Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisonal Bali Secara Eklektik

DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI SECARA EKLEKTIK PADA DESAIN MASA KINI
berdasarkan perspektif historis dan semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini Berdasarkan Perspektif Historis dan Semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn E-mail: arimbawa @yahoo.com Hak Cipta © 2010 Pada penulis Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara digital maupun mekanis, termasuk memfotocofy, merekam atau dengan system penyimpanan lainnnya, tanpa seizin tertulis dari penulis Desain cover & setiting : Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn 21 x 15 cm Penerbit : Udayana University Press Jimbaran Denpasar Bali Bekerja sama dengan: Intitut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar

ISBN: 978-602-8566-65-0

52 BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA…………………………………………….. 19 B.. Konsep Sekular………………………………... 119 D. 97 B. 97 A.……………………………… v PENGANTAR PENULIS…………………………….DAFTAR ISI JUDUL………………………………………………… i DAFTAR ISI…………………………………………......... Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali 21 BAB III PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI…………………………………. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya….. iii SAMBUTAN . Konsep Spiritual Religius…………………….. Kajian Historis…………………………………....... 19 A.. viii BAB I PENDAHULUAN……………………………….... Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Ele-men Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini…….... 28 A. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali….. Pendekatan Semiotis…………………………… 100 C.......... Sejarah Penerapan Produk Kriya……………. Pengertian Eklektik……………………………. Pendekatan Historis……………………………. 128 1... 116 2. 122 BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI ……………………………… 128 A....... 1 BAB II EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI………………………………………... 128 ... 115 1. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu ……………. 28 B.

. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini…………………………………... 157 1....... 159 2.. 161 DAFTAR BACAAN 168 .. 148 B....... Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini……..2.. Kajian Semiotis……………………………….. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu…………………………...

BAB I

PENDAHULUAN

etelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950, perkembangan pariwisata di Bali kembali mengalami kebangkitan dan hingga sekarang menjadi pusat pengembangan industri pariwisata di kawasan tengah Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut, pengaruh pariwisata sangat dirasakan oleh masyarakat di Bali. Di satu sisi banyak prestasi gemilang yang telah diraih dan secara tidak langsung dapat membawa kehidupan masyarakat di Bali menjadi lebih baik, namun di sisi lain pengaruh tersebut tidak dapat dielakkan lagi menimbulkan dampak negatif dan menjadi masalah terhadap kelestarian kebudayaan Bali. Nilai-nilai tradisional banyak menjadi tidak eksis dan bahkan menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antar manusia sebagai konsekuensi logis adanya aktivitas pariwisata. Hubungan sosial antar manusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi dan kepentingan. Budaya kolektif berubah menjadi individual. Menurut Geriya (1993), bahwa dampak pariwisata khususnya dalam konteks sosial budaya ditandai dengan adanya beberapa indicator sebagai berikut.

S

1. Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan terkonsentrasi di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut. 2. Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. 3. Meningkatnya mobilitas penduduk dalam bekerja. 4. Mundurnya aktivitas gotong royong. 5. Berkembangnya konflik antargenerasi, khususnya generasi tua dan generasi muda. 6. Terjadinya gejala social defiance yang meliputi kejahatan, narkotika, maupun penyakit kelamin. 7. Terjadi komersialisasi kebudayaan dan hasilnya. Mengenai indikator pada poin ketujuh merupakan salah satunya masalah terkait dengan eksistensi kehidupan kebudayaan tradisional Bali. Hasil kebudayaan unggul (height culture) hendaknya diposisikan sebagai basis kreativitas yang kaya inspirasi, kokoh identitas, kuat modal budaya yang mengkonstruksi, mengintegrasi dan menyeimbangkan, sehingga tidak tergerus oleh mekanisme komersialisasi dan komoditisasi. Antara kebudayaan tradisional Bali dan penciptaan desain produk masa kini agar terjaga pola hubungan sinergis, komplementer yang simetris dan saling meningkatkan. Hal tersebut menjadi penting, mengingat hasil kebudayaan unggul memiliki karakteristik sebagai ber-

ikut: (1) mengedepankan kualitas, sehingga diagungkan dan dimuliakan (adhiluhung); (2) menjadi sumber inspirasi atau spirit dan kreasi oleh mayoritas populasi dan perajin; (4) memiliki sifat khas, lentur dan adaptif dengan roh budaya; (5) mengandung sari-sari budaya dan peradaban, seperti etika, estetika, logika, solidaritas, spiritualitas dan aneka kearifan lokal. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Mantra (1988) bahwa kebudayaan Bali dalam perkembangannya berfungsi secara “normatif” dan “operasional”. Berfungsi normatif, karena terkait dengan adat-agama Hindu di Bali, maka peranan kebudayaan Bali diharapkan mampu dan berpotensi memberikan pegangan dasar dan pola pengendalian, sehingga ketahanan dan kelestarian budaya dapat diwujudkan. Berfungsi operasional, karena kebudayaan Bali diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi peningkatan kualitas kepariwisataan di Bali. Upaya mewujudkan ketahanan dan kelestarian kekayaan budaya serta alam Bali, maka pada beberapa dasawarsa silam, pemerintah daerah Tingkat I Bali dalam melaksanakan pembangunan yang mencakup berbagai sektor dirumuskan peraturan-peraturan daerah yang diarahkan pada pembangunan dengan pola budaya Bali, berwawasan lingkungan dan dilandasi dengan konsep adati-Hinduisme, seperti: 1. Rwa Bhineda, yaitu dua hal yang berbeda terdapat di dunia ini. Bagi orang Bali perbedaan tersebut tidak harus dipertentangkan, melainkan

) Sebagai manusia dengan berbagai keterbatasan. pria atau wanita. selaras dan seimbang). yaitu kemampuan untuk menimbang konsekuensi baik atau buruk yang akan berpengaruh pada manusia dan lingkungan. dan sakral atau profan. dituntut bijak. seperti: baik atau buruk. yaitu sebagai berikut: sukha vã yadi vã duhkham bhûtãnãm paryupasthitam. sesuai dengan yang termaktub dalam Kitab Sarasamušcaya. sehingga segala makhluk tidak luput dari ikatan suka maupun duka (Kadjeng. 1993. Konsep tersebut memberi kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan tidak luput dari belenggu dikotomi yang bersifat kodrati. Hal tersebut. siang atau malam. maka dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. seloka: 498. menghidarkan tindakan yang arogan dan harus berdasarkan nalar atau wiweka. . Artinya: dua hal yang berbeda. nyata atau tidak nyata (sekala atau niskala). merupakan kekuasaan Sang Hyang Widhi Waša atau Tuhan. seperti suka dan duka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Oleh sebab itu.diharmoniskan (serasi. kebolehan dan kemampuan sebenarnya sangat sulit untuk menentukan batas absolut dua hal tersebut. prãptavyamavašaih sarva parihãro na vidyate.

Dari keempat tujuan hidup tersebut. rasa bersahabat.’ yang berarti: menjunjung. ‘dhir. Keempat bagian tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh. moksa adalah merupakan tujuan hidup yang tertinggi. berarti naluri. karena merupakan kebahagian sejati. maka tuntutan akan artha dan kãma dapat dikendalikan. sesuai dengan pen- . Perkataan dharma. artinya tujuan dharma adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani yang selaras dan seimbang. Kãma. Catur Purusha Artha. kãma dan moksa. Hal tersebut. artha. mengatur. ‘Muc’ yang berarti membebaskan atau melepaskan ikatan duniawi. adil. menuntun. berasal dari Bahasa Šanskerta. artinya benda atau sarana yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sedangkan perkataan Moksa. sebab dengan perbuatan yang dilandasi dengan dharma. dorongan nafsu atau keinginan yang bersifat duniawi. Artha. yaitu terdiri dari: dharma. memelihara dan melestarikan. memangku. berasal dari bahasa Šanskerta. artinya empat tujuan hidup sebagai dasar kehidupan sosial.2. Sedangkan dharma adalah tujuan terpenting. moksartham jagadithya ca iti dharma.

jelasan dalam Kitab Sarasamušcaya. Desa Kala Patra. Hal tersebut merupakan suatu penafsiran atau fatwa agar manusia senantiasa memelihara dan melestarikan alam semesta yang mencakup bhuana agung (makrokosmos) serta bhuana alit (mikrokosmos).1993. merupakan tiga ukuran yang dapat dipakai seba- . bila artha dan kãma tesebut diperoleh dengan perbutan yang menyimpang dari dharma (Kadjeng. seloka: 12. yaitu sebagai berikut: Kamãrthau lipsamnastu dharmmamevãditašsaret. 3. hendaknya manusia mengendalikan diri dan lebih mengutamakan perbuatan dharma. nantinya tak disangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kãma. adalah bagian dari Tri Pramana dalam lingkup perilaku manusia. Dalam usaha memenuhi tuntutan artha dan kãma. untuk mencapai jagaddhita atau kebahagian dan kesejahteraan hidup. hendaknya mengutamakan dharma. Artinya: jika menuntut artha dan kãma dalam hidup ini. nahi dharmmãdapetyãrthah kãmo vapi kadãcana. Tidak ada artinya.) Konsep tersebut merupakan panduan absolut bagi manusia untuk membina keseimbangan dan keselarasan antara alam sekala dan niskala.

peraturan. 4.gai pedoman untuk menilai kenyataan Rwa Bhineda. yaitu terdiri dari kata Karma yang artinya perbuatan dan Phala artinya buah atau hasil. Desa dalam konteks perilaku manusia merupakan pedoman berdasarkan tempat atau lingkungan di mana perbuatan tersebut dilakukan. tempat atau lingkungan dan keadaan atau peraturan yang telah berlaku. khususnya dalam mengambil sikap. sehingga tercipta kesatuan pandang dan keadaan yang mengarah pada kedamaian. bahwa semua perbuatan manusia pasti akan memperoleh hasil yang setimpal (inter- . Dua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik dan marupakan “hukum” dan telah dipercayai umat Hindu di Bali. Kala merupakan pedoman berdasarkan waktu perbuatan atau aktivitas tersebut dilakukan. Sedangkan Patra merupakan pedoman berdasarkan “keadaan” atau peraturan tertulis yang berlaku. kesejahteraan umat manusia dan kelestarian lingkungan. keputusan atau kebijakan yang akan diberlakukan dalam masyarakat. kenyamanan. Jadi Karma Phala mengandung arti: hasil dari perbuatan. Konsep tersebut memberikan landasan ideal yang luwes atau fleksibel. Karma Phala. Manusia hendaknya mampu menyesuaikan dengan waktu.

Artinya: Kami memuja engkau yang menjaga alam semesta. Dalam Kitab Reg Veda VII. konsep tersebut melandasi sikap antisipatif. Hukum tersebut mengatur keterpaduan. Menanamkan kepercayaan bahwa. 1. hukum tersebut dikenal dengan perkataan Rtã dan dijelaskan sebagai berikut: Tã vãm vivaya gopã Deva dikesu yajñiyã rtãvãnã yajase putadaksasã. Jadi. Jadi. baik di dunia nyata (sekala) maupun di akhirat (nis-kala). Hukum Karma dikenal pula sebagai hukum alam atau kausalitas dan tak seorang pun luput dari hukum tersebut. hukum Rtã selain sebagai hukum perbuatan serta hukum moral. pengendalian atau restraint dan pembinaan moral dalam segala perilaku manusia sehari-hari. baik antar sesama sebagai sum- . Dewa yang tersuci penegak hukum keabadian yang memiliki kekuatan suci. sebaliknya perbuatan buruk akan memperoleh hasil yang buruk. memberi pendirian terhadap hukum kausalitas yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini. Konsep yang dilandasi Karma Phala. juga sebagai hukum jagat raya.aksi yang seimbang). keseimbangan dan menghindari kekacauan alam semesta. 25. perbuatan baik selalu akan mendatangkan hasil yang baik.

Palemahan dan Pawongan. ‘Hita’ berarti sejahtera. baik secara vertikal maupun horizontal. selamat atau kemakmuran dan ‘Karana’ berarti penyebab. selamat dan sejahtera. 5.ber daya manusia. Secara keseluruhan Tri Hita Karana mengandung pengertian: tiga penyebab terciptanya keselamatan. (3) Pola hubungan manusia dengan manusia disebut dengan Pawongan. Perkataan tersebut terdiri dari kata ‘Tri’ berarti tiga. Esensi dari konsep tersebut merupakan sinergisme yang meliputi pembinaan hubungan yang harmonis. artinya manusia hendaknya selalu sujud kehadapan-Nya atas segala rahmat dan karunia-Nya. memelihara kelestarian alam disekitarnya. maupun dalam memperdayakan sumber daya alam. (2) Pola hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya disebut Palemahan. kesejahteraan atau kemakmuran. yaitu: (1) Pola hubungan manusia dengan Tuhan disebut Parhyangan. Terdiri dari: Parhyangan. sehingga tercipta kehidupan yang sehimbang. Tri Hita Karana. artinya manusia dalam kehidupanya hendaknya selalu dapat menjalin rasa persahabatan . artinya manusia hendaknya selalu merawat dirinya sendiri dan menjaga. Membatasi eksplorasi dan ekploitasi alam.

nilai dan adat-istiadat yang khas serta memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial di masyarakat. terutama dalam menciptakan produk-produk seni bermutu tinggi. Jadi secara keseluruhan berarti “itu adalah kamu”. Kalau ditambah dengan kerja. berarti semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Jika menyakiti orang lain secara implisit berarti menyakiti diri sendiri. 6. berarti: (1) nilai-nilai dan ide-ide suatu kebudayaan. 1985) Sedangkan jengah dalam Bahasa Bali berarti: semangat juang. 1994) Demikian juga secara Sosiologi. kata jengah berkonotasi sebagai . Pengertian “itu” termasuk “aku” dimaksudkan diri sendiri dan alam semesta beserta isinya. Secara harfiah terdiri dari kata: Tãt artinya “itu”. Dalam konteks seni Budaya Bali. Twãm artinya “kamu” dan Ãsi artinya “adalah”. Etos Kerja dan Jengah atau semangat kerja. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. (2) karakter umum suatu pekerjaan (Soekanto.yang didasari dengan saling pengertian dan Tãt Twãm Ãsi. bahwa perkataan etos yang terkait dengan kebudayaan berarti: sifat.

rasa dan karsa manusia yang muncul akibat perpaduan antara keserasian keselarasan dan keseimbangan dalam suatu pro- . maka sifat khas atau semangat kerja yang dimiliki masyarakat dalam lingkungan adat Bali. Sedangkan dalam perkata jengah secara implisit tersirat sifat dinamis dan merupakan pangkal dari segala dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat di Bali. adalah semangat kerja yang dilandasi dengan gotong royong serta berbakti dengan cara yang tulus iklas atau ngayah kepada Tuhan berserta ciptaannya. yaitu dalam bentuk pengorbanan suci atau Yajña. Bagi orang Bali keindahan. Konsep tersebut merupakan landasan dari kerja keras. 1993) Dari pengertian etos kerja tersebut. Estetika. 7.“semangat bersaing” atau competitive pride (Mantra. diakomodasikan dan dikendalikan dengan konsep tersebut sebelumnya. dinamis dan kebersamaan dalam pembangunan disegala sektor. baik keindahan alam maupun keindahan hasil olah cita. Tetapi kedua hal tersebut perlu diarahkan. sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian serta dalam mengeksploitasi sumber daya alam akan dapat diharapkan terwujudnya kelestarian.

duk seni atau desain adalah merupaka karunia Tuhan. sebagai rasa terimakasih. karena bagi umat Hindu di Bali dipercayai bahwa dalam keindahan tersirat nilai-nilai kebaikan. maka pengertian indah akan menyiratkan nilai kejujuran dan kebaikan. keindahan merupakan hal pokok yang harus diperhitungkan. maupun pada produk seni atau produk kriya tradisional yang adiluhung. baik terlihat di alam sebagai ciptaan-Nya yang agung. Dengan pandangan tersebut. Oleh sebab itu. Sehingga dengan melakukan persembahan keindahan berarti berbuat yajña. Konsep tersebut juga merupakan pedoman bagi generasi penerus dalam menghayati menikmati. seperti Plato menyebut ‘watak indah’ atau ‘hukum indah’ dalam konteks tersebut. karena . dan menghargai keindahan. kejujuran dan kebenaran. maka dalam setiap kegiatan adat-agama Hindu di Bali. Pandangan tersebut sesuai dengan yang dijelaskan Gie (1976) bahwa keindahan dalam arti luas mencakup pula ide kebaikan (mengacu pada pengertian bangsa Yunani kuno. seni dengan keindahan hendaknya dipersembahkan kembali kepada-Nya dalam produk seni ataui desain berbentuk simbol-simbol atau nyasa.

sesama mahkluk maupun dengan alam di sekelilingnya. apabila ia mampu mentransformasikan dirinya secara utuh sesuai dengan peran yang ditampilkan. genuine creativity. Seorang seniman tari dapat dikatakan memiliki taksu. 1993) Konsep tersebut menuntun kesadaran manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. taksu juga mempunyai arti sebagai kreativitas murni. Seorang perupa dikatakan produknya ber-taksu. sehingga berkesan “hidup” . keindahan dan mujizat.di dalamnya tersirat nilai-nilai luhur. Mengajarkan manusia agar berbuat dengan mengarah pada keselarasan. yang memberi kekuatan spiritual kepada seorang seniman untuk mengungkap dirinya menjadi “lebih besar” dari kehidupan sebelumnya (Mantra. Taksu. keserasian. baik dengan Tuhan. sehingga tetap tercipta “keindahan”. 8. merupakan personal asset atau inner power yaitu kekuatan dari dalam diri seseorang sebagai fitrah yang memberikan kecerdasan. apabila mampu merefleksikan inner power pada produk visualnya. sehingga dapat tampil sebagai jati diri yang mandiri. sebab setiap insan memiliki taksu sebagai anugrah Tuhan yang perlu dilatih dan dikembangkan. Dalam kaitannya dengan pelbagai aktivitas budaya Bali. dan keseimbangan.

Demikian juga pengembangan pariwisata di daerah Bali. Konsep pariwisata budaya diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan kebudayaan masyarakat Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. kadang dapat menjadi bumerang. secara yuridis berdasarkan Perda Nomor 3 tahun 1974 juncto Perda Nomor 3 tahun 1991 yang menetapkan bahwa konsep pengembangan pariwisata di Bali adalah berbasis budaya Bali. “over acting”. sela- . Namun dalam mensosialisasikan kesadaran tersebut. sehingga tidak terjadi penampilan yang terlalu berlebihan.dan sebagainya. Karena sikap tersebut. perlu juga ditopang atau dikendalikan oleh konsep-konsep lainnya yang telah dipaparkan. yaitu jenis kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu sebagai potensi daerah yang paling dominan. Taksu yang dimiliki akan berubah menjadi “kelemahan”. atau jangan sampai melewati batas norma-norma yang berlaku. Dalam konsep tersebut secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali.

seperti fenomena eklektik atau “pemilihan” bentuk-bentuk atau ragam hias tradisional Bali yang sebenarnya dirancang dengan bentuk. pengkaburan makna dan berkonotasi negatif. Walaupun sedemikian luhurnya maksud dan tujuan konsep yang melandasi strategi pembangunan di Bali. isi (content) atau bobot. sekarang banyak terlihat diterapkan sebagai elemen estetis pada hotel. rumah tinggal dan bahkan sebagai hiasan pada bagian tubuh dengan di-tatto. dan nilai-nilai estetika yang khusus untuk diterapkan pada sarana pemujaan dan dianggap mengandung nilai simbolis dan sakral. Namun pada kenyataannya tak jarang ditemukan juga “ketidaktaatan” dalam operasionalnya. namun kini banyak tampak diterapkan pada desain produkproduk profan atau tempat-tempat yang tidak sesuai. Diupaya agar meminimalkan timbulnya dampak negatif terhadap kelestarian seni budaya Bali. Sebagai salah satu contoh yang dapat dijumpai dalam dasawarsa belakangan ini. Karang Bhoma yang sebenarnya merupakan ragam hias pada bangunan-bangunan suci. dan seimbang. maka fenomena tersebut merupakan suatu pergeseran makna dan dapat berakibat terjadinya “desakralisasi”. Produk yang dibuat tersebut kadang-kadang menampakan “kejanggalan”. perkantoran.ras. Misalnya. narasi. Kalau dikaji dari sudut kesejarahan dan semiotika. karena dalam pengerjaannya tidak mengacu pada referensi kesepakatan yang dibuat .

Penerapannya sematamata berorientasi pada faktor estetis dan komersial. sementara ada yang berpendapat bahwa hal tersebut “sah-sah” saja tergantung pada proses pengerjaannya. tanpa peduli akan terjadi pelunturan nilai-nilai filosofi. Jika ditinjau kembali dengan merujuk konsep estetika yang mendasari strategi pembangunan di daerah Bali. terutama yang terkait dengan nilai-nilai simbolis religius yang dikandungnya. Jelas tidakan tersebut tidak relevan dan merupakan suatu sikap “ketidaktaatan. Menyikapi kondisi tersebut dalam masyarakat Bali terjadi polarisasi pandangan. Dalam penerapan elemen estetis tradisional pada desain masa kini. mereka kadang-kadang tidak mempersoalkan masalah eksistensi makna dan nilainilai filosofi yang dikandungnya.oleh leluhurnya di masa lalu dan nilai-nilainya masih eksis pada masyarakat Hindu di Bali. di lain pihak ada yang memandang sebagai sesuatu yang baku dan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang keliru. baik terhadap produk yang dipilih dan demikian juga terhadap desain yang diberi elemen estetis produk kriya tradisional yang sarat makna religius. Produk yang tergolong high art sebagai hasil kebu- . Namun jika ditinjau dari sudut visualnya sebenarnya implementasi tersebut tidak sesuai dan dapat berdampak buruk. Mereka memilih dan menerapkannya pada produk atau tempat yang bersifat profan dengan tendensi lebih mengutamakan segi pemampilan “artistik” semata.

khususnya dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan elemen estetis produk kriya tradisional. Sikap seperti tersebut tanpa disadari dapat mengancam spirit dan kelestarian budaya Bali yang dibanggakan dan dijadikan sebagai daya tarik utama dalam pengembangan kepariwisataan di Bali Dari uraian tersebut dapat diketahui. bahwa “masyarakat Bali” dalam mengaplikasikan konsep-konsep adati Hinduisme yang kini dijadikan sebagai landasan strategi pembangunan di daerah Bali. menjadi kehilangan ‘jiwa’ kesuciannya atau menjadi suatu produk yang lumrah. secara umum dapat digambarkan dalam suatu sekematik hubungan hirarki atau taksonomi pandangan tentang dunia (weltanschaúung) manusia Bali seperti Gambar 1 berikut: .dayaan tinggi atau high culture yang adiluhung.

CITRA TRADISIONAL PENUNJANG KEPARIWISATAAN DI BALI Gambar 1: Taksonomi Pandangan Dunia Manusia Bali .NISKALA ASUMSI DASAR THEOLOGICAL CONCEPT KARMA PHALA RWA BHINEDA SIO NAL (HIDUP DI B U ER A MI) OP FORMITAS TOTAL KON CATUR PURUSHA ARTHA KEINDAHAN ("RASA") TAKSU TRI HITA KARANA DESA PATRA KALA JENGAH ETOS KERJA SKALA ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYATRADISIONAL MASA LALU DI BALI EXTERNAL (SUB SISTEM) PENGARUH -PARIWISATA -MODERNISASI /TEKNOLOGI DESAIN MASA KINI BERSIFAT KOMERSIAL: .

atau gaya. sistem. eklektik merupakan praktek memilih doktrin dari beberapa sistem yang berbeda tanpa memakai keseluruhan sistem yang lama untuk masing-masing doktrin. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary. kepercayaan dan sebagainya (Hornby. Berbeda dengan sinkretisme —merupakan suatu usaha untuk menyerasikan. eklegein berarti:1) memilih yang dipandang terbaik dari berbagai doktrin. dan dalam Moeliono. (1994). 1989). Perancis. et al. perkataan eklektik mengandung pengertian. diartikan bahwa eklektik sebagai usaha memilih atau menggunakan bermacam-macam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya.) Dalam filosofi dan teologi. baik berupa orang. metode. suatu usaha bersifat BAB II P . Pengertian Eklektik erkataan eklektik dalam bahasa Yunani disebut eklektikos.EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. 1983. 2) mengkomposisikan beberapa elemen yang diambil dari berbagai sumber (Webster.1995). perpaduan atau mengkombinasikan beberapa sistem— karena masih meninggalkan kontradiksi yang belum dihilangkan (Encyclopaedia Britannica .

memadukan gaya modern dan tradisional. namun bukan berarti eklektik tidak unik. eklektik lebih merujuk pada perpaduan antara beberapa gaya yang saling bertolakbelakang. sebenarnya eklektik tidak memiliki prinsip khusus dalam kreativitasnya. Misalnya. Dalam hal tersebut ia mendefinisikan postmodern sebagai” kombinasi teknik-teknik modern dengan sesuatu yang lain. Bahkan pada perkembangannya dalam seni dan desain. seperti elemen-elemen estetika tradisional) agar dapat berkomunikasi dengan publik dan . Jadi. namun gaya eklektik merupakan olah image dari perpaduan berbagai gaya. Meski terkesan tidak memiliki prinsip. maka dapat dipahami. Dalam seni dan desain. bahwa eklektik tidaklah selalu menghasilkan sesuatu yang bersifat “merusak” norma-norma masa lampau akan tetapi dapat juga berarti sebagai bentuk “penghargaan” atau produk “nostalgia”.memilih yang terbaik dari berbagai sumber tentang: orang. istilah eklektik dikenal sebagai upaya untuk mencampur atau meramu beberapa gaya yang berasal dari berbagai sumber dalam satu produk. Dari uraian tersebut. gaya atau metode. Justru dengan perpaduan berbagai macam gaya akan melahirkan satu nuansa baru yang jelas berbeda dengan gaya-gaya sebelumnya. Hal tersebut juga sesuai dengan konsep Charles Jencks yang menggunakan pengkodean ganda atau double coding dan eklektik digunakan untuk menerangkan hakekat produk post modernisme.

kembalinya nilainilai tradisional dan juga reaksinya yang justru menekankan bentuk-bentuk baru yang radikal dan menentang seluruh ekspresi kesenian yang dianggap ideal dalam bingkai high art Berdasarkan pada pengertian tersebut.minoritas yang terkait” (Jencks. akan dicoba mengkaji mengenai dampak “negatif” yang ditimbulkan akibat eklektisme yang kurang terkendali. maka dalam pembahasan selanjutnya mengenai masalah penerapan elemen produk kriya tradisional secara eklektik pada desain masa kini.1987). et al (1994) dijelaskan. bahwa kriya berarti pekerjaan atau perbuatan (Wojowasito. mengingat unsur-unsur produk kriya masa lalu yang “dipilih” terkait dengan sarana penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu sesuai dengan adat di Bali dan nilainilainya masih diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. Hal tersebut. B. 1977) dan menurut Moeliono. dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya. kriya dan kerja dalam bahasa Jawa disebut pekaryaan yang berarti pekerjaan dan pengertian tersebut mengacu kepada hasil suatu pekerjaan yang disebut ‘karya’. Dalam Kamus Bahasa Kawi Indonesia dijelaskan. Perkembangan yang menampilkan multivariousness. bahwa per- . Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Kata kriya atau kria berasal dari bahasa Sansekerta “kr” yang berarti ‘mengerjakan’.

bahkan untuk tujuantujuan tertentu dapat diciptakan peralatan khusus. Pengertian kriya juga sering dipadankan dengan istilah craft yang mengandung pengertian suatu keahlian atau keterampilan yang menghasilkan benda.kataan kriya berarti pekerjaan tangan. Pengerjaannya bisa saja menggunakan bantuan peralatan kerja. Menurut Soedarso (1988) kriya adalah cabang seni rupa yang mengutamakan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek yang bernilai seni dan miliki nilai estetis. Pengertian kriya sering diselaraskan pengertian handicrafts. Atas dasar hal tersebut. Istilah tersebut dipergunakan untuk menyebut suatu cabang seni yang mengutamakan keterampilan yang luar biasa (virtousity) menggunakan tangan. namun sepanjang proses pembuatannya si pembuat atau kriyawan sepenuhnya dapat menguasai seluruh tahap produksi. Dalam Encyclopedia of World Art (1963) didefinisikan sebagai berikut: The word “handicrafts” refers to useful or decorative objects made by hand or with tool by workman who has direct control over the product during all stages of production. maka cakupan kriya memiliki fleksibilitas yang . Sehingga kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan yang memungkinkan melahirkan nilai seni terapan atau dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini.

