DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI SECARA EKLEKTIK PADA DESAIN MASA KINI
berdasarkan perspektif historis dan semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini Berdasarkan Perspektif Historis dan Semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn E-mail: arimbawa @yahoo.com Hak Cipta © 2010 Pada penulis Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara digital maupun mekanis, termasuk memfotocofy, merekam atau dengan system penyimpanan lainnnya, tanpa seizin tertulis dari penulis Desain cover & setiting : Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn 21 x 15 cm Penerbit : Udayana University Press Jimbaran Denpasar Bali Bekerja sama dengan: Intitut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar

ISBN: 978-602-8566-65-0

128 1... Pengertian Eklektik…………………………….. 119 D... Pendekatan Historis…………………………….. 97 A...……………………………… v PENGANTAR PENULIS…………………………….... 122 BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI ……………………………… 128 A... Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya…. 97 B... 19 A. 19 B... 28 A.... 115 1..... 128 .... 52 BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA……………………………………………. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali…... viii BAB I PENDAHULUAN………………………………... Sejarah Penerapan Produk Kriya……………. Kajian Historis…………………………………... 116 2.DAFTAR ISI JUDUL………………………………………………… i DAFTAR ISI…………………………………………. Konsep Sekular………………………………. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Ele-men Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini……. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu …………….. Pendekatan Semiotis…………………………… 100 C.... 28 B.... iii SAMBUTAN . Konsep Spiritual Religius…………………….. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali 21 BAB III PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI…………………………………..... 1 BAB II EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI……………………………………….....

Kajian Semiotis……………………………….....2.. 148 B.. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu………………………….. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini…………………………………... 159 2. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini…….. 157 1...... 161 DAFTAR BACAAN 168 ........

BAB I

PENDAHULUAN

etelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950, perkembangan pariwisata di Bali kembali mengalami kebangkitan dan hingga sekarang menjadi pusat pengembangan industri pariwisata di kawasan tengah Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut, pengaruh pariwisata sangat dirasakan oleh masyarakat di Bali. Di satu sisi banyak prestasi gemilang yang telah diraih dan secara tidak langsung dapat membawa kehidupan masyarakat di Bali menjadi lebih baik, namun di sisi lain pengaruh tersebut tidak dapat dielakkan lagi menimbulkan dampak negatif dan menjadi masalah terhadap kelestarian kebudayaan Bali. Nilai-nilai tradisional banyak menjadi tidak eksis dan bahkan menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antar manusia sebagai konsekuensi logis adanya aktivitas pariwisata. Hubungan sosial antar manusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi dan kepentingan. Budaya kolektif berubah menjadi individual. Menurut Geriya (1993), bahwa dampak pariwisata khususnya dalam konteks sosial budaya ditandai dengan adanya beberapa indicator sebagai berikut.

S

1. Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan terkonsentrasi di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut. 2. Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. 3. Meningkatnya mobilitas penduduk dalam bekerja. 4. Mundurnya aktivitas gotong royong. 5. Berkembangnya konflik antargenerasi, khususnya generasi tua dan generasi muda. 6. Terjadinya gejala social defiance yang meliputi kejahatan, narkotika, maupun penyakit kelamin. 7. Terjadi komersialisasi kebudayaan dan hasilnya. Mengenai indikator pada poin ketujuh merupakan salah satunya masalah terkait dengan eksistensi kehidupan kebudayaan tradisional Bali. Hasil kebudayaan unggul (height culture) hendaknya diposisikan sebagai basis kreativitas yang kaya inspirasi, kokoh identitas, kuat modal budaya yang mengkonstruksi, mengintegrasi dan menyeimbangkan, sehingga tidak tergerus oleh mekanisme komersialisasi dan komoditisasi. Antara kebudayaan tradisional Bali dan penciptaan desain produk masa kini agar terjaga pola hubungan sinergis, komplementer yang simetris dan saling meningkatkan. Hal tersebut menjadi penting, mengingat hasil kebudayaan unggul memiliki karakteristik sebagai ber-

ikut: (1) mengedepankan kualitas, sehingga diagungkan dan dimuliakan (adhiluhung); (2) menjadi sumber inspirasi atau spirit dan kreasi oleh mayoritas populasi dan perajin; (4) memiliki sifat khas, lentur dan adaptif dengan roh budaya; (5) mengandung sari-sari budaya dan peradaban, seperti etika, estetika, logika, solidaritas, spiritualitas dan aneka kearifan lokal. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Mantra (1988) bahwa kebudayaan Bali dalam perkembangannya berfungsi secara “normatif” dan “operasional”. Berfungsi normatif, karena terkait dengan adat-agama Hindu di Bali, maka peranan kebudayaan Bali diharapkan mampu dan berpotensi memberikan pegangan dasar dan pola pengendalian, sehingga ketahanan dan kelestarian budaya dapat diwujudkan. Berfungsi operasional, karena kebudayaan Bali diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi peningkatan kualitas kepariwisataan di Bali. Upaya mewujudkan ketahanan dan kelestarian kekayaan budaya serta alam Bali, maka pada beberapa dasawarsa silam, pemerintah daerah Tingkat I Bali dalam melaksanakan pembangunan yang mencakup berbagai sektor dirumuskan peraturan-peraturan daerah yang diarahkan pada pembangunan dengan pola budaya Bali, berwawasan lingkungan dan dilandasi dengan konsep adati-Hinduisme, seperti: 1. Rwa Bhineda, yaitu dua hal yang berbeda terdapat di dunia ini. Bagi orang Bali perbedaan tersebut tidak harus dipertentangkan, melainkan

Artinya: dua hal yang berbeda. Konsep tersebut memberi kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan tidak luput dari belenggu dikotomi yang bersifat kodrati. Oleh sebab itu. Hal tersebut.) Sebagai manusia dengan berbagai keterbatasan. 1993. maka dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. seloka: 498.diharmoniskan (serasi. dan sakral atau profan. . prãptavyamavašaih sarva parihãro na vidyate. seperti: baik atau buruk. yaitu sebagai berikut: sukha vã yadi vã duhkham bhûtãnãm paryupasthitam. dituntut bijak. merupakan kekuasaan Sang Hyang Widhi Waša atau Tuhan. kebolehan dan kemampuan sebenarnya sangat sulit untuk menentukan batas absolut dua hal tersebut. menghidarkan tindakan yang arogan dan harus berdasarkan nalar atau wiweka. selaras dan seimbang). pria atau wanita. sesuai dengan yang termaktub dalam Kitab Sarasamušcaya. nyata atau tidak nyata (sekala atau niskala). yaitu kemampuan untuk menimbang konsekuensi baik atau buruk yang akan berpengaruh pada manusia dan lingkungan. sehingga segala makhluk tidak luput dari ikatan suka maupun duka (Kadjeng. seperti suka dan duka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. siang atau malam.

berasal dari bahasa Šanskerta. kãma dan moksa. artinya benda atau sarana yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. artinya empat tujuan hidup sebagai dasar kehidupan sosial. Hal tersebut. artinya tujuan dharma adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani yang selaras dan seimbang. moksartham jagadithya ca iti dharma. Dari keempat tujuan hidup tersebut. Catur Purusha Artha. ‘dhir. Sedangkan perkataan Moksa. memelihara dan melestarikan. dorongan nafsu atau keinginan yang bersifat duniawi. adil. Kãma. moksa adalah merupakan tujuan hidup yang tertinggi. berarti naluri.’ yang berarti: menjunjung. yaitu terdiri dari: dharma. sesuai dengan pen- . rasa bersahabat. Artha. berasal dari Bahasa Šanskerta.2. maka tuntutan akan artha dan kãma dapat dikendalikan. menuntun. mengatur. Perkataan dharma. ‘Muc’ yang berarti membebaskan atau melepaskan ikatan duniawi. artha. sebab dengan perbuatan yang dilandasi dengan dharma. Sedangkan dharma adalah tujuan terpenting. memangku. karena merupakan kebahagian sejati. Keempat bagian tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh.

Artinya: jika menuntut artha dan kãma dalam hidup ini. Dalam usaha memenuhi tuntutan artha dan kãma. merupakan tiga ukuran yang dapat dipakai seba- . Tidak ada artinya. 3.jelasan dalam Kitab Sarasamušcaya. adalah bagian dari Tri Pramana dalam lingkup perilaku manusia. Hal tersebut merupakan suatu penafsiran atau fatwa agar manusia senantiasa memelihara dan melestarikan alam semesta yang mencakup bhuana agung (makrokosmos) serta bhuana alit (mikrokosmos). bila artha dan kãma tesebut diperoleh dengan perbutan yang menyimpang dari dharma (Kadjeng. hendaknya manusia mengendalikan diri dan lebih mengutamakan perbuatan dharma. yaitu sebagai berikut: Kamãrthau lipsamnastu dharmmamevãditašsaret. nantinya tak disangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kãma. hendaknya mengutamakan dharma. seloka: 12.1993. nahi dharmmãdapetyãrthah kãmo vapi kadãcana. Desa Kala Patra.) Konsep tersebut merupakan panduan absolut bagi manusia untuk membina keseimbangan dan keselarasan antara alam sekala dan niskala. untuk mencapai jagaddhita atau kebahagian dan kesejahteraan hidup.

gai pedoman untuk menilai kenyataan Rwa Bhineda. Kala merupakan pedoman berdasarkan waktu perbuatan atau aktivitas tersebut dilakukan. bahwa semua perbuatan manusia pasti akan memperoleh hasil yang setimpal (inter- . tempat atau lingkungan dan keadaan atau peraturan yang telah berlaku. Karma Phala. 4. Dua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik dan marupakan “hukum” dan telah dipercayai umat Hindu di Bali. yaitu terdiri dari kata Karma yang artinya perbuatan dan Phala artinya buah atau hasil. kenyamanan. Jadi Karma Phala mengandung arti: hasil dari perbuatan. Desa dalam konteks perilaku manusia merupakan pedoman berdasarkan tempat atau lingkungan di mana perbuatan tersebut dilakukan. peraturan. keputusan atau kebijakan yang akan diberlakukan dalam masyarakat. kesejahteraan umat manusia dan kelestarian lingkungan. Konsep tersebut memberikan landasan ideal yang luwes atau fleksibel. sehingga tercipta kesatuan pandang dan keadaan yang mengarah pada kedamaian. Manusia hendaknya mampu menyesuaikan dengan waktu. khususnya dalam mengambil sikap. Sedangkan Patra merupakan pedoman berdasarkan “keadaan” atau peraturan tertulis yang berlaku.

Menanamkan kepercayaan bahwa. hukum tersebut dikenal dengan perkataan Rtã dan dijelaskan sebagai berikut: Tã vãm vivaya gopã Deva dikesu yajñiyã rtãvãnã yajase putadaksasã. Artinya: Kami memuja engkau yang menjaga alam semesta. Konsep yang dilandasi Karma Phala. Hukum Karma dikenal pula sebagai hukum alam atau kausalitas dan tak seorang pun luput dari hukum tersebut.aksi yang seimbang). konsep tersebut melandasi sikap antisipatif. keseimbangan dan menghindari kekacauan alam semesta. Jadi. hukum Rtã selain sebagai hukum perbuatan serta hukum moral. 25. Hukum tersebut mengatur keterpaduan. perbuatan baik selalu akan mendatangkan hasil yang baik. baik antar sesama sebagai sum- . baik di dunia nyata (sekala) maupun di akhirat (nis-kala). juga sebagai hukum jagat raya. Dalam Kitab Reg Veda VII. memberi pendirian terhadap hukum kausalitas yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini. Jadi. Dewa yang tersuci penegak hukum keabadian yang memiliki kekuatan suci. 1. pengendalian atau restraint dan pembinaan moral dalam segala perilaku manusia sehari-hari. sebaliknya perbuatan buruk akan memperoleh hasil yang buruk.

‘Hita’ berarti sejahtera. Esensi dari konsep tersebut merupakan sinergisme yang meliputi pembinaan hubungan yang harmonis. maupun dalam memperdayakan sumber daya alam. 5. artinya manusia hendaknya selalu sujud kehadapan-Nya atas segala rahmat dan karunia-Nya. Secara keseluruhan Tri Hita Karana mengandung pengertian: tiga penyebab terciptanya keselamatan.ber daya manusia. kesejahteraan atau kemakmuran. sehingga tercipta kehidupan yang sehimbang. Perkataan tersebut terdiri dari kata ‘Tri’ berarti tiga. memelihara kelestarian alam disekitarnya. yaitu: (1) Pola hubungan manusia dengan Tuhan disebut Parhyangan. selamat atau kemakmuran dan ‘Karana’ berarti penyebab. selamat dan sejahtera. (3) Pola hubungan manusia dengan manusia disebut dengan Pawongan. Terdiri dari: Parhyangan. baik secara vertikal maupun horizontal. Tri Hita Karana. artinya manusia hendaknya selalu merawat dirinya sendiri dan menjaga. Membatasi eksplorasi dan ekploitasi alam. artinya manusia dalam kehidupanya hendaknya selalu dapat menjalin rasa persahabatan . Palemahan dan Pawongan. (2) Pola hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya disebut Palemahan.

Jadi secara keseluruhan berarti “itu adalah kamu”. Dalam konteks seni Budaya Bali. (2) karakter umum suatu pekerjaan (Soekanto. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. Jika menyakiti orang lain secara implisit berarti menyakiti diri sendiri. Pengertian “itu” termasuk “aku” dimaksudkan diri sendiri dan alam semesta beserta isinya. terutama dalam menciptakan produk-produk seni bermutu tinggi. kata jengah berkonotasi sebagai . bahwa perkataan etos yang terkait dengan kebudayaan berarti: sifat. Kalau ditambah dengan kerja. Etos Kerja dan Jengah atau semangat kerja. Secara harfiah terdiri dari kata: Tãt artinya “itu”. Twãm artinya “kamu” dan Ãsi artinya “adalah”. 1985) Sedangkan jengah dalam Bahasa Bali berarti: semangat juang.yang didasari dengan saling pengertian dan Tãt Twãm Ãsi. berarti: (1) nilai-nilai dan ide-ide suatu kebudayaan. 6. 1994) Demikian juga secara Sosiologi. nilai dan adat-istiadat yang khas serta memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial di masyarakat. berarti semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

diakomodasikan dan dikendalikan dengan konsep tersebut sebelumnya. dinamis dan kebersamaan dalam pembangunan disegala sektor. rasa dan karsa manusia yang muncul akibat perpaduan antara keserasian keselarasan dan keseimbangan dalam suatu pro- . Bagi orang Bali keindahan. yaitu dalam bentuk pengorbanan suci atau Yajña. adalah semangat kerja yang dilandasi dengan gotong royong serta berbakti dengan cara yang tulus iklas atau ngayah kepada Tuhan berserta ciptaannya. Konsep tersebut merupakan landasan dari kerja keras. Tetapi kedua hal tersebut perlu diarahkan. 7.“semangat bersaing” atau competitive pride (Mantra. Estetika. 1993) Dari pengertian etos kerja tersebut. maka sifat khas atau semangat kerja yang dimiliki masyarakat dalam lingkungan adat Bali. baik keindahan alam maupun keindahan hasil olah cita. sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian serta dalam mengeksploitasi sumber daya alam akan dapat diharapkan terwujudnya kelestarian. Sedangkan dalam perkata jengah secara implisit tersirat sifat dinamis dan merupakan pangkal dari segala dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat di Bali.

duk seni atau desain adalah merupaka karunia Tuhan. Dengan pandangan tersebut. Pandangan tersebut sesuai dengan yang dijelaskan Gie (1976) bahwa keindahan dalam arti luas mencakup pula ide kebaikan (mengacu pada pengertian bangsa Yunani kuno. dan menghargai keindahan. maka pengertian indah akan menyiratkan nilai kejujuran dan kebaikan. karena bagi umat Hindu di Bali dipercayai bahwa dalam keindahan tersirat nilai-nilai kebaikan. Oleh sebab itu. kejujuran dan kebenaran. maupun pada produk seni atau produk kriya tradisional yang adiluhung. seni dengan keindahan hendaknya dipersembahkan kembali kepada-Nya dalam produk seni ataui desain berbentuk simbol-simbol atau nyasa. Sehingga dengan melakukan persembahan keindahan berarti berbuat yajña. seperti Plato menyebut ‘watak indah’ atau ‘hukum indah’ dalam konteks tersebut. karena . maka dalam setiap kegiatan adat-agama Hindu di Bali. keindahan merupakan hal pokok yang harus diperhitungkan. sebagai rasa terimakasih. baik terlihat di alam sebagai ciptaan-Nya yang agung. Konsep tersebut juga merupakan pedoman bagi generasi penerus dalam menghayati menikmati.

sehingga dapat tampil sebagai jati diri yang mandiri. Mengajarkan manusia agar berbuat dengan mengarah pada keselarasan. apabila mampu merefleksikan inner power pada produk visualnya. sehingga tetap tercipta “keindahan”. sehingga berkesan “hidup” . apabila ia mampu mentransformasikan dirinya secara utuh sesuai dengan peran yang ditampilkan. taksu juga mempunyai arti sebagai kreativitas murni. keserasian. merupakan personal asset atau inner power yaitu kekuatan dari dalam diri seseorang sebagai fitrah yang memberikan kecerdasan. yang memberi kekuatan spiritual kepada seorang seniman untuk mengungkap dirinya menjadi “lebih besar” dari kehidupan sebelumnya (Mantra. genuine creativity. 8. Taksu. Seorang seniman tari dapat dikatakan memiliki taksu.di dalamnya tersirat nilai-nilai luhur. Dalam kaitannya dengan pelbagai aktivitas budaya Bali. Seorang perupa dikatakan produknya ber-taksu. keindahan dan mujizat. baik dengan Tuhan. dan keseimbangan. 1993) Konsep tersebut menuntun kesadaran manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. sesama mahkluk maupun dengan alam di sekelilingnya. sebab setiap insan memiliki taksu sebagai anugrah Tuhan yang perlu dilatih dan dikembangkan.

“over acting”. sela- . secara yuridis berdasarkan Perda Nomor 3 tahun 1974 juncto Perda Nomor 3 tahun 1991 yang menetapkan bahwa konsep pengembangan pariwisata di Bali adalah berbasis budaya Bali. Konsep pariwisata budaya diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan kebudayaan masyarakat Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. atau jangan sampai melewati batas norma-norma yang berlaku. Taksu yang dimiliki akan berubah menjadi “kelemahan”. sehingga tidak terjadi penampilan yang terlalu berlebihan. yaitu jenis kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu sebagai potensi daerah yang paling dominan. Namun dalam mensosialisasikan kesadaran tersebut. Dalam konsep tersebut secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. Karena sikap tersebut. kadang dapat menjadi bumerang. perlu juga ditopang atau dikendalikan oleh konsep-konsep lainnya yang telah dipaparkan. Demikian juga pengembangan pariwisata di daerah Bali.dan sebagainya.

Diupaya agar meminimalkan timbulnya dampak negatif terhadap kelestarian seni budaya Bali.ras. pengkaburan makna dan berkonotasi negatif. dan nilai-nilai estetika yang khusus untuk diterapkan pada sarana pemujaan dan dianggap mengandung nilai simbolis dan sakral. narasi. Misalnya. maka fenomena tersebut merupakan suatu pergeseran makna dan dapat berakibat terjadinya “desakralisasi”. Kalau dikaji dari sudut kesejarahan dan semiotika. Namun pada kenyataannya tak jarang ditemukan juga “ketidaktaatan” dalam operasionalnya. isi (content) atau bobot. karena dalam pengerjaannya tidak mengacu pada referensi kesepakatan yang dibuat . perkantoran. Karang Bhoma yang sebenarnya merupakan ragam hias pada bangunan-bangunan suci. Produk yang dibuat tersebut kadang-kadang menampakan “kejanggalan”. sekarang banyak terlihat diterapkan sebagai elemen estetis pada hotel. dan seimbang. Sebagai salah satu contoh yang dapat dijumpai dalam dasawarsa belakangan ini. rumah tinggal dan bahkan sebagai hiasan pada bagian tubuh dengan di-tatto. Walaupun sedemikian luhurnya maksud dan tujuan konsep yang melandasi strategi pembangunan di Bali. namun kini banyak tampak diterapkan pada desain produkproduk profan atau tempat-tempat yang tidak sesuai. seperti fenomena eklektik atau “pemilihan” bentuk-bentuk atau ragam hias tradisional Bali yang sebenarnya dirancang dengan bentuk.

Produk yang tergolong high art sebagai hasil kebu- . baik terhadap produk yang dipilih dan demikian juga terhadap desain yang diberi elemen estetis produk kriya tradisional yang sarat makna religius. mereka kadang-kadang tidak mempersoalkan masalah eksistensi makna dan nilainilai filosofi yang dikandungnya. Penerapannya sematamata berorientasi pada faktor estetis dan komersial. sementara ada yang berpendapat bahwa hal tersebut “sah-sah” saja tergantung pada proses pengerjaannya. Mereka memilih dan menerapkannya pada produk atau tempat yang bersifat profan dengan tendensi lebih mengutamakan segi pemampilan “artistik” semata. Namun jika ditinjau dari sudut visualnya sebenarnya implementasi tersebut tidak sesuai dan dapat berdampak buruk. tanpa peduli akan terjadi pelunturan nilai-nilai filosofi.oleh leluhurnya di masa lalu dan nilai-nilainya masih eksis pada masyarakat Hindu di Bali. Dalam penerapan elemen estetis tradisional pada desain masa kini. di lain pihak ada yang memandang sebagai sesuatu yang baku dan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang keliru. terutama yang terkait dengan nilai-nilai simbolis religius yang dikandungnya. Jelas tidakan tersebut tidak relevan dan merupakan suatu sikap “ketidaktaatan. Menyikapi kondisi tersebut dalam masyarakat Bali terjadi polarisasi pandangan. Jika ditinjau kembali dengan merujuk konsep estetika yang mendasari strategi pembangunan di daerah Bali.

secara umum dapat digambarkan dalam suatu sekematik hubungan hirarki atau taksonomi pandangan tentang dunia (weltanschaúung) manusia Bali seperti Gambar 1 berikut: . bahwa “masyarakat Bali” dalam mengaplikasikan konsep-konsep adati Hinduisme yang kini dijadikan sebagai landasan strategi pembangunan di daerah Bali. menjadi kehilangan ‘jiwa’ kesuciannya atau menjadi suatu produk yang lumrah. khususnya dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan elemen estetis produk kriya tradisional.dayaan tinggi atau high culture yang adiluhung. Sikap seperti tersebut tanpa disadari dapat mengancam spirit dan kelestarian budaya Bali yang dibanggakan dan dijadikan sebagai daya tarik utama dalam pengembangan kepariwisataan di Bali Dari uraian tersebut dapat diketahui.

CITRA TRADISIONAL PENUNJANG KEPARIWISATAAN DI BALI Gambar 1: Taksonomi Pandangan Dunia Manusia Bali .NISKALA ASUMSI DASAR THEOLOGICAL CONCEPT KARMA PHALA RWA BHINEDA SIO NAL (HIDUP DI B U ER A MI) OP FORMITAS TOTAL KON CATUR PURUSHA ARTHA KEINDAHAN ("RASA") TAKSU TRI HITA KARANA DESA PATRA KALA JENGAH ETOS KERJA SKALA ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYATRADISIONAL MASA LALU DI BALI EXTERNAL (SUB SISTEM) PENGARUH -PARIWISATA -MODERNISASI /TEKNOLOGI DESAIN MASA KINI BERSIFAT KOMERSIAL: .

eklektik merupakan praktek memilih doktrin dari beberapa sistem yang berbeda tanpa memakai keseluruhan sistem yang lama untuk masing-masing doktrin. Perancis. 1989). Pengertian Eklektik erkataan eklektik dalam bahasa Yunani disebut eklektikos.) Dalam filosofi dan teologi. perpaduan atau mengkombinasikan beberapa sistem— karena masih meninggalkan kontradiksi yang belum dihilangkan (Encyclopaedia Britannica . Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary. diartikan bahwa eklektik sebagai usaha memilih atau menggunakan bermacam-macam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya. perkataan eklektik mengandung pengertian. Berbeda dengan sinkretisme —merupakan suatu usaha untuk menyerasikan. metode. baik berupa orang. kepercayaan dan sebagainya (Hornby. dan dalam Moeliono. suatu usaha bersifat BAB II P .EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. 1983.1995). atau gaya. sistem. (1994). et al. 2) mengkomposisikan beberapa elemen yang diambil dari berbagai sumber (Webster. eklegein berarti:1) memilih yang dipandang terbaik dari berbagai doktrin.

Meski terkesan tidak memiliki prinsip. namun bukan berarti eklektik tidak unik. Bahkan pada perkembangannya dalam seni dan desain. namun gaya eklektik merupakan olah image dari perpaduan berbagai gaya. Dalam hal tersebut ia mendefinisikan postmodern sebagai” kombinasi teknik-teknik modern dengan sesuatu yang lain. Hal tersebut juga sesuai dengan konsep Charles Jencks yang menggunakan pengkodean ganda atau double coding dan eklektik digunakan untuk menerangkan hakekat produk post modernisme. Dalam seni dan desain.memilih yang terbaik dari berbagai sumber tentang: orang. eklektik lebih merujuk pada perpaduan antara beberapa gaya yang saling bertolakbelakang. Jadi. bahwa eklektik tidaklah selalu menghasilkan sesuatu yang bersifat “merusak” norma-norma masa lampau akan tetapi dapat juga berarti sebagai bentuk “penghargaan” atau produk “nostalgia”. seperti elemen-elemen estetika tradisional) agar dapat berkomunikasi dengan publik dan . sebenarnya eklektik tidak memiliki prinsip khusus dalam kreativitasnya. maka dapat dipahami. Justru dengan perpaduan berbagai macam gaya akan melahirkan satu nuansa baru yang jelas berbeda dengan gaya-gaya sebelumnya. Misalnya. gaya atau metode. istilah eklektik dikenal sebagai upaya untuk mencampur atau meramu beberapa gaya yang berasal dari berbagai sumber dalam satu produk. memadukan gaya modern dan tradisional. Dari uraian tersebut.

bahwa per- . kembalinya nilainilai tradisional dan juga reaksinya yang justru menekankan bentuk-bentuk baru yang radikal dan menentang seluruh ekspresi kesenian yang dianggap ideal dalam bingkai high art Berdasarkan pada pengertian tersebut. maka dalam pembahasan selanjutnya mengenai masalah penerapan elemen produk kriya tradisional secara eklektik pada desain masa kini. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Kata kriya atau kria berasal dari bahasa Sansekerta “kr” yang berarti ‘mengerjakan’. Hal tersebut. bahwa kriya berarti pekerjaan atau perbuatan (Wojowasito. kriya dan kerja dalam bahasa Jawa disebut pekaryaan yang berarti pekerjaan dan pengertian tersebut mengacu kepada hasil suatu pekerjaan yang disebut ‘karya’.1987). et al (1994) dijelaskan. B.minoritas yang terkait” (Jencks. mengingat unsur-unsur produk kriya masa lalu yang “dipilih” terkait dengan sarana penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu sesuai dengan adat di Bali dan nilainilainya masih diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. 1977) dan menurut Moeliono. Perkembangan yang menampilkan multivariousness. akan dicoba mengkaji mengenai dampak “negatif” yang ditimbulkan akibat eklektisme yang kurang terkendali. Dalam Kamus Bahasa Kawi Indonesia dijelaskan. dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya.

Pengerjaannya bisa saja menggunakan bantuan peralatan kerja. Sehingga kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan yang memungkinkan melahirkan nilai seni terapan atau dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek yang bernilai seni dan miliki nilai estetis. Pengertian kriya juga sering dipadankan dengan istilah craft yang mengandung pengertian suatu keahlian atau keterampilan yang menghasilkan benda.kataan kriya berarti pekerjaan tangan. maka cakupan kriya memiliki fleksibilitas yang . Istilah tersebut dipergunakan untuk menyebut suatu cabang seni yang mengutamakan keterampilan yang luar biasa (virtousity) menggunakan tangan. Dalam Encyclopedia of World Art (1963) didefinisikan sebagai berikut: The word “handicrafts” refers to useful or decorative objects made by hand or with tool by workman who has direct control over the product during all stages of production. Menurut Soedarso (1988) kriya adalah cabang seni rupa yang mengutamakan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi. namun sepanjang proses pembuatannya si pembuat atau kriyawan sepenuhnya dapat menguasai seluruh tahap produksi. Pengertian kriya sering diselaraskan pengertian handicrafts. Atas dasar hal tersebut. bahkan untuk tujuantujuan tertentu dapat diciptakan peralatan khusus.

maka dapat disimpulkan. Hal tersebut membawa cara penilaian atau assessment estetika produk kriya tergantung dari wawasan atau persepektif ilmu yang dipergunakan untuk mendekatinya. bisa memiliki ciri khas atau identitas. Sesuatu yang dibuat dengan kecenderungan lebih banyak melibatkan kemampuan atau keahlian tangan kriyawan atau virtousity 2. Sedangkan pada masyarakat umumnya kriya sering disebut sebagai “seni rakyat”. Hal tersebut ada benarnya. bahwa pengertian kriya. Bersifat dekoratif atau secara visual dibuat sangat indah dan dalam perujudannya dapat berupa produk seni murni atau seni terapan atau desain yang memiliki fungsi guna atau utility. Kriya juga disebut “industri rumah-tangga” atau home industry yang memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan .tinggi. Berdasarkan beberapa definisi dan ulasan tersebut. Jadi orientasi penciptaan produk mencerminkan kecenderungan-kecenderungan kepada salah satu dari kedua hal tersebut atau terkadang dapat merupakan perpaduan seni dan desain. karena sumberdaya manusia pelaku kegiatan tersebut umumnya rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan atau konsisten berbasis pada estetika tradisional. bisa berada pada domain seni murni atau seni pakai atau seni terapan atau desain. handicrafts atau craft adalah: 1.

batik dan sebagainya. maka dapat dipahami bahwa antara kriya dengan kerajinan memiliki kesamaan ditinjau dari proses pengerjaannya dan pencapaian hasil. didalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skil yang tinggi craftmenship.peralatan sederhana. Karya kriya me- . seperti: kerajinan logam. Berdasarkan pengertian tersebut. Produk yang dihasilkan dapat berupa hiasan atau benda seni maupun barang pakai (Wikipedia. sehingga sebutan jenis kerajinan dikaitkan dengan medium yang digunakan. Namun antara seni kriya dan kerajinan secara prinsip terdapat perbedaan. juga berarti industri kecil small scale industry yang membuat barang-barang sederhana dan bisa menggunakan unsur seni. 2010). yaitu samasama menggunakan keterampilan tangan dalam proses pengerjaannya dan benda yang dihasilkan dapat berupa produk seni atau produk pakai yang mengutamakan kegunaan atau utility. kulit. Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. Selain hal tersebut. Menurut Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan bahwa kerajinan adalah proses produksi melalui keterampilan tangan. Selain hal tersebut seni kriya juga sering didekatkan dengan istilah “kerajinan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata.

yang kemudian disebut seni kerajinan . kegetolan.karakteristik. yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. komologis. di dalamnya terkandung muatan-muatan atau nilai estetik. Sebab pada masa lampau. simbolis. kegiatan. para kriyawan menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu.rupakan karya yang memiliki keunikan. Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat. Dalam Konsep tersebut termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual. pikiran. angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. Kerajinan suatu hal yang rajin. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsur seni. religius. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan. solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas dan mencerminkan jiwa zaman lampau. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). serta magis. filosofis dan sekaligus fungsional.

Sekarang jamannya permainan tanda-tanda budaya glo- . sebutan kontemporer seolah mengacu pada paradigma seni masa kini yang dilandasi pandangan postmodernisme. seperti karya kriya kontemporer. Dalam kreativitas penciptaan karya kriya. sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa kriya seni. Menurut Julian Stallabrass dalam "Contemporary Art" mengatakan bahwa sekarang ini bermacam-macam bentuk. Kecenderungan saat ini mengusung pemahaman bahwa media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. dan subject-matter dalam seni rupa sudah benar-benar campuraduk. di mana pembedaan kategori dianggap tidak berlaku lagi.Dewasa ini penciptaan produk kriya di satu sisi mengarah pada estetika plural. terjadi gejala mempertontonkan identitas invidual. di sisi lain. teknik. Perkembangan karya menampilkan multivariousness. Selain hal tersebut juga terjadi reproduksi karya masa lalu yang diwarisinya dengan tujuan untuk menampilkan karya kriya etnis. Namun. Sebutan "kriya kontemporer" (yang merupakan padan kata dari contemporary craft) sendiri sebenarnya mengandung paradoks karena di satu sisi ia menempatkan dirinya pada suatu kategori "kriya" (craft) yang berseberangan atau setidaknya terpisah dari "seni" (art). Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang membuat seni kriya mengikuti nazab seni yang sedang berkembang.

Untuk lebih jelasnya nilainilai yang dikandung dalam produk kriya dapat ditelusuri dari perkembangan penciptaan produk kriya. Produk seni kriya dapat mengambil posisi strategis di tengah mengeliatnya isu seni rupa kontemporer dan pasar seni rendah dengan kuantitas massal. maka yang dimaksud dengan elemen estetis produk kriya tradisional Bali adalah mengenai unsur-unsur atau bagian-bagian yang mengandung nilai-nilai estetik. simbolik. budaya modern dan budaya masa kini. kosmologis. bersifat tradisional. Estetika menjadi praktik normatif dalam menciptakan unique selling point. dan sakral. Seperti diuraikan pada BAB III berikut. merupakan hasil pekerjaan tangan para kriyawan secara konvensional. maka parameter pengukur nilai estetika produk kriya adalah uang. . filosofis. adiluhung dan terkait erat dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Dalam kaitan tersebut.bal yang melingkupi budaya tradisi. produk kriya diciptakan mengarah pada “komersialisasi” produk dan dianggap sebagai barang komuditi yang memiliki milai ekonomis. Bertolak dari uraian tersebut.

akurat dan tuntas. Museum Gedung Arca. BAB III P Sehubungan dengan hal tersebut. Tingkat perkembangannya ditentukan oleh berbagai faktor. Penggunaan dan penciptaan produk kriya tradisional Bali dewasa ini adalah merupakan bagian dari mata-rantai sejarah perkembangan kebudayaan Bali sejak berabad-abad yang silam. maka secara sinkronis atau berdasarkan penggalan sejarah dapat ditelusuri sebagai berikut: . dinamika dan perubahan lingkungan budaya internal maupun eksternal. seperti tingkat peradaban.PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI A. maka dalam penelusuran perkembangan dan motivasi penciptaan produk kriya dalam masyarakat Hindu di Bali. Sejarah Penerapan Produk Kriya emaparan produk kriya di Bali secara hitoris mengenai awal penciptaan dan penggunaan-nya dalam kehidupan masyarakat di Bali adalah merupakan hal yang sangat sulit diungkap secara tuntas. karena keterbatasan referensi dan data berupa artifak-artifak yang ada. Namun berdasarkan benda etnologi yang tersimpan di Museum Bali. tidaklah mungkin dapat dipaparkan secara kronologis. Gianyar dan didukung dengan beberapa buku yang terkait. Bedulu. Denpasar.

berpindah-pindah. 1971). tanah longsor. Pada saat tersebut. memohon keselamatan dan memuja atau percaya dengan kekuatan alam. gangguan binatang buas. sehingga hasil produk yang ditinggalkan tampak relatif masih kasar. mengembara. Pulau Bali —seperti halnya beberapa pulau lain di Nusantara— dihuni oleh penduduk yang tergolong ras Negrito yang mengusung kebudayaan Paleolitikum (Koentjaraningrat.1. Zaman Pra-Hindu. penduduk yang menghuni pulau Bali masih hidup dengan pola nomaden. tanduk dan batu yang dikerjakan dengan cara sangat sederhana. kejadian gunung berapi. sebagai pemburu dan peramu. petir. Kejadian-kejadian tersebut. dan sebagainya. angin. hujan. timbulnya api. kematian. Pola pikirnya masih terbatas pada tingkat pemenuhan kebutuhan hidup berupa makanan dan belajar secara alamiah dari gejala-gejala atau kejadian-kejadian alam yang pernah dialaminya. Dalam terminologi antropologi disebut dengan kepercayaa animisme dan dinamisme. Seperti terjadinya kelahiran. membuat mereka harus waspada dan seolah-olah selalu dibayangi oleh perasaan takut. Dalam melakukan aktivitas hidupnya didukung dengan peralatan kerja berupa produk kriya terbuat dari ranting kayu. tulang binatang. seperti berupa kapak batu yang tergo- . Sebelum kedatangan gelombang migrasi bangsabangsa pendukung kebudayaan Neolitikum dan Perunggu dari dataran Asia Tenggara.

seperti: di daerah Sembiran. Badung ditemukan beberapa buah sudip dan tiga buah alat tusuk terbuat dengan tulang binatang atau tanduk rusa dan di daerah lainnya. kapak genggam dan sebagainya.P.long jenis kapak perimbas. desa Pecatu. Buleleng. Di antaranya berhasil ditemukan Bali oleh R. Soejono. di Gua Seloding. Gambar 2: Kapak perimbas dari batu peninggalan zaman Palaeolithikum (Zaman Batu Tua) .

Gambar 3 Kapak Gengngam dari Batu Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda Gambar 4 Kapak dari Batu Bertangkai Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda) .

Produk kriya berupa peralatan kerja yang ditinggalkan tersebut. 1980) Kemudian dengan kedatangan gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Neolitikum. Hal tersebut menjadi dasar berkembangnya kepercayaan syamanisme. lebih mengutamakan kegunaan. yaitu suatu ajaran berdasarkan keyakinan. 1994). tampak bersahaja. bahwa roh . 1977-1978). Kemungkinan juga peralatan tersebut diambil langsung dari alam serta digunakan hanya sekali pakai. bahwa roh yang ada di sekeliling manusia dapat merasuk ke tubuh seseorang melalui suatu ritual tertentu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Penduduk Bali secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup nomaden. diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2500 SM— maka mulailah terjadi integrasi dengan kebudayaan dari luar (Suwondo. kemudian ditinggalkan ke tempat lain (Sutaba. mulai hidup bertempat tinggal di suatu daerah dengan batas-batas wilayah tertentu yang disebut pedukuhan. Mereka percaya. belum tampak usaha untuk memperindah penampilan dan kenyamanan (ergonomis). muncul etiket saling menghargai antar sesama dan berkembang tradisi menghormati orang yang dituakan. seperti. —migrasi orang-orang Proto Melayu dan tergolong ras Mongoloid. tokoh-tokoh masyarakat atau orang yang dianggap memiliki kekuatan tertentu. Dalam masyarakat yang terbentuk saat tersebut. belajar bercocok tanam dan bermasyarakat.

pahat pembelah batang kelapa dan sebagainya. pohon dan di antara produk-produk kriya yang diciptakan juga dihargai dan dipuja sebagai benda bertuah atau sebagai simbol-simbol tertentu. maka berkembang gejala simbolisasi dan penghargaan atau pemujaan terhadap suatu benda. Mereka mampu menciptakan produk-produk dari batu dengan disertai usaha-usaha untuk memperindah penampilan dan memikirkan segi kenyamanan dalam pemakaiannya. Beberapa peninggalan produk kriya yang mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum berupa peralatan . Produk kriya tersebut dibuat sebagai simbol penghormatan atas jasa orang yang meninggal. 1980). perilaku tersebut disebut fetisisme. dalam terminologi antropologi. beliung. Kepercayaan animisme dan dinamisne juga semakin tumbuh subur di masyarakat Mereka percaya dengan kekuatan-kekuatan metafisis yang dimiliki oleh suatu materi. Seperti menyembah batu. Pengaruh kebudayaan Neolitikum terutama tampak dalam penciptaan produk kriya berupa peralatan dari batu. seperti kapak persegi. Atas dasar kepercayaan tersebut. seperti bekal kubur (funeral gifts). belincung. Menganggap suatu benda memiliki kekuatan magis atau bertuah dan dapat menyelamatkan atau merusak kehidupannya. Proses pengerjaannya dengan cara digosok menggunakan batu lain sampai halus (Sutaba.orang yang meninggal dapat berpengaruh terhadap kehidupan di dunia ini.

datang gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Perunggu yang disebut juga migrasi orang-orang Deutro Melayu. sehingga mampu menghasilkan beberapa jenis produk dari perunggu yang cukup berkualitas. tetapi keindahan penampilan produk juga mu- . Kemampuan tersebut terus ditingkatkan. tembaga. kuningan. Unsur-unsur kebudayaan tersebut diterima dan diadaptasi. Hindu. Gianyar. Sekarang benda-ben-da itu. mereka tidak hanya mengutamakan kegunaan semata. dan sebagainya. Mesir. sehingga memperkaya kasanah kebudayaan Bali di masa lalu. dan sebagainya. perak. seperti masuknya pengaruh kebudayaan Budha. Kebudayaan masyarakat di Bali semakin tumbuh dan berkembang. Bedulu. Bantiran. seperti ditemukan di beberapa tempat di Bali. Denpasar dan Ge-dung Arca. seperti: emas. Dalam perkembangan selanjutnya. karena mereka mengenal bijih logam dan cara peleburannya. Dalam penciptaan produk-produk kriya tersebut. Misalnya di Palasari. maka di Bali terjadi akulturasi antara kebudayaan batu dengan perunggu. Nusa Penida dan di daerah lain. Cina. Cara penciptaan produk kriya untuk penunjang aktivitas hidupnya mengalami perkembangan yang sangat pesat.terbuat dengan batu. disimpan di Museum Bali. Demikian juga pengaruh-pengaruh dari luar terus berlangsung. besi. Dengan kedatangannya. diperkirakan sekitar tahun 600-300 SM.

Mempunyai ukuran luar biasa dengan tingggi 1. yakni berupa sebuah nekara perunggu yang ditemukan di desa Pejeng. Nekara Perunggu Ditemukan di Pejeng. Gianyar detail hiasan wajah manusia 1m hias an waj ah man usia Gambar 5.96 m dan bidang pukulnya bergaris tengah 1. Gianyar Nekara tersebut berbentuk selinder atau dadang terbalik. 1976). di antaranya berupa hiasan yang . Hal tersebut dapat dilihat pada artifak yang sangat menakjubkan. Pola hias yang diterapkan.60 m. Digunakan untuk genderang perang atau sarana upacara memohon turunnya hujan (Kartodirdjo.lai diperhatikan.

anyamanyaman bambu dan mengukir batu sebagai perkembangan kebudayaan Neolitikum. Penerapan ragam hias tersebut. 3. seperti penerapan hiasan empat pasang topeng wajah manusia.distilasi dari bentuk wajah manusia. . seperti tanah liat yang dibakar atau tembikar. Benda atau hiasan tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis atau bertuah yang memberi perlindungan dan keselamatan kepada kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya (Soejono. pola tumpal yang tersusun bertolak belakang. selain bertujuan sebagai dekorasi. Pada masa tersebut. bulu burung. binatang. pembuatan produk kriya selain menggunakan logam juga dengan bahan-bahan lain. merupakan personifikasi nenek moyangnya yang telah meninggal. juga sebagai simbol yang mengandung makna terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. 1975). Pada sarkofagus tersebut tampak ditatah langsung berupa hiasanhiasan dan simbol-simbol terkait dengan kepercayaan mereka. 1960). diduga berlangsung melalui dua “pengaruh”. empat pasang topeng dan lain sebagainya (Kempers. Salah satu contoh peninggalan berupa peti terbuat dengan batu (sarkofagus) digunakan untuk tempat mayat. Zaman Hindu (Pengaruh dari India dan Majapahit) Pengaruh kebudayaan Hindu yang masuk ke Pulau Bali.

Dalam ekspedisi tersebut terjadi perang melawan penduduk Bali asli dan berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Gajah Mada. Desa Trunyan. Persebaran kebudayaan Hindu dari Pulau Jawa. 1977/1978). yaitu saat Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Tri Bhuwana Tungga Dewi Djaya Wisnuwardana). sekitar abad 8 M (Djawatan Penerangan Propinsi Suda Ketjil. baik yang dibawa oleh orang-orang Drawida maupun Arya pada masa-masa Raja Maya Denawa berkuasa di Bali. Pedawa. . Sembiran. Sidetapa. Kubu dan Sukawana. Cempage. Hubungan tersebut terus berlangsung pada zaman Kerajaan Singosari dan puncaknya terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad 14 dan 15 M (Suwondo. diduga berlangsung sekitar abad 10 M. Kedisan. Julah. 1972). seperti di Desa Tenganan. Songan. yaitu sejak terjadi hubungan antara masyarakat Bali dengan Kerajaan Medang Kemulan di Pulau Jawa. diawali dengan ekspedisi di bawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada (Prabu Wisnuwardana) pada tahun 1343. Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dari Majapahit ke Bali. Karangasem.yaitu pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa langsung dari India. Kekalahan tersebut mengakibatkan penduduk Bali asli. 1953) dan pengaruh kebudayaan Hindu yang berasal dari Pulau Jawa. Bangli. akhirnya terdesak ke daerah pedalaman. dan di daerah lainnya di Buleleng (Covarrubias.

dan konsep utara-selatan (kaja-kelod atau dulu dan tebén) dengan berpedoman pada laut dan gunung (segaraukir). kekuatan alam atau dewa-dewa penguasa alam gaib. Sebagai penganut sekte-sekta. seperti: Sambu. ternyata membawa pengaruh yang cukup besar terhadap konstelasi kehidupan masyarakat di Bali. Seluruh unsur kebudayaan tradisonal Bali dominan dijiwai oleh agama Hindu dan sebaliknya wujud kebudayaannya kembali diabdikan untuk keperluan agama. Wisnu. Sehingg terjalin hubungan yang saling berkait seperti pada Gambar 6.Penduduk di Pulau Bali saat tersebut jumlahnya relatif sedikit di bandingkan sekarang. Brahma. Bayu. bahasa yang digunakan umumnya menggunakan Bahasa Bali Kuno dan tidak mengenal tingkatan bahasa (bahasa halus-kasar) Masuknya kebudayaan Hindu ke Bali. Namun mereka telah memiliki sistem kemasyarakatan yang mapan dengan kebiasaan berbeda dengan penduduk Bali lainnya. Gunung dianggap sebagai alam arwah dan sekaligus sebagai waduk alamiah yang mengairi dataran rendah di Pulau Bali sepanjang tahun.1986). Daerahnya dibatasi hutan belantara. Mereka tidak mengenal sistem Kasta. . di mana gunung dianggap utara dan sebagai tempat yang bersih atau suci sedangkan laut adalah selatan sebagai tempat yang kotor atau tempat pembersihan. Indra. Percaya dengan alam nyata dan tidak nyata. roh nenek moyang. dan Kala (Soeka.

seperti: berupa seni rupa. dan (5) Keseluruhannya dilandasi dengan ajaran Agama Hindu.    . tari. menunjukkan segala produk kebudayaan kembali diabdikan atau dipersembahkan untuk agama.Gambar 6. Anak panah menuju kearah pusat lingkaran besar menunjukkan bahwa semua unsur bertumpu pada ajaran Agama Hindu. bangunan tradisional. dan sebagainya. Anak panah melengkung pada gambar tersebut menunjukkan hubungan antar unsur. (3) Seni budaya. Anak panah munuju kearah keluar lingkaran besar. tata cara upacara di pura. Unsur Kebudayaan Bali Dijiwai Agama Hindu Keterangan  Lima unsur dominan dalam tata kehidupan tradional di Bali. seperti: (1) Filsafat hidup atau pandangan hidup masyarakat. (4) Organisasi sosial tradisional. (2) Adat istiadat dan hukum adat.

Sistem tersebut diajarkan oleh Resi Markandeya berasal dari Jawa Timur. Menyusun sistem organisasi kemasyarakatan berdasarkan ajaran Agama Hindu yang disebut Desa Pekraman atau Desa Adat. Kayangan Rwabhineda dan memperlebar Pura Besakih dan sebagainya (Purnata. Sedangkan Dang Hyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra (juga terkenal dengan sebutan Peranda Sakti Wawu Rawuh) —seorang agamawan dan pujangga besar dari Jawa Timur— datang ke Bali ketika Keraja- . Kayangan Tiga —terdiri dari: Pura Desa. Sarana dan prasarana keagamaan mengalami perkembangan dan pembenahan sejak datangnya Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirarta dari Jawa Timur. Kayangan Catur Lokapala. seperti.Tata cara bercocok tanam tradisonal dan sistem pengairan atau subak dikembangkan berdasarkan konsepsi Agama Hindu. 1977 /1978). Mengajarkan tata cara pembuatan Kayangan atau Pura. Pura Puseh dan Pura Bale Agung— untuk melengkapi Desa Pekraman. Mengajarkan pembuatan Sadkahyangan Jagat. yaitu pada zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan di Bali diperintah oleh Raja Marakata dan Anak Wungsung. Wisnu ‘pemelihara alam’ tengah dan Šiwa ‘pelebur alam’ ke arah gunung. Empu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11. Ia mengembangkan konsep Tri Murti untuk pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma ‘pencipta alam’ ke arah laut.

Klungkung dipemerintah oleh Dalem Waturenggong (1460-1550). Perwujudan dalam bentuk simbol. mempunyai peranan yang sangat penting.an Gelgel. seperti patra punggel. terutama untuk sarana pemujaan. Keberhasilannya adalah memperjelas “kekaburan” antara tempat pemujaan Tuhan dengan roh leluhur. patra sari. berupa alat pertanian. Kedatangannya sangat berpengaruh dalam pengembangan dan penyempurnaan ajaran Agama Hindu di Bali serta turut membawa Kerajaan Gelgel ke zaman keemasannya. 1945). Dia mengembangkan konsep Tri Purusa yang terdiri dari: Parama Šiwa (Swah Loka atau alam atas). dan sebagainya. Salah satu contoh. simbol maupun sebagai hiasan. yakni dengan membuat pelinggih berupa Padmasana. sedangkan Pura Dadia. Ananta Boga. patra welanda. seperti. Kinara Kiniri. seperti Empas. . karang goak. Pedharmaan. seperti berupa wadah. Penciptaan produk-produk kriya pada zaman tersebut. seperti karang asti. menunjang keperluan sehari-hari. dalam pembuatan Pelinggih Padmasana. Achentya dan sebagainya yang terkait dengan konsepsi Tri Murti dan Tri Purusa. Sada Šiwa (Bwah Loka atau alam Tengah) dan Šiwa (Bhur Loka atau alam bawah). yaitu untuk pemujaan Tuhan. Purnaghata. Kalpa Warksa. Paibon untuk pemujaan roh leluhur (Wiana. mas-masan dan sebagainya serta kekarangan. Naga Basuki. Hiasan yang diterapkan berupa pepatran. karang bentulu.

1974) Prasasti tersebut memberi petunjuk. pertunjukan wayang. juga dipakai sebagai media pendidikan atau komunikasi dalam masyarakat. tari topeng. Seperti seni tari. parbwayang (wayang). wayang dan sebagainya.. tahun Šaka 818 (896 M). pabangsi (juru rebab). Pada zaman tersebut di Bali sudah berdiri kerajaan-kerajaan. yaitu salah satu kerajaan di Bali yang pa- .. seperti kerajaan Bedahulu (1324-1343) dengan rajanya yang terkenal bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten. pamukul (juru tabuh). pabunjing (penari).. tanggal 5 tahun Šaka 818) ( Simpen. nomor kropak M55 dijelaskan: . pagending (penyanyi)..turun di panglapuan di Singamandawa. di bulan besakha Cuklapancami.Di bidang kesenian lainnya. tembaga (kriyawan atau “tukang” emas. partapukan (topeng). Hal ini dapat diketahui dari Prasasti Bebetin. besi. dan sebagainya. juga mengalami perkembangan diwarnai dengan pengaruh kebudayaan Jawa dan sarat dengan misi pembinaan umat Hindu. Kerajaan Gelgel (1380 -1460) dengan masa keemasan pada saat pemerintahan Raja Dalem Waturenggong sampai Kerajaan Klungkung. besi. Seperti dalam bentuk pagelaran topeng.pandê mas. tembaga). Kerajaan Samprangan (13511380) dengan rajanya Sri Kresna Kepakisan berasal dari Daha (Kediri). bahwa kesenian termasuk produk-produk kriya pada zaman tersebut. Jawa Timur. (dibuat oleh pegawai di Singamandawa pada bulan ke-10. rge pasaran Wijayamanggala.

kegiatan penciptaan produk-produk kriya tampak lebih berkembang di sekitar pusat kerajaan dan di bawah patronage kerajaan (Joedawinata. saat diperintah oleh Raja Dalem Sagening. Jadi berorientasi pada puri atau istana centris. Dalam kaitan dengan sistem kerajaan.ling terakhir dikuasai oleh Belanda dalam perang Puputan pada tanggal 28 April 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe. Sebagai contoh. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para raja dan keluarganya yang bersifat hedonistik atau sebagai simbol status sosial. Kedatangannya disambut dengan tata . umumnya dibuat lebih megah dibandingkan dengan perumahan rakyat dan sebagainya. Pada tahun 1597 sempat mampir di Kerajaan Gelgel (Bali). Oleh sebab itu. produk kriya berupa keris atau atribut raja dibuat dengan sangat indah. Produk kriya yang diciptakan saat itu tampak lebih mengutamakan segi keindahan. maka peranan penciptaan produk-produk kriya saat tersebut memiliki kecenderungan untuk melaksanakan tugas yang dilandasi dengan semangat kebanggaan dan dedikasi kepada raja dan keluarga raja. 1990:4). 4. Sehingga melahirkan produk-produk yang unggul dan adhiluhung. Zaman Kolonial Ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk menemukan sumber rempah-rempah di dunia timur. bangunan istana raja.

terutama mengenai segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan Raja Dalem Sagening. Keadaan tersebut menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat di Bali. karena kekuasaan kerajaan “feodal” secara berangsur-angsur diganti dengan sistem pemerintahan kolonial “modern” menurut cara Belanda.cara yang sangat hormat. kesehatan. Impian tersebut akhirnya benar menjadi kenyataan. Pada saat tersebut. . menyebabkan muncul kelompok-kelompok elite atau golongan atas baru dalam masyarakat dan memperkenalkan ide-ide baru. artinya “Belanda Muda”. Belanda juga melontarkan suatu julukan “Jonck Hollands”. Sistem pemerintahan tersebut. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Be-landa dengan sebaik-baiknya untuk menulis mengenai Bali. Mulai saat itu pamor kekuasaan para raja semakin memudar di mata rakyat Bali. Bagi Belanda. dalam julukan itu sebenarnya teselip suatu ambisi atau impian untuk menjadikan Bali sebagai wilayah kekuasaannya. yang ditujukan untuk Pulau Bali. karena kunjungannya tersebut dengan dalih ingin menawarkan ikatan persahabatan. menanamkan pengertian tentang pentingnya hidup non-agraris dan sebagainya. misalnya. yang nantinya akan ditingkatkan menjadi hubungan perdagangan. setelah Belanda mampu mengalahkan perlawanan para raja Bali dalam perang puputan (terakhir tahun 1908). dalam pendidikan.

seperti memiliki beraneka ragam jenis kesenian tradisional. diupayakan dengan mengangkat tenaga pendidik lokal. Misalnya. Dalam menyusun strategi pengembangan ke arah tersebut. seperti mengembangkan sistem pendidikan kolonial yang disesuaikan dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu di Bali. terdapat pura hampir di seluruh pelosok Pulau Bali dan sebagainya. pemerintah kolonial Belanda berkeinginan untuk mengembangkan potensi tersebut untuk dijadikan objek wisata. 1953) Langkah-langkah lain yang dilakukan dalam upaya pelestarian itu. Pemasukan berupa devisa hanya diharapkan dari pemungutan pembayaran yang dikenakan pada para wisatawan yang berkunjung (Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Ketjil. Belanda juga sangat tertarik dengan keindahan alam dan kehidupan kebudayaan masyarakat di Bali yang memiliki ciri tersendiri.Di sisi lain. seperti pelajaran menggambar diajarkan oleh “Guru Adat” (seniman tradisional). karena dikawatirkan dapat “merusak”. upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di Bali. Sistem pendidikan itu dikenal dengan . Pemerintah Belanda menginginkan agar keindahan alam dan kebudayaan Bali menjadi objek wisata budaya. sebagai “museum hidup” dan menjadi tontonan semata. Sehubungan dengan hal tersebut. maka mereka selalu konsisten untuk menjaga kelestariannya dan berusaha untuk mengisolasi dari penetrasi pengaruh-pengaruh kebudayaan eksternal.

Kemudian tulisan-tulisan tersebut didistribusikan ke seluruh dunia. Sedangkan dalam usaha mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata. usaha tersebut cukup menggetarkan keinginan banyak orang termasuk para penulis dari barat lain-nya untuk melihat Bali secara langsung. meneliti dan menulis berbagai aspek tentang Bali. Korn menulis buku berjudul “Het Adatrecht van Bali” (1932) dan yang lainnya. De Kat Angelino dengan tulisannya berjudul “De Leak op Bali” (1923). 1991/1992). di bawah pimpinan Leifrinck dan Van der Tull. menulis tentang “Kawi-BalineeschNederlandsch Woordenboek” (1912). E. WF.M . medirikan Gedong Kirtya yang digunakan sebagai perpustakaan untuk menyelamatkan lontar-lontar yang berisi sastra lama dan segala aspek tentang Bali.N. Di antaranya H. V. dikembangkan oleh H.sebutan Balisering. dilakukan dengan mendatangkan beberapa pakar dalam berbagai disiplin ilmu dari negeri Belanda untuk mempelajari. Goris menulis buku berjudul “Secten op Bali” (1933). R.Van der Tuuk.P. di Singaraja pada tahun 1928. kapal dagang Belanda K. Sekitar tahun 1920. Kroos mendirikan sebuah bangunan digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu dan sekarang dijadikan Museum Bali. Selain itu. (Putra. te Flierhaar —seorang tokoh pendidik dari Negeri Belanda— pada tahun 1920. Walhasil. ketika menjadi guru HIS di Klungkung. Kemudian di Denpasar pada tahun 1932. P.

Upaya pengembangan tersebut secara tidak langsung akhirnya berpengaruh pada kegiatankegiatan lain di Bali. pesanggrahan di Kintamani dan di Pelaga. perbaikan sarana transportasi. Namun kebanyakan wisatawan dalam rombongan tersebut merasa puas setelah meninggalkan Pulau Bali.(Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dialihfungsikan untuk mengangkut rombongan wisatawan Belanda pertama mengunjungi Bali. Melihat peluang tersebut. para kriyawan dengan “serta merta” mulai aktif menciptakan produk-produk kriya untuk dijadikan mata dagangan berupa produk kriya lokal sebagai cenderamata. sehingga para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya di Bali mulai merasakan nilai ekonomis atau nilai tukar dari produk kriya yang diciptakan atau diusahakannya. Misalnya pada kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya. dan sebagainya. Penciptaan tersebut termotivasi oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat. sehingga banyak di antara mereka terpaksa tidur dalam kapalnya. Sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan di Bali saat itu kurang memadai. seperti membangun Hotel Bali di Denpasar. maka dalam pengembangan selanjutnya mulailah diadakan pembenahan sarana dan prasarana yang terkait. Pada masa tersebut. Motivasi atau semangat penciptaan produk yang dulunya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan ke- .

5. karena saat tersebut. Dalam kurun waktu tersebut. maka situasi dan kondisi masyarakat di Bali mengalami perubahan cukup drastis. kemudian disuguhkan untuk para wisatawan. pembangunan di daerah Bali yang dilaksanakan berdasarkan program Repelita dan dengan strategi pembangunan daerah seperti tampak pada Gambar 7. Dengan kekalahan Belanda. Zaman Kemerdekaan Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang ini (lebih kurang seperempat abad silam). dengan meletusnya Perang Dunia ke-II. Di bawah penguasaan Jepang yang berlangsung dalam waktu relatif singkat sehingga pengembangan sektor pariwisata kurang mendapat prioritas. ternyata mengalami perkembangan cukup pesat. Jepang lebih terfokus pada ambisinya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. karena harus menerima kekalahan dalam menghadapi semangat hegemonisme Jepang. Dalam kreativitas penciptaan produk berciri khas Bali mulai terjadi gejala reproduksi atau tindakan eklektik terhadap unsur-unsur produk masa lalu yang diwarisinya. maka pengembangan pariwisata di Bali tidak dapat diteruskan lagi oleh pemerintah Belanda. namun pada saat tersebut mulai muncul gejala yang mengarah pada komersialsasi produk kriya. Pada masa selanjutnya. . Walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan kendala. (Mirsa.rajaan. 1988).

Bagan Strategi Dasar Pembangunan Daerah Bali .TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PEMERATAAN TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI a. Mendorong Partisipasi Aktif dari Masyarakat dalam Pembangunan TUJUAN INTI ARAH IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN ALAT UKUR YANG MENGARAHKAN PADA KESERASIAN DAN KETERPADUAN Sumber: (Oka. Peningkatan dan Perluasan Sarana dan Prasarana Sosial c. Pengembangan identitas Bali 1. Pembangunan Sektor Pariwisata c. Delapan Jalur Pemerataan 2. Pembangunan Sektor Pertanian b. Pendekatan Regional Gambar 7. Pemenuhan Kebutuhan Dasar b. 1991) A.2.2. Pembangunan Sektor Industri SOSIAL a. Pelestarian nilainilai budaya. agama dan warisan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan B.

ternyata memberi peningkatan perekonomian yang cukup signifikan bagi masyarakat di Bali.Dari sekema tersebut dapat diketahui. pariwisata dan industri kecil. seperti pada Pelita I yang dimulai sejak tahun 1969 dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. transportasi atau biro perjalanan. Pembangunan sektor pariwisata di Bali. yang kembali dibangkitkan oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950. Hasil pembangunan ketiga sektor tersebut. bahwa tujuan pembangunan bidang ekonomi di Bali adalah berorientasi pada pertumbuhan sektor pertanian. prospektif dan sesuai . dengan tetap memakai potensi budaya sebagai daya tarik utama. garmen. Demikian juga industri kecil dan rumah tangga yang bergerak dalam usaha penciptaan produk kriya. ternyata mendapat respons cukup besar dari masyarakat petani di Bali. karena kemantapannya yang kuat sebagai masyarakat pewaris budaya agraris. seperti semakin menjamurnya usaha di bidang perhotelan. Sektor tersebut memberi oportunitas cukup besar untuk tumbuh suburnya berbagai bidang usaha. Sehingga hasilnya tampak jelas dari Pelita I sampai V mampu membawa masyarakat Bali ke tingkat swasembada pangan. toko kesenian. berbagai jenis industri kecil dan rumah tangga dan sebagainya. Pemerintah menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu cabang industri alternatif yang strategis. kini terus dibina dan dikembangkan.

Para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya masa kini merasa semakin bergairah dalam usaha tersebut. Kebijakan tersebut .dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara. salah satunya seperti program OVOP (one village one product). sehubungan dengan upaya untuk memperoleh sumber dana penunjang pembangunan nasional. Malah pada tahun 1990-an terbukti produk-produk kriya sempat dijadikan sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor di luar minyak dan gas alam (LNG) Liquid Natural Gas. usaha perluasan atau enlargement penciptaan produk-produk kriya. Berbagai program telah diluncurkan terkait dengan hal tersebut. sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja (mass employee) berakumulasi modal kecil. Sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat di pedesaan serta dapat memperlambat laju urbanisasi. dan sebagainya. humanisasi proses kerja. karena pada dasawarsa belakangan ini pemerintah Indonesia semakin mengkonsetrasikan perhatiannya pada sektor tersebut. karena termotivasi oleh nilai ekonomi yang dapat dinikmati dari produk kriya yang diciptakannya. karena memiliki karakteristik antara lain. tampak semakin mantap dan dengan kecenderungan mengarah kepada hal yang bersifat “komersial”. Kondisi tersebut semakin terpacu. Dengan dukungan pemerintah dan perkembangan pariwisata di Bali yang cukup pesat. maka pada era kemerdekaan.

seperti disebut Agama Hindu Bali. Wasista dan Kanwa. kala dan patra.ditempuh oleh pemerintah. Pelaksanaan Ajaran Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali Agama Hindu berasal dari lembah Sungai Sindhu di India. hingga sampai ke Indonesia. Wiswamitra. Atri. karena dalam tata cara pengamalan ajarannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi budaya masyarakat penganutnya atau disesuaikan dengan desa. mengalami penurunan dipasaran dunia dan diikuti oleh resesi dunia pada saat tersebut (Joedawinata. Di tempat tersebut. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali 1. Terjadinya hal tersebut. 1990) B. Hindu Jawa. Agama Hindu sering diberi sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan nama daerah di mana Agama Hindu tersebut tumbuh dan berkembang. Hindu Kaharingan dan sebagainya. salah satunya. Ajaran tersebut dikumpulkan dan disusun kembali oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk kitab suci yang disebut Weda. Baradwaja. Wamadewa. yaitu: Maharesi Grtsamada. sehingga da- . Kemudian ajaran tersebut disebarkan keseluruh dunia melalui para pengikutnya. mengingat ekspor andalan Indonesia berupa bahan-bahan mentah yang dibutuhkan oleh industri pengolahan di luar negeri. ajaran diterima dari Tuhan dalam bentuk wahyu suci oleh tujuh orang Maharsi. Di Indonesia.

suara sukma yang tidak pernah putus (swaraning genta pinara pitu). sebab ajaran Agama Hindu memberi tuntunan yang bersifat lentur. maka sarana dan prasarana yang bersifat lahiriah. Seperti bunga yang bersemayam dalam batin yang tak pernah layu (puspa tan alun). tampak memiliki etos kebudayaan Hindu yang berbeda. Berdasarkan hal tersebut. Misalnya bagi umat Hindu yang telah “ahli” dalam teori dan praktek ilmu ketuhanan (teologi). api yang tidak pernah padam (geni anglayang).lam perkembangannya di masing-masing daerah di Indonesia. Hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Agama Hindu. Namun umat seperti tersebut populasinya sangat sedikit dapat dikatakan satu per mil atau sewu tinunggal. Kondisi tersebut memang menungkinkan untuk terjadi. Seperti yang . mutlak akan diperlukan dalam mengamalkan ajaran Agama Hindu di Bali (Sugriwa. karena mereka telah menaruh upacara tersebut dalam batinnya (adyâtmika). tt). seperti produk-produk kriya berupa simbol-simbol atau nyasa yang bersifat sakral. Namun inti ajaran Agama Hindu yang dianutnya tetap satu bersumber pada ajaran Weda. dibenarkan mengamalkannya dengan tanpa sarana upacara dan tidak memilih tempat serta arah tertentu. air amerta batin yang tidak pernah kering (Šiwambhâ-dhyatmika) dan dapat manunggal dengan Tuhan atau purusa katemunta mareka si tan katemu.

Isinya terdiri dari empat himpunan atau samhita (Reg Weda. Jadi pada dasarnya ajaran tersebut “membenarkan” penggunaan sarana . sebagai bhakti pada-Ku (Pendit. Artinya: Apapun yang kau kerjakan. Acuan lainya sesuai dengan pendapat tersebut. kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan asalkan menuju kebenaran. Kuntipura. kau persembahkan. sloka IX-26.disebutkan pada Bhagawag Gîtã. ceritera-ceritera dan simbol yang dipergunakan untuk memantapkan rasa percaya kepada Tuhan. 1995). yaitu: 1) Mantra. Sama Weda. Pada garis besarnya dapat dijabarkan menjadi tiga bagian.) Bagian kedua dari penjabaran sifat ajaran Weda di atas. 2) Brahmana (Karma Kanda). Sifat ajaran Weda. yaitu sebagai berikut: Yat karosi yad ašnãsi yaj juhosi dadãsi yat. dan Atharwa Weda). juga dapat disimak dalam cara menghayati dan mengamalkan ajaran Weda yang dapat mengacu pada beberapa hal seperti: a. yat tapasyasi kaunteya tat Kurushva mandarpanam. dan 3) Upanisad (Jñána Kanda. kau makan. Yayur Weda. yaitu Brahmana (Karma Kanda) adalah merupakan ajaran yang berisi himpunan doa-doa dan tuntunan yang dipergunakan untuk keperluan upacara Yajña. lakukanlah.

mudah diterima dan dilaksanakan oleh semua tingkatan. alamiah. Seorang Bhakta —penganut Bhakti Marga — adalah orang yang penuh cinta kasih kepada Tuhan berserta ciptaannya. yaitu empat cara atau jalan utama ditempuh untuk mencapai tujuan Moksaratha Jagathita. terdiri dari: 1) Bhakti Marga. Seperti penggunaan produk kriya berupa simbol-simbol yang terkait dengan ajaran agama dan sebagainya. Bhakti Marga merupakan ajaran yang langsung. Bhakti Marga. Cetusan rasa cinta kasih dan kerinduan kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pesembahan bhakti atau dalam produk kriya berupa simbol-simbol untuk melukiskan sifat maya Tuhan (mayasakti) (Cudamani. Catur Marga. Dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. c. juga membenarkan menggunakan sarana untuk pemujaan Tuhan .yang bersifat lahiriah untuk membantu penghayatan kepada Tuhan. b. artinya cinta kasih. Kerangka Agama Hindu. 2) Karma Marga. menurut kerangka tersebut. 1993). Ajaran ini merupakan salah satu alternatif dalam menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu dengan menggunakan sarana pemujaan. Susila (Etika) dan Upacara (ritual). yang terdiri dari: Tattwa (Filsafat Agama). 3) Jñána Marga dan 4) Raja Marga.

Seperti menggunakan produk-produk kriya. Ketiga ajaran tersebut memberi tuntunan yang mengarah pada pengorbanan suci berupa tindakan atau kerja dan membenarkan menggunakan sarana dalam pemujaan Tuhan. dalam mengamalkan ajaran Weda. air. sehingga hampir setiap hari umat Hindu di Bali dijum- . Hal tersebut sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh E. ternyata yang lebih dominan dilaksanakan adalah upacara atau ritual keagamaan yang disesuaikan dengan adat-istiadat umat Hindu di Bali. secara implisit memberi peluang munculnya keanekaragaman atau perbedaan penciptaan sarana pemujaan Tuhan di setiap daerah di Indonesia. Pengamalan ajaran agama Hindu tersebut. masih dominan mengacu pada tiga ajaran tersebut di atas. Utrecht bahwa sebagian dari kaidah-kaidah atau norma-norma yang ada dalam masyarakat yang berasal dari sumber hukum yang dianggap sakral (dalam Suasthawa.Ketiga acuan di atas memberi gambaran. busana. Seperti dalam pengamalan tiga kerangka Agama Hindu. sesajen. api dan sebagainya. Umat Hindu di Bali. Sarana tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dan keyakinan masyarakat setempat serta menjadi aktivitas adat atau “hukum adat” yang diusung dari generasi ke generasi berikutnya. bangunan suci. 1990). bunga. bahwa ajaran Agama Hindu memberi suatu tuntunan yang bersifat luwes dalam usaha mendekatkan diri dengan Tuhan.

yaitu utang kepada Tuhan.pai melaksanakan upacara. baik berupa wadah atau tempat. (3) Manusa Yajña. simbol-simbol. Selain hal tersebut. baik di pura. Dengan tujuan untuk melaksanakan tiga kewajiban atau utang yang disebut Tri Rna. (4) Pitra Yajña. jalan. upacara penyucian yang ditujukan mulai perkawinan hingga ajal tiba. persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa. yaitu. yaitu persembahan kepada roh leluhur dan upacara kematian. (5) . pada garis besarnya dapat dikelompokan menjadi lima. Upacara yang dilaksanakan tersebut dipercayai merupakan suatu bentuk pengorbanan yang tulus dan suci atau Yajña. (2) Resi Yajña. manusia dan alam yang didasari konsep Tri Hita Karana. maupun berupa hiasan dan dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat Hindu di Bali. yang disebut Panca Yajña. yaitu. rumah tinggal. yaitu. para resi atau guru dan leluhur. pelaksanaan juga diyakini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan dengan Tuhan. bahwa kelahiran manusia selalu diselimuti oleh utang yang harus dibayar. Dari sekian banyak upacara Yajña yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. hampir semuanya tampak menggunakan sarana upacara. maupun di tempat lain yang dianggap sakral. persembahan atau penghormatan kepada para Resi atau guru. Dari upacara-upacara tersebut. Tujuan tersebut dilaksanakan didasari dengan suatu keyakinan. sawah. terdiri dari: (1) Dewa Yajña.

Peranan Produk Kriya dalam Upacara Agama Hindu di Bali Secara umum produk kriya di Indonesia dapat dibagi menjadi empat kategori. Melasti. baik yang bersifat temporel maupun permanen. 2. (2) Produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. produk-produk kriya yang dimaksudkan adalah produk yang tergolong kategori kedua. dikenal beberapa jenis upacara. yaitu: (1) Produk kriya dalam konteks budaya. Nuntun.Bhuta Yajña. Semuanya menggunakan sarana yang khusus dan sangat beragam. Dan (4) Produk kriya yang dibuat oleh kriyawan dan para perancang masa kini (Buchori. 1990) Berdasarkan kategori tersebut dan mengingat peranan serta jenis produk-produk kriya yang digunakan untuk menunjang aktivitas hidup masyarakat di Bali sangat beraneka ragam. (3) Produk kriya dalam konteks kerajinan rakyat. penganggé atau busana dewa dan melibatkan berbagai produk kriya. yaitu upacara korban suci kepada Bhuta Kala. Ngenteg linggih. Upacara Panca Yajña dapat dipilah lagi memjadi beberapa jenis upacara. misalnya. dan sebagainya. seperti: Odalan. seperti berwujud bebantenan atau sesajen. upacara Dewa Yajña atau Dewapuja. yaitu sebagai sarana upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di . maka dalam konteks bahasan ini.

1 sasih = 35 hari. ternyata memberi pengaruh dominan pada tatanan kehidupan dan sistem relegi masyarakat Bali. tetapi yang dimaksudkan adalah upacara peringatan hari mulai enteg linggih atau hari peringatan mulai “distanakannya” atau dilinggakan Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasi sebagai dewa pada suatu tempat suci atau pura. Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu kepercayaan terhadap alam nyata dan tidak nyata. a. mengandung makna atau nilai simbolis dan dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali. Terutama produk-produk kriya yang digunakan sebagai sarana upacara Odalan. Perayaannya dilangsungkan setiap enem sasih atau enam bulan (menurut perhitungan kalender Bali. Dalam hal tersebut bukan berarti Tuhan mengalami kelahiran.Bali. Odalan atau Dewapuja berasal dari kata Wedal. kekuatan alam gaib serta memberi penghargaan atau ucapan terimakasih dalam bentuk persembahan kepada alam atas hasil atau . bersifat “permanen”. roh nenek moyang. terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian Odalan.) b. Pengertian Odalan Sebelum lebih lanjut menguraikan tentang peranan produk kriya. yang berarti kelahiran. Peranan Produk Kriya dalam Melaksanakan Upacara Odalan Masuknya Agama Hindu ke Bali.

sumber pangan yang di berikannya. Kemudian keyakinan tersebut dimatangkan lagi semenjak Rsi Markandeya datang dari Jawa. Pola masyarakat agraris yang telah mengakar tersebut, dipadukan dengan konsep yang “bernafaskan” Agama Hindu dari Jawa, seperti dalam pelaksanaan sistem irigasi yang disebut subak. Konsep Agama Hindu dari Jawa yang bersifat menyempurnakan tersebut, juga terlihat pada sarana pemujaan kepada Tuhan dalam segala manifestasinya. Seperti berupa pelinggih, penggunaan arca, pertima atau pralingga dan sarana lainnya, yang merupakan bentuk “penyempurnaan” dari hasil kebudayaan megalitik di Bali. Pengaruh perpaduan Agama Hindu, juga memberi sepirit dan inspirasi untuk tumbuh suburnya beraneka ragam jenis kesenian tradisional berciri khas Bali. Menurut pandangan umat Hindu Bali, fungsi kesenian tradisional tersebut, pada garis besarnya dapat dikelompok menjadi tiga bagian, seperti: (1) Seni Suci atau Wali, jenis kesenian ini difungsikan sebagai bagian dari suatu rangkaian upacara yang sarat dengan makna religius dan dianggap sakral; (2) Seni Ritual atau Bebali yaitu, jenis kesenian sebagai pengiring atau “penghias” dan sekaligus terkait dengan rangkain upacara; (3) Seni “Sekular” atau Bali-balihan yaitu, jenis kesenian yang cenderung mengarah pada hiburan rakyat atau kesenangan (Pindha, 1973) Produk kriya, sebagai salah satu bagian dari kesenian tradisional Bali, ternyata dapat menduduki ke-

tiga fungsi tersebut. Khususnya produk kriya yang difungsikan sebagai sarana wali berbeda dengan yang lainnya, sebab dalam penciptaannya disertai dengan proses penyucian atau sakralisasi dengan melalui tahap-tahap upacara tertentu, seperti di antaranya dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut Tabel 1 Tahap Penyucian Produk Kriya
No. (1) 1. TAHAPAN (2) nglakar ARTINYA DAN KEGIATAN (3) pemilihan bahan baku yang akan digunakan, dewasa ayu atau “hari baik” mulai mencari bahan dan disertai dengan persembahan sesajen kepada Tuhan untuk mohon kekutan agar produk kriya tersebut ber-taksu. membentuk secara global membuat detailnya menghaluskan memberi warna memberi kontur dan hiasan tambahan upacara pembersihan, dengan membuatkan banten pemlapas memanggil atau memohon kekuatan agar merasuk pada produk tersebut yaitu dengan membuatkan banten pengulap menghidupkan yaitu dilakukan dengan mempersembahkan banten pengurip upacara menstanakan pada tempat suci dengan jalan mempersembahkan sesajen pada tempat atau asal bahan yang digunakan untuk mengetahui apakah benda yang dibuat bertuah

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

makalin nepong ngasren mulas ngias melapas ngulapin

9. 10. 11. 12.

ngurip ngeteg linggih nuedin ngerehang

(1) 13.

(2) ngajar-ngajar

(3) upacara membawa benda tersebut ke tempat suci lainnya, seperti Kahyangan Jagat, dengan tujuan “mendaftarkan”. upacara memperingati hari dilinggakan benda tersebut sebagai benda sakral memfungsikan

14. 15.

ngodalin mepajar

Narasumber: Gelebet.

Dalam melaksanakan upacara Odalan biasanya memanfaatkan berbagai macam produk kriya dengan beraneka ragam bentuk dan fungsinya serta tergolong sebagai sarana wali, seperti berupa: 1. Benda pakai, antara lain: pedupaan, bokor atau tempat sesajen, dulang, sokasi atau bakul, saab atau tutup sesajen, kendi, sangku atau tempat air suci, canting alat untuk mengambil tirta air suci, peralatan yang digunakan oleh Pedanda atau pemimpin upacara, seperti pedipan, pasepan keduanya berfungsi sebagai tempat pedupaan, stana lingga tempat api, swamba atau tempat tirta, tripada sebagai “kaki” swamba, pewijan tempat beras suci, dan sebagainya . 2. Ragam hias pada sarana perlengkapan upacara, seperti: Lontek, kober, pengawin atau bandrangan, tedung atau payung, ider-ider, berupa relief pada pelinggih-pelinggih, candi, patung, dan sebagainya. 3. Selain hal tersebut, peranan produk kriya sekaligus juga berfungsi sebagai simbol yang mengandung

Pada tiaptiap persendian. kepala. Beberapa contoh produk kriya jenis tersebut dapat disimak pada uraian berikut 3. Relief Acintya a) Karakteristik: 1) Bentuk: Umumnya dibuat dalam bentuk relief yang digubah dari bentuk mirip manusia dengan tanpa busana. Acintya . Sikap berdiri (padaasana) dan kaki pada posisi bergerak.1. Bentuk Acintya seperti tampak pada Gambar 8 Gambar 8. dan pada kelamin berisi bajra.nilai-nilai atau makna terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. telinga.

Diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih berupa Padmasana Seperti tampak pada Gambar 9 Kepala badan kaki Tampak Samping Gambar 9. Namun sekarang ada juga menggunakan “beton cetak” (campuran semen pasir yang dicetak). Pelinggih Padmasana . 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan (abu-abu.2) Material: Biasanya terbuat dengan batu alam (batu padas) atau emas. hitam atau kuning emas dan putih). b) Fungsi: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan bersifat permanen dan sekaligus sebagai simbol.

Oleh sebab itu. ape hetu ri kadadinyan ananta.. melambangkan sifat yang bebas dari ikatan duniawi. ujung kaki. Setiap persendian. merupakan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan. Dan dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan: Aprameya. nilai-nilai simbolik dan religiusnya: Berdasarkan lontar Widi Tatwa atau filsafat tentang Tuhan. tak dapat dibatasi atau anirdesyam.. maka untuk mempermudah penghayatan-Nya. karena keadaannya yang tidak habis-habisnya atau ananta. bhatara Paramasiwa tan pangenpangen.b) Makna. Sikap kaki seperti berjalan atau bergerak. kepala. anatomi tubuh dan jenis kelamin dibuat “tidak jelas” atau Ardhanareswari. Acintya. Artinya. telinga. para yogiswara atau orang suci yang mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan membuat dalam bentuk simbol bersifat ikonografi dengan mengambil bentuk mirip manusia tanpa busana. melambangkan sifat Tuhan yang maha pemurah dan memberikan anugrah kepada ciptaan-Nya di alam. dan . Bhatara Parama-šiwa atau Tuhan sebenarnya bersifat tidak terbayangkan (Aprameya) dalam pikiran. artinya tak terpikirkan.. anirdesyam. tan pahingan.. artinya kehidupan yang selalu bergerak dinamis dan berproses. Bersemedi dengan sikap pada asana atau berdiri.

Akasa atau langit. 2. Teja atau api. ether (memenuhi ruang yang ada). Bayu atau angin. Angka telu atau angka tiga melambangkan tiga manifestasi Tuhan (Brahma. . Aksara Suci Ongkara 2) Material: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau dari logam. kuningan atau tembaga.pada tempat kelamin dihiasi dengan bajra. seperti: emas. Pertiwi. melambangkan energi Tuhan berupa sinar suci yang memancar ke segala arah dan memberi penerangan kepada seluruh ciptaan-Nya. tanah. bintang (angin dapat menjadi bintang. bumi (terjadinya pertama-tama berawal dari gelap). kain kapan dan sebagainya. Apah atau air (air yang padat berputar terjadilah bulan). 4. Wisnu dan Šiwa Gambar 10. perak. matahari. 3. 5.2. Aksara Suci Ongkara a) Karakteristik: 1) Bentuk: huruf atau aksara suci Ongkara sebagai simbol diwujudkan berdasarkan konsep kosmologi dan terdiri dari beberapa bagian seperti pada Gambar 10 berikut Keterangan: 1. 3.

dadya Pura). dalam membuat surat bukti yang ditulis di atas daun lontar. dipakai untuk membuat sesikep atau gegemet atau jimat. yaitu: (1) Aksara Wrešastra atau aksara yang “tampak” atau aksara yang umum atau aksara “biasa” digunakan dalam masyarakat Bali. c) Makna. ulap-ulap (secarik kain kapan diberi gambar aksara suci ongkara dan diletakkan pada pertengahan kolong atau tadah alas bangunan tradisional.3) Warna: sesuai dengan warna bahan yang digunakan. seperti: abu-abu warna batu padas atau hitam. nilai-nilai simbolik dan religius: Aksara Bali dalam penerapannya dibedakan menjadi dua golongan (Kaler. sebagai tanda bahwa bangunan tersebut telah diupacarai). kuning emas. Umumnya diterapkan pada bangunan Pelinggih Padmasana dalam bentuk relief. tt). putih perak atau kain kapan dan sebagainya. Akasara tersebut boleh diajarkan kepada siapa saja dan biasa digunakan seperti untuk membuat pipil (nama orang dalam suatu organisasi atau seka Banjar. b) Fungsi: Dipergunakan sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Tri Murti. pedagingan dan sebagainya. pangéling-éling atau tanda untuk meng- .

Dalam bahasa Bali diucapkan Ong. Kawi. Huruf tersebut disebut juga dengan Aksara Modré.ingatkan sesuatu untuk menulis bahasa Bali. aksara yang “tidak tampak” terdiri dari dua buah aksara yaitu Ah ( ) dan Ang ( ) merupakan aksara yang didak boleh diajarkan kepada sembarang orang. bayu atau bintang. windu melambangkan teja. Ketiga aksara tersebut jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. api atau matahari. berhubungan dengan dunia gaib. pengobatan dan sebagainya. Dewa Wisnu (Ung ) dan Dewa Ciwa (Mang). yaitu aksara yang maha suci lambang Ida Sang Hyang . yaitu: Dewa Brahma (Ang ). Ketiga kelengkapan aksara tersebut menyimbolkan kekuatan tiga dewa. Ardha-candra berbentuk bulan sabit melambangkan apah. seperti: mantra. yaitu aksara suci atau aksara yang digunakan untuk menulis ilmu kedyatmikan. air atau bulan. perlambang atau simbol terkait dengan keagamaan. sehingga disebut Wija-aksara atau Ekã-aksara. Jawa Kuno dan sebagainya (2) Aksara Cwalalita. Aksara Ong atau Ongkara merupakan sumber semua aksara. Kedua aksara tersebut dilengkapi dengan pengangge sastra atau kelengkapan huruf yaitu berupa: Nada melambangkan angin.

Jadi dari penjelasan tersebut. . 1991) 3. 1991. aksara Ongkara sebagai simbol Tuhan telah digunakan sejak zaman Weda. Demikian juga di India. harus mengikuti petunjuk para rohaniwan (Nala. Sudartha.3. maka dapat diketahui bahwa aksara Ongkara sebagai simbol yang mengandung makna religius terkait dengan ajaran ketuhanan. sehingga penggunaannya sangat terbatas dan tidak boleh secara sembarangan. 2) Material yang digunakan: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu padas. Badavañ Nala a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Penciptaan produk kriya tradisional berupa simbol tersebut dilandasi dengan konsep kosmologi. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan yaitu berwarna abu-abu batu padas atau hitam.Widi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri-Murti. Hindu yaitu digubah dari bentuk kurakura dengan kepala berambut dan lidah mejulur keluar berbentuk api serta dililit naga. seperti tampak pada Gambar 11.

Gambar 12. Bagian Dasar Atau “Kaki” Pelinggih Padmasana .Gambar 11. Badavañ Nala dan Anantabhoga b) Fungsi: Badavañ Nala digunakan sebagai simbol dan sekaligus sebagai hiasan pada bagian dasar atau “kaki” sebuah bangunan suci berupa pelinggih Padnasana Gambar 12.

Bagi umat Hindu. Dalam simbol tersebut dimaknai sebagai inti bumi atau magma sebagai sumber panas bumi yang terus menerus membara Jadi pada simbol tersebut tersirat ajaran suci tentang ciptaan Tuhan yang tiada tara dan maha agung berupa alam makrokosmos. Badavañ Nãla berasal dari urat kata Bada= tempat. Bang=merah dan Nãla=api. perlu dihormati. empas atau penyu. nilai-nilai simbolik dan religius: Perkataan Badavañ Nala atau Baduvañ Nala terdiri dari kata Badavañ dan Nala. Dan da-lam kepercayaan Hindu sebagai simbol awatara Dewa Wisnu atau disebut Kûrmaratarâ. Badavañ adalah istilah yang digunakan untuk nama binatang kura-kura. Sebagai tempat kehidupan dengan berbagai persediaan bahan makanan dan sebagainya. Oleh sebab itu.c) Makna. terbentuk dengan unsur Panca Maha Bhuta. Perwujudan simbol atau nyasa tersebut bertujuan untuk memberi ajaran alam semesta dan membangkit kesadaran moral dalam segala aktivitas hidup untuk menjaga serta . Keseluruhan dapat diartikan sebagai tempat atau sumber api yang merah membara. Dalam bahasa Šanskerta disebut dengan kata kûrma. dan dilestarikan. Se-dangkan Nãla atau Anala dalam bahasa Šan-skerta sebagai padanannya adalah ageni ber-arti api.

yaitu dipakai sebagai simbol dan sekaligus sebagai ragam hias dan umumnya diterapkan pada dasar atau bagian “kaki” Pelinggih Padmasana berupa relief tinggi.4. sehingga membentuk satu simbol dengan satu kesatuan makna tentang keagungan alam semesta. 3) Warna: Sesuai dengan warna bahan yang digunakan. Bentuk Nãga tersebut seperti tampak pada Gambar 11. b) Fungsinya: Kegunaan dan penempatan nãga di dalam pura sama dengan Badavañ Nala. seperti warna abu-abu batu padas atau warna hitam batu alam). dan di Pelinggih Saptapetala dalam bentuk patung nãga. digambar pada lontek atau umbul-umbul. Nãga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Simbol nãga merupakan bentuk fantasi atau hasil imajinasi dari para kriyawan masa lalu yang digarap dengan didasari mitologi Hindu. 3. .sebagai ucapan terimakasih atau bakti dihadapan Tuhan atas ciptaannya. 12 dan 13 2) Material: dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu bata. Bentuk dan penerapan Nãga tersebut dibuat membelit Badavañ Nala.

Bentuk potongan kain semakin ke atas semakin kecil dan pada ujung bambu terlipat ke bawah serta di ujungnya diberi plat logam berbentuk seperti jantung . a) Makna. diameter pakalnya ±5 Cm.Gambar 13 Lontek Umbul-umbul Keterangan: Tangkainya terbuat dengan bambu. Panjang ± 8 m. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam kamus Bahasa Šansekerta kata nãga berarti .

Anantabhoga dan Taksaka. Berasal dari urat kata “a”-“nanta” dan “bhoga” (a=tidak. Jika ketiga nãga tersebut dikaitkan dengan para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi. Secara keseluruhan berarti sumber bahan . dan Taksaka simbol dari Dewa Šiwa (Pelebur). nãga juga berarti gunung atau pohon (Pemda Tingkai I Bali. Penerapan patung nãga pada Padmasana. penerapan pada Padmasana didasari filosofi Tri Loka. Basukih. Bhur Loka (lapisan alam bawah). nanta= habis dan bhoga=makanan). Bwah Loka (lapisan alam tengah) dan Swah Loka (lapisan alam atas).tentang bentuk simbolis nãga yang diterapkan pada masing-masing pelinggih atau peralatan upacara memiliki pengertian atau filosofi dan sebutan yang kontekstual. yang disebut Nãga Anantabhoga. kata nãga tersebut diartikan ular naga atau gajah. Sehingga dikenal tiga nãga. Maka Basukih simbol dari Dewa Brahma (pencipta alam). yaitu. Dari pengertian tersebut.ular. yaitu. sebenarnya hanya satu dan membelit Badavañ Nala. Dalam mitologi Agama Hindu Bali. seperti. Dan dalam Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. 1982/ 1983). maka nãga dapat diartikan sebagai ular besar. Selain arti tersebut. Anantabhoga simbol dari Dewa Wisnu (pemelihara alam).

3. maha loka. nitãla dan patãla. Senjata Nawa Sanga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Senjata Nawa Sanga merupakan sembilan sejata para dewa dengan bentuk berbeda satu dengan yang lainnya. bahwa alam dibagi menjadi tujuh lapisan alam atas yang disebut Sapta Loka (bhur loka. dalam perwujudannya diterapkan pada umbul-umbul (Narasumber: Gelebet) Penerapan patung Nãga Basukih pada pelinggih Sapta Patala. jana loka. Perbedaan tersebut mencerminkan atau sebagai simbol karakter dan sifat kekuasaan dari masing- . swah loka. Jadi peristiwa tersebut berlangsung pada lapisan alam tengah (Swah Loka) atau di permukaan bumi.makanan yang tidak habis-habisnya. Jadi penerapan nãga pada pelinggih tersebut sebagai simbol tujuh lapisan alam bawah. sutãla. dan tujuh lapisan alam bawah Sapta Patala yang terdiri dari tãla. tapa loka. santãla.5. Sedangkan nãga Taksaka. atãla. didasari oleh filosofi. Namun kenyataannya dalam membuat Pelinggih Padmasana sering diterapkan dua nãga (Basukih dan Anantabhoga) secara estetis hanya bertujuan untuk membuat komposisi yang simetris. dan satya loka). waitãla. bhwah loka.

batu padas. 3) Warna: Warnanya produk kriya tersebut. seperti pada Gambar 14 dan 15. seperti dengan meggunakan kain kapan. seperti pada gambar 14. atau dengan menggunakan besi dan diwujudkan sebagai ujung-ujung tombak yang disebut bandrangan atau pengawin. seperti berupa ujung-ujung tombak yang disebut dengan bandrangan atau pengawin . atau ada juga diwarnai dengan cat warna hitam dan putih perak. 15 2) Material: Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan menggunakan berbagai bahan. b) Fungsinya: Produk Kriya tersebut digunakan sebagai simbol dan sekaligus hiasan yang diwujudkan dalam bentuk perlengkapan upacara. Tata letak dari senjata-senjata tersebut dalam padma angelayang atau pangider-ider.masing dewa. Dalam penerapan-penerapan tertentu ada juga yang diwarnai sesuai dengan tata warna Senjata dan Dewata Nawa Sanga. menyesuai dengan bahan yang digunakan. seperti “hitam besi”.

 Wayabya (barat daya)  Sangkara  Angkus  Limpa  Wilis (Hijau)  Pascima (barat)  Mahadewa  Nagapasa  Ungsilan Ginjal  Kuning  Niriti (barat daya)  Rudra  Moksala  Usus  Oranye (jingga)                Uttara (utara) Wisnu Cakra Ampru (empedu) Ireng (Hitam) Madya (tengah) Siwa Padma Tumpuking Hati) Amanca (Pancawarna) Daksima (selatan) Brahma Gadha Hati Bang (merah)  Ersanya (timur laut)  Swayambhu  Trisula  Ineban  Pelung (biru)  Purwa (timur)  Iswara  Bajra  Jantung  Putih  Geniyan (tenggara)  Mahesora  Dupa  Peparu (paruparu)  Dadu (merah muda) Gambar 14. Dewata Nawa sanga . Jenis dan Tata Letak Senjata Nawa Sanga Gambar 15.

bahwa Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa berwujud sebagai Paramašiwa. dipercayai oleh umat Hindu. dengan bermacam-macam manifestasi-Nya dan dipersonifikasikan sebagai dewa-dewi. tidak berawal-berakhir. 1994). sehingga memiliki sifat.c) Makna. fungsi dan aktivitas (Saguna Brahman). Nilai-nilai Simbolik dan Religius: Dalam alam transendental. dengan keadaan-Nya: “tunggal”. Tuhan diwujudkan sebagai Sada Šiwa. maha tahu dan sebagainya serta disebut Nirgunam Brahman (sunya). manifestasi Tuhan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur keharmonisan alam makrokosmos (Bhuana Agung) yang terletak di seluruh penjuru mata angin dan . maka dikenal dewa-dewa yang termasuk kelompok Dewata Nawa Sanga. Namun dalam alam imanensi. Dalam alam imanensi umat Hindu di Bali. telah dipengaruhi oleh sakti atau kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. bahwa Tuhan telah berkrida. Dalam hal tersebut. Tuhan berwujud sebagai Sadašiwa dan dipercayai. tanpa aktivitas. Tuhan memiliki delapan Ilmu pengetahuan untuk menyucikan Sang Hyang Atma yang ada dalam semua mahkluk dari dosa sesuai dengan amal baktinya (Wardana. kekal abadi. Selanjutnya Tuhan diwujudkan sebagai Šiwa atau Šiwatman atau Mayasarira Tattwa.

Simbol-simbol dalam mayasakti berbentuk senjata tersebut. Dalam hal ini berfungsi sebagai kutub utara yang nantinya dihubungkan dengan Dewa Brahma di kutub selatan sehingga terbentuk sumbu rotasi bumi. Trisula . 15. Nama Senjata (2) Cakra Makna simbol (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Dewa Wisnu untuk mengatur rotasi dan peredaran bumi. merupakan simbol kekuasaan tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sambu. Setiti dan Pralina.mikrokosmos (Bhuana Alit) yang terletak pada organ-organ tubuh mahkluk hidup. diciptakan dengan didasari kosmologi khususnya tentang bumi. Dalam Lontar Kekawin Bhomakawya atau Bhomantaka. Penjelasan lebih lengkap dapat disimak pada Tabel: 2 berikut Tabel 2 Makna Senjata Nawa Sanga No. Hidup dan Mati. Masing-masing mengandung arti atau makna yang saling terkait satu dengan lainnya serta merupakan satu kesatuan yang utuh. bahwa Senjata Nawa Sanga tersebut adalah merupakan simbol-simbol atau nyasa dari kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa dalam menjalankan tugas-Nya. Lahir. (1) 1. yaitu berfungsi menjalankan tugas sebagai pengatur kehidupan di bumi berdasarkan ketentuan Upeti. 2. Dan kesembilan dewa tersebut masing-masing memiliki senjata yang disebut dengan Senjata Nawa Sanga Seperti Pada Gambar 14.

Angkus Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara. 8. buruk dan sebagainya —). dalam fungsinya mengatur. dalam fungsinya sebagai pengatur panas alam (makrokomos dan mikrokosmos). sebagai kekuasaan atau kekuatan dari delapan dewa tersebut terpusat pada Dewa Šiwa. 4. Dupa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Dewa Mahesora. Simbol senjata-Nya digubah dari bentuk bunga teratai atau padma yang bermahkota delapan atau Asta Dala. Nagapasa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Mahadewa. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengikat atau pengatur kestabilan alam semesta bersama isinya. Gadha Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Brahma. atau disebut dengan Padma Anglayang atau pangider-ider Narasumber: Ida Pedanda Budha. 5. malam. 9. Griya Sukawati. Moksala Merupakan simbol kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Rudra. 6. (yang menyangkut Rwabhineda —siang. Padma Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Šiwa. 7. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur kemakmuran dan kesejateraan alam semesta bersama isinya. (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatanTuhan dalam manifestasi Nya sebagai Dewa Iswara yang bertugas mengatur getaran alam (makrokomos dan mikrokosmos). baik. (2) Bajra . dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur atau menentukan sifat dan karakter alam semesta bersama isinya.(1) 3. mengendalikan dan menentukan danda atau hukum alam. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengendali dan penentu dari tugas-tugas yang dijalankan oleh delapan dewa yang terletak di delapan penjuru arah mata angin.

Sebagai salah contoh seperti pada Gambar 16 berikut.3. Karang Bhoma . sehingga disebut dengan Karang Bhoma. di kanan dan kiri dilengkapi dengan telapak tangan yang dikepak. Bhoma a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Bhoma dibuat dalam bentuk relief tinggi yang digolongkan sebagai kekarangan. Perwujudan bertuk tersebut didasari ceritera Bhomantaka. Karang tersebut merupakan stilisasi dari bentuk kepala raksasa atau punggalan. dilatarbelakangi dengan patra wangga. kakul-kakulan serta patra punggel. Ciri-crinya: mata besar dan mendelik. Gambar 16.3.

.b) Fungsinya: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai simbol dan sekaligus ragam hias yang diterapkan di atas relung kori agung atau paduraksa. seperti batu alam. batu padas atau batu bata. merupakan gerbang pertama dari sebuah pura atau sebuah pintu yang membatasi halaman kedua atau madia mandala (jaba tengah) dengan halaman pertama atau utama mandala (jeroan) seperti pada Gambar 17 berikut Gambar 17. Kori Agung Atau Paduraksa Dengan Ragam Hias berupa Bhoma 2) Material: Umunya bahan yang digunakan untuk membuatnya.

mulut terbuka lebar. 1972) Di Bali. seperti: “hitam batu alam”. Sedangkan menurut Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali. . bahwa perkataan Bhoma berasal dari Bahasa Šanskerta. artinya berhubungan dengan bumi. dijelaskan. tinggal di dalam bumi atau tanah (Monier. Pandangan tersebut diselaraskan dengan kepercayaan. mata melotot seram seperti kepala monster. bahwa Bhoma adalah raksasa putra bumi. kala. dengen. c) Makna. Bhoma digunakan sebagai simbol dari pepohonan dan disebut Banaspatiraja serta dianggap keramat. pole. gigi dan taring mencuat keluar (Covarrubias. Bhauma. seperti pohon randu. 1978). “abu-abu batu padas” atau merah bata. 1963). tonye atau mahkluk halus yang menempati pohon-pohon besar. Dalam A Šanskrit-English-Dictionary dijelaskan.3) Warna: sesuai dengan bahan yang digunakan. yang keluar dari bumi. kepuh dan sebagainya. bahwa Banaspatiraja adalah raja bhuta. nilai-nilai simbolik dan Religius: Bhoma berarti lukisan (ukiran) yang berbentuk muka raksasa atau kala (Bahasa Bali) yang ditempatkan di atas relung pintu gerbang utama pura atau paduraksa (Dinas Pengajaran Propinsi Bali.

karena pangkal lingga tersebut terus masuk ke dalam bumi dan ujungnya terus menjulang ke angkasa dengan batas yang tak terhingga. Dalam pertemuan tersebut akhirnya terjalin hubungan yang dalam sehingga melahirkan seorang putra yang diberi Naraka atau Bhoma (Lontar Bhomantaka. Milihat kejadian tersebut. . Berawal dari perdebatan antara Dewa Brahma dengan Dewa Wisnu tentang kesaktian yang mereka miliki.Menurut Mitologi Bhoma dalam kesusastraan Jawa kuno. Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk mencari pangkalnya dan Dewa Brahhma dengan kesaktiaannya berubah menjadi burung layang-layang hitam terbang meluncur ke atas mengejar ujung lingga. mereka tercengang dan memutuskan untuk menemukan ujung dan pangkal dari lingga tersebut. Bersamaan dengan kejadian tersebut tiba-tiba muncul sebuah lingga kristal dari bumi dan menjulang ke angkasa. Mamun usaha mereka sia-sia. Dalam pencarian tersebut Dewa Wisnu bertemu dengan Dewi Wasundari (Dewi Pertiwi). dinarasikan tentang kelahiran Sang Bhoma.b). sedangkan Dewa Wisnu berubah wujud menjadi seekor babi jantan dan menggali tanah untuk menemukan pangkal lingga. seperti pada kekawin Bhomantaka. Lampiran 5b. Keropak IV.

Namun makhluk yang diciptakan tersebut memiliki sifat yang rakus dan memakan apa saja yang dijumpainya serta sangat tunduk dengan perintah Dewa Siwa. sehingga muncul makhluk yang luar biasa sebagai Ghora Murti Siwa —wujud Tuhan yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang sangat sangat dasyat dan. tangan. karena raksasa tersebut diketahui sedang minum tirta amertha. Akhirnya raksasa Rau dimakan oleh makhluk tersebut. Mahkluk tersebut kembali bertanya. badan.Heinrich Zimmer dalam bukunya Myths and Symbols in Indian Art an Civilization dipaparkan tentang Bhoma sebagai akibat pemenggalan leher raksasa bernama Rau yang dilakukan oleh Dewa Wisnu. Akhirnya Dewa Siwa memerintahkan agar memakan tubuhnya sendiri. Kepala raksasa tersebut akhirnya murka. . akhirnya Dewa Siwa menjadi sangat marah. Dia mulai makan kaki. Melihat kejadian tersebut. sampai bagian dibawah leher dan hanya tersisa bagian leher serta kepala. sehingga bagian kepalanya tetap hidup sedangkan bagian badannya langsung mati. Namun pada saat dipenggal tirta tersebut belum sampai di tenggorokan. mengerikan— dari ajňa cakra-Nya atau kening. merusak dan mengganggu aktivitas para dewa di kahyangan. Perintah tersebut segera dilakukan.

batu padas. Dewa Siwa memberi tugas untuk menjaga istana Siwa.4. mata melotot. telapak kaki dibuat seperti cakar burung. bertaring dan diberi busana serta mahkota. 3. bersayap. gigi runcing. menelan. 1945). Dibagian belakang diberi ekor dan dipunggungnya dibuat patung Dewa Wisnu memegang Cakra. Tubuh dan anggota badan menyerupai manusia. Karena kepatuhannya tersebut. atau batu alam. dan sebagainya. 2) Bentuk: Pada umumnya bentuk Garuda Wisnu digubah dari bentuk fantasi yang menyerupai burung. batu bata.apa yang saya lakukan lagi ?. mereka tidak akan memperoleh rahmatku” (Zimmer. seperti pada Gambar 18 berikut . menghancurkan dan menolak pikiran jahat yang akan merusak kesucian stana Dewa Siwa serta diberi nama Kirttimukha serta diletakan pada bendul pintu utama. Pada saat tersebut Dewa Siwa bersabda “ Barang siapa yang masuk ke dalam kuilku tanpa menyembahmu. Garuda Wisnu a) Karakteristiknya 1) Material: Bahan baku yang digunakan untuk membuat produk itu adalah kayu. berparuh.

digunakan sebagai simbol dan hiasan. gedong bata dan seba- .Gambar 18. Garuda Wisnu Tetapi yang digunakan untuk menghias pada sendi tugeh jarang dilengkapi dengan patung Dewa Wisnu. biasanya diterapkan di belakang bangunan Pelinggih Padmasana. b) Fungsinya: Produk kriya tersebut mempunyai fungsi religius dan estetis. langsung berdiri tugeh atau tiang penyangga menuju puncak langit-langit. sendi tugeh (dasar tiang penyangga puncak langit-langit pada bangunan piasan). karena dari punggung patung garuda tersbut.

gainya. Relief Garuda Wisnu Diterapkan di Belakang Padmasana c) Makna. yang berarti “menelan” (penakluk para naga. naga sebagai simbol . Garuda dipakai sebagai simbol matahari. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam bahasa Šanskerta perkataan “garuda” berasal dari akar kata “gri”. seperti pada Gambar 19. Berikut Gambar 19. Dalam perwujudannya sebagai simbol. salah satu contoh penerapannya. sering ditunggangi oleh Dewa Wisnu. memiliki kekuatan magis untuk menangkal bisa ular).

Hal tersebut dapat diketahui dari tipografi peninggalan cap atau stempel bermotif Garudamukha yang pertama kali digunakan sebagai lencana kepala pemeritahan oleh Sri Maha Raja Blitung (808-910) yang berkuasa di Jawa Tengah. Raja Kertajaya (raja yang terhakhir memerintah dikerajaan Kediri). Dalam perwujudannya kaki burung Garuda tersebut mencengkram pita yang berisi tulisan tentang ikrar . Diperkirakan telah berlangsung sejak pertengahan abad X. Prabu Aerlangga dengan peninggalannya yang paling terkenal berupa garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dan sebagainya (Titib. Penggunaannya semakin berkembang dan terus seperti digunakan oleh Raja Jayabaya. ceriteraceritera rakyat dan dalam bentuk visualnya dipakai sebagai sarana pemujaan oleh umat Hindu di India dan Bali (Zimmer. 1946).air kosmis dan Wisnu berada pada kedua sisi antagonis tersebut. 1995) Setelah bangsa Indonesia bebas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa lain. Adegan tersebut sangat populer dalam episode Ramayana. garuda juga digunakan sebagai simbol kebesaran atau penggambaran aspek keagungan Tuhan. Di Nusantara. maka garuda kembali dijadikan sebagai lambang negara. yaitu Garuda Pancasila.

bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. Dalam Adiparwa —sebuah kesusastraan Jawa yang diperkirakan ditulis pada zaman pemerintahan Raja Darmawangsa Teguh sekitar tahun 918 Saka (918 Masehi). pathagecwara. seberikut: Aparan pwa ya makateja Ya? Garudo balawan tesam manuk mahacakti. Sinanya sangat bagus. Makana ling Sang Hyang Agenbi ri sang watek dewata. anak Bhagawan Kacyapa ri Sang Winata ika. Kunang pada tejanya lawan teja nghulun. kapwa maso mangastuti Sang Garuda. Apakah yang bersinar itu ? Garuda tiada lain seekor burung yang maha sakti. dalam bahasa Kawi— terdapat satu episode yang menceritakan keajiaban atau kebesaran Sang Garuda. ling nira: Twam rsi. Nama tluya sutejasa. Mari ta sira harohara. twam dewah. Lambang tersebut sebagai sumber yang kreatif mencerminkan kebebasan untuk menentukan nasib bangsa indonesia di antara bangsabangsa di dunia. anak Bhagawan Kacyapa dengan Sang Winata. dan sinarnya sama dengan sinarku. twam mahabhagas. . twam prabhuprahus tapanah twam nastranam anuttamam Artinya.

Akhirnya sang Garuda berhasil mengambil tirta amertha yang disimpan dalam goa dilereng gunung Somaka dan membawanya terbang ke angkasa. Dalam perjalanan mencari tirta amertha ia menemui banyak hambatan. engkau pendeta besar.Demikianlah kata Sang Hyang Ageni kepada para dewa. Dalam episode selanjutnya diceritakan usaha Garuda dalam mencari tirta amertha yang disimpan oleh para dewa di Gunung Somaka. engkau rajanya. Tirta tersebut natinya digunakan sebagai persyaratan untuk membebaskan ibunya (Sang Winata) dari perbudakan Sang Kadru. Mereka tertegun dan berdiam. Namun dengan kesaktiannya tak satupun bulu Garuda tersebut dapat dirontokan oleh senjata para dewa. engkau resi. engkau penguasa segala yang terbang melayang. semua tampil ke depan dan memuji Sang Garuda serta mengatakan: Hyang Garuda. engkau dewa. Namun sang Garuda menolaknya dan menyuruh agar para dewa . sinarmu seperti sinar matahari (Widiatmaja. 1958). Di angkasa dengan serta merta dewa Wisnu mengampirinya dan menyuruh agar tirta tersebut dikembalikan. Seperti para dewa yang membawa senjata menghadang dan menyrangnya.

kayu. jelaga. pewarna (menggunakan pewarna tradisional. kain dan sebagainya. Barong Ket dan Rangda a) Karakteristiknya: 1) Material: Bahan baku yang digunakan. karya sastra tersebut banyak mengilhami para seniman atau para kriyawan masa lalu dalam berkaya. seperti pada Pelinggih Padmasana. serbuk tulang menjangan. dianggap mengandung nilai-nilai simbolis religius serta disakralkan. praksok ( Bahasa Bali) atau sejenis serat daun pandan. maka Garuda Wisnu diterapkan pada bangunan-bangunan suci. seperti: kulit sapi yang telah disamak. atal ancur dan perada).minta anugrahnya… Episude cerita tersebut diakhiri dengan menerima permintaan dewa Wisnu untuk menjadikannya sebagai kendaraanya dan tirta amerthan tersebut kembali dapat direbut oleh para dewa serta Sang Winata bebas dari perbudakan. seperti: kincu. Sedangkan di Bali. . kaca.5. 3. Sehubungan dengan hal tersebut. Mitologi tentang keagungan atau kesaktian tokoh Garuda dan Wisnu dijadikan sebagai landasan estetika dan penerapan Garuda Wisnu juga sebagai simbol kebesaran Tuhan.

Gambar 20. angkeb pale dan sebagainya. Barong Brutuk dan sebagainya. seperti: Barong Ket. kembang sasak. Barong Asu. Barong Ket dan Rangda . gelung kekendon. seperti: badong. Barong Blas-Blasan. geruda mungkur. silat bahu. Demikian juga hiasan Rangda. dibuat dan diwarnai dengan cara yang sama. dibuat dengan kulit dan diwarnai perada atau warna emas. Barong Macan.2) Bentuk: Barong yang digunakan di Bali bentuknya sangat beragam dengan sebutan yang berbeda-beda. Warna topeng Rangda umumnya putih. Hiasannya. Barong Bangkal. bulunya diwarnai hitam atau dibiarkan putih (warna praksok). Salah satu contoh berupa Barong Ket dan Rangda dapat dilihat pada Gambar 20 b) Warna: Topeng barong biasanya diwarnai dengan merah.

Pengertian tersebut.c) Fungsinya: Barong dan Rangda adalah tergolong produk kriya bebali. sesuai dengan pendapat R. d) Makna. Produk kriya tersebut juga digunakan sebagai pratima dan biasanya di simpan di Pura Dalem. tarian yang memakai kedok dan kelengkapannya sebagai binatang buas (singa). Seperti. seperti dalam Bahasa Šanskerta. yaitu dari kata beer. 1975/1976) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. dalam melangsungkan upacara odalan di pura. Goris. artinya bersama —cara menarikan atau memainkan bersama-sama —(Proyek Sasana Budaya Bali. yaitu tarian yang dipentaskan serangkaian dengan upacara Agama Hindu di Bali. Produk kriya tersebut diciptakan dan digunakan sebagai sarana pagelaran seni tari wali. dimainkan oleh . maka perkataan barong diselaraskan dengan perkataan bareng (Bahasa Bali). nilai-nilai simbolik dan religius: Banyak pengertian mengenai kata barong. berasal dari kata Bhahrwang. Sedangkan ditinjau dari cara memakai. bahwa perkataan barong berarti. juga mengandung nilai-nilai profan. artinya binatang beruang. bahwa sinonimnya disitir dari Bahasa Belanda. karena selain mengandung nilai-nilai sakral (sebagai sarana upacara agama).

perkataan itu berarti perempuan yang kehilangan suami (cerai atau meninggal dunia) atau janda (Kridalaksana. 1994). Sedangkan Rangda atau Randa. hanya disesuikan dengan suara yang ditimbulkan akibat entakan rahang bawah kedok barong. Barong dan Rangda dalam episode Calonarang adalah dua tokoh yang melambangkan dua sifat atau karakter berbeda (Rwa Bhineda) atau antagonis. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sedangkan tokoh Rangda melambangkan sifat atau karakter yang mengarah pada hal-hal kurang baik atau adharma. bahwa penciptaan Barong dan Rangda di Bali diilhami cerita yang terdapat dalam lontar Šiwa Tattwa. merusak.dua orang. Menurut mitologi. Perkataan ”Ket“ tidaklah mengandung arti khusus. di mana Barong sebagai lambang kebenaran atau dharma. sebagai juru penyelamat. sewaktu dimainkan. satu dibagian kepala dan satu di bagian ekor. mengganggu dan sebagai penganut ajaran “beraliran kiwa atau kiri” (black magic) (Covarrubias. 1994). Masyarakat di Bali menyebutnya sebagai penganut ajaran beraliran “tengen atau kanan” (white magic). 1972). mengayomi dan dapat menyembuhkan penyakit. Secara singkat . dipertunjukkan dengan ceritera Calon Arang (Kridalaksana.

Sebenarnya pengembala tersebut adalah siluman dari dewa.diceritakan tentang kutukan Dewa Šiwa yang ditujukan kepada istrinya Dewi Uma agar berubah menjadi Dewi Durga —Seorang dewi atau perempuan yang berwajah angker dan menakutkan sebagai dewi penguasa kuburan yang bernama setra Gandamayu— karena ulahnya yang tidak wajar dilakukan ketika disuruh mencari susu atau empehan lembu. Dia berani menghianati. melakukan perselingkuhan dengan pengembala lembu. Lalu untuk memberkati perubahan wujud istrinya menjadi dewi Uma. Dalam kutukan tersebut Dewa Šiwa juga mengijinkan istrinya untuk berubah wujud kembali menjadi dewi Uma saat hari tilem sasih kesanga ( saat bulan mati di bulan sembilan). istrinya menghadap dalam wujud rangda dengan wajah menakutkan. mengorbankan kesucian dan kesetiannya. Masalah tersebut terungkap berkat kehebatan ilmu tenung yang dimiliki dewa Ganesh. maka Dewa Šiwa berubah menjadi Bhuta Egeg (Lontar Šiwa Tattwa. namdala 53-56). . Ketika hari tersebut tiba. Pada hal kejadian tersebut dibuat oleh Dewa Šiwa.

Dalam definisi yang universal istilah history berarti masa lampau umat manusia. 1969). Namun dalam perkembangan selanjutnya metode untuk menelaah sesuatu yang tidak kronologis digunakan istilah scientia. Sedangkan yang kronologi terutama menyangkut kehidupan manusia dipakai istilah istoria. karena sejarah hanya berdasarkan rekaman dan berdasarkan simpulan mengenai lingkungannya (Gottschalk. Pendekatan Historis ejarah atau dalam bahasa Inggris disebut history dan berasal dari bahasa Yunani istoria (kata benda) berarti “ilmu”.BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA A. entah suatu susunan yang kronologis ataupun tidak. S . Namun masa lampau tersebut tidaklah dapat direkonstruksi kembali secara utuh. Dalam penggunaannya oleh filusuf Yunani seperti istoria yang dipakai Aristoteles berarti suatu cara menelaah sesuatu secara sistematis mengenai seperangkat gejala alam. Pendekatan tersebut disebut natural history.

yakni hasilnya dapat diverifikasi dan dapat titolak atau diterima. penyusunan. sehingga metode sejarah dapat diterapkan pada berbagai disiplin yang digunakan sebagai sarana untuk memastikan fakta (Gottschalk. 4) Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya tersebut menjadi suatu penyajian atau deskripsi yang berarti.Pendekatan hitoris adalah suatu proses pengujian dan analisis secara kritis hasil rekaman dan peninggalan masa lampau. karena pada batas-batas tertentu metode sejarah analitis adalah ilmiah. Dan cara tersebut berbeda dengan metode sejarah analitis. Rekonstruksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses historiografi (penulisan sejarah). dilakukan seleksi. Cara penulisan sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok yaitu: 1) Pengumpulan data yang berasal dari jaman yang sedang dialami menjadi konsentrasi dan pengumpulan bahan-bahan: tercetak. . tertulis dan lisan yang relevan. dan deskripsi. 2) Menyingkirkan bahan yang dianggap tidak otentik 3) Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan bahan yang otentik.1969). Sejarah merupakan suatu metode atau prosedur (procědě de connaissance).

seperti: candi. lontar. posil. adatistiadat. Sedangkan dari segi waktu. kitab.1990): 1) Penelitian atau studi komparatif hitoris. monumen. hukum.dan sebagainya. kepercayaan. pendekatan historis menggunakan data yang relatif sudah lampau. dogeng. naskah kuno dan sebagainya. Studi dokumenter. . perhiasan. bangunan. Penggunaan arsip dan dukumen harus dibedakan dengan studi dokumenter yang merupakan metote deskriptif. dilakukan dengan membandingkan gejala yang sejenis. senjata. seperti berupa ceritera rakyat. baik berdasarkan perbedaan waktu terjadinya atau tempat terjadinya di dalam kurun waktu yang sama. relief. Bentuk penelitian historis (Namawi. sehingga masih dapat dikelompokkan sebagai usaha mengungkap fakta masa sekarang. 2) Peninggalan tertulis: seperti: prasasti. perabotan dan sebagainya. cenderung menggunakan data yang belum terlalu lama.Secara umum sumber data yang digunakan dalam penelitian sejarah dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu: 1) Peninggalan berupa material. 3) Peninggalan yang tidak tertulis atau budaya.

kerajaan. lembaga dalam menetapkan kebijakan.2) Penelitian legal atau yuridis. 3) Penelitian bibliografi atau kepustakaan. B. 4) Penelitian kronologis atau secara diakronis penelitian ini bermaksud untuk mengungkap kejadian atau keadaan dan peristiwa menurut urutan waktunya dari masa yang paling tua dapat dicapai sampai masa-masa mendekati masa sekarang. Bermaksud mengungkap kegiatan-kegiatan pemerintah suatu bangsa. kriya dan desain pendekatan semiotis dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah estetika dan semantika produk kriya. pemikiran filsafat dan lain-lain yang dapat ditemui di dalam berbagai peninggalan tertulis terutama buku-buku yang dihasilkan pada zaman tertentu. Upaya pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan dengan membaca atau menginterpretasikan hubungan antar tanda dan makna pada produk kriya. . Pendekatan Semiotis Pendekatan Semiotis diartikan sebagai prosedur yang digunakan untuk pemecahan masalah yang ditinjau dari perspektif ilmu tanda atau dikenal dengan “semiologi” atau “semiotika”. Dalam bidang seni. dilakukan untuk mengungkap berbagai teori pandangan hidup. sehingga berpengaruh bagi kehidupan pada masa terntentu dalam prospek sejarah.

yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce (1838-1914). Sebab menurut Tjahjono (1980) bahwa istilah desain (design) dalam penggunaannya sebagai kata kerja berasal dari kata latin-baru desingare yang berarti ‘menandai’ atau membatasi (penambahan suku kata ‘de’ di depan menunjukkan pemakaian secara intensif). seorang linguis dari Swiss. Semeion. Kata desingare sendiri mempengaruhi kata designer dari bahasa Perancis abad pertengahan (dalam pengertian merancang). Di Eropa ilmu tersebut disebut dengan Semiology. dalam artian sign atau tanda. simbol. ikon yang merupakan hal yang mendasar dalam semiotika. Di Amerika ilmu tersebut disebut dengan Semiotics. Namun kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani. berasal dari kata signum yang berari sebuah tanda khusus. Dia menegaskan bahwa peranan tanda dalam kehidupan sangatlah besar. Merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. sebenarnya dalam desain bukan merupakan hal yang baru. yaitu sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi. yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (18571913). tanda. proses yang berlaku dalam penggunaan atau fungsi tanda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan. hubungan . seorang filosuf dari Amerika. bahwa pengertian semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda.Indeks. seperti sistem tanda.

hubungan antara tanda dengan tanda lainnya. termasuk pengiriman. Batasan tersebut sesuai dengan pendapat Rene Wellek dalam telaah linguistik. 1993). Kemudian Wiryaatmadja (1981) menyatakan. seperti . bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda dalam maknanya yang luas di dalam masyarakat. bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tentang tanda dan lambang (sistem dan proses perlambangan) (Luxemburg dalam Hartoko. Dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa bidang kajian semiotika sangat luas. Luxemburg menyatakan. metaphor (metafora). dan berbagai produk lainnya (The American Heritage® Dictionary of the English Language. Third Edition. yang memasukan image (citra). baik bersifat literal maupun alegori (kias) atau figuratif. Dalam pengkajian semiotika menggunakan beberapa pendekatan. pakaian. konvensi dan sebagainya (Zoest dalam Soekowati. dan penerimaan tanda dalam komunikasi tanda. 1992 ). 1984). penerima dan pengiriman tanda.dengan tanda lainnya. baik menggunakan bahasa verbal atau ujar maupun non-bahasa atau nirujar. Semiotika mempelajari tentang tanda. 1990). cara berfungsi. tetapi meliputi berbagai aspek kebudayaan. symbol dan myth ke dalam cakupan semiotika (dalam Santosa. Ruang lingkup kajiannya tidak terbatas pada bidang bahasa saja. seperti gerak isyarat atau gesture.

bahasa. dan bentuk-bentuk tanda yang lain.1) Sintaksis semiotika. Menurut Peirce. Dalam konteks tersebut. makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan objek atau sesuatu — apa yang dimaksud oleh tanda. umum. Bidang kajian semiotika seperti dipaparkan tersebut. yaitu studi tentang tanda yang berpusat pada penggolongan. kejadian. hubungan dengan tanda-tanda lain dan cara bekerja samanya dalam menjalankan fungsinya. peristiwa. seperti tanda (sign). 3) Pragmatik semiotika. diacu atau ditunjuknya. lugas dan objektif. tulisan. disebut designatum atau denotatum. benda. . 2) Semantik semiotika. apabila mengutamakan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerima tanda. tanda selalu menunjuk pada sesuatu hal yang riil. 1) Tanda (sign) merupakan komponen semiotika yang menandai suatu hal atau keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subyek. tindakan. secara garis besarnya mencakup komponen dasar. apabila pengkajian menonjolkan hubungan tanda dengan acuannya dan interpretasi yang dihasilkannya. misalnya. sehingga tanda memiliki arti yang statis. lambang (symbol) dan isyarat atau sandi.

(Sudjiman. misalnya. “Sesuatu” yang diacu oleh tanda agar dapat berfungsi disebut dengan latar atau ground. maka dari tanda yang orisinil berkembang menjadi suatu “tanda yang baru” disebut interpretant. 1992). Tanda mempunyai dua entitas yaitu: signifier atau wahana tanda dan signified atau wahana makna atau dapat diartikan sebagai penanda dan petanda serta keduanya tidak dapat dipisahkan. konvensi. Interpretant merupakan suatu peristiwa psikologis dalam pikiran interpreter atau penterjemah. ground dan interpretant. yaitu denotatum. Jadi dalam suatu tanda selalu terdapat tiga unsur.Dalam Bahasa Prancis digunakan kata référent. Setelah tanda diasosiasikan dengan suatu acuan. sedangkan dalam Bahasa Indonesia disebut “acuan”— disebut representamen. seperti tampak pada Gambar 21 berikut: . Keseluruhan dari proses terlaksananya representamen digambarkan oleh Peirce dalam diagram segitiga. Representamen dapat terlaksana apabila ada bantuan sesuatu.

Awalnya patung tersebut merupakan tanda untuk “benda biasa” atau sekadar hiasan semata. sebelum memasuki pura atau tempat suci agar “membunuh” sifat-sifat “keraksasaan” (marah. dengki. namun setelah mengacu pada latar (ground) yang terkait dengan pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. —dua buah patung raksasa tersebut mempunyai fungsi komunikasi tanda visual. yaitu untuk “menyadarkan” atau mengingatkan umat. atau emosi diri yang tak terkendali lainnya)— maka patung tersebut akan menjadi tanda . loba.Sumber: Eco 1979 Gambar 21: Proses Berlangsungnya Representamen Salah satu contoh: dua buah produk kriya berupa patung raksasa apitlawang (Bahasa Bali) yang diletakkan mengapit pintu gerbang utama pura atau paduraksa.

konvensi atau kode. bahwa memasuki pura hendaknya mengendalikan “emosi”. maka pada dirinya akan muncul interpretasi yang menggugah kesadaran. seperti. Unsur penanda (dasar atau latar) atau ground dari tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifatnya. yaitu: . Dalam kondisi tersebut. Selain hal tersebut. dapat dikatakan representemen dari patung tersebut dapat berlangsung dengan baik. semua pernyataan individual yang belum terkonvensikan dapat disebut sinsign. b) Sinsign berasal dari singular sign adalah tanda terbentuk berdasarkan penampilannya yang nyata. yaitu: a) Qualisign adalah terbentuknya tanda berdasarkan sifat atau kualitas. Bagi umat yang memahami latar atau ground yang tersirat pada patung tersebut.baru yang memuat latar tersebut. sehingga dapat mengikuti upacara dengan khidmat. c) Legisign adalah tanda terbentuk atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum. tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifat penghubung tanda dengan denotatum.

a) Iconic adalah tanda terbentuk berdasarkan suatu kemiripan potensial yang dimilikinya dan tidak tergantung pada makna denotatum. . ada asap sebagai pertanda ada api dan sebagainya. c) Symbol atau lambang adalah hubungan berdasarkan konvensi dari suatu kelompok komunitas manusia. Selanjutnya unsur interpretant atau petanda dapat dibedakan menjadi tiga. b) Indeks adalah tanda yang sangat tergantung pada denotatum dan memiliki hubungan bersebelahan atau kedekatan eksistensi. Contoh. c) Argument atau interpretant dalam arti umum. apabila bagi interpretant tanda itu. yaitu: a) Rhême. apabila tanda tersebut dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum. membawa penjelasan mengenai daya atau kekuatan kebenaran pada sistem-sistem semiotika. menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda denotatum. Batasan tersebut mengimplikasikan bahwa segala sesuatu merupakan icon. karena semua yang ada di alam dapat diasosiasikan dengan yang lain. b) Dicisign. Dalam hal tersebut tanda terkait dengan renungan kebenaran.

juga mempunyai kelebihan untuk menciptakan sistem komunikasi dengan matra baru yang menyesuaikan dengan lingkungan realitas. berarti perbandingan dengan sesuatu. karena hampir semua aktivitas dalam kehidupan manusia sehari-hari. we should define him as animal symbolicum”.. bekerja dan sebagainya. berkomunikasi. seperti dalam berpikir. membaca. Istilah simbol berasal dari perkataan Yunani. Namun manusia selain terlibat dua sistem tersebut.. instead of defining man as an animal rationale.2) Lambang atau simbol . bahwa semua mahkluk ciptaan Tuhan dalam menghadapi realita kehidupan. dari dulu hingga sekarang tidak terlepas dari aktivitas simbolisasi. yaitu sistem penerimaan dan pemberian. umumnya dilandasi oleh dua sistem. Manusia sering disebut sebagai “mahkluk simbolik”. yaitu kemampuan untuk menciptakan “sistem simbolik”. berperasaan. maksudnya prihal yang . bersikap. 1944). sebagai kata benda. symballein (suatu bentuk kata kerja) yang berarti meletakan secara bersama atau menaksir bersama. (Cassirer. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ernst Cassirer. Dan sekaligus dipakai untuk menandai salah satu perbedaan manusia dengan binatang Sehingga ia menyatakan: ”.

“sesuatu” dan sebagainya. denotatum. Dalam kaitan dengan simbol. Sumber: Eco 1979 Gambar 22 Berlangsungnya Referent . Lambang atau simbol adalah tanda yang mampu menuntun pemahaman si subjek kepada objek berhubungan dengan makna denotatum dan konotatum. karena merupakan analogi tanda untuk menghadirkan tanda yang lain. yaitu reference (yang mengandung. isi atau konsep sebagai acuan) dan referent (yang mengandung persepsi. sebagai hasil interpretasi). berdasarkan konvensi atau kode yang berlaku umum dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu. seperti Gambar 22 berikut. Ogden dan Richards dalam Eco (1979) memberi dua istilah. Ketiga komponen tersebut digambarkan dalam diagram segitiga.harus dikaji dengan kritis.

dan majas. si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek yang memberi isyarat pada waktu itu juga. impian dan bentuk-bentuk abstrak lainnya dapat direalisasikan dalam wujud simbol. sering . khusus. seperti tanda. khayalan. 3) Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan oleh si subjek kepada objek. situasional dan kondisional. Sebenarnya penerapan ketiga komponen semiotika. Karena di dalamnya terkandung kaidah yang bertalian dengan akal budi dalam seluruh paradigma tentang kehidupan sadar dan di bawah sadar. Jadi isyarat selalu bersifat temporal (kewaktuan). Dalam keadaan tersebut.Jadi simbol merupakan tanda yang mengandung pengertian sertaan dan antara simbol dengan yang disimbolkan atau referent yang dihasilkan sama sekali tidak terdapat pertalian makna alamiah. kias. Mitos. subyektif. Lambang atau simbol merupakan pedoman untuk memudahkan pengenalan atau penghayatan sesuatu di tengah-tengah kesemerautan perbuatan manusia dan keragaman kejadian alam. simbol dan isyarat. Perwujudannya sangat tergantung pada permasalahan yang bersifat kultural.1990). apabila ditangguhkan pemakaiannya. sehingga lambang atau simbol bermakna dinamis. isyarat akan berubah menjadi tanda atau perlambang (Santosa.

hanya dapat dipahami oleh manusia.menemui kesulitan. Namun berdasarkan uraian tersebut. ISYARAT/SANDI (4) diberitahukan oleh subjek kepada objek (subjek aktif) hanya memuat satu arti diberitahukan oleh subjek kepada objek secara langsung (berlaku satu kali) 2. dan dapat juga oleh binatang setelah diajarkan secara berulangulang yang dipakai untuk tanda selalu mempunyai hubungan khusus dengan yang ditandai (kontekstual). terutama dalam menentukan garis demarkasinya secara tepat. (1) 1. 3. karena ketiganya saling terkait. secara garis besarnya dapat dilihat ciri masing-masing komponen tersebut. yang dipakai sebagai dasar isyarat tidak ada hubungan khusus dengan yang diisyaratkan. 4. 5. subjek dituntun memahami objek secara terus menerus (berlaku secara konstan). . seperti Tabel 2 berikut: Tabel 2 Tiga Komponen Semiotika No. diketahui oleh manusia. berbentuk abstrak dapat dikenal oleh binatang dan manusia yang dipakai untuk lambang atau simbol tidak mempunyai hubungan khusus dengan yang dilambangkan atau disimbolkan. Hal tersebut disebabkan. 6. karena terkonvensi berbentuk konkret dan atau abstrak. TANDA (2) subjek diberitahu oleh objek (subjek pasif) hanya memuat dua arti subjek dibeitahu oleh objek terus menerus (berlaku konstan) SIMBOL (3) subjek dituntun memahami objek (subjek aktif) memuat banyak arti atau sedikit-dikitnya dua arti. berbentuk konkret dan / atau abstrak.

1983) (3) diciptakan oleh manusia untuk manusia. alam dan juga binatang untuk manusia dan/atau binatang. Terutama penggunaan tanda atau simbol dalam konteks pelaksanaan ajaran agama Hindu sesuai adat di Bali. hampir semua diwujudkan dalam bentuk simbol atau lambang dengan konvensi yang telah mapan dan stabil yang mengacu pada mitologi atau filosofi agama Hindu dan didasari keyakinan. (Herusatoto. penanda (signifier) dan petanda (signified) meunjukkan hubungan yang “statis”— merupakan semiotika dengan model berpikir struktur. sinkronik dan konvensional —Apapun bentuk pertukaran tanda. (2) diciptakan oleh manusia. (4) diciptakan oleh manusia untuk manusia dan “mahkluk lain” Penjelasan semiotika tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut. terutama terkait dengan model semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure maupun Ogden dan Richards —dimana antara tanda (sign). Simbol-simbol tersebut diupayakan dengan harapan agar dapat “mempermudah” . harus mengikuti model struktur kaitan antara penanda dengan petanda yang berlangsung stabil atau mapan— serta sebagai konsep dari paham strukturalis. Hal tersebut dilakukan mengingat dalam mengamalkan ajarannya.(1) 7. maka model semiotika tersebut akan dipakai untuk menjelaskan atau memaparkan tinjauan mengenai penggunaan tanda atau simbol dalam masyarakat Hindu di Bali pada zaman Hindu dan pewaris tradisi tersebut.

Oleh sebab itu. Model semiotika tersebut merupakan pengembangan lebih lanjut dari paham ‘dialogisme’ (dialogism) yang diperkenalkan oleh Mikhail Bakthin. Sedangkan kajian semiotika terkait dengan fenomena eklektik pada desain produk masa kini di Bali diuraikan berdasarkan model semiotika ‘intertekstualitas’ (intertextuality) yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva. Kristeva menerangkan bahwa pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam analisis teks atau produk desain atau seni. Sebuah teks atau produk desain atau seni selalu dibuat dalam ruang dan waktu yang konkrit. karena tidak ada ungkapan yang tidak terkait dengan ungkapan lain. Pemikiran tersebut menjadi salah satu konsep dalam paham post-strukturalisme. seorang pemikir Rusia. senjata dan sebagainya. Misalnya. seorang pemikir post-strukturalis dari Perancis. diwujudkan dalam produk-produk kriya seperti: patung.penghayatan kepada sifat-sifat maya Tuhan. relief. maka antara satu teks atau produk dengan teks atau produk yang lain dalam ruang dan antara satu teks atau produk dengan teks atau produk sebelumnya yang saling silang me- . bahwa “dialogisme” sebagai relasi-relasi yang harus ada di antara ungkapan-ungkapan dalam discourse. Menurut pendapat Mikhail Bakthin. Dalam buku Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979).

suatu sistem tanda kadang-kadang dapat berdampak negatif atau ‘merusak’ sistem tanda sebelumnya. 1979). Misalnya dapat menimbulkan terjadi ‘penghapusan’ atau ‘pengkaburan’. Konsep intertekstualitas yang dikembangkan oleh Kristeva tersebut dapat digambarkan dalam suatu sekematik seperti Gambar 23 berikut Gambar 23 Transposisi Sistem Tanda Berdasarkan Model Semiotika Intertekstualitas (Intertextuality) Dalam penggunaan tanda atau simbol dengan petanda atau maknanya di masyarakat. Pemakaian petanda sebelumnya yang telah mapan untuk petanda baru yang kurang jelas maksudnya akan menunjukkan terjadinya suatu perlintasan sistem tanda. sering dijumpai . sehingga sepanjang perlintasan tersebut. ‘pelesetan’ bagian tanda dari sistem tanda yang menjadi referensinya. Istilah intertekstualitas merupakan proses perlintasan atau diistilahkan dengan ‘transposisi’ (transposition) dari satu sistem tanda (sign system) ke sistem tanda yang lain.nyilang satu dengan yang lainnya dalam rentang waktu tertentu mesti ada relasi-relasi ( Kristeva.

mengingat produk-produk kriya masa lalu juga merupakan salah satu artefak kebudayaan. seperti konsep “sekular” dan konsep spiritual religius serta dikaitkan dengan nilai fungsi guna dan estetis yang dikandungnya. janji dan sebagainya. . nostagia.terjadi fenomena “permainan penanda”. Pada mata dagangan tersebut terjadi ekspansi secara total serta perkembangbiakan konvensi tanda yang tak terbatas untuk mencapai kesenangan. C. prestise. Konsumen sering disuguhi permanen tanda-tanda atau simbol-simbol yang dikondisikan oleh pihak produsen dengan tujuan untuk memperoleh benefit atau untuk memenangkan kompetisi dagang. maka permasalahan rancangan produk-produk kriya juga dapat dianalisis berdasarkan pendekatan semiotika. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya Berdasarkan uraian tersebut dan dikaitkan dengan penciptaan serta penggunaan produk kriya dalam kehidupan masyarakat di Bali. Untuk lebih jelasnya mengenai permasalahan semiotika dalam produk-produk kriya. image. akan dilakukan tinjauan berdasarkan konsep yang melatarbelakangi penciptaannya. misalnya dalam pengadaan komoditi mata dagangan. seperti telah dipaparkan tersebut. Hal tersebut. di dalam tersirat nilai-nilai atau norma-norma budaya yang melibatkan beberapa komponen semiotika.

Sehingga ditinjau dari historis dan semiotis produk yang digunakan oleh seseorang dengan mata pencaharian tertentu juga dapat dipakai sebagai . seperti kebutuhan produk kriya berupa peralatan kerja untuk profesi sebagai petani. Konsep Sekular Berbagai aktivitas kehidupan masyarakat di Bali. Wujud produk kriya fungsional yang diperuntukan sebagai peralatan kerja (working tool) dalam perencanaannya terkait dengan tuntutan kebutuhan suatu profesi. sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan akan produk kriya. karena bangun tanda yang diwujudkan lebih lugas. baik berupa produk fungsional sebagai alat bantu. tukang. maupun sebagai produk yang berfungsi estetis sebagai benda hiasan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekular. memotong. Sistem tanda tersebut dapat sebagai penuntun dalam penggunaan produk tersebut. produk kriya berfungsi sebagai wadah. Misalnya. alat untuk mengambil. pedagang.1. jika ditinjau dari sudut semiotika. Dengan konsep penerapan tanda tersebut. Konsep desain produk kriya untuk benda fungsional. dan sebagainya. maka para pemakai (user) akan secara gamblang dapat menafsirkan tanda-tanda yang bekerja pada wujud visualnya. menusuk dan sebagainya. maka tampak tanda-tanda yang diterapkan lebih mengutamakan makna denotasi dan mengarah pada kategori pragmatis semiotika. objektif dan mengutamakan segi utilitas karena semata-mata untuk dipakai.

Pemenuhan kebutuhan akan produk kriya tidak hanya terbatas pada fungsi guna semata. maka berbagai upaya dilakukan oleh para kriyawan untuk menghasilkan produk kriya yang unik. Dengan upaya tersebut dapat melahirkan suatu image atau citra rasa tertentu dalam masyarakat. melainkan mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan bersifat “sekular” atau hedonistik. sehingga secara subjektif dapat menyentuh sukma dan dirasakan sebagai penghargaan bagi para pemakai. dalam konteks semiotika akan bertindak sebagai dicisign. Produk kriya yang diciptakan disertai dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan menyangkut hal-hal bersifat psikis. Misalnya. maka tuntutan kebutuhan hidupnya juga semakin kompleks dan bervariasi. maka alat tersebut jelas digunakan oleh profesi seseorang sebagai petani tradisional. . Seperti mempertimbangkan segi estetis yang menyangkut keseimbangan. Kemudian dengan semakin majunya tingkat peradaban masyarakat. kesatuan. Produk kriya seperti tersebut. alat bajak yang ditarik oleh sapi dengan fungsi untuk membajak tanah pertanian. indah dan dengan berbagai karakteristiknya. karena interpretasi menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda dan denotasinya. makna dan sebagainya. Menawarkan berbagai alternatif produk dengan menanamkan tanda atau simbol dengan makna konotatif.indeks mengenai profesi seseorang. Sehubungan dengan hal tersebut. keselarasan.

juga disepakati sebagai tanda atau simbol ikatan perkawinan. dikonsumsi dan dipakai tanda kenangan atau sebagai simbol harga diri seseorang atau prestise. Misalnya dalam fenomena kecenderungan membeli produk kriya tradisonal Bali. juga tampak fenomena memakai kekuatan nilai tukar yang kecenderungannya lebih menyandarkan pada makna konotasi. Di antara para wisatawan yang berkunjung ke Bali tampak banyak yang menbeli produk-produk kriya tradisonal Bali disertai dengan harapan untuk memperoleh kenangan-kenangan tentang hasil kebudayaan tradisional Bali atau dipakai sebagai tanda kebanggaan. produk tersebut dengan faham fitisime dapat berfungsi untuk pembeda status sosial di dalam masyarakat.Misalnya. Pada zaman kerajaan. Pada fenomena tersebut tanpa disadari terjadi permainan tanda dengan konvensi yang terkondisikan dan dengan matra yang tak terbatas. Produk-produk kriya diangkat statusnya dan digunakan se- . Produk-produk kriya tradisonal yang memiliki ciri khas daerah tertentu dan sebagainya. keagungan atau kekuasaan seorang individu ciptaan Tuhan yang memiliki status sebagai raja. Produk kriya berupa cincin. bahwa mereka pernah berkunjung ke objek wisata di Bali dan sebagainya. selain digunakan untuk perhiasan. produk kriya berupa mahkota yang dibuat dengan berbagai hiasan dan tanda atau simbol yang terkonvensi dalam suatu masyarakat. sebagai simbol kebesaran. Dalam perkembangan produk kriya sebagai mata dagangan.

mitologi . bayangan wujud dewa-dewa dan mahkluk halus lainnya yang mendiami alam tidak nyata. 2. 1981). Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Baudrillard. Konsep Spiritual Religius Manusia Bali setelah melalui tingkatan hidup estetis dan etis. sehingga terjadi ketidakstabilan penanda dan petanda. misalnya menyangkut tentang hakikat hidup. Pada tingkatan ini. karena diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotasinya. Keyakinan itu bersumber dari: ajaran agama berupa wahyu suci yang terhimpun dalam kitab-kitab suci. Dalam hal tersebut akhirnya produk kriya menjadi Rhême. sehingga berkembang sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan dan penafsiran terhadap sifat-sifat Tuhan serta wujud dari alam gaib yang transendental. Konsumer terkadang bukan lagi mencari konteks makna. manusia menginginkan adanya jalinan hubungan dengan Tuhan atau keinginannya untuk menerima ikatan-Nya. biasanya melanjutkan tingkatan hidupnya ke arah mencari nilai religius. maut.bagai simbol-simbol tertentu yang menghasilkan berbagai interpretasi pada masyarakat konsumen. kadang-kadang tindakan tersebut sampai melupakan nilai utilitas dan religius pada produk tersebut. bahwa dalam kondisi seperti tersebut justru nilai guna sering kali tak lebih dari semacam jaminan praktis (alibi) (Baudrillard.

Perilaku tersebut diwujudkan dalam berbagai macam ungkapan seperti. peralatan upacara dan fungsi estetis dalam wujud benda hiasan.dan ceritera-ceritera rakyat berupa dongeng yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat tertentu. Sehubungan dengan tujuan manusia tersebut. sarana komunikasi. bersujud. Salah satu contoh dapat dilihat dalam tata cara penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. maka muncul sistem upacara religius yang merupakan visualisasi kelakuan atau behavioral manifestation. juga muncul penghargaan pada suatu benda untuk digunakan sebagai sarana pendukung kepercayaannya. menari. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol. pada umumnya mencakup beberapa fungsi. misalnya. sehingga dalam produk tersebut terpatri suatu “ideologi” tertentu yang nilai-nilainya diyakini dan dijadikan sebagai tradisi. Produk kriya tersebut digunakan sebagai “alat” . beryajña. berupa bangunan suci. dalam perwujudannya dilandasi dengan suatu konvensi yang acuannya merujuk pada ajaran agama atau kepercayaan dari suatu komunitas manusia yang sepaham. bertapa. menyanyi. seperti berfungsi sebagai simbol. berprosesi. berkurban. berdoa. bersaji. berpuasa. dan sebagainya. Selain hal tersebut. berbagai peralatan upacara termasuk melibatkan produk-produk kriya yang disakralkan. bersemedi. Produk-produk kriya yang dipakai dalam upacara agama.

upacara, simbol-simbol diwujudkan berdasarkan konvensi yang mengacu atau dilatari kosmologi Hinduistis di Bali, sebagai media komunikasi yang dilandasi konsep Tri Hita Karana dan difungsikan sebagai hiasan. Produk kriya yang digunakan untuk simbol tersebut, merupakan tanda bersifat argument, karena interpretasinya terkait dengan renungan tentang kebenaran keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan maha segalagalanya (seperti telah disinggung di depan). Dengan penggunaan simbol-simbol tersebut, diharapkan dapat mempermudah penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu serta untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak-Nya tersebut. Perwujudan produk kriya sebagai tanda atau simbol, kadang dapat dalam bentuk icon, seperti stilasi bentuk manusia, binatang, benda alam dan sebaginya. Misalnya diwujudkan dalam berbagai produk kriya, seperti berbentuk relief, patung atau pratima dan sebagainya atau dibuat berdasarkan kualitas material yang digunakan atau qualisign, misalnya, warna (darah binatang, warna bunga, kapur, arang dan lainnya), karakter bahan (suatu jenis kayu, batu, kulit, logam dan sebagainya). Namun tidak dipungkiri, bahwa dalam menginterpretasikan simbol-simbol tersebut, sering terjadi perbedaan pandangan, sehingga melahirkan interpretasi bersifat mendua antara masyarakat yang berada dalam konvensi dengan di luarnya. Salah satu contoh produk

kriya berupa umbul-umbul bergambar naga taksaka yang digunakan sebagai salah satu sarana upacara Agama Hindu di Bali. Bagi umat Hindu menganggap benda tersebut sebagai tanda diadakan upacara agama dan sekaligus penerapan gambar naga taksaka disepakati sebagai simbol lapisan alam atas (Swah Loka). Sebagai dasar acuannya adalah kosmologi Hinduistis dengan interpretasi yang bersifat konotatif dan dianggap sakral. Sedangkan bagi umat atau orang yang tidak paham atau berada di luar konvensi tersebut, melihat umbulumbul tersebut hanya sekedar hiasan belaka. Fenomena seperti itu, belakangan ini memang cukup banyak terjadi di daerah Bali. Produk-produk kriya seperti itu, kadang hanya dilihat dari fungsi estetisnya saja. D. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu Eklektik adalah suatu usaha yang bersifat memilih unsur-unsur yang baik atau menggunakan bermacammacam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya, baik berupa orang, gaya, metode, kepercayaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam buku ini yang dimaksudkan adalah eklektisme terhadap elemen estetis masa lalu yang diterapkan pada desain produk masa kini. Tindakan “memilih” unsur-unsur tersebut secara tidak langsung jelas akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada vitalitas idiom masa lalu itu sendiri maupun kesatu-

an substansi pada desain produk masa kini. Fenomena tersebut dapat dipahami dari beberapa istilah seperti berikut: 1) Pastiche Istilah pastiche berarti menyusun elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai pengarang atau seniman masa lalu. Oleh sebab itu, istilah ini bisa mengandung pengertian dengan konotasi negatif dan dianggap miskin orisinallitas (Baldick dalam Yasraf 1994). Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Parody, dijelaskan bahwa: Pastiche, in this sense, is a pure imitation without any pretension. A pastiche text imitate other past text, in order to emulate or to appreciate them. Pastiche has been called by one critic as “form rendering” to describe its superficiality, that is, its lack to thoroughness. (Hutcheon, 1985). Menurut Linda Hutcheon, pastiche adalah suatu bentuk imitasi murni, tanpa disertai dengan pretensi tertentu. Gaya atau teks yang dipakai meniru dari teks masa lalu, disebut sebagai kritikan “gubahan bentuk” yang menunjukan suatu kedangkalan sebagai kekurangan yang utama. Selain hal tersebut, Fredric Jameson secara metaforis menyebut istilah tersebut sebagai “penggunaan topeng sejarah, pengungkap-

1991). kemudian diimitasi dalam suatu produk dengan tujuan mengarah pada humoristik dan kadang kala bersifat “pelesetan”. kritik. yaitu dua teks atau lebih dipertemukan dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat. atau arsitektur dengan tendensi bersifat memilih dan didistorsi. dijelaskan bahwa. 2) Parody Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994). dan humor. kekurangan. . artinya produk sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya atau kata penulis atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan. bahkan bermuatan politis dan ideologis. 1994). parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk.an dalam bahasa yang telah mati” (Jameson dalam Yasraf. Dalam peniruannya dapat bersifat ironis dan kritis. seni. atau kemasyuran) (Yasraf. parody (parodi). pada dasarnya parodi adalah merupakan suatu fenomena yang terjadi dalam produk sastra. keseriusan. gaya atau produk yang menjadi sasarannya (kelemahan. Dengan demikian. Parodi merupakan suatu bentuk “dialogisme tekstual”. Jadi dari uraian tersebut.

3) Kitsch Istilah Kitsch berasal dari bahasa Jerman. Mengimitasi suatu bentuk gaya atau objek untuk tujuan yang palsu. pada awalnya keberadaan kitsch didorong oleh semangat mereproduksi. istilah ini sering diselaraskan artinya sebagai “sampah artistik” atau sering diberi pengertian sebagai “selera rendahan” atau segala produk seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. merupakan suatu upaya untuk menghasilkan efek-efek reproduksi dalam sistem kebudayaan massa atau membangun aura seni dari reproduksi itu sendiri. yang diakibatkan oleh berkembangnya produksi. verkitshen berarti “membuat murahan”. Predikat kitsch sebagai selera rendahan dimanifestasikan oleh lemahnya ukuran dan kriteria estetis yang dipakai. 1995). secara harfiah berarti “memungut sampah dari jalan”. Selain hal tersebut. kitsch bertujuan mensimulasi atau mengkopi elemen-elemen gaya “seni tinggi” atau objek sehari-hari untuk kepentingan sendiri dan menjadikan sebagai mass product. . konsumsi dan komunikasi massa. Menurut Clement Greenberg. (Greenberg dalam Yasraf. Dan kistchen. Dalam bidang seni.

ternyata dalam usaha perluasan desain masa kini yang berciri khas Bali. Merupakan kemenangan gaya atas isi. dan style dengan distorsi yang berlebihan dan meremehkan isi serta netral. Dengan memahami beberapa istilah di atas. kesemuan dan stylization atau penggayaan.4) Camp Pada fenomena estetika pengertian camp sering dikelirukan dengan istilah kitsch yang mengarah pada pengertian “selera rendahan” atau merupakan “sampah estetik”. tekstur. berlebihan dan glamor (Sontag. permukaan sensual. berusaha menampilkan sesuatu yang special. Selanjutnya untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari tindakan eklektis terhadap produk kriya masa lalu dapat dipahami . Dalam upaya mewujudkan produk. Sebenarnya camp merupakan salah satu cara untuk melihat dunia sebagai suatu gejala estetik dalam derajat kecerdasan. Dalam suatu bentuk produk seni. dengan mengusung eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional dan dieksploitasi pada desain masa kini. kadang-kadang juga dapat menimbulkan dampak tersebut. Hubungannya dengan masa lalu bersifat “mendaurulang” dan sentimentil. estetik atas moral dan ironi atas tragedi. camp lebih menititik beratkan pada dekorasi. 1992).

.pada uraian berikut. yaitu dengan menganalisa beberapa contoh kasus penerapan elemen estetis produk kriya secara eklektik pada desain masa kini di Bali seperti diuraikan pada Bab V.

Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini 1. stagnan dan terisolir. maka suatu masyarakat dengan kebudayaannya secara mutlak tidak mungkin dapat hidup statis. Oleh sebab itu. baik faktor internal yang disebabkan oleh penggunaan dan penghargaan . Kajian Historis Transformasi atau pergeseran merupakan suatu fenomena yang universal dan selalu mewarnai lintas sejarah perkembangan kebudayaan suatu masyarakat.BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. Kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala dan terus mengalami perkembangan dan perubahan yang didorong oleh berbagai faktor. Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan atau pergeseran dalam fungsi waktu dengan laju yang bervariasi.

bahwa sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan neolitikum dan perunggu. secara diakoronis dapat disimak. Misalnya. hedonistik dengan mengutamakan fungsi estetis dan efek finansial yang ditimbulkannya. (2) sarana penunjang keagamaan atau kepercayaan dan untuk dipersembahkan kepada raja dan keluarganya (3) kebutuhan produk kriya untuk menunjang kebutuhan lain yang mengarah pada penciptaan produk kriya untuk memenuhi kebutuhan bersifat sekular.produk kriya dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Bali. untuk memenuhi kebutuhan produk kriya penunjang kepariwisataan dan sebagai komoditi ekspor. Faktor pendorong tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 24. maupun faktor eksternal berupa pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar melalui proses akulturasi yang berlangsung dari zaman ke zaman dalam kapasitas yang berbeda-beda. Bersamaan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sering dijumpai kasus fenomena penerapan elemen estetis produk kriya tradisional secara eklektik. saat penduduk Bali masih hidup nomaden. Faktor pendorong tersebut seperti (1) karena adanya tuntutan kebutuhan produk kriya fungsional yang mengandung nilai utilitas. umumnya memiliki pola pikir terbatas . berupa peralatan kerja untuk penunjang berbagai aktivitas hidup sehari-hari. Ditinjau dari sudut historis mengenai perkembangan dan perubahan penciptaan serta penggunaan produk kriya di Bali.

maka dalam sistem peralatan dan perlengkapan hidup mengalami perubahan. tulang binatang.pada usaha pemenuhan kebutuhan berupa makanan untuk kelangsungan hidupnya. ranting kayu dan sebagainya. mereka menggunakan peralatan berupa produk kriya terbuat dengan batu. dengan proses pengerjaan masih sangat sederhana. PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KEGIATAN EKSPOR PRODUK KERAJINAN DI BALI SARANA PENUNJANG Produk-produk kriya berupa:  Souvenir  menciptakan citra atau suasana MUATAN LOKAL/ ETOS KEBUDAYAAN UNSUR-UNSUR EKLEKTIK PADA KARYA MASA LALU (latar belakang sejarah) Gambar 24 Faktor Pendorong Munculnya Tindakan Eklektik Terhadap Elemen Estetis Tradisioanal Bali Di masa-masa selanjutnya. Penduduk di Bali telah mampu . Dalam melakukan usaha tersebut. setelah masuknya pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu di Bali.

batu. cincin untuk bekal kubur dan sebagainya. nekara perunggu diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai simbol-simbol terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. gerabah (tanah liat yang dibakar) dan sebagainya yang dikerjakan dengan teknik lebih sempurna. pertimbangan mengenai keindahan. disebabkan semakin meningkatnya kesadaran. kenyamanan dan simbolisasi sudah menggejala dan menjadi bagian yang esensial. sarkofagus untuk tempat mayat dan sebagai tanda penghormatan atau simbol kendaraan arwah. misalnya dikerjakan sambil menunggu datangnya musim panen. Munculnya gejala tersebut. nafsu atau emosi dalam diri individu untuk menghargai suatu materi yang distimuli oleh alam atau lingkungan masyarakat yang terbentuk. di Bali terjadi suatu “intervensi kebudayaan” yang bersifat menyempurnakan kebudayaan tradisi masa lalu dengan berorientasi pada . sistem relegi yang berkembang dan semakin menggejalanya pengaruh integrasi kebudayaan dari luar serta didukung dengan banyak waktu luang yang dimilikinya sebagai masyarakat agraris. Dalam proses penciptaan produkproduk kriya. masyarakat sudah mampu menghasilkan produk-produk kriya yang bermutu. Pada zaman tersebut. hasrat.menciptakan produk-produk kriya berupa peralatan terbuat dengan logam. Pada zaman Hindu. misalnya peralatan berupa kapak batu yang dibentuk dan digosok sampai halus.

Hindu dari Jawa Timur bergabung dengan kultur agraris dan pemujaan roh leluhur yang telah tumbuh di masyarakat Bali. ketekunan serta keiklasan yang sangat tinggi. Penciptaan produk-produk kriya dominan dikembangkan untuk keperluan Agama Hindu dan kerajaan. Perwujudannya berupa hiasan. .penyebaran. sedangkan unsur kebudayaan Jawa umumnya tampak pada taraf ritual yang bersumber pada kitab suci Weda. religius. Semua kegiatan ekonomi. Terjadi suatu sinkretisasi atau proses penyerasian dua aliran (agama) dan akulturasi yang harmonis antara unsur-unsur kebudayaan India. Motivasi penciptaan dilandasi dengan konsep dharma. pembinaan umat dan dipersembahkan kepada raja. wayang. seperti ditujukan untuk menunjang kebutuhan sarana upacara ritual. Perpaduan tersebut melahirkan suatu kebudayaan yang bercorak khas Bali. Dengan sikap tersebut. karma phala yang diwujudkan dalam sikap kebersamaan (kolektif). Unsur India dominan pada taraf filsafat dan mitologi. seperti berupa hiasan pada pura. barang gerabah. maka para kriyawan saat itu mampu menghasilkan produk-produk puncak dengan kualitas yang sangat tinggi. berbagai bentuk topeng. dan loyalitas dengan kecenderungan dedikasi. senjata. patung. meliputi sistem peralatan dan perlengkapan hidup. pembinaan dan peletakan dasar-dasar ajaran Agama Hindu. sosial kemasyarakatan dan kebudayaan Bali dirumuskan dengan “bahasa” agama Hindu. simbol dan benda pakai.

Ditinjau dari sudut keyakinan umat Hindu di Bali terhadap nilai kesakralan yang dikandungnya. Tergolong jenis kesenian Wali yang dianggap sebagai benda sakral karena. ternyata di dalamnya sarat mengandung makna atau nilai-nilai kesucian yang adiluhung. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol atau tanda terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. seperti logam. sabuk dan sejenisnya). kayu dan sebagainya. ternyata sampai sekarang masih digunakan dan diyakini oleh umat Hindu di Bali. Hal tersebut mengingat heterogen- . tanah liat. Produk-produk kriya tersebut termasuk katergori produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. kulit binatang. Beberapa jenis kegiatan penciptaan produk kriya itu diwariskan dari generasi ke genarasi berikutnya dan sampai sekarang masih ditekuni oleh masyarakat kriyawan di beberapa daerah di Bali. Produk-produk tersebut diciptakan dengan dilandasi kosmologi Hinduistis dan adat di Bali.busana hasil tenunan tradisional (berupa kain songket. misalnya berupa simbol-simbol alam makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). dalam pembuatannya mutlak disertai dengan proses penyucian atau melalui beberapa tahap penyucian (lihat Tabel 1. yang terkait dengan kepercayaan tentang keagungan dan kekuasaan Tuhan serta ajaran suci tentang ciptaanNya. Bahan yang digunakan. halaman: 61). khususnya yang digunakan dalam melaksanakan upacara ritual.

Demikian juga dalam sifat Weda dan filsafat Wedanta. maka di masa-masa mendatang eksistensinya perlu dijaga dari penetrasi pengaruh-pengaruh luar yang dapat mengancam kelestariannya. dari uraian tersebut. seperti disebutkan dalam ajaran Catur Marga. dalam konteks pengembangan pariwisata. Dari sudut pandang ajaran agama Hindu. Di sisi lain. Jadi. sampai sekarang dan bahkan untuk seterusnya tetap hadir dan diperlukan. Pada zaman kolonial. jelaslah produk kriya yang digunakan sebagai sarana pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. maupun sesuai kerangka agama Hindu. Sehingga dalam tata kehidupan masyarakat di Bali tampak mengalami banyak perubahan. ternyata “cara” tersebut memang diperbolehkan. seperti semakin berkembangnya corak masyarakat yang meng- . dari zaman Hindu sampai sekarang nilai-nilai kesakralannya tetap diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. maka pengaruh-pengaruh Belanda dan kebudayaan masyarakat dari luar lainnya semakin merebak masuk ke Bali.nya tingkat kemampuan umat dalam mengamalkan ajaran agama Hindu atau dalam hasrat menghubungkan diri dengan Tuhan. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu produk-produk kriya berupa simbol-simbol untuk sarana pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. Bali dan kebudayaannya diperkenalkan sebagai daerah tujuan wisata. budaya tersebut juga dipakai sebagai daya tarik utama.

Selain hal tersebut pemerintah Belanda juga berkeinginan untuk mempertahankan keaslian kebudayaan Bali dengan menerapkan politik isolasi atau mengasingkannya dari pengaruh-pengaruh luar dan semata-mata ingin dijadikan sebagai “museum hidup”. Para kriyawan menciptakan produk kriya tersebut. restoran. semata-mata didorong oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat dan bukan atas prakarsa pemerintah kolonial Belanda. Khusus mengenai masalah penciptaan produkproduk kriya yang bermuatan lokal dengan tendensi komersial. menjual hasil pertanian dan sebagainya. termasuk penciptaan “produk-produk kriya komersial”. mulai berkembang usaha yang bergerak dalam bidang perhotelan. peternakan dan lain-lainnya.arah pada usaha-usaha non-agraris. mengaktifkan kembali kegiatan ekspor-impor barang yang sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. misalnya: membuat koperasi. kembali aktif. Dalam usaha menunjang pengembangan pariwisata. kesenian tradisional yang telah tumbuh dan berarkar di masyarakat Bali. Upaya tersebut diawali dengan usaha untuk mendatangkan para . dapat ditelusuri dari tujuan Belanda untuk menguasai Pulau Bali. Keadaan tersebut. Gejalanya muncul secara “spontan” dari masyarakat kriyawan Bali saat itu. Masyarakat Bali semakin dimantapkan dan didorong untuk bergerak dalam bidang ekonomi. toko kerajinan. selain untuk menguras hasil pertanian. biro perjalanan.

pakar yang terkait dari negerinya. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk menunjang pengembangan pariwisata pada saat terse- . misalnya dengan mengangkat tenaga pendidik lokal yang berkompeten dalam bidang kebudayaan Bali. penciptaan produk kriya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan kerajaan. faktor pendorong atau motivasi penciptaan produk kriya dengan serta merta mulai mengarah pada hal-hal bersifat komersial. Namun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. untuk mempelajari berbagai aspek tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan tradisonal. membangun museum di Denpasar untuk melindungi dan menyelamatkan artifak etnografi Bali. di mana pada masa berkembangnya pengaruh Hindu dan zaman kerajaan. Kemudian membangun Gedong Kertiya di Singaraja untuk menyimpan dan menyelamatkan kesusastraan Bali yang ditulis pada lontar. Mereka cenderung menciptakan produk kriya dalam bentuk cenderamata untuk dijual kepada para wisatawan atau diekspor ke luar pulau Bali. Motivasi perluasan usaha penciptaan produk kriya di Bali saat tersebut. Mengembangkan sistem pendidikan yang menyesuaikan dengan kebudayaan terkait dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu. mengalami perkembangan baru dibandingkan sebelumnya. Para kriyawan kebanyakan mulai memandang hasil produksinya sebagai mata dagangan yang bernilai ekonomis.

logam (berkembang di Klungkung.but. mereka juga mulai memadukan pengaruh dari luar. kadang juga muncul tindakan eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional. pengosekan dan sebagainya. tanduk (berkembang di Gianyar). misalnya: kayu. usaha . seperti: Rudolf Bonnet. (berkembang di daerah Gianyar dan Badung). di satu sisi tampak para kriyawan berusaha mengembangkan produk-produk kriya masa lalu yang diwarisinya. Gianyar. fanil. Seperti: berupa patung. Perpaduan pengaruh tersebut. batu padas (berkembang di Gianyar). tulang. Ubud. Usaha pengembangan pariwisata kurang mendapat perhatian. melahirkan produk-produk dengan style Batuan. Oleh sebab itu. Dalam upayanya tersebut. sehingga menghasilkan produk dengan berbagai penggayaan atau style. relief dan gambar atau lukisan dengan menggunakan berbagai bahan. tempurung kelapa. Dalam masa pendudukan Jepang yang berlangsung relatif lebih singkat dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. tanah liat atau keramik (di Tabanan) dan lain sebagainya. tanpa kecuali produk yang digunakan untuk sarana pengamalan dan penghayatan ajaran agama Hindu Bali. Walter Spies dan seniman lainnya. Bangli dan di Buleleng). Jepang lebih mementingkan usaha penanaman semangat militer dan arti penting perang Asia Timur Raya untuk meraih kemenangan. Di sisi lain. topeng. Seperti pengaruh seni rupa modern yang dibawa oleh para seniman Barat. karena pada waktu tersebut.

sekitar tahun 1950. Lapangan pekerjaan atau bidang usaha . Didorong pula oleh semakin meningkatnya permintaan para wisatawan akan produk-produk kriya yang bermuatan lokal berupa barang cenderamata. ternyata upaya tersebut memberi pengaruh yang signifikan. Dikaitkan dengan pembangunan sektor perekonomian.penciptaan “produk kriya komersial” semakin surut dan penggunaannya terbatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. ternyata merupakan salah satu pemicu arus penetrasi budaya modern dan global. Usaha pengembangan tersebut. maka usaha penciptaan produk-produk kriya di Bali dengan serta merta mulai mengarah pada tujuan komersial dan disertai dengan muncul gejala penerapan elemen estetis produk tradisional secara eklektik pada desain yang kemudian diterapkan pada produk-produk kriya yang dibuat saat tersebut. sekaligus memberi dampak pada tata kehidupan masyarakat di Bali. Otoritas masyarakat pada saat tersebut sangat terbatas. sektor pariwisata di Bali kembali dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dengan tetap berbasis pada kekuatan budaya Bali sebagai daya tarik utama. kecuali pengaruh pemerintahan Jepang sendiri. Ulasan dari sudut historis tersebut memberi deskripsi bahwa pada saat mulai masuknya pengaruh Barat (Belanda) dan dijadikannya Bali sebagai daerah tujuan wisata. sehingga keadaan kebudayaan Bali nyaris terisolir dari pengaruh luar. Pada zaman kemerdekaan.

cukup mendorong para kriyawan dan pengusaha di Bali masa kini untuk semakin aktif menekuni sektor tersebut. terutama di zaman prakolonial. Pada dasawarsa belakangan. usaha tersebut sempat mengalami perkembangan yang cukup pesat. misalnya berwujud cenderamata yang menyiratkan keindahan alam atau ke- . seperti dalam kegiatan penciptaan produk-produk kriya yang mengarah komersial. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk dikonsumsi para wisatawan masa kini. di mana kegiatan menciptakan produk kriya hanya merupakan pekerjaan sambilan di waktu senggang seusai di sawah atau kesibukan lain. Mereka termotivasi oleh aspek ekonomis yang dihasilkan dari produk kriya yang diciptakannya. Banyak di antara masyarakat di Bali menjadikan sebagai mata pencaharian tetap. Berbeda dengan dulu.industri kecil memiliki peluang atau opportunity untuk tumbuh dan berkembang. para kriyawan berupaya untuk menyuguhkan produk yang dapat memberi kenangan tersendiri. Dan hasil produknya jarang diperjual belikan sebagai mata dagangan. selain didorong oleh perkembangan sektor pariwisata. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kecil dan mendijadikan produk kriya lokal sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor non-migas. sebelum terjadi tragedi bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 di Kecamatan Kuta dan bom Bali II pada tanggal 1 Oktober 2005. Kondisi tersebut.

berkeinginan menampilkan suasana yang berbeda dengan daerah lain. Gambar 25 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Fauna . misalnya dengan mengeksploitasi alam fauna dan flora sebagai sumber inspirasinya.budayaan Bali. salah satunya dengan menerapkan elemen estetis produk kriya masa lalu. Demikian juga dalam penataan lingkungan. seperti tampak pada Gambar 25 dan 26. di satu sisi tampak usaha inovatif yang mengarah pada produk individual. Dalam hubungan dengan kreativitas penciptaan produk kriya.

32 . tindakan-tindakan eklektik terhadap elemen estetis produk kriya masa lalu yang diterapkan pada desain produk kriya masa kini.Gambar 26 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Flora Di sisi lain. Mereka melakukan tindakan tersebut didorong oleh harapan atau keinginan untuk menciptakan produk-produk kriya etnik yang bermuatan lokal atau tercerap suasana atau citra rasa tradisional yang berciri khas budaya Bali seperti tampak pada Gambar 27. tampak semakin menggejala di kalangan masyarakat kriyawan.

Gambar 27 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi. Gambar 28 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi. .

Gambar 30 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Untuk Barang Komoditi.Gambar 29 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Panil untuk Barang Komoditi. .

Gambar 31 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Façade Bangunan. Gambar 32 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Diterapkan Dalam Bentuk Tatto. Banyak di antara mereka kadang-kadang melupakan konteks nilai yang terkandung pada produk kriya masa lalu dengan masa- . Dalam pemilihan unsur-unsur terbaik produk masa lalu. sering muncul sikap “ketidaktaatan” yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali.

merusak atau mengganggu kesepakatan yang telah mapan. Garuda Wisnu dan Nãga. kemudian dijual sebagai barang cenderamata dan sebagainya. Tindakan tersebut jelas berdampak negatif. Hal tersebut. tetapi sekarang banyak digunakan untuk hiasan benda pakai yang bersifat profan. sebenarnya merupakan produk kriya yang mengandung nilai simbolis pada bangunan suci. jelas merupakan penyimpangan dan sama sekali tidak ada hubungan permaknaan. relief pada tebing dekat kuburan. Bhoma. misalnya diterapkan sebagai hiasan dinding rumah tinggal. Diterapkan pada tebing kuburan. Relief Acintya. divisualisasikan dalam bentuk patung untuk menghias persimpangan jalan. (lihat Gambar: 31). diterapkan sebagai hiasan pada façade sebuah kantor bank . Ditiru atau direproduksi dengan kemampuan tangannya. Bhoma diterapkan dengan ditatto pada bokong atau Ongkara ditatto pada lengan. kemudian diterapkan begitu saja pada benda-benda yang bersifat profan dengan lebih mengutamakan segi artistik dan semata-mata menyandar pada efek finansialnya. Produk-produk kriya wali yang digunakan dalam upacara agama dan dianggap sakral. seperti pada pelinggih padmasana.lah kepercayaan umat Hindu di Bali. Penerapan tersebut memiliki tujuan yang tidak jelas. Pada hal kedua elemen tersebut mengandung nilai religius dan konvensinya masih eksis di masyarakat Hindu di Bali. “dipilih”. Sebagai contoh. semata-mata untuk sensasi.

namun sekarang digunakan untuk menghias halaman supermarket. Sehingga timbul kerancuan dan menimbulkan kebingungan bagi generasi penerus tradisi tersebut. sebenarnya sebagai “busana pura” yang dikenakan sewaktu melangsungkan upacara agama tertentu. Sehingga . artshop. cenderung tergantung pada permintaan pasar. hotel. banyak para kriyawan di Bali dalam kegiatan penciptaan produk kriya masa kini. inovasi dengan ide baru dan kreativitas mereka sering terhambat karena takut tidak laku di pasaran.atau bangunan lain. lonték dan tedung Agung. Idealisasi. Bedawang Nala dipakai hiasan tapal batas kota. seperti pada upacara Odalan. restoran dan sebagainya. Gambar 33 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional berupa Relief yang Sakral Diterapkan Di Perepatan Jalan dan Sebagai Hiasan Tebing Kuburan Selain hal tersebut.

juga didorong oleh pihak pengusaha produk-produk kriya di Bali. Dan banyak produk ciptaannya setelah dilemparkan di pasaran atau dipamerkan. Seperti dalam pemberian pesanan kepada para kriyawan. tetapi pada kenyataannya bagian tersebut sering ditinggalkan. terjadi “desakralisasi”. “dipaksakan” dan “diberanikan” demi untuk memenuhi tujuan lain dengan alasan faktor ekomoni. misalnya dengan jalan “mengkopi” atau “membajak” produk-produk yang sedang laku dipasaran atau dengan tetap bertahan pada produk tradisional.dengan kondisi tersebut “jalan pintas” sering dilakukannya. kemampuan atau keterampilan yang dimiliki para kriyawan untuk mengerjakannya. Maksudnya. itu pun hanya dilakukan oleh beberapa orang kriyawan. Sekalipun ada kriyawan yang berusaha mencipta “produk kriya baru”. seperti: Ide Bagus Nyana. I Nyoman Togog dan yang lainnya. karena mereka merasa mampu memberi pelayanan yang memuaskan wisata- . dalam proses penciptaan produk-produk tersebut yang seharusnya disertai dengan upacara penyucian. sikap mereka cenderung menyandar pada kesiapan. sehingga pesanan tersebut sesuai dengan keinginan konsumennya dan transaksi dapat berjalan tepat pada waktunya. Kejadian tersebut. Dan permasalahan sudah dianggap selesai sampai di sana. juga tidak luput dari konsekuensi tersebut. Dalam proses penciptaan produk-produk kriya dengan unsur eklektik yang ditujukan untuk para wisatawan masa kini.

Namun sikap tersebut. Para pewarisnya dewasa ini hanya mampu menduplikasikan dan menggunakannya. mengacu pada norma-norma ajaran agama Hindu atau sistem kepercayaan umat Hindu di Bali dan dikerjakan dengan total serta penuh pengabdian yang tulus.wan. Banyak di antaranya produk-produk kriya tersebut merupakan karya puncak. karena dalam proses penciptaannya dilandasi dengan konsep-konsep perancangan sangat mantap. komprehensif. jelas kurang relevan. . baik yang diciptakan pada zaman pra-Hindu. 2. karena dapat menimbulkan arti hidup dan kehidupan yang tidak stabil. ternyata eksistensinya dapat menembus beberapa zaman dalam rentang waktu sangat lama. sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. kalau dikaitkan dengan konsep Catur Purus Artha yang dipakai landasan pembangunan di Bali. sehingga kesadaran untuk lebih selektif terhadap makna atau nilai yang dikandungnya terasa masih kurang. Salah satu faktor yang menyebabkan produk-produk tersebut dapat bertahan. kompleks. Mereka tampak lebih mengutamakan Artha dan Kama sebagai tujuan hidup. Kajian Semiotis Dari pembahasan pada Bab III dapat difahami. bahwa produk-produk kriya yang diciptakan oleh para kriyawan Bali di masa lalu. maupun setelah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa Timur.

sedangkan secara sinkronis. dengan di sana-sini diadakan penambahan atau pengurangan yang diistilahkan sebagai ‘pengembangan’ dan tak jarang dibarengi dengan tujuan-tujuan lain yang tidak sesuai dengan esensi konsep penciptaan di masa lalu. lebih ke arah . dengan memandang peristiwa penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya di setiap zaman sebagai fenomena bahasa.Dalam usaha perluasan gagasan desain produk kriya masa kini. Jika ditinjau kembali berdasarkan kajian semiotika. dapat dipakai sebagai tanda (sign) zaman yang merepresentasikan sejarah perkembangan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya dalam masyarakat Bali dari zaman ke zaman. maka secara diakronis hasil peninggalan tersebut. hasil tersebut dapat dipakai tanda (sign) yang merepresentasikan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya. Pembahasan lebih rinci mengenai kajian semiotis. pada masing-masing penggalan zaman atau kurun waktu tertentu. dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk kriya tampak masih sangat sederhana. tampak produk-produk tersebut kembali ditampilkan “secara eklektik” dengan menitikberatkan pada nilai estetis dan diklaim sebagai identitas etnik Bali atau local genuine. bahwa masyarakat di Bali saat itu. adalah sebagai berikut: Sebelum penduduk Bali mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu. memberi tanda dalam bentuk indeks.

Seperti kepercayaan alam gaib. selain memiliki berfungsi sebagai alat. roh atau kekuatan-kekuatan lain . seperti batu dengan karakternya yang keras diperlakukan untuk “menghacurkan” benda yang lebih lunak.makna denotasi. juga sudah memperhatikan nilai estetis dan simbolis dengan latar atau konvensi yang dilandasi dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Hubungan struktur tanda tersebut menurut Semiotika Saussure dapat digambarkan seperti Gambar 34 berikut Gambar 34 Relasi Tanda. arah penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya tidak lagi terpaku pada pertimbangan yang bersifat denotatif. Produkproduk yang diciptakan. Belum ada tanda-tanda yang mengarah pada makna konotasi. karena mereka bertumpu pada nilai guna atau utilitas dan pragmatis. melainkan sudah memperhatikan hal-hal yang bersifat konotatif. Misalnya masalah kenyamanan. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Sebelum Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu) Pada zaman selanjutnya. keindahan produk maupun simbolisasi.

Selain hal tersebut. dilakukan sebagai simbol penghormatan kepada tokoh yang meninggal. Pada produk kriya tersebut diterapkan relief berupa topeng yang distilasi dari bentuk wajah manusia. Hubungan produk-produk kriya sebagai tanda atau simbol dengan pengguna tanda atau penanda (masyarakat Bali zaman Pra-Hindu) dapat digambarkan seperti Gambar 35 berikut Gambar 35 Relasi Tanda. Penguburan dengan cara tersebut. misalnya pada penguburan mayat seorang tokoh masyarakat dengan menggunakan sarkofagus. juga dipakai sebagai tanda atau simbol status sosial. Simbol-simbol tersebut diterapkan atau diwujudkan dalam berbagai bentuk produk kriya.yang dimiliki oleh suatu benda yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan mereka atau fetishism. dipakai sebagai simbol roh nenek moyang mereka dan dianggap bertuah atau mengandung nilai magis. seperti berupa sebuah nekara yang dibuat dengan perunggu. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Setelah Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu .

Pada Zaman Hindu menunjukan. Diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol sehingga produk-produk kriya tersebut tergolong karya spiritual religius dan dianggap sakral yang digunakan sebagai media untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak yang dimiliki Tuhan. bahwa dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya dilandasi dengan konsep yang mengarah pada makna konotasi atau asosiatif dengan latar atau ground digali dari mitologi. Seperti produk-produk kriya yang digunakan dalam upacara Odalan. kosmologi dan sebagainya yang bersumber pada ajaran Agama Hindu. Secara semiotika relasi tanda dengan pengguna tanda pada zaman tersebut. dapat digambarkan seperti Gambar 36 berikut. filosofi. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Mendapat Pengaruh Kebudayaan Hindu-Jawa Timur . Gambar 36 Relasi Tanda. ceritera-ceritera rakyat.

Jika kondisi tersebut dikaji berdasarkan semiotika model “intertekstualitas” seperti yang dikembangkan oleh Kristeva. maka dalam fenometa tersebut tampak terjadi “permainan petanda” yang menghasilkan petanda baru dengan konvensi atau makna yang tidak jelas arahnya. maupun arah pengembangan yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. Produkproduk tersebut mulai dijadikan sebagai penunjang kepariwisataan di Bali berupa cenderamata. penciptaan dan pengunaan produk kriya pengalami perkembangan baru.Pada zaman Kolonial dan Kemerdekaan. Namun dewasa ini. seperti kebanggaan (pride) memperoleh produk kriya lokal yang berciri khas Bali dan dipakai sebagai tanda kenangan. Produk-produk kriya —terutama yang terkait pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali— yang diciptakan sebagai tanda dalam bentuk simbol-simbol dengan konvensi budaya yang dilandasi nilai-nilai atau norma-norma Agama Hindu yang telah mapan dalam masyarakat masa lalu. baik tujuan. elemen estetis untuk menciptakan suasana tradisional Bali atau sebagai digunakan komoditi ekspor. pretensius. Pada saat tersebut. bahwa mere- . Seperti tujuan para kriyawan untuk menciptakan produk bermuatan lokal atau dorongan para wisatawan untuk membeli suatu produk (emotional product motives). subyektif. relatif dan bersifat temporal. kondisi penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali memiliki kemiripan langgam atau tipe. kadang kembali “dipilih” dan ditata atau dipadukan dengan tanda lain.

janggal dan berkonotasi negatif karena terjadi diskrepansi antara tanda dengan petanda yang sebenarnya. Dari kedua tanda tersebut sama sekali tidak terjalin suatu kesatuan makna. kalau dilihat dari tata letak kedua tanda tersebut. di mana simbol Garuda Wisnu adalah terkait dengan ajaran Agama Hindu. Pada contoh tersebut. Masing-masing tanda atau simbol tersebut menyiratkan makna tersendiri. na- . tampak simbol Garuda Wisnu menjadi kehilangan makna. produk kriya berupa relief Garuda Wisnu yang lazimnya diterapkan dibelakang Padmasan. Bahkan tindakan tersebut dapat “merusak” atau memutuskan pertautan petanda dengan penanda atau narasi yang sebenarnya. namun sekarang tampak diterapkan sebagai hiasan façade. dianggap sebagai lambang kebesaran Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Selain motivasi tersebut juga didorong keinginan untuk menciptakan lingkungan atau tata bangunan dengan nuansa tradisional.ka pernah mengunjungi pulau Bali. dianggap sebagai suatu kepuasan atau prestise dan sebagainya. Petanda baru yang muncul tersebut hanya bersifat subjektif yang “dihubung-hubungkan” atau hanya merupakan suatu pretensi yang sama sekali tidak ada pertalian petanda dengan ground simbol yang diterapkan pada produk tersebut di masa lalu. Pada façade tersebut tampak logo Bank BPD diletakkan di atas dari simbol Garuda Wisnu. Sebagai contoh.

Tanpa disadari penempatan tersebut membawa makna konotasi yang mengarah pada interprestasi negatif. kesenangan dan kenikmatan (hedonisme) lebih tinggi dari nilai yang berhubungan dengan ajaran ketuhanan. tanpa memikirkan lebih jauh tentang pertalian petanda yang terbentuk akibat penempatan simbol dan logo tersebut. maka secara umum penciptaan produk kriya dengan unsur eklektik dewasa ini di Bali dapat digambarkan pada Gambar 37 .mun pada façade itu diletakkan di bawah logo yang cenderung berkonotasi tentang uang yang bersifat sekular. Berdasarkan kajian dari sudut model semiotika “intertekstualitas”. Meletakkan penghargaan terhadap nilai-nilai keduniawian (uang dan investasi). Penempatan tersebut “asal pasang” dan hanya didorong oleh suatu preferensi “pajang seni” semata.

Gambar 37 Perbandingan Relasi Tanda. Penanda dan Petanda (“Intertekstualitas”) Kaitannya Dengan Fenomena Eklektik Unsur Produk Kriya Masa Lalu .

antropolog dan seniman sudah memprediksi. Sebenarnya di dalamnya secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. dan seimbang. bahwa masyarakat Bali bersama kebudayaannya di masamasa mendatang akan mengalami perubahan besar sebagai dampak maraknya perkembangan pariwisata. selaras. Namun di sisi lain banyak muncul kekawatiran tentang nasib masa depan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. ternyata mendatangkan banyak kemanfaatan atau beneficial bagi pengembangan kebudayaan Bali sekaligus pengembangan sektor ekonomi masyarakat. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini Konsep pengembangan pariwisata di Bali berbasis budaya Bali. bahwa pariwisatalah yang akan menjadi salah satu katalisator atau sebagai pemicu terjadinya perubahan sosial-budaya masyarakat di . Di satu sisi menurut hasil penelitian Kean (1973) maupun Geriya dan Erawan (1993) membuktikan bahwa interaksi antara pariwisata dan kebudayaan Bali. Konsep tersebut diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan budaya Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. sosiolog. Mereka mendeskripsikan. Sejak 60 tahun yang silam di kalangan para pengamat: budayawan.B.

pada paparan keadaan masyarakat dan kebudayaan Bali yang diterbitkan pada tahun 1953. 1937). Prediksi atau asumsi tersebut. Pertanyaan tersebut diungkap sehubungan dengan kekawatiranya akan kerusakan yang akan terjadi pada seni budaya Bali sebagai akibat diperkenalkannya menjadi daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Kolonial Belanda saat tersebut (Covarrubias. Hal tersebut juga terjadi dalam perluasan penciptaan produk-produk kriya dan desain lainnya yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali. Salah satunya diakibatkan oleh eklektisme elemen estetis tradisonal yang tak terkendali dalam penerapannya pada desain produk masa kini. sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Miguel Covarrubias dalam bukunya berjudul Island of Bali —“Isn’t Bali Spoiled ?”— sebagai kalimat pembukaan dalam pembicaraan Modern Bali and The Future. Seperti. ternyata dalam beberapa dekade belakangan ini menjadi suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. . baik pada produk masa lalu maupun pada desain produk masa kini. Berikut akan diuraikan mengenai dampak yang ditimbulkan. Suatu dinamika baru dan perubahan-perubahan struktural telah terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali.Bali. Demikian juga kekawatiran tersebut dimuat dalam buku dengan judul: Republik Indonesia (Kepulauan Sunda Kecil).

Seperti: relief tinggi berupa Bhoma. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu Dampak eklektisme terhadap produk kriya masa lalu sebagai objek pilihan. bahwa dampak dari peran khas pariwisata Bali membawa pengaruh dan perubahan yang tak terbatas. Garuda Wisnu dan sebagainya. Akibat dari tindakan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jean Couteau. Secara visual mereka akan semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya yang digunakan untuk sarana upacara ritual di tempat suci dengan produk kriya yang dipakai di tempat yang bersifat profan. karena telah “diduplikasi” untuk dijadikan barang tontonan biasa atau barang komoditi untuk pemenuhan kebutuhan sekuler semata. kesimpangsiuran atau pengkaburan makna. terutama bagi generasi pewaris kesepakatan tersebut. “deteriorasi”. Keadaan tersebut tanpa disadari dengan perlahan-lahan dapat mengikis alam pikiran spiritual umat Hindu di Bali dan dapat terjebak dalam kecenderungan efek komersial dari produk tersebut.1. “desakralisasi”. sekarang ba- . secara tidak langsung akan terganggunya konvensi yang mendasari objek yang dipilih dan kemungkinan akan terjadi suatu pelunturan nilai. “generalisasi”. tanpa disadari dapat mengurangi rasa penghargaan atau pemahaman spiritual terhadap makna atau nilai yang ditanamkan pada produk kriya yang dianggap sakral tersebut.

seperti pada Gambar 38 berikut Gambar 38 Topeng Barong Ket Diterapakan Sebagai Hiasan Boutique Ditinjau dari sudut semiotika. Rangda dan Barong ket. kantor. bahkan sengaja dipentaskan di hotel-hotel untuk menghibur para wisatawan. banyak ditiru dengan tidak disertai dengan “sakralisasi” dan dipakai pertunjukan khusus untuk konsumsi para wisatawan. Topeng Barong Ket juga dipakai sebagai penghias ruangan boutique yang dipajang berdampingan dengan busana yang dijual. penerapan elemen estetis tradisional secara eklektis tersebut dapat berdampak terganggunya kestabilan antara tanda dengan .nyak ditiru dan diterapkan sebagai hiasan toko. rumah tinggal dan bangunan umum lainnya.

petanda, karena terjadi suatu “mutilasi” struktur simbol atau lambang dengan konvensi adat yang telah mapan dalam kalangan umat Hindu di Bali. Terbentuk kepingan-kepingan dan perpaduan tanda dengan petanda yang tidak jelas atau “mati”. interpretasi makna menjadi simpangsiur dan terkecoh karena secara visual semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya sakral dengan profan. Seperti senjata nawa sanga, produk kriya tersebut biasanya digunakan sebagai hiasan di pura berupa bandrangan dan sekaligus sebagai simbol kekuatan para Dewa, namun kini sematamata diciptakan sebagai barang cenderamata untuk konsumsi para wisatawan (lihat Gambar 29). Makna konotasinya mengalami perubahan dan mengarah pada nilai komersial. 2. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini Penerapan elemen estetis secara eklektik pada desain masa kini yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali masa kini, dalam upaya untuk menciptakan karya yang bermuatan lokal atau didorong oleh harapan agar dapat menciptakan suasana tradisional Bali. Ternyata usaha tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan permasalahan yang mendasar. Pada desain atau produk kriya yang diciptakan dengan menerapkan elemen estetis tradisonal kadangkadang tampak “janggal”, “tertekan”, “terpaksa”, berlebihan, mubasir dan dari perpaduan tersebut tidak terjalin pertalian makna di antara tanda-tanda atau

simbol-simbol yang diterapkannya. Dikaitkan dengan konsep estitika yang melandasi strategi pembangunan di daerah Bali, seperti telah dipaparkan pada bab pendahuluan, kondisi tersebut jelas kurang relevan, sebab pada produk-produk yang diciptakan sering terlihat kurang selaras, kurang harmonis dan tidak seimbang. Bahkan tak jarang melahirkan karya yang termasuk: pastiche, parody, kitsch, atau camp. Sebagai contoh dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional, berupa relief garuda pada sebuah façade toko sepatu bata seperti Gambar 38 berikut,

Gambar 38 Penerapan Relief Garuda Pada Façade Toko Sepatu Bata

Pada hiasan tersebut tampak elemen estetis berbentuk garuda yang meniru dari bentuk Garuda Wisnu dan penyuguhannya tidak dilengkapi dengan simbol Dewa Wisnu. “Tangan” garuda dibuat menunjuk logo sepatu bata dan posisi penempatan kedua elemen tersebut sejajar secara horisontal. Pada penampilan tanda tersebut tampak suatu fragmen yang terbentuk dari hasil perpaduan dua, yaitu antara simbol dengan logo. Disimak dari permaknaan, maka keduanya sama sekali tidak terdapat pertautan makna. Konsep penciptaan hanya didasari oleh suatu pretensi menciptakan nuansa bagunan tradisional Bali. Bentuk garuda tersebut sebenarnya merupakan produk kriya masa lalu yang khusus diterapkan pada bangunan suci dan mengandung nilai filosofi yang tinggi dan sebagai simbol kekuatan Tuhan. Namun kini dipilih dan diterapkan begitu saja tanpa memikirkan dampak negatif terhadap makna yang dikandungnya. Mereka meminjam makna simbol garuda yang telah mapan dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, hanya sekadar untuk menunjukan logo sepatu bata atau bertujuan untuk membangun imitasi image atau citra rasa palsu (kitsch) dalam usaha membangun keyakinan masyarakat konsumen, bahwa produk sepatu merek bata sudah terpercaya, kuat dan sebagainya, sampai-sampai simbol garuda yang masih diyakini oleh umat Hindu “digambarkan” memberi petunjuk tentang keunggulannya.

Narasinya bersifat ironis dan kritis dalam artian mengecilkan makna adiluhung yang terkandung dalam simbol garuda tersebut. Naga tersebut sebenarnya merupakan hiasan sekaligus se- . Selain hal tersebut. Simbol yang bersifat sakral dan terkait dengan ajaran ketuhanan. seperti tampak pada Gambar 39. karena merupakan hasil penyusunan elemen-elemen masa lalu yang melahirkan bangun tanda palsu yang berkonotasi negatif. Contoh kasus sejenis lainnya. sehingga terkesan sentimentil terhadap simbol yang masih diyakini oleh umat Hindu di Bali. juga dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional berupa dua patung naga yang mengapit pintu gerbang utama di lantai I di bawah selasar kantor sebuah bank di Denpasar. Pastiche. Bentuk hiasan tersebut merupakan penggayaan dari bentuk naga hasil produk kriya masa lalu. Sedangkan terkait dengan fenomena camp. —dikombinasikan dengan tanda atau simbol atau logo lain— dan dimanfaatkan hanya untuk menunjukan merek sepatu. karena dalam penampilannya bersifat mendaurulang bentuk garuda yang merupakan hasil produk kriya masa lalu dan diterapkan begitu saja.Peniruan dan perpaduan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu produk kriya parodi. juga termasuk produk pastiche dan camp. sebab pemilihan dan penerapannya merupakan suatu “pelesetan” dari makna garuda yang sebenarnya. kini “dipermainkan”.

Nilai simbolis terkait dengan ajaran kosmologi Hinduistis di Bali dan dianggap sebagai benda sakral. seperti pada bangunan suci berupa padmasana (lihat pada Gambar 12) Gambar 39 Penerapan Patung Naga Pada Gerbang Utama Pada Lantai I Di Bawah Selasar Kantor Sebuah Bank di Denpasar Penerapan tersebut. termotivasi oleh keinginan yang lebih mengutamakan segi artistik dibandingkan substansi atau bobot dari elemen estetis produk kriya masa lalu yang dipilihnya. dan tidak terbentuk pertalian makna dengan tempat yang diberi hiasan tersebut. namun pada penerapan tersebut berubah menjadi produk biasa. sehingga berkesan berlebihan. glamor. makna atau nilai yang dikandungnya diimitasi dan dibuat-buat atau sama sekali tanpa makna serta menengelamkan . absurd.bagai simbol yang diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih di pura.

menciptakan suasana tradisional dan sebagainya. Sebagai fenomena kitsch. Bangun tanda baru yang dianggap sah dengan petanda yang tidak jelas. Karya tersebut juga dapat digolongkan sebagai camp. karena produk tersebut merupakan penyusunan elemenelemen yang dipinjam dari unsur produk kriya masa lalu dan dalam penerapannya menimbulkan konotasi negatif. kebesaran. dekorasi atau segi artistik semata. Usaha tersebut tanpa disadari membawa dampak terjadinya pergeseran dan pelunturan nilai yang dikandungnya serta bersifat ironis kalau ditinjau dari peletakan naga tersebut. karena bentuk tersebut merupakan peniruan dari elemen “seni tinggi” atau high art yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dengan dibarengi tujuan palsu.objek yang dijadikan sasaran eklektis. Digolongkan sebagai fenomena pastiche. karena dalam penerapan tersebut hanya menitikberatkan pada penggayaan. Secara semiotik kondisi tersebut tidak mencerminkan hubungan antara penanda dengan petanda dan dengan narasi yang tidak jelas. seperti merendahkan penghargaan nilai simbolis yang dikandung pada patung naga tersebut. Usaha penciptaan penerapan naga tersebut juga disertai dalih untuk menciptakan . seperti: pastiche. kitsch maupun camp. Penerapan produk tersebut dapat dimasukan sebagai fenomena-fenomena. disebabkan penenpatannya tidak sesuai dengan ketentuanketentuan yang telah terkonvensi. misalnya untuk kemegahan.

Entahlah ?.suasana tradisional Bali. Selama ini tindakan-tindakan tersebut dianggap sebagai sikap atau model pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang berkesinambungan. bagi para pembaca yang tertarik silakan diabadikan lalu kita bahas dari berbagai perspektif ilmu di lain kesempatan. sebenarnya kurang relevan kalau dikaitkan dengan makna yang dikandungnya. Terimakasih . Mereka dalam proses pengerjaannya hanya mengandalkan keahlian tangan atau virtuosity semata untuk menjadikan “mass product” dan didorong oleh keinginan pemenuhan kebutuhan para pengembang untuk menciptakan suasana dengan citra tradisional Bali. Usaha-usaha seperti tersebut secara tidak langsung juga dapat berdampak menghambat kreativitas para kriyawan untuk berkreasi dan berinovasi. Untuk contoh kasus yang sejenis masih banyak terjadi di masyarakat. “menduplikasi” atau meniru. sebab dalam proses penciptaannya hanya bersifat “mendaurulang”. Untuk itu. karena tanpa disadari dapat membawa dampak negatif —nilai simbolis yang dikandungnya menjadi sepele dan bahkan tanpa makna— terhadap konvensi yang diyakini oleh umat Hindu di Bali. meramu dan berorientasi pada elemen-elemen yang sudah ada.

1990. J. Apakah Upacara Baten Masih Perlu?. Jakarta: Hanuman Sakti . Denpasar: Upada Sastra. Jilid: 2. 1992. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Ariawati. I M. 1981. Kuala Lumpur-SingapuraDjakarta Cudamani. M. 1995. Yogyakarta: ISI. Oxford University Press / PT. 1994. Z. 1972. N. Singaraja: Percetakan Guna Agung.DAFTAR BACAAN Ardana. M. Island of Bali. E. 1990. Cassirer. Baudrillard. Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi. Buchori. IGN. Covarrubias. 1991. An Essay On Man. Bija. Pengantar Agama Hindu. For Critique of The Political of Economy of The Sign. Aji Maya Sandi. ____. Budaya Bali Dalam Pertemuan dengan Budaya Dunia. 1944. Indra. Upakara Upacara.1993. Denpasar: Bappeda Tingkat I Bali. I B. I. J. USA: Telos Press. S. Bagus. Data Bali Membangun. 1995. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). (makalah seminar). Yogyakarta. Aspek Desain dalam Produk Kriya. Yale University Press. Transformasi Struktural Masyarakat Bali Dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Couteau.

Studio Edition. 1953. Blomington. 1976. West Germany: Weiss Verlag Gmbh. T.L. A.). 1979.1963. dkk. Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Kecil. Book Company. Gelebet. U. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah. Buku Paider-ideran dengan Gambar Dewata Nawa Sanga dan Jimat-Jimatnya. 1978. Toronto. 1993. Signs and Symbols (Their Design and Meaning). “Pariwisata dan Segi Sosial Budaya Masyarakat Bali” dalam Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa (Tjok Sudharta. 1988.1989. Singaraja: Kementerian Penerangan. Woodcarving of Bali. Garis-Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). New York. Gie. Gambar. Inc. Indiana University Press. tt. Berkeley . . I M. Arsitektur Tradisional Bali. Ed. Kamus BaliIndonesia. Eco. N.0Freed dan Eiseman. Yogyakarta: Karya Yogyakarta. 1995.Dinas Pengajaran Propinsi Bali. Encyclopedia of World Art. Republik Indonesia (Sunda Ketjil). Geriya. 1981/1982. W. A Theory Of Semiotika. Margaret. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali. Frutiger. Encyclopaedia Britannica.Singapore: Periplus Editions. Lodon: McGraw-Hill. Denpasar: Upada Sastra. CD-ROM 2.

London. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia 1975. dkk. Hutcheon. Manusia dan Seni. H I. Kadjeng. Sarasamušcaya. Jessup. N. tt.1990. 1951. 1976. Yogyakarta: Kanisius. K. 1989. Gottschalk. Denpasar: Kartodirdjo. Kayumas. Frick. Sejarah dan Pendidikan Kriya di Indonesia. R. 1984. The New Classicism in Art and Architecture.(Makalah Seminar Kriya). 1985. 1987.1969. Atlas Kebudayaan Bali. Joedawinata. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (terjemahan). Kean. AS. L. A. Jakarta: PT. P. Gambar Lambang. Court Art of Indonesia. Goris. Jencks. Jakarta: Hanuman Sakti. Denpasar: CV.Ginarsa. Jakarta: Pemeritah Republik Indonesia. I. S. Oxford: University Press. MC. Kaler. Grafitas. Yogyakarta: ISI. Yogyakarta. C. London: Methuen. Hartoko. Krakah Modré Aji Griguh. L. 1990. Cultural Involution: Tourist Balinese and the Processs of Modernization in . Oxford Advanced Learner’s Dictionary. 1997. A Theory of Parody. New York: The Asia Society Galleries. I. 1973. Dkk. Hornby. N. 1993. Sejarah Nasional Indonesia. fourth edition. D.

No. Jakarta: (red) Jambatan.1979. Oxford: Basil Blackawell Lontar Bhomantaka. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. Jakarta: Balai Pustaka Kristeva. Bali dan Ekspor Hasil Kerajinan. 1976. 1986. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). ____.b.D. Denpasar: PT. . Edisi ke dua. Mantra.1988. H. ____. Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Daerah Bali dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas. Mahabhakti Offset.J. 1993. 1994. J. 1-2 Nopember 1988. 1995. Bernet. Darsana Bali. Jakarta:PT. Denpasar: Universal Press. Kamus Bahasa Indonesia.) USA: Anthropology. Bali: Masalah Sosial Baudaya dan Modernisasi. 1960: Bali Purbakala (disalin oleh: R. Denpasar: (makalah pada Simlok Penelitian Menyongsong Tinggal landas. Desire in Laguage: A Semiotic Approarch to Literature and Art. Pengantar Antropologi.Antropological Perspective (Disertation Ph. Koentjaraningrat. I MK. Kropak IV. A. ____. 1971. Jakarta: Angkasa Baru Kridalaksana. Brown University Kempers. Jilid: 2. Penerbitan dan Balai Buku “Ichtiar” Kerepun. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Soekmono). I B. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia.

Kamus Bahasa Besar Indonesia. 1982/1983. Usada Bali. S M. Bandung. Sejarah Bali. Bali Dalam Perspektif Sosial Budaya (laporan Seminar. Denpasar: PT.Mirsa. B. I G M. Oxford : The Clarendom Press. Pameran Topeng Tradisional Bali & Jawa Barat (Katalog Pameran). 1991. Doa Sehari-Hari Menurut Hindu. Jakarta: Balai Pustaka Monier. Jogyakarta: Gajah Mada University Press. et al. Edisi ke dua. sebuah Bunga Rampai). Museum Negeri Propensi Bali. Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Propinsi bali. Parisada Hindu Dharma. 1988. Ngurah. 1995. Denpasar: Parisada Hindu Dharma. R. H. Metode Penelitian Bidang Sosial. IGN. Upada Sastra. I. 8 Pebruari 1991) Bandung: Panitia Seminar. 1991. Kayumas. Peristiwa Sejarah dan Peristiwa Nostalgia. Himpunan Keputusan (SeminarKesatuan Tafsir Terhadap Aspekaspek Agama Hindu. Denpasar: CV. Oka. 1993/1994. 1990. Denpasar: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan. A Šanskrit English Dictionary. William. I Bali. Namawi. Tk. 1963. 1990. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia. . 1994. Pemda. Nyoka. 1982/1983. Nala. Denpasar: Toko Buku Ria. Jakarta: Hanuman Sakti. (dalam Puspanjali. Moeliono.

. 1990. 1988. Putra. S. 1994. 1977/1978. ____. New York: Anchor Books. Derektorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional. Santog. N. Jakarta: Hanuman Sakti. Sejarah Wayang Parwa. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Aspek-aspek Agama Hindu. A. I B. 1992.1993. Bagian Inventarisasi dan Pembinaan Nilainilai Budaya. Sejarah Pendidikan Daerah Bali. Denpasar: Listibya Daerah Bali. Balai Pustaka. Jajahitan Bali serta Fungsinya Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali. Notes on “Camp”. S. Denpasar: Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. G. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Diretorat Jenderal Kebudayaan. Pola dasar Kebijaksanaan Pembinaan Kebudayaan Daerah Bali.Pendit. I G. Denpasar: Upada Sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. G. Konsepsi Monotheisme dalam Agama Hindu. 1975. P. Wisma “Praja Mukti” Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Bhagavad-Gîtã.A. Serba Neka Wayang Kulit.A. Santosa. 1973. W. 1991/1992. Sara. Simpen. Bandung: Penerbit Angkasa. Seputar Weda dan Kebijakan: Jakarta : Manikgeni. Raka. Pindha. (Againts Interpretation).

M. I G B. Serba-serbi Semiotika. Jakarta: Balai Pustaka. Gita Karya. D. Soekanto. Rajawali. (Upacara-upakara. Suku Dayar San. at al. (Sejarah Nasional Indonesia I). Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuna. Suasthawa. Sugriwa. I. 1993. Sp. Soeroso. G. Denpasar: CV. P. 1988. Jakarta: Gramedia. Jakarta: PT. Committee of Festival of Indonesia. I N. Sudartha. 1975. 1988.P. Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni.1992. ____. Jaman Prasejarah Indonesia. R. 1986. Sudjiman. tt. Yogyakarta Soejono. Jakarta: CV. dimuat dalam Majalah Kebudayaan Indonesia. Seni Rupa Indonesia Dalam Masa Prasejarah. Kayumas. 1991. R. Kamus sosiologi. T. Arti dan Fungsi Sarana Upakara. Hakekat dan Makna serta Arti Simbol-simbol) Soedarso. . Kayumas. Seni Budaya Hindu-Bali.P.Trimurti Tattwa. M. Hubungan Adat Dengan Agama dan Kebudayaan.Singging. 1985. Soeka. S. Bandung: Panitia Pameran KIAS 1990/1991. 1990/1991. Denpasar: CV. Ngodalin pada Sanggah Pemrajan. Jakarta: Yayasan Penerbitan Kebudayaan. 1990. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. W.

Denpasar: Upada Sastra. G. 1991. Lintas Asta Kosali. Denpasar: B. Denpasar:Toko Buku Ria. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. Transkrip Lontar Šiwa Tattwa.b. Denpasar: CV. ____. I N. Kropak IV. Titib.1989. Burung Merah Putih (dimuat dalam surat kabar Nusa Tenggara. 1980. Kayumas. Eksistensi Desa Adat di Bali. Suwondo. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. K. Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali. Desain dan Merancang: Penjelajahan Suatu Gagasan. Kanda Pat Dewa. Transkrips Lontar Bhomantaka.1977/1978. 1991. No. Singaraja. B. Garuda. . Denpasar: Yayasan Panti Asuhan Hindu “Dharma Jati” Tjahjono. Denpasar: Upada Sastra Surpha. 1980.1982. Sutaba. B.U. I G. I A P. Koleksi Gedong Kertya. I M.Sura. Dewa Yadnya. Yayasan Purbakala Bali. Surayin. Pengertian Pura dan Bangunan Suci di Bali. 1995. Prasejarah Bali. Agama Hindu (Sebuah Pengantar). G. Kamis. 1993. Architrave Tonjaya. Denpasar: Penerbit dan Toko Buku Ria. I W. I M. 1987. 31 Agustus 1995) ____.

Wardana. Yogyakarta: Penerbit dan Toko Buku “Spring”. Widyatmanta. S. Webster. (Tentang Tanda. 1994.wikipedia. Adiparwa. (dimuat dalam Jurnal Kebudayaan Kalam edisi: 2-1994). Pengarang. A. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Tamasya di Antara Keping. 1981. (terjemahan). Buku Pelajaran Agama Hindu. Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. . R. Jakarta: CV. Semiotika. Wojowasito. 1995. Yasraf.s Collegiate Dictionary. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai) Jilid: 1. 1977.keping Masa Lalu. S. Jakarta: Yayasan Sumber Agung. A. M. Cara Kerja dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya). Decoding Postmodern Style (Submitted for a Mater Degree in Industrial Design) London: The London Institute Central Sain Martns College of Art and Design ____. 1958. 1994. S. Webster. Wikipedia . Penataan dan Perlembagaan Agama Hindu di Bali.org/wiki/Kerajinan Wiryatmadja.2010 Kamus Bahasa Indonesia online [cited 2010 Maret 18] Available at: URL: http: //id. 1993. USA Wiana. I K. Jakarta: Hanuman Sakti. P. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 1994.Van Zoest. IB. 1983. Memahami Cerita Rekaan Secara Semiotika.

. Myth and Symbols in Indian Art and Civilization. Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan. Denpasar. Yudoseputro. Derektorat Pendidikan Menengah Kejuruan. H. New York: Haeper Torchbooks The Bolingen Library.Yudha Triguna. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam “Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali (Sebuah Ontologi). Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. 1994. Denpasar: Penerbit-BP. Pergeseran dalam Pelaksanaan Agama Menuju Tattwa. IB. Zimmer. 1946. W. 1983: Seni Kerajinan Indonesia.