P. 1
Bahan Ajar Konten Uji Kompetensi IPA

Bahan Ajar Konten Uji Kompetensi IPA

|Views: 657|Likes:
Published by Misterheri Piwan
Pendidikan sains atau IPA pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta didik untuk memahami hakikat sains (proses dan produk serta aplikasinya) mengembangkan sikap ingin tahu, keteguhan hati, dan ketekunan, serta sadar akan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat serta terjadi pengembangan ke arah sikap yang positif.
Pendidikan sains atau IPA pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta didik untuk memahami hakikat sains (proses dan produk serta aplikasinya) mengembangkan sikap ingin tahu, keteguhan hati, dan ketekunan, serta sadar akan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat serta terjadi pengembangan ke arah sikap yang positif.

More info:

Published by: Misterheri Piwan on Jun 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

BAHAN AJAR

DIKLAT TINDAK LANJUT HASIL UJI KOMPETENSI GURU SMP

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Penyusun : R. AHMAD HADIAN ADHY PERMANA ANISAH IMANAH LELA FONI SULISTYOWATI TATANG SUHARTA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) PROVINSI BANTEN
Jalan Siliwangi 208 Rangkasbitung Lebak Banten 201 2 i

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN ..................................................................... A. HAKIKAT PENDIDIKAN IPA ……………………………….. B. PERENCANAAN PEMBELAJARAN ……………………….

1 1 2 3 5 5 5

BAB II BAB III

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN IPA DI SMP ……………. PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN ………………………… A. MENGKAJI KOMPETENSI …………………………………. B. MENGIDENTIFIKASI MATERI PELAJARAN ……………… D. PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN

C. MENENTUKAN SUMBER BELAJAR .................................. 6 PEMBELAJARAN ................................................................ 6 BAB IV PENYUSUNAN LEMBAR KERJA SISWA …………………….. A. BENTUK-BENTUK LKS ..................................................... B. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN LKS ...................... BAB V PENGEMBANGAN PERANGKAT PENILAIAN ………………. A. PENILAIAN RANAH KOGNITIF ......................................... B. PENILAIAN RANAH AFEKTIF ........................................... C. PENILAIAN RANAH PSIKOMOTOR ................................. BAB VI CONTOH PERANGKAT PEMBELAJARAN ........................... DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 16 16 19 21 21 28 37 45 64

i

BAB I PENDAHULUAN

A. Hakikat Pendidikan IPA Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Pendidikan sains atau IPA pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta didik untuk memahami hakikat sains (proses dan produk serta aplikasinya) mengembangkan sikap ingin tahu, keteguhan hati, dan ketekunan, serta sadar akan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat serta terjadi pengembangan ke arah sikap yang positif. Selain itu, pendidikan IPA adalah suatu upaya atau proses untuk membelajarkan siswa untuk memahami hakikat IPA: produk, proses, dan mengembangkan sikap ilmiah serta sadar akan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat untuk pengembangan sikap dan tindakan berupa aplikasi IPA yang positif. Tujuan pendidikan sains dewasa ini mencakup lima dimensi, yaitu dimensi:

1)

Pengetahuan dan pemahaman (scientific information) Dimensi ini mencakup belajar informasi spesifik seperti: fakta, konsep, teori, hukum dan penyelidikan pengetahuan sejarah sains.

2) Penggalian dan penemuan (exploring and discovering; scientific processes)
Dimensi ini beruhubungan dengan penggunaan proses-proses IPA untuk mempelajari bagaimana ahli IPA bekerja dan berpikir. Keterampilan yang harus diajarkan mencakup: mengamati, mendeskripsikan, berhipotesis, mengklasifikasi menguji hipotesis, dan mengorganisasikan, data, mengkomunikasikan, menginterpretasikan

penggunaan keterampilan psikomotor, dan lain-lain. 3) Imaginasi dan kreativitas

1

Dimensi ini berhubungan dengan kemampuan memvisualisasikan atau menghasilkan gambaran mental, mengkombinasikan objek dan gagasan dengan cara-cara baru, memecahkan masalah dan teka-teki, menghasilkan ide/gagasan yang tidak biasa. 4) Sikap dan nilai Pengembangan kepekaan dan penghargaan kepada orang lain. Mengekspresikan perasaan dengan cara yang konstruktif. Mengambil keputusan dengan didasari oleh nilai-nilai individu, sosial, dan isu-isu lingkungan.

5) Penerapan
Mampu mengidentifikasi hubungan konsep ipa dalam penggunaannya dengan kehidupan sehari-hari; memahami prinsip-prinsip ilmiah dan teknologi yang bekerja pada alat-alat rumah tangga; memahami dan menilai laporan-laporan perkembangan ilmiah yang ditulis pada mass media. (Sumber: A new Taxsonomy of Science Education) B. Perencanaan Pembelajaran Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) menyatakan setiap satuan pendidikan secara bertahap harus melaksanakan pengelolaan penyelenggaraan pendidikan. SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh Indonesia. Peraturan tersebut memberikan arahan tentang delapan standar nasional pendidikan, yang meliputi: (a) standar isi; (b) standar proses; (c) standar kompetensi lulusan (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (e). standar sarana dan prasarana; (f) standar pengelolaan; (g) standar pembiayaan; dan (h) standar penilaian pendidikan. Berkaitan dengan standar proses, diisyaratkan bahwa guru diharapkan dapat mengembangkan perencanaan pembelajaran. Hal tersebut kemudian dipertegas melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang merupakan salah satu perangkat pembelajaran. Guru berkewajiban menyusun perangkat pembelajaran, yang antara lain meliputi silabus dan RPP. Perangkat pembelajaran tersebut perlu disusun secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Perangkat pembelajaran akan efektif ketika dirancang sesuai dengan kondisi siswa, sekolah, dan kompetensi yang akan dicapai. Perancangan perangkat pembelajaran memerlukan pemahaman tentang penyusunan silabus dan RPP, selain perangkat pembelajaran lainnya. Keterampilan yang perlu dikuasai dalam menyusun silabus dan RPP adalah kemampuan menganalisis 2

hubungan standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator, menentukan alur pembelajaran berdasarkan sistematika keilmuan dan membuat penilaian sesuai dengan indikator hasil belajar. Proses pengembangan pembelajaran tersebut akan dijelaskan lebih lanjut dalam modul ini.

BAB II IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN IPA DI SMP
Berdasarkan Standar Isi, tujuan diterapkannya mata pelajaran IPA di SMP adalah:
1) Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan

keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya. 2) Mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran terhadap adanya

hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
4) Melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan

bertindak ilmiah serta berkomunikasi.
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan

melestarikan lingkungan serta sumber daya alam.
6) Meningkatkan kesadaran menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah

satu ciptaan Tuhan. 7) Meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pembelajaran IPA diterapkan dengan strategi yang sesuai. Strategi-strategi yang sesuai umumnya telah diketahui para pendidik dan seharusnya diterapkan dengan baik. Salah satu strategi yang dianggap baik untuk membelajarkan IPA adalah menerapkan kegiatan pembelajaran inkuiri ilmiah. Berbagai konsep tentang inkuiri ilmiah ini telah dikemukakan oleh para ahli, mulai dari perencanaannya sampai dampak yang akan terjadi jika pembelajaran tersebut diterapkan. Menurut Joice dan Weil, model pembelajaran inkuiri terdiri atas lima tahapan kegiatan, yaitu penyajian masalah (confrontation with problem), pengumpulan-verifikasi data (data gathering-verification), pengumpulan-eksperimentasi data (data gatheringexperimentation), organisasi, formulasi, dan penjelasan (organizing, formulating, and axplanation), serta analisis proses inkuiri (analysis of the inquiry process). Setiap tahap

3

saling terkait dan seharusnya dilaksanakan secara lengkap untuk mendapat pengalaman belajar yang menyeluruh. Tahapan pembelajarannya secara umum adalah sebagai berikut: 1) Tahap penyajian masalah Guru memberikan masalah yang harus diselesaikan oleh siswa atau kelompok siswa. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memotivasi siswa untuk mengumpulkan informasi. Strategi yang dipakai didasarkan pada masalah-masalah yang sederhana. Penyajian masalah seperti itu merupakan ciri khas inkuiri terbimbing. 2) Tahap pengumpulan dan verifikasi data Tahapan ini merupakan tahapan siswa untuk mengumpulkan data (informasi) sebanyak mungkin. Data diperoleh dari berbagai sumber, antara lain melalui pengamatan, membaca literatur, atau pengalaman siswa. Data yang diperoleh kemudian diverifikasi bersama guru. Pada tahapan ini, dimuculkan pertanyaan-pertanyaan untuk membimbing siswa dalam mencari data atau informasi. 3) Melakukan pengumpulan-eksperimentasi data Kegiatan eksperimen dilakukan untuk menguji suatu teori atau hipotesis yang terkait dengan permasalahan di atas, didukung dengan data-data yang telah dicari sebelumnya. Selain eksperimen, kegiatan lain dapat berupa eksplorasi ke lingkungan secara langsung. Pada tahapan pengumpulan data berupa eksplorasi atau eksperimen, kegiatan siswa juga dibimbing dengan berbagai pertanyaan, bukan instruksi. 4) Merumuskan penjelasan Guru mengajak siswa untuk merumuskan penjelasan dari hasil pengumpulan data pada tahap tiga. Merumuskan penjelasan didasarkan pada hasil analisis data dan diskusi terhadap hasil-hasil yang diperoleh. Kegiatan ini terutama untuk membimbing siswa menyelesaikan masalah secara terarah. Merumuskan penjelasan dapat dimulai dari penjelasan yang sederhana, kurang rinci, sampai tingkat penjelasan yang rinci. 5) Mengadakan analisis terhadap proses inkuiri Tahap akhir ini dilakukan untuk menganalisis proses inkuiri yang telah dilakukan siswa. Siswa akan mendapatkan informasi mengenai kegiatan yang telah mereka lakukan untuk melengkapi pengetahuan mereka tentang materi yang telah dipelajari. Siswa juga mendapat kesempatan untuk memperbaiki proses inkuiri yang dilakukan, seperti membuat pertanyaan atau merumuskan penjelasan. Tahapan-tahapan pembelajaran inkuiri tersebut dapat diadaptasi untuk kemudian diterapkan dalam pembelajaran sesuai dengan standar proses. Pengadaptasian dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing kelas dan tentunya sesuai dengan komptensi yang ingin dicapai.

4

BAB III PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN
A. Mengkaji Kompetensi Standar Nasional Pendidikan mengemukakan tiga istilah yang terkait dengan kompetensi, yaitu standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi (SK), dan kompetensi dasar (KD). Ketiga istilah tersebut mempunyai rumusan yang masing-masing berbeda. Selain itu, proses pencapaian masing-masing juga berbeda, kompetensi lulusan dicapai pada saat siswa lulus dari sekolah, standar kompetensi dicapai setelah memenuhi kompetensi-kompetensi dasarnya, dan kompetensi dasar akan dapat dicapai jika telah menyelesaikan satu tahapan pembelajaran. Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada mata pelajaran tertentu. Standar Kompetensi diambil dari Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) Mata Pelajaran. Sebelum menuliskan Standar Kompetensi, terlebih dahulu mengkaji Standar Isi mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut: a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau SK dan KD; b. keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran; c. keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran. Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik dalam rangka menguasai SK mata pelajaran tertentu. Kompetensi dasar dipilih dari yang tercantum dalam Standar Isi. Sebelum menentukan atau memilih Kompetensi Dasar, penyusun terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan Kompetensi Dasar; b. keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran; c. keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran. B. Mengidentifikasi Materi Mata Pelajaran Perkembangan ilmu pengetahuan mempengaruhi materi pelajaran yang dipelajari siswa di sekolah. Materi pelajaran yang dipilih harus diperhatikan dengan seksama keluasan dan kedalamannya. Berdasarkan pedoman dari BSNP, dalam mengidentifikasi materi pokok harus mempertimbangkan:

5

a) relevansi materi pokok dengan SK dan KD; b) tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik; c) kebermanfaatan bagi peserta didik; d) struktur keilmuan; e) kedalaman dan keluasan materi; f) relevansi dengan kebutuhan peseta didik dan tuntutan lingkungan; g) alokasi waktu. Selain itu juga harus memperhatikan: a) kesahihan (validity): materi memang benar-benar teruji kebenaran dan kesahihannya; b) tingkat kepentingan (significance): materi yang diajarkan memang benar-benar diperlukan oleh siswa; c) kebermanfaatan (utility): materi tersebut memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan pada jenjang berikutnya; d) layak dipelajari (learnability): materi layak dipelajari baik dari aspek tingkat kesulitan maupun aspek pemanfaatan bahan ajar dan kondisi setempat; e) menarik minat (interest): materinya menarik minat siswa dan memotivasinya untuk mempelajari lebih lanjut. Tindak lanjut dari kegiatan mengidentifikasi materi ini adalah mengembangkan bahan ajar yang sesuai untuk mencapai suatu kompetensi. C. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat berupa: buku teks, media cetak, media elektronika, nara sumber, lingkungan alam sekitar, dan sebagainya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Selain itu pemanfaatan sumber belajar juga perlu memperhatikan kondisi sekolah dan siswa. D. Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran a. Tujuan Pembelajaran Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang

6

dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan. Tujuan merupakan output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran. Misalnya pada kegiatan pembelajaran: Menentukan bahan alam yang dapat digunakan sebagai indikator alam. Contoh tujuannya adalah: Setelah mengikuti pembelajaran ini siswa dapat: 1) menganalisis warna-warna indicator alam dalam suasana asam dan basa melalui percobaan 2) menentukan macam-macam tumbuhan yang dapat digunakan sebagai indikator asam-basa berdasarkan percobaan. 3) memilih indikator alam yang paling baik digunakan untuk menguji sifat larutan asam basa. b. Indikator Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar dan merupakan subkompetensi dasar. Indikator dirumuskan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan atau dapat diobservasi, sebagai acuan penilaian. Dengan demikian indikator pencapaian kompetensi mengarah pada indikator penilaian. Indikator di dalam silabus harus dikembangkan oleh guru dari suatu kompetensi dasar (KD). Uraian berikut menjelaskan pengertian indikator dan kata-kata kerja operasional pada indikator. 1) Pengertian Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan: a) tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD; b) karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah; c) potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.

7

Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu: a) Indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; b) Indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal sebagai indikator soal. Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi. 2) Fungsi Indikator Indikator memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan pencapaian kompetensi berdasarkan SK-KD. Indikator berfungsi sebagai berikut: a) Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran Pengembangan materi pembelajaran harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan materi pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan. b) Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan indicator yang dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran kegiatan pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang menuntut kompetensi dominan pada aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori melainkan lebih tepat dengan strategi discovery-inquiry. c) Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar Bahan ajar perlu dikembangkan oleh guru guna menunjang pencapaian kompetensi peserta didik. Pemilihan bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan indikator sehingga dapat meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal. d) Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar Indikator menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi hasil belajar, Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan jenis penilaian, serta pengembangan indicator penilaian. Pengembangan indikator penilaian harus mengacu pada indicator pencapaian yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan SK dan KD. 8

3) Mekanisme Pengembangan Indikator Dalam pengembangan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) Menganalisis Kompetensi Dasar Langkah pertama pengembangan indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar minimal tersebut. Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang digunakan dalam SK dan KD. Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi yang diinginkan. Salah satu bentuk klasifikasi tingkat kompetensi yang berdasarkan kata kerja yang digunakan disajikan dalam tabel di bawah ini . Tabel Tingkat Kompetensi Kata Kerja Operasional No. 1 Klasifikasi Tingkat Kompetensi Berhubungan dengan mencari keterangan (dealing with retrieval) Kata Kerja Operasional yang Digunakan 1. Mendeskripsikan (describe) 2. Menyebutkan kembali (recall) 3. Melengkapi (complete) 4. Mendaftar (list) 5. Mendefinisikan (define) 6. Menghitung (count) 7. Mengidentifikasi (identify) 8. Menceritakan (recite) 2 Memproses (processing) 9. Menamai (name) 1. Mensintesis (synthesize) 2. Mengelompokkan (group) 3. Menjelaskan (explain) 4. Mengorganisasikan (organize) 5. Meneliti/melakukan eksperimen (experiment) 6. Menganalogikan (make analogies) 7. Mengurutkan (sequence) 8. Mengkategorikan (categorize) 9. Menganalisis (analyze) Tingkat Kompetensi dalam Standar Kompetensi dan

9

10. 11. 12. 13. 14. 3 Menerapkan dan mengevaluasi

Membandingkan (compare) Mengklasifikasi (classify) Menghubungkan (relate) Membedakan (distinguish) Mengungkapkan sebab (state

causality) 1. Menerapkan suatu prinsip (applying a principle) 2. Membuat model (model building) 3. Mengevaluasi (evaluating) 4. Merencanakan (planning) 5. Memperhitungkan/meramalkan kemungkinan (extrapolating) 6. Memprediksi (predicting) 7. Menduga/Mengemukakan pendapat/mengambil kesimpulan (inferring) 8. Meramalkan kejadian alam/sesuatu (forecasting) 9. Menggeneralisasikan (generalizing) 10. 11. 12. 13. 14. Mempertimbangkan/memikirkan kemungkinan Membayangkan/mengkhayalkan/mengimajinas Merancang (designing) Menciptakan (creating) Menduga/membuat dugaan/ kesimpulan awal kemungkinan (speculating) ikan (imagining)

(hypothezing) b) Merumuskan Indikator Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi dua indikator Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam

kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat

kompetensi dan materi pembelajaran.

10

-

Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga

menggunakan kata kerja operasional yang sesuai. Contoh kata kerja yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran tersaji dalam lampiran 1. Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indicator penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotorik. c) Mengembangkan Indikator Penilaian Indikator penilaian merupakan pengembangan lebih lanjut dari indicator (indikator pencapaian kompetensi). Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan pedoman penilaian bagi guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah. Dengan demikian indikator penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses dengan mudah oleh warga sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes dan non-tes harus sesuai dengan indikator penilaian. Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan dengan indikator (indikator pencapaian kompetensi). Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal, lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian diri. Pengembangan indikator dapat menggunakan format seperti contoh berikut: Kompetensi Dasar 3.3. Membandingkan molekul senyawa Indikator Menjelaskan pengertian senyawa Menentukan rumus kimia dari molekul unsur dan molekul senyawa c. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Kegiatan pembelajaran memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Indikator Penilaian Disajikan empat macam gambar benda yang berbeda sifatnya, siswa dapat menentukan satu benda yang yang bersifat tahan api.

molekul unsur dan molekul unsur dan molekul

11

Kriteria mengembangkan kegiatan pembelajaran sebagai berikut: 1) Kegiatan pembelajaran disusun bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembelajaran secara profesional sesuai dengan tuntutan kurikulum. 2) Kegiatan pembelajaran disusun berdasarkan atas satu tuntutan kompetensi dasar secara utuh. 3) Pengalaman belajar memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar. 4) Kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Guru harus selalu berpikir kegiatan apa yang bisa dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang telah ditetapkan. 5) Materi kegiatan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan. 6) Perumusan kegiatan pembelajaran harus jelas memuat materi yang harus dikuasai untuk mencapai Kompetensi Dasar. 7) Penentuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi KD-KD yang memerlukan prasyarat tertentu. 8) Pembelajaran bersifat spiral (terjadi pengulangan-pengulangan pembelajaran materi tertentu). 9) Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan kegiatan pembelajaran siswa, yaitu kegiatan dan objek belajar. Dalam pemilihan kegiatan siswa, hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: 1) memberikan peluang bagi siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan sendiri pengetahuan, di bawah bimbingan guru; 2) mencerminkan ciri khas dalam pegembangan kemampuan mata pelajaran; 3) disesuaikan dengan kemampuan siswa, sumber belajar dan sarana yang tersedia 4) bervariasi dengan mengkombinasikan kegiatan individu/perorangan, berpasangan, kelompok, dan klasikal. 5) memperhatikan pelayanan terhadap perbedaan individual siswa seperti: bakat, minat, kemampuan, latar belakang keluarga, sosial ekomomi, dan budaya, serta masalah khusus yang dihadapi siswa yang bersangkutan.

12

Pemilihan metode, model, atau dengan kata lain kegiatan belajar siswa harus sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dan materi yang ingin disampaikan ke siswa atau sesuai tujuan pembelajaran IPA. Salah satu tujuan mata pelajaran IPA di SMP adalah agar peserta didik mampu melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap, dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya diperlukan pengalaman belajar yang sesuai, yaitu dengan pembelajaran latihan inkuiri atau inkuiri terbimbing. Pembelajaran inkuiri tersebut dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti praktikum, percobaan, demonstrasi, observasi lingkungan, dan lain-lain. d. Tahapan Pembelajaran Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan Pendahuluan  Orientasi Memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang akan dibelajarkan, dengan cara menunjukkan benda yang menarik, memberikan illustrasi, membaca berita di surat kabar, menampilkan slide animasi dan sebagainya.  Apersepsi Memberikan persepsi awal kepada peserta didik tentang materi yang akan diajarkan.  Motivasi Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari gempa bumi, bidang-bidang pekerjaan berkaitan dengan gempa bumi, dsb.  Pemberian Acuan Biasanya berkaitan dengan kajian ilmu yang akan dipelajari. Acuan dapat berupa penjelasan materi pokok dan uraian materi pelajaran secara garis besar.

 Pembagian kelompok belajar dan penjelasan mekanisme pelaksanaan
pengalaman belajar (sesuai dengan rencana langkah-langkah pembelajaran). 2) Kegiatan Inti Berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui peserta didik untuk dapat mengkonstruksi ilmu sesuai dengan skemata (frame work) masing-masing. Langkah-

13

langkah tersebut disusun sedemikian rupaagar peserta didik dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagaimana dituangkan pada tujuan pembelajaran dan indikator. Untuk memudahkan, biasanya kegiatan inti dilengkapi dengan Lembaran Kerja Siswa (LKS), baik yang berjenis cetak atau noncetak. Khusus untuk pembelajaran berbasis ICT yang online dengan koneksi internet, langkah-langkah kerja peserta didik harus dirumuskan detil mengenai waktu akses dan alamat website yang jelas. Termasuk alternatif yang harus ditempuh jika koneksi mengalami kegagalan. Pada Standar Proses (Permendiknas No. 41), Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Maka pada RPP ketiga proses ini sebaiknya diungkapkan dalam tulisan. Contoh kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi adalah: a) Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi, guru: - melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber; - menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain; - memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; - melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan - memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan. b) Elaborasi membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; Dalarn kegiatan elaborasi, guru:

-

tugas-tugas tertentu yang bermakna; untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;

14

c)

memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan kreasi; kerja individual memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan Konfirmasi memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan

prestasi belajar; baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; maupun kelompok; produk yang dihasilkan; kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik. Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

-

isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik, didik melalui berbagai sumber, pengalaman belajar yang telah dilakukan, dalam mencapai kompetensi dasar peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;

3)

membantu menyelesaikan masalah; memberi acuan agar peserta didik dapatmelakukan pengecekan hasil memberi informasi untuk bereksplorasi Iebih jauh; memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum Kegiatan penutup -Guru mengarahkan peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan. -Guru memeriksa hasil belajar peserta didik. Dapat dengan memberikan tes tertulis atau tes lisan atau meminta peserta didik untuk mengulang kembali simpulan yang telah disusun atau dalam bentuk tanya jawab dengan mengambil ± 25% peserta didik sebagai sampelnya.

eksplorasi;

berpartisipasi aktif.

