DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI SECARA EKLEKTIK PADA DESAIN MASA KINI
berdasarkan perspektif historis dan semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini Berdasarkan Perspektif Historis dan Semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn E-mail: arimbawa @yahoo.com Hak Cipta © 2010 Pada penulis Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara digital maupun mekanis, termasuk memfotocofy, merekam atau dengan system penyimpanan lainnnya, tanpa seizin tertulis dari penulis Desain cover & setiting : Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn 21 x 15 cm Penerbit : Udayana University Press Jimbaran Denpasar Bali Bekerja sama dengan: Intitut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar

ISBN: 978-602-8566-65-0

……………………………… v PENGANTAR PENULIS……………………………. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Ele-men Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini……. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali 21 BAB III PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI…………………………………... 115 1. 97 A. iii SAMBUTAN .. Konsep Sekular………………………………. 97 B..... 122 BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI ……………………………… 128 A... Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu ……………..DAFTAR ISI JUDUL………………………………………………… i DAFTAR ISI…………………………………………. Pendekatan Semiotis…………………………… 100 C... Konsep Spiritual Religius…………………….. 28 B. 28 A. 116 2. Kajian Historis…………………………………. 128 1.. 119 D. Pengertian Eklektik……………………………........ 19 A.. Pendekatan Historis……………………………. viii BAB I PENDAHULUAN……………………………….. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali…... 128 . 52 BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA…………………………………………….. 1 BAB II EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI………………………………………. 19 B..... Sejarah Penerapan Produk Kriya……………................ Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya….....

Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini……... 161 DAFTAR BACAAN 168 .. 148 B............ 159 2... 157 1.. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini…………………………………. Kajian Semiotis………………………………. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu………………………….....2..

BAB I

PENDAHULUAN

etelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950, perkembangan pariwisata di Bali kembali mengalami kebangkitan dan hingga sekarang menjadi pusat pengembangan industri pariwisata di kawasan tengah Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut, pengaruh pariwisata sangat dirasakan oleh masyarakat di Bali. Di satu sisi banyak prestasi gemilang yang telah diraih dan secara tidak langsung dapat membawa kehidupan masyarakat di Bali menjadi lebih baik, namun di sisi lain pengaruh tersebut tidak dapat dielakkan lagi menimbulkan dampak negatif dan menjadi masalah terhadap kelestarian kebudayaan Bali. Nilai-nilai tradisional banyak menjadi tidak eksis dan bahkan menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antar manusia sebagai konsekuensi logis adanya aktivitas pariwisata. Hubungan sosial antar manusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi dan kepentingan. Budaya kolektif berubah menjadi individual. Menurut Geriya (1993), bahwa dampak pariwisata khususnya dalam konteks sosial budaya ditandai dengan adanya beberapa indicator sebagai berikut.

S

1. Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan terkonsentrasi di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut. 2. Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. 3. Meningkatnya mobilitas penduduk dalam bekerja. 4. Mundurnya aktivitas gotong royong. 5. Berkembangnya konflik antargenerasi, khususnya generasi tua dan generasi muda. 6. Terjadinya gejala social defiance yang meliputi kejahatan, narkotika, maupun penyakit kelamin. 7. Terjadi komersialisasi kebudayaan dan hasilnya. Mengenai indikator pada poin ketujuh merupakan salah satunya masalah terkait dengan eksistensi kehidupan kebudayaan tradisional Bali. Hasil kebudayaan unggul (height culture) hendaknya diposisikan sebagai basis kreativitas yang kaya inspirasi, kokoh identitas, kuat modal budaya yang mengkonstruksi, mengintegrasi dan menyeimbangkan, sehingga tidak tergerus oleh mekanisme komersialisasi dan komoditisasi. Antara kebudayaan tradisional Bali dan penciptaan desain produk masa kini agar terjaga pola hubungan sinergis, komplementer yang simetris dan saling meningkatkan. Hal tersebut menjadi penting, mengingat hasil kebudayaan unggul memiliki karakteristik sebagai ber-

ikut: (1) mengedepankan kualitas, sehingga diagungkan dan dimuliakan (adhiluhung); (2) menjadi sumber inspirasi atau spirit dan kreasi oleh mayoritas populasi dan perajin; (4) memiliki sifat khas, lentur dan adaptif dengan roh budaya; (5) mengandung sari-sari budaya dan peradaban, seperti etika, estetika, logika, solidaritas, spiritualitas dan aneka kearifan lokal. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Mantra (1988) bahwa kebudayaan Bali dalam perkembangannya berfungsi secara “normatif” dan “operasional”. Berfungsi normatif, karena terkait dengan adat-agama Hindu di Bali, maka peranan kebudayaan Bali diharapkan mampu dan berpotensi memberikan pegangan dasar dan pola pengendalian, sehingga ketahanan dan kelestarian budaya dapat diwujudkan. Berfungsi operasional, karena kebudayaan Bali diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi peningkatan kualitas kepariwisataan di Bali. Upaya mewujudkan ketahanan dan kelestarian kekayaan budaya serta alam Bali, maka pada beberapa dasawarsa silam, pemerintah daerah Tingkat I Bali dalam melaksanakan pembangunan yang mencakup berbagai sektor dirumuskan peraturan-peraturan daerah yang diarahkan pada pembangunan dengan pola budaya Bali, berwawasan lingkungan dan dilandasi dengan konsep adati-Hinduisme, seperti: 1. Rwa Bhineda, yaitu dua hal yang berbeda terdapat di dunia ini. Bagi orang Bali perbedaan tersebut tidak harus dipertentangkan, melainkan

maka dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. kebolehan dan kemampuan sebenarnya sangat sulit untuk menentukan batas absolut dua hal tersebut. dituntut bijak. sehingga segala makhluk tidak luput dari ikatan suka maupun duka (Kadjeng. yaitu kemampuan untuk menimbang konsekuensi baik atau buruk yang akan berpengaruh pada manusia dan lingkungan.diharmoniskan (serasi. selaras dan seimbang). seperti suka dan duka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Artinya: dua hal yang berbeda.) Sebagai manusia dengan berbagai keterbatasan. . yaitu sebagai berikut: sukha vã yadi vã duhkham bhûtãnãm paryupasthitam. Konsep tersebut memberi kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan tidak luput dari belenggu dikotomi yang bersifat kodrati. dan sakral atau profan. Hal tersebut. seloka: 498. merupakan kekuasaan Sang Hyang Widhi Waša atau Tuhan. seperti: baik atau buruk. 1993. menghidarkan tindakan yang arogan dan harus berdasarkan nalar atau wiweka. siang atau malam. Oleh sebab itu. nyata atau tidak nyata (sekala atau niskala). sesuai dengan yang termaktub dalam Kitab Sarasamušcaya. prãptavyamavašaih sarva parihãro na vidyate. pria atau wanita.

2. karena merupakan kebahagian sejati. berasal dari Bahasa Šanskerta. artinya empat tujuan hidup sebagai dasar kehidupan sosial. berasal dari bahasa Šanskerta. maka tuntutan akan artha dan kãma dapat dikendalikan. Hal tersebut. kãma dan moksa. Artha. Perkataan dharma. memangku. Kãma. berarti naluri. Dari keempat tujuan hidup tersebut. menuntun. artha. Sedangkan dharma adalah tujuan terpenting. rasa bersahabat. ‘Muc’ yang berarti membebaskan atau melepaskan ikatan duniawi. sebab dengan perbuatan yang dilandasi dengan dharma. Keempat bagian tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh. Catur Purusha Artha. moksartham jagadithya ca iti dharma. artinya tujuan dharma adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani yang selaras dan seimbang.’ yang berarti: menjunjung. ‘dhir. Sedangkan perkataan Moksa. moksa adalah merupakan tujuan hidup yang tertinggi. yaitu terdiri dari: dharma. adil. artinya benda atau sarana yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. mengatur. sesuai dengan pen- . memelihara dan melestarikan. dorongan nafsu atau keinginan yang bersifat duniawi.

nantinya tak disangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kãma. Hal tersebut merupakan suatu penafsiran atau fatwa agar manusia senantiasa memelihara dan melestarikan alam semesta yang mencakup bhuana agung (makrokosmos) serta bhuana alit (mikrokosmos). nahi dharmmãdapetyãrthah kãmo vapi kadãcana. Dalam usaha memenuhi tuntutan artha dan kãma. 3.) Konsep tersebut merupakan panduan absolut bagi manusia untuk membina keseimbangan dan keselarasan antara alam sekala dan niskala. yaitu sebagai berikut: Kamãrthau lipsamnastu dharmmamevãditašsaret. merupakan tiga ukuran yang dapat dipakai seba- . untuk mencapai jagaddhita atau kebahagian dan kesejahteraan hidup. adalah bagian dari Tri Pramana dalam lingkup perilaku manusia.1993. Artinya: jika menuntut artha dan kãma dalam hidup ini. seloka: 12. hendaknya manusia mengendalikan diri dan lebih mengutamakan perbuatan dharma. hendaknya mengutamakan dharma.jelasan dalam Kitab Sarasamušcaya. bila artha dan kãma tesebut diperoleh dengan perbutan yang menyimpang dari dharma (Kadjeng. Desa Kala Patra. Tidak ada artinya.

Karma Phala. Konsep tersebut memberikan landasan ideal yang luwes atau fleksibel. kesejahteraan umat manusia dan kelestarian lingkungan. bahwa semua perbuatan manusia pasti akan memperoleh hasil yang setimpal (inter- . peraturan. khususnya dalam mengambil sikap. Desa dalam konteks perilaku manusia merupakan pedoman berdasarkan tempat atau lingkungan di mana perbuatan tersebut dilakukan. kenyamanan. tempat atau lingkungan dan keadaan atau peraturan yang telah berlaku. 4. yaitu terdiri dari kata Karma yang artinya perbuatan dan Phala artinya buah atau hasil. Jadi Karma Phala mengandung arti: hasil dari perbuatan. keputusan atau kebijakan yang akan diberlakukan dalam masyarakat. Kala merupakan pedoman berdasarkan waktu perbuatan atau aktivitas tersebut dilakukan. Manusia hendaknya mampu menyesuaikan dengan waktu. sehingga tercipta kesatuan pandang dan keadaan yang mengarah pada kedamaian. Dua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik dan marupakan “hukum” dan telah dipercayai umat Hindu di Bali. Sedangkan Patra merupakan pedoman berdasarkan “keadaan” atau peraturan tertulis yang berlaku.gai pedoman untuk menilai kenyataan Rwa Bhineda.

1. 25. Jadi. Artinya: Kami memuja engkau yang menjaga alam semesta. Dalam Kitab Reg Veda VII. perbuatan baik selalu akan mendatangkan hasil yang baik. juga sebagai hukum jagat raya. konsep tersebut melandasi sikap antisipatif. keseimbangan dan menghindari kekacauan alam semesta. hukum tersebut dikenal dengan perkataan Rtã dan dijelaskan sebagai berikut: Tã vãm vivaya gopã Deva dikesu yajñiyã rtãvãnã yajase putadaksasã. sebaliknya perbuatan buruk akan memperoleh hasil yang buruk. Konsep yang dilandasi Karma Phala. pengendalian atau restraint dan pembinaan moral dalam segala perilaku manusia sehari-hari.aksi yang seimbang). baik antar sesama sebagai sum- . Hukum Karma dikenal pula sebagai hukum alam atau kausalitas dan tak seorang pun luput dari hukum tersebut. Dewa yang tersuci penegak hukum keabadian yang memiliki kekuatan suci. Menanamkan kepercayaan bahwa. baik di dunia nyata (sekala) maupun di akhirat (nis-kala). Hukum tersebut mengatur keterpaduan. hukum Rtã selain sebagai hukum perbuatan serta hukum moral. Jadi. memberi pendirian terhadap hukum kausalitas yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini.

memelihara kelestarian alam disekitarnya. Membatasi eksplorasi dan ekploitasi alam. artinya manusia dalam kehidupanya hendaknya selalu dapat menjalin rasa persahabatan . selamat dan sejahtera. Esensi dari konsep tersebut merupakan sinergisme yang meliputi pembinaan hubungan yang harmonis. (2) Pola hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya disebut Palemahan. kesejahteraan atau kemakmuran. yaitu: (1) Pola hubungan manusia dengan Tuhan disebut Parhyangan. Palemahan dan Pawongan. Terdiri dari: Parhyangan. 5. artinya manusia hendaknya selalu sujud kehadapan-Nya atas segala rahmat dan karunia-Nya. artinya manusia hendaknya selalu merawat dirinya sendiri dan menjaga. maupun dalam memperdayakan sumber daya alam. (3) Pola hubungan manusia dengan manusia disebut dengan Pawongan. Secara keseluruhan Tri Hita Karana mengandung pengertian: tiga penyebab terciptanya keselamatan. ‘Hita’ berarti sejahtera. sehingga tercipta kehidupan yang sehimbang. baik secara vertikal maupun horizontal.ber daya manusia. Perkataan tersebut terdiri dari kata ‘Tri’ berarti tiga. Tri Hita Karana. selamat atau kemakmuran dan ‘Karana’ berarti penyebab.

Jadi secara keseluruhan berarti “itu adalah kamu”. kata jengah berkonotasi sebagai . Twãm artinya “kamu” dan Ãsi artinya “adalah”. Kalau ditambah dengan kerja. berarti semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.yang didasari dengan saling pengertian dan Tãt Twãm Ãsi. Etos Kerja dan Jengah atau semangat kerja. terutama dalam menciptakan produk-produk seni bermutu tinggi. 6. Secara harfiah terdiri dari kata: Tãt artinya “itu”. 1994) Demikian juga secara Sosiologi. Dalam konteks seni Budaya Bali. Jika menyakiti orang lain secara implisit berarti menyakiti diri sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. nilai dan adat-istiadat yang khas serta memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial di masyarakat. bahwa perkataan etos yang terkait dengan kebudayaan berarti: sifat. 1985) Sedangkan jengah dalam Bahasa Bali berarti: semangat juang. (2) karakter umum suatu pekerjaan (Soekanto. berarti: (1) nilai-nilai dan ide-ide suatu kebudayaan. Pengertian “itu” termasuk “aku” dimaksudkan diri sendiri dan alam semesta beserta isinya.

dinamis dan kebersamaan dalam pembangunan disegala sektor. 7. Tetapi kedua hal tersebut perlu diarahkan. baik keindahan alam maupun keindahan hasil olah cita. maka sifat khas atau semangat kerja yang dimiliki masyarakat dalam lingkungan adat Bali. 1993) Dari pengertian etos kerja tersebut. diakomodasikan dan dikendalikan dengan konsep tersebut sebelumnya. adalah semangat kerja yang dilandasi dengan gotong royong serta berbakti dengan cara yang tulus iklas atau ngayah kepada Tuhan berserta ciptaannya. sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian serta dalam mengeksploitasi sumber daya alam akan dapat diharapkan terwujudnya kelestarian. Bagi orang Bali keindahan. Estetika. Konsep tersebut merupakan landasan dari kerja keras. rasa dan karsa manusia yang muncul akibat perpaduan antara keserasian keselarasan dan keseimbangan dalam suatu pro- . yaitu dalam bentuk pengorbanan suci atau Yajña.“semangat bersaing” atau competitive pride (Mantra. Sedangkan dalam perkata jengah secara implisit tersirat sifat dinamis dan merupakan pangkal dari segala dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat di Bali.

maupun pada produk seni atau produk kriya tradisional yang adiluhung. karena bagi umat Hindu di Bali dipercayai bahwa dalam keindahan tersirat nilai-nilai kebaikan. dan menghargai keindahan. karena . seni dengan keindahan hendaknya dipersembahkan kembali kepada-Nya dalam produk seni ataui desain berbentuk simbol-simbol atau nyasa. Dengan pandangan tersebut. maka dalam setiap kegiatan adat-agama Hindu di Bali. Pandangan tersebut sesuai dengan yang dijelaskan Gie (1976) bahwa keindahan dalam arti luas mencakup pula ide kebaikan (mengacu pada pengertian bangsa Yunani kuno. kejujuran dan kebenaran. Sehingga dengan melakukan persembahan keindahan berarti berbuat yajña. maka pengertian indah akan menyiratkan nilai kejujuran dan kebaikan. seperti Plato menyebut ‘watak indah’ atau ‘hukum indah’ dalam konteks tersebut. Oleh sebab itu. baik terlihat di alam sebagai ciptaan-Nya yang agung. keindahan merupakan hal pokok yang harus diperhitungkan. Konsep tersebut juga merupakan pedoman bagi generasi penerus dalam menghayati menikmati. sebagai rasa terimakasih.duk seni atau desain adalah merupaka karunia Tuhan.

yang memberi kekuatan spiritual kepada seorang seniman untuk mengungkap dirinya menjadi “lebih besar” dari kehidupan sebelumnya (Mantra. apabila mampu merefleksikan inner power pada produk visualnya. merupakan personal asset atau inner power yaitu kekuatan dari dalam diri seseorang sebagai fitrah yang memberikan kecerdasan. keserasian. dan keseimbangan. Dalam kaitannya dengan pelbagai aktivitas budaya Bali. sehingga berkesan “hidup” . Seorang perupa dikatakan produknya ber-taksu. sebab setiap insan memiliki taksu sebagai anugrah Tuhan yang perlu dilatih dan dikembangkan. keindahan dan mujizat. sehingga tetap tercipta “keindahan”.di dalamnya tersirat nilai-nilai luhur. genuine creativity. baik dengan Tuhan. Seorang seniman tari dapat dikatakan memiliki taksu. 1993) Konsep tersebut menuntun kesadaran manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. apabila ia mampu mentransformasikan dirinya secara utuh sesuai dengan peran yang ditampilkan. sesama mahkluk maupun dengan alam di sekelilingnya. 8. Taksu. taksu juga mempunyai arti sebagai kreativitas murni. Mengajarkan manusia agar berbuat dengan mengarah pada keselarasan. sehingga dapat tampil sebagai jati diri yang mandiri.

perlu juga ditopang atau dikendalikan oleh konsep-konsep lainnya yang telah dipaparkan. secara yuridis berdasarkan Perda Nomor 3 tahun 1974 juncto Perda Nomor 3 tahun 1991 yang menetapkan bahwa konsep pengembangan pariwisata di Bali adalah berbasis budaya Bali. yaitu jenis kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu sebagai potensi daerah yang paling dominan. Taksu yang dimiliki akan berubah menjadi “kelemahan”. “over acting”. atau jangan sampai melewati batas norma-norma yang berlaku. Karena sikap tersebut. Namun dalam mensosialisasikan kesadaran tersebut. kadang dapat menjadi bumerang. Konsep pariwisata budaya diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan kebudayaan masyarakat Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. sehingga tidak terjadi penampilan yang terlalu berlebihan. sela- . Demikian juga pengembangan pariwisata di daerah Bali. Dalam konsep tersebut secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali.dan sebagainya.

Sebagai salah satu contoh yang dapat dijumpai dalam dasawarsa belakangan ini. Produk yang dibuat tersebut kadang-kadang menampakan “kejanggalan”.ras. Namun pada kenyataannya tak jarang ditemukan juga “ketidaktaatan” dalam operasionalnya. maka fenomena tersebut merupakan suatu pergeseran makna dan dapat berakibat terjadinya “desakralisasi”. namun kini banyak tampak diterapkan pada desain produkproduk profan atau tempat-tempat yang tidak sesuai. perkantoran. Misalnya. seperti fenomena eklektik atau “pemilihan” bentuk-bentuk atau ragam hias tradisional Bali yang sebenarnya dirancang dengan bentuk. Diupaya agar meminimalkan timbulnya dampak negatif terhadap kelestarian seni budaya Bali. sekarang banyak terlihat diterapkan sebagai elemen estetis pada hotel. Kalau dikaji dari sudut kesejarahan dan semiotika. Karang Bhoma yang sebenarnya merupakan ragam hias pada bangunan-bangunan suci. dan seimbang. rumah tinggal dan bahkan sebagai hiasan pada bagian tubuh dengan di-tatto. dan nilai-nilai estetika yang khusus untuk diterapkan pada sarana pemujaan dan dianggap mengandung nilai simbolis dan sakral. isi (content) atau bobot. karena dalam pengerjaannya tidak mengacu pada referensi kesepakatan yang dibuat . Walaupun sedemikian luhurnya maksud dan tujuan konsep yang melandasi strategi pembangunan di Bali. narasi. pengkaburan makna dan berkonotasi negatif.

tanpa peduli akan terjadi pelunturan nilai-nilai filosofi. sementara ada yang berpendapat bahwa hal tersebut “sah-sah” saja tergantung pada proses pengerjaannya. Mereka memilih dan menerapkannya pada produk atau tempat yang bersifat profan dengan tendensi lebih mengutamakan segi pemampilan “artistik” semata. mereka kadang-kadang tidak mempersoalkan masalah eksistensi makna dan nilainilai filosofi yang dikandungnya. baik terhadap produk yang dipilih dan demikian juga terhadap desain yang diberi elemen estetis produk kriya tradisional yang sarat makna religius. Jelas tidakan tersebut tidak relevan dan merupakan suatu sikap “ketidaktaatan. terutama yang terkait dengan nilai-nilai simbolis religius yang dikandungnya. Namun jika ditinjau dari sudut visualnya sebenarnya implementasi tersebut tidak sesuai dan dapat berdampak buruk. Penerapannya sematamata berorientasi pada faktor estetis dan komersial. Produk yang tergolong high art sebagai hasil kebu- . Menyikapi kondisi tersebut dalam masyarakat Bali terjadi polarisasi pandangan. di lain pihak ada yang memandang sebagai sesuatu yang baku dan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang keliru. Jika ditinjau kembali dengan merujuk konsep estetika yang mendasari strategi pembangunan di daerah Bali. Dalam penerapan elemen estetis tradisional pada desain masa kini.oleh leluhurnya di masa lalu dan nilai-nilainya masih eksis pada masyarakat Hindu di Bali.

dayaan tinggi atau high culture yang adiluhung. menjadi kehilangan ‘jiwa’ kesuciannya atau menjadi suatu produk yang lumrah. bahwa “masyarakat Bali” dalam mengaplikasikan konsep-konsep adati Hinduisme yang kini dijadikan sebagai landasan strategi pembangunan di daerah Bali. khususnya dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan elemen estetis produk kriya tradisional. Sikap seperti tersebut tanpa disadari dapat mengancam spirit dan kelestarian budaya Bali yang dibanggakan dan dijadikan sebagai daya tarik utama dalam pengembangan kepariwisataan di Bali Dari uraian tersebut dapat diketahui. secara umum dapat digambarkan dalam suatu sekematik hubungan hirarki atau taksonomi pandangan tentang dunia (weltanschaúung) manusia Bali seperti Gambar 1 berikut: .

CITRA TRADISIONAL PENUNJANG KEPARIWISATAAN DI BALI Gambar 1: Taksonomi Pandangan Dunia Manusia Bali .NISKALA ASUMSI DASAR THEOLOGICAL CONCEPT KARMA PHALA RWA BHINEDA SIO NAL (HIDUP DI B U ER A MI) OP FORMITAS TOTAL KON CATUR PURUSHA ARTHA KEINDAHAN ("RASA") TAKSU TRI HITA KARANA DESA PATRA KALA JENGAH ETOS KERJA SKALA ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYATRADISIONAL MASA LALU DI BALI EXTERNAL (SUB SISTEM) PENGARUH -PARIWISATA -MODERNISASI /TEKNOLOGI DESAIN MASA KINI BERSIFAT KOMERSIAL: .

1995). metode.) Dalam filosofi dan teologi. sistem. 1983. et al. 1989). Pengertian Eklektik erkataan eklektik dalam bahasa Yunani disebut eklektikos. dan dalam Moeliono. (1994). eklektik merupakan praktek memilih doktrin dari beberapa sistem yang berbeda tanpa memakai keseluruhan sistem yang lama untuk masing-masing doktrin. Berbeda dengan sinkretisme —merupakan suatu usaha untuk menyerasikan. perpaduan atau mengkombinasikan beberapa sistem— karena masih meninggalkan kontradiksi yang belum dihilangkan (Encyclopaedia Britannica . kepercayaan dan sebagainya (Hornby. diartikan bahwa eklektik sebagai usaha memilih atau menggunakan bermacam-macam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary. eklegein berarti:1) memilih yang dipandang terbaik dari berbagai doktrin. 2) mengkomposisikan beberapa elemen yang diambil dari berbagai sumber (Webster.EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. perkataan eklektik mengandung pengertian. atau gaya. Perancis. baik berupa orang. suatu usaha bersifat BAB II P .

maka dapat dipahami. Dalam hal tersebut ia mendefinisikan postmodern sebagai” kombinasi teknik-teknik modern dengan sesuatu yang lain. Meski terkesan tidak memiliki prinsip. Dari uraian tersebut. seperti elemen-elemen estetika tradisional) agar dapat berkomunikasi dengan publik dan . namun gaya eklektik merupakan olah image dari perpaduan berbagai gaya. Jadi. sebenarnya eklektik tidak memiliki prinsip khusus dalam kreativitasnya. Hal tersebut juga sesuai dengan konsep Charles Jencks yang menggunakan pengkodean ganda atau double coding dan eklektik digunakan untuk menerangkan hakekat produk post modernisme. Misalnya. istilah eklektik dikenal sebagai upaya untuk mencampur atau meramu beberapa gaya yang berasal dari berbagai sumber dalam satu produk. gaya atau metode. eklektik lebih merujuk pada perpaduan antara beberapa gaya yang saling bertolakbelakang. namun bukan berarti eklektik tidak unik. Bahkan pada perkembangannya dalam seni dan desain. memadukan gaya modern dan tradisional. bahwa eklektik tidaklah selalu menghasilkan sesuatu yang bersifat “merusak” norma-norma masa lampau akan tetapi dapat juga berarti sebagai bentuk “penghargaan” atau produk “nostalgia”. Justru dengan perpaduan berbagai macam gaya akan melahirkan satu nuansa baru yang jelas berbeda dengan gaya-gaya sebelumnya. Dalam seni dan desain.memilih yang terbaik dari berbagai sumber tentang: orang.

kriya dan kerja dalam bahasa Jawa disebut pekaryaan yang berarti pekerjaan dan pengertian tersebut mengacu kepada hasil suatu pekerjaan yang disebut ‘karya’. B. Perkembangan yang menampilkan multivariousness. maka dalam pembahasan selanjutnya mengenai masalah penerapan elemen produk kriya tradisional secara eklektik pada desain masa kini. mengingat unsur-unsur produk kriya masa lalu yang “dipilih” terkait dengan sarana penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu sesuai dengan adat di Bali dan nilainilainya masih diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. Dalam Kamus Bahasa Kawi Indonesia dijelaskan. Hal tersebut.minoritas yang terkait” (Jencks. bahwa per- .1987). bahwa kriya berarti pekerjaan atau perbuatan (Wojowasito. et al (1994) dijelaskan. 1977) dan menurut Moeliono. dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Kata kriya atau kria berasal dari bahasa Sansekerta “kr” yang berarti ‘mengerjakan’. kembalinya nilainilai tradisional dan juga reaksinya yang justru menekankan bentuk-bentuk baru yang radikal dan menentang seluruh ekspresi kesenian yang dianggap ideal dalam bingkai high art Berdasarkan pada pengertian tersebut. akan dicoba mengkaji mengenai dampak “negatif” yang ditimbulkan akibat eklektisme yang kurang terkendali.

Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek yang bernilai seni dan miliki nilai estetis. Pengertian kriya sering diselaraskan pengertian handicrafts. maka cakupan kriya memiliki fleksibilitas yang . Sehingga kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan yang memungkinkan melahirkan nilai seni terapan atau dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini. Pengertian kriya juga sering dipadankan dengan istilah craft yang mengandung pengertian suatu keahlian atau keterampilan yang menghasilkan benda. Menurut Soedarso (1988) kriya adalah cabang seni rupa yang mengutamakan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi. Pengerjaannya bisa saja menggunakan bantuan peralatan kerja. Atas dasar hal tersebut. Dalam Encyclopedia of World Art (1963) didefinisikan sebagai berikut: The word “handicrafts” refers to useful or decorative objects made by hand or with tool by workman who has direct control over the product during all stages of production. Istilah tersebut dipergunakan untuk menyebut suatu cabang seni yang mengutamakan keterampilan yang luar biasa (virtousity) menggunakan tangan. bahkan untuk tujuantujuan tertentu dapat diciptakan peralatan khusus. namun sepanjang proses pembuatannya si pembuat atau kriyawan sepenuhnya dapat menguasai seluruh tahap produksi.kataan kriya berarti pekerjaan tangan.

tinggi. Hal tersebut ada benarnya. handicrafts atau craft adalah: 1. bahwa pengertian kriya. Kriya juga disebut “industri rumah-tangga” atau home industry yang memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan . karena sumberdaya manusia pelaku kegiatan tersebut umumnya rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan atau konsisten berbasis pada estetika tradisional. Sesuatu yang dibuat dengan kecenderungan lebih banyak melibatkan kemampuan atau keahlian tangan kriyawan atau virtousity 2. Jadi orientasi penciptaan produk mencerminkan kecenderungan-kecenderungan kepada salah satu dari kedua hal tersebut atau terkadang dapat merupakan perpaduan seni dan desain. Berdasarkan beberapa definisi dan ulasan tersebut. Bersifat dekoratif atau secara visual dibuat sangat indah dan dalam perujudannya dapat berupa produk seni murni atau seni terapan atau desain yang memiliki fungsi guna atau utility. Hal tersebut membawa cara penilaian atau assessment estetika produk kriya tergantung dari wawasan atau persepektif ilmu yang dipergunakan untuk mendekatinya. maka dapat disimpulkan. bisa berada pada domain seni murni atau seni pakai atau seni terapan atau desain. bisa memiliki ciri khas atau identitas. Sedangkan pada masyarakat umumnya kriya sering disebut sebagai “seni rakyat”.

Produk yang dihasilkan dapat berupa hiasan atau benda seni maupun barang pakai (Wikipedia. juga berarti industri kecil small scale industry yang membuat barang-barang sederhana dan bisa menggunakan unsur seni. maka dapat dipahami bahwa antara kriya dengan kerajinan memiliki kesamaan ditinjau dari proses pengerjaannya dan pencapaian hasil. didalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skil yang tinggi craftmenship. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata. seperti: kerajinan logam.peralatan sederhana. kulit. yaitu samasama menggunakan keterampilan tangan dalam proses pengerjaannya dan benda yang dihasilkan dapat berupa produk seni atau produk pakai yang mengutamakan kegunaan atau utility. Selain hal tersebut. batik dan sebagainya. Menurut Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan bahwa kerajinan adalah proses produksi melalui keterampilan tangan. Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. Karya kriya me- . sehingga sebutan jenis kerajinan dikaitkan dengan medium yang digunakan. Namun antara seni kriya dan kerajinan secara prinsip terdapat perbedaan. Berdasarkan pengertian tersebut. Selain hal tersebut seni kriya juga sering didekatkan dengan istilah “kerajinan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan. 2010).

komologis. Kerajinan suatu hal yang rajin. serta magis. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsur seni. kegiatan. simbolis.rupakan karya yang memiliki keunikan. yang kemudian disebut seni kerajinan . Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). Sebab pada masa lampau. Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. filosofis dan sekaligus fungsional. yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. di dalamnya terkandung muatan-muatan atau nilai estetik. kegetolan. para kriyawan menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan. Dalam Konsep tersebut termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual. angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas dan mencerminkan jiwa zaman lampau. pikiran. religius.karakteristik.

Selain hal tersebut juga terjadi reproduksi karya masa lalu yang diwarisinya dengan tujuan untuk menampilkan karya kriya etnis. Sebutan "kriya kontemporer" (yang merupakan padan kata dari contemporary craft) sendiri sebenarnya mengandung paradoks karena di satu sisi ia menempatkan dirinya pada suatu kategori "kriya" (craft) yang berseberangan atau setidaknya terpisah dari "seni" (art). sebutan kontemporer seolah mengacu pada paradigma seni masa kini yang dilandasi pandangan postmodernisme. terjadi gejala mempertontonkan identitas invidual. Sekarang jamannya permainan tanda-tanda budaya glo- . dan subject-matter dalam seni rupa sudah benar-benar campuraduk. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang membuat seni kriya mengikuti nazab seni yang sedang berkembang. Namun.Dewasa ini penciptaan produk kriya di satu sisi mengarah pada estetika plural. di mana pembedaan kategori dianggap tidak berlaku lagi. sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa kriya seni. Perkembangan karya menampilkan multivariousness. Menurut Julian Stallabrass dalam "Contemporary Art" mengatakan bahwa sekarang ini bermacam-macam bentuk. seperti karya kriya kontemporer. Dalam kreativitas penciptaan karya kriya. Kecenderungan saat ini mengusung pemahaman bahwa media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. teknik. di sisi lain.

maka yang dimaksud dengan elemen estetis produk kriya tradisional Bali adalah mengenai unsur-unsur atau bagian-bagian yang mengandung nilai-nilai estetik. Seperti diuraikan pada BAB III berikut. merupakan hasil pekerjaan tangan para kriyawan secara konvensional. Dalam kaitan tersebut.bal yang melingkupi budaya tradisi. simbolik. filosofis. Bertolak dari uraian tersebut. Untuk lebih jelasnya nilainilai yang dikandung dalam produk kriya dapat ditelusuri dari perkembangan penciptaan produk kriya. kosmologis. Estetika menjadi praktik normatif dalam menciptakan unique selling point. bersifat tradisional. maka parameter pengukur nilai estetika produk kriya adalah uang. dan sakral. . Produk seni kriya dapat mengambil posisi strategis di tengah mengeliatnya isu seni rupa kontemporer dan pasar seni rendah dengan kuantitas massal. adiluhung dan terkait erat dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. budaya modern dan budaya masa kini. produk kriya diciptakan mengarah pada “komersialisasi” produk dan dianggap sebagai barang komuditi yang memiliki milai ekonomis.

Tingkat perkembangannya ditentukan oleh berbagai faktor. Museum Gedung Arca. Denpasar. karena keterbatasan referensi dan data berupa artifak-artifak yang ada. maka dalam penelusuran perkembangan dan motivasi penciptaan produk kriya dalam masyarakat Hindu di Bali. Namun berdasarkan benda etnologi yang tersimpan di Museum Bali. Sejarah Penerapan Produk Kriya emaparan produk kriya di Bali secara hitoris mengenai awal penciptaan dan penggunaan-nya dalam kehidupan masyarakat di Bali adalah merupakan hal yang sangat sulit diungkap secara tuntas. maka secara sinkronis atau berdasarkan penggalan sejarah dapat ditelusuri sebagai berikut: .PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI A. BAB III P Sehubungan dengan hal tersebut. Penggunaan dan penciptaan produk kriya tradisional Bali dewasa ini adalah merupakan bagian dari mata-rantai sejarah perkembangan kebudayaan Bali sejak berabad-abad yang silam. Gianyar dan didukung dengan beberapa buku yang terkait. dinamika dan perubahan lingkungan budaya internal maupun eksternal. Bedulu. seperti tingkat peradaban. tidaklah mungkin dapat dipaparkan secara kronologis. akurat dan tuntas.

petir. tanduk dan batu yang dikerjakan dengan cara sangat sederhana. berpindah-pindah. membuat mereka harus waspada dan seolah-olah selalu dibayangi oleh perasaan takut. memohon keselamatan dan memuja atau percaya dengan kekuatan alam. tulang binatang.1. kematian. gangguan binatang buas. Pulau Bali —seperti halnya beberapa pulau lain di Nusantara— dihuni oleh penduduk yang tergolong ras Negrito yang mengusung kebudayaan Paleolitikum (Koentjaraningrat. hujan. sebagai pemburu dan peramu. Pola pikirnya masih terbatas pada tingkat pemenuhan kebutuhan hidup berupa makanan dan belajar secara alamiah dari gejala-gejala atau kejadian-kejadian alam yang pernah dialaminya. seperti berupa kapak batu yang tergo- . timbulnya api. 1971). Dalam melakukan aktivitas hidupnya didukung dengan peralatan kerja berupa produk kriya terbuat dari ranting kayu. mengembara. penduduk yang menghuni pulau Bali masih hidup dengan pola nomaden. tanah longsor. Dalam terminologi antropologi disebut dengan kepercayaa animisme dan dinamisme. Seperti terjadinya kelahiran. kejadian gunung berapi. angin. dan sebagainya. Pada saat tersebut. sehingga hasil produk yang ditinggalkan tampak relatif masih kasar. Kejadian-kejadian tersebut. Sebelum kedatangan gelombang migrasi bangsabangsa pendukung kebudayaan Neolitikum dan Perunggu dari dataran Asia Tenggara. Zaman Pra-Hindu.

Soejono. Di antaranya berhasil ditemukan Bali oleh R.long jenis kapak perimbas.P. kapak genggam dan sebagainya. Badung ditemukan beberapa buah sudip dan tiga buah alat tusuk terbuat dengan tulang binatang atau tanduk rusa dan di daerah lainnya. desa Pecatu. Buleleng. seperti: di daerah Sembiran. di Gua Seloding. Gambar 2: Kapak perimbas dari batu peninggalan zaman Palaeolithikum (Zaman Batu Tua) .

Gambar 3 Kapak Gengngam dari Batu Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda Gambar 4 Kapak dari Batu Bertangkai Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda) .

muncul etiket saling menghargai antar sesama dan berkembang tradisi menghormati orang yang dituakan. belajar bercocok tanam dan bermasyarakat. tokoh-tokoh masyarakat atau orang yang dianggap memiliki kekuatan tertentu.Produk kriya berupa peralatan kerja yang ditinggalkan tersebut. lebih mengutamakan kegunaan. kemudian ditinggalkan ke tempat lain (Sutaba. Dalam masyarakat yang terbentuk saat tersebut. Kemungkinan juga peralatan tersebut diambil langsung dari alam serta digunakan hanya sekali pakai. 1977-1978). 1994). yaitu suatu ajaran berdasarkan keyakinan. 1980) Kemudian dengan kedatangan gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Neolitikum. —migrasi orang-orang Proto Melayu dan tergolong ras Mongoloid. Penduduk Bali secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup nomaden. tampak bersahaja. bahwa roh yang ada di sekeliling manusia dapat merasuk ke tubuh seseorang melalui suatu ritual tertentu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2500 SM— maka mulailah terjadi integrasi dengan kebudayaan dari luar (Suwondo. belum tampak usaha untuk memperindah penampilan dan kenyamanan (ergonomis). seperti. bahwa roh . Mereka percaya. Hal tersebut menjadi dasar berkembangnya kepercayaan syamanisme. mulai hidup bertempat tinggal di suatu daerah dengan batas-batas wilayah tertentu yang disebut pedukuhan.

seperti kapak persegi.orang yang meninggal dapat berpengaruh terhadap kehidupan di dunia ini. Produk kriya tersebut dibuat sebagai simbol penghormatan atas jasa orang yang meninggal. perilaku tersebut disebut fetisisme. Beberapa peninggalan produk kriya yang mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum berupa peralatan . Kepercayaan animisme dan dinamisne juga semakin tumbuh subur di masyarakat Mereka percaya dengan kekuatan-kekuatan metafisis yang dimiliki oleh suatu materi. pahat pembelah batang kelapa dan sebagainya. seperti bekal kubur (funeral gifts). pohon dan di antara produk-produk kriya yang diciptakan juga dihargai dan dipuja sebagai benda bertuah atau sebagai simbol-simbol tertentu. dalam terminologi antropologi. beliung. belincung. maka berkembang gejala simbolisasi dan penghargaan atau pemujaan terhadap suatu benda. Mereka mampu menciptakan produk-produk dari batu dengan disertai usaha-usaha untuk memperindah penampilan dan memikirkan segi kenyamanan dalam pemakaiannya. Atas dasar kepercayaan tersebut. Menganggap suatu benda memiliki kekuatan magis atau bertuah dan dapat menyelamatkan atau merusak kehidupannya. Proses pengerjaannya dengan cara digosok menggunakan batu lain sampai halus (Sutaba. 1980). Seperti menyembah batu. Pengaruh kebudayaan Neolitikum terutama tampak dalam penciptaan produk kriya berupa peralatan dari batu.

perak. seperti: emas. Demikian juga pengaruh-pengaruh dari luar terus berlangsung. Hindu. Kemampuan tersebut terus ditingkatkan. Unsur-unsur kebudayaan tersebut diterima dan diadaptasi. sehingga mampu menghasilkan beberapa jenis produk dari perunggu yang cukup berkualitas. datang gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Perunggu yang disebut juga migrasi orang-orang Deutro Melayu. maka di Bali terjadi akulturasi antara kebudayaan batu dengan perunggu. Dalam penciptaan produk-produk kriya tersebut. Mesir. karena mereka mengenal bijih logam dan cara peleburannya. Sekarang benda-ben-da itu. Kebudayaan masyarakat di Bali semakin tumbuh dan berkembang. seperti masuknya pengaruh kebudayaan Budha. dan sebagainya. besi. Dengan kedatangannya. mereka tidak hanya mengutamakan kegunaan semata. tetapi keindahan penampilan produk juga mu- . Dalam perkembangan selanjutnya. dan sebagainya. Cara penciptaan produk kriya untuk penunjang aktivitas hidupnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. Gianyar. Cina.terbuat dengan batu. tembaga. Misalnya di Palasari. sehingga memperkaya kasanah kebudayaan Bali di masa lalu. Bantiran. Nusa Penida dan di daerah lain. Bedulu. kuningan. diperkirakan sekitar tahun 600-300 SM. Denpasar dan Ge-dung Arca. seperti ditemukan di beberapa tempat di Bali. disimpan di Museum Bali.

Digunakan untuk genderang perang atau sarana upacara memohon turunnya hujan (Kartodirdjo. yakni berupa sebuah nekara perunggu yang ditemukan di desa Pejeng.60 m.lai diperhatikan.96 m dan bidang pukulnya bergaris tengah 1. Gianyar Nekara tersebut berbentuk selinder atau dadang terbalik. 1976). di antaranya berupa hiasan yang . Mempunyai ukuran luar biasa dengan tingggi 1. Nekara Perunggu Ditemukan di Pejeng. Gianyar detail hiasan wajah manusia 1m hias an waj ah man usia Gambar 5. Pola hias yang diterapkan. Hal tersebut dapat dilihat pada artifak yang sangat menakjubkan.

Benda atau hiasan tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis atau bertuah yang memberi perlindungan dan keselamatan kepada kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya (Soejono. bulu burung. Pada masa tersebut. . seperti penerapan hiasan empat pasang topeng wajah manusia. empat pasang topeng dan lain sebagainya (Kempers. merupakan personifikasi nenek moyangnya yang telah meninggal. pola tumpal yang tersusun bertolak belakang. selain bertujuan sebagai dekorasi. 1960). Penerapan ragam hias tersebut. anyamanyaman bambu dan mengukir batu sebagai perkembangan kebudayaan Neolitikum. pembuatan produk kriya selain menggunakan logam juga dengan bahan-bahan lain. seperti tanah liat yang dibakar atau tembikar. binatang. Zaman Hindu (Pengaruh dari India dan Majapahit) Pengaruh kebudayaan Hindu yang masuk ke Pulau Bali. 1975). juga sebagai simbol yang mengandung makna terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu contoh peninggalan berupa peti terbuat dengan batu (sarkofagus) digunakan untuk tempat mayat. diduga berlangsung melalui dua “pengaruh”. Pada sarkofagus tersebut tampak ditatah langsung berupa hiasanhiasan dan simbol-simbol terkait dengan kepercayaan mereka. 3.distilasi dari bentuk wajah manusia.

Sidetapa. Bangli. Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dari Majapahit ke Bali. Songan. . Hubungan tersebut terus berlangsung pada zaman Kerajaan Singosari dan puncaknya terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad 14 dan 15 M (Suwondo. Pedawa. diawali dengan ekspedisi di bawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada (Prabu Wisnuwardana) pada tahun 1343. Desa Trunyan. yaitu saat Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Tri Bhuwana Tungga Dewi Djaya Wisnuwardana). 1953) dan pengaruh kebudayaan Hindu yang berasal dari Pulau Jawa. diduga berlangsung sekitar abad 10 M. sekitar abad 8 M (Djawatan Penerangan Propinsi Suda Ketjil.yaitu pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa langsung dari India. 1972). Dalam ekspedisi tersebut terjadi perang melawan penduduk Bali asli dan berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Gajah Mada. baik yang dibawa oleh orang-orang Drawida maupun Arya pada masa-masa Raja Maya Denawa berkuasa di Bali. akhirnya terdesak ke daerah pedalaman. 1977/1978). Julah. Cempage. Karangasem. Sembiran. seperti di Desa Tenganan. dan di daerah lainnya di Buleleng (Covarrubias. Kedisan. Persebaran kebudayaan Hindu dari Pulau Jawa. Kekalahan tersebut mengakibatkan penduduk Bali asli. yaitu sejak terjadi hubungan antara masyarakat Bali dengan Kerajaan Medang Kemulan di Pulau Jawa. Kubu dan Sukawana.

Penduduk di Pulau Bali saat tersebut jumlahnya relatif sedikit di bandingkan sekarang. . Seluruh unsur kebudayaan tradisonal Bali dominan dijiwai oleh agama Hindu dan sebaliknya wujud kebudayaannya kembali diabdikan untuk keperluan agama. bahasa yang digunakan umumnya menggunakan Bahasa Bali Kuno dan tidak mengenal tingkatan bahasa (bahasa halus-kasar) Masuknya kebudayaan Hindu ke Bali. Sehingg terjalin hubungan yang saling berkait seperti pada Gambar 6. Namun mereka telah memiliki sistem kemasyarakatan yang mapan dengan kebiasaan berbeda dengan penduduk Bali lainnya. Brahma. seperti: Sambu. kekuatan alam atau dewa-dewa penguasa alam gaib. Indra. Mereka tidak mengenal sistem Kasta.1986). ternyata membawa pengaruh yang cukup besar terhadap konstelasi kehidupan masyarakat di Bali. Percaya dengan alam nyata dan tidak nyata. dan konsep utara-selatan (kaja-kelod atau dulu dan tebén) dengan berpedoman pada laut dan gunung (segaraukir). dan Kala (Soeka. roh nenek moyang. Sebagai penganut sekte-sekta. Wisnu. di mana gunung dianggap utara dan sebagai tempat yang bersih atau suci sedangkan laut adalah selatan sebagai tempat yang kotor atau tempat pembersihan. Gunung dianggap sebagai alam arwah dan sekaligus sebagai waduk alamiah yang mengairi dataran rendah di Pulau Bali sepanjang tahun. Bayu. Daerahnya dibatasi hutan belantara.

Anak panah menuju kearah pusat lingkaran besar menunjukkan bahwa semua unsur bertumpu pada ajaran Agama Hindu. seperti: (1) Filsafat hidup atau pandangan hidup masyarakat. seperti: berupa seni rupa. menunjukkan segala produk kebudayaan kembali diabdikan atau dipersembahkan untuk agama. tata cara upacara di pura. tari. dan sebagainya. (3) Seni budaya.Gambar 6. (4) Organisasi sosial tradisional.    . (2) Adat istiadat dan hukum adat. bangunan tradisional. Unsur Kebudayaan Bali Dijiwai Agama Hindu Keterangan  Lima unsur dominan dalam tata kehidupan tradional di Bali. dan (5) Keseluruhannya dilandasi dengan ajaran Agama Hindu. Anak panah munuju kearah keluar lingkaran besar. Anak panah melengkung pada gambar tersebut menunjukkan hubungan antar unsur.

Ia mengembangkan konsep Tri Murti untuk pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma ‘pencipta alam’ ke arah laut.Tata cara bercocok tanam tradisonal dan sistem pengairan atau subak dikembangkan berdasarkan konsepsi Agama Hindu. Sarana dan prasarana keagamaan mengalami perkembangan dan pembenahan sejak datangnya Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirarta dari Jawa Timur. Pura Puseh dan Pura Bale Agung— untuk melengkapi Desa Pekraman. Mengajarkan pembuatan Sadkahyangan Jagat. Empu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11. yaitu pada zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan di Bali diperintah oleh Raja Marakata dan Anak Wungsung. Mengajarkan tata cara pembuatan Kayangan atau Pura. Wisnu ‘pemelihara alam’ tengah dan Šiwa ‘pelebur alam’ ke arah gunung. Kayangan Tiga —terdiri dari: Pura Desa. Kayangan Rwabhineda dan memperlebar Pura Besakih dan sebagainya (Purnata. Kayangan Catur Lokapala. 1977 /1978). Menyusun sistem organisasi kemasyarakatan berdasarkan ajaran Agama Hindu yang disebut Desa Pekraman atau Desa Adat. Sedangkan Dang Hyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra (juga terkenal dengan sebutan Peranda Sakti Wawu Rawuh) —seorang agamawan dan pujangga besar dari Jawa Timur— datang ke Bali ketika Keraja- . Sistem tersebut diajarkan oleh Resi Markandeya berasal dari Jawa Timur. seperti.

karang goak. karang bentulu. Kalpa Warksa. 1945). patra welanda. Paibon untuk pemujaan roh leluhur (Wiana. menunjang keperluan sehari-hari. mas-masan dan sebagainya serta kekarangan. Dia mengembangkan konsep Tri Purusa yang terdiri dari: Parama Šiwa (Swah Loka atau alam atas). patra sari. simbol maupun sebagai hiasan. Keberhasilannya adalah memperjelas “kekaburan” antara tempat pemujaan Tuhan dengan roh leluhur. . sedangkan Pura Dadia. Purnaghata. terutama untuk sarana pemujaan. Penciptaan produk-produk kriya pada zaman tersebut. Hiasan yang diterapkan berupa pepatran. Kinara Kiniri. Achentya dan sebagainya yang terkait dengan konsepsi Tri Murti dan Tri Purusa. yaitu untuk pemujaan Tuhan. Naga Basuki. Kedatangannya sangat berpengaruh dalam pengembangan dan penyempurnaan ajaran Agama Hindu di Bali serta turut membawa Kerajaan Gelgel ke zaman keemasannya. Perwujudan dalam bentuk simbol. Sada Šiwa (Bwah Loka atau alam Tengah) dan Šiwa (Bhur Loka atau alam bawah). Klungkung dipemerintah oleh Dalem Waturenggong (1460-1550). seperti berupa wadah. Ananta Boga. mempunyai peranan yang sangat penting. seperti Empas. berupa alat pertanian. seperti. dan sebagainya. seperti patra punggel. Salah satu contoh. yakni dengan membuat pelinggih berupa Padmasana. seperti karang asti.an Gelgel. dalam pembuatan Pelinggih Padmasana. Pedharmaan.

nomor kropak M55 dijelaskan: .Di bidang kesenian lainnya. Seperti seni tari. tanggal 5 tahun Šaka 818) ( Simpen.pandê mas. seperti kerajaan Bedahulu (1324-1343) dengan rajanya yang terkenal bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten. besi. besi. pabangsi (juru rebab). pagending (penyanyi). Pada zaman tersebut di Bali sudah berdiri kerajaan-kerajaan.. di bulan besakha Cuklapancami. Kerajaan Samprangan (13511380) dengan rajanya Sri Kresna Kepakisan berasal dari Daha (Kediri).. Seperti dalam bentuk pagelaran topeng.. pertunjukan wayang. 1974) Prasasti tersebut memberi petunjuk. Kerajaan Gelgel (1380 -1460) dengan masa keemasan pada saat pemerintahan Raja Dalem Waturenggong sampai Kerajaan Klungkung. tari topeng. juga dipakai sebagai media pendidikan atau komunikasi dalam masyarakat.. bahwa kesenian termasuk produk-produk kriya pada zaman tersebut. (dibuat oleh pegawai di Singamandawa pada bulan ke-10. Hal ini dapat diketahui dari Prasasti Bebetin. pabunjing (penari). rge pasaran Wijayamanggala. tahun Šaka 818 (896 M). yaitu salah satu kerajaan di Bali yang pa- . pamukul (juru tabuh). parbwayang (wayang). tembaga). dan sebagainya.turun di panglapuan di Singamandawa. Jawa Timur. wayang dan sebagainya. juga mengalami perkembangan diwarnai dengan pengaruh kebudayaan Jawa dan sarat dengan misi pembinaan umat Hindu. tembaga (kriyawan atau “tukang” emas. partapukan (topeng).

Kedatangannya disambut dengan tata . Produk kriya yang diciptakan saat itu tampak lebih mengutamakan segi keindahan.ling terakhir dikuasai oleh Belanda dalam perang Puputan pada tanggal 28 April 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe. maka peranan penciptaan produk-produk kriya saat tersebut memiliki kecenderungan untuk melaksanakan tugas yang dilandasi dengan semangat kebanggaan dan dedikasi kepada raja dan keluarga raja. umumnya dibuat lebih megah dibandingkan dengan perumahan rakyat dan sebagainya. saat diperintah oleh Raja Dalem Sagening. Zaman Kolonial Ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk menemukan sumber rempah-rempah di dunia timur. produk kriya berupa keris atau atribut raja dibuat dengan sangat indah. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para raja dan keluarganya yang bersifat hedonistik atau sebagai simbol status sosial. bangunan istana raja. kegiatan penciptaan produk-produk kriya tampak lebih berkembang di sekitar pusat kerajaan dan di bawah patronage kerajaan (Joedawinata. 1990:4). Sebagai contoh. Sehingga melahirkan produk-produk yang unggul dan adhiluhung. Dalam kaitan dengan sistem kerajaan. Pada tahun 1597 sempat mampir di Kerajaan Gelgel (Bali). Jadi berorientasi pada puri atau istana centris. 4. Oleh sebab itu.

terutama mengenai segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan Raja Dalem Sagening. yang ditujukan untuk Pulau Bali. dalam julukan itu sebenarnya teselip suatu ambisi atau impian untuk menjadikan Bali sebagai wilayah kekuasaannya. Sistem pemerintahan tersebut. karena kekuasaan kerajaan “feodal” secara berangsur-angsur diganti dengan sistem pemerintahan kolonial “modern” menurut cara Belanda. kesehatan. Impian tersebut akhirnya benar menjadi kenyataan. yang nantinya akan ditingkatkan menjadi hubungan perdagangan. Bagi Belanda. misalnya.cara yang sangat hormat. Pada saat tersebut. setelah Belanda mampu mengalahkan perlawanan para raja Bali dalam perang puputan (terakhir tahun 1908). artinya “Belanda Muda”. dalam pendidikan. karena kunjungannya tersebut dengan dalih ingin menawarkan ikatan persahabatan. Keadaan tersebut menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat di Bali. menanamkan pengertian tentang pentingnya hidup non-agraris dan sebagainya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Be-landa dengan sebaik-baiknya untuk menulis mengenai Bali. Belanda juga melontarkan suatu julukan “Jonck Hollands”. Mulai saat itu pamor kekuasaan para raja semakin memudar di mata rakyat Bali. . menyebabkan muncul kelompok-kelompok elite atau golongan atas baru dalam masyarakat dan memperkenalkan ide-ide baru.

sebagai “museum hidup” dan menjadi tontonan semata. seperti pelajaran menggambar diajarkan oleh “Guru Adat” (seniman tradisional). Dalam menyusun strategi pengembangan ke arah tersebut. Pemasukan berupa devisa hanya diharapkan dari pemungutan pembayaran yang dikenakan pada para wisatawan yang berkunjung (Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Ketjil. maka mereka selalu konsisten untuk menjaga kelestariannya dan berusaha untuk mengisolasi dari penetrasi pengaruh-pengaruh kebudayaan eksternal. seperti mengembangkan sistem pendidikan kolonial yang disesuaikan dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu di Bali. upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di Bali. seperti memiliki beraneka ragam jenis kesenian tradisional. pemerintah kolonial Belanda berkeinginan untuk mengembangkan potensi tersebut untuk dijadikan objek wisata. Pemerintah Belanda menginginkan agar keindahan alam dan kebudayaan Bali menjadi objek wisata budaya. Sistem pendidikan itu dikenal dengan . Sehubungan dengan hal tersebut.Di sisi lain. Misalnya. Belanda juga sangat tertarik dengan keindahan alam dan kehidupan kebudayaan masyarakat di Bali yang memiliki ciri tersendiri. 1953) Langkah-langkah lain yang dilakukan dalam upaya pelestarian itu. karena dikawatirkan dapat “merusak”. terdapat pura hampir di seluruh pelosok Pulau Bali dan sebagainya. diupayakan dengan mengangkat tenaga pendidik lokal.

te Flierhaar —seorang tokoh pendidik dari Negeri Belanda— pada tahun 1920. Kemudian di Denpasar pada tahun 1932. di bawah pimpinan Leifrinck dan Van der Tull. usaha tersebut cukup menggetarkan keinginan banyak orang termasuk para penulis dari barat lain-nya untuk melihat Bali secara langsung. ketika menjadi guru HIS di Klungkung. Walhasil. Goris menulis buku berjudul “Secten op Bali” (1933).N. E. meneliti dan menulis berbagai aspek tentang Bali. (Putra. medirikan Gedong Kirtya yang digunakan sebagai perpustakaan untuk menyelamatkan lontar-lontar yang berisi sastra lama dan segala aspek tentang Bali.sebutan Balisering.P. Sekitar tahun 1920. Kroos mendirikan sebuah bangunan digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu dan sekarang dijadikan Museum Bali. dilakukan dengan mendatangkan beberapa pakar dalam berbagai disiplin ilmu dari negeri Belanda untuk mempelajari. Korn menulis buku berjudul “Het Adatrecht van Bali” (1932) dan yang lainnya. De Kat Angelino dengan tulisannya berjudul “De Leak op Bali” (1923). WF. Selain itu. P.Van der Tuuk. kapal dagang Belanda K. menulis tentang “Kawi-BalineeschNederlandsch Woordenboek” (1912). R. 1991/1992). di Singaraja pada tahun 1928.M . Kemudian tulisan-tulisan tersebut didistribusikan ke seluruh dunia. V. Sedangkan dalam usaha mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata. dikembangkan oleh H. Di antaranya H.

Misalnya pada kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya. seperti membangun Hotel Bali di Denpasar. maka dalam pengembangan selanjutnya mulailah diadakan pembenahan sarana dan prasarana yang terkait. Pada masa tersebut. Motivasi atau semangat penciptaan produk yang dulunya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan ke- .(Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dialihfungsikan untuk mengangkut rombongan wisatawan Belanda pertama mengunjungi Bali. pesanggrahan di Kintamani dan di Pelaga. dan sebagainya. sehingga para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya di Bali mulai merasakan nilai ekonomis atau nilai tukar dari produk kriya yang diciptakan atau diusahakannya. Penciptaan tersebut termotivasi oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat. perbaikan sarana transportasi. sehingga banyak di antara mereka terpaksa tidur dalam kapalnya. Sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan di Bali saat itu kurang memadai. Melihat peluang tersebut. Namun kebanyakan wisatawan dalam rombongan tersebut merasa puas setelah meninggalkan Pulau Bali. para kriyawan dengan “serta merta” mulai aktif menciptakan produk-produk kriya untuk dijadikan mata dagangan berupa produk kriya lokal sebagai cenderamata. Upaya pengembangan tersebut secara tidak langsung akhirnya berpengaruh pada kegiatankegiatan lain di Bali.

.rajaan. Dalam kurun waktu tersebut. maka pengembangan pariwisata di Bali tidak dapat diteruskan lagi oleh pemerintah Belanda. karena saat tersebut. karena harus menerima kekalahan dalam menghadapi semangat hegemonisme Jepang. ternyata mengalami perkembangan cukup pesat. maka situasi dan kondisi masyarakat di Bali mengalami perubahan cukup drastis. 1988). (Mirsa. Jepang lebih terfokus pada ambisinya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. pembangunan di daerah Bali yang dilaksanakan berdasarkan program Repelita dan dengan strategi pembangunan daerah seperti tampak pada Gambar 7. Zaman Kemerdekaan Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang ini (lebih kurang seperempat abad silam). kemudian disuguhkan untuk para wisatawan. Walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan kendala. Pada masa selanjutnya. Dengan kekalahan Belanda. 5. namun pada saat tersebut mulai muncul gejala yang mengarah pada komersialsasi produk kriya. dengan meletusnya Perang Dunia ke-II. Dalam kreativitas penciptaan produk berciri khas Bali mulai terjadi gejala reproduksi atau tindakan eklektik terhadap unsur-unsur produk masa lalu yang diwarisinya. Di bawah penguasaan Jepang yang berlangsung dalam waktu relatif singkat sehingga pengembangan sektor pariwisata kurang mendapat prioritas.

Pembangunan Sektor Pertanian b. agama dan warisan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan B. Peningkatan dan Perluasan Sarana dan Prasarana Sosial c. Mendorong Partisipasi Aktif dari Masyarakat dalam Pembangunan TUJUAN INTI ARAH IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN ALAT UKUR YANG MENGARAHKAN PADA KESERASIAN DAN KETERPADUAN Sumber: (Oka. Bagan Strategi Dasar Pembangunan Daerah Bali .2. Pembangunan Sektor Pariwisata c. Pengembangan identitas Bali 1. Delapan Jalur Pemerataan 2. Pendekatan Regional Gambar 7.2. 1991) A.TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PEMERATAAN TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI a. Pelestarian nilainilai budaya. Pemenuhan Kebutuhan Dasar b. Pembangunan Sektor Industri SOSIAL a.

ternyata memberi peningkatan perekonomian yang cukup signifikan bagi masyarakat di Bali. Demikian juga industri kecil dan rumah tangga yang bergerak dalam usaha penciptaan produk kriya. bahwa tujuan pembangunan bidang ekonomi di Bali adalah berorientasi pada pertumbuhan sektor pertanian. Sektor tersebut memberi oportunitas cukup besar untuk tumbuh suburnya berbagai bidang usaha. toko kesenian. seperti semakin menjamurnya usaha di bidang perhotelan. seperti pada Pelita I yang dimulai sejak tahun 1969 dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. Hasil pembangunan ketiga sektor tersebut. Pembangunan sektor pariwisata di Bali. kini terus dibina dan dikembangkan. Pemerintah menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu cabang industri alternatif yang strategis. yang kembali dibangkitkan oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950. transportasi atau biro perjalanan.Dari sekema tersebut dapat diketahui. pariwisata dan industri kecil. ternyata mendapat respons cukup besar dari masyarakat petani di Bali. Sehingga hasilnya tampak jelas dari Pelita I sampai V mampu membawa masyarakat Bali ke tingkat swasembada pangan. prospektif dan sesuai . berbagai jenis industri kecil dan rumah tangga dan sebagainya. karena kemantapannya yang kuat sebagai masyarakat pewaris budaya agraris. dengan tetap memakai potensi budaya sebagai daya tarik utama. garmen.

Kebijakan tersebut . humanisasi proses kerja. maka pada era kemerdekaan. karena termotivasi oleh nilai ekonomi yang dapat dinikmati dari produk kriya yang diciptakannya. sehubungan dengan upaya untuk memperoleh sumber dana penunjang pembangunan nasional. Kondisi tersebut semakin terpacu. karena memiliki karakteristik antara lain. Sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat di pedesaan serta dapat memperlambat laju urbanisasi. Malah pada tahun 1990-an terbukti produk-produk kriya sempat dijadikan sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor di luar minyak dan gas alam (LNG) Liquid Natural Gas. usaha perluasan atau enlargement penciptaan produk-produk kriya. tampak semakin mantap dan dengan kecenderungan mengarah kepada hal yang bersifat “komersial”. karena pada dasawarsa belakangan ini pemerintah Indonesia semakin mengkonsetrasikan perhatiannya pada sektor tersebut. Para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya masa kini merasa semakin bergairah dalam usaha tersebut. sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja (mass employee) berakumulasi modal kecil.dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara. dan sebagainya. Berbagai program telah diluncurkan terkait dengan hal tersebut. Dengan dukungan pemerintah dan perkembangan pariwisata di Bali yang cukup pesat. salah satunya seperti program OVOP (one village one product).

sehingga da- . Wiswamitra. yaitu: Maharesi Grtsamada. Hindu Kaharingan dan sebagainya. seperti disebut Agama Hindu Bali. ajaran diterima dari Tuhan dalam bentuk wahyu suci oleh tujuh orang Maharsi. Di tempat tersebut. hingga sampai ke Indonesia. 1990) B. Ajaran tersebut dikumpulkan dan disusun kembali oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk kitab suci yang disebut Weda. Di Indonesia. Agama Hindu sering diberi sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan nama daerah di mana Agama Hindu tersebut tumbuh dan berkembang. Kemudian ajaran tersebut disebarkan keseluruh dunia melalui para pengikutnya. kala dan patra. Atri. Terjadinya hal tersebut. salah satunya. Hindu Jawa. mengalami penurunan dipasaran dunia dan diikuti oleh resesi dunia pada saat tersebut (Joedawinata. Pelaksanaan Ajaran Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali Agama Hindu berasal dari lembah Sungai Sindhu di India. Wasista dan Kanwa. karena dalam tata cara pengamalan ajarannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi budaya masyarakat penganutnya atau disesuaikan dengan desa. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali 1. mengingat ekspor andalan Indonesia berupa bahan-bahan mentah yang dibutuhkan oleh industri pengolahan di luar negeri.ditempuh oleh pemerintah. Baradwaja. Wamadewa.

tt). tampak memiliki etos kebudayaan Hindu yang berbeda. mutlak akan diperlukan dalam mengamalkan ajaran Agama Hindu di Bali (Sugriwa. Seperti bunga yang bersemayam dalam batin yang tak pernah layu (puspa tan alun). Namun inti ajaran Agama Hindu yang dianutnya tetap satu bersumber pada ajaran Weda. Namun umat seperti tersebut populasinya sangat sedikit dapat dikatakan satu per mil atau sewu tinunggal. api yang tidak pernah padam (geni anglayang). karena mereka telah menaruh upacara tersebut dalam batinnya (adyâtmika). Berdasarkan hal tersebut. dibenarkan mengamalkannya dengan tanpa sarana upacara dan tidak memilih tempat serta arah tertentu. Seperti yang . air amerta batin yang tidak pernah kering (Šiwambhâ-dhyatmika) dan dapat manunggal dengan Tuhan atau purusa katemunta mareka si tan katemu. Misalnya bagi umat Hindu yang telah “ahli” dalam teori dan praktek ilmu ketuhanan (teologi). sebab ajaran Agama Hindu memberi tuntunan yang bersifat lentur. Hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Agama Hindu. maka sarana dan prasarana yang bersifat lahiriah. suara sukma yang tidak pernah putus (swaraning genta pinara pitu). Kondisi tersebut memang menungkinkan untuk terjadi. seperti produk-produk kriya berupa simbol-simbol atau nyasa yang bersifat sakral.lam perkembangannya di masing-masing daerah di Indonesia.

kau makan. lakukanlah. sloka IX-26. Sifat ajaran Weda. juga dapat disimak dalam cara menghayati dan mengamalkan ajaran Weda yang dapat mengacu pada beberapa hal seperti: a. Pada garis besarnya dapat dijabarkan menjadi tiga bagian. Yayur Weda. Acuan lainya sesuai dengan pendapat tersebut. sebagai bhakti pada-Ku (Pendit. Artinya: Apapun yang kau kerjakan. yat tapasyasi kaunteya tat Kurushva mandarpanam. Kuntipura. ceritera-ceritera dan simbol yang dipergunakan untuk memantapkan rasa percaya kepada Tuhan. yaitu: 1) Mantra. yaitu sebagai berikut: Yat karosi yad ašnãsi yaj juhosi dadãsi yat. kau persembahkan. yaitu Brahmana (Karma Kanda) adalah merupakan ajaran yang berisi himpunan doa-doa dan tuntunan yang dipergunakan untuk keperluan upacara Yajña. Sama Weda. dan Atharwa Weda).disebutkan pada Bhagawag Gîtã.) Bagian kedua dari penjabaran sifat ajaran Weda di atas. 2) Brahmana (Karma Kanda). kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan asalkan menuju kebenaran. dan 3) Upanisad (Jñána Kanda. Jadi pada dasarnya ajaran tersebut “membenarkan” penggunaan sarana . Isinya terdiri dari empat himpunan atau samhita (Reg Weda. 1995).

artinya cinta kasih. yang terdiri dari: Tattwa (Filsafat Agama). Catur Marga. Seorang Bhakta —penganut Bhakti Marga — adalah orang yang penuh cinta kasih kepada Tuhan berserta ciptaannya. mudah diterima dan dilaksanakan oleh semua tingkatan.yang bersifat lahiriah untuk membantu penghayatan kepada Tuhan. menurut kerangka tersebut. Seperti penggunaan produk kriya berupa simbol-simbol yang terkait dengan ajaran agama dan sebagainya. Bhakti Marga merupakan ajaran yang langsung. b. juga membenarkan menggunakan sarana untuk pemujaan Tuhan . Dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. c. 3) Jñána Marga dan 4) Raja Marga. Susila (Etika) dan Upacara (ritual). 2) Karma Marga. Ajaran ini merupakan salah satu alternatif dalam menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu dengan menggunakan sarana pemujaan. alamiah. Bhakti Marga. Kerangka Agama Hindu. Cetusan rasa cinta kasih dan kerinduan kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pesembahan bhakti atau dalam produk kriya berupa simbol-simbol untuk melukiskan sifat maya Tuhan (mayasakti) (Cudamani. 1993). yaitu empat cara atau jalan utama ditempuh untuk mencapai tujuan Moksaratha Jagathita. terdiri dari: 1) Bhakti Marga.

Seperti menggunakan produk-produk kriya. dalam mengamalkan ajaran Weda. secara implisit memberi peluang munculnya keanekaragaman atau perbedaan penciptaan sarana pemujaan Tuhan di setiap daerah di Indonesia. Ketiga ajaran tersebut memberi tuntunan yang mengarah pada pengorbanan suci berupa tindakan atau kerja dan membenarkan menggunakan sarana dalam pemujaan Tuhan. Pengamalan ajaran agama Hindu tersebut. Sarana tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dan keyakinan masyarakat setempat serta menjadi aktivitas adat atau “hukum adat” yang diusung dari generasi ke generasi berikutnya. api dan sebagainya. ternyata yang lebih dominan dilaksanakan adalah upacara atau ritual keagamaan yang disesuaikan dengan adat-istiadat umat Hindu di Bali. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh E. Seperti dalam pengamalan tiga kerangka Agama Hindu. busana. bangunan suci. bahwa ajaran Agama Hindu memberi suatu tuntunan yang bersifat luwes dalam usaha mendekatkan diri dengan Tuhan. sesajen. 1990). air.Ketiga acuan di atas memberi gambaran. sehingga hampir setiap hari umat Hindu di Bali dijum- . Utrecht bahwa sebagian dari kaidah-kaidah atau norma-norma yang ada dalam masyarakat yang berasal dari sumber hukum yang dianggap sakral (dalam Suasthawa. Umat Hindu di Bali. masih dominan mengacu pada tiga ajaran tersebut di atas. bunga.

jalan. maupun di tempat lain yang dianggap sakral. terdiri dari: (1) Dewa Yajña. (5) . Dengan tujuan untuk melaksanakan tiga kewajiban atau utang yang disebut Tri Rna. Tujuan tersebut dilaksanakan didasari dengan suatu keyakinan. persembahan atau penghormatan kepada para Resi atau guru. pelaksanaan juga diyakini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan dengan Tuhan. manusia dan alam yang didasari konsep Tri Hita Karana. (2) Resi Yajña. yaitu utang kepada Tuhan. baik di pura. (4) Pitra Yajña. Upacara yang dilaksanakan tersebut dipercayai merupakan suatu bentuk pengorbanan yang tulus dan suci atau Yajña. persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa.pai melaksanakan upacara. Dari sekian banyak upacara Yajña yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. maupun berupa hiasan dan dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat Hindu di Bali. pada garis besarnya dapat dikelompokan menjadi lima. hampir semuanya tampak menggunakan sarana upacara. yaitu. rumah tinggal. para resi atau guru dan leluhur. Selain hal tersebut. yang disebut Panca Yajña. upacara penyucian yang ditujukan mulai perkawinan hingga ajal tiba. Dari upacara-upacara tersebut. yaitu persembahan kepada roh leluhur dan upacara kematian. yaitu. baik berupa wadah atau tempat. yaitu. (3) Manusa Yajña. bahwa kelahiran manusia selalu diselimuti oleh utang yang harus dibayar. sawah. simbol-simbol.

dan sebagainya. 1990) Berdasarkan kategori tersebut dan mengingat peranan serta jenis produk-produk kriya yang digunakan untuk menunjang aktivitas hidup masyarakat di Bali sangat beraneka ragam. baik yang bersifat temporel maupun permanen. seperti berwujud bebantenan atau sesajen. maka dalam konteks bahasan ini. Upacara Panca Yajña dapat dipilah lagi memjadi beberapa jenis upacara. Nuntun. Melasti.Bhuta Yajña. misalnya. upacara Dewa Yajña atau Dewapuja. (2) Produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. 2. Peranan Produk Kriya dalam Upacara Agama Hindu di Bali Secara umum produk kriya di Indonesia dapat dibagi menjadi empat kategori. yaitu upacara korban suci kepada Bhuta Kala. produk-produk kriya yang dimaksudkan adalah produk yang tergolong kategori kedua. Ngenteg linggih. Semuanya menggunakan sarana yang khusus dan sangat beragam. dikenal beberapa jenis upacara. seperti: Odalan. Dan (4) Produk kriya yang dibuat oleh kriyawan dan para perancang masa kini (Buchori. yaitu: (1) Produk kriya dalam konteks budaya. yaitu sebagai sarana upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di . (3) Produk kriya dalam konteks kerajinan rakyat. penganggé atau busana dewa dan melibatkan berbagai produk kriya.

terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian Odalan. Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu kepercayaan terhadap alam nyata dan tidak nyata. yang berarti kelahiran. 1 sasih = 35 hari.) b. Pengertian Odalan Sebelum lebih lanjut menguraikan tentang peranan produk kriya. ternyata memberi pengaruh dominan pada tatanan kehidupan dan sistem relegi masyarakat Bali. roh nenek moyang. kekuatan alam gaib serta memberi penghargaan atau ucapan terimakasih dalam bentuk persembahan kepada alam atas hasil atau . a. Terutama produk-produk kriya yang digunakan sebagai sarana upacara Odalan. Peranan Produk Kriya dalam Melaksanakan Upacara Odalan Masuknya Agama Hindu ke Bali. mengandung makna atau nilai simbolis dan dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali. Perayaannya dilangsungkan setiap enem sasih atau enam bulan (menurut perhitungan kalender Bali. Odalan atau Dewapuja berasal dari kata Wedal. Dalam hal tersebut bukan berarti Tuhan mengalami kelahiran. bersifat “permanen”. tetapi yang dimaksudkan adalah upacara peringatan hari mulai enteg linggih atau hari peringatan mulai “distanakannya” atau dilinggakan Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasi sebagai dewa pada suatu tempat suci atau pura.Bali.

sumber pangan yang di berikannya. Kemudian keyakinan tersebut dimatangkan lagi semenjak Rsi Markandeya datang dari Jawa. Pola masyarakat agraris yang telah mengakar tersebut, dipadukan dengan konsep yang “bernafaskan” Agama Hindu dari Jawa, seperti dalam pelaksanaan sistem irigasi yang disebut subak. Konsep Agama Hindu dari Jawa yang bersifat menyempurnakan tersebut, juga terlihat pada sarana pemujaan kepada Tuhan dalam segala manifestasinya. Seperti berupa pelinggih, penggunaan arca, pertima atau pralingga dan sarana lainnya, yang merupakan bentuk “penyempurnaan” dari hasil kebudayaan megalitik di Bali. Pengaruh perpaduan Agama Hindu, juga memberi sepirit dan inspirasi untuk tumbuh suburnya beraneka ragam jenis kesenian tradisional berciri khas Bali. Menurut pandangan umat Hindu Bali, fungsi kesenian tradisional tersebut, pada garis besarnya dapat dikelompok menjadi tiga bagian, seperti: (1) Seni Suci atau Wali, jenis kesenian ini difungsikan sebagai bagian dari suatu rangkaian upacara yang sarat dengan makna religius dan dianggap sakral; (2) Seni Ritual atau Bebali yaitu, jenis kesenian sebagai pengiring atau “penghias” dan sekaligus terkait dengan rangkain upacara; (3) Seni “Sekular” atau Bali-balihan yaitu, jenis kesenian yang cenderung mengarah pada hiburan rakyat atau kesenangan (Pindha, 1973) Produk kriya, sebagai salah satu bagian dari kesenian tradisional Bali, ternyata dapat menduduki ke-

tiga fungsi tersebut. Khususnya produk kriya yang difungsikan sebagai sarana wali berbeda dengan yang lainnya, sebab dalam penciptaannya disertai dengan proses penyucian atau sakralisasi dengan melalui tahap-tahap upacara tertentu, seperti di antaranya dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut Tabel 1 Tahap Penyucian Produk Kriya
No. (1) 1. TAHAPAN (2) nglakar ARTINYA DAN KEGIATAN (3) pemilihan bahan baku yang akan digunakan, dewasa ayu atau “hari baik” mulai mencari bahan dan disertai dengan persembahan sesajen kepada Tuhan untuk mohon kekutan agar produk kriya tersebut ber-taksu. membentuk secara global membuat detailnya menghaluskan memberi warna memberi kontur dan hiasan tambahan upacara pembersihan, dengan membuatkan banten pemlapas memanggil atau memohon kekuatan agar merasuk pada produk tersebut yaitu dengan membuatkan banten pengulap menghidupkan yaitu dilakukan dengan mempersembahkan banten pengurip upacara menstanakan pada tempat suci dengan jalan mempersembahkan sesajen pada tempat atau asal bahan yang digunakan untuk mengetahui apakah benda yang dibuat bertuah

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

makalin nepong ngasren mulas ngias melapas ngulapin

9. 10. 11. 12.

ngurip ngeteg linggih nuedin ngerehang

(1) 13.

(2) ngajar-ngajar

(3) upacara membawa benda tersebut ke tempat suci lainnya, seperti Kahyangan Jagat, dengan tujuan “mendaftarkan”. upacara memperingati hari dilinggakan benda tersebut sebagai benda sakral memfungsikan

14. 15.

ngodalin mepajar

Narasumber: Gelebet.

Dalam melaksanakan upacara Odalan biasanya memanfaatkan berbagai macam produk kriya dengan beraneka ragam bentuk dan fungsinya serta tergolong sebagai sarana wali, seperti berupa: 1. Benda pakai, antara lain: pedupaan, bokor atau tempat sesajen, dulang, sokasi atau bakul, saab atau tutup sesajen, kendi, sangku atau tempat air suci, canting alat untuk mengambil tirta air suci, peralatan yang digunakan oleh Pedanda atau pemimpin upacara, seperti pedipan, pasepan keduanya berfungsi sebagai tempat pedupaan, stana lingga tempat api, swamba atau tempat tirta, tripada sebagai “kaki” swamba, pewijan tempat beras suci, dan sebagainya . 2. Ragam hias pada sarana perlengkapan upacara, seperti: Lontek, kober, pengawin atau bandrangan, tedung atau payung, ider-ider, berupa relief pada pelinggih-pelinggih, candi, patung, dan sebagainya. 3. Selain hal tersebut, peranan produk kriya sekaligus juga berfungsi sebagai simbol yang mengandung

Sikap berdiri (padaasana) dan kaki pada posisi bergerak. Acintya . Pada tiaptiap persendian. Relief Acintya a) Karakteristik: 1) Bentuk: Umumnya dibuat dalam bentuk relief yang digubah dari bentuk mirip manusia dengan tanpa busana. Beberapa contoh produk kriya jenis tersebut dapat disimak pada uraian berikut 3. telinga. dan pada kelamin berisi bajra.nilai-nilai atau makna terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. kepala.1. Bentuk Acintya seperti tampak pada Gambar 8 Gambar 8.

Namun sekarang ada juga menggunakan “beton cetak” (campuran semen pasir yang dicetak). hitam atau kuning emas dan putih). Pelinggih Padmasana .2) Material: Biasanya terbuat dengan batu alam (batu padas) atau emas. b) Fungsi: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan bersifat permanen dan sekaligus sebagai simbol. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan (abu-abu. Diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih berupa Padmasana Seperti tampak pada Gambar 9 Kepala badan kaki Tampak Samping Gambar 9.

ujung kaki. ape hetu ri kadadinyan ananta. Acintya.b) Makna. tak dapat dibatasi atau anirdesyam. merupakan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan. Oleh sebab itu. Setiap persendian. tan pahingan. Artinya. melambangkan sifat yang bebas dari ikatan duniawi. artinya kehidupan yang selalu bergerak dinamis dan berproses. para yogiswara atau orang suci yang mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan membuat dalam bentuk simbol bersifat ikonografi dengan mengambil bentuk mirip manusia tanpa busana. kepala. Dan dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan: Aprameya.. karena keadaannya yang tidak habis-habisnya atau ananta. maka untuk mempermudah penghayatan-Nya. Bersemedi dengan sikap pada asana atau berdiri. anatomi tubuh dan jenis kelamin dibuat “tidak jelas” atau Ardhanareswari. nilai-nilai simbolik dan religiusnya: Berdasarkan lontar Widi Tatwa atau filsafat tentang Tuhan.. dan . telinga. anirdesyam. artinya tak terpikirkan.. Bhatara Parama-šiwa atau Tuhan sebenarnya bersifat tidak terbayangkan (Aprameya) dalam pikiran. bhatara Paramasiwa tan pangenpangen. melambangkan sifat Tuhan yang maha pemurah dan memberikan anugrah kepada ciptaan-Nya di alam. Sikap kaki seperti berjalan atau bergerak..

kuningan atau tembaga. 5. tanah. 2.2. melambangkan energi Tuhan berupa sinar suci yang memancar ke segala arah dan memberi penerangan kepada seluruh ciptaan-Nya. Akasa atau langit. 3. Pertiwi. bumi (terjadinya pertama-tama berawal dari gelap). Apah atau air (air yang padat berputar terjadilah bulan).pada tempat kelamin dihiasi dengan bajra. Teja atau api. . 4. kain kapan dan sebagainya. Bayu atau angin. Aksara Suci Ongkara 2) Material: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau dari logam. matahari. Wisnu dan Šiwa Gambar 10. bintang (angin dapat menjadi bintang. seperti: emas. Aksara Suci Ongkara a) Karakteristik: 1) Bentuk: huruf atau aksara suci Ongkara sebagai simbol diwujudkan berdasarkan konsep kosmologi dan terdiri dari beberapa bagian seperti pada Gambar 10 berikut Keterangan: 1. perak. Angka telu atau angka tiga melambangkan tiga manifestasi Tuhan (Brahma. ether (memenuhi ruang yang ada). 3.

sebagai tanda bahwa bangunan tersebut telah diupacarai). kuning emas. seperti: abu-abu warna batu padas atau hitam. pedagingan dan sebagainya. yaitu: (1) Aksara Wrešastra atau aksara yang “tampak” atau aksara yang umum atau aksara “biasa” digunakan dalam masyarakat Bali. dalam membuat surat bukti yang ditulis di atas daun lontar. putih perak atau kain kapan dan sebagainya. nilai-nilai simbolik dan religius: Aksara Bali dalam penerapannya dibedakan menjadi dua golongan (Kaler. c) Makna. ulap-ulap (secarik kain kapan diberi gambar aksara suci ongkara dan diletakkan pada pertengahan kolong atau tadah alas bangunan tradisional. Umumnya diterapkan pada bangunan Pelinggih Padmasana dalam bentuk relief.3) Warna: sesuai dengan warna bahan yang digunakan. pangéling-éling atau tanda untuk meng- . Akasara tersebut boleh diajarkan kepada siapa saja dan biasa digunakan seperti untuk membuat pipil (nama orang dalam suatu organisasi atau seka Banjar. dipakai untuk membuat sesikep atau gegemet atau jimat. tt). dadya Pura). b) Fungsi: Dipergunakan sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Tri Murti.

Huruf tersebut disebut juga dengan Aksara Modré. air atau bulan. windu melambangkan teja. Ardha-candra berbentuk bulan sabit melambangkan apah. perlambang atau simbol terkait dengan keagamaan. Ketiga aksara tersebut jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. yaitu: Dewa Brahma (Ang ). sehingga disebut Wija-aksara atau Ekã-aksara. Dewa Wisnu (Ung ) dan Dewa Ciwa (Mang). Dalam bahasa Bali diucapkan Ong. pengobatan dan sebagainya. api atau matahari. Kedua aksara tersebut dilengkapi dengan pengangge sastra atau kelengkapan huruf yaitu berupa: Nada melambangkan angin. yaitu aksara suci atau aksara yang digunakan untuk menulis ilmu kedyatmikan. Kawi.ingatkan sesuatu untuk menulis bahasa Bali. Aksara Ong atau Ongkara merupakan sumber semua aksara. Ketiga kelengkapan aksara tersebut menyimbolkan kekuatan tiga dewa. seperti: mantra. Jawa Kuno dan sebagainya (2) Aksara Cwalalita. bayu atau bintang. aksara yang “tidak tampak” terdiri dari dua buah aksara yaitu Ah ( ) dan Ang ( ) merupakan aksara yang didak boleh diajarkan kepada sembarang orang. yaitu aksara yang maha suci lambang Ida Sang Hyang . berhubungan dengan dunia gaib.

1991. maka dapat diketahui bahwa aksara Ongkara sebagai simbol yang mengandung makna religius terkait dengan ajaran ketuhanan. Sudartha. sehingga penggunaannya sangat terbatas dan tidak boleh secara sembarangan. 2) Material yang digunakan: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu padas. Hindu yaitu digubah dari bentuk kurakura dengan kepala berambut dan lidah mejulur keluar berbentuk api serta dililit naga. Demikian juga di India. . harus mengikuti petunjuk para rohaniwan (Nala. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan yaitu berwarna abu-abu batu padas atau hitam. 1991) 3. aksara Ongkara sebagai simbol Tuhan telah digunakan sejak zaman Weda. Jadi dari penjelasan tersebut. seperti tampak pada Gambar 11.3. Badavañ Nala a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Penciptaan produk kriya tradisional berupa simbol tersebut dilandasi dengan konsep kosmologi.Widi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri-Murti.

Gambar 11. Gambar 12. Bagian Dasar Atau “Kaki” Pelinggih Padmasana . Badavañ Nala dan Anantabhoga b) Fungsi: Badavañ Nala digunakan sebagai simbol dan sekaligus sebagai hiasan pada bagian dasar atau “kaki” sebuah bangunan suci berupa pelinggih Padnasana Gambar 12.

Bang=merah dan Nãla=api. Perwujudan simbol atau nyasa tersebut bertujuan untuk memberi ajaran alam semesta dan membangkit kesadaran moral dalam segala aktivitas hidup untuk menjaga serta . Badavañ Nãla berasal dari urat kata Bada= tempat. perlu dihormati. Dan da-lam kepercayaan Hindu sebagai simbol awatara Dewa Wisnu atau disebut Kûrmaratarâ.c) Makna. Badavañ adalah istilah yang digunakan untuk nama binatang kura-kura. Sebagai tempat kehidupan dengan berbagai persediaan bahan makanan dan sebagainya. Keseluruhan dapat diartikan sebagai tempat atau sumber api yang merah membara. dan dilestarikan. Oleh sebab itu. Bagi umat Hindu. empas atau penyu. Dalam simbol tersebut dimaknai sebagai inti bumi atau magma sebagai sumber panas bumi yang terus menerus membara Jadi pada simbol tersebut tersirat ajaran suci tentang ciptaan Tuhan yang tiada tara dan maha agung berupa alam makrokosmos. terbentuk dengan unsur Panca Maha Bhuta. Se-dangkan Nãla atau Anala dalam bahasa Šan-skerta sebagai padanannya adalah ageni ber-arti api. Dalam bahasa Šanskerta disebut dengan kata kûrma. nilai-nilai simbolik dan religius: Perkataan Badavañ Nala atau Baduvañ Nala terdiri dari kata Badavañ dan Nala.

3. digambar pada lontek atau umbul-umbul. Nãga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Simbol nãga merupakan bentuk fantasi atau hasil imajinasi dari para kriyawan masa lalu yang digarap dengan didasari mitologi Hindu. yaitu dipakai sebagai simbol dan sekaligus sebagai ragam hias dan umumnya diterapkan pada dasar atau bagian “kaki” Pelinggih Padmasana berupa relief tinggi. 12 dan 13 2) Material: dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu bata. seperti warna abu-abu batu padas atau warna hitam batu alam).sebagai ucapan terimakasih atau bakti dihadapan Tuhan atas ciptaannya. . sehingga membentuk satu simbol dengan satu kesatuan makna tentang keagungan alam semesta.4. Bentuk dan penerapan Nãga tersebut dibuat membelit Badavañ Nala. Bentuk Nãga tersebut seperti tampak pada Gambar 11. dan di Pelinggih Saptapetala dalam bentuk patung nãga. 3) Warna: Sesuai dengan warna bahan yang digunakan. b) Fungsinya: Kegunaan dan penempatan nãga di dalam pura sama dengan Badavañ Nala.

a) Makna. Panjang ± 8 m. Bentuk potongan kain semakin ke atas semakin kecil dan pada ujung bambu terlipat ke bawah serta di ujungnya diberi plat logam berbentuk seperti jantung . diameter pakalnya ±5 Cm. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam kamus Bahasa Šansekerta kata nãga berarti .Gambar 13 Lontek Umbul-umbul Keterangan: Tangkainya terbuat dengan bambu.

yaitu. Jika ketiga nãga tersebut dikaitkan dengan para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi.tentang bentuk simbolis nãga yang diterapkan pada masing-masing pelinggih atau peralatan upacara memiliki pengertian atau filosofi dan sebutan yang kontekstual. kata nãga tersebut diartikan ular naga atau gajah. Selain arti tersebut. Bhur Loka (lapisan alam bawah). Dalam mitologi Agama Hindu Bali. Maka Basukih simbol dari Dewa Brahma (pencipta alam). nanta= habis dan bhoga=makanan). Dari pengertian tersebut. maka nãga dapat diartikan sebagai ular besar. nãga juga berarti gunung atau pohon (Pemda Tingkai I Bali. 1982/ 1983). Anantabhoga dan Taksaka. Anantabhoga simbol dari Dewa Wisnu (pemelihara alam). Bwah Loka (lapisan alam tengah) dan Swah Loka (lapisan alam atas). seperti. penerapan pada Padmasana didasari filosofi Tri Loka. Sehingga dikenal tiga nãga. Basukih. Secara keseluruhan berarti sumber bahan . dan Taksaka simbol dari Dewa Šiwa (Pelebur). Dan dalam Kamus Bahasa Kawi-Indonesia.ular. sebenarnya hanya satu dan membelit Badavañ Nala. yang disebut Nãga Anantabhoga. Penerapan patung nãga pada Padmasana. yaitu. Berasal dari urat kata “a”-“nanta” dan “bhoga” (a=tidak.

makanan yang tidak habis-habisnya. jana loka. Namun kenyataannya dalam membuat Pelinggih Padmasana sering diterapkan dua nãga (Basukih dan Anantabhoga) secara estetis hanya bertujuan untuk membuat komposisi yang simetris. dan satya loka). nitãla dan patãla. Sedangkan nãga Taksaka. maha loka. didasari oleh filosofi. tapa loka. bhwah loka. Jadi penerapan nãga pada pelinggih tersebut sebagai simbol tujuh lapisan alam bawah. atãla. 3. Senjata Nawa Sanga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Senjata Nawa Sanga merupakan sembilan sejata para dewa dengan bentuk berbeda satu dengan yang lainnya. Jadi peristiwa tersebut berlangsung pada lapisan alam tengah (Swah Loka) atau di permukaan bumi. dalam perwujudannya diterapkan pada umbul-umbul (Narasumber: Gelebet) Penerapan patung Nãga Basukih pada pelinggih Sapta Patala. swah loka. Perbedaan tersebut mencerminkan atau sebagai simbol karakter dan sifat kekuasaan dari masing- . bahwa alam dibagi menjadi tujuh lapisan alam atas yang disebut Sapta Loka (bhur loka.5. waitãla. dan tujuh lapisan alam bawah Sapta Patala yang terdiri dari tãla. santãla. sutãla.

atau dengan menggunakan besi dan diwujudkan sebagai ujung-ujung tombak yang disebut bandrangan atau pengawin. 3) Warna: Warnanya produk kriya tersebut. seperti “hitam besi”. seperti pada gambar 14. Dalam penerapan-penerapan tertentu ada juga yang diwarnai sesuai dengan tata warna Senjata dan Dewata Nawa Sanga. Tata letak dari senjata-senjata tersebut dalam padma angelayang atau pangider-ider. batu padas. 15 2) Material: Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan menggunakan berbagai bahan. b) Fungsinya: Produk Kriya tersebut digunakan sebagai simbol dan sekaligus hiasan yang diwujudkan dalam bentuk perlengkapan upacara. seperti berupa ujung-ujung tombak yang disebut dengan bandrangan atau pengawin . seperti pada Gambar 14 dan 15.masing dewa. menyesuai dengan bahan yang digunakan. atau ada juga diwarnai dengan cat warna hitam dan putih perak. seperti dengan meggunakan kain kapan.

 Wayabya (barat daya)  Sangkara  Angkus  Limpa  Wilis (Hijau)  Pascima (barat)  Mahadewa  Nagapasa  Ungsilan Ginjal  Kuning  Niriti (barat daya)  Rudra  Moksala  Usus  Oranye (jingga)                Uttara (utara) Wisnu Cakra Ampru (empedu) Ireng (Hitam) Madya (tengah) Siwa Padma Tumpuking Hati) Amanca (Pancawarna) Daksima (selatan) Brahma Gadha Hati Bang (merah)  Ersanya (timur laut)  Swayambhu  Trisula  Ineban  Pelung (biru)  Purwa (timur)  Iswara  Bajra  Jantung  Putih  Geniyan (tenggara)  Mahesora  Dupa  Peparu (paruparu)  Dadu (merah muda) Gambar 14. Dewata Nawa sanga . Jenis dan Tata Letak Senjata Nawa Sanga Gambar 15.

fungsi dan aktivitas (Saguna Brahman). Tuhan diwujudkan sebagai Sada Šiwa. telah dipengaruhi oleh sakti atau kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. dengan keadaan-Nya: “tunggal”. Selanjutnya Tuhan diwujudkan sebagai Šiwa atau Šiwatman atau Mayasarira Tattwa. dengan bermacam-macam manifestasi-Nya dan dipersonifikasikan sebagai dewa-dewi. tanpa aktivitas. dipercayai oleh umat Hindu. tidak berawal-berakhir. 1994). Tuhan berwujud sebagai Sadašiwa dan dipercayai.c) Makna. Tuhan memiliki delapan Ilmu pengetahuan untuk menyucikan Sang Hyang Atma yang ada dalam semua mahkluk dari dosa sesuai dengan amal baktinya (Wardana. sehingga memiliki sifat. Dalam alam imanensi umat Hindu di Bali. bahwa Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa berwujud sebagai Paramašiwa. Nilai-nilai Simbolik dan Religius: Dalam alam transendental. manifestasi Tuhan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur keharmonisan alam makrokosmos (Bhuana Agung) yang terletak di seluruh penjuru mata angin dan . Namun dalam alam imanensi. kekal abadi. maha tahu dan sebagainya serta disebut Nirgunam Brahman (sunya). Dalam hal tersebut. maka dikenal dewa-dewa yang termasuk kelompok Dewata Nawa Sanga. bahwa Tuhan telah berkrida.

Dalam hal ini berfungsi sebagai kutub utara yang nantinya dihubungkan dengan Dewa Brahma di kutub selatan sehingga terbentuk sumbu rotasi bumi. Dan kesembilan dewa tersebut masing-masing memiliki senjata yang disebut dengan Senjata Nawa Sanga Seperti Pada Gambar 14. (1) 1. 15. yaitu berfungsi menjalankan tugas sebagai pengatur kehidupan di bumi berdasarkan ketentuan Upeti. Nama Senjata (2) Cakra Makna simbol (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Dewa Wisnu untuk mengatur rotasi dan peredaran bumi. Dalam Lontar Kekawin Bhomakawya atau Bhomantaka. Lahir. Trisula . bahwa Senjata Nawa Sanga tersebut adalah merupakan simbol-simbol atau nyasa dari kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa dalam menjalankan tugas-Nya.mikrokosmos (Bhuana Alit) yang terletak pada organ-organ tubuh mahkluk hidup. diciptakan dengan didasari kosmologi khususnya tentang bumi. Penjelasan lebih lengkap dapat disimak pada Tabel: 2 berikut Tabel 2 Makna Senjata Nawa Sanga No. Setiti dan Pralina. merupakan simbol kekuasaan tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sambu. Hidup dan Mati. 2. Masing-masing mengandung arti atau makna yang saling terkait satu dengan lainnya serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Simbol-simbol dalam mayasakti berbentuk senjata tersebut.

(3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatanTuhan dalam manifestasi Nya sebagai Dewa Iswara yang bertugas mengatur getaran alam (makrokomos dan mikrokosmos). Padma Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Šiwa. (2) Bajra . Angkus Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara. mengendalikan dan menentukan danda atau hukum alam. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur kemakmuran dan kesejateraan alam semesta bersama isinya. atau disebut dengan Padma Anglayang atau pangider-ider Narasumber: Ida Pedanda Budha. sebagai kekuasaan atau kekuatan dari delapan dewa tersebut terpusat pada Dewa Šiwa. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengendali dan penentu dari tugas-tugas yang dijalankan oleh delapan dewa yang terletak di delapan penjuru arah mata angin. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengikat atau pengatur kestabilan alam semesta bersama isinya.(1) 3. 7. dalam fungsinya sebagai pengatur panas alam (makrokomos dan mikrokosmos). Dupa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Dewa Mahesora. 8. buruk dan sebagainya —). Moksala Merupakan simbol kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Rudra. Gadha Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Brahma. 9. (yang menyangkut Rwabhineda —siang. 5. baik. 6. Griya Sukawati. 4. dalam fungsinya mengatur. malam. Nagapasa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Mahadewa. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur atau menentukan sifat dan karakter alam semesta bersama isinya. Simbol senjata-Nya digubah dari bentuk bunga teratai atau padma yang bermahkota delapan atau Asta Dala.

Gambar 16. Perwujudan bertuk tersebut didasari ceritera Bhomantaka.3. Karang tersebut merupakan stilisasi dari bentuk kepala raksasa atau punggalan. sehingga disebut dengan Karang Bhoma. Sebagai salah contoh seperti pada Gambar 16 berikut. Ciri-crinya: mata besar dan mendelik. Karang Bhoma . Bhoma a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Bhoma dibuat dalam bentuk relief tinggi yang digolongkan sebagai kekarangan.3. di kanan dan kiri dilengkapi dengan telapak tangan yang dikepak. kakul-kakulan serta patra punggel. dilatarbelakangi dengan patra wangga.

Kori Agung Atau Paduraksa Dengan Ragam Hias berupa Bhoma 2) Material: Umunya bahan yang digunakan untuk membuatnya.b) Fungsinya: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai simbol dan sekaligus ragam hias yang diterapkan di atas relung kori agung atau paduraksa. merupakan gerbang pertama dari sebuah pura atau sebuah pintu yang membatasi halaman kedua atau madia mandala (jaba tengah) dengan halaman pertama atau utama mandala (jeroan) seperti pada Gambar 17 berikut Gambar 17. batu padas atau batu bata. . seperti batu alam.

bahwa Banaspatiraja adalah raja bhuta. seperti pohon randu. dijelaskan. nilai-nilai simbolik dan Religius: Bhoma berarti lukisan (ukiran) yang berbentuk muka raksasa atau kala (Bahasa Bali) yang ditempatkan di atas relung pintu gerbang utama pura atau paduraksa (Dinas Pengajaran Propinsi Bali. gigi dan taring mencuat keluar (Covarrubias. 1978). artinya berhubungan dengan bumi. yang keluar dari bumi. Bhauma. c) Makna. kepuh dan sebagainya. Dalam A Šanskrit-English-Dictionary dijelaskan. seperti: “hitam batu alam”. pole. dengen. mata melotot seram seperti kepala monster. tonye atau mahkluk halus yang menempati pohon-pohon besar. mulut terbuka lebar. “abu-abu batu padas” atau merah bata.3) Warna: sesuai dengan bahan yang digunakan. . bahwa Bhoma adalah raksasa putra bumi. 1972) Di Bali. tinggal di dalam bumi atau tanah (Monier. bahwa perkataan Bhoma berasal dari Bahasa Šanskerta. Sedangkan menurut Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali. Bhoma digunakan sebagai simbol dari pepohonan dan disebut Banaspatiraja serta dianggap keramat. 1963). kala. Pandangan tersebut diselaraskan dengan kepercayaan.

Dalam pencarian tersebut Dewa Wisnu bertemu dengan Dewi Wasundari (Dewi Pertiwi). seperti pada kekawin Bhomantaka. dinarasikan tentang kelahiran Sang Bhoma. Dalam pertemuan tersebut akhirnya terjalin hubungan yang dalam sehingga melahirkan seorang putra yang diberi Naraka atau Bhoma (Lontar Bhomantaka.b). Bersamaan dengan kejadian tersebut tiba-tiba muncul sebuah lingga kristal dari bumi dan menjulang ke angkasa. Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk mencari pangkalnya dan Dewa Brahhma dengan kesaktiaannya berubah menjadi burung layang-layang hitam terbang meluncur ke atas mengejar ujung lingga. Lampiran 5b. Milihat kejadian tersebut.Menurut Mitologi Bhoma dalam kesusastraan Jawa kuno. sedangkan Dewa Wisnu berubah wujud menjadi seekor babi jantan dan menggali tanah untuk menemukan pangkal lingga. Keropak IV. Berawal dari perdebatan antara Dewa Brahma dengan Dewa Wisnu tentang kesaktian yang mereka miliki. mereka tercengang dan memutuskan untuk menemukan ujung dan pangkal dari lingga tersebut. karena pangkal lingga tersebut terus masuk ke dalam bumi dan ujungnya terus menjulang ke angkasa dengan batas yang tak terhingga. . Mamun usaha mereka sia-sia.

tangan. merusak dan mengganggu aktivitas para dewa di kahyangan. mengerikan— dari ajňa cakra-Nya atau kening. sehingga muncul makhluk yang luar biasa sebagai Ghora Murti Siwa —wujud Tuhan yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang sangat sangat dasyat dan. Mahkluk tersebut kembali bertanya. Akhirnya raksasa Rau dimakan oleh makhluk tersebut. . Kepala raksasa tersebut akhirnya murka. Akhirnya Dewa Siwa memerintahkan agar memakan tubuhnya sendiri. Dia mulai makan kaki. Perintah tersebut segera dilakukan. Melihat kejadian tersebut.Heinrich Zimmer dalam bukunya Myths and Symbols in Indian Art an Civilization dipaparkan tentang Bhoma sebagai akibat pemenggalan leher raksasa bernama Rau yang dilakukan oleh Dewa Wisnu. sehingga bagian kepalanya tetap hidup sedangkan bagian badannya langsung mati. Namun pada saat dipenggal tirta tersebut belum sampai di tenggorokan. karena raksasa tersebut diketahui sedang minum tirta amertha. sampai bagian dibawah leher dan hanya tersisa bagian leher serta kepala. akhirnya Dewa Siwa menjadi sangat marah. Namun makhluk yang diciptakan tersebut memiliki sifat yang rakus dan memakan apa saja yang dijumpainya serta sangat tunduk dengan perintah Dewa Siwa. badan.

berparuh. seperti pada Gambar 18 berikut . Tubuh dan anggota badan menyerupai manusia. bertaring dan diberi busana serta mahkota. bersayap. mereka tidak akan memperoleh rahmatku” (Zimmer. Pada saat tersebut Dewa Siwa bersabda “ Barang siapa yang masuk ke dalam kuilku tanpa menyembahmu. mata melotot. 3. Karena kepatuhannya tersebut. Dibagian belakang diberi ekor dan dipunggungnya dibuat patung Dewa Wisnu memegang Cakra. gigi runcing.apa yang saya lakukan lagi ?. batu padas. 2) Bentuk: Pada umumnya bentuk Garuda Wisnu digubah dari bentuk fantasi yang menyerupai burung. batu bata. telapak kaki dibuat seperti cakar burung. menelan. menghancurkan dan menolak pikiran jahat yang akan merusak kesucian stana Dewa Siwa serta diberi nama Kirttimukha serta diletakan pada bendul pintu utama. Garuda Wisnu a) Karakteristiknya 1) Material: Bahan baku yang digunakan untuk membuat produk itu adalah kayu. atau batu alam. Dewa Siwa memberi tugas untuk menjaga istana Siwa. dan sebagainya.4. 1945).

biasanya diterapkan di belakang bangunan Pelinggih Padmasana. digunakan sebagai simbol dan hiasan.Gambar 18. langsung berdiri tugeh atau tiang penyangga menuju puncak langit-langit. karena dari punggung patung garuda tersbut. b) Fungsinya: Produk kriya tersebut mempunyai fungsi religius dan estetis. sendi tugeh (dasar tiang penyangga puncak langit-langit pada bangunan piasan). gedong bata dan seba- . Garuda Wisnu Tetapi yang digunakan untuk menghias pada sendi tugeh jarang dilengkapi dengan patung Dewa Wisnu.

memiliki kekuatan magis untuk menangkal bisa ular). sering ditunggangi oleh Dewa Wisnu. Berikut Gambar 19. salah satu contoh penerapannya. Garuda dipakai sebagai simbol matahari. Relief Garuda Wisnu Diterapkan di Belakang Padmasana c) Makna. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam bahasa Šanskerta perkataan “garuda” berasal dari akar kata “gri”. naga sebagai simbol . Dalam perwujudannya sebagai simbol.gainya. seperti pada Gambar 19. yang berarti “menelan” (penakluk para naga.

maka garuda kembali dijadikan sebagai lambang negara. Hal tersebut dapat diketahui dari tipografi peninggalan cap atau stempel bermotif Garudamukha yang pertama kali digunakan sebagai lencana kepala pemeritahan oleh Sri Maha Raja Blitung (808-910) yang berkuasa di Jawa Tengah. Prabu Aerlangga dengan peninggalannya yang paling terkenal berupa garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dan sebagainya (Titib. Dalam perwujudannya kaki burung Garuda tersebut mencengkram pita yang berisi tulisan tentang ikrar . 1995) Setelah bangsa Indonesia bebas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa lain. Di Nusantara. Adegan tersebut sangat populer dalam episode Ramayana.air kosmis dan Wisnu berada pada kedua sisi antagonis tersebut. Raja Kertajaya (raja yang terhakhir memerintah dikerajaan Kediri). 1946). Diperkirakan telah berlangsung sejak pertengahan abad X. ceriteraceritera rakyat dan dalam bentuk visualnya dipakai sebagai sarana pemujaan oleh umat Hindu di India dan Bali (Zimmer. Penggunaannya semakin berkembang dan terus seperti digunakan oleh Raja Jayabaya. yaitu Garuda Pancasila. garuda juga digunakan sebagai simbol kebesaran atau penggambaran aspek keagungan Tuhan.

Dalam Adiparwa —sebuah kesusastraan Jawa yang diperkirakan ditulis pada zaman pemerintahan Raja Darmawangsa Teguh sekitar tahun 918 Saka (918 Masehi). twam prabhuprahus tapanah twam nastranam anuttamam Artinya. Apakah yang bersinar itu ? Garuda tiada lain seekor burung yang maha sakti. . anak Bhagawan Kacyapa ri Sang Winata ika. ling nira: Twam rsi. dan sinarnya sama dengan sinarku. Makana ling Sang Hyang Agenbi ri sang watek dewata.bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. seberikut: Aparan pwa ya makateja Ya? Garudo balawan tesam manuk mahacakti. Sinanya sangat bagus. pathagecwara. dalam bahasa Kawi— terdapat satu episode yang menceritakan keajiaban atau kebesaran Sang Garuda. twam mahabhagas. Mari ta sira harohara. kapwa maso mangastuti Sang Garuda. Kunang pada tejanya lawan teja nghulun. anak Bhagawan Kacyapa dengan Sang Winata. Lambang tersebut sebagai sumber yang kreatif mencerminkan kebebasan untuk menentukan nasib bangsa indonesia di antara bangsabangsa di dunia. twam dewah. Nama tluya sutejasa.

1958). Dalam perjalanan mencari tirta amertha ia menemui banyak hambatan. Seperti para dewa yang membawa senjata menghadang dan menyrangnya. Tirta tersebut natinya digunakan sebagai persyaratan untuk membebaskan ibunya (Sang Winata) dari perbudakan Sang Kadru. Dalam episode selanjutnya diceritakan usaha Garuda dalam mencari tirta amertha yang disimpan oleh para dewa di Gunung Somaka. Mereka tertegun dan berdiam. engkau rajanya.Demikianlah kata Sang Hyang Ageni kepada para dewa. sinarmu seperti sinar matahari (Widiatmaja. Namun sang Garuda menolaknya dan menyuruh agar para dewa . engkau penguasa segala yang terbang melayang. engkau dewa. Namun dengan kesaktiannya tak satupun bulu Garuda tersebut dapat dirontokan oleh senjata para dewa. Akhirnya sang Garuda berhasil mengambil tirta amertha yang disimpan dalam goa dilereng gunung Somaka dan membawanya terbang ke angkasa. engkau pendeta besar. Di angkasa dengan serta merta dewa Wisnu mengampirinya dan menyuruh agar tirta tersebut dikembalikan. engkau resi. semua tampil ke depan dan memuji Sang Garuda serta mengatakan: Hyang Garuda.

. maka Garuda Wisnu diterapkan pada bangunan-bangunan suci. Sedangkan di Bali. serbuk tulang menjangan. dianggap mengandung nilai-nilai simbolis religius serta disakralkan. Barong Ket dan Rangda a) Karakteristiknya: 1) Material: Bahan baku yang digunakan. seperti pada Pelinggih Padmasana.5. atal ancur dan perada).minta anugrahnya… Episude cerita tersebut diakhiri dengan menerima permintaan dewa Wisnu untuk menjadikannya sebagai kendaraanya dan tirta amerthan tersebut kembali dapat direbut oleh para dewa serta Sang Winata bebas dari perbudakan. kain dan sebagainya. kayu. seperti: kincu. 3. pewarna (menggunakan pewarna tradisional. kaca. Mitologi tentang keagungan atau kesaktian tokoh Garuda dan Wisnu dijadikan sebagai landasan estetika dan penerapan Garuda Wisnu juga sebagai simbol kebesaran Tuhan. Sehubungan dengan hal tersebut. praksok ( Bahasa Bali) atau sejenis serat daun pandan. jelaga. karya sastra tersebut banyak mengilhami para seniman atau para kriyawan masa lalu dalam berkaya. seperti: kulit sapi yang telah disamak.

dibuat dengan kulit dan diwarnai perada atau warna emas. dibuat dan diwarnai dengan cara yang sama.2) Bentuk: Barong yang digunakan di Bali bentuknya sangat beragam dengan sebutan yang berbeda-beda. Demikian juga hiasan Rangda. Barong Macan. Warna topeng Rangda umumnya putih. Barong Blas-Blasan. angkeb pale dan sebagainya. seperti: badong. Barong Bangkal. Barong Ket dan Rangda . geruda mungkur. Salah satu contoh berupa Barong Ket dan Rangda dapat dilihat pada Gambar 20 b) Warna: Topeng barong biasanya diwarnai dengan merah. kembang sasak. Barong Asu. silat bahu. seperti: Barong Ket. Hiasannya. Barong Brutuk dan sebagainya. Gambar 20. gelung kekendon. bulunya diwarnai hitam atau dibiarkan putih (warna praksok).

berasal dari kata Bhahrwang. artinya bersama —cara menarikan atau memainkan bersama-sama —(Proyek Sasana Budaya Bali. sesuai dengan pendapat R. Pengertian tersebut. artinya binatang beruang. yaitu tarian yang dipentaskan serangkaian dengan upacara Agama Hindu di Bali. Produk kriya tersebut juga digunakan sebagai pratima dan biasanya di simpan di Pura Dalem. tarian yang memakai kedok dan kelengkapannya sebagai binatang buas (singa). nilai-nilai simbolik dan religius: Banyak pengertian mengenai kata barong. seperti dalam Bahasa Šanskerta. dimainkan oleh . maka perkataan barong diselaraskan dengan perkataan bareng (Bahasa Bali). yaitu dari kata beer. Seperti. dalam melangsungkan upacara odalan di pura. d) Makna. bahwa perkataan barong berarti.c) Fungsinya: Barong dan Rangda adalah tergolong produk kriya bebali. Sedangkan ditinjau dari cara memakai. Goris. Produk kriya tersebut diciptakan dan digunakan sebagai sarana pagelaran seni tari wali. juga mengandung nilai-nilai profan. karena selain mengandung nilai-nilai sakral (sebagai sarana upacara agama). 1975/1976) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. bahwa sinonimnya disitir dari Bahasa Belanda.

1994). dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. sewaktu dimainkan. sebagai juru penyelamat. Barong dan Rangda dalam episode Calonarang adalah dua tokoh yang melambangkan dua sifat atau karakter berbeda (Rwa Bhineda) atau antagonis. Perkataan ”Ket“ tidaklah mengandung arti khusus. bahwa penciptaan Barong dan Rangda di Bali diilhami cerita yang terdapat dalam lontar Šiwa Tattwa. 1994).dua orang. Menurut mitologi. Sedangkan tokoh Rangda melambangkan sifat atau karakter yang mengarah pada hal-hal kurang baik atau adharma. hanya disesuikan dengan suara yang ditimbulkan akibat entakan rahang bawah kedok barong. Masyarakat di Bali menyebutnya sebagai penganut ajaran beraliran “tengen atau kanan” (white magic). Secara singkat . Sedangkan Rangda atau Randa. 1972). perkataan itu berarti perempuan yang kehilangan suami (cerai atau meninggal dunia) atau janda (Kridalaksana. di mana Barong sebagai lambang kebenaran atau dharma. satu dibagian kepala dan satu di bagian ekor. merusak. dipertunjukkan dengan ceritera Calon Arang (Kridalaksana. mengganggu dan sebagai penganut ajaran “beraliran kiwa atau kiri” (black magic) (Covarrubias. mengayomi dan dapat menyembuhkan penyakit.

namdala 53-56). istrinya menghadap dalam wujud rangda dengan wajah menakutkan. maka Dewa Šiwa berubah menjadi Bhuta Egeg (Lontar Šiwa Tattwa. Ketika hari tersebut tiba. melakukan perselingkuhan dengan pengembala lembu. Dia berani menghianati. Pada hal kejadian tersebut dibuat oleh Dewa Šiwa. Sebenarnya pengembala tersebut adalah siluman dari dewa. Dalam kutukan tersebut Dewa Šiwa juga mengijinkan istrinya untuk berubah wujud kembali menjadi dewi Uma saat hari tilem sasih kesanga ( saat bulan mati di bulan sembilan). mengorbankan kesucian dan kesetiannya.diceritakan tentang kutukan Dewa Šiwa yang ditujukan kepada istrinya Dewi Uma agar berubah menjadi Dewi Durga —Seorang dewi atau perempuan yang berwajah angker dan menakutkan sebagai dewi penguasa kuburan yang bernama setra Gandamayu— karena ulahnya yang tidak wajar dilakukan ketika disuruh mencari susu atau empehan lembu. Lalu untuk memberkati perubahan wujud istrinya menjadi dewi Uma. . Masalah tersebut terungkap berkat kehebatan ilmu tenung yang dimiliki dewa Ganesh.

entah suatu susunan yang kronologis ataupun tidak. Pendekatan Historis ejarah atau dalam bahasa Inggris disebut history dan berasal dari bahasa Yunani istoria (kata benda) berarti “ilmu”. Dalam penggunaannya oleh filusuf Yunani seperti istoria yang dipakai Aristoteles berarti suatu cara menelaah sesuatu secara sistematis mengenai seperangkat gejala alam. Namun masa lampau tersebut tidaklah dapat direkonstruksi kembali secara utuh. Pendekatan tersebut disebut natural history.BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA A. Namun dalam perkembangan selanjutnya metode untuk menelaah sesuatu yang tidak kronologis digunakan istilah scientia. Dalam definisi yang universal istilah history berarti masa lampau umat manusia. S . Sedangkan yang kronologi terutama menyangkut kehidupan manusia dipakai istilah istoria. 1969). karena sejarah hanya berdasarkan rekaman dan berdasarkan simpulan mengenai lingkungannya (Gottschalk.

yakni hasilnya dapat diverifikasi dan dapat titolak atau diterima.1969). Rekonstruksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses historiografi (penulisan sejarah). Sejarah merupakan suatu metode atau prosedur (procědě de connaissance). Cara penulisan sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok yaitu: 1) Pengumpulan data yang berasal dari jaman yang sedang dialami menjadi konsentrasi dan pengumpulan bahan-bahan: tercetak. 2) Menyingkirkan bahan yang dianggap tidak otentik 3) Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan bahan yang otentik. dilakukan seleksi. Dan cara tersebut berbeda dengan metode sejarah analitis.Pendekatan hitoris adalah suatu proses pengujian dan analisis secara kritis hasil rekaman dan peninggalan masa lampau. penyusunan. tertulis dan lisan yang relevan. 4) Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya tersebut menjadi suatu penyajian atau deskripsi yang berarti. karena pada batas-batas tertentu metode sejarah analitis adalah ilmiah. . dan deskripsi. sehingga metode sejarah dapat diterapkan pada berbagai disiplin yang digunakan sebagai sarana untuk memastikan fakta (Gottschalk.

. naskah kuno dan sebagainya. senjata. Penggunaan arsip dan dukumen harus dibedakan dengan studi dokumenter yang merupakan metote deskriptif. perhiasan. kepercayaan. sehingga masih dapat dikelompokkan sebagai usaha mengungkap fakta masa sekarang. 3) Peninggalan yang tidak tertulis atau budaya. pendekatan historis menggunakan data yang relatif sudah lampau.dan sebagainya. kitab. seperti: candi. seperti berupa ceritera rakyat. adatistiadat. Sedangkan dari segi waktu. Studi dokumenter. baik berdasarkan perbedaan waktu terjadinya atau tempat terjadinya di dalam kurun waktu yang sama. monumen. perabotan dan sebagainya. relief. cenderung menggunakan data yang belum terlalu lama. bangunan.1990): 1) Penelitian atau studi komparatif hitoris. dilakukan dengan membandingkan gejala yang sejenis. dogeng. posil. lontar. hukum. 2) Peninggalan tertulis: seperti: prasasti. Bentuk penelitian historis (Namawi.Secara umum sumber data yang digunakan dalam penelitian sejarah dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu: 1) Peninggalan berupa material.

pemikiran filsafat dan lain-lain yang dapat ditemui di dalam berbagai peninggalan tertulis terutama buku-buku yang dihasilkan pada zaman tertentu. Pendekatan Semiotis Pendekatan Semiotis diartikan sebagai prosedur yang digunakan untuk pemecahan masalah yang ditinjau dari perspektif ilmu tanda atau dikenal dengan “semiologi” atau “semiotika”. B. 4) Penelitian kronologis atau secara diakronis penelitian ini bermaksud untuk mengungkap kejadian atau keadaan dan peristiwa menurut urutan waktunya dari masa yang paling tua dapat dicapai sampai masa-masa mendekati masa sekarang. 3) Penelitian bibliografi atau kepustakaan. kriya dan desain pendekatan semiotis dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah estetika dan semantika produk kriya. kerajaan. Upaya pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan dengan membaca atau menginterpretasikan hubungan antar tanda dan makna pada produk kriya. lembaga dalam menetapkan kebijakan. sehingga berpengaruh bagi kehidupan pada masa terntentu dalam prospek sejarah.2) Penelitian legal atau yuridis. dilakukan untuk mengungkap berbagai teori pandangan hidup. Dalam bidang seni. . Bermaksud mengungkap kegiatan-kegiatan pemerintah suatu bangsa.

yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce (1838-1914). yaitu sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi. Kata desingare sendiri mempengaruhi kata designer dari bahasa Perancis abad pertengahan (dalam pengertian merancang). simbol. Namun kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan. Sebab menurut Tjahjono (1980) bahwa istilah desain (design) dalam penggunaannya sebagai kata kerja berasal dari kata latin-baru desingare yang berarti ‘menandai’ atau membatasi (penambahan suku kata ‘de’ di depan menunjukkan pemakaian secara intensif). tanda. seperti sistem tanda. ikon yang merupakan hal yang mendasar dalam semiotika. bahwa pengertian semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda. Di Amerika ilmu tersebut disebut dengan Semiotics. Merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. Semeion. yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (18571913). sebenarnya dalam desain bukan merupakan hal yang baru. proses yang berlaku dalam penggunaan atau fungsi tanda. Di Eropa ilmu tersebut disebut dengan Semiology.Indeks. seorang linguis dari Swiss. berasal dari kata signum yang berari sebuah tanda khusus. hubungan . seorang filosuf dari Amerika. dalam artian sign atau tanda. Dia menegaskan bahwa peranan tanda dalam kehidupan sangatlah besar.

1984). Batasan tersebut sesuai dengan pendapat Rene Wellek dalam telaah linguistik. konvensi dan sebagainya (Zoest dalam Soekowati.dengan tanda lainnya. 1990). seperti gerak isyarat atau gesture. symbol dan myth ke dalam cakupan semiotika (dalam Santosa. termasuk pengiriman. Third Edition. baik bersifat literal maupun alegori (kias) atau figuratif. Dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa bidang kajian semiotika sangat luas. cara berfungsi. Dalam pengkajian semiotika menggunakan beberapa pendekatan. Kemudian Wiryaatmadja (1981) menyatakan. seperti . Ruang lingkup kajiannya tidak terbatas pada bidang bahasa saja. bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tentang tanda dan lambang (sistem dan proses perlambangan) (Luxemburg dalam Hartoko. hubungan antara tanda dengan tanda lainnya. tetapi meliputi berbagai aspek kebudayaan. Luxemburg menyatakan. Semiotika mempelajari tentang tanda. metaphor (metafora). penerima dan pengiriman tanda. baik menggunakan bahasa verbal atau ujar maupun non-bahasa atau nirujar. pakaian. bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda dalam maknanya yang luas di dalam masyarakat. yang memasukan image (citra). 1993). 1992 ). dan penerimaan tanda dalam komunikasi tanda. dan berbagai produk lainnya (The American Heritage® Dictionary of the English Language.

apabila pengkajian menonjolkan hubungan tanda dengan acuannya dan interpretasi yang dihasilkannya. tanda selalu menunjuk pada sesuatu hal yang riil. secara garis besarnya mencakup komponen dasar. tindakan. sehingga tanda memiliki arti yang statis. 3) Pragmatik semiotika. yaitu studi tentang tanda yang berpusat pada penggolongan.1) Sintaksis semiotika. makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan objek atau sesuatu — apa yang dimaksud oleh tanda. diacu atau ditunjuknya. apabila mengutamakan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerima tanda. dan bentuk-bentuk tanda yang lain. Menurut Peirce. misalnya. benda. peristiwa. tulisan. 1) Tanda (sign) merupakan komponen semiotika yang menandai suatu hal atau keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subyek. 2) Semantik semiotika. . Bidang kajian semiotika seperti dipaparkan tersebut. seperti tanda (sign). disebut designatum atau denotatum. bahasa. umum. Dalam konteks tersebut. lambang (symbol) dan isyarat atau sandi. kejadian. lugas dan objektif. hubungan dengan tanda-tanda lain dan cara bekerja samanya dalam menjalankan fungsinya.

misalnya. Interpretant merupakan suatu peristiwa psikologis dalam pikiran interpreter atau penterjemah. Tanda mempunyai dua entitas yaitu: signifier atau wahana tanda dan signified atau wahana makna atau dapat diartikan sebagai penanda dan petanda serta keduanya tidak dapat dipisahkan. seperti tampak pada Gambar 21 berikut: . Jadi dalam suatu tanda selalu terdapat tiga unsur. ground dan interpretant. yaitu denotatum. sedangkan dalam Bahasa Indonesia disebut “acuan”— disebut representamen. “Sesuatu” yang diacu oleh tanda agar dapat berfungsi disebut dengan latar atau ground. Setelah tanda diasosiasikan dengan suatu acuan. konvensi. Representamen dapat terlaksana apabila ada bantuan sesuatu. Keseluruhan dari proses terlaksananya representamen digambarkan oleh Peirce dalam diagram segitiga. (Sudjiman. 1992). maka dari tanda yang orisinil berkembang menjadi suatu “tanda yang baru” disebut interpretant.Dalam Bahasa Prancis digunakan kata référent.

sebelum memasuki pura atau tempat suci agar “membunuh” sifat-sifat “keraksasaan” (marah. yaitu untuk “menyadarkan” atau mengingatkan umat. namun setelah mengacu pada latar (ground) yang terkait dengan pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. atau emosi diri yang tak terkendali lainnya)— maka patung tersebut akan menjadi tanda . Awalnya patung tersebut merupakan tanda untuk “benda biasa” atau sekadar hiasan semata. dengki. —dua buah patung raksasa tersebut mempunyai fungsi komunikasi tanda visual. loba.Sumber: Eco 1979 Gambar 21: Proses Berlangsungnya Representamen Salah satu contoh: dua buah produk kriya berupa patung raksasa apitlawang (Bahasa Bali) yang diletakkan mengapit pintu gerbang utama pura atau paduraksa.

tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifat penghubung tanda dengan denotatum. konvensi atau kode. seperti. Bagi umat yang memahami latar atau ground yang tersirat pada patung tersebut. c) Legisign adalah tanda terbentuk atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum. maka pada dirinya akan muncul interpretasi yang menggugah kesadaran. dapat dikatakan representemen dari patung tersebut dapat berlangsung dengan baik. bahwa memasuki pura hendaknya mengendalikan “emosi”. Dalam kondisi tersebut. b) Sinsign berasal dari singular sign adalah tanda terbentuk berdasarkan penampilannya yang nyata. semua pernyataan individual yang belum terkonvensikan dapat disebut sinsign.baru yang memuat latar tersebut. sehingga dapat mengikuti upacara dengan khidmat. yaitu: . Selain hal tersebut. Unsur penanda (dasar atau latar) atau ground dari tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifatnya. yaitu: a) Qualisign adalah terbentuknya tanda berdasarkan sifat atau kualitas.

a) Iconic adalah tanda terbentuk berdasarkan suatu kemiripan potensial yang dimilikinya dan tidak tergantung pada makna denotatum. Batasan tersebut mengimplikasikan bahwa segala sesuatu merupakan icon. c) Argument atau interpretant dalam arti umum. c) Symbol atau lambang adalah hubungan berdasarkan konvensi dari suatu kelompok komunitas manusia. apabila bagi interpretant tanda itu. Contoh. Dalam hal tersebut tanda terkait dengan renungan kebenaran. . b) Indeks adalah tanda yang sangat tergantung pada denotatum dan memiliki hubungan bersebelahan atau kedekatan eksistensi. menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda denotatum. b) Dicisign. membawa penjelasan mengenai daya atau kekuatan kebenaran pada sistem-sistem semiotika. ada asap sebagai pertanda ada api dan sebagainya. yaitu: a) Rhême. apabila tanda tersebut dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum. karena semua yang ada di alam dapat diasosiasikan dengan yang lain. Selanjutnya unsur interpretant atau petanda dapat dibedakan menjadi tiga.

1944). membaca. dari dulu hingga sekarang tidak terlepas dari aktivitas simbolisasi. (Cassirer. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ernst Cassirer. umumnya dilandasi oleh dua sistem. bekerja dan sebagainya. yaitu sistem penerimaan dan pemberian. seperti dalam berpikir. sebagai kata benda.. juga mempunyai kelebihan untuk menciptakan sistem komunikasi dengan matra baru yang menyesuaikan dengan lingkungan realitas. Istilah simbol berasal dari perkataan Yunani. berarti perbandingan dengan sesuatu. maksudnya prihal yang . Namun manusia selain terlibat dua sistem tersebut. bahwa semua mahkluk ciptaan Tuhan dalam menghadapi realita kehidupan. instead of defining man as an animal rationale. bersikap. karena hampir semua aktivitas dalam kehidupan manusia sehari-hari. yaitu kemampuan untuk menciptakan “sistem simbolik”.2) Lambang atau simbol . we should define him as animal symbolicum”. berperasaan. Manusia sering disebut sebagai “mahkluk simbolik”. berkomunikasi. symballein (suatu bentuk kata kerja) yang berarti meletakan secara bersama atau menaksir bersama.. Dan sekaligus dipakai untuk menandai salah satu perbedaan manusia dengan binatang Sehingga ia menyatakan: ”.

harus dikaji dengan kritis. Dalam kaitan dengan simbol. yaitu reference (yang mengandung. isi atau konsep sebagai acuan) dan referent (yang mengandung persepsi. sebagai hasil interpretasi). seperti Gambar 22 berikut. karena merupakan analogi tanda untuk menghadirkan tanda yang lain. Sumber: Eco 1979 Gambar 22 Berlangsungnya Referent . Ketiga komponen tersebut digambarkan dalam diagram segitiga. “sesuatu” dan sebagainya. denotatum. Ogden dan Richards dalam Eco (1979) memberi dua istilah. berdasarkan konvensi atau kode yang berlaku umum dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu. Lambang atau simbol adalah tanda yang mampu menuntun pemahaman si subjek kepada objek berhubungan dengan makna denotatum dan konotatum.

Sebenarnya penerapan ketiga komponen semiotika. isyarat akan berubah menjadi tanda atau perlambang (Santosa. kias. simbol dan isyarat. khayalan. si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek yang memberi isyarat pada waktu itu juga. situasional dan kondisional. impian dan bentuk-bentuk abstrak lainnya dapat direalisasikan dalam wujud simbol. apabila ditangguhkan pemakaiannya. 3) Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan oleh si subjek kepada objek.1990). Dalam keadaan tersebut. khusus. Jadi isyarat selalu bersifat temporal (kewaktuan). subyektif.Jadi simbol merupakan tanda yang mengandung pengertian sertaan dan antara simbol dengan yang disimbolkan atau referent yang dihasilkan sama sekali tidak terdapat pertalian makna alamiah. seperti tanda. Lambang atau simbol merupakan pedoman untuk memudahkan pengenalan atau penghayatan sesuatu di tengah-tengah kesemerautan perbuatan manusia dan keragaman kejadian alam. dan majas. Karena di dalamnya terkandung kaidah yang bertalian dengan akal budi dalam seluruh paradigma tentang kehidupan sadar dan di bawah sadar. sering . sehingga lambang atau simbol bermakna dinamis. Mitos. Perwujudannya sangat tergantung pada permasalahan yang bersifat kultural.

berbentuk abstrak dapat dikenal oleh binatang dan manusia yang dipakai untuk lambang atau simbol tidak mempunyai hubungan khusus dengan yang dilambangkan atau disimbolkan. . secara garis besarnya dapat dilihat ciri masing-masing komponen tersebut. seperti Tabel 2 berikut: Tabel 2 Tiga Komponen Semiotika No.menemui kesulitan. dan dapat juga oleh binatang setelah diajarkan secara berulangulang yang dipakai untuk tanda selalu mempunyai hubungan khusus dengan yang ditandai (kontekstual). diketahui oleh manusia. 3. (1) 1. subjek dituntun memahami objek secara terus menerus (berlaku secara konstan). terutama dalam menentukan garis demarkasinya secara tepat. karena terkonvensi berbentuk konkret dan atau abstrak. karena ketiganya saling terkait. ISYARAT/SANDI (4) diberitahukan oleh subjek kepada objek (subjek aktif) hanya memuat satu arti diberitahukan oleh subjek kepada objek secara langsung (berlaku satu kali) 2. 4. 5. Namun berdasarkan uraian tersebut. TANDA (2) subjek diberitahu oleh objek (subjek pasif) hanya memuat dua arti subjek dibeitahu oleh objek terus menerus (berlaku konstan) SIMBOL (3) subjek dituntun memahami objek (subjek aktif) memuat banyak arti atau sedikit-dikitnya dua arti. berbentuk konkret dan / atau abstrak. Hal tersebut disebabkan. hanya dapat dipahami oleh manusia. 6. yang dipakai sebagai dasar isyarat tidak ada hubungan khusus dengan yang diisyaratkan.

(Herusatoto.(1) 7. maka model semiotika tersebut akan dipakai untuk menjelaskan atau memaparkan tinjauan mengenai penggunaan tanda atau simbol dalam masyarakat Hindu di Bali pada zaman Hindu dan pewaris tradisi tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut. (4) diciptakan oleh manusia untuk manusia dan “mahkluk lain” Penjelasan semiotika tersebut. sinkronik dan konvensional —Apapun bentuk pertukaran tanda. Hal tersebut dilakukan mengingat dalam mengamalkan ajarannya. terutama terkait dengan model semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure maupun Ogden dan Richards —dimana antara tanda (sign). penanda (signifier) dan petanda (signified) meunjukkan hubungan yang “statis”— merupakan semiotika dengan model berpikir struktur. harus mengikuti model struktur kaitan antara penanda dengan petanda yang berlangsung stabil atau mapan— serta sebagai konsep dari paham strukturalis. hampir semua diwujudkan dalam bentuk simbol atau lambang dengan konvensi yang telah mapan dan stabil yang mengacu pada mitologi atau filosofi agama Hindu dan didasari keyakinan. Simbol-simbol tersebut diupayakan dengan harapan agar dapat “mempermudah” . (2) diciptakan oleh manusia. alam dan juga binatang untuk manusia dan/atau binatang. Terutama penggunaan tanda atau simbol dalam konteks pelaksanaan ajaran agama Hindu sesuai adat di Bali. 1983) (3) diciptakan oleh manusia untuk manusia.

penghayatan kepada sifat-sifat maya Tuhan. seorang pemikir Rusia. senjata dan sebagainya. seorang pemikir post-strukturalis dari Perancis. Dalam buku Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979). Oleh sebab itu. relief. Sebuah teks atau produk desain atau seni selalu dibuat dalam ruang dan waktu yang konkrit. Pemikiran tersebut menjadi salah satu konsep dalam paham post-strukturalisme. Misalnya. Sedangkan kajian semiotika terkait dengan fenomena eklektik pada desain produk masa kini di Bali diuraikan berdasarkan model semiotika ‘intertekstualitas’ (intertextuality) yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva. Kristeva menerangkan bahwa pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam analisis teks atau produk desain atau seni. Menurut pendapat Mikhail Bakthin. bahwa “dialogisme” sebagai relasi-relasi yang harus ada di antara ungkapan-ungkapan dalam discourse. Model semiotika tersebut merupakan pengembangan lebih lanjut dari paham ‘dialogisme’ (dialogism) yang diperkenalkan oleh Mikhail Bakthin. maka antara satu teks atau produk dengan teks atau produk yang lain dalam ruang dan antara satu teks atau produk dengan teks atau produk sebelumnya yang saling silang me- . diwujudkan dalam produk-produk kriya seperti: patung. karena tidak ada ungkapan yang tidak terkait dengan ungkapan lain.

1979). Konsep intertekstualitas yang dikembangkan oleh Kristeva tersebut dapat digambarkan dalam suatu sekematik seperti Gambar 23 berikut Gambar 23 Transposisi Sistem Tanda Berdasarkan Model Semiotika Intertekstualitas (Intertextuality) Dalam penggunaan tanda atau simbol dengan petanda atau maknanya di masyarakat. Pemakaian petanda sebelumnya yang telah mapan untuk petanda baru yang kurang jelas maksudnya akan menunjukkan terjadinya suatu perlintasan sistem tanda. suatu sistem tanda kadang-kadang dapat berdampak negatif atau ‘merusak’ sistem tanda sebelumnya.nyilang satu dengan yang lainnya dalam rentang waktu tertentu mesti ada relasi-relasi ( Kristeva. Misalnya dapat menimbulkan terjadi ‘penghapusan’ atau ‘pengkaburan’. ‘pelesetan’ bagian tanda dari sistem tanda yang menjadi referensinya. Istilah intertekstualitas merupakan proses perlintasan atau diistilahkan dengan ‘transposisi’ (transposition) dari satu sistem tanda (sign system) ke sistem tanda yang lain. sering dijumpai . sehingga sepanjang perlintasan tersebut.

Pada mata dagangan tersebut terjadi ekspansi secara total serta perkembangbiakan konvensi tanda yang tak terbatas untuk mencapai kesenangan. maka permasalahan rancangan produk-produk kriya juga dapat dianalisis berdasarkan pendekatan semiotika. prestise. seperti telah dipaparkan tersebut. seperti konsep “sekular” dan konsep spiritual religius serta dikaitkan dengan nilai fungsi guna dan estetis yang dikandungnya. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya Berdasarkan uraian tersebut dan dikaitkan dengan penciptaan serta penggunaan produk kriya dalam kehidupan masyarakat di Bali. . nostagia. di dalam tersirat nilai-nilai atau norma-norma budaya yang melibatkan beberapa komponen semiotika. Hal tersebut. janji dan sebagainya. misalnya dalam pengadaan komoditi mata dagangan. Konsumen sering disuguhi permanen tanda-tanda atau simbol-simbol yang dikondisikan oleh pihak produsen dengan tujuan untuk memperoleh benefit atau untuk memenangkan kompetisi dagang.terjadi fenomena “permainan penanda”. mengingat produk-produk kriya masa lalu juga merupakan salah satu artefak kebudayaan. akan dilakukan tinjauan berdasarkan konsep yang melatarbelakangi penciptaannya. C. image. Untuk lebih jelasnya mengenai permasalahan semiotika dalam produk-produk kriya.

pedagang. Misalnya. baik berupa produk fungsional sebagai alat bantu. Konsep Sekular Berbagai aktivitas kehidupan masyarakat di Bali. Dengan konsep penerapan tanda tersebut. maupun sebagai produk yang berfungsi estetis sebagai benda hiasan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekular.1. seperti kebutuhan produk kriya berupa peralatan kerja untuk profesi sebagai petani. menusuk dan sebagainya. maka tampak tanda-tanda yang diterapkan lebih mengutamakan makna denotasi dan mengarah pada kategori pragmatis semiotika. tukang. objektif dan mengutamakan segi utilitas karena semata-mata untuk dipakai. alat untuk mengambil. maka para pemakai (user) akan secara gamblang dapat menafsirkan tanda-tanda yang bekerja pada wujud visualnya. jika ditinjau dari sudut semiotika. Sehingga ditinjau dari historis dan semiotis produk yang digunakan oleh seseorang dengan mata pencaharian tertentu juga dapat dipakai sebagai . karena bangun tanda yang diwujudkan lebih lugas. Konsep desain produk kriya untuk benda fungsional. sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan akan produk kriya. dan sebagainya. Wujud produk kriya fungsional yang diperuntukan sebagai peralatan kerja (working tool) dalam perencanaannya terkait dengan tuntutan kebutuhan suatu profesi. Sistem tanda tersebut dapat sebagai penuntun dalam penggunaan produk tersebut. memotong. produk kriya berfungsi sebagai wadah.

maka berbagai upaya dilakukan oleh para kriyawan untuk menghasilkan produk kriya yang unik. indah dan dengan berbagai karakteristiknya. . Produk kriya seperti tersebut. maka alat tersebut jelas digunakan oleh profesi seseorang sebagai petani tradisional. maka tuntutan kebutuhan hidupnya juga semakin kompleks dan bervariasi. Kemudian dengan semakin majunya tingkat peradaban masyarakat. Dengan upaya tersebut dapat melahirkan suatu image atau citra rasa tertentu dalam masyarakat. Misalnya. Sehubungan dengan hal tersebut.indeks mengenai profesi seseorang. melainkan mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan bersifat “sekular” atau hedonistik. dalam konteks semiotika akan bertindak sebagai dicisign. Seperti mempertimbangkan segi estetis yang menyangkut keseimbangan. karena interpretasi menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda dan denotasinya. Pemenuhan kebutuhan akan produk kriya tidak hanya terbatas pada fungsi guna semata. Produk kriya yang diciptakan disertai dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan menyangkut hal-hal bersifat psikis. kesatuan. keselarasan. sehingga secara subjektif dapat menyentuh sukma dan dirasakan sebagai penghargaan bagi para pemakai. alat bajak yang ditarik oleh sapi dengan fungsi untuk membajak tanah pertanian. Menawarkan berbagai alternatif produk dengan menanamkan tanda atau simbol dengan makna konotatif. makna dan sebagainya.

sebagai simbol kebesaran. juga disepakati sebagai tanda atau simbol ikatan perkawinan. Produk-produk kriya diangkat statusnya dan digunakan se- . Pada fenomena tersebut tanpa disadari terjadi permainan tanda dengan konvensi yang terkondisikan dan dengan matra yang tak terbatas.Misalnya. produk tersebut dengan faham fitisime dapat berfungsi untuk pembeda status sosial di dalam masyarakat. Produk-produk kriya tradisonal yang memiliki ciri khas daerah tertentu dan sebagainya. Misalnya dalam fenomena kecenderungan membeli produk kriya tradisonal Bali. selain digunakan untuk perhiasan. keagungan atau kekuasaan seorang individu ciptaan Tuhan yang memiliki status sebagai raja. Pada zaman kerajaan. dikonsumsi dan dipakai tanda kenangan atau sebagai simbol harga diri seseorang atau prestise. bahwa mereka pernah berkunjung ke objek wisata di Bali dan sebagainya. Di antara para wisatawan yang berkunjung ke Bali tampak banyak yang menbeli produk-produk kriya tradisonal Bali disertai dengan harapan untuk memperoleh kenangan-kenangan tentang hasil kebudayaan tradisional Bali atau dipakai sebagai tanda kebanggaan. Produk kriya berupa cincin. Dalam perkembangan produk kriya sebagai mata dagangan. produk kriya berupa mahkota yang dibuat dengan berbagai hiasan dan tanda atau simbol yang terkonvensi dalam suatu masyarakat. juga tampak fenomena memakai kekuatan nilai tukar yang kecenderungannya lebih menyandarkan pada makna konotasi.

bagai simbol-simbol tertentu yang menghasilkan berbagai interpretasi pada masyarakat konsumen. kadang-kadang tindakan tersebut sampai melupakan nilai utilitas dan religius pada produk tersebut. sehingga terjadi ketidakstabilan penanda dan petanda. manusia menginginkan adanya jalinan hubungan dengan Tuhan atau keinginannya untuk menerima ikatan-Nya. sehingga berkembang sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan dan penafsiran terhadap sifat-sifat Tuhan serta wujud dari alam gaib yang transendental. 2. karena diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotasinya. bayangan wujud dewa-dewa dan mahkluk halus lainnya yang mendiami alam tidak nyata. Keyakinan itu bersumber dari: ajaran agama berupa wahyu suci yang terhimpun dalam kitab-kitab suci. maut. Konsumer terkadang bukan lagi mencari konteks makna. biasanya melanjutkan tingkatan hidupnya ke arah mencari nilai religius. Pada tingkatan ini. 1981). Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Baudrillard. bahwa dalam kondisi seperti tersebut justru nilai guna sering kali tak lebih dari semacam jaminan praktis (alibi) (Baudrillard. Konsep Spiritual Religius Manusia Bali setelah melalui tingkatan hidup estetis dan etis. mitologi . misalnya menyangkut tentang hakikat hidup. Dalam hal tersebut akhirnya produk kriya menjadi Rhême.

Sehubungan dengan tujuan manusia tersebut. berbagai peralatan upacara termasuk melibatkan produk-produk kriya yang disakralkan. Selain hal tersebut. Produk kriya tersebut digunakan sebagai “alat” . menari. berkurban. berupa bangunan suci. maka muncul sistem upacara religius yang merupakan visualisasi kelakuan atau behavioral manifestation. pada umumnya mencakup beberapa fungsi. peralatan upacara dan fungsi estetis dalam wujud benda hiasan. menyanyi. Salah satu contoh dapat dilihat dalam tata cara penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. berdoa. seperti berfungsi sebagai simbol. berpuasa. bersaji. misalnya. sarana komunikasi. juga muncul penghargaan pada suatu benda untuk digunakan sebagai sarana pendukung kepercayaannya. dalam perwujudannya dilandasi dengan suatu konvensi yang acuannya merujuk pada ajaran agama atau kepercayaan dari suatu komunitas manusia yang sepaham. bersujud. berprosesi. bersemedi. beryajña. sehingga dalam produk tersebut terpatri suatu “ideologi” tertentu yang nilai-nilainya diyakini dan dijadikan sebagai tradisi. dan sebagainya. Produk-produk kriya yang dipakai dalam upacara agama. Perilaku tersebut diwujudkan dalam berbagai macam ungkapan seperti.dan ceritera-ceritera rakyat berupa dongeng yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat tertentu. bertapa. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol.

upacara, simbol-simbol diwujudkan berdasarkan konvensi yang mengacu atau dilatari kosmologi Hinduistis di Bali, sebagai media komunikasi yang dilandasi konsep Tri Hita Karana dan difungsikan sebagai hiasan. Produk kriya yang digunakan untuk simbol tersebut, merupakan tanda bersifat argument, karena interpretasinya terkait dengan renungan tentang kebenaran keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan maha segalagalanya (seperti telah disinggung di depan). Dengan penggunaan simbol-simbol tersebut, diharapkan dapat mempermudah penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu serta untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak-Nya tersebut. Perwujudan produk kriya sebagai tanda atau simbol, kadang dapat dalam bentuk icon, seperti stilasi bentuk manusia, binatang, benda alam dan sebaginya. Misalnya diwujudkan dalam berbagai produk kriya, seperti berbentuk relief, patung atau pratima dan sebagainya atau dibuat berdasarkan kualitas material yang digunakan atau qualisign, misalnya, warna (darah binatang, warna bunga, kapur, arang dan lainnya), karakter bahan (suatu jenis kayu, batu, kulit, logam dan sebagainya). Namun tidak dipungkiri, bahwa dalam menginterpretasikan simbol-simbol tersebut, sering terjadi perbedaan pandangan, sehingga melahirkan interpretasi bersifat mendua antara masyarakat yang berada dalam konvensi dengan di luarnya. Salah satu contoh produk

kriya berupa umbul-umbul bergambar naga taksaka yang digunakan sebagai salah satu sarana upacara Agama Hindu di Bali. Bagi umat Hindu menganggap benda tersebut sebagai tanda diadakan upacara agama dan sekaligus penerapan gambar naga taksaka disepakati sebagai simbol lapisan alam atas (Swah Loka). Sebagai dasar acuannya adalah kosmologi Hinduistis dengan interpretasi yang bersifat konotatif dan dianggap sakral. Sedangkan bagi umat atau orang yang tidak paham atau berada di luar konvensi tersebut, melihat umbulumbul tersebut hanya sekedar hiasan belaka. Fenomena seperti itu, belakangan ini memang cukup banyak terjadi di daerah Bali. Produk-produk kriya seperti itu, kadang hanya dilihat dari fungsi estetisnya saja. D. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu Eklektik adalah suatu usaha yang bersifat memilih unsur-unsur yang baik atau menggunakan bermacammacam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya, baik berupa orang, gaya, metode, kepercayaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam buku ini yang dimaksudkan adalah eklektisme terhadap elemen estetis masa lalu yang diterapkan pada desain produk masa kini. Tindakan “memilih” unsur-unsur tersebut secara tidak langsung jelas akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada vitalitas idiom masa lalu itu sendiri maupun kesatu-

an substansi pada desain produk masa kini. Fenomena tersebut dapat dipahami dari beberapa istilah seperti berikut: 1) Pastiche Istilah pastiche berarti menyusun elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai pengarang atau seniman masa lalu. Oleh sebab itu, istilah ini bisa mengandung pengertian dengan konotasi negatif dan dianggap miskin orisinallitas (Baldick dalam Yasraf 1994). Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Parody, dijelaskan bahwa: Pastiche, in this sense, is a pure imitation without any pretension. A pastiche text imitate other past text, in order to emulate or to appreciate them. Pastiche has been called by one critic as “form rendering” to describe its superficiality, that is, its lack to thoroughness. (Hutcheon, 1985). Menurut Linda Hutcheon, pastiche adalah suatu bentuk imitasi murni, tanpa disertai dengan pretensi tertentu. Gaya atau teks yang dipakai meniru dari teks masa lalu, disebut sebagai kritikan “gubahan bentuk” yang menunjukan suatu kedangkalan sebagai kekurangan yang utama. Selain hal tersebut, Fredric Jameson secara metaforis menyebut istilah tersebut sebagai “penggunaan topeng sejarah, pengungkap-

yaitu dua teks atau lebih dipertemukan dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat. gaya atau produk yang menjadi sasarannya (kelemahan. atau arsitektur dengan tendensi bersifat memilih dan didistorsi. 2) Parody Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994). kritik. atau kemasyuran) (Yasraf. pada dasarnya parodi adalah merupakan suatu fenomena yang terjadi dalam produk sastra. dan humor. kekurangan. Dengan demikian. bahkan bermuatan politis dan ideologis. parody (parodi). keseriusan. seni. 1991). kemudian diimitasi dalam suatu produk dengan tujuan mengarah pada humoristik dan kadang kala bersifat “pelesetan”. . 1994). artinya produk sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya atau kata penulis atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan.an dalam bahasa yang telah mati” (Jameson dalam Yasraf. Parodi merupakan suatu bentuk “dialogisme tekstual”. dijelaskan bahwa. Jadi dari uraian tersebut. Dalam peniruannya dapat bersifat ironis dan kritis. parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk.

1995). Predikat kitsch sebagai selera rendahan dimanifestasikan oleh lemahnya ukuran dan kriteria estetis yang dipakai. (Greenberg dalam Yasraf. istilah ini sering diselaraskan artinya sebagai “sampah artistik” atau sering diberi pengertian sebagai “selera rendahan” atau segala produk seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. Menurut Clement Greenberg. verkitshen berarti “membuat murahan”. konsumsi dan komunikasi massa.3) Kitsch Istilah Kitsch berasal dari bahasa Jerman. Dalam bidang seni. yang diakibatkan oleh berkembangnya produksi. Mengimitasi suatu bentuk gaya atau objek untuk tujuan yang palsu. secara harfiah berarti “memungut sampah dari jalan”. . pada awalnya keberadaan kitsch didorong oleh semangat mereproduksi. merupakan suatu upaya untuk menghasilkan efek-efek reproduksi dalam sistem kebudayaan massa atau membangun aura seni dari reproduksi itu sendiri. Selain hal tersebut. Dan kistchen. kitsch bertujuan mensimulasi atau mengkopi elemen-elemen gaya “seni tinggi” atau objek sehari-hari untuk kepentingan sendiri dan menjadikan sebagai mass product.

1992). berlebihan dan glamor (Sontag. tekstur. dengan mengusung eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional dan dieksploitasi pada desain masa kini. Dalam upaya mewujudkan produk. ternyata dalam usaha perluasan desain masa kini yang berciri khas Bali.4) Camp Pada fenomena estetika pengertian camp sering dikelirukan dengan istilah kitsch yang mengarah pada pengertian “selera rendahan” atau merupakan “sampah estetik”. Merupakan kemenangan gaya atas isi. Selanjutnya untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari tindakan eklektis terhadap produk kriya masa lalu dapat dipahami . Sebenarnya camp merupakan salah satu cara untuk melihat dunia sebagai suatu gejala estetik dalam derajat kecerdasan. kesemuan dan stylization atau penggayaan. dan style dengan distorsi yang berlebihan dan meremehkan isi serta netral. camp lebih menititik beratkan pada dekorasi. permukaan sensual. Hubungannya dengan masa lalu bersifat “mendaurulang” dan sentimentil. Dengan memahami beberapa istilah di atas. berusaha menampilkan sesuatu yang special. Dalam suatu bentuk produk seni. kadang-kadang juga dapat menimbulkan dampak tersebut. estetik atas moral dan ironi atas tragedi.

yaitu dengan menganalisa beberapa contoh kasus penerapan elemen estetis produk kriya secara eklektik pada desain masa kini di Bali seperti diuraikan pada Bab V.pada uraian berikut. .

Kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala dan terus mengalami perkembangan dan perubahan yang didorong oleh berbagai faktor. Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan atau pergeseran dalam fungsi waktu dengan laju yang bervariasi. Oleh sebab itu. stagnan dan terisolir. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini 1. Kajian Historis Transformasi atau pergeseran merupakan suatu fenomena yang universal dan selalu mewarnai lintas sejarah perkembangan kebudayaan suatu masyarakat.BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. baik faktor internal yang disebabkan oleh penggunaan dan penghargaan . maka suatu masyarakat dengan kebudayaannya secara mutlak tidak mungkin dapat hidup statis.

secara diakoronis dapat disimak. saat penduduk Bali masih hidup nomaden. hedonistik dengan mengutamakan fungsi estetis dan efek finansial yang ditimbulkannya. (2) sarana penunjang keagamaan atau kepercayaan dan untuk dipersembahkan kepada raja dan keluarganya (3) kebutuhan produk kriya untuk menunjang kebutuhan lain yang mengarah pada penciptaan produk kriya untuk memenuhi kebutuhan bersifat sekular. berupa peralatan kerja untuk penunjang berbagai aktivitas hidup sehari-hari. umumnya memiliki pola pikir terbatas .produk kriya dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Bali. maupun faktor eksternal berupa pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar melalui proses akulturasi yang berlangsung dari zaman ke zaman dalam kapasitas yang berbeda-beda. Faktor pendorong tersebut seperti (1) karena adanya tuntutan kebutuhan produk kriya fungsional yang mengandung nilai utilitas. bahwa sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan neolitikum dan perunggu. Bersamaan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sering dijumpai kasus fenomena penerapan elemen estetis produk kriya tradisional secara eklektik. Ditinjau dari sudut historis mengenai perkembangan dan perubahan penciptaan serta penggunaan produk kriya di Bali. Faktor pendorong tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 24. Misalnya. untuk memenuhi kebutuhan produk kriya penunjang kepariwisataan dan sebagai komoditi ekspor.

Penduduk di Bali telah mampu . tulang binatang. maka dalam sistem peralatan dan perlengkapan hidup mengalami perubahan.pada usaha pemenuhan kebutuhan berupa makanan untuk kelangsungan hidupnya. Dalam melakukan usaha tersebut. ranting kayu dan sebagainya. PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KEGIATAN EKSPOR PRODUK KERAJINAN DI BALI SARANA PENUNJANG Produk-produk kriya berupa:  Souvenir  menciptakan citra atau suasana MUATAN LOKAL/ ETOS KEBUDAYAAN UNSUR-UNSUR EKLEKTIK PADA KARYA MASA LALU (latar belakang sejarah) Gambar 24 Faktor Pendorong Munculnya Tindakan Eklektik Terhadap Elemen Estetis Tradisioanal Bali Di masa-masa selanjutnya. mereka menggunakan peralatan berupa produk kriya terbuat dengan batu. setelah masuknya pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu di Bali. dengan proses pengerjaan masih sangat sederhana.

sarkofagus untuk tempat mayat dan sebagai tanda penghormatan atau simbol kendaraan arwah.menciptakan produk-produk kriya berupa peralatan terbuat dengan logam. Pada zaman tersebut. disebabkan semakin meningkatnya kesadaran. Pada zaman Hindu. Dalam proses penciptaan produkproduk kriya. cincin untuk bekal kubur dan sebagainya. masyarakat sudah mampu menghasilkan produk-produk kriya yang bermutu. nafsu atau emosi dalam diri individu untuk menghargai suatu materi yang distimuli oleh alam atau lingkungan masyarakat yang terbentuk. pertimbangan mengenai keindahan. sistem relegi yang berkembang dan semakin menggejalanya pengaruh integrasi kebudayaan dari luar serta didukung dengan banyak waktu luang yang dimilikinya sebagai masyarakat agraris. hasrat. Munculnya gejala tersebut. kenyamanan dan simbolisasi sudah menggejala dan menjadi bagian yang esensial. nekara perunggu diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai simbol-simbol terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. misalnya dikerjakan sambil menunggu datangnya musim panen. batu. misalnya peralatan berupa kapak batu yang dibentuk dan digosok sampai halus. di Bali terjadi suatu “intervensi kebudayaan” yang bersifat menyempurnakan kebudayaan tradisi masa lalu dengan berorientasi pada . gerabah (tanah liat yang dibakar) dan sebagainya yang dikerjakan dengan teknik lebih sempurna.

Perpaduan tersebut melahirkan suatu kebudayaan yang bercorak khas Bali. Perwujudannya berupa hiasan.penyebaran. Motivasi penciptaan dilandasi dengan konsep dharma. Penciptaan produk-produk kriya dominan dikembangkan untuk keperluan Agama Hindu dan kerajaan. senjata. wayang. dan loyalitas dengan kecenderungan dedikasi. karma phala yang diwujudkan dalam sikap kebersamaan (kolektif). ketekunan serta keiklasan yang sangat tinggi. . pembinaan dan peletakan dasar-dasar ajaran Agama Hindu. meliputi sistem peralatan dan perlengkapan hidup. pembinaan umat dan dipersembahkan kepada raja. Hindu dari Jawa Timur bergabung dengan kultur agraris dan pemujaan roh leluhur yang telah tumbuh di masyarakat Bali. seperti ditujukan untuk menunjang kebutuhan sarana upacara ritual. religius. sosial kemasyarakatan dan kebudayaan Bali dirumuskan dengan “bahasa” agama Hindu. maka para kriyawan saat itu mampu menghasilkan produk-produk puncak dengan kualitas yang sangat tinggi. simbol dan benda pakai. sedangkan unsur kebudayaan Jawa umumnya tampak pada taraf ritual yang bersumber pada kitab suci Weda. Semua kegiatan ekonomi. Dengan sikap tersebut. berbagai bentuk topeng. patung. Terjadi suatu sinkretisasi atau proses penyerasian dua aliran (agama) dan akulturasi yang harmonis antara unsur-unsur kebudayaan India. Unsur India dominan pada taraf filsafat dan mitologi. barang gerabah. seperti berupa hiasan pada pura.

Bahan yang digunakan. Produk-produk kriya tersebut termasuk katergori produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. dalam pembuatannya mutlak disertai dengan proses penyucian atau melalui beberapa tahap penyucian (lihat Tabel 1. kulit binatang. halaman: 61). kayu dan sebagainya. ternyata di dalamnya sarat mengandung makna atau nilai-nilai kesucian yang adiluhung. Produk-produk tersebut diciptakan dengan dilandasi kosmologi Hinduistis dan adat di Bali. yang terkait dengan kepercayaan tentang keagungan dan kekuasaan Tuhan serta ajaran suci tentang ciptaanNya. Ditinjau dari sudut keyakinan umat Hindu di Bali terhadap nilai kesakralan yang dikandungnya.busana hasil tenunan tradisional (berupa kain songket. seperti logam. misalnya berupa simbol-simbol alam makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). Beberapa jenis kegiatan penciptaan produk kriya itu diwariskan dari generasi ke genarasi berikutnya dan sampai sekarang masih ditekuni oleh masyarakat kriyawan di beberapa daerah di Bali. sabuk dan sejenisnya). khususnya yang digunakan dalam melaksanakan upacara ritual. ternyata sampai sekarang masih digunakan dan diyakini oleh umat Hindu di Bali. Hal tersebut mengingat heterogen- . Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol atau tanda terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Tergolong jenis kesenian Wali yang dianggap sebagai benda sakral karena. tanah liat.

seperti disebutkan dalam ajaran Catur Marga. sampai sekarang dan bahkan untuk seterusnya tetap hadir dan diperlukan. ternyata “cara” tersebut memang diperbolehkan. Demikian juga dalam sifat Weda dan filsafat Wedanta. Bali dan kebudayaannya diperkenalkan sebagai daerah tujuan wisata. Oleh sebab itu produk-produk kriya berupa simbol-simbol untuk sarana pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. budaya tersebut juga dipakai sebagai daya tarik utama. dari zaman Hindu sampai sekarang nilai-nilai kesakralannya tetap diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. maupun sesuai kerangka agama Hindu. maka pengaruh-pengaruh Belanda dan kebudayaan masyarakat dari luar lainnya semakin merebak masuk ke Bali. Dari sudut pandang ajaran agama Hindu. dalam konteks pengembangan pariwisata. dari uraian tersebut. Di sisi lain. Jadi. Pada zaman kolonial.nya tingkat kemampuan umat dalam mengamalkan ajaran agama Hindu atau dalam hasrat menghubungkan diri dengan Tuhan. seperti semakin berkembangnya corak masyarakat yang meng- . Sehingga dalam tata kehidupan masyarakat di Bali tampak mengalami banyak perubahan. jelaslah produk kriya yang digunakan sebagai sarana pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. Oleh sebab itu. maka di masa-masa mendatang eksistensinya perlu dijaga dari penetrasi pengaruh-pengaruh luar yang dapat mengancam kelestariannya.

biro perjalanan. selain untuk menguras hasil pertanian.arah pada usaha-usaha non-agraris. kembali aktif. Para kriyawan menciptakan produk kriya tersebut. dapat ditelusuri dari tujuan Belanda untuk menguasai Pulau Bali. termasuk penciptaan “produk-produk kriya komersial”. misalnya: membuat koperasi. peternakan dan lain-lainnya. semata-mata didorong oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat dan bukan atas prakarsa pemerintah kolonial Belanda. restoran. mengaktifkan kembali kegiatan ekspor-impor barang yang sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. Gejalanya muncul secara “spontan” dari masyarakat kriyawan Bali saat itu. kesenian tradisional yang telah tumbuh dan berarkar di masyarakat Bali. Khusus mengenai masalah penciptaan produkproduk kriya yang bermuatan lokal dengan tendensi komersial. Keadaan tersebut. Dalam usaha menunjang pengembangan pariwisata. Upaya tersebut diawali dengan usaha untuk mendatangkan para . Selain hal tersebut pemerintah Belanda juga berkeinginan untuk mempertahankan keaslian kebudayaan Bali dengan menerapkan politik isolasi atau mengasingkannya dari pengaruh-pengaruh luar dan semata-mata ingin dijadikan sebagai “museum hidup”. menjual hasil pertanian dan sebagainya. toko kerajinan. Masyarakat Bali semakin dimantapkan dan didorong untuk bergerak dalam bidang ekonomi. mulai berkembang usaha yang bergerak dalam bidang perhotelan.

Motivasi perluasan usaha penciptaan produk kriya di Bali saat tersebut.pakar yang terkait dari negerinya. misalnya dengan mengangkat tenaga pendidik lokal yang berkompeten dalam bidang kebudayaan Bali. mengalami perkembangan baru dibandingkan sebelumnya. Namun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. untuk mempelajari berbagai aspek tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan tradisonal. penciptaan produk kriya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan kerajaan. Para kriyawan kebanyakan mulai memandang hasil produksinya sebagai mata dagangan yang bernilai ekonomis. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk menunjang pengembangan pariwisata pada saat terse- . membangun museum di Denpasar untuk melindungi dan menyelamatkan artifak etnografi Bali. Kemudian membangun Gedong Kertiya di Singaraja untuk menyimpan dan menyelamatkan kesusastraan Bali yang ditulis pada lontar. Mengembangkan sistem pendidikan yang menyesuaikan dengan kebudayaan terkait dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu. Mereka cenderung menciptakan produk kriya dalam bentuk cenderamata untuk dijual kepada para wisatawan atau diekspor ke luar pulau Bali. faktor pendorong atau motivasi penciptaan produk kriya dengan serta merta mulai mengarah pada hal-hal bersifat komersial. di mana pada masa berkembangnya pengaruh Hindu dan zaman kerajaan.

Walter Spies dan seniman lainnya. mereka juga mulai memadukan pengaruh dari luar. Seperti: berupa patung. Di sisi lain. tanpa kecuali produk yang digunakan untuk sarana pengamalan dan penghayatan ajaran agama Hindu Bali. Dalam masa pendudukan Jepang yang berlangsung relatif lebih singkat dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. usaha . logam (berkembang di Klungkung. misalnya: kayu. melahirkan produk-produk dengan style Batuan. Jepang lebih mementingkan usaha penanaman semangat militer dan arti penting perang Asia Timur Raya untuk meraih kemenangan. kadang juga muncul tindakan eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional. di satu sisi tampak para kriyawan berusaha mengembangkan produk-produk kriya masa lalu yang diwarisinya. Ubud. batu padas (berkembang di Gianyar). Usaha pengembangan pariwisata kurang mendapat perhatian. seperti: Rudolf Bonnet. karena pada waktu tersebut. (berkembang di daerah Gianyar dan Badung). tanduk (berkembang di Gianyar). tulang. tanah liat atau keramik (di Tabanan) dan lain sebagainya. relief dan gambar atau lukisan dengan menggunakan berbagai bahan. topeng. pengosekan dan sebagainya. Seperti pengaruh seni rupa modern yang dibawa oleh para seniman Barat. Oleh sebab itu.but. Bangli dan di Buleleng). Dalam upayanya tersebut. Gianyar. Perpaduan pengaruh tersebut. fanil. sehingga menghasilkan produk dengan berbagai penggayaan atau style. tempurung kelapa.

penciptaan “produk kriya komersial” semakin surut dan penggunaannya terbatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. sekitar tahun 1950. kecuali pengaruh pemerintahan Jepang sendiri. Pada zaman kemerdekaan. sekaligus memberi dampak pada tata kehidupan masyarakat di Bali. Otoritas masyarakat pada saat tersebut sangat terbatas. sehingga keadaan kebudayaan Bali nyaris terisolir dari pengaruh luar. Didorong pula oleh semakin meningkatnya permintaan para wisatawan akan produk-produk kriya yang bermuatan lokal berupa barang cenderamata. ternyata merupakan salah satu pemicu arus penetrasi budaya modern dan global. Usaha pengembangan tersebut. Dikaitkan dengan pembangunan sektor perekonomian. maka usaha penciptaan produk-produk kriya di Bali dengan serta merta mulai mengarah pada tujuan komersial dan disertai dengan muncul gejala penerapan elemen estetis produk tradisional secara eklektik pada desain yang kemudian diterapkan pada produk-produk kriya yang dibuat saat tersebut. Lapangan pekerjaan atau bidang usaha . ternyata upaya tersebut memberi pengaruh yang signifikan. Ulasan dari sudut historis tersebut memberi deskripsi bahwa pada saat mulai masuknya pengaruh Barat (Belanda) dan dijadikannya Bali sebagai daerah tujuan wisata. sektor pariwisata di Bali kembali dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dengan tetap berbasis pada kekuatan budaya Bali sebagai daya tarik utama.

terutama di zaman prakolonial. usaha tersebut sempat mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk dikonsumsi para wisatawan masa kini. para kriyawan berupaya untuk menyuguhkan produk yang dapat memberi kenangan tersendiri. Dan hasil produknya jarang diperjual belikan sebagai mata dagangan. sebelum terjadi tragedi bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 di Kecamatan Kuta dan bom Bali II pada tanggal 1 Oktober 2005. Berbeda dengan dulu. di mana kegiatan menciptakan produk kriya hanya merupakan pekerjaan sambilan di waktu senggang seusai di sawah atau kesibukan lain. Banyak di antara masyarakat di Bali menjadikan sebagai mata pencaharian tetap. misalnya berwujud cenderamata yang menyiratkan keindahan alam atau ke- . juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kecil dan mendijadikan produk kriya lokal sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor non-migas.industri kecil memiliki peluang atau opportunity untuk tumbuh dan berkembang. cukup mendorong para kriyawan dan pengusaha di Bali masa kini untuk semakin aktif menekuni sektor tersebut. selain didorong oleh perkembangan sektor pariwisata. Kondisi tersebut. seperti dalam kegiatan penciptaan produk-produk kriya yang mengarah komersial. Pada dasawarsa belakangan. Mereka termotivasi oleh aspek ekonomis yang dihasilkan dari produk kriya yang diciptakannya.

berkeinginan menampilkan suasana yang berbeda dengan daerah lain. seperti tampak pada Gambar 25 dan 26. Gambar 25 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Fauna . Dalam hubungan dengan kreativitas penciptaan produk kriya.budayaan Bali. di satu sisi tampak usaha inovatif yang mengarah pada produk individual. Demikian juga dalam penataan lingkungan. salah satunya dengan menerapkan elemen estetis produk kriya masa lalu. misalnya dengan mengeksploitasi alam fauna dan flora sebagai sumber inspirasinya.

tindakan-tindakan eklektik terhadap elemen estetis produk kriya masa lalu yang diterapkan pada desain produk kriya masa kini. Mereka melakukan tindakan tersebut didorong oleh harapan atau keinginan untuk menciptakan produk-produk kriya etnik yang bermuatan lokal atau tercerap suasana atau citra rasa tradisional yang berciri khas budaya Bali seperti tampak pada Gambar 27. tampak semakin menggejala di kalangan masyarakat kriyawan.Gambar 26 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Flora Di sisi lain.32 .

. Gambar 28 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi.Gambar 27 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi.

Gambar 30 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Untuk Barang Komoditi. .Gambar 29 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Panil untuk Barang Komoditi.

Dalam pemilihan unsur-unsur terbaik produk masa lalu. Banyak di antara mereka kadang-kadang melupakan konteks nilai yang terkandung pada produk kriya masa lalu dengan masa- . Gambar 32 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Diterapkan Dalam Bentuk Tatto. sering muncul sikap “ketidaktaatan” yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali.Gambar 31 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Façade Bangunan.

jelas merupakan penyimpangan dan sama sekali tidak ada hubungan permaknaan. Tindakan tersebut jelas berdampak negatif. Relief Acintya. relief pada tebing dekat kuburan. kemudian diterapkan begitu saja pada benda-benda yang bersifat profan dengan lebih mengutamakan segi artistik dan semata-mata menyandar pada efek finansialnya. Bhoma. Produk-produk kriya wali yang digunakan dalam upacara agama dan dianggap sakral. divisualisasikan dalam bentuk patung untuk menghias persimpangan jalan. sebenarnya merupakan produk kriya yang mengandung nilai simbolis pada bangunan suci. (lihat Gambar: 31). semata-mata untuk sensasi. Sebagai contoh. Diterapkan pada tebing kuburan. merusak atau mengganggu kesepakatan yang telah mapan. Bhoma diterapkan dengan ditatto pada bokong atau Ongkara ditatto pada lengan. kemudian dijual sebagai barang cenderamata dan sebagainya. Pada hal kedua elemen tersebut mengandung nilai religius dan konvensinya masih eksis di masyarakat Hindu di Bali.lah kepercayaan umat Hindu di Bali. misalnya diterapkan sebagai hiasan dinding rumah tinggal. Ditiru atau direproduksi dengan kemampuan tangannya. “dipilih”. Penerapan tersebut memiliki tujuan yang tidak jelas. Garuda Wisnu dan Nãga. diterapkan sebagai hiasan pada façade sebuah kantor bank . Hal tersebut. seperti pada pelinggih padmasana. tetapi sekarang banyak digunakan untuk hiasan benda pakai yang bersifat profan.

restoran dan sebagainya. seperti pada upacara Odalan. lonték dan tedung Agung. hotel. Bedawang Nala dipakai hiasan tapal batas kota. banyak para kriyawan di Bali dalam kegiatan penciptaan produk kriya masa kini. namun sekarang digunakan untuk menghias halaman supermarket. inovasi dengan ide baru dan kreativitas mereka sering terhambat karena takut tidak laku di pasaran. sebenarnya sebagai “busana pura” yang dikenakan sewaktu melangsungkan upacara agama tertentu. Sehingga . cenderung tergantung pada permintaan pasar. Sehingga timbul kerancuan dan menimbulkan kebingungan bagi generasi penerus tradisi tersebut.atau bangunan lain. Idealisasi. Gambar 33 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional berupa Relief yang Sakral Diterapkan Di Perepatan Jalan dan Sebagai Hiasan Tebing Kuburan Selain hal tersebut. artshop.

dengan kondisi tersebut “jalan pintas” sering dilakukannya. sikap mereka cenderung menyandar pada kesiapan. sehingga pesanan tersebut sesuai dengan keinginan konsumennya dan transaksi dapat berjalan tepat pada waktunya. dalam proses penciptaan produk-produk tersebut yang seharusnya disertai dengan upacara penyucian. juga didorong oleh pihak pengusaha produk-produk kriya di Bali. karena mereka merasa mampu memberi pelayanan yang memuaskan wisata- . itu pun hanya dilakukan oleh beberapa orang kriyawan. “dipaksakan” dan “diberanikan” demi untuk memenuhi tujuan lain dengan alasan faktor ekomoni. Dan permasalahan sudah dianggap selesai sampai di sana. juga tidak luput dari konsekuensi tersebut. Dan banyak produk ciptaannya setelah dilemparkan di pasaran atau dipamerkan. misalnya dengan jalan “mengkopi” atau “membajak” produk-produk yang sedang laku dipasaran atau dengan tetap bertahan pada produk tradisional. tetapi pada kenyataannya bagian tersebut sering ditinggalkan. Sekalipun ada kriyawan yang berusaha mencipta “produk kriya baru”. Dalam proses penciptaan produk-produk kriya dengan unsur eklektik yang ditujukan untuk para wisatawan masa kini. terjadi “desakralisasi”. seperti: Ide Bagus Nyana. kemampuan atau keterampilan yang dimiliki para kriyawan untuk mengerjakannya. I Nyoman Togog dan yang lainnya. Seperti dalam pemberian pesanan kepada para kriyawan. Kejadian tersebut. Maksudnya.

bahwa produk-produk kriya yang diciptakan oleh para kriyawan Bali di masa lalu. Kajian Semiotis Dari pembahasan pada Bab III dapat difahami. Para pewarisnya dewasa ini hanya mampu menduplikasikan dan menggunakannya. karena dapat menimbulkan arti hidup dan kehidupan yang tidak stabil. baik yang diciptakan pada zaman pra-Hindu. 2. jelas kurang relevan. komprehensif.wan. maupun setelah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa Timur. karena dalam proses penciptaannya dilandasi dengan konsep-konsep perancangan sangat mantap. Salah satu faktor yang menyebabkan produk-produk tersebut dapat bertahan. Namun sikap tersebut. sehingga kesadaran untuk lebih selektif terhadap makna atau nilai yang dikandungnya terasa masih kurang. Banyak di antaranya produk-produk kriya tersebut merupakan karya puncak. kalau dikaitkan dengan konsep Catur Purus Artha yang dipakai landasan pembangunan di Bali. Mereka tampak lebih mengutamakan Artha dan Kama sebagai tujuan hidup. sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. . ternyata eksistensinya dapat menembus beberapa zaman dalam rentang waktu sangat lama. kompleks. mengacu pada norma-norma ajaran agama Hindu atau sistem kepercayaan umat Hindu di Bali dan dikerjakan dengan total serta penuh pengabdian yang tulus.

hasil tersebut dapat dipakai tanda (sign) yang merepresentasikan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya. maka secara diakronis hasil peninggalan tersebut.Dalam usaha perluasan gagasan desain produk kriya masa kini. dengan memandang peristiwa penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya di setiap zaman sebagai fenomena bahasa. tampak produk-produk tersebut kembali ditampilkan “secara eklektik” dengan menitikberatkan pada nilai estetis dan diklaim sebagai identitas etnik Bali atau local genuine. memberi tanda dalam bentuk indeks. adalah sebagai berikut: Sebelum penduduk Bali mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu. Jika ditinjau kembali berdasarkan kajian semiotika. pada masing-masing penggalan zaman atau kurun waktu tertentu. Pembahasan lebih rinci mengenai kajian semiotis. lebih ke arah . bahwa masyarakat di Bali saat itu. dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk kriya tampak masih sangat sederhana. dapat dipakai sebagai tanda (sign) zaman yang merepresentasikan sejarah perkembangan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya dalam masyarakat Bali dari zaman ke zaman. sedangkan secara sinkronis. dengan di sana-sini diadakan penambahan atau pengurangan yang diistilahkan sebagai ‘pengembangan’ dan tak jarang dibarengi dengan tujuan-tujuan lain yang tidak sesuai dengan esensi konsep penciptaan di masa lalu.

selain memiliki berfungsi sebagai alat. Produkproduk yang diciptakan. Misalnya masalah kenyamanan. karena mereka bertumpu pada nilai guna atau utilitas dan pragmatis. Hubungan struktur tanda tersebut menurut Semiotika Saussure dapat digambarkan seperti Gambar 34 berikut Gambar 34 Relasi Tanda. melainkan sudah memperhatikan hal-hal yang bersifat konotatif. Belum ada tanda-tanda yang mengarah pada makna konotasi. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Sebelum Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu) Pada zaman selanjutnya. seperti batu dengan karakternya yang keras diperlakukan untuk “menghacurkan” benda yang lebih lunak. Seperti kepercayaan alam gaib. juga sudah memperhatikan nilai estetis dan simbolis dengan latar atau konvensi yang dilandasi dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. roh atau kekuatan-kekuatan lain . keindahan produk maupun simbolisasi. arah penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya tidak lagi terpaku pada pertimbangan yang bersifat denotatif.makna denotasi.

Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Setelah Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu . Simbol-simbol tersebut diterapkan atau diwujudkan dalam berbagai bentuk produk kriya. dipakai sebagai simbol roh nenek moyang mereka dan dianggap bertuah atau mengandung nilai magis. juga dipakai sebagai tanda atau simbol status sosial. Pada produk kriya tersebut diterapkan relief berupa topeng yang distilasi dari bentuk wajah manusia. misalnya pada penguburan mayat seorang tokoh masyarakat dengan menggunakan sarkofagus. seperti berupa sebuah nekara yang dibuat dengan perunggu. Hubungan produk-produk kriya sebagai tanda atau simbol dengan pengguna tanda atau penanda (masyarakat Bali zaman Pra-Hindu) dapat digambarkan seperti Gambar 35 berikut Gambar 35 Relasi Tanda. Penguburan dengan cara tersebut. dilakukan sebagai simbol penghormatan kepada tokoh yang meninggal.yang dimiliki oleh suatu benda yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan mereka atau fetishism. Selain hal tersebut.

kosmologi dan sebagainya yang bersumber pada ajaran Agama Hindu. bahwa dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya dilandasi dengan konsep yang mengarah pada makna konotasi atau asosiatif dengan latar atau ground digali dari mitologi. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Mendapat Pengaruh Kebudayaan Hindu-Jawa Timur . Gambar 36 Relasi Tanda. Secara semiotika relasi tanda dengan pengguna tanda pada zaman tersebut. Diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol sehingga produk-produk kriya tersebut tergolong karya spiritual religius dan dianggap sakral yang digunakan sebagai media untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak yang dimiliki Tuhan. filosofi.Pada Zaman Hindu menunjukan. dapat digambarkan seperti Gambar 36 berikut. Seperti produk-produk kriya yang digunakan dalam upacara Odalan. ceritera-ceritera rakyat.

elemen estetis untuk menciptakan suasana tradisional Bali atau sebagai digunakan komoditi ekspor. Pada saat tersebut. subyektif. maka dalam fenometa tersebut tampak terjadi “permainan petanda” yang menghasilkan petanda baru dengan konvensi atau makna yang tidak jelas arahnya. maupun arah pengembangan yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. baik tujuan. Jika kondisi tersebut dikaji berdasarkan semiotika model “intertekstualitas” seperti yang dikembangkan oleh Kristeva. seperti kebanggaan (pride) memperoleh produk kriya lokal yang berciri khas Bali dan dipakai sebagai tanda kenangan. bahwa mere- . Seperti tujuan para kriyawan untuk menciptakan produk bermuatan lokal atau dorongan para wisatawan untuk membeli suatu produk (emotional product motives). relatif dan bersifat temporal. Produkproduk tersebut mulai dijadikan sebagai penunjang kepariwisataan di Bali berupa cenderamata. penciptaan dan pengunaan produk kriya pengalami perkembangan baru. kadang kembali “dipilih” dan ditata atau dipadukan dengan tanda lain. kondisi penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali memiliki kemiripan langgam atau tipe.Pada zaman Kolonial dan Kemerdekaan. Namun dewasa ini. pretensius. Produk-produk kriya —terutama yang terkait pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali— yang diciptakan sebagai tanda dalam bentuk simbol-simbol dengan konvensi budaya yang dilandasi nilai-nilai atau norma-norma Agama Hindu yang telah mapan dalam masyarakat masa lalu.

Bahkan tindakan tersebut dapat “merusak” atau memutuskan pertautan petanda dengan penanda atau narasi yang sebenarnya. Selain motivasi tersebut juga didorong keinginan untuk menciptakan lingkungan atau tata bangunan dengan nuansa tradisional. dianggap sebagai suatu kepuasan atau prestise dan sebagainya. Pada façade tersebut tampak logo Bank BPD diletakkan di atas dari simbol Garuda Wisnu. kalau dilihat dari tata letak kedua tanda tersebut. Dari kedua tanda tersebut sama sekali tidak terjalin suatu kesatuan makna. Masing-masing tanda atau simbol tersebut menyiratkan makna tersendiri.ka pernah mengunjungi pulau Bali. produk kriya berupa relief Garuda Wisnu yang lazimnya diterapkan dibelakang Padmasan. na- . Petanda baru yang muncul tersebut hanya bersifat subjektif yang “dihubung-hubungkan” atau hanya merupakan suatu pretensi yang sama sekali tidak ada pertalian petanda dengan ground simbol yang diterapkan pada produk tersebut di masa lalu. di mana simbol Garuda Wisnu adalah terkait dengan ajaran Agama Hindu. tampak simbol Garuda Wisnu menjadi kehilangan makna. namun sekarang tampak diterapkan sebagai hiasan façade. Sebagai contoh. Pada contoh tersebut. dianggap sebagai lambang kebesaran Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. janggal dan berkonotasi negatif karena terjadi diskrepansi antara tanda dengan petanda yang sebenarnya.

Berdasarkan kajian dari sudut model semiotika “intertekstualitas”.mun pada façade itu diletakkan di bawah logo yang cenderung berkonotasi tentang uang yang bersifat sekular. tanpa memikirkan lebih jauh tentang pertalian petanda yang terbentuk akibat penempatan simbol dan logo tersebut. maka secara umum penciptaan produk kriya dengan unsur eklektik dewasa ini di Bali dapat digambarkan pada Gambar 37 . Penempatan tersebut “asal pasang” dan hanya didorong oleh suatu preferensi “pajang seni” semata. Tanpa disadari penempatan tersebut membawa makna konotasi yang mengarah pada interprestasi negatif. Meletakkan penghargaan terhadap nilai-nilai keduniawian (uang dan investasi). kesenangan dan kenikmatan (hedonisme) lebih tinggi dari nilai yang berhubungan dengan ajaran ketuhanan.

Penanda dan Petanda (“Intertekstualitas”) Kaitannya Dengan Fenomena Eklektik Unsur Produk Kriya Masa Lalu .Gambar 37 Perbandingan Relasi Tanda.

bahwa masyarakat Bali bersama kebudayaannya di masamasa mendatang akan mengalami perubahan besar sebagai dampak maraknya perkembangan pariwisata. Sebenarnya di dalamnya secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. Konsep tersebut diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan budaya Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. Di satu sisi menurut hasil penelitian Kean (1973) maupun Geriya dan Erawan (1993) membuktikan bahwa interaksi antara pariwisata dan kebudayaan Bali. selaras. sosiolog. antropolog dan seniman sudah memprediksi. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini Konsep pengembangan pariwisata di Bali berbasis budaya Bali.B. ternyata mendatangkan banyak kemanfaatan atau beneficial bagi pengembangan kebudayaan Bali sekaligus pengembangan sektor ekonomi masyarakat. bahwa pariwisatalah yang akan menjadi salah satu katalisator atau sebagai pemicu terjadinya perubahan sosial-budaya masyarakat di . Namun di sisi lain banyak muncul kekawatiran tentang nasib masa depan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. dan seimbang. Mereka mendeskripsikan. Sejak 60 tahun yang silam di kalangan para pengamat: budayawan.

Prediksi atau asumsi tersebut. Berikut akan diuraikan mengenai dampak yang ditimbulkan.Bali. Hal tersebut juga terjadi dalam perluasan penciptaan produk-produk kriya dan desain lainnya yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali. Salah satunya diakibatkan oleh eklektisme elemen estetis tradisonal yang tak terkendali dalam penerapannya pada desain produk masa kini. Pertanyaan tersebut diungkap sehubungan dengan kekawatiranya akan kerusakan yang akan terjadi pada seni budaya Bali sebagai akibat diperkenalkannya menjadi daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Kolonial Belanda saat tersebut (Covarrubias. Demikian juga kekawatiran tersebut dimuat dalam buku dengan judul: Republik Indonesia (Kepulauan Sunda Kecil). sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Miguel Covarrubias dalam bukunya berjudul Island of Bali —“Isn’t Bali Spoiled ?”— sebagai kalimat pembukaan dalam pembicaraan Modern Bali and The Future. . baik pada produk masa lalu maupun pada desain produk masa kini. Suatu dinamika baru dan perubahan-perubahan struktural telah terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. ternyata dalam beberapa dekade belakangan ini menjadi suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Seperti. 1937). pada paparan keadaan masyarakat dan kebudayaan Bali yang diterbitkan pada tahun 1953.

bahwa dampak dari peran khas pariwisata Bali membawa pengaruh dan perubahan yang tak terbatas. Akibat dari tindakan tersebut. secara tidak langsung akan terganggunya konvensi yang mendasari objek yang dipilih dan kemungkinan akan terjadi suatu pelunturan nilai. Garuda Wisnu dan sebagainya. terutama bagi generasi pewaris kesepakatan tersebut. karena telah “diduplikasi” untuk dijadikan barang tontonan biasa atau barang komoditi untuk pemenuhan kebutuhan sekuler semata. “deteriorasi”. sekarang ba- . kesimpangsiuran atau pengkaburan makna. Seperti: relief tinggi berupa Bhoma. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu Dampak eklektisme terhadap produk kriya masa lalu sebagai objek pilihan.1. “generalisasi”. “desakralisasi”. tanpa disadari dapat mengurangi rasa penghargaan atau pemahaman spiritual terhadap makna atau nilai yang ditanamkan pada produk kriya yang dianggap sakral tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jean Couteau. Keadaan tersebut tanpa disadari dengan perlahan-lahan dapat mengikis alam pikiran spiritual umat Hindu di Bali dan dapat terjebak dalam kecenderungan efek komersial dari produk tersebut. Secara visual mereka akan semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya yang digunakan untuk sarana upacara ritual di tempat suci dengan produk kriya yang dipakai di tempat yang bersifat profan.

banyak ditiru dengan tidak disertai dengan “sakralisasi” dan dipakai pertunjukan khusus untuk konsumsi para wisatawan. kantor. seperti pada Gambar 38 berikut Gambar 38 Topeng Barong Ket Diterapakan Sebagai Hiasan Boutique Ditinjau dari sudut semiotika. Rangda dan Barong ket. Topeng Barong Ket juga dipakai sebagai penghias ruangan boutique yang dipajang berdampingan dengan busana yang dijual. penerapan elemen estetis tradisional secara eklektis tersebut dapat berdampak terganggunya kestabilan antara tanda dengan .nyak ditiru dan diterapkan sebagai hiasan toko. bahkan sengaja dipentaskan di hotel-hotel untuk menghibur para wisatawan. rumah tinggal dan bangunan umum lainnya.

petanda, karena terjadi suatu “mutilasi” struktur simbol atau lambang dengan konvensi adat yang telah mapan dalam kalangan umat Hindu di Bali. Terbentuk kepingan-kepingan dan perpaduan tanda dengan petanda yang tidak jelas atau “mati”. interpretasi makna menjadi simpangsiur dan terkecoh karena secara visual semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya sakral dengan profan. Seperti senjata nawa sanga, produk kriya tersebut biasanya digunakan sebagai hiasan di pura berupa bandrangan dan sekaligus sebagai simbol kekuatan para Dewa, namun kini sematamata diciptakan sebagai barang cenderamata untuk konsumsi para wisatawan (lihat Gambar 29). Makna konotasinya mengalami perubahan dan mengarah pada nilai komersial. 2. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini Penerapan elemen estetis secara eklektik pada desain masa kini yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali masa kini, dalam upaya untuk menciptakan karya yang bermuatan lokal atau didorong oleh harapan agar dapat menciptakan suasana tradisional Bali. Ternyata usaha tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan permasalahan yang mendasar. Pada desain atau produk kriya yang diciptakan dengan menerapkan elemen estetis tradisonal kadangkadang tampak “janggal”, “tertekan”, “terpaksa”, berlebihan, mubasir dan dari perpaduan tersebut tidak terjalin pertalian makna di antara tanda-tanda atau

simbol-simbol yang diterapkannya. Dikaitkan dengan konsep estitika yang melandasi strategi pembangunan di daerah Bali, seperti telah dipaparkan pada bab pendahuluan, kondisi tersebut jelas kurang relevan, sebab pada produk-produk yang diciptakan sering terlihat kurang selaras, kurang harmonis dan tidak seimbang. Bahkan tak jarang melahirkan karya yang termasuk: pastiche, parody, kitsch, atau camp. Sebagai contoh dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional, berupa relief garuda pada sebuah façade toko sepatu bata seperti Gambar 38 berikut,

Gambar 38 Penerapan Relief Garuda Pada Façade Toko Sepatu Bata

Pada hiasan tersebut tampak elemen estetis berbentuk garuda yang meniru dari bentuk Garuda Wisnu dan penyuguhannya tidak dilengkapi dengan simbol Dewa Wisnu. “Tangan” garuda dibuat menunjuk logo sepatu bata dan posisi penempatan kedua elemen tersebut sejajar secara horisontal. Pada penampilan tanda tersebut tampak suatu fragmen yang terbentuk dari hasil perpaduan dua, yaitu antara simbol dengan logo. Disimak dari permaknaan, maka keduanya sama sekali tidak terdapat pertautan makna. Konsep penciptaan hanya didasari oleh suatu pretensi menciptakan nuansa bagunan tradisional Bali. Bentuk garuda tersebut sebenarnya merupakan produk kriya masa lalu yang khusus diterapkan pada bangunan suci dan mengandung nilai filosofi yang tinggi dan sebagai simbol kekuatan Tuhan. Namun kini dipilih dan diterapkan begitu saja tanpa memikirkan dampak negatif terhadap makna yang dikandungnya. Mereka meminjam makna simbol garuda yang telah mapan dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, hanya sekadar untuk menunjukan logo sepatu bata atau bertujuan untuk membangun imitasi image atau citra rasa palsu (kitsch) dalam usaha membangun keyakinan masyarakat konsumen, bahwa produk sepatu merek bata sudah terpercaya, kuat dan sebagainya, sampai-sampai simbol garuda yang masih diyakini oleh umat Hindu “digambarkan” memberi petunjuk tentang keunggulannya.

Simbol yang bersifat sakral dan terkait dengan ajaran ketuhanan. juga dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional berupa dua patung naga yang mengapit pintu gerbang utama di lantai I di bawah selasar kantor sebuah bank di Denpasar. Pastiche. Naga tersebut sebenarnya merupakan hiasan sekaligus se- . seperti tampak pada Gambar 39. karena dalam penampilannya bersifat mendaurulang bentuk garuda yang merupakan hasil produk kriya masa lalu dan diterapkan begitu saja. Bentuk hiasan tersebut merupakan penggayaan dari bentuk naga hasil produk kriya masa lalu. sebab pemilihan dan penerapannya merupakan suatu “pelesetan” dari makna garuda yang sebenarnya. juga termasuk produk pastiche dan camp.Peniruan dan perpaduan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu produk kriya parodi. Selain hal tersebut. —dikombinasikan dengan tanda atau simbol atau logo lain— dan dimanfaatkan hanya untuk menunjukan merek sepatu. karena merupakan hasil penyusunan elemen-elemen masa lalu yang melahirkan bangun tanda palsu yang berkonotasi negatif. Contoh kasus sejenis lainnya. sehingga terkesan sentimentil terhadap simbol yang masih diyakini oleh umat Hindu di Bali. Sedangkan terkait dengan fenomena camp. kini “dipermainkan”. Narasinya bersifat ironis dan kritis dalam artian mengecilkan makna adiluhung yang terkandung dalam simbol garuda tersebut.

bagai simbol yang diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih di pura. namun pada penerapan tersebut berubah menjadi produk biasa. termotivasi oleh keinginan yang lebih mengutamakan segi artistik dibandingkan substansi atau bobot dari elemen estetis produk kriya masa lalu yang dipilihnya. glamor. dan tidak terbentuk pertalian makna dengan tempat yang diberi hiasan tersebut. Nilai simbolis terkait dengan ajaran kosmologi Hinduistis di Bali dan dianggap sebagai benda sakral. sehingga berkesan berlebihan. seperti pada bangunan suci berupa padmasana (lihat pada Gambar 12) Gambar 39 Penerapan Patung Naga Pada Gerbang Utama Pada Lantai I Di Bawah Selasar Kantor Sebuah Bank di Denpasar Penerapan tersebut. makna atau nilai yang dikandungnya diimitasi dan dibuat-buat atau sama sekali tanpa makna serta menengelamkan . absurd.

objek yang dijadikan sasaran eklektis. Usaha penciptaan penerapan naga tersebut juga disertai dalih untuk menciptakan . Penerapan produk tersebut dapat dimasukan sebagai fenomena-fenomena. karena produk tersebut merupakan penyusunan elemenelemen yang dipinjam dari unsur produk kriya masa lalu dan dalam penerapannya menimbulkan konotasi negatif. Karya tersebut juga dapat digolongkan sebagai camp. Digolongkan sebagai fenomena pastiche. dekorasi atau segi artistik semata. Bangun tanda baru yang dianggap sah dengan petanda yang tidak jelas. Secara semiotik kondisi tersebut tidak mencerminkan hubungan antara penanda dengan petanda dan dengan narasi yang tidak jelas. misalnya untuk kemegahan. seperti: pastiche. kebesaran. seperti merendahkan penghargaan nilai simbolis yang dikandung pada patung naga tersebut. karena dalam penerapan tersebut hanya menitikberatkan pada penggayaan. Usaha tersebut tanpa disadari membawa dampak terjadinya pergeseran dan pelunturan nilai yang dikandungnya serta bersifat ironis kalau ditinjau dari peletakan naga tersebut. karena bentuk tersebut merupakan peniruan dari elemen “seni tinggi” atau high art yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dengan dibarengi tujuan palsu. Sebagai fenomena kitsch. menciptakan suasana tradisional dan sebagainya. disebabkan penenpatannya tidak sesuai dengan ketentuanketentuan yang telah terkonvensi. kitsch maupun camp.

Selama ini tindakan-tindakan tersebut dianggap sebagai sikap atau model pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang berkesinambungan. Entahlah ?. Terimakasih . sebab dalam proses penciptaannya hanya bersifat “mendaurulang”. meramu dan berorientasi pada elemen-elemen yang sudah ada. sebenarnya kurang relevan kalau dikaitkan dengan makna yang dikandungnya. Untuk contoh kasus yang sejenis masih banyak terjadi di masyarakat. Usaha-usaha seperti tersebut secara tidak langsung juga dapat berdampak menghambat kreativitas para kriyawan untuk berkreasi dan berinovasi. Untuk itu. “menduplikasi” atau meniru. bagi para pembaca yang tertarik silakan diabadikan lalu kita bahas dari berbagai perspektif ilmu di lain kesempatan. Mereka dalam proses pengerjaannya hanya mengandalkan keahlian tangan atau virtuosity semata untuk menjadikan “mass product” dan didorong oleh keinginan pemenuhan kebutuhan para pengembang untuk menciptakan suasana dengan citra tradisional Bali. karena tanpa disadari dapat membawa dampak negatif —nilai simbolis yang dikandungnya menjadi sepele dan bahkan tanpa makna— terhadap konvensi yang diyakini oleh umat Hindu di Bali.suasana tradisional Bali.

1981. Couteau. Island of Bali. Buchori. USA: Telos Press. I M. Oxford University Press / PT. Yogyakarta: ISI. Yale University Press. Ariawati. Kuala Lumpur-SingapuraDjakarta Cudamani. Data Bali Membangun.1993. 1990. Covarrubias. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Z. Aji Maya Sandi. Denpasar: Bappeda Tingkat I Bali. Budaya Bali Dalam Pertemuan dengan Budaya Dunia. ____. Jilid: 2. N. Upakara Upacara. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. I B. Cassirer. Singaraja: Percetakan Guna Agung. 1990. (makalah seminar). dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). S. Pengantar Agama Hindu. 1994. Baudrillard. For Critique of The Political of Economy of The Sign. Yogyakarta. Bagus. 1944. I. Aspek Desain dalam Produk Kriya.DAFTAR BACAAN Ardana. Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi. 1992. 1995. Bija. J. M. 1972. Denpasar: Upada Sastra. 1991. An Essay On Man. J. IGN. Transformasi Struktural Masyarakat Bali Dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). M. Jakarta: Hanuman Sakti . E. Indra. 1995. Apakah Upacara Baten Masih Perlu?.

Yogyakarta: Karya Yogyakarta. Indiana University Press. U. Republik Indonesia (Sunda Ketjil). 1976. New York. 1953. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1981/1982. Denpasar: Upada Sastra. Encyclopedia of World Art.Singapore: Periplus Editions. Berkeley . Geriya. Book Company. Kamus BaliIndonesia. 1978. Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Kecil. 1995. W. Signs and Symbols (Their Design and Meaning). Inc. tt. Gelebet. A Theory Of Semiotika.0Freed dan Eiseman. Toronto. Frutiger. Arsitektur Tradisional Bali. “Pariwisata dan Segi Sosial Budaya Masyarakat Bali” dalam Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa (Tjok Sudharta. dkk. CD-ROM 2. Ed. Blomington.L. Lodon: McGraw-Hill. N. Woodcarving of Bali. . West Germany: Weiss Verlag Gmbh. Garis-Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). Encyclopaedia Britannica. Margaret.1989. Gambar. I M. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali. 1979. T. Singaraja: Kementerian Penerangan. Eco. A. Studio Edition. 1988. 1993.1963. Buku Paider-ideran dengan Gambar Dewata Nawa Sanga dan Jimat-Jimatnya.).Dinas Pengajaran Propinsi Bali. Gie.

London: Methuen.1969. Jencks. Jakarta: PT. C. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. I. Joedawinata. N.Ginarsa. Cultural Involution: Tourist Balinese and the Processs of Modernization in . AS. 1990. dkk.(Makalah Seminar Kriya). Denpasar: Kartodirdjo. 1985. Frick. Sarasamušcaya. Kaler. I. 1993. H I. L. Hartoko. The New Classicism in Art and Architecture. K. 1987. P. London. Gambar Lambang. Kayumas. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (terjemahan). New York: The Asia Society Galleries. 1976. Jessup. Manusia dan Seni. Atlas Kebudayaan Bali. Oxford: University Press. Grafitas. D. Kadjeng. Yogyakarta: Kanisius. L. N. A Theory of Parody. Gottschalk. Kean. Hornby. tt. Hutcheon. MC. Sejarah Nasional Indonesia. 1951.1990. Jakarta: Pemeritah Republik Indonesia. Yogyakarta. 1997. Yogyakarta: ISI. 1989. A. fourth edition. Court Art of Indonesia. S. Goris. Krakah Modré Aji Griguh. 1973. 1984. Dkk. Jakarta: Hanuman Sakti. Sejarah dan Pendidikan Kriya di Indonesia. Denpasar: CV. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia 1975. R.

____. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. Bali: Masalah Sosial Baudaya dan Modernisasi. Denpasar: PT.) USA: Anthropology. I B. Denpasar: Universal Press. A. . Mantra. 1994. Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Daerah Bali dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas. Koentjaraningrat. 1971.J. Pengantar Antropologi. Kamus Bahasa Indonesia. 1960: Bali Purbakala (disalin oleh: R. Bali dan Ekspor Hasil Kerajinan. J. H.D. Bernet. 1986. Jakarta:PT. Edisi ke dua. 1-2 Nopember 1988. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. No. 1993. I MK. Desire in Laguage: A Semiotic Approarch to Literature and Art.1979. ____. 1976. ____. Jakarta: Angkasa Baru Kridalaksana. Denpasar: (makalah pada Simlok Penelitian Menyongsong Tinggal landas. Mahabhakti Offset. Brown University Kempers.1988. Jilid: 2. Jakarta: Balai Pustaka Kristeva. Kropak IV. Soekmono).Antropological Perspective (Disertation Ph. Oxford: Basil Blackawell Lontar Bhomantaka. 1995.b. Jakarta: (red) Jambatan. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). Darsana Bali. Penerbitan dan Balai Buku “Ichtiar” Kerepun.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Propinsi bali. 1982/1983. S M. Bandung. IGN. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993/1994. Kamus Bahasa Besar Indonesia. Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia. 1990. Sejarah Bali. Peristiwa Sejarah dan Peristiwa Nostalgia. Jogyakarta: Gajah Mada University Press. Metode Penelitian Bidang Sosial. 1988. Pameran Topeng Tradisional Bali & Jawa Barat (Katalog Pameran). William. Doa Sehari-Hari Menurut Hindu. (dalam Puspanjali. Denpasar: Parisada Hindu Dharma. H. Parisada Hindu Dharma. Bali Dalam Perspektif Sosial Budaya (laporan Seminar. A Šanskrit English Dictionary. I G M. Usada Bali. Upada Sastra. Moeliono. 1990. sebuah Bunga Rampai). 1991. Namawi. 1963. Oxford : The Clarendom Press. Oka. Kayumas. Denpasar: Toko Buku Ria. 1991. 1994. Jakarta: Hanuman Sakti. Ngurah. 1995. Denpasar: PT. Nyoka. R. B. 8 Pebruari 1991) Bandung: Panitia Seminar. 1982/1983. I. . Himpunan Keputusan (SeminarKesatuan Tafsir Terhadap Aspekaspek Agama Hindu. Denpasar: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan. et al. Pemda. Museum Negeri Propensi Bali. Jakarta: Balai Pustaka Monier.Mirsa. Nala. I Bali. Tk. Denpasar: CV. Edisi ke dua.

Pendit. Santog. Wisma “Praja Mukti” Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Denpasar: Upada Sastra. Denpasar: Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Santosa. Balai Pustaka. ____. P. 1988.A. 1990. Sara. Notes on “Camp”. I G. Simpen. 1975.A. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Diretorat Jenderal Kebudayaan. Bagian Inventarisasi dan Pembinaan Nilainilai Budaya. 1994. I B. 1991/1992. Jajahitan Bali serta Fungsinya Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali. Raka.1993. Bhagavad-Gîtã. Bandung: Penerbit Angkasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. S. A. 1992. Pola dasar Kebijaksanaan Pembinaan Kebudayaan Daerah Bali. S. . Serba Neka Wayang Kulit. 1994. Jakarta: Hanuman Sakti. G. W. 1973. 1977/1978. New York: Anchor Books. Putra. N. Derektorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional. Sejarah Pendidikan Daerah Bali. Pindha. (Againts Interpretation). Seputar Weda dan Kebijakan: Jakarta : Manikgeni. Sejarah Wayang Parwa. Konsepsi Monotheisme dalam Agama Hindu. Aspek-aspek Agama Hindu. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Denpasar: Listibya Daerah Bali. G.

S. 1988. 1990. 1991.1992. Soekanto. Bandung: Panitia Pameran KIAS 1990/1991. Arti dan Fungsi Sarana Upakara. Sudartha. R. Seni Rupa Indonesia Dalam Masa Prasejarah. Jakarta: PT. Kayumas. Serba-serbi Semiotika. W. R. I N. Soeka. M. Suku Dayar San. 1985. dimuat dalam Majalah Kebudayaan Indonesia. Jaman Prasejarah Indonesia. 1993. 1986. Sugriwa. Jakarta: Balai Pustaka. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Kayumas. D. I. Jakarta: Gramedia. Ngodalin pada Sanggah Pemrajan. Sp. Denpasar: CV. 1988. G. M. Hakekat dan Makna serta Arti Simbol-simbol) Soedarso. Yogyakarta Soejono. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuna. Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni. Seni Budaya Hindu-Bali. Sudjiman. Soeroso. (Sejarah Nasional Indonesia I). (Upacara-upakara. Committee of Festival of Indonesia. Suasthawa. . Gita Karya. Rajawali. at al. Jakarta: Yayasan Penerbitan Kebudayaan. 1990/1991. 1975. P. ____.Singging. Hubungan Adat Dengan Agama dan Kebudayaan. Kamus sosiologi. Jakarta: CV. Denpasar: CV. tt.Trimurti Tattwa. I G B.P.P. T.

Kanda Pat Dewa. B. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. Agama Hindu (Sebuah Pengantar). B. Denpasar:Toko Buku Ria.1989. I A P. Kayumas. 31 Agustus 1995) ____. 1991. 1980. I G. Denpasar: Upada Sastra Surpha. Burung Merah Putih (dimuat dalam surat kabar Nusa Tenggara. K. Kamis. Transkrip Lontar Šiwa Tattwa.Sura. Prasejarah Bali. Garuda. Architrave Tonjaya. 1991.b. Lintas Asta Kosali. I M. Sutaba. Koleksi Gedong Kertya. Desain dan Merancang: Penjelajahan Suatu Gagasan. I N. Denpasar: Penerbit dan Toko Buku Ria. Denpasar: CV. Kropak IV. Yayasan Purbakala Bali. 1980. Suwondo. I W. Denpasar: Yayasan Panti Asuhan Hindu “Dharma Jati” Tjahjono.1977/1978. 1987. Singaraja. Transkrips Lontar Bhomantaka.U. . G. No. 1995. Eksistensi Desa Adat di Bali. Denpasar: B. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.1982. Pengertian Pura dan Bangunan Suci di Bali. G. Denpasar: Upada Sastra. 1993. ____. I M. Titib. Surayin. Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali. Dewa Yadnya.

Penataan dan Perlembagaan Agama Hindu di Bali. Webster. A.Van Zoest. Semiotika. A. Pengarang. Jakarta: Hanuman Sakti. Adiparwa. . R. Cara Kerja dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya).s Collegiate Dictionary. Widyatmanta. Wojowasito. 1994. 1983. 1958.2010 Kamus Bahasa Indonesia online [cited 2010 Maret 18] Available at: URL: http: //id. (terjemahan).org/wiki/Kerajinan Wiryatmadja. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai) Jilid: 1. Yogyakarta: Penerbit dan Toko Buku “Spring”. USA Wiana. (dimuat dalam Jurnal Kebudayaan Kalam edisi: 2-1994). 1977. Decoding Postmodern Style (Submitted for a Mater Degree in Industrial Design) London: The London Institute Central Sain Martns College of Art and Design ____. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Buku Pelajaran Agama Hindu. P. S. M. Webster. S. IB. Jakarta: Yayasan Sumber Agung. 1981.keping Masa Lalu. 1994. I K. Tamasya di Antara Keping. Jakarta: CV. S. (Tentang Tanda. 1994. Memahami Cerita Rekaan Secara Semiotika. Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. 1995. 1993. Wardana. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Yasraf.wikipedia. Wikipedia . Denpasar: Nusa Data IndoBudaya.

IB.Yudha Triguna. Dalam “Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali (Sebuah Ontologi). H. New York: Haeper Torchbooks The Bolingen Library. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pergeseran dalam Pelaksanaan Agama Menuju Tattwa. Derektorat Pendidikan Menengah Kejuruan. 1983: Seni Kerajinan Indonesia. . Zimmer. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Myth and Symbols in Indian Art and Civilization. Denpasar: Penerbit-BP. Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan. Yudoseputro. 1946. 1994. W. Denpasar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful