DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI SECARA EKLEKTIK PADA DESAIN MASA KINI
berdasarkan perspektif historis dan semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini Berdasarkan Perspektif Historis dan Semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn E-mail: arimbawa @yahoo.com Hak Cipta © 2010 Pada penulis Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara digital maupun mekanis, termasuk memfotocofy, merekam atau dengan system penyimpanan lainnnya, tanpa seizin tertulis dari penulis Desain cover & setiting : Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn 21 x 15 cm Penerbit : Udayana University Press Jimbaran Denpasar Bali Bekerja sama dengan: Intitut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar

ISBN: 978-602-8566-65-0

Kajian Historis………………………………….. Konsep Spiritual Religius…………………….DAFTAR ISI JUDUL………………………………………………… i DAFTAR ISI…………………………………………. 19 A. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu …………….... Pendekatan Semiotis…………………………… 100 C.. iii SAMBUTAN .......... 52 BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA……………………………………………. Pendekatan Historis……………………………. Konsep Sekular………………………………..……………………………… v PENGANTAR PENULIS……………………………..... 115 1. 28 A.. 1 BAB II EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI………………………………………. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Ele-men Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini…….... Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya…. 97 B... Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali….... 116 2. 19 B.... 97 A. 28 B.... 128 . 122 BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI ……………………………… 128 A... 128 1. Sejarah Penerapan Produk Kriya……………... Pengertian Eklektik……………………………... Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali 21 BAB III PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI…………………………………....... viii BAB I PENDAHULUAN………………………………... 119 D..

2. 159 2.... Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini…………………………………...... Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini……........ 157 1... 148 B.. 161 DAFTAR BACAAN 168 ... Kajian Semiotis………………………………. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu…………………………...

BAB I

PENDAHULUAN

etelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950, perkembangan pariwisata di Bali kembali mengalami kebangkitan dan hingga sekarang menjadi pusat pengembangan industri pariwisata di kawasan tengah Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut, pengaruh pariwisata sangat dirasakan oleh masyarakat di Bali. Di satu sisi banyak prestasi gemilang yang telah diraih dan secara tidak langsung dapat membawa kehidupan masyarakat di Bali menjadi lebih baik, namun di sisi lain pengaruh tersebut tidak dapat dielakkan lagi menimbulkan dampak negatif dan menjadi masalah terhadap kelestarian kebudayaan Bali. Nilai-nilai tradisional banyak menjadi tidak eksis dan bahkan menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antar manusia sebagai konsekuensi logis adanya aktivitas pariwisata. Hubungan sosial antar manusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi dan kepentingan. Budaya kolektif berubah menjadi individual. Menurut Geriya (1993), bahwa dampak pariwisata khususnya dalam konteks sosial budaya ditandai dengan adanya beberapa indicator sebagai berikut.

S

1. Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan terkonsentrasi di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut. 2. Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. 3. Meningkatnya mobilitas penduduk dalam bekerja. 4. Mundurnya aktivitas gotong royong. 5. Berkembangnya konflik antargenerasi, khususnya generasi tua dan generasi muda. 6. Terjadinya gejala social defiance yang meliputi kejahatan, narkotika, maupun penyakit kelamin. 7. Terjadi komersialisasi kebudayaan dan hasilnya. Mengenai indikator pada poin ketujuh merupakan salah satunya masalah terkait dengan eksistensi kehidupan kebudayaan tradisional Bali. Hasil kebudayaan unggul (height culture) hendaknya diposisikan sebagai basis kreativitas yang kaya inspirasi, kokoh identitas, kuat modal budaya yang mengkonstruksi, mengintegrasi dan menyeimbangkan, sehingga tidak tergerus oleh mekanisme komersialisasi dan komoditisasi. Antara kebudayaan tradisional Bali dan penciptaan desain produk masa kini agar terjaga pola hubungan sinergis, komplementer yang simetris dan saling meningkatkan. Hal tersebut menjadi penting, mengingat hasil kebudayaan unggul memiliki karakteristik sebagai ber-

ikut: (1) mengedepankan kualitas, sehingga diagungkan dan dimuliakan (adhiluhung); (2) menjadi sumber inspirasi atau spirit dan kreasi oleh mayoritas populasi dan perajin; (4) memiliki sifat khas, lentur dan adaptif dengan roh budaya; (5) mengandung sari-sari budaya dan peradaban, seperti etika, estetika, logika, solidaritas, spiritualitas dan aneka kearifan lokal. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Mantra (1988) bahwa kebudayaan Bali dalam perkembangannya berfungsi secara “normatif” dan “operasional”. Berfungsi normatif, karena terkait dengan adat-agama Hindu di Bali, maka peranan kebudayaan Bali diharapkan mampu dan berpotensi memberikan pegangan dasar dan pola pengendalian, sehingga ketahanan dan kelestarian budaya dapat diwujudkan. Berfungsi operasional, karena kebudayaan Bali diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi peningkatan kualitas kepariwisataan di Bali. Upaya mewujudkan ketahanan dan kelestarian kekayaan budaya serta alam Bali, maka pada beberapa dasawarsa silam, pemerintah daerah Tingkat I Bali dalam melaksanakan pembangunan yang mencakup berbagai sektor dirumuskan peraturan-peraturan daerah yang diarahkan pada pembangunan dengan pola budaya Bali, berwawasan lingkungan dan dilandasi dengan konsep adati-Hinduisme, seperti: 1. Rwa Bhineda, yaitu dua hal yang berbeda terdapat di dunia ini. Bagi orang Bali perbedaan tersebut tidak harus dipertentangkan, melainkan

maka dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. seperti suka dan duka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. kebolehan dan kemampuan sebenarnya sangat sulit untuk menentukan batas absolut dua hal tersebut. sesuai dengan yang termaktub dalam Kitab Sarasamušcaya. . merupakan kekuasaan Sang Hyang Widhi Waša atau Tuhan. nyata atau tidak nyata (sekala atau niskala). siang atau malam. dan sakral atau profan. Artinya: dua hal yang berbeda. prãptavyamavašaih sarva parihãro na vidyate. yaitu kemampuan untuk menimbang konsekuensi baik atau buruk yang akan berpengaruh pada manusia dan lingkungan. Oleh sebab itu. seperti: baik atau buruk. selaras dan seimbang).diharmoniskan (serasi. Hal tersebut. seloka: 498.) Sebagai manusia dengan berbagai keterbatasan. sehingga segala makhluk tidak luput dari ikatan suka maupun duka (Kadjeng. 1993. menghidarkan tindakan yang arogan dan harus berdasarkan nalar atau wiweka. Konsep tersebut memberi kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan tidak luput dari belenggu dikotomi yang bersifat kodrati. pria atau wanita. yaitu sebagai berikut: sukha vã yadi vã duhkham bhûtãnãm paryupasthitam. dituntut bijak.

yaitu terdiri dari: dharma. menuntun. Kãma. karena merupakan kebahagian sejati. Perkataan dharma. berasal dari bahasa Šanskerta. Keempat bagian tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh. Sedangkan perkataan Moksa. mengatur. memelihara dan melestarikan. rasa bersahabat. sebab dengan perbuatan yang dilandasi dengan dharma. berarti naluri. memangku. sesuai dengan pen- . moksa adalah merupakan tujuan hidup yang tertinggi. Catur Purusha Artha. Artha. ‘dhir. artinya benda atau sarana yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia.2. kãma dan moksa. ‘Muc’ yang berarti membebaskan atau melepaskan ikatan duniawi. Hal tersebut. berasal dari Bahasa Šanskerta. moksartham jagadithya ca iti dharma. Sedangkan dharma adalah tujuan terpenting. Dari keempat tujuan hidup tersebut. artha. maka tuntutan akan artha dan kãma dapat dikendalikan.’ yang berarti: menjunjung. adil. dorongan nafsu atau keinginan yang bersifat duniawi. artinya empat tujuan hidup sebagai dasar kehidupan sosial. artinya tujuan dharma adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani yang selaras dan seimbang.

nantinya tak disangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kãma. seloka: 12. hendaknya mengutamakan dharma. Desa Kala Patra. bila artha dan kãma tesebut diperoleh dengan perbutan yang menyimpang dari dharma (Kadjeng. adalah bagian dari Tri Pramana dalam lingkup perilaku manusia. Artinya: jika menuntut artha dan kãma dalam hidup ini. untuk mencapai jagaddhita atau kebahagian dan kesejahteraan hidup. Hal tersebut merupakan suatu penafsiran atau fatwa agar manusia senantiasa memelihara dan melestarikan alam semesta yang mencakup bhuana agung (makrokosmos) serta bhuana alit (mikrokosmos). nahi dharmmãdapetyãrthah kãmo vapi kadãcana.jelasan dalam Kitab Sarasamušcaya.) Konsep tersebut merupakan panduan absolut bagi manusia untuk membina keseimbangan dan keselarasan antara alam sekala dan niskala. Dalam usaha memenuhi tuntutan artha dan kãma. Tidak ada artinya.1993. hendaknya manusia mengendalikan diri dan lebih mengutamakan perbuatan dharma. 3. merupakan tiga ukuran yang dapat dipakai seba- . yaitu sebagai berikut: Kamãrthau lipsamnastu dharmmamevãditašsaret.

Sedangkan Patra merupakan pedoman berdasarkan “keadaan” atau peraturan tertulis yang berlaku. Konsep tersebut memberikan landasan ideal yang luwes atau fleksibel.gai pedoman untuk menilai kenyataan Rwa Bhineda. yaitu terdiri dari kata Karma yang artinya perbuatan dan Phala artinya buah atau hasil. Jadi Karma Phala mengandung arti: hasil dari perbuatan. peraturan. kenyamanan. keputusan atau kebijakan yang akan diberlakukan dalam masyarakat. Dua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik dan marupakan “hukum” dan telah dipercayai umat Hindu di Bali. 4. Kala merupakan pedoman berdasarkan waktu perbuatan atau aktivitas tersebut dilakukan. Karma Phala. sehingga tercipta kesatuan pandang dan keadaan yang mengarah pada kedamaian. khususnya dalam mengambil sikap. kesejahteraan umat manusia dan kelestarian lingkungan. tempat atau lingkungan dan keadaan atau peraturan yang telah berlaku. Manusia hendaknya mampu menyesuaikan dengan waktu. bahwa semua perbuatan manusia pasti akan memperoleh hasil yang setimpal (inter- . Desa dalam konteks perilaku manusia merupakan pedoman berdasarkan tempat atau lingkungan di mana perbuatan tersebut dilakukan.

Konsep yang dilandasi Karma Phala. Dalam Kitab Reg Veda VII. 25. Jadi. Hukum Karma dikenal pula sebagai hukum alam atau kausalitas dan tak seorang pun luput dari hukum tersebut. pengendalian atau restraint dan pembinaan moral dalam segala perilaku manusia sehari-hari. baik antar sesama sebagai sum- . perbuatan baik selalu akan mendatangkan hasil yang baik. Dewa yang tersuci penegak hukum keabadian yang memiliki kekuatan suci. keseimbangan dan menghindari kekacauan alam semesta. Hukum tersebut mengatur keterpaduan.aksi yang seimbang). konsep tersebut melandasi sikap antisipatif. Menanamkan kepercayaan bahwa. sebaliknya perbuatan buruk akan memperoleh hasil yang buruk. baik di dunia nyata (sekala) maupun di akhirat (nis-kala). hukum Rtã selain sebagai hukum perbuatan serta hukum moral. 1. hukum tersebut dikenal dengan perkataan Rtã dan dijelaskan sebagai berikut: Tã vãm vivaya gopã Deva dikesu yajñiyã rtãvãnã yajase putadaksasã. juga sebagai hukum jagat raya. Artinya: Kami memuja engkau yang menjaga alam semesta. Jadi. memberi pendirian terhadap hukum kausalitas yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini.

Palemahan dan Pawongan. selamat dan sejahtera. Perkataan tersebut terdiri dari kata ‘Tri’ berarti tiga. yaitu: (1) Pola hubungan manusia dengan Tuhan disebut Parhyangan. (3) Pola hubungan manusia dengan manusia disebut dengan Pawongan.ber daya manusia. Secara keseluruhan Tri Hita Karana mengandung pengertian: tiga penyebab terciptanya keselamatan. memelihara kelestarian alam disekitarnya. Esensi dari konsep tersebut merupakan sinergisme yang meliputi pembinaan hubungan yang harmonis. Tri Hita Karana. artinya manusia hendaknya selalu sujud kehadapan-Nya atas segala rahmat dan karunia-Nya. 5. baik secara vertikal maupun horizontal. artinya manusia dalam kehidupanya hendaknya selalu dapat menjalin rasa persahabatan . sehingga tercipta kehidupan yang sehimbang. Terdiri dari: Parhyangan. kesejahteraan atau kemakmuran. maupun dalam memperdayakan sumber daya alam. selamat atau kemakmuran dan ‘Karana’ berarti penyebab. (2) Pola hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya disebut Palemahan. ‘Hita’ berarti sejahtera. Membatasi eksplorasi dan ekploitasi alam. artinya manusia hendaknya selalu merawat dirinya sendiri dan menjaga.

Twãm artinya “kamu” dan Ãsi artinya “adalah”. terutama dalam menciptakan produk-produk seni bermutu tinggi. 6. (2) karakter umum suatu pekerjaan (Soekanto. berarti semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. kata jengah berkonotasi sebagai . berarti: (1) nilai-nilai dan ide-ide suatu kebudayaan. Jadi secara keseluruhan berarti “itu adalah kamu”. Kalau ditambah dengan kerja. Pengertian “itu” termasuk “aku” dimaksudkan diri sendiri dan alam semesta beserta isinya. bahwa perkataan etos yang terkait dengan kebudayaan berarti: sifat. Secara harfiah terdiri dari kata: Tãt artinya “itu”.yang didasari dengan saling pengertian dan Tãt Twãm Ãsi. Etos Kerja dan Jengah atau semangat kerja. 1985) Sedangkan jengah dalam Bahasa Bali berarti: semangat juang. nilai dan adat-istiadat yang khas serta memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial di masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. 1994) Demikian juga secara Sosiologi. Jika menyakiti orang lain secara implisit berarti menyakiti diri sendiri. Dalam konteks seni Budaya Bali.

sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian serta dalam mengeksploitasi sumber daya alam akan dapat diharapkan terwujudnya kelestarian. diakomodasikan dan dikendalikan dengan konsep tersebut sebelumnya. baik keindahan alam maupun keindahan hasil olah cita. Konsep tersebut merupakan landasan dari kerja keras. Tetapi kedua hal tersebut perlu diarahkan. Estetika. rasa dan karsa manusia yang muncul akibat perpaduan antara keserasian keselarasan dan keseimbangan dalam suatu pro- . adalah semangat kerja yang dilandasi dengan gotong royong serta berbakti dengan cara yang tulus iklas atau ngayah kepada Tuhan berserta ciptaannya. 1993) Dari pengertian etos kerja tersebut. yaitu dalam bentuk pengorbanan suci atau Yajña.“semangat bersaing” atau competitive pride (Mantra. Bagi orang Bali keindahan. 7. dinamis dan kebersamaan dalam pembangunan disegala sektor. Sedangkan dalam perkata jengah secara implisit tersirat sifat dinamis dan merupakan pangkal dari segala dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat di Bali. maka sifat khas atau semangat kerja yang dimiliki masyarakat dalam lingkungan adat Bali.

baik terlihat di alam sebagai ciptaan-Nya yang agung. Dengan pandangan tersebut. Konsep tersebut juga merupakan pedoman bagi generasi penerus dalam menghayati menikmati. seperti Plato menyebut ‘watak indah’ atau ‘hukum indah’ dalam konteks tersebut. dan menghargai keindahan. karena bagi umat Hindu di Bali dipercayai bahwa dalam keindahan tersirat nilai-nilai kebaikan.duk seni atau desain adalah merupaka karunia Tuhan. maka pengertian indah akan menyiratkan nilai kejujuran dan kebaikan. Pandangan tersebut sesuai dengan yang dijelaskan Gie (1976) bahwa keindahan dalam arti luas mencakup pula ide kebaikan (mengacu pada pengertian bangsa Yunani kuno. seni dengan keindahan hendaknya dipersembahkan kembali kepada-Nya dalam produk seni ataui desain berbentuk simbol-simbol atau nyasa. karena . keindahan merupakan hal pokok yang harus diperhitungkan. maupun pada produk seni atau produk kriya tradisional yang adiluhung. kejujuran dan kebenaran. Oleh sebab itu. maka dalam setiap kegiatan adat-agama Hindu di Bali. Sehingga dengan melakukan persembahan keindahan berarti berbuat yajña. sebagai rasa terimakasih.

di dalamnya tersirat nilai-nilai luhur. Mengajarkan manusia agar berbuat dengan mengarah pada keselarasan. yang memberi kekuatan spiritual kepada seorang seniman untuk mengungkap dirinya menjadi “lebih besar” dari kehidupan sebelumnya (Mantra. Seorang seniman tari dapat dikatakan memiliki taksu. keindahan dan mujizat. dan keseimbangan. sehingga dapat tampil sebagai jati diri yang mandiri. taksu juga mempunyai arti sebagai kreativitas murni. sesama mahkluk maupun dengan alam di sekelilingnya. sehingga tetap tercipta “keindahan”. sehingga berkesan “hidup” . Taksu. 8. apabila mampu merefleksikan inner power pada produk visualnya. keserasian. Seorang perupa dikatakan produknya ber-taksu. sebab setiap insan memiliki taksu sebagai anugrah Tuhan yang perlu dilatih dan dikembangkan. Dalam kaitannya dengan pelbagai aktivitas budaya Bali. 1993) Konsep tersebut menuntun kesadaran manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. apabila ia mampu mentransformasikan dirinya secara utuh sesuai dengan peran yang ditampilkan. baik dengan Tuhan. merupakan personal asset atau inner power yaitu kekuatan dari dalam diri seseorang sebagai fitrah yang memberikan kecerdasan. genuine creativity.

sela- . “over acting”. Dalam konsep tersebut secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. Konsep pariwisata budaya diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan kebudayaan masyarakat Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. perlu juga ditopang atau dikendalikan oleh konsep-konsep lainnya yang telah dipaparkan. yaitu jenis kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu sebagai potensi daerah yang paling dominan. kadang dapat menjadi bumerang.dan sebagainya. sehingga tidak terjadi penampilan yang terlalu berlebihan. Taksu yang dimiliki akan berubah menjadi “kelemahan”. Namun dalam mensosialisasikan kesadaran tersebut. secara yuridis berdasarkan Perda Nomor 3 tahun 1974 juncto Perda Nomor 3 tahun 1991 yang menetapkan bahwa konsep pengembangan pariwisata di Bali adalah berbasis budaya Bali. Karena sikap tersebut. Demikian juga pengembangan pariwisata di daerah Bali. atau jangan sampai melewati batas norma-norma yang berlaku.

seperti fenomena eklektik atau “pemilihan” bentuk-bentuk atau ragam hias tradisional Bali yang sebenarnya dirancang dengan bentuk. maka fenomena tersebut merupakan suatu pergeseran makna dan dapat berakibat terjadinya “desakralisasi”. perkantoran. isi (content) atau bobot. rumah tinggal dan bahkan sebagai hiasan pada bagian tubuh dengan di-tatto. Karang Bhoma yang sebenarnya merupakan ragam hias pada bangunan-bangunan suci. Sebagai salah satu contoh yang dapat dijumpai dalam dasawarsa belakangan ini. sekarang banyak terlihat diterapkan sebagai elemen estetis pada hotel.ras. Namun pada kenyataannya tak jarang ditemukan juga “ketidaktaatan” dalam operasionalnya. Kalau dikaji dari sudut kesejarahan dan semiotika. dan nilai-nilai estetika yang khusus untuk diterapkan pada sarana pemujaan dan dianggap mengandung nilai simbolis dan sakral. dan seimbang. Walaupun sedemikian luhurnya maksud dan tujuan konsep yang melandasi strategi pembangunan di Bali. narasi. pengkaburan makna dan berkonotasi negatif. karena dalam pengerjaannya tidak mengacu pada referensi kesepakatan yang dibuat . namun kini banyak tampak diterapkan pada desain produkproduk profan atau tempat-tempat yang tidak sesuai. Produk yang dibuat tersebut kadang-kadang menampakan “kejanggalan”. Misalnya. Diupaya agar meminimalkan timbulnya dampak negatif terhadap kelestarian seni budaya Bali.

Penerapannya sematamata berorientasi pada faktor estetis dan komersial. sementara ada yang berpendapat bahwa hal tersebut “sah-sah” saja tergantung pada proses pengerjaannya.oleh leluhurnya di masa lalu dan nilai-nilainya masih eksis pada masyarakat Hindu di Bali. baik terhadap produk yang dipilih dan demikian juga terhadap desain yang diberi elemen estetis produk kriya tradisional yang sarat makna religius. Jika ditinjau kembali dengan merujuk konsep estetika yang mendasari strategi pembangunan di daerah Bali. Mereka memilih dan menerapkannya pada produk atau tempat yang bersifat profan dengan tendensi lebih mengutamakan segi pemampilan “artistik” semata. mereka kadang-kadang tidak mempersoalkan masalah eksistensi makna dan nilainilai filosofi yang dikandungnya. Menyikapi kondisi tersebut dalam masyarakat Bali terjadi polarisasi pandangan. Namun jika ditinjau dari sudut visualnya sebenarnya implementasi tersebut tidak sesuai dan dapat berdampak buruk. tanpa peduli akan terjadi pelunturan nilai-nilai filosofi. Jelas tidakan tersebut tidak relevan dan merupakan suatu sikap “ketidaktaatan. Dalam penerapan elemen estetis tradisional pada desain masa kini. terutama yang terkait dengan nilai-nilai simbolis religius yang dikandungnya. Produk yang tergolong high art sebagai hasil kebu- . di lain pihak ada yang memandang sebagai sesuatu yang baku dan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang keliru.

Sikap seperti tersebut tanpa disadari dapat mengancam spirit dan kelestarian budaya Bali yang dibanggakan dan dijadikan sebagai daya tarik utama dalam pengembangan kepariwisataan di Bali Dari uraian tersebut dapat diketahui. bahwa “masyarakat Bali” dalam mengaplikasikan konsep-konsep adati Hinduisme yang kini dijadikan sebagai landasan strategi pembangunan di daerah Bali. menjadi kehilangan ‘jiwa’ kesuciannya atau menjadi suatu produk yang lumrah.dayaan tinggi atau high culture yang adiluhung. khususnya dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan elemen estetis produk kriya tradisional. secara umum dapat digambarkan dalam suatu sekematik hubungan hirarki atau taksonomi pandangan tentang dunia (weltanschaúung) manusia Bali seperti Gambar 1 berikut: .

CITRA TRADISIONAL PENUNJANG KEPARIWISATAAN DI BALI Gambar 1: Taksonomi Pandangan Dunia Manusia Bali .NISKALA ASUMSI DASAR THEOLOGICAL CONCEPT KARMA PHALA RWA BHINEDA SIO NAL (HIDUP DI B U ER A MI) OP FORMITAS TOTAL KON CATUR PURUSHA ARTHA KEINDAHAN ("RASA") TAKSU TRI HITA KARANA DESA PATRA KALA JENGAH ETOS KERJA SKALA ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYATRADISIONAL MASA LALU DI BALI EXTERNAL (SUB SISTEM) PENGARUH -PARIWISATA -MODERNISASI /TEKNOLOGI DESAIN MASA KINI BERSIFAT KOMERSIAL: .

1989). baik berupa orang.EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A.) Dalam filosofi dan teologi. dan dalam Moeliono. 1983. metode. suatu usaha bersifat BAB II P . sistem. diartikan bahwa eklektik sebagai usaha memilih atau menggunakan bermacam-macam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya. et al. perpaduan atau mengkombinasikan beberapa sistem— karena masih meninggalkan kontradiksi yang belum dihilangkan (Encyclopaedia Britannica . Pengertian Eklektik erkataan eklektik dalam bahasa Yunani disebut eklektikos. perkataan eklektik mengandung pengertian. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Perancis. (1994). eklektik merupakan praktek memilih doktrin dari beberapa sistem yang berbeda tanpa memakai keseluruhan sistem yang lama untuk masing-masing doktrin.1995). kepercayaan dan sebagainya (Hornby. 2) mengkomposisikan beberapa elemen yang diambil dari berbagai sumber (Webster. eklegein berarti:1) memilih yang dipandang terbaik dari berbagai doktrin. Berbeda dengan sinkretisme —merupakan suatu usaha untuk menyerasikan. atau gaya.

gaya atau metode. bahwa eklektik tidaklah selalu menghasilkan sesuatu yang bersifat “merusak” norma-norma masa lampau akan tetapi dapat juga berarti sebagai bentuk “penghargaan” atau produk “nostalgia”. seperti elemen-elemen estetika tradisional) agar dapat berkomunikasi dengan publik dan . maka dapat dipahami. Dari uraian tersebut. memadukan gaya modern dan tradisional. namun bukan berarti eklektik tidak unik. Justru dengan perpaduan berbagai macam gaya akan melahirkan satu nuansa baru yang jelas berbeda dengan gaya-gaya sebelumnya. Hal tersebut juga sesuai dengan konsep Charles Jencks yang menggunakan pengkodean ganda atau double coding dan eklektik digunakan untuk menerangkan hakekat produk post modernisme. Dalam hal tersebut ia mendefinisikan postmodern sebagai” kombinasi teknik-teknik modern dengan sesuatu yang lain. sebenarnya eklektik tidak memiliki prinsip khusus dalam kreativitasnya. eklektik lebih merujuk pada perpaduan antara beberapa gaya yang saling bertolakbelakang. Bahkan pada perkembangannya dalam seni dan desain. Misalnya. namun gaya eklektik merupakan olah image dari perpaduan berbagai gaya. Jadi. Meski terkesan tidak memiliki prinsip. istilah eklektik dikenal sebagai upaya untuk mencampur atau meramu beberapa gaya yang berasal dari berbagai sumber dalam satu produk.memilih yang terbaik dari berbagai sumber tentang: orang. Dalam seni dan desain.

1977) dan menurut Moeliono. kriya dan kerja dalam bahasa Jawa disebut pekaryaan yang berarti pekerjaan dan pengertian tersebut mengacu kepada hasil suatu pekerjaan yang disebut ‘karya’. Hal tersebut. Perkembangan yang menampilkan multivariousness. B. mengingat unsur-unsur produk kriya masa lalu yang “dipilih” terkait dengan sarana penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu sesuai dengan adat di Bali dan nilainilainya masih diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. akan dicoba mengkaji mengenai dampak “negatif” yang ditimbulkan akibat eklektisme yang kurang terkendali. et al (1994) dijelaskan.minoritas yang terkait” (Jencks. maka dalam pembahasan selanjutnya mengenai masalah penerapan elemen produk kriya tradisional secara eklektik pada desain masa kini. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Kata kriya atau kria berasal dari bahasa Sansekerta “kr” yang berarti ‘mengerjakan’. kembalinya nilainilai tradisional dan juga reaksinya yang justru menekankan bentuk-bentuk baru yang radikal dan menentang seluruh ekspresi kesenian yang dianggap ideal dalam bingkai high art Berdasarkan pada pengertian tersebut. bahwa kriya berarti pekerjaan atau perbuatan (Wojowasito. bahwa per- .1987). Dalam Kamus Bahasa Kawi Indonesia dijelaskan. dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya.

Pengertian kriya sering diselaraskan pengertian handicrafts. namun sepanjang proses pembuatannya si pembuat atau kriyawan sepenuhnya dapat menguasai seluruh tahap produksi. Dalam Encyclopedia of World Art (1963) didefinisikan sebagai berikut: The word “handicrafts” refers to useful or decorative objects made by hand or with tool by workman who has direct control over the product during all stages of production. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek yang bernilai seni dan miliki nilai estetis. Sehingga kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan yang memungkinkan melahirkan nilai seni terapan atau dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini. Pengerjaannya bisa saja menggunakan bantuan peralatan kerja. maka cakupan kriya memiliki fleksibilitas yang . Atas dasar hal tersebut. Pengertian kriya juga sering dipadankan dengan istilah craft yang mengandung pengertian suatu keahlian atau keterampilan yang menghasilkan benda. Istilah tersebut dipergunakan untuk menyebut suatu cabang seni yang mengutamakan keterampilan yang luar biasa (virtousity) menggunakan tangan. Menurut Soedarso (1988) kriya adalah cabang seni rupa yang mengutamakan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi. bahkan untuk tujuantujuan tertentu dapat diciptakan peralatan khusus.kataan kriya berarti pekerjaan tangan.

bisa berada pada domain seni murni atau seni pakai atau seni terapan atau desain. Kriya juga disebut “industri rumah-tangga” atau home industry yang memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan . Hal tersebut membawa cara penilaian atau assessment estetika produk kriya tergantung dari wawasan atau persepektif ilmu yang dipergunakan untuk mendekatinya. Hal tersebut ada benarnya. bahwa pengertian kriya. Sedangkan pada masyarakat umumnya kriya sering disebut sebagai “seni rakyat”. karena sumberdaya manusia pelaku kegiatan tersebut umumnya rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan atau konsisten berbasis pada estetika tradisional. maka dapat disimpulkan. handicrafts atau craft adalah: 1. Sesuatu yang dibuat dengan kecenderungan lebih banyak melibatkan kemampuan atau keahlian tangan kriyawan atau virtousity 2. Bersifat dekoratif atau secara visual dibuat sangat indah dan dalam perujudannya dapat berupa produk seni murni atau seni terapan atau desain yang memiliki fungsi guna atau utility. Berdasarkan beberapa definisi dan ulasan tersebut. bisa memiliki ciri khas atau identitas. Jadi orientasi penciptaan produk mencerminkan kecenderungan-kecenderungan kepada salah satu dari kedua hal tersebut atau terkadang dapat merupakan perpaduan seni dan desain.tinggi.

Selain hal tersebut. yaitu samasama menggunakan keterampilan tangan dalam proses pengerjaannya dan benda yang dihasilkan dapat berupa produk seni atau produk pakai yang mengutamakan kegunaan atau utility. Karya kriya me- . Selain hal tersebut seni kriya juga sering didekatkan dengan istilah “kerajinan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan. Menurut Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan bahwa kerajinan adalah proses produksi melalui keterampilan tangan. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata. maka dapat dipahami bahwa antara kriya dengan kerajinan memiliki kesamaan ditinjau dari proses pengerjaannya dan pencapaian hasil. 2010). seperti: kerajinan logam. didalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skil yang tinggi craftmenship. Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. kulit. juga berarti industri kecil small scale industry yang membuat barang-barang sederhana dan bisa menggunakan unsur seni. sehingga sebutan jenis kerajinan dikaitkan dengan medium yang digunakan. batik dan sebagainya. Produk yang dihasilkan dapat berupa hiasan atau benda seni maupun barang pakai (Wikipedia. Namun antara seni kriya dan kerajinan secara prinsip terdapat perbedaan.peralatan sederhana. Berdasarkan pengertian tersebut.

religius. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan. para kriyawan menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). serta magis. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam. kegetolan. angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. Sebab pada masa lampau. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsur seni. Kerajinan suatu hal yang rajin. pikiran. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas dan mencerminkan jiwa zaman lampau. barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. yang kemudian disebut seni kerajinan .karakteristik. simbolis. kegiatan. Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat. filosofis dan sekaligus fungsional. yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. di dalamnya terkandung muatan-muatan atau nilai estetik.rupakan karya yang memiliki keunikan. komologis. Dalam Konsep tersebut termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual.

di mana pembedaan kategori dianggap tidak berlaku lagi. Kecenderungan saat ini mengusung pemahaman bahwa media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. dan subject-matter dalam seni rupa sudah benar-benar campuraduk. Perkembangan karya menampilkan multivariousness. terjadi gejala mempertontonkan identitas invidual. Menurut Julian Stallabrass dalam "Contemporary Art" mengatakan bahwa sekarang ini bermacam-macam bentuk. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang membuat seni kriya mengikuti nazab seni yang sedang berkembang. Dalam kreativitas penciptaan karya kriya. Namun. Sekarang jamannya permainan tanda-tanda budaya glo- . di sisi lain. seperti karya kriya kontemporer. Sebutan "kriya kontemporer" (yang merupakan padan kata dari contemporary craft) sendiri sebenarnya mengandung paradoks karena di satu sisi ia menempatkan dirinya pada suatu kategori "kriya" (craft) yang berseberangan atau setidaknya terpisah dari "seni" (art). sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa kriya seni. teknik. Selain hal tersebut juga terjadi reproduksi karya masa lalu yang diwarisinya dengan tujuan untuk menampilkan karya kriya etnis.Dewasa ini penciptaan produk kriya di satu sisi mengarah pada estetika plural. sebutan kontemporer seolah mengacu pada paradigma seni masa kini yang dilandasi pandangan postmodernisme.

filosofis. Bertolak dari uraian tersebut. Dalam kaitan tersebut. produk kriya diciptakan mengarah pada “komersialisasi” produk dan dianggap sebagai barang komuditi yang memiliki milai ekonomis. maka yang dimaksud dengan elemen estetis produk kriya tradisional Bali adalah mengenai unsur-unsur atau bagian-bagian yang mengandung nilai-nilai estetik. bersifat tradisional. . Untuk lebih jelasnya nilainilai yang dikandung dalam produk kriya dapat ditelusuri dari perkembangan penciptaan produk kriya. dan sakral. simbolik. adiluhung dan terkait erat dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. kosmologis. Seperti diuraikan pada BAB III berikut. Estetika menjadi praktik normatif dalam menciptakan unique selling point.bal yang melingkupi budaya tradisi. budaya modern dan budaya masa kini. Produk seni kriya dapat mengambil posisi strategis di tengah mengeliatnya isu seni rupa kontemporer dan pasar seni rendah dengan kuantitas massal. maka parameter pengukur nilai estetika produk kriya adalah uang. merupakan hasil pekerjaan tangan para kriyawan secara konvensional.

akurat dan tuntas. Denpasar. Namun berdasarkan benda etnologi yang tersimpan di Museum Bali. Tingkat perkembangannya ditentukan oleh berbagai faktor. Gianyar dan didukung dengan beberapa buku yang terkait. Penggunaan dan penciptaan produk kriya tradisional Bali dewasa ini adalah merupakan bagian dari mata-rantai sejarah perkembangan kebudayaan Bali sejak berabad-abad yang silam. maka dalam penelusuran perkembangan dan motivasi penciptaan produk kriya dalam masyarakat Hindu di Bali. dinamika dan perubahan lingkungan budaya internal maupun eksternal. Museum Gedung Arca. karena keterbatasan referensi dan data berupa artifak-artifak yang ada. Sejarah Penerapan Produk Kriya emaparan produk kriya di Bali secara hitoris mengenai awal penciptaan dan penggunaan-nya dalam kehidupan masyarakat di Bali adalah merupakan hal yang sangat sulit diungkap secara tuntas. Bedulu. BAB III P Sehubungan dengan hal tersebut. tidaklah mungkin dapat dipaparkan secara kronologis. seperti tingkat peradaban.PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI A. maka secara sinkronis atau berdasarkan penggalan sejarah dapat ditelusuri sebagai berikut: .

gangguan binatang buas. Dalam terminologi antropologi disebut dengan kepercayaa animisme dan dinamisme. Seperti terjadinya kelahiran. Zaman Pra-Hindu. penduduk yang menghuni pulau Bali masih hidup dengan pola nomaden. petir. Pada saat tersebut. tanduk dan batu yang dikerjakan dengan cara sangat sederhana. kematian. Pola pikirnya masih terbatas pada tingkat pemenuhan kebutuhan hidup berupa makanan dan belajar secara alamiah dari gejala-gejala atau kejadian-kejadian alam yang pernah dialaminya. sebagai pemburu dan peramu. timbulnya api. sehingga hasil produk yang ditinggalkan tampak relatif masih kasar. dan sebagainya. Sebelum kedatangan gelombang migrasi bangsabangsa pendukung kebudayaan Neolitikum dan Perunggu dari dataran Asia Tenggara. membuat mereka harus waspada dan seolah-olah selalu dibayangi oleh perasaan takut. berpindah-pindah. kejadian gunung berapi. Kejadian-kejadian tersebut.1. Pulau Bali —seperti halnya beberapa pulau lain di Nusantara— dihuni oleh penduduk yang tergolong ras Negrito yang mengusung kebudayaan Paleolitikum (Koentjaraningrat. memohon keselamatan dan memuja atau percaya dengan kekuatan alam. tulang binatang. mengembara. angin. seperti berupa kapak batu yang tergo- . hujan. tanah longsor. Dalam melakukan aktivitas hidupnya didukung dengan peralatan kerja berupa produk kriya terbuat dari ranting kayu. 1971).

long jenis kapak perimbas.P. seperti: di daerah Sembiran. Badung ditemukan beberapa buah sudip dan tiga buah alat tusuk terbuat dengan tulang binatang atau tanduk rusa dan di daerah lainnya. Gambar 2: Kapak perimbas dari batu peninggalan zaman Palaeolithikum (Zaman Batu Tua) . Di antaranya berhasil ditemukan Bali oleh R. di Gua Seloding. Buleleng. desa Pecatu. Soejono. kapak genggam dan sebagainya.

Gambar 3 Kapak Gengngam dari Batu Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda Gambar 4 Kapak dari Batu Bertangkai Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda) .

mulai hidup bertempat tinggal di suatu daerah dengan batas-batas wilayah tertentu yang disebut pedukuhan. Penduduk Bali secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup nomaden. Hal tersebut menjadi dasar berkembangnya kepercayaan syamanisme. 1994).Produk kriya berupa peralatan kerja yang ditinggalkan tersebut. belajar bercocok tanam dan bermasyarakat. belum tampak usaha untuk memperindah penampilan dan kenyamanan (ergonomis). lebih mengutamakan kegunaan. muncul etiket saling menghargai antar sesama dan berkembang tradisi menghormati orang yang dituakan. tokoh-tokoh masyarakat atau orang yang dianggap memiliki kekuatan tertentu. Kemungkinan juga peralatan tersebut diambil langsung dari alam serta digunakan hanya sekali pakai. Mereka percaya. Dalam masyarakat yang terbentuk saat tersebut. —migrasi orang-orang Proto Melayu dan tergolong ras Mongoloid. kemudian ditinggalkan ke tempat lain (Sutaba. diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2500 SM— maka mulailah terjadi integrasi dengan kebudayaan dari luar (Suwondo. bahwa roh yang ada di sekeliling manusia dapat merasuk ke tubuh seseorang melalui suatu ritual tertentu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. tampak bersahaja. 1980) Kemudian dengan kedatangan gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Neolitikum. 1977-1978). yaitu suatu ajaran berdasarkan keyakinan. seperti. bahwa roh .

perilaku tersebut disebut fetisisme. 1980). Beberapa peninggalan produk kriya yang mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum berupa peralatan . belincung. Proses pengerjaannya dengan cara digosok menggunakan batu lain sampai halus (Sutaba. Menganggap suatu benda memiliki kekuatan magis atau bertuah dan dapat menyelamatkan atau merusak kehidupannya. Produk kriya tersebut dibuat sebagai simbol penghormatan atas jasa orang yang meninggal. Pengaruh kebudayaan Neolitikum terutama tampak dalam penciptaan produk kriya berupa peralatan dari batu. Seperti menyembah batu.orang yang meninggal dapat berpengaruh terhadap kehidupan di dunia ini. Atas dasar kepercayaan tersebut. seperti bekal kubur (funeral gifts). Mereka mampu menciptakan produk-produk dari batu dengan disertai usaha-usaha untuk memperindah penampilan dan memikirkan segi kenyamanan dalam pemakaiannya. seperti kapak persegi. pahat pembelah batang kelapa dan sebagainya. Kepercayaan animisme dan dinamisne juga semakin tumbuh subur di masyarakat Mereka percaya dengan kekuatan-kekuatan metafisis yang dimiliki oleh suatu materi. maka berkembang gejala simbolisasi dan penghargaan atau pemujaan terhadap suatu benda. pohon dan di antara produk-produk kriya yang diciptakan juga dihargai dan dipuja sebagai benda bertuah atau sebagai simbol-simbol tertentu. beliung. dalam terminologi antropologi.

terbuat dengan batu. Cina. Unsur-unsur kebudayaan tersebut diterima dan diadaptasi. sehingga mampu menghasilkan beberapa jenis produk dari perunggu yang cukup berkualitas. besi. tembaga. sehingga memperkaya kasanah kebudayaan Bali di masa lalu. Bantiran. Dalam perkembangan selanjutnya. Misalnya di Palasari. dan sebagainya. diperkirakan sekitar tahun 600-300 SM. datang gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Perunggu yang disebut juga migrasi orang-orang Deutro Melayu. Hindu. Nusa Penida dan di daerah lain. seperti ditemukan di beberapa tempat di Bali. mereka tidak hanya mengutamakan kegunaan semata. maka di Bali terjadi akulturasi antara kebudayaan batu dengan perunggu. dan sebagainya. kuningan. Denpasar dan Ge-dung Arca. Dalam penciptaan produk-produk kriya tersebut. disimpan di Museum Bali. seperti masuknya pengaruh kebudayaan Budha. Demikian juga pengaruh-pengaruh dari luar terus berlangsung. Cara penciptaan produk kriya untuk penunjang aktivitas hidupnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. Gianyar. tetapi keindahan penampilan produk juga mu- . Dengan kedatangannya. karena mereka mengenal bijih logam dan cara peleburannya. Kemampuan tersebut terus ditingkatkan. Mesir. seperti: emas. Kebudayaan masyarakat di Bali semakin tumbuh dan berkembang. Bedulu. Sekarang benda-ben-da itu. perak.

yakni berupa sebuah nekara perunggu yang ditemukan di desa Pejeng. Digunakan untuk genderang perang atau sarana upacara memohon turunnya hujan (Kartodirdjo. di antaranya berupa hiasan yang . Mempunyai ukuran luar biasa dengan tingggi 1. 1976). Gianyar detail hiasan wajah manusia 1m hias an waj ah man usia Gambar 5. Pola hias yang diterapkan.60 m. Gianyar Nekara tersebut berbentuk selinder atau dadang terbalik. Hal tersebut dapat dilihat pada artifak yang sangat menakjubkan.lai diperhatikan.96 m dan bidang pukulnya bergaris tengah 1. Nekara Perunggu Ditemukan di Pejeng.

Benda atau hiasan tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis atau bertuah yang memberi perlindungan dan keselamatan kepada kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya (Soejono. Salah satu contoh peninggalan berupa peti terbuat dengan batu (sarkofagus) digunakan untuk tempat mayat. 1960). bulu burung. binatang. diduga berlangsung melalui dua “pengaruh”. Penerapan ragam hias tersebut. pola tumpal yang tersusun bertolak belakang. pembuatan produk kriya selain menggunakan logam juga dengan bahan-bahan lain. anyamanyaman bambu dan mengukir batu sebagai perkembangan kebudayaan Neolitikum. 3. selain bertujuan sebagai dekorasi. Pada masa tersebut. seperti tanah liat yang dibakar atau tembikar.distilasi dari bentuk wajah manusia. . merupakan personifikasi nenek moyangnya yang telah meninggal. Zaman Hindu (Pengaruh dari India dan Majapahit) Pengaruh kebudayaan Hindu yang masuk ke Pulau Bali. seperti penerapan hiasan empat pasang topeng wajah manusia. empat pasang topeng dan lain sebagainya (Kempers. 1975). juga sebagai simbol yang mengandung makna terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Pada sarkofagus tersebut tampak ditatah langsung berupa hiasanhiasan dan simbol-simbol terkait dengan kepercayaan mereka.

Sidetapa. Dalam ekspedisi tersebut terjadi perang melawan penduduk Bali asli dan berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Gajah Mada. Karangasem. Desa Trunyan. Pedawa. . 1953) dan pengaruh kebudayaan Hindu yang berasal dari Pulau Jawa. sekitar abad 8 M (Djawatan Penerangan Propinsi Suda Ketjil. diduga berlangsung sekitar abad 10 M. Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dari Majapahit ke Bali. baik yang dibawa oleh orang-orang Drawida maupun Arya pada masa-masa Raja Maya Denawa berkuasa di Bali. Persebaran kebudayaan Hindu dari Pulau Jawa. diawali dengan ekspedisi di bawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada (Prabu Wisnuwardana) pada tahun 1343. Kekalahan tersebut mengakibatkan penduduk Bali asli. Hubungan tersebut terus berlangsung pada zaman Kerajaan Singosari dan puncaknya terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad 14 dan 15 M (Suwondo. Sembiran. Bangli. yaitu saat Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Tri Bhuwana Tungga Dewi Djaya Wisnuwardana). Kedisan. yaitu sejak terjadi hubungan antara masyarakat Bali dengan Kerajaan Medang Kemulan di Pulau Jawa. seperti di Desa Tenganan. 1977/1978). Songan. Kubu dan Sukawana. 1972). akhirnya terdesak ke daerah pedalaman. Julah. Cempage.yaitu pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa langsung dari India. dan di daerah lainnya di Buleleng (Covarrubias.

Indra. . Seluruh unsur kebudayaan tradisonal Bali dominan dijiwai oleh agama Hindu dan sebaliknya wujud kebudayaannya kembali diabdikan untuk keperluan agama. Bayu. kekuatan alam atau dewa-dewa penguasa alam gaib.1986). Brahma. di mana gunung dianggap utara dan sebagai tempat yang bersih atau suci sedangkan laut adalah selatan sebagai tempat yang kotor atau tempat pembersihan. seperti: Sambu. ternyata membawa pengaruh yang cukup besar terhadap konstelasi kehidupan masyarakat di Bali. Gunung dianggap sebagai alam arwah dan sekaligus sebagai waduk alamiah yang mengairi dataran rendah di Pulau Bali sepanjang tahun. roh nenek moyang. Percaya dengan alam nyata dan tidak nyata. Sebagai penganut sekte-sekta. bahasa yang digunakan umumnya menggunakan Bahasa Bali Kuno dan tidak mengenal tingkatan bahasa (bahasa halus-kasar) Masuknya kebudayaan Hindu ke Bali. dan konsep utara-selatan (kaja-kelod atau dulu dan tebén) dengan berpedoman pada laut dan gunung (segaraukir). Wisnu. Namun mereka telah memiliki sistem kemasyarakatan yang mapan dengan kebiasaan berbeda dengan penduduk Bali lainnya. Daerahnya dibatasi hutan belantara. dan Kala (Soeka. Sehingg terjalin hubungan yang saling berkait seperti pada Gambar 6. Mereka tidak mengenal sistem Kasta.Penduduk di Pulau Bali saat tersebut jumlahnya relatif sedikit di bandingkan sekarang.

(2) Adat istiadat dan hukum adat. Unsur Kebudayaan Bali Dijiwai Agama Hindu Keterangan  Lima unsur dominan dalam tata kehidupan tradional di Bali.    . Anak panah melengkung pada gambar tersebut menunjukkan hubungan antar unsur. dan sebagainya. menunjukkan segala produk kebudayaan kembali diabdikan atau dipersembahkan untuk agama. (3) Seni budaya. seperti: (1) Filsafat hidup atau pandangan hidup masyarakat.Gambar 6. tari. seperti: berupa seni rupa. dan (5) Keseluruhannya dilandasi dengan ajaran Agama Hindu. tata cara upacara di pura. (4) Organisasi sosial tradisional. Anak panah munuju kearah keluar lingkaran besar. bangunan tradisional. Anak panah menuju kearah pusat lingkaran besar menunjukkan bahwa semua unsur bertumpu pada ajaran Agama Hindu.

Kayangan Catur Lokapala. Kayangan Rwabhineda dan memperlebar Pura Besakih dan sebagainya (Purnata. Sistem tersebut diajarkan oleh Resi Markandeya berasal dari Jawa Timur.Tata cara bercocok tanam tradisonal dan sistem pengairan atau subak dikembangkan berdasarkan konsepsi Agama Hindu. Mengajarkan tata cara pembuatan Kayangan atau Pura. Kayangan Tiga —terdiri dari: Pura Desa. Pura Puseh dan Pura Bale Agung— untuk melengkapi Desa Pekraman. Mengajarkan pembuatan Sadkahyangan Jagat. Sedangkan Dang Hyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra (juga terkenal dengan sebutan Peranda Sakti Wawu Rawuh) —seorang agamawan dan pujangga besar dari Jawa Timur— datang ke Bali ketika Keraja- . Menyusun sistem organisasi kemasyarakatan berdasarkan ajaran Agama Hindu yang disebut Desa Pekraman atau Desa Adat. 1977 /1978). Empu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11. seperti. Sarana dan prasarana keagamaan mengalami perkembangan dan pembenahan sejak datangnya Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirarta dari Jawa Timur. Ia mengembangkan konsep Tri Murti untuk pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma ‘pencipta alam’ ke arah laut. Wisnu ‘pemelihara alam’ tengah dan Šiwa ‘pelebur alam’ ke arah gunung. yaitu pada zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan di Bali diperintah oleh Raja Marakata dan Anak Wungsung.

mempunyai peranan yang sangat penting. seperti karang asti. Salah satu contoh. Klungkung dipemerintah oleh Dalem Waturenggong (1460-1550). Naga Basuki. Ananta Boga. 1945). dalam pembuatan Pelinggih Padmasana. Keberhasilannya adalah memperjelas “kekaburan” antara tempat pemujaan Tuhan dengan roh leluhur. Pedharmaan. dan sebagainya. Kinara Kiniri. Sada Šiwa (Bwah Loka atau alam Tengah) dan Šiwa (Bhur Loka atau alam bawah). yaitu untuk pemujaan Tuhan. karang goak. Achentya dan sebagainya yang terkait dengan konsepsi Tri Murti dan Tri Purusa. . seperti patra punggel. seperti berupa wadah. yakni dengan membuat pelinggih berupa Padmasana.an Gelgel. sedangkan Pura Dadia. menunjang keperluan sehari-hari. patra sari. Purnaghata. Penciptaan produk-produk kriya pada zaman tersebut. seperti. Paibon untuk pemujaan roh leluhur (Wiana. karang bentulu. mas-masan dan sebagainya serta kekarangan. berupa alat pertanian. Perwujudan dalam bentuk simbol. seperti Empas. simbol maupun sebagai hiasan. Dia mengembangkan konsep Tri Purusa yang terdiri dari: Parama Šiwa (Swah Loka atau alam atas). terutama untuk sarana pemujaan. patra welanda. Kedatangannya sangat berpengaruh dalam pengembangan dan penyempurnaan ajaran Agama Hindu di Bali serta turut membawa Kerajaan Gelgel ke zaman keemasannya. Kalpa Warksa. Hiasan yang diterapkan berupa pepatran.

Seperti seni tari. Kerajaan Gelgel (1380 -1460) dengan masa keemasan pada saat pemerintahan Raja Dalem Waturenggong sampai Kerajaan Klungkung. bahwa kesenian termasuk produk-produk kriya pada zaman tersebut. tembaga). besi. tanggal 5 tahun Šaka 818) ( Simpen. pagending (penyanyi). pabunjing (penari).turun di panglapuan di Singamandawa. parbwayang (wayang).. Jawa Timur. partapukan (topeng).. seperti kerajaan Bedahulu (1324-1343) dengan rajanya yang terkenal bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten. juga dipakai sebagai media pendidikan atau komunikasi dalam masyarakat. dan sebagainya. Seperti dalam bentuk pagelaran topeng. Hal ini dapat diketahui dari Prasasti Bebetin. juga mengalami perkembangan diwarnai dengan pengaruh kebudayaan Jawa dan sarat dengan misi pembinaan umat Hindu. pamukul (juru tabuh). tahun Šaka 818 (896 M). di bulan besakha Cuklapancami. Kerajaan Samprangan (13511380) dengan rajanya Sri Kresna Kepakisan berasal dari Daha (Kediri).. tembaga (kriyawan atau “tukang” emas. pabangsi (juru rebab). 1974) Prasasti tersebut memberi petunjuk. yaitu salah satu kerajaan di Bali yang pa- . nomor kropak M55 dijelaskan: . besi. rge pasaran Wijayamanggala. pertunjukan wayang. wayang dan sebagainya. tari topeng. Pada zaman tersebut di Bali sudah berdiri kerajaan-kerajaan.. (dibuat oleh pegawai di Singamandawa pada bulan ke-10.pandê mas.Di bidang kesenian lainnya.

