P. 1
Hadits 5

Hadits 5

|Views: 26|Likes:
Published by bisnishalal

More info:

Published by: bisnishalal on Jun 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2012

pdf

text

original

HADITS KELIMA

Dari Aisyah ra yang berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menciptakan hal-hal baru dalam urusan kami yang tidak berasal dariNya, ia tertolak.“ Di riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas dasar urusan kami, amalan tersebut tertolak”

Takhrijul Hadits Hadits di atas diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim di Shahih-nya masing-masing dari Al-Qasim bin Muhammad dari bibinya (dari jalur ayah), Aisyah ra (sebagai Ar Rawi Al „Ala (perawi yang paling tinggi)). Redaksi hadits tersebut tidak sama, namun maknanya mirip. Di sebagian riwayat disebutkan bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa menciptakan hal-hal baru dalam agama kita yang tidak ada di dalamnya, ia tertolak” Daftar lebih lengkap periwayat hadits ini adalah: 1. Al-Bukhari dengan hadits nomor 2697 2. Muslim dengan hadits nomor 1718 3. Imam Ahmad dengan hadits 6/73, 240 dan 270 4. Abu Daud dengan hadits nomor 4606 5. Ibnu Majah dengan hadits nomor 14 Hadits di atas di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban dengan hadits nomor 26 – 27. Kedudukan Hadits Hadits di atas adalah salah satu prinsip agung dari prinsip-prinsip Islam. Hadits tersebut juga merupakan parameter amal perbuatan yang terlihat (dhohir). Makna Hadits Sebagaimana disebutkan di atas, hadits kelima ini merupakan parameter amal perbuatan yang terlihat (dhohir). Artinya untuk menimbang apakah suatu amal perbuatan diterima atau tertolak, secara dhohir bisa dilihat apakah amal perbuatan tersebut mengikuti apa yang sudah digariskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya atau tidak. Sedangkan secara ____________________________________________ 1

Page 1

Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan (bid‟ah). Gigitlah Sunnah tersebut dengan gigi geraham. ، ‫ أنه قال : " من يعش منكم بعدي‬ ‫وسيأتي حديث العرباض بن سارية (1) عن النبي‬ ُ ‫فسيرى اختالفاً كثيراً ، فعليكم بسنتي وسنَّة الخلفاء الراشدين ِّيين من بعدي ، ع ُّوا‬ ‫َض‬ ‫المهد‬ ُ ِ ُ ٍ " ٌ ‫عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات األمور ، فإن كل محدثة بدعة كل بدعة ضالل‬ ‫ة‬ َّ ‫،و‬ َّ ُ ُ ‫ب ااي ي و ااح ت ااوح‬ ‫تا ا ح ذاياأ ي وؤا ك ع أل ألؤا‬ ‫ك ا ُ ته ي وهيااح تا ااي ألااي‬ ‫تالح:ا‬ ‫(2) وساؤخهح تاكا ع ى ال تا بايث ى ذاال دكاح بايي‬ ‫يقااوف ااب ه : ااأ د " الاايث تاباايي‬  ‫وكا‬ ‫بيث‬ . . maka demikian pula bahwa segala amal perbuatan yang tidak atas dasar perintah Allah dan Rasul-Nya tertolak dari pelakunya. ía tertolak. hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku. petunjuk terbaik ialah petunjuk Muhammad. karena hal-hal baru adalah bid‟ah dan setiap bid‟ah adalah kesesatan” Rasulullah saw bersabda di khutbah beliau.” Tekstual hadits di atas menunjukkan bahwa seluruh amal perbuatan yang tidak termasuk urusan Allah dan Rasul-Nya adalah tertolak. “Barang siapa menciptakan hal-hal baru dalam urusan kita yang tidak berasal darinya. ‫ى ل ت ى ف تا ب ايس ى ي اح تا ع وحيأل‬ ‫ح‬ “Perkataan yang paling benar ialah Kitabullah.–رًاه بيذا اللفظ النسائي‬ ____________________________________________ 2 Page 2 . sebagaimana dimaksudkan hadits beliau di riwayat lain. maka bukanlah termasuk perkara agama sedikit pun. Siapa saja yang menciptakan hal-hal baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dan RasulNya. “Barangsiapa hidup sepeninggalku. parameter untuk menimbang apakah suatu amal perbuatan diterima atau tertolak.baathin (tidak terlihat). Sedangkan kontekstualnya menunjukkan bahwa semua amal perbuatan yang sesuai dengan urusan Allah dan Rasul-Nya itu tidak tertolak. . ia akan melihat perselisihan yang banyak.” )1( )2( . bisa dilihat dari niat dalam melaksanakan amal perbuatan tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits “Innamal „amaalu binniyaat”. Hadits kelima ini juga menegaskan bahwa semua amal perbuatan agar diterima oleh Allah SWT (tidak tertolak) harus mengikuti syari’at Islam. " مسلم (178 ) ، ًابن ماجو (45 ). dan perkara terburuk ialah hal-hal baru yang diada-adakan (bid‟ah). ًرًاه بلفظ : " خيز الحديث . Oleh karena itu. Yang dimaksud dengan kata urusan pada hadits di atas ialah agama dan syariat Rasulullah saw. ‫ًىٌ الحديث الثامن ًالعشزًن‬ 811/3 ‫118 . Sebagaimana seluruh amal perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk mencari keridhaan Allah Ta‟ala maka pelakunya tidak mendapatkan pahala. Disebutkan di dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah dari Nabi saw yang bersabda.

terbagi ke dalam 2 bagian: 1. maka tertolak. Jadi barangsiapa amal perbuatannya berjalan di bawah hukum-hukum syariat dan sinkron dengannya. ‫ى أ ه حج ً ى تا ع ايس قييتً : ا ع ي و حيوي‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ا لؤل ذدتً د ا َّ َ ْ ك‬ Jadi makna hadits di atas bahwa barangsiapa amal perbuatannya keluar dari syariat dan tidak terikat dengannya. atau dansa. Di dalam hadist Al-Irbadh bin Sariyah di atas disebutkan juga tentang bid‟ah dimana definisi dari bid‟ah tersebut adalah ‫كل محدث فى الدين ليس له أصل شرعي‬ “kullu muhdatsin fid diini laisa lahu ashlun syar‟iiyun” yaitu semua yang diada-adakan di dalam agama yang tidak memiliki landasan syar’i. ibadah 2. maka tertolak. maka amal perbuatan tersebut diterima. jika salah satu dari ibadah keluar total dari hukum Allah dan Rasul-Nya. Sabda Rasulullah saw. dan berpuasa. “Yang tidak termasuk urusan kami“ adalah isyarat bahwa seluruh amal perbuatan manusia harus berjalan di bawah hukum-hukum syariat. ‫أم لهم شركاء عوا لهم من الدين ما لم يأذن به اهلل‬ ‫شر‬ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diijinkan Allah?” (Asy-Syura:21) Beberapa contoh yang menunjukkan pentingnya amalan yang berlandaskan syar’i: Taqarrub yang tertolak Barangsiapa bertaqarrub kepada Allah dengan amal perbuatan yang tidak dijadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai taqarrub kepada Allah. Kemudian Nabi saw memerintahkan orang ____________________________________________ 3 Page 3 . tidak berteduh. ia tertolak.. dan bid’ah-bid’ah lain yang tidak disyariatkan Allah dan Rasul-Nya sebagai bentuk taqarrub kepada-Nya. Makna bid‟ah ini juga kita dapati di hadits kelima di atas “Barangsiapa menciptakan hal-hal baru dalam urusan kami yang tidak berasal dari-Nya. Nabi saw pernah melihat seseorang berdiri di bawah terik matahari kemudian beliau bertanya ihwal orang tersebut. Dikatakan kepada beliau bahwa orang tersebut bernadzar untuk berdiri. ibadah tersebut ditolak dari pelakunya dan pelakunya masuk dalam firman Allah Ta‟ala. muamalah Adapun ibadah. Amal perbuatan tersebut mirip dengan kondisi orang-orang yang shalat mereka di samping Baitullah dalam bentuk siulan dan tepuk tangan. Taqarrub di satu ibadah berbeda dengan di ibadah lainnya Taqarrub di salah satu ibadah tidak menjadi taqarrub di ibadah lainnya secara mutlak. Sedangkan apabila amal perbuatan tersebut keluar dari hukum-hukum syariat. Orang tersebut seperti orang yang bertaqarrub kepada Allah Ta‟ala dengan mendengar hiburan. atau membuka tutup kepala di selain ihram. amal perbuatan tersebut batil dan tertolak. Dengan kalimat lain bahwa hukum-hukum syariat (dengan perintah dan larangannya) menjadi penguasa atasnya.” Berbicara tentang amal perbuatan.

Artinya. Begitu juga orang yang bertaqarrub dengan suatu bentuk ibadah yang dilarang secara khusus. atau tidak mengerjakan sesuatu yang disyariatkan. berdoa di Arafah. Lalu orang tersebut bernadzar untuk berdiri dan tidak berteduh selama Nabi saw berkhutbah untuk mengagungkan khutbah beliau. seperti di shalat. namun harus dikaji. padahal berdiri adalah ibadah di moment lain. Namun apakah amal perbuatannya pada asalnya tertolak atau tidak? Amal perbuatan tersebut tidak bisa dikatakan tertolak atau diterima secara mutlak. Beliau tidak menjadikan berdirinya orang tersebut di bawah terik matahari sebagai taqarrub yang bisa menyempurnakan nadzarnya. Abdurnahman bin Mahdi meriwayatkan dari kaum As____________________________________________ 4 Page 4 . maka amal perbuatan tersebut tidak bisa dikatakan tertolak. Terkadang penambahan tersebut tidak membatalkan amal perbuatan dan tidak membuatnya tertolak sejak awal seperti orang yang berwudhu empat-empat (mestinya tiga-tiga). jika orang tersebut tidak mengerjakan bagian-bagian amal perbuatan atau syarat-syaratnya yang mengharuskan batalnya amal perbuatan tersebut dalam syariat (seperti orang yang tidak bersuci untuk shalat padahal ia sanggup atau seperti orang yang tidak mengerjakan ruku’ atau sujud atau thuma‟ninah di shalat). seperti orang berpuasa pada hari raya atau mengerjakan shalat di waktu terlarang. Nabi saw tidak menjadikan perbuatan seperti itu sebagai taqarrub yang bisa menyempurnakan nadzarnya. dan berjemur di bawah terik matahari bagi orang yang sedang ihram. atau mengerjakan shalat di lahan rampasan. Terkadang amal perbuatan menjadi batal sejak awal dengan penambahan tersebut seperti orang yang menambahkan satu raka’at dalam shalatnya dengan sengaja. kemudian ditambahkan kepadanya sesuatu yang tidak disyariatkan. Jika seseorang menambahkan sesuatu yang tidak disyariatkan kepada sesuatu yang disyariatkan. Taqarrub dengan menambah atau mengurangi sesuatu Adapun orang yang mengerjakan amal perbuatan yang pada asalnya disyariatkan dan merupakan taqarrub. maka amal perbuatan orang tersebut tertolak dan ia harus mengulangi shalatnya jika shalat tersebut shalat fardhu. ia juga bertentangan dengan syariat dan kadar penentangannya sesuai dengan apa yang tidak ia kerjakan di dalamnya atau sesuai dengan pemasukan sesuatu yang tidak berasal darinya ke dalamnya. berteduh. Diriwayatkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Jum’at saat orang tersebut mendengar khutbah Nabi saw di atas mimbar. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Jika yang tidak dikerjakan orang tersebut tidak mengharuskan batalnya amal perbuatan tersebut (seperti orang yang tidak ikut shalat berjama’ah di shalat fardhu menurut ulama yang mewajibkan shalat berjama’ah dan tidak menjadikannya sebagai syarat). penambahan tersebut bukan merupakan taqarrub dan pelakunya tidak diberi pahala karenanya.tersebut duduk. penambahan tersebut tertolak. atau tidak tertolak hingga ia terbebas dari beban kewajiban? Sebagian besar fuqaha’ berpendapat bahwa amal tersebut tidak tertolak pada asalnya. atau benwudhu dengan air rampasan. dan meneruskan puasa. atau berpuasa siang dan malam dan menyambung puasanya (tidak berbuka). adzan. Itu semua menunjukkan bahwa taqarrub di salah satu moment itu bukan taqarrub di seluruh moment dan taqarrub tersebut hanya mengikuti apa-apa yang dijelaskan oleh syariat pada tempat-tempatnya. apakah amal orang tersebut tertolak pada asalnya. namun hanya berkurang. Terkadang sebagian yang diperintahkan dalam ibadah itu diganti dengan sesuatu yang dilarang seperti orang yang menutup auratnya di shalat dengan pakaian haram.

Ada dalil lain bahwa akad seperti itu mengesahkan kepemilikan. dan lain-lain). Yang dimaksud dengan hak Allah ialah hak tersebut tidak gugur dengan keridhaan dua pihak yang berakad. “Aku tidak pemah mendengar perkataan yang lebih buruk daripada perkataan mereka. menikahi wanita muhrim. Jika akad tersebut untuk hak manusia tenten dalam arti hak tersebut gugur dengan keridhaannya. Akad tersebut tidak mengesahkan kepemilikan dan harus dibatalkan. shalat Jum’at) jika waktunya hendak habis. maka akad tersebut sangat terkait dengan keridhaan orang tersebut. Contoh pertama (larangan untuk hak Allah) sangat banyak. Insya Allah. maka larangan menikahi wanita-wanita tersebut tidak gugur dengan keridhaan dua pihak untuk menggugurkan larangan tersebut. atau dengannya akan terdapat kedzaliman di komoditi. yang berkata bahwa barangsiapa mengerjakan shalat dengan menggunakan pakaian yang padanya terdapat uang senilai satu dirham haram. Ia mengecam pendapat tersebut dan mengkategorikannya sebagai bid’ah. Jika orang tersebut tidak ridha. Yang paling dekat dengan kebenaran. ia berhak membatalkan akad. Abdurrahman bin Mahdi berkata. Nabi saw menolak pernikahan seperti itu karena terjadi pada saat perempuan tersebut menjalani masa iddah. karena Nabi saw pernah menyuruh orang yang menjual satu sha’ kurma dengan ____________________________________________ 5 Page 5 . Pada hadits tersebut. atau akad tersebut melupakan dzikir kepada Allah yang wajib (maksudnya. Jadi. akad wajib dilakukan dan kepemilikan menjadi sah. Larangan untuk hak Allah dan Larangan untuk hak manusia Jika di jual-beli terdapat akad yang dilarang dalam syariat (karena komoditi tidak layak untuk dilakukan akad.” Abdurrahman bin Mahdi adalah salah seorang pakar fiqih dan hadits terkemuka yang banyak membawakan ucapan para generasi salaf. Menikahi wanita-wanita yang haram dinikahi seperti wanita-wanita yang haram dinikahi selama-lamanya karena salah satu sebab. Itu menunjukkan bahwa pendapat yang mewajibkan mengulang shalat karena sebab seperti itu tidak dikenal seorang pun dari generasi salaf. 1. Akad riba. karena ada dalil bahwa akad seperti itu tertolak dan tidak mengesahkan kepemilikan. ia wajib mengulang shalatnya. Meskipun yang terkena mudzarat tidak teranggap keridhaannya. atau syarat-syarat pernikahan tidak terpenuhi. Kita meminta keselamatan kepada Allah. misalnya. 2. dan lain sebagainya. atau nasab. kemudian seseorang mengerjakan kesulitan tersebut. pengikut Abu Syimr. nikah tanpa wali. apakah akad seperti itu tertolak secara total di mana kepemilikan tidak berpindah dengannya atau tidak? Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Misalnya menikahi wanita yang sedang menjalani masa iddah. Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau memisahkan orang laki-laki dengan wanita yang dinikahinya dalam keadaan hamil. perbedaan pendapat terjadi karena sebab tersebut. misalnya isteri dalam perceraian dan budak dalam pemerdekaan. atau menikahi dua wanita bersaudara sekaligus. amal perbuatannya tidak batal.Syimriyah. Jika larangan terkait khusus dengan sesuatu yang dilarang karena adanya kesulitan di dalamnya. ialah bahwa jika larangan tersebut untuk hak Allah Azza wa Jalla maka akad seperti itu tidak mengesahkan kepemilikan secara keseluruhan. atau syarat-syarat akad tidak tenpenuhi. Jika ia ridha. maka keridhaan dan kemurkaan orang tersebut tidak ada artinya.

Masalah kedua (larangan untuk hak manusia) juga mempunyai banyak bentuk. 3. kemudian orang tersebut menyalahi izin yang diberikan kepadanya. Juga diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau memberi pilihan (menerima atau menolak) kepada wanita yang dinikahkan ayahnya tanpa izinnya. Jual-beli minuman kenas. namun boleh tidaknya sangat terkait dengan pemilik uang. misalnya jual beli musharrat. Diriwayatkan dengan shahih bahwa dilaporkan kepada Nabi saw bahwa seseorang memerdekakan keenam budaknya menjelang kematiannya. namun ia menikahkannya tanpa izinnya. bangkai. Pembelanjaan orang sakit terhadap seluruh hartanya.dua sha’ untuk mengembalikannya. Urwah bin Al Ja’du menjual salah satu kambing tersebut kemudian Nabi saw menerima kambing tersebut. Jika pemilik uang tidak memperbolehkan. 3. padahal ia tidak memiliki asset selain budak-budak tersebut. Hadits tentang kambing ____________________________________________ 6 Page 6 . jual beli najasy. dan lain-lain. Beliau juga memberi khiyar (hak pilih) kepada rombongan pedagang jika mereka tiba di pasar. Perbedaan pendapat tersebut terjadi pada madzhab Imam Ahmad dan lain-lain. menemui rombongan pedagang. apakah batal sejak awal ataukah pembelanjaannya terhadap dua pertiga hartanya itu tergantung pembolehan ahli waris? Ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha’ dalam masalah ini. karena diriwayatkan dengan shahih dari Nabi saw bahwa beliau memberi hak pilih kepada pembeli musharrat. Nabi saw memanggil keenam budak tersebut kemudian membagi mereka ke dalam tiga bagian. 4. Jual-beli yang mengandung penipuan dan lain-lain. Imam Ahmad di pendapatnya yang terkenal mengkhususkan masalah tersebut pada orang yang membelanjakan uang orang lain dengan izin pemilik uang tersebut. wallahu a„lam. Ini semua menunjukkan bahwa jual beli seperti itu pada dasarnya tidak tertolak. Jika pemilik uang memperbolehkan pembelanjaan tersebut. Pendapat yang benar ialah bahwa sah tidaknya jual beli tersebut sangat tergantung kepada pembolehan pihak yang mendapatkan kedzaliman. 2. Wali menikahkan wanita yang tidak boleh ia nikahkan kecuali dengan izinnya. Nabi saw menolak pernikahan wanita janda yang dinikahkan ayahnya padahal wanita janda tersebut tidak ridha. di antaranya. babi. Sejumlah ulama hadits berpendapat bahwa jual beli seperti itu tidak sah dan tertolak. Bisa jadi. dan seluruh yang dilarang dijual di mana keridhaan dua pihak untuk melakukan jual beli dengannya tidak diperbolehkan. anjing. Tentang keabsahan jual-beli tersebut terdapat perbedaan pendapat seperti diketahui di madzhab Imam Ahmad. Mereka berhujjah dengan hadits Urwah bin Al-Ja’du yang membeli dua kambing untuk Nabi saw padahal beliau menyuruhnya membeli satu kambing. maka pembelanjaan tersebut batal. patung. Nabi saw memerdekakan dua orang dari mereka. Tentang ketidakabsahan pernikahan seperti itu dan pembolehannya tergantung kepada wanita tersebut itu ada dua riwayat dari Imam Ahmad. maka pembelanjaan tersebut diperbolehkan. ahli waris tidak membolehkan pemerdekaan semua budak tersebut . tetap memperbudak empat orang dari mereka. dan bersabda keras kepada orang tersebut. Setelah itu. 1. Sejumlah ulama berpendapat bahwa orang yang membelanjakan uang orang lain tanpa izinnya itu tidak batal menurut asalnya.

“(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu. maka orang-orang yang mengesahkannya menjadikan jual beli tersebut seperti jual beli di atas. Sedang orang-orang yang membatalkannya.Imam Ahmad juga diriwayatkan berpendapat seperti itu . Bisa jadi orang yang berpendapat seperti itu berhujjah dengan firman Allah Ta‟ala. hak mereka menjadi seperti hak Allah Azza wa Jalla. Diriwayatkan dengan shahih dari Nabi saw bahwa beliau menyuruh Basyir bin Sa’ad untuk menarik kembali pemberiannya kepada An-Nu’man karena Basyir bin Sa’ad hanya memberikan pemberian khusus kepadanya tanpa anak-anaknya yang lain. berlaku berat sebelah atau berbuat dosa. ia tertolak” (Diriwayatkan Muslim). 6. karena itu. ataukah pembolehannya tergantung kepada keridhaan budak-budak tersebut? Diriwayatkan bahwa Nabi saw memerintahkan penolakan jual beli seperti itu. Jika seorang ayah memberikan sesuatu kepada semua anaknya atau ia menarik kembali apa yang telah ia berikan kepada salah satu anaknya. Sejumlah ulama. Pemberian seperti ini tidak menunjukkan bahwa kepemilikan tidak berpindah tangan kepada anak tersebut. 7. Sedang jual-beli orang kota kepada orang desa. namun apakah ahli waris mempunyai hak untuk mengkaji ulang pemberian tersebut atau tidak? Ada dua pendapat dalam masalah ini dan kedua pendapat tersebut diriwayatkan dari Imam Ahmad. apakah sepertiga wasiat tersebut diwujudkan dalam satu rumah miliknya? Al Qasim bin Muhammad berkata. kemudian orang tersebut mewasiatkan sepertiga rumahnya. Ini menunjukkan bahwa bisa jadi pemisahan budak-budak tersebut diperbolehkan dan boleh tidaknya sangat terkait dengan persetujuan mereka. “Pemberian tersebut adalah warisan . apakah jual-beli tersebut batal dan tertolak.dan pemberian menjadi batal. kendati budak-budak tersebut setuju. Hadits tersebut sesungguhnya diriwayatkan Al Qasim bin Muhammad ketika ia ditanya tentang orang yang mempunyai tiga rumah. namun teryata orang tersebut memisahkan antara keduanya. Seorang ayah hanya memberikan pemberian khusus kepada salah seorang anaknya tanpa anak-anaknya yang lain. „Barangsiapa menciptakan hal-hal baru dalam urusan kita yang tidak berasal darinya. Jadi. ____________________________________________ 7 Page 7 . namun ia tidak memberi jawaban apa pun. Jika ayah tersebut meninggal dunia dan tidak berbuat apa-apa terhadap pemberian tersebut. Imam Ahmad secara tegas mengatakan bahwa pemisahan budak tidak diperbolehkan. hak mereka tidak dapat digugurkan. berpendapat memperbolehkan memisahkan budak-budak tersebut dengan keridhaan mereka. memberikan hak terhadap jual beli tersebut kepada seluruh penduduk tanpa dibatasi.musharrat disebutkan kepada kelompok yang tidak mengesahkan jual beli tersebut. misalnya ibu dengan anaknya. Jika seseorang menjual sejumlah budak yang haram dipisahkan. lalu ia mendamaikan antara mereka. di antaranya An-Nakhai dan Ubaidillah bin Al Hasan Al Anbani. Ini juga diriwayatkan dari Atha’ dan Ibnu Juraij.” Sedang jumhur ulama berpendapat bahwa pemberian tersebut tidak batal. Maksudnya bahwa perubahan wasiatnya pemberi wasiat kepada sesuatu yang lebih dicintai Allah dan bermanfaat itu diperbolehkan. 5. ia diperbolehkan. Aisyah ra berkata kepadaku bahwa Nabi saw bersabda. “Wasiatnya diwujudkan dalam bentuk satu rumah. Mujahid berkata. karena pemberian tersebut sah-sah saja dan benar.

Jadi. Sejumlah fuqaha’ berpendapat bahwa setiap budak dimerdekakan sepertiga dari dirinya dan mereka melakukan ri‟ayah terhadap sisa dirinya yang masih diperbudak. (Diriwayatkan Muslim). karena penyempurnaan pemerdekaan budak kendati memungkinkan itu lebih baik daripada menguranginya. Oleh karena itu. karena makna yang menyatukan dalam masalah pemerdekaan budak itu tidak terwujud pada harta yang ada. maka sepertiga tersebut diberikan kepada penerima wasiat. juga diriwayatkan dari Abu Yusuf dan Muhammad Qadhi Abu Ya’la dan sahabat-sahabat kami tidak sependapat dengan mereka dalam masalah ini. Sebagian para pengikut madzhab Maliki mentafsirkan fatwa Al Qasim bin Muhammad tentang hadits di atas bahwa salah satu dari kedua pihak (ahli waris atau penenima wasiat) meminta pembagian rumah-rumah tersebut dan rumah-rumah tersebut berdekatan dalam arti ____________________________________________ 8 Page 8 . karena Allah Ta‟ala mensyaratkan wasiat itu agar tidak menimbulkan madzarat. Nabi saw bersabda tentang seseorang yang memerdekakan sebagian budak miliknya. Allah Ta‟ala berfirman. namun mengikuti keputusan Rasulullah saw itu lebih tepat. madzarat tersebut dihilangkan dari mereka dengan cara wasiat tersebut diwujudkan dalam satu rumah tersendiri. “Ia orang yang memerdekakan secara penuh dan Allah tidak mempunyai sekutu. wasiat diperlakukan sesuai dengan tuntutan wasiat pemberinya. amal perbuatannya tertolak karena bertentangan dengan syarat yang ditentukan Allah dalam wasiat. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ (Al Baqarah: 182). Berdasarkan pendapat tersebut. Ini pendapat sejumlah besar sahabat-sahabat Abu Hanifah. Para fuhaqa’ berpendapat dengan hadits tersebut. “Dengan tidak memberi madzarat (kepada ahli waris).” Sebagian besar fuhaqa’ tidak sependapat dengan pendapat Al Qasim bin Muhammad bahwa wasiat pemberi wasiat tidak bisa diwujudkan dengan satu rumah dan bahwa hal tersebut hanya khusus berlaku pada pemerdekaan budak. kemudian Nabi saw memanggil keenam budak tersebut dan membagi mereka ke dalam tiga bagian. Pendapat yang terkenal di kalangan sahabat-sahabat kami bahwa rumah-rumah tersebut tidak dibagi-bagi secara pembagian paksa. Bisa jadi. oleh karena itu. orang-orang yang berpendapat seperti itu juga berhujjah dengan hadits tentang penyatuan pemerdekaan budak. beliau memerdekakan dua orang dari mereka dan tetap memperbudak empat orang.maka tidaklah ada dosa baginya. Ini juga pendapat Abu Hanifah dan Imam Syafi’i. mereka berkata bahwa rumah-rumah yang menjadi bagian bersama itu dibagi-bagi di antara penerima bagian seperti pembagian secara paksa. Itu juga pendapat Imam Malik dan yang terlihat dalam perkataan Abu Musa dan kalangan sahabat-sahabat kami. karena diriwayatkan dengan shahih bahwa seseorang memerdekakan enam budak miliknya pada saat ia hendak meninggal dunia. ri‟ayah disyariatkan jika salah seorang sekutu memerdekakan bagiannya terhadap budak. Sejumlah fuqaha’ berpendapat bahwa jika seseorang berwasiat dengan sepertiga seluruh rumahnya kemudian dua pertiga rumahnya mengalami kerusakan dan tinggal tersisa sepertiga rumahnya. barangsiapa menimbulkan madzarat dalam wasiatnya. Al Qasim bin Muhammad berpendapat bahwa bercampurnya penerima wasiat dengan ahli waris di semua rumah itu menimbulkan madzarat pada ahli waris. “ (An-Nisa‟: 12) Jadi.

sebagian rumah digabungkan kepada sebagian pembagian lainnya dalam pembagian. ____________________________________________ 9 Page 9 . Penafsiran seperti itu sangat jauh dan bertentangan dengan yang sebenarnya. wallahu a„lam. Permintaan salah satu pihak terhadap pembagian rumah-rumah tersebut harus dikabulkan menurut pendapat mereka.

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai hukum bid’ah ini. Contoh penambahan lafal “sayyidina” dalam bacaan tahiyat. 2. Di zaman Nabi dulu juga ada orangorang kafir Quraisy yang melakukan thawaf dengan (maaf) bertelanjang. Islam adalah agama ittiba.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ikutilah Aku. ada sebagian masalah muamalah yang telah diatur dalam hukum Islam sehingga apabila tidak dijalankan sesuai aturan itu maka ia akan menjadi tertolak.Pelajaran Hadist 1. sebagian mengatakan ini boleh sementara sebagian yang lain mengatakan tidak boleh Bid’ah tarqiyyah yaitu sesuatu yang dihalalkan oleh Allah akan tetapi ditinggalkan oleh sebagian orang. Misalnya : orangorang yang melakukan ibadah dengan menari. jika hal itu diniatkan untuk mendekatkan diri pada ____________________________________________ 10 Page 10 . Bid’ah idhafiyyah yaitu penambahan yang bukan benar-benar baru. Misalanya ada sebagian orang yang meninggalkan makan daging padahal daging itu dihalalkan oleh Allah. dan ia minta keringanan agar anaknya tidak dihukum rajam melainkan diganti dengan menyembelih onta. maka Nabi menolaknya dan menetapkan hukuman rajam untuk si anak. niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. hanya bersifat penambahan saja. Perbuatan yang baru dalam urusan agama bisa diterima sepanjang ia tidak benar-benar baru (tidak ada sama sekali contoh sebelumnya) dan hal tersebut sejalan dengan tuntunan Islam. Berkaitan dengan masalah muamalah. diantaranya bid’ah dibagi menjadi bid’ah idhafiyah dan bid’ah tarqiyah. apakah dibolehkan atau tidak. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 31 : Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah. Terdapat beberapa pembagian jenis bid’ah. 4. sehingga harus sesuai dengan tuntunan nabi dan tidak boleh mengada-ada. Misalnya ketika di zaman Nabi dulu ada seseorang yang datang kepada Nabi menyampaikan bahwa anaknya telah melakukan zina. maka ibadah seperti ini tertolak karena mengada-ada dan bertentangan dengan ajaran Islam. Para ulama mengatakan bahwa hukum bid’ah jenis ini akan tergantung pada niat pelakunya. Perbuatan seorang hamba akan tertolak jika perbuatan tersebut mengada-ada dalam urusan agama dan bertentangan dengan tuntunan Islam. Contohnya masalah pembukuan Al Quran. maka ibadah seperti itu juga tertolak. hal ini belum dilakukan di zaman Nabi dan baru di mulai pada zaman khalifah Abu Bakar As Siddiq 3.

dan tidak tergesa-gesa memvonis. 5.Allah. demikian juga sebaliknya. siapa tahu dia memiliki dalil yang kuat sehingga sesuatu yang tadinya kita anggap bid’ah justru ternyata adalah sunnah. Dalam mensikapi sesuatu yang kita anggap bid’ah. Tapi jika diniatkan untuk menjaga kesehatan atau karena memang tidak suka (dalam kasus tidak makan daging) ataupun alasan-alasan lainnya yang tidak terkait ibadah maka hal itu diperbolehkan. kita harus bersikap sabar. mensucikan diri ataupun bentuk ibadah lainnya maka bid’ah jenis ini menjadi terlarang. arif. ____________________________________________ 11 Page 11 . Ada baiknya kita duduk bersama dengan kepala dingin dan mendengarkan alasan dari saudara kita.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->