15

-Memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remidial/pengayaan.

Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

BAB IV PENYUSUNAN LEMBAR KERJA SISWA

Lembar kegiatan siswa (LKS) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk dan langkahlangkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Lembar kegiatan untuk mata pelajaran IPA harus disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran IPA, salah satu pendekatan yang disarankan yaitu pendekatan keterampilan proses. Untuk pembuatan LKS baik untuk eksperimen maupun non-eksperimen, ada dua hal yang harus dikerjakan guru dalam mengembangkan keterampilan proses, yaitu mengikuti langkah-langkah penyusunan LKS dan memperhatikan aturan-aturan penyusunan LKS sebagai media hands-out pembelajaran. A. Bentuk-bentuk LKS Ada dua jenis bentuk LKS untuk pembelajaran IPA yakni LKS untuk eksperimen dan LKS non eksperimen atau lembar kerja diskusi. a. LKS Eksperimen LKS untuk eksperimen berupa lembar kerja yang memuat petunjuk praktikum yang menggunakan alat-alat dan bahan-bahan. Sistimatika LKS umumnya terdiri dari judul, pengantar, tujuan, alat bahan, langkah kerja, kolom pengamatan, pertanyaan. Uraian masing-masing komponen adalah sbb: 1) Pengantar, pengantar LKS berisi uraian singkat yang mengetengahkan bahan pelajaran (berupa konsep-konsep IPA) yang dicakup dalam kegiatan/praktikum. 2) Tujuan, memuat tujuan yang berkaitan dengan permasalahan yang diungkapkan di pengantar.

16

3) Alat dan bahan, memuat alat dan bahan yang diperlukan. 4) Langkah kegiatan, merupakan instruksi untuk melakukan kegiatan. Untuk mempermudah siswa melakukan praktikum, langkah kerja ini dibuat secara sistimatis. Bila perlu menggunakan nomor urut dan menambah tampilkan sketsa gambar. 5) Tabel Pengamatan, dapat berupa tabel-tabel data untuk mencatat data hasil pengamatan yang diperoleh dari praktikum. 6) Pertanyaan berupa pertanyaan yang jawabannya dapat membantu siswa untuk mendapatkan konsep yang dikembangkan atau untuk mendapatkan kesimpulkan. b. LKS non eksperimen LKS non eksperimen berupa lembar kegiatan yang memuat teks yang menuntun siswa melakukan kegiatan diskusi suatu materi pembelajaran. Kegiatan menggunakan lembar kegiatan ini dikenal dengan istilah DART. D.A.R.T dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang berhubungan langsung dengan teks atau wacana. Ada dua jenis D.A.R.T yaitu model reconstruction dan model analysis. 1) Bentuk LKS Reconstruction D.A.R.T Bentuk LKS ini dapat berupa Text Completion, Diagram Completion, Table Completion, Prediction, Diagram Cut and Paste, Scramble dan Tranlation • Text Completion (melengkapi teks) Pada bentuk LKS untuk kegiatan melengkapi teks harus disajikan teks sains atau wacana yang berisi konsep-konsep sains. Pada bagian-bagian tertentu dari teks dikosongkan untuk diisi oleh siswa sehingga menghasilkan teks sains yang bermakna. • Diagram Completion (melengkapi diagram atau menyempurnakan gambar) Pada bentuk LKS ini disajikan gambar yang belum lengkap, kemudian siswa melengkapinya baik oleh tanda panah, tulisan atau gambar. Gambar atau diagram harus jelas sehingga memudahkan siswa untuk melengkapinya. • Tabel Completion (melengkapi tabel) Pada bentuk LKS ini disajikan tabel yang belum lengkap, dan data-data yang akan dimasukan kedalam tabel. Selanjutnya ada perintah agar siswa mengisi tabel dengan data-data yang ada sesuai dengan konsep yang sesuai dengan topiknya. • Prediction (meramalkan)

17

Pada LKS ini disajikan beberapa fakta atau kejadian misalnya dalam bentuk gambar. Selain itu tertera pertanyaan-pertanyaan yang memancing siswa untuk melakukan keterampilan prediksi. • Completion Activites with disordered text (menyempurnakan teks yang tidak teratur)

• Diagram Cut and Paste (Potong dan Tempel Gambar) Pada LKS ini disajikan beberapa bentuk potongan berisi gambar atau tulisan dan ada perintah yang mengajak siswa untuk memotongnya kemudian menyusun kembali sesuai dengan konsep yang ditanyakan. Agar potonganpotongan menjadi susunan yang bermakna dapat disajikan suatu bagan yang dapat membantu siswa menemukan konsep yang sedang dipelajari. • Scramble (Mengacak) Pada LKS bentuk ini disajikan beberapa kata atau huruf acak, selanjutnya ada instruksi agar siswa menyusun kata-kata atau huruf-huruf tersebut menjadi suatu yang bermakna. Huruf atau kata-kata sebaiknya ditempatkan dalam suatu kotak atau lingkaran dan sajian yang menarik. Selain itu ada intruksi agar siswa menyusun huruf-huruf menjadi kata-kata,sedangkan kata-kata menjadi suatu kalimat. 2) Bentuk LKS Analysis D.A.R.T. Pada bentuk ini kegiatan siswa dapat berupa Text Marking Labelling dan Recording. Bentuk LKS Text Marking Labelling dapat berupa Underlaying dan Labelling. • Underlaying (Menggaris bawahi) Pada LKS bentuk ini disajikan suatu teks. Selanjutnya tertera perintah agar siswa membaca teks dan memberi garis bawah pada kata-kata penting atau kata kunci. Setelah memberi garis bawah pada kunci selanjutnya siswa dapat diarahkan untuk mengembangkan kata-kata kunci yang didapat menjadi suatu teks lain atau bagan. • Labelling (Memberi label) Pada LKS bentuk ini dapat disajikan gambar-gambar yang tidak memiliki nama dan label-label yang sesuai dengan gambar-gambar. Selanjutnya ditulis instruksi yang meminta siswa untuk memberikan label pada gambar-gambar yang belum memiliki nama tetapi harus sesuai dengan konsep atau materinya.

18

• Segmenting (Memotong/menggolongkan) Pada LKS bentuk ini disajikan suatu teks atau kumpulan gambar. Selanjutnya tertera perintah agar siswa memotong atau menggolongkan teks atau gambar yang sejenis. Setelah itu kegiatan dapat dikembangkan lagi misalnya hasil potongan disusun kembali menjadi suatu teks atau susunan gambar yang bermakna. • Bentuk LKS Recording dapat berupa Diagramatic Representation, Tabulator, Question dan Summary. • Diagramatic Representation (Membuat Diagram) Pada LKS bentuk ini disajikan instruksi yang mengajak siswa membuat diagram dalam bentuk gambar, grafik, diagram alur proses atau bagan. Agar diagram yang yang terbentuk sesuai dengan konsep yang diminta, pada LKS diberikan data atau komponen-komponen diagram. • Tabulator (Membuat Daftar yang tersusun) Pada LKS bentuk ini disajikan data suatu konsep yang tidak teratur, biasanya data dalam bentuk kuantitatif. Selanjutnya ada instruksi yang mengarahkan siswa agar membuat tabulator dengan terarah. • Question (Membuat pertanyaan-pertanyan) Pada LKS ini disajikan suatu teks atau wacana, dan intruksi yang meminta siswa untuk membuat pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya dapat diambil dari teks yang tersedia. • Summary (Membuat rangkuman) Pada LKS bentuk ini disajikan suatu teks atau wacana dan instruksi yang meminta siswa untuk membuat rangkuman dari teks yang tersedia. Pada LKS ini harus disediakan tempat kosong untuk rangkuman yang dibuat siswa. Selain bentuk D.A.R.T di atas ada LKS yang berupa kuis seperti ‘’teka-teki silang’’ dan ‘’words square’’. LKS ini biasa digunakan untuk memotivasi siswa dalam belajar terutama dalam melatih berpikir cepat. Pada kegiatan yang menggunakan LKS ini guru dapat memberi hadiah untuk pemenang kuis. B. Langkah- langkah penyusunan LKS Untuk mengembangkan LKS ada langkah-langkah yang dapat diikuti yaitu: a. Mengkaji materi yang akan dipelajari siswa yaitu dari kompetensi dasar, indikator hasil belajarnya dan sistimatika keilmuannya

19

b. Mengidentifikasi jenis keterampilan proses yang akan dikembangkan pada saat mempelajari materi tersebut c. Menentukan bentuk LKS yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan d. Merancang kegiatan yang akan ditampilkan pada LKS sesuai dengan keterampilan proses yang akan dikembangkan e. Mengubah rancangan menjadi LKS dengan tata letak yang menarik, mudah dibaca dan digunakan f. Menguji coba LKS apakah sudah dapat digunakan siswa untuk melihat kekurangankekurangannya g. Merevisi kembali LKS Hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam pembuatan LKS di antaranya: a. Dari segi penyajian materi yaitu: • • • • • • • • • • Judul LKS harus sesuai dengan materinya Materi sesuai dengan perkembangan anak Materi disajikan secara sistimatis dan logis Materi disajikan secara sederhana dan jelas Menunjang keterlibatan dan kemauan siswa untuk ikut aktif Penyajian sederhana, jelas dan mudah dipahami Gambar dan grafik sesuai dengan konsepnya Tata letak gambar, tabel, pertanyaan harus tepat Judul, keterangan, instruksi, pertanyaan harus jelas Mengembangkan minat dan mengajak siswa untuk berpikir

b. Dari segi tampilan yaitu:

Ditinjau dari segi materi, materi LKS sangat tergantung pada KD yang akan dicapai. Materi LKS dapat berupa informasi pendukung, yaitu gambaran umum atau ruang lingkup substansi yang akan dipelajari. Materi dapat diambil dari berbagai sumber seperti buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian. Agar pemahaman siswa terhadap materi lebih kuat, maka dapat saja dalam LKS ditunjukkan referensi yang digunakan agar siswa membaca lebih jauh tentang materi itu. Tugas-tugas harus ditulis secara jelas guna mengurangi pertanyaan dari siswa tentang hal-hal yang seharusnya siswa dapat melakukannya, misalnya tentang tugas diskusi. Judul diskusi diberikan secara jelas dan didiskusikan dengan siapa, berapa orang dalam kelompok diskusi dan berapa lama. (BSNP, 2009) Sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya.

20

Oleh karena itu siswa tetap diharuskan membaca buku teks pelajaran sebagai referensi. Keuntungan adanya lembar kegiatan adalah bagi guru, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis. Dalam menyiapkannya guru harus cermat dan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, karena sebuah lembar kerja harus memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai/ tidaknya sebuah KD dikuasai oleh peserta didik.

BAB V PENGEMBANGAN PERANGKAT PENILAIAN
A. Penilaian Ranah Kognitif a. Langkah pengembangan tes Untuk mengambil keputusan yang benar mengenai siswa, diperlukan data siswa yang baik dan benar. Informasi untuk pengambilan keputusan tentang prestasi siswa diperoleh berdasarkan pengukuran-pengukuran dengan alat ukur tertentu, di antaranya tes. Tes akan sangat berarti jika terdiri atas butir-butir soal yang menguji tujuan yang penting dan mewakili atribut siswa yang akan diukur (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) secara representatif. Untuk keperluan tersebut maka serangkaian umum, proses proses penyusunan dan pengembangan tes perlu dikuasai. Secara ini. 1) Penentuan tujuan tes. Sebelum butir soal disusun, tentukan tujuan tes terlebih dahulu apakah untuk mengetahui Tujuan tes harus jelas penguasaan dapat siswa dalam pokok dan bahasan lingkup tertentu setelah diajarkan atau untuk mengetahui kesulitan belajar siswa. sehingga memberikan arah pengembangan tes. 2) Penyusunan kisi-kisi. Kisi-kisi berisi spesifikasi tes secara umum yang biasa dan jumlah dari ditampilkan dalam bentuk matriks yang menunjukkan proporsi

penyusunan dan pengembangan tes meliputi langkah-langkah yang diuraikan berikut

setiap aspek butir soal yang membentuk suatu perangkat tes. Dalam kisi-kisi dapat terbaca ruang lingkup materi dan isi yang akan diujikan, kemampuan yang akan diuji, dan jumlah soal yang akan diujikan dari setiap aspek. 3) Penulisan/pengkontruksian soal. Penulisan soal adalah penjabaran indikator jenis dan tingkat perilaku yang akan diukur menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan rincian spesifikasi soal yang ada dalam kisi-kisi. Perlu diperhatikan sebelum menulis soal, Anda harus menentukan tipe tes yang akan

21

digunakan (esai atau obyektif) dan aspek yang akan diuji (misalnya ranah kognitif : C1-C6). 4) Penelaahan soal. Penelaahan soal idealnya dilakukan oleh orang lain karena biasanya kekurangan yang terdapat pada suatu soal tidak terlihat oleh si penulis soal. 5) Uji coba soal. Pengujicobaan soal dilakukan untuk mendapatkan informasi empirik mengenai sejauh mana sebuah soal dapat mengukur apa yang akan diukur. Uji coba soal dapat menghasilkan informasi validitas soal yang meliputi keterbacaan, tingkat kesukaran, pola jawaban, daya pembeda soal dan sebagainya. 6) Perakitan soal. Untuk memperoleh skor yang dapat dipercaya, diperlukan banyak butir soal. Untuk keperluan itu diperlukan butir-butir soal yang dirakit menjadi alat ukur yang terpadu. Dalam perakitan soal perlu diperhatikan urutan nomor soal, pengelompokan bentuk soal, dan lay-out soal. 7) Penyajian tes. Dalam penyajian tes ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, misalnya waktu penyajian, petunjuk yang jelas mengenai cara menjawab butir soal tes, tempat duduk siswa dan ruang yang digunakan. 8) Skoring. cara Skoring dilakukan untuk memperoleh informasi kuantitatif dari masingmaing siswa. Pada prinsipnya skoring harus diusahakan seobyektif mungkin dengan memperhatikan pembobotan aspek-aspek yang dinilai sesuai kriteria yang Setelah tes dilaksanakan dan dilakukan skoring, hasil sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban guru telah ditentukan. 9) Pelaporan hasil tes. yang berkepentingan pengetesan perlu dilaporkan baik kepada siswa, orang tua, atau pihak-pihak dalam penilaian hasil belajar siswa. b. Penyusunan kisi-kisi tes hasil belajar Kisi-kisi adalah suatu format yang memuat informasi yang dijadikan pedoman untuk mengkonstruksi tes atau merakit soal menjadi tes. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penggunaan tes. Dalam kisi-kisi termuat informasi mengenai: tujuan pembelajaran/kompetensi, materi pokok dan uraian materi yang akan diujikan kepada siswa, indikator, kemampuan yang akan diujikan (level ranah kognitif), dan tingkat kesukaran yang dipertimbangkan oleh si penulis soal, dan jumlah butir soal. Di dalam membuat kisi-kisi hendaknya mewakili isi kurikulum dengan komponen yang rinci, jelas, dan mudah dipahami, serta soal-soal dapat dibuat sesuai dengan indikator dan bentuk soal yang ditetapkan. Contoh format kisi-kisi penulisan soal adalah sebagai berikut. Kisi-kisi Tes Objektif 22

No urut

KD

Materi pokok

Indikator soal

Jenjang kemampuan dan tingkat kesukaran C1 C2 C3 C4 C5 C6

No urut soal

Kisi-kisi Tes Esai No urut KD Materi pokok Indikator soal Tertutup Terbuka Macam soal No urut soal

c. Prinsip dalam mengkonstruksi soal bentuk uraian Beberapa prinsip untuk mengkontruksi soal bentuk uraian adalah: 1) Gunakan tipe tes uraian untuk mengukur hasil belajar yang cocok, misalnya untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengekspresikan pikirannya dengan kata-kata sendiri. 2) Pertanyaan dipilih untuk mengukur tujuan/hasil belajar yang penting saja. 3) Pertimbangkan kemampuan dan keterampilan menulis siswa. 4) Jangan memberikan butir soal yang tidak dapat dipilih atau tidak dapat dikerjakan. 5) Tulislah petunjuk awal yang jelas dan juga petunjuk untuk setiap butir soal harus rinci dan dapat dipahami oleh peserta tes. 6) Waktu yang tersedia harus diperkirakan cukup. 7) Pertanyaan hendaknya menuntut respon yang bersifat pemikiran peserta tes. 8) Perhatikan kombinasi jenis tes uraian terbatas dan bebas. 9) Rumusan butir soal menggunakan bahasa yang sederhana, tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan siswa, tidak menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian. Gunakan kata-kata deskriptif, misalnya tulislah garis besar, berilah contoh, atau bandingkanlah atau kata-kata perintah lainnya. 10) Dalam setiap butir soal upayakan pencantuman skor maksimal yang dapat diperoleh bila jawaban peserta tes sesuai dengan yang diminta dan jelaskan pula batasan-batasan jawaban yang diminta, misalnya panjang uraian, arah pemaparan, banyaknya aspek atau butir jawaban yang diminta. Dalam menilai hasil tes uraian kadang-kadang ada unsur subyektivitas. Untuk mengurangi hal ini, perlu diperhatikan aspek-aspek berikut:

23

1) tentukan jawaban yang paling baik untuk satu butir pertanyaan uraian; 2) tentukan butir-butir yang harus ada dalam jawaban pertanyaan uraian; 3) tentukan butir soal yang lebih penting di antara butir-butir jawaban yang diharapkan. Berdasarkan hal di atas, berarti penulis soal harus sudah menuliskan kata-kata kunci atau kriteria yang harus tercantum dalam setiap soal. d. Pengkonstruksian soal bentuk obyektif Butir soal obyektif adalah butir soal yang mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes. Peserta tes tinggal memilih jawaban dari kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Secara umum tes obyektif dapat dibedakan dalam tiga tipe, yaitu benar salah, menjodohkan, dan pilihan ganda. Secara umum format soal obyektif pilihan ganda terdiri atas pokok soal yang diikuti oleh sejumlah pilihan jawaban (option). Di antara pilihan jawaban ada satu kunci jawaban (jawaban yang paling tepat), sedangkan pilihan lainnya berfungsi sebagai distraktor (pengecoh). Keunggulan soal bentuk obyektif di antaranya adalah dapat diskor dengan mudah, cepat dan obyektif sehingga dalam pemeriksaannya tidak selalu dilakukan oleh guru/pemberi tes, akan tetapi bisa dilakukan dengan bantuan computer. Materi yang ditanyakan dapat mencakup ruang lingkup yang luas. Sedangkan beberapa keterbatasannya antara lain memerlukan waktu yang relatif lama dalam mengkonstruksinya, sulit membuat pengecoh yang homogen dan berfungsi, dan terdapat peluang untuk menebak kunci jawaban. e. Prinsip pengkonstruksian butir soal pilihan ganda Beberapa prinsip dalam mengkontruksi butir soal pilihan ganda, yaitu: 1) Soal harus sesuai dengan perilaku dan materi yang akan diukur. 2) Setiap soal harus memiliki satu jawaban yang paling benar. 3) Permasalahan yang akan ditanyakan harus ditempatkan pada pokok soal dan berisi pernyataan yang diperlukan saja. 4) Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. 5) Kalau pokok soal merupakan pernyataan yang belum lengkap, maka kata-kata yang melengkapi harus diletakkan pada ujung pernyataan. 6) Pokok soal diusahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak tentu, misalnya seringkali atau kadang-kadang. 7) Pokok soal sedapat mungkin dalam pernyataan atau pertanyaan positif. Jika terpaksa menggunakan pernyataan negatif maka kata negatif tersebut digarisbawahi atau ditulis tebal. 24

8) Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan: semua pilihan di atas salah atau semua pilihan benar. 9) Homogenitas pilihan jawaban harus logis ditinjau dari materi serta panjang rumusan pilihan jawabannya. 10) Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar dan kecilnya nilai angka tersebut. 11) Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. 12) Gambar, grafik, tabel, diagram dan sejenisnya yang terdapat pada pokok soal harus jelas dan berfungsi. 13) Hindari rumusan kata yang berlebihan f. Contoh-Contoh Konstruksional dari Indikator. • Indikator: Siswa manusia. Tes yang dapat dibuat dapat berbentuk uraian dengan ragam jawaban singkat atau bentuk tes obyektif dengan ragam pilihan ganda biasa. Butir Soal:  Pada bagian apakah dalam tubuh kita sel-sel darah dibentuk? (skor 1)  Tempat pembentukan sel-sel darah manusia adalah …. (skor 1) A. limpa sumsum B. kelenjar limfe • C. tulang pipih D. sumsum tulang pipa dapat menyebutkan tempat pembentukan sel-sel darah

1) Contoh konstruksi soal yang sesuai dengan kaidah penulisan butir soal

Indikator: Siswa dapat menjelaskan hubungan pertumbuhan tumbuhan dengan faktor cahaya. Indikator ini menuntut ekspresi pikiran siswa, maka dipilih tes uraian terbatas karena jawabannya dibatasi oleh rambu-rambu yang ditentukan seperti dalam indikator (dibatasi hubungan pertumbuhan tumbuhan dengan faktor cahaya). Butir soal:  Jelaskan apa sebabnya tumbuhan yang selalu terlindung dari cahaya matahari kelihatan kurus dan kemudian mati! (skor 2) 

Indikator: Siswa dapat menjelaskan hubungan antara frekuensi detak nadi dengan denyut jantung akibat faktor aktivitas manusia.

25

Tes yang dapat dikembangkan dapat berupa tes uraian terbatas atau pilihan ganda dengan ragam pilihan ganda analisis hubungan antarhal. Butir Soal:  Pilihlah: A jika B jika pernyataan pernyataan benar, alasan benar dan keduanya menunjukkan tetapi keduanya tidak hubungan sebab akibat. benar, alasan benar menunjukkan hubungan sebab akibat. C jika salah satu dari pernyataan salah. D jika kedua pernyataan salah. Frekuensi detak nadi seorang yang baru berlari cepat akan naik. SEBAB Pada waktu lari cepat, denyut jantung akan bertambah cepat. • Kompetensi Dasar: Mendeskripsikan tekanan pada benda cair dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Indikator: Siswa dapat mendeskripsikan Hukum Archimedes melalui percobaan sederhana serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Tes yang dapat dikembangkan dapat berupa tes uraian bebas atau pilihan ganda dengan ragam pilihan ganda biasa. Butir Soal:  Gambar berikut menunjukkan benda padat dengan ukuran yang sama mengapung di atas air.

Benda mana yang paling berat? (skor 1) A. Benda A B. Benda B C. Benda C D. Semua benda beratnya sama

26

2) Contoh konstruksi butir soal yang kurang memenuhi prinsip atau kaidah penulisan butir soal Contoh 1. Daun tembakau mengandung …. (nikotin) Penjelasan: Contoh soal di atas kurang baik karena butir soal tidak mengandung permasalahan yang spesifik. Konstruksi butir soal di atas dapat diperbaiki seperti di bawah ini: Bahan yang berbahaya bagi kesehatan yang terdapat dalam daun tembakau adalah …. (nikotin) Contoh 2. Energi potensial adalah energi yang berhubungan dengan .... (kedudukan atau ketinggian benda) Penjelasan: Contoh soal di atas juga kurang baik karena butir soal tidak mengandung permasalahan yang spesifik. Jawaban yang diharapkan adalah kedudukan atau ketinggian benda. Akan tetapi siswa dapat memberikan jawaban yang lain-lain, karena soal belum bisa dipahami arahnya kemana. Soal di atas dapat ditukar antara pertanyaan dengan jawabannya. Jadi, konstruksi soal di atas dapat diperbaiki seperti di bawah ini: Energi suatu benda pada kedudukan atau ketinggian tertentu dinamakan . . . . Contoh 3. Bunyi nada gitar yang jumlah getarannya selalu sama untuk tiap satuan waktu disebut …. A. getar B. gema C. gaung D. nada Kunci: D Penjelasan: Butir soal di atas kurang baik, karena pada pokok soal terdapat petunjuk ke arah kunci jawaban yaitu nada. Butir soal dapat diperbaiki sebagai berikut: Bunyi dari gitar yang jumlah getarannya sama untuk tiap satuan waktu disebut…. A. getar B. gema 27

C. gaung D. nada kunci: D

Contoh 4. Logam berikut ini tidak bersifat paramagnetik kecuali …. A. aluminium B. nikel C. seng D. emas Kunci: A Penjelasan: Butir soal tersebut kurang baik karena pada pokok soal menggunakan pernyataan yang bersifat negatif ganda. Hal ini dapat membingungkan siswa dalam memahami pokok permasalahan yang ditanyakan. Butir soal tersebut dapat diperbaiki menjadi lebih baik seperti berikut ini: Di antara logam berikut yang bersifat paramagnetik adalah …. A. aluminium B. nikel C. seng D. emas Kunci : A B. Penilaian Ranah Afektif Penilaian ranah afektif dapat menggunakan beberapa macam instrumen, antara lain instrumen dengan skala Thurstone, skala Likert, skala Guttman, dan skala Semantic Differential. a. Thurstone Equal-Appearing Interval Scale. Skala Thurstone merupakan skala sikap pertama yang dikembangkan dalam pengukuran sikap dan biasanya digunakan bila pernyataan yang akan diskala adalah cukup banyak, Metode sehingga ini sukar untuk dilakukan sikap penilaian seseorang secara pada perbandingan. mencoba menempatkan

rentangan kontinum dari yang sangat tidak baik hingga

sangat baik terhadap

suatu obyek sikap. Caranya dengan memberikan orang tersebut sejumlah 28

pernyataan sikap yang telah ditentukan derajat favorabilitasnya. Skala ini disusun dalam bentuk abjad dengan asumsi bahwa jarak/interval antara huruf dengan huruf setara mulai dari yang tidak favorable sampai yang favorable dimulai dari abjad A sampai K, dimana abjad F merupakan bagian yang netral, dalam prakteknya yang kurang baik bernilai 1 dan yang baik bernilai 11, akan tetapi pilihan terhadap suatu nilai tertentu tidak lantas dijadikan nilai skala suatu item tertentu melainkan sebagai bahan untuk diolah kembali, adapun kontinum skala tersebut nampak sebagai berikut:

Skala kontinum Teknik ini disusun oleh Thrustone didasarkan pada asumsi-asumsi: ukuran sikap seseorang itu dapat digambarkan dengan interval skala sama. Perbedaan yang sama pada suatu skala mencerminkan perbedaan yang sama pula dalam sikapnya. Asumsi kedua adalah Nilai skala yang berasal dari rating para penilai tidak dipengaruhi oleh sikap penilai terhadap permasalahan. Penilai melakukan rating terhadap pernyataan dalam tataran yang sama terhadap permasalahan tersebut. Contoh Skala Thurstone
7 Saya senang belajar IPA Pelajaran IPA bermanfaat Saya berusaha hadir tiap ada jam pelajaran IPA Saya berusaha memiliki buku pelajaran IPA Pelajaran IPA membosankan 6 5 4 3 2 1

Langkah-langkah dalam penyusunan skala Thurstone adalah sebagai berikut: 1) penetapan tujuan atau kawasan ukur, 2) melakukan pendefinisian secara konseptual, 3) menyusun definisi operasional, 4) mengidentifikasi indikator perilaku, 5) membuat blue print alat ukur, dan 6) penyusunan item-item per indikator yang juga disusun dengan item favorable dan unfavorable sebanyak mungkin. 7) setelah item tersusun langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat format untuk proses penilaian oleh penilai. Setiap item diberikan alternatif respon dengan rentang skala 11

29

b. Likert Summated Rating Scale. Likert (1932) mengajukan metodenya sebagai alternatif yang lebih sederhana dibandingkan dengan skala Thurstone. Skala Thurstone yang terdiri dari 11 point disederhanakan unfavorabel. menjadi dua kelompok, yang yaitu yang favorable dan yang Untuk Sedangkan pernyataan netral tidak disertakan.

mengatasi hilangnya netral tersebut, Likert menggunakan teknik konstruksi test yang lain. Masing-masing responden diminta melakukan pilihan setuju atau tidak setujunya untuk masing-masing pernyataan dalam skala yang terdiri dari 5 poin (Sangat setuju, Setuju, Ragu-ragu, Tidak setuju, Sangat Tidak Setuju). Semua pernyataan yang favorabel kemudian diubah nilainya dalam angka, yaitu untuk sangat setuju nilainya 5 sedangkan untuk yang Sangat Tidak setuju nilainya 1. Sebaliknya, untuk item yang unfavorabel nilai skala Sangat Setuju adalah 1 tidak setuju nilainya 5. Dalam skala Likert, sedangkan untuk yang sangat

kuantifikasi dilakukan dengan menghitung respon kesetujuan atau ketidaksetujuan (dalam suatu kontinum) terhadap obyek sikap. Contoh skala Likert 1 2 3 4 5 Pelajaran IPA bermanfaat Pelajaran IPA sulit Tidak semua harus belajar IPA Pelajaran IPA harus dibuat mudah Pelajaran IPA menyenangkan SS SS SS SS SS S S S S S TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS

Untuk membuat skala Likert dapat digunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Menentukan dan memahami dengan baik apa yang akan diukur 2) Menyusun kisi-kisi untuk memandu penyusunan alat ukur - Indikator yang secara teoritis-logis memberi kontribusi yang lebih besar harus diberikan pernyataan yang lebih banyak - Pernyataan dibuat positif dan negatif 3) Membuat item kuesioner sesuai dengan kaidah 4) Uji coba item kuesioner 5) Memilih item kuesioner yang baik 6) Menyusun item kuesioner terpilih menjadi satu set alat ukur 7) Menginterpretasikan hasil pengukuran Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun skala Likert antara lain:

30

• • • • • • • • •

Hindari item yang mengacu pada banyak peristiwa masa lalu dibandingkan Hindari item yang dapat diinterpretasikan sebagai fakta padahal bukan. Hindari item yang dapat diinterpretasikan lebih dari satu cara. Hindari item yang tidak relevan dengan konteks psikologis atau konstruk yang Hindari item yang jawabannya hampir sama oleh setiap orang atau item yang Susun item dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan langsung. Buat item pendek, tidak lebih dari 20 kata. Satu item hanya berisi satu ide/pokok pikiran. Hindari item yang menyebabkan ambiguitas pada responden.

pada saat ini.

belum terbangun. tidak akan dipilih oleh seorangpun.

c. Semantic Differential. Perbedaan semantis dikemukakan oleh Osgood untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum dimana jawaban yang sangat positif diletakkan dibagian sebelah kanan garis dan jawaban yang sangat negatif diletakkan di sebelah kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantik diferensial adalah data interval. Biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yag dimiliki seseorang. (Djali, Pudji Mujiono, 2007). Sebagai contoh di bawah ini skala differential semantic mengenai pembelajaran fisika. Contoh Skala Semantic Differential

Langkah-langkah penyusunan dan penggunaan semantic differential. 1) Tentukan objek sikap apa yang ingin kita investigasi. 2) Pilih pasangan kata sifat (kurang lebih 10). 3) Tulis kata atau frase objek-sikap di atas halaman dan tempatkan kata-kata sifat di dalamnya. Jika kita ingin mengobservasi lebih dari satu objek-sikap,

31

gunakan urutan kata sifat yang sama untuk masing-masing objek sifat, dan pertahankan kata-kata pada posisi yang sama. Sediakan “polaritas acak”. Hal ini berarti pasangan kata sifat tidak boleh memiliki urutan kata positif maupun negatif pada lajur yang sama. 4) Instruksikan menuliskan kepada responden tentang bagaimana dan dimana untuk harus diinstruksikan untuk merespon secara merespon kepada jawaban. Mereka

cepat dan berdasarkan kepada impresi pertama mereka. Terkadang kita akan bertemu dengan responden yang tidak nyaman untuk sebuah konsep (misal: pendidikan fisik, seni) dengan kata sifat yang terlihat tidak cocok (misal: manis-pahit). Kita harus memastikan kepada mereka bahwa tipe skala seperti ini disebut dengan impresi, bukan respon yang dipelajari. Jika kita meggunakan instrumen dengan anak-anak kita dapat memberikan ukur. 5) Hitung skor dari seorang responden dengan angka 1 untuk respon yang paling negatif, 7 untuk respon yang paling positif dan 2 sampai 6 untuk respon pertengahan. d. Langkah Penyusunan Instrumen Secara Umum Beberapa tahap yang perlu dilakukan untuk menyusun instrumen afektif adalah menentukan spesifikasi instrumen, menulis instrumen, memilih teknik penskalaan, membangun panduan dalam merespon, menyiapkan draft instrumen dan mengambil data pendahuluan, mengambil data final, menganalisa data, merevisi instrumen, melakukan studi final, dan menyiapkan manual tes (Gable,1999:134; Dikmenum, 2004:26). Berikut adalah rincian dari setiap langkah: 1) Menentukan spesifikasi instrumen yang instrumen, perlu diperhatikan dalam menyusun spesifikasi instrumen adalah a) tujuan pengukuran, b) kisi-kisi c) bentuk dan format instrumen, dan d) panjang instrumen. Berdasarkan hasil studi literatur, tentukanlah definisi konseptual dari aspek afektif yang ingin diukur. Dalam modul ini anda bisa mempelajari pada bagian penjelasan setiap aspek pada ranah afektif. Selanjutnya susunlah definisi operasional berdasarkan kompetensi dasar. Definisi operasional selanjutnya dijabarkan menjadi sejumlah indikator yang menjadi pedoman dalam menyusun instrumen. mereka beberapa latihan dengan konsep lain (objek sikap) sebelum mereka menggunakan jawaban mereka pada konsep yang ingin kita

32

2) Menentukan Skala untuk Penilaian. Skala instrumen afektif yang umum digunakan adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik. Masing-masing skala memiliki tujuan, kelebihan dan kekurangan. Anda bisa mempelajari hal ini pada penjelasan mengenai jenis-jenis skala instrumen. Pemahaman mengenai konsep aspek afektif dapat membantu anda dalam menentukan jenis skala instrumen yang tepat. 3) Menulis Instrumen. Menulis instrumen perlu memenuhi kaidah-kaidah penulisan yang berlaku pada skala pengukuran yang digunakan. Baik komponen aspek afeksi, bahasa, maupun format lainnya. Berikut ini adalah beberapa contoh instrumen. 1) Instrumen sikap. Definisi konseptual: Sikap merupakan kecenderungan merespon secara konsisten baik menyukai atau tidak menyukai suatu objek. Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek, misalnya kegiatan sekolah. Sikap bisa positif bisa negatif. Definisi operasional: sikap adalah perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek. Objek bisa berupa kegiatan atau mata pelajaran. terhadap mata pelajaran IPA. Contoh indikator dan pernyataan kuesioner sikap

2) Instrumen minat Definisi konseptual: Minat adalah keinginan yang tersusun melalui pengalaman yang mendorong individu mencari objek, aktivitas, konsep, dan keterampilan untuk tujuan mendapatkan perhatian atau penguasaan. Definisi operasional: Minat adalah keingintahuan seseorang tentang keadaan suatu objek. Contoh indikator dan pernyataan kuesioner Minat terhadap mata pelajaran IPA

33

Contoh Indikator Memiliki catatan pelajaran IPA

 

Contoh pernyataan Kuesioner Catatan pelajaran IPA saya lengkap Catatan pelajaran IPA saya terdapat

Berusaha memahami IPA

coretan-coretan tentang hal-hal yang penting  Saya selalu menyiapkan pertanyaan sebelum mengikuti pelajaran IPA  Saya berusaha memahami mata pelajaran IPA

Mengikuti pelajaran IPA Memiliki buku IPA

 

 Saya senang mengerjakan soal IPA Saya berusaha selalu hadir pada pelajaran IPA Catatan bagi saya sudah cukup jadi tidak perlu membeli buku

3) Instrumen konsep diri Definisi konseptual: konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang menyangkut keunggulan dan kelemahannya. Definisi operasional konsep diri adalah pernyataan tentang kemampuan diri sendiri yang menyangkut mata pelajaran.

Contoh indikator dan pernyataan kuesioner Konsep Diri Contoh Indikator Memilih mata pelajaran yang mudah dipahami Memiliki kecepatan memahami mata pelajaran Menunjukkan mata pelajaran yang dirasa sulit Mengukur kekuatan dan kelemahan fisik   konsep  Contoh Pernyataan Kuesioner Saya mudah memahami IPA Saya mudah menghapal suatu Saya perlu waktu yang lama untuk

memahami pelajaran fisika  Saya sulit mengikuti pelajaran IPA  Saya merasa sulit mengikuti pelajaran IPA  Saya bisa melakukan percobaan dengan baik  Saya Saya mampu mampu mengobservasi memprediksi dengan baik  dengan baik

4) Instrumen Moral

34

Aspek ini masuk ke dalam klasifikasi ranah afektif. Instrumen ini bertujuan untuk mengetahui moral peserta didik. Contoh indikator moral sesuai dengan definisi tersebut adalah:

Contoh indikator dan pernyataan kuesioner Nilai Yang Digunakan
Contoh Indikator  Memegang janji  Memiliki kepedulian terhadap orang lain  Menunjukkan Memiliki kejujuran komitmen terhadap tugas-tugas  Contoh Pernyataan Kuesioner  Bila saya berjanji pada teman, tidak harus menepati  Bila berjanji kepada orang yang lebih Bila menghadapi kesulitan, saya selalu Bila ada orang lain yang menghadapi Kesulitan Bila Bila Saya orang lain merupakan saya saya hal selalu selalu yang tua, saya berusaha menepatinya  meminta bantuan orang lain  kesulitan, saya berusaha membantu  tanggung jawabnya sendiri  bertemu bertemu selalu teman, guru, bercerita menyapanya walau ia tidak melihat saya  memberikan salam, walau ia tidak melihat saya  menyenangkan teman, walau tidak seluruhnya benar  Bila ada orang yang bercerita, saya tidak selalu mempercayainya

Jika jenis instrumen yang akan digunakan telah ditentukan, maka dapat dilakukan langkah-langkah pengembangan instrumennya. Tahapan pengembangan instrumen adalah: a. Menentukan pedoman penskoran Masing-masing skala pengukuran memiliki sistem penskoran tersendiri. pengukuran. Jenis Skala Pengukuran Untuk mengingatkan, berikut adalah rangkuman sistem skoring dari ke 3 jenis skala

35

Jenis pengukuran dari skor ini adalah ordinal. Rentang aspek afektif umumnya dari positif (suka, tinggi tergantung aspek) ke negatif (tidak suka, rendah). Rentang ini terdiri atas respon positif menuju negatif akan melalui netral dulu atau belum berpendapat/memberi respon. sebaiknya Berdasarkan posisi pemahaman Misalnya ini, pada rentang skala skala Likert tidak menghilangkan netral.

rentang respon yang terdiri atas 5 skor digunakan secara utuh dan tidak menghilangkan skor 3 sebagai respon netral/tidak berpendapat. b. Merakit instrumen Tujuan merakit instrumen agar dihasilkann instrumen yang menarik dan terkesan mudah diisi sehingga tidak melelahkan responden. Untuk itu, tata letak, besar dan jenis huruf, tata letak butir pertanyaan/pernyataan yang mudah dan sukar perlu diatur agar diperoleh kesan yang diinginkan termasuk waktu yang diperlukan. Berdasarkan pengalaman, waktu yang diperlukan agar tidak jenuh adalah 30 menit atau kurang. c. Menelaah instrumen. Telaah instrumen dilakukan dalam hal kesesuaian butir pertanyaan/pernyataan sesuai dengan indikator. Tata bahasa dan keterbacaan, kejelasan butir pertanyaan/pernyataan (tidak bias), kualitas format instrumen sehingga terkesan ringkas, sederhana untuk diisi, panjang pertanyaan/pernyataan, banyalnya butir pertanyaan/pernyataan, dan penempatan butir pertanyaan/pernyataan sehingga responden tetap bersemangat mengisi. Telaah sebaiknya dilakukan oleh pakar dalam aspek yang diukur dan lebih baik jika ada pakar penilaian. Telaah mengenai bahasa dan format instrumen bisa juga dilakukan oleh teman sejawat. Hasil telaah digunakan untuk memperbaiki instrumen. d. Melakukan uji coba Setelah ditelaah, instrumen diujicobakan kepada responden (siswa, orang tua, guru, dsb) sesuai dengan tujuan penilaian. Untuk itu dipilih sampel yang karakteristiknya mewakili populasi yang ingin dinilai. Pada saat uji coba yang perlu dicatat adalah saran-saran dari responden atas kejelasan pedoman pengisian instrumen, kejelasan kalimat yang digunakan, dan waktu yang diperlukan untuk mengisi instrumen. e. Menganalisis hasil uji coba 36

Analisis hasil uji coba meliputi variasi jawaban tiap butir pertanyaan/pernyataan. Indikator f. yang digunakan adalah besarnya daya beda. Indikator lain yang diperhatikan adalah indeks keandalan yang dikenal dengan indeks reliabilitas. Memperbaiki instrumen Perbaikan dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan/ pernyataan yang tidak baik, berdasarkan analisis hasil ujicoba. Perbaikan termasuk mengakomodasi saransaran dari responden ujicoba. Instrumen sebaiknya dilengkapi dengan pertanyaan terbuka. Berikut adalah informasi tambahan mengenai langkah yang yang dilakukan pasca instrumen sudah siap pakai. g. Melaksanakan pengukuran Pelaksanaan digunakan. pengukuran Pengisian perlu memperhatikan dimulai waktu dan ruangan tentang yang tujuan instrumen dengan penjelasan

pengisian, manfaat bagi responden, dan pedoman pengisian instrumen. h. Menafsirkan hasil pengukuran Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Untuk menafsirkan hasil pengukuran diperlukan suatu kriteria. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan jumlah butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan. C. Penilaian Ranah Psikomotor a. Aspek-aspek ranah psikomotor dalam mata pelajaran IPA Berdasarkan pengertian ranah psikomotor yang telah dikemukakan, penilaian hasil belajar siswa pada ranah psikomotor ini dititikberatkan pada keterampilan motorik sedang aspek yang (hands-on). praktikum di Berdasarkan laboratorium batasan ini, maka dalam pelajaran sains, pada khususnya dan diskusi dalam kompetensi siswa dalam ranah psikomotor dinilai antara lain ketika siswa

pemecahan masalah. Dalam panduan belajar ini hanya akan dijelaskan aspekyang dapat dinilai dalam mata pelajaran sains dengan merujuk pada telah dipaparkan pada bagian di muka yang mencakup: bergerak dan klasifikasi ranah psikomotor menurut Trowbridge et.al (1981: 127) sebagaimana (moving), memanipulasi, menciptakan (creating). 1) Moving Kategori ini merujuk pada sejumlah gerakan tubuh yang melibatkan gerakan-gerakan ransangan fisik. Kategori sensorik. Dalam kelas koordinasi ini merupakan respon-respon otot terhadap sains, rumusan tujuan pembelajaran yang (manipulating), berkomunikasi (communicating),

termasuk kategori ini, misalnya Siswa dapat membersihkan alat-alat gelas atau 37

siswa dapat membawa mikroskop dengan benar. Kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk merumuskan indikator pencapaian hasil belajar antara lain adalah: membawa, membersihkan, mengikuti, menempatkan atau menyimpan. Contoh indikator untuk komponen ini bisa dirumuskan sebagai berikut:  Siswa dapat membawa mikroskop dengan benar.  Siswa dapat menyimpan termometer dengan benar. 2) Manipulating Kategori ini merujuk pada aktivitas yang mencakup pola-pola yang terkoordinasi dari gerakan-gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, misalnya koordinasi antara mata, telinga, tangan, dan jari. Koordinasi gerakan tubuh melibatkan dua atau lebih hasil bagian-bagian tubuh, misalnya tangan-jari, tangan-mata. Kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk merumuskan indikator pencapaian belajar antara lain adalah mengkalibrasi, merangkai, meramu, mengubah, menghubungkan, memanaskan, mencampurkan, mengaduk, membersihkan,

menimbang, mengoperasikan, dan memperbaiki. Tujuan pembelajaran yang dapat dirumuskan dalam kategori ini, misalnya sebagai berikut:  Siswa dapat mengatur diafragma mikrokop sehingga bayangan benda tampak jelas.  Siswa dapat merakit alat untuk percobaan Ingenhousz.  Siswa dapat menggunakan thermometer dengan benar. 3) Communicating Kategori ini merujuk pada pengertian aktivitas yang menyajikan gagasan dan perasaan untuk diketahui oleh orang lain. Kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk merumuskan indikator pencapaian hasil belajar siswa antara lain mengajukan pertanyaan, menganalisis, mendeskripsikan, mendiskusikan, membuat grafik, membuat label, mengarang, menggambar, menjelaskan,

mencatat, menulis, dan membuat rancangan. Tujuan pembelajaran yang dapat dirumuskan dalam aspek ini, misalnya sebagai berikut:  Siswa dapat mengajukan pertanyaan mengenai masalah-masalah yang sedang didiskusikan.  Siswa dapat menyusun data yang dikumpulkan dalam bentuk grafik.  Siswa dapat melaporkan data percobaan secara akurat.

38

4) Creating Merujuk pada proses dan kinerja yang dihasilkan dari gagasan-gagasan baru. Kreasi dalam mata pelajaran sains biasanya memerlukan sejumlah kombinasi dari gerakan, manipulasi, dan komunikasi dalam membangkitkan hasil baru yang sifatnya unik. Dalam konteks ini terjadi koordinasi antara aspek kognitif, psikomotor, dan afektif dalam upaya untuk memecahkan masalah dan menciptakan gagasan-gagasan baru tersebut. Kata kerja operasional yang dapat digunakan hasil belajar siswa antara lain untuk merumuskan indikator pencapaian membangun. Tujuan pembelajaran yang dapat dirumuskan antara lain sebagai berikut:  Siswa dapat menciptakan cara-cara yang berbeda dalam memecahkan masalah.  Siswa dapat merencanakan percobaan pengaruh suhu terhadap proses fotosintesis b. Mengembangkan instrumen penilaian ranah psikomotor 1) Penyusunan soal Soal dijabarkan dari indikator dalam kisi-kisi dengan memperhatikan materi pembelajaran dan pengalaman belajar. Soal ranah psikomotor untuk ujian yang diblok biasanya sudah mencapai tingkat psikomotor tinggi seperti manipulasi karenanya mencakup beberapa indikator. 2) Penyusunan Lembar Observasi/Asesmen Lembar Observasi/Asesmen mengacu kepada soal dan dijabarkan menjadi aspek-aspek keterampilan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: a) Pelajari soal (misalnya sesuai dengan kisi-kisi yang telah disusun) b) Identifikasi aspek-aspek keterampilan kunci dalam mengamati dan menggambar daun dalam bentuk preparat kering yang terdiri atas menyiapkan mikroskop dan preparat, melakukan pengamatan, menggambar preparat, dan menyimpan kembali mikroskop dan preparat. c) Uraikan aspek keterampilan kunci menjadi aspek keterampilan yang lebih rinci misalnya untuk menyiapkan mikroskop terdiri atas aspek keterampilan membawa mikroskop dan menyimpan mikroskop di meja. d) Tentukan jenis lembar yang akan digunakan (lembar asesmen). observasi atau

membuat kreasi, merancang, merencanakan, mensintesis, menganalisis, dan

39

e) Tuliskan aspek-aspek pernyataan. f)

keterampilan dalam bentuk

pertanyaan atau

Baca ulang lembar observasi/asesmen untuk meyakinkan instrumen sudah

baik. g) Mintalah orang lain menelaah instrumen. Lembar asesmen dan observasi mempunyai keunggulan masing-masing. aspek

Lembar asesmen lebih cocok digunakan jika siswa sedikit dan jika

keterampilan yang akan diukur bisa dibuat dalam bentuk rentang misalnya mulai dari tepat sampai tidak tepat. Lembar observasi cocok digunakan jika jumlah siswa banyak atau aspek keterampilan yang akan diukur beresiko tinggi misalnya menggunakan alat yang mahal atau bekerja dengan bahan yang berbahaya/beracun.

Contoh lembar Asesmen Berilah tanda centang di bawah kolom skor: 5, jika siswa melakukan aspek keterampilan sangat tepat 4, jika siswa melakukan aspek keterampilan tepat 3, jika siswa melakukan aspek keterampilan agak tepat 2, jika siswa melakukan aspek keterampilan kurang tepat 1, jika siswa melakukan aspek keterampilan tidak tepat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Aspek Keterampilan Persiapan Membawa mikroskop Meletakkan mikroskop di meja Pelaksanaan Mengatur cahaya Mengatur posisi/kemiringan meja kerja Menggunakan lensa/memutar revolver Mengatur tubus/jarak kerja Mengamati preparat Menggambar Penyelesaian Membersihkan mikroskop setelah digunakan Menyimpan mikroskop Menyimpan preparat Contoh Lembar Observasi Berilah tanda centang di bawah kolom jawaban: Jawaban 3 2

5

4

1

40

Ya, jika siswa melakukan aspek keterampilan yang diuji dengan benar Tidak, jika siswa tidak melakukan aspek keterampilan yang diuji atau melakukan secara tidak benar Skor = 1 untuk jawaban ya, skor = 0 untuk jawaban tidak

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Aspek keterampilan Persiapan Membawa mikroskop Meletakkan mikroskop di meja Pelaksanaan Mengatur cahaya Mengatur posisi/kemiringan meja kerja Menggunakan lensa/memutar revolver Mengatur tubus/jarak kerja Mengamati preparat Menggambar Penyelesaian Membersihkan mikroskop setelah digunakan Menyimpan mikroskop Menyimpan preparat

Jawaban Ya Tidak

3) Penyusunan Kriteria/Rubrik Kriteria atau rubrik adalah pedoman asesmen kinerja atau hasil kerja siswa. Adanya kriteria mendukung asesmen yang objektif dan adil. Kriteria memudahkan guru menilai prestasi siswa dan siswa terpicu meraih prestasi karena pedoman asesmen yang jelas. Rubrik biasanya terdiri atas skor dan kriteria untuk mencapai skor. Rubrik biasanya disertakan dengan lembar asesmen atau observasi. Contoh rubrik untuk lembar asesmen No Persiapan Aspek keterampilan 5 4 Jawaban 3 2 1

41

1

Membawa mikroskop dengan dua tangan, satu tangan memegang bagian lengan mikroskop yang lainnya memegang dudukan/dasar mikroskop. Mikroskop dipegang

2

di sekitar dada Mikroskop disimpan di meja sekitar 20 cm dari pinggir/bibir meja Menggunakan mikroskop ..... Contoh rubrik untuk lembar observasi Aspek keterampilan Jawaban Ya Tidak

3

1

Persiapan Membawa mikroskop dengan dua tangan, satu tangan memegang bagian lengan mikroskop yang lainnya memegang dudukan/dasar mikroskop. Mikroskop dipegang di sekitar dada Mikroskop disimpan di meja sekitar 20 cm dari pinggir/bibir meja Menggunakan mikroskop ..... 4) Menginterpretasi data penilaian ranah psikomotor Berikut adalah penskoran dengan bobot yang sama untuk semua aspek keterampilan. Karena nilai maksimum 5 dan jumlah aspek 10 maka skor maksimum 50 dan minimum 10. Untuk nilai skala 100 maka skor sempurna diperoleh jika total skor seluruh aspek keterampilan 50.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek keterampilan Persiapan Membawa mikroskop Meletakkan mikroskop di meja Pelaksanaan Mengatur cahaya Mengatur posisi/kemiringan meja kerja Menggunakan lensa/memutar revolver Mengatur tubus/jarak kerja Mengamati preparat Menggambar Penyelesaian Membersihkan mikroskop setelah digunakan Menyimpan mikroskop Total Jawaban 4 3 2 v v v v v v v v v v 35/50) x 100% Skor 1 4 4 3 4 3 2 3 4 4 4 35 70

2 3

5

Berikut ini adalah penskoran untuk lembar observasi yang pada dasarnya sama hanya nilainya satu dan nol yang konversinya sama saja dengan lembar asesmen.

42

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Aspek keterampilan Persiapan Membawa mikroskop Meletakkan mikroskop di meja Pelaksanaan Mengatur cahaya Mengatur posisi/kemiringan meja kerja Menggunakan lensa/memutar revolver Mengatur tubus/jarak kerja Mengamati preparat Menggambar Penyelesaian Membersihkan mikroskop setelah digunakan Menyimpan mikroskop Total

Jawaban Ya Tidak 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1

Skor

7

Berikut adalah penskoran jika setiap aspek keterampilan mempunyai bobot yang berbeda. Perhitungannya sama saja satu caranya diberikan di bawah ini.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek keterampilan 5 Persiapan (10%) Membawa mikroskop Meletakkan mikroskop di meja Pelaksanaan (80%) Mengatur cahaya Mengatur posisi/kemiringan meja kerja Menggunakan lensa/memutar revolver Mengatur tubus/jarak kerja Mengamati preparat Menggambar Penyelesaian (10%) Membersihkan mikroskop setelah digunakan Menyimpan mikroskop Total 4 Jawaban 3 2 Skor 1 4 4 8 3 4 3 2 3 4 50,67 4 4 8 68,67

v v (4+4/10)x 10% = v v v v v v (19/30)x 80% = v v (4+4/10)x 10% =

Berikut penskoran dengan bobot aspek keterampilan yang berbeda untuk lembar observasi.
No 1 2 3 4 5 6 7 Aspek Keterampilan Ya Persiapan (10%) Membawa mikroskop Meletakkan mikroskop di meja Pelaksanaan (80%) Mengatur cahaya Mengatur posisi/kemiringan meja kerja Menggunakan lensa/memutar revolver Mengatur tubus/jarak kerja Mengamati preparat Jawaban Tidak Skor

1 1 2/2 x 10% = 1 0 0 0 1

10

43

8 9 10

Menggambar Penyelesaian (10%) Membersihkan mikroskop setelah digunakan Menyimpan mikroskop Total

1 3/6 x 80% = 1 1 2/2 x 10% =

40

10 60

BAB VI CONTOH PERANGKAT PEMBELAJARAN
Contoh 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Kelas/ Program Materi Alokasi Waktu : IPA ( Aspek KIMIA dan PLH ) : VII / 1 : Sifat larutan Asam, Basa dan Garam : 6 Jam Pelajaran ( 6 x 40 menit )

Standar Kompetensi : 2. Memahami klasifikasi zat

44

Kompetensi Dasar

: 2.1 Mengelompokkan sifat larutan asam, larutan basa, dan larutan garam melalui alat dan indikator yang tepat. 2.2 Melakukan percobaan sederhana dengan bahan-bahan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator

: Membedakan asam, basa dan garam melalui percobaan. Menjelaskan sifat-sifat larutan asam, basa dan garam. Menjelaskan bagian-bagian tumbuhan yang dapat digunakan sebagai indikator asam-basa. Menentukan sifat asam basa bahan-bahan lingkungan. Menjelaskan dampak lingkungan. larutan asam terhadap logam dan yang ada di

I.

Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti pembelajaran ini siswa dapat: 1) menjelaskan pengertian indikator asam -basa. 2) membedakan larutan asam, basa dan garam dengan kertas lakmus. 3) menjelaskan sifat-sifat larutan asam, basa, dan garam melalui data -data hasil percobaan. 4) menentukan macam-macam tumbuhan yang dapat digunakan sebagai indikator asam basa berdasarkan percobaan. 5) memilih indikator alam yang paling baik digunakan untuk menguji sifat larutan asam basa. 6) menyebutkan bahan-bahan di rumah berdasarkan sifat asam dan basa. 7) menjelaskan dampak larutan asam terhadap benda -benda dari logam. 8) menjelaskan dampak larutan asam terhadap lingkungan.

II.

Materi Pembelajaran 1) Indikator Asam Basa

45

2) Sifat larutan Asam, Basa dan Garam 3) Dampak larutan asam terhadap lingkungan III. KKM : 70 IV. Model/Strategi/Pendekatan /Metode 1. Model 2. Strategi 3. Pendekatan 4. Metode : Inkuari : STAD : Keterampilan Proses : Eksperimen /Diskusi/ Ceramah

V. Langkah-langkah Kegiatan

46

47

48

49

VI. Sumber / Alat Bantu Sumber : - buku teks IPA jilid 1 - buku kimia lain yang relevan - Lembar Kerja Siswa Alat dan Bantu:

VII. Penilaian 1. Prosedur Penilaian

50

a. Penilaian Kognitif Jenis: Pertanyaan lisan dan tulisan. Bentuk: Pilihan Ganda dan Jawaban Singkat. b. Penilaian Afektif Bentuk: Lembar pengamatan sikap siswa c. Penilaian Psikomotor Bentuk: Lembar observasi kinerja praktikum 2. Instrumen Contoh soal Uraian : 1. Apa yang dimaksud dengan indikator asam basa? 2. Jelaskan perbedaan indikator asam basa buatan dan indikator alam, berikan masing-masing contohnya! 3. Uraikan cara menentukan sifat larutan dengan menggunakan lakmus merah dan lakmus biru! 4. Jelaskan perbedaan sifat asam dan basa. 5. Berikan contoh garam yang sering digunakan dalam kehidupan sehari -hari! 6. Kelompokkan bahan-bahan di bawah ini yang larutannya bersifat asam atau basa asam atau basa! a. Cuka b. Soda kue c. air kapur d. obat maag e. minuman bersoda f. air jeruk g. yoghurt h. air sabun i. pembersih lantai j. pemutih pakaian 7. Di rumahmu ada bahan-bahan atau larutan-larutan pembersih, pemutih, minuman dan cuka. Berikan cara-cara penyimpanan dan penggunaannya? 8. Jelaskan dampak penggunaan larutan asam bagi lingkungan jika penggunaannya kurang mengikuti aturan.

51

Contoh Soal Pilihan Berganda: 1. Data pengujian beberapa larutan dengan lakmus merah dan lakmus biru

adalah sebagai berikut. Larutan yang bersifat asam adalah . . . . A. P B. Q C. R D. S

2. Suatu larutan diuji dengan lakmus merah menghasilkan warna biru, diuji dengan lakmus biru menghasilkan warna biru. Diperkirakan larutan tersebut adalah . . . . A. air garam C. cuka i. sirup rasa jeruk ii. gula A. i dan ii B. i dan iii A. kangkung B. kunyit A. Lemari plastik B. Kursi besi B. air kapur D. air mineral iii. cuka 25% iv. garam meja C. ii dan iii D. iii dan iv C. bunga mawar D. kulit manggis C. Piring gelas D. Meja kayu

3. Berikut ini adalah bahan-bahan yang ada di rumah:

Dari bahan-bahan di atas, yang mengandung senyawa asam adalah....

4. Jenis-jenis tumbuhan berikut dapat dijadikan indikator asam basa, kecuali . . . .

5. Benda-benda di rumah yang dapat cepat rusak oleh larutan asam adalah....

6. Selain kertas lakmus, untuk menentukan sifat larutan asam basa dapat dilakukan dengan kertas indikator universal. Perubahan warna indikator asam basa pada larutan asam dan basa adalah sebagai berikut:

52

Jika natrium hidroksida berlebih ditambahkan ke dalam larutan asam klorida yang mengandung indikator universal maka akan terjadi perubahan warna, yaitu.... A. indikator menjadi hijau B. indikator berubah dari merah ke hijau C. indikator berubah dari merah ke hijau kemudian biru D. indikator berubah dari biru ke hijau kemudian merah 7. Berikut ini merupakan sifat-sifat larutan. Yang merupakan sifat larutan basa adalah... A. memerahkan lakmus biru B. Larutannya tidak mengantar listrik C. di dalam larutan melepaskan ion OH D. senyawanya menimbulkan pencemaran udara 8. Garam yang dapat dibuat melalui penguapan air laut adalah .... A. Barium sulfat B. Kalsium karbonat sering digunakan sehari-hari, C. Natrium klorida D. Timbal(II) iodida terdapat didalam produk atau bahan yang yang tertera pada tabel berikut. seperti

9. Beberapa larutan asam dan basa

Senyawa yang sesuai dengan produknya adalah.... A. P dengan Q B. Q dengan R C. R dengan S D. S dengan P

10. Sekelompok siswa akan menguji sifat larutan asam dan basa. Mereka membuat dulu indikator alam dan data yang diperoleh dari berbagai tanaman.

53

Bahan indikator yang seharusnya dipilih mereka untuk menguji sifat larutan agar tepat adalah .... A. Daun pandan dan bunga soka B. Daun hanjuang dan daun pandan C. Bunga soka dan tomat D. Bunga soka dan daun hanjuang

54

55

56

57

58

59

Contoh 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/Semester Materi Pokok Submateri Pokok Alokasi Waktu I. : SMP : IPA Fisika : IX / Ganjil : IX.3. Listrik Dinamis : IX.3.2. Merumuskan Hukum Ohm : 2 x 45 menit

Standar Kompetensi : 3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. :3.2 Menganalisis percobaan listrik dinamis dalam suatu rangkaian serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari :

II. Kompetensi dasar III INDIKATOR

Menyelidiki hubungan antara arus listrik dan beda potensial dalam suatu Membuat grafik hubungan antara arus listrik dan beda potensial dalam suatu

rangkaian listrik (hukum Ohm)

rangkaian listrik IV. Tujuan: IX Pemahaman dan Penerapan Konsep Siswa mampu :
• • • •

menemukan dasar hukum Ohm menemukan hubungan kuat arus dan beda potensial dan merumuskannya membuat grafik hubungan kuat arus dan beda potensial menerapkan hukum ohm dalam kehidupan sehari-hari

Kerja Ilmiah Siswa mampu :

Melakukan percobaan untuk mengukuran kuat arus dan beda potensial dalam Merangkai komponen listrik dalam berbagai variasi (seri dan paralel) Cara memasang dan membaca skala pada amperemeter Cara memasang dan membaca skala pada voltmeter

suatu rangkaian.
• • •

60

V. Materi Pokok : Listrik Dinamis VI.Model/Strategi/Pendekatan /Metode 1. Model : Inkuiri

2. Pendekatan : Keterampilan Proses 4. Metode : Eksperimen /Diskusi/ Ceramah

VII. Langkah Pembelajaran : Pendahuluan ( awal ) : Motivasi : Guru mengajukan pertanyaan : Mengapa lampu di rumahmu kadang menyala dengan terang, tetapi kadang menyala redup ? Pengetahuan prasyarat :
• • •

Pengertian tegangan, kuat arus listrik dan satuannya. Cara mengukur beda potensial Cara mengukur kuat arus listrik

Kegiatan Inti 1. Siswa membentuk kelompok untuk melalukan percobaan “ menemukan hubungan antara kuat arus dan beda potensial” berdasarkan LKS 2. Siswa membentuk kelompok untuk mendiskusikan “hubungan matematis antara kuat arus dengan tegangan ”, “ hambatan konduktor Ohmik” , “ penerapan hukum Ohm “ dan “hukum Ohm dan kejutan listrik, membahas teori dan penerapannya pada buku. 3. Secara kelompok siswa diminta untuk membuat kesimpulan dari diskusi dan percobaan tersebut Penutup : Melalui diskusi guru membimbing untuk menyimpulkan : 1. Bunyi hukum Ohm : Kuat arus yang melalui suatu konduktor ohmik adalah sebanding ( berbanding lurus ) dengan beda potensial antara ujung-ujung konduktor asalkan suhu konduktor tetap. Secara matematis dapat dirumuskan : V=R.I I = V/R R = V /I 61

Keterangan : V = beda potensial, satuan : volt ( V ) I = kuat arus, satuan : ampere ( A ) R = hambatan, satuan : ohm ( Ω ) 2. Hambatan merupakan hasil bagi antara beda potensial dengan kuat arus listrik. 3. Satu ohm adalah hambatan bagi suatu konduktor di mana ketika beda potensial satu volt diberikan pada ujung-ujung konduktor amka kuat arus satu ampere mengalir melalui konduktor tersebut. 4. Penerapan hukum Ohm sehari-hari : Kuat arus listrik berbanding terbalik dengan hambatan listrik Pada peristiwa hubungan singkat (korsleting), arus menjadi besar (karena arus hanya mengalir pada kawat yang pendek). Arus besar ini dapat merusak alat-alat listrik yang terhubung bahkan dapat membakar penghantar (kabel) akibatnya terjadilah kebakaran. Untuk mengatasi terjadinya kebakaran jika terjadi korsleting, maka dipasang sekring. Sekring akan putus segera setelah terjadi korsleting, sehingga tidak terjadi kebakaran. Prinsip sekring di rumah : Sekring yang dipasang di rumah adalah tipe “ expulsion fuses “ atau “ saklar pengaman “ sekring ini praktis karena jika kelebihan beban atau terjadi korsleting sekring akan anjok. VIII. Sumber dan Alat : 1. Buku Sains Fisika 2. LKS 3. Alat • • • • • • X XI Papan rangkaian listrik sederhana amperemeter voltmeter resistor Catu daya Lampu (1 lembar) (1 buah) (1 buah) (1 buah) (1 buah) (1 buah)

IX. Penilaian : Pemahaman dan penerapan Konsep : Siswa diminta :

62

Siswa diminta untuk menjawab pertanyaan yang ada pada buku

Kinerja Ilmiah XII Guru menilai : • • Siswa melakukan percobaan membuat rangkaian berbagai variasi Pemasangan dan pembacaan skala pada ampertemeter dan (seri dan paralel) voltmeter LEMBAR KERJA SISWA (LKS) PRAKTIKUM ”HUKUM OHM” A. Tujuan Siswa mampu : 1. menemukan hukum Ohm 2. menemukan hubungan kuat arus dan beda potensial dan merumuskannya 3. mebuat grafik hubungan kuat arus dan beda potensial 4. menerapkan hukum ohm dalam kehidupan sehari-hari B. Alat dan Bahan 1. Papan rangkaian listrik sederhana 2. amperemeter 3. voltmeter 4. resistor (1 buah) 5. Catu daya 6. Lampu (1 buah) C. Skema Alat pada gambar di samping:
L A V R

(1 lembar) (1 buah) (1 buah) (1 buah)

A : amperemeter V : voltmeter R : resistor L : lampu

ε

ε : catu daya (sumber tegangan variabel)

D. Prosedur Kerja 1. 2. 3. Set peralatan seperti skema alat di atas Pilihlah tegangan sumber dengan nilai paling kecil pada catu daya Ukurlah tegangan pada resistor dengan menggunakan voltmeter

63

4. 5. 6. 7. tegangan

Ukurlah kuat arus pada rangkaian dengan menggunakan amperemeter (kuat arus pada amperemeter sama dengan kuat arus pada resistor) Jika nilai tegangan sumber diubah, apa yang terjadi? Buatlah tabel untuk memasukkan data yang sudah diperoleh untuk masingmasing nilai tegangan Buatlah grafik V-I yang diperoleh untuk masing-masing pilihan nilai sumber

V I

A. EVALUASI 1) Buatlah pemetaan antara topik-topik IPA SMP/MTs dengan pendekatan pembelajaran karakteristik Pemetaan pembelajaran materinya topik-topik IPA yang sesuai berdasarkan metode dalam bagan sebagai berikut: SMP/MTs dengan

2) Rancanglah Skenario pembelajaran dari salah satu topik IPA SMP menggunakan pendekatan sesuai dengan topik yang dipilih ! pembelajaran yang

64

DAFTAR PUSTAKA
Herliani, Elly, dkk. 2009. Penilaian Hasil Belajar. Untuk Guru SMP. BERMUTU. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Bandung Dewi, Poppy K. 2010. Keterampilan Proses dalam Pembelajaran IPA. Untuk Guru SMP. BERMUTU. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Bandung Dewi, Poppy K, Renny S., dan Khairuddin. 2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran. Untuk Guru SMP. BERMUTU. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Bandung.

65

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->