1. Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam, Dakwah Amar Makruf Nahi Mungkar dan Tajdid Prof. Dr. H. A.

Mukti Ali ketika mengantarkan buku Dr. Mitsuo Nakamura ”Matahari Terbit di Balik Pohon Beringin” menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan serba wajah (dzuwujuh), sebutan ini dimaksudkan untuk menunjukkan keragaman aktifitas Muhammadiyah. Seperti dimaklumi, Muhammadiyah menyelenggarakan aktifitas dalam bidang tabligh, pendidikan, ekonomi, dan juga politik. Dengan demikian, Muhammadiyah di kalangan luar dipandang sebagai organisasi keagamaan, organisasi sosial, organisasi pendidikan. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan, Muhammadiyah tercatat di Departemen Agama, Departemen Pendidikan, Departemen Sosial. Bahkan pada tahun 1966 lewat surat Wakil Perdana Menteri Bidang Sospol dan Menddagri, Muhammadiyah dinyatakan sebagai ”orsospol” , yakni organisasi massa yang mempunyai fungsi politik riil dalam masyarakat Indonesia. Begitu luasnya bidang garapan persyarikatan Muhammadiyah yaitu seluruh aspek kehidupan manusia yang berlandaskan ajaran Islam, maka dalam Muktamar Muhamadiyah ke-41 di Solo yang berlangsung dari tanggal 7-11 ditetapkanlah identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar makmur nahi mungkar berakidah Islam dan bersumber kepada Al-Qur an dan sunnah. Gerakan Islam yaitu gerakan yang kelahirannya diilhami dan disemangati oleh ajaran Al-Qur an dan seluruh geraknya tidak ada motif lain kecuali semata-mata untuk merealisasikan prisnipprinsip ajaran Islam. Jadi, segala apa yang dilakukan tidak lepas dari ajaran Islam. Berdasarkan pengertian ini, pantaslah Muhammadiyah disebut dengan gerakan Islam, karena kelahirannya merupakan hasil konkret dari telaah KHA. Dahlan terhadap al-Qur an al-Karim dan pemikiranpemikiran tokoh-tokoh pembaharu Timur Tengah seperti Ibn Qoyyim al-Jauziyah, Ibn Taiymiyah, Syekh Muhammad Abduh Rasyid Ridho dan lain-lain, serta didorong oleh temanteman dari Budi Utomo, maka K.H. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah. Disamping itu, kelahiran Muhammadiyah juga sebagai reaksi terhadap kondisi kehidupan sosial bangsa dan sosial keagamaan kaum muslimin di Indonesia yang pada waktu itu meringkuk di bawah penjajahan kolonial Belanda dan penjajahan pemikiran yang ditandai dengan meraja lelanya perbuatan syirik, takhyul, bid’ah dan khurafat dan dhidup dalam kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan. Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, artinya Muhammadiyah mengajak dan menyeru umat manusia kepada ajaran Islam dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. Dakwah menurut K.H. Ahmad Dahlan adalah kewajiban setiap individu, karena dakwah merupakan tuntutan ajaran Islam. dalam pengertian rekonstruksi sosial meliputi seluruh aspek kehidupan, ekonomi, politik, sosial dan budaya. Di samping itu dakwah juga dalam pengertian pembebasan, yaitu membebaskan umat manusia dari berbagai belenggu penjajahan, penjajahan dari kekafiran, syirik, kebodohan dan kejumudan. Dakwah dalam pengertian ini juga merupakan hasil dari telaah dan pendalaman KHA. Dahlan terhadap firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104. Bahkan ayat ini merupakan khittah dan langkah strategis dasar perjuangannya, yaitu mengajak, menyeru kepada Islam dan mengajak kepada yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar. Oleh karena dakwah Muhammadiyah tidak saja dalam bentuk lisan, tulisan tetapi juga dalam bentuk dakwah bil hal (perbuatan), maka Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah, mulai dari taman-kanak sampai ke Perguruan Tinggi, mulai dari klinik dan rumah bersalin sampai mendirikan rumah sakit, mulai dari santunan fakir miskin dan anak yatim sampai mendirikan

Muhammadiyah Muhammadiyah sampai saat sekarang masih tetap eksis dan tetap berkembang. membina warga Persyarikatan Muhammadiyah tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu pula dalam rangka mencapai maksud dan tujuan Persyarikatan Muhammadiyah. Membersihkan pengamalan umat dari syirik dan penyakit TBC (takhyul. Dari uraian di atas dapat dipahami. dan tajdid dalam pengertian pembaharuan disebut dengan reformasi. Organisasi Otonom Gambaran Umum Organisasi Otonom Muhammadiyah ialah organisasi atau badan yang dibentuk oleh Persyarikatan Muhammadiyah yang dengan bimbingan dan pengawasan. tetapi menganggap bahwa fatwa dan pendapat imam mazhab dan begitu juga ideide yang lain merupakan subjek untuk penelitian selanjutnya. bid’ah dan churafat). Di samping itu. Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid atau gerakan reformasi. . hal ini dibenarkan oleh Bernard Vlekke dan Wertheim misalnya. yaitu pembaharuan dalam pemahaman dan pengamalan Al-Qur an dan AsSunnah. dakwah amar makruf nahi mungkar dan tajdid. Muhammadiyah juga melakukan pembaharuan. ide dan amalan pada prinsipnya didasarkan pada Al-Qur an dan Sunnah. dan lain sebagainya. anak yatim. Muhammadiyah tidak membabi buta menolak pendapat para imam mazhab. Pembaharuan yang dimaksud di sini bukan bukan memperbaharui substansi.panti-panti asuhan. tajidid dalam pengertian pemurnian dapat disebut dengan purifikasi. yang mengkategorikan Muhammadiyah sebagai gerakan puritan yang menjadikan fokus utamanya ”Pemurnian atau pembersihan ajaran-ajaran Islam dari sinkritisme dan belenggu formalisme. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Deliar Noer. tetapi memperbaharui metode pemahaman dan pengamalan. bahwa tidaklah mengherankan apa yang dikemukakan oleh A. Di antara faktor penyebab Muhammadiyah masih tetap berkembang adalah karena ciri dan sifat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam. tetapi bukan pula berarti Muhammadiyah menolak mazhab. Di samping itu. Untuk membedakan antara keduanya. diberi hak dan kewajiban untuk mengatur rumah tangga sendiri. Semuanya itu adalah wujud dan manifestasi dari dakwah Islam dan juga berfungsi sebagai dakwah. karena kegiatan-kegiatan Muhammadiyah hampir meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Bagi Muhammdiyah kebenaran dari fatwa. cara pengelolaan zakat. pengelolaan pendidikan dan rumah sakit. Muhammadiyah juga gigih mempertahankan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka dan menolak ide tentang taklid. Mukti Ali bahwa Muhammadiyah adalah organisasi dzuwujuh (multi dimensi). Tambahan lagi karena pemikiran keagamaan dalam Muhammadiyah hanya berdasarkan dan berpegang teguh kepada Al-Qur an dan Sunnah sebagai sumber pokok. seperti penyantunan terhadap fakir miskin.

2. Mempunyai fungsi khusus dalam Persyarikatan Muhammadiyah Mampunyai Potensi dan ruang lingkup nasional Merupakan kepentingan Persyarikatan Muhammadiyah Pembentukan Ortom Muhammadiyah ditetapkan oleh Tanwir Muhammadiyah (Lembaga Permusyawaratan Tertinggi setelah Muktamar Muhammadiyah) dan dilaksanakan dengan Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2. Adapun tujuan pembentukan Ortom Muhammadiyah adalah sebagai berikut: 1. 3. Ortom Muhammmadiyah dibentuk di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah jika memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. tingkat desa. Ortom Muhammadiyah mempunyai hak dan kewajiban dalam Persyarikatan Muhammadiyah ialah sebagai berikut : 1. tingkat kabupaten. mulai dari tingka pusat. 3. 4. Efisiensi dan efektifitas Persyarikatan Muhammadiyah Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah Dinamika Persyarikatan Muhammadiyah Kaderisasi Persyarikatan Muhammadiyah Hak dan Kewajiban Dalam kedudukannya sebagai organisasi otonom yang mempunyai kewenangan mengatur rumah tangga sendiri. dan kelompok-kelompok atau jama’ah – jama’ah. tingkat propinsi. tingkat kecamatan.Struktur dan Kedudukan Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah sebagai badan yang mempunyai otonomi dalam mengatur rumah tangga sendiri mempunyai jaringan struktur sebagaimana halnya dengan Muhammadiyah. 2. Melaksanakan Keputusan Persyarikatan Muhammadiyah Menjaga nama baik Persyarikatan Muhammadiyah .

Membina anggota-anggotanya menjadi warga dan anggota Persyarikatan Muhammadiyah ynag baik Membina hubungan dan kerjasama yang baik dengan sesama ortom Melaporkan kegiatan-kegiatannya kepada pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah Menyalurkan anggota-anggotanya dalam kegiatan gerak dan amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah sesuai dengan bakat. 4.3. Organisasi Otonom dalam Persyarikatan Muhammadiyah Ortom dalam Persyarikatan Muhammadiyah mempunyai karakteristik dan spesifikasi bidang tertentu. Aisyiyah Pemuda Muhammadiyah Nasyiyatul Aisyiyah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tapak Suci Putra Muhammadiyah Hizbul Wathan . 3. 7. 5. 6. 5. Adapun Ortom dalam Persyarikatan Muhammadiyah yang sudah ada ialah sebagai berikut : 1. aktivitas dan amal usaha yang dilakukan organisasi otonomnya Berhubungan dengan organisasi/ Badan lain di luar Persyarikatan Muhammadiyah Memberi saran kepada Persyarikatan Muhammadiyah baik diminta atau atas kemauan sendiri Mengusahakan dan mengelola keuangan sendiri 2. 2. 3. Mengelola urusan kepentingan. 6. 4. Adapun hak yang dimiliki oleh Ortom Muhammadiyah ialah sebgai berikut : 1. minat dan kemampuannya 4.

Jaringan Kelembagaan Muhammadiyah: o Pimpinan Pusat o Pimpinaan Wilayah o Pimpinaan Daerah o Pimpinan Cabang o Pimpinan Ranting o Jama'ah Muhammadiyah 2. Organisasi Otonom o Aisyiyah o Pemuda Muhammadiyah o Nasyiyatul Aisyiyah o Ikatan Pelajar Muhammadiyah o Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah o Hizbul Wathan o Tapak Suci 4. Pembantu Pimpinan Persyarikatan o Majelis  Majelis Tarjih dan Tajdid  Majelis Tabligh  Majelis Pendidikan Tinggi  Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah  Majelis Pendidikan Kader  Majelis Pelayanan Sosial  Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan  Majelis Pemberdayaan Masyarakat  Majelis Pembina Kesehatan Umum  Majelis Pustaka dan Informasi  Majelis Lingkungan Hidup  Majelis Hukum Dan Hak Asasi Manusia  Majelis Wakaf dan Kehartabendaan o Lembaga  Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting  Lembaga Pembina dan Pengawasan Keuangan  Lembaga Penelitian dan Pengembangan  Lembaga Penanganan Bencana  Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqqoh  Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik  Lembaga Seni Budaya dan Olahraga  Lembaga Hubungan dan Kerjasama International 3.ORGANISASI MUHAMMADIYAH 1. Berikut ini penjelasan tentang berbagai permusyawaratan yang dilakukan oleh Muhammadiyah: .

5. Peserta Muktamar berhak menyatakan pendapat. atas dasar keputusan Musyawarah Pimpinan Daerah. dan dipilih. c. Usul-usul (5) Muktamar dihadiri oleh: a. Anggota Pimpinan Pusat. Laporan Pimpinan Pusat tentang: 1. 2. Undangan khusus dari kalangan Muhammadiyah yang ditentukan oleh Pimpinan Pusat. (3) Undangan dan acara Muktamar dikirim kepada anggota Muktamar selambatlambatnya tiga bulan sebelum Muktamar berlangsung. (8) Pertemuan dan atau kegiatan lain yang diselenggarakan bersamaan waktu berlangsungnya Muktamar diatur oleh penyelenggara. Kebijakan Pimpinan. Anggota Tanwir wakil Wilayah. tata-tertib. Pelaksanaan keputusan Muktamar dan Tanwir. 4. Ketua Pimpinan Wilayah atau penggantinya yang sudah disahkan oleh Pimpinan Pusat. (4) Acara Muktamar: a. b. 2. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Pusat masing-masing dua orang. 6. Ketua Pimpinan Daerah atau penggantinya yang sudah disahkan oleh Pimpinan Wilayah. 5. memilih. 4. Organisasi. diantaranya dua orang wakilnya dalam Tanwir. berdasar atas perimbangan jumlah Cabang dalam tiap Daerah. Pemilihan Anggota Pimpinan Pusat dan penetapan Ketua Umum d. . 3. memilih. Peninjau Muktamar tidak mempunyai hak menyatakan pendapat. b. 3. dan dipilih. Anggota Muktamar terdiri atas: 1. 2. Masalah Muhammadiyah yang bersifat umum e. Wakil Daerah sekurang-kurangnya tiga orang dan sebanyak-banyaknya tujuh orang. Peninjau Muktamar ialah mereka yang diundang oleh Pimpinan Pusat (6) Anggota Muktamar berhak menyatakan pendapat. (2) Ketentuan tentang pelaksanaan. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Pusat masing-masing tiga orang. (7) Keputusan Muktamar harus sudah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat selambatlambatnya dua bulan sesudah Muktamar. dan susunan acara Muktamar ditetapkan oleh Pimpinan Pusat. Ketentuan perimbangan ditetapkan oleh Pimpinan Pusat. Peserta Muktamar terdiri atas: 1. Keuangan. Muktamar (1) Muktamar diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin oleh Pimpinan Pusat. Program Muhammadiyah c.

Tanwir (1) Tanwir diadakan oleh Pimpinan Pusat atau atas permintaan sekurang-kurangnya seperempat dari jumlah anggota Tanwir di luar anggota Pimpinan Pusat. Peninjau Tanwir ialah mereka yang diundang oleh Pimpinan Pusat. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Pusat masing-masing dua orang. Anggota Tanwir terdiri atas: 1. (4) Undangan dan acara Tanwir dikirim kepada Anggota Tanwir selambatlambatnya satu bulan sebelum Tanwir berlangsung. (2) Undangan dan acara Muktamar Luar Biasa dikirim kepada Anggota Muktamar selambat-lambatnya satu bulan sebelum Muktamar Luar Biasa berlangsung. (3) Ketentuan tentang pelaksanaan. Peserta . 7. Undangan khusus dari kalangan Muhammadiyah yang ditentukan oleh Pimpinan Pusat. b. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Pusat masing-masing dua orang. kecuali ayat (3) dan ayat (4). Usul-usul (6) Tanwir dihadiri oleh: a. Muktamar Luar Biasa (1) Muktamar Luar Biasa diadakan berdasarkan keputusan Tanwir atas usul Pimpinan Pusat atau dua pertiga Pimpinan Wilayah. (5) Acara Tanwir: a. Masalah mendesak yang tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar e. Anggota Pimpinan Pusat. dan dipilih. 4. (4) Muktamar Luar Biasa dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari anggota Muktamar dan keputusannya diambil sekurang-kurangnya dua pertiga dari yang hadir. tata-tertib. Ketentuan perimbangan ditetapkan oleh Pimpinan Pusat. memilih. 2. 3. c.6. 2. (7) Anggota Tanwir berhak menyatakan pendapat. Masalah yang akan dibahas dalam Muktamar sebagai pembicaraan pendahuluan d. (3) Ketentuan-ketentuan pasal 21 berlaku bagi penyelenggaraan Muktamar Luar Biasa. Masalah yang oleh Muktamar atau menurut Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga diserahkan kepada Tanwir c. Wakil Wilayah terdiri dari unsur Pimpinan Wilayah dan atau Pimpinan Daerah antara 3 sampai 5 orang berdasarkan perimbangan daerah dalam wilayah atas dasar keputusan Musyawarah Wilayah atau Musyawarah Pimpinan Wilayah. Peserta Tanwir terdiri dari: 1. Laporan Pimpinan Pusat b. (2) Tanwir diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin Pimpinan Pusat. dan susunan acara Tanwir ditetapkan oleh Pimpinan Pusat. Ketua Pimpinan Wilayah atau penggantinya yang telah disahkan oleh Pimpinan Pusat.

Wakil daerah Sebanyak tiga orang. Ketua Pimpinan Cabang atau penggantinya yang sudah disahkan oleh Pimpinan Daerah. Anggota Musyawarah Wilayah terdiri atas: 1. masing-masing dua orang. Keuangan. Peserta Musyawarah Wilayah terdiri atas: 1. 4. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Wilayah masing-masing dua orang. Pemilihan Anggota Pimpinan Wilayah dan pengesahan Ketua d. dan dipilih. dan Rapat Pimpinan tingkat Wilayah. 2. 4. Tanwir. Instruksi Pimpinan Pusat. Pelaksanaan keputusan-keputusan Muktamar.Tanwir berhak menyatakan pendapat. c. 6. Program Wilayah c. dan susunan acara Musyawarah Wilayah ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Wilayah. 2. Musyawarah Wilayah (1) Musyawarah Wilayah diselengarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin oleh Pimpinan Wilayah. (8) Keputusan Tanwir harus sudah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat selambatlambatnya satu bulan sesudah Tanwir. b. 8. Anggota Pimpinan Wilayah yang sudah disahkan oleh Pimpinan Pusat. 3. Peninjau Tanwir tidak berhak menyatakan pendapat. memilih. Organisasi. Usul-usul (5) Musyawarah Wilayah dihadiri oleh: a. Peninjau Musyawarah Wilayah ialah mereka yang diundang oleh Pimpinan Wilayah . Ketua Pimpinan Daerah atau penggantinya yang sudah disahkan oleh Pimpinan Wilayah. pelaksanaan keputusan Musyawarah Wilayah . Wakil Cabang yang jumlahnya ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah berdasarkan atas perimbangan jumlah Ranting pada tiap-tiap Cabang. Pemilihan Anggota Tanwir Wakil Wilayah e. Masalah Muhammadiyah dalam Wilayah f. (9) Pertemuan dan atau kegiatan lain yang diselenggarakan bersamaan waktu Sidang Tanwir diatur oleh penyelenggara. Undangan khusus dari kalangan Muhammadiyah yang ditentukan oleh Pimpinan Wilayah. Musyawarah Pimpinan Wilayah. 5. 2. (4) Acara Musyawarah Wilayah: a. (3) Undangan dan acara Musyawarah Wilayah dikirim kepada Anggota Musyawarah Wilayah selambat-lambatnya satu bulan sebelum Musyawarah Wilayah berlangsung. 3. Kebijakan Pimpinan. b. (2) Ketentuan tentang pelaksanaan tata-tertib. Laporan Pimpinan Wilayah tentang: 1.

Musyawarah Pimpinan Daerah dan Rapat Pimpinan tingkat Daerah. 9. 2. masing-masing dua orang. Kebijakan Pimpinan. Pemilihan anggota Musyawarah Pimpinan Wilayah Wakil Daerah e. Organisasi.(6) Anggota Musyawarah Wilayah berhak menyatakan pendapat. Laporan Pimpinan Daerah tentang: 1. . Ketua Pimpinan Cabang atau penggantinya yang sudah disahkan oleh Pimpinan Daerah. dan susunan acara Musyawarah Daerah ditetapkan oleh Pimpinan Daerah. maka keputusan Musyawarah Wilayah dapat ditanfidzkan oleh Pimpinan Wilayah. Musyawarah Daerah (1) Musyawarah Daerah diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin oleh Pimpinan Daerah. (8) Pertemuan dan atau kegiatan lain yang diselenggarakan bersamaan waktu Musyawarah Wilayah diatur oleh penyelenggara. 4. 3. Masalah Muhammadiyah dalam Daerah f. tidak ada keterangan atau keberatan dari Pimpinan Pusat. (2) Ketentuan tentang pelaksanaan. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Daerah masing-masing dua orang. Usul-usul (5) Musyawarah Daerah dihadiri oleh: a. Ketua Pimpinan Ranting atau penggantinya yang sudah disahkan oleh Pimpinan Cabang. Keuangan. (3) Undangan dan acara Musyawarah Daerah dikirim kepada Anggota Musyawarah Daerah selambat-lambatnya satu bulan sebelum Musyawarah Daerah berlangsung. 2. 5. 6. b. b. memilih. Program Daerah c. Wakil Ranting yang jumlahnya ditetapkan oleh Pimpinan Daerah berdasarkan jumlah anggota. Pemilihan Anggota Pimpinan Daerah dan pengesahan Ketua d. (7) Keputusan Musyawarah Wilayah harus dilaporkan kepada Pimpinan Pusat selambat-lambatnya satu bulan sesudah Musyawarah Wilayah. 3. dan dipilih. Anggota Musyawarah Daerah terdiri atas: 1. Pelaksanaan keputusan-keputusan Musyawarah dan Pimpinan di atasnya serta pelaksanaan keputusan Musyawarah Daerah. Wakil Cabang sebanyak tiga orang. 4. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Daerah. Peserta Musyawarah Daerah terdiri atas: 1. Peninjau Musyawarah Wilayah tidak berhak menyatakan pendapat. memilih. Peserta Musyawarah Wilayah berhak menyatakan pendapat. tata-tertib. Anggota Pimpinan Daerah yang telah disahkan oleh Pimpinan Wilayah. (4) Acara Musyawarah Daerah: a. Apabila dalam waktu satu bulan sesudah laporan dikirim. dan dipilih.

4. (2) Ketentuan tentang pelaksanaan. Peninjau Musyawarah Daerah tidak berhak menyatakan pendapat. dan dipilih. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Cabang masing-masing dua orang. b. maka keputusan Musyawarah Daerah dapat ditanfidzkan oleh Pimpinan Daerah. Ketua Pimpinan Ranting atau penggantinya yang telah disahkan oleh Pimpinan Cabang. memilih. Kebijakan Pimpinan. c. Masalah Muhammadiyah dalam Cabang f. Program Cabang c. (4) Acara Musyawarah Cabang: a. Anggota Musyawarah Cabang terdiri atas: 1. Undangan khusus dari kalangan Muhammadiyah yang ditentukan oleh . Pelaksanaan keputusan Musyawarah dan keputusan Pimpinan di atasnya serta pelaksanaan keputusan Musyawarah Cabang dan Musyawarah Pimpinan Cabang. 2. tata-tertib. Apabila dalam waktu satu bulan sesudah laporan dikirim tidak ada keterangan atau keberatan dari Pimpinan Wilayah. dan susunan acara Musyawarah Cabang ditetapkan oleh Pimpinan Cabang. memilih. b.2. (7) Keputusan Musyawarah Daerah harus dilaporkan kepada Pimpinan Wilayah selambat-lambatnya satu bulan sesudah Musyawarah Daerah. Usul-usul (5) Musyawarah Cabang dihadiri oleh: a. Musyawarah Cabang (1) Musyawarah Cabang diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin oleh Pimpinan Cabang. yang ditentukan oleh Pimpinan Daerah. Undangan Khusus dari kalangan Muhammadiyah. Anggota Pimpinan Cabang yang telah disahkan oleh Pimpinan Daerah. 3. 2. Peserta Musyawarah Cabang terdiri atas: 1. Wakil Ranting sebanyak tiga orang. Pemilihan anggota Musyawarah Pimpinan Daerah Wakil Cabang e. 3. (3) Undangan dan acara Musyawarah Cabang dikirim kepada Anggota Musyawarah Cabang selambat-lambatnya 15 hari sebelum Musyawarah Cabang berlangsung. Peninjau Musyawarah Daerah ialah mereka yang diundang oleh Pimpinan Daerah (6) Anggota Musyawarah Daerah berhak menyatakan pendapat. Laporan Pimpinan Cabang tentang: 1. 2. 4. masing-masing dua orang. (8) Pertemuan dan atau kegiatan lain yang diselenggarakan bersamaan waktu Musyawarah Daerah diatur oleh penyelenggara. dan dipilih. Pemilihan Anggota Pimpinan Cabang dan pengesahan Ketua d. Keuangan. Peserta Musyawarah Daerah berhak menyatakan pendapat. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Cabang. Organisasi. 10.

Anggota Musyawarah Ranting: 1. Laporan Pimpinan Ranting tentang: 1. c. (2) Ketentuan tentang pelaksanaan. 2. Peninjau Musyawarah Ranting ialah mereka yang diundang oleh Pimpinan Ranting (6) Anggota Musyawarah Ranting berhak menyatakan pendapat. Kebijakan Pimpinan. 11. memilih. Apabila dalam waktu . Pemilihan Anggota Pimpinan Ranting dan pengesahan Ketua d. Keuangan. Usul-usul (5) Musyawarah Ranting dihadiri oleh: a. 3. memilih. b. Peserta Musyawarah Ranting ialah undangan khusus dari kalangan Muhammadiyah yang ditentukan oleh Pimpinan Ranting c. (3) Undangan dan acara Musyawarah Ranting dikirim kepada Anggota Musyawarah Ranting selambat-lambatnya tujuh hari sebelum Musyawarah Ranting berlangsung. maka keputusan Musyawarah Cabang dapat ditanfidzkan oleh Pimpinan Cabang.Pimpinan Cabang. tata-tertib. Peninjau Musyawarah Ranting tidak berhak menyatakan pendapat. Peserta Musyawarah Cabang berhak menyatakan pendapat. Anggota Muhammadiyah. 4. Musyawarah Ranting (1) Musyawarah Ranting diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin oleh Pimpinan Ranting. Peninjau Musyawarah Cabang ialah mereka yang diundang oleh Pimpinan Cabang. Program Ranting c. (4) Acara Musyawarah Ranting: a. dan dipilih. 2. dan susunan acara Musyawarah Ranting ditetapkan oleh Pimpinan Ranting. b. Peserta Musyawarah Ranting berhak menyatakan pendapat. dan dipilih. Peninjau Musyawarah Cabang tidak berhak menyatakan pendapat. Apabila dalam waktu 15 hari sesudah laporan dikirim tidak ada keterangan atau keberatan dari Pimpinan Daerah. Wakil Organisasi Otonom tingkat Ranting. (6) Anggota Musyawarah Cabang berhak menyatakan pendapat. memilih. memilih. (7) Keputusan Musyawarah Cabang harus dilaporkan kepada Pimpinan Daerah selambat-lambatnya 15 hari sesudah Musyawarah Cabang. dan dipilih. (8) Pertemuan dan atau kegiatan lain yang diselenggarakan bersamaan waktu Musyawarah Cabang diatur oleh penyelenggara. Masalah Muhammadiyah dalam Ranting e. Organisasi. (7) Keputusan Musyawarah Ranting harus dilaporkan kepada Pimpinan Cabang selambat-lambatnya 15 hari setelah Musyawarah Ranting. Pelaksanaan keputusan Musyawarah dan keputusan Pimpinan di atasnya serta pelaksanaan keputusan Musyawarah Ranting dan Musyawarah Pimpinan Ranting. dan dipilih.

Masalah mendesak yang tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Musyawarah e. Masalah yang oleh Musyawarah atau menurut Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga diserahkan kepada Musyawarah Pimpinan c. (3) Undangan dan acara Musyawarah Pimpinan dikirim kepada anggota Musyawarah Pimpinan selambat-lambatnya: a. (4) Acara Musyawarah Pimpinan: a. Laporan pelaksanaan kegiatan b. Musyawarah Pimpinan (1) Musyawarah Pimpinan diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin oleh Pimpinan Wilayah. maka keputusan Musyawarah Ranting dapat ditanfidzkan oleh Pimpinan Ranting. Masalah yang akan dibahas dalam Musyawarah sebagai pembicaraan pendahuluan d. c. Peserta: (a) Wakil Unsur Pembantu Pimpinan masing-masing dua orang . Pimpinan Daerah. Anggota: (a) Anggota Pimpinan Wilayah yang telah disahkan oleh Pimpinan Pusat (b) Ketua Pimpinan Daerah atau penggantinya yang telah disahkan oleh Pimpinan Wilayah (c) Wakil Daerah tiga orang (d) Wakil Organisasi Otonom tingkat Wilayah dua orang 2. Pada tingkat Wilayah: 1. (2) Ketentuan tentang pelaksanaan. Tingkat Ranting. tata-tertib. sekurang-kurangnya satu kali dalam satu masa jabatan. Tingkat Wilayah dan Daerah. dan susunan acara Musyawarah Pimpinan ditetapkan oleh masing-masing penyelenggara. (8) Pertemuan dan atau kegiatan lain yang diselenggarakan bersamaan waktu Musyawarah Ranting diatur oleh penyelenggara. sebelum Musyawarah Pimpinan berlangsung.15 hari sesudah laporan dikirim tidak ada keterangan atau keberatan dari Pimpinan Cabang. Pada tingkat Daerah: 1. satu bulan. Peserta: (a) Wakil Unsur Pembantu Pimpinan masing-masing dua orang (b) Undangan khusus b. 15 hari. Usul-usul (5) Musyawarah Pimpinan dihadiri oleh: a. Anggota: (a) Anggota Pimpinan Daerah yang telah disahkan oleh Pimpinan Wilayah (b) Ketua Pimpinan Cabang (c) Wakil Cabang tiga orang (d) Wakil Organisasi Otonom tingkat Daerah dua orang 2. dan Pimpinan Ranting. Pimpinan Cabang. tujuh hari. 12. b. Tingkat Cabang.

Pada tingkat Ranting: 1. Ketua dan Sekretaris Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Pusat. Anggota Pimpinan Ranting yang telah disahkan oleh Pimpinan Cabang b. 15.(b) Undangan khusus c. dan dipilih. Ketua Umum dan Sekretaris Umum Organisasi Otonom tingkat Pusat. memilih. Pada tingkat Pusat: 1. maka Musyawarah ditunda lagi selama satu jam dan setelah itu dapat dibuka serta dinyatakan sah tanpa memperhitungkan jumlah kehadiran anggota Musyawarah. selambatlambatnya satu bulan sesudah Musyawarah Pimpinan berlangsung 13. Apabila anggota Musyawarah belum juga memenuhi jumlah dua pertiga. Apabila anggota Musyawarah tidak memenuhi jumlah dua pertiga. maka Musyawarah ditunda selama satu jam dan setelah itu dapat dibuka kembali. Peserta berhak pendapat. (3) Keputusan Musyawarah yang dilakukan dengan pemungutan suara dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup / rahasia. Peserta (undangan khusus). Peserta: (a) Wakil Unsur Pembantu Pimpinan masing-masing dua orang (b) Undangan khusus d. Ketua dan Sekretaris Pimpinan Wilayah. 2. Pada tingkat Cabang: 1. b. 2. 2. (2) Apabila keputusan secara mufakat tidak tercapai. 3. . 2. 4. (6) Anggota Musyawarah Pimpinan berhak menyatakan pendapat. Keputusan Musyawarah (1) Keputusan Musyawarah diambil dengan cara mufakat. Keabsahan Musyawarah Musyawarah dinyatakan sah apabila dihadiri oleh dua pertiga dari anggota Musyawarah. Ketua dan Sekretaris Pimpinan Daerah. Rapat Pimpinan (1) Rapat Pimpinan sebagaimana dimaksud pada pasal 32 Anggaran Dasar dihadiri oleh: a. Pada tingkat Wilayah: 1. maka dilakukan pemungutan suara dengan suara terbanyak mutlak. (7) Keputusan Musyawarah Pimpinan mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Muhammadiyah yang bersangkutan sampai diubah atau dibatalkan oleh keputusan Musyawarah Wilayah / Daerah / Cabang / Ranting. Wakil Organisasi Otonom tingkat Ranting dua orang. Anggota: a. Anggota Pimpinan Wilayah. Anggota Pimpinan Pusat. 14. Anggota: (a) Anggota Pimpinan Cabang yang telah disahkan oleh Pimpinan Daerah (b) Ketua Pimpinan Ranting (c) Wakil Ranting tiga orang (d) Wakil Organisasi Otonom tingkat Cabang dua orang.

3. Pada tingkat Wilayah: 1. (2) Ketentuan pelaksanaan dan acara Rapat Pimpinan ditentukan oleh Pimpinan Muhammadiyah masing-masing tingkat. Anggota Pimpinan Daerah. 2. 2. 4. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Cabang e. Ketua dan Sekretaris Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Daerah. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Cabang. Pimpinan Daerah. 3. Ketua dan Sekretaris Pimpinan Cabang. Pada tingkat Ranting: 1. 2. Pada tingkat Daerah: 1. Pimpinan Cabang. Anggota Pimpinan Wilayah. Pada tingkat Pusat: . Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Pusat. Ketua Umum dan Sekretaris Umum Organisasi Otonom tingkat Wilayah. c. 2. (3) Keputusan Rapat Pimpinan mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Muhammadiyah yang bersangkutan. Pada tingkat Pusat: 1. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Ranting.3. Pimpinan Wilayah. 2. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Pusat. Anggota Pimpinan Ranting. Rapat Kerja Unsur Pembantu Pimpinan (1) Rapat Kerja Unsur Pembantu Pimpinan ialah rapat yang diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin oleh Pimpinan Unsur Pembantu Pimpinan pada setiap tingkatan untuk membahas penyelenggaraan program sesuai pembagian tugas yang ditetapkan oleh Pimpinan Muhammadiyah. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Daerah. Anggota Pimpinan Pusat. d. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Daerah. Ketua dan Sekretaris Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Wilayah. 4. b. Rapat Kerja Pimpinan (1) Rapat Kerja Pimpinan ialah rapat yang diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin oleh Pimpinan Pusat. 3. Anggota Pimpinan Cabang. (4) Keputusan Rapat Kerja Pimpinan mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Muhammadiyah yang bersangkutan. 2. 3. 16. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Wilayah. 17. Pada tingkat Cabang: 1. Anggota Pimpinan Daerah. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Wilayah. (2) Rapat Kerja Pimpinan dihadiri oleh: a. 3. Ketua Umum dan Sekretaris Umum Organisasi Otonom tingkat Daerah. Pada tingkat Daerah: 1. c. atau Pimpinan Ranting untuk membahas pelaksanaan program dan mendistribusikan tugas kepada Unsur Pembantu Pimpinan Muhammadiyah. (2) Rapat Kerja Unsur Pembantu Pimpinan dihadiri oleh: a.

Undangan. d. 3. Anggota Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Daerah. 2. . Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Wilayah. 2. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Cabang. (3) Keputusan Rapat Kerja Unsur Pembantu Pimpinan mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Muhammadiyah yang bersangkutan. Pada tingkat Wilayah: 1. Anggota Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Pusat. Undangan. c. Undangan. b. 3. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Daerah. Pada tingkat Daerah: 1.1. Anggota Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Wilayah 2. Anggota Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Cabang. Wakil Pimpinan Ranting. Undangan. 2. 3. 3. Pada tingkat Cabang: 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful