P. 1
Bahan Ajar Konten Uji Kompetensi Bahasa Indonesia

Bahan Ajar Konten Uji Kompetensi Bahasa Indonesia

|Views: 793|Likes:
Published by Misterheri Piwan
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP hendaknya dapat menjadi akses pada situasi lokal dan global yang menekankan keterbukaan, kemasadepanan, dan kesejagatan. Siswa diharapkan dapat terbuka terhadap beragam informasi, menyaring hal-hal berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercabut dari lingkungannya.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP hendaknya dapat menjadi akses pada situasi lokal dan global yang menekankan keterbukaan, kemasadepanan, dan kesejagatan. Siswa diharapkan dapat terbuka terhadap beragam informasi, menyaring hal-hal berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercabut dari lingkungannya.

More info:

Published by: Misterheri Piwan on Jun 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2012

pdf

text

original

I

PENDAHULUAN
Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi, sedangkan belajar sastra adalah belajar

A. LATAR BELAKANG

menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia mengupayakan peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis serta menghargai karya cipta bangsa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP hendaknya dapat menjadi akses pada situasi lokal dan global yang menekankan keterbukaan, kemasadepanan, dan kesejagatan. Siswa diharapkan dapat terbuka terhadap beragam informasi, menyaring hal-hal berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercabut dari lingkungannya. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP mengupayakan pengembangan potensi siswa sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, minat, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya bangsa sendiri. B. Tujuan Tujuan penyusunan buku ini adalah untuk menjadi acuan bagi guru dalam memahami pembelajaran Bahasa Indonesia secara utuh, baik dalam memfasilitasi latihan keterampilan, dengan tanpa mengabaikan pembelajaran bahasa maupun sastra. Buku ini merupakan materi pelengkap bagi guru-guru dalam mempersiapkan pembelajaran Bahasa Indonesia jenjang SMP. C. Ruang Lingkup Ruang lingkup pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP, memperhatikan pencapaian aspek keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Tentunya dengan tidak mengesampingkan substansi-substansi keilmuan yang komprehensif melingkupi: a. Bidang Linguistik/Kebahasaan b. Bidang Kesusasteraan Berkaitan dengan hal tersebut, pada pembahasan kali ini disajikan informasi berupa hasil kajian-kajian yang berhubungan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia jenjang SMP. Baik kajian yang berhubungan dengan aspek keterampilan berbahasa, linguistik/kebahasaan, serta kesusateraan.

1

II

KAJIAN SUBSTANSI BAHASA INDONESIA JENJANG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

2.1 Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Pada hakikatnya bahasa adalah bunyi ujar atau lisan yang memiliki lambang, sistem, makna, dan fungsi. Menurut Samsuri (1994:10), bahasa ialah sistem unsur-unsur dan kaidah-kaidah. Jadi, belajar bahasa dapat dikatakan (1) belajar tentang bunyi ujar/lisan, lambang, sistem, makna, dan fungsi, (2) belajar sistem unsur-unsur dan kaidah-kaidah. Mulyati (2008:2.20) menyebutkan bahwa fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkomunikasi, baik lisan maupun tulis. Untuk itu, pembelajaran bahasa diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi. Pembelajaran bahasa dengan fokus keterampilan berkomunikasi meliputi seluruh aspek keterampilan berbahasa (membaca,

menyimak, berbicara, menulis). Jadi, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
mendengar berbicara membaca menulis

berkomunikasi dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis. Keterampilan berbahasa adalah kemampuan dan kecekatan menggunakan bahasa yang dapat meliputi mendengarkan/menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk mencapai keterampilan berbahasa, namun tidak mengesampingkan pengetahuan tentang sistem unsur-unsur dan kaidah-kaidah. Dilihat dari standar isi yang ditetapkan, pembelajaran pun tetap menyajikan sastra sebagai upaya penghalusan budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imajinasi dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tertulis. 2

2.2 FOKUS PENGUASAAN KETERAMPILAN BERBAHASA Sebagaimana telah diuraikan Keterampilan berbahasa: 1. keterampilan reseptif adalah keterampilan menerima atau memahami pesan yang disampaikan oleh pembicara atau penulis. 2. keterampilan produktif adalah keterampilan menghasilkan pembicaraan atau tulisan.

sebelumnya bahwa keterampilan berbahasa adalah kecakapan/kemampuan/kecekatan bahasa dalam

menggunakan/memahami kegiatan berbahasa yakni

mendengarkan,

berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan berbahasa keterampilan produktif. terbagi menjadi dan dua, yakni

reseptif

keterampilan

Berdasarkan sifatnya, keterampilan mendengarkan dan membaca termasuk pada keterampilan reseptif, sedangkan keterampilan berbicara dan menulis termasuk pada jenis keterampilan produktif. Berdasarkan bentuk komunikasinya, keterampilan berbahasa lisan dilakukan secara tatap muka atau secara langsung dengan dan tanpa media penghubung, sedangkan kegiatan berbahasa tulis dilakukan tanpa tatap muka/tidak langsung. Tabel 1 Keterampilan Berbahasa
Keterampilan Berbahasa Lisan mendengar/menyimak berbicara Tulis membaca menulis Sifat reseptif produktif

2.1.1 Kajian Pembelajaran Keterampilan Mendengarkan Mendengarkan adalah kegiatan berbahasa dengan tujuan memahami pesan yang disampaikan pembicara. Kegiatan mendengarkan dapat bersifat interaktif dan noninteraktif. Mendengarkan interaktif adalah mendengarkan dengan melakukan tanya jawab dengan pembicara atau pendengar lain, sedangkan mendengarkan noninteraktif tidak disertai dengan tanya jawab atau interaktif antara pembicara atau pendengar lain. 3  mendengarkan interaktif, contoh mendengarkan dalam kegiatan diskusi, wawancara, bertelepon, dan sebagainya  mendengarkan noninteraktif, contoh mendengarkan pidato, sambutan, khotbah, dan sebagainya.

Kegiatan mendengarkan dimaksudkan untuk memperlancar komunikasi dan memperoleh informasi untuk menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman tentang kehidupan. Siswa dilatih untuk terampil mendengarkan dengan strategi memusatkan

perhatian dan membuat catatan. Pada pembelajaran mendengarkan di SMP, siswa dituntut untuk dapat memahami wacana lisan berupa berita, dongeng, wawancara, pembacaan puisi, laporan lisan, pementasan drama, pembacaan novel remaja (asli atau terjemahan), dialog interaktif, syair, dan pidato/khotbah/ceramah.

2.1.2 Kajian Pembelajaran Keterampilan Berbicara Berbicara adalah kegiatan menyampaikan pesan kepada orang lain dengan media bahasa lisan. Keterampilan berbicara sangat didukung oleh ketersediaan alat-alat ucap yang meliputi seluruh bagian mulut (bibir, lidah, langit-langit lunak, gigi, tenggorokkan, anak tekak, pita suara), paru-paru juga hidung. Artinya, keterampilan berbicara siswa sangat dipengaruhi oleh kondisi alat-alat ucap yang dimilikinya. Dikuasainya keterampilan Berbicara formal adalah berbicara dalam situasi formal dengan memperhatikan aturan-aturan yang berlaku.

berbicara oleh siswa sangatlah penting. Dalam kegiatan berkomunikasi,

keterampilan berbicara diperlukan untuk menyampaikan informasi, menyatakan diri, menyampaikan menghibur, berbicara dan yang tujuan, lain-lain. dilatihkan berekspresi, Kegiatan dalam

pembelajaran Bahasa Indonesia meliputi berbicara formal dan non formal.

Berbicara formal adalah berbicara tanpa memperhatikan aturan-aturan gramatikal, tetapi tetap berfokus pada kesepahaman konteks yang dibicarakan.,

Pembelajaran berbicara di SMP diarahkan agar siswa mampu: 1. Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan

menyampaikan pengumuman 2. Mengeskpresikan pikiran dan perasaan melalui kegiatan bercerita 3. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita dan bertelepon 4. Mengungkapkan tanggapan terhadap pembacaan cerpen 4

5. Mengungkap berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan 6. Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bermain peran 7. Mengemukakan pikiran, persaan, dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler 8. Mengapresiasi kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) melalui kegiatan diskusi 9. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk komentar dan laporan 10. Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk yang lain 11.Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam pidato dan diskusi 12.Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama

2.1.3 Membaca Keterampilan membaca sangat penting dalam kegiatan berbahasa, baik untuk pemenuhan kebutuhan informasi, kepentingan hiburan, atau pendalaman studi/keilmuan. Pembelajaran keterampilan membaca dimaksudkan agar siswa melek huruf dan melek wacana. membaca melek huruf “ mampu mengenali lambang-lambang bunyi bahasa dan dapat melafalkannya dengan benar melek wacana “ mampu mengenali, memahami, memetik maksud dari lambang-lambang tersaji dalam bahasa tulis

membaca

Pada pembelajaran membaca jenjang SMP, siswa tidak lagi dituntut untuk sekadar ”melek huruf”, akan tetapi juga dituntut mampu ”melek wacana”. Siswa memperoleh sajian bahan bacaan berupa berbagai jenis wacana tulis, baik ragam sastra maupun nonsastra. Wacana sastra yang disajikan berupa puisi, buku cerita anak, drama, novel remaja (asli atau terjemahan), antologi puisi, buku kumpulan cerita pendek (cerpen), dan novel dari berbagai angkatan. Selain bahan bacaannya beragam, kegiatan pembelajaran membaca jenjang SMP juga diarahkan untuk memperoleh keterampilan membaca yang beragam pula. Siswa dibiasakan berlatih keterampilan membaca pemahaman/membaca dalam hati dan membaca nyaring. Siswa juga dituntut mampu membaca intensif dan membaca ekstensif, membaca puisi dan buku cerita anak, serta membaca cepat. Keterampilan membaca dalam hati atau membaca pemahaman diharapkan dapat dicapai siswa agar terampil memperoleh pemahaman tentang sesuatu, sehingga memperoleh 5

wawasan yang lebih luas tentang sesuatu yang dibaca. Kegiatan membaca yang dilakukan siswa diarahkan untuk dapat “menemukan” dan “menyimpulkan”.
Menemukan adalah mendapatkan sesuatu yang belum ada sebelumnya;mendapati; mendapatkan; apa yang terdapat dalam teks/bacaan. Simpulan bahasa adalah kata-kata ringkas atau rangkaian perkataan yang dirumuskan dalam susunan tertentu yang membawa maksud tertentu.

Keterampilan membaca dengan fokus menemukan diantaranya diarahkan pada kegiatan menemukan gagasan utama, informasi-informasi, fakta/realitas, dan masalah. Gagasan utama adalah gagasan pokok yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca, terdiri atas: 1. 2. gagasan utama yang terletak di akhir disebut induktif gagasan utama yang terletak di awal disebut deduktif adalah keadaan, kejadian, atau
 Skimming adalah cara membaca yang difokuskan untuk memperoleh ide pokok bacaan,  scanning adalah teknik membaca dengan cara melompati setiap bagian bacaan untuk fokus pada hal tertentu saja yang perlu dibaca.

Fakta

peristiwa, yang benar dan bisa dibuktikan. Fakta juga dapat disebut sebagai sesuatu yang nyata, benar adanya, tak terbantahkan. Pengenalan teknik membaca intensif dan ekstensif telah diperkenalkan pada pembelajaran bahasa Indonesia jenjang SMP. Membaca intensif adalah studi seksama, telaah teliti, dan penangan terperinci saat

membaca. Kemampuan membaca intensif ditandai oleh kemampuan memahami detil-detil informasi secara lengkap, akurat, kritis terhadap fakta-fakta, konsep, gagasan, ide, pengalaman, pesan, dan perasaan yang tertuang dalam bahasa tulis. Berbeda dengan membaca intensif, membaca ekstensif lebih difokuskan untuk membaca secara komprehensif dengan cakupan bahan bacaan yang lebih luas. Membaca ekstensif bukan untuk kepentingan pendalaman informasi, melainkan untuk perluasan informasi. Kegiatan membaca ini dimanfaatkan untuk menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP, siswa dilatih untuk terampil membaca cepat. Membaca cepaf adalah keterampilan memilih isi bahan bacaan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan pembaca, relevansinya dengan pembaca, tanpa membuang-buang waktu untuk 6

menekuni bagian-bagian lain yang tidak diperlukan. Pada kegiatan belajar, siswa dilatih untuk terampil membaca cepat dengan teknik skimming dan scanning. Di kelas IX, siswa dilatih untuk memiliki keterampilan membaca grafik, tabel, dan bagan. Berikut definisi grafik, tabel, dan bagan menurut Soedarso ((2005: 103-103): 1. Grafik memberikan gambaran perbandingan atau gambaran asosiasi antara dua atau beberapa variabel serta menyusun dan mengikhtisarkan serta melaporkan hubungan antara data statistik dengan bagian-bagian lain secara komprehensif, padat, singkat, dan sederhana. 2. Tabel menyajikan data yang diklasifikasikan secara sistematik, dalam jumlah menurut kesatuan tertentu. 3. Bagan berfungsi sebagai petunjuk hubungan antara suatu pokok pikiran tertentu, tanpa harus ada keterangan jumlah.

2.1.4 Kajian Menulis

Pembelajaran

Keterampilan

menulis : pesan → tulisan
Menulis adalah suatu kegiatan

Ragam tulisan: 1. deskripsi (pemerian/penggambaran) 2. narasi (penceritaan/pengisahan) 3. eksposisi (paparan/uraian) 4. argumentasi (pembahasan/pembuktian) 5. persuasi (pengaruh/ajakan)

penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa tulis (lambang grafis) sebagai alat atau medianya. Pembelajaran menulis dimaksudkan untuk melatih kemampuan menulis siswa. Melalui kegiatan menulis, diharapkan dapat meningkat kecerdasan, mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, penumbuhan keberanian, mendorong

kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi siswa. Pada pembelajaran menulis di SMP, siswa dilatih untuk mampu melakukan kegiatan menulis, baik dalam ragam formal maupun informal. Kegiatan menulis ini, sangat berkaitan dengan pengenalan substansi sebuah tulisan dan tujuan penulisan yang akan sangat mempengaruhi isi, jenis informasi dan pengorganisasian, pengungkapan dan tata saji tulisan. Kegiatan menulis ragam formal yang diharapkan mampu dilakukan siswa diantaranya menulis laporan, surat dinas, karya ilmiah sederhana, dan teks pidato. Kegiatan menulis ragam informal yang harus dikuasai siswa diantaranya menulis buku harian, surat pribadi, surat pembaca, narasi, pesan singkat, petunjuk, rangkuman, teks berita, slogan/foster, 7

iklan baris, resensi, rangkuman dan karangan. Selain itu juga siswa diharapkan dapat menulis ragam sastra diantaranya pantun, dongeng, puisi, naskah drama, dan cerita pendek. 2.3 FOKUS PENGUASAAN SUBSTANSI KEBAHASAAN Pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP siswa difokuskan pada latihan berbahasa yakni, mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Namun, bukan berarti pembelajaran tentang kebahasaan/linguistik tidak difasilitasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia SMP. Jelas sekali pada saat berlatih keterampilan berbahasa, siswa pun harus diarahkan untuk menguasai ilmu kebahasaan. Kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar perlu dicapai pula oleh siswa. Kaitannya dengan penguasaan keterampilan berbahasa tersebut, perlu kiranya siswa menguasai ketatabahasaan, baik berupa kosakata maupun stuktur.

2.3.1 KOSAKATA Pembelajaran kosakata pada jenjang SMP bertujuan memperkaya perbendaharaan kosakata siswa. Memperkaya kosakata bukan berarti proses menghapal sejumlah kata, melainkan menekankan penggunaan dan pemahaman kata-kata dalam kegiatan

berbahasa/berkomunikasi, baik lisan maupun tertulis. Hal-hal yang perlu diperkenalkan dalam pembelajaran kosakata di SMP:

1. Kata dan Maknanya Makna kata atau makna kosakata ialah pengertian atau maksud yang terkandung dalam suatu kata atau kelompok kata. Makna kata lepas, artinya kata yang belum digunakan dalam kalimat tertentu, dapat bermacam-macam. Informasi tentang kata dan maknanya dapat kita peroleh dalam sebuah buku yang dinamakan kamus. Makna suatu kata akan lebih tegas dan jelas apabila kata tersebut sudah digunakan dalam kalimat. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia SMP, penggunaan dan pemahaman kata dan maknanya dilatihkan pada semua kegiatan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Makna kata dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Makna leksikal dan makna gramatikal Makna leksikal lebih dikenal dengan makna yang terdapat dalam kamus. Artinya masih berupa berbagai kemungkinan makna; bila kata itu sudah digunakan dalam 8

kalimat maka makna leksikalnya sudah definitif. Sedangkan makna gramatikal berkaitan dengan kedudukan atau fungsi kata dalam kalimat. Dua buah kata mungkin mempunyai makna leksikal yang sama atau bersinonim, tetapi makna gramatikalnya berbeda. b. Makna denotatif dan makna konotatif Makna denotatif sama dengan makna leksikal, yakni makna kata yang sebenarnya seperti yang terdapat dalam kamus. Makna konotatif ialah makna kata yang sudah diwarnai perasaan. c. Makna lugas dan makna kiasan Makna lugas ialah makna kata yang sebernarnya seperti yang sudah dijelaskan dalam kamus. Makna kiasan atau makna figurative ialah makna yang bergeser dari acuannya. Walaupun makna kiasan itu sudah menyimpang dari acuannya atau makna dasarnya, tetapi terasa ada hubungannya. d. Makna kontekstual Makna kontekstual ialah makna yang terjadi karena pengaruh lingkungan atau konteks. Artinya, makna suatu kata dapat berubah dari makna dasarnya karena kata itu digunakan dalam situasi, konteks, kondisi berbahasa yang berbeda. Makna suatu kata dapat berubah, berkembang mengikuti perubahan dan perkembangan zaman. Perubahan atau perkembangan ini menyebabkan makna kata dapat: (i) (ii) menyempit meluas

(iii) menurun (iv) meninggi 2. Sinonim, Antonim, Homonim, dan Hiponim a. Sinonim Seringkali kita menemukan dua kata, ekspresi, atau ungkapan dapat berbeda atau relatif sama dalam maknanya. Jika dua buah kata, ekspresi atau ungkapan memiliki makna yang reatif sama, maka kedua kata, ekspresi atau ungkapan tersebut dikatakan bersinonim. b. Antonim Lawan dari sinonim dinamakan antonim, yakni adanya perbedaan atau pertentangan makna. Antonim terdiri atas: 9

(i) Antonim Pasangan Komplementer Antonim pasangan komplementer merupakan pasangan kata yang berantonim dalam makna namun kedua kata tersebut saling melengkapi, misalnya: hidup dan mati, atas dan bawah. (ii) Antonim Pasangan Perbandingan Antonim pasangan perbandingan adalah pasangan kata yang berantonim dalam makna, tetapi apabila salah satu kata dalam pasangan itu dinegatifkan maka makna kata yang dinegatifkan bersinonim dengan pasangan yang tidak dinegatifkan. Contoh antonim pasangan perbandingan: sedih berantonim dengan senang tidak sedih bersinonim dengan senang tidak senang bersinonim dengan sedih (iii)Antonim Relasional Sepasang kata dapat berantonim dalam makna, tetapi keduanya mempunnyai hubungan yang erat atau simetris. Pasangan kata yang berantonim guru relasional salah satu contohnya guru x siswa. Hubungan relasional pada kedua kata tersebut adalah bila guru yang mengajar maka muridlah yang belajar atau sebaliknya yang belajar adalah siswa sedang yang mengajar adalah guru. (iv) Antonim Resiprokal Sepasang kata dapat berantonim dalam makna, tetapi hubungan antar unsurunsur saling lengkap-melengkapi, saling mengisi. Contohnya kata menjual berantonim resiprokal dalam makna dengan kata membeli. Pasangan kata tersebut berpasangan secara antonim karena sifatnya isi-mengisi, lengkapmelengkapi untuk melukiskan suatu proses, yakni transaksi jual beli. c. Homonim Dua buah kata yang bunyi pelafalan dan bentuknya sama atau hampir bersamaan namun berbeda dalam makna dinamakan homonim. Contohnya kata bisa pada kalimat berikut: (i) Rudi bisa memakai baju sendiri. (ii) Rudi terkena bisa ular di kebun. Kata bisa dalam kalimat (i) bermakna dapat, mampu, atau sanggup. Kata bisa dalam kalimat (ii) bermakna racun. 10

d. Hiponim Selain sinonim, antonim, dan homonim, terdapat gejala lain dalam Bahasa Indonesia yang disebut hiponim. Hiponim adalah sejumlah kata yang memiliki komponen makna yang saling bertautan, berkaitan, atau berhubungan, contohnya wortel, ubi jalar, singkong, kentang, dan talas memiliki pertautan makna sehingga semuanya dikelompokkan dalam sebuah kata yang disebut umbi. Kata umbi menjadi induk, sedangkan kata wortel, ubi jalar, singkong, kentang, dan talas merupakan anggota yang dinaunginya. Kata yang menjadi induk disebut superordinat, sedangkan kata-kata yang merupakan anggota disebut subordinat.

3. Singkatan dan Akronim Pengungkapan maksud, ide, pesan, atau informasi harus berpedoman pada azas efisiensi dan efektivitas yakni penghematan penggunaan bahasa tanpa mengurangi kejelasan. Cara yang dapat dilakukan guna penghematan dimaksud dapat berupa penyingkatan kata yakni proses: (i) Penghilangan Fonem Kata yang panjang dapat disingkat dengan cara menghilangkan satu atau beberapa fonem yang terdapat dalam kata tersebut. Proses penghilangan fonem ini dapat terjadi pada awal, tengah, atau akhir kata. Proses tersebut diharapkan tidak menyebabkan perubahan terhadap kata. Penghilangan kata terdiri atas: (a) Aferensis Aferensis ialah proses penghilangan fonem yang terjadi pada awal kata, contohnya: engkau  kau, tetapi  tapi, dan lain-lain. (b) Sinkop Sinkop adalah proses penghilangan fonem yang terdapat pada tengah kata, contohnya: bahasa  basa, sahaya  saya, dan lain-lain. (c) Apokop Apokop adalah proses penghilangan fonem yang terdapat pada akhir kata, contohnya: import  impor, pelangit  pelangi, dan lain-lain.

11

(ii) Kontraksi Kontraksi adalah proses penyingkatan, penyusutan, atau penciutan fonem dalam kata. Gejala ini biasanya merupakan penyatuan atau penggabunga dua kata, contohnnya tidak ada  tiada, bagai itu  begitu, dan lain-lain. (iii) Akronim Akronim adalah singkatan yang dibentuk dengan jalan mengambil fonem awal setiap kata yang disingkat, menggabungkan suku pertama, atau menggabungkan suku akhir. Proses penyingkatan kata yang merupakan akronim terdiri atas: (a) Kombinasi dari Penyingkatan Fonem awal Mengambil fonem awal, contoh Universitas disingkat menjadi U, Negeri disingkat menjadi N, dan Jakarta disingkat menjadi J, kemudian digabungkan menjadi UNJ yang kemudian dilafalkan [u-n-j] (b) Kombinasi dari Suku Kata Awal Pembentukan akronim dapat dilakukan dengan menggabungkan suku pertama/awal (kadang-kadang disertai fonem awal suku kedua) dari setiap kata yang akan disingkatkan, contoh ormas singkatan dari organisasi massa, polwan singkatan dari polisi wanita, dan lain-lain. (c) Kombinasi dari Suku Kata Akhir Pembentukan akronim dengan menggabungkan suku akhir dari kata-kata yang akan disingkat, contohnya sassus singkatan dari desas-desus, tarling singkatan dari gitar dan suling, dan lain-lain. (d) Kombinasi dari Suku Kata Pertama dan Suku Kedua Kata Kedua Pembentukan akronim dengan menggabungkan suku pertama kata pertama dengan suku kedua kata kedua. Pembentukan akronim dengan cara seperti ini memiliki syarat, setiap kata yang disingkat merupakan kata dasar bukan kata jadian. Contoh akronim yang dihasilkan satgas singkatan dari satuan tugas, passus singkatan dari pasukan khusus, dan lain-lain. 4. Majas dan Peribahasa a. Majas Majas, bahasa kias, atau figure of speech adalah bahasa indah yang digunakan pembicara atau penulis untuk meningkatkan efek pembicaraan atau tulisannya. Majas berarti juga penggunaan kata-kata yang tepat, baik dalam bahasa lisan 12

maupun tulis, untuk memperoleh kepercayaan yang tinggi dari pendengar atau pembacanya. Penggunaan majas erat kaitannya dengan perbendaharaan kata seseorang. Semakin kaya kosakata seseorang, semakin bervariasi penggunaan majasnya. Sebaliknya, semakin bervariasi majas yang dikuasai seseorang semakin kaya pula kosakatanya. Majas terdiri atas empat jenis, yakni majas perbandingan, majas pertentangan, majas pertautan dan majas perulangan. (a) Majas Perbandingan Yang termasuk pada majas perbandingan adalah:    Perumpamaan diartikan sebagai padanan atau seperti, contohnya: Seperti telur di ujung tanduk. Metafora adalah perbandingan antara dua hal secara implisit, contohnya: Santi gadis yang jinak-jinak merpati. Personifikasi adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda lain sebagai insane dalam segi tertentu, contohnya; Nyiur melambai-lambai di tepi pantai.  Alegori ialah gaya berbahasa secara kiasan melalui lambang-lambang dan terselubung, misalnya tokoh-tokoh binatang yang berbicara seperti manusia.  Antithesis adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang bertentangan, contohnya “Ia bergembira atas kegagalanku dalam ujian”. (b) Majas Pertentangan  Hiperbola Hiperbola ialah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebihlebihan mungkin dalam jumlah, ukuran atau sifat sesuatu hal atau benda. Majas hiperbola digunakan untuk memberi kesan hebat, lebih, atau paling hebat, misalnya: “Hartanya segudang”.  Litotes Litotes adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang bernada merendah, mengurangi, atau menyederhanakan sifat sesuatu hal atau benda. Litotes sering juga disebut gaya bahasa yang mengurangi atau melemahkan kekuatan atau isi pernyataan yang sebenarnya, sehingga dianggap kebalikan 13

dari hiperbola. Contoh penggunaan majas litotes tampak pada kalimat “Mampir ke gubuk reyot kami!”.  Ironi Ironi adalah gaya bahasa yang mengandung sinis, menyatakan

maksud/kenyataan yang berlawanan dengan maksud/kenyataan sebenarnya. Contoh kalimat bermajas ironi, “Bagus benar raportmu, banyak angka merahnya.” Penggunaan ironi yang keras disebut sarkasme/satire, sedangkan penggunaan ironi yang lunak berfungsi sebagai humor atau kelakar.  Oksimoron Oksimoron adalah gaya bahasa berupa pernyataan pendapat yang bertentangan terhadap sesuatu hal dalam satu kalimat, contohnya: Bahasa dapat dipakai sebagai sarana pemersatu tetapi dapat juga sebagai pemecah belah bangsa.  Paronomasia Paranomasia adalah gaya bahasa yang digunakan menyatakan maksud dengan menggunakan kata-kata yang berbunyi sama secara berulang, namun kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Contoh, “Beberapa pejabat teras sedang berkumpul di teras kantor”.  Paralipsis Paralipsis adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengekspresikan keadaan sesuatu secara unik. Awal kalimat menggambarkan ekspresi tentang kenyataan yang bertentangan, yang akan diperbaiki pada akhir kalimat. Contohnya; “Dia pasti menerima membencimu, eh maksud saya menolakmu.”  Zeugma Zeugma adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan dua pendapat yang bertentangan mengenai sesuatu hal dalam satu kalimat dengan menggunakan kata penghubung dan. Contoh: Siswa di sekolah kami rajin-rajin dan malas-malas.

14

(c) Majas Pertautan  Metonimia Metonimia adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan nama sesuatu benda dengan benda lain yang berkaitan erat, contoh “Keluarganya berangkat naik kijang kemarin.”  Sinekdoke Sinekdoke adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sebagian buat keseluruhan, contoh: Pasang telingamu baik-baik!  Alusi Alusi adalah gaya bahasa yang menyatakan, menunjukkan, atau mengacu kepada sesuatu hal secara tak langsung dengan anggapan pembaca atau pendengar sudah memahami hal tersebut, contohnya “Saya tak sanggup membayangkan kekejaman PKI dalam Peristiwa G30S/PKI”.  Eufemisme Eufemisme adalah gaya bahasa yang bertujuan menghaluskan agar berkesan lebih sopan, enak didengar atau enak dibaca, misalnya laki-bini diganti suami-istri.  Ellipsis Ellipsis adalah penghilangan satu atau dua kata yang menduduki jabatan tertentu dalan suatu kalimat, baik subjek, predikat, objek atau keterangan. Contohnya: Saya juga shampo satu.  Inversi Inversi adalah gaya bahasa yang menggunakan permutasi atau perubahan urutan, seperti pada subjek-predikat. Contoh: saya datang menjadi datang saya.  Gradasi Gradasi adalah pengulangan beberapa kata secara berurutan dalam mengekspresikan sesuatu hal, misalnya “Aku persembahkan cinta ini, sebagai tanda cinta kasihku, padamu cintaku tulus murni, kasih.”

15

(d) Majas Perulangan  Aliterasi Aliterasi adalah penggunaan kata-kata sama bunyi dalam menyatakan sesuatu. Biasanya kata-kata yang mengalami pengulangan tersebut terdapat pada awal kata, contoh “kaki kami kaku”.  Antaraklasis Antaraklasis adalah penggunaan kata yang sama namun makna berbeda berulang dalam satu kalimat, contoh “Dia pulang membawa buah tangan untuk buah hati tercintanya.”  Kiasamus Kiasamus adalah penggunaan kata yang berulang atau repetisi dengan maksud sebagai penghubung dalam suatu kalimat, contoh “Biasanya ada orang cantik yang merasa jelek, orang jelek yang merasa cantik”.  Repetisi Repetisi adalah penggunaan kata-kata/pernyataan beruang-ulang, contoh: Selamat datang kekasihku, selamat datang pujaanku, selamat datang jantung hatiku, selamat datang bidadariku.

b. Peribahasa Peribahasa adalah kalimat atau kelompok kata yang susunannya tetap atau isinya mengiaskan maksud tertentu. Yang termasuk dalam peribahasa adalah: (a) Pepatah Pepatah merupakan peribahasa yang berisi nasihat/ajaran yang berasal dari nenek moyang kita yang diwariskan secara turun temurun, contoh jangan besar pasak daripada tiang, jangan memancing di air keruh, dan lain-lain. (b) Perumpamaan Perumpamaan merupakan bagian dari peribahasa yang berupa perbandingan, amzal, ibarat, atau persamaan, contoh bagai air di daun talas, bagai mencari jarum dalam jerami, dan lain-lain. (c) Ungkapan Ungkapan merupakan kelompok kata yang berisi kiasan, contoh Santi adalah bunga desa di kampung kita. 16

2.3.2 PEMBELAJARAN STRUKTUR Pengajaran struktur adalah salah satu aspek pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Materi pengajaran struktur antara lain, struktur kata, bentuk-bentuk kata, cara pembentukan kata, susunan kata dalam kelompok kata; dalam klausa; dan dalam kalimat, serta seluk beluk kalimat. Dalam struktur terkandung makna bahasa; aturan bahasa; atau tatabahasa. Tujuan pembelajaran struktur adalah untuk memberikan pemahaman pada siswa tentang struktur dasar bahasa agar dapat menerapkannya dalam kalimat baik lisan maupun tulis. Tugas guru dalam pembelajaran struktur memfasilitasi siswa agar:     Memahami konsep struktur dasar Bahasa Indonesia Mampu membentuk kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat Mampu menerapkan struktur bahasa dalam kalimat baik secara lisan maupun tulis Mampu menerapkan struktur bahasa tersebut dalam kegiatan

berbahasa/berkomunikasi Intinya, pembelarajaran mengenai struktur Bahasa Indonesia ini perlu difasilitasi bagi siswa jenjang SMP saat mereka berlatih keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Termasuk didalamnya pembelajaran yang berhubungan dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai kaidah yang berlaku.

2.4 FOKUS PENGUASAAN SUBSTANSI KESUSASTERAAN Sastra Indonesia merupakan salah satu khazanah budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Oleh karena itu, pengajaran sastra termasuk salah satu pokok bahasan yang termuat dalam kurikulum pembelajaran sekolah, baik jenjang dasar maupun lanjutan. Pembelajaran sastra tidak ditujukan pada penguasaan pengetahuan sastra atau sejarah, tetapi mengarah pada peningkatan kemampuan apresiasi sastra. Tujuan pembelajaran sastra difokuskan pada kemampuan 1) mengenal, memahami, menghayati, dan menikmati karya sastra; 2) menumbuhkan dan meningkatkan keberanian, kemauan, dan kreativitas siswa. Kedua kemampuan ini erat kaitannya dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Pembelajaran sastra ditekankan pada kegiatan melatih siswa agar peka terhadap nilai sastra. Kepekaan tersebut diperlukan siswa untuk mengambil saripati nilai-nilai sosial yang 17

terkandung dalam karya sastra, hikmah sastra, dan rasa cinta terhadap karya sastra. Pembelajaran sastra di SMP mencakup: a. Mitologi, dongeng, dan hikayat dari berbagai daerah, b. Cerita pendek c. Novel remaja (asli atau terjemahan) d. Puisi modern/lama yang sederhana, dan e. Drama Materi tersebut diarahkan pada kemampuan mengapresiasi sastra. Apresiasi adalah pengenalan terhadap tingkatan pada nilai-nilai yang lebih tinggi, artinya mampu menetapkan dengan tepat bahwa sesuatu itu baik, kurang baik, atau buruk. Kemampuan mengapresiasi berarti meningkatkan kemampuan memahami, menikmati, dan menilai suatu karya sastra. Kegiatan mengapresiasi karya sastra difasiliatasi pada saat berlatih keterampilan mendengarkan, berbicara, dan membaca. Pada latihan menulis siswa diarahkan untuk menguasai kemampuan membuat karya sastra, diantaranya menulis pantun, dongeng, puisi, naskah drama, dan cerita pendek. Berikut adalah ulasan singkat mengenai komponen-komponen sastra yang disajikan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia SMP. . 1. PUISI Puisi adalah karya sastra yang khas penggunaan bahasanya dan memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Pengalaman batin yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik. Dari segi bentuknya dikenal puisi terikat dan puisi bebas. Puisi lama termasuk pusi terikat. Pusi lama merupakan puisi yang diciptakan oleh masyarakat lama, seperti pantun, syair, gurindam dan soneta. Khusus untuk soneta termasuk puisi peralihan menuju puisi bebas atau puisi modern. Puisi bebas/modern dipopulerkan Angkatan 45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar. Puisi modern merupakan bentuk pengucapan puisi yang tidak menginginkan polapola estetika yang kaku atau patokan-patokan yang membelengu kebebasan jiwa penyair. Puisi sebagai suatu struktur makro keberadaannya terkait dengan penyair, konteks, gagasan, sistem tanda yang terwujud dalam bentuk teks yang menjadi sarana kontak dengan pembaca (penerima). Sedangkan puisi sebagai suatu struktur mikro, merupakan komponen yang membentuk puisi yakni (1) bunyi bahasa, (2) kata-kata atau diksi, dan (3) penggunaan gaya bahasa untuk menciptakan kontak dengan pembacanya. 18

2. Prosa Prosa merupakan jenis karya sastra yang memiliki ciri-ciri antara lain (1) bentuknya yang bersifat penguraian, (2) adanya satuan-satuan makna dalam wujud alinea-alinea, dan (3) penggunaan bahasa yang cenderung longgar. Prosa merupakan rangkaian peristiwa imajinatif yang diperankan oleh pelaku-pelaku cerita, dengan latar dan tahapan tertentu yang sering disebut dengan cerita rekaan. Sebagai cerita rekaan memiliki unsur-unsur seperti pengarang, isi cerita, bahasa dan anasir-anasir fiksi. Anasir-anasir fiksional cerita rekaan antara lain (a) tokoh dan penokohan, (b) alur, (c) latar, (d) tema dan amanat cerita, (e) sudut pandang, (f) gaya bahasa, dan (7) format cerita, yang semuanya saling berhubungan sehingga membentuk satu cerita yang utuh. Bentuk prosa menurut H.B.Yassin terdiri atas cepen, novel, dan roman. Cerpen adalah cerita fiksi yang habis dibaca dalam sekali duduk; novel adalah cerita iksi yang mengisahkan perjalanan hidup para tokohnya dengan segala lika-liku perjalanan dan perubahan nasibnya; sedangkan roman adalah cerita fiksi yang mengisahkan tokoh-

tokohnya sejak kanak-kanak hingga liang kubur. Jadi, panjang pendeknya cerita tidak dapat dijadikan patokan. Sebuah cerpen biasanya memiliki alur tunggal, pelaku terbatas (jumlahnya kecil), dan mencakup peristiwa yang terbatas pula. Kualitas tokoh dalam cerpen jarang dikembangkan secara penuh. Karena serba dibatasi, tokoh dalam cerpen biasanya langsung ditunjukkan karakternya melalui narasi, deskripsi, atau komentar. Rentang waktu pada cerpen tergolong pendek misalnya semalam, sehari, seminggu, sebulan, sebulan,setahun. Novel, memiliki durasi lebih panjang dibanding cerpen, sehingga memiliki peluang yang cukup untuk mengeksplorasi karater tokohnya dalam rentang waktu cukup panjang dan kronologi cerita bervariasi (ganda). Novel memungkinkan kita untuk menangkap perkembangan kejiwaan tokoh secara lebih komprehensif. Permasalahan yang diangkat pada novel umumnya lebih kompleks dan rumit bila dibandingkan dengan cerpen, biasanya meliputi hubungan antar manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam semesta, manusia dengan masyarakat, dan manusia dengan dirinya sendiri. 3. Drama Drama merupakan sejenis karangan/karya sastra yang dipertunjukkan dalam suatu tingkah laku, aksi, mimik, atau perbuatan. Di dalam drama dikenal adanya unsur penokohan, setting/latar, dan alur. Penokohan merupakan proses yang digunakan 19

pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh pelaku cerita serta sifat atau gambaran yang berkenaan dengannya. Latar adalah tempat suatu peristiwa dalam cerita yang bersifat fisikal biasanya berupa waktu, tempat, dan ruang. Sebuah karya sastra dibangun oleh unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri, seperti tokoh, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan lain-lain. Unsur-unsur ini harus ada karena akan menjadi kerangka dan isi bangunan sekaligus. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berasal dari luar karya sastra, misalnya sosial, budaya, ekonomi, politik, agama dan filsafat. Faktor ekstrinsik tidak menjadi penentu yang menggoyahkan karya sastra, tetapi bagi seorang pembaca atau apresiator, hal tersebut tetap penting untuk diketahui karena akan membantu pemahaman makna karya sastra mengingat tidak ada karya sastra yang lahir dari kekosongan budaya.

20

Lampiran: Contoh Pemetaan Materi Terkait pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas VII, Semester 1
Standar Kompetensi Mendengarkan 1. Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita Kompetensi Dasar 1.1 Menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat 1.2 Menuliskan kembali berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat ke MATERI TERKAIT penyimpulan, berita, kalimat

berita, kalimat

Berbicara 2. Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan menyampaikan pengumuman

2.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif 2.2 Menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan sederhana 3.1` Menemukan makna kata tertentu dalam kamus secara cepat dan tepat sesuai dengan konteks yang diinginkan melalui kegiatan membaca memindai 3.2 Menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata per menit 3.3 Membacakan berbagai teks perangkat upacara dengan intonasi yang tepat

bercerita, pengalaman, pilihan kata (Diksi), Kalimat Efektif

pengumuman, Intonasi, Kalimat Lugas.

Membaca 3. Memahami ragam teks nonsastra dengan berbagai cara membaca

makna kata, konteks, membaca, memindai

simpulan, membaca cepat.

perangkat upacara, intonasi

Menulis 4. Mengungkapkan pikiran dan pengalaman dalam buku harian dan surat pribadi

4.1 Menulis buku harian atau pengalaman pribadi dengan memperhatikan cara pengungkapan dan bahasa yang baik dan benar 4.2 Menulis surat pribadi dengan memperhatikan komposisi, isi, dan bahasa

menulis buku harian, kaidah berbahasa, EYD

surat pribadi, diksi, dan kaidah bahasa

21

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar 4.3 Menulis teks pengumuman dengan bahasa yang efektif, baik dan benar

MATERI TERKAIT teks pengumuman, sintaksis Bahasa Indonesia, EYD

Mendengarkan 5. Mengapresiasi dongeng yang diperdengarkan 5.1 Menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarkan 5.2 Menunjukkan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang Berbicara 6. Mengeskpresikan pikiran dan perasaan melalui kegiatan bercerita 6.1 Bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur, dan mimik yang tepat 6.2 Bercerita dengan alat peraga Membaca 7. Memahami isi berbagai teks bacaan sastra dengan membaca 7.1 Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca 7.2 Mengomentari buku cerita yang dibaca Menulis 8. Mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman melalui pantun dan dongeng 8.1 Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun 8.2 Menulis kembali dengan bahasa sendiri dongeng yang pernah dibaca atau didengar pantun, syarat pantun dongeng, apresiasi, gaya bahasa, improvisasi cerita anak komentar/tanggapan, jenis-jenis buku cerita cerita, lafal, intonasi, gestur, mimik dongeng

tema cerita, dongeng

cerita, teknik bercerita

22

Kelas VII, Semester 2 Standar Kompetensi Mendengarkan 9. Memahami wacana lisan melalui kegiatan wawancara 9.1 Menyimpulkan pikiran, pendapat, dan gagasan seorang tokoh/narasumber yang disampaikan dalam wawancara 9.2 Menuliskan dengan singkat hal-hal penting yang dikemukakan narasumber dalam wawancara Berbicara 10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita dan bertelepon Membaca 11. Memahami wacana tulis melalui kegiatan membaca intensif dan membaca memindai 11.1 Mengungkapkan hal-hal yang dapat diteladani dari buku biografi yang dibaca secara intensif 11.2 Menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca 1.1.3 Menemukan informasi secara cepat dari tabel/diagram yang dibaca Menulis 12. Mengungkapkan berbagai informasi dalam bentuk narasi dan pesan singkat 12.1 Mengubah teks wawancara menjadi narasi dengan memperhatikan cara penulisan kalimat langsung dan tak langsung 12. 2 Menulis pesan singkat sesuai dengan isi dengan menggunakan kalimat efektif dan bahasa yang santun teks wawancara, narasi, kalimat langsung, kalimat langsung 11.1.1 Telada, Biografi, Membaca Intensif. 10.1 Menceritakan tokoh idola dengan mengemukakan identitas dan keunggulan tokoh, serta alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang sesuai 10.2 Bertelepon dengan kalimat yang efektif dan bahasa yang santun simpulan,pikiran, pendapat, gagasan, narasumber, wawancara. Kompetensi Dasar

hal-hal penting, narasumber, wawancara

tokoh idola, identitas, penokohan, pilihan kata (diksi)

bertelepon, kalimat efektif, bahasa santun.

11.2.1 Gagasan Utama, Teks Informasi, tabel, diagram

pesan singkat, kalimat efektif, bahasa santun

23

Mendengarkan 13. Memahami pembacaan puisi

13.1 Menanggapi cara pembacaan puisi 13.2 Merefleksi isi puisi yang dibacakan

tanggapan, puisi refleksi, puisi

Berbicara 14. Mengungkapkan tanggapan terhadap pembacaan cerpen 14.1 Menanggapi cara pembacaan cerpen cerpen

14.2 Menjelaskan hubungan latar suatu cerpen (cerita pendek) dengan realitas sosial Membaca 15. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan buku cerita anak 15.1 Membaca indah puisi dengan menggunakan irama, volume suara, mimik, kinesik yang sesuai dengan isi puisi 15.2 Menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam buku cerita anak baik asli maupun terjemahan Menulis 16. Mengungkapkan keindahan alam dan pengalaman melalui kegiatan menulis kreatif puisi 16.1 Menulis kreatif puisi berkenaan dengan keindahan alam 16.2 Menulis kreatif puisi berkenaan dengan peristiwa yang pernah dialami

latar, cerpen, realitas

membaca indah, puisi, irama, volume, mimik, kinesik.

realitas hidup, cerita anak terjemahan/asli, refleksi

menulis kreatif, puisi, keindahan alam

menulis kreatif, puisi, peristiwa

24

Kelas VIII, Semester 1 Standar Kompetensi Mendengarkan 1. Memahami wacana lisan berbentuk laporan 1.1 Menganalisis laporan 1.2 Menanggapi isi laporan Berbicara 2. Mengungkap berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan 2.1 Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara 2.2 Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar Membaca 3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai, membaca cepat 3.1 Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi/buku telepon dengan membaca memindai 3.2 Menemukan tempat atau arah dalam konteks yang sebenarnya sesuai dengan yang tertera pada denah 3.3 Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit Menulis 4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, dan petunjuk 4.1 Menulis laporan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar Menulis surat dinas berkenaan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa baku Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan laporan, bahasa yang baik dan benar. informasi, ensiklopedi, buku telepon, membaca memindai wawancara, narasumber, etika. analisis laporan tanggapan, isi laporan Kompetensi Dasar MATERI TERKAIT

laporan, bahasa yang baik dan benar

konteks, denah

penyimpulan, teks, membaca cepat.

4.2

surat dinas, sistematika, bahasa baku.

4.3

menulis petunjuk, bahasa efektif.

25

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif

MATERI TERKAIT

Mendengarkan 5. Mengapresiasi pementasan drama 5.1 Menanggapi unsur pementasan drama 5.2 Mengevaluasi pemeran tokoh dalam pementasan drama Berbicara 6. Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bermain peran 6.1 Bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa 6.2 6.2 Bermain peran dengan cara improvisasi sesuai dengan kerangka naskah yang ditulis siswa Membaca 7. Memahami teks drama dan novel remaja 7.1 Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama 7.2 Membuat sinopsis novel remaja Indonesia Menulis 8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama 8.1 Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide 8.2 Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama menulis kreatif, naskah drama, ide identifikasi, unsur-unsur intrinsik, drama sinopsis, novel remaja bermain peran, naskah bermain peran, improvisasi, naskah, penyusunan naskah menanggapi (tanggapan), pentas, drama. evaluasi, Tokoh, Pentas, Drama

menulis kreatif, naskah drama,

26

Kelas VIII, Semester 2 Standar Kompetensi Mendengarkan 9 Memahami isi berita dari radio/televisi 9.1 Menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana) yang didengar dan atau ditonton melalui radio/televisi Mengemukakan kembali berita yang didengar/ ditonton melalui radio/televisi pokok-pokok berita, kata tanya, kalimat tanya Kompetensi Dasar MATERI TERKAIT

9.2

berita

Berbicara 10 Mengemukakan pikiran, persaan, dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler 10.1 Menyampaikan persetujuan, sanggahan, dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan 10.2 Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar, serta santun Membaca 11 Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca nyaring 11.1 Menemukan masalah utama dari beberapa berita yang bertopik sama melalui membaca ekstensif 11.2 Menemukan informasi untuk bahan diskusi melalui membaca intensif 11.3 Membacakan teks berita dengan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang jelas Menulis 12 Mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman, teks berita, slogan/poster 12.1 Menulis rangkuman isi buku ilmu pengetahuan populer 12.2 Menulis teks berita secara singkat, padat, dan jelas rangkuman, buku ilmu pengetahuan populer. masalah utama, berita yang bertopik, membaca ekstensif kalimat persetujuan, sanggahan, penolakan

acara, bahasa yang baik, benar dan santun.

informasi, diskusi, membaca intensif

teks verita, intonasi, artikulasi, volume

teks berita.

27

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar 12.3 Menulis slogan/poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi, serta persuasif

MATERI TERKAIT slogan, poster, pilihan kata, variasi kalimat, karangan persuasif

Mendengarkan 13 Memahami unsur intrinsik novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan 13.1 Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan 13.2 Menjelaskan tema dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan 13.3 Mendeskripsikan alur novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan Berbicara 14 Mengapresiasi kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) melalui kegiatan diskusi 14.1 Mengomentari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) 14.2 Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) Membaca 15 Memahami buku novel remaja (asli atau terjemahan) dan antologi puisi 15.1 Menjelaskan alur cerita, pelaku, dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) 15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi Menulis 16 Mengungkapkan pikiran, dan perasaan dalam puisi bebas 16.1 Menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai 16.2 Menulis puisi bebas dengan memperhatikan unsur persajakan puisi bebas, pilihan kata (diksi) alur cerita, pelaku cerita, latar novel komentar, kutipan, novel remaja asli, novel terjemahan. identifikasi, karakter tokoh, novel remaja.

tema, latar, novel remaja

deskripsi, alur, novel remaja

tanggapan, kutipan, novel remaja asli, novel terjemahan.

ciri-ciri puisi, buku antologi puisi

puisi bebas, unsur persajakan

28

Kelas IX, Semester 1 Standar Kompetensi Mendengarkan 1. Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi/siaran radio 1.1 Menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan televisi/siaran radio Mengomentari pendapat narasumber dalam dialog interaktif pada tayangan televisi/siaran radio tema, dialog interaktif , narasumber, Kompetensi Dasar MATERI TERKAIT

1.2

komentar, pendapat, narasumber, dialog interaktif, tayangan

Berbicara 2. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk komentar dan laporan 2.1 Mengkritik/memuji berbagai karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun 2.2 Melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas Membaca 3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca memindai 3.1 Membedakan antara fakta dan opini dalam teks iklan di surat kabar melalui kegiatan membaca intensif Menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat dari indeks buku melalui kegiatan membaca memindai fakta, opini/pendapat, teks, iklan, surat kabar, Membaca Intensif. informasi, indeks buku, membaca cepat, membaca memindai. kritik, pujian, karya seni, karya produk/pakai, bahasa lugas dan santun. laporan secara lisan, peristiwa, kalimat yang jelas

3.2

Menulis 4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan 4.1 Menulis iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas Meresensi buku pengetahuan Menyunting karangan dengan berpedoman padaketepatan ejaan, tanda baca, pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana menulis, iklan baris, bahasa singkat, padat dan jelas.

4.2 4.3

resensi, buku Pengetahuan identitas buku, kerangka resensi, menyunting, karangan, ejaan, tanda baca, pilihan kata, kalimat efektif, paragraf padu, kebulatan wacana.

29

Standar Kompetensi Mendengarkan 5. Memahami wacana sastra jenis syair melalui kegiatan mendengarkan syair

Kompetensi Dasar

MATERI TERKAIT

5.1 Menemukan tema dan pesan syair yang diperdengarkan 5.2 Menganalisis unsur-unsur syair yang diperdengarkan

tema, Pesan, Syair

analisis, unsur-unsur syair.

Berbicara 6. Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk yang lain 6.1 Menceritakan kembali secara lisan isi cerpen 6.2 Menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irama yang dibangun bercerita, cerpen puisi, musikalisasi, kesesuaian isi, suasana, irama

Membaca 7. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca buku kumpulan cerita pendek (cerpen) 7.1 Menemukan tema, latar, penokohan pada cerpencerpen dalam satu buku kumpulan cerpen tema, latar, penokohan, cerpen, buku kumpulan cerpen.

7.2 Menganalisis nilai-nilai kehidupan pada cerpencerpen dalam satu buku kumpulan cerpen

analisis, nilai-nilai kehidupan, cerpen, buku kumpulan cerpen.

Menulis 8. Mengungkapkan kembali pikiran, perasaan, dan pengalaman dalam cerita pendek 8.1 Menuliskan kembali dengan kalimat sendiri cerita pendek yang pernah dibaca penulisan kembali, kalimat sendiri, cerpen

8.2 Menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami

cerpen, peristiwa

30

Kelas IX, Semester 2 Standar Kompetensi Mendengarkan 9. Memahami isi pidato/khotbah/ceramah 9.1 Menyimpulkan pesan pidato/ceramah/khotbah yang didengar 9.1.1 Kesimpulan, Pesan, Pidato Kompetensi Dasar Materi Terkait

9.2 Memberi komentar tentang isi pidato/ceramah /khotbah Berbicara 10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam pidato dan diskusi 10.1 Berpidato/ berceramah/ berkhotbah dengan intonasi yang tepat dan artikulasi serta volume suara yang jelas 10.2 Menerapkan prinsip-prinsip diskusi Membaca 11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca cepat 11.1 Menemukan gagasan dari beberapa artikel dan buku melalui kegiatan membaca ekstensif 11.2 Mengubah sajian grafik, tabel, atau bagan menjadi uraian melalui kegiatan membaca intensif 11.3 Menyimpulkan gagasan utama suatu teks dengan membaca cepat  200 kata per menit Menulis 12. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karya ilmiah sederhana, teks pidato, surat pembaca 12.1 Menulis karya ilmiah sederhana dengan menggunakan berbagai sumber 12.2 Menulis teks pidato/ceramah/ khotbah dengan sistematika dan bahasa yang efektif

komentar/tanggapan,

berpidato, intonasi, artikulasi,

prinsip-prinsip diskusi

gagasan, artikel, membaca intensif

grafik, tabel, bagan, membaca intensif

gagasan utama, teks, membaca cepat

karya ilmiah sederhana, sumber-sumber karya ilmiah

teks pidato/ceramah/khotbah, sistematika penulisan, bahasa yang efektif

31

12.3 Menulis surat pembaca tentang lingkungan sekolah Mendengarkan 13. Memahami wacana sastra melalui kegiatan mendengarkan pembacaan kutipan/sinopsis novel 13.1 Menerangkan sifat-sifat tokoh dari kutipan novel yang dibacakan 13.2 Menjelaskan alur peristiwa dari suatu sinopsis novel yang dibacakan

langkah-langkah menulis surat pembaca

sifat-sifat tokoh, novel remaja

alur peristiwa, sinopsis novel

Berbicara 14. Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama 14.1Membahas pementasan drama yang ditulis siswa 14.2 Menilai pementasan drama yang dilakukan oleh siswa Membaca 15. Memahami novel dari berbagai angkatan 15.1 Mengidentifikasi kebiasaan, adat, etika yang terdapat dalam buku novel angkatan 20-30 an 15.2 Membandingkan karakteristik novel angkatan 20-30 an Menulis 16. Menulis naskah drama 16.1 menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang sudah dibaca 16.2 menulis naskah drama berdasarkan peristiwa nyata langkah-langkah menulis drama, cerpen remaja identifikasi kebiasaan, adat, etika, novel 20-30an penulisan drama, drama remaja syarat penilaian, pementasan drama

novel angkatan 20-30an, karakteristik novel

langkah-langkah menulis drama

32

III PENUTUP
6.1 Simpulan Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berfokus pada pembelajaran keterampilan semata, tetapi juga tetap harus disertai dengan pembelajaran kebahasaan dan kesusasteraan. Pembelajaran keterampilan diarahkan untuk mencapai keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan tersebut sangat berperan penting dalam kegiatan berkomunikasi. Kegiatan berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang dalam menguasai tata bahasa. Dapat menempatkan bahasa sesuai kebutuhan perlu dikuasai seorang pengguna bahasa, sehingga dapat terlihat kemampuannya dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar. Untuk lebih memperhalus nilai kebahasaan itu sendiri, perlu dikaji nilai-nilai sastra. Artinya, pembelajaran keterampilan berbahasa tidaklah lepas dari kebahasaan dan kesusasteraan. Untuk dapat menyajikan pembelajaran yang ideal, perlulah kiranya difahami dan dijabarkan materi-materi pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan fokus kajiannya.

6.2 Saran Pembahasan tentang pembelajaran Bahasa Indonesia jenjang SMP masih belum lengkap, banyak hal yang belum terkaji dengan detail dan rinci. Hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan tim penyusun baik waktu maupun referensi. Untuk itu, kami menyarankan agar pada kesempatan lain, kajian tentang pembelajaran Bahasa Indonesia jenjang SMP ini dapat dikaji lebih mendalam dan rinci, agar dapat menjadi bahan yang bermanfaat, khususnya bagi guru umumnya bagi siapa saja yang ingin mengembangkan keterampilan berbahasa. Selanjutnya, disarankan pada para guru agar lebih giat lagi mengkaji hal-hal penting yang terkait dengan pembelajaran Bahasa Indonesia jenjang SMP. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran yang difasilitasi dapat mencapai target yang diharapkan. Siswa dapat memiliki keterampilan berbahasa yang baik dan benar, baik lisan maupun tulisan.

33

D aftar Pustaka
Akhadiah, Sabarti. dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta. Penerbit Erlangga. Mulyati, Yeti. 2008. Bahasa Indonesia. Jakarta. Penerbit Universitas Terbuka. Samsuri. 1994. Analisis Bahasa. Penerbit Erlangga, Jakarta. Soedarso. 2005. Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Suparno & Yunus, Ahmad. 2008. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta. Penerbit Universitas Terbuka.

34

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->