Berdasarkan beberapa definisi dan ulasan tersebut. Jadi orientasi penciptaan produk mencerminkan kecenderungan-kecenderungan kepada salah satu dari kedua hal tersebut atau terkadang dapat merupakan perpaduan seni dan desain.tinggi. handicrafts atau craft adalah: 1. bisa berada pada domain seni murni atau seni pakai atau seni terapan atau desain. Kriya juga disebut “industri rumah-tangga” atau home industry yang memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan . bahwa pengertian kriya. Bersifat dekoratif atau secara visual dibuat sangat indah dan dalam perujudannya dapat berupa produk seni murni atau seni terapan atau desain yang memiliki fungsi guna atau utility. Hal tersebut ada benarnya. karena sumberdaya manusia pelaku kegiatan tersebut umumnya rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan atau konsisten berbasis pada estetika tradisional. Hal tersebut membawa cara penilaian atau assessment estetika produk kriya tergantung dari wawasan atau persepektif ilmu yang dipergunakan untuk mendekatinya. Sesuatu yang dibuat dengan kecenderungan lebih banyak melibatkan kemampuan atau keahlian tangan kriyawan atau virtousity 2. maka dapat disimpulkan. Sedangkan pada masyarakat umumnya kriya sering disebut sebagai “seni rakyat”. bisa memiliki ciri khas atau identitas.

Karya kriya me- . Produk yang dihasilkan dapat berupa hiasan atau benda seni maupun barang pakai (Wikipedia. Berdasarkan pengertian tersebut. batik dan sebagainya. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata. kulit. juga berarti industri kecil small scale industry yang membuat barang-barang sederhana dan bisa menggunakan unsur seni. didalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skil yang tinggi craftmenship. Namun antara seni kriya dan kerajinan secara prinsip terdapat perbedaan.peralatan sederhana. Selain hal tersebut. Selain hal tersebut seni kriya juga sering didekatkan dengan istilah “kerajinan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan. Menurut Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan bahwa kerajinan adalah proses produksi melalui keterampilan tangan. maka dapat dipahami bahwa antara kriya dengan kerajinan memiliki kesamaan ditinjau dari proses pengerjaannya dan pencapaian hasil. sehingga sebutan jenis kerajinan dikaitkan dengan medium yang digunakan. seperti: kerajinan logam. 2010). Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. yaitu samasama menggunakan keterampilan tangan dalam proses pengerjaannya dan benda yang dihasilkan dapat berupa produk seni atau produk pakai yang mengutamakan kegunaan atau utility.

Sebab pada masa lampau. kegiatan. Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat. religius.rupakan karya yang memiliki keunikan. angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsur seni. pikiran. Kerajinan suatu hal yang rajin. komologis. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam. kegetolan. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). Dalam Konsep tersebut termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual. barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. yang kemudian disebut seni kerajinan . simbolis. para kriyawan menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. filosofis dan sekaligus fungsional. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan. solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas dan mencerminkan jiwa zaman lampau. serta magis. di dalamnya terkandung muatan-muatan atau nilai estetik.karakteristik.

Selain hal tersebut juga terjadi reproduksi karya masa lalu yang diwarisinya dengan tujuan untuk menampilkan karya kriya etnis. sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa kriya seni. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang membuat seni kriya mengikuti nazab seni yang sedang berkembang. Dalam kreativitas penciptaan karya kriya. sebutan kontemporer seolah mengacu pada paradigma seni masa kini yang dilandasi pandangan postmodernisme.Dewasa ini penciptaan produk kriya di satu sisi mengarah pada estetika plural. di sisi lain. Sekarang jamannya permainan tanda-tanda budaya glo- . Sebutan "kriya kontemporer" (yang merupakan padan kata dari contemporary craft) sendiri sebenarnya mengandung paradoks karena di satu sisi ia menempatkan dirinya pada suatu kategori "kriya" (craft) yang berseberangan atau setidaknya terpisah dari "seni" (art). Kecenderungan saat ini mengusung pemahaman bahwa media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. dan subject-matter dalam seni rupa sudah benar-benar campuraduk. terjadi gejala mempertontonkan identitas invidual. Namun. seperti karya kriya kontemporer. Menurut Julian Stallabrass dalam "Contemporary Art" mengatakan bahwa sekarang ini bermacam-macam bentuk. di mana pembedaan kategori dianggap tidak berlaku lagi. Perkembangan karya menampilkan multivariousness. teknik.

Untuk lebih jelasnya nilainilai yang dikandung dalam produk kriya dapat ditelusuri dari perkembangan penciptaan produk kriya. Seperti diuraikan pada BAB III berikut. maka parameter pengukur nilai estetika produk kriya adalah uang. simbolik. Dalam kaitan tersebut. kosmologis. dan sakral. filosofis. merupakan hasil pekerjaan tangan para kriyawan secara konvensional. maka yang dimaksud dengan elemen estetis produk kriya tradisional Bali adalah mengenai unsur-unsur atau bagian-bagian yang mengandung nilai-nilai estetik. Produk seni kriya dapat mengambil posisi strategis di tengah mengeliatnya isu seni rupa kontemporer dan pasar seni rendah dengan kuantitas massal.bal yang melingkupi budaya tradisi. . budaya modern dan budaya masa kini. adiluhung dan terkait erat dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. bersifat tradisional. produk kriya diciptakan mengarah pada “komersialisasi” produk dan dianggap sebagai barang komuditi yang memiliki milai ekonomis. Estetika menjadi praktik normatif dalam menciptakan unique selling point. Bertolak dari uraian tersebut.

karena keterbatasan referensi dan data berupa artifak-artifak yang ada. seperti tingkat peradaban. Bedulu. Tingkat perkembangannya ditentukan oleh berbagai faktor. akurat dan tuntas.PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI A. tidaklah mungkin dapat dipaparkan secara kronologis. Gianyar dan didukung dengan beberapa buku yang terkait. BAB III P Sehubungan dengan hal tersebut. dinamika dan perubahan lingkungan budaya internal maupun eksternal. maka secara sinkronis atau berdasarkan penggalan sejarah dapat ditelusuri sebagai berikut: . Museum Gedung Arca. Denpasar. Penggunaan dan penciptaan produk kriya tradisional Bali dewasa ini adalah merupakan bagian dari mata-rantai sejarah perkembangan kebudayaan Bali sejak berabad-abad yang silam. Namun berdasarkan benda etnologi yang tersimpan di Museum Bali. maka dalam penelusuran perkembangan dan motivasi penciptaan produk kriya dalam masyarakat Hindu di Bali. Sejarah Penerapan Produk Kriya emaparan produk kriya di Bali secara hitoris mengenai awal penciptaan dan penggunaan-nya dalam kehidupan masyarakat di Bali adalah merupakan hal yang sangat sulit diungkap secara tuntas.

Dalam melakukan aktivitas hidupnya didukung dengan peralatan kerja berupa produk kriya terbuat dari ranting kayu. tanah longsor. angin. mengembara. berpindah-pindah. Dalam terminologi antropologi disebut dengan kepercayaa animisme dan dinamisme. dan sebagainya. memohon keselamatan dan memuja atau percaya dengan kekuatan alam. tanduk dan batu yang dikerjakan dengan cara sangat sederhana. Kejadian-kejadian tersebut. Zaman Pra-Hindu. Pola pikirnya masih terbatas pada tingkat pemenuhan kebutuhan hidup berupa makanan dan belajar secara alamiah dari gejala-gejala atau kejadian-kejadian alam yang pernah dialaminya. membuat mereka harus waspada dan seolah-olah selalu dibayangi oleh perasaan takut. Pada saat tersebut. Pulau Bali —seperti halnya beberapa pulau lain di Nusantara— dihuni oleh penduduk yang tergolong ras Negrito yang mengusung kebudayaan Paleolitikum (Koentjaraningrat.1. petir. kejadian gunung berapi. 1971). tulang binatang. Seperti terjadinya kelahiran. gangguan binatang buas. seperti berupa kapak batu yang tergo- . penduduk yang menghuni pulau Bali masih hidup dengan pola nomaden. kematian. sehingga hasil produk yang ditinggalkan tampak relatif masih kasar. timbulnya api. sebagai pemburu dan peramu. hujan. Sebelum kedatangan gelombang migrasi bangsabangsa pendukung kebudayaan Neolitikum dan Perunggu dari dataran Asia Tenggara.

desa Pecatu. Gambar 2: Kapak perimbas dari batu peninggalan zaman Palaeolithikum (Zaman Batu Tua) . Buleleng. Soejono. Di antaranya berhasil ditemukan Bali oleh R. kapak genggam dan sebagainya. seperti: di daerah Sembiran.long jenis kapak perimbas. Badung ditemukan beberapa buah sudip dan tiga buah alat tusuk terbuat dengan tulang binatang atau tanduk rusa dan di daerah lainnya.P. di Gua Seloding.

Gambar 3 Kapak Gengngam dari Batu Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda Gambar 4 Kapak dari Batu Bertangkai Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda) .

bahwa roh . tampak bersahaja. Hal tersebut menjadi dasar berkembangnya kepercayaan syamanisme. belajar bercocok tanam dan bermasyarakat. belum tampak usaha untuk memperindah penampilan dan kenyamanan (ergonomis). lebih mengutamakan kegunaan. Penduduk Bali secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup nomaden. seperti. Mereka percaya. kemudian ditinggalkan ke tempat lain (Sutaba. Kemungkinan juga peralatan tersebut diambil langsung dari alam serta digunakan hanya sekali pakai. diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2500 SM— maka mulailah terjadi integrasi dengan kebudayaan dari luar (Suwondo. Dalam masyarakat yang terbentuk saat tersebut. 1977-1978).Produk kriya berupa peralatan kerja yang ditinggalkan tersebut. muncul etiket saling menghargai antar sesama dan berkembang tradisi menghormati orang yang dituakan. bahwa roh yang ada di sekeliling manusia dapat merasuk ke tubuh seseorang melalui suatu ritual tertentu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994). —migrasi orang-orang Proto Melayu dan tergolong ras Mongoloid. mulai hidup bertempat tinggal di suatu daerah dengan batas-batas wilayah tertentu yang disebut pedukuhan. yaitu suatu ajaran berdasarkan keyakinan. 1980) Kemudian dengan kedatangan gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Neolitikum. tokoh-tokoh masyarakat atau orang yang dianggap memiliki kekuatan tertentu.

seperti bekal kubur (funeral gifts). belincung. Pengaruh kebudayaan Neolitikum terutama tampak dalam penciptaan produk kriya berupa peralatan dari batu. Beberapa peninggalan produk kriya yang mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum berupa peralatan . dalam terminologi antropologi. Proses pengerjaannya dengan cara digosok menggunakan batu lain sampai halus (Sutaba. pahat pembelah batang kelapa dan sebagainya. pohon dan di antara produk-produk kriya yang diciptakan juga dihargai dan dipuja sebagai benda bertuah atau sebagai simbol-simbol tertentu. Atas dasar kepercayaan tersebut. perilaku tersebut disebut fetisisme. Produk kriya tersebut dibuat sebagai simbol penghormatan atas jasa orang yang meninggal. maka berkembang gejala simbolisasi dan penghargaan atau pemujaan terhadap suatu benda. Kepercayaan animisme dan dinamisne juga semakin tumbuh subur di masyarakat Mereka percaya dengan kekuatan-kekuatan metafisis yang dimiliki oleh suatu materi. seperti kapak persegi. beliung.orang yang meninggal dapat berpengaruh terhadap kehidupan di dunia ini. Mereka mampu menciptakan produk-produk dari batu dengan disertai usaha-usaha untuk memperindah penampilan dan memikirkan segi kenyamanan dalam pemakaiannya. 1980). Seperti menyembah batu. Menganggap suatu benda memiliki kekuatan magis atau bertuah dan dapat menyelamatkan atau merusak kehidupannya.

Mesir. Misalnya di Palasari. seperti ditemukan di beberapa tempat di Bali. seperti masuknya pengaruh kebudayaan Budha. perak.terbuat dengan batu. Dengan kedatangannya. Cina. Cara penciptaan produk kriya untuk penunjang aktivitas hidupnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. sehingga mampu menghasilkan beberapa jenis produk dari perunggu yang cukup berkualitas. tetapi keindahan penampilan produk juga mu- . Unsur-unsur kebudayaan tersebut diterima dan diadaptasi. diperkirakan sekitar tahun 600-300 SM. dan sebagainya. dan sebagainya. Dalam penciptaan produk-produk kriya tersebut. Bedulu. Hindu. Kebudayaan masyarakat di Bali semakin tumbuh dan berkembang. Kemampuan tersebut terus ditingkatkan. Denpasar dan Ge-dung Arca. disimpan di Museum Bali. datang gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Perunggu yang disebut juga migrasi orang-orang Deutro Melayu. maka di Bali terjadi akulturasi antara kebudayaan batu dengan perunggu. Dalam perkembangan selanjutnya. seperti: emas. mereka tidak hanya mengutamakan kegunaan semata. kuningan. sehingga memperkaya kasanah kebudayaan Bali di masa lalu. Bantiran. Sekarang benda-ben-da itu. Gianyar. Nusa Penida dan di daerah lain. Demikian juga pengaruh-pengaruh dari luar terus berlangsung. tembaga. besi. karena mereka mengenal bijih logam dan cara peleburannya.

Pola hias yang diterapkan. Mempunyai ukuran luar biasa dengan tingggi 1. Gianyar detail hiasan wajah manusia 1m hias an waj ah man usia Gambar 5.lai diperhatikan.96 m dan bidang pukulnya bergaris tengah 1. di antaranya berupa hiasan yang . yakni berupa sebuah nekara perunggu yang ditemukan di desa Pejeng.60 m. Digunakan untuk genderang perang atau sarana upacara memohon turunnya hujan (Kartodirdjo. 1976). Hal tersebut dapat dilihat pada artifak yang sangat menakjubkan. Nekara Perunggu Ditemukan di Pejeng. Gianyar Nekara tersebut berbentuk selinder atau dadang terbalik.

seperti tanah liat yang dibakar atau tembikar. Zaman Hindu (Pengaruh dari India dan Majapahit) Pengaruh kebudayaan Hindu yang masuk ke Pulau Bali. pola tumpal yang tersusun bertolak belakang.distilasi dari bentuk wajah manusia. selain bertujuan sebagai dekorasi. Salah satu contoh peninggalan berupa peti terbuat dengan batu (sarkofagus) digunakan untuk tempat mayat. 1975). Pada sarkofagus tersebut tampak ditatah langsung berupa hiasanhiasan dan simbol-simbol terkait dengan kepercayaan mereka. Pada masa tersebut. anyamanyaman bambu dan mengukir batu sebagai perkembangan kebudayaan Neolitikum. pembuatan produk kriya selain menggunakan logam juga dengan bahan-bahan lain. bulu burung. . binatang. 3. seperti penerapan hiasan empat pasang topeng wajah manusia. 1960). empat pasang topeng dan lain sebagainya (Kempers. diduga berlangsung melalui dua “pengaruh”. juga sebagai simbol yang mengandung makna terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Penerapan ragam hias tersebut. Benda atau hiasan tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis atau bertuah yang memberi perlindungan dan keselamatan kepada kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya (Soejono. merupakan personifikasi nenek moyangnya yang telah meninggal.

yaitu sejak terjadi hubungan antara masyarakat Bali dengan Kerajaan Medang Kemulan di Pulau Jawa. Songan. dan di daerah lainnya di Buleleng (Covarrubias. Bangli. Sembiran. diawali dengan ekspedisi di bawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada (Prabu Wisnuwardana) pada tahun 1343. Kekalahan tersebut mengakibatkan penduduk Bali asli. Kedisan. Sidetapa. 1972). Kubu dan Sukawana. sekitar abad 8 M (Djawatan Penerangan Propinsi Suda Ketjil. Julah. seperti di Desa Tenganan. akhirnya terdesak ke daerah pedalaman. Cempage. Karangasem. Persebaran kebudayaan Hindu dari Pulau Jawa. 1977/1978). Pedawa.yaitu pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa langsung dari India. Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dari Majapahit ke Bali. Hubungan tersebut terus berlangsung pada zaman Kerajaan Singosari dan puncaknya terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad 14 dan 15 M (Suwondo. 1953) dan pengaruh kebudayaan Hindu yang berasal dari Pulau Jawa. diduga berlangsung sekitar abad 10 M. baik yang dibawa oleh orang-orang Drawida maupun Arya pada masa-masa Raja Maya Denawa berkuasa di Bali. Desa Trunyan. yaitu saat Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Tri Bhuwana Tungga Dewi Djaya Wisnuwardana). Dalam ekspedisi tersebut terjadi perang melawan penduduk Bali asli dan berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Gajah Mada. .

Namun mereka telah memiliki sistem kemasyarakatan yang mapan dengan kebiasaan berbeda dengan penduduk Bali lainnya. di mana gunung dianggap utara dan sebagai tempat yang bersih atau suci sedangkan laut adalah selatan sebagai tempat yang kotor atau tempat pembersihan. bahasa yang digunakan umumnya menggunakan Bahasa Bali Kuno dan tidak mengenal tingkatan bahasa (bahasa halus-kasar) Masuknya kebudayaan Hindu ke Bali. roh nenek moyang. Bayu. dan Kala (Soeka. Sebagai penganut sekte-sekta. Seluruh unsur kebudayaan tradisonal Bali dominan dijiwai oleh agama Hindu dan sebaliknya wujud kebudayaannya kembali diabdikan untuk keperluan agama. Mereka tidak mengenal sistem Kasta.1986). Wisnu. seperti: Sambu. . Gunung dianggap sebagai alam arwah dan sekaligus sebagai waduk alamiah yang mengairi dataran rendah di Pulau Bali sepanjang tahun.Penduduk di Pulau Bali saat tersebut jumlahnya relatif sedikit di bandingkan sekarang. Indra. Percaya dengan alam nyata dan tidak nyata. Sehingg terjalin hubungan yang saling berkait seperti pada Gambar 6. Brahma. kekuatan alam atau dewa-dewa penguasa alam gaib. ternyata membawa pengaruh yang cukup besar terhadap konstelasi kehidupan masyarakat di Bali. dan konsep utara-selatan (kaja-kelod atau dulu dan tebén) dengan berpedoman pada laut dan gunung (segaraukir). Daerahnya dibatasi hutan belantara.

Anak panah menuju kearah pusat lingkaran besar menunjukkan bahwa semua unsur bertumpu pada ajaran Agama Hindu. (4) Organisasi sosial tradisional. Anak panah melengkung pada gambar tersebut menunjukkan hubungan antar unsur.    . bangunan tradisional. tata cara upacara di pura.Gambar 6. (3) Seni budaya. Unsur Kebudayaan Bali Dijiwai Agama Hindu Keterangan  Lima unsur dominan dalam tata kehidupan tradional di Bali. menunjukkan segala produk kebudayaan kembali diabdikan atau dipersembahkan untuk agama. tari. Anak panah munuju kearah keluar lingkaran besar. dan (5) Keseluruhannya dilandasi dengan ajaran Agama Hindu. seperti: berupa seni rupa. seperti: (1) Filsafat hidup atau pandangan hidup masyarakat. (2) Adat istiadat dan hukum adat. dan sebagainya.

1977 /1978). Empu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11. Menyusun sistem organisasi kemasyarakatan berdasarkan ajaran Agama Hindu yang disebut Desa Pekraman atau Desa Adat. seperti. Kayangan Rwabhineda dan memperlebar Pura Besakih dan sebagainya (Purnata. yaitu pada zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan di Bali diperintah oleh Raja Marakata dan Anak Wungsung. Kayangan Catur Lokapala. Wisnu ‘pemelihara alam’ tengah dan Šiwa ‘pelebur alam’ ke arah gunung. Kayangan Tiga —terdiri dari: Pura Desa. Sedangkan Dang Hyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra (juga terkenal dengan sebutan Peranda Sakti Wawu Rawuh) —seorang agamawan dan pujangga besar dari Jawa Timur— datang ke Bali ketika Keraja- . Ia mengembangkan konsep Tri Murti untuk pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma ‘pencipta alam’ ke arah laut.Tata cara bercocok tanam tradisonal dan sistem pengairan atau subak dikembangkan berdasarkan konsepsi Agama Hindu. Sarana dan prasarana keagamaan mengalami perkembangan dan pembenahan sejak datangnya Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirarta dari Jawa Timur. Pura Puseh dan Pura Bale Agung— untuk melengkapi Desa Pekraman. Mengajarkan pembuatan Sadkahyangan Jagat. Mengajarkan tata cara pembuatan Kayangan atau Pura. Sistem tersebut diajarkan oleh Resi Markandeya berasal dari Jawa Timur.

Kalpa Warksa. berupa alat pertanian. . sedangkan Pura Dadia. Dia mengembangkan konsep Tri Purusa yang terdiri dari: Parama Šiwa (Swah Loka atau alam atas). yakni dengan membuat pelinggih berupa Padmasana. Paibon untuk pemujaan roh leluhur (Wiana. Naga Basuki. Kinara Kiniri. Penciptaan produk-produk kriya pada zaman tersebut. dan sebagainya. Kedatangannya sangat berpengaruh dalam pengembangan dan penyempurnaan ajaran Agama Hindu di Bali serta turut membawa Kerajaan Gelgel ke zaman keemasannya. Sada Šiwa (Bwah Loka atau alam Tengah) dan Šiwa (Bhur Loka atau alam bawah). Achentya dan sebagainya yang terkait dengan konsepsi Tri Murti dan Tri Purusa.an Gelgel. mas-masan dan sebagainya serta kekarangan. Perwujudan dalam bentuk simbol. seperti karang asti. 1945). karang goak. Ananta Boga. simbol maupun sebagai hiasan. Hiasan yang diterapkan berupa pepatran. karang bentulu. terutama untuk sarana pemujaan. menunjang keperluan sehari-hari. Pedharmaan. mempunyai peranan yang sangat penting. seperti patra punggel. dalam pembuatan Pelinggih Padmasana. seperti berupa wadah. Keberhasilannya adalah memperjelas “kekaburan” antara tempat pemujaan Tuhan dengan roh leluhur. Klungkung dipemerintah oleh Dalem Waturenggong (1460-1550). seperti Empas. yaitu untuk pemujaan Tuhan. patra sari. Salah satu contoh. seperti. Purnaghata. patra welanda.

wayang dan sebagainya. nomor kropak M55 dijelaskan: . yaitu salah satu kerajaan di Bali yang pa- .. Seperti dalam bentuk pagelaran topeng.. pamukul (juru tabuh). Pada zaman tersebut di Bali sudah berdiri kerajaan-kerajaan. besi.. seperti kerajaan Bedahulu (1324-1343) dengan rajanya yang terkenal bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten. tembaga (kriyawan atau “tukang” emas. pagending (penyanyi).turun di panglapuan di Singamandawa. juga mengalami perkembangan diwarnai dengan pengaruh kebudayaan Jawa dan sarat dengan misi pembinaan umat Hindu. tanggal 5 tahun Šaka 818) ( Simpen. 1974) Prasasti tersebut memberi petunjuk. Hal ini dapat diketahui dari Prasasti Bebetin. dan sebagainya. parbwayang (wayang). partapukan (topeng). di bulan besakha Cuklapancami. Kerajaan Gelgel (1380 -1460) dengan masa keemasan pada saat pemerintahan Raja Dalem Waturenggong sampai Kerajaan Klungkung.pandê mas.. tembaga). bahwa kesenian termasuk produk-produk kriya pada zaman tersebut. tari topeng. (dibuat oleh pegawai di Singamandawa pada bulan ke-10. rge pasaran Wijayamanggala. besi. pabangsi (juru rebab). Jawa Timur. juga dipakai sebagai media pendidikan atau komunikasi dalam masyarakat. pabunjing (penari). pertunjukan wayang.Di bidang kesenian lainnya. Kerajaan Samprangan (13511380) dengan rajanya Sri Kresna Kepakisan berasal dari Daha (Kediri). Seperti seni tari. tahun Šaka 818 (896 M).

1990:4). 4. umumnya dibuat lebih megah dibandingkan dengan perumahan rakyat dan sebagainya. Sebagai contoh. produk kriya berupa keris atau atribut raja dibuat dengan sangat indah. Jadi berorientasi pada puri atau istana centris. Zaman Kolonial Ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk menemukan sumber rempah-rempah di dunia timur. Sehingga melahirkan produk-produk yang unggul dan adhiluhung. bangunan istana raja. kegiatan penciptaan produk-produk kriya tampak lebih berkembang di sekitar pusat kerajaan dan di bawah patronage kerajaan (Joedawinata. Dalam kaitan dengan sistem kerajaan. Produk kriya yang diciptakan saat itu tampak lebih mengutamakan segi keindahan. maka peranan penciptaan produk-produk kriya saat tersebut memiliki kecenderungan untuk melaksanakan tugas yang dilandasi dengan semangat kebanggaan dan dedikasi kepada raja dan keluarga raja. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para raja dan keluarganya yang bersifat hedonistik atau sebagai simbol status sosial. Kedatangannya disambut dengan tata . Oleh sebab itu. Pada tahun 1597 sempat mampir di Kerajaan Gelgel (Bali).ling terakhir dikuasai oleh Belanda dalam perang Puputan pada tanggal 28 April 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe. saat diperintah oleh Raja Dalem Sagening.

terutama mengenai segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan Raja Dalem Sagening. dalam julukan itu sebenarnya teselip suatu ambisi atau impian untuk menjadikan Bali sebagai wilayah kekuasaannya. . menanamkan pengertian tentang pentingnya hidup non-agraris dan sebagainya. kesehatan. Impian tersebut akhirnya benar menjadi kenyataan. Belanda juga melontarkan suatu julukan “Jonck Hollands”. Mulai saat itu pamor kekuasaan para raja semakin memudar di mata rakyat Bali. setelah Belanda mampu mengalahkan perlawanan para raja Bali dalam perang puputan (terakhir tahun 1908). menyebabkan muncul kelompok-kelompok elite atau golongan atas baru dalam masyarakat dan memperkenalkan ide-ide baru.cara yang sangat hormat. misalnya. yang nantinya akan ditingkatkan menjadi hubungan perdagangan. Bagi Belanda. artinya “Belanda Muda”. dalam pendidikan. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Be-landa dengan sebaik-baiknya untuk menulis mengenai Bali. karena kekuasaan kerajaan “feodal” secara berangsur-angsur diganti dengan sistem pemerintahan kolonial “modern” menurut cara Belanda. Keadaan tersebut menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat di Bali. Pada saat tersebut. Sistem pemerintahan tersebut. karena kunjungannya tersebut dengan dalih ingin menawarkan ikatan persahabatan. yang ditujukan untuk Pulau Bali.

diupayakan dengan mengangkat tenaga pendidik lokal. Sistem pendidikan itu dikenal dengan . Pemerintah Belanda menginginkan agar keindahan alam dan kebudayaan Bali menjadi objek wisata budaya. seperti mengembangkan sistem pendidikan kolonial yang disesuaikan dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu di Bali. karena dikawatirkan dapat “merusak”. pemerintah kolonial Belanda berkeinginan untuk mengembangkan potensi tersebut untuk dijadikan objek wisata.Di sisi lain. Pemasukan berupa devisa hanya diharapkan dari pemungutan pembayaran yang dikenakan pada para wisatawan yang berkunjung (Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Ketjil. seperti pelajaran menggambar diajarkan oleh “Guru Adat” (seniman tradisional). seperti memiliki beraneka ragam jenis kesenian tradisional. 1953) Langkah-langkah lain yang dilakukan dalam upaya pelestarian itu. Belanda juga sangat tertarik dengan keindahan alam dan kehidupan kebudayaan masyarakat di Bali yang memiliki ciri tersendiri. Dalam menyusun strategi pengembangan ke arah tersebut. sebagai “museum hidup” dan menjadi tontonan semata. Sehubungan dengan hal tersebut. upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di Bali. Misalnya. maka mereka selalu konsisten untuk menjaga kelestariannya dan berusaha untuk mengisolasi dari penetrasi pengaruh-pengaruh kebudayaan eksternal. terdapat pura hampir di seluruh pelosok Pulau Bali dan sebagainya.

dilakukan dengan mendatangkan beberapa pakar dalam berbagai disiplin ilmu dari negeri Belanda untuk mempelajari. E. Korn menulis buku berjudul “Het Adatrecht van Bali” (1932) dan yang lainnya. usaha tersebut cukup menggetarkan keinginan banyak orang termasuk para penulis dari barat lain-nya untuk melihat Bali secara langsung.P. Kemudian tulisan-tulisan tersebut didistribusikan ke seluruh dunia. te Flierhaar —seorang tokoh pendidik dari Negeri Belanda— pada tahun 1920. Sekitar tahun 1920. Kroos mendirikan sebuah bangunan digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu dan sekarang dijadikan Museum Bali. P. V. di Singaraja pada tahun 1928.M .Van der Tuuk. kapal dagang Belanda K. Di antaranya H. Selain itu. De Kat Angelino dengan tulisannya berjudul “De Leak op Bali” (1923). Walhasil. menulis tentang “Kawi-BalineeschNederlandsch Woordenboek” (1912). R. (Putra.N. Goris menulis buku berjudul “Secten op Bali” (1933). di bawah pimpinan Leifrinck dan Van der Tull. Kemudian di Denpasar pada tahun 1932. 1991/1992). ketika menjadi guru HIS di Klungkung. meneliti dan menulis berbagai aspek tentang Bali. dikembangkan oleh H. medirikan Gedong Kirtya yang digunakan sebagai perpustakaan untuk menyelamatkan lontar-lontar yang berisi sastra lama dan segala aspek tentang Bali. Sedangkan dalam usaha mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata. WF.sebutan Balisering.

Namun kebanyakan wisatawan dalam rombongan tersebut merasa puas setelah meninggalkan Pulau Bali.(Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dialihfungsikan untuk mengangkut rombongan wisatawan Belanda pertama mengunjungi Bali. para kriyawan dengan “serta merta” mulai aktif menciptakan produk-produk kriya untuk dijadikan mata dagangan berupa produk kriya lokal sebagai cenderamata. sehingga para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya di Bali mulai merasakan nilai ekonomis atau nilai tukar dari produk kriya yang diciptakan atau diusahakannya. maka dalam pengembangan selanjutnya mulailah diadakan pembenahan sarana dan prasarana yang terkait. Misalnya pada kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya. perbaikan sarana transportasi. seperti membangun Hotel Bali di Denpasar. pesanggrahan di Kintamani dan di Pelaga. Upaya pengembangan tersebut secara tidak langsung akhirnya berpengaruh pada kegiatankegiatan lain di Bali. Penciptaan tersebut termotivasi oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat. dan sebagainya. Melihat peluang tersebut. Sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan di Bali saat itu kurang memadai. Motivasi atau semangat penciptaan produk yang dulunya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan ke- . Pada masa tersebut. sehingga banyak di antara mereka terpaksa tidur dalam kapalnya.

. 1988). Dalam kurun waktu tersebut. pembangunan di daerah Bali yang dilaksanakan berdasarkan program Repelita dan dengan strategi pembangunan daerah seperti tampak pada Gambar 7. kemudian disuguhkan untuk para wisatawan. Zaman Kemerdekaan Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang ini (lebih kurang seperempat abad silam). Jepang lebih terfokus pada ambisinya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. (Mirsa.rajaan. Di bawah penguasaan Jepang yang berlangsung dalam waktu relatif singkat sehingga pengembangan sektor pariwisata kurang mendapat prioritas. Walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan kendala. maka situasi dan kondisi masyarakat di Bali mengalami perubahan cukup drastis. Pada masa selanjutnya. Dalam kreativitas penciptaan produk berciri khas Bali mulai terjadi gejala reproduksi atau tindakan eklektik terhadap unsur-unsur produk masa lalu yang diwarisinya. ternyata mengalami perkembangan cukup pesat. karena harus menerima kekalahan dalam menghadapi semangat hegemonisme Jepang. maka pengembangan pariwisata di Bali tidak dapat diteruskan lagi oleh pemerintah Belanda. 5. dengan meletusnya Perang Dunia ke-II. namun pada saat tersebut mulai muncul gejala yang mengarah pada komersialsasi produk kriya. karena saat tersebut. Dengan kekalahan Belanda.

2. 1991) A. Pembangunan Sektor Industri SOSIAL a. Pendekatan Regional Gambar 7. Mendorong Partisipasi Aktif dari Masyarakat dalam Pembangunan TUJUAN INTI ARAH IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN ALAT UKUR YANG MENGARAHKAN PADA KESERASIAN DAN KETERPADUAN Sumber: (Oka. Pembangunan Sektor Pertanian b.TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PEMERATAAN TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI a.2. Pelestarian nilainilai budaya. Bagan Strategi Dasar Pembangunan Daerah Bali . Pengembangan identitas Bali 1. Peningkatan dan Perluasan Sarana dan Prasarana Sosial c. Pemenuhan Kebutuhan Dasar b. Delapan Jalur Pemerataan 2. Pembangunan Sektor Pariwisata c. agama dan warisan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan B.

ternyata memberi peningkatan perekonomian yang cukup signifikan bagi masyarakat di Bali. Sektor tersebut memberi oportunitas cukup besar untuk tumbuh suburnya berbagai bidang usaha. seperti semakin menjamurnya usaha di bidang perhotelan. Hasil pembangunan ketiga sektor tersebut. bahwa tujuan pembangunan bidang ekonomi di Bali adalah berorientasi pada pertumbuhan sektor pertanian. transportasi atau biro perjalanan. karena kemantapannya yang kuat sebagai masyarakat pewaris budaya agraris. Sehingga hasilnya tampak jelas dari Pelita I sampai V mampu membawa masyarakat Bali ke tingkat swasembada pangan. seperti pada Pelita I yang dimulai sejak tahun 1969 dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. yang kembali dibangkitkan oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950. dengan tetap memakai potensi budaya sebagai daya tarik utama. toko kesenian. Demikian juga industri kecil dan rumah tangga yang bergerak dalam usaha penciptaan produk kriya. garmen. berbagai jenis industri kecil dan rumah tangga dan sebagainya. Pembangunan sektor pariwisata di Bali.Dari sekema tersebut dapat diketahui. kini terus dibina dan dikembangkan. pariwisata dan industri kecil. prospektif dan sesuai . ternyata mendapat respons cukup besar dari masyarakat petani di Bali. Pemerintah menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu cabang industri alternatif yang strategis.

Kebijakan tersebut . Sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat di pedesaan serta dapat memperlambat laju urbanisasi. sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja (mass employee) berakumulasi modal kecil. maka pada era kemerdekaan. salah satunya seperti program OVOP (one village one product). Berbagai program telah diluncurkan terkait dengan hal tersebut. karena pada dasawarsa belakangan ini pemerintah Indonesia semakin mengkonsetrasikan perhatiannya pada sektor tersebut. Malah pada tahun 1990-an terbukti produk-produk kriya sempat dijadikan sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor di luar minyak dan gas alam (LNG) Liquid Natural Gas. karena termotivasi oleh nilai ekonomi yang dapat dinikmati dari produk kriya yang diciptakannya.dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara. Kondisi tersebut semakin terpacu. Dengan dukungan pemerintah dan perkembangan pariwisata di Bali yang cukup pesat. Para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya masa kini merasa semakin bergairah dalam usaha tersebut. usaha perluasan atau enlargement penciptaan produk-produk kriya. sehubungan dengan upaya untuk memperoleh sumber dana penunjang pembangunan nasional. humanisasi proses kerja. tampak semakin mantap dan dengan kecenderungan mengarah kepada hal yang bersifat “komersial”. karena memiliki karakteristik antara lain. dan sebagainya.

Wamadewa. hingga sampai ke Indonesia. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali 1. karena dalam tata cara pengamalan ajarannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi budaya masyarakat penganutnya atau disesuaikan dengan desa. Baradwaja. mengalami penurunan dipasaran dunia dan diikuti oleh resesi dunia pada saat tersebut (Joedawinata. mengingat ekspor andalan Indonesia berupa bahan-bahan mentah yang dibutuhkan oleh industri pengolahan di luar negeri. Terjadinya hal tersebut. Hindu Jawa. Kemudian ajaran tersebut disebarkan keseluruh dunia melalui para pengikutnya. ajaran diterima dari Tuhan dalam bentuk wahyu suci oleh tujuh orang Maharsi. Atri. seperti disebut Agama Hindu Bali. Wasista dan Kanwa. 1990) B. Pelaksanaan Ajaran Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali Agama Hindu berasal dari lembah Sungai Sindhu di India. Di Indonesia. Ajaran tersebut dikumpulkan dan disusun kembali oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk kitab suci yang disebut Weda. Agama Hindu sering diberi sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan nama daerah di mana Agama Hindu tersebut tumbuh dan berkembang. Hindu Kaharingan dan sebagainya. kala dan patra. Wiswamitra. yaitu: Maharesi Grtsamada. sehingga da- .ditempuh oleh pemerintah. Di tempat tersebut. salah satunya.

Misalnya bagi umat Hindu yang telah “ahli” dalam teori dan praktek ilmu ketuhanan (teologi). Namun inti ajaran Agama Hindu yang dianutnya tetap satu bersumber pada ajaran Weda. Seperti yang .lam perkembangannya di masing-masing daerah di Indonesia. tt). air amerta batin yang tidak pernah kering (Šiwambhâ-dhyatmika) dan dapat manunggal dengan Tuhan atau purusa katemunta mareka si tan katemu. karena mereka telah menaruh upacara tersebut dalam batinnya (adyâtmika). sebab ajaran Agama Hindu memberi tuntunan yang bersifat lentur. mutlak akan diperlukan dalam mengamalkan ajaran Agama Hindu di Bali (Sugriwa. Berdasarkan hal tersebut. suara sukma yang tidak pernah putus (swaraning genta pinara pitu). api yang tidak pernah padam (geni anglayang). maka sarana dan prasarana yang bersifat lahiriah. Hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Agama Hindu. tampak memiliki etos kebudayaan Hindu yang berbeda. dibenarkan mengamalkannya dengan tanpa sarana upacara dan tidak memilih tempat serta arah tertentu. Kondisi tersebut memang menungkinkan untuk terjadi. Namun umat seperti tersebut populasinya sangat sedikit dapat dikatakan satu per mil atau sewu tinunggal. Seperti bunga yang bersemayam dalam batin yang tak pernah layu (puspa tan alun). seperti produk-produk kriya berupa simbol-simbol atau nyasa yang bersifat sakral.

Yayur Weda. dan 3) Upanisad (Jñána Kanda. sloka IX-26. Kuntipura. yaitu: 1) Mantra. juga dapat disimak dalam cara menghayati dan mengamalkan ajaran Weda yang dapat mengacu pada beberapa hal seperti: a. Jadi pada dasarnya ajaran tersebut “membenarkan” penggunaan sarana . dan Atharwa Weda). lakukanlah. Sama Weda. yaitu Brahmana (Karma Kanda) adalah merupakan ajaran yang berisi himpunan doa-doa dan tuntunan yang dipergunakan untuk keperluan upacara Yajña. 1995). ceritera-ceritera dan simbol yang dipergunakan untuk memantapkan rasa percaya kepada Tuhan. kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan asalkan menuju kebenaran. 2) Brahmana (Karma Kanda). Artinya: Apapun yang kau kerjakan. Pada garis besarnya dapat dijabarkan menjadi tiga bagian. kau persembahkan.) Bagian kedua dari penjabaran sifat ajaran Weda di atas. yat tapasyasi kaunteya tat Kurushva mandarpanam. sebagai bhakti pada-Ku (Pendit.disebutkan pada Bhagawag Gîtã. Acuan lainya sesuai dengan pendapat tersebut. Isinya terdiri dari empat himpunan atau samhita (Reg Weda. yaitu sebagai berikut: Yat karosi yad ašnãsi yaj juhosi dadãsi yat. Sifat ajaran Weda. kau makan.

juga membenarkan menggunakan sarana untuk pemujaan Tuhan . Bhakti Marga merupakan ajaran yang langsung. yaitu empat cara atau jalan utama ditempuh untuk mencapai tujuan Moksaratha Jagathita. 2) Karma Marga. menurut kerangka tersebut. Bhakti Marga. Seperti penggunaan produk kriya berupa simbol-simbol yang terkait dengan ajaran agama dan sebagainya. Kerangka Agama Hindu. terdiri dari: 1) Bhakti Marga. Dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. b.yang bersifat lahiriah untuk membantu penghayatan kepada Tuhan. yang terdiri dari: Tattwa (Filsafat Agama). Seorang Bhakta —penganut Bhakti Marga — adalah orang yang penuh cinta kasih kepada Tuhan berserta ciptaannya. Ajaran ini merupakan salah satu alternatif dalam menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu dengan menggunakan sarana pemujaan. Cetusan rasa cinta kasih dan kerinduan kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pesembahan bhakti atau dalam produk kriya berupa simbol-simbol untuk melukiskan sifat maya Tuhan (mayasakti) (Cudamani. c. 3) Jñána Marga dan 4) Raja Marga. mudah diterima dan dilaksanakan oleh semua tingkatan. Susila (Etika) dan Upacara (ritual). artinya cinta kasih. alamiah. Catur Marga. 1993).

ternyata yang lebih dominan dilaksanakan adalah upacara atau ritual keagamaan yang disesuaikan dengan adat-istiadat umat Hindu di Bali. 1990). sesajen. busana. dalam mengamalkan ajaran Weda. air. masih dominan mengacu pada tiga ajaran tersebut di atas. secara implisit memberi peluang munculnya keanekaragaman atau perbedaan penciptaan sarana pemujaan Tuhan di setiap daerah di Indonesia. Seperti menggunakan produk-produk kriya. Sarana tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dan keyakinan masyarakat setempat serta menjadi aktivitas adat atau “hukum adat” yang diusung dari generasi ke generasi berikutnya.Ketiga acuan di atas memberi gambaran. Umat Hindu di Bali. bangunan suci. bahwa ajaran Agama Hindu memberi suatu tuntunan yang bersifat luwes dalam usaha mendekatkan diri dengan Tuhan. Ketiga ajaran tersebut memberi tuntunan yang mengarah pada pengorbanan suci berupa tindakan atau kerja dan membenarkan menggunakan sarana dalam pemujaan Tuhan. Utrecht bahwa sebagian dari kaidah-kaidah atau norma-norma yang ada dalam masyarakat yang berasal dari sumber hukum yang dianggap sakral (dalam Suasthawa. sehingga hampir setiap hari umat Hindu di Bali dijum- . api dan sebagainya. bunga. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh E. Seperti dalam pengamalan tiga kerangka Agama Hindu. Pengamalan ajaran agama Hindu tersebut.

pai melaksanakan upacara. yaitu. yaitu persembahan kepada roh leluhur dan upacara kematian. pada garis besarnya dapat dikelompokan menjadi lima. terdiri dari: (1) Dewa Yajña. persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa. yaitu. yang disebut Panca Yajña. persembahan atau penghormatan kepada para Resi atau guru. hampir semuanya tampak menggunakan sarana upacara. Dengan tujuan untuk melaksanakan tiga kewajiban atau utang yang disebut Tri Rna. pelaksanaan juga diyakini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan dengan Tuhan. Selain hal tersebut. bahwa kelahiran manusia selalu diselimuti oleh utang yang harus dibayar. (2) Resi Yajña. (4) Pitra Yajña. Tujuan tersebut dilaksanakan didasari dengan suatu keyakinan. manusia dan alam yang didasari konsep Tri Hita Karana. (3) Manusa Yajña. sawah. simbol-simbol. baik di pura. baik berupa wadah atau tempat. yaitu. maupun di tempat lain yang dianggap sakral. (5) . Dari upacara-upacara tersebut. yaitu utang kepada Tuhan. rumah tinggal. upacara penyucian yang ditujukan mulai perkawinan hingga ajal tiba. para resi atau guru dan leluhur. jalan. maupun berupa hiasan dan dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat Hindu di Bali. Dari sekian banyak upacara Yajña yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Upacara yang dilaksanakan tersebut dipercayai merupakan suatu bentuk pengorbanan yang tulus dan suci atau Yajña.

Dan (4) Produk kriya yang dibuat oleh kriyawan dan para perancang masa kini (Buchori.Bhuta Yajña. dikenal beberapa jenis upacara. penganggé atau busana dewa dan melibatkan berbagai produk kriya. yaitu sebagai sarana upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di . produk-produk kriya yang dimaksudkan adalah produk yang tergolong kategori kedua. Nuntun. Upacara Panca Yajña dapat dipilah lagi memjadi beberapa jenis upacara. maka dalam konteks bahasan ini. yaitu: (1) Produk kriya dalam konteks budaya. baik yang bersifat temporel maupun permanen. upacara Dewa Yajña atau Dewapuja. Melasti. Peranan Produk Kriya dalam Upacara Agama Hindu di Bali Secara umum produk kriya di Indonesia dapat dibagi menjadi empat kategori. yaitu upacara korban suci kepada Bhuta Kala. seperti: Odalan. (2) Produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. misalnya. seperti berwujud bebantenan atau sesajen. 1990) Berdasarkan kategori tersebut dan mengingat peranan serta jenis produk-produk kriya yang digunakan untuk menunjang aktivitas hidup masyarakat di Bali sangat beraneka ragam. Semuanya menggunakan sarana yang khusus dan sangat beragam. Ngenteg linggih. dan sebagainya. (3) Produk kriya dalam konteks kerajinan rakyat. 2.

tetapi yang dimaksudkan adalah upacara peringatan hari mulai enteg linggih atau hari peringatan mulai “distanakannya” atau dilinggakan Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasi sebagai dewa pada suatu tempat suci atau pura. roh nenek moyang. Terutama produk-produk kriya yang digunakan sebagai sarana upacara Odalan. Odalan atau Dewapuja berasal dari kata Wedal. yang berarti kelahiran. kekuatan alam gaib serta memberi penghargaan atau ucapan terimakasih dalam bentuk persembahan kepada alam atas hasil atau . Dalam hal tersebut bukan berarti Tuhan mengalami kelahiran.) b. a. Peranan Produk Kriya dalam Melaksanakan Upacara Odalan Masuknya Agama Hindu ke Bali. Perayaannya dilangsungkan setiap enem sasih atau enam bulan (menurut perhitungan kalender Bali.Bali. ternyata memberi pengaruh dominan pada tatanan kehidupan dan sistem relegi masyarakat Bali. 1 sasih = 35 hari. Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu kepercayaan terhadap alam nyata dan tidak nyata. Pengertian Odalan Sebelum lebih lanjut menguraikan tentang peranan produk kriya. bersifat “permanen”. terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian Odalan. mengandung makna atau nilai simbolis dan dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali.

sumber pangan yang di berikannya. Kemudian keyakinan tersebut dimatangkan lagi semenjak Rsi Markandeya datang dari Jawa. Pola masyarakat agraris yang telah mengakar tersebut, dipadukan dengan konsep yang “bernafaskan” Agama Hindu dari Jawa, seperti dalam pelaksanaan sistem irigasi yang disebut subak. Konsep Agama Hindu dari Jawa yang bersifat menyempurnakan tersebut, juga terlihat pada sarana pemujaan kepada Tuhan dalam segala manifestasinya. Seperti berupa pelinggih, penggunaan arca, pertima atau pralingga dan sarana lainnya, yang merupakan bentuk “penyempurnaan” dari hasil kebudayaan megalitik di Bali. Pengaruh perpaduan Agama Hindu, juga memberi sepirit dan inspirasi untuk tumbuh suburnya beraneka ragam jenis kesenian tradisional berciri khas Bali. Menurut pandangan umat Hindu Bali, fungsi kesenian tradisional tersebut, pada garis besarnya dapat dikelompok menjadi tiga bagian, seperti: (1) Seni Suci atau Wali, jenis kesenian ini difungsikan sebagai bagian dari suatu rangkaian upacara yang sarat dengan makna religius dan dianggap sakral; (2) Seni Ritual atau Bebali yaitu, jenis kesenian sebagai pengiring atau “penghias” dan sekaligus terkait dengan rangkain upacara; (3) Seni “Sekular” atau Bali-balihan yaitu, jenis kesenian yang cenderung mengarah pada hiburan rakyat atau kesenangan (Pindha, 1973) Produk kriya, sebagai salah satu bagian dari kesenian tradisional Bali, ternyata dapat menduduki ke-

tiga fungsi tersebut. Khususnya produk kriya yang difungsikan sebagai sarana wali berbeda dengan yang lainnya, sebab dalam penciptaannya disertai dengan proses penyucian atau sakralisasi dengan melalui tahap-tahap upacara tertentu, seperti di antaranya dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut Tabel 1 Tahap Penyucian Produk Kriya
No. (1) 1. TAHAPAN (2) nglakar ARTINYA DAN KEGIATAN (3) pemilihan bahan baku yang akan digunakan, dewasa ayu atau “hari baik” mulai mencari bahan dan disertai dengan persembahan sesajen kepada Tuhan untuk mohon kekutan agar produk kriya tersebut ber-taksu. membentuk secara global membuat detailnya menghaluskan memberi warna memberi kontur dan hiasan tambahan upacara pembersihan, dengan membuatkan banten pemlapas memanggil atau memohon kekuatan agar merasuk pada produk tersebut yaitu dengan membuatkan banten pengulap menghidupkan yaitu dilakukan dengan mempersembahkan banten pengurip upacara menstanakan pada tempat suci dengan jalan mempersembahkan sesajen pada tempat atau asal bahan yang digunakan untuk mengetahui apakah benda yang dibuat bertuah

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

makalin nepong ngasren mulas ngias melapas ngulapin

9. 10. 11. 12.

ngurip ngeteg linggih nuedin ngerehang

(1) 13.