Dalam kaitan dengan sistem kerajaan. Sehingga melahirkan produk-produk yang unggul dan adhiluhung. maka peranan penciptaan produk-produk kriya saat tersebut memiliki kecenderungan untuk melaksanakan tugas yang dilandasi dengan semangat kebanggaan dan dedikasi kepada raja dan keluarga raja. Kedatangannya disambut dengan tata . Jadi berorientasi pada puri atau istana centris. 1990:4). saat diperintah oleh Raja Dalem Sagening. Pada tahun 1597 sempat mampir di Kerajaan Gelgel (Bali). dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para raja dan keluarganya yang bersifat hedonistik atau sebagai simbol status sosial. bangunan istana raja.ling terakhir dikuasai oleh Belanda dalam perang Puputan pada tanggal 28 April 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe. Oleh sebab itu. kegiatan penciptaan produk-produk kriya tampak lebih berkembang di sekitar pusat kerajaan dan di bawah patronage kerajaan (Joedawinata. 4. umumnya dibuat lebih megah dibandingkan dengan perumahan rakyat dan sebagainya. Sebagai contoh. produk kriya berupa keris atau atribut raja dibuat dengan sangat indah. Zaman Kolonial Ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk menemukan sumber rempah-rempah di dunia timur. Produk kriya yang diciptakan saat itu tampak lebih mengutamakan segi keindahan.

Keadaan tersebut menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat di Bali. dalam pendidikan. kesehatan. Pada saat tersebut. artinya “Belanda Muda”. misalnya. Impian tersebut akhirnya benar menjadi kenyataan.cara yang sangat hormat. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Be-landa dengan sebaik-baiknya untuk menulis mengenai Bali. Bagi Belanda. Mulai saat itu pamor kekuasaan para raja semakin memudar di mata rakyat Bali. menyebabkan muncul kelompok-kelompok elite atau golongan atas baru dalam masyarakat dan memperkenalkan ide-ide baru. dalam julukan itu sebenarnya teselip suatu ambisi atau impian untuk menjadikan Bali sebagai wilayah kekuasaannya. menanamkan pengertian tentang pentingnya hidup non-agraris dan sebagainya. Sistem pemerintahan tersebut. yang ditujukan untuk Pulau Bali. karena kunjungannya tersebut dengan dalih ingin menawarkan ikatan persahabatan. . Belanda juga melontarkan suatu julukan “Jonck Hollands”. setelah Belanda mampu mengalahkan perlawanan para raja Bali dalam perang puputan (terakhir tahun 1908). yang nantinya akan ditingkatkan menjadi hubungan perdagangan. karena kekuasaan kerajaan “feodal” secara berangsur-angsur diganti dengan sistem pemerintahan kolonial “modern” menurut cara Belanda. terutama mengenai segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan Raja Dalem Sagening.

Sistem pendidikan itu dikenal dengan . karena dikawatirkan dapat “merusak”. pemerintah kolonial Belanda berkeinginan untuk mengembangkan potensi tersebut untuk dijadikan objek wisata. terdapat pura hampir di seluruh pelosok Pulau Bali dan sebagainya. Dalam menyusun strategi pengembangan ke arah tersebut. seperti mengembangkan sistem pendidikan kolonial yang disesuaikan dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu di Bali. sebagai “museum hidup” dan menjadi tontonan semata. Pemasukan berupa devisa hanya diharapkan dari pemungutan pembayaran yang dikenakan pada para wisatawan yang berkunjung (Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Ketjil. Misalnya. diupayakan dengan mengangkat tenaga pendidik lokal. 1953) Langkah-langkah lain yang dilakukan dalam upaya pelestarian itu. seperti pelajaran menggambar diajarkan oleh “Guru Adat” (seniman tradisional).Di sisi lain. seperti memiliki beraneka ragam jenis kesenian tradisional. Belanda juga sangat tertarik dengan keindahan alam dan kehidupan kebudayaan masyarakat di Bali yang memiliki ciri tersendiri. upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di Bali. Sehubungan dengan hal tersebut. Pemerintah Belanda menginginkan agar keindahan alam dan kebudayaan Bali menjadi objek wisata budaya. maka mereka selalu konsisten untuk menjaga kelestariannya dan berusaha untuk mengisolasi dari penetrasi pengaruh-pengaruh kebudayaan eksternal.

meneliti dan menulis berbagai aspek tentang Bali. 1991/1992). usaha tersebut cukup menggetarkan keinginan banyak orang termasuk para penulis dari barat lain-nya untuk melihat Bali secara langsung. Kemudian tulisan-tulisan tersebut didistribusikan ke seluruh dunia. kapal dagang Belanda K. V. E. dikembangkan oleh H. Sekitar tahun 1920. WF.M . di bawah pimpinan Leifrinck dan Van der Tull. Selain itu. Kemudian di Denpasar pada tahun 1932. medirikan Gedong Kirtya yang digunakan sebagai perpustakaan untuk menyelamatkan lontar-lontar yang berisi sastra lama dan segala aspek tentang Bali. (Putra.sebutan Balisering. ketika menjadi guru HIS di Klungkung. De Kat Angelino dengan tulisannya berjudul “De Leak op Bali” (1923). Goris menulis buku berjudul “Secten op Bali” (1933). Walhasil.Van der Tuuk. R. te Flierhaar —seorang tokoh pendidik dari Negeri Belanda— pada tahun 1920. dilakukan dengan mendatangkan beberapa pakar dalam berbagai disiplin ilmu dari negeri Belanda untuk mempelajari.P. Korn menulis buku berjudul “Het Adatrecht van Bali” (1932) dan yang lainnya. P. di Singaraja pada tahun 1928.N. Kroos mendirikan sebuah bangunan digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu dan sekarang dijadikan Museum Bali. Sedangkan dalam usaha mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata. Di antaranya H. menulis tentang “Kawi-BalineeschNederlandsch Woordenboek” (1912).

Sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan di Bali saat itu kurang memadai. Melihat peluang tersebut. sehingga para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya di Bali mulai merasakan nilai ekonomis atau nilai tukar dari produk kriya yang diciptakan atau diusahakannya. Pada masa tersebut. Upaya pengembangan tersebut secara tidak langsung akhirnya berpengaruh pada kegiatankegiatan lain di Bali. Namun kebanyakan wisatawan dalam rombongan tersebut merasa puas setelah meninggalkan Pulau Bali. sehingga banyak di antara mereka terpaksa tidur dalam kapalnya. pesanggrahan di Kintamani dan di Pelaga. dan sebagainya. maka dalam pengembangan selanjutnya mulailah diadakan pembenahan sarana dan prasarana yang terkait. Misalnya pada kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya.(Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dialihfungsikan untuk mengangkut rombongan wisatawan Belanda pertama mengunjungi Bali. perbaikan sarana transportasi. seperti membangun Hotel Bali di Denpasar. Motivasi atau semangat penciptaan produk yang dulunya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan ke- . Penciptaan tersebut termotivasi oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat. para kriyawan dengan “serta merta” mulai aktif menciptakan produk-produk kriya untuk dijadikan mata dagangan berupa produk kriya lokal sebagai cenderamata.

pembangunan di daerah Bali yang dilaksanakan berdasarkan program Repelita dan dengan strategi pembangunan daerah seperti tampak pada Gambar 7. maka situasi dan kondisi masyarakat di Bali mengalami perubahan cukup drastis. Pada masa selanjutnya. Di bawah penguasaan Jepang yang berlangsung dalam waktu relatif singkat sehingga pengembangan sektor pariwisata kurang mendapat prioritas. ternyata mengalami perkembangan cukup pesat. .rajaan. 5. karena harus menerima kekalahan dalam menghadapi semangat hegemonisme Jepang. namun pada saat tersebut mulai muncul gejala yang mengarah pada komersialsasi produk kriya. Zaman Kemerdekaan Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang ini (lebih kurang seperempat abad silam). 1988). Jepang lebih terfokus pada ambisinya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. Dalam kurun waktu tersebut. Walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan kendala. dengan meletusnya Perang Dunia ke-II. Dengan kekalahan Belanda. kemudian disuguhkan untuk para wisatawan. (Mirsa. Dalam kreativitas penciptaan produk berciri khas Bali mulai terjadi gejala reproduksi atau tindakan eklektik terhadap unsur-unsur produk masa lalu yang diwarisinya. maka pengembangan pariwisata di Bali tidak dapat diteruskan lagi oleh pemerintah Belanda. karena saat tersebut.

Delapan Jalur Pemerataan 2. 1991) A. Pendekatan Regional Gambar 7. Pengembangan identitas Bali 1. Pembangunan Sektor Pertanian b. Bagan Strategi Dasar Pembangunan Daerah Bali . Pembangunan Sektor Pariwisata c. Pemenuhan Kebutuhan Dasar b. Pelestarian nilainilai budaya. Pembangunan Sektor Industri SOSIAL a.2. agama dan warisan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan B. Mendorong Partisipasi Aktif dari Masyarakat dalam Pembangunan TUJUAN INTI ARAH IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN ALAT UKUR YANG MENGARAHKAN PADA KESERASIAN DAN KETERPADUAN Sumber: (Oka. Peningkatan dan Perluasan Sarana dan Prasarana Sosial c.TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PEMERATAAN TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI a.2.

Demikian juga industri kecil dan rumah tangga yang bergerak dalam usaha penciptaan produk kriya. yang kembali dibangkitkan oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950. kini terus dibina dan dikembangkan. ternyata mendapat respons cukup besar dari masyarakat petani di Bali. Pembangunan sektor pariwisata di Bali. ternyata memberi peningkatan perekonomian yang cukup signifikan bagi masyarakat di Bali.Dari sekema tersebut dapat diketahui. Hasil pembangunan ketiga sektor tersebut. Sehingga hasilnya tampak jelas dari Pelita I sampai V mampu membawa masyarakat Bali ke tingkat swasembada pangan. karena kemantapannya yang kuat sebagai masyarakat pewaris budaya agraris. pariwisata dan industri kecil. prospektif dan sesuai . transportasi atau biro perjalanan. bahwa tujuan pembangunan bidang ekonomi di Bali adalah berorientasi pada pertumbuhan sektor pertanian. seperti semakin menjamurnya usaha di bidang perhotelan. toko kesenian. berbagai jenis industri kecil dan rumah tangga dan sebagainya. dengan tetap memakai potensi budaya sebagai daya tarik utama. Sektor tersebut memberi oportunitas cukup besar untuk tumbuh suburnya berbagai bidang usaha. garmen. seperti pada Pelita I yang dimulai sejak tahun 1969 dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. Pemerintah menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu cabang industri alternatif yang strategis.

Kebijakan tersebut . karena pada dasawarsa belakangan ini pemerintah Indonesia semakin mengkonsetrasikan perhatiannya pada sektor tersebut. tampak semakin mantap dan dengan kecenderungan mengarah kepada hal yang bersifat “komersial”. humanisasi proses kerja. Malah pada tahun 1990-an terbukti produk-produk kriya sempat dijadikan sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor di luar minyak dan gas alam (LNG) Liquid Natural Gas. salah satunya seperti program OVOP (one village one product). karena memiliki karakteristik antara lain.dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara. Kondisi tersebut semakin terpacu. maka pada era kemerdekaan. Dengan dukungan pemerintah dan perkembangan pariwisata di Bali yang cukup pesat. sehubungan dengan upaya untuk memperoleh sumber dana penunjang pembangunan nasional. Para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya masa kini merasa semakin bergairah dalam usaha tersebut. sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja (mass employee) berakumulasi modal kecil. usaha perluasan atau enlargement penciptaan produk-produk kriya. dan sebagainya. Sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat di pedesaan serta dapat memperlambat laju urbanisasi. karena termotivasi oleh nilai ekonomi yang dapat dinikmati dari produk kriya yang diciptakannya. Berbagai program telah diluncurkan terkait dengan hal tersebut.

Agama Hindu sering diberi sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan nama daerah di mana Agama Hindu tersebut tumbuh dan berkembang. hingga sampai ke Indonesia. Wiswamitra. Pelaksanaan Ajaran Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali Agama Hindu berasal dari lembah Sungai Sindhu di India. mengalami penurunan dipasaran dunia dan diikuti oleh resesi dunia pada saat tersebut (Joedawinata. 1990) B. Wamadewa. Di tempat tersebut.ditempuh oleh pemerintah. salah satunya. Terjadinya hal tersebut. Wasista dan Kanwa. Hindu Jawa. yaitu: Maharesi Grtsamada. sehingga da- . ajaran diterima dari Tuhan dalam bentuk wahyu suci oleh tujuh orang Maharsi. Di Indonesia. mengingat ekspor andalan Indonesia berupa bahan-bahan mentah yang dibutuhkan oleh industri pengolahan di luar negeri. Hindu Kaharingan dan sebagainya. Baradwaja. seperti disebut Agama Hindu Bali. karena dalam tata cara pengamalan ajarannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi budaya masyarakat penganutnya atau disesuaikan dengan desa. Kemudian ajaran tersebut disebarkan keseluruh dunia melalui para pengikutnya. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali 1. Atri. Ajaran tersebut dikumpulkan dan disusun kembali oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk kitab suci yang disebut Weda. kala dan patra.

sebab ajaran Agama Hindu memberi tuntunan yang bersifat lentur.lam perkembangannya di masing-masing daerah di Indonesia. Namun inti ajaran Agama Hindu yang dianutnya tetap satu bersumber pada ajaran Weda. karena mereka telah menaruh upacara tersebut dalam batinnya (adyâtmika). maka sarana dan prasarana yang bersifat lahiriah. dibenarkan mengamalkannya dengan tanpa sarana upacara dan tidak memilih tempat serta arah tertentu. mutlak akan diperlukan dalam mengamalkan ajaran Agama Hindu di Bali (Sugriwa. Seperti yang . Seperti bunga yang bersemayam dalam batin yang tak pernah layu (puspa tan alun). seperti produk-produk kriya berupa simbol-simbol atau nyasa yang bersifat sakral. Hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Agama Hindu. Kondisi tersebut memang menungkinkan untuk terjadi. api yang tidak pernah padam (geni anglayang). tampak memiliki etos kebudayaan Hindu yang berbeda. air amerta batin yang tidak pernah kering (Šiwambhâ-dhyatmika) dan dapat manunggal dengan Tuhan atau purusa katemunta mareka si tan katemu. suara sukma yang tidak pernah putus (swaraning genta pinara pitu). Misalnya bagi umat Hindu yang telah “ahli” dalam teori dan praktek ilmu ketuhanan (teologi). Namun umat seperti tersebut populasinya sangat sedikit dapat dikatakan satu per mil atau sewu tinunggal. tt). Berdasarkan hal tersebut.

Pada garis besarnya dapat dijabarkan menjadi tiga bagian.disebutkan pada Bhagawag Gîtã. Jadi pada dasarnya ajaran tersebut “membenarkan” penggunaan sarana . Sama Weda. Artinya: Apapun yang kau kerjakan. sloka IX-26. 1995). lakukanlah. kau makan. ceritera-ceritera dan simbol yang dipergunakan untuk memantapkan rasa percaya kepada Tuhan. yaitu: 1) Mantra. Kuntipura.) Bagian kedua dari penjabaran sifat ajaran Weda di atas. dan Atharwa Weda). kau persembahkan. Yayur Weda. yaitu Brahmana (Karma Kanda) adalah merupakan ajaran yang berisi himpunan doa-doa dan tuntunan yang dipergunakan untuk keperluan upacara Yajña. Isinya terdiri dari empat himpunan atau samhita (Reg Weda. 2) Brahmana (Karma Kanda). sebagai bhakti pada-Ku (Pendit. kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan asalkan menuju kebenaran. Sifat ajaran Weda. Acuan lainya sesuai dengan pendapat tersebut. yat tapasyasi kaunteya tat Kurushva mandarpanam. dan 3) Upanisad (Jñána Kanda. juga dapat disimak dalam cara menghayati dan mengamalkan ajaran Weda yang dapat mengacu pada beberapa hal seperti: a. yaitu sebagai berikut: Yat karosi yad ašnãsi yaj juhosi dadãsi yat.

Ajaran ini merupakan salah satu alternatif dalam menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu dengan menggunakan sarana pemujaan. yang terdiri dari: Tattwa (Filsafat Agama). yaitu empat cara atau jalan utama ditempuh untuk mencapai tujuan Moksaratha Jagathita. menurut kerangka tersebut. Cetusan rasa cinta kasih dan kerinduan kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pesembahan bhakti atau dalam produk kriya berupa simbol-simbol untuk melukiskan sifat maya Tuhan (mayasakti) (Cudamani. alamiah. Kerangka Agama Hindu. Bhakti Marga merupakan ajaran yang langsung. juga membenarkan menggunakan sarana untuk pemujaan Tuhan . Bhakti Marga. 1993). mudah diterima dan dilaksanakan oleh semua tingkatan. Seperti penggunaan produk kriya berupa simbol-simbol yang terkait dengan ajaran agama dan sebagainya. c. Catur Marga. Dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. b. 3) Jñána Marga dan 4) Raja Marga. Seorang Bhakta —penganut Bhakti Marga — adalah orang yang penuh cinta kasih kepada Tuhan berserta ciptaannya. artinya cinta kasih. 2) Karma Marga. Susila (Etika) dan Upacara (ritual).yang bersifat lahiriah untuk membantu penghayatan kepada Tuhan. terdiri dari: 1) Bhakti Marga.

Seperti menggunakan produk-produk kriya. sehingga hampir setiap hari umat Hindu di Bali dijum- . Ketiga ajaran tersebut memberi tuntunan yang mengarah pada pengorbanan suci berupa tindakan atau kerja dan membenarkan menggunakan sarana dalam pemujaan Tuhan. dalam mengamalkan ajaran Weda. sesajen. Umat Hindu di Bali. masih dominan mengacu pada tiga ajaran tersebut di atas. bunga. 1990). Sarana tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dan keyakinan masyarakat setempat serta menjadi aktivitas adat atau “hukum adat” yang diusung dari generasi ke generasi berikutnya. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh E. busana. ternyata yang lebih dominan dilaksanakan adalah upacara atau ritual keagamaan yang disesuaikan dengan adat-istiadat umat Hindu di Bali.Ketiga acuan di atas memberi gambaran. api dan sebagainya. secara implisit memberi peluang munculnya keanekaragaman atau perbedaan penciptaan sarana pemujaan Tuhan di setiap daerah di Indonesia. bangunan suci. air. Utrecht bahwa sebagian dari kaidah-kaidah atau norma-norma yang ada dalam masyarakat yang berasal dari sumber hukum yang dianggap sakral (dalam Suasthawa. Seperti dalam pengamalan tiga kerangka Agama Hindu. bahwa ajaran Agama Hindu memberi suatu tuntunan yang bersifat luwes dalam usaha mendekatkan diri dengan Tuhan. Pengamalan ajaran agama Hindu tersebut.

yang disebut Panca Yajña. Upacara yang dilaksanakan tersebut dipercayai merupakan suatu bentuk pengorbanan yang tulus dan suci atau Yajña. hampir semuanya tampak menggunakan sarana upacara. yaitu. Tujuan tersebut dilaksanakan didasari dengan suatu keyakinan. baik berupa wadah atau tempat. simbol-simbol. (4) Pitra Yajña. maupun berupa hiasan dan dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat Hindu di Bali. manusia dan alam yang didasari konsep Tri Hita Karana. Dari sekian banyak upacara Yajña yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. bahwa kelahiran manusia selalu diselimuti oleh utang yang harus dibayar. para resi atau guru dan leluhur. (2) Resi Yajña. persembahan atau penghormatan kepada para Resi atau guru. terdiri dari: (1) Dewa Yajña. baik di pura. (3) Manusa Yajña. yaitu. jalan. yaitu persembahan kepada roh leluhur dan upacara kematian. persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa. Dari upacara-upacara tersebut. Selain hal tersebut. sawah. rumah tinggal. upacara penyucian yang ditujukan mulai perkawinan hingga ajal tiba. Dengan tujuan untuk melaksanakan tiga kewajiban atau utang yang disebut Tri Rna. (5) . yaitu utang kepada Tuhan.pai melaksanakan upacara. pada garis besarnya dapat dikelompokan menjadi lima. yaitu. pelaksanaan juga diyakini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan dengan Tuhan. maupun di tempat lain yang dianggap sakral.

Ngenteg linggih. dikenal beberapa jenis upacara. seperti berwujud bebantenan atau sesajen. baik yang bersifat temporel maupun permanen. Melasti. 1990) Berdasarkan kategori tersebut dan mengingat peranan serta jenis produk-produk kriya yang digunakan untuk menunjang aktivitas hidup masyarakat di Bali sangat beraneka ragam. (2) Produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. yaitu sebagai sarana upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di . produk-produk kriya yang dimaksudkan adalah produk yang tergolong kategori kedua. yaitu: (1) Produk kriya dalam konteks budaya. Dan (4) Produk kriya yang dibuat oleh kriyawan dan para perancang masa kini (Buchori. 2. upacara Dewa Yajña atau Dewapuja. Upacara Panca Yajña dapat dipilah lagi memjadi beberapa jenis upacara. Semuanya menggunakan sarana yang khusus dan sangat beragam. misalnya. maka dalam konteks bahasan ini. Peranan Produk Kriya dalam Upacara Agama Hindu di Bali Secara umum produk kriya di Indonesia dapat dibagi menjadi empat kategori. yaitu upacara korban suci kepada Bhuta Kala. (3) Produk kriya dalam konteks kerajinan rakyat. penganggé atau busana dewa dan melibatkan berbagai produk kriya.Bhuta Yajña. dan sebagainya. Nuntun. seperti: Odalan.

) b. bersifat “permanen”. ternyata memberi pengaruh dominan pada tatanan kehidupan dan sistem relegi masyarakat Bali. a. 1 sasih = 35 hari. Terutama produk-produk kriya yang digunakan sebagai sarana upacara Odalan. Perayaannya dilangsungkan setiap enem sasih atau enam bulan (menurut perhitungan kalender Bali. kekuatan alam gaib serta memberi penghargaan atau ucapan terimakasih dalam bentuk persembahan kepada alam atas hasil atau . Peranan Produk Kriya dalam Melaksanakan Upacara Odalan Masuknya Agama Hindu ke Bali.Bali. tetapi yang dimaksudkan adalah upacara peringatan hari mulai enteg linggih atau hari peringatan mulai “distanakannya” atau dilinggakan Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasi sebagai dewa pada suatu tempat suci atau pura. Dalam hal tersebut bukan berarti Tuhan mengalami kelahiran. roh nenek moyang. mengandung makna atau nilai simbolis dan dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali. Pengertian Odalan Sebelum lebih lanjut menguraikan tentang peranan produk kriya. yang berarti kelahiran. Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu kepercayaan terhadap alam nyata dan tidak nyata. Odalan atau Dewapuja berasal dari kata Wedal. terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian Odalan.

sumber pangan yang di berikannya. Kemudian keyakinan tersebut dimatangkan lagi semenjak Rsi Markandeya datang dari Jawa. Pola masyarakat agraris yang telah mengakar tersebut, dipadukan dengan konsep yang “bernafaskan” Agama Hindu dari Jawa, seperti dalam pelaksanaan sistem irigasi yang disebut subak. Konsep Agama Hindu dari Jawa yang bersifat menyempurnakan tersebut, juga terlihat pada sarana pemujaan kepada Tuhan dalam segala manifestasinya. Seperti berupa pelinggih, penggunaan arca, pertima atau pralingga dan sarana lainnya, yang merupakan bentuk “penyempurnaan” dari hasil kebudayaan megalitik di Bali. Pengaruh perpaduan Agama Hindu, juga memberi sepirit dan inspirasi untuk tumbuh suburnya beraneka ragam jenis kesenian tradisional berciri khas Bali. Menurut pandangan umat Hindu Bali, fungsi kesenian tradisional tersebut, pada garis besarnya dapat dikelompok menjadi tiga bagian, seperti: (1) Seni Suci atau Wali, jenis kesenian ini difungsikan sebagai bagian dari suatu rangkaian upacara yang sarat dengan makna religius dan dianggap sakral; (2) Seni Ritual atau Bebali yaitu, jenis kesenian sebagai pengiring atau “penghias” dan sekaligus terkait dengan rangkain upacara; (3) Seni “Sekular” atau Bali-balihan yaitu, jenis kesenian yang cenderung mengarah pada hiburan rakyat atau kesenangan (Pindha, 1973) Produk kriya, sebagai salah satu bagian dari kesenian tradisional Bali, ternyata dapat menduduki ke-

tiga fungsi tersebut. Khususnya produk kriya yang difungsikan sebagai sarana wali berbeda dengan yang lainnya, sebab dalam penciptaannya disertai dengan proses penyucian atau sakralisasi dengan melalui tahap-tahap upacara tertentu, seperti di antaranya dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut Tabel 1 Tahap Penyucian Produk Kriya
No. (1) 1. TAHAPAN (2) nglakar ARTINYA DAN KEGIATAN (3) pemilihan bahan baku yang akan digunakan, dewasa ayu atau “hari baik” mulai mencari bahan dan disertai dengan persembahan sesajen kepada Tuhan untuk mohon kekutan agar produk kriya tersebut ber-taksu. membentuk secara global membuat detailnya menghaluskan memberi warna memberi kontur dan hiasan tambahan upacara pembersihan, dengan membuatkan banten pemlapas memanggil atau memohon kekuatan agar merasuk pada produk tersebut yaitu dengan membuatkan banten pengulap menghidupkan yaitu dilakukan dengan mempersembahkan banten pengurip upacara menstanakan pada tempat suci dengan jalan mempersembahkan sesajen pada tempat atau asal bahan yang digunakan untuk mengetahui apakah benda yang dibuat bertuah

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

makalin nepong ngasren mulas ngias melapas ngulapin

9. 10. 11. 12.

ngurip ngeteg linggih nuedin ngerehang

(1) 13.

(2) ngajar-ngajar

(3) upacara membawa benda tersebut ke tempat suci lainnya, seperti Kahyangan Jagat, dengan tujuan “mendaftarkan”. upacara memperingati hari dilinggakan benda tersebut sebagai benda sakral memfungsikan

14. 15.

ngodalin mepajar

Narasumber: Gelebet.

Dalam melaksanakan upacara Odalan biasanya memanfaatkan berbagai macam produk kriya dengan beraneka ragam bentuk dan fungsinya serta tergolong sebagai sarana wali, seperti berupa: 1. Benda pakai, antara lain: pedupaan, bokor atau tempat sesajen, dulang, sokasi atau bakul, saab atau tutup sesajen, kendi, sangku atau tempat air suci, canting alat untuk mengambil tirta air suci, peralatan yang digunakan oleh Pedanda atau pemimpin upacara, seperti pedipan, pasepan keduanya berfungsi sebagai tempat pedupaan, stana lingga tempat api, swamba atau tempat tirta, tripada sebagai “kaki” swamba, pewijan tempat beras suci, dan sebagainya . 2. Ragam hias pada sarana perlengkapan upacara, seperti: Lontek, kober, pengawin atau bandrangan, tedung atau payung, ider-ider, berupa relief pada pelinggih-pelinggih, candi, patung, dan sebagainya. 3. Selain hal tersebut, peranan produk kriya sekaligus juga berfungsi sebagai simbol yang mengandung

telinga. dan pada kelamin berisi bajra. Pada tiaptiap persendian.nilai-nilai atau makna terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Sikap berdiri (padaasana) dan kaki pada posisi bergerak. Bentuk Acintya seperti tampak pada Gambar 8 Gambar 8. Acintya . Beberapa contoh produk kriya jenis tersebut dapat disimak pada uraian berikut 3. kepala.1. Relief Acintya a) Karakteristik: 1) Bentuk: Umumnya dibuat dalam bentuk relief yang digubah dari bentuk mirip manusia dengan tanpa busana.

Namun sekarang ada juga menggunakan “beton cetak” (campuran semen pasir yang dicetak). Diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih berupa Padmasana Seperti tampak pada Gambar 9 Kepala badan kaki Tampak Samping Gambar 9.2) Material: Biasanya terbuat dengan batu alam (batu padas) atau emas. b) Fungsi: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan bersifat permanen dan sekaligus sebagai simbol. hitam atau kuning emas dan putih). 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan (abu-abu. Pelinggih Padmasana .

anirdesyam... Bersemedi dengan sikap pada asana atau berdiri. melambangkan sifat yang bebas dari ikatan duniawi.. Artinya. karena keadaannya yang tidak habis-habisnya atau ananta. Oleh sebab itu. tan pahingan. Acintya. tak dapat dibatasi atau anirdesyam. merupakan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan. para yogiswara atau orang suci yang mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan membuat dalam bentuk simbol bersifat ikonografi dengan mengambil bentuk mirip manusia tanpa busana. Dan dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan: Aprameya. anatomi tubuh dan jenis kelamin dibuat “tidak jelas” atau Ardhanareswari. artinya kehidupan yang selalu bergerak dinamis dan berproses. maka untuk mempermudah penghayatan-Nya. nilai-nilai simbolik dan religiusnya: Berdasarkan lontar Widi Tatwa atau filsafat tentang Tuhan. melambangkan sifat Tuhan yang maha pemurah dan memberikan anugrah kepada ciptaan-Nya di alam. ujung kaki. kepala. Bhatara Parama-šiwa atau Tuhan sebenarnya bersifat tidak terbayangkan (Aprameya) dalam pikiran. telinga. bhatara Paramasiwa tan pangenpangen. Sikap kaki seperti berjalan atau bergerak. dan .. Setiap persendian. ape hetu ri kadadinyan ananta. artinya tak terpikirkan.b) Makna.

matahari. kain kapan dan sebagainya. Pertiwi.pada tempat kelamin dihiasi dengan bajra. tanah. ether (memenuhi ruang yang ada). Aksara Suci Ongkara 2) Material: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau dari logam. Aksara Suci Ongkara a) Karakteristik: 1) Bentuk: huruf atau aksara suci Ongkara sebagai simbol diwujudkan berdasarkan konsep kosmologi dan terdiri dari beberapa bagian seperti pada Gambar 10 berikut Keterangan: 1. Apah atau air (air yang padat berputar terjadilah bulan). 3. Angka telu atau angka tiga melambangkan tiga manifestasi Tuhan (Brahma. Teja atau api. . kuningan atau tembaga. bintang (angin dapat menjadi bintang. 5. 4. melambangkan energi Tuhan berupa sinar suci yang memancar ke segala arah dan memberi penerangan kepada seluruh ciptaan-Nya. Bayu atau angin. bumi (terjadinya pertama-tama berawal dari gelap). Akasa atau langit. 3. seperti: emas. perak.2. 2. Wisnu dan Šiwa Gambar 10.

c) Makna. nilai-nilai simbolik dan religius: Aksara Bali dalam penerapannya dibedakan menjadi dua golongan (Kaler. ulap-ulap (secarik kain kapan diberi gambar aksara suci ongkara dan diletakkan pada pertengahan kolong atau tadah alas bangunan tradisional. tt). dadya Pura). Akasara tersebut boleh diajarkan kepada siapa saja dan biasa digunakan seperti untuk membuat pipil (nama orang dalam suatu organisasi atau seka Banjar. seperti: abu-abu warna batu padas atau hitam. pangéling-éling atau tanda untuk meng- . sebagai tanda bahwa bangunan tersebut telah diupacarai). pedagingan dan sebagainya. dipakai untuk membuat sesikep atau gegemet atau jimat. Umumnya diterapkan pada bangunan Pelinggih Padmasana dalam bentuk relief.3) Warna: sesuai dengan warna bahan yang digunakan. yaitu: (1) Aksara Wrešastra atau aksara yang “tampak” atau aksara yang umum atau aksara “biasa” digunakan dalam masyarakat Bali. kuning emas. dalam membuat surat bukti yang ditulis di atas daun lontar. b) Fungsi: Dipergunakan sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Tri Murti. putih perak atau kain kapan dan sebagainya.

yaitu aksara yang maha suci lambang Ida Sang Hyang . Aksara Ong atau Ongkara merupakan sumber semua aksara. Kawi. Ketiga kelengkapan aksara tersebut menyimbolkan kekuatan tiga dewa. seperti: mantra. sehingga disebut Wija-aksara atau Ekã-aksara.ingatkan sesuatu untuk menulis bahasa Bali. perlambang atau simbol terkait dengan keagamaan. yaitu: Dewa Brahma (Ang ). Jawa Kuno dan sebagainya (2) Aksara Cwalalita. Dalam bahasa Bali diucapkan Ong. api atau matahari. Huruf tersebut disebut juga dengan Aksara Modré. Ardha-candra berbentuk bulan sabit melambangkan apah. Ketiga aksara tersebut jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. Dewa Wisnu (Ung ) dan Dewa Ciwa (Mang). bayu atau bintang. windu melambangkan teja. yaitu aksara suci atau aksara yang digunakan untuk menulis ilmu kedyatmikan. Kedua aksara tersebut dilengkapi dengan pengangge sastra atau kelengkapan huruf yaitu berupa: Nada melambangkan angin. berhubungan dengan dunia gaib. air atau bulan. aksara yang “tidak tampak” terdiri dari dua buah aksara yaitu Ah ( ) dan Ang ( ) merupakan aksara yang didak boleh diajarkan kepada sembarang orang. pengobatan dan sebagainya.

Demikian juga di India. Jadi dari penjelasan tersebut. sehingga penggunaannya sangat terbatas dan tidak boleh secara sembarangan. seperti tampak pada Gambar 11.3. aksara Ongkara sebagai simbol Tuhan telah digunakan sejak zaman Weda. 1991. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan yaitu berwarna abu-abu batu padas atau hitam. 1991) 3. maka dapat diketahui bahwa aksara Ongkara sebagai simbol yang mengandung makna religius terkait dengan ajaran ketuhanan. . Sudartha. Badavañ Nala a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Penciptaan produk kriya tradisional berupa simbol tersebut dilandasi dengan konsep kosmologi.Widi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri-Murti. Hindu yaitu digubah dari bentuk kurakura dengan kepala berambut dan lidah mejulur keluar berbentuk api serta dililit naga. harus mengikuti petunjuk para rohaniwan (Nala. 2) Material yang digunakan: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu padas.

Gambar 12.Gambar 11. Badavañ Nala dan Anantabhoga b) Fungsi: Badavañ Nala digunakan sebagai simbol dan sekaligus sebagai hiasan pada bagian dasar atau “kaki” sebuah bangunan suci berupa pelinggih Padnasana Gambar 12. Bagian Dasar Atau “Kaki” Pelinggih Padmasana .

Bang=merah dan Nãla=api.c) Makna. Oleh sebab itu. Dalam bahasa Šanskerta disebut dengan kata kûrma. empas atau penyu. Dalam simbol tersebut dimaknai sebagai inti bumi atau magma sebagai sumber panas bumi yang terus menerus membara Jadi pada simbol tersebut tersirat ajaran suci tentang ciptaan Tuhan yang tiada tara dan maha agung berupa alam makrokosmos. terbentuk dengan unsur Panca Maha Bhuta. Keseluruhan dapat diartikan sebagai tempat atau sumber api yang merah membara. Se-dangkan Nãla atau Anala dalam bahasa Šan-skerta sebagai padanannya adalah ageni ber-arti api. dan dilestarikan. Bagi umat Hindu. Badavañ adalah istilah yang digunakan untuk nama binatang kura-kura. perlu dihormati. Dan da-lam kepercayaan Hindu sebagai simbol awatara Dewa Wisnu atau disebut Kûrmaratarâ. nilai-nilai simbolik dan religius: Perkataan Badavañ Nala atau Baduvañ Nala terdiri dari kata Badavañ dan Nala. Sebagai tempat kehidupan dengan berbagai persediaan bahan makanan dan sebagainya. Perwujudan simbol atau nyasa tersebut bertujuan untuk memberi ajaran alam semesta dan membangkit kesadaran moral dalam segala aktivitas hidup untuk menjaga serta . Badavañ Nãla berasal dari urat kata Bada= tempat.

. Nãga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Simbol nãga merupakan bentuk fantasi atau hasil imajinasi dari para kriyawan masa lalu yang digarap dengan didasari mitologi Hindu. seperti warna abu-abu batu padas atau warna hitam batu alam). dan di Pelinggih Saptapetala dalam bentuk patung nãga. b) Fungsinya: Kegunaan dan penempatan nãga di dalam pura sama dengan Badavañ Nala.4. yaitu dipakai sebagai simbol dan sekaligus sebagai ragam hias dan umumnya diterapkan pada dasar atau bagian “kaki” Pelinggih Padmasana berupa relief tinggi. digambar pada lontek atau umbul-umbul. Bentuk dan penerapan Nãga tersebut dibuat membelit Badavañ Nala. 3.sebagai ucapan terimakasih atau bakti dihadapan Tuhan atas ciptaannya. Bentuk Nãga tersebut seperti tampak pada Gambar 11. 3) Warna: Sesuai dengan warna bahan yang digunakan. sehingga membentuk satu simbol dengan satu kesatuan makna tentang keagungan alam semesta. 12 dan 13 2) Material: dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu bata.

Panjang ± 8 m. a) Makna. Bentuk potongan kain semakin ke atas semakin kecil dan pada ujung bambu terlipat ke bawah serta di ujungnya diberi plat logam berbentuk seperti jantung .Gambar 13 Lontek Umbul-umbul Keterangan: Tangkainya terbuat dengan bambu. diameter pakalnya ±5 Cm. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam kamus Bahasa Šansekerta kata nãga berarti .

tentang bentuk simbolis nãga yang diterapkan pada masing-masing pelinggih atau peralatan upacara memiliki pengertian atau filosofi dan sebutan yang kontekstual. nanta= habis dan bhoga=makanan). seperti. Maka Basukih simbol dari Dewa Brahma (pencipta alam). Jika ketiga nãga tersebut dikaitkan dengan para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi.ular. Sehingga dikenal tiga nãga. Anantabhoga simbol dari Dewa Wisnu (pemelihara alam). kata nãga tersebut diartikan ular naga atau gajah. Anantabhoga dan Taksaka. yang disebut Nãga Anantabhoga. sebenarnya hanya satu dan membelit Badavañ Nala. dan Taksaka simbol dari Dewa Šiwa (Pelebur). 1982/ 1983). Dan dalam Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. Basukih. Penerapan patung nãga pada Padmasana. Secara keseluruhan berarti sumber bahan . Berasal dari urat kata “a”-“nanta” dan “bhoga” (a=tidak. nãga juga berarti gunung atau pohon (Pemda Tingkai I Bali. yaitu. yaitu. Dari pengertian tersebut. Bhur Loka (lapisan alam bawah). Selain arti tersebut. Bwah Loka (lapisan alam tengah) dan Swah Loka (lapisan alam atas). penerapan pada Padmasana didasari filosofi Tri Loka. Dalam mitologi Agama Hindu Bali. maka nãga dapat diartikan sebagai ular besar.

dalam perwujudannya diterapkan pada umbul-umbul (Narasumber: Gelebet) Penerapan patung Nãga Basukih pada pelinggih Sapta Patala.5. Sedangkan nãga Taksaka. jana loka. dan tujuh lapisan alam bawah Sapta Patala yang terdiri dari tãla. waitãla. Senjata Nawa Sanga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Senjata Nawa Sanga merupakan sembilan sejata para dewa dengan bentuk berbeda satu dengan yang lainnya. maha loka. Namun kenyataannya dalam membuat Pelinggih Padmasana sering diterapkan dua nãga (Basukih dan Anantabhoga) secara estetis hanya bertujuan untuk membuat komposisi yang simetris. santãla. 3. didasari oleh filosofi. bhwah loka. dan satya loka). Jadi penerapan nãga pada pelinggih tersebut sebagai simbol tujuh lapisan alam bawah. sutãla.makanan yang tidak habis-habisnya. swah loka. tapa loka. Perbedaan tersebut mencerminkan atau sebagai simbol karakter dan sifat kekuasaan dari masing- . atãla. nitãla dan patãla. Jadi peristiwa tersebut berlangsung pada lapisan alam tengah (Swah Loka) atau di permukaan bumi. bahwa alam dibagi menjadi tujuh lapisan alam atas yang disebut Sapta Loka (bhur loka.

seperti berupa ujung-ujung tombak yang disebut dengan bandrangan atau pengawin . seperti pada gambar 14. 3) Warna: Warnanya produk kriya tersebut.masing dewa. Tata letak dari senjata-senjata tersebut dalam padma angelayang atau pangider-ider. atau ada juga diwarnai dengan cat warna hitam dan putih perak. 15 2) Material: Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan menggunakan berbagai bahan. seperti “hitam besi”. batu padas. atau dengan menggunakan besi dan diwujudkan sebagai ujung-ujung tombak yang disebut bandrangan atau pengawin. menyesuai dengan bahan yang digunakan. b) Fungsinya: Produk Kriya tersebut digunakan sebagai simbol dan sekaligus hiasan yang diwujudkan dalam bentuk perlengkapan upacara. seperti dengan meggunakan kain kapan. seperti pada Gambar 14 dan 15. Dalam penerapan-penerapan tertentu ada juga yang diwarnai sesuai dengan tata warna Senjata dan Dewata Nawa Sanga.

Jenis dan Tata Letak Senjata Nawa Sanga Gambar 15. Wayabya (barat daya)  Sangkara  Angkus  Limpa  Wilis (Hijau)  Pascima (barat)  Mahadewa  Nagapasa  Ungsilan Ginjal  Kuning  Niriti (barat daya)  Rudra  Moksala  Usus  Oranye (jingga)                Uttara (utara) Wisnu Cakra Ampru (empedu) Ireng (Hitam) Madya (tengah) Siwa Padma Tumpuking Hati) Amanca (Pancawarna) Daksima (selatan) Brahma Gadha Hati Bang (merah)  Ersanya (timur laut)  Swayambhu  Trisula  Ineban  Pelung (biru)  Purwa (timur)  Iswara  Bajra  Jantung  Putih  Geniyan (tenggara)  Mahesora  Dupa  Peparu (paruparu)  Dadu (merah muda) Gambar 14. Dewata Nawa sanga .

bahwa Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa berwujud sebagai Paramašiwa. Dalam hal tersebut. bahwa Tuhan telah berkrida. manifestasi Tuhan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur keharmonisan alam makrokosmos (Bhuana Agung) yang terletak di seluruh penjuru mata angin dan . Dalam alam imanensi umat Hindu di Bali. tidak berawal-berakhir. fungsi dan aktivitas (Saguna Brahman). dipercayai oleh umat Hindu. dengan keadaan-Nya: “tunggal”. tanpa aktivitas. Tuhan berwujud sebagai Sadašiwa dan dipercayai. Tuhan diwujudkan sebagai Sada Šiwa. sehingga memiliki sifat. dengan bermacam-macam manifestasi-Nya dan dipersonifikasikan sebagai dewa-dewi. maka dikenal dewa-dewa yang termasuk kelompok Dewata Nawa Sanga. telah dipengaruhi oleh sakti atau kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. Tuhan memiliki delapan Ilmu pengetahuan untuk menyucikan Sang Hyang Atma yang ada dalam semua mahkluk dari dosa sesuai dengan amal baktinya (Wardana. Namun dalam alam imanensi. kekal abadi. Selanjutnya Tuhan diwujudkan sebagai Šiwa atau Šiwatman atau Mayasarira Tattwa.c) Makna. 1994). Nilai-nilai Simbolik dan Religius: Dalam alam transendental. maha tahu dan sebagainya serta disebut Nirgunam Brahman (sunya).

Setiti dan Pralina. (1) 1. Simbol-simbol dalam mayasakti berbentuk senjata tersebut.mikrokosmos (Bhuana Alit) yang terletak pada organ-organ tubuh mahkluk hidup. 2. Lahir. merupakan simbol kekuasaan tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sambu. Masing-masing mengandung arti atau makna yang saling terkait satu dengan lainnya serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Dalam hal ini berfungsi sebagai kutub utara yang nantinya dihubungkan dengan Dewa Brahma di kutub selatan sehingga terbentuk sumbu rotasi bumi. 15. yaitu berfungsi menjalankan tugas sebagai pengatur kehidupan di bumi berdasarkan ketentuan Upeti. Trisula . diciptakan dengan didasari kosmologi khususnya tentang bumi. Dan kesembilan dewa tersebut masing-masing memiliki senjata yang disebut dengan Senjata Nawa Sanga Seperti Pada Gambar 14. bahwa Senjata Nawa Sanga tersebut adalah merupakan simbol-simbol atau nyasa dari kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa dalam menjalankan tugas-Nya. Nama Senjata (2) Cakra Makna simbol (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Dewa Wisnu untuk mengatur rotasi dan peredaran bumi. Hidup dan Mati. Penjelasan lebih lengkap dapat disimak pada Tabel: 2 berikut Tabel 2 Makna Senjata Nawa Sanga No. Dalam Lontar Kekawin Bhomakawya atau Bhomantaka.

dalam menjalankan tugasnya sebagai pengikat atau pengatur kestabilan alam semesta bersama isinya. (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatanTuhan dalam manifestasi Nya sebagai Dewa Iswara yang bertugas mengatur getaran alam (makrokomos dan mikrokosmos). 6. 5. dalam fungsinya mengatur. 4. baik. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur atau menentukan sifat dan karakter alam semesta bersama isinya. Moksala Merupakan simbol kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Rudra. 8. malam. 9. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur kemakmuran dan kesejateraan alam semesta bersama isinya. 7. Dupa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Dewa Mahesora. Angkus Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara. Gadha Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Brahma. Nagapasa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Mahadewa. dalam fungsinya sebagai pengatur panas alam (makrokomos dan mikrokosmos).(1) 3. (yang menyangkut Rwabhineda —siang. buruk dan sebagainya —). atau disebut dengan Padma Anglayang atau pangider-ider Narasumber: Ida Pedanda Budha. Simbol senjata-Nya digubah dari bentuk bunga teratai atau padma yang bermahkota delapan atau Asta Dala. mengendalikan dan menentukan danda atau hukum alam. (2) Bajra . Padma Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Šiwa. Griya Sukawati. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengendali dan penentu dari tugas-tugas yang dijalankan oleh delapan dewa yang terletak di delapan penjuru arah mata angin. sebagai kekuasaan atau kekuatan dari delapan dewa tersebut terpusat pada Dewa Šiwa.

3. Bhoma a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Bhoma dibuat dalam bentuk relief tinggi yang digolongkan sebagai kekarangan.3. dilatarbelakangi dengan patra wangga. Ciri-crinya: mata besar dan mendelik. di kanan dan kiri dilengkapi dengan telapak tangan yang dikepak. Perwujudan bertuk tersebut didasari ceritera Bhomantaka. Karang Bhoma . Karang tersebut merupakan stilisasi dari bentuk kepala raksasa atau punggalan. sehingga disebut dengan Karang Bhoma. kakul-kakulan serta patra punggel. Gambar 16. Sebagai salah contoh seperti pada Gambar 16 berikut.

seperti batu alam. Kori Agung Atau Paduraksa Dengan Ragam Hias berupa Bhoma 2) Material: Umunya bahan yang digunakan untuk membuatnya. merupakan gerbang pertama dari sebuah pura atau sebuah pintu yang membatasi halaman kedua atau madia mandala (jaba tengah) dengan halaman pertama atau utama mandala (jeroan) seperti pada Gambar 17 berikut Gambar 17.b) Fungsinya: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai simbol dan sekaligus ragam hias yang diterapkan di atas relung kori agung atau paduraksa. . batu padas atau batu bata.

yang keluar dari bumi. 1963). 1972) Di Bali. dijelaskan. bahwa Bhoma adalah raksasa putra bumi. pole. seperti pohon randu.3) Warna: sesuai dengan bahan yang digunakan. c) Makna. “abu-abu batu padas” atau merah bata. nilai-nilai simbolik dan Religius: Bhoma berarti lukisan (ukiran) yang berbentuk muka raksasa atau kala (Bahasa Bali) yang ditempatkan di atas relung pintu gerbang utama pura atau paduraksa (Dinas Pengajaran Propinsi Bali. kepuh dan sebagainya. Bhauma. kala. seperti: “hitam batu alam”. Bhoma digunakan sebagai simbol dari pepohonan dan disebut Banaspatiraja serta dianggap keramat. bahwa perkataan Bhoma berasal dari Bahasa Šanskerta. Pandangan tersebut diselaraskan dengan kepercayaan. dengen. artinya berhubungan dengan bumi. . mulut terbuka lebar. bahwa Banaspatiraja adalah raja bhuta. mata melotot seram seperti kepala monster. Sedangkan menurut Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali. 1978). Dalam A Šanskrit-English-Dictionary dijelaskan. tonye atau mahkluk halus yang menempati pohon-pohon besar. gigi dan taring mencuat keluar (Covarrubias. tinggal di dalam bumi atau tanah (Monier.

Dalam pencarian tersebut Dewa Wisnu bertemu dengan Dewi Wasundari (Dewi Pertiwi). Dalam pertemuan tersebut akhirnya terjalin hubungan yang dalam sehingga melahirkan seorang putra yang diberi Naraka atau Bhoma (Lontar Bhomantaka. Berawal dari perdebatan antara Dewa Brahma dengan Dewa Wisnu tentang kesaktian yang mereka miliki. Lampiran 5b. Bersamaan dengan kejadian tersebut tiba-tiba muncul sebuah lingga kristal dari bumi dan menjulang ke angkasa.Menurut Mitologi Bhoma dalam kesusastraan Jawa kuno. karena pangkal lingga tersebut terus masuk ke dalam bumi dan ujungnya terus menjulang ke angkasa dengan batas yang tak terhingga. Keropak IV. Mamun usaha mereka sia-sia.b). dinarasikan tentang kelahiran Sang Bhoma. sedangkan Dewa Wisnu berubah wujud menjadi seekor babi jantan dan menggali tanah untuk menemukan pangkal lingga. mereka tercengang dan memutuskan untuk menemukan ujung dan pangkal dari lingga tersebut. . seperti pada kekawin Bhomantaka. Milihat kejadian tersebut. Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk mencari pangkalnya dan Dewa Brahhma dengan kesaktiaannya berubah menjadi burung layang-layang hitam terbang meluncur ke atas mengejar ujung lingga.

sehingga bagian kepalanya tetap hidup sedangkan bagian badannya langsung mati. mengerikan— dari ajňa cakra-Nya atau kening. Akhirnya raksasa Rau dimakan oleh makhluk tersebut. karena raksasa tersebut diketahui sedang minum tirta amertha. merusak dan mengganggu aktivitas para dewa di kahyangan. . badan.Heinrich Zimmer dalam bukunya Myths and Symbols in Indian Art an Civilization dipaparkan tentang Bhoma sebagai akibat pemenggalan leher raksasa bernama Rau yang dilakukan oleh Dewa Wisnu. Namun makhluk yang diciptakan tersebut memiliki sifat yang rakus dan memakan apa saja yang dijumpainya serta sangat tunduk dengan perintah Dewa Siwa. Mahkluk tersebut kembali bertanya. Dia mulai makan kaki. Kepala raksasa tersebut akhirnya murka. sehingga muncul makhluk yang luar biasa sebagai Ghora Murti Siwa —wujud Tuhan yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang sangat sangat dasyat dan. sampai bagian dibawah leher dan hanya tersisa bagian leher serta kepala. akhirnya Dewa Siwa menjadi sangat marah. Namun pada saat dipenggal tirta tersebut belum sampai di tenggorokan. Melihat kejadian tersebut. Perintah tersebut segera dilakukan. tangan. Akhirnya Dewa Siwa memerintahkan agar memakan tubuhnya sendiri.

mata melotot. menelan. 1945). telapak kaki dibuat seperti cakar burung. batu bata. Karena kepatuhannya tersebut. 3. berparuh. Dewa Siwa memberi tugas untuk menjaga istana Siwa. gigi runcing. menghancurkan dan menolak pikiran jahat yang akan merusak kesucian stana Dewa Siwa serta diberi nama Kirttimukha serta diletakan pada bendul pintu utama. dan sebagainya. bertaring dan diberi busana serta mahkota. atau batu alam. Garuda Wisnu a) Karakteristiknya 1) Material: Bahan baku yang digunakan untuk membuat produk itu adalah kayu. Pada saat tersebut Dewa Siwa bersabda “ Barang siapa yang masuk ke dalam kuilku tanpa menyembahmu. 2) Bentuk: Pada umumnya bentuk Garuda Wisnu digubah dari bentuk fantasi yang menyerupai burung. Dibagian belakang diberi ekor dan dipunggungnya dibuat patung Dewa Wisnu memegang Cakra.4. bersayap. batu padas. seperti pada Gambar 18 berikut . Tubuh dan anggota badan menyerupai manusia. mereka tidak akan memperoleh rahmatku” (Zimmer.apa yang saya lakukan lagi ?.

digunakan sebagai simbol dan hiasan. karena dari punggung patung garuda tersbut. langsung berdiri tugeh atau tiang penyangga menuju puncak langit-langit. gedong bata dan seba- . biasanya diterapkan di belakang bangunan Pelinggih Padmasana. b) Fungsinya: Produk kriya tersebut mempunyai fungsi religius dan estetis. sendi tugeh (dasar tiang penyangga puncak langit-langit pada bangunan piasan). Garuda Wisnu Tetapi yang digunakan untuk menghias pada sendi tugeh jarang dilengkapi dengan patung Dewa Wisnu.Gambar 18.

Dalam perwujudannya sebagai simbol. yang berarti “menelan” (penakluk para naga. Relief Garuda Wisnu Diterapkan di Belakang Padmasana c) Makna. memiliki kekuatan magis untuk menangkal bisa ular). Garuda dipakai sebagai simbol matahari. Berikut Gambar 19. naga sebagai simbol . salah satu contoh penerapannya.gainya. sering ditunggangi oleh Dewa Wisnu. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam bahasa Šanskerta perkataan “garuda” berasal dari akar kata “gri”. seperti pada Gambar 19.

maka garuda kembali dijadikan sebagai lambang negara. Dalam perwujudannya kaki burung Garuda tersebut mencengkram pita yang berisi tulisan tentang ikrar .air kosmis dan Wisnu berada pada kedua sisi antagonis tersebut. Diperkirakan telah berlangsung sejak pertengahan abad X. 1946). 1995) Setelah bangsa Indonesia bebas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa lain. Adegan tersebut sangat populer dalam episode Ramayana. yaitu Garuda Pancasila. Di Nusantara. Penggunaannya semakin berkembang dan terus seperti digunakan oleh Raja Jayabaya. garuda juga digunakan sebagai simbol kebesaran atau penggambaran aspek keagungan Tuhan. ceriteraceritera rakyat dan dalam bentuk visualnya dipakai sebagai sarana pemujaan oleh umat Hindu di India dan Bali (Zimmer. Hal tersebut dapat diketahui dari tipografi peninggalan cap atau stempel bermotif Garudamukha yang pertama kali digunakan sebagai lencana kepala pemeritahan oleh Sri Maha Raja Blitung (808-910) yang berkuasa di Jawa Tengah. Prabu Aerlangga dengan peninggalannya yang paling terkenal berupa garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dan sebagainya (Titib. Raja Kertajaya (raja yang terhakhir memerintah dikerajaan Kediri).

Apakah yang bersinar itu ? Garuda tiada lain seekor burung yang maha sakti. twam mahabhagas. Dalam Adiparwa —sebuah kesusastraan Jawa yang diperkirakan ditulis pada zaman pemerintahan Raja Darmawangsa Teguh sekitar tahun 918 Saka (918 Masehi). kapwa maso mangastuti Sang Garuda. Lambang tersebut sebagai sumber yang kreatif mencerminkan kebebasan untuk menentukan nasib bangsa indonesia di antara bangsabangsa di dunia. anak Bhagawan Kacyapa ri Sang Winata ika. ling nira: Twam rsi. Makana ling Sang Hyang Agenbi ri sang watek dewata. Nama tluya sutejasa. seberikut: Aparan pwa ya makateja Ya? Garudo balawan tesam manuk mahacakti. dalam bahasa Kawi— terdapat satu episode yang menceritakan keajiaban atau kebesaran Sang Garuda. dan sinarnya sama dengan sinarku. Mari ta sira harohara. . Kunang pada tejanya lawan teja nghulun. pathagecwara.bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. twam dewah. Sinanya sangat bagus. anak Bhagawan Kacyapa dengan Sang Winata. twam prabhuprahus tapanah twam nastranam anuttamam Artinya.

sinarmu seperti sinar matahari (Widiatmaja. Namun sang Garuda menolaknya dan menyuruh agar para dewa . engkau pendeta besar. Akhirnya sang Garuda berhasil mengambil tirta amertha yang disimpan dalam goa dilereng gunung Somaka dan membawanya terbang ke angkasa. Namun dengan kesaktiannya tak satupun bulu Garuda tersebut dapat dirontokan oleh senjata para dewa. Seperti para dewa yang membawa senjata menghadang dan menyrangnya. Tirta tersebut natinya digunakan sebagai persyaratan untuk membebaskan ibunya (Sang Winata) dari perbudakan Sang Kadru. engkau rajanya. engkau resi. Dalam episode selanjutnya diceritakan usaha Garuda dalam mencari tirta amertha yang disimpan oleh para dewa di Gunung Somaka. engkau penguasa segala yang terbang melayang. engkau dewa. 1958). Mereka tertegun dan berdiam. semua tampil ke depan dan memuji Sang Garuda serta mengatakan: Hyang Garuda. Dalam perjalanan mencari tirta amertha ia menemui banyak hambatan. Di angkasa dengan serta merta dewa Wisnu mengampirinya dan menyuruh agar tirta tersebut dikembalikan.Demikianlah kata Sang Hyang Ageni kepada para dewa.

Barong Ket dan Rangda a) Karakteristiknya: 1) Material: Bahan baku yang digunakan. seperti: kulit sapi yang telah disamak. karya sastra tersebut banyak mengilhami para seniman atau para kriyawan masa lalu dalam berkaya. Sehubungan dengan hal tersebut. seperti: kincu. serbuk tulang menjangan. kain dan sebagainya. kayu. jelaga. atal ancur dan perada). praksok ( Bahasa Bali) atau sejenis serat daun pandan. . Mitologi tentang keagungan atau kesaktian tokoh Garuda dan Wisnu dijadikan sebagai landasan estetika dan penerapan Garuda Wisnu juga sebagai simbol kebesaran Tuhan.5. Sedangkan di Bali. 3. seperti pada Pelinggih Padmasana. pewarna (menggunakan pewarna tradisional. dianggap mengandung nilai-nilai simbolis religius serta disakralkan. maka Garuda Wisnu diterapkan pada bangunan-bangunan suci.minta anugrahnya… Episude cerita tersebut diakhiri dengan menerima permintaan dewa Wisnu untuk menjadikannya sebagai kendaraanya dan tirta amerthan tersebut kembali dapat direbut oleh para dewa serta Sang Winata bebas dari perbudakan. kaca.

Barong Blas-Blasan. Warna topeng Rangda umumnya putih. Barong Brutuk dan sebagainya. Hiasannya. seperti: Barong Ket. Gambar 20. dibuat dengan kulit dan diwarnai perada atau warna emas. Barong Asu. dibuat dan diwarnai dengan cara yang sama. bulunya diwarnai hitam atau dibiarkan putih (warna praksok). Demikian juga hiasan Rangda. Barong Ket dan Rangda . geruda mungkur. Salah satu contoh berupa Barong Ket dan Rangda dapat dilihat pada Gambar 20 b) Warna: Topeng barong biasanya diwarnai dengan merah. seperti: badong. gelung kekendon.2) Bentuk: Barong yang digunakan di Bali bentuknya sangat beragam dengan sebutan yang berbeda-beda. kembang sasak. Barong Bangkal. angkeb pale dan sebagainya. silat bahu. Barong Macan.

Produk kriya tersebut juga digunakan sebagai pratima dan biasanya di simpan di Pura Dalem. bahwa perkataan barong berarti. bahwa sinonimnya disitir dari Bahasa Belanda. dalam melangsungkan upacara odalan di pura. Seperti.c) Fungsinya: Barong dan Rangda adalah tergolong produk kriya bebali. karena selain mengandung nilai-nilai sakral (sebagai sarana upacara agama). artinya binatang beruang. tarian yang memakai kedok dan kelengkapannya sebagai binatang buas (singa). sesuai dengan pendapat R. maka perkataan barong diselaraskan dengan perkataan bareng (Bahasa Bali). artinya bersama —cara menarikan atau memainkan bersama-sama —(Proyek Sasana Budaya Bali. yaitu dari kata beer. Pengertian tersebut. juga mengandung nilai-nilai profan. berasal dari kata Bhahrwang. Goris. d) Makna. Sedangkan ditinjau dari cara memakai. Produk kriya tersebut diciptakan dan digunakan sebagai sarana pagelaran seni tari wali. seperti dalam Bahasa Šanskerta. nilai-nilai simbolik dan religius: Banyak pengertian mengenai kata barong. 1975/1976) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. dimainkan oleh . yaitu tarian yang dipentaskan serangkaian dengan upacara Agama Hindu di Bali.

hanya disesuikan dengan suara yang ditimbulkan akibat entakan rahang bawah kedok barong. Masyarakat di Bali menyebutnya sebagai penganut ajaran beraliran “tengen atau kanan” (white magic). 1994). bahwa penciptaan Barong dan Rangda di Bali diilhami cerita yang terdapat dalam lontar Šiwa Tattwa. Menurut mitologi. 1972). Sedangkan Rangda atau Randa. mengayomi dan dapat menyembuhkan penyakit. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. satu dibagian kepala dan satu di bagian ekor. dipertunjukkan dengan ceritera Calon Arang (Kridalaksana. sebagai juru penyelamat. sewaktu dimainkan. Sedangkan tokoh Rangda melambangkan sifat atau karakter yang mengarah pada hal-hal kurang baik atau adharma. Perkataan ”Ket“ tidaklah mengandung arti khusus. di mana Barong sebagai lambang kebenaran atau dharma. merusak. Secara singkat . mengganggu dan sebagai penganut ajaran “beraliran kiwa atau kiri” (black magic) (Covarrubias.dua orang. 1994). perkataan itu berarti perempuan yang kehilangan suami (cerai atau meninggal dunia) atau janda (Kridalaksana. Barong dan Rangda dalam episode Calonarang adalah dua tokoh yang melambangkan dua sifat atau karakter berbeda (Rwa Bhineda) atau antagonis.

Pada hal kejadian tersebut dibuat oleh Dewa Šiwa. istrinya menghadap dalam wujud rangda dengan wajah menakutkan. Masalah tersebut terungkap berkat kehebatan ilmu tenung yang dimiliki dewa Ganesh. Lalu untuk memberkati perubahan wujud istrinya menjadi dewi Uma.diceritakan tentang kutukan Dewa Šiwa yang ditujukan kepada istrinya Dewi Uma agar berubah menjadi Dewi Durga —Seorang dewi atau perempuan yang berwajah angker dan menakutkan sebagai dewi penguasa kuburan yang bernama setra Gandamayu— karena ulahnya yang tidak wajar dilakukan ketika disuruh mencari susu atau empehan lembu. Dia berani menghianati. mengorbankan kesucian dan kesetiannya. Dalam kutukan tersebut Dewa Šiwa juga mengijinkan istrinya untuk berubah wujud kembali menjadi dewi Uma saat hari tilem sasih kesanga ( saat bulan mati di bulan sembilan). maka Dewa Šiwa berubah menjadi Bhuta Egeg (Lontar Šiwa Tattwa. melakukan perselingkuhan dengan pengembala lembu. Ketika hari tersebut tiba. . Sebenarnya pengembala tersebut adalah siluman dari dewa. namdala 53-56).

BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA A. 1969). Dalam penggunaannya oleh filusuf Yunani seperti istoria yang dipakai Aristoteles berarti suatu cara menelaah sesuatu secara sistematis mengenai seperangkat gejala alam. S . Sedangkan yang kronologi terutama menyangkut kehidupan manusia dipakai istilah istoria. Namun dalam perkembangan selanjutnya metode untuk menelaah sesuatu yang tidak kronologis digunakan istilah scientia. Dalam definisi yang universal istilah history berarti masa lampau umat manusia. entah suatu susunan yang kronologis ataupun tidak. Namun masa lampau tersebut tidaklah dapat direkonstruksi kembali secara utuh. Pendekatan tersebut disebut natural history. Pendekatan Historis ejarah atau dalam bahasa Inggris disebut history dan berasal dari bahasa Yunani istoria (kata benda) berarti “ilmu”. karena sejarah hanya berdasarkan rekaman dan berdasarkan simpulan mengenai lingkungannya (Gottschalk.

penyusunan.Pendekatan hitoris adalah suatu proses pengujian dan analisis secara kritis hasil rekaman dan peninggalan masa lampau. dilakukan seleksi. Cara penulisan sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok yaitu: 1) Pengumpulan data yang berasal dari jaman yang sedang dialami menjadi konsentrasi dan pengumpulan bahan-bahan: tercetak. 4) Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya tersebut menjadi suatu penyajian atau deskripsi yang berarti. yakni hasilnya dapat diverifikasi dan dapat titolak atau diterima. dan deskripsi. Sejarah merupakan suatu metode atau prosedur (procědě de connaissance). tertulis dan lisan yang relevan. . 2) Menyingkirkan bahan yang dianggap tidak otentik 3) Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan bahan yang otentik. karena pada batas-batas tertentu metode sejarah analitis adalah ilmiah.1969). sehingga metode sejarah dapat diterapkan pada berbagai disiplin yang digunakan sebagai sarana untuk memastikan fakta (Gottschalk. Rekonstruksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses historiografi (penulisan sejarah). Dan cara tersebut berbeda dengan metode sejarah analitis.

perabotan dan sebagainya. seperti: candi. 3) Peninggalan yang tidak tertulis atau budaya. bangunan. baik berdasarkan perbedaan waktu terjadinya atau tempat terjadinya di dalam kurun waktu yang sama. sehingga masih dapat dikelompokkan sebagai usaha mengungkap fakta masa sekarang.Secara umum sumber data yang digunakan dalam penelitian sejarah dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu: 1) Peninggalan berupa material. adatistiadat.1990): 1) Penelitian atau studi komparatif hitoris. kepercayaan. cenderung menggunakan data yang belum terlalu lama. seperti berupa ceritera rakyat. senjata. kitab. hukum. pendekatan historis menggunakan data yang relatif sudah lampau. perhiasan. monumen. lontar. dogeng. relief. posil. 2) Peninggalan tertulis: seperti: prasasti.dan sebagainya. Studi dokumenter. dilakukan dengan membandingkan gejala yang sejenis. Sedangkan dari segi waktu. Bentuk penelitian historis (Namawi. . naskah kuno dan sebagainya. Penggunaan arsip dan dukumen harus dibedakan dengan studi dokumenter yang merupakan metote deskriptif.

Pendekatan Semiotis Pendekatan Semiotis diartikan sebagai prosedur yang digunakan untuk pemecahan masalah yang ditinjau dari perspektif ilmu tanda atau dikenal dengan “semiologi” atau “semiotika”. kriya dan desain pendekatan semiotis dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah estetika dan semantika produk kriya. Bermaksud mengungkap kegiatan-kegiatan pemerintah suatu bangsa. B.2) Penelitian legal atau yuridis. sehingga berpengaruh bagi kehidupan pada masa terntentu dalam prospek sejarah. pemikiran filsafat dan lain-lain yang dapat ditemui di dalam berbagai peninggalan tertulis terutama buku-buku yang dihasilkan pada zaman tertentu. Upaya pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan dengan membaca atau menginterpretasikan hubungan antar tanda dan makna pada produk kriya. 3) Penelitian bibliografi atau kepustakaan. 4) Penelitian kronologis atau secara diakronis penelitian ini bermaksud untuk mengungkap kejadian atau keadaan dan peristiwa menurut urutan waktunya dari masa yang paling tua dapat dicapai sampai masa-masa mendekati masa sekarang. lembaga dalam menetapkan kebijakan. Dalam bidang seni. kerajaan. . dilakukan untuk mengungkap berbagai teori pandangan hidup.

tanda. bahwa pengertian semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda. Di Eropa ilmu tersebut disebut dengan Semiology.Indeks. dalam artian sign atau tanda. simbol. seorang filosuf dari Amerika. Semeion. Merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (18571913). sebenarnya dalam desain bukan merupakan hal yang baru. seorang linguis dari Swiss. yaitu sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi. Di Amerika ilmu tersebut disebut dengan Semiotics. berasal dari kata signum yang berari sebuah tanda khusus. ikon yang merupakan hal yang mendasar dalam semiotika. Dia menegaskan bahwa peranan tanda dalam kehidupan sangatlah besar. yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce (1838-1914). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan. Sebab menurut Tjahjono (1980) bahwa istilah desain (design) dalam penggunaannya sebagai kata kerja berasal dari kata latin-baru desingare yang berarti ‘menandai’ atau membatasi (penambahan suku kata ‘de’ di depan menunjukkan pemakaian secara intensif). Kata desingare sendiri mempengaruhi kata designer dari bahasa Perancis abad pertengahan (dalam pengertian merancang). seperti sistem tanda. proses yang berlaku dalam penggunaan atau fungsi tanda. hubungan . Namun kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani.

Ruang lingkup kajiannya tidak terbatas pada bidang bahasa saja. dan penerimaan tanda dalam komunikasi tanda. symbol dan myth ke dalam cakupan semiotika (dalam Santosa. termasuk pengiriman. baik menggunakan bahasa verbal atau ujar maupun non-bahasa atau nirujar. dan berbagai produk lainnya (The American Heritage® Dictionary of the English Language. konvensi dan sebagainya (Zoest dalam Soekowati. penerima dan pengiriman tanda. Luxemburg menyatakan. seperti . cara berfungsi. Kemudian Wiryaatmadja (1981) menyatakan. seperti gerak isyarat atau gesture. bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda dalam maknanya yang luas di dalam masyarakat. yang memasukan image (citra). 1984). Third Edition. bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tentang tanda dan lambang (sistem dan proses perlambangan) (Luxemburg dalam Hartoko. 1993). Dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa bidang kajian semiotika sangat luas. baik bersifat literal maupun alegori (kias) atau figuratif. hubungan antara tanda dengan tanda lainnya. Batasan tersebut sesuai dengan pendapat Rene Wellek dalam telaah linguistik. Dalam pengkajian semiotika menggunakan beberapa pendekatan. Semiotika mempelajari tentang tanda.dengan tanda lainnya. pakaian. 1992 ). tetapi meliputi berbagai aspek kebudayaan. 1990). metaphor (metafora).

tanda selalu menunjuk pada sesuatu hal yang riil. hubungan dengan tanda-tanda lain dan cara bekerja samanya dalam menjalankan fungsinya. lambang (symbol) dan isyarat atau sandi. apabila mengutamakan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerima tanda. peristiwa. benda. . misalnya. tulisan. 3) Pragmatik semiotika. sehingga tanda memiliki arti yang statis. makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan objek atau sesuatu — apa yang dimaksud oleh tanda. dan bentuk-bentuk tanda yang lain. tindakan. bahasa. lugas dan objektif. disebut designatum atau denotatum. Menurut Peirce. secara garis besarnya mencakup komponen dasar. apabila pengkajian menonjolkan hubungan tanda dengan acuannya dan interpretasi yang dihasilkannya. Dalam konteks tersebut.1) Sintaksis semiotika. Bidang kajian semiotika seperti dipaparkan tersebut. 2) Semantik semiotika. diacu atau ditunjuknya. umum. kejadian. seperti tanda (sign). yaitu studi tentang tanda yang berpusat pada penggolongan. 1) Tanda (sign) merupakan komponen semiotika yang menandai suatu hal atau keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subyek.

yaitu denotatum. ground dan interpretant. misalnya. maka dari tanda yang orisinil berkembang menjadi suatu “tanda yang baru” disebut interpretant. “Sesuatu” yang diacu oleh tanda agar dapat berfungsi disebut dengan latar atau ground. Interpretant merupakan suatu peristiwa psikologis dalam pikiran interpreter atau penterjemah.Dalam Bahasa Prancis digunakan kata référent. Keseluruhan dari proses terlaksananya representamen digambarkan oleh Peirce dalam diagram segitiga. Tanda mempunyai dua entitas yaitu: signifier atau wahana tanda dan signified atau wahana makna atau dapat diartikan sebagai penanda dan petanda serta keduanya tidak dapat dipisahkan. Representamen dapat terlaksana apabila ada bantuan sesuatu. Setelah tanda diasosiasikan dengan suatu acuan. konvensi. Jadi dalam suatu tanda selalu terdapat tiga unsur. seperti tampak pada Gambar 21 berikut: . 1992). (Sudjiman. sedangkan dalam Bahasa Indonesia disebut “acuan”— disebut representamen.

sebelum memasuki pura atau tempat suci agar “membunuh” sifat-sifat “keraksasaan” (marah. namun setelah mengacu pada latar (ground) yang terkait dengan pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. atau emosi diri yang tak terkendali lainnya)— maka patung tersebut akan menjadi tanda . —dua buah patung raksasa tersebut mempunyai fungsi komunikasi tanda visual. yaitu untuk “menyadarkan” atau mengingatkan umat.Sumber: Eco 1979 Gambar 21: Proses Berlangsungnya Representamen Salah satu contoh: dua buah produk kriya berupa patung raksasa apitlawang (Bahasa Bali) yang diletakkan mengapit pintu gerbang utama pura atau paduraksa. loba. dengki. Awalnya patung tersebut merupakan tanda untuk “benda biasa” atau sekadar hiasan semata.

yaitu: a) Qualisign adalah terbentuknya tanda berdasarkan sifat atau kualitas. maka pada dirinya akan muncul interpretasi yang menggugah kesadaran. Dalam kondisi tersebut. c) Legisign adalah tanda terbentuk atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum. konvensi atau kode. b) Sinsign berasal dari singular sign adalah tanda terbentuk berdasarkan penampilannya yang nyata. Bagi umat yang memahami latar atau ground yang tersirat pada patung tersebut. semua pernyataan individual yang belum terkonvensikan dapat disebut sinsign. bahwa memasuki pura hendaknya mengendalikan “emosi”. Unsur penanda (dasar atau latar) atau ground dari tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifatnya.baru yang memuat latar tersebut. Selain hal tersebut. tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifat penghubung tanda dengan denotatum. sehingga dapat mengikuti upacara dengan khidmat. yaitu: . seperti. dapat dikatakan representemen dari patung tersebut dapat berlangsung dengan baik.

apabila tanda tersebut dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum. c) Argument atau interpretant dalam arti umum. b) Dicisign. Contoh. b) Indeks adalah tanda yang sangat tergantung pada denotatum dan memiliki hubungan bersebelahan atau kedekatan eksistensi. apabila bagi interpretant tanda itu. ada asap sebagai pertanda ada api dan sebagainya. . Batasan tersebut mengimplikasikan bahwa segala sesuatu merupakan icon. c) Symbol atau lambang adalah hubungan berdasarkan konvensi dari suatu kelompok komunitas manusia. Selanjutnya unsur interpretant atau petanda dapat dibedakan menjadi tiga. Dalam hal tersebut tanda terkait dengan renungan kebenaran. menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda denotatum. membawa penjelasan mengenai daya atau kekuatan kebenaran pada sistem-sistem semiotika.a) Iconic adalah tanda terbentuk berdasarkan suatu kemiripan potensial yang dimilikinya dan tidak tergantung pada makna denotatum. karena semua yang ada di alam dapat diasosiasikan dengan yang lain. yaitu: a) Rhême.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ernst Cassirer. (Cassirer. juga mempunyai kelebihan untuk menciptakan sistem komunikasi dengan matra baru yang menyesuaikan dengan lingkungan realitas. berperasaan. sebagai kata benda. maksudnya prihal yang . karena hampir semua aktivitas dalam kehidupan manusia sehari-hari. bersikap. instead of defining man as an animal rationale. Istilah simbol berasal dari perkataan Yunani. dari dulu hingga sekarang tidak terlepas dari aktivitas simbolisasi. membaca. Manusia sering disebut sebagai “mahkluk simbolik”. bahwa semua mahkluk ciptaan Tuhan dalam menghadapi realita kehidupan.. yaitu sistem penerimaan dan pemberian.2) Lambang atau simbol . symballein (suatu bentuk kata kerja) yang berarti meletakan secara bersama atau menaksir bersama. seperti dalam berpikir. bekerja dan sebagainya.. umumnya dilandasi oleh dua sistem. Dan sekaligus dipakai untuk menandai salah satu perbedaan manusia dengan binatang Sehingga ia menyatakan: ”. 1944). yaitu kemampuan untuk menciptakan “sistem simbolik”. we should define him as animal symbolicum”. berkomunikasi. berarti perbandingan dengan sesuatu. Namun manusia selain terlibat dua sistem tersebut.

seperti Gambar 22 berikut. berdasarkan konvensi atau kode yang berlaku umum dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu. Dalam kaitan dengan simbol. denotatum. Ogden dan Richards dalam Eco (1979) memberi dua istilah. isi atau konsep sebagai acuan) dan referent (yang mengandung persepsi. Sumber: Eco 1979 Gambar 22 Berlangsungnya Referent . karena merupakan analogi tanda untuk menghadirkan tanda yang lain.harus dikaji dengan kritis. Lambang atau simbol adalah tanda yang mampu menuntun pemahaman si subjek kepada objek berhubungan dengan makna denotatum dan konotatum. yaitu reference (yang mengandung. Ketiga komponen tersebut digambarkan dalam diagram segitiga. “sesuatu” dan sebagainya. sebagai hasil interpretasi).

simbol dan isyarat. Jadi isyarat selalu bersifat temporal (kewaktuan). sehingga lambang atau simbol bermakna dinamis. Dalam keadaan tersebut. Perwujudannya sangat tergantung pada permasalahan yang bersifat kultural. isyarat akan berubah menjadi tanda atau perlambang (Santosa. Sebenarnya penerapan ketiga komponen semiotika. impian dan bentuk-bentuk abstrak lainnya dapat direalisasikan dalam wujud simbol.Jadi simbol merupakan tanda yang mengandung pengertian sertaan dan antara simbol dengan yang disimbolkan atau referent yang dihasilkan sama sekali tidak terdapat pertalian makna alamiah. khayalan. Mitos. situasional dan kondisional. sering . Lambang atau simbol merupakan pedoman untuk memudahkan pengenalan atau penghayatan sesuatu di tengah-tengah kesemerautan perbuatan manusia dan keragaman kejadian alam. dan majas. seperti tanda. apabila ditangguhkan pemakaiannya. subyektif. kias. Karena di dalamnya terkandung kaidah yang bertalian dengan akal budi dalam seluruh paradigma tentang kehidupan sadar dan di bawah sadar.1990). si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek yang memberi isyarat pada waktu itu juga. khusus. 3) Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan oleh si subjek kepada objek.

5. terutama dalam menentukan garis demarkasinya secara tepat. TANDA (2) subjek diberitahu oleh objek (subjek pasif) hanya memuat dua arti subjek dibeitahu oleh objek terus menerus (berlaku konstan) SIMBOL (3) subjek dituntun memahami objek (subjek aktif) memuat banyak arti atau sedikit-dikitnya dua arti. hanya dapat dipahami oleh manusia. 4. yang dipakai sebagai dasar isyarat tidak ada hubungan khusus dengan yang diisyaratkan. diketahui oleh manusia. seperti Tabel 2 berikut: Tabel 2 Tiga Komponen Semiotika No. berbentuk konkret dan / atau abstrak. berbentuk abstrak dapat dikenal oleh binatang dan manusia yang dipakai untuk lambang atau simbol tidak mempunyai hubungan khusus dengan yang dilambangkan atau disimbolkan.menemui kesulitan. karena terkonvensi berbentuk konkret dan atau abstrak. secara garis besarnya dapat dilihat ciri masing-masing komponen tersebut. ISYARAT/SANDI (4) diberitahukan oleh subjek kepada objek (subjek aktif) hanya memuat satu arti diberitahukan oleh subjek kepada objek secara langsung (berlaku satu kali) 2. . (1) 1. 6. dan dapat juga oleh binatang setelah diajarkan secara berulangulang yang dipakai untuk tanda selalu mempunyai hubungan khusus dengan yang ditandai (kontekstual). Hal tersebut disebabkan. Namun berdasarkan uraian tersebut. karena ketiganya saling terkait. 3. subjek dituntun memahami objek secara terus menerus (berlaku secara konstan).

Hal tersebut dilakukan mengingat dalam mengamalkan ajarannya. terutama terkait dengan model semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure maupun Ogden dan Richards —dimana antara tanda (sign). alam dan juga binatang untuk manusia dan/atau binatang. Terutama penggunaan tanda atau simbol dalam konteks pelaksanaan ajaran agama Hindu sesuai adat di Bali. penanda (signifier) dan petanda (signified) meunjukkan hubungan yang “statis”— merupakan semiotika dengan model berpikir struktur. sinkronik dan konvensional —Apapun bentuk pertukaran tanda.(1) 7. hampir semua diwujudkan dalam bentuk simbol atau lambang dengan konvensi yang telah mapan dan stabil yang mengacu pada mitologi atau filosofi agama Hindu dan didasari keyakinan. 1983) (3) diciptakan oleh manusia untuk manusia. (4) diciptakan oleh manusia untuk manusia dan “mahkluk lain” Penjelasan semiotika tersebut. (2) diciptakan oleh manusia. harus mengikuti model struktur kaitan antara penanda dengan petanda yang berlangsung stabil atau mapan— serta sebagai konsep dari paham strukturalis. maka model semiotika tersebut akan dipakai untuk menjelaskan atau memaparkan tinjauan mengenai penggunaan tanda atau simbol dalam masyarakat Hindu di Bali pada zaman Hindu dan pewaris tradisi tersebut. Simbol-simbol tersebut diupayakan dengan harapan agar dapat “mempermudah” . (Herusatoto. Sehubungan dengan hal tersebut.

seorang pemikir post-strukturalis dari Perancis. Misalnya. Sedangkan kajian semiotika terkait dengan fenomena eklektik pada desain produk masa kini di Bali diuraikan berdasarkan model semiotika ‘intertekstualitas’ (intertextuality) yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva. Pemikiran tersebut menjadi salah satu konsep dalam paham post-strukturalisme. Sebuah teks atau produk desain atau seni selalu dibuat dalam ruang dan waktu yang konkrit. Kristeva menerangkan bahwa pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam analisis teks atau produk desain atau seni. bahwa “dialogisme” sebagai relasi-relasi yang harus ada di antara ungkapan-ungkapan dalam discourse. Model semiotika tersebut merupakan pengembangan lebih lanjut dari paham ‘dialogisme’ (dialogism) yang diperkenalkan oleh Mikhail Bakthin. Oleh sebab itu. diwujudkan dalam produk-produk kriya seperti: patung.penghayatan kepada sifat-sifat maya Tuhan. senjata dan sebagainya. Dalam buku Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979). karena tidak ada ungkapan yang tidak terkait dengan ungkapan lain. maka antara satu teks atau produk dengan teks atau produk yang lain dalam ruang dan antara satu teks atau produk dengan teks atau produk sebelumnya yang saling silang me- . seorang pemikir Rusia. relief. Menurut pendapat Mikhail Bakthin.

sehingga sepanjang perlintasan tersebut. 1979). sering dijumpai . Istilah intertekstualitas merupakan proses perlintasan atau diistilahkan dengan ‘transposisi’ (transposition) dari satu sistem tanda (sign system) ke sistem tanda yang lain. Konsep intertekstualitas yang dikembangkan oleh Kristeva tersebut dapat digambarkan dalam suatu sekematik seperti Gambar 23 berikut Gambar 23 Transposisi Sistem Tanda Berdasarkan Model Semiotika Intertekstualitas (Intertextuality) Dalam penggunaan tanda atau simbol dengan petanda atau maknanya di masyarakat. Misalnya dapat menimbulkan terjadi ‘penghapusan’ atau ‘pengkaburan’. suatu sistem tanda kadang-kadang dapat berdampak negatif atau ‘merusak’ sistem tanda sebelumnya. Pemakaian petanda sebelumnya yang telah mapan untuk petanda baru yang kurang jelas maksudnya akan menunjukkan terjadinya suatu perlintasan sistem tanda. ‘pelesetan’ bagian tanda dari sistem tanda yang menjadi referensinya.nyilang satu dengan yang lainnya dalam rentang waktu tertentu mesti ada relasi-relasi ( Kristeva.

Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya Berdasarkan uraian tersebut dan dikaitkan dengan penciptaan serta penggunaan produk kriya dalam kehidupan masyarakat di Bali. Untuk lebih jelasnya mengenai permasalahan semiotika dalam produk-produk kriya. nostagia. janji dan sebagainya. di dalam tersirat nilai-nilai atau norma-norma budaya yang melibatkan beberapa komponen semiotika. misalnya dalam pengadaan komoditi mata dagangan. . Konsumen sering disuguhi permanen tanda-tanda atau simbol-simbol yang dikondisikan oleh pihak produsen dengan tujuan untuk memperoleh benefit atau untuk memenangkan kompetisi dagang. prestise. Hal tersebut. seperti telah dipaparkan tersebut. akan dilakukan tinjauan berdasarkan konsep yang melatarbelakangi penciptaannya. Pada mata dagangan tersebut terjadi ekspansi secara total serta perkembangbiakan konvensi tanda yang tak terbatas untuk mencapai kesenangan. image. seperti konsep “sekular” dan konsep spiritual religius serta dikaitkan dengan nilai fungsi guna dan estetis yang dikandungnya. C.terjadi fenomena “permainan penanda”. maka permasalahan rancangan produk-produk kriya juga dapat dianalisis berdasarkan pendekatan semiotika. mengingat produk-produk kriya masa lalu juga merupakan salah satu artefak kebudayaan.

karena bangun tanda yang diwujudkan lebih lugas. memotong. baik berupa produk fungsional sebagai alat bantu. dan sebagainya. Sistem tanda tersebut dapat sebagai penuntun dalam penggunaan produk tersebut. seperti kebutuhan produk kriya berupa peralatan kerja untuk profesi sebagai petani. Sehingga ditinjau dari historis dan semiotis produk yang digunakan oleh seseorang dengan mata pencaharian tertentu juga dapat dipakai sebagai . maka para pemakai (user) akan secara gamblang dapat menafsirkan tanda-tanda yang bekerja pada wujud visualnya. alat untuk mengambil. maupun sebagai produk yang berfungsi estetis sebagai benda hiasan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekular. tukang. Wujud produk kriya fungsional yang diperuntukan sebagai peralatan kerja (working tool) dalam perencanaannya terkait dengan tuntutan kebutuhan suatu profesi. objektif dan mengutamakan segi utilitas karena semata-mata untuk dipakai.1. pedagang. menusuk dan sebagainya. sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan akan produk kriya. Konsep Sekular Berbagai aktivitas kehidupan masyarakat di Bali. jika ditinjau dari sudut semiotika. produk kriya berfungsi sebagai wadah. maka tampak tanda-tanda yang diterapkan lebih mengutamakan makna denotasi dan mengarah pada kategori pragmatis semiotika. Dengan konsep penerapan tanda tersebut. Konsep desain produk kriya untuk benda fungsional. Misalnya.

Produk kriya yang diciptakan disertai dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan menyangkut hal-hal bersifat psikis. maka berbagai upaya dilakukan oleh para kriyawan untuk menghasilkan produk kriya yang unik.indeks mengenai profesi seseorang. Sehubungan dengan hal tersebut. kesatuan. maka tuntutan kebutuhan hidupnya juga semakin kompleks dan bervariasi. Seperti mempertimbangkan segi estetis yang menyangkut keseimbangan. dalam konteks semiotika akan bertindak sebagai dicisign. makna dan sebagainya. Kemudian dengan semakin majunya tingkat peradaban masyarakat. sehingga secara subjektif dapat menyentuh sukma dan dirasakan sebagai penghargaan bagi para pemakai. maka alat tersebut jelas digunakan oleh profesi seseorang sebagai petani tradisional. . keselarasan. Pemenuhan kebutuhan akan produk kriya tidak hanya terbatas pada fungsi guna semata. alat bajak yang ditarik oleh sapi dengan fungsi untuk membajak tanah pertanian. Menawarkan berbagai alternatif produk dengan menanamkan tanda atau simbol dengan makna konotatif. indah dan dengan berbagai karakteristiknya. melainkan mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan bersifat “sekular” atau hedonistik. Dengan upaya tersebut dapat melahirkan suatu image atau citra rasa tertentu dalam masyarakat. Misalnya. Produk kriya seperti tersebut. karena interpretasi menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda dan denotasinya.

Pada fenomena tersebut tanpa disadari terjadi permainan tanda dengan konvensi yang terkondisikan dan dengan matra yang tak terbatas. selain digunakan untuk perhiasan. keagungan atau kekuasaan seorang individu ciptaan Tuhan yang memiliki status sebagai raja. Misalnya dalam fenomena kecenderungan membeli produk kriya tradisonal Bali. Produk-produk kriya diangkat statusnya dan digunakan se- . juga disepakati sebagai tanda atau simbol ikatan perkawinan. juga tampak fenomena memakai kekuatan nilai tukar yang kecenderungannya lebih menyandarkan pada makna konotasi. Di antara para wisatawan yang berkunjung ke Bali tampak banyak yang menbeli produk-produk kriya tradisonal Bali disertai dengan harapan untuk memperoleh kenangan-kenangan tentang hasil kebudayaan tradisional Bali atau dipakai sebagai tanda kebanggaan. dikonsumsi dan dipakai tanda kenangan atau sebagai simbol harga diri seseorang atau prestise. sebagai simbol kebesaran. Pada zaman kerajaan. bahwa mereka pernah berkunjung ke objek wisata di Bali dan sebagainya. Produk kriya berupa cincin.Misalnya. Dalam perkembangan produk kriya sebagai mata dagangan. produk kriya berupa mahkota yang dibuat dengan berbagai hiasan dan tanda atau simbol yang terkonvensi dalam suatu masyarakat. produk tersebut dengan faham fitisime dapat berfungsi untuk pembeda status sosial di dalam masyarakat. Produk-produk kriya tradisonal yang memiliki ciri khas daerah tertentu dan sebagainya.

kadang-kadang tindakan tersebut sampai melupakan nilai utilitas dan religius pada produk tersebut. 2. maut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Baudrillard. bahwa dalam kondisi seperti tersebut justru nilai guna sering kali tak lebih dari semacam jaminan praktis (alibi) (Baudrillard. manusia menginginkan adanya jalinan hubungan dengan Tuhan atau keinginannya untuk menerima ikatan-Nya. misalnya menyangkut tentang hakikat hidup. Pada tingkatan ini. bayangan wujud dewa-dewa dan mahkluk halus lainnya yang mendiami alam tidak nyata. sehingga berkembang sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan dan penafsiran terhadap sifat-sifat Tuhan serta wujud dari alam gaib yang transendental. Keyakinan itu bersumber dari: ajaran agama berupa wahyu suci yang terhimpun dalam kitab-kitab suci. Konsumer terkadang bukan lagi mencari konteks makna. karena diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotasinya. Konsep Spiritual Religius Manusia Bali setelah melalui tingkatan hidup estetis dan etis. 1981). sehingga terjadi ketidakstabilan penanda dan petanda. biasanya melanjutkan tingkatan hidupnya ke arah mencari nilai religius. mitologi . Dalam hal tersebut akhirnya produk kriya menjadi Rhême.bagai simbol-simbol tertentu yang menghasilkan berbagai interpretasi pada masyarakat konsumen.

peralatan upacara dan fungsi estetis dalam wujud benda hiasan. maka muncul sistem upacara religius yang merupakan visualisasi kelakuan atau behavioral manifestation. berupa bangunan suci. pada umumnya mencakup beberapa fungsi. beryajña. Perilaku tersebut diwujudkan dalam berbagai macam ungkapan seperti. berkurban. Salah satu contoh dapat dilihat dalam tata cara penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. berbagai peralatan upacara termasuk melibatkan produk-produk kriya yang disakralkan. bertapa. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol. menyanyi. dan sebagainya. berdoa. Produk kriya tersebut digunakan sebagai “alat” . sehingga dalam produk tersebut terpatri suatu “ideologi” tertentu yang nilai-nilainya diyakini dan dijadikan sebagai tradisi. Produk-produk kriya yang dipakai dalam upacara agama. misalnya. bersaji. bersemedi. bersujud. dalam perwujudannya dilandasi dengan suatu konvensi yang acuannya merujuk pada ajaran agama atau kepercayaan dari suatu komunitas manusia yang sepaham. sarana komunikasi. Sehubungan dengan tujuan manusia tersebut. seperti berfungsi sebagai simbol.dan ceritera-ceritera rakyat berupa dongeng yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat tertentu. juga muncul penghargaan pada suatu benda untuk digunakan sebagai sarana pendukung kepercayaannya. Selain hal tersebut. menari. berprosesi. berpuasa.

upacara, simbol-simbol diwujudkan berdasarkan konvensi yang mengacu atau dilatari kosmologi Hinduistis di Bali, sebagai media komunikasi yang dilandasi konsep Tri Hita Karana dan difungsikan sebagai hiasan. Produk kriya yang digunakan untuk simbol tersebut, merupakan tanda bersifat argument, karena interpretasinya terkait dengan renungan tentang kebenaran keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan maha segalagalanya (seperti telah disinggung di depan). Dengan penggunaan simbol-simbol tersebut, diharapkan dapat mempermudah penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu serta untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak-Nya tersebut. Perwujudan produk kriya sebagai tanda atau simbol, kadang dapat dalam bentuk icon, seperti stilasi bentuk manusia, binatang, benda alam dan sebaginya. Misalnya diwujudkan dalam berbagai produk kriya, seperti berbentuk relief, patung atau pratima dan sebagainya atau dibuat berdasarkan kualitas material yang digunakan atau qualisign, misalnya, warna (darah binatang, warna bunga, kapur, arang dan lainnya), karakter bahan (suatu jenis kayu, batu, kulit, logam dan sebagainya). Namun tidak dipungkiri, bahwa dalam menginterpretasikan simbol-simbol tersebut, sering terjadi perbedaan pandangan, sehingga melahirkan interpretasi bersifat mendua antara masyarakat yang berada dalam konvensi dengan di luarnya. Salah satu contoh produk

kriya berupa umbul-umbul bergambar naga taksaka yang digunakan sebagai salah satu sarana upacara Agama Hindu di Bali. Bagi umat Hindu menganggap benda tersebut sebagai tanda diadakan upacara agama dan sekaligus penerapan gambar naga taksaka disepakati sebagai simbol lapisan alam atas (Swah Loka). Sebagai dasar acuannya adalah kosmologi Hinduistis dengan interpretasi yang bersifat konotatif dan dianggap sakral. Sedangkan bagi umat atau orang yang tidak paham atau berada di luar konvensi tersebut, melihat umbulumbul tersebut hanya sekedar hiasan belaka. Fenomena seperti itu, belakangan ini memang cukup banyak terjadi di daerah Bali. Produk-produk kriya seperti itu, kadang hanya dilihat dari fungsi estetisnya saja. D. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu Eklektik adalah suatu usaha yang bersifat memilih unsur-unsur yang baik atau menggunakan bermacammacam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya, baik berupa orang, gaya, metode, kepercayaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam buku ini yang dimaksudkan adalah eklektisme terhadap elemen estetis masa lalu yang diterapkan pada desain produk masa kini. Tindakan “memilih” unsur-unsur tersebut secara tidak langsung jelas akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada vitalitas idiom masa lalu itu sendiri maupun kesatu-

an substansi pada desain produk masa kini. Fenomena tersebut dapat dipahami dari beberapa istilah seperti berikut: 1) Pastiche Istilah pastiche berarti menyusun elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai pengarang atau seniman masa lalu. Oleh sebab itu, istilah ini bisa mengandung pengertian dengan konotasi negatif dan dianggap miskin orisinallitas (Baldick dalam Yasraf 1994). Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Parody, dijelaskan bahwa: Pastiche, in this sense, is a pure imitation without any pretension. A pastiche text imitate other past text, in order to emulate or to appreciate them. Pastiche has been called by one critic as “form rendering” to describe its superficiality, that is, its lack to thoroughness. (Hutcheon, 1985). Menurut Linda Hutcheon, pastiche adalah suatu bentuk imitasi murni, tanpa disertai dengan pretensi tertentu. Gaya atau teks yang dipakai meniru dari teks masa lalu, disebut sebagai kritikan “gubahan bentuk” yang menunjukan suatu kedangkalan sebagai kekurangan yang utama. Selain hal tersebut, Fredric Jameson secara metaforis menyebut istilah tersebut sebagai “penggunaan topeng sejarah, pengungkap-

1994). kekurangan. artinya produk sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya atau kata penulis atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan. Jadi dari uraian tersebut. atau kemasyuran) (Yasraf. . keseriusan. seni. bahkan bermuatan politis dan ideologis. atau arsitektur dengan tendensi bersifat memilih dan didistorsi. dan humor. kritik. 1991). dijelaskan bahwa.an dalam bahasa yang telah mati” (Jameson dalam Yasraf. pada dasarnya parodi adalah merupakan suatu fenomena yang terjadi dalam produk sastra. Dalam peniruannya dapat bersifat ironis dan kritis. Dengan demikian. 2) Parody Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994). gaya atau produk yang menjadi sasarannya (kelemahan. parody (parodi). Parodi merupakan suatu bentuk “dialogisme tekstual”. parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk. yaitu dua teks atau lebih dipertemukan dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat. kemudian diimitasi dalam suatu produk dengan tujuan mengarah pada humoristik dan kadang kala bersifat “pelesetan”.

merupakan suatu upaya untuk menghasilkan efek-efek reproduksi dalam sistem kebudayaan massa atau membangun aura seni dari reproduksi itu sendiri. Mengimitasi suatu bentuk gaya atau objek untuk tujuan yang palsu. pada awalnya keberadaan kitsch didorong oleh semangat mereproduksi. yang diakibatkan oleh berkembangnya produksi.3) Kitsch Istilah Kitsch berasal dari bahasa Jerman. Menurut Clement Greenberg. . konsumsi dan komunikasi massa. (Greenberg dalam Yasraf. Predikat kitsch sebagai selera rendahan dimanifestasikan oleh lemahnya ukuran dan kriteria estetis yang dipakai. kitsch bertujuan mensimulasi atau mengkopi elemen-elemen gaya “seni tinggi” atau objek sehari-hari untuk kepentingan sendiri dan menjadikan sebagai mass product. Dalam bidang seni. Dan kistchen. verkitshen berarti “membuat murahan”. istilah ini sering diselaraskan artinya sebagai “sampah artistik” atau sering diberi pengertian sebagai “selera rendahan” atau segala produk seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. secara harfiah berarti “memungut sampah dari jalan”. 1995). Selain hal tersebut.

Dalam upaya mewujudkan produk. tekstur. Selanjutnya untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari tindakan eklektis terhadap produk kriya masa lalu dapat dipahami . 1992). permukaan sensual. estetik atas moral dan ironi atas tragedi. dan style dengan distorsi yang berlebihan dan meremehkan isi serta netral. dengan mengusung eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional dan dieksploitasi pada desain masa kini. berusaha menampilkan sesuatu yang special. Dengan memahami beberapa istilah di atas. kesemuan dan stylization atau penggayaan. berlebihan dan glamor (Sontag. camp lebih menititik beratkan pada dekorasi. Merupakan kemenangan gaya atas isi. Hubungannya dengan masa lalu bersifat “mendaurulang” dan sentimentil.4) Camp Pada fenomena estetika pengertian camp sering dikelirukan dengan istilah kitsch yang mengarah pada pengertian “selera rendahan” atau merupakan “sampah estetik”. Dalam suatu bentuk produk seni. Sebenarnya camp merupakan salah satu cara untuk melihat dunia sebagai suatu gejala estetik dalam derajat kecerdasan. kadang-kadang juga dapat menimbulkan dampak tersebut. ternyata dalam usaha perluasan desain masa kini yang berciri khas Bali.

yaitu dengan menganalisa beberapa contoh kasus penerapan elemen estetis produk kriya secara eklektik pada desain masa kini di Bali seperti diuraikan pada Bab V.pada uraian berikut. .

baik faktor internal yang disebabkan oleh penggunaan dan penghargaan . Kajian Historis Transformasi atau pergeseran merupakan suatu fenomena yang universal dan selalu mewarnai lintas sejarah perkembangan kebudayaan suatu masyarakat. maka suatu masyarakat dengan kebudayaannya secara mutlak tidak mungkin dapat hidup statis. Kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala dan terus mengalami perkembangan dan perubahan yang didorong oleh berbagai faktor. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini 1. stagnan dan terisolir. Oleh sebab itu. Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan atau pergeseran dalam fungsi waktu dengan laju yang bervariasi.BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A.

secara diakoronis dapat disimak. bahwa sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan neolitikum dan perunggu. berupa peralatan kerja untuk penunjang berbagai aktivitas hidup sehari-hari. maupun faktor eksternal berupa pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar melalui proses akulturasi yang berlangsung dari zaman ke zaman dalam kapasitas yang berbeda-beda. Ditinjau dari sudut historis mengenai perkembangan dan perubahan penciptaan serta penggunaan produk kriya di Bali. saat penduduk Bali masih hidup nomaden. Faktor pendorong tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 24. Bersamaan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sering dijumpai kasus fenomena penerapan elemen estetis produk kriya tradisional secara eklektik. Faktor pendorong tersebut seperti (1) karena adanya tuntutan kebutuhan produk kriya fungsional yang mengandung nilai utilitas. (2) sarana penunjang keagamaan atau kepercayaan dan untuk dipersembahkan kepada raja dan keluarganya (3) kebutuhan produk kriya untuk menunjang kebutuhan lain yang mengarah pada penciptaan produk kriya untuk memenuhi kebutuhan bersifat sekular.produk kriya dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Bali. Misalnya. hedonistik dengan mengutamakan fungsi estetis dan efek finansial yang ditimbulkannya. umumnya memiliki pola pikir terbatas . untuk memenuhi kebutuhan produk kriya penunjang kepariwisataan dan sebagai komoditi ekspor.

mereka menggunakan peralatan berupa produk kriya terbuat dengan batu. PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KEGIATAN EKSPOR PRODUK KERAJINAN DI BALI SARANA PENUNJANG Produk-produk kriya berupa:  Souvenir  menciptakan citra atau suasana MUATAN LOKAL/ ETOS KEBUDAYAAN UNSUR-UNSUR EKLEKTIK PADA KARYA MASA LALU (latar belakang sejarah) Gambar 24 Faktor Pendorong Munculnya Tindakan Eklektik Terhadap Elemen Estetis Tradisioanal Bali Di masa-masa selanjutnya. Penduduk di Bali telah mampu . tulang binatang. ranting kayu dan sebagainya. setelah masuknya pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu di Bali.pada usaha pemenuhan kebutuhan berupa makanan untuk kelangsungan hidupnya. dengan proses pengerjaan masih sangat sederhana. maka dalam sistem peralatan dan perlengkapan hidup mengalami perubahan. Dalam melakukan usaha tersebut.

kenyamanan dan simbolisasi sudah menggejala dan menjadi bagian yang esensial. cincin untuk bekal kubur dan sebagainya. sarkofagus untuk tempat mayat dan sebagai tanda penghormatan atau simbol kendaraan arwah. hasrat. pertimbangan mengenai keindahan. Pada zaman Hindu. nafsu atau emosi dalam diri individu untuk menghargai suatu materi yang distimuli oleh alam atau lingkungan masyarakat yang terbentuk. sistem relegi yang berkembang dan semakin menggejalanya pengaruh integrasi kebudayaan dari luar serta didukung dengan banyak waktu luang yang dimilikinya sebagai masyarakat agraris. disebabkan semakin meningkatnya kesadaran.menciptakan produk-produk kriya berupa peralatan terbuat dengan logam. Pada zaman tersebut. Munculnya gejala tersebut. masyarakat sudah mampu menghasilkan produk-produk kriya yang bermutu. misalnya dikerjakan sambil menunggu datangnya musim panen. Dalam proses penciptaan produkproduk kriya. misalnya peralatan berupa kapak batu yang dibentuk dan digosok sampai halus. nekara perunggu diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai simbol-simbol terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. batu. di Bali terjadi suatu “intervensi kebudayaan” yang bersifat menyempurnakan kebudayaan tradisi masa lalu dengan berorientasi pada . gerabah (tanah liat yang dibakar) dan sebagainya yang dikerjakan dengan teknik lebih sempurna.

