bersemayam dalam batin yang tak pernah layu (puspa tan alun). air amerta batin yang tidak pernah kering (Šiwambhâ-dhyatmika) dan dapat manunggal dengan Tuhan atau purusa katemunta mareka si tan katemu. Namun inti ajaran Agama Hindu yang dianutnya tetap satu bersumber pada ajaran Weda. karena mereka telah menaruh upacara tersebut dalam batinnya (adyâtmika). Kondisi tersebut memang menungkinkan untuk terjadi. api yang tidak pernah padam (geni anglayang). mutlak akan diperlukan dalam mengamalkan ajaran Agama Hindu di Bali (Sugriwa. sebab ajaran Agama Hindu memberi tuntunan yang bersifat lentur. Misalnya bagi umat Hindu yang telah “ahli” dalam teori dan praktek ilmu ketuhanan (teologi). tampak memiliki etos kebudayaan Hindu yang berbeda.lam perkembangannya di masing-masing daerah di Indonesia.

yaitu: 1) Mantra. ceritera-ceritera dan simbol yang dipergunakan untuk memantapkan rasa percaya kepada Tuhan. sloka IX-26. kau persembahkan. Jadi pada dasarnya ajaran tersebut “membenarkan” penggunaan sarana . 1995).) Bagian kedua dari penjabaran sifat ajaran Weda di atas. kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan asalkan menuju kebenaran. dan 3) Upanisad (Jñána Kanda. yaitu Brahmana (Karma Kanda) adalah merupakan ajaran yang berisi himpunan doa-doa dan tuntunan yang dipergunakan untuk keperluan upacara Yajña. lakukanlah.disebutkan pada Bhagawag Gîtã. Acuan lainya sesuai dengan pendapat tersebut. sebagai bhakti pada-Ku (Pendit. Sama Weda. Isinya terdiri dari empat himpunan atau samhita (Reg Weda. juga dapat disimak dalam cara menghayati dan mengamalkan ajaran Weda yang dapat mengacu pada beberapa hal seperti: a. yaitu sebagai berikut: Yat karosi yad ašnãsi yaj juhosi dadãsi yat. Pada garis besarnya dapat dijabarkan menjadi tiga bagian. Sifat ajaran Weda. Kuntipura. 2) Brahmana (Karma Kanda). Artinya: Apapun yang kau kerjakan. yat tapasyasi kaunteya tat Kurushva mandarpanam. Yayur Weda. dan Atharwa Weda). kau makan.

Susila (Etika) dan Upacara (ritual). Bhakti Marga. artinya cinta kasih. Seperti penggunaan produk kriya berupa simbol-simbol yang terkait dengan ajaran agama dan sebagainya. juga membenarkan menggunakan sarana untuk pemujaan Tuhan . menurut kerangka tersebut. Bhakti Marga merupakan ajaran yang langsung. Seorang Bhakta —penganut Bhakti Marga — adalah orang yang penuh cinta kasih kepada Tuhan berserta ciptaannya. Dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. 1993). Catur Marga. yang terdiri dari: Tattwa (Filsafat Agama). alamiah. 3) Jñána Marga dan 4) Raja Marga. 2) Karma Marga.yang bersifat lahiriah untuk membantu penghayatan kepada Tuhan. Ajaran ini merupakan salah satu alternatif dalam menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu dengan menggunakan sarana pemujaan. c. b. terdiri dari: 1) Bhakti Marga. Kerangka Agama Hindu. Cetusan rasa cinta kasih dan kerinduan kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pesembahan bhakti atau dalam produk kriya berupa simbol-simbol untuk melukiskan sifat maya Tuhan (mayasakti) (Cudamani. yaitu empat cara atau jalan utama ditempuh untuk mencapai tujuan Moksaratha Jagathita. mudah diterima dan dilaksanakan oleh semua tingkatan.

air. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh E. Seperti menggunakan produk-produk kriya. Utrecht bahwa sebagian dari kaidah-kaidah atau norma-norma yang ada dalam masyarakat yang berasal dari sumber hukum yang dianggap sakral (dalam Suasthawa. bunga. Sarana tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dan keyakinan masyarakat setempat serta menjadi aktivitas adat atau “hukum adat” yang diusung dari generasi ke generasi berikutnya. bahwa ajaran Agama Hindu memberi suatu tuntunan yang bersifat luwes dalam usaha mendekatkan diri dengan Tuhan. sesajen. Seperti dalam pengamalan tiga kerangka Agama Hindu. secara implisit memberi peluang munculnya keanekaragaman atau perbedaan penciptaan sarana pemujaan Tuhan di setiap daerah di Indonesia. Pengamalan ajaran agama Hindu tersebut. ternyata yang lebih dominan dilaksanakan adalah upacara atau ritual keagamaan yang disesuaikan dengan adat-istiadat umat Hindu di Bali. masih dominan mengacu pada tiga ajaran tersebut di atas. sehingga hampir setiap hari umat Hindu di Bali dijum- .Ketiga acuan di atas memberi gambaran. api dan sebagainya. busana. Ketiga ajaran tersebut memberi tuntunan yang mengarah pada pengorbanan suci berupa tindakan atau kerja dan membenarkan menggunakan sarana dalam pemujaan Tuhan. 1990). dalam mengamalkan ajaran Weda. Umat Hindu di Bali. bangunan suci.

pada garis besarnya dapat dikelompokan menjadi lima. maupun di tempat lain yang dianggap sakral. Dari sekian banyak upacara Yajña yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. maupun berupa hiasan dan dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat Hindu di Bali. Dengan tujuan untuk melaksanakan tiga kewajiban atau utang yang disebut Tri Rna. yaitu. (4) Pitra Yajña. persembahan atau penghormatan kepada para Resi atau guru. (2) Resi Yajña. Dari upacara-upacara tersebut. Upacara yang dilaksanakan tersebut dipercayai merupakan suatu bentuk pengorbanan yang tulus dan suci atau Yajña. simbol-simbol. hampir semuanya tampak menggunakan sarana upacara. jalan. rumah tinggal. para resi atau guru dan leluhur. yaitu persembahan kepada roh leluhur dan upacara kematian. baik di pura. upacara penyucian yang ditujukan mulai perkawinan hingga ajal tiba. manusia dan alam yang didasari konsep Tri Hita Karana. yang disebut Panca Yajña. (5) . Selain hal tersebut. pelaksanaan juga diyakini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan dengan Tuhan. persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa. baik berupa wadah atau tempat. yaitu. (3) Manusa Yajña. terdiri dari: (1) Dewa Yajña. yaitu utang kepada Tuhan. Tujuan tersebut dilaksanakan didasari dengan suatu keyakinan. yaitu. sawah.pai melaksanakan upacara. bahwa kelahiran manusia selalu diselimuti oleh utang yang harus dibayar.

yaitu: (1) Produk kriya dalam konteks budaya. Nuntun. dikenal beberapa jenis upacara. Semuanya menggunakan sarana yang khusus dan sangat beragam. (3) Produk kriya dalam konteks kerajinan rakyat. produk-produk kriya yang dimaksudkan adalah produk yang tergolong kategori kedua. Dan (4) Produk kriya yang dibuat oleh kriyawan dan para perancang masa kini (Buchori.Bhuta Yajña. Ngenteg linggih. Upacara Panca Yajña dapat dipilah lagi memjadi beberapa jenis upacara. yaitu sebagai sarana upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di . seperti: Odalan. seperti berwujud bebantenan atau sesajen. upacara Dewa Yajña atau Dewapuja. yaitu upacara korban suci kepada Bhuta Kala. (2) Produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. 2. misalnya. maka dalam konteks bahasan ini. baik yang bersifat temporel maupun permanen. penganggé atau busana dewa dan melibatkan berbagai produk kriya. Peranan Produk Kriya dalam Upacara Agama Hindu di Bali Secara umum produk kriya di Indonesia dapat dibagi menjadi empat kategori. 1990) Berdasarkan kategori tersebut dan mengingat peranan serta jenis produk-produk kriya yang digunakan untuk menunjang aktivitas hidup masyarakat di Bali sangat beraneka ragam. dan sebagainya. Melasti.

yang berarti kelahiran. 1 sasih = 35 hari. Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu kepercayaan terhadap alam nyata dan tidak nyata. Dalam hal tersebut bukan berarti Tuhan mengalami kelahiran. terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian Odalan. kekuatan alam gaib serta memberi penghargaan atau ucapan terimakasih dalam bentuk persembahan kepada alam atas hasil atau . ternyata memberi pengaruh dominan pada tatanan kehidupan dan sistem relegi masyarakat Bali. Peranan Produk Kriya dalam Melaksanakan Upacara Odalan Masuknya Agama Hindu ke Bali. tetapi yang dimaksudkan adalah upacara peringatan hari mulai enteg linggih atau hari peringatan mulai “distanakannya” atau dilinggakan Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasi sebagai dewa pada suatu tempat suci atau pura.Bali. Terutama produk-produk kriya yang digunakan sebagai sarana upacara Odalan. mengandung makna atau nilai simbolis dan dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali. Perayaannya dilangsungkan setiap enem sasih atau enam bulan (menurut perhitungan kalender Bali. bersifat “permanen”. a. roh nenek moyang. Pengertian Odalan Sebelum lebih lanjut menguraikan tentang peranan produk kriya.) b. Odalan atau Dewapuja berasal dari kata Wedal.

sumber pangan yang di berikannya. Kemudian keyakinan tersebut dimatangkan lagi semenjak Rsi Markandeya datang dari Jawa. Pola masyarakat agraris yang telah mengakar tersebut, dipadukan dengan konsep yang “bernafaskan” Agama Hindu dari Jawa, seperti dalam pelaksanaan sistem irigasi yang disebut subak. Konsep Agama Hindu dari Jawa yang bersifat menyempurnakan tersebut, juga terlihat pada sarana pemujaan kepada Tuhan dalam segala manifestasinya. Seperti berupa pelinggih, penggunaan arca, pertima atau pralingga dan sarana lainnya, yang merupakan bentuk “penyempurnaan” dari hasil kebudayaan megalitik di Bali. Pengaruh perpaduan Agama Hindu, juga memberi sepirit dan inspirasi untuk tumbuh suburnya beraneka ragam jenis kesenian tradisional berciri khas Bali. Menurut pandangan umat Hindu Bali, fungsi kesenian tradisional tersebut, pada garis besarnya dapat dikelompok menjadi tiga bagian, seperti: (1) Seni Suci atau Wali, jenis kesenian ini difungsikan sebagai bagian dari suatu rangkaian upacara yang sarat dengan makna religius dan dianggap sakral; (2) Seni Ritual atau Bebali yaitu, jenis kesenian sebagai pengiring atau “penghias” dan sekaligus terkait dengan rangkain upacara; (3) Seni “Sekular” atau Bali-balihan yaitu, jenis kesenian yang cenderung mengarah pada hiburan rakyat atau kesenangan (Pindha, 1973) Produk kriya, sebagai salah satu bagian dari kesenian tradisional Bali, ternyata dapat menduduki ke-

tiga fungsi tersebut. Khususnya produk kriya yang difungsikan sebagai sarana wali berbeda dengan yang lainnya, sebab dalam penciptaannya disertai dengan proses penyucian atau sakralisasi dengan melalui tahap-tahap upacara tertentu, seperti di antaranya dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut Tabel 1 Tahap Penyucian Produk Kriya
No. (1) 1. TAHAPAN (2) nglakar ARTINYA DAN KEGIATAN (3) pemilihan bahan baku yang akan digunakan, dewasa ayu atau “hari baik” mulai mencari bahan dan disertai dengan persembahan sesajen kepada Tuhan untuk mohon kekutan agar produk kriya tersebut ber-taksu. membentuk secara global membuat detailnya menghaluskan memberi warna memberi kontur dan hiasan tambahan upacara pembersihan, dengan membuatkan banten pemlapas memanggil atau memohon kekuatan agar merasuk pada produk tersebut yaitu dengan membuatkan banten pengulap menghidupkan yaitu dilakukan dengan mempersembahkan banten pengurip upacara menstanakan pada tempat suci dengan jalan mempersembahkan sesajen pada tempat atau asal bahan yang digunakan untuk mengetahui apakah benda yang dibuat bertuah

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

makalin nepong ngasren mulas ngias melapas ngulapin

9. 10. 11. 12.

ngurip ngeteg linggih nuedin ngerehang

(1) 13.

(2) ngajar-ngajar

(3) upacara membawa benda tersebut ke tempat suci lainnya, seperti Kahyangan Jagat, dengan tujuan “mendaftarkan”. upacara memperingati hari dilinggakan benda tersebut sebagai benda sakral memfungsikan

14. 15.

ngodalin mepajar

Narasumber: Gelebet.

Dalam melaksanakan upacara Odalan biasanya memanfaatkan berbagai macam produk kriya dengan beraneka ragam bentuk dan fungsinya serta tergolong sebagai sarana wali, seperti berupa: 1. Benda pakai, antara lain: pedupaan, bokor atau tempat sesajen, dulang, sokasi atau bakul, saab atau tutup sesajen, kendi, sangku atau tempat air suci, canting alat untuk mengambil tirta air suci, peralatan yang digunakan oleh Pedanda atau pemimpin upacara, seperti pedipan, pasepan keduanya berfungsi sebagai tempat pedupaan, stana lingga tempat api, swamba atau tempat tirta, tripada sebagai “kaki” swamba, pewijan tempat beras suci, dan sebagainya . 2. Ragam hias pada sarana perlengkapan upacara, seperti: Lontek, kober, pengawin atau bandrangan, tedung atau payung, ider-ider, berupa relief pada pelinggih-pelinggih, candi, patung, dan sebagainya. 3. Selain hal tersebut, peranan produk kriya sekaligus juga berfungsi sebagai simbol yang mengandung

Acintya . Pada tiaptiap persendian. dan pada kelamin berisi bajra. telinga.nilai-nilai atau makna terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Sikap berdiri (padaasana) dan kaki pada posisi bergerak.1. kepala. Bentuk Acintya seperti tampak pada Gambar 8 Gambar 8. Relief Acintya a) Karakteristik: 1) Bentuk: Umumnya dibuat dalam bentuk relief yang digubah dari bentuk mirip manusia dengan tanpa busana. Beberapa contoh produk kriya jenis tersebut dapat disimak pada uraian berikut 3.

3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan (abu-abu. Namun sekarang ada juga menggunakan “beton cetak” (campuran semen pasir yang dicetak). b) Fungsi: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan bersifat permanen dan sekaligus sebagai simbol.2) Material: Biasanya terbuat dengan batu alam (batu padas) atau emas. hitam atau kuning emas dan putih). Pelinggih Padmasana . Diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih berupa Padmasana Seperti tampak pada Gambar 9 Kepala badan kaki Tampak Samping Gambar 9.

ape hetu ri kadadinyan ananta. Dan dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan: Aprameya. artinya tak terpikirkan. maka untuk mempermudah penghayatan-Nya. Acintya. melambangkan sifat yang bebas dari ikatan duniawi.. telinga. Bhatara Parama-šiwa atau Tuhan sebenarnya bersifat tidak terbayangkan (Aprameya) dalam pikiran. melambangkan sifat Tuhan yang maha pemurah dan memberikan anugrah kepada ciptaan-Nya di alam. bhatara Paramasiwa tan pangenpangen. anirdesyam. Sikap kaki seperti berjalan atau bergerak. Bersemedi dengan sikap pada asana atau berdiri. anatomi tubuh dan jenis kelamin dibuat “tidak jelas” atau Ardhanareswari. artinya kehidupan yang selalu bergerak dinamis dan berproses. para yogiswara atau orang suci yang mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan membuat dalam bentuk simbol bersifat ikonografi dengan mengambil bentuk mirip manusia tanpa busana. dan . Setiap persendian. karena keadaannya yang tidak habis-habisnya atau ananta..b) Makna. ujung kaki. tan pahingan. Oleh sebab itu. merupakan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan. tak dapat dibatasi atau anirdesyam. kepala... Artinya. nilai-nilai simbolik dan religiusnya: Berdasarkan lontar Widi Tatwa atau filsafat tentang Tuhan.

Apah atau air (air yang padat berputar terjadilah bulan). perak. kuningan atau tembaga. Aksara Suci Ongkara 2) Material: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau dari logam. ether (memenuhi ruang yang ada). Angka telu atau angka tiga melambangkan tiga manifestasi Tuhan (Brahma. melambangkan energi Tuhan berupa sinar suci yang memancar ke segala arah dan memberi penerangan kepada seluruh ciptaan-Nya. Aksara Suci Ongkara a) Karakteristik: 1) Bentuk: huruf atau aksara suci Ongkara sebagai simbol diwujudkan berdasarkan konsep kosmologi dan terdiri dari beberapa bagian seperti pada Gambar 10 berikut Keterangan: 1. .2. Wisnu dan Šiwa Gambar 10. tanah. bumi (terjadinya pertama-tama berawal dari gelap).pada tempat kelamin dihiasi dengan bajra. seperti: emas. Pertiwi. Teja atau api. Bayu atau angin. 3. 2. 4. bintang (angin dapat menjadi bintang. matahari. Akasa atau langit. kain kapan dan sebagainya. 3. 5.

yaitu: (1) Aksara Wrešastra atau aksara yang “tampak” atau aksara yang umum atau aksara “biasa” digunakan dalam masyarakat Bali. pedagingan dan sebagainya. Akasara tersebut boleh diajarkan kepada siapa saja dan biasa digunakan seperti untuk membuat pipil (nama orang dalam suatu organisasi atau seka Banjar. kuning emas. Umumnya diterapkan pada bangunan Pelinggih Padmasana dalam bentuk relief. tt).3) Warna: sesuai dengan warna bahan yang digunakan. b) Fungsi: Dipergunakan sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Tri Murti. seperti: abu-abu warna batu padas atau hitam. dadya Pura). sebagai tanda bahwa bangunan tersebut telah diupacarai). putih perak atau kain kapan dan sebagainya. pangéling-éling atau tanda untuk meng- . ulap-ulap (secarik kain kapan diberi gambar aksara suci ongkara dan diletakkan pada pertengahan kolong atau tadah alas bangunan tradisional. dalam membuat surat bukti yang ditulis di atas daun lontar. c) Makna. nilai-nilai simbolik dan religius: Aksara Bali dalam penerapannya dibedakan menjadi dua golongan (Kaler. dipakai untuk membuat sesikep atau gegemet atau jimat.

air atau bulan. Jawa Kuno dan sebagainya (2) Aksara Cwalalita. pengobatan dan sebagainya. Kedua aksara tersebut dilengkapi dengan pengangge sastra atau kelengkapan huruf yaitu berupa: Nada melambangkan angin. Ketiga aksara tersebut jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. berhubungan dengan dunia gaib. Dewa Wisnu (Ung ) dan Dewa Ciwa (Mang). Huruf tersebut disebut juga dengan Aksara Modré. yaitu: Dewa Brahma (Ang ). Ardha-candra berbentuk bulan sabit melambangkan apah. bayu atau bintang. Dalam bahasa Bali diucapkan Ong. yaitu aksara suci atau aksara yang digunakan untuk menulis ilmu kedyatmikan. aksara yang “tidak tampak” terdiri dari dua buah aksara yaitu Ah ( ) dan Ang ( ) merupakan aksara yang didak boleh diajarkan kepada sembarang orang. Aksara Ong atau Ongkara merupakan sumber semua aksara.ingatkan sesuatu untuk menulis bahasa Bali. api atau matahari. Ketiga kelengkapan aksara tersebut menyimbolkan kekuatan tiga dewa. Kawi. windu melambangkan teja. yaitu aksara yang maha suci lambang Ida Sang Hyang . seperti: mantra. sehingga disebut Wija-aksara atau Ekã-aksara. perlambang atau simbol terkait dengan keagamaan.

sehingga penggunaannya sangat terbatas dan tidak boleh secara sembarangan. Jadi dari penjelasan tersebut.Widi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri-Murti. Demikian juga di India. . harus mengikuti petunjuk para rohaniwan (Nala. 1991. 2) Material yang digunakan: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu padas. Sudartha. maka dapat diketahui bahwa aksara Ongkara sebagai simbol yang mengandung makna religius terkait dengan ajaran ketuhanan. Hindu yaitu digubah dari bentuk kurakura dengan kepala berambut dan lidah mejulur keluar berbentuk api serta dililit naga. 1991) 3. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan yaitu berwarna abu-abu batu padas atau hitam. aksara Ongkara sebagai simbol Tuhan telah digunakan sejak zaman Weda. Badavañ Nala a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Penciptaan produk kriya tradisional berupa simbol tersebut dilandasi dengan konsep kosmologi. seperti tampak pada Gambar 11.3.

Gambar 11. Badavañ Nala dan Anantabhoga b) Fungsi: Badavañ Nala digunakan sebagai simbol dan sekaligus sebagai hiasan pada bagian dasar atau “kaki” sebuah bangunan suci berupa pelinggih Padnasana Gambar 12. Bagian Dasar Atau “Kaki” Pelinggih Padmasana . Gambar 12.

terbentuk dengan unsur Panca Maha Bhuta. Dalam bahasa Šanskerta disebut dengan kata kûrma. Dan da-lam kepercayaan Hindu sebagai simbol awatara Dewa Wisnu atau disebut Kûrmaratarâ. Perwujudan simbol atau nyasa tersebut bertujuan untuk memberi ajaran alam semesta dan membangkit kesadaran moral dalam segala aktivitas hidup untuk menjaga serta .c) Makna. Sebagai tempat kehidupan dengan berbagai persediaan bahan makanan dan sebagainya. Keseluruhan dapat diartikan sebagai tempat atau sumber api yang merah membara. Badavañ Nãla berasal dari urat kata Bada= tempat. Badavañ adalah istilah yang digunakan untuk nama binatang kura-kura. nilai-nilai simbolik dan religius: Perkataan Badavañ Nala atau Baduvañ Nala terdiri dari kata Badavañ dan Nala. empas atau penyu. Dalam simbol tersebut dimaknai sebagai inti bumi atau magma sebagai sumber panas bumi yang terus menerus membara Jadi pada simbol tersebut tersirat ajaran suci tentang ciptaan Tuhan yang tiada tara dan maha agung berupa alam makrokosmos. perlu dihormati. Bagi umat Hindu. Bang=merah dan Nãla=api. dan dilestarikan. Se-dangkan Nãla atau Anala dalam bahasa Šan-skerta sebagai padanannya adalah ageni ber-arti api. Oleh sebab itu.

Bentuk dan penerapan Nãga tersebut dibuat membelit Badavañ Nala. 12 dan 13 2) Material: dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu bata. yaitu dipakai sebagai simbol dan sekaligus sebagai ragam hias dan umumnya diterapkan pada dasar atau bagian “kaki” Pelinggih Padmasana berupa relief tinggi. b) Fungsinya: Kegunaan dan penempatan nãga di dalam pura sama dengan Badavañ Nala. 3. seperti warna abu-abu batu padas atau warna hitam batu alam). Bentuk Nãga tersebut seperti tampak pada Gambar 11. 3) Warna: Sesuai dengan warna bahan yang digunakan. digambar pada lontek atau umbul-umbul.sebagai ucapan terimakasih atau bakti dihadapan Tuhan atas ciptaannya. dan di Pelinggih Saptapetala dalam bentuk patung nãga. sehingga membentuk satu simbol dengan satu kesatuan makna tentang keagungan alam semesta.4. Nãga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Simbol nãga merupakan bentuk fantasi atau hasil imajinasi dari para kriyawan masa lalu yang digarap dengan didasari mitologi Hindu. .

Bentuk potongan kain semakin ke atas semakin kecil dan pada ujung bambu terlipat ke bawah serta di ujungnya diberi plat logam berbentuk seperti jantung .Gambar 13 Lontek Umbul-umbul Keterangan: Tangkainya terbuat dengan bambu. diameter pakalnya ±5 Cm. a) Makna. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam kamus Bahasa Šansekerta kata nãga berarti . Panjang ± 8 m.

seperti.ular. nanta= habis dan bhoga=makanan). Anantabhoga dan Taksaka. penerapan pada Padmasana didasari filosofi Tri Loka. nãga juga berarti gunung atau pohon (Pemda Tingkai I Bali. Dan dalam Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. Selain arti tersebut. yaitu. kata nãga tersebut diartikan ular naga atau gajah. Dari pengertian tersebut. Bwah Loka (lapisan alam tengah) dan Swah Loka (lapisan alam atas). dan Taksaka simbol dari Dewa Šiwa (Pelebur). Sehingga dikenal tiga nãga. Penerapan patung nãga pada Padmasana. yaitu. 1982/ 1983). Berasal dari urat kata “a”-“nanta” dan “bhoga” (a=tidak. sebenarnya hanya satu dan membelit Badavañ Nala. Maka Basukih simbol dari Dewa Brahma (pencipta alam). Basukih. Anantabhoga simbol dari Dewa Wisnu (pemelihara alam). Jika ketiga nãga tersebut dikaitkan dengan para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi. Secara keseluruhan berarti sumber bahan .tentang bentuk simbolis nãga yang diterapkan pada masing-masing pelinggih atau peralatan upacara memiliki pengertian atau filosofi dan sebutan yang kontekstual. maka nãga dapat diartikan sebagai ular besar. Dalam mitologi Agama Hindu Bali. yang disebut Nãga Anantabhoga. Bhur Loka (lapisan alam bawah).

Sedangkan nãga Taksaka. waitãla. Jadi penerapan nãga pada pelinggih tersebut sebagai simbol tujuh lapisan alam bawah. nitãla dan patãla.makanan yang tidak habis-habisnya. didasari oleh filosofi. atãla. Senjata Nawa Sanga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Senjata Nawa Sanga merupakan sembilan sejata para dewa dengan bentuk berbeda satu dengan yang lainnya. tapa loka. Jadi peristiwa tersebut berlangsung pada lapisan alam tengah (Swah Loka) atau di permukaan bumi. santãla. swah loka. dan tujuh lapisan alam bawah Sapta Patala yang terdiri dari tãla. dalam perwujudannya diterapkan pada umbul-umbul (Narasumber: Gelebet) Penerapan patung Nãga Basukih pada pelinggih Sapta Patala. 3. sutãla. jana loka. dan satya loka). maha loka. bhwah loka.5. Perbedaan tersebut mencerminkan atau sebagai simbol karakter dan sifat kekuasaan dari masing- . bahwa alam dibagi menjadi tujuh lapisan alam atas yang disebut Sapta Loka (bhur loka. Namun kenyataannya dalam membuat Pelinggih Padmasana sering diterapkan dua nãga (Basukih dan Anantabhoga) secara estetis hanya bertujuan untuk membuat komposisi yang simetris.

seperti pada gambar 14. Dalam penerapan-penerapan tertentu ada juga yang diwarnai sesuai dengan tata warna Senjata dan Dewata Nawa Sanga. seperti dengan meggunakan kain kapan. seperti berupa ujung-ujung tombak yang disebut dengan bandrangan atau pengawin . 3) Warna: Warnanya produk kriya tersebut. atau ada juga diwarnai dengan cat warna hitam dan putih perak. b) Fungsinya: Produk Kriya tersebut digunakan sebagai simbol dan sekaligus hiasan yang diwujudkan dalam bentuk perlengkapan upacara. seperti “hitam besi”. Tata letak dari senjata-senjata tersebut dalam padma angelayang atau pangider-ider. menyesuai dengan bahan yang digunakan.masing dewa. atau dengan menggunakan besi dan diwujudkan sebagai ujung-ujung tombak yang disebut bandrangan atau pengawin. seperti pada Gambar 14 dan 15. 15 2) Material: Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan menggunakan berbagai bahan. batu padas.

 Wayabya (barat daya)  Sangkara  Angkus  Limpa  Wilis (Hijau)  Pascima (barat)  Mahadewa  Nagapasa  Ungsilan Ginjal  Kuning  Niriti (barat daya)  Rudra  Moksala  Usus  Oranye (jingga)                Uttara (utara) Wisnu Cakra Ampru (empedu) Ireng (Hitam) Madya (tengah) Siwa Padma Tumpuking Hati) Amanca (Pancawarna) Daksima (selatan) Brahma Gadha Hati Bang (merah)  Ersanya (timur laut)  Swayambhu  Trisula  Ineban  Pelung (biru)  Purwa (timur)  Iswara  Bajra  Jantung  Putih  Geniyan (tenggara)  Mahesora  Dupa  Peparu (paruparu)  Dadu (merah muda) Gambar 14. Dewata Nawa sanga . Jenis dan Tata Letak Senjata Nawa Sanga Gambar 15.

Selanjutnya Tuhan diwujudkan sebagai Šiwa atau Šiwatman atau Mayasarira Tattwa. kekal abadi. Tuhan berwujud sebagai Sadašiwa dan dipercayai.c) Makna. maka dikenal dewa-dewa yang termasuk kelompok Dewata Nawa Sanga. tidak berawal-berakhir. Tuhan diwujudkan sebagai Sada Šiwa. telah dipengaruhi oleh sakti atau kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. manifestasi Tuhan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur keharmonisan alam makrokosmos (Bhuana Agung) yang terletak di seluruh penjuru mata angin dan . bahwa Tuhan telah berkrida. dengan bermacam-macam manifestasi-Nya dan dipersonifikasikan sebagai dewa-dewi. 1994). Nilai-nilai Simbolik dan Religius: Dalam alam transendental. sehingga memiliki sifat. Dalam alam imanensi umat Hindu di Bali. Tuhan memiliki delapan Ilmu pengetahuan untuk menyucikan Sang Hyang Atma yang ada dalam semua mahkluk dari dosa sesuai dengan amal baktinya (Wardana. Namun dalam alam imanensi. maha tahu dan sebagainya serta disebut Nirgunam Brahman (sunya). tanpa aktivitas. fungsi dan aktivitas (Saguna Brahman). dipercayai oleh umat Hindu. dengan keadaan-Nya: “tunggal”. bahwa Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa berwujud sebagai Paramašiwa. Dalam hal tersebut.

(1) 1. Trisula . merupakan simbol kekuasaan tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sambu. Hidup dan Mati. Dalam Lontar Kekawin Bhomakawya atau Bhomantaka. Lahir. Setiti dan Pralina. Nama Senjata (2) Cakra Makna simbol (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Dewa Wisnu untuk mengatur rotasi dan peredaran bumi. 2. Masing-masing mengandung arti atau makna yang saling terkait satu dengan lainnya serta merupakan satu kesatuan yang utuh. bahwa Senjata Nawa Sanga tersebut adalah merupakan simbol-simbol atau nyasa dari kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa dalam menjalankan tugas-Nya. Penjelasan lebih lengkap dapat disimak pada Tabel: 2 berikut Tabel 2 Makna Senjata Nawa Sanga No. diciptakan dengan didasari kosmologi khususnya tentang bumi. Dalam hal ini berfungsi sebagai kutub utara yang nantinya dihubungkan dengan Dewa Brahma di kutub selatan sehingga terbentuk sumbu rotasi bumi. 15. Simbol-simbol dalam mayasakti berbentuk senjata tersebut.mikrokosmos (Bhuana Alit) yang terletak pada organ-organ tubuh mahkluk hidup. Dan kesembilan dewa tersebut masing-masing memiliki senjata yang disebut dengan Senjata Nawa Sanga Seperti Pada Gambar 14. yaitu berfungsi menjalankan tugas sebagai pengatur kehidupan di bumi berdasarkan ketentuan Upeti.

Nagapasa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Mahadewa. 8. sebagai kekuasaan atau kekuatan dari delapan dewa tersebut terpusat pada Dewa Šiwa. (2) Bajra . 7. Gadha Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Brahma. Angkus Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara. 9. Padma Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Šiwa. 6. atau disebut dengan Padma Anglayang atau pangider-ider Narasumber: Ida Pedanda Budha. buruk dan sebagainya —). dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur atau menentukan sifat dan karakter alam semesta bersama isinya.(1) 3. Griya Sukawati. 5. Dupa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Dewa Mahesora. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur kemakmuran dan kesejateraan alam semesta bersama isinya. mengendalikan dan menentukan danda atau hukum alam. baik. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengendali dan penentu dari tugas-tugas yang dijalankan oleh delapan dewa yang terletak di delapan penjuru arah mata angin. 4. (yang menyangkut Rwabhineda —siang. Simbol senjata-Nya digubah dari bentuk bunga teratai atau padma yang bermahkota delapan atau Asta Dala. Moksala Merupakan simbol kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Rudra. malam. dalam fungsinya sebagai pengatur panas alam (makrokomos dan mikrokosmos). (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatanTuhan dalam manifestasi Nya sebagai Dewa Iswara yang bertugas mengatur getaran alam (makrokomos dan mikrokosmos). dalam fungsinya mengatur. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengikat atau pengatur kestabilan alam semesta bersama isinya.

Karang Bhoma . Gambar 16. Karang tersebut merupakan stilisasi dari bentuk kepala raksasa atau punggalan. kakul-kakulan serta patra punggel.3. di kanan dan kiri dilengkapi dengan telapak tangan yang dikepak. Ciri-crinya: mata besar dan mendelik. dilatarbelakangi dengan patra wangga. Bhoma a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Bhoma dibuat dalam bentuk relief tinggi yang digolongkan sebagai kekarangan. Sebagai salah contoh seperti pada Gambar 16 berikut. sehingga disebut dengan Karang Bhoma.3. Perwujudan bertuk tersebut didasari ceritera Bhomantaka.

merupakan gerbang pertama dari sebuah pura atau sebuah pintu yang membatasi halaman kedua atau madia mandala (jaba tengah) dengan halaman pertama atau utama mandala (jeroan) seperti pada Gambar 17 berikut Gambar 17. batu padas atau batu bata. Kori Agung Atau Paduraksa Dengan Ragam Hias berupa Bhoma 2) Material: Umunya bahan yang digunakan untuk membuatnya. seperti batu alam.b) Fungsinya: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai simbol dan sekaligus ragam hias yang diterapkan di atas relung kori agung atau paduraksa. .

nilai-nilai simbolik dan Religius: Bhoma berarti lukisan (ukiran) yang berbentuk muka raksasa atau kala (Bahasa Bali) yang ditempatkan di atas relung pintu gerbang utama pura atau paduraksa (Dinas Pengajaran Propinsi Bali. dijelaskan. yang keluar dari bumi. bahwa Banaspatiraja adalah raja bhuta. Sedangkan menurut Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali. Pandangan tersebut diselaraskan dengan kepercayaan. c) Makna. Bhoma digunakan sebagai simbol dari pepohonan dan disebut Banaspatiraja serta dianggap keramat. 1978). 1972) Di Bali. “abu-abu batu padas” atau merah bata. dengen. kepuh dan sebagainya. mulut terbuka lebar. seperti pohon randu. mata melotot seram seperti kepala monster.3) Warna: sesuai dengan bahan yang digunakan. pole. artinya berhubungan dengan bumi. tonye atau mahkluk halus yang menempati pohon-pohon besar. tinggal di dalam bumi atau tanah (Monier. bahwa perkataan Bhoma berasal dari Bahasa Šanskerta. kala. 1963). . Bhauma. bahwa Bhoma adalah raksasa putra bumi. gigi dan taring mencuat keluar (Covarrubias. seperti: “hitam batu alam”. Dalam A Šanskrit-English-Dictionary dijelaskan.

Dalam pencarian tersebut Dewa Wisnu bertemu dengan Dewi Wasundari (Dewi Pertiwi). dinarasikan tentang kelahiran Sang Bhoma. Dalam pertemuan tersebut akhirnya terjalin hubungan yang dalam sehingga melahirkan seorang putra yang diberi Naraka atau Bhoma (Lontar Bhomantaka. Berawal dari perdebatan antara Dewa Brahma dengan Dewa Wisnu tentang kesaktian yang mereka miliki. Mamun usaha mereka sia-sia. karena pangkal lingga tersebut terus masuk ke dalam bumi dan ujungnya terus menjulang ke angkasa dengan batas yang tak terhingga. Lampiran 5b. Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk mencari pangkalnya dan Dewa Brahhma dengan kesaktiaannya berubah menjadi burung layang-layang hitam terbang meluncur ke atas mengejar ujung lingga.b). mereka tercengang dan memutuskan untuk menemukan ujung dan pangkal dari lingga tersebut. seperti pada kekawin Bhomantaka. .Menurut Mitologi Bhoma dalam kesusastraan Jawa kuno. Keropak IV. Milihat kejadian tersebut. Bersamaan dengan kejadian tersebut tiba-tiba muncul sebuah lingga kristal dari bumi dan menjulang ke angkasa. sedangkan Dewa Wisnu berubah wujud menjadi seekor babi jantan dan menggali tanah untuk menemukan pangkal lingga.

Namun makhluk yang diciptakan tersebut memiliki sifat yang rakus dan memakan apa saja yang dijumpainya serta sangat tunduk dengan perintah Dewa Siwa. Akhirnya Dewa Siwa memerintahkan agar memakan tubuhnya sendiri. akhirnya Dewa Siwa menjadi sangat marah. .Heinrich Zimmer dalam bukunya Myths and Symbols in Indian Art an Civilization dipaparkan tentang Bhoma sebagai akibat pemenggalan leher raksasa bernama Rau yang dilakukan oleh Dewa Wisnu. mengerikan— dari ajňa cakra-Nya atau kening. Kepala raksasa tersebut akhirnya murka. merusak dan mengganggu aktivitas para dewa di kahyangan. Perintah tersebut segera dilakukan. sehingga bagian kepalanya tetap hidup sedangkan bagian badannya langsung mati. sehingga muncul makhluk yang luar biasa sebagai Ghora Murti Siwa —wujud Tuhan yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang sangat sangat dasyat dan. Dia mulai makan kaki. Namun pada saat dipenggal tirta tersebut belum sampai di tenggorokan. tangan. badan. Melihat kejadian tersebut. karena raksasa tersebut diketahui sedang minum tirta amertha. Mahkluk tersebut kembali bertanya. sampai bagian dibawah leher dan hanya tersisa bagian leher serta kepala. Akhirnya raksasa Rau dimakan oleh makhluk tersebut.

Dewa Siwa memberi tugas untuk menjaga istana Siwa. telapak kaki dibuat seperti cakar burung. Karena kepatuhannya tersebut. bersayap. Tubuh dan anggota badan menyerupai manusia.4. menghancurkan dan menolak pikiran jahat yang akan merusak kesucian stana Dewa Siwa serta diberi nama Kirttimukha serta diletakan pada bendul pintu utama. atau batu alam. 1945). dan sebagainya. Pada saat tersebut Dewa Siwa bersabda “ Barang siapa yang masuk ke dalam kuilku tanpa menyembahmu. mereka tidak akan memperoleh rahmatku” (Zimmer. Garuda Wisnu a) Karakteristiknya 1) Material: Bahan baku yang digunakan untuk membuat produk itu adalah kayu. gigi runcing. seperti pada Gambar 18 berikut .apa yang saya lakukan lagi ?. batu bata. 2) Bentuk: Pada umumnya bentuk Garuda Wisnu digubah dari bentuk fantasi yang menyerupai burung. berparuh. batu padas. Dibagian belakang diberi ekor dan dipunggungnya dibuat patung Dewa Wisnu memegang Cakra. 3. bertaring dan diberi busana serta mahkota. mata melotot. menelan.

langsung berdiri tugeh atau tiang penyangga menuju puncak langit-langit. gedong bata dan seba- .Gambar 18. sendi tugeh (dasar tiang penyangga puncak langit-langit pada bangunan piasan). b) Fungsinya: Produk kriya tersebut mempunyai fungsi religius dan estetis. digunakan sebagai simbol dan hiasan. karena dari punggung patung garuda tersbut. biasanya diterapkan di belakang bangunan Pelinggih Padmasana. Garuda Wisnu Tetapi yang digunakan untuk menghias pada sendi tugeh jarang dilengkapi dengan patung Dewa Wisnu.

Relief Garuda Wisnu Diterapkan di Belakang Padmasana c) Makna. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam bahasa Šanskerta perkataan “garuda” berasal dari akar kata “gri”. Berikut Gambar 19. yang berarti “menelan” (penakluk para naga. memiliki kekuatan magis untuk menangkal bisa ular). salah satu contoh penerapannya. naga sebagai simbol .gainya. seperti pada Gambar 19. Garuda dipakai sebagai simbol matahari. Dalam perwujudannya sebagai simbol. sering ditunggangi oleh Dewa Wisnu.

air kosmis dan Wisnu berada pada kedua sisi antagonis tersebut. 1995) Setelah bangsa Indonesia bebas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa lain. yaitu Garuda Pancasila. Dalam perwujudannya kaki burung Garuda tersebut mencengkram pita yang berisi tulisan tentang ikrar . 1946). Penggunaannya semakin berkembang dan terus seperti digunakan oleh Raja Jayabaya. garuda juga digunakan sebagai simbol kebesaran atau penggambaran aspek keagungan Tuhan. maka garuda kembali dijadikan sebagai lambang negara. Prabu Aerlangga dengan peninggalannya yang paling terkenal berupa garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dan sebagainya (Titib. Di Nusantara. Raja Kertajaya (raja yang terhakhir memerintah dikerajaan Kediri). Diperkirakan telah berlangsung sejak pertengahan abad X. Adegan tersebut sangat populer dalam episode Ramayana. ceriteraceritera rakyat dan dalam bentuk visualnya dipakai sebagai sarana pemujaan oleh umat Hindu di India dan Bali (Zimmer. Hal tersebut dapat diketahui dari tipografi peninggalan cap atau stempel bermotif Garudamukha yang pertama kali digunakan sebagai lencana kepala pemeritahan oleh Sri Maha Raja Blitung (808-910) yang berkuasa di Jawa Tengah.

seberikut: Aparan pwa ya makateja Ya? Garudo balawan tesam manuk mahacakti. Lambang tersebut sebagai sumber yang kreatif mencerminkan kebebasan untuk menentukan nasib bangsa indonesia di antara bangsabangsa di dunia. Makana ling Sang Hyang Agenbi ri sang watek dewata. pathagecwara. twam prabhuprahus tapanah twam nastranam anuttamam Artinya. Apakah yang bersinar itu ? Garuda tiada lain seekor burung yang maha sakti. Sinanya sangat bagus. Kunang pada tejanya lawan teja nghulun. ling nira: Twam rsi. kapwa maso mangastuti Sang Garuda. twam dewah. dan sinarnya sama dengan sinarku. twam mahabhagas. Mari ta sira harohara. anak Bhagawan Kacyapa dengan Sang Winata. dalam bahasa Kawi— terdapat satu episode yang menceritakan keajiaban atau kebesaran Sang Garuda. anak Bhagawan Kacyapa ri Sang Winata ika.bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. . Nama tluya sutejasa. Dalam Adiparwa —sebuah kesusastraan Jawa yang diperkirakan ditulis pada zaman pemerintahan Raja Darmawangsa Teguh sekitar tahun 918 Saka (918 Masehi).

Akhirnya sang Garuda berhasil mengambil tirta amertha yang disimpan dalam goa dilereng gunung Somaka dan membawanya terbang ke angkasa. Dalam perjalanan mencari tirta amertha ia menemui banyak hambatan. Seperti para dewa yang membawa senjata menghadang dan menyrangnya. semua tampil ke depan dan memuji Sang Garuda serta mengatakan: Hyang Garuda. engkau penguasa segala yang terbang melayang. Namun dengan kesaktiannya tak satupun bulu Garuda tersebut dapat dirontokan oleh senjata para dewa. engkau dewa. engkau resi. Namun sang Garuda menolaknya dan menyuruh agar para dewa . engkau pendeta besar. 1958). Di angkasa dengan serta merta dewa Wisnu mengampirinya dan menyuruh agar tirta tersebut dikembalikan.Demikianlah kata Sang Hyang Ageni kepada para dewa. Mereka tertegun dan berdiam. Tirta tersebut natinya digunakan sebagai persyaratan untuk membebaskan ibunya (Sang Winata) dari perbudakan Sang Kadru. engkau rajanya. Dalam episode selanjutnya diceritakan usaha Garuda dalam mencari tirta amertha yang disimpan oleh para dewa di Gunung Somaka. sinarmu seperti sinar matahari (Widiatmaja.

dianggap mengandung nilai-nilai simbolis religius serta disakralkan. Barong Ket dan Rangda a) Karakteristiknya: 1) Material: Bahan baku yang digunakan. praksok ( Bahasa Bali) atau sejenis serat daun pandan. kaca. seperti pada Pelinggih Padmasana. seperti: kulit sapi yang telah disamak. kain dan sebagainya. Mitologi tentang keagungan atau kesaktian tokoh Garuda dan Wisnu dijadikan sebagai landasan estetika dan penerapan Garuda Wisnu juga sebagai simbol kebesaran Tuhan. seperti: kincu. pewarna (menggunakan pewarna tradisional. . serbuk tulang menjangan.5.minta anugrahnya… Episude cerita tersebut diakhiri dengan menerima permintaan dewa Wisnu untuk menjadikannya sebagai kendaraanya dan tirta amerthan tersebut kembali dapat direbut oleh para dewa serta Sang Winata bebas dari perbudakan. atal ancur dan perada). 3. jelaga. maka Garuda Wisnu diterapkan pada bangunan-bangunan suci. Sedangkan di Bali. Sehubungan dengan hal tersebut. kayu. karya sastra tersebut banyak mengilhami para seniman atau para kriyawan masa lalu dalam berkaya.

Barong Ket dan Rangda . Warna topeng Rangda umumnya putih. dibuat dan diwarnai dengan cara yang sama. Barong Asu. Demikian juga hiasan Rangda. Hiasannya. Barong Blas-Blasan. Gambar 20.2) Bentuk: Barong yang digunakan di Bali bentuknya sangat beragam dengan sebutan yang berbeda-beda. Barong Bangkal. seperti: Barong Ket. Barong Brutuk dan sebagainya. dibuat dengan kulit dan diwarnai perada atau warna emas. bulunya diwarnai hitam atau dibiarkan putih (warna praksok). Salah satu contoh berupa Barong Ket dan Rangda dapat dilihat pada Gambar 20 b) Warna: Topeng barong biasanya diwarnai dengan merah. angkeb pale dan sebagainya. kembang sasak. geruda mungkur. gelung kekendon. silat bahu. seperti: badong. Barong Macan.

yaitu tarian yang dipentaskan serangkaian dengan upacara Agama Hindu di Bali. nilai-nilai simbolik dan religius: Banyak pengertian mengenai kata barong. Seperti. artinya bersama —cara menarikan atau memainkan bersama-sama —(Proyek Sasana Budaya Bali. bahwa perkataan barong berarti. karena selain mengandung nilai-nilai sakral (sebagai sarana upacara agama). maka perkataan barong diselaraskan dengan perkataan bareng (Bahasa Bali). Produk kriya tersebut diciptakan dan digunakan sebagai sarana pagelaran seni tari wali. Produk kriya tersebut juga digunakan sebagai pratima dan biasanya di simpan di Pura Dalem. dalam melangsungkan upacara odalan di pura. bahwa sinonimnya disitir dari Bahasa Belanda. sesuai dengan pendapat R. Goris. 1975/1976) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. artinya binatang beruang. Pengertian tersebut. berasal dari kata Bhahrwang. seperti dalam Bahasa Šanskerta. d) Makna. Sedangkan ditinjau dari cara memakai. juga mengandung nilai-nilai profan.c) Fungsinya: Barong dan Rangda adalah tergolong produk kriya bebali. dimainkan oleh . tarian yang memakai kedok dan kelengkapannya sebagai binatang buas (singa). yaitu dari kata beer.

Sedangkan tokoh Rangda melambangkan sifat atau karakter yang mengarah pada hal-hal kurang baik atau adharma. Sedangkan Rangda atau Randa. hanya disesuikan dengan suara yang ditimbulkan akibat entakan rahang bawah kedok barong. merusak. 1972). mengayomi dan dapat menyembuhkan penyakit. sewaktu dimainkan. dipertunjukkan dengan ceritera Calon Arang (Kridalaksana. sebagai juru penyelamat. Barong dan Rangda dalam episode Calonarang adalah dua tokoh yang melambangkan dua sifat atau karakter berbeda (Rwa Bhineda) atau antagonis. 1994). Perkataan ”Ket“ tidaklah mengandung arti khusus. di mana Barong sebagai lambang kebenaran atau dharma. Masyarakat di Bali menyebutnya sebagai penganut ajaran beraliran “tengen atau kanan” (white magic). mengganggu dan sebagai penganut ajaran “beraliran kiwa atau kiri” (black magic) (Covarrubias. Menurut mitologi. 1994).dua orang. bahwa penciptaan Barong dan Rangda di Bali diilhami cerita yang terdapat dalam lontar Šiwa Tattwa. satu dibagian kepala dan satu di bagian ekor. perkataan itu berarti perempuan yang kehilangan suami (cerai atau meninggal dunia) atau janda (Kridalaksana. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Secara singkat .

Dalam kutukan tersebut Dewa Šiwa juga mengijinkan istrinya untuk berubah wujud kembali menjadi dewi Uma saat hari tilem sasih kesanga ( saat bulan mati di bulan sembilan). istrinya menghadap dalam wujud rangda dengan wajah menakutkan. namdala 53-56). Lalu untuk memberkati perubahan wujud istrinya menjadi dewi Uma.diceritakan tentang kutukan Dewa Šiwa yang ditujukan kepada istrinya Dewi Uma agar berubah menjadi Dewi Durga —Seorang dewi atau perempuan yang berwajah angker dan menakutkan sebagai dewi penguasa kuburan yang bernama setra Gandamayu— karena ulahnya yang tidak wajar dilakukan ketika disuruh mencari susu atau empehan lembu. Pada hal kejadian tersebut dibuat oleh Dewa Šiwa. Dia berani menghianati. maka Dewa Šiwa berubah menjadi Bhuta Egeg (Lontar Šiwa Tattwa. Masalah tersebut terungkap berkat kehebatan ilmu tenung yang dimiliki dewa Ganesh. . melakukan perselingkuhan dengan pengembala lembu. mengorbankan kesucian dan kesetiannya. Sebenarnya pengembala tersebut adalah siluman dari dewa. Ketika hari tersebut tiba.

Pendekatan Historis ejarah atau dalam bahasa Inggris disebut history dan berasal dari bahasa Yunani istoria (kata benda) berarti “ilmu”. Dalam penggunaannya oleh filusuf Yunani seperti istoria yang dipakai Aristoteles berarti suatu cara menelaah sesuatu secara sistematis mengenai seperangkat gejala alam.BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA A. Namun dalam perkembangan selanjutnya metode untuk menelaah sesuatu yang tidak kronologis digunakan istilah scientia. karena sejarah hanya berdasarkan rekaman dan berdasarkan simpulan mengenai lingkungannya (Gottschalk. S . Namun masa lampau tersebut tidaklah dapat direkonstruksi kembali secara utuh. Pendekatan tersebut disebut natural history. Sedangkan yang kronologi terutama menyangkut kehidupan manusia dipakai istilah istoria. entah suatu susunan yang kronologis ataupun tidak. Dalam definisi yang universal istilah history berarti masa lampau umat manusia. 1969).

Cara penulisan sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok yaitu: 1) Pengumpulan data yang berasal dari jaman yang sedang dialami menjadi konsentrasi dan pengumpulan bahan-bahan: tercetak. dan deskripsi. sehingga metode sejarah dapat diterapkan pada berbagai disiplin yang digunakan sebagai sarana untuk memastikan fakta (Gottschalk. penyusunan. dilakukan seleksi. Rekonstruksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses historiografi (penulisan sejarah). yakni hasilnya dapat diverifikasi dan dapat titolak atau diterima. 2) Menyingkirkan bahan yang dianggap tidak otentik 3) Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan bahan yang otentik. karena pada batas-batas tertentu metode sejarah analitis adalah ilmiah. . Sejarah merupakan suatu metode atau prosedur (procědě de connaissance). Dan cara tersebut berbeda dengan metode sejarah analitis.1969).Pendekatan hitoris adalah suatu proses pengujian dan analisis secara kritis hasil rekaman dan peninggalan masa lampau. tertulis dan lisan yang relevan. 4) Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya tersebut menjadi suatu penyajian atau deskripsi yang berarti.

senjata. naskah kuno dan sebagainya. perhiasan. seperti: candi. kitab. lontar. dilakukan dengan membandingkan gejala yang sejenis. pendekatan historis menggunakan data yang relatif sudah lampau. Sedangkan dari segi waktu. hukum. cenderung menggunakan data yang belum terlalu lama. posil. baik berdasarkan perbedaan waktu terjadinya atau tempat terjadinya di dalam kurun waktu yang sama. relief.dan sebagainya. perabotan dan sebagainya. kepercayaan. 2) Peninggalan tertulis: seperti: prasasti. sehingga masih dapat dikelompokkan sebagai usaha mengungkap fakta masa sekarang.Secara umum sumber data yang digunakan dalam penelitian sejarah dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu: 1) Peninggalan berupa material. monumen. dogeng. Bentuk penelitian historis (Namawi.1990): 1) Penelitian atau studi komparatif hitoris. seperti berupa ceritera rakyat. . Penggunaan arsip dan dukumen harus dibedakan dengan studi dokumenter yang merupakan metote deskriptif. adatistiadat. 3) Peninggalan yang tidak tertulis atau budaya. bangunan. Studi dokumenter.

Bermaksud mengungkap kegiatan-kegiatan pemerintah suatu bangsa. Pendekatan Semiotis Pendekatan Semiotis diartikan sebagai prosedur yang digunakan untuk pemecahan masalah yang ditinjau dari perspektif ilmu tanda atau dikenal dengan “semiologi” atau “semiotika”. 4) Penelitian kronologis atau secara diakronis penelitian ini bermaksud untuk mengungkap kejadian atau keadaan dan peristiwa menurut urutan waktunya dari masa yang paling tua dapat dicapai sampai masa-masa mendekati masa sekarang. dilakukan untuk mengungkap berbagai teori pandangan hidup. Dalam bidang seni. kriya dan desain pendekatan semiotis dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah estetika dan semantika produk kriya. sehingga berpengaruh bagi kehidupan pada masa terntentu dalam prospek sejarah. B. 3) Penelitian bibliografi atau kepustakaan. . lembaga dalam menetapkan kebijakan. kerajaan. Upaya pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan dengan membaca atau menginterpretasikan hubungan antar tanda dan makna pada produk kriya.2) Penelitian legal atau yuridis. pemikiran filsafat dan lain-lain yang dapat ditemui di dalam berbagai peninggalan tertulis terutama buku-buku yang dihasilkan pada zaman tertentu.

sebenarnya dalam desain bukan merupakan hal yang baru. Merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. proses yang berlaku dalam penggunaan atau fungsi tanda. ikon yang merupakan hal yang mendasar dalam semiotika. tanda. Dia menegaskan bahwa peranan tanda dalam kehidupan sangatlah besar. bahwa pengertian semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda. dalam artian sign atau tanda. Namun kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani. yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (18571913). Di Amerika ilmu tersebut disebut dengan Semiotics. Di Eropa ilmu tersebut disebut dengan Semiology. simbol.Indeks. Kata desingare sendiri mempengaruhi kata designer dari bahasa Perancis abad pertengahan (dalam pengertian merancang). yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce (1838-1914). hubungan . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan. seperti sistem tanda. berasal dari kata signum yang berari sebuah tanda khusus. yaitu sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi. seorang filosuf dari Amerika. Semeion. seorang linguis dari Swiss. Sebab menurut Tjahjono (1980) bahwa istilah desain (design) dalam penggunaannya sebagai kata kerja berasal dari kata latin-baru desingare yang berarti ‘menandai’ atau membatasi (penambahan suku kata ‘de’ di depan menunjukkan pemakaian secara intensif).

dan berbagai produk lainnya (The American Heritage® Dictionary of the English Language. penerima dan pengiriman tanda. seperti gerak isyarat atau gesture. bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tentang tanda dan lambang (sistem dan proses perlambangan) (Luxemburg dalam Hartoko. 1992 ). seperti . symbol dan myth ke dalam cakupan semiotika (dalam Santosa. Ruang lingkup kajiannya tidak terbatas pada bidang bahasa saja. baik menggunakan bahasa verbal atau ujar maupun non-bahasa atau nirujar. pakaian. baik bersifat literal maupun alegori (kias) atau figuratif. Semiotika mempelajari tentang tanda. metaphor (metafora). tetapi meliputi berbagai aspek kebudayaan.dengan tanda lainnya. Dalam pengkajian semiotika menggunakan beberapa pendekatan. 1993). cara berfungsi. hubungan antara tanda dengan tanda lainnya. bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda dalam maknanya yang luas di dalam masyarakat. Luxemburg menyatakan. Kemudian Wiryaatmadja (1981) menyatakan. konvensi dan sebagainya (Zoest dalam Soekowati. Batasan tersebut sesuai dengan pendapat Rene Wellek dalam telaah linguistik. Dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa bidang kajian semiotika sangat luas. dan penerimaan tanda dalam komunikasi tanda. yang memasukan image (citra). 1990). termasuk pengiriman. Third Edition. 1984).

Menurut Peirce. hubungan dengan tanda-tanda lain dan cara bekerja samanya dalam menjalankan fungsinya. disebut designatum atau denotatum. umum. 2) Semantik semiotika. Dalam konteks tersebut. peristiwa. benda. yaitu studi tentang tanda yang berpusat pada penggolongan. lambang (symbol) dan isyarat atau sandi. makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan objek atau sesuatu — apa yang dimaksud oleh tanda. diacu atau ditunjuknya. misalnya. dan bentuk-bentuk tanda yang lain. . secara garis besarnya mencakup komponen dasar. 3) Pragmatik semiotika. apabila mengutamakan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerima tanda. tanda selalu menunjuk pada sesuatu hal yang riil. Bidang kajian semiotika seperti dipaparkan tersebut.1) Sintaksis semiotika. sehingga tanda memiliki arti yang statis. lugas dan objektif. tindakan. kejadian. tulisan. bahasa. 1) Tanda (sign) merupakan komponen semiotika yang menandai suatu hal atau keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subyek. seperti tanda (sign). apabila pengkajian menonjolkan hubungan tanda dengan acuannya dan interpretasi yang dihasilkannya.

seperti tampak pada Gambar 21 berikut: . Jadi dalam suatu tanda selalu terdapat tiga unsur. (Sudjiman. sedangkan dalam Bahasa Indonesia disebut “acuan”— disebut representamen. Interpretant merupakan suatu peristiwa psikologis dalam pikiran interpreter atau penterjemah. ground dan interpretant. Representamen dapat terlaksana apabila ada bantuan sesuatu. “Sesuatu” yang diacu oleh tanda agar dapat berfungsi disebut dengan latar atau ground. 1992).Dalam Bahasa Prancis digunakan kata référent. yaitu denotatum. maka dari tanda yang orisinil berkembang menjadi suatu “tanda yang baru” disebut interpretant. konvensi. Tanda mempunyai dua entitas yaitu: signifier atau wahana tanda dan signified atau wahana makna atau dapat diartikan sebagai penanda dan petanda serta keduanya tidak dapat dipisahkan. misalnya. Setelah tanda diasosiasikan dengan suatu acuan. Keseluruhan dari proses terlaksananya representamen digambarkan oleh Peirce dalam diagram segitiga.

namun setelah mengacu pada latar (ground) yang terkait dengan pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. sebelum memasuki pura atau tempat suci agar “membunuh” sifat-sifat “keraksasaan” (marah. atau emosi diri yang tak terkendali lainnya)— maka patung tersebut akan menjadi tanda . Awalnya patung tersebut merupakan tanda untuk “benda biasa” atau sekadar hiasan semata. dengki.Sumber: Eco 1979 Gambar 21: Proses Berlangsungnya Representamen Salah satu contoh: dua buah produk kriya berupa patung raksasa apitlawang (Bahasa Bali) yang diletakkan mengapit pintu gerbang utama pura atau paduraksa. yaitu untuk “menyadarkan” atau mengingatkan umat. loba. —dua buah patung raksasa tersebut mempunyai fungsi komunikasi tanda visual.

dapat dikatakan representemen dari patung tersebut dapat berlangsung dengan baik. yaitu: a) Qualisign adalah terbentuknya tanda berdasarkan sifat atau kualitas. sehingga dapat mengikuti upacara dengan khidmat. Selain hal tersebut. maka pada dirinya akan muncul interpretasi yang menggugah kesadaran. Bagi umat yang memahami latar atau ground yang tersirat pada patung tersebut. Unsur penanda (dasar atau latar) atau ground dari tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifatnya.baru yang memuat latar tersebut. semua pernyataan individual yang belum terkonvensikan dapat disebut sinsign. Dalam kondisi tersebut. bahwa memasuki pura hendaknya mengendalikan “emosi”. c) Legisign adalah tanda terbentuk atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum. yaitu: . b) Sinsign berasal dari singular sign adalah tanda terbentuk berdasarkan penampilannya yang nyata. tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifat penghubung tanda dengan denotatum. seperti. konvensi atau kode.

b) Dicisign. b) Indeks adalah tanda yang sangat tergantung pada denotatum dan memiliki hubungan bersebelahan atau kedekatan eksistensi. menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda denotatum. c) Argument atau interpretant dalam arti umum. apabila bagi interpretant tanda itu. Dalam hal tersebut tanda terkait dengan renungan kebenaran. yaitu: a) Rhême. Contoh. apabila tanda tersebut dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum. Selanjutnya unsur interpretant atau petanda dapat dibedakan menjadi tiga.a) Iconic adalah tanda terbentuk berdasarkan suatu kemiripan potensial yang dimilikinya dan tidak tergantung pada makna denotatum. . membawa penjelasan mengenai daya atau kekuatan kebenaran pada sistem-sistem semiotika. ada asap sebagai pertanda ada api dan sebagainya. Batasan tersebut mengimplikasikan bahwa segala sesuatu merupakan icon. c) Symbol atau lambang adalah hubungan berdasarkan konvensi dari suatu kelompok komunitas manusia. karena semua yang ada di alam dapat diasosiasikan dengan yang lain.

Manusia sering disebut sebagai “mahkluk simbolik”. berperasaan. maksudnya prihal yang . yaitu kemampuan untuk menciptakan “sistem simbolik”. 1944). sebagai kata benda. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ernst Cassirer. bersikap. (Cassirer. bekerja dan sebagainya. Dan sekaligus dipakai untuk menandai salah satu perbedaan manusia dengan binatang Sehingga ia menyatakan: ”. symballein (suatu bentuk kata kerja) yang berarti meletakan secara bersama atau menaksir bersama. yaitu sistem penerimaan dan pemberian. we should define him as animal symbolicum”. Namun manusia selain terlibat dua sistem tersebut. bahwa semua mahkluk ciptaan Tuhan dalam menghadapi realita kehidupan. juga mempunyai kelebihan untuk menciptakan sistem komunikasi dengan matra baru yang menyesuaikan dengan lingkungan realitas. Istilah simbol berasal dari perkataan Yunani. berkomunikasi.. umumnya dilandasi oleh dua sistem.2) Lambang atau simbol . berarti perbandingan dengan sesuatu. dari dulu hingga sekarang tidak terlepas dari aktivitas simbolisasi.. instead of defining man as an animal rationale. karena hampir semua aktivitas dalam kehidupan manusia sehari-hari. seperti dalam berpikir. membaca.

Ogden dan Richards dalam Eco (1979) memberi dua istilah. sebagai hasil interpretasi). Dalam kaitan dengan simbol. Lambang atau simbol adalah tanda yang mampu menuntun pemahaman si subjek kepada objek berhubungan dengan makna denotatum dan konotatum.harus dikaji dengan kritis. “sesuatu” dan sebagainya. Sumber: Eco 1979 Gambar 22 Berlangsungnya Referent . denotatum. yaitu reference (yang mengandung. Ketiga komponen tersebut digambarkan dalam diagram segitiga. isi atau konsep sebagai acuan) dan referent (yang mengandung persepsi. karena merupakan analogi tanda untuk menghadirkan tanda yang lain. seperti Gambar 22 berikut. berdasarkan konvensi atau kode yang berlaku umum dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu.

impian dan bentuk-bentuk abstrak lainnya dapat direalisasikan dalam wujud simbol.1990). sering . si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek yang memberi isyarat pada waktu itu juga. seperti tanda. Sebenarnya penerapan ketiga komponen semiotika. Jadi isyarat selalu bersifat temporal (kewaktuan). kias.Jadi simbol merupakan tanda yang mengandung pengertian sertaan dan antara simbol dengan yang disimbolkan atau referent yang dihasilkan sama sekali tidak terdapat pertalian makna alamiah. sehingga lambang atau simbol bermakna dinamis. dan majas. khusus. Lambang atau simbol merupakan pedoman untuk memudahkan pengenalan atau penghayatan sesuatu di tengah-tengah kesemerautan perbuatan manusia dan keragaman kejadian alam. simbol dan isyarat. situasional dan kondisional. 3) Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan oleh si subjek kepada objek. isyarat akan berubah menjadi tanda atau perlambang (Santosa. Dalam keadaan tersebut. apabila ditangguhkan pemakaiannya. subyektif. khayalan. Karena di dalamnya terkandung kaidah yang bertalian dengan akal budi dalam seluruh paradigma tentang kehidupan sadar dan di bawah sadar. Perwujudannya sangat tergantung pada permasalahan yang bersifat kultural. Mitos.

dan dapat juga oleh binatang setelah diajarkan secara berulangulang yang dipakai untuk tanda selalu mempunyai hubungan khusus dengan yang ditandai (kontekstual). diketahui oleh manusia. Namun berdasarkan uraian tersebut. seperti Tabel 2 berikut: Tabel 2 Tiga Komponen Semiotika No. 6. karena terkonvensi berbentuk konkret dan atau abstrak. ISYARAT/SANDI (4) diberitahukan oleh subjek kepada objek (subjek aktif) hanya memuat satu arti diberitahukan oleh subjek kepada objek secara langsung (berlaku satu kali) 2. (1) 1. yang dipakai sebagai dasar isyarat tidak ada hubungan khusus dengan yang diisyaratkan. hanya dapat dipahami oleh manusia. 5. TANDA (2) subjek diberitahu oleh objek (subjek pasif) hanya memuat dua arti subjek dibeitahu oleh objek terus menerus (berlaku konstan) SIMBOL (3) subjek dituntun memahami objek (subjek aktif) memuat banyak arti atau sedikit-dikitnya dua arti.menemui kesulitan. subjek dituntun memahami objek secara terus menerus (berlaku secara konstan). 4. terutama dalam menentukan garis demarkasinya secara tepat. . karena ketiganya saling terkait. Hal tersebut disebabkan. secara garis besarnya dapat dilihat ciri masing-masing komponen tersebut. berbentuk abstrak dapat dikenal oleh binatang dan manusia yang dipakai untuk lambang atau simbol tidak mempunyai hubungan khusus dengan yang dilambangkan atau disimbolkan. 3. berbentuk konkret dan / atau abstrak.

hampir semua diwujudkan dalam bentuk simbol atau lambang dengan konvensi yang telah mapan dan stabil yang mengacu pada mitologi atau filosofi agama Hindu dan didasari keyakinan. Hal tersebut dilakukan mengingat dalam mengamalkan ajarannya. sinkronik dan konvensional —Apapun bentuk pertukaran tanda. (4) diciptakan oleh manusia untuk manusia dan “mahkluk lain” Penjelasan semiotika tersebut. (Herusatoto. 1983) (3) diciptakan oleh manusia untuk manusia. alam dan juga binatang untuk manusia dan/atau binatang. Sehubungan dengan hal tersebut. terutama terkait dengan model semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure maupun Ogden dan Richards —dimana antara tanda (sign).(1) 7. (2) diciptakan oleh manusia. Terutama penggunaan tanda atau simbol dalam konteks pelaksanaan ajaran agama Hindu sesuai adat di Bali. Simbol-simbol tersebut diupayakan dengan harapan agar dapat “mempermudah” . maka model semiotika tersebut akan dipakai untuk menjelaskan atau memaparkan tinjauan mengenai penggunaan tanda atau simbol dalam masyarakat Hindu di Bali pada zaman Hindu dan pewaris tradisi tersebut. penanda (signifier) dan petanda (signified) meunjukkan hubungan yang “statis”— merupakan semiotika dengan model berpikir struktur. harus mengikuti model struktur kaitan antara penanda dengan petanda yang berlangsung stabil atau mapan— serta sebagai konsep dari paham strukturalis.

Menurut pendapat Mikhail Bakthin. diwujudkan dalam produk-produk kriya seperti: patung. bahwa “dialogisme” sebagai relasi-relasi yang harus ada di antara ungkapan-ungkapan dalam discourse. Misalnya. Sedangkan kajian semiotika terkait dengan fenomena eklektik pada desain produk masa kini di Bali diuraikan berdasarkan model semiotika ‘intertekstualitas’ (intertextuality) yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva. Sebuah teks atau produk desain atau seni selalu dibuat dalam ruang dan waktu yang konkrit. seorang pemikir post-strukturalis dari Perancis. relief. senjata dan sebagainya. seorang pemikir Rusia. karena tidak ada ungkapan yang tidak terkait dengan ungkapan lain. maka antara satu teks atau produk dengan teks atau produk yang lain dalam ruang dan antara satu teks atau produk dengan teks atau produk sebelumnya yang saling silang me- . Dalam buku Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979). Pemikiran tersebut menjadi salah satu konsep dalam paham post-strukturalisme.penghayatan kepada sifat-sifat maya Tuhan. Model semiotika tersebut merupakan pengembangan lebih lanjut dari paham ‘dialogisme’ (dialogism) yang diperkenalkan oleh Mikhail Bakthin. Kristeva menerangkan bahwa pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam analisis teks atau produk desain atau seni. Oleh sebab itu.

Konsep intertekstualitas yang dikembangkan oleh Kristeva tersebut dapat digambarkan dalam suatu sekematik seperti Gambar 23 berikut Gambar 23 Transposisi Sistem Tanda Berdasarkan Model Semiotika Intertekstualitas (Intertextuality) Dalam penggunaan tanda atau simbol dengan petanda atau maknanya di masyarakat. Pemakaian petanda sebelumnya yang telah mapan untuk petanda baru yang kurang jelas maksudnya akan menunjukkan terjadinya suatu perlintasan sistem tanda. Misalnya dapat menimbulkan terjadi ‘penghapusan’ atau ‘pengkaburan’. ‘pelesetan’ bagian tanda dari sistem tanda yang menjadi referensinya. suatu sistem tanda kadang-kadang dapat berdampak negatif atau ‘merusak’ sistem tanda sebelumnya. sering dijumpai . Istilah intertekstualitas merupakan proses perlintasan atau diistilahkan dengan ‘transposisi’ (transposition) dari satu sistem tanda (sign system) ke sistem tanda yang lain.nyilang satu dengan yang lainnya dalam rentang waktu tertentu mesti ada relasi-relasi ( Kristeva. 1979). sehingga sepanjang perlintasan tersebut.

Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya Berdasarkan uraian tersebut dan dikaitkan dengan penciptaan serta penggunaan produk kriya dalam kehidupan masyarakat di Bali. Hal tersebut. Untuk lebih jelasnya mengenai permasalahan semiotika dalam produk-produk kriya. di dalam tersirat nilai-nilai atau norma-norma budaya yang melibatkan beberapa komponen semiotika. nostagia. misalnya dalam pengadaan komoditi mata dagangan. Konsumen sering disuguhi permanen tanda-tanda atau simbol-simbol yang dikondisikan oleh pihak produsen dengan tujuan untuk memperoleh benefit atau untuk memenangkan kompetisi dagang. Pada mata dagangan tersebut terjadi ekspansi secara total serta perkembangbiakan konvensi tanda yang tak terbatas untuk mencapai kesenangan. C. maka permasalahan rancangan produk-produk kriya juga dapat dianalisis berdasarkan pendekatan semiotika. prestise. akan dilakukan tinjauan berdasarkan konsep yang melatarbelakangi penciptaannya. .terjadi fenomena “permainan penanda”. seperti telah dipaparkan tersebut. seperti konsep “sekular” dan konsep spiritual religius serta dikaitkan dengan nilai fungsi guna dan estetis yang dikandungnya. mengingat produk-produk kriya masa lalu juga merupakan salah satu artefak kebudayaan. janji dan sebagainya. image.

produk kriya berfungsi sebagai wadah. Sistem tanda tersebut dapat sebagai penuntun dalam penggunaan produk tersebut. maka tampak tanda-tanda yang diterapkan lebih mengutamakan makna denotasi dan mengarah pada kategori pragmatis semiotika. maka para pemakai (user) akan secara gamblang dapat menafsirkan tanda-tanda yang bekerja pada wujud visualnya. Konsep desain produk kriya untuk benda fungsional. maupun sebagai produk yang berfungsi estetis sebagai benda hiasan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekular. sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan akan produk kriya. seperti kebutuhan produk kriya berupa peralatan kerja untuk profesi sebagai petani. alat untuk mengambil. menusuk dan sebagainya. Sehingga ditinjau dari historis dan semiotis produk yang digunakan oleh seseorang dengan mata pencaharian tertentu juga dapat dipakai sebagai . baik berupa produk fungsional sebagai alat bantu. pedagang.1. karena bangun tanda yang diwujudkan lebih lugas. tukang. Konsep Sekular Berbagai aktivitas kehidupan masyarakat di Bali. dan sebagainya. Dengan konsep penerapan tanda tersebut. Misalnya. memotong. jika ditinjau dari sudut semiotika. Wujud produk kriya fungsional yang diperuntukan sebagai peralatan kerja (working tool) dalam perencanaannya terkait dengan tuntutan kebutuhan suatu profesi. objektif dan mengutamakan segi utilitas karena semata-mata untuk dipakai.

indeks mengenai profesi seseorang. . Produk kriya yang diciptakan disertai dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan menyangkut hal-hal bersifat psikis. kesatuan. karena interpretasi menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda dan denotasinya. sehingga secara subjektif dapat menyentuh sukma dan dirasakan sebagai penghargaan bagi para pemakai. Dengan upaya tersebut dapat melahirkan suatu image atau citra rasa tertentu dalam masyarakat. maka alat tersebut jelas digunakan oleh profesi seseorang sebagai petani tradisional. alat bajak yang ditarik oleh sapi dengan fungsi untuk membajak tanah pertanian. Seperti mempertimbangkan segi estetis yang menyangkut keseimbangan. maka berbagai upaya dilakukan oleh para kriyawan untuk menghasilkan produk kriya yang unik. dalam konteks semiotika akan bertindak sebagai dicisign. makna dan sebagainya. Misalnya. Sehubungan dengan hal tersebut. keselarasan. Menawarkan berbagai alternatif produk dengan menanamkan tanda atau simbol dengan makna konotatif. Kemudian dengan semakin majunya tingkat peradaban masyarakat. maka tuntutan kebutuhan hidupnya juga semakin kompleks dan bervariasi. Produk kriya seperti tersebut. Pemenuhan kebutuhan akan produk kriya tidak hanya terbatas pada fungsi guna semata. melainkan mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan bersifat “sekular” atau hedonistik. indah dan dengan berbagai karakteristiknya.

Di antara para wisatawan yang berkunjung ke Bali tampak banyak yang menbeli produk-produk kriya tradisonal Bali disertai dengan harapan untuk memperoleh kenangan-kenangan tentang hasil kebudayaan tradisional Bali atau dipakai sebagai tanda kebanggaan. juga disepakati sebagai tanda atau simbol ikatan perkawinan. Dalam perkembangan produk kriya sebagai mata dagangan. Produk-produk kriya tradisonal yang memiliki ciri khas daerah tertentu dan sebagainya. Pada fenomena tersebut tanpa disadari terjadi permainan tanda dengan konvensi yang terkondisikan dan dengan matra yang tak terbatas. keagungan atau kekuasaan seorang individu ciptaan Tuhan yang memiliki status sebagai raja. Misalnya dalam fenomena kecenderungan membeli produk kriya tradisonal Bali. dikonsumsi dan dipakai tanda kenangan atau sebagai simbol harga diri seseorang atau prestise. Pada zaman kerajaan. produk tersebut dengan faham fitisime dapat berfungsi untuk pembeda status sosial di dalam masyarakat. Produk kriya berupa cincin. juga tampak fenomena memakai kekuatan nilai tukar yang kecenderungannya lebih menyandarkan pada makna konotasi. selain digunakan untuk perhiasan.Misalnya. sebagai simbol kebesaran. Produk-produk kriya diangkat statusnya dan digunakan se- . bahwa mereka pernah berkunjung ke objek wisata di Bali dan sebagainya. produk kriya berupa mahkota yang dibuat dengan berbagai hiasan dan tanda atau simbol yang terkonvensi dalam suatu masyarakat.

maut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Baudrillard.bagai simbol-simbol tertentu yang menghasilkan berbagai interpretasi pada masyarakat konsumen. 1981). biasanya melanjutkan tingkatan hidupnya ke arah mencari nilai religius. kadang-kadang tindakan tersebut sampai melupakan nilai utilitas dan religius pada produk tersebut. bahwa dalam kondisi seperti tersebut justru nilai guna sering kali tak lebih dari semacam jaminan praktis (alibi) (Baudrillard. Dalam hal tersebut akhirnya produk kriya menjadi Rhême. karena diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotasinya. mitologi . 2. Keyakinan itu bersumber dari: ajaran agama berupa wahyu suci yang terhimpun dalam kitab-kitab suci. misalnya menyangkut tentang hakikat hidup. Konsep Spiritual Religius Manusia Bali setelah melalui tingkatan hidup estetis dan etis. Pada tingkatan ini. sehingga berkembang sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan dan penafsiran terhadap sifat-sifat Tuhan serta wujud dari alam gaib yang transendental. manusia menginginkan adanya jalinan hubungan dengan Tuhan atau keinginannya untuk menerima ikatan-Nya. bayangan wujud dewa-dewa dan mahkluk halus lainnya yang mendiami alam tidak nyata. sehingga terjadi ketidakstabilan penanda dan petanda. Konsumer terkadang bukan lagi mencari konteks makna.

dan sebagainya. berprosesi. sehingga dalam produk tersebut terpatri suatu “ideologi” tertentu yang nilai-nilainya diyakini dan dijadikan sebagai tradisi. beryajña. berbagai peralatan upacara termasuk melibatkan produk-produk kriya yang disakralkan. pada umumnya mencakup beberapa fungsi. bersaji. seperti berfungsi sebagai simbol. dalam perwujudannya dilandasi dengan suatu konvensi yang acuannya merujuk pada ajaran agama atau kepercayaan dari suatu komunitas manusia yang sepaham.dan ceritera-ceritera rakyat berupa dongeng yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat tertentu. Produk kriya tersebut digunakan sebagai “alat” . bertapa. menari. berpuasa. Sehubungan dengan tujuan manusia tersebut. berkurban. berupa bangunan suci. bersemedi. sarana komunikasi. bersujud. peralatan upacara dan fungsi estetis dalam wujud benda hiasan. juga muncul penghargaan pada suatu benda untuk digunakan sebagai sarana pendukung kepercayaannya. berdoa. Produk-produk kriya yang dipakai dalam upacara agama. Selain hal tersebut. Salah satu contoh dapat dilihat dalam tata cara penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. Perilaku tersebut diwujudkan dalam berbagai macam ungkapan seperti. misalnya. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol. menyanyi. maka muncul sistem upacara religius yang merupakan visualisasi kelakuan atau behavioral manifestation.

upacara, simbol-simbol diwujudkan berdasarkan konvensi yang mengacu atau dilatari kosmologi Hinduistis di Bali, sebagai media komunikasi yang dilandasi konsep Tri Hita Karana dan difungsikan sebagai hiasan. Produk kriya yang digunakan untuk simbol tersebut, merupakan tanda bersifat argument, karena interpretasinya terkait dengan renungan tentang kebenaran keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan maha segalagalanya (seperti telah disinggung di depan). Dengan penggunaan simbol-simbol tersebut, diharapkan dapat mempermudah penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu serta untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak-Nya tersebut. Perwujudan produk kriya sebagai tanda atau simbol, kadang dapat dalam bentuk icon, seperti stilasi bentuk manusia, binatang, benda alam dan sebaginya. Misalnya diwujudkan dalam berbagai produk kriya, seperti berbentuk relief, patung atau pratima dan sebagainya atau dibuat berdasarkan kualitas material yang digunakan atau qualisign, misalnya, warna (darah binatang, warna bunga, kapur, arang dan lainnya), karakter bahan (suatu jenis kayu, batu, kulit, logam dan sebagainya). Namun tidak dipungkiri, bahwa dalam menginterpretasikan simbol-simbol tersebut, sering terjadi perbedaan pandangan, sehingga melahirkan interpretasi bersifat mendua antara masyarakat yang berada dalam konvensi dengan di luarnya. Salah satu contoh produk

kriya berupa umbul-umbul bergambar naga taksaka yang digunakan sebagai salah satu sarana upacara Agama Hindu di Bali. Bagi umat Hindu menganggap benda tersebut sebagai tanda diadakan upacara agama dan sekaligus penerapan gambar naga taksaka disepakati sebagai simbol lapisan alam atas (Swah Loka). Sebagai dasar acuannya adalah kosmologi Hinduistis dengan interpretasi yang bersifat konotatif dan dianggap sakral. Sedangkan bagi umat atau orang yang tidak paham atau berada di luar konvensi tersebut, melihat umbulumbul tersebut hanya sekedar hiasan belaka. Fenomena seperti itu, belakangan ini memang cukup banyak terjadi di daerah Bali. Produk-produk kriya seperti itu, kadang hanya dilihat dari fungsi estetisnya saja. D. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu Eklektik adalah suatu usaha yang bersifat memilih unsur-unsur yang baik atau menggunakan bermacammacam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya, baik berupa orang, gaya, metode, kepercayaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam buku ini yang dimaksudkan adalah eklektisme terhadap elemen estetis masa lalu yang diterapkan pada desain produk masa kini. Tindakan “memilih” unsur-unsur tersebut secara tidak langsung jelas akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada vitalitas idiom masa lalu itu sendiri maupun kesatu-

an substansi pada desain produk masa kini. Fenomena tersebut dapat dipahami dari beberapa istilah seperti berikut: 1) Pastiche Istilah pastiche berarti menyusun elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai pengarang atau seniman masa lalu. Oleh sebab itu, istilah ini bisa mengandung pengertian dengan konotasi negatif dan dianggap miskin orisinallitas (Baldick dalam Yasraf 1994). Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Parody, dijelaskan bahwa: Pastiche, in this sense, is a pure imitation without any pretension. A pastiche text imitate other past text, in order to emulate or to appreciate them. Pastiche has been called by one critic as “form rendering” to describe its superficiality, that is, its lack to thoroughness. (Hutcheon, 1985). Menurut Linda Hutcheon, pastiche adalah suatu bentuk imitasi murni, tanpa disertai dengan pretensi tertentu. Gaya atau teks yang dipakai meniru dari teks masa lalu, disebut sebagai kritikan “gubahan bentuk” yang menunjukan suatu kedangkalan sebagai kekurangan yang utama. Selain hal tersebut, Fredric Jameson secara metaforis menyebut istilah tersebut sebagai “penggunaan topeng sejarah, pengungkap-

artinya produk sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya atau kata penulis atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan. 1991). keseriusan. dan humor. kritik. atau arsitektur dengan tendensi bersifat memilih dan didistorsi. 2) Parody Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994). 1994). dijelaskan bahwa. Dalam peniruannya dapat bersifat ironis dan kritis. pada dasarnya parodi adalah merupakan suatu fenomena yang terjadi dalam produk sastra. bahkan bermuatan politis dan ideologis. Parodi merupakan suatu bentuk “dialogisme tekstual”. parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk. gaya atau produk yang menjadi sasarannya (kelemahan. kemudian diimitasi dalam suatu produk dengan tujuan mengarah pada humoristik dan kadang kala bersifat “pelesetan”. parody (parodi). yaitu dua teks atau lebih dipertemukan dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat. Jadi dari uraian tersebut.an dalam bahasa yang telah mati” (Jameson dalam Yasraf. Dengan demikian. kekurangan. . atau kemasyuran) (Yasraf. seni.

1995).3) Kitsch Istilah Kitsch berasal dari bahasa Jerman. merupakan suatu upaya untuk menghasilkan efek-efek reproduksi dalam sistem kebudayaan massa atau membangun aura seni dari reproduksi itu sendiri. secara harfiah berarti “memungut sampah dari jalan”. Dan kistchen. pada awalnya keberadaan kitsch didorong oleh semangat mereproduksi. . Selain hal tersebut. yang diakibatkan oleh berkembangnya produksi. kitsch bertujuan mensimulasi atau mengkopi elemen-elemen gaya “seni tinggi” atau objek sehari-hari untuk kepentingan sendiri dan menjadikan sebagai mass product. Mengimitasi suatu bentuk gaya atau objek untuk tujuan yang palsu. Dalam bidang seni. Menurut Clement Greenberg. verkitshen berarti “membuat murahan”. konsumsi dan komunikasi massa. istilah ini sering diselaraskan artinya sebagai “sampah artistik” atau sering diberi pengertian sebagai “selera rendahan” atau segala produk seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. (Greenberg dalam Yasraf. Predikat kitsch sebagai selera rendahan dimanifestasikan oleh lemahnya ukuran dan kriteria estetis yang dipakai.

berusaha menampilkan sesuatu yang special. dan style dengan distorsi yang berlebihan dan meremehkan isi serta netral. Dalam upaya mewujudkan produk. estetik atas moral dan ironi atas tragedi. 1992). Hubungannya dengan masa lalu bersifat “mendaurulang” dan sentimentil. kadang-kadang juga dapat menimbulkan dampak tersebut. Merupakan kemenangan gaya atas isi. Sebenarnya camp merupakan salah satu cara untuk melihat dunia sebagai suatu gejala estetik dalam derajat kecerdasan. camp lebih menititik beratkan pada dekorasi. permukaan sensual. dengan mengusung eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional dan dieksploitasi pada desain masa kini. Dalam suatu bentuk produk seni.4) Camp Pada fenomena estetika pengertian camp sering dikelirukan dengan istilah kitsch yang mengarah pada pengertian “selera rendahan” atau merupakan “sampah estetik”. tekstur. Selanjutnya untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari tindakan eklektis terhadap produk kriya masa lalu dapat dipahami . Dengan memahami beberapa istilah di atas. berlebihan dan glamor (Sontag. ternyata dalam usaha perluasan desain masa kini yang berciri khas Bali. kesemuan dan stylization atau penggayaan.

.pada uraian berikut. yaitu dengan menganalisa beberapa contoh kasus penerapan elemen estetis produk kriya secara eklektik pada desain masa kini di Bali seperti diuraikan pada Bab V.

Oleh sebab itu. Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan atau pergeseran dalam fungsi waktu dengan laju yang bervariasi. Kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala dan terus mengalami perkembangan dan perubahan yang didorong oleh berbagai faktor.BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini 1. baik faktor internal yang disebabkan oleh penggunaan dan penghargaan . stagnan dan terisolir. maka suatu masyarakat dengan kebudayaannya secara mutlak tidak mungkin dapat hidup statis. Kajian Historis Transformasi atau pergeseran merupakan suatu fenomena yang universal dan selalu mewarnai lintas sejarah perkembangan kebudayaan suatu masyarakat.

Faktor pendorong tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 24.produk kriya dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Bali. secara diakoronis dapat disimak. berupa peralatan kerja untuk penunjang berbagai aktivitas hidup sehari-hari. untuk memenuhi kebutuhan produk kriya penunjang kepariwisataan dan sebagai komoditi ekspor. hedonistik dengan mengutamakan fungsi estetis dan efek finansial yang ditimbulkannya. Ditinjau dari sudut historis mengenai perkembangan dan perubahan penciptaan serta penggunaan produk kriya di Bali. Faktor pendorong tersebut seperti (1) karena adanya tuntutan kebutuhan produk kriya fungsional yang mengandung nilai utilitas. bahwa sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan neolitikum dan perunggu. Misalnya. saat penduduk Bali masih hidup nomaden. maupun faktor eksternal berupa pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar melalui proses akulturasi yang berlangsung dari zaman ke zaman dalam kapasitas yang berbeda-beda. (2) sarana penunjang keagamaan atau kepercayaan dan untuk dipersembahkan kepada raja dan keluarganya (3) kebutuhan produk kriya untuk menunjang kebutuhan lain yang mengarah pada penciptaan produk kriya untuk memenuhi kebutuhan bersifat sekular. Bersamaan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sering dijumpai kasus fenomena penerapan elemen estetis produk kriya tradisional secara eklektik. umumnya memiliki pola pikir terbatas .

dengan proses pengerjaan masih sangat sederhana. tulang binatang. Penduduk di Bali telah mampu . setelah masuknya pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu di Bali. maka dalam sistem peralatan dan perlengkapan hidup mengalami perubahan.pada usaha pemenuhan kebutuhan berupa makanan untuk kelangsungan hidupnya. Dalam melakukan usaha tersebut. mereka menggunakan peralatan berupa produk kriya terbuat dengan batu. ranting kayu dan sebagainya. PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KEGIATAN EKSPOR PRODUK KERAJINAN DI BALI SARANA PENUNJANG Produk-produk kriya berupa:  Souvenir  menciptakan citra atau suasana MUATAN LOKAL/ ETOS KEBUDAYAAN UNSUR-UNSUR EKLEKTIK PADA KARYA MASA LALU (latar belakang sejarah) Gambar 24 Faktor Pendorong Munculnya Tindakan Eklektik Terhadap Elemen Estetis Tradisioanal Bali Di masa-masa selanjutnya.

menciptakan produk-produk kriya berupa peralatan terbuat dengan logam. pertimbangan mengenai keindahan. misalnya peralatan berupa kapak batu yang dibentuk dan digosok sampai halus. masyarakat sudah mampu menghasilkan produk-produk kriya yang bermutu. Pada zaman Hindu. Pada zaman tersebut. kenyamanan dan simbolisasi sudah menggejala dan menjadi bagian yang esensial. gerabah (tanah liat yang dibakar) dan sebagainya yang dikerjakan dengan teknik lebih sempurna. sarkofagus untuk tempat mayat dan sebagai tanda penghormatan atau simbol kendaraan arwah. di Bali terjadi suatu “intervensi kebudayaan” yang bersifat menyempurnakan kebudayaan tradisi masa lalu dengan berorientasi pada . Munculnya gejala tersebut. disebabkan semakin meningkatnya kesadaran. cincin untuk bekal kubur dan sebagainya. misalnya dikerjakan sambil menunggu datangnya musim panen. Dalam proses penciptaan produkproduk kriya. hasrat. nafsu atau emosi dalam diri individu untuk menghargai suatu materi yang distimuli oleh alam atau lingkungan masyarakat yang terbentuk. nekara perunggu diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai simbol-simbol terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. sistem relegi yang berkembang dan semakin menggejalanya pengaruh integrasi kebudayaan dari luar serta didukung dengan banyak waktu luang yang dimilikinya sebagai masyarakat agraris. batu.

Unsur India dominan pada taraf filsafat dan mitologi. . Dengan sikap tersebut. pembinaan umat dan dipersembahkan kepada raja. wayang. maka para kriyawan saat itu mampu menghasilkan produk-produk puncak dengan kualitas yang sangat tinggi. Semua kegiatan ekonomi. seperti berupa hiasan pada pura. Perwujudannya berupa hiasan. religius. dan loyalitas dengan kecenderungan dedikasi. simbol dan benda pakai. Penciptaan produk-produk kriya dominan dikembangkan untuk keperluan Agama Hindu dan kerajaan. senjata. meliputi sistem peralatan dan perlengkapan hidup. karma phala yang diwujudkan dalam sikap kebersamaan (kolektif). Perpaduan tersebut melahirkan suatu kebudayaan yang bercorak khas Bali. Hindu dari Jawa Timur bergabung dengan kultur agraris dan pemujaan roh leluhur yang telah tumbuh di masyarakat Bali. sosial kemasyarakatan dan kebudayaan Bali dirumuskan dengan “bahasa” agama Hindu. seperti ditujukan untuk menunjang kebutuhan sarana upacara ritual. pembinaan dan peletakan dasar-dasar ajaran Agama Hindu. berbagai bentuk topeng. patung. barang gerabah. Terjadi suatu sinkretisasi atau proses penyerasian dua aliran (agama) dan akulturasi yang harmonis antara unsur-unsur kebudayaan India. sedangkan unsur kebudayaan Jawa umumnya tampak pada taraf ritual yang bersumber pada kitab suci Weda. Motivasi penciptaan dilandasi dengan konsep dharma. ketekunan serta keiklasan yang sangat tinggi.penyebaran.

dalam pembuatannya mutlak disertai dengan proses penyucian atau melalui beberapa tahap penyucian (lihat Tabel 1. Tergolong jenis kesenian Wali yang dianggap sebagai benda sakral karena. kulit binatang. sabuk dan sejenisnya). ternyata di dalamnya sarat mengandung makna atau nilai-nilai kesucian yang adiluhung. kayu dan sebagainya.busana hasil tenunan tradisional (berupa kain songket. misalnya berupa simbol-simbol alam makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). tanah liat. ternyata sampai sekarang masih digunakan dan diyakini oleh umat Hindu di Bali. halaman: 61). khususnya yang digunakan dalam melaksanakan upacara ritual. Produk-produk kriya tersebut termasuk katergori produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. Beberapa jenis kegiatan penciptaan produk kriya itu diwariskan dari generasi ke genarasi berikutnya dan sampai sekarang masih ditekuni oleh masyarakat kriyawan di beberapa daerah di Bali. seperti logam. Produk-produk tersebut diciptakan dengan dilandasi kosmologi Hinduistis dan adat di Bali. Ditinjau dari sudut keyakinan umat Hindu di Bali terhadap nilai kesakralan yang dikandungnya. yang terkait dengan kepercayaan tentang keagungan dan kekuasaan Tuhan serta ajaran suci tentang ciptaanNya. Bahan yang digunakan. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol atau tanda terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Hal tersebut mengingat heterogen- .

Dari sudut pandang ajaran agama Hindu. maka pengaruh-pengaruh Belanda dan kebudayaan masyarakat dari luar lainnya semakin merebak masuk ke Bali. maka di masa-masa mendatang eksistensinya perlu dijaga dari penetrasi pengaruh-pengaruh luar yang dapat mengancam kelestariannya. seperti semakin berkembangnya corak masyarakat yang meng- . Jadi. Oleh sebab itu produk-produk kriya berupa simbol-simbol untuk sarana pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. dari zaman Hindu sampai sekarang nilai-nilai kesakralannya tetap diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. Sehingga dalam tata kehidupan masyarakat di Bali tampak mengalami banyak perubahan. Bali dan kebudayaannya diperkenalkan sebagai daerah tujuan wisata. ternyata “cara” tersebut memang diperbolehkan. seperti disebutkan dalam ajaran Catur Marga. Di sisi lain. Demikian juga dalam sifat Weda dan filsafat Wedanta. Oleh sebab itu. budaya tersebut juga dipakai sebagai daya tarik utama. Pada zaman kolonial. maupun sesuai kerangka agama Hindu. dalam konteks pengembangan pariwisata. jelaslah produk kriya yang digunakan sebagai sarana pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. dari uraian tersebut.nya tingkat kemampuan umat dalam mengamalkan ajaran agama Hindu atau dalam hasrat menghubungkan diri dengan Tuhan. sampai sekarang dan bahkan untuk seterusnya tetap hadir dan diperlukan.

arah pada usaha-usaha non-agraris. kesenian tradisional yang telah tumbuh dan berarkar di masyarakat Bali. biro perjalanan. semata-mata didorong oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat dan bukan atas prakarsa pemerintah kolonial Belanda. Selain hal tersebut pemerintah Belanda juga berkeinginan untuk mempertahankan keaslian kebudayaan Bali dengan menerapkan politik isolasi atau mengasingkannya dari pengaruh-pengaruh luar dan semata-mata ingin dijadikan sebagai “museum hidup”. selain untuk menguras hasil pertanian. menjual hasil pertanian dan sebagainya. Upaya tersebut diawali dengan usaha untuk mendatangkan para . restoran. Dalam usaha menunjang pengembangan pariwisata. peternakan dan lain-lainnya. Keadaan tersebut. Khusus mengenai masalah penciptaan produkproduk kriya yang bermuatan lokal dengan tendensi komersial. dapat ditelusuri dari tujuan Belanda untuk menguasai Pulau Bali. Gejalanya muncul secara “spontan” dari masyarakat kriyawan Bali saat itu. mulai berkembang usaha yang bergerak dalam bidang perhotelan. toko kerajinan. misalnya: membuat koperasi. Masyarakat Bali semakin dimantapkan dan didorong untuk bergerak dalam bidang ekonomi. mengaktifkan kembali kegiatan ekspor-impor barang yang sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. termasuk penciptaan “produk-produk kriya komersial”. kembali aktif. Para kriyawan menciptakan produk kriya tersebut.

penciptaan produk kriya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan kerajaan. di mana pada masa berkembangnya pengaruh Hindu dan zaman kerajaan. Kemudian membangun Gedong Kertiya di Singaraja untuk menyimpan dan menyelamatkan kesusastraan Bali yang ditulis pada lontar. untuk mempelajari berbagai aspek tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan tradisonal. Mereka cenderung menciptakan produk kriya dalam bentuk cenderamata untuk dijual kepada para wisatawan atau diekspor ke luar pulau Bali. membangun museum di Denpasar untuk melindungi dan menyelamatkan artifak etnografi Bali. misalnya dengan mengangkat tenaga pendidik lokal yang berkompeten dalam bidang kebudayaan Bali. Namun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. faktor pendorong atau motivasi penciptaan produk kriya dengan serta merta mulai mengarah pada hal-hal bersifat komersial. Para kriyawan kebanyakan mulai memandang hasil produksinya sebagai mata dagangan yang bernilai ekonomis. Motivasi perluasan usaha penciptaan produk kriya di Bali saat tersebut. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk menunjang pengembangan pariwisata pada saat terse- . mengalami perkembangan baru dibandingkan sebelumnya. Mengembangkan sistem pendidikan yang menyesuaikan dengan kebudayaan terkait dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu.pakar yang terkait dari negerinya.

batu padas (berkembang di Gianyar). tempurung kelapa. Bangli dan di Buleleng). pengosekan dan sebagainya. karena pada waktu tersebut. topeng. tanah liat atau keramik (di Tabanan) dan lain sebagainya. di satu sisi tampak para kriyawan berusaha mengembangkan produk-produk kriya masa lalu yang diwarisinya. Seperti pengaruh seni rupa modern yang dibawa oleh para seniman Barat. (berkembang di daerah Gianyar dan Badung). sehingga menghasilkan produk dengan berbagai penggayaan atau style. usaha . Oleh sebab itu. misalnya: kayu. fanil. Walter Spies dan seniman lainnya. tanduk (berkembang di Gianyar). Di sisi lain. tanpa kecuali produk yang digunakan untuk sarana pengamalan dan penghayatan ajaran agama Hindu Bali.but. Seperti: berupa patung. relief dan gambar atau lukisan dengan menggunakan berbagai bahan. mereka juga mulai memadukan pengaruh dari luar. logam (berkembang di Klungkung. kadang juga muncul tindakan eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional. Perpaduan pengaruh tersebut. Jepang lebih mementingkan usaha penanaman semangat militer dan arti penting perang Asia Timur Raya untuk meraih kemenangan. Dalam masa pendudukan Jepang yang berlangsung relatif lebih singkat dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. Dalam upayanya tersebut. melahirkan produk-produk dengan style Batuan. Gianyar. Ubud. Usaha pengembangan pariwisata kurang mendapat perhatian. tulang. seperti: Rudolf Bonnet.

Ulasan dari sudut historis tersebut memberi deskripsi bahwa pada saat mulai masuknya pengaruh Barat (Belanda) dan dijadikannya Bali sebagai daerah tujuan wisata. Didorong pula oleh semakin meningkatnya permintaan para wisatawan akan produk-produk kriya yang bermuatan lokal berupa barang cenderamata. Usaha pengembangan tersebut. kecuali pengaruh pemerintahan Jepang sendiri. ternyata upaya tersebut memberi pengaruh yang signifikan. sektor pariwisata di Bali kembali dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dengan tetap berbasis pada kekuatan budaya Bali sebagai daya tarik utama. maka usaha penciptaan produk-produk kriya di Bali dengan serta merta mulai mengarah pada tujuan komersial dan disertai dengan muncul gejala penerapan elemen estetis produk tradisional secara eklektik pada desain yang kemudian diterapkan pada produk-produk kriya yang dibuat saat tersebut. sekitar tahun 1950. ternyata merupakan salah satu pemicu arus penetrasi budaya modern dan global. Dikaitkan dengan pembangunan sektor perekonomian. Pada zaman kemerdekaan. sekaligus memberi dampak pada tata kehidupan masyarakat di Bali. Otoritas masyarakat pada saat tersebut sangat terbatas.penciptaan “produk kriya komersial” semakin surut dan penggunaannya terbatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Lapangan pekerjaan atau bidang usaha . sehingga keadaan kebudayaan Bali nyaris terisolir dari pengaruh luar.

para kriyawan berupaya untuk menyuguhkan produk yang dapat memberi kenangan tersendiri. seperti dalam kegiatan penciptaan produk-produk kriya yang mengarah komersial. sebelum terjadi tragedi bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 di Kecamatan Kuta dan bom Bali II pada tanggal 1 Oktober 2005. terutama di zaman prakolonial. selain didorong oleh perkembangan sektor pariwisata. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk dikonsumsi para wisatawan masa kini.industri kecil memiliki peluang atau opportunity untuk tumbuh dan berkembang. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kecil dan mendijadikan produk kriya lokal sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor non-migas. Dan hasil produknya jarang diperjual belikan sebagai mata dagangan. Mereka termotivasi oleh aspek ekonomis yang dihasilkan dari produk kriya yang diciptakannya. Berbeda dengan dulu. di mana kegiatan menciptakan produk kriya hanya merupakan pekerjaan sambilan di waktu senggang seusai di sawah atau kesibukan lain. misalnya berwujud cenderamata yang menyiratkan keindahan alam atau ke- . Kondisi tersebut. Banyak di antara masyarakat di Bali menjadikan sebagai mata pencaharian tetap. usaha tersebut sempat mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada dasawarsa belakangan. cukup mendorong para kriyawan dan pengusaha di Bali masa kini untuk semakin aktif menekuni sektor tersebut.

misalnya dengan mengeksploitasi alam fauna dan flora sebagai sumber inspirasinya.budayaan Bali. seperti tampak pada Gambar 25 dan 26. Gambar 25 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Fauna . Demikian juga dalam penataan lingkungan. salah satunya dengan menerapkan elemen estetis produk kriya masa lalu. di satu sisi tampak usaha inovatif yang mengarah pada produk individual. Dalam hubungan dengan kreativitas penciptaan produk kriya. berkeinginan menampilkan suasana yang berbeda dengan daerah lain.

Gambar 26 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Flora Di sisi lain. tindakan-tindakan eklektik terhadap elemen estetis produk kriya masa lalu yang diterapkan pada desain produk kriya masa kini.32 . tampak semakin menggejala di kalangan masyarakat kriyawan. Mereka melakukan tindakan tersebut didorong oleh harapan atau keinginan untuk menciptakan produk-produk kriya etnik yang bermuatan lokal atau tercerap suasana atau citra rasa tradisional yang berciri khas budaya Bali seperti tampak pada Gambar 27.

Gambar 28 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi.Gambar 27 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi. .

Gambar 29 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Panil untuk Barang Komoditi. Gambar 30 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Untuk Barang Komoditi. .

sering muncul sikap “ketidaktaatan” yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. Gambar 32 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Diterapkan Dalam Bentuk Tatto. Dalam pemilihan unsur-unsur terbaik produk masa lalu. Banyak di antara mereka kadang-kadang melupakan konteks nilai yang terkandung pada produk kriya masa lalu dengan masa- .Gambar 31 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Façade Bangunan.

Produk-produk kriya wali yang digunakan dalam upacara agama dan dianggap sakral. relief pada tebing dekat kuburan. sebenarnya merupakan produk kriya yang mengandung nilai simbolis pada bangunan suci. tetapi sekarang banyak digunakan untuk hiasan benda pakai yang bersifat profan. Bhoma. Garuda Wisnu dan Nãga. Ditiru atau direproduksi dengan kemampuan tangannya. Penerapan tersebut memiliki tujuan yang tidak jelas.lah kepercayaan umat Hindu di Bali. kemudian diterapkan begitu saja pada benda-benda yang bersifat profan dengan lebih mengutamakan segi artistik dan semata-mata menyandar pada efek finansialnya. merusak atau mengganggu kesepakatan yang telah mapan. diterapkan sebagai hiasan pada façade sebuah kantor bank . jelas merupakan penyimpangan dan sama sekali tidak ada hubungan permaknaan. Sebagai contoh. Tindakan tersebut jelas berdampak negatif. divisualisasikan dalam bentuk patung untuk menghias persimpangan jalan. kemudian dijual sebagai barang cenderamata dan sebagainya. Bhoma diterapkan dengan ditatto pada bokong atau Ongkara ditatto pada lengan. Pada hal kedua elemen tersebut mengandung nilai religius dan konvensinya masih eksis di masyarakat Hindu di Bali. Diterapkan pada tebing kuburan. semata-mata untuk sensasi. (lihat Gambar: 31). “dipilih”. Hal tersebut. misalnya diterapkan sebagai hiasan dinding rumah tinggal. Relief Acintya. seperti pada pelinggih padmasana.

Idealisasi. cenderung tergantung pada permintaan pasar. namun sekarang digunakan untuk menghias halaman supermarket. Sehingga timbul kerancuan dan menimbulkan kebingungan bagi generasi penerus tradisi tersebut. restoran dan sebagainya. Gambar 33 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional berupa Relief yang Sakral Diterapkan Di Perepatan Jalan dan Sebagai Hiasan Tebing Kuburan Selain hal tersebut. Bedawang Nala dipakai hiasan tapal batas kota. banyak para kriyawan di Bali dalam kegiatan penciptaan produk kriya masa kini. seperti pada upacara Odalan. hotel.atau bangunan lain. inovasi dengan ide baru dan kreativitas mereka sering terhambat karena takut tidak laku di pasaran. lonték dan tedung Agung. Sehingga . artshop. sebenarnya sebagai “busana pura” yang dikenakan sewaktu melangsungkan upacara agama tertentu.

juga didorong oleh pihak pengusaha produk-produk kriya di Bali. Dan banyak produk ciptaannya setelah dilemparkan di pasaran atau dipamerkan. kemampuan atau keterampilan yang dimiliki para kriyawan untuk mengerjakannya. karena mereka merasa mampu memberi pelayanan yang memuaskan wisata- . Maksudnya. Kejadian tersebut. misalnya dengan jalan “mengkopi” atau “membajak” produk-produk yang sedang laku dipasaran atau dengan tetap bertahan pada produk tradisional. terjadi “desakralisasi”. Seperti dalam pemberian pesanan kepada para kriyawan. sehingga pesanan tersebut sesuai dengan keinginan konsumennya dan transaksi dapat berjalan tepat pada waktunya. tetapi pada kenyataannya bagian tersebut sering ditinggalkan. itu pun hanya dilakukan oleh beberapa orang kriyawan. I Nyoman Togog dan yang lainnya. “dipaksakan” dan “diberanikan” demi untuk memenuhi tujuan lain dengan alasan faktor ekomoni. Dalam proses penciptaan produk-produk kriya dengan unsur eklektik yang ditujukan untuk para wisatawan masa kini. Sekalipun ada kriyawan yang berusaha mencipta “produk kriya baru”.dengan kondisi tersebut “jalan pintas” sering dilakukannya. dalam proses penciptaan produk-produk tersebut yang seharusnya disertai dengan upacara penyucian. seperti: Ide Bagus Nyana. Dan permasalahan sudah dianggap selesai sampai di sana. juga tidak luput dari konsekuensi tersebut. sikap mereka cenderung menyandar pada kesiapan.

Para pewarisnya dewasa ini hanya mampu menduplikasikan dan menggunakannya. 2. maupun setelah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa Timur. Banyak di antaranya produk-produk kriya tersebut merupakan karya puncak.wan. karena dalam proses penciptaannya dilandasi dengan konsep-konsep perancangan sangat mantap. . karena dapat menimbulkan arti hidup dan kehidupan yang tidak stabil. komprehensif. kompleks. mengacu pada norma-norma ajaran agama Hindu atau sistem kepercayaan umat Hindu di Bali dan dikerjakan dengan total serta penuh pengabdian yang tulus. ternyata eksistensinya dapat menembus beberapa zaman dalam rentang waktu sangat lama. sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. jelas kurang relevan. Namun sikap tersebut. sehingga kesadaran untuk lebih selektif terhadap makna atau nilai yang dikandungnya terasa masih kurang. Salah satu faktor yang menyebabkan produk-produk tersebut dapat bertahan. Mereka tampak lebih mengutamakan Artha dan Kama sebagai tujuan hidup. baik yang diciptakan pada zaman pra-Hindu. Kajian Semiotis Dari pembahasan pada Bab III dapat difahami. kalau dikaitkan dengan konsep Catur Purus Artha yang dipakai landasan pembangunan di Bali. bahwa produk-produk kriya yang diciptakan oleh para kriyawan Bali di masa lalu.

hasil tersebut dapat dipakai tanda (sign) yang merepresentasikan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya. dengan di sana-sini diadakan penambahan atau pengurangan yang diistilahkan sebagai ‘pengembangan’ dan tak jarang dibarengi dengan tujuan-tujuan lain yang tidak sesuai dengan esensi konsep penciptaan di masa lalu. dapat dipakai sebagai tanda (sign) zaman yang merepresentasikan sejarah perkembangan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya dalam masyarakat Bali dari zaman ke zaman. memberi tanda dalam bentuk indeks. Pembahasan lebih rinci mengenai kajian semiotis. Jika ditinjau kembali berdasarkan kajian semiotika. maka secara diakronis hasil peninggalan tersebut. lebih ke arah . tampak produk-produk tersebut kembali ditampilkan “secara eklektik” dengan menitikberatkan pada nilai estetis dan diklaim sebagai identitas etnik Bali atau local genuine. pada masing-masing penggalan zaman atau kurun waktu tertentu. bahwa masyarakat di Bali saat itu. sedangkan secara sinkronis. dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk kriya tampak masih sangat sederhana. adalah sebagai berikut: Sebelum penduduk Bali mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu. dengan memandang peristiwa penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya di setiap zaman sebagai fenomena bahasa.Dalam usaha perluasan gagasan desain produk kriya masa kini.

roh atau kekuatan-kekuatan lain .makna denotasi. keindahan produk maupun simbolisasi. melainkan sudah memperhatikan hal-hal yang bersifat konotatif. karena mereka bertumpu pada nilai guna atau utilitas dan pragmatis. juga sudah memperhatikan nilai estetis dan simbolis dengan latar atau konvensi yang dilandasi dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Sebelum Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu) Pada zaman selanjutnya. seperti batu dengan karakternya yang keras diperlakukan untuk “menghacurkan” benda yang lebih lunak. Hubungan struktur tanda tersebut menurut Semiotika Saussure dapat digambarkan seperti Gambar 34 berikut Gambar 34 Relasi Tanda. arah penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya tidak lagi terpaku pada pertimbangan yang bersifat denotatif. Belum ada tanda-tanda yang mengarah pada makna konotasi. selain memiliki berfungsi sebagai alat. Seperti kepercayaan alam gaib. Produkproduk yang diciptakan. Misalnya masalah kenyamanan.

Selain hal tersebut. Pada produk kriya tersebut diterapkan relief berupa topeng yang distilasi dari bentuk wajah manusia. Penguburan dengan cara tersebut. dilakukan sebagai simbol penghormatan kepada tokoh yang meninggal.yang dimiliki oleh suatu benda yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan mereka atau fetishism. Hubungan produk-produk kriya sebagai tanda atau simbol dengan pengguna tanda atau penanda (masyarakat Bali zaman Pra-Hindu) dapat digambarkan seperti Gambar 35 berikut Gambar 35 Relasi Tanda. dipakai sebagai simbol roh nenek moyang mereka dan dianggap bertuah atau mengandung nilai magis. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Setelah Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu . misalnya pada penguburan mayat seorang tokoh masyarakat dengan menggunakan sarkofagus. Simbol-simbol tersebut diterapkan atau diwujudkan dalam berbagai bentuk produk kriya. seperti berupa sebuah nekara yang dibuat dengan perunggu. juga dipakai sebagai tanda atau simbol status sosial.

dapat digambarkan seperti Gambar 36 berikut. Diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol sehingga produk-produk kriya tersebut tergolong karya spiritual religius dan dianggap sakral yang digunakan sebagai media untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak yang dimiliki Tuhan. Secara semiotika relasi tanda dengan pengguna tanda pada zaman tersebut. filosofi. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Mendapat Pengaruh Kebudayaan Hindu-Jawa Timur . ceritera-ceritera rakyat. bahwa dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya dilandasi dengan konsep yang mengarah pada makna konotasi atau asosiatif dengan latar atau ground digali dari mitologi.Pada Zaman Hindu menunjukan. Seperti produk-produk kriya yang digunakan dalam upacara Odalan. Gambar 36 Relasi Tanda. kosmologi dan sebagainya yang bersumber pada ajaran Agama Hindu.

baik tujuan. Produkproduk tersebut mulai dijadikan sebagai penunjang kepariwisataan di Bali berupa cenderamata. Seperti tujuan para kriyawan untuk menciptakan produk bermuatan lokal atau dorongan para wisatawan untuk membeli suatu produk (emotional product motives). Jika kondisi tersebut dikaji berdasarkan semiotika model “intertekstualitas” seperti yang dikembangkan oleh Kristeva. Pada saat tersebut. Namun dewasa ini. pretensius. bahwa mere- . subyektif. elemen estetis untuk menciptakan suasana tradisional Bali atau sebagai digunakan komoditi ekspor. maupun arah pengembangan yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali.Pada zaman Kolonial dan Kemerdekaan. relatif dan bersifat temporal. kondisi penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali memiliki kemiripan langgam atau tipe. penciptaan dan pengunaan produk kriya pengalami perkembangan baru. Produk-produk kriya —terutama yang terkait pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali— yang diciptakan sebagai tanda dalam bentuk simbol-simbol dengan konvensi budaya yang dilandasi nilai-nilai atau norma-norma Agama Hindu yang telah mapan dalam masyarakat masa lalu. maka dalam fenometa tersebut tampak terjadi “permainan petanda” yang menghasilkan petanda baru dengan konvensi atau makna yang tidak jelas arahnya. kadang kembali “dipilih” dan ditata atau dipadukan dengan tanda lain. seperti kebanggaan (pride) memperoleh produk kriya lokal yang berciri khas Bali dan dipakai sebagai tanda kenangan.

Masing-masing tanda atau simbol tersebut menyiratkan makna tersendiri. na- . dianggap sebagai suatu kepuasan atau prestise dan sebagainya. Petanda baru yang muncul tersebut hanya bersifat subjektif yang “dihubung-hubungkan” atau hanya merupakan suatu pretensi yang sama sekali tidak ada pertalian petanda dengan ground simbol yang diterapkan pada produk tersebut di masa lalu. Dari kedua tanda tersebut sama sekali tidak terjalin suatu kesatuan makna. Sebagai contoh. produk kriya berupa relief Garuda Wisnu yang lazimnya diterapkan dibelakang Padmasan. kalau dilihat dari tata letak kedua tanda tersebut. dianggap sebagai lambang kebesaran Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Pada façade tersebut tampak logo Bank BPD diletakkan di atas dari simbol Garuda Wisnu. janggal dan berkonotasi negatif karena terjadi diskrepansi antara tanda dengan petanda yang sebenarnya. di mana simbol Garuda Wisnu adalah terkait dengan ajaran Agama Hindu.ka pernah mengunjungi pulau Bali. tampak simbol Garuda Wisnu menjadi kehilangan makna. Pada contoh tersebut. Selain motivasi tersebut juga didorong keinginan untuk menciptakan lingkungan atau tata bangunan dengan nuansa tradisional. Bahkan tindakan tersebut dapat “merusak” atau memutuskan pertautan petanda dengan penanda atau narasi yang sebenarnya. namun sekarang tampak diterapkan sebagai hiasan façade.

Berdasarkan kajian dari sudut model semiotika “intertekstualitas”. tanpa memikirkan lebih jauh tentang pertalian petanda yang terbentuk akibat penempatan simbol dan logo tersebut. Tanpa disadari penempatan tersebut membawa makna konotasi yang mengarah pada interprestasi negatif.mun pada façade itu diletakkan di bawah logo yang cenderung berkonotasi tentang uang yang bersifat sekular. Penempatan tersebut “asal pasang” dan hanya didorong oleh suatu preferensi “pajang seni” semata. maka secara umum penciptaan produk kriya dengan unsur eklektik dewasa ini di Bali dapat digambarkan pada Gambar 37 . kesenangan dan kenikmatan (hedonisme) lebih tinggi dari nilai yang berhubungan dengan ajaran ketuhanan. Meletakkan penghargaan terhadap nilai-nilai keduniawian (uang dan investasi).

Penanda dan Petanda (“Intertekstualitas”) Kaitannya Dengan Fenomena Eklektik Unsur Produk Kriya Masa Lalu .Gambar 37 Perbandingan Relasi Tanda.

antropolog dan seniman sudah memprediksi. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini Konsep pengembangan pariwisata di Bali berbasis budaya Bali.B. dan seimbang. selaras. Sebenarnya di dalamnya secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. Sejak 60 tahun yang silam di kalangan para pengamat: budayawan. Mereka mendeskripsikan. Di satu sisi menurut hasil penelitian Kean (1973) maupun Geriya dan Erawan (1993) membuktikan bahwa interaksi antara pariwisata dan kebudayaan Bali. ternyata mendatangkan banyak kemanfaatan atau beneficial bagi pengembangan kebudayaan Bali sekaligus pengembangan sektor ekonomi masyarakat. sosiolog. bahwa pariwisatalah yang akan menjadi salah satu katalisator atau sebagai pemicu terjadinya perubahan sosial-budaya masyarakat di . Namun di sisi lain banyak muncul kekawatiran tentang nasib masa depan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. Konsep tersebut diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan budaya Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. bahwa masyarakat Bali bersama kebudayaannya di masamasa mendatang akan mengalami perubahan besar sebagai dampak maraknya perkembangan pariwisata.

Bali. . sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Miguel Covarrubias dalam bukunya berjudul Island of Bali —“Isn’t Bali Spoiled ?”— sebagai kalimat pembukaan dalam pembicaraan Modern Bali and The Future. baik pada produk masa lalu maupun pada desain produk masa kini. Seperti. 1937). Prediksi atau asumsi tersebut. Demikian juga kekawatiran tersebut dimuat dalam buku dengan judul: Republik Indonesia (Kepulauan Sunda Kecil). pada paparan keadaan masyarakat dan kebudayaan Bali yang diterbitkan pada tahun 1953. ternyata dalam beberapa dekade belakangan ini menjadi suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Pertanyaan tersebut diungkap sehubungan dengan kekawatiranya akan kerusakan yang akan terjadi pada seni budaya Bali sebagai akibat diperkenalkannya menjadi daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Kolonial Belanda saat tersebut (Covarrubias. Salah satunya diakibatkan oleh eklektisme elemen estetis tradisonal yang tak terkendali dalam penerapannya pada desain produk masa kini. Suatu dinamika baru dan perubahan-perubahan struktural telah terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. Hal tersebut juga terjadi dalam perluasan penciptaan produk-produk kriya dan desain lainnya yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali. Berikut akan diuraikan mengenai dampak yang ditimbulkan.

1. Akibat dari tindakan tersebut. sekarang ba- . “desakralisasi”. Garuda Wisnu dan sebagainya. Secara visual mereka akan semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya yang digunakan untuk sarana upacara ritual di tempat suci dengan produk kriya yang dipakai di tempat yang bersifat profan. bahwa dampak dari peran khas pariwisata Bali membawa pengaruh dan perubahan yang tak terbatas. kesimpangsiuran atau pengkaburan makna. “deteriorasi”. Seperti: relief tinggi berupa Bhoma. “generalisasi”. tanpa disadari dapat mengurangi rasa penghargaan atau pemahaman spiritual terhadap makna atau nilai yang ditanamkan pada produk kriya yang dianggap sakral tersebut. karena telah “diduplikasi” untuk dijadikan barang tontonan biasa atau barang komoditi untuk pemenuhan kebutuhan sekuler semata. terutama bagi generasi pewaris kesepakatan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jean Couteau. Keadaan tersebut tanpa disadari dengan perlahan-lahan dapat mengikis alam pikiran spiritual umat Hindu di Bali dan dapat terjebak dalam kecenderungan efek komersial dari produk tersebut. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu Dampak eklektisme terhadap produk kriya masa lalu sebagai objek pilihan. secara tidak langsung akan terganggunya konvensi yang mendasari objek yang dipilih dan kemungkinan akan terjadi suatu pelunturan nilai.

bahkan sengaja dipentaskan di hotel-hotel untuk menghibur para wisatawan. banyak ditiru dengan tidak disertai dengan “sakralisasi” dan dipakai pertunjukan khusus untuk konsumsi para wisatawan. Rangda dan Barong ket.nyak ditiru dan diterapkan sebagai hiasan toko. penerapan elemen estetis tradisional secara eklektis tersebut dapat berdampak terganggunya kestabilan antara tanda dengan . kantor. rumah tinggal dan bangunan umum lainnya. Topeng Barong Ket juga dipakai sebagai penghias ruangan boutique yang dipajang berdampingan dengan busana yang dijual. seperti pada Gambar 38 berikut Gambar 38 Topeng Barong Ket Diterapakan Sebagai Hiasan Boutique Ditinjau dari sudut semiotika.

petanda, karena terjadi suatu “mutilasi” struktur simbol atau lambang dengan konvensi adat yang telah mapan dalam kalangan umat Hindu di Bali. Terbentuk kepingan-kepingan dan perpaduan tanda dengan petanda yang tidak jelas atau “mati”. interpretasi makna menjadi simpangsiur dan terkecoh karena secara visual semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya sakral dengan profan. Seperti senjata nawa sanga, produk kriya tersebut biasanya digunakan sebagai hiasan di pura berupa bandrangan dan sekaligus sebagai simbol kekuatan para Dewa, namun kini sematamata diciptakan sebagai barang cenderamata untuk konsumsi para wisatawan (lihat Gambar 29). Makna konotasinya mengalami perubahan dan mengarah pada nilai komersial. 2. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini Penerapan elemen estetis secara eklektik pada desain masa kini yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali masa kini, dalam upaya untuk menciptakan karya yang bermuatan lokal atau didorong oleh harapan agar dapat menciptakan suasana tradisional Bali. Ternyata usaha tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan permasalahan yang mendasar. Pada desain atau produk kriya yang diciptakan dengan menerapkan elemen estetis tradisonal kadangkadang tampak “janggal”, “tertekan”, “terpaksa”, berlebihan, mubasir dan dari perpaduan tersebut tidak terjalin pertalian makna di antara tanda-tanda atau

simbol-simbol yang diterapkannya. Dikaitkan dengan konsep estitika yang melandasi strategi pembangunan di daerah Bali, seperti telah dipaparkan pada bab pendahuluan, kondisi tersebut jelas kurang relevan, sebab pada produk-produk yang diciptakan sering terlihat kurang selaras, kurang harmonis dan tidak seimbang. Bahkan tak jarang melahirkan karya yang termasuk: pastiche, parody, kitsch, atau camp. Sebagai contoh dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional, berupa relief garuda pada sebuah façade toko sepatu bata seperti Gambar 38 berikut,

Gambar 38 Penerapan Relief Garuda Pada Façade Toko Sepatu Bata

Pada hiasan tersebut tampak elemen estetis berbentuk garuda yang meniru dari bentuk Garuda Wisnu dan penyuguhannya tidak dilengkapi dengan simbol Dewa Wisnu. “Tangan” garuda dibuat menunjuk logo sepatu bata dan posisi penempatan kedua elemen tersebut sejajar secara horisontal. Pada penampilan tanda tersebut tampak suatu fragmen yang terbentuk dari hasil perpaduan dua, yaitu antara simbol dengan logo. Disimak dari permaknaan, maka keduanya sama sekali tidak terdapat pertautan makna. Konsep penciptaan hanya didasari oleh suatu pretensi menciptakan nuansa bagunan tradisional Bali. Bentuk garuda tersebut sebenarnya merupakan produk kriya masa lalu yang khusus diterapkan pada bangunan suci dan mengandung nilai filosofi yang tinggi dan sebagai simbol kekuatan Tuhan. Namun kini dipilih dan diterapkan begitu saja tanpa memikirkan dampak negatif terhadap makna yang dikandungnya. Mereka meminjam makna simbol garuda yang telah mapan dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, hanya sekadar untuk menunjukan logo sepatu bata atau bertujuan untuk membangun imitasi image atau citra rasa palsu (kitsch) dalam usaha membangun keyakinan masyarakat konsumen, bahwa produk sepatu merek bata sudah terpercaya, kuat dan sebagainya, sampai-sampai simbol garuda yang masih diyakini oleh umat Hindu “digambarkan” memberi petunjuk tentang keunggulannya.

sebab pemilihan dan penerapannya merupakan suatu “pelesetan” dari makna garuda yang sebenarnya. Naga tersebut sebenarnya merupakan hiasan sekaligus se- . juga termasuk produk pastiche dan camp. kini “dipermainkan”. sehingga terkesan sentimentil terhadap simbol yang masih diyakini oleh umat Hindu di Bali. Sedangkan terkait dengan fenomena camp. Simbol yang bersifat sakral dan terkait dengan ajaran ketuhanan. Narasinya bersifat ironis dan kritis dalam artian mengecilkan makna adiluhung yang terkandung dalam simbol garuda tersebut. karena dalam penampilannya bersifat mendaurulang bentuk garuda yang merupakan hasil produk kriya masa lalu dan diterapkan begitu saja. Selain hal tersebut.Peniruan dan perpaduan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu produk kriya parodi. Bentuk hiasan tersebut merupakan penggayaan dari bentuk naga hasil produk kriya masa lalu. karena merupakan hasil penyusunan elemen-elemen masa lalu yang melahirkan bangun tanda palsu yang berkonotasi negatif. seperti tampak pada Gambar 39. Pastiche. Contoh kasus sejenis lainnya. juga dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional berupa dua patung naga yang mengapit pintu gerbang utama di lantai I di bawah selasar kantor sebuah bank di Denpasar. —dikombinasikan dengan tanda atau simbol atau logo lain— dan dimanfaatkan hanya untuk menunjukan merek sepatu.

namun pada penerapan tersebut berubah menjadi produk biasa. absurd. termotivasi oleh keinginan yang lebih mengutamakan segi artistik dibandingkan substansi atau bobot dari elemen estetis produk kriya masa lalu yang dipilihnya. sehingga berkesan berlebihan.bagai simbol yang diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih di pura. seperti pada bangunan suci berupa padmasana (lihat pada Gambar 12) Gambar 39 Penerapan Patung Naga Pada Gerbang Utama Pada Lantai I Di Bawah Selasar Kantor Sebuah Bank di Denpasar Penerapan tersebut. dan tidak terbentuk pertalian makna dengan tempat yang diberi hiasan tersebut. makna atau nilai yang dikandungnya diimitasi dan dibuat-buat atau sama sekali tanpa makna serta menengelamkan . glamor. Nilai simbolis terkait dengan ajaran kosmologi Hinduistis di Bali dan dianggap sebagai benda sakral.

dekorasi atau segi artistik semata. karena dalam penerapan tersebut hanya menitikberatkan pada penggayaan. karena produk tersebut merupakan penyusunan elemenelemen yang dipinjam dari unsur produk kriya masa lalu dan dalam penerapannya menimbulkan konotasi negatif. kitsch maupun camp. Karya tersebut juga dapat digolongkan sebagai camp. menciptakan suasana tradisional dan sebagainya. Sebagai fenomena kitsch. Digolongkan sebagai fenomena pastiche. misalnya untuk kemegahan. Usaha penciptaan penerapan naga tersebut juga disertai dalih untuk menciptakan . kebesaran. seperti merendahkan penghargaan nilai simbolis yang dikandung pada patung naga tersebut. seperti: pastiche.objek yang dijadikan sasaran eklektis. Usaha tersebut tanpa disadari membawa dampak terjadinya pergeseran dan pelunturan nilai yang dikandungnya serta bersifat ironis kalau ditinjau dari peletakan naga tersebut. Bangun tanda baru yang dianggap sah dengan petanda yang tidak jelas. Penerapan produk tersebut dapat dimasukan sebagai fenomena-fenomena. karena bentuk tersebut merupakan peniruan dari elemen “seni tinggi” atau high art yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dengan dibarengi tujuan palsu. Secara semiotik kondisi tersebut tidak mencerminkan hubungan antara penanda dengan petanda dan dengan narasi yang tidak jelas. disebabkan penenpatannya tidak sesuai dengan ketentuanketentuan yang telah terkonvensi.

sebenarnya kurang relevan kalau dikaitkan dengan makna yang dikandungnya. karena tanpa disadari dapat membawa dampak negatif —nilai simbolis yang dikandungnya menjadi sepele dan bahkan tanpa makna— terhadap konvensi yang diyakini oleh umat Hindu di Bali. sebab dalam proses penciptaannya hanya bersifat “mendaurulang”. meramu dan berorientasi pada elemen-elemen yang sudah ada. Mereka dalam proses pengerjaannya hanya mengandalkan keahlian tangan atau virtuosity semata untuk menjadikan “mass product” dan didorong oleh keinginan pemenuhan kebutuhan para pengembang untuk menciptakan suasana dengan citra tradisional Bali. Usaha-usaha seperti tersebut secara tidak langsung juga dapat berdampak menghambat kreativitas para kriyawan untuk berkreasi dan berinovasi. “menduplikasi” atau meniru. Untuk contoh kasus yang sejenis masih banyak terjadi di masyarakat. Terimakasih . Untuk itu.suasana tradisional Bali. Entahlah ?. Selama ini tindakan-tindakan tersebut dianggap sebagai sikap atau model pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang berkesinambungan. bagi para pembaca yang tertarik silakan diabadikan lalu kita bahas dari berbagai perspektif ilmu di lain kesempatan.

Z. Oxford University Press / PT. 1992. An Essay On Man. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Couteau. Jilid: 2. Data Bali Membangun. Denpasar: Upada Sastra. Bija. Kuala Lumpur-SingapuraDjakarta Cudamani. Covarrubias. For Critique of The Political of Economy of The Sign. Jakarta: Hanuman Sakti . Baudrillard. Budaya Bali Dalam Pertemuan dengan Budaya Dunia. (makalah seminar). I. 1990. I M. I B. J. 1944. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. 1991. Apakah Upacara Baten Masih Perlu?. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). Buchori. J. Yale University Press. Indra. Upakara Upacara. Island of Bali. Singaraja: Percetakan Guna Agung. Aspek Desain dalam Produk Kriya. Denpasar: Bappeda Tingkat I Bali. 1995. IGN. 1972. ____. Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi. M. M. Bagus. 1981. Yogyakarta.1993. Yogyakarta: ISI. 1994. N. Ariawati. Pengantar Agama Hindu. S. Aji Maya Sandi. E. 1990. Transformasi Struktural Masyarakat Bali Dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). 1995. Cassirer. USA: Telos Press.DAFTAR BACAAN Ardana.

Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah.L. Berkeley . Buku Paider-ideran dengan Gambar Dewata Nawa Sanga dan Jimat-Jimatnya. N. Encyclopaedia Britannica. Arsitektur Tradisional Bali. Margaret. tt. A. Gelebet. 1953. West Germany: Weiss Verlag Gmbh. Yogyakarta: Karya Yogyakarta. T. 1978. Geriya.1963. Denpasar: Upada Sastra. dkk. Blomington.Singapore: Periplus Editions.0Freed dan Eiseman.). New York. Encyclopedia of World Art. Inc. Signs and Symbols (Their Design and Meaning). A Theory Of Semiotika. U. I M. Lodon: McGraw-Hill.1989. 1988. Gie. 1979. Singaraja: Kementerian Penerangan. Republik Indonesia (Sunda Ketjil). Garis-Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). 1981/1982. Eco. Gambar. Indiana University Press. W. 1995. Book Company. Kamus BaliIndonesia. Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Kecil. Ed. Frutiger. 1993. Woodcarving of Bali. . 1976.Dinas Pengajaran Propinsi Bali. “Pariwisata dan Segi Sosial Budaya Masyarakat Bali” dalam Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa (Tjok Sudharta. CD-ROM 2. Studio Edition. Toronto. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali.

Hartoko. Kayumas.Ginarsa. R. 1997. Jakarta: Pemeritah Republik Indonesia. L. 1984. Jakarta: PT. Oxford: University Press. L. The New Classicism in Art and Architecture. Court Art of Indonesia. Atlas Kebudayaan Bali. Jakarta: Hanuman Sakti. Goris. I.(Makalah Seminar Kriya). Yogyakarta. New York: The Asia Society Galleries. MC. London: Methuen. Yogyakarta: Kanisius. Gottschalk. I. tt.1969. Grafitas. 1951. N. A. AS. Jessup. Frick. Dkk. K. Sejarah Nasional Indonesia. Krakah Modré Aji Griguh. Manusia dan Seni. H I. Denpasar: CV. 1985. 1989. P. fourth edition. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia 1975.1990. 1990. D. Kadjeng. Gambar Lambang. London. Hutcheon. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. A Theory of Parody. C. 1987. 1976. Cultural Involution: Tourist Balinese and the Processs of Modernization in . Kaler. Yogyakarta: ISI. Sejarah dan Pendidikan Kriya di Indonesia. 1973. S. Jencks. Joedawinata. Sarasamušcaya. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (terjemahan). Denpasar: Kartodirdjo. dkk. Kean. N. Hornby. 1993.

1979. Jakarta: Angkasa Baru Kridalaksana. 1995. Bernet. 1976. Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Daerah Bali dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas. H. Brown University Kempers. J. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. ____. Jakarta: Balai Pustaka Kristeva. Denpasar: Universal Press.) USA: Anthropology. Mantra.J. ____. 1971. 1993. 1-2 Nopember 1988. Soekmono). Penerbitan dan Balai Buku “Ichtiar” Kerepun. A. 1986. I MK. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. . I B.Antropological Perspective (Disertation Ph. Edisi ke dua. Jakarta:PT. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. No. Mahabhakti Offset. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). 1994. Jilid: 2. Kamus Bahasa Indonesia. 1960: Bali Purbakala (disalin oleh: R.1988.b. Koentjaraningrat. Denpasar: PT.D. Pengantar Antropologi. Desire in Laguage: A Semiotic Approarch to Literature and Art. Bali: Masalah Sosial Baudaya dan Modernisasi. Oxford: Basil Blackawell Lontar Bhomantaka. Denpasar: (makalah pada Simlok Penelitian Menyongsong Tinggal landas. Jakarta: (red) Jambatan. Darsana Bali. Bali dan Ekspor Hasil Kerajinan. ____. Kropak IV.

I. Tk. Moeliono. William. Denpasar: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan. A Šanskrit English Dictionary. Pameran Topeng Tradisional Bali & Jawa Barat (Katalog Pameran). Peristiwa Sejarah dan Peristiwa Nostalgia. IGN. Denpasar: CV. R. 1982/1983. Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia. et al. 1990. 1963. sebuah Bunga Rampai).Mirsa. . 1991. Jakarta: Balai Pustaka Monier. Bandung. Pemda. Ngurah. H. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. I G M. 1994. S M. Doa Sehari-Hari Menurut Hindu. Himpunan Keputusan (SeminarKesatuan Tafsir Terhadap Aspekaspek Agama Hindu. Denpasar: Toko Buku Ria. (dalam Puspanjali. Kayumas. Upada Sastra. Namawi. 1991. Nyoka. I Bali. B. Oxford : The Clarendom Press. Museum Negeri Propensi Bali. Sejarah Bali. Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Propinsi bali. Metode Penelitian Bidang Sosial. Parisada Hindu Dharma. 1995. 8 Pebruari 1991) Bandung: Panitia Seminar. 1988. Jakarta: Hanuman Sakti. Nala. 1990. Oka. Bali Dalam Perspektif Sosial Budaya (laporan Seminar. Edisi ke dua. Kamus Bahasa Besar Indonesia. Denpasar: PT. 1993/1994. Denpasar: Parisada Hindu Dharma. Usada Bali. 1982/1983. Jogyakarta: Gajah Mada University Press.

Konsepsi Monotheisme dalam Agama Hindu. I G. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sejarah Pendidikan Daerah Bali. Aspek-aspek Agama Hindu. Seputar Weda dan Kebijakan: Jakarta : Manikgeni. . Serba Neka Wayang Kulit. 1994. Bhagavad-Gîtã. I B. Bandung: Penerbit Angkasa. A. New York: Anchor Books. 1991/1992. Santog. Derektorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional. Wisma “Praja Mukti” Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Pola dasar Kebijaksanaan Pembinaan Kebudayaan Daerah Bali. Sara. Jajahitan Bali serta Fungsinya Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Diretorat Jenderal Kebudayaan. S. W. Bagian Inventarisasi dan Pembinaan Nilainilai Budaya. Denpasar: Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali. S.Pendit. Sejarah Wayang Parwa. Simpen. 1973. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1993. Santosa. G. Pindha. 1988. Balai Pustaka. 1992. ____. Notes on “Camp”. 1977/1978. N. 1975. Denpasar: Listibya Daerah Bali. (Againts Interpretation). Putra. Jakarta: Hanuman Sakti. G. Raka. 1990.A.A. P. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Denpasar: Upada Sastra.

Denpasar: CV.Trimurti Tattwa. 1991. 1986. dimuat dalam Majalah Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta Soejono. Jakarta: Gramedia. Sugriwa. T. 1993. Jakarta: Yayasan Penerbitan Kebudayaan.P. (Sejarah Nasional Indonesia I). I G B. 1990/1991. at al. Kayumas. Kamus sosiologi. Jaman Prasejarah Indonesia. W. Jakarta: CV. S. Serba-serbi Semiotika. tt. Sudartha. Jakarta: PT. Sp. Seni Budaya Hindu-Bali. Committee of Festival of Indonesia.P. 1988. Jakarta: Balai Pustaka. 1985. 1975. Arti dan Fungsi Sarana Upakara. Kayumas. R. Hakekat dan Makna serta Arti Simbol-simbol) Soedarso. Rajawali. ____. Soeroso. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuna. 1988. (Upacara-upakara. P. Soekanto. Soeka. 1990. I. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Bandung: Panitia Pameran KIAS 1990/1991. I N. Seni Rupa Indonesia Dalam Masa Prasejarah. Ngodalin pada Sanggah Pemrajan. M. Gita Karya. Hubungan Adat Dengan Agama dan Kebudayaan. D. Suasthawa.Singging.1992. Suku Dayar San. Denpasar: CV. R. Sudjiman. . Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni. G. M.

1977/1978. 1993. Kamis. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1980.1982. Koleksi Gedong Kertya. Denpasar: Penerbit dan Toko Buku Ria. I G. G. G. 1991. Denpasar: Upada Sastra. Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali. Burung Merah Putih (dimuat dalam surat kabar Nusa Tenggara. Kanda Pat Dewa. Titib. I M. Sutaba. Desain dan Merancang: Penjelajahan Suatu Gagasan. 1980. Surayin.Sura. Garuda. Denpasar: Upada Sastra Surpha. Denpasar:Toko Buku Ria. .b. I W. Lintas Asta Kosali. Agama Hindu (Sebuah Pengantar). Pengertian Pura dan Bangunan Suci di Bali. Architrave Tonjaya. Denpasar: CV. Transkrips Lontar Bhomantaka. ____. I N. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. Transkrip Lontar Šiwa Tattwa.1989. I A P. 1987. Eksistensi Desa Adat di Bali. Yayasan Purbakala Bali.U. No. Prasejarah Bali. Singaraja. 1991. Suwondo. Dewa Yadnya. K. I M. 1995. Kropak IV. 31 Agustus 1995) ____. Kayumas. Denpasar: B. B. B. Denpasar: Yayasan Panti Asuhan Hindu “Dharma Jati” Tjahjono.

1977. Webster. Pengarang. . 1994. Semiotika. (Tentang Tanda.keping Masa Lalu. Yogyakarta: Penerbit dan Toko Buku “Spring”. A. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. USA Wiana.s Collegiate Dictionary. 1993. Tamasya di Antara Keping. S.2010 Kamus Bahasa Indonesia online [cited 2010 Maret 18] Available at: URL: http: //id. 1995. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai) Jilid: 1. S. Decoding Postmodern Style (Submitted for a Mater Degree in Industrial Design) London: The London Institute Central Sain Martns College of Art and Design ____. M. R. 1958. Adiparwa. S. 1994. Memahami Cerita Rekaan Secara Semiotika. I K.org/wiki/Kerajinan Wiryatmadja. Jakarta: Yayasan Sumber Agung. Widyatmanta. Wardana. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Jakarta: Hanuman Sakti. Penataan dan Perlembagaan Agama Hindu di Bali. IB. (terjemahan). Yasraf. (dimuat dalam Jurnal Kebudayaan Kalam edisi: 2-1994). Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 1994. Wikipedia . Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. Wojowasito. P. Jakarta: CV. Cara Kerja dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya).Van Zoest. 1981. A. Webster. 1983.wikipedia. Buku Pelajaran Agama Hindu.

Myth and Symbols in Indian Art and Civilization. Pergeseran dalam Pelaksanaan Agama Menuju Tattwa. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. 1994. 1946. 1983: Seni Kerajinan Indonesia. Denpasar: Penerbit-BP. IB. Dalam “Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali (Sebuah Ontologi). W. Derektorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan. . Yudoseputro. H. Zimmer.Yudha Triguna. Denpasar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. New York: Haeper Torchbooks The Bolingen Library.