(2) ngajar-ngajar

(3) upacara membawa benda tersebut ke tempat suci lainnya, seperti Kahyangan Jagat, dengan tujuan “mendaftarkan”. upacara memperingati hari dilinggakan benda tersebut sebagai benda sakral memfungsikan

14. 15.

ngodalin mepajar

Narasumber: Gelebet.

Dalam melaksanakan upacara Odalan biasanya memanfaatkan berbagai macam produk kriya dengan beraneka ragam bentuk dan fungsinya serta tergolong sebagai sarana wali, seperti berupa: 1. Benda pakai, antara lain: pedupaan, bokor atau tempat sesajen, dulang, sokasi atau bakul, saab atau tutup sesajen, kendi, sangku atau tempat air suci, canting alat untuk mengambil tirta air suci, peralatan yang digunakan oleh Pedanda atau pemimpin upacara, seperti pedipan, pasepan keduanya berfungsi sebagai tempat pedupaan, stana lingga tempat api, swamba atau tempat tirta, tripada sebagai “kaki” swamba, pewijan tempat beras suci, dan sebagainya . 2. Ragam hias pada sarana perlengkapan upacara, seperti: Lontek, kober, pengawin atau bandrangan, tedung atau payung, ider-ider, berupa relief pada pelinggih-pelinggih, candi, patung, dan sebagainya. 3. Selain hal tersebut, peranan produk kriya sekaligus juga berfungsi sebagai simbol yang mengandung

Sikap berdiri (padaasana) dan kaki pada posisi bergerak. dan pada kelamin berisi bajra. Beberapa contoh produk kriya jenis tersebut dapat disimak pada uraian berikut 3. kepala. Relief Acintya a) Karakteristik: 1) Bentuk: Umumnya dibuat dalam bentuk relief yang digubah dari bentuk mirip manusia dengan tanpa busana. Pada tiaptiap persendian. telinga. Bentuk Acintya seperti tampak pada Gambar 8 Gambar 8.nilai-nilai atau makna terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Acintya .1.

Pelinggih Padmasana .2) Material: Biasanya terbuat dengan batu alam (batu padas) atau emas. hitam atau kuning emas dan putih). Diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih berupa Padmasana Seperti tampak pada Gambar 9 Kepala badan kaki Tampak Samping Gambar 9. b) Fungsi: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan bersifat permanen dan sekaligus sebagai simbol. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan (abu-abu. Namun sekarang ada juga menggunakan “beton cetak” (campuran semen pasir yang dicetak).

Acintya. nilai-nilai simbolik dan religiusnya: Berdasarkan lontar Widi Tatwa atau filsafat tentang Tuhan. merupakan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan. anatomi tubuh dan jenis kelamin dibuat “tidak jelas” atau Ardhanareswari. anirdesyam. Artinya. melambangkan sifat yang bebas dari ikatan duniawi. maka untuk mempermudah penghayatan-Nya. melambangkan sifat Tuhan yang maha pemurah dan memberikan anugrah kepada ciptaan-Nya di alam. dan . tan pahingan. kepala. Setiap persendian. artinya kehidupan yang selalu bergerak dinamis dan berproses. Dan dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan: Aprameya. Bhatara Parama-šiwa atau Tuhan sebenarnya bersifat tidak terbayangkan (Aprameya) dalam pikiran.b) Makna.. bhatara Paramasiwa tan pangenpangen. tak dapat dibatasi atau anirdesyam. Bersemedi dengan sikap pada asana atau berdiri. ape hetu ri kadadinyan ananta. artinya tak terpikirkan. Oleh sebab itu... ujung kaki. telinga.. karena keadaannya yang tidak habis-habisnya atau ananta. para yogiswara atau orang suci yang mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan membuat dalam bentuk simbol bersifat ikonografi dengan mengambil bentuk mirip manusia tanpa busana. Sikap kaki seperti berjalan atau bergerak.

Apah atau air (air yang padat berputar terjadilah bulan). tanah. Wisnu dan Šiwa Gambar 10. Angka telu atau angka tiga melambangkan tiga manifestasi Tuhan (Brahma. Aksara Suci Ongkara a) Karakteristik: 1) Bentuk: huruf atau aksara suci Ongkara sebagai simbol diwujudkan berdasarkan konsep kosmologi dan terdiri dari beberapa bagian seperti pada Gambar 10 berikut Keterangan: 1. bintang (angin dapat menjadi bintang. 3. .pada tempat kelamin dihiasi dengan bajra.2. Pertiwi. kain kapan dan sebagainya. ether (memenuhi ruang yang ada). seperti: emas. bumi (terjadinya pertama-tama berawal dari gelap). 4. 5. kuningan atau tembaga. perak. Aksara Suci Ongkara 2) Material: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau dari logam. Akasa atau langit. 3. melambangkan energi Tuhan berupa sinar suci yang memancar ke segala arah dan memberi penerangan kepada seluruh ciptaan-Nya. 2. Bayu atau angin. matahari. Teja atau api.

kuning emas. pedagingan dan sebagainya.3) Warna: sesuai dengan warna bahan yang digunakan. yaitu: (1) Aksara Wrešastra atau aksara yang “tampak” atau aksara yang umum atau aksara “biasa” digunakan dalam masyarakat Bali. c) Makna. Akasara tersebut boleh diajarkan kepada siapa saja dan biasa digunakan seperti untuk membuat pipil (nama orang dalam suatu organisasi atau seka Banjar. dalam membuat surat bukti yang ditulis di atas daun lontar. Umumnya diterapkan pada bangunan Pelinggih Padmasana dalam bentuk relief. dipakai untuk membuat sesikep atau gegemet atau jimat. dadya Pura). tt). ulap-ulap (secarik kain kapan diberi gambar aksara suci ongkara dan diletakkan pada pertengahan kolong atau tadah alas bangunan tradisional. nilai-nilai simbolik dan religius: Aksara Bali dalam penerapannya dibedakan menjadi dua golongan (Kaler. pangéling-éling atau tanda untuk meng- . seperti: abu-abu warna batu padas atau hitam. putih perak atau kain kapan dan sebagainya. sebagai tanda bahwa bangunan tersebut telah diupacarai). b) Fungsi: Dipergunakan sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Tri Murti.

berhubungan dengan dunia gaib. pengobatan dan sebagainya. Jawa Kuno dan sebagainya (2) Aksara Cwalalita. yaitu aksara suci atau aksara yang digunakan untuk menulis ilmu kedyatmikan. perlambang atau simbol terkait dengan keagamaan. Aksara Ong atau Ongkara merupakan sumber semua aksara. air atau bulan. Ardha-candra berbentuk bulan sabit melambangkan apah. aksara yang “tidak tampak” terdiri dari dua buah aksara yaitu Ah ( ) dan Ang ( ) merupakan aksara yang didak boleh diajarkan kepada sembarang orang. Huruf tersebut disebut juga dengan Aksara Modré. yaitu: Dewa Brahma (Ang ). windu melambangkan teja. seperti: mantra. Kawi. sehingga disebut Wija-aksara atau Ekã-aksara. Kedua aksara tersebut dilengkapi dengan pengangge sastra atau kelengkapan huruf yaitu berupa: Nada melambangkan angin. api atau matahari. yaitu aksara yang maha suci lambang Ida Sang Hyang . Dalam bahasa Bali diucapkan Ong. bayu atau bintang. Dewa Wisnu (Ung ) dan Dewa Ciwa (Mang).ingatkan sesuatu untuk menulis bahasa Bali. Ketiga kelengkapan aksara tersebut menyimbolkan kekuatan tiga dewa. Ketiga aksara tersebut jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om.

Widi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri-Murti. maka dapat diketahui bahwa aksara Ongkara sebagai simbol yang mengandung makna religius terkait dengan ajaran ketuhanan. 2) Material yang digunakan: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu padas. aksara Ongkara sebagai simbol Tuhan telah digunakan sejak zaman Weda.3. Demikian juga di India. Sudartha. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan yaitu berwarna abu-abu batu padas atau hitam. harus mengikuti petunjuk para rohaniwan (Nala. Hindu yaitu digubah dari bentuk kurakura dengan kepala berambut dan lidah mejulur keluar berbentuk api serta dililit naga. . 1991) 3. 1991. seperti tampak pada Gambar 11. sehingga penggunaannya sangat terbatas dan tidak boleh secara sembarangan. Jadi dari penjelasan tersebut. Badavañ Nala a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Penciptaan produk kriya tradisional berupa simbol tersebut dilandasi dengan konsep kosmologi.

Badavañ Nala dan Anantabhoga b) Fungsi: Badavañ Nala digunakan sebagai simbol dan sekaligus sebagai hiasan pada bagian dasar atau “kaki” sebuah bangunan suci berupa pelinggih Padnasana Gambar 12. Bagian Dasar Atau “Kaki” Pelinggih Padmasana . Gambar 12.Gambar 11.

Badavañ adalah istilah yang digunakan untuk nama binatang kura-kura. Keseluruhan dapat diartikan sebagai tempat atau sumber api yang merah membara. Dalam simbol tersebut dimaknai sebagai inti bumi atau magma sebagai sumber panas bumi yang terus menerus membara Jadi pada simbol tersebut tersirat ajaran suci tentang ciptaan Tuhan yang tiada tara dan maha agung berupa alam makrokosmos. Sebagai tempat kehidupan dengan berbagai persediaan bahan makanan dan sebagainya. Bang=merah dan Nãla=api.c) Makna. empas atau penyu. Dan da-lam kepercayaan Hindu sebagai simbol awatara Dewa Wisnu atau disebut Kûrmaratarâ. dan dilestarikan. Perwujudan simbol atau nyasa tersebut bertujuan untuk memberi ajaran alam semesta dan membangkit kesadaran moral dalam segala aktivitas hidup untuk menjaga serta . terbentuk dengan unsur Panca Maha Bhuta. Oleh sebab itu. perlu dihormati. Dalam bahasa Šanskerta disebut dengan kata kûrma. Bagi umat Hindu. nilai-nilai simbolik dan religius: Perkataan Badavañ Nala atau Baduvañ Nala terdiri dari kata Badavañ dan Nala. Se-dangkan Nãla atau Anala dalam bahasa Šan-skerta sebagai padanannya adalah ageni ber-arti api. Badavañ Nãla berasal dari urat kata Bada= tempat.

Bentuk Nãga tersebut seperti tampak pada Gambar 11. seperti warna abu-abu batu padas atau warna hitam batu alam). 3. 12 dan 13 2) Material: dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu bata.4. .sebagai ucapan terimakasih atau bakti dihadapan Tuhan atas ciptaannya. Nãga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Simbol nãga merupakan bentuk fantasi atau hasil imajinasi dari para kriyawan masa lalu yang digarap dengan didasari mitologi Hindu. sehingga membentuk satu simbol dengan satu kesatuan makna tentang keagungan alam semesta. digambar pada lontek atau umbul-umbul. yaitu dipakai sebagai simbol dan sekaligus sebagai ragam hias dan umumnya diterapkan pada dasar atau bagian “kaki” Pelinggih Padmasana berupa relief tinggi. b) Fungsinya: Kegunaan dan penempatan nãga di dalam pura sama dengan Badavañ Nala. Bentuk dan penerapan Nãga tersebut dibuat membelit Badavañ Nala. 3) Warna: Sesuai dengan warna bahan yang digunakan. dan di Pelinggih Saptapetala dalam bentuk patung nãga.

nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam kamus Bahasa Šansekerta kata nãga berarti .Gambar 13 Lontek Umbul-umbul Keterangan: Tangkainya terbuat dengan bambu. a) Makna. Bentuk potongan kain semakin ke atas semakin kecil dan pada ujung bambu terlipat ke bawah serta di ujungnya diberi plat logam berbentuk seperti jantung . diameter pakalnya ±5 Cm. Panjang ± 8 m.

Dan dalam Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. sebenarnya hanya satu dan membelit Badavañ Nala. 1982/ 1983). Dari pengertian tersebut. Selain arti tersebut. Bhur Loka (lapisan alam bawah). yaitu. Bwah Loka (lapisan alam tengah) dan Swah Loka (lapisan alam atas). nanta= habis dan bhoga=makanan). Sehingga dikenal tiga nãga. nãga juga berarti gunung atau pohon (Pemda Tingkai I Bali. Anantabhoga dan Taksaka. seperti. Maka Basukih simbol dari Dewa Brahma (pencipta alam). kata nãga tersebut diartikan ular naga atau gajah. Jika ketiga nãga tersebut dikaitkan dengan para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi. Basukih. Anantabhoga simbol dari Dewa Wisnu (pemelihara alam). penerapan pada Padmasana didasari filosofi Tri Loka. Secara keseluruhan berarti sumber bahan . Penerapan patung nãga pada Padmasana. yang disebut Nãga Anantabhoga. yaitu. Berasal dari urat kata “a”-“nanta” dan “bhoga” (a=tidak. dan Taksaka simbol dari Dewa Šiwa (Pelebur).ular. maka nãga dapat diartikan sebagai ular besar. Dalam mitologi Agama Hindu Bali.tentang bentuk simbolis nãga yang diterapkan pada masing-masing pelinggih atau peralatan upacara memiliki pengertian atau filosofi dan sebutan yang kontekstual.

Sedangkan nãga Taksaka. nitãla dan patãla. Perbedaan tersebut mencerminkan atau sebagai simbol karakter dan sifat kekuasaan dari masing- . atãla. didasari oleh filosofi.makanan yang tidak habis-habisnya. Jadi peristiwa tersebut berlangsung pada lapisan alam tengah (Swah Loka) atau di permukaan bumi. Senjata Nawa Sanga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Senjata Nawa Sanga merupakan sembilan sejata para dewa dengan bentuk berbeda satu dengan yang lainnya. bahwa alam dibagi menjadi tujuh lapisan alam atas yang disebut Sapta Loka (bhur loka. santãla. tapa loka. waitãla. jana loka. dan tujuh lapisan alam bawah Sapta Patala yang terdiri dari tãla. dalam perwujudannya diterapkan pada umbul-umbul (Narasumber: Gelebet) Penerapan patung Nãga Basukih pada pelinggih Sapta Patala. maha loka. swah loka. Namun kenyataannya dalam membuat Pelinggih Padmasana sering diterapkan dua nãga (Basukih dan Anantabhoga) secara estetis hanya bertujuan untuk membuat komposisi yang simetris.5. sutãla. 3. dan satya loka). Jadi penerapan nãga pada pelinggih tersebut sebagai simbol tujuh lapisan alam bawah. bhwah loka.

15 2) Material: Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan menggunakan berbagai bahan. seperti berupa ujung-ujung tombak yang disebut dengan bandrangan atau pengawin . seperti pada gambar 14. atau dengan menggunakan besi dan diwujudkan sebagai ujung-ujung tombak yang disebut bandrangan atau pengawin. batu padas. seperti “hitam besi”. seperti dengan meggunakan kain kapan. seperti pada Gambar 14 dan 15. menyesuai dengan bahan yang digunakan. b) Fungsinya: Produk Kriya tersebut digunakan sebagai simbol dan sekaligus hiasan yang diwujudkan dalam bentuk perlengkapan upacara. Dalam penerapan-penerapan tertentu ada juga yang diwarnai sesuai dengan tata warna Senjata dan Dewata Nawa Sanga. Tata letak dari senjata-senjata tersebut dalam padma angelayang atau pangider-ider. atau ada juga diwarnai dengan cat warna hitam dan putih perak.masing dewa. 3) Warna: Warnanya produk kriya tersebut.

Jenis dan Tata Letak Senjata Nawa Sanga Gambar 15. Dewata Nawa sanga . Wayabya (barat daya)  Sangkara  Angkus  Limpa  Wilis (Hijau)  Pascima (barat)  Mahadewa  Nagapasa  Ungsilan Ginjal  Kuning  Niriti (barat daya)  Rudra  Moksala  Usus  Oranye (jingga)                Uttara (utara) Wisnu Cakra Ampru (empedu) Ireng (Hitam) Madya (tengah) Siwa Padma Tumpuking Hati) Amanca (Pancawarna) Daksima (selatan) Brahma Gadha Hati Bang (merah)  Ersanya (timur laut)  Swayambhu  Trisula  Ineban  Pelung (biru)  Purwa (timur)  Iswara  Bajra  Jantung  Putih  Geniyan (tenggara)  Mahesora  Dupa  Peparu (paruparu)  Dadu (merah muda) Gambar 14.

1994).c) Makna. telah dipengaruhi oleh sakti atau kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. dipercayai oleh umat Hindu. maha tahu dan sebagainya serta disebut Nirgunam Brahman (sunya). tidak berawal-berakhir. sehingga memiliki sifat. dengan bermacam-macam manifestasi-Nya dan dipersonifikasikan sebagai dewa-dewi. fungsi dan aktivitas (Saguna Brahman). maka dikenal dewa-dewa yang termasuk kelompok Dewata Nawa Sanga. Tuhan diwujudkan sebagai Sada Šiwa. dengan keadaan-Nya: “tunggal”. Nilai-nilai Simbolik dan Religius: Dalam alam transendental. bahwa Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa berwujud sebagai Paramašiwa. tanpa aktivitas. Dalam hal tersebut. kekal abadi. bahwa Tuhan telah berkrida. manifestasi Tuhan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur keharmonisan alam makrokosmos (Bhuana Agung) yang terletak di seluruh penjuru mata angin dan . Selanjutnya Tuhan diwujudkan sebagai Šiwa atau Šiwatman atau Mayasarira Tattwa. Tuhan memiliki delapan Ilmu pengetahuan untuk menyucikan Sang Hyang Atma yang ada dalam semua mahkluk dari dosa sesuai dengan amal baktinya (Wardana. Dalam alam imanensi umat Hindu di Bali. Namun dalam alam imanensi. Tuhan berwujud sebagai Sadašiwa dan dipercayai.

yaitu berfungsi menjalankan tugas sebagai pengatur kehidupan di bumi berdasarkan ketentuan Upeti. 15. (1) 1. 2. Lahir. Trisula . Dan kesembilan dewa tersebut masing-masing memiliki senjata yang disebut dengan Senjata Nawa Sanga Seperti Pada Gambar 14. bahwa Senjata Nawa Sanga tersebut adalah merupakan simbol-simbol atau nyasa dari kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa dalam menjalankan tugas-Nya. Dalam hal ini berfungsi sebagai kutub utara yang nantinya dihubungkan dengan Dewa Brahma di kutub selatan sehingga terbentuk sumbu rotasi bumi. Masing-masing mengandung arti atau makna yang saling terkait satu dengan lainnya serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Setiti dan Pralina. Nama Senjata (2) Cakra Makna simbol (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Dewa Wisnu untuk mengatur rotasi dan peredaran bumi. Dalam Lontar Kekawin Bhomakawya atau Bhomantaka. Penjelasan lebih lengkap dapat disimak pada Tabel: 2 berikut Tabel 2 Makna Senjata Nawa Sanga No. merupakan simbol kekuasaan tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sambu.mikrokosmos (Bhuana Alit) yang terletak pada organ-organ tubuh mahkluk hidup. Simbol-simbol dalam mayasakti berbentuk senjata tersebut. diciptakan dengan didasari kosmologi khususnya tentang bumi. Hidup dan Mati.

sebagai kekuasaan atau kekuatan dari delapan dewa tersebut terpusat pada Dewa Šiwa. mengendalikan dan menentukan danda atau hukum alam. 4. Gadha Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Brahma. 5. (yang menyangkut Rwabhineda —siang. 6. buruk dan sebagainya —). baik. atau disebut dengan Padma Anglayang atau pangider-ider Narasumber: Ida Pedanda Budha.(1) 3. dalam fungsinya sebagai pengatur panas alam (makrokomos dan mikrokosmos). (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatanTuhan dalam manifestasi Nya sebagai Dewa Iswara yang bertugas mengatur getaran alam (makrokomos dan mikrokosmos). dalam menjalankan tugasnya sebagai pengikat atau pengatur kestabilan alam semesta bersama isinya. (2) Bajra . 8. malam. Griya Sukawati. Nagapasa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Mahadewa. 9. dalam fungsinya mengatur. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur atau menentukan sifat dan karakter alam semesta bersama isinya. 7. Angkus Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara. Padma Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Šiwa. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur kemakmuran dan kesejateraan alam semesta bersama isinya. Dupa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Dewa Mahesora. Moksala Merupakan simbol kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Rudra. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengendali dan penentu dari tugas-tugas yang dijalankan oleh delapan dewa yang terletak di delapan penjuru arah mata angin. Simbol senjata-Nya digubah dari bentuk bunga teratai atau padma yang bermahkota delapan atau Asta Dala.

Karang Bhoma . Ciri-crinya: mata besar dan mendelik. Perwujudan bertuk tersebut didasari ceritera Bhomantaka.3.3. Karang tersebut merupakan stilisasi dari bentuk kepala raksasa atau punggalan. di kanan dan kiri dilengkapi dengan telapak tangan yang dikepak. kakul-kakulan serta patra punggel. Bhoma a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Bhoma dibuat dalam bentuk relief tinggi yang digolongkan sebagai kekarangan. sehingga disebut dengan Karang Bhoma. Gambar 16. dilatarbelakangi dengan patra wangga. Sebagai salah contoh seperti pada Gambar 16 berikut.

. batu padas atau batu bata.b) Fungsinya: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai simbol dan sekaligus ragam hias yang diterapkan di atas relung kori agung atau paduraksa. Kori Agung Atau Paduraksa Dengan Ragam Hias berupa Bhoma 2) Material: Umunya bahan yang digunakan untuk membuatnya. seperti batu alam. merupakan gerbang pertama dari sebuah pura atau sebuah pintu yang membatasi halaman kedua atau madia mandala (jaba tengah) dengan halaman pertama atau utama mandala (jeroan) seperti pada Gambar 17 berikut Gambar 17.

seperti: “hitam batu alam”. pole. tonye atau mahkluk halus yang menempati pohon-pohon besar. 1963). bahwa perkataan Bhoma berasal dari Bahasa Šanskerta. Dalam A Šanskrit-English-Dictionary dijelaskan. seperti pohon randu. yang keluar dari bumi. bahwa Bhoma adalah raksasa putra bumi. kepuh dan sebagainya. mata melotot seram seperti kepala monster. 1978). bahwa Banaspatiraja adalah raja bhuta. . dengen. Sedangkan menurut Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali.3) Warna: sesuai dengan bahan yang digunakan. gigi dan taring mencuat keluar (Covarrubias. Pandangan tersebut diselaraskan dengan kepercayaan. Bhauma. c) Makna. tinggal di dalam bumi atau tanah (Monier. 1972) Di Bali. dijelaskan. mulut terbuka lebar. nilai-nilai simbolik dan Religius: Bhoma berarti lukisan (ukiran) yang berbentuk muka raksasa atau kala (Bahasa Bali) yang ditempatkan di atas relung pintu gerbang utama pura atau paduraksa (Dinas Pengajaran Propinsi Bali. artinya berhubungan dengan bumi. kala. Bhoma digunakan sebagai simbol dari pepohonan dan disebut Banaspatiraja serta dianggap keramat. “abu-abu batu padas” atau merah bata.

Bersamaan dengan kejadian tersebut tiba-tiba muncul sebuah lingga kristal dari bumi dan menjulang ke angkasa. sedangkan Dewa Wisnu berubah wujud menjadi seekor babi jantan dan menggali tanah untuk menemukan pangkal lingga. Mamun usaha mereka sia-sia. Berawal dari perdebatan antara Dewa Brahma dengan Dewa Wisnu tentang kesaktian yang mereka miliki. dinarasikan tentang kelahiran Sang Bhoma. Keropak IV. Dalam pencarian tersebut Dewa Wisnu bertemu dengan Dewi Wasundari (Dewi Pertiwi). karena pangkal lingga tersebut terus masuk ke dalam bumi dan ujungnya terus menjulang ke angkasa dengan batas yang tak terhingga. Dalam pertemuan tersebut akhirnya terjalin hubungan yang dalam sehingga melahirkan seorang putra yang diberi Naraka atau Bhoma (Lontar Bhomantaka.b). mereka tercengang dan memutuskan untuk menemukan ujung dan pangkal dari lingga tersebut. Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk mencari pangkalnya dan Dewa Brahhma dengan kesaktiaannya berubah menjadi burung layang-layang hitam terbang meluncur ke atas mengejar ujung lingga. Lampiran 5b. . Milihat kejadian tersebut. seperti pada kekawin Bhomantaka.Menurut Mitologi Bhoma dalam kesusastraan Jawa kuno.

Melihat kejadian tersebut. Dia mulai makan kaki. sehingga muncul makhluk yang luar biasa sebagai Ghora Murti Siwa —wujud Tuhan yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang sangat sangat dasyat dan. sehingga bagian kepalanya tetap hidup sedangkan bagian badannya langsung mati. mengerikan— dari ajňa cakra-Nya atau kening. Kepala raksasa tersebut akhirnya murka. Mahkluk tersebut kembali bertanya. . tangan. Perintah tersebut segera dilakukan. merusak dan mengganggu aktivitas para dewa di kahyangan. Akhirnya raksasa Rau dimakan oleh makhluk tersebut. Namun pada saat dipenggal tirta tersebut belum sampai di tenggorokan. karena raksasa tersebut diketahui sedang minum tirta amertha. akhirnya Dewa Siwa menjadi sangat marah. sampai bagian dibawah leher dan hanya tersisa bagian leher serta kepala. Namun makhluk yang diciptakan tersebut memiliki sifat yang rakus dan memakan apa saja yang dijumpainya serta sangat tunduk dengan perintah Dewa Siwa. badan.Heinrich Zimmer dalam bukunya Myths and Symbols in Indian Art an Civilization dipaparkan tentang Bhoma sebagai akibat pemenggalan leher raksasa bernama Rau yang dilakukan oleh Dewa Wisnu. Akhirnya Dewa Siwa memerintahkan agar memakan tubuhnya sendiri.

bersayap. Karena kepatuhannya tersebut. 3. batu padas. menghancurkan dan menolak pikiran jahat yang akan merusak kesucian stana Dewa Siwa serta diberi nama Kirttimukha serta diletakan pada bendul pintu utama. Dewa Siwa memberi tugas untuk menjaga istana Siwa. Garuda Wisnu a) Karakteristiknya 1) Material: Bahan baku yang digunakan untuk membuat produk itu adalah kayu. berparuh. 2) Bentuk: Pada umumnya bentuk Garuda Wisnu digubah dari bentuk fantasi yang menyerupai burung. Pada saat tersebut Dewa Siwa bersabda “ Barang siapa yang masuk ke dalam kuilku tanpa menyembahmu. bertaring dan diberi busana serta mahkota. 1945).apa yang saya lakukan lagi ?. Tubuh dan anggota badan menyerupai manusia. mata melotot. menelan. mereka tidak akan memperoleh rahmatku” (Zimmer.4. gigi runcing. dan sebagainya. batu bata. atau batu alam. telapak kaki dibuat seperti cakar burung. seperti pada Gambar 18 berikut . Dibagian belakang diberi ekor dan dipunggungnya dibuat patung Dewa Wisnu memegang Cakra.

biasanya diterapkan di belakang bangunan Pelinggih Padmasana. langsung berdiri tugeh atau tiang penyangga menuju puncak langit-langit. sendi tugeh (dasar tiang penyangga puncak langit-langit pada bangunan piasan).Gambar 18. Garuda Wisnu Tetapi yang digunakan untuk menghias pada sendi tugeh jarang dilengkapi dengan patung Dewa Wisnu. gedong bata dan seba- . digunakan sebagai simbol dan hiasan. b) Fungsinya: Produk kriya tersebut mempunyai fungsi religius dan estetis. karena dari punggung patung garuda tersbut.

seperti pada Gambar 19. memiliki kekuatan magis untuk menangkal bisa ular). salah satu contoh penerapannya. sering ditunggangi oleh Dewa Wisnu. Garuda dipakai sebagai simbol matahari. naga sebagai simbol . Berikut Gambar 19.gainya. yang berarti “menelan” (penakluk para naga. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam bahasa Šanskerta perkataan “garuda” berasal dari akar kata “gri”. Relief Garuda Wisnu Diterapkan di Belakang Padmasana c) Makna. Dalam perwujudannya sebagai simbol.

Dalam perwujudannya kaki burung Garuda tersebut mencengkram pita yang berisi tulisan tentang ikrar . ceriteraceritera rakyat dan dalam bentuk visualnya dipakai sebagai sarana pemujaan oleh umat Hindu di India dan Bali (Zimmer. 1995) Setelah bangsa Indonesia bebas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa lain. Diperkirakan telah berlangsung sejak pertengahan abad X. Penggunaannya semakin berkembang dan terus seperti digunakan oleh Raja Jayabaya. maka garuda kembali dijadikan sebagai lambang negara. Hal tersebut dapat diketahui dari tipografi peninggalan cap atau stempel bermotif Garudamukha yang pertama kali digunakan sebagai lencana kepala pemeritahan oleh Sri Maha Raja Blitung (808-910) yang berkuasa di Jawa Tengah. Prabu Aerlangga dengan peninggalannya yang paling terkenal berupa garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dan sebagainya (Titib. Di Nusantara. 1946). Raja Kertajaya (raja yang terhakhir memerintah dikerajaan Kediri). yaitu Garuda Pancasila.air kosmis dan Wisnu berada pada kedua sisi antagonis tersebut. garuda juga digunakan sebagai simbol kebesaran atau penggambaran aspek keagungan Tuhan. Adegan tersebut sangat populer dalam episode Ramayana.

Makana ling Sang Hyang Agenbi ri sang watek dewata.bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. Apakah yang bersinar itu ? Garuda tiada lain seekor burung yang maha sakti. dan sinarnya sama dengan sinarku. twam dewah. Sinanya sangat bagus. anak Bhagawan Kacyapa dengan Sang Winata. . dalam bahasa Kawi— terdapat satu episode yang menceritakan keajiaban atau kebesaran Sang Garuda. twam prabhuprahus tapanah twam nastranam anuttamam Artinya. twam mahabhagas. kapwa maso mangastuti Sang Garuda. ling nira: Twam rsi. Dalam Adiparwa —sebuah kesusastraan Jawa yang diperkirakan ditulis pada zaman pemerintahan Raja Darmawangsa Teguh sekitar tahun 918 Saka (918 Masehi). Lambang tersebut sebagai sumber yang kreatif mencerminkan kebebasan untuk menentukan nasib bangsa indonesia di antara bangsabangsa di dunia. pathagecwara. Nama tluya sutejasa. Mari ta sira harohara. Kunang pada tejanya lawan teja nghulun. anak Bhagawan Kacyapa ri Sang Winata ika. seberikut: Aparan pwa ya makateja Ya? Garudo balawan tesam manuk mahacakti.

Akhirnya sang Garuda berhasil mengambil tirta amertha yang disimpan dalam goa dilereng gunung Somaka dan membawanya terbang ke angkasa. Dalam episode selanjutnya diceritakan usaha Garuda dalam mencari tirta amertha yang disimpan oleh para dewa di Gunung Somaka.Demikianlah kata Sang Hyang Ageni kepada para dewa. sinarmu seperti sinar matahari (Widiatmaja. Namun sang Garuda menolaknya dan menyuruh agar para dewa . Namun dengan kesaktiannya tak satupun bulu Garuda tersebut dapat dirontokan oleh senjata para dewa. 1958). engkau penguasa segala yang terbang melayang. Di angkasa dengan serta merta dewa Wisnu mengampirinya dan menyuruh agar tirta tersebut dikembalikan. Tirta tersebut natinya digunakan sebagai persyaratan untuk membebaskan ibunya (Sang Winata) dari perbudakan Sang Kadru. engkau pendeta besar. semua tampil ke depan dan memuji Sang Garuda serta mengatakan: Hyang Garuda. engkau resi. engkau dewa. Seperti para dewa yang membawa senjata menghadang dan menyrangnya. Mereka tertegun dan berdiam. engkau rajanya. Dalam perjalanan mencari tirta amertha ia menemui banyak hambatan.

maka Garuda Wisnu diterapkan pada bangunan-bangunan suci. seperti pada Pelinggih Padmasana. kain dan sebagainya. Barong Ket dan Rangda a) Karakteristiknya: 1) Material: Bahan baku yang digunakan.minta anugrahnya… Episude cerita tersebut diakhiri dengan menerima permintaan dewa Wisnu untuk menjadikannya sebagai kendaraanya dan tirta amerthan tersebut kembali dapat direbut oleh para dewa serta Sang Winata bebas dari perbudakan. karya sastra tersebut banyak mengilhami para seniman atau para kriyawan masa lalu dalam berkaya. seperti: kincu. jelaga. atal ancur dan perada). Sedangkan di Bali. . serbuk tulang menjangan. kaca. praksok ( Bahasa Bali) atau sejenis serat daun pandan. Sehubungan dengan hal tersebut. seperti: kulit sapi yang telah disamak. Mitologi tentang keagungan atau kesaktian tokoh Garuda dan Wisnu dijadikan sebagai landasan estetika dan penerapan Garuda Wisnu juga sebagai simbol kebesaran Tuhan. pewarna (menggunakan pewarna tradisional. dianggap mengandung nilai-nilai simbolis religius serta disakralkan. 3. kayu.5.

Hiasannya. Barong Blas-Blasan. Barong Macan. seperti: Barong Ket. Barong Asu. silat bahu. dibuat dan diwarnai dengan cara yang sama. angkeb pale dan sebagainya. seperti: badong. bulunya diwarnai hitam atau dibiarkan putih (warna praksok). Gambar 20.2) Bentuk: Barong yang digunakan di Bali bentuknya sangat beragam dengan sebutan yang berbeda-beda. Warna topeng Rangda umumnya putih. geruda mungkur. Barong Brutuk dan sebagainya. kembang sasak. Barong Ket dan Rangda . Salah satu contoh berupa Barong Ket dan Rangda dapat dilihat pada Gambar 20 b) Warna: Topeng barong biasanya diwarnai dengan merah. Barong Bangkal. dibuat dengan kulit dan diwarnai perada atau warna emas. Demikian juga hiasan Rangda. gelung kekendon.

1975/1976) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. maka perkataan barong diselaraskan dengan perkataan bareng (Bahasa Bali). yaitu dari kata beer. berasal dari kata Bhahrwang. sesuai dengan pendapat R. artinya binatang beruang. tarian yang memakai kedok dan kelengkapannya sebagai binatang buas (singa). Seperti. juga mengandung nilai-nilai profan. Produk kriya tersebut juga digunakan sebagai pratima dan biasanya di simpan di Pura Dalem. Produk kriya tersebut diciptakan dan digunakan sebagai sarana pagelaran seni tari wali. seperti dalam Bahasa Šanskerta. d) Makna. karena selain mengandung nilai-nilai sakral (sebagai sarana upacara agama). artinya bersama —cara menarikan atau memainkan bersama-sama —(Proyek Sasana Budaya Bali. bahwa sinonimnya disitir dari Bahasa Belanda. Pengertian tersebut. dalam melangsungkan upacara odalan di pura. Goris. yaitu tarian yang dipentaskan serangkaian dengan upacara Agama Hindu di Bali. Sedangkan ditinjau dari cara memakai. dimainkan oleh . bahwa perkataan barong berarti. nilai-nilai simbolik dan religius: Banyak pengertian mengenai kata barong.c) Fungsinya: Barong dan Rangda adalah tergolong produk kriya bebali.

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. bahwa penciptaan Barong dan Rangda di Bali diilhami cerita yang terdapat dalam lontar Šiwa Tattwa. dipertunjukkan dengan ceritera Calon Arang (Kridalaksana. 1994). sebagai juru penyelamat. Menurut mitologi. Perkataan ”Ket“ tidaklah mengandung arti khusus. perkataan itu berarti perempuan yang kehilangan suami (cerai atau meninggal dunia) atau janda (Kridalaksana. di mana Barong sebagai lambang kebenaran atau dharma. 1972). Sedangkan Rangda atau Randa. Masyarakat di Bali menyebutnya sebagai penganut ajaran beraliran “tengen atau kanan” (white magic). Secara singkat . satu dibagian kepala dan satu di bagian ekor. Sedangkan tokoh Rangda melambangkan sifat atau karakter yang mengarah pada hal-hal kurang baik atau adharma. Barong dan Rangda dalam episode Calonarang adalah dua tokoh yang melambangkan dua sifat atau karakter berbeda (Rwa Bhineda) atau antagonis. merusak. mengayomi dan dapat menyembuhkan penyakit. hanya disesuikan dengan suara yang ditimbulkan akibat entakan rahang bawah kedok barong. mengganggu dan sebagai penganut ajaran “beraliran kiwa atau kiri” (black magic) (Covarrubias. 1994).dua orang. sewaktu dimainkan.

Masalah tersebut terungkap berkat kehebatan ilmu tenung yang dimiliki dewa Ganesh. Pada hal kejadian tersebut dibuat oleh Dewa Šiwa. Sebenarnya pengembala tersebut adalah siluman dari dewa. Dalam kutukan tersebut Dewa Šiwa juga mengijinkan istrinya untuk berubah wujud kembali menjadi dewi Uma saat hari tilem sasih kesanga ( saat bulan mati di bulan sembilan). istrinya menghadap dalam wujud rangda dengan wajah menakutkan. Dia berani menghianati. mengorbankan kesucian dan kesetiannya.diceritakan tentang kutukan Dewa Šiwa yang ditujukan kepada istrinya Dewi Uma agar berubah menjadi Dewi Durga —Seorang dewi atau perempuan yang berwajah angker dan menakutkan sebagai dewi penguasa kuburan yang bernama setra Gandamayu— karena ulahnya yang tidak wajar dilakukan ketika disuruh mencari susu atau empehan lembu. Ketika hari tersebut tiba. maka Dewa Šiwa berubah menjadi Bhuta Egeg (Lontar Šiwa Tattwa. namdala 53-56). . Lalu untuk memberkati perubahan wujud istrinya menjadi dewi Uma. melakukan perselingkuhan dengan pengembala lembu.

1969). Sedangkan yang kronologi terutama menyangkut kehidupan manusia dipakai istilah istoria. Pendekatan tersebut disebut natural history. Dalam definisi yang universal istilah history berarti masa lampau umat manusia.BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA A. karena sejarah hanya berdasarkan rekaman dan berdasarkan simpulan mengenai lingkungannya (Gottschalk. Namun dalam perkembangan selanjutnya metode untuk menelaah sesuatu yang tidak kronologis digunakan istilah scientia. Pendekatan Historis ejarah atau dalam bahasa Inggris disebut history dan berasal dari bahasa Yunani istoria (kata benda) berarti “ilmu”. S . entah suatu susunan yang kronologis ataupun tidak. Namun masa lampau tersebut tidaklah dapat direkonstruksi kembali secara utuh. Dalam penggunaannya oleh filusuf Yunani seperti istoria yang dipakai Aristoteles berarti suatu cara menelaah sesuatu secara sistematis mengenai seperangkat gejala alam.

dilakukan seleksi.1969). 4) Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya tersebut menjadi suatu penyajian atau deskripsi yang berarti. tertulis dan lisan yang relevan. Rekonstruksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses historiografi (penulisan sejarah).Pendekatan hitoris adalah suatu proses pengujian dan analisis secara kritis hasil rekaman dan peninggalan masa lampau. dan deskripsi. karena pada batas-batas tertentu metode sejarah analitis adalah ilmiah. yakni hasilnya dapat diverifikasi dan dapat titolak atau diterima. . 2) Menyingkirkan bahan yang dianggap tidak otentik 3) Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan bahan yang otentik. sehingga metode sejarah dapat diterapkan pada berbagai disiplin yang digunakan sebagai sarana untuk memastikan fakta (Gottschalk. Dan cara tersebut berbeda dengan metode sejarah analitis. Cara penulisan sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok yaitu: 1) Pengumpulan data yang berasal dari jaman yang sedang dialami menjadi konsentrasi dan pengumpulan bahan-bahan: tercetak. penyusunan. Sejarah merupakan suatu metode atau prosedur (procědě de connaissance).

pendekatan historis menggunakan data yang relatif sudah lampau. . lontar. relief. cenderung menggunakan data yang belum terlalu lama. hukum. seperti berupa ceritera rakyat. Penggunaan arsip dan dukumen harus dibedakan dengan studi dokumenter yang merupakan metote deskriptif. naskah kuno dan sebagainya.Secara umum sumber data yang digunakan dalam penelitian sejarah dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu: 1) Peninggalan berupa material. adatistiadat. 2) Peninggalan tertulis: seperti: prasasti. perabotan dan sebagainya. senjata. sehingga masih dapat dikelompokkan sebagai usaha mengungkap fakta masa sekarang. baik berdasarkan perbedaan waktu terjadinya atau tempat terjadinya di dalam kurun waktu yang sama. seperti: candi.dan sebagainya. perhiasan. posil. Studi dokumenter. kepercayaan. Bentuk penelitian historis (Namawi. kitab. monumen. dogeng. dilakukan dengan membandingkan gejala yang sejenis. Sedangkan dari segi waktu. bangunan.1990): 1) Penelitian atau studi komparatif hitoris. 3) Peninggalan yang tidak tertulis atau budaya.

2) Penelitian legal atau yuridis. . kerajaan. B. sehingga berpengaruh bagi kehidupan pada masa terntentu dalam prospek sejarah. Pendekatan Semiotis Pendekatan Semiotis diartikan sebagai prosedur yang digunakan untuk pemecahan masalah yang ditinjau dari perspektif ilmu tanda atau dikenal dengan “semiologi” atau “semiotika”. Upaya pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan dengan membaca atau menginterpretasikan hubungan antar tanda dan makna pada produk kriya. dilakukan untuk mengungkap berbagai teori pandangan hidup. Bermaksud mengungkap kegiatan-kegiatan pemerintah suatu bangsa. 3) Penelitian bibliografi atau kepustakaan. lembaga dalam menetapkan kebijakan. pemikiran filsafat dan lain-lain yang dapat ditemui di dalam berbagai peninggalan tertulis terutama buku-buku yang dihasilkan pada zaman tertentu. kriya dan desain pendekatan semiotis dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah estetika dan semantika produk kriya. 4) Penelitian kronologis atau secara diakronis penelitian ini bermaksud untuk mengungkap kejadian atau keadaan dan peristiwa menurut urutan waktunya dari masa yang paling tua dapat dicapai sampai masa-masa mendekati masa sekarang. Dalam bidang seni.

seorang filosuf dari Amerika. Dia menegaskan bahwa peranan tanda dalam kehidupan sangatlah besar. Di Eropa ilmu tersebut disebut dengan Semiology. Merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (18571913). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan. Di Amerika ilmu tersebut disebut dengan Semiotics. berasal dari kata signum yang berari sebuah tanda khusus. sebenarnya dalam desain bukan merupakan hal yang baru. Kata desingare sendiri mempengaruhi kata designer dari bahasa Perancis abad pertengahan (dalam pengertian merancang). dalam artian sign atau tanda. seperti sistem tanda. simbol. yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce (1838-1914). yaitu sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi. bahwa pengertian semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda. Sebab menurut Tjahjono (1980) bahwa istilah desain (design) dalam penggunaannya sebagai kata kerja berasal dari kata latin-baru desingare yang berarti ‘menandai’ atau membatasi (penambahan suku kata ‘de’ di depan menunjukkan pemakaian secara intensif). ikon yang merupakan hal yang mendasar dalam semiotika. seorang linguis dari Swiss. Namun kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani. proses yang berlaku dalam penggunaan atau fungsi tanda. Semeion. hubungan . tanda.Indeks.

bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda dalam maknanya yang luas di dalam masyarakat. bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tentang tanda dan lambang (sistem dan proses perlambangan) (Luxemburg dalam Hartoko. termasuk pengiriman.dengan tanda lainnya. Dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa bidang kajian semiotika sangat luas. symbol dan myth ke dalam cakupan semiotika (dalam Santosa. Ruang lingkup kajiannya tidak terbatas pada bidang bahasa saja. metaphor (metafora). hubungan antara tanda dengan tanda lainnya. 1984). pakaian. dan penerimaan tanda dalam komunikasi tanda. penerima dan pengiriman tanda. Batasan tersebut sesuai dengan pendapat Rene Wellek dalam telaah linguistik. baik menggunakan bahasa verbal atau ujar maupun non-bahasa atau nirujar. Semiotika mempelajari tentang tanda. Third Edition. seperti gerak isyarat atau gesture. Luxemburg menyatakan. konvensi dan sebagainya (Zoest dalam Soekowati. Dalam pengkajian semiotika menggunakan beberapa pendekatan. dan berbagai produk lainnya (The American Heritage® Dictionary of the English Language. Kemudian Wiryaatmadja (1981) menyatakan. seperti . 1992 ). baik bersifat literal maupun alegori (kias) atau figuratif. tetapi meliputi berbagai aspek kebudayaan. 1990). yang memasukan image (citra). 1993). cara berfungsi.

misalnya. apabila mengutamakan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerima tanda. 1) Tanda (sign) merupakan komponen semiotika yang menandai suatu hal atau keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subyek. tulisan. hubungan dengan tanda-tanda lain dan cara bekerja samanya dalam menjalankan fungsinya. Dalam konteks tersebut. 2) Semantik semiotika. dan bentuk-bentuk tanda yang lain. peristiwa. kejadian. disebut designatum atau denotatum. lugas dan objektif. yaitu studi tentang tanda yang berpusat pada penggolongan. tanda selalu menunjuk pada sesuatu hal yang riil. diacu atau ditunjuknya. bahasa. benda. apabila pengkajian menonjolkan hubungan tanda dengan acuannya dan interpretasi yang dihasilkannya. Bidang kajian semiotika seperti dipaparkan tersebut.1) Sintaksis semiotika. lambang (symbol) dan isyarat atau sandi. sehingga tanda memiliki arti yang statis. makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan objek atau sesuatu — apa yang dimaksud oleh tanda. tindakan. umum. secara garis besarnya mencakup komponen dasar. Menurut Peirce. . 3) Pragmatik semiotika. seperti tanda (sign).

1992). Jadi dalam suatu tanda selalu terdapat tiga unsur. ground dan interpretant. maka dari tanda yang orisinil berkembang menjadi suatu “tanda yang baru” disebut interpretant. Representamen dapat terlaksana apabila ada bantuan sesuatu. Keseluruhan dari proses terlaksananya representamen digambarkan oleh Peirce dalam diagram segitiga. Tanda mempunyai dua entitas yaitu: signifier atau wahana tanda dan signified atau wahana makna atau dapat diartikan sebagai penanda dan petanda serta keduanya tidak dapat dipisahkan. yaitu denotatum. Setelah tanda diasosiasikan dengan suatu acuan. konvensi. sedangkan dalam Bahasa Indonesia disebut “acuan”— disebut representamen. seperti tampak pada Gambar 21 berikut: .Dalam Bahasa Prancis digunakan kata référent. (Sudjiman. misalnya. “Sesuatu” yang diacu oleh tanda agar dapat berfungsi disebut dengan latar atau ground. Interpretant merupakan suatu peristiwa psikologis dalam pikiran interpreter atau penterjemah.

sebelum memasuki pura atau tempat suci agar “membunuh” sifat-sifat “keraksasaan” (marah. dengki. loba. Awalnya patung tersebut merupakan tanda untuk “benda biasa” atau sekadar hiasan semata. —dua buah patung raksasa tersebut mempunyai fungsi komunikasi tanda visual. namun setelah mengacu pada latar (ground) yang terkait dengan pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. yaitu untuk “menyadarkan” atau mengingatkan umat.Sumber: Eco 1979 Gambar 21: Proses Berlangsungnya Representamen Salah satu contoh: dua buah produk kriya berupa patung raksasa apitlawang (Bahasa Bali) yang diletakkan mengapit pintu gerbang utama pura atau paduraksa. atau emosi diri yang tak terkendali lainnya)— maka patung tersebut akan menjadi tanda .

Bagi umat yang memahami latar atau ground yang tersirat pada patung tersebut. c) Legisign adalah tanda terbentuk atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum. bahwa memasuki pura hendaknya mengendalikan “emosi”. yaitu: a) Qualisign adalah terbentuknya tanda berdasarkan sifat atau kualitas. semua pernyataan individual yang belum terkonvensikan dapat disebut sinsign. tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifat penghubung tanda dengan denotatum. Dalam kondisi tersebut. Unsur penanda (dasar atau latar) atau ground dari tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifatnya. dapat dikatakan representemen dari patung tersebut dapat berlangsung dengan baik. yaitu: . sehingga dapat mengikuti upacara dengan khidmat. b) Sinsign berasal dari singular sign adalah tanda terbentuk berdasarkan penampilannya yang nyata.baru yang memuat latar tersebut. maka pada dirinya akan muncul interpretasi yang menggugah kesadaran. konvensi atau kode. seperti. Selain hal tersebut.

Contoh.a) Iconic adalah tanda terbentuk berdasarkan suatu kemiripan potensial yang dimilikinya dan tidak tergantung pada makna denotatum. Batasan tersebut mengimplikasikan bahwa segala sesuatu merupakan icon. menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda denotatum. . apabila bagi interpretant tanda itu. apabila tanda tersebut dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum. karena semua yang ada di alam dapat diasosiasikan dengan yang lain. yaitu: a) Rhême. membawa penjelasan mengenai daya atau kekuatan kebenaran pada sistem-sistem semiotika. ada asap sebagai pertanda ada api dan sebagainya. b) Indeks adalah tanda yang sangat tergantung pada denotatum dan memiliki hubungan bersebelahan atau kedekatan eksistensi. c) Argument atau interpretant dalam arti umum. Selanjutnya unsur interpretant atau petanda dapat dibedakan menjadi tiga. b) Dicisign. c) Symbol atau lambang adalah hubungan berdasarkan konvensi dari suatu kelompok komunitas manusia. Dalam hal tersebut tanda terkait dengan renungan kebenaran.

berarti perbandingan dengan sesuatu. membaca. 1944). Dan sekaligus dipakai untuk menandai salah satu perbedaan manusia dengan binatang Sehingga ia menyatakan: ”. maksudnya prihal yang . sebagai kata benda. Manusia sering disebut sebagai “mahkluk simbolik”. berperasaan.. yaitu sistem penerimaan dan pemberian. berkomunikasi. instead of defining man as an animal rationale. seperti dalam berpikir. bekerja dan sebagainya. yaitu kemampuan untuk menciptakan “sistem simbolik”. bersikap. (Cassirer. Istilah simbol berasal dari perkataan Yunani. karena hampir semua aktivitas dalam kehidupan manusia sehari-hari. symballein (suatu bentuk kata kerja) yang berarti meletakan secara bersama atau menaksir bersama. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ernst Cassirer. juga mempunyai kelebihan untuk menciptakan sistem komunikasi dengan matra baru yang menyesuaikan dengan lingkungan realitas. bahwa semua mahkluk ciptaan Tuhan dalam menghadapi realita kehidupan. umumnya dilandasi oleh dua sistem. dari dulu hingga sekarang tidak terlepas dari aktivitas simbolisasi. we should define him as animal symbolicum”..2) Lambang atau simbol . Namun manusia selain terlibat dua sistem tersebut.

karena merupakan analogi tanda untuk menghadirkan tanda yang lain. seperti Gambar 22 berikut. Ogden dan Richards dalam Eco (1979) memberi dua istilah. “sesuatu” dan sebagainya. Ketiga komponen tersebut digambarkan dalam diagram segitiga. sebagai hasil interpretasi). isi atau konsep sebagai acuan) dan referent (yang mengandung persepsi. Sumber: Eco 1979 Gambar 22 Berlangsungnya Referent . Dalam kaitan dengan simbol. berdasarkan konvensi atau kode yang berlaku umum dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu.harus dikaji dengan kritis. yaitu reference (yang mengandung. denotatum. Lambang atau simbol adalah tanda yang mampu menuntun pemahaman si subjek kepada objek berhubungan dengan makna denotatum dan konotatum.

Sebenarnya penerapan ketiga komponen semiotika. apabila ditangguhkan pemakaiannya. Dalam keadaan tersebut. Jadi isyarat selalu bersifat temporal (kewaktuan). si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek yang memberi isyarat pada waktu itu juga.1990). dan majas. 3) Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan oleh si subjek kepada objek. subyektif. sering . simbol dan isyarat. isyarat akan berubah menjadi tanda atau perlambang (Santosa. Karena di dalamnya terkandung kaidah yang bertalian dengan akal budi dalam seluruh paradigma tentang kehidupan sadar dan di bawah sadar. khusus. khayalan. sehingga lambang atau simbol bermakna dinamis.Jadi simbol merupakan tanda yang mengandung pengertian sertaan dan antara simbol dengan yang disimbolkan atau referent yang dihasilkan sama sekali tidak terdapat pertalian makna alamiah. impian dan bentuk-bentuk abstrak lainnya dapat direalisasikan dalam wujud simbol. seperti tanda. situasional dan kondisional. kias. Lambang atau simbol merupakan pedoman untuk memudahkan pengenalan atau penghayatan sesuatu di tengah-tengah kesemerautan perbuatan manusia dan keragaman kejadian alam. Perwujudannya sangat tergantung pada permasalahan yang bersifat kultural. Mitos.

ISYARAT/SANDI (4) diberitahukan oleh subjek kepada objek (subjek aktif) hanya memuat satu arti diberitahukan oleh subjek kepada objek secara langsung (berlaku satu kali) 2. hanya dapat dipahami oleh manusia. diketahui oleh manusia. 5. (1) 1. 3. seperti Tabel 2 berikut: Tabel 2 Tiga Komponen Semiotika No.menemui kesulitan. . Hal tersebut disebabkan. 6. secara garis besarnya dapat dilihat ciri masing-masing komponen tersebut. TANDA (2) subjek diberitahu oleh objek (subjek pasif) hanya memuat dua arti subjek dibeitahu oleh objek terus menerus (berlaku konstan) SIMBOL (3) subjek dituntun memahami objek (subjek aktif) memuat banyak arti atau sedikit-dikitnya dua arti. yang dipakai sebagai dasar isyarat tidak ada hubungan khusus dengan yang diisyaratkan. dan dapat juga oleh binatang setelah diajarkan secara berulangulang yang dipakai untuk tanda selalu mempunyai hubungan khusus dengan yang ditandai (kontekstual). subjek dituntun memahami objek secara terus menerus (berlaku secara konstan). terutama dalam menentukan garis demarkasinya secara tepat. karena ketiganya saling terkait. karena terkonvensi berbentuk konkret dan atau abstrak. Namun berdasarkan uraian tersebut. berbentuk konkret dan / atau abstrak. 4. berbentuk abstrak dapat dikenal oleh binatang dan manusia yang dipakai untuk lambang atau simbol tidak mempunyai hubungan khusus dengan yang dilambangkan atau disimbolkan.

terutama terkait dengan model semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure maupun Ogden dan Richards —dimana antara tanda (sign). penanda (signifier) dan petanda (signified) meunjukkan hubungan yang “statis”— merupakan semiotika dengan model berpikir struktur. Simbol-simbol tersebut diupayakan dengan harapan agar dapat “mempermudah” . 1983) (3) diciptakan oleh manusia untuk manusia. alam dan juga binatang untuk manusia dan/atau binatang. Terutama penggunaan tanda atau simbol dalam konteks pelaksanaan ajaran agama Hindu sesuai adat di Bali. maka model semiotika tersebut akan dipakai untuk menjelaskan atau memaparkan tinjauan mengenai penggunaan tanda atau simbol dalam masyarakat Hindu di Bali pada zaman Hindu dan pewaris tradisi tersebut. harus mengikuti model struktur kaitan antara penanda dengan petanda yang berlangsung stabil atau mapan— serta sebagai konsep dari paham strukturalis. (4) diciptakan oleh manusia untuk manusia dan “mahkluk lain” Penjelasan semiotika tersebut. (Herusatoto. Sehubungan dengan hal tersebut. (2) diciptakan oleh manusia.(1) 7. sinkronik dan konvensional —Apapun bentuk pertukaran tanda. Hal tersebut dilakukan mengingat dalam mengamalkan ajarannya. hampir semua diwujudkan dalam bentuk simbol atau lambang dengan konvensi yang telah mapan dan stabil yang mengacu pada mitologi atau filosofi agama Hindu dan didasari keyakinan.

Sedangkan kajian semiotika terkait dengan fenomena eklektik pada desain produk masa kini di Bali diuraikan berdasarkan model semiotika ‘intertekstualitas’ (intertextuality) yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva.penghayatan kepada sifat-sifat maya Tuhan. Menurut pendapat Mikhail Bakthin. seorang pemikir Rusia. bahwa “dialogisme” sebagai relasi-relasi yang harus ada di antara ungkapan-ungkapan dalam discourse. seorang pemikir post-strukturalis dari Perancis. Oleh sebab itu. Pemikiran tersebut menjadi salah satu konsep dalam paham post-strukturalisme. Model semiotika tersebut merupakan pengembangan lebih lanjut dari paham ‘dialogisme’ (dialogism) yang diperkenalkan oleh Mikhail Bakthin. maka antara satu teks atau produk dengan teks atau produk yang lain dalam ruang dan antara satu teks atau produk dengan teks atau produk sebelumnya yang saling silang me- . Dalam buku Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979). Sebuah teks atau produk desain atau seni selalu dibuat dalam ruang dan waktu yang konkrit. karena tidak ada ungkapan yang tidak terkait dengan ungkapan lain. Kristeva menerangkan bahwa pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam analisis teks atau produk desain atau seni. relief. diwujudkan dalam produk-produk kriya seperti: patung. senjata dan sebagainya. Misalnya.

nyilang satu dengan yang lainnya dalam rentang waktu tertentu mesti ada relasi-relasi ( Kristeva. sering dijumpai . Istilah intertekstualitas merupakan proses perlintasan atau diistilahkan dengan ‘transposisi’ (transposition) dari satu sistem tanda (sign system) ke sistem tanda yang lain. sehingga sepanjang perlintasan tersebut. ‘pelesetan’ bagian tanda dari sistem tanda yang menjadi referensinya. Konsep intertekstualitas yang dikembangkan oleh Kristeva tersebut dapat digambarkan dalam suatu sekematik seperti Gambar 23 berikut Gambar 23 Transposisi Sistem Tanda Berdasarkan Model Semiotika Intertekstualitas (Intertextuality) Dalam penggunaan tanda atau simbol dengan petanda atau maknanya di masyarakat. suatu sistem tanda kadang-kadang dapat berdampak negatif atau ‘merusak’ sistem tanda sebelumnya. Misalnya dapat menimbulkan terjadi ‘penghapusan’ atau ‘pengkaburan’. 1979). Pemakaian petanda sebelumnya yang telah mapan untuk petanda baru yang kurang jelas maksudnya akan menunjukkan terjadinya suatu perlintasan sistem tanda.

seperti konsep “sekular” dan konsep spiritual religius serta dikaitkan dengan nilai fungsi guna dan estetis yang dikandungnya. . Hal tersebut. seperti telah dipaparkan tersebut. akan dilakukan tinjauan berdasarkan konsep yang melatarbelakangi penciptaannya. janji dan sebagainya. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya Berdasarkan uraian tersebut dan dikaitkan dengan penciptaan serta penggunaan produk kriya dalam kehidupan masyarakat di Bali. image. prestise. misalnya dalam pengadaan komoditi mata dagangan. mengingat produk-produk kriya masa lalu juga merupakan salah satu artefak kebudayaan.terjadi fenomena “permainan penanda”. nostagia. di dalam tersirat nilai-nilai atau norma-norma budaya yang melibatkan beberapa komponen semiotika. Pada mata dagangan tersebut terjadi ekspansi secara total serta perkembangbiakan konvensi tanda yang tak terbatas untuk mencapai kesenangan. Untuk lebih jelasnya mengenai permasalahan semiotika dalam produk-produk kriya. Konsumen sering disuguhi permanen tanda-tanda atau simbol-simbol yang dikondisikan oleh pihak produsen dengan tujuan untuk memperoleh benefit atau untuk memenangkan kompetisi dagang. maka permasalahan rancangan produk-produk kriya juga dapat dianalisis berdasarkan pendekatan semiotika. C.

memotong.1. karena bangun tanda yang diwujudkan lebih lugas. Wujud produk kriya fungsional yang diperuntukan sebagai peralatan kerja (working tool) dalam perencanaannya terkait dengan tuntutan kebutuhan suatu profesi. Sistem tanda tersebut dapat sebagai penuntun dalam penggunaan produk tersebut. pedagang. Konsep desain produk kriya untuk benda fungsional. maka tampak tanda-tanda yang diterapkan lebih mengutamakan makna denotasi dan mengarah pada kategori pragmatis semiotika. maka para pemakai (user) akan secara gamblang dapat menafsirkan tanda-tanda yang bekerja pada wujud visualnya. alat untuk mengambil. Sehingga ditinjau dari historis dan semiotis produk yang digunakan oleh seseorang dengan mata pencaharian tertentu juga dapat dipakai sebagai . seperti kebutuhan produk kriya berupa peralatan kerja untuk profesi sebagai petani. menusuk dan sebagainya. baik berupa produk fungsional sebagai alat bantu. maupun sebagai produk yang berfungsi estetis sebagai benda hiasan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekular. sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan akan produk kriya. Misalnya. objektif dan mengutamakan segi utilitas karena semata-mata untuk dipakai. jika ditinjau dari sudut semiotika. Dengan konsep penerapan tanda tersebut. tukang. produk kriya berfungsi sebagai wadah. Konsep Sekular Berbagai aktivitas kehidupan masyarakat di Bali. dan sebagainya.

indah dan dengan berbagai karakteristiknya. keselarasan. maka alat tersebut jelas digunakan oleh profesi seseorang sebagai petani tradisional. Pemenuhan kebutuhan akan produk kriya tidak hanya terbatas pada fungsi guna semata. dalam konteks semiotika akan bertindak sebagai dicisign. sehingga secara subjektif dapat menyentuh sukma dan dirasakan sebagai penghargaan bagi para pemakai. Misalnya. Produk kriya yang diciptakan disertai dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan menyangkut hal-hal bersifat psikis. Seperti mempertimbangkan segi estetis yang menyangkut keseimbangan. Menawarkan berbagai alternatif produk dengan menanamkan tanda atau simbol dengan makna konotatif. kesatuan. Kemudian dengan semakin majunya tingkat peradaban masyarakat. Dengan upaya tersebut dapat melahirkan suatu image atau citra rasa tertentu dalam masyarakat. maka berbagai upaya dilakukan oleh para kriyawan untuk menghasilkan produk kriya yang unik. Sehubungan dengan hal tersebut. karena interpretasi menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda dan denotasinya. alat bajak yang ditarik oleh sapi dengan fungsi untuk membajak tanah pertanian. makna dan sebagainya. maka tuntutan kebutuhan hidupnya juga semakin kompleks dan bervariasi.indeks mengenai profesi seseorang. melainkan mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan bersifat “sekular” atau hedonistik. Produk kriya seperti tersebut. .

dikonsumsi dan dipakai tanda kenangan atau sebagai simbol harga diri seseorang atau prestise. Di antara para wisatawan yang berkunjung ke Bali tampak banyak yang menbeli produk-produk kriya tradisonal Bali disertai dengan harapan untuk memperoleh kenangan-kenangan tentang hasil kebudayaan tradisional Bali atau dipakai sebagai tanda kebanggaan. Misalnya dalam fenomena kecenderungan membeli produk kriya tradisonal Bali. Dalam perkembangan produk kriya sebagai mata dagangan. juga disepakati sebagai tanda atau simbol ikatan perkawinan. bahwa mereka pernah berkunjung ke objek wisata di Bali dan sebagainya. produk tersebut dengan faham fitisime dapat berfungsi untuk pembeda status sosial di dalam masyarakat. keagungan atau kekuasaan seorang individu ciptaan Tuhan yang memiliki status sebagai raja. selain digunakan untuk perhiasan. produk kriya berupa mahkota yang dibuat dengan berbagai hiasan dan tanda atau simbol yang terkonvensi dalam suatu masyarakat.Misalnya. Produk-produk kriya tradisonal yang memiliki ciri khas daerah tertentu dan sebagainya. juga tampak fenomena memakai kekuatan nilai tukar yang kecenderungannya lebih menyandarkan pada makna konotasi. Pada zaman kerajaan. Pada fenomena tersebut tanpa disadari terjadi permainan tanda dengan konvensi yang terkondisikan dan dengan matra yang tak terbatas. Produk-produk kriya diangkat statusnya dan digunakan se- . Produk kriya berupa cincin. sebagai simbol kebesaran.

mitologi . bahwa dalam kondisi seperti tersebut justru nilai guna sering kali tak lebih dari semacam jaminan praktis (alibi) (Baudrillard. Konsep Spiritual Religius Manusia Bali setelah melalui tingkatan hidup estetis dan etis. biasanya melanjutkan tingkatan hidupnya ke arah mencari nilai religius.bagai simbol-simbol tertentu yang menghasilkan berbagai interpretasi pada masyarakat konsumen. Dalam hal tersebut akhirnya produk kriya menjadi Rhême. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Baudrillard. karena diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotasinya. sehingga terjadi ketidakstabilan penanda dan petanda. misalnya menyangkut tentang hakikat hidup. kadang-kadang tindakan tersebut sampai melupakan nilai utilitas dan religius pada produk tersebut. maut. 2. manusia menginginkan adanya jalinan hubungan dengan Tuhan atau keinginannya untuk menerima ikatan-Nya. 1981). Konsumer terkadang bukan lagi mencari konteks makna. Pada tingkatan ini. Keyakinan itu bersumber dari: ajaran agama berupa wahyu suci yang terhimpun dalam kitab-kitab suci. bayangan wujud dewa-dewa dan mahkluk halus lainnya yang mendiami alam tidak nyata. sehingga berkembang sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan dan penafsiran terhadap sifat-sifat Tuhan serta wujud dari alam gaib yang transendental.

menyanyi. dalam perwujudannya dilandasi dengan suatu konvensi yang acuannya merujuk pada ajaran agama atau kepercayaan dari suatu komunitas manusia yang sepaham. sarana komunikasi. berkurban. Sehubungan dengan tujuan manusia tersebut. bersujud. peralatan upacara dan fungsi estetis dalam wujud benda hiasan. Salah satu contoh dapat dilihat dalam tata cara penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. Selain hal tersebut. bertapa. Produk-produk kriya yang dipakai dalam upacara agama. juga muncul penghargaan pada suatu benda untuk digunakan sebagai sarana pendukung kepercayaannya. berupa bangunan suci. menari. pada umumnya mencakup beberapa fungsi. bersaji. berprosesi. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol. seperti berfungsi sebagai simbol. Perilaku tersebut diwujudkan dalam berbagai macam ungkapan seperti. berdoa. Produk kriya tersebut digunakan sebagai “alat” . berbagai peralatan upacara termasuk melibatkan produk-produk kriya yang disakralkan. misalnya. maka muncul sistem upacara religius yang merupakan visualisasi kelakuan atau behavioral manifestation. beryajña. berpuasa.dan ceritera-ceritera rakyat berupa dongeng yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat tertentu. dan sebagainya. bersemedi. sehingga dalam produk tersebut terpatri suatu “ideologi” tertentu yang nilai-nilainya diyakini dan dijadikan sebagai tradisi.

upacara, simbol-simbol diwujudkan berdasarkan konvensi yang mengacu atau dilatari kosmologi Hinduistis di Bali, sebagai media komunikasi yang dilandasi konsep Tri Hita Karana dan difungsikan sebagai hiasan. Produk kriya yang digunakan untuk simbol tersebut, merupakan tanda bersifat argument, karena interpretasinya terkait dengan renungan tentang kebenaran keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan maha segalagalanya (seperti telah disinggung di depan). Dengan penggunaan simbol-simbol tersebut, diharapkan dapat mempermudah penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu serta untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak-Nya tersebut. Perwujudan produk kriya sebagai tanda atau simbol, kadang dapat dalam bentuk icon, seperti stilasi bentuk manusia, binatang, benda alam dan sebaginya. Misalnya diwujudkan dalam berbagai produk kriya, seperti berbentuk relief, patung atau pratima dan sebagainya atau dibuat berdasarkan kualitas material yang digunakan atau qualisign, misalnya, warna (darah binatang, warna bunga, kapur, arang dan lainnya), karakter bahan (suatu jenis kayu, batu, kulit, logam dan sebagainya). Namun tidak dipungkiri, bahwa dalam menginterpretasikan simbol-simbol tersebut, sering terjadi perbedaan pandangan, sehingga melahirkan interpretasi bersifat mendua antara masyarakat yang berada dalam konvensi dengan di luarnya. Salah satu contoh produk

kriya berupa umbul-umbul bergambar naga taksaka yang digunakan sebagai salah satu sarana upacara Agama Hindu di Bali. Bagi umat Hindu menganggap benda tersebut sebagai tanda diadakan upacara agama dan sekaligus penerapan gambar naga taksaka disepakati sebagai simbol lapisan alam atas (Swah Loka). Sebagai dasar acuannya adalah kosmologi Hinduistis dengan interpretasi yang bersifat konotatif dan dianggap sakral. Sedangkan bagi umat atau orang yang tidak paham atau berada di luar konvensi tersebut, melihat umbulumbul tersebut hanya sekedar hiasan belaka. Fenomena seperti itu, belakangan ini memang cukup banyak terjadi di daerah Bali. Produk-produk kriya seperti itu, kadang hanya dilihat dari fungsi estetisnya saja. D. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu Eklektik adalah suatu usaha yang bersifat memilih unsur-unsur yang baik atau menggunakan bermacammacam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya, baik berupa orang, gaya, metode, kepercayaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam buku ini yang dimaksudkan adalah eklektisme terhadap elemen estetis masa lalu yang diterapkan pada desain produk masa kini. Tindakan “memilih” unsur-unsur tersebut secara tidak langsung jelas akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada vitalitas idiom masa lalu itu sendiri maupun kesatu-

an substansi pada desain produk masa kini. Fenomena tersebut dapat dipahami dari beberapa istilah seperti berikut: 1) Pastiche Istilah pastiche berarti menyusun elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai pengarang atau seniman masa lalu. Oleh sebab itu, istilah ini bisa mengandung pengertian dengan konotasi negatif dan dianggap miskin orisinallitas (Baldick dalam Yasraf 1994). Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Parody, dijelaskan bahwa: Pastiche, in this sense, is a pure imitation without any pretension. A pastiche text imitate other past text, in order to emulate or to appreciate them. Pastiche has been called by one critic as “form rendering” to describe its superficiality, that is, its lack to thoroughness. (Hutcheon, 1985). Menurut Linda Hutcheon, pastiche adalah suatu bentuk imitasi murni, tanpa disertai dengan pretensi tertentu. Gaya atau teks yang dipakai meniru dari teks masa lalu, disebut sebagai kritikan “gubahan bentuk” yang menunjukan suatu kedangkalan sebagai kekurangan yang utama. Selain hal tersebut, Fredric Jameson secara metaforis menyebut istilah tersebut sebagai “penggunaan topeng sejarah, pengungkap-

an dalam bahasa yang telah mati” (Jameson dalam Yasraf. Parodi merupakan suatu bentuk “dialogisme tekstual”. keseriusan. kritik. yaitu dua teks atau lebih dipertemukan dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat. artinya produk sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya atau kata penulis atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan. pada dasarnya parodi adalah merupakan suatu fenomena yang terjadi dalam produk sastra. kekurangan. dan humor. dijelaskan bahwa. 1991). Dengan demikian. Dalam peniruannya dapat bersifat ironis dan kritis. atau kemasyuran) (Yasraf. 2) Parody Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994). seni. . parody (parodi). parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk. 1994). atau arsitektur dengan tendensi bersifat memilih dan didistorsi. Jadi dari uraian tersebut. kemudian diimitasi dalam suatu produk dengan tujuan mengarah pada humoristik dan kadang kala bersifat “pelesetan”. gaya atau produk yang menjadi sasarannya (kelemahan. bahkan bermuatan politis dan ideologis.

merupakan suatu upaya untuk menghasilkan efek-efek reproduksi dalam sistem kebudayaan massa atau membangun aura seni dari reproduksi itu sendiri. Menurut Clement Greenberg. . Predikat kitsch sebagai selera rendahan dimanifestasikan oleh lemahnya ukuran dan kriteria estetis yang dipakai. Mengimitasi suatu bentuk gaya atau objek untuk tujuan yang palsu. kitsch bertujuan mensimulasi atau mengkopi elemen-elemen gaya “seni tinggi” atau objek sehari-hari untuk kepentingan sendiri dan menjadikan sebagai mass product. (Greenberg dalam Yasraf. konsumsi dan komunikasi massa. yang diakibatkan oleh berkembangnya produksi. pada awalnya keberadaan kitsch didorong oleh semangat mereproduksi. Selain hal tersebut. verkitshen berarti “membuat murahan”. Dalam bidang seni. istilah ini sering diselaraskan artinya sebagai “sampah artistik” atau sering diberi pengertian sebagai “selera rendahan” atau segala produk seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera.3) Kitsch Istilah Kitsch berasal dari bahasa Jerman. Dan kistchen. secara harfiah berarti “memungut sampah dari jalan”. 1995).

estetik atas moral dan ironi atas tragedi. Dalam upaya mewujudkan produk. tekstur. Dalam suatu bentuk produk seni. camp lebih menititik beratkan pada dekorasi. Hubungannya dengan masa lalu bersifat “mendaurulang” dan sentimentil. permukaan sensual. ternyata dalam usaha perluasan desain masa kini yang berciri khas Bali. dengan mengusung eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional dan dieksploitasi pada desain masa kini. berusaha menampilkan sesuatu yang special. Dengan memahami beberapa istilah di atas. 1992).4) Camp Pada fenomena estetika pengertian camp sering dikelirukan dengan istilah kitsch yang mengarah pada pengertian “selera rendahan” atau merupakan “sampah estetik”. berlebihan dan glamor (Sontag. Merupakan kemenangan gaya atas isi. Selanjutnya untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari tindakan eklektis terhadap produk kriya masa lalu dapat dipahami . kadang-kadang juga dapat menimbulkan dampak tersebut. dan style dengan distorsi yang berlebihan dan meremehkan isi serta netral. Sebenarnya camp merupakan salah satu cara untuk melihat dunia sebagai suatu gejala estetik dalam derajat kecerdasan. kesemuan dan stylization atau penggayaan.

pada uraian berikut. . yaitu dengan menganalisa beberapa contoh kasus penerapan elemen estetis produk kriya secara eklektik pada desain masa kini di Bali seperti diuraikan pada Bab V.

baik faktor internal yang disebabkan oleh penggunaan dan penghargaan . maka suatu masyarakat dengan kebudayaannya secara mutlak tidak mungkin dapat hidup statis. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini 1. Kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala dan terus mengalami perkembangan dan perubahan yang didorong oleh berbagai faktor. Oleh sebab itu.BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. stagnan dan terisolir. Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan atau pergeseran dalam fungsi waktu dengan laju yang bervariasi. Kajian Historis Transformasi atau pergeseran merupakan suatu fenomena yang universal dan selalu mewarnai lintas sejarah perkembangan kebudayaan suatu masyarakat.

bahwa sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan neolitikum dan perunggu.produk kriya dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Bali. berupa peralatan kerja untuk penunjang berbagai aktivitas hidup sehari-hari. secara diakoronis dapat disimak. Faktor pendorong tersebut seperti (1) karena adanya tuntutan kebutuhan produk kriya fungsional yang mengandung nilai utilitas. untuk memenuhi kebutuhan produk kriya penunjang kepariwisataan dan sebagai komoditi ekspor. (2) sarana penunjang keagamaan atau kepercayaan dan untuk dipersembahkan kepada raja dan keluarganya (3) kebutuhan produk kriya untuk menunjang kebutuhan lain yang mengarah pada penciptaan produk kriya untuk memenuhi kebutuhan bersifat sekular. Misalnya. saat penduduk Bali masih hidup nomaden. Ditinjau dari sudut historis mengenai perkembangan dan perubahan penciptaan serta penggunaan produk kriya di Bali. Faktor pendorong tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 24. umumnya memiliki pola pikir terbatas . Bersamaan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sering dijumpai kasus fenomena penerapan elemen estetis produk kriya tradisional secara eklektik. hedonistik dengan mengutamakan fungsi estetis dan efek finansial yang ditimbulkannya. maupun faktor eksternal berupa pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar melalui proses akulturasi yang berlangsung dari zaman ke zaman dalam kapasitas yang berbeda-beda.

tulang binatang. dengan proses pengerjaan masih sangat sederhana. PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KEGIATAN EKSPOR PRODUK KERAJINAN DI BALI SARANA PENUNJANG Produk-produk kriya berupa:  Souvenir  menciptakan citra atau suasana MUATAN LOKAL/ ETOS KEBUDAYAAN UNSUR-UNSUR EKLEKTIK PADA KARYA MASA LALU (latar belakang sejarah) Gambar 24 Faktor Pendorong Munculnya Tindakan Eklektik Terhadap Elemen Estetis Tradisioanal Bali Di masa-masa selanjutnya. Dalam melakukan usaha tersebut. Penduduk di Bali telah mampu . ranting kayu dan sebagainya. maka dalam sistem peralatan dan perlengkapan hidup mengalami perubahan. mereka menggunakan peralatan berupa produk kriya terbuat dengan batu. setelah masuknya pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu di Bali.pada usaha pemenuhan kebutuhan berupa makanan untuk kelangsungan hidupnya.

Dalam proses penciptaan produkproduk kriya. pertimbangan mengenai keindahan. nafsu atau emosi dalam diri individu untuk menghargai suatu materi yang distimuli oleh alam atau lingkungan masyarakat yang terbentuk. Pada zaman tersebut. Munculnya gejala tersebut.menciptakan produk-produk kriya berupa peralatan terbuat dengan logam. sarkofagus untuk tempat mayat dan sebagai tanda penghormatan atau simbol kendaraan arwah. hasrat. sistem relegi yang berkembang dan semakin menggejalanya pengaruh integrasi kebudayaan dari luar serta didukung dengan banyak waktu luang yang dimilikinya sebagai masyarakat agraris. disebabkan semakin meningkatnya kesadaran. gerabah (tanah liat yang dibakar) dan sebagainya yang dikerjakan dengan teknik lebih sempurna. di Bali terjadi suatu “intervensi kebudayaan” yang bersifat menyempurnakan kebudayaan tradisi masa lalu dengan berorientasi pada . masyarakat sudah mampu menghasilkan produk-produk kriya yang bermutu. misalnya dikerjakan sambil menunggu datangnya musim panen. Pada zaman Hindu. cincin untuk bekal kubur dan sebagainya. kenyamanan dan simbolisasi sudah menggejala dan menjadi bagian yang esensial. misalnya peralatan berupa kapak batu yang dibentuk dan digosok sampai halus. nekara perunggu diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai simbol-simbol terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. batu.

Perwujudannya berupa hiasan. sosial kemasyarakatan dan kebudayaan Bali dirumuskan dengan “bahasa” agama Hindu. karma phala yang diwujudkan dalam sikap kebersamaan (kolektif). religius. Semua kegiatan ekonomi. senjata. Unsur India dominan pada taraf filsafat dan mitologi. Terjadi suatu sinkretisasi atau proses penyerasian dua aliran (agama) dan akulturasi yang harmonis antara unsur-unsur kebudayaan India. . wayang. barang gerabah. Dengan sikap tersebut. Penciptaan produk-produk kriya dominan dikembangkan untuk keperluan Agama Hindu dan kerajaan. simbol dan benda pakai. pembinaan dan peletakan dasar-dasar ajaran Agama Hindu. pembinaan umat dan dipersembahkan kepada raja. Perpaduan tersebut melahirkan suatu kebudayaan yang bercorak khas Bali. seperti ditujukan untuk menunjang kebutuhan sarana upacara ritual. patung. dan loyalitas dengan kecenderungan dedikasi. berbagai bentuk topeng. Motivasi penciptaan dilandasi dengan konsep dharma. meliputi sistem peralatan dan perlengkapan hidup. seperti berupa hiasan pada pura. sedangkan unsur kebudayaan Jawa umumnya tampak pada taraf ritual yang bersumber pada kitab suci Weda. ketekunan serta keiklasan yang sangat tinggi.penyebaran. maka para kriyawan saat itu mampu menghasilkan produk-produk puncak dengan kualitas yang sangat tinggi. Hindu dari Jawa Timur bergabung dengan kultur agraris dan pemujaan roh leluhur yang telah tumbuh di masyarakat Bali.

ternyata sampai sekarang masih digunakan dan diyakini oleh umat Hindu di Bali. Bahan yang digunakan. sabuk dan sejenisnya). kayu dan sebagainya. Produk-produk kriya tersebut termasuk katergori produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. Ditinjau dari sudut keyakinan umat Hindu di Bali terhadap nilai kesakralan yang dikandungnya. kulit binatang. halaman: 61). khususnya yang digunakan dalam melaksanakan upacara ritual. dalam pembuatannya mutlak disertai dengan proses penyucian atau melalui beberapa tahap penyucian (lihat Tabel 1. Hal tersebut mengingat heterogen- . seperti logam. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol atau tanda terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. ternyata di dalamnya sarat mengandung makna atau nilai-nilai kesucian yang adiluhung. misalnya berupa simbol-simbol alam makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). tanah liat. Beberapa jenis kegiatan penciptaan produk kriya itu diwariskan dari generasi ke genarasi berikutnya dan sampai sekarang masih ditekuni oleh masyarakat kriyawan di beberapa daerah di Bali. Tergolong jenis kesenian Wali yang dianggap sebagai benda sakral karena. yang terkait dengan kepercayaan tentang keagungan dan kekuasaan Tuhan serta ajaran suci tentang ciptaanNya.busana hasil tenunan tradisional (berupa kain songket. Produk-produk tersebut diciptakan dengan dilandasi kosmologi Hinduistis dan adat di Bali.

nya tingkat kemampuan umat dalam mengamalkan ajaran agama Hindu atau dalam hasrat menghubungkan diri dengan Tuhan. Dari sudut pandang ajaran agama Hindu. maka pengaruh-pengaruh Belanda dan kebudayaan masyarakat dari luar lainnya semakin merebak masuk ke Bali. dari uraian tersebut. maupun sesuai kerangka agama Hindu. Pada zaman kolonial. seperti semakin berkembangnya corak masyarakat yang meng- . Bali dan kebudayaannya diperkenalkan sebagai daerah tujuan wisata. Oleh sebab itu produk-produk kriya berupa simbol-simbol untuk sarana pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. Sehingga dalam tata kehidupan masyarakat di Bali tampak mengalami banyak perubahan. Di sisi lain. seperti disebutkan dalam ajaran Catur Marga. ternyata “cara” tersebut memang diperbolehkan. budaya tersebut juga dipakai sebagai daya tarik utama. dari zaman Hindu sampai sekarang nilai-nilai kesakralannya tetap diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. jelaslah produk kriya yang digunakan sebagai sarana pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. Jadi. maka di masa-masa mendatang eksistensinya perlu dijaga dari penetrasi pengaruh-pengaruh luar yang dapat mengancam kelestariannya. sampai sekarang dan bahkan untuk seterusnya tetap hadir dan diperlukan. Demikian juga dalam sifat Weda dan filsafat Wedanta. Oleh sebab itu. dalam konteks pengembangan pariwisata.

mulai berkembang usaha yang bergerak dalam bidang perhotelan. selain untuk menguras hasil pertanian.arah pada usaha-usaha non-agraris. semata-mata didorong oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat dan bukan atas prakarsa pemerintah kolonial Belanda. kesenian tradisional yang telah tumbuh dan berarkar di masyarakat Bali. Gejalanya muncul secara “spontan” dari masyarakat kriyawan Bali saat itu. peternakan dan lain-lainnya. Keadaan tersebut. Masyarakat Bali semakin dimantapkan dan didorong untuk bergerak dalam bidang ekonomi. mengaktifkan kembali kegiatan ekspor-impor barang yang sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. Upaya tersebut diawali dengan usaha untuk mendatangkan para . restoran. toko kerajinan. misalnya: membuat koperasi. biro perjalanan. Khusus mengenai masalah penciptaan produkproduk kriya yang bermuatan lokal dengan tendensi komersial. Para kriyawan menciptakan produk kriya tersebut. Selain hal tersebut pemerintah Belanda juga berkeinginan untuk mempertahankan keaslian kebudayaan Bali dengan menerapkan politik isolasi atau mengasingkannya dari pengaruh-pengaruh luar dan semata-mata ingin dijadikan sebagai “museum hidup”. termasuk penciptaan “produk-produk kriya komersial”. dapat ditelusuri dari tujuan Belanda untuk menguasai Pulau Bali. menjual hasil pertanian dan sebagainya. Dalam usaha menunjang pengembangan pariwisata. kembali aktif.

Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk menunjang pengembangan pariwisata pada saat terse- . membangun museum di Denpasar untuk melindungi dan menyelamatkan artifak etnografi Bali. faktor pendorong atau motivasi penciptaan produk kriya dengan serta merta mulai mengarah pada hal-hal bersifat komersial.pakar yang terkait dari negerinya. mengalami perkembangan baru dibandingkan sebelumnya. di mana pada masa berkembangnya pengaruh Hindu dan zaman kerajaan. Namun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. untuk mempelajari berbagai aspek tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan tradisonal. penciptaan produk kriya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan kerajaan. Mengembangkan sistem pendidikan yang menyesuaikan dengan kebudayaan terkait dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu. Motivasi perluasan usaha penciptaan produk kriya di Bali saat tersebut. Mereka cenderung menciptakan produk kriya dalam bentuk cenderamata untuk dijual kepada para wisatawan atau diekspor ke luar pulau Bali. Kemudian membangun Gedong Kertiya di Singaraja untuk menyimpan dan menyelamatkan kesusastraan Bali yang ditulis pada lontar. Para kriyawan kebanyakan mulai memandang hasil produksinya sebagai mata dagangan yang bernilai ekonomis. misalnya dengan mengangkat tenaga pendidik lokal yang berkompeten dalam bidang kebudayaan Bali.

tanpa kecuali produk yang digunakan untuk sarana pengamalan dan penghayatan ajaran agama Hindu Bali. Di sisi lain. misalnya: kayu. di satu sisi tampak para kriyawan berusaha mengembangkan produk-produk kriya masa lalu yang diwarisinya. Usaha pengembangan pariwisata kurang mendapat perhatian. Perpaduan pengaruh tersebut. sehingga menghasilkan produk dengan berbagai penggayaan atau style. logam (berkembang di Klungkung. karena pada waktu tersebut. pengosekan dan sebagainya. seperti: Rudolf Bonnet. tanduk (berkembang di Gianyar). Dalam masa pendudukan Jepang yang berlangsung relatif lebih singkat dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. Oleh sebab itu. Seperti pengaruh seni rupa modern yang dibawa oleh para seniman Barat. kadang juga muncul tindakan eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional.but. topeng. Gianyar. usaha . mereka juga mulai memadukan pengaruh dari luar. melahirkan produk-produk dengan style Batuan. Walter Spies dan seniman lainnya. (berkembang di daerah Gianyar dan Badung). fanil. Bangli dan di Buleleng). Ubud. Seperti: berupa patung. tempurung kelapa. Jepang lebih mementingkan usaha penanaman semangat militer dan arti penting perang Asia Timur Raya untuk meraih kemenangan. batu padas (berkembang di Gianyar). tanah liat atau keramik (di Tabanan) dan lain sebagainya. tulang. relief dan gambar atau lukisan dengan menggunakan berbagai bahan. Dalam upayanya tersebut.

ternyata merupakan salah satu pemicu arus penetrasi budaya modern dan global. sekitar tahun 1950. Lapangan pekerjaan atau bidang usaha .penciptaan “produk kriya komersial” semakin surut dan penggunaannya terbatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. kecuali pengaruh pemerintahan Jepang sendiri. Dikaitkan dengan pembangunan sektor perekonomian. Otoritas masyarakat pada saat tersebut sangat terbatas. Usaha pengembangan tersebut. Didorong pula oleh semakin meningkatnya permintaan para wisatawan akan produk-produk kriya yang bermuatan lokal berupa barang cenderamata. sekaligus memberi dampak pada tata kehidupan masyarakat di Bali. maka usaha penciptaan produk-produk kriya di Bali dengan serta merta mulai mengarah pada tujuan komersial dan disertai dengan muncul gejala penerapan elemen estetis produk tradisional secara eklektik pada desain yang kemudian diterapkan pada produk-produk kriya yang dibuat saat tersebut. ternyata upaya tersebut memberi pengaruh yang signifikan. sehingga keadaan kebudayaan Bali nyaris terisolir dari pengaruh luar. Ulasan dari sudut historis tersebut memberi deskripsi bahwa pada saat mulai masuknya pengaruh Barat (Belanda) dan dijadikannya Bali sebagai daerah tujuan wisata. sektor pariwisata di Bali kembali dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dengan tetap berbasis pada kekuatan budaya Bali sebagai daya tarik utama. Pada zaman kemerdekaan.

Banyak di antara masyarakat di Bali menjadikan sebagai mata pencaharian tetap. di mana kegiatan menciptakan produk kriya hanya merupakan pekerjaan sambilan di waktu senggang seusai di sawah atau kesibukan lain. Mereka termotivasi oleh aspek ekonomis yang dihasilkan dari produk kriya yang diciptakannya. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk dikonsumsi para wisatawan masa kini.industri kecil memiliki peluang atau opportunity untuk tumbuh dan berkembang. usaha tersebut sempat mengalami perkembangan yang cukup pesat. cukup mendorong para kriyawan dan pengusaha di Bali masa kini untuk semakin aktif menekuni sektor tersebut. selain didorong oleh perkembangan sektor pariwisata. terutama di zaman prakolonial. para kriyawan berupaya untuk menyuguhkan produk yang dapat memberi kenangan tersendiri. seperti dalam kegiatan penciptaan produk-produk kriya yang mengarah komersial. Berbeda dengan dulu. Kondisi tersebut. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kecil dan mendijadikan produk kriya lokal sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor non-migas. Dan hasil produknya jarang diperjual belikan sebagai mata dagangan. misalnya berwujud cenderamata yang menyiratkan keindahan alam atau ke- . sebelum terjadi tragedi bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 di Kecamatan Kuta dan bom Bali II pada tanggal 1 Oktober 2005. Pada dasawarsa belakangan.

budayaan Bali. misalnya dengan mengeksploitasi alam fauna dan flora sebagai sumber inspirasinya. Dalam hubungan dengan kreativitas penciptaan produk kriya. Demikian juga dalam penataan lingkungan. Gambar 25 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Fauna . salah satunya dengan menerapkan elemen estetis produk kriya masa lalu. seperti tampak pada Gambar 25 dan 26. di satu sisi tampak usaha inovatif yang mengarah pada produk individual. berkeinginan menampilkan suasana yang berbeda dengan daerah lain.

32 . Mereka melakukan tindakan tersebut didorong oleh harapan atau keinginan untuk menciptakan produk-produk kriya etnik yang bermuatan lokal atau tercerap suasana atau citra rasa tradisional yang berciri khas budaya Bali seperti tampak pada Gambar 27.Gambar 26 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Flora Di sisi lain. tampak semakin menggejala di kalangan masyarakat kriyawan. tindakan-tindakan eklektik terhadap elemen estetis produk kriya masa lalu yang diterapkan pada desain produk kriya masa kini.

Gambar 28 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi. .Gambar 27 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi.

Gambar 30 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Untuk Barang Komoditi. .Gambar 29 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Panil untuk Barang Komoditi.

Gambar 32 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Diterapkan Dalam Bentuk Tatto. Dalam pemilihan unsur-unsur terbaik produk masa lalu. sering muncul sikap “ketidaktaatan” yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali.Gambar 31 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Façade Bangunan. Banyak di antara mereka kadang-kadang melupakan konteks nilai yang terkandung pada produk kriya masa lalu dengan masa- .

Hal tersebut. Relief Acintya. “dipilih”. jelas merupakan penyimpangan dan sama sekali tidak ada hubungan permaknaan. (lihat Gambar: 31). Pada hal kedua elemen tersebut mengandung nilai religius dan konvensinya masih eksis di masyarakat Hindu di Bali. kemudian dijual sebagai barang cenderamata dan sebagainya. seperti pada pelinggih padmasana. misalnya diterapkan sebagai hiasan dinding rumah tinggal. Diterapkan pada tebing kuburan. divisualisasikan dalam bentuk patung untuk menghias persimpangan jalan. Penerapan tersebut memiliki tujuan yang tidak jelas. Produk-produk kriya wali yang digunakan dalam upacara agama dan dianggap sakral. Bhoma diterapkan dengan ditatto pada bokong atau Ongkara ditatto pada lengan. Tindakan tersebut jelas berdampak negatif. semata-mata untuk sensasi. Garuda Wisnu dan Nãga. kemudian diterapkan begitu saja pada benda-benda yang bersifat profan dengan lebih mengutamakan segi artistik dan semata-mata menyandar pada efek finansialnya. Bhoma. tetapi sekarang banyak digunakan untuk hiasan benda pakai yang bersifat profan.lah kepercayaan umat Hindu di Bali. merusak atau mengganggu kesepakatan yang telah mapan. diterapkan sebagai hiasan pada façade sebuah kantor bank . Ditiru atau direproduksi dengan kemampuan tangannya. sebenarnya merupakan produk kriya yang mengandung nilai simbolis pada bangunan suci. relief pada tebing dekat kuburan. Sebagai contoh.

Bedawang Nala dipakai hiasan tapal batas kota. seperti pada upacara Odalan. inovasi dengan ide baru dan kreativitas mereka sering terhambat karena takut tidak laku di pasaran. lonték dan tedung Agung. cenderung tergantung pada permintaan pasar. Gambar 33 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional berupa Relief yang Sakral Diterapkan Di Perepatan Jalan dan Sebagai Hiasan Tebing Kuburan Selain hal tersebut. namun sekarang digunakan untuk menghias halaman supermarket. artshop. banyak para kriyawan di Bali dalam kegiatan penciptaan produk kriya masa kini. Idealisasi. Sehingga .atau bangunan lain. sebenarnya sebagai “busana pura” yang dikenakan sewaktu melangsungkan upacara agama tertentu. hotel. restoran dan sebagainya. Sehingga timbul kerancuan dan menimbulkan kebingungan bagi generasi penerus tradisi tersebut.

karena mereka merasa mampu memberi pelayanan yang memuaskan wisata- . juga tidak luput dari konsekuensi tersebut.dengan kondisi tersebut “jalan pintas” sering dilakukannya. sikap mereka cenderung menyandar pada kesiapan. “dipaksakan” dan “diberanikan” demi untuk memenuhi tujuan lain dengan alasan faktor ekomoni. Seperti dalam pemberian pesanan kepada para kriyawan. misalnya dengan jalan “mengkopi” atau “membajak” produk-produk yang sedang laku dipasaran atau dengan tetap bertahan pada produk tradisional. Maksudnya. Kejadian tersebut. sehingga pesanan tersebut sesuai dengan keinginan konsumennya dan transaksi dapat berjalan tepat pada waktunya. Dan banyak produk ciptaannya setelah dilemparkan di pasaran atau dipamerkan. seperti: Ide Bagus Nyana. Dan permasalahan sudah dianggap selesai sampai di sana. Dalam proses penciptaan produk-produk kriya dengan unsur eklektik yang ditujukan untuk para wisatawan masa kini. itu pun hanya dilakukan oleh beberapa orang kriyawan. Sekalipun ada kriyawan yang berusaha mencipta “produk kriya baru”. terjadi “desakralisasi”. juga didorong oleh pihak pengusaha produk-produk kriya di Bali. kemampuan atau keterampilan yang dimiliki para kriyawan untuk mengerjakannya. dalam proses penciptaan produk-produk tersebut yang seharusnya disertai dengan upacara penyucian. tetapi pada kenyataannya bagian tersebut sering ditinggalkan. I Nyoman Togog dan yang lainnya.

bahwa produk-produk kriya yang diciptakan oleh para kriyawan Bali di masa lalu. mengacu pada norma-norma ajaran agama Hindu atau sistem kepercayaan umat Hindu di Bali dan dikerjakan dengan total serta penuh pengabdian yang tulus. jelas kurang relevan. sehingga kesadaran untuk lebih selektif terhadap makna atau nilai yang dikandungnya terasa masih kurang. baik yang diciptakan pada zaman pra-Hindu. komprehensif. kalau dikaitkan dengan konsep Catur Purus Artha yang dipakai landasan pembangunan di Bali. Salah satu faktor yang menyebabkan produk-produk tersebut dapat bertahan. kompleks. . Kajian Semiotis Dari pembahasan pada Bab III dapat difahami. 2. ternyata eksistensinya dapat menembus beberapa zaman dalam rentang waktu sangat lama. Namun sikap tersebut. Mereka tampak lebih mengutamakan Artha dan Kama sebagai tujuan hidup. Para pewarisnya dewasa ini hanya mampu menduplikasikan dan menggunakannya. karena dapat menimbulkan arti hidup dan kehidupan yang tidak stabil.wan. Banyak di antaranya produk-produk kriya tersebut merupakan karya puncak. sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. karena dalam proses penciptaannya dilandasi dengan konsep-konsep perancangan sangat mantap. maupun setelah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa Timur.

pada masing-masing penggalan zaman atau kurun waktu tertentu. sedangkan secara sinkronis. Pembahasan lebih rinci mengenai kajian semiotis.Dalam usaha perluasan gagasan desain produk kriya masa kini. dapat dipakai sebagai tanda (sign) zaman yang merepresentasikan sejarah perkembangan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya dalam masyarakat Bali dari zaman ke zaman. tampak produk-produk tersebut kembali ditampilkan “secara eklektik” dengan menitikberatkan pada nilai estetis dan diklaim sebagai identitas etnik Bali atau local genuine. bahwa masyarakat di Bali saat itu. maka secara diakronis hasil peninggalan tersebut. memberi tanda dalam bentuk indeks. Jika ditinjau kembali berdasarkan kajian semiotika. dengan di sana-sini diadakan penambahan atau pengurangan yang diistilahkan sebagai ‘pengembangan’ dan tak jarang dibarengi dengan tujuan-tujuan lain yang tidak sesuai dengan esensi konsep penciptaan di masa lalu. hasil tersebut dapat dipakai tanda (sign) yang merepresentasikan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya. adalah sebagai berikut: Sebelum penduduk Bali mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu. dengan memandang peristiwa penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya di setiap zaman sebagai fenomena bahasa. lebih ke arah . dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk kriya tampak masih sangat sederhana.

karena mereka bertumpu pada nilai guna atau utilitas dan pragmatis. seperti batu dengan karakternya yang keras diperlakukan untuk “menghacurkan” benda yang lebih lunak. roh atau kekuatan-kekuatan lain . Produkproduk yang diciptakan. Belum ada tanda-tanda yang mengarah pada makna konotasi.makna denotasi. Hubungan struktur tanda tersebut menurut Semiotika Saussure dapat digambarkan seperti Gambar 34 berikut Gambar 34 Relasi Tanda. selain memiliki berfungsi sebagai alat. Seperti kepercayaan alam gaib. arah penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya tidak lagi terpaku pada pertimbangan yang bersifat denotatif. keindahan produk maupun simbolisasi. juga sudah memperhatikan nilai estetis dan simbolis dengan latar atau konvensi yang dilandasi dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Misalnya masalah kenyamanan. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Sebelum Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu) Pada zaman selanjutnya. melainkan sudah memperhatikan hal-hal yang bersifat konotatif.

Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Setelah Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu . dipakai sebagai simbol roh nenek moyang mereka dan dianggap bertuah atau mengandung nilai magis. seperti berupa sebuah nekara yang dibuat dengan perunggu. Simbol-simbol tersebut diterapkan atau diwujudkan dalam berbagai bentuk produk kriya. dilakukan sebagai simbol penghormatan kepada tokoh yang meninggal. Pada produk kriya tersebut diterapkan relief berupa topeng yang distilasi dari bentuk wajah manusia. Penguburan dengan cara tersebut.yang dimiliki oleh suatu benda yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan mereka atau fetishism. Hubungan produk-produk kriya sebagai tanda atau simbol dengan pengguna tanda atau penanda (masyarakat Bali zaman Pra-Hindu) dapat digambarkan seperti Gambar 35 berikut Gambar 35 Relasi Tanda. juga dipakai sebagai tanda atau simbol status sosial. misalnya pada penguburan mayat seorang tokoh masyarakat dengan menggunakan sarkofagus. Selain hal tersebut.

kosmologi dan sebagainya yang bersumber pada ajaran Agama Hindu.Pada Zaman Hindu menunjukan. filosofi. Seperti produk-produk kriya yang digunakan dalam upacara Odalan. bahwa dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya dilandasi dengan konsep yang mengarah pada makna konotasi atau asosiatif dengan latar atau ground digali dari mitologi. dapat digambarkan seperti Gambar 36 berikut. ceritera-ceritera rakyat. Diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol sehingga produk-produk kriya tersebut tergolong karya spiritual religius dan dianggap sakral yang digunakan sebagai media untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak yang dimiliki Tuhan. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Mendapat Pengaruh Kebudayaan Hindu-Jawa Timur . Secara semiotika relasi tanda dengan pengguna tanda pada zaman tersebut. Gambar 36 Relasi Tanda.

maupun arah pengembangan yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. kondisi penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali memiliki kemiripan langgam atau tipe. Pada saat tersebut. baik tujuan. relatif dan bersifat temporal. elemen estetis untuk menciptakan suasana tradisional Bali atau sebagai digunakan komoditi ekspor. subyektif. penciptaan dan pengunaan produk kriya pengalami perkembangan baru. Seperti tujuan para kriyawan untuk menciptakan produk bermuatan lokal atau dorongan para wisatawan untuk membeli suatu produk (emotional product motives). Namun dewasa ini. pretensius. maka dalam fenometa tersebut tampak terjadi “permainan petanda” yang menghasilkan petanda baru dengan konvensi atau makna yang tidak jelas arahnya. seperti kebanggaan (pride) memperoleh produk kriya lokal yang berciri khas Bali dan dipakai sebagai tanda kenangan. Jika kondisi tersebut dikaji berdasarkan semiotika model “intertekstualitas” seperti yang dikembangkan oleh Kristeva. bahwa mere- . Produkproduk tersebut mulai dijadikan sebagai penunjang kepariwisataan di Bali berupa cenderamata. kadang kembali “dipilih” dan ditata atau dipadukan dengan tanda lain. Produk-produk kriya —terutama yang terkait pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali— yang diciptakan sebagai tanda dalam bentuk simbol-simbol dengan konvensi budaya yang dilandasi nilai-nilai atau norma-norma Agama Hindu yang telah mapan dalam masyarakat masa lalu.Pada zaman Kolonial dan Kemerdekaan.

tampak simbol Garuda Wisnu menjadi kehilangan makna. di mana simbol Garuda Wisnu adalah terkait dengan ajaran Agama Hindu. Pada contoh tersebut. Selain motivasi tersebut juga didorong keinginan untuk menciptakan lingkungan atau tata bangunan dengan nuansa tradisional. Sebagai contoh. namun sekarang tampak diterapkan sebagai hiasan façade. Masing-masing tanda atau simbol tersebut menyiratkan makna tersendiri. kalau dilihat dari tata letak kedua tanda tersebut.ka pernah mengunjungi pulau Bali. Dari kedua tanda tersebut sama sekali tidak terjalin suatu kesatuan makna. dianggap sebagai suatu kepuasan atau prestise dan sebagainya. Pada façade tersebut tampak logo Bank BPD diletakkan di atas dari simbol Garuda Wisnu. na- . dianggap sebagai lambang kebesaran Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Petanda baru yang muncul tersebut hanya bersifat subjektif yang “dihubung-hubungkan” atau hanya merupakan suatu pretensi yang sama sekali tidak ada pertalian petanda dengan ground simbol yang diterapkan pada produk tersebut di masa lalu. Bahkan tindakan tersebut dapat “merusak” atau memutuskan pertautan petanda dengan penanda atau narasi yang sebenarnya. produk kriya berupa relief Garuda Wisnu yang lazimnya diterapkan dibelakang Padmasan. janggal dan berkonotasi negatif karena terjadi diskrepansi antara tanda dengan petanda yang sebenarnya.

Berdasarkan kajian dari sudut model semiotika “intertekstualitas”. Meletakkan penghargaan terhadap nilai-nilai keduniawian (uang dan investasi). kesenangan dan kenikmatan (hedonisme) lebih tinggi dari nilai yang berhubungan dengan ajaran ketuhanan. maka secara umum penciptaan produk kriya dengan unsur eklektik dewasa ini di Bali dapat digambarkan pada Gambar 37 .mun pada façade itu diletakkan di bawah logo yang cenderung berkonotasi tentang uang yang bersifat sekular. Tanpa disadari penempatan tersebut membawa makna konotasi yang mengarah pada interprestasi negatif. Penempatan tersebut “asal pasang” dan hanya didorong oleh suatu preferensi “pajang seni” semata. tanpa memikirkan lebih jauh tentang pertalian petanda yang terbentuk akibat penempatan simbol dan logo tersebut.

Gambar 37 Perbandingan Relasi Tanda. Penanda dan Petanda (“Intertekstualitas”) Kaitannya Dengan Fenomena Eklektik Unsur Produk Kriya Masa Lalu .

selaras. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini Konsep pengembangan pariwisata di Bali berbasis budaya Bali. Sebenarnya di dalamnya secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. bahwa masyarakat Bali bersama kebudayaannya di masamasa mendatang akan mengalami perubahan besar sebagai dampak maraknya perkembangan pariwisata. Konsep tersebut diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan budaya Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. sosiolog. Mereka mendeskripsikan. ternyata mendatangkan banyak kemanfaatan atau beneficial bagi pengembangan kebudayaan Bali sekaligus pengembangan sektor ekonomi masyarakat.B. Namun di sisi lain banyak muncul kekawatiran tentang nasib masa depan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. antropolog dan seniman sudah memprediksi. Sejak 60 tahun yang silam di kalangan para pengamat: budayawan. Di satu sisi menurut hasil penelitian Kean (1973) maupun Geriya dan Erawan (1993) membuktikan bahwa interaksi antara pariwisata dan kebudayaan Bali. dan seimbang. bahwa pariwisatalah yang akan menjadi salah satu katalisator atau sebagai pemicu terjadinya perubahan sosial-budaya masyarakat di .

. ternyata dalam beberapa dekade belakangan ini menjadi suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Salah satunya diakibatkan oleh eklektisme elemen estetis tradisonal yang tak terkendali dalam penerapannya pada desain produk masa kini. sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Miguel Covarrubias dalam bukunya berjudul Island of Bali —“Isn’t Bali Spoiled ?”— sebagai kalimat pembukaan dalam pembicaraan Modern Bali and The Future. Suatu dinamika baru dan perubahan-perubahan struktural telah terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. Prediksi atau asumsi tersebut.Bali. Pertanyaan tersebut diungkap sehubungan dengan kekawatiranya akan kerusakan yang akan terjadi pada seni budaya Bali sebagai akibat diperkenalkannya menjadi daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Kolonial Belanda saat tersebut (Covarrubias. 1937). pada paparan keadaan masyarakat dan kebudayaan Bali yang diterbitkan pada tahun 1953. Demikian juga kekawatiran tersebut dimuat dalam buku dengan judul: Republik Indonesia (Kepulauan Sunda Kecil). Seperti. baik pada produk masa lalu maupun pada desain produk masa kini. Berikut akan diuraikan mengenai dampak yang ditimbulkan. Hal tersebut juga terjadi dalam perluasan penciptaan produk-produk kriya dan desain lainnya yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali.

“generalisasi”. Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu Dampak eklektisme terhadap produk kriya masa lalu sebagai objek pilihan. “desakralisasi”. sekarang ba- . Keadaan tersebut tanpa disadari dengan perlahan-lahan dapat mengikis alam pikiran spiritual umat Hindu di Bali dan dapat terjebak dalam kecenderungan efek komersial dari produk tersebut. kesimpangsiuran atau pengkaburan makna. Seperti: relief tinggi berupa Bhoma.1. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jean Couteau. terutama bagi generasi pewaris kesepakatan tersebut. Akibat dari tindakan tersebut. Garuda Wisnu dan sebagainya. Secara visual mereka akan semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya yang digunakan untuk sarana upacara ritual di tempat suci dengan produk kriya yang dipakai di tempat yang bersifat profan. karena telah “diduplikasi” untuk dijadikan barang tontonan biasa atau barang komoditi untuk pemenuhan kebutuhan sekuler semata. secara tidak langsung akan terganggunya konvensi yang mendasari objek yang dipilih dan kemungkinan akan terjadi suatu pelunturan nilai. bahwa dampak dari peran khas pariwisata Bali membawa pengaruh dan perubahan yang tak terbatas. tanpa disadari dapat mengurangi rasa penghargaan atau pemahaman spiritual terhadap makna atau nilai yang ditanamkan pada produk kriya yang dianggap sakral tersebut. “deteriorasi”.

Topeng Barong Ket juga dipakai sebagai penghias ruangan boutique yang dipajang berdampingan dengan busana yang dijual. seperti pada Gambar 38 berikut Gambar 38 Topeng Barong Ket Diterapakan Sebagai Hiasan Boutique Ditinjau dari sudut semiotika. penerapan elemen estetis tradisional secara eklektis tersebut dapat berdampak terganggunya kestabilan antara tanda dengan . banyak ditiru dengan tidak disertai dengan “sakralisasi” dan dipakai pertunjukan khusus untuk konsumsi para wisatawan. rumah tinggal dan bangunan umum lainnya. bahkan sengaja dipentaskan di hotel-hotel untuk menghibur para wisatawan.nyak ditiru dan diterapkan sebagai hiasan toko. kantor. Rangda dan Barong ket.

petanda, karena terjadi suatu “mutilasi” struktur simbol atau lambang dengan konvensi adat yang telah mapan dalam kalangan umat Hindu di Bali. Terbentuk kepingan-kepingan dan perpaduan tanda dengan petanda yang tidak jelas atau “mati”. interpretasi makna menjadi simpangsiur dan terkecoh karena secara visual semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya sakral dengan profan. Seperti senjata nawa sanga, produk kriya tersebut biasanya digunakan sebagai hiasan di pura berupa bandrangan dan sekaligus sebagai simbol kekuatan para Dewa, namun kini sematamata diciptakan sebagai barang cenderamata untuk konsumsi para wisatawan (lihat Gambar 29). Makna konotasinya mengalami perubahan dan mengarah pada nilai komersial. 2. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini Penerapan elemen estetis secara eklektik pada desain masa kini yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali masa kini, dalam upaya untuk menciptakan karya yang bermuatan lokal atau didorong oleh harapan agar dapat menciptakan suasana tradisional Bali. Ternyata usaha tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan permasalahan yang mendasar. Pada desain atau produk kriya yang diciptakan dengan menerapkan elemen estetis tradisonal kadangkadang tampak “janggal”, “tertekan”, “terpaksa”, berlebihan, mubasir dan dari perpaduan tersebut tidak terjalin pertalian makna di antara tanda-tanda atau

simbol-simbol yang diterapkannya. Dikaitkan dengan konsep estitika yang melandasi strategi pembangunan di daerah Bali, seperti telah dipaparkan pada bab pendahuluan, kondisi tersebut jelas kurang relevan, sebab pada produk-produk yang diciptakan sering terlihat kurang selaras, kurang harmonis dan tidak seimbang. Bahkan tak jarang melahirkan karya yang termasuk: pastiche, parody, kitsch, atau camp. Sebagai contoh dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional, berupa relief garuda pada sebuah façade toko sepatu bata seperti Gambar 38 berikut,

Gambar 38 Penerapan Relief Garuda Pada Façade Toko Sepatu Bata

Pada hiasan tersebut tampak elemen estetis berbentuk garuda yang meniru dari bentuk Garuda Wisnu dan penyuguhannya tidak dilengkapi dengan simbol Dewa Wisnu. “Tangan” garuda dibuat menunjuk logo sepatu bata dan posisi penempatan kedua elemen tersebut sejajar secara horisontal. Pada penampilan tanda tersebut tampak suatu fragmen yang terbentuk dari hasil perpaduan dua, yaitu antara simbol dengan logo. Disimak dari permaknaan, maka keduanya sama sekali tidak terdapat pertautan makna. Konsep penciptaan hanya didasari oleh suatu pretensi menciptakan nuansa bagunan tradisional Bali. Bentuk garuda tersebut sebenarnya merupakan produk kriya masa lalu yang khusus diterapkan pada bangunan suci dan mengandung nilai filosofi yang tinggi dan sebagai simbol kekuatan Tuhan. Namun kini dipilih dan diterapkan begitu saja tanpa memikirkan dampak negatif terhadap makna yang dikandungnya. Mereka meminjam makna simbol garuda yang telah mapan dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, hanya sekadar untuk menunjukan logo sepatu bata atau bertujuan untuk membangun imitasi image atau citra rasa palsu (kitsch) dalam usaha membangun keyakinan masyarakat konsumen, bahwa produk sepatu merek bata sudah terpercaya, kuat dan sebagainya, sampai-sampai simbol garuda yang masih diyakini oleh umat Hindu “digambarkan” memberi petunjuk tentang keunggulannya.

Bentuk hiasan tersebut merupakan penggayaan dari bentuk naga hasil produk kriya masa lalu. Sedangkan terkait dengan fenomena camp. juga dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional berupa dua patung naga yang mengapit pintu gerbang utama di lantai I di bawah selasar kantor sebuah bank di Denpasar. Contoh kasus sejenis lainnya. seperti tampak pada Gambar 39.Peniruan dan perpaduan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu produk kriya parodi. —dikombinasikan dengan tanda atau simbol atau logo lain— dan dimanfaatkan hanya untuk menunjukan merek sepatu. kini “dipermainkan”. sebab pemilihan dan penerapannya merupakan suatu “pelesetan” dari makna garuda yang sebenarnya. karena merupakan hasil penyusunan elemen-elemen masa lalu yang melahirkan bangun tanda palsu yang berkonotasi negatif. karena dalam penampilannya bersifat mendaurulang bentuk garuda yang merupakan hasil produk kriya masa lalu dan diterapkan begitu saja. Selain hal tersebut. Naga tersebut sebenarnya merupakan hiasan sekaligus se- . juga termasuk produk pastiche dan camp. Narasinya bersifat ironis dan kritis dalam artian mengecilkan makna adiluhung yang terkandung dalam simbol garuda tersebut. Pastiche. Simbol yang bersifat sakral dan terkait dengan ajaran ketuhanan. sehingga terkesan sentimentil terhadap simbol yang masih diyakini oleh umat Hindu di Bali.

bagai simbol yang diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih di pura. makna atau nilai yang dikandungnya diimitasi dan dibuat-buat atau sama sekali tanpa makna serta menengelamkan . absurd. namun pada penerapan tersebut berubah menjadi produk biasa. dan tidak terbentuk pertalian makna dengan tempat yang diberi hiasan tersebut. termotivasi oleh keinginan yang lebih mengutamakan segi artistik dibandingkan substansi atau bobot dari elemen estetis produk kriya masa lalu yang dipilihnya. sehingga berkesan berlebihan. seperti pada bangunan suci berupa padmasana (lihat pada Gambar 12) Gambar 39 Penerapan Patung Naga Pada Gerbang Utama Pada Lantai I Di Bawah Selasar Kantor Sebuah Bank di Denpasar Penerapan tersebut. glamor. Nilai simbolis terkait dengan ajaran kosmologi Hinduistis di Bali dan dianggap sebagai benda sakral.

karena produk tersebut merupakan penyusunan elemenelemen yang dipinjam dari unsur produk kriya masa lalu dan dalam penerapannya menimbulkan konotasi negatif. Penerapan produk tersebut dapat dimasukan sebagai fenomena-fenomena. kitsch maupun camp. kebesaran. Usaha penciptaan penerapan naga tersebut juga disertai dalih untuk menciptakan . disebabkan penenpatannya tidak sesuai dengan ketentuanketentuan yang telah terkonvensi. menciptakan suasana tradisional dan sebagainya. Bangun tanda baru yang dianggap sah dengan petanda yang tidak jelas. Usaha tersebut tanpa disadari membawa dampak terjadinya pergeseran dan pelunturan nilai yang dikandungnya serta bersifat ironis kalau ditinjau dari peletakan naga tersebut. Karya tersebut juga dapat digolongkan sebagai camp. dekorasi atau segi artistik semata.objek yang dijadikan sasaran eklektis. misalnya untuk kemegahan. seperti: pastiche. karena dalam penerapan tersebut hanya menitikberatkan pada penggayaan. Secara semiotik kondisi tersebut tidak mencerminkan hubungan antara penanda dengan petanda dan dengan narasi yang tidak jelas. karena bentuk tersebut merupakan peniruan dari elemen “seni tinggi” atau high art yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dengan dibarengi tujuan palsu. Sebagai fenomena kitsch. Digolongkan sebagai fenomena pastiche. seperti merendahkan penghargaan nilai simbolis yang dikandung pada patung naga tersebut.

bagi para pembaca yang tertarik silakan diabadikan lalu kita bahas dari berbagai perspektif ilmu di lain kesempatan. sebab dalam proses penciptaannya hanya bersifat “mendaurulang”. Entahlah ?. Untuk itu. karena tanpa disadari dapat membawa dampak negatif —nilai simbolis yang dikandungnya menjadi sepele dan bahkan tanpa makna— terhadap konvensi yang diyakini oleh umat Hindu di Bali. Selama ini tindakan-tindakan tersebut dianggap sebagai sikap atau model pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang berkesinambungan. Mereka dalam proses pengerjaannya hanya mengandalkan keahlian tangan atau virtuosity semata untuk menjadikan “mass product” dan didorong oleh keinginan pemenuhan kebutuhan para pengembang untuk menciptakan suasana dengan citra tradisional Bali. meramu dan berorientasi pada elemen-elemen yang sudah ada. Untuk contoh kasus yang sejenis masih banyak terjadi di masyarakat. Terimakasih . sebenarnya kurang relevan kalau dikaitkan dengan makna yang dikandungnya. Usaha-usaha seperti tersebut secara tidak langsung juga dapat berdampak menghambat kreativitas para kriyawan untuk berkreasi dan berinovasi.suasana tradisional Bali. “menduplikasi” atau meniru.

1991. Jilid: 2. 1972. Apakah Upacara Baten Masih Perlu?. Oxford University Press / PT. Yogyakarta. Budaya Bali Dalam Pertemuan dengan Budaya Dunia.1993. Upakara Upacara. Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi. 1944. Buchori. 1990. I M. ____. Kuala Lumpur-SingapuraDjakarta Cudamani. Z. Pengantar Agama Hindu. Couteau. Denpasar: Upada Sastra. Jakarta: Hanuman Sakti . M. Island of Bali. Bija. Cassirer. 1995. 1994. Yogyakarta: ISI. Baudrillard. Bagus. Yale University Press. Data Bali Membangun. USA: Telos Press. Transformasi Struktural Masyarakat Bali Dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). 1995. M. (makalah seminar). Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Aspek Desain dalam Produk Kriya. Ariawati. Denpasar: Bappeda Tingkat I Bali. I B. Indra. J. J. 1992. An Essay On Man. 1981. I. IGN. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). For Critique of The Political of Economy of The Sign. Singaraja: Percetakan Guna Agung.DAFTAR BACAAN Ardana. S. 1990. N. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. E. Aji Maya Sandi. Covarrubias.

I M.Dinas Pengajaran Propinsi Bali. Geriya. Lodon: McGraw-Hill. dkk.L. tt. 1979. Frutiger. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah. Inc. Encyclopedia of World Art. Ed. Margaret.Singapore: Periplus Editions.). Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Kecil. Woodcarving of Bali. Yogyakarta: Karya Yogyakarta.1989. 1978. W. Eco. Blomington. Toronto. . U. 1953. Buku Paider-ideran dengan Gambar Dewata Nawa Sanga dan Jimat-Jimatnya. Indiana University Press. Encyclopaedia Britannica. 1995. Berkeley . A. 1993. “Pariwisata dan Segi Sosial Budaya Masyarakat Bali” dalam Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa (Tjok Sudharta. Gambar. Gie. Studio Edition. A Theory Of Semiotika. Singaraja: Kementerian Penerangan. Garis-Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). Kamus BaliIndonesia. Signs and Symbols (Their Design and Meaning). N. 1981/1982. 1988. West Germany: Weiss Verlag Gmbh. Gelebet. New York. CD-ROM 2. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali.0Freed dan Eiseman. 1976. T. Denpasar: Upada Sastra. Book Company. Republik Indonesia (Sunda Ketjil). Arsitektur Tradisional Bali.1963.

Yogyakarta: Kanisius. Jakarta: Pemeritah Republik Indonesia. A. Hornby. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Krakah Modré Aji Griguh. K. New York: The Asia Society Galleries. Jakarta: PT. Court Art of Indonesia. Dkk. Hutcheon. Joedawinata. H I. Denpasar: Kartodirdjo. 1951. Gottschalk. Atlas Kebudayaan Bali. 1997. Oxford: University Press. I. R. Frick. fourth edition. 1973.(Makalah Seminar Kriya). P. S. L. Hartoko. AS. Kean. 1989. London: Methuen. I. Manusia dan Seni. Sejarah dan Pendidikan Kriya di Indonesia. dkk. Cultural Involution: Tourist Balinese and the Processs of Modernization in . Denpasar: CV. tt. Yogyakarta. Sarasamušcaya. Jakarta: Hanuman Sakti. C. Kadjeng. Yogyakarta: ISI. A Theory of Parody. 1985. 1984. Goris. 1987.Ginarsa. Gambar Lambang. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (terjemahan). N.1969. Grafitas. Jessup. MC. Sejarah Nasional Indonesia. 1976. London. 1990. Jencks. D. Kaler. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia 1975. L. N.1990. The New Classicism in Art and Architecture. 1993. Kayumas.

1988. Jakarta: Angkasa Baru Kridalaksana. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Koentjaraningrat.Antropological Perspective (Disertation Ph.D. I MK. 1986. Denpasar: (makalah pada Simlok Penelitian Menyongsong Tinggal landas.b. Kamus Bahasa Indonesia. Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Daerah Bali dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas. Jakarta: (red) Jambatan. 1993. H. I B. 1971. Bali dan Ekspor Hasil Kerajinan. Kropak IV. 1994. No. 1960: Bali Purbakala (disalin oleh: R. J. ____. Jakarta:PT. Denpasar: PT. Denpasar: Universal Press. Bernet. Penerbitan dan Balai Buku “Ichtiar” Kerepun. ____.1979. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). . Pengantar Antropologi. Darsana Bali. Bali: Masalah Sosial Baudaya dan Modernisasi.) USA: Anthropology. Edisi ke dua. 1-2 Nopember 1988.J. Mantra. Brown University Kempers. Desire in Laguage: A Semiotic Approarch to Literature and Art. Jakarta: Balai Pustaka Kristeva. Oxford: Basil Blackawell Lontar Bhomantaka. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. A. 1976. ____. 1995. Mahabhakti Offset. Jilid: 2. Soekmono).

(dalam Puspanjali. Jakarta: Balai Pustaka Monier. Oka. . I Bali. Pemda. Sejarah Bali. H. Doa Sehari-Hari Menurut Hindu. 1994. Ngurah. Edisi ke dua. Kamus Bahasa Besar Indonesia. R. Nyoka. Denpasar: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan. Usada Bali. S M. 1991. Jogyakarta: Gajah Mada University Press. Denpasar: Toko Buku Ria. 1988. 1982/1983. Denpasar: PT. Museum Negeri Propensi Bali. 1993/1994. Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Propinsi bali. I G M. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Upada Sastra. Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia. 1982/1983. sebuah Bunga Rampai). 1990. Metode Penelitian Bidang Sosial. Bali Dalam Perspektif Sosial Budaya (laporan Seminar. Parisada Hindu Dharma. Oxford : The Clarendom Press. et al. Kayumas. I. Pameran Topeng Tradisional Bali & Jawa Barat (Katalog Pameran). Moeliono. IGN. A Šanskrit English Dictionary. Denpasar: Parisada Hindu Dharma. Denpasar: CV. 1990.Mirsa. Tk. Nala. Jakarta: Hanuman Sakti. Namawi. B. 1995. 1963. Himpunan Keputusan (SeminarKesatuan Tafsir Terhadap Aspekaspek Agama Hindu. William. Peristiwa Sejarah dan Peristiwa Nostalgia. Bandung. 8 Pebruari 1991) Bandung: Panitia Seminar. 1991.

Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Derektorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional. Denpasar: Listibya Daerah Bali. Sejarah Pendidikan Daerah Bali. Sejarah Wayang Parwa. Bandung: Penerbit Angkasa. . G. 1975. Seputar Weda dan Kebijakan: Jakarta : Manikgeni. Denpasar: Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali.A. ____. Sara. 1977/1978. Putra. 1988. 1994. Raka. (Againts Interpretation). New York: Anchor Books. Denpasar: Upada Sastra. Konsepsi Monotheisme dalam Agama Hindu. N. 1973. W. Pola dasar Kebijaksanaan Pembinaan Kebudayaan Daerah Bali. 1994. 1990. Santosa. S. 1991/1992. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pindha.A. Jakarta: Hanuman Sakti.Pendit. Simpen.1993. Bhagavad-Gîtã. S. Kamus Besar Bahasa Indonesia. A. P. Serba Neka Wayang Kulit. I B. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Diretorat Jenderal Kebudayaan. Wisma “Praja Mukti” Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Notes on “Camp”. 1992. Balai Pustaka. G. Jajahitan Bali serta Fungsinya Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali. Santog. Bagian Inventarisasi dan Pembinaan Nilainilai Budaya. I G. Aspek-aspek Agama Hindu.

M. at al. P. Jakarta: Balai Pustaka. dimuat dalam Majalah Kebudayaan Indonesia. I N.1992. D. Kayumas. Ngodalin pada Sanggah Pemrajan. 1990/1991. (Upacara-upakara. I G B. Sp. S. . W.Singging. Suku Dayar San. G. Sudjiman. I. Committee of Festival of Indonesia. 1990. Suasthawa. Seni Rupa Indonesia Dalam Masa Prasejarah. 1993. T. Seni Budaya Hindu-Bali. Soekanto. Jakarta: Gramedia. Gita Karya. Rajawali. M. Jaman Prasejarah Indonesia. Yogyakarta Soejono. 1988. Hakekat dan Makna serta Arti Simbol-simbol) Soedarso. Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuna.P. Bandung: Panitia Pameran KIAS 1990/1991. Soeroso. Serba-serbi Semiotika.Trimurti Tattwa. Arti dan Fungsi Sarana Upakara. 1991. R. 1985.P. 1986. Denpasar: CV. Kamus sosiologi. Jakarta: Yayasan Penerbitan Kebudayaan. ____. Sudartha. tt. 1975. Hubungan Adat Dengan Agama dan Kebudayaan. Sugriwa. R. Denpasar: CV. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Jakarta: CV. 1988. Soeka. (Sejarah Nasional Indonesia I). Jakarta: PT. Kayumas.

1980. 1995. Sutaba. No. 1993. 1991. Lintas Asta Kosali. Architrave Tonjaya. Agama Hindu (Sebuah Pengantar). Denpasar: Yayasan Panti Asuhan Hindu “Dharma Jati” Tjahjono.1977/1978. Pengertian Pura dan Bangunan Suci di Bali. Dewa Yadnya.1982. I M. Denpasar:Toko Buku Ria. Koleksi Gedong Kertya. Kamis. I A P. I M. 1980. Denpasar: CV. Denpasar: Penerbit dan Toko Buku Ria. ____. Denpasar: Upada Sastra. Eksistensi Desa Adat di Bali. Prasejarah Bali. Burung Merah Putih (dimuat dalam surat kabar Nusa Tenggara. Transkrips Lontar Bhomantaka. G. Denpasar: B. B.b. I W. Denpasar: Upada Sastra Surpha. Kropak IV. Desain dan Merancang: Penjelajahan Suatu Gagasan. Transkrip Lontar Šiwa Tattwa. 31 Agustus 1995) ____. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.1989. Yayasan Purbakala Bali. Suwondo. K. I N. G. I G. 1991. 1987. . Titib. Kanda Pat Dewa. Surayin. B. Kayumas. Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali.U. Singaraja. Garuda.Sura.

Wardana. 1994. I K. Webster. 1994. . Yasraf. Yogyakarta: Penerbit dan Toko Buku “Spring”. Wojowasito. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Jakarta: CV. Buku Pelajaran Agama Hindu. S. S. (terjemahan). Webster.org/wiki/Kerajinan Wiryatmadja. 1995. A. 1958.keping Masa Lalu. M. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai) Jilid: 1. USA Wiana. (dimuat dalam Jurnal Kebudayaan Kalam edisi: 2-1994).wikipedia. Memahami Cerita Rekaan Secara Semiotika. 1977. (Tentang Tanda. Semiotika. A. P. IB. Adiparwa. Kamus Bahasa Kawi-Indonesia.s Collegiate Dictionary. Pengarang. 1983. Jakarta: Yayasan Sumber Agung. Cara Kerja dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya). 1993.2010 Kamus Bahasa Indonesia online [cited 2010 Maret 18] Available at: URL: http: //id. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Widyatmanta. S. 1981. Tamasya di Antara Keping.Van Zoest. Penataan dan Perlembagaan Agama Hindu di Bali. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Decoding Postmodern Style (Submitted for a Mater Degree in Industrial Design) London: The London Institute Central Sain Martns College of Art and Design ____. Jakarta: Hanuman Sakti. R. Wikipedia . 1994.

Pergeseran dalam Pelaksanaan Agama Menuju Tattwa. Denpasar. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. W. Myth and Symbols in Indian Art and Civilization. 1983: Seni Kerajinan Indonesia. . Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan. 1946.Yudha Triguna. 1994. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. IB. Dalam “Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali (Sebuah Ontologi). Zimmer. Yudoseputro. H. Derektorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Denpasar: Penerbit-BP. New York: Haeper Torchbooks The Bolingen Library.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful