MANUAL PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH

BERBASIS HAK ASASI MANUSIA

BAGIAN HUKUM DAN HAM
SETDA KABUPATEN SANGGAU,
KALIMANTAN BARAT 2011

Manual Penyusunan Peraturan Daerah Berbasis Hak Asasi Manusia

Penyusun : Marina Rona, Yulia Theresia, Laurianus Yoka, Mutmainnah, Ervansius Hendra Gomesdy, Dwi Yuliani, Ariyanto, Henny Lorryda Yuliana, Feri Budi Jayanto, Syafrinal, Bambang Sugiharto Editor : Melia Karyati Wahyu Wagiman Desain/layout : Alang-alang Cetakan I : Oktober, 2011 Penerbit Bagian Hukum dan HAM Setda Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Kata Sambutan Bupati Kabupaten Sanggau

Assalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh... Penyusunan dan penerbitan buku MANUAL PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH BERBASIS HAK ASASI MANUSIA ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau dengan Pontianak Institute (PI) dan Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat (ELSAM) melalui Program Penyusunan Peraturan Daerah Berbasis Hak Asasi Manusia yang telah dimulai sejak 2010 lalu. Dalam rangka pelaksanaan kerjasama tersebut maka dibentuklah Tim Penyusun yang anggotanya terdiri atas perwakilan: Bagian Hukum & HAM Pemkab. Sanggau, Sekretariat DPRD, Sekretariat Daerah, DinSosNaKerTrans, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan & Aset Daerah (DP2KAD), Bappeda, Dinas Pendidikan Pemuda & Olahraga, Dinas Kesehatan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Kehutanan & Perkebunan, bersama-sama dengan PI dan ELSAM. Secara keseluruhan, buku manual ini berisikan panduan/pedoman bagi para SKPD ataupun legal drafter seluruh instansi yang ada di Kabupaten Sanggau dalam menyusun/merancang Peraturan Daerah di tingkat lokal. Buku Manual ini dilengkapi dengan prinsip dan norma penyusunan Peraturan Daerah yang mengintegrasikan Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan Jender ke dalamnya. Harapannya adalah akan ada perbaikan kondisi penikmatan dan penghormatan Hak Asasi

Ucapan terima kasih tak lupa kami haturkan kepada seluruh anggota Tim Penyusun yang telah bekerja keras dalam menyelesaikan penulisan buku manual ini. sehingga dapat menghasilkan Peraturan Daerah yang menghormati tinggi prinsip dan nilai Hak Asasi Manusia demi terciptanya kehidupan yang lebih bermartabat di Kabupaten Sanggau. Setiman H. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan. H. karena ini merupakan komitmen politik yang tulus dari Pemerintah Kabupten Sanggau akan peningkatan pemajuan hak asasi manusia di Kabupaten Sanggau. Publikasi ini dimungkinkan atas dukungan dari PI dan ELSAM yang telah mendukung penyusunan buku manual ini. Sanggau. Sudin iv . kami mengharapkan buku manual ini bisa memberikan kontribusi yang positif dalam pembangunan yang berkelanjutan dengan berbasis Tata Kelola Pemerintahan yang semakin baik ke depannya.Manusia di Kabupaten Sanggau. Terima kasih juga yang sebesar-sebesarnya kepada Kepala Dinas terkait yang telah memberikan kesempatan dan izin bagi para stafnya untuk terlibat langsung dalam penyusunan buku manual ini. Wassalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Kami berharap buku manual ini dapat menjadi pedoman dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya. 1 Oktober 2011 BUPATI KABUPATEN SANGGAU Ir.

......................................................................................... 9-10 4 Demokrasi........................ 16-18 B Kesetaraan Jender ....... 55 E Berpartisipasi Dalam Upaya Internasional ............... v Bab I Pendahuluan ......................DAFTAR ISI Kata Sambutan Bupati Kabupaten Sanggau ...................................................................................................................................... 21 2 Dasar Hukum dan Tanggungjawab Pemda..........iii Daftar Isi ............................. Kesetaraan Jender ke Dalam Peraturan Daerah peraturan daerah A Hak Asasi Manusia .. 52-53 C Menciptakan dan Dukungan Infrastruktur Kelembagaan ....................................................... 8-9 3 Hak Asasi Manusia dan Kedaulatan Negara ............ 26-27 5 Proses dan Tahapan Penyusunan Peraturan Daerah ......................................................................................................................................... HAM dan Parlementer.......... 51 B Memastikan Pelaksanaan Nasional ............................. 21 1 Definisi ................................................................................................. 53-55 D Mobilisasi Opini Publik........................................................... 10-11 5 Kewajiban Negara ................ 27-32 6 Sistematika Penyusunan Peraturan Daerah ................................................................ 5-7 2 Prinsip-Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia ........................ 44-48 C Partisipasi Publik ............................................................. 32-44 B Naskah Akademik ... 1-5 Bab II Integrasi Hak Asasi Manusia.................................. 13-16 7 Bolehkah Pemerintah Membatasi Hak Asasi Manusia ............... 11-13 6 Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional .......... 56 ............................................ 19 Bab III Penyusunan Peraturan Daerah A Peraturan Daerah .. 5 1 Definisi ................................................... Fungsi dan Hierarki Peraturan Daerah ....................................24-26 4 Asas-Asas Pembentukan Peraturan Daerah ...........21-24 3 Kedudukan............................. 49-50 Bab IV Peran Parlemen Dalam Perlindungan dan Promosi Hak Asasi Manusia A Meratifikasi Perjanjian Hak Asasi Manusia .......................................................................................................

................................................ 109-116 Rancangan Peraturan Daerah Lembaga Adat Kabupaten Sanggau ............................................................................................. 60 Profil Tim Penyusun ...................................................................... 61-63 Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 tahun 2006 Tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah ....... 106-108 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 tahun 2006 Tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah ........ 57-59 Profil Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau ....................... 117-123 vi .Daftar Pustaka .........................................................................

akan ada perbaikan kondisi penikmatan dan penghormatan Hak Asasi Manusia di Kabupat- . Buku Manual ini dilengkapi dengan prinsip dan norma penyusunan Peraturan Daerah yang mengintegrasikan Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan Jender ke dalamnya. Perubahan Undang-Undang Pemerintahan Daerah menjadi UndangUndang No. Hal ini disebabkan. seperti kemiskinan. karena Undang-Undang ini diatur secara rinci apa yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. baik Perda provinsi maupun perda kabupaten/kota. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. pengabaian hak-hak minoritas. Buku manual ini berisikan panduan/pedoman bagi para SKPD ataupun legal drafter seluruh instansi yang ada di Kabupaten Sanggau dalam menyusun/merancang Peraturan Daerah di tingkat lokal. pengangguran. Adanya wewenang untuk membuat Perda sendiri merupakan harapan baru karena pemerintah di tingkat lokal dapat memberdayakan daerah dalam mengatasi persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat. Harapannya adalah. kehadiran perda diharapkan dapat memberikan ruang perlindungan yang lebih tepat dan mudah diakses oleh masyarakat di daerah tersebut. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga memberikan perubahan signifikan terhadap pembentukan Perda. ribuan peraturan daerah lahir. perdagangan perempuan-anak. Urusan yang menjadi kewenangan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah No. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Pengaturan ini bahkan membagi pula kewenangan pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Dengan asumsi ini.Pasca diundangkannya UU Pemerintahan Daerah. Harapan ini muncul dikaitkan dengan sejumlah asumsi diantaranya adalah daerah lebih mengetahui konteks lokal baik sosial maupun budaya dan juga kebutuhan dasar masyarakatnya. Pemerintahan Daerah Provinsi. dan sebagainya.

viii . Buku manual ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya.en Sanggau. sehingga dapat menghasilkan Peraturan Daerah yang menghormati tinggi prinsip dan nilai Hak Asasi Manusia demi terciptanya kehidupan yang lebih bermartabat di Kabupaten Sanggau. karena ini merupakan komitmen politik yang tulus dari Pemerintah Kabupten Sanggau akan peningkatan pemajuan Hak Asasi Manusia di Kabupaten Sanggau.

. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga memberikan perubahan signifikan terhadap pembentukan Peraturan Daerah. Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah No. Pemerintah daerah diberikan kewenangan yang cukup besar untuk menyelenggarakan pemerintahan di tingkat lokal. ribuan Peraturan Daerah-pun lahir. Pemerintahan Daerah Provinsi. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Pasca diundangkannya UU Pemerintahan Daerah. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. delegasi/mandat dan tidak boleh melampaui kewenangannya. Pemerintahan Daerah membutuhkan instrumen yuridis yang tepat untuk melaksanakan tugas dan kewenangannya. Hal ini disebabkan. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah merupakan momentum perubahan paradigma penyelenggaraan pemerintah daerah dari pola sentralisasi ke desentralisasi. Urusan yang menjadi kewenangan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah No. yang diberikan berdasarkan atribusi. karena di dalam Undang-undang ini diatur secara rinci apa yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Untuk itu.BAB I PENDAHULUAN Lahirnya Undang-undang No. yaitu Peraturan Daerah. baik Peraturan Daerah provinsi maupun Peraturan Daerah kabupaten/kota. Penyusunan suatu peraturan perundang-undangan dalam hal ini peraturan daerah. Perubahan Undang-Undang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang No. Pengaturan ini bahkan membagi pula kewenangan pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. harus memperhatikan secara jelas dari mana sumber kewenangannya.

Selain itu. 2 . 2009. 1 Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia. salah satunya Peraturan Daerah masyarakat adat. Pemerintah Kabupaten Sanggau telah mengeluarkan setidaknya 110 Peraturan Daerah dari 23 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada di kabupaten ini.1 Kabupaten Sanggau yang merupakan salah satu daerah kabupaten di Kalimantan Barat (Kalbar) yang termasuk banyak mengeluarkan Peraturan Daerah dalam rangka mengatur pelaksanaan pemerintahan daerahnya. Sejak 1999 sampai dengan periode 2010. dalam perumusan peraturan perundang-undangan baik di tingkat nasional maupun daerah wajib mempertimbangkan aspek lokal seperti halnya keberadaan Masyarakat Adat. Menilai Tanggung Jawab Sosial Peraturan Daerah. kesetaraan jender. Jakarta. terdapat berbagai Peraturan Daerah yang kontroversi dan bermasalah pada tingkat implementasinya di tengah masyarakat terkait dengan Hak Asasi Manusia. yakni mencapai 6000-an yang diterbitkan oleh 368 kabupaten/kota di Indonesia. Padahal di sisi lain. 41 Tahun 1997 tentang Kehutanan. Negara Indonesia mengakui hak-hak Masyarakat Adat beserta Adat Istiadat melalui UndangUndang No. Peraturan Daerah yang dibatalkan tersebut pada umumnya Peraturan Daerah yang mengatur pajak daerah dan retribusi daerah karena dinilai berpotensi mendistorsi aktifitas perekonomian. hal. Oleh karena itu. Dari jumlah tersebut terdapat pula Peraturan Daerah yang bermasalah di tingkat implementasinya. pencemaran lingkungan dan sebagainya. Negara Indonesia mengakui hak-hak Masyarakat Adat berserta Adat Istiadat. diskriminasi. 3-4. Dari jumlah Peraturan Daerah tersebut.Kewenangan untuk menyusun Peraturan Daerah setelah otonomi daerah membuat jumlah Peraturan Daerah sampai dengan pertengahan 2002 melonjak tinggi. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria dan UndangUndang No. 761 diantaranya dibatalkan dan masih ada 200 Peraturan Daerah yang masih dalam proses review di Kementrian Dalam Negeri.

Situasi ini mengakibatkan meningkatnya tuntutan dari banyak pihak untuk mengintegrasikan hak asasi manusia ke dalam Peraturan Daerah. peran pemerintah daerah dalam memenuhi. dan sebagainya. Harapan ini muncul dikaitkan dengan sejumlah asumsi diantaranya adalah daerah lebih mengetahui konteks lokal baik sosial maupun budaya dan juga kebutuhan dasar masyarakatnya. pendidikan dan kampanye informasi yang paling efektif harus dirancang dan dilaksanakan pada tingkat nasional dan lokal. dengan mempertimbangkan konteks budaya dan tradisi lokal. dan pelaksanaan perlindungan dan pemulihan individu. Oleh karenanya. Oleh karena itu. menghormati dan melindungi hak asasi manusia sangatlah penting2. Pada tingkat nasional. serta pembentukan institusi yang demokratis. tugas praktis untuk melindungi dan memajukan hak asasi manusia adalah terutama tugas nasional dan setiap negara harus bertanggungjawab atasnya. Dengan asumsi ini. Ketika negara-negara meratifikasi 2 Lembar fakta 19 Lembaga Negara untuk memajukan dan melindungi HAM 3 . badan peradilan yang mandiri. hak dapat dilindungi dengan baik melalui peraturan yang cukup. kehadiran Peraturan Daerah diharapkan dapat memberikan ruang perlindungan yang lebih tepat dan mudah diakses oleh masyarakat di daerah tersebut.Adanya wewenang untuk membuat Peraturan Daerah sendiri merupakan harapan baru karena pemerintah di tingkat lokal dapat memberdayakan daerah dalam mengatasi persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat. Selain itu. Bagaimana proses tersebut berjalan? Apa kekurangan dari proses yang ada saat ini? Dinamika politik seperti apa yang muncul selama proses pembentukan tersebut dilakukan sehingga berakhir dengan pembentukan Peraturan Daerah yang kontroversial dan bermasalah dalam implementasinya sampai dengan terindikasi terjadi pelanggaran hak asasi manusia. seperti kemiskinan. pengabaian hak-hak minoritas. pengangguran. Banyaknya Peraturan Daerah yang dibatalkan dan penolakan dari masyarakat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan terhadap proses pembentukan Peraturan Daerah. perdagangan perempuan-anak.

UUD 1945 Amandemen ke-2.suatu instrumen hak asasi manusia.40/2008 tentang Penghapusan Segala Diskriminasi Rasial. UU No. Saat ini standar hak asasi manusia dan norma-norma universal tercermin dalam hukum domestik dari hampir seluruh Negara. 3. UU No. UU No. paling tidak ada tiga produk perundang-undangan yang memberikan mandat kepada pemerintah untuk segera memperbaiki kondisi penikmatan hak asasi manusia: 1.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 22 huruf (a) sampai dengan (o). 4.39/1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 71 dan 72. Bentuk 4 . Dalam konteks nasional. 2. khususnya Pasal 6 dan 7. mereka memasukkan ketentuanketentuan instrumen hak asasi manusia itu ke dalam peraturan domestiknya secara langsung atau menggunakan cara-cara lain sesuai dengan kewajiban yang terdapat di dalam instrumen hak asasi manusia tersebut. terutama pasal 28I ayat (5).

Pasal 1 Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) menyatakan : “All human beings are born free and equal in dignity and rights”. fundamental dan penting. (c) Satu-satunya sistem nilai yang diakui secara universal dalam hukum internasional saat ini dan terdiri dari elemen . (b) Hak-hak sipil. budaya dan kolektif yang tertuang dalam berbagai instrumen HAM internasional dan regional serta dalam undang-undang dasar setiap negara. sosial. Definisi Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap pribadi manusia secara kodrati sebagai anugerah dari Tuhan. ekonomi. Hak asasi tidak dapat dicabut oleh suatu kekuasaan atau oleh sebab-sebab lainnya. karena jika hal itu terjadi maka manusia kehilangan martabat yang sebenarnya menjadi inti nilai kemanusiaan. kesetaraan dan rasa hormat pada martabat manusia. mencakup hak hidup. Hak asasi manusia (HAM) adalah hak-hak yang dipunyai oleh semua orang sesuai dengan kondisi yang manusiawi. KESETARAAN JENDER KE DALAM PERATURAN DAERAH A. Hak asasi manusia ini selalu dipandang sebagai sesuatu yang mendasar. Hak Asasi Manusia 1. Hak asasi manusia melalui pendekatan-pendekatan Deskriptif. Ini berarti bahwa sebagai anugerah dari Tuhan kepada makhluknya. Hukum dan Filosofis : (a) Hak-hak dasar. hak kemerdekaan/kebebasan dan hak memiliki sesuatu.BAB II INTEGRASI HAK ASASI MANUSIA. yang memberdayakan manusia untuk membentuk kehidupan mereka sesuai dengan kemerdekaan. hak asasi tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri.

Hak asasi manusia berlaku setara untuk hak-hak individu maupun kolektif. Beberapa hak pribadi. partisipasi populer. keadilan sosial. betul-betul merupakan hak pribadi. berkuasanya hukum (rule of law) dan good governance.liberalisme. untuk sebagian besar hak asasi manusia. seperti larangan penyiksaan dan perbudakan. sedangkan hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri adalah murni hak kolektif. Akan tetapi. Contohnya. perkumpulanperkumpulan keagamaan yang menikmati kebebasan beragama atau partai-partai politik yang menikmati kebebasan berserikat. demokrasi. karena kurang tepat jika mengartikan hak asasi manusia sebagai hak individu saja. 6 . ada hak-hak individual dan kolektif yang perlu dinyatakan dengan tegas. kebebasan berekspresi dan lain sebagainya.

etnis. Sosial dan Budaya a) Hak untuk bekerja b) Hak untuk kondisi kerja yang adil dan menguntungkan c) Hak untuk membentuk dan bergabung dengan serikat buruh d) Hak atas jaminan sosial e) Perlindungan keluarga f) Hak atas standar hidup yang layak. tidak manusiawi atau perlakuan merendahkan atau hukuman c) Kebebasan dari perbudakan. rasial atau agama n) Kebebasan berserikat o) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga p) Hak untuk mengambil bagian dalam urusan publik. penghambaan dan kerja paksa d) Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi e) Hak orang yang ditahan harus diperlakukan dengan kemanusiaan f) Kebebasan bergerak g) Hak atas pengadilan yang adil h) Larangan hukum pidana yang berlaku surut i) Hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum j) Hak atas privasi k) Kebebasan berpikir. agama dan bahasa minoritas b) Hak-hak masyarakat adat 7 . Hak-hak kolektif lainnya: a) Hak berkebangsaan.Box 1 Contoh Hak Asasi Manusia : Kebebasan. dipilih dan memiliki akses untuk jabatan publik q) Hak untuk kesetaraan dan non-diksriminasi di hadapan hukum Dalam bidang hak-hak Ekonomi. termasuk cukup makanan. memilih. pakaian dan perumahan g) Hak atas kesehatan h) Hak atas pendidikan Dalam bidang hak-hak kolektif 1. hati nurani dan agama l) Kebebasan berpendapat dan berekspresi m) Larangan propaganda perang dan hasutan untuk kebencian nasional. Hak dan Larangan yang berkaitan dengan Hak Asasi Manusia Di Bidang Hak-Hak Sipil dan Politik a) Hak untuk hidup b) Kebebasan dari penyiksaan dan kejam. Hak masyarakat untuk: a) Penentuan nasib sendiri b) Pengembangan c) Bebas memanfaatkan kekayaan dan sumber daya alam d) Peraturan daerahmaian e) Lingkungan yang sehat 2.

Hak dipilih untuk jabatan publik berarti akses ke dasar pendidikan.2. orientasi seksual. Sebagai contoh. hak untuk hidup mengandaikan penghormatan terhadap hak untuk pangan dan standar hidup yang layak. warna kulit. Membela 8 . seperti dibawah ini : a) Universal (Universality) Hak asasi manusia adalah universal karena mereka didasarkan pada martabat setiap manusia. jenis kelamin. hak seseorang untuk kebebasan mungkin dibatasi jika ia ditemukan bersalah atas kejahatan oleh pengadilan hukum. kecacatan. selama di bawah hukum yang jelas. Prinsip-Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia Sebagai salah satu wujud diadopsinya hak asasi manusia ke dalam Peraturan Daerah. melanggar salah satu hak tersebut mempengaruhi pelaksanaan dari hak manusia lainnya. c) Tak terpisahkan dan saling ketergantungan (Indivisible and interdependent) Hak asasi manusia adalah tak terpisahkan dan saling tergantung karena setiap hak asasi manusia memerlukan dan tergantung pada hak asasi manusia lainnya. usia. asal-usul etnis atau sosial. b) Tidak dapat dipindahtangankan (Inalienable) Hak asasi manusia adalah mutlak sejauh haknya tidak dilepaskan. Hal ini karena mereka diterima oleh semua negara dan masyarakat. kewarganegaraan. bahasa. agama. maka Peraturan Daerah yang berperspektif hak asasi manusia harus mengadopsi nilai atau prinsip dasar hak asasi manusia. tidak peduli ras. Sebagai contoh. atau karakteristik yang membedakan lainnya. mereka berlaku dan tanpa pandang bulu untuk setiap orang dan adalah sama bagi semua orang di mana-mana.

diskriminatif kriteria yang digunakan oleh Negara dan aktor non-Negara mencegah kelompok-kelompok tertentu dari sepenuhnya menikmati semua atau sebagian hak asasi manusia yang didasarkan pada karakteristik. negara dan masyarakat internasional lainnya dicegah dari campur tangan. cacat. karena itu penting bagi hak asasi manusia. kelahiran. usia. Bahwa pendekatan. seperti genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. termasuk jenis kelamin. orientasi seksual dan status sosial atau lainnya. agama. kebangsaan. berkumpul dan berserikat. hak-hak sosial dan budaya saling melengkapi dan sama-sama penting untuk martabat dan integritas setiap orang. Lebih sering daripada tidak. HAM dan Kedaulatan Negara Di masa lalu. warna kulit. berdasarkan kedaulatan nasional. bahasa. politik atau pendapat lainnya. hak milik. Dengan demikian. ras.hak-hak ekonomi dan sosial mengandaikan kebebasan berekspresi. keanggotaan nasional minoritas. hak-hak sipil dan politik dan ekonomi. secara eksplisit diatur dalam perjanjian internasional dan regional hak asasi manusia. Hak untuk kesetaraan mewajibkan Negara untuk menjamin ketaatan terhadap hak asasi manusia tanpa diskriminasi atas alasan apapun. 9 . 3. ketika hak asasi manusia masih dianggap sebagai urusan internal suatu negara. Menghormati semua hak merupakan prasyarat bagi peraturan perdamaian berkelanjutan dan pembangunan. d) Non-Diskriminasi (Non-Dicrimination) Beberapa pelanggaran hak asasi manusia terburuk telah dihasilkan dari diskriminasi terhadap kelompok tertentu. bahkan di sebagian besar kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia serius. Hak untuk kesetaraan dan prinsip non-diskriminasi. asal-usul etnis atau sosial.

Hak untuk partisipasi dalam pelaksanaan urusan publik diabadikan dalam Pasal 21 dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Pasal 25 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP). Dalam Deklarasi. tetapi juga. sesuai dengan prinsip proporsionalitas. keterkaitan antara demokrasi dan hak asasi manusia dipelajari secara ekstensif. Namun. terutama oleh tindakan Nazi Jerman dan kekejaman yang dilakukan selama Perang Dunia Kedua. demokrasi dan hak asasi manusia sangat erat terkait untuk dianggap tak terpisahkan. Demokrasi didasarkan pada gagasan bahwa semua warga negara sama-sama berhak untuk memiliki suara dalam keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. promosi hak-hak asasi manusia dan perlindungan dianggap sebagai keprihatinan yang sah dan tanggungjawab masyarakat internasional. Demokrasi tidak lagi dianggap hanya sebagai satu perangkat aturan prosedural untuk konstitusi dan pelaksanaan kekuasaan politik.tertantang pada abad kedua puluh. perbedaan antara kewajiban hukum universal dan kedaulatan negara dapat diselesaikan hanya berdasarkan kasus per kasus. Hari ini. diadopsi pada tahun 1997. Namun. Pada tahun 1995. bersama dengan hak asasi manusia. HAM dan Parlementer Dalam dekade terakhir. Demokrasi. agar warga negara bisa 10 . sebagai suatu cara untuk melestarikan dan mempromosikan martabat manusia. Uni Antar-Parlemen memulai proses penyusunan Deklarasi Universal Demokrasi untuk memajukan standar internasional dan memberikan kontribusi untuk demokratisasi yang sedang berlangsung di seluruh dunia. Prinsip mana menurut setiap tindakan yang diambil oleh otoritas sesuai dengan konsep universalitas tidak boleh melampaui apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan sesuai dengan hak asasi manusia. 4.

parlemen menetapkan kerangka hukum yang menjamin independensi peradilan dan. melindungi dan memenuhi. untuk rakyat dan oleh rakyat.efektif menggunakan hak itu. 5. Selain itu. Sebaliknya negara diasumsikan memiliki kewajiban positif untuk melindungi secara aktif dan memastikan terpenuhinya hak-hak dan kebebasan-kebebasan tersebut3. “kewajiban untuk menghormati” Negara memiliki “kewajiban untuk menghormati” obligation to respect) berarti bahwa Negara berkewajiban untuk menahan diri untuk tidak melakukan intervensi. yaitu tugas untuk menghormati. Kewajiban ini mengandung larangan 3 Hukum Hak Asasi Manusia. sebuah landasan demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia. 2008 11 . oleh karena itu. Rhona K. berkumpul dan berserikat. mereka terlebih dahulu harus menikmati hak lain seperti kebebasan berekspresi. suatu negara tidak boleh secara sengaja mengabaikan hak-hak dan kebebasan-kebebasan manusia. bebas dan adil untuk memastikan pemerintah rakyat. Dalam kaitan ini. Sebagai badan yang kompeten untuk mengatur dan menjaga kebijakan dan tindakan eksekutif di bawah pengawasan konstan. dan hak-hak ekonomi dan sosial dasar. PUSHAM UII. namun berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional. Parlemen merupakan Badan berdaulat didirikan melalui pemilu biasa. aturan hukum. kecuali atas hukum yang sah (legitimate). karena lembaga ini merupakan kunci dalam demokrasi. Kewajiban Negara Meskipun pada prinsipnya hak asasi manusia dapat dilanggar oleh setiap orang atau kelompok. Smith dkk. parlemen juga memainkan peran kunci dalam promosi dan perlindungan hak asasi manusia. Apalagi setelah Negara tersebut meratifikasi atau menjadi pihak pada perjanjian internasional hak asasi manusia. paling tidak Negara memiliki tiga kewajiban utama.M.

berkenaan dengan hak untuk pendidikan. Kewajiban negara untuk menghormati adalah kewajiban paling dasar. Negara memiliki wewenang yang luas sehubungan dengan kewajiban ini. 12 . Adalah kewajiban negara untuk mengambil langkah-langkah legislatif. “kewajiban untuk memenuhi” “Kewajiban untuk memenuhi”. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengambil tindakan positif . Sebagai contoh. itu berarti bahwa Pemerintah harus menghormati kebebasan orang tua untuk mendirikan sekolah-sekolah swasta dan untuk memastikan bahwa pendidikan agama dan moral anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri.tindakan tertentu yang dapat merusak penikmatan hak.untuk mengurangi kejadian kekerasan dalam rumah tangga. termasuk orangtua dan keluarga. namun juga terhadap pelanggaran atau tindakan yang dilakukan oleh entitas atau pihak lain (non-negara) yang akan mengganggu perlindungan hak asasi manusia. agama. atau oleh orang tua terhadap anak-anak mereka. hak atas integritas pribadi dan keamanan mewajibkan Negara untuk memerangi fenomena meluasnya kekerasan domestik terhadap perempuan dan anak-anak. Negara-negara diminta untuk mengambil tindakan positif untuk memastikan bahwa hak asasi manusia dapat dilaksanakan. administratif. yang mungkin Negara bertanggung jawab. Misalnya. merupakan pelanggaran hak asasi manusia. sekte. “kewajiban untuk melindungi” Negara memiliki kewajiban untuk melindungi hak bukan hanya terhadap pelanggaran yang dilakukan negara. Walaupun tidak setiap tindakan kekerasan dilakukan oleh suami terhadap istrinya. hak anak-anak atas pendidikan harus dilindungi oleh negara dari gangguan dan indoktrinasi oleh pihak ketiga. marga dan perusahaan bisnis. Contoh. guru dan sekolah.

deklarasi tersebut dengan lantangnya telah mencanangkan pernyataan internasional yang diharapkan dapat berdampak luas. Prof.php?id=263&lang=in&act=view&cat=c/603. dan praktis. Bahan Bacaan Kursus Hak Asasi Manusia. 13 . melainkan diangkat pada tataran internasional. dan terwujud dalam rumusan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (1945) dan Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia (1948).elsam. perjuangan penegakan hak-hak asasi manusia tidak lagi berlangsung dalam tataran nasional di lingkungan negeri-negeri dan negara-negara Barat saja.yudisial. 4 Hak Asasi Manusia Konsep Dasar dan Perkembangan Pengertiannya Dari Masa Ke Masa.or. misalnya. 6. Sehubungan dengan hak atas pendidikan. pelatihan kejuruan. pendidikan tinggi. Tak diragukan lagi. http://www. Negara harus memberikan cara dan sarana untuk pendidikan dasar gratis dan wajib untuk semua. Soetandyo Wignjosoebroto. Substansi deklarasi itu tetap saja. Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional (a) Deklarasi Universal HAM (DUHAM) Pasca Perang Dunia II. dan yang karena asasinya itu tak lalu boleh dicabut atau dialihserahkan kepada siapapun yang berkekuasaan (inalienable) serta tak pula mungkin digugat-gugat keabsahannya (inviolable)4. pendidikan orang dewasa.id/ new/index. pendidikan menengah gratis. dan penghapusan buta huruf (termasuk langkah-langkah seperti mendirikan sekolah umum yang cukup atau menyewa dan menyediakan cukup banyak guru). di tengah kehidupan yang jelas-jelas sudah berubah dan berkembang ke arah formatnya yang baru sebagai suatu world system. yang perlu untuk menjamin pelaksanaan hak asasi manusia. ialah pengakuan atas martabat dan hak yang melekat pada siapapun yang tergolong ke dalam bilangan umat manusia. Itulah martabat dan hak-hak manusia yang sungguh asasi.

Termasuk dalam hak asasi yang dicantumkan dalam pasal-pasal ini antara lain hak-hak untuk tidak diperbudak. Termasuk dalam hak-hak 5 Loc Cit 14 . deklarasi kali ini bukanlah deklarasi suatu bangsa atau suatu negara bangsa tertentu.dimajukannya penghormatan kepada hak dan kebebasan (manusia)”5. dikumandangkan melalui suatu kesepakatan antarbangsa. untuk tidak mengalami penganiayaan dan perlakuan atau hukuman yang keji dan merendahkan martabat manusia. Deklarasi kali ini. dengan tujuan agar setiap individu dan organ masyarakat … mengupayakan -. yang dikatakan “sebagai standar umum … semua bangsa dan semua negara.Pada tanggal 10 Desember 1948.melalui pengajaran dan pendidikan -. dimulai dengan pasal 22 sampai ke pasal 27 mengemukakan pengakuan atas hak-hak asasi manusia dalam kehidupan ekonomi. Berbeda dengan deklarasi-deklarasi serupa yang ada sebelumnya. dengan sebuah resolusi bernomor 217A(III) suatu deklarasi diproklamasikan oleh suatu organisasi antarbangsa yang telah dibentuk seusai selesainya perang Dunia II. Pasal-pasal berikutnya. ialah The Universal Declaration on Human Rights (yang di dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan “Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia”). Deklarasi itu mensenaraikan dalam pasal-pasalnya sejumlah hak-hak manusia yang asasi. yang pada dasarnya mencanangkan pengakuan secara umum tentang pentingnya hak-hak itu dihormati dan ditegakkan. Deklarasi yang berjumlah 31 Pasal ini mencantumkan pengakuan hak-hak sipil dan hak politik dalam pasalpasalnya yang ke-3 sampai ke yang 21. ialah Perserikatan BangsaBangsa (United Nations). sosial dan budaya. dan pula untuk mendapatkan peradilan yang terbuka dan independen serta tidak berpihak.

Negara Indonesia meratifikasi konvensi melalui Undang-Undang No. dengan dua Kovenan. ratifikasi dan aksesi. diratifikasi Indonesia melalui UU No. berlakunya pada tahun 1981). seperangkat instrumen biasanya dilihat sebagai perjanjian hak asasi manusia utama.instrumen hak asasi manusia tersebut : a. dan terbuka untuk penandatangan. ratifikasi. dan pula untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya masyaraka (b) Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia telah dilengkapi dengan sejumlah instrumen spesifik yang mengikat. Beberapa perjanjian berada di bawah pengawasan badan-badan pemantauan. Terbuka untuk penandatangan. untuk memperoleh pendapatan yang sama atas pekerjaan yang sama. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW. c. 11 tahun 2005. untuk memperoleh stanadar kehidupan yang layak. berlakunya pada tahun 1969).kategori kedua ini antara lain hak-hak untuk bekerja. Sosial dan Budaya Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966. diratifikasi Indonesia melalui UU No. 29 Tahun 1999. Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. adopsi pada tahun 1979. Negara Indonesia 15 . Dibawah ini instrumen. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) Tertanggal 16 Desember 1966. b. d. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (CERD. Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi. untuk memperoleh jaminan kesehatan dan layanan pendidikan. 12 tahun 2005. dan aksesi. adopsi pada tahun 1965.

Sehingga terdapat pembatasan dan larangan dalam pelaksanaan perlindungan hak asasi manusia. 5 Tahun 1998. Bolehkah Pemerintah Membatasi Hak Asasi Manusia? Perlindungan dan penegakan hak asasi manusia merupakan kewajiban semua pihak. Konvensi Menentang Penyiksaan yang Kejam. adopsi pada tahun 1989. tetapi berbicara pula mengenai kewajiban. atau CMW. 7. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (yang dikenal sebagai Konvensi Pekerja Migran. berlakunya pada tahun 1990). Negara Indonesia meratifikasi konvensi melalui Undang-Undang No. f. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Hukuman (CAT. adopsi pada tahun 1990. dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. berlakunya pada tahun 2003).meratifikasi konvensi melalui Undang-Undang No. Negara Indonesia meratifikasi konvensi melalui UndangUndang No. 7 Tahun 1984. 36 Tahun 1990. Setiap hak asasi manusia seseorang akan menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik. Pembatasan yang ditetapkan melalui undang undang dimaksudkan untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain. yaitu kewajiban untuk saling menghormati dan menghargai hak asasi manusia orang lain. negara dan warga negaranya. Hak asasi manusia tidak hanya berbicara mengenai hak. adopsi pada tahun 1984. berlakunya pada tahun 1987). e. Konvensi tentang Hak-hak Anak (CRC. ketertiban umum dan 16 . g. keamanan.

Derogasi atau pembatasan HAM adalah salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. walaupun dalam keadaan darurat sekalipun. Hak-hak dalam jenis derogable. dan berhak atas kebebasan berpikir. termasuk membentuk dan menjadi anggota serikat buruh. Hak-hak yang sama sekali tidak bisa dikurangi antara lain meliputi hak untuk hidup. Dalam hal ini negara harus memenuhi situasi dan persyaratan hukum khusus dan tidak mudah sebelum melakukan derogasi 6 7 Hukum Hak Asasi Manusia.M. dan (iii) hak atas kebebasan menyatakan pendapat atau berekpresi. Dalam kamus hukum hak asasi manusia dikenal dua jenis hak. (ii) hak atas kebebasan berserikat. termasuk kebebasan mencari. pembatasan hak asasi manusia harus ditempatkan dalam rangka implementasi konsep tanggung jawab negara yang melekat dalam derogasi hak asasi manusia. 2008 Derogasi dan HAM. yakni hak asasi manusia yang bisa dikurangi (derogable rights) dan yang sama sekali tidak bisa dikurangi (non-derogable rights)7. menerima dan memberikan informasi dan segala macam gagasan tanpa memperhatikan batas (baik melalui lisan atau tulisan). hak untuk tidak dipenjara hanya atas dasar ketidakmampuannya memenuhi kewajiban yang muncul dari perjanjian. Kompas. Hak dan kebebasan yang termasuk dalam jenis ini adalah: (i) hak atas kebebasan berkumpul secara damai. hak untuk bebas dari perbudakan dan perdagangan budak.kepentingan bangsa6. hak untuk tidak disiksa. yakni hak-hak yang boleh dikurangi atau dibatasi pemenuhannya oleh negaranegara pihak. dan beragama. Smith dkk. Rhona K. R Herlambang Perdana. PUSHAM UII. 18 Oktober 2007 17 . keyakinan. Hak-hak non-derogable yaitu hak-hak yang bersifat absolut dan tidak boleh dikurangi pemenuhannya oleh negara-negara pihak. Meski demikian.

itu, seperti standar Pasal 4 Ayat (1) dan (3) Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik, yaitu : a. pembatasan hanya bisa dilakukan bila dalam keadaan darurat mengancam kehidupan bangsa dan keberadaannya; b. Kepala Negara secara resmi harus mengumumkan kepada publik tentang keadaan bahaya. Dalam konsep hukum pernyataan bahaya; c. langkah-langkah derogasi itu tidak bertentangan dengan kewajiban lain berdasarkan hukum internasional dan tidak mengandung diskriminasi hanya berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, atau asal-usul sosial; d. Kepala Negara harus segera memberi tahu kepada negara-negara pihak lainnya (yang telah meratifikasi ICCPR) melalui perantaraan Sekretaris Jenderal PBB tentang aneka ketentuan yang dikurangi dan tentang alasan-alasan pemberlakuannya, serta pemberitahuan tentang saat berakhirnya derogasi itu.
Box 2 PEMBATASAN DAN KETERBATASAN HAM Beberapa HAM mutlak : a) Larangan penyiksaan b) Larangan perbudakan c) Pengakuan sebagai seseorang di hadapan hukum d) Kebebasan atas kesadaran Sebagian besar HAM dapat dibatasi dalam situasi tertentu : a) Reservasi berdasarkan hukum internasional b) Pengurangan pelaksanaan hak dalam situasi darurat c) Larangan penyalahgunaan d) Klausul-klausul batasan e) Prinsip proporsionalitas

18

B. Kesetaraan Jender Mengenal kesetaraan jender pada dasarnya telah tercakup dalam perubahan kedua UUD 1945 yang memberikan penegasan akan penghormatan, pemajuan, perlindungan, penegakan, dan pemenuhan oleh Negara akan Hak Asasi Manusia sebagai hak konstituational warga negara. Pada tanggal 24 Juli 1984 Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women (CEDAW) dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1984. oleh karena itu peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kesetaraan jender memuat prinsip-prinsip yang diatur dalam CEDAW. Terkait ketentuan mengenai jender misalnya, seringkali peraturan secara sadar atau tidak memuat ketentuan-ketentuan yang netral jender. Artinya, ketentuan dimaksud tidak mempertimbangkan bahwa dalam kenyataan sosialnya kapasitas dan peluang yang dimiliki oleh kelompok berjenis kelamin tertentu (umumnya perempuan) tidak sama dengan kelompok lainnya (umumnya laki-laki). Sehingga ketika peraturan tersebut dilaksanakan, ketentuan yang netral jender justru melestarikan kondisi yang tidak seimbang antara kelompok perempuan dan laki-laki bahkan mendiskriditkan perempuan. Contohnya, qanun syariat di Nangroe Aceh Darusalam telah menginspirasi banyak daerah di luarnya untuk mengeluarkan Peraturan Daerah syariat yang diskriminatif terhadap perempuan. Pada rentang 1999 s.d 2010 telah lahir 189 kebijakan diskriminatif, 7 di antaranya diterbitkan di tingkat nasional. 80 di antara 189 kebijakan itu secara langsung menyasar kepada perempuan. Sebanyak 21 merupakan kebijakan aturan busana Islam.8

8

Perempuan dalam Perda Syariat, http://jurnalperempuan.com/2011/05/perempuan-dalam-perdasyariat/.

19

20

9 Pasal 136 Undang-Undang No. yang menempatkan langkah-langkah perbaikan kondisi penikmatan hak asasi manusia sebagai agenda reformasi nasional.BAB III PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH A. yang dimaksud dengan “Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/ Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota”. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan. Definisi Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 8 Undang-Undang No. Peraturan Daerah dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah propinsi/kabupaten/kota dan tugas pembantuan serta merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah9. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda). dalam ketentuan Undang-Undang No. PERATURAN DAERAH 1. Melalui amandemen UUD 1945 yang kedua. Kemudian. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . 2. Peraturan Daerah mendapatkan landasan konstitusionalnya di dalam konstitusi yang keberadaannya digunakan untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan (Pasal 18 Ayat (6) UUD 1945). Dasar Hukum dan Tanggungjawab Pemda Pada dasarnya komitmen pemajuan hak asasi manusia Pemerintah Kabupaten Sanggau adalah turunan komitmen nasional bangsa Indonesia di masa reformasi 1998.

Melakukan Pendidikan HAM bagi Aparatur 22 . Meningkatkan upaya-upaya pelestarian lingkungannya Melihat persoalan ekonomi. dan 3.Dan kemudian mendorong lahirnya pelbagai perundangundangan yang memerintahkan pemerintah nasional dan daerah untuk memajukan penikmatan hak asasi manusia di seluruh Indonesia. Apa saja langkahlangkah tersebut? Berikut ini adalah sejumlah langkah yang telah diambil: a. Pembentukan Panitia RANHAM Kabupaten Sanggau b. walaupun ada keterbatasan. sosial. dan budaya yang begitu kompleks. terutama untuk masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan dan terpencil. 2. adalah di tingkat kebijakan. pendidikan. dan jaminan sosial. Di tingkat kebijakan Pemerintah Kabupaten Sanggau telah melakukan sejumlah langkah yakni memproduksi pelbagai Peraturan Daerah yang tujuannya untuk melindungi hak dan kebebasan dasar masyarakat Sanggau. Pertama. Pemerintah Kabupaten Sanggau juga berkomitmen untuk: 1. Meningkatkan akses masyarakat ke berbagai fasilitas dan layanan kesehatan. tidaklah mudah melaksanakan tiga kewajiban dasar hak asasi manusia yang dibebankan hukum nasional kepada Pemerintah Kabupaten Sanggau. Namun demikian. Selain itu. Kedua. Pemerintah Kabupaten Sanggau juga melakukan langkah-langkah untuk memastikan bahwa kewajiban memenuhi telah dilaksanakan. Meningkatkan kualitas pemerintahan yang bersih dan baik. setidak-tidaknya ada sejumlah langkah yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sanggau terkait dengan mandat tiga kewajiban dasar tersebut.

Meningkatkan proses upgrading pengetahuan dan pemahaman hak asasi manusia di lingkup aparat pemerintah. Pelatihan dan pendidikan tentunya akan diupayakan mampu menjangkau seluruh pejabat dan 23 . Di tengah keterbatasan sumberdaya dan anggaran. pemahaman. dari tingkat kabupaten hingga desa. Melakukan kerjasama penyuluhan hukum bagi masyarakat e. Sanggau Dari rencana dan langkah yang telah dilaksanakan oleh Pemda Sanggau tersebut. Pemerintah Kabupaten Sanggau memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas kebijakan daerah di masa mendatang. yakni dengan mencoba mengintegrasikan prinsip dan standar norma hukum hak asasi manusia nasional ke dalam kebijakan daerah. Sehingga dalam pelaksanaannya belum sepenuhnya mengacu pada prinsip dan standar hukum hak asasi manusia nasional dan internasional. termasuk melakukan penguatan-penguatan atas sejumlah Peraturan Daerah yang ada. ketimbang memberikan tekanan yang sama pada program-program penguatan pengetahuan. Program-program di atas dijalankan oleh Pemkab secara mandiri tanpa proses asistensi yang memadai dari Pemerintah Pusat. yakni semua hasil-hasil dari program pemenuhan hak asasi manusia di atas dijalankan dengan anggaran yang sangat-sangat terbatas. ada beberapa hal yang menjadi kendala implementasinya. Meng-anggarkan dana untuk Kegiatan RANHAM hingga tahun 2007 d.c. Melakukan Sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Kab. dan keahlian hak asasi manusia aparatur pemerintah. sehingga bisa selaras dan sejalan dengan prinsip dan norma hukum hak asasi manusia. sehingga harus dipahami jika kebanyakan program lebih diprioritaskan pada inisiatif pembuatan peraturan daerah.

Sebagai alat tranformasi daerah untuk mengubah institusi dan perilaku bermasalah dari obyek yang coba diaturnya. e. d. Saat ini. yaitu : a. b. c. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan.pegawai negeri sipil sehingga memudahkan mereka untuk menjalankan kewajiban menghormati. Peraturan Daerah mempunyai berbagai fungsi. yakni: 24 . dan memenuhi hak asasi manusia masyarakat Sanggau. Fungsi dan Hierarkhi Peraturan Daerah Peraturan Daerah merupakan salahsatu jenis Peraturan Perundang-undangan dan merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. Sebagai harmonisator ataupun produk dari berbagai kepentingan. Sebagai pelaksana peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 3. Peraturan Darah mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena diberikan landasan konstitusional yang jelas sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 18 ayat (6) yang menyatakan Pemerintahan daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. Kedudukan. melindungi. sebagaimana di atur dalam Undang-Undang No. dan. Sebagai alat penangkap dan penyalur aspirasi masyarakat daerah. UUD 1945 sebagai hukum dasar dalam peraturan perundangundangan. Ada beberapa kaidah hukum yang harus diketahui sebagai langkah penyusunan suatu perundang-undangan. Sebagai instrumen hukum adalah alat untuk melaksanakan kebijakan daerah dalam melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan.

Lex Superiori Derogat Legi Inferiori (dalam hal mengatur suatu yang sama. motif dan tujuan yang sah. b. materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undang berisi 11: a. Undang-Undang No. peraturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan yang lebih tinggi. Kepentingan umum. 10 Pasal 7 ayat (2) UU No. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Demikian juga dengan asas peraturan perundang-undangan yang harus diketahui pembentuk undang-undang. sebagai berikut. pengesahan perjanjian internasional tertentu. Demikian juga dengan kekuatan hukum peraturan perundang-undangan tersebut yang disesuaikan dengan hierarkinya10. peraturan yang lebih baru akan mengalahkan peraturan yang lebih lama) Lex Specialis derogate Legi Generalis ( Dalam hal mengatur hal yang sama. setiap jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan muatan materinya berbeda satu sama lain. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 11 Pasal 10 ayat (1) UU No. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 25 . Sehingga. peraturan yang lebih khusus akan mengalahkan peraturan yang lebih umum). kepastian hukum. perauran yang lebih tinggi akan mengalahkan yang lebih rendah) Lex Posteriori derogate Legi Priori (Dalam hal mengatur sesuatu yang sama. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan secara jelas mengatur jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan. jika bertentangan. dapat dilaksanakan dan Non retroaktif (tidak berlaku surut). Sebagai contoh. c. asas persamaan dan tidak memihak.

Asas-Asas Pembentukan Peraturan daerah Peraturan Daerah dibuat berdasarkan asas-asas: 1. Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. meliputi. dan keterbukaan. kejelasan tujuan. 26 . 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat (SKPD yang berkaitan). dan/atau e. 12 Pasal 14 UU No. Sementara materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/ atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang undangan yang lebih tinggi12. Hierarki Peraturan Perundang-Undangan13 4. kejelasan rumusan. kedayagunaan dan kehasilgunaan. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 13 Pasal 7 ayat (1) UU No. dapat dilaksanakan.d. kesesuaian antara jenis dan materi muatan ( antara judul dan isi yang dijabarkan benar).

kebangsaan. keserasian dan keselarasan. keadilan. asas tata urutan/susunan (hierarki peraturan perundangundangan.2. 3. dibutuhkan suatu mekanisme atau prosedur yang jelas tentang pembentukan suatu Peraturan Daerah agar lebih terarah dan terkoordinasi. asas hukum peraturan daerah. dan serta asas-asas hukum umum yang secara khusus dapat diterapkan juga pada pembentukan peraturan perundang-undangan. antara lain: asas hukum pidana. Asas materi muatan peraturan perundang-undangan. Mekanisme dan Prosedur Penyusunan Peraturan daerah 27 . kesamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintah. Asas lain sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. kemanusian. Proses dan Tahapan Penyusunan Peraturan Daerah Dalam upaya membangun administrasi legislasi yang baik serta peningkatan kualitas produk hukum daerah. pengayoman. Bagan 1. Bhineka Tunggal Ika. ketertiban dan kepastian hukum. dan atau keseimbangan. kenusantaraan. 5. kekeluargaan. yaitu.

aktivitas yang dilakukan adalah perancangan penyusunan naskah akademik dan 14 Pasal 36 UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 28 . mengetahui Peraturan Daerah apa saja yang sedang dibahas oleh DPRD. mengukur beban legislasi pada kurun waktu tertentu. mengetahui arah kebijakan legislasi di tingkat daerah. Sementara Penyusunan Prolegda Kabupaten/ Kota di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dikoordinasikan oleh Bagian Hukum dan HAM dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal terkait14. yang mengatur bahwa perencanaan penyusunan legislasi daerah dilakukan dalam suatu Prolegda. dan. Bagi masyarakat. Prolegda berfungsi untuk : mengetahui Peraturan Daerah yang masuk dalam prioritas pembahasan di tingkat DPRD. Keberadaan Prolegda Kabupaten/Kota ini telah diatur dalam Pasal 39 UU No. Penyusunan Prolegda Kabupaten/Kota antara DPRD Kabupaten/ Kota dan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh DPRD Kabupaten/Kota melalui alat kelengkapan DPRD Kabupaten/Kota yang khusus menangani bidang legislasi. sehingga tahap ini sering pula disebut sebagai tahap penyusunan Prolegda. (b) Persiapan Pada tahapan ini. terpadu dan sistematis.(a) Perencanaan Perencanaan legislasi di tingkat daerah dilakukan dengan menyusun sebuah Program Legislasi Daerah (Prolegda). 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Prolegda adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana.

Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah 29 . Proses penyiapan Rancangan Peraturan Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Usul inisiatif DPRD Selanjutnya tahap yang lebih bersifat administratif yakni tahap penyampaian Rancangan Peraturan Daerah yang telah selesai.Peraturan daerah. Proses persiapan bisa dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) maupun DPRD.

Sementara itu. maka pimpinan DPRD akan mengirimkan surat kepada Gubernur atau Bupati/ Walikota disertai dengan naskah Rancangan Peraturan Daerah yang terkait. maka Gubernur untuk Peraturan Daerah Provinsi atau Bupati/Walikota untuk Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota akan mengirimkan surat pengantar Gubernur atau Bupati/Walikota kepada Pimpinan DPRD. Proses Pembahasan Peraturan Daerahdi DPRD (d) Penetapan dan Pengundangan. Bagan 2. Pembahasan suatu Pemerintah Daerah dilakukan melalui empat tingkat pembicaraan seperti bagan berikut ini. apabila Rancangan Peraturan Daerah merupakan usul inisiatif Pemerintah Daerah. Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di DPRD baik atas inisiatif Pemerintah Daerah maupun atas inisitiaf DPRD.merupakan usul prakarsa DPRD. 30 . dilakukan oleh DPRD bersama Gubernur/ Bupati/Walikota. (c) Pembahasan.

yaitu pertama.Bagan 3. Dalam hal ini melakukan klarifikasi. (f) Pengawasan Satu tahapan yang membedakan pembentukan Peraturan Daerah dengan pembentukan Undang-Undang adalah tentang pengawasan. Dalam hal ini Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah agar semua masyarakat di daerah setempat dan pihak terkait mengetahuinya. Proses Penetapan dan Pengundangan (e) Penyebarluasan Suatu tahapan yang juga sangat penting adalah mengenai pernyebarluasan Peraturan Daerah. pengawasan dilakukan sesudah Peraturan Daerah disahkan. pengkajian dan penilaian 31 . Penyebarluasan ini bisa dimaknai sebagai upaya mendistribusikan naskah Peraturan Daerah yang sudah diundangkan dan upaya sosialisasi kepada masyarakat yang dilakukan menyeluruh. Pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah dibedakan menjadi dua bentuk.

dan (4) Rencana Tata Ruang. (2) Pajak Daerah. Sementara itu pengawasan represif dilakukan terhadap seluruh Peraturan Daerah diluar empat jenis Rancangan Peraturan Daerah di atas. yaitu sebagai berikut: A.terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah untuk mengetahui ada tidaknya unsur yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi (pengawasan represif). 6. melakukan evaluasi pengkajian dan penilaian terhadap Rancangan Peraturan Daerah dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah dan Peraturan Kepala Daerah untuk mengetahui ada tidaknya unsur yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/ atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (pengawasan preventif). Evaluasi preventif dilakukan terhadap empat jenis Rancangan Peraturan Daerah. (3) Retribuasi Daerah. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan diatur secara lebih lengkap dalam sistematika teknik penyusunan peraturan perudangundangan pada lampiran UU No. tahun pengundangan atau penetapannya. Yang kedua. JUDUL Judul peraturan perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis. sebelum Peraturan Daerah disahkan atau masih dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah. 32 . nomor. Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundangundangan. 12 tahun 2011. dan nama peraturan perundang-undangan. Sistematika Peraturan Daerah Sistematika teknik penyusunan peraturan perudang-undangan sesuai dengan UU No. yaitu : (1) APBD/ Perubahan APBD. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

33 . Konsideran diawali dengan dengan kata Menimbang. (Nama Provinsi/Kabupaten/Kota) 3.. 2. b. Konsiderans a.Contoh: B. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan Jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan di tulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma (. Konsideran memuat uraian singkat mengenai pokokpokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan atau Peraturan Daerah.. PEMBUKAAN Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Pada pembukaan tiap jenis peraturan perundangundangan sebelum nama jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakan di tengah marjin. Contoh: GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA . 1.).

bahwa.. Contoh: Menimbang : a. yang akan diubah atau yang akan dicabut. kelestarian ekosistem. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad... Yuridis : Menggambarkan bahwa peraturan yang dibuat mempunyai keterkaitan dengan peraturan yang telah ada.. Jika konsideran memuat lebih dari satu pokok pikiran.... tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. Filosofis : menggambarkan bahwa peraturan yang dibuat berlandaskan pada kebenaran dan cita rasa keadilan serta ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. e. d.. 34 . bahwa.c. bahwa. c. dan supremasi hukum. f. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Peraturan Daerah memuat unsur Filosofis. Sosiologis : Menggambarkan bahwa peraturan yang dibuat sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan sosial masyarakat setempat. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. b. Pokok–pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa peraturan perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturanperundang-undangan tersebut.. Yuridis dan Sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya.

. b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Peraturan Bupati tentang.. a. Tentang. perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang… 4.. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. Konsideran Peraturan Bupati pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Peraturan perundangundangan/Peraturan Daerah yang memerintahkan pembuatan peraturan Bupati tersebut. Peraturan Daerah Nomor… Tahun. Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan 35 . bahwa…. bahwa….g. rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh: Menimbang : a. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan peraturan perundang-undangan / Peraturan Daerah tersebut.. h. Dasar Hukum a. c. Contoh : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal….. b. Jika konsideran memuat lebih dari satu pertimbangan.

Perundang-undangan yang tingkatnya sama atau lebih tinggi. d. tidak perlu mencantumkan pasal. e. 36 . judul Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah. disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau penetapannya. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. f. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan/ Peraturan Daerah yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu. Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang akan di cabut dengan Peraturan perundangundangan/Peraturan Daerah yang akan di bentuk atau Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang sudah ditetapkan tetapi belum resmi berlaku. Dasar hukum yang diambil dari pasal (pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan dengan frase UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. urutan pencantumannya perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundangundangan dan jika tingkatannya sama. Contoh: Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tetapi cukup mencantumkan nama. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. g.

…. dan seterusnya. Contoh : Mengingat: 1. 37 . dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadblad yang dicetak miring diantara tanda baca kurung. 3. Kitab Undang-Undang Hukum Peraturan daerahta (Burgerlijk Wetboek. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah.. Dasar hukum yang berasal dari Peraturan perundangundangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. 2. h. i. 2. ditulis dengan huruf kapital Peraturan Perundang-undangan perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembar Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakan diantara tanda baca kurung. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316).Penulisan Undang-undang/ Peraturan Daerah. tiap dasar hukum diawali dengan angka arab 1. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi(Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2003 Nomor 98. Staatsblad 1847:43)... Contoh : Mengingat : 1. . 2.

38 .. Kata MEMUTUSKAN ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi diantara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakan di tengah marjin. Kata memutuskan. 2..5. 3.. Sebelum kata memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH… (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA… (nama daerah). Contoh: Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SANGGAU dan BUPATI SANGGAU MEMUTUSKAN: b. yang ditulis seluruhnya dengan huruf capital dan diletakan di tengah marjin. …. . Diktum Diktum terdiri atas. …. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:). Contoh: Mengingat : 1. Kata MENETAPKAN dicantumkan sesudah kata MEMUTUSKAN yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. Kata menetapkan. a.

Contoh: MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN SIPIL. Keputusan Bupati secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah. Pembukaan Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah yang tingkatannya lebih rendah dari Peraturan perundang-undangan/Peraturan Daerah seperti Peraturan Bupati. Nama yang dicantumkan dalam judul Peraturan Perundang-undangan / Peraturan Daerah dicantumkan lagi setelah kata “Menetapkan” dan didahului dengan pencantuman jenis Peraturan Perundang-undangan / Peraturan Daerah tanpa frase Republik Indonesia/ Kabupaten Sanggau. Pada umunya substansi dalam batang tubuh dikelompokan ke dalam: 1) Ketentuan Umum 2) Materi Pokok yang Diatur 3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 39 .c. C. serta di tulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diahiri dengan tanda baca titik. BATANG TUBUH Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah yang memuat semua substansi Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah yang dirumuskan dalam pasal-pasal. Nama Peraturan Perundang-undangan / Peraturan Daerah.

bab. pasalpasal tersebut dapat dikelompokan menjadi buku (jika merupakan kodifikasi). diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. bagian dan paragraph. bab. pembubaran. bagian dan 40 . Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi perdata. Sanksi administratif dapat berupa. Sanksi keperdataan dapat berupa antara lain ganti kerugian. Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. bagian dan paragraf. pengawasan. Jika Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah mempunyai materi yang ruang lingkupnya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. pemberhentian sementara. Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. Pengelompokan materi dalam buku. bab. Pengelompokan materi Peraturan Perundangundangan/Peraturan Daerah dapat disusun secara sistematis dalam buku. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. Materi yang bersangkutan.4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5) Ketentuan Penutup Dalam pengelompokan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya. antara lain pencabutan izin. denda administratif atau daya paksa polisional. sanksi keperdataan dan sanksi administratif dalam satu bab.

Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. urutan bilangan. Contoh: BAB I KETENTUAN UMUM Bagian diberikan nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberikan judul. Contoh: Bagian Kelima Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN Bab di berikan nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase.paragraph dilakukan atas dasar kesamaan materi. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraph bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraph. atau bab dengan bagian dan paragraph yang berisi pasal (-pasal). dan Kereta Tempelan Paragraph diberi nomor urut dengan angka Arab dan di berikan judul. Huruf awal dari kata paragraph dan 41 . Kereta Gandengan. Huruf awal kata bagian. dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital.

Contoh: Paragraf 1 Ketua. Pasal dapat dirinci kedalam beberapa ayat. Wakil Ketua dan Hakim Pasal merupakan satu aturan dalam Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah yang memuat satu norma. huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. dan huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital.setiap kata pada judul paragraph ditulis dengan huruf kapital. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam kalimat utuh. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. Ayat diberikan nomor urut dengan angka Arab diantara tanda baca kurung tanpa diakhiri dengan tanda baca titik. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. Materi Peraturan Perundang-undangan/Peraturan Daerah lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. jelas dan lugas. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. 42 .

. 2.. 4............. 43 ........ Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati... memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota).. D................. PENUTUP Penutup merupakan bagian akhir peraturan yang memuat : 1.. (2). 3..... Status peraturan yang ada. Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan.... Sekretaris Daerah .. 5.. Pada tanggal . Contoh : Agar setiap orang mengetahuinya..... Penunjukan organ atau kelengkapan yang melaksanakan peraturan. Penempatan dalam Lembaran Daerah atau Berita Daerah.. Saat mulai berlaku peraturan... Pada tanggal .... Nama singkat.............. Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang.... PROVINSI/KABUPATEN/KOTA NAMA GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA Diundangkan di .Contoh: Pasal 8 (1)..... Ditetapkan di ..... (3)..........

PENJELASAN (Jika diperlukan) LAMPIRAN (Jika diperlukan) B. objek atau arah pengaturan rancangan undang-undang atau peraturan daerah. Lain daripada 15 Pasal 1 angka 11 UU No. jangkauan. tujuan penyusunan. sasaran yang ingin diwujudkan dan lingkup. F. b) Pentingnya Naskah Akademik dalam Peraturan Perundang-undangan Pentingnya Naskah Akademik dalam menyertai suatu Rancangan Peraturan Perundang-undangan karena di dalam Naskah Akademik itulah paradigma kehidupan kemasyarakatan yang hendak dituju oleh Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk dirumuskan secara terperinci melalui pendekatan ilmiah. Naskah Akademik berisi latar belakang pemikiran serta hasil kajian yang menyertai dibuatnya suatu rancangan undang-undangan atau peraturan daerah. atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat15. Naskah Akademik a) Definisi Naskah Akademik (NA) merupakan naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 44 .E. Naskah akademik biasanya berisi latar belakang.

Rancangan Peraturan Daerah Provinsi (Kabupaten/ Kota) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau Naskah Akademik16. pokok dan lingkup materi yang akan diatur”. 12 tahun 2011. juga harus melibatkan pakar ilmu lain yang sesuai dengan bidang yang akan diatur dalam Peraturan Perundang16 Berdasarkan ketentuan Pasal 63 Ketentuan mengenai penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 sampai dengan Pasal 62 berlaku secara mutatis mutandis terhadap penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. 45 . Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan Presiden tersebut dinyatakan bahwa “Naskah Akademik paling sedikit memuat dasar filosofis.itu. yuridis. sehingga perdebatan mengenai materi muatan yang nantinya akan dituangkan ke dalam sebuah Rancangan Peraturan Perundang-undangan dapat dieliminir seminimal mungkin. Berdasarkan ketentuan Pasal 56 ayat (2) UU No. sosiologis. Ketentuan mengenai Naskah Akademik juga diatur dalam Peraturan Presiden No. keberadaan Naskah Akademik yang menyertai suatu Rancangan Peraturan Perundang-undangan dapat juga dikatakan sebagai sumber inspirasi bagi Rancangan Peraturan Perundang-undangan yang akan diperjuangkan oleh pihak pemrakarsa agar memenuhi kriteria akademik. 68 Tahun 2005 Pasal 5 ayat (1) bahwa “Pemrakarsa dalam menyusun Rancangan Undang-undang dapat terlebih dahulu menyusun Naskah Akademik mengenai materi yang akan diatur dalam Rancangan Undangundang”. c) Siapa saja yang membuat Naskah Akademik Naskah Akademik disamping disusun oleh pakar hukum.

15. hal. Pedoman Peraturan Daerah tentang Perlindungan Buruh Migran Indonesia Berperspektif Hak Asasi Manusia dan Keadilan Jender. atas hukum dan prinsip-prinsip yang digunakan serta pemikiran tentang norma-norma yang telah dituangkan ke dalam bentuk pasal-pasal dengan mengajukan 17 Komnas Perempuan. 2006.17 d) Apa saja isi dalam Naskah Akademik Naskah Akademik memuat gagasan pengaturan suatu materi perundang-undangan (materi hukum) bidang tertentu yang telah ditinjau secara sistematik-holistikfuturistik dan dari berbagai aspek ilmu dilengkapi dengan referensi yang memuat urgensi. Perumusan Naskah Akademik merupakan kerja kolaboratif antara Bagian Hukum dan HAM. Kajian peraturan yang ada ditambah dari pengalaman empirik yang dialami kelompok sosial tertentu sebagai pelaku dari masalah yang akan diatur dalam peraturan daerah.undangan. SKPD dan pakar ilmu lainnya yang memiliki kedekatan dengan materi muatan yang akan diatur dalam Peraturan Perundang-undangan. 46 . landasan. Naskah Akademik bisa dibuat oleh siapa pun sepanjang metodologinya bisa dipertanggungjawabkan. serta pemangku kepentingan lainnya. Namun. konsepsi. Cukup dengan penelitian sederhana serta dengan melibatkan kelompok-kelompok sosial yang berkompeten dan berkaitan dengan tema yang akan menjadi sasaran pengaturan. sudah cukup menjadi argumentasi ilmiah sebuah naskah akademik. dalam perkembangannya kemudian Naskah Akademik tidak selalu merupakan produk perguruan tinggi.

Sebab-sebab diperlukannya Peraturanya Perundangundangan yang baru. alas hukum dan prinsip yang akan digunakan. serta pasal demi pasal untuk memudahkan dan mempercepat penggarapan RUU/RPP selanjutnya oleh instansi yang berwenang menyusun RUU/RPP. Unsur-unsur yang perlu ada dalam suatu Naskah Akademik adalah urgensi disusunnya pengaturan baru suatu materi hukum yang menggambarkan : 1. 3. 5. 4. Pemikiran tentang norma-norma yang telah dituangkan kedalam bentuk pasal-pasal. Gagasan-gagasan tentang materi hukum yang dituangkan ke dalam Rancangan Undang-Undang dan/atau Rancangan Peraturan Pemerintah. 6. 2. Gagasan awal naskah Rancangan Peraturan UndangUndang dan/atau Rancangan Peraturan Pemerintah yang disusun secara sistematis sesuai dengan teknik penyusunan Peraturan Peraturan Perundangundangan : bab demi bab.beberapa alternatif. yang disajikan dalam bentuk uraian yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sesuai dengan politik hukum yang telah digariskan. dan 7. Hasil inventarisasi permasalahan hukum yang dihadapi. Konsepi landasan. 47 . Hasil inventarisasi hukum positif.

II. PENDAHULUAN Latar Belakang Identifikasi Masalah Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Metode.Undang atau Peraturan Daerah yang baru. PERATURAN DAERAH PROVINSI. EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT Bab ini memuat hasil kajian terhadap Peraturan Perundangundangan terkait yang memuat kondisi hukum yang ada. KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS Kajian teoretis. SOSIOLOGIS. keterkaitan Undang-Undang dan Peraturan Daerah baru dengan Peraturan Perundang-undangan lain. Kajian terhadap praktik penyelenggaraan. harmonisasi secara vertikal dan horizontal. DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN UNDANG-UNDANG. ATAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PENUTUP Kesimpulan Saran 48 . serta status dari Peraturan Perundang-undangan yang ada. DAN YURIDIS Landasan Filosofis Landasan Sosiologis Landasan Yuridis JANGKAUAN. I. Kajian terhadap asas/prinsip yang terkait dengan penyusunan norma. termasuk Peraturan Perundang-undangan yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta Peraturan Perundang-undangan yang masih tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan Undang. ARAH PENGATURAN. kondisi yang ada. serta permasalahan yang dihadapi masyarakat.e) Sistematika Naskah Akademik NASKAH AKADEMIK PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG ………………………………………………………………. Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam Undang-Undang atau Peraturan Daerah terhadap aspek kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap aspek beban keuangan negara. LANDASAN FILOSOFIS.

Partisipasi tidak bisa dipahami sekedar sebagai sosialisasi. Penyusunan Prolegda bisa dijadikan salah satu agenda dalam musrenbangda. Salah satu yang penting adalah ketika dalam proses penyusunan sebuah Peraturan Daerah telah memperhatikan prinsip akses informasi dan partisipasi. Perencanaan Perencanaan yang dilakukan harus dilalui dengan penerapan partisipasi publik. 2. Proses perumusannya tidak dimonopoli oleh DPRD dan Pemda. Jaminan akan kebebasan berpartisipasi ini termuat dalam Pasal 5 UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik adalah “asas keterbukaan “ (huruf g) yang selanjutnya dalam penjelasannya dinyatakan bahwa : “dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan. karena partisipasi menitikberatkan proses menjaring dan mengartikulasikan gagasan dan ide untuk kemudian ditindaklanjuti secara konkret dalam sebuah policy. namun aspirasi masyarakat harus diakomodasi dalam penyusunan Prolegda. pengesahan atau penetapan. Salah satu forum yang bisa digunakan adalah musyawarah perencanaan pembangunan daerah (musrenbangda). penyusunan. Hal ini dapat dilakukan melalui : (i) pelibatan elemen masyarakat dalam penyusunan naskah akademik dan 49 . Keterlibatan partisipasi publik idealnya ada di semua tahapan penyusunan sebuah peraturan daerah. Persiapan Dalam tahap ini juga harus mengoptimalkan partisipasi publik. pengundangan bersifat transparan dan terbuka. Partisipasi Publik Suatu Peraturan Daerah dapat dikatakan berbasis hak asasi manusia jika telah menerapkan nilai dan prinsip hak asasi manusia itu sendiri. seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan”. Dengan demikian. 1.C.

sosialisasi ini memerlukan metode yang mampu mempertemukan antara warga dengan pembentuk Peraturan Daerahuntuk memaparkan dan berdiskusi tentang Peraturan Daerah yang telah disusun. komisi/alat kelengkapan lainnya dengan perwakilan pemda. Berbagai forum baik formal maupun non-formal dapat dioptimalkan untuk sosialisasi. perwakilan alat kelengkapan DPRD yang membahas Peraturan daerah. Penyebarluasan atau sosialisasi Penyebarluasan atau sosialisasi tidak hanya sebagai kegiatan pendistribusian naskah peraturan daerah. 50 . Hal ini karena dalam tahap ini proses politik untuk merumuskan ketentuan mulai dilakukan melalui rapat antara komisi/gabungan. 4. Pembahasan Tahap pembahasan merupakan tahap paling krusial dalam membentuk peraturan daerah. Disisi lain.perancangan dan (ii) penyelenggaraan forum-forum baik formal maupun non-formal yang bertujuan menampung aspirasi masyarakat. 3. Bentuk partisipasi yang dapat dilakukan antara lain: (i) Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). pihak pembahas yaitu DPRD dan pemda juga harus aktif untuk menggali aspirasi masyarakat antara lain dengan cara mendatangi masyarakat. namun juga sebagai aktifitas untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat atas ketentuan-ketentuan yang ada dalam peraturan daerah. (ii) audiensi dengan pimpinan DPRD. Sehingga. Sehingga. dan unsur fraksi baik pimpinan maupun anggota. pada tahap ini juga publik harus aktif dalam berpartisipasi.

Meratifikasi Perjanjian Hak Asasi Manusia Ratifikasi perjanjian hak asasi manusia adalah sarana penting untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional dan opini publik domestik komitmen Negara untuk hak asasi manusia. Sebagai lembaga negara yang mewakili rakyat dan melalui mana mereka berpartisipasi dalam pengelolaan urusan publik. Namun. Ratifikasi – tindakan Negara untuk melaksanakan kewajiban berdasarkan Perjanjian dan untuk memungkinkan pengawasan internasional atas kemajuan dalam promosi hak asasi manusia dan perlindungan . Parlemen harus menyadari peran ini sepanjang waktu karena peraturan daerahmaian di negara itu.memiliki konsekuensi yang luas bagi Negara yang meratifikasi. sipil. anggota parlemen adalah aktor penting: kegiatan parlemen secara keseluruhan .legislatif. ekonomi. biasanya kepala Negara atau Pemerintah atau menteri untuk urusan luar negeri. mengadopsi anggaran dan mengawasi eksekutif meliputi seluruh elemen politik.BAB IV PERAN PARLEMEN dalam PERLINDUNGAN dan PROMOSI HAK ASASI MANUSIA Bicara mengenai promosi dan pelindungan hak asasi manusia. apakah perjanjian internasional harus diratifikasi atau tidak di sebagian besar negara tergantung dengan parlemen. keputusan akhir. harmoni sosial dan pembangunan stabil sangat tergantung pada sejauh mana hak asasi manusia menembus semua kegiatan parlemen. sosial dan budaya dan tentunya memiliki dampak langsung terhadap penikmatan hak asasi manusia oleh masyarakat. . Perjanjian Hak Asasi Manusia ditandatangani dan diratifikasi oleh eksekutif. A. parlemen memang penjaga hak asasi manusia. yang harus menyetujui ratifikasi.

parlemen dan anggota parlemen dapat dan harus memastikan bahwa hukum benar-benar dilaksanakan oleh administrasi dan setiap badan lainnya yang bersangkutan. Fakta-temuan atau pemeriksaan komite atau komisi. Langkah. jika perlu. Mengawasi Eksekutif Melalui fungsi pengawasan mereka. terutama. parlemen harus memastikan bahwa tersedia dana yang cukup untuk pelaksanaan hak asasi manusia. Suara tidak percaya. jika upaya di atas gagal. Dibawah prosedur parlemen. terus memantau kinerja Pemerintah di lapangan terhadap pemenuhan hak asasi manusia. untuk mencegah pelanggaran hak asasi manusia memerlukan cukup dana. Dalam menyetujui anggaran nasional. Kemudian. dalam pemantauan belanja Pemerintah.langkah efektif bagi perlindungan hak asasi manusia dan. Menindaklanjuti Rekomendasi dan Keputusan Rekomendasi yang dirumuskan oleh PBB dan badan-badan pengawasan pelapor khusus dan oleh badan lainnya pemantauan internasional atau regional dapat secara efektif digunakan oleh anggota parlemen untuk meneliti kepatuhan tindakan eksekutif dengan kewajiban hak asasi manusia dari Negara. parlemen bisa.B. tersedia sarana untuk anggota parlemen untuk meneliti tindakan Pemerintah meliputi: Pertanyaan tertulis dan lisan kepada menteri. Memastikan Pelaksanaan Nasional Mengadopsi Anggaran Menjamin pemenuhan hak asasi manusia oleh semua bukanlah tanpa biaya. pegawai negeri sipil dan pejabat-pejabat eksekutif lainnya. menundukkan kebijakan dan tindakan eksekutif untuk pengawasan yang konstan. 52 . Interpelasi. dengan menetapkan prioritas nasional.

Aksi ini bertujuan untuk menerapkan dan memastikan kepatuhan dengan standar hak asasi manusia. Dalam beberapa badan kasus tersebut kompeten untuk menerima petisi individu. C. Sementara istilah ini mencakup berbagai badan hukum yang status. semua 53 . fungsi dan mandat berbeda. pendidikan. administratif atau hukum perburuhan.Parlemen Membentuk Badan-Badan Hak Asasi Manusia Hak asasi manusia secara menyeluruh harus menyatu dengan kegiatan parlemen. Salah satu cara yang digunakan untuk adalah pendirian lembaga nasional hak asasi manusia. perawatan kesehatan atau undangundang jaminan sosial). Menciptakan dan Dukungan Infrastruktur Kelembagaan Institusi Hak Asasi Manusia Nasional (National Human Rights Institution/NHRI) Selama 20 tahun terakhir. telah ada kesadaran akan kebutuhan untuk memperkuat institusi hak asasi manusia nasional. Mengadopsi Undang-Undang Jika kewajiban hukum internasional tidak diterapkan di tingkat domestik. Parlemen dan anggota parlemen memiliki peran penting untuk mengadopsi undang-undang pelaksanaan yang diperlukan dalam setiap daerah (peraturan daerahta. Banyak parlemen juga telah membentuk komite untuk spesifik isu-isu hak asasi manusia. Dalam kompetensi wilayahnya. parlemen mengatur badan khusus hak asasi manusia atau komite mempercayakan tugas yang ada dengan mempertimbangkan isu-isu HAM. pidana. setiap komite parlemen harus secara konsisten mempertimbangkan hak asasi manusia dan menilai dampak dari norma hukum yang diusulkan pada penikmatan hak asasi manusia. masing-masing perjanjian menjadi surat mati. struktur. Untuk memastikan bahwa hak asasi manusia sepatutnya diperhitungkan dalam pekerjaan parlemen. komposisi. seperti kesetaraan jender atau hak-hak minoritas.

NHRI.dengan maksud untuk mempromosikan dan melindungi hak asasi manusia. Menyerahkan rekomendasi. Bekerja sama dengan PBB. Mempromosikan kesesuaian hukum nasional dan praktek dengan standar internasional. harus memiliki kapasitas dan otoritas untuk: 1. 3. Menerima dan bertindak atas keluhan individu atau kelompok pelanggaran hak asasi manusia. Ada beberapa tumpang tindih antara kegiatan kantor ombudsman dan orang-orang komisi hak asasi manusia nasional tetapi peran ombudsman biasanya agak lebih terbatas. proposal dan laporan kepada Pemerintah atau parlemen di setiap hal yang berhubungan dengan hak asasi manusia. Ombudsman umumnya laporan kepada parlemen. Kantor Ombudsman Kantor Ombudsman adalah suatu lembaga nasional yang ditemukan di banyak negara. Hanya ombudsman dengan mandat hak asasi manusia tertentu dapat digambarkan sebagai lembaga nasional hak asasi manusia. 54 . 6. 5. Mendorong ratifikasi dan penerapan standar HAM internasional dan berkontribusi untuk prosedur pelaporan di bawah perjanjian internasional hak asasi manusia. lembaga-lembaga regional. dan melakukan penelitian di bidang hak asasi manusia. 4. Meningkatkan kesadaran hak asasi manusia melalui informasi dan pendidikan. lembaga nasional lain negara dan LSM. sering disebut komisi hak asasi manusia. yang umumnya terdiri dari memastikan keadilan dan legalitas dalam administrasi publik.badan seperti ditetapkan oleh Pemerintah untuk beroperasi secara independen .seperti lembaga peradilan . 2.

budaya. Untuk meningkatkan kesadaran umum hak asasi manusia di negara mereka. D. mendorong Negara untuk membuat aksi nasional hak asasi manusia merencanakan untuk mengembangkan strategi hak asasi manusia sesuai dengan situasi mereka sendiri.Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tidak ada Negara di dunia memiliki rekor hak asasi manusia yang sempurna. Memobilisasi Opini Publik Parlemen dapat memberikan kontribusi besar terhadap meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hak asasi manusia dan memobilisasi opini publik tentang isu-isu terkait – lebih-lebih sejak perdebatan politik sering berfokus pada pertanyaan seperti diskriminasi terhadap berbagai kelompok. karena keberhasilannya sangat tergantung pada sejauh mana penduduk mengambil kepemilikan itu. Sebuah rencana aksi nasional harus didukung oleh Pemerintah dan melibatkan semua sektor masyarakat. Parlemen harus selalu peka terhadap dampak bahwa pernyataan-pernyataan publik mereka pada isu hak asasi manusia dapat memiliki persepsi pada isu publik tersebut. Selain itu. yang diselenggarakan pada tahun 1993. karena setiap negara harus mengembangkan kebijakan hak asasi manusia yang spesifik dalam politik. tidak ada pendekatan tunggal bagi negara-negara untuk mengatasi masalah hak asasi manusia. termasuk LSM. sejarah dan keadaan hukum. 55 . kesetaraan gender. bebas dari pertimbangan politik partisan. hak minoritas atau masalah sosial. Penerapan Rencana aksi nasional harus merupakan upaya nasional yang sesungguhnya. Oleh karena itu. Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia. anggota parlemen harus bekerja dengan aktoraktor nasional lainnya yang terlibat dalam kegiatan hak asasi manusia.

Negara pihak dalam perjanjian hak asasi manusia memiliki kepentingan hukum dalam pemenuhan kewajiban oleh Negara-negara Pihak lainnya. Sesuai dengan prosedur pengaduan antar Negara disediakan untuk di beberapa inti perjanjian hak asasi manusia. melalui badan hak asasi manusia mereka. Penghormatan dan perhatian masyarakat internasional terhadap hak asasi manusia dan. suatu Negara karena itu dapat meminta perhatian untuk tindakan yang dilakukan oleh Negara lain melanggar perjanjian. 56 . Berpartisipasi dalam Upaya Internasional Parlemen dan anggota parlemen dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perlindungan dan upaya promosi hak asasi manusia di tingkat internasional. Parlemen. di bawah hukum internasional. dapat mengangkat isu-isu hak asasi manusia yang melibatkan adanya kemungkinan pelanggaran tersebut dan dengan demikian meningkatkan kepatuhan dengan norma-norma hak asasi manusia di seluruh dunia.E.

38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Pemerintahan Daerah Provinsi. yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No.Daftar Pustaka Peraturan Undang-Undang No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006 tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah Instrumen Hak Asasi Manusia Deklarasi Universal HAM (DUHAM) Kovenan Internasional tentang Ekonomi Sosial dan Budaya (EKOSOB. Kovenan Internasional tentang Sipil Politik (SIPOL). 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentuan Peraturan Perundang-undangan Peraturan Pemerintah No. . dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. 11 Tahun 2005). Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2005).

Konvensi Internasional Diskriminasi Rasial.

tentang

Penghapusan

Segala

Bentuk

(CERD; adopsi pada tahun 1965; berlakunya pada tahun 1969); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 29 Tahun 1999. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW, adopsi pada tahun 1979; berlakunya pada tahun 1981); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1984. Konvensi Menentang Penyiksaan yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Hukuman (CAT; adopsi pada tahun 1984; berlakunya pada tahun 1987); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1998. Konvensi tentang Hak-hak Anak (CRC; adopsi pada tahun 1989; berlakunya pada tahun 1990); yang diratifikasi oleh Negara Indonesia dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 1990. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (yang dikenal sebagai Konvensi Pekerja Migran, atau CMW; adopsi pada tahun 1990; berlakunya pada tahun 2003). Buku Cipto Handoyo, B. Hestu. Prinsip-Prinsip Legal Drafting dan Desain Naskah Akademik. Penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 2008. Departemen Hukum dan HAM dan United Nation Development Programme (2007), Panduan Praktis Memahami Perancangan Peraturan Daerah. 2008. Jason M. Patlis. Pedoman Umum Penyusunan Peraturan Daerah Pengelolaan Hutan. Penerbit Center for International Forestry Research. 2004. 58

Sholikin, M Nur. Awasi Peraturan daerah, Berdayakan Daerah. Penerbit Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK). 2009. Rawasita, Reny. Menilai Tanggung Jawab Sosial Peraturan Daerah. Penerbit Pusat Studi dan Kebijakan Indonesia (PSHK). 2009 Rhona K.M. Smith dkk, Hukum Hak Asasi Manusia, PUSHAM UII, 2008 Makalah Proses Penyusunan Peraturan DaerahDalam Teori dan Praktek, http:// www.huma.or.id Setyadi, S. Bambang, Drs, M.Si, Pembentukan Peraturan Daerah. Makalah disampaikan dalam Diskusi Panel “Kajian Terhadap Kebijakan-Kebijakan Yang Perlu Dimuat Dalam Peraturan DaerahDalam Rangka Mendorong Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)”di Bank Indonesia, Maret, 2007. Sriyana, SH, LLM, DFM. Memahami Landasan Hukum, Asas dan Substansi dalam Penyusunan Peraturan Daerahserta Prosedurnya. Makalah disampaikan dalam Workshop Penyusunan Manual Drafting Peraturan DaerahBerbasis Hak Asasi Manusia di Pontianak, Juli, 2010. Artikel R Herlambang Perdana, Derogasi dan HAM, Kompas, 18 Oktober

59

PROFIL PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SANGGAU

Kabupaten Sanggau berjarak ± 267 Km dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat (Pontianak) dan merupakan salah satu dari 5 (lima) kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur), dengan garis perbatasan sepanjang ±129,50 Km (15%) dari panjang garis perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Sarawak sepanjang ± 877 Km. Dari 15 kecamatan di Kabupaten Sanggau, terdapat 2 (dua) kecamatan yang berbatasan langsung (kawasan perbatasan lini 1) dengan Sarawak (Malaysia Timur) yaitu Kecamatan Entikong dan Sekayam. Luas Kabupaten Sanggau adalah 12.857,70 Km2 merupakan urutan ke-4 (12,47%) dari kabupaten/ Kodya di Propinsi Kalimantan Barat. Kemudian jika dilihat kecamatan terluas adalah Kecamatan Jangkang dengan luas 1.589,20 Km2 kemudian Kecamatan Meliau yaitu 1.495,70 Km2. Sedangkan kecamatan terkecil adalah Kecamatan Balai dengan luas 395,60 kemudian Kecamatan Beduwai dengan luas 435,00 Km2. Kabupaten Sanggau dengan luas wilayahnya 12.857,0 Km2 atau 8,67% dari luas wilayah Propinsi Kalimantan Barat mempunyai jumlah penduduk 455.334 jiwa, dengan rincian penduduk laki – laki 235.810 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 219.524 jiwa18 yang menyebar di 15 kecamatan dengan kepadatan penduduk 29 jiwa per Km2 , penyebaran ini tidak merata antara daerah kecamatan satu dengan lainnya. Saat ini Kab. Sanggau dipimpin oleh Bupati Ir. H. Setiman H. Sudin dan Wakil Bupati Paolus Hadi, S.IP, M.Si. Kab. Sanggau memiliki 23 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan telah melahirkan sekitar 110 Peraturan Daerahperiode tahun 2007 – 2010.
18 Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Per 24 Oktober 2011

62 .

dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 2002. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak. lahir di Karangan pada tanggal 04 Juli 1984. . dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 1998. Sanggau sejak tahun 2006. Saat ini berkarir sebagai Kasubbag BanKum dan HAM di Bagian Hukum dan HAM Pemkab. MUTMAINNAH. lahir di Nanga Bunut pada tanggal 04 Juni 1981. Saat ini berkarir sebagai staf di Bagian Hukum dan HAM di Sekretariat Daerah Pemkab. LAURIANUS YOKA. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak. lahir di Sengoret pada tanggal 15 Maret 1977. Saat ini berkarir sebagai staf di Sekretariat DPRD Kab. Sanggau sejak Februari 2005.PROFIL TIM PENYUSUN MARINA RONA. dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 2004. Sanggau. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Kemudian menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana (S2) di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak.

ARIYANTO. DWI YULIANI. lahir di Semitau pada tanggal 09 Juli 1975. HENNY LORRYDA YULIANA. lahir di Sanggau pada tanggal 18 April 1983. lahir di Lubuk Antuk pada tanggal 9 Desember 1979. Saat ini menjabat sebagai Kasubbid. Sanggau sejak tahun 2008. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Panca Bakti Pontianak. lahir di Lampung pada tanggal 11 Januari 1980. dan lulus Sarjana Ekonomi Akuntansi pada tahun 2004. Penerangan Komunikasi di Bappeda Pemkab. Menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya dan lulus Sarjana Administrasi Publik pada tahun 2003. dan lulus Sarjana Hukum pada tahun 2006. Kesehatan. Menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Universitas Ahmad Dahlan. Saat ini berkarir sebagai Staf Keuangan di Dinas Kependudukan & Pencatatan Sipil Pemkab. Yogyakarta dan lulus Sarjana Teknik Informatika pada tahun 2004. 64 . Sanggau sejak tahun 2010.ERVANSIUS HENDRA GOMESDY. Sanggau sejak tahun 2009. Sanggau. Menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Samata Dharma Yogyakarta. Saat ini berkarir sebagai staf di Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DP2KAD) Pemkab. Pendidikan. Saat ini berkarir sebagai staf di DINSOSNAKERTRANS Pemkab.

BP4K (2008). Menyelesaikan studi di STM 2 Jurusan Elektronika Komunikasi. Sebelumnya beliau pernah tugas di Bappeda (19932005). Sanggau sejak tahun 2003.FERI BUDI JAYANTO. Saat ini berkarir sebagai Pengawas SMP & SMA di Dinas Pendidikan. Perlindungan Tanaman Perkebunan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pemkab. Sanggau sejak Maret 1992. 65 . Menyelesaikan studi di Fakultas Kehutanan Jurusan Manajemen Kehutanan Universitas Winaya Mukti. SYAFRINAL. lahir di Pontianak pada tanggal 21 Juli 1970. Sanggau sejak tahun 2010. Pemuda dan Olahraga Pemkab. Jatinangor. Padang pada tahun 1989. lahir di Setawar pada tanggal 09 Juli 1964. dan lulus Sarjana Kehutanan pada tahun 2006. Jawa Barat. dan HUBKOMINFO (2009). lahir di Yogyakarta pada tanggal 13 Oktober 1964. lahir di Anjungan pada tanggal 23 September 1970. Sanggau sejak tahun 2004. Menyelesaikan studi di Fakultas Pendidikan di IKIP Yogyakarta Jurusan Geografi dan lulus Sarjana Pendidikan pada tahun 1989. Menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi Universitas Tanjungpura Pontianak. Saat ini berkarir sebagai sebagai sekretaris Dinas Kesehatan kab. YULIA THERESIA. dan lulus Sarjana Pertanian pada tahun 1992. Dinas Pertanian (2005-2007). Saat ini berkarir sebagai Kasi. Saat ini berkarir sebagai Staf di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab. BAMBANG SUGIHARTO.

66 .

dan berkelanjutan dalam sistem hukum nasional yang menjamin pelindungan hak dan kewajiban segenap rakyat Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membentuk peraturan perundang-undangan. terpadu. . negara berkewajiban melaksanakan pembangunan hukum nasional yang dilakukan secara terencana. bahwa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas peraturan perundang-undangan yang baik. baku. bahwa untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum.Lampiran UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. b. Menimbang: a. perlu dibuat peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang pasti. c. bahwa dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan masih terdapat kekurangan dan belum dapat menampung perkembangan kebutuhan masyarakat mengenai aturan pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik sehingga perlu diganti.

pembahasan. dan huruf c. huruf b. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN. Pasal 21. Mengingat: Pasal 20. dan pengundangan. 2. pengesahan atau penetapan. penyusunan. 68 . bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a.d. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah pembuatan Peraturan Perundang-undangan yang mencakup tahapan perencanaan. Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan Perundangundangan. 3. dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan.

6. dan sistematis. Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan. Program Legislasi Nasional yang selanjutnya disebut Prolegnas adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara terencana. Program Legislasi Daerah yang selanjutnya disebut Prolegda adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang disusun secara terencana. 10. 8. atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat. Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. 7. terpadu. dan sistematis. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundangundangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota. 11. 5. Peraturan Daerah Provinsi adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur. 69 . Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. 9. terpadu.4. Naskah Akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang.

Dewan Perwakilan Rakyat yang selanjutnya disingkat DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 15.12. Berita Negara Republik Indonesia. Tambahan Lembaran Daerah. (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 3 (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. Dewan Perwakilan Daerah yang selanjutnya disingkat DPD adalah Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 16. Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis. Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perundangundangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 70 . 14. 13. fungsi. Lembaran Daerah. dan hierarki Peraturan Perundang-undangan. atau Berita Daerah. Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Pasal 2 Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum negara.

BAB II ASAS PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik. kejelasan tujuan. e. kemanusiaan. bhinneka tunggal ika. dan keterbukaan. dapat dilaksanakan. kedayagunaan dan kehasilgunaan. f. b. kebangsaan. d. g. c. kenusantaraan. kesesuaian antara jenis. yang meliputi: a. Pasal 6 (1) Materi muatan Peraturan mencerminkan asas: a. e. dan materi muatan. b. pengayoman. c. d. f. hierarki.Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur dalam Undang-Undang ini meliputi Undang-Undang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat. kekeluargaan. kejelasan rumusan. keadilan. g. Perundang-undangan harus 71 .

Komisi Yudisial. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. i. j. b. dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. f. Peraturan Daerah Provinsi. Dewan Perwakilan Daerah. DAN MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 7 (1) a. (2) Selain mencerminkan asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB III JENIS. Badan Pemeriksa Keuangan. ketertiban dan kepastian hukum. e. dan/atau keseimbangan. Dewan Perwakilan Rakyat. Peraturan Presiden. dan keselarasan.h. Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Bank 72 . HIERARKI. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mahkamah Konstitusi. Peraturan Pemerintah. c. keserasian. g. Mahkamah Agung. d. Pasal 8 (1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.

badan. dan/atau e. b. Pasal 9 (1) Dalam hal suatu Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung. (2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan UndangUndang. 73 . pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menteri. pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. d. lembaga.Indonesia. atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang. Pasal 10 (1) Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undang berisi: a. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Gubernur. (2) Tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan oleh DPR atau Presiden. Kepala Desa atau yang setingkat. c. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi. (2) Dalam hal suatu Peraturan Perundang-undangan dibawah Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/ Kota. Bupati/Walikota. pengesahan perjanjian internasional tertentu.

Undang-Undang. materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. atau c. atau materi untuk melaksanakan penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan. Pasal 14 Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi.Pasal 11 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan Undang-Undang.000. b. (3) Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota dapat memuat ancaman pidana kurungan atau pidana denda 74 . Pasal 12 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Pasal 13 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang.000. Pasal 15 (1) Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam: a.00 (lima puluh juta rupiah). Peraturan Daerah Provinsi. (2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c berupa ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp50.

dan h. Pasal 19 (1) Prolegnas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 memuat program pembentukan Undang-Undang dengan judul Rancangan UndangUndang. 75 . rencana kerja pemerintah dan rencana strategis DPR. Pasal 17 Prolegnas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 merupakan skala prioritas program pembentukan Undang-Undang dalam rangka mewujudkan sistem hukum nasional. materi yang diatur. dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. perintah Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. rencana pembangunan jangka panjang nasional. c. f. sistem perencanaan pembangunan nasional. rencana pembangunan jangka menengah. d.selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan yang diatur dalam Peraturan Perundang-undangan lainnya. aspirasi dan kebutuhan hukum masyarakat. g. Pasal 18 Dalam penyusunan Prolegnas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. e. penyusunan daftar Rancangan Undang-Undang didasarkan atas: a. perintah Undang-Undang lainnya. b. BAB IV PERENCANAAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagian Kesatu Perencanaan Undang-Undang Pasal 16 Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam Prolegnas. perintah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

dan c. (5) Penyusunan dan penetapan Prolegnas prioritas tahunan sebagai pelaksanaan Prolegnas jangka menengah dilakukan setiap tahun sebelum penetapan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (3) Penyusunan dan penetapan Prolegnas jangka menengah dilakukan pada awal masa keanggotaan DPR sebagai Prolegnas untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. latar belakang dan tujuan penyusunan. Pasal 20 (1) Penyusunan Prolegnas dilaksanakan oleh DPR dan Pemerintah. 76 . jangkauan dan arah pengaturan.(2) Materi yang diatur dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keterangan mengenai konsepsi Rancangan UndangUndang yang meliputi: a. (2) Prolegnas ditetapkan untuk jangka menengah dan tahunan berdasarkan skala prioritas pembentukan Rancangan UndangUndang. b. (3) Materi yang diatur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah melalui pengkajian dan penyelarasan dituangkan dalam Naskah Akademik. (4) Prolegnas jangka menengah dapat dievaluasi setiap akhir tahun bersamaan dengan penyusunan dan penetapan Prolegnas prioritas tahunan. sasaran yang ingin diwujudkan. Pasal 21 (1) Penyusunan Prolegnas antara DPR dan Pemerintah dikoordinasikan oleh DPR melalui alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi.

c. pemekaran. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegnas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 77 . komisi. pembentukan. (4) Penyusunan Prolegnas di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. akibat putusan Mahkamah Konstitusi. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegnas di lingkungan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Presiden. pengesahan perjanjian internasional tertentu. Pasal 22 (1) Hasil penyusunan Prolegnas antara DPR dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) disepakati menjadi Prolegnas dan ditetapkan dalam Rapat Paripurna DPR. DPD.(2) Penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. d. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (2) Prolegnas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan DPR. dan penggabungan daerah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota. anggota DPR. dan e. (3) Penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan mempertimbangkan usulan dari fraksi. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan DPR. b. penetapan/pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Pasal 23 (1) Dalam Prolegnas dimuat daftar kumulatif terbuka yang terdiri atas: a. dan/atau masyarakat. ayat (2).

(2) Dalam keadaan tertentu. untuk mengatasi keadaan luar biasa. DPR atau Presiden dapat mengajukan Rancangan Undang-Undang di luar Prolegnas mencakup: a. 78 . atau bencana alam. dan b. keadaan konflik. Pasal 25 (1) Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 memuat daftar judul dan pokok materi muatan Rancangan Peraturan Pemerintah untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (2) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. Bagian Kedua Perencanaan Peraturan Pemerintah Pasal 24 Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah dilakukan dalam suatu program penyusunan Peraturan Pemerintah. keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi nasional atas suatu Rancangan Undang-Undang yang dapat disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Pasal 26 (1) Perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum.

Pasal 27 Rancangan Peraturan Pemerintah berasal dari kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian sesuai dengan bidang tugasnya. Pasal 31 Ketentuan mengenai perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 sampai dengan Pasal 29 berlaku secara mutatis mutandis terhadap perencanaan penyusunan Peraturan Presiden. 79 . (2) Rancangan Peraturan Pemerintah dalam keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat berdasarkan kebutuhan Undang-Undang atau putusan Mahkamah Agung. Bagian Keempat Perencanaan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 32 Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan dalam Prolegda Provinsi. Pasal 28 (1) Dalam keadaan tertentu. Pasal 29 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah diatur dengan Peraturan Presiden. kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian dapat mengajukan Rancangan Peraturan Pemerintah di luar perencanaan penyusunan Peraturan Pemerintah. Bagian Ketiga Perencanaan Peraturan Presiden Pasal 30 Perencanaan penyusunan Peraturan Presiden dilakukan dalam suatu program penyusunan Peraturan Presiden.

materi yang diatur. dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. perintah Peraturan Perundang-undangan lebih tinggi. penyusunan daftar rancangan peraturan daerah provinsi didasarkan atas: a. (3) Penyusunan dan penetapan Prolegda Provinsi dilakukan setiap tahun sebelum penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi. Pasal 34 (1) Penyusunan Prolegda Provinsi dilaksanakan oleh DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi. c. atau objek yang akan diatur. (2) Materi yang diatur serta keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keterangan mengenai konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang meliputi: a. rencana pembangunan daerah. 80 . (3) Materi yang diatur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah melalui pengkajian dan penyelarasan dituangkan dalam Naskah Akademik. dan d. sasaran yang ingin diwujudkan. b. lingkup. latar belakang dan tujuan penyusunan. b.Pasal 33 (1) Prolegda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 memuat program pembentukan Peraturan Daerah Provinsi dengan judul Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. pokok pikiran. (2) Prolegda Provinsi ditetapkan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun berdasarkan skala prioritas pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi. Pasal 35 Dalam penyusunan Prolegda Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). jangkauan dan arah pengaturan.

penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. aspirasi masyarakat daerah. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan DPRD Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan DPRD Provinsi. Pasal 37 (1) Hasil penyusunan Prolegda Provinsi antara DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) disepakati menjadi Prolegda Provinsi dan ditetapkan dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi. Pasal 36 (1) Penyusunan Prolegda Provinsi antara DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh DPRD Provinsi melalui alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. (3) Penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh biro hukum dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal terkait.c. (2) Penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan DPRD Provinsi dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. dan d. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Gubernur. (2) Prolegda Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan DPRD Provinsi. Pasal 38 (1) Dalam Prolegda Provinsi dapat dimuat daftar kumulatif terbuka yang terdiri atas: 81 .

b. akibat putusan Mahkamah Agung. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi. dan c. (2) Dalam keadaan tertentu. Pasal 41 Dalam Prolegda Kabupaten/Kota dapat dimuat daftar kumulatif terbuka mengenai pembentukan. Bagian Kelima Perencanaan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 39 Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam Prolegda Kabupaten/Kota. dan b. atau bencana alam. untuk mengatasi keadaan luar biasa. akibat kerja sama dengan pihak lain. DPRD Provinsi atau Gubernur dapat mengajukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi di luar Prolegda Provinsi: a. keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi atas suatu Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang dapat disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi dan biro hukum. pemekaran. Pasal 40 Ketentuan mengenai perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 sampai dengan Pasal 38 berlaku secara mutatis mutandis terhadap perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. pemekaran. Kabupaten/Kota 82 . dan penggabungan Kecamatan atau nama lainnya dan/atau pembentukan. dan penggabungan Desa atau nama lainnya.a. keadaan konflik.

pencabutan Undang-Undang atau pencabutan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Peraturan 83 .Bagian Keenam Perencanaan Peraturan Perundang-undangan Lainnya Pasal 42 (1) Perencanaan penyusunan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) merupakan kewenangan dan disesuaikan dengan kebutuhan lembaga. atau instansi masing-masing. komisi. Presiden. (2) Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari DPD. atau DPD harus disertai Naskah Akademik. atau instansi masing-masing untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak berlaku bagi Rancangan Undang-Undang mengenai: a. komisi. b. penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang. (2) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh lembaga. (3) Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR. BAB V PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagian Kesatu Penyusunan Undang-Undang Pasal 43 (1) Rancangan Undang-Undang dapat berasal dari DPR atau Presiden. atau c.

b. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. otonomi daerah. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. 84 . Pasal 44 (1) Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Naskah Akademik. e. komisi. dan perimbangan keuangan pusat dan daerah. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. baik yang berasal dari DPR maupun Presiden serta Rancangan Undang-Undang yang diajukan DPD kepada DPR disusun berdasarkan Prolegnas. hubungan pusat dan daerah. atau alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi atau DPD. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Naskah Akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. (2) Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh DPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan: a. gabungan komisi.(5) Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disertai dengan keterangan yang memuat pokok pikiran dan materi muatan yang diatur. c. Pasal 46 (1) Rancangan Undang-Undang dari DPR diajukan oleh anggota DPR. pembulatan. Pasal 45 (1) Rancangan Undang-Undang. d. (2) Pengharmonisasian.

dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang dapat mengundang pimpinan alat kelengkapan DPD yang mempunyai tugas di bidang 85 . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Usul Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh pimpinan DPR kepada alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi untuk dilakukan pengharmonisasian. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang yang berasal dari Presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang. pembulatan.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan DPR. pembulatan. (3) Alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam melakukan pengharmonisasian. Pasal 47 (1) Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non kementerian terkait membentuk panitia antarkementerian dan/atau antarnonkementerian. pembulatan. Pasal 48 (1) Rancangan Undang-Undang dari DPD disampaikan secara tertulis oleh pimpinan DPD kepada pimpinan DPR dan harus disertai Naskah Akademik. (2) Dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang. (3) Pengharmonisasian.

(3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (2) Surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat penunjukan menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan Rancangan Undang-Undang bersama DPR. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah Rancangan Undang-Undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. (4) Alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan laporan tertulis mengenai hasil pengharmonisasian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada pimpinan DPR untuk selanjutnya diumumkan dalam rapat paripurna. 86 . (2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas Rancangan Undang-Undang bersama DPR dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak surat pimpinan DPR diterima. (3) DPR mulai membahas Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak surat Presiden diterima. Pasal 49 (1) Rancangan Undang-Undang dari DPR disampaikan dengan surat pimpinan DPR kepada Presiden. (4) Untuk keperluan pembahasan Rancangan Undang-Undang di DPR.perancangan Undang-Undang untuk membahas usul Rancangan Undang-Undang. Pasal 50 (1) Rancangan Undang-Undang dari Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan DPR.

(2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang. (6) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus dicabut dan harus dinyatakan tidak berlaku sebagaimana dimaksud 87 . Bagian Kedua Penyusunan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Pasal 52 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke DPR dalam persidangan yang berikut. (5) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tidak mendapat persetujuan DPR dalam rapat paripurna. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut ditetapkan menjadi Undang-Undang. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang mendapat persetujuan DPR dalam rapat paripurna. (3) DPR hanya memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. yang dibahas adalah Rancangan Undang-Undang yang disampaikan oleh DPR dan Rancangan Undang-Undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.Pasal 51 Apabila dalam satu masa sidang DPR dan Presiden menyampaikan Rancangan Undang-Undang mengenai materi yang sama. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut harus dicabut dan harus dinyatakan tidak berlaku.

penyusunan. (7) Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) mengatur segala akibat hukum dari pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. (2) Pengharmonisasian. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. Bagian Ketiga Penyusunan Peraturan Pemerintah Pasal 54 (1) Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah. 88 . pemrakarsa membentuk panitia antarkementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian.pada ayat (5). Pasal 53 Ketentuan mengenai tata cara penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang diatur dengan Peraturan Presiden. pembulatan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan panitia antar kementerian dan/atau antar non kementerian. (8) Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (7) ditetapkan menjadi Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dalam rapat paripurna yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (5). pengharmonisasian. dan penyampaian Rancangan Peraturan Pemerintah diatur dengan Peraturan Presiden. DPR atau Presiden mengajukan Rancangan UndangUndang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi.Bagian Keempat Penyusunan Peraturan Presiden Pasal 55 (1) Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden. (3) Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah Provinsi mengenai: a. dan penyampaian Rancangan Peraturan Presiden diatur dalam Peraturan Presiden. (2) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau Naskah Akademik. disertai dengan keterangan yang memuat pokok pikiran dan materi muatan yang diatur. Bagian Kelima Penyusunan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 56 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dapat berasal dari DPRD Provinsi atau Gubernur. atau c. 89 . pembulatan. pemrakarsa membentuk panitia antarkementerian dan/atau antar non kementerian. pencabutan Peraturan Daerah Provinsi. b. penyusunan. pengharmonisasian. (2) Pengharmonisasian. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan panitia antar kementerian dan/atau antar non kementerian. perubahan Peraturan Daerah Provinsi yang hanya terbatas mengubah beberapa materi.

Pasal 58 (1) Pengharmonisasian. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berasal dari DPRD Provinsi dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Naskah Akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.Pasal 57 (1) Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Naskah Akademik. gabungan komisi. Pasal 59 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berasal dari Gubernur diatur dengan Peraturan Presiden. dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berasal dari Gubernur dikoordinasikan oleh biro hukum dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (2) Pengharmonisasian. komisi. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan DPRD Provinsi. atau alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi. 90 . pembulatan. Pasal 60 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dapat diajukan oleh anggota. pembulatan.

Pasal 62 Apabila dalam satu masa sidang DPRD Provinsi dan Gubernur menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi mengenai materi yang sama. Bagian Keenam Penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 63 Ketentuan mengenai penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 sampai dengan Pasal 62 berlaku secara mutatis mutandis terhadap penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.Pasal 61 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang telah disiapkan oleh DPRD Provinsi disampaikan dengan surat pimpinan DPRD Provinsi kepada Gubernur. (2) Rancangan Peraturan Daerah yang telah disiapkan oleh Gubernur disampaikan dengan surat pengantar Gubernur kepada pimpinan DPRD Provinsi. yang dibahas adalah Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang disampaikan oleh DPRD Provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang disampaikan oleh Gubernur digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. 91 .

(3) Ketentuan mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. b.BAB VI TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 64 (1) Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. perimbangan keuangan pusat dan daerah. otonomi daerah. pemekaran. dan e. (2) Pembahasan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan: a. hubungan pusat dan daerah. dilakukan dengan mengikutsertakan DPD. d. 92 . pembentukan. c. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Peraturan Perundangundangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari UndangUndang ini. dan penggabungan daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-Undang Pasal 65 (1) Pembahasan Rancangan Undang-Undang dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau menteri yang ditugasi.

DPR memberikan penjelasan serta Presiden dan DPD 93 . pengantar musyawarah. Pasal 66 Pembahasan Rancangan Undang-Undang dilakukan melalui 2 (dua) tingkat pembicaraan. (2) Dalam pengantar musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a: a. b. Pasal 67 Dua tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 terdiri atas: a. pendidikan. pembahasan daftar inventarisasi masalah. Pasal 68 (1) Pembicaraan tingkat I dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut: a. rapat Badan Legislasi. dan agama. dan c. pembicaraan tingkat I dalam rapat komisi. rapat Badan Anggaran. rapat gabungan komisi. pembicaraan tingkat II dalam rapat paripurna. penyampaian pendapat mini. b. (5) DPD memberikan pertimbangan kepada DPR atas Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan pajak. DPR memberikan penjelasan dan Presiden menyampaikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang berasal dari DPR. dan b.(3) Keikutsertaan DPD dalam pembahasan Rancangan UndangUndang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan hanya pada pembicaraan tingkat I. (4) Keikutsertaan DPD dalam pembahasan Rancangan UndangUndang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh alat kelengkapan yang membidangi materi muatan Rancangan Undang-Undang yang dibahas. atau rapat Panitia Khusus.

94 . (4) Penyampaian pendapat mini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c disampaikan pada akhir pembicaraan tingkat I oleh: a. DPD. b. dan c. (3) Daftar inventarisasi masalah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diajukan oleh: a. Presiden memberikan penjelasan serta fraksi dan DPD menyampaikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2) berasal dari Presiden. fraksi. (6) Dalam pembicaraan tingkat I dapat diundang pimpinan lembaga negara atau lembaga lain jika materi Rancangan Undang-Undang berkaitan dengan lembaga negara atau lembaga lain. jika Rancangan Undang-Undang berkaitan dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2). (5) Dalam hal DPD tidak menyampaikan pandangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf d dan/atau tidak menyampaikan pendapat mini sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b. Presiden.menyampaikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2) berasal dari DPR. c. Presiden jika Rancangan Undang-Undang berasal dari DPR. atau d. DPR jika Rancangan Undang-Undang berasal dari Presiden dengan mempertimbangkan usul dari DPD sepanjang terkait dengan kewenangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2). pembicaraan tingkat I tetap dilaksanakan. atau b. Presiden memberikan penjelasan dan fraksi memberikan pandangan jika Rancangan Undang-Undang berasal dari Presiden.

penyampaian pendapat akhir Presiden yang dilakukan oleh menteri yang ditugasi. pernyataan persetujuan atau penolakan dari tiap.Pasal 69 (1) Pembicaraan tingkat II merupakan pengambilan keputusan dalam rapat paripurna dengan kegiatan: a. Pasal 70 (1) Rancangan Undang-Undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPR dan Presiden. b. (2) Rancangan Undang-Undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPR dan Presiden. (3) Dalam hal Rancangan Undang-Undang tidak mendapat persetujuan bersama antara DPR dan Presiden. Rancangan Undang-Undang tersebut tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu. dan c.tiap fraksi dan anggota secara lisan yang diminta oleh pimpinan rapat paripurna. pendapat mini fraksi. pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak. pendapat mini DPD. penyampaian laporan yang berisi proses. dan hasil pembicaraan tingkat I. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan DPR. 95 . Pasal 71 (1) Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan Rancangan Undang-Undang. (2) Dalam hal persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak dapat dicapai secara musyawarah untuk mufakat.

Pengambilan keputusan persetujuan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan sebagaimana dimaksud dalam huruf b dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPR yang sama dengan rapat paripurna penetapan tidak memberikan persetujuan atas Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang tersebut. Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang diajukan oleh DPR atau Presiden. dan c. Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diajukan pada saat Rapat Paripurna DPR tidak memberikan persetujuan atas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang diajukan oleh Presiden. (3) Ketentuan mengenai mekanisme khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dengan tata cara sebagai berikut: a. b. (2) Penyampaian Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. Bagian Kedua Pengesahan Rancangan Undang-Undang Pasal 72 (1) Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Presiden disampaikan oleh Pimpinan DPR kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang. 96 .(2) Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dilaksanakan melalui mekanisme khusus yang dikecualikan dari mekanisme pembahasan Rancangan Undang-Undang.

(3) Dalam hal sahnya Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kalimat pengesahannya berbunyi: Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 74 (1) Dalam setiap Undang-Undang harus dicantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut.Pasal 73 (1) Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan Undang-Undang tersebut disetujui bersama oleh DPR dan Presiden. Rancangan Undang-Undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. 97 . (2) Dalam hal Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan UndangUndang tersebut disetujui bersama. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir UndangUndang sebelum pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak atas perintah suatu Undang-Undang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/badan/alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna.BAB VIII PEMBAHASAN DAN PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 75 (1) Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan oleh DPRD Provinsi bersama Gubernur. (2) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRD Provinsi dan Gubernur. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali Rancangan Peraturan Daerah Provinsi diatur dengan Peraturan DPRD Provinsi. Pasal 76 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi diatur dengan Peraturan DPRD Provinsi. 98 . (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan.

99 . Pasal 79 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 ditetapkan oleh Gubernur dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut disetujui bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur. Bagian Ketiga Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Pasal 78 (1) Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang telah disetujui bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur disampaikan oleh pimpinan DPRD Provinsi kepada Gubernur untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah Provinsi.Bagian Kedua Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 77 Ketentuan mengenai pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dan Pasal 76 berlaku secara mutatis mutandis terhadap pembahasan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. (2) Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Gubernur dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut disetujui bersama. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut sah menjadi Peraturan Daerah Provinsi dan wajib diundangkan. (2) Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.

Lembaran Negara Republik Indonesia. atau Berita Daerah. d. e. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah Provinsi sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah Provinsi dalam Lembaran Daerah. g. Tambahan Lembaran Daerah.(3) Dalam hal sahnya Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. f. 100 . b. BAB IX PENGUNDANGAN Pasal 81 Agar setiap orang mengetahuinya. Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan menempatkannya dalam: a. Berita Negara Republik Indonesia. c. Lembaran Daerah. Bagian Keempat Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 80 Ketentuan mengenai penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 dan Pasal 79 berlaku secara mutatis mutandis terhadap penetapan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia.

b. Peraturan Presiden. Peraturan Pemerintah. 101 . dan d. meliputi: a. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Pasal 85 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dan Pasal 83 dilaksanakan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. c.Pasal 82 Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Peraturan Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 84 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundang-undangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 83 Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia meliputi Peraturan Perundang-undangan yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundang-undangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia.

102 . BAB X PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Penyebarluasan Prolegnas. penyusunan Rancangan Undang-Undang. (2) Peraturan Gubernur dan Peraturan Bupati/Walikota diundangkan dalam Berita Daerah. Rancangan Undang-Undang. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. hingga Pengundangan Undang-Undang. (2) Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat serta para pemangku kepentingan.Pasal 86 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. dan Undang-Undang Pasal 88 (1) Penyebarluasan dilakukan oleh DPR dan Pemerintah sejak penyusunan Prolegnas. (3) Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah. pembahasan Rancangan Undang-Undang. Pasal 87 Peraturan Perundang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan.

(2) Penyebarluasan Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR dilaksanakan oleh komisi/panitia/badan/alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 91 (1) Dalam hal Peraturan Perundang-undangan perlu diterjemahkan ke dalam bahasa asing. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Pasal 90 (1) Penyebarluasan Undang-Undang yang telah diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia dilakukan secara bersamasama oleh DPR dan Pemerintah. (3) Penyebarluasan Rancangan Undang-Undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan oleh instansi pemrakarsa. hubungan pusat dan daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. penerjemahannya dilaksanakan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (2) Terjemahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan terjemahan resmi. 103 .Pasal 89 (1) Penyebarluasan Prolegnas dilakukan bersama oleh DPR dan Pemerintah yang dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. (2) Penyebarluasan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh DPD sepanjang berkaitan dengan otonomi daerah.

hingga Pengundangan Peraturan Daerah. 104 . penyusunan Rancangan Peraturan Daerah.Bagian Kedua Penyebarluasan Prolegda. Pasal 93 (1) Penyebarluasan Prolegda dilakukan bersama oleh DPRD dan Pemerintah Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota yang dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi. (3) Penyebarluasan Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari Gubernur atau Bupati/Walikota dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah. (2) Penyebarluasan Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh alat kelengkapan DPRD. Pasal 94 Penyebarluasan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dilakukan bersama oleh DPRD dan Pemerintah Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota. (2) Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk dapat memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat dan para pemangku kepentingan. pembahasan Rancangan Peraturan Daerah. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. dan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Pasal 92 (1) Penyebarluasan Prolegda dilakukan oleh DPRD dan Pemerintah Daerah sejak penyusunan Prolegda.

setiap Rancangan Peraturan Perundang-undangan harus dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Tambahan Lembaran Daerah. 105 . Berita Negara Republik Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia.Bagian Ketiga Naskah yang Disebarluaskan Pasal 95 Naskah Peraturan Perundang-undangan yang disebarluaskan harus merupakan salinan naskah yang telah diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. BAB XI PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 96 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. (3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah orang perseorangan atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan atas substansi Rancangan Peraturan Perundang-undangan. lokakarya. d. rapat dengar pendapat umum. Lembaran Daerah. dan/atau seminar. sosialisasi. (2) Masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui: a. Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. dan Berita Daerah. c. kunjungan kerja. dan/atau diskusi. b. (4) Untuk memudahkan masyarakat dalam memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Keputusan Kepala Lembaga.BAB XII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 97 Teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam UndangUndang ini berlaku secara mutatis mutandis bagi teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. tahapan pembentukan UndangUndang. 106 . Keputusan Menteri. Keputusan Gubernur. Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Keputusan Pimpinan DPRD Provinsi. Keputusan Kepala Badan. Keputusan Pimpinan DPD. Keputusan Ketua Komisi Yudisial. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Peraturan Daerah Provinsi. Keputusan Bupati/ Walikota. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. Pasal 99 Selain Perancang Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (1). Keputusan Pimpinan DPR. Pasal 98 (1) Setiap tahapan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mengikutsertakan Perancang Peraturan Perundang-undangan. (2) Ketentuan mengenai keikutsertaan dan pembinaan Perancang Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. atau Keputusan Ketua Komisi yang setingkat. Keputusan Pimpinan DPRD Kabupaten/Kota. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. dan Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota mengikutsertakan peneliti dan tenaga ahli. Keputusan Ketua Mahkamah Agung.

Keputusan Menteri. sepanjang tidak bertentangan dengan UndangUndang ini. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 yang sifatnya mengatur. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389). Keputusan Bupati/Walikota. Pasal 101 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. 107 . semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53. Keputusan Gubernur. harus dimaknai sebagai peraturan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389). dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53. Pasal 103 Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 100 Semua Keputusan Presiden.

Pasal 104 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. DR. H. Disahkan di Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. PATRIALIS AKBAR 108 . Agar setiap orang mengetahuinya. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2011 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.

b. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG JENIS DAN BENTUK PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI. c. . sehingga perlu diganti. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53. Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Mengingat : 1. perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah. Tambahan Lembaran Negara Nomor Republik Indonesia 4389). 2. perlu dilakukan penyeragaman jenis dan bentuk produk hukum daerah. bahwa Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-Produk Hukum Daerah tidak sesuai lagi dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. bahwa dalam rangka tertib administrasi penyusunan produk hukum daerah. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b.

Peraturan Daerah. 3. Daerah adalah Provinsi dan Kabupaten/Kota.Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. Kepala Daerah adalah Gubernur atau Bupati/Walikota. maka Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-Produk Hukum Daerah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 110 . tercantum dalam lampiran Peraturan ini. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). b. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG JENIS DAN BENTUK PRODUK HUKUM DAERAH. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Keputusan Kepala Daerah. Peraturan Kepala Daerah. 2. c. Pasal 3 Bentuk produk hukum daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. dan e. Pasal 2 Jenis Produk Hukum Daerah terdiri atas: a. Pasal 4 Pada saat peraturan ini mulai berlaku. Instruksi Kepala Daerah. d. Peraturan Bersama Kepala Daerah.

Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. MOH. PE RW I RA 111 . MARUF. Ttd H. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal MENTERI DALAM NEGERI. SE Salinan Sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO HUKUM.

112 .

2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. bahwa dalam rangka tertib administrasi penyusunan produk hukum daerah perlu dilakukan penyeragaman prosedur secara terpadu dan terkoordinasi. Tambahan Lembaran Negara Nomor Republik Indonesia 4389). Menimbang : a.PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 16 TAHUN 2006 TENTANG PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI. c. Mengingat : 1. sehingga perlu diganti. bahwa Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk-Produk Hukum Daerah tidak sesuai lagi dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang . perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah. b.

Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. 3. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri. 114 . terpadu dan sistematis. Program Legislasi Daerah yang selanjutnya disebut Prolegda adalah instrumen perencanaan pembentukan produk hukum daerah yang disusun secara terencana. 5. Kepala daerah adalah gubernur atau bupati/walikota. Produk hukum daerah adalah peraturarj daerah yang diterbitkan oleh kepala daerah dalam rangka pengaturan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Prosedur penyusunan produk hukum daerah adalah rangkaian kegiatan penyusunan produk hukum daerah sejak perencanaan sampai dengan penetapan. 4. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM DAERAH. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). 3. 2. Daerah adalah provinsi dan kabupaten/kota.

Pasal 5 (1) Pimpinan satuan kerja perangkat daerah menyusun rancangan produk hukum daerah. Peraturan kepala daerah. Pasal 3 (1) Produk hukum daerah bersifat pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi: a. BAB III PROSEDUR PENYUSUNAN PRODUK HUKUM Bagian Pertama Produk Hukum Bersifat Pengaturan Pasal 4 Penyusunan produk hukum daerah yang bersifat pengaturan dilakukan berdasarkan Prolegda.BAB II PRODUK HUKUM DAERAH Pasal 2 Produk hukum daerah bersifat pengaturan dan penetapan. (2) Produk hukum daerah bersifat penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi: a. b. (2) Penyusunan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada Biro Hukum atau Bagian Hukum. dan b. Peraturan Daerahatau sebutan lain. 115 . Instruksi kepala daerah. Peraturan bersama kepala daerah. dan c. Keputusan kepala daerah.

Pasal 6 (1) Rancangan produk hukum daerah dilakukan pembahasan dengan Biro Hukum atau Bagian Hukum dan satuan kerja perangkat daerah terkait. Pasal 7 Ketua Tim Antar Satuan Kerja Perangkat Daerah melaporkan perkembangan rancangan produk hukum daerah dan/atau permasalahan kepada Sekretaris Daerah untuk memperoleh arahan. (2) Pimpinan satuan kerja perangkat daerah atau pejabat yang ditunjuk mengajukan rancangan produk hukum daerah yang telah mendapat paraf koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. diketuai oleh Pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah pemrakarsa atau pejabat yang ditunjuk oleh kepala daerah dan Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum berkedudukan sebagai sekretaris. jangkauan. (2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menitikberatkan permasalahan yang bersifat prinsip mengenai objek yang diatur. (4) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan arah pengaturan. 116 .(3) Penyusunan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibentuk Tim Antar Satuan Kerja Perangkat Daerah. Pasal 8 (1) Rancangan produk hukum daerah yang telah dibahas harus mendapatkan paraf koordinasi Kepala Biro Hukum dan Kepala Bagian Hukum dan pimpinan satuan kerja perangkat daerah terkait.

(2) Perubahan dan/atau penyempurnaan rancangan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembalikan kepada pimpinan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa.Pasal 9 (1) Sekretaris Daerah dapat melakukan perubahan dan/atau penyempurnaan terhadap rancangan produk hukum daerah yang telah diparaf koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). Pasal 12 Pembahasan rancangan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya atas inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah atau Pimpinan satuan Kerja perangkat daerah sesuai dengan tugas dan fungsinya. Pasal 10 Produk hukum daerah berupa rancangan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a. 117 . (3) Hasil penyempurnaan rancangan produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Sekretaris Daerah setelah dilakukan paraf koordinasi oleh Kepala Biro Hukum dan Kepala Bagian Hukum dan pimpinan satuan perangkat daerah terkait. yang diprakarsai oleh Kepala Daerah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk dilakukan pembahasan. Pasal 11 Dalam rangka pembahasan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dibentuk Tim Asistensi yang diketuai oleh Sekretaris Daerah atau pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.

Pasal 15 (1) Produk hukum daerah yang bersifat penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ditandatangani oleh Kepala Daerah. (2) Penandatanganan produk hukum daerah yang bersifat penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada Sekretaris Daerah. BAB IV PENOMORAN AUTENTIFIKASI. Bagian Kedua Produk Hukum Bersifat Penetapan Pasal 14 (1) Pimpinan satuan kerja perangkat daerah penyusun produk hukum daerah yang bersifat penetapan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. baik atas inisiatif pemerintah maupun atas inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.Pasal 13 Pembahasan rancangan Peraturan Daerahdi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. PENGGANDAAN. dibentuk tim asistensi dengan sekretariat berada pada Biro Hukum atau Bagian Hukum. (2) Produk hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada sekretaris daerah setelah mendapat paraf koordinasi dari Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum. PENDISTRIBUSIAN DAN PENDOKUMENTASIAN PRODUK HUKUM DAERAH Pasal 16 (1) Penomoran produk hukum daerah dilakukan oleh Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum sekretariat daerah. (2) Penomoran produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat pengaturan menggunakan nomor bulat. 118 .

Pasal 19 (1) Pengundangan Peraturan Daerahatau sebutan lainnya dan pengumuman peraturan kepala daerah serta peraturan bersama kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16 dilakukan oleh Sekretaris Daerah.(3) Penomoran produk hukum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat penetapan mengggunakan nomor kode kiasifikasi. (2) Pengundangan Peraturan Daerah atau sebutan lainnya dan pengumuman peraturan kepala daerah serta peraturan bersama kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum. Pasal 17 Produk hukum dalam bentuk Peraturan Daerahatau sebutan lainnya yang telah ditetapkan dan diberikan nomor harus diundangkan dalam lembaran daerah. 119 . Pasal 18 Produk hukum dalam bentuk peraturan kepala daerah dan peraturan bersama kepala daerah serta produk hukum yang bersifat penetapan tertentu yang telah ditetapkan dan diberikan nomor harus diumumkan dalam berita daerah. Pasal 20 (1) Produk hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16 sebelum disebarluaskan harus terlebih dahulu dilakukan autentifikasi. (2) Autentifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Kepala Biro Hukum atau Kepala Bagian Hukum.

Pasal 25 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. pendistribusian dan pendokumentasian produk hukum daerah dilakukan oleh Biro Hukum atau Bagian Hukum dan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 24 Dengan berlakunya Peraturan ini. MA’RUF. SE 120 .BAB V PEMBIAYAAN Pasal 21 Pembiayaan berkaitan dengan penyusunan produk hukum daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. maka Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk-Produk Hukum Daerah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. MOH. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 19 Mei 2006 MENTERI DALAM NEGERI. Ttd H. Pasal 23 Sosialisasi produk hukum dilakukan secara bersama-sama Biro Hukum atau Bagian Hukum dengan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa. BAB VI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 22 Penggandaan.

RANCANGAN PERATURAN DAERAHKABUPATEN SANGGAU NOMOR……..TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SANGGAU Menimbang : a. Bahwa dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, wajib mengakui, menghormati, dan melindungi hak asal-usul, adat istiadat dan sosial budaya masyarakat setempat; b. Bahwa pengakuan dan penghormatan tersebut diputuskan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi keberdayaan, kelestarian dan perkembangan adat istiadat dan hukum adat, khususnya lembaga adat dalam rangka menjadikan adat istiadat dan hukum adat sebagai pedoman perilaku Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sanggau; c. Bahwa berhubungan dengan huruf a dan b di atas, perlu menetapkan Lembaga Adat di Kabupaten Sanggau dengan Peraturan Daerah Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 27 tahun 1959 tentang Penetapan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun

1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 352); 2. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 3. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4493) yang telah ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 8 tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun200 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587);

122

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pemberdayaan dan Pelestarian serta Pengembangan Adat Istiadat, Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat dan Lembaga Adat di Daerah; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Sanggau Nomor 11 tahun 2000 tentang Kewenangan Kabupaten Sanggau sebagai Daerah Otonom. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SANGGAU Dan BUPATI SANGGAU MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAEARAH KABUPATEN SANGGAU TENTANG LEMBAGA ADAT. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerahini yang dimaksud dengan: a. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah; b. Daerah adalah Kabupaten Sanggau; c. Bupati adalah Bupati Sanggau; d. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daearh sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah; e. Lembaga Adat adalah organisasi kemasyarakatan yang dibentuk,

123

yang merupakan sebuah kesatuan hukum tertentu yang pada dasarnya dapat bersumber pada hukum adat atau adat istiadat sebagaimana diakui keabsahannya oleh warga masyarakat tersebut dan atau oleh warga masyarakat lainnya. g. hukum adat dan kelembagaan adat yang masih ditaati. Kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan masyarakat adalah polapola kegiatan atau perbuatan yang dilakukan oleh para warga masyarakat. i. serta berhak dan berwenang untuk mengatur. j. ekonomi. Hukum Adat adalah seperangkat aturan dan atau kesepakatan yang hidup dan berlaku dalam Masyarakat Hukum Adat yang diwariskan secara turun-temurun. Wilayah Adat adalah tempat tumbuh dan berkembangnya adat istadat. Hak Adat adalah hak yang melekat pada Masyarakat Hukum Adat. budaya. politik. 124 . Masyarakat Hukum Adat adalah kelompok masyarakat yang masih terikat adat istiadat. ideologi.dikelola dan dikontrol oleh masyarakat hukum adat sesuai dengan hak asal usul dalam suatu Masyarakat Hukum Adat tertentu dengan wilayah hukum dan hak atas harta kekayaan di dalam hukum adat tersebut. mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. Adat Istiadat adalah seperangkat nilai atau normal. k. sosial dan wilayah sendiri. dan masih berlaku dalam kehidupan masyarakat tersebut. berkembang dan ditaati oleh masyarakat hukum adat dan atau satuan masyarakat lainnya sebagaimana terwujud dalam pola kelakuan dalam kehidupan seharihari. Pengakuan adalah tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah daerah Kabupaten Sanggau untuk mengakui keberadaan lembaga Adat. kaidah dan keyakinan sosial yang tumbuh. memiliki nilai. h. f. l.

Bagian Kedua Pasal 4 Tugas. hukum adat. (2) Tujuannya untuk menciptakan kehidupan Masyarakat Hukum Adat yang berdaulat. dan Wewenang (1) Lembaga Adat mempunyai tugas. TUGAS. fungsi dan wewenang sesuai dengan kesepakatan Masyarakat Hukum Adat yang bersangkutan dan atau sukunya yang diwariskan secara turun temurun demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan Masyarakat Hukum Adat.m. BAB III KEDUDUKAN. Perlindungan adalah suatu upaya hukum yeng dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau terhadap lembaga adat dari tindakan yang dapat mengancam keutuhan lembaga adat beserta hak adatnya. FUNGSI DAN WEWENANG Bagian Pertama Pasal 3 Kedudukan Lembaga Adat berkedudukan di wilayah Kabupaten Sanggau. ekonomi. sosial. Fungsi. penghormatan dan perlindungan lembaga adat adalah untuk meningkatkan peranan lembaga adat dalam mengembangkan nilai-nilai adat istiadat. politik. 125 . BAB II MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2 (1) Maksud dilakukan pengakuan. dan budaya demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat hukum adat.

b. BAB V PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN LEMBAGA ADAT Pasal 7 (1) Lembaga Adat yang diakui dan dilindungi adalah lembaga adat yang hidup dan berkembang dalam masyarakat hukum adat berdasarkan asal-usul dan diakui keberadaannya oleh masyarakat hukum adat di mana lembaga adat tersebut menjalankan tugas dan fungsinya. Bagian Kedua Pasal 6 Kewajiban Lembaga Adat mempunyai kewajiban antara lain: a. Berperan serta dalam menciptakan susasana aman dan tenteram dalam kehidupan bermasyarakat. Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mendapat pengakuan dan perlindungan dari Pemerintah Daerah. BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Pertama Pasal 5 Hak Lembaga Adat berhak: a. berbangsa dan bernegara dengan menjalankan tugas dan fungsi secara benar.(2) Dalam menjalankan tugas dan fungsinya lembaga adat dikontrol oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan. c. Melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen. mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. Mengatur. 126 . b.

..... adat istiadat... masyarakat hukum adat... Pasal 9 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan Agar setiap orang dapat mengetahuinya....(2) Pengakuan terhadap Lembaga Adat mencakup hal-hal yang berhubungan dengan kelangsungan hidup lembaga adat itu sendiri seperti wilayah adat... memerintahkan pengundangan Praturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembar Daerah Kabupaten Sanggau.. sepanjang mengenai pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati. hukum adat dan hak adatnya...2006 Bupati Sanggau YANSEN AKUN EFFENDY 127 ... (3) Pemerintah Daerah wajib memberi perlindungan kepada Lembaga Adat dari tindakan dan ancaman yang dapat membahayakan keutuhannya...... (4) Perlindungan dapat juga berupa jaminan kepastian hukum dalam menjalankan tugas dan fungsinya. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 8 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini. Ditetapkan di : Sanggau Pada tanggal : ...

128 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful