DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI SECARA EKLEKTIK PADA DESAIN MASA KINI
berdasarkan perspektif historis dan semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini Berdasarkan Perspektif Historis dan Semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn E-mail: arimbawa @yahoo.com Hak Cipta © 2010 Pada penulis Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara digital maupun mekanis, termasuk memfotocofy, merekam atau dengan system penyimpanan lainnnya, tanpa seizin tertulis dari penulis Desain cover & setiting : Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn 21 x 15 cm Penerbit : Udayana University Press Jimbaran Denpasar Bali Bekerja sama dengan: Intitut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar

ISBN: 978-602-8566-65-0

1 BAB II EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI………………………………………. 97 B..... viii BAB I PENDAHULUAN………………………………..DAFTAR ISI JUDUL………………………………………………… i DAFTAR ISI…………………………………………. 19 B. 52 BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA……………………………………………. Konsep Spiritual Religius……………………. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya….. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu …………….. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali…. 116 2. Kajian Historis…………………………………... 97 A......... 128 1. Pendekatan Historis……………………………........ Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Ele-men Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini……... 128 .……………………………… v PENGANTAR PENULIS……………………………..... 122 BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI ……………………………… 128 A. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali 21 BAB III PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI…………………………………. Konsep Sekular………………………………..... 119 D.......... iii SAMBUTAN . Sejarah Penerapan Produk Kriya……………. 28 B. 28 A.... 115 1.. Pengertian Eklektik……………………………. 19 A.. Pendekatan Semiotis…………………………… 100 C..

2. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu………………………….. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini…………………………………..... 148 B...... 157 1....... Kajian Semiotis……………………………….. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini……. 159 2..... 161 DAFTAR BACAAN 168 ..

BAB I

PENDAHULUAN

etelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950, perkembangan pariwisata di Bali kembali mengalami kebangkitan dan hingga sekarang menjadi pusat pengembangan industri pariwisata di kawasan tengah Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut, pengaruh pariwisata sangat dirasakan oleh masyarakat di Bali. Di satu sisi banyak prestasi gemilang yang telah diraih dan secara tidak langsung dapat membawa kehidupan masyarakat di Bali menjadi lebih baik, namun di sisi lain pengaruh tersebut tidak dapat dielakkan lagi menimbulkan dampak negatif dan menjadi masalah terhadap kelestarian kebudayaan Bali. Nilai-nilai tradisional banyak menjadi tidak eksis dan bahkan menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antar manusia sebagai konsekuensi logis adanya aktivitas pariwisata. Hubungan sosial antar manusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi dan kepentingan. Budaya kolektif berubah menjadi individual. Menurut Geriya (1993), bahwa dampak pariwisata khususnya dalam konteks sosial budaya ditandai dengan adanya beberapa indicator sebagai berikut.

S

1. Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan terkonsentrasi di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut. 2. Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. 3. Meningkatnya mobilitas penduduk dalam bekerja. 4. Mundurnya aktivitas gotong royong. 5. Berkembangnya konflik antargenerasi, khususnya generasi tua dan generasi muda. 6. Terjadinya gejala social defiance yang meliputi kejahatan, narkotika, maupun penyakit kelamin. 7. Terjadi komersialisasi kebudayaan dan hasilnya. Mengenai indikator pada poin ketujuh merupakan salah satunya masalah terkait dengan eksistensi kehidupan kebudayaan tradisional Bali. Hasil kebudayaan unggul (height culture) hendaknya diposisikan sebagai basis kreativitas yang kaya inspirasi, kokoh identitas, kuat modal budaya yang mengkonstruksi, mengintegrasi dan menyeimbangkan, sehingga tidak tergerus oleh mekanisme komersialisasi dan komoditisasi. Antara kebudayaan tradisional Bali dan penciptaan desain produk masa kini agar terjaga pola hubungan sinergis, komplementer yang simetris dan saling meningkatkan. Hal tersebut menjadi penting, mengingat hasil kebudayaan unggul memiliki karakteristik sebagai ber-

ikut: (1) mengedepankan kualitas, sehingga diagungkan dan dimuliakan (adhiluhung); (2) menjadi sumber inspirasi atau spirit dan kreasi oleh mayoritas populasi dan perajin; (4) memiliki sifat khas, lentur dan adaptif dengan roh budaya; (5) mengandung sari-sari budaya dan peradaban, seperti etika, estetika, logika, solidaritas, spiritualitas dan aneka kearifan lokal. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Mantra (1988) bahwa kebudayaan Bali dalam perkembangannya berfungsi secara “normatif” dan “operasional”. Berfungsi normatif, karena terkait dengan adat-agama Hindu di Bali, maka peranan kebudayaan Bali diharapkan mampu dan berpotensi memberikan pegangan dasar dan pola pengendalian, sehingga ketahanan dan kelestarian budaya dapat diwujudkan. Berfungsi operasional, karena kebudayaan Bali diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi peningkatan kualitas kepariwisataan di Bali. Upaya mewujudkan ketahanan dan kelestarian kekayaan budaya serta alam Bali, maka pada beberapa dasawarsa silam, pemerintah daerah Tingkat I Bali dalam melaksanakan pembangunan yang mencakup berbagai sektor dirumuskan peraturan-peraturan daerah yang diarahkan pada pembangunan dengan pola budaya Bali, berwawasan lingkungan dan dilandasi dengan konsep adati-Hinduisme, seperti: 1. Rwa Bhineda, yaitu dua hal yang berbeda terdapat di dunia ini. Bagi orang Bali perbedaan tersebut tidak harus dipertentangkan, melainkan

selaras dan seimbang). kebolehan dan kemampuan sebenarnya sangat sulit untuk menentukan batas absolut dua hal tersebut. seperti suka dan duka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. nyata atau tidak nyata (sekala atau niskala). sehingga segala makhluk tidak luput dari ikatan suka maupun duka (Kadjeng. prãptavyamavašaih sarva parihãro na vidyate. sesuai dengan yang termaktub dalam Kitab Sarasamušcaya.diharmoniskan (serasi. Konsep tersebut memberi kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan tidak luput dari belenggu dikotomi yang bersifat kodrati. seperti: baik atau buruk. seloka: 498. Hal tersebut. pria atau wanita. yaitu sebagai berikut: sukha vã yadi vã duhkham bhûtãnãm paryupasthitam. maka dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. merupakan kekuasaan Sang Hyang Widhi Waša atau Tuhan. dan sakral atau profan.) Sebagai manusia dengan berbagai keterbatasan. Oleh sebab itu. Artinya: dua hal yang berbeda. dituntut bijak. 1993. siang atau malam. yaitu kemampuan untuk menimbang konsekuensi baik atau buruk yang akan berpengaruh pada manusia dan lingkungan. menghidarkan tindakan yang arogan dan harus berdasarkan nalar atau wiweka. .

kãma dan moksa. Artha. memelihara dan melestarikan. sesuai dengan pen- . menuntun. memangku. dorongan nafsu atau keinginan yang bersifat duniawi. moksa adalah merupakan tujuan hidup yang tertinggi. berasal dari Bahasa Šanskerta. karena merupakan kebahagian sejati. sebab dengan perbuatan yang dilandasi dengan dharma. Kãma. ‘Muc’ yang berarti membebaskan atau melepaskan ikatan duniawi. ‘dhir. rasa bersahabat. artha. Perkataan dharma. Catur Purusha Artha. artinya benda atau sarana yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sedangkan dharma adalah tujuan terpenting.2. berarti naluri. Sedangkan perkataan Moksa. mengatur. artinya empat tujuan hidup sebagai dasar kehidupan sosial. maka tuntutan akan artha dan kãma dapat dikendalikan. adil. Hal tersebut. Keempat bagian tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh. moksartham jagadithya ca iti dharma.’ yang berarti: menjunjung. artinya tujuan dharma adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani yang selaras dan seimbang. yaitu terdiri dari: dharma. berasal dari bahasa Šanskerta. Dari keempat tujuan hidup tersebut.

Desa Kala Patra. nahi dharmmãdapetyãrthah kãmo vapi kadãcana. Dalam usaha memenuhi tuntutan artha dan kãma. Hal tersebut merupakan suatu penafsiran atau fatwa agar manusia senantiasa memelihara dan melestarikan alam semesta yang mencakup bhuana agung (makrokosmos) serta bhuana alit (mikrokosmos). nantinya tak disangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kãma. bila artha dan kãma tesebut diperoleh dengan perbutan yang menyimpang dari dharma (Kadjeng.1993. yaitu sebagai berikut: Kamãrthau lipsamnastu dharmmamevãditašsaret. Artinya: jika menuntut artha dan kãma dalam hidup ini. untuk mencapai jagaddhita atau kebahagian dan kesejahteraan hidup. merupakan tiga ukuran yang dapat dipakai seba- . Tidak ada artinya.) Konsep tersebut merupakan panduan absolut bagi manusia untuk membina keseimbangan dan keselarasan antara alam sekala dan niskala. adalah bagian dari Tri Pramana dalam lingkup perilaku manusia. seloka: 12. hendaknya mengutamakan dharma.jelasan dalam Kitab Sarasamušcaya. hendaknya manusia mengendalikan diri dan lebih mengutamakan perbuatan dharma. 3.

Dua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik dan marupakan “hukum” dan telah dipercayai umat Hindu di Bali. kenyamanan. Desa dalam konteks perilaku manusia merupakan pedoman berdasarkan tempat atau lingkungan di mana perbuatan tersebut dilakukan. keputusan atau kebijakan yang akan diberlakukan dalam masyarakat. tempat atau lingkungan dan keadaan atau peraturan yang telah berlaku. sehingga tercipta kesatuan pandang dan keadaan yang mengarah pada kedamaian. khususnya dalam mengambil sikap. Konsep tersebut memberikan landasan ideal yang luwes atau fleksibel. yaitu terdiri dari kata Karma yang artinya perbuatan dan Phala artinya buah atau hasil. Karma Phala. bahwa semua perbuatan manusia pasti akan memperoleh hasil yang setimpal (inter- . Jadi Karma Phala mengandung arti: hasil dari perbuatan. 4. Sedangkan Patra merupakan pedoman berdasarkan “keadaan” atau peraturan tertulis yang berlaku. peraturan. Kala merupakan pedoman berdasarkan waktu perbuatan atau aktivitas tersebut dilakukan. Manusia hendaknya mampu menyesuaikan dengan waktu. kesejahteraan umat manusia dan kelestarian lingkungan.gai pedoman untuk menilai kenyataan Rwa Bhineda.

aksi yang seimbang). Hukum tersebut mengatur keterpaduan. Dalam Kitab Reg Veda VII. Jadi. baik di dunia nyata (sekala) maupun di akhirat (nis-kala). hukum Rtã selain sebagai hukum perbuatan serta hukum moral. juga sebagai hukum jagat raya. keseimbangan dan menghindari kekacauan alam semesta. Konsep yang dilandasi Karma Phala. Dewa yang tersuci penegak hukum keabadian yang memiliki kekuatan suci. memberi pendirian terhadap hukum kausalitas yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini. hukum tersebut dikenal dengan perkataan Rtã dan dijelaskan sebagai berikut: Tã vãm vivaya gopã Deva dikesu yajñiyã rtãvãnã yajase putadaksasã. 25. baik antar sesama sebagai sum- . sebaliknya perbuatan buruk akan memperoleh hasil yang buruk. konsep tersebut melandasi sikap antisipatif. 1. Artinya: Kami memuja engkau yang menjaga alam semesta. Hukum Karma dikenal pula sebagai hukum alam atau kausalitas dan tak seorang pun luput dari hukum tersebut. Menanamkan kepercayaan bahwa. pengendalian atau restraint dan pembinaan moral dalam segala perilaku manusia sehari-hari. Jadi. perbuatan baik selalu akan mendatangkan hasil yang baik.

artinya manusia hendaknya selalu sujud kehadapan-Nya atas segala rahmat dan karunia-Nya. 5. Esensi dari konsep tersebut merupakan sinergisme yang meliputi pembinaan hubungan yang harmonis. (3) Pola hubungan manusia dengan manusia disebut dengan Pawongan. kesejahteraan atau kemakmuran. (2) Pola hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya disebut Palemahan. Membatasi eksplorasi dan ekploitasi alam. artinya manusia hendaknya selalu merawat dirinya sendiri dan menjaga. sehingga tercipta kehidupan yang sehimbang. Tri Hita Karana. baik secara vertikal maupun horizontal. artinya manusia dalam kehidupanya hendaknya selalu dapat menjalin rasa persahabatan . ‘Hita’ berarti sejahtera. Terdiri dari: Parhyangan. Perkataan tersebut terdiri dari kata ‘Tri’ berarti tiga. maupun dalam memperdayakan sumber daya alam. memelihara kelestarian alam disekitarnya.ber daya manusia. Palemahan dan Pawongan. selamat atau kemakmuran dan ‘Karana’ berarti penyebab. yaitu: (1) Pola hubungan manusia dengan Tuhan disebut Parhyangan. selamat dan sejahtera. Secara keseluruhan Tri Hita Karana mengandung pengertian: tiga penyebab terciptanya keselamatan.

Etos Kerja dan Jengah atau semangat kerja. berarti: (1) nilai-nilai dan ide-ide suatu kebudayaan. Secara harfiah terdiri dari kata: Tãt artinya “itu”. Kalau ditambah dengan kerja. Pengertian “itu” termasuk “aku” dimaksudkan diri sendiri dan alam semesta beserta isinya. 1994) Demikian juga secara Sosiologi. kata jengah berkonotasi sebagai . (2) karakter umum suatu pekerjaan (Soekanto. 1985) Sedangkan jengah dalam Bahasa Bali berarti: semangat juang. bahwa perkataan etos yang terkait dengan kebudayaan berarti: sifat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. 6. nilai dan adat-istiadat yang khas serta memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial di masyarakat. Dalam konteks seni Budaya Bali.yang didasari dengan saling pengertian dan Tãt Twãm Ãsi. berarti semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Jadi secara keseluruhan berarti “itu adalah kamu”. terutama dalam menciptakan produk-produk seni bermutu tinggi. Twãm artinya “kamu” dan Ãsi artinya “adalah”. Jika menyakiti orang lain secara implisit berarti menyakiti diri sendiri.

1993) Dari pengertian etos kerja tersebut. adalah semangat kerja yang dilandasi dengan gotong royong serta berbakti dengan cara yang tulus iklas atau ngayah kepada Tuhan berserta ciptaannya. Bagi orang Bali keindahan. baik keindahan alam maupun keindahan hasil olah cita. maka sifat khas atau semangat kerja yang dimiliki masyarakat dalam lingkungan adat Bali. dinamis dan kebersamaan dalam pembangunan disegala sektor.“semangat bersaing” atau competitive pride (Mantra. Tetapi kedua hal tersebut perlu diarahkan. sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian serta dalam mengeksploitasi sumber daya alam akan dapat diharapkan terwujudnya kelestarian. rasa dan karsa manusia yang muncul akibat perpaduan antara keserasian keselarasan dan keseimbangan dalam suatu pro- . Sedangkan dalam perkata jengah secara implisit tersirat sifat dinamis dan merupakan pangkal dari segala dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat di Bali. Konsep tersebut merupakan landasan dari kerja keras. yaitu dalam bentuk pengorbanan suci atau Yajña. diakomodasikan dan dikendalikan dengan konsep tersebut sebelumnya. Estetika. 7.

dan menghargai keindahan. Dengan pandangan tersebut. maka pengertian indah akan menyiratkan nilai kejujuran dan kebaikan.duk seni atau desain adalah merupaka karunia Tuhan. Pandangan tersebut sesuai dengan yang dijelaskan Gie (1976) bahwa keindahan dalam arti luas mencakup pula ide kebaikan (mengacu pada pengertian bangsa Yunani kuno. kejujuran dan kebenaran. Oleh sebab itu. sebagai rasa terimakasih. maka dalam setiap kegiatan adat-agama Hindu di Bali. seperti Plato menyebut ‘watak indah’ atau ‘hukum indah’ dalam konteks tersebut. karena . maupun pada produk seni atau produk kriya tradisional yang adiluhung. Sehingga dengan melakukan persembahan keindahan berarti berbuat yajña. karena bagi umat Hindu di Bali dipercayai bahwa dalam keindahan tersirat nilai-nilai kebaikan. Konsep tersebut juga merupakan pedoman bagi generasi penerus dalam menghayati menikmati. keindahan merupakan hal pokok yang harus diperhitungkan. seni dengan keindahan hendaknya dipersembahkan kembali kepada-Nya dalam produk seni ataui desain berbentuk simbol-simbol atau nyasa. baik terlihat di alam sebagai ciptaan-Nya yang agung.

taksu juga mempunyai arti sebagai kreativitas murni. Taksu. 8. merupakan personal asset atau inner power yaitu kekuatan dari dalam diri seseorang sebagai fitrah yang memberikan kecerdasan. yang memberi kekuatan spiritual kepada seorang seniman untuk mengungkap dirinya menjadi “lebih besar” dari kehidupan sebelumnya (Mantra.di dalamnya tersirat nilai-nilai luhur. keserasian. Seorang seniman tari dapat dikatakan memiliki taksu. baik dengan Tuhan. sehingga dapat tampil sebagai jati diri yang mandiri. sehingga tetap tercipta “keindahan”. apabila mampu merefleksikan inner power pada produk visualnya. Mengajarkan manusia agar berbuat dengan mengarah pada keselarasan. apabila ia mampu mentransformasikan dirinya secara utuh sesuai dengan peran yang ditampilkan. Dalam kaitannya dengan pelbagai aktivitas budaya Bali. 1993) Konsep tersebut menuntun kesadaran manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. dan keseimbangan. genuine creativity. Seorang perupa dikatakan produknya ber-taksu. sehingga berkesan “hidup” . sebab setiap insan memiliki taksu sebagai anugrah Tuhan yang perlu dilatih dan dikembangkan. sesama mahkluk maupun dengan alam di sekelilingnya. keindahan dan mujizat.

yaitu jenis kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu sebagai potensi daerah yang paling dominan. kadang dapat menjadi bumerang. Taksu yang dimiliki akan berubah menjadi “kelemahan”. perlu juga ditopang atau dikendalikan oleh konsep-konsep lainnya yang telah dipaparkan. Karena sikap tersebut.dan sebagainya. Konsep pariwisata budaya diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan kebudayaan masyarakat Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. sela- . Namun dalam mensosialisasikan kesadaran tersebut. Demikian juga pengembangan pariwisata di daerah Bali. sehingga tidak terjadi penampilan yang terlalu berlebihan. Dalam konsep tersebut secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. “over acting”. atau jangan sampai melewati batas norma-norma yang berlaku. secara yuridis berdasarkan Perda Nomor 3 tahun 1974 juncto Perda Nomor 3 tahun 1991 yang menetapkan bahwa konsep pengembangan pariwisata di Bali adalah berbasis budaya Bali.

ras. Diupaya agar meminimalkan timbulnya dampak negatif terhadap kelestarian seni budaya Bali. Karang Bhoma yang sebenarnya merupakan ragam hias pada bangunan-bangunan suci. karena dalam pengerjaannya tidak mengacu pada referensi kesepakatan yang dibuat . Walaupun sedemikian luhurnya maksud dan tujuan konsep yang melandasi strategi pembangunan di Bali. namun kini banyak tampak diterapkan pada desain produkproduk profan atau tempat-tempat yang tidak sesuai. dan seimbang. Produk yang dibuat tersebut kadang-kadang menampakan “kejanggalan”. isi (content) atau bobot. Kalau dikaji dari sudut kesejarahan dan semiotika. seperti fenomena eklektik atau “pemilihan” bentuk-bentuk atau ragam hias tradisional Bali yang sebenarnya dirancang dengan bentuk. maka fenomena tersebut merupakan suatu pergeseran makna dan dapat berakibat terjadinya “desakralisasi”. sekarang banyak terlihat diterapkan sebagai elemen estetis pada hotel. rumah tinggal dan bahkan sebagai hiasan pada bagian tubuh dengan di-tatto. Misalnya. perkantoran. pengkaburan makna dan berkonotasi negatif. Sebagai salah satu contoh yang dapat dijumpai dalam dasawarsa belakangan ini. dan nilai-nilai estetika yang khusus untuk diterapkan pada sarana pemujaan dan dianggap mengandung nilai simbolis dan sakral. narasi. Namun pada kenyataannya tak jarang ditemukan juga “ketidaktaatan” dalam operasionalnya.

Mereka memilih dan menerapkannya pada produk atau tempat yang bersifat profan dengan tendensi lebih mengutamakan segi pemampilan “artistik” semata. Penerapannya sematamata berorientasi pada faktor estetis dan komersial. Produk yang tergolong high art sebagai hasil kebu- . Jelas tidakan tersebut tidak relevan dan merupakan suatu sikap “ketidaktaatan.oleh leluhurnya di masa lalu dan nilai-nilainya masih eksis pada masyarakat Hindu di Bali. Jika ditinjau kembali dengan merujuk konsep estetika yang mendasari strategi pembangunan di daerah Bali. Dalam penerapan elemen estetis tradisional pada desain masa kini. Namun jika ditinjau dari sudut visualnya sebenarnya implementasi tersebut tidak sesuai dan dapat berdampak buruk. Menyikapi kondisi tersebut dalam masyarakat Bali terjadi polarisasi pandangan. baik terhadap produk yang dipilih dan demikian juga terhadap desain yang diberi elemen estetis produk kriya tradisional yang sarat makna religius. mereka kadang-kadang tidak mempersoalkan masalah eksistensi makna dan nilainilai filosofi yang dikandungnya. di lain pihak ada yang memandang sebagai sesuatu yang baku dan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang keliru. sementara ada yang berpendapat bahwa hal tersebut “sah-sah” saja tergantung pada proses pengerjaannya. tanpa peduli akan terjadi pelunturan nilai-nilai filosofi. terutama yang terkait dengan nilai-nilai simbolis religius yang dikandungnya.

Sikap seperti tersebut tanpa disadari dapat mengancam spirit dan kelestarian budaya Bali yang dibanggakan dan dijadikan sebagai daya tarik utama dalam pengembangan kepariwisataan di Bali Dari uraian tersebut dapat diketahui.dayaan tinggi atau high culture yang adiluhung. menjadi kehilangan ‘jiwa’ kesuciannya atau menjadi suatu produk yang lumrah. khususnya dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan elemen estetis produk kriya tradisional. bahwa “masyarakat Bali” dalam mengaplikasikan konsep-konsep adati Hinduisme yang kini dijadikan sebagai landasan strategi pembangunan di daerah Bali. secara umum dapat digambarkan dalam suatu sekematik hubungan hirarki atau taksonomi pandangan tentang dunia (weltanschaúung) manusia Bali seperti Gambar 1 berikut: .

CITRA TRADISIONAL PENUNJANG KEPARIWISATAAN DI BALI Gambar 1: Taksonomi Pandangan Dunia Manusia Bali .NISKALA ASUMSI DASAR THEOLOGICAL CONCEPT KARMA PHALA RWA BHINEDA SIO NAL (HIDUP DI B U ER A MI) OP FORMITAS TOTAL KON CATUR PURUSHA ARTHA KEINDAHAN ("RASA") TAKSU TRI HITA KARANA DESA PATRA KALA JENGAH ETOS KERJA SKALA ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYATRADISIONAL MASA LALU DI BALI EXTERNAL (SUB SISTEM) PENGARUH -PARIWISATA -MODERNISASI /TEKNOLOGI DESAIN MASA KINI BERSIFAT KOMERSIAL: .

(1994). 1983. Pengertian Eklektik erkataan eklektik dalam bahasa Yunani disebut eklektikos.EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. 1989). eklegein berarti:1) memilih yang dipandang terbaik dari berbagai doktrin.) Dalam filosofi dan teologi.1995). atau gaya. dan dalam Moeliono. 2) mengkomposisikan beberapa elemen yang diambil dari berbagai sumber (Webster. perkataan eklektik mengandung pengertian. baik berupa orang. kepercayaan dan sebagainya (Hornby. eklektik merupakan praktek memilih doktrin dari beberapa sistem yang berbeda tanpa memakai keseluruhan sistem yang lama untuk masing-masing doktrin. metode. sistem. suatu usaha bersifat BAB II P . Berbeda dengan sinkretisme —merupakan suatu usaha untuk menyerasikan. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary. perpaduan atau mengkombinasikan beberapa sistem— karena masih meninggalkan kontradiksi yang belum dihilangkan (Encyclopaedia Britannica . Perancis. diartikan bahwa eklektik sebagai usaha memilih atau menggunakan bermacam-macam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya. et al.

Misalnya. Justru dengan perpaduan berbagai macam gaya akan melahirkan satu nuansa baru yang jelas berbeda dengan gaya-gaya sebelumnya. seperti elemen-elemen estetika tradisional) agar dapat berkomunikasi dengan publik dan . bahwa eklektik tidaklah selalu menghasilkan sesuatu yang bersifat “merusak” norma-norma masa lampau akan tetapi dapat juga berarti sebagai bentuk “penghargaan” atau produk “nostalgia”. Dalam seni dan desain. istilah eklektik dikenal sebagai upaya untuk mencampur atau meramu beberapa gaya yang berasal dari berbagai sumber dalam satu produk. Hal tersebut juga sesuai dengan konsep Charles Jencks yang menggunakan pengkodean ganda atau double coding dan eklektik digunakan untuk menerangkan hakekat produk post modernisme. Dari uraian tersebut. Meski terkesan tidak memiliki prinsip. gaya atau metode. memadukan gaya modern dan tradisional. namun gaya eklektik merupakan olah image dari perpaduan berbagai gaya. eklektik lebih merujuk pada perpaduan antara beberapa gaya yang saling bertolakbelakang. Bahkan pada perkembangannya dalam seni dan desain. sebenarnya eklektik tidak memiliki prinsip khusus dalam kreativitasnya.memilih yang terbaik dari berbagai sumber tentang: orang. Jadi. Dalam hal tersebut ia mendefinisikan postmodern sebagai” kombinasi teknik-teknik modern dengan sesuatu yang lain. maka dapat dipahami. namun bukan berarti eklektik tidak unik.

maka dalam pembahasan selanjutnya mengenai masalah penerapan elemen produk kriya tradisional secara eklektik pada desain masa kini. mengingat unsur-unsur produk kriya masa lalu yang “dipilih” terkait dengan sarana penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu sesuai dengan adat di Bali dan nilainilainya masih diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. akan dicoba mengkaji mengenai dampak “negatif” yang ditimbulkan akibat eklektisme yang kurang terkendali. Perkembangan yang menampilkan multivariousness. B.1987). Dalam Kamus Bahasa Kawi Indonesia dijelaskan.minoritas yang terkait” (Jencks. 1977) dan menurut Moeliono. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Kata kriya atau kria berasal dari bahasa Sansekerta “kr” yang berarti ‘mengerjakan’. dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya. Hal tersebut. et al (1994) dijelaskan. kriya dan kerja dalam bahasa Jawa disebut pekaryaan yang berarti pekerjaan dan pengertian tersebut mengacu kepada hasil suatu pekerjaan yang disebut ‘karya’. kembalinya nilainilai tradisional dan juga reaksinya yang justru menekankan bentuk-bentuk baru yang radikal dan menentang seluruh ekspresi kesenian yang dianggap ideal dalam bingkai high art Berdasarkan pada pengertian tersebut. bahwa per- . bahwa kriya berarti pekerjaan atau perbuatan (Wojowasito.

Pengertian kriya sering diselaraskan pengertian handicrafts. Atas dasar hal tersebut. namun sepanjang proses pembuatannya si pembuat atau kriyawan sepenuhnya dapat menguasai seluruh tahap produksi. bahkan untuk tujuantujuan tertentu dapat diciptakan peralatan khusus. Menurut Soedarso (1988) kriya adalah cabang seni rupa yang mengutamakan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi. Dalam Encyclopedia of World Art (1963) didefinisikan sebagai berikut: The word “handicrafts” refers to useful or decorative objects made by hand or with tool by workman who has direct control over the product during all stages of production. maka cakupan kriya memiliki fleksibilitas yang . Pengerjaannya bisa saja menggunakan bantuan peralatan kerja. Sehingga kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan yang memungkinkan melahirkan nilai seni terapan atau dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini. Istilah tersebut dipergunakan untuk menyebut suatu cabang seni yang mengutamakan keterampilan yang luar biasa (virtousity) menggunakan tangan. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek yang bernilai seni dan miliki nilai estetis.kataan kriya berarti pekerjaan tangan. Pengertian kriya juga sering dipadankan dengan istilah craft yang mengandung pengertian suatu keahlian atau keterampilan yang menghasilkan benda.

Sedangkan pada masyarakat umumnya kriya sering disebut sebagai “seni rakyat”. Hal tersebut membawa cara penilaian atau assessment estetika produk kriya tergantung dari wawasan atau persepektif ilmu yang dipergunakan untuk mendekatinya. bahwa pengertian kriya. bisa memiliki ciri khas atau identitas. karena sumberdaya manusia pelaku kegiatan tersebut umumnya rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan atau konsisten berbasis pada estetika tradisional. Jadi orientasi penciptaan produk mencerminkan kecenderungan-kecenderungan kepada salah satu dari kedua hal tersebut atau terkadang dapat merupakan perpaduan seni dan desain. Berdasarkan beberapa definisi dan ulasan tersebut. handicrafts atau craft adalah: 1. Hal tersebut ada benarnya. bisa berada pada domain seni murni atau seni pakai atau seni terapan atau desain.tinggi. maka dapat disimpulkan. Bersifat dekoratif atau secara visual dibuat sangat indah dan dalam perujudannya dapat berupa produk seni murni atau seni terapan atau desain yang memiliki fungsi guna atau utility. Kriya juga disebut “industri rumah-tangga” atau home industry yang memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan . Sesuatu yang dibuat dengan kecenderungan lebih banyak melibatkan kemampuan atau keahlian tangan kriyawan atau virtousity 2.

Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. seperti: kerajinan logam. sehingga sebutan jenis kerajinan dikaitkan dengan medium yang digunakan. batik dan sebagainya. maka dapat dipahami bahwa antara kriya dengan kerajinan memiliki kesamaan ditinjau dari proses pengerjaannya dan pencapaian hasil. didalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skil yang tinggi craftmenship. Berdasarkan pengertian tersebut. Selain hal tersebut seni kriya juga sering didekatkan dengan istilah “kerajinan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata. Namun antara seni kriya dan kerajinan secara prinsip terdapat perbedaan. juga berarti industri kecil small scale industry yang membuat barang-barang sederhana dan bisa menggunakan unsur seni. kulit. Menurut Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan bahwa kerajinan adalah proses produksi melalui keterampilan tangan. yaitu samasama menggunakan keterampilan tangan dalam proses pengerjaannya dan benda yang dihasilkan dapat berupa produk seni atau produk pakai yang mengutamakan kegunaan atau utility.peralatan sederhana. Produk yang dihasilkan dapat berupa hiasan atau benda seni maupun barang pakai (Wikipedia. 2010). Selain hal tersebut. Karya kriya me- .

Dalam Konsep tersebut termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual. para kriyawan menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. filosofis dan sekaligus fungsional. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam. pikiran. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan. Kerajinan suatu hal yang rajin. di dalamnya terkandung muatan-muatan atau nilai estetik. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsur seni. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. komologis.karakteristik. solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas dan mencerminkan jiwa zaman lampau. religius. serta magis. Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat. angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. simbolis. kegiatan. Sebab pada masa lampau. kegetolan. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product).rupakan karya yang memiliki keunikan. yang kemudian disebut seni kerajinan .

Namun. di sisi lain. Perkembangan karya menampilkan multivariousness. Dalam kreativitas penciptaan karya kriya. sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa kriya seni. Sekarang jamannya permainan tanda-tanda budaya glo- . dan subject-matter dalam seni rupa sudah benar-benar campuraduk. Sebutan "kriya kontemporer" (yang merupakan padan kata dari contemporary craft) sendiri sebenarnya mengandung paradoks karena di satu sisi ia menempatkan dirinya pada suatu kategori "kriya" (craft) yang berseberangan atau setidaknya terpisah dari "seni" (art). teknik. Selain hal tersebut juga terjadi reproduksi karya masa lalu yang diwarisinya dengan tujuan untuk menampilkan karya kriya etnis. Menurut Julian Stallabrass dalam "Contemporary Art" mengatakan bahwa sekarang ini bermacam-macam bentuk. di mana pembedaan kategori dianggap tidak berlaku lagi. Kecenderungan saat ini mengusung pemahaman bahwa media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. terjadi gejala mempertontonkan identitas invidual. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang membuat seni kriya mengikuti nazab seni yang sedang berkembang. sebutan kontemporer seolah mengacu pada paradigma seni masa kini yang dilandasi pandangan postmodernisme. seperti karya kriya kontemporer.Dewasa ini penciptaan produk kriya di satu sisi mengarah pada estetika plural.

maka parameter pengukur nilai estetika produk kriya adalah uang. simbolik. filosofis. Untuk lebih jelasnya nilainilai yang dikandung dalam produk kriya dapat ditelusuri dari perkembangan penciptaan produk kriya. maka yang dimaksud dengan elemen estetis produk kriya tradisional Bali adalah mengenai unsur-unsur atau bagian-bagian yang mengandung nilai-nilai estetik. Bertolak dari uraian tersebut. . kosmologis. Produk seni kriya dapat mengambil posisi strategis di tengah mengeliatnya isu seni rupa kontemporer dan pasar seni rendah dengan kuantitas massal. dan sakral. Seperti diuraikan pada BAB III berikut. adiluhung dan terkait erat dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. produk kriya diciptakan mengarah pada “komersialisasi” produk dan dianggap sebagai barang komuditi yang memiliki milai ekonomis. budaya modern dan budaya masa kini. merupakan hasil pekerjaan tangan para kriyawan secara konvensional.bal yang melingkupi budaya tradisi. bersifat tradisional. Dalam kaitan tersebut. Estetika menjadi praktik normatif dalam menciptakan unique selling point.

karena keterbatasan referensi dan data berupa artifak-artifak yang ada.PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI A. Museum Gedung Arca. BAB III P Sehubungan dengan hal tersebut. Bedulu. Sejarah Penerapan Produk Kriya emaparan produk kriya di Bali secara hitoris mengenai awal penciptaan dan penggunaan-nya dalam kehidupan masyarakat di Bali adalah merupakan hal yang sangat sulit diungkap secara tuntas. dinamika dan perubahan lingkungan budaya internal maupun eksternal. akurat dan tuntas. Gianyar dan didukung dengan beberapa buku yang terkait. Penggunaan dan penciptaan produk kriya tradisional Bali dewasa ini adalah merupakan bagian dari mata-rantai sejarah perkembangan kebudayaan Bali sejak berabad-abad yang silam. maka dalam penelusuran perkembangan dan motivasi penciptaan produk kriya dalam masyarakat Hindu di Bali. Denpasar. seperti tingkat peradaban. Namun berdasarkan benda etnologi yang tersimpan di Museum Bali. tidaklah mungkin dapat dipaparkan secara kronologis. Tingkat perkembangannya ditentukan oleh berbagai faktor. maka secara sinkronis atau berdasarkan penggalan sejarah dapat ditelusuri sebagai berikut: .

kejadian gunung berapi. berpindah-pindah. memohon keselamatan dan memuja atau percaya dengan kekuatan alam. Zaman Pra-Hindu. Pulau Bali —seperti halnya beberapa pulau lain di Nusantara— dihuni oleh penduduk yang tergolong ras Negrito yang mengusung kebudayaan Paleolitikum (Koentjaraningrat. seperti berupa kapak batu yang tergo- . sebagai pemburu dan peramu. tulang binatang. tanduk dan batu yang dikerjakan dengan cara sangat sederhana. membuat mereka harus waspada dan seolah-olah selalu dibayangi oleh perasaan takut. Kejadian-kejadian tersebut. Seperti terjadinya kelahiran. gangguan binatang buas. petir. 1971). tanah longsor. Dalam terminologi antropologi disebut dengan kepercayaa animisme dan dinamisme. mengembara. Pola pikirnya masih terbatas pada tingkat pemenuhan kebutuhan hidup berupa makanan dan belajar secara alamiah dari gejala-gejala atau kejadian-kejadian alam yang pernah dialaminya. angin. Sebelum kedatangan gelombang migrasi bangsabangsa pendukung kebudayaan Neolitikum dan Perunggu dari dataran Asia Tenggara. hujan. Dalam melakukan aktivitas hidupnya didukung dengan peralatan kerja berupa produk kriya terbuat dari ranting kayu. penduduk yang menghuni pulau Bali masih hidup dengan pola nomaden. timbulnya api. dan sebagainya. sehingga hasil produk yang ditinggalkan tampak relatif masih kasar. kematian. Pada saat tersebut.1.

long jenis kapak perimbas. Badung ditemukan beberapa buah sudip dan tiga buah alat tusuk terbuat dengan tulang binatang atau tanduk rusa dan di daerah lainnya. seperti: di daerah Sembiran. kapak genggam dan sebagainya. Di antaranya berhasil ditemukan Bali oleh R. di Gua Seloding. Gambar 2: Kapak perimbas dari batu peninggalan zaman Palaeolithikum (Zaman Batu Tua) .P. Buleleng. Soejono. desa Pecatu.

Gambar 3 Kapak Gengngam dari Batu Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda Gambar 4 Kapak dari Batu Bertangkai Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda) .

bahwa roh . lebih mengutamakan kegunaan. muncul etiket saling menghargai antar sesama dan berkembang tradisi menghormati orang yang dituakan. diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2500 SM— maka mulailah terjadi integrasi dengan kebudayaan dari luar (Suwondo. Dalam masyarakat yang terbentuk saat tersebut. 1994). yaitu suatu ajaran berdasarkan keyakinan. Mereka percaya. 1977-1978). Hal tersebut menjadi dasar berkembangnya kepercayaan syamanisme. 1980) Kemudian dengan kedatangan gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Neolitikum. tampak bersahaja. belajar bercocok tanam dan bermasyarakat. —migrasi orang-orang Proto Melayu dan tergolong ras Mongoloid. Penduduk Bali secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup nomaden.Produk kriya berupa peralatan kerja yang ditinggalkan tersebut. bahwa roh yang ada di sekeliling manusia dapat merasuk ke tubuh seseorang melalui suatu ritual tertentu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. belum tampak usaha untuk memperindah penampilan dan kenyamanan (ergonomis). mulai hidup bertempat tinggal di suatu daerah dengan batas-batas wilayah tertentu yang disebut pedukuhan. kemudian ditinggalkan ke tempat lain (Sutaba. tokoh-tokoh masyarakat atau orang yang dianggap memiliki kekuatan tertentu. seperti. Kemungkinan juga peralatan tersebut diambil langsung dari alam serta digunakan hanya sekali pakai.

belincung. perilaku tersebut disebut fetisisme. pohon dan di antara produk-produk kriya yang diciptakan juga dihargai dan dipuja sebagai benda bertuah atau sebagai simbol-simbol tertentu. 1980). Atas dasar kepercayaan tersebut. Kepercayaan animisme dan dinamisne juga semakin tumbuh subur di masyarakat Mereka percaya dengan kekuatan-kekuatan metafisis yang dimiliki oleh suatu materi. dalam terminologi antropologi. maka berkembang gejala simbolisasi dan penghargaan atau pemujaan terhadap suatu benda. Pengaruh kebudayaan Neolitikum terutama tampak dalam penciptaan produk kriya berupa peralatan dari batu. pahat pembelah batang kelapa dan sebagainya. seperti bekal kubur (funeral gifts). Produk kriya tersebut dibuat sebagai simbol penghormatan atas jasa orang yang meninggal. Mereka mampu menciptakan produk-produk dari batu dengan disertai usaha-usaha untuk memperindah penampilan dan memikirkan segi kenyamanan dalam pemakaiannya. seperti kapak persegi. Menganggap suatu benda memiliki kekuatan magis atau bertuah dan dapat menyelamatkan atau merusak kehidupannya.orang yang meninggal dapat berpengaruh terhadap kehidupan di dunia ini. Beberapa peninggalan produk kriya yang mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum berupa peralatan . beliung. Seperti menyembah batu. Proses pengerjaannya dengan cara digosok menggunakan batu lain sampai halus (Sutaba.

Hindu. maka di Bali terjadi akulturasi antara kebudayaan batu dengan perunggu. disimpan di Museum Bali. besi. kuningan. Dalam perkembangan selanjutnya.terbuat dengan batu. Sekarang benda-ben-da itu. seperti masuknya pengaruh kebudayaan Budha. seperti ditemukan di beberapa tempat di Bali. Cina. seperti: emas. tetapi keindahan penampilan produk juga mu- . Cara penciptaan produk kriya untuk penunjang aktivitas hidupnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. diperkirakan sekitar tahun 600-300 SM. Denpasar dan Ge-dung Arca. Kemampuan tersebut terus ditingkatkan. datang gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Perunggu yang disebut juga migrasi orang-orang Deutro Melayu. Gianyar. Kebudayaan masyarakat di Bali semakin tumbuh dan berkembang. sehingga memperkaya kasanah kebudayaan Bali di masa lalu. sehingga mampu menghasilkan beberapa jenis produk dari perunggu yang cukup berkualitas. Dengan kedatangannya. Bedulu. Misalnya di Palasari. Nusa Penida dan di daerah lain. dan sebagainya. karena mereka mengenal bijih logam dan cara peleburannya. Unsur-unsur kebudayaan tersebut diterima dan diadaptasi. perak. mereka tidak hanya mengutamakan kegunaan semata. dan sebagainya. Dalam penciptaan produk-produk kriya tersebut. tembaga. Bantiran. Mesir. Demikian juga pengaruh-pengaruh dari luar terus berlangsung.

Mempunyai ukuran luar biasa dengan tingggi 1. Gianyar detail hiasan wajah manusia 1m hias an waj ah man usia Gambar 5.96 m dan bidang pukulnya bergaris tengah 1. Hal tersebut dapat dilihat pada artifak yang sangat menakjubkan. Pola hias yang diterapkan.60 m. di antaranya berupa hiasan yang . Gianyar Nekara tersebut berbentuk selinder atau dadang terbalik. yakni berupa sebuah nekara perunggu yang ditemukan di desa Pejeng.lai diperhatikan. 1976). Nekara Perunggu Ditemukan di Pejeng. Digunakan untuk genderang perang atau sarana upacara memohon turunnya hujan (Kartodirdjo.

binatang. Salah satu contoh peninggalan berupa peti terbuat dengan batu (sarkofagus) digunakan untuk tempat mayat. Penerapan ragam hias tersebut. diduga berlangsung melalui dua “pengaruh”. empat pasang topeng dan lain sebagainya (Kempers. anyamanyaman bambu dan mengukir batu sebagai perkembangan kebudayaan Neolitikum. . seperti tanah liat yang dibakar atau tembikar. 1960). Benda atau hiasan tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis atau bertuah yang memberi perlindungan dan keselamatan kepada kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya (Soejono. 3. pembuatan produk kriya selain menggunakan logam juga dengan bahan-bahan lain. Zaman Hindu (Pengaruh dari India dan Majapahit) Pengaruh kebudayaan Hindu yang masuk ke Pulau Bali. Pada masa tersebut. pola tumpal yang tersusun bertolak belakang. merupakan personifikasi nenek moyangnya yang telah meninggal. Pada sarkofagus tersebut tampak ditatah langsung berupa hiasanhiasan dan simbol-simbol terkait dengan kepercayaan mereka. selain bertujuan sebagai dekorasi. juga sebagai simbol yang mengandung makna terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.distilasi dari bentuk wajah manusia. 1975). bulu burung. seperti penerapan hiasan empat pasang topeng wajah manusia.

diduga berlangsung sekitar abad 10 M. yaitu saat Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Tri Bhuwana Tungga Dewi Djaya Wisnuwardana). Bangli. Dalam ekspedisi tersebut terjadi perang melawan penduduk Bali asli dan berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Gajah Mada. Songan. . Desa Trunyan. yaitu sejak terjadi hubungan antara masyarakat Bali dengan Kerajaan Medang Kemulan di Pulau Jawa. Kekalahan tersebut mengakibatkan penduduk Bali asli. Persebaran kebudayaan Hindu dari Pulau Jawa. Karangasem. Pedawa. seperti di Desa Tenganan. akhirnya terdesak ke daerah pedalaman. Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dari Majapahit ke Bali. 1972). Sembiran. 1953) dan pengaruh kebudayaan Hindu yang berasal dari Pulau Jawa. Hubungan tersebut terus berlangsung pada zaman Kerajaan Singosari dan puncaknya terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad 14 dan 15 M (Suwondo. Kedisan. sekitar abad 8 M (Djawatan Penerangan Propinsi Suda Ketjil. diawali dengan ekspedisi di bawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada (Prabu Wisnuwardana) pada tahun 1343. dan di daerah lainnya di Buleleng (Covarrubias. Julah.yaitu pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa langsung dari India. Sidetapa. Kubu dan Sukawana. Cempage. baik yang dibawa oleh orang-orang Drawida maupun Arya pada masa-masa Raja Maya Denawa berkuasa di Bali. 1977/1978).

Sebagai penganut sekte-sekta.Penduduk di Pulau Bali saat tersebut jumlahnya relatif sedikit di bandingkan sekarang. Seluruh unsur kebudayaan tradisonal Bali dominan dijiwai oleh agama Hindu dan sebaliknya wujud kebudayaannya kembali diabdikan untuk keperluan agama. ternyata membawa pengaruh yang cukup besar terhadap konstelasi kehidupan masyarakat di Bali. Mereka tidak mengenal sistem Kasta. dan konsep utara-selatan (kaja-kelod atau dulu dan tebén) dengan berpedoman pada laut dan gunung (segaraukir). seperti: Sambu. kekuatan alam atau dewa-dewa penguasa alam gaib. bahasa yang digunakan umumnya menggunakan Bahasa Bali Kuno dan tidak mengenal tingkatan bahasa (bahasa halus-kasar) Masuknya kebudayaan Hindu ke Bali.1986). Indra. Daerahnya dibatasi hutan belantara. Sehingg terjalin hubungan yang saling berkait seperti pada Gambar 6. Wisnu. Gunung dianggap sebagai alam arwah dan sekaligus sebagai waduk alamiah yang mengairi dataran rendah di Pulau Bali sepanjang tahun. Brahma. dan Kala (Soeka. roh nenek moyang. Bayu. Percaya dengan alam nyata dan tidak nyata. di mana gunung dianggap utara dan sebagai tempat yang bersih atau suci sedangkan laut adalah selatan sebagai tempat yang kotor atau tempat pembersihan. Namun mereka telah memiliki sistem kemasyarakatan yang mapan dengan kebiasaan berbeda dengan penduduk Bali lainnya. .

(2) Adat istiadat dan hukum adat. bangunan tradisional. Unsur Kebudayaan Bali Dijiwai Agama Hindu Keterangan  Lima unsur dominan dalam tata kehidupan tradional di Bali. tari.    . Anak panah munuju kearah keluar lingkaran besar.Gambar 6. dan (5) Keseluruhannya dilandasi dengan ajaran Agama Hindu. menunjukkan segala produk kebudayaan kembali diabdikan atau dipersembahkan untuk agama. (3) Seni budaya. (4) Organisasi sosial tradisional. seperti: berupa seni rupa. tata cara upacara di pura. dan sebagainya. Anak panah melengkung pada gambar tersebut menunjukkan hubungan antar unsur. seperti: (1) Filsafat hidup atau pandangan hidup masyarakat. Anak panah menuju kearah pusat lingkaran besar menunjukkan bahwa semua unsur bertumpu pada ajaran Agama Hindu.

Pura Puseh dan Pura Bale Agung— untuk melengkapi Desa Pekraman. Kayangan Catur Lokapala. yaitu pada zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan di Bali diperintah oleh Raja Marakata dan Anak Wungsung. 1977 /1978). Mengajarkan pembuatan Sadkahyangan Jagat. Sarana dan prasarana keagamaan mengalami perkembangan dan pembenahan sejak datangnya Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirarta dari Jawa Timur. Empu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11. Kayangan Rwabhineda dan memperlebar Pura Besakih dan sebagainya (Purnata. Ia mengembangkan konsep Tri Murti untuk pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma ‘pencipta alam’ ke arah laut.Tata cara bercocok tanam tradisonal dan sistem pengairan atau subak dikembangkan berdasarkan konsepsi Agama Hindu. seperti. Kayangan Tiga —terdiri dari: Pura Desa. Menyusun sistem organisasi kemasyarakatan berdasarkan ajaran Agama Hindu yang disebut Desa Pekraman atau Desa Adat. Wisnu ‘pemelihara alam’ tengah dan Šiwa ‘pelebur alam’ ke arah gunung. Sedangkan Dang Hyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra (juga terkenal dengan sebutan Peranda Sakti Wawu Rawuh) —seorang agamawan dan pujangga besar dari Jawa Timur— datang ke Bali ketika Keraja- . Sistem tersebut diajarkan oleh Resi Markandeya berasal dari Jawa Timur. Mengajarkan tata cara pembuatan Kayangan atau Pura.

berupa alat pertanian. Keberhasilannya adalah memperjelas “kekaburan” antara tempat pemujaan Tuhan dengan roh leluhur. terutama untuk sarana pemujaan. seperti. Kalpa Warksa. sedangkan Pura Dadia. Pedharmaan. patra sari. Dia mengembangkan konsep Tri Purusa yang terdiri dari: Parama Šiwa (Swah Loka atau alam atas). dan sebagainya. Klungkung dipemerintah oleh Dalem Waturenggong (1460-1550). yakni dengan membuat pelinggih berupa Padmasana. menunjang keperluan sehari-hari. Sada Šiwa (Bwah Loka atau alam Tengah) dan Šiwa (Bhur Loka atau alam bawah). Naga Basuki.an Gelgel. patra welanda. karang goak. Perwujudan dalam bentuk simbol. mas-masan dan sebagainya serta kekarangan. dalam pembuatan Pelinggih Padmasana. seperti karang asti. Hiasan yang diterapkan berupa pepatran. Salah satu contoh. seperti patra punggel. Purnaghata. mempunyai peranan yang sangat penting. Achentya dan sebagainya yang terkait dengan konsepsi Tri Murti dan Tri Purusa. Penciptaan produk-produk kriya pada zaman tersebut. yaitu untuk pemujaan Tuhan. . Kinara Kiniri. Ananta Boga. Kedatangannya sangat berpengaruh dalam pengembangan dan penyempurnaan ajaran Agama Hindu di Bali serta turut membawa Kerajaan Gelgel ke zaman keemasannya. 1945). seperti berupa wadah. simbol maupun sebagai hiasan. seperti Empas. karang bentulu. Paibon untuk pemujaan roh leluhur (Wiana.

nomor kropak M55 dijelaskan: . tembaga (kriyawan atau “tukang” emas. pagending (penyanyi).. Seperti seni tari.. juga mengalami perkembangan diwarnai dengan pengaruh kebudayaan Jawa dan sarat dengan misi pembinaan umat Hindu. partapukan (topeng). Kerajaan Samprangan (13511380) dengan rajanya Sri Kresna Kepakisan berasal dari Daha (Kediri). Kerajaan Gelgel (1380 -1460) dengan masa keemasan pada saat pemerintahan Raja Dalem Waturenggong sampai Kerajaan Klungkung. seperti kerajaan Bedahulu (1324-1343) dengan rajanya yang terkenal bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Jawa Timur. besi.. Seperti dalam bentuk pagelaran topeng. Pada zaman tersebut di Bali sudah berdiri kerajaan-kerajaan. tembaga). parbwayang (wayang). wayang dan sebagainya.Di bidang kesenian lainnya. bahwa kesenian termasuk produk-produk kriya pada zaman tersebut. juga dipakai sebagai media pendidikan atau komunikasi dalam masyarakat. pamukul (juru tabuh). pabunjing (penari). yaitu salah satu kerajaan di Bali yang pa- . besi. tari topeng. di bulan besakha Cuklapancami. (dibuat oleh pegawai di Singamandawa pada bulan ke-10.turun di panglapuan di Singamandawa.pandê mas. rge pasaran Wijayamanggala. tanggal 5 tahun Šaka 818) ( Simpen. pabangsi (juru rebab). tahun Šaka 818 (896 M). 1974) Prasasti tersebut memberi petunjuk. dan sebagainya.. Hal ini dapat diketahui dari Prasasti Bebetin. pertunjukan wayang.

dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para raja dan keluarganya yang bersifat hedonistik atau sebagai simbol status sosial. Jadi berorientasi pada puri atau istana centris. produk kriya berupa keris atau atribut raja dibuat dengan sangat indah. Sebagai contoh. kegiatan penciptaan produk-produk kriya tampak lebih berkembang di sekitar pusat kerajaan dan di bawah patronage kerajaan (Joedawinata. umumnya dibuat lebih megah dibandingkan dengan perumahan rakyat dan sebagainya. 4. Oleh sebab itu.ling terakhir dikuasai oleh Belanda dalam perang Puputan pada tanggal 28 April 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe. Pada tahun 1597 sempat mampir di Kerajaan Gelgel (Bali). Kedatangannya disambut dengan tata . Produk kriya yang diciptakan saat itu tampak lebih mengutamakan segi keindahan. bangunan istana raja. saat diperintah oleh Raja Dalem Sagening. Zaman Kolonial Ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk menemukan sumber rempah-rempah di dunia timur. maka peranan penciptaan produk-produk kriya saat tersebut memiliki kecenderungan untuk melaksanakan tugas yang dilandasi dengan semangat kebanggaan dan dedikasi kepada raja dan keluarga raja. Sehingga melahirkan produk-produk yang unggul dan adhiluhung. 1990:4). Dalam kaitan dengan sistem kerajaan.

terutama mengenai segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan Raja Dalem Sagening. setelah Belanda mampu mengalahkan perlawanan para raja Bali dalam perang puputan (terakhir tahun 1908). Mulai saat itu pamor kekuasaan para raja semakin memudar di mata rakyat Bali. karena kekuasaan kerajaan “feodal” secara berangsur-angsur diganti dengan sistem pemerintahan kolonial “modern” menurut cara Belanda. menyebabkan muncul kelompok-kelompok elite atau golongan atas baru dalam masyarakat dan memperkenalkan ide-ide baru. misalnya. Pada saat tersebut. Belanda juga melontarkan suatu julukan “Jonck Hollands”. artinya “Belanda Muda”. Impian tersebut akhirnya benar menjadi kenyataan. dalam julukan itu sebenarnya teselip suatu ambisi atau impian untuk menjadikan Bali sebagai wilayah kekuasaannya. yang ditujukan untuk Pulau Bali. Bagi Belanda. menanamkan pengertian tentang pentingnya hidup non-agraris dan sebagainya. kesehatan. Sistem pemerintahan tersebut. Keadaan tersebut menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat di Bali. yang nantinya akan ditingkatkan menjadi hubungan perdagangan. . karena kunjungannya tersebut dengan dalih ingin menawarkan ikatan persahabatan. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Be-landa dengan sebaik-baiknya untuk menulis mengenai Bali. dalam pendidikan.cara yang sangat hormat.

