DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI SECARA EKLEKTIK PADA DESAIN MASA KINI
berdasarkan perspektif historis dan semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

Dampak Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini Berdasarkan Perspektif Historis dan Semiotis

Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn E-mail: arimbawa @yahoo.com Hak Cipta © 2010 Pada penulis Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara digital maupun mekanis, termasuk memfotocofy, merekam atau dengan system penyimpanan lainnnya, tanpa seizin tertulis dari penulis Desain cover & setiting : Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn 21 x 15 cm Penerbit : Udayana University Press Jimbaran Denpasar Bali Bekerja sama dengan: Intitut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar

ISBN: 978-602-8566-65-0

.. 128 . 97 A. 119 D..……………………………… v PENGANTAR PENULIS…………………………….. 52 BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA…………………………………………….. Pendekatan Semiotis…………………………… 100 C........ Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Ele-men Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini……. 1 BAB II EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI……………………………………….. viii BAB I PENDAHULUAN……………………………….. Pengertian Eklektik……………………………... Sejarah Penerapan Produk Kriya……………. 28 B. Pendekatan Historis……………………………....DAFTAR ISI JUDUL………………………………………………… i DAFTAR ISI…………………………………………. 122 BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI ……………………………… 128 A........ Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya…. 28 A. Kajian Historis………………………………….. Konsep Sekular………………………………... 19 A. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu ……………. Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali 21 BAB III PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI………………………………….. 19 B..... 115 1.. 97 B.. 116 2. iii SAMBUTAN ....... Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali…. 128 1... Konsep Spiritual Religius……………………......

.2...... 159 2. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini……. 161 DAFTAR BACAAN 168 ... Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu………………………….... Kajian Semiotis………………………………... 148 B... Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini…………………………………... 157 1......

BAB I

PENDAHULUAN

etelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950, perkembangan pariwisata di Bali kembali mengalami kebangkitan dan hingga sekarang menjadi pusat pengembangan industri pariwisata di kawasan tengah Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut, pengaruh pariwisata sangat dirasakan oleh masyarakat di Bali. Di satu sisi banyak prestasi gemilang yang telah diraih dan secara tidak langsung dapat membawa kehidupan masyarakat di Bali menjadi lebih baik, namun di sisi lain pengaruh tersebut tidak dapat dielakkan lagi menimbulkan dampak negatif dan menjadi masalah terhadap kelestarian kebudayaan Bali. Nilai-nilai tradisional banyak menjadi tidak eksis dan bahkan menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antar manusia sebagai konsekuensi logis adanya aktivitas pariwisata. Hubungan sosial antar manusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi dan kepentingan. Budaya kolektif berubah menjadi individual. Menurut Geriya (1993), bahwa dampak pariwisata khususnya dalam konteks sosial budaya ditandai dengan adanya beberapa indicator sebagai berikut.

S

1. Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan terkonsentrasi di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut. 2. Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. 3. Meningkatnya mobilitas penduduk dalam bekerja. 4. Mundurnya aktivitas gotong royong. 5. Berkembangnya konflik antargenerasi, khususnya generasi tua dan generasi muda. 6. Terjadinya gejala social defiance yang meliputi kejahatan, narkotika, maupun penyakit kelamin. 7. Terjadi komersialisasi kebudayaan dan hasilnya. Mengenai indikator pada poin ketujuh merupakan salah satunya masalah terkait dengan eksistensi kehidupan kebudayaan tradisional Bali. Hasil kebudayaan unggul (height culture) hendaknya diposisikan sebagai basis kreativitas yang kaya inspirasi, kokoh identitas, kuat modal budaya yang mengkonstruksi, mengintegrasi dan menyeimbangkan, sehingga tidak tergerus oleh mekanisme komersialisasi dan komoditisasi. Antara kebudayaan tradisional Bali dan penciptaan desain produk masa kini agar terjaga pola hubungan sinergis, komplementer yang simetris dan saling meningkatkan. Hal tersebut menjadi penting, mengingat hasil kebudayaan unggul memiliki karakteristik sebagai ber-

ikut: (1) mengedepankan kualitas, sehingga diagungkan dan dimuliakan (adhiluhung); (2) menjadi sumber inspirasi atau spirit dan kreasi oleh mayoritas populasi dan perajin; (4) memiliki sifat khas, lentur dan adaptif dengan roh budaya; (5) mengandung sari-sari budaya dan peradaban, seperti etika, estetika, logika, solidaritas, spiritualitas dan aneka kearifan lokal. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Mantra (1988) bahwa kebudayaan Bali dalam perkembangannya berfungsi secara “normatif” dan “operasional”. Berfungsi normatif, karena terkait dengan adat-agama Hindu di Bali, maka peranan kebudayaan Bali diharapkan mampu dan berpotensi memberikan pegangan dasar dan pola pengendalian, sehingga ketahanan dan kelestarian budaya dapat diwujudkan. Berfungsi operasional, karena kebudayaan Bali diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi peningkatan kualitas kepariwisataan di Bali. Upaya mewujudkan ketahanan dan kelestarian kekayaan budaya serta alam Bali, maka pada beberapa dasawarsa silam, pemerintah daerah Tingkat I Bali dalam melaksanakan pembangunan yang mencakup berbagai sektor dirumuskan peraturan-peraturan daerah yang diarahkan pada pembangunan dengan pola budaya Bali, berwawasan lingkungan dan dilandasi dengan konsep adati-Hinduisme, seperti: 1. Rwa Bhineda, yaitu dua hal yang berbeda terdapat di dunia ini. Bagi orang Bali perbedaan tersebut tidak harus dipertentangkan, melainkan

siang atau malam. prãptavyamavašaih sarva parihãro na vidyate. menghidarkan tindakan yang arogan dan harus berdasarkan nalar atau wiweka.diharmoniskan (serasi. nyata atau tidak nyata (sekala atau niskala). sesuai dengan yang termaktub dalam Kitab Sarasamušcaya.) Sebagai manusia dengan berbagai keterbatasan. yaitu sebagai berikut: sukha vã yadi vã duhkham bhûtãnãm paryupasthitam. dan sakral atau profan. seperti: baik atau buruk. . yaitu kemampuan untuk menimbang konsekuensi baik atau buruk yang akan berpengaruh pada manusia dan lingkungan. Oleh sebab itu. 1993. kebolehan dan kemampuan sebenarnya sangat sulit untuk menentukan batas absolut dua hal tersebut. seloka: 498. maka dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. Hal tersebut. dituntut bijak. seperti suka dan duka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Artinya: dua hal yang berbeda. pria atau wanita. merupakan kekuasaan Sang Hyang Widhi Waša atau Tuhan. sehingga segala makhluk tidak luput dari ikatan suka maupun duka (Kadjeng. selaras dan seimbang). Konsep tersebut memberi kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan tidak luput dari belenggu dikotomi yang bersifat kodrati.

moksartham jagadithya ca iti dharma. Dari keempat tujuan hidup tersebut. artha. Artha. sebab dengan perbuatan yang dilandasi dengan dharma. ‘dhir. Keempat bagian tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh.2. kãma dan moksa. berasal dari bahasa Šanskerta. Sedangkan perkataan Moksa. memelihara dan melestarikan. Hal tersebut. berarti naluri. artinya empat tujuan hidup sebagai dasar kehidupan sosial. rasa bersahabat. ‘Muc’ yang berarti membebaskan atau melepaskan ikatan duniawi. Perkataan dharma.’ yang berarti: menjunjung. maka tuntutan akan artha dan kãma dapat dikendalikan. Catur Purusha Artha. berasal dari Bahasa Šanskerta. karena merupakan kebahagian sejati. artinya benda atau sarana yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. artinya tujuan dharma adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani yang selaras dan seimbang. memangku. yaitu terdiri dari: dharma. dorongan nafsu atau keinginan yang bersifat duniawi. sesuai dengan pen- . Kãma. moksa adalah merupakan tujuan hidup yang tertinggi. menuntun. mengatur. Sedangkan dharma adalah tujuan terpenting. adil.

hendaknya manusia mengendalikan diri dan lebih mengutamakan perbuatan dharma.) Konsep tersebut merupakan panduan absolut bagi manusia untuk membina keseimbangan dan keselarasan antara alam sekala dan niskala. hendaknya mengutamakan dharma. adalah bagian dari Tri Pramana dalam lingkup perilaku manusia. yaitu sebagai berikut: Kamãrthau lipsamnastu dharmmamevãditašsaret. bila artha dan kãma tesebut diperoleh dengan perbutan yang menyimpang dari dharma (Kadjeng. nantinya tak disangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kãma. merupakan tiga ukuran yang dapat dipakai seba- . Tidak ada artinya. Dalam usaha memenuhi tuntutan artha dan kãma. Hal tersebut merupakan suatu penafsiran atau fatwa agar manusia senantiasa memelihara dan melestarikan alam semesta yang mencakup bhuana agung (makrokosmos) serta bhuana alit (mikrokosmos). untuk mencapai jagaddhita atau kebahagian dan kesejahteraan hidup. nahi dharmmãdapetyãrthah kãmo vapi kadãcana.jelasan dalam Kitab Sarasamušcaya.1993. seloka: 12. 3. Desa Kala Patra. Artinya: jika menuntut artha dan kãma dalam hidup ini.

sehingga tercipta kesatuan pandang dan keadaan yang mengarah pada kedamaian. Kala merupakan pedoman berdasarkan waktu perbuatan atau aktivitas tersebut dilakukan.gai pedoman untuk menilai kenyataan Rwa Bhineda. 4. yaitu terdiri dari kata Karma yang artinya perbuatan dan Phala artinya buah atau hasil. bahwa semua perbuatan manusia pasti akan memperoleh hasil yang setimpal (inter- . Dua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik dan marupakan “hukum” dan telah dipercayai umat Hindu di Bali. Jadi Karma Phala mengandung arti: hasil dari perbuatan. khususnya dalam mengambil sikap. kesejahteraan umat manusia dan kelestarian lingkungan. Manusia hendaknya mampu menyesuaikan dengan waktu. keputusan atau kebijakan yang akan diberlakukan dalam masyarakat. Konsep tersebut memberikan landasan ideal yang luwes atau fleksibel. kenyamanan. tempat atau lingkungan dan keadaan atau peraturan yang telah berlaku. Karma Phala. peraturan. Sedangkan Patra merupakan pedoman berdasarkan “keadaan” atau peraturan tertulis yang berlaku. Desa dalam konteks perilaku manusia merupakan pedoman berdasarkan tempat atau lingkungan di mana perbuatan tersebut dilakukan.

Dalam Kitab Reg Veda VII. Jadi. Hukum Karma dikenal pula sebagai hukum alam atau kausalitas dan tak seorang pun luput dari hukum tersebut. hukum tersebut dikenal dengan perkataan Rtã dan dijelaskan sebagai berikut: Tã vãm vivaya gopã Deva dikesu yajñiyã rtãvãnã yajase putadaksasã. perbuatan baik selalu akan mendatangkan hasil yang baik. Konsep yang dilandasi Karma Phala. 25. Artinya: Kami memuja engkau yang menjaga alam semesta. Menanamkan kepercayaan bahwa. baik di dunia nyata (sekala) maupun di akhirat (nis-kala). Hukum tersebut mengatur keterpaduan. sebaliknya perbuatan buruk akan memperoleh hasil yang buruk. juga sebagai hukum jagat raya. Dewa yang tersuci penegak hukum keabadian yang memiliki kekuatan suci. konsep tersebut melandasi sikap antisipatif. 1.aksi yang seimbang). memberi pendirian terhadap hukum kausalitas yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini. Jadi. hukum Rtã selain sebagai hukum perbuatan serta hukum moral. pengendalian atau restraint dan pembinaan moral dalam segala perilaku manusia sehari-hari. baik antar sesama sebagai sum- . keseimbangan dan menghindari kekacauan alam semesta.

artinya manusia hendaknya selalu sujud kehadapan-Nya atas segala rahmat dan karunia-Nya. Terdiri dari: Parhyangan. Palemahan dan Pawongan. maupun dalam memperdayakan sumber daya alam. Secara keseluruhan Tri Hita Karana mengandung pengertian: tiga penyebab terciptanya keselamatan. artinya manusia dalam kehidupanya hendaknya selalu dapat menjalin rasa persahabatan . Esensi dari konsep tersebut merupakan sinergisme yang meliputi pembinaan hubungan yang harmonis. 5. sehingga tercipta kehidupan yang sehimbang. yaitu: (1) Pola hubungan manusia dengan Tuhan disebut Parhyangan. ‘Hita’ berarti sejahtera. Membatasi eksplorasi dan ekploitasi alam. selamat dan sejahtera.ber daya manusia. (2) Pola hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya disebut Palemahan. (3) Pola hubungan manusia dengan manusia disebut dengan Pawongan. Perkataan tersebut terdiri dari kata ‘Tri’ berarti tiga. Tri Hita Karana. memelihara kelestarian alam disekitarnya. selamat atau kemakmuran dan ‘Karana’ berarti penyebab. artinya manusia hendaknya selalu merawat dirinya sendiri dan menjaga. kesejahteraan atau kemakmuran. baik secara vertikal maupun horizontal.

Jadi secara keseluruhan berarti “itu adalah kamu”. kata jengah berkonotasi sebagai . bahwa perkataan etos yang terkait dengan kebudayaan berarti: sifat. (2) karakter umum suatu pekerjaan (Soekanto. Kalau ditambah dengan kerja. berarti semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Jika menyakiti orang lain secara implisit berarti menyakiti diri sendiri. nilai dan adat-istiadat yang khas serta memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial di masyarakat. Twãm artinya “kamu” dan Ãsi artinya “adalah”. Secara harfiah terdiri dari kata: Tãt artinya “itu”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. 6. 1994) Demikian juga secara Sosiologi. Pengertian “itu” termasuk “aku” dimaksudkan diri sendiri dan alam semesta beserta isinya.yang didasari dengan saling pengertian dan Tãt Twãm Ãsi. Dalam konteks seni Budaya Bali. 1985) Sedangkan jengah dalam Bahasa Bali berarti: semangat juang. Etos Kerja dan Jengah atau semangat kerja. berarti: (1) nilai-nilai dan ide-ide suatu kebudayaan. terutama dalam menciptakan produk-produk seni bermutu tinggi.

Konsep tersebut merupakan landasan dari kerja keras.“semangat bersaing” atau competitive pride (Mantra. 7. maka sifat khas atau semangat kerja yang dimiliki masyarakat dalam lingkungan adat Bali. baik keindahan alam maupun keindahan hasil olah cita. rasa dan karsa manusia yang muncul akibat perpaduan antara keserasian keselarasan dan keseimbangan dalam suatu pro- . diakomodasikan dan dikendalikan dengan konsep tersebut sebelumnya. dinamis dan kebersamaan dalam pembangunan disegala sektor. 1993) Dari pengertian etos kerja tersebut. Estetika. yaitu dalam bentuk pengorbanan suci atau Yajña. sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian serta dalam mengeksploitasi sumber daya alam akan dapat diharapkan terwujudnya kelestarian. Tetapi kedua hal tersebut perlu diarahkan. adalah semangat kerja yang dilandasi dengan gotong royong serta berbakti dengan cara yang tulus iklas atau ngayah kepada Tuhan berserta ciptaannya. Bagi orang Bali keindahan. Sedangkan dalam perkata jengah secara implisit tersirat sifat dinamis dan merupakan pangkal dari segala dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat di Bali.

karena bagi umat Hindu di Bali dipercayai bahwa dalam keindahan tersirat nilai-nilai kebaikan. Konsep tersebut juga merupakan pedoman bagi generasi penerus dalam menghayati menikmati.duk seni atau desain adalah merupaka karunia Tuhan. kejujuran dan kebenaran. keindahan merupakan hal pokok yang harus diperhitungkan. maka pengertian indah akan menyiratkan nilai kejujuran dan kebaikan. sebagai rasa terimakasih. maka dalam setiap kegiatan adat-agama Hindu di Bali. seni dengan keindahan hendaknya dipersembahkan kembali kepada-Nya dalam produk seni ataui desain berbentuk simbol-simbol atau nyasa. Dengan pandangan tersebut. Sehingga dengan melakukan persembahan keindahan berarti berbuat yajña. seperti Plato menyebut ‘watak indah’ atau ‘hukum indah’ dalam konteks tersebut. baik terlihat di alam sebagai ciptaan-Nya yang agung. Oleh sebab itu. Pandangan tersebut sesuai dengan yang dijelaskan Gie (1976) bahwa keindahan dalam arti luas mencakup pula ide kebaikan (mengacu pada pengertian bangsa Yunani kuno. karena . maupun pada produk seni atau produk kriya tradisional yang adiluhung. dan menghargai keindahan.

Seorang perupa dikatakan produknya ber-taksu. sehingga tetap tercipta “keindahan”. dan keseimbangan. yang memberi kekuatan spiritual kepada seorang seniman untuk mengungkap dirinya menjadi “lebih besar” dari kehidupan sebelumnya (Mantra. apabila ia mampu mentransformasikan dirinya secara utuh sesuai dengan peran yang ditampilkan. keserasian. Taksu. 8.di dalamnya tersirat nilai-nilai luhur. merupakan personal asset atau inner power yaitu kekuatan dari dalam diri seseorang sebagai fitrah yang memberikan kecerdasan. taksu juga mempunyai arti sebagai kreativitas murni. 1993) Konsep tersebut menuntun kesadaran manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. keindahan dan mujizat. Seorang seniman tari dapat dikatakan memiliki taksu. Mengajarkan manusia agar berbuat dengan mengarah pada keselarasan. baik dengan Tuhan. sebab setiap insan memiliki taksu sebagai anugrah Tuhan yang perlu dilatih dan dikembangkan. sehingga dapat tampil sebagai jati diri yang mandiri. sesama mahkluk maupun dengan alam di sekelilingnya. Dalam kaitannya dengan pelbagai aktivitas budaya Bali. apabila mampu merefleksikan inner power pada produk visualnya. sehingga berkesan “hidup” . genuine creativity.

sehingga tidak terjadi penampilan yang terlalu berlebihan. Dalam konsep tersebut secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. “over acting”.dan sebagainya. secara yuridis berdasarkan Perda Nomor 3 tahun 1974 juncto Perda Nomor 3 tahun 1991 yang menetapkan bahwa konsep pengembangan pariwisata di Bali adalah berbasis budaya Bali. Demikian juga pengembangan pariwisata di daerah Bali. Karena sikap tersebut. Namun dalam mensosialisasikan kesadaran tersebut. Taksu yang dimiliki akan berubah menjadi “kelemahan”. perlu juga ditopang atau dikendalikan oleh konsep-konsep lainnya yang telah dipaparkan. sela- . yaitu jenis kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu sebagai potensi daerah yang paling dominan. Konsep pariwisata budaya diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan kebudayaan masyarakat Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. kadang dapat menjadi bumerang. atau jangan sampai melewati batas norma-norma yang berlaku.

perkantoran. Walaupun sedemikian luhurnya maksud dan tujuan konsep yang melandasi strategi pembangunan di Bali. Misalnya. maka fenomena tersebut merupakan suatu pergeseran makna dan dapat berakibat terjadinya “desakralisasi”. pengkaburan makna dan berkonotasi negatif. karena dalam pengerjaannya tidak mengacu pada referensi kesepakatan yang dibuat . isi (content) atau bobot. dan nilai-nilai estetika yang khusus untuk diterapkan pada sarana pemujaan dan dianggap mengandung nilai simbolis dan sakral. narasi. dan seimbang. rumah tinggal dan bahkan sebagai hiasan pada bagian tubuh dengan di-tatto. Karang Bhoma yang sebenarnya merupakan ragam hias pada bangunan-bangunan suci. Sebagai salah satu contoh yang dapat dijumpai dalam dasawarsa belakangan ini. seperti fenomena eklektik atau “pemilihan” bentuk-bentuk atau ragam hias tradisional Bali yang sebenarnya dirancang dengan bentuk. Namun pada kenyataannya tak jarang ditemukan juga “ketidaktaatan” dalam operasionalnya. Diupaya agar meminimalkan timbulnya dampak negatif terhadap kelestarian seni budaya Bali. Kalau dikaji dari sudut kesejarahan dan semiotika. namun kini banyak tampak diterapkan pada desain produkproduk profan atau tempat-tempat yang tidak sesuai.ras. sekarang banyak terlihat diterapkan sebagai elemen estetis pada hotel. Produk yang dibuat tersebut kadang-kadang menampakan “kejanggalan”.

Namun jika ditinjau dari sudut visualnya sebenarnya implementasi tersebut tidak sesuai dan dapat berdampak buruk. Produk yang tergolong high art sebagai hasil kebu- . Mereka memilih dan menerapkannya pada produk atau tempat yang bersifat profan dengan tendensi lebih mengutamakan segi pemampilan “artistik” semata. di lain pihak ada yang memandang sebagai sesuatu yang baku dan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang keliru. terutama yang terkait dengan nilai-nilai simbolis religius yang dikandungnya.oleh leluhurnya di masa lalu dan nilai-nilainya masih eksis pada masyarakat Hindu di Bali. tanpa peduli akan terjadi pelunturan nilai-nilai filosofi. Jelas tidakan tersebut tidak relevan dan merupakan suatu sikap “ketidaktaatan. Penerapannya sematamata berorientasi pada faktor estetis dan komersial. sementara ada yang berpendapat bahwa hal tersebut “sah-sah” saja tergantung pada proses pengerjaannya. mereka kadang-kadang tidak mempersoalkan masalah eksistensi makna dan nilainilai filosofi yang dikandungnya. baik terhadap produk yang dipilih dan demikian juga terhadap desain yang diberi elemen estetis produk kriya tradisional yang sarat makna religius. Jika ditinjau kembali dengan merujuk konsep estetika yang mendasari strategi pembangunan di daerah Bali. Dalam penerapan elemen estetis tradisional pada desain masa kini. Menyikapi kondisi tersebut dalam masyarakat Bali terjadi polarisasi pandangan.

dayaan tinggi atau high culture yang adiluhung. menjadi kehilangan ‘jiwa’ kesuciannya atau menjadi suatu produk yang lumrah. Sikap seperti tersebut tanpa disadari dapat mengancam spirit dan kelestarian budaya Bali yang dibanggakan dan dijadikan sebagai daya tarik utama dalam pengembangan kepariwisataan di Bali Dari uraian tersebut dapat diketahui. bahwa “masyarakat Bali” dalam mengaplikasikan konsep-konsep adati Hinduisme yang kini dijadikan sebagai landasan strategi pembangunan di daerah Bali. secara umum dapat digambarkan dalam suatu sekematik hubungan hirarki atau taksonomi pandangan tentang dunia (weltanschaúung) manusia Bali seperti Gambar 1 berikut: . khususnya dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan elemen estetis produk kriya tradisional.

CITRA TRADISIONAL PENUNJANG KEPARIWISATAAN DI BALI Gambar 1: Taksonomi Pandangan Dunia Manusia Bali .NISKALA ASUMSI DASAR THEOLOGICAL CONCEPT KARMA PHALA RWA BHINEDA SIO NAL (HIDUP DI B U ER A MI) OP FORMITAS TOTAL KON CATUR PURUSHA ARTHA KEINDAHAN ("RASA") TAKSU TRI HITA KARANA DESA PATRA KALA JENGAH ETOS KERJA SKALA ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYATRADISIONAL MASA LALU DI BALI EXTERNAL (SUB SISTEM) PENGARUH -PARIWISATA -MODERNISASI /TEKNOLOGI DESAIN MASA KINI BERSIFAT KOMERSIAL: .

2) mengkomposisikan beberapa elemen yang diambil dari berbagai sumber (Webster. 1989). perpaduan atau mengkombinasikan beberapa sistem— karena masih meninggalkan kontradiksi yang belum dihilangkan (Encyclopaedia Britannica .1995). baik berupa orang. Perancis. eklektik merupakan praktek memilih doktrin dari beberapa sistem yang berbeda tanpa memakai keseluruhan sistem yang lama untuk masing-masing doktrin. 1983. atau gaya. kepercayaan dan sebagainya (Hornby.EKLEKTIK DAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. perkataan eklektik mengandung pengertian. dan dalam Moeliono. et al. Pengertian Eklektik erkataan eklektik dalam bahasa Yunani disebut eklektikos.) Dalam filosofi dan teologi. metode. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary. eklegein berarti:1) memilih yang dipandang terbaik dari berbagai doktrin. diartikan bahwa eklektik sebagai usaha memilih atau menggunakan bermacam-macam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya. suatu usaha bersifat BAB II P . Berbeda dengan sinkretisme —merupakan suatu usaha untuk menyerasikan. sistem. (1994).

Dari uraian tersebut. Hal tersebut juga sesuai dengan konsep Charles Jencks yang menggunakan pengkodean ganda atau double coding dan eklektik digunakan untuk menerangkan hakekat produk post modernisme. namun gaya eklektik merupakan olah image dari perpaduan berbagai gaya. Dalam hal tersebut ia mendefinisikan postmodern sebagai” kombinasi teknik-teknik modern dengan sesuatu yang lain. namun bukan berarti eklektik tidak unik. gaya atau metode. Misalnya. istilah eklektik dikenal sebagai upaya untuk mencampur atau meramu beberapa gaya yang berasal dari berbagai sumber dalam satu produk. sebenarnya eklektik tidak memiliki prinsip khusus dalam kreativitasnya. Meski terkesan tidak memiliki prinsip.memilih yang terbaik dari berbagai sumber tentang: orang. Bahkan pada perkembangannya dalam seni dan desain. Dalam seni dan desain. bahwa eklektik tidaklah selalu menghasilkan sesuatu yang bersifat “merusak” norma-norma masa lampau akan tetapi dapat juga berarti sebagai bentuk “penghargaan” atau produk “nostalgia”. memadukan gaya modern dan tradisional. seperti elemen-elemen estetika tradisional) agar dapat berkomunikasi dengan publik dan . eklektik lebih merujuk pada perpaduan antara beberapa gaya yang saling bertolakbelakang. maka dapat dipahami. Justru dengan perpaduan berbagai macam gaya akan melahirkan satu nuansa baru yang jelas berbeda dengan gaya-gaya sebelumnya. Jadi.

bahwa per- . Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Kata kriya atau kria berasal dari bahasa Sansekerta “kr” yang berarti ‘mengerjakan’. kembalinya nilainilai tradisional dan juga reaksinya yang justru menekankan bentuk-bentuk baru yang radikal dan menentang seluruh ekspresi kesenian yang dianggap ideal dalam bingkai high art Berdasarkan pada pengertian tersebut. maka dalam pembahasan selanjutnya mengenai masalah penerapan elemen produk kriya tradisional secara eklektik pada desain masa kini. bahwa kriya berarti pekerjaan atau perbuatan (Wojowasito. dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya. B. Perkembangan yang menampilkan multivariousness. akan dicoba mengkaji mengenai dampak “negatif” yang ditimbulkan akibat eklektisme yang kurang terkendali.minoritas yang terkait” (Jencks. kriya dan kerja dalam bahasa Jawa disebut pekaryaan yang berarti pekerjaan dan pengertian tersebut mengacu kepada hasil suatu pekerjaan yang disebut ‘karya’. 1977) dan menurut Moeliono. Dalam Kamus Bahasa Kawi Indonesia dijelaskan.1987). mengingat unsur-unsur produk kriya masa lalu yang “dipilih” terkait dengan sarana penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu sesuai dengan adat di Bali dan nilainilainya masih diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. Hal tersebut. et al (1994) dijelaskan.

Istilah tersebut dipergunakan untuk menyebut suatu cabang seni yang mengutamakan keterampilan yang luar biasa (virtousity) menggunakan tangan. Menurut Soedarso (1988) kriya adalah cabang seni rupa yang mengutamakan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi. Sehingga kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan yang memungkinkan melahirkan nilai seni terapan atau dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini.kataan kriya berarti pekerjaan tangan. namun sepanjang proses pembuatannya si pembuat atau kriyawan sepenuhnya dapat menguasai seluruh tahap produksi. Dalam Encyclopedia of World Art (1963) didefinisikan sebagai berikut: The word “handicrafts” refers to useful or decorative objects made by hand or with tool by workman who has direct control over the product during all stages of production. Atas dasar hal tersebut. Pengertian kriya juga sering dipadankan dengan istilah craft yang mengandung pengertian suatu keahlian atau keterampilan yang menghasilkan benda. maka cakupan kriya memiliki fleksibilitas yang . bahkan untuk tujuantujuan tertentu dapat diciptakan peralatan khusus. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek yang bernilai seni dan miliki nilai estetis. Pengertian kriya sering diselaraskan pengertian handicrafts. Pengerjaannya bisa saja menggunakan bantuan peralatan kerja.

handicrafts atau craft adalah: 1. Sedangkan pada masyarakat umumnya kriya sering disebut sebagai “seni rakyat”. bisa memiliki ciri khas atau identitas. Jadi orientasi penciptaan produk mencerminkan kecenderungan-kecenderungan kepada salah satu dari kedua hal tersebut atau terkadang dapat merupakan perpaduan seni dan desain. Hal tersebut membawa cara penilaian atau assessment estetika produk kriya tergantung dari wawasan atau persepektif ilmu yang dipergunakan untuk mendekatinya. Kriya juga disebut “industri rumah-tangga” atau home industry yang memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan . Sesuatu yang dibuat dengan kecenderungan lebih banyak melibatkan kemampuan atau keahlian tangan kriyawan atau virtousity 2. Hal tersebut ada benarnya.tinggi. maka dapat disimpulkan. bahwa pengertian kriya. bisa berada pada domain seni murni atau seni pakai atau seni terapan atau desain. Berdasarkan beberapa definisi dan ulasan tersebut. Bersifat dekoratif atau secara visual dibuat sangat indah dan dalam perujudannya dapat berupa produk seni murni atau seni terapan atau desain yang memiliki fungsi guna atau utility. karena sumberdaya manusia pelaku kegiatan tersebut umumnya rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan atau konsisten berbasis pada estetika tradisional.

Berdasarkan pengertian tersebut. Namun antara seni kriya dan kerajinan secara prinsip terdapat perbedaan. 2010). juga berarti industri kecil small scale industry yang membuat barang-barang sederhana dan bisa menggunakan unsur seni. Menurut Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan bahwa kerajinan adalah proses produksi melalui keterampilan tangan. maka dapat dipahami bahwa antara kriya dengan kerajinan memiliki kesamaan ditinjau dari proses pengerjaannya dan pencapaian hasil. sehingga sebutan jenis kerajinan dikaitkan dengan medium yang digunakan. seperti: kerajinan logam. Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. batik dan sebagainya.peralatan sederhana. kulit. Selain hal tersebut. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata. didalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skil yang tinggi craftmenship. Produk yang dihasilkan dapat berupa hiasan atau benda seni maupun barang pakai (Wikipedia. Selain hal tersebut seni kriya juga sering didekatkan dengan istilah “kerajinan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan. yaitu samasama menggunakan keterampilan tangan dalam proses pengerjaannya dan benda yang dihasilkan dapat berupa produk seni atau produk pakai yang mengutamakan kegunaan atau utility. Karya kriya me- .

angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. kegiatan.karakteristik. yang kemudian disebut seni kerajinan . Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan. serta magis. kegetolan. para kriyawan menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. simbolis. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsur seni. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). religius. komologis. Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat. Dalam Konsep tersebut termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual. yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. Sebab pada masa lampau. barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas dan mencerminkan jiwa zaman lampau. Kerajinan suatu hal yang rajin.rupakan karya yang memiliki keunikan. di dalamnya terkandung muatan-muatan atau nilai estetik. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. pikiran. filosofis dan sekaligus fungsional. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam.

terjadi gejala mempertontonkan identitas invidual. Menurut Julian Stallabrass dalam "Contemporary Art" mengatakan bahwa sekarang ini bermacam-macam bentuk. Namun. teknik. Dalam kreativitas penciptaan karya kriya. Kecenderungan saat ini mengusung pemahaman bahwa media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. di mana pembedaan kategori dianggap tidak berlaku lagi.Dewasa ini penciptaan produk kriya di satu sisi mengarah pada estetika plural. sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa kriya seni. sebutan kontemporer seolah mengacu pada paradigma seni masa kini yang dilandasi pandangan postmodernisme. seperti karya kriya kontemporer. Perkembangan karya menampilkan multivariousness. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang membuat seni kriya mengikuti nazab seni yang sedang berkembang. dan subject-matter dalam seni rupa sudah benar-benar campuraduk. Sebutan "kriya kontemporer" (yang merupakan padan kata dari contemporary craft) sendiri sebenarnya mengandung paradoks karena di satu sisi ia menempatkan dirinya pada suatu kategori "kriya" (craft) yang berseberangan atau setidaknya terpisah dari "seni" (art). di sisi lain. Sekarang jamannya permainan tanda-tanda budaya glo- . Selain hal tersebut juga terjadi reproduksi karya masa lalu yang diwarisinya dengan tujuan untuk menampilkan karya kriya etnis.

. dan sakral.bal yang melingkupi budaya tradisi. Estetika menjadi praktik normatif dalam menciptakan unique selling point. maka parameter pengukur nilai estetika produk kriya adalah uang. Bertolak dari uraian tersebut. adiluhung dan terkait erat dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. merupakan hasil pekerjaan tangan para kriyawan secara konvensional. simbolik. maka yang dimaksud dengan elemen estetis produk kriya tradisional Bali adalah mengenai unsur-unsur atau bagian-bagian yang mengandung nilai-nilai estetik. filosofis. produk kriya diciptakan mengarah pada “komersialisasi” produk dan dianggap sebagai barang komuditi yang memiliki milai ekonomis. Untuk lebih jelasnya nilainilai yang dikandung dalam produk kriya dapat ditelusuri dari perkembangan penciptaan produk kriya. Seperti diuraikan pada BAB III berikut. budaya modern dan budaya masa kini. Produk seni kriya dapat mengambil posisi strategis di tengah mengeliatnya isu seni rupa kontemporer dan pasar seni rendah dengan kuantitas massal. bersifat tradisional. Dalam kaitan tersebut. kosmologis.

dinamika dan perubahan lingkungan budaya internal maupun eksternal. Denpasar. Gianyar dan didukung dengan beberapa buku yang terkait. Penggunaan dan penciptaan produk kriya tradisional Bali dewasa ini adalah merupakan bagian dari mata-rantai sejarah perkembangan kebudayaan Bali sejak berabad-abad yang silam.PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI PENCIPTAAN PRODUK KRIYA DI BALI A. tidaklah mungkin dapat dipaparkan secara kronologis. akurat dan tuntas. Museum Gedung Arca. BAB III P Sehubungan dengan hal tersebut. Namun berdasarkan benda etnologi yang tersimpan di Museum Bali. maka dalam penelusuran perkembangan dan motivasi penciptaan produk kriya dalam masyarakat Hindu di Bali. seperti tingkat peradaban. maka secara sinkronis atau berdasarkan penggalan sejarah dapat ditelusuri sebagai berikut: . karena keterbatasan referensi dan data berupa artifak-artifak yang ada. Tingkat perkembangannya ditentukan oleh berbagai faktor. Sejarah Penerapan Produk Kriya emaparan produk kriya di Bali secara hitoris mengenai awal penciptaan dan penggunaan-nya dalam kehidupan masyarakat di Bali adalah merupakan hal yang sangat sulit diungkap secara tuntas. Bedulu.

Pada saat tersebut. dan sebagainya. sehingga hasil produk yang ditinggalkan tampak relatif masih kasar. Zaman Pra-Hindu. Pola pikirnya masih terbatas pada tingkat pemenuhan kebutuhan hidup berupa makanan dan belajar secara alamiah dari gejala-gejala atau kejadian-kejadian alam yang pernah dialaminya. gangguan binatang buas. Kejadian-kejadian tersebut. penduduk yang menghuni pulau Bali masih hidup dengan pola nomaden. angin. Dalam melakukan aktivitas hidupnya didukung dengan peralatan kerja berupa produk kriya terbuat dari ranting kayu. kejadian gunung berapi. tanduk dan batu yang dikerjakan dengan cara sangat sederhana. berpindah-pindah.1. seperti berupa kapak batu yang tergo- . 1971). mengembara. Dalam terminologi antropologi disebut dengan kepercayaa animisme dan dinamisme. timbulnya api. petir. sebagai pemburu dan peramu. hujan. tulang binatang. tanah longsor. Sebelum kedatangan gelombang migrasi bangsabangsa pendukung kebudayaan Neolitikum dan Perunggu dari dataran Asia Tenggara. kematian. membuat mereka harus waspada dan seolah-olah selalu dibayangi oleh perasaan takut. Seperti terjadinya kelahiran. Pulau Bali —seperti halnya beberapa pulau lain di Nusantara— dihuni oleh penduduk yang tergolong ras Negrito yang mengusung kebudayaan Paleolitikum (Koentjaraningrat. memohon keselamatan dan memuja atau percaya dengan kekuatan alam.

Badung ditemukan beberapa buah sudip dan tiga buah alat tusuk terbuat dengan tulang binatang atau tanduk rusa dan di daerah lainnya. di Gua Seloding.long jenis kapak perimbas. Gambar 2: Kapak perimbas dari batu peninggalan zaman Palaeolithikum (Zaman Batu Tua) . kapak genggam dan sebagainya. Soejono. desa Pecatu. seperti: di daerah Sembiran.P. Buleleng. Di antaranya berhasil ditemukan Bali oleh R.

Gambar 3 Kapak Gengngam dari Batu Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda Gambar 4 Kapak dari Batu Bertangkai Peninggalan Zaman Neolithikum (Zaman Batu Muda) .

belajar bercocok tanam dan bermasyarakat. mulai hidup bertempat tinggal di suatu daerah dengan batas-batas wilayah tertentu yang disebut pedukuhan. Penduduk Bali secara berangsur-angsur meninggalkan pola hidup nomaden. tokoh-tokoh masyarakat atau orang yang dianggap memiliki kekuatan tertentu. kemudian ditinggalkan ke tempat lain (Sutaba. Hal tersebut menjadi dasar berkembangnya kepercayaan syamanisme. diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2500 SM— maka mulailah terjadi integrasi dengan kebudayaan dari luar (Suwondo. belum tampak usaha untuk memperindah penampilan dan kenyamanan (ergonomis).Produk kriya berupa peralatan kerja yang ditinggalkan tersebut. Kemungkinan juga peralatan tersebut diambil langsung dari alam serta digunakan hanya sekali pakai. seperti. 1980) Kemudian dengan kedatangan gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Neolitikum. yaitu suatu ajaran berdasarkan keyakinan. 1977-1978). —migrasi orang-orang Proto Melayu dan tergolong ras Mongoloid. bahwa roh yang ada di sekeliling manusia dapat merasuk ke tubuh seseorang melalui suatu ritual tertentu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994). muncul etiket saling menghargai antar sesama dan berkembang tradisi menghormati orang yang dituakan. bahwa roh . Dalam masyarakat yang terbentuk saat tersebut. lebih mengutamakan kegunaan. tampak bersahaja. Mereka percaya.

Seperti menyembah batu. beliung. Kepercayaan animisme dan dinamisne juga semakin tumbuh subur di masyarakat Mereka percaya dengan kekuatan-kekuatan metafisis yang dimiliki oleh suatu materi. Produk kriya tersebut dibuat sebagai simbol penghormatan atas jasa orang yang meninggal. perilaku tersebut disebut fetisisme. Atas dasar kepercayaan tersebut. belincung. seperti kapak persegi. pahat pembelah batang kelapa dan sebagainya. Mereka mampu menciptakan produk-produk dari batu dengan disertai usaha-usaha untuk memperindah penampilan dan memikirkan segi kenyamanan dalam pemakaiannya. maka berkembang gejala simbolisasi dan penghargaan atau pemujaan terhadap suatu benda. Menganggap suatu benda memiliki kekuatan magis atau bertuah dan dapat menyelamatkan atau merusak kehidupannya. dalam terminologi antropologi. 1980). Beberapa peninggalan produk kriya yang mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum berupa peralatan .orang yang meninggal dapat berpengaruh terhadap kehidupan di dunia ini. Proses pengerjaannya dengan cara digosok menggunakan batu lain sampai halus (Sutaba. seperti bekal kubur (funeral gifts). pohon dan di antara produk-produk kriya yang diciptakan juga dihargai dan dipuja sebagai benda bertuah atau sebagai simbol-simbol tertentu. Pengaruh kebudayaan Neolitikum terutama tampak dalam penciptaan produk kriya berupa peralatan dari batu.

Kemampuan tersebut terus ditingkatkan. sehingga memperkaya kasanah kebudayaan Bali di masa lalu. dan sebagainya. Denpasar dan Ge-dung Arca.terbuat dengan batu. Dalam penciptaan produk-produk kriya tersebut. Demikian juga pengaruh-pengaruh dari luar terus berlangsung. Bantiran. tetapi keindahan penampilan produk juga mu- . Misalnya di Palasari. Cina. Unsur-unsur kebudayaan tersebut diterima dan diadaptasi. Bedulu. Dalam perkembangan selanjutnya. Gianyar. dan sebagainya. perak. sehingga mampu menghasilkan beberapa jenis produk dari perunggu yang cukup berkualitas. Nusa Penida dan di daerah lain. seperti ditemukan di beberapa tempat di Bali. Hindu. maka di Bali terjadi akulturasi antara kebudayaan batu dengan perunggu. Kebudayaan masyarakat di Bali semakin tumbuh dan berkembang. disimpan di Museum Bali. Mesir. seperti masuknya pengaruh kebudayaan Budha. datang gelombang migrasi bangsa-bangsa pendukung kebudayaan Perunggu yang disebut juga migrasi orang-orang Deutro Melayu. mereka tidak hanya mengutamakan kegunaan semata. Dengan kedatangannya. diperkirakan sekitar tahun 600-300 SM. kuningan. Cara penciptaan produk kriya untuk penunjang aktivitas hidupnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. seperti: emas. tembaga. Sekarang benda-ben-da itu. besi. karena mereka mengenal bijih logam dan cara peleburannya.

Nekara Perunggu Ditemukan di Pejeng. Gianyar Nekara tersebut berbentuk selinder atau dadang terbalik. yakni berupa sebuah nekara perunggu yang ditemukan di desa Pejeng.lai diperhatikan. Mempunyai ukuran luar biasa dengan tingggi 1. 1976). Pola hias yang diterapkan.96 m dan bidang pukulnya bergaris tengah 1. Gianyar detail hiasan wajah manusia 1m hias an waj ah man usia Gambar 5. di antaranya berupa hiasan yang . Hal tersebut dapat dilihat pada artifak yang sangat menakjubkan. Digunakan untuk genderang perang atau sarana upacara memohon turunnya hujan (Kartodirdjo.60 m.

Penerapan ragam hias tersebut. pola tumpal yang tersusun bertolak belakang. Salah satu contoh peninggalan berupa peti terbuat dengan batu (sarkofagus) digunakan untuk tempat mayat. diduga berlangsung melalui dua “pengaruh”. Pada masa tersebut. pembuatan produk kriya selain menggunakan logam juga dengan bahan-bahan lain. selain bertujuan sebagai dekorasi. 1975). juga sebagai simbol yang mengandung makna terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.distilasi dari bentuk wajah manusia. Benda atau hiasan tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis atau bertuah yang memberi perlindungan dan keselamatan kepada kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya (Soejono. 3. merupakan personifikasi nenek moyangnya yang telah meninggal. seperti penerapan hiasan empat pasang topeng wajah manusia. 1960). binatang. anyamanyaman bambu dan mengukir batu sebagai perkembangan kebudayaan Neolitikum. seperti tanah liat yang dibakar atau tembikar. Zaman Hindu (Pengaruh dari India dan Majapahit) Pengaruh kebudayaan Hindu yang masuk ke Pulau Bali. empat pasang topeng dan lain sebagainya (Kempers. . bulu burung. Pada sarkofagus tersebut tampak ditatah langsung berupa hiasanhiasan dan simbol-simbol terkait dengan kepercayaan mereka.

Kekalahan tersebut mengakibatkan penduduk Bali asli. Songan. diduga berlangsung sekitar abad 10 M. seperti di Desa Tenganan. Desa Trunyan. Hubungan tersebut terus berlangsung pada zaman Kerajaan Singosari dan puncaknya terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad 14 dan 15 M (Suwondo. 1953) dan pengaruh kebudayaan Hindu yang berasal dari Pulau Jawa. Sembiran. akhirnya terdesak ke daerah pedalaman. 1972). Cempage. . Bangli. Dalam ekspedisi tersebut terjadi perang melawan penduduk Bali asli dan berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Gajah Mada. sekitar abad 8 M (Djawatan Penerangan Propinsi Suda Ketjil. Julah. Kedisan. Kubu dan Sukawana. Pedawa. Sidetapa. Karangasem. 1977/1978). baik yang dibawa oleh orang-orang Drawida maupun Arya pada masa-masa Raja Maya Denawa berkuasa di Bali. yaitu saat Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Tri Bhuwana Tungga Dewi Djaya Wisnuwardana). yaitu sejak terjadi hubungan antara masyarakat Bali dengan Kerajaan Medang Kemulan di Pulau Jawa. dan di daerah lainnya di Buleleng (Covarrubias. diawali dengan ekspedisi di bawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada (Prabu Wisnuwardana) pada tahun 1343. Persebaran kebudayaan Hindu dari Pulau Jawa.yaitu pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa langsung dari India. Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dari Majapahit ke Bali.

bahasa yang digunakan umumnya menggunakan Bahasa Bali Kuno dan tidak mengenal tingkatan bahasa (bahasa halus-kasar) Masuknya kebudayaan Hindu ke Bali. Sehingg terjalin hubungan yang saling berkait seperti pada Gambar 6. seperti: Sambu.1986). Gunung dianggap sebagai alam arwah dan sekaligus sebagai waduk alamiah yang mengairi dataran rendah di Pulau Bali sepanjang tahun. dan Kala (Soeka. Percaya dengan alam nyata dan tidak nyata. Mereka tidak mengenal sistem Kasta.Penduduk di Pulau Bali saat tersebut jumlahnya relatif sedikit di bandingkan sekarang. Indra. . dan konsep utara-selatan (kaja-kelod atau dulu dan tebén) dengan berpedoman pada laut dan gunung (segaraukir). di mana gunung dianggap utara dan sebagai tempat yang bersih atau suci sedangkan laut adalah selatan sebagai tempat yang kotor atau tempat pembersihan. roh nenek moyang. Daerahnya dibatasi hutan belantara. Seluruh unsur kebudayaan tradisonal Bali dominan dijiwai oleh agama Hindu dan sebaliknya wujud kebudayaannya kembali diabdikan untuk keperluan agama. Sebagai penganut sekte-sekta. Namun mereka telah memiliki sistem kemasyarakatan yang mapan dengan kebiasaan berbeda dengan penduduk Bali lainnya. Brahma. Wisnu. Bayu. ternyata membawa pengaruh yang cukup besar terhadap konstelasi kehidupan masyarakat di Bali. kekuatan alam atau dewa-dewa penguasa alam gaib.

(2) Adat istiadat dan hukum adat. menunjukkan segala produk kebudayaan kembali diabdikan atau dipersembahkan untuk agama.Gambar 6. tari. (4) Organisasi sosial tradisional. (3) Seni budaya. Anak panah menuju kearah pusat lingkaran besar menunjukkan bahwa semua unsur bertumpu pada ajaran Agama Hindu. seperti: (1) Filsafat hidup atau pandangan hidup masyarakat. Unsur Kebudayaan Bali Dijiwai Agama Hindu Keterangan  Lima unsur dominan dalam tata kehidupan tradional di Bali. dan sebagainya. bangunan tradisional. Anak panah melengkung pada gambar tersebut menunjukkan hubungan antar unsur. seperti: berupa seni rupa. dan (5) Keseluruhannya dilandasi dengan ajaran Agama Hindu.    . Anak panah munuju kearah keluar lingkaran besar. tata cara upacara di pura.

seperti. Mengajarkan tata cara pembuatan Kayangan atau Pura. Sarana dan prasarana keagamaan mengalami perkembangan dan pembenahan sejak datangnya Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirarta dari Jawa Timur.Tata cara bercocok tanam tradisonal dan sistem pengairan atau subak dikembangkan berdasarkan konsepsi Agama Hindu. Menyusun sistem organisasi kemasyarakatan berdasarkan ajaran Agama Hindu yang disebut Desa Pekraman atau Desa Adat. Sedangkan Dang Hyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra (juga terkenal dengan sebutan Peranda Sakti Wawu Rawuh) —seorang agamawan dan pujangga besar dari Jawa Timur— datang ke Bali ketika Keraja- . Kayangan Catur Lokapala. Kayangan Rwabhineda dan memperlebar Pura Besakih dan sebagainya (Purnata. Sistem tersebut diajarkan oleh Resi Markandeya berasal dari Jawa Timur. Ia mengembangkan konsep Tri Murti untuk pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma ‘pencipta alam’ ke arah laut. Pura Puseh dan Pura Bale Agung— untuk melengkapi Desa Pekraman. Kayangan Tiga —terdiri dari: Pura Desa. yaitu pada zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan di Bali diperintah oleh Raja Marakata dan Anak Wungsung. Wisnu ‘pemelihara alam’ tengah dan Šiwa ‘pelebur alam’ ke arah gunung. Mengajarkan pembuatan Sadkahyangan Jagat. Empu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11. 1977 /1978).

Klungkung dipemerintah oleh Dalem Waturenggong (1460-1550). dalam pembuatan Pelinggih Padmasana. karang bentulu. Achentya dan sebagainya yang terkait dengan konsepsi Tri Murti dan Tri Purusa. mas-masan dan sebagainya serta kekarangan. Purnaghata. yakni dengan membuat pelinggih berupa Padmasana. dan sebagainya. Paibon untuk pemujaan roh leluhur (Wiana. simbol maupun sebagai hiasan. patra sari. Pedharmaan. Keberhasilannya adalah memperjelas “kekaburan” antara tempat pemujaan Tuhan dengan roh leluhur.an Gelgel. seperti Empas. 1945). Kalpa Warksa. terutama untuk sarana pemujaan. Kinara Kiniri. . karang goak. Dia mengembangkan konsep Tri Purusa yang terdiri dari: Parama Šiwa (Swah Loka atau alam atas). Penciptaan produk-produk kriya pada zaman tersebut. mempunyai peranan yang sangat penting. Perwujudan dalam bentuk simbol. Sada Šiwa (Bwah Loka atau alam Tengah) dan Šiwa (Bhur Loka atau alam bawah). seperti. patra welanda. seperti karang asti. Kedatangannya sangat berpengaruh dalam pengembangan dan penyempurnaan ajaran Agama Hindu di Bali serta turut membawa Kerajaan Gelgel ke zaman keemasannya. Ananta Boga. Naga Basuki. Hiasan yang diterapkan berupa pepatran. sedangkan Pura Dadia. menunjang keperluan sehari-hari. berupa alat pertanian. seperti patra punggel. Salah satu contoh. yaitu untuk pemujaan Tuhan. seperti berupa wadah.

tanggal 5 tahun Šaka 818) ( Simpen. seperti kerajaan Bedahulu (1324-1343) dengan rajanya yang terkenal bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten.. pagending (penyanyi). Hal ini dapat diketahui dari Prasasti Bebetin. tembaga). juga mengalami perkembangan diwarnai dengan pengaruh kebudayaan Jawa dan sarat dengan misi pembinaan umat Hindu. Pada zaman tersebut di Bali sudah berdiri kerajaan-kerajaan. Seperti dalam bentuk pagelaran topeng. pabangsi (juru rebab). nomor kropak M55 dijelaskan: . di bulan besakha Cuklapancami. tari topeng. bahwa kesenian termasuk produk-produk kriya pada zaman tersebut. (dibuat oleh pegawai di Singamandawa pada bulan ke-10. Kerajaan Samprangan (13511380) dengan rajanya Sri Kresna Kepakisan berasal dari Daha (Kediri). pamukul (juru tabuh).Di bidang kesenian lainnya.pandê mas.. juga dipakai sebagai media pendidikan atau komunikasi dalam masyarakat. tahun Šaka 818 (896 M). Kerajaan Gelgel (1380 -1460) dengan masa keemasan pada saat pemerintahan Raja Dalem Waturenggong sampai Kerajaan Klungkung. pabunjing (penari).turun di panglapuan di Singamandawa. tembaga (kriyawan atau “tukang” emas. 1974) Prasasti tersebut memberi petunjuk.. Jawa Timur. besi. yaitu salah satu kerajaan di Bali yang pa- .. parbwayang (wayang). wayang dan sebagainya. dan sebagainya. partapukan (topeng). Seperti seni tari. besi. rge pasaran Wijayamanggala. pertunjukan wayang.

Sebagai contoh. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para raja dan keluarganya yang bersifat hedonistik atau sebagai simbol status sosial. umumnya dibuat lebih megah dibandingkan dengan perumahan rakyat dan sebagainya. Pada tahun 1597 sempat mampir di Kerajaan Gelgel (Bali). Zaman Kolonial Ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk menemukan sumber rempah-rempah di dunia timur. bangunan istana raja.ling terakhir dikuasai oleh Belanda dalam perang Puputan pada tanggal 28 April 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe. kegiatan penciptaan produk-produk kriya tampak lebih berkembang di sekitar pusat kerajaan dan di bawah patronage kerajaan (Joedawinata. Kedatangannya disambut dengan tata . produk kriya berupa keris atau atribut raja dibuat dengan sangat indah. saat diperintah oleh Raja Dalem Sagening. Dalam kaitan dengan sistem kerajaan. Sehingga melahirkan produk-produk yang unggul dan adhiluhung. Oleh sebab itu. 4. Produk kriya yang diciptakan saat itu tampak lebih mengutamakan segi keindahan. 1990:4). Jadi berorientasi pada puri atau istana centris. maka peranan penciptaan produk-produk kriya saat tersebut memiliki kecenderungan untuk melaksanakan tugas yang dilandasi dengan semangat kebanggaan dan dedikasi kepada raja dan keluarga raja.

Keadaan tersebut menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat di Bali. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Be-landa dengan sebaik-baiknya untuk menulis mengenai Bali. menyebabkan muncul kelompok-kelompok elite atau golongan atas baru dalam masyarakat dan memperkenalkan ide-ide baru. Mulai saat itu pamor kekuasaan para raja semakin memudar di mata rakyat Bali. Sistem pemerintahan tersebut. karena kekuasaan kerajaan “feodal” secara berangsur-angsur diganti dengan sistem pemerintahan kolonial “modern” menurut cara Belanda. setelah Belanda mampu mengalahkan perlawanan para raja Bali dalam perang puputan (terakhir tahun 1908). yang ditujukan untuk Pulau Bali. terutama mengenai segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan Raja Dalem Sagening.cara yang sangat hormat. dalam pendidikan. Bagi Belanda. kesehatan. Pada saat tersebut. menanamkan pengertian tentang pentingnya hidup non-agraris dan sebagainya. yang nantinya akan ditingkatkan menjadi hubungan perdagangan. dalam julukan itu sebenarnya teselip suatu ambisi atau impian untuk menjadikan Bali sebagai wilayah kekuasaannya. artinya “Belanda Muda”. Belanda juga melontarkan suatu julukan “Jonck Hollands”. . karena kunjungannya tersebut dengan dalih ingin menawarkan ikatan persahabatan. Impian tersebut akhirnya benar menjadi kenyataan. misalnya.

Pemerintah Belanda menginginkan agar keindahan alam dan kebudayaan Bali menjadi objek wisata budaya. Belanda juga sangat tertarik dengan keindahan alam dan kehidupan kebudayaan masyarakat di Bali yang memiliki ciri tersendiri. Pemasukan berupa devisa hanya diharapkan dari pemungutan pembayaran yang dikenakan pada para wisatawan yang berkunjung (Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Ketjil. maka mereka selalu konsisten untuk menjaga kelestariannya dan berusaha untuk mengisolasi dari penetrasi pengaruh-pengaruh kebudayaan eksternal. diupayakan dengan mengangkat tenaga pendidik lokal. seperti memiliki beraneka ragam jenis kesenian tradisional.Di sisi lain. terdapat pura hampir di seluruh pelosok Pulau Bali dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut. pemerintah kolonial Belanda berkeinginan untuk mengembangkan potensi tersebut untuk dijadikan objek wisata. sebagai “museum hidup” dan menjadi tontonan semata. Dalam menyusun strategi pengembangan ke arah tersebut. seperti pelajaran menggambar diajarkan oleh “Guru Adat” (seniman tradisional). upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di Bali. seperti mengembangkan sistem pendidikan kolonial yang disesuaikan dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu di Bali. karena dikawatirkan dapat “merusak”. Misalnya. Sistem pendidikan itu dikenal dengan . 1953) Langkah-langkah lain yang dilakukan dalam upaya pelestarian itu.

Kemudian tulisan-tulisan tersebut didistribusikan ke seluruh dunia. kapal dagang Belanda K. te Flierhaar —seorang tokoh pendidik dari Negeri Belanda— pada tahun 1920. Walhasil. Sekitar tahun 1920.M . di Singaraja pada tahun 1928.sebutan Balisering. Sedangkan dalam usaha mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata. dikembangkan oleh H. Selain itu. WF. 1991/1992).P. menulis tentang “Kawi-BalineeschNederlandsch Woordenboek” (1912). Kroos mendirikan sebuah bangunan digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu dan sekarang dijadikan Museum Bali.N.Van der Tuuk. E. medirikan Gedong Kirtya yang digunakan sebagai perpustakaan untuk menyelamatkan lontar-lontar yang berisi sastra lama dan segala aspek tentang Bali. ketika menjadi guru HIS di Klungkung. usaha tersebut cukup menggetarkan keinginan banyak orang termasuk para penulis dari barat lain-nya untuk melihat Bali secara langsung. dilakukan dengan mendatangkan beberapa pakar dalam berbagai disiplin ilmu dari negeri Belanda untuk mempelajari. P. (Putra. Korn menulis buku berjudul “Het Adatrecht van Bali” (1932) dan yang lainnya. V. Goris menulis buku berjudul “Secten op Bali” (1933). De Kat Angelino dengan tulisannya berjudul “De Leak op Bali” (1923). R. di bawah pimpinan Leifrinck dan Van der Tull. Di antaranya H. meneliti dan menulis berbagai aspek tentang Bali. Kemudian di Denpasar pada tahun 1932.

Pada masa tersebut. Namun kebanyakan wisatawan dalam rombongan tersebut merasa puas setelah meninggalkan Pulau Bali. Melihat peluang tersebut. seperti membangun Hotel Bali di Denpasar. Penciptaan tersebut termotivasi oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat. Motivasi atau semangat penciptaan produk yang dulunya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan ke- . perbaikan sarana transportasi.(Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dialihfungsikan untuk mengangkut rombongan wisatawan Belanda pertama mengunjungi Bali. sehingga banyak di antara mereka terpaksa tidur dalam kapalnya. para kriyawan dengan “serta merta” mulai aktif menciptakan produk-produk kriya untuk dijadikan mata dagangan berupa produk kriya lokal sebagai cenderamata. maka dalam pengembangan selanjutnya mulailah diadakan pembenahan sarana dan prasarana yang terkait. sehingga para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya di Bali mulai merasakan nilai ekonomis atau nilai tukar dari produk kriya yang diciptakan atau diusahakannya. Misalnya pada kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya. pesanggrahan di Kintamani dan di Pelaga. Sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan di Bali saat itu kurang memadai. dan sebagainya. Upaya pengembangan tersebut secara tidak langsung akhirnya berpengaruh pada kegiatankegiatan lain di Bali.

ternyata mengalami perkembangan cukup pesat. namun pada saat tersebut mulai muncul gejala yang mengarah pada komersialsasi produk kriya. Zaman Kemerdekaan Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang ini (lebih kurang seperempat abad silam). maka situasi dan kondisi masyarakat di Bali mengalami perubahan cukup drastis. Di bawah penguasaan Jepang yang berlangsung dalam waktu relatif singkat sehingga pengembangan sektor pariwisata kurang mendapat prioritas.rajaan. karena harus menerima kekalahan dalam menghadapi semangat hegemonisme Jepang. 1988). 5. maka pengembangan pariwisata di Bali tidak dapat diteruskan lagi oleh pemerintah Belanda. . kemudian disuguhkan untuk para wisatawan. Dalam kurun waktu tersebut. Dengan kekalahan Belanda. Pada masa selanjutnya. Dalam kreativitas penciptaan produk berciri khas Bali mulai terjadi gejala reproduksi atau tindakan eklektik terhadap unsur-unsur produk masa lalu yang diwarisinya. karena saat tersebut. Walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan kendala. (Mirsa. Jepang lebih terfokus pada ambisinya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. dengan meletusnya Perang Dunia ke-II. pembangunan di daerah Bali yang dilaksanakan berdasarkan program Repelita dan dengan strategi pembangunan daerah seperti tampak pada Gambar 7.

Pembangunan Sektor Industri SOSIAL a. Pemenuhan Kebutuhan Dasar b. Pengembangan identitas Bali 1. Pembangunan Sektor Pertanian b.TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PEMERATAAN TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH BERORIENTASI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI a.2. Peningkatan dan Perluasan Sarana dan Prasarana Sosial c.2. Mendorong Partisipasi Aktif dari Masyarakat dalam Pembangunan TUJUAN INTI ARAH IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN ALAT UKUR YANG MENGARAHKAN PADA KESERASIAN DAN KETERPADUAN Sumber: (Oka. Pendekatan Regional Gambar 7. Pembangunan Sektor Pariwisata c. Bagan Strategi Dasar Pembangunan Daerah Bali . Delapan Jalur Pemerataan 2. 1991) A. agama dan warisan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan B. Pelestarian nilainilai budaya.

Sektor tersebut memberi oportunitas cukup besar untuk tumbuh suburnya berbagai bidang usaha. yang kembali dibangkitkan oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950. Hasil pembangunan ketiga sektor tersebut.Dari sekema tersebut dapat diketahui. dengan tetap memakai potensi budaya sebagai daya tarik utama. Pembangunan sektor pariwisata di Bali. Pemerintah menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu cabang industri alternatif yang strategis. berbagai jenis industri kecil dan rumah tangga dan sebagainya. seperti semakin menjamurnya usaha di bidang perhotelan. prospektif dan sesuai . seperti pada Pelita I yang dimulai sejak tahun 1969 dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. kini terus dibina dan dikembangkan. Demikian juga industri kecil dan rumah tangga yang bergerak dalam usaha penciptaan produk kriya. ternyata mendapat respons cukup besar dari masyarakat petani di Bali. pariwisata dan industri kecil. bahwa tujuan pembangunan bidang ekonomi di Bali adalah berorientasi pada pertumbuhan sektor pertanian. Sehingga hasilnya tampak jelas dari Pelita I sampai V mampu membawa masyarakat Bali ke tingkat swasembada pangan. karena kemantapannya yang kuat sebagai masyarakat pewaris budaya agraris. ternyata memberi peningkatan perekonomian yang cukup signifikan bagi masyarakat di Bali. toko kesenian. garmen. transportasi atau biro perjalanan.

dan sebagainya. Dengan dukungan pemerintah dan perkembangan pariwisata di Bali yang cukup pesat. humanisasi proses kerja. sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja (mass employee) berakumulasi modal kecil. salah satunya seperti program OVOP (one village one product). Malah pada tahun 1990-an terbukti produk-produk kriya sempat dijadikan sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor di luar minyak dan gas alam (LNG) Liquid Natural Gas. Para kriyawan dan pengusaha produk-produk kriya masa kini merasa semakin bergairah dalam usaha tersebut. usaha perluasan atau enlargement penciptaan produk-produk kriya. Kebijakan tersebut . karena pada dasawarsa belakangan ini pemerintah Indonesia semakin mengkonsetrasikan perhatiannya pada sektor tersebut. Berbagai program telah diluncurkan terkait dengan hal tersebut.dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara. Kondisi tersebut semakin terpacu. maka pada era kemerdekaan. karena memiliki karakteristik antara lain. sehubungan dengan upaya untuk memperoleh sumber dana penunjang pembangunan nasional. karena termotivasi oleh nilai ekonomi yang dapat dinikmati dari produk kriya yang diciptakannya. Sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat di pedesaan serta dapat memperlambat laju urbanisasi. tampak semakin mantap dan dengan kecenderungan mengarah kepada hal yang bersifat “komersial”.

Ajaran tersebut dikumpulkan dan disusun kembali oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk kitab suci yang disebut Weda. hingga sampai ke Indonesia. Agama Hindu sering diberi sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan nama daerah di mana Agama Hindu tersebut tumbuh dan berkembang. Kemudian ajaran tersebut disebarkan keseluruh dunia melalui para pengikutnya. Peranan Produk Kriya dalam Kehidupan Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali 1. kala dan patra. Di tempat tersebut. Atri. Wasista dan Kanwa. Pelaksanaan Ajaran Agama Hindu Sesuai dengan Adat di Bali Agama Hindu berasal dari lembah Sungai Sindhu di India. ajaran diterima dari Tuhan dalam bentuk wahyu suci oleh tujuh orang Maharsi. Wamadewa. karena dalam tata cara pengamalan ajarannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi budaya masyarakat penganutnya atau disesuaikan dengan desa. salah satunya.ditempuh oleh pemerintah. Baradwaja. seperti disebut Agama Hindu Bali. Di Indonesia. mengingat ekspor andalan Indonesia berupa bahan-bahan mentah yang dibutuhkan oleh industri pengolahan di luar negeri. Hindu Kaharingan dan sebagainya. yaitu: Maharesi Grtsamada. Hindu Jawa. Wiswamitra. 1990) B. Terjadinya hal tersebut. sehingga da- . mengalami penurunan dipasaran dunia dan diikuti oleh resesi dunia pada saat tersebut (Joedawinata.

air amerta batin yang tidak pernah kering (Šiwambhâ-dhyatmika) dan dapat manunggal dengan Tuhan atau purusa katemunta mareka si tan katemu. Namun inti ajaran Agama Hindu yang dianutnya tetap satu bersumber pada ajaran Weda. Seperti bunga yang bersemayam dalam batin yang tak pernah layu (puspa tan alun). sebab ajaran Agama Hindu memberi tuntunan yang bersifat lentur. dibenarkan mengamalkannya dengan tanpa sarana upacara dan tidak memilih tempat serta arah tertentu. maka sarana dan prasarana yang bersifat lahiriah. tt). Kondisi tersebut memang menungkinkan untuk terjadi. karena mereka telah menaruh upacara tersebut dalam batinnya (adyâtmika). Namun umat seperti tersebut populasinya sangat sedikit dapat dikatakan satu per mil atau sewu tinunggal. mutlak akan diperlukan dalam mengamalkan ajaran Agama Hindu di Bali (Sugriwa. seperti produk-produk kriya berupa simbol-simbol atau nyasa yang bersifat sakral. api yang tidak pernah padam (geni anglayang).lam perkembangannya di masing-masing daerah di Indonesia. Seperti yang . Misalnya bagi umat Hindu yang telah “ahli” dalam teori dan praktek ilmu ketuhanan (teologi). Berdasarkan hal tersebut. Hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Agama Hindu. tampak memiliki etos kebudayaan Hindu yang berbeda. suara sukma yang tidak pernah putus (swaraning genta pinara pitu).

disebutkan pada Bhagawag Gîtã. kau makan. Kuntipura. juga dapat disimak dalam cara menghayati dan mengamalkan ajaran Weda yang dapat mengacu pada beberapa hal seperti: a. dan Atharwa Weda). Sama Weda. Isinya terdiri dari empat himpunan atau samhita (Reg Weda. kau persembahkan.) Bagian kedua dari penjabaran sifat ajaran Weda di atas. lakukanlah. Artinya: Apapun yang kau kerjakan. yaitu Brahmana (Karma Kanda) adalah merupakan ajaran yang berisi himpunan doa-doa dan tuntunan yang dipergunakan untuk keperluan upacara Yajña. Yayur Weda. ceritera-ceritera dan simbol yang dipergunakan untuk memantapkan rasa percaya kepada Tuhan. yat tapasyasi kaunteya tat Kurushva mandarpanam. Sifat ajaran Weda. sebagai bhakti pada-Ku (Pendit. Pada garis besarnya dapat dijabarkan menjadi tiga bagian. yaitu: 1) Mantra. kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan asalkan menuju kebenaran. Acuan lainya sesuai dengan pendapat tersebut. sloka IX-26. dan 3) Upanisad (Jñána Kanda. yaitu sebagai berikut: Yat karosi yad ašnãsi yaj juhosi dadãsi yat. 2) Brahmana (Karma Kanda). 1995). Jadi pada dasarnya ajaran tersebut “membenarkan” penggunaan sarana .

b. alamiah. yaitu empat cara atau jalan utama ditempuh untuk mencapai tujuan Moksaratha Jagathita. Bhakti Marga. 2) Karma Marga. c. yang terdiri dari: Tattwa (Filsafat Agama). Bhakti Marga merupakan ajaran yang langsung. Seperti penggunaan produk kriya berupa simbol-simbol yang terkait dengan ajaran agama dan sebagainya. menurut kerangka tersebut. Seorang Bhakta —penganut Bhakti Marga — adalah orang yang penuh cinta kasih kepada Tuhan berserta ciptaannya. Ajaran ini merupakan salah satu alternatif dalam menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu dengan menggunakan sarana pemujaan. Catur Marga. 1993). mudah diterima dan dilaksanakan oleh semua tingkatan. juga membenarkan menggunakan sarana untuk pemujaan Tuhan . Cetusan rasa cinta kasih dan kerinduan kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pesembahan bhakti atau dalam produk kriya berupa simbol-simbol untuk melukiskan sifat maya Tuhan (mayasakti) (Cudamani. terdiri dari: 1) Bhakti Marga.yang bersifat lahiriah untuk membantu penghayatan kepada Tuhan. 3) Jñána Marga dan 4) Raja Marga. Susila (Etika) dan Upacara (ritual). Dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. Kerangka Agama Hindu. artinya cinta kasih.

1990). masih dominan mengacu pada tiga ajaran tersebut di atas. bunga. ternyata yang lebih dominan dilaksanakan adalah upacara atau ritual keagamaan yang disesuaikan dengan adat-istiadat umat Hindu di Bali. bahwa ajaran Agama Hindu memberi suatu tuntunan yang bersifat luwes dalam usaha mendekatkan diri dengan Tuhan. busana. secara implisit memberi peluang munculnya keanekaragaman atau perbedaan penciptaan sarana pemujaan Tuhan di setiap daerah di Indonesia. dalam mengamalkan ajaran Weda. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh E. Pengamalan ajaran agama Hindu tersebut. Utrecht bahwa sebagian dari kaidah-kaidah atau norma-norma yang ada dalam masyarakat yang berasal dari sumber hukum yang dianggap sakral (dalam Suasthawa. bangunan suci. sesajen.Ketiga acuan di atas memberi gambaran. Umat Hindu di Bali. Ketiga ajaran tersebut memberi tuntunan yang mengarah pada pengorbanan suci berupa tindakan atau kerja dan membenarkan menggunakan sarana dalam pemujaan Tuhan. air. api dan sebagainya. Sarana tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dan keyakinan masyarakat setempat serta menjadi aktivitas adat atau “hukum adat” yang diusung dari generasi ke generasi berikutnya. Seperti menggunakan produk-produk kriya. sehingga hampir setiap hari umat Hindu di Bali dijum- . Seperti dalam pengamalan tiga kerangka Agama Hindu.

sawah. yang disebut Panca Yajña. (4) Pitra Yajña. Dengan tujuan untuk melaksanakan tiga kewajiban atau utang yang disebut Tri Rna. maupun di tempat lain yang dianggap sakral.pai melaksanakan upacara. yaitu. simbol-simbol. terdiri dari: (1) Dewa Yajña. jalan. pelaksanaan juga diyakini bertujuan untuk menyelaraskan hubungan dengan Tuhan. Selain hal tersebut. Upacara yang dilaksanakan tersebut dipercayai merupakan suatu bentuk pengorbanan yang tulus dan suci atau Yajña. upacara penyucian yang ditujukan mulai perkawinan hingga ajal tiba. manusia dan alam yang didasari konsep Tri Hita Karana. baik berupa wadah atau tempat. Dari upacara-upacara tersebut. (2) Resi Yajña. pada garis besarnya dapat dikelompokan menjadi lima. (5) . (3) Manusa Yajña. hampir semuanya tampak menggunakan sarana upacara. rumah tinggal. yaitu. baik di pura. yaitu persembahan kepada roh leluhur dan upacara kematian. bahwa kelahiran manusia selalu diselimuti oleh utang yang harus dibayar. Dari sekian banyak upacara Yajña yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. maupun berupa hiasan dan dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat Hindu di Bali. persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa. yaitu. para resi atau guru dan leluhur. yaitu utang kepada Tuhan. Tujuan tersebut dilaksanakan didasari dengan suatu keyakinan. persembahan atau penghormatan kepada para Resi atau guru.

yaitu sebagai sarana upacara Agama Hindu sesuai dengan adat di . (2) Produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan. 2. Upacara Panca Yajña dapat dipilah lagi memjadi beberapa jenis upacara. yaitu: (1) Produk kriya dalam konteks budaya. misalnya. (3) Produk kriya dalam konteks kerajinan rakyat. maka dalam konteks bahasan ini. 1990) Berdasarkan kategori tersebut dan mengingat peranan serta jenis produk-produk kriya yang digunakan untuk menunjang aktivitas hidup masyarakat di Bali sangat beraneka ragam. Melasti.Bhuta Yajña. seperti: Odalan. upacara Dewa Yajña atau Dewapuja. Peranan Produk Kriya dalam Upacara Agama Hindu di Bali Secara umum produk kriya di Indonesia dapat dibagi menjadi empat kategori. yaitu upacara korban suci kepada Bhuta Kala. penganggé atau busana dewa dan melibatkan berbagai produk kriya. dikenal beberapa jenis upacara. baik yang bersifat temporel maupun permanen. Semuanya menggunakan sarana yang khusus dan sangat beragam. produk-produk kriya yang dimaksudkan adalah produk yang tergolong kategori kedua. dan sebagainya. Nuntun. Ngenteg linggih. Dan (4) Produk kriya yang dibuat oleh kriyawan dan para perancang masa kini (Buchori. seperti berwujud bebantenan atau sesajen.

bersifat “permanen”. yang berarti kelahiran. terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian Odalan. Peranan Produk Kriya dalam Melaksanakan Upacara Odalan Masuknya Agama Hindu ke Bali. Dalam hal tersebut bukan berarti Tuhan mengalami kelahiran. Pengertian Odalan Sebelum lebih lanjut menguraikan tentang peranan produk kriya. roh nenek moyang. a. kekuatan alam gaib serta memberi penghargaan atau ucapan terimakasih dalam bentuk persembahan kepada alam atas hasil atau . Perayaannya dilangsungkan setiap enem sasih atau enam bulan (menurut perhitungan kalender Bali. 1 sasih = 35 hari. mengandung makna atau nilai simbolis dan dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali.) b. Odalan atau Dewapuja berasal dari kata Wedal. tetapi yang dimaksudkan adalah upacara peringatan hari mulai enteg linggih atau hari peringatan mulai “distanakannya” atau dilinggakan Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasi sebagai dewa pada suatu tempat suci atau pura.Bali. Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu kepercayaan terhadap alam nyata dan tidak nyata. ternyata memberi pengaruh dominan pada tatanan kehidupan dan sistem relegi masyarakat Bali. Terutama produk-produk kriya yang digunakan sebagai sarana upacara Odalan.

sumber pangan yang di berikannya. Kemudian keyakinan tersebut dimatangkan lagi semenjak Rsi Markandeya datang dari Jawa. Pola masyarakat agraris yang telah mengakar tersebut, dipadukan dengan konsep yang “bernafaskan” Agama Hindu dari Jawa, seperti dalam pelaksanaan sistem irigasi yang disebut subak. Konsep Agama Hindu dari Jawa yang bersifat menyempurnakan tersebut, juga terlihat pada sarana pemujaan kepada Tuhan dalam segala manifestasinya. Seperti berupa pelinggih, penggunaan arca, pertima atau pralingga dan sarana lainnya, yang merupakan bentuk “penyempurnaan” dari hasil kebudayaan megalitik di Bali. Pengaruh perpaduan Agama Hindu, juga memberi sepirit dan inspirasi untuk tumbuh suburnya beraneka ragam jenis kesenian tradisional berciri khas Bali. Menurut pandangan umat Hindu Bali, fungsi kesenian tradisional tersebut, pada garis besarnya dapat dikelompok menjadi tiga bagian, seperti: (1) Seni Suci atau Wali, jenis kesenian ini difungsikan sebagai bagian dari suatu rangkaian upacara yang sarat dengan makna religius dan dianggap sakral; (2) Seni Ritual atau Bebali yaitu, jenis kesenian sebagai pengiring atau “penghias” dan sekaligus terkait dengan rangkain upacara; (3) Seni “Sekular” atau Bali-balihan yaitu, jenis kesenian yang cenderung mengarah pada hiburan rakyat atau kesenangan (Pindha, 1973) Produk kriya, sebagai salah satu bagian dari kesenian tradisional Bali, ternyata dapat menduduki ke-

tiga fungsi tersebut. Khususnya produk kriya yang difungsikan sebagai sarana wali berbeda dengan yang lainnya, sebab dalam penciptaannya disertai dengan proses penyucian atau sakralisasi dengan melalui tahap-tahap upacara tertentu, seperti di antaranya dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut Tabel 1 Tahap Penyucian Produk Kriya
No. (1) 1. TAHAPAN (2) nglakar ARTINYA DAN KEGIATAN (3) pemilihan bahan baku yang akan digunakan, dewasa ayu atau “hari baik” mulai mencari bahan dan disertai dengan persembahan sesajen kepada Tuhan untuk mohon kekutan agar produk kriya tersebut ber-taksu. membentuk secara global membuat detailnya menghaluskan memberi warna memberi kontur dan hiasan tambahan upacara pembersihan, dengan membuatkan banten pemlapas memanggil atau memohon kekuatan agar merasuk pada produk tersebut yaitu dengan membuatkan banten pengulap menghidupkan yaitu dilakukan dengan mempersembahkan banten pengurip upacara menstanakan pada tempat suci dengan jalan mempersembahkan sesajen pada tempat atau asal bahan yang digunakan untuk mengetahui apakah benda yang dibuat bertuah

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

makalin nepong ngasren mulas ngias melapas ngulapin

9. 10. 11. 12.

ngurip ngeteg linggih nuedin ngerehang

(1) 13.

(2) ngajar-ngajar

(3) upacara membawa benda tersebut ke tempat suci lainnya, seperti Kahyangan Jagat, dengan tujuan “mendaftarkan”. upacara memperingati hari dilinggakan benda tersebut sebagai benda sakral memfungsikan

14. 15.

ngodalin mepajar

Narasumber: Gelebet.

Dalam melaksanakan upacara Odalan biasanya memanfaatkan berbagai macam produk kriya dengan beraneka ragam bentuk dan fungsinya serta tergolong sebagai sarana wali, seperti berupa: 1. Benda pakai, antara lain: pedupaan, bokor atau tempat sesajen, dulang, sokasi atau bakul, saab atau tutup sesajen, kendi, sangku atau tempat air suci, canting alat untuk mengambil tirta air suci, peralatan yang digunakan oleh Pedanda atau pemimpin upacara, seperti pedipan, pasepan keduanya berfungsi sebagai tempat pedupaan, stana lingga tempat api, swamba atau tempat tirta, tripada sebagai “kaki” swamba, pewijan tempat beras suci, dan sebagainya . 2. Ragam hias pada sarana perlengkapan upacara, seperti: Lontek, kober, pengawin atau bandrangan, tedung atau payung, ider-ider, berupa relief pada pelinggih-pelinggih, candi, patung, dan sebagainya. 3. Selain hal tersebut, peranan produk kriya sekaligus juga berfungsi sebagai simbol yang mengandung

1. dan pada kelamin berisi bajra. Acintya . kepala. telinga.nilai-nilai atau makna terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Pada tiaptiap persendian. Relief Acintya a) Karakteristik: 1) Bentuk: Umumnya dibuat dalam bentuk relief yang digubah dari bentuk mirip manusia dengan tanpa busana. Bentuk Acintya seperti tampak pada Gambar 8 Gambar 8. Beberapa contoh produk kriya jenis tersebut dapat disimak pada uraian berikut 3. Sikap berdiri (padaasana) dan kaki pada posisi bergerak.

hitam atau kuning emas dan putih).2) Material: Biasanya terbuat dengan batu alam (batu padas) atau emas. b) Fungsi: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan bersifat permanen dan sekaligus sebagai simbol. Namun sekarang ada juga menggunakan “beton cetak” (campuran semen pasir yang dicetak). Pelinggih Padmasana . Diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih berupa Padmasana Seperti tampak pada Gambar 9 Kepala badan kaki Tampak Samping Gambar 9. 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan (abu-abu.

Bhatara Parama-šiwa atau Tuhan sebenarnya bersifat tidak terbayangkan (Aprameya) dalam pikiran. melambangkan sifat Tuhan yang maha pemurah dan memberikan anugrah kepada ciptaan-Nya di alam. bhatara Paramasiwa tan pangenpangen. melambangkan sifat yang bebas dari ikatan duniawi. Setiap persendian. merupakan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan. anatomi tubuh dan jenis kelamin dibuat “tidak jelas” atau Ardhanareswari. ujung kaki. Artinya. para yogiswara atau orang suci yang mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan membuat dalam bentuk simbol bersifat ikonografi dengan mengambil bentuk mirip manusia tanpa busana.b) Makna.. ape hetu ri kadadinyan ananta. artinya tak terpikirkan. anirdesyam. Sikap kaki seperti berjalan atau bergerak. tan pahingan. Dan dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan: Aprameya. karena keadaannya yang tidak habis-habisnya atau ananta. Acintya. nilai-nilai simbolik dan religiusnya: Berdasarkan lontar Widi Tatwa atau filsafat tentang Tuhan. telinga... maka untuk mempermudah penghayatan-Nya. artinya kehidupan yang selalu bergerak dinamis dan berproses.. dan . tak dapat dibatasi atau anirdesyam. Bersemedi dengan sikap pada asana atau berdiri. Oleh sebab itu. kepala.

4. Aksara Suci Ongkara 2) Material: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau dari logam. Wisnu dan Šiwa Gambar 10. ether (memenuhi ruang yang ada). 3. tanah. Angka telu atau angka tiga melambangkan tiga manifestasi Tuhan (Brahma. . bintang (angin dapat menjadi bintang. 5. Aksara Suci Ongkara a) Karakteristik: 1) Bentuk: huruf atau aksara suci Ongkara sebagai simbol diwujudkan berdasarkan konsep kosmologi dan terdiri dari beberapa bagian seperti pada Gambar 10 berikut Keterangan: 1. seperti: emas. melambangkan energi Tuhan berupa sinar suci yang memancar ke segala arah dan memberi penerangan kepada seluruh ciptaan-Nya. 3. Akasa atau langit. Apah atau air (air yang padat berputar terjadilah bulan). kuningan atau tembaga. bumi (terjadinya pertama-tama berawal dari gelap). Teja atau api. perak.pada tempat kelamin dihiasi dengan bajra. matahari. 2. kain kapan dan sebagainya. Pertiwi.2. Bayu atau angin.

kuning emas. nilai-nilai simbolik dan religius: Aksara Bali dalam penerapannya dibedakan menjadi dua golongan (Kaler. seperti: abu-abu warna batu padas atau hitam. dipakai untuk membuat sesikep atau gegemet atau jimat. dadya Pura). sebagai tanda bahwa bangunan tersebut telah diupacarai). c) Makna. pangéling-éling atau tanda untuk meng- . yaitu: (1) Aksara Wrešastra atau aksara yang “tampak” atau aksara yang umum atau aksara “biasa” digunakan dalam masyarakat Bali.3) Warna: sesuai dengan warna bahan yang digunakan. putih perak atau kain kapan dan sebagainya. Akasara tersebut boleh diajarkan kepada siapa saja dan biasa digunakan seperti untuk membuat pipil (nama orang dalam suatu organisasi atau seka Banjar. b) Fungsi: Dipergunakan sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Tri Murti. Umumnya diterapkan pada bangunan Pelinggih Padmasana dalam bentuk relief. ulap-ulap (secarik kain kapan diberi gambar aksara suci ongkara dan diletakkan pada pertengahan kolong atau tadah alas bangunan tradisional. pedagingan dan sebagainya. dalam membuat surat bukti yang ditulis di atas daun lontar. tt).

Ketiga aksara tersebut jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. seperti: mantra. sehingga disebut Wija-aksara atau Ekã-aksara. Aksara Ong atau Ongkara merupakan sumber semua aksara. Dewa Wisnu (Ung ) dan Dewa Ciwa (Mang). yaitu aksara yang maha suci lambang Ida Sang Hyang . bayu atau bintang. Ardha-candra berbentuk bulan sabit melambangkan apah. Kedua aksara tersebut dilengkapi dengan pengangge sastra atau kelengkapan huruf yaitu berupa: Nada melambangkan angin. windu melambangkan teja. Huruf tersebut disebut juga dengan Aksara Modré. api atau matahari. berhubungan dengan dunia gaib. Kawi. aksara yang “tidak tampak” terdiri dari dua buah aksara yaitu Ah ( ) dan Ang ( ) merupakan aksara yang didak boleh diajarkan kepada sembarang orang. pengobatan dan sebagainya. Ketiga kelengkapan aksara tersebut menyimbolkan kekuatan tiga dewa. air atau bulan. yaitu: Dewa Brahma (Ang ). perlambang atau simbol terkait dengan keagamaan. Jawa Kuno dan sebagainya (2) Aksara Cwalalita.ingatkan sesuatu untuk menulis bahasa Bali. Dalam bahasa Bali diucapkan Ong. yaitu aksara suci atau aksara yang digunakan untuk menulis ilmu kedyatmikan.

Badavañ Nala a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Penciptaan produk kriya tradisional berupa simbol tersebut dilandasi dengan konsep kosmologi.3. Jadi dari penjelasan tersebut.Widi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri-Murti. aksara Ongkara sebagai simbol Tuhan telah digunakan sejak zaman Weda. 2) Material yang digunakan: Pada umumnya dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu padas. Hindu yaitu digubah dari bentuk kurakura dengan kepala berambut dan lidah mejulur keluar berbentuk api serta dililit naga. Sudartha. 1991. sehingga penggunaannya sangat terbatas dan tidak boleh secara sembarangan. 1991) 3. seperti tampak pada Gambar 11. harus mengikuti petunjuk para rohaniwan (Nala. . 3) Warna: Sesuai dengan bahan yang digunakan yaitu berwarna abu-abu batu padas atau hitam. Demikian juga di India. maka dapat diketahui bahwa aksara Ongkara sebagai simbol yang mengandung makna religius terkait dengan ajaran ketuhanan.

Bagian Dasar Atau “Kaki” Pelinggih Padmasana . Gambar 12. Badavañ Nala dan Anantabhoga b) Fungsi: Badavañ Nala digunakan sebagai simbol dan sekaligus sebagai hiasan pada bagian dasar atau “kaki” sebuah bangunan suci berupa pelinggih Padnasana Gambar 12.Gambar 11.

Oleh sebab itu. nilai-nilai simbolik dan religius: Perkataan Badavañ Nala atau Baduvañ Nala terdiri dari kata Badavañ dan Nala. Dalam bahasa Šanskerta disebut dengan kata kûrma. terbentuk dengan unsur Panca Maha Bhuta. Bang=merah dan Nãla=api. Badavañ Nãla berasal dari urat kata Bada= tempat. dan dilestarikan. Sebagai tempat kehidupan dengan berbagai persediaan bahan makanan dan sebagainya. Bagi umat Hindu. Se-dangkan Nãla atau Anala dalam bahasa Šan-skerta sebagai padanannya adalah ageni ber-arti api. Dalam simbol tersebut dimaknai sebagai inti bumi atau magma sebagai sumber panas bumi yang terus menerus membara Jadi pada simbol tersebut tersirat ajaran suci tentang ciptaan Tuhan yang tiada tara dan maha agung berupa alam makrokosmos.c) Makna. perlu dihormati. Badavañ adalah istilah yang digunakan untuk nama binatang kura-kura. empas atau penyu. Dan da-lam kepercayaan Hindu sebagai simbol awatara Dewa Wisnu atau disebut Kûrmaratarâ. Perwujudan simbol atau nyasa tersebut bertujuan untuk memberi ajaran alam semesta dan membangkit kesadaran moral dalam segala aktivitas hidup untuk menjaga serta . Keseluruhan dapat diartikan sebagai tempat atau sumber api yang merah membara.

digambar pada lontek atau umbul-umbul. 3) Warna: Sesuai dengan warna bahan yang digunakan.sebagai ucapan terimakasih atau bakti dihadapan Tuhan atas ciptaannya.4. Bentuk dan penerapan Nãga tersebut dibuat membelit Badavañ Nala. 12 dan 13 2) Material: dibuat dengan menggunakan batu alam atau batu bata. sehingga membentuk satu simbol dengan satu kesatuan makna tentang keagungan alam semesta. 3. . b) Fungsinya: Kegunaan dan penempatan nãga di dalam pura sama dengan Badavañ Nala. Nãga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Simbol nãga merupakan bentuk fantasi atau hasil imajinasi dari para kriyawan masa lalu yang digarap dengan didasari mitologi Hindu. Bentuk Nãga tersebut seperti tampak pada Gambar 11. yaitu dipakai sebagai simbol dan sekaligus sebagai ragam hias dan umumnya diterapkan pada dasar atau bagian “kaki” Pelinggih Padmasana berupa relief tinggi. seperti warna abu-abu batu padas atau warna hitam batu alam). dan di Pelinggih Saptapetala dalam bentuk patung nãga.

diameter pakalnya ±5 Cm.Gambar 13 Lontek Umbul-umbul Keterangan: Tangkainya terbuat dengan bambu. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam kamus Bahasa Šansekerta kata nãga berarti . a) Makna. Bentuk potongan kain semakin ke atas semakin kecil dan pada ujung bambu terlipat ke bawah serta di ujungnya diberi plat logam berbentuk seperti jantung . Panjang ± 8 m.

seperti. Anantabhoga simbol dari Dewa Wisnu (pemelihara alam). Berasal dari urat kata “a”-“nanta” dan “bhoga” (a=tidak. Dari pengertian tersebut. nanta= habis dan bhoga=makanan). Anantabhoga dan Taksaka. Selain arti tersebut. Maka Basukih simbol dari Dewa Brahma (pencipta alam). nãga juga berarti gunung atau pohon (Pemda Tingkai I Bali. 1982/ 1983). Secara keseluruhan berarti sumber bahan . Dalam mitologi Agama Hindu Bali.ular. Jika ketiga nãga tersebut dikaitkan dengan para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi. yaitu. penerapan pada Padmasana didasari filosofi Tri Loka. Bwah Loka (lapisan alam tengah) dan Swah Loka (lapisan alam atas).tentang bentuk simbolis nãga yang diterapkan pada masing-masing pelinggih atau peralatan upacara memiliki pengertian atau filosofi dan sebutan yang kontekstual. yang disebut Nãga Anantabhoga. Sehingga dikenal tiga nãga. Penerapan patung nãga pada Padmasana. Bhur Loka (lapisan alam bawah). Basukih. sebenarnya hanya satu dan membelit Badavañ Nala. kata nãga tersebut diartikan ular naga atau gajah. Dan dalam Kamus Bahasa Kawi-Indonesia. yaitu. dan Taksaka simbol dari Dewa Šiwa (Pelebur). maka nãga dapat diartikan sebagai ular besar.

Senjata Nawa Sanga a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Senjata Nawa Sanga merupakan sembilan sejata para dewa dengan bentuk berbeda satu dengan yang lainnya.5. dan satya loka). 3. Perbedaan tersebut mencerminkan atau sebagai simbol karakter dan sifat kekuasaan dari masing- . maha loka. santãla. jana loka. atãla. nitãla dan patãla. Jadi peristiwa tersebut berlangsung pada lapisan alam tengah (Swah Loka) atau di permukaan bumi. bahwa alam dibagi menjadi tujuh lapisan alam atas yang disebut Sapta Loka (bhur loka. waitãla. tapa loka. swah loka. bhwah loka. dan tujuh lapisan alam bawah Sapta Patala yang terdiri dari tãla. dalam perwujudannya diterapkan pada umbul-umbul (Narasumber: Gelebet) Penerapan patung Nãga Basukih pada pelinggih Sapta Patala.makanan yang tidak habis-habisnya. sutãla. Sedangkan nãga Taksaka. didasari oleh filosofi. Jadi penerapan nãga pada pelinggih tersebut sebagai simbol tujuh lapisan alam bawah. Namun kenyataannya dalam membuat Pelinggih Padmasana sering diterapkan dua nãga (Basukih dan Anantabhoga) secara estetis hanya bertujuan untuk membuat komposisi yang simetris.

masing dewa. seperti “hitam besi”. seperti berupa ujung-ujung tombak yang disebut dengan bandrangan atau pengawin . menyesuai dengan bahan yang digunakan. Dalam penerapan-penerapan tertentu ada juga yang diwarnai sesuai dengan tata warna Senjata dan Dewata Nawa Sanga. Tata letak dari senjata-senjata tersebut dalam padma angelayang atau pangider-ider. atau ada juga diwarnai dengan cat warna hitam dan putih perak. seperti dengan meggunakan kain kapan. atau dengan menggunakan besi dan diwujudkan sebagai ujung-ujung tombak yang disebut bandrangan atau pengawin. b) Fungsinya: Produk Kriya tersebut digunakan sebagai simbol dan sekaligus hiasan yang diwujudkan dalam bentuk perlengkapan upacara. seperti pada gambar 14. seperti pada Gambar 14 dan 15. 3) Warna: Warnanya produk kriya tersebut. batu padas. 15 2) Material: Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan menggunakan berbagai bahan.

Jenis dan Tata Letak Senjata Nawa Sanga Gambar 15. Wayabya (barat daya)  Sangkara  Angkus  Limpa  Wilis (Hijau)  Pascima (barat)  Mahadewa  Nagapasa  Ungsilan Ginjal  Kuning  Niriti (barat daya)  Rudra  Moksala  Usus  Oranye (jingga)                Uttara (utara) Wisnu Cakra Ampru (empedu) Ireng (Hitam) Madya (tengah) Siwa Padma Tumpuking Hati) Amanca (Pancawarna) Daksima (selatan) Brahma Gadha Hati Bang (merah)  Ersanya (timur laut)  Swayambhu  Trisula  Ineban  Pelung (biru)  Purwa (timur)  Iswara  Bajra  Jantung  Putih  Geniyan (tenggara)  Mahesora  Dupa  Peparu (paruparu)  Dadu (merah muda) Gambar 14. Dewata Nawa sanga .

dengan keadaan-Nya: “tunggal”. dengan bermacam-macam manifestasi-Nya dan dipersonifikasikan sebagai dewa-dewi. fungsi dan aktivitas (Saguna Brahman). maka dikenal dewa-dewa yang termasuk kelompok Dewata Nawa Sanga. bahwa Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa berwujud sebagai Paramašiwa. 1994). Tuhan memiliki delapan Ilmu pengetahuan untuk menyucikan Sang Hyang Atma yang ada dalam semua mahkluk dari dosa sesuai dengan amal baktinya (Wardana. maha tahu dan sebagainya serta disebut Nirgunam Brahman (sunya). Tuhan berwujud sebagai Sadašiwa dan dipercayai. Dalam alam imanensi umat Hindu di Bali. Selanjutnya Tuhan diwujudkan sebagai Šiwa atau Šiwatman atau Mayasarira Tattwa. telah dipengaruhi oleh sakti atau kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. Tuhan diwujudkan sebagai Sada Šiwa.c) Makna. kekal abadi. manifestasi Tuhan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur keharmonisan alam makrokosmos (Bhuana Agung) yang terletak di seluruh penjuru mata angin dan . tanpa aktivitas. Nilai-nilai Simbolik dan Religius: Dalam alam transendental. bahwa Tuhan telah berkrida. tidak berawal-berakhir. Dalam hal tersebut. sehingga memiliki sifat. dipercayai oleh umat Hindu. Namun dalam alam imanensi.

(1) 1. Setiti dan Pralina. Penjelasan lebih lengkap dapat disimak pada Tabel: 2 berikut Tabel 2 Makna Senjata Nawa Sanga No. Masing-masing mengandung arti atau makna yang saling terkait satu dengan lainnya serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Dalam hal ini berfungsi sebagai kutub utara yang nantinya dihubungkan dengan Dewa Brahma di kutub selatan sehingga terbentuk sumbu rotasi bumi. Lahir. diciptakan dengan didasari kosmologi khususnya tentang bumi. Dan kesembilan dewa tersebut masing-masing memiliki senjata yang disebut dengan Senjata Nawa Sanga Seperti Pada Gambar 14. Nama Senjata (2) Cakra Makna simbol (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Dewa Wisnu untuk mengatur rotasi dan peredaran bumi. merupakan simbol kekuasaan tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sambu. yaitu berfungsi menjalankan tugas sebagai pengatur kehidupan di bumi berdasarkan ketentuan Upeti. Trisula . Simbol-simbol dalam mayasakti berbentuk senjata tersebut. 2. 15. Dalam Lontar Kekawin Bhomakawya atau Bhomantaka.mikrokosmos (Bhuana Alit) yang terletak pada organ-organ tubuh mahkluk hidup. bahwa Senjata Nawa Sanga tersebut adalah merupakan simbol-simbol atau nyasa dari kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa dalam menjalankan tugas-Nya. Hidup dan Mati.

dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur atau menentukan sifat dan karakter alam semesta bersama isinya. atau disebut dengan Padma Anglayang atau pangider-ider Narasumber: Ida Pedanda Budha. 5. Simbol senjata-Nya digubah dari bentuk bunga teratai atau padma yang bermahkota delapan atau Asta Dala. Angkus Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara. dalam fungsinya sebagai pengatur panas alam (makrokomos dan mikrokosmos). dalam menjalankan tugasnya sebagai pengikat atau pengatur kestabilan alam semesta bersama isinya. dalam fungsinya mengatur. (2) Bajra . Griya Sukawati. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur kemakmuran dan kesejateraan alam semesta bersama isinya. mengendalikan dan menentukan danda atau hukum alam. buruk dan sebagainya —). Padma Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Šiwa. dalam menjalankan tugasnya sebagai pengendali dan penentu dari tugas-tugas yang dijalankan oleh delapan dewa yang terletak di delapan penjuru arah mata angin. sebagai kekuasaan atau kekuatan dari delapan dewa tersebut terpusat pada Dewa Šiwa. Dupa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Dewa Mahesora. 8. Moksala Merupakan simbol kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Rudra. Gadha Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Brahma. 7.(1) 3. (3) Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatanTuhan dalam manifestasi Nya sebagai Dewa Iswara yang bertugas mengatur getaran alam (makrokomos dan mikrokosmos). 9. malam. Nagapasa Merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Mahadewa. 6. (yang menyangkut Rwabhineda —siang. 4. baik.

Karang Bhoma . di kanan dan kiri dilengkapi dengan telapak tangan yang dikepak. Sebagai salah contoh seperti pada Gambar 16 berikut. sehingga disebut dengan Karang Bhoma.3.3. Gambar 16. Karang tersebut merupakan stilisasi dari bentuk kepala raksasa atau punggalan. Ciri-crinya: mata besar dan mendelik. kakul-kakulan serta patra punggel. Perwujudan bertuk tersebut didasari ceritera Bhomantaka. Bhoma a) Karakteristiknya: 1) Bentuk: Bhoma dibuat dalam bentuk relief tinggi yang digolongkan sebagai kekarangan. dilatarbelakangi dengan patra wangga.

Kori Agung Atau Paduraksa Dengan Ragam Hias berupa Bhoma 2) Material: Umunya bahan yang digunakan untuk membuatnya. batu padas atau batu bata. . seperti batu alam. merupakan gerbang pertama dari sebuah pura atau sebuah pintu yang membatasi halaman kedua atau madia mandala (jaba tengah) dengan halaman pertama atau utama mandala (jeroan) seperti pada Gambar 17 berikut Gambar 17.b) Fungsinya: Produk kriya tersebut umumnya digunakan sebagai simbol dan sekaligus ragam hias yang diterapkan di atas relung kori agung atau paduraksa.

gigi dan taring mencuat keluar (Covarrubias. mata melotot seram seperti kepala monster. artinya berhubungan dengan bumi. Sedangkan menurut Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali. . seperti pohon randu. Pandangan tersebut diselaraskan dengan kepercayaan. dijelaskan. tinggal di dalam bumi atau tanah (Monier. c) Makna. kala. 1972) Di Bali. kepuh dan sebagainya.3) Warna: sesuai dengan bahan yang digunakan. nilai-nilai simbolik dan Religius: Bhoma berarti lukisan (ukiran) yang berbentuk muka raksasa atau kala (Bahasa Bali) yang ditempatkan di atas relung pintu gerbang utama pura atau paduraksa (Dinas Pengajaran Propinsi Bali. yang keluar dari bumi. 1963). 1978). bahwa Banaspatiraja adalah raja bhuta. Dalam A Šanskrit-English-Dictionary dijelaskan. pole. Bhoma digunakan sebagai simbol dari pepohonan dan disebut Banaspatiraja serta dianggap keramat. dengen. bahwa perkataan Bhoma berasal dari Bahasa Šanskerta. seperti: “hitam batu alam”. Bhauma. “abu-abu batu padas” atau merah bata. mulut terbuka lebar. bahwa Bhoma adalah raksasa putra bumi. tonye atau mahkluk halus yang menempati pohon-pohon besar.

Menurut Mitologi Bhoma dalam kesusastraan Jawa kuno. Mamun usaha mereka sia-sia. Bersamaan dengan kejadian tersebut tiba-tiba muncul sebuah lingga kristal dari bumi dan menjulang ke angkasa. sedangkan Dewa Wisnu berubah wujud menjadi seekor babi jantan dan menggali tanah untuk menemukan pangkal lingga. seperti pada kekawin Bhomantaka. Berawal dari perdebatan antara Dewa Brahma dengan Dewa Wisnu tentang kesaktian yang mereka miliki. Dalam pertemuan tersebut akhirnya terjalin hubungan yang dalam sehingga melahirkan seorang putra yang diberi Naraka atau Bhoma (Lontar Bhomantaka. karena pangkal lingga tersebut terus masuk ke dalam bumi dan ujungnya terus menjulang ke angkasa dengan batas yang tak terhingga. Dalam pencarian tersebut Dewa Wisnu bertemu dengan Dewi Wasundari (Dewi Pertiwi). dinarasikan tentang kelahiran Sang Bhoma. Lampiran 5b. Milihat kejadian tersebut. Keropak IV. . mereka tercengang dan memutuskan untuk menemukan ujung dan pangkal dari lingga tersebut. Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk mencari pangkalnya dan Dewa Brahhma dengan kesaktiaannya berubah menjadi burung layang-layang hitam terbang meluncur ke atas mengejar ujung lingga.b).

merusak dan mengganggu aktivitas para dewa di kahyangan. karena raksasa tersebut diketahui sedang minum tirta amertha. Mahkluk tersebut kembali bertanya.Heinrich Zimmer dalam bukunya Myths and Symbols in Indian Art an Civilization dipaparkan tentang Bhoma sebagai akibat pemenggalan leher raksasa bernama Rau yang dilakukan oleh Dewa Wisnu. Akhirnya Dewa Siwa memerintahkan agar memakan tubuhnya sendiri. tangan. Kepala raksasa tersebut akhirnya murka. . Akhirnya raksasa Rau dimakan oleh makhluk tersebut. Perintah tersebut segera dilakukan. akhirnya Dewa Siwa menjadi sangat marah. badan. sehingga bagian kepalanya tetap hidup sedangkan bagian badannya langsung mati. mengerikan— dari ajňa cakra-Nya atau kening. Namun makhluk yang diciptakan tersebut memiliki sifat yang rakus dan memakan apa saja yang dijumpainya serta sangat tunduk dengan perintah Dewa Siwa. Dia mulai makan kaki. sampai bagian dibawah leher dan hanya tersisa bagian leher serta kepala. Melihat kejadian tersebut. sehingga muncul makhluk yang luar biasa sebagai Ghora Murti Siwa —wujud Tuhan yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang sangat sangat dasyat dan. Namun pada saat dipenggal tirta tersebut belum sampai di tenggorokan.

bersayap. Dibagian belakang diberi ekor dan dipunggungnya dibuat patung Dewa Wisnu memegang Cakra. batu padas. menghancurkan dan menolak pikiran jahat yang akan merusak kesucian stana Dewa Siwa serta diberi nama Kirttimukha serta diletakan pada bendul pintu utama.4. mata melotot. bertaring dan diberi busana serta mahkota. 2) Bentuk: Pada umumnya bentuk Garuda Wisnu digubah dari bentuk fantasi yang menyerupai burung. batu bata. telapak kaki dibuat seperti cakar burung. Tubuh dan anggota badan menyerupai manusia. Dewa Siwa memberi tugas untuk menjaga istana Siwa. menelan. Pada saat tersebut Dewa Siwa bersabda “ Barang siapa yang masuk ke dalam kuilku tanpa menyembahmu. berparuh. Garuda Wisnu a) Karakteristiknya 1) Material: Bahan baku yang digunakan untuk membuat produk itu adalah kayu. Karena kepatuhannya tersebut. 3. seperti pada Gambar 18 berikut .apa yang saya lakukan lagi ?. gigi runcing. atau batu alam. mereka tidak akan memperoleh rahmatku” (Zimmer. 1945). dan sebagainya.

Garuda Wisnu Tetapi yang digunakan untuk menghias pada sendi tugeh jarang dilengkapi dengan patung Dewa Wisnu. gedong bata dan seba- . digunakan sebagai simbol dan hiasan. b) Fungsinya: Produk kriya tersebut mempunyai fungsi religius dan estetis. biasanya diterapkan di belakang bangunan Pelinggih Padmasana. karena dari punggung patung garuda tersbut.Gambar 18. sendi tugeh (dasar tiang penyangga puncak langit-langit pada bangunan piasan). langsung berdiri tugeh atau tiang penyangga menuju puncak langit-langit.

Dalam perwujudannya sebagai simbol. salah satu contoh penerapannya. Relief Garuda Wisnu Diterapkan di Belakang Padmasana c) Makna. Berikut Gambar 19. naga sebagai simbol . yang berarti “menelan” (penakluk para naga. seperti pada Gambar 19. sering ditunggangi oleh Dewa Wisnu. nilai-nilai simbolik dan religius: Dalam bahasa Šanskerta perkataan “garuda” berasal dari akar kata “gri”. Garuda dipakai sebagai simbol matahari. memiliki kekuatan magis untuk menangkal bisa ular).gainya.

maka garuda kembali dijadikan sebagai lambang negara. Penggunaannya semakin berkembang dan terus seperti digunakan oleh Raja Jayabaya. garuda juga digunakan sebagai simbol kebesaran atau penggambaran aspek keagungan Tuhan. 1995) Setelah bangsa Indonesia bebas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa lain.air kosmis dan Wisnu berada pada kedua sisi antagonis tersebut. 1946). Dalam perwujudannya kaki burung Garuda tersebut mencengkram pita yang berisi tulisan tentang ikrar . yaitu Garuda Pancasila. Raja Kertajaya (raja yang terhakhir memerintah dikerajaan Kediri). Prabu Aerlangga dengan peninggalannya yang paling terkenal berupa garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dan sebagainya (Titib. Di Nusantara. Hal tersebut dapat diketahui dari tipografi peninggalan cap atau stempel bermotif Garudamukha yang pertama kali digunakan sebagai lencana kepala pemeritahan oleh Sri Maha Raja Blitung (808-910) yang berkuasa di Jawa Tengah. ceriteraceritera rakyat dan dalam bentuk visualnya dipakai sebagai sarana pemujaan oleh umat Hindu di India dan Bali (Zimmer. Diperkirakan telah berlangsung sejak pertengahan abad X. Adegan tersebut sangat populer dalam episode Ramayana.

twam dewah. dan sinarnya sama dengan sinarku. anak Bhagawan Kacyapa dengan Sang Winata. seberikut: Aparan pwa ya makateja Ya? Garudo balawan tesam manuk mahacakti. Makana ling Sang Hyang Agenbi ri sang watek dewata. . Kunang pada tejanya lawan teja nghulun. anak Bhagawan Kacyapa ri Sang Winata ika. twam mahabhagas. Lambang tersebut sebagai sumber yang kreatif mencerminkan kebebasan untuk menentukan nasib bangsa indonesia di antara bangsabangsa di dunia. Mari ta sira harohara. kapwa maso mangastuti Sang Garuda.bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. pathagecwara. ling nira: Twam rsi. twam prabhuprahus tapanah twam nastranam anuttamam Artinya. Nama tluya sutejasa. Dalam Adiparwa —sebuah kesusastraan Jawa yang diperkirakan ditulis pada zaman pemerintahan Raja Darmawangsa Teguh sekitar tahun 918 Saka (918 Masehi). Sinanya sangat bagus. Apakah yang bersinar itu ? Garuda tiada lain seekor burung yang maha sakti. dalam bahasa Kawi— terdapat satu episode yang menceritakan keajiaban atau kebesaran Sang Garuda.

1958). Akhirnya sang Garuda berhasil mengambil tirta amertha yang disimpan dalam goa dilereng gunung Somaka dan membawanya terbang ke angkasa. Dalam episode selanjutnya diceritakan usaha Garuda dalam mencari tirta amertha yang disimpan oleh para dewa di Gunung Somaka. engkau resi. sinarmu seperti sinar matahari (Widiatmaja. Namun dengan kesaktiannya tak satupun bulu Garuda tersebut dapat dirontokan oleh senjata para dewa. engkau rajanya. Namun sang Garuda menolaknya dan menyuruh agar para dewa . semua tampil ke depan dan memuji Sang Garuda serta mengatakan: Hyang Garuda.Demikianlah kata Sang Hyang Ageni kepada para dewa. engkau pendeta besar. engkau penguasa segala yang terbang melayang. Dalam perjalanan mencari tirta amertha ia menemui banyak hambatan. engkau dewa. Seperti para dewa yang membawa senjata menghadang dan menyrangnya. Mereka tertegun dan berdiam. Di angkasa dengan serta merta dewa Wisnu mengampirinya dan menyuruh agar tirta tersebut dikembalikan. Tirta tersebut natinya digunakan sebagai persyaratan untuk membebaskan ibunya (Sang Winata) dari perbudakan Sang Kadru.

Barong Ket dan Rangda a) Karakteristiknya: 1) Material: Bahan baku yang digunakan. Mitologi tentang keagungan atau kesaktian tokoh Garuda dan Wisnu dijadikan sebagai landasan estetika dan penerapan Garuda Wisnu juga sebagai simbol kebesaran Tuhan. maka Garuda Wisnu diterapkan pada bangunan-bangunan suci. jelaga.5. Sehubungan dengan hal tersebut. 3. dianggap mengandung nilai-nilai simbolis religius serta disakralkan. . pewarna (menggunakan pewarna tradisional. seperti pada Pelinggih Padmasana. seperti: kulit sapi yang telah disamak. kaca. praksok ( Bahasa Bali) atau sejenis serat daun pandan. seperti: kincu. serbuk tulang menjangan.minta anugrahnya… Episude cerita tersebut diakhiri dengan menerima permintaan dewa Wisnu untuk menjadikannya sebagai kendaraanya dan tirta amerthan tersebut kembali dapat direbut oleh para dewa serta Sang Winata bebas dari perbudakan. Sedangkan di Bali. kain dan sebagainya. kayu. karya sastra tersebut banyak mengilhami para seniman atau para kriyawan masa lalu dalam berkaya. atal ancur dan perada).

kembang sasak. Demikian juga hiasan Rangda. Barong Macan. Barong Asu. dibuat dan diwarnai dengan cara yang sama. Barong Bangkal. seperti: badong. gelung kekendon. Barong Blas-Blasan. silat bahu. Warna topeng Rangda umumnya putih. dibuat dengan kulit dan diwarnai perada atau warna emas.2) Bentuk: Barong yang digunakan di Bali bentuknya sangat beragam dengan sebutan yang berbeda-beda. angkeb pale dan sebagainya. Barong Ket dan Rangda . geruda mungkur. Hiasannya. Barong Brutuk dan sebagainya. Salah satu contoh berupa Barong Ket dan Rangda dapat dilihat pada Gambar 20 b) Warna: Topeng barong biasanya diwarnai dengan merah. bulunya diwarnai hitam atau dibiarkan putih (warna praksok). Gambar 20. seperti: Barong Ket.

karena selain mengandung nilai-nilai sakral (sebagai sarana upacara agama). Produk kriya tersebut diciptakan dan digunakan sebagai sarana pagelaran seni tari wali. Produk kriya tersebut juga digunakan sebagai pratima dan biasanya di simpan di Pura Dalem. 1975/1976) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. nilai-nilai simbolik dan religius: Banyak pengertian mengenai kata barong.c) Fungsinya: Barong dan Rangda adalah tergolong produk kriya bebali. berasal dari kata Bhahrwang. bahwa sinonimnya disitir dari Bahasa Belanda. Seperti. dimainkan oleh . bahwa perkataan barong berarti. d) Makna. Goris. tarian yang memakai kedok dan kelengkapannya sebagai binatang buas (singa). sesuai dengan pendapat R. artinya binatang beruang. yaitu tarian yang dipentaskan serangkaian dengan upacara Agama Hindu di Bali. juga mengandung nilai-nilai profan. maka perkataan barong diselaraskan dengan perkataan bareng (Bahasa Bali). yaitu dari kata beer. artinya bersama —cara menarikan atau memainkan bersama-sama —(Proyek Sasana Budaya Bali. Sedangkan ditinjau dari cara memakai. Pengertian tersebut. seperti dalam Bahasa Šanskerta. dalam melangsungkan upacara odalan di pura.

merusak. 1994). Barong dan Rangda dalam episode Calonarang adalah dua tokoh yang melambangkan dua sifat atau karakter berbeda (Rwa Bhineda) atau antagonis. mengganggu dan sebagai penganut ajaran “beraliran kiwa atau kiri” (black magic) (Covarrubias. Perkataan ”Ket“ tidaklah mengandung arti khusus. sebagai juru penyelamat. di mana Barong sebagai lambang kebenaran atau dharma. sewaktu dimainkan. 1972). satu dibagian kepala dan satu di bagian ekor. Menurut mitologi. Sedangkan Rangda atau Randa. dipertunjukkan dengan ceritera Calon Arang (Kridalaksana. 1994). hanya disesuikan dengan suara yang ditimbulkan akibat entakan rahang bawah kedok barong. Sedangkan tokoh Rangda melambangkan sifat atau karakter yang mengarah pada hal-hal kurang baik atau adharma. Masyarakat di Bali menyebutnya sebagai penganut ajaran beraliran “tengen atau kanan” (white magic). dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Secara singkat . mengayomi dan dapat menyembuhkan penyakit. perkataan itu berarti perempuan yang kehilangan suami (cerai atau meninggal dunia) atau janda (Kridalaksana. bahwa penciptaan Barong dan Rangda di Bali diilhami cerita yang terdapat dalam lontar Šiwa Tattwa.dua orang.

diceritakan tentang kutukan Dewa Šiwa yang ditujukan kepada istrinya Dewi Uma agar berubah menjadi Dewi Durga —Seorang dewi atau perempuan yang berwajah angker dan menakutkan sebagai dewi penguasa kuburan yang bernama setra Gandamayu— karena ulahnya yang tidak wajar dilakukan ketika disuruh mencari susu atau empehan lembu. Lalu untuk memberkati perubahan wujud istrinya menjadi dewi Uma. mengorbankan kesucian dan kesetiannya. maka Dewa Šiwa berubah menjadi Bhuta Egeg (Lontar Šiwa Tattwa. Dia berani menghianati. Pada hal kejadian tersebut dibuat oleh Dewa Šiwa. Ketika hari tersebut tiba. . Sebenarnya pengembala tersebut adalah siluman dari dewa. melakukan perselingkuhan dengan pengembala lembu. Masalah tersebut terungkap berkat kehebatan ilmu tenung yang dimiliki dewa Ganesh. namdala 53-56). Dalam kutukan tersebut Dewa Šiwa juga mengijinkan istrinya untuk berubah wujud kembali menjadi dewi Uma saat hari tilem sasih kesanga ( saat bulan mati di bulan sembilan). istrinya menghadap dalam wujud rangda dengan wajah menakutkan.

Pendekatan Historis ejarah atau dalam bahasa Inggris disebut history dan berasal dari bahasa Yunani istoria (kata benda) berarti “ilmu”. Pendekatan tersebut disebut natural history. entah suatu susunan yang kronologis ataupun tidak. 1969). Dalam definisi yang universal istilah history berarti masa lampau umat manusia. Dalam penggunaannya oleh filusuf Yunani seperti istoria yang dipakai Aristoteles berarti suatu cara menelaah sesuatu secara sistematis mengenai seperangkat gejala alam. Namun masa lampau tersebut tidaklah dapat direkonstruksi kembali secara utuh. Namun dalam perkembangan selanjutnya metode untuk menelaah sesuatu yang tidak kronologis digunakan istilah scientia. S .BAB IV PENDEKATAN HISTORIS DAN SEMIOTIS TERHADAP PRODUK KRIYA A. karena sejarah hanya berdasarkan rekaman dan berdasarkan simpulan mengenai lingkungannya (Gottschalk. Sedangkan yang kronologi terutama menyangkut kehidupan manusia dipakai istilah istoria.

2) Menyingkirkan bahan yang dianggap tidak otentik 3) Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan bahan yang otentik. penyusunan. dan deskripsi. karena pada batas-batas tertentu metode sejarah analitis adalah ilmiah.Pendekatan hitoris adalah suatu proses pengujian dan analisis secara kritis hasil rekaman dan peninggalan masa lampau. yakni hasilnya dapat diverifikasi dan dapat titolak atau diterima. dilakukan seleksi. Sejarah merupakan suatu metode atau prosedur (procědě de connaissance). Dan cara tersebut berbeda dengan metode sejarah analitis. 4) Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya tersebut menjadi suatu penyajian atau deskripsi yang berarti.1969). sehingga metode sejarah dapat diterapkan pada berbagai disiplin yang digunakan sebagai sarana untuk memastikan fakta (Gottschalk. . tertulis dan lisan yang relevan. Cara penulisan sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok yaitu: 1) Pengumpulan data yang berasal dari jaman yang sedang dialami menjadi konsentrasi dan pengumpulan bahan-bahan: tercetak. Rekonstruksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses historiografi (penulisan sejarah).

bangunan. cenderung menggunakan data yang belum terlalu lama. senjata. dilakukan dengan membandingkan gejala yang sejenis. posil. relief. seperti: candi.dan sebagainya. perhiasan.1990): 1) Penelitian atau studi komparatif hitoris.Secara umum sumber data yang digunakan dalam penelitian sejarah dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu: 1) Peninggalan berupa material. Penggunaan arsip dan dukumen harus dibedakan dengan studi dokumenter yang merupakan metote deskriptif. monumen. seperti berupa ceritera rakyat. naskah kuno dan sebagainya. baik berdasarkan perbedaan waktu terjadinya atau tempat terjadinya di dalam kurun waktu yang sama. . kepercayaan. pendekatan historis menggunakan data yang relatif sudah lampau. sehingga masih dapat dikelompokkan sebagai usaha mengungkap fakta masa sekarang. Bentuk penelitian historis (Namawi. hukum. adatistiadat. perabotan dan sebagainya. Sedangkan dari segi waktu. dogeng. Studi dokumenter. 2) Peninggalan tertulis: seperti: prasasti. kitab. 3) Peninggalan yang tidak tertulis atau budaya. lontar.

. 3) Penelitian bibliografi atau kepustakaan. sehingga berpengaruh bagi kehidupan pada masa terntentu dalam prospek sejarah. Pendekatan Semiotis Pendekatan Semiotis diartikan sebagai prosedur yang digunakan untuk pemecahan masalah yang ditinjau dari perspektif ilmu tanda atau dikenal dengan “semiologi” atau “semiotika”. kriya dan desain pendekatan semiotis dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah estetika dan semantika produk kriya. pemikiran filsafat dan lain-lain yang dapat ditemui di dalam berbagai peninggalan tertulis terutama buku-buku yang dihasilkan pada zaman tertentu. dilakukan untuk mengungkap berbagai teori pandangan hidup. B.2) Penelitian legal atau yuridis. Dalam bidang seni. Bermaksud mengungkap kegiatan-kegiatan pemerintah suatu bangsa. 4) Penelitian kronologis atau secara diakronis penelitian ini bermaksud untuk mengungkap kejadian atau keadaan dan peristiwa menurut urutan waktunya dari masa yang paling tua dapat dicapai sampai masa-masa mendekati masa sekarang. lembaga dalam menetapkan kebijakan. kerajaan. Upaya pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan dengan membaca atau menginterpretasikan hubungan antar tanda dan makna pada produk kriya.

Indeks. seorang filosuf dari Amerika. Merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. seorang linguis dari Swiss. bahwa pengertian semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda. Di Eropa ilmu tersebut disebut dengan Semiology. Namun kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani. Sebab menurut Tjahjono (1980) bahwa istilah desain (design) dalam penggunaannya sebagai kata kerja berasal dari kata latin-baru desingare yang berarti ‘menandai’ atau membatasi (penambahan suku kata ‘de’ di depan menunjukkan pemakaian secara intensif). yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (18571913). berasal dari kata signum yang berari sebuah tanda khusus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dijelaskan. yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce (1838-1914). yaitu sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi. simbol. sebenarnya dalam desain bukan merupakan hal yang baru. hubungan . proses yang berlaku dalam penggunaan atau fungsi tanda. ikon yang merupakan hal yang mendasar dalam semiotika. seperti sistem tanda. tanda. Kata desingare sendiri mempengaruhi kata designer dari bahasa Perancis abad pertengahan (dalam pengertian merancang). Di Amerika ilmu tersebut disebut dengan Semiotics. Dia menegaskan bahwa peranan tanda dalam kehidupan sangatlah besar. dalam artian sign atau tanda. Semeion.

Batasan tersebut sesuai dengan pendapat Rene Wellek dalam telaah linguistik. 1984). Luxemburg menyatakan. baik menggunakan bahasa verbal atau ujar maupun non-bahasa atau nirujar. termasuk pengiriman. 1993). symbol dan myth ke dalam cakupan semiotika (dalam Santosa. dan berbagai produk lainnya (The American Heritage® Dictionary of the English Language. Ruang lingkup kajiannya tidak terbatas pada bidang bahasa saja. pakaian. Kemudian Wiryaatmadja (1981) menyatakan. hubungan antara tanda dengan tanda lainnya. Semiotika mempelajari tentang tanda. bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda dalam maknanya yang luas di dalam masyarakat. 1990). Third Edition. baik bersifat literal maupun alegori (kias) atau figuratif. seperti . 1992 ). dan penerimaan tanda dalam komunikasi tanda. cara berfungsi. bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tentang tanda dan lambang (sistem dan proses perlambangan) (Luxemburg dalam Hartoko. penerima dan pengiriman tanda. konvensi dan sebagainya (Zoest dalam Soekowati. tetapi meliputi berbagai aspek kebudayaan. metaphor (metafora). seperti gerak isyarat atau gesture. Dalam pengkajian semiotika menggunakan beberapa pendekatan. yang memasukan image (citra). Dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa bidang kajian semiotika sangat luas.dengan tanda lainnya.

lambang (symbol) dan isyarat atau sandi. 3) Pragmatik semiotika. bahasa. 2) Semantik semiotika. yaitu studi tentang tanda yang berpusat pada penggolongan. hubungan dengan tanda-tanda lain dan cara bekerja samanya dalam menjalankan fungsinya. sehingga tanda memiliki arti yang statis. benda. . tanda selalu menunjuk pada sesuatu hal yang riil. lugas dan objektif. disebut designatum atau denotatum. secara garis besarnya mencakup komponen dasar. umum. tulisan. makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan objek atau sesuatu — apa yang dimaksud oleh tanda. Bidang kajian semiotika seperti dipaparkan tersebut. misalnya. tindakan. kejadian. diacu atau ditunjuknya. Menurut Peirce. dan bentuk-bentuk tanda yang lain. apabila pengkajian menonjolkan hubungan tanda dengan acuannya dan interpretasi yang dihasilkannya. apabila mengutamakan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerima tanda. Dalam konteks tersebut. 1) Tanda (sign) merupakan komponen semiotika yang menandai suatu hal atau keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subyek. peristiwa. seperti tanda (sign).1) Sintaksis semiotika.

sedangkan dalam Bahasa Indonesia disebut “acuan”— disebut representamen. misalnya. Interpretant merupakan suatu peristiwa psikologis dalam pikiran interpreter atau penterjemah. (Sudjiman. 1992). Setelah tanda diasosiasikan dengan suatu acuan. Jadi dalam suatu tanda selalu terdapat tiga unsur. konvensi. Tanda mempunyai dua entitas yaitu: signifier atau wahana tanda dan signified atau wahana makna atau dapat diartikan sebagai penanda dan petanda serta keduanya tidak dapat dipisahkan. maka dari tanda yang orisinil berkembang menjadi suatu “tanda yang baru” disebut interpretant. Representamen dapat terlaksana apabila ada bantuan sesuatu. seperti tampak pada Gambar 21 berikut: . yaitu denotatum. Keseluruhan dari proses terlaksananya representamen digambarkan oleh Peirce dalam diagram segitiga. “Sesuatu” yang diacu oleh tanda agar dapat berfungsi disebut dengan latar atau ground. ground dan interpretant.Dalam Bahasa Prancis digunakan kata référent.

Sumber: Eco 1979 Gambar 21: Proses Berlangsungnya Representamen Salah satu contoh: dua buah produk kriya berupa patung raksasa apitlawang (Bahasa Bali) yang diletakkan mengapit pintu gerbang utama pura atau paduraksa. sebelum memasuki pura atau tempat suci agar “membunuh” sifat-sifat “keraksasaan” (marah. dengki. atau emosi diri yang tak terkendali lainnya)— maka patung tersebut akan menjadi tanda . yaitu untuk “menyadarkan” atau mengingatkan umat. namun setelah mengacu pada latar (ground) yang terkait dengan pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. loba. Awalnya patung tersebut merupakan tanda untuk “benda biasa” atau sekadar hiasan semata. —dua buah patung raksasa tersebut mempunyai fungsi komunikasi tanda visual.

sehingga dapat mengikuti upacara dengan khidmat. dapat dikatakan representemen dari patung tersebut dapat berlangsung dengan baik. maka pada dirinya akan muncul interpretasi yang menggugah kesadaran. tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifat penghubung tanda dengan denotatum.baru yang memuat latar tersebut. Dalam kondisi tersebut. seperti. yaitu: . c) Legisign adalah tanda terbentuk atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum. bahwa memasuki pura hendaknya mengendalikan “emosi”. konvensi atau kode. Selain hal tersebut. b) Sinsign berasal dari singular sign adalah tanda terbentuk berdasarkan penampilannya yang nyata. semua pernyataan individual yang belum terkonvensikan dapat disebut sinsign. Bagi umat yang memahami latar atau ground yang tersirat pada patung tersebut. Unsur penanda (dasar atau latar) atau ground dari tanda dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan sifatnya. yaitu: a) Qualisign adalah terbentuknya tanda berdasarkan sifat atau kualitas.

karena semua yang ada di alam dapat diasosiasikan dengan yang lain. Dalam hal tersebut tanda terkait dengan renungan kebenaran. ada asap sebagai pertanda ada api dan sebagainya. c) Argument atau interpretant dalam arti umum. menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda denotatum. b) Dicisign. Selanjutnya unsur interpretant atau petanda dapat dibedakan menjadi tiga. Batasan tersebut mengimplikasikan bahwa segala sesuatu merupakan icon. c) Symbol atau lambang adalah hubungan berdasarkan konvensi dari suatu kelompok komunitas manusia. . Contoh. apabila tanda tersebut dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum. apabila bagi interpretant tanda itu. yaitu: a) Rhême. b) Indeks adalah tanda yang sangat tergantung pada denotatum dan memiliki hubungan bersebelahan atau kedekatan eksistensi.a) Iconic adalah tanda terbentuk berdasarkan suatu kemiripan potensial yang dimilikinya dan tidak tergantung pada makna denotatum. membawa penjelasan mengenai daya atau kekuatan kebenaran pada sistem-sistem semiotika.

instead of defining man as an animal rationale. 1944). bersikap. bekerja dan sebagainya. sebagai kata benda. yaitu kemampuan untuk menciptakan “sistem simbolik”. maksudnya prihal yang .. yaitu sistem penerimaan dan pemberian. Namun manusia selain terlibat dua sistem tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ernst Cassirer. seperti dalam berpikir. umumnya dilandasi oleh dua sistem.2) Lambang atau simbol . membaca. Dan sekaligus dipakai untuk menandai salah satu perbedaan manusia dengan binatang Sehingga ia menyatakan: ”. berperasaan. bahwa semua mahkluk ciptaan Tuhan dalam menghadapi realita kehidupan. (Cassirer. dari dulu hingga sekarang tidak terlepas dari aktivitas simbolisasi. karena hampir semua aktivitas dalam kehidupan manusia sehari-hari.. Manusia sering disebut sebagai “mahkluk simbolik”. berarti perbandingan dengan sesuatu. berkomunikasi. Istilah simbol berasal dari perkataan Yunani. juga mempunyai kelebihan untuk menciptakan sistem komunikasi dengan matra baru yang menyesuaikan dengan lingkungan realitas. symballein (suatu bentuk kata kerja) yang berarti meletakan secara bersama atau menaksir bersama. we should define him as animal symbolicum”.

yaitu reference (yang mengandung. “sesuatu” dan sebagainya. berdasarkan konvensi atau kode yang berlaku umum dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu. Sumber: Eco 1979 Gambar 22 Berlangsungnya Referent . Ketiga komponen tersebut digambarkan dalam diagram segitiga. Ogden dan Richards dalam Eco (1979) memberi dua istilah. isi atau konsep sebagai acuan) dan referent (yang mengandung persepsi. Lambang atau simbol adalah tanda yang mampu menuntun pemahaman si subjek kepada objek berhubungan dengan makna denotatum dan konotatum.harus dikaji dengan kritis. denotatum. karena merupakan analogi tanda untuk menghadirkan tanda yang lain. Dalam kaitan dengan simbol. seperti Gambar 22 berikut. sebagai hasil interpretasi).

1990). simbol dan isyarat. Dalam keadaan tersebut. apabila ditangguhkan pemakaiannya. Lambang atau simbol merupakan pedoman untuk memudahkan pengenalan atau penghayatan sesuatu di tengah-tengah kesemerautan perbuatan manusia dan keragaman kejadian alam.Jadi simbol merupakan tanda yang mengandung pengertian sertaan dan antara simbol dengan yang disimbolkan atau referent yang dihasilkan sama sekali tidak terdapat pertalian makna alamiah. seperti tanda. sering . dan majas. khayalan. si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek yang memberi isyarat pada waktu itu juga. impian dan bentuk-bentuk abstrak lainnya dapat direalisasikan dalam wujud simbol. sehingga lambang atau simbol bermakna dinamis. 3) Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan oleh si subjek kepada objek. subyektif. Jadi isyarat selalu bersifat temporal (kewaktuan). kias. Sebenarnya penerapan ketiga komponen semiotika. Perwujudannya sangat tergantung pada permasalahan yang bersifat kultural. isyarat akan berubah menjadi tanda atau perlambang (Santosa. Mitos. situasional dan kondisional. khusus. Karena di dalamnya terkandung kaidah yang bertalian dengan akal budi dalam seluruh paradigma tentang kehidupan sadar dan di bawah sadar.

yang dipakai sebagai dasar isyarat tidak ada hubungan khusus dengan yang diisyaratkan. berbentuk konkret dan / atau abstrak. secara garis besarnya dapat dilihat ciri masing-masing komponen tersebut. TANDA (2) subjek diberitahu oleh objek (subjek pasif) hanya memuat dua arti subjek dibeitahu oleh objek terus menerus (berlaku konstan) SIMBOL (3) subjek dituntun memahami objek (subjek aktif) memuat banyak arti atau sedikit-dikitnya dua arti. dan dapat juga oleh binatang setelah diajarkan secara berulangulang yang dipakai untuk tanda selalu mempunyai hubungan khusus dengan yang ditandai (kontekstual). 6. Namun berdasarkan uraian tersebut. . hanya dapat dipahami oleh manusia. seperti Tabel 2 berikut: Tabel 2 Tiga Komponen Semiotika No. (1) 1. ISYARAT/SANDI (4) diberitahukan oleh subjek kepada objek (subjek aktif) hanya memuat satu arti diberitahukan oleh subjek kepada objek secara langsung (berlaku satu kali) 2. diketahui oleh manusia. berbentuk abstrak dapat dikenal oleh binatang dan manusia yang dipakai untuk lambang atau simbol tidak mempunyai hubungan khusus dengan yang dilambangkan atau disimbolkan. terutama dalam menentukan garis demarkasinya secara tepat. 5.menemui kesulitan. subjek dituntun memahami objek secara terus menerus (berlaku secara konstan). karena terkonvensi berbentuk konkret dan atau abstrak. 4. 3. karena ketiganya saling terkait. Hal tersebut disebabkan.

Terutama penggunaan tanda atau simbol dalam konteks pelaksanaan ajaran agama Hindu sesuai adat di Bali. Simbol-simbol tersebut diupayakan dengan harapan agar dapat “mempermudah” . 1983) (3) diciptakan oleh manusia untuk manusia. maka model semiotika tersebut akan dipakai untuk menjelaskan atau memaparkan tinjauan mengenai penggunaan tanda atau simbol dalam masyarakat Hindu di Bali pada zaman Hindu dan pewaris tradisi tersebut. terutama terkait dengan model semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure maupun Ogden dan Richards —dimana antara tanda (sign). penanda (signifier) dan petanda (signified) meunjukkan hubungan yang “statis”— merupakan semiotika dengan model berpikir struktur. sinkronik dan konvensional —Apapun bentuk pertukaran tanda.(1) 7. harus mengikuti model struktur kaitan antara penanda dengan petanda yang berlangsung stabil atau mapan— serta sebagai konsep dari paham strukturalis. hampir semua diwujudkan dalam bentuk simbol atau lambang dengan konvensi yang telah mapan dan stabil yang mengacu pada mitologi atau filosofi agama Hindu dan didasari keyakinan. Sehubungan dengan hal tersebut. alam dan juga binatang untuk manusia dan/atau binatang. (4) diciptakan oleh manusia untuk manusia dan “mahkluk lain” Penjelasan semiotika tersebut. Hal tersebut dilakukan mengingat dalam mengamalkan ajarannya. (2) diciptakan oleh manusia. (Herusatoto.

Oleh sebab itu. Misalnya. diwujudkan dalam produk-produk kriya seperti: patung. Dalam buku Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979). Kristeva menerangkan bahwa pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam analisis teks atau produk desain atau seni. Model semiotika tersebut merupakan pengembangan lebih lanjut dari paham ‘dialogisme’ (dialogism) yang diperkenalkan oleh Mikhail Bakthin. Sebuah teks atau produk desain atau seni selalu dibuat dalam ruang dan waktu yang konkrit. karena tidak ada ungkapan yang tidak terkait dengan ungkapan lain. seorang pemikir post-strukturalis dari Perancis. maka antara satu teks atau produk dengan teks atau produk yang lain dalam ruang dan antara satu teks atau produk dengan teks atau produk sebelumnya yang saling silang me- . Menurut pendapat Mikhail Bakthin. senjata dan sebagainya. bahwa “dialogisme” sebagai relasi-relasi yang harus ada di antara ungkapan-ungkapan dalam discourse. seorang pemikir Rusia. Pemikiran tersebut menjadi salah satu konsep dalam paham post-strukturalisme. Sedangkan kajian semiotika terkait dengan fenomena eklektik pada desain produk masa kini di Bali diuraikan berdasarkan model semiotika ‘intertekstualitas’ (intertextuality) yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva. relief.penghayatan kepada sifat-sifat maya Tuhan.

‘pelesetan’ bagian tanda dari sistem tanda yang menjadi referensinya.nyilang satu dengan yang lainnya dalam rentang waktu tertentu mesti ada relasi-relasi ( Kristeva. suatu sistem tanda kadang-kadang dapat berdampak negatif atau ‘merusak’ sistem tanda sebelumnya. Pemakaian petanda sebelumnya yang telah mapan untuk petanda baru yang kurang jelas maksudnya akan menunjukkan terjadinya suatu perlintasan sistem tanda. sehingga sepanjang perlintasan tersebut. sering dijumpai . Konsep intertekstualitas yang dikembangkan oleh Kristeva tersebut dapat digambarkan dalam suatu sekematik seperti Gambar 23 berikut Gambar 23 Transposisi Sistem Tanda Berdasarkan Model Semiotika Intertekstualitas (Intertextuality) Dalam penggunaan tanda atau simbol dengan petanda atau maknanya di masyarakat. Misalnya dapat menimbulkan terjadi ‘penghapusan’ atau ‘pengkaburan’. Istilah intertekstualitas merupakan proses perlintasan atau diistilahkan dengan ‘transposisi’ (transposition) dari satu sistem tanda (sign system) ke sistem tanda yang lain. 1979).

mengingat produk-produk kriya masa lalu juga merupakan salah satu artefak kebudayaan. Semiotika dalam Rancangan Produk Kriya Berdasarkan uraian tersebut dan dikaitkan dengan penciptaan serta penggunaan produk kriya dalam kehidupan masyarakat di Bali. C. . nostagia.terjadi fenomena “permainan penanda”. misalnya dalam pengadaan komoditi mata dagangan. akan dilakukan tinjauan berdasarkan konsep yang melatarbelakangi penciptaannya. janji dan sebagainya. Konsumen sering disuguhi permanen tanda-tanda atau simbol-simbol yang dikondisikan oleh pihak produsen dengan tujuan untuk memperoleh benefit atau untuk memenangkan kompetisi dagang. Hal tersebut. seperti konsep “sekular” dan konsep spiritual religius serta dikaitkan dengan nilai fungsi guna dan estetis yang dikandungnya. seperti telah dipaparkan tersebut. image. prestise. di dalam tersirat nilai-nilai atau norma-norma budaya yang melibatkan beberapa komponen semiotika. maka permasalahan rancangan produk-produk kriya juga dapat dianalisis berdasarkan pendekatan semiotika. Untuk lebih jelasnya mengenai permasalahan semiotika dalam produk-produk kriya. Pada mata dagangan tersebut terjadi ekspansi secara total serta perkembangbiakan konvensi tanda yang tak terbatas untuk mencapai kesenangan.

Konsep desain produk kriya untuk benda fungsional. tukang. Konsep Sekular Berbagai aktivitas kehidupan masyarakat di Bali. Wujud produk kriya fungsional yang diperuntukan sebagai peralatan kerja (working tool) dalam perencanaannya terkait dengan tuntutan kebutuhan suatu profesi. dan sebagainya. Dengan konsep penerapan tanda tersebut. objektif dan mengutamakan segi utilitas karena semata-mata untuk dipakai.1. Misalnya. menusuk dan sebagainya. alat untuk mengambil. baik berupa produk fungsional sebagai alat bantu. maupun sebagai produk yang berfungsi estetis sebagai benda hiasan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekular. maka para pemakai (user) akan secara gamblang dapat menafsirkan tanda-tanda yang bekerja pada wujud visualnya. produk kriya berfungsi sebagai wadah. sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan akan produk kriya. memotong. jika ditinjau dari sudut semiotika. Sistem tanda tersebut dapat sebagai penuntun dalam penggunaan produk tersebut. Sehingga ditinjau dari historis dan semiotis produk yang digunakan oleh seseorang dengan mata pencaharian tertentu juga dapat dipakai sebagai . maka tampak tanda-tanda yang diterapkan lebih mengutamakan makna denotasi dan mengarah pada kategori pragmatis semiotika. karena bangun tanda yang diwujudkan lebih lugas. pedagang. seperti kebutuhan produk kriya berupa peralatan kerja untuk profesi sebagai petani.

Misalnya. maka tuntutan kebutuhan hidupnya juga semakin kompleks dan bervariasi. Produk kriya yang diciptakan disertai dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan menyangkut hal-hal bersifat psikis. Menawarkan berbagai alternatif produk dengan menanamkan tanda atau simbol dengan makna konotatif. maka alat tersebut jelas digunakan oleh profesi seseorang sebagai petani tradisional. makna dan sebagainya. . alat bajak yang ditarik oleh sapi dengan fungsi untuk membajak tanah pertanian. dalam konteks semiotika akan bertindak sebagai dicisign. Dengan upaya tersebut dapat melahirkan suatu image atau citra rasa tertentu dalam masyarakat. Produk kriya seperti tersebut. karena interpretasi menawarkan hubungan yang benar ada di antara tanda dan denotasinya. keselarasan. Sehubungan dengan hal tersebut. kesatuan. Seperti mempertimbangkan segi estetis yang menyangkut keseimbangan. Pemenuhan kebutuhan akan produk kriya tidak hanya terbatas pada fungsi guna semata. sehingga secara subjektif dapat menyentuh sukma dan dirasakan sebagai penghargaan bagi para pemakai. indah dan dengan berbagai karakteristiknya. maka berbagai upaya dilakukan oleh para kriyawan untuk menghasilkan produk kriya yang unik. melainkan mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan bersifat “sekular” atau hedonistik.indeks mengenai profesi seseorang. Kemudian dengan semakin majunya tingkat peradaban masyarakat.

Misalnya. dikonsumsi dan dipakai tanda kenangan atau sebagai simbol harga diri seseorang atau prestise. produk kriya berupa mahkota yang dibuat dengan berbagai hiasan dan tanda atau simbol yang terkonvensi dalam suatu masyarakat. Dalam perkembangan produk kriya sebagai mata dagangan. sebagai simbol kebesaran. produk tersebut dengan faham fitisime dapat berfungsi untuk pembeda status sosial di dalam masyarakat. Produk-produk kriya diangkat statusnya dan digunakan se- . Di antara para wisatawan yang berkunjung ke Bali tampak banyak yang menbeli produk-produk kriya tradisonal Bali disertai dengan harapan untuk memperoleh kenangan-kenangan tentang hasil kebudayaan tradisional Bali atau dipakai sebagai tanda kebanggaan. juga tampak fenomena memakai kekuatan nilai tukar yang kecenderungannya lebih menyandarkan pada makna konotasi. Produk kriya berupa cincin. juga disepakati sebagai tanda atau simbol ikatan perkawinan. bahwa mereka pernah berkunjung ke objek wisata di Bali dan sebagainya. selain digunakan untuk perhiasan. keagungan atau kekuasaan seorang individu ciptaan Tuhan yang memiliki status sebagai raja. Produk-produk kriya tradisonal yang memiliki ciri khas daerah tertentu dan sebagainya. Misalnya dalam fenomena kecenderungan membeli produk kriya tradisonal Bali. Pada zaman kerajaan. Pada fenomena tersebut tanpa disadari terjadi permainan tanda dengan konvensi yang terkondisikan dan dengan matra yang tak terbatas.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Baudrillard. sehingga terjadi ketidakstabilan penanda dan petanda. bayangan wujud dewa-dewa dan mahkluk halus lainnya yang mendiami alam tidak nyata. karena diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotasinya.bagai simbol-simbol tertentu yang menghasilkan berbagai interpretasi pada masyarakat konsumen. Konsumer terkadang bukan lagi mencari konteks makna. misalnya menyangkut tentang hakikat hidup. Dalam hal tersebut akhirnya produk kriya menjadi Rhême. maut. bahwa dalam kondisi seperti tersebut justru nilai guna sering kali tak lebih dari semacam jaminan praktis (alibi) (Baudrillard. Konsep Spiritual Religius Manusia Bali setelah melalui tingkatan hidup estetis dan etis. Keyakinan itu bersumber dari: ajaran agama berupa wahyu suci yang terhimpun dalam kitab-kitab suci. mitologi . kadang-kadang tindakan tersebut sampai melupakan nilai utilitas dan religius pada produk tersebut. Pada tingkatan ini. sehingga berkembang sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan dan penafsiran terhadap sifat-sifat Tuhan serta wujud dari alam gaib yang transendental. biasanya melanjutkan tingkatan hidupnya ke arah mencari nilai religius. manusia menginginkan adanya jalinan hubungan dengan Tuhan atau keinginannya untuk menerima ikatan-Nya. 1981). 2.

maka muncul sistem upacara religius yang merupakan visualisasi kelakuan atau behavioral manifestation. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol. dan sebagainya. berpuasa. Produk-produk kriya yang dipakai dalam upacara agama. Perilaku tersebut diwujudkan dalam berbagai macam ungkapan seperti. sarana komunikasi. Salah satu contoh dapat dilihat dalam tata cara penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. juga muncul penghargaan pada suatu benda untuk digunakan sebagai sarana pendukung kepercayaannya. berkurban. Sehubungan dengan tujuan manusia tersebut. menyanyi. bersaji. seperti berfungsi sebagai simbol. bersujud. beryajña. berbagai peralatan upacara termasuk melibatkan produk-produk kriya yang disakralkan. berdoa. berprosesi. dalam perwujudannya dilandasi dengan suatu konvensi yang acuannya merujuk pada ajaran agama atau kepercayaan dari suatu komunitas manusia yang sepaham. Selain hal tersebut. sehingga dalam produk tersebut terpatri suatu “ideologi” tertentu yang nilai-nilainya diyakini dan dijadikan sebagai tradisi. Produk kriya tersebut digunakan sebagai “alat” . pada umumnya mencakup beberapa fungsi. berupa bangunan suci. bertapa. bersemedi. misalnya. peralatan upacara dan fungsi estetis dalam wujud benda hiasan. menari.dan ceritera-ceritera rakyat berupa dongeng yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat tertentu.

upacara, simbol-simbol diwujudkan berdasarkan konvensi yang mengacu atau dilatari kosmologi Hinduistis di Bali, sebagai media komunikasi yang dilandasi konsep Tri Hita Karana dan difungsikan sebagai hiasan. Produk kriya yang digunakan untuk simbol tersebut, merupakan tanda bersifat argument, karena interpretasinya terkait dengan renungan tentang kebenaran keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan maha segalagalanya (seperti telah disinggung di depan). Dengan penggunaan simbol-simbol tersebut, diharapkan dapat mempermudah penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu serta untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak-Nya tersebut. Perwujudan produk kriya sebagai tanda atau simbol, kadang dapat dalam bentuk icon, seperti stilasi bentuk manusia, binatang, benda alam dan sebaginya. Misalnya diwujudkan dalam berbagai produk kriya, seperti berbentuk relief, patung atau pratima dan sebagainya atau dibuat berdasarkan kualitas material yang digunakan atau qualisign, misalnya, warna (darah binatang, warna bunga, kapur, arang dan lainnya), karakter bahan (suatu jenis kayu, batu, kulit, logam dan sebagainya). Namun tidak dipungkiri, bahwa dalam menginterpretasikan simbol-simbol tersebut, sering terjadi perbedaan pandangan, sehingga melahirkan interpretasi bersifat mendua antara masyarakat yang berada dalam konvensi dengan di luarnya. Salah satu contoh produk

kriya berupa umbul-umbul bergambar naga taksaka yang digunakan sebagai salah satu sarana upacara Agama Hindu di Bali. Bagi umat Hindu menganggap benda tersebut sebagai tanda diadakan upacara agama dan sekaligus penerapan gambar naga taksaka disepakati sebagai simbol lapisan alam atas (Swah Loka). Sebagai dasar acuannya adalah kosmologi Hinduistis dengan interpretasi yang bersifat konotatif dan dianggap sakral. Sedangkan bagi umat atau orang yang tidak paham atau berada di luar konvensi tersebut, melihat umbulumbul tersebut hanya sekedar hiasan belaka. Fenomena seperti itu, belakangan ini memang cukup banyak terjadi di daerah Bali. Produk-produk kriya seperti itu, kadang hanya dilihat dari fungsi estetisnya saja. D. Beberapa Fenomena yang Muncul Sehubungan dengan Tindakan Eklektik pada Unsur Produk Kriya Masa Lalu Eklektik adalah suatu usaha yang bersifat memilih unsur-unsur yang baik atau menggunakan bermacammacam susunan yang tidak terbatas pada satu sumber ide dan sebagainya, baik berupa orang, gaya, metode, kepercayaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam buku ini yang dimaksudkan adalah eklektisme terhadap elemen estetis masa lalu yang diterapkan pada desain produk masa kini. Tindakan “memilih” unsur-unsur tersebut secara tidak langsung jelas akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada vitalitas idiom masa lalu itu sendiri maupun kesatu-

an substansi pada desain produk masa kini. Fenomena tersebut dapat dipahami dari beberapa istilah seperti berikut: 1) Pastiche Istilah pastiche berarti menyusun elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai pengarang atau seniman masa lalu. Oleh sebab itu, istilah ini bisa mengandung pengertian dengan konotasi negatif dan dianggap miskin orisinallitas (Baldick dalam Yasraf 1994). Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Parody, dijelaskan bahwa: Pastiche, in this sense, is a pure imitation without any pretension. A pastiche text imitate other past text, in order to emulate or to appreciate them. Pastiche has been called by one critic as “form rendering” to describe its superficiality, that is, its lack to thoroughness. (Hutcheon, 1985). Menurut Linda Hutcheon, pastiche adalah suatu bentuk imitasi murni, tanpa disertai dengan pretensi tertentu. Gaya atau teks yang dipakai meniru dari teks masa lalu, disebut sebagai kritikan “gubahan bentuk” yang menunjukan suatu kedangkalan sebagai kekurangan yang utama. Selain hal tersebut, Fredric Jameson secara metaforis menyebut istilah tersebut sebagai “penggunaan topeng sejarah, pengungkap-

1991). Dalam peniruannya dapat bersifat ironis dan kritis. parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk. keseriusan. atau arsitektur dengan tendensi bersifat memilih dan didistorsi. gaya atau produk yang menjadi sasarannya (kelemahan. dijelaskan bahwa. kritik. Parodi merupakan suatu bentuk “dialogisme tekstual”. seni. dan humor. kemudian diimitasi dalam suatu produk dengan tujuan mengarah pada humoristik dan kadang kala bersifat “pelesetan”. artinya produk sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya atau kata penulis atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan.an dalam bahasa yang telah mati” (Jameson dalam Yasraf. 2) Parody Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994). Jadi dari uraian tersebut. pada dasarnya parodi adalah merupakan suatu fenomena yang terjadi dalam produk sastra. atau kemasyuran) (Yasraf. parody (parodi). yaitu dua teks atau lebih dipertemukan dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat. Dengan demikian. . kekurangan. bahkan bermuatan politis dan ideologis. 1994).

Predikat kitsch sebagai selera rendahan dimanifestasikan oleh lemahnya ukuran dan kriteria estetis yang dipakai. Selain hal tersebut. kitsch bertujuan mensimulasi atau mengkopi elemen-elemen gaya “seni tinggi” atau objek sehari-hari untuk kepentingan sendiri dan menjadikan sebagai mass product. yang diakibatkan oleh berkembangnya produksi. Dalam bidang seni. Menurut Clement Greenberg. pada awalnya keberadaan kitsch didorong oleh semangat mereproduksi. konsumsi dan komunikasi massa. verkitshen berarti “membuat murahan”. Mengimitasi suatu bentuk gaya atau objek untuk tujuan yang palsu. 1995). .3) Kitsch Istilah Kitsch berasal dari bahasa Jerman. Dan kistchen. istilah ini sering diselaraskan artinya sebagai “sampah artistik” atau sering diberi pengertian sebagai “selera rendahan” atau segala produk seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. (Greenberg dalam Yasraf. secara harfiah berarti “memungut sampah dari jalan”. merupakan suatu upaya untuk menghasilkan efek-efek reproduksi dalam sistem kebudayaan massa atau membangun aura seni dari reproduksi itu sendiri.

berlebihan dan glamor (Sontag. dan style dengan distorsi yang berlebihan dan meremehkan isi serta netral. Sebenarnya camp merupakan salah satu cara untuk melihat dunia sebagai suatu gejala estetik dalam derajat kecerdasan. 1992). Dengan memahami beberapa istilah di atas. Merupakan kemenangan gaya atas isi. Dalam upaya mewujudkan produk. estetik atas moral dan ironi atas tragedi. ternyata dalam usaha perluasan desain masa kini yang berciri khas Bali. tekstur. Hubungannya dengan masa lalu bersifat “mendaurulang” dan sentimentil. kesemuan dan stylization atau penggayaan. Dalam suatu bentuk produk seni. Selanjutnya untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari tindakan eklektis terhadap produk kriya masa lalu dapat dipahami .4) Camp Pada fenomena estetika pengertian camp sering dikelirukan dengan istilah kitsch yang mengarah pada pengertian “selera rendahan” atau merupakan “sampah estetik”. kadang-kadang juga dapat menimbulkan dampak tersebut. berusaha menampilkan sesuatu yang special. dengan mengusung eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional dan dieksploitasi pada desain masa kini. camp lebih menititik beratkan pada dekorasi. permukaan sensual.

. yaitu dengan menganalisa beberapa contoh kasus penerapan elemen estetis produk kriya secara eklektik pada desain masa kini di Bali seperti diuraikan pada Bab V.pada uraian berikut.

Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan atau pergeseran dalam fungsi waktu dengan laju yang bervariasi. Kajian Historis Transformasi atau pergeseran merupakan suatu fenomena yang universal dan selalu mewarnai lintas sejarah perkembangan kebudayaan suatu masyarakat.BAB V DAMPAK PENERAPAN ELEMEN ESTETIS PRODUK KRIYA TRADISIONAL BALI A. Kegiatan penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala dan terus mengalami perkembangan dan perubahan yang didorong oleh berbagai faktor. Faktor-Faktor Pendorong Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Bali Secara Eklektik Pada Desain Masa Kini 1. baik faktor internal yang disebabkan oleh penggunaan dan penghargaan . maka suatu masyarakat dengan kebudayaannya secara mutlak tidak mungkin dapat hidup statis. Oleh sebab itu. stagnan dan terisolir.

Faktor pendorong tersebut seperti (1) karena adanya tuntutan kebutuhan produk kriya fungsional yang mengandung nilai utilitas. umumnya memiliki pola pikir terbatas . maupun faktor eksternal berupa pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar melalui proses akulturasi yang berlangsung dari zaman ke zaman dalam kapasitas yang berbeda-beda. hedonistik dengan mengutamakan fungsi estetis dan efek finansial yang ditimbulkannya. Faktor pendorong tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 24. saat penduduk Bali masih hidup nomaden. untuk memenuhi kebutuhan produk kriya penunjang kepariwisataan dan sebagai komoditi ekspor. berupa peralatan kerja untuk penunjang berbagai aktivitas hidup sehari-hari.produk kriya dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Bali. Bersamaan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sering dijumpai kasus fenomena penerapan elemen estetis produk kriya tradisional secara eklektik. bahwa sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan neolitikum dan perunggu. (2) sarana penunjang keagamaan atau kepercayaan dan untuk dipersembahkan kepada raja dan keluarganya (3) kebutuhan produk kriya untuk menunjang kebutuhan lain yang mengarah pada penciptaan produk kriya untuk memenuhi kebutuhan bersifat sekular. Misalnya. secara diakoronis dapat disimak. Ditinjau dari sudut historis mengenai perkembangan dan perubahan penciptaan serta penggunaan produk kriya di Bali.

Penduduk di Bali telah mampu . Dalam melakukan usaha tersebut. dengan proses pengerjaan masih sangat sederhana. maka dalam sistem peralatan dan perlengkapan hidup mengalami perubahan.pada usaha pemenuhan kebutuhan berupa makanan untuk kelangsungan hidupnya. tulang binatang. PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KEGIATAN EKSPOR PRODUK KERAJINAN DI BALI SARANA PENUNJANG Produk-produk kriya berupa:  Souvenir  menciptakan citra atau suasana MUATAN LOKAL/ ETOS KEBUDAYAAN UNSUR-UNSUR EKLEKTIK PADA KARYA MASA LALU (latar belakang sejarah) Gambar 24 Faktor Pendorong Munculnya Tindakan Eklektik Terhadap Elemen Estetis Tradisioanal Bali Di masa-masa selanjutnya. mereka menggunakan peralatan berupa produk kriya terbuat dengan batu. ranting kayu dan sebagainya. setelah masuknya pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu di Bali.

kenyamanan dan simbolisasi sudah menggejala dan menjadi bagian yang esensial. misalnya peralatan berupa kapak batu yang dibentuk dan digosok sampai halus. nafsu atau emosi dalam diri individu untuk menghargai suatu materi yang distimuli oleh alam atau lingkungan masyarakat yang terbentuk. gerabah (tanah liat yang dibakar) dan sebagainya yang dikerjakan dengan teknik lebih sempurna. sistem relegi yang berkembang dan semakin menggejalanya pengaruh integrasi kebudayaan dari luar serta didukung dengan banyak waktu luang yang dimilikinya sebagai masyarakat agraris. Munculnya gejala tersebut.menciptakan produk-produk kriya berupa peralatan terbuat dengan logam. batu. hasrat. masyarakat sudah mampu menghasilkan produk-produk kriya yang bermutu. disebabkan semakin meningkatnya kesadaran. misalnya dikerjakan sambil menunggu datangnya musim panen. Pada zaman tersebut. Dalam proses penciptaan produkproduk kriya. sarkofagus untuk tempat mayat dan sebagai tanda penghormatan atau simbol kendaraan arwah. cincin untuk bekal kubur dan sebagainya. nekara perunggu diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai simbol-simbol terkait dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. di Bali terjadi suatu “intervensi kebudayaan” yang bersifat menyempurnakan kebudayaan tradisi masa lalu dengan berorientasi pada . Pada zaman Hindu. pertimbangan mengenai keindahan.

Perpaduan tersebut melahirkan suatu kebudayaan yang bercorak khas Bali. religius. sosial kemasyarakatan dan kebudayaan Bali dirumuskan dengan “bahasa” agama Hindu. senjata. seperti berupa hiasan pada pura. meliputi sistem peralatan dan perlengkapan hidup. wayang. Motivasi penciptaan dilandasi dengan konsep dharma. Unsur India dominan pada taraf filsafat dan mitologi. sedangkan unsur kebudayaan Jawa umumnya tampak pada taraf ritual yang bersumber pada kitab suci Weda. dan loyalitas dengan kecenderungan dedikasi. maka para kriyawan saat itu mampu menghasilkan produk-produk puncak dengan kualitas yang sangat tinggi. barang gerabah. Hindu dari Jawa Timur bergabung dengan kultur agraris dan pemujaan roh leluhur yang telah tumbuh di masyarakat Bali. Semua kegiatan ekonomi. pembinaan dan peletakan dasar-dasar ajaran Agama Hindu. Terjadi suatu sinkretisasi atau proses penyerasian dua aliran (agama) dan akulturasi yang harmonis antara unsur-unsur kebudayaan India. Dengan sikap tersebut. patung. . ketekunan serta keiklasan yang sangat tinggi. pembinaan umat dan dipersembahkan kepada raja. berbagai bentuk topeng. karma phala yang diwujudkan dalam sikap kebersamaan (kolektif). Perwujudannya berupa hiasan. Penciptaan produk-produk kriya dominan dikembangkan untuk keperluan Agama Hindu dan kerajaan. seperti ditujukan untuk menunjang kebutuhan sarana upacara ritual.penyebaran. simbol dan benda pakai.

khususnya yang digunakan dalam melaksanakan upacara ritual. ternyata sampai sekarang masih digunakan dan diyakini oleh umat Hindu di Bali. seperti logam. Tergolong jenis kesenian Wali yang dianggap sebagai benda sakral karena. Produk-produk kriya tersebut termasuk katergori produk kriya dibuat dalam konteks agama atau kepercayaan.busana hasil tenunan tradisional (berupa kain songket. sabuk dan sejenisnya). kayu dan sebagainya. Produk-produk kriya yang difungsikan sebagai simbol atau tanda terkait dengan kepercayaan umat Hindu di Bali. Beberapa jenis kegiatan penciptaan produk kriya itu diwariskan dari generasi ke genarasi berikutnya dan sampai sekarang masih ditekuni oleh masyarakat kriyawan di beberapa daerah di Bali. ternyata di dalamnya sarat mengandung makna atau nilai-nilai kesucian yang adiluhung. halaman: 61). Bahan yang digunakan. misalnya berupa simbol-simbol alam makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). Hal tersebut mengingat heterogen- . Ditinjau dari sudut keyakinan umat Hindu di Bali terhadap nilai kesakralan yang dikandungnya. kulit binatang. yang terkait dengan kepercayaan tentang keagungan dan kekuasaan Tuhan serta ajaran suci tentang ciptaanNya. tanah liat. Produk-produk tersebut diciptakan dengan dilandasi kosmologi Hinduistis dan adat di Bali. dalam pembuatannya mutlak disertai dengan proses penyucian atau melalui beberapa tahap penyucian (lihat Tabel 1.

Dari sudut pandang ajaran agama Hindu. Pada zaman kolonial. Jadi. maka pengaruh-pengaruh Belanda dan kebudayaan masyarakat dari luar lainnya semakin merebak masuk ke Bali.nya tingkat kemampuan umat dalam mengamalkan ajaran agama Hindu atau dalam hasrat menghubungkan diri dengan Tuhan. Oleh sebab itu produk-produk kriya berupa simbol-simbol untuk sarana pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali. dalam konteks pengembangan pariwisata. maka di masa-masa mendatang eksistensinya perlu dijaga dari penetrasi pengaruh-pengaruh luar yang dapat mengancam kelestariannya. Di sisi lain. Oleh sebab itu. ternyata “cara” tersebut memang diperbolehkan. sampai sekarang dan bahkan untuk seterusnya tetap hadir dan diperlukan. maupun sesuai kerangka agama Hindu. seperti semakin berkembangnya corak masyarakat yang meng- . seperti disebutkan dalam ajaran Catur Marga. budaya tersebut juga dipakai sebagai daya tarik utama. Sehingga dalam tata kehidupan masyarakat di Bali tampak mengalami banyak perubahan. dari uraian tersebut. Bali dan kebudayaannya diperkenalkan sebagai daerah tujuan wisata. dari zaman Hindu sampai sekarang nilai-nilai kesakralannya tetap diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di Bali. jelaslah produk kriya yang digunakan sebagai sarana pengamalan ajaran agama Hindu di Bali. Demikian juga dalam sifat Weda dan filsafat Wedanta.

kesenian tradisional yang telah tumbuh dan berarkar di masyarakat Bali. toko kerajinan.arah pada usaha-usaha non-agraris. termasuk penciptaan “produk-produk kriya komersial”. kembali aktif. Gejalanya muncul secara “spontan” dari masyarakat kriyawan Bali saat itu. Upaya tersebut diawali dengan usaha untuk mendatangkan para . Keadaan tersebut. biro perjalanan. semata-mata didorong oleh permintaan para wisatawan yang semakin meningkat dan bukan atas prakarsa pemerintah kolonial Belanda. menjual hasil pertanian dan sebagainya. Dalam usaha menunjang pengembangan pariwisata. selain untuk menguras hasil pertanian. dapat ditelusuri dari tujuan Belanda untuk menguasai Pulau Bali. Masyarakat Bali semakin dimantapkan dan didorong untuk bergerak dalam bidang ekonomi. Khusus mengenai masalah penciptaan produkproduk kriya yang bermuatan lokal dengan tendensi komersial. mulai berkembang usaha yang bergerak dalam bidang perhotelan. mengaktifkan kembali kegiatan ekspor-impor barang yang sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. Para kriyawan menciptakan produk kriya tersebut. Selain hal tersebut pemerintah Belanda juga berkeinginan untuk mempertahankan keaslian kebudayaan Bali dengan menerapkan politik isolasi atau mengasingkannya dari pengaruh-pengaruh luar dan semata-mata ingin dijadikan sebagai “museum hidup”. misalnya: membuat koperasi. restoran. peternakan dan lain-lainnya.

Kemudian membangun Gedong Kertiya di Singaraja untuk menyimpan dan menyelamatkan kesusastraan Bali yang ditulis pada lontar. faktor pendorong atau motivasi penciptaan produk kriya dengan serta merta mulai mengarah pada hal-hal bersifat komersial. membangun museum di Denpasar untuk melindungi dan menyelamatkan artifak etnografi Bali. di mana pada masa berkembangnya pengaruh Hindu dan zaman kerajaan. Motivasi perluasan usaha penciptaan produk kriya di Bali saat tersebut.pakar yang terkait dari negerinya. Para kriyawan kebanyakan mulai memandang hasil produksinya sebagai mata dagangan yang bernilai ekonomis. Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk menunjang pengembangan pariwisata pada saat terse- . Mengembangkan sistem pendidikan yang menyesuaikan dengan kebudayaan terkait dengan tata kehidupan adat-Agama Hindu. misalnya dengan mengangkat tenaga pendidik lokal yang berkompeten dalam bidang kebudayaan Bali. Namun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Mereka cenderung menciptakan produk kriya dalam bentuk cenderamata untuk dijual kepada para wisatawan atau diekspor ke luar pulau Bali. untuk mempelajari berbagai aspek tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan tradisonal. penciptaan produk kriya dilandasi dengan rasa pengabdian yang tulus kepada agama dan kerajaan. mengalami perkembangan baru dibandingkan sebelumnya.

karena pada waktu tersebut. pengosekan dan sebagainya. tempurung kelapa. misalnya: kayu. tanpa kecuali produk yang digunakan untuk sarana pengamalan dan penghayatan ajaran agama Hindu Bali. logam (berkembang di Klungkung. Seperti: berupa patung. Jepang lebih mementingkan usaha penanaman semangat militer dan arti penting perang Asia Timur Raya untuk meraih kemenangan. Di sisi lain. Ubud. di satu sisi tampak para kriyawan berusaha mengembangkan produk-produk kriya masa lalu yang diwarisinya. sehingga menghasilkan produk dengan berbagai penggayaan atau style. fanil. Gianyar. (berkembang di daerah Gianyar dan Badung). tulang. usaha . Oleh sebab itu. mereka juga mulai memadukan pengaruh dari luar. seperti: Rudolf Bonnet. Seperti pengaruh seni rupa modern yang dibawa oleh para seniman Barat. Dalam upayanya tersebut. Walter Spies dan seniman lainnya. kadang juga muncul tindakan eklektisme elemen estetis produk kriya tradisional. melahirkan produk-produk dengan style Batuan. Perpaduan pengaruh tersebut. topeng.but. Usaha pengembangan pariwisata kurang mendapat perhatian. tanduk (berkembang di Gianyar). Dalam masa pendudukan Jepang yang berlangsung relatif lebih singkat dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. Bangli dan di Buleleng). relief dan gambar atau lukisan dengan menggunakan berbagai bahan. tanah liat atau keramik (di Tabanan) dan lain sebagainya. batu padas (berkembang di Gianyar).

penciptaan “produk kriya komersial” semakin surut dan penggunaannya terbatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Lapangan pekerjaan atau bidang usaha . ternyata upaya tersebut memberi pengaruh yang signifikan. sekaligus memberi dampak pada tata kehidupan masyarakat di Bali. sehingga keadaan kebudayaan Bali nyaris terisolir dari pengaruh luar. ternyata merupakan salah satu pemicu arus penetrasi budaya modern dan global. Otoritas masyarakat pada saat tersebut sangat terbatas. Pada zaman kemerdekaan. Didorong pula oleh semakin meningkatnya permintaan para wisatawan akan produk-produk kriya yang bermuatan lokal berupa barang cenderamata. Usaha pengembangan tersebut. sekitar tahun 1950. Ulasan dari sudut historis tersebut memberi deskripsi bahwa pada saat mulai masuknya pengaruh Barat (Belanda) dan dijadikannya Bali sebagai daerah tujuan wisata. kecuali pengaruh pemerintahan Jepang sendiri. sektor pariwisata di Bali kembali dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dengan tetap berbasis pada kekuatan budaya Bali sebagai daya tarik utama. Dikaitkan dengan pembangunan sektor perekonomian. maka usaha penciptaan produk-produk kriya di Bali dengan serta merta mulai mengarah pada tujuan komersial dan disertai dengan muncul gejala penerapan elemen estetis produk tradisional secara eklektik pada desain yang kemudian diterapkan pada produk-produk kriya yang dibuat saat tersebut.

Dalam pengadaan produk-produk kriya untuk dikonsumsi para wisatawan masa kini. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kecil dan mendijadikan produk kriya lokal sebagai salah satu alternatif komoditi ekspor non-migas. di mana kegiatan menciptakan produk kriya hanya merupakan pekerjaan sambilan di waktu senggang seusai di sawah atau kesibukan lain. terutama di zaman prakolonial. Dan hasil produknya jarang diperjual belikan sebagai mata dagangan. seperti dalam kegiatan penciptaan produk-produk kriya yang mengarah komersial. cukup mendorong para kriyawan dan pengusaha di Bali masa kini untuk semakin aktif menekuni sektor tersebut. para kriyawan berupaya untuk menyuguhkan produk yang dapat memberi kenangan tersendiri. selain didorong oleh perkembangan sektor pariwisata. sebelum terjadi tragedi bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 di Kecamatan Kuta dan bom Bali II pada tanggal 1 Oktober 2005. misalnya berwujud cenderamata yang menyiratkan keindahan alam atau ke- . Kondisi tersebut. Pada dasawarsa belakangan. Banyak di antara masyarakat di Bali menjadikan sebagai mata pencaharian tetap.industri kecil memiliki peluang atau opportunity untuk tumbuh dan berkembang. Mereka termotivasi oleh aspek ekonomis yang dihasilkan dari produk kriya yang diciptakannya. Berbeda dengan dulu. usaha tersebut sempat mengalami perkembangan yang cukup pesat.

budayaan Bali. salah satunya dengan menerapkan elemen estetis produk kriya masa lalu. seperti tampak pada Gambar 25 dan 26. di satu sisi tampak usaha inovatif yang mengarah pada produk individual. Gambar 25 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Fauna . Dalam hubungan dengan kreativitas penciptaan produk kriya. misalnya dengan mengeksploitasi alam fauna dan flora sebagai sumber inspirasinya. Demikian juga dalam penataan lingkungan. berkeinginan menampilkan suasana yang berbeda dengan daerah lain.

tampak semakin menggejala di kalangan masyarakat kriyawan.32 . tindakan-tindakan eklektik terhadap elemen estetis produk kriya masa lalu yang diterapkan pada desain produk kriya masa kini. Mereka melakukan tindakan tersebut didorong oleh harapan atau keinginan untuk menciptakan produk-produk kriya etnik yang bermuatan lokal atau tercerap suasana atau citra rasa tradisional yang berciri khas budaya Bali seperti tampak pada Gambar 27.Gambar 26 Beberapa Hasil Kreasi Produk Kriya Dengan Mengeksploitasi Alam Flora Di sisi lain.

Gambar 27 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi. Gambar 28 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Barang Komoditi. .

Gambar 29 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Panil untuk Barang Komoditi. Gambar 30 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Untuk Barang Komoditi. .

Dalam pemilihan unsur-unsur terbaik produk masa lalu.Gambar 31 Penerapan Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Pada Façade Bangunan. Banyak di antara mereka kadang-kadang melupakan konteks nilai yang terkandung pada produk kriya masa lalu dengan masa- . sering muncul sikap “ketidaktaatan” yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali. Gambar 32 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional Yang Sakral Diterapkan Dalam Bentuk Tatto.

seperti pada pelinggih padmasana. Bhoma. diterapkan sebagai hiasan pada façade sebuah kantor bank . Penerapan tersebut memiliki tujuan yang tidak jelas. Produk-produk kriya wali yang digunakan dalam upacara agama dan dianggap sakral. merusak atau mengganggu kesepakatan yang telah mapan. jelas merupakan penyimpangan dan sama sekali tidak ada hubungan permaknaan. sebenarnya merupakan produk kriya yang mengandung nilai simbolis pada bangunan suci. “dipilih”.lah kepercayaan umat Hindu di Bali. Sebagai contoh. semata-mata untuk sensasi. Tindakan tersebut jelas berdampak negatif. Relief Acintya. relief pada tebing dekat kuburan. Garuda Wisnu dan Nãga. kemudian dijual sebagai barang cenderamata dan sebagainya. Hal tersebut. misalnya diterapkan sebagai hiasan dinding rumah tinggal. Ditiru atau direproduksi dengan kemampuan tangannya. (lihat Gambar: 31). kemudian diterapkan begitu saja pada benda-benda yang bersifat profan dengan lebih mengutamakan segi artistik dan semata-mata menyandar pada efek finansialnya. tetapi sekarang banyak digunakan untuk hiasan benda pakai yang bersifat profan. Pada hal kedua elemen tersebut mengandung nilai religius dan konvensinya masih eksis di masyarakat Hindu di Bali. Bhoma diterapkan dengan ditatto pada bokong atau Ongkara ditatto pada lengan. Diterapkan pada tebing kuburan. divisualisasikan dalam bentuk patung untuk menghias persimpangan jalan.

lonték dan tedung Agung. restoran dan sebagainya. cenderung tergantung pada permintaan pasar. banyak para kriyawan di Bali dalam kegiatan penciptaan produk kriya masa kini. namun sekarang digunakan untuk menghias halaman supermarket. inovasi dengan ide baru dan kreativitas mereka sering terhambat karena takut tidak laku di pasaran. Idealisasi. hotel.atau bangunan lain. Sehingga timbul kerancuan dan menimbulkan kebingungan bagi generasi penerus tradisi tersebut. Sehingga . seperti pada upacara Odalan. Gambar 33 Elemen Estetis Produk Kriya Tradisional berupa Relief yang Sakral Diterapkan Di Perepatan Jalan dan Sebagai Hiasan Tebing Kuburan Selain hal tersebut. sebenarnya sebagai “busana pura” yang dikenakan sewaktu melangsungkan upacara agama tertentu. artshop. Bedawang Nala dipakai hiasan tapal batas kota.

Dan permasalahan sudah dianggap selesai sampai di sana. juga tidak luput dari konsekuensi tersebut. misalnya dengan jalan “mengkopi” atau “membajak” produk-produk yang sedang laku dipasaran atau dengan tetap bertahan pada produk tradisional. Seperti dalam pemberian pesanan kepada para kriyawan. kemampuan atau keterampilan yang dimiliki para kriyawan untuk mengerjakannya. juga didorong oleh pihak pengusaha produk-produk kriya di Bali. Sekalipun ada kriyawan yang berusaha mencipta “produk kriya baru”. seperti: Ide Bagus Nyana. terjadi “desakralisasi”. Maksudnya. Dan banyak produk ciptaannya setelah dilemparkan di pasaran atau dipamerkan. Kejadian tersebut. karena mereka merasa mampu memberi pelayanan yang memuaskan wisata- . tetapi pada kenyataannya bagian tersebut sering ditinggalkan. I Nyoman Togog dan yang lainnya.dengan kondisi tersebut “jalan pintas” sering dilakukannya. dalam proses penciptaan produk-produk tersebut yang seharusnya disertai dengan upacara penyucian. itu pun hanya dilakukan oleh beberapa orang kriyawan. sikap mereka cenderung menyandar pada kesiapan. sehingga pesanan tersebut sesuai dengan keinginan konsumennya dan transaksi dapat berjalan tepat pada waktunya. “dipaksakan” dan “diberanikan” demi untuk memenuhi tujuan lain dengan alasan faktor ekomoni. Dalam proses penciptaan produk-produk kriya dengan unsur eklektik yang ditujukan untuk para wisatawan masa kini.

kompleks. sehingga kesadaran untuk lebih selektif terhadap makna atau nilai yang dikandungnya terasa masih kurang. sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. 2. komprehensif. karena dapat menimbulkan arti hidup dan kehidupan yang tidak stabil. maupun setelah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa Timur. karena dalam proses penciptaannya dilandasi dengan konsep-konsep perancangan sangat mantap. bahwa produk-produk kriya yang diciptakan oleh para kriyawan Bali di masa lalu. Mereka tampak lebih mengutamakan Artha dan Kama sebagai tujuan hidup. baik yang diciptakan pada zaman pra-Hindu. Salah satu faktor yang menyebabkan produk-produk tersebut dapat bertahan. .wan. Para pewarisnya dewasa ini hanya mampu menduplikasikan dan menggunakannya. ternyata eksistensinya dapat menembus beberapa zaman dalam rentang waktu sangat lama. kalau dikaitkan dengan konsep Catur Purus Artha yang dipakai landasan pembangunan di Bali. mengacu pada norma-norma ajaran agama Hindu atau sistem kepercayaan umat Hindu di Bali dan dikerjakan dengan total serta penuh pengabdian yang tulus. Kajian Semiotis Dari pembahasan pada Bab III dapat difahami. jelas kurang relevan. Namun sikap tersebut. Banyak di antaranya produk-produk kriya tersebut merupakan karya puncak.

Dalam usaha perluasan gagasan desain produk kriya masa kini. dapat dipakai sebagai tanda (sign) zaman yang merepresentasikan sejarah perkembangan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya dalam masyarakat Bali dari zaman ke zaman. hasil tersebut dapat dipakai tanda (sign) yang merepresentasikan aktivitas penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya. tampak produk-produk tersebut kembali ditampilkan “secara eklektik” dengan menitikberatkan pada nilai estetis dan diklaim sebagai identitas etnik Bali atau local genuine. maka secara diakronis hasil peninggalan tersebut. adalah sebagai berikut: Sebelum penduduk Bali mendapat pengaruh kebudayaan neolitikum dan perunggu. dengan memandang peristiwa penciptaan dan penggunaan produk atau produk kriya di setiap zaman sebagai fenomena bahasa. Pembahasan lebih rinci mengenai kajian semiotis. sedangkan secara sinkronis. pada masing-masing penggalan zaman atau kurun waktu tertentu. Jika ditinjau kembali berdasarkan kajian semiotika. memberi tanda dalam bentuk indeks. dengan di sana-sini diadakan penambahan atau pengurangan yang diistilahkan sebagai ‘pengembangan’ dan tak jarang dibarengi dengan tujuan-tujuan lain yang tidak sesuai dengan esensi konsep penciptaan di masa lalu. dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk kriya tampak masih sangat sederhana. bahwa masyarakat di Bali saat itu. lebih ke arah .

karena mereka bertumpu pada nilai guna atau utilitas dan pragmatis. Hubungan struktur tanda tersebut menurut Semiotika Saussure dapat digambarkan seperti Gambar 34 berikut Gambar 34 Relasi Tanda. Belum ada tanda-tanda yang mengarah pada makna konotasi. arah penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya tidak lagi terpaku pada pertimbangan yang bersifat denotatif.makna denotasi. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Sebelum Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu) Pada zaman selanjutnya. roh atau kekuatan-kekuatan lain . keindahan produk maupun simbolisasi. Produkproduk yang diciptakan. Misalnya masalah kenyamanan. seperti batu dengan karakternya yang keras diperlakukan untuk “menghacurkan” benda yang lebih lunak. selain memiliki berfungsi sebagai alat. juga sudah memperhatikan nilai estetis dan simbolis dengan latar atau konvensi yang dilandasi dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Seperti kepercayaan alam gaib. melainkan sudah memperhatikan hal-hal yang bersifat konotatif.

juga dipakai sebagai tanda atau simbol status sosial. Simbol-simbol tersebut diterapkan atau diwujudkan dalam berbagai bentuk produk kriya. seperti berupa sebuah nekara yang dibuat dengan perunggu. misalnya pada penguburan mayat seorang tokoh masyarakat dengan menggunakan sarkofagus. Penguburan dengan cara tersebut.yang dimiliki oleh suatu benda yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan mereka atau fetishism. dilakukan sebagai simbol penghormatan kepada tokoh yang meninggal. Hubungan produk-produk kriya sebagai tanda atau simbol dengan pengguna tanda atau penanda (masyarakat Bali zaman Pra-Hindu) dapat digambarkan seperti Gambar 35 berikut Gambar 35 Relasi Tanda. dipakai sebagai simbol roh nenek moyang mereka dan dianggap bertuah atau mengandung nilai magis. Pada produk kriya tersebut diterapkan relief berupa topeng yang distilasi dari bentuk wajah manusia. Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Setelah Mendapat Pengaruh Kebudayaan Neolitikum dan Perunggu . Selain hal tersebut.

Penanda dan Petanda Pada Produk Kriya Bali Mendapat Pengaruh Kebudayaan Hindu-Jawa Timur . ceritera-ceritera rakyat. Seperti produk-produk kriya yang digunakan dalam upacara Odalan. Secara semiotika relasi tanda dengan pengguna tanda pada zaman tersebut. kosmologi dan sebagainya yang bersumber pada ajaran Agama Hindu. Gambar 36 Relasi Tanda. Diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol sehingga produk-produk kriya tersebut tergolong karya spiritual religius dan dianggap sakral yang digunakan sebagai media untuk mempermudah membayangkan sifat abstrak yang dimiliki Tuhan.Pada Zaman Hindu menunjukan. filosofi. bahwa dalam aktivitas penciptaan dan penggunaan produk-produk kriya dilandasi dengan konsep yang mengarah pada makna konotasi atau asosiatif dengan latar atau ground digali dari mitologi. dapat digambarkan seperti Gambar 36 berikut.

Seperti tujuan para kriyawan untuk menciptakan produk bermuatan lokal atau dorongan para wisatawan untuk membeli suatu produk (emotional product motives). elemen estetis untuk menciptakan suasana tradisional Bali atau sebagai digunakan komoditi ekspor. Pada saat tersebut. baik tujuan. Jika kondisi tersebut dikaji berdasarkan semiotika model “intertekstualitas” seperti yang dikembangkan oleh Kristeva.Pada zaman Kolonial dan Kemerdekaan. Produk-produk kriya —terutama yang terkait pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali— yang diciptakan sebagai tanda dalam bentuk simbol-simbol dengan konvensi budaya yang dilandasi nilai-nilai atau norma-norma Agama Hindu yang telah mapan dalam masyarakat masa lalu. relatif dan bersifat temporal. kadang kembali “dipilih” dan ditata atau dipadukan dengan tanda lain. Namun dewasa ini. subyektif. pretensius. maka dalam fenometa tersebut tampak terjadi “permainan petanda” yang menghasilkan petanda baru dengan konvensi atau makna yang tidak jelas arahnya. penciptaan dan pengunaan produk kriya pengalami perkembangan baru. kondisi penciptaan dan penggunaan produk kriya di Bali memiliki kemiripan langgam atau tipe. Produkproduk tersebut mulai dijadikan sebagai penunjang kepariwisataan di Bali berupa cenderamata. bahwa mere- . seperti kebanggaan (pride) memperoleh produk kriya lokal yang berciri khas Bali dan dipakai sebagai tanda kenangan. maupun arah pengembangan yang dilakukan oleh para kriyawan di Bali.

di mana simbol Garuda Wisnu adalah terkait dengan ajaran Agama Hindu. tampak simbol Garuda Wisnu menjadi kehilangan makna. Sebagai contoh. Bahkan tindakan tersebut dapat “merusak” atau memutuskan pertautan petanda dengan penanda atau narasi yang sebenarnya. Pada façade tersebut tampak logo Bank BPD diletakkan di atas dari simbol Garuda Wisnu. janggal dan berkonotasi negatif karena terjadi diskrepansi antara tanda dengan petanda yang sebenarnya. kalau dilihat dari tata letak kedua tanda tersebut.ka pernah mengunjungi pulau Bali. Selain motivasi tersebut juga didorong keinginan untuk menciptakan lingkungan atau tata bangunan dengan nuansa tradisional. dianggap sebagai lambang kebesaran Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Dari kedua tanda tersebut sama sekali tidak terjalin suatu kesatuan makna. dianggap sebagai suatu kepuasan atau prestise dan sebagainya. namun sekarang tampak diterapkan sebagai hiasan façade. Petanda baru yang muncul tersebut hanya bersifat subjektif yang “dihubung-hubungkan” atau hanya merupakan suatu pretensi yang sama sekali tidak ada pertalian petanda dengan ground simbol yang diterapkan pada produk tersebut di masa lalu. Pada contoh tersebut. produk kriya berupa relief Garuda Wisnu yang lazimnya diterapkan dibelakang Padmasan. na- . Masing-masing tanda atau simbol tersebut menyiratkan makna tersendiri.

Berdasarkan kajian dari sudut model semiotika “intertekstualitas”. maka secara umum penciptaan produk kriya dengan unsur eklektik dewasa ini di Bali dapat digambarkan pada Gambar 37 . Penempatan tersebut “asal pasang” dan hanya didorong oleh suatu preferensi “pajang seni” semata.mun pada façade itu diletakkan di bawah logo yang cenderung berkonotasi tentang uang yang bersifat sekular. kesenangan dan kenikmatan (hedonisme) lebih tinggi dari nilai yang berhubungan dengan ajaran ketuhanan. Meletakkan penghargaan terhadap nilai-nilai keduniawian (uang dan investasi). tanpa memikirkan lebih jauh tentang pertalian petanda yang terbentuk akibat penempatan simbol dan logo tersebut. Tanpa disadari penempatan tersebut membawa makna konotasi yang mengarah pada interprestasi negatif.

Gambar 37 Perbandingan Relasi Tanda. Penanda dan Petanda (“Intertekstualitas”) Kaitannya Dengan Fenomena Eklektik Unsur Produk Kriya Masa Lalu .

B. Sebenarnya di dalamnya secara implisit tersirat suatu harapan agar terjadi relasi timbal balik atau symbiosis mutually beneficial relationship antara pariwisata dengan kebudayaan Bali. ternyata mendatangkan banyak kemanfaatan atau beneficial bagi pengembangan kebudayaan Bali sekaligus pengembangan sektor ekonomi masyarakat. Mereka mendeskripsikan. bahwa pariwisatalah yang akan menjadi salah satu katalisator atau sebagai pemicu terjadinya perubahan sosial-budaya masyarakat di . dan seimbang. antropolog dan seniman sudah memprediksi. selaras. sosiolog. bahwa masyarakat Bali bersama kebudayaannya di masamasa mendatang akan mengalami perubahan besar sebagai dampak maraknya perkembangan pariwisata. Dampak yang Ditimbulkan Baik pada Produk Masa Lalu yang Dipilih maupun pada Produk Kriya yang Dibuat Masa Kini Konsep pengembangan pariwisata di Bali berbasis budaya Bali. Sejak 60 tahun yang silam di kalangan para pengamat: budayawan. Di satu sisi menurut hasil penelitian Kean (1973) maupun Geriya dan Erawan (1993) membuktikan bahwa interaksi antara pariwisata dan kebudayaan Bali. Konsep tersebut diharapkan dapat mengkonstruksikan interaksi yang sangat erat antara pariwisata dan budaya Bali serta dapat memberi peningkatan yang signifikan secara serasi. Namun di sisi lain banyak muncul kekawatiran tentang nasib masa depan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali.

Seperti. Suatu dinamika baru dan perubahan-perubahan struktural telah terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali. Salah satunya diakibatkan oleh eklektisme elemen estetis tradisonal yang tak terkendali dalam penerapannya pada desain produk masa kini. Berikut akan diuraikan mengenai dampak yang ditimbulkan. Prediksi atau asumsi tersebut. Demikian juga kekawatiran tersebut dimuat dalam buku dengan judul: Republik Indonesia (Kepulauan Sunda Kecil). Hal tersebut juga terjadi dalam perluasan penciptaan produk-produk kriya dan desain lainnya yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali. baik pada produk masa lalu maupun pada desain produk masa kini. sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Miguel Covarrubias dalam bukunya berjudul Island of Bali —“Isn’t Bali Spoiled ?”— sebagai kalimat pembukaan dalam pembicaraan Modern Bali and The Future. Pertanyaan tersebut diungkap sehubungan dengan kekawatiranya akan kerusakan yang akan terjadi pada seni budaya Bali sebagai akibat diperkenalkannya menjadi daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Kolonial Belanda saat tersebut (Covarrubias. pada paparan keadaan masyarakat dan kebudayaan Bali yang diterbitkan pada tahun 1953. . ternyata dalam beberapa dekade belakangan ini menjadi suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. 1937).Bali.

Dampak Eklektisme Terhadap Produk Kriya Masa Lalu Dampak eklektisme terhadap produk kriya masa lalu sebagai objek pilihan. kesimpangsiuran atau pengkaburan makna. Akibat dari tindakan tersebut. sekarang ba- . “generalisasi”.1. Keadaan tersebut tanpa disadari dengan perlahan-lahan dapat mengikis alam pikiran spiritual umat Hindu di Bali dan dapat terjebak dalam kecenderungan efek komersial dari produk tersebut. Seperti: relief tinggi berupa Bhoma. secara tidak langsung akan terganggunya konvensi yang mendasari objek yang dipilih dan kemungkinan akan terjadi suatu pelunturan nilai. Garuda Wisnu dan sebagainya. Secara visual mereka akan semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya yang digunakan untuk sarana upacara ritual di tempat suci dengan produk kriya yang dipakai di tempat yang bersifat profan. “deteriorasi”. karena telah “diduplikasi” untuk dijadikan barang tontonan biasa atau barang komoditi untuk pemenuhan kebutuhan sekuler semata. terutama bagi generasi pewaris kesepakatan tersebut. tanpa disadari dapat mengurangi rasa penghargaan atau pemahaman spiritual terhadap makna atau nilai yang ditanamkan pada produk kriya yang dianggap sakral tersebut. bahwa dampak dari peran khas pariwisata Bali membawa pengaruh dan perubahan yang tak terbatas. “desakralisasi”. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jean Couteau.

nyak ditiru dan diterapkan sebagai hiasan toko. bahkan sengaja dipentaskan di hotel-hotel untuk menghibur para wisatawan. banyak ditiru dengan tidak disertai dengan “sakralisasi” dan dipakai pertunjukan khusus untuk konsumsi para wisatawan. kantor. Rangda dan Barong ket. seperti pada Gambar 38 berikut Gambar 38 Topeng Barong Ket Diterapakan Sebagai Hiasan Boutique Ditinjau dari sudut semiotika. Topeng Barong Ket juga dipakai sebagai penghias ruangan boutique yang dipajang berdampingan dengan busana yang dijual. penerapan elemen estetis tradisional secara eklektis tersebut dapat berdampak terganggunya kestabilan antara tanda dengan . rumah tinggal dan bangunan umum lainnya.

petanda, karena terjadi suatu “mutilasi” struktur simbol atau lambang dengan konvensi adat yang telah mapan dalam kalangan umat Hindu di Bali. Terbentuk kepingan-kepingan dan perpaduan tanda dengan petanda yang tidak jelas atau “mati”. interpretasi makna menjadi simpangsiur dan terkecoh karena secara visual semakin sulit untuk membedakan antara produk kriya sakral dengan profan. Seperti senjata nawa sanga, produk kriya tersebut biasanya digunakan sebagai hiasan di pura berupa bandrangan dan sekaligus sebagai simbol kekuatan para Dewa, namun kini sematamata diciptakan sebagai barang cenderamata untuk konsumsi para wisatawan (lihat Gambar 29). Makna konotasinya mengalami perubahan dan mengarah pada nilai komersial. 2. Dampak Eklektisme Terhadap Desain Masa Kini Penerapan elemen estetis secara eklektik pada desain masa kini yang dilakukan oleh para kriyawan atau desainer di Bali masa kini, dalam upaya untuk menciptakan karya yang bermuatan lokal atau didorong oleh harapan agar dapat menciptakan suasana tradisional Bali. Ternyata usaha tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan permasalahan yang mendasar. Pada desain atau produk kriya yang diciptakan dengan menerapkan elemen estetis tradisonal kadangkadang tampak “janggal”, “tertekan”, “terpaksa”, berlebihan, mubasir dan dari perpaduan tersebut tidak terjalin pertalian makna di antara tanda-tanda atau

simbol-simbol yang diterapkannya. Dikaitkan dengan konsep estitika yang melandasi strategi pembangunan di daerah Bali, seperti telah dipaparkan pada bab pendahuluan, kondisi tersebut jelas kurang relevan, sebab pada produk-produk yang diciptakan sering terlihat kurang selaras, kurang harmonis dan tidak seimbang. Bahkan tak jarang melahirkan karya yang termasuk: pastiche, parody, kitsch, atau camp. Sebagai contoh dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional, berupa relief garuda pada sebuah façade toko sepatu bata seperti Gambar 38 berikut,

Gambar 38 Penerapan Relief Garuda Pada Façade Toko Sepatu Bata

Pada hiasan tersebut tampak elemen estetis berbentuk garuda yang meniru dari bentuk Garuda Wisnu dan penyuguhannya tidak dilengkapi dengan simbol Dewa Wisnu. “Tangan” garuda dibuat menunjuk logo sepatu bata dan posisi penempatan kedua elemen tersebut sejajar secara horisontal. Pada penampilan tanda tersebut tampak suatu fragmen yang terbentuk dari hasil perpaduan dua, yaitu antara simbol dengan logo. Disimak dari permaknaan, maka keduanya sama sekali tidak terdapat pertautan makna. Konsep penciptaan hanya didasari oleh suatu pretensi menciptakan nuansa bagunan tradisional Bali. Bentuk garuda tersebut sebenarnya merupakan produk kriya masa lalu yang khusus diterapkan pada bangunan suci dan mengandung nilai filosofi yang tinggi dan sebagai simbol kekuatan Tuhan. Namun kini dipilih dan diterapkan begitu saja tanpa memikirkan dampak negatif terhadap makna yang dikandungnya. Mereka meminjam makna simbol garuda yang telah mapan dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, hanya sekadar untuk menunjukan logo sepatu bata atau bertujuan untuk membangun imitasi image atau citra rasa palsu (kitsch) dalam usaha membangun keyakinan masyarakat konsumen, bahwa produk sepatu merek bata sudah terpercaya, kuat dan sebagainya, sampai-sampai simbol garuda yang masih diyakini oleh umat Hindu “digambarkan” memberi petunjuk tentang keunggulannya.

Contoh kasus sejenis lainnya. —dikombinasikan dengan tanda atau simbol atau logo lain— dan dimanfaatkan hanya untuk menunjukan merek sepatu. karena dalam penampilannya bersifat mendaurulang bentuk garuda yang merupakan hasil produk kriya masa lalu dan diterapkan begitu saja. Selain hal tersebut. juga termasuk produk pastiche dan camp. Pastiche. juga dapat diamati pada penerapan elemen estetis produk kriya tradisional berupa dua patung naga yang mengapit pintu gerbang utama di lantai I di bawah selasar kantor sebuah bank di Denpasar. kini “dipermainkan”. sebab pemilihan dan penerapannya merupakan suatu “pelesetan” dari makna garuda yang sebenarnya. Naga tersebut sebenarnya merupakan hiasan sekaligus se- . karena merupakan hasil penyusunan elemen-elemen masa lalu yang melahirkan bangun tanda palsu yang berkonotasi negatif. Bentuk hiasan tersebut merupakan penggayaan dari bentuk naga hasil produk kriya masa lalu. seperti tampak pada Gambar 39. sehingga terkesan sentimentil terhadap simbol yang masih diyakini oleh umat Hindu di Bali. Sedangkan terkait dengan fenomena camp.Peniruan dan perpaduan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu produk kriya parodi. Simbol yang bersifat sakral dan terkait dengan ajaran ketuhanan. Narasinya bersifat ironis dan kritis dalam artian mengecilkan makna adiluhung yang terkandung dalam simbol garuda tersebut.

seperti pada bangunan suci berupa padmasana (lihat pada Gambar 12) Gambar 39 Penerapan Patung Naga Pada Gerbang Utama Pada Lantai I Di Bawah Selasar Kantor Sebuah Bank di Denpasar Penerapan tersebut. Nilai simbolis terkait dengan ajaran kosmologi Hinduistis di Bali dan dianggap sebagai benda sakral. sehingga berkesan berlebihan.bagai simbol yang diterapkan pada bangunan suci atau pelinggih di pura. glamor. dan tidak terbentuk pertalian makna dengan tempat yang diberi hiasan tersebut. makna atau nilai yang dikandungnya diimitasi dan dibuat-buat atau sama sekali tanpa makna serta menengelamkan . absurd. namun pada penerapan tersebut berubah menjadi produk biasa. termotivasi oleh keinginan yang lebih mengutamakan segi artistik dibandingkan substansi atau bobot dari elemen estetis produk kriya masa lalu yang dipilihnya.

dekorasi atau segi artistik semata. karena dalam penerapan tersebut hanya menitikberatkan pada penggayaan. Digolongkan sebagai fenomena pastiche. Sebagai fenomena kitsch. misalnya untuk kemegahan. Karya tersebut juga dapat digolongkan sebagai camp. Penerapan produk tersebut dapat dimasukan sebagai fenomena-fenomena. Usaha penciptaan penerapan naga tersebut juga disertai dalih untuk menciptakan . seperti merendahkan penghargaan nilai simbolis yang dikandung pada patung naga tersebut. seperti: pastiche. karena bentuk tersebut merupakan peniruan dari elemen “seni tinggi” atau high art yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dengan dibarengi tujuan palsu. menciptakan suasana tradisional dan sebagainya. karena produk tersebut merupakan penyusunan elemenelemen yang dipinjam dari unsur produk kriya masa lalu dan dalam penerapannya menimbulkan konotasi negatif. kitsch maupun camp. Usaha tersebut tanpa disadari membawa dampak terjadinya pergeseran dan pelunturan nilai yang dikandungnya serta bersifat ironis kalau ditinjau dari peletakan naga tersebut. disebabkan penenpatannya tidak sesuai dengan ketentuanketentuan yang telah terkonvensi. kebesaran.objek yang dijadikan sasaran eklektis. Bangun tanda baru yang dianggap sah dengan petanda yang tidak jelas. Secara semiotik kondisi tersebut tidak mencerminkan hubungan antara penanda dengan petanda dan dengan narasi yang tidak jelas.

Usaha-usaha seperti tersebut secara tidak langsung juga dapat berdampak menghambat kreativitas para kriyawan untuk berkreasi dan berinovasi. Selama ini tindakan-tindakan tersebut dianggap sebagai sikap atau model pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang berkesinambungan. Untuk itu. Terimakasih . Mereka dalam proses pengerjaannya hanya mengandalkan keahlian tangan atau virtuosity semata untuk menjadikan “mass product” dan didorong oleh keinginan pemenuhan kebutuhan para pengembang untuk menciptakan suasana dengan citra tradisional Bali. sebenarnya kurang relevan kalau dikaitkan dengan makna yang dikandungnya. Entahlah ?. meramu dan berorientasi pada elemen-elemen yang sudah ada. “menduplikasi” atau meniru. karena tanpa disadari dapat membawa dampak negatif —nilai simbolis yang dikandungnya menjadi sepele dan bahkan tanpa makna— terhadap konvensi yang diyakini oleh umat Hindu di Bali. sebab dalam proses penciptaannya hanya bersifat “mendaurulang”. Untuk contoh kasus yang sejenis masih banyak terjadi di masyarakat.suasana tradisional Bali. bagi para pembaca yang tertarik silakan diabadikan lalu kita bahas dari berbagai perspektif ilmu di lain kesempatan.

M. 1995. Ariawati. Oxford University Press / PT. Data Bali Membangun. Covarrubias. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Cassirer. Singaraja: Percetakan Guna Agung. 1994. Bija. Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi. ____. Transformasi Struktural Masyarakat Bali Dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). Upakara Upacara. Z. J. Jakarta: Hanuman Sakti . M. 1944. For Critique of The Political of Economy of The Sign. IGN. (makalah seminar). Baudrillard. USA: Telos Press. Yale University Press. Apakah Upacara Baten Masih Perlu?. 1991. 1995. 1981. I. N. Yogyakarta: ISI. Yogyakarta. Aji Maya Sandi. 1990. Jilid: 2. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Denpasar: Upada Sastra. Aspek Desain dalam Produk Kriya.DAFTAR BACAAN Ardana.1993. Pengantar Agama Hindu. Couteau. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). Budaya Bali Dalam Pertemuan dengan Budaya Dunia. Kuala Lumpur-SingapuraDjakarta Cudamani. 1990. An Essay On Man. Indra. J. I M. Bagus. 1992. Buchori. E. 1972. I B. Denpasar: Bappeda Tingkat I Bali. Island of Bali. S.

). Yogyakarta: Karya Yogyakarta. 1978. Geriya. West Germany: Weiss Verlag Gmbh.1963. U. Indiana University Press. Denpasar: Upada Sastra. dkk. Lodon: McGraw-Hill.Dinas Pengajaran Propinsi Bali. . Inc. Gie. 1979. T.L. Djawatan Penerangan Propinsi Sunda Kecil. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah. Gelebet. Buku Paider-ideran dengan Gambar Dewata Nawa Sanga dan Jimat-Jimatnya. New York. Encyclopaedia Britannica. A. N. Frutiger. Arsitektur Tradisional Bali. Berkeley . “Pariwisata dan Segi Sosial Budaya Masyarakat Bali” dalam Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa (Tjok Sudharta.0Freed dan Eiseman. 1953. Kamus BaliIndonesia.1989. 1981/1982. 1995. Blomington. W. 1993. Woodcarving of Bali. Eco. Republik Indonesia (Sunda Ketjil). Book Company. Margaret. A Theory Of Semiotika. I M. Toronto. tt. Signs and Symbols (Their Design and Meaning). 1988. Singaraja: Kementerian Penerangan. Studio Edition. Gambar. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali.Singapore: Periplus Editions. Ed. Garis-Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). CD-ROM 2. 1976. Encyclopedia of World Art.

C. London: Methuen. 1987. Yogyakarta. L. A. 1989. Kaler. Hornby. tt. I. Yogyakarta: Kanisius. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (terjemahan). New York: The Asia Society Galleries. D. Sejarah Nasional Indonesia.1969. Dkk. L. London. 1976. Grafitas. Goris. Jencks. MC. Kean. 1993. S. Krakah Modré Aji Griguh. Denpasar: CV. 1990. Joedawinata. Kayumas. AS. Cultural Involution: Tourist Balinese and the Processs of Modernization in . 1984.(Makalah Seminar Kriya). fourth edition. Jessup.Ginarsa. Sarasamušcaya. Manusia dan Seni. K. Jakarta: Pemeritah Republik Indonesia.1990. 1951. Atlas Kebudayaan Bali. dkk. H I. Gambar Lambang. P. Yogyakarta: ISI. Sejarah dan Pendidikan Kriya di Indonesia. R. Jakarta: PT. 1997. Hutcheon. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia 1975. The New Classicism in Art and Architecture. Jakarta: Hanuman Sakti. Kadjeng. Frick. 1973. Gottschalk. A Theory of Parody. I. Denpasar: Kartodirdjo. N. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Oxford: University Press. Court Art of Indonesia. N. Hartoko. 1985.

Darsana Bali. . Koentjaraningrat.) USA: Anthropology. 1976. I B. Pengantar Antropologi. H. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. 1994. Brown University Kempers. I MK. 1971. Bali dan Ekspor Hasil Kerajinan. Mantra. Denpasar: PT. Jakarta: Angkasa Baru Kridalaksana. Desire in Laguage: A Semiotic Approarch to Literature and Art. Oxford: Basil Blackawell Lontar Bhomantaka. J. Jilid: 2.Antropological Perspective (Disertation Ph. Edisi ke dua. Jakarta: Balai Pustaka Kristeva.J. Kropak IV. 1960: Bali Purbakala (disalin oleh: R.1988. Soekmono). Denpasar: Universal Press. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. ____. ____. Jakarta:PT. Bali: Masalah Sosial Baudaya dan Modernisasi. Penerbitan dan Balai Buku “Ichtiar” Kerepun. Bernet. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya.1979. 1-2 Nopember 1988.D. 1995. Kamus Bahasa Indonesia. 1986. Denpasar: (makalah pada Simlok Penelitian Menyongsong Tinggal landas. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai). 1993. A. No. Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Daerah Bali dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas. ____. Mahabhakti Offset. Jakarta: (red) Jambatan.b.

Mirsa. Denpasar: CV. et al. Upada Sastra. R. 1991. Ngurah. S M. I. Bandung. 8 Pebruari 1991) Bandung: Panitia Seminar. H. Sejarah Bali. Himpunan Keputusan (SeminarKesatuan Tafsir Terhadap Aspekaspek Agama Hindu. 1990. Oxford : The Clarendom Press. Denpasar: Parisada Hindu Dharma. sebuah Bunga Rampai). 1988. Nala. . Namawi. I Bali. Jakarta: Hanuman Sakti. Doa Sehari-Hari Menurut Hindu. Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia. Usada Bali. B. Bali Dalam Perspektif Sosial Budaya (laporan Seminar. 1963. 1993/1994. Jogyakarta: Gajah Mada University Press. 1982/1983. Denpasar: Toko Buku Ria. William. Moeliono. IGN. Pemda. Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Propinsi bali. Denpasar: PT. Jakarta: Balai Pustaka Monier. (dalam Puspanjali. Museum Negeri Propensi Bali. 1990. Nyoka. Peristiwa Sejarah dan Peristiwa Nostalgia. 1982/1983. Denpasar: Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan. Pameran Topeng Tradisional Bali & Jawa Barat (Katalog Pameran). Metode Penelitian Bidang Sosial. 1994. Tk. Oka. 1995. 1991. I G M. Kayumas. A Šanskrit English Dictionary. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Bahasa Besar Indonesia. Parisada Hindu Dharma. Edisi ke dua.

Raka.A. G. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bhagavad-Gîtã. (Againts Interpretation). 1988. Derektorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional. S. New York: Anchor Books. 1973. Balai Pustaka. G. Kamus Besar Bahasa Indonesia. ____. Pola dasar Kebijaksanaan Pembinaan Kebudayaan Daerah Bali. Bandung: Penerbit Angkasa. Santog. P. S. N. Konsepsi Monotheisme dalam Agama Hindu.A. Sejarah Wayang Parwa. Wisma “Praja Mukti” Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1992. 1990. Denpasar: Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Diretorat Jenderal Kebudayaan. 1977/1978. Serba Neka Wayang Kulit. A. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. W. Jajahitan Bali serta Fungsinya Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali. Aspek-aspek Agama Hindu. Jakarta: Hanuman Sakti. I B. 1975. Notes on “Camp”. I G. Santosa. .Pendit. Denpasar: Upada Sastra. 1994. Simpen. Denpasar: Listibya Daerah Bali. Putra. Seputar Weda dan Kebijakan: Jakarta : Manikgeni. 1994. Sejarah Pendidikan Daerah Bali.1993. 1991/1992. Bagian Inventarisasi dan Pembinaan Nilainilai Budaya. Sara. Pindha.

Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Committee of Festival of Indonesia.1992. 1990/1991. D. I. G. 1988. Gita Karya. 1988. Kayumas. Jakarta: Balai Pustaka. 1990. Bandung: Panitia Pameran KIAS 1990/1991. (Upacara-upakara. Arti dan Fungsi Sarana Upakara.Singging. Seni Budaya Hindu-Bali. Jakarta: CV. (Sejarah Nasional Indonesia I). .Trimurti Tattwa. Denpasar: CV. Jakarta: Yayasan Penerbitan Kebudayaan. Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni. Denpasar: CV. dimuat dalam Majalah Kebudayaan Indonesia. Sugriwa. Soeka. M. 1991. T. 1993. Jakarta: PT. Sudartha. Suasthawa. Jaman Prasejarah Indonesia. R. Soekanto. Rajawali. 1975. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuna. Suku Dayar San.P. W. Soeroso. Kamus sosiologi. at al. I N. S. Hakekat dan Makna serta Arti Simbol-simbol) Soedarso.P. Yogyakarta Soejono. P. ____. Hubungan Adat Dengan Agama dan Kebudayaan. Ngodalin pada Sanggah Pemrajan. tt. I G B. 1985. Serba-serbi Semiotika. R. 1986. Seni Rupa Indonesia Dalam Masa Prasejarah. Sp. Sudjiman. Kayumas. M. Jakarta: Gramedia.

Surayin. No. Denpasar: Penerbit dan Toko Buku Ria. Denpasar: CV. I A P. Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali. Suwondo. Desain dan Merancang: Penjelajahan Suatu Gagasan. Burung Merah Putih (dimuat dalam surat kabar Nusa Tenggara. 1991. K.1982. Denpasar: Yayasan Panti Asuhan Hindu “Dharma Jati” Tjahjono. Garuda. B.1989. Kanda Pat Dewa. Lintas Asta Kosali. Denpasar: B.b. G. Yayasan Purbakala Bali. I M. 1980. Singaraja. Sutaba. Prasejarah Bali. Dewa Yadnya. Koleksi Gedong Kertya. Transkrips Lontar Bhomantaka. 1993. Denpasar: Upada Sastra. 31 Agustus 1995) ____. Kropak IV.Sura. 1991. Transkrip Lontar Šiwa Tattwa. ____. 1995. B. Kayumas. I G.1977/1978. Denpasar:Toko Buku Ria. Architrave Tonjaya. I N. I W. Pengertian Pura dan Bangunan Suci di Bali. 1980. Titib. Denpasar: Upada Sastra Surpha. Kamis. Eksistensi Desa Adat di Bali. Singaraja: Koleksi Gedong Kertya. G. I M.U. 1987. . Agama Hindu (Sebuah Pengantar). Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.

S. P. Webster. 1981. R. (Tentang Tanda. Memahami Cerita Rekaan Secara Semiotika. Yogyakarta: Penerbit dan Toko Buku “Spring”. 1994. (terjemahan). Penataan dan Perlembagaan Agama Hindu di Bali. A.2010 Kamus Bahasa Indonesia online [cited 2010 Maret 18] Available at: URL: http: //id.keping Masa Lalu. 1977. 1995.org/wiki/Kerajinan Wiryatmadja. Jakarta: Hanuman Sakti. Denpasar: Nusa Data IndoBudaya. Tamasya di Antara Keping. Pengarang. 1958. USA Wiana. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. S. Webster.wikipedia. Cara Kerja dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya). Widyatmanta. Decoding Postmodern Style (Submitted for a Mater Degree in Industrial Design) London: The London Institute Central Sain Martns College of Art and Design ____. Semiotika. 1994. dalam Bali Dipersimpangan Jalan (Sebuah Bungan Rampai) Jilid: 1. 1993. Wojowasito. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. . Wardana. A. M. 1983. 1994. Jakarta: CV. Wikipedia . S. Yasraf.Van Zoest. IB. (dimuat dalam Jurnal Kebudayaan Kalam edisi: 2-1994). Buku Pelajaran Agama Hindu.s Collegiate Dictionary. Adiparwa. I K. Jakarta: Yayasan Sumber Agung. Kamus Bahasa Kawi-Indonesia.

Myth and Symbols in Indian Art and Civilization. IB. 1946. Denpasar. W. Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan. 1983: Seni Kerajinan Indonesia. Dalam “Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali (Sebuah Ontologi). H. New York: Haeper Torchbooks The Bolingen Library. Pergeseran dalam Pelaksanaan Agama Menuju Tattwa.Yudha Triguna. Yudoseputro. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Derektorat Pendidikan Menengah Kejuruan. . Zimmer. Denpasar: Penerbit-BP. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. 1994.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful