P. 1
Tekhnik Berbicara didepan Umum

Tekhnik Berbicara didepan Umum

|Views: 571|Likes:
Published by Ade Ariawan

More info:

Published by: Ade Ariawan on Jun 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2014

pdf

text

original

1

BERBICARA DI DEPAN UMUM

1. Pengertian Kegiatan Berbicara adalah kegiatan mengekspresikan ige, gagasan, pikiran, melalui lambang-lambang lisan sehingga orang lain mudah mencerna dan memahami apa yang diungkapkan oleh sang pembicara. 2. Macam-Macam Kegiatan Berbicara Di Depan Umum Berdasarkan lingkup situasinya ada dua macam kegiatan berbicara di depan umum, yakni:

a. Lingkup Resmi: adalah lingkup Dinas yang memiliki kelayakan dan
formalitas tertentu. Dalam lingkup ini ada aturan tertentu yang relative lebih ketat, misalnya pakaian, situasi, tema, kosa kata, dan gaya berbicara dikemas dalam lingkup resmi. Contoh: Berpidato.

b. Lingkup NonResmi: adalah lingkup di mana kegiatan berbicara lebih banyak
kelonggarannya. Situasinya lebih familier, bahasanya bebas, pakaiannya tidak diatur, demikian pula format dan gaya pembicaraannya. Contoh: Ceramah 3. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Oleh Pembicara Baik penceramah maupun orator (ahli pidato), yang ingin sukses dalam kegiatan berbicara harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Internal: ‫ ٭‬Vokal : 1. tidak monoton, 2. jelas bervariasi, 3. sesuai dengan karakter materi. ‫ ٭‬Penampilan : 1. menarik simpati pendengar, 2. membina kontak mata dengan pendengar, 3. mimiek, ekspresi yang tidak berlebihan, 4. gerakan anggota tubuh yang sesuai. ‫ ٭‬Materi : 1. menguasai materi, 2. sesuai dengan tingkat pendengar,

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

2 3. penyampaian harus sistematis, 4. disertai dengan contoh yang “segar” b. Eksternal : ‫ ٭‬Menganalisa Pendengar: 1. Usia pendengar, 2. Tingkat pendidikan pendengar, 3. Gender (kalau perlu), 4. Latar Budaya. ‫ ٭‬Situasi pembicaraan: 1. Formal atau nonformal, 2. waktu: pagi, siang, sore, malam.

3. Tempat, in door, out door.

4. Langkah-Langkah Yang Harus Dipersiapkan Oleh Pembicara: Sebelum kegiatan berbicara di depan umum dilaksanakan, ada beberapa pedoman yang harus dipertimbangkan: 1. Tentukan tema pembicaraan, Tema harus menarik, membangkitkan rasa ingin tahu, original, kekinian/ tidak usang.

2. Mencari dan mempersiapkan materi / literature pemandu untuk menambah
bobot pembicaraan. Jangan pernah membicarakan hal-hal yang Anda sendiri tidak memahaminya, karena Anda akan terlihat ‘bodoh’ dan kurang wawasan. 3. Siapkan draf dan kisi-kisi pembicaraan secara sistematis. Ini akan mencerminkan pola pikir Anda yang teratur. 4. Susun naskah pembicaraan yang lengkap. 5. Latihanlah dengan cara membaca dan berimprovisasi secara berulang-ulang. 6. Mintalah masukan/ pendapat dari teman tentang latihan penampilan Anda.

7. Anda siap menjadi pembicara yang ‘handal’.

Berbicara di muka umum, entah itu berkhotbah, mengajar, berpidato atau memberi sambutan, sering mendatangkan stress bagi orang mendapat mandat itu. Sedapat mungkin kita biasanya berusaha menghindar. Namun pada saat tertentu kita akan tidak bisa mengelak lagi. Sesungguhnya, berbicara di depan umum itu TIDAK HARUS MEMBUAT ANDA STRESS!

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

3 Rahasianya adalah jika Anda mengetahui penyebab stress ini, dan jika Anda menerapkan beberapa prinsip-prinsip ini, maka Anda justru akan menikmati ketika berbicara di depan umum. Prinsip #1--Kecemasan Berbicara di Muka Umum BUKAN Berasal dari Dalam Kebanyakan kita percaya bahwa seluruh hidup ini patut dicemaskan! Untuk mengatasi kecemasan ini secara efektif, Anda mesti menyadari bahwa Anda TIDAK perlu mencemaskan hidup Anda, termasuk juga dalam berbicara di depan umum. Ribuan orang telah belajar untuk berbicara di depan umum tanpa rasa cemas (kalaupun ada hanya sedikit sekali). Pada mulanya, mereka ini juga sangat cemas. Lutut mereka gemetaran, suara mereka bergetar, pikiran menjadi kacau . . . selanjutnya Anda tahu sendiri. Tapi akhirnya mereka berhasil menghapus kecemasan itu. Sebagai manusia biasa, Anda pun juga tidak berbeda dengan mereka. Jika mereka mampu mengatasi kecemasan itu, berarti Anda pun bisa! Anda hanya perlu mendapat pedoman, pengertian dan rencana aksi yang tepat untuk mewujudkan hal itu. Percayalah, sudah banyak berhasil, termasuk saya. Tetapi ingat juga, keberhasilan ini tidak bisa diraih dalam semalam. Ada proses yang harus dilalui. Prinsip #2--Anda tidak Harus Cerdas dan Sempurna Ketika melihat seorang sedang berkhotbah, kita lalu bergumam "Wow, saya tidak mungkin bisa secerdas, setenang, selucu dan semenarik dia." Sesungguhnya, Anda tidak harus cerdas, lucu atau menarik. Saya mengatakan ini dengan serius. Walaupun Anda hanya memiliki kemampuan rata-rata--bahkan di bawah rata-rata-Anda masih bisa menjadi pembicara sukses. Itu tergantung bagaimana Anda mendefinisikan kata "sukses" itu sendiri. Percayalah, hadirin itu tidak mengharapkan Anda tampil sempurna. Inti dari berbicara di depan umum adalah: memberikan sesuatu yang bernilai dan bermakna bagi hadirin. Jika hadirin itu pulang sambil membawa sesuatu yang bermanfaat, maka mereka akan menilai Anda telah sukses. Jika mereka pulang dengan perasaan yang lega atau merasa mendapat manfaat untuk pekerjaannya, maka mereka akan menganggap bahwa tidak sia-sia meluangkan waktu untuk mendengarkan paparan Anda. Bahkan sekalipun lidah Anda terpeleset atau mengucapkan kata-kata yang tolol . . . mereka tidak peduli.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

4 Yang penting mereka mendapat manfaat lain (Bahkan sekalipun Anda mengkritik mereka dan membuat gusar, Anda pun tetap berhasil karena membuat mereka lebih baik lagi.) Prinsip #3--Anda hanya Butuh Dua atau Tiga Pokok Utama Anda tidak perlu menyuguhkan segunung fakta pada hadirin. Banyak penelitian menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali yang mampu diingat hadirin (kecuali jika mereka mencatat, tentu saja). Pilihlah dua atau tiga point utama saja. Yang diinginkan hadirin sebenarnya adalah mereka bisa membawa pulang dua atau tiga hal yang bermanfaat. Jika Anda bisa memasukkan hal ini dalam materi Anda, Anda bisa menghindari kompleksitas yang tidak perlu. Ini berarti juga membuat tugas Anda sebagai pembicara jadi lebih ringan, dan lebih menyenangkan juga! Prinsip #4--Anda Punya Tujuan yang Tepat Prinsip ini sangat penting . . . jadi simaklah baik-baik. Kesalahan besar yang sering dilakukan oleh orang yang berbicara di depan umum adalah mereka tidak punya tujuan yang tepat. Inilah yang secara tidak mereka sadari menyebabkan kecemasan dan stress. Seorang pembicara mengisahkan pengalamannya:"Dulu, saya pikir tujuan utama berpidato adalah membuat semua orang yang hadir setuju dengan pendapat saya." Karena itu, dia berusaha keras untuk meyakinkan semua hadirin. Jika ada satu orang saja yang tidak setuju, dia langsung meradang. Jika ada orang yang pulang duluan, jatuh tertidur, atau kelihatan tidak tertarik, orang ini merasa telah gagal. Tetapi kemudian dia menyadari hawa ambisi seperti ini terlihat menggelikan. Apakah ada pembicara yang bisa meyakinkan 100% orang yang mendengarnya? Jawabannya: tidak ada! Sesungguhnya, sekeras apapun upaya Anda. . . selalu saja ada orang yang tidak sepakat dengan Anda. Tetapi tidak apa-apa. Ini hal yang biasa. Di dalam kumpulan orang banyak selalu ada perbedaan pendapat, penilaian dan tanggapan. Ada yang positif, ada pula yang negatif. Tidak ada yang pasti dalam hal ini. Jika lamban menyelesaikan pekerjaan Anda, ada yang bersimpati pada Anda, ada pula yang mengkritik Anda dengan tajam. Jika Anda menuntaskan pekerjaan Anda dengan baik, ada yang memuji kemampuan Anda, ada pula yang sangsi

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

5 bahwa Anda bisa mengerjakannya sendirian. Orang yang pulang duluan, mungkin bukannya tidak tertarik pada uraian Anda melainkan mungkin karena ada keperluan mendesak. Yang tertidur, mungkin semalaman begadang karena anaknya sakit. Ingat, inti dari berbicara di depan umum adalah memberi nilai atau makna tertentu pada hadirin. Kata kuncinya adalah MEMBERI, bukan MENDAPAT! Dengan kata lain, tujuannya bukan mendapat sesuatu(persetujuan, ketenaran, penghormatan, pengikut dsb) dari pendengar Anda, melainkan memberikan sesuatu yang bermanfaat. Prinsip #5--Kunci Sukses adalah Tidak Menganggap Diri Anda Seorang Pembicara! Prinsip ini tampak paradoks. Kebanyakan orang telah terpengaruh oleh pembicara yang sukses. Kemudian agar sukses, kita berusaha sekuat tenaga memperlihatkan kualitas tertentu yang sebenarnya tidak kita miliki. Akibatnya kita menjadi putus asa ketika gagal meniru karakteristik dari orang terkenal, yang kita anggap sebagai kunci suksesnya. Jelasnya, alih-alih menjadi diri sendiri, kita sering berusaha menjadi seperti orang lain! Padahal sebagian besar pembicara yang sukses itu melakukan hal yang sebaliknya! Mereka tidak berusaha menjadi orang lain, tetapi menjadi diri mereka sendiri. Dan mereka pun terkejut sendiri karena mereka bisa menikmati tugas yang bayak dicemaskan orang ini. Rahasianya, karena mereka tidak berusaha menjadi pembicara tetapi menjadi diri mereka sendiri! Kita bisa melakukan hal yang sama. Apapun jenis kepribadian Anda, ataupun ketrampilan dan talenta yang Anda miliki, Anda pasti mampu berdiri di muka umum dan menjadi diri Anda sendiri. Prinsip #6--Kerendahan Hati dan Humor Sangat Menarik Perhatian Ada dua hal yang dapat dipakai oleh siapa saja untuk menarik perhatian orang ketika berbicara di muka umum, yaitu: kerendahan hati dan humor. Semua orang mengenal humor. Jika humor itu tidak menyakiti siapapun, cukup lucu dan sesuai dengan tema pembicaraan Anda, silahkan gunakan. Humor selalu menarik meskipun Anda tidak cakap menyampaikannya. Sedangkan yang dimaksud kerendahan hati adalah ketika berbicara Anda membagikan pergumulan, kelemahan dan kegagalan Anda. Sebagai manusia biasa

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

6 kita punya kelemahan dan ketika Anda jujur mengungkapkannya Anda menciptakan suasana yang nyaman sehingga orang lain juga bersedia mengungkapkan hal yang sama. Dengan rendah hati di depan orang lain, justru akan membuat Anda lebih kredibel, bisa dipercaya dan disegani. Anda lebih mudah menjalin komunikasi dengan mereka karena dianggap sebagai "orangnya sendiri". Kombinasi antara humor dan kerendahan hati seringkali sangat efektif. Dengan menceritakan pengalaman hidup Anda yang lucu dapat menjadi sarana komunikasi yang menarik. Demikian juga dengan menceritakan perasaan Anda saat itu. Misalnya, jika Anda merasa grogi ketika itu, jangan tutup-tutupi (karena mereka pasti bisa melihat). Dengan rendah hati, akuilah ketakutan itu dengan jujur. Prinsip #7--Apa yang Terjadi Selama Anda Berbicara, Bisa Anda Manfaatkan untuk Keuntungan Anda! Salah satu alasan orang takut berbicara di depan umum adalah karena dia tidak mau dipermalukan di hadapan orang banyak. Bagaimana nanti jika aku gemetaran dan suaraku tercekat? Bagaimana jika aku lupa sama sekali apa yang harus kusampaikan? Bagaimana jika hadirin menolakku dan melempari aku dengan bendabenda? Bagaimana nanti jika mereka keluar ruangan semua? Bagaimana nanti jika mereka mengajukan pertanyaan sukar dan komentar tajam? Jika semua ini memang terjadi, memang akan membuat pembicara itu mendapat malu. Untungnya, hal ini tidak sering terjadi. Sekalipun ini terjadi, ada jurus jitu yang dapat dipakai untuk menangkalnya. Ingin tahu? Jika orang mulai beranjak pergi, Anda bisa bertanya: "Apakah dari yang saya sampaikan ada yang tidak Anda setujui? Apakah gaya dan cara saya menyampaikan kurang tepat? Apakah yang saya sampaikan tidak sesuai dengan harapan Anda? Ataukah ada yang salah masuk ruangan?" Dengan menanyakan hal ini secara jujur dan rendah hati, maka hadirin yang masih duduk akan setia hingga Anda selesai berbicara. Pertanyaan ini juga memberikan kesempatan pada Anda untuk memperbaiki kesalahan yang Anda lakukan saat itu. Prinsip yang sama juga dapat diterapkan menghadapi penentang dan pengejek Anda. Anda selalu punya kesempatan untuk memakai situasi apapun yang terjadi untuk keuntungan Anda. Prinsip #8--Anda Tidak Bisa Mengatur Perilaku Khalayak Anda

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

7 Ada beberapa hal yang bisa Anda atur, yaitu: pikiran Anda, persiapan Anda, pengaturan alat peraga Anda, penataan ruang pertemuan--tetapi satu hal yang tidak bisa diatur, yaitu audiens atau khalayak Anda. Mereka akan bertindak sesuai kehendak mereka sendiri. Jika mereka terlihat lelah atau gelisah, jangan coba-coba untuk mengaturnya. Jika mereka membaca koran, atau tertidur biarkanlah itu sepanjang tidak mengganggu yang lain. Jika mereka tidak menyimak, jangan menghukum mereka

Jika Anda menganggap bahwa Anda harus mengatur perilaku orang lain, maka Anda akan stress sendiri. Anda hanya bisa mengatur diri Anda sendiri dan sarana pendukung. Prinsip #9--Hadirin Sesungguhnya Menginginkan Anda Berhasil Para hadirin menghendaki Anda sukses menyampaikan materi. Sesungguhnya, sebagian besar dari mereka sangat takut berbicara di depan orang banyak. Mereka tahu risiko kegagalan dan dipermalukan yang Anda ambil ketika Anda maju di depan mereka. Mereka mengagumi keberanian Anda mengambil risiko itu. Mereka akan di pihak Anda, apa pun yang terjadi. Ini artinya, sebagian besar khalayak itu bisa memahami jika Anda membuat kesalahan. Tingkat toleransi mereka terhadap kesalahan Anda cukup tinggi. Anda perlu meyakini prinsip ini, terutama ketika merasa bahwa penampinan Anda sangat buruk. Prinsip #10--Roh Kudus Akan Memampukan Anda Prinsip terakhir ini sangat penting. Siapa pun Anda, ketika Roh Kudus berkarya dalam diri Anda, maka Anda akan menjadi pembicara yang mengubah hidup orang lain. Ingatlah peristiwa Pentakosta. Petrus yang dikuasai Roh Kudus bisa menjadi pembicara yang hebat. Tetapi siapa sebenarnya Petrus? Dia "hanya" seorang Nelayan! Nah, dengan mengingat kesepuluh prinsip ini, percayalah Anda tidak akan merasa cemas lagi ketika harus berbicara di depan umum. Cara paling mudah untuk mengingatnya, adalah dengan mempraktikannya dengan tekun. Saya sudah mengalami sendiri. Dulu, setiap kali harus memimpin PA, saya selalu basah keringat dingin. Perut saya juga mulas. Tetapi setelah beberapa kali melakukannya, perasaan cemas itu mulai sirna. Jika saya bisa, Anda pun pasti bisa!

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

8 Tagged:
• •

public speaking Blognya Purnawan Kristanto

Seni berbicara kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja.
oleh : hardee Pengarang : Larry King Diterbitkan di: Januari 25, 2008 Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cet IX - 2002. 184 hlm. Daftar Isi Pendahuluan: kita semua harus berbicara 1. Berbicara satu lawan Satu 2. Memecah kebekuan 3. Pembicaraan sosial 4. Delapan hal yang dimiliki Pembicara terbaik 5. Percakapan trendi dan ketepatan bahasa politis 6. Pembicaraaan bisnis 7. Tamu-tamu terbaik dan terburuk saya serta alasan-alasannya 8. Blooper dan cara mengatasinya 9. Saya harus berbuat apa? Teknik berpidato 10. Lagi? Lebih jauh tentang pembicaraan publik 11. Perlakuan kejam dan luar biasa – teknik bertahan di radio dan televisi 12. Pembicaraaan masa depan. Larry King adalah salah seorang pembicara dan pemandu acara bincang-bincang (talkshow) terkenal CNN, The Larry King Show. Dalam buku ini Larry berbagi panduan, tips dan trik dalam berbicara, baik itu sebagai pembicara biasa ataupun sampai pada presentasi bisinis. Kepada satu orang atau bahkan ratusan orang. Meskipun berlatar belakang talkshow, semua tips-tips yang disampaikan Larry dapat juga diterapkan dalam percakapan sehari-hari Pada bagian 1 sampai 4, Larry memberikan dasar-dasar dalam melakukan pembicaraan, baik itu di media maupun percakapan sehari hari. Menurut Larry, ada 4

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

9 dasar dalam membuat sebuah percakapan yang berhasil, yaitu: kejujuran, sikap yang benar, minat terhadap orang lain, membuka diri sendiri. Kejujuran dalam arti kita harus dapat memberitahu lawan bicara, baik itu perserorangan maupun pendengar akan situasi kita. Dengan begitu kegugupan, akan jauh berkurang. Sikap yang benar yaitu kemauan berbicara. Meskipun pada awalnya terasa kaku, atau tidak enak. Berlatihlah untuk berbicara kapan saja. Berlatihlah menggunakan kata-kata atau kalimat-kalimat yang mungkin nantinya akan anda pergunakan dalam pembicaraan di depan cermin atau jika anda memiliki hewan peliharaan, berlatihlah dihadapannya, dengan begitu anda bisa lebih nyaman dan dijamin tidak akan ada bantahan atau interupsi. Minat terhadap orang lain. Anda tidak akan dapat berbicara dengan sukses pada orang-orang jika mereka menganggap anda tidak tertarik pada apa yang mereka katakan atau anda tidak mengahargai mereka. Membuka diri sendiri. Ini berkaitan dengan poin pertama, bahwa anda harus seterbuka dan sejujur teman bicara anda. Ini tidak berarti anda harus berbicara tentang diri anda sepanjang waktu atau membocorkan rahasia-rahasia pribadi. Seandainya saya penggagap, akan saya katakan “S-s-senang b-berkenalan d-dedengan anda. N-n-nama saya Larry King. S-s-saya mempunyai masalah g-gagap, tapi saya s-senang bercakap-c-cakap dengan anda”. Anda telah menunjukkan keadaan diri anda. Anda tidak perlu khawatir bebrbicara kepada orang itu karena anda telah menceritakan situasi anda, yang bagaimanapun akan segera mereka ketahui. Itu tidak akan menyembukan gagap anda, tetapi akan membantu anda menjadi pembicara yang lebih baik. Selanjutnya pada bagian 2, Larry memberikan petunjuk bagaimana cara memecah kebuntuan ketika akan bercakap-cakap dengan orang asing. Misalnya, sebaiknya menghindari memulai percakapan dengan pertanyaan yang bersifat “Ya/Tidak”. Contohnya. Topik mengenai cuaca, pertanyaan “apakah cuaca yang gerah ini mengganggu?” hanya akan mendapatkan jawaban “ya/tidak” tetapi dengan topik yang sama namun gaya yang berbeda misalnya “musim panas yang kita alami membuat saya berpikir, adakah sebab tertentu yang menimbulkan cuaca panas ini? Bagaimana menurut anda?” tentu akan menghasilkan jawaban yang jauh lebih baik. Larry juga menekankan bahasa tubuh yang wajar. Karena jika memaksakan diri

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

10 berpose secara tidak alami, anda akan menjadi tidak nyaman dan sangat menggelikan. Dan kalau anda merasa tidak enak, anda akan terkesan berbohong, meski sebenarnya tidak. Selanjutnya, Larry menekankan hukum pertama percakapan adalah

MENDENGARKAN. Untuk menjadi pembicara yang baik, anda harus menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan dengan seksama, akan dapat membantu anda memberi respon lebih baik. Pada bagian 3, Pembicaraan sosial. Larry berbagitips cara menghadapi beberapa situasi dalam kehidupan sosial. Mulai dari memulai percakapan di sebuah pesta pernikahan hingga berbicara dengan seorang tokoh. Pada bagian 4 dikemukakan beberapa ciri-ciri pembicara terbaik. Menurut Larry ada delapan hal yang menjadi ciri-ciri pembicara yang baik, yaitu memandang suatu hal dari sudut baru, mempunyai pengetahuan yang luas, antusias, tidak pernah membicarakan diri sendiri, sangat ingin tahu, memberi ketegasan, memiliki selera humor, dan memiliki gaya bicara sendiri. Pada bagian-bagian selanjutnya Larry King memberikan tips dalam menghadapi beberapa situasi spesifik. Misalnya, ketika melakukan blooper atau salah ucap, memberikan presentasi, wawancara kerja, atau ketika menjadi pembicara publik. Secara keseluruhan, buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang ringan diselingi humor sehingga mudah diikuti. Larry juga memberikan contoh-contoh kongkrit dari pengalaman pribadinya sebagai seorang pembawa acara maupun pembicara. Daftar Pustaka Seni berbicara kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja. oleh Larry King 2008

MEMAHAMI FENOMENA BERBICARA Ada tiga pertanyaan dan sekaligus tiga jawaban:

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

11 A. Bicara baik atau diam. B. Manusia punya tugas besar di dunia. Salah satunya adalah untuk berbicara. Berbicara untuk saling mengingatkan dan mengajak manusia pada kebaikan. C. Meningkatkan kemampuan berbicara yang baik dan tahu kapan harus diam. Tips Aa Gym: 1. Menahan diri saat berhadapan dengan orang yang marah; 2. Tujuan perkataan dan apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan; 3. Berbicara di saat yang tepat; 4. Pilihlah kata-kata terbaik, saat terbaik, waktu terbaik dan tempat terbaik; 5. Sebelum berkata-kata, kata-kata adalah tawanan kita. Setelah itu, sebaliknya; 6. Bertanya pada diri sendiri, haruskah saya berbicara? 7. Kata-kata paling bernilai hanya ada dalam empat kasus yaitu: - Jika mendapat nikmat, bersyukur; - Jika mendapat musibah, bersabar; - Jika mendapat taufik, mengakui bahwa semua itu hanya karena berkat dan karuniaNya; - Jika tergelincir melakukan dosa, meminta ampun kepada-Nya. 8. Tidak sembarang berbunyi; 9. Percayalah, diam itu emas; 10. Perhatikan dengan siapa kita berbicara. Tips Harun Yahya: 1. Berkata-kata dengan memuji-Nya; 2. Sering mengingat-Nya dalam berkata-kata; 3. Memanggil-Nya dengan nama-nama baik-Nya; 4. Berbicara dengan memahami bahwa Dia selalu bersama kita; 5. Berbicara dengan tidak mengasosiasikan-Nya dengan yang lain; 6. Berbicara dengan memahami ketidakberdayaan manusia di hadapan-Nya; 7. Berbicara dengan memahami bahwa setiap pekerjaan dan aktivitas hanya berjalan sesuai kehendak-Nya; 8. Menerapkan ajaran-Nya dalam berbicara; 9. Berbicara dengan memahami kepastian takdir-Nya; 10. Berbicara dengan memahami keberadaan hal-hal baik dalam segala sesuatu; 11. Berbicara dalam keadaan mempercayai-Nya; 12. Berbicara dengan memahami bahwa hidup ini hanya sementara; 13. Berbicara dengan menunjukkan perhatian pada persoalan benar dan salah sesuai ajaran-Nya; 14. Menghindari gaya bicara setan;

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

12 15. Bergabung dengan pembicaraan yang benar dan menghindar dari pembicaraan yang salah; 16. Berbicara dengan bijaksana; 17. Berbicara dengan ramah; 18. Berbicara benar; 19. Berbicara dengan penuh kepekaan; 20. Berbicara dengan logis; 21. Menyampaikan kabar baik; 22. Berbicara dengan membuat orang lain senang dan antusias; 23. Mengatakan yang terbaik; 24. Tidak berangkat bicara dari sisi yang rendah atau gelap dari diri, atau dari keinginan pribadi; 25. Bicara dengan mengukur, berbudi dan menghormati orang lain; 26. Berbicara dengan bersahaja; 27. Berbicara dengan toleransi dan memaafkan; 28. Tidak berbicara di belakang orang lain dan tidak menggosip; 29. Tidak berbicara dengan curiga dan memfitnah; 30. Tidak berbicara dengan mengejek; 31. Tidak berbicara dalam ketamakan dan iri hati; 32. Tidak membuat pernyataan yang kosong atau tidak berarti; 33. Tidak menginterupsi dan berbicara lemah lembut; 34. Berbicara dengan gaya dan cara yang dipahami lawan bicara; 35. Menghindari bicara hipokrit; 36. Tidak berbicara yang menimbulkan keragu-raguan; 37. Tidak berbicara dengan menyelidik dan mengorek-ngorek; 38. Tidak berbicara yang mendekatkan orang lain kepada setan; 39. Tidak berbicara yang menyulitkan atau menyudutkan orang lain; 40. Berbicara yang berpihak dan membela kebenaran dan keadilan. Tips Mamarinta Omar Mababaya dan Dr.Norlain Dindang Mababaya: 1. Berbicara yang disenangi-Nya; 2. Berbicara setulusnya untuk hal-hal yang disenangi-Nya; 3. Mengajak orang lain pada kebaikan dan kebenaran; 4. Berbicara dengan mengerti, bijak dan indah; 5. Berbicara sebagai orang yang memahami kebenaran dan memiliki keyakinan. Well, berat sekali tugas kita. Dan kita harus menjawab yang mana: A, B, atau C?

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

13

Bergabunglah dengan milis BICARA di: http://groups.yahoo.com/group/bicara/

ETIKA BERBICARA
Rabu, 9 April , 2008 oleh Riny Yunita

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

14

Berbicara adalah kebutuhan kita sebagai manusia. Berbicara merupakan salah satu cara yang efektif bagi kita untuk berkomunikasi. Dengan berbicara kita bisa menyampaikan maksud dan tujuan serta buah pikiran kita dengan cepat. Namun alangkah bijaksananya jika kita memperhatikan cara berbicara maupun isi dan materi yang kita bicarakan. Jangan sampai ungkapan “banyak bicara banyak berdosa” sampai menjangkiti kita. Maksud kita hendak mengkomunikasikan sesuatu malah menjadi ajang memperpanjang daftar dosa. Semoga kita terhindar dari hal yang demikian. Ada banyak etika, adab dan sopan santun dalam berbicara yang diketahui dan dianut oleh masyarakat. Salah satu acuan yang dapat kita pedomani adalah adab berbicara di Minang Kabau Sumatera Barat yang dikenal dengan “Kato nan Ampek” yaitu adab berbicara dibedakan atas empat (ampek) jenis audience atau lawan komunikasi kita, sebagai berikut:

1. Kato Mandaki Kata dan adab yang digunakan bila kita berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau dituakan dan lebih dihormati karena jabatan dan kedudukannya. 2. Kato Mandata Kata dan adab yang digunakan bila kita berkomunikasi dengan teman sebaya atau rekan kerja. 3. Kato Malereng Kata dan adab yang digunakan bila kita berkomunikasi dengan orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan kita dan keluarga seperti ipar, besan, sumando, mamak rumah. 4. Kato Manurun Kata dan adab yang digunakan bila kita berkomunikasi dengan orang yang lebih muda ataupun kepada bawahan.

Selain adab dan pemilihan kata dalam berkomunikasi, perhatikan juga materi atau isi pembicaraan kita. Berikut ini ada beberapa materi yang suka dijadikan topik dalam pembicaraan dan dikhawatirkan dapat menjerumuskan kita pada pembicaraan yang berpotensi dosa.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

15

Membicarakan kelebihan diri sendiri Pembicaraan jenis ini disatu sisi diyakini bisa meningkatkan rasa percaya diri/self esteem. Dan baik juga untuk meningkatkan citra positif yang bisa memacu semangat dalam beraktifitas. Namun harus diwaspadai jika pembicaraan ini terlalu berlebihan bisa menimbulkan kesombongan. Membicarakan kekurangan diri sendiri Pembicaraan jenis ini berguna untuk introspeksi diri sehingga dengan menyadari kekurangan kita bisa mengupayakan perbaikan diri untuk meningkatkan kualitas hidup selanjutnya. Namun jika berlebihan dan sampai pada penyesalan-penyesalan yang keterlaluan apalagi meratapi nasib akan berakibat buruk terhadap tingkat percaya diri yang bisa membuat kehilangan semagat hidup. Membicarakan kelebihan orang lain Kelebihan orang lain dapat memotivasi kita untuk berbuat hal yang sama jika kita dan lingkungan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan layak ditiru. Tapi jika terlalu berlebihan dan sampai mengidolakan apalagi sampai mengkultuskan seseorang akan berakibat tidak sehat untuk jiwa. Membicarakan kekurangan orang lain Topik ini merupakan yang paling senang dibicarakan orang dimana. Infotainment yang memuat berbagai skandal dan kebobrokan moral sangat digemari dan mempunyai rating yang tinggi. Pembicaraan ini yang lebih populer disebut gosip, gunjing atau ghibah sering menjadi topik sehari-hari dan sebagian dari kita sangat senang dan bahkan menikmati pembicaraan ini. Alangkah bijaksananya jika kita menyikapi fenomena ini sebagai ajang introspeksi bukannya malah menu utama untuk dijadikan pembicaraan hangat setiap harinya. Banyak sekali pepatah dan ungkapan bijak yang mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati dalam bertutur kata agar kita tidak terlibat dalam pembicaraan yang mengandung dosa. Jika tidak terlalu penting “Silent is Gold” sangat bijak diterapkan. Ataupun kalau harus ada kata-kata yang hendak disampaikan pilihlah kata-kata yang tepat, jangan sampai menyakiti perasaan orang lain yang mendengarnya karena “Kata-kata bisa lebih tajam dari pedang”.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

16

Komunikasikanlah sesuatu dengan kata-kata yang tepat dan dengan cara yang baik jangan sampai menjadi bumerang bagi diri sendiri sebagaimana ungkapan “Mulutmu harimaumu akan menerkam kepalamu”. Apalagi kalau kata-kata yang diucapkan merupakan ucapan yang tidak benar atau berupa kebohongan dan sampai menimbulkan fitnah karena “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Alangkah besar dampak suatu kebohongan yang dituduhkan pada orang lain bahkan lebih buruk dari menghilangkan nyawa sekalipun. Jadi, walau “lidah tak bertulang” tapi pengaruhnya sangat besar pada keharmonisan hubungan antar sesama manusia. Jagalah lisan, perhatikan etika ketika berbicara, semoga kita semua menjadi lebih bijaksana karenanya.

Ditulis dalam Personality | yang berkaitan Artikel, Etika, Personality, renungan | 4 Tanggapan

KETERAMPILAN BERBICARA RHETORIKA DAN BERBICARA EFEKTIF
Disusun oleh : Drs. Arman Agung

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

17

Dengan mulut kita dapat berbicara. Berbicara adalah merupakan suatu aktivitas kehidupan manusia normal yang sangat penting, karena dengan berbicara kita dapat berkomunikasi antara sesama manusia, menyatakan pendapat, menyampaikan maksud dan pesan, mengungkapkan perasaan dalam segala kondisi emosional dan lain sebagainya. Kalau diamati dalam kehidupan sehari-hari, banyak didapati orang yang berbicara. Namun tidak semua orang didalam berbicara itu memiliki kemampuan yang baik didalam menyampaikan isi pesannya kepada orang lain sehingga dapat dimengerti sesuai dengan keinginannya, dengan kata lain, tidak semua orang memiliki kemampuan yang baik didalam menyelaraskan atau menyesuaikan dengan detail yang tepat antara apa yang ada dalam pikiran atau perasaannya dengan apa yang diucapkannya sehingga orang lain yang mendengarkannya dapat memiliki pengertian dan pemahaman yang pas dengan keinginan si pembicara. Untuk penyampaian hal-hal yang sederhana mungkin bukanlah suatu masalah, akan tetapi untuk menyampaikan suatu ide/gagasan, pendapat, penjelasan terhadap suatu permasalahan, atau menjabarkan suatu tema sentral, biasanya memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi seorang pembicara yang belum terbiasa, bahkan tidak semua orang mampu melakukannya dengan baik. Dibutuhkan suatu keterampilan atau kecakapan dengan proses latihan yang secukupnya untuk dapat tampil dengan baik menjadi seorang pembicara yang handal. Keterampilan berbicara pada dasarnya harus dimiliki oleh semua orang yang didalam kegiatannya membutuhkan komunikasi, baik yang sifatnya satu arah maupun yang timbal balik ataupun keduanya. Seseorang yang memiliki ketermapilan berbicara yang baik, akan memiliki kemudahan didalam pergaulan, baik di rumah, di kantor, maupun di tempat lain. Dengan keterampilannya segala pesan yang disampaikannya akan mudah dicerna, sehingga komunikasi dapat berjalan lancar dengan siapa saja. Disadari bahwa keterampilan berbicara seseorang, sangat dipengaruhi oleh dua faktor penunjang utama yaitu internal dan eksternal. Faktor internal adalah segala sesuatu potensi yang ada di dalam diri orang tersebut, baik fisik maupun non fisik (psykhis), faktor pisik adalah menyangkut dengan kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan didalam berbicara misalnya, pita suara, lidah, gigi, dan bibir, sedangkan faktor non fisik diantaranya adalah: kepribadian (kharisma), karakter, temparamen, bakat (talenta), cara berfikir dan tingkat intelegensia. Sedangkan faktor eksternal misalnya tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan pergaulan. Namun demikian, kemampuan atau keterampilan berbicara tidaklah secara otomatis dapat

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

18 diperoleh atau dimiliki oleh seseorang, walaupun ia sudah memiliki faktor penunjang utama baik internal maupun eksternal yang baik. Kemampuan atau keterampilan berbicara yang baik dapat dimiliki dengan jalan megasah dan mengolah serta melatih seluruh potensi yang ada. Pada dasarnya seorang pembicara yang handal adalah seseorang yang ketika ia berbicara, baik dalam komuniasi formal (presentasi, ceramah, dll.) maupun informal (pergaulan) memiliki daya tarik yang rhetoris (mempesona) dengan isi pembicaraan yang efektif (sistematis, benar/tepat, singkat dan jelas dengan bahasa yang tepat) sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dengan jelas dan tergugah perasaannya. Singkatnya, semua orang apapun profesinya, bila didalam kegiatannya menggunakan komunikasi (pembicaraan) sebagai sarananya, maka ia perlu memiliki keterampilan berbicara, terlebih lagi sebagai seorang tenaga pendidik, penyiar, atupun profesi lainnya. RHETORIKA Salah satu dari sekian banyak jenis keterampilan yang penting untuk dimiliki oleh setiap orang adalah keterampilan berbicara atau seni berbicara. Hal ini menjadi penting bahkan sangat urgen, karena tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan ini sebagai manusia normal kita tidak mungkin lari dari kenyataan bahwa kita dalam berinteraksi dengan sesama manusia harus menggunakan suatu bentuk atau cara yang disebut komunikasi, khususnya bahasa verbal atau lisan. Nuansa ini memberikan aksentuasi kepada kemampuan manusia di dalam menggunakan lambang-lambang kata, simbol-simbol maupun isyarat lainnya dalam proses komunikasinya sehingga tujuan komunikasi tercapai. Di dalam kenyataannya bahwa proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia, baik secara pribadi maupun secara kelompok tidak jarang ditemukan adanya kegagalan di dalam mencapai tujuan komunikasi. Hal ini disebabakan oleh adanya kekurangmampuan komunikator dalam mengaplikasikan secara lebih baik lambang-lambang kata, simbol-simbol maupun isyarat lainnya dalam proses komunikasi, atau mungkin juga disebabkan oleh faktor lainnya yang tidak/kurang menguntungkan bagi kondisi di saat berlangsungnya proses komunikasi tersebut. Dari fenomena tersebut di atas maka seorang komunikator dalam profesi apapun yang menggunakan bahasa lisan sebagai media penyampaiannya, dipandang perlu membekali diri dengan suatu keterampilan atau seni di dalam berbicara atau dalam istilahnya “Rhetorika”.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

19 a. Pengertian/Defenisi Rhetorika Rhetorika dapat diartikan secara “etimologi” dan “terminologi”. Adapun hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. berbicara. atau berbicara. 2. Secara terminologi (pengertian secara istilah) adalah : Didalam bahasa Inggris rhetorika dikenal dengan istilah “The art of speaking” yang artinya seni di dalam berbicara atau bercakap. Sehingga secara sederhana dapat dikemukakan bahwa rhetorika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari atau mempersoalkan tentang bagaimana caranya berbicara yang mempunyai daya tarik yang mempesona, sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dan tergugah perasaannya. Sebagai bahan komparasi (pembanding) maka berikut ini ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa pakar di bidang rhetorika yang diantaranya adalah : 1. Richard E. Young cs, mengatakan bahwa rhetorika adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana kita menggarap masalah wicara-tutur kata secara heiristik, epistomologi untuk membina saling pengertiandan kerjasama. 2. Socrates mengemukakan bahwa rhetorika mempersoalkan tentang bagaimana mencari kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya. Karena dengan dialog kebenaran dapat timbul dengan sendirinya. 3. Plato mengungkapkan bawha rhetorika adalah kemampuan didalam mengaplikasikan bahasa lisan yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan sempurna. 4. Drs. Ton Kertapati mengartikan rhetorika sebagai kemampuan seseorang untuk menyatakan pikiran dan perasaannya dengan menggunakan lambang-lambang bahasa. Dari beberapa defenisi tersebut di atas, apapun defenisi dan siapapun yang mengemukakannya semua mengacu dan memberi penekanan kepada kemampuan menggunakan bahasa lisan (berbicara) yang baik dengan memberikan sentuhan gaya (seni) didalam penyampaiannya dengan tujuan untuk memikat/menggugah hati pendengarnya dan mengerti dan memahami pesan yang disampaikannya. Kemampuan untuk menjadi pembicara yang handal tidaklah diperoleh secara otomatis atau hanya mengandalkan bakat yang besar dan pembawaan (kharismatik) Bahasa Inggris “Rhetoric” yang berarti kepandaian berpidato Secara etimologi (berdasarkan asal kata), rhetorika berasal dari : Bahasa Latin (Yunani kuno) “Rhetorica” yang artinya seni

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

20 semata, tetapi juga dapat dipelajari dan atau melalui latihan yang banyak (Dr. Dale Carnigie). b. Latar Belakang Sejarah Istilah rethorika muncul bermula di Yunani sekitar abad ke-5 sebelum masehi. Pada saat itu adalah merupakan masa kejayaan Yunani sebagai pusat kebudayaan barat dan para filsufnya saling berlomba untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Pengaruh kebudayaan Yunani ini menyebar sampai ke dunia timur seperti Mesir, India, Persia, bahkan Indonesia dan lain-lain. Rhetorika mulai berkembang pada jaman Socrates, Plato, dan Aristoteles. Selanjutnya rhetorika kemudian berkembang menjadi suatu ilmu pengetahuan, dan yang dianggap sebagai guru pertama dalam ilmu rhetorika adalah Georgias (480 – 370 SM). c. Jenis-Jenis Rhetorika Dari segi kepentingannya atau tujuan yang ingin dicapai, rhetorika dapat dibagi dalam dua bahagian, yaitu : 1. Rhetorika Persuasif Rhetorika persuasif adalah rhetorika yang bertujuan mempengaruhi orang dengan tidak begitu memperhatikan/mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran dan moralitas. Rhetorika yang seperti ini dapat kita jumpai dimana-mana, contohnya adalah rhetorika yang digunakan oleh sebagian besar penjual obat kaki lima dalam menawarkan dagangannya, dll. 2. Rhetorika Dialektika Rhetorika dialektika yang sering juga disebut dengan rhetorika psikologi, adalah rhetorika yang muncul sebagai kebalikan dari rhetorika persuasif, dimana rhetorika ini sangat memperhatikan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, moralitas dan sifatnya dapat menenangkan jiwa manusia. Tujuan utama rhetorika ini mengarah kepada pembinaan spiritual. Rhetorika yang seperti ini umumnya digunakan didalam ceramah-ceramah agama.

d.

Tujuan Rhetorika Tujuan rhetorika adalah berusaha untuk membentuk opini publik atau

menggiring pendapat umum ke arah pendapat pembicara, atau minimal pendengar

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

21 (audience) tidak membantah terhadap apa yang dikemukakan oleh si pembicara (komunikator). e. Langgam-Langgam Dalam Rhetorika Dalam rhetorika langgam diartikan sebagai cara, ragam, atau gaya suatu bahasa (pembicaraan). Langgam-langgam rhetorika dapat dibagi atas : 1. Langgam Agitasi Langgam agitasi adalah langgam yang kebanyakan dipakai dalam rhetorika persuasif. Langgam ini biasanya digunakan untuk membakar semangat, misalnya oleh demonstran. 2. berdialog. 3. Langgam Agama Langgam agama adalah langam yang biasa digunakan oleh para muballigh atau para pendeta dalam penyampaian ceramahnya. f. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Rhetorika Keberhasilan suatu rhetorika didalam berbicara sangat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Situasi Situasi yang dimaksudkan adalah hal-hal yang menyangkut keadaan atau kondisi saat pembicaraan/ceramah sedang berlangsung. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: a. b. Tingkat pengetahuan pendengar. Yaitu menyangkut latar Formal atau informal. Hal ini menyangkut apakah kita belakang level pengetahuan dari pendengar (audience). berbicara dalam suatu situasi yang formal (forum resmi) atau dalam situasi biasa atau kekeluargaan (informal) c. Sedih atau gembira. Berbicara di depan orang yang berada dalam situasi sedih tentunya sangat berbeda dibandingkan dengan ketika kita tampil berbicara di depan orang yang sedang dalam keadaan gembira. Untuk itu seorang pembicara harus mengetahui betul situasi dan kondisi pendengarnya. 2. Ruang Hal ini adalah tentang tempat dimana kita sedang berbicara, misalnya di dalam ruangan gedung ataukah di lapangan. Langgam Teater Langgam teater adalah langgam yang digunakan oleh para pemain teater dalam

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

22 3. Waktu

Yang dimaksudkan dengan waktu disini adalah, disamping waktu yang sebenarnya yaitu apakah pagi, siang, sore atau malam, juga tentang isi materi yang akan dibicarakan, apakah hal tersebut masih aktual ataukah sudah usang atau basi. 4. Tema Sebuah tema sangat penting artinya dalam suatu pembicaraan, sehingga didalam pembicaraan seorang pembicara ia dapat fokus atau terarah. Sangat disarankan seorang pembicara hanya menggunakan satu tema pembicaraan sehing didalam pembicaraannya ia tidak ngawur atau mengambang yang dapat mengakibatkan isi pembicaraan susah dipahami oleh pendengar. Namun jika terpaksa harus lebih dari satu, maka selesaikanlah satu tema pembicaraan kemudian pindah ke tema yang lainnya. 5. Isi atau Materi Isi pembicaraan hendaknya sesuai dengan tema yang telah dipersiapkan dengan mantap sebelumnya dan menarik minat pendengar. Daya tarik suatu materi juga akan sangat menentukan keberhasilan suatu pembicaraan. Adapun yang dapat menjadi pemicu rasa ketertarikan pendengar diantaranya adalah :  Up to date, masalah yang dibicarakan adalah Merupakan suatu yang menyangkut kepentingan Masalah yang mengandung pertentangan publik, Sesuai dengan kemampuan logika pendengar, dll. Teknik Penyajian masalah yang sedang hangat-hangatnya di dalam masyarakat.  pendengar.  benar-salah, baik-buruk.  6.

Teknik yang dimaksudkan disini adalah cara-cara yang digunakan didalam berbicara, meliputi : a. Kemampuan menggunakan bahasa lisan dengan baik. Dalam hal ini seorang pembicara hendaknya memiliki kemampuan tata bahasa yang baik, artikulasi yang jelas dan tidak cadel, intonasi yang menarik (tidak monoton), aksen yang tepat, dan tidak terlalu banyak menggunakan istilah yang tidak perlu. b. Ekspresi (air muka) yang menarik, misalnya: tidak cemberut, tidak pucat, tidak merah, dan sebagainya. Ekspresi dalam berbicara sangat penting untuk memikat minat dengar atau rasa ingin tahu dari pendengar.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

23 c. Stressing (redance), yaitu kemampuan seorang pembicara

untuk memberikan penekanan pada masalah-masalah inti atau penting didalam pembicaraannya, misalnya dengan pengulangan-pengulangan yang seperlunya, atau dengan penekanan-penekanan tertentu dalam nada pembicaraan. d. Kemampuan memberikan refreshing (penyegaran) dengan menyelipkan intermezzo, yaitu dengan menyelingi pembicaraan dengan halhal lain yang berhubungan yang mengandung kelucuan, baik itu pengalaman sendiri atau sebuah anekdot, dengan tidak mengurangi nilai pembicaraan. Hal ini dimaksudkan agar pendengar tidak terlalu stress yang bisa menimbulkan kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti pembicaraan kita. e. Kepribadian atau personality. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah disamping daya pesona atau kharismatik seseorang, juga meliputi nilai-nilai pribadi seorang pembicara, diantaranya: jujur, cerdik, berani, bijaksana, berpandangan baik, percaya diri, tegas, tahu diri, tenang dan tenggang rasa. BERBICARA EFEKTIF Tampil berbicara dengan hanya mengandalkan teknik rhetorika, nampaknya tidaklah cukup untuk menjadi seorang pembicara yang handal. Karena bagimanapun hebatnya daya pesona yang ditimbulkan oleh seorang pembicara dalam penampilannya tanpa didukung oleh efektifitas pembicaraan yang dibawakannya, maka apa yang disampaikannya itu akan berlalu begitu saja tanpa menimbulkan kesan yang mendalam, atau dengan kata lain efek pesan yang disampaikannya itu hanya bertahan sampai selesainya pembicaraan, begitu pembahasan selesai maka selesai pulalah segalanya. Untuk itulah maka disamping seorang pembicara perlu memiliki rhetorika yang baik, ia juga perlu menguasai apa yang disebut berbicara yang efektif. Berbicara efektif merupakan sarana penyampaian ide kepada orang atau khalayak secara lisan dengan cara yang mudah dicerna dan dimengerti oleh pendengarnya. Hal itu dapat terjadi jika pembicaraannya sistematis, benar, tepat dan tidak berbelit-belit dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar. 1. Dasar-Dasar Berbicara Efektif

Pada dasarnya berbicara efektif pada kesempatan apapun terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu pembukaan, isi atau inti permasalahan, dan penutup.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

24

a.

Pembukaan

Pembukaan adalah bagian awal dari setiap pembicaraan. Pembukaan termasuk bagian penting karena turut menentukan sukses tidaknya suatu pembicaraan. Bila pembukaan sudah berhasil menggugah minat dengar orang, maka kesuksesan pembicaraan sudah 50 % ada ditangan si pembicara. Sebaliknya, bila pembukaannya saja sudah membosankan, maka kegagalan penyampaian pesan dapat dikatakan sudah 90%, karena yakinlah bahwa pembicara akan diabaikan atau tidak akan diperhatikan oleh pendengar. Pembukaan seyogyanya dilakukan paling lama lima menit. Dan diharapkan waktu lima menit tersebut dapat memberikan kesan yang menyenangkan dan menarik minat bagi para pendengar sehinga para pendengar bersedia menyimak pembicaraan selanjutnya dengan seksama. Pada acara formal, misalnya pidato, isi “Pembukaan” biasanya terdiri dari salam kepada orang/pejabat atau tokoh setempat yang hadir, ucapan terima kasih atas kesempatan yang diberikan, dan ulasan sekilas tentang masalah yang akan dibicarakan. Pembukaan sebaiknya memuat common interest dari pendengar. Misalnya berbicara tentang hal-hal aktual yang sedang terjadi yang menjadi bahan pembicaraan yang hangat di masyarakat, walaupun mungkin tidak ada kaitannya dengan yang akan dibicarakan. Bisa juga disisipkan beberapa lelucon/anekdot segar yang dapat menggugah perhatian dan simpati orang. Alangkah baiknya apabila lelucon atau “penyegar” tersebut secara tidak langsung dapat disambungkan dengan inti masalah. Bila kata pembukaan berhasil, perhatian pendengar secara halus dapat ditarik ke inti permasalahan. Pembukaan pada setiap kesempatan pembicaraan sangat berbeda, tergantung pada misi, sifat, lawan bicara, dan suasana pembicaraan. 1) Misi Pembicaraan

Pembukaan dipengaruhi oleh misi pembicaraan. Yang dimaksudkan dengan misi pembicaraan di sini adalah tujuan pertemuan atau pembicaraan dan tugas yang dibebankan kepada si pembicara untuk disampaikan kepada hadirin 2) Sifat Pembicaraan

Pembukaan dipengaruhi oleh sifat pembicaraan, apakah serius, resmi, atau tidak sama sekali. Pembukaan di depan forum resmi, misalnya pertemuan atau rapat

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

25 dinas yang dihadiri oleh pejabat kantor bersangkutan dan para pejabat pemerintah, sifatnya sangat formal yang biasanya akan mengikuti tatanan yang sudah baku dalam acara resmi. Dalam hal ini, pembukaan harus benar-benar mencerminkan keseriusan dari acaranya. “Pembukaan” pembicaraan atau pidato dapat disisipi “penyegaran” dengan sedikit humor, dan bisa dilakukan dengan santai tapi dengan tidak menghilangkan keseriusan acara. 3) Lawan Bicara

Lawan bicara turut menentukan “pembukaan” pembicaraan. Lawan bicara atau pendengar bisa dikategorikan dalam dua bahagian, yaitu kelompok atau perseorangan. Pembicaraan dengan perseorangan (seseorang), pembukaannya biasanya lebih diwarnai dengan gaya yang sifatnya kekeluargaan, apalagi kalau keduanya sudah akrab. Namun apabila pembicara dengan lawan bicara belum akrab benar maka pembukaan disampaikan seperlunya hingga dirasa suasana sudah “hangat”, kemudian kita dapat masuk ke masalah inti yang akan disampaikan. Berbeda jika pembicaraan dilakukan dihadapan banyak orang maka harus diperhatikan siapa siapa yang menjadi lawan bicara, pembukaannya harus ditujukan kepada semua hadirin. Disamping itu, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: usia, status sosial, bahasa dari lawan bicara, karena ini berkaitan dengan adat kesopanan yang juga akan sangat menentukan minat dengar dari lawan bicara. 4) Suasana

Suasana juga ikut menentukan bagaimana pembukaan suatu pembicaraan. Baik isi maupun pola tutur bahasa bahkan nada bicara yang digunakan adalah sangat erat hubungannya dengan suasana yang berlangsung atau yang dihadapi oleh pembicara. Karenanya pembicara harus memahami betul suasana yang dihadapinya untuk memulai atau membuka suatu pembicaraan, apakah gembira, sedih, santai atau suasana yang lainnya. Pembukaan pembicaraan atau sambutan dan sejenisnya, pada suatu acara pemakaman jangan sampai disamakan seperti pada pembukaan acara ulang tahun, atau sebaliknya. b. Isi/Inti Pembicaraan

Inti pembicaraan merupakan bagian paling pokok dalam pembicaraan. Bagian ini merupakan tujuan dari pembicaraan. Dalam bagian inilah rincian permasalahan akan dibahas.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

26 Dalam acara-acara tertentu, misalnya diskusi, seminar, sarasehan, biasanya penyampaian inti permasalahan tidaklah perlu terlalu mendetail, melainkan hanya pada butir-butir pokoknya sajalah yang disampaikan. Penyampaian yang mendetail biasanya disampaikan dalam forum tanya jawab. Isi pembicaraan harus dapat disampaikan secara lengkap dengan sistematis dan tidak berkepanjangan atau bertele-tele. Pembicara harus konsisten dengan inti permasalahan. Pembicaraan tidak boleh merambat ke hal-hal di luar permasalahan yang dibicarakan, terkecuali jika hal itu diambil sekedar sebagai referensi atau sebagai loncatan berfikir (itupun harus dibatasi dan dijaga jangan sampai berkembang lebih jauh). Untuk lebih memfokuskan perhatian pendengar dapat dibantu dengan presentasi yang menggunakan alat audio, visual atau audio visual. Sesekali sisipkan anekdot atau guyonan penyegar suasana. Dan selanjutnya libatkan hadirin dalam permasalahan yang disampaikan, misalnya dengan melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan inti permasalahan. Cara seperti ini hampir selalu dapat mengikat perhatian pendengar sepanjang pembicaraan. Perlu diperhatikan bahwa, sebaiknya lama pembicaraan tidak lebih dari satu jam per sesi. Pembahasan inti permasalahan dapat dilanjutkan lagi dalam forum tanya jawab. Setelah semua inti materi disampaikan, tiba saatnya untuk menutup pembicaraan. c. Penutup

Pada akhir pembicaraan hendaknya diusahakan adanya kata-kata penutup yang dibuat sesingkat mungkin, paling lama tiga sampai lima menit. Dalam penutup dapat disampaikan kesimpulan atau rangkuman penting sebagai hasil pembicaraan itu. Penutup biasanya diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada hadirin atas perhatian yang diberikan dan kepada penyelenggara apabila berbicara pembicaraan. pada suatu acara resmi. Dan terakhir sekali adalah ucapkan salam sebagai penutup

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

27

DAFTAR PUSTAKA

1. HUDORO SUMETO : Cara Berbicara dan Presentasi dengan Audio Visual, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004. 2. ARMAN AGUNG : Laporan Program Pembelajaran Pendidikan Kader (Materi Rethorika) di Kampus IKIP Gunungsari Baru Ujung Pandang, Ujung Pandang1989.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

TIM MKCU BAHASA INDONESIA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->