P. 1
Ekonomi Internasional

Ekonomi Internasional

|Views: 59|Likes:
Published by Ade Ariawan

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Ade Ariawan on Jun 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2012

pdf

text

original

BAB 11

EKONOMI INTERNASIONAL
Matsani A Rahman Rasib, SE, MM.
A. PENDAHULUAN Berikut akan dibahas berbagai aspek mengenai perdagangan luar negeri dan pengaruhnya kepada kegiatan ekonomi negara. Secara garis besarnya, yang akan digahas dalam Ekonomi Internasional ini adalah : Teoriteori perdagangan internasional (pendekatan keuntungan absolut dan komparatif) Spesialisasi porduksi, Syarat-syarat perdagangan internasional yang saling menguntungkan, Analisa keuntungan, Hambatan dan kebijakankebijakan perdagangan internasional serta Globalisasi dan pertumbuhan ekonomi. B. MENGAPA PERLU BERDAGANG NEGARA LAIN? Ada beberapa faktor yang mendorong semua negara di dunia untuk melakukan perdagangan luar negeri. Diantaranya ada empat faktor yang sangat penting, yaitu : i. ii. Memperoleh barang yang tidak dapat dihasilkan di dalam negeri. Mengimpor teknologi yang lebih modern dari negara lain.

iii. Memperluas pasar produk-produk dalarn negeri. iv. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi. Dalam teori perdagangan internasional, faktor yang ke (iv) yaitu untuk memperoleh keuntungan dari spesialisasi dipandang sebagai alasan yang paling penting. Berdasarkan alasan tersebut ahIi ekonomi klasik menekankan pentingnya sistem perdagangan bebas di antara berbagai negara, suatu pemikiran yang sarnpai sekarang mendapat sokongan yang luas di kalangan ahli ekonomi dan pemerintah berbagai negara di dunia.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

1. Memperoleh Barang yang Tidak Diproduksi di Dalam Negeri Setiap negara di dunia tidak mungkin dapat menghasilkan semua barang yang dibutuhkannya. Negara-negara maju misalnya, mereka memerlukan karet alam, tetapi tidak dapat dihasilkan di negara mereka. Mereka terpaksa mengimpor dari negara-negara penghasil karet alam tersebut, seperti dari negara-negara di Asia Tenggara, terutama dari Indonesia, Malaysia dan Thailand. Sebaliknya negara-negara di Asia Tenggara belum dapat menghasilkan sendiri beberapa hasil industri modern seperti kapal terbang, kapal pengangkut minyak dan mesin-mesin industri. Maka negara-negara tersebut harus mengimpor dari negara-negara maju. Apabila barang yang diimpor oleh sesuatu negara sangat penting peranannya di dalam kegiatan ekonomi negara tersebut, perubahan harga dan perubahan penawaran barang tersebut akan menimbulkan akibat yang sangat luas terhadap perekonomiannya. Hal ini terlihat jelas dari pengaruh perubahan harga minyak sebagai bahan bakar bagi aIat pengangkutan dan mesin-mesin industri. Tidak semua negara memiliki barang yang sangat penting tersebut. oleh sebab itu mereka harus mengimpor dari negara-negara yang memproduksinya. Setiap kenaikan harga minyak akan selalu mempengaruhi kegiatan perekonomian dunia secara keseluruhan, terutama pada negara-negara yang mengimpor minyak. Negara-negara produsen memperoleh keuntungan yang sangat besar dari setiap kenaikan harga minyak yang sangat tinggi tersebut. Mereka memperoleh uang yang banyak sekali dari ekspor minyak, sehingga dapat mempercepat pembangunan ekonomi negaranya. 2. Memperluas Pasar dan Mengimpor Teknologi Modern Dua keuntungan lainnya dari perdagangan luar negeri adalah untuk memperluas pasar bagi barang-barang yang tidak dapat dinaikkan lagi penjualannya di dalam negeri dan mengimpor mesin-mesin industri yang lebih modern dan pengetahuan teknik maupun manajemen yang Iebih baik.
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

Beberapa jenis industri sudah dapat memenuhi permintaan dalam negeri sebelum mesin-mesin sepenuhnya digunakan. Berarti industri tersebut masih dapat menaikkan produksinya dan memperbesar apabila masih terdapat pasar bagi barang-barang yang dihasilkannya. Karena permintaan dalam negeri sudah terpenuhi, satu-satunya cara untuk memperoleh pasar adalah dengan mengekspor ke luar negeri. Apabila kapasitas dari mesin-mesin yang digunakan masih sangat rendah, sehingga penggunaannya belum mencapai tingkat yang optimal, maka kegiatan ekspor akan mempertinggi efisiensi mesin-mesin yang digunakan dan mengurangi ongkos produksi. Bagi industri seperti ini kegiatan perdagangan luar negeri bukan hanya menambah produksi dan memperbesar keuntungan, tetapi juga dapat menurunkan ongkos produksi. Sehingga akan mendatangkan keuntungan yang lebih banyak lagi. Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi dan sistem manajerial perusahaan yang lebih modern. Dan tak kalah pentingnya, memungkinkan negara tersebut mengimpor mesin-mesin atau alat-alat yang lebih modern untuk mewujudkan teknik produksi yang lebih baik. Keuntungan seperti lebih berdampak pada negara-negara berkembang. 3. Memperoleh Keuntungan dari Spesialisasi Alasan utama suatu negara melakukan kegiatan perdagangan internasional adalah untuk memperoleh keuntungan yang ditimbulkan oleh spesialisasi di antara berbagai negara. Walaupun beberapa negara dapat memproduksi barang-barang yang sama jenisnya, tetapi mungkin ada negara yang lebih suka mengimpor barang tersebut dari negara lain, bukan memproduksinya sendiri. Sebagai gantinya negara tersebut akan mempeluas kegiatan memproduksi barang-barang yang dapat dijual lebih menguntungkan ke luar negeri. Dengan cara ini negara tersebut dapat menggunakan faktor-faktor produksi miliknya dengan lebih efisien, dan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

penduduk negara tersebut akan menikmati banyak barang dibanding apabila negara itu tidak melakukan spesialisasi dalam perdagangan. Perdagangan luar negeri sering dilakukan karena adanya perbedaan harga barang di berbagai negara. Harga sangat ditentukan oleh biaya produksi yang terdiri dari upah, biaya modal, sewa tanah, biaya bahan mentah serta efisiensi dalam proses produksi. Untuk menghasilkan suatu jenis barang tertentu antara satu negara dengan negara lain akan berbeda biaya produksinya, dengan demikian harga hasil produksinya juga akan berbeda. Perbedaan ini disebabikan karena perbedaan jumlah, jenis, kualitas serta cara mengkombinasikan faktor-faktor produksi tersebut di dalam proses produksi. Perbedaan harga inilah yang menjadi sebab utama terjadinya perdagangan antar negara. Selain itu perbedaan harga juga terjadi karena perbedaan pendapatan serta selera. Permintaan terhadap suatu barang sangat ditentukan oleh selera dan pendapatan konsumen. Selera dapat memainkan peranan penting dalam menentukan pemintaan terhadap suatu barang. Apabila persediaan barang tersebut tidak cukup untuk memenuhi permintaan, negara tersebut dapat mengimpor dari negara lain. Untuk suatu barang tertentu faktor selera dapat memegang peranan penting. Misalnya mobil, rokok, pakaian, meskipun satu negara dapat memproduksi barang tersebut, namun karena harus memenuhi faktor selera konsumen dalam negara tersebut, maka harus dilakukan impor dari negara lain. Selain selera, permintaan juga dapat dipengaruhi oleh pendapatan. Terdapat hubungan yang erat antara pendapatan satu negara dengan pembelian barang luar negeri (impor). Jika pendapatan naik maka pembelian barang-barang dan jasa akan meningkat.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

C. TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL (Pendekatan Keuntungan Absolut) Teori perdagangan internasional menjelaskan arah dan komposisi perdagangan antara beberapa negara serta bagaimana efeknya terhadap struktur perekononomian suatu negara. Disamping itu, teori perdagangan internasional juga dapat menunjukkan adanya keuntungan yang didapat dari adanya perdagangan tersebut (gains from trade). Beberapa teori yang menerangkan tentang timbu perdagangan internasional pada dasarnya dipengaruhi oleh dua pendekatan keuntungan, yaitu “Pendekatan Keuntungan Absolut (mutlak)” dan “Pendekatan Keuntungan Komparatif (relatif)”. Pada modul ini, yang akan dibahas terlebih dahulu adalah segala hal yang berkaitan dengan pendekatan keuntungan absolut. Keuntungan absolut adalah keuntungan yang diperoleh suatu negara dari melakukan spesialisasi kegiatan produksi barang-barang yang efisiensinya lebih tinggi daripada negara lain. Untuk memahami hal ini, coba perhatikan ilustrasi berikut : Produksi Seorang Pekerja (per-tahun) Negara A B Kain (m) 500 750 Beras (kg) 2.000 1.800

Gambaran di atas menunjukkan bahwa di negara B seorang pekerja menghasilkan kain Iebih banyak daripada pekerja dinegara A. Berarti pekerja di negara B lebih efisien daripada di negara A dalam memproduksi kain. Kondisi seperti ini dikatakan bahwa negara B mempunyai keuntungan mutlak dalam menghasilkan kain. Sebaliknya seorang pekerja di negara A dapat menghasilkan lebih banyak beras daripada pekerja di negara B. Dengan demikian negara A mempunyai keuntungan mutlak dalam memproduksi beras.

D. ASUMSI DALAM PENDEKATAN ABSOLUT

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

Teori ini lebih menitikberatkan pada variabel riil bukan moneter, sehingga sering dikenal dengan nama teori murni (pure theory) perdagangan internasional. Misalnya nilai suatu barang diukur dengan banyaknya tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan barang tersebut. Makin banyak tenaga kerja yang digunakan, akan makin tinggi nilal barang tersebut (labor theory of value). Contoh klasik yang dikemukakan oleh Adam Smith, misalnya untuk menangkap seekor harimau diperlukan tenaga kerja empat kali lipat dibandingkan untuk menangkap seekor kucing. Atas dasar teori nilai tenaga kerja, maka perbandingan harga harimau dengan kucing adalah 1:4. Kenapa demikian?. Misalnya perbandingan harganya adalah 1:1 maka pencarian harimau akan berkurang karena akan lebib murah (diukur dengan kerja). Orang terlebih dahulu mencari (memburu) kucing kemudian ditukarkan dengan harimau di pasar. Akibatnya, penawaran harimau di pasar akan menurun dan penawaran kucing bertambah sampai perbandingan nilai tukarnya kembali pada 1:4. Teori nilai tenaga kerja ini sifatnya sangat sederhana, sebab menggunakan anggapan (asumsi) bahwa tenaga kerja sifatnya homogen serta merupakan satu-satunya faktor produksi. Dalam kenyataannya, tenaga kerja itu tidak homogen dan faktor produksi juka bukan hanya tenaga kerja, serta mobilitas tenaga kerja tidak bebas. Namun teori ini mempunyai dua manfaat, pertama memungkinkan kita dengan sederhana menjelaskan tentang spesialisasi dan keuntungan dari pertukaran. Kedua meskipun pada teori-teori berikutnya (teori modern) kita tidak menggunakan teori nilai tenaga kerja, tapi prinsip teori ini tetap berlaku. Teori absolute advantage Adam Smith yang sederhana menggunakan teori nilai tenaga kerja dapat dijelaskan dengan contob sebagai berikut : misalkan hanya ada dua negara, yaitu Amerika dan Inggris, keduanya memiliki faktor produksi tenaga kerja yang homogen, menghasilkan dua barang, yaitu gandum dan pakaian. Untuk menghasilkan unit gandum dan pakaian Amerika membutuhkan masing-masing 8 unit dan 4 unit tenaga kerja. Sementara di Inggris dibutuhkan masing-masing 10 unit dan 2 unit tenaga kerja :

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

Kebutuhan Tenaga Kerja (per-unit barang) Negara Amerika Inggris Gandum 8 10 Pakaian 4 2

Dari tabel di atas terlihat bahwa Amerika lebihh efisien dalam memproduksi gandum dari pada Inggris. Sebaliknya Inggris lebih efisien dalam produksi pakaian dari pada Amerika. Maka dapat dikatakan bahwa Amerika memiliki absolute advantage pada produksi gandum, sedang Inggris memiliki absolute advantage pada produksi pakaian. Dikatakan absolute advantage karena masing-masing negara dapat menghasilkan satu macam barang dengan biaya yang secara absolut lebih rendah dari negara lain.

E. SPESIALISASI PRODUKSI DAN KEUNTUNGAN ABSOLUT Dari contoh yang telah diuraikan diatas, sebelum terjadi pertukaran , nilai tukar (terms of trade) di Amerika adalah 1 unit gandum sebanding dengan 2 unit pakaian, sebab jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan 1 unit gandum, 2 kali lebih banyak daripada untuk menghasilkan pakaian (8 : 4). Sedangkan di Inggris, nilai tukarnya adalah 1 unit gandum sebanding 5 unit pakaian, sebab jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan 1 unit gandum adalah 5 kali lebih banyak daripada untuk memproduksi 1 unit pakaian (10 : 2). Menurut Adam Smith kedua negara akan memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi produksi dan kemudian berdagang. Amerika cenderung berspesialisasi pada produksi gandum, sedangkan Inggris pada produksi pakaian. Dasar spesialisasi ini adalah absolute advantage dalam produksi barang-barang tersebut. Untuk menunjukkan besar keuntungan tersebut, misalnya saja Amerika mengalokasikan 16 unit tenaga kerja dari produksi pakaian ke produksi gandum, dan Inggris mengalokasikan 10 unit tenaga kerja dari produksi gandum ke produksi pakaian. Dengan demikian produksi gandum di Amerika akan naik dengan 2 unit (16/8) dan produksi pakaian turun dengan 4 unit

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

(16/4). Sementara di Inggris produksi gandum turun dengan 1 unit (10/10) dan produksi pakaian naik dengan 5 unit (10/2). Dari alokasi ini tampak bahwa out put total (gandum dan pakaian) akan bertambah. Gandum akan bertambah dengan 1 unit sebab di Amerika produksi naik 2 unit dan di Inggris turun dengan I unit. Demikian juga dengan pakaian akan naik 1 unit sebab produksi di Inggris naik dengan 5 unit dan di Amerika turun dengan 4 unit. Karena itu Adam Smit sangat menganjurkan adanya spesialisasi untuk meningikatkan output dunia. Pertukaran akan membawa keuntungan kedua belah pihak. Kedua negara akan memperoleh keuntungan apabila nilai tukar yang terjadi berada di antara nilai tukar masing-masing negara sebelum terjadi pertukaran. Misalnya nilal tukar yang terjadi di pasar 1 unit gandum sebanding dengan 4 unit pakaian, kedua negara akan memperoleh keuntungan dari pertukaran tersebut. Amerika akan menjual gandum dan membeli pakaian, sebaliknya Inggris akan meujual pakaian dan membeli gandum. Bagi Amerika, untuk menghasilkan 1 unit pakaian diperlukan 4 unit tenaga kerja, tapi dengan cara membeli (impor) dari Inggris nilainya akan lebih murah. Guna memperoleh (mengimpor) 1 unit pakaian Amerika harus menukarkan/ mengekspor gandum ke Inggris sebanyak ¼ unit, karena nilai tukar di pasar 1 unit gandum sebanding dengan 4 unit pakaian. Untuk menghasilkan ¼ unit gandum hanya diperlukan 2 unit tenaga kerja (yakni ¼ x 8). Dengan demikian Amerika dapat memperoleh 1 unit pakaian hanya dengan mengorbankan 2 unit tenaga kerja, yang kalau dihasilkan sendiri memenlukan 4 unit tenaga kerja, berarti terjadi penghematan tenaga kerja sebanyak 2 unit tenaga kenja (4-2). Demikian juga Inggris, dengan berspesialisasi pada produksi pakaian dan kemudian ditukarkan dengan gandum dari Amerika, Inggris akan memperoleh keuntungan. Untuk setiap unit gandum yang diimpor dari Amenika, Inggris harus mengimpor sebanyak 4 unit pakaian. Karena setiap 1 unit pakaian diperlukan 2 unit tenaga kerja, maka untuk 1 unit gandum yang diimpor diperlukan 8 unit tenaga kerja (4x2). KaIau dihasilkan sendiri 1 unit gandum memerlukan 10 unit tenaga kerja. Dengan demikian Inggnis dapat menghemat 2 unit tenaga kerja (10-8). Dari contoh diatas jelaslah bahwa spesialisasi atas dasar absolute advantage yang kemudian dilkuti dengan pertukaran, maka kedua negara
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

akan dapat memperole keuntungan dari pada harus memproduksi sendiri atau hanya melakukan perdagangan dalam negeri. F. ANALISA KEUNTUNGAN PERDAGANGAN DENGAN PENDEKATAN KEUNTUNGAN ABSOLUT Perhatikan tabel berikut :

Pada tabel di atas digambarkan tingkat produksi sebelum dan sesudah spesialisasi, bentuk dari spesialisasi, keuntungan dari perdagangan luar negeri, dan tingkat konsumsi penduduk sebelum dan sesudah perdagangan, di Indonesia dan di Australia. Keadaan I menunjukkan keadaan sebelum adanya perdagangan di antara kedua negara. Masing-masing negara harus memproduksi sendiri beras dan pakaian yang mereka butuhkan. Karena dimisalkan masing-masing negara hanya memiliki dua unit faktor produksi maka tiap-tiap negara akan menggunakan satu unit faktor produksi untuk menghasilkan beras, dan satu unit lainnya untuk menghasilkan pakaian. Penggunaan satu unit faktor produksi akan menghasilkan beras sebanyak 3.000 kg di Australia dan 5000 kg di Indonesia. Dengan demikian
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

Indonesia mempunyai keuntungan absolut dalam menghasilkan beras. Unit faktor produksi lainnya yang dimiliki setiap negara akan digunakan untuk menghasilkan pakaian, di Australia akan menghasilkan 50 helai dan di Indonesia 25 helai. Ini berarti Australia mempunyai keuntungan absolut dalam menghasilkan pakaian. Sampai kapankah beras lebih murah di Indonesia dan pakaian lebih murah di Australia? Untuk mengetahui hal itu perlulah dibandingkan harga relatif antara pakaian dan beras di Australia dan Indonesia. Setiap unit faktor produksi akan menghasilkan 3.000 kg beras atau 50 helai pakaian di Australia, berarti 1 helai pakaian sebanding dengan 60 kg beras. Sedangkan di Indonesia 1 helai pakaian sebanding dengan 200 kg beras. Dari angka-angka ini dapatlah dikatakan bahwa harga pakaian relatif sangat murah di Australia dan beras relatif sangat murah di Indonesia. Dari penjelasan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa apabila kedua negara ingin mengadakan perdagangan, Australia haruslah mengadakan spesialisasi dalam menghasilkan pakaian dan Indonesia melakukan spesialisasi dalam menghasilkan beras. Karena masing-masing negara mempunyai dua unit faktor produksi, produksi beras di Indonesia dan pakaian di Australia adalah seperti yang ditunjukan oleh keadaan II. Maka dengan melakukan spesialisasi Australia dan Indonesia dapat memproduksi 10.000 kg beras, sedangkan tanpa spesialisasi Australia dan Indonesia hanya dapat memproduksi 8.000 kg. Begitu juga dengan produksi pakaian, akan bertambah banyak, yaitu dari 75 helai sebelum spesialisasi menjadi 100 helai sesudahnya. Angka-angka ini menunjukkan bahwa dengan adanya spesialisasi, faktor-faktor produksi dapat digunakan dengan lebih efisien. Sesudah spesialisasi dilaksanakan terjadilah perdagangan. Sebagian dari produksi beras Indonesia akan dijual ke Australia dan sebagian dari produksi pakaian Australia akan dijual ke Indonesia. Harga dan jumlah beras yang diperdagangkan tergantung kepada kesepakatan antara kedua negara. Agar pertukaran tersebut menguntungkan kedua negara haruslah menerapkan kurs pertukaran yang lebih baik daripada harga relatif di dalani negeri masing-masing. Dalam contoh di atas dimisalkan kurs pertukaran yang disetujui oleh Australia dan Indonesia adalah 1 helai kain sebanding dengan 100 kg beras.
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

Misalkan bahwa Australia ingin mengimpor 5.000 kg beras. Untuk memperoleh beras sebanyak ini Australia harus mengekspor, sesuai dengan kurs pertukaran di atas, yaitu sebanyak 50 helai pakaian. Dari contoh di atas, maka setelah perdagangan dilakukan, jumlah beras dan pakaian yang tersedia dan dapat digunakan di masing-masing negara adalah seperti yang ditunjukkan dalam keadaan Ill. Dapat dilihat bahwa penduduk Australia akan menikmati 5.000 kg beras dan 50 helai pakaian. Jumlah ini lebih tinggi daripada yang dapat mereka nikmati sebelum perdagangan (3.000 kg beras dan 50 helai pakaian). Keadaan yang sama juga didapati di indonesia. Sekarang Indonesia akan dapat mengkonsumsi 5.000 kg beras dan 50 helai pakaian, dibanding sebelumnya hanya 5.000 kg beras dan 25 helai pakaian.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Matsani A. Rahman Rasib PENGANTAR EKONOMI MAKRO

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->