P. 1
Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisonal Bali Secara Eklektik

Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisonal Bali Secara Eklektik

|Views: 413|Likes:
Published by Faisal PartyDark

More info:

Published by: Faisal PartyDark on Jun 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2013

pdf

text

original

DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI SECARA EKLEKTIK PADA DESAIN MASA KINI
berdasarkan perspektif historis dan semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini Berdasarkan Perspektif Historis dan Semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn E-mail: arimbawa @yahoo.com Hak Cipta © 2010 Pada penulis Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara digital maupun mekanis, termasuk memfotocofy, merekam atau dengan system penyimpanan lainnnya, tanpa seizin tertulis dari penulis Desain cover & setiting : Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn 21 x 15 cm Penerbit : Udayana University Press Jimbaran Denpasar Bali Bekerja sama dengan: Intitut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar

ISBN: 978-602-8566-65-0

........ 128 . 116 2.. 122 BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI ……………………………… 128 A.... Konsep Sekular……………………………….……………………………… v PENGANTAR PENULIS……………………………. Pendekatan Historis……………………………... 28 A........ Pengertian Eklektik……………………………. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali…. 128 1. 19 A. 1 BAB II EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI………………………………………. viii BAB I PENDAHULUAN………………………………... 19 B.... 97 B. 115 1... Sejarah Penerapan Produk Kriya…………….... Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu ……………...... 52 BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA……………………………………………... 97 A. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali 21 BAB III PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI…………………………………. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya….. Pendekatan Semiotis…………………………… 100 C..DAFTAR ISI JUDUL………………………………………………… i DAFTAR ISI………………………………………….. 119 D..... iii SAMBUTAN .. Konsep Spiritual Religius…………………….. Kajian Historis………………………………….. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Ele-men Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini…….. 28 B.

... 157 1... 148 B.. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini…….. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu………………………….2...... 159 2... 161 DAFTAR BACAAN 168 ......... Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini…………………………………. Kajian Semiotis……………………………….

BAB I

PENDAHULUAN

etelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950, perkembangan pariwisata di Bali kembali mengalami kebangkitan dan hingga sekarang menjadi pusat pengembangan industri pariwisata di kawasan tengah Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut, pengaruh pariwisata sangat dirasakan oleh masyarakat di Bali. Di satu sisi banyak prestasi gemilang yang telah diraih dan secara tidak langsung dapat membawa kehidupan masyarakat di Bali menjadi lebih baik, namun di sisi lain pengaruh tersebut tidak dapat dielakkan lagi menimbulkan dampak negatif dan menjadi masalah terhadap kelestarian kebudayaan Bali. Nilai-nilai tradisional banyak menjadi tidak eksis dan bahkan menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antar manusia sebagai konsekuensi logis adanya aktivitas pariwisata. Hubungan sosial antar manusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi dan kepentingan. Budaya kolektif berubah menjadi individual. Menurut Geriya (1993), bahwa dampak pariwisata khususnya dalam konteks sosial budaya ditandai dengan adanya beberapa indicator sebagai berikut.

S

1. Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan terkonsentrasi di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut. 2. Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. 3. Meningkatnya mobilitas penduduk dalam bekerja. 4. Mundurnya aktivitas gotong royong. 5. Berkembangnya konflik antargenerasi, khususnya generasi tua dan generasi muda. 6. Terjadinya gejala social defiance yang meliputi kejahatan, narkotika, maupun penyakit kelamin. 7. Terjadi komersialisasi kebudayaan dan hasilnya. Mengenai indikator pada poin ketujuh merupakan salah satunya masalah terkait dengan eksistensi kehidupan kebudayaan tradisional Bali. Hasil kebudayaan unggul (height culture) hendaknya diposisikan sebagai basis kreativitas yang kaya inspirasi, kokoh identitas, kuat modal budaya yang mengkonstruksi, mengintegrasi dan menyeimbangkan, sehingga tidak tergerus oleh mekanisme komersialisasi dan komoditisasi. Antara kebudayaan tradisional Bali dan penciptaan desain produk masa kini agar terjaga pola hubungan sinergis, komplementer yang simetris dan saling meningkatkan. Hal tersebut menjadi penting, mengingat hasil kebudayaan unggul memiliki karakteristik sebagai ber-

ikut: (1) mengedepankan kualitas, sehingga diagungkan dan dimuliakan (adhiluhung); (2) menjadi sumber inspirasi atau spirit dan kreasi oleh mayoritas populasi dan perajin; (4) memiliki sifat khas, lentur dan adaptif dengan roh budaya; (5) mengandung sari-sari budaya dan peradaban, seperti etika, estetika, logika, solidaritas, spiritualitas dan aneka kearifan lokal. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Mantra (1988) bahwa kebudayaan Bali dalam perkembangannya berfungsi secara “normatif” dan “operasional”. Berfungsi normatif, karena terkait dengan adat-agama Hindu di Bali, maka peranan kebudayaan Bali diharapkan mampu dan berpotensi memberikan pegangan dasar dan pola pengendalian, sehingga ketahanan dan kelestarian budaya dapat diwujudkan. Berfungsi operasional, karena kebudayaan Bali diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi peningkatan kualitas kepariwisataan di Bali. Upaya mewujudkan ketahanan dan kelestarian kekayaan budaya serta alam Bali, maka pada beberapa dasawarsa silam, pemerintah daerah Tingkat I Bali dalam melaksanakan pembangunan yang mencakup berbagai sektor dirumuskan peraturan-peraturan daerah yang diarahkan pada pembangunan dengan pola budaya Bali, berwawasan lingkungan dan dilandasi dengan konsep adati-Hinduisme, seperti: 1. Rwa Bhineda, yaitu dua hal yang berbeda terdapat di dunia ini. Bagi orang Bali perbedaan tersebut tidak harus dipertentangkan, melainkan

sesuai dengan yang termaktub dalam Kitab Sarasamušcaya. siang atau malam. seperti suka dan duka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Artinya: dua hal yang berbeda. maka dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. dan sakral atau profan. selaras dan seimbang). Oleh sebab itu. merupakan kekuasaan Sang Hyang Widhi Waša atau Tuhan. dituntut bijak. . sehingga segala makhluk tidak luput dari ikatan suka maupun duka (Kadjeng. Konsep tersebut memberi kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan tidak luput dari belenggu dikotomi yang bersifat kodrati. seperti: baik atau buruk. Hal tersebut. menghidarkan tindakan yang arogan dan harus berdasarkan nalar atau wiweka. yaitu kemampuan untuk menimbang konsekuensi baik atau buruk yang akan berpengaruh pada manusia dan lingkungan.diharmoniskan (serasi. prãptavyamavašaih sarva parihãro na vidyate.) Sebagai manusia dengan berbagai keterbatasan. seloka: 498. kebolehan dan kemampuan sebenarnya sangat sulit untuk menentukan batas absolut dua hal tersebut. 1993. nyata atau tidak nyata (sekala atau niskala). yaitu sebagai berikut: sukha vã yadi vã duhkham bhûtãnãm paryupasthitam. pria atau wanita.

’ yang berarti: menjunjung. artinya empat tujuan hidup sebagai dasar kehidupan sosial. memangku. ‘dhir. Artha. Dari keempat tujuan hidup tersebut. moksartham jagadithya ca iti dharma. sesuai dengan pen- . Sedangkan dharma adalah tujuan terpenting. artinya tujuan dharma adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani yang selaras dan seimbang. artha. berarti naluri. moksa adalah merupakan tujuan hidup yang tertinggi. rasa bersahabat. Keempat bagian tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh. Catur Purusha Artha. kãma dan moksa. adil. berasal dari Bahasa Šanskerta. sebab dengan perbuatan yang dilandasi dengan dharma. memelihara dan melestarikan. yaitu terdiri dari: dharma. dorongan nafsu atau keinginan yang bersifat duniawi. karena merupakan kebahagian sejati.2. Kãma. Sedangkan perkataan Moksa. maka tuntutan akan artha dan kãma dapat dikendalikan. Perkataan dharma. artinya benda atau sarana yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. mengatur. menuntun. Hal tersebut. berasal dari bahasa Šanskerta. ‘Muc’ yang berarti membebaskan atau melepaskan ikatan duniawi.

merupakan tiga ukuran yang dapat dipakai seba- .) Konsep tersebut merupakan panduan absolut bagi manusia untuk membina keseimbangan dan keselarasan antara alam sekala dan niskala. hendaknya manusia mengendalikan diri dan lebih mengutamakan perbuatan dharma. untuk mencapai jagaddhita atau kebahagian dan kesejahteraan hidup. Hal tersebut merupakan suatu penafsiran atau fatwa agar manusia senantiasa memelihara dan melestarikan alam semesta yang mencakup bhuana agung (makrokosmos) serta bhuana alit (mikrokosmos). yaitu sebagai berikut: Kamãrthau lipsamnastu dharmmamevãditašsaret. Dalam usaha memenuhi tuntutan artha dan kãma. Tidak ada artinya. nantinya tak disangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kãma. bila artha dan kãma tesebut diperoleh dengan perbutan yang menyimpang dari dharma (Kadjeng. Desa Kala Patra. hendaknya mengutamakan dharma. seloka: 12. 3. adalah bagian dari Tri Pramana dalam lingkup perilaku manusia. Artinya: jika menuntut artha dan kãma dalam hidup ini. nahi dharmmãdapetyãrthah kãmo vapi kadãcana.jelasan dalam Kitab Sarasamušcaya.1993.

Dua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik dan marupakan “hukum” dan telah dipercayai umat Hindu di Bali.gai pedoman untuk menilai kenyataan Rwa Bhineda. khususnya dalam mengambil sikap. Kala merupakan pedoman berdasarkan waktu perbuatan atau aktivitas tersebut dilakukan. Desa dalam konteks perilaku manusia merupakan pedoman berdasarkan tempat atau lingkungan di mana perbuatan tersebut dilakukan. Konsep tersebut memberikan landasan ideal yang luwes atau fleksibel. 4. yaitu terdiri dari kata Karma yang artinya perbuatan dan Phala artinya buah atau hasil. Sedangkan Patra merupakan pedoman berdasarkan “keadaan” atau peraturan tertulis yang berlaku. kesejahteraan umat manusia dan kelestarian lingkungan. sehingga tercipta kesatuan pandang dan keadaan yang mengarah pada kedamaian. Manusia hendaknya mampu menyesuaikan dengan waktu. keputusan atau kebijakan yang akan diberlakukan dalam masyarakat. bahwa semua perbuatan manusia pasti akan memperoleh hasil yang setimpal (inter- . tempat atau lingkungan dan keadaan atau peraturan yang telah berlaku. Karma Phala. Jadi Karma Phala mengandung arti: hasil dari perbuatan. peraturan. kenyamanan.

hukum tersebut dikenal dengan perkataan Rtã dan dijelaskan sebagai berikut: Tã vãm vivaya gopã Deva dikesu yajñiyã rtãvãnã yajase putadaksasã. keseimbangan dan menghindari kekacauan alam semesta. baik di dunia nyata (sekala) maupun di akhirat (nis-kala). 25. Jadi. Dalam Kitab Reg Veda VII. Hukum Karma dikenal pula sebagai hukum alam atau kausalitas dan tak seorang pun luput dari hukum tersebut. sebaliknya perbuatan buruk akan memperoleh hasil yang buruk. konsep tersebut melandasi sikap antisipatif. pengendalian atau restraint dan pembinaan moral dalam segala perilaku manusia sehari-hari. perbuatan baik selalu akan mendatangkan hasil yang baik. 1. Jadi.aksi yang seimbang). Konsep yang dilandasi Karma Phala. Artinya: Kami memuja engkau yang menjaga alam semesta. Hukum tersebut mengatur keterpaduan. baik antar sesama sebagai sum- . Menanamkan kepercayaan bahwa. Dewa yang tersuci penegak hukum keabadian yang memiliki kekuatan suci. memberi pendirian terhadap hukum kausalitas yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini. juga sebagai hukum jagat raya. hukum Rtã selain sebagai hukum perbuatan serta hukum moral.

(2) Pola hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya disebut Palemahan. Secara keseluruhan Tri Hita Karana mengandung pengertian: tiga penyebab terciptanya keselamatan. 5. Perkataan tersebut terdiri dari kata ‘Tri’ berarti tiga. Esensi dari konsep tersebut merupakan sinergisme yang meliputi pembinaan hubungan yang harmonis. Membatasi eksplorasi dan ekploitasi alam. (3) Pola hubungan manusia dengan manusia disebut dengan Pawongan. artinya manusia hendaknya selalu merawat dirinya sendiri dan menjaga. selamat atau kemakmuran dan ‘Karana’ berarti penyebab. ‘Hita’ berarti sejahtera. Tri Hita Karana.ber daya manusia. Terdiri dari: Parhyangan. artinya manusia dalam kehidupanya hendaknya selalu dapat menjalin rasa persahabatan . maupun dalam memperdayakan sumber daya alam. memelihara kelestarian alam disekitarnya. selamat dan sejahtera. Palemahan dan Pawongan. artinya manusia hendaknya selalu sujud kehadapan-Nya atas segala rahmat dan karunia-Nya. sehingga tercipta kehidupan yang sehimbang. baik secara vertikal maupun horizontal. kesejahteraan atau kemakmuran. yaitu: (1) Pola hubungan manusia dengan Tuhan disebut Parhyangan.

6. Jika menyakiti orang lain secara implisit berarti menyakiti diri sendiri. bahwa perkataan etos yang terkait dengan kebudayaan berarti: sifat. terutama dalam menciptakan produk-produk seni bermutu tinggi. Pengertian “itu” termasuk “aku” dimaksudkan diri sendiri dan alam semesta beserta isinya. (2) karakter umum suatu pekerjaan (Soekanto. 1985) Sedangkan jengah dalam Bahasa Bali berarti: semangat juang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan.yang didasari dengan saling pengertian dan Tãt Twãm Ãsi. berarti: (1) nilai-nilai dan ide-ide suatu kebudayaan. Kalau ditambah dengan kerja. Twãm artinya “kamu” dan Ãsi artinya “adalah”. Dalam konteks seni Budaya Bali. Jadi secara keseluruhan berarti “itu adalah kamu”. kata jengah berkonotasi sebagai . nilai dan adat-istiadat yang khas serta memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial di masyarakat. 1994) Demikian juga secara Sosiologi. Etos Kerja dan Jengah atau semangat kerja. berarti semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Secara harfiah terdiri dari kata: Tãt artinya “itu”.

Estetika. dinamis dan kebersamaan dalam pembangunan disegala sektor. Sedangkan dalam perkata jengah secara implisit tersirat sifat dinamis dan merupakan pangkal dari segala dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat di Bali. Konsep tersebut merupakan landasan dari kerja keras. Tetapi kedua hal tersebut perlu diarahkan. adalah semangat kerja yang dilandasi dengan gotong royong serta berbakti dengan cara yang tulus iklas atau ngayah kepada Tuhan berserta ciptaannya.“semangat bersaing” atau competitive pride (Mantra. maka sifat khas atau semangat kerja yang dimiliki masyarakat dalam lingkungan adat Bali. 1993) Dari pengertian etos kerja tersebut. baik keindahan alam maupun keindahan hasil olah cita. rasa dan karsa manusia yang muncul akibat perpaduan antara keserasian keselarasan dan keseimbangan dalam suatu pro- . 7. sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian serta dalam mengeksploitasi sumber daya alam akan dapat diharapkan terwujudnya kelestarian. yaitu dalam bentuk pengorbanan suci atau Yajña. Bagi orang Bali keindahan. diakomodasikan dan dikendalikan dengan konsep tersebut sebelumnya.

maupun pada produk seni atau produk kriya tradisional yang adiluhung. Pandangan tersebut sesuai dengan yang dijelaskan Gie (1976) bahwa keindahan dalam arti luas mencakup pula ide kebaikan (mengacu pada pengertian bangsa Yunani kuno. karena bagi umat Hindu di Bali dipercayai bahwa dalam keindahan tersirat nilai-nilai kebaikan. karena . seperti Plato menyebut ‘watak indah’ atau ‘hukum indah’ dalam konteks tersebut. Oleh sebab itu. baik terlihat di alam sebagai ciptaan-Nya yang agung. kejujuran dan kebenaran. Sehingga dengan melakukan persembahan keindahan berarti berbuat yajña. keindahan merupakan hal pokok yang harus diperhitungkan. sebagai rasa terimakasih. dan menghargai keindahan. seni dengan keindahan hendaknya dipersembahkan kembali kepada-Nya dalam produk seni ataui desain berbentuk simbol-simbol atau nyasa. maka dalam setiap kegiatan adat-agama Hindu di Bali. Dengan pandangan tersebut. maka pengertian indah akan menyiratkan nilai kejujuran dan kebaikan. Konsep tersebut juga merupakan pedoman bagi generasi penerus dalam menghayati menikmati.duk seni atau desain adalah merupaka karunia Tuhan.

baik dengan Tuhan. Dalam kaitannya dengan pelbagai aktivitas budaya Bali. 1993) Konsep tersebut menuntun kesadaran manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. keindahan dan mujizat. yang memberi kekuatan spiritual kepada seorang seniman untuk mengungkap dirinya menjadi “lebih besar” dari kehidupan sebelumnya (Mantra. Seorang seniman tari dapat dikatakan memiliki taksu. Mengajarkan manusia agar berbuat dengan mengarah pada keselarasan. dan keseimbangan. apabila ia mampu mentransformasikan dirinya secara utuh sesuai dengan peran yang ditampilkan. Taksu.di dalamnya tersirat nilai-nilai luhur. taksu juga mempunyai arti sebagai kreativitas murni. Seorang perupa dikatakan produknya ber-taksu. sesama mahkluk maupun dengan alam di sekelilingnya. sebab setiap insan memiliki taksu sebagai anugrah Tuhan yang perlu dilatih dan dikembangkan. 8. sehingga berkesan “hidup” . apabila mampu merefleksikan inner power pada produk visualnya. merupakan personal asset atau inner power yaitu kekuatan dari dalam diri seseorang sebagai fitrah yang memberikan kecerdasan. keserasian. genuine creativity. sehingga tetap tercipta “keindahan”. sehingga dapat tampil sebagai jati diri yang mandiri.

perlu juga ditopang atau dikendalikan oleh konsep-konsep lainnya yang telah dipaparkan. atau jangan sampai melewati batas norma-norma yang berlaku. yaitu jenis kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu sebagai potensi daerah yang paling dominan. “over acting”. Dalam konsep tersebut secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. sela- . secara yuridis berdasarkan Perda Nomor 3 tahun 1974 juncto Perda Nomor 3 tahun 1991 yang menetapkan bahwa konsep pengembangan pariwisata di Bali adalah berbasis budaya Bali. Demikian juga pengembangan pariwisata di daerah Bali. kadang dapat menjadi bumerang.dan sebagainya. sehingga tidak terjadi penampilan yang terlalu berlebihan. Karena sikap tersebut. Namun dalam mensosialisasikan kesadaran tersebut. Konsep pariwisata budaya diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan kebudayaan masyarakat Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. Taksu yang dimiliki akan berubah menjadi “kelemahan”.

Namun pada kenyataannya tak jarang ditemukan juga “ketidaktaatan” dalam operasionalnya. maka fenomena tersebut merupakan suatu pergeseran makna dan dapat berakibat terjadinya “desakralisasi”. rumah tinggal dan bahkan sebagai hiasan pada bagian tubuh dengan di-tatto. Sebagai salah satu contoh yang dapat dijumpai dalam dasawarsa belakangan ini. Diupaya agar meminimalkan timbulnya dampak negatif terhadap kelestarian seni budaya Bali. Walaupun sedemikian luhurnya maksud dan tujuan konsep yang melandasi strategi pembangunan di Bali. sekarang banyak terlihat diterapkan sebagai elemen estetis pada hotel. seperti fenomena eklektik atau “pemilihan” bentuk-bentuk atau ragam hias tradisional Bali yang sebenarnya dirancang dengan bentuk. Kalau dikaji dari sudut kesejarahan dan semiotika. narasi. Karang Bhoma yang sebenarnya merupakan ragam hias pada bangunan-bangunan suci. dan nilai-nilai estetika yang khusus untuk diterapkan pada sarana pemujaan dan dianggap mengandung nilai simbolis dan sakral. karena dalam pengerjaannya tidak mengacu pada referensi kesepakatan yang dibuat . Produk yang dibuat tersebut kadang-kadang menampakan “kejanggalan”. isi (content) atau bobot. perkantoran. Misalnya. dan seimbang. namun kini banyak tampak diterapkan pada desain produkproduk profan atau tempat-tempat yang tidak sesuai.ras. pengkaburan makna dan berkonotasi negatif.

Menyikapi kondisi tersebut dalam masyarakat Bali terjadi polarisasi pandangan. tanpa peduli akan terjadi pelunturan nilai-nilai filosofi. Produk yang tergolong high art sebagai hasil kebu- . Mereka memilih dan menerapkannya pada produk atau tempat yang bersifat profan dengan tendensi lebih mengutamakan segi pemampilan “artistik” semata. Jelas tidakan tersebut tidak relevan dan merupakan suatu sikap “ketidaktaatan. Jika ditinjau kembali dengan merujuk konsep estetika yang mendasari strategi pembangunan di daerah Bali. Namun jika ditinjau dari sudut visualnya sebenarnya implementasi tersebut tidak sesuai dan dapat berdampak buruk. sementara ada yang berpendapat bahwa hal tersebut “sah-sah” saja tergantung pada proses pengerjaannya. baik terhadap produk yang dipilih dan demikian juga terhadap desain yang diberi elemen estetis produk kriya tradisional yang sarat makna religius.oleh leluhurnya di masa lalu dan nilai-nilainya masih eksis pada masyarakat Hindu di Bali. Dalam penerapan elemen estetis tradisional pada desain masa kini. Penerapannya sematamata berorientasi pada faktor estetis dan komersial. terutama yang terkait dengan nilai-nilai simbolis religius yang dikandungnya. di lain pihak ada yang memandang sebagai sesuatu yang baku dan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang keliru. mereka kadang-kadang tidak mempersoalkan masalah eksistensi makna dan nilainilai filosofi yang dikandungnya.

secara umum dapat digambarkan dalam suatu sekematik hubungan hirarki atau taksonomi pandangan tentang dunia (weltanschaúung) manusia Bali seperti Gambar 1 berikut: .dayaan tinggi atau high culture yang adiluhung. menjadi kehilangan ‘jiwa’ kesuciannya atau menjadi suatu produk yang lumrah. bahwa “masyarakat Bali” dalam mengaplikasikan konsep-konsep adati Hinduisme yang kini dijadikan sebagai landasan strategi pembangunan di daerah Bali. Sikap seperti tersebut tanpa disadari dapat mengancam spirit dan kelestarian budaya Bali yang dibanggakan dan dijadikan sebagai daya tarik utama dalam pengembangan kepariwisataan di Bali Dari uraian tersebut dapat diketahui. khususnya dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan elemen estetis produk kriya tradisional.

NISKALA ASUMSI DASAR THEOLOGICAL CONCEPT KARMA PHALA RWA BHINEDA SIO NAL (HIDUP DI B U ER A MI) OP FORMITAS TOTAL KON CATUR PURUSHA ARTHA KEINDAHAN ("RASA") TAKSU TRI HITA KARANA DESA PATRA KALA JENGAH ETOS KERJA SKALA ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYATRADISIONAL MASA LALU DI BALI EXTERNAL (SUB SISTEM) PENGARUH -PARIWISATA -MODERNISASI /TEKNOLOGI DESAIN MASA KINI BERSIFAT KOMERSIAL: .CITRA TRADISIONAL PENUNJANG KEPARIWISATAAN DI BALI Gambar 1: Taksonomi Pandangan Dunia Manusia Bali .

dan dalam Moeliono. et al. (1994).1995). baik berupa orang. diartikan bahwa eklektik sebagai usaha memilih atau menggunakan bermacam-macam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya. metode. eklektik merupakan praktek memilih doktrin dari beberapa sistem yang berbeda tanpa memakai keseluruhan sistem yang lama untuk masing-masing doktrin.EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. sistem. atau gaya. 1983. 1989). Perancis. Berbeda dengan sinkretisme —merupakan suatu usaha untuk menyerasikan. suatu usaha bersifat BAB II P . kepercayaan dan sebagainya (Hornby.) Dalam filosofi dan teologi. perkataan eklektik mengandung pengertian. 2) mengkomposisikan beberapa elemen yang diambil dari berbagai sumber (Webster. eklegein berarti:1) memilih yang dipandang terbaik dari berbagai doktrin. perpaduan atau mengkombinasikan beberapa sistem— karena masih meninggalkan kontradiksi yang belum dihilangkan (Encyclopaedia Britannica . Pengertian Eklektik erkataan eklektik dalam bahasa Yunani disebut eklektikos. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary.

Bahkan pada perkembangannya dalam seni dan desain. Hal tersebut juga sesuai dengan konsep Charles Jencks yang menggunakan pengkodean ganda atau double coding dan eklektik digunakan untuk menerangkan hakekat produk post modernisme. memadukan gaya modern dan tradisional. Dalam seni dan desain. Jadi. namun bukan berarti eklektik tidak unik. istilah eklektik dikenal sebagai upaya untuk mencampur atau meramu beberapa gaya yang berasal dari berbagai sumber dalam satu produk. namun gaya eklektik merupakan olah image dari perpaduan berbagai gaya.memilih yang terbaik dari berbagai sumber tentang: orang. Justru dengan perpaduan berbagai macam gaya akan melahirkan satu nuansa baru yang jelas berbeda dengan gaya-gaya sebelumnya. seperti elemen-elemen estetika tradisional) agar dapat berkomunikasi dengan publik dan . Dalam hal tersebut ia mendefinisikan postmodern sebagai” kombinasi teknik-teknik modern dengan sesuatu yang lain. sebenarnya eklektik tidak memiliki prinsip khusus dalam kreativitasnya. gaya atau metode. Misalnya. maka dapat dipahami. eklektik lebih merujuk pada perpaduan antara beberapa gaya yang saling bertolakbelakang. Meski terkesan tidak memiliki prinsip. Dari uraian tersebut. bahwa eklektik tidaklah selalu menghasilkan sesuatu yang bersifat “merusak” norma-norma masa lampau akan tetapi dapat juga berarti sebagai bentuk “penghargaan” atau produk “nostalgia”.

B. dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya. akan dicoba mengkaji mengenai dampak “negatif” yang ditimbulkan akibat eklektisme yang kurang terkendali.1987). Hal tersebut. bahwa per- . kriya dan kerja dalam bahasa Jawa disebut pekaryaan yang berarti pekerjaan dan pengertian tersebut mengacu kepada hasil suatu pekerjaan yang disebut ‘karya’. 1977) dan menurut Moeliono. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Kata kriya atau kria berasal dari bahasa Sansekerta “kr” yang berarti ‘mengerjakan’. bahwa kriya berarti pekerjaan atau perbuatan (Wojowasito. kembalinya nilainilai tradisional dan juga reaksinya yang justru menekankan bentuk-bentuk baru yang radikal dan menentang seluruh ekspresi kesenian yang dianggap ideal dalam bingkai high art Berdasarkan pada pengertian tersebut. Perkembangan yang menampilkan multivariousness. mengingat unsur-unsur produk kriya masa lalu yang “dipilih” terkait dengan sarana penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu sesuai dengan adat di Bali dan nilainilainya masih diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali.minoritas yang terkait” (Jencks. maka dalam pembahasan selanjutnya mengenai masalah penerapan elemen produk kriya tradisional secara eklektik pada desain masa kini. et al (1994) dijelaskan. Dalam Kamus Bahasa Kawi Indonesia dijelaskan.

Pengerjaannya bisa saja menggunakan bantuan peralatan kerja. Sehingga kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan yang memungkinkan melahirkan nilai seni terapan atau dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini. Dalam Encyclopedia of World Art (1963) didefinisikan sebagai berikut: The word “handicrafts” refers to useful or decorative objects made by hand or with tool by workman who has direct control over the product during all stages of production. Pengertian kriya sering diselaraskan pengertian handicrafts. namun sepanjang proses pembuatannya si pembuat atau kriyawan sepenuhnya dapat menguasai seluruh tahap produksi. maka cakupan kriya memiliki fleksibilitas yang . bahkan untuk tujuantujuan tertentu dapat diciptakan peralatan khusus.kataan kriya berarti pekerjaan tangan. Atas dasar hal tersebut. Pengertian kriya juga sering dipadankan dengan istilah craft yang mengandung pengertian suatu keahlian atau keterampilan yang menghasilkan benda. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek yang bernilai seni dan miliki nilai estetis. Menurut Soedarso (1988) kriya adalah cabang seni rupa yang mengutamakan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi. Istilah tersebut dipergunakan untuk menyebut suatu cabang seni yang mengutamakan keterampilan yang luar biasa (virtousity) menggunakan tangan.

bisa berada pada domain seni murni atau seni pakai atau seni terapan atau desain. Jadi orientasi penciptaan produk mencerminkan kecenderungan-kecenderungan kepada salah satu dari kedua hal tersebut atau terkadang dapat merupakan perpaduan seni dan desain. karena sumberdaya manusia pelaku kegiatan tersebut umumnya rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan atau konsisten berbasis pada estetika tradisional. handicrafts atau craft adalah: 1. maka dapat disimpulkan. Bersifat dekoratif atau secara visual dibuat sangat indah dan dalam perujudannya dapat berupa produk seni murni atau seni terapan atau desain yang memiliki fungsi guna atau utility. Hal tersebut ada benarnya. Sesuatu yang dibuat dengan kecenderungan lebih banyak melibatkan kemampuan atau keahlian tangan kriyawan atau virtousity 2.tinggi. Sedangkan pada masyarakat umumnya kriya sering disebut sebagai “seni rakyat”. bisa memiliki ciri khas atau identitas. Kriya juga disebut “industri rumah-tangga” atau home industry yang memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan . Berdasarkan beberapa definisi dan ulasan tersebut. Hal tersebut membawa cara penilaian atau assessment estetika produk kriya tergantung dari wawasan atau persepektif ilmu yang dipergunakan untuk mendekatinya. bahwa pengertian kriya.

Produk yang dihasilkan dapat berupa hiasan atau benda seni maupun barang pakai (Wikipedia. Selain hal tersebut seni kriya juga sering didekatkan dengan istilah “kerajinan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan. Namun antara seni kriya dan kerajinan secara prinsip terdapat perbedaan. sehingga sebutan jenis kerajinan dikaitkan dengan medium yang digunakan. maka dapat dipahami bahwa antara kriya dengan kerajinan memiliki kesamaan ditinjau dari proses pengerjaannya dan pencapaian hasil. juga berarti industri kecil small scale industry yang membuat barang-barang sederhana dan bisa menggunakan unsur seni. 2010). Karya kriya me- .peralatan sederhana. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata. seperti: kerajinan logam. Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. Menurut Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan bahwa kerajinan adalah proses produksi melalui keterampilan tangan. didalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skil yang tinggi craftmenship. yaitu samasama menggunakan keterampilan tangan dalam proses pengerjaannya dan benda yang dihasilkan dapat berupa produk seni atau produk pakai yang mengutamakan kegunaan atau utility. Selain hal tersebut. Berdasarkan pengertian tersebut. batik dan sebagainya. kulit.

karakteristik. yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. Kerajinan suatu hal yang rajin. simbolis.rupakan karya yang memiliki keunikan. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. di dalamnya terkandung muatan-muatan atau nilai estetik. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsur seni. pikiran. filosofis dan sekaligus fungsional. Sebab pada masa lampau. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan. Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat. angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas dan mencerminkan jiwa zaman lampau. serta magis. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). para kriyawan menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. komologis. kegiatan. barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. religius. Dalam Konsep tersebut termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual. yang kemudian disebut seni kerajinan . kegetolan.

di sisi lain. Perkembangan karya menampilkan multivariousness. Selain hal tersebut juga terjadi reproduksi karya masa lalu yang diwarisinya dengan tujuan untuk menampilkan karya kriya etnis. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang membuat seni kriya mengikuti nazab seni yang sedang berkembang. teknik. Menurut Julian Stallabrass dalam "Contemporary Art" mengatakan bahwa sekarang ini bermacam-macam bentuk.Dewasa ini penciptaan produk kriya di satu sisi mengarah pada estetika plural. seperti karya kriya kontemporer. Sebutan "kriya kontemporer" (yang merupakan padan kata dari contemporary craft) sendiri sebenarnya mengandung paradoks karena di satu sisi ia menempatkan dirinya pada suatu kategori "kriya" (craft) yang berseberangan atau setidaknya terpisah dari "seni" (art). di mana pembedaan kategori dianggap tidak berlaku lagi. Kecenderungan saat ini mengusung pemahaman bahwa media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. Namun. Sekarang jamannya permainan tanda-tanda budaya glo- . dan subject-matter dalam seni rupa sudah benar-benar campuraduk. Dalam kreativitas penciptaan karya kriya. sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa kriya seni. sebutan kontemporer seolah mengacu pada paradigma seni masa kini yang dilandasi pandangan postmodernisme. terjadi gejala mempertontonkan identitas invidual.

bal yang melingkupi budaya tradisi. Bertolak dari uraian tersebut. Produk seni kriya dapat mengambil posisi strategis di tengah mengeliatnya isu seni rupa kontemporer dan pasar seni rendah dengan kuantitas massal. Seperti diuraikan pada BAB III berikut. . produk kriya diciptakan mengarah pada “komersialisasi” produk dan dianggap sebagai barang komuditi yang memiliki milai ekonomis. adiluhung dan terkait erat dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. maka yang dimaksud dengan elemen estetis produk kriya tradisional Bali adalah mengenai unsur-unsur atau bagian-bagian yang mengandung nilai-nilai estetik. merupakan hasil pekerjaan tangan para kriyawan secara konvensional. simbolik. filosofis. Estetika menjadi praktik normatif dalam menciptakan unique selling point. Untuk lebih jelasnya nilainilai yang dikandung dalam produk kriya dapat ditelusuri dari perkembangan penciptaan produk kriya. bersifat tradisional. maka parameter pengukur nilai estetika produk kriya adalah uang. Dalam kaitan tersebut. budaya modern dan budaya masa kini. dan sakral. kosmologis.

Namun berdasarkan benda etnologi yang tersimpan di Museum Bali. tidaklah mungkin dapat dipaparkan secara kronologis. seperti tingkat peradaban. karena keterbatasan referensi dan data berupa artifak-artifak yang ada. akurat dan tuntas. Bedulu. maka secara sinkronis atau berdasarkan penggalan sejarah dapat ditelusuri sebagai berikut: . Penggunaan dan penciptaan produk kriya tradisional Bali dewasa ini adalah merupakan bagian dari mata-rantai sejarah perkembangan kebudayaan Bali sejak berabad-abad yang silam. Denpasar. dinamika dan perubahan lingkungan budaya internal maupun eksternal. BAB III P Sehubungan dengan hal tersebut.PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI A. Tingkat perkembangannya ditentukan oleh berbagai faktor. maka dalam penelusuran perkembangan dan motivasi penciptaan produk kriya dalam masyarakat Hindu di Bali. Gianyar dan didukung dengan beberapa buku yang terkait. Sejarah Penerapan Produk Kriya emaparan produk kriya di Bali secara hitoris mengenai awal penciptaan dan penggunaan-nya dalam kehidupan masyarakat di Bali adalah merupakan hal yang sangat sulit diungkap secara tuntas. Museum Gedung Arca.

Kejadian-kejadian tersebut. berpindah-pindah. sebagai pemburu dan peramu. timbulnya api. tulang binatang.1. Seperti terjadinya kelahiran. angin. Zaman Pra-Hindu. kematian. mengembara. Dalam melakukan aktivitas hidupnya didukung dengan peralatan kerja berupa produk kriya terbuat dari ranting kayu. penduduk yang menghuni pulau Bali masih hidup dengan pola nomaden. hujan. petir. sehingga hasil produk yang ditinggalkan tampak relatif masih kasar. memohon keselamatan dan memuja atau percaya dengan kekuatan alam. tanduk dan batu yang dikerjakan dengan cara sangat sederhana. Pulau Bali —seperti halnya beberapa pulau lain di Nusantara— dihuni oleh penduduk yang tergolong ras Negrito yang mengusung kebudayaan Paleolitikum (Koentjaraningrat. 1971). kejadian gunung berapi. dan sebagainya. tanah longsor. gangguan binatang buas. seperti berupa kapak batu yang tergo- . membuat mereka harus waspada dan seolah-olah selalu dibayangi oleh perasaan takut. Sebelum kedatangan gelombang migrasi bangsabangsa pendukung kebudayaan Neolitikum dan Perunggu dari dataran Asia Tenggara. Dalam terminologi antropologi disebut dengan kepercayaa animisme dan dinamisme. Pola pikirnya masih terbatas pada tingkat pemenuhan kebutuhan hidup berupa makanan dan belajar secara alamiah dari gejala-gejala atau kejadian-kejadian alam yang pernah dialaminya. Pada saat tersebut.

seperti: di daerah Sembiran. di Gua Seloding. Badung ditemukan beberapa buah sudip dan tiga buah alat tusuk terbuat dengan tulang binatang atau tanduk rusa dan di daerah lainnya. Gambar 2: Kapak perimbas dari batu peninggalan zaman Palaeolithikum (Zaman Batu Tua) . kapak genggam dan sebagainya.P.long jenis kapak perimbas. Soejono. Di antaranya berhasil ditemukan Bali oleh R. Buleleng. desa Pecatu.

Gambar 3 Kapak Gengngam dari Batu Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda Gambar 4 Kapak dari Batu Bertangkai Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda) .

belum tampak usaha untuk memperindah penampilan dan kenyamanan (ergonomis). Penduduk Bali secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup nomaden. mulai hidup bertempat tinggal di suatu daerah dengan batas-batas wilayah tertentu yang disebut pedukuhan. diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2500 SM— maka mulailah terjadi integrasi dengan kebudayaan dari luar (Suwondo. Kemungkinan juga peralatan tersebut diambil langsung dari alam serta digunakan hanya sekali pakai. bahwa roh yang ada di sekeliling manusia dapat merasuk ke tubuh seseorang melalui suatu ritual tertentu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Hal tersebut menjadi dasar berkembangnya kepercayaan syamanisme. kemudian ditinggalkan ke tempat lain (Sutaba. 1994). seperti. Mereka percaya. muncul etiket saling menghargai antar sesama dan berkembang tradisi menghormati orang yang dituakan. bahwa roh . Dalam masyarakat yang terbentuk saat tersebut. belajar bercocok tanam dan bermasyarakat. yaitu suatu ajaran berdasarkan keyakinan. 1977-1978). 1980) Kemudian dengan kedatangan gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Neolitikum.Produk kriya berupa peralatan kerja yang ditinggalkan tersebut. lebih mengutamakan kegunaan. tampak bersahaja. tokoh-tokoh masyarakat atau orang yang dianggap memiliki kekuatan tertentu. —migrasi orang-orang Proto Melayu dan tergolong ras Mongoloid.

Produk kriya tersebut dibuat sebagai simbol penghormatan atas jasa orang yang meninggal.orang yang meninggal dapat berpengaruh terhadap kehidupan di dunia ini. 1980). maka berkembang gejala simbolisasi dan penghargaan atau pemujaan terhadap suatu benda. pahat pembelah batang kelapa dan sebagainya. dalam terminologi antropologi. perilaku tersebut disebut fetisisme. Kepercayaan animisme dan dinamisne juga semakin tumbuh subur di masyarakat Mereka percaya dengan kekuatan-kekuatan metafisis yang dimiliki oleh suatu materi. seperti bekal kubur (funeral gifts). seperti kapak persegi. Proses pengerjaannya dengan cara digosok menggunakan batu lain sampai halus (Sutaba. belincung. Beberapa peninggalan produk kriya yang mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum berupa peralatan . Pengaruh kebudayaan Neolitikum terutama tampak dalam penciptaan produk kriya berupa peralatan dari batu. pohon dan di antara produk-produk kriya yang diciptakan juga dihargai dan dipuja sebagai benda bertuah atau sebagai simbol-simbol tertentu. Mereka mampu menciptakan produk-produk dari batu dengan disertai usaha-usaha untuk memperindah penampilan dan memikirkan segi kenyamanan dalam pemakaiannya. beliung. Seperti menyembah batu. Atas dasar kepercayaan tersebut. Menganggap suatu benda memiliki kekuatan magis atau bertuah dan dapat menyelamatkan atau merusak kehidupannya.

sehingga memperkaya kasanah kebudayaan Bali di masa lalu. Cara penciptaan produk kriya untuk penunjang aktivitas hidupnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. dan sebagainya. Gianyar. kuningan. tembaga. Sekarang benda-ben-da itu. Dalam perkembangan selanjutnya. sehingga mampu menghasilkan beberapa jenis produk dari perunggu yang cukup berkualitas. disimpan di Museum Bali. Hindu. Kebudayaan masyarakat di Bali semakin tumbuh dan berkembang. Dengan kedatangannya. Demikian juga pengaruh-pengaruh dari luar terus berlangsung. Misalnya di Palasari. seperti ditemukan di beberapa tempat di Bali. Dalam penciptaan produk-produk kriya tersebut. seperti: emas. Bedulu. maka di Bali terjadi akulturasi antara kebudayaan batu dengan perunggu. datang gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Perunggu yang disebut juga migrasi orang-orang Deutro Melayu. perak. mereka tidak hanya mengutamakan kegunaan semata. karena mereka mengenal bijih logam dan cara peleburannya. Cina. Mesir. dan sebagainya. tetapi keindahan penampilan produk juga mu- .terbuat dengan batu. seperti masuknya pengaruh kebudayaan Budha. Nusa Penida dan di daerah lain. Bantiran. besi. Unsur-unsur kebudayaan tersebut diterima dan diadaptasi. Denpasar dan Ge-dung Arca. diperkirakan sekitar tahun 600-300 SM. Kemampuan tersebut terus ditingkatkan.

Pola hias yang diterapkan. yakni berupa sebuah nekara perunggu yang ditemukan di desa Pejeng. Digunakan untuk genderang perang atau sarana upacara memohon turunnya hujan (Kartodirdjo. Gianyar detail hiasan wajah manusia 1m hias an waj ah man usia Gambar 5.lai diperhatikan. Mempunyai ukuran luar biasa dengan tingggi 1.60 m. Nekara Perunggu Ditemukan di Pejeng. Gianyar Nekara tersebut berbentuk selinder atau dadang terbalik. di antaranya berupa hiasan yang . Hal tersebut dapat dilihat pada artifak yang sangat menakjubkan. 1976).96 m dan bidang pukulnya bergaris tengah 1.

merupakan personifikasi nenek moyangnya yang telah meninggal. 3. Zaman Hindu (Pengaruh dari India dan Majapahit) Pengaruh kebudayaan Hindu yang masuk ke Pulau Bali. 1960). seperti tanah liat yang dibakar atau tembikar. Penerapan ragam hias tersebut. bulu burung. Benda atau hiasan tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis atau bertuah yang memberi perlindungan dan keselamatan kepada kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya (Soejono. Pada sarkofagus tersebut tampak ditatah langsung berupa hiasanhiasan dan simbol-simbol terkait dengan kepercayaan mereka. Pada masa tersebut. empat pasang topeng dan lain sebagainya (Kempers. juga sebagai simbol yang mengandung makna terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. selain bertujuan sebagai dekorasi. diduga berlangsung melalui dua “pengaruh”.distilasi dari bentuk wajah manusia. 1975). binatang. seperti penerapan hiasan empat pasang topeng wajah manusia. pola tumpal yang tersusun bertolak belakang. . anyamanyaman bambu dan mengukir batu sebagai perkembangan kebudayaan Neolitikum. Salah satu contoh peninggalan berupa peti terbuat dengan batu (sarkofagus) digunakan untuk tempat mayat. pembuatan produk kriya selain menggunakan logam juga dengan bahan-bahan lain.

Kedisan. yaitu saat Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Tri Bhuwana Tungga Dewi Djaya Wisnuwardana). Dalam ekspedisi tersebut terjadi perang melawan penduduk Bali asli dan berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Gajah Mada. akhirnya terdesak ke daerah pedalaman. 1953) dan pengaruh kebudayaan Hindu yang berasal dari Pulau Jawa. Sidetapa. Pedawa. Julah. Persebaran kebudayaan Hindu dari Pulau Jawa. diduga berlangsung sekitar abad 10 M. Karangasem. Kekalahan tersebut mengakibatkan penduduk Bali asli. Bangli. sekitar abad 8 M (Djawatan Penerangan Propinsi Suda Ketjil. baik yang dibawa oleh orang-orang Drawida maupun Arya pada masa-masa Raja Maya Denawa berkuasa di Bali. Sembiran. Cempage. seperti di Desa Tenganan. dan di daerah lainnya di Buleleng (Covarrubias. Kubu dan Sukawana. Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dari Majapahit ke Bali. yaitu sejak terjadi hubungan antara masyarakat Bali dengan Kerajaan Medang Kemulan di Pulau Jawa. diawali dengan ekspedisi di bawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada (Prabu Wisnuwardana) pada tahun 1343. Desa Trunyan. 1977/1978). Hubungan tersebut terus berlangsung pada zaman Kerajaan Singosari dan puncaknya terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad 14 dan 15 M (Suwondo. . Songan. 1972).yaitu pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa langsung dari India.

Penduduk di Pulau Bali saat tersebut jumlahnya relatif sedikit di bandingkan sekarang. dan konsep utara-selatan (kaja-kelod atau dulu dan tebén) dengan berpedoman pada laut dan gunung (segaraukir). kekuatan alam atau dewa-dewa penguasa alam gaib. Mereka tidak mengenal sistem Kasta. Wisnu. Namun mereka telah memiliki sistem kemasyarakatan yang mapan dengan kebiasaan berbeda dengan penduduk Bali lainnya. di mana gunung dianggap utara dan sebagai tempat yang bersih atau suci sedangkan laut adalah selatan sebagai tempat yang kotor atau tempat pembersihan. Gunung dianggap sebagai alam arwah dan sekaligus sebagai waduk alamiah yang mengairi dataran rendah di Pulau Bali sepanjang tahun. Percaya dengan alam nyata dan tidak nyata. Indra. Daerahnya dibatasi hutan belantara. roh nenek moyang. Sebagai penganut sekte-sekta. seperti: Sambu. bahasa yang digunakan umumnya menggunakan Bahasa Bali Kuno dan tidak mengenal tingkatan bahasa (bahasa halus-kasar) Masuknya kebudayaan Hindu ke Bali. . dan Kala (Soeka. Seluruh unsur kebudayaan tradisonal Bali dominan dijiwai oleh agama Hindu dan sebaliknya wujud kebudayaannya kembali diabdikan untuk keperluan agama. ternyata membawa pengaruh yang cukup besar terhadap konstelasi kehidupan masyarakat di Bali. Brahma.1986). Sehingg terjalin hubungan yang saling berkait seperti pada Gambar 6. Bayu.

seperti: (1) Filsafat hidup atau pandangan hidup masyarakat. Anak panah menuju kearah pusat lingkaran besar menunjukkan bahwa semua unsur bertumpu pada ajaran Agama Hindu. (4) Organisasi sosial tradisional. tari.    . (3) Seni budaya. Anak panah melengkung pada gambar tersebut menunjukkan hubungan antar unsur. seperti: berupa seni rupa. (2) Adat istiadat dan hukum adat. tata cara upacara di pura. menunjukkan segala produk kebudayaan kembali diabdikan atau dipersembahkan untuk agama. Unsur Kebudayaan Bali Dijiwai Agama Hindu Keterangan  Lima unsur dominan dalam tata kehidupan tradional di Bali. dan sebagainya. dan (5) Keseluruhannya dilandasi dengan ajaran Agama Hindu.Gambar 6. bangunan tradisional. Anak panah munuju kearah keluar lingkaran besar.

Wisnu ‘pemelihara alam’ tengah dan Šiwa ‘pelebur alam’ ke arah gunung.Tata cara bercocok tanam tradisonal dan sistem pengairan atau subak dikembangkan berdasarkan konsepsi Agama Hindu. Sistem tersebut diajarkan oleh Resi Markandeya berasal dari Jawa Timur. Sarana dan prasarana keagamaan mengalami perkembangan dan pembenahan sejak datangnya Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirarta dari Jawa Timur. Kayangan Tiga —terdiri dari: Pura Desa. Kayangan Rwabhineda dan memperlebar Pura Besakih dan sebagainya (Purnata. Menyusun sistem organisasi kemasyarakatan berdasarkan ajaran Agama Hindu yang disebut Desa Pekraman atau Desa Adat. seperti. Mengajarkan pembuatan Sadkahyangan Jagat. Pura Puseh dan Pura Bale Agung— untuk melengkapi Desa Pekraman. Empu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11. 1977 /1978). Mengajarkan tata cara pembuatan Kayangan atau Pura. yaitu pada zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan di Bali diperintah oleh Raja Marakata dan Anak Wungsung. Sedangkan Dang Hyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra (juga terkenal dengan sebutan Peranda Sakti Wawu Rawuh) —seorang agamawan dan pujangga besar dari Jawa Timur— datang ke Bali ketika Keraja- . Kayangan Catur Lokapala. Ia mengembangkan konsep Tri Murti untuk pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma ‘pencipta alam’ ke arah laut.

terutama untuk sarana pemujaan. Salah satu contoh. dalam pembuatan Pelinggih Padmasana. seperti karang asti. patra welanda. Kinara Kiniri. Sada Šiwa (Bwah Loka atau alam Tengah) dan Šiwa (Bhur Loka atau alam bawah). . Kalpa Warksa. mas-masan dan sebagainya serta kekarangan. 1945). Perwujudan dalam bentuk simbol. simbol maupun sebagai hiasan. mempunyai peranan yang sangat penting. yakni dengan membuat pelinggih berupa Padmasana. seperti berupa wadah. Dia mengembangkan konsep Tri Purusa yang terdiri dari: Parama Šiwa (Swah Loka atau alam atas). Naga Basuki. patra sari. karang goak. Ananta Boga. seperti. sedangkan Pura Dadia. seperti Empas. Purnaghata. karang bentulu. Hiasan yang diterapkan berupa pepatran. Paibon untuk pemujaan roh leluhur (Wiana.an Gelgel. Klungkung dipemerintah oleh Dalem Waturenggong (1460-1550). Achentya dan sebagainya yang terkait dengan konsepsi Tri Murti dan Tri Purusa. Keberhasilannya adalah memperjelas “kekaburan” antara tempat pemujaan Tuhan dengan roh leluhur. Kedatangannya sangat berpengaruh dalam pengembangan dan penyempurnaan ajaran Agama Hindu di Bali serta turut membawa Kerajaan Gelgel ke zaman keemasannya. seperti patra punggel. menunjang keperluan sehari-hari. berupa alat pertanian. Pedharmaan. dan sebagainya. yaitu untuk pemujaan Tuhan. Penciptaan produk-produk kriya pada zaman tersebut.

Di bidang kesenian lainnya. parbwayang (wayang).pandê mas. tahun Šaka 818 (896 M). yaitu salah satu kerajaan di Bali yang pa- . wayang dan sebagainya. pamukul (juru tabuh). pagending (penyanyi). dan sebagainya... tembaga (kriyawan atau “tukang” emas. tanggal 5 tahun Šaka 818) ( Simpen. Kerajaan Gelgel (1380 -1460) dengan masa keemasan pada saat pemerintahan Raja Dalem Waturenggong sampai Kerajaan Klungkung. besi. partapukan (topeng). rge pasaran Wijayamanggala.turun di panglapuan di Singamandawa. pabunjing (penari). bahwa kesenian termasuk produk-produk kriya pada zaman tersebut... Seperti seni tari. juga dipakai sebagai media pendidikan atau komunikasi dalam masyarakat. pertunjukan wayang. Hal ini dapat diketahui dari Prasasti Bebetin. besi. Pada zaman tersebut di Bali sudah berdiri kerajaan-kerajaan. Kerajaan Samprangan (13511380) dengan rajanya Sri Kresna Kepakisan berasal dari Daha (Kediri). Seperti dalam bentuk pagelaran topeng. di bulan besakha Cuklapancami. 1974) Prasasti tersebut memberi petunjuk. tari topeng. (dibuat oleh pegawai di Singamandawa pada bulan ke-10. nomor kropak M55 dijelaskan: . Jawa Timur. tembaga). juga mengalami perkembangan diwarnai dengan pengaruh kebudayaan Jawa dan sarat dengan misi pembinaan umat Hindu. pabangsi (juru rebab). seperti kerajaan Bedahulu (1324-1343) dengan rajanya yang terkenal bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

Produk kriya yang diciptakan saat itu tampak lebih mengutamakan segi keindahan. bangunan istana raja. maka peranan penciptaan produk-produk kriya saat tersebut memiliki kecenderungan untuk melaksanakan tugas yang dilandasi dengan semangat kebanggaan dan dedikasi kepada raja dan keluarga raja. Dalam kaitan dengan sistem kerajaan. Zaman Kolonial Ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk menemukan sumber rempah-rempah di dunia timur. Jadi berorientasi pada puri atau istana centris. Oleh sebab itu. produk kriya berupa keris atau atribut raja dibuat dengan sangat indah. saat diperintah oleh Raja Dalem Sagening. 4. umumnya dibuat lebih megah dibandingkan dengan perumahan rakyat dan sebagainya. kegiatan penciptaan produk-produk kriya tampak lebih berkembang di sekitar pusat kerajaan dan di bawah patronage kerajaan (Joedawinata.ling terakhir dikuasai oleh Belanda dalam perang Puputan pada tanggal 28 April 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe. Kedatangannya disambut dengan tata . Pada tahun 1597 sempat mampir di Kerajaan Gelgel (Bali). Sebagai contoh. 1990:4). Sehingga melahirkan produk-produk yang unggul dan adhiluhung. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para raja dan keluarganya yang bersifat hedonistik atau sebagai simbol status sosial.

cara yang sangat hormat. yang ditujukan untuk Pulau Bali. artinya “Belanda Muda”. dalam pendidikan. karena kunjungannya tersebut dengan dalih ingin menawarkan ikatan persahabatan. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Be-landa dengan sebaik-baiknya untuk menulis mengenai Bali. misalnya. Mulai saat itu pamor kekuasaan para raja semakin memudar di mata rakyat Bali. menyebabkan muncul kelompok-kelompok elite atau golongan atas baru dalam masyarakat dan memperkenalkan ide-ide baru. Bagi Belanda. . kesehatan. Keadaan tersebut menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat di Bali. Belanda juga melontarkan suatu julukan “Jonck Hollands”. yang nantinya akan ditingkatkan menjadi hubungan perdagangan. setelah Belanda mampu mengalahkan perlawanan para raja Bali dalam perang puputan (terakhir tahun 1908). dalam julukan itu sebenarnya teselip suatu ambisi atau impian untuk menjadikan Bali sebagai wilayah kekuasaannya. terutama mengenai segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan Raja Dalem Sagening. karena kekuasaan kerajaan “feodal” secara berangsur-angsur diganti dengan sistem pemerintahan kolonial “modern” menurut cara Belanda. Sistem pemerintahan tersebut. Impian tersebut akhirnya benar menjadi kenyataan. Pada saat tersebut. menanamkan pengertian tentang pentingnya hidup non-agraris dan sebagainya.

sebagai “museum hidup” dan menjadi tontonan semata. maka mereka selalu konsisten untuk menjaga kelestariannya dan berusaha untuk mengisolasi dari penetrasi pengaruh-pengaruh kebudayaan eksternal. Sistem pendidikan itu dikenal dengan . seperti mengembangkan sistem pendidikan kolonial yang disesuaikan dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu di Bali. Pemasukan berupa devisa hanya diharapkan dari pemungutan pembayaran yang dikenakan pada para wisatawan yang berkunjung (Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Ketjil. Misalnya. diupayakan dengan mengangkat tenaga pendidik lokal. 1953) Langkah-langkah lain yang dilakukan dalam upaya pelestarian itu. terdapat pura hampir di seluruh pelosok Pulau Bali dan sebagainya. Dalam menyusun strategi pengembangan ke arah tersebut. pemerintah kolonial Belanda berkeinginan untuk mengembangkan potensi tersebut untuk dijadikan objek wisata. Pemerintah Belanda menginginkan agar keindahan alam dan kebudayaan Bali menjadi objek wisata budaya. seperti pelajaran menggambar diajarkan oleh “Guru Adat” (seniman tradisional). Belanda juga sangat tertarik dengan keindahan alam dan kehidupan kebudayaan masyarakat di Bali yang memiliki ciri tersendiri.Di sisi lain. Sehubungan dengan hal tersebut. karena dikawatirkan dapat “merusak”. seperti memiliki beraneka ragam jenis kesenian tradisional. upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di Bali.

Kemudian di Denpasar pada tahun 1932. (Putra. di bawah pimpinan Leifrinck dan Van der Tull. 1991/1992). kapal dagang Belanda K. Kroos mendirikan sebuah bangunan digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu dan sekarang dijadikan Museum Bali. V. ketika menjadi guru HIS di Klungkung. dikembangkan oleh H. Kemudian tulisan-tulisan tersebut didistribusikan ke seluruh dunia. medirikan Gedong Kirtya yang digunakan sebagai perpustakaan untuk menyelamatkan lontar-lontar yang berisi sastra lama dan segala aspek tentang Bali. WF. De Kat Angelino dengan tulisannya berjudul “De Leak op Bali” (1923).P.M . Korn menulis buku berjudul “Het Adatrecht van Bali” (1932) dan yang lainnya. usaha tersebut cukup menggetarkan keinginan banyak orang termasuk para penulis dari barat lain-nya untuk melihat Bali secara langsung. Sekitar tahun 1920. dilakukan dengan mendatangkan beberapa pakar dalam berbagai disiplin ilmu dari negeri Belanda untuk mempelajari. R. Sedangkan dalam usaha mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata. Di antaranya H. menulis tentang “Kawi-BalineeschNederlandsch Woordenboek” (1912). P.sebutan Balisering.N. di Singaraja pada tahun 1928. Goris menulis buku berjudul “Secten op Bali” (1933). te Flierhaar —seorang tokoh pendidik dari Negeri Belanda— pada tahun 1920. meneliti dan menulis berbagai aspek tentang Bali.Van der Tuuk. Walhasil. E. Selain itu.

seperti membangun Hotel Bali di Denpasar. Motivasi atau semangat penciptaan produk yang dulunya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan ke- . maka dalam pengembangan selanjutnya mulailah diadakan pembenahan sarana dan prasarana yang terkait. Sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan di Bali saat itu kurang memadai. Misalnya pada kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya.(Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dialihfungsikan untuk mengangkut rombongan wisatawan Belanda pertama mengunjungi Bali. Penciptaan tersebut termotivasi oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat. Pada masa tersebut. perbaikan sarana transportasi. Melihat peluang tersebut. sehingga banyak di antara mereka terpaksa tidur dalam kapalnya. Upaya pengembangan tersebut secara tidak langsung akhirnya berpengaruh pada kegiatankegiatan lain di Bali. para kriyawan dengan “serta merta” mulai aktif menciptakan produk-produk kriya untuk dijadikan mata dagangan berupa produk kriya lokal sebagai cenderamata. pesanggrahan di Kintamani dan di Pelaga. dan sebagainya. sehingga para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya di Bali mulai merasakan nilai ekonomis atau nilai tukar dari produk kriya yang diciptakan atau diusahakannya. Namun kebanyakan wisatawan dalam rombongan tersebut merasa puas setelah meninggalkan Pulau Bali.

maka pengembangan pariwisata di Bali tidak dapat diteruskan lagi oleh pemerintah Belanda. Dalam kurun waktu tersebut. kemudian disuguhkan untuk para wisatawan. Dengan kekalahan Belanda. Di bawah penguasaan Jepang yang berlangsung dalam waktu relatif singkat sehingga pengembangan sektor pariwisata kurang mendapat prioritas. pembangunan di daerah Bali yang dilaksanakan berdasarkan program Repelita dan dengan strategi pembangunan daerah seperti tampak pada Gambar 7. Walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan kendala. 5. Jepang lebih terfokus pada ambisinya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. dengan meletusnya Perang Dunia ke-II. . namun pada saat tersebut mulai muncul gejala yang mengarah pada komersialsasi produk kriya.rajaan. Pada masa selanjutnya. karena harus menerima kekalahan dalam menghadapi semangat hegemonisme Jepang. ternyata mengalami perkembangan cukup pesat. 1988). Zaman Kemerdekaan Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang ini (lebih kurang seperempat abad silam). maka situasi dan kondisi masyarakat di Bali mengalami perubahan cukup drastis. (Mirsa. karena saat tersebut. Dalam kreativitas penciptaan produk berciri khas Bali mulai terjadi gejala reproduksi atau tindakan eklektik terhadap unsur-unsur produk masa lalu yang diwarisinya.

2. Peningkatan dan Perluasan Sarana dan Prasarana Sosial c. Pembangunan Sektor Pertanian b. Pemenuhan Kebutuhan Dasar b. Pendekatan Regional Gambar 7. agama dan warisan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan B.2. 1991) A.TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PEMERATAAN TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI a. Pelestarian nilainilai budaya. Delapan Jalur Pemerataan 2. Bagan Strategi Dasar Pembangunan Daerah Bali . Pembangunan Sektor Pariwisata c. Pembangunan Sektor Industri SOSIAL a. Mendorong Partisipasi Aktif dari Masyarakat dalam Pembangunan TUJUAN INTI ARAH IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN ALAT UKUR YANG MENGARAHKAN PADA KESERASIAN DAN KETERPADUAN Sumber: (Oka. Pengembangan identitas Bali 1.

Sehingga hasilnya tampak jelas dari Pelita I sampai V mampu membawa masyarakat Bali ke tingkat swasembada pangan. ternyata memberi peningkatan perekonomian yang cukup signifikan bagi masyarakat di Bali. kini terus dibina dan dikembangkan. Hasil pembangunan ketiga sektor tersebut. ternyata mendapat respons cukup besar dari masyarakat petani di Bali. dengan tetap memakai potensi budaya sebagai daya tarik utama. berbagai jenis industri kecil dan rumah tangga dan sebagainya.Dari sekema tersebut dapat diketahui. yang kembali dibangkitkan oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950. bahwa tujuan pembangunan bidang ekonomi di Bali adalah berorientasi pada pertumbuhan sektor pertanian. Demikian juga industri kecil dan rumah tangga yang bergerak dalam usaha penciptaan produk kriya. toko kesenian. karena kemantapannya yang kuat sebagai masyarakat pewaris budaya agraris. Pembangunan sektor pariwisata di Bali. transportasi atau biro perjalanan. seperti semakin menjamurnya usaha di bidang perhotelan. prospektif dan sesuai . garmen. seperti pada Pelita I yang dimulai sejak tahun 1969 dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. Sektor tersebut memberi oportunitas cukup besar untuk tumbuh suburnya berbagai bidang usaha. Pemerintah menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu cabang industri alternatif yang strategis. pariwisata dan industri kecil.

humanisasi proses kerja. karena memiliki karakteristik antara lain. sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja (mass employee) berakumulasi modal kecil. salah satunya seperti program OVOP (one village one product). Kebijakan tersebut .dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara. Berbagai program telah diluncurkan terkait dengan hal tersebut. usaha perluasan atau enlargement penciptaan produk-produk kriya. Malah pada tahun 1990-an terbukti produk-produk kriya sempat dijadikan sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor di luar minyak dan gas alam (LNG) Liquid Natural Gas. tampak semakin mantap dan dengan kecenderungan mengarah kepada hal yang bersifat “komersial”. karena termotivasi oleh nilai ekonomi yang dapat dinikmati dari produk kriya yang diciptakannya. Para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya masa kini merasa semakin bergairah dalam usaha tersebut. sehubungan dengan upaya untuk memperoleh sumber dana penunjang pembangunan nasional. Kondisi tersebut semakin terpacu. Sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat di pedesaan serta dapat memperlambat laju urbanisasi. Dengan dukungan pemerintah dan perkembangan pariwisata di Bali yang cukup pesat. maka pada era kemerdekaan. dan sebagainya. karena pada dasawarsa belakangan ini pemerintah Indonesia semakin mengkonsetrasikan perhatiannya pada sektor tersebut.

ajaran diterima dari Tuhan dalam bentuk wahyu suci oleh tujuh orang Maharsi. seperti disebut Agama Hindu Bali. salah satunya. Wasista dan Kanwa. Terjadinya hal tersebut. Agama Hindu sering diberi sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan nama daerah di mana Agama Hindu tersebut tumbuh dan berkembang. mengingat ekspor andalan Indonesia berupa bahan-bahan mentah yang dibutuhkan oleh industri pengolahan di luar negeri. yaitu: Maharesi Grtsamada. Hindu Kaharingan dan sebagainya. karena dalam tata cara pengamalan ajarannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi budaya masyarakat penganutnya atau disesuaikan dengan desa. Atri. Wamadewa. Di tempat tersebut. 1990) B. Di Indonesia. hingga sampai ke Indonesia. Kemudian ajaran tersebut disebarkan keseluruh dunia melalui para pengikutnya. Hindu Jawa.ditempuh oleh pemerintah. Wiswamitra. Baradwaja. Pelaksanaan Ajaran Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali Agama Hindu berasal dari lembah Sungai Sindhu di India. sehingga da- . Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali 1. Ajaran tersebut dikumpulkan dan disusun kembali oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk kitab suci yang disebut Weda. mengalami penurunan dipasaran dunia dan diikuti oleh resesi dunia pada saat tersebut (Joedawinata. kala dan patra.

tt). air amerta batin yang tidak pernah kering (Šiwambhâ-dhyatmika) dan dapat manunggal dengan Tuhan atau purusa katemunta mareka si tan katemu. Misalnya bagi umat Hindu yang telah “ahli” dalam teori dan praktek ilmu ketuhanan (teologi). karena mereka telah menaruh upacara tersebut dalam batinnya (adyâtmika). Berdasarkan hal tersebut. Namun umat seperti tersebut populasinya sangat sedikit dapat dikatakan satu per mil atau sewu tinunggal. tampak memiliki etos kebudayaan Hindu yang berbeda. Seperti bunga yang bersemayam dalam batin yang tak pernah layu (puspa tan alun). dibenarkan mengamalkannya dengan tanpa sarana upacara dan tidak memilih tempat serta arah tertentu. Namun inti ajaran Agama Hindu yang dianutnya tetap satu bersumber pada ajaran Weda. suara sukma yang tidak pernah putus (swaraning genta pinara pitu). mutlak akan diperlukan dalam mengamalkan ajaran Agama Hindu di Bali (Sugriwa. Seperti yang . Kondisi tersebut memang menungkinkan untuk terjadi.lam perkembangannya di masing-masing daerah di Indonesia. maka sarana dan prasarana yang bersifat lahiriah. Hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Agama Hindu. sebab ajaran Agama Hindu memberi tuntunan yang bersifat lentur. api yang tidak pernah padam (geni anglayang). seperti produk-produk kriya berupa simbol-simbol atau nyasa yang bersifat sakral.

yaitu Brahmana (Karma Kanda) adalah merupakan ajaran yang berisi himpunan doa-doa dan tuntunan yang dipergunakan untuk keperluan upacara Yajña. Yayur Weda. 1995). 2) Brahmana (Karma Kanda). Kuntipura. Jadi pada dasarnya ajaran tersebut “membenarkan” penggunaan sarana . Artinya: Apapun yang kau kerjakan. kau makan. dan Atharwa Weda). juga dapat disimak dalam cara menghayati dan mengamalkan ajaran Weda yang dapat mengacu pada beberapa hal seperti: a. lakukanlah. Sifat ajaran Weda. yaitu: 1) Mantra. Acuan lainya sesuai dengan pendapat tersebut. kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan asalkan menuju kebenaran. yaitu sebagai berikut: Yat karosi yad ašnãsi yaj juhosi dadãsi yat. Isinya terdiri dari empat himpunan atau samhita (Reg Weda. sloka IX-26. kau persembahkan. sebagai bhakti pada-Ku (Pendit. yat tapasyasi kaunteya tat Kurushva mandarpanam. ceritera-ceritera dan simbol yang dipergunakan untuk memantapkan rasa percaya kepada Tuhan. dan 3) Upanisad (Jñána Kanda. Pada garis besarnya dapat dijabarkan menjadi tiga bagian.) Bagian kedua dari penjabaran sifat ajaran Weda di atas. Sama Weda.disebutkan pada Bhagawag Gîtã.

mudah diterima dan dilaksanakan oleh semua tingkatan. artinya cinta kasih. menurut kerangka tersebut. Ajaran ini merupakan salah satu alternatif dalam menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu dengan menggunakan sarana pemujaan. alamiah. b. 1993). Catur Marga. Seorang Bhakta —penganut Bhakti Marga — adalah orang yang penuh cinta kasih kepada Tuhan berserta ciptaannya. Bhakti Marga merupakan ajaran yang langsung. Seperti penggunaan produk kriya berupa simbol-simbol yang terkait dengan ajaran agama dan sebagainya. c. Cetusan rasa cinta kasih dan kerinduan kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pesembahan bhakti atau dalam produk kriya berupa simbol-simbol untuk melukiskan sifat maya Tuhan (mayasakti) (Cudamani. yang terdiri dari: Tattwa (Filsafat Agama). Bhakti Marga. terdiri dari: 1) Bhakti Marga. Dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu.yang bersifat lahiriah untuk membantu penghayatan kepada Tuhan. yaitu empat cara atau jalan utama ditempuh untuk mencapai tujuan Moksaratha Jagathita. 3) Jñána Marga dan 4) Raja Marga. Kerangka Agama Hindu. juga membenarkan menggunakan sarana untuk pemujaan Tuhan . Susila (Etika) dan Upacara (ritual). 2) Karma Marga.

bahwa ajaran Agama Hindu memberi suatu tuntunan yang bersifat luwes dalam usaha mendekatkan diri dengan Tuhan. sehingga hampir setiap hari umat Hindu di Bali dijum- . Umat Hindu di Bali. secara implisit memberi peluang munculnya keanekaragaman atau perbedaan penciptaan sarana pemujaan Tuhan di setiap daerah di Indonesia. 1990). masih dominan mengacu pada tiga ajaran tersebut di atas. Sarana tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dan keyakinan masyarakat setempat serta menjadi aktivitas adat atau “hukum adat” yang diusung dari generasi ke generasi berikutnya. sesajen. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh E. Seperti dalam pengamalan tiga kerangka Agama Hindu. bunga. ternyata yang lebih dominan dilaksanakan adalah upacara atau ritual keagamaan yang disesuaikan dengan adat-istiadat umat Hindu di Bali. Pengamalan ajaran agama Hindu tersebut. Utrecht bahwa sebagian dari kaidah-kaidah atau norma-norma yang ada dalam masyarakat yang berasal dari sumber hukum yang dianggap sakral (dalam Suasthawa. bangunan suci. Ketiga ajaran tersebut memberi tuntunan yang mengarah pada pengorbanan suci berupa tindakan atau kerja dan membenarkan menggunakan sarana dalam pemujaan Tuhan. air. busana. dalam mengamalkan ajaran Weda. api dan sebagainya.Ketiga acuan di atas memberi gambaran. Seperti menggunakan produk-produk kriya.

(5) . (4) Pitra Yajña. baik berupa wadah atau tempat. pada garis besarnya dapat dikelompokan menjadi lima. persembahan atau penghormatan kepada para Resi atau guru. upacara penyucian yang ditujukan mulai perkawinan hingga ajal tiba. bahwa kelahiran manusia selalu diselimuti oleh utang yang harus dibayar. baik di pura. yang disebut Panca Yajña. rumah tinggal. hampir semuanya tampak menggunakan sarana upacara. Tujuan tersebut dilaksanakan didasari dengan suatu keyakinan. maupun di tempat lain yang dianggap sakral. (2) Resi Yajña. maupun berupa hiasan dan dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat Hindu di Bali. yaitu utang kepada Tuhan. pelaksanaan juga diyakini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan dengan Tuhan. Dari sekian banyak upacara Yajña yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. sawah.pai melaksanakan upacara. Upacara yang dilaksanakan tersebut dipercayai merupakan suatu bentuk pengorbanan yang tulus dan suci atau Yajña. yaitu persembahan kepada roh leluhur dan upacara kematian. persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa. yaitu. Selain hal tersebut. Dengan tujuan untuk melaksanakan tiga kewajiban atau utang yang disebut Tri Rna. Dari upacara-upacara tersebut. yaitu. simbol-simbol. para resi atau guru dan leluhur. manusia dan alam yang didasari konsep Tri Hita Karana. jalan. (3) Manusa Yajña. yaitu. terdiri dari: (1) Dewa Yajña.

dikenal beberapa jenis upacara. Semuanya menggunakan sarana yang khusus dan sangat beragam. penganggé atau busana dewa dan melibatkan berbagai produk kriya. misalnya. yaitu sebagai sarana upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di . seperti: Odalan. Upacara Panca Yajña dapat dipilah lagi memjadi beberapa jenis upacara. maka dalam konteks bahasan ini. Dan (4) Produk kriya yang dibuat oleh kriyawan dan para perancang masa kini (Buchori. dan sebagainya. Peranan Produk Kriya dalam Upacara Agama Hindu di Bali Secara umum produk kriya di Indonesia dapat dibagi menjadi empat kategori. yaitu: (1) Produk kriya dalam konteks budaya. 2.Bhuta Yajña. produk-produk kriya yang dimaksudkan adalah produk yang tergolong kategori kedua. 1990) Berdasarkan kategori tersebut dan mengingat peranan serta jenis produk-produk kriya yang digunakan untuk menunjang aktivitas hidup masyarakat di Bali sangat beraneka ragam. Melasti. upacara Dewa Yajña atau Dewapuja. (2) Produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. baik yang bersifat temporel maupun permanen. seperti berwujud bebantenan atau sesajen. yaitu upacara korban suci kepada Bhuta Kala. Ngenteg linggih. Nuntun. (3) Produk kriya dalam konteks kerajinan rakyat.

bersifat “permanen”. tetapi yang dimaksudkan adalah upacara peringatan hari mulai enteg linggih atau hari peringatan mulai “distanakannya” atau dilinggakan Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasi sebagai dewa pada suatu tempat suci atau pura. Odalan atau Dewapuja berasal dari kata Wedal. yang berarti kelahiran.) b.Bali. kekuatan alam gaib serta memberi penghargaan atau ucapan terimakasih dalam bentuk persembahan kepada alam atas hasil atau . Pengertian Odalan Sebelum lebih lanjut menguraikan tentang peranan produk kriya. Peranan Produk Kriya dalam Melaksanakan Upacara Odalan Masuknya Agama Hindu ke Bali. roh nenek moyang. Terutama produk-produk kriya yang digunakan sebagai sarana upacara Odalan. Perayaannya dilangsungkan setiap enem sasih atau enam bulan (menurut perhitungan kalender Bali. mengandung makna atau nilai simbolis dan dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali. Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu kepercayaan terhadap alam nyata dan tidak nyata. Dalam hal tersebut bukan berarti Tuhan mengalami kelahiran. terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian Odalan. 1 sasih = 35 hari. a. ternyata memberi pengaruh dominan pada tatanan kehidupan dan sistem relegi masyarakat Bali.

sumber pangan yang di berikannya. Kemudian keyakinan tersebut dimatangkan lagi semenjak Rsi Markandeya datang dari Jawa. Pola masyarakat agraris yang telah mengakar tersebut, dipadukan dengan konsep yang “bernafaskan” Agama Hindu dari Jawa, seperti dalam pelaksanaan sistem irigasi yang disebut subak. Konsep Agama Hindu dari Jawa yang bersifat menyempurnakan tersebut, juga terlihat pada sarana pemujaan kepada Tuhan dalam segala manifestasinya. Seperti berupa pelinggih, penggunaan arca, pertima atau pralingga dan sarana lainnya, yang merupakan bentuk “penyempurnaan” dari hasil kebudayaan megalitik di Bali. Pengaruh perpaduan Agama Hindu, juga memberi sepirit dan inspirasi untuk tumbuh suburnya beraneka ragam jenis kesenian tradisional berciri khas Bali. Menurut pandangan umat Hindu Bali, fungsi kesenian tradisional tersebut, pada garis besarnya dapat dikelompok menjadi tiga bagian, seperti: (1) Seni Suci atau Wali, jenis kesenian ini difungsikan sebagai bagian dari suatu rangkaian upacara yang sarat dengan makna religius dan dianggap sakral; (2) Seni Ritual atau Bebali yaitu, jenis kesenian sebagai pengiring atau “penghias” dan sekaligus terkait dengan rangkain upacara; (3) Seni “Sekular” atau Bali-balihan yaitu, jenis kesenian yang cenderung mengarah pada hiburan rakyat atau kesenangan (Pindha, 1973) Produk kriya, sebagai salah satu bagian dari kesenian tradisional Bali, ternyata dapat menduduki ke-

tiga fungsi tersebut. Khususnya produk kriya yang difungsikan sebagai sarana wali berbeda dengan yang lainnya, sebab dalam penciptaannya disertai dengan proses penyucian atau sakralisasi dengan melalui tahap-tahap upacara tertentu, seperti di antaranya dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut Tabel 1 Tahap Penyucian Produk Kriya
No. (1) 1. TAHAPAN (2) nglakar ARTINYA DAN KEGIATAN (3) pemilihan bahan baku yang akan digunakan, dewasa ayu atau “hari baik” mulai mencari bahan dan disertai dengan persembahan sesajen kepada Tuhan untuk mohon kekutan agar produk kriya tersebut ber-taksu. membentuk secara global membuat detailnya menghaluskan memberi warna memberi kontur dan hiasan tambahan upacara pembersihan, dengan membuatkan banten pemlapas memanggil atau memohon kekuatan agar merasuk pada produk tersebut yaitu dengan membuatkan banten pengulap menghidupkan yaitu dilakukan dengan mempersembahkan banten pengurip upacara menstanakan pada tempat suci dengan jalan mempersembahkan sesajen pada tempat atau asal bahan yang digunakan untuk mengetahui apakah benda yang dibuat bertuah

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

makalin nepong ngasren mulas ngias melapas ngulapin

9. 10. 11. 12.

ngurip ngeteg linggih nuedin ngerehang

(1) 13.

(2) ngajar-ngajar

(3) upacara membawa benda tersebut ke tempat suci lainnya, seperti Kahyangan Jagat, dengan tujuan “mendaftarkan”. upacara memperingati hari dilinggakan benda tersebut sebagai benda sakral memfungsikan

14. 15.

ngodalin mepajar

Narasumber: Gelebet.

Dalam melaksanakan upacara Odalan biasanya memanfaatkan berbagai macam produk kriya dengan beraneka ragam bentuk dan fungsinya serta tergolong sebagai sarana wali, seperti berupa: 1. Benda pakai, antara lain: pedupaan, bokor atau tempat sesajen, dulang, sokasi atau bakul, saab atau tutup sesajen, kendi, sangku atau tempat air suci, canting alat untuk mengambil tirta air suci, peralatan yang digunakan oleh Pedanda atau pemimpin upacara, seperti pedipan, pasepan keduanya berfungsi sebagai tempat pedupaan, stana lingga tempat api, swamba atau tempat tirta, tripada sebagai “kaki” swamba, pewijan tempat beras suci, dan sebagainya . 2. Ragam hias pada sarana perlengkapan upacara, seperti: Lontek, kober, pengawin atau bandrangan, tedung atau payung, ider-ider, berupa relief pada pelinggih-pelinggih, candi, patung, dan sebagainya. 3. Selain hal tersebut, peranan produk kriya sekaligus juga berfungsi sebagai simbol yang mengandung

telinga. kepala. Sikap berdiri (padaasana) dan kaki pada posisi bergerak. dan pada kelamin berisi bajra. Pada tiaptiap persendian.1. Bentuk Acintya seperti tampak pada Gambar 8 Gambar 8.nilai-nilai atau makna terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Acintya . Relief Acintya a) Karakteristik: 1) Bentuk: Umumnya dibuat dalam bentuk relief yang digubah dari bentuk mirip manusia dengan tanpa busana. Beberapa contoh produk kriya jenis tersebut dapat disimak pada uraian berikut 3.

Diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih berupa Padmasana Seperti tampak pada Gambar 9 Kepala badan kaki Tampak Samping Gambar 9. hitam atau kuning emas dan putih).2) Material: Biasanya terbuat dengan batu alam (batu padas) atau emas. Namun sekarang ada juga menggunakan “beton cetak” (campuran semen pasir yang dicetak). b) Fungsi: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan bersifat permanen dan sekaligus sebagai simbol. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan (abu-abu. Pelinggih Padmasana .

artinya tak terpikirkan. kepala. tak dapat dibatasi atau anirdesyam.. melambangkan sifat yang bebas dari ikatan duniawi. Sikap kaki seperti berjalan atau bergerak. Setiap persendian. anirdesyam. Oleh sebab itu. maka untuk mempermudah penghayatan-Nya. merupakan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan.. artinya kehidupan yang selalu bergerak dinamis dan berproses. ujung kaki.. tan pahingan. Acintya. dan .b) Makna. Dan dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan: Aprameya. Artinya. ape hetu ri kadadinyan ananta. Bersemedi dengan sikap pada asana atau berdiri.. nilai-nilai simbolik dan religiusnya: Berdasarkan lontar Widi Tatwa atau filsafat tentang Tuhan. bhatara Paramasiwa tan pangenpangen. melambangkan sifat Tuhan yang maha pemurah dan memberikan anugrah kepada ciptaan-Nya di alam. anatomi tubuh dan jenis kelamin dibuat “tidak jelas” atau Ardhanareswari. karena keadaannya yang tidak habis-habisnya atau ananta. para yogiswara atau orang suci yang mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan membuat dalam bentuk simbol bersifat ikonografi dengan mengambil bentuk mirip manusia tanpa busana. Bhatara Parama-šiwa atau Tuhan sebenarnya bersifat tidak terbayangkan (Aprameya) dalam pikiran. telinga.

Teja atau api. Aksara Suci Ongkara 2) Material: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau dari logam. 3. Akasa atau langit. bumi (terjadinya pertama-tama berawal dari gelap). perak. Angka telu atau angka tiga melambangkan tiga manifestasi Tuhan (Brahma. matahari. Apah atau air (air yang padat berputar terjadilah bulan). 5. seperti: emas. Pertiwi. ether (memenuhi ruang yang ada). kuningan atau tembaga.pada tempat kelamin dihiasi dengan bajra. tanah. . 4. bintang (angin dapat menjadi bintang. Aksara Suci Ongkara a) Karakteristik: 1) Bentuk: huruf atau aksara suci Ongkara sebagai simbol diwujudkan berdasarkan konsep kosmologi dan terdiri dari beberapa bagian seperti pada Gambar 10 berikut Keterangan: 1. Bayu atau angin. 2.2. melambangkan energi Tuhan berupa sinar suci yang memancar ke segala arah dan memberi penerangan kepada seluruh ciptaan-Nya. 3. kain kapan dan sebagainya. Wisnu dan Šiwa Gambar 10.

pangéling-éling atau tanda untuk meng- . putih perak atau kain kapan dan sebagainya. tt). dipakai untuk membuat sesikep atau gegemet atau jimat. ulap-ulap (secarik kain kapan diberi gambar aksara suci ongkara dan diletakkan pada pertengahan kolong atau tadah alas bangunan tradisional. b) Fungsi: Dipergunakan sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Tri Murti. kuning emas. seperti: abu-abu warna batu padas atau hitam. pedagingan dan sebagainya. dadya Pura). dalam membuat surat bukti yang ditulis di atas daun lontar. nilai-nilai simbolik dan religius: Aksara Bali dalam penerapannya dibedakan menjadi dua golongan (Kaler. Umumnya diterapkan pada bangunan Pelinggih Padmasana dalam bentuk relief. sebagai tanda bahwa bangunan tersebut telah diupacarai).3) Warna: sesuai dengan warna bahan yang digunakan. Akasara tersebut boleh diajarkan kepada siapa saja dan biasa digunakan seperti untuk membuat pipil (nama orang dalam suatu organisasi atau seka Banjar. c) Makna. yaitu: (1) Aksara Wrešastra atau aksara yang “tampak” atau aksara yang umum atau aksara “biasa” digunakan dalam masyarakat Bali.

Ketiga aksara tersebut jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. aksara yang “tidak tampak” terdiri dari dua buah aksara yaitu Ah ( ) dan Ang ( ) merupakan aksara yang didak boleh diajarkan kepada sembarang orang. Kawi.ingatkan sesuatu untuk menulis bahasa Bali. seperti: mantra. sehingga disebut Wija-aksara atau Ekã-aksara. api atau matahari. pengobatan dan sebagainya. yaitu: Dewa Brahma (Ang ). berhubungan dengan dunia gaib. yaitu aksara yang maha suci lambang Ida Sang Hyang . Huruf tersebut disebut juga dengan Aksara Modré. air atau bulan. Ardha-candra berbentuk bulan sabit melambangkan apah. Aksara Ong atau Ongkara merupakan sumber semua aksara. Ketiga kelengkapan aksara tersebut menyimbolkan kekuatan tiga dewa. bayu atau bintang. Jawa Kuno dan sebagainya (2) Aksara Cwalalita. Kedua aksara tersebut dilengkapi dengan pengangge sastra atau kelengkapan huruf yaitu berupa: Nada melambangkan angin. Dalam bahasa Bali diucapkan Ong. yaitu aksara suci atau aksara yang digunakan untuk menulis ilmu kedyatmikan. Dewa Wisnu (Ung ) dan Dewa Ciwa (Mang). windu melambangkan teja. perlambang atau simbol terkait dengan keagamaan.

Widi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri-Murti. sehingga penggunaannya sangat terbatas dan tidak boleh secara sembarangan. maka dapat diketahui bahwa aksara Ongkara sebagai simbol yang mengandung makna religius terkait dengan ajaran ketuhanan. Hindu yaitu digubah dari bentuk kurakura dengan kepala berambut dan lidah mejulur keluar berbentuk api serta dililit naga. seperti tampak pada Gambar 11. Sudartha. 1991) 3.3. 2) Material yang digunakan: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu padas. harus mengikuti petunjuk para rohaniwan (Nala. Demikian juga di India. Badavañ Nala a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Penciptaan produk kriya tradisional berupa simbol tersebut dilandasi dengan konsep kosmologi. 1991. aksara Ongkara sebagai simbol Tuhan telah digunakan sejak zaman Weda. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan yaitu berwarna abu-abu batu padas atau hitam. Jadi dari penjelasan tersebut. .

Gambar 12.Gambar 11. Bagian Dasar Atau “Kaki” Pelinggih Padmasana . Badavañ Nala dan Anantabhoga b) Fungsi: Badavañ Nala digunakan sebagai simbol dan sekaligus sebagai hiasan pada bagian dasar atau “kaki” sebuah bangunan suci berupa pelinggih Padnasana Gambar 12.

Bagi umat Hindu. Perwujudan simbol atau nyasa tersebut bertujuan untuk memberi ajaran alam semesta dan membangkit kesadaran moral dalam segala aktivitas hidup untuk menjaga serta . Se-dangkan Nãla atau Anala dalam bahasa Šan-skerta sebagai padanannya adalah ageni ber-arti api. Dalam bahasa Šanskerta disebut dengan kata kûrma. empas atau penyu. dan dilestarikan. perlu dihormati.c) Makna. Badavañ Nãla berasal dari urat kata Bada= tempat. Keseluruhan dapat diartikan sebagai tempat atau sumber api yang merah membara. Bang=merah dan Nãla=api. Dan da-lam kepercayaan Hindu sebagai simbol awatara Dewa Wisnu atau disebut Kûrmaratarâ. terbentuk dengan unsur Panca Maha Bhuta. Badavañ adalah istilah yang digunakan untuk nama binatang kura-kura. Sebagai tempat kehidupan dengan berbagai persediaan bahan makanan dan sebagainya. Oleh sebab itu. nilai-nilai simbolik dan religius: Perkataan Badavañ Nala atau Baduvañ Nala terdiri dari kata Badavañ dan Nala. Dalam simbol tersebut dimaknai sebagai inti bumi atau magma sebagai sumber panas bumi yang terus menerus membara Jadi pada simbol tersebut tersirat ajaran suci tentang ciptaan Tuhan yang tiada tara dan maha agung berupa alam makrokosmos.

. sehingga membentuk satu simbol dengan satu kesatuan makna tentang keagungan alam semesta. 3) Warna: Sesuai dengan warna bahan yang digunakan. Bentuk dan penerapan Nãga tersebut dibuat membelit Badavañ Nala. 12 dan 13 2) Material: dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu bata. b) Fungsinya: Kegunaan dan penempatan nãga di dalam pura sama dengan Badavañ Nala. 3.4. Bentuk Nãga tersebut seperti tampak pada Gambar 11. yaitu dipakai sebagai simbol dan sekaligus sebagai ragam hias dan umumnya diterapkan pada dasar atau bagian “kaki” Pelinggih Padmasana berupa relief tinggi. seperti warna abu-abu batu padas atau warna hitam batu alam). digambar pada lontek atau umbul-umbul. Nãga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Simbol nãga merupakan bentuk fantasi atau hasil imajinasi dari para kriyawan masa lalu yang digarap dengan didasari mitologi Hindu. dan di Pelinggih Saptapetala dalam bentuk patung nãga.sebagai ucapan terimakasih atau bakti dihadapan Tuhan atas ciptaannya.

Bentuk potongan kain semakin ke atas semakin kecil dan pada ujung bambu terlipat ke bawah serta di ujungnya diberi plat logam berbentuk seperti jantung . Panjang ± 8 m. diameter pakalnya ±5 Cm.Gambar 13 Lontek Umbul-umbul Keterangan: Tangkainya terbuat dengan bambu. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam kamus Bahasa Šansekerta kata nãga berarti . a) Makna.

Bhur Loka (lapisan alam bawah). Secara keseluruhan berarti sumber bahan . yaitu. nãga juga berarti gunung atau pohon (Pemda Tingkai I Bali. Sehingga dikenal tiga nãga. Penerapan patung nãga pada Padmasana. Jika ketiga nãga tersebut dikaitkan dengan para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi. yang disebut Nãga Anantabhoga. Bwah Loka (lapisan alam tengah) dan Swah Loka (lapisan alam atas). seperti. penerapan pada Padmasana didasari filosofi Tri Loka. kata nãga tersebut diartikan ular naga atau gajah. Dari pengertian tersebut. Dalam mitologi Agama Hindu Bali. 1982/ 1983). Maka Basukih simbol dari Dewa Brahma (pencipta alam). nanta= habis dan bhoga=makanan). dan Taksaka simbol dari Dewa Šiwa (Pelebur). yaitu. Dan dalam Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. Anantabhoga simbol dari Dewa Wisnu (pemelihara alam). sebenarnya hanya satu dan membelit Badavañ Nala. Selain arti tersebut. maka nãga dapat diartikan sebagai ular besar.tentang bentuk simbolis nãga yang diterapkan pada masing-masing pelinggih atau peralatan upacara memiliki pengertian atau filosofi dan sebutan yang kontekstual. Basukih. Anantabhoga dan Taksaka. Berasal dari urat kata “a”-“nanta” dan “bhoga” (a=tidak.ular.

bhwah loka. didasari oleh filosofi.makanan yang tidak habis-habisnya. dalam perwujudannya diterapkan pada umbul-umbul (Narasumber: Gelebet) Penerapan patung Nãga Basukih pada pelinggih Sapta Patala. swah loka. nitãla dan patãla. Sedangkan nãga Taksaka. Jadi peristiwa tersebut berlangsung pada lapisan alam tengah (Swah Loka) atau di permukaan bumi. 3. atãla.5. jana loka. sutãla. Namun kenyataannya dalam membuat Pelinggih Padmasana sering diterapkan dua nãga (Basukih dan Anantabhoga) secara estetis hanya bertujuan untuk membuat komposisi yang simetris. santãla. dan satya loka). dan tujuh lapisan alam bawah Sapta Patala yang terdiri dari tãla. maha loka. tapa loka. Perbedaan tersebut mencerminkan atau sebagai simbol karakter dan sifat kekuasaan dari masing- . waitãla. Senjata Nawa Sanga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Senjata Nawa Sanga merupakan sembilan sejata para dewa dengan bentuk berbeda satu dengan yang lainnya. bahwa alam dibagi menjadi tujuh lapisan alam atas yang disebut Sapta Loka (bhur loka. Jadi penerapan nãga pada pelinggih tersebut sebagai simbol tujuh lapisan alam bawah.

seperti berupa ujung-ujung tombak yang disebut dengan bandrangan atau pengawin . seperti pada Gambar 14 dan 15. seperti “hitam besi”. seperti pada gambar 14. 3) Warna: Warnanya produk kriya tersebut. Dalam penerapan-penerapan tertentu ada juga yang diwarnai sesuai dengan tata warna Senjata dan Dewata Nawa Sanga. 15 2) Material: Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan menggunakan berbagai bahan. Tata letak dari senjata-senjata tersebut dalam padma angelayang atau pangider-ider. atau dengan menggunakan besi dan diwujudkan sebagai ujung-ujung tombak yang disebut bandrangan atau pengawin. menyesuai dengan bahan yang digunakan. b) Fungsinya: Produk Kriya tersebut digunakan sebagai simbol dan sekaligus hiasan yang diwujudkan dalam bentuk perlengkapan upacara. atau ada juga diwarnai dengan cat warna hitam dan putih perak. batu padas.masing dewa. seperti dengan meggunakan kain kapan.

 Wayabya (barat daya)  Sangkara  Angkus  Limpa  Wilis (Hijau)  Pascima (barat)  Mahadewa  Nagapasa  Ungsilan Ginjal  Kuning  Niriti (barat daya)  Rudra  Moksala  Usus  Oranye (jingga)                Uttara (utara) Wisnu Cakra Ampru (empedu) Ireng (Hitam) Madya (tengah) Siwa Padma Tumpuking Hati) Amanca (Pancawarna) Daksima (selatan) Brahma Gadha Hati Bang (merah)  Ersanya (timur laut)  Swayambhu  Trisula  Ineban  Pelung (biru)  Purwa (timur)  Iswara  Bajra  Jantung  Putih  Geniyan (tenggara)  Mahesora  Dupa  Peparu (paruparu)  Dadu (merah muda) Gambar 14. Dewata Nawa sanga . Jenis dan Tata Letak Senjata Nawa Sanga Gambar 15.

tanpa aktivitas. 1994). Nilai-nilai Simbolik dan Religius: Dalam alam transendental. Tuhan memiliki delapan Ilmu pengetahuan untuk menyucikan Sang Hyang Atma yang ada dalam semua mahkluk dari dosa sesuai dengan amal baktinya (Wardana. sehingga memiliki sifat. Dalam alam imanensi umat Hindu di Bali. dipercayai oleh umat Hindu.c) Makna. manifestasi Tuhan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur keharmonisan alam makrokosmos (Bhuana Agung) yang terletak di seluruh penjuru mata angin dan . Selanjutnya Tuhan diwujudkan sebagai Šiwa atau Šiwatman atau Mayasarira Tattwa. fungsi dan aktivitas (Saguna Brahman). Dalam hal tersebut. telah dipengaruhi oleh sakti atau kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. tidak berawal-berakhir. bahwa Tuhan telah berkrida. maka dikenal dewa-dewa yang termasuk kelompok Dewata Nawa Sanga. dengan bermacam-macam manifestasi-Nya dan dipersonifikasikan sebagai dewa-dewi. Tuhan berwujud sebagai Sadašiwa dan dipercayai. maha tahu dan sebagainya serta disebut Nirgunam Brahman (sunya). bahwa Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa berwujud sebagai Paramašiwa. kekal abadi. Tuhan diwujudkan sebagai Sada Šiwa. Namun dalam alam imanensi. dengan keadaan-Nya: “tunggal”.

mikrokosmos (Bhuana Alit) yang terletak pada organ-organ tubuh mahkluk hidup. bahwa Senjata Nawa Sanga tersebut adalah merupakan simbol-simbol atau nyasa dari kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa dalam menjalankan tugas-Nya. Lahir. merupakan simbol kekuasaan tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sambu. Simbol-simbol dalam mayasakti berbentuk senjata tersebut. Trisula . Dan kesembilan dewa tersebut masing-masing memiliki senjata yang disebut dengan Senjata Nawa Sanga Seperti Pada Gambar 14. Dalam Lontar Kekawin Bhomakawya atau Bhomantaka. Setiti dan Pralina. yaitu berfungsi menjalankan tugas sebagai pengatur kehidupan di bumi berdasarkan ketentuan Upeti. Penjelasan lebih lengkap dapat disimak pada Tabel: 2 berikut Tabel 2 Makna Senjata Nawa Sanga No. diciptakan dengan didasari kosmologi khususnya tentang bumi. Nama Senjata (2) Cakra Makna simbol (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Dewa Wisnu untuk mengatur rotasi dan peredaran bumi. (1) 1. 2. 15. Masing-masing mengandung arti atau makna yang saling terkait satu dengan lainnya serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Hidup dan Mati. Dalam hal ini berfungsi sebagai kutub utara yang nantinya dihubungkan dengan Dewa Brahma di kutub selatan sehingga terbentuk sumbu rotasi bumi.

Padma Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Šiwa. baik. sebagai kekuasaan atau kekuatan dari delapan dewa tersebut terpusat pada Dewa Šiwa. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur kemakmuran dan kesejateraan alam semesta bersama isinya. 9. 6. dalam fungsinya sebagai pengatur panas alam (makrokomos dan mikrokosmos). Nagapasa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Mahadewa. (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatanTuhan dalam manifestasi Nya sebagai Dewa Iswara yang bertugas mengatur getaran alam (makrokomos dan mikrokosmos). (yang menyangkut Rwabhineda —siang. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengikat atau pengatur kestabilan alam semesta bersama isinya. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengendali dan penentu dari tugas-tugas yang dijalankan oleh delapan dewa yang terletak di delapan penjuru arah mata angin. 5. Griya Sukawati. 4. 7. (2) Bajra . Gadha Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Brahma. dalam fungsinya mengatur. 8. buruk dan sebagainya —). Dupa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Dewa Mahesora. atau disebut dengan Padma Anglayang atau pangider-ider Narasumber: Ida Pedanda Budha. mengendalikan dan menentukan danda atau hukum alam. malam. Moksala Merupakan simbol kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Rudra.(1) 3. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur atau menentukan sifat dan karakter alam semesta bersama isinya. Angkus Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara. Simbol senjata-Nya digubah dari bentuk bunga teratai atau padma yang bermahkota delapan atau Asta Dala.

kakul-kakulan serta patra punggel. Ciri-crinya: mata besar dan mendelik. di kanan dan kiri dilengkapi dengan telapak tangan yang dikepak. dilatarbelakangi dengan patra wangga. sehingga disebut dengan Karang Bhoma.3. Bhoma a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Bhoma dibuat dalam bentuk relief tinggi yang digolongkan sebagai kekarangan. Gambar 16. Karang tersebut merupakan stilisasi dari bentuk kepala raksasa atau punggalan. Karang Bhoma . Perwujudan bertuk tersebut didasari ceritera Bhomantaka.3. Sebagai salah contoh seperti pada Gambar 16 berikut.

batu padas atau batu bata. Kori Agung Atau Paduraksa Dengan Ragam Hias berupa Bhoma 2) Material: Umunya bahan yang digunakan untuk membuatnya. merupakan gerbang pertama dari sebuah pura atau sebuah pintu yang membatasi halaman kedua atau madia mandala (jaba tengah) dengan halaman pertama atau utama mandala (jeroan) seperti pada Gambar 17 berikut Gambar 17. .b) Fungsinya: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai simbol dan sekaligus ragam hias yang diterapkan di atas relung kori agung atau paduraksa. seperti batu alam.

bahwa perkataan Bhoma berasal dari Bahasa Šanskerta. seperti pohon randu. tonye atau mahkluk halus yang menempati pohon-pohon besar. bahwa Bhoma adalah raksasa putra bumi. tinggal di dalam bumi atau tanah (Monier. pole. c) Makna. Dalam A Šanskrit-English-Dictionary dijelaskan. “abu-abu batu padas” atau merah bata. yang keluar dari bumi. artinya berhubungan dengan bumi. kepuh dan sebagainya. kala. 1963). bahwa Banaspatiraja adalah raja bhuta. mata melotot seram seperti kepala monster. dengen. gigi dan taring mencuat keluar (Covarrubias. . Bhauma. 1978). dijelaskan. mulut terbuka lebar. Bhoma digunakan sebagai simbol dari pepohonan dan disebut Banaspatiraja serta dianggap keramat. nilai-nilai simbolik dan Religius: Bhoma berarti lukisan (ukiran) yang berbentuk muka raksasa atau kala (Bahasa Bali) yang ditempatkan di atas relung pintu gerbang utama pura atau paduraksa (Dinas Pengajaran Propinsi Bali.3) Warna: sesuai dengan bahan yang digunakan. Pandangan tersebut diselaraskan dengan kepercayaan. 1972) Di Bali. seperti: “hitam batu alam”. Sedangkan menurut Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali.

Keropak IV. Dalam pencarian tersebut Dewa Wisnu bertemu dengan Dewi Wasundari (Dewi Pertiwi).b). Dalam pertemuan tersebut akhirnya terjalin hubungan yang dalam sehingga melahirkan seorang putra yang diberi Naraka atau Bhoma (Lontar Bhomantaka.Menurut Mitologi Bhoma dalam kesusastraan Jawa kuno. Mamun usaha mereka sia-sia. Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk mencari pangkalnya dan Dewa Brahhma dengan kesaktiaannya berubah menjadi burung layang-layang hitam terbang meluncur ke atas mengejar ujung lingga. Milihat kejadian tersebut. karena pangkal lingga tersebut terus masuk ke dalam bumi dan ujungnya terus menjulang ke angkasa dengan batas yang tak terhingga. Berawal dari perdebatan antara Dewa Brahma dengan Dewa Wisnu tentang kesaktian yang mereka miliki. mereka tercengang dan memutuskan untuk menemukan ujung dan pangkal dari lingga tersebut. dinarasikan tentang kelahiran Sang Bhoma. Bersamaan dengan kejadian tersebut tiba-tiba muncul sebuah lingga kristal dari bumi dan menjulang ke angkasa. Lampiran 5b. . seperti pada kekawin Bhomantaka. sedangkan Dewa Wisnu berubah wujud menjadi seekor babi jantan dan menggali tanah untuk menemukan pangkal lingga.

Akhirnya Dewa Siwa memerintahkan agar memakan tubuhnya sendiri. Akhirnya raksasa Rau dimakan oleh makhluk tersebut. sehingga bagian kepalanya tetap hidup sedangkan bagian badannya langsung mati. karena raksasa tersebut diketahui sedang minum tirta amertha. Mahkluk tersebut kembali bertanya. tangan. mengerikan— dari ajňa cakra-Nya atau kening. Kepala raksasa tersebut akhirnya murka. Perintah tersebut segera dilakukan. badan.Heinrich Zimmer dalam bukunya Myths and Symbols in Indian Art an Civilization dipaparkan tentang Bhoma sebagai akibat pemenggalan leher raksasa bernama Rau yang dilakukan oleh Dewa Wisnu. Namun pada saat dipenggal tirta tersebut belum sampai di tenggorokan. merusak dan mengganggu aktivitas para dewa di kahyangan. akhirnya Dewa Siwa menjadi sangat marah. Dia mulai makan kaki. . sehingga muncul makhluk yang luar biasa sebagai Ghora Murti Siwa —wujud Tuhan yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang sangat sangat dasyat dan. Namun makhluk yang diciptakan tersebut memiliki sifat yang rakus dan memakan apa saja yang dijumpainya serta sangat tunduk dengan perintah Dewa Siwa. Melihat kejadian tersebut. sampai bagian dibawah leher dan hanya tersisa bagian leher serta kepala.

mereka tidak akan memperoleh rahmatku” (Zimmer. batu padas. Garuda Wisnu a) Karakteristiknya 1) Material: Bahan baku yang digunakan untuk membuat produk itu adalah kayu. 3. dan sebagainya. seperti pada Gambar 18 berikut . batu bata. bertaring dan diberi busana serta mahkota. Tubuh dan anggota badan menyerupai manusia. 2) Bentuk: Pada umumnya bentuk Garuda Wisnu digubah dari bentuk fantasi yang menyerupai burung. gigi runcing. Pada saat tersebut Dewa Siwa bersabda “ Barang siapa yang masuk ke dalam kuilku tanpa menyembahmu.4. Dibagian belakang diberi ekor dan dipunggungnya dibuat patung Dewa Wisnu memegang Cakra. Dewa Siwa memberi tugas untuk menjaga istana Siwa. mata melotot.apa yang saya lakukan lagi ?. berparuh. menghancurkan dan menolak pikiran jahat yang akan merusak kesucian stana Dewa Siwa serta diberi nama Kirttimukha serta diletakan pada bendul pintu utama. menelan. Karena kepatuhannya tersebut. telapak kaki dibuat seperti cakar burung. bersayap. 1945). atau batu alam.

Gambar 18. digunakan sebagai simbol dan hiasan. Garuda Wisnu Tetapi yang digunakan untuk menghias pada sendi tugeh jarang dilengkapi dengan patung Dewa Wisnu. sendi tugeh (dasar tiang penyangga puncak langit-langit pada bangunan piasan). gedong bata dan seba- . biasanya diterapkan di belakang bangunan Pelinggih Padmasana. b) Fungsinya: Produk kriya tersebut mempunyai fungsi religius dan estetis. karena dari punggung patung garuda tersbut. langsung berdiri tugeh atau tiang penyangga menuju puncak langit-langit.

Berikut Gambar 19. naga sebagai simbol .gainya. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam bahasa Šanskerta perkataan “garuda” berasal dari akar kata “gri”. memiliki kekuatan magis untuk menangkal bisa ular). yang berarti “menelan” (penakluk para naga. salah satu contoh penerapannya. sering ditunggangi oleh Dewa Wisnu. seperti pada Gambar 19. Dalam perwujudannya sebagai simbol. Relief Garuda Wisnu Diterapkan di Belakang Padmasana c) Makna. Garuda dipakai sebagai simbol matahari.

Raja Kertajaya (raja yang terhakhir memerintah dikerajaan Kediri). 1995) Setelah bangsa Indonesia bebas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa lain. Penggunaannya semakin berkembang dan terus seperti digunakan oleh Raja Jayabaya. 1946). Hal tersebut dapat diketahui dari tipografi peninggalan cap atau stempel bermotif Garudamukha yang pertama kali digunakan sebagai lencana kepala pemeritahan oleh Sri Maha Raja Blitung (808-910) yang berkuasa di Jawa Tengah. garuda juga digunakan sebagai simbol kebesaran atau penggambaran aspek keagungan Tuhan. maka garuda kembali dijadikan sebagai lambang negara. Di Nusantara. ceriteraceritera rakyat dan dalam bentuk visualnya dipakai sebagai sarana pemujaan oleh umat Hindu di India dan Bali (Zimmer. yaitu Garuda Pancasila. Diperkirakan telah berlangsung sejak pertengahan abad X. Adegan tersebut sangat populer dalam episode Ramayana. Dalam perwujudannya kaki burung Garuda tersebut mencengkram pita yang berisi tulisan tentang ikrar . Prabu Aerlangga dengan peninggalannya yang paling terkenal berupa garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dan sebagainya (Titib.air kosmis dan Wisnu berada pada kedua sisi antagonis tersebut.

kapwa maso mangastuti Sang Garuda. Lambang tersebut sebagai sumber yang kreatif mencerminkan kebebasan untuk menentukan nasib bangsa indonesia di antara bangsabangsa di dunia. twam mahabhagas. twam dewah. twam prabhuprahus tapanah twam nastranam anuttamam Artinya. anak Bhagawan Kacyapa dengan Sang Winata. Kunang pada tejanya lawan teja nghulun. pathagecwara. Apakah yang bersinar itu ? Garuda tiada lain seekor burung yang maha sakti. Makana ling Sang Hyang Agenbi ri sang watek dewata. .bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. dan sinarnya sama dengan sinarku. dalam bahasa Kawi— terdapat satu episode yang menceritakan keajiaban atau kebesaran Sang Garuda. seberikut: Aparan pwa ya makateja Ya? Garudo balawan tesam manuk mahacakti. ling nira: Twam rsi. anak Bhagawan Kacyapa ri Sang Winata ika. Nama tluya sutejasa. Sinanya sangat bagus. Mari ta sira harohara. Dalam Adiparwa —sebuah kesusastraan Jawa yang diperkirakan ditulis pada zaman pemerintahan Raja Darmawangsa Teguh sekitar tahun 918 Saka (918 Masehi).

engkau pendeta besar. sinarmu seperti sinar matahari (Widiatmaja. engkau dewa. Dalam perjalanan mencari tirta amertha ia menemui banyak hambatan. Akhirnya sang Garuda berhasil mengambil tirta amertha yang disimpan dalam goa dilereng gunung Somaka dan membawanya terbang ke angkasa. Mereka tertegun dan berdiam. semua tampil ke depan dan memuji Sang Garuda serta mengatakan: Hyang Garuda. Di angkasa dengan serta merta dewa Wisnu mengampirinya dan menyuruh agar tirta tersebut dikembalikan. Seperti para dewa yang membawa senjata menghadang dan menyrangnya. Dalam episode selanjutnya diceritakan usaha Garuda dalam mencari tirta amertha yang disimpan oleh para dewa di Gunung Somaka. 1958).Demikianlah kata Sang Hyang Ageni kepada para dewa. Tirta tersebut natinya digunakan sebagai persyaratan untuk membebaskan ibunya (Sang Winata) dari perbudakan Sang Kadru. Namun sang Garuda menolaknya dan menyuruh agar para dewa . engkau penguasa segala yang terbang melayang. engkau resi. Namun dengan kesaktiannya tak satupun bulu Garuda tersebut dapat dirontokan oleh senjata para dewa. engkau rajanya.

. kayu. dianggap mengandung nilai-nilai simbolis religius serta disakralkan. maka Garuda Wisnu diterapkan pada bangunan-bangunan suci. kain dan sebagainya. seperti: kulit sapi yang telah disamak. seperti pada Pelinggih Padmasana. Sehubungan dengan hal tersebut. karya sastra tersebut banyak mengilhami para seniman atau para kriyawan masa lalu dalam berkaya. atal ancur dan perada).minta anugrahnya… Episude cerita tersebut diakhiri dengan menerima permintaan dewa Wisnu untuk menjadikannya sebagai kendaraanya dan tirta amerthan tersebut kembali dapat direbut oleh para dewa serta Sang Winata bebas dari perbudakan. Mitologi tentang keagungan atau kesaktian tokoh Garuda dan Wisnu dijadikan sebagai landasan estetika dan penerapan Garuda Wisnu juga sebagai simbol kebesaran Tuhan. pewarna (menggunakan pewarna tradisional. jelaga. Sedangkan di Bali. kaca. 3. praksok ( Bahasa Bali) atau sejenis serat daun pandan. Barong Ket dan Rangda a) Karakteristiknya: 1) Material: Bahan baku yang digunakan.5. seperti: kincu. serbuk tulang menjangan.

Barong Blas-Blasan. Hiasannya. Barong Macan. angkeb pale dan sebagainya. Demikian juga hiasan Rangda. Barong Brutuk dan sebagainya. Warna topeng Rangda umumnya putih.2) Bentuk: Barong yang digunakan di Bali bentuknya sangat beragam dengan sebutan yang berbeda-beda. Gambar 20. Barong Asu. Barong Ket dan Rangda . kembang sasak. silat bahu. geruda mungkur. dibuat dan diwarnai dengan cara yang sama. bulunya diwarnai hitam atau dibiarkan putih (warna praksok). Salah satu contoh berupa Barong Ket dan Rangda dapat dilihat pada Gambar 20 b) Warna: Topeng barong biasanya diwarnai dengan merah. seperti: badong. seperti: Barong Ket. Barong Bangkal. gelung kekendon. dibuat dengan kulit dan diwarnai perada atau warna emas.

sesuai dengan pendapat R. berasal dari kata Bhahrwang. Seperti. tarian yang memakai kedok dan kelengkapannya sebagai binatang buas (singa). Goris. nilai-nilai simbolik dan religius: Banyak pengertian mengenai kata barong. 1975/1976) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. bahwa perkataan barong berarti. yaitu dari kata beer. bahwa sinonimnya disitir dari Bahasa Belanda. dalam melangsungkan upacara odalan di pura. artinya binatang beruang. yaitu tarian yang dipentaskan serangkaian dengan upacara Agama Hindu di Bali. karena selain mengandung nilai-nilai sakral (sebagai sarana upacara agama). Pengertian tersebut. Sedangkan ditinjau dari cara memakai.c) Fungsinya: Barong dan Rangda adalah tergolong produk kriya bebali. Produk kriya tersebut diciptakan dan digunakan sebagai sarana pagelaran seni tari wali. dimainkan oleh . Produk kriya tersebut juga digunakan sebagai pratima dan biasanya di simpan di Pura Dalem. seperti dalam Bahasa Šanskerta. maka perkataan barong diselaraskan dengan perkataan bareng (Bahasa Bali). d) Makna. juga mengandung nilai-nilai profan. artinya bersama —cara menarikan atau memainkan bersama-sama —(Proyek Sasana Budaya Bali.

perkataan itu berarti perempuan yang kehilangan suami (cerai atau meninggal dunia) atau janda (Kridalaksana. Secara singkat . Sedangkan tokoh Rangda melambangkan sifat atau karakter yang mengarah pada hal-hal kurang baik atau adharma. 1994). 1972). sebagai juru penyelamat. Barong dan Rangda dalam episode Calonarang adalah dua tokoh yang melambangkan dua sifat atau karakter berbeda (Rwa Bhineda) atau antagonis. hanya disesuikan dengan suara yang ditimbulkan akibat entakan rahang bawah kedok barong. bahwa penciptaan Barong dan Rangda di Bali diilhami cerita yang terdapat dalam lontar Šiwa Tattwa. di mana Barong sebagai lambang kebenaran atau dharma. dipertunjukkan dengan ceritera Calon Arang (Kridalaksana. 1994). Sedangkan Rangda atau Randa. mengganggu dan sebagai penganut ajaran “beraliran kiwa atau kiri” (black magic) (Covarrubias. satu dibagian kepala dan satu di bagian ekor. Menurut mitologi. Perkataan ”Ket“ tidaklah mengandung arti khusus. Masyarakat di Bali menyebutnya sebagai penganut ajaran beraliran “tengen atau kanan” (white magic). dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. merusak. sewaktu dimainkan. mengayomi dan dapat menyembuhkan penyakit.dua orang.

Masalah tersebut terungkap berkat kehebatan ilmu tenung yang dimiliki dewa Ganesh. maka Dewa Šiwa berubah menjadi Bhuta Egeg (Lontar Šiwa Tattwa.diceritakan tentang kutukan Dewa Šiwa yang ditujukan kepada istrinya Dewi Uma agar berubah menjadi Dewi Durga —Seorang dewi atau perempuan yang berwajah angker dan menakutkan sebagai dewi penguasa kuburan yang bernama setra Gandamayu— karena ulahnya yang tidak wajar dilakukan ketika disuruh mencari susu atau empehan lembu. Lalu untuk memberkati perubahan wujud istrinya menjadi dewi Uma. istrinya menghadap dalam wujud rangda dengan wajah menakutkan. namdala 53-56). Sebenarnya pengembala tersebut adalah siluman dari dewa. mengorbankan kesucian dan kesetiannya. Pada hal kejadian tersebut dibuat oleh Dewa Šiwa. Dia berani menghianati. Ketika hari tersebut tiba. Dalam kutukan tersebut Dewa Šiwa juga mengijinkan istrinya untuk berubah wujud kembali menjadi dewi Uma saat hari tilem sasih kesanga ( saat bulan mati di bulan sembilan). . melakukan perselingkuhan dengan pengembala lembu.

karena sejarah hanya berdasarkan rekaman dan berdasarkan simpulan mengenai lingkungannya (Gottschalk. Namun masa lampau tersebut tidaklah dapat direkonstruksi kembali secara utuh.BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA A. entah suatu susunan yang kronologis ataupun tidak. 1969). Sedangkan yang kronologi terutama menyangkut kehidupan manusia dipakai istilah istoria. Pendekatan tersebut disebut natural history. Dalam penggunaannya oleh filusuf Yunani seperti istoria yang dipakai Aristoteles berarti suatu cara menelaah sesuatu secara sistematis mengenai seperangkat gejala alam. Namun dalam perkembangan selanjutnya metode untuk menelaah sesuatu yang tidak kronologis digunakan istilah scientia. Pendekatan Historis ejarah atau dalam bahasa Inggris disebut history dan berasal dari bahasa Yunani istoria (kata benda) berarti “ilmu”. Dalam definisi yang universal istilah history berarti masa lampau umat manusia. S .

sehingga metode sejarah dapat diterapkan pada berbagai disiplin yang digunakan sebagai sarana untuk memastikan fakta (Gottschalk. 4) Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya tersebut menjadi suatu penyajian atau deskripsi yang berarti. Sejarah merupakan suatu metode atau prosedur (procědě de connaissance). dan deskripsi. karena pada batas-batas tertentu metode sejarah analitis adalah ilmiah.Pendekatan hitoris adalah suatu proses pengujian dan analisis secara kritis hasil rekaman dan peninggalan masa lampau. penyusunan. 2) Menyingkirkan bahan yang dianggap tidak otentik 3) Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan bahan yang otentik. Dan cara tersebut berbeda dengan metode sejarah analitis. Rekonstruksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses historiografi (penulisan sejarah). Cara penulisan sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok yaitu: 1) Pengumpulan data yang berasal dari jaman yang sedang dialami menjadi konsentrasi dan pengumpulan bahan-bahan: tercetak.1969). tertulis dan lisan yang relevan. yakni hasilnya dapat diverifikasi dan dapat titolak atau diterima. dilakukan seleksi. .

Secara umum sumber data yang digunakan dalam penelitian sejarah dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu: 1) Peninggalan berupa material. sehingga masih dapat dikelompokkan sebagai usaha mengungkap fakta masa sekarang. perabotan dan sebagainya. lontar. posil. dilakukan dengan membandingkan gejala yang sejenis.dan sebagainya. bangunan. Bentuk penelitian historis (Namawi. naskah kuno dan sebagainya. monumen. cenderung menggunakan data yang belum terlalu lama. kitab. adatistiadat. baik berdasarkan perbedaan waktu terjadinya atau tempat terjadinya di dalam kurun waktu yang sama. Sedangkan dari segi waktu. kepercayaan. Penggunaan arsip dan dukumen harus dibedakan dengan studi dokumenter yang merupakan metote deskriptif. pendekatan historis menggunakan data yang relatif sudah lampau. hukum.1990): 1) Penelitian atau studi komparatif hitoris. senjata. . dogeng. seperti: candi. seperti berupa ceritera rakyat. 2) Peninggalan tertulis: seperti: prasasti. perhiasan. 3) Peninggalan yang tidak tertulis atau budaya. Studi dokumenter. relief.

4) Penelitian kronologis atau secara diakronis penelitian ini bermaksud untuk mengungkap kejadian atau keadaan dan peristiwa menurut urutan waktunya dari masa yang paling tua dapat dicapai sampai masa-masa mendekati masa sekarang. kerajaan. sehingga berpengaruh bagi kehidupan pada masa terntentu dalam prospek sejarah. Dalam bidang seni. B. lembaga dalam menetapkan kebijakan. kriya dan desain pendekatan semiotis dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah estetika dan semantika produk kriya. Upaya pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan dengan membaca atau menginterpretasikan hubungan antar tanda dan makna pada produk kriya.2) Penelitian legal atau yuridis. pemikiran filsafat dan lain-lain yang dapat ditemui di dalam berbagai peninggalan tertulis terutama buku-buku yang dihasilkan pada zaman tertentu. dilakukan untuk mengungkap berbagai teori pandangan hidup. Bermaksud mengungkap kegiatan-kegiatan pemerintah suatu bangsa. . 3) Penelitian bibliografi atau kepustakaan. Pendekatan Semiotis Pendekatan Semiotis diartikan sebagai prosedur yang digunakan untuk pemecahan masalah yang ditinjau dari perspektif ilmu tanda atau dikenal dengan “semiologi” atau “semiotika”.

Di Eropa ilmu tersebut disebut dengan Semiology. simbol. tanda. hubungan . yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce (1838-1914). yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (18571913). seperti sistem tanda. dalam artian sign atau tanda. Semeion. sebenarnya dalam desain bukan merupakan hal yang baru. yaitu sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi. proses yang berlaku dalam penggunaan atau fungsi tanda. bahwa pengertian semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda. Di Amerika ilmu tersebut disebut dengan Semiotics. ikon yang merupakan hal yang mendasar dalam semiotika. Namun kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani. seorang filosuf dari Amerika. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan. Dia menegaskan bahwa peranan tanda dalam kehidupan sangatlah besar. berasal dari kata signum yang berari sebuah tanda khusus. Sebab menurut Tjahjono (1980) bahwa istilah desain (design) dalam penggunaannya sebagai kata kerja berasal dari kata latin-baru desingare yang berarti ‘menandai’ atau membatasi (penambahan suku kata ‘de’ di depan menunjukkan pemakaian secara intensif). Kata desingare sendiri mempengaruhi kata designer dari bahasa Perancis abad pertengahan (dalam pengertian merancang). seorang linguis dari Swiss. Merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda.Indeks.

pakaian. baik bersifat literal maupun alegori (kias) atau figuratif. penerima dan pengiriman tanda. Third Edition. baik menggunakan bahasa verbal atau ujar maupun non-bahasa atau nirujar. bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda dalam maknanya yang luas di dalam masyarakat. Ruang lingkup kajiannya tidak terbatas pada bidang bahasa saja. konvensi dan sebagainya (Zoest dalam Soekowati. 1992 ). Semiotika mempelajari tentang tanda. 1993).dengan tanda lainnya. 1984). seperti gerak isyarat atau gesture. hubungan antara tanda dengan tanda lainnya. termasuk pengiriman. Dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa bidang kajian semiotika sangat luas. dan berbagai produk lainnya (The American Heritage® Dictionary of the English Language. Kemudian Wiryaatmadja (1981) menyatakan. Luxemburg menyatakan. Batasan tersebut sesuai dengan pendapat Rene Wellek dalam telaah linguistik. cara berfungsi. seperti . bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tentang tanda dan lambang (sistem dan proses perlambangan) (Luxemburg dalam Hartoko. symbol dan myth ke dalam cakupan semiotika (dalam Santosa. tetapi meliputi berbagai aspek kebudayaan. yang memasukan image (citra). 1990). dan penerimaan tanda dalam komunikasi tanda. Dalam pengkajian semiotika menggunakan beberapa pendekatan. metaphor (metafora).

Dalam konteks tersebut. diacu atau ditunjuknya. disebut designatum atau denotatum. lambang (symbol) dan isyarat atau sandi. hubungan dengan tanda-tanda lain dan cara bekerja samanya dalam menjalankan fungsinya.1) Sintaksis semiotika. secara garis besarnya mencakup komponen dasar. tulisan. yaitu studi tentang tanda yang berpusat pada penggolongan. tanda selalu menunjuk pada sesuatu hal yang riil. peristiwa. kejadian. apabila pengkajian menonjolkan hubungan tanda dengan acuannya dan interpretasi yang dihasilkannya. lugas dan objektif. Bidang kajian semiotika seperti dipaparkan tersebut. benda. dan bentuk-bentuk tanda yang lain. bahasa. 1) Tanda (sign) merupakan komponen semiotika yang menandai suatu hal atau keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subyek. tindakan. 3) Pragmatik semiotika. Menurut Peirce. . seperti tanda (sign). misalnya. 2) Semantik semiotika. makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan objek atau sesuatu — apa yang dimaksud oleh tanda. apabila mengutamakan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerima tanda. umum. sehingga tanda memiliki arti yang statis.

Interpretant merupakan suatu peristiwa psikologis dalam pikiran interpreter atau penterjemah. Representamen dapat terlaksana apabila ada bantuan sesuatu. Jadi dalam suatu tanda selalu terdapat tiga unsur.Dalam Bahasa Prancis digunakan kata référent. Keseluruhan dari proses terlaksananya representamen digambarkan oleh Peirce dalam diagram segitiga. Tanda mempunyai dua entitas yaitu: signifier atau wahana tanda dan signified atau wahana makna atau dapat diartikan sebagai penanda dan petanda serta keduanya tidak dapat dipisahkan. (Sudjiman. seperti tampak pada Gambar 21 berikut: . ground dan interpretant. maka dari tanda yang orisinil berkembang menjadi suatu “tanda yang baru” disebut interpretant. Setelah tanda diasosiasikan dengan suatu acuan. 1992). yaitu denotatum. misalnya. sedangkan dalam Bahasa Indonesia disebut “acuan”— disebut representamen. konvensi. “Sesuatu” yang diacu oleh tanda agar dapat berfungsi disebut dengan latar atau ground.

Sumber: Eco 1979 Gambar 21: Proses Berlangsungnya Representamen Salah satu contoh: dua buah produk kriya berupa patung raksasa apitlawang (Bahasa Bali) yang diletakkan mengapit pintu gerbang utama pura atau paduraksa. yaitu untuk “menyadarkan” atau mengingatkan umat. —dua buah patung raksasa tersebut mempunyai fungsi komunikasi tanda visual. Awalnya patung tersebut merupakan tanda untuk “benda biasa” atau sekadar hiasan semata. namun setelah mengacu pada latar (ground) yang terkait dengan pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. loba. sebelum memasuki pura atau tempat suci agar “membunuh” sifat-sifat “keraksasaan” (marah. atau emosi diri yang tak terkendali lainnya)— maka patung tersebut akan menjadi tanda . dengki.

Unsur penanda (dasar atau latar) atau ground dari tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifatnya. konvensi atau kode. tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifat penghubung tanda dengan denotatum. yaitu: . b) Sinsign berasal dari singular sign adalah tanda terbentuk berdasarkan penampilannya yang nyata. maka pada dirinya akan muncul interpretasi yang menggugah kesadaran. seperti. semua pernyataan individual yang belum terkonvensikan dapat disebut sinsign. dapat dikatakan representemen dari patung tersebut dapat berlangsung dengan baik. Selain hal tersebut. bahwa memasuki pura hendaknya mengendalikan “emosi”. Dalam kondisi tersebut. Bagi umat yang memahami latar atau ground yang tersirat pada patung tersebut. c) Legisign adalah tanda terbentuk atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum. sehingga dapat mengikuti upacara dengan khidmat.baru yang memuat latar tersebut. yaitu: a) Qualisign adalah terbentuknya tanda berdasarkan sifat atau kualitas.

Batasan tersebut mengimplikasikan bahwa segala sesuatu merupakan icon. karena semua yang ada di alam dapat diasosiasikan dengan yang lain. c) Symbol atau lambang adalah hubungan berdasarkan konvensi dari suatu kelompok komunitas manusia. .a) Iconic adalah tanda terbentuk berdasarkan suatu kemiripan potensial yang dimilikinya dan tidak tergantung pada makna denotatum. membawa penjelasan mengenai daya atau kekuatan kebenaran pada sistem-sistem semiotika. c) Argument atau interpretant dalam arti umum. ada asap sebagai pertanda ada api dan sebagainya. apabila bagi interpretant tanda itu. yaitu: a) Rhême. apabila tanda tersebut dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum. Dalam hal tersebut tanda terkait dengan renungan kebenaran. menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda denotatum. b) Dicisign. Contoh. Selanjutnya unsur interpretant atau petanda dapat dibedakan menjadi tiga. b) Indeks adalah tanda yang sangat tergantung pada denotatum dan memiliki hubungan bersebelahan atau kedekatan eksistensi.

bahwa semua mahkluk ciptaan Tuhan dalam menghadapi realita kehidupan. yaitu sistem penerimaan dan pemberian. berarti perbandingan dengan sesuatu. yaitu kemampuan untuk menciptakan “sistem simbolik”. karena hampir semua aktivitas dalam kehidupan manusia sehari-hari.. seperti dalam berpikir. Dan sekaligus dipakai untuk menandai salah satu perbedaan manusia dengan binatang Sehingga ia menyatakan: ”. membaca. dari dulu hingga sekarang tidak terlepas dari aktivitas simbolisasi. bekerja dan sebagainya. we should define him as animal symbolicum”. Namun manusia selain terlibat dua sistem tersebut. symballein (suatu bentuk kata kerja) yang berarti meletakan secara bersama atau menaksir bersama. berkomunikasi. 1944). instead of defining man as an animal rationale. Istilah simbol berasal dari perkataan Yunani. maksudnya prihal yang .. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ernst Cassirer.2) Lambang atau simbol . Manusia sering disebut sebagai “mahkluk simbolik”. sebagai kata benda. juga mempunyai kelebihan untuk menciptakan sistem komunikasi dengan matra baru yang menyesuaikan dengan lingkungan realitas. bersikap. umumnya dilandasi oleh dua sistem. (Cassirer. berperasaan.

berdasarkan konvensi atau kode yang berlaku umum dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu. denotatum. karena merupakan analogi tanda untuk menghadirkan tanda yang lain. Ogden dan Richards dalam Eco (1979) memberi dua istilah. yaitu reference (yang mengandung. Dalam kaitan dengan simbol. Lambang atau simbol adalah tanda yang mampu menuntun pemahaman si subjek kepada objek berhubungan dengan makna denotatum dan konotatum. Ketiga komponen tersebut digambarkan dalam diagram segitiga.harus dikaji dengan kritis. isi atau konsep sebagai acuan) dan referent (yang mengandung persepsi. seperti Gambar 22 berikut. sebagai hasil interpretasi). “sesuatu” dan sebagainya. Sumber: Eco 1979 Gambar 22 Berlangsungnya Referent .

sering . impian dan bentuk-bentuk abstrak lainnya dapat direalisasikan dalam wujud simbol. Sebenarnya penerapan ketiga komponen semiotika. Dalam keadaan tersebut. Perwujudannya sangat tergantung pada permasalahan yang bersifat kultural. kias. apabila ditangguhkan pemakaiannya. si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek yang memberi isyarat pada waktu itu juga. situasional dan kondisional. dan majas. Jadi isyarat selalu bersifat temporal (kewaktuan). khayalan. Lambang atau simbol merupakan pedoman untuk memudahkan pengenalan atau penghayatan sesuatu di tengah-tengah kesemerautan perbuatan manusia dan keragaman kejadian alam.Jadi simbol merupakan tanda yang mengandung pengertian sertaan dan antara simbol dengan yang disimbolkan atau referent yang dihasilkan sama sekali tidak terdapat pertalian makna alamiah. simbol dan isyarat. sehingga lambang atau simbol bermakna dinamis. khusus. Karena di dalamnya terkandung kaidah yang bertalian dengan akal budi dalam seluruh paradigma tentang kehidupan sadar dan di bawah sadar. seperti tanda.1990). isyarat akan berubah menjadi tanda atau perlambang (Santosa. subyektif. Mitos. 3) Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan oleh si subjek kepada objek.

terutama dalam menentukan garis demarkasinya secara tepat. seperti Tabel 2 berikut: Tabel 2 Tiga Komponen Semiotika No. karena terkonvensi berbentuk konkret dan atau abstrak. 6. yang dipakai sebagai dasar isyarat tidak ada hubungan khusus dengan yang diisyaratkan. dan dapat juga oleh binatang setelah diajarkan secara berulangulang yang dipakai untuk tanda selalu mempunyai hubungan khusus dengan yang ditandai (kontekstual). ISYARAT/SANDI (4) diberitahukan oleh subjek kepada objek (subjek aktif) hanya memuat satu arti diberitahukan oleh subjek kepada objek secara langsung (berlaku satu kali) 2. Hal tersebut disebabkan. (1) 1. berbentuk abstrak dapat dikenal oleh binatang dan manusia yang dipakai untuk lambang atau simbol tidak mempunyai hubungan khusus dengan yang dilambangkan atau disimbolkan. 4. Namun berdasarkan uraian tersebut.menemui kesulitan. . secara garis besarnya dapat dilihat ciri masing-masing komponen tersebut. karena ketiganya saling terkait. 3. diketahui oleh manusia. 5. berbentuk konkret dan / atau abstrak. subjek dituntun memahami objek secara terus menerus (berlaku secara konstan). hanya dapat dipahami oleh manusia. TANDA (2) subjek diberitahu oleh objek (subjek pasif) hanya memuat dua arti subjek dibeitahu oleh objek terus menerus (berlaku konstan) SIMBOL (3) subjek dituntun memahami objek (subjek aktif) memuat banyak arti atau sedikit-dikitnya dua arti.

Simbol-simbol tersebut diupayakan dengan harapan agar dapat “mempermudah” . Hal tersebut dilakukan mengingat dalam mengamalkan ajarannya. Sehubungan dengan hal tersebut. 1983) (3) diciptakan oleh manusia untuk manusia. penanda (signifier) dan petanda (signified) meunjukkan hubungan yang “statis”— merupakan semiotika dengan model berpikir struktur. (4) diciptakan oleh manusia untuk manusia dan “mahkluk lain” Penjelasan semiotika tersebut. maka model semiotika tersebut akan dipakai untuk menjelaskan atau memaparkan tinjauan mengenai penggunaan tanda atau simbol dalam masyarakat Hindu di Bali pada zaman Hindu dan pewaris tradisi tersebut. alam dan juga binatang untuk manusia dan/atau binatang. Terutama penggunaan tanda atau simbol dalam konteks pelaksanaan ajaran agama Hindu sesuai adat di Bali. harus mengikuti model struktur kaitan antara penanda dengan petanda yang berlangsung stabil atau mapan— serta sebagai konsep dari paham strukturalis. (2) diciptakan oleh manusia. sinkronik dan konvensional —Apapun bentuk pertukaran tanda. hampir semua diwujudkan dalam bentuk simbol atau lambang dengan konvensi yang telah mapan dan stabil yang mengacu pada mitologi atau filosofi agama Hindu dan didasari keyakinan.(1) 7. (Herusatoto. terutama terkait dengan model semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure maupun Ogden dan Richards —dimana antara tanda (sign).

Sedangkan kajian semiotika terkait dengan fenomena eklektik pada desain produk masa kini di Bali diuraikan berdasarkan model semiotika ‘intertekstualitas’ (intertextuality) yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva. Model semiotika tersebut merupakan pengembangan lebih lanjut dari paham ‘dialogisme’ (dialogism) yang diperkenalkan oleh Mikhail Bakthin. Sebuah teks atau produk desain atau seni selalu dibuat dalam ruang dan waktu yang konkrit. senjata dan sebagainya. Oleh sebab itu. Menurut pendapat Mikhail Bakthin. Pemikiran tersebut menjadi salah satu konsep dalam paham post-strukturalisme. seorang pemikir Rusia. Dalam buku Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979). maka antara satu teks atau produk dengan teks atau produk yang lain dalam ruang dan antara satu teks atau produk dengan teks atau produk sebelumnya yang saling silang me- . bahwa “dialogisme” sebagai relasi-relasi yang harus ada di antara ungkapan-ungkapan dalam discourse. relief. karena tidak ada ungkapan yang tidak terkait dengan ungkapan lain. seorang pemikir post-strukturalis dari Perancis. Misalnya.penghayatan kepada sifat-sifat maya Tuhan. diwujudkan dalam produk-produk kriya seperti: patung. Kristeva menerangkan bahwa pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam analisis teks atau produk desain atau seni.

sering dijumpai .nyilang satu dengan yang lainnya dalam rentang waktu tertentu mesti ada relasi-relasi ( Kristeva. ‘pelesetan’ bagian tanda dari sistem tanda yang menjadi referensinya. Istilah intertekstualitas merupakan proses perlintasan atau diistilahkan dengan ‘transposisi’ (transposition) dari satu sistem tanda (sign system) ke sistem tanda yang lain. Misalnya dapat menimbulkan terjadi ‘penghapusan’ atau ‘pengkaburan’. Pemakaian petanda sebelumnya yang telah mapan untuk petanda baru yang kurang jelas maksudnya akan menunjukkan terjadinya suatu perlintasan sistem tanda. 1979). Konsep intertekstualitas yang dikembangkan oleh Kristeva tersebut dapat digambarkan dalam suatu sekematik seperti Gambar 23 berikut Gambar 23 Transposisi Sistem Tanda Berdasarkan Model Semiotika Intertekstualitas (Intertextuality) Dalam penggunaan tanda atau simbol dengan petanda atau maknanya di masyarakat. suatu sistem tanda kadang-kadang dapat berdampak negatif atau ‘merusak’ sistem tanda sebelumnya. sehingga sepanjang perlintasan tersebut.

C. akan dilakukan tinjauan berdasarkan konsep yang melatarbelakangi penciptaannya. Hal tersebut. prestise. nostagia. misalnya dalam pengadaan komoditi mata dagangan.terjadi fenomena “permainan penanda”. seperti telah dipaparkan tersebut. image. mengingat produk-produk kriya masa lalu juga merupakan salah satu artefak kebudayaan. Konsumen sering disuguhi permanen tanda-tanda atau simbol-simbol yang dikondisikan oleh pihak produsen dengan tujuan untuk memperoleh benefit atau untuk memenangkan kompetisi dagang. maka permasalahan rancangan produk-produk kriya juga dapat dianalisis berdasarkan pendekatan semiotika. seperti konsep “sekular” dan konsep spiritual religius serta dikaitkan dengan nilai fungsi guna dan estetis yang dikandungnya. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya Berdasarkan uraian tersebut dan dikaitkan dengan penciptaan serta penggunaan produk kriya dalam kehidupan masyarakat di Bali. di dalam tersirat nilai-nilai atau norma-norma budaya yang melibatkan beberapa komponen semiotika. Untuk lebih jelasnya mengenai permasalahan semiotika dalam produk-produk kriya. janji dan sebagainya. Pada mata dagangan tersebut terjadi ekspansi secara total serta perkembangbiakan konvensi tanda yang tak terbatas untuk mencapai kesenangan. .

memotong. sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan akan produk kriya. maka para pemakai (user) akan secara gamblang dapat menafsirkan tanda-tanda yang bekerja pada wujud visualnya. seperti kebutuhan produk kriya berupa peralatan kerja untuk profesi sebagai petani. menusuk dan sebagainya. Konsep Sekular Berbagai aktivitas kehidupan masyarakat di Bali. maka tampak tanda-tanda yang diterapkan lebih mengutamakan makna denotasi dan mengarah pada kategori pragmatis semiotika. objektif dan mengutamakan segi utilitas karena semata-mata untuk dipakai. dan sebagainya. karena bangun tanda yang diwujudkan lebih lugas. produk kriya berfungsi sebagai wadah.1. Sistem tanda tersebut dapat sebagai penuntun dalam penggunaan produk tersebut. Dengan konsep penerapan tanda tersebut. Misalnya. pedagang. Wujud produk kriya fungsional yang diperuntukan sebagai peralatan kerja (working tool) dalam perencanaannya terkait dengan tuntutan kebutuhan suatu profesi. tukang. jika ditinjau dari sudut semiotika. Sehingga ditinjau dari historis dan semiotis produk yang digunakan oleh seseorang dengan mata pencaharian tertentu juga dapat dipakai sebagai . baik berupa produk fungsional sebagai alat bantu. maupun sebagai produk yang berfungsi estetis sebagai benda hiasan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekular. alat untuk mengambil. Konsep desain produk kriya untuk benda fungsional.

alat bajak yang ditarik oleh sapi dengan fungsi untuk membajak tanah pertanian. maka tuntutan kebutuhan hidupnya juga semakin kompleks dan bervariasi. karena interpretasi menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda dan denotasinya. . maka berbagai upaya dilakukan oleh para kriyawan untuk menghasilkan produk kriya yang unik. Menawarkan berbagai alternatif produk dengan menanamkan tanda atau simbol dengan makna konotatif. melainkan mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan bersifat “sekular” atau hedonistik. makna dan sebagainya. Produk kriya seperti tersebut. Misalnya. keselarasan. kesatuan. Pemenuhan kebutuhan akan produk kriya tidak hanya terbatas pada fungsi guna semata. Produk kriya yang diciptakan disertai dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan menyangkut hal-hal bersifat psikis. maka alat tersebut jelas digunakan oleh profesi seseorang sebagai petani tradisional. sehingga secara subjektif dapat menyentuh sukma dan dirasakan sebagai penghargaan bagi para pemakai. Kemudian dengan semakin majunya tingkat peradaban masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut. Seperti mempertimbangkan segi estetis yang menyangkut keseimbangan. indah dan dengan berbagai karakteristiknya. dalam konteks semiotika akan bertindak sebagai dicisign.indeks mengenai profesi seseorang. Dengan upaya tersebut dapat melahirkan suatu image atau citra rasa tertentu dalam masyarakat.

dikonsumsi dan dipakai tanda kenangan atau sebagai simbol harga diri seseorang atau prestise. bahwa mereka pernah berkunjung ke objek wisata di Bali dan sebagainya. Produk-produk kriya diangkat statusnya dan digunakan se- . Di antara para wisatawan yang berkunjung ke Bali tampak banyak yang menbeli produk-produk kriya tradisonal Bali disertai dengan harapan untuk memperoleh kenangan-kenangan tentang hasil kebudayaan tradisional Bali atau dipakai sebagai tanda kebanggaan. juga disepakati sebagai tanda atau simbol ikatan perkawinan. Produk kriya berupa cincin. Pada fenomena tersebut tanpa disadari terjadi permainan tanda dengan konvensi yang terkondisikan dan dengan matra yang tak terbatas. juga tampak fenomena memakai kekuatan nilai tukar yang kecenderungannya lebih menyandarkan pada makna konotasi. keagungan atau kekuasaan seorang individu ciptaan Tuhan yang memiliki status sebagai raja. Dalam perkembangan produk kriya sebagai mata dagangan.Misalnya. produk kriya berupa mahkota yang dibuat dengan berbagai hiasan dan tanda atau simbol yang terkonvensi dalam suatu masyarakat. Misalnya dalam fenomena kecenderungan membeli produk kriya tradisonal Bali. produk tersebut dengan faham fitisime dapat berfungsi untuk pembeda status sosial di dalam masyarakat. sebagai simbol kebesaran. Produk-produk kriya tradisonal yang memiliki ciri khas daerah tertentu dan sebagainya. selain digunakan untuk perhiasan. Pada zaman kerajaan.

1981). biasanya melanjutkan tingkatan hidupnya ke arah mencari nilai religius. manusia menginginkan adanya jalinan hubungan dengan Tuhan atau keinginannya untuk menerima ikatan-Nya. 2. Konsumer terkadang bukan lagi mencari konteks makna. maut. sehingga berkembang sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan dan penafsiran terhadap sifat-sifat Tuhan serta wujud dari alam gaib yang transendental. misalnya menyangkut tentang hakikat hidup. bayangan wujud dewa-dewa dan mahkluk halus lainnya yang mendiami alam tidak nyata. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Baudrillard. Dalam hal tersebut akhirnya produk kriya menjadi Rhême. bahwa dalam kondisi seperti tersebut justru nilai guna sering kali tak lebih dari semacam jaminan praktis (alibi) (Baudrillard. Konsep Spiritual Religius Manusia Bali setelah melalui tingkatan hidup estetis dan etis. karena diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotasinya. mitologi . kadang-kadang tindakan tersebut sampai melupakan nilai utilitas dan religius pada produk tersebut. sehingga terjadi ketidakstabilan penanda dan petanda. Pada tingkatan ini. Keyakinan itu bersumber dari: ajaran agama berupa wahyu suci yang terhimpun dalam kitab-kitab suci.bagai simbol-simbol tertentu yang menghasilkan berbagai interpretasi pada masyarakat konsumen.

bersemedi. bersujud. bersaji. Perilaku tersebut diwujudkan dalam berbagai macam ungkapan seperti. Produk-produk kriya yang dipakai dalam upacara agama. Sehubungan dengan tujuan manusia tersebut.dan ceritera-ceritera rakyat berupa dongeng yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat tertentu. sehingga dalam produk tersebut terpatri suatu “ideologi” tertentu yang nilai-nilainya diyakini dan dijadikan sebagai tradisi. Produk kriya tersebut digunakan sebagai “alat” . Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol. maka muncul sistem upacara religius yang merupakan visualisasi kelakuan atau behavioral manifestation. menyanyi. sarana komunikasi. Selain hal tersebut. berupa bangunan suci. berprosesi. peralatan upacara dan fungsi estetis dalam wujud benda hiasan. Salah satu contoh dapat dilihat dalam tata cara penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. pada umumnya mencakup beberapa fungsi. misalnya. dan sebagainya. berdoa. berbagai peralatan upacara termasuk melibatkan produk-produk kriya yang disakralkan. bertapa. berpuasa. dalam perwujudannya dilandasi dengan suatu konvensi yang acuannya merujuk pada ajaran agama atau kepercayaan dari suatu komunitas manusia yang sepaham. juga muncul penghargaan pada suatu benda untuk digunakan sebagai sarana pendukung kepercayaannya. seperti berfungsi sebagai simbol. berkurban. menari. beryajña.

upacara, simbol-simbol diwujudkan berdasarkan konvensi yang mengacu atau dilatari kosmologi Hinduistis di Bali, sebagai media komunikasi yang dilandasi konsep Tri Hita Karana dan difungsikan sebagai hiasan. Produk kriya yang digunakan untuk simbol tersebut, merupakan tanda bersifat argument, karena interpretasinya terkait dengan renungan tentang kebenaran keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan maha segalagalanya (seperti telah disinggung di depan). Dengan penggunaan simbol-simbol tersebut, diharapkan dapat mempermudah penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu serta untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak-Nya tersebut. Perwujudan produk kriya sebagai tanda atau simbol, kadang dapat dalam bentuk icon, seperti stilasi bentuk manusia, binatang, benda alam dan sebaginya. Misalnya diwujudkan dalam berbagai produk kriya, seperti berbentuk relief, patung atau pratima dan sebagainya atau dibuat berdasarkan kualitas material yang digunakan atau qualisign, misalnya, warna (darah binatang, warna bunga, kapur, arang dan lainnya), karakter bahan (suatu jenis kayu, batu, kulit, logam dan sebagainya). Namun tidak dipungkiri, bahwa dalam menginterpretasikan simbol-simbol tersebut, sering terjadi perbedaan pandangan, sehingga melahirkan interpretasi bersifat mendua antara masyarakat yang berada dalam konvensi dengan di luarnya. Salah satu contoh produk

kriya berupa umbul-umbul bergambar naga taksaka yang digunakan sebagai salah satu sarana upacara Agama Hindu di Bali. Bagi umat Hindu menganggap benda tersebut sebagai tanda diadakan upacara agama dan sekaligus penerapan gambar naga taksaka disepakati sebagai simbol lapisan alam atas (Swah Loka). Sebagai dasar acuannya adalah kosmologi Hinduistis dengan interpretasi yang bersifat konotatif dan dianggap sakral. Sedangkan bagi umat atau orang yang tidak paham atau berada di luar konvensi tersebut, melihat umbulumbul tersebut hanya sekedar hiasan belaka. Fenomena seperti itu, belakangan ini memang cukup banyak terjadi di daerah Bali. Produk-produk kriya seperti itu, kadang hanya dilihat dari fungsi estetisnya saja. D. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu Eklektik adalah suatu usaha yang bersifat memilih unsur-unsur yang baik atau menggunakan bermacammacam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya, baik berupa orang, gaya, metode, kepercayaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam buku ini yang dimaksudkan adalah eklektisme terhadap elemen estetis masa lalu yang diterapkan pada desain produk masa kini. Tindakan “memilih” unsur-unsur tersebut secara tidak langsung jelas akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada vitalitas idiom masa lalu itu sendiri maupun kesatu-

an substansi pada desain produk masa kini. Fenomena tersebut dapat dipahami dari beberapa istilah seperti berikut: 1) Pastiche Istilah pastiche berarti menyusun elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai pengarang atau seniman masa lalu. Oleh sebab itu, istilah ini bisa mengandung pengertian dengan konotasi negatif dan dianggap miskin orisinallitas (Baldick dalam Yasraf 1994). Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Parody, dijelaskan bahwa: Pastiche, in this sense, is a pure imitation without any pretension. A pastiche text imitate other past text, in order to emulate or to appreciate them. Pastiche has been called by one critic as “form rendering” to describe its superficiality, that is, its lack to thoroughness. (Hutcheon, 1985). Menurut Linda Hutcheon, pastiche adalah suatu bentuk imitasi murni, tanpa disertai dengan pretensi tertentu. Gaya atau teks yang dipakai meniru dari teks masa lalu, disebut sebagai kritikan “gubahan bentuk” yang menunjukan suatu kedangkalan sebagai kekurangan yang utama. Selain hal tersebut, Fredric Jameson secara metaforis menyebut istilah tersebut sebagai “penggunaan topeng sejarah, pengungkap-

Jadi dari uraian tersebut. kritik. . seni. atau arsitektur dengan tendensi bersifat memilih dan didistorsi. kemudian diimitasi dalam suatu produk dengan tujuan mengarah pada humoristik dan kadang kala bersifat “pelesetan”. atau kemasyuran) (Yasraf. gaya atau produk yang menjadi sasarannya (kelemahan. 2) Parody Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994). pada dasarnya parodi adalah merupakan suatu fenomena yang terjadi dalam produk sastra. bahkan bermuatan politis dan ideologis. 1991). artinya produk sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya atau kata penulis atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan. Dalam peniruannya dapat bersifat ironis dan kritis. 1994). Parodi merupakan suatu bentuk “dialogisme tekstual”. dijelaskan bahwa.an dalam bahasa yang telah mati” (Jameson dalam Yasraf. Dengan demikian. parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk. dan humor. parody (parodi). kekurangan. keseriusan. yaitu dua teks atau lebih dipertemukan dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat.

(Greenberg dalam Yasraf. secara harfiah berarti “memungut sampah dari jalan”. pada awalnya keberadaan kitsch didorong oleh semangat mereproduksi. Selain hal tersebut. merupakan suatu upaya untuk menghasilkan efek-efek reproduksi dalam sistem kebudayaan massa atau membangun aura seni dari reproduksi itu sendiri. Mengimitasi suatu bentuk gaya atau objek untuk tujuan yang palsu. konsumsi dan komunikasi massa. Menurut Clement Greenberg. Dalam bidang seni. yang diakibatkan oleh berkembangnya produksi. istilah ini sering diselaraskan artinya sebagai “sampah artistik” atau sering diberi pengertian sebagai “selera rendahan” atau segala produk seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera.3) Kitsch Istilah Kitsch berasal dari bahasa Jerman. kitsch bertujuan mensimulasi atau mengkopi elemen-elemen gaya “seni tinggi” atau objek sehari-hari untuk kepentingan sendiri dan menjadikan sebagai mass product. Predikat kitsch sebagai selera rendahan dimanifestasikan oleh lemahnya ukuran dan kriteria estetis yang dipakai. 1995). verkitshen berarti “membuat murahan”. . Dan kistchen.

ternyata dalam usaha perluasan desain masa kini yang berciri khas Bali. dengan mengusung eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional dan dieksploitasi pada desain masa kini. berusaha menampilkan sesuatu yang special. dan style dengan distorsi yang berlebihan dan meremehkan isi serta netral. Dalam suatu bentuk produk seni. 1992). tekstur. Merupakan kemenangan gaya atas isi. Selanjutnya untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari tindakan eklektis terhadap produk kriya masa lalu dapat dipahami .4) Camp Pada fenomena estetika pengertian camp sering dikelirukan dengan istilah kitsch yang mengarah pada pengertian “selera rendahan” atau merupakan “sampah estetik”. berlebihan dan glamor (Sontag. Dalam upaya mewujudkan produk. camp lebih menititik beratkan pada dekorasi. Sebenarnya camp merupakan salah satu cara untuk melihat dunia sebagai suatu gejala estetik dalam derajat kecerdasan. estetik atas moral dan ironi atas tragedi. Dengan memahami beberapa istilah di atas. permukaan sensual. Hubungannya dengan masa lalu bersifat “mendaurulang” dan sentimentil. kesemuan dan stylization atau penggayaan. kadang-kadang juga dapat menimbulkan dampak tersebut.

pada uraian berikut. . yaitu dengan menganalisa beberapa contoh kasus penerapan elemen estetis produk kriya secara eklektik pada desain masa kini di Bali seperti diuraikan pada Bab V.

Kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala dan terus mengalami perkembangan dan perubahan yang didorong oleh berbagai faktor. maka suatu masyarakat dengan kebudayaannya secara mutlak tidak mungkin dapat hidup statis. Oleh sebab itu. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini 1. stagnan dan terisolir. baik faktor internal yang disebabkan oleh penggunaan dan penghargaan .BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan atau pergeseran dalam fungsi waktu dengan laju yang bervariasi. Kajian Historis Transformasi atau pergeseran merupakan suatu fenomena yang universal dan selalu mewarnai lintas sejarah perkembangan kebudayaan suatu masyarakat.

Misalnya. berupa peralatan kerja untuk penunjang berbagai aktivitas hidup sehari-hari. umumnya memiliki pola pikir terbatas . saat penduduk Bali masih hidup nomaden. Bersamaan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sering dijumpai kasus fenomena penerapan elemen estetis produk kriya tradisional secara eklektik. Faktor pendorong tersebut seperti (1) karena adanya tuntutan kebutuhan produk kriya fungsional yang mengandung nilai utilitas. bahwa sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan neolitikum dan perunggu. untuk memenuhi kebutuhan produk kriya penunjang kepariwisataan dan sebagai komoditi ekspor. Ditinjau dari sudut historis mengenai perkembangan dan perubahan penciptaan serta penggunaan produk kriya di Bali. hedonistik dengan mengutamakan fungsi estetis dan efek finansial yang ditimbulkannya. Faktor pendorong tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 24. maupun faktor eksternal berupa pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar melalui proses akulturasi yang berlangsung dari zaman ke zaman dalam kapasitas yang berbeda-beda.produk kriya dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Bali. (2) sarana penunjang keagamaan atau kepercayaan dan untuk dipersembahkan kepada raja dan keluarganya (3) kebutuhan produk kriya untuk menunjang kebutuhan lain yang mengarah pada penciptaan produk kriya untuk memenuhi kebutuhan bersifat sekular. secara diakoronis dapat disimak.

ranting kayu dan sebagainya. maka dalam sistem peralatan dan perlengkapan hidup mengalami perubahan. dengan proses pengerjaan masih sangat sederhana. mereka menggunakan peralatan berupa produk kriya terbuat dengan batu. PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KEGIATAN EKSPOR PRODUK KERAJINAN DI BALI SARANA PENUNJANG Produk-produk kriya berupa:  Souvenir  menciptakan citra atau suasana MUATAN LOKAL/ ETOS KEBUDAYAAN UNSUR-UNSUR EKLEKTIK PADA KARYA MASA LALU (latar belakang sejarah) Gambar 24 Faktor Pendorong Munculnya Tindakan Eklektik Terhadap Elemen Estetis Tradisioanal Bali Di masa-masa selanjutnya.pada usaha pemenuhan kebutuhan berupa makanan untuk kelangsungan hidupnya. Dalam melakukan usaha tersebut. Penduduk di Bali telah mampu . setelah masuknya pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu di Bali. tulang binatang.

Pada zaman tersebut. nekara perunggu diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai simbol-simbol terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Pada zaman Hindu. pertimbangan mengenai keindahan. sarkofagus untuk tempat mayat dan sebagai tanda penghormatan atau simbol kendaraan arwah. batu. sistem relegi yang berkembang dan semakin menggejalanya pengaruh integrasi kebudayaan dari luar serta didukung dengan banyak waktu luang yang dimilikinya sebagai masyarakat agraris. cincin untuk bekal kubur dan sebagainya. kenyamanan dan simbolisasi sudah menggejala dan menjadi bagian yang esensial. misalnya peralatan berupa kapak batu yang dibentuk dan digosok sampai halus. hasrat. nafsu atau emosi dalam diri individu untuk menghargai suatu materi yang distimuli oleh alam atau lingkungan masyarakat yang terbentuk. Dalam proses penciptaan produkproduk kriya. Munculnya gejala tersebut. disebabkan semakin meningkatnya kesadaran. misalnya dikerjakan sambil menunggu datangnya musim panen. gerabah (tanah liat yang dibakar) dan sebagainya yang dikerjakan dengan teknik lebih sempurna.menciptakan produk-produk kriya berupa peralatan terbuat dengan logam. masyarakat sudah mampu menghasilkan produk-produk kriya yang bermutu. di Bali terjadi suatu “intervensi kebudayaan” yang bersifat menyempurnakan kebudayaan tradisi masa lalu dengan berorientasi pada .

Perwujudannya berupa hiasan. Semua kegiatan ekonomi. wayang. sedangkan unsur kebudayaan Jawa umumnya tampak pada taraf ritual yang bersumber pada kitab suci Weda. barang gerabah. pembinaan dan peletakan dasar-dasar ajaran Agama Hindu. religius. patung. Dengan sikap tersebut. Terjadi suatu sinkretisasi atau proses penyerasian dua aliran (agama) dan akulturasi yang harmonis antara unsur-unsur kebudayaan India. senjata. dan loyalitas dengan kecenderungan dedikasi. karma phala yang diwujudkan dalam sikap kebersamaan (kolektif). berbagai bentuk topeng.penyebaran. maka para kriyawan saat itu mampu menghasilkan produk-produk puncak dengan kualitas yang sangat tinggi. seperti berupa hiasan pada pura. Hindu dari Jawa Timur bergabung dengan kultur agraris dan pemujaan roh leluhur yang telah tumbuh di masyarakat Bali. Penciptaan produk-produk kriya dominan dikembangkan untuk keperluan Agama Hindu dan kerajaan. Perpaduan tersebut melahirkan suatu kebudayaan yang bercorak khas Bali. Unsur India dominan pada taraf filsafat dan mitologi. simbol dan benda pakai. pembinaan umat dan dipersembahkan kepada raja. Motivasi penciptaan dilandasi dengan konsep dharma. ketekunan serta keiklasan yang sangat tinggi. sosial kemasyarakatan dan kebudayaan Bali dirumuskan dengan “bahasa” agama Hindu. . meliputi sistem peralatan dan perlengkapan hidup. seperti ditujukan untuk menunjang kebutuhan sarana upacara ritual.

tanah liat. Produk-produk kriya tersebut termasuk katergori produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan.busana hasil tenunan tradisional (berupa kain songket. yang terkait dengan kepercayaan tentang keagungan dan kekuasaan Tuhan serta ajaran suci tentang ciptaanNya. Tergolong jenis kesenian Wali yang dianggap sebagai benda sakral karena. Bahan yang digunakan. dalam pembuatannya mutlak disertai dengan proses penyucian atau melalui beberapa tahap penyucian (lihat Tabel 1. ternyata di dalamnya sarat mengandung makna atau nilai-nilai kesucian yang adiluhung. halaman: 61). kayu dan sebagainya. misalnya berupa simbol-simbol alam makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). sabuk dan sejenisnya). Produk-produk tersebut diciptakan dengan dilandasi kosmologi Hinduistis dan adat di Bali. kulit binatang. Hal tersebut mengingat heterogen- . Beberapa jenis kegiatan penciptaan produk kriya itu diwariskan dari generasi ke genarasi berikutnya dan sampai sekarang masih ditekuni oleh masyarakat kriyawan di beberapa daerah di Bali. khususnya yang digunakan dalam melaksanakan upacara ritual. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol atau tanda terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. ternyata sampai sekarang masih digunakan dan diyakini oleh umat Hindu di Bali. seperti logam. Ditinjau dari sudut keyakinan umat Hindu di Bali terhadap nilai kesakralan yang dikandungnya.

Demikian juga dalam sifat Weda dan filsafat Wedanta. budaya tersebut juga dipakai sebagai daya tarik utama. dalam konteks pengembangan pariwisata. Bali dan kebudayaannya diperkenalkan sebagai daerah tujuan wisata. maupun sesuai kerangka agama Hindu. maka pengaruh-pengaruh Belanda dan kebudayaan masyarakat dari luar lainnya semakin merebak masuk ke Bali. dari uraian tersebut. Oleh sebab itu. seperti semakin berkembangnya corak masyarakat yang meng- . Di sisi lain.nya tingkat kemampuan umat dalam mengamalkan ajaran agama Hindu atau dalam hasrat menghubungkan diri dengan Tuhan. Oleh sebab itu produk-produk kriya berupa simbol-simbol untuk sarana pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. maka di masa-masa mendatang eksistensinya perlu dijaga dari penetrasi pengaruh-pengaruh luar yang dapat mengancam kelestariannya. jelaslah produk kriya yang digunakan sebagai sarana pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. ternyata “cara” tersebut memang diperbolehkan. seperti disebutkan dalam ajaran Catur Marga. dari zaman Hindu sampai sekarang nilai-nilai kesakralannya tetap diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. Dari sudut pandang ajaran agama Hindu. Pada zaman kolonial. Jadi. Sehingga dalam tata kehidupan masyarakat di Bali tampak mengalami banyak perubahan. sampai sekarang dan bahkan untuk seterusnya tetap hadir dan diperlukan.

Upaya tersebut diawali dengan usaha untuk mendatangkan para . misalnya: membuat koperasi. peternakan dan lain-lainnya.arah pada usaha-usaha non-agraris. Keadaan tersebut. toko kerajinan. mulai berkembang usaha yang bergerak dalam bidang perhotelan. Dalam usaha menunjang pengembangan pariwisata. Selain hal tersebut pemerintah Belanda juga berkeinginan untuk mempertahankan keaslian kebudayaan Bali dengan menerapkan politik isolasi atau mengasingkannya dari pengaruh-pengaruh luar dan semata-mata ingin dijadikan sebagai “museum hidup”. kembali aktif. restoran. biro perjalanan. Para kriyawan menciptakan produk kriya tersebut. menjual hasil pertanian dan sebagainya. Khusus mengenai masalah penciptaan produkproduk kriya yang bermuatan lokal dengan tendensi komersial. termasuk penciptaan “produk-produk kriya komersial”. mengaktifkan kembali kegiatan ekspor-impor barang yang sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. Masyarakat Bali semakin dimantapkan dan didorong untuk bergerak dalam bidang ekonomi. selain untuk menguras hasil pertanian. semata-mata didorong oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat dan bukan atas prakarsa pemerintah kolonial Belanda. Gejalanya muncul secara “spontan” dari masyarakat kriyawan Bali saat itu. dapat ditelusuri dari tujuan Belanda untuk menguasai Pulau Bali. kesenian tradisional yang telah tumbuh dan berarkar di masyarakat Bali.

di mana pada masa berkembangnya pengaruh Hindu dan zaman kerajaan. penciptaan produk kriya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan kerajaan. Para kriyawan kebanyakan mulai memandang hasil produksinya sebagai mata dagangan yang bernilai ekonomis.pakar yang terkait dari negerinya. untuk mempelajari berbagai aspek tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan tradisonal. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk menunjang pengembangan pariwisata pada saat terse- . Mengembangkan sistem pendidikan yang menyesuaikan dengan kebudayaan terkait dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu. Kemudian membangun Gedong Kertiya di Singaraja untuk menyimpan dan menyelamatkan kesusastraan Bali yang ditulis pada lontar. misalnya dengan mengangkat tenaga pendidik lokal yang berkompeten dalam bidang kebudayaan Bali. Mereka cenderung menciptakan produk kriya dalam bentuk cenderamata untuk dijual kepada para wisatawan atau diekspor ke luar pulau Bali. faktor pendorong atau motivasi penciptaan produk kriya dengan serta merta mulai mengarah pada hal-hal bersifat komersial. mengalami perkembangan baru dibandingkan sebelumnya. Motivasi perluasan usaha penciptaan produk kriya di Bali saat tersebut. membangun museum di Denpasar untuk melindungi dan menyelamatkan artifak etnografi Bali. Namun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Di sisi lain. mereka juga mulai memadukan pengaruh dari luar. melahirkan produk-produk dengan style Batuan. karena pada waktu tersebut. topeng. Gianyar. Dalam masa pendudukan Jepang yang berlangsung relatif lebih singkat dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. Ubud. batu padas (berkembang di Gianyar).but. tanpa kecuali produk yang digunakan untuk sarana pengamalan dan penghayatan ajaran agama Hindu Bali. Seperti: berupa patung. tanduk (berkembang di Gianyar). tempurung kelapa. Usaha pengembangan pariwisata kurang mendapat perhatian. Oleh sebab itu. Dalam upayanya tersebut. (berkembang di daerah Gianyar dan Badung). misalnya: kayu. fanil. kadang juga muncul tindakan eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional. Walter Spies dan seniman lainnya. seperti: Rudolf Bonnet. tanah liat atau keramik (di Tabanan) dan lain sebagainya. Perpaduan pengaruh tersebut. usaha . di satu sisi tampak para kriyawan berusaha mengembangkan produk-produk kriya masa lalu yang diwarisinya. Seperti pengaruh seni rupa modern yang dibawa oleh para seniman Barat. sehingga menghasilkan produk dengan berbagai penggayaan atau style. logam (berkembang di Klungkung. relief dan gambar atau lukisan dengan menggunakan berbagai bahan. Jepang lebih mementingkan usaha penanaman semangat militer dan arti penting perang Asia Timur Raya untuk meraih kemenangan. Bangli dan di Buleleng). pengosekan dan sebagainya. tulang.

Lapangan pekerjaan atau bidang usaha . Otoritas masyarakat pada saat tersebut sangat terbatas. ternyata merupakan salah satu pemicu arus penetrasi budaya modern dan global. Usaha pengembangan tersebut. Ulasan dari sudut historis tersebut memberi deskripsi bahwa pada saat mulai masuknya pengaruh Barat (Belanda) dan dijadikannya Bali sebagai daerah tujuan wisata. kecuali pengaruh pemerintahan Jepang sendiri. Didorong pula oleh semakin meningkatnya permintaan para wisatawan akan produk-produk kriya yang bermuatan lokal berupa barang cenderamata. sekaligus memberi dampak pada tata kehidupan masyarakat di Bali. maka usaha penciptaan produk-produk kriya di Bali dengan serta merta mulai mengarah pada tujuan komersial dan disertai dengan muncul gejala penerapan elemen estetis produk tradisional secara eklektik pada desain yang kemudian diterapkan pada produk-produk kriya yang dibuat saat tersebut. sekitar tahun 1950.penciptaan “produk kriya komersial” semakin surut dan penggunaannya terbatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. sehingga keadaan kebudayaan Bali nyaris terisolir dari pengaruh luar. sektor pariwisata di Bali kembali dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dengan tetap berbasis pada kekuatan budaya Bali sebagai daya tarik utama. ternyata upaya tersebut memberi pengaruh yang signifikan. Dikaitkan dengan pembangunan sektor perekonomian. Pada zaman kemerdekaan.

para kriyawan berupaya untuk menyuguhkan produk yang dapat memberi kenangan tersendiri. di mana kegiatan menciptakan produk kriya hanya merupakan pekerjaan sambilan di waktu senggang seusai di sawah atau kesibukan lain. terutama di zaman prakolonial. Banyak di antara masyarakat di Bali menjadikan sebagai mata pencaharian tetap. Dan hasil produknya jarang diperjual belikan sebagai mata dagangan. misalnya berwujud cenderamata yang menyiratkan keindahan alam atau ke- . Berbeda dengan dulu. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kecil dan mendijadikan produk kriya lokal sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor non-migas. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk dikonsumsi para wisatawan masa kini. seperti dalam kegiatan penciptaan produk-produk kriya yang mengarah komersial. usaha tersebut sempat mengalami perkembangan yang cukup pesat. Mereka termotivasi oleh aspek ekonomis yang dihasilkan dari produk kriya yang diciptakannya. Pada dasawarsa belakangan. cukup mendorong para kriyawan dan pengusaha di Bali masa kini untuk semakin aktif menekuni sektor tersebut. sebelum terjadi tragedi bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 di Kecamatan Kuta dan bom Bali II pada tanggal 1 Oktober 2005.industri kecil memiliki peluang atau opportunity untuk tumbuh dan berkembang. selain didorong oleh perkembangan sektor pariwisata. Kondisi tersebut.

di satu sisi tampak usaha inovatif yang mengarah pada produk individual. misalnya dengan mengeksploitasi alam fauna dan flora sebagai sumber inspirasinya. Dalam hubungan dengan kreativitas penciptaan produk kriya. salah satunya dengan menerapkan elemen estetis produk kriya masa lalu. Gambar 25 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Fauna . seperti tampak pada Gambar 25 dan 26. Demikian juga dalam penataan lingkungan.budayaan Bali. berkeinginan menampilkan suasana yang berbeda dengan daerah lain.

tampak semakin menggejala di kalangan masyarakat kriyawan. Mereka melakukan tindakan tersebut didorong oleh harapan atau keinginan untuk menciptakan produk-produk kriya etnik yang bermuatan lokal atau tercerap suasana atau citra rasa tradisional yang berciri khas budaya Bali seperti tampak pada Gambar 27.32 . tindakan-tindakan eklektik terhadap elemen estetis produk kriya masa lalu yang diterapkan pada desain produk kriya masa kini.Gambar 26 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Flora Di sisi lain.

. Gambar 28 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi.Gambar 27 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi.

Gambar 30 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Untuk Barang Komoditi. .Gambar 29 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Panil untuk Barang Komoditi.

Gambar 31 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Façade Bangunan. Gambar 32 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Diterapkan Dalam Bentuk Tatto. Dalam pemilihan unsur-unsur terbaik produk masa lalu. sering muncul sikap “ketidaktaatan” yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. Banyak di antara mereka kadang-kadang melupakan konteks nilai yang terkandung pada produk kriya masa lalu dengan masa- .

Garuda Wisnu dan Nãga. merusak atau mengganggu kesepakatan yang telah mapan. Pada hal kedua elemen tersebut mengandung nilai religius dan konvensinya masih eksis di masyarakat Hindu di Bali. seperti pada pelinggih padmasana. diterapkan sebagai hiasan pada façade sebuah kantor bank . kemudian dijual sebagai barang cenderamata dan sebagainya. Produk-produk kriya wali yang digunakan dalam upacara agama dan dianggap sakral. relief pada tebing dekat kuburan. divisualisasikan dalam bentuk patung untuk menghias persimpangan jalan. (lihat Gambar: 31). tetapi sekarang banyak digunakan untuk hiasan benda pakai yang bersifat profan.lah kepercayaan umat Hindu di Bali. Diterapkan pada tebing kuburan. misalnya diterapkan sebagai hiasan dinding rumah tinggal. jelas merupakan penyimpangan dan sama sekali tidak ada hubungan permaknaan. Sebagai contoh. Bhoma diterapkan dengan ditatto pada bokong atau Ongkara ditatto pada lengan. Relief Acintya. semata-mata untuk sensasi. Hal tersebut. sebenarnya merupakan produk kriya yang mengandung nilai simbolis pada bangunan suci. Penerapan tersebut memiliki tujuan yang tidak jelas. kemudian diterapkan begitu saja pada benda-benda yang bersifat profan dengan lebih mengutamakan segi artistik dan semata-mata menyandar pada efek finansialnya. Bhoma. Ditiru atau direproduksi dengan kemampuan tangannya. “dipilih”. Tindakan tersebut jelas berdampak negatif.

Sehingga . lonték dan tedung Agung. seperti pada upacara Odalan. restoran dan sebagainya. sebenarnya sebagai “busana pura” yang dikenakan sewaktu melangsungkan upacara agama tertentu. hotel. banyak para kriyawan di Bali dalam kegiatan penciptaan produk kriya masa kini. Bedawang Nala dipakai hiasan tapal batas kota. cenderung tergantung pada permintaan pasar. namun sekarang digunakan untuk menghias halaman supermarket. inovasi dengan ide baru dan kreativitas mereka sering terhambat karena takut tidak laku di pasaran.atau bangunan lain. Idealisasi. artshop. Gambar 33 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional berupa Relief yang Sakral Diterapkan Di Perepatan Jalan dan Sebagai Hiasan Tebing Kuburan Selain hal tersebut. Sehingga timbul kerancuan dan menimbulkan kebingungan bagi generasi penerus tradisi tersebut.

Dan banyak produk ciptaannya setelah dilemparkan di pasaran atau dipamerkan. Kejadian tersebut. karena mereka merasa mampu memberi pelayanan yang memuaskan wisata- . Dalam proses penciptaan produk-produk kriya dengan unsur eklektik yang ditujukan untuk para wisatawan masa kini. juga tidak luput dari konsekuensi tersebut. Dan permasalahan sudah dianggap selesai sampai di sana. tetapi pada kenyataannya bagian tersebut sering ditinggalkan. seperti: Ide Bagus Nyana. “dipaksakan” dan “diberanikan” demi untuk memenuhi tujuan lain dengan alasan faktor ekomoni. juga didorong oleh pihak pengusaha produk-produk kriya di Bali. itu pun hanya dilakukan oleh beberapa orang kriyawan. kemampuan atau keterampilan yang dimiliki para kriyawan untuk mengerjakannya.dengan kondisi tersebut “jalan pintas” sering dilakukannya. Sekalipun ada kriyawan yang berusaha mencipta “produk kriya baru”. terjadi “desakralisasi”. misalnya dengan jalan “mengkopi” atau “membajak” produk-produk yang sedang laku dipasaran atau dengan tetap bertahan pada produk tradisional. sikap mereka cenderung menyandar pada kesiapan. Seperti dalam pemberian pesanan kepada para kriyawan. dalam proses penciptaan produk-produk tersebut yang seharusnya disertai dengan upacara penyucian. I Nyoman Togog dan yang lainnya. Maksudnya. sehingga pesanan tersebut sesuai dengan keinginan konsumennya dan transaksi dapat berjalan tepat pada waktunya.

wan. jelas kurang relevan. Banyak di antaranya produk-produk kriya tersebut merupakan karya puncak. Kajian Semiotis Dari pembahasan pada Bab III dapat difahami. karena dapat menimbulkan arti hidup dan kehidupan yang tidak stabil. kalau dikaitkan dengan konsep Catur Purus Artha yang dipakai landasan pembangunan di Bali. kompleks. komprehensif. Para pewarisnya dewasa ini hanya mampu menduplikasikan dan menggunakannya. mengacu pada norma-norma ajaran agama Hindu atau sistem kepercayaan umat Hindu di Bali dan dikerjakan dengan total serta penuh pengabdian yang tulus. baik yang diciptakan pada zaman pra-Hindu. sehingga kesadaran untuk lebih selektif terhadap makna atau nilai yang dikandungnya terasa masih kurang. maupun setelah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa Timur. 2. Salah satu faktor yang menyebabkan produk-produk tersebut dapat bertahan. ternyata eksistensinya dapat menembus beberapa zaman dalam rentang waktu sangat lama. . Namun sikap tersebut. sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. bahwa produk-produk kriya yang diciptakan oleh para kriyawan Bali di masa lalu. karena dalam proses penciptaannya dilandasi dengan konsep-konsep perancangan sangat mantap. Mereka tampak lebih mengutamakan Artha dan Kama sebagai tujuan hidup.

tampak produk-produk tersebut kembali ditampilkan “secara eklektik” dengan menitikberatkan pada nilai estetis dan diklaim sebagai identitas etnik Bali atau local genuine. memberi tanda dalam bentuk indeks. sedangkan secara sinkronis. hasil tersebut dapat dipakai tanda (sign) yang merepresentasikan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya. lebih ke arah . dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk kriya tampak masih sangat sederhana. bahwa masyarakat di Bali saat itu. dengan memandang peristiwa penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya di setiap zaman sebagai fenomena bahasa. dengan di sana-sini diadakan penambahan atau pengurangan yang diistilahkan sebagai ‘pengembangan’ dan tak jarang dibarengi dengan tujuan-tujuan lain yang tidak sesuai dengan esensi konsep penciptaan di masa lalu. pada masing-masing penggalan zaman atau kurun waktu tertentu. maka secara diakronis hasil peninggalan tersebut. dapat dipakai sebagai tanda (sign) zaman yang merepresentasikan sejarah perkembangan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya dalam masyarakat Bali dari zaman ke zaman. Pembahasan lebih rinci mengenai kajian semiotis. adalah sebagai berikut: Sebelum penduduk Bali mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu.Dalam usaha perluasan gagasan desain produk kriya masa kini. Jika ditinjau kembali berdasarkan kajian semiotika.

Misalnya masalah kenyamanan. karena mereka bertumpu pada nilai guna atau utilitas dan pragmatis. melainkan sudah memperhatikan hal-hal yang bersifat konotatif. arah penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya tidak lagi terpaku pada pertimbangan yang bersifat denotatif. keindahan produk maupun simbolisasi. roh atau kekuatan-kekuatan lain . selain memiliki berfungsi sebagai alat. juga sudah memperhatikan nilai estetis dan simbolis dengan latar atau konvensi yang dilandasi dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.makna denotasi. seperti batu dengan karakternya yang keras diperlakukan untuk “menghacurkan” benda yang lebih lunak. Hubungan struktur tanda tersebut menurut Semiotika Saussure dapat digambarkan seperti Gambar 34 berikut Gambar 34 Relasi Tanda. Seperti kepercayaan alam gaib. Produkproduk yang diciptakan. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Sebelum Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu) Pada zaman selanjutnya. Belum ada tanda-tanda yang mengarah pada makna konotasi.

Selain hal tersebut. seperti berupa sebuah nekara yang dibuat dengan perunggu. dipakai sebagai simbol roh nenek moyang mereka dan dianggap bertuah atau mengandung nilai magis.yang dimiliki oleh suatu benda yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan mereka atau fetishism. Penguburan dengan cara tersebut. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Setelah Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu . Hubungan produk-produk kriya sebagai tanda atau simbol dengan pengguna tanda atau penanda (masyarakat Bali zaman Pra-Hindu) dapat digambarkan seperti Gambar 35 berikut Gambar 35 Relasi Tanda. Pada produk kriya tersebut diterapkan relief berupa topeng yang distilasi dari bentuk wajah manusia. dilakukan sebagai simbol penghormatan kepada tokoh yang meninggal. misalnya pada penguburan mayat seorang tokoh masyarakat dengan menggunakan sarkofagus. juga dipakai sebagai tanda atau simbol status sosial. Simbol-simbol tersebut diterapkan atau diwujudkan dalam berbagai bentuk produk kriya.

Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Mendapat Pengaruh Kebudayaan Hindu-Jawa Timur . dapat digambarkan seperti Gambar 36 berikut. Diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol sehingga produk-produk kriya tersebut tergolong karya spiritual religius dan dianggap sakral yang digunakan sebagai media untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak yang dimiliki Tuhan. bahwa dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya dilandasi dengan konsep yang mengarah pada makna konotasi atau asosiatif dengan latar atau ground digali dari mitologi. Gambar 36 Relasi Tanda. Seperti produk-produk kriya yang digunakan dalam upacara Odalan. filosofi. kosmologi dan sebagainya yang bersumber pada ajaran Agama Hindu. Secara semiotika relasi tanda dengan pengguna tanda pada zaman tersebut. ceritera-ceritera rakyat.Pada Zaman Hindu menunjukan.

Jika kondisi tersebut dikaji berdasarkan semiotika model “intertekstualitas” seperti yang dikembangkan oleh Kristeva. bahwa mere- . maupun arah pengembangan yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. Namun dewasa ini. Produk-produk kriya —terutama yang terkait pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali— yang diciptakan sebagai tanda dalam bentuk simbol-simbol dengan konvensi budaya yang dilandasi nilai-nilai atau norma-norma Agama Hindu yang telah mapan dalam masyarakat masa lalu. seperti kebanggaan (pride) memperoleh produk kriya lokal yang berciri khas Bali dan dipakai sebagai tanda kenangan. maka dalam fenometa tersebut tampak terjadi “permainan petanda” yang menghasilkan petanda baru dengan konvensi atau makna yang tidak jelas arahnya. Seperti tujuan para kriyawan untuk menciptakan produk bermuatan lokal atau dorongan para wisatawan untuk membeli suatu produk (emotional product motives).Pada zaman Kolonial dan Kemerdekaan. subyektif. kondisi penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali memiliki kemiripan langgam atau tipe. pretensius. relatif dan bersifat temporal. baik tujuan. Pada saat tersebut. elemen estetis untuk menciptakan suasana tradisional Bali atau sebagai digunakan komoditi ekspor. Produkproduk tersebut mulai dijadikan sebagai penunjang kepariwisataan di Bali berupa cenderamata. kadang kembali “dipilih” dan ditata atau dipadukan dengan tanda lain. penciptaan dan pengunaan produk kriya pengalami perkembangan baru.

Petanda baru yang muncul tersebut hanya bersifat subjektif yang “dihubung-hubungkan” atau hanya merupakan suatu pretensi yang sama sekali tidak ada pertalian petanda dengan ground simbol yang diterapkan pada produk tersebut di masa lalu. dianggap sebagai suatu kepuasan atau prestise dan sebagainya.ka pernah mengunjungi pulau Bali. namun sekarang tampak diterapkan sebagai hiasan façade. tampak simbol Garuda Wisnu menjadi kehilangan makna. dianggap sebagai lambang kebesaran Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Dari kedua tanda tersebut sama sekali tidak terjalin suatu kesatuan makna. Pada façade tersebut tampak logo Bank BPD diletakkan di atas dari simbol Garuda Wisnu. di mana simbol Garuda Wisnu adalah terkait dengan ajaran Agama Hindu. Sebagai contoh. na- . Selain motivasi tersebut juga didorong keinginan untuk menciptakan lingkungan atau tata bangunan dengan nuansa tradisional. Pada contoh tersebut. janggal dan berkonotasi negatif karena terjadi diskrepansi antara tanda dengan petanda yang sebenarnya. kalau dilihat dari tata letak kedua tanda tersebut. Masing-masing tanda atau simbol tersebut menyiratkan makna tersendiri. produk kriya berupa relief Garuda Wisnu yang lazimnya diterapkan dibelakang Padmasan. Bahkan tindakan tersebut dapat “merusak” atau memutuskan pertautan petanda dengan penanda atau narasi yang sebenarnya.

Meletakkan penghargaan terhadap nilai-nilai keduniawian (uang dan investasi).mun pada façade itu diletakkan di bawah logo yang cenderung berkonotasi tentang uang yang bersifat sekular. Penempatan tersebut “asal pasang” dan hanya didorong oleh suatu preferensi “pajang seni” semata. kesenangan dan kenikmatan (hedonisme) lebih tinggi dari nilai yang berhubungan dengan ajaran ketuhanan. maka secara umum penciptaan produk kriya dengan unsur eklektik dewasa ini di Bali dapat digambarkan pada Gambar 37 . Berdasarkan kajian dari sudut model semiotika “intertekstualitas”. tanpa memikirkan lebih jauh tentang pertalian petanda yang terbentuk akibat penempatan simbol dan logo tersebut. Tanpa disadari penempatan tersebut membawa makna konotasi yang mengarah pada interprestasi negatif.

Penanda dan Petanda (“Intertekstualitas”) Kaitannya Dengan Fenomena Eklektik Unsur Produk Kriya Masa Lalu .Gambar 37 Perbandingan Relasi Tanda.

Di satu sisi menurut hasil penelitian Kean (1973) maupun Geriya dan Erawan (1993) membuktikan bahwa interaksi antara pariwisata dan kebudayaan Bali. Namun di sisi lain banyak muncul kekawatiran tentang nasib masa depan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. bahwa pariwisatalah yang akan menjadi salah satu katalisator atau sebagai pemicu terjadinya perubahan sosial-budaya masyarakat di . dan seimbang.B. Konsep tersebut diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan budaya Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. bahwa masyarakat Bali bersama kebudayaannya di masamasa mendatang akan mengalami perubahan besar sebagai dampak maraknya perkembangan pariwisata. selaras. Mereka mendeskripsikan. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini Konsep pengembangan pariwisata di Bali berbasis budaya Bali. ternyata mendatangkan banyak kemanfaatan atau beneficial bagi pengembangan kebudayaan Bali sekaligus pengembangan sektor ekonomi masyarakat. Sebenarnya di dalamnya secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. antropolog dan seniman sudah memprediksi. sosiolog. Sejak 60 tahun yang silam di kalangan para pengamat: budayawan.

pada paparan keadaan masyarakat dan kebudayaan Bali yang diterbitkan pada tahun 1953.Bali. Pertanyaan tersebut diungkap sehubungan dengan kekawatiranya akan kerusakan yang akan terjadi pada seni budaya Bali sebagai akibat diperkenalkannya menjadi daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Kolonial Belanda saat tersebut (Covarrubias. Hal tersebut juga terjadi dalam perluasan penciptaan produk-produk kriya dan desain lainnya yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali. sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Miguel Covarrubias dalam bukunya berjudul Island of Bali —“Isn’t Bali Spoiled ?”— sebagai kalimat pembukaan dalam pembicaraan Modern Bali and The Future. Seperti. Berikut akan diuraikan mengenai dampak yang ditimbulkan. . 1937). baik pada produk masa lalu maupun pada desain produk masa kini. Salah satunya diakibatkan oleh eklektisme elemen estetis tradisonal yang tak terkendali dalam penerapannya pada desain produk masa kini. ternyata dalam beberapa dekade belakangan ini menjadi suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Demikian juga kekawatiran tersebut dimuat dalam buku dengan judul: Republik Indonesia (Kepulauan Sunda Kecil). Suatu dinamika baru dan perubahan-perubahan struktural telah terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. Prediksi atau asumsi tersebut.

bahwa dampak dari peran khas pariwisata Bali membawa pengaruh dan perubahan yang tak terbatas. kesimpangsiuran atau pengkaburan makna. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jean Couteau. karena telah “diduplikasi” untuk dijadikan barang tontonan biasa atau barang komoditi untuk pemenuhan kebutuhan sekuler semata. terutama bagi generasi pewaris kesepakatan tersebut. sekarang ba- . tanpa disadari dapat mengurangi rasa penghargaan atau pemahaman spiritual terhadap makna atau nilai yang ditanamkan pada produk kriya yang dianggap sakral tersebut. Seperti: relief tinggi berupa Bhoma. Garuda Wisnu dan sebagainya. “deteriorasi”. Akibat dari tindakan tersebut.1. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu Dampak eklektisme terhadap produk kriya masa lalu sebagai objek pilihan. Keadaan tersebut tanpa disadari dengan perlahan-lahan dapat mengikis alam pikiran spiritual umat Hindu di Bali dan dapat terjebak dalam kecenderungan efek komersial dari produk tersebut. Secara visual mereka akan semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya yang digunakan untuk sarana upacara ritual di tempat suci dengan produk kriya yang dipakai di tempat yang bersifat profan. “generalisasi”. secara tidak langsung akan terganggunya konvensi yang mendasari objek yang dipilih dan kemungkinan akan terjadi suatu pelunturan nilai. “desakralisasi”.

kantor. bahkan sengaja dipentaskan di hotel-hotel untuk menghibur para wisatawan. Rangda dan Barong ket. banyak ditiru dengan tidak disertai dengan “sakralisasi” dan dipakai pertunjukan khusus untuk konsumsi para wisatawan. seperti pada Gambar 38 berikut Gambar 38 Topeng Barong Ket Diterapakan Sebagai Hiasan Boutique Ditinjau dari sudut semiotika. Topeng Barong Ket juga dipakai sebagai penghias ruangan boutique yang dipajang berdampingan dengan busana yang dijual. rumah tinggal dan bangunan umum lainnya.nyak ditiru dan diterapkan sebagai hiasan toko. penerapan elemen estetis tradisional secara eklektis tersebut dapat berdampak terganggunya kestabilan antara tanda dengan .

petanda, karena terjadi suatu “mutilasi” struktur simbol atau lambang dengan konvensi adat yang telah mapan dalam kalangan umat Hindu di Bali. Terbentuk kepingan-kepingan dan perpaduan tanda dengan petanda yang tidak jelas atau “mati”. interpretasi makna menjadi simpangsiur dan terkecoh karena secara visual semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya sakral dengan profan. Seperti senjata nawa sanga, produk kriya tersebut biasanya digunakan sebagai hiasan di pura berupa bandrangan dan sekaligus sebagai simbol kekuatan para Dewa, namun kini sematamata diciptakan sebagai barang cenderamata untuk konsumsi para wisatawan (lihat Gambar 29). Makna konotasinya mengalami perubahan dan mengarah pada nilai komersial. 2. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini Penerapan elemen estetis secara eklektik pada desain masa kini yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali masa kini, dalam upaya untuk menciptakan karya yang bermuatan lokal atau didorong oleh harapan agar dapat menciptakan suasana tradisional Bali. Ternyata usaha tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan permasalahan yang mendasar. Pada desain atau produk kriya yang diciptakan dengan menerapkan elemen estetis tradisonal kadangkadang tampak “janggal”, “tertekan”, “terpaksa”, berlebihan, mubasir dan dari perpaduan tersebut tidak terjalin pertalian makna di antara tanda-tanda atau

simbol-simbol yang diterapkannya. Dikaitkan dengan konsep estitika yang melandasi strategi pembangunan di daerah Bali, seperti telah dipaparkan pada bab pendahuluan, kondisi tersebut jelas kurang relevan, sebab pada produk-produk yang diciptakan sering terlihat kurang selaras, kurang harmonis dan tidak seimbang. Bahkan tak jarang melahirkan karya yang termasuk: pastiche, parody, kitsch, atau camp. Sebagai contoh dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional, berupa relief garuda pada sebuah façade toko sepatu bata seperti Gambar 38 berikut,

Gambar 38 Penerapan Relief Garuda Pada Façade Toko Sepatu Bata

Pada hiasan tersebut tampak elemen estetis berbentuk garuda yang meniru dari bentuk Garuda Wisnu dan penyuguhannya tidak dilengkapi dengan simbol Dewa Wisnu. “Tangan” garuda dibuat menunjuk logo sepatu bata dan posisi penempatan kedua elemen tersebut sejajar secara horisontal. Pada penampilan tanda tersebut tampak suatu fragmen yang terbentuk dari hasil perpaduan dua, yaitu antara simbol dengan logo. Disimak dari permaknaan, maka keduanya sama sekali tidak terdapat pertautan makna. Konsep penciptaan hanya didasari oleh suatu pretensi menciptakan nuansa bagunan tradisional Bali. Bentuk garuda tersebut sebenarnya merupakan produk kriya masa lalu yang khusus diterapkan pada bangunan suci dan mengandung nilai filosofi yang tinggi dan sebagai simbol kekuatan Tuhan. Namun kini dipilih dan diterapkan begitu saja tanpa memikirkan dampak negatif terhadap makna yang dikandungnya. Mereka meminjam makna simbol garuda yang telah mapan dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, hanya sekadar untuk menunjukan logo sepatu bata atau bertujuan untuk membangun imitasi image atau citra rasa palsu (kitsch) dalam usaha membangun keyakinan masyarakat konsumen, bahwa produk sepatu merek bata sudah terpercaya, kuat dan sebagainya, sampai-sampai simbol garuda yang masih diyakini oleh umat Hindu “digambarkan” memberi petunjuk tentang keunggulannya.

kini “dipermainkan”. karena dalam penampilannya bersifat mendaurulang bentuk garuda yang merupakan hasil produk kriya masa lalu dan diterapkan begitu saja. karena merupakan hasil penyusunan elemen-elemen masa lalu yang melahirkan bangun tanda palsu yang berkonotasi negatif. Pastiche. juga dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional berupa dua patung naga yang mengapit pintu gerbang utama di lantai I di bawah selasar kantor sebuah bank di Denpasar. Simbol yang bersifat sakral dan terkait dengan ajaran ketuhanan. seperti tampak pada Gambar 39. juga termasuk produk pastiche dan camp. Contoh kasus sejenis lainnya. Naga tersebut sebenarnya merupakan hiasan sekaligus se- . Bentuk hiasan tersebut merupakan penggayaan dari bentuk naga hasil produk kriya masa lalu. sehingga terkesan sentimentil terhadap simbol yang masih diyakini oleh umat Hindu di Bali. Sedangkan terkait dengan fenomena camp. —dikombinasikan dengan tanda atau simbol atau logo lain— dan dimanfaatkan hanya untuk menunjukan merek sepatu. Selain hal tersebut.Peniruan dan perpaduan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu produk kriya parodi. Narasinya bersifat ironis dan kritis dalam artian mengecilkan makna adiluhung yang terkandung dalam simbol garuda tersebut. sebab pemilihan dan penerapannya merupakan suatu “pelesetan” dari makna garuda yang sebenarnya.

makna atau nilai yang dikandungnya diimitasi dan dibuat-buat atau sama sekali tanpa makna serta menengelamkan .bagai simbol yang diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih di pura. dan tidak terbentuk pertalian makna dengan tempat yang diberi hiasan tersebut. namun pada penerapan tersebut berubah menjadi produk biasa. termotivasi oleh keinginan yang lebih mengutamakan segi artistik dibandingkan substansi atau bobot dari elemen estetis produk kriya masa lalu yang dipilihnya. absurd. Nilai simbolis terkait dengan ajaran kosmologi Hinduistis di Bali dan dianggap sebagai benda sakral. seperti pada bangunan suci berupa padmasana (lihat pada Gambar 12) Gambar 39 Penerapan Patung Naga Pada Gerbang Utama Pada Lantai I Di Bawah Selasar Kantor Sebuah Bank di Denpasar Penerapan tersebut. sehingga berkesan berlebihan. glamor.

Usaha penciptaan penerapan naga tersebut juga disertai dalih untuk menciptakan . misalnya untuk kemegahan. karena produk tersebut merupakan penyusunan elemenelemen yang dipinjam dari unsur produk kriya masa lalu dan dalam penerapannya menimbulkan konotasi negatif. Karya tersebut juga dapat digolongkan sebagai camp. Secara semiotik kondisi tersebut tidak mencerminkan hubungan antara penanda dengan petanda dan dengan narasi yang tidak jelas. kitsch maupun camp.objek yang dijadikan sasaran eklektis. disebabkan penenpatannya tidak sesuai dengan ketentuanketentuan yang telah terkonvensi. kebesaran. karena bentuk tersebut merupakan peniruan dari elemen “seni tinggi” atau high art yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dengan dibarengi tujuan palsu. Bangun tanda baru yang dianggap sah dengan petanda yang tidak jelas. menciptakan suasana tradisional dan sebagainya. karena dalam penerapan tersebut hanya menitikberatkan pada penggayaan. dekorasi atau segi artistik semata. Penerapan produk tersebut dapat dimasukan sebagai fenomena-fenomena. Digolongkan sebagai fenomena pastiche. Sebagai fenomena kitsch. seperti merendahkan penghargaan nilai simbolis yang dikandung pada patung naga tersebut. Usaha tersebut tanpa disadari membawa dampak terjadinya pergeseran dan pelunturan nilai yang dikandungnya serta bersifat ironis kalau ditinjau dari peletakan naga tersebut. seperti: pastiche.

karena tanpa disadari dapat membawa dampak negatif —nilai simbolis yang dikandungnya menjadi sepele dan bahkan tanpa makna— terhadap konvensi yang diyakini oleh umat Hindu di Bali. meramu dan berorientasi pada elemen-elemen yang sudah ada. sebab dalam proses penciptaannya hanya bersifat “mendaurulang”. Mereka dalam proses pengerjaannya hanya mengandalkan keahlian tangan atau virtuosity semata untuk menjadikan “mass product” dan didorong oleh keinginan pemenuhan kebutuhan para pengembang untuk menciptakan suasana dengan citra tradisional Bali. Usaha-usaha seperti tersebut secara tidak langsung juga dapat berdampak menghambat kreativitas para kriyawan untuk berkreasi dan berinovasi. Untuk itu.suasana tradisional Bali. sebenarnya kurang relevan kalau dikaitkan dengan makna yang dikandungnya. Selama ini tindakan-tindakan tersebut dianggap sebagai sikap atau model pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang berkesinambungan. bagi para pembaca yang tertarik silakan diabadikan lalu kita bahas dari berbagai perspektif ilmu di lain kesempatan. Terimakasih . “menduplikasi” atau meniru. Untuk contoh kasus yang sejenis masih banyak terjadi di masyarakat. Entahlah ?.

Singaraja: Percetakan Guna Agung. Apakah Upacara Baten Masih Perlu?. IGN. E. (makalah seminar). J. Covarrubias. 1972. ____. 1995. J. Upakara Upacara. Bagus. Data Bali Membangun. S. Couteau. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). Cassirer. Denpasar: Bappeda Tingkat I Bali. 1994. Baudrillard. Jilid: 2. Indra. Yogyakarta: ISI. Jakarta: Hanuman Sakti . Island of Bali. Ariawati. Budaya Bali Dalam Pertemuan dengan Budaya Dunia. I B. 1990.DAFTAR BACAAN Ardana. M. M. Aspek Desain dalam Produk Kriya. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. 1981. I. 1992. Kuala Lumpur-SingapuraDjakarta Cudamani. For Critique of The Political of Economy of The Sign. Buchori. Aji Maya Sandi. Denpasar: Upada Sastra.1993. An Essay On Man. Yale University Press. 1991. Yogyakarta. 1944. Pengantar Agama Hindu. Transformasi Struktural Masyarakat Bali Dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). N. 1990. USA: Telos Press. Z. Oxford University Press / PT. Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi. I M. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Bija. 1995.

). Encyclopaedia Britannica. A Theory Of Semiotika.Dinas Pengajaran Propinsi Bali.1989. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali. Denpasar: Upada Sastra. 1979. Encyclopedia of World Art. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah. N. . Frutiger. 1993. Republik Indonesia (Sunda Ketjil). Geriya. New York. 1976.L. Eco.Singapore: Periplus Editions. Book Company. I M. A. Singaraja: Kementerian Penerangan. dkk. Kamus BaliIndonesia. Studio Edition. Blomington. Signs and Symbols (Their Design and Meaning). Garis-Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). 1988. CD-ROM 2. Woodcarving of Bali. Indiana University Press. 1995. Gelebet. 1978. Gambar. W. Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Kecil. Berkeley . 1953. “Pariwisata dan Segi Sosial Budaya Masyarakat Bali” dalam Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa (Tjok Sudharta. tt. Buku Paider-ideran dengan Gambar Dewata Nawa Sanga dan Jimat-Jimatnya. 1981/1982. U. Ed.1963. Gie. Arsitektur Tradisional Bali. Margaret. Toronto.0Freed dan Eiseman. Yogyakarta: Karya Yogyakarta. Inc. West Germany: Weiss Verlag Gmbh. T. Lodon: McGraw-Hill.

N. 1973. Frick.1969. Grafitas. R. fourth edition. Kadjeng.(Makalah Seminar Kriya). L. S. Yogyakarta: Kanisius. tt. Jakarta: Pemeritah Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia 1975. 1990. MC. dkk. Jakarta: PT. Hutcheon. Dkk. Yogyakarta: ISI. Cultural Involution: Tourist Balinese and the Processs of Modernization in . 1993.Ginarsa. 1987. Oxford: University Press. Kaler. Atlas Kebudayaan Bali. Joedawinata. 1985. 1997. Krakah Modré Aji Griguh. London. 1989. Hornby. New York: The Asia Society Galleries. Sejarah Nasional Indonesia. The New Classicism in Art and Architecture. A Theory of Parody. 1951. Court Art of Indonesia. Gambar Lambang. P. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Manusia dan Seni. C. Sejarah dan Pendidikan Kriya di Indonesia. D.1990. H I. K. I. A. I. N. Kayumas. Gottschalk. Jakarta: Hanuman Sakti. Sarasamušcaya. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (terjemahan). Jessup. 1984. London: Methuen. Yogyakarta. 1976. L. AS. Hartoko. Denpasar: CV. Jencks. Goris. Denpasar: Kartodirdjo. Kean.

b. Brown University Kempers. 1960: Bali Purbakala (disalin oleh: R. 1971. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai).D. 1976. Bali dan Ekspor Hasil Kerajinan. ____. Kropak IV. ____. Denpasar: Universal Press. . 1994. Pengantar Antropologi. Jakarta: (red) Jambatan. No. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. H. Penerbitan dan Balai Buku “Ichtiar” Kerepun. Oxford: Basil Blackawell Lontar Bhomantaka. 1-2 Nopember 1988.J. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Bali: Masalah Sosial Baudaya dan Modernisasi. J. Jakarta: Angkasa Baru Kridalaksana. Jilid: 2. Mahabhakti Offset. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Kristeva. 1995. Denpasar: PT.1979. Edisi ke dua.Antropological Perspective (Disertation Ph.1988. 1993. Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Daerah Bali dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas. Koentjaraningrat. Bernet. A. ____. Jakarta:PT. Soekmono). I MK. I B.) USA: Anthropology. Darsana Bali. Desire in Laguage: A Semiotic Approarch to Literature and Art. Denpasar: (makalah pada Simlok Penelitian Menyongsong Tinggal landas. 1986. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Mantra.

IGN. 1990. Jakarta: Balai Pustaka Monier. sebuah Bunga Rampai). Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Propinsi bali. 1982/1983. Usada Bali. 1994. Denpasar: PT. Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia. 8 Pebruari 1991) Bandung: Panitia Seminar. et al. Denpasar: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan. Museum Negeri Propensi Bali. 1988. S M. Sejarah Bali. Kayumas. Denpasar: Toko Buku Ria. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991. Bandung. Moeliono. Pameran Topeng Tradisional Bali & Jawa Barat (Katalog Pameran). Pemda. B. Oxford : The Clarendom Press. A Šanskrit English Dictionary. Parisada Hindu Dharma. 1995. Jakarta: Hanuman Sakti. Ngurah. Metode Penelitian Bidang Sosial. Jogyakarta: Gajah Mada University Press. Himpunan Keputusan (SeminarKesatuan Tafsir Terhadap Aspekaspek Agama Hindu. Namawi. Nyoka. H. (dalam Puspanjali. Peristiwa Sejarah dan Peristiwa Nostalgia. . Bali Dalam Perspektif Sosial Budaya (laporan Seminar. Oka. Edisi ke dua. I. 1990. I G M. Upada Sastra. 1963. I Bali. Doa Sehari-Hari Menurut Hindu. William. Denpasar: Parisada Hindu Dharma. Denpasar: CV. R. 1991. Nala. Tk. 1993/1994.Mirsa. Kamus Bahasa Besar Indonesia. 1982/1983.

P. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Diretorat Jenderal Kebudayaan.A. Simpen. S. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. 1994. 1988. G. 1990. Santosa. 1977/1978. Sara. Bagian Inventarisasi dan Pembinaan Nilainilai Budaya. Denpasar: Listibya Daerah Bali. Notes on “Camp”. Santog. Bhagavad-Gîtã. A.1993. S. 1992. Aspek-aspek Agama Hindu. Pindha. Jakarta: Hanuman Sakti. N. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. New York: Anchor Books.Pendit. G. I G. Denpasar: Upada Sastra. Jajahitan Bali serta Fungsinya Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali. . W. 1975. I B. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. ____. (Againts Interpretation). Raka. Wisma “Praja Mukti” Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Serba Neka Wayang Kulit. Pola dasar Kebijaksanaan Pembinaan Kebudayaan Daerah Bali. Derektorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional. Putra. Sejarah Pendidikan Daerah Bali. Seputar Weda dan Kebijakan: Jakarta : Manikgeni. Denpasar: Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali. 1991/1992. Balai Pustaka. 1973.A. Konsepsi Monotheisme dalam Agama Hindu. Bandung: Penerbit Angkasa. Sejarah Wayang Parwa.

1990.P. D. Soekanto. Seni Rupa Indonesia Dalam Masa Prasejarah. Jaman Prasejarah Indonesia. P. Jakarta: Gramedia. . Serba-serbi Semiotika. Jakarta: CV. (Sejarah Nasional Indonesia I). 1990/1991. Denpasar: CV. 1993. Soeroso. W. Jakarta: Yayasan Penerbitan Kebudayaan. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. S. 1988. Rajawali. Sugriwa. Soeka. Sudjiman. tt. Kayumas. Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni. I N.P. Bandung: Panitia Pameran KIAS 1990/1991. I G B. 1986. Suku Dayar San. dimuat dalam Majalah Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta Soejono. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuna. Kamus sosiologi. R. Hubungan Adat Dengan Agama dan Kebudayaan. 1991. ____.Trimurti Tattwa. G. I.1992. Jakarta: PT. Kayumas. (Upacara-upakara. Jakarta: Balai Pustaka. Suasthawa. Gita Karya. at al. Ngodalin pada Sanggah Pemrajan. Seni Budaya Hindu-Bali. 1975. Sudartha. Committee of Festival of Indonesia. 1988.Singging. 1985. Denpasar: CV. Arti dan Fungsi Sarana Upakara. M. R. T. Hakekat dan Makna serta Arti Simbol-simbol) Soedarso. M. Sp.

Denpasar:Toko Buku Ria. 1980. Denpasar: CV. Burung Merah Putih (dimuat dalam surat kabar Nusa Tenggara.1982. Garuda. B. Prasejarah Bali.1977/1978. Denpasar: Upada Sastra Surpha. Kanda Pat Dewa. Agama Hindu (Sebuah Pengantar).U. I M. Titib. 1995. Denpasar: B. Kayumas. Denpasar: Yayasan Panti Asuhan Hindu “Dharma Jati” Tjahjono. Lintas Asta Kosali. Yayasan Purbakala Bali. 1991. 31 Agustus 1995) ____. Kamis. 1993. 1987. 1991. Koleksi Gedong Kertya. Singaraja. Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali. Architrave Tonjaya. B. Surayin. I N. 1980. I M. Transkrip Lontar Šiwa Tattwa. No. Desain dan Merancang: Penjelajahan Suatu Gagasan. I G.1989.b. K. G. ____. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. I A P. Sutaba. Eksistensi Desa Adat di Bali.Sura. Pengertian Pura dan Bangunan Suci di Bali. Transkrips Lontar Bhomantaka. . Kropak IV. Denpasar: Upada Sastra. Denpasar: Penerbit dan Toko Buku Ria. Suwondo. I W. Dewa Yadnya. G. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wardana.org/wiki/Kerajinan Wiryatmadja. 1983. Memahami Cerita Rekaan Secara Semiotika. R. 1981. Jakarta: Hanuman Sakti. USA Wiana. S. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai) Jilid: 1. Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. 1994. P. (dimuat dalam Jurnal Kebudayaan Kalam edisi: 2-1994). (Tentang Tanda. S. Semiotika. I K. A. Adiparwa. . Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 1977. Wojowasito. Tamasya di Antara Keping.keping Masa Lalu. (terjemahan). Yasraf.s Collegiate Dictionary. Yogyakarta: Penerbit dan Toko Buku “Spring”. 1995. Webster. S. IB. Webster.wikipedia.Van Zoest. A. Pengarang. Buku Pelajaran Agama Hindu. 1993. Cara Kerja dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya). M. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Decoding Postmodern Style (Submitted for a Mater Degree in Industrial Design) London: The London Institute Central Sain Martns College of Art and Design ____.2010 Kamus Bahasa Indonesia online [cited 2010 Maret 18] Available at: URL: http: //id. 1958. Jakarta: CV. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Wikipedia . Jakarta: Yayasan Sumber Agung. 1994. Widyatmanta. 1994. Penataan dan Perlembagaan Agama Hindu di Bali.

Myth and Symbols in Indian Art and Civilization. Denpasar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. IB. .Yudha Triguna. Derektorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan. H. 1983: Seni Kerajinan Indonesia. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Yudoseputro. W. Denpasar: Penerbit-BP. Zimmer. 1994. New York: Haeper Torchbooks The Bolingen Library. 1946. Pergeseran dalam Pelaksanaan Agama Menuju Tattwa. Dalam “Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali (Sebuah Ontologi).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->