. Perpaduan tersebut melahirkan suatu kebudayaan yang bercorak khas Bali. simbol dan benda pakai. senjata. sosial kemasyarakatan dan kebudayaan Bali dirumuskan dengan “bahasa” agama Hindu.penyebaran. patung. wayang. Perwujudannya berupa hiasan. maka para kriyawan saat itu mampu menghasilkan produk-produk puncak dengan kualitas yang sangat tinggi. Penciptaan produk-produk kriya dominan dikembangkan untuk keperluan Agama Hindu dan kerajaan. seperti ditujukan untuk menunjang kebutuhan sarana upacara ritual. Motivasi penciptaan dilandasi dengan konsep dharma. Hindu dari Jawa Timur bergabung dengan kultur agraris dan pemujaan roh leluhur yang telah tumbuh di masyarakat Bali. Semua kegiatan ekonomi. berbagai bentuk topeng. religius. pembinaan dan peletakan dasar-dasar ajaran Agama Hindu. Unsur India dominan pada taraf filsafat dan mitologi. seperti berupa hiasan pada pura. ketekunan serta keiklasan yang sangat tinggi. Dengan sikap tersebut. barang gerabah. sedangkan unsur kebudayaan Jawa umumnya tampak pada taraf ritual yang bersumber pada kitab suci Weda. pembinaan umat dan dipersembahkan kepada raja. dan loyalitas dengan kecenderungan dedikasi. karma phala yang diwujudkan dalam sikap kebersamaan (kolektif). meliputi sistem peralatan dan perlengkapan hidup. Terjadi suatu sinkretisasi atau proses penyerasian dua aliran (agama) dan akulturasi yang harmonis antara unsur-unsur kebudayaan India.

ternyata sampai sekarang masih digunakan dan diyakini oleh umat Hindu di Bali. halaman: 61). Hal tersebut mengingat heterogen- . dalam pembuatannya mutlak disertai dengan proses penyucian atau melalui beberapa tahap penyucian (lihat Tabel 1. seperti logam. Beberapa jenis kegiatan penciptaan produk kriya itu diwariskan dari generasi ke genarasi berikutnya dan sampai sekarang masih ditekuni oleh masyarakat kriyawan di beberapa daerah di Bali. Tergolong jenis kesenian Wali yang dianggap sebagai benda sakral karena. Produk-produk tersebut diciptakan dengan dilandasi kosmologi Hinduistis dan adat di Bali. khususnya yang digunakan dalam melaksanakan upacara ritual. sabuk dan sejenisnya). misalnya berupa simbol-simbol alam makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). Bahan yang digunakan. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol atau tanda terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Produk-produk kriya tersebut termasuk katergori produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. ternyata di dalamnya sarat mengandung makna atau nilai-nilai kesucian yang adiluhung. kulit binatang. tanah liat. yang terkait dengan kepercayaan tentang keagungan dan kekuasaan Tuhan serta ajaran suci tentang ciptaanNya. kayu dan sebagainya.busana hasil tenunan tradisional (berupa kain songket. Ditinjau dari sudut keyakinan umat Hindu di Bali terhadap nilai kesakralan yang dikandungnya.

Demikian juga dalam sifat Weda dan filsafat Wedanta. Dari sudut pandang ajaran agama Hindu. Oleh sebab itu. dalam konteks pengembangan pariwisata. Di sisi lain. maupun sesuai kerangka agama Hindu. seperti semakin berkembangnya corak masyarakat yang meng- . budaya tersebut juga dipakai sebagai daya tarik utama. ternyata “cara” tersebut memang diperbolehkan. dari zaman Hindu sampai sekarang nilai-nilai kesakralannya tetap diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. Pada zaman kolonial. dari uraian tersebut. Sehingga dalam tata kehidupan masyarakat di Bali tampak mengalami banyak perubahan. maka di masa-masa mendatang eksistensinya perlu dijaga dari penetrasi pengaruh-pengaruh luar yang dapat mengancam kelestariannya. Oleh sebab itu produk-produk kriya berupa simbol-simbol untuk sarana pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. seperti disebutkan dalam ajaran Catur Marga. sampai sekarang dan bahkan untuk seterusnya tetap hadir dan diperlukan.nya tingkat kemampuan umat dalam mengamalkan ajaran agama Hindu atau dalam hasrat menghubungkan diri dengan Tuhan. Bali dan kebudayaannya diperkenalkan sebagai daerah tujuan wisata. maka pengaruh-pengaruh Belanda dan kebudayaan masyarakat dari luar lainnya semakin merebak masuk ke Bali. jelaslah produk kriya yang digunakan sebagai sarana pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. Jadi.

Keadaan tersebut. mulai berkembang usaha yang bergerak dalam bidang perhotelan. dapat ditelusuri dari tujuan Belanda untuk menguasai Pulau Bali. mengaktifkan kembali kegiatan ekspor-impor barang yang sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. termasuk penciptaan “produk-produk kriya komersial”. Upaya tersebut diawali dengan usaha untuk mendatangkan para . Para kriyawan menciptakan produk kriya tersebut. Masyarakat Bali semakin dimantapkan dan didorong untuk bergerak dalam bidang ekonomi. kembali aktif. menjual hasil pertanian dan sebagainya. biro perjalanan. toko kerajinan. restoran. Dalam usaha menunjang pengembangan pariwisata. Gejalanya muncul secara “spontan” dari masyarakat kriyawan Bali saat itu. misalnya: membuat koperasi.arah pada usaha-usaha non-agraris. Selain hal tersebut pemerintah Belanda juga berkeinginan untuk mempertahankan keaslian kebudayaan Bali dengan menerapkan politik isolasi atau mengasingkannya dari pengaruh-pengaruh luar dan semata-mata ingin dijadikan sebagai “museum hidup”. selain untuk menguras hasil pertanian. semata-mata didorong oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat dan bukan atas prakarsa pemerintah kolonial Belanda. kesenian tradisional yang telah tumbuh dan berarkar di masyarakat Bali. peternakan dan lain-lainnya. Khusus mengenai masalah penciptaan produkproduk kriya yang bermuatan lokal dengan tendensi komersial.

penciptaan produk kriya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan kerajaan. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk menunjang pengembangan pariwisata pada saat terse- . Para kriyawan kebanyakan mulai memandang hasil produksinya sebagai mata dagangan yang bernilai ekonomis. Mengembangkan sistem pendidikan yang menyesuaikan dengan kebudayaan terkait dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu. Mereka cenderung menciptakan produk kriya dalam bentuk cenderamata untuk dijual kepada para wisatawan atau diekspor ke luar pulau Bali. Kemudian membangun Gedong Kertiya di Singaraja untuk menyimpan dan menyelamatkan kesusastraan Bali yang ditulis pada lontar. mengalami perkembangan baru dibandingkan sebelumnya. Namun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.pakar yang terkait dari negerinya. di mana pada masa berkembangnya pengaruh Hindu dan zaman kerajaan. faktor pendorong atau motivasi penciptaan produk kriya dengan serta merta mulai mengarah pada hal-hal bersifat komersial. untuk mempelajari berbagai aspek tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan tradisonal. misalnya dengan mengangkat tenaga pendidik lokal yang berkompeten dalam bidang kebudayaan Bali. Motivasi perluasan usaha penciptaan produk kriya di Bali saat tersebut. membangun museum di Denpasar untuk melindungi dan menyelamatkan artifak etnografi Bali.

Dalam masa pendudukan Jepang yang berlangsung relatif lebih singkat dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. tulang. tanah liat atau keramik (di Tabanan) dan lain sebagainya. tanpa kecuali produk yang digunakan untuk sarana pengamalan dan penghayatan ajaran agama Hindu Bali. Seperti: berupa patung. Dalam upayanya tersebut. fanil. Ubud. kadang juga muncul tindakan eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional. Usaha pengembangan pariwisata kurang mendapat perhatian. Seperti pengaruh seni rupa modern yang dibawa oleh para seniman Barat. Jepang lebih mementingkan usaha penanaman semangat militer dan arti penting perang Asia Timur Raya untuk meraih kemenangan. (berkembang di daerah Gianyar dan Badung). Di sisi lain. pengosekan dan sebagainya. Bangli dan di Buleleng). Oleh sebab itu. relief dan gambar atau lukisan dengan menggunakan berbagai bahan. Gianyar. seperti: Rudolf Bonnet. tempurung kelapa. logam (berkembang di Klungkung. di satu sisi tampak para kriyawan berusaha mengembangkan produk-produk kriya masa lalu yang diwarisinya. karena pada waktu tersebut. batu padas (berkembang di Gianyar). Perpaduan pengaruh tersebut. mereka juga mulai memadukan pengaruh dari luar. Walter Spies dan seniman lainnya.but. melahirkan produk-produk dengan style Batuan. misalnya: kayu. tanduk (berkembang di Gianyar). topeng. sehingga menghasilkan produk dengan berbagai penggayaan atau style. usaha .

Ulasan dari sudut historis tersebut memberi deskripsi bahwa pada saat mulai masuknya pengaruh Barat (Belanda) dan dijadikannya Bali sebagai daerah tujuan wisata.penciptaan “produk kriya komersial” semakin surut dan penggunaannya terbatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dikaitkan dengan pembangunan sektor perekonomian. ternyata merupakan salah satu pemicu arus penetrasi budaya modern dan global. Usaha pengembangan tersebut. sektor pariwisata di Bali kembali dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dengan tetap berbasis pada kekuatan budaya Bali sebagai daya tarik utama. sekaligus memberi dampak pada tata kehidupan masyarakat di Bali. Otoritas masyarakat pada saat tersebut sangat terbatas. kecuali pengaruh pemerintahan Jepang sendiri. Didorong pula oleh semakin meningkatnya permintaan para wisatawan akan produk-produk kriya yang bermuatan lokal berupa barang cenderamata. maka usaha penciptaan produk-produk kriya di Bali dengan serta merta mulai mengarah pada tujuan komersial dan disertai dengan muncul gejala penerapan elemen estetis produk tradisional secara eklektik pada desain yang kemudian diterapkan pada produk-produk kriya yang dibuat saat tersebut. Pada zaman kemerdekaan. Lapangan pekerjaan atau bidang usaha . ternyata upaya tersebut memberi pengaruh yang signifikan. sehingga keadaan kebudayaan Bali nyaris terisolir dari pengaruh luar. sekitar tahun 1950.

cukup mendorong para kriyawan dan pengusaha di Bali masa kini untuk semakin aktif menekuni sektor tersebut. Berbeda dengan dulu. Dan hasil produknya jarang diperjual belikan sebagai mata dagangan. Mereka termotivasi oleh aspek ekonomis yang dihasilkan dari produk kriya yang diciptakannya.industri kecil memiliki peluang atau opportunity untuk tumbuh dan berkembang. terutama di zaman prakolonial. sebelum terjadi tragedi bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 di Kecamatan Kuta dan bom Bali II pada tanggal 1 Oktober 2005. usaha tersebut sempat mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kondisi tersebut. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk dikonsumsi para wisatawan masa kini. Banyak di antara masyarakat di Bali menjadikan sebagai mata pencaharian tetap. di mana kegiatan menciptakan produk kriya hanya merupakan pekerjaan sambilan di waktu senggang seusai di sawah atau kesibukan lain. para kriyawan berupaya untuk menyuguhkan produk yang dapat memberi kenangan tersendiri. selain didorong oleh perkembangan sektor pariwisata. misalnya berwujud cenderamata yang menyiratkan keindahan alam atau ke- . juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kecil dan mendijadikan produk kriya lokal sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor non-migas. Pada dasawarsa belakangan. seperti dalam kegiatan penciptaan produk-produk kriya yang mengarah komersial.

salah satunya dengan menerapkan elemen estetis produk kriya masa lalu. berkeinginan menampilkan suasana yang berbeda dengan daerah lain. Dalam hubungan dengan kreativitas penciptaan produk kriya. misalnya dengan mengeksploitasi alam fauna dan flora sebagai sumber inspirasinya. seperti tampak pada Gambar 25 dan 26.budayaan Bali. di satu sisi tampak usaha inovatif yang mengarah pada produk individual. Demikian juga dalam penataan lingkungan. Gambar 25 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Fauna .

tampak semakin menggejala di kalangan masyarakat kriyawan. tindakan-tindakan eklektik terhadap elemen estetis produk kriya masa lalu yang diterapkan pada desain produk kriya masa kini.32 .Gambar 26 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Flora Di sisi lain. Mereka melakukan tindakan tersebut didorong oleh harapan atau keinginan untuk menciptakan produk-produk kriya etnik yang bermuatan lokal atau tercerap suasana atau citra rasa tradisional yang berciri khas budaya Bali seperti tampak pada Gambar 27.

. Gambar 28 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi.Gambar 27 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi.

.Gambar 29 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Panil untuk Barang Komoditi. Gambar 30 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Untuk Barang Komoditi.

Gambar 32 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Diterapkan Dalam Bentuk Tatto. sering muncul sikap “ketidaktaatan” yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. Dalam pemilihan unsur-unsur terbaik produk masa lalu.Gambar 31 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Façade Bangunan. Banyak di antara mereka kadang-kadang melupakan konteks nilai yang terkandung pada produk kriya masa lalu dengan masa- .

tetapi sekarang banyak digunakan untuk hiasan benda pakai yang bersifat profan. relief pada tebing dekat kuburan. Penerapan tersebut memiliki tujuan yang tidak jelas. kemudian diterapkan begitu saja pada benda-benda yang bersifat profan dengan lebih mengutamakan segi artistik dan semata-mata menyandar pada efek finansialnya. Diterapkan pada tebing kuburan. Tindakan tersebut jelas berdampak negatif. Bhoma diterapkan dengan ditatto pada bokong atau Ongkara ditatto pada lengan. merusak atau mengganggu kesepakatan yang telah mapan. diterapkan sebagai hiasan pada façade sebuah kantor bank . sebenarnya merupakan produk kriya yang mengandung nilai simbolis pada bangunan suci. jelas merupakan penyimpangan dan sama sekali tidak ada hubungan permaknaan.lah kepercayaan umat Hindu di Bali. Relief Acintya. Bhoma. semata-mata untuk sensasi. Ditiru atau direproduksi dengan kemampuan tangannya. (lihat Gambar: 31). Pada hal kedua elemen tersebut mengandung nilai religius dan konvensinya masih eksis di masyarakat Hindu di Bali. “dipilih”. Sebagai contoh. kemudian dijual sebagai barang cenderamata dan sebagainya. Garuda Wisnu dan Nãga. Hal tersebut. Produk-produk kriya wali yang digunakan dalam upacara agama dan dianggap sakral. seperti pada pelinggih padmasana. misalnya diterapkan sebagai hiasan dinding rumah tinggal. divisualisasikan dalam bentuk patung untuk menghias persimpangan jalan.

lonték dan tedung Agung. Idealisasi. namun sekarang digunakan untuk menghias halaman supermarket. restoran dan sebagainya.atau bangunan lain. Gambar 33 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional berupa Relief yang Sakral Diterapkan Di Perepatan Jalan dan Sebagai Hiasan Tebing Kuburan Selain hal tersebut. seperti pada upacara Odalan. Sehingga timbul kerancuan dan menimbulkan kebingungan bagi generasi penerus tradisi tersebut. Sehingga . banyak para kriyawan di Bali dalam kegiatan penciptaan produk kriya masa kini. hotel. Bedawang Nala dipakai hiasan tapal batas kota. artshop. sebenarnya sebagai “busana pura” yang dikenakan sewaktu melangsungkan upacara agama tertentu. inovasi dengan ide baru dan kreativitas mereka sering terhambat karena takut tidak laku di pasaran. cenderung tergantung pada permintaan pasar.

Sekalipun ada kriyawan yang berusaha mencipta “produk kriya baru”. seperti: Ide Bagus Nyana. misalnya dengan jalan “mengkopi” atau “membajak” produk-produk yang sedang laku dipasaran atau dengan tetap bertahan pada produk tradisional.dengan kondisi tersebut “jalan pintas” sering dilakukannya. Dalam proses penciptaan produk-produk kriya dengan unsur eklektik yang ditujukan untuk para wisatawan masa kini. juga didorong oleh pihak pengusaha produk-produk kriya di Bali. Dan banyak produk ciptaannya setelah dilemparkan di pasaran atau dipamerkan. Kejadian tersebut. Maksudnya. sikap mereka cenderung menyandar pada kesiapan. Dan permasalahan sudah dianggap selesai sampai di sana. itu pun hanya dilakukan oleh beberapa orang kriyawan. dalam proses penciptaan produk-produk tersebut yang seharusnya disertai dengan upacara penyucian. kemampuan atau keterampilan yang dimiliki para kriyawan untuk mengerjakannya. tetapi pada kenyataannya bagian tersebut sering ditinggalkan. juga tidak luput dari konsekuensi tersebut. “dipaksakan” dan “diberanikan” demi untuk memenuhi tujuan lain dengan alasan faktor ekomoni. Seperti dalam pemberian pesanan kepada para kriyawan. karena mereka merasa mampu memberi pelayanan yang memuaskan wisata- . I Nyoman Togog dan yang lainnya. terjadi “desakralisasi”. sehingga pesanan tersebut sesuai dengan keinginan konsumennya dan transaksi dapat berjalan tepat pada waktunya.

bahwa produk-produk kriya yang diciptakan oleh para kriyawan Bali di masa lalu. jelas kurang relevan. ternyata eksistensinya dapat menembus beberapa zaman dalam rentang waktu sangat lama. sehingga kesadaran untuk lebih selektif terhadap makna atau nilai yang dikandungnya terasa masih kurang. kompleks. Namun sikap tersebut. Salah satu faktor yang menyebabkan produk-produk tersebut dapat bertahan. Mereka tampak lebih mengutamakan Artha dan Kama sebagai tujuan hidup. mengacu pada norma-norma ajaran agama Hindu atau sistem kepercayaan umat Hindu di Bali dan dikerjakan dengan total serta penuh pengabdian yang tulus. komprehensif. Banyak di antaranya produk-produk kriya tersebut merupakan karya puncak. karena dapat menimbulkan arti hidup dan kehidupan yang tidak stabil. 2. baik yang diciptakan pada zaman pra-Hindu. maupun setelah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa Timur. Kajian Semiotis Dari pembahasan pada Bab III dapat difahami. Para pewarisnya dewasa ini hanya mampu menduplikasikan dan menggunakannya.wan. . sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. karena dalam proses penciptaannya dilandasi dengan konsep-konsep perancangan sangat mantap. kalau dikaitkan dengan konsep Catur Purus Artha yang dipakai landasan pembangunan di Bali.

dengan di sana-sini diadakan penambahan atau pengurangan yang diistilahkan sebagai ‘pengembangan’ dan tak jarang dibarengi dengan tujuan-tujuan lain yang tidak sesuai dengan esensi konsep penciptaan di masa lalu. Jika ditinjau kembali berdasarkan kajian semiotika. bahwa masyarakat di Bali saat itu. pada masing-masing penggalan zaman atau kurun waktu tertentu. dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk kriya tampak masih sangat sederhana. Pembahasan lebih rinci mengenai kajian semiotis. tampak produk-produk tersebut kembali ditampilkan “secara eklektik” dengan menitikberatkan pada nilai estetis dan diklaim sebagai identitas etnik Bali atau local genuine. lebih ke arah . adalah sebagai berikut: Sebelum penduduk Bali mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu. maka secara diakronis hasil peninggalan tersebut. memberi tanda dalam bentuk indeks. hasil tersebut dapat dipakai tanda (sign) yang merepresentasikan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya.Dalam usaha perluasan gagasan desain produk kriya masa kini. sedangkan secara sinkronis. dapat dipakai sebagai tanda (sign) zaman yang merepresentasikan sejarah perkembangan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya dalam masyarakat Bali dari zaman ke zaman. dengan memandang peristiwa penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya di setiap zaman sebagai fenomena bahasa.

Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Sebelum Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu) Pada zaman selanjutnya. arah penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya tidak lagi terpaku pada pertimbangan yang bersifat denotatif. Hubungan struktur tanda tersebut menurut Semiotika Saussure dapat digambarkan seperti Gambar 34 berikut Gambar 34 Relasi Tanda. Produkproduk yang diciptakan. juga sudah memperhatikan nilai estetis dan simbolis dengan latar atau konvensi yang dilandasi dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. keindahan produk maupun simbolisasi. melainkan sudah memperhatikan hal-hal yang bersifat konotatif. Seperti kepercayaan alam gaib. roh atau kekuatan-kekuatan lain . selain memiliki berfungsi sebagai alat. karena mereka bertumpu pada nilai guna atau utilitas dan pragmatis. seperti batu dengan karakternya yang keras diperlakukan untuk “menghacurkan” benda yang lebih lunak.makna denotasi. Belum ada tanda-tanda yang mengarah pada makna konotasi. Misalnya masalah kenyamanan.

dipakai sebagai simbol roh nenek moyang mereka dan dianggap bertuah atau mengandung nilai magis. seperti berupa sebuah nekara yang dibuat dengan perunggu. Penguburan dengan cara tersebut.yang dimiliki oleh suatu benda yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan mereka atau fetishism. juga dipakai sebagai tanda atau simbol status sosial. Simbol-simbol tersebut diterapkan atau diwujudkan dalam berbagai bentuk produk kriya. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Setelah Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu . dilakukan sebagai simbol penghormatan kepada tokoh yang meninggal. Pada produk kriya tersebut diterapkan relief berupa topeng yang distilasi dari bentuk wajah manusia. Selain hal tersebut. misalnya pada penguburan mayat seorang tokoh masyarakat dengan menggunakan sarkofagus. Hubungan produk-produk kriya sebagai tanda atau simbol dengan pengguna tanda atau penanda (masyarakat Bali zaman Pra-Hindu) dapat digambarkan seperti Gambar 35 berikut Gambar 35 Relasi Tanda.

Gambar 36 Relasi Tanda.Pada Zaman Hindu menunjukan. Seperti produk-produk kriya yang digunakan dalam upacara Odalan. dapat digambarkan seperti Gambar 36 berikut. kosmologi dan sebagainya yang bersumber pada ajaran Agama Hindu. filosofi. ceritera-ceritera rakyat. Diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol sehingga produk-produk kriya tersebut tergolong karya spiritual religius dan dianggap sakral yang digunakan sebagai media untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak yang dimiliki Tuhan. Secara semiotika relasi tanda dengan pengguna tanda pada zaman tersebut. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Mendapat Pengaruh Kebudayaan Hindu-Jawa Timur . bahwa dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya dilandasi dengan konsep yang mengarah pada makna konotasi atau asosiatif dengan latar atau ground digali dari mitologi.

Pada zaman Kolonial dan Kemerdekaan. relatif dan bersifat temporal. kadang kembali “dipilih” dan ditata atau dipadukan dengan tanda lain. elemen estetis untuk menciptakan suasana tradisional Bali atau sebagai digunakan komoditi ekspor. baik tujuan. Seperti tujuan para kriyawan untuk menciptakan produk bermuatan lokal atau dorongan para wisatawan untuk membeli suatu produk (emotional product motives). pretensius. bahwa mere- . maka dalam fenometa tersebut tampak terjadi “permainan petanda” yang menghasilkan petanda baru dengan konvensi atau makna yang tidak jelas arahnya. subyektif. Namun dewasa ini. Produkproduk tersebut mulai dijadikan sebagai penunjang kepariwisataan di Bali berupa cenderamata. kondisi penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali memiliki kemiripan langgam atau tipe. Jika kondisi tersebut dikaji berdasarkan semiotika model “intertekstualitas” seperti yang dikembangkan oleh Kristeva. Produk-produk kriya —terutama yang terkait pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali— yang diciptakan sebagai tanda dalam bentuk simbol-simbol dengan konvensi budaya yang dilandasi nilai-nilai atau norma-norma Agama Hindu yang telah mapan dalam masyarakat masa lalu. Pada saat tersebut. seperti kebanggaan (pride) memperoleh produk kriya lokal yang berciri khas Bali dan dipakai sebagai tanda kenangan. penciptaan dan pengunaan produk kriya pengalami perkembangan baru. maupun arah pengembangan yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali.

Bahkan tindakan tersebut dapat “merusak” atau memutuskan pertautan petanda dengan penanda atau narasi yang sebenarnya. kalau dilihat dari tata letak kedua tanda tersebut. Masing-masing tanda atau simbol tersebut menyiratkan makna tersendiri. Dari kedua tanda tersebut sama sekali tidak terjalin suatu kesatuan makna. tampak simbol Garuda Wisnu menjadi kehilangan makna. Petanda baru yang muncul tersebut hanya bersifat subjektif yang “dihubung-hubungkan” atau hanya merupakan suatu pretensi yang sama sekali tidak ada pertalian petanda dengan ground simbol yang diterapkan pada produk tersebut di masa lalu. Pada façade tersebut tampak logo Bank BPD diletakkan di atas dari simbol Garuda Wisnu. dianggap sebagai lambang kebesaran Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. dianggap sebagai suatu kepuasan atau prestise dan sebagainya. Pada contoh tersebut. produk kriya berupa relief Garuda Wisnu yang lazimnya diterapkan dibelakang Padmasan. Sebagai contoh.ka pernah mengunjungi pulau Bali. na- . namun sekarang tampak diterapkan sebagai hiasan façade. di mana simbol Garuda Wisnu adalah terkait dengan ajaran Agama Hindu. janggal dan berkonotasi negatif karena terjadi diskrepansi antara tanda dengan petanda yang sebenarnya. Selain motivasi tersebut juga didorong keinginan untuk menciptakan lingkungan atau tata bangunan dengan nuansa tradisional.

kesenangan dan kenikmatan (hedonisme) lebih tinggi dari nilai yang berhubungan dengan ajaran ketuhanan. tanpa memikirkan lebih jauh tentang pertalian petanda yang terbentuk akibat penempatan simbol dan logo tersebut. Penempatan tersebut “asal pasang” dan hanya didorong oleh suatu preferensi “pajang seni” semata. maka secara umum penciptaan produk kriya dengan unsur eklektik dewasa ini di Bali dapat digambarkan pada Gambar 37 . Berdasarkan kajian dari sudut model semiotika “intertekstualitas”. Tanpa disadari penempatan tersebut membawa makna konotasi yang mengarah pada interprestasi negatif.mun pada façade itu diletakkan di bawah logo yang cenderung berkonotasi tentang uang yang bersifat sekular. Meletakkan penghargaan terhadap nilai-nilai keduniawian (uang dan investasi).

Gambar 37 Perbandingan Relasi Tanda. Penanda dan Petanda (“Intertekstualitas”) Kaitannya Dengan Fenomena Eklektik Unsur Produk Kriya Masa Lalu .

sosiolog. selaras.B. bahwa masyarakat Bali bersama kebudayaannya di masamasa mendatang akan mengalami perubahan besar sebagai dampak maraknya perkembangan pariwisata. Konsep tersebut diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan budaya Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. Sejak 60 tahun yang silam di kalangan para pengamat: budayawan. Mereka mendeskripsikan. Namun di sisi lain banyak muncul kekawatiran tentang nasib masa depan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. Di satu sisi menurut hasil penelitian Kean (1973) maupun Geriya dan Erawan (1993) membuktikan bahwa interaksi antara pariwisata dan kebudayaan Bali. bahwa pariwisatalah yang akan menjadi salah satu katalisator atau sebagai pemicu terjadinya perubahan sosial-budaya masyarakat di . dan seimbang. ternyata mendatangkan banyak kemanfaatan atau beneficial bagi pengembangan kebudayaan Bali sekaligus pengembangan sektor ekonomi masyarakat. antropolog dan seniman sudah memprediksi. Sebenarnya di dalamnya secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini Konsep pengembangan pariwisata di Bali berbasis budaya Bali.

ternyata dalam beberapa dekade belakangan ini menjadi suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. pada paparan keadaan masyarakat dan kebudayaan Bali yang diterbitkan pada tahun 1953. baik pada produk masa lalu maupun pada desain produk masa kini. 1937). Hal tersebut juga terjadi dalam perluasan penciptaan produk-produk kriya dan desain lainnya yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali. sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Miguel Covarrubias dalam bukunya berjudul Island of Bali —“Isn’t Bali Spoiled ?”— sebagai kalimat pembukaan dalam pembicaraan Modern Bali and The Future. Berikut akan diuraikan mengenai dampak yang ditimbulkan. . Demikian juga kekawatiran tersebut dimuat dalam buku dengan judul: Republik Indonesia (Kepulauan Sunda Kecil).Bali. Suatu dinamika baru dan perubahan-perubahan struktural telah terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. Prediksi atau asumsi tersebut. Pertanyaan tersebut diungkap sehubungan dengan kekawatiranya akan kerusakan yang akan terjadi pada seni budaya Bali sebagai akibat diperkenalkannya menjadi daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Kolonial Belanda saat tersebut (Covarrubias. Seperti. Salah satunya diakibatkan oleh eklektisme elemen estetis tradisonal yang tak terkendali dalam penerapannya pada desain produk masa kini.

bahwa dampak dari peran khas pariwisata Bali membawa pengaruh dan perubahan yang tak terbatas. “generalisasi”. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jean Couteau. kesimpangsiuran atau pengkaburan makna. terutama bagi generasi pewaris kesepakatan tersebut. Garuda Wisnu dan sebagainya. tanpa disadari dapat mengurangi rasa penghargaan atau pemahaman spiritual terhadap makna atau nilai yang ditanamkan pada produk kriya yang dianggap sakral tersebut. Secara visual mereka akan semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya yang digunakan untuk sarana upacara ritual di tempat suci dengan produk kriya yang dipakai di tempat yang bersifat profan. Seperti: relief tinggi berupa Bhoma. “deteriorasi”. “desakralisasi”. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu Dampak eklektisme terhadap produk kriya masa lalu sebagai objek pilihan. secara tidak langsung akan terganggunya konvensi yang mendasari objek yang dipilih dan kemungkinan akan terjadi suatu pelunturan nilai. karena telah “diduplikasi” untuk dijadikan barang tontonan biasa atau barang komoditi untuk pemenuhan kebutuhan sekuler semata. Akibat dari tindakan tersebut.1. Keadaan tersebut tanpa disadari dengan perlahan-lahan dapat mengikis alam pikiran spiritual umat Hindu di Bali dan dapat terjebak dalam kecenderungan efek komersial dari produk tersebut. sekarang ba- .

penerapan elemen estetis tradisional secara eklektis tersebut dapat berdampak terganggunya kestabilan antara tanda dengan . seperti pada Gambar 38 berikut Gambar 38 Topeng Barong Ket Diterapakan Sebagai Hiasan Boutique Ditinjau dari sudut semiotika. rumah tinggal dan bangunan umum lainnya. bahkan sengaja dipentaskan di hotel-hotel untuk menghibur para wisatawan. Topeng Barong Ket juga dipakai sebagai penghias ruangan boutique yang dipajang berdampingan dengan busana yang dijual.nyak ditiru dan diterapkan sebagai hiasan toko. Rangda dan Barong ket. kantor. banyak ditiru dengan tidak disertai dengan “sakralisasi” dan dipakai pertunjukan khusus untuk konsumsi para wisatawan.

petanda, karena terjadi suatu “mutilasi” struktur simbol atau lambang dengan konvensi adat yang telah mapan dalam kalangan umat Hindu di Bali. Terbentuk kepingan-kepingan dan perpaduan tanda dengan petanda yang tidak jelas atau “mati”. interpretasi makna menjadi simpangsiur dan terkecoh karena secara visual semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya sakral dengan profan. Seperti senjata nawa sanga, produk kriya tersebut biasanya digunakan sebagai hiasan di pura berupa bandrangan dan sekaligus sebagai simbol kekuatan para Dewa, namun kini sematamata diciptakan sebagai barang cenderamata untuk konsumsi para wisatawan (lihat Gambar 29). Makna konotasinya mengalami perubahan dan mengarah pada nilai komersial. 2. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini Penerapan elemen estetis secara eklektik pada desain masa kini yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali masa kini, dalam upaya untuk menciptakan karya yang bermuatan lokal atau didorong oleh harapan agar dapat menciptakan suasana tradisional Bali. Ternyata usaha tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan permasalahan yang mendasar. Pada desain atau produk kriya yang diciptakan dengan menerapkan elemen estetis tradisonal kadangkadang tampak “janggal”, “tertekan”, “terpaksa”, berlebihan, mubasir dan dari perpaduan tersebut tidak terjalin pertalian makna di antara tanda-tanda atau

simbol-simbol yang diterapkannya. Dikaitkan dengan konsep estitika yang melandasi strategi pembangunan di daerah Bali, seperti telah dipaparkan pada bab pendahuluan, kondisi tersebut jelas kurang relevan, sebab pada produk-produk yang diciptakan sering terlihat kurang selaras, kurang harmonis dan tidak seimbang. Bahkan tak jarang melahirkan karya yang termasuk: pastiche, parody, kitsch, atau camp. Sebagai contoh dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional, berupa relief garuda pada sebuah façade toko sepatu bata seperti Gambar 38 berikut,

Gambar 38 Penerapan Relief Garuda Pada Façade Toko Sepatu Bata

Pada hiasan tersebut tampak elemen estetis berbentuk garuda yang meniru dari bentuk Garuda Wisnu dan penyuguhannya tidak dilengkapi dengan simbol Dewa Wisnu. “Tangan” garuda dibuat menunjuk logo sepatu bata dan posisi penempatan kedua elemen tersebut sejajar secara horisontal. Pada penampilan tanda tersebut tampak suatu fragmen yang terbentuk dari hasil perpaduan dua, yaitu antara simbol dengan logo. Disimak dari permaknaan, maka keduanya sama sekali tidak terdapat pertautan makna. Konsep penciptaan hanya didasari oleh suatu pretensi menciptakan nuansa bagunan tradisional Bali. Bentuk garuda tersebut sebenarnya merupakan produk kriya masa lalu yang khusus diterapkan pada bangunan suci dan mengandung nilai filosofi yang tinggi dan sebagai simbol kekuatan Tuhan. Namun kini dipilih dan diterapkan begitu saja tanpa memikirkan dampak negatif terhadap makna yang dikandungnya. Mereka meminjam makna simbol garuda yang telah mapan dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, hanya sekadar untuk menunjukan logo sepatu bata atau bertujuan untuk membangun imitasi image atau citra rasa palsu (kitsch) dalam usaha membangun keyakinan masyarakat konsumen, bahwa produk sepatu merek bata sudah terpercaya, kuat dan sebagainya, sampai-sampai simbol garuda yang masih diyakini oleh umat Hindu “digambarkan” memberi petunjuk tentang keunggulannya.

Naga tersebut sebenarnya merupakan hiasan sekaligus se- .Peniruan dan perpaduan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu produk kriya parodi. karena merupakan hasil penyusunan elemen-elemen masa lalu yang melahirkan bangun tanda palsu yang berkonotasi negatif. Sedangkan terkait dengan fenomena camp. —dikombinasikan dengan tanda atau simbol atau logo lain— dan dimanfaatkan hanya untuk menunjukan merek sepatu. Bentuk hiasan tersebut merupakan penggayaan dari bentuk naga hasil produk kriya masa lalu. juga dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional berupa dua patung naga yang mengapit pintu gerbang utama di lantai I di bawah selasar kantor sebuah bank di Denpasar. karena dalam penampilannya bersifat mendaurulang bentuk garuda yang merupakan hasil produk kriya masa lalu dan diterapkan begitu saja. Selain hal tersebut. seperti tampak pada Gambar 39. Contoh kasus sejenis lainnya. Simbol yang bersifat sakral dan terkait dengan ajaran ketuhanan. Narasinya bersifat ironis dan kritis dalam artian mengecilkan makna adiluhung yang terkandung dalam simbol garuda tersebut. kini “dipermainkan”. Pastiche. juga termasuk produk pastiche dan camp. sebab pemilihan dan penerapannya merupakan suatu “pelesetan” dari makna garuda yang sebenarnya. sehingga terkesan sentimentil terhadap simbol yang masih diyakini oleh umat Hindu di Bali.

dan tidak terbentuk pertalian makna dengan tempat yang diberi hiasan tersebut. namun pada penerapan tersebut berubah menjadi produk biasa. glamor. sehingga berkesan berlebihan. termotivasi oleh keinginan yang lebih mengutamakan segi artistik dibandingkan substansi atau bobot dari elemen estetis produk kriya masa lalu yang dipilihnya. absurd.bagai simbol yang diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih di pura. makna atau nilai yang dikandungnya diimitasi dan dibuat-buat atau sama sekali tanpa makna serta menengelamkan . seperti pada bangunan suci berupa padmasana (lihat pada Gambar 12) Gambar 39 Penerapan Patung Naga Pada Gerbang Utama Pada Lantai I Di Bawah Selasar Kantor Sebuah Bank di Denpasar Penerapan tersebut. Nilai simbolis terkait dengan ajaran kosmologi Hinduistis di Bali dan dianggap sebagai benda sakral.

karena produk tersebut merupakan penyusunan elemenelemen yang dipinjam dari unsur produk kriya masa lalu dan dalam penerapannya menimbulkan konotasi negatif. seperti: pastiche. Digolongkan sebagai fenomena pastiche. menciptakan suasana tradisional dan sebagainya. kitsch maupun camp. dekorasi atau segi artistik semata. Sebagai fenomena kitsch. Usaha penciptaan penerapan naga tersebut juga disertai dalih untuk menciptakan . Secara semiotik kondisi tersebut tidak mencerminkan hubungan antara penanda dengan petanda dan dengan narasi yang tidak jelas. kebesaran. misalnya untuk kemegahan. disebabkan penenpatannya tidak sesuai dengan ketentuanketentuan yang telah terkonvensi. seperti merendahkan penghargaan nilai simbolis yang dikandung pada patung naga tersebut. Karya tersebut juga dapat digolongkan sebagai camp. karena dalam penerapan tersebut hanya menitikberatkan pada penggayaan. Bangun tanda baru yang dianggap sah dengan petanda yang tidak jelas. Penerapan produk tersebut dapat dimasukan sebagai fenomena-fenomena.objek yang dijadikan sasaran eklektis. karena bentuk tersebut merupakan peniruan dari elemen “seni tinggi” atau high art yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dengan dibarengi tujuan palsu. Usaha tersebut tanpa disadari membawa dampak terjadinya pergeseran dan pelunturan nilai yang dikandungnya serta bersifat ironis kalau ditinjau dari peletakan naga tersebut.

Terimakasih . Untuk itu. Mereka dalam proses pengerjaannya hanya mengandalkan keahlian tangan atau virtuosity semata untuk menjadikan “mass product” dan didorong oleh keinginan pemenuhan kebutuhan para pengembang untuk menciptakan suasana dengan citra tradisional Bali. Entahlah ?. sebenarnya kurang relevan kalau dikaitkan dengan makna yang dikandungnya. sebab dalam proses penciptaannya hanya bersifat “mendaurulang”.suasana tradisional Bali. bagi para pembaca yang tertarik silakan diabadikan lalu kita bahas dari berbagai perspektif ilmu di lain kesempatan. Usaha-usaha seperti tersebut secara tidak langsung juga dapat berdampak menghambat kreativitas para kriyawan untuk berkreasi dan berinovasi. karena tanpa disadari dapat membawa dampak negatif —nilai simbolis yang dikandungnya menjadi sepele dan bahkan tanpa makna— terhadap konvensi yang diyakini oleh umat Hindu di Bali. Untuk contoh kasus yang sejenis masih banyak terjadi di masyarakat. meramu dan berorientasi pada elemen-elemen yang sudah ada. “menduplikasi” atau meniru. Selama ini tindakan-tindakan tersebut dianggap sebagai sikap atau model pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang berkesinambungan.

Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Baudrillard. Denpasar: Upada Sastra. J. Ariawati. 1995. 1994. Aspek Desain dalam Produk Kriya. Budaya Bali Dalam Pertemuan dengan Budaya Dunia. Denpasar: Bappeda Tingkat I Bali. Cassirer. Bija. 1991. Yogyakarta: ISI. An Essay On Man. Oxford University Press / PT. I. I M. (makalah seminar). Covarrubias. 1981. Couteau. Aji Maya Sandi. N. 1944. M.1993. Yogyakarta. 1972. Jakarta: Hanuman Sakti . 1992. Pengantar Agama Hindu. E. Upakara Upacara. IGN. Transformasi Struktural Masyarakat Bali Dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). Indra. 1995.DAFTAR BACAAN Ardana. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). 1990. Jilid: 2. Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi. S. Bagus. Buchori. Singaraja: Percetakan Guna Agung. For Critique of The Political of Economy of The Sign. 1990. Data Bali Membangun. Yale University Press. Island of Bali. I B. J. Z. ____. Kuala Lumpur-SingapuraDjakarta Cudamani. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. M. USA: Telos Press. Apakah Upacara Baten Masih Perlu?.

Signs and Symbols (Their Design and Meaning). Buku Paider-ideran dengan Gambar Dewata Nawa Sanga dan Jimat-Jimatnya. tt. Gie. A Theory Of Semiotika. West Germany: Weiss Verlag Gmbh. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah.). 1953. . Blomington. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali.Dinas Pengajaran Propinsi Bali. Arsitektur Tradisional Bali. Studio Edition. Frutiger. Eco. T. Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Kecil. Inc. Geriya. Encyclopedia of World Art. 1978. Denpasar: Upada Sastra.1989.1963. 1981/1982. Republik Indonesia (Sunda Ketjil). Gambar. Ed.Singapore: Periplus Editions.0Freed dan Eiseman. 1995. Lodon: McGraw-Hill. “Pariwisata dan Segi Sosial Budaya Masyarakat Bali” dalam Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa (Tjok Sudharta. Kamus BaliIndonesia. New York. Toronto. Garis-Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). Indiana University Press. Margaret. Yogyakarta: Karya Yogyakarta. U. Woodcarving of Bali. CD-ROM 2. 1976.L. Book Company. Singaraja: Kementerian Penerangan. Berkeley . A. N. W. 1979. Gelebet. 1988. I M. 1993. dkk. Encyclopaedia Britannica.

Goris. Joedawinata. 1951. Manusia dan Seni. N. Oxford: University Press. Denpasar: CV. The New Classicism in Art and Architecture. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Frick. 1985. 1989. A. fourth edition. 1990. Dkk. Jakarta: Hanuman Sakti. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (terjemahan). 1984. dkk. Jakarta: PT. Jakarta: Pemeritah Republik Indonesia. R. Grafitas. Yogyakarta: ISI.Ginarsa. 1976. 1993. London: Methuen. Yogyakarta: Kanisius. Denpasar: Kartodirdjo. Gottschalk. Kaler. Kean. H I. Cultural Involution: Tourist Balinese and the Processs of Modernization in . L. Jessup. Krakah Modré Aji Griguh. I. P.(Makalah Seminar Kriya). New York: The Asia Society Galleries. MC. Gambar Lambang. Kadjeng. N. Atlas Kebudayaan Bali. Court Art of Indonesia. tt. K. London.1990. Hartoko. Sejarah Nasional Indonesia. Jencks. C. 1987. Yogyakarta. 1997. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia 1975. A Theory of Parody. I. Hutcheon. L. 1973. Sarasamušcaya.1969. S. Sejarah dan Pendidikan Kriya di Indonesia. Kayumas. D. Hornby. AS.

I MK. Oxford: Basil Blackawell Lontar Bhomantaka.Antropological Perspective (Disertation Ph. Bali dan Ekspor Hasil Kerajinan.1979. Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Daerah Bali dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas. I B. . Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. Jilid: 2. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Edisi ke dua. A. J. No. Denpasar: PT. Kropak IV. Jakarta: Balai Pustaka Kristeva. Denpasar: (makalah pada Simlok Penelitian Menyongsong Tinggal landas. Denpasar: Universal Press. 1993. ____. Mantra. ____.D. 1986. Kamus Bahasa Indonesia. Brown University Kempers. H.J. 1971.b. Jakarta: (red) Jambatan. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). Penerbitan dan Balai Buku “Ichtiar” Kerepun. Mahabhakti Offset. Bernet.1988. Koentjaraningrat. ____. Desire in Laguage: A Semiotic Approarch to Literature and Art.) USA: Anthropology. Jakarta: Angkasa Baru Kridalaksana. Pengantar Antropologi. Darsana Bali. 1994. 1995. 1960: Bali Purbakala (disalin oleh: R. 1-2 Nopember 1988. Jakarta:PT. Bali: Masalah Sosial Baudaya dan Modernisasi. 1976. Soekmono). Denpasar: Nusa Data IndoBudaya.

Sejarah Bali. Himpunan Keputusan (SeminarKesatuan Tafsir Terhadap Aspekaspek Agama Hindu. Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Propinsi bali. . H. IGN. 1991. Bandung. Nyoka. 1995. 1982/1983. Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia. Kamus Bahasa Besar Indonesia. Peristiwa Sejarah dan Peristiwa Nostalgia. Denpasar: Toko Buku Ria. Museum Negeri Propensi Bali. Ngurah. Oxford : The Clarendom Press.Mirsa. sebuah Bunga Rampai). 1963. Denpasar: CV. Upada Sastra. Oka. I Bali. 1990. Metode Penelitian Bidang Sosial. et al. 1990. Moeliono. Kayumas. (dalam Puspanjali. William. A Šanskrit English Dictionary. Usada Bali. 8 Pebruari 1991) Bandung: Panitia Seminar. 1991. Edisi ke dua. R. 1993/1994. Parisada Hindu Dharma. Namawi. Jakarta: Hanuman Sakti. S M. Pemda. Jakarta: Balai Pustaka Monier. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Denpasar: Parisada Hindu Dharma. Nala. I G M. Denpasar: PT. Denpasar: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan. 1988. Tk. Doa Sehari-Hari Menurut Hindu. Jogyakarta: Gajah Mada University Press. Bali Dalam Perspektif Sosial Budaya (laporan Seminar. 1994. 1982/1983. B. I. Pameran Topeng Tradisional Bali & Jawa Barat (Katalog Pameran).

Wisma “Praja Mukti” Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994. 1973. 1975. Sejarah Wayang Parwa. Konsepsi Monotheisme dalam Agama Hindu. Denpasar: Upada Sastra. Bagian Inventarisasi dan Pembinaan Nilainilai Budaya. Seputar Weda dan Kebijakan: Jakarta : Manikgeni. A.Pendit. G. 1988. Pindha. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Derektorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional. Putra. I G. P. Denpasar: Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Denpasar: Listibya Daerah Bali. Santosa. Balai Pustaka. S. 1977/1978. Kamus Besar Bahasa Indonesia. . Sara. G. Notes on “Camp”. Bhagavad-Gîtã.A. Simpen. Santog. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pola dasar Kebijaksanaan Pembinaan Kebudayaan Daerah Bali. N. S. 1994. Serba Neka Wayang Kulit. Raka. W. Jajahitan Bali serta Fungsinya Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali. ____. Jakarta: Hanuman Sakti. I B.1993. Bandung: Penerbit Angkasa. Sejarah Pendidikan Daerah Bali. 1990. New York: Anchor Books. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Diretorat Jenderal Kebudayaan. 1992. 1991/1992.A. Aspek-aspek Agama Hindu. (Againts Interpretation).

Seni Rupa Indonesia Dalam Masa Prasejarah. I. G. (Upacara-upakara. Serba-serbi Semiotika. Denpasar: CV. I G B. Soekanto. M. 1985. Gita Karya. Committee of Festival of Indonesia. Bandung: Panitia Pameran KIAS 1990/1991. S. Denpasar: CV. Rajawali. 1990/1991. Kayumas. ____. Sudartha. Jakarta: CV. Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni. 1990. I N. Soeka. Sp. Sudjiman. Jakarta: PT.P. Suku Dayar San. (Sejarah Nasional Indonesia I). 1988. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Kayumas. Soeroso. R. 1988. Jakarta: Gramedia.Singging. Hakekat dan Makna serta Arti Simbol-simbol) Soedarso. Yogyakarta Soejono.1992. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuna. Suasthawa.Trimurti Tattwa. T. Jakarta: Yayasan Penerbitan Kebudayaan. . at al. dimuat dalam Majalah Kebudayaan Indonesia. Sugriwa. Jakarta: Balai Pustaka. Jaman Prasejarah Indonesia. R. Seni Budaya Hindu-Bali. M.P. W. Ngodalin pada Sanggah Pemrajan. 1986. 1975. 1993. Hubungan Adat Dengan Agama dan Kebudayaan. Kamus sosiologi. Arti dan Fungsi Sarana Upakara. 1991. P. tt. D.

1980. I M.1982. Denpasar: Upada Sastra. Prasejarah Bali. Kayumas. Suwondo. Denpasar:Toko Buku Ria. Eksistensi Desa Adat di Bali. Denpasar: B. Kanda Pat Dewa. Desain dan Merancang: Penjelajahan Suatu Gagasan.b. Transkrips Lontar Bhomantaka. 1995. 31 Agustus 1995) ____. Koleksi Gedong Kertya. Denpasar: Upada Sastra Surpha. 1991. Dewa Yadnya. No. I W. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. Garuda. Pengertian Pura dan Bangunan Suci di Bali. Sutaba. Denpasar: Yayasan Panti Asuhan Hindu “Dharma Jati” Tjahjono. Transkrip Lontar Šiwa Tattwa.1989. I A P. K.1977/1978. . Burung Merah Putih (dimuat dalam surat kabar Nusa Tenggara. ____. Singaraja. G. Denpasar: Penerbit dan Toko Buku Ria. I N.U. 1993. Architrave Tonjaya. Surayin. 1987. Titib. B. 1991. Agama Hindu (Sebuah Pengantar). 1980. G. Lintas Asta Kosali.Sura. Yayasan Purbakala Bali. B. I M. I G. Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamis. Kropak IV. Denpasar: CV.

1994. (Tentang Tanda. Wardana. Decoding Postmodern Style (Submitted for a Mater Degree in Industrial Design) London: The London Institute Central Sain Martns College of Art and Design ____.wikipedia. 1958. . Webster.2010 Kamus Bahasa Indonesia online [cited 2010 Maret 18] Available at: URL: http: //id. USA Wiana. Buku Pelajaran Agama Hindu. R. IB. Adiparwa.keping Masa Lalu. Webster. S. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.s Collegiate Dictionary. M. Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. 1981. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Memahami Cerita Rekaan Secara Semiotika. Yogyakarta: Penerbit dan Toko Buku “Spring”. Wojowasito. Tamasya di Antara Keping. 1994. I K. 1993.org/wiki/Kerajinan Wiryatmadja. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai) Jilid: 1. Wikipedia .Van Zoest. 1977. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Pengarang. A. (dimuat dalam Jurnal Kebudayaan Kalam edisi: 2-1994). Semiotika. Widyatmanta. A. P. Jakarta: Hanuman Sakti. Penataan dan Perlembagaan Agama Hindu di Bali. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. 1995. (terjemahan). Yasraf. Cara Kerja dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya). 1994. S. 1983. S. Jakarta: CV.

H. Denpasar. 1946. . Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan. Derektorat Pendidikan Menengah Kejuruan.Yudha Triguna. Denpasar: Penerbit-BP. Pergeseran dalam Pelaksanaan Agama Menuju Tattwa. Dalam “Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali (Sebuah Ontologi). IB. Yudoseputro. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Zimmer. Myth and Symbols in Indian Art and Civilization. 1994. New York: Haeper Torchbooks The Bolingen Library. 1983: Seni Kerajinan Indonesia. W. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful