Penegakan IMB/IMBB Dalam Upaya Penataan Lingkungan yang Rapi Oleh Ishviati J Koenti Abstract

Sehat dan Tertata

Pemerintah Kota Yogyakarta dituntut untuk mampu mengendalikan pertumbuhan bangunan agar tetap sesuai dan selaras dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Dalam rangka menunjang upaya pengendalian pemanfaatan ruang maka diterapkan mekanisme perijinan bagi segala kegiatan. Apabila dikaitkan dengan pembangunan fisik maka salah satu ijin yang memegang peranan cukup penting adalah Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Pemkot Yogyakarta telah memiliki perangkat hukum yang lengkap terkait dengan Bangunan Gedung yang mengatur tentang ruang lingkup yang meliputi fungsi bangunan gedung, klasifikasi bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung, peran masyarakat dan pembinaan dalam penyelenggaraan bangunan gedung, Izin Mendirikan Bangunan Gedung (IMB) serta Ijin Bangunan Gedung (IBG). Namun pada kenyataannya, tingkat kesadaran masyarakat untuk mentaati peraturan IMB/IMBB sangat rendah. Hal ini disebabkan karena ketidak tahuan masyarakat bahwa pelanggaran terhadap IMB dapat dikenai sanksi dan masyarakar tidak memahami bahwa dampak yang diakibatkan dari ketidak tertiban dalam membangun dapat mengakibatkan kesulitan Pemkot untuk menata kawasan menjadi lingkungan yang sehat dan tertata rapi, yang pada gilirannya akan dapat menghindari dampak kerusakan lingkungan. Hal ini juga disebabkan karena penerapan sanksi terhadap pelanggaran IMB masih sangat lemah. A. Pendahuluan Kawasan perkotaan dari waktu ke waktu terus mengalami kemajuan mengingat kota merupakan tempat yang sangat strategis bagi berbagai kegiatan khususnya yang berkaitan di bidang ekonomi. Akibat yang timbul adalah semakin pesatnya laju pertumbuhan penduduk yang berakibat pada dibutuhkannya semakin banyak ruang untuk menampung dan menunjang berbagai aktivitas penduduknya. Berkaitan dengan semakin tingginya kebutuhan akan ruang, pemerintah dituntut untuk mampu mengendalikannya agar tetap sesuai dan selaras dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Dalam rangka menunjang upaya pengendalian pemanfaatan ruang maka diterapkan mekanisme perijinan bagi segala kegiatan. Apabila dikaitkan dengan pembangunan fisik maka salah satu ijin yang memegang peranan cukup penting adalah Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Dengan adanya IMB pada dasarnya berfungsi supaya pemerintah kota dapat mengontrol dalam rangka pendataan fisik kota yang nantinya akan bermanfaat bagi perencanaan, pengawasan dan penertiban pembangunan fisik kota agar terarah. Pada akhir tahun 2009, Kota Yogyakarta mendapatkan nilai indeks tertinggi yakni 65,34 (nilai tertinggi 100 yakni sangat nyaman), dari 12 kota besar yang di survey oleh Ikatan Ahli Perencana (IAP) berdasarkan 25 Indikator yaitu diantaranya kualitas penataan ruang, jumlah ruang terbuka, kualitas angkutan umum, perlindungan bangunan sejarah, kebersihan, pencemaran, kondisi jalan, fasilitas pejalan kaki, kaum diffable, kesehatan, pendidikan, air bersih , jaringan telekomunikasi, pelayanan publik, hubungan antar 1 penduduk, listrik, fasilitas rekreasi. Namun nilai indeks yang 65,34 berarti baru pada taraf cukup nyaman belum pada tingkat nyaman apalagi sangat nyaman. Slogan Yogyakarta Berhati Nyaman yang dicanangkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Madya Yogyakarta No 1 tahun 1992 pun belum sepenuhnya terwujud, mengingat beberapa indikator masih belum tercapai, antara lain kualitas penataan ruang, jumlah ruang
1

www.pu.go.id Hasil Penelitian Indonesia Most Liveable City Index 2009, diakses tanggal 2 April 2010

1

Data kualitatif diperoleh dari pengamatan. sangatlah logis jika upaya pengendalian lingkungan hidup agar nyaman dan indah perlu mendapat proritas dalam pengelolaan kota Yogyakarta. Dari segi substansinya hukum dilihat sebagai suatu kekuatan sosial yang empiris wujudnya namun yang terlihat secara sah dan bekerja dengan hasil yang mungkin saja efektif akan tetapi mungkin saja tidak. Memberikan solusi kebijakan yang sesuai dalam rangka meningkatkan ketaatan masyarakat untuk memiliki IMB/IMBB 2. yaitu : 1. hlm. Metodologi Penelitian ini menggunakan metode pendekatan hukum socio-legal research. Metode dan Dinamika Masalahnya. Mengingat tematik pembangunan Tahun 2010 sebagaimana diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Yogyakarta adalah : " Kota Yogyakarta sebagai Kota yang Sehat dan Nyaman Huni dengan Pengelolaan Fasilitas Pelayanan Publik yang Memadai ". Elsam. dengan spesifikasi wilayah/kawasan yang tergenang air/banjir pada saat musim penghujan. statistik dan data dari hasil penelitian sejenis untuk mendukung analisis kualitatif. Bagaimana fungsi IMB/IMBB dapat menunjang upaya penataan lingkungan? 2. Tujuan Penelitian IMB/IMBB dapat menunjang upaya pengendalian dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Hukum tidak lagi di maknakan sebagai norma yang eksis secara ekslusif di dalam suatu sistem legitimasi yang formal. Sedang data kuantitatif diperoleh dari pengumpulan dokumen. perda-perda dan peraturan perundang-undangan daerah. Membuktikan bahwa Soetandyo Wignjosoebroto. yang menimbulkan problem antara lain genangan air di jalan-jalan utama kota. Bagaimana tingkat ketaatan masyarakat dalam memiliki IMB/IMBB? 3. maka diambil Kecamatan Umbul Harjo Kecamatan Wirobrajan Kecamatan Jetis. Mengetahui hubungan antara pemahaman masyarakat tentang IMB/IMBB dengan ketaatan memiliki IMB/IMBB 3. kualitas kebersihan dan kondisi jalan.Apa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat ketaatan masyarakat terhadap IMB/IMBB di Kota Yogyakarta? B. maka. reduksi data penyajian data dan penarikan simpulan. Paradigma. khususnya dalam penelitian ini hukum dipandang sebagai suatu gejala sosio-empiris2. Hukum. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketaatan masyarakat dalam pengurusan IMB/IMBB 2. Tujuan dan Manfaat 1. D. Penelitian dilakukan di Kota Yogyakarta. 2. diskusi-diskusi secara simultan dengan melakukan pemilahan permasalahan. artinya mengkonsepsikan hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional di dalam sistem kehidupan masyarakat. Karena luasnya permasalahan penerapan IMB/IMBB sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan hidup.terbuka. Tinjauan Pustaka 1. Semakin banyaknya lahan yang dipakai untuk pembangunan fisik kota akan mengakibat sedikitnya resapan air. Paradigma dalam Penataan Ruang Kawasan Perkotaan 2 1.161 2 . wawancara mendalam. Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. 2002. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat ketaatan masyarakat dalam pengurusan IMB/IMBB untuk memberikan solusi dalam penegakan IMB/IMB. C. maka penelitian ini membatasi permasalahan yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini.

humanis. Format Pembaharuan Pengaturan Tata Kota DKI Jakarta: Solusi Alternatif Untuk Harmonisasi Kepentingan Publik dan Kepentingan Privat. Ada beberapa indikator diterapkannya paradigm baru dalam penataan kota yaitu melalui peran serta masyarakat. untuk dapat mengelola pembangunan kawasan perkotaan secara efisien dan efektif. Disampaikan pada diskusi “Pembangunan Kota Indonesia Abad 21” Urban and Regional Development Institute (URDI) dan Yayasan Sugijanto Soegijoko.” Dalam hasil penelitian . Selain itu pengembangan model kemitraan diharapkan dapat meminimalkan potensi konflik pemanfaatan ruang lintas wilayah. Selanjutnya. Hal tersebut disebabkan proses pembangunan nasional salah satunya berlangsung melalui sistem perkotaan melalui faktor yang erat hubungannya dengan urbanisasi. 3 Penataan kota adalah proses yang sangat rumit dan pelik. yaitu tidak lagi top down tetapi lebih pada bottom up dan melibatkan peran serta masyarakat secara aktif. sehingga muncullah kecenderungan yang lazim disebut sebagai urbicide atau urban suicide. yang merupakan suatu sistem sosial dalam ruang. Jakarta: 2005. 3 . 2009. karena menyangkut benturan-benturan antara pendekatan teknokratik-komersial dengan pendekatan demokratik.ijin lokasi. 4 Paradikma dalam penataan ruang kawasan perkotaan akhir-akhir ini mengalami perubahan. Operasionalisasi kebijakan dan strategi penataan ruang tersebut perlu didukung dengan keberadaan instrumen yang memadai agar perencanaan. yang kemudian diperkuat dengan instrumen hukum (misal PP. UI. Penerapan prinsip-prinsip good urban governance secara luas dan konsisten dalam pengelolaan kawasan perkotaan. serta mengurangi inefisiensi dan biaya transaksi yang terlalu besar. Suparjo Sujadi .69/1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tatacara Peran Serta Masyarakat yang merupakan derivasi dari UU No. Keppres hingga Perda).24/1992. Otonomi daerah merupakan momentum yang tepat bagi para pengelola kota dalam menerapkan prinsip-prinsip good governance untuk peningkatan kualitas pelayanan publik untuk kesejahteraan masyarakat. dan pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ijin mendirikan bangunan/ijin mendirikan bangun bangunan (IMB/IMBB. akurat. 3 Lihat definisi Harvey. Di samping peran masyarakat. Pada tahap perencanaan. yang menumbuhkan ekonomi. menghindari terjadinya pemanfaatan ruang yang tidak sinkron pada kawasan perbatasan (hulu – hilir). instrumen yang diperlukan adalah insentif dan disinsentif. sementara pada tahap pengendalian pemanfaatan ruang maka instrumen yang dibutuhkan adalah perijinan (seperti ijin prinsip. diperlukan strategi pendayagunaan penataan ruang yang senada dengan semangat otonomi daerah. memiliki peran yang penting dalam pembangunan nasional. Pentingnya peranan sebuah kota ditetapkan oleh banyaknya dan luasnya cakupan pelayanan fungsi-fungsi dalam kota tersebut. pemanfaatan dukungan teknologi informasi. pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang di daerah dapat terselenggara secara efisien dan efektif. Pilihan ini didasarkan atas kebutuhan untuk mengelola ruang kawasan – termasuk didalamnya prasarana dan sarana – secara terpadu sehingga proses delivery nya menjadi lebih efektif dan efisien. 1989 yang menyatakan bahwa kota adalah “a spatially grounded social process in which a wide range of different actors with quite different objectives and agendas interact through a particular configuration of interlocking spatial practices.Kota. Isu Strategis dan Tantangan Dalam Pembangunan Perkotaan (makalah).untuk selanjutnya disebut IMB)) dan penegakan sanksi hukum atas bentuk-bentuk pelanggaran. transparan dan akuntabel. 4 Gita Chandrika Napitupulu. maka instrumen dimaksud diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap proses analisis permasalahan dan penyesuaian kebijakan pembangunan kota yang cepat. Pelibatan masyarakat perlu dikembangkan berdasarkan konsensus yang disepakati bersama serta dilakukan dengan memperhatikan karakteristik sosial-budaya setempat (local unique) dan model kelembagaan setempat seperti misalnya melalui forum kota atau rembug masyarakat. Pada tahap pemanfaatan rencana tata ruang. Dalam konteks ini pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang telah diatur melalui PP No.

dimana pengurus harus memenuhi syarat – syarat tertentu). tegas.5 Sedangkan tujuan dari perijinan menurut Bergen adalah (1) Keinginan mengarahkan (mengendalikan – “struen”) aktivitas – aktivitas tertentu (misalnya ijin bangunan). 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. ijin lokasi. menurut pengaturan tanggung jawab teknik keruangan. Fungsi IMB Dalam Penataan Lingkungan yang Sehat dan Nyaman di Kota Yogyakarta Dalam rangka upaya mewujudkan tertib bangun-bangunan di Kota Yogyakarta. Mekanisme perijinan. (ijin berdasarkan Drank – en Horecawet. 2. ijin membongkar monumen – monumen). (3) Keinginan melindungi obyek – obyek tertentu (ijin terbang.hlm. fungsi IMB sebagai alat pengendali pembangunan berperan penting.6 Dalam konsep pengendalian penggunaan lahan. perlu dilakukan upaya represif berupa penegakan hukum yang efektif. (4) Hendak membagi benda– benda yang sedikit (ijin penghuni didaerah padat penduduk). Hukum Administrasi Negara.Instrumen lain yang sesungguhnya dapat dipakai untuk mengendalikan penggunaan lahan ialah mekanisme ijin penggunaan. konsekuen. yang dilengkapi pula dengan dengan adanya perubahan kelembagaan baru dan untuk mengoptimalisasikan penegakan peraturan daerah terhadap bangun-bangunan yang tidak memiliki dan atau tidak sesuai dengan Izin Membangun Bangun-Bangunan (IMBB) maka telah diterbitkan Peraturan Walikota Nomor 12 Tahun 2007 tentang Mekanisme Penegakan Peraturan Daerah Tentang Ijin Membangun Bangunan (IMBB) yang dimaksudkan 5 6 Ridwan HR. kaitan IMB sebagai alat perwujudan rencana kota dikukuhkan dalam landasan penetapan Peraturan Bangunan. UII Pres. Dalam hal pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sudah terjadi. yang pada dewasa ini di Indonesia mencakup ijin prinsip.160-162 4 . (5) Pengarahan dengan menyeleksi orang – orang dan aktivitas – aktivitas. arahan IMB merupakan pengaturan perubahan perpetakan dan pedoman teknis. dan konsisten terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang sudah terjadi. Ijin Mendirikan Bangunan sebagai instrument yuridis pengendalian Masyarakat dalam rangka Penggunaan Lahan Pasal 35 Undang – Undang No. ijin tapak (tata letak). menyatakan bahwa perijinan adalah salah satu alat pengendalian pemanfaatan ruang. penggunaan lahan dalam perwujudan rencana kota. dan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan). pemberian insentif dan disinsentif. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum sebagai landasan bagi perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam serta kegiatan pembangunan lain. (2) Mencegah bahaya bagi lingkungan (ijin – ijin lingkungan). pemberian flak. Hasil dan Pembahasan 1. disamping peraturan zonasi. selain tercermin dari lingkup aturan segi teknis. perlu dikembangkan satu sistem hukum perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas. yaitu usaha pengendalian melalui penerapan prosedur dan ketentuan yang ketat yang harus dipenuhi untuk menyelenggarakan suatu pemanfaatan ruang. serta penanganan sanksi. maka Kota Yogyakarta telah memiliki Perda Nomor 4 tahun 1988 tentang Bangunan dan Perda Nomor 5 Tahun 1988 tentang Ijin Membangun Bangun Bangunan dan Ijin Penggunaan Bangun Bangunan. E.Upaya preventif dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup perlu dilaksanakan dengan mendayagunakan secara maksimal instrumen pengawasan dan perijinan. 2003. Sehubungan dengan hal tersebut. Kedudukan IMB dalam kerangka pengendalian.

kawasan perkantoran sehat. terutama rekomendasi dari instansi yang bertanggung jawab di bidang tata kota dalam bentuk Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK). Untuk mendapatkan pola pembangunan kota yang terencana dan terkontrol tersebut. Ijin IMB yang harusnya berfungsi untuk mengendalikan perubahan penggunaan lahan tersebut dinilai tidak efektif karena masih banyaknya bangunan yang melanggar dilapangan dikarenakan perubahan fungsi. dan perijinan lain atas penggunaan tanah/bangunan harus tetap didasarkan kepada peruntukkan tanah yang ditetapkan dalam rekomendasi Keterangan Rencana Kota. Ijin sebagai 5 . Dalam mewujudkan kota nyaman huni harus memenuhi kota yang aman sebagai tempat hunian. jika suatu bangunan mengalami perubahan fungsi. kebersihan dan kesehatan lingkungan sesuai standar yang ditetapkan ketersediaan ruang terbuka hijau dan taman kota sebagai paru-paru kota. maka ijin IMB sebelumnya menjadi tidak berlaku. aman. serta rekomendasi komisi AMDAL. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RKPD) Kota Yogyakarta Tahun 2010 merupakan pelaksanaan tahun keempat dari Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJMD Kota Yogyakarta Tahun 2007-2011. maka untuk pelaksanaan suatu pembangunan diatas wilayah suatu kota diwajibkan memiliki ijin mendirikan bengunan dan penggunaannya sesuai dengan yang disetujui oleh Dinas Perijinan. kehidupan masyarakat seha yang mandiri dan kehidupan sosial yang sehat. nyaman dan sehat bag warganya melalui upaya peningkatan kualitas lingkungan fisik. Pada dasarnya. Tujuan ijin mendirikan bangunan yang paling esensial adalah untuk melindungi kepentingan baik kepentingan pemerintah maupun kepentingan masyarakat yang ditujukan atas kepentingan hak atas tanah dan menunjang upaya pengendalian pemanfaatan ruang kota. sehingga dapat mendukung peningkatan produktivitas dan perekonomian masyarakat. Penerbitan IMB. Ijin Pariwisata. Makna "Kota yang Nyaman Huni" adalah kota yang memberikan kenikmatan dan rasa aman sebagai tempat hunian dan meningkatnya kebersihan dan kesehatan lingkungan perumahan serta tersedianya sarana dan prasarana kebersihan lingkungan dan penyediaan pusat pelayanan kesehatan yang sesuai standar cakupan layanan. Ijin Penggunaan Bangunan. Dalam mewujudkan kota yang sehat harus mampu memenuhi tatanan sebaga kawasan permukiman. kawasan tertib sarana lalu lintas dan pelayanan transportasi. sosial dan budaya secara optimal. sarana dan prasarana umum yang memadai. Adapun penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan sebagaimana tersebut diatas didukung oleh rekomendasi yang diterbitkan oleh instansi terkait. Dalam kaitannya dengan kesesuaian dengan arahan pengendalian pemanfaatan Ruang Wilayah agar lingkungan lebih berkualitas. Ijin UU Gangguan (HO). maka tujuan dan fungsi dari perijinan khususnya IMB adalah untuk pengendalian dari pada aktifitas pemerintah dan masyarakat dalam hal-hal membangun bangun bangunan dengan ketentuan yang berisi pedoman-pedoman yang harus dilaksanakan. antara lain pengaturan mengenai Ijin Mendirikan Bangungan dengan berbagai prasarat yang terkait dengan lingkungan hidup. ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Makna "Kota Sehat" adalah kota yang bersih.untuk optimalisasi penegakan peraturan daerah terhadap bangun bangunan yang tidak memiliki dan atau tidak sesuai dengan ijin membangun bangun-bangunan. Dalam meningkatkan kesehatan lingkungan perlu adanya penambahan ruang terbuka hijau serta taman kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota. Terkait dengan pemberdayaan masyarakat di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah antara lain dengan menggunakan instrument hukum administrasi. menetapkan dan merencanakan pembangunan perumahan diwilayahnya sesuai dengan potensial dan prioritas kota yang dituangkan dalam Tata Ruang Kota. Pemberian ijin mendirikan bangunan sangat penting artinya bagi pemerintah daerah guna mengatur. kawasan pariwisata sehat. Tematik pembangunan Tahun 2010 sebagaimana diamanatkan dalam RPJMD adalah : " Kota Yogyakarta sebagai Kota yang Sehat dan Nyaman Huni dengan Pengelolaan Fasilitas Pelayanan Publik yang Memadai ". rekomendasi dari instansi pertanahan.

. Berkenaan dengan telah di undangkannya Perda Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bangunan Gedung pada tanggal 24 Oktober tahun 2009. Pengaturan melalui Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan di tindak lanjuti oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dengan memperbaharui Perda Nomor 4 dan Perda Nomor 5 tahun 1988 dengan Perda Nomor 24 tahun 2009 Tentang Bangunan Gedung. Pelaksanaan penegakan peraturan daerah dilaksanakan oleh PPNS dan instansi teknis pelaksana Peraturan Daerah. tertib dan sehat.instrumen yuridis yang digunakan oleh pemerintah untuk mempengaruhi para warga agar mau mengikuti cara yang dianjurkan guna mencapai suatu tujuan konkret. Yogyakarta. Mengingat pada saat dilakukan penelitian ini telah terbit peraturan daerah yang baru yaitu Perda Nomor 24 tahun 2009 Tentang Bangunan Gedung dan Perda Nomor 25 Tahun 2009 tentang Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan namun belum efektif dilaksanakan. hal. maka Perda Nomor 4 Tahun 1988 tentang Bangunan telah dicabut. Pelaksanaan penindakan terhadap pelanggaran yang diancam sanksi administratif dalam Peraturan Daerah dilaksanakan oleh instansi teknis pelaksana Peraturan Daerah 7 Ridwan. Kedua Perda ini dimaksudkan untuk mengendalikan kegiatan warga nya di bidang bangun membangun. 2003. Pemerintah Kota Yogyakarta mengatur bangun bangunan yang akan dibangun warga dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 1988 tentang Bangunan dan Perda Nomor 5 tahun 1988 tentang Ijin Membangun Bangun-Bangunan dan Ijin Penggunaan Bangun Bangunan . 2. Pelaksanaan penindakan terhadap pelanggaran yang diancam sanksi pidana dalam Peraturan Daerah dilaksanakan oleh PPNS. Untuk mengetahui apakah perda-perda tersebut dapat dipakai sebagai upaya untuk pengendalian dan penataan lingkungan. Hukum Administrasi Negara . karena masih dalam taraf sinkronisasi dan harmonisasi perda di Provinsi DIY. UII Press. penyelenggaraan bangunan gedung. Secara umum Perda Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bangunan Gedung mengatur tentang ruang lingkup yang meliputi fungsi bangunan gedung. Penegakan peraturan daerah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. klasifikasi bangunan gedung.7 Ijin mendirikan bangunan termasuk sarana yuridis pemerintah untuk mengendalikan kegiatan warganya di bidang bangun membangun. Penegakan Peraturan Daerah terhadap bangun-bangunan yang tidak memiliki dan atau tidak sesuai dengan Izin Membangun Bangun-Bangunan (IMBB).ll). ditetapkan dengan Peraturan Walikota Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Mekanisme Penegakan Peraturan Daerah Tentang Ijin Mendirikan Bangun Bangunan (IMBB). 3.(Cet. namun mengingat Perda Nomor 24 Tahun 2009 belum efektif berlaku karena masih memerlukan harmonisasi dan singkronisasi maka pada penelitian ini Perda Nomor 24 tahun 2009 dianalisis dikomparasikan terhadap Perda yang lama dengan maksud untuk menganalisis kedua fungsi Perda tersebut untuk mewujudkan tertib bangunan dalam arti menciptakan lingkungan yang aman.yang sehat dan tertata rapi di Kota Yogyakarta maka paparan berikut akan menganalisis materi muatan pada perda-perda dimaksud. 150 6 . dilaksanakan dengan : 1. peran masyarakat dan pembinaan dalam penyelenggaraan bangunan gedung. maka dalam analisis perda yang baru hanya akan digunakan sebagai pembanding dari Perda Nomor 4 tahun 1988 dan Nomor 5 Tahun 1988 . Izin Mendirikan Bangunan Gedung (IMB) serta Izin Bangunan Gedung (IBG).HR.

kaitan IMB sebagai alat perwujudan rencana kota dikukuhkan dalam landasan penetapan Peraturan Bangunan. Bagi masyarakat warga Kota Yogyakarta yang membangun bangunan . Dari Pasal-Pasal yang diuraikan di atas. yang meliputi kelurahan Semaki dan Tahunan di Kecamatan Umbul Harjo. maupun peraturan walikota terkait dengan penataan kota yang tertata rapi. berfungsi sebagai alat pengendali pembangunan yang penting. B untuk nilai tengah dan A untuk nilai tertinggi. dan bersih. Disamping perangkat perundang-undangan.Wates yang meliputi kelurahan Pakuncen dan Jl. melalui IMB dan penegakannya. dapat dipakai untuk mengendalikan penggunaan lahan. Pelaksanaan pembongkaran bangunan dilaksanakan berdasarkan Surat Perintah Pembongkaran dari Kepala Daerah/. kawasan sekitar Jl. yaitu JL. Pemkot dapat melaksanakan pembongkaran. Dari hasil penelusuran perangkat peraturan perundang-undangan kota Yogyakarta baik peraturan daerah. Untuk mengetahui tingkat ketaatan warga Kota Yogyakarta dalam kepemilikan ijin mendirikan bangunan maka i dari 14 kecamatan. Tabel 1 : Pilihan Jawaban atas pertanyaan seputar ketaatan memiliki IMB Kawasan Jl. C untuk nilai terendah. kemudian jawaban tersebut diberi skor. Tingkat Ketaatan Masyarakat dalam Memiliki IMB/IMBB IMB dalam kerangka pengendalian. dapat disimpulkan bahwa peraturan daerah yang mengatur tentang Bangunan dan IMB di kota Yogyakarta secara terinci sudah memuat ketentuan-ketentuan mengenai pengendalian dan penataan lingkungan. Urut 1 2 3 4 5 6 7 Nomor pertanyaan 1 2 3 4 5 6 7 JUMLAH C 5 14 24 20 8 27 19 134 Jawaban B 24 9 6 0 19 1 11 70 A 11 17 10 13 13 12 2 78 Jumlah 40 40 40 40 40 40 40 280 7 .Pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan pembongkaran adalah Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah. Pemerintah Kota Yogyakarta sudah memanfaatkan fungsi teknologi. selain tercermin dari lingkup aturan segi teknis. yaitu Kecamatan Umbul Harjo mewakili Yogyakarta Timur. sehingga pelayanan IMB dapat dilakukan lebih cepat. Dan apabila ditaati akan menghasilkan penataan lingkungan yang sehat dan tertata rapi . dari 14 kecamatan yang terdapat di Kota Yogyakarta diambil sampel 3 kecamatan.Dalam hal penerapan sanksinya. data yang diperoleh dilapangan sebagai berikut : Responden Kawasan Semaki dan Tahunan sejumlah 40 diminta menjawab 7 pertanyaan yang intinya menyangkut tingkat ketaatan untuk memahami dan mentaati peraturan tentang ijin mendirikan bangunan. yang telah diperbaharui dengan Perda Nomor 24 tahun 2009 Tentang Bangunan Gedung dan Perda Nomor 25 Tahun 2009 tentang Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan namun belum efektif dilaksanakan. Kusumanegara. diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 1988 tentang Bangunan dan Perda Nomor 5 tahun 1988 tentang Ijin Membangun Bangun-Bangunan dan Ijin Penggunaan Bangun Bangunan. 2. Kyai Mojo Kecamatan Jetis. murah dan transparan. Kusumanegara (Semaki dan Tahunan) No. Pemerintah Kota Yogyakarta sudah mengatur secara terinci baik pada Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 1988 maupun Perda Nomor 24 Tahun 2009 dalam materi muatan perda yang tertuang dalam pasal-pasalnya. dalam pelayanan IMB. Kecamatan Wirobrajan mewakili Yogyakarta tengah dan Kecamatan Jetis mewakili Yogyakarta Barat/Utara. penggunaan lahan dalam perwujudan rencana kota.

dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang relevan untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat ketaatan. meskipun ada yang menyatakan ragu-ragu (18 responden) dan keyakinan Yogyakarta akan bersih dan rapi (22 responden). maka dilakukan pengumpulan data lanjutan untuk menganalisis faktor-faktor apa yang mempengaruhi tingkat kesadaran masyarakat terhadap IMB. Kawasan Jl. Kawasan Jl. Kyai Mojo (Jetis) Tabel 3 : Pilihan Jawaban atas pertanyaan seputar ketaatan memiliki IMB Kawasan Jetis No. untuk warga kawasan Semaki dan Tahunan . yaitu sebagaimana dapat dilihat pada : Tabel :4 Rata-rata tingkat ketaatan warga terhadap IMB sebagai berikut : Tidak mengurus IMB 50% Akan mengurus 29% Sudah/sedang IMB 21% mengurus 3.Persentase 48% 25% 27% 100% II. hal ini dapat ditunjukkan dari keyakinan bahwa IMB dapat mencegah banjir . Sedangkan di kawasan Pakuncen tentang faktor-faktor yang mempengaruhi 8 . Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Ketaatan Masyarakat Terhadap IMB/IMBB di Kota Yogyakarta Sehubungan dengan tingkat ketaatan yang masih rendah tersebut. Wirobrajan (Pakuncen) Tabel 2 : Pilihan Jawaban atas pertanyaan seputar ketaatan memiliki IMB Kawasan Wirobrajan No. Kesadaran masyarakat akan perlunya penataan lingkungan dalam mendukung tata kota yang tertata bersih dan rapi sudah tumbuh di kalangan warga Semaki dan Tahunan. Urut 1 2 3 4 5 6 7 Nomor Soal C 2 13 18 19 17 19 3 91 65% Jawaban B 16 6 1 1 3 0 13 40 29% A 2 1 1 0 0 1 4 9 6% Jumlah 20 20 20 20 20 20 20 140 100% 1 2 3 4 5 6 7 JUMLAH Presentase Dari ketiga kawasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat ketaanan warga terhadap IMB masih rendah. Urut 1 2 3 4 5 6 7 Nomor pertanyaan 1 2 3 4 5 6 7 JUMLAH C 0 13 31 30 32 25 0 131 47% Jawaban B 19 10 8 10 8 7 21 83 30% A 21 17 1 0 0 8 19 66 33% Jumlah 40 40 40 40 40 40 40 280 100% Persentase 3.

sehingga mereka tidak tahun bagaimana membangun bangunan secara benar sesuai dengan Perda IMB . 2.tingkat ketaatan warga untuk memiliki IMB. selanjutnya ketidak taatan disebabkan pada tata cara pengurusannya yang menurut mereka rumit. Warga kawasan Wirobrajan tidak yakin jika penertiban IMB dapat mencegah banjir. namun sebagian besar warga yakin bahwa penertiban IMB akan menjadikan Yogyakarta bersih dan rapi (23 responden) Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat ketaatan masyarakat yang paling tinggi adalah tidak adanya sosialisasi tentang IMB. Untuk tanah milik kraton. F. Faktor ketidaktaatan IMB Tidak ada sosialisasi Pengurusannya rumit Sanksi tidak diterapkan dengan tegas Tidak tahu bahwa pelanggaran terhadap IMB dapat dikenai sanksi Tidak tahu cara pengurusannya Semaki&Tahunan 31 responden 21 responden 20 responden 17 responden 13 responden Wirobrajan/Pakuncen 40 responden 22 responden 38 responden 16 responden 17 responden Jetis/Kyai Mojo 19 responden 19 responden 18 responden 15 responden 9 responden Alasan ketidak taatan masyarakat yang disebabkan karena rumitnya pengurusan IMB. Mekanisme penegakan hukum bagi Orang. Penindakan terhadap pelanggaraan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1988 langsung dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Namun memang disadari bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemohon memang acap kali sulit dipenuhi oleh warga . Penutup 9 . misalnya menyangkut status kepemilikan tanah yang berupa Fotocopi sertifikat tanah atau surat bukti kepemilikan lain yang sah Untuk tanah milik pemerintah/Negara dan hak guna bangunan. 4. sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 5 sbb: No 1. namun yang sudah memiliki IMB hanya 5 bangunan saja. bahkan tidak tahu kalau pelanggaran IMB dapat dikenai sanksi. bahkan sebagian masyarakat tidak pernah tahu ada aturan membangun-bangunan apalagi perdanya. Badan/Lembaga yang terbukti tidak memiliki IMBB. baik untuk bangunan lama maupun bangunan baru. lebih banyak yang menyatakan tidak yakin (36 responden). 3. dapat disimpulkan bahwa sebagian besar 27 responden sudah mengetahui bahwa untuk mendirikan bangunan harus ber IMB. 5. PPNS terlebih dahulu melakukan pemanggilan dan proses penyidikan terhadap tersangka dengan berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . persyaratan tentang gambar arsitektur bangungan juga dianggap menyulitkan masyarakat. margersari dan jagang. Alasan ketidak taatan masyarakat terhadap aturan IMB disebabkan karena selama ini penerapan sanksinya kurang tegas. apabila masa berlakunya tinggal kurang dari 1 (satu) tahun. Hal ini terlihat dari jawaban yang menyatakan yakin hanya 4 responden saja . melanggar ijin IMBB maupun kegiatan yang dilakukan terhadap ijin yang sudah tidak berlaku lagi atau Bangunan melanggar Ijin Membangun Bangun Bangunan (IMBB) dan melanggar tata ruang sudah diatur secara sangat perperinci pada Perwal ini maka bangunan dapat dibongkar oleh Pemerintah Daerah yang dilakukan oleh Dinas Kimpraswil. maka harus diperpanjang dulu. harus ada kerelaan dari pemilik tanah Di samping itu dari hasil wawancara dengan warga. perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengingat secara formal. Perwal tersebut telah mengatur secara rinci tentang Persyaratan Perijinan yang diselenggarakan di Dinas Perijinan dan yang diselenggarakan Kecamatan. Pemkot Yogyakarta telah memiliki Peraruran Walikota Peraturan Walikota Nomor 34 Tahun 2008 Tentang Penetapan Persyaratan Perijinan dan Waktu Pelayanan Perijinan . harus ada persetujuan dari penghageng wahono sarto kriyo (disertai gambar gambar situasi yang dikeluarkan oleh Kraton) Untuk tanah yang bukan milik pemohon izin. perlu dikaji lebih mendalan lagi mengingat faktor pengaturan sudah terpenuhi dalam Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Mekanisme Penegakan Peraturan Daerah Tentang ijin Membangun Bangun Bangunan (IMBB).

yang telah diperbaharui dengan Perda Nomor 24 tahun 2009 Tentang Bangunan Gedung dan Perda Nomor 25 Tahun 2009 tentang Retribusi Ijin Mendirikan Banguna. 10 . Hasil penelitian ini dapat direkomendasikan untuk membuat kebijakan Pemerintah Kota di bidang IMB/IMBB yang lebih tepat untuk masa mendatang. 2. efisien dan akuntabel sesuai dengan prinsip-prinsip utama good governance. karena masyarakat tidak tahu bahwa pelanggaran terhadap IMB dapat dikenai sanksi. Refleksi Gerakan Lingkungan.id Fakih. b. d. akurat.1. yang berupa : a. Melakukan pemetaan kepemilikan IMB/IMBB seluruh warga kota Yogyakarta. agar senantiasa mampu memberikan jaminan atas terlaksananya hak dan kewajiban masyarakat tanpa harus mengganggu kepentingan publik secara luas. diakses tanggal 2 April 2010 dari Sumber: http://www. bahkan sebagiam besar dari warga belum pernah mengetahui adanya peraturan perijinan. maka untuk pelaksanaan suatu pembangunan diatas wilayah suatu kota diwajibkan memiliki ijin mendirikan bengunan dan penggunaannya sesuai dengan yang disetujui oleh Dinas Perijinan. sehingga warga belum mentaati aturan tentang ijin mendirikan bangunan baik Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 1988 tentang Bangunan dan Perda Nomor 5 tahun 1988 tentang Ijin Membangun Bangun-Bangunan terlebih lagi Ijin Penggunaan Bangun Bangunan. mendapat gambaran yang utuh tentang hubungan antara kesadaran masyarakat tentang IMB/IMBB dengan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Simpulan Untuk mendapatkan pola pembangunan kota yang terencana dan terkontrol tersebut. Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 1988 tentang Bangunan dan Perda Nomor 5 tahun 1988 tentang Ijin Membangun Bangun-Bangunan dan Ijin Penggunaan Bangun Bangunan. Penyelenggaraan penataan ruang harus didukung oleh pranata hukum (peraturan). Pada ke dua peraturan daerah tersebut telah diatur secara terinci yang tertuang dalam materi muatan kedua perda tersebut. Sedangkan penegakan hukum terhadap IMB tertuang dalam Peraturan Walikota Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Mekanisme Penegakan Peraturan Daerah Tentang Ijin Mendirikan Bangun Bangunan (IMBB). 1995. Insist Press dan Pustaka Pelajar. a. Hal ini juga disebabkan karena penerapan sanksi terhadap pelanggaran IMB masih sangat lemah. yang telah diperbaharui dengan Perda Nomor 24 tahun 2009 Tentang Bangunan Gedung dan Perda Nomor 25 Tahun 2009 tentang Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan.go. Yogyakarta. 2009 ) Hasil Penelitian Indonesia Most Liveable City Index. Daftar Pustaka (Departemen Pekerjaan Umum. Memberdayakan Petugas PPNS untuk menegakkan Perda IMB/IMBB. khususnya dalam mengatasi genangan air/banjir kemudian mengadakan studi yang mendalam mengenai keefektivan penegakan IMB/IMBB dengan penegakan hukum. Rekomendasi Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang mendalam tentang keadaan riil masyarakat untuk memiliki IMB/IMBB . Remdec. Memberi pemahaman dengan pendekatan persuasive akan perlunya IMB/IMBB dari sudut kepentingan warga untuk penataan lingkungan agar bersih dan tertata rapi c.pu. transparan. pranata kelembagaan serta kualitas sumber daya manusia yang memadai. Disamping itu Pemerintah kota telah memanfaatkan teknologi sebagai instrumen dalam penataan ruang khususnya mendatang agar proses pengambilan keputusan dapat terselenggara secara cepat. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak taatan warga terhadap ketentuan IMB. Perlu sosialisasi Perda IMB/IMBB b. Mansour. Perangkat peraturan yang sudah sangat rinci dimiliki oleh Pemerintah Kota Yogyakarta belum dipahami oleh warga masyarakat. c.

Undang – Undang No. Perda Nomor 24 tahun 2009 Tentang Bangunan Gedung 10.U). Format Pembaharuan Pengaturan Tata Kota DKI Jakarta: Alternatif Untuk Harmonisasi Kepentingan Publik dan Kepentingan Privat. UII Press. 2003. Peraturan walikota Nomor 34 Tahun 2008 Tentang penetapan Persyaratan Perizinan dan Waktu Pelayanan Perizinan 13. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 3. Gedung Pemkot Banyak Belum Ber-IMB. Isu Strategis dan Tantangan Dalam Pembangunan Perkotaan (makalah) dalam Seminar Pembangunan Kota Indonesia Abad 21. Urban and Regional Development Institute (URDI) dan Yayasan Sugijanto Soegijoko. Perda Nomor 5 tahun 1988 tentang Ijin Membangun Bangun-Bangunan 8. Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 1988 tentang Bangunan 7. 12. 9. Pengakuan Hak atas Sumber Daya Alam. Perda Nomor 25 tahun 2009 Tentang Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan 11. Yogyakarta. Ton Dietz.Hukum Administrasi Negara . Jakarta: 2005 Kompas.Gita Chandrika Napitupulu. 27 Maret 2010. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Ridwan.(Cet. Perda Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Urusan Pemerintahan Daerah. Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJMD Kota Yogyakarta Tahun 2007-2011. Pengantar Dr. Mansour Faakih. 2009. PP No. Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Mekanisme Penegakan Peraturan Daerah Tentang ijin Membangun Bangun Bangunan (IMBB) 11 . 4. . Hasil Penelitian. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan 5.69/1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tatacara Peran Serta Masyaraka 6. Suparjo Sujadi dkk . Peraturan Perundang-Undangan 1. UI. 1998. 2005. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 2.HR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful