MANUAL PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH

BERBASIS HAK ASASI MANUSIA

BAGIAN HUKUM DAN HAM
SETDA KABUPATEN SANGGAU,
KALIMANTAN BARAT 2011

Manual Penyusunan Peraturan Daerah Berbasis Hak Asasi Manusia

Penyusun : Marina Rona, Yulia Theresia, Laurianus Yoka, Mutmainnah, Ervansius Hendra Gomesdy, Dwi Yuliani, Ariyanto, Henny Lorryda Yuliana, Feri Budi Jayanto, Syafrinal, Bambang Sugiharto Editor : Melia Karyati Wahyu Wagiman Desain/layout : Alang-alang Cetakan I : Oktober, 2011 Penerbit Bagian Hukum dan HAM Setda Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Kata Sambutan Bupati Kabupaten Sanggau

Assalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh... Penyusunan dan penerbitan buku MANUAL PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH BERBASIS HAK ASASI MANUSIA ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau dengan Pontianak Institute (PI) dan Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat (ELSAM) melalui Program Penyusunan Peraturan Daerah Berbasis Hak Asasi Manusia yang telah dimulai sejak 2010 lalu. Dalam rangka pelaksanaan kerjasama tersebut maka dibentuklah Tim Penyusun yang anggotanya terdiri atas perwakilan: Bagian Hukum & HAM Pemkab. Sanggau, Sekretariat DPRD, Sekretariat Daerah, DinSosNaKerTrans, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan & Aset Daerah (DP2KAD), Bappeda, Dinas Pendidikan Pemuda & Olahraga, Dinas Kesehatan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Kehutanan & Perkebunan, bersama-sama dengan PI dan ELSAM. Secara keseluruhan, buku manual ini berisikan panduan/pedoman bagi para SKPD ataupun legal drafter seluruh instansi yang ada di Kabupaten Sanggau dalam menyusun/merancang Peraturan Daerah di tingkat lokal. Buku Manual ini dilengkapi dengan prinsip dan norma penyusunan Peraturan Daerah yang mengintegrasikan Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan Jender ke dalamnya. Harapannya adalah akan ada perbaikan kondisi penikmatan dan penghormatan Hak Asasi

Kami berharap buku manual ini dapat menjadi pedoman dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Ucapan terima kasih tak lupa kami haturkan kepada seluruh anggota Tim Penyusun yang telah bekerja keras dalam menyelesaikan penulisan buku manual ini. Publikasi ini dimungkinkan atas dukungan dari PI dan ELSAM yang telah mendukung penyusunan buku manual ini. Setiman H. Sanggau. sehingga dapat menghasilkan Peraturan Daerah yang menghormati tinggi prinsip dan nilai Hak Asasi Manusia demi terciptanya kehidupan yang lebih bermartabat di Kabupaten Sanggau. Wassalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Terima kasih juga yang sebesar-sebesarnya kepada Kepala Dinas terkait yang telah memberikan kesempatan dan izin bagi para stafnya untuk terlibat langsung dalam penyusunan buku manual ini. kami mengharapkan buku manual ini bisa memberikan kontribusi yang positif dalam pembangunan yang berkelanjutan dengan berbasis Tata Kelola Pemerintahan yang semakin baik ke depannya. Sudin iv . karena ini merupakan komitmen politik yang tulus dari Pemerintah Kabupten Sanggau akan peningkatan pemajuan hak asasi manusia di Kabupaten Sanggau. 1 Oktober 2011 BUPATI KABUPATEN SANGGAU Ir. H.Manusia di Kabupaten Sanggau.

.............. 21 1 Definisi ....... 5 1 Definisi ........ 51 B Memastikan Pelaksanaan Nasional .................................................................................................................... 10-11 5 Kewajiban Negara ......................................................... 11-13 6 Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional .................................... 26-27 5 Proses dan Tahapan Penyusunan Peraturan Daerah ........................................................... 44-48 C Partisipasi Publik ............................................................................. HAM dan Parlementer............................................. 1-5 Bab II Integrasi Hak Asasi Manusia..................................................................................... 21 2 Dasar Hukum dan Tanggungjawab Pemda...................................................... 53-55 D Mobilisasi Opini Publik............................................... 16-18 B Kesetaraan Jender ... 8-9 3 Hak Asasi Manusia dan Kedaulatan Negara ................................. Fungsi dan Hierarki Peraturan Daerah .......... 13-16 7 Bolehkah Pemerintah Membatasi Hak Asasi Manusia ...... v Bab I Pendahuluan ....... 27-32 6 Sistematika Penyusunan Peraturan Daerah .................................................. 5-7 2 Prinsip-Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia ............................... 19 Bab III Penyusunan Peraturan Daerah A Peraturan Daerah ..... 55 E Berpartisipasi Dalam Upaya Internasional ............24-26 4 Asas-Asas Pembentukan Peraturan Daerah ...................... 56 ...........................................................................21-24 3 Kedudukan...... 32-44 B Naskah Akademik .............................................iii Daftar Isi . 49-50 Bab IV Peran Parlemen Dalam Perlindungan dan Promosi Hak Asasi Manusia A Meratifikasi Perjanjian Hak Asasi Manusia ..........................DAFTAR ISI Kata Sambutan Bupati Kabupaten Sanggau ...................................................................... 52-53 C Menciptakan dan Dukungan Infrastruktur Kelembagaan ...................................... 9-10 4 Demokrasi................................................................................................................................................................................ Kesetaraan Jender ke Dalam Peraturan Daerah peraturan daerah A Hak Asasi Manusia .............

....................................... 109-116 Rancangan Peraturan Daerah Lembaga Adat Kabupaten Sanggau ........................................................................................................................................ 106-108 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 tahun 2006 Tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah ....................................................... 117-123 vi ..Daftar Pustaka ......................... 57-59 Profil Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau ................ 61-63 Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 tahun 2006 Tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah ................................. 60 Profil Tim Penyusun .................

32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga memberikan perubahan signifikan terhadap pembentukan Perda. akan ada perbaikan kondisi penikmatan dan penghormatan Hak Asasi Manusia di Kabupat- . Pemerintahan Daerah Provinsi. Adanya wewenang untuk membuat Perda sendiri merupakan harapan baru karena pemerintah di tingkat lokal dapat memberdayakan daerah dalam mengatasi persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat. Urusan yang menjadi kewenangan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah No. pengangguran. perdagangan perempuan-anak. dan sebagainya. kehadiran perda diharapkan dapat memberikan ruang perlindungan yang lebih tepat dan mudah diakses oleh masyarakat di daerah tersebut. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. ribuan peraturan daerah lahir. Buku manual ini berisikan panduan/pedoman bagi para SKPD ataupun legal drafter seluruh instansi yang ada di Kabupaten Sanggau dalam menyusun/merancang Peraturan Daerah di tingkat lokal. Harapannya adalah.Pasca diundangkannya UU Pemerintahan Daerah. Buku Manual ini dilengkapi dengan prinsip dan norma penyusunan Peraturan Daerah yang mengintegrasikan Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan Jender ke dalamnya. Perubahan Undang-Undang Pemerintahan Daerah menjadi UndangUndang No. karena Undang-Undang ini diatur secara rinci apa yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Harapan ini muncul dikaitkan dengan sejumlah asumsi diantaranya adalah daerah lebih mengetahui konteks lokal baik sosial maupun budaya dan juga kebutuhan dasar masyarakatnya. baik Perda provinsi maupun perda kabupaten/kota. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. pengabaian hak-hak minoritas. Dengan asumsi ini. Pengaturan ini bahkan membagi pula kewenangan pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. seperti kemiskinan. Hal ini disebabkan.

en Sanggau. sehingga dapat menghasilkan Peraturan Daerah yang menghormati tinggi prinsip dan nilai Hak Asasi Manusia demi terciptanya kehidupan yang lebih bermartabat di Kabupaten Sanggau. Buku manual ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya. karena ini merupakan komitmen politik yang tulus dari Pemerintah Kabupten Sanggau akan peningkatan pemajuan Hak Asasi Manusia di Kabupaten Sanggau. viii .

Pemerintahan Daerah Provinsi. Penyusunan suatu peraturan perundang-undangan dalam hal ini peraturan daerah. baik Peraturan Daerah provinsi maupun Peraturan Daerah kabupaten/kota. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. . karena di dalam Undang-undang ini diatur secara rinci apa yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Pemerintahan Daerah membutuhkan instrumen yuridis yang tepat untuk melaksanakan tugas dan kewenangannya. harus memperhatikan secara jelas dari mana sumber kewenangannya. Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah No.BAB I PENDAHULUAN Lahirnya Undang-undang No. Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Untuk itu. yang diberikan berdasarkan atribusi. Urusan yang menjadi kewenangan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah No. Hal ini disebabkan. delegasi/mandat dan tidak boleh melampaui kewenangannya. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga memberikan perubahan signifikan terhadap pembentukan Peraturan Daerah. Pasca diundangkannya UU Pemerintahan Daerah. Pemerintah daerah diberikan kewenangan yang cukup besar untuk menyelenggarakan pemerintahan di tingkat lokal. Pengaturan ini bahkan membagi pula kewenangan pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah merupakan momentum perubahan paradigma penyelenggaraan pemerintah daerah dari pola sentralisasi ke desentralisasi. Perubahan Undang-Undang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang No. yaitu Peraturan Daerah. ribuan Peraturan Daerah-pun lahir.

Menilai Tanggung Jawab Sosial Peraturan Daerah. yakni mencapai 6000-an yang diterbitkan oleh 368 kabupaten/kota di Indonesia. diskriminasi. Dari jumlah Peraturan Daerah tersebut. terdapat berbagai Peraturan Daerah yang kontroversi dan bermasalah pada tingkat implementasinya di tengah masyarakat terkait dengan Hak Asasi Manusia. 3-4. 2 .Kewenangan untuk menyusun Peraturan Daerah setelah otonomi daerah membuat jumlah Peraturan Daerah sampai dengan pertengahan 2002 melonjak tinggi. Sejak 1999 sampai dengan periode 2010. 2009. 761 diantaranya dibatalkan dan masih ada 200 Peraturan Daerah yang masih dalam proses review di Kementrian Dalam Negeri.1 Kabupaten Sanggau yang merupakan salah satu daerah kabupaten di Kalimantan Barat (Kalbar) yang termasuk banyak mengeluarkan Peraturan Daerah dalam rangka mengatur pelaksanaan pemerintahan daerahnya. Negara Indonesia mengakui hak-hak Masyarakat Adat beserta Adat Istiadat melalui UndangUndang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria dan UndangUndang No. 1 Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia. hal. kesetaraan jender. Pemerintah Kabupaten Sanggau telah mengeluarkan setidaknya 110 Peraturan Daerah dari 23 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada di kabupaten ini. pencemaran lingkungan dan sebagainya. Selain itu. salah satunya Peraturan Daerah masyarakat adat. Peraturan Daerah yang dibatalkan tersebut pada umumnya Peraturan Daerah yang mengatur pajak daerah dan retribusi daerah karena dinilai berpotensi mendistorsi aktifitas perekonomian. Padahal di sisi lain. dalam perumusan peraturan perundang-undangan baik di tingkat nasional maupun daerah wajib mempertimbangkan aspek lokal seperti halnya keberadaan Masyarakat Adat. Jakarta. Negara Indonesia mengakui hak-hak Masyarakat Adat berserta Adat Istiadat. Dari jumlah tersebut terdapat pula Peraturan Daerah yang bermasalah di tingkat implementasinya. Oleh karena itu. 41 Tahun 1997 tentang Kehutanan.

dengan mempertimbangkan konteks budaya dan tradisi lokal. hak dapat dilindungi dengan baik melalui peraturan yang cukup. Pada tingkat nasional. Harapan ini muncul dikaitkan dengan sejumlah asumsi diantaranya adalah daerah lebih mengetahui konteks lokal baik sosial maupun budaya dan juga kebutuhan dasar masyarakatnya. pengangguran. Situasi ini mengakibatkan meningkatnya tuntutan dari banyak pihak untuk mengintegrasikan hak asasi manusia ke dalam Peraturan Daerah. badan peradilan yang mandiri. menghormati dan melindungi hak asasi manusia sangatlah penting2. tugas praktis untuk melindungi dan memajukan hak asasi manusia adalah terutama tugas nasional dan setiap negara harus bertanggungjawab atasnya. pengabaian hak-hak minoritas. Bagaimana proses tersebut berjalan? Apa kekurangan dari proses yang ada saat ini? Dinamika politik seperti apa yang muncul selama proses pembentukan tersebut dilakukan sehingga berakhir dengan pembentukan Peraturan Daerah yang kontroversial dan bermasalah dalam implementasinya sampai dengan terindikasi terjadi pelanggaran hak asasi manusia. Oleh karenanya. perdagangan perempuan-anak. Selain itu. kehadiran Peraturan Daerah diharapkan dapat memberikan ruang perlindungan yang lebih tepat dan mudah diakses oleh masyarakat di daerah tersebut. dan sebagainya. Banyaknya Peraturan Daerah yang dibatalkan dan penolakan dari masyarakat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan terhadap proses pembentukan Peraturan Daerah. Ketika negara-negara meratifikasi 2 Lembar fakta 19 Lembaga Negara untuk memajukan dan melindungi HAM 3 . serta pembentukan institusi yang demokratis. Dengan asumsi ini. pendidikan dan kampanye informasi yang paling efektif harus dirancang dan dilaksanakan pada tingkat nasional dan lokal. dan pelaksanaan perlindungan dan pemulihan individu. Oleh karena itu.Adanya wewenang untuk membuat Peraturan Daerah sendiri merupakan harapan baru karena pemerintah di tingkat lokal dapat memberdayakan daerah dalam mengatasi persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat. seperti kemiskinan. peran pemerintah daerah dalam memenuhi.

39/1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 71 dan 72. UUD 1945 Amandemen ke-2. khususnya Pasal 6 dan 7. UU No.40/2008 tentang Penghapusan Segala Diskriminasi Rasial.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 22 huruf (a) sampai dengan (o). UU No. Saat ini standar hak asasi manusia dan norma-norma universal tercermin dalam hukum domestik dari hampir seluruh Negara. UU No. mereka memasukkan ketentuanketentuan instrumen hak asasi manusia itu ke dalam peraturan domestiknya secara langsung atau menggunakan cara-cara lain sesuai dengan kewajiban yang terdapat di dalam instrumen hak asasi manusia tersebut. 2.suatu instrumen hak asasi manusia. Dalam konteks nasional. Bentuk 4 . 4. paling tidak ada tiga produk perundang-undangan yang memberikan mandat kepada pemerintah untuk segera memperbaiki kondisi penikmatan hak asasi manusia: 1. 3. terutama pasal 28I ayat (5).

Hukum dan Filosofis : (a) Hak-hak dasar. hak asasi tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri. Definisi Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap pribadi manusia secara kodrati sebagai anugerah dari Tuhan. yang memberdayakan manusia untuk membentuk kehidupan mereka sesuai dengan kemerdekaan. kesetaraan dan rasa hormat pada martabat manusia. Hak Asasi Manusia 1. hak kemerdekaan/kebebasan dan hak memiliki sesuatu.BAB II INTEGRASI HAK ASASI MANUSIA. sosial. karena jika hal itu terjadi maka manusia kehilangan martabat yang sebenarnya menjadi inti nilai kemanusiaan. ekonomi. Pasal 1 Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) menyatakan : “All human beings are born free and equal in dignity and rights”. Hak asasi manusia melalui pendekatan-pendekatan Deskriptif. Ini berarti bahwa sebagai anugerah dari Tuhan kepada makhluknya. Hak asasi tidak dapat dicabut oleh suatu kekuasaan atau oleh sebab-sebab lainnya. (c) Satu-satunya sistem nilai yang diakui secara universal dalam hukum internasional saat ini dan terdiri dari elemen . Hak asasi manusia ini selalu dipandang sebagai sesuatu yang mendasar. budaya dan kolektif yang tertuang dalam berbagai instrumen HAM internasional dan regional serta dalam undang-undang dasar setiap negara. (b) Hak-hak sipil. mencakup hak hidup. fundamental dan penting. Hak asasi manusia (HAM) adalah hak-hak yang dipunyai oleh semua orang sesuai dengan kondisi yang manusiawi. KESETARAAN JENDER KE DALAM PERATURAN DAERAH A.

Contohnya. berkuasanya hukum (rule of law) dan good governance. keadilan sosial. Beberapa hak pribadi. demokrasi.liberalisme. Akan tetapi. betul-betul merupakan hak pribadi. 6 . ada hak-hak individual dan kolektif yang perlu dinyatakan dengan tegas. partisipasi populer. karena kurang tepat jika mengartikan hak asasi manusia sebagai hak individu saja. kebebasan berekspresi dan lain sebagainya. untuk sebagian besar hak asasi manusia. seperti larangan penyiksaan dan perbudakan. perkumpulanperkumpulan keagamaan yang menikmati kebebasan beragama atau partai-partai politik yang menikmati kebebasan berserikat. Hak asasi manusia berlaku setara untuk hak-hak individu maupun kolektif. sedangkan hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri adalah murni hak kolektif.

pakaian dan perumahan g) Hak atas kesehatan h) Hak atas pendidikan Dalam bidang hak-hak kolektif 1. Hak dan Larangan yang berkaitan dengan Hak Asasi Manusia Di Bidang Hak-Hak Sipil dan Politik a) Hak untuk hidup b) Kebebasan dari penyiksaan dan kejam. Hak-hak kolektif lainnya: a) Hak berkebangsaan. termasuk cukup makanan. hati nurani dan agama l) Kebebasan berpendapat dan berekspresi m) Larangan propaganda perang dan hasutan untuk kebencian nasional. penghambaan dan kerja paksa d) Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi e) Hak orang yang ditahan harus diperlakukan dengan kemanusiaan f) Kebebasan bergerak g) Hak atas pengadilan yang adil h) Larangan hukum pidana yang berlaku surut i) Hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum j) Hak atas privasi k) Kebebasan berpikir. etnis.Box 1 Contoh Hak Asasi Manusia : Kebebasan. memilih. Hak masyarakat untuk: a) Penentuan nasib sendiri b) Pengembangan c) Bebas memanfaatkan kekayaan dan sumber daya alam d) Peraturan daerahmaian e) Lingkungan yang sehat 2. agama dan bahasa minoritas b) Hak-hak masyarakat adat 7 . dipilih dan memiliki akses untuk jabatan publik q) Hak untuk kesetaraan dan non-diksriminasi di hadapan hukum Dalam bidang hak-hak Ekonomi. tidak manusiawi atau perlakuan merendahkan atau hukuman c) Kebebasan dari perbudakan. rasial atau agama n) Kebebasan berserikat o) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga p) Hak untuk mengambil bagian dalam urusan publik. Sosial dan Budaya a) Hak untuk bekerja b) Hak untuk kondisi kerja yang adil dan menguntungkan c) Hak untuk membentuk dan bergabung dengan serikat buruh d) Hak atas jaminan sosial e) Perlindungan keluarga f) Hak atas standar hidup yang layak.

tidak peduli ras. Hak dipilih untuk jabatan publik berarti akses ke dasar pendidikan. kecacatan. jenis kelamin. c) Tak terpisahkan dan saling ketergantungan (Indivisible and interdependent) Hak asasi manusia adalah tak terpisahkan dan saling tergantung karena setiap hak asasi manusia memerlukan dan tergantung pada hak asasi manusia lainnya. Hal ini karena mereka diterima oleh semua negara dan masyarakat. mereka berlaku dan tanpa pandang bulu untuk setiap orang dan adalah sama bagi semua orang di mana-mana. usia.2. maka Peraturan Daerah yang berperspektif hak asasi manusia harus mengadopsi nilai atau prinsip dasar hak asasi manusia. b) Tidak dapat dipindahtangankan (Inalienable) Hak asasi manusia adalah mutlak sejauh haknya tidak dilepaskan. kewarganegaraan. asal-usul etnis atau sosial. Sebagai contoh. atau karakteristik yang membedakan lainnya. agama. melanggar salah satu hak tersebut mempengaruhi pelaksanaan dari hak manusia lainnya. orientasi seksual. hak untuk hidup mengandaikan penghormatan terhadap hak untuk pangan dan standar hidup yang layak. seperti dibawah ini : a) Universal (Universality) Hak asasi manusia adalah universal karena mereka didasarkan pada martabat setiap manusia. Membela 8 . selama di bawah hukum yang jelas. warna kulit. bahasa. hak seseorang untuk kebebasan mungkin dibatasi jika ia ditemukan bersalah atas kejahatan oleh pengadilan hukum. Prinsip-Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia Sebagai salah satu wujud diadopsinya hak asasi manusia ke dalam Peraturan Daerah. Sebagai contoh.

agama. usia. 3. hak-hak sipil dan politik dan ekonomi. ketika hak asasi manusia masih dianggap sebagai urusan internal suatu negara. Hak untuk kesetaraan mewajibkan Negara untuk menjamin ketaatan terhadap hak asasi manusia tanpa diskriminasi atas alasan apapun. asal-usul etnis atau sosial. Bahwa pendekatan. keanggotaan nasional minoritas.hak-hak ekonomi dan sosial mengandaikan kebebasan berekspresi. Dengan demikian. negara dan masyarakat internasional lainnya dicegah dari campur tangan. berdasarkan kedaulatan nasional. secara eksplisit diatur dalam perjanjian internasional dan regional hak asasi manusia. termasuk jenis kelamin. Lebih sering daripada tidak. d) Non-Diskriminasi (Non-Dicrimination) Beberapa pelanggaran hak asasi manusia terburuk telah dihasilkan dari diskriminasi terhadap kelompok tertentu. seperti genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. hak-hak sosial dan budaya saling melengkapi dan sama-sama penting untuk martabat dan integritas setiap orang. 9 . HAM dan Kedaulatan Negara Di masa lalu. orientasi seksual dan status sosial atau lainnya. kelahiran. ras. warna kulit. karena itu penting bagi hak asasi manusia. Hak untuk kesetaraan dan prinsip non-diskriminasi. Menghormati semua hak merupakan prasyarat bagi peraturan perdamaian berkelanjutan dan pembangunan. cacat. hak milik. diskriminatif kriteria yang digunakan oleh Negara dan aktor non-Negara mencegah kelompok-kelompok tertentu dari sepenuhnya menikmati semua atau sebagian hak asasi manusia yang didasarkan pada karakteristik. bahkan di sebagian besar kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia serius. kebangsaan. bahasa. politik atau pendapat lainnya. berkumpul dan berserikat.

terutama oleh tindakan Nazi Jerman dan kekejaman yang dilakukan selama Perang Dunia Kedua. Demokrasi. sebagai suatu cara untuk melestarikan dan mempromosikan martabat manusia. agar warga negara bisa 10 . Dalam Deklarasi. Pada tahun 1995. Demokrasi didasarkan pada gagasan bahwa semua warga negara sama-sama berhak untuk memiliki suara dalam keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. keterkaitan antara demokrasi dan hak asasi manusia dipelajari secara ekstensif. Hak untuk partisipasi dalam pelaksanaan urusan publik diabadikan dalam Pasal 21 dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Pasal 25 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP). diadopsi pada tahun 1997. demokrasi dan hak asasi manusia sangat erat terkait untuk dianggap tak terpisahkan. Uni Antar-Parlemen memulai proses penyusunan Deklarasi Universal Demokrasi untuk memajukan standar internasional dan memberikan kontribusi untuk demokratisasi yang sedang berlangsung di seluruh dunia. Namun. HAM dan Parlementer Dalam dekade terakhir. perbedaan antara kewajiban hukum universal dan kedaulatan negara dapat diselesaikan hanya berdasarkan kasus per kasus.tertantang pada abad kedua puluh. Prinsip mana menurut setiap tindakan yang diambil oleh otoritas sesuai dengan konsep universalitas tidak boleh melampaui apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan sesuai dengan hak asasi manusia. bersama dengan hak asasi manusia. Hari ini. promosi hak-hak asasi manusia dan perlindungan dianggap sebagai keprihatinan yang sah dan tanggungjawab masyarakat internasional. Demokrasi tidak lagi dianggap hanya sebagai satu perangkat aturan prosedural untuk konstitusi dan pelaksanaan kekuasaan politik. Namun. tetapi juga. 4. sesuai dengan prinsip proporsionalitas.

efektif menggunakan hak itu. Kewajiban ini mengandung larangan 3 Hukum Hak Asasi Manusia. Kewajiban Negara Meskipun pada prinsipnya hak asasi manusia dapat dilanggar oleh setiap orang atau kelompok. mereka terlebih dahulu harus menikmati hak lain seperti kebebasan berekspresi. namun berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional. paling tidak Negara memiliki tiga kewajiban utama. Dalam kaitan ini.M. aturan hukum. Rhona K. yaitu tugas untuk menghormati. bebas dan adil untuk memastikan pemerintah rakyat. sebuah landasan demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia. 2008 11 . kecuali atas hukum yang sah (legitimate). berkumpul dan berserikat. Apalagi setelah Negara tersebut meratifikasi atau menjadi pihak pada perjanjian internasional hak asasi manusia. dan hak-hak ekonomi dan sosial dasar. oleh karena itu. “kewajiban untuk menghormati” Negara memiliki “kewajiban untuk menghormati” obligation to respect) berarti bahwa Negara berkewajiban untuk menahan diri untuk tidak melakukan intervensi. karena lembaga ini merupakan kunci dalam demokrasi. Selain itu. Sebagai badan yang kompeten untuk mengatur dan menjaga kebijakan dan tindakan eksekutif di bawah pengawasan konstan. suatu negara tidak boleh secara sengaja mengabaikan hak-hak dan kebebasan-kebebasan manusia. Parlemen merupakan Badan berdaulat didirikan melalui pemilu biasa. 5. Smith dkk. parlemen juga memainkan peran kunci dalam promosi dan perlindungan hak asasi manusia. Sebaliknya negara diasumsikan memiliki kewajiban positif untuk melindungi secara aktif dan memastikan terpenuhinya hak-hak dan kebebasan-kebebasan tersebut3. PUSHAM UII. untuk rakyat dan oleh rakyat. melindungi dan memenuhi. parlemen menetapkan kerangka hukum yang menjamin independensi peradilan dan.

yang mungkin Negara bertanggung jawab. guru dan sekolah. hak anak-anak atas pendidikan harus dilindungi oleh negara dari gangguan dan indoktrinasi oleh pihak ketiga. marga dan perusahaan bisnis. hak atas integritas pribadi dan keamanan mewajibkan Negara untuk memerangi fenomena meluasnya kekerasan domestik terhadap perempuan dan anak-anak. sekte. 12 . Contoh. merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Adalah kewajiban negara untuk mengambil langkah-langkah legislatif. atau oleh orang tua terhadap anak-anak mereka. “kewajiban untuk memenuhi” “Kewajiban untuk memenuhi”. Negara-negara diminta untuk mengambil tindakan positif untuk memastikan bahwa hak asasi manusia dapat dilaksanakan. administratif.untuk mengurangi kejadian kekerasan dalam rumah tangga. termasuk orangtua dan keluarga. itu berarti bahwa Pemerintah harus menghormati kebebasan orang tua untuk mendirikan sekolah-sekolah swasta dan untuk memastikan bahwa pendidikan agama dan moral anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri. Walaupun tidak setiap tindakan kekerasan dilakukan oleh suami terhadap istrinya. agama. Kewajiban negara untuk menghormati adalah kewajiban paling dasar. namun juga terhadap pelanggaran atau tindakan yang dilakukan oleh entitas atau pihak lain (non-negara) yang akan mengganggu perlindungan hak asasi manusia.tindakan tertentu yang dapat merusak penikmatan hak. Sebagai contoh. berkenaan dengan hak untuk pendidikan. “kewajiban untuk melindungi” Negara memiliki kewajiban untuk melindungi hak bukan hanya terhadap pelanggaran yang dilakukan negara. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengambil tindakan positif . Negara memiliki wewenang yang luas sehubungan dengan kewajiban ini. Misalnya.

6.id/ new/index.elsam. Bahan Bacaan Kursus Hak Asasi Manusia. Negara harus memberikan cara dan sarana untuk pendidikan dasar gratis dan wajib untuk semua. 13 . dan yang karena asasinya itu tak lalu boleh dicabut atau dialihserahkan kepada siapapun yang berkekuasaan (inalienable) serta tak pula mungkin digugat-gugat keabsahannya (inviolable)4. ialah pengakuan atas martabat dan hak yang melekat pada siapapun yang tergolong ke dalam bilangan umat manusia.yudisial. melainkan diangkat pada tataran internasional. di tengah kehidupan yang jelas-jelas sudah berubah dan berkembang ke arah formatnya yang baru sebagai suatu world system. Soetandyo Wignjosoebroto.php?id=263&lang=in&act=view&cat=c/603. 4 Hak Asasi Manusia Konsep Dasar dan Perkembangan Pengertiannya Dari Masa Ke Masa. misalnya. Sehubungan dengan hak atas pendidikan. yang perlu untuk menjamin pelaksanaan hak asasi manusia.or. Itulah martabat dan hak-hak manusia yang sungguh asasi. perjuangan penegakan hak-hak asasi manusia tidak lagi berlangsung dalam tataran nasional di lingkungan negeri-negeri dan negara-negara Barat saja. http://www. pendidikan tinggi. dan praktis. pendidikan orang dewasa. Prof. pelatihan kejuruan. Substansi deklarasi itu tetap saja. deklarasi tersebut dengan lantangnya telah mencanangkan pernyataan internasional yang diharapkan dapat berdampak luas. Tak diragukan lagi. dan penghapusan buta huruf (termasuk langkah-langkah seperti mendirikan sekolah umum yang cukup atau menyewa dan menyediakan cukup banyak guru). pendidikan menengah gratis. Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional (a) Deklarasi Universal HAM (DUHAM) Pasca Perang Dunia II. dan terwujud dalam rumusan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (1945) dan Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia (1948).

Deklarasi kali ini. ialah Perserikatan BangsaBangsa (United Nations). dimulai dengan pasal 22 sampai ke pasal 27 mengemukakan pengakuan atas hak-hak asasi manusia dalam kehidupan ekonomi. Pasal-pasal berikutnya. deklarasi kali ini bukanlah deklarasi suatu bangsa atau suatu negara bangsa tertentu. Deklarasi yang berjumlah 31 Pasal ini mencantumkan pengakuan hak-hak sipil dan hak politik dalam pasalpasalnya yang ke-3 sampai ke yang 21. Deklarasi itu mensenaraikan dalam pasal-pasalnya sejumlah hak-hak manusia yang asasi. dengan tujuan agar setiap individu dan organ masyarakat … mengupayakan -. dan pula untuk mendapatkan peradilan yang terbuka dan independen serta tidak berpihak. Termasuk dalam hak asasi yang dicantumkan dalam pasal-pasal ini antara lain hak-hak untuk tidak diperbudak. dikumandangkan melalui suatu kesepakatan antarbangsa. Berbeda dengan deklarasi-deklarasi serupa yang ada sebelumnya. dengan sebuah resolusi bernomor 217A(III) suatu deklarasi diproklamasikan oleh suatu organisasi antarbangsa yang telah dibentuk seusai selesainya perang Dunia II.melalui pengajaran dan pendidikan -. untuk tidak mengalami penganiayaan dan perlakuan atau hukuman yang keji dan merendahkan martabat manusia. ialah The Universal Declaration on Human Rights (yang di dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan “Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia”). yang pada dasarnya mencanangkan pengakuan secara umum tentang pentingnya hak-hak itu dihormati dan ditegakkan.Pada tanggal 10 Desember 1948. sosial dan budaya. Termasuk dalam hak-hak 5 Loc Cit 14 .dimajukannya penghormatan kepada hak dan kebebasan (manusia)”5. yang dikatakan “sebagai standar umum … semua bangsa dan semua negara.

untuk memperoleh jaminan kesehatan dan layanan pendidikan. Sosial dan Budaya Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966. Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. dengan dua Kovenan. 29 Tahun 1999. ratifikasi. diratifikasi Indonesia melalui UU No.instrumen hak asasi manusia tersebut : a.kategori kedua ini antara lain hak-hak untuk bekerja. diratifikasi Indonesia melalui UU No. untuk memperoleh stanadar kehidupan yang layak. adopsi pada tahun 1965. Beberapa perjanjian berada di bawah pengawasan badan-badan pemantauan. ratifikasi dan aksesi. c. Negara Indonesia 15 . Negara Indonesia meratifikasi konvensi melalui Undang-Undang No. 11 tahun 2005. berlakunya pada tahun 1981). seperangkat instrumen biasanya dilihat sebagai perjanjian hak asasi manusia utama. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) Tertanggal 16 Desember 1966. b. Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi. adopsi pada tahun 1979. berlakunya pada tahun 1969). dan pula untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya masyaraka (b) Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia telah dilengkapi dengan sejumlah instrumen spesifik yang mengikat. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW. 12 tahun 2005. dan aksesi. d. untuk memperoleh pendapatan yang sama atas pekerjaan yang sama. dan terbuka untuk penandatangan. Terbuka untuk penandatangan. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (CERD. Dibawah ini instrumen.

Pembatasan yang ditetapkan melalui undang undang dimaksudkan untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain. Negara Indonesia meratifikasi konvensi melalui UndangUndang No. e. adopsi pada tahun 1984. Sehingga terdapat pembatasan dan larangan dalam pelaksanaan perlindungan hak asasi manusia. 7.meratifikasi konvensi melalui Undang-Undang No. Konvensi tentang Hak-hak Anak (CRC. atau CMW. g. negara dan warga negaranya. Hak asasi manusia tidak hanya berbicara mengenai hak. adopsi pada tahun 1989. tetapi berbicara pula mengenai kewajiban. f. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Hukuman (CAT. Bolehkah Pemerintah Membatasi Hak Asasi Manusia? Perlindungan dan penegakan hak asasi manusia merupakan kewajiban semua pihak. yaitu kewajiban untuk saling menghormati dan menghargai hak asasi manusia orang lain. Negara Indonesia meratifikasi konvensi melalui Undang-Undang No. berlakunya pada tahun 2003). berlakunya pada tahun 1987). ketertiban umum dan 16 . keamanan. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (yang dikenal sebagai Konvensi Pekerja Migran. Konvensi Menentang Penyiksaan yang Kejam. 36 Tahun 1990. adopsi pada tahun 1990. Setiap hak asasi manusia seseorang akan menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik. dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. 5 Tahun 1998. 7 Tahun 1984. berlakunya pada tahun 1990).

Rhona K. Meski demikian. menerima dan memberikan informasi dan segala macam gagasan tanpa memperhatikan batas (baik melalui lisan atau tulisan). Dalam hal ini negara harus memenuhi situasi dan persyaratan hukum khusus dan tidak mudah sebelum melakukan derogasi 6 7 Hukum Hak Asasi Manusia. hak untuk bebas dari perbudakan dan perdagangan budak. keyakinan. termasuk kebebasan mencari.kepentingan bangsa6. termasuk membentuk dan menjadi anggota serikat buruh. Hak dan kebebasan yang termasuk dalam jenis ini adalah: (i) hak atas kebebasan berkumpul secara damai. Dalam kamus hukum hak asasi manusia dikenal dua jenis hak. yakni hak-hak yang boleh dikurangi atau dibatasi pemenuhannya oleh negaranegara pihak. hak untuk tidak dipenjara hanya atas dasar ketidakmampuannya memenuhi kewajiban yang muncul dari perjanjian. PUSHAM UII. Derogasi atau pembatasan HAM adalah salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. 2008 Derogasi dan HAM. walaupun dalam keadaan darurat sekalipun. Hak-hak non-derogable yaitu hak-hak yang bersifat absolut dan tidak boleh dikurangi pemenuhannya oleh negara-negara pihak. pembatasan hak asasi manusia harus ditempatkan dalam rangka implementasi konsep tanggung jawab negara yang melekat dalam derogasi hak asasi manusia. Hak-hak yang sama sekali tidak bisa dikurangi antara lain meliputi hak untuk hidup. dan beragama. Hak-hak dalam jenis derogable. 18 Oktober 2007 17 . R Herlambang Perdana. dan berhak atas kebebasan berpikir. yakni hak asasi manusia yang bisa dikurangi (derogable rights) dan yang sama sekali tidak bisa dikurangi (non-derogable rights)7. hak untuk tidak disiksa. dan (iii) hak atas kebebasan menyatakan pendapat atau berekpresi. Kompas. Smith dkk.M. (ii) hak atas kebebasan berserikat.

itu, seperti standar Pasal 4 Ayat (1) dan (3) Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik, yaitu : a. pembatasan hanya bisa dilakukan bila dalam keadaan darurat mengancam kehidupan bangsa dan keberadaannya; b. Kepala Negara secara resmi harus mengumumkan kepada publik tentang keadaan bahaya. Dalam konsep hukum pernyataan bahaya; c. langkah-langkah derogasi itu tidak bertentangan dengan kewajiban lain berdasarkan hukum internasional dan tidak mengandung diskriminasi hanya berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, atau asal-usul sosial; d. Kepala Negara harus segera memberi tahu kepada negara-negara pihak lainnya (yang telah meratifikasi ICCPR) melalui perantaraan Sekretaris Jenderal PBB tentang aneka ketentuan yang dikurangi dan tentang alasan-alasan pemberlakuannya, serta pemberitahuan tentang saat berakhirnya derogasi itu.
Box 2 PEMBATASAN DAN KETERBATASAN HAM Beberapa HAM mutlak : a) Larangan penyiksaan b) Larangan perbudakan c) Pengakuan sebagai seseorang di hadapan hukum d) Kebebasan atas kesadaran Sebagian besar HAM dapat dibatasi dalam situasi tertentu : a) Reservasi berdasarkan hukum internasional b) Pengurangan pelaksanaan hak dalam situasi darurat c) Larangan penyalahgunaan d) Klausul-klausul batasan e) Prinsip proporsionalitas

18

B. Kesetaraan Jender Mengenal kesetaraan jender pada dasarnya telah tercakup dalam perubahan kedua UUD 1945 yang memberikan penegasan akan penghormatan, pemajuan, perlindungan, penegakan, dan pemenuhan oleh Negara akan Hak Asasi Manusia sebagai hak konstituational warga negara. Pada tanggal 24 Juli 1984 Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women (CEDAW) dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1984. oleh karena itu peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kesetaraan jender memuat prinsip-prinsip yang diatur dalam CEDAW. Terkait ketentuan mengenai jender misalnya, seringkali peraturan secara sadar atau tidak memuat ketentuan-ketentuan yang netral jender. Artinya, ketentuan dimaksud tidak mempertimbangkan bahwa dalam kenyataan sosialnya kapasitas dan peluang yang dimiliki oleh kelompok berjenis kelamin tertentu (umumnya perempuan) tidak sama dengan kelompok lainnya (umumnya laki-laki). Sehingga ketika peraturan tersebut dilaksanakan, ketentuan yang netral jender justru melestarikan kondisi yang tidak seimbang antara kelompok perempuan dan laki-laki bahkan mendiskriditkan perempuan. Contohnya, qanun syariat di Nangroe Aceh Darusalam telah menginspirasi banyak daerah di luarnya untuk mengeluarkan Peraturan Daerah syariat yang diskriminatif terhadap perempuan. Pada rentang 1999 s.d 2010 telah lahir 189 kebijakan diskriminatif, 7 di antaranya diterbitkan di tingkat nasional. 80 di antara 189 kebijakan itu secara langsung menyasar kepada perempuan. Sebanyak 21 merupakan kebijakan aturan busana Islam.8

8

Perempuan dalam Perda Syariat, http://jurnalperempuan.com/2011/05/perempuan-dalam-perdasyariat/.

19

20

PERATURAN DAERAH 1. 2. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan. Peraturan Daerah dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah propinsi/kabupaten/kota dan tugas pembantuan serta merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah9. yang dimaksud dengan “Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/ Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota”. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . dalam ketentuan Undang-Undang No. Definisi Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 8 Undang-Undang No. yang menempatkan langkah-langkah perbaikan kondisi penikmatan hak asasi manusia sebagai agenda reformasi nasional. Melalui amandemen UUD 1945 yang kedua. Dasar Hukum dan Tanggungjawab Pemda Pada dasarnya komitmen pemajuan hak asasi manusia Pemerintah Kabupaten Sanggau adalah turunan komitmen nasional bangsa Indonesia di masa reformasi 1998. Peraturan Daerah mendapatkan landasan konstitusionalnya di dalam konstitusi yang keberadaannya digunakan untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan (Pasal 18 Ayat (6) UUD 1945).BAB III PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH A. Kemudian. 9 Pasal 136 Undang-Undang No.

sosial. Kedua. dan budaya yang begitu kompleks. dan jaminan sosial. Pertama. Apa saja langkahlangkah tersebut? Berikut ini adalah sejumlah langkah yang telah diambil: a. Meningkatkan akses masyarakat ke berbagai fasilitas dan layanan kesehatan.Dan kemudian mendorong lahirnya pelbagai perundangundangan yang memerintahkan pemerintah nasional dan daerah untuk memajukan penikmatan hak asasi manusia di seluruh Indonesia. Melakukan Pendidikan HAM bagi Aparatur 22 . Selain itu. Meningkatkan upaya-upaya pelestarian lingkungannya Melihat persoalan ekonomi. Pemerintah Kabupaten Sanggau juga berkomitmen untuk: 1. Di tingkat kebijakan Pemerintah Kabupaten Sanggau telah melakukan sejumlah langkah yakni memproduksi pelbagai Peraturan Daerah yang tujuannya untuk melindungi hak dan kebebasan dasar masyarakat Sanggau. setidak-tidaknya ada sejumlah langkah yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sanggau terkait dengan mandat tiga kewajiban dasar tersebut. walaupun ada keterbatasan. Pemerintah Kabupaten Sanggau juga melakukan langkah-langkah untuk memastikan bahwa kewajiban memenuhi telah dilaksanakan. tidaklah mudah melaksanakan tiga kewajiban dasar hak asasi manusia yang dibebankan hukum nasional kepada Pemerintah Kabupaten Sanggau. adalah di tingkat kebijakan. pendidikan. Meningkatkan kualitas pemerintahan yang bersih dan baik. dan 3. 2. Namun demikian. Pembentukan Panitia RANHAM Kabupaten Sanggau b. terutama untuk masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan dan terpencil.

Pelatihan dan pendidikan tentunya akan diupayakan mampu menjangkau seluruh pejabat dan 23 .c. Di tengah keterbatasan sumberdaya dan anggaran. Meng-anggarkan dana untuk Kegiatan RANHAM hingga tahun 2007 d. Pemerintah Kabupaten Sanggau memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas kebijakan daerah di masa mendatang. termasuk melakukan penguatan-penguatan atas sejumlah Peraturan Daerah yang ada. Program-program di atas dijalankan oleh Pemkab secara mandiri tanpa proses asistensi yang memadai dari Pemerintah Pusat. Sehingga dalam pelaksanaannya belum sepenuhnya mengacu pada prinsip dan standar hukum hak asasi manusia nasional dan internasional. dan keahlian hak asasi manusia aparatur pemerintah. yakni semua hasil-hasil dari program pemenuhan hak asasi manusia di atas dijalankan dengan anggaran yang sangat-sangat terbatas. Melakukan Sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Kab. pemahaman. dari tingkat kabupaten hingga desa. sehingga harus dipahami jika kebanyakan program lebih diprioritaskan pada inisiatif pembuatan peraturan daerah. ketimbang memberikan tekanan yang sama pada program-program penguatan pengetahuan. sehingga bisa selaras dan sejalan dengan prinsip dan norma hukum hak asasi manusia. Melakukan kerjasama penyuluhan hukum bagi masyarakat e. ada beberapa hal yang menjadi kendala implementasinya. Sanggau Dari rencana dan langkah yang telah dilaksanakan oleh Pemda Sanggau tersebut. yakni dengan mencoba mengintegrasikan prinsip dan standar norma hukum hak asasi manusia nasional ke dalam kebijakan daerah. Meningkatkan proses upgrading pengetahuan dan pemahaman hak asasi manusia di lingkup aparat pemerintah.

c. Peraturan Darah mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena diberikan landasan konstitusional yang jelas sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 18 ayat (6) yang menyatakan Pemerintahan daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. Sebagai harmonisator ataupun produk dari berbagai kepentingan. Peraturan Daerah mempunyai berbagai fungsi. d. UUD 1945 sebagai hukum dasar dalam peraturan perundangundangan. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan. Kedudukan. Ada beberapa kaidah hukum yang harus diketahui sebagai langkah penyusunan suatu perundang-undangan. dan. Fungsi dan Hierarkhi Peraturan Daerah Peraturan Daerah merupakan salahsatu jenis Peraturan Perundang-undangan dan merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. b. Saat ini.pegawai negeri sipil sehingga memudahkan mereka untuk menjalankan kewajiban menghormati. dan memenuhi hak asasi manusia masyarakat Sanggau. yaitu : a. sebagaimana di atur dalam Undang-Undang No. Sebagai alat tranformasi daerah untuk mengubah institusi dan perilaku bermasalah dari obyek yang coba diaturnya. Sebagai alat penangkap dan penyalur aspirasi masyarakat daerah. 3. Sebagai pelaksana peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. yakni: 24 . Sebagai instrumen hukum adalah alat untuk melaksanakan kebijakan daerah dalam melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan. e. melindungi.

perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang. jika bertentangan. sebagai berikut. Sehingga. peraturan yang lebih khusus akan mengalahkan peraturan yang lebih umum). kepastian hukum. asas persamaan dan tidak memihak. motif dan tujuan yang sah. c. Undang-Undang No.Lex Superiori Derogat Legi Inferiori (dalam hal mengatur suatu yang sama. setiap jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan muatan materinya berbeda satu sama lain. pengesahan perjanjian internasional tertentu. 10 Pasal 7 ayat (2) UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 25 . peraturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan yang lebih tinggi. dapat dilaksanakan dan Non retroaktif (tidak berlaku surut). 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 11 Pasal 10 ayat (1) UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan secara jelas mengatur jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan. b. Demikian juga dengan asas peraturan perundang-undangan yang harus diketahui pembentuk undang-undang. Sebagai contoh. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undang berisi 11: a. Kepentingan umum. peraturan yang lebih baru akan mengalahkan peraturan yang lebih lama) Lex Specialis derogate Legi Generalis ( Dalam hal mengatur hal yang sama. Demikian juga dengan kekuatan hukum peraturan perundang-undangan tersebut yang disesuaikan dengan hierarkinya10. perauran yang lebih tinggi akan mengalahkan yang lebih rendah) Lex Posteriori derogate Legi Priori (Dalam hal mengatur sesuatu yang sama.

dan keterbukaan. Hierarki Peraturan Perundang-Undangan13 4. 12 Pasal 14 UU No. kejelasan rumusan. dan/atau e. meliputi. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat (SKPD yang berkaitan). 26 . kesesuaian antara jenis dan materi muatan ( antara judul dan isi yang dijabarkan benar). Sementara materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/ atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang undangan yang lebih tinggi12. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 13 Pasal 7 ayat (1) UU No. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. Asas-Asas Pembentukan Peraturan daerah Peraturan Daerah dibuat berdasarkan asas-asas: 1.d. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi. dapat dilaksanakan. kedayagunaan dan kehasilgunaan. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. kejelasan tujuan.

Asas materi muatan peraturan perundang-undangan. kenusantaraan. asas tata urutan/susunan (hierarki peraturan perundangundangan. dibutuhkan suatu mekanisme atau prosedur yang jelas tentang pembentukan suatu Peraturan Daerah agar lebih terarah dan terkoordinasi. dan serta asas-asas hukum umum yang secara khusus dapat diterapkan juga pada pembentukan peraturan perundang-undangan. dan atau keseimbangan. Proses dan Tahapan Penyusunan Peraturan Daerah Dalam upaya membangun administrasi legislasi yang baik serta peningkatan kualitas produk hukum daerah. kemanusian. Mekanisme dan Prosedur Penyusunan Peraturan daerah 27 . keserasian dan keselarasan. Bagan 1. ketertiban dan kepastian hukum. keadilan. kesamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintah. 3. 5. yaitu. pengayoman. asas hukum peraturan daerah.2. antara lain: asas hukum pidana. kekeluargaan. Asas lain sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. kebangsaan. Bhineka Tunggal Ika.

Sementara Penyusunan Prolegda Kabupaten/ Kota di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dikoordinasikan oleh Bagian Hukum dan HAM dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal terkait14. mengukur beban legislasi pada kurun waktu tertentu. aktivitas yang dilakukan adalah perancangan penyusunan naskah akademik dan 14 Pasal 36 UU No. Prolegda adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana. (b) Persiapan Pada tahapan ini. terpadu dan sistematis. yang mengatur bahwa perencanaan penyusunan legislasi daerah dilakukan dalam suatu Prolegda. mengetahui Peraturan Daerah apa saja yang sedang dibahas oleh DPRD. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 28 . 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. dan. mengetahui arah kebijakan legislasi di tingkat daerah.(a) Perencanaan Perencanaan legislasi di tingkat daerah dilakukan dengan menyusun sebuah Program Legislasi Daerah (Prolegda). Prolegda berfungsi untuk : mengetahui Peraturan Daerah yang masuk dalam prioritas pembahasan di tingkat DPRD. Bagi masyarakat. sehingga tahap ini sering pula disebut sebagai tahap penyusunan Prolegda. Penyusunan Prolegda Kabupaten/Kota antara DPRD Kabupaten/ Kota dan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh DPRD Kabupaten/Kota melalui alat kelengkapan DPRD Kabupaten/Kota yang khusus menangani bidang legislasi. Keberadaan Prolegda Kabupaten/Kota ini telah diatur dalam Pasal 39 UU No.

Proses persiapan bisa dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) maupun DPRD. Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah 29 .Peraturan daerah. Proses penyiapan Rancangan Peraturan Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Usul inisiatif DPRD Selanjutnya tahap yang lebih bersifat administratif yakni tahap penyampaian Rancangan Peraturan Daerah yang telah selesai.

merupakan usul prakarsa DPRD. apabila Rancangan Peraturan Daerah merupakan usul inisiatif Pemerintah Daerah. dilakukan oleh DPRD bersama Gubernur/ Bupati/Walikota. 30 . Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di DPRD baik atas inisiatif Pemerintah Daerah maupun atas inisitiaf DPRD. Sementara itu. (c) Pembahasan. Proses Pembahasan Peraturan Daerahdi DPRD (d) Penetapan dan Pengundangan. Pembahasan suatu Pemerintah Daerah dilakukan melalui empat tingkat pembicaraan seperti bagan berikut ini. Bagan 2. maka pimpinan DPRD akan mengirimkan surat kepada Gubernur atau Bupati/ Walikota disertai dengan naskah Rancangan Peraturan Daerah yang terkait. maka Gubernur untuk Peraturan Daerah Provinsi atau Bupati/Walikota untuk Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota akan mengirimkan surat pengantar Gubernur atau Bupati/Walikota kepada Pimpinan DPRD.

Penyebarluasan ini bisa dimaknai sebagai upaya mendistribusikan naskah Peraturan Daerah yang sudah diundangkan dan upaya sosialisasi kepada masyarakat yang dilakukan menyeluruh. pengkajian dan penilaian 31 . (f) Pengawasan Satu tahapan yang membedakan pembentukan Peraturan Daerah dengan pembentukan Undang-Undang adalah tentang pengawasan. Dalam hal ini Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah agar semua masyarakat di daerah setempat dan pihak terkait mengetahuinya.Bagan 3. Dalam hal ini melakukan klarifikasi. Pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah dibedakan menjadi dua bentuk. Proses Penetapan dan Pengundangan (e) Penyebarluasan Suatu tahapan yang juga sangat penting adalah mengenai pernyebarluasan Peraturan Daerah. yaitu pertama. pengawasan dilakukan sesudah Peraturan Daerah disahkan.

dan nama peraturan perundang-undangan.terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah untuk mengetahui ada tidaknya unsur yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi (pengawasan represif). (3) Retribuasi Daerah. yaitu : (1) APBD/ Perubahan APBD. Sistematika Peraturan Daerah Sistematika teknik penyusunan peraturan perudang-undangan sesuai dengan UU No. 12 tahun 2011. dan (4) Rencana Tata Ruang. 32 . 6. nomor. Sementara itu pengawasan represif dilakukan terhadap seluruh Peraturan Daerah diluar empat jenis Rancangan Peraturan Daerah di atas. Evaluasi preventif dilakukan terhadap empat jenis Rancangan Peraturan Daerah. yaitu sebagai berikut: A. Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundangundangan. JUDUL Judul peraturan perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan diatur secara lebih lengkap dalam sistematika teknik penyusunan peraturan perudangundangan pada lampiran UU No. sebelum Peraturan Daerah disahkan atau masih dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah. (2) Pajak Daerah. tahun pengundangan atau penetapannya. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca. melakukan evaluasi pengkajian dan penilaian terhadap Rancangan Peraturan Daerah dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah dan Peraturan Kepala Daerah untuk mengetahui ada tidaknya unsur yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/ atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (pengawasan preventif). Yang kedua.

Contoh: B.. Konsideran diawali dengan dengan kata Menimbang. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan Jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan di tulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma (. 1.). Konsideran memuat uraian singkat mengenai pokokpokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan atau Peraturan Daerah.. b. (Nama Provinsi/Kabupaten/Kota) 3. 2. Contoh: GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA . PEMBUKAAN Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Pada pembukaan tiap jenis peraturan perundangundangan sebelum nama jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakan di tengah marjin. 33 . Konsiderans a.

. c. Sosiologis : Menggambarkan bahwa peraturan yang dibuat sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan sosial masyarakat setempat. Pokok–pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa peraturan perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturanperundang-undangan tersebut. bahwa. b. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. f.. d. Jika konsideran memuat lebih dari satu pokok pikiran. Yuridis dan Sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad... Contoh: Menimbang : a. bahwa.. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian.. kelestarian ekosistem. e.c. bahwa.. dan supremasi hukum.. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Peraturan Daerah memuat unsur Filosofis. yang akan diubah atau yang akan dicabut. Yuridis : Menggambarkan bahwa peraturan yang dibuat mempunyai keterkaitan dengan peraturan yang telah ada.. Filosofis : menggambarkan bahwa peraturan yang dibuat berlandaskan pada kebenaran dan cita rasa keadilan serta ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. 34 .

Jika konsideran memuat lebih dari satu pertimbangan.g. b. a. h. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan peraturan perundang-undangan / Peraturan Daerah tersebut. Contoh : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal…... Dasar Hukum a. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. bahwa…. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Peraturan perundangundangan/Peraturan Daerah yang memerintahkan pembuatan peraturan Bupati tersebut. perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang… 4. Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan 35 . c. Tentang. Konsideran Peraturan Bupati pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan. b.. bahwa…. Peraturan Daerah Nomor… Tahun. rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh: Menimbang : a.. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Peraturan Bupati tentang..

disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau penetapannya. g. judul Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah. tetapi cukup mencantumkan nama. Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang akan di cabut dengan Peraturan perundangundangan/Peraturan Daerah yang akan di bentuk atau Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang sudah ditetapkan tetapi belum resmi berlaku. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan/ Peraturan Daerah yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu. Dasar hukum yang diambil dari pasal (pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan dengan frase UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Contoh: Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. e. tidak perlu mencantumkan pasal. d. 36 . f.Perundang-undangan yang tingkatnya sama atau lebih tinggi. urutan pencantumannya perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundangundangan dan jika tingkatannya sama.

. h. i. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah. …. Kitab Undang-Undang Hukum Peraturan daerahta (Burgerlijk Wetboek. dan seterusnya. tiap dasar hukum diawali dengan angka arab 1. Contoh : Mengingat: 1. 37 . ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadblad yang dicetak miring diantara tanda baca kurung. Staatsblad 1847:43). Dasar hukum yang berasal dari Peraturan perundangundangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316). 2. 3. ditulis dengan huruf kapital Peraturan Perundang-undangan perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembar Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakan diantara tanda baca kurung. Contoh : Mengingat : 1... dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. 2. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi(Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2003 Nomor 98. 2.Penulisan Undang-undang/ Peraturan Daerah..

Kata menetapkan. 2... .5. Kata MEMUTUSKAN ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi diantara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakan di tengah marjin. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:). Diktum Diktum terdiri atas. 38 . Kata memutuskan. Kata MENETAPKAN dicantumkan sesudah kata MEMUTUSKAN yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. a. 3.. Sebelum kata memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH… (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA… (nama daerah). yang ditulis seluruhnya dengan huruf capital dan diletakan di tengah marjin. Contoh: Mengingat : 1. …. Contoh: Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SANGGAU dan BUPATI SANGGAU MEMUTUSKAN: b. ….

Pada umunya substansi dalam batang tubuh dikelompokan ke dalam: 1) Ketentuan Umum 2) Materi Pokok yang Diatur 3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 39 . BATANG TUBUH Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah yang memuat semua substansi Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah yang dirumuskan dalam pasal-pasal.c. Pembukaan Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang tingkatannya lebih rendah dari Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah seperti Peraturan Bupati. Nama Peraturan Perundang-undangan / Peraturan Daerah. Keputusan Bupati secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah. C. Nama yang dicantumkan dalam judul Peraturan Perundang-undangan / Peraturan Daerah dicantumkan lagi setelah kata “Menetapkan” dan didahului dengan pencantuman jenis Peraturan Perundang-undangan / Peraturan Daerah tanpa frase Republik Indonesia/ Kabupaten Sanggau. Contoh: MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN SIPIL. serta di tulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diahiri dengan tanda baca titik.

diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. pasalpasal tersebut dapat dikelompokan menjadi buku (jika merupakan kodifikasi). Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. sanksi keperdataan dan sanksi administratif dalam satu bab. denda administratif atau daya paksa polisional. Pengelompokan materi Peraturan Perundangundangan/Peraturan Daerah dapat disusun secara sistematis dalam buku.4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5) Ketentuan Penutup Dalam pengelompokan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya. bab. bagian dan paragraf. Pengelompokan materi dalam buku. antara lain pencabutan izin. bagian dan 40 . pemberhentian sementara. bab. Materi yang bersangkutan. Sanksi keperdataan dapat berupa antara lain ganti kerugian. Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. pengawasan. Jika Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah mempunyai materi yang ruang lingkupnya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. Sanksi administratif dapat berupa. bagian dan paragraph. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. pembubaran. bab. Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi perdata.

atau bab dengan bagian dan paragraph yang berisi pasal (-pasal). kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. Contoh: BAB I KETENTUAN UMUM Bagian diberikan nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberikan judul. dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. dan Kereta Tempelan Paragraph diberi nomor urut dengan angka Arab dan di berikan judul. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. Contoh: Bagian Kelima Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. Huruf awal kata bagian. urutan bilangan. Huruf awal dari kata paragraph dan 41 . Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraph bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraph. Kereta Gandengan.paragraph dilakukan atas dasar kesamaan materi. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN Bab di berikan nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital.

kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase.setiap kata pada judul paragraph ditulis dengan huruf kapital. Ayat diberikan nomor urut dengan angka Arab diantara tanda baca kurung tanpa diakhiri dengan tanda baca titik. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. jelas dan lugas. dan huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam kalimat utuh. Pasal dapat dirinci kedalam beberapa ayat. Contoh: Paragraf 1 Ketua. 42 . Materi Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Wakil Ketua dan Hakim Pasal merupakan satu aturan dalam Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah yang memuat satu norma. huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33.

. Pada tanggal .......... Saat mulai berlaku peraturan.... memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota)........... 2............ Sekretaris Daerah . Pada tanggal ... Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan................... Status peraturan yang ada....... Ditetapkan di ... Contoh : Agar setiap orang mengetahuinya....... 43 ... 4. Penunjukan organ atau kelengkapan yang melaksanakan peraturan.... Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang........ (2). (3).. Penempatan dalam Lembaran Daerah atau Berita Daerah.. 3....Contoh: Pasal 8 (1). Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.. Nama singkat.. D.. 5. PENUTUP Penutup merupakan bagian akhir peraturan yang memuat : 1.. PROVINSI/KABUPATEN/KOTA NAMA GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA Diundangkan di .....

F. objek atau arah pengaturan rancangan undang-undang atau peraturan daerah. sasaran yang ingin diwujudkan dan lingkup. Lain daripada 15 Pasal 1 angka 11 UU No. tujuan penyusunan. jangkauan. PENJELASAN (Jika diperlukan) LAMPIRAN (Jika diperlukan) B. Naskah akademik biasanya berisi latar belakang. atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat15. b) Pentingnya Naskah Akademik dalam Peraturan Perundang-undangan Pentingnya Naskah Akademik dalam menyertai suatu Rancangan Peraturan Perundang-undangan karena di dalam Naskah Akademik itulah paradigma kehidupan kemasyarakatan yang hendak dituju oleh Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk dirumuskan secara terperinci melalui pendekatan ilmiah.E. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. Naskah Akademik a) Definisi Naskah Akademik (NA) merupakan naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang. Naskah Akademik berisi latar belakang pemikiran serta hasil kajian yang menyertai dibuatnya suatu rancangan undang-undangan atau peraturan daerah. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 44 .

Ketentuan mengenai Naskah Akademik juga diatur dalam Peraturan Presiden No. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi (Kabupaten/ Kota) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau Naskah Akademik16. Berdasarkan ketentuan Pasal 56 ayat (2) UU No. pokok dan lingkup materi yang akan diatur”. c) Siapa saja yang membuat Naskah Akademik Naskah Akademik disamping disusun oleh pakar hukum. Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan Presiden tersebut dinyatakan bahwa “Naskah Akademik paling sedikit memuat dasar filosofis. sosiologis.itu. juga harus melibatkan pakar ilmu lain yang sesuai dengan bidang yang akan diatur dalam Peraturan Perundang16 Berdasarkan ketentuan Pasal 63 Ketentuan mengenai penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 sampai dengan Pasal 62 berlaku secara mutatis mutandis terhadap penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. yuridis. 68 Tahun 2005 Pasal 5 ayat (1) bahwa “Pemrakarsa dalam menyusun Rancangan Undang-undang dapat terlebih dahulu menyusun Naskah Akademik mengenai materi yang akan diatur dalam Rancangan Undangundang”. 45 . 12 tahun 2011. keberadaan Naskah Akademik yang menyertai suatu Rancangan Peraturan Perundang-undangan dapat juga dikatakan sebagai sumber inspirasi bagi Rancangan Peraturan Perundang-undangan yang akan diperjuangkan oleh pihak pemrakarsa agar memenuhi kriteria akademik. sehingga perdebatan mengenai materi muatan yang nantinya akan dituangkan ke dalam sebuah Rancangan Peraturan Perundang-undangan dapat dieliminir seminimal mungkin.

Naskah Akademik bisa dibuat oleh siapa pun sepanjang metodologinya bisa dipertanggungjawabkan. Perumusan Naskah Akademik merupakan kerja kolaboratif antara Bagian Hukum dan HAM. sudah cukup menjadi argumentasi ilmiah sebuah naskah akademik. 15. SKPD dan pakar ilmu lainnya yang memiliki kedekatan dengan materi muatan yang akan diatur dalam Peraturan Perundang-undangan. Namun. Pedoman Peraturan Daerah tentang Perlindungan Buruh Migran Indonesia Berperspektif Hak Asasi Manusia dan Keadilan Jender. Kajian peraturan yang ada ditambah dari pengalaman empirik yang dialami kelompok sosial tertentu sebagai pelaku dari masalah yang akan diatur dalam peraturan daerah. 2006.17 d) Apa saja isi dalam Naskah Akademik Naskah Akademik memuat gagasan pengaturan suatu materi perundang-undangan (materi hukum) bidang tertentu yang telah ditinjau secara sistematik-holistikfuturistik dan dari berbagai aspek ilmu dilengkapi dengan referensi yang memuat urgensi. 46 . Cukup dengan penelitian sederhana serta dengan melibatkan kelompok-kelompok sosial yang berkompeten dan berkaitan dengan tema yang akan menjadi sasaran pengaturan. serta pemangku kepentingan lainnya.undangan. hal. dalam perkembangannya kemudian Naskah Akademik tidak selalu merupakan produk perguruan tinggi. landasan. atas hukum dan prinsip-prinsip yang digunakan serta pemikiran tentang norma-norma yang telah dituangkan ke dalam bentuk pasal-pasal dengan mengajukan 17 Komnas Perempuan. konsepsi.

2. alas hukum dan prinsip yang akan digunakan. 6. 5. Gagasan awal naskah Rancangan Peraturan UndangUndang dan/atau Rancangan Peraturan Pemerintah yang disusun secara sistematis sesuai dengan teknik penyusunan Peraturan Peraturan Perundangundangan : bab demi bab. Hasil inventarisasi permasalahan hukum yang dihadapi. Unsur-unsur yang perlu ada dalam suatu Naskah Akademik adalah urgensi disusunnya pengaturan baru suatu materi hukum yang menggambarkan : 1. Gagasan-gagasan tentang materi hukum yang dituangkan ke dalam Rancangan Undang-Undang dan/atau Rancangan Peraturan Pemerintah. serta pasal demi pasal untuk memudahkan dan mempercepat penggarapan RUU/RPP selanjutnya oleh instansi yang berwenang menyusun RUU/RPP. 3. 47 . dan 7. yang disajikan dalam bentuk uraian yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sesuai dengan politik hukum yang telah digariskan.beberapa alternatif. Pemikiran tentang norma-norma yang telah dituangkan kedalam bentuk pasal-pasal. Hasil inventarisasi hukum positif. Sebab-sebab diperlukannya Peraturanya Perundangundangan yang baru. Konsepi landasan. 4.

PENDAHULUAN Latar Belakang Identifikasi Masalah Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Metode. I. PERATURAN DAERAH PROVINSI. DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN UNDANG-UNDANG.e) Sistematika Naskah Akademik NASKAH AKADEMIK PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG ……………………………………………………………….Undang atau Peraturan Daerah yang baru. II. keterkaitan Undang-Undang dan Peraturan Daerah baru dengan Peraturan Perundang-undangan lain. DAN YURIDIS Landasan Filosofis Landasan Sosiologis Landasan Yuridis JANGKAUAN. serta permasalahan yang dihadapi masyarakat. harmonisasi secara vertikal dan horizontal. ARAH PENGATURAN. serta status dari Peraturan Perundang-undangan yang ada. SOSIOLOGIS. Kajian terhadap praktik penyelenggaraan. LANDASAN FILOSOFIS. KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS Kajian teoretis. Kajian terhadap asas/prinsip yang terkait dengan penyusunan norma. termasuk Peraturan Perundang-undangan yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta Peraturan Perundang-undangan yang masih tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan Undang. EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT Bab ini memuat hasil kajian terhadap Peraturan Perundangundangan terkait yang memuat kondisi hukum yang ada. kondisi yang ada. Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam Undang-Undang atau Peraturan Daerah terhadap aspek kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap aspek beban keuangan negara. ATAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PENUTUP Kesimpulan Saran 48 .

2. 1. Dengan demikian. Perencanaan Perencanaan yang dilakukan harus dilalui dengan penerapan partisipasi publik. pengesahan atau penetapan. Persiapan Dalam tahap ini juga harus mengoptimalkan partisipasi publik. Penyusunan Prolegda bisa dijadikan salah satu agenda dalam musrenbangda. Partisipasi tidak bisa dipahami sekedar sebagai sosialisasi. pengundangan bersifat transparan dan terbuka. penyusunan. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik adalah “asas keterbukaan “ (huruf g) yang selanjutnya dalam penjelasannya dinyatakan bahwa : “dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan. Salah satu yang penting adalah ketika dalam proses penyusunan sebuah Peraturan Daerah telah memperhatikan prinsip akses informasi dan partisipasi. Keterlibatan partisipasi publik idealnya ada di semua tahapan penyusunan sebuah peraturan daerah. Jaminan akan kebebasan berpartisipasi ini termuat dalam Pasal 5 UU No. Proses perumusannya tidak dimonopoli oleh DPRD dan Pemda. namun aspirasi masyarakat harus diakomodasi dalam penyusunan Prolegda. karena partisipasi menitikberatkan proses menjaring dan mengartikulasikan gagasan dan ide untuk kemudian ditindaklanjuti secara konkret dalam sebuah policy. Partisipasi Publik Suatu Peraturan Daerah dapat dikatakan berbasis hak asasi manusia jika telah menerapkan nilai dan prinsip hak asasi manusia itu sendiri. seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan”. Hal ini dapat dilakukan melalui : (i) pelibatan elemen masyarakat dalam penyusunan naskah akademik dan 49 .C. Salah satu forum yang bisa digunakan adalah musyawarah perencanaan pembangunan daerah (musrenbangda).

Berbagai forum baik formal maupun non-formal dapat dioptimalkan untuk sosialisasi. Bentuk partisipasi yang dapat dilakukan antara lain: (i) Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). (ii) audiensi dengan pimpinan DPRD. 3. pada tahap ini juga publik harus aktif dalam berpartisipasi. 4. komisi/alat kelengkapan lainnya dengan perwakilan pemda. Pembahasan Tahap pembahasan merupakan tahap paling krusial dalam membentuk peraturan daerah. sosialisasi ini memerlukan metode yang mampu mempertemukan antara warga dengan pembentuk Peraturan Daerahuntuk memaparkan dan berdiskusi tentang Peraturan Daerah yang telah disusun. Sehingga. Penyebarluasan atau sosialisasi Penyebarluasan atau sosialisasi tidak hanya sebagai kegiatan pendistribusian naskah peraturan daerah. dan unsur fraksi baik pimpinan maupun anggota. perwakilan alat kelengkapan DPRD yang membahas Peraturan daerah. namun juga sebagai aktifitas untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat atas ketentuan-ketentuan yang ada dalam peraturan daerah. 50 . Sehingga.perancangan dan (ii) penyelenggaraan forum-forum baik formal maupun non-formal yang bertujuan menampung aspirasi masyarakat. Disisi lain. pihak pembahas yaitu DPRD dan pemda juga harus aktif untuk menggali aspirasi masyarakat antara lain dengan cara mendatangi masyarakat. Hal ini karena dalam tahap ini proses politik untuk merumuskan ketentuan mulai dilakukan melalui rapat antara komisi/gabungan.

legislatif. Parlemen harus menyadari peran ini sepanjang waktu karena peraturan daerahmaian di negara itu. ekonomi. Ratifikasi – tindakan Negara untuk melaksanakan kewajiban berdasarkan Perjanjian dan untuk memungkinkan pengawasan internasional atas kemajuan dalam promosi hak asasi manusia dan perlindungan . A. yang harus menyetujui ratifikasi. keputusan akhir. harmoni sosial dan pembangunan stabil sangat tergantung pada sejauh mana hak asasi manusia menembus semua kegiatan parlemen. . parlemen memang penjaga hak asasi manusia. Sebagai lembaga negara yang mewakili rakyat dan melalui mana mereka berpartisipasi dalam pengelolaan urusan publik.memiliki konsekuensi yang luas bagi Negara yang meratifikasi. sipil. apakah perjanjian internasional harus diratifikasi atau tidak di sebagian besar negara tergantung dengan parlemen. Namun. Meratifikasi Perjanjian Hak Asasi Manusia Ratifikasi perjanjian hak asasi manusia adalah sarana penting untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional dan opini publik domestik komitmen Negara untuk hak asasi manusia.BAB IV PERAN PARLEMEN dalam PERLINDUNGAN dan PROMOSI HAK ASASI MANUSIA Bicara mengenai promosi dan pelindungan hak asasi manusia. Perjanjian Hak Asasi Manusia ditandatangani dan diratifikasi oleh eksekutif. sosial dan budaya dan tentunya memiliki dampak langsung terhadap penikmatan hak asasi manusia oleh masyarakat. anggota parlemen adalah aktor penting: kegiatan parlemen secara keseluruhan . mengadopsi anggaran dan mengawasi eksekutif meliputi seluruh elemen politik. biasanya kepala Negara atau Pemerintah atau menteri untuk urusan luar negeri.

terus memantau kinerja Pemerintah di lapangan terhadap pemenuhan hak asasi manusia. terutama. Memastikan Pelaksanaan Nasional Mengadopsi Anggaran Menjamin pemenuhan hak asasi manusia oleh semua bukanlah tanpa biaya.langkah efektif bagi perlindungan hak asasi manusia dan. parlemen harus memastikan bahwa tersedia dana yang cukup untuk pelaksanaan hak asasi manusia. dengan menetapkan prioritas nasional. Suara tidak percaya. Kemudian. jika upaya di atas gagal. Dibawah prosedur parlemen. menundukkan kebijakan dan tindakan eksekutif untuk pengawasan yang konstan. Mengawasi Eksekutif Melalui fungsi pengawasan mereka. Interpelasi. pegawai negeri sipil dan pejabat-pejabat eksekutif lainnya. Menindaklanjuti Rekomendasi dan Keputusan Rekomendasi yang dirumuskan oleh PBB dan badan-badan pengawasan pelapor khusus dan oleh badan lainnya pemantauan internasional atau regional dapat secara efektif digunakan oleh anggota parlemen untuk meneliti kepatuhan tindakan eksekutif dengan kewajiban hak asasi manusia dari Negara. Langkah.B. Fakta-temuan atau pemeriksaan komite atau komisi. 52 . dalam pemantauan belanja Pemerintah. Dalam menyetujui anggaran nasional. parlemen bisa. tersedia sarana untuk anggota parlemen untuk meneliti tindakan Pemerintah meliputi: Pertanyaan tertulis dan lisan kepada menteri. parlemen dan anggota parlemen dapat dan harus memastikan bahwa hukum benar-benar dilaksanakan oleh administrasi dan setiap badan lainnya yang bersangkutan. jika perlu. untuk mencegah pelanggaran hak asasi manusia memerlukan cukup dana.

setiap komite parlemen harus secara konsisten mempertimbangkan hak asasi manusia dan menilai dampak dari norma hukum yang diusulkan pada penikmatan hak asasi manusia. C. pidana. parlemen mengatur badan khusus hak asasi manusia atau komite mempercayakan tugas yang ada dengan mempertimbangkan isu-isu HAM. fungsi dan mandat berbeda.Parlemen Membentuk Badan-Badan Hak Asasi Manusia Hak asasi manusia secara menyeluruh harus menyatu dengan kegiatan parlemen. Parlemen dan anggota parlemen memiliki peran penting untuk mengadopsi undang-undang pelaksanaan yang diperlukan dalam setiap daerah (peraturan daerahta. pendidikan. Banyak parlemen juga telah membentuk komite untuk spesifik isu-isu hak asasi manusia. komposisi. struktur. Salah satu cara yang digunakan untuk adalah pendirian lembaga nasional hak asasi manusia. telah ada kesadaran akan kebutuhan untuk memperkuat institusi hak asasi manusia nasional. Mengadopsi Undang-Undang Jika kewajiban hukum internasional tidak diterapkan di tingkat domestik. Dalam kompetensi wilayahnya. Dalam beberapa badan kasus tersebut kompeten untuk menerima petisi individu. semua 53 . perawatan kesehatan atau undangundang jaminan sosial). seperti kesetaraan jender atau hak-hak minoritas. masing-masing perjanjian menjadi surat mati. Aksi ini bertujuan untuk menerapkan dan memastikan kepatuhan dengan standar hak asasi manusia. Untuk memastikan bahwa hak asasi manusia sepatutnya diperhitungkan dalam pekerjaan parlemen. Sementara istilah ini mencakup berbagai badan hukum yang status. Menciptakan dan Dukungan Infrastruktur Kelembagaan Institusi Hak Asasi Manusia Nasional (National Human Rights Institution/NHRI) Selama 20 tahun terakhir. administratif atau hukum perburuhan.

Menerima dan bertindak atas keluhan individu atau kelompok pelanggaran hak asasi manusia. dan melakukan penelitian di bidang hak asasi manusia. 4. 3. Menyerahkan rekomendasi.dengan maksud untuk mempromosikan dan melindungi hak asasi manusia. harus memiliki kapasitas dan otoritas untuk: 1. lembaga nasional lain negara dan LSM. yang umumnya terdiri dari memastikan keadilan dan legalitas dalam administrasi publik.seperti lembaga peradilan . 2. 54 . Bekerja sama dengan PBB. Hanya ombudsman dengan mandat hak asasi manusia tertentu dapat digambarkan sebagai lembaga nasional hak asasi manusia. lembaga-lembaga regional. Kantor Ombudsman Kantor Ombudsman adalah suatu lembaga nasional yang ditemukan di banyak negara. Meningkatkan kesadaran hak asasi manusia melalui informasi dan pendidikan. proposal dan laporan kepada Pemerintah atau parlemen di setiap hal yang berhubungan dengan hak asasi manusia. Ada beberapa tumpang tindih antara kegiatan kantor ombudsman dan orang-orang komisi hak asasi manusia nasional tetapi peran ombudsman biasanya agak lebih terbatas.badan seperti ditetapkan oleh Pemerintah untuk beroperasi secara independen . 5. Ombudsman umumnya laporan kepada parlemen. 6. sering disebut komisi hak asasi manusia. Mempromosikan kesesuaian hukum nasional dan praktek dengan standar internasional. Mendorong ratifikasi dan penerapan standar HAM internasional dan berkontribusi untuk prosedur pelaporan di bawah perjanjian internasional hak asasi manusia. NHRI.

anggota parlemen harus bekerja dengan aktoraktor nasional lainnya yang terlibat dalam kegiatan hak asasi manusia. termasuk LSM. Penerapan Rencana aksi nasional harus merupakan upaya nasional yang sesungguhnya.Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tidak ada Negara di dunia memiliki rekor hak asasi manusia yang sempurna. mendorong Negara untuk membuat aksi nasional hak asasi manusia merencanakan untuk mengembangkan strategi hak asasi manusia sesuai dengan situasi mereka sendiri. hak minoritas atau masalah sosial. karena setiap negara harus mengembangkan kebijakan hak asasi manusia yang spesifik dalam politik. Parlemen harus selalu peka terhadap dampak bahwa pernyataan-pernyataan publik mereka pada isu hak asasi manusia dapat memiliki persepsi pada isu publik tersebut. sejarah dan keadaan hukum. bebas dari pertimbangan politik partisan. Oleh karena itu. tidak ada pendekatan tunggal bagi negara-negara untuk mengatasi masalah hak asasi manusia. Selain itu. Sebuah rencana aksi nasional harus didukung oleh Pemerintah dan melibatkan semua sektor masyarakat. budaya. karena keberhasilannya sangat tergantung pada sejauh mana penduduk mengambil kepemilikan itu. yang diselenggarakan pada tahun 1993. Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia. Memobilisasi Opini Publik Parlemen dapat memberikan kontribusi besar terhadap meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hak asasi manusia dan memobilisasi opini publik tentang isu-isu terkait – lebih-lebih sejak perdebatan politik sering berfokus pada pertanyaan seperti diskriminasi terhadap berbagai kelompok. D. kesetaraan gender. Untuk meningkatkan kesadaran umum hak asasi manusia di negara mereka. 55 .

E. Negara pihak dalam perjanjian hak asasi manusia memiliki kepentingan hukum dalam pemenuhan kewajiban oleh Negara-negara Pihak lainnya. Sesuai dengan prosedur pengaduan antar Negara disediakan untuk di beberapa inti perjanjian hak asasi manusia. suatu Negara karena itu dapat meminta perhatian untuk tindakan yang dilakukan oleh Negara lain melanggar perjanjian. 56 . di bawah hukum internasional. Penghormatan dan perhatian masyarakat internasional terhadap hak asasi manusia dan. Berpartisipasi dalam Upaya Internasional Parlemen dan anggota parlemen dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perlindungan dan upaya promosi hak asasi manusia di tingkat internasional. Parlemen. melalui badan hak asasi manusia mereka. dapat mengangkat isu-isu hak asasi manusia yang melibatkan adanya kemungkinan pelanggaran tersebut dan dengan demikian meningkatkan kepatuhan dengan norma-norma hak asasi manusia di seluruh dunia.

38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentuan Peraturan Perundang-undangan Peraturan Pemerintah No. . yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006 tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah Instrumen Hak Asasi Manusia Deklarasi Universal HAM (DUHAM) Kovenan Internasional tentang Ekonomi Sosial dan Budaya (EKOSOB. Pemerintahan Daerah Provinsi. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. 12 Tahun 2005). Kovenan Internasional tentang Sipil Politik (SIPOL). 11 Tahun 2005).Daftar Pustaka Peraturan Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No.

Konvensi Internasional Diskriminasi Rasial.

tentang

Penghapusan

Segala

Bentuk

(CERD; adopsi pada tahun 1965; berlakunya pada tahun 1969); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 29 Tahun 1999. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW, adopsi pada tahun 1979; berlakunya pada tahun 1981); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1984. Konvensi Menentang Penyiksaan yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Hukuman (CAT; adopsi pada tahun 1984; berlakunya pada tahun 1987); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1998. Konvensi tentang Hak-hak Anak (CRC; adopsi pada tahun 1989; berlakunya pada tahun 1990); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 1990. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (yang dikenal sebagai Konvensi Pekerja Migran, atau CMW; adopsi pada tahun 1990; berlakunya pada tahun 2003). Buku Cipto Handoyo, B. Hestu. Prinsip-Prinsip Legal Drafting dan Desain Naskah Akademik. Penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 2008. Departemen Hukum dan HAM dan United Nation Development Programme (2007), Panduan Praktis Memahami Perancangan Peraturan Daerah. 2008. Jason M. Patlis. Pedoman Umum Penyusunan Peraturan Daerah Pengelolaan Hutan. Penerbit Center for International Forestry Research. 2004. 58

Sholikin, M Nur. Awasi Peraturan daerah, Berdayakan Daerah. Penerbit Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK). 2009. Rawasita, Reny. Menilai Tanggung Jawab Sosial Peraturan Daerah. Penerbit Pusat Studi dan Kebijakan Indonesia (PSHK). 2009 Rhona K.M. Smith dkk, Hukum Hak Asasi Manusia, PUSHAM UII, 2008 Makalah Proses Penyusunan Peraturan DaerahDalam Teori dan Praktek, http:// www.huma.or.id Setyadi, S. Bambang, Drs, M.Si, Pembentukan Peraturan Daerah. Makalah disampaikan dalam Diskusi Panel “Kajian Terhadap Kebijakan-Kebijakan Yang Perlu Dimuat Dalam Peraturan DaerahDalam Rangka Mendorong Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)”di Bank Indonesia, Maret, 2007. Sriyana, SH, LLM, DFM. Memahami Landasan Hukum, Asas dan Substansi dalam Penyusunan Peraturan Daerahserta Prosedurnya. Makalah disampaikan dalam Workshop Penyusunan Manual Drafting Peraturan DaerahBerbasis Hak Asasi Manusia di Pontianak, Juli, 2010. Artikel R Herlambang Perdana, Derogasi dan HAM, Kompas, 18 Oktober

59

PROFIL PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SANGGAU

Kabupaten Sanggau berjarak ± 267 Km dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat (Pontianak) dan merupakan salah satu dari 5 (lima) kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur), dengan garis perbatasan sepanjang ±129,50 Km (15%) dari panjang garis perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Sarawak sepanjang ± 877 Km. Dari 15 kecamatan di Kabupaten Sanggau, terdapat 2 (dua) kecamatan yang berbatasan langsung (kawasan perbatasan lini 1) dengan Sarawak (Malaysia Timur) yaitu Kecamatan Entikong dan Sekayam. Luas Kabupaten Sanggau adalah 12.857,70 Km2 merupakan urutan ke-4 (12,47%) dari kabupaten/ Kodya di Propinsi Kalimantan Barat. Kemudian jika dilihat kecamatan terluas adalah Kecamatan Jangkang dengan luas 1.589,20 Km2 kemudian Kecamatan Meliau yaitu 1.495,70 Km2. Sedangkan kecamatan terkecil adalah Kecamatan Balai dengan luas 395,60 kemudian Kecamatan Beduwai dengan luas 435,00 Km2. Kabupaten Sanggau dengan luas wilayahnya 12.857,0 Km2 atau 8,67% dari luas wilayah Propinsi Kalimantan Barat mempunyai jumlah penduduk 455.334 jiwa, dengan rincian penduduk laki – laki 235.810 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 219.524 jiwa18 yang menyebar di 15 kecamatan dengan kepadatan penduduk 29 jiwa per Km2 , penyebaran ini tidak merata antara daerah kecamatan satu dengan lainnya. Saat ini Kab. Sanggau dipimpin oleh Bupati Ir. H. Setiman H. Sudin dan Wakil Bupati Paolus Hadi, S.IP, M.Si. Kab. Sanggau memiliki 23 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan telah melahirkan sekitar 110 Peraturan Daerahperiode tahun 2007 – 2010.
18 Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Per 24 Oktober 2011

62 .

Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta. lahir di Nanga Bunut pada tanggal 04 Juni 1981. Saat ini berkarir sebagai Kasubbag BanKum dan HAM di Bagian Hukum dan HAM Pemkab.PROFIL TIM PENYUSUN MARINA RONA. Sanggau sejak tahun 2006. lahir di Karangan pada tanggal 04 Juli 1984. Saat ini berkarir sebagai staf di Sekretariat DPRD Kab. Sanggau sejak Februari 2005. Saat ini berkarir sebagai staf di Bagian Hukum dan HAM di Sekretariat Daerah Pemkab. lahir di Sengoret pada tanggal 15 Maret 1977. dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 2004. Kemudian menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana (S2) di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak. . LAURIANUS YOKA. Sanggau. dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 1998. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak. dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 2002. MUTMAINNAH.

Penerangan Komunikasi di Bappeda Pemkab. Sanggau.ERVANSIUS HENDRA GOMESDY. lahir di Lampung pada tanggal 11 Januari 1980. 64 . Menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Universitas Ahmad Dahlan. dan lulus Sarjana Ekonomi Akuntansi pada tahun 2004. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Panca Bakti Pontianak. dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 2006. Yogyakarta dan lulus Sarjana Teknik Informatika pada tahun 2004. Saat ini menjabat sebagai Kasubbid. ARIYANTO. Kesehatan. Sanggau sejak tahun 2010. lahir di Lubuk Antuk pada tanggal 9 Desember 1979. Saat ini berkarir sebagai Staf Keuangan di Dinas Kependudukan & Pencatatan Sipil Pemkab. Menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Samata Dharma Yogyakarta. HENNY LORRYDA YULIANA. Pendidikan. Sanggau sejak tahun 2009. Sanggau sejak tahun 2008. DWI YULIANI. lahir di Semitau pada tanggal 09 Juli 1975. Saat ini berkarir sebagai staf di DINSOSNAKERTRANS Pemkab. Menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya dan lulus Sarjana Administrasi Publik pada tahun 2003. Saat ini berkarir sebagai staf di Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DP2KAD) Pemkab. lahir di Sanggau pada tanggal 18 April 1983.

lahir di Anjungan pada tanggal 23 September 1970. dan lulus Sarjana Kehutanan pada tahun 2006. dan HUBKOMINFO (2009). Menyelesaikan studi di STM 2 Jurusan Elektronika Komunikasi. Saat ini berkarir sebagai Staf di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab. Saat ini berkarir sebagai Pengawas SMP & SMA di Dinas Pendidikan. Jawa Barat. Sanggau sejak tahun 2003. Jatinangor. Padang pada tahun 1989. lahir di Pontianak pada tanggal 21 Juli 1970. Sanggau sejak tahun 2004. BAMBANG SUGIHARTO. 65 . Perlindungan Tanaman Perkebunan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pemkab.FERI BUDI JAYANTO. Menyelesaikan studi di Fakultas Kehutanan Jurusan Manajemen Kehutanan Universitas Winaya Mukti. Pemuda dan Olahraga Pemkab. Menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi Universitas Tanjungpura Pontianak. lahir di Setawar pada tanggal 09 Juli 1964. lahir di Yogyakarta pada tanggal 13 Oktober 1964. YULIA THERESIA. Sanggau sejak tahun 2010. BP4K (2008). Dinas Pertanian (2005-2007). Saat ini berkarir sebagai sebagai sekretaris Dinas Kesehatan kab. Saat ini berkarir sebagai Kasi. SYAFRINAL. dan lulus Sarjana Pertanian pada tahun 1992. Menyelesaikan studi di Fakultas Pendidikan di IKIP Yogyakarta Jurusan Geografi dan lulus Sarjana Pendidikan pada tahun 1989. Sebelumnya beliau pernah tugas di Bappeda (19932005). Sanggau sejak Maret 1992.

66 .

negara berkewajiban melaksanakan pembangunan hukum nasional yang dilakukan secara terencana. bahwa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas peraturan perundang-undangan yang baik. dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membentuk peraturan perundang-undangan. bahwa dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan masih terdapat kekurangan dan belum dapat menampung perkembangan kebutuhan masyarakat mengenai aturan pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik sehingga perlu diganti. bahwa untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum.Lampiran UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. baku. Menimbang: a. perlu dibuat peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang pasti. . terpadu. c. dan berkelanjutan dalam sistem hukum nasional yang menjamin pelindungan hak dan kewajiban segenap rakyat Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. b.

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. penyusunan. pembahasan. Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah pembuatan Peraturan Perundang-undangan yang mencakup tahapan perencanaan. dan pengundangan. huruf b. 2. Mengingat: Pasal 20. pengesahan atau penetapan. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan Perundangundangan. 68 . perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan.d. 3. dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN. Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. dan huruf c. Pasal 21.

11. dan sistematis. Program Legislasi Daerah yang selanjutnya disebut Prolegda adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang disusun secara terencana. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundangundangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota. Program Legislasi Nasional yang selanjutnya disebut Prolegnas adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara terencana.4. terpadu. 10. 7. dan sistematis. Naskah Akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang. 9. Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. terpadu. atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. 69 . 5. Peraturan Daerah Provinsi adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur. Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan. 6. 8.

Pasal 3 (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. Pasal 2 Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum negara. 14. (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perundangundangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis. Dewan Perwakilan Daerah yang selanjutnya disingkat DPD adalah Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 70 . fungsi. 13. 16. Dewan Perwakilan Rakyat yang selanjutnya disingkat DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 15. Tambahan Lembaran Daerah. Lembaran Daerah. dan hierarki Peraturan Perundang-undangan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. atau Berita Daerah. (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya. Berita Negara Republik Indonesia.12. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia.

b. bhinneka tunggal ika. hierarki. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat. d. BAB II ASAS PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik. c. e.Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur dalam Undang-Undang ini meliputi Undang-Undang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya. kekeluargaan. yang meliputi: a. e. pengayoman. kejelasan rumusan. kejelasan tujuan. dan keterbukaan. dapat dilaksanakan. kedayagunaan dan kehasilgunaan. b. kenusantaraan. kebangsaan. kemanusiaan. Perundang-undangan harus 71 . f. keadilan. dan materi muatan. f. kesesuaian antara jenis. Pasal 6 (1) Materi muatan Peraturan mencerminkan asas: a. c. g. g. d.

(2) Selain mencerminkan asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. dan/atau keseimbangan. j. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. g. Mahkamah Konstitusi. Dewan Perwakilan Daerah. HIERARKI. Mahkamah Agung. d. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan.h. Badan Pemeriksa Keuangan. Dewan Perwakilan Rakyat. c. i. Bank 72 . Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 8 (1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. ketertiban dan kepastian hukum. Peraturan Pemerintah. DAN MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 7 (1) a. b. Peraturan Presiden. (2) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. keserasian. Komisi Yudisial. dan keselarasan. BAB III JENIS. Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. f. Peraturan Daerah Provinsi.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan UndangUndang. dan/atau e. b. atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. (2) Dalam hal suatu Peraturan Perundang-undangan dibawah Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang. badan. Gubernur. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/ Kota. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Bupati/Walikota. Pasal 9 (1) Dalam hal suatu Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung. 73 . pengesahan perjanjian internasional tertentu. (2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. c.Indonesia. Kepala Desa atau yang setingkat. Menteri. (2) Tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan oleh DPR atau Presiden. Pasal 10 (1) Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undang berisi: a. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi. d. lembaga.

(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c berupa ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp50. (3) Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota dapat memuat ancaman pidana kurungan atau pidana denda 74 . materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah.000. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. atau materi untuk melaksanakan penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan. b. atau c.000. Pasal 13 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 14 Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi.Pasal 11 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan Undang-Undang.00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 15 (1) Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam: a. Undang-Undang. Peraturan Daerah Provinsi.

perintah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sistem perencanaan pembangunan nasional. perintah Undang-Undang lainnya. rencana pembangunan jangka menengah. e. dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. g. d. Pasal 17 Prolegnas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 merupakan skala prioritas program pembentukan Undang-Undang dalam rangka mewujudkan sistem hukum nasional. rencana pembangunan jangka panjang nasional. dan h. c. materi yang diatur. Pasal 18 Dalam penyusunan Prolegnas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. Pasal 19 (1) Prolegnas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 memuat program pembentukan Undang-Undang dengan judul Rancangan UndangUndang.selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan yang diatur dalam Peraturan Perundang-undangan lainnya. rencana kerja pemerintah dan rencana strategis DPR. BAB IV PERENCANAAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagian Kesatu Perencanaan Undang-Undang Pasal 16 Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam Prolegnas. perintah Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. b. 75 . f. aspirasi dan kebutuhan hukum masyarakat. penyusunan daftar Rancangan Undang-Undang didasarkan atas: a.

Pasal 21 (1) Penyusunan Prolegnas antara DPR dan Pemerintah dikoordinasikan oleh DPR melalui alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. b. dan c. latar belakang dan tujuan penyusunan. (3) Penyusunan dan penetapan Prolegnas jangka menengah dilakukan pada awal masa keanggotaan DPR sebagai Prolegnas untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. (5) Penyusunan dan penetapan Prolegnas prioritas tahunan sebagai pelaksanaan Prolegnas jangka menengah dilakukan setiap tahun sebelum penetapan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. jangkauan dan arah pengaturan. Pasal 20 (1) Penyusunan Prolegnas dilaksanakan oleh DPR dan Pemerintah. sasaran yang ingin diwujudkan.(2) Materi yang diatur dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keterangan mengenai konsepsi Rancangan UndangUndang yang meliputi: a. (2) Prolegnas ditetapkan untuk jangka menengah dan tahunan berdasarkan skala prioritas pembentukan Rancangan UndangUndang. (4) Prolegnas jangka menengah dapat dievaluasi setiap akhir tahun bersamaan dengan penyusunan dan penetapan Prolegnas prioritas tahunan. 76 . (3) Materi yang diatur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah melalui pengkajian dan penyelarasan dituangkan dalam Naskah Akademik.

akibat putusan Mahkamah Konstitusi. ayat (2). Pasal 22 (1) Hasil penyusunan Prolegnas antara DPR dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) disepakati menjadi Prolegnas dan ditetapkan dalam Rapat Paripurna DPR. dan penggabungan daerah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan DPR. (2) Prolegnas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan DPR. dan e. komisi. penetapan/pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. c. DPD. pemekaran. Pasal 23 (1) Dalam Prolegnas dimuat daftar kumulatif terbuka yang terdiri atas: a. (4) Penyusunan Prolegnas di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegnas di lingkungan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Presiden. anggota DPR. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegnas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pembentukan. b.(2) Penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. 77 . dan/atau masyarakat. (3) Penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan mempertimbangkan usulan dari fraksi. pengesahan perjanjian internasional tertentu. d. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

(2) Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden.(2) Dalam keadaan tertentu. dan b. untuk mengatasi keadaan luar biasa. Pasal 25 (1) Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 memuat daftar judul dan pokok materi muatan Rancangan Peraturan Pemerintah untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. atau bencana alam. DPR atau Presiden dapat mengajukan Rancangan Undang-Undang di luar Prolegnas mencakup: a. Pasal 26 (1) Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. 78 . Bagian Kedua Perencanaan Peraturan Pemerintah Pasal 24 Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah dilakukan dalam suatu program penyusunan Peraturan Pemerintah. (2) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi nasional atas suatu Rancangan Undang-Undang yang dapat disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. keadaan konflik.

79 . Pasal 29 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah diatur dengan Peraturan Presiden. Pasal 31 Ketentuan mengenai perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 sampai dengan Pasal 29 berlaku secara mutatis mutandis terhadap perencanaan penyusunan Peraturan Presiden. (2) Rancangan Peraturan Pemerintah dalam keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat berdasarkan kebutuhan Undang-Undang atau putusan Mahkamah Agung. kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian dapat mengajukan Rancangan Peraturan Pemerintah di luar perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah. Bagian Ketiga Perencanaan Peraturan Presiden Pasal 30 Perencanaan penyusunan Peraturan Presiden dilakukan dalam suatu program penyusunan Peraturan Presiden.Pasal 27 Rancangan Peraturan Pemerintah berasal dari kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian sesuai dengan bidang tugasnya. Bagian Keempat Perencanaan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 32 Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan dalam Prolegda Provinsi. Pasal 28 (1) Dalam keadaan tertentu.

materi yang diatur. (2) Prolegda Provinsi ditetapkan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun berdasarkan skala prioritas pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. Pasal 34 (1) Penyusunan Prolegda Provinsi dilaksanakan oleh DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi. pokok pikiran. (3) Materi yang diatur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah melalui pengkajian dan penyelarasan dituangkan dalam Naskah Akademik. dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. (2) Materi yang diatur serta keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keterangan mengenai konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang meliputi: a. 80 . penyusunan daftar rancangan peraturan daerah provinsi didasarkan atas: a. b. jangkauan dan arah pengaturan. (3) Penyusunan dan penetapan Prolegda Provinsi dilakukan setiap tahun sebelum penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi. c. Pasal 35 Dalam penyusunan Prolegda Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). rencana pembangunan daerah. sasaran yang ingin diwujudkan. perintah Peraturan Perundang-undangan lebih tinggi. b. latar belakang dan tujuan penyusunan. dan d.Pasal 33 (1) Prolegda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 memuat program pembentukan Peraturan Daerah Provinsi dengan judul Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. lingkup. atau objek yang akan diatur.

dan d. Pasal 37 (1) Hasil penyusunan Prolegda Provinsi antara DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) disepakati menjadi Prolegda Provinsi dan ditetapkan dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi. aspirasi masyarakat daerah. penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. (2) Prolegda Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan DPRD Provinsi.c. (3) Penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh biro hukum dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal terkait. Pasal 38 (1) Dalam Prolegda Provinsi dapat dimuat daftar kumulatif terbuka yang terdiri atas: 81 . Pasal 36 (1) Penyusunan Prolegda Provinsi antara DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh DPRD Provinsi melalui alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan DPRD Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan DPRD Provinsi. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Gubernur. (2) Penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan DPRD Provinsi dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi.

untuk mengatasi keadaan luar biasa. pemekaran.a. Bagian Kelima Perencanaan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 39 Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam Prolegda Kabupaten/Kota. Pasal 40 Ketentuan mengenai perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 sampai dengan Pasal 38 berlaku secara mutatis mutandis terhadap perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi. dan penggabungan Kecamatan atau nama lainnya dan/atau pembentukan. dan c. dan b. Kabupaten/Kota 82 . (2) Dalam keadaan tertentu. DPRD Provinsi atau Gubernur dapat mengajukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi di luar Prolegda Provinsi: a. b. akibat putusan Mahkamah Agung. akibat kerja sama dengan pihak lain. dan penggabungan Desa atau nama lainnya. keadaan konflik. atau bencana alam. keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi atas suatu Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang dapat disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi dan biro hukum. Pasal 41 Dalam Prolegda Kabupaten/Kota dapat dimuat daftar kumulatif terbuka mengenai pembentukan. pemekaran.

atau instansi masing-masing. Presiden. atau instansi masing-masing untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.Bagian Keenam Perencanaan Peraturan Perundang-undangan Lainnya Pasal 42 (1) Perencanaan penyusunan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) merupakan kewenangan dan disesuaikan dengan kebutuhan lembaga. BAB V PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagian Kesatu Penyusunan Undang-Undang Pasal 43 (1) Rancangan Undang-Undang dapat berasal dari DPR atau Presiden. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak berlaku bagi Rancangan Undang-Undang mengenai: a. komisi. Peraturan 83 . (2) Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari DPD. (2) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh lembaga. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. atau DPD harus disertai Naskah Akademik. (3) Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR. penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang. b. pencabutan Undang-Undang atau pencabutan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. atau c. komisi.

(2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Naskah Akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. dan perimbangan keuangan pusat dan daerah. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. b. d. baik yang berasal dari DPR maupun Presiden serta Rancangan Undang-Undang yang diajukan DPD kepada DPR disusun berdasarkan Prolegnas. Pasal 46 (1) Rancangan Undang-Undang dari DPR diajukan oleh anggota DPR. Pasal 45 (1) Rancangan Undang-Undang. hubungan pusat dan daerah. otonomi daerah. 84 . pembulatan. komisi. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. Pasal 44 (1) Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Naskah Akademik. atau alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi atau DPD. c. (2) Pengharmonisasian. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. (2) Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh DPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan: a.(5) Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disertai dengan keterangan yang memuat pokok pikiran dan materi muatan yang diatur. e. gabungan komisi.

(3) Alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam melakukan pengharmonisasian. (2) Usul Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh pimpinan DPR kepada alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi untuk dilakukan pengharmonisasian. (2) Dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang. (3) Pengharmonisasian. menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non kementerian terkait membentuk panitia antarkementerian dan/atau antarnonkementerian. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang yang berasal dari Presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. pembulatan. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang dapat mengundang pimpinan alat kelengkapan DPD yang mempunyai tugas di bidang 85 . pembulatan. Pasal 48 (1) Rancangan Undang-Undang dari DPD disampaikan secara tertulis oleh pimpinan DPD kepada pimpinan DPR dan harus disertai Naskah Akademik. Pasal 47 (1) Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan DPR. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang. pembulatan.

(2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas Rancangan Undang-Undang bersama DPR dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak surat pimpinan DPR diterima. (3) DPR mulai membahas Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak surat Presiden diterima. (2) Surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat penunjukan menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan Rancangan Undang-Undang bersama DPR. 86 . (4) Untuk keperluan pembahasan Rancangan Undang-Undang di DPR. Pasal 49 (1) Rancangan Undang-Undang dari DPR disampaikan dengan surat pimpinan DPR kepada Presiden. (3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum.perancangan Undang-Undang untuk membahas usul Rancangan Undang-Undang. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah Rancangan Undang-Undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. (4) Alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan laporan tertulis mengenai hasil pengharmonisasian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada pimpinan DPR untuk selanjutnya diumumkan dalam rapat paripurna. Pasal 50 (1) Rancangan Undang-Undang dari Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan DPR.

(4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang mendapat persetujuan DPR dalam rapat paripurna. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut harus dicabut dan harus dinyatakan tidak berlaku. Bagian Kedua Penyusunan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Pasal 52 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke DPR dalam persidangan yang berikut.Pasal 51 Apabila dalam satu masa sidang DPR dan Presiden menyampaikan Rancangan Undang-Undang mengenai materi yang sama. yang dibahas adalah Rancangan Undang-Undang yang disampaikan oleh DPR dan Rancangan Undang-Undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut ditetapkan menjadi Undang-Undang. (3) DPR hanya memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang. (5) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tidak mendapat persetujuan DPR dalam rapat paripurna. (6) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus dicabut dan harus dinyatakan tidak berlaku sebagaimana dimaksud 87 .

Bagian Ketiga Penyusunan Peraturan Pemerintah Pasal 54 (1) Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah. (2) Pengharmonisasian. dan penyampaian Rancangan Peraturan Pemerintah diatur dengan Peraturan Presiden.pada ayat (5). dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan panitia antar kementerian dan/atau antar non kementerian. (7) Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) mengatur segala akibat hukum dari pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. pembulatan. DPR atau Presiden mengajukan Rancangan UndangUndang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. pemrakarsa membentuk panitia antarkementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian. Pasal 53 Ketentuan mengenai tata cara penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang diatur dengan Peraturan Presiden. pengharmonisasian. 88 . penyusunan. (8) Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (7) ditetapkan menjadi Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dalam rapat paripurna yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (5).

penyusunan. (3) Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah Provinsi mengenai: a. (2) Pengharmonisasian. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. pencabutan Peraturan Daerah Provinsi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan panitia antar kementerian dan/atau antar non kementerian. b.Bagian Keempat Penyusunan Peraturan Presiden Pasal 55 (1) Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden. Bagian Kelima Penyusunan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 56 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dapat berasal dari DPRD Provinsi atau Gubernur. 89 . disertai dengan keterangan yang memuat pokok pikiran dan materi muatan yang diatur. perubahan Peraturan Daerah Provinsi yang hanya terbatas mengubah beberapa materi. pembulatan. pengharmonisasian. pemrakarsa membentuk panitia antarkementerian dan/atau antar non kementerian. dan penyampaian Rancangan Peraturan Presiden diatur dalam Peraturan Presiden. (2) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau Naskah Akademik. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi. atau c.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan DPRD Provinsi. pembulatan. pembulatan. Pasal 58 (1) Pengharmonisasian.Pasal 57 (1) Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Naskah Akademik. Pasal 60 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dapat diajukan oleh anggota. Pasal 59 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berasal dari Gubernur diatur dengan Peraturan Presiden. 90 . dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berasal dari DPRD Provinsi dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berasal dari Gubernur dikoordinasikan oleh biro hukum dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. gabungan komisi. atau alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Naskah Akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. (2) Pengharmonisasian. komisi.

91 . yang dibahas adalah Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang disampaikan oleh DPRD Provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang disampaikan oleh Gubernur digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. Bagian Keenam Penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 63 Ketentuan mengenai penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 sampai dengan Pasal 62 berlaku secara mutatis mutandis terhadap penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. (2) Rancangan Peraturan Daerah yang telah disiapkan oleh Gubernur disampaikan dengan surat pengantar Gubernur kepada pimpinan DPRD Provinsi.Pasal 61 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang telah disiapkan oleh DPRD Provinsi disampaikan dengan surat pimpinan DPRD Provinsi kepada Gubernur. Pasal 62 Apabila dalam satu masa sidang DPRD Provinsi dan Gubernur menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi mengenai materi yang sama.

d. hubungan pusat dan daerah. dan penggabungan daerah. (3) Ketentuan mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. (2) Pembahasan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan: a. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Peraturan Perundangundangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari UndangUndang ini. pemekaran. otonomi daerah. dan e. c. 92 . pembentukan. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-Undang Pasal 65 (1) Pembahasan Rancangan Undang-Undang dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi.BAB VI TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 64 (1) Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. b. perimbangan keuangan pusat dan daerah. dilakukan dengan mengikutsertakan DPD.

rapat Badan Anggaran. pembahasan daftar inventarisasi masalah. Pasal 67 Dua tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 terdiri atas: a. Pasal 68 (1) Pembicaraan tingkat I dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut: a. rapat gabungan komisi. DPR memberikan penjelasan dan Presiden menyampaikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang berasal dari DPR. dan agama. DPR memberikan penjelasan serta Presiden dan DPD 93 . rapat Badan Legislasi. (2) Dalam pengantar musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a: a. pembicaraan tingkat II dalam rapat paripurna. (5) DPD memberikan pertimbangan kepada DPR atas Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan pajak. pengantar musyawarah. Pasal 66 Pembahasan Rancangan Undang-Undang dilakukan melalui 2 (dua) tingkat pembicaraan. pembicaraan tingkat I dalam rapat komisi. penyampaian pendapat mini. b. atau rapat Panitia Khusus. b. pendidikan. dan c.(3) Keikutsertaan DPD dalam pembahasan Rancangan UndangUndang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan hanya pada pembicaraan tingkat I. (4) Keikutsertaan DPD dalam pembahasan Rancangan UndangUndang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh alat kelengkapan yang membidangi materi muatan Rancangan Undang-Undang yang dibahas. dan b.

b. atau b. (3) Daftar inventarisasi masalah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diajukan oleh: a. (4) Penyampaian pendapat mini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c disampaikan pada akhir pembicaraan tingkat I oleh: a. (5) Dalam hal DPD tidak menyampaikan pandangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf d dan/atau tidak menyampaikan pendapat mini sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b. DPD. (6) Dalam pembicaraan tingkat I dapat diundang pimpinan lembaga negara atau lembaga lain jika materi Rancangan Undang-Undang berkaitan dengan lembaga negara atau lembaga lain. dan c. Presiden memberikan penjelasan dan fraksi memberikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang berasal dari Presiden. Presiden memberikan penjelasan serta fraksi dan DPD menyampaikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2) berasal dari Presiden. atau d. pembicaraan tingkat I tetap dilaksanakan. Presiden. jika Rancangan Undang-Undang berkaitan dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2). c.menyampaikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2) berasal dari DPR. DPR jika Rancangan Undang-Undang berasal dari Presiden dengan mempertimbangkan usul dari DPD sepanjang terkait dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2). 94 . Presiden jika Rancangan Undang-Undang berasal dari DPR. fraksi.

penyampaian pendapat akhir Presiden yang dilakukan oleh menteri yang ditugasi. (2) Dalam hal persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak dapat dicapai secara musyawarah untuk mufakat.Pasal 69 (1) Pembicaraan tingkat II merupakan pengambilan keputusan dalam rapat paripurna dengan kegiatan: a. b. Rancangan Undang-Undang tersebut tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu.tiap fraksi dan anggota secara lisan yang diminta oleh pimpinan rapat paripurna. dan c. dan hasil pembicaraan tingkat I. pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak. pendapat mini fraksi. Pasal 71 (1) Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan Rancangan Undang-Undang. penyampaian laporan yang berisi proses. pendapat mini DPD. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan DPR. (3) Dalam hal Rancangan Undang-Undang tidak mendapat persetujuan bersama antara DPR dan Presiden. 95 . (2) Rancangan Undang-Undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPR dan Presiden. Pasal 70 (1) Rancangan Undang-Undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPR dan Presiden. pernyataan persetujuan atau penolakan dari tiap.

(3) Ketentuan mengenai mekanisme khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dengan tata cara sebagai berikut: a. Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang diajukan oleh DPR atau Presiden. (2) Penyampaian Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.(2) Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dilaksanakan melalui mekanisme khusus yang dikecualikan dari mekanisme pembahasan Rancangan Undang-Undang. Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diajukan pada saat Rapat Paripurna DPR tidak memberikan persetujuan atas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang diajukan oleh Presiden. Bagian Kedua Pengesahan Rancangan Undang-Undang Pasal 72 (1) Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Presiden disampaikan oleh Pimpinan DPR kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang. dan c. Pengambilan keputusan persetujuan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan sebagaimana dimaksud dalam huruf b dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPR yang sama dengan rapat paripurna penetapan tidak memberikan persetujuan atas Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang tersebut. b. 96 .

(3) Dalam hal sahnya Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 97 . Pasal 74 (1) Dalam setiap Undang-Undang harus dicantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. Rancangan Undang-Undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir UndangUndang sebelum pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Dalam hal Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan UndangUndang tersebut disetujui bersama.Pasal 73 (1) Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan Undang-Undang tersebut disetujui bersama oleh DPR dan Presiden. kalimat pengesahannya berbunyi: Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (2) Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak atas perintah suatu Undang-Undang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

BAB VIII PEMBAHASAN DAN PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 75 (1) Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan oleh DPRD Provinsi bersama Gubernur. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali Rancangan Peraturan Daerah Provinsi diatur dengan Peraturan DPRD Provinsi. (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/badan/alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. 98 . (2) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRD Provinsi dan Gubernur. Pasal 76 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur. (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi diatur dengan Peraturan DPRD Provinsi.

Bagian Kedua Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 77 Ketentuan mengenai pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dan Pasal 76 berlaku secara mutatis mutandis terhadap pembahasan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Bagian Ketiga Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 78 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang telah disetujui bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur disampaikan oleh pimpinan DPRD Provinsi kepada Gubernur untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah Provinsi. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut sah menjadi Peraturan Daerah Provinsi dan wajib diundangkan. 99 . Pasal 79 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 ditetapkan oleh Gubernur dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut disetujui bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur. (2) Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Gubernur dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut disetujui bersama. (2) Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.

b. c. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia. kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. Lembaran Daerah. g. Berita Negara Republik Indonesia. f. e. Bagian Keempat Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 80 Ketentuan mengenai penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 dan Pasal 79 berlaku secara mutatis mutandis terhadap penetapan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. 100 . (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah Provinsi sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah Provinsi dalam Lembaran Daerah. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan menempatkannya dalam: a. Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia. d. atau Berita Daerah. Tambahan Lembaran Daerah.(3) Dalam hal sahnya Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). BAB IX PENGUNDANGAN Pasal 81 Agar setiap orang mengetahuinya.

Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Peraturan Pemerintah. Peraturan Presiden.Pasal 82 Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 85 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dan Pasal 83 dilaksanakan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. Peraturan Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 84 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundang-undangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. b. 101 . c. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundang-undangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. dan d. meliputi: a. Pasal 83 Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia meliputi Peraturan Perundang-undangan yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

BAB X PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Penyebarluasan Prolegnas. (2) Peraturan Gubernur dan Peraturan Bupati/Walikota diundangkan dalam Berita Daerah.Pasal 86 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. 102 . Rancangan Undang-Undang. hingga Pengundangan Undang-Undang. (3) Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah. dan Undang-Undang Pasal 88 (1) Penyebarluasan dilakukan oleh DPR dan Pemerintah sejak penyusunan Prolegnas. (2) Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat serta para pemangku kepentingan. Pasal 87 Peraturan Perundang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. penyusunan Rancangan Undang-Undang. pembahasan Rancangan Undang-Undang. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan.

penerjemahannya dilaksanakan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. (2) Penyebarluasan Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR dilaksanakan oleh komisi/panitia/badan/alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. 103 . (3) Penyebarluasan Rancangan Undang-Undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan oleh instansi pemrakarsa. hubungan pusat dan daerah. (2) Penyebarluasan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh DPD sepanjang berkaitan dengan otonomi daerah.Pasal 89 (1) Penyebarluasan Prolegnas dilakukan bersama oleh DPR dan Pemerintah yang dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 91 (1) Dalam hal Peraturan Perundang-undangan perlu diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Pasal 90 (1) Penyebarluasan Undang-Undang yang telah diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia dilakukan secara bersamasama oleh DPR dan Pemerintah. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. (2) Terjemahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan terjemahan resmi.

penyusunan Rancangan Peraturan Daerah. Pasal 93 (1) Penyebarluasan Prolegda dilakukan bersama oleh DPRD dan Pemerintah Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota yang dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi. (3) Penyebarluasan Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari Gubernur atau Bupati/Walikota dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah. hingga Pengundangan Peraturan Daerah. 104 . (2) Penyebarluasan Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh alat kelengkapan DPRD.Bagian Kedua Penyebarluasan Prolegda. pembahasan Rancangan Peraturan Daerah. Pasal 94 Penyebarluasan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dilakukan bersama oleh DPRD dan Pemerintah Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota. dan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 92 (1) Penyebarluasan Prolegda dilakukan oleh DPRD dan Pemerintah Daerah sejak penyusunan Prolegda. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. (2) Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk dapat memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat dan para pemangku kepentingan.

sosialisasi. dan/atau seminar. lokakarya. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia. rapat dengar pendapat umum. b. c. setiap Rancangan Peraturan Perundang-undangan harus dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. (4) Untuk memudahkan masyarakat dalam memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Tambahan Lembaran Daerah. (3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah orang perseorangan atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan atas substansi Rancangan Peraturan Perundang-undangan. Berita Negara Republik Indonesia.Bagian Ketiga Naskah yang Disebarluaskan Pasal 95 Naskah Peraturan Perundang-undangan yang disebarluaskan harus merupakan salinan naskah yang telah diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. d. BAB XI PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 96 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. 105 . Lembaran Daerah. kunjungan kerja. dan/atau diskusi. (2) Masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui: a. dan Berita Daerah.

tahapan pembentukan UndangUndang. dan Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota mengikutsertakan peneliti dan tenaga ahli. Keputusan Menteri. Peraturan Daerah Provinsi. Keputusan Pimpinan DPRD Provinsi.BAB XII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 97 Teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam UndangUndang ini berlaku secara mutatis mutandis bagi teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. 106 . Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Keputusan Ketua Komisi Yudisial. Keputusan Gubernur. Keputusan Pimpinan DPD. Keputusan Pimpinan DPRD Kabupaten/Kota. Keputusan Bupati/ Walikota. (2) Ketentuan mengenai keikutsertaan dan pembinaan Perancang Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Keputusan Kepala Lembaga. Keputusan Kepala Badan. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat. Pasal 98 (1) Setiap tahapan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mengikutsertakan Perancang Peraturan Perundang-undangan. Pasal 99 Selain Perancang Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (1). atau Keputusan Ketua Komisi yang setingkat. Keputusan Pimpinan DPR.

Pasal 101 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pasal 103 Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. harus dimaknai sebagai peraturan. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 yang sifatnya mengatur. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389).BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 100 Semua Keputusan Presiden. sepanjang tidak bertentangan dengan UndangUndang ini. Keputusan Menteri. 107 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389). yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. Keputusan Bupati/Walikota. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53. Keputusan Gubernur.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2011 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Disahkan di Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Agar setiap orang mengetahuinya.Pasal 104 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. H. DR. PATRIALIS AKBAR 108 . memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

c. Menimbang : a. perlu dilakukan penyeragaman jenis dan bentuk produk hukum daerah. sehingga perlu diganti. Tambahan Lembaran Negara Nomor Republik Indonesia 4389). bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b.PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG JENIS DAN BENTUK PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI. bahwa dalam rangka tertib administrasi penyusunan produk hukum daerah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Mengingat : 1. perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah. 2. bahwa Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-Produk Hukum Daerah tidak sesuai lagi dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. . Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53. b.

110 . dan e. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri. Keputusan Kepala Daerah. maka Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-Produk Hukum Daerah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Peraturan Kepala Daerah. Peraturan Bersama Kepala Daerah. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG JENIS DAN BENTUK PRODUK HUKUM DAERAH. c. 3. tercantum dalam lampiran Peraturan ini. Peraturan Daerah. d. Instruksi Kepala Daerah. Kepala Daerah adalah Gubernur atau Bupati/Walikota.Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. Pasal 3 Bentuk produk hukum daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Pasal 4 Pada saat peraturan ini mulai berlaku. b. Pasal 2 Jenis Produk Hukum Daerah terdiri atas: a. 2. Daerah adalah Provinsi dan Kabupaten/Kota.

MOH. SE Salinan Sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO HUKUM. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal MENTERI DALAM NEGERI. Ttd H. PE RW I RA 111 . MARUF.Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

112 .

perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah.PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 16 TAHUN 2006 TENTANG PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI. Menimbang : a. sehingga perlu diganti. 2. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor Republik Indonesia 4389). Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang . bahwa Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk-Produk Hukum Daerah tidak sesuai lagi dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125. bahwa dalam rangka tertib administrasi penyusunan produk hukum daerah perlu dilakukan penyeragaman prosedur secara terpadu dan terkoordinasi. c.

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM DAERAH. Daerah adalah provinsi dan kabupaten/kota.Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. 3. Prosedur penyusunan produk hukum daerah adalah rangkaian kegiatan penyusunan produk hukum daerah sejak perencanaan sampai dengan penetapan. terpadu dan sistematis. 2. Produk hukum daerah adalah peraturarj daerah yang diterbitkan oleh kepala daerah dalam rangka pengaturan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kepala daerah adalah gubernur atau bupati/walikota. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). 5. Program Legislasi Daerah yang selanjutnya disebut Prolegda adalah instrumen perencanaan pembentukan produk hukum daerah yang disusun secara terencana. 3. 114 . 4.

dan c. b. dan b. (2) Penyusunan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada Biro Hukum atau Bagian Hukum. Peraturan Daerahatau sebutan lain. Peraturan bersama kepala daerah. BAB III PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM Bagian Pertama Produk Hukum Bersifat Pengaturan Pasal 4 Penyusunan produk hukum daerah yang bersifat pengaturan dilakukan berdasarkan Prolegda. Instruksi kepala daerah. (2) Produk hukum daerah bersifat penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi: a. Pasal 3 (1) Produk hukum daerah bersifat pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi: a. Peraturan kepala daerah. Pasal 5 (1) Pimpinan satuan kerja perangkat daerah menyusun rancangan produk hukum daerah. 115 . Keputusan kepala daerah.BAB II PRODUK HUKUM DAERAH Pasal 2 Produk hukum daerah bersifat pengaturan dan penetapan.

(4) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menitikberatkan permasalahan yang bersifat prinsip mengenai objek yang diatur. dan arah pengaturan. Pasal 6 (1) Rancangan produk hukum daerah dilakukan pembahasan dengan Biro Hukum atau Bagian Hukum dan satuan kerja perangkat daerah terkait.(3) Penyusunan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibentuk Tim Antar Satuan Kerja Perangkat Daerah. 116 . (2) Pimpinan satuan kerja perangkat daerah atau pejabat yang ditunjuk mengajukan rancangan produk hukum daerah yang telah mendapat paraf koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. diketuai oleh Pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah pemrakarsa atau pejabat yang ditunjuk oleh kepala daerah dan Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum berkedudukan sebagai sekretaris. Pasal 8 (1) Rancangan produk hukum daerah yang telah dibahas harus mendapatkan paraf koordinasi Kepala Biro Hukum dan Kepala Bagian Hukum dan pimpinan satuan kerja perangkat daerah terkait. Pasal 7 Ketua Tim Antar Satuan Kerja Perangkat Daerah melaporkan perkembangan rancangan produk hukum daerah dan/atau permasalahan kepada Sekretaris Daerah untuk memperoleh arahan. jangkauan.

(3) Hasil penyempurnaan rancangan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Sekretaris Daerah setelah dilakukan paraf koordinasi oleh Kepala Biro Hukum dan Kepala Bagian Hukum dan pimpinan satuan perangkat daerah terkait.Pasal 9 (1) Sekretaris Daerah dapat melakukan perubahan dan/atau penyempurnaan terhadap rancangan produk hukum daerah yang telah diparaf koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). yang diprakarsai oleh Kepala Daerah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk dilakukan pembahasan. 117 . (2) Perubahan dan/atau penyempurnaan rancangan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembalikan kepada pimpinan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa. Pasal 10 Produk hukum daerah berupa rancangan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a. Pasal 11 Dalam rangka pembahasan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dibentuk Tim Asistensi yang diketuai oleh Sekretaris Daerah atau pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. Pasal 12 Pembahasan rancangan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya atas inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah atau Pimpinan satuan Kerja perangkat daerah sesuai dengan tugas dan fungsinya.

(2) Penandatanganan produk hukum daerah yang bersifat penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada Sekretaris Daerah. dibentuk tim asistensi dengan sekretariat berada pada Biro Hukum atau Bagian Hukum. (2) Penomoran produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat pengaturan menggunakan nomor bulat. baik atas inisiatif pemerintah maupun atas inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. PENDISTRIBUSIAN DAN PENDOKUMENTASIAN PRODUK HUKUM DAERAH Pasal 16 (1) Penomoran produk hukum daerah dilakukan oleh Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum sekretariat daerah. 118 . (2) Produk hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada sekretaris daerah setelah mendapat paraf koordinasi dari Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum.Pasal 13 Pembahasan rancangan Peraturan Daerahdi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 15 (1) Produk hukum daerah yang bersifat penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ditandatangani oleh Kepala Daerah. BAB IV PENOMORAN AUTENTIFIKASI. PENGGANDAAN. Bagian Kedua Produk Hukum Bersifat Penetapan Pasal 14 (1) Pimpinan satuan kerja perangkat daerah penyusun produk hukum daerah yang bersifat penetapan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

(2) Autentifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum. Pasal 20 (1) Produk hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16 sebelum disebarluaskan harus terlebih dahulu dilakukan autentifikasi. Pasal 19 (1) Pengundangan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya dan pengumuman peraturan kepala daerah serta peraturan bersama kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16 dilakukan oleh Sekretaris Daerah. 119 .(3) Penomoran produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat penetapan mengggunakan nomor kode kiasifikasi. (2) Pengundangan Peraturan Daerah atau sebutan lainnya dan pengumuman peraturan kepala daerah serta peraturan bersama kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum. Pasal 18 Produk hukum dalam bentuk peraturan kepala daerah dan peraturan bersama kepala daerah serta produk hukum yang bersifat penetapan tertentu yang telah ditetapkan dan diberikan nomor harus diumumkan dalam berita daerah. Pasal 17 Produk hukum dalam bentuk Peraturan Daerahatau sebutan lainnya yang telah ditetapkan dan diberikan nomor harus diundangkan dalam lembaran daerah.

pendistribusian dan pendokumentasian produk hukum daerah dilakukan oleh Biro Hukum atau Bagian Hukum dan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa. BAB VI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 22 Penggandaan. MOH.BAB V PEMBIAYAAN Pasal 21 Pembiayaan berkaitan dengan penyusunan produk hukum daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. SE 120 . Pasal 23 Sosialisasi produk hukum dilakukan secara bersama-sama Biro Hukum atau Bagian Hukum dengan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa. maka Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk-Produk Hukum Daerah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. MA’RUF. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 19 Mei 2006 MENTERI DALAM NEGERI. Ttd H. Pasal 25 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 24 Dengan berlakunya Peraturan ini.

RANCANGAN PERATURAN DAERAHKABUPATEN SANGGAU NOMOR……..TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SANGGAU Menimbang : a. Bahwa dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, wajib mengakui, menghormati, dan melindungi hak asal-usul, adat istiadat dan sosial budaya masyarakat setempat; b. Bahwa pengakuan dan penghormatan tersebut diputuskan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi keberdayaan, kelestarian dan perkembangan adat istiadat dan hukum adat, khususnya lembaga adat dalam rangka menjadikan adat istiadat dan hukum adat sebagai pedoman perilaku Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sanggau; c. Bahwa berhubungan dengan huruf a dan b di atas, perlu menetapkan Lembaga Adat di Kabupaten Sanggau dengan Peraturan Daerah Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 27 tahun 1959 tentang Penetapan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun

1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 352); 2. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 3. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4493) yang telah ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 8 tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun200 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587);

122

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pemberdayaan dan Pelestarian serta Pengembangan Adat Istiadat, Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat dan Lembaga Adat di Daerah; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Sanggau Nomor 11 tahun 2000 tentang Kewenangan Kabupaten Sanggau sebagai Daerah Otonom. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SANGGAU Dan BUPATI SANGGAU MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAEARAH KABUPATEN SANGGAU TENTANG LEMBAGA ADAT. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerahini yang dimaksud dengan: a. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah; b. Daerah adalah Kabupaten Sanggau; c. Bupati adalah Bupati Sanggau; d. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daearh sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah; e. Lembaga Adat adalah organisasi kemasyarakatan yang dibentuk,

123

kaidah dan keyakinan sosial yang tumbuh.dikelola dan dikontrol oleh masyarakat hukum adat sesuai dengan hak asal usul dalam suatu Masyarakat Hukum Adat tertentu dengan wilayah hukum dan hak atas harta kekayaan di dalam hukum adat tersebut. i. Hukum Adat adalah seperangkat aturan dan atau kesepakatan yang hidup dan berlaku dalam Masyarakat Hukum Adat yang diwariskan secara turun-temurun. l. serta berhak dan berwenang untuk mengatur. memiliki nilai. h. Hak Adat adalah hak yang melekat pada Masyarakat Hukum Adat. mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. j. Pengakuan adalah tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah daerah Kabupaten Sanggau untuk mengakui keberadaan lembaga Adat. berkembang dan ditaati oleh masyarakat hukum adat dan atau satuan masyarakat lainnya sebagaimana terwujud dalam pola kelakuan dalam kehidupan seharihari. hukum adat dan kelembagaan adat yang masih ditaati. f. 124 . Kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan masyarakat adalah polapola kegiatan atau perbuatan yang dilakukan oleh para warga masyarakat. dan masih berlaku dalam kehidupan masyarakat tersebut. ekonomi. budaya. yang merupakan sebuah kesatuan hukum tertentu yang pada dasarnya dapat bersumber pada hukum adat atau adat istiadat sebagaimana diakui keabsahannya oleh warga masyarakat tersebut dan atau oleh warga masyarakat lainnya. Wilayah Adat adalah tempat tumbuh dan berkembangnya adat istadat. g. politik. ideologi. sosial dan wilayah sendiri. k. Masyarakat Hukum Adat adalah kelompok masyarakat yang masih terikat adat istiadat. Adat Istiadat adalah seperangkat nilai atau normal.

(2) Tujuannya untuk menciptakan kehidupan Masyarakat Hukum Adat yang berdaulat. Bagian Kedua Pasal 4 Tugas. FUNGSI DAN WEWENANG Bagian Pertama Pasal 3 Kedudukan Lembaga Adat berkedudukan di wilayah Kabupaten Sanggau. TUGAS. dan Wewenang (1) Lembaga Adat mempunyai tugas. BAB II MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2 (1) Maksud dilakukan pengakuan. politik. BAB III KEDUDUKAN. hukum adat. penghormatan dan perlindungan lembaga adat adalah untuk meningkatkan peranan lembaga adat dalam mengembangkan nilai-nilai adat istiadat. ekonomi. dan budaya demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat hukum adat. sosial.m. fungsi dan wewenang sesuai dengan kesepakatan Masyarakat Hukum Adat yang bersangkutan dan atau sukunya yang diwariskan secara turun temurun demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan Masyarakat Hukum Adat. Fungsi. 125 . Perlindungan adalah suatu upaya hukum yeng dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau terhadap lembaga adat dari tindakan yang dapat mengancam keutuhan lembaga adat beserta hak adatnya.

b. Berperan serta dalam menciptakan susasana aman dan tenteram dalam kehidupan bermasyarakat. b. Mengatur. c.(2) Dalam menjalankan tugas dan fungsinya lembaga adat dikontrol oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan. mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. BAB V PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN LEMBAGA ADAT Pasal 7 (1) Lembaga Adat yang diakui dan dilindungi adalah lembaga adat yang hidup dan berkembang dalam masyarakat hukum adat berdasarkan asal-usul dan diakui keberadaannya oleh masyarakat hukum adat di mana lembaga adat tersebut menjalankan tugas dan fungsinya. BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Pertama Pasal 5 Hak Lembaga Adat berhak: a. 126 . Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagian Kedua Pasal 6 Kewajiban Lembaga Adat mempunyai kewajiban antara lain: a. Melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen. berbangsa dan bernegara dengan menjalankan tugas dan fungsi secara benar. Mendapat pengakuan dan perlindungan dari Pemerintah Daerah.

Ditetapkan di : Sanggau Pada tanggal : . (3) Pemerintah Daerah wajib memberi perlindungan kepada Lembaga Adat dari tindakan dan ancaman yang dapat membahayakan keutuhannya... BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 8 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini.2006 Bupati Sanggau YANSEN AKUN EFFENDY 127 . masyarakat hukum adat.... memerintahkan pengundangan Praturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembar Daerah Kabupaten Sanggau. sepanjang mengenai pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati.. (4) Perlindungan dapat juga berupa jaminan kepastian hukum dalam menjalankan tugas dan fungsinya................ hukum adat dan hak adatnya.. Pasal 9 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan Agar setiap orang dapat mengetahuinya.(2) Pengakuan terhadap Lembaga Adat mencakup hal-hal yang berhubungan dengan kelangsungan hidup lembaga adat itu sendiri seperti wilayah adat..... adat istiadat.

128 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful