MANUAL PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH

BERBASIS HAK ASASI MANUSIA

BAGIAN HUKUM DAN HAM
SETDA KABUPATEN SANGGAU,
KALIMANTAN BARAT 2011

Manual Penyusunan Peraturan Daerah Berbasis Hak Asasi Manusia

Penyusun : Marina Rona, Yulia Theresia, Laurianus Yoka, Mutmainnah, Ervansius Hendra Gomesdy, Dwi Yuliani, Ariyanto, Henny Lorryda Yuliana, Feri Budi Jayanto, Syafrinal, Bambang Sugiharto Editor : Melia Karyati Wahyu Wagiman Desain/layout : Alang-alang Cetakan I : Oktober, 2011 Penerbit Bagian Hukum dan HAM Setda Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Kata Sambutan Bupati Kabupaten Sanggau

Assalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh... Penyusunan dan penerbitan buku MANUAL PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH BERBASIS HAK ASASI MANUSIA ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau dengan Pontianak Institute (PI) dan Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat (ELSAM) melalui Program Penyusunan Peraturan Daerah Berbasis Hak Asasi Manusia yang telah dimulai sejak 2010 lalu. Dalam rangka pelaksanaan kerjasama tersebut maka dibentuklah Tim Penyusun yang anggotanya terdiri atas perwakilan: Bagian Hukum & HAM Pemkab. Sanggau, Sekretariat DPRD, Sekretariat Daerah, DinSosNaKerTrans, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan & Aset Daerah (DP2KAD), Bappeda, Dinas Pendidikan Pemuda & Olahraga, Dinas Kesehatan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Kehutanan & Perkebunan, bersama-sama dengan PI dan ELSAM. Secara keseluruhan, buku manual ini berisikan panduan/pedoman bagi para SKPD ataupun legal drafter seluruh instansi yang ada di Kabupaten Sanggau dalam menyusun/merancang Peraturan Daerah di tingkat lokal. Buku Manual ini dilengkapi dengan prinsip dan norma penyusunan Peraturan Daerah yang mengintegrasikan Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan Jender ke dalamnya. Harapannya adalah akan ada perbaikan kondisi penikmatan dan penghormatan Hak Asasi

Terima kasih juga yang sebesar-sebesarnya kepada Kepala Dinas terkait yang telah memberikan kesempatan dan izin bagi para stafnya untuk terlibat langsung dalam penyusunan buku manual ini. kami mengharapkan buku manual ini bisa memberikan kontribusi yang positif dalam pembangunan yang berkelanjutan dengan berbasis Tata Kelola Pemerintahan yang semakin baik ke depannya. Kami berharap buku manual ini dapat menjadi pedoman dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Sanggau. Publikasi ini dimungkinkan atas dukungan dari PI dan ELSAM yang telah mendukung penyusunan buku manual ini. karena ini merupakan komitmen politik yang tulus dari Pemerintah Kabupten Sanggau akan peningkatan pemajuan hak asasi manusia di Kabupaten Sanggau.Manusia di Kabupaten Sanggau. 1 Oktober 2011 BUPATI KABUPATEN SANGGAU Ir. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan. H. Sudin iv . Ucapan terima kasih tak lupa kami haturkan kepada seluruh anggota Tim Penyusun yang telah bekerja keras dalam menyelesaikan penulisan buku manual ini. Setiman H. Wassalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. sehingga dapat menghasilkan Peraturan Daerah yang menghormati tinggi prinsip dan nilai Hak Asasi Manusia demi terciptanya kehidupan yang lebih bermartabat di Kabupaten Sanggau.

................................................ 44-48 C Partisipasi Publik ......................................................................................................................... 55 E Berpartisipasi Dalam Upaya Internasional ................................................. 16-18 B Kesetaraan Jender ....................................... Kesetaraan Jender ke Dalam Peraturan Daerah peraturan daerah A Hak Asasi Manusia ............ 21 2 Dasar Hukum dan Tanggungjawab Pemda.......................................................................................................................................iii Daftar Isi ...... Fungsi dan Hierarki Peraturan Daerah ............................................................. 13-16 7 Bolehkah Pemerintah Membatasi Hak Asasi Manusia ................. 32-44 B Naskah Akademik .......................................................... 49-50 Bab IV Peran Parlemen Dalam Perlindungan dan Promosi Hak Asasi Manusia A Meratifikasi Perjanjian Hak Asasi Manusia .... 26-27 5 Proses dan Tahapan Penyusunan Peraturan Daerah .................21-24 3 Kedudukan............................... HAM dan Parlementer............................................... 53-55 D Mobilisasi Opini Publik.... 27-32 6 Sistematika Penyusunan Peraturan Daerah ............................ 52-53 C Menciptakan dan Dukungan Infrastruktur Kelembagaan ................................. 1-5 Bab II Integrasi Hak Asasi Manusia...................... 21 1 Definisi .................. 5 1 Definisi ....... 9-10 4 Demokrasi........................................................................................................................................... 11-13 6 Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional ............ v Bab I Pendahuluan ..................................... 51 B Memastikan Pelaksanaan Nasional ................................................................... 10-11 5 Kewajiban Negara ...24-26 4 Asas-Asas Pembentukan Peraturan Daerah ..................................DAFTAR ISI Kata Sambutan Bupati Kabupaten Sanggau ............................................. 19 Bab III Penyusunan Peraturan Daerah A Peraturan Daerah ...... 56 ......... 8-9 3 Hak Asasi Manusia dan Kedaulatan Negara ........................................................................................... 5-7 2 Prinsip-Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia ..................................

..... 61-63 Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 tahun 2006 Tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah ..............Daftar Pustaka .......... 117-123 vi ... 60 Profil Tim Penyusun .................... 57-59 Profil Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau ..................................................... 106-108 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 tahun 2006 Tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah ........................................................................................................................................... 109-116 Rancangan Peraturan Daerah Lembaga Adat Kabupaten Sanggau ...............................................................................

karena Undang-Undang ini diatur secara rinci apa yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. baik Perda provinsi maupun perda kabupaten/kota. akan ada perbaikan kondisi penikmatan dan penghormatan Hak Asasi Manusia di Kabupat- . kehadiran perda diharapkan dapat memberikan ruang perlindungan yang lebih tepat dan mudah diakses oleh masyarakat di daerah tersebut. Adanya wewenang untuk membuat Perda sendiri merupakan harapan baru karena pemerintah di tingkat lokal dapat memberdayakan daerah dalam mengatasi persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat. ribuan peraturan daerah lahir. Harapannya adalah. pengangguran. pengabaian hak-hak minoritas. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga memberikan perubahan signifikan terhadap pembentukan Perda. Buku Manual ini dilengkapi dengan prinsip dan norma penyusunan Peraturan Daerah yang mengintegrasikan Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan Jender ke dalamnya. Buku manual ini berisikan panduan/pedoman bagi para SKPD ataupun legal drafter seluruh instansi yang ada di Kabupaten Sanggau dalam menyusun/merancang Peraturan Daerah di tingkat lokal. seperti kemiskinan. dan sebagainya. Urusan yang menjadi kewenangan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah No. Hal ini disebabkan. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Harapan ini muncul dikaitkan dengan sejumlah asumsi diantaranya adalah daerah lebih mengetahui konteks lokal baik sosial maupun budaya dan juga kebutuhan dasar masyarakatnya. Perubahan Undang-Undang Pemerintahan Daerah menjadi UndangUndang No. Dengan asumsi ini.Pasca diundangkannya UU Pemerintahan Daerah. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. perdagangan perempuan-anak. Pengaturan ini bahkan membagi pula kewenangan pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Pemerintahan Daerah Provinsi.

Buku manual ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya.en Sanggau. viii . karena ini merupakan komitmen politik yang tulus dari Pemerintah Kabupten Sanggau akan peningkatan pemajuan Hak Asasi Manusia di Kabupaten Sanggau. sehingga dapat menghasilkan Peraturan Daerah yang menghormati tinggi prinsip dan nilai Hak Asasi Manusia demi terciptanya kehidupan yang lebih bermartabat di Kabupaten Sanggau.

Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Pasca diundangkannya UU Pemerintahan Daerah. delegasi/mandat dan tidak boleh melampaui kewenangannya. harus memperhatikan secara jelas dari mana sumber kewenangannya. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga memberikan perubahan signifikan terhadap pembentukan Peraturan Daerah. Penyusunan suatu peraturan perundang-undangan dalam hal ini peraturan daerah. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Pemerintah daerah diberikan kewenangan yang cukup besar untuk menyelenggarakan pemerintahan di tingkat lokal. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah merupakan momentum perubahan paradigma penyelenggaraan pemerintah daerah dari pola sentralisasi ke desentralisasi. Urusan yang menjadi kewenangan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah No. ribuan Peraturan Daerah-pun lahir. baik Peraturan Daerah provinsi maupun Peraturan Daerah kabupaten/kota. karena di dalam Undang-undang ini diatur secara rinci apa yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Hal ini disebabkan. Untuk itu. Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Pengaturan ini bahkan membagi pula kewenangan pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. yaitu Peraturan Daerah.BAB I PENDAHULUAN Lahirnya Undang-undang No. Pemerintahan Daerah membutuhkan instrumen yuridis yang tepat untuk melaksanakan tugas dan kewenangannya. . Perubahan Undang-Undang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang No. Pemerintahan Daerah Provinsi. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. yang diberikan berdasarkan atribusi.

Menilai Tanggung Jawab Sosial Peraturan Daerah. hal. dalam perumusan peraturan perundang-undangan baik di tingkat nasional maupun daerah wajib mempertimbangkan aspek lokal seperti halnya keberadaan Masyarakat Adat. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria dan UndangUndang No. Peraturan Daerah yang dibatalkan tersebut pada umumnya Peraturan Daerah yang mengatur pajak daerah dan retribusi daerah karena dinilai berpotensi mendistorsi aktifitas perekonomian. Sejak 1999 sampai dengan periode 2010.1 Kabupaten Sanggau yang merupakan salah satu daerah kabupaten di Kalimantan Barat (Kalbar) yang termasuk banyak mengeluarkan Peraturan Daerah dalam rangka mengatur pelaksanaan pemerintahan daerahnya. 1 Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia. Oleh karena itu. 41 Tahun 1997 tentang Kehutanan. Negara Indonesia mengakui hak-hak Masyarakat Adat berserta Adat Istiadat. 761 diantaranya dibatalkan dan masih ada 200 Peraturan Daerah yang masih dalam proses review di Kementrian Dalam Negeri. 2 . 2009. Dari jumlah Peraturan Daerah tersebut. Selain itu. Dari jumlah tersebut terdapat pula Peraturan Daerah yang bermasalah di tingkat implementasinya.Kewenangan untuk menyusun Peraturan Daerah setelah otonomi daerah membuat jumlah Peraturan Daerah sampai dengan pertengahan 2002 melonjak tinggi. 3-4. pencemaran lingkungan dan sebagainya. kesetaraan jender. salah satunya Peraturan Daerah masyarakat adat. Negara Indonesia mengakui hak-hak Masyarakat Adat beserta Adat Istiadat melalui UndangUndang No. Jakarta. Pemerintah Kabupaten Sanggau telah mengeluarkan setidaknya 110 Peraturan Daerah dari 23 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada di kabupaten ini. Padahal di sisi lain. yakni mencapai 6000-an yang diterbitkan oleh 368 kabupaten/kota di Indonesia. terdapat berbagai Peraturan Daerah yang kontroversi dan bermasalah pada tingkat implementasinya di tengah masyarakat terkait dengan Hak Asasi Manusia. diskriminasi.

Oleh karena itu.Adanya wewenang untuk membuat Peraturan Daerah sendiri merupakan harapan baru karena pemerintah di tingkat lokal dapat memberdayakan daerah dalam mengatasi persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat. Pada tingkat nasional. Oleh karenanya. tugas praktis untuk melindungi dan memajukan hak asasi manusia adalah terutama tugas nasional dan setiap negara harus bertanggungjawab atasnya. pengabaian hak-hak minoritas. peran pemerintah daerah dalam memenuhi. Selain itu. Banyaknya Peraturan Daerah yang dibatalkan dan penolakan dari masyarakat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan terhadap proses pembentukan Peraturan Daerah. seperti kemiskinan. kehadiran Peraturan Daerah diharapkan dapat memberikan ruang perlindungan yang lebih tepat dan mudah diakses oleh masyarakat di daerah tersebut. Bagaimana proses tersebut berjalan? Apa kekurangan dari proses yang ada saat ini? Dinamika politik seperti apa yang muncul selama proses pembentukan tersebut dilakukan sehingga berakhir dengan pembentukan Peraturan Daerah yang kontroversial dan bermasalah dalam implementasinya sampai dengan terindikasi terjadi pelanggaran hak asasi manusia. dan sebagainya. perdagangan perempuan-anak. Ketika negara-negara meratifikasi 2 Lembar fakta 19 Lembaga Negara untuk memajukan dan melindungi HAM 3 . dan pelaksanaan perlindungan dan pemulihan individu. badan peradilan yang mandiri. Harapan ini muncul dikaitkan dengan sejumlah asumsi diantaranya adalah daerah lebih mengetahui konteks lokal baik sosial maupun budaya dan juga kebutuhan dasar masyarakatnya. pendidikan dan kampanye informasi yang paling efektif harus dirancang dan dilaksanakan pada tingkat nasional dan lokal. menghormati dan melindungi hak asasi manusia sangatlah penting2. serta pembentukan institusi yang demokratis. hak dapat dilindungi dengan baik melalui peraturan yang cukup. dengan mempertimbangkan konteks budaya dan tradisi lokal. Situasi ini mengakibatkan meningkatnya tuntutan dari banyak pihak untuk mengintegrasikan hak asasi manusia ke dalam Peraturan Daerah. Dengan asumsi ini. pengangguran.

Saat ini standar hak asasi manusia dan norma-norma universal tercermin dalam hukum domestik dari hampir seluruh Negara. khususnya Pasal 6 dan 7. UU No. UU No. Dalam konteks nasional. UUD 1945 Amandemen ke-2.suatu instrumen hak asasi manusia.39/1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 71 dan 72. 3.40/2008 tentang Penghapusan Segala Diskriminasi Rasial. 2. terutama pasal 28I ayat (5). mereka memasukkan ketentuanketentuan instrumen hak asasi manusia itu ke dalam peraturan domestiknya secara langsung atau menggunakan cara-cara lain sesuai dengan kewajiban yang terdapat di dalam instrumen hak asasi manusia tersebut.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 22 huruf (a) sampai dengan (o). 4. paling tidak ada tiga produk perundang-undangan yang memberikan mandat kepada pemerintah untuk segera memperbaiki kondisi penikmatan hak asasi manusia: 1. Bentuk 4 . UU No.

hak asasi tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri. (b) Hak-hak sipil. hak kemerdekaan/kebebasan dan hak memiliki sesuatu. Pasal 1 Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) menyatakan : “All human beings are born free and equal in dignity and rights”. Definisi Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap pribadi manusia secara kodrati sebagai anugerah dari Tuhan. Ini berarti bahwa sebagai anugerah dari Tuhan kepada makhluknya. Hak Asasi Manusia 1. budaya dan kolektif yang tertuang dalam berbagai instrumen HAM internasional dan regional serta dalam undang-undang dasar setiap negara. Hak asasi tidak dapat dicabut oleh suatu kekuasaan atau oleh sebab-sebab lainnya. sosial.BAB II INTEGRASI HAK ASASI MANUSIA. yang memberdayakan manusia untuk membentuk kehidupan mereka sesuai dengan kemerdekaan. kesetaraan dan rasa hormat pada martabat manusia. fundamental dan penting. Hukum dan Filosofis : (a) Hak-hak dasar. Hak asasi manusia (HAM) adalah hak-hak yang dipunyai oleh semua orang sesuai dengan kondisi yang manusiawi. (c) Satu-satunya sistem nilai yang diakui secara universal dalam hukum internasional saat ini dan terdiri dari elemen . Hak asasi manusia melalui pendekatan-pendekatan Deskriptif. mencakup hak hidup. karena jika hal itu terjadi maka manusia kehilangan martabat yang sebenarnya menjadi inti nilai kemanusiaan. KESETARAAN JENDER KE DALAM PERATURAN DAERAH A. ekonomi. Hak asasi manusia ini selalu dipandang sebagai sesuatu yang mendasar.

Akan tetapi. Contohnya. demokrasi. berkuasanya hukum (rule of law) dan good governance. keadilan sosial. kebebasan berekspresi dan lain sebagainya. 6 . seperti larangan penyiksaan dan perbudakan. ada hak-hak individual dan kolektif yang perlu dinyatakan dengan tegas. Beberapa hak pribadi. untuk sebagian besar hak asasi manusia. karena kurang tepat jika mengartikan hak asasi manusia sebagai hak individu saja. sedangkan hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri adalah murni hak kolektif. betul-betul merupakan hak pribadi.liberalisme. perkumpulanperkumpulan keagamaan yang menikmati kebebasan beragama atau partai-partai politik yang menikmati kebebasan berserikat. partisipasi populer. Hak asasi manusia berlaku setara untuk hak-hak individu maupun kolektif.

agama dan bahasa minoritas b) Hak-hak masyarakat adat 7 . dipilih dan memiliki akses untuk jabatan publik q) Hak untuk kesetaraan dan non-diksriminasi di hadapan hukum Dalam bidang hak-hak Ekonomi. pakaian dan perumahan g) Hak atas kesehatan h) Hak atas pendidikan Dalam bidang hak-hak kolektif 1. termasuk cukup makanan. Hak-hak kolektif lainnya: a) Hak berkebangsaan. Sosial dan Budaya a) Hak untuk bekerja b) Hak untuk kondisi kerja yang adil dan menguntungkan c) Hak untuk membentuk dan bergabung dengan serikat buruh d) Hak atas jaminan sosial e) Perlindungan keluarga f) Hak atas standar hidup yang layak. hati nurani dan agama l) Kebebasan berpendapat dan berekspresi m) Larangan propaganda perang dan hasutan untuk kebencian nasional. memilih. penghambaan dan kerja paksa d) Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi e) Hak orang yang ditahan harus diperlakukan dengan kemanusiaan f) Kebebasan bergerak g) Hak atas pengadilan yang adil h) Larangan hukum pidana yang berlaku surut i) Hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum j) Hak atas privasi k) Kebebasan berpikir.Box 1 Contoh Hak Asasi Manusia : Kebebasan. rasial atau agama n) Kebebasan berserikat o) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga p) Hak untuk mengambil bagian dalam urusan publik. Hak dan Larangan yang berkaitan dengan Hak Asasi Manusia Di Bidang Hak-Hak Sipil dan Politik a) Hak untuk hidup b) Kebebasan dari penyiksaan dan kejam. Hak masyarakat untuk: a) Penentuan nasib sendiri b) Pengembangan c) Bebas memanfaatkan kekayaan dan sumber daya alam d) Peraturan daerahmaian e) Lingkungan yang sehat 2. etnis. tidak manusiawi atau perlakuan merendahkan atau hukuman c) Kebebasan dari perbudakan.

Prinsip-Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia Sebagai salah satu wujud diadopsinya hak asasi manusia ke dalam Peraturan Daerah. warna kulit. orientasi seksual. Sebagai contoh. Membela 8 .2. mereka berlaku dan tanpa pandang bulu untuk setiap orang dan adalah sama bagi semua orang di mana-mana. atau karakteristik yang membedakan lainnya. Sebagai contoh. kewarganegaraan. kecacatan. tidak peduli ras. maka Peraturan Daerah yang berperspektif hak asasi manusia harus mengadopsi nilai atau prinsip dasar hak asasi manusia. Hal ini karena mereka diterima oleh semua negara dan masyarakat. b) Tidak dapat dipindahtangankan (Inalienable) Hak asasi manusia adalah mutlak sejauh haknya tidak dilepaskan. hak untuk hidup mengandaikan penghormatan terhadap hak untuk pangan dan standar hidup yang layak. asal-usul etnis atau sosial. agama. jenis kelamin. melanggar salah satu hak tersebut mempengaruhi pelaksanaan dari hak manusia lainnya. usia. bahasa. hak seseorang untuk kebebasan mungkin dibatasi jika ia ditemukan bersalah atas kejahatan oleh pengadilan hukum. seperti dibawah ini : a) Universal (Universality) Hak asasi manusia adalah universal karena mereka didasarkan pada martabat setiap manusia. c) Tak terpisahkan dan saling ketergantungan (Indivisible and interdependent) Hak asasi manusia adalah tak terpisahkan dan saling tergantung karena setiap hak asasi manusia memerlukan dan tergantung pada hak asasi manusia lainnya. selama di bawah hukum yang jelas. Hak dipilih untuk jabatan publik berarti akses ke dasar pendidikan.

hak-hak ekonomi dan sosial mengandaikan kebebasan berekspresi. berkumpul dan berserikat. hak milik. ras. Lebih sering daripada tidak. negara dan masyarakat internasional lainnya dicegah dari campur tangan. bahasa. orientasi seksual dan status sosial atau lainnya. ketika hak asasi manusia masih dianggap sebagai urusan internal suatu negara. Hak untuk kesetaraan dan prinsip non-diskriminasi. Menghormati semua hak merupakan prasyarat bagi peraturan perdamaian berkelanjutan dan pembangunan. 9 . termasuk jenis kelamin. kebangsaan. secara eksplisit diatur dalam perjanjian internasional dan regional hak asasi manusia. kelahiran. diskriminatif kriteria yang digunakan oleh Negara dan aktor non-Negara mencegah kelompok-kelompok tertentu dari sepenuhnya menikmati semua atau sebagian hak asasi manusia yang didasarkan pada karakteristik. bahkan di sebagian besar kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia serius. Bahwa pendekatan. hak-hak sosial dan budaya saling melengkapi dan sama-sama penting untuk martabat dan integritas setiap orang. Dengan demikian. keanggotaan nasional minoritas. warna kulit. HAM dan Kedaulatan Negara Di masa lalu. hak-hak sipil dan politik dan ekonomi. berdasarkan kedaulatan nasional. karena itu penting bagi hak asasi manusia. 3. seperti genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. asal-usul etnis atau sosial. cacat. agama. Hak untuk kesetaraan mewajibkan Negara untuk menjamin ketaatan terhadap hak asasi manusia tanpa diskriminasi atas alasan apapun. d) Non-Diskriminasi (Non-Dicrimination) Beberapa pelanggaran hak asasi manusia terburuk telah dihasilkan dari diskriminasi terhadap kelompok tertentu. politik atau pendapat lainnya. usia.

Hari ini. agar warga negara bisa 10 . Demokrasi. sebagai suatu cara untuk melestarikan dan mempromosikan martabat manusia. Namun. demokrasi dan hak asasi manusia sangat erat terkait untuk dianggap tak terpisahkan. tetapi juga. Pada tahun 1995. keterkaitan antara demokrasi dan hak asasi manusia dipelajari secara ekstensif. Namun. Prinsip mana menurut setiap tindakan yang diambil oleh otoritas sesuai dengan konsep universalitas tidak boleh melampaui apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan sesuai dengan hak asasi manusia. Hak untuk partisipasi dalam pelaksanaan urusan publik diabadikan dalam Pasal 21 dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Pasal 25 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP). sesuai dengan prinsip proporsionalitas. terutama oleh tindakan Nazi Jerman dan kekejaman yang dilakukan selama Perang Dunia Kedua. Demokrasi tidak lagi dianggap hanya sebagai satu perangkat aturan prosedural untuk konstitusi dan pelaksanaan kekuasaan politik. Demokrasi didasarkan pada gagasan bahwa semua warga negara sama-sama berhak untuk memiliki suara dalam keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.tertantang pada abad kedua puluh. Dalam Deklarasi. diadopsi pada tahun 1997. 4. Uni Antar-Parlemen memulai proses penyusunan Deklarasi Universal Demokrasi untuk memajukan standar internasional dan memberikan kontribusi untuk demokratisasi yang sedang berlangsung di seluruh dunia. HAM dan Parlementer Dalam dekade terakhir. perbedaan antara kewajiban hukum universal dan kedaulatan negara dapat diselesaikan hanya berdasarkan kasus per kasus. bersama dengan hak asasi manusia. promosi hak-hak asasi manusia dan perlindungan dianggap sebagai keprihatinan yang sah dan tanggungjawab masyarakat internasional.

karena lembaga ini merupakan kunci dalam demokrasi. Smith dkk. melindungi dan memenuhi. Sebaliknya negara diasumsikan memiliki kewajiban positif untuk melindungi secara aktif dan memastikan terpenuhinya hak-hak dan kebebasan-kebebasan tersebut3. parlemen juga memainkan peran kunci dalam promosi dan perlindungan hak asasi manusia. Selain itu. Rhona K. namun berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional. Kewajiban Negara Meskipun pada prinsipnya hak asasi manusia dapat dilanggar oleh setiap orang atau kelompok. paling tidak Negara memiliki tiga kewajiban utama. sebuah landasan demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia. PUSHAM UII. dan hak-hak ekonomi dan sosial dasar. Dalam kaitan ini. “kewajiban untuk menghormati” Negara memiliki “kewajiban untuk menghormati” obligation to respect) berarti bahwa Negara berkewajiban untuk menahan diri untuk tidak melakukan intervensi. berkumpul dan berserikat.M. untuk rakyat dan oleh rakyat. 5. yaitu tugas untuk menghormati. mereka terlebih dahulu harus menikmati hak lain seperti kebebasan berekspresi. kecuali atas hukum yang sah (legitimate).efektif menggunakan hak itu. suatu negara tidak boleh secara sengaja mengabaikan hak-hak dan kebebasan-kebebasan manusia. parlemen menetapkan kerangka hukum yang menjamin independensi peradilan dan. aturan hukum. Sebagai badan yang kompeten untuk mengatur dan menjaga kebijakan dan tindakan eksekutif di bawah pengawasan konstan. Kewajiban ini mengandung larangan 3 Hukum Hak Asasi Manusia. oleh karena itu. Apalagi setelah Negara tersebut meratifikasi atau menjadi pihak pada perjanjian internasional hak asasi manusia. 2008 11 . Parlemen merupakan Badan berdaulat didirikan melalui pemilu biasa. bebas dan adil untuk memastikan pemerintah rakyat.

berkenaan dengan hak untuk pendidikan. yang mungkin Negara bertanggung jawab. atau oleh orang tua terhadap anak-anak mereka. Kewajiban negara untuk menghormati adalah kewajiban paling dasar. Negara-negara diminta untuk mengambil tindakan positif untuk memastikan bahwa hak asasi manusia dapat dilaksanakan. hak anak-anak atas pendidikan harus dilindungi oleh negara dari gangguan dan indoktrinasi oleh pihak ketiga. namun juga terhadap pelanggaran atau tindakan yang dilakukan oleh entitas atau pihak lain (non-negara) yang akan mengganggu perlindungan hak asasi manusia. Contoh. marga dan perusahaan bisnis. Adalah kewajiban negara untuk mengambil langkah-langkah legislatif. 12 . sekte.untuk mengurangi kejadian kekerasan dalam rumah tangga. Walaupun tidak setiap tindakan kekerasan dilakukan oleh suami terhadap istrinya. administratif. Sebagai contoh. agama. “kewajiban untuk melindungi” Negara memiliki kewajiban untuk melindungi hak bukan hanya terhadap pelanggaran yang dilakukan negara. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengambil tindakan positif . guru dan sekolah. Misalnya. merupakan pelanggaran hak asasi manusia. itu berarti bahwa Pemerintah harus menghormati kebebasan orang tua untuk mendirikan sekolah-sekolah swasta dan untuk memastikan bahwa pendidikan agama dan moral anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri. Negara memiliki wewenang yang luas sehubungan dengan kewajiban ini.tindakan tertentu yang dapat merusak penikmatan hak. “kewajiban untuk memenuhi” “Kewajiban untuk memenuhi”. hak atas integritas pribadi dan keamanan mewajibkan Negara untuk memerangi fenomena meluasnya kekerasan domestik terhadap perempuan dan anak-anak. termasuk orangtua dan keluarga.

Bahan Bacaan Kursus Hak Asasi Manusia. ialah pengakuan atas martabat dan hak yang melekat pada siapapun yang tergolong ke dalam bilangan umat manusia. pendidikan menengah gratis.id/ new/index. pendidikan tinggi. perjuangan penegakan hak-hak asasi manusia tidak lagi berlangsung dalam tataran nasional di lingkungan negeri-negeri dan negara-negara Barat saja. yang perlu untuk menjamin pelaksanaan hak asasi manusia. pendidikan orang dewasa. Substansi deklarasi itu tetap saja. misalnya. melainkan diangkat pada tataran internasional. dan yang karena asasinya itu tak lalu boleh dicabut atau dialihserahkan kepada siapapun yang berkekuasaan (inalienable) serta tak pula mungkin digugat-gugat keabsahannya (inviolable)4. Itulah martabat dan hak-hak manusia yang sungguh asasi. http://www. Prof. Negara harus memberikan cara dan sarana untuk pendidikan dasar gratis dan wajib untuk semua. Soetandyo Wignjosoebroto.elsam. di tengah kehidupan yang jelas-jelas sudah berubah dan berkembang ke arah formatnya yang baru sebagai suatu world system. dan penghapusan buta huruf (termasuk langkah-langkah seperti mendirikan sekolah umum yang cukup atau menyewa dan menyediakan cukup banyak guru). 6. Tak diragukan lagi.yudisial. 13 .php?id=263&lang=in&act=view&cat=c/603.or. 4 Hak Asasi Manusia Konsep Dasar dan Perkembangan Pengertiannya Dari Masa Ke Masa. dan terwujud dalam rumusan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (1945) dan Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia (1948). Sehubungan dengan hak atas pendidikan. pelatihan kejuruan. Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional (a) Deklarasi Universal HAM (DUHAM) Pasca Perang Dunia II. deklarasi tersebut dengan lantangnya telah mencanangkan pernyataan internasional yang diharapkan dapat berdampak luas. dan praktis.

Deklarasi itu mensenaraikan dalam pasal-pasalnya sejumlah hak-hak manusia yang asasi. Berbeda dengan deklarasi-deklarasi serupa yang ada sebelumnya. Termasuk dalam hak-hak 5 Loc Cit 14 .Pada tanggal 10 Desember 1948. Pasal-pasal berikutnya.dimajukannya penghormatan kepada hak dan kebebasan (manusia)”5. ialah Perserikatan BangsaBangsa (United Nations). Deklarasi kali ini. dimulai dengan pasal 22 sampai ke pasal 27 mengemukakan pengakuan atas hak-hak asasi manusia dalam kehidupan ekonomi. yang dikatakan “sebagai standar umum … semua bangsa dan semua negara.melalui pengajaran dan pendidikan -. dengan tujuan agar setiap individu dan organ masyarakat … mengupayakan -. dikumandangkan melalui suatu kesepakatan antarbangsa. deklarasi kali ini bukanlah deklarasi suatu bangsa atau suatu negara bangsa tertentu. dan pula untuk mendapatkan peradilan yang terbuka dan independen serta tidak berpihak. sosial dan budaya. yang pada dasarnya mencanangkan pengakuan secara umum tentang pentingnya hak-hak itu dihormati dan ditegakkan. dengan sebuah resolusi bernomor 217A(III) suatu deklarasi diproklamasikan oleh suatu organisasi antarbangsa yang telah dibentuk seusai selesainya perang Dunia II. Termasuk dalam hak asasi yang dicantumkan dalam pasal-pasal ini antara lain hak-hak untuk tidak diperbudak. Deklarasi yang berjumlah 31 Pasal ini mencantumkan pengakuan hak-hak sipil dan hak politik dalam pasalpasalnya yang ke-3 sampai ke yang 21. untuk tidak mengalami penganiayaan dan perlakuan atau hukuman yang keji dan merendahkan martabat manusia. ialah The Universal Declaration on Human Rights (yang di dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan “Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia”).

Dibawah ini instrumen.instrumen hak asasi manusia tersebut : a. dengan dua Kovenan. ratifikasi dan aksesi. Sosial dan Budaya Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966. berlakunya pada tahun 1969). Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW. b. Terbuka untuk penandatangan.kategori kedua ini antara lain hak-hak untuk bekerja. c. dan pula untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya masyaraka (b) Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia telah dilengkapi dengan sejumlah instrumen spesifik yang mengikat. ratifikasi. dan terbuka untuk penandatangan. diratifikasi Indonesia melalui UU No. d. untuk memperoleh stanadar kehidupan yang layak. dan aksesi. untuk memperoleh pendapatan yang sama atas pekerjaan yang sama. berlakunya pada tahun 1981). 11 tahun 2005. Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. adopsi pada tahun 1979. adopsi pada tahun 1965. diratifikasi Indonesia melalui UU No. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (CERD. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) Tertanggal 16 Desember 1966. 29 Tahun 1999. Negara Indonesia meratifikasi konvensi melalui Undang-Undang No. untuk memperoleh jaminan kesehatan dan layanan pendidikan. Beberapa perjanjian berada di bawah pengawasan badan-badan pemantauan. seperangkat instrumen biasanya dilihat sebagai perjanjian hak asasi manusia utama. 12 tahun 2005. Negara Indonesia 15 .

7 Tahun 1984. atau CMW. dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. 36 Tahun 1990. Konvensi tentang Hak-hak Anak (CRC. ketertiban umum dan 16 . berlakunya pada tahun 1990). berlakunya pada tahun 2003). Tidak Manusiawi atau Merendahkan Hukuman (CAT. adopsi pada tahun 1989. Setiap hak asasi manusia seseorang akan menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik. Negara Indonesia meratifikasi konvensi melalui UndangUndang No. e. tetapi berbicara pula mengenai kewajiban. g. negara dan warga negaranya. Bolehkah Pemerintah Membatasi Hak Asasi Manusia? Perlindungan dan penegakan hak asasi manusia merupakan kewajiban semua pihak. Negara Indonesia meratifikasi konvensi melalui Undang-Undang No. Pembatasan yang ditetapkan melalui undang undang dimaksudkan untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain. Sehingga terdapat pembatasan dan larangan dalam pelaksanaan perlindungan hak asasi manusia. 7. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (yang dikenal sebagai Konvensi Pekerja Migran. Hak asasi manusia tidak hanya berbicara mengenai hak. keamanan. yaitu kewajiban untuk saling menghormati dan menghargai hak asasi manusia orang lain. Konvensi Menentang Penyiksaan yang Kejam. 5 Tahun 1998. berlakunya pada tahun 1987).meratifikasi konvensi melalui Undang-Undang No. f. adopsi pada tahun 1984. adopsi pada tahun 1990.

keyakinan. dan (iii) hak atas kebebasan menyatakan pendapat atau berekpresi. pembatasan hak asasi manusia harus ditempatkan dalam rangka implementasi konsep tanggung jawab negara yang melekat dalam derogasi hak asasi manusia. dan beragama. Kompas. Meski demikian. Hak-hak non-derogable yaitu hak-hak yang bersifat absolut dan tidak boleh dikurangi pemenuhannya oleh negara-negara pihak. (ii) hak atas kebebasan berserikat. Smith dkk. Dalam hal ini negara harus memenuhi situasi dan persyaratan hukum khusus dan tidak mudah sebelum melakukan derogasi 6 7 Hukum Hak Asasi Manusia. 2008 Derogasi dan HAM. Hak dan kebebasan yang termasuk dalam jenis ini adalah: (i) hak atas kebebasan berkumpul secara damai. Dalam kamus hukum hak asasi manusia dikenal dua jenis hak. dan berhak atas kebebasan berpikir. termasuk kebebasan mencari. PUSHAM UII.kepentingan bangsa6. yakni hak asasi manusia yang bisa dikurangi (derogable rights) dan yang sama sekali tidak bisa dikurangi (non-derogable rights)7. hak untuk tidak disiksa. hak untuk bebas dari perbudakan dan perdagangan budak. menerima dan memberikan informasi dan segala macam gagasan tanpa memperhatikan batas (baik melalui lisan atau tulisan). Derogasi atau pembatasan HAM adalah salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia.M. Hak-hak dalam jenis derogable. walaupun dalam keadaan darurat sekalipun. Hak-hak yang sama sekali tidak bisa dikurangi antara lain meliputi hak untuk hidup. R Herlambang Perdana. yakni hak-hak yang boleh dikurangi atau dibatasi pemenuhannya oleh negaranegara pihak. hak untuk tidak dipenjara hanya atas dasar ketidakmampuannya memenuhi kewajiban yang muncul dari perjanjian. 18 Oktober 2007 17 . termasuk membentuk dan menjadi anggota serikat buruh. Rhona K.

itu, seperti standar Pasal 4 Ayat (1) dan (3) Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik, yaitu : a. pembatasan hanya bisa dilakukan bila dalam keadaan darurat mengancam kehidupan bangsa dan keberadaannya; b. Kepala Negara secara resmi harus mengumumkan kepada publik tentang keadaan bahaya. Dalam konsep hukum pernyataan bahaya; c. langkah-langkah derogasi itu tidak bertentangan dengan kewajiban lain berdasarkan hukum internasional dan tidak mengandung diskriminasi hanya berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, atau asal-usul sosial; d. Kepala Negara harus segera memberi tahu kepada negara-negara pihak lainnya (yang telah meratifikasi ICCPR) melalui perantaraan Sekretaris Jenderal PBB tentang aneka ketentuan yang dikurangi dan tentang alasan-alasan pemberlakuannya, serta pemberitahuan tentang saat berakhirnya derogasi itu.
Box 2 PEMBATASAN DAN KETERBATASAN HAM Beberapa HAM mutlak : a) Larangan penyiksaan b) Larangan perbudakan c) Pengakuan sebagai seseorang di hadapan hukum d) Kebebasan atas kesadaran Sebagian besar HAM dapat dibatasi dalam situasi tertentu : a) Reservasi berdasarkan hukum internasional b) Pengurangan pelaksanaan hak dalam situasi darurat c) Larangan penyalahgunaan d) Klausul-klausul batasan e) Prinsip proporsionalitas

18

B. Kesetaraan Jender Mengenal kesetaraan jender pada dasarnya telah tercakup dalam perubahan kedua UUD 1945 yang memberikan penegasan akan penghormatan, pemajuan, perlindungan, penegakan, dan pemenuhan oleh Negara akan Hak Asasi Manusia sebagai hak konstituational warga negara. Pada tanggal 24 Juli 1984 Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women (CEDAW) dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1984. oleh karena itu peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kesetaraan jender memuat prinsip-prinsip yang diatur dalam CEDAW. Terkait ketentuan mengenai jender misalnya, seringkali peraturan secara sadar atau tidak memuat ketentuan-ketentuan yang netral jender. Artinya, ketentuan dimaksud tidak mempertimbangkan bahwa dalam kenyataan sosialnya kapasitas dan peluang yang dimiliki oleh kelompok berjenis kelamin tertentu (umumnya perempuan) tidak sama dengan kelompok lainnya (umumnya laki-laki). Sehingga ketika peraturan tersebut dilaksanakan, ketentuan yang netral jender justru melestarikan kondisi yang tidak seimbang antara kelompok perempuan dan laki-laki bahkan mendiskriditkan perempuan. Contohnya, qanun syariat di Nangroe Aceh Darusalam telah menginspirasi banyak daerah di luarnya untuk mengeluarkan Peraturan Daerah syariat yang diskriminatif terhadap perempuan. Pada rentang 1999 s.d 2010 telah lahir 189 kebijakan diskriminatif, 7 di antaranya diterbitkan di tingkat nasional. 80 di antara 189 kebijakan itu secara langsung menyasar kepada perempuan. Sebanyak 21 merupakan kebijakan aturan busana Islam.8

8

Perempuan dalam Perda Syariat, http://jurnalperempuan.com/2011/05/perempuan-dalam-perdasyariat/.

19

20

yang dimaksud dengan “Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/ Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota”. 2. Kemudian. yang menempatkan langkah-langkah perbaikan kondisi penikmatan hak asasi manusia sebagai agenda reformasi nasional. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . Definisi Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 8 Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan. 9 Pasal 136 Undang-Undang No. Dasar Hukum dan Tanggungjawab Pemda Pada dasarnya komitmen pemajuan hak asasi manusia Pemerintah Kabupaten Sanggau adalah turunan komitmen nasional bangsa Indonesia di masa reformasi 1998. Peraturan Daerah dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah propinsi/kabupaten/kota dan tugas pembantuan serta merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah9. PERATURAN DAERAH 1.BAB III PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH A. Melalui amandemen UUD 1945 yang kedua. dalam ketentuan Undang-Undang No. Peraturan Daerah mendapatkan landasan konstitusionalnya di dalam konstitusi yang keberadaannya digunakan untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan (Pasal 18 Ayat (6) UUD 1945).

pendidikan. dan 3. Pemerintah Kabupaten Sanggau juga berkomitmen untuk: 1. 2. Pertama. Meningkatkan upaya-upaya pelestarian lingkungannya Melihat persoalan ekonomi. Pembentukan Panitia RANHAM Kabupaten Sanggau b. dan budaya yang begitu kompleks. dan jaminan sosial. tidaklah mudah melaksanakan tiga kewajiban dasar hak asasi manusia yang dibebankan hukum nasional kepada Pemerintah Kabupaten Sanggau. walaupun ada keterbatasan. Meningkatkan kualitas pemerintahan yang bersih dan baik. Melakukan Pendidikan HAM bagi Aparatur 22 .Dan kemudian mendorong lahirnya pelbagai perundangundangan yang memerintahkan pemerintah nasional dan daerah untuk memajukan penikmatan hak asasi manusia di seluruh Indonesia. Namun demikian. sosial. Apa saja langkahlangkah tersebut? Berikut ini adalah sejumlah langkah yang telah diambil: a. adalah di tingkat kebijakan. Pemerintah Kabupaten Sanggau juga melakukan langkah-langkah untuk memastikan bahwa kewajiban memenuhi telah dilaksanakan. Selain itu. terutama untuk masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan dan terpencil. Kedua. Meningkatkan akses masyarakat ke berbagai fasilitas dan layanan kesehatan. setidak-tidaknya ada sejumlah langkah yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sanggau terkait dengan mandat tiga kewajiban dasar tersebut. Di tingkat kebijakan Pemerintah Kabupaten Sanggau telah melakukan sejumlah langkah yakni memproduksi pelbagai Peraturan Daerah yang tujuannya untuk melindungi hak dan kebebasan dasar masyarakat Sanggau.

dari tingkat kabupaten hingga desa. sehingga harus dipahami jika kebanyakan program lebih diprioritaskan pada inisiatif pembuatan peraturan daerah. Melakukan kerjasama penyuluhan hukum bagi masyarakat e. yakni semua hasil-hasil dari program pemenuhan hak asasi manusia di atas dijalankan dengan anggaran yang sangat-sangat terbatas. sehingga bisa selaras dan sejalan dengan prinsip dan norma hukum hak asasi manusia. ada beberapa hal yang menjadi kendala implementasinya. Sanggau Dari rencana dan langkah yang telah dilaksanakan oleh Pemda Sanggau tersebut. Pemerintah Kabupaten Sanggau memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas kebijakan daerah di masa mendatang. yakni dengan mencoba mengintegrasikan prinsip dan standar norma hukum hak asasi manusia nasional ke dalam kebijakan daerah. Program-program di atas dijalankan oleh Pemkab secara mandiri tanpa proses asistensi yang memadai dari Pemerintah Pusat. Pelatihan dan pendidikan tentunya akan diupayakan mampu menjangkau seluruh pejabat dan 23 . ketimbang memberikan tekanan yang sama pada program-program penguatan pengetahuan. termasuk melakukan penguatan-penguatan atas sejumlah Peraturan Daerah yang ada. pemahaman. Meng-anggarkan dana untuk Kegiatan RANHAM hingga tahun 2007 d. dan keahlian hak asasi manusia aparatur pemerintah. Melakukan Sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Kab. Meningkatkan proses upgrading pengetahuan dan pemahaman hak asasi manusia di lingkup aparat pemerintah.c. Sehingga dalam pelaksanaannya belum sepenuhnya mengacu pada prinsip dan standar hukum hak asasi manusia nasional dan internasional. Di tengah keterbatasan sumberdaya dan anggaran.

dan memenuhi hak asasi manusia masyarakat Sanggau. Sebagai alat penangkap dan penyalur aspirasi masyarakat daerah. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan. Sebagai instrumen hukum adalah alat untuk melaksanakan kebijakan daerah dalam melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan. c. UUD 1945 sebagai hukum dasar dalam peraturan perundangundangan. Ada beberapa kaidah hukum yang harus diketahui sebagai langkah penyusunan suatu perundang-undangan. yaitu : a. Sebagai pelaksana peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Sebagai alat tranformasi daerah untuk mengubah institusi dan perilaku bermasalah dari obyek yang coba diaturnya. melindungi. Sebagai harmonisator ataupun produk dari berbagai kepentingan. e.pegawai negeri sipil sehingga memudahkan mereka untuk menjalankan kewajiban menghormati. b. Fungsi dan Hierarkhi Peraturan Daerah Peraturan Daerah merupakan salahsatu jenis Peraturan Perundang-undangan dan merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. Peraturan Darah mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena diberikan landasan konstitusional yang jelas sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 18 ayat (6) yang menyatakan Pemerintahan daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. sebagaimana di atur dalam Undang-Undang No. Saat ini. Peraturan Daerah mempunyai berbagai fungsi. yakni: 24 . Kedudukan. 3. dan. d.

motif dan tujuan yang sah. Undang-Undang No. setiap jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan muatan materinya berbeda satu sama lain. materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undang berisi 11: a. Demikian juga dengan asas peraturan perundang-undangan yang harus diketahui pembentuk undang-undang. jika bertentangan. Kepentingan umum. asas persamaan dan tidak memihak. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 11 Pasal 10 ayat (1) UU No. perauran yang lebih tinggi akan mengalahkan yang lebih rendah) Lex Posteriori derogate Legi Priori (Dalam hal mengatur sesuatu yang sama. Sehingga. dapat dilaksanakan dan Non retroaktif (tidak berlaku surut). 10 Pasal 7 ayat (2) UU No. pengesahan perjanjian internasional tertentu. b. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 25 . peraturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan yang lebih tinggi. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang. c. sebagai berikut. Sebagai contoh. Demikian juga dengan kekuatan hukum peraturan perundang-undangan tersebut yang disesuaikan dengan hierarkinya10. peraturan yang lebih khusus akan mengalahkan peraturan yang lebih umum). kepastian hukum.Lex Superiori Derogat Legi Inferiori (dalam hal mengatur suatu yang sama. peraturan yang lebih baru akan mengalahkan peraturan yang lebih lama) Lex Specialis derogate Legi Generalis ( Dalam hal mengatur hal yang sama. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan secara jelas mengatur jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan.

d. Hierarki Peraturan Perundang-Undangan13 4. 26 . kesesuaian antara jenis dan materi muatan ( antara judul dan isi yang dijabarkan benar). tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi. Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. meliputi. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat. dan keterbukaan. 12 Pasal 14 UU No. kedayagunaan dan kehasilgunaan. kejelasan tujuan. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 13 Pasal 7 ayat (1) UU No. kejelasan rumusan. dan/atau e. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat (SKPD yang berkaitan). Asas-Asas Pembentukan Peraturan daerah Peraturan Daerah dibuat berdasarkan asas-asas: 1. Sementara materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/ atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang undangan yang lebih tinggi12. dapat dilaksanakan.

kenusantaraan. yaitu. dibutuhkan suatu mekanisme atau prosedur yang jelas tentang pembentukan suatu Peraturan Daerah agar lebih terarah dan terkoordinasi. Asas lain sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. Proses dan Tahapan Penyusunan Peraturan Daerah Dalam upaya membangun administrasi legislasi yang baik serta peningkatan kualitas produk hukum daerah. 3. Bhineka Tunggal Ika. dan serta asas-asas hukum umum yang secara khusus dapat diterapkan juga pada pembentukan peraturan perundang-undangan. kesamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintah. asas hukum peraturan daerah. Mekanisme dan Prosedur Penyusunan Peraturan daerah 27 . keadilan.2. Asas materi muatan peraturan perundang-undangan. pengayoman. antara lain: asas hukum pidana. ketertiban dan kepastian hukum. kekeluargaan. dan atau keseimbangan. asas tata urutan/susunan (hierarki peraturan perundangundangan. Bagan 1. keserasian dan keselarasan. kebangsaan. 5. kemanusian.

mengukur beban legislasi pada kurun waktu tertentu. aktivitas yang dilakukan adalah perancangan penyusunan naskah akademik dan 14 Pasal 36 UU No. yang mengatur bahwa perencanaan penyusunan legislasi daerah dilakukan dalam suatu Prolegda. Sementara Penyusunan Prolegda Kabupaten/ Kota di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dikoordinasikan oleh Bagian Hukum dan HAM dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal terkait14. mengetahui Peraturan Daerah apa saja yang sedang dibahas oleh DPRD. Penyusunan Prolegda Kabupaten/Kota antara DPRD Kabupaten/ Kota dan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh DPRD Kabupaten/Kota melalui alat kelengkapan DPRD Kabupaten/Kota yang khusus menangani bidang legislasi. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 28 . 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Bagi masyarakat. (b) Persiapan Pada tahapan ini. sehingga tahap ini sering pula disebut sebagai tahap penyusunan Prolegda.(a) Perencanaan Perencanaan legislasi di tingkat daerah dilakukan dengan menyusun sebuah Program Legislasi Daerah (Prolegda). mengetahui arah kebijakan legislasi di tingkat daerah. Prolegda adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana. dan. Prolegda berfungsi untuk : mengetahui Peraturan Daerah yang masuk dalam prioritas pembahasan di tingkat DPRD. Keberadaan Prolegda Kabupaten/Kota ini telah diatur dalam Pasal 39 UU No. terpadu dan sistematis.

Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah 29 .Peraturan daerah. Proses penyiapan Rancangan Peraturan Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Usul inisiatif DPRD Selanjutnya tahap yang lebih bersifat administratif yakni tahap penyampaian Rancangan Peraturan Daerah yang telah selesai. Proses persiapan bisa dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) maupun DPRD.

apabila Rancangan Peraturan Daerah merupakan usul inisiatif Pemerintah Daerah. (c) Pembahasan. Pembahasan suatu Pemerintah Daerah dilakukan melalui empat tingkat pembicaraan seperti bagan berikut ini. Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di DPRD baik atas inisiatif Pemerintah Daerah maupun atas inisitiaf DPRD. Sementara itu. maka Gubernur untuk Peraturan Daerah Provinsi atau Bupati/Walikota untuk Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota akan mengirimkan surat pengantar Gubernur atau Bupati/Walikota kepada Pimpinan DPRD. 30 . Bagan 2. dilakukan oleh DPRD bersama Gubernur/ Bupati/Walikota.merupakan usul prakarsa DPRD. Proses Pembahasan Peraturan Daerahdi DPRD (d) Penetapan dan Pengundangan. maka pimpinan DPRD akan mengirimkan surat kepada Gubernur atau Bupati/ Walikota disertai dengan naskah Rancangan Peraturan Daerah yang terkait.

yaitu pertama. Proses Penetapan dan Pengundangan (e) Penyebarluasan Suatu tahapan yang juga sangat penting adalah mengenai pernyebarluasan Peraturan Daerah.Bagan 3. (f) Pengawasan Satu tahapan yang membedakan pembentukan Peraturan Daerah dengan pembentukan Undang-Undang adalah tentang pengawasan. pengawasan dilakukan sesudah Peraturan Daerah disahkan. Pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah dibedakan menjadi dua bentuk. Penyebarluasan ini bisa dimaknai sebagai upaya mendistribusikan naskah Peraturan Daerah yang sudah diundangkan dan upaya sosialisasi kepada masyarakat yang dilakukan menyeluruh. pengkajian dan penilaian 31 . Dalam hal ini melakukan klarifikasi. Dalam hal ini Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah agar semua masyarakat di daerah setempat dan pihak terkait mengetahuinya.

Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca. sebelum Peraturan Daerah disahkan atau masih dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah. 32 . yaitu : (1) APBD/ Perubahan APBD. 6. dan nama peraturan perundang-undangan. Sementara itu pengawasan represif dilakukan terhadap seluruh Peraturan Daerah diluar empat jenis Rancangan Peraturan Daerah di atas. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan diatur secara lebih lengkap dalam sistematika teknik penyusunan peraturan perudangundangan pada lampiran UU No. Evaluasi preventif dilakukan terhadap empat jenis Rancangan Peraturan Daerah. Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundangundangan. nomor. tahun pengundangan atau penetapannya. melakukan evaluasi pengkajian dan penilaian terhadap Rancangan Peraturan Daerah dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah dan Peraturan Kepala Daerah untuk mengetahui ada tidaknya unsur yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/ atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (pengawasan preventif). (2) Pajak Daerah. Yang kedua.terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah untuk mengetahui ada tidaknya unsur yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi (pengawasan represif). dan (4) Rencana Tata Ruang. (3) Retribuasi Daerah. yaitu sebagai berikut: A. 12 tahun 2011. Sistematika Peraturan Daerah Sistematika teknik penyusunan peraturan perudang-undangan sesuai dengan UU No. JUDUL Judul peraturan perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis.

.Contoh: B. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan Jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan di tulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma (. Contoh: GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA . 2.). PEMBUKAAN Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Pada pembukaan tiap jenis peraturan perundangundangan sebelum nama jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakan di tengah marjin. b. 33 .. 1. (Nama Provinsi/Kabupaten/Kota) 3. Konsideran diawali dengan dengan kata Menimbang. Konsideran memuat uraian singkat mengenai pokokpokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan atau Peraturan Daerah. Konsiderans a.

. kelestarian ekosistem.. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. bahwa. Filosofis : menggambarkan bahwa peraturan yang dibuat berlandaskan pada kebenaran dan cita rasa keadilan serta ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. bahwa. f. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad.. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Peraturan Daerah memuat unsur Filosofis.. Sosiologis : Menggambarkan bahwa peraturan yang dibuat sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan sosial masyarakat setempat.. c.. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. Yuridis : Menggambarkan bahwa peraturan yang dibuat mempunyai keterkaitan dengan peraturan yang telah ada..c.. e. dan supremasi hukum. Contoh: Menimbang : a. yang akan diubah atau yang akan dicabut. d. 34 . Yuridis dan Sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. Jika konsideran memuat lebih dari satu pokok pikiran.. b. bahwa. Pokok–pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa peraturan perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturanperundang-undangan tersebut.

.. h. b. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan peraturan perundang-undangan / Peraturan Daerah tersebut.. bahwa…. c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Peraturan Bupati tentang. a. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. Jika konsideran memuat lebih dari satu pertimbangan. b. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Peraturan perundangundangan/Peraturan Daerah yang memerintahkan pembuatan peraturan Bupati tersebut. Konsideran Peraturan Bupati pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan. perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang… 4. Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan 35 . Peraturan Daerah Nomor… Tahun.. Tentang. rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh: Menimbang : a.g.. Contoh : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal…. bahwa…. Dasar Hukum a.

tetapi cukup mencantumkan nama. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan/ Peraturan Daerah yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu. urutan pencantumannya perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundangundangan dan jika tingkatannya sama. g. judul Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. f. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. d. Dasar hukum yang diambil dari pasal (pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan dengan frase UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. e.Perundang-undangan yang tingkatnya sama atau lebih tinggi. 36 . Contoh: Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang akan di cabut dengan Peraturan perundangundangan/Peraturan Daerah yang akan di bentuk atau Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang sudah ditetapkan tetapi belum resmi berlaku. disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau penetapannya. tidak perlu mencantumkan pasal.

ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadblad yang dicetak miring diantara tanda baca kurung. Staatsblad 1847:43). dan seterusnya. h. 2. dan diakhiri dengan tanda baca titik koma.. …. tiap dasar hukum diawali dengan angka arab 1. 3. 2. 2.. ditulis dengan huruf kapital Peraturan Perundang-undangan perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembar Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakan diantara tanda baca kurung. i. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316). Dasar hukum yang berasal dari Peraturan perundangundangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi(Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2003 Nomor 98. . Contoh : Mengingat: 1. Contoh : Mengingat : 1. 37 .Penulisan Undang-undang/ Peraturan Daerah. Kitab Undang-Undang Hukum Peraturan daerahta (Burgerlijk Wetboek.. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah.

Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:). Kata MEMUTUSKAN ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi diantara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakan di tengah marjin.. Contoh: Mengingat : 1. Kata MENETAPKAN dicantumkan sesudah kata MEMUTUSKAN yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. 2.5. 3. Kata memutuskan. Kata menetapkan. a. Sebelum kata memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH… (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA… (nama daerah). . yang ditulis seluruhnya dengan huruf capital dan diletakan di tengah marjin.. Diktum Diktum terdiri atas. 38 . …. Contoh: Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SANGGAU dan BUPATI SANGGAU MEMUTUSKAN: b.. ….

c. Nama Peraturan Perundang-undangan / Peraturan Daerah. Pembukaan Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang tingkatannya lebih rendah dari Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah seperti Peraturan Bupati. Nama yang dicantumkan dalam judul Peraturan Perundang-undangan / Peraturan Daerah dicantumkan lagi setelah kata “Menetapkan” dan didahului dengan pencantuman jenis Peraturan Perundang-undangan / Peraturan Daerah tanpa frase Republik Indonesia/ Kabupaten Sanggau. C. BATANG TUBUH Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah yang memuat semua substansi Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah yang dirumuskan dalam pasal-pasal. Pada umunya substansi dalam batang tubuh dikelompokan ke dalam: 1) Ketentuan Umum 2) Materi Pokok yang Diatur 3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 39 . Contoh: MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN SIPIL. Keputusan Bupati secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah. serta di tulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diahiri dengan tanda baca titik.

pengawasan. antara lain pencabutan izin. bab. Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. bagian dan 40 . Materi yang bersangkutan. pasalpasal tersebut dapat dikelompokan menjadi buku (jika merupakan kodifikasi). Pengelompokan materi Peraturan Perundangundangan/Peraturan Daerah dapat disusun secara sistematis dalam buku. sanksi keperdataan dan sanksi administratif dalam satu bab. denda administratif atau daya paksa polisional. diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. bab. bagian dan paragraf. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. bagian dan paragraph. Jika Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah mempunyai materi yang ruang lingkupnya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi perdata. Sanksi administratif dapat berupa. bab. pembubaran. Sanksi keperdataan dapat berupa antara lain ganti kerugian. Pengelompokan materi dalam buku. pemberhentian sementara.4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5) Ketentuan Penutup Dalam pengelompokan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya.

Huruf awal kata bagian. Contoh: Bagian Kelima Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. Kereta Gandengan. Contoh: BAB I KETENTUAN UMUM Bagian diberikan nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberikan judul. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN Bab di berikan nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. urutan bilangan. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraph bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraph. atau bab dengan bagian dan paragraph yang berisi pasal (-pasal). dan Kereta Tempelan Paragraph diberi nomor urut dengan angka Arab dan di berikan judul. Huruf awal dari kata paragraph dan 41 . dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase.paragraph dilakukan atas dasar kesamaan materi.

Wakil Ketua dan Hakim Pasal merupakan satu aturan dalam Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah yang memuat satu norma. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. dan huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. Pasal dapat dirinci kedalam beberapa ayat. Contoh: Paragraf 1 Ketua. 42 . Materi Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam kalimat utuh.setiap kata pada judul paragraph ditulis dengan huruf kapital. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. Ayat diberikan nomor urut dengan angka Arab diantara tanda baca kurung tanpa diakhiri dengan tanda baca titik. jelas dan lugas.

. Ditetapkan di ..... PROVINSI/KABUPATEN/KOTA NAMA GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA Diundangkan di .... Status peraturan yang ada.Contoh: Pasal 8 (1)........... Nama singkat. 5........ Pada tanggal .. 4............ (3).. 2.. Penunjukan organ atau kelengkapan yang melaksanakan peraturan. Sekretaris Daerah ........... Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati........ PENUTUP Penutup merupakan bagian akhir peraturan yang memuat : 1........ 3......... D... Penempatan dalam Lembaran Daerah atau Berita Daerah. (2). Pada tanggal .............. Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan... memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota).. 43 . Contoh : Agar setiap orang mengetahuinya... Saat mulai berlaku peraturan.. Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang..

E. F. jangkauan. sasaran yang ingin diwujudkan dan lingkup. Lain daripada 15 Pasal 1 angka 11 UU No. Naskah akademik biasanya berisi latar belakang. tujuan penyusunan. objek atau arah pengaturan rancangan undang-undang atau peraturan daerah. Naskah Akademik berisi latar belakang pemikiran serta hasil kajian yang menyertai dibuatnya suatu rancangan undang-undangan atau peraturan daerah. b) Pentingnya Naskah Akademik dalam Peraturan Perundang-undangan Pentingnya Naskah Akademik dalam menyertai suatu Rancangan Peraturan Perundang-undangan karena di dalam Naskah Akademik itulah paradigma kehidupan kemasyarakatan yang hendak dituju oleh Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk dirumuskan secara terperinci melalui pendekatan ilmiah. atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat15. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 44 . PENJELASAN (Jika diperlukan) LAMPIRAN (Jika diperlukan) B. Naskah Akademik a) Definisi Naskah Akademik (NA) merupakan naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang.

Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan Presiden tersebut dinyatakan bahwa “Naskah Akademik paling sedikit memuat dasar filosofis. 68 Tahun 2005 Pasal 5 ayat (1) bahwa “Pemrakarsa dalam menyusun Rancangan Undang-undang dapat terlebih dahulu menyusun Naskah Akademik mengenai materi yang akan diatur dalam Rancangan Undangundang”. 45 . c) Siapa saja yang membuat Naskah Akademik Naskah Akademik disamping disusun oleh pakar hukum. 12 tahun 2011. pokok dan lingkup materi yang akan diatur”. juga harus melibatkan pakar ilmu lain yang sesuai dengan bidang yang akan diatur dalam Peraturan Perundang16 Berdasarkan ketentuan Pasal 63 Ketentuan mengenai penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 sampai dengan Pasal 62 berlaku secara mutatis mutandis terhadap penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. keberadaan Naskah Akademik yang menyertai suatu Rancangan Peraturan Perundang-undangan dapat juga dikatakan sebagai sumber inspirasi bagi Rancangan Peraturan Perundang-undangan yang akan diperjuangkan oleh pihak pemrakarsa agar memenuhi kriteria akademik. Ketentuan mengenai Naskah Akademik juga diatur dalam Peraturan Presiden No. Berdasarkan ketentuan Pasal 56 ayat (2) UU No. sosiologis. sehingga perdebatan mengenai materi muatan yang nantinya akan dituangkan ke dalam sebuah Rancangan Peraturan Perundang-undangan dapat dieliminir seminimal mungkin. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi (Kabupaten/ Kota) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau Naskah Akademik16.itu. yuridis.

Perumusan Naskah Akademik merupakan kerja kolaboratif antara Bagian Hukum dan HAM. 2006.undangan. SKPD dan pakar ilmu lainnya yang memiliki kedekatan dengan materi muatan yang akan diatur dalam Peraturan Perundang-undangan.17 d) Apa saja isi dalam Naskah Akademik Naskah Akademik memuat gagasan pengaturan suatu materi perundang-undangan (materi hukum) bidang tertentu yang telah ditinjau secara sistematik-holistikfuturistik dan dari berbagai aspek ilmu dilengkapi dengan referensi yang memuat urgensi. 46 . 15. sudah cukup menjadi argumentasi ilmiah sebuah naskah akademik. hal. Naskah Akademik bisa dibuat oleh siapa pun sepanjang metodologinya bisa dipertanggungjawabkan. dalam perkembangannya kemudian Naskah Akademik tidak selalu merupakan produk perguruan tinggi. Namun. Kajian peraturan yang ada ditambah dari pengalaman empirik yang dialami kelompok sosial tertentu sebagai pelaku dari masalah yang akan diatur dalam peraturan daerah. Cukup dengan penelitian sederhana serta dengan melibatkan kelompok-kelompok sosial yang berkompeten dan berkaitan dengan tema yang akan menjadi sasaran pengaturan. landasan. serta pemangku kepentingan lainnya. Pedoman Peraturan Daerah tentang Perlindungan Buruh Migran Indonesia Berperspektif Hak Asasi Manusia dan Keadilan Jender. atas hukum dan prinsip-prinsip yang digunakan serta pemikiran tentang norma-norma yang telah dituangkan ke dalam bentuk pasal-pasal dengan mengajukan 17 Komnas Perempuan. konsepsi.

beberapa alternatif. Hasil inventarisasi hukum positif. serta pasal demi pasal untuk memudahkan dan mempercepat penggarapan RUU/RPP selanjutnya oleh instansi yang berwenang menyusun RUU/RPP. Sebab-sebab diperlukannya Peraturanya Perundangundangan yang baru. 2. 47 . Hasil inventarisasi permasalahan hukum yang dihadapi. alas hukum dan prinsip yang akan digunakan. Pemikiran tentang norma-norma yang telah dituangkan kedalam bentuk pasal-pasal. Gagasan awal naskah Rancangan Peraturan UndangUndang dan/atau Rancangan Peraturan Pemerintah yang disusun secara sistematis sesuai dengan teknik penyusunan Peraturan Peraturan Perundangundangan : bab demi bab. Gagasan-gagasan tentang materi hukum yang dituangkan ke dalam Rancangan Undang-Undang dan/atau Rancangan Peraturan Pemerintah. yang disajikan dalam bentuk uraian yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sesuai dengan politik hukum yang telah digariskan. 6. 3. 5. Konsepi landasan. Unsur-unsur yang perlu ada dalam suatu Naskah Akademik adalah urgensi disusunnya pengaturan baru suatu materi hukum yang menggambarkan : 1. dan 7. 4.

PENDAHULUAN Latar Belakang Identifikasi Masalah Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Metode. PERATURAN DAERAH PROVINSI. kondisi yang ada. serta status dari Peraturan Perundang-undangan yang ada. Kajian terhadap asas/prinsip yang terkait dengan penyusunan norma. EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT Bab ini memuat hasil kajian terhadap Peraturan Perundangundangan terkait yang memuat kondisi hukum yang ada. SOSIOLOGIS. DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN UNDANG-UNDANG.e) Sistematika Naskah Akademik NASKAH AKADEMIK PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG ………………………………………………………………. DAN YURIDIS Landasan Filosofis Landasan Sosiologis Landasan Yuridis JANGKAUAN. keterkaitan Undang-Undang dan Peraturan Daerah baru dengan Peraturan Perundang-undangan lain. LANDASAN FILOSOFIS.Undang atau Peraturan Daerah yang baru. Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam Undang-Undang atau Peraturan Daerah terhadap aspek kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap aspek beban keuangan negara. II. harmonisasi secara vertikal dan horizontal. termasuk Peraturan Perundang-undangan yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta Peraturan Perundang-undangan yang masih tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan Undang. serta permasalahan yang dihadapi masyarakat. ARAH PENGATURAN. I. ATAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PENUTUP Kesimpulan Saran 48 . KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS Kajian teoretis. Kajian terhadap praktik penyelenggaraan.

Salah satu yang penting adalah ketika dalam proses penyusunan sebuah Peraturan Daerah telah memperhatikan prinsip akses informasi dan partisipasi. 1. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik adalah “asas keterbukaan “ (huruf g) yang selanjutnya dalam penjelasannya dinyatakan bahwa : “dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan. Proses perumusannya tidak dimonopoli oleh DPRD dan Pemda. penyusunan. pengundangan bersifat transparan dan terbuka. Jaminan akan kebebasan berpartisipasi ini termuat dalam Pasal 5 UU No. 2. Partisipasi tidak bisa dipahami sekedar sebagai sosialisasi. Keterlibatan partisipasi publik idealnya ada di semua tahapan penyusunan sebuah peraturan daerah. namun aspirasi masyarakat harus diakomodasi dalam penyusunan Prolegda. karena partisipasi menitikberatkan proses menjaring dan mengartikulasikan gagasan dan ide untuk kemudian ditindaklanjuti secara konkret dalam sebuah policy.C. Persiapan Dalam tahap ini juga harus mengoptimalkan partisipasi publik. Dengan demikian. Partisipasi Publik Suatu Peraturan Daerah dapat dikatakan berbasis hak asasi manusia jika telah menerapkan nilai dan prinsip hak asasi manusia itu sendiri. Salah satu forum yang bisa digunakan adalah musyawarah perencanaan pembangunan daerah (musrenbangda). seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan”. pengesahan atau penetapan. Hal ini dapat dilakukan melalui : (i) pelibatan elemen masyarakat dalam penyusunan naskah akademik dan 49 . Perencanaan Perencanaan yang dilakukan harus dilalui dengan penerapan partisipasi publik. Penyusunan Prolegda bisa dijadikan salah satu agenda dalam musrenbangda.

Disisi lain.perancangan dan (ii) penyelenggaraan forum-forum baik formal maupun non-formal yang bertujuan menampung aspirasi masyarakat. 4. sosialisasi ini memerlukan metode yang mampu mempertemukan antara warga dengan pembentuk Peraturan Daerahuntuk memaparkan dan berdiskusi tentang Peraturan Daerah yang telah disusun. pada tahap ini juga publik harus aktif dalam berpartisipasi. Hal ini karena dalam tahap ini proses politik untuk merumuskan ketentuan mulai dilakukan melalui rapat antara komisi/gabungan. namun juga sebagai aktifitas untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat atas ketentuan-ketentuan yang ada dalam peraturan daerah. dan unsur fraksi baik pimpinan maupun anggota. (ii) audiensi dengan pimpinan DPRD. Pembahasan Tahap pembahasan merupakan tahap paling krusial dalam membentuk peraturan daerah. Penyebarluasan atau sosialisasi Penyebarluasan atau sosialisasi tidak hanya sebagai kegiatan pendistribusian naskah peraturan daerah. komisi/alat kelengkapan lainnya dengan perwakilan pemda. Bentuk partisipasi yang dapat dilakukan antara lain: (i) Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). Berbagai forum baik formal maupun non-formal dapat dioptimalkan untuk sosialisasi. 3. Sehingga. 50 . perwakilan alat kelengkapan DPRD yang membahas Peraturan daerah. Sehingga. pihak pembahas yaitu DPRD dan pemda juga harus aktif untuk menggali aspirasi masyarakat antara lain dengan cara mendatangi masyarakat.

sosial dan budaya dan tentunya memiliki dampak langsung terhadap penikmatan hak asasi manusia oleh masyarakat. ekonomi. A. biasanya kepala Negara atau Pemerintah atau menteri untuk urusan luar negeri. Ratifikasi – tindakan Negara untuk melaksanakan kewajiban berdasarkan Perjanjian dan untuk memungkinkan pengawasan internasional atas kemajuan dalam promosi hak asasi manusia dan perlindungan . Namun. apakah perjanjian internasional harus diratifikasi atau tidak di sebagian besar negara tergantung dengan parlemen.legislatif. sipil. yang harus menyetujui ratifikasi. keputusan akhir. anggota parlemen adalah aktor penting: kegiatan parlemen secara keseluruhan . . Parlemen harus menyadari peran ini sepanjang waktu karena peraturan daerahmaian di negara itu.memiliki konsekuensi yang luas bagi Negara yang meratifikasi. parlemen memang penjaga hak asasi manusia. Meratifikasi Perjanjian Hak Asasi Manusia Ratifikasi perjanjian hak asasi manusia adalah sarana penting untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional dan opini publik domestik komitmen Negara untuk hak asasi manusia. harmoni sosial dan pembangunan stabil sangat tergantung pada sejauh mana hak asasi manusia menembus semua kegiatan parlemen.BAB IV PERAN PARLEMEN dalam PERLINDUNGAN dan PROMOSI HAK ASASI MANUSIA Bicara mengenai promosi dan pelindungan hak asasi manusia. Perjanjian Hak Asasi Manusia ditandatangani dan diratifikasi oleh eksekutif. mengadopsi anggaran dan mengawasi eksekutif meliputi seluruh elemen politik. Sebagai lembaga negara yang mewakili rakyat dan melalui mana mereka berpartisipasi dalam pengelolaan urusan publik.

Memastikan Pelaksanaan Nasional Mengadopsi Anggaran Menjamin pemenuhan hak asasi manusia oleh semua bukanlah tanpa biaya. jika upaya di atas gagal. Menindaklanjuti Rekomendasi dan Keputusan Rekomendasi yang dirumuskan oleh PBB dan badan-badan pengawasan pelapor khusus dan oleh badan lainnya pemantauan internasional atau regional dapat secara efektif digunakan oleh anggota parlemen untuk meneliti kepatuhan tindakan eksekutif dengan kewajiban hak asasi manusia dari Negara. Mengawasi Eksekutif Melalui fungsi pengawasan mereka. Dibawah prosedur parlemen. jika perlu. dalam pemantauan belanja Pemerintah. Dalam menyetujui anggaran nasional. menundukkan kebijakan dan tindakan eksekutif untuk pengawasan yang konstan.langkah efektif bagi perlindungan hak asasi manusia dan. parlemen dan anggota parlemen dapat dan harus memastikan bahwa hukum benar-benar dilaksanakan oleh administrasi dan setiap badan lainnya yang bersangkutan. dengan menetapkan prioritas nasional. terus memantau kinerja Pemerintah di lapangan terhadap pemenuhan hak asasi manusia. Kemudian. Suara tidak percaya. terutama. parlemen harus memastikan bahwa tersedia dana yang cukup untuk pelaksanaan hak asasi manusia. parlemen bisa. Langkah. pegawai negeri sipil dan pejabat-pejabat eksekutif lainnya. untuk mencegah pelanggaran hak asasi manusia memerlukan cukup dana. Interpelasi. 52 .B. tersedia sarana untuk anggota parlemen untuk meneliti tindakan Pemerintah meliputi: Pertanyaan tertulis dan lisan kepada menteri. Fakta-temuan atau pemeriksaan komite atau komisi.

struktur. Parlemen dan anggota parlemen memiliki peran penting untuk mengadopsi undang-undang pelaksanaan yang diperlukan dalam setiap daerah (peraturan daerahta. Untuk memastikan bahwa hak asasi manusia sepatutnya diperhitungkan dalam pekerjaan parlemen. masing-masing perjanjian menjadi surat mati. perawatan kesehatan atau undangundang jaminan sosial). pidana. seperti kesetaraan jender atau hak-hak minoritas. Menciptakan dan Dukungan Infrastruktur Kelembagaan Institusi Hak Asasi Manusia Nasional (National Human Rights Institution/NHRI) Selama 20 tahun terakhir. Dalam beberapa badan kasus tersebut kompeten untuk menerima petisi individu.Parlemen Membentuk Badan-Badan Hak Asasi Manusia Hak asasi manusia secara menyeluruh harus menyatu dengan kegiatan parlemen. Mengadopsi Undang-Undang Jika kewajiban hukum internasional tidak diterapkan di tingkat domestik. setiap komite parlemen harus secara konsisten mempertimbangkan hak asasi manusia dan menilai dampak dari norma hukum yang diusulkan pada penikmatan hak asasi manusia. telah ada kesadaran akan kebutuhan untuk memperkuat institusi hak asasi manusia nasional. fungsi dan mandat berbeda. Salah satu cara yang digunakan untuk adalah pendirian lembaga nasional hak asasi manusia. Sementara istilah ini mencakup berbagai badan hukum yang status. komposisi. Dalam kompetensi wilayahnya. Aksi ini bertujuan untuk menerapkan dan memastikan kepatuhan dengan standar hak asasi manusia. Banyak parlemen juga telah membentuk komite untuk spesifik isu-isu hak asasi manusia. administratif atau hukum perburuhan. C. semua 53 . pendidikan. parlemen mengatur badan khusus hak asasi manusia atau komite mempercayakan tugas yang ada dengan mempertimbangkan isu-isu HAM.

harus memiliki kapasitas dan otoritas untuk: 1.seperti lembaga peradilan . 2. Ombudsman umumnya laporan kepada parlemen. 4. Hanya ombudsman dengan mandat hak asasi manusia tertentu dapat digambarkan sebagai lembaga nasional hak asasi manusia. NHRI. lembaga-lembaga regional. Ada beberapa tumpang tindih antara kegiatan kantor ombudsman dan orang-orang komisi hak asasi manusia nasional tetapi peran ombudsman biasanya agak lebih terbatas. dan melakukan penelitian di bidang hak asasi manusia.dengan maksud untuk mempromosikan dan melindungi hak asasi manusia. Mempromosikan kesesuaian hukum nasional dan praktek dengan standar internasional. lembaga nasional lain negara dan LSM. 3. Menerima dan bertindak atas keluhan individu atau kelompok pelanggaran hak asasi manusia. Menyerahkan rekomendasi. Bekerja sama dengan PBB. yang umumnya terdiri dari memastikan keadilan dan legalitas dalam administrasi publik. Mendorong ratifikasi dan penerapan standar HAM internasional dan berkontribusi untuk prosedur pelaporan di bawah perjanjian internasional hak asasi manusia. proposal dan laporan kepada Pemerintah atau parlemen di setiap hal yang berhubungan dengan hak asasi manusia. sering disebut komisi hak asasi manusia.badan seperti ditetapkan oleh Pemerintah untuk beroperasi secara independen . Meningkatkan kesadaran hak asasi manusia melalui informasi dan pendidikan. 5. Kantor Ombudsman Kantor Ombudsman adalah suatu lembaga nasional yang ditemukan di banyak negara. 6. 54 .

hak minoritas atau masalah sosial. Oleh karena itu. Untuk meningkatkan kesadaran umum hak asasi manusia di negara mereka. sejarah dan keadaan hukum. yang diselenggarakan pada tahun 1993. termasuk LSM. mendorong Negara untuk membuat aksi nasional hak asasi manusia merencanakan untuk mengembangkan strategi hak asasi manusia sesuai dengan situasi mereka sendiri. Memobilisasi Opini Publik Parlemen dapat memberikan kontribusi besar terhadap meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hak asasi manusia dan memobilisasi opini publik tentang isu-isu terkait – lebih-lebih sejak perdebatan politik sering berfokus pada pertanyaan seperti diskriminasi terhadap berbagai kelompok. Sebuah rencana aksi nasional harus didukung oleh Pemerintah dan melibatkan semua sektor masyarakat. 55 . Parlemen harus selalu peka terhadap dampak bahwa pernyataan-pernyataan publik mereka pada isu hak asasi manusia dapat memiliki persepsi pada isu publik tersebut. tidak ada pendekatan tunggal bagi negara-negara untuk mengatasi masalah hak asasi manusia.Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tidak ada Negara di dunia memiliki rekor hak asasi manusia yang sempurna. anggota parlemen harus bekerja dengan aktoraktor nasional lainnya yang terlibat dalam kegiatan hak asasi manusia. karena setiap negara harus mengembangkan kebijakan hak asasi manusia yang spesifik dalam politik. budaya. kesetaraan gender. D. karena keberhasilannya sangat tergantung pada sejauh mana penduduk mengambil kepemilikan itu. bebas dari pertimbangan politik partisan. Selain itu. Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia. Penerapan Rencana aksi nasional harus merupakan upaya nasional yang sesungguhnya.

56 . Negara pihak dalam perjanjian hak asasi manusia memiliki kepentingan hukum dalam pemenuhan kewajiban oleh Negara-negara Pihak lainnya. Parlemen. melalui badan hak asasi manusia mereka.E. dapat mengangkat isu-isu hak asasi manusia yang melibatkan adanya kemungkinan pelanggaran tersebut dan dengan demikian meningkatkan kepatuhan dengan norma-norma hak asasi manusia di seluruh dunia. suatu Negara karena itu dapat meminta perhatian untuk tindakan yang dilakukan oleh Negara lain melanggar perjanjian. Sesuai dengan prosedur pengaduan antar Negara disediakan untuk di beberapa inti perjanjian hak asasi manusia. Berpartisipasi dalam Upaya Internasional Parlemen dan anggota parlemen dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perlindungan dan upaya promosi hak asasi manusia di tingkat internasional. di bawah hukum internasional. Penghormatan dan perhatian masyarakat internasional terhadap hak asasi manusia dan.

Pemerintahan Daerah Provinsi. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Kovenan Internasional tentang Sipil Politik (SIPOL).Daftar Pustaka Peraturan Undang-Undang No. 11 Tahun 2005). 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentuan Peraturan Perundang-undangan Peraturan Pemerintah No. . yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006 tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah Instrumen Hak Asasi Manusia Deklarasi Universal HAM (DUHAM) Kovenan Internasional tentang Ekonomi Sosial dan Budaya (EKOSOB. Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2005). dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

Konvensi Internasional Diskriminasi Rasial.

tentang

Penghapusan

Segala

Bentuk

(CERD; adopsi pada tahun 1965; berlakunya pada tahun 1969); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 29 Tahun 1999. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW, adopsi pada tahun 1979; berlakunya pada tahun 1981); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1984. Konvensi Menentang Penyiksaan yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Hukuman (CAT; adopsi pada tahun 1984; berlakunya pada tahun 1987); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1998. Konvensi tentang Hak-hak Anak (CRC; adopsi pada tahun 1989; berlakunya pada tahun 1990); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 1990. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (yang dikenal sebagai Konvensi Pekerja Migran, atau CMW; adopsi pada tahun 1990; berlakunya pada tahun 2003). Buku Cipto Handoyo, B. Hestu. Prinsip-Prinsip Legal Drafting dan Desain Naskah Akademik. Penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 2008. Departemen Hukum dan HAM dan United Nation Development Programme (2007), Panduan Praktis Memahami Perancangan Peraturan Daerah. 2008. Jason M. Patlis. Pedoman Umum Penyusunan Peraturan Daerah Pengelolaan Hutan. Penerbit Center for International Forestry Research. 2004. 58

Sholikin, M Nur. Awasi Peraturan daerah, Berdayakan Daerah. Penerbit Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK). 2009. Rawasita, Reny. Menilai Tanggung Jawab Sosial Peraturan Daerah. Penerbit Pusat Studi dan Kebijakan Indonesia (PSHK). 2009 Rhona K.M. Smith dkk, Hukum Hak Asasi Manusia, PUSHAM UII, 2008 Makalah Proses Penyusunan Peraturan DaerahDalam Teori dan Praktek, http:// www.huma.or.id Setyadi, S. Bambang, Drs, M.Si, Pembentukan Peraturan Daerah. Makalah disampaikan dalam Diskusi Panel “Kajian Terhadap Kebijakan-Kebijakan Yang Perlu Dimuat Dalam Peraturan DaerahDalam Rangka Mendorong Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)”di Bank Indonesia, Maret, 2007. Sriyana, SH, LLM, DFM. Memahami Landasan Hukum, Asas dan Substansi dalam Penyusunan Peraturan Daerahserta Prosedurnya. Makalah disampaikan dalam Workshop Penyusunan Manual Drafting Peraturan DaerahBerbasis Hak Asasi Manusia di Pontianak, Juli, 2010. Artikel R Herlambang Perdana, Derogasi dan HAM, Kompas, 18 Oktober

59

PROFIL PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SANGGAU

Kabupaten Sanggau berjarak ± 267 Km dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat (Pontianak) dan merupakan salah satu dari 5 (lima) kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur), dengan garis perbatasan sepanjang ±129,50 Km (15%) dari panjang garis perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Sarawak sepanjang ± 877 Km. Dari 15 kecamatan di Kabupaten Sanggau, terdapat 2 (dua) kecamatan yang berbatasan langsung (kawasan perbatasan lini 1) dengan Sarawak (Malaysia Timur) yaitu Kecamatan Entikong dan Sekayam. Luas Kabupaten Sanggau adalah 12.857,70 Km2 merupakan urutan ke-4 (12,47%) dari kabupaten/ Kodya di Propinsi Kalimantan Barat. Kemudian jika dilihat kecamatan terluas adalah Kecamatan Jangkang dengan luas 1.589,20 Km2 kemudian Kecamatan Meliau yaitu 1.495,70 Km2. Sedangkan kecamatan terkecil adalah Kecamatan Balai dengan luas 395,60 kemudian Kecamatan Beduwai dengan luas 435,00 Km2. Kabupaten Sanggau dengan luas wilayahnya 12.857,0 Km2 atau 8,67% dari luas wilayah Propinsi Kalimantan Barat mempunyai jumlah penduduk 455.334 jiwa, dengan rincian penduduk laki – laki 235.810 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 219.524 jiwa18 yang menyebar di 15 kecamatan dengan kepadatan penduduk 29 jiwa per Km2 , penyebaran ini tidak merata antara daerah kecamatan satu dengan lainnya. Saat ini Kab. Sanggau dipimpin oleh Bupati Ir. H. Setiman H. Sudin dan Wakil Bupati Paolus Hadi, S.IP, M.Si. Kab. Sanggau memiliki 23 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan telah melahirkan sekitar 110 Peraturan Daerahperiode tahun 2007 – 2010.
18 Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Per 24 Oktober 2011

62 .

Kemudian menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana (S2) di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak. Sanggau. lahir di Sengoret pada tanggal 15 Maret 1977. lahir di Karangan pada tanggal 04 Juli 1984. Sanggau sejak Februari 2005. MUTMAINNAH. Sanggau sejak tahun 2006. . dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 1998. Saat ini berkarir sebagai staf di Bagian Hukum dan HAM di Sekretariat Daerah Pemkab. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak. Saat ini berkarir sebagai staf di Sekretariat DPRD Kab. Saat ini berkarir sebagai Kasubbag BanKum dan HAM di Bagian Hukum dan HAM Pemkab. dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 2004. dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 2002. LAURIANUS YOKA.PROFIL TIM PENYUSUN MARINA RONA. lahir di Nanga Bunut pada tanggal 04 Juni 1981.

Penerangan Komunikasi di Bappeda Pemkab. lahir di Lampung pada tanggal 11 Januari 1980. Sanggau sejak tahun 2010. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Panca Bakti Pontianak. ARIYANTO. Saat ini menjabat sebagai Kasubbid. Menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Universitas Ahmad Dahlan.ERVANSIUS HENDRA GOMESDY. Sanggau sejak tahun 2008. lahir di Semitau pada tanggal 09 Juli 1975. HENNY LORRYDA YULIANA. Saat ini berkarir sebagai Staf Keuangan di Dinas Kependudukan & Pencatatan Sipil Pemkab. Saat ini berkarir sebagai staf di Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DP2KAD) Pemkab. Sanggau sejak tahun 2009. 64 . Menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Samata Dharma Yogyakarta. Kesehatan. DWI YULIANI. Saat ini berkarir sebagai staf di DINSOSNAKERTRANS Pemkab. lahir di Lubuk Antuk pada tanggal 9 Desember 1979. Pendidikan. dan lulus Sarjana Ekonomi Akuntansi pada tahun 2004. Yogyakarta dan lulus Sarjana Teknik Informatika pada tahun 2004. dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 2006. Menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya dan lulus Sarjana Administrasi Publik pada tahun 2003. Sanggau. lahir di Sanggau pada tanggal 18 April 1983.

Jatinangor. Sanggau sejak Maret 1992. dan lulus Sarjana Kehutanan pada tahun 2006. Menyelesaikan studi di STM 2 Jurusan Elektronika Komunikasi. SYAFRINAL. Dinas Pertanian (2005-2007). Sanggau sejak tahun 2003. Saat ini berkarir sebagai sebagai sekretaris Dinas Kesehatan kab. Saat ini berkarir sebagai Pengawas SMP & SMA di Dinas Pendidikan. Padang pada tahun 1989. Menyelesaikan studi di Fakultas Kehutanan Jurusan Manajemen Kehutanan Universitas Winaya Mukti. Saat ini berkarir sebagai Staf di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab. Sebelumnya beliau pernah tugas di Bappeda (19932005). lahir di Setawar pada tanggal 09 Juli 1964. BP4K (2008).FERI BUDI JAYANTO. BAMBANG SUGIHARTO. Perlindungan Tanaman Perkebunan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pemkab. Menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi Universitas Tanjungpura Pontianak. Sanggau sejak tahun 2010. YULIA THERESIA. Menyelesaikan studi di Fakultas Pendidikan di IKIP Yogyakarta Jurusan Geografi dan lulus Sarjana Pendidikan pada tahun 1989. dan HUBKOMINFO (2009). Saat ini berkarir sebagai Kasi. dan lulus Sarjana Pertanian pada tahun 1992. lahir di Anjungan pada tanggal 23 September 1970. Jawa Barat. lahir di Yogyakarta pada tanggal 13 Oktober 1964. lahir di Pontianak pada tanggal 21 Juli 1970. 65 . Pemuda dan Olahraga Pemkab. Sanggau sejak tahun 2004.

66 .

b. dan berkelanjutan dalam sistem hukum nasional yang menjamin pelindungan hak dan kewajiban segenap rakyat Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. . perlu dibuat peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang pasti. negara berkewajiban melaksanakan pembangunan hukum nasional yang dilakukan secara terencana. baku. bahwa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas peraturan perundang-undangan yang baik. terpadu. Menimbang: a. bahwa dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan masih terdapat kekurangan dan belum dapat menampung perkembangan kebutuhan masyarakat mengenai aturan pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik sehingga perlu diganti. dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membentuk peraturan perundang-undangan. c. bahwa untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum.Lampiran UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

dan pengundangan. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN. Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah pembuatan Peraturan Perundang-undangan yang mencakup tahapan perencanaan. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. 68 . penyusunan. Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan Perundangundangan. dan huruf c. pembahasan. 3. 2. perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Mengingat: Pasal 20. Pasal 21. pengesahan atau penetapan. huruf b. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1.d. dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden.

dan sistematis. Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan. 10. 8. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. 69 . terpadu. Peraturan Daerah Provinsi adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur. Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Program Legislasi Daerah yang selanjutnya disebut Prolegda adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang disusun secara terencana. 6. Program Legislasi Nasional yang selanjutnya disebut Prolegnas adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara terencana. 5.4. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. dan sistematis. 9. atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat. 11. 7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundangundangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota. Naskah Akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang. terpadu.

Dewan Perwakilan Daerah yang selanjutnya disingkat DPD adalah Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perundangundangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Lembaran Daerah. 13. (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. fungsi.12. 14. Tambahan Lembaran Daerah. 70 . Berita Negara Republik Indonesia. Pasal 2 Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum negara. Pasal 3 (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya. Dewan Perwakilan Rakyat yang selanjutnya disingkat DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 15. 16. atau Berita Daerah. Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia. dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

kejelasan rumusan. Pasal 6 (1) Materi muatan Peraturan mencerminkan asas: a. b. f. dan keterbukaan. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat. BAB II ASAS PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik. c. d. hierarki. bhinneka tunggal ika. dan materi muatan. kemanusiaan. kedayagunaan dan kehasilgunaan. c. pengayoman.Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur dalam Undang-Undang ini meliputi Undang-Undang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya. Perundang-undangan harus 71 . kejelasan tujuan. e. kenusantaraan. kebangsaan. kekeluargaan. yang meliputi: a. kesesuaian antara jenis. f. g. dapat dilaksanakan. g. d. b. e. keadilan.

Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. Dewan Perwakilan Daerah. c. (2) Selain mencerminkan asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Mahkamah Agung. dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan Presiden. DAN MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 7 (1) a. i. g. keserasian. Komisi Yudisial. f. Badan Pemeriksa Keuangan. ketertiban dan kepastian hukum. Peraturan Daerah Provinsi. e. b. d. dan/atau keseimbangan. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. BAB III JENIS. HIERARKI. Dewan Perwakilan Rakyat. j. Pasal 8 (1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Mahkamah Konstitusi. Bank 72 . dan keselarasan. (2) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.h. Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. Peraturan Pemerintah.

(2) Dalam hal suatu Peraturan Perundang-undangan dibawah Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang. Bupati/Walikota. pengesahan perjanjian internasional tertentu. Pasal 9 (1) Dalam hal suatu Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menteri. Pasal 10 (1) Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undang berisi: a. c. pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung. Kepala Desa atau yang setingkat. dan/atau e. d. Gubernur. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/ Kota. pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. badan. lembaga. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. (2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan UndangUndang. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi. (2) Tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan oleh DPR atau Presiden.Indonesia. 73 . b.

atau c. Pasal 13 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 15 (1) Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam: a. atau materi untuk melaksanakan penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan. Peraturan Daerah Provinsi.Pasal 11 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan Undang-Undang.000. materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. (2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c berupa ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp50. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Undang-Undang. (3) Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota dapat memuat ancaman pidana kurungan atau pidana denda 74 .000. Pasal 14 Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi.00 (lima puluh juta rupiah). b.

sistem perencanaan pembangunan nasional. perintah Undang-Undang lainnya. rencana pembangunan jangka panjang nasional. rencana kerja pemerintah dan rencana strategis DPR. Pasal 17 Prolegnas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 merupakan skala prioritas program pembentukan Undang-Undang dalam rangka mewujudkan sistem hukum nasional. c. e. Pasal 18 Dalam penyusunan Prolegnas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. BAB IV PERENCANAAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagian Kesatu Perencanaan Undang-Undang Pasal 16 Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam Prolegnas.selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan yang diatur dalam Peraturan Perundang-undangan lainnya. 75 . f. aspirasi dan kebutuhan hukum masyarakat. rencana pembangunan jangka menengah. b. penyusunan daftar Rancangan Undang-Undang didasarkan atas: a. perintah Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. materi yang diatur. g. perintah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan h. d. Pasal 19 (1) Prolegnas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 memuat program pembentukan Undang-Undang dengan judul Rancangan UndangUndang.

dan c. latar belakang dan tujuan penyusunan. (3) Materi yang diatur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah melalui pengkajian dan penyelarasan dituangkan dalam Naskah Akademik. (2) Prolegnas ditetapkan untuk jangka menengah dan tahunan berdasarkan skala prioritas pembentukan Rancangan UndangUndang. sasaran yang ingin diwujudkan. 76 . Pasal 20 (1) Penyusunan Prolegnas dilaksanakan oleh DPR dan Pemerintah. jangkauan dan arah pengaturan. Pasal 21 (1) Penyusunan Prolegnas antara DPR dan Pemerintah dikoordinasikan oleh DPR melalui alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. (3) Penyusunan dan penetapan Prolegnas jangka menengah dilakukan pada awal masa keanggotaan DPR sebagai Prolegnas untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.(2) Materi yang diatur dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keterangan mengenai konsepsi Rancangan UndangUndang yang meliputi: a. (5) Penyusunan dan penetapan Prolegnas prioritas tahunan sebagai pelaksanaan Prolegnas jangka menengah dilakukan setiap tahun sebelum penetapan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. b. (4) Prolegnas jangka menengah dapat dievaluasi setiap akhir tahun bersamaan dengan penyusunan dan penetapan Prolegnas prioritas tahunan.

anggota DPR. 77 . dan ayat (3) diatur dengan Peraturan DPR. komisi.(2) Penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. penetapan/pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. c. pembentukan. pengesahan perjanjian internasional tertentu. d. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegnas di lingkungan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Presiden. pemekaran. (2) Prolegnas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan DPR. (4) Penyusunan Prolegnas di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegnas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). DPD. b. dan e. dan/atau masyarakat. dan penggabungan daerah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota. (3) Penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan mempertimbangkan usulan dari fraksi. Pasal 22 (1) Hasil penyusunan Prolegnas antara DPR dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) disepakati menjadi Prolegnas dan ditetapkan dalam Rapat Paripurna DPR. ayat (2). akibat putusan Mahkamah Konstitusi. Pasal 23 (1) Dalam Prolegnas dimuat daftar kumulatif terbuka yang terdiri atas: a.

Bagian Kedua Perencanaan Peraturan Pemerintah Pasal 24 Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah dilakukan dalam suatu program penyusunan Peraturan Pemerintah. keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi nasional atas suatu Rancangan Undang-Undang yang dapat disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (2) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. Pasal 25 (1) Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 memuat daftar judul dan pokok materi muatan Rancangan Peraturan Pemerintah untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. DPR atau Presiden dapat mengajukan Rancangan Undang-Undang di luar Prolegnas mencakup: a. (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden.(2) Dalam keadaan tertentu. atau bencana alam. Pasal 26 (1) Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. keadaan konflik. dan b. untuk mengatasi keadaan luar biasa. 78 .

Pasal 29 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah diatur dengan Peraturan Presiden. Bagian Ketiga Perencanaan Peraturan Presiden Pasal 30 Perencanaan penyusunan Peraturan Presiden dilakukan dalam suatu program penyusunan Peraturan Presiden. 79 . Pasal 28 (1) Dalam keadaan tertentu.Pasal 27 Rancangan Peraturan Pemerintah berasal dari kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian sesuai dengan bidang tugasnya. (2) Rancangan Peraturan Pemerintah dalam keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat berdasarkan kebutuhan Undang-Undang atau putusan Mahkamah Agung. Bagian Keempat Perencanaan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 32 Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan dalam Prolegda Provinsi. Pasal 31 Ketentuan mengenai perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 sampai dengan Pasal 29 berlaku secara mutatis mutandis terhadap perencanaan penyusunan Peraturan Presiden. kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian dapat mengajukan Rancangan Peraturan Pemerintah di luar perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah.

latar belakang dan tujuan penyusunan. (3) Penyusunan dan penetapan Prolegda Provinsi dilakukan setiap tahun sebelum penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi. (2) Prolegda Provinsi ditetapkan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun berdasarkan skala prioritas pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. materi yang diatur. (3) Materi yang diatur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah melalui pengkajian dan penyelarasan dituangkan dalam Naskah Akademik. pokok pikiran. rencana pembangunan daerah.Pasal 33 (1) Prolegda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 memuat program pembentukan Peraturan Daerah Provinsi dengan judul Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. perintah Peraturan Perundang-undangan lebih tinggi. jangkauan dan arah pengaturan. lingkup. 80 . sasaran yang ingin diwujudkan. dan d. b. atau objek yang akan diatur. (2) Materi yang diatur serta keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keterangan mengenai konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang meliputi: a. penyusunan daftar rancangan peraturan daerah provinsi didasarkan atas: a. dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. Pasal 35 Dalam penyusunan Prolegda Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). b. Pasal 34 (1) Penyusunan Prolegda Provinsi dilaksanakan oleh DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi. c.

Pasal 37 (1) Hasil penyusunan Prolegda Provinsi antara DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) disepakati menjadi Prolegda Provinsi dan ditetapkan dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi. (2) Prolegda Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan DPRD Provinsi. (2) Penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan DPRD Provinsi dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi.c. aspirasi masyarakat daerah. (3) Penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh biro hukum dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal terkait. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Gubernur. Pasal 38 (1) Dalam Prolegda Provinsi dapat dimuat daftar kumulatif terbuka yang terdiri atas: 81 . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan DPRD Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan DPRD Provinsi. dan d. Pasal 36 (1) Penyusunan Prolegda Provinsi antara DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh DPRD Provinsi melalui alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan.

Pasal 41 Dalam Prolegda Kabupaten/Kota dapat dimuat daftar kumulatif terbuka mengenai pembentukan. Pasal 40 Ketentuan mengenai perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 sampai dengan Pasal 38 berlaku secara mutatis mutandis terhadap perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Bagian Kelima Perencanaan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 39 Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam Prolegda Kabupaten/Kota. pemekaran. Kabupaten/Kota 82 . untuk mengatasi keadaan luar biasa. b.a. keadaan konflik. pemekaran. dan penggabungan Kecamatan atau nama lainnya dan/atau pembentukan. dan penggabungan Desa atau nama lainnya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi. dan c. (2) Dalam keadaan tertentu. atau bencana alam. keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi atas suatu Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang dapat disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi dan biro hukum. dan b. akibat kerja sama dengan pihak lain. akibat putusan Mahkamah Agung. DPRD Provinsi atau Gubernur dapat mengajukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi di luar Prolegda Provinsi: a.

Presiden. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak berlaku bagi Rancangan Undang-Undang mengenai: a. atau c. komisi. Peraturan 83 . atau instansi masing-masing untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. komisi. penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang. (2) Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari DPD. (2) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh lembaga. (3) Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR.Bagian Keenam Perencanaan Peraturan Perundang-undangan Lainnya Pasal 42 (1) Perencanaan penyusunan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) merupakan kewenangan dan disesuaikan dengan kebutuhan lembaga. pencabutan Undang-Undang atau pencabutan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. atau DPD harus disertai Naskah Akademik. atau instansi masing-masing. BAB V PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagian Kesatu Penyusunan Undang-Undang Pasal 43 (1) Rancangan Undang-Undang dapat berasal dari DPR atau Presiden. b.

Pasal 46 (1) Rancangan Undang-Undang dari DPR diajukan oleh anggota DPR. Pasal 45 (1) Rancangan Undang-Undang. dan perimbangan keuangan pusat dan daerah. c. komisi. gabungan komisi. e. b. otonomi daerah. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Naskah Akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. atau alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi atau DPD. (2) Pengharmonisasian. d. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. baik yang berasal dari DPR maupun Presiden serta Rancangan Undang-Undang yang diajukan DPD kepada DPR disusun berdasarkan Prolegnas.(5) Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disertai dengan keterangan yang memuat pokok pikiran dan materi muatan yang diatur. hubungan pusat dan daerah. pembulatan. Pasal 44 (1) Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Naskah Akademik. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. 84 . (2) Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh DPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan: a.

pembulatan. Pasal 47 (1) Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non kementerian terkait membentuk panitia antarkementerian dan/atau antarnonkementerian. (3) Pengharmonisasian. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang. pembulatan. (2) Dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang. Pasal 48 (1) Rancangan Undang-Undang dari DPD disampaikan secara tertulis oleh pimpinan DPD kepada pimpinan DPR dan harus disertai Naskah Akademik. pembulatan. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang dapat mengundang pimpinan alat kelengkapan DPD yang mempunyai tugas di bidang 85 .(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan DPR. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang yang berasal dari Presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (3) Alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam melakukan pengharmonisasian. (2) Usul Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh pimpinan DPR kepada alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi untuk dilakukan pengharmonisasian.

Pasal 49 (1) Rancangan Undang-Undang dari DPR disampaikan dengan surat pimpinan DPR kepada Presiden. (3) DPR mulai membahas Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak surat Presiden diterima.perancangan Undang-Undang untuk membahas usul Rancangan Undang-Undang. 86 . (3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (2) Surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat penunjukan menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan Rancangan Undang-Undang bersama DPR. (2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas Rancangan Undang-Undang bersama DPR dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak surat pimpinan DPR diterima. Pasal 50 (1) Rancangan Undang-Undang dari Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan DPR. (4) Untuk keperluan pembahasan Rancangan Undang-Undang di DPR. (4) Alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan laporan tertulis mengenai hasil pengharmonisasian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada pimpinan DPR untuk selanjutnya diumumkan dalam rapat paripurna. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah Rancangan Undang-Undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan.

(4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang mendapat persetujuan DPR dalam rapat paripurna. (5) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tidak mendapat persetujuan DPR dalam rapat paripurna.Pasal 51 Apabila dalam satu masa sidang DPR dan Presiden menyampaikan Rancangan Undang-Undang mengenai materi yang sama. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut harus dicabut dan harus dinyatakan tidak berlaku. Bagian Kedua Penyusunan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Pasal 52 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke DPR dalam persidangan yang berikut. (3) DPR hanya memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang. (6) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus dicabut dan harus dinyatakan tidak berlaku sebagaimana dimaksud 87 . Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut ditetapkan menjadi Undang-Undang. yang dibahas adalah Rancangan Undang-Undang yang disampaikan oleh DPR dan Rancangan Undang-Undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.

(2) Pengharmonisasian. DPR atau Presiden mengajukan Rancangan UndangUndang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Bagian Ketiga Penyusunan Peraturan Pemerintah Pasal 54 (1) Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah. pemrakarsa membentuk panitia antarkementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian. (7) Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) mengatur segala akibat hukum dari pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan panitia antar kementerian dan/atau antar non kementerian. 88 . dan penyampaian Rancangan Peraturan Pemerintah diatur dengan Peraturan Presiden.pada ayat (5). penyusunan. pengharmonisasian. (8) Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (7) ditetapkan menjadi Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dalam rapat paripurna yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (5). Pasal 53 Ketentuan mengenai tata cara penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang diatur dengan Peraturan Presiden. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. pembulatan.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi. (2) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau Naskah Akademik. dan penyampaian Rancangan Peraturan Presiden diatur dalam Peraturan Presiden. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. b. disertai dengan keterangan yang memuat pokok pikiran dan materi muatan yang diatur. perubahan Peraturan Daerah Provinsi yang hanya terbatas mengubah beberapa materi. pemrakarsa membentuk panitia antarkementerian dan/atau antar non kementerian. (3) Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah Provinsi mengenai: a. 89 . Bagian Kelima Penyusunan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 56 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dapat berasal dari DPRD Provinsi atau Gubernur. atau c. pengharmonisasian.Bagian Keempat Penyusunan Peraturan Presiden Pasal 55 (1) Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden. penyusunan. (2) Pengharmonisasian. pencabutan Peraturan Daerah Provinsi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan panitia antar kementerian dan/atau antar non kementerian. pembulatan.

Pasal 60 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dapat diajukan oleh anggota. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berasal dari DPRD Provinsi dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 59 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berasal dari Gubernur diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Naskah Akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. 90 .Pasal 57 (1) Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Naskah Akademik. (2) Pengharmonisasian. atau alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. pembulatan. komisi. pembulatan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan DPRD Provinsi. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berasal dari Gubernur dikoordinasikan oleh biro hukum dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. gabungan komisi. Pasal 58 (1) Pengharmonisasian.

(2) Rancangan Peraturan Daerah yang telah disiapkan oleh Gubernur disampaikan dengan surat pengantar Gubernur kepada pimpinan DPRD Provinsi. 91 . Pasal 62 Apabila dalam satu masa sidang DPRD Provinsi dan Gubernur menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi mengenai materi yang sama.Pasal 61 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang telah disiapkan oleh DPRD Provinsi disampaikan dengan surat pimpinan DPRD Provinsi kepada Gubernur. yang dibahas adalah Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang disampaikan oleh DPRD Provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang disampaikan oleh Gubernur digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. Bagian Keenam Penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 63 Ketentuan mengenai penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 sampai dengan Pasal 62 berlaku secara mutatis mutandis terhadap penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

dan e. pemekaran. perimbangan keuangan pusat dan daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. (2) Pembahasan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan: a. hubungan pusat dan daerah. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Peraturan Perundangundangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari UndangUndang ini. dilakukan dengan mengikutsertakan DPD. dan penggabungan daerah. otonomi daerah.BAB VI TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 64 (1) Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. c. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-Undang Pasal 65 (1) Pembahasan Rancangan Undang-Undang dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. d. b. (3) Ketentuan mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. 92 . pembentukan.

rapat gabungan komisi. penyampaian pendapat mini. (5) DPD memberikan pertimbangan kepada DPR atas Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan pajak. pembicaraan tingkat II dalam rapat paripurna. (2) Dalam pengantar musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a: a. rapat Badan Anggaran. dan c. b. Pasal 67 Dua tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 terdiri atas: a. Pasal 66 Pembahasan Rancangan Undang-Undang dilakukan melalui 2 (dua) tingkat pembicaraan. rapat Badan Legislasi. Pasal 68 (1) Pembicaraan tingkat I dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut: a. pembahasan daftar inventarisasi masalah. atau rapat Panitia Khusus. b.(3) Keikutsertaan DPD dalam pembahasan Rancangan UndangUndang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan hanya pada pembicaraan tingkat I. pendidikan. dan agama. DPR memberikan penjelasan serta Presiden dan DPD 93 . dan b. DPR memberikan penjelasan dan Presiden menyampaikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang berasal dari DPR. pembicaraan tingkat I dalam rapat komisi. pengantar musyawarah. (4) Keikutsertaan DPD dalam pembahasan Rancangan UndangUndang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh alat kelengkapan yang membidangi materi muatan Rancangan Undang-Undang yang dibahas.

Presiden.menyampaikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2) berasal dari DPR. DPD. b. atau b. (3) Daftar inventarisasi masalah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diajukan oleh: a. (4) Penyampaian pendapat mini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c disampaikan pada akhir pembicaraan tingkat I oleh: a. c. 94 . atau d. Presiden jika Rancangan Undang-Undang berasal dari DPR. DPR jika Rancangan Undang-Undang berasal dari Presiden dengan mempertimbangkan usul dari DPD sepanjang terkait dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2). Presiden memberikan penjelasan dan fraksi memberikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang berasal dari Presiden. fraksi. pembicaraan tingkat I tetap dilaksanakan. Presiden memberikan penjelasan serta fraksi dan DPD menyampaikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2) berasal dari Presiden. (6) Dalam pembicaraan tingkat I dapat diundang pimpinan lembaga negara atau lembaga lain jika materi Rancangan Undang-Undang berkaitan dengan lembaga negara atau lembaga lain. jika Rancangan Undang-Undang berkaitan dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2). (5) Dalam hal DPD tidak menyampaikan pandangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf d dan/atau tidak menyampaikan pendapat mini sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b. dan c.

pendapat mini DPD. pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak. pendapat mini fraksi. 95 . dan c. (2) Dalam hal persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak dapat dicapai secara musyawarah untuk mufakat. (2) Rancangan Undang-Undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPR dan Presiden. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan DPR. penyampaian laporan yang berisi proses. Pasal 70 (1) Rancangan Undang-Undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPR dan Presiden.tiap fraksi dan anggota secara lisan yang diminta oleh pimpinan rapat paripurna.Pasal 69 (1) Pembicaraan tingkat II merupakan pengambilan keputusan dalam rapat paripurna dengan kegiatan: a. Rancangan Undang-Undang tersebut tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu. pernyataan persetujuan atau penolakan dari tiap. (3) Dalam hal Rancangan Undang-Undang tidak mendapat persetujuan bersama antara DPR dan Presiden. b. Pasal 71 (1) Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan Rancangan Undang-Undang. penyampaian pendapat akhir Presiden yang dilakukan oleh menteri yang ditugasi. dan hasil pembicaraan tingkat I.

Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diajukan pada saat Rapat Paripurna DPR tidak memberikan persetujuan atas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang diajukan oleh Presiden. (2) Penyampaian Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.(2) Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dilaksanakan melalui mekanisme khusus yang dikecualikan dari mekanisme pembahasan Rancangan Undang-Undang. Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang diajukan oleh DPR atau Presiden. Pengambilan keputusan persetujuan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan sebagaimana dimaksud dalam huruf b dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPR yang sama dengan rapat paripurna penetapan tidak memberikan persetujuan atas Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang tersebut. dan c. 96 . b. (3) Ketentuan mengenai mekanisme khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dengan tata cara sebagai berikut: a. Bagian Kedua Pengesahan Rancangan Undang-Undang Pasal 72 (1) Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Presiden disampaikan oleh Pimpinan DPR kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang.

Rancangan Undang-Undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. (3) Dalam hal sahnya Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 74 (1) Dalam setiap Undang-Undang harus dicantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. (2) Dalam hal Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan UndangUndang tersebut disetujui bersama. kalimat pengesahannya berbunyi: Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 97 .Pasal 73 (1) Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan Undang-Undang tersebut disetujui bersama oleh DPR dan Presiden. (2) Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak atas perintah suatu Undang-Undang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir UndangUndang sebelum pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

98 . Pasal 76 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur. (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan.BAB VIII PEMBAHASAN DAN PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 75 (1) Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan oleh DPRD Provinsi bersama Gubernur. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi diatur dengan Peraturan DPRD Provinsi. (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/badan/alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. (2) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRD Provinsi dan Gubernur. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali Rancangan Peraturan Daerah Provinsi diatur dengan Peraturan DPRD Provinsi.

(2) Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Gubernur dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut disetujui bersama. Bagian Ketiga Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 78 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang telah disetujui bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur disampaikan oleh pimpinan DPRD Provinsi kepada Gubernur untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah Provinsi. Pasal 79 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 ditetapkan oleh Gubernur dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut disetujui bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur.Bagian Kedua Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 77 Ketentuan mengenai pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dan Pasal 76 berlaku secara mutatis mutandis terhadap pembahasan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. 99 . (2) Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut sah menjadi Peraturan Daerah Provinsi dan wajib diundangkan.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia. f. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan menempatkannya dalam: a. e. atau Berita Daerah. Bagian Keempat Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 80 Ketentuan mengenai penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 dan Pasal 79 berlaku secara mutatis mutandis terhadap penetapan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. d. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah Provinsi sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah Provinsi dalam Lembaran Daerah. Berita Negara Republik Indonesia.(3) Dalam hal sahnya Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. c. Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Lembaran Daerah. 100 . Tambahan Lembaran Daerah. b. Lembaran Negara Republik Indonesia. g. BAB IX PENGUNDANGAN Pasal 81 Agar setiap orang mengetahuinya.

b. Pasal 85 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dan Pasal 83 dilaksanakan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. Peraturan Pemerintah. 101 . dan d. meliputi: a. Peraturan Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 83 Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia meliputi Peraturan Perundang-undangan yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.Pasal 82 Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Pasal 84 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundang-undangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Peraturan Presiden. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundang-undangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia.

(2) Peraturan Gubernur dan Peraturan Bupati/Walikota diundangkan dalam Berita Daerah. pembahasan Rancangan Undang-Undang. Pasal 87 Peraturan Perundang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. (3) Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah.Pasal 86 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. BAB X PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Penyebarluasan Prolegnas. dan Undang-Undang Pasal 88 (1) Penyebarluasan dilakukan oleh DPR dan Pemerintah sejak penyusunan Prolegnas. 102 . hingga Pengundangan Undang-Undang. (2) Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat serta para pemangku kepentingan. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. Rancangan Undang-Undang. penyusunan Rancangan Undang-Undang.

103 . serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. (2) Penyebarluasan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh DPD sepanjang berkaitan dengan otonomi daerah. (3) Penyebarluasan Rancangan Undang-Undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan oleh instansi pemrakarsa.Pasal 89 (1) Penyebarluasan Prolegnas dilakukan bersama oleh DPR dan Pemerintah yang dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. Pasal 90 (1) Penyebarluasan Undang-Undang yang telah diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia dilakukan secara bersamasama oleh DPR dan Pemerintah. hubungan pusat dan daerah. (2) Terjemahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan terjemahan resmi. Pasal 91 (1) Dalam hal Peraturan Perundang-undangan perlu diterjemahkan ke dalam bahasa asing. penerjemahannya dilaksanakan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (2) Penyebarluasan Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR dilaksanakan oleh komisi/panitia/badan/alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi.

(2) Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk dapat memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat dan para pemangku kepentingan. Pasal 93 (1) Penyebarluasan Prolegda dilakukan bersama oleh DPRD dan Pemerintah Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota yang dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi. dan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 92 (1) Penyebarluasan Prolegda dilakukan oleh DPRD dan Pemerintah Daerah sejak penyusunan Prolegda. Pasal 94 Penyebarluasan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dilakukan bersama oleh DPRD dan Pemerintah Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. (2) Penyebarluasan Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh alat kelengkapan DPRD. pembahasan Rancangan Peraturan Daerah. 104 . (3) Penyebarluasan Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari Gubernur atau Bupati/Walikota dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah. penyusunan Rancangan Peraturan Daerah.Bagian Kedua Penyebarluasan Prolegda. hingga Pengundangan Peraturan Daerah.

c. setiap Rancangan Peraturan Perundang-undangan harus dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.Bagian Ketiga Naskah yang Disebarluaskan Pasal 95 Naskah Peraturan Perundang-undangan yang disebarluaskan harus merupakan salinan naskah yang telah diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan/atau diskusi. BAB XI PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 96 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. b. Lembaran Daerah. (3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah orang perseorangan atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan atas substansi Rancangan Peraturan Perundang-undangan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia. lokakarya. kunjungan kerja. Berita Negara Republik Indonesia. sosialisasi. dan Berita Daerah. rapat dengar pendapat umum. (2) Masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui: a. Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. 105 . dan/atau seminar. (4) Untuk memudahkan masyarakat dalam memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Tambahan Lembaran Daerah. d.

Pasal 99 Selain Perancang Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (1). atau Keputusan Ketua Komisi yang setingkat. Keputusan Pimpinan DPRD Kabupaten/Kota. Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Keputusan Kepala Lembaga. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. Pasal 98 (1) Setiap tahapan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mengikutsertakan Perancang Peraturan Perundang-undangan. dan Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota mengikutsertakan peneliti dan tenaga ahli. (2) Ketentuan mengenai keikutsertaan dan pembinaan Perancang Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Keputusan Menteri. Keputusan Kepala Badan. tahapan pembentukan UndangUndang. Keputusan Pimpinan DPRD Provinsi. 106 . Keputusan Pimpinan DPD. Keputusan Pimpinan DPR. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat.BAB XII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 97 Teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam UndangUndang ini berlaku secara mutatis mutandis bagi teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. Keputusan Ketua Komisi Yudisial. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. Keputusan Bupati/ Walikota. Keputusan Gubernur. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Peraturan Daerah Provinsi.

Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53. Keputusan Menteri. Keputusan Bupati/Walikota.BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 100 Semua Keputusan Presiden. Pasal 103 Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan. 107 . Keputusan Gubernur. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389). dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 yang sifatnya mengatur. sepanjang tidak bertentangan dengan UndangUndang ini. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389). yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. harus dimaknai sebagai peraturan. Pasal 101 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2011 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.Pasal 104 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. DR. Disahkan di Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. H. Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. PATRIALIS AKBAR 108 .

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG JENIS DAN BENTUK PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI. sehingga perlu diganti. perlu dilakukan penyeragaman jenis dan bentuk produk hukum daerah. . bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. bahwa dalam rangka tertib administrasi penyusunan produk hukum daerah. Tambahan Lembaran Negara Nomor Republik Indonesia 4389). bahwa Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-Produk Hukum Daerah tidak sesuai lagi dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Mengingat : 1. b. perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. c. 2. Menimbang : a.

d. Peraturan Daerah. Pasal 3 Bentuk produk hukum daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 4 Pada saat peraturan ini mulai berlaku. Daerah adalah Provinsi dan Kabupaten/Kota. 2. dan e. c. Kepala Daerah adalah Gubernur atau Bupati/Walikota. Pasal 2 Jenis Produk Hukum Daerah terdiri atas: a. maka Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-Produk Hukum Daerah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Peraturan Kepala Daerah. Keputusan Kepala Daerah. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Peraturan Bersama Kepala Daerah. 110 . 3. b. Instruksi Kepala Daerah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548).Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG JENIS DAN BENTUK PRODUK HUKUM DAERAH. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri. tercantum dalam lampiran Peraturan ini.

SE Salinan Sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO HUKUM. MARUF. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal MENTERI DALAM NEGERI. PE RW I RA 111 .Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. MOH. Ttd H.

112 .

c. Tambahan Lembaran Negara Nomor Republik Indonesia 4389). bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. bahwa Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk-Produk Hukum Daerah tidak sesuai lagi dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Menimbang : a. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang . perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah. bahwa dalam rangka tertib administrasi penyusunan produk hukum daerah perlu dilakukan penyeragaman prosedur secara terpadu dan terkoordinasi. 2. b. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53.PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 16 TAHUN 2006 TENTANG PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI. sehingga perlu diganti.

114 . 5. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. 3. Produk hukum daerah adalah peraturarj daerah yang diterbitkan oleh kepala daerah dalam rangka pengaturan penyelenggaraan pemerintahan daerah. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Program Legislasi Daerah yang selanjutnya disebut Prolegda adalah instrumen perencanaan pembentukan produk hukum daerah yang disusun secara terencana. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM DAERAH. 2. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri. 4.Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. terpadu dan sistematis. Kepala daerah adalah gubernur atau bupati/walikota. Daerah adalah provinsi dan kabupaten/kota. Prosedur penyusunan produk hukum daerah adalah rangkaian kegiatan penyusunan produk hukum daerah sejak perencanaan sampai dengan penetapan.

Keputusan kepala daerah. dan c. Peraturan Daerahatau sebutan lain. dan b. Pasal 3 (1) Produk hukum daerah bersifat pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi: a. BAB III PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM Bagian Pertama Produk Hukum Bersifat Pengaturan Pasal 4 Penyusunan produk hukum daerah yang bersifat pengaturan dilakukan berdasarkan Prolegda. b. (2) Penyusunan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada Biro Hukum atau Bagian Hukum. Pasal 5 (1) Pimpinan satuan kerja perangkat daerah menyusun rancangan produk hukum daerah. Peraturan bersama kepala daerah. Peraturan kepala daerah. (2) Produk hukum daerah bersifat penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi: a.BAB II PRODUK HUKUM DAERAH Pasal 2 Produk hukum daerah bersifat pengaturan dan penetapan. Instruksi kepala daerah. 115 .

(3) Penyusunan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibentuk Tim Antar Satuan Kerja Perangkat Daerah. (2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menitikberatkan permasalahan yang bersifat prinsip mengenai objek yang diatur. jangkauan. Pasal 8 (1) Rancangan produk hukum daerah yang telah dibahas harus mendapatkan paraf koordinasi Kepala Biro Hukum dan Kepala Bagian Hukum dan pimpinan satuan kerja perangkat daerah terkait. diketuai oleh Pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah pemrakarsa atau pejabat yang ditunjuk oleh kepala daerah dan Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum berkedudukan sebagai sekretaris. (2) Pimpinan satuan kerja perangkat daerah atau pejabat yang ditunjuk mengajukan rancangan produk hukum daerah yang telah mendapat paraf koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Pasal 7 Ketua Tim Antar Satuan Kerja Perangkat Daerah melaporkan perkembangan rancangan produk hukum daerah dan/atau permasalahan kepada Sekretaris Daerah untuk memperoleh arahan. dan arah pengaturan. (4) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (3). 116 . Pasal 6 (1) Rancangan produk hukum daerah dilakukan pembahasan dengan Biro Hukum atau Bagian Hukum dan satuan kerja perangkat daerah terkait.

Pasal 12 Pembahasan rancangan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya atas inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah atau Pimpinan satuan Kerja perangkat daerah sesuai dengan tugas dan fungsinya. Pasal 10 Produk hukum daerah berupa rancangan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a.Pasal 9 (1) Sekretaris Daerah dapat melakukan perubahan dan/atau penyempurnaan terhadap rancangan produk hukum daerah yang telah diparaf koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). yang diprakarsai oleh Kepala Daerah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk dilakukan pembahasan. (2) Perubahan dan/atau penyempurnaan rancangan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembalikan kepada pimpinan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa. Pasal 11 Dalam rangka pembahasan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dibentuk Tim Asistensi yang diketuai oleh Sekretaris Daerah atau pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. 117 . (3) Hasil penyempurnaan rancangan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Sekretaris Daerah setelah dilakukan paraf koordinasi oleh Kepala Biro Hukum dan Kepala Bagian Hukum dan pimpinan satuan perangkat daerah terkait.

BAB IV PENOMORAN AUTENTIFIKASI. PENGGANDAAN. (2) Penandatanganan produk hukum daerah yang bersifat penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada Sekretaris Daerah. PENDISTRIBUSIAN DAN PENDOKUMENTASIAN PRODUK HUKUM DAERAH Pasal 16 (1) Penomoran produk hukum daerah dilakukan oleh Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum sekretariat daerah. baik atas inisiatif pemerintah maupun atas inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Penomoran produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat pengaturan menggunakan nomor bulat. Bagian Kedua Produk Hukum Bersifat Penetapan Pasal 14 (1) Pimpinan satuan kerja perangkat daerah penyusun produk hukum daerah yang bersifat penetapan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. dibentuk tim asistensi dengan sekretariat berada pada Biro Hukum atau Bagian Hukum.Pasal 13 Pembahasan rancangan Peraturan Daerahdi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 15 (1) Produk hukum daerah yang bersifat penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ditandatangani oleh Kepala Daerah. (2) Produk hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada sekretaris daerah setelah mendapat paraf koordinasi dari Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum. 118 .

(2) Pengundangan Peraturan Daerah atau sebutan lainnya dan pengumuman peraturan kepala daerah serta peraturan bersama kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum. Pasal 19 (1) Pengundangan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya dan pengumuman peraturan kepala daerah serta peraturan bersama kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16 dilakukan oleh Sekretaris Daerah. Pasal 17 Produk hukum dalam bentuk Peraturan Daerahatau sebutan lainnya yang telah ditetapkan dan diberikan nomor harus diundangkan dalam lembaran daerah. Pasal 18 Produk hukum dalam bentuk peraturan kepala daerah dan peraturan bersama kepala daerah serta produk hukum yang bersifat penetapan tertentu yang telah ditetapkan dan diberikan nomor harus diumumkan dalam berita daerah.(3) Penomoran produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat penetapan mengggunakan nomor kode kiasifikasi. 119 . (2) Autentifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum. Pasal 20 (1) Produk hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16 sebelum disebarluaskan harus terlebih dahulu dilakukan autentifikasi.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 19 Mei 2006 MENTERI DALAM NEGERI. MA’RUF. Pasal 23 Sosialisasi produk hukum dilakukan secara bersama-sama Biro Hukum atau Bagian Hukum dengan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 24 Dengan berlakunya Peraturan ini.BAB V PEMBIAYAAN Pasal 21 Pembiayaan berkaitan dengan penyusunan produk hukum daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pasal 25 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. maka Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk-Produk Hukum Daerah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. pendistribusian dan pendokumentasian produk hukum daerah dilakukan oleh Biro Hukum atau Bagian Hukum dan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa. MOH. Ttd H. BAB VI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 22 Penggandaan. SE 120 .

RANCANGAN PERATURAN DAERAHKABUPATEN SANGGAU NOMOR……..TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SANGGAU Menimbang : a. Bahwa dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, wajib mengakui, menghormati, dan melindungi hak asal-usul, adat istiadat dan sosial budaya masyarakat setempat; b. Bahwa pengakuan dan penghormatan tersebut diputuskan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi keberdayaan, kelestarian dan perkembangan adat istiadat dan hukum adat, khususnya lembaga adat dalam rangka menjadikan adat istiadat dan hukum adat sebagai pedoman perilaku Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sanggau; c. Bahwa berhubungan dengan huruf a dan b di atas, perlu menetapkan Lembaga Adat di Kabupaten Sanggau dengan Peraturan Daerah Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 27 tahun 1959 tentang Penetapan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun

1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 352); 2. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 3. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4493) yang telah ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 8 tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun200 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587);

122

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pemberdayaan dan Pelestarian serta Pengembangan Adat Istiadat, Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat dan Lembaga Adat di Daerah; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Sanggau Nomor 11 tahun 2000 tentang Kewenangan Kabupaten Sanggau sebagai Daerah Otonom. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SANGGAU Dan BUPATI SANGGAU MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAEARAH KABUPATEN SANGGAU TENTANG LEMBAGA ADAT. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerahini yang dimaksud dengan: a. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah; b. Daerah adalah Kabupaten Sanggau; c. Bupati adalah Bupati Sanggau; d. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daearh sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah; e. Lembaga Adat adalah organisasi kemasyarakatan yang dibentuk,

123

h. k. hukum adat dan kelembagaan adat yang masih ditaati. politik. budaya. Wilayah Adat adalah tempat tumbuh dan berkembangnya adat istadat. kaidah dan keyakinan sosial yang tumbuh. ekonomi. dan masih berlaku dalam kehidupan masyarakat tersebut. Adat Istiadat adalah seperangkat nilai atau normal. sosial dan wilayah sendiri. Hukum Adat adalah seperangkat aturan dan atau kesepakatan yang hidup dan berlaku dalam Masyarakat Hukum Adat yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat Hukum Adat adalah kelompok masyarakat yang masih terikat adat istiadat. yang merupakan sebuah kesatuan hukum tertentu yang pada dasarnya dapat bersumber pada hukum adat atau adat istiadat sebagaimana diakui keabsahannya oleh warga masyarakat tersebut dan atau oleh warga masyarakat lainnya. Pengakuan adalah tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah daerah Kabupaten Sanggau untuk mengakui keberadaan lembaga Adat. berkembang dan ditaati oleh masyarakat hukum adat dan atau satuan masyarakat lainnya sebagaimana terwujud dalam pola kelakuan dalam kehidupan seharihari. serta berhak dan berwenang untuk mengatur. f. ideologi. 124 . Hak Adat adalah hak yang melekat pada Masyarakat Hukum Adat. Kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan masyarakat adalah polapola kegiatan atau perbuatan yang dilakukan oleh para warga masyarakat. l. mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. j. g.dikelola dan dikontrol oleh masyarakat hukum adat sesuai dengan hak asal usul dalam suatu Masyarakat Hukum Adat tertentu dengan wilayah hukum dan hak atas harta kekayaan di dalam hukum adat tersebut. i. memiliki nilai.

dan budaya demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat hukum adat. 125 . fungsi dan wewenang sesuai dengan kesepakatan Masyarakat Hukum Adat yang bersangkutan dan atau sukunya yang diwariskan secara turun temurun demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan Masyarakat Hukum Adat. dan Wewenang (1) Lembaga Adat mempunyai tugas. (2) Tujuannya untuk menciptakan kehidupan Masyarakat Hukum Adat yang berdaulat. FUNGSI DAN WEWENANG Bagian Pertama Pasal 3 Kedudukan Lembaga Adat berkedudukan di wilayah Kabupaten Sanggau. Fungsi. politik. sosial. ekonomi.m. Bagian Kedua Pasal 4 Tugas. penghormatan dan perlindungan lembaga adat adalah untuk meningkatkan peranan lembaga adat dalam mengembangkan nilai-nilai adat istiadat. BAB II MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2 (1) Maksud dilakukan pengakuan. hukum adat. TUGAS. BAB III KEDUDUKAN. Perlindungan adalah suatu upaya hukum yeng dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau terhadap lembaga adat dari tindakan yang dapat mengancam keutuhan lembaga adat beserta hak adatnya.

126 . b. Melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen. mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. Bagian Kedua Pasal 6 Kewajiban Lembaga Adat mempunyai kewajiban antara lain: a. Mendapat pengakuan dan perlindungan dari Pemerintah Daerah. BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Pertama Pasal 5 Hak Lembaga Adat berhak: a. c. b. Mengatur. BAB V PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN LEMBAGA ADAT Pasal 7 (1) Lembaga Adat yang diakui dan dilindungi adalah lembaga adat yang hidup dan berkembang dalam masyarakat hukum adat berdasarkan asal-usul dan diakui keberadaannya oleh masyarakat hukum adat di mana lembaga adat tersebut menjalankan tugas dan fungsinya.(2) Dalam menjalankan tugas dan fungsinya lembaga adat dikontrol oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Berperan serta dalam menciptakan susasana aman dan tenteram dalam kehidupan bermasyarakat. Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. berbangsa dan bernegara dengan menjalankan tugas dan fungsi secara benar.

adat istiadat...(2) Pengakuan terhadap Lembaga Adat mencakup hal-hal yang berhubungan dengan kelangsungan hidup lembaga adat itu sendiri seperti wilayah adat...... hukum adat dan hak adatnya..2006 Bupati Sanggau YANSEN AKUN EFFENDY 127 ... (3) Pemerintah Daerah wajib memberi perlindungan kepada Lembaga Adat dari tindakan dan ancaman yang dapat membahayakan keutuhannya...... BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 8 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini. masyarakat hukum adat.. Pasal 9 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan Agar setiap orang dapat mengetahuinya. sepanjang mengenai pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati...... Ditetapkan di : Sanggau Pada tanggal : .. (4) Perlindungan dapat juga berupa jaminan kepastian hukum dalam menjalankan tugas dan fungsinya.... memerintahkan pengundangan Praturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembar Daerah Kabupaten Sanggau..

128 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.