P. 1
Bahan Ajar Pedgogy Uji Kompetensi B.indonesia

Bahan Ajar Pedgogy Uji Kompetensi B.indonesia

|Views: 181|Likes:
Published by Misterheri Piwan
Pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis, sehingga kompetensi peserta didik diarahkan ke dalam penguasaan empat sub-aspek bahasa, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis, sehingga kompetensi peserta didik diarahkan ke dalam penguasaan empat sub-aspek bahasa, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.

More info:

Published by: Misterheri Piwan on Jun 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2012

pdf

text

original

Sections

Pengamatan (proses pembelajaran/kerja kelompok) Portofolio

68

LEMBAR KERJA SISWA

Jenjang Pendidikan : SMP/MTs
Mata Pelajaran

: Bahasa Indonesia

Kelas/Semester

: VII/1

Waktu

: 2 x 40 menit (1 x Pertemuan)

I. Konsep yang harus dikuasai siswa

Tema, amanat, dan penokohan dalam dongeng
Hal-hal yang menarik dalam dongeng yang diperdengarkan disertai alasan yang
logis
Etika berbahasa dalam forum diskusi kelas
Kaidah-kaidah bahasa dalam menulis (paragraf, kalimat, diksi, dan kaidah EYD)

II. Keterampilan berbahasa yang diintegrasikan

Menyimak-berbicara Menyimak-
menulis

III. Hasil yang Diharapkan

Setelah proses pembelajaran berakhir, siswa diharapkan dapat:
Menentukan tema, amanat, dan penokohan dalam dongeng yang
diperdengarkan
Menentukan/menemukan hal-hal yang menarik dalam dongeng yang
diperdengarkan disertai alasan yang logis
Menulis ulang isi dongeng dengan bahasa sendiri dengan
memperhatikan kaidah-kaidah bahasa

III. Prosedur

Setelah dongeng selesai diperdengarkan dilanjutkan dengan tanya jawab dan
pembentukan kelompok

Membagikan LKS kepada setiap kelompok
Setiap kelompok berdiskusi dengan teman sekelompoknya tentang tuntutan isi
LKS
Setiap kelompok menuliskan hasil diskusi di kertas plano, dilanjukan dengan
pemajangan, presentasi, dan diskusi.
Pemberian penguatan

IV. Bentuk Tugas

Dalam kelompok masing-masing, diskusikanlah tugas berikut ini dan hasil diskusi tulislah
di kertas plano yang telah dibagikan.
1) Tuliskan tema dongeng tersebut disertai alasan!
2) Tuliskan amanat dongeng tersebut disertai alasan!
3) Bagaimanakah karakter tokoh dalam dongeng tersebut?
4) Kemukakan bagian yang paling menarik dalam dongeng tersebut disertai alasan
yang logis!

69

Gambaran Hasil Kerja Siswa dalam Kelompok

Nama Kelompok: Sangkuriang

Simpulan hasil diskusi kelompok

1) Tema dongeng ........

2) Amanat yang ingin disampaikan pengarang ...

3) Karakter tokoh dalam dongeng

Tokoh A

Tokoh B...

4) Bagian yang paling menarik dalam dongeng ....

LEMBAR PENGAMATAN SIKAP

1. Sikap Kerjasama

No Nama
Siswa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JumlahNilai Ket.

1.

Yanti

2.

Laili

3.

Mirza

4.

Riza

5.

....

2. Tanggung Jawab
No Nama
Siswa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JumlahNilai Ket.

1.

Yanti

2.

Laili

3.

Mirza

4.

Riza

5.

......

70

3. Motivasi

No Nama
Siswa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JumlahNilai Ket.

1.

Yanti

2.

Laili

3.

Mirza

4.

Riza

5.

....

Keterangan:

Sangat Baik

(A) 8,1 10

Baik

(B) 6,1 -- 8

Cukup

(C) 4,1 -- 6

Kurang

(D) 2,1 -- 4

Sangat Kurang (E)

0 -- 2

71

Evaluasi pembelajaran yang berpihak pada pengembangan keterampilan berbahasa

dan bersastra adalah evaluasi berbasis kelas, karena pengambilan nilai berlangsung

baik di dalam maupun di luar kelas. Penilaian harus dilakukan secara terus-menerus

dan berkesinambungan. Teknik penilaian berbasis kelas yang tepat untuk

pembelajaran bahasa dan sastra adalah penilaian unjuk kerja, penilaian sikap,

penilaian tertulis, penilaian proyek, dan penilaian portofolio (Depdiknas, 2006).

Wina Sanjaya (2005:185) mengatakan, sebagai suatu proses, pelaksanaan

penilaian berbasis kelas harus terencana dan terarah sesuai dengan tujuan

pencapaian kompetensi. Penilaian berbasis kelas menganut prinsip-prinsip; a)

motivasi, b) validitas, c) adil, d) terbuka, e) berkesinambungan, f) menyeluruh, g)

bermakna dan h) edukatif.

Penilaian bukan semata-mata untuk memenuhi syarat administratif belaka, tetapi

diarahkan untuk memperoleh ketercapaian kompetensi seperti yang dirumuskan

pada SK dan KD. Penilaian tidak boleh menyimpang dari kompetensi yang ingin

dicapai. Dengan kata lain, penilaian harus menjamin validitas. Dengan demikian,

setiap kompetensi menuntut jenis atau alat penilaian yang berbeda.

Alat penilaian aspek berbicara, berbeda dengan aspek menulis. Demikian pula

aspek membaca dan mendengarkan, tentunya juga diperlukan alat penilaian yang

tidak sama. Ada materi-materi yang harus dinilai dengan bentuk tes, ada pula yang

harus dilakukan dengan non-tes. Pada kompetensi berbicara, alat penilaian bentuk

tes pilihan ganda tentu saja tidak tepat. Teknik penilaian unjuk kerja tepat untuk

menilai kompetensi berbicara siswa, tetapi tidak tepat untuk menilai kompetensi

menulis atau mendengarkan.

Berikut ini merupakan penjelasan tentang kelima teknik penilaian berbasis kelas

yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

BAB V
PENILAIAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

72

1. Penilaian Unjuk Kerja

Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati

kegiatan siswa dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk

menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut siswa seperti: presentasi, diskusi,

bermain peran, berpidato, dan membaca puisi. Cara penilaian ini dianggap lebih

autentik daripada tes tertulis karena yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan

siswa yang sebenarnya.

Penilaian unjuk kerja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut; (1) Langkah-langkah

kinerja yang diharapkan dilakukan siswa untuk menunjukkan kinerja dari suatu

kompetensi (2) Kelengkapandan ketepatan aspek yang akan dinilai (3) Kemampuan-

kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, (4) Kemampuan

yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga mudah diamati, (5) Kemampuan

yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati.

Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan

tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk menilai kemampuan berbicara,

misalnya dilakukan pengamatan atau observasi berbicara yang beragam, seperti:

diskusi dalam kelompok kecil, berpidato, bercerita, bermain peran dan melakukan

wawancara. Dengan demikian, gambaran kemampuan siswa akan lebih utuh. Untuk

mengamati unjuk kerja siswa dapat menggunakan alat atau instrumen berikut:

2. Daftar Cek (Check-list)

Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak

baik). Dengan menggunakan daftar cek, siswa mendapat nilai bila kriteria

penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh guru. Jika tidak dapat diamati,

siswa tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah guru hanya mempunyai

dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati, baik-

tidak baik. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah. Contoh daftar cek (check

list) pada penilaian berbicara tampak pada rubrik di bawah ini:

73

Rubrik Penilaian Berbicara

No Unsur yang dinilai

SKOR
1 2 3 4 5

1. Ekspresi Fisik

1. Berdiri tegak melihat khalayak
2. Mengubah ekspresi wajah sesuai perubahan
pernyataan yang disampaikan
3. Gerak tubuh dan gerak tangan (unsure kinestik)
membantu memberikan penegasan

2. Ekspresi Suara

1. Berbicara dengan kata-kata yang jelas
2. Nada dan suar berubah-ubah sesuai pernyataan
3. Berbicara cukup keras untuk didengar khalayak

Ekspresi Verbal

1. Memilih kata-kata yang tepat untuk menegaskan

arti
2. Tidak mengulang-ulang pernyataan
3. Menggunakan kalimat yang lengkap untuk
mengutarakan satu pikiran
4. Menyimpulkan pokok-pokok pikiran yang penting

Jumlah Skor

Skor maksimal adalah 10 x 5 = 50

Skor Perolehan

Nilai = ————————— x 100

Skor Maksimal

74

Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut :

1). Jika seorang siswa memperoleh skor 45-59 dapat ditetapkan sangat kompeten

2). Jika seorang siswa memperoleh skor 35-44 dapat ditetapkan kompeten

3). Jika seorang siswa memperoleh skor 30-34 dapat ditetapkan cukup kompeten

4). Jika seorang siswa memperoleh skor kurang dari 30 dapat ditetapkan tidak

kompeten.

3. Penilaian Sikap

Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan

kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai

ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap

dapat dibentuk, sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan.

Sikap terdiri atas tiga komponen, yakni: afektif, kognitif, dan konatif. Komponen

afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap

sesuatu objek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang

mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk

berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran

objek sikap.

Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai

mata pelajaran adalah sebagai berikut.

Sikap terhadap materi pelajaran. Siswa perlu memiliki sikap positif terhadap

materi pelajaran. Dengan sikap positif dalam diri siswa akan tumbuh dan

berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih

mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan.

Sikap terhadap guru/pengajar. Siswa perlu memiliki sikap positif terhadap

guru. Siswa yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung

mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, siswa yang memiliki

sikap negatif terhadap guru akan sukar menyerap materi pelajaran yang

diajarkan oleh guru tersebut.

Sikap terhadap proses pembelajaran. Siswa juga perlu memiliki sikap positif

terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran

75

mencakup suasana pembelajaran, strategi, metodologi, dan teknik

pembelajaran yang digunakan. Proses pembelajaran yang menarik, nyaman

dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, sehingga

dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.

Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu

materi pelajaran. Misalnya kasus atau masalah rendahnya minat baca,

berkaitan dengan materi kebahasaan. Siswa juga perlu memiliki sikap yang

tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif agar mempunyai kegemaran

membaca.

Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik

tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi.

Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Observasi perilaku

Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam

sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai

kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat

melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan

dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan.

Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan

khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah.

Berikut contoh format buku catatan harian.

Contoh isi Buku Catatan Harian :

No. Hari/ Tanggal Nama Siswa Kejadian (positif
atau negatif)

Tindak Lanjut

Catatan : Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif. Catatan
dalam lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan menilai
perilaku siswa, bermanfaat pula untuk menilai sikap siswa dan dijadikan bahan
penilaian perkembangan siswa secara keseluruhan.

76

b. Pertanyaan langsung

Pertanyaan langsung berupa pertanyaan atau wawancara. Yang diharapkan dari

pertanyaan langsung adalah sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal.

Misalnya, bagaimana tanggapan siswa tentang kebijakan yang baru diberlakukan di

sekolah mengenai “Peningkatan Ketertiban”. Berdasarkan jawaban dan reaksi

memberi jawaban dapat dipahami sikap siswa terhadap objek sikap.

c. Laporan pribadi

Penggunaan teknik ini adalah siswa diminta membuat ulasan yang berisi

pandangan atau tanggapan tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi

objek sikap. Misalnya, siswa diminta menulis pandangannya tentang “Kasus KKN”

yang terjadi di Indonesia. Dari ulasan yang dibuat oleh siswa dapat dipahami

kecenderungan sikap yang dimilikinya.

4. Penilaian Tertulis

Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes Tertulis adalah tes

dengan soal dan jawaban yang diberikan kepada siswa dalam bentuk tulisan. Tes

memiliki reliabilitas bila menghasilkan hasil-hasil yang konsisten selama beberapa

kali pengadministrasian atau disajikan dengan beberapa macam bentuk (Arends,

2008: 218). Dalam menjawab soal siswa tidak selalu merespon dalam bentuk

menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda,

mewarnai, menggambar dan lainnya. Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu:

a. Memilih jawaban, yang dibedakan menjadi:

pilihan ganda
dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)
menjodohkan
sebab-akibat

b. Mensuplai jawaban, dibedakan menjadi:

isian atau melengkapi
jawaban singkat atau pendek
uraian

77

Dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar-salah, isian singkat,

menjodohkan dan sebab akibat merupakan alat yang hanya menilai kemampuan

berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda

dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami dengan

cakupan materi yang luas. Namun, pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu

siswa tidak mengembangkan sendiri jawabannya bahkan jika siswa tidak

mengetahui jawaban yang benar, maka akan menerka saja. Hal ini menimbulkan

kecenderungan siswa tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan

soal dan jawabannya. Selain itu pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi

yang cukup untuk dijadikan umpan balik guna mendiagnosis atau memodifikasi

pengalaman belajar. Karena itu kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian

kelas.

Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut siswa untuk

mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang

sudah dipelajari. Siswa mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut

dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini

dapat menilai berbagai jenis kompetensi, misalnya mengemukakan pendapat,

berpikir logis, dan menyimpulkan. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi

yang ditanyakan terbatas.

Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:

Karakteristik mata pelajaran dan keluasan ruang lingkup materi yang akan

diuji;

materi, misalnya kesesuian soal dengan standar kompetensi, kompetensi

dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum;

konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas;
bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang

menimbulkan penafsiran ganda.

78

5. Penilaian Proyek

Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus

diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi

sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan

penyajian data.

Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan

mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan

pada mata pelajaran tertentu secara jelas.

Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan

yaitu:

Kemampuan pengelolaan : kemampuan siswa dalam memilih topik, mencari

informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.

Relevansi : kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan

tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.

Keaslian : proyek yang dilakukan siswa harus merupakan hasil karyanya,

dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan

terhadap proyek siswa.

Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil

akhir proyek. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu

dinilai, seperti penyusunan desain, pengumpulan data, analisis data, dan

penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan

dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen

penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian.

79

Contoh Penilaian Proyek

MENULIS KARYA TULIS SEDERHANA ( SMP )

KELOMPOK : ……….. / KELAS ……
Anggota: 1. ……………… 4. ………………..

2. ……………… 5. ………………..
3. ………………

No

Tugas yang Harus

Dikerjakan

Diselesaikan

Tanggal

Ket

Paraf Guru

1

Membagikan angket dan

interview

2

Menganalisis hasil angket

3

Menyusun Bab I

4

Menyusun Bab II

5

Menyusun Bab III

6

Menyelesaikan laporan

awal – Daftar Pustaka

7

Penyerahan hasil

6. Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada

kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam

satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya siswa dari proses

pembelajaran yang dianggap terbaik, hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi

lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran.

Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada

satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu priode, hasil karya tersebut

dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan siswa. Berdasarkan informasi perkembangan

tersebut, guru dan siswa dapat menilai perkembangan kemampuan siswa kemudian

80

melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan

perkembangan kemajuan belajar siswa melalui karyanya, antara lain: karangan,

puisi, surat, catatan perkembangan pekerjaan, hasil diskusi, hasil membaca buku/

literatur, hasil penelitian, hasil wawancara, dsb.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian

portofolio, antara lain:

Karya siswa adalah benar-benar karya sendiri. Guru melakukan penelitian

atas hasil karya siswa yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya

tersebut merupakan hasil karya sendiri.

Saling percaya antara guru dan siswa

Dalam proses penilaian guru dan siswa harus memiliki rasa saling percaya,

saling memerlukan dan saling membantu sehingga proses pembelajaran

berlangsung dengan baik.

Kerahasiaan bersama antara guru dan siswa

Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan siswa perlu dijaga

dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak

berkepentingan sehingga berdampak negatif pada proses pembelajaran.

Milik bersama (joint ownership) antara siswa dan guru

Guru dan siswa perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga

berupaya terus meningkatkan kemampuannya.

Kepuasan

Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang

memberikan dorongan kepada siswa untuk lebih meningkatkan diri.

Kesesuaian

Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan

kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.

Penilaian proses dan hasil

Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar

yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya

siswa.

81

Penilaian dan pembelajaran

Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses

pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat

berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan siswa.

Teknik penilaian portofolio memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Jelaskan kepada siswa bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya

merupakan kumpulan hasil kerja siswa yang digunakan oleh guru untuk

penilaian, tetapi digunakan juga oleh siswa sendiri. Dengan melihat

portofolionya siswa dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan

minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan, tetapi membutuhkan

waktu bagi siswa untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri.

b. Tentukan bersama siswa sampel-sampel portofolio apa saja yang akan

dibuat. Portofolio antara siswa yang satu dan yang lain bisa berbeda.

c. Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap siswa dalam satu map atau

folder di rumah masing atau loker masing-masing di sekolah.

d. Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan

siswa sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.

e. Tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para

siswa. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para siswa. Contoh, Kriteria

penilaian kemampuan menulis karangan yaitu: penggunaan ejaan, pilihan

kata, kelengkapan gagasan, dan sistematika penulisan. Dengan demikian,

siswa mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar

tersebut.

Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka siswa diberi

kesempatan untuk memperbaiki. Namun, antara siswa dan guru perlu membuat

perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya 2 minggu karya yang telah

diperbaiki wajib diserahkan kembali.

82

Contoh Rangkuman Penilaian Portofolio

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

Alokasi Waktu : 1 Semester

Nama Siswa : _________________

Kelas/Smt :

No

SK/KD

Skor

Prestasi

Ket

(1 – 10)

T BT

1

Menanggapi siaran atau informasi dari

televise/radio

2

Dst

Total Skor

Catatan:

Setiap Standar Kompetensi atau Kompetensi Dasar yang masuk dalam daftar

portofolio dikumpulkan dalam satu file (tempat) untuk setiap peserta didik sebagai

bukti pekerjaannya. Kemudian Guru menjelaskan bobot dari setiap portofolio yang

dibuat.

83

Tugas dan tanggung jawab guru tidak hanya mengajarkan materi

pembelajaran sesuai dengan kurikulum, melainkan juga memberikan

pengalaman belajar yang bersifat mendidik. Pemerintah telah

mengamanatkan agar proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan

diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,

memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, memberikan ruang gerak

yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan

bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik.

Untuk dapat melaksanakan pembelajaran sesuai amanat tersebut, maka

guru dituntut mampu mengembangkan strategi, pendekatan, model, dan

metode pembelajaran yang inovatif dan mengimplementasikannya secara

variatif dalam proses pembelajaran di kelas.

Guru Bahasa Indonesia dapat memilih dan menentukan berbagai macam

strategi, pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang tepat sesuai

tuntutan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Demikian sehingga

tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan peserta didik

memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

Untuk dapat mengimplementasikan strategi, pendekatan, model, dan

metode pembelajaran yang beragam, maka guru Bahasa Indonesia pun

harus memperhatikan karakteristiknya masing-masing, sesuai dengan

tujuan dan orientasi dari setiap strategi, model, maupun metode

pembelajaran bahasa. Hal ini menjadi syarat penting sehingga guru tidak

keliru dalam memilih strategi yang tidak sesuai dengan tuntutan kompetensi

dasar.

BAB VI
PENUTUP

84

DAFTAR PUSTAKA

Azies, Furqanul dan Alwasilah, A. Chaedar. 2000. Pengajaran Bahasa
Komunikatif Teori dan Praktek.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Alamsyah, Teuku. 2009. “Modul Kuliah Strategi Belajar-Mengajar Bahasa dan
Sastra Indonesia.” Digunakan sebagai Materi Kuliah SBM pada Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah. Tidak Diterbitkan.

Depdiknas. 2006. Model Penilaian Kelas. Jakarta: Depdiknas

Madusari, Endah Ariani, dkk. 2009. Modul Suplemen MGMP-Bermutu.
Metodologi Pembelajaran. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bahasa

Harjasujana, Akhmad Slamet dan Yeti Mulyati. 1996/1997. Membaca II.
Jakarta: Universitas Terbuka.

Hernowo. 2005. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar dengan
Menggunakan Pendekatan Kontekstual.
Bandung: MLC.

Ismail, Taufik. 2001. Mari Kita Berbalas Pantun. Bahan pelatihan MMAS. Jakarta:
Panitia Diklat MMAS.

Ismail, Taufik. 2001. Horison Sastra Indonesia 1 Kitab Puisi. Jakarta: The Ford
Foundation

Majid A. Abdul Azis. 2002. Mendidik dengan Cerita. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Majid, Abdul. 2005. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar
Kompetensi Guru.
Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.
Yogyakarta: BPFE.

Routman, R. 1991. Invitations: Changing as Teachers and Learner K-12.
Portsmouth, NH: Heinemann

Rahim, Farida. 2005. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi
Aksara.

Santosa, Puji. 2004. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD.
Jakarta: UT

Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis

85

Kompetensi. Jakarta: Kencana.

Sabri, Ahmad. 2007. Strategi Belajar-Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta:
Quantum Teaching.

Uno, Hamzah B. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar-
Mengajar yang Kreatif dan Efektif
. Jakarta: Bumi Aksara.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->