Misalnya. seperti pelajaran menggambar diajarkan oleh “Guru Adat” (seniman tradisional). upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di Bali. Pemerintah Belanda menginginkan agar keindahan alam dan kebudayaan Bali menjadi objek wisata budaya. 1953) Langkah-langkah lain yang dilakukan dalam upaya pelestarian itu. seperti mengembangkan sistem pendidikan kolonial yang disesuaikan dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu di Bali.Di sisi lain. karena dikawatirkan dapat “merusak”. Sistem pendidikan itu dikenal dengan . terdapat pura hampir di seluruh pelosok Pulau Bali dan sebagainya. pemerintah kolonial Belanda berkeinginan untuk mengembangkan potensi tersebut untuk dijadikan objek wisata. Belanda juga sangat tertarik dengan keindahan alam dan kehidupan kebudayaan masyarakat di Bali yang memiliki ciri tersendiri. sebagai “museum hidup” dan menjadi tontonan semata. seperti memiliki beraneka ragam jenis kesenian tradisional. Pemasukan berupa devisa hanya diharapkan dari pemungutan pembayaran yang dikenakan pada para wisatawan yang berkunjung (Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Ketjil. maka mereka selalu konsisten untuk menjaga kelestariannya dan berusaha untuk mengisolasi dari penetrasi pengaruh-pengaruh kebudayaan eksternal. diupayakan dengan mengangkat tenaga pendidik lokal. Dalam menyusun strategi pengembangan ke arah tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut.

dikembangkan oleh H. 1991/1992). di Singaraja pada tahun 1928. E. Goris menulis buku berjudul “Secten op Bali” (1933).M . R. P. usaha tersebut cukup menggetarkan keinginan banyak orang termasuk para penulis dari barat lain-nya untuk melihat Bali secara langsung. Sedangkan dalam usaha mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata. dilakukan dengan mendatangkan beberapa pakar dalam berbagai disiplin ilmu dari negeri Belanda untuk mempelajari. Selain itu. WF. Kemudian tulisan-tulisan tersebut didistribusikan ke seluruh dunia. Walhasil.P. di bawah pimpinan Leifrinck dan Van der Tull.Van der Tuuk.sebutan Balisering. menulis tentang “Kawi-BalineeschNederlandsch Woordenboek” (1912). Sekitar tahun 1920. ketika menjadi guru HIS di Klungkung. (Putra. De Kat Angelino dengan tulisannya berjudul “De Leak op Bali” (1923). Kroos mendirikan sebuah bangunan digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu dan sekarang dijadikan Museum Bali. kapal dagang Belanda K.N. Di antaranya H. meneliti dan menulis berbagai aspek tentang Bali. te Flierhaar —seorang tokoh pendidik dari Negeri Belanda— pada tahun 1920. Kemudian di Denpasar pada tahun 1932. medirikan Gedong Kirtya yang digunakan sebagai perpustakaan untuk menyelamatkan lontar-lontar yang berisi sastra lama dan segala aspek tentang Bali. Korn menulis buku berjudul “Het Adatrecht van Bali” (1932) dan yang lainnya. V.

Sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan di Bali saat itu kurang memadai. Motivasi atau semangat penciptaan produk yang dulunya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan ke- . dan sebagainya. seperti membangun Hotel Bali di Denpasar. pesanggrahan di Kintamani dan di Pelaga. sehingga para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya di Bali mulai merasakan nilai ekonomis atau nilai tukar dari produk kriya yang diciptakan atau diusahakannya. sehingga banyak di antara mereka terpaksa tidur dalam kapalnya. Upaya pengembangan tersebut secara tidak langsung akhirnya berpengaruh pada kegiatankegiatan lain di Bali.(Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dialihfungsikan untuk mengangkut rombongan wisatawan Belanda pertama mengunjungi Bali. Pada masa tersebut. perbaikan sarana transportasi. maka dalam pengembangan selanjutnya mulailah diadakan pembenahan sarana dan prasarana yang terkait. Namun kebanyakan wisatawan dalam rombongan tersebut merasa puas setelah meninggalkan Pulau Bali. Misalnya pada kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya. para kriyawan dengan “serta merta” mulai aktif menciptakan produk-produk kriya untuk dijadikan mata dagangan berupa produk kriya lokal sebagai cenderamata. Melihat peluang tersebut. Penciptaan tersebut termotivasi oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat.

5. dengan meletusnya Perang Dunia ke-II. maka situasi dan kondisi masyarakat di Bali mengalami perubahan cukup drastis. . pembangunan di daerah Bali yang dilaksanakan berdasarkan program Repelita dan dengan strategi pembangunan daerah seperti tampak pada Gambar 7. namun pada saat tersebut mulai muncul gejala yang mengarah pada komersialsasi produk kriya. ternyata mengalami perkembangan cukup pesat. Dalam kreativitas penciptaan produk berciri khas Bali mulai terjadi gejala reproduksi atau tindakan eklektik terhadap unsur-unsur produk masa lalu yang diwarisinya. Dengan kekalahan Belanda. Jepang lebih terfokus pada ambisinya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. maka pengembangan pariwisata di Bali tidak dapat diteruskan lagi oleh pemerintah Belanda. Dalam kurun waktu tersebut. kemudian disuguhkan untuk para wisatawan. karena harus menerima kekalahan dalam menghadapi semangat hegemonisme Jepang. karena saat tersebut. (Mirsa. Di bawah penguasaan Jepang yang berlangsung dalam waktu relatif singkat sehingga pengembangan sektor pariwisata kurang mendapat prioritas. Pada masa selanjutnya. Zaman Kemerdekaan Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang ini (lebih kurang seperempat abad silam). Walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan kendala.rajaan. 1988).

Pendekatan Regional Gambar 7. Pelestarian nilainilai budaya. agama dan warisan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan B. Delapan Jalur Pemerataan 2. Pembangunan Sektor Pariwisata c. Peningkatan dan Perluasan Sarana dan Prasarana Sosial c. Bagan Strategi Dasar Pembangunan Daerah Bali .2. 1991) A. Pembangunan Sektor Pertanian b. Pembangunan Sektor Industri SOSIAL a. Mendorong Partisipasi Aktif dari Masyarakat dalam Pembangunan TUJUAN INTI ARAH IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN ALAT UKUR YANG MENGARAHKAN PADA KESERASIAN DAN KETERPADUAN Sumber: (Oka.2.TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PEMERATAAN TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI a. Pemenuhan Kebutuhan Dasar b. Pengembangan identitas Bali 1.

transportasi atau biro perjalanan. Pembangunan sektor pariwisata di Bali. prospektif dan sesuai . garmen. yang kembali dibangkitkan oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950. seperti semakin menjamurnya usaha di bidang perhotelan. ternyata mendapat respons cukup besar dari masyarakat petani di Bali. Pemerintah menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu cabang industri alternatif yang strategis. Hasil pembangunan ketiga sektor tersebut. Sehingga hasilnya tampak jelas dari Pelita I sampai V mampu membawa masyarakat Bali ke tingkat swasembada pangan. kini terus dibina dan dikembangkan.Dari sekema tersebut dapat diketahui. pariwisata dan industri kecil. Sektor tersebut memberi oportunitas cukup besar untuk tumbuh suburnya berbagai bidang usaha. seperti pada Pelita I yang dimulai sejak tahun 1969 dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. berbagai jenis industri kecil dan rumah tangga dan sebagainya. dengan tetap memakai potensi budaya sebagai daya tarik utama. ternyata memberi peningkatan perekonomian yang cukup signifikan bagi masyarakat di Bali. toko kesenian. karena kemantapannya yang kuat sebagai masyarakat pewaris budaya agraris. bahwa tujuan pembangunan bidang ekonomi di Bali adalah berorientasi pada pertumbuhan sektor pertanian. Demikian juga industri kecil dan rumah tangga yang bergerak dalam usaha penciptaan produk kriya.

maka pada era kemerdekaan. Berbagai program telah diluncurkan terkait dengan hal tersebut. humanisasi proses kerja. karena pada dasawarsa belakangan ini pemerintah Indonesia semakin mengkonsetrasikan perhatiannya pada sektor tersebut. Malah pada tahun 1990-an terbukti produk-produk kriya sempat dijadikan sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor di luar minyak dan gas alam (LNG) Liquid Natural Gas. dan sebagainya.dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara. Dengan dukungan pemerintah dan perkembangan pariwisata di Bali yang cukup pesat. Sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat di pedesaan serta dapat memperlambat laju urbanisasi. karena termotivasi oleh nilai ekonomi yang dapat dinikmati dari produk kriya yang diciptakannya. sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja (mass employee) berakumulasi modal kecil. tampak semakin mantap dan dengan kecenderungan mengarah kepada hal yang bersifat “komersial”. usaha perluasan atau enlargement penciptaan produk-produk kriya. Para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya masa kini merasa semakin bergairah dalam usaha tersebut. salah satunya seperti program OVOP (one village one product). karena memiliki karakteristik antara lain. sehubungan dengan upaya untuk memperoleh sumber dana penunjang pembangunan nasional. Kebijakan tersebut . Kondisi tersebut semakin terpacu.

hingga sampai ke Indonesia. Pelaksanaan Ajaran Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali Agama Hindu berasal dari lembah Sungai Sindhu di India. karena dalam tata cara pengamalan ajarannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi budaya masyarakat penganutnya atau disesuaikan dengan desa. mengingat ekspor andalan Indonesia berupa bahan-bahan mentah yang dibutuhkan oleh industri pengolahan di luar negeri. Wasista dan Kanwa. Di tempat tersebut. Terjadinya hal tersebut. seperti disebut Agama Hindu Bali. Agama Hindu sering diberi sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan nama daerah di mana Agama Hindu tersebut tumbuh dan berkembang. mengalami penurunan dipasaran dunia dan diikuti oleh resesi dunia pada saat tersebut (Joedawinata. Ajaran tersebut dikumpulkan dan disusun kembali oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk kitab suci yang disebut Weda. Wamadewa. kala dan patra. Kemudian ajaran tersebut disebarkan keseluruh dunia melalui para pengikutnya. sehingga da- . ajaran diterima dari Tuhan dalam bentuk wahyu suci oleh tujuh orang Maharsi. Di Indonesia. Baradwaja.ditempuh oleh pemerintah. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali 1. Hindu Jawa. Hindu Kaharingan dan sebagainya. yaitu: Maharesi Grtsamada. Wiswamitra. salah satunya. 1990) B. Atri.

dibenarkan mengamalkannya dengan tanpa sarana upacara dan tidak memilih tempat serta arah tertentu. Berdasarkan hal tersebut. suara sukma yang tidak pernah putus (swaraning genta pinara pitu). api yang tidak pernah padam (geni anglayang). Hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Agama Hindu. tampak memiliki etos kebudayaan Hindu yang berbeda. sebab ajaran Agama Hindu memberi tuntunan yang bersifat lentur. Kondisi tersebut memang menungkinkan untuk terjadi. Namun umat seperti tersebut populasinya sangat sedikit dapat dikatakan satu per mil atau sewu tinunggal. Seperti yang . seperti produk-produk kriya berupa simbol-simbol atau nyasa yang bersifat sakral. Misalnya bagi umat Hindu yang telah “ahli” dalam teori dan praktek ilmu ketuhanan (teologi). Seperti bunga yang bersemayam dalam batin yang tak pernah layu (puspa tan alun). maka sarana dan prasarana yang bersifat lahiriah. mutlak akan diperlukan dalam mengamalkan ajaran Agama Hindu di Bali (Sugriwa. Namun inti ajaran Agama Hindu yang dianutnya tetap satu bersumber pada ajaran Weda.lam perkembangannya di masing-masing daerah di Indonesia. tt). air amerta batin yang tidak pernah kering (Šiwambhâ-dhyatmika) dan dapat manunggal dengan Tuhan atau purusa katemunta mareka si tan katemu. karena mereka telah menaruh upacara tersebut dalam batinnya (adyâtmika).

Jadi pada dasarnya ajaran tersebut “membenarkan” penggunaan sarana . 2) Brahmana (Karma Kanda). Sama Weda. yat tapasyasi kaunteya tat Kurushva mandarpanam. yaitu Brahmana (Karma Kanda) adalah merupakan ajaran yang berisi himpunan doa-doa dan tuntunan yang dipergunakan untuk keperluan upacara Yajña. Isinya terdiri dari empat himpunan atau samhita (Reg Weda. yaitu: 1) Mantra. dan Atharwa Weda). Pada garis besarnya dapat dijabarkan menjadi tiga bagian. kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan asalkan menuju kebenaran. yaitu sebagai berikut: Yat karosi yad ašnãsi yaj juhosi dadãsi yat. kau persembahkan. dan 3) Upanisad (Jñána Kanda.disebutkan pada Bhagawag Gîtã. sloka IX-26. Yayur Weda. kau makan.) Bagian kedua dari penjabaran sifat ajaran Weda di atas. sebagai bhakti pada-Ku (Pendit. ceritera-ceritera dan simbol yang dipergunakan untuk memantapkan rasa percaya kepada Tuhan. juga dapat disimak dalam cara menghayati dan mengamalkan ajaran Weda yang dapat mengacu pada beberapa hal seperti: a. lakukanlah. Acuan lainya sesuai dengan pendapat tersebut. 1995). Artinya: Apapun yang kau kerjakan. Kuntipura. Sifat ajaran Weda.

yaitu empat cara atau jalan utama ditempuh untuk mencapai tujuan Moksaratha Jagathita. terdiri dari: 1) Bhakti Marga. 3) Jñána Marga dan 4) Raja Marga. Susila (Etika) dan Upacara (ritual).yang bersifat lahiriah untuk membantu penghayatan kepada Tuhan. Dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. 1993). menurut kerangka tersebut. artinya cinta kasih. alamiah. Cetusan rasa cinta kasih dan kerinduan kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pesembahan bhakti atau dalam produk kriya berupa simbol-simbol untuk melukiskan sifat maya Tuhan (mayasakti) (Cudamani. b. mudah diterima dan dilaksanakan oleh semua tingkatan. 2) Karma Marga. Kerangka Agama Hindu. Bhakti Marga. Ajaran ini merupakan salah satu alternatif dalam menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu dengan menggunakan sarana pemujaan. Seorang Bhakta —penganut Bhakti Marga — adalah orang yang penuh cinta kasih kepada Tuhan berserta ciptaannya. Catur Marga. Seperti penggunaan produk kriya berupa simbol-simbol yang terkait dengan ajaran agama dan sebagainya. c. juga membenarkan menggunakan sarana untuk pemujaan Tuhan . yang terdiri dari: Tattwa (Filsafat Agama). Bhakti Marga merupakan ajaran yang langsung.

busana. ternyata yang lebih dominan dilaksanakan adalah upacara atau ritual keagamaan yang disesuaikan dengan adat-istiadat umat Hindu di Bali. dalam mengamalkan ajaran Weda. bangunan suci. air. 1990). api dan sebagainya. sehingga hampir setiap hari umat Hindu di Bali dijum- . secara implisit memberi peluang munculnya keanekaragaman atau perbedaan penciptaan sarana pemujaan Tuhan di setiap daerah di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh E. Seperti menggunakan produk-produk kriya. masih dominan mengacu pada tiga ajaran tersebut di atas.Ketiga acuan di atas memberi gambaran. Umat Hindu di Bali. Pengamalan ajaran agama Hindu tersebut. bunga. Utrecht bahwa sebagian dari kaidah-kaidah atau norma-norma yang ada dalam masyarakat yang berasal dari sumber hukum yang dianggap sakral (dalam Suasthawa. sesajen. bahwa ajaran Agama Hindu memberi suatu tuntunan yang bersifat luwes dalam usaha mendekatkan diri dengan Tuhan. Seperti dalam pengamalan tiga kerangka Agama Hindu. Ketiga ajaran tersebut memberi tuntunan yang mengarah pada pengorbanan suci berupa tindakan atau kerja dan membenarkan menggunakan sarana dalam pemujaan Tuhan. Sarana tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dan keyakinan masyarakat setempat serta menjadi aktivitas adat atau “hukum adat” yang diusung dari generasi ke generasi berikutnya.

upacara penyucian yang ditujukan mulai perkawinan hingga ajal tiba. sawah. Dari sekian banyak upacara Yajña yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. yang disebut Panca Yajña. (5) . yaitu. Dari upacara-upacara tersebut. Tujuan tersebut dilaksanakan didasari dengan suatu keyakinan. pada garis besarnya dapat dikelompokan menjadi lima. manusia dan alam yang didasari konsep Tri Hita Karana. yaitu utang kepada Tuhan. (3) Manusa Yajña. terdiri dari: (1) Dewa Yajña. jalan. maupun berupa hiasan dan dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat Hindu di Bali. Selain hal tersebut. (2) Resi Yajña.pai melaksanakan upacara. (4) Pitra Yajña. baik berupa wadah atau tempat. Upacara yang dilaksanakan tersebut dipercayai merupakan suatu bentuk pengorbanan yang tulus dan suci atau Yajña. rumah tinggal. yaitu. persembahan atau penghormatan kepada para Resi atau guru. pelaksanaan juga diyakini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan dengan Tuhan. yaitu persembahan kepada roh leluhur dan upacara kematian. persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa. yaitu. bahwa kelahiran manusia selalu diselimuti oleh utang yang harus dibayar. simbol-simbol. baik di pura. para resi atau guru dan leluhur. Dengan tujuan untuk melaksanakan tiga kewajiban atau utang yang disebut Tri Rna. hampir semuanya tampak menggunakan sarana upacara. maupun di tempat lain yang dianggap sakral.

Semuanya menggunakan sarana yang khusus dan sangat beragam. yaitu sebagai sarana upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di . 1990) Berdasarkan kategori tersebut dan mengingat peranan serta jenis produk-produk kriya yang digunakan untuk menunjang aktivitas hidup masyarakat di Bali sangat beraneka ragam. Nuntun. Ngenteg linggih. dikenal beberapa jenis upacara. baik yang bersifat temporel maupun permanen. upacara Dewa Yajña atau Dewapuja. Upacara Panca Yajña dapat dipilah lagi memjadi beberapa jenis upacara.Bhuta Yajña. seperti: Odalan. (2) Produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. seperti berwujud bebantenan atau sesajen. dan sebagainya. produk-produk kriya yang dimaksudkan adalah produk yang tergolong kategori kedua. yaitu: (1) Produk kriya dalam konteks budaya. Dan (4) Produk kriya yang dibuat oleh kriyawan dan para perancang masa kini (Buchori. (3) Produk kriya dalam konteks kerajinan rakyat. misalnya. yaitu upacara korban suci kepada Bhuta Kala. Melasti. 2. Peranan Produk Kriya dalam Upacara Agama Hindu di Bali Secara umum produk kriya di Indonesia dapat dibagi menjadi empat kategori. maka dalam konteks bahasan ini. penganggé atau busana dewa dan melibatkan berbagai produk kriya.

) b. Dalam hal tersebut bukan berarti Tuhan mengalami kelahiran. tetapi yang dimaksudkan adalah upacara peringatan hari mulai enteg linggih atau hari peringatan mulai “distanakannya” atau dilinggakan Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasi sebagai dewa pada suatu tempat suci atau pura. Peranan Produk Kriya dalam Melaksanakan Upacara Odalan Masuknya Agama Hindu ke Bali. terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian Odalan. yang berarti kelahiran. kekuatan alam gaib serta memberi penghargaan atau ucapan terimakasih dalam bentuk persembahan kepada alam atas hasil atau . Terutama produk-produk kriya yang digunakan sebagai sarana upacara Odalan. a. ternyata memberi pengaruh dominan pada tatanan kehidupan dan sistem relegi masyarakat Bali. bersifat “permanen”. Odalan atau Dewapuja berasal dari kata Wedal. Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu kepercayaan terhadap alam nyata dan tidak nyata. mengandung makna atau nilai simbolis dan dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali.Bali. 1 sasih = 35 hari. roh nenek moyang. Perayaannya dilangsungkan setiap enem sasih atau enam bulan (menurut perhitungan kalender Bali. Pengertian Odalan Sebelum lebih lanjut menguraikan tentang peranan produk kriya.

sumber pangan yang di berikannya. Kemudian keyakinan tersebut dimatangkan lagi semenjak Rsi Markandeya datang dari Jawa. Pola masyarakat agraris yang telah mengakar tersebut, dipadukan dengan konsep yang “bernafaskan” Agama Hindu dari Jawa, seperti dalam pelaksanaan sistem irigasi yang disebut subak. Konsep Agama Hindu dari Jawa yang bersifat menyempurnakan tersebut, juga terlihat pada sarana pemujaan kepada Tuhan dalam segala manifestasinya. Seperti berupa pelinggih, penggunaan arca, pertima atau pralingga dan sarana lainnya, yang merupakan bentuk “penyempurnaan” dari hasil kebudayaan megalitik di Bali. Pengaruh perpaduan Agama Hindu, juga memberi sepirit dan inspirasi untuk tumbuh suburnya beraneka ragam jenis kesenian tradisional berciri khas Bali. Menurut pandangan umat Hindu Bali, fungsi kesenian tradisional tersebut, pada garis besarnya dapat dikelompok menjadi tiga bagian, seperti: (1) Seni Suci atau Wali, jenis kesenian ini difungsikan sebagai bagian dari suatu rangkaian upacara yang sarat dengan makna religius dan dianggap sakral; (2) Seni Ritual atau Bebali yaitu, jenis kesenian sebagai pengiring atau “penghias” dan sekaligus terkait dengan rangkain upacara; (3) Seni “Sekular” atau Bali-balihan yaitu, jenis kesenian yang cenderung mengarah pada hiburan rakyat atau kesenangan (Pindha, 1973) Produk kriya, sebagai salah satu bagian dari kesenian tradisional Bali, ternyata dapat menduduki ke-

tiga fungsi tersebut. Khususnya produk kriya yang difungsikan sebagai sarana wali berbeda dengan yang lainnya, sebab dalam penciptaannya disertai dengan proses penyucian atau sakralisasi dengan melalui tahap-tahap upacara tertentu, seperti di antaranya dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut Tabel 1 Tahap Penyucian Produk Kriya
No. (1) 1. TAHAPAN (2) nglakar ARTINYA DAN KEGIATAN (3) pemilihan bahan baku yang akan digunakan, dewasa ayu atau “hari baik” mulai mencari bahan dan disertai dengan persembahan sesajen kepada Tuhan untuk mohon kekutan agar produk kriya tersebut ber-taksu. membentuk secara global membuat detailnya menghaluskan memberi warna memberi kontur dan hiasan tambahan upacara pembersihan, dengan membuatkan banten pemlapas memanggil atau memohon kekuatan agar merasuk pada produk tersebut yaitu dengan membuatkan banten pengulap menghidupkan yaitu dilakukan dengan mempersembahkan banten pengurip upacara menstanakan pada tempat suci dengan jalan mempersembahkan sesajen pada tempat atau asal bahan yang digunakan untuk mengetahui apakah benda yang dibuat bertuah

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

makalin nepong ngasren mulas ngias melapas ngulapin

9. 10. 11. 12.

ngurip ngeteg linggih nuedin ngerehang

(1) 13.

(2) ngajar-ngajar

(3) upacara membawa benda tersebut ke tempat suci lainnya, seperti Kahyangan Jagat, dengan tujuan “mendaftarkan”. upacara memperingati hari dilinggakan benda tersebut sebagai benda sakral memfungsikan

14. 15.

ngodalin mepajar

Narasumber: Gelebet.

Dalam melaksanakan upacara Odalan biasanya memanfaatkan berbagai macam produk kriya dengan beraneka ragam bentuk dan fungsinya serta tergolong sebagai sarana wali, seperti berupa: 1. Benda pakai, antara lain: pedupaan, bokor atau tempat sesajen, dulang, sokasi atau bakul, saab atau tutup sesajen, kendi, sangku atau tempat air suci, canting alat untuk mengambil tirta air suci, peralatan yang digunakan oleh Pedanda atau pemimpin upacara, seperti pedipan, pasepan keduanya berfungsi sebagai tempat pedupaan, stana lingga tempat api, swamba atau tempat tirta, tripada sebagai “kaki” swamba, pewijan tempat beras suci, dan sebagainya . 2. Ragam hias pada sarana perlengkapan upacara, seperti: Lontek, kober, pengawin atau bandrangan, tedung atau payung, ider-ider, berupa relief pada pelinggih-pelinggih, candi, patung, dan sebagainya. 3. Selain hal tersebut, peranan produk kriya sekaligus juga berfungsi sebagai simbol yang mengandung

kepala. Bentuk Acintya seperti tampak pada Gambar 8 Gambar 8.1. Acintya .nilai-nilai atau makna terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Sikap berdiri (padaasana) dan kaki pada posisi bergerak. Beberapa contoh produk kriya jenis tersebut dapat disimak pada uraian berikut 3. Relief Acintya a) Karakteristik: 1) Bentuk: Umumnya dibuat dalam bentuk relief yang digubah dari bentuk mirip manusia dengan tanpa busana. Pada tiaptiap persendian. dan pada kelamin berisi bajra. telinga.

Diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih berupa Padmasana Seperti tampak pada Gambar 9 Kepala badan kaki Tampak Samping Gambar 9. b) Fungsi: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan bersifat permanen dan sekaligus sebagai simbol. Pelinggih Padmasana . Namun sekarang ada juga menggunakan “beton cetak” (campuran semen pasir yang dicetak).2) Material: Biasanya terbuat dengan batu alam (batu padas) atau emas. hitam atau kuning emas dan putih). 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan (abu-abu.

merupakan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan. kepala. maka untuk mempermudah penghayatan-Nya.. Sikap kaki seperti berjalan atau bergerak. Acintya. Bhatara Parama-šiwa atau Tuhan sebenarnya bersifat tidak terbayangkan (Aprameya) dalam pikiran. dan . Artinya. ujung kaki. Oleh sebab itu.. para yogiswara atau orang suci yang mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan membuat dalam bentuk simbol bersifat ikonografi dengan mengambil bentuk mirip manusia tanpa busana. artinya kehidupan yang selalu bergerak dinamis dan berproses. karena keadaannya yang tidak habis-habisnya atau ananta. Setiap persendian. Dan dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan: Aprameya. ape hetu ri kadadinyan ananta. tak dapat dibatasi atau anirdesyam. artinya tak terpikirkan. melambangkan sifat yang bebas dari ikatan duniawi. melambangkan sifat Tuhan yang maha pemurah dan memberikan anugrah kepada ciptaan-Nya di alam.. anatomi tubuh dan jenis kelamin dibuat “tidak jelas” atau Ardhanareswari. tan pahingan.. telinga. nilai-nilai simbolik dan religiusnya: Berdasarkan lontar Widi Tatwa atau filsafat tentang Tuhan.b) Makna. Bersemedi dengan sikap pada asana atau berdiri. anirdesyam. bhatara Paramasiwa tan pangenpangen.

bintang (angin dapat menjadi bintang. Pertiwi. Angka telu atau angka tiga melambangkan tiga manifestasi Tuhan (Brahma. perak. Apah atau air (air yang padat berputar terjadilah bulan).pada tempat kelamin dihiasi dengan bajra. 2. Wisnu dan Šiwa Gambar 10. melambangkan energi Tuhan berupa sinar suci yang memancar ke segala arah dan memberi penerangan kepada seluruh ciptaan-Nya.2. seperti: emas. matahari. tanah. 4. . Bayu atau angin. 5. bumi (terjadinya pertama-tama berawal dari gelap). Aksara Suci Ongkara 2) Material: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau dari logam. 3. kain kapan dan sebagainya. ether (memenuhi ruang yang ada). 3. Aksara Suci Ongkara a) Karakteristik: 1) Bentuk: huruf atau aksara suci Ongkara sebagai simbol diwujudkan berdasarkan konsep kosmologi dan terdiri dari beberapa bagian seperti pada Gambar 10 berikut Keterangan: 1. Akasa atau langit. kuningan atau tembaga. Teja atau api.

b) Fungsi: Dipergunakan sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Tri Murti. tt). dalam membuat surat bukti yang ditulis di atas daun lontar. nilai-nilai simbolik dan religius: Aksara Bali dalam penerapannya dibedakan menjadi dua golongan (Kaler. sebagai tanda bahwa bangunan tersebut telah diupacarai). dipakai untuk membuat sesikep atau gegemet atau jimat. pangéling-éling atau tanda untuk meng- . yaitu: (1) Aksara Wrešastra atau aksara yang “tampak” atau aksara yang umum atau aksara “biasa” digunakan dalam masyarakat Bali. Umumnya diterapkan pada bangunan Pelinggih Padmasana dalam bentuk relief. c) Makna. Akasara tersebut boleh diajarkan kepada siapa saja dan biasa digunakan seperti untuk membuat pipil (nama orang dalam suatu organisasi atau seka Banjar. ulap-ulap (secarik kain kapan diberi gambar aksara suci ongkara dan diletakkan pada pertengahan kolong atau tadah alas bangunan tradisional. pedagingan dan sebagainya. seperti: abu-abu warna batu padas atau hitam. kuning emas.3) Warna: sesuai dengan warna bahan yang digunakan. dadya Pura). putih perak atau kain kapan dan sebagainya.

bayu atau bintang. Kedua aksara tersebut dilengkapi dengan pengangge sastra atau kelengkapan huruf yaitu berupa: Nada melambangkan angin. berhubungan dengan dunia gaib. Dewa Wisnu (Ung ) dan Dewa Ciwa (Mang). Aksara Ong atau Ongkara merupakan sumber semua aksara. Jawa Kuno dan sebagainya (2) Aksara Cwalalita. sehingga disebut Wija-aksara atau Ekã-aksara. Dalam bahasa Bali diucapkan Ong. yaitu: Dewa Brahma (Ang ). perlambang atau simbol terkait dengan keagamaan. Huruf tersebut disebut juga dengan Aksara Modré. seperti: mantra. Ketiga aksara tersebut jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. Kawi. yaitu aksara yang maha suci lambang Ida Sang Hyang . aksara yang “tidak tampak” terdiri dari dua buah aksara yaitu Ah ( ) dan Ang ( ) merupakan aksara yang didak boleh diajarkan kepada sembarang orang.ingatkan sesuatu untuk menulis bahasa Bali. Ardha-candra berbentuk bulan sabit melambangkan apah. windu melambangkan teja. pengobatan dan sebagainya. api atau matahari. Ketiga kelengkapan aksara tersebut menyimbolkan kekuatan tiga dewa. air atau bulan. yaitu aksara suci atau aksara yang digunakan untuk menulis ilmu kedyatmikan.

1991) 3.3. seperti tampak pada Gambar 11. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan yaitu berwarna abu-abu batu padas atau hitam. Hindu yaitu digubah dari bentuk kurakura dengan kepala berambut dan lidah mejulur keluar berbentuk api serta dililit naga. harus mengikuti petunjuk para rohaniwan (Nala. aksara Ongkara sebagai simbol Tuhan telah digunakan sejak zaman Weda. Sudartha. Badavañ Nala a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Penciptaan produk kriya tradisional berupa simbol tersebut dilandasi dengan konsep kosmologi. .Widi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri-Murti. 1991. sehingga penggunaannya sangat terbatas dan tidak boleh secara sembarangan. Demikian juga di India. Jadi dari penjelasan tersebut. maka dapat diketahui bahwa aksara Ongkara sebagai simbol yang mengandung makna religius terkait dengan ajaran ketuhanan. 2) Material yang digunakan: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu padas.

Bagian Dasar Atau “Kaki” Pelinggih Padmasana . Gambar 12.Gambar 11. Badavañ Nala dan Anantabhoga b) Fungsi: Badavañ Nala digunakan sebagai simbol dan sekaligus sebagai hiasan pada bagian dasar atau “kaki” sebuah bangunan suci berupa pelinggih Padnasana Gambar 12.

Dalam simbol tersebut dimaknai sebagai inti bumi atau magma sebagai sumber panas bumi yang terus menerus membara Jadi pada simbol tersebut tersirat ajaran suci tentang ciptaan Tuhan yang tiada tara dan maha agung berupa alam makrokosmos. Bang=merah dan Nãla=api. Sebagai tempat kehidupan dengan berbagai persediaan bahan makanan dan sebagainya. Oleh sebab itu. terbentuk dengan unsur Panca Maha Bhuta. Dalam bahasa Šanskerta disebut dengan kata kûrma.c) Makna. Keseluruhan dapat diartikan sebagai tempat atau sumber api yang merah membara. Perwujudan simbol atau nyasa tersebut bertujuan untuk memberi ajaran alam semesta dan membangkit kesadaran moral dalam segala aktivitas hidup untuk menjaga serta . empas atau penyu. Se-dangkan Nãla atau Anala dalam bahasa Šan-skerta sebagai padanannya adalah ageni ber-arti api. dan dilestarikan. Badavañ adalah istilah yang digunakan untuk nama binatang kura-kura. nilai-nilai simbolik dan religius: Perkataan Badavañ Nala atau Baduvañ Nala terdiri dari kata Badavañ dan Nala. Badavañ Nãla berasal dari urat kata Bada= tempat. perlu dihormati. Bagi umat Hindu. Dan da-lam kepercayaan Hindu sebagai simbol awatara Dewa Wisnu atau disebut Kûrmaratarâ.

. Nãga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Simbol nãga merupakan bentuk fantasi atau hasil imajinasi dari para kriyawan masa lalu yang digarap dengan didasari mitologi Hindu. seperti warna abu-abu batu padas atau warna hitam batu alam). Bentuk Nãga tersebut seperti tampak pada Gambar 11.sebagai ucapan terimakasih atau bakti dihadapan Tuhan atas ciptaannya. 12 dan 13 2) Material: dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu bata. Bentuk dan penerapan Nãga tersebut dibuat membelit Badavañ Nala. b) Fungsinya: Kegunaan dan penempatan nãga di dalam pura sama dengan Badavañ Nala. 3) Warna: Sesuai dengan warna bahan yang digunakan. dan di Pelinggih Saptapetala dalam bentuk patung nãga. digambar pada lontek atau umbul-umbul. sehingga membentuk satu simbol dengan satu kesatuan makna tentang keagungan alam semesta. 3. yaitu dipakai sebagai simbol dan sekaligus sebagai ragam hias dan umumnya diterapkan pada dasar atau bagian “kaki” Pelinggih Padmasana berupa relief tinggi.4.

Gambar 13 Lontek Umbul-umbul Keterangan: Tangkainya terbuat dengan bambu. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam kamus Bahasa Šansekerta kata nãga berarti . Panjang ± 8 m. diameter pakalnya ±5 Cm. a) Makna. Bentuk potongan kain semakin ke atas semakin kecil dan pada ujung bambu terlipat ke bawah serta di ujungnya diberi plat logam berbentuk seperti jantung .

Secara keseluruhan berarti sumber bahan . Anantabhoga simbol dari Dewa Wisnu (pemelihara alam). Berasal dari urat kata “a”-“nanta” dan “bhoga” (a=tidak. Maka Basukih simbol dari Dewa Brahma (pencipta alam).tentang bentuk simbolis nãga yang diterapkan pada masing-masing pelinggih atau peralatan upacara memiliki pengertian atau filosofi dan sebutan yang kontekstual. yaitu. Bhur Loka (lapisan alam bawah). sebenarnya hanya satu dan membelit Badavañ Nala. Anantabhoga dan Taksaka. nãga juga berarti gunung atau pohon (Pemda Tingkai I Bali. Selain arti tersebut. Dalam mitologi Agama Hindu Bali. Sehingga dikenal tiga nãga. Jika ketiga nãga tersebut dikaitkan dengan para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi. seperti. dan Taksaka simbol dari Dewa Šiwa (Pelebur). yaitu. yang disebut Nãga Anantabhoga. Bwah Loka (lapisan alam tengah) dan Swah Loka (lapisan alam atas). Basukih. penerapan pada Padmasana didasari filosofi Tri Loka. Dari pengertian tersebut. 1982/ 1983). maka nãga dapat diartikan sebagai ular besar.ular. kata nãga tersebut diartikan ular naga atau gajah. Dan dalam Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. nanta= habis dan bhoga=makanan). Penerapan patung nãga pada Padmasana.

3. Sedangkan nãga Taksaka. Jadi penerapan nãga pada pelinggih tersebut sebagai simbol tujuh lapisan alam bawah. tapa loka. nitãla dan patãla.5. didasari oleh filosofi. dan tujuh lapisan alam bawah Sapta Patala yang terdiri dari tãla. Senjata Nawa Sanga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Senjata Nawa Sanga merupakan sembilan sejata para dewa dengan bentuk berbeda satu dengan yang lainnya. Jadi peristiwa tersebut berlangsung pada lapisan alam tengah (Swah Loka) atau di permukaan bumi. atãla. jana loka.makanan yang tidak habis-habisnya. Namun kenyataannya dalam membuat Pelinggih Padmasana sering diterapkan dua nãga (Basukih dan Anantabhoga) secara estetis hanya bertujuan untuk membuat komposisi yang simetris. bahwa alam dibagi menjadi tujuh lapisan alam atas yang disebut Sapta Loka (bhur loka. swah loka. maha loka. Perbedaan tersebut mencerminkan atau sebagai simbol karakter dan sifat kekuasaan dari masing- . waitãla. santãla. sutãla. dalam perwujudannya diterapkan pada umbul-umbul (Narasumber: Gelebet) Penerapan patung Nãga Basukih pada pelinggih Sapta Patala. dan satya loka). bhwah loka.

seperti berupa ujung-ujung tombak yang disebut dengan bandrangan atau pengawin . seperti pada Gambar 14 dan 15. 3) Warna: Warnanya produk kriya tersebut. 15 2) Material: Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan menggunakan berbagai bahan. atau dengan menggunakan besi dan diwujudkan sebagai ujung-ujung tombak yang disebut bandrangan atau pengawin. Tata letak dari senjata-senjata tersebut dalam padma angelayang atau pangider-ider. seperti dengan meggunakan kain kapan.masing dewa. seperti pada gambar 14. menyesuai dengan bahan yang digunakan. batu padas. Dalam penerapan-penerapan tertentu ada juga yang diwarnai sesuai dengan tata warna Senjata dan Dewata Nawa Sanga. seperti “hitam besi”. b) Fungsinya: Produk Kriya tersebut digunakan sebagai simbol dan sekaligus hiasan yang diwujudkan dalam bentuk perlengkapan upacara. atau ada juga diwarnai dengan cat warna hitam dan putih perak.

 Wayabya (barat daya)  Sangkara  Angkus  Limpa  Wilis (Hijau)  Pascima (barat)  Mahadewa  Nagapasa  Ungsilan Ginjal  Kuning  Niriti (barat daya)  Rudra  Moksala  Usus  Oranye (jingga)                Uttara (utara) Wisnu Cakra Ampru (empedu) Ireng (Hitam) Madya (tengah) Siwa Padma Tumpuking Hati) Amanca (Pancawarna) Daksima (selatan) Brahma Gadha Hati Bang (merah)  Ersanya (timur laut)  Swayambhu  Trisula  Ineban  Pelung (biru)  Purwa (timur)  Iswara  Bajra  Jantung  Putih  Geniyan (tenggara)  Mahesora  Dupa  Peparu (paruparu)  Dadu (merah muda) Gambar 14. Dewata Nawa sanga . Jenis dan Tata Letak Senjata Nawa Sanga Gambar 15.

bahwa Tuhan telah berkrida. tidak berawal-berakhir. dengan keadaan-Nya: “tunggal”. Dalam hal tersebut. Tuhan diwujudkan sebagai Sada Šiwa. tanpa aktivitas. telah dipengaruhi oleh sakti atau kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. Namun dalam alam imanensi. Nilai-nilai Simbolik dan Religius: Dalam alam transendental. maha tahu dan sebagainya serta disebut Nirgunam Brahman (sunya). sehingga memiliki sifat. Tuhan berwujud sebagai Sadašiwa dan dipercayai. Selanjutnya Tuhan diwujudkan sebagai Šiwa atau Šiwatman atau Mayasarira Tattwa. fungsi dan aktivitas (Saguna Brahman). 1994). bahwa Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa berwujud sebagai Paramašiwa. maka dikenal dewa-dewa yang termasuk kelompok Dewata Nawa Sanga. dengan bermacam-macam manifestasi-Nya dan dipersonifikasikan sebagai dewa-dewi. Dalam alam imanensi umat Hindu di Bali. Tuhan memiliki delapan Ilmu pengetahuan untuk menyucikan Sang Hyang Atma yang ada dalam semua mahkluk dari dosa sesuai dengan amal baktinya (Wardana. manifestasi Tuhan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur keharmonisan alam makrokosmos (Bhuana Agung) yang terletak di seluruh penjuru mata angin dan . kekal abadi.c) Makna. dipercayai oleh umat Hindu.

Dalam Lontar Kekawin Bhomakawya atau Bhomantaka. Dan kesembilan dewa tersebut masing-masing memiliki senjata yang disebut dengan Senjata Nawa Sanga Seperti Pada Gambar 14. yaitu berfungsi menjalankan tugas sebagai pengatur kehidupan di bumi berdasarkan ketentuan Upeti. 2. Hidup dan Mati. Nama Senjata (2) Cakra Makna simbol (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Dewa Wisnu untuk mengatur rotasi dan peredaran bumi. Lahir. bahwa Senjata Nawa Sanga tersebut adalah merupakan simbol-simbol atau nyasa dari kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa dalam menjalankan tugas-Nya. Penjelasan lebih lengkap dapat disimak pada Tabel: 2 berikut Tabel 2 Makna Senjata Nawa Sanga No. Setiti dan Pralina.mikrokosmos (Bhuana Alit) yang terletak pada organ-organ tubuh mahkluk hidup. 15. Trisula . merupakan simbol kekuasaan tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sambu. Masing-masing mengandung arti atau makna yang saling terkait satu dengan lainnya serta merupakan satu kesatuan yang utuh. diciptakan dengan didasari kosmologi khususnya tentang bumi. Dalam hal ini berfungsi sebagai kutub utara yang nantinya dihubungkan dengan Dewa Brahma di kutub selatan sehingga terbentuk sumbu rotasi bumi. Simbol-simbol dalam mayasakti berbentuk senjata tersebut. (1) 1.

Dupa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Dewa Mahesora. 5. Angkus Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara. Moksala Merupakan simbol kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Rudra. baik. dalam fungsinya mengatur. sebagai kekuasaan atau kekuatan dari delapan dewa tersebut terpusat pada Dewa Šiwa. buruk dan sebagainya —). dalam menjalankan tugasnya sebagai pengendali dan penentu dari tugas-tugas yang dijalankan oleh delapan dewa yang terletak di delapan penjuru arah mata angin. Nagapasa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Mahadewa. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengikat atau pengatur kestabilan alam semesta bersama isinya. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur kemakmuran dan kesejateraan alam semesta bersama isinya. Griya Sukawati. Padma Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Šiwa. malam. 9. (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatanTuhan dalam manifestasi Nya sebagai Dewa Iswara yang bertugas mengatur getaran alam (makrokomos dan mikrokosmos). Gadha Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Brahma.(1) 3. 4. atau disebut dengan Padma Anglayang atau pangider-ider Narasumber: Ida Pedanda Budha. dalam fungsinya sebagai pengatur panas alam (makrokomos dan mikrokosmos). (2) Bajra . 7. 8. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur atau menentukan sifat dan karakter alam semesta bersama isinya. Simbol senjata-Nya digubah dari bentuk bunga teratai atau padma yang bermahkota delapan atau Asta Dala. (yang menyangkut Rwabhineda —siang. 6. mengendalikan dan menentukan danda atau hukum alam.

Gambar 16. kakul-kakulan serta patra punggel.3. Perwujudan bertuk tersebut didasari ceritera Bhomantaka. dilatarbelakangi dengan patra wangga. di kanan dan kiri dilengkapi dengan telapak tangan yang dikepak. Karang tersebut merupakan stilisasi dari bentuk kepala raksasa atau punggalan.3. Karang Bhoma . Sebagai salah contoh seperti pada Gambar 16 berikut. Bhoma a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Bhoma dibuat dalam bentuk relief tinggi yang digolongkan sebagai kekarangan. Ciri-crinya: mata besar dan mendelik. sehingga disebut dengan Karang Bhoma.

b) Fungsinya: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai simbol dan sekaligus ragam hias yang diterapkan di atas relung kori agung atau paduraksa. Kori Agung Atau Paduraksa Dengan Ragam Hias berupa Bhoma 2) Material: Umunya bahan yang digunakan untuk membuatnya. seperti batu alam. merupakan gerbang pertama dari sebuah pura atau sebuah pintu yang membatasi halaman kedua atau madia mandala (jaba tengah) dengan halaman pertama atau utama mandala (jeroan) seperti pada Gambar 17 berikut Gambar 17. batu padas atau batu bata. .

Bhauma. bahwa Banaspatiraja adalah raja bhuta. kepuh dan sebagainya.3) Warna: sesuai dengan bahan yang digunakan. bahwa perkataan Bhoma berasal dari Bahasa Šanskerta. 1972) Di Bali. c) Makna. yang keluar dari bumi. seperti: “hitam batu alam”. gigi dan taring mencuat keluar (Covarrubias. pole. tonye atau mahkluk halus yang menempati pohon-pohon besar. mata melotot seram seperti kepala monster. 1963). dengen. mulut terbuka lebar. Dalam A Šanskrit-English-Dictionary dijelaskan. bahwa Bhoma adalah raksasa putra bumi. 1978). artinya berhubungan dengan bumi. seperti pohon randu. nilai-nilai simbolik dan Religius: Bhoma berarti lukisan (ukiran) yang berbentuk muka raksasa atau kala (Bahasa Bali) yang ditempatkan di atas relung pintu gerbang utama pura atau paduraksa (Dinas Pengajaran Propinsi Bali. “abu-abu batu padas” atau merah bata. dijelaskan. . Bhoma digunakan sebagai simbol dari pepohonan dan disebut Banaspatiraja serta dianggap keramat. Pandangan tersebut diselaraskan dengan kepercayaan. kala. tinggal di dalam bumi atau tanah (Monier. Sedangkan menurut Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali.

Mamun usaha mereka sia-sia. dinarasikan tentang kelahiran Sang Bhoma. . Berawal dari perdebatan antara Dewa Brahma dengan Dewa Wisnu tentang kesaktian yang mereka miliki. Lampiran 5b. Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk mencari pangkalnya dan Dewa Brahhma dengan kesaktiaannya berubah menjadi burung layang-layang hitam terbang meluncur ke atas mengejar ujung lingga. Milihat kejadian tersebut. Dalam pencarian tersebut Dewa Wisnu bertemu dengan Dewi Wasundari (Dewi Pertiwi). seperti pada kekawin Bhomantaka. mereka tercengang dan memutuskan untuk menemukan ujung dan pangkal dari lingga tersebut.b). Dalam pertemuan tersebut akhirnya terjalin hubungan yang dalam sehingga melahirkan seorang putra yang diberi Naraka atau Bhoma (Lontar Bhomantaka. sedangkan Dewa Wisnu berubah wujud menjadi seekor babi jantan dan menggali tanah untuk menemukan pangkal lingga. Bersamaan dengan kejadian tersebut tiba-tiba muncul sebuah lingga kristal dari bumi dan menjulang ke angkasa.Menurut Mitologi Bhoma dalam kesusastraan Jawa kuno. Keropak IV. karena pangkal lingga tersebut terus masuk ke dalam bumi dan ujungnya terus menjulang ke angkasa dengan batas yang tak terhingga.

sampai bagian dibawah leher dan hanya tersisa bagian leher serta kepala. tangan. Namun pada saat dipenggal tirta tersebut belum sampai di tenggorokan. Namun makhluk yang diciptakan tersebut memiliki sifat yang rakus dan memakan apa saja yang dijumpainya serta sangat tunduk dengan perintah Dewa Siwa. Kepala raksasa tersebut akhirnya murka. akhirnya Dewa Siwa menjadi sangat marah. karena raksasa tersebut diketahui sedang minum tirta amertha.Heinrich Zimmer dalam bukunya Myths and Symbols in Indian Art an Civilization dipaparkan tentang Bhoma sebagai akibat pemenggalan leher raksasa bernama Rau yang dilakukan oleh Dewa Wisnu. Melihat kejadian tersebut. sehingga muncul makhluk yang luar biasa sebagai Ghora Murti Siwa —wujud Tuhan yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang sangat sangat dasyat dan. Dia mulai makan kaki. . Akhirnya Dewa Siwa memerintahkan agar memakan tubuhnya sendiri. sehingga bagian kepalanya tetap hidup sedangkan bagian badannya langsung mati. Akhirnya raksasa Rau dimakan oleh makhluk tersebut. badan. Perintah tersebut segera dilakukan. mengerikan— dari ajňa cakra-Nya atau kening. Mahkluk tersebut kembali bertanya. merusak dan mengganggu aktivitas para dewa di kahyangan.

menghancurkan dan menolak pikiran jahat yang akan merusak kesucian stana Dewa Siwa serta diberi nama Kirttimukha serta diletakan pada bendul pintu utama. Garuda Wisnu a) Karakteristiknya 1) Material: Bahan baku yang digunakan untuk membuat produk itu adalah kayu. 3. telapak kaki dibuat seperti cakar burung. berparuh. Dewa Siwa memberi tugas untuk menjaga istana Siwa. 2) Bentuk: Pada umumnya bentuk Garuda Wisnu digubah dari bentuk fantasi yang menyerupai burung. Dibagian belakang diberi ekor dan dipunggungnya dibuat patung Dewa Wisnu memegang Cakra. Tubuh dan anggota badan menyerupai manusia. bertaring dan diberi busana serta mahkota. menelan. gigi runcing. bersayap. dan sebagainya. mata melotot. mereka tidak akan memperoleh rahmatku” (Zimmer. Karena kepatuhannya tersebut. batu padas. Pada saat tersebut Dewa Siwa bersabda “ Barang siapa yang masuk ke dalam kuilku tanpa menyembahmu. atau batu alam.apa yang saya lakukan lagi ?. seperti pada Gambar 18 berikut . 1945).4. batu bata.

biasanya diterapkan di belakang bangunan Pelinggih Padmasana.Gambar 18. digunakan sebagai simbol dan hiasan. gedong bata dan seba- . karena dari punggung patung garuda tersbut. langsung berdiri tugeh atau tiang penyangga menuju puncak langit-langit. b) Fungsinya: Produk kriya tersebut mempunyai fungsi religius dan estetis. sendi tugeh (dasar tiang penyangga puncak langit-langit pada bangunan piasan). Garuda Wisnu Tetapi yang digunakan untuk menghias pada sendi tugeh jarang dilengkapi dengan patung Dewa Wisnu.

Relief Garuda Wisnu Diterapkan di Belakang Padmasana c) Makna. salah satu contoh penerapannya. yang berarti “menelan” (penakluk para naga. Garuda dipakai sebagai simbol matahari. memiliki kekuatan magis untuk menangkal bisa ular). naga sebagai simbol . Berikut Gambar 19. Dalam perwujudannya sebagai simbol. sering ditunggangi oleh Dewa Wisnu. seperti pada Gambar 19.gainya. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam bahasa Šanskerta perkataan “garuda” berasal dari akar kata “gri”.

maka garuda kembali dijadikan sebagai lambang negara. Adegan tersebut sangat populer dalam episode Ramayana. garuda juga digunakan sebagai simbol kebesaran atau penggambaran aspek keagungan Tuhan. 1946).air kosmis dan Wisnu berada pada kedua sisi antagonis tersebut. 1995) Setelah bangsa Indonesia bebas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa lain. ceriteraceritera rakyat dan dalam bentuk visualnya dipakai sebagai sarana pemujaan oleh umat Hindu di India dan Bali (Zimmer. Raja Kertajaya (raja yang terhakhir memerintah dikerajaan Kediri). Diperkirakan telah berlangsung sejak pertengahan abad X. yaitu Garuda Pancasila. Dalam perwujudannya kaki burung Garuda tersebut mencengkram pita yang berisi tulisan tentang ikrar . Hal tersebut dapat diketahui dari tipografi peninggalan cap atau stempel bermotif Garudamukha yang pertama kali digunakan sebagai lencana kepala pemeritahan oleh Sri Maha Raja Blitung (808-910) yang berkuasa di Jawa Tengah. Prabu Aerlangga dengan peninggalannya yang paling terkenal berupa garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dan sebagainya (Titib. Di Nusantara. Penggunaannya semakin berkembang dan terus seperti digunakan oleh Raja Jayabaya.

twam prabhuprahus tapanah twam nastranam anuttamam Artinya. anak Bhagawan Kacyapa dengan Sang Winata. ling nira: Twam rsi. twam dewah.bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. dan sinarnya sama dengan sinarku. Sinanya sangat bagus. dalam bahasa Kawi— terdapat satu episode yang menceritakan keajiaban atau kebesaran Sang Garuda. Kunang pada tejanya lawan teja nghulun. Dalam Adiparwa —sebuah kesusastraan Jawa yang diperkirakan ditulis pada zaman pemerintahan Raja Darmawangsa Teguh sekitar tahun 918 Saka (918 Masehi). seberikut: Aparan pwa ya makateja Ya? Garudo balawan tesam manuk mahacakti. kapwa maso mangastuti Sang Garuda. pathagecwara. twam mahabhagas. . Nama tluya sutejasa. Mari ta sira harohara. Apakah yang bersinar itu ? Garuda tiada lain seekor burung yang maha sakti. Makana ling Sang Hyang Agenbi ri sang watek dewata. Lambang tersebut sebagai sumber yang kreatif mencerminkan kebebasan untuk menentukan nasib bangsa indonesia di antara bangsabangsa di dunia. anak Bhagawan Kacyapa ri Sang Winata ika.

Dalam perjalanan mencari tirta amertha ia menemui banyak hambatan. Mereka tertegun dan berdiam. engkau penguasa segala yang terbang melayang. engkau pendeta besar. Seperti para dewa yang membawa senjata menghadang dan menyrangnya. Namun sang Garuda menolaknya dan menyuruh agar para dewa . Tirta tersebut natinya digunakan sebagai persyaratan untuk membebaskan ibunya (Sang Winata) dari perbudakan Sang Kadru. Dalam episode selanjutnya diceritakan usaha Garuda dalam mencari tirta amertha yang disimpan oleh para dewa di Gunung Somaka. Di angkasa dengan serta merta dewa Wisnu mengampirinya dan menyuruh agar tirta tersebut dikembalikan.Demikianlah kata Sang Hyang Ageni kepada para dewa. Akhirnya sang Garuda berhasil mengambil tirta amertha yang disimpan dalam goa dilereng gunung Somaka dan membawanya terbang ke angkasa. engkau rajanya. engkau resi. 1958). Namun dengan kesaktiannya tak satupun bulu Garuda tersebut dapat dirontokan oleh senjata para dewa. sinarmu seperti sinar matahari (Widiatmaja. semua tampil ke depan dan memuji Sang Garuda serta mengatakan: Hyang Garuda. engkau dewa.

atal ancur dan perada). Barong Ket dan Rangda a) Karakteristiknya: 1) Material: Bahan baku yang digunakan. jelaga. serbuk tulang menjangan. maka Garuda Wisnu diterapkan pada bangunan-bangunan suci.5. dianggap mengandung nilai-nilai simbolis religius serta disakralkan. karya sastra tersebut banyak mengilhami para seniman atau para kriyawan masa lalu dalam berkaya. kain dan sebagainya. . kaca. 3. pewarna (menggunakan pewarna tradisional. seperti pada Pelinggih Padmasana. praksok ( Bahasa Bali) atau sejenis serat daun pandan. Mitologi tentang keagungan atau kesaktian tokoh Garuda dan Wisnu dijadikan sebagai landasan estetika dan penerapan Garuda Wisnu juga sebagai simbol kebesaran Tuhan. seperti: kincu. kayu. Sehubungan dengan hal tersebut.minta anugrahnya… Episude cerita tersebut diakhiri dengan menerima permintaan dewa Wisnu untuk menjadikannya sebagai kendaraanya dan tirta amerthan tersebut kembali dapat direbut oleh para dewa serta Sang Winata bebas dari perbudakan. seperti: kulit sapi yang telah disamak. Sedangkan di Bali.

bulunya diwarnai hitam atau dibiarkan putih (warna praksok). Barong Blas-Blasan. kembang sasak. dibuat dan diwarnai dengan cara yang sama. silat bahu. gelung kekendon. Hiasannya. Barong Macan. dibuat dengan kulit dan diwarnai perada atau warna emas. Gambar 20. geruda mungkur. seperti: Barong Ket. Barong Bangkal. angkeb pale dan sebagainya.2) Bentuk: Barong yang digunakan di Bali bentuknya sangat beragam dengan sebutan yang berbeda-beda. seperti: badong. Demikian juga hiasan Rangda. Barong Ket dan Rangda . Barong Brutuk dan sebagainya. Warna topeng Rangda umumnya putih. Salah satu contoh berupa Barong Ket dan Rangda dapat dilihat pada Gambar 20 b) Warna: Topeng barong biasanya diwarnai dengan merah. Barong Asu.

dimainkan oleh . Produk kriya tersebut diciptakan dan digunakan sebagai sarana pagelaran seni tari wali. Seperti. tarian yang memakai kedok dan kelengkapannya sebagai binatang buas (singa). d) Makna. karena selain mengandung nilai-nilai sakral (sebagai sarana upacara agama).c) Fungsinya: Barong dan Rangda adalah tergolong produk kriya bebali. seperti dalam Bahasa Šanskerta. yaitu tarian yang dipentaskan serangkaian dengan upacara Agama Hindu di Bali. maka perkataan barong diselaraskan dengan perkataan bareng (Bahasa Bali). berasal dari kata Bhahrwang. bahwa perkataan barong berarti. Pengertian tersebut. bahwa sinonimnya disitir dari Bahasa Belanda. sesuai dengan pendapat R. Goris. nilai-nilai simbolik dan religius: Banyak pengertian mengenai kata barong. dalam melangsungkan upacara odalan di pura. juga mengandung nilai-nilai profan. 1975/1976) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. artinya binatang beruang. yaitu dari kata beer. Produk kriya tersebut juga digunakan sebagai pratima dan biasanya di simpan di Pura Dalem. Sedangkan ditinjau dari cara memakai. artinya bersama —cara menarikan atau memainkan bersama-sama —(Proyek Sasana Budaya Bali.

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. perkataan itu berarti perempuan yang kehilangan suami (cerai atau meninggal dunia) atau janda (Kridalaksana. 1972). Secara singkat . Barong dan Rangda dalam episode Calonarang adalah dua tokoh yang melambangkan dua sifat atau karakter berbeda (Rwa Bhineda) atau antagonis. 1994). Sedangkan tokoh Rangda melambangkan sifat atau karakter yang mengarah pada hal-hal kurang baik atau adharma. 1994). bahwa penciptaan Barong dan Rangda di Bali diilhami cerita yang terdapat dalam lontar Šiwa Tattwa. hanya disesuikan dengan suara yang ditimbulkan akibat entakan rahang bawah kedok barong. mengayomi dan dapat menyembuhkan penyakit. satu dibagian kepala dan satu di bagian ekor. sewaktu dimainkan. Sedangkan Rangda atau Randa. Perkataan ”Ket“ tidaklah mengandung arti khusus. Menurut mitologi.dua orang. di mana Barong sebagai lambang kebenaran atau dharma. sebagai juru penyelamat. dipertunjukkan dengan ceritera Calon Arang (Kridalaksana. mengganggu dan sebagai penganut ajaran “beraliran kiwa atau kiri” (black magic) (Covarrubias. merusak. Masyarakat di Bali menyebutnya sebagai penganut ajaran beraliran “tengen atau kanan” (white magic).

Masalah tersebut terungkap berkat kehebatan ilmu tenung yang dimiliki dewa Ganesh. Sebenarnya pengembala tersebut adalah siluman dari dewa. namdala 53-56). Pada hal kejadian tersebut dibuat oleh Dewa Šiwa. Lalu untuk memberkati perubahan wujud istrinya menjadi dewi Uma. mengorbankan kesucian dan kesetiannya. melakukan perselingkuhan dengan pengembala lembu. Dia berani menghianati. istrinya menghadap dalam wujud rangda dengan wajah menakutkan.diceritakan tentang kutukan Dewa Šiwa yang ditujukan kepada istrinya Dewi Uma agar berubah menjadi Dewi Durga —Seorang dewi atau perempuan yang berwajah angker dan menakutkan sebagai dewi penguasa kuburan yang bernama setra Gandamayu— karena ulahnya yang tidak wajar dilakukan ketika disuruh mencari susu atau empehan lembu. Ketika hari tersebut tiba. Dalam kutukan tersebut Dewa Šiwa juga mengijinkan istrinya untuk berubah wujud kembali menjadi dewi Uma saat hari tilem sasih kesanga ( saat bulan mati di bulan sembilan). maka Dewa Šiwa berubah menjadi Bhuta Egeg (Lontar Šiwa Tattwa. .

Sedangkan yang kronologi terutama menyangkut kehidupan manusia dipakai istilah istoria. 1969). Dalam penggunaannya oleh filusuf Yunani seperti istoria yang dipakai Aristoteles berarti suatu cara menelaah sesuatu secara sistematis mengenai seperangkat gejala alam. Pendekatan Historis ejarah atau dalam bahasa Inggris disebut history dan berasal dari bahasa Yunani istoria (kata benda) berarti “ilmu”.BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA A. Pendekatan tersebut disebut natural history. Namun masa lampau tersebut tidaklah dapat direkonstruksi kembali secara utuh. Dalam definisi yang universal istilah history berarti masa lampau umat manusia. entah suatu susunan yang kronologis ataupun tidak. S . Namun dalam perkembangan selanjutnya metode untuk menelaah sesuatu yang tidak kronologis digunakan istilah scientia. karena sejarah hanya berdasarkan rekaman dan berdasarkan simpulan mengenai lingkungannya (Gottschalk.

dilakukan seleksi. Rekonstruksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses historiografi (penulisan sejarah). Dan cara tersebut berbeda dengan metode sejarah analitis. . Sejarah merupakan suatu metode atau prosedur (procědě de connaissance). tertulis dan lisan yang relevan.1969). dan deskripsi. karena pada batas-batas tertentu metode sejarah analitis adalah ilmiah. 4) Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya tersebut menjadi suatu penyajian atau deskripsi yang berarti. Cara penulisan sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok yaitu: 1) Pengumpulan data yang berasal dari jaman yang sedang dialami menjadi konsentrasi dan pengumpulan bahan-bahan: tercetak.Pendekatan hitoris adalah suatu proses pengujian dan analisis secara kritis hasil rekaman dan peninggalan masa lampau. sehingga metode sejarah dapat diterapkan pada berbagai disiplin yang digunakan sebagai sarana untuk memastikan fakta (Gottschalk. 2) Menyingkirkan bahan yang dianggap tidak otentik 3) Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan bahan yang otentik. penyusunan. yakni hasilnya dapat diverifikasi dan dapat titolak atau diterima.

hukum. baik berdasarkan perbedaan waktu terjadinya atau tempat terjadinya di dalam kurun waktu yang sama. Sedangkan dari segi waktu. 2) Peninggalan tertulis: seperti: prasasti.Secara umum sumber data yang digunakan dalam penelitian sejarah dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu: 1) Peninggalan berupa material. pendekatan historis menggunakan data yang relatif sudah lampau. seperti berupa ceritera rakyat. kitab. perabotan dan sebagainya. bangunan. perhiasan. lontar. 3) Peninggalan yang tidak tertulis atau budaya. Bentuk penelitian historis (Namawi. naskah kuno dan sebagainya. Penggunaan arsip dan dukumen harus dibedakan dengan studi dokumenter yang merupakan metote deskriptif. monumen. sehingga masih dapat dikelompokkan sebagai usaha mengungkap fakta masa sekarang. adatistiadat. kepercayaan. seperti: candi. senjata. dogeng.dan sebagainya. Studi dokumenter.1990): 1) Penelitian atau studi komparatif hitoris. . posil. dilakukan dengan membandingkan gejala yang sejenis. cenderung menggunakan data yang belum terlalu lama. relief.

lembaga dalam menetapkan kebijakan. sehingga berpengaruh bagi kehidupan pada masa terntentu dalam prospek sejarah. . 4) Penelitian kronologis atau secara diakronis penelitian ini bermaksud untuk mengungkap kejadian atau keadaan dan peristiwa menurut urutan waktunya dari masa yang paling tua dapat dicapai sampai masa-masa mendekati masa sekarang. kerajaan. kriya dan desain pendekatan semiotis dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah estetika dan semantika produk kriya. Dalam bidang seni. Upaya pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan dengan membaca atau menginterpretasikan hubungan antar tanda dan makna pada produk kriya. dilakukan untuk mengungkap berbagai teori pandangan hidup.2) Penelitian legal atau yuridis. Pendekatan Semiotis Pendekatan Semiotis diartikan sebagai prosedur yang digunakan untuk pemecahan masalah yang ditinjau dari perspektif ilmu tanda atau dikenal dengan “semiologi” atau “semiotika”. pemikiran filsafat dan lain-lain yang dapat ditemui di dalam berbagai peninggalan tertulis terutama buku-buku yang dihasilkan pada zaman tertentu. 3) Penelitian bibliografi atau kepustakaan. B. Bermaksud mengungkap kegiatan-kegiatan pemerintah suatu bangsa.

yaitu sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi. berasal dari kata signum yang berari sebuah tanda khusus. Di Eropa ilmu tersebut disebut dengan Semiology. Sebab menurut Tjahjono (1980) bahwa istilah desain (design) dalam penggunaannya sebagai kata kerja berasal dari kata latin-baru desingare yang berarti ‘menandai’ atau membatasi (penambahan suku kata ‘de’ di depan menunjukkan pemakaian secara intensif). Namun kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani. Semeion. Kata desingare sendiri mempengaruhi kata designer dari bahasa Perancis abad pertengahan (dalam pengertian merancang).Indeks. Dia menegaskan bahwa peranan tanda dalam kehidupan sangatlah besar. ikon yang merupakan hal yang mendasar dalam semiotika. seorang linguis dari Swiss. seperti sistem tanda. yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (18571913). Di Amerika ilmu tersebut disebut dengan Semiotics. hubungan . sebenarnya dalam desain bukan merupakan hal yang baru. yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce (1838-1914). bahwa pengertian semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda. tanda. simbol. dalam artian sign atau tanda. proses yang berlaku dalam penggunaan atau fungsi tanda. Merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan. seorang filosuf dari Amerika.

bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda dalam maknanya yang luas di dalam masyarakat. Dalam pengkajian semiotika menggunakan beberapa pendekatan. yang memasukan image (citra). Dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa bidang kajian semiotika sangat luas. pakaian. Luxemburg menyatakan. Semiotika mempelajari tentang tanda. symbol dan myth ke dalam cakupan semiotika (dalam Santosa. konvensi dan sebagainya (Zoest dalam Soekowati. cara berfungsi. Third Edition. 1990). tetapi meliputi berbagai aspek kebudayaan. bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tentang tanda dan lambang (sistem dan proses perlambangan) (Luxemburg dalam Hartoko. 1984). penerima dan pengiriman tanda. metaphor (metafora). Kemudian Wiryaatmadja (1981) menyatakan. 1993).dengan tanda lainnya. seperti gerak isyarat atau gesture. seperti . Batasan tersebut sesuai dengan pendapat Rene Wellek dalam telaah linguistik. baik menggunakan bahasa verbal atau ujar maupun non-bahasa atau nirujar. termasuk pengiriman. baik bersifat literal maupun alegori (kias) atau figuratif. 1992 ). hubungan antara tanda dengan tanda lainnya. dan penerimaan tanda dalam komunikasi tanda. dan berbagai produk lainnya (The American Heritage® Dictionary of the English Language. Ruang lingkup kajiannya tidak terbatas pada bidang bahasa saja.

lugas dan objektif. Menurut Peirce. hubungan dengan tanda-tanda lain dan cara bekerja samanya dalam menjalankan fungsinya. seperti tanda (sign). 1) Tanda (sign) merupakan komponen semiotika yang menandai suatu hal atau keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subyek. misalnya.1) Sintaksis semiotika. peristiwa. apabila mengutamakan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerima tanda. Dalam konteks tersebut. tanda selalu menunjuk pada sesuatu hal yang riil. bahasa. benda. tulisan. dan bentuk-bentuk tanda yang lain. lambang (symbol) dan isyarat atau sandi. 2) Semantik semiotika. yaitu studi tentang tanda yang berpusat pada penggolongan. . disebut designatum atau denotatum. diacu atau ditunjuknya. 3) Pragmatik semiotika. makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan objek atau sesuatu — apa yang dimaksud oleh tanda. apabila pengkajian menonjolkan hubungan tanda dengan acuannya dan interpretasi yang dihasilkannya. sehingga tanda memiliki arti yang statis. Bidang kajian semiotika seperti dipaparkan tersebut. kejadian. tindakan. secara garis besarnya mencakup komponen dasar. umum.

sedangkan dalam Bahasa Indonesia disebut “acuan”— disebut representamen. Keseluruhan dari proses terlaksananya representamen digambarkan oleh Peirce dalam diagram segitiga. Representamen dapat terlaksana apabila ada bantuan sesuatu. konvensi. seperti tampak pada Gambar 21 berikut: . (Sudjiman. “Sesuatu” yang diacu oleh tanda agar dapat berfungsi disebut dengan latar atau ground. Tanda mempunyai dua entitas yaitu: signifier atau wahana tanda dan signified atau wahana makna atau dapat diartikan sebagai penanda dan petanda serta keduanya tidak dapat dipisahkan. Jadi dalam suatu tanda selalu terdapat tiga unsur. Setelah tanda diasosiasikan dengan suatu acuan.Dalam Bahasa Prancis digunakan kata référent. Interpretant merupakan suatu peristiwa psikologis dalam pikiran interpreter atau penterjemah. 1992). yaitu denotatum. ground dan interpretant. misalnya. maka dari tanda yang orisinil berkembang menjadi suatu “tanda yang baru” disebut interpretant.

Sumber: Eco 1979 Gambar 21: Proses Berlangsungnya Representamen Salah satu contoh: dua buah produk kriya berupa patung raksasa apitlawang (Bahasa Bali) yang diletakkan mengapit pintu gerbang utama pura atau paduraksa. yaitu untuk “menyadarkan” atau mengingatkan umat. Awalnya patung tersebut merupakan tanda untuk “benda biasa” atau sekadar hiasan semata. dengki. namun setelah mengacu pada latar (ground) yang terkait dengan pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. —dua buah patung raksasa tersebut mempunyai fungsi komunikasi tanda visual. sebelum memasuki pura atau tempat suci agar “membunuh” sifat-sifat “keraksasaan” (marah. atau emosi diri yang tak terkendali lainnya)— maka patung tersebut akan menjadi tanda . loba.

semua pernyataan individual yang belum terkonvensikan dapat disebut sinsign. maka pada dirinya akan muncul interpretasi yang menggugah kesadaran. yaitu: a) Qualisign adalah terbentuknya tanda berdasarkan sifat atau kualitas. bahwa memasuki pura hendaknya mengendalikan “emosi”. dapat dikatakan representemen dari patung tersebut dapat berlangsung dengan baik. Bagi umat yang memahami latar atau ground yang tersirat pada patung tersebut. seperti. b) Sinsign berasal dari singular sign adalah tanda terbentuk berdasarkan penampilannya yang nyata. tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifat penghubung tanda dengan denotatum.baru yang memuat latar tersebut. c) Legisign adalah tanda terbentuk atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum. Dalam kondisi tersebut. Unsur penanda (dasar atau latar) atau ground dari tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifatnya. konvensi atau kode. Selain hal tersebut. sehingga dapat mengikuti upacara dengan khidmat. yaitu: .

ada asap sebagai pertanda ada api dan sebagainya. membawa penjelasan mengenai daya atau kekuatan kebenaran pada sistem-sistem semiotika. Batasan tersebut mengimplikasikan bahwa segala sesuatu merupakan icon. menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda denotatum. c) Argument atau interpretant dalam arti umum. Selanjutnya unsur interpretant atau petanda dapat dibedakan menjadi tiga. yaitu: a) Rhême. . karena semua yang ada di alam dapat diasosiasikan dengan yang lain. b) Indeks adalah tanda yang sangat tergantung pada denotatum dan memiliki hubungan bersebelahan atau kedekatan eksistensi. b) Dicisign. apabila tanda tersebut dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum. Contoh.a) Iconic adalah tanda terbentuk berdasarkan suatu kemiripan potensial yang dimilikinya dan tidak tergantung pada makna denotatum. apabila bagi interpretant tanda itu. c) Symbol atau lambang adalah hubungan berdasarkan konvensi dari suatu kelompok komunitas manusia. Dalam hal tersebut tanda terkait dengan renungan kebenaran.

yaitu kemampuan untuk menciptakan “sistem simbolik”. Dan sekaligus dipakai untuk menandai salah satu perbedaan manusia dengan binatang Sehingga ia menyatakan: ”. karena hampir semua aktivitas dalam kehidupan manusia sehari-hari.. bahwa semua mahkluk ciptaan Tuhan dalam menghadapi realita kehidupan. bekerja dan sebagainya.. seperti dalam berpikir. 1944). Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ernst Cassirer. dari dulu hingga sekarang tidak terlepas dari aktivitas simbolisasi. symballein (suatu bentuk kata kerja) yang berarti meletakan secara bersama atau menaksir bersama. Manusia sering disebut sebagai “mahkluk simbolik”. berperasaan. yaitu sistem penerimaan dan pemberian. Istilah simbol berasal dari perkataan Yunani.2) Lambang atau simbol . Namun manusia selain terlibat dua sistem tersebut. juga mempunyai kelebihan untuk menciptakan sistem komunikasi dengan matra baru yang menyesuaikan dengan lingkungan realitas. berkomunikasi. membaca. (Cassirer. maksudnya prihal yang . sebagai kata benda. bersikap. umumnya dilandasi oleh dua sistem. instead of defining man as an animal rationale. we should define him as animal symbolicum”. berarti perbandingan dengan sesuatu.

Ogden dan Richards dalam Eco (1979) memberi dua istilah. karena merupakan analogi tanda untuk menghadirkan tanda yang lain. Dalam kaitan dengan simbol.harus dikaji dengan kritis. yaitu reference (yang mengandung. Ketiga komponen tersebut digambarkan dalam diagram segitiga. berdasarkan konvensi atau kode yang berlaku umum dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu. sebagai hasil interpretasi). seperti Gambar 22 berikut. Lambang atau simbol adalah tanda yang mampu menuntun pemahaman si subjek kepada objek berhubungan dengan makna denotatum dan konotatum. denotatum. isi atau konsep sebagai acuan) dan referent (yang mengandung persepsi. “sesuatu” dan sebagainya. Sumber: Eco 1979 Gambar 22 Berlangsungnya Referent .

1990). sehingga lambang atau simbol bermakna dinamis. Perwujudannya sangat tergantung pada permasalahan yang bersifat kultural. Sebenarnya penerapan ketiga komponen semiotika. impian dan bentuk-bentuk abstrak lainnya dapat direalisasikan dalam wujud simbol. 3) Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan oleh si subjek kepada objek. apabila ditangguhkan pemakaiannya.Jadi simbol merupakan tanda yang mengandung pengertian sertaan dan antara simbol dengan yang disimbolkan atau referent yang dihasilkan sama sekali tidak terdapat pertalian makna alamiah. sering . khusus. Lambang atau simbol merupakan pedoman untuk memudahkan pengenalan atau penghayatan sesuatu di tengah-tengah kesemerautan perbuatan manusia dan keragaman kejadian alam. isyarat akan berubah menjadi tanda atau perlambang (Santosa. situasional dan kondisional. Karena di dalamnya terkandung kaidah yang bertalian dengan akal budi dalam seluruh paradigma tentang kehidupan sadar dan di bawah sadar. simbol dan isyarat. Jadi isyarat selalu bersifat temporal (kewaktuan). Mitos. dan majas. Dalam keadaan tersebut. kias. subyektif. seperti tanda. khayalan. si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek yang memberi isyarat pada waktu itu juga.

3. 6. 5. karena terkonvensi berbentuk konkret dan atau abstrak. . Hal tersebut disebabkan. berbentuk abstrak dapat dikenal oleh binatang dan manusia yang dipakai untuk lambang atau simbol tidak mempunyai hubungan khusus dengan yang dilambangkan atau disimbolkan. secara garis besarnya dapat dilihat ciri masing-masing komponen tersebut. ISYARAT/SANDI (4) diberitahukan oleh subjek kepada objek (subjek aktif) hanya memuat satu arti diberitahukan oleh subjek kepada objek secara langsung (berlaku satu kali) 2. dan dapat juga oleh binatang setelah diajarkan secara berulangulang yang dipakai untuk tanda selalu mempunyai hubungan khusus dengan yang ditandai (kontekstual). terutama dalam menentukan garis demarkasinya secara tepat. diketahui oleh manusia. seperti Tabel 2 berikut: Tabel 2 Tiga Komponen Semiotika No. Namun berdasarkan uraian tersebut. hanya dapat dipahami oleh manusia. TANDA (2) subjek diberitahu oleh objek (subjek pasif) hanya memuat dua arti subjek dibeitahu oleh objek terus menerus (berlaku konstan) SIMBOL (3) subjek dituntun memahami objek (subjek aktif) memuat banyak arti atau sedikit-dikitnya dua arti. (1) 1. yang dipakai sebagai dasar isyarat tidak ada hubungan khusus dengan yang diisyaratkan. berbentuk konkret dan / atau abstrak. karena ketiganya saling terkait. 4. subjek dituntun memahami objek secara terus menerus (berlaku secara konstan).menemui kesulitan.

1983) (3) diciptakan oleh manusia untuk manusia. Sehubungan dengan hal tersebut. maka model semiotika tersebut akan dipakai untuk menjelaskan atau memaparkan tinjauan mengenai penggunaan tanda atau simbol dalam masyarakat Hindu di Bali pada zaman Hindu dan pewaris tradisi tersebut. (Herusatoto. Hal tersebut dilakukan mengingat dalam mengamalkan ajarannya. penanda (signifier) dan petanda (signified) meunjukkan hubungan yang “statis”— merupakan semiotika dengan model berpikir struktur. alam dan juga binatang untuk manusia dan/atau binatang. harus mengikuti model struktur kaitan antara penanda dengan petanda yang berlangsung stabil atau mapan— serta sebagai konsep dari paham strukturalis. (4) diciptakan oleh manusia untuk manusia dan “mahkluk lain” Penjelasan semiotika tersebut. sinkronik dan konvensional —Apapun bentuk pertukaran tanda. hampir semua diwujudkan dalam bentuk simbol atau lambang dengan konvensi yang telah mapan dan stabil yang mengacu pada mitologi atau filosofi agama Hindu dan didasari keyakinan.(1) 7. Terutama penggunaan tanda atau simbol dalam konteks pelaksanaan ajaran agama Hindu sesuai adat di Bali. terutama terkait dengan model semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure maupun Ogden dan Richards —dimana antara tanda (sign). (2) diciptakan oleh manusia. Simbol-simbol tersebut diupayakan dengan harapan agar dapat “mempermudah” .

Pemikiran tersebut menjadi salah satu konsep dalam paham post-strukturalisme. Sebuah teks atau produk desain atau seni selalu dibuat dalam ruang dan waktu yang konkrit. relief. seorang pemikir Rusia. Model semiotika tersebut merupakan pengembangan lebih lanjut dari paham ‘dialogisme’ (dialogism) yang diperkenalkan oleh Mikhail Bakthin. bahwa “dialogisme” sebagai relasi-relasi yang harus ada di antara ungkapan-ungkapan dalam discourse. Oleh sebab itu. diwujudkan dalam produk-produk kriya seperti: patung. maka antara satu teks atau produk dengan teks atau produk yang lain dalam ruang dan antara satu teks atau produk dengan teks atau produk sebelumnya yang saling silang me- . senjata dan sebagainya. seorang pemikir post-strukturalis dari Perancis. Dalam buku Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979). Sedangkan kajian semiotika terkait dengan fenomena eklektik pada desain produk masa kini di Bali diuraikan berdasarkan model semiotika ‘intertekstualitas’ (intertextuality) yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva. Menurut pendapat Mikhail Bakthin. Kristeva menerangkan bahwa pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam analisis teks atau produk desain atau seni.penghayatan kepada sifat-sifat maya Tuhan. Misalnya. karena tidak ada ungkapan yang tidak terkait dengan ungkapan lain.

Konsep intertekstualitas yang dikembangkan oleh Kristeva tersebut dapat digambarkan dalam suatu sekematik seperti Gambar 23 berikut Gambar 23 Transposisi Sistem Tanda Berdasarkan Model Semiotika Intertekstualitas (Intertextuality) Dalam penggunaan tanda atau simbol dengan petanda atau maknanya di masyarakat. ‘pelesetan’ bagian tanda dari sistem tanda yang menjadi referensinya. Misalnya dapat menimbulkan terjadi ‘penghapusan’ atau ‘pengkaburan’. sehingga sepanjang perlintasan tersebut. Pemakaian petanda sebelumnya yang telah mapan untuk petanda baru yang kurang jelas maksudnya akan menunjukkan terjadinya suatu perlintasan sistem tanda. Istilah intertekstualitas merupakan proses perlintasan atau diistilahkan dengan ‘transposisi’ (transposition) dari satu sistem tanda (sign system) ke sistem tanda yang lain. suatu sistem tanda kadang-kadang dapat berdampak negatif atau ‘merusak’ sistem tanda sebelumnya.nyilang satu dengan yang lainnya dalam rentang waktu tertentu mesti ada relasi-relasi ( Kristeva. 1979). sering dijumpai .

seperti konsep “sekular” dan konsep spiritual religius serta dikaitkan dengan nilai fungsi guna dan estetis yang dikandungnya. image. C. prestise. di dalam tersirat nilai-nilai atau norma-norma budaya yang melibatkan beberapa komponen semiotika. janji dan sebagainya. seperti telah dipaparkan tersebut. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya Berdasarkan uraian tersebut dan dikaitkan dengan penciptaan serta penggunaan produk kriya dalam kehidupan masyarakat di Bali.terjadi fenomena “permainan penanda”. mengingat produk-produk kriya masa lalu juga merupakan salah satu artefak kebudayaan. akan dilakukan tinjauan berdasarkan konsep yang melatarbelakangi penciptaannya. misalnya dalam pengadaan komoditi mata dagangan. maka permasalahan rancangan produk-produk kriya juga dapat dianalisis berdasarkan pendekatan semiotika. Pada mata dagangan tersebut terjadi ekspansi secara total serta perkembangbiakan konvensi tanda yang tak terbatas untuk mencapai kesenangan. Konsumen sering disuguhi permanen tanda-tanda atau simbol-simbol yang dikondisikan oleh pihak produsen dengan tujuan untuk memperoleh benefit atau untuk memenangkan kompetisi dagang. nostagia. Untuk lebih jelasnya mengenai permasalahan semiotika dalam produk-produk kriya. Hal tersebut. .

seperti kebutuhan produk kriya berupa peralatan kerja untuk profesi sebagai petani. jika ditinjau dari sudut semiotika. maka tampak tanda-tanda yang diterapkan lebih mengutamakan makna denotasi dan mengarah pada kategori pragmatis semiotika. Sehingga ditinjau dari historis dan semiotis produk yang digunakan oleh seseorang dengan mata pencaharian tertentu juga dapat dipakai sebagai . sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan akan produk kriya. Konsep desain produk kriya untuk benda fungsional. pedagang. dan sebagainya. Sistem tanda tersebut dapat sebagai penuntun dalam penggunaan produk tersebut. maupun sebagai produk yang berfungsi estetis sebagai benda hiasan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekular. objektif dan mengutamakan segi utilitas karena semata-mata untuk dipakai. karena bangun tanda yang diwujudkan lebih lugas. menusuk dan sebagainya. Dengan konsep penerapan tanda tersebut. memotong. Konsep Sekular Berbagai aktivitas kehidupan masyarakat di Bali. Misalnya. alat untuk mengambil.1. Wujud produk kriya fungsional yang diperuntukan sebagai peralatan kerja (working tool) dalam perencanaannya terkait dengan tuntutan kebutuhan suatu profesi. baik berupa produk fungsional sebagai alat bantu. produk kriya berfungsi sebagai wadah. maka para pemakai (user) akan secara gamblang dapat menafsirkan tanda-tanda yang bekerja pada wujud visualnya. tukang.

Kemudian dengan semakin majunya tingkat peradaban masyarakat. Menawarkan berbagai alternatif produk dengan menanamkan tanda atau simbol dengan makna konotatif. melainkan mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan bersifat “sekular” atau hedonistik. kesatuan. maka berbagai upaya dilakukan oleh para kriyawan untuk menghasilkan produk kriya yang unik. Misalnya. . karena interpretasi menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda dan denotasinya. keselarasan. Sehubungan dengan hal tersebut. Pemenuhan kebutuhan akan produk kriya tidak hanya terbatas pada fungsi guna semata. alat bajak yang ditarik oleh sapi dengan fungsi untuk membajak tanah pertanian. Produk kriya seperti tersebut.indeks mengenai profesi seseorang. Seperti mempertimbangkan segi estetis yang menyangkut keseimbangan. sehingga secara subjektif dapat menyentuh sukma dan dirasakan sebagai penghargaan bagi para pemakai. Dengan upaya tersebut dapat melahirkan suatu image atau citra rasa tertentu dalam masyarakat. makna dan sebagainya. Produk kriya yang diciptakan disertai dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan menyangkut hal-hal bersifat psikis. maka tuntutan kebutuhan hidupnya juga semakin kompleks dan bervariasi. dalam konteks semiotika akan bertindak sebagai dicisign. indah dan dengan berbagai karakteristiknya. maka alat tersebut jelas digunakan oleh profesi seseorang sebagai petani tradisional.

produk kriya berupa mahkota yang dibuat dengan berbagai hiasan dan tanda atau simbol yang terkonvensi dalam suatu masyarakat. Produk kriya berupa cincin. selain digunakan untuk perhiasan. juga tampak fenomena memakai kekuatan nilai tukar yang kecenderungannya lebih menyandarkan pada makna konotasi. juga disepakati sebagai tanda atau simbol ikatan perkawinan. Pada zaman kerajaan. Produk-produk kriya diangkat statusnya dan digunakan se- . Di antara para wisatawan yang berkunjung ke Bali tampak banyak yang menbeli produk-produk kriya tradisonal Bali disertai dengan harapan untuk memperoleh kenangan-kenangan tentang hasil kebudayaan tradisional Bali atau dipakai sebagai tanda kebanggaan. Dalam perkembangan produk kriya sebagai mata dagangan. Pada fenomena tersebut tanpa disadari terjadi permainan tanda dengan konvensi yang terkondisikan dan dengan matra yang tak terbatas. produk tersebut dengan faham fitisime dapat berfungsi untuk pembeda status sosial di dalam masyarakat. Produk-produk kriya tradisonal yang memiliki ciri khas daerah tertentu dan sebagainya. bahwa mereka pernah berkunjung ke objek wisata di Bali dan sebagainya. Misalnya dalam fenomena kecenderungan membeli produk kriya tradisonal Bali. sebagai simbol kebesaran. dikonsumsi dan dipakai tanda kenangan atau sebagai simbol harga diri seseorang atau prestise.Misalnya. keagungan atau kekuasaan seorang individu ciptaan Tuhan yang memiliki status sebagai raja.

misalnya menyangkut tentang hakikat hidup.bagai simbol-simbol tertentu yang menghasilkan berbagai interpretasi pada masyarakat konsumen. Pada tingkatan ini. sehingga berkembang sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan dan penafsiran terhadap sifat-sifat Tuhan serta wujud dari alam gaib yang transendental. karena diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotasinya. bayangan wujud dewa-dewa dan mahkluk halus lainnya yang mendiami alam tidak nyata. sehingga terjadi ketidakstabilan penanda dan petanda. Dalam hal tersebut akhirnya produk kriya menjadi Rhême. bahwa dalam kondisi seperti tersebut justru nilai guna sering kali tak lebih dari semacam jaminan praktis (alibi) (Baudrillard. maut. manusia menginginkan adanya jalinan hubungan dengan Tuhan atau keinginannya untuk menerima ikatan-Nya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Baudrillard. kadang-kadang tindakan tersebut sampai melupakan nilai utilitas dan religius pada produk tersebut. biasanya melanjutkan tingkatan hidupnya ke arah mencari nilai religius. Konsep Spiritual Religius Manusia Bali setelah melalui tingkatan hidup estetis dan etis. 1981). Keyakinan itu bersumber dari: ajaran agama berupa wahyu suci yang terhimpun dalam kitab-kitab suci. Konsumer terkadang bukan lagi mencari konteks makna. 2. mitologi .

menyanyi. berprosesi. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol. menari. Selain hal tersebut. dalam perwujudannya dilandasi dengan suatu konvensi yang acuannya merujuk pada ajaran agama atau kepercayaan dari suatu komunitas manusia yang sepaham. seperti berfungsi sebagai simbol. berupa bangunan suci. berbagai peralatan upacara termasuk melibatkan produk-produk kriya yang disakralkan. misalnya. sarana komunikasi. Produk-produk kriya yang dipakai dalam upacara agama. bertapa. Salah satu contoh dapat dilihat dalam tata cara penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. dan sebagainya. sehingga dalam produk tersebut terpatri suatu “ideologi” tertentu yang nilai-nilainya diyakini dan dijadikan sebagai tradisi. pada umumnya mencakup beberapa fungsi. juga muncul penghargaan pada suatu benda untuk digunakan sebagai sarana pendukung kepercayaannya. berdoa. Perilaku tersebut diwujudkan dalam berbagai macam ungkapan seperti. peralatan upacara dan fungsi estetis dalam wujud benda hiasan. bersaji. bersujud. beryajña. bersemedi. maka muncul sistem upacara religius yang merupakan visualisasi kelakuan atau behavioral manifestation. berkurban. berpuasa. Sehubungan dengan tujuan manusia tersebut.dan ceritera-ceritera rakyat berupa dongeng yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat tertentu. Produk kriya tersebut digunakan sebagai “alat” .

upacara, simbol-simbol diwujudkan berdasarkan konvensi yang mengacu atau dilatari kosmologi Hinduistis di Bali, sebagai media komunikasi yang dilandasi konsep Tri Hita Karana dan difungsikan sebagai hiasan. Produk kriya yang digunakan untuk simbol tersebut, merupakan tanda bersifat argument, karena interpretasinya terkait dengan renungan tentang kebenaran keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan maha segalagalanya (seperti telah disinggung di depan). Dengan penggunaan simbol-simbol tersebut, diharapkan dapat mempermudah penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu serta untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak-Nya tersebut. Perwujudan produk kriya sebagai tanda atau simbol, kadang dapat dalam bentuk icon, seperti stilasi bentuk manusia, binatang, benda alam dan sebaginya. Misalnya diwujudkan dalam berbagai produk kriya, seperti berbentuk relief, patung atau pratima dan sebagainya atau dibuat berdasarkan kualitas material yang digunakan atau qualisign, misalnya, warna (darah binatang, warna bunga, kapur, arang dan lainnya), karakter bahan (suatu jenis kayu, batu, kulit, logam dan sebagainya). Namun tidak dipungkiri, bahwa dalam menginterpretasikan simbol-simbol tersebut, sering terjadi perbedaan pandangan, sehingga melahirkan interpretasi bersifat mendua antara masyarakat yang berada dalam konvensi dengan di luarnya. Salah satu contoh produk

kriya berupa umbul-umbul bergambar naga taksaka yang digunakan sebagai salah satu sarana upacara Agama Hindu di Bali. Bagi umat Hindu menganggap benda tersebut sebagai tanda diadakan upacara agama dan sekaligus penerapan gambar naga taksaka disepakati sebagai simbol lapisan alam atas (Swah Loka). Sebagai dasar acuannya adalah kosmologi Hinduistis dengan interpretasi yang bersifat konotatif dan dianggap sakral. Sedangkan bagi umat atau orang yang tidak paham atau berada di luar konvensi tersebut, melihat umbulumbul tersebut hanya sekedar hiasan belaka. Fenomena seperti itu, belakangan ini memang cukup banyak terjadi di daerah Bali. Produk-produk kriya seperti itu, kadang hanya dilihat dari fungsi estetisnya saja. D. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu Eklektik adalah suatu usaha yang bersifat memilih unsur-unsur yang baik atau menggunakan bermacammacam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya, baik berupa orang, gaya, metode, kepercayaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam buku ini yang dimaksudkan adalah eklektisme terhadap elemen estetis masa lalu yang diterapkan pada desain produk masa kini. Tindakan “memilih” unsur-unsur tersebut secara tidak langsung jelas akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada vitalitas idiom masa lalu itu sendiri maupun kesatu-

an substansi pada desain produk masa kini. Fenomena tersebut dapat dipahami dari beberapa istilah seperti berikut: 1) Pastiche Istilah pastiche berarti menyusun elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai pengarang atau seniman masa lalu. Oleh sebab itu, istilah ini bisa mengandung pengertian dengan konotasi negatif dan dianggap miskin orisinallitas (Baldick dalam Yasraf 1994). Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Parody, dijelaskan bahwa: Pastiche, in this sense, is a pure imitation without any pretension. A pastiche text imitate other past text, in order to emulate or to appreciate them. Pastiche has been called by one critic as “form rendering” to describe its superficiality, that is, its lack to thoroughness. (Hutcheon, 1985). Menurut Linda Hutcheon, pastiche adalah suatu bentuk imitasi murni, tanpa disertai dengan pretensi tertentu. Gaya atau teks yang dipakai meniru dari teks masa lalu, disebut sebagai kritikan “gubahan bentuk” yang menunjukan suatu kedangkalan sebagai kekurangan yang utama. Selain hal tersebut, Fredric Jameson secara metaforis menyebut istilah tersebut sebagai “penggunaan topeng sejarah, pengungkap-

dijelaskan bahwa. pada dasarnya parodi adalah merupakan suatu fenomena yang terjadi dalam produk sastra. atau kemasyuran) (Yasraf. 2) Parody Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994).an dalam bahasa yang telah mati” (Jameson dalam Yasraf. gaya atau produk yang menjadi sasarannya (kelemahan. Dengan demikian. yaitu dua teks atau lebih dipertemukan dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat. artinya produk sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya atau kata penulis atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan. seni. parody (parodi). parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk. atau arsitektur dengan tendensi bersifat memilih dan didistorsi. 1994). bahkan bermuatan politis dan ideologis. Jadi dari uraian tersebut. keseriusan. . Parodi merupakan suatu bentuk “dialogisme tekstual”. Dalam peniruannya dapat bersifat ironis dan kritis. dan humor. kemudian diimitasi dalam suatu produk dengan tujuan mengarah pada humoristik dan kadang kala bersifat “pelesetan”. kritik. 1991). kekurangan.

Mengimitasi suatu bentuk gaya atau objek untuk tujuan yang palsu. secara harfiah berarti “memungut sampah dari jalan”. istilah ini sering diselaraskan artinya sebagai “sampah artistik” atau sering diberi pengertian sebagai “selera rendahan” atau segala produk seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. Dan kistchen. Dalam bidang seni. Selain hal tersebut. yang diakibatkan oleh berkembangnya produksi. verkitshen berarti “membuat murahan”. Predikat kitsch sebagai selera rendahan dimanifestasikan oleh lemahnya ukuran dan kriteria estetis yang dipakai. Menurut Clement Greenberg.3) Kitsch Istilah Kitsch berasal dari bahasa Jerman. . (Greenberg dalam Yasraf. 1995). konsumsi dan komunikasi massa. kitsch bertujuan mensimulasi atau mengkopi elemen-elemen gaya “seni tinggi” atau objek sehari-hari untuk kepentingan sendiri dan menjadikan sebagai mass product. merupakan suatu upaya untuk menghasilkan efek-efek reproduksi dalam sistem kebudayaan massa atau membangun aura seni dari reproduksi itu sendiri. pada awalnya keberadaan kitsch didorong oleh semangat mereproduksi.

estetik atas moral dan ironi atas tragedi. permukaan sensual. Dalam suatu bentuk produk seni. Dengan memahami beberapa istilah di atas. Sebenarnya camp merupakan salah satu cara untuk melihat dunia sebagai suatu gejala estetik dalam derajat kecerdasan. kesemuan dan stylization atau penggayaan. Merupakan kemenangan gaya atas isi. ternyata dalam usaha perluasan desain masa kini yang berciri khas Bali.4) Camp Pada fenomena estetika pengertian camp sering dikelirukan dengan istilah kitsch yang mengarah pada pengertian “selera rendahan” atau merupakan “sampah estetik”. berlebihan dan glamor (Sontag. Selanjutnya untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari tindakan eklektis terhadap produk kriya masa lalu dapat dipahami . Hubungannya dengan masa lalu bersifat “mendaurulang” dan sentimentil. dan style dengan distorsi yang berlebihan dan meremehkan isi serta netral. Dalam upaya mewujudkan produk. kadang-kadang juga dapat menimbulkan dampak tersebut. camp lebih menititik beratkan pada dekorasi. 1992). tekstur. berusaha menampilkan sesuatu yang special. dengan mengusung eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional dan dieksploitasi pada desain masa kini.

yaitu dengan menganalisa beberapa contoh kasus penerapan elemen estetis produk kriya secara eklektik pada desain masa kini di Bali seperti diuraikan pada Bab V.pada uraian berikut. .

baik faktor internal yang disebabkan oleh penggunaan dan penghargaan . Oleh sebab itu. Kajian Historis Transformasi atau pergeseran merupakan suatu fenomena yang universal dan selalu mewarnai lintas sejarah perkembangan kebudayaan suatu masyarakat.BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. maka suatu masyarakat dengan kebudayaannya secara mutlak tidak mungkin dapat hidup statis. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini 1. stagnan dan terisolir. Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan atau pergeseran dalam fungsi waktu dengan laju yang bervariasi. Kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala dan terus mengalami perkembangan dan perubahan yang didorong oleh berbagai faktor.

umumnya memiliki pola pikir terbatas .produk kriya dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Bali. (2) sarana penunjang keagamaan atau kepercayaan dan untuk dipersembahkan kepada raja dan keluarganya (3) kebutuhan produk kriya untuk menunjang kebutuhan lain yang mengarah pada penciptaan produk kriya untuk memenuhi kebutuhan bersifat sekular. Misalnya. hedonistik dengan mengutamakan fungsi estetis dan efek finansial yang ditimbulkannya. berupa peralatan kerja untuk penunjang berbagai aktivitas hidup sehari-hari. untuk memenuhi kebutuhan produk kriya penunjang kepariwisataan dan sebagai komoditi ekspor. Faktor pendorong tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 24. Faktor pendorong tersebut seperti (1) karena adanya tuntutan kebutuhan produk kriya fungsional yang mengandung nilai utilitas. maupun faktor eksternal berupa pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar melalui proses akulturasi yang berlangsung dari zaman ke zaman dalam kapasitas yang berbeda-beda. bahwa sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan neolitikum dan perunggu. secara diakoronis dapat disimak. Ditinjau dari sudut historis mengenai perkembangan dan perubahan penciptaan serta penggunaan produk kriya di Bali. saat penduduk Bali masih hidup nomaden. Bersamaan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sering dijumpai kasus fenomena penerapan elemen estetis produk kriya tradisional secara eklektik.

ranting kayu dan sebagainya. setelah masuknya pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu di Bali. maka dalam sistem peralatan dan perlengkapan hidup mengalami perubahan.pada usaha pemenuhan kebutuhan berupa makanan untuk kelangsungan hidupnya. mereka menggunakan peralatan berupa produk kriya terbuat dengan batu. Dalam melakukan usaha tersebut. Penduduk di Bali telah mampu . dengan proses pengerjaan masih sangat sederhana. tulang binatang. PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KEGIATAN EKSPOR PRODUK KERAJINAN DI BALI SARANA PENUNJANG Produk-produk kriya berupa:  Souvenir  menciptakan citra atau suasana MUATAN LOKAL/ ETOS KEBUDAYAAN UNSUR-UNSUR EKLEKTIK PADA KARYA MASA LALU (latar belakang sejarah) Gambar 24 Faktor Pendorong Munculnya Tindakan Eklektik Terhadap Elemen Estetis Tradisioanal Bali Di masa-masa selanjutnya.

Pada zaman tersebut. misalnya dikerjakan sambil menunggu datangnya musim panen. cincin untuk bekal kubur dan sebagainya. Pada zaman Hindu. sarkofagus untuk tempat mayat dan sebagai tanda penghormatan atau simbol kendaraan arwah. Dalam proses penciptaan produkproduk kriya. batu. disebabkan semakin meningkatnya kesadaran. pertimbangan mengenai keindahan. nekara perunggu diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai simbol-simbol terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. nafsu atau emosi dalam diri individu untuk menghargai suatu materi yang distimuli oleh alam atau lingkungan masyarakat yang terbentuk. kenyamanan dan simbolisasi sudah menggejala dan menjadi bagian yang esensial. hasrat. masyarakat sudah mampu menghasilkan produk-produk kriya yang bermutu. misalnya peralatan berupa kapak batu yang dibentuk dan digosok sampai halus. gerabah (tanah liat yang dibakar) dan sebagainya yang dikerjakan dengan teknik lebih sempurna. Munculnya gejala tersebut. sistem relegi yang berkembang dan semakin menggejalanya pengaruh integrasi kebudayaan dari luar serta didukung dengan banyak waktu luang yang dimilikinya sebagai masyarakat agraris.menciptakan produk-produk kriya berupa peralatan terbuat dengan logam. di Bali terjadi suatu “intervensi kebudayaan” yang bersifat menyempurnakan kebudayaan tradisi masa lalu dengan berorientasi pada .

pembinaan dan peletakan dasar-dasar ajaran Agama Hindu. seperti ditujukan untuk menunjang kebutuhan sarana upacara ritual. berbagai bentuk topeng. Semua kegiatan ekonomi. ketekunan serta keiklasan yang sangat tinggi. wayang. sosial kemasyarakatan dan kebudayaan Bali dirumuskan dengan “bahasa” agama Hindu. sedangkan unsur kebudayaan Jawa umumnya tampak pada taraf ritual yang bersumber pada kitab suci Weda. simbol dan benda pakai.penyebaran. dan loyalitas dengan kecenderungan dedikasi. Hindu dari Jawa Timur bergabung dengan kultur agraris dan pemujaan roh leluhur yang telah tumbuh di masyarakat Bali. Perwujudannya berupa hiasan. meliputi sistem peralatan dan perlengkapan hidup. barang gerabah. Perpaduan tersebut melahirkan suatu kebudayaan yang bercorak khas Bali. karma phala yang diwujudkan dalam sikap kebersamaan (kolektif). Dengan sikap tersebut. maka para kriyawan saat itu mampu menghasilkan produk-produk puncak dengan kualitas yang sangat tinggi. seperti berupa hiasan pada pura. . religius. patung. Motivasi penciptaan dilandasi dengan konsep dharma. Unsur India dominan pada taraf filsafat dan mitologi. Penciptaan produk-produk kriya dominan dikembangkan untuk keperluan Agama Hindu dan kerajaan. pembinaan umat dan dipersembahkan kepada raja. Terjadi suatu sinkretisasi atau proses penyerasian dua aliran (agama) dan akulturasi yang harmonis antara unsur-unsur kebudayaan India. senjata.

busana hasil tenunan tradisional (berupa kain songket. seperti logam. Ditinjau dari sudut keyakinan umat Hindu di Bali terhadap nilai kesakralan yang dikandungnya. Hal tersebut mengingat heterogen- . Beberapa jenis kegiatan penciptaan produk kriya itu diwariskan dari generasi ke genarasi berikutnya dan sampai sekarang masih ditekuni oleh masyarakat kriyawan di beberapa daerah di Bali. sabuk dan sejenisnya). Produk-produk kriya tersebut termasuk katergori produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. dalam pembuatannya mutlak disertai dengan proses penyucian atau melalui beberapa tahap penyucian (lihat Tabel 1. kayu dan sebagainya. kulit binatang. Produk-produk tersebut diciptakan dengan dilandasi kosmologi Hinduistis dan adat di Bali. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol atau tanda terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. halaman: 61). Bahan yang digunakan. khususnya yang digunakan dalam melaksanakan upacara ritual. yang terkait dengan kepercayaan tentang keagungan dan kekuasaan Tuhan serta ajaran suci tentang ciptaanNya. ternyata sampai sekarang masih digunakan dan diyakini oleh umat Hindu di Bali. ternyata di dalamnya sarat mengandung makna atau nilai-nilai kesucian yang adiluhung. misalnya berupa simbol-simbol alam makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). tanah liat. Tergolong jenis kesenian Wali yang dianggap sebagai benda sakral karena.

budaya tersebut juga dipakai sebagai daya tarik utama. dari uraian tersebut. Sehingga dalam tata kehidupan masyarakat di Bali tampak mengalami banyak perubahan. maka pengaruh-pengaruh Belanda dan kebudayaan masyarakat dari luar lainnya semakin merebak masuk ke Bali. sampai sekarang dan bahkan untuk seterusnya tetap hadir dan diperlukan. jelaslah produk kriya yang digunakan sebagai sarana pengamalan ajaran agama Hindu di Bali.nya tingkat kemampuan umat dalam mengamalkan ajaran agama Hindu atau dalam hasrat menghubungkan diri dengan Tuhan. Oleh sebab itu produk-produk kriya berupa simbol-simbol untuk sarana pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. Pada zaman kolonial. maka di masa-masa mendatang eksistensinya perlu dijaga dari penetrasi pengaruh-pengaruh luar yang dapat mengancam kelestariannya. seperti disebutkan dalam ajaran Catur Marga. seperti semakin berkembangnya corak masyarakat yang meng- . dari zaman Hindu sampai sekarang nilai-nilai kesakralannya tetap diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. Demikian juga dalam sifat Weda dan filsafat Wedanta. Di sisi lain. Jadi. Bali dan kebudayaannya diperkenalkan sebagai daerah tujuan wisata. maupun sesuai kerangka agama Hindu. Oleh sebab itu. ternyata “cara” tersebut memang diperbolehkan. Dari sudut pandang ajaran agama Hindu. dalam konteks pengembangan pariwisata.

peternakan dan lain-lainnya. mulai berkembang usaha yang bergerak dalam bidang perhotelan. mengaktifkan kembali kegiatan ekspor-impor barang yang sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. Upaya tersebut diawali dengan usaha untuk mendatangkan para . Keadaan tersebut. Gejalanya muncul secara “spontan” dari masyarakat kriyawan Bali saat itu. biro perjalanan. Para kriyawan menciptakan produk kriya tersebut. kembali aktif. kesenian tradisional yang telah tumbuh dan berarkar di masyarakat Bali. termasuk penciptaan “produk-produk kriya komersial”. misalnya: membuat koperasi. menjual hasil pertanian dan sebagainya. Selain hal tersebut pemerintah Belanda juga berkeinginan untuk mempertahankan keaslian kebudayaan Bali dengan menerapkan politik isolasi atau mengasingkannya dari pengaruh-pengaruh luar dan semata-mata ingin dijadikan sebagai “museum hidup”. Khusus mengenai masalah penciptaan produkproduk kriya yang bermuatan lokal dengan tendensi komersial. restoran. toko kerajinan. Masyarakat Bali semakin dimantapkan dan didorong untuk bergerak dalam bidang ekonomi. Dalam usaha menunjang pengembangan pariwisata. semata-mata didorong oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat dan bukan atas prakarsa pemerintah kolonial Belanda.arah pada usaha-usaha non-agraris. dapat ditelusuri dari tujuan Belanda untuk menguasai Pulau Bali. selain untuk menguras hasil pertanian.

Kemudian membangun Gedong Kertiya di Singaraja untuk menyimpan dan menyelamatkan kesusastraan Bali yang ditulis pada lontar. Mereka cenderung menciptakan produk kriya dalam bentuk cenderamata untuk dijual kepada para wisatawan atau diekspor ke luar pulau Bali. di mana pada masa berkembangnya pengaruh Hindu dan zaman kerajaan. Mengembangkan sistem pendidikan yang menyesuaikan dengan kebudayaan terkait dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu. mengalami perkembangan baru dibandingkan sebelumnya. penciptaan produk kriya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan kerajaan. Namun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.pakar yang terkait dari negerinya. Para kriyawan kebanyakan mulai memandang hasil produksinya sebagai mata dagangan yang bernilai ekonomis. Motivasi perluasan usaha penciptaan produk kriya di Bali saat tersebut. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk menunjang pengembangan pariwisata pada saat terse- . faktor pendorong atau motivasi penciptaan produk kriya dengan serta merta mulai mengarah pada hal-hal bersifat komersial. untuk mempelajari berbagai aspek tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan tradisonal. misalnya dengan mengangkat tenaga pendidik lokal yang berkompeten dalam bidang kebudayaan Bali. membangun museum di Denpasar untuk melindungi dan menyelamatkan artifak etnografi Bali.

tulang. mereka juga mulai memadukan pengaruh dari luar. Usaha pengembangan pariwisata kurang mendapat perhatian. seperti: Rudolf Bonnet. Walter Spies dan seniman lainnya. Jepang lebih mementingkan usaha penanaman semangat militer dan arti penting perang Asia Timur Raya untuk meraih kemenangan. Gianyar. melahirkan produk-produk dengan style Batuan. tanduk (berkembang di Gianyar). batu padas (berkembang di Gianyar). logam (berkembang di Klungkung. Perpaduan pengaruh tersebut. karena pada waktu tersebut. usaha . Seperti pengaruh seni rupa modern yang dibawa oleh para seniman Barat. pengosekan dan sebagainya. di satu sisi tampak para kriyawan berusaha mengembangkan produk-produk kriya masa lalu yang diwarisinya. Ubud. (berkembang di daerah Gianyar dan Badung). Bangli dan di Buleleng). Dalam masa pendudukan Jepang yang berlangsung relatif lebih singkat dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. misalnya: kayu. tanpa kecuali produk yang digunakan untuk sarana pengamalan dan penghayatan ajaran agama Hindu Bali. sehingga menghasilkan produk dengan berbagai penggayaan atau style. Di sisi lain.but. tempurung kelapa. fanil. Seperti: berupa patung. relief dan gambar atau lukisan dengan menggunakan berbagai bahan. topeng. kadang juga muncul tindakan eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional. tanah liat atau keramik (di Tabanan) dan lain sebagainya. Dalam upayanya tersebut. Oleh sebab itu.

Otoritas masyarakat pada saat tersebut sangat terbatas. maka usaha penciptaan produk-produk kriya di Bali dengan serta merta mulai mengarah pada tujuan komersial dan disertai dengan muncul gejala penerapan elemen estetis produk tradisional secara eklektik pada desain yang kemudian diterapkan pada produk-produk kriya yang dibuat saat tersebut. Lapangan pekerjaan atau bidang usaha . Didorong pula oleh semakin meningkatnya permintaan para wisatawan akan produk-produk kriya yang bermuatan lokal berupa barang cenderamata. sekitar tahun 1950. sehingga keadaan kebudayaan Bali nyaris terisolir dari pengaruh luar. Pada zaman kemerdekaan. Ulasan dari sudut historis tersebut memberi deskripsi bahwa pada saat mulai masuknya pengaruh Barat (Belanda) dan dijadikannya Bali sebagai daerah tujuan wisata. ternyata upaya tersebut memberi pengaruh yang signifikan. Dikaitkan dengan pembangunan sektor perekonomian. ternyata merupakan salah satu pemicu arus penetrasi budaya modern dan global. Usaha pengembangan tersebut.penciptaan “produk kriya komersial” semakin surut dan penggunaannya terbatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. sektor pariwisata di Bali kembali dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dengan tetap berbasis pada kekuatan budaya Bali sebagai daya tarik utama. kecuali pengaruh pemerintahan Jepang sendiri. sekaligus memberi dampak pada tata kehidupan masyarakat di Bali.

selain didorong oleh perkembangan sektor pariwisata. Banyak di antara masyarakat di Bali menjadikan sebagai mata pencaharian tetap. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk dikonsumsi para wisatawan masa kini. Mereka termotivasi oleh aspek ekonomis yang dihasilkan dari produk kriya yang diciptakannya.industri kecil memiliki peluang atau opportunity untuk tumbuh dan berkembang. Pada dasawarsa belakangan. para kriyawan berupaya untuk menyuguhkan produk yang dapat memberi kenangan tersendiri. terutama di zaman prakolonial. misalnya berwujud cenderamata yang menyiratkan keindahan alam atau ke- . di mana kegiatan menciptakan produk kriya hanya merupakan pekerjaan sambilan di waktu senggang seusai di sawah atau kesibukan lain. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kecil dan mendijadikan produk kriya lokal sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor non-migas. usaha tersebut sempat mengalami perkembangan yang cukup pesat. Berbeda dengan dulu. seperti dalam kegiatan penciptaan produk-produk kriya yang mengarah komersial. sebelum terjadi tragedi bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 di Kecamatan Kuta dan bom Bali II pada tanggal 1 Oktober 2005. Dan hasil produknya jarang diperjual belikan sebagai mata dagangan. Kondisi tersebut. cukup mendorong para kriyawan dan pengusaha di Bali masa kini untuk semakin aktif menekuni sektor tersebut.

seperti tampak pada Gambar 25 dan 26.budayaan Bali. misalnya dengan mengeksploitasi alam fauna dan flora sebagai sumber inspirasinya. Demikian juga dalam penataan lingkungan. Gambar 25 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Fauna . berkeinginan menampilkan suasana yang berbeda dengan daerah lain. di satu sisi tampak usaha inovatif yang mengarah pada produk individual. salah satunya dengan menerapkan elemen estetis produk kriya masa lalu. Dalam hubungan dengan kreativitas penciptaan produk kriya.

tindakan-tindakan eklektik terhadap elemen estetis produk kriya masa lalu yang diterapkan pada desain produk kriya masa kini.32 .Gambar 26 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Flora Di sisi lain. tampak semakin menggejala di kalangan masyarakat kriyawan. Mereka melakukan tindakan tersebut didorong oleh harapan atau keinginan untuk menciptakan produk-produk kriya etnik yang bermuatan lokal atau tercerap suasana atau citra rasa tradisional yang berciri khas budaya Bali seperti tampak pada Gambar 27.

.Gambar 27 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi. Gambar 28 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi.

. Gambar 30 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Untuk Barang Komoditi.Gambar 29 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Panil untuk Barang Komoditi.

Dalam pemilihan unsur-unsur terbaik produk masa lalu.Gambar 31 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Façade Bangunan. Gambar 32 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Diterapkan Dalam Bentuk Tatto. sering muncul sikap “ketidaktaatan” yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. Banyak di antara mereka kadang-kadang melupakan konteks nilai yang terkandung pada produk kriya masa lalu dengan masa- .

Ditiru atau direproduksi dengan kemampuan tangannya. Bhoma diterapkan dengan ditatto pada bokong atau Ongkara ditatto pada lengan. semata-mata untuk sensasi. Tindakan tersebut jelas berdampak negatif. Produk-produk kriya wali yang digunakan dalam upacara agama dan dianggap sakral. Pada hal kedua elemen tersebut mengandung nilai religius dan konvensinya masih eksis di masyarakat Hindu di Bali. Penerapan tersebut memiliki tujuan yang tidak jelas.lah kepercayaan umat Hindu di Bali. divisualisasikan dalam bentuk patung untuk menghias persimpangan jalan. Garuda Wisnu dan Nãga. sebenarnya merupakan produk kriya yang mengandung nilai simbolis pada bangunan suci. diterapkan sebagai hiasan pada façade sebuah kantor bank . Relief Acintya. (lihat Gambar: 31). seperti pada pelinggih padmasana. misalnya diterapkan sebagai hiasan dinding rumah tinggal. Sebagai contoh. “dipilih”. Hal tersebut. Bhoma. tetapi sekarang banyak digunakan untuk hiasan benda pakai yang bersifat profan. kemudian diterapkan begitu saja pada benda-benda yang bersifat profan dengan lebih mengutamakan segi artistik dan semata-mata menyandar pada efek finansialnya. merusak atau mengganggu kesepakatan yang telah mapan. jelas merupakan penyimpangan dan sama sekali tidak ada hubungan permaknaan. kemudian dijual sebagai barang cenderamata dan sebagainya. relief pada tebing dekat kuburan. Diterapkan pada tebing kuburan.

Sehingga . Sehingga timbul kerancuan dan menimbulkan kebingungan bagi generasi penerus tradisi tersebut. artshop. Idealisasi. Bedawang Nala dipakai hiasan tapal batas kota. namun sekarang digunakan untuk menghias halaman supermarket. lonték dan tedung Agung. cenderung tergantung pada permintaan pasar.atau bangunan lain. seperti pada upacara Odalan. sebenarnya sebagai “busana pura” yang dikenakan sewaktu melangsungkan upacara agama tertentu. hotel. inovasi dengan ide baru dan kreativitas mereka sering terhambat karena takut tidak laku di pasaran. restoran dan sebagainya. banyak para kriyawan di Bali dalam kegiatan penciptaan produk kriya masa kini. Gambar 33 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional berupa Relief yang Sakral Diterapkan Di Perepatan Jalan dan Sebagai Hiasan Tebing Kuburan Selain hal tersebut.

Dan banyak produk ciptaannya setelah dilemparkan di pasaran atau dipamerkan. Seperti dalam pemberian pesanan kepada para kriyawan. Maksudnya.dengan kondisi tersebut “jalan pintas” sering dilakukannya. “dipaksakan” dan “diberanikan” demi untuk memenuhi tujuan lain dengan alasan faktor ekomoni. Kejadian tersebut. terjadi “desakralisasi”. Dan permasalahan sudah dianggap selesai sampai di sana. itu pun hanya dilakukan oleh beberapa orang kriyawan. kemampuan atau keterampilan yang dimiliki para kriyawan untuk mengerjakannya. juga didorong oleh pihak pengusaha produk-produk kriya di Bali. tetapi pada kenyataannya bagian tersebut sering ditinggalkan. I Nyoman Togog dan yang lainnya. dalam proses penciptaan produk-produk tersebut yang seharusnya disertai dengan upacara penyucian. karena mereka merasa mampu memberi pelayanan yang memuaskan wisata- . juga tidak luput dari konsekuensi tersebut. sikap mereka cenderung menyandar pada kesiapan. seperti: Ide Bagus Nyana. sehingga pesanan tersebut sesuai dengan keinginan konsumennya dan transaksi dapat berjalan tepat pada waktunya. Dalam proses penciptaan produk-produk kriya dengan unsur eklektik yang ditujukan untuk para wisatawan masa kini. misalnya dengan jalan “mengkopi” atau “membajak” produk-produk yang sedang laku dipasaran atau dengan tetap bertahan pada produk tradisional. Sekalipun ada kriyawan yang berusaha mencipta “produk kriya baru”.

ternyata eksistensinya dapat menembus beberapa zaman dalam rentang waktu sangat lama. Kajian Semiotis Dari pembahasan pada Bab III dapat difahami. karena dapat menimbulkan arti hidup dan kehidupan yang tidak stabil. mengacu pada norma-norma ajaran agama Hindu atau sistem kepercayaan umat Hindu di Bali dan dikerjakan dengan total serta penuh pengabdian yang tulus. sehingga kesadaran untuk lebih selektif terhadap makna atau nilai yang dikandungnya terasa masih kurang. Namun sikap tersebut. komprehensif. . Salah satu faktor yang menyebabkan produk-produk tersebut dapat bertahan. Banyak di antaranya produk-produk kriya tersebut merupakan karya puncak. karena dalam proses penciptaannya dilandasi dengan konsep-konsep perancangan sangat mantap. kalau dikaitkan dengan konsep Catur Purus Artha yang dipakai landasan pembangunan di Bali. maupun setelah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa Timur. sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut.wan. Mereka tampak lebih mengutamakan Artha dan Kama sebagai tujuan hidup. baik yang diciptakan pada zaman pra-Hindu. kompleks. 2. Para pewarisnya dewasa ini hanya mampu menduplikasikan dan menggunakannya. jelas kurang relevan. bahwa produk-produk kriya yang diciptakan oleh para kriyawan Bali di masa lalu.

Pembahasan lebih rinci mengenai kajian semiotis. maka secara diakronis hasil peninggalan tersebut. adalah sebagai berikut: Sebelum penduduk Bali mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu. Jika ditinjau kembali berdasarkan kajian semiotika. sedangkan secara sinkronis. tampak produk-produk tersebut kembali ditampilkan “secara eklektik” dengan menitikberatkan pada nilai estetis dan diklaim sebagai identitas etnik Bali atau local genuine. pada masing-masing penggalan zaman atau kurun waktu tertentu. dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk kriya tampak masih sangat sederhana. memberi tanda dalam bentuk indeks.Dalam usaha perluasan gagasan desain produk kriya masa kini. lebih ke arah . hasil tersebut dapat dipakai tanda (sign) yang merepresentasikan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya. bahwa masyarakat di Bali saat itu. dengan memandang peristiwa penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya di setiap zaman sebagai fenomena bahasa. dapat dipakai sebagai tanda (sign) zaman yang merepresentasikan sejarah perkembangan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya dalam masyarakat Bali dari zaman ke zaman. dengan di sana-sini diadakan penambahan atau pengurangan yang diistilahkan sebagai ‘pengembangan’ dan tak jarang dibarengi dengan tujuan-tujuan lain yang tidak sesuai dengan esensi konsep penciptaan di masa lalu.

selain memiliki berfungsi sebagai alat.makna denotasi. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Sebelum Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu) Pada zaman selanjutnya. keindahan produk maupun simbolisasi. Seperti kepercayaan alam gaib. Produkproduk yang diciptakan. Misalnya masalah kenyamanan. melainkan sudah memperhatikan hal-hal yang bersifat konotatif. Belum ada tanda-tanda yang mengarah pada makna konotasi. roh atau kekuatan-kekuatan lain . Hubungan struktur tanda tersebut menurut Semiotika Saussure dapat digambarkan seperti Gambar 34 berikut Gambar 34 Relasi Tanda. juga sudah memperhatikan nilai estetis dan simbolis dengan latar atau konvensi yang dilandasi dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. karena mereka bertumpu pada nilai guna atau utilitas dan pragmatis. arah penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya tidak lagi terpaku pada pertimbangan yang bersifat denotatif. seperti batu dengan karakternya yang keras diperlakukan untuk “menghacurkan” benda yang lebih lunak.

misalnya pada penguburan mayat seorang tokoh masyarakat dengan menggunakan sarkofagus. juga dipakai sebagai tanda atau simbol status sosial. dilakukan sebagai simbol penghormatan kepada tokoh yang meninggal. Simbol-simbol tersebut diterapkan atau diwujudkan dalam berbagai bentuk produk kriya.yang dimiliki oleh suatu benda yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan mereka atau fetishism. Penguburan dengan cara tersebut. Selain hal tersebut. seperti berupa sebuah nekara yang dibuat dengan perunggu. dipakai sebagai simbol roh nenek moyang mereka dan dianggap bertuah atau mengandung nilai magis. Hubungan produk-produk kriya sebagai tanda atau simbol dengan pengguna tanda atau penanda (masyarakat Bali zaman Pra-Hindu) dapat digambarkan seperti Gambar 35 berikut Gambar 35 Relasi Tanda. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Setelah Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu . Pada produk kriya tersebut diterapkan relief berupa topeng yang distilasi dari bentuk wajah manusia.

Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Mendapat Pengaruh Kebudayaan Hindu-Jawa Timur . filosofi. Seperti produk-produk kriya yang digunakan dalam upacara Odalan. dapat digambarkan seperti Gambar 36 berikut. Diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol sehingga produk-produk kriya tersebut tergolong karya spiritual religius dan dianggap sakral yang digunakan sebagai media untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak yang dimiliki Tuhan. bahwa dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya dilandasi dengan konsep yang mengarah pada makna konotasi atau asosiatif dengan latar atau ground digali dari mitologi.Pada Zaman Hindu menunjukan. Secara semiotika relasi tanda dengan pengguna tanda pada zaman tersebut. Gambar 36 Relasi Tanda. ceritera-ceritera rakyat. kosmologi dan sebagainya yang bersumber pada ajaran Agama Hindu.

elemen estetis untuk menciptakan suasana tradisional Bali atau sebagai digunakan komoditi ekspor. bahwa mere- . subyektif. baik tujuan. Produkproduk tersebut mulai dijadikan sebagai penunjang kepariwisataan di Bali berupa cenderamata. penciptaan dan pengunaan produk kriya pengalami perkembangan baru.Pada zaman Kolonial dan Kemerdekaan. kadang kembali “dipilih” dan ditata atau dipadukan dengan tanda lain. Jika kondisi tersebut dikaji berdasarkan semiotika model “intertekstualitas” seperti yang dikembangkan oleh Kristeva. kondisi penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali memiliki kemiripan langgam atau tipe. relatif dan bersifat temporal. maka dalam fenometa tersebut tampak terjadi “permainan petanda” yang menghasilkan petanda baru dengan konvensi atau makna yang tidak jelas arahnya. Namun dewasa ini. Pada saat tersebut. maupun arah pengembangan yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. Produk-produk kriya —terutama yang terkait pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali— yang diciptakan sebagai tanda dalam bentuk simbol-simbol dengan konvensi budaya yang dilandasi nilai-nilai atau norma-norma Agama Hindu yang telah mapan dalam masyarakat masa lalu. seperti kebanggaan (pride) memperoleh produk kriya lokal yang berciri khas Bali dan dipakai sebagai tanda kenangan. Seperti tujuan para kriyawan untuk menciptakan produk bermuatan lokal atau dorongan para wisatawan untuk membeli suatu produk (emotional product motives). pretensius.

Sebagai contoh. dianggap sebagai lambang kebesaran Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. kalau dilihat dari tata letak kedua tanda tersebut. Selain motivasi tersebut juga didorong keinginan untuk menciptakan lingkungan atau tata bangunan dengan nuansa tradisional.ka pernah mengunjungi pulau Bali. Dari kedua tanda tersebut sama sekali tidak terjalin suatu kesatuan makna. namun sekarang tampak diterapkan sebagai hiasan façade. Bahkan tindakan tersebut dapat “merusak” atau memutuskan pertautan petanda dengan penanda atau narasi yang sebenarnya. na- . di mana simbol Garuda Wisnu adalah terkait dengan ajaran Agama Hindu. dianggap sebagai suatu kepuasan atau prestise dan sebagainya. Masing-masing tanda atau simbol tersebut menyiratkan makna tersendiri. tampak simbol Garuda Wisnu menjadi kehilangan makna. produk kriya berupa relief Garuda Wisnu yang lazimnya diterapkan dibelakang Padmasan. Pada façade tersebut tampak logo Bank BPD diletakkan di atas dari simbol Garuda Wisnu. Petanda baru yang muncul tersebut hanya bersifat subjektif yang “dihubung-hubungkan” atau hanya merupakan suatu pretensi yang sama sekali tidak ada pertalian petanda dengan ground simbol yang diterapkan pada produk tersebut di masa lalu. janggal dan berkonotasi negatif karena terjadi diskrepansi antara tanda dengan petanda yang sebenarnya. Pada contoh tersebut.

kesenangan dan kenikmatan (hedonisme) lebih tinggi dari nilai yang berhubungan dengan ajaran ketuhanan.mun pada façade itu diletakkan di bawah logo yang cenderung berkonotasi tentang uang yang bersifat sekular. Tanpa disadari penempatan tersebut membawa makna konotasi yang mengarah pada interprestasi negatif. maka secara umum penciptaan produk kriya dengan unsur eklektik dewasa ini di Bali dapat digambarkan pada Gambar 37 . Meletakkan penghargaan terhadap nilai-nilai keduniawian (uang dan investasi). Penempatan tersebut “asal pasang” dan hanya didorong oleh suatu preferensi “pajang seni” semata. tanpa memikirkan lebih jauh tentang pertalian petanda yang terbentuk akibat penempatan simbol dan logo tersebut. Berdasarkan kajian dari sudut model semiotika “intertekstualitas”.

Gambar 37 Perbandingan Relasi Tanda. Penanda dan Petanda (“Intertekstualitas”) Kaitannya Dengan Fenomena Eklektik Unsur Produk Kriya Masa Lalu .

Sejak 60 tahun yang silam di kalangan para pengamat: budayawan. dan seimbang. Mereka mendeskripsikan. bahwa pariwisatalah yang akan menjadi salah satu katalisator atau sebagai pemicu terjadinya perubahan sosial-budaya masyarakat di .B. ternyata mendatangkan banyak kemanfaatan atau beneficial bagi pengembangan kebudayaan Bali sekaligus pengembangan sektor ekonomi masyarakat. bahwa masyarakat Bali bersama kebudayaannya di masamasa mendatang akan mengalami perubahan besar sebagai dampak maraknya perkembangan pariwisata. Konsep tersebut diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan budaya Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. selaras. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini Konsep pengembangan pariwisata di Bali berbasis budaya Bali. sosiolog. antropolog dan seniman sudah memprediksi. Sebenarnya di dalamnya secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. Di satu sisi menurut hasil penelitian Kean (1973) maupun Geriya dan Erawan (1993) membuktikan bahwa interaksi antara pariwisata dan kebudayaan Bali. Namun di sisi lain banyak muncul kekawatiran tentang nasib masa depan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali.

Salah satunya diakibatkan oleh eklektisme elemen estetis tradisonal yang tak terkendali dalam penerapannya pada desain produk masa kini. ternyata dalam beberapa dekade belakangan ini menjadi suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Pertanyaan tersebut diungkap sehubungan dengan kekawatiranya akan kerusakan yang akan terjadi pada seni budaya Bali sebagai akibat diperkenalkannya menjadi daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Kolonial Belanda saat tersebut (Covarrubias. Suatu dinamika baru dan perubahan-perubahan struktural telah terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. Seperti. Demikian juga kekawatiran tersebut dimuat dalam buku dengan judul: Republik Indonesia (Kepulauan Sunda Kecil). pada paparan keadaan masyarakat dan kebudayaan Bali yang diterbitkan pada tahun 1953. sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Miguel Covarrubias dalam bukunya berjudul Island of Bali —“Isn’t Bali Spoiled ?”— sebagai kalimat pembukaan dalam pembicaraan Modern Bali and The Future. . baik pada produk masa lalu maupun pada desain produk masa kini.Bali. Berikut akan diuraikan mengenai dampak yang ditimbulkan. Hal tersebut juga terjadi dalam perluasan penciptaan produk-produk kriya dan desain lainnya yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali. 1937). Prediksi atau asumsi tersebut.

kesimpangsiuran atau pengkaburan makna. Garuda Wisnu dan sebagainya. secara tidak langsung akan terganggunya konvensi yang mendasari objek yang dipilih dan kemungkinan akan terjadi suatu pelunturan nilai. Keadaan tersebut tanpa disadari dengan perlahan-lahan dapat mengikis alam pikiran spiritual umat Hindu di Bali dan dapat terjebak dalam kecenderungan efek komersial dari produk tersebut. tanpa disadari dapat mengurangi rasa penghargaan atau pemahaman spiritual terhadap makna atau nilai yang ditanamkan pada produk kriya yang dianggap sakral tersebut. karena telah “diduplikasi” untuk dijadikan barang tontonan biasa atau barang komoditi untuk pemenuhan kebutuhan sekuler semata. “desakralisasi”. Secara visual mereka akan semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya yang digunakan untuk sarana upacara ritual di tempat suci dengan produk kriya yang dipakai di tempat yang bersifat profan. Seperti: relief tinggi berupa Bhoma.1. bahwa dampak dari peran khas pariwisata Bali membawa pengaruh dan perubahan yang tak terbatas. Akibat dari tindakan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jean Couteau. sekarang ba- . Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu Dampak eklektisme terhadap produk kriya masa lalu sebagai objek pilihan. “deteriorasi”. terutama bagi generasi pewaris kesepakatan tersebut. “generalisasi”.

seperti pada Gambar 38 berikut Gambar 38 Topeng Barong Ket Diterapakan Sebagai Hiasan Boutique Ditinjau dari sudut semiotika. bahkan sengaja dipentaskan di hotel-hotel untuk menghibur para wisatawan. Rangda dan Barong ket.nyak ditiru dan diterapkan sebagai hiasan toko. penerapan elemen estetis tradisional secara eklektis tersebut dapat berdampak terganggunya kestabilan antara tanda dengan . kantor. rumah tinggal dan bangunan umum lainnya. banyak ditiru dengan tidak disertai dengan “sakralisasi” dan dipakai pertunjukan khusus untuk konsumsi para wisatawan. Topeng Barong Ket juga dipakai sebagai penghias ruangan boutique yang dipajang berdampingan dengan busana yang dijual.

petanda, karena terjadi suatu “mutilasi” struktur simbol atau lambang dengan konvensi adat yang telah mapan dalam kalangan umat Hindu di Bali. Terbentuk kepingan-kepingan dan perpaduan tanda dengan petanda yang tidak jelas atau “mati”. interpretasi makna menjadi simpangsiur dan terkecoh karena secara visual semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya sakral dengan profan. Seperti senjata nawa sanga, produk kriya tersebut biasanya digunakan sebagai hiasan di pura berupa bandrangan dan sekaligus sebagai simbol kekuatan para Dewa, namun kini sematamata diciptakan sebagai barang cenderamata untuk konsumsi para wisatawan (lihat Gambar 29). Makna konotasinya mengalami perubahan dan mengarah pada nilai komersial. 2. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini Penerapan elemen estetis secara eklektik pada desain masa kini yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali masa kini, dalam upaya untuk menciptakan karya yang bermuatan lokal atau didorong oleh harapan agar dapat menciptakan suasana tradisional Bali. Ternyata usaha tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan permasalahan yang mendasar. Pada desain atau produk kriya yang diciptakan dengan menerapkan elemen estetis tradisonal kadangkadang tampak “janggal”, “tertekan”, “terpaksa”, berlebihan, mubasir dan dari perpaduan tersebut tidak terjalin pertalian makna di antara tanda-tanda atau

simbol-simbol yang diterapkannya. Dikaitkan dengan konsep estitika yang melandasi strategi pembangunan di daerah Bali, seperti telah dipaparkan pada bab pendahuluan, kondisi tersebut jelas kurang relevan, sebab pada produk-produk yang diciptakan sering terlihat kurang selaras, kurang harmonis dan tidak seimbang. Bahkan tak jarang melahirkan karya yang termasuk: pastiche, parody, kitsch, atau camp. Sebagai contoh dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional, berupa relief garuda pada sebuah façade toko sepatu bata seperti Gambar 38 berikut,

Gambar 38 Penerapan Relief Garuda Pada Façade Toko Sepatu Bata

Pada hiasan tersebut tampak elemen estetis berbentuk garuda yang meniru dari bentuk Garuda Wisnu dan penyuguhannya tidak dilengkapi dengan simbol Dewa Wisnu. “Tangan” garuda dibuat menunjuk logo sepatu bata dan posisi penempatan kedua elemen tersebut sejajar secara horisontal. Pada penampilan tanda tersebut tampak suatu fragmen yang terbentuk dari hasil perpaduan dua, yaitu antara simbol dengan logo. Disimak dari permaknaan, maka keduanya sama sekali tidak terdapat pertautan makna. Konsep penciptaan hanya didasari oleh suatu pretensi menciptakan nuansa bagunan tradisional Bali. Bentuk garuda tersebut sebenarnya merupakan produk kriya masa lalu yang khusus diterapkan pada bangunan suci dan mengandung nilai filosofi yang tinggi dan sebagai simbol kekuatan Tuhan. Namun kini dipilih dan diterapkan begitu saja tanpa memikirkan dampak negatif terhadap makna yang dikandungnya. Mereka meminjam makna simbol garuda yang telah mapan dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, hanya sekadar untuk menunjukan logo sepatu bata atau bertujuan untuk membangun imitasi image atau citra rasa palsu (kitsch) dalam usaha membangun keyakinan masyarakat konsumen, bahwa produk sepatu merek bata sudah terpercaya, kuat dan sebagainya, sampai-sampai simbol garuda yang masih diyakini oleh umat Hindu “digambarkan” memberi petunjuk tentang keunggulannya.

seperti tampak pada Gambar 39. juga dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional berupa dua patung naga yang mengapit pintu gerbang utama di lantai I di bawah selasar kantor sebuah bank di Denpasar. —dikombinasikan dengan tanda atau simbol atau logo lain— dan dimanfaatkan hanya untuk menunjukan merek sepatu. kini “dipermainkan”. karena merupakan hasil penyusunan elemen-elemen masa lalu yang melahirkan bangun tanda palsu yang berkonotasi negatif. Naga tersebut sebenarnya merupakan hiasan sekaligus se- . sebab pemilihan dan penerapannya merupakan suatu “pelesetan” dari makna garuda yang sebenarnya. Bentuk hiasan tersebut merupakan penggayaan dari bentuk naga hasil produk kriya masa lalu. Selain hal tersebut. Pastiche. Narasinya bersifat ironis dan kritis dalam artian mengecilkan makna adiluhung yang terkandung dalam simbol garuda tersebut.Peniruan dan perpaduan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu produk kriya parodi. Contoh kasus sejenis lainnya. Sedangkan terkait dengan fenomena camp. karena dalam penampilannya bersifat mendaurulang bentuk garuda yang merupakan hasil produk kriya masa lalu dan diterapkan begitu saja. juga termasuk produk pastiche dan camp. sehingga terkesan sentimentil terhadap simbol yang masih diyakini oleh umat Hindu di Bali. Simbol yang bersifat sakral dan terkait dengan ajaran ketuhanan.

sehingga berkesan berlebihan.bagai simbol yang diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih di pura. Nilai simbolis terkait dengan ajaran kosmologi Hinduistis di Bali dan dianggap sebagai benda sakral. absurd. makna atau nilai yang dikandungnya diimitasi dan dibuat-buat atau sama sekali tanpa makna serta menengelamkan . dan tidak terbentuk pertalian makna dengan tempat yang diberi hiasan tersebut. namun pada penerapan tersebut berubah menjadi produk biasa. glamor. termotivasi oleh keinginan yang lebih mengutamakan segi artistik dibandingkan substansi atau bobot dari elemen estetis produk kriya masa lalu yang dipilihnya. seperti pada bangunan suci berupa padmasana (lihat pada Gambar 12) Gambar 39 Penerapan Patung Naga Pada Gerbang Utama Pada Lantai I Di Bawah Selasar Kantor Sebuah Bank di Denpasar Penerapan tersebut.

Usaha tersebut tanpa disadari membawa dampak terjadinya pergeseran dan pelunturan nilai yang dikandungnya serta bersifat ironis kalau ditinjau dari peletakan naga tersebut. Digolongkan sebagai fenomena pastiche. Secara semiotik kondisi tersebut tidak mencerminkan hubungan antara penanda dengan petanda dan dengan narasi yang tidak jelas. karena produk tersebut merupakan penyusunan elemenelemen yang dipinjam dari unsur produk kriya masa lalu dan dalam penerapannya menimbulkan konotasi negatif. Usaha penciptaan penerapan naga tersebut juga disertai dalih untuk menciptakan . Penerapan produk tersebut dapat dimasukan sebagai fenomena-fenomena. seperti: pastiche. kitsch maupun camp. karena dalam penerapan tersebut hanya menitikberatkan pada penggayaan. Karya tersebut juga dapat digolongkan sebagai camp. misalnya untuk kemegahan. kebesaran. seperti merendahkan penghargaan nilai simbolis yang dikandung pada patung naga tersebut. menciptakan suasana tradisional dan sebagainya. karena bentuk tersebut merupakan peniruan dari elemen “seni tinggi” atau high art yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dengan dibarengi tujuan palsu. disebabkan penenpatannya tidak sesuai dengan ketentuanketentuan yang telah terkonvensi. Bangun tanda baru yang dianggap sah dengan petanda yang tidak jelas. dekorasi atau segi artistik semata. Sebagai fenomena kitsch.objek yang dijadikan sasaran eklektis.

Untuk itu. Mereka dalam proses pengerjaannya hanya mengandalkan keahlian tangan atau virtuosity semata untuk menjadikan “mass product” dan didorong oleh keinginan pemenuhan kebutuhan para pengembang untuk menciptakan suasana dengan citra tradisional Bali. Terimakasih . Untuk contoh kasus yang sejenis masih banyak terjadi di masyarakat.suasana tradisional Bali. Usaha-usaha seperti tersebut secara tidak langsung juga dapat berdampak menghambat kreativitas para kriyawan untuk berkreasi dan berinovasi. bagi para pembaca yang tertarik silakan diabadikan lalu kita bahas dari berbagai perspektif ilmu di lain kesempatan. sebab dalam proses penciptaannya hanya bersifat “mendaurulang”. Selama ini tindakan-tindakan tersebut dianggap sebagai sikap atau model pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang berkesinambungan. sebenarnya kurang relevan kalau dikaitkan dengan makna yang dikandungnya. Entahlah ?. meramu dan berorientasi pada elemen-elemen yang sudah ada. karena tanpa disadari dapat membawa dampak negatif —nilai simbolis yang dikandungnya menjadi sepele dan bahkan tanpa makna— terhadap konvensi yang diyakini oleh umat Hindu di Bali. “menduplikasi” atau meniru.

M. Kuala Lumpur-SingapuraDjakarta Cudamani. Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi. S. Singaraja: Percetakan Guna Agung. Bija. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Yogyakarta. Oxford University Press / PT. Couteau. Data Bali Membangun. Cassirer. Buchori. M. (makalah seminar). Yogyakarta: ISI. Z. 1990. Bagus. I M. Transformasi Struktural Masyarakat Bali Dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). USA: Telos Press. J. Apakah Upacara Baten Masih Perlu?. IGN. Pengantar Agama Hindu. 1972. I. 1992. 1995. I B. ____. For Critique of The Political of Economy of The Sign. Yale University Press. Denpasar: Upada Sastra. An Essay On Man.DAFTAR BACAAN Ardana. 1994. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). 1991. J. Indra. Upakara Upacara. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya.1993. Denpasar: Bappeda Tingkat I Bali. Baudrillard. N. 1990. Jakarta: Hanuman Sakti . Ariawati. Aji Maya Sandi. Budaya Bali Dalam Pertemuan dengan Budaya Dunia. 1995. Aspek Desain dalam Produk Kriya. Island of Bali. 1944. Covarrubias. E. Jilid: 2. 1981.

Geriya. Gambar. West Germany: Weiss Verlag Gmbh. 1979. 1993. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1953. . New York.1963. Gelebet. Studio Edition. Lodon: McGraw-Hill.Singapore: Periplus Editions. Inc. Arsitektur Tradisional Bali. “Pariwisata dan Segi Sosial Budaya Masyarakat Bali” dalam Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa (Tjok Sudharta. Book Company. A Theory Of Semiotika. Indiana University Press. Singaraja: Kementerian Penerangan. A. W. Blomington. 1978. Kamus BaliIndonesia.L. Republik Indonesia (Sunda Ketjil). 1976. Garis-Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Kecil. dkk. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali. Woodcarving of Bali. Yogyakarta: Karya Yogyakarta. N.Dinas Pengajaran Propinsi Bali. U. Gie. Margaret. Signs and Symbols (Their Design and Meaning). Ed. CD-ROM 2. tt. Encyclopedia of World Art. Berkeley . Buku Paider-ideran dengan Gambar Dewata Nawa Sanga dan Jimat-Jimatnya. Frutiger. Toronto.1989. I M. 1995.). Encyclopaedia Britannica. Eco. T. 1988. Denpasar: Upada Sastra. 1981/1982.0Freed dan Eiseman.

1976. Kean. Sejarah dan Pendidikan Kriya di Indonesia. Frick. Yogyakarta. 1987. Court Art of Indonesia. Hornby. AS. 1989.1990. L. Krakah Modré Aji Griguh.1969. K. MC. Cultural Involution: Tourist Balinese and the Processs of Modernization in . L. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (terjemahan). Joedawinata. Jessup. 1997. P. Jencks. Sarasamušcaya. 1985. 1951. The New Classicism in Art and Architecture. Kayumas. London: Methuen. C. tt. H I. Grafitas. 1990. 1993. Kadjeng.(Makalah Seminar Kriya). Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia 1975. N. 1973. Jakarta: Hanuman Sakti. Goris. Kaler. Manusia dan Seni. Hutcheon. Dkk. A Theory of Parody. I. S. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Gambar Lambang. London.Ginarsa. Denpasar: CV. Hartoko. R. fourth edition. New York: The Asia Society Galleries. Jakarta: PT. Yogyakarta: Kanisius. Yogyakarta: ISI. I. Sejarah Nasional Indonesia. dkk. 1984. D. Denpasar: Kartodirdjo. Oxford: University Press. N. A. Gottschalk. Jakarta: Pemeritah Republik Indonesia. Atlas Kebudayaan Bali.

Desire in Laguage: A Semiotic Approarch to Literature and Art. A. 1971. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. 1994. Edisi ke dua.1979. Kropak IV. H. Mantra. 1-2 Nopember 1988. Oxford: Basil Blackawell Lontar Bhomantaka. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. 1986. Penerbitan dan Balai Buku “Ichtiar” Kerepun.1988. 1960: Bali Purbakala (disalin oleh: R.D. . ____. I B. Soekmono). 1976. Jakarta:PT.Antropological Perspective (Disertation Ph. Bali: Masalah Sosial Baudaya dan Modernisasi.b.J. Denpasar: PT. Denpasar: (makalah pada Simlok Penelitian Menyongsong Tinggal landas. Bernet. Bali dan Ekspor Hasil Kerajinan. Pengantar Antropologi. I MK. Denpasar: Universal Press. 1993. Jilid: 2. ____. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: (red) Jambatan. No. Kamus Bahasa Indonesia. Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Daerah Bali dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas. Jakarta: Angkasa Baru Kridalaksana.) USA: Anthropology. Koentjaraningrat. Mahabhakti Offset. Jakarta: Balai Pustaka Kristeva. J. 1995. ____. Brown University Kempers. Darsana Bali. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai).

Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia. Edisi ke dua. Ngurah. Pameran Topeng Tradisional Bali & Jawa Barat (Katalog Pameran). H. Oka. 1990. Doa Sehari-Hari Menurut Hindu. 1988. I Bali. Jakarta: Balai Pustaka Monier. sebuah Bunga Rampai). 1963. William. Parisada Hindu Dharma. Moeliono. 1982/1983. IGN. et al. S M. 1991. 1994. Bali Dalam Perspektif Sosial Budaya (laporan Seminar. 8 Pebruari 1991) Bandung: Panitia Seminar. (dalam Puspanjali. Pemda. Bandung. B. Metode Penelitian Bidang Sosial.Mirsa. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982/1983. Tk. Jogyakarta: Gajah Mada University Press. Denpasar: CV. I. Sejarah Bali. R. 1993/1994. Upada Sastra. 1995. Himpunan Keputusan (SeminarKesatuan Tafsir Terhadap Aspekaspek Agama Hindu. Nala. A Šanskrit English Dictionary. 1991. Usada Bali. Namawi. Peristiwa Sejarah dan Peristiwa Nostalgia. Nyoka. Denpasar: PT. Oxford : The Clarendom Press. Kamus Bahasa Besar Indonesia. . I G M. Museum Negeri Propensi Bali. Denpasar: Toko Buku Ria. Kayumas. Jakarta: Hanuman Sakti. 1990. Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Propinsi bali. Denpasar: Parisada Hindu Dharma. Denpasar: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan.

Bhagavad-Gîtã. Wisma “Praja Mukti” Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Raka. N. Santog. Balai Pustaka. Bandung: Penerbit Angkasa. 1977/1978. 1994. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Konsepsi Monotheisme dalam Agama Hindu. Pindha. 1990. A. G. Denpasar: Upada Sastra. Santosa. (Againts Interpretation). Aspek-aspek Agama Hindu.A. Derektorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional. Pola dasar Kebijaksanaan Pembinaan Kebudayaan Daerah Bali. Bagian Inventarisasi dan Pembinaan Nilainilai Budaya. 1973. I B. Denpasar: Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali. 1991/1992. New York: Anchor Books. 1975. G. Jakarta: Hanuman Sakti.1993. 1994. Simpen. Denpasar: Listibya Daerah Bali. Kamus Besar Bahasa Indonesia. S. P. Seputar Weda dan Kebijakan: Jakarta : Manikgeni. I G.Pendit. 1988. ____. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Diretorat Jenderal Kebudayaan. . Serba Neka Wayang Kulit. Putra. Jajahitan Bali serta Fungsinya Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali. W. S. Sara. Notes on “Camp”.A. 1992. Sejarah Pendidikan Daerah Bali. Sejarah Wayang Parwa.

Kamus sosiologi. at al. Jaman Prasejarah Indonesia. Serba-serbi Semiotika. Yogyakarta Soejono. Sudartha. Rajawali.1992.Trimurti Tattwa. Jakarta: Balai Pustaka. Arti dan Fungsi Sarana Upakara. tt. Soeroso. W. Jakarta: Gramedia. Jakarta: PT. I G B. I N. P. T. 1993. Suasthawa. 1988. M. Denpasar: CV. Jakarta: Yayasan Penerbitan Kebudayaan. M. . Sp. Seni Rupa Indonesia Dalam Masa Prasejarah. 1991. R. 1988. R. 1986. Suku Dayar San. (Upacara-upakara. 1975.P. S. 1985. Committee of Festival of Indonesia. Kayumas. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Sugriwa.Singging. Soekanto. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuna. Sudjiman. Seni Budaya Hindu-Bali. Ngodalin pada Sanggah Pemrajan. (Sejarah Nasional Indonesia I).P. Kayumas. dimuat dalam Majalah Kebudayaan Indonesia. Gita Karya. 1990/1991. Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni. Hubungan Adat Dengan Agama dan Kebudayaan. G. Jakarta: CV. ____. D. I. Denpasar: CV. Bandung: Panitia Pameran KIAS 1990/1991. Hakekat dan Makna serta Arti Simbol-simbol) Soedarso. 1990. Soeka.

Kanda Pat Dewa. I W. Denpasar: Upada Sastra. I N. ____. Sutaba. Transkrips Lontar Bhomantaka. No.Sura. Kamis. Pengertian Pura dan Bangunan Suci di Bali. I M. Surayin. Agama Hindu (Sebuah Pengantar). 1980. Titib. Prasejarah Bali. I G. Kropak IV.1982. Singaraja. 1993. 31 Agustus 1995) ____. Koleksi Gedong Kertya. Denpasar: Yayasan Panti Asuhan Hindu “Dharma Jati” Tjahjono. 1995. Dewa Yadnya.1989. Architrave Tonjaya. Denpasar: Upada Sastra Surpha. 1980. G. I A P. Denpasar:Toko Buku Ria. Suwondo.U. Desain dan Merancang: Penjelajahan Suatu Gagasan. I M. Transkrip Lontar Šiwa Tattwa. Lintas Asta Kosali. Denpasar: Penerbit dan Toko Buku Ria. Denpasar: CV. Yayasan Purbakala Bali. Denpasar: B. B. 1991. Burung Merah Putih (dimuat dalam surat kabar Nusa Tenggara. G.b. K. Garuda. 1987. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. .1977/1978. Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali. B. Kayumas. 1991. Eksistensi Desa Adat di Bali.

1995. (Tentang Tanda. (terjemahan). Jakarta: Yayasan Sumber Agung. Memahami Cerita Rekaan Secara Semiotika. Adiparwa. R. M. Semiotika. 1994. 1958. A. 1981. Buku Pelajaran Agama Hindu. Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Wikipedia . S. Webster.org/wiki/Kerajinan Wiryatmadja. Cara Kerja dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya). 1994. Wardana. S.Van Zoest. I K.wikipedia.keping Masa Lalu. Widyatmanta. Jakarta: CV. 1977. Pengarang. (dimuat dalam Jurnal Kebudayaan Kalam edisi: 2-1994). Penataan dan Perlembagaan Agama Hindu di Bali. Jakarta: Hanuman Sakti. P.s Collegiate Dictionary.2010 Kamus Bahasa Indonesia online [cited 2010 Maret 18] Available at: URL: http: //id. 1983. USA Wiana. Webster. 1994. 1993. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai) Jilid: 1. A. Decoding Postmodern Style (Submitted for a Mater Degree in Industrial Design) London: The London Institute Central Sain Martns College of Art and Design ____. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Yasraf. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Yogyakarta: Penerbit dan Toko Buku “Spring”. . Wojowasito. S. Tamasya di Antara Keping. IB.

Derektorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. New York: Haeper Torchbooks The Bolingen Library. 1946. Zimmer. Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan. H. W. 1994. . Denpasar. Denpasar: Penerbit-BP. IB. Myth and Symbols in Indian Art and Civilization. Pergeseran dalam Pelaksanaan Agama Menuju Tattwa. 1983: Seni Kerajinan Indonesia. Yudoseputro. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.Yudha Triguna. Dalam “Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali (Sebuah Ontologi).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful