P. 1
Anestesi Umum

Anestesi Umum

|Views: 219|Likes:
Published by Ika C Purnomo

More info:

Published by: Ika C Purnomo on Jun 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2014

pdf

text

original

ANESTESI UMUM

Uripno Budiono Bagian Anestesi & Terapi Intensif RSUP. Dr. Kariadi Semarang
Dalam bidang kedokteran, selain dipakai untuk tindakan operatif, anestesi umum juga dipakai untuk mempermudah tindakan diagnostik maupun terapeutik khususnya yang menimbulkan rasa nyeri. Dalam tindakan diagnostik Röntgen misalnya, anestesi umum mempermudah pembuatan foto CTscan otak, arteriografi, atau MRI pada penderita yang gelisah, bayi atau anak. Anestesi umum juga dipakai untuk detoksifikasi cepat penderita kecanduan narkotik. Di rumah sakit Dr. Kariadi anestesi umum biasa dipakai pada tindakan pemasangan radium untuk terapi carsinoma cervix uteri. Anestesi umum adalah hilangnya rasa sakit seluruh tubuh secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversible. Perbedaan dengan anestesi lokal antara lain, pada anestesi lokal hilangnya rasa sakit setempat sedang pada anestesi umum seluruh tubuh. Pada anestesi lokal yang terpengaruh syaraf perifer, sedang pada anestesi umum yang terpengaruh syaraf pusat dan pada anestesi lokal tidak terjadi kehilangan kesadaran. Di dalam praktek obat–obat anestesi dimasukkan ke dalam tubuh melalui inhalasi, atau parental, adapula yang dimasukkan melalui rectal tetapi jarang dilakukan. Yang melalui inhalasi antara lain N2O, halothan, enflurane, ether, isoflurane, sevoflurane, metoxiflurane, trilene. Yang melalui parental: Yang melalui rektal intravena antara lain penthotal, ketamin, propofol, etomidat dan golongan benzodiazepine. intramuskuler antara lain ketamin. : etomidat (dilakukan untuk induksi anak)

Apabila obat anestesi inhalasi, dihirup bersama-sama udara inspirasi masuk ke dalam saluran pernafasan, di dalam alveoli paru akan berdifusi masuk

Pada gangguan pembuluh darah paru makin sedikit - . Demikian pula yang disuntikkan secara intramuskuler. obat tersebut akan diabsorbsi masuk ke dalam sirkulasi darah. makin tinggi konsentrasi zat yang dihirup tekanan parsielnya makin tinggi. ginjal atau jaringan lain. Bila tekanan di dalam alveoli lebih tinggi maka difusi terjadi dari alveoli ke dalam sirkulasi dan sebaliknya difusi terjadi dari sirkulasi ke dalam alveoli bila tekanan parsiel di dalam alveoli lebih rendah (keadaan ini terjadi bila pemberian obat anestesi dihentikan). Ekskresi bisa dalam bentuk asli atau hasil metabolismenya. Pada keadaan ventilasi alveoler meningkat misalnya pada keadaan ventilasi yang menurun misalnya pada depresi respirasi atau obstruksi respirasi. hepar. Proses difusi akan terganggu bila terdapat penghalang antara alveoli dan sirkulasi darah misalnya pada udem paru dan fibrosis paru. Faktor obat anestesi. Tergantung obatnya. Perbedaan tekanan parsiel zat anestesi dalam alveoli dan di dalam darah menyebabkan terjadinya difusi. Faktor circulasi. Dengan sendirinya jaringan yang kaya pembuluh darah seperti otak atau organ vital akan menerima obat lebih banyak dibandingkan jaringan yang pembuluh darahnya sedikit seperti tulang atau jaringan lemak. Faktor sirkulasi Aliran darah paru menentukan pengangkutan gas anestesi dari paru ke jaringan dan sebaliknya. kulit atau paru–paru.2 ke dalam sirkulasi darah. di dalam jaringan sebagian akan mengalami metabolisme. maka akan mencapai tekanan parsiel tertentu. Ekskresi bisa melalui ginjal. N20 diekskresi dalam bentuk asli lewat paru Faktor yang mempengaruhi anestesi antara lain: Faktor respirasi (untuk obat inhalasi). ada yang terjadi di hepar. Makin tinggi perbedaan tekanan parsiel makin cepat terjadinya difusi. Faktor respirasi Sesudah obat anestesi inhalasi sampai di alveoli. Setelah masuk ke dalam sirkulasi darah obat tersebut akan menyebar ke dalam jaringan. Faktor jaringan.

Aliran darah dalam jaringan. Bila kelarutan zat anestesi dalam darah tinggi/BG koefisien tinggi maka obat yang berdifusi cepat larut di dalam darah. Tissue/blood partition coefisien.3 obat yang dapat diangkut demikian juga pada keadaan cardiac output yang menurun. Blood gas partition coefisien adalah rasio konsentrasi zat anestesi dalam darah dan dalam gas bila keduanya dalam keadaan keseimbangan. sebaliknya obat dengan BG koefisien rendah. Kecepatan metabolisme obat. Untuk mengukur potensi obat anestesi inhalasi dikenal adanya MAC (minimal alveolar concentration). . MAC adalah konsentrasi obat anestesi inhalasi minimal pada tekanan udara 1 atm yang dapat mencegah gerakan otot skelet sebagai respon rangsang sakit supra maksimal pada 50% pasien. - 1. Makin rendah MAC makin tinggi potensi obat anestesi tersebut. maka cepat terjadi keseimbangan antara alveoli dan sirkulasi darah. Faktor zat anestesi Tiap-tiap zat anestesi mempunyai potensi yang berbeda. Teori terjadinya anestesi umum. Menurut Merkel dan Eger (1963). Lipid solubility theory (Meyer 1899. Faktor jaringan Yang menentukan antara lain: Perbedaan tekanan parsiel obat anestesi di dalam sirkulasi darah dan di dalam jaringan. akibatnya penderita mudah tertidur waktu induksi dan mudah bangun waktu anestesi diakhiri. Makin besar daya larutnya makin besar efek anestesinya. Overton 1901) Obat anestesi adalah lipid solubel sehingga efeknya berhubungan dengan daya larutnya di dalam lemak.

4 2. Teori biokimiawi (Quastel 1952) Menerangkan efek obat anestesi dengan peningkatan reaksi enzimatik atau dalam sel. Dengan mengumpulnya obat anestesi pada membran sel berakibat perubahan permeabilitas membran/daya adsorbsi dan menyebabkan terjadinya hambatan fungsi neuron. STADIUM ANESTESI Kedalaman anestesi harus dimonitor terus menerus oleh pemberi anestesi. Menurut Mullins 1954 bekerjanya obat anestesi yang inert adalah dengan pengisian ruangan – ruangan non aqueous dari membran sel oleh obat anestesi sehingga permeabilitas membran terganggu. gerakan bola mata. Teori fisik Menghubungkan daya anestesi dengan aktifitas thermodinamik atau bentuk dasar molekul. Antara lain beberapa obat anestesi menyebabkan 5. Kedalaman anestesi dinilai berdasar tanda klinik yang didapat. Teori adsorbsi/tegangan permukaan Menghubungkan efek anestesi dengan daya adsorbsi atau menurunnya tegangan permukaan membran sel. Teori colloid Efek anestesi disebabkan karana terjadinya agregasi colloid dalam sel yang menyebabkan terjadinya gangguan fungsi pada sel. . tonus otot dan refleks pada penderita yang mendapat anestesi ether. Guedel membagi kedalaman anestesi menjadi 4 stadium dengan melihat pernafasan. agar tidak terlalu dalam sehingga membahayakan jiwa penderita. 4. Teori ini disebut juga hidrat mikro kristal teori. uncoupling dan oxsidative phosphorilation dan menghambat konsumsi oksigen. Pauling 1964 mengemukakan bahwa zat anestesi dapat membentuk mikro kristal dengan air dalam membran sel neuron dan ini menyebabkan stabilisasi membran sel. tanda pada pupil. 3. tetapi cukup adekwat untuk melakukan operasi.

Dibagi menjadi 4 plane: Plane I: Dari nafas teratur sampai berhentinya gerakan bola mata. Ditandai dengan pernafasan teratur. Dimulai dari hilangnya kesadaran sampai nafas teratur. karena itu harus segera diakhiri. Stadium ini membahayakan penderita. Dalam stadium ini penderita bisa meronta ronta. volume tidak menurun dan frekwensi nafas meningkat. Stadium ini diakhiri dengan hilangnya refleks menelan dan kelopak mata dan selanjutnya nafas menjadi teratur. Ditandai dengan nafas teratur.5 1. . kadang-kadang kencing atau defekasi. persiapan psikologi penderita dan induksi yang halus dan tepat. pupil melebar. pernafasan irregular. Pada stadium ini operasi kecil bisa dilakukan. Plane II: Dari berhentinya gerakan bola mata sampai permulaan paralisa otot interkostal. Stadium I disebut juga stadium analgesi atau stadium disorientasi. lakrimasi (+). tonus otot menurun. 3. refleks cahaya positif gerakan bola mata tidak teratur. nafas torakal sama dengan abdominal. 2. Stadium III disebut juga stadium operasi. refleks faring dan muntah menghilang. Keadaan emergency delirium juga dapat terjadi pada fase pemulihan dari anestesi. dapat terjadi batuk atau muntah. Dimulai dari nafas teratur sampai paralise otot nafas. Gerakan bola mata berhenti. lakrimasi meningkat. Dimulai sejak diberikan anestesi sampai hilangnya kesadaran. Keadaan ini bisa dikurangi dengan memberikan premedikasi yang adekwat. pupil mengecil. refleks fisiologi masih ada. tonus otot meninggi. Stadium II disebut juga stadium delirium atau stadium exitasi. refleks cahaya (+).

Plane III: Dari permulaan paralise otot interkostal sampai paralise seluruh otot Interkostal. Ditandai dengan paralise otot interkostal. bola mata berhenti.6 mulai terjadi depresi nafas torakal. pupil makin melebar dan refleks cahaya menjadi hilang. Ditandai dengan hilangnya semua refleks. pupil mulai melebar dan refleks cahaya menurun. Ditandai dengan pernafasan abdominal lebih dorninan dari torakal karena terjadi paralisis otot interkostal. refleks cahaya negatif refleks spincter ani negative. . terjadi respiratory failure dan dikuti dengan circulatory failure. refleks kornea menghilang dan tonus otot makin menurun. hal ini disebut maintenance atau pemeliharaan. pupil dilatasi. lakrimasi negafif. Plane IV: Dari paralise semua otot interkostal sampai paralise diafragma. CARA MEMBERIKAN ANESTESI Pemberian anestesi dimulai dengan induksi yaitu memberikan obat sehingga penderita tidur. Tergantung lama operasinya. Stadium IV Dari paralisis diafragma sampai apneu dan kematian. iregular dan tidak adekwat. 4. pupil melebar. tonus otot makin menurun. kedalaman anestesi perlu dipertahankan dengan memberikan obat terus menerus dengan dosis tertentu. terjadi jerky karena terjadi paralise diafragma. Tonus otot makin menurun sehingga terjadi flaccid. Juga disebut stadium over dosis atau stadium paralysis. Tetapi untuk operasi yang lama. pernafasan lambat. untuk operasi yang waktunya pendek mungkin cukup dengan induksi saja. refleks laring dan peritoneal menghilang.

dengan memakai face mask (sungkup muka/kap). Umumnya induksi inhalasi dikerjakan pada bayi dan anak.7 INDUKSI Induksi dapat dilakukan dengan cara inhalasi. Dibandingkan dengan ether induksi inhalasi lebih baik rnenggunakan halothane. intravena. karena menimbulkan stadium II yang menyebabkan terjadinya risiko morbiditas dan mortalitas bagi penderita. disebut juga open drop ether. Induksi Intravena Pada induksi intravena tidak terjadi stadium II. Induksi Inhalasi sering disebut dengan istilah induksi lambat karena membutuhkan waktu yang lama. Induksi inhalasi menggunakan ether pada saat ini tidak populer. Tergantung ada tidaknya indikasi. selanjutnya dapat dipasang pipa endotrakheal (endotracheal tube) atau dapat pula dipasang sungkup laring (LMA) atau cukup dilakukan dengan face mask (sungkup muka). Pada zaman dulu obat anestesi cair diteteskan pelan-pelan langsung kesungkup muka yang dibuat dari rangka kawat yang dibalut kain kasa. cara ini disebut pre . karena obatnya ether maka. enflurane isoflurane atau sevoflurane. setelah induksi dilakukan. cara ini disebut open drop. sebelum induksi perlu diberikan oksigenasi selama 5 menit lebih dulu. Tergantung yang dipakai. intramuskuler atau perrektal. Penderita yang mendapat induksi inhalasi dengan obat ini cepat masuk ke dalam stadium III sehingga tanda stadium II yang membahayakan penderita tidak terlihat. Induksi Intramuskuler Diberikan dengan menyuntikkan obat anestesi ke dalam otot. gas anestesi bisa diambil dari tabung gas (N20 ) atau dari obat anestesi cair yang diuapkan menggunakan alat yang disebuf vaporizer. Untuk menjaga agar penderita tidak jatuh ke dalam hipoksia. Induksi Inhalasi Diberikan dengan meminta penderita menghirup campuran gas anestesi dengan udara atau oksigen. dikerjakan pada anak-anak. dikerjakan dengan menyuntikkan obat anestesi ke dalam pembuluh darah vena. sedangkan induksi intravena. disebut juga dengan induksi cepat karena penderita cepat tertidur.

tetapi juga tidak boleh terlalu ringan sehingga penderita masih merasakan nyeri yang akan menimbulkan trauma psikis yang berkepanjangan. Dengan memberikan pre oksigenasi. Seperti pada induksi. berkeringat. batuk. Obat intravena bisa. anestesi tidak boleh terlalu dalam karena membahayakan jiwa penderita. seperti denyut nadi bertambah cepat. tanda-tanda adanya adrenalin release. pada fase pemeliharaan juga dapat dipakai obat inhalasi atau intravena. penderita yang memakai pipa endotrakeal. maka bila mendapat rangsang nyeri dapat timbul: gerakan lengan atau kaki. yang diharapkan cukup memenuhi kebutuhan sampai gangguan respirasi dapat diatasi. suara tidak timbul pada. Selain itu anestesi yang terlalu ringan juga dapat menyebabkan spasme saluran pernafasan. adanya lakrimasi. penderita akan bersuara. Pada penderita yang tingkat analgesinya tidak cukup dan tidak mendapat pelemas otot. oksigen yang larut dalam darah juga meningkat. vaskuler. Untuk operasi-operasi tertentu diperlukan anestesi umum sampai tingkat kedalamannya mencapai trias anestesi yaitu penderita tidur. laringeal. menahan nafas. selain itu. sehingga bila terjadi gangguan respirasi waktu induksi maka sudah ada cadangan oksigen. Induksi Rektal Dikerjakan dengan memasukkan obat ke rektum MAINTENANCE (PEMELIHARAAN) Dalam periode ini diberikan obat anestesi dalam dosis tertentu. mutah atau gangguan kardio . pernafasan tidak teratur. stridor bronkospasme. tergantung jenis operasinya. Kadang-kadang dipakai gabungan obat inhalasi dan intravena agar dosis masing-masing obat dapat diperkecil. tekanan darah meningkat.8 oksigenasi. diberikan secara intermitten atau continous drip. analgesi cukup dan terjadi relaksasi otot. fungsional residual capacity paru akan terisi oleh oksigen.

9 Kedaaan ini dapat diatasi dengan cara mendalamkan anestesi. untuk menurunkan kadar CO2 dalam darah sampai pada titik tertentu misalnya pada operasi otak. sehingga gangguan pada organ vital dapat dikurangi. Pada operasi-operasi yang memerlukan relaksasi otot. karena hipoksia. operasi yang memerlukan penarikan otot juga sukar dilakukan. termasuk otot respirasi. Pada umumnya keadaan relaksasi dapat tercapai setelah dosis obat anestesi yang diberikan sedemikian tinggi. Polusi kamar operasi yang ditimbulkan obat anestesi inhalasi dapat dikurangi. Jadi nafas penderita sepenuhnya tergantung dari pengendalian kita. - Dengan dapat diaturnya pernafasan maka dengan mudah kita bisa melakukan hiperventilasi. dilakukan nafas buatan. Pada balance anestesi karena menggunakan muscle relaxant. maka otot mengalami relaksasi. tanpa. penderita akan mengalami kematian. Dengan demikian keadaan ini akan mengancam jiwa penderita. karena itu balance anestesi juga disebut dengan tehnik respirasi kendali atau control respiration. Dengan . sehingga menimbulkan gangguan pada organ vital. Untuk mempermudah respirasi kendali penderita harus dalam keadaan terintubasi. yaitu dengan cara menambah dosis obat. yaitu penderita dibuat tidur dengan obat hipnotik. bila relaksasinya kurang maka ahli bedah akan mengeluh karena tidak bisa bekerja dengan baik. relaksasinya menggunakan pelemas otot (muscle relaxant) tehnik ini disebut balance anestesi. Karena itu harus dilakukan nafas buatan (dipompa). sehingga bila kurang relaksasi salah satu usaha untuk membuat lebih relaksasi adalah dengan mendalamkan anestesi. jadi penderita tidak dapat bernafas. Selesai operasi penderita cepat bangun sehingga mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh penderita yang tidak sadar. Untuk mengatasi hal ini maka ada tehnik tertentu agar tercapai trias anestesi pada kedalaman yang ringan. jadi tidak bisa berkontraksi atau mengalami kelumpuhan. Dengan menggunakan balance anestesi maka ada beberapa keuntungan antara lain: Dosis obatnya minimal. lebih-lebih pada penderita yang sensitif atau memang sudah ada gangguan pada organ vital sebelumnya. Keadaan relaksasi bisa terjadi pada anestesi yang dalam. untuk operasi yang membuka abdomen maka usus akan bergerak dan menyembul keluar. analgesinya menggunakan analgetik kuat.

yaitu : Open. dialirkan menuju tabung yang berisi sodalime. klep ini disebut non rebreating valve. hilangnya kelembaban respirasi. tetapi mengandung CO2 yang lebih tinggi. Kekurangan sistem ini adalah boros obat anestesi. Karena itu tidak menimbulkan peningkatan tahanan respirasi. Berdasar sistim aliran udara pernapasan dalam rangkaian alat anestesi. udara ekspirasi yang mengandung gas anestesi dan oksigen lebih sedikit dibanding udara inspirasi. menimbulkan polusi obat anestesi di kamar operasi. Sistem open adalah sistem yang paling sederhana. Dalam sistem ini tingkat keborosan dan polusi kamar operasi lebih rendah dibanding sistem open. dan semi closed. Dengan demikian berdasar respirasinya. Di sini udara ekspirasi babas keluar menuju udara bebas. Di sini tidak ada hubungan fisik secara langsung antara jalan napas penderita dengan alat anestesi. semi open. anestesi dibedakan menjadi 4 sistem. Dalam sistem semi open alat anestesi dilengkapi dengan reservoir bag selain reservoir bag. - Karena pernafasan bisa dilumpuhkan secara total maka mempermudah tindakan operasi pada rongga dada (thoracotomy) tanpa terganggu oleh gerakan pernafasan. Dalam sistem semi closed. arnestesi umum dibedakan dalam 3 macam yaitu: Respirasi spontan yaitu penderita bernafas sendiri secara spontan. adapula yang masih ditambah dengan klep 1 arah. bila memakai obat yang mudah terbakar maka akan meningkatkan resiko terjadinya kebakaran di kamar operasi. kedalaman anestesi tidak stabil dan tidak dapat dilakukan respirasi kendali. Kita juga dapat mengembangkan dan mengempiskan paru dengan sekehendak kita tergantung keperluan. Assisted Respirasi: penderita bernafas spontan tetapi masih kita berikan sedikit bantuan. yang mengarahkan udara ekspirasi keluar. Respirasi kendali/respirasi terkontrol / balance anestesi: pernafasan penderita sepenuhnya tergantung bantuan kita. disini CO2 . closed.10 hiperventilasi kita juga dapat menurunkan tekanan darah untuk operasi yang memerlukan tehnik hipotensi kendali.

aliran campuran gas anestesi dan oksigen harus cepat. Bila induksi dan maintenance anestesi menggunakan obat inhalasi maka disebut VIMA (Volatile Inhalation and Maintenance Anesthesia). system ini tidak perlu sodalime. agar tidak kurang sehingga menimbulkan hipoksia dan anestesi kurang adekwat. biasanya diberikan antara 2 – 3 kali menit volume respirasi penderita Sistem Open Semi Open Semi Closed Closed Rebreathing + + Reservoir Bag + + + Sodalime + + Tingkat Polusi Kamar Operasi ++++ +++ ++ + Tingkat Keborosan Obat +++ ++ + - Bila obat anestesi seluruhnya menggunakan obat intravena. Karena udara ekspirasi diinspirasi lagi. Pada system open dan semi open juga disebut system non rebreathing karena tidak ada udara ekspirasi yang diinspirasi kembali. Sistem ini adalah sistem yang paling hemat obat anestesi dan tidak menimbulkan polusi. Pada anestesi inhalasi . maka anestesi diakhiri dengan menghentikan pemberian obat anestesi. karena pemberian yang berlebihan bisa berakibat tekanan makin meninggi sehingga.11 akan diikat oleh sodalime. Untuk menjaga agar pada system semi open tidak terjadi rebreathing. Dalam sistem closed prinsip sama dengan semi closed. menimbulkan pecahnya alveoli paru. Penambahan oksigen dan gas anestesi harus diperhitungkan. PEMULIHAN ANESTESI Pada akhir operasi atau setelah operasi selesai. Pada sistem closed dan semi closed juga disebut system rebreathing. maka disebut anestesi intravena total (total intravenous anesthesia/TIVA). karena udara ekspirasi diinspirasi kembali. tetapi juga tidak berlebihan. tetapi disini tidak ada udara yang keluar dari sistem anestesi menuju udara bebas. sistem ini juga perlu sodalime untuk membersihkan CO2. Selanjutnya udara ini digabungkan dengan campuran gas anestesi dan oksigen dari sumber gas ( FGF / Fresh Gas Flow) untuk diinspirasi kembali. Kelebihan aliran gas dikeluarkan melalui klep over flow. maka pemakaian obat anestesi dan oksigen dapat dihemat dan kurang menimbulkan polusi kamar operasi.

. menggantikan posisi obat anestesi yang berdifusi menuju ke alveoli. sehingga kadar oksigen di dalam darah meningkat.12 bersamaan dengan penghentian obat anestesi aliran oksigen dinaikkan. sedangkan bagi penderita yang menggunakan pipa endotrakheal maka perlu dilakukan ekstubasi (melepas pipa ET). Dengan demikian tekanan parsiel obat anestesi di alveoli juga berangsur-angsur turun. Semakin tinggi tekanan parsiel oksigen di alveoli (akibat oksigenisasi) difusi ke dalam darah semakin cepat. maka kesadarannya. sehingga lebih rendah dibandingkan dengan tekanan parsiel obat anestesi inhalasi didalam darah. Maka terjadilah difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli. Tetapi ada operasi tertentu ekstubasi dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam. Sementara itu oksigen dari alveoli akan berdifusi ke dalam darah. Turunnya kadar obat anestesi inhalasi tertentu di dalam darah. Semakin tinggi perbedaan tekanan parsiel tersebut kecepatan difusi makin meningkat. Ekstubasi pada waktu penderita masih teranestesi dalam mempunyai resiko tidak terjaganya jalan nafas. Dengan oksigenisasi maka oksigen akan mengisi tempat yang sebelumnya ditempati oleh obat anestesi inhalasi diaveoli yang berangsur-angsur keluar mengikuti udara ekspirasi. selain akibat difusi di alveoli juga akibat sebagian mengalami metabolisme dan ekskresi lewat hati. gangguan kartdiovaskuler. maka kadarnya di dalam darah makin menurun. Selanjutnya penderita yang dianestesi dengan respirasi spontan tanpa menggunakan pipa endotrakheal maka tinggal menunggu sadarnya penderita. dalam kurun waktu antara tidak sadar sampai sadar. Akibat terjadinya difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli. Ekstubasi bisa dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam dan dapat juga dilakukan setelah penderita sadar. dan keringat Kesadaran penderita juga berangsur-angsur pulih sesuai dengan turunnya kadar obat anestesi di dalam darah Bagi penderita yang mendapat anestesi intravena. berangsur-angsur pulih dengan turunnya kadar obat anestesi akibat pada metabolisme atau ekskresi setelah pemberinya dihentikan. naiknya tekanan intra okuli dan naiknya tekanan intra cranial. karena dapat terjadi spasme jalan napas. muntah. Ekstubasi pada keadaan setengah sadar membahayakan penderita. ginjal. hal ini disebut oksigenisasi. batuk.

sirkulasi. yang mempunyai nilai maksimal 10 menentukan dapat tidaknya penderita dipindahkan. Sebagian ahli anestesi tetap memberikan reverse welaupun napas sudah adekwat bagi penderita yang sebelumnya mendapat muscle relaxant. Hasil penjumlahan ke-5 faktor tersebut. yaitu memberikan obat anti kolin esterase. . aktifitas dan warna kulit. Untuk penderita rawat jalan setelah Aldrette Score mencapai 10 tidak boleh langsung pulang. Dalam perjalanan pulang penderita ini tidak boleh mengemudikan kendaraan sendiri dan tidak boleh pulang sendirian tetapi harus ada teman yang sudah dewasa. batuk. Untuk mempercepat pulihnya penderita dari pengaruh muscle relaxant maka dilakukan reverse. jalan dan minum secara bertahap. turun. Kariadi memakai Aldrette Score yaitu penilaian yang didasarkan atas respirasi. dalam waktu ini penderita dapat dilatih duduk.13 Pada penderita yang mendapat balance anestesi maka ekstubasi dilakukan setelah napas penderita adekwat. Masing-masing mempunyai nilai terendah 0 dan tertinggi 2. dapat dipindahkan keruang perawatam. Di RSUP. Sebagian ahli anestesi melakukan ekstubasi setelah penderita sadar. menggelengkan kepala dan menggerakkan ekstremitas. Penilaian yang lebih obyektif tentang seberapa besar pengaruh muscle relaxant adalah dengan menggunakan alat nerve stimulator. bisa diperintah menarik napas dalam. tetapi harus menunggu minimal 2 jam lebih dulu. kesadaran. PEMINDAHAN PENDERITA DARI KAMAR OPERASI Ada banyak pedoman untuk menentukan kapan penderita dapat dipindahkan dari kamar operasi. Dr. Penderita dengan nilai Aldrette Score 8.

Sirkulasi: Perbedaan dengan tekanan darah pre anestesi Perbedaan + 20 Perbedaan + 50 Perbedaan lebih dari 50 4. bebas dan dapat batuk Sesak nafas. Kesadaran Sadar penuh Bangun bila dipanggil Tidak ada respons 2. Respirasi Dapat melakukan nafas dalam. kuning atau berbintik-bintik Cyanotik 2 1 0 2 1 0 2 1 0 2 1 0 2 1 0 . nafas dangkal atau ada hambatan Apnoe 3.14 Tabel Nilai Penderita Paska Operasi Menurut Aldrette Hal Yang Dinilai Nilai 1. Aktifitas: dapat menggerakkan ekstremitas atas perintah 4 ekstremitas 2 ekstremitas tidak dapat 5. gelap. Warna kulit Normal Pucat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->