P. 1
Inovasi Vol[1].7 XVIII Juni 2006

Inovasi Vol[1].7 XVIII Juni 2006

5.0

|Views: 2,503|Likes:
Published by singlecrew

More info:

Published by: singlecrew on Jan 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

Sections

Haris Syahbuddin

Email: harissyahbuddin@yahoo.com

Menurut UU No. 24 tahun 1992, tata
ruang didefinisikan sebagai wujud struktural
dan pola pemanfaatan ruang atau wadah,
baik direncanakan maupun tidak. Untuk
memberikan manfaat yang luas dan
berkelanjutan terhadap suatu ruang atau
wilayah diperlukan perencanaan terhadap
penataan ruang, yang meliputi ruang daratan,
ruang lautan, dan ruang udara. Meski secara
aktual penataan terhadap ruang laut dan
udara hampir tidak pernah dilakukan, namun
pencantuman kedua ruang tersebut dalam
UU perlu dilakukan, karena secara geopolitik
ketiganya merupakan satu kesatuan
geografis yg tidak dapat dipisahkan dan
berkait

dengan

kedaulatan

negara.
Perencanaan tata ruang sendiri lebih terfokus
pada pemanfaatan ruang daratan itu sendiri,
karena di wilayah inilah tempat manusia dan
makhluk hidup lainnya berinterkasi menjaga
keseimbangan

ekosistem.

Artinya
perencanaan tata ruang tidak dapat
dipisahkan dari usaha-usaha menjaga
kelestarian

lingkungan,

keseimbangan
ekosistem dan bermuara pada tercapainya
kenyamanan

hidup

bagi

segenap

penghuninya.

PBB menetapkan Human Proverty Index
(HPI) yang salah satu parameternya adalah
kelayakan standar hidup (a decent standard
of living) yang diukur berdasarkan kelayakan
akses individu terhadap seluruh peluang
ekonomi. Indikator ini diukur berdasarkan
prosentase jumlah penduduk yang tidak
memiliki akses terhadap air bersih dan
prosentase jumlah anak-anak yg memiliki
berat badan di bawah usia normal.
Digunakannya akses terhadap seluruh
kesempatan ekonomi dan air sebagai
indikator adalah cerminan basic need
manusia untuk memiliki kesempatan
mendapatkan pengetahuan, kesempatan
mendapatkan pelayanan kesehatan, dan
kesempatan hidup yang lebih panjang. Salah
satu cara mencapai HPI yang memadai
adalah melalui pemanfaatan ruang yang
effektif dan effisien serta sesuai dengan
potensi daya dukung lahannya.
Perencanaan tata ruang sesungguhnya
tidak dapat dilepaskan dari perencanaan dan
pengaturan tempat baik secara vertikal

maupun horizontal, berskala makro maupun
mikro. Indonesia dengan luas daratan sekitar
1.92 juta km2

atau memiliki ratio kepadatan

penduduk 126/km2

, masih memfokuskan diri
pada penataan ruang secara horizontal dan
skala makro. Bila pun ada pendirian
bangunan secara vertikal masih terfokus
pada penataan ruang vertikal ke atas.
Sedangkan keseimbangan penataan ruang
secara horizontal dan penataan ruang vertikal
ke bawah masih belum menunjukkan hasil
optimal. Secara horizontal saja, penataan
ruang menyimpan banyak persoalan serius
untuk dicarikan solusinya. Sedemikian
komplek persoalan penataan ruang ini terkait
keseimbangan antar makhluk hidup, serta
kenyamanan masyarakat yg hidup di
dalamnya, diperlukan ketegasan pemerintah
yang kian berpihak pada kepentingan publik,
untuk menegakkan peraturan yang sudah
beratus jumlahnya. Sangat dirasakan betapa
kepentingan ekonomi jangka pendeklah yg
mengemukan dalam menata ruang.
Pengalihfungsian puluhan bahkan ratusan
situ di sekitar Jabodetabek, kian luas zone
impermeabilitas akibat berkurangnya lahan
terbuka hijau di daerah perkotaan, penutupan
aliran pembuangan/sungai kecil oleh
bangunan, hilangnya hak publik atas akses
air bersih, klusterisasi zona industri di daerah
hulu dan badan sungai yg berakibat
tercemarnya air sejak hulu, pembuatan jalan
tol yang memutus kebutuhan air irigasi lahan
sawah potensial, atau pembuatan jalan bebas
hambatan yang justru mengekspansi jalan
umum, dll adalah contoh sedemikian kritis
penataan ruang kita. Ujung dari seluruh jenis
ketidaktaatan terhadap tata ruang dan daya
dukung lahan ini adalah dirugikannya hak-hak
masyarakat untuk mendapatkan kenyamanan
hidup yang mereka dambakan. Hampir dapat
dikatakan, negara menjadi tidak berdaya
mengurus rakyatnya dalam hal pemenuhan
hak-hak publik terkait pemanfaatan ruang.
Semangat otonomi daerah dapat pula
menjadi bumerang tersendiri bila salah dalam
memahami arti bahwa sesungguhnya
penataan ruang tidak mengenal batas wilayah
administratif. Sebab lahan sebagai basis
penataan ruang adalah bentang alam dan
merupakan satu kesatuan toposequence

EDITORIAL

1

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

yang tidak dapat dipisahkan satu dengan
lainnya. Tidak dapat dibayangkan apabila
sinergi penataan ruang antar wilayah tidak
dilakukan, Jakarta akan selamanya mendapat
kiriman banjir bandang dan sampah dari
wilayah Bopunjur, atau Semarang akan
selamanya menjadi kota rob. Kompensasi
wilayah hilir yang umumnya menjadi pusat
bisnis dan ekonomi terhadap daerah hulu
perlu dipikirkan sebagai insentif terhadap
sinergi pembangunan ini. Kekhawatiran
terhadap kian menguatnya otonomi daerah
terhadap kewenangan mengelola suatu
wilayah atau kawasan dan menjaga
ketahanan nasional diduga sebagai salah
satu alasan perlu dilakukan revisi terhadap
UU No. 24 tahun 1992 itu, di mana
pembahasan RUU Penataan Ruang tersebut
hingga ini masih terus dilakukan. Sebab
bukan tidak mungkin kemudian terjadi bahwa
suatu daerah bersikeras melakukan
pengelolaan ruang darat, ruang laut dan
ruang udara sebagai bagian dari zona
ekonomi, sehingga pelintas batas harus
membayar pajak dalam memanfaatkannya.
Kita dapat belajar dari negara negara
yang telah berhasil menata ruangnya dengan
sangat baik dan effisien. Jepang dengan 80%
wilayah terdiri dari pegunungan, dan hanya
20% dataran dengan panjang lereng yang
pendek terhadap garis pantai (potensial
menyebabkan erosi dan banjir), dengan
jumlah pendudukan separuh negeri kita,
mampu memanfaatkan ruang dengan effisien.
Pengembangan zona industri di tepi laut
memberi keuntungan dari sisi effisiensi
transportasi serta menghindari pencemaran
air sungai dan polusi udara bagi kawasan
pemukiman, fasilitas ruang terbuka hijau dan
taman bermain (koen) di setiap kelurahan
atau kecamatan (ku/cho), yang sekaligus
sebagai zone resapan air dan kolam
penampung air limbah, perencanaan saluran
penyalur dan pengelolaan limbah air rumah
tangga dan industri (water sewage) sebelum
akhirnya dialirkan ke sungai dan laut,
pembangunan pusat bisnis terintegrasi
dengan subway di kedalam puluhan meter di
bawah permukaan tanah, ketersediaan
luasan area bagi pejalan kaki (pedestrian)
dan pengendara sepeda yang manusiawi,
atau konsistensi pemda dalam menyiapkan
lahan bagi hutan untuk seratus tahun
mendatang seperti yg terdapat di kota Kobe,
demikian pula konservasi kawasan lindung.
Dengan demikian kenyamanan hidup menjadi
lebih baik, tanpa mengurangi efektivitas dan
effisiensi aktifitas penduduknya dalam

kegiatan ekonomi, pendidikan, dan lain
sebagainya. Dapat dikatakan bahwa
keterlambatan kerja pada iklim yang normal
tidak ditemukan. Seluruh jadwal kegiatan
dapat direncanakan dengan baik dan tepat
waktu.

Kita pun dapat belajar dari Perancis.
Keberadaan subway yang sudah lebih dari
100 tahun dan konservasi arsitektur klasik
setiap bangunan di seluruh kota, khususnya
Paris, menunjukkan taat nya mereka
terhadap peraturan yg dibuat. Keseimbangan
horizontal pun tak luput dari konsep penataan
kota mode dan budaya ini. Di kota Paris, kita
hanya akan menemukan satu gedung
menjulang tinggi yaitu menara Montparnasse,
yang dalam tahap pembangunannya
memerlukan diskusi lebih dari 10 tahun.
Selebihnya bangunan dengan jumlah lantai
tidak lebih dari lima, dikelilingi oleh ruas jalan
yang tertata secara diagonal, saling bersilang
rectangular. Atau bila kita ke arah Selatan
Perancis, di kota Monpellier kita dapat melihat
bagaimana pemerintah lokal membangun
jalur kereta dalam kota (Metro) dari Mosson
ke Port Marianne persis di antara barisan
pohon Sycamore yang telah berusia lebih dari
50 tahun dan tetap tumbuh di sisi kanan dan
kiri jalurnya. Dari contoh di atas dapat
dikemukan di sini bahwa penataan ruang
merupakan entry point menuju efektivitas dan
effisiensi pengelolaan lingkungan untuk
kesejahteraan masyarakat. Selain itu,
nampak bahwa penataan ruang merupakan
cerminan perjalanan panjang budaya suatu
bangsa, dan juga cerminan konsistensi dari
rencana yang telah dibuat minimal 50 tahun
sebelumnya. Dikatakan sebagai perjalan
budaya suatu bangsa, karena penataan
ruang yang baik telah menjadi kebutuhan
setiap individu. Dengan demikian kontrol
terhadap pemanfaatan suatu ruang dilakukan
oleh seluruh lapisan masyarakat, yang
sebelumnya dilibatkan secara aktif dalam
proses perencanaan.
Sesungguhnya lah kita telah memiliki
seluruh modal dasar tersebut. Masyarakat
yang cinta dan butuh akan lingkungan yang
terpelihara, kemudian warisan budaya baik
masyarakat Sumatera, Jawa hingga Papua.
Borobudur sebagai warisan budaya nenek
moyang, telah memberi pelajaran bahwa
dalam

penataan

ruang

terdapat
keseimbangan di dalam struktur bangunan itu
sendiri, dan keseimbangan terhadap
lingkungannya. Sekarang yang dibutuhkan
adalah membangkitkan kembali kesadaran,
idealisme dan ketaatan para pejabat publik

2

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

sebagai pemegang wewenang penuh
pengalokasian wilayah terhadap rencana tata
ruang yang telah dibuat berdasarkan daya
dukung lahan, keterbukaan pemerintah
terhadap rencana pemanfaatan suatu
kawasan, dan kontrol terhadap pemanfaatan
suatu ruang yang dilakukan oleh masyarakat,
yang sejak dini dilibatkan secara aktif dalam
proses perencanaan. Para wakil rakyat di
lembaga legislatif dituntut untuk tidak segan

mempelajari dinamika peraturan dan
pemanfaatan ruang wilayah di setiap
kabupaten/kota, sehingga proses pengendali
pemanfaatan ruang dapat dilakukan sejak
dari unit terkecil penataan ruang wilayah.
Sehingga di masa datang tidak ada lagi
pemanfaatan

ruang

hanya

semata
berdasarkan pertimbangan ekonomi dan
mengabaikan faktor lingkungan dan hak-hak
publik.

3

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

Aplikasi Data Penginderaan Jauh untuk Mendukung
Perencanaan Tata Ruang di Indonesia

Dwi Nowo Martono, Surlan, Bambang Tedja Sukmana

Kedeputian Penginderaan Jauh LAPAN, Jakarta
Email: nowo2003@yahoo.com

1. Latar Belakang

Perencanaan Tata Ruang wilayah

merupakan

suatu

upaya

mencoba
merumuskan usaha pemanfaatan ruang
secara optimal dan efisien serta lestari bagi
kegiatan usaha manusia di wilayahnya yang
berupa pembangunan sektoral, daerah,
swasta dalam rangka mewujudkan tingkat
kesejahteraan masyarakat yang ingin dicapai
dalam kurun waktu tertentu.
Penyusunan tata ruang merupakan tugas
besar dan melibatkan berbagai pihak yang
dalam menjalankan tugas tidak terlepas dari
data spasial. Data spasial yang dibutuhkan
dalam rangka membuat suatu perkiraan
kebutuhan atau pengembangan ruang jangka
panjang adalah bervariasi mulai dari data
yang bersifat umum hingga detail. Bentuk
data spasial untuk kegiataan penataan ruang
umumnya berupa peta digital dan peta
analog yang masing-masing mempunyai
karakteristik dan spesifikasi yang berbeda,
dimana jenis dan ruang lingkup serta
kedetailan rencana tata ruang sangat
menentukan

Berkaitan dengan kesiapan data spasial
untuk mendukung tata ruang, ada beberapa
titik kritis yang perlu mendapatkan perhatian
kaitannya dengan prosedur kerja antara lain:
1. Belum adanya format data dan skala peta
dasar yang baku untuk penyusunan tata
ruang dalam berbagai tingkat. Ada
perbedaan format baku peta dengan
format operasional, demikian juga skala
peta dikaitkan dengan jenis data yang
harus digunakan dan prosedur pengolahan
data.
2. Pengalaman menunjukkan bahwa belum
memadainya kesadaran akan pentingnya
penyediaan data spasial yang akurat dari
kalangan pengguna. Data spasial yang
akurat tidak dilihat sebagai komoditas yang
strategis untuk kepentingan jangka
panjang.
3. Pembuatan atau penyusunan data spasial
skala 1 : 250.000 hingga 1 : 5000 untuk
tata ruang detail dilakukan dengan

anggapan peta sudah tersedia dan tidak
disediakan alokasi biaya untuk pembuatan
peta tersebut. Dampaknya adalah peta
yang digunakan sudah kadaluarsa.
4. Pada berbagai rencana kegiatan, ketelitian
peta yang dibutuhkan kadang-kadang
bukan merupakan hal yang utama, yang
diutamakan adalah penyebaran temanya.
Informasi lokasi dan batas-batas fisik lebih
diutamakan (bukan kepastian koordinat),
sedangkan dalam beberapa hal misalnya
infrastructure management kepastian
lokasi harus dicirikan dengan ketepatan
koordinat.

Kelengkapan dan kebenaran (kualitas)
input data spasial akan sangat berpengaruh
pada hasil atau keluarannya. Tanpa adanya
data spasial yang memadai dalam arti
kualitas planimetris dan informasi kualitatif,
maka proses pengambilan keputusan tidak
dapat dilaksanakan secara benar dan
bertanggung jawab.

2. Penginderaan

Jauh

untuk

Pengembangan Wilayah

Suatu wilayah baik di pedasaan maupun di
perkotaan menampilkan wujud yang rumit,
tidak teratur dan dimensi yang heterogen.
Kenampakan wilayah perkotaan jauh lebih
rumit dari pada kenampakan daerah
pedesaan. Hal ini disebabkan persil lahan
kota pada umumnya sempit, bangunannya
padat, dan fungsi bangunannya beraneka.
Oleh karena itu sistem penginderaan jauh
yang diperlukan untuk penyusunan tata ruang
harus disesuaikan dengan resolusi spasial
yang

sepadan.

Untuk

keperluan
perencanan tata ruang detail, maka
resolusi spasial yang tinggi akan mampu
menyajikan data spasial secara rinci. Data
satelit seperti Landsat TM dan SPOT dapat
pula digunakan untuk keperluan penyusunan
tata ruang hingga tingkat kerincian tertentu,
misalnya tingkat I (membedakan kota dan
bukan kota). hingga sebagian tingkat II
(perumahan, industri, perdagangan, dsb.).

UTAMA

4

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

Sedangkan untuk tingkat III (rincian dari tingkat
II, misalnya perumahan teratur dan tidak teratur)
dan tingkat IV (rincian dari tingkat III, misalnya
perumahan teratur yang padat, sedang, dan
jarang.

Welch (1982) menyatakan bahwa untuk
penyusunan tata ruang perkotaan di Amerika

Serikat dengan memanfaatkan data
penginderaan jauh, menggunakan konsep
hubungan antara resolusi spasial data
penginderaan jauh dan tingkat kerincian data
yang dihasilkan, disajikan pada Gambar 1.

I II II IV Tingkat kerincian

Gambar 1. Hubungan antara resolusi spasial data penginderaan jauh dan kerincian
penggunaan lahan kota di Amerika Serikat (Sumber : Welch, 1982)

Gambar 1 mengisyaratkan bahwa citra
Landsat ETM dengan pixel 15 m dapat
digunakan untuk data penggunaan lahan kota
tingkat kerincian I sampai kerincian tingkat II,
atau untuk membedakan daerah yang secara
fisik berupa perumahan dan non perumahan
terhadap daerah sekitarnya. Untuk kerincian
tingkat III diperlukan resolusi spasial sekitar
1-3 m. dan tingkat kerincian III dan IV
masing-masing diperlukan resolusi spasial
lebih kecil atau sama dengan 1 m. Oleh
karena itu mengacu pendapat Welch, data
satelit resolusi tinggi dengan resolusi spasial
0.7-1.0 m dapat digunakan untuk
memperoleh sebagian data penggunaan
lahan dengan tingkat kerincian III dan IV.

3. Landasan Hukum Penyusunan Tata
Ruang

Struktur perencanaan pembangunan
nasional yang dicirikan dengan terbitnya
Undang-Undang No 25 Tahun 2004 tantang
sistem perencanaan nasional, maka kepala
daerah terpilih diharuskan menyusun
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RPJM) dan Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP) di daerahnya masing-masing.
Dokumen RPJM ini akan menjadi acuan
pembangunan daerah yang memuat antara
lain visi, misi, arah kebijakan dan program-
program pembangunan selama 5 (lima) tahun
ke depan. Dengan demikian terkait kondisi
tersebut, maka dokumen Rancana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) yang ada juga harus
mengacu pada visi dan misi tersebut.
Dengan kata lain RTRW yang ada
merupakan bagian dari terjemahan visi, misi

5

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

daerah yang dipresentasikan dalam bentuk
pola dan struktur pemanfaatan ruang.
Landasan hukum penyusunan tata ruang di
Indonesia secara umum mengacu pada
Undang-Undang Nomer 24 tahun 1992
tentang penataan ruang. Pedoman ini
sebagai landasan hukum yang berisi tentang
kewajiban setiap Propinsi, Kabupaten dan
Kota untuk menyusun tata ruang wilayah
sebagai arahan pelaksanaan pembangunan
daerah. Kewajiban Daerah untuk menyusun
tata ruang berkaitan dengan penerapan
desentralisasi dan otonomi daerah.
Menindak lanjuti Undang-Undang tersebut
di atas, Menteri Permukiman dan Prasarana
Wilayah

Nomor

327/KPTS/M/2002
menetapkan enam pedoman bidang
penataan ruang, meliputi
a. Pedoman penyusunan RTRW propinsi.
b. Pedoman Penyusunan Kembali RTRW
propinsi.
c. Pedoman penyusunan RTRW kabupaten
d. Pedoman penyusunan kembali RTRW
kabupaten.
e. Pedoman penyusunan RTRW perkotaan.
f. Pedoman penyusunan kembali RTRW
perkotaan.

Pedoman seperti tertulis di atas sebagai
acuan bagi para penanggung jawab
pengembangan wilayah propinsi, kabupaten
dan

kawasan

perkotaan.

Pedoman
penyusunan RTRW meliputi kegiatan
penyusunan mulai dari persiapan hingga
proses legalisasi. Hal-hal teknis operasional
yang belum diatur dalam keputusan Menteri
ini diatur lebih lanjut oleh pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24
tahun 1992 tentang penataan ruang, rencana
tata ruang dirumuskan secara berjenjang
mulai dari tingkat yang sangat umum sampai
tingkat yang sangat rinci seperti dicerminkan
dari tata ruang tingkat propinsi, kabupaten,
perkotaan, desa dan bahkan untuk tata ruang
yang bersifat tematis, misalnya untuk
kawasan pesisir, pulau-pulau kecil, jaringan
jalan, dan lain sebagainya.
Mengingat rencana tata ruang merupakan
salah satu aspek dalam rencana
pembangunan nasional dan pembangunan
daerah, maka tata ruang nasional, propinsi
dan kabupaten/kota merupakan satu
kesatuan yang saling terkait dan dari aspek
substansi dan operasional harus konsistensi.
RTRW nasional merupakan strategi dan
arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah

negara yang meliputi tujuan nasional dan
arahan pemanfaatan ruang antar pulau dan
antar propinsi. RTRW nasional disusun pada
tingkat ketelitian skala 1 : 1.000.000 untuk
jangka waktu selama 25 tahun
RTRW propinsi merupakan strategi dan
arahan kebijaksanaan pemanfaatan runag
wilayah propinsi yang berfokus pada
keterkaitan antar kawasan/kabupaten/kota.
RTRW propinsi disusun pada tingkat
ketelitian skala 1 : 250.000 untuk jangka
waktu 15 tahun.
RTRW

kabupaten/Kota

merupakan
rencana tata ruang yang disusun berdasarkan
perkiraan kecenderuangan dan arahan
perkembangan untuk pembangunan daerah
di masa depan. RTRW kabupaten/kota
disusun pada tingkat ketelitian 1 : 100.000
untuk kabupaten dan 1 : 25.000 untuk daerah
perkotaan, untuk jangka waktu 5-10 tahun
sesuai perkembangan daerah.

4. Ruang Lingkup Analisis Penyusunan
Rencana Tata Ruang Wilayah

Berdasarkan landasan hukum dan
pedoman umum penyusunan tata ruang,
substansi data dan analisis penyusunan
RTRW propinsi dan kabupaten adalah
sebagai berikut :

4.1. Ruang Lingkup RTRW Propinsi

a. Substansi data dan analisis
- Kebijakan pembangunan
- Analisis regional
- Ekonomi regional
- Sumberdaya manusia
- Sumberdaya buatan
- Sumberdaya alam
- Sistem permukiman
- Penggunaan lahan
- Analisis kelembagaan

b. Substansi RTRW propinsi
- Arahan struktur dan pola pemanfaatan
ruang
- Arahan pengelolaan kawasan lindung
dan budidaya
- Arahan pengelolaan kawasan
perdesaan, perkotaan dan tematik
- Arahan pengembangan kawasan
permukiman, kehutanan, pertanian,
pertambangan, perindustrian, pariwisata
dan kawasan lainnya.
- Arahan pengembangan sistem pusat
permukiman perdesaan dan perkotaan
- Arahan pengembangan sistem
prasarana wilayah

6

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

- Arahan pengembangan kawasan yang
diprioritaskan
- Arahan kebijakan tata guna tanah , air,
udara dan sumberdaya alam Lain.

4.2. Ruang Lingkup RTRW Kabupaten

a. Substansi data dan analisis
- Kebijakan pembangunan
- Analisis regional
- Ekonomi dan sektor unggulan
- Sumberdaya manusia
- Sumberdaya buatan
- Sumberdaya alam
- Sistem permukiman
- Penggunaan lahan
- Pembiayaan pembangunan
- Analisis kelembagaan

b. Substansi RTRW propinsi
- Rencana struktur dan pola pemanfaatan
ruang
- Rencana pengelolaan kawasan lindung
dan budidaya
- Rencana pengelolaan kawasan
pedesaan, perkotaan dan tematik
- Rencana sistem prasarana wilayah
- Rencana penatagunaan tanah , air,
udara dan sumberdaya alam Lain.
- Rencana sistem kegiatan pembangunan
Secara rinci penjabaran dari tiap-tiap
substansi disajikan pada Tabel 1.

5. Pola Pemetaan Pemanfaatan Ruang
Berwawasan Lingkungan di Indonesia

Adanya peraturan perundang-undangan
penyusunan tata ruang yang bersifat nasional,
seperti Undang-Undang No 25 Tahun 2004
dan Keputusan Menteri Permukiman dan
Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002
kiranya dapat digunakan pula sebagai dasar
dalam melaksanakan pemetaan mintakat
ruang sesuai asas optimal dan lestari. Untuk
menata ruang yang optimal dengan prinsip
lestari perlu adanya perencanaan yang
holistik antara potensi, kondisi dan kebutuhan
akan sumberdaya ruang. Penyusunan tata
ruang dalam konteks ini bukan sekedar
mengalokasikan tempat untuk suatu kegiatan
tertentu, melainkan menempatkan tiap tiap
kegiatan penggunaan lahan pada bagian
lahan yang berkemampuan serasi dan lestari
untuk kegiatan masing-masing. Oleh karena
itu hasil penyusunan tata ruang bukan tujuan,
akan tetapi sarana. Yang menjadi tujuan tata
ruang ialah manfaat total lahan/ruang dengan
sebaik-baiknya dari kemampuan total lahan
secara sinambung atau lestari.

6. Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh
untuk Penyusunan Tata Ruang

Berdasarkan Gambar 2, peranan data
penginderaan jauh dan Sistem Informasi
Geografis (SIG) menjadi semakin jelas.
Gambar 2 menunjukkan bahwa semakin ke
kanan skala yang dibutuhkan semakin besar,
artinya semakin rinci pula informasi spasial
yang harus dapat diidentifikasi. Hal ini tentu
akan berpengaruh kepada jenis data
penginderaan jauh yang digunakan. Tabel 1
menjelaskan peranan data penginderaan
jauh dan SIG untuk mendukung penyusunan
peta tata lingkungan, peta tata ruang, peta
tata guna lahan dan peta ddesain guna lahan.

7. Langkah Langkah yang Dilakukan
LAPAN

Dalam

Mendukung
Implementasi Penyusunan Tata Ruang

Penyusunan Tata Ruang tidak terlepas
dari kebutuhan akan tersedianya data spasial
yang akurat , periodik ( 1-5 tahun) dan rinci
sesuai dengan tujuan tata ruang itu sendiri,
untuk propinsi atau kabupaten.
Salah satu alternatif yang paling mungkin
dalam rangka tersedianya data spasial untuk
tata

ruang

secara

cepat

adalah
memanfaatkan teknologi satelit penginderaan
jauh. Secara lebih rinci pemanfaatan data
penginderaan jauh untuk tata ruang disajikan
pada sub bab 6.
Di Indonesia pemanfaatan teknologi
penginderaan jauh sudah banyak dilakukan
oleh berbagai kalangan, baik institusi
pemerintah: LAPAN, BAKOSURTANAL,
BPPT dan lain sebagainya, juga oleh
kalangan perguruan tinggi dan organisasi
swasta. Pada umumnya upaya upaya yang
telah dilakukan untuk sosialisasi pemanfaatan
data penginderaan jauh antara lain meliputi
penguasaan teknologi penginderaan jauh,
pengembangan model-model yang diturunkan
dari data penginderaan jauh, kegiatan
inventarisasi sumberdaya alam dan
mengintegrasikan dengan aplikasi SIG.

7

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

Gambar 2. Pola penataan ruang berwawasan lingkungan di Indonesia

Tabel 1. Peranan data penginderaan jauh untuk mendukung penyusunan tata ruang wilayah

Jenis data Tata lingkungan

Tata ruang

Tata guna lahan

Desain guna lahan

1. Landsat

(15–30 m)

1.Identifikasi
penggunaan
Lahan dengan
tingkat kerincian
I

2. Acuan Geo-
reference pada
skala 1 : 50.000

3. Menghitung
proporsi luas
masing masing
penggunaan
lahan.

4. Data dasar
spasial untuk
analisis lanjutan

1.Identifikasi
penggunaan
Lahan dengan
tingkat
kerincian I-II

2. Acuan Geo-
reference pada
skala 1 :
50.000

3.Menghitung
proporsi luas
masing masing
penggunaan
lahan

4. Data dasar
spasial untuk
analisis
lanjutan

Bahan untuk
orientasi wilayah
secara global

Bahan untuk
orientasi wilayah
secara global

8

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

Tabel 1. Lanjutan
Jenis data Tata lingkungan

Tata ruang

Tata guna lahan

Desain guna lahan

2. SPOT4
(10 m)

Eros

SDA

SDA

1. Identifikasi
penggunaan
lahan tingkat
kerincian II – III
2. Acuan Geo-
reference
sampai skala
1 : 25.000.

3. Menghitung
proporsi luas
penggunaan
lahan tingkat
kerincian II – III

4. Titik atau garis
kontur dengan
interval sampai
12.5 m

5.Data Dasar
spasial untuk
pengolahan
atau analisis
lanjutan

3. SPOT 5
( 2.5 m)

Ikonos,
Quick Bird
( 0.7–1 m)

SDA

1.Identifikasi
penggunaan lahan
tingkat kerincian III
-IV

2. Acuan Geo-
reference sampai
skala lebih besar
10.000

3.Menghitung
proporsi luas
penggunaan lahan
tingkat kerincian III
-IV

4. Informasi garis
kontur detail

5. Data dasar
spasial
pengolahan atau
analisis lanjutan

9

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

LAPAN sebagai instansi pemerintah yang
mempunyai kompetensi untuk menyediakan
data

penginderaan

jauh

dan
memanfaatkannya dalam berbagai aplikasi
dalam skala nasional, sejak tahun 2000 telah
membangun dan menyusun berbagai model
aplikasi untuk berbagai kegiatan seperti
pertanian, kehutanan, iklim, geologi, tata
ruang dan lain sebagainya. Berbagai jenis
data dari resolusi rendah (NOAA, GMS dan
MODIS) sampai resolusi spasial tinggi baik
sensor pasif maupun aktif ( SPOT-5, IKONOS,
QUICK BIRD) juga digunakan untuk
mengembangkan model model aplikasi yang
lebih luas dan lebih dalam.
Untuk aplikasi data penginderan jauh
terkait tata ruang dalam rangka mendukung
ketersediaan data spasial, LAPAN telah
melakukan inventarisasi informasi spasial
penutup lahan skala 1:100.000 seluruh
Indonesia berbasis citra Landsat ETM.
Demikian juga untuk berbagai wilayah
prioritas telah tersedia informasi yang relatif
rinci berdasarkan data citra SPOT-5, IKONOS
dan QUICK BIRD. Berbagai contoh aplikasi
untuk tata ruang disajikan pada Gambar
Lampiran 1-3.

8. Penanganan Masalah yang Berkaitan
dengan Data Spasial

Dalam menangani masalah ketersediaan
data spasial yang up to date, salah satu data
spasial yang saat ini banyak digunakan
sebagai data dasar untuk penyusunan tata
ruang adalah informasi spasial yang
diturunkan dari data penginderaan jauh. Data
penginderaan jauh mempunyai berbagai jenis
dan tingkat ketelitian, disamping itu data
penginderaan jauh juga dapat memberikan
data real time serta selalu diperbaharui.
Teknologi penginderaan jauh mampu
menyediakan data mulai dari skala 1 :
1000.000 sampai dengan 1 : 5000. Oleh
karena itu pemanfaatan informasi spasial dari
data penginderaan jauh untuk tata ruang
telah mencakup seluruh skala dan sangat
fleksibel disesuaikan dengan tujuan
penyusunan tata ruang, apakah untuk tingkat
nasional, propinsi, kabupaten atau detail
teknis.

Tidak tersedianya informasi spasial yang
ideal untuk mendukung seluruh ruang lingkup
analisis penyusunan tata ruang baik dalam
aspek kuantitatif dan kualitatif bagaimanapun
harus ditutupi dengan pemanfaatan data
satelit

penginderaan

jauh

yang

dikombinasikan dengan data spasial lainnya
melalui pendekatan SIG. Salah satu
pendekatan cerdas untuk mengoptimalkan
pemanfaatan data satelit penginderaan jauh
adalah

melakukan

kombinasi

data
penginderaan jauh dengan data kontur dari
Suttle Radar Topographic Mission (SRTM)
dan data koordinat planimateris dari Global
Positioning System (GPS) untuk memperolah
informasi yang lebih akurat serta informasi
morfometri (kemiringan lereng, panjang
lereng dan bentuk lereng serta ketinggian
relatifnya) sesuai dengan skala yang
dibutuhkan. Sedangkan aspek kualitatif yang
merupakan

informasi

penutup
lahan/penggunaan lahan dapat digunakan
sebagai informasi kualitatif terkini untuk
mendukung perencanaan tata ruang dengan
tambahan kegiatan verifikasi lapangan
(ground truth). Verifikasi lapangan akan
sangat efektif hasilnya jika dilakukan oleh
mereka yang memahami dan menguasai
kondisi wilayah bersangkutan. Hal ini akan
sangat efisien dan efektif apabila terjalin
pelaksanaan kerjasama antara instansi
penyedia data satelit penginderaan jauh
dengan instansi pengguna, khususnya
pemerintah daerah guna menghasilkan
informasi keruangan yang diturunkan dari
citra satelit yang diverifikasi secara bersama.

9. Penutup

Dimasa yang akan datang diharapkan
seluruh pemangku kepentingan (stake holder)
yang terlibat dalam penyusunan tata ruang,
baik

di

tingkat

propinsi

maupun

kabupaten/kota

dapat

memanfaatkan
keunggulan teknologi penginderaan jauh dan
sistem informasi geografis untuk mendukung
penyusunan tata ruang. Dengan demikian
minimnya atau ketidaktersediaan data spasial
yang selama ini menjadi kendala utama
dalam penyusunan tataruang dapat dengan
cepat teratasi.

Pustaka

[1] Anonimus. 1993. Remote Sensing Note.
Japan Association on Remote Sensing.
University. Of Tokyo
[2] Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional.
2004. Peraturan Perundang-Undangan
Bidang Penataan Ruang. Buletin Tata
Ruang. Jakarta.

10

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

[3] Hadi Sabari.Y.. 2000. Struktur Tata
Ruang Kota. Pustaka Pelajar Offset.
Yogyakarta
[4] Larz T. Anderson. 2000. Petunjuk Dalam
Persiapan Perencanaan Kota. Jurusan
Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas
Teknik.

Universitas

Diponegoro.

Semarang.
[5] Maskun. Soemitro. 1996. Penataan
Ruang dan Pembangunan Perkotaan
dalam kerangka Otonomi Daerah.
Proceding. CIDES. Jakarta

[6] Nurmandi. 1999. Manajemen Perkotaan.
Lingkaran Bangsa. Yogyakarta
[7] Socki. B.S.. 1993. The Potential of Aerial
Photos for Slum and Squatter Settlement
Detection and Mapping. Asian-Pasific
Remote Sensing Journal. Vol.5. No.2.
Bangkok.
[8] Sugeng Martopo, Tejoyuwono. 1987.
Pembangunan Wilayah Berwawasan
Lingkungan. Kumpulan Makalah Kursus
SEPADYA. Yogyakarta.

Lampiran

Gambar Lampiran 1. Contoh aplikasi data spasial untuk mendukung tata ruang skala 1:2.500

11

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

Gambar Lampiran 2. Contoh aplikasi data spasial untuk mendukung tata ruang skala 1:50.000

Gambar Lampiran 3. Contoh aplikasi data spasial untuk mendukung tata ruang skala 1:100.000

12

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

Sistematika Tata Ruang Nasional dan Kebutuhan
Pemahaman Lintas Disipliner

Hengky Abiyoso

Ketua Lembaga CENREDS
Yayasan Pengembangan Planologi dan Arsitektur
Untuk Kewiraswastaan Wilayah Tertinggal
(Center for Enhancement of Entrepreneurship, Urban and Regional Development Studies).
Email: cenreds@yahoo.com

1. Pendahuluan

Tata

ruang

dengan

banyak
sistematika yang serba abstrak termasuk
di dalamnya adalah masalah lintas bidang
menyangkut

kepentingan

seperti
pelestarian lingkungan hidup, kepentingan
penataan ruang budidaya bagi kegiatan
produktif pemenuhan kebutuhan hidup
manusia, kepentingan tata ruang mukim
dan ruang sistem mobilitas manusia,
bahkan juga menyangkut masalah
kepentingan

kedaulatan

negara,
pertahanan dan keamanan. Dari semua
kepentingan itu, sesuatu yang terbanyak
dan cukup rumit variabelnya adalah yang
menyangkut sistem tata ruang mukim
manusia serta sistem ruang mobilitasnya.
Hal ini lebih umum disebut sebagai tata
ruang sistem kota serta sistem jaringan
jalan. Demikian rumit dan penting
keduanya, sehingga sering citra tentang
tata ruang di mata masyarakat tercermin
dari ukuran tentang apa yang dapat
dihasilkan oleh sistem ini bagi
kesejahteraan masyarakat.

2. Sistematika Sederhana Tata Ruang

Berkait masalah tata ruang nasional
kita, demikian banyak pihak sangat
berkepentingan, diantaranya adalah
masyarakat intelektual seperti dari sains
ilmu lingkungan, ilmu kehutanan, ilmu
pertanian, planologi, arsitektur, dan
sebagainya.

Dari demikian banyak sistematika
tentang tata ruang, salah satu yang paling
sederhana berkait dengan prioritas tujuan
adalah sistematika tata ruang menurut
tujuan-tujuannya yang ‘pro-ekologi’ dan
‘pro-populasi’1)

. Bila yang pertama adalah
untuk tujuan pelestarian dan perlindungan
alam serta lingkungan, yang terakhir ini

adalah menyangkut tata ruang untuk
aktivitas dan permukiman manusia serta
tata ruang untuk kawasan budidaya bagi
penopang kebutuhan hidup manusia.
Namun demikian, tata ruang ’propopulasi’
harus tunduk dan tidaklah boleh
samasekali bertentangan pelaksanaannya
dengan azas ‘pro-ekologi’.

Masyarakat ilmu lingkungan sangat
berkepentingan untuk memastikan bahwa
ruang di bumi ini dipergunakan oleh
manusia tanpa terjadi perusakan-
perusakan yang serius di dalamnya,
seperti menyangkut ancaman hilangnya
species-species tertentu tanaman akibat
penggundulan

hutan

yang

akan
berdampak pada hilangnya species lain
karena terputusnya mata rantai makanan,
atau kontrol atas polusi udara yang akan
mengancam

lapisan

ozon

dan

meningkatnya

suhu

global,

dan
sebagainya. Masyarakat ilmu pertanian
dan kehutanan berkepentingan atas ruang
bagi budidaya pertanian serta hutan
industri dalam rangka pemenuhan
kebutuhan hidup manusia. Namun dalam
praktek lapangan ruang-ruang budidaya
ini banyak bersinggungan bahkan
bertumpang-tindih dengan ruang-ruang
konservasi.

Sebagai negara agraris, sebagian
besar masyarakat kita berkecimpung
dengan kegiatan pertanian, perkebunan
serta hutan tanaman industri, dimana
peningkatannya yang bersifat ekstensif
dan agresif dapat mengancam upaya
pelestarian

lingkungan,

utamanya
menyangkut area-area pegunungan,
tempat dimana sumber air dan kestabilan
lereng-lereng dapat terancam, serta
bahaya air bah dan longsor dapat
menimbulkan kerugian jiwa maupun
kerusakan lingkungan yang mahal.

UTAMA

13

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

Sementara

itu

ruang-ruang

bagi
permukiman, kegiatan serta mobilitas
manusia juga memerlukan pengaturan
tersendiri. Bila tidak, maka berbagai
kebutuhan mukim, kegiatan serta mobilitas
manusia dapat bertumpang tindih dengan
kebutuhan ruang-ruang konservasi serta
ruang-ruang budidaya.

Ruang-ruang

bagi

kebutuhan
konservasi alam dapat dipandang sebagai
relatif permanen dan variasi jenis
eksploitasi ruangnya dapat dipandang
sebagai mendekati nol berkait dengan
tujuan pelestariannya maka ia tak
dieksploitasi. Sementara itu eksploitasi
ruang-ruang budidaya bagi kebutuhan
hutan industri serta kegiatan pertanian
dapat dipandang sebagai intensif, namun
variasi pola eksploitasi ruangnya dapat
dikatakan sederhana, terbatas atau nyaris
permanen. Sebuah area hutan industri
yang diperuntukkan bagi budidaya hutan
pinus misalnya, selama belasan atau
puluhan tahun pola eksploitasinya nyaris
tak akan berubah, demikian juga dengan
area bagi budidaya pertanian, perkebunan,
perikanan atau peternakan. Sebaliknya,
variasi kebutuhan ruang bagi pemukiman,
aktivitas serta mobilitas manusia adalah
demikian sangat kompleksnya.

3. Multi Fungsi Sistem Kota

Kebutuhan mukim manusia bervariasi
dari yang sangat sederhana seperti rumah
di ladang, secara ekstensif berupa rumah
vila di luar kota dengan pekarangan yang
luas sampai yang sangat intensif berupa
apartemen dengan lantai ganda di tengah
kota.

Kebutuhan ruang beraktivitas manusia
dapat berupa ruang bagi produktivitas
seperti pabrik, kantor, toko, pasar, sekolah
atau studio. Kebutuhan ruang bagi
pengembangan diri adalah seperti
lembaga-lembaga sekolah, universitas,
balai diklat dan kebutuhan akan ruang
bagi waktu senggang adalah seperti
taman-taman, tempat rekreasi, museum,
teater, sarana olah raga dan sebagainya.
Sementara itu kebutuhan ruang untuk
mobilitas manusia dapat dimulai dari jalan
setapak, jalan arteri, jalan bulevar, jalan
simpang susun, jalan tol, bandara,
terminal dan sebagainya.

Bila kebutuhan ruang bagi keperluan
konservasi alam serta budidaya pertanian
dan hutan seperti tak mengenal hierarkhi,
tak demikian halnya dengan ruang
kebutuhan mukim dan aktivitas bagi
manusia. Mendekati lahan-lahan budidaya
pertanian dan hutan sebagai tempat
aktivitas utama atau profesinya, manusia
cenderung tinggal relatif mengumpul pada
satuan-satuan ruang yang disebut
sebagai desa.

Kemudian dari sekian banyak satuan
permukiman desa akan diperlukan
sebuah pusat layan yang disebut sebagai
kota kecamatan. Setelah itu konstelasi
sejumlah desa dan kota kecamatan itu
akan membutuhkan sebuah pusat layanan
yang disebut sebagai kota kabupaten.
Jenjang di atasnya adalah kemudian kota
menengah yang membawahi beberapa
kota kabupaten, kemudian kota besar atau
kota metropolis yang dapat membawahi
sebuah propinsi, serta terakhir adalah kota
megapolitan yang tak jarang harus
melayani beberapa kota metropolitan.

4. Aglomerasi, Wilayah Maju dan
Tertinggal

Sehubungan dengan pemusatan-
pemusatan aktivitas manusia yang
cenderung

mengumpul

karena
pertimbangan keuntungan skala ekonomi
atau keuntungan dari lokasi yang saling
berdekatan satu sama lain antar unit-unit
ekonomi yang disebut sebagai keuntungan
aglomerasi’,

maka

kemudian
kecenderungan dari permukiman manusia
itu adalah serba memusat, yang kemudian
disebut sebagai sistem kota.

Dampaknya adalah kemudian muncul
apa yang disebut sebagai ‘wilayah-wilayah
maju’, tempat dimana kepadatan
penduduk membentuk satuan-satuan kota
besar kecil yang jaraknya serba efisien,
unit-unit ekonominya saling berdekatan
serta dalam jumlah yang ideal itu akan
semakin menggembirakan ‘pasar’, dimana
dengan itu investasi-investasi semakin
dipandang sangat menguntungkan apabila
diputuskan untuk diletakkan pada wilayah-
wilayah ‘padat’ seperti itu, dan keadaan itu
lebih lanjut memicu lagi datangnya arus

14

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

migrasi penduduk dari wilayah-wilayah
‘miskin’.

Pada sisi lain dari ‘wilayah maju’
muncul pula apa yang disebut sebagai
‘wilayah tertinggal’, dimana sebaliknya,
keadaannya adalah serba kepadatan
penduduknya yang relatif rendah, satuan-
satuan sistem kotanya adalah kota-kota
relatif kecil yang sangat tersebar dan
dengan jarak saling berjauhan serta
kurang efisien, sehingga akan kurang
menguntungkan bagi investasi. Sering
terjadi keputusan lokasi investasi serta
keputusan bermukim dari penduduk di
wilayah tertinggal itu cenderung berpindah
menuju ke wilayah maju karena
kemudahan hidup yang lebih banyak
didapatkan di sana daripada keadaan di
wilayah tertinggal itu. Keadaan seperti ini
sangat merugikan bagi kinerja makro
ekonomi nasional, karena pada wilayah
tertinggal banyak sekali potensi-potensi
terpendam terpaksa tak dapat digali dan
dimanfaatkan.

Sementara sebaliknya, pada wilayah
sangat maju pasokan berbagai jasa
sejenis sering melebihi kebutuhan,
sehingga terjadi apa yang disebut sebagai
duplikasi dan kesiasiaan’. Pada area
yang sama dapat muncul demikian banyak
pusat perbelanjaan, sehingga beberapa di
antaranya akhirnya akan tutup karena
kekurangan pengunjung. Pembangunan
jalan layang dan kemacetan lalulintas
terus

saling

berpacu,

padahal
pembangunan itu seharusnya dapat lebih
dialokasikan pada sektor lainnya.

Situasi-situasi

seperti

itu

membutuhkan

intervensi-intervensi
perencanaan seperti tentang bagaimana
situasi ketimpangan itu dapat diredakan,
dimana perkembangan wilayah tertinggal
dapat dirangsang agar dapat mengalir
migrasi dan relokasi investasi dari wilayah
maju dapat terjadi. Dengan kata lain, tata
ruang

bagi

kebutuhan

aktivitas,
pemukiman serta mobilitas manusia atau
disebut kebutuhan akan ‘tata ruang sistem
kota’ adalah yang paling kompleks
dibanding dengan kebutuhan akan tata
ruang bagi kebutuhan konservasi sistem
ekologi serta budidaya pertanian dan
hutan.

Tata ruang sistem kota juga
membutuhkan tingkat-tingkat (hirarkhi)
perencanaan, seperti di tingkat nasional
dibutuhkan sistem kota secara nasional
menyangkut besaran dan jarak yang
terpadu (national city size distribution
system
) yang akan mendukung sistem
makro ekonomi nasional secara terpadu
pula. Selanjutnya adalah kebutuhan
perencanaan intraregional yang terpadu,
dan di bawahnya lagi adalah keperluan
perencanaan pada tingkat lokal.

5. Kompleksitas Tata Ruang Sistem Kota
dan Kerjasama Lintas Sektor

Secara internal tata ruang sistem kota
sangat lah kompleks, demikian pula
dengan masalah eksternal lainnya.
Secara internal, karena tata ruang kota
menyangkut sistem serta ketahanan
perekonomian serta sistem perencanaan
kesempatan kerja nasional, ada beberapa
hal yang menarik untuk diperhatikan yaitu:

Pertama, terdapat kebutuhan secara
nasional akan perencanaan sistem kota
secara nasional yang integrated.

Kedua, karena perkembangan teori
ilmu perencanaan ruang ––dengan
demikian juga teori tentang sistem kota––
adalah sangat multiinterpretatif, berakibat
di antara para pakar keruangan terdapat
bermacam multiinterpretasi yang sangat
bervariasi atas teori keruangan serta teori
perkotaan yang sama. Hal ini
mengakibatkan adanya pertentangan
pendapat yang tajam dan menjadi salah
satu faktor yang belum dapat disinergikan
sebagai satu kesatuan utuh sebagai
sumbangan kemajuan ilmu tata ruang kota
bagi pembangunan nasional serta sistem
kota secara nasional.

Ketiga, dapat dikemukakan di sini
bahwa seandainya boleh menggunakan
pembading dengan perkembangan ilmu
lainnya, maka ilmu perencanaan ruang
adalah ‘seperti kurang beruntung’. Tidak
jarang ilmu ini di golongkan pada ilmu-ilmu
yang tidak begitu leluasa untuk
dikomersialkan. Atau dengan perkattan
lain ilmu ini lebih pantas untuk
disumbangkan bagi negara, bangsa dan
kemanusiaan.

15

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

Hipotesa keruangan beserta studi
lengkapnya seperti tentang perlunya
Indonesia memiliki countermagnet city
seukuran Jabodetabek di kawasan timur
Indonesia, tidak akan pernah memenuhi
pangsa pasar atau terjual, dan penulisnya
telah akan bersyukur bila kajian tersebut
perlahan-lahan mulai dapat diterima oleh
seluruh bangsa dan bersama-sama
diupayakan konkretisasinya, walau untuk
itu harus dilalui berbagai proses
perdebatan yang cukup panjang.

Ketika hasil studi ilmu perencanaan
kota memiliki peluang untuk
dikomersialkan, tidak dapat dipungkiri
bahwa kemudian terjadi praktik praktik
komersialisasi yang kurang dapat
dipertanggungjawabkan. Hal ini kemudian
menimbulkan kesan masyarakat bahwa
pembangunan sistem kota di Indonesia
kemudian menjadi sangat buruk.

Akibat ‘salah arah’ dari segelintir para
perencanaan kota tersebut, yang berakibat
kurang mendukung upaya pembangunan
wilayah serta sistem kota yang integrated
secara nasional itu, maka selain citra
pembangunan sistem kota menjadi buruk,
bersama industri ia tak kurang juga
kemudian ‘dimusuhi’ oleh banyak
masyarakat intelektual dari bidang
pertanian dan perdesaan.

Kota tidak mampu memberikan kesan

pusat

kewiraswastaan,

pusat
intelektualitas serta pusat kemajuan
seperti Singapura, Tokyo, New York atau
Toronto.

Yang

terjadi

kemudian
munculnya ‘kota-kota baru arogan’ serta
industri berorientasi Jawa sentrisme atau
Jabotabek

sentrisme.

Kompleks
perumahan di seputar kota metropolitan
seperti Jakarta, Surabaya atau Bandung
terlihat memakai tembok keliling, gerbang,
satpam serta tak jarang juga gaya
eksklusivisme penghuninya, dimana setiap
jengkal daripada ‘kota’ milik developer itu
harus dibeli atau diangsur dengan KPR.
Sering lahan pertanian yang subur harus
beralih fungsi untuknya, padahal kelebihan
tenaga kerja pertanian di desa seharusnya
dapat ditampung di kota. Akhirnya nampak
bahwa perencana tentang ‘kota untuk
rakyat’ belum lah mencapai titik yang
diharapkan.

Strategi pemanfaatan kelebihan
tenaga kerja di sektor pertanian dan
perdesaan seharusnya dapat dikelola
dengan lebih rapi pada sektor perkotaan
dan industri serta jasa, sambil terus
meningkatkan kinerja sektor pertanian.
Kerjasama antara masyarakat pertanian
dan perkotaan seharusnya dapat lebih
akrab, erat, dan bukan sebaliknya. Desa
dan kota seharusnya saling tergantung
dan saling membutuhkan.

Tidak kalah penting adalah peranan
lembaga terkait dalam mensinergikan
sumberdaya antar desa dan kota. HKTI
misalnya, harus mampu berbicara tentang
rural development bahkan urban
development
bagi pengelolaan kelebihan
tenaga kerja di desa, bekerjasama
dengan planolog dan arsitek. Selain itu,
perhatian pada wilayah perbatasan adalah
sesuatu yang serius untuk tak mengulang
kasus penggeseran patok batas negara di
hutan Kalimantan atau lepasnya pulau
Sepadan, Ligitan serta tenggelamnya
beberapa pulau kecil di perbatasan
dengan Singapura karena bisnis ilegal
pengerukan pasir laut yang membawa
resiko dampak pergeseran batas negara
yang dapat merugikan Indonesia.

6. Langkah Perbaikan ke Depan

Kedepan apakah yang dapat
disumbangkan oleh masyarakat pemerhati
masalah tata ruang bagi perbaikan sistem
serta pelaksanaannya agar tata ruang
nasional dapat memberikan hasil konkrit
pada kesejahteraan masyarakat?

Pertama harus diingat bahwa masalah
tata ruang nasional kini ditangani oleh oleh
Badan Eksekutif yang disebut BKTRN 2)
(Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional).
Berdsarkan Keppres No. 62 Th. 2000
secara terstruktur terdiri dari Ketua :
Menko Perekonomian, Wakil Ketua :
Menteri PU, Sekretaris : Ketua Bappenas,
Anggota : Menteri Pertanian, Menteri
Dalam Negeri, Menteri Pertahanan,
Menteri Otonomi Daerah dan Ketua BPN.

Bahwa terdapat banyak keluhan
menyangkut intransparansi serta berbagai
kebijakan tata ruang yang tidak tepat
seperti tentang Strategi Kapet yang

16

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

dianggap sebagai tidak tepat guna,
adanya usulan tata ruang terpadu
kawasan kota megapolitan oleh Gubernur
DKI dan bukan oleh BKTRN, sistem
hirarkhi kota yang tak jelas, serta banyak
keluhan

lain,

menunjukkan
ketidakterpaduan pada sistem dan
kebijakan tata ruang nasional kita.

Bila eksekutif memiliki badan BKTRN,
adakah DPR memiliki badan kontrolnya
yang definitif? Para pengurus BKTRN
masing-masing memiliki partner kerja
Komisi di DPR 3)

yang jelas sejak dari
Menko Perekonomian, Menteri PU, Ketua
Bappenas yang masing-masing berpartner
dengan Komisi Vi, V dan XI. Anggota
BKTRN seperti Menteri Pertahanan,
Menteri Dalam Negeri, Ketua BPN dan
Menteri Pertanian adalah partner kerja dari
Komisi I, II dan IV. Lalu bagaimana
seharusnya rapat kerja tata ruang nasional
antara eksekutif dan DPR? Adakah harus
selalu terdapat rapat gabungan Komisi I, II,
IV, V, VI XI dan seluruh pengurus serta
anggota

BKTRN,

atau

akankah
masalahnya disederhanakan menjadi
sekedar rapat kerja antara seorang Ketua
BKTRN Menko Perekonomian dan Komisi
VI saja?

Dengan terkadinya perbaikan sistem
demokrasi dan legislasi dalam sistem
pemerintahan dan kehidupan kita, seperti
dibentuknya KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi), walau telah terdapat badan
badan seperti Mahkamah Agung,
Kejaksaan serta Kepolisian oleh
Pemerintah. Kemudian dibentuk pula
Komisi

Yudisial,

tempat

dimana

masyarakat

dapat

melaporkan
keraguannya atas kinerja badan peradilan,
Komisi Kejaksaan bagi alat kontrol
Lembaga Kejaksaan, dan kelak Komisi
Kepolisian bagi alat kontrol Lembaga
Kepolisian, dan sebagainya.

Bila kita ingin menapak kesuasana
perbaikan sistem tata ruang nasional yang
lebih konkrit, Komisi Nasional Independen
yang mengontrol masalah Kebijakan Tata
Ruang Nasional4)

kita adalah salah satu
alternatif yang sudah selayaknya
diperhatikan dan dilaksanakan dengan
sungguh sungguh. Diperlukan forum yang
konkrit atas masalah tataruang nasional,
tempat dimana kapan saja masalah itu

dapat dibahas setiap hari setiap saat
secara terhormat dan setara dengan
BKTRN.

1). Seperti uraiannya dapat dibaca pada
artikel atau makalah “Wawasan Tata
Ruang” oleh Prof. Djoko Sudjarto pada
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Edisi Juli 1992 terbitan Jurusan Teknik
Planologi, ITB, maka terdapat demikian
banyak definisi tentang tata ruang, seperti
misalnya yang dikemukakan oleh Lynch
dan Rodwin (1958), Foley (1964, 1967),
(Wheaton, 1967), Weber (1967), Porteous
(1977), Wetzling (1978), Rapoport (1980),
Chadwick (1981), I Made Sandy (1986),
Soenaryono

Danujo

(1987)

dan

sebagainya.

Sejauh ini penulis belum menemukan
apakah sebelumnya sistematika tataruang
sebagai ‘pro-ekologi’ dan ‘pro-populasi’ ini
telah pernah dikemukakan oleh para
pakar sains keruangan atau belum.
Penulis samasekali bukan merasa dalam
kapasitasnya sebagai pakar, namun
sekedar sebagai seorang aktivis LSM
dalam bidang pengabdian sosialisasi
tataruang bagi rakyat maupun bagi dialog
lintas disiplin ilmiah selama lebih dari 10
tahun, mendapatkan bahwa tataruang
bukanlah sesuatu yang mudah dipahami.
Tak hanya oleh masyarakat awam, namun
bahkan oleh banyak masyarakat
intelektual dari disiplin ilmiah lain seperti
misalnya ilmu hukum, ilmu agama, teknik
industri, ilmu pertanian dan sebagainya.
Penulis mendapatkan, bahwa semakin
batasan atau sistematika keruangan
disajikan sesuai tatabahasa dan visi dari
para pakar itu, maka ia seperti semakin
tak mudah dipahami oleh masyarakat
bahkan disiplin ilmiah lain selain daripada
tataruang itu sendiri.

2). BKTRN (Badan Koordinasi Tata Ruang
Nasional) yang dibentuk dengan Keppres
No. 75 tahun 1993, adalah bentuk
peningkatan dari sebuah Tim Kerja yang
semula dinamai sebagai “Tim Kordinasi
Pengelolaan Tata Ruang Nasional” yang
diketuai oleh Ketua Bappenas dengan
beberapa Menteri terkait masalah
tataruang sebagai anggotanya (Keppres

17

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

No. 57 Tahun 1989). Badan ini kemudian
pada masa Presiden Abdurrahman
diubah

susunan

kepengurusannya
(Keppres No. 62 Tahun 2000) seperti bila
semula ketuanya adalah Ketua Bappenas,
maka kini adalah Menko Perekonomian,
Wakil Ketuanya adalah Menteri PU, dan
Sekretaris BKTRN adalah Ketua
Bappenas. Anggota-anggota BKTRN
adalah Menteri Dalam Negeri, Menteri
Pertahanan, Menteri Pertanian, Menteri
Negara Lingkungan Hidup, Menteri
Negara Otonomi Daerah dan Kepala
Badan Pertanahan Nasional. Badan ini
memiliki Tim Teknis yang diketuai oleh
Menteri PU.

3). Tentang bidang-bidang yang dibawahi
oleh Komisi-Komisi di DPR serta
hubungan kerjanya dengan menteri-
menteri kabinet terkait, susunan
selengkapnya kiranya dapat diperiksa
antara lain pada website Humas
Sekretariat Jendral DPR-RI.

4). Komisi Nasional Independen yang
mengontrol masalah Kebijakan Tata
Ruang Nasional atau dapat disingkat
menjadi Komisi Nasional Tata Ruang
adalah pemikiran penulis tentang perlunya

dibentuk semacam Komisi ‘adhoc’
sebagaimana sebelumnya telah terdapat
Komisi-Komisi seperti itu seperti Komnas
HAM, Komisi Yudisial, Komisi Kejaksaan,.
KPK dan sebagainya, dimana bidang-
bidang seperti itu dipandang seperti masih
kurang dapat ditangani dengan lebih
efektif oleh 11 Komisi-Komisi DPR yang
ada, dimana bila 11 Komisi di DPR seperti
lebih merupakan cerminan tempat
kedudukan partai-partai politik peserta
Pemilu, sedangkan Komisi adhoc atau
Komisi Khusus yang umumnya lebih
bersifat teknis, dimaksudkan lebih berisi
pakar-pakar dibidang dimaksud.
Dari demikian banyak (l.k. 45
buah) Komisi Nasional yang ada, tak
semuanya dipandang bekerja efektif dan
justru sering digerutui masyarakat sebagai
‘membebani anggaran negara’, sehingga
dalam beberapa kesempatan penulis
menyampaikan bahwa Komisi Tata Ruang
bila perlu didirikan dan dikerjakan secara
sukarela, atau Komisi-Komisi ad-hoc
sebaiknya ‘Datang dan Pergi’ atau ‘Aktif
dan Non-Aktif’ sesuai kadar urgensi atau
kegawatan masalahnya, agar tak terus
menerus membebani anggaran negara.

18

INOVASI Vol.7/XVIII/Juni 